DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................ 2
1.3 Tujuan.................................................................................................................................. 2
1.4 Metode ................................................................................................................................ 2
BAB II KAJIAN TEORI .................................................................................................. 3
2.1 Pengertian Sunni.................................................................................................................. 3
2.2 Pengertian Syi’ah................................................................................................................. 6
BAB III PEMBAHASAN.................................................................................................... 10
2.1 Pokok-Pokok Ajaran Syi’ah.......................................................................................... 10
2.2 Pengaruh Ajaran Syi’ah Pada Paham Sunni di Indonesia............................................. 14
BAB IV KESIMPULAN ...................................................................................................
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................................... 18
4.2 Saran.................................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 20
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Kehadiran Syi'ah di pentas Nusantara kini adalah merupakan penomena baru di
penghujung abad kedua puluh ini.Dimana Syi'ah mula-mula diperkenalkan kepada masyarakat
Nusantara, sulit untuk dipastikan.Kebanyakan pengkaji sejarah mengatakan bahwa Islam masuk
di Nusantara dibawa oleh orang-orang Sunni.Dengan itu, mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
adalah mazhab yang paling dominan di Nusantara sejak zaman dulu hingga era modern sekarang
ini.
Namun setelah terjadinya revolusi Iran pada tahun 1979, mazhab Syi'ah mulai mendapat
perhatian dari Negara-negara di Asia Tenggara. Tidak terkecuali Indonesia yang mayoritas
penduduknya beragama Islam, mendapatkan respon baik dari sejumlah orang atau kalangan
tertentu tentang keberhasilan revolusi iran, dan malah mengkagumi revolusi ini. Dengan
demikian, mulailah dilakukan kajian-kajian terhadap mazhab Syi'ah di Indonesia. Seperti
munculnya penomena Gus Dur lalu Ulil Absar Abdillah kemudian guntur Romli yang tumbuh
dari lumbung-lumbung Sunni tradisional, yang kini mendominasi generasi muda NU, adalah
bukti nyata akan keterlibatan cendikiawan yang berasal dari “sunni sejati”. Sedangkan
Muhammdiyah, Persis dan Al-Irsyad sejak semula telah menunjukkan kehendak untuk tidak
serta merta menduplikasi pandangan orisinil Sunni. Penomena ini merupakan proses
transformasi dan reformasi pemikiran dari cendikiawan memahami ajaran syi’ah yang
berkembang di Indonesia. Dengan keterlibatan para cendikiwan dari NU dan Muhammadiyah
bukan serta merta mereka mengembangkan paham dan aqidah Syi'ah di kalangan pengikut-
pengikut Sunnah di di Indonesia sebagaimana banyak dituduhkah oleh sebagian orang atau
oknum tertentu.
Indonesia adalah negara yang dihuni oleh ummat Islam terbesar di dunia yang sedang
berkembang dengan berbagai tentangan yang mencoba mengikis kepercayaan ummat terhadap
Islam dari berbagai aliran kepercayaan untuk merusak Aqidah Islamiah, seperti kristenisasi,
sekularisasi, reaktualisasi, ahmadiah qadyani, aliran kebatinan, inkarus sunnah dan sebagainya.
Namun dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ummat islam di indonesia masih mampu
bertahan ditengah kepungan berbagai macam dan ragam kepercayaan yang sedang berkembang.
Kini umat Islam di Indonesia terpaksa pula berhadapan dengan penomena baru yaitu; gerakan
Syi’ah yang aktif dan agresif di tengah-tengah Ahlus Sunnah, yang membawa perbedaan paham
kepada kaum muslimin di Indonesia.
Sehingga, Majlis Ulama Indonesia melalui Rakernes pada 5 Jamadil Akhir 1404H/8 Maret 1984
telah membuat beberapa keputusan mengenai perbedaan pokok di antara faham Syi'ah dengan
mazhab Sunnah wal Jama'ah, sambil meneggaskan ummat Islam Indonesia yang berpaham
Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya
paham yang didasarkan atas ajaran "syi'ah".
Dari uraian diatas maka penulis tertarik mengangkat tema Syi’ah di indonesia dan
Syi’ah di Iran dengan makalah berjudulKita (sunni indonesia) Lebih Syi’ah dari Iran.
2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pokok-pokok ajaran syi’ah?
2. Bagaimana pengaruh ajaran syi’ah terhadap paham ahlusnsunnah wal jama’ah di indonsia ?
3. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ahlisunnah waljama’ah program pasca sarjana
bahasa inggris unisma tahun 2012.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pokok-pokok ajaran syi’ah.
b. Untuk mengetahui pengaruh paham syi’ah pada paham Ahlussunnah Waljama ’ah di
Indonesia.
4. Metode Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode literatur, yaitu dengan
mengumpulkan beberapa literatur yang berhubungan dengan pokok bahas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sunni
Sunni adalah istilah singkat dari kelompok ahlussunah wal jama’ah.Yaitu, pengikut Nabi
SAW dan para sahabatnya.Karena masalah yang dibincangkan masalah keyakinan atau I’tiqad.
Maka kaum sunni atau ahlussunannah waljama’ah adalah kaum yang menganut I’tiqad seperti
I’tidaq yang dianut oleh nabi SAW dan para sahabatnya.
Setelah menelaah dari berbagai referensi dan rujukan yang secara spesifik menjelaskan
pengertian Ahlussunnah wa Al Jamaah, bisa difahami bahwa definisi Ahlussunnah wa Al jamaah
ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus.
Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa
komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah,
amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Ahlaq ) .
Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad /
keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah.
