Dokumen ini membahas ciri-ciri perbedaan dialek, termasuk perbedaan fonetik, semantik, morfologis, dan leksikal antar daerah. Perbedaan-perbedaan ini dapat menentukan variasi subdialek dan dialek di suatu wilayah.
Ciri Pembeda Dialek
Setiapragam bahasa yang digunakan di
suatu daerah memiliki perbedaan-
perbedaan, antara lain pada tataran lafal,
tata bahasa, dan tata makna.
Perbedaan-perbedaan tersebut dapat
menentukan variasi bahasa (subdialek,
dialek, perbedaan bahasa)
2.
Perbedaan kebahasaan yangdianalisis dalam
dialektologi yaitu:
1. Perbedaan fonetik pada tataran fonologi,
umumnya penutur dialek tidak menyadari
adanya perbedaan tersebut.
contoh
careme dengan cereme
gudang dengan kudang
jendela, gandela, janela
(dalam bahasa Sunda)
3.
2. Perbedaan Semantik,yaitu perbedaan yang
terjadi karena pemberian makna yang
berbeda pada linambang yang sama atau
pemberian konsep yang berbeda pada
linambang yang berbeda.
4.
a. Perbedaan Onomasiologisyang menunjukkan
nama yang berbeda berdasarkan konsep yang
diberikan di beberapa tempat yang berbeda.
contoh
menghadiri kenduri dalam bahasa Sunda
ditemukan berian ondangan dan kondangan
didasarkan pada kehadiran di situ karena
diundang, sedangkan nyambungan, didasarkan
pada tafsiran kehadiran di situ disebabkan
keinginan menyumbang barang kepada yang
punya kenduri.
5.
b. perbedaan semasiologismerupakan kebalikan
dari onomasiologis, yaitu pemberian nama
yang sama untuk beberapa konsep yang
berbeda.
Contoh
kata aceh mengandung makna nama suku
bangsa, nama daerah, nama kebudayaan, nama
sejenis rambutan.
6.
3. Perbedaan morfologisyang dibatasi oleh
adanya sistem tata bahasa yang menyangkut
aspek afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, dan
morfofonemik.
Contoh
isuk dengan isukan ‘pagi’
ogo dengan ogoan ‘manja’
maledog dengan ngabaledog “melempar
7.
4. Perbedaan leksikal,perbedaan yang terjadi
pada tataran bentuk yang tidak berasal dari satu
etimon (bentuk) prabahasa.
Contoh:
itik dengan meri ‘bebek’
wadon dengan awewe ‘perempuan’
gedang dengan kastela ‘pepaya’