Dosen PengaMPU:
Dr. Budi Hartono, SE, MARS
Tugas Kelompok
Organisasi dalam perspektif prilaku dan budaya
KelOmpok 1
HILMAN FAUZAN (1905075)
ERLINA WILDA (1905066)
INDRA KURNIAWAN (1905015)
POGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
HANG TUAH PEKANBARU
TAHUN 2020
Prilaku Dan Budaya
Organisasi
*SOAL
1. Jelaskan pengertian prilaku organisasi (PO) menurut 3
referensi n simpulkan menurut kelp?
2. Sebut n jelaskan manfaat PO bg organisasi (RS) n kaitannya
dg budaya organisasi dlm meningkatkan efektivitas
manajemen organisasi di RS?
3. Sebut n jelaskan dimensi-dimensi PO dalam suatu
organisasi?
4. Sebut n jelaskan hambatan organisasi (RS) dlm membentuk
PO?
5. Bagaimana langkah/strategi u/ mengembangkan PO
sehingga menjadi budaya organisasi
1. Definisi Perilaku
Gibson dan kawan-kawan (1996)
* Bidang studi yang mencangkup teori, metode dan prinsip-prinsip dari
berbagai disiplin guna mempelajari persepsi individu, nilai-nilai, dan
tindakan-tindakan saat bekerja dalam kelompok dan dalam organisasi
secara keseluruhan, menganalisa akibat lingkungan eksternal terhadap
organisasi studinya, misi dna sasaran serta strategi
Indriyo Gito Sudarmo dan Nyoman Sudita (1997)
* Bidang ilmu yang mempelajari tentang interaksi manusia dalam
organisasi yang meliputi studi secara sistematis tentang perilaku struktur
dan proses dalam organisasi.
D Stephen P.Robins (2001)
* Bidang yang menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan oleh individu,
kelompok dan struktur terhadap perilaku (manusia) di dalam organisasi
dengan tujuan menerapkan pengetahuan yang dapat untuk meningkatkan
efektivitas organisasi
*Jons berpendapat :
“ Organizational behavior is a rather general term that refers to
the attitudes and behaviors of individuals and groups in
organizations. The discipline or filed organizational behavior
involves the systematic study of these attitudes and behaviors.
Thus, the filed is concerned withboth personal and
interpersonal issues in an organization context. “
*Artinya lebih kurang sebagai berikut
“Perilaku organisasi adalah suatu istilah yang agak umum yang
menunjuk pada sikap dan perilaku individu dan kelompok dalam
organisasi, yang 5 Khaerul Umam, Perilaku Organisai,
berkenaan dengan studi yang sistematis tentang sikap dan
perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi
dalam konteks organisasi.”
Menurut Kelompok
*Adalah suatu studi tentang apa yang dikerjakan oleh orang-
orang dalam organisasi dan bagaimana perilaku orang-orang
tersebut dapat mempengaruhi kinerja organisasi dengan
bahan kajiannya adalah sikap manusia terhadap pekerjaan,
terhadap rekan kerja, imbalan , kerjasama dan yang
lainnya.
*Manfaat Perilaku Organisasi
1. Dengan mengetahui perilaku manusia, baik secara individu maupun
kelompok di dalam organisasi akan membantu pimpinan organisasi
untuk menempatkan orang tersebut pada jabatan atau bagian
pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian dan keahliannya
2. Dengan mengetahui perilaku manusia, pimpinan lebih mudah
menentukan motivasi apa yang paling tepat bagi bawahannya agar
semangat kerjanya meningkat
3. Dengan mengetahui perilaku manusia dalam organisasi, dapat
membantu pimpinan untuk menggerakkan dan mengarahkan
bawahannya untuk melaksanakan tugas-2nya dalam mencapai
tujuan yang diinginkan
4. Dengan mengetahui perilaku manusia dalam organisasi dapat
membantu pimpinan dalam mengintegrasikan bawahannya untuk
melaksanakan tugas-2nya mencapai tujuan organisasi
5. Dapat mengidentifikasi dimensi perilaku organisasi dengan jelas secara
terinci pada tingkat analisis yang digunakan – individu, kelompok,
dan/atau organisasi
3 Dimensi Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi mempunyai tiga dimensi yaitu :
1) Dimensi Konsep
* Dimensi ini menunjukkan bahwa dimensi pertama yaitu dimensi yang
disebut konsep sebagai penggerak organisasi. Konsep disini sebagai
rancangan-rancangan khusus dari keahlian atau kecakapan yang dimiliki
oleh orang-orang didalam organisasi.
* Dimensi konsep mencakup ilmu pngetahuan, sosiologi, antropologi budaya,
dan seluaruh elemen sosial yang mempengaruhi berdirinya ilmu
pengetahuan yang saling berkaitan.