Pada hakikatnya definisi Aswaja yang secara khusus bukan lain adalah merupakan juz
dari definisi yang secara umum, karena pengertian Asya’iroh dan Ahlussunnah adalah golongan
yang komitmen berpegang teguh pada ajaran Rasul dan para sahabat dalam hal aqidah. Namun
penamaan golongan Asya’iroh dengan nama Ahli sunnah Wa Al Jamaah hanyalah skedar
memberikan nama juz dengan menggunakan namanya kulli.
Syaih Al Baghdadi dalam kitabnya Al Farqu bainal Firoq mengatakan : pada zaman
sekarang kita tidak menemukan satu golongan yang komitmen terhadap ajaran Nabi dan sahabat
kecuali golongan Ahlussunnah wal jamaah. Bukan dari golongan Rafidah, khowarij, jahmiyah,
najariyah, musbihah, ghulat, khululiyah, Wahabiyah dan yang lainnya.
Beliau juga meyebutkan; bahwa elemen Alussunnah waljamaah terdiri dari para Imam
ahli fiqih, Ulama’ Hadits, Tafsir, para zuhud sufiyah, ulama’ lughat dan ulama’-ulama’ lain yang
berpegang teguh paa aqidah Ahli sunnah wal jamaah.
Beberapa pendapat juga menyatakan bahwa kelompok ahlussunah muncul sebagai reaksi
atas paham Mu’tazilah, yang dimotori oleh Washil bin Atha (w. 131 H) yang sangat
mengandalkan akal dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Disamping aliran
Mu’tazilah, adalagi aliran Maturidiyah yang terbagi dalam 2 kelompok besar:
1. Kelompok yang berpusat di Samarkhand dengan pemahaman yang sedikit liberal
2. Kelompok yang muncul di Bukhara yang cenderung bersifat tradisional dan lebih dekat
dengan aliran asy’ariyah.
Maturidiyah dan asy’ariyah termasuk golongan ahlussunah. Dalam surat Syaikh al azhar,
Salim al Bisyri, kepada seorang tokoh Syiah, yaitu Abdul Husein Syariffuddin al Musawi,
dipahami bahwa yang dimaksud ahlussunah adalah goongan terbesar kaum muslim yang
mengikuti aliran asy’ari dalam urusan aqidah dan keempat imam mahzabmaliki, syafi’I, ahmad
bin hambal, dan hanafi dalam urusan syariah.
Dalam al Farqu bain al Firaq (Abu al khair bin thaher al Baghdadi) menyatakan dengan
pasti bahwa termasuk pula dalam kategori ahlussunah adalah pengikut al auza’iy (88-150 H), ats
tsaury (w. 161 H), Ibn Abi Laila, dan Ahl Adh Dhahir. Ini dalam bidang fiqh. Sedang dalam
bidang aqidah, tokoh-tokoh utama faham ini adalah Imam abu Hasan Al Asy’ari (w. 324 H), al
Baqillani (403 H), Imam al haramain al Juwaini (w. 478 H) dan
yang paling berperan dalam penyebarannya adalah Imam al Ghazali (w. 505)
Menurut Muhammad ‘Imarah (Guru Besar Universitas Al Azhar, Mesir):
’’Ahlussunah adalah mayoritas umat islam yang anutannya menyatakan bahwa perbuatan
manusia diciptakan oleh Allah dan bahwa baik dan buruk adalah karena qadha dan
qadarnya (dengan demikian mereka adalah pengikut Jabariyah (paham fatalisme) yang
moderat)’’.
Mereka enggan membicarakan pergulatan/perselisihan sahabat-sahabat Nabi menyangkut
kekuasaan.Mereka juga memperurutkan keutamaan Khulafa ar Rasyidin sesuai dengan urutan
masa kekuasaan mereka. Mereka membaiat siapa yang memegang tampuk kekuasaan, baik
penguasa yang taat maupun durhaka, dan menolak revolusi dan pembngkangan sebagai cara
untuk mengubah ketidak adilan dan penganiayaan. Merka berpendapat bahwa rezeki bersumber
dari Allah yang dianugerahkannya kepada hamba-hambanya, baik rezeki itu halal maupun haram
(berbeda dengan Mu’tazilah yang menyatakan bahwa (yang dinamai) rezeki terbatas pada yang
halal bukan yang haram.
Sumber penetapan hukum Sunni:
1. Al Qur’an
2. Sunnah
3. Ijma’ (Consensus Ulama)
4. Qiyas (Analogi)
Literature yang menjadi sumber rujukan Sunni (selain al Qur'an):
1. Shahih Bukhari (Al Jami ash Shahih al Musnad, al Mukhtashar min Hadist Rasulillah)
karya Abu Abdullah Muhammad (w. 256 H)
2. Shahih Muslim (al Jami ash Shahih) karya Muslim bin Hajjaj (w. 261)
3. Sunan Abu Dawud, karya Sulayman bin Asy’ast as Sijistani (w. 275)
4. Al Jami ash Shahih/Sunan at tirmidzy karya abu isa Muhammad at Tirmidzy (w.
279H)
5. As Sunan/Sunan Ibnu Majah (w. 273)
6. Sunan an Nasa’I (w. 303)
Dengan demikian sunnni atau ahlussunah waljama’ah adalah orang-orang atau kumpulan
yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya jika
menyimpang dari apa yang mereka katakan, perbuat dan tetapkan maka itu bukan ahlissunah.
