ASKEP OMA dan OMK
(OTITIS MEDIA AKUT dan KRONIS)
Otitis adalah radang telinga, yang ditandai dengan nyeri, demam,
hilangnya pendengaran, tinitus dan vertigo.
Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi
otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid
Definisi
 Otitis media akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh
periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3
minggu
 Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah.
Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible
dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut
yang tak tertangani. Otitis media adalah Proses peradangan di
telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu.
Etiologi :
Etiologi :
 OMA: Virus atau bakteri dari tenggorokan
bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba
eustakius atau kadang juga melalui aliran
darah. Otitis media akut juga bisa terjadi
karena adanya penyumbatan pada sinus
atau tuba eustakius akibat alergi atau
pembengkakan amandel. Bakteri yang umum
ditemukan sebagai organisme penyebab
adalah Streptococcus peneumoniae,
Hemophylus influenzae, Streptococcus
pyogenes, dan Moraxella catarrhalis.
Otitis adalah radang telinga, yang ditandai dengan nyeri, demam,
hilangnya pendengaran, tinitus dan vertigo.
Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi
otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa
telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel
mastoid
OMK
 OMK terjadi akibat adanya perforasi. Perforasi gendang
telinga bisa disebabkan oleh: OMA penyumbatan tuba
eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke
dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara
yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas
atau zat kimia. Bisa juga disebabkan karena bakteri,
antara lain: Streptococcus, Stapilococcus, Diplococcus
pneumonie, Hemopilus influens, Gram Positif : S.
Pyogenes, S. Albus, Gram Negatif : Proteus spp,
Psedomonas spp, E. Coli, Kuman anaerob : Alergi,
diabetes melitus, TBC paru.
Bisa juga disebabkan karena bakteri, antara lain: Streptococcus,
Stapilococcus, Diplococcus pneumonie, Hemopilus influens, Gram Positif
: S. Pyogenes, S. Albus, Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp,
E. Coli, Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.
Patofisiologis
 Penyebab utama otitis media akuta adalah masuknya bakteri
patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril.
Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustachii seperti
obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan
atas, inflamasi jaringan disekitarnya (mis, sinusitis, hipertropi
adenoid), atau reaksi alergi (mis, rinitis alergika). Stadium awal
komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada
mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian
lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.
Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh
terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga
tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan
terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring.
Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi
bakteri akan menentukan progresivitas penyakit.
Patofisiologis
 Penyebab utama otitis media akuta adalah masuknya bakteri
patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril.
Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustachii seperti
obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan
atas, inflamasi jaringan disekitarnya (mis, sinusitis, hipertropi
adenoid), atau reaksi alergi (mis, rinitis alergika). Stadium awal
komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada
mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian
lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa.
Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh
terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga
tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan
terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring.
Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi
bakteri akan menentukan progresivitas penyakit.
OMK
 Perforasi membrane timpani yang permanen, mukosa
telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada
beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan
pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang,
kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang
telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran
napas bagian atas akan menyebabkan infeksi
eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang
mukoid atau mukopurulen.
OMK tipe Benigna
 Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu
berbau busuk , ketika pertama kali ditemukan bau
busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan
penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang,
discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.
 Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada
pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya
kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea
selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.
OMK tipe maligna dengan kolesteatoma
 Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas,
sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu,
kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil,
berwarna putih mengkilat.
 Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat
terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena
hilangnya alat penghantar udara pada otitis media
nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe
campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi
pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik
kolesteatom.
Cholesteatoma Formation
Pemeriksaan Diagnostik
 Otitis Media Akut: Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan
hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk
mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk
menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan
terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga.
 Otitis Media Kronis: Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan
hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui
organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan
yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala
dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur
di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui
pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan
kekaburan mastoid.