* Menyangkut Visi dan Misi suatu organisasi . Dan konsep organisasi ini harus
di sosialisasikan agar menjadi Mental Model bagi seluruh manusia yang ada
di dalam organisasi
2) Dimensi Sistem
* Dimensi ini menunjukkan bahwa keahlian merupakan aspek yang pentik
sebelum menggerakkan sebuah organisasi. Dalam hal ini, dimensi
sistem mampu menggerakan organisasi dengan keahlian-keahlian yang
dimiliki oleh “manusia” didalamnya sebagai penggerak.
* Tidak hanya itu, dimensi ini juga menunjukkan bahwa keahlian atau
kecakapan orang-orang didalam organisasi mampu menggerakkan
organisasi agar lebih maju dan mampu mencapai tujuannya.
* Dimensi sistem mencakup bagaimana proses manajemen yang
dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan secara efektif dan efisien
yang di kemas dengan pendekatan-pendekatan matematis atau logika.
* Menyangkut struktur organisasi dan tupoksi suatu organisasi dan segala
sistem yang mengatur kegiatan dalam organisasi tersebut
3) Dimensi Manusia
*Dimensi manusia adalah faktor penentu dalam organisasi yang
tercermin dari ilmu psikologi. karena, adanya organisai
adalah adanya manusia.
*Dari ketiga dimensi ini, yang paling pokok adalah “manusia”.
Disini manusia sebagai penggerak dari konsep dan teknis yang
ada. Tanpa adanya manusia didalam organisasi, maka
organisasi tersebut mustahil akan berjalan. Namun, manusia
dalam organisasi juga harus memiliki keahlian atau kecakapan
dalam mengelola organisasi dengan konsep-konsep yang
mampu meningkatkan organisasi.
DIMENSI SISTEM
Pimpinan &
DIMENSI MANUSIA
DIMENSI KONSEP
Lingkungan
Organisasi
Anggota
Struktur
Organisasi
Pengambilan
Keputusan
Visi & Misi
Organisasi
Nilai Organisasi
*Ketiga dimensi diatas mencakup filosofi dasar
lahirnya ilmu perilaku organisai yang terdiri dari
muliti disiplin ilmu (antroplogi kultural, sosiologi,
psikologi dan manjemen) sehingga dengan
penedekatan ilmu-ilmu tersebut perilaku
organisai dapat dibahas.
4. Hambatan Organisasi
Dalam Membentuk Perilaku
Organisasi
1. Gaya Kepemimpinan yang lemah
Berhasil tidaknya suatu usaha pencapaian tujuan yang telah
ditentukan itu sebagian besar akan ditentukan oleh kemampuan
pemimpin, yang memegang peranan penting dalam rangka
menggerakkan orang-orang/bawahannya. Keterampilan
kepemimpinan (leadership skill) yang baik dan efektif sangat
penting untuk membangun, mendorong dan mempromosikan
kualitas bukan kuantitas produksi dalam perusahaan yang kuat
dan akhirnya meraih keberhasilan. Oleh karena itu, keahlian
dalam memimpin sangat dibutuhkan untuk meningkatkan eisiensi
dan mencapai tujuan organisasi.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT PERILAKU ORGANISASI
* 2.Keterbatasan sumber daya (resource limition)
Hal ini terjadi karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam
maupun sumber daya manusia, sehingga tidakmampu membiayai perubahan yang
diharapkan.
* 3.Terperangkap oleh biaya (Sunk Cost)
Perubahan yang diharapkan dilaksanakan dalam organisasi dapat terhambat karena
organisasi terperangkap oleh biaya yang harus dikeluarkan untuk kekayaan yang tidak
dapat dengan cepat diuangkan sebagai akibat investasi pada kekayaan tetap yang
memberikan hasil(ROI) tidak sesuai dengan yang diharapkan.
* 4.Akumulasi hambatan-hambatan perilaku yang bersifat resmi(accumulations of
official constrain’s on Behaviour).
Hambatan-hambatan ini dapat berupa status, ketentuan-ketentuan hukum, hubungan
personal didalam struktur organisasi ,dan lain-lain,yang semakin berpengalaman suatu
organisasi, semakin berkembang ketentuan-ketentuan resmi yang melembaga dan
membatasi perilaku individu-individu didalamnya.
* 5.Hambatan-hambatan perilaku yang tidak resmi dan tidak direncakan.
Hambatan ini datang melalui kelompok informal didalam organisasi formal, berupa
antara lain sabotase bawahan terhadap program perubahan.
*6. Kesepakatan antar organisasi
Perubahan organisasi juga dapat terhambat oleh
kesepakatan organisasi dengan organisasi lain. Kesepakatan
ini dapat berupa kontak kerja,kesepakatan dengan
pelanggan (perjanjian jual beli), kesepakatandengan
pesaing (melalui OPS), kesepakatan untuk mematuhi
ketentuan pemerintah, dan lain-lain.Untuk melaksanakan
perubahan didalam organisasi, maka hambatan-hambatan
tersebut harus dapat diantisipasi dan diatasi,mengingat
bahwa perubahan didalam organisasi merupakan tuntutan
yang perlu dilaksanakan seiring dengan laju dinamika
masyarakat tempat organisasi berbeda. Perubahan ini
dapat dilaksanakn sebagai keharusan atau secara sukarela
(involuntary change or voluntarychange)
7. Rendahnya motivasi kerja karyawan.
* Hal ini menghambat pencapaian efektivitas organisasi yang menuntut
adanya peran aktif dari pelakuorganisasi, yaitu sumber daya manusianya
untuk dapat mengelola sumber daya lain yang ada dalam organisasi dalam
mencapai tujuannya.