Tapi berubah menjadi ahlul bid’ah, yaitu melakukan hal yang menyimpang dari apa yang
dikatakan, diperbuat dan ditetapkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
2.2 Pengertian Syi’ah
Secara Etimologi
Berasal dari kata: ُ‫اء‬َ‫ب‬‫أ‬‫ت‬َ ‫أ‬‫ْل‬َ‫ا‬: Pengikut, ُ‫ار‬َ‫ص‬‫أ‬‫ن‬َ ‫أ‬‫ْل‬َ‫ا‬: Penolong ُ‫ة‬َّ‫ص‬‫َا‬‫خ‬‫أ‬‫ل‬َ‫ا‬: Teman dekat
Ad Dzahiri berkata:
ُ‫ار‬َ‫ص‬‫أ‬‫ن‬َ‫أ‬ُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫الش‬ َ‫و‬ٍُُُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ ِّ‫م‬‫أ‬‫ه‬َ‫ف‬ُ ِّ‫ر‬‫أ‬‫م‬َ‫أ‬ُ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫وا‬‫ع‬َ‫م‬َ‫ت‬َ‫ج‬‫ُا‬ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُُّ‫ل‬‫ك‬ َ‫,ُو‬‫ه‬‫اع‬َ‫ب‬‫أ‬‫ت‬َ‫أ‬ َ‫ُو‬ِّ‫ل‬‫ج‬َّ‫الر‬
“Syi’ah adalah penolong dan pengikut seseorang, dan setiap kaum yang berkumpul atas suatu
urusan, maka mereka disebut Syi’ah.”
Az Zubaidi berkata:
‫ه‬َ‫ل‬ٌُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ َ‫و‬‫ه‬َ‫ف‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ُ‫ب‬‫ز‬‫أ‬‫ح‬َ‫ت‬ َ‫ُو‬‫ا‬ً‫ن‬‫ا‬َ‫س‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫إ‬ُ َ‫ن‬ َ‫او‬َ‫ع‬ُ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُ ُّ‫ل‬‫ك‬ َ‫ُو‬,ٌ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ ‫أ‬‫م‬‫ه‬َ‫ف‬ُ ٍ‫ر‬‫أ‬‫م‬َ‫أ‬ُ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫وا‬‫ع‬َ‫م‬َ‫ت‬‫أ‬‫ج‬‫ُا‬ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُ ُّ‫ل‬‫ك‬ُ ِّ‫ة‬َ‫ع‬ َ‫او‬َ‫ط‬‫م‬ِّ‫ل‬ُ َ‫ي‬ِّ‫ه‬ َ‫ُو‬ ِّ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ي‬َ‫ش‬‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ُا‬ َ‫ن‬ ِّ‫ُم‬‫ه‬‫ل‬‫أ‬‫ص‬َ‫أ‬ َ‫ُو‬,
ُِّ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ب‬‫ا‬َ‫ت‬‫الم‬ َ‫و‬
“Setiap kaum yang berkumpul atas suatu urusan, maka mereka disebut Syi’ah, dan setiap kaum
yang menolong manusia dan berkelompok kepadanya disebut Syi’ah baginya.Aslinya adalah dari
kata ُ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ي‬‫َا‬‫ش‬‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ا‬ (yang berarti) ketundukan dan mengikuti.”
Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab‫شيعة‬Syī`ah.Bentuk tunggal dari kata ini adalah
Syī`ī‫".شيعي‬Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali‫ُعلي‬ ‫شيعة‬ artinya
"pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya
ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang
beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun)
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang.
Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut
terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin AbuThalib sangat utama
di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin,
demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa
pergeseran.Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni
juga mengalami perpecahan mazhab.
Pemakaian Nama Syi’ah Di Dalam Al Qur’an Al Karim
Kalimat Syi’ah dan pecahannya yang bermakna secara bahasa, yang berlaku di dalam Al
Qur’an al Karim adalah:
1. Yang bermakna firqah (kelompok) atau ummat atau jama’ah (kumpulan) manusia
Allah Ta’ala berfirman:
ُِّ‫ن‬َ‫م‬‫أ‬‫ح‬ َّ‫ىُالر‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ُ‫أ‬‫م‬‫ُّه‬‫ي‬َ‫أ‬ٍُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُِّ‫ل‬‫ُك‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َّ‫ن‬َ‫ع‬ ِّ‫ز‬‫أ‬‫ن‬َ‫ن‬‫َل‬َُّ‫م‬‫ث‬‫ًّا‬‫ي‬ِّ‫ت‬ِّ‫ع‬
“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syi’ah siapa di antara mereka yang sangat
durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah).” (QS. Maryam: 69).
Maksud dari ‘tiap-tiap Syi’ah’ adalah “Dari tiap kelompok Jama’ah dan ummat”.
2. Yang bermakna firqah
Allah Ta’ala berfirman:
‫ًّا‬‫ي‬ِّ‫ت‬ِّ‫ع‬ُِّ‫ن‬َ‫م‬‫أ‬‫ح‬ َّ‫ىُالر‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ُ‫أ‬‫م‬‫ُّه‬‫ي‬َ‫أ‬ٍُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُِّ‫ل‬‫ُك‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َّ‫ن‬َ‫ع‬ ِّ‫ز‬‫أ‬‫ن‬َ‫ن‬‫َل‬َُّ‫م‬‫ث‬
“Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syi’ah siapa di antara mereka yang sangat
durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah).” (QS. Maryam: 69).
Maksud dari ‘tiap-tiap Syi’ah’ adalah “Dari tiap kelompok Jama’ah dan ummat”.