Dibagi dlm 4 stadium
Dibagi dlm 4 stadium
Pengumpulan Data OMK
 Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat
 Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada
telinga, penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan
telinga
 Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang
berulang, riwayat alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat
penggunaan obat( sterptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin ),
riwayat operasi
 Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah
mengalami penyakit telinga, sebab dimungkinkan OMK
berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai
faktor genetik
Pengkajian Persistem
 Tanda-tanda vital : Suhu meningkat,
keluarnya otore
 B2 ( Blood ) : Nadi meningkat
 B3 (Brain) : Nyeri telinga, perasaan
penuh dan pendengaran menurun, vertigo,
pusing, refleks kejut
 B5 (Bowel) : Nausea vomiting
 B6 (Bone) : Malaise, alergi
Diagnosa Keperawatan
 Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
 Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan
pendengaran
 Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi,
infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran
 Cemas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis,
prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan
penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.
 Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore berbau busuk
 Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan
kekambuhan
DX Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
 Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa
 Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang, klien mampu
melakukan metode pengalihan suasana
Intervensi Keperawatan:
 Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode
relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul, relaksasi seperti menarik
napas panjang, Rasional : Metode pengalihan suasana dengan
melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien
 Kompres dingin di sekitar area telinga: Rasional : Kompres dingin
bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa
dingin di sekitar area telinga
 Atur posisi klien: Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien
merasa nyaman
 Untuk kolaborasi, beri aspirin/analgesik sesuai instruksi, beri sedatif sesuai
indikasi: Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif
pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam
DX 2: Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan
pendengaran
 Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang
 Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ), menerima pesan melalui
metode pilihan ( misal: komunikasi lisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada
telinga yang baik
Intervensi keperawatan:
 Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode
yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan, berbicara, bahasa isyarat.Rasional:
Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang
akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien
 Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. Jika ia dapat mendengar
pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik, Dekati
klien dari sisi telinga yang baik, gunakan bahasa isyarat, bahasa tulis atau penerjemah:
Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima
dengan baik oleh klien.
 Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman dengan, bicara
jelas, berhadapan, isyarat dll Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara
perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan
perawat
Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi
di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran
 Tujuan : Persepsi / sensoris baik
 Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran
sampai pada tingkat fungsional
 Intervensi keperawatan :
 Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat: Rasional :
Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian,
pemakaian serta perawatannya yang tepat.
 Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat
mencegah terjadinya ketulian lebih jauh: Rasional : Apabila penyebab pokok
ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap
trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi
 Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut: Rasional :
Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah
pendengaran rusak secara permanen
 Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik
sistemik maupun lokal )Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum
waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga
infeksi akan berlanjut
Cemas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi,
nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar
setelah operasi.
 Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang
 Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya
 Intervensi keperawatan :
 Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai
kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan
harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak
realistik tidak dapat mengurangi kecemasan, justru malah menimbulkan
ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa
dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus
sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya
 Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti
yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien: Rasional : Dukungan
dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat
membantu klien
 Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat
membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang
ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi
Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore berbau busuk
 Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan
orang lain
 Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan
dengan orang lain
 Intervensi keperawatan :
 Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling
percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.
 Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan
cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang: Rasional : Klien
akan kooperatif /berpartisipasi dalam persiapan pembedahan
(tympanoplasti) dan akan mulai mengajak bicara dengan
perawat dan keluarga
Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan
pencegahan kekambuhan
 Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara
pencegahan kekambuhan.
 Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
 Intervensi keperawatan :
 Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai
aturan.Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat
meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam
pencegahan kekambuhan.
 Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya
Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat
membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga
dapat dengan cepat ditangani.
 Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran.
Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat
mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan.
otitis media akut dan otitis media kronis
otitis media akut dan otitis media kronis
otitis media akut dan otitis media kronis

otitis media akut dan otitis media kronis

  • 1.
    ASKEP OMA danOMK (OTITIS MEDIA AKUT dan KRONIS)
  • 3.
    Otitis adalah radangtelinga, yang ditandai dengan nyeri, demam, hilangnya pendengaran, tinitus dan vertigo. Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid
  • 4.
    Definisi  Otitis mediaakut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah dan terjadi dalam waktu kurang dari 3 minggu  Otitis media kronis adalah infeksi menahun pada telinga tengah. Kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan oleh episode berulang otitis media akut yang tak tertangani. Otitis media adalah Proses peradangan di telinga tengah dan mastoid yang menetap > 12 minggu.
  • 5.