8. Lemahnya kerja sama tim.
* Pelaku-pelaku organisasi kurang dapat saling bahu-membahu dan saling
menopang dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam
bekerja sama demi mencapai tujuannya. Hal ini akan menghambat
pencapaian hasil kerja kelompok.
9. Pemberdayaaan sumber daya manusia
* Jika pemberdayaan sdm yang ada tidak baik akan mempengaruhi perilaku
organisasi secara keseluruhan
10. Budaya setempat.
11. Sarana dan Prasarana yang tidak mencukupi
12. Standarisasi yang rendah dalam nilai
13. Mental Model yang tidak terbentuk
*1. Menganalisis perilaku organisasional dalam tingkatan
individu.
*Individu merupakan salah satu komponen dalam organisasi.
kumpulan dari individu itulah yang nantinya saling bekerjasama
dalam satu tujuan yang kemudian disebut dengan organisasi. Setiap
individu memiliki ciri –ciri dan karakter serta watak masing – masing
yang berbeda-beda. Karena ketidakseragaman itulah sering terjadi
perbedaan pendapat didalam organisasi.
*Walaupun berbeda namun tujuan setiap individu adalah sama dalam
suatu organisasi, karena setiap individu dituntut untuk menjalankan
tugasnya di bidang masing – masing untuk tercapainya rencana yang
telah di rancang dan di sepakati sebelumnya dalam organisasi.
5. Langkah-langkah dalam
mengembangkan PO sehingga
menjadi budaya organisasi
*Ketika perbedaan muncul, tak mudah memang menyatukan
persepsi. Hal ini karena telah melekat sifat dan kepribadian
masing – masing yang ingin memenuhi kebutuhannya sendiri.
*Peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Seorang pemimpin dalam organisasi memiliki tugas
menyelaraskan perbedaan – perbedaan antarindividu, sehingga
terjadi keharmonisan, dimana efek dari hal itu akan kuatnya
kekuatan organisasi tersebut setiap menjalankan apa yang
semestinya dilaksanakan. Saat semua terlaksana dengan baik,
maka kualitas organisasi tersebut baik pula.
*2. Menganalisis perilaku organisasional dari tingkat kelompok.
*Kelompok adalah kumpulan dari individu. Meski demikian, sifat yang
muncul dalam suatu kelompok belum tentu menggambarkan sifat
dari kumpulan individu tersebut. Dikatakan demikian karena
didalam kelompok memiliki tugas, wewenang, budaya, norma,
etika, sikap, dan keyakinan masing – masing yang kemudian
membentuk pola perilaku kelompok.
*Dengan terbentuknya pola perilaku kelompok, besar kemungkinan
akan terjadi gesekan antara kelompok yang satu dengan yang
lainnya. Lagi – lagi dalam hal ini, sosok seorang pemimpin yang
cerdas serta tegas sangat dibutuhkan untuk dapat menyelaraskan
keadaan, sehingga antara kelompok yang satu dengan yang lain
saling berkesinambungan alias gotong royong, bersatu dalam
mencapai dan mewujudkan tujuan dari organisasi
*3. Menganalisis perilaku organisasional dari tingkatan
organisasi
*Seperti pernyataan pada awal, bahwa perilaku organisasi bukanlah
kumpulan dari perilaku individu maupun perilaku kelompok. Setiap
organisasi memiliki, visi, misi, struktur, anggaran dasar, anggaran
rumah tangga, kebijakan, program kerja, tujuan, norma, strategi,
serta adat atau budaya masing – masing.
*Dalam organisasi ada yang menganut asas desentralisasi ada juga
yang menganut asas sentralisasi. Organisasi yang menganut asas
desentralisasi, bawahan mempunyai hak atau kesempatan untuk
berpartisipasi dalam membuat keputusan yang diambil oleh seorang
pemimpin. Sebaliknya, asas sentralisasi dalam mengambil
keputusannya berpusat pada pemimpin, sedangkan bawahan tidak
memiliki kesempatan untuk berpartisipasi didalamnya.
*4. Faktor Lingkungan
*Faktor lingkungan mempengaruhi jalannya organisasi. maju atau
tidaknya suatu organisasi memiliki keterkaitannya dengan kondisi
lingkungan yang ada.
*Faktor ekonomi, politik, budaya, hokum, teknologi, alam, dan lain
– lain adalah contoh factor eksternal yang secara signifikan
mempengaruhi jalannya organisasi.