3. Yang bermakna firqah
Allah Ta’ala berfirman:
‫ء‬‫أ‬‫ى‬َ‫ش‬ُ‫ي‬ِّ‫ف‬ُ‫أ‬‫م‬‫ه‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َ‫ت‬‫أ‬‫س‬َ‫ل‬ُ‫ا‬ً‫ع‬َ‫ي‬ِّ‫ش‬ُ‫ا‬ ‫أ‬‫و‬‫ان‬َ‫ك‬ َ‫ُو‬‫أ‬‫م‬‫َه‬‫ن‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫د‬ُ‫ا‬ ‫أ‬‫و‬‫ق‬َّ‫ر‬َ‫ف‬ُ َ‫أن‬‫ي‬ِّ‫ذ‬‫ل‬َّ‫ا‬ُ َّ‫ن‬ِّ‫إ‬
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah dien-Nya dan mereka menjadi Syi’ah tidak
ada tanggung jawabmu sedikitpun terhadap mereka.” (QS. Al An’am: 159). Maksud dari
“Mereka menjadi Syi’ah” adalah “Golongan”
4. Bermakna Serupa
Firman Allah Ta’ala:
َُ‫أ‬ُ‫أ‬‫د‬َ‫ق‬َ‫ل‬ َ‫و‬ٍُ‫ر‬ِّ‫ك‬َّ‫د‬ُّ‫م‬ُ‫ن‬ِّ‫ُم‬‫أ‬‫ل‬َ‫ه‬َ‫ف‬ُ‫أ‬‫م‬‫ك‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ي‬‫أ‬‫ش‬َ‫أ‬ُ‫َآ‬‫ن‬‫أ‬‫ك‬َ‫ل‬‫أ‬‫ه‬
“Dan sungguh telah Kami binasakan “As Syi’ah” dari kalian, maka adakah orang yang mau
mengambil pelajaran.” (QS. Al Qomar: 51) Maksud dari “As Syi’ah dari kalian” adalah “Yang
serupa dengan kalian dalam kekufuran, dari ummat-ummat yang terdahulu”.
5. Bermakna pengikut, teman dekat, dan penolong
Allah Ta’ala berfirman:
َُ‫ذ‬َ‫ه‬ َ‫ُو‬ِّ‫ه‬ِّ‫ت‬َ‫ع‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ‫ن‬ ِّ‫اُم‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ُ ِّ‫ن‬َ‫ال‬ِّ‫ت‬َ‫ت‬‫أ‬‫ق‬َ‫ي‬ُ ِّ‫أن‬‫ي‬َ‫ل‬‫ج‬َ‫اُر‬َ‫ه‬‫ي‬ِّ‫ف‬َُ‫د‬َ‫ج‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُ‫ا‬َ‫ه‬ِّ‫ل‬‫أ‬‫ه‬َ‫أ‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬ ٍ‫ة‬َ‫ل‬‫أ‬‫ف‬َ‫غ‬ُ ِّ‫ين‬ ِّ‫ىُح‬َ‫ل‬َ‫ع‬َُ‫ة‬َ‫ن‬‫ي‬ِّ‫د‬َ‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ُا‬َ‫ل‬َ‫خ‬َ‫د‬ َ‫و‬ُ ‫أ‬‫ن‬ ِّ‫اُم‬ُِّ‫ش‬ُ‫ن‬ ِّ‫يُم‬ِّ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ُا‬‫ه‬َ‫ث‬‫َا‬‫غ‬َ‫ت‬‫أ‬‫س‬‫ا‬َ‫ف‬ُِّ‫ه‬ِّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُِّ‫ه‬ِّ‫ت‬َ‫ع‬‫ي‬
ُِّ‫ب‬ُّ‫م‬ٌُّ‫ل‬ ِّ‫ض‬ُّ‫م‬ُ ٌّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِّ‫إ‬ُِّ‫ان‬َ‫ط‬‫أ‬‫ي‬َّ‫ش‬‫ُال‬ِّ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫اُم‬َ‫ذ‬َ‫ه‬َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ُِّ‫ه‬‫أ‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫ى‬َ‫ض‬َ‫ق‬َ‫ف‬ُ‫ى‬َ‫س‬‫و‬‫ُم‬‫ه‬ َ‫ز‬َ‫ك‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُِّ‫ه‬ِّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫يُم‬ِّ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ٌُ‫ين‬
“Maka didapatinya di dalam kota dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari
Syi’ahnya (bani isail) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun), maka orang yang dari
golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya,
lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al Qashash: 15)[5]
Definisi Secara Terminologi (istilah)
Dalam mendefinisikan Syi’ah para ulama berbeda pendapat:
1. Setiap orang yang berwali kepada Ali dan Ahli Baitnya,sebagaimana perkataan Al Fairuz
Abadi:
“Sungguh nama ini telah umum atas setiap orang yang berwali kepada Ali dan Ahli Baitnya
sehingga jadilah nama khusus bagi mereka.”
2. Menurut kitab Al-Imam Zaid karya Abdul Aziz bin Ishaq Al-Baghdadiy, yang dimaksud
dengan istilah Syi’ah ialah segolongan kaum muslimin yang mencintai Imam Ali bin Abi Thalib
secara berlebih-lebihan, yang juga lazim dikenakan pada kaum Rawafidh, salah satu sekte syi'ah
3. Mereka adalah orang-orang yang menolong Ahli Bait dan meyakini Imamahnya Ali, dan
khilafah orang yang sebelum beliau adalah mendhalimi beliau.
4. Mereka adalah orang-orang yang mengutamakan Ali atas khalifah Ar Rasyidin sebelumnya
radhiyallahu ‘anhum, dan ia berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah orang yang paling berhak
menjadi khalifah.
Syi’ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan
keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad
saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau golongan, seperti yang
terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar
termasuk golongannya (Nuh).”
Syi’ah secara harfiah berarti kelompok atau pengikut. Kata tersebut dimaksudkan untuk
menunjuk para pengikut ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama ahlulbait. Ketokohan
‘Ali bin Abi Thalib dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan
Nabi Muhammad sendiri, ketika dia (Nabi Muhammad—pen.) masih hidup.
Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak
menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri
(Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi
Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.
Sehinggga dari pengertian diatas dapat ditarik pengertian bahwa syi’ah adalahkelompok pembela
Ali Bin abi thalib dan keturunannya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pokok-Pokok Ajaran Syi’ah
Ada beberapa pokok Ajaran Tentang Syi”ah, sebagai berikut:
a) Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam,
istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad saw. Ada
tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad saw dan
seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas hanya pada Nabi sendiri,
‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam
Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih populer.
b) Al-Badâ’.Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak.Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa
Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan
peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena
Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang
sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur.
Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui
sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah
kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang
menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada
zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya
Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.
c) Asyura. Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh.Maksudnya adalah hari
kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari berkabung umum
untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid
bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura
tersebut, selain mengenang perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-
orang Syi’ah juga membaca salawat bagi Nabi saw dan keluarganya, mengutuk pelaku
pembunuhan terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti
memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap
wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di berbagai daerah
seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut.
d) Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat harus ada
pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi. Atau, dalam pengertian Ali
Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-
rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi
yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan
kemandirian dalam mengambil keputusan. Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup
persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin
agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah, kecuali Syi’ah Zaidiyah,
penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat
atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.
e) ‘Ishmah. Dari segi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang berarti
memelihara atau menjaga.‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi
Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa.Ali Syari’ati
mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas
atau masyarakat—yakni, orang yang memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi
amanat kepemimpinan oleh orang banyak—mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan.
f) Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datanganya seorang juru
selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru
selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah
seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki
keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam
Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja
manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali
dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia.
g) Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya
tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua kata: wilâyah
berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau ahli hukum Islam. Wilâyah
al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqaha.
h) Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali.Raj’ah adalah
keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan
sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah
swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi.Sementara Syaikh Abdul
Mun’eim al-Nemr mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang
maksudnya ialah bahwa sebagian manusiaakan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah
kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan
kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk
memenuhi selera dan keinginan memerintah.Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada
orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.
i) Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya
takut.Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan
bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian
identitas dan ketidakterusterangan.Perilaku taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib
dan merupakan salah satu dasar mazhab Syi’ah.
j) Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau kedudukan
seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali suaya doanya tersebut cepat dikabulkan Allah swt.
Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat
dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya
tawassul dalam Syi’ah terbatas pada pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam
doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh”
(wahai Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.
k) Tawallî dan tabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya mengangkat
seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata tabarra’a ‘an fulân yang
artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk-
pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah
untuk tawallî kepada Ahlulbait dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi
mengenai ‘Ali bin Abi Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah
pemimpinnya maka hendaklah ia menjadikan ‘Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang
yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina ‘Ali dan lindungilah orang yang
melindungi ‘Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal)
3.2 Pengaruh Ajaran Syi’ah Terhadap Sunni Di Indonsia
Jika kita mengingat kembali pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus
Dur), cendekiawan NU. Beliau mengatakan bahwa “Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus
Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.”.Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan
peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi
Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk
teologi.
Tentu bukan tanpa alasan statemen di atas dilontarkan, karena NU dan Syiah secara
budaya memiliki banyak kesamaan. Di Indonesia sendiri tak dapat dipastikan apakah Sunni atau
Syiah yang datang terlebih dahulu, sebagaimana madzhab leluhur para habaib di Hadramaut
yang masih diperdebatkan, apakah Sunni atau Syiah.Tapi, yang pasti, kajian tentang Syiah di
Indonesia telah dilakukan oleh para ahli dan pengamat sejarah. Dan sebagian besar di antaranya
bahwa orang2 Persia -yang pernah tinggal di Gujarat- yang berpaham Syiah-lah yang pertama
kali menyebarkan Islam di Indonesia.
M. Yunus Jamil, misalnya, dalam bukunya, “Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh” (1968)
menulis tentang kerajaan Islam pertama yang beridiri di Nusantara adalah kerajaan Peureulak
(Perlak), yang didirikan pada 225 H/845 M. Para pendiri kerajaan ini adalah para pelaut-
pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat, dan mengangkat seorang Sayyid Maulana Abd.
Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang menganut paham poltik Syiah, sebagai Sultan Perlak.
Sehingga tak heran jika tradisi serta budaya Syiah demikian kental terasa di daerah Aceh
dan sekitarnya (baca: sebagian Sumatera). Sebagai contoh adalah perayaan Hoyak Tabuik di
daerah Pariaman Sumatera Barat. Konon perayaan ini pertama kali diselenggarakan oleh Sultan
Burhanudin Ulakan atau yang terkenal dengan Imam Senggolo pada tahun 1685 M. Perayaan ini
dimulai dari hari pertama bulan Muharram hingga hari yang kesepuluh. Dan puncak dari
perayaan tersebut ialah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda
Imam Husain, cucu Nabi yang gugur di Padang Karbala.
Kartomi menemukan bukti kuat adanya tradisi Syiah di kota-kota pesisir Sumatra
termasuk festival tahunan Tabut. Menurutnya ada beberapa keluarga Syiah di kota Pariaman dan
Bengkulu. Mereka dianggap sebagai keturunan tentara India Inggris (British India) yang datang
ke daerah itu di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Masyarkat setempat tidak bermasalah
dengan kepercayaan dan praktek ajaran mereka, bahkan Imam masjid setempat membantu
mereka, antara lain dengan melakukan doa dan puji-pujian dengan cara Syii pada setiap arak-
arakan Tabut.