    Etiologi : Etiologi : OMA: Virus atau bakteri dari tenggorokan bisa sampai ke telinga tengah melalui tuba eustakius atau kadang juga melalui aliran darah. Otitis media akut juga bisa terjadi karena adanya penyumbatan pada sinus atau tuba eustakius akibat alergi atau pembengkakan amandel. Bakteri yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah Streptococcus peneumoniae, Hemophylus influenzae, Streptococcus pyogenes, dan Moraxella catarrhalis.
  • 6.
    Otitis adalah radangtelinga, yang ditandai dengan nyeri, demam, hilangnya pendengaran, tinitus dan vertigo. Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah. Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid
  • 7.
    OMK  OMK terjadiakibat adanya perforasi. Perforasi gendang telinga bisa disebabkan oleh: OMA penyumbatan tuba eustakius cedera akibat masuknya suatu benda ke dalam telinga atau akibat perubahan tekanan udara yang terjadi secara tiba-tiba luka bakar karena panas atau zat kimia. Bisa juga disebabkan karena bakteri, antara lain: Streptococcus, Stapilococcus, Diplococcus pneumonie, Hemopilus influens, Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus, Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli, Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.
  • 8.
    Bisa juga disebabkankarena bakteri, antara lain: Streptococcus, Stapilococcus, Diplococcus pneumonie, Hemopilus influens, Gram Positif : S. Pyogenes, S. Albus, Gram Negatif : Proteus spp, Psedomonas spp, E. Coli, Kuman anaerob : Alergi, diabetes melitus, TBC paru.
  • 10.
    Patofisiologis  Penyebab utamaotitis media akuta adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (mis, sinusitis, hipertropi adenoid), atau reaksi alergi (mis, rinitis alergika). Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa. Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresivitas penyakit.
  • 11.
    Patofisiologis  Penyebab utamaotitis media akuta adalah masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan atas, inflamasi jaringan disekitarnya (mis, sinusitis, hipertropi adenoid), atau reaksi alergi (mis, rinitis alergika). Stadium awal komplikasi ini dimulai dengan hiperemi dan edema pada mukosa tuba eusthacius bagian faring, yang kemudian lumennya dipersempit oleh hiperplasi limfoid pada submukosa. Gangguan ventilasi telinga tengah ini disertai oleh terkumpulnya cairan eksudat dan transudat dalam telinga tengah, akibatnya telinga tengah menjadi sangat rentan terhadap infeksi bakteri yang datang langsung dari nasofaring. Selanjutnya faktor ketahanan tubuh pejamu dan virulensi bakteri akan menentukan progresivitas penyakit.
  • 12.
    OMK  Perforasi membranetimpani yang permanen, mukosa telinga tengah akan terpapar ke telinga luar sehingga memungkinkan terjadinya infeksi berulang. Hanya pada beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar akan penyakitnya. Berenang, kemasukan benda yang tidak steril ke dalam liang telinga atau karena adanya focus infeksi pada saluran napas bagian atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan secret yang mukoid atau mukopurulen.
  • 13.
    OMK tipe Benigna Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk , ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.  Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.
  • 14.
    OMK tipe malignadengan kolesteatoma  Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil, berwarna putih mengkilat.  Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom.
  • 15.
  • 16.
    Pemeriksaan Diagnostik  OtitisMedia Akut: Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Timpanogram untuk mengukur kesesuaian dan kekakuan membran timpani. Untuk menentukan organisme penyebabnya dilakukan pembiakan terhadap nanah atau cairan lainnya dari telinga.  Otitis Media Kronis: Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan telinga dengan otoskop. Untuk mengetahui organisme penyebabnya, dilakukan pembiakan terhadap cairan yang keluar dari telinga. Rontgen mastoid atau CT scan kepala dilakukan untuk mengetahui adanya penyebaran infeksi ke struktur di sekeliling telinga. Tes Audiometri dilakukan untuk mengetahui pendengaran menurun. X ray terhadap kolesteatoma dan kekaburan mastoid.
  • 17.
    Dibagi dlm 4stadium Dibagi dlm 4 stadium
  • 29.
    Pengumpulan Data OMK Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat  Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga, penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga  Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang, riwayat alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat penggunaan obat( sterptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin ), riwayat operasi  Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga, sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik
  • 30.