*Selain faktor eksternal tersebut, faktor yang muncul dari dalam
atau internal juga mempengaruhi jalannya organisasi. salah satu
contohnya adalah rendahnya semangat individu dalam
menjalankan tugasnya. Ketika kualitas kinerja rendah tentu
produksi yang dikeluarkan dalam sebuah perusahaan akan
mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal ini,harus segera
diadakan analisis serta membicarakan bagaimana solusi untuk
mengatasi masalah – masalah yang ada ini.
Lingkungan
Eksternal
Organisasi
Lingkungan
Internal
organisasi
Organisasi
Kelompok
Individu
Unit analisis
individu
Unit analisis
kelompok
Unit analisis
organisasi
• Persepsi
• Kepribadian
• Sikap
• Motivasi
• Proses
• pembelajaran
• Sistem nilai
• Analisis trend
• Pengambilan
keputusan
• Dinamika
• kelompok
• Komunikasi
• Konflik
• Kekuasaan dan
Politik
• Kepemimpinan
• Struktur
organisasi
• Desain program
• Sistem evaluasi
hasil kerja
• Imbalan (reward
system)
• Pengembangan
organisasi (OD)
• Budaya
organisasi
KONFLIK
*DEFINISI
*Dalam Umam (2010: 323) Konflik berasal dari bahasa latin
“confligo” yang terdiri atas dua kata, yaitu „con’, yang berarti
bersama-sama dan „fligo’, yang berarti pemogokan, penghancuran,
atau peremukan.
*Menurut Frost dan Wilmot (1978: 9), dalam Pace dan Faules (2010:
369) Konflik didefenisikan sebagai suatu “perjuangan yang
diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling
bergantung, yang mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan,
imbalan yang langka, dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai
tujuan mereka
PROSES KONFLIK
*Dalam Robbins (2008: 176) Proses konflik (conflict process)
dapat dipahami sebagai sebuah proses yang terdiri atas lima
tahapan: Kondisi pendahuluan yaitu potensi pertentangan atau
ketidak selarasan, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku,
dan akibat.
KEBAIKAN DAN
KEBURUKAN KONFLIK
Kebaikan Konflik:
*1) Evaluasi diri/intropeksi diri demi kemajuan
*2) Moral kerja atau prestasi kerja akan meningkat
*3) Mengembangkan diri demi kemajuan karena dorongan persaingan
*4) Memotivasi dinamika organisasi dan kareativitas kelompok.
Keburukan konflik:
*1) Kerjasama kurang serasi dan harmonis diantara karyawan
*2) Memotivasi sikap-sikap emosional karyawan
*3) Menimbulkan sikap apriori karyawan
*4) Meningkatkan absen dan turnover karyawan
*5) Kerusakan produksi dan kecelakaan semangkin meningkat.
Metode-metode Untuk
Mengurangi Konflik
Dalam Winardi (2009: 262) mengemukakan metode-metode
berikut untuk mengurangi konflik:
*1) Masing-masing kelompok yang berkonflik diberi
informasi yang menguntungkan tentang kelompok yang
berhadapan dengan mereka.
*2) Kontak social yang menyenangkan antara kelompok
kelompok diintensifkandengan jalan makan bersama atau
nonton bersama.
*3) Pemimpin-pemimpin kelompok diminta untuk
bernegosiasi dan memberikan informasi positif tentang
kelompok yang berhadapan dengan kelompok mereka.
Metode-metode
Penyelesaian Konflik
Ada tiga metode penyelesaian konflik yang sering digunakan, yaitu:
* 1) Dominasi atau penekanan.
* Dominasi atau penekanan dapat dilkukan dengan cara: Kekerasan (forcing), yang bersifat
penekanan otokratis. Penenangan (smoothing), merupakan cara yang lebih diplomatis.
Penghindaran (avoidance), dimana manajer menghindar untuk mengambil posisi yang tegas.
Aturan mayoritas (majority rule), mencoba untuk menyelesaikan konflik antar kelompok dengan
melakukan pemungutan suara (voting) melalui prosedur yang adil.
* 2) Kompromi.
* Melalui kompromi, manajer mencoba menyelesaikan konflik melalui pencarian jalan tengah yang
dapat diterima oleh pihakpihak yang bersangkutan. Bentuk-bentuk kompromi meliputi:
Pemisahan (sparation), dimana pihak-pihak yang sedang bertentangan dipisahkan sampai mereka
mencapai persetujuan. Arbitrasi (perwasitan), dimana pihak ketiga atau manajer diminta
memberikan pendapat.Penyuapan (bribing), dimana salah satu pihak menerima kompensasi
dalam pertukaran untuk tercapainya penyelesaian konflik.
* 3) Pemecahan masalah integratif.
* Dengan metode ini, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah. Secara
besama, pihak-pihak yang bertentangan mencoba untuk memecahkan yang timbul diantara
mereka. Disamping penekanan konflik atau pencarian kompromi, pihak-pihak secara terbuka
mencoba menemukan penyelesaian yang dapat diterima semua pihak. Dalam hal ini, manajer
perlu mendorong bawahannya bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, melakukan
pertukaran gagasan secara bebas, dan menekankan usaha-usaha pencarian penyelesaian yang
optimum, agar tercapai penyelesaian integratif.

PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI KRLOMPOK ARS.pptx

  • 1.
    Dosen PengaMPU: Dr. BudiHartono, SE, MARS Tugas Kelompok Organisasi dalam perspektif prilaku dan budaya KelOmpok 1 HILMAN FAUZAN (1905075) ERLINA WILDA (1905066) INDRA KURNIAWAN (1905015) POGRAM STUDI MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH PEKANBARU TAHUN 2020 Prilaku Dan Budaya Organisasi
  • 2.
    *SOAL 1. Jelaskan pengertianprilaku organisasi (PO) menurut 3 referensi n simpulkan menurut kelp? 2. Sebut n jelaskan manfaat PO bg organisasi (RS) n kaitannya dg budaya organisasi dlm meningkatkan efektivitas manajemen organisasi di RS? 3. Sebut n jelaskan dimensi-dimensi PO dalam suatu organisasi? 4. Sebut n jelaskan hambatan organisasi (RS) dlm membentuk PO? 5. Bagaimana langkah/strategi u/ mengembangkan PO sehingga menjadi budaya organisasi
  • 3.
    1. Definisi Perilaku Gibsondan kawan-kawan (1996) * Bidang studi yang mencangkup teori, metode dan prinsip-prinsip dari berbagai disiplin guna mempelajari persepsi individu, nilai-nilai, dan tindakan-tindakan saat bekerja dalam kelompok dan dalam organisasi secara keseluruhan, menganalisa akibat lingkungan eksternal terhadap organisasi studinya, misi dna sasaran serta strategi Indriyo Gito Sudarmo dan Nyoman Sudita (1997) * Bidang ilmu yang mempelajari tentang interaksi manusia dalam organisasi yang meliputi studi secara sistematis tentang perilaku struktur dan proses dalam organisasi. D Stephen P.Robins (2001) * Bidang yang menyelidiki pengaruh yang ditimbulkan oleh individu, kelompok dan struktur terhadap perilaku (manusia) di dalam organisasi dengan tujuan menerapkan pengetahuan yang dapat untuk meningkatkan efektivitas organisasi
  • 4.
    *Jons berpendapat : “Organizational behavior is a rather general term that refers to the attitudes and behaviors of individuals and groups in organizations. The discipline or filed organizational behavior involves the systematic study of these attitudes and behaviors. Thus, the filed is concerned withboth personal and interpersonal issues in an organization context. “ *Artinya lebih kurang sebagai berikut “Perilaku organisasi adalah suatu istilah yang agak umum yang menunjuk pada sikap dan perilaku individu dan kelompok dalam organisasi, yang 5 Khaerul Umam, Perilaku Organisai, berkenaan dengan studi yang sistematis tentang sikap dan perilaku, baik yang menyangkut pribadi maupun antar pribadi dalam konteks organisasi.”
  • 5.
    Menurut Kelompok *Adalah suatustudi tentang apa yang dikerjakan oleh orang- orang dalam organisasi dan bagaimana perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kinerja organisasi dengan bahan kajiannya adalah sikap manusia terhadap pekerjaan, terhadap rekan kerja, imbalan , kerjasama dan yang lainnya.
  • 6.
    *Manfaat Perilaku Organisasi 1.Dengan mengetahui perilaku manusia, baik secara individu maupun kelompok di dalam organisasi akan membantu pimpinan organisasi untuk menempatkan orang tersebut pada jabatan atau bagian pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian dan keahliannya 2. Dengan mengetahui perilaku manusia, pimpinan lebih mudah menentukan motivasi apa yang paling tepat bagi bawahannya agar semangat kerjanya meningkat 3. Dengan mengetahui perilaku manusia dalam organisasi, dapat membantu pimpinan untuk menggerakkan dan mengarahkan bawahannya untuk melaksanakan tugas-2nya dalam mencapai tujuan yang diinginkan 4. Dengan mengetahui perilaku manusia dalam organisasi dapat membantu pimpinan dalam mengintegrasikan bawahannya untuk melaksanakan tugas-2nya mencapai tujuan organisasi 5. Dapat mengidentifikasi dimensi perilaku organisasi dengan jelas secara terinci pada tingkat analisis yang digunakan – individu, kelompok, dan/atau organisasi
  • 8.
    3 Dimensi PerilakuOrganisasi Perilaku organisasi mempunyai tiga dimensi yaitu : 1) Dimensi Konsep * Dimensi ini menunjukkan bahwa dimensi pertama yaitu dimensi yang disebut konsep sebagai penggerak organisasi. Konsep disini sebagai rancangan-rancangan khusus dari keahlian atau kecakapan yang dimiliki oleh orang-orang didalam organisasi. * Dimensi konsep mencakup ilmu pngetahuan, sosiologi, antropologi budaya, dan seluaruh elemen sosial yang mempengaruhi berdirinya ilmu pengetahuan yang saling berkaitan. * Menyangkut Visi dan Misi suatu organisasi . Dan konsep organisasi ini harus di sosialisasikan agar menjadi Mental Model bagi seluruh manusia yang ada di dalam organisasi
  • 9.