Namun peringatan Asyura akhirnya mengalami perubahan. Menurut Snouck Hurgronje,
gelombang Islam Sunni dari Mekah datang untuk "memurnikan" Islam di Hindia Belanda dari
"khurafat dan bid'ah" termasuk peringatan Asyura. Begitu juga dengan Aceh yang hubungan
internasionalnya dengan negara-negara Islam, khususnya Mekah dan Mesir, menyebabkan
hilangnya fakta-fakta sejarah Syiah hilang dari masyarakat Islam Indonesia.Kartomi juga
menunjukkan bahwa sejak tahun 1974 arak-arakan Tabut telah dibelokkan maknanya hanya
semata-mata untuk atraksi turisme yang berarti hilangnya unsur-unsur utama gairah kecintaan
dan emosi, yang merupakan ciri khas Syiah.
Tradisi Syiah di Indonesia tidak hanya kita temukan di daerah Sumatera dan sekitarnya,
melainkan juga di tanah Jawa. Menurut Sunyoto, di Jawa tradisi Syiah diajarkan oleh Wali Sanga
yang dikenal sebagai para penyebar Islam di pulau ini. (Nama-nama mereka adalah Maulana
Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan
Muria, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Ditambah Syekh Siti Jenar, yang tidak
dimasukkan ke dalam salah satu dari yang sembilan) Menurutnya, dua diantara mereka, Syekh
Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, bertanggungjawab sebagai penyebar tradisi Syiah diantara orang-
orang di Jawa.Namun, berbeda dengan keduanya mayoritas para Wali Sanga mengajarkan Islam
Sunni. Sunan Bonang, yang moderat, berusaha menjembatani kedua kelompok ini. Jalan ketiga
yang moderat ini, yakni secara teologi Sunni tapi secara kultur Syii, berpengaruh besar tehadap
pembentukan Islam di Jawa. Bersandar pada sumber Jawa, Babad Tanah Jawi,Muhaimin
menunjukkan Syekh Siti Jenar, yang juga dikenal sebagai LemahAbang, sebagai pengikut Syiah
Duabelas dan berpegang pada doktrin bahwa Imam harus merupakan tokoh politik tertinggi
dalam Negara; doktrin yang sama dianut oleh Sufi syahid Persia Mansur al-Hallaj (w. 922),
yakni doktrin sufi wujudiyyah. Menurut Muhaimin, Syekh Siti Jenar datang ke Jawa dari
Baghdad dandikatakan telah mengislamkan banyak raja dan pengikutnya di tanah Jawa.
Pengaruh Sufi dan Syiah ini pula yang telah membuat rakyat Jawa percaya tentang Imam Mahdi
yang sering disebut sebagai Ratu Adil.
Pengaruh Syiah di Jawa dan sebagain besar Indonesia terlihat pula dalam peringatan
wafatnya Imam Husayn, antara lain dengan adanya tradisi bubur Syura. Di pantai barat Sumatra
seperti Pariaman dan Bengkulu Tradisi Syiah di Indonesia tidak hanya kita temukan di daerah
Sumatera dan sekitarnya, melainkan juga ada tradisi perayaan Tabut. Di Jogjakarta, misalnya,
kita menemukan tradisi “grebek suro”. Menurut sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro
(Muharram) adalah bulan yang penuh dengan kenahasan, karenanya mereka enderung
berpantang untuk menggelar perayaan nikah atau membangun rumah pada bulan tersebut.Dan
untuk menebus segala kesialan itu, mereka mengadakan upacara Grebeg Suro. Semua itu sebagai
bias langsung dari gugurnya Imam Husain di Padang Karbala.
Belum lagi tradisi2 keagamaan di Indonesia, seperti Marhaba, Shalawatan, Tahlil Arwah,
Haul, Kenduri, yang sangat terasa adanya unsur budaya Syiah di sana. Kenduri, misalnya, adalah
tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah. Bahkan, katanya, istilah kenduri
itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia,
yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi
Muhammad SAW.
Agaknya masih banyak tradisi khas syiah yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia,
seperti dari cerita2 kepahlawan Nabi atau di Sunda terkenal cerita tentang Tongkat Ali dan
Rumput Fatimah, namun karena keterbatasan ruang, waktu serta literatur yang terbatas sehingga
saya mencukupkan hingga di sini. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak
tradisi Syiah yang tak tercatat atau belum terlacak oleh para pakar sejarah.
Diketemukannya beberapa tradisi Syiah sekaligus pertanda bahwa Syiah bukanlah hal
yang baru di Nusantara.Walaupun kita boleh tidak menyepakati fikih dan teologi Syiah, tetapi
tradisi keberagamaan di Indonesia mempunyai kesamaan dengan tradisi yang sering dilakukan
oleh Muslim Syiah.Dan itu kiranya menambah kaya ragam khazanah budaya Indonesia.
Jadi Harus diakui bahwa pengaruh Syi’ah pada suni sangat besar dan mendalam secara
budaya. Seperti Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura diJogjakarta dan
Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia. Karena kuatnya unsur-
unsur Syiah dalam corak keislaman di Indonesia inilah, hubungan antara Sunni dan Syiah, sejak
dahulu, berlangsung dengan cukup bersahabat. Pada saat Gus Dur memimpin ormas Islam
terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU), sejak 1984-1999, hubungan antara kalangan
NU dan Syiah juga cukup bersahabat.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kehadiran syi’ah di Indonesia merupakan hal yang phenomenal sekarang ini.padahal
syi’ah masuk ke Indonesia sudah dari zaman sebelum penjajah datang ke Indonesia. Kedatangan
syi’ah sekarang ini tidak sama dengan kedatangan syi’ah pada saat penyebaran agama islam.