    Pengkajian Persistem  Tanda-tandavital : Suhu meningkat, keluarnya otore  B2 ( Blood ) : Nadi meningkat  B3 (Brain) : Nyeri telinga, perasaan penuh dan pendengaran menurun, vertigo, pusing, refleks kejut  B5 (Bowel) : Nausea vomiting  B6 (Bone) : Malaise, alergi
  • 31.
    Diagnosa Keperawatan  Nyeriberhubungan dengan proses peradangan  Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran  Perubahan persepsi / sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran  Cemas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.  Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore berbau busuk  Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
  • 32.
    DX Nyeri berhubungandengan proses peradangan  Tujuan : Nyeri yang dirasakan klien berkurang rasa  Kriteria hasil : Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang, klien mampu melakukan metode pengalihan suasana Intervensi Keperawatan:  Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul, relaksasi seperti menarik napas panjang, Rasional : Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien  Kompres dingin di sekitar area telinga: Rasional : Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga  Atur posisi klien: Rasional : Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman  Untuk kolaborasi, beri aspirin/analgesik sesuai instruksi, beri sedatif sesuai indikasi: Rasional : Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk mengurangi sensasi nyeri dari dalam
  • 33.
    DX 2: Gangguankomunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran  Tujuan : Gangguan komunikasi berkurang / hilang  Kriteria hasil : Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai ), menerima pesan melalui metode pilihan ( misal: komunikasi lisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik Intervensi keperawatan:  Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti : tulisan, berbicara, bahasa isyarat.Rasional: Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien  Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik, Dekati klien dari sisi telinga yang baik, gunakan bahasa isyarat, bahasa tulis atau penerjemah: Rasional : Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien.  Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman dengan, bicara jelas, berhadapan, isyarat dll Rasional : Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat
  • 34.
    Perubahan persepsi /sensoris berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran  Tujuan : Persepsi / sensoris baik  Kriteria hasil : Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional  Intervensi keperawatan :  Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat: Rasional : Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian, pemakaian serta perawatannya yang tepat.  Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh: Rasional : Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi  Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut: Rasional : Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen  Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal )Rasional : Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut
  • 35.
    Cemas berhubungan denganprosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.  Tujuan : Rasa cemas klien akan berkurang / hilang  Kriteria hasil : Klien mampu mengungakpkan ketakutan / kekhawatirannya  Intervensi keperawatan :  Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi Rasional : Harapan-harapan yang tidak realistik tidak dapat mengurangi kecemasan, justru malah menimbulkan ketidakkepercayaan klien terhadap perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya  Berikan informasi tentang kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien: Rasional : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien  Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-alat yang tersedia yang dapat membantu klien Rasional : Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada di sekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi
  • 36.
    Isolasi sosial berhubungandengan nyeri, otore berbau busuk  Tujuan : Tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain  Kriteria Hasil : Klien tetap mengembangkan hubungan dengan orang lain  Intervensi keperawatan :  Bina hubungan saling percaya Rasionalisasi : hubungan saling percaya dapat menjadi dasar terjadinya hubungan sosial.  Yakinkan klien bahwa setelah dilakukan pengobatan / pembedahan cairan akan keluar dan bau busuk akan hilang: Rasional : Klien akan kooperatif /berpartisipasi dalam persiapan pembedahan (tympanoplasti) dan akan mulai mengajak bicara dengan perawat dan keluarga
  • 37.
    Kurangnya pengetahuan mengenaipengobatan dan pencegahan kekambuhan  Tujuan : Klien akan mempunyai pemahaman yang baik tentang pengobatan dan cara pencegahan kekambuhan.  Kriteria hasil : Klien paham mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan  Intervensi keperawatan :  Ajarkan klien mengganti balutan dan menggunakan antibiotik secara kontinyu sesuai aturan.Rasional : pendidikan kesehatan tenyang cara mengganti balutan dapat meningkatkan pemahaman klien sehingga dapat berpartisipasi dalam pencegahan kekambuhan.  Beritahu komplikasi yang mungkin timbul dan bagaimana cara melaporkannya Rasional : pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi pada klien dapat membantu klien dan keluarga untuk melaporkan ke tenaga kesehatan sehingga dapat dengan cepat ditangani.  Tekankan hal-hal yang penting yang perlu ditindak lanjuti / evaluasi pendengaran. Rasional : follow up sangat penting dilakukan oleh anak karena dapat mengetahui perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya kekambuhan.