    2) Dimensi Sistem *Dimensi ini menunjukkan bahwa keahlian merupakan aspek yang pentik sebelum menggerakkan sebuah organisasi. Dalam hal ini, dimensi sistem mampu menggerakan organisasi dengan keahlian-keahlian yang dimiliki oleh “manusia” didalamnya sebagai penggerak. * Tidak hanya itu, dimensi ini juga menunjukkan bahwa keahlian atau kecakapan orang-orang didalam organisasi mampu menggerakkan organisasi agar lebih maju dan mampu mencapai tujuannya. * Dimensi sistem mencakup bagaimana proses manajemen yang dilakukan untuk melakukan suatu kegiatan secara efektif dan efisien yang di kemas dengan pendekatan-pendekatan matematis atau logika. * Menyangkut struktur organisasi dan tupoksi suatu organisasi dan segala sistem yang mengatur kegiatan dalam organisasi tersebut
  • 10.
    3) Dimensi Manusia *Dimensimanusia adalah faktor penentu dalam organisasi yang tercermin dari ilmu psikologi. karena, adanya organisai adalah adanya manusia. *Dari ketiga dimensi ini, yang paling pokok adalah “manusia”. Disini manusia sebagai penggerak dari konsep dan teknis yang ada. Tanpa adanya manusia didalam organisasi, maka organisasi tersebut mustahil akan berjalan. Namun, manusia dalam organisasi juga harus memiliki keahlian atau kecakapan dalam mengelola organisasi dengan konsep-konsep yang mampu meningkatkan organisasi.
  • 11.
    DIMENSI SISTEM Pimpinan & DIMENSIMANUSIA DIMENSI KONSEP Lingkungan Organisasi Anggota Struktur Organisasi Pengambilan Keputusan Visi & Misi Organisasi Nilai Organisasi
  • 12.
    *Ketiga dimensi diatasmencakup filosofi dasar lahirnya ilmu perilaku organisai yang terdiri dari muliti disiplin ilmu (antroplogi kultural, sosiologi, psikologi dan manjemen) sehingga dengan penedekatan ilmu-ilmu tersebut perilaku organisai dapat dibahas.
  • 13.
    4. Hambatan Organisasi DalamMembentuk Perilaku Organisasi 1. Gaya Kepemimpinan yang lemah Berhasil tidaknya suatu usaha pencapaian tujuan yang telah ditentukan itu sebagian besar akan ditentukan oleh kemampuan pemimpin, yang memegang peranan penting dalam rangka menggerakkan orang-orang/bawahannya. Keterampilan kepemimpinan (leadership skill) yang baik dan efektif sangat penting untuk membangun, mendorong dan mempromosikan kualitas bukan kuantitas produksi dalam perusahaan yang kuat dan akhirnya meraih keberhasilan. Oleh karena itu, keahlian dalam memimpin sangat dibutuhkan untuk meningkatkan eisiensi dan mencapai tujuan organisasi.
  • 14.
    FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBATPERILAKU ORGANISASI * 2.Keterbatasan sumber daya (resource limition) Hal ini terjadi karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, sehingga tidakmampu membiayai perubahan yang diharapkan. * 3.Terperangkap oleh biaya (Sunk Cost) Perubahan yang diharapkan dilaksanakan dalam organisasi dapat terhambat karena organisasi terperangkap oleh biaya yang harus dikeluarkan untuk kekayaan yang tidak dapat dengan cepat diuangkan sebagai akibat investasi pada kekayaan tetap yang memberikan hasil(ROI) tidak sesuai dengan yang diharapkan. * 4.Akumulasi hambatan-hambatan perilaku yang bersifat resmi(accumulations of official constrain’s on Behaviour). Hambatan-hambatan ini dapat berupa status, ketentuan-ketentuan hukum, hubungan personal didalam struktur organisasi ,dan lain-lain,yang semakin berpengalaman suatu organisasi, semakin berkembang ketentuan-ketentuan resmi yang melembaga dan membatasi perilaku individu-individu didalamnya. * 5.Hambatan-hambatan perilaku yang tidak resmi dan tidak direncakan. Hambatan ini datang melalui kelompok informal didalam organisasi formal, berupa antara lain sabotase bawahan terhadap program perubahan.
  • 15.
    *6. Kesepakatan antarorganisasi Perubahan organisasi juga dapat terhambat oleh kesepakatan organisasi dengan organisasi lain. Kesepakatan ini dapat berupa kontak kerja,kesepakatan dengan pelanggan (perjanjian jual beli), kesepakatandengan pesaing (melalui OPS), kesepakatan untuk mematuhi ketentuan pemerintah, dan lain-lain.Untuk melaksanakan perubahan didalam organisasi, maka hambatan-hambatan tersebut harus dapat diantisipasi dan diatasi,mengingat bahwa perubahan didalam organisasi merupakan tuntutan yang perlu dilaksanakan seiring dengan laju dinamika masyarakat tempat organisasi berbeda. Perubahan ini dapat dilaksanakn sebagai keharusan atau secara sukarela (involuntary change or voluntarychange)
  • 16.
    7. Rendahnya motivasikerja karyawan. * Hal ini menghambat pencapaian efektivitas organisasi yang menuntut adanya peran aktif dari pelakuorganisasi, yaitu sumber daya manusianya untuk dapat mengelola sumber daya lain yang ada dalam organisasi dalam mencapai tujuannya. 8. Lemahnya kerja sama tim. * Pelaku-pelaku organisasi kurang dapat saling bahu-membahu dan saling menopang dengan kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam bekerja sama demi mencapai tujuannya. Hal ini akan menghambat pencapaian hasil kerja kelompok. 9. Pemberdayaaan sumber daya manusia * Jika pemberdayaan sdm yang ada tidak baik akan mempengaruhi perilaku organisasi secara keseluruhan 10. Budaya setempat. 11. Sarana dan Prasarana yang tidak mencukupi 12. Standarisasi yang rendah dalam nilai 13. Mental Model yang tidak terbentuk
  • 17.
    *1. Menganalisis perilakuorganisasional dalam tingkatan individu. *Individu merupakan salah satu komponen dalam organisasi. kumpulan dari individu itulah yang nantinya saling bekerjasama dalam satu tujuan yang kemudian disebut dengan organisasi. Setiap individu memiliki ciri –ciri dan karakter serta watak masing – masing yang berbeda-beda. Karena ketidakseragaman itulah sering terjadi perbedaan pendapat didalam organisasi. *Walaupun berbeda namun tujuan setiap individu adalah sama dalam suatu organisasi, karena setiap individu dituntut untuk menjalankan tugasnya di bidang masing – masing untuk tercapainya rencana yang telah di rancang dan di sepakati sebelumnya dalam organisasi. 5. Langkah-langkah dalam mengembangkan PO sehingga menjadi budaya organisasi
  • 18.
    *Ketika perbedaan muncul,tak mudah memang menyatukan persepsi. Hal ini karena telah melekat sifat dan kepribadian masing – masing yang ingin memenuhi kebutuhannya sendiri. *Peran seorang pemimpin sangat dibutuhkan dalam hal ini. Seorang pemimpin dalam organisasi memiliki tugas menyelaraskan perbedaan – perbedaan antarindividu, sehingga terjadi keharmonisan, dimana efek dari hal itu akan kuatnya kekuatan organisasi tersebut setiap menjalankan apa yang semestinya dilaksanakan. Saat semua terlaksana dengan baik, maka kualitas organisasi tersebut baik pula.
  • 19.
    *2. Menganalisis perilakuorganisasional dari tingkat kelompok. *Kelompok adalah kumpulan dari individu. Meski demikian, sifat yang muncul dalam suatu kelompok belum tentu menggambarkan sifat dari kumpulan individu tersebut. Dikatakan demikian karena didalam kelompok memiliki tugas, wewenang, budaya, norma, etika, sikap, dan keyakinan masing – masing yang kemudian membentuk pola perilaku kelompok. *Dengan terbentuknya pola perilaku kelompok, besar kemungkinan akan terjadi gesekan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Lagi – lagi dalam hal ini, sosok seorang pemimpin yang cerdas serta tegas sangat dibutuhkan untuk dapat menyelaraskan keadaan, sehingga antara kelompok yang satu dengan yang lain saling berkesinambungan alias gotong royong, bersatu dalam mencapai dan mewujudkan tujuan dari organisasi
  • 20.
    *3. Menganalisis perilakuorganisasional dari tingkatan organisasi *Seperti pernyataan pada awal, bahwa perilaku organisasi bukanlah kumpulan dari perilaku individu maupun perilaku kelompok. Setiap organisasi memiliki, visi, misi, struktur, anggaran dasar, anggaran rumah tangga, kebijakan, program kerja, tujuan, norma, strategi, serta adat atau budaya masing – masing. *Dalam organisasi ada yang menganut asas desentralisasi ada juga yang menganut asas sentralisasi. Organisasi yang menganut asas desentralisasi, bawahan mempunyai hak atau kesempatan untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin. Sebaliknya, asas sentralisasi dalam mengambil keputusannya berpusat pada pemimpin, sedangkan bawahan tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi didalamnya.
  • 21.
    *4. Faktor Lingkungan *Faktorlingkungan mempengaruhi jalannya organisasi. maju atau tidaknya suatu organisasi memiliki keterkaitannya dengan kondisi lingkungan yang ada. *Faktor ekonomi, politik, budaya, hokum, teknologi, alam, dan lain – lain adalah contoh factor eksternal yang secara signifikan mempengaruhi jalannya organisasi. *Selain faktor eksternal tersebut, faktor yang muncul dari dalam atau internal juga mempengaruhi jalannya organisasi. salah satu contohnya adalah rendahnya semangat individu dalam menjalankan tugasnya. Ketika kualitas kinerja rendah tentu produksi yang dikeluarkan dalam sebuah perusahaan akan mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal ini,harus segera diadakan analisis serta membicarakan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah – masalah yang ada ini.