Syiah sekarang bangkit setelah terjadi revolusi Iran pada 1979. Banyak para cendikiawan dan
pelajar kagum dengan keberhasilan iran ini. Melalui revolusi ini iran megekspor ajaran syi’ah
kesuluh dunia tanpa terkecuali di asia tenggara. Terutama di Indonesia. Setelah masuk di
indonesia syi’ah dianggap ajaran pemicu konflik, dan ada juga yang mengatakan ajaran sesat.
Dengan itulah para cendikiawan dari NU dan Muhammadiyah mengadakan kajian-kajian
tentang paham syi’ah di Indonesia yang mempengaruhi penganut sunni Indonesia. Sehingga
terciptalah transformasi dan reformasi pikiran dari cendikaiawan, yang salah satu tokoh “sunni
sejati” Gusdur dalam satatmennya mengungkapkan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural
adalah Syi’ah. Ada beberapa shalawat khas Syi’ah yang sampai sekarang masih dijalankan di
pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul
Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan.Itu semua tradisi
Syi’ah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam bentuk mazhab Syafi’i padahal sangat berbeda
dengan mazhab Syafi’i yang dijalankan di negara-negara lain. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan
Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang
dari Gujarat-Persia.Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam bukunya, Kafilah Budaya meruntut
berbagai fakta tentang adanya pengaruh-pengaruh tradisi Syiah dan Iran di tanah air terutama
bagi masyarakat Minangkabau yang masih terjaga sampai kini.
Sehingga perkembangan syi’ah di Indonesia tidak mempengaruhi suni dalam bidang
ajaran-ajaran pokok tentang islam melainkan syi’ah mempengaruhi suni secara cultural (budaya)
yangsering ditradisikan oleh kaum suni sampai sekarang.
4.2 Saran
Harapan penulis dari tulisan ini adalah pembaca bisa mengetahui perkembangan syi’ah di
Indonesia dan bagaimana pengaruhnya kepada islam suni di Indonesia. Dan semoga tulisan ini
bisa menjadi sumber bacaan yang bermamfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada
khususnya.Dalam makalah ini penulis menyadari tulisan tersebut masih jauh dari
kesempurnaan.Oleh karena itu, penulis mengahrapkan saran dan kritikan bersifat konstruktif
untuk penyempuranaan tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh, Abubakar. Perbandingan Mazhab Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam. Solo: Ramadhani, t.t.
Risalah seminar "Masuknya Islam ke Indonesia" oleh Panitia seminar Sejarah Masuknya Islam ke
Indonesia Medan, m.s. 77- 88 dan "Islam di Asia Tenggara. Perspektif Sejarah" oleh LP3ES,
m.s. 7-9.
“Pertentangan Antara Svi'ah dan Sunnah".Terbitan Media , Dakwah Jakarta, oleh Drs. Dahlan
Bashray Thariry LSO.m.s. 21.
"Sejarah dan Dokumen-dokumen Syi’ah" oleh Syiekh Dr Abdul Mun'in al Nemr, m.s. 49-52.
"Imam Mahdi" oleh H.M. Arayad Thalib Lubis, m.s. 52, dan "Mukhtashar al Tuhfah al Ithna
Asyariah" oleh Sayyid Mahmud Syukri Al Alusi m.s. 200-201.
"Pertentangan antara Syi'ah dan Sunnah". Terbitan Media Dakwah Jakarta, m.s. 30-32.
"Syi'ah dan Sunnah" oleh Ihsan Ilahi Zhahiri terjemahan Bey Arifin, m.s. 9-10.
Harun Nasution, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah, analisan perbandingan, ui press Jakarta,
1986Sumber : Dr. Abdul Rozak, M.Ag., dan Dr. Rosihon, M.Ag, “Ilmu Kalam”. Pustaka Setia.
Bandung : 2001.
Tugas
“HUBUNGAN AQIDAH ISLAM DALAM ALIRAN AHLUSSUNNAH”
(ALIRAN SUNNI DAN ALIRAN SYIAH)
Oleh :
AMELINDA ANGRAENY WARDAYA
111 2013 0007
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2014

Makalah1

  • 1.
    DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..........................................................................................................i KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang..................................................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................ 2 1.3 Tujuan.................................................................................................................................. 2 1.4 Metode ................................................................................................................................ 2 BAB II KAJIAN TEORI .................................................................................................. 3 2.1 Pengertian Sunni.................................................................................................................. 3 2.2 Pengertian Syi’ah................................................................................................................. 6 BAB III PEMBAHASAN.................................................................................................... 10 2.1 Pokok-Pokok Ajaran Syi’ah.......................................................................................... 10 2.2 Pengaruh Ajaran Syi’ah Pada Paham Sunni di Indonesia............................................. 14 BAB IV KESIMPULAN ................................................................................................... 4.1 Kesimpulan.......................................................................................................................... 18 4.2 Saran.................................................................................................................................... 19 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 20
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN 1. LATARBELAKANG Kehadiran Syi'ah di pentas Nusantara kini adalah merupakan penomena baru di penghujung abad kedua puluh ini.Dimana Syi'ah mula-mula diperkenalkan kepada masyarakat Nusantara, sulit untuk dipastikan.Kebanyakan pengkaji sejarah mengatakan bahwa Islam masuk di Nusantara dibawa oleh orang-orang Sunni.Dengan itu, mazhab Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah mazhab yang paling dominan di Nusantara sejak zaman dulu hingga era modern sekarang ini. Namun setelah terjadinya revolusi Iran pada tahun 1979, mazhab Syi'ah mulai mendapat perhatian dari Negara-negara di Asia Tenggara. Tidak terkecuali Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mendapatkan respon baik dari sejumlah orang atau kalangan tertentu tentang keberhasilan revolusi iran, dan malah mengkagumi revolusi ini. Dengan demikian, mulailah dilakukan kajian-kajian terhadap mazhab Syi'ah di Indonesia. Seperti munculnya penomena Gus Dur lalu Ulil Absar Abdillah kemudian guntur Romli yang tumbuh dari lumbung-lumbung Sunni tradisional, yang kini mendominasi generasi muda NU, adalah bukti nyata akan keterlibatan cendikiawan yang berasal dari “sunni sejati”. Sedangkan Muhammdiyah, Persis dan Al-Irsyad sejak semula telah menunjukkan kehendak untuk tidak serta merta menduplikasi pandangan orisinil Sunni. Penomena ini merupakan proses transformasi dan reformasi pemikiran dari cendikiawan memahami ajaran syi’ah yang berkembang di Indonesia. Dengan keterlibatan para cendikiwan dari NU dan Muhammadiyah bukan serta merta mereka mengembangkan paham dan aqidah Syi'ah di kalangan pengikut- pengikut Sunnah di di Indonesia sebagaimana banyak dituduhkah oleh sebagian orang atau oknum tertentu. Indonesia adalah negara yang dihuni oleh ummat Islam terbesar di dunia yang sedang berkembang dengan berbagai tentangan yang mencoba mengikis kepercayaan ummat terhadap Islam dari berbagai aliran kepercayaan untuk merusak Aqidah Islamiah, seperti kristenisasi, sekularisasi, reaktualisasi, ahmadiah qadyani, aliran kebatinan, inkarus sunnah dan sebagainya. Namun dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah ummat islam di indonesia masih mampu
  • 3.
    bertahan ditengah kepunganberbagai macam dan ragam kepercayaan yang sedang berkembang. Kini umat Islam di Indonesia terpaksa pula berhadapan dengan penomena baru yaitu; gerakan Syi’ah yang aktif dan agresif di tengah-tengah Ahlus Sunnah, yang membawa perbedaan paham kepada kaum muslimin di Indonesia. Sehingga, Majlis Ulama Indonesia melalui Rakernes pada 5 Jamadil Akhir 1404H/8 Maret 1984 telah membuat beberapa keputusan mengenai perbedaan pokok di antara faham Syi'ah dengan mazhab Sunnah wal Jama'ah, sambil meneggaskan ummat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran "syi'ah". Dari uraian diatas maka penulis tertarik mengangkat tema Syi’ah di indonesia dan Syi’ah di Iran dengan makalah berjudulKita (sunni indonesia) Lebih Syi’ah dari Iran. 2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pokok-pokok ajaran syi’ah? 2. Bagaimana pengaruh ajaran syi’ah terhadap paham ahlusnsunnah wal jama’ah di indonsia ? 3. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ahlisunnah waljama’ah program pasca sarjana bahasa inggris unisma tahun 2012. 2. Tujuan khusus a. Untuk mengetahui pokok-pokok ajaran syi’ah. b. Untuk mengetahui pengaruh paham syi’ah pada paham Ahlussunnah Waljama ’ah di Indonesia. 4. Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode literatur, yaitu dengan mengumpulkan beberapa literatur yang berhubungan dengan pokok bahas
  • 4.
    BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1Pengertian Sunni Sunni adalah istilah singkat dari kelompok ahlussunah wal jama’ah.Yaitu, pengikut Nabi SAW dan para sahabatnya.Karena masalah yang dibincangkan masalah keyakinan atau I’tiqad. Maka kaum sunni atau ahlussunannah waljama’ah adalah kaum yang menganut I’tiqad seperti I’tidaq yang dianut oleh nabi SAW dan para sahabatnya. Setelah menelaah dari berbagai referensi dan rujukan yang secara spesifik menjelaskan pengertian Ahlussunnah wa Al Jamaah, bisa difahami bahwa definisi Ahlussunnah wa Al jamaah ada dua bagian yaitu: definisi secara umum dan definisi secara khusus. Definisi Aswaja Secara umum adalah : satu kelompok atau golongan yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Dan Thoriqoh para shabatnya dalam hal aqidah, amaliyah fisik ( fiqih) dan hakikat ( Tasawwuf dan Ahlaq ) . Sedangkan definisi Aswaja secara khusus adalah : Golongan yang mempunyai I’tikad / keyakinan yang searah dengan keyakinan jamaah Asya’iroh dan Maturidiyah. Pada hakikatnya definisi Aswaja yang secara khusus bukan lain adalah merupakan juz dari definisi yang secara umum, karena pengertian Asya’iroh dan Ahlussunnah adalah golongan yang komitmen berpegang teguh pada ajaran Rasul dan para sahabat dalam hal aqidah. Namun penamaan golongan Asya’iroh dengan nama Ahli sunnah Wa Al Jamaah hanyalah skedar memberikan nama juz dengan menggunakan namanya kulli. Syaih Al Baghdadi dalam kitabnya Al Farqu bainal Firoq mengatakan : pada zaman sekarang kita tidak menemukan satu golongan yang komitmen terhadap ajaran Nabi dan sahabat
  • 5.
    kecuali golongan Ahlussunnahwal jamaah. Bukan dari golongan Rafidah, khowarij, jahmiyah, najariyah, musbihah, ghulat, khululiyah, Wahabiyah dan yang lainnya. Beliau juga meyebutkan; bahwa elemen Alussunnah waljamaah terdiri dari para Imam ahli fiqih, Ulama’ Hadits, Tafsir, para zuhud sufiyah, ulama’ lughat dan ulama’-ulama’