  • 22.
  • 23.
    Unit analisis individu Unit analisis kelompok Unitanalisis organisasi • Persepsi • Kepribadian • Sikap • Motivasi • Proses • pembelajaran • Sistem nilai • Analisis trend • Pengambilan keputusan • Dinamika • kelompok • Komunikasi • Konflik • Kekuasaan dan Politik • Kepemimpinan • Struktur organisasi • Desain program • Sistem evaluasi hasil kerja • Imbalan (reward system) • Pengembangan organisasi (OD) • Budaya organisasi
  • 24.
    KONFLIK *DEFINISI *Dalam Umam (2010:323) Konflik berasal dari bahasa latin “confligo” yang terdiri atas dua kata, yaitu „con’, yang berarti bersama-sama dan „fligo’, yang berarti pemogokan, penghancuran, atau peremukan. *Menurut Frost dan Wilmot (1978: 9), dalam Pace dan Faules (2010: 369) Konflik didefenisikan sebagai suatu “perjuangan yang diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling bergantung, yang mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan, imbalan yang langka, dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka
  • 25.
    PROSES KONFLIK *Dalam Robbins(2008: 176) Proses konflik (conflict process) dapat dipahami sebagai sebuah proses yang terdiri atas lima tahapan: Kondisi pendahuluan yaitu potensi pertentangan atau ketidak selarasan, kognisi dan personalisasi, maksud, perilaku, dan akibat.
  • 26.
    KEBAIKAN DAN KEBURUKAN KONFLIK KebaikanKonflik: *1) Evaluasi diri/intropeksi diri demi kemajuan *2) Moral kerja atau prestasi kerja akan meningkat *3) Mengembangkan diri demi kemajuan karena dorongan persaingan *4) Memotivasi dinamika organisasi dan kareativitas kelompok. Keburukan konflik: *1) Kerjasama kurang serasi dan harmonis diantara karyawan *2) Memotivasi sikap-sikap emosional karyawan *3) Menimbulkan sikap apriori karyawan *4) Meningkatkan absen dan turnover karyawan *5) Kerusakan produksi dan kecelakaan semangkin meningkat.
  • 27.
    Metode-metode Untuk Mengurangi Konflik DalamWinardi (2009: 262) mengemukakan metode-metode berikut untuk mengurangi konflik: *1) Masing-masing kelompok yang berkonflik diberi informasi yang menguntungkan tentang kelompok yang berhadapan dengan mereka. *2) Kontak social yang menyenangkan antara kelompok kelompok diintensifkandengan jalan makan bersama atau nonton bersama. *3) Pemimpin-pemimpin kelompok diminta untuk bernegosiasi dan memberikan informasi positif tentang kelompok yang berhadapan dengan kelompok mereka.
  • 28.
    Metode-metode Penyelesaian Konflik Ada tigametode penyelesaian konflik yang sering digunakan, yaitu: * 1) Dominasi atau penekanan. * Dominasi atau penekanan dapat dilkukan dengan cara: Kekerasan (forcing), yang bersifat penekanan otokratis. Penenangan (smoothing), merupakan cara yang lebih diplomatis. Penghindaran (avoidance), dimana manajer menghindar untuk mengambil posisi yang tegas. Aturan mayoritas (majority rule), mencoba untuk menyelesaikan konflik antar kelompok dengan melakukan pemungutan suara (voting) melalui prosedur yang adil. * 2) Kompromi. * Melalui kompromi, manajer mencoba menyelesaikan konflik melalui pencarian jalan tengah yang dapat diterima oleh pihakpihak yang bersangkutan. Bentuk-bentuk kompromi meliputi: Pemisahan (sparation), dimana pihak-pihak yang sedang bertentangan dipisahkan sampai mereka mencapai persetujuan. Arbitrasi (perwasitan), dimana pihak ketiga atau manajer diminta memberikan pendapat.Penyuapan (bribing), dimana salah satu pihak menerima kompensasi dalam pertukaran untuk tercapainya penyelesaian konflik. * 3) Pemecahan masalah integratif. * Dengan metode ini, konflik antar kelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah. Secara besama, pihak-pihak yang bertentangan mencoba untuk memecahkan yang timbul diantara mereka. Disamping penekanan konflik atau pencarian kompromi, pihak-pihak secara terbuka mencoba menemukan penyelesaian yang dapat diterima semua pihak. Dalam hal ini, manajer perlu mendorong bawahannya bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, melakukan pertukaran gagasan secara bebas, dan menekankan usaha-usaha pencarian penyelesaian yang optimum, agar tercapai penyelesaian integratif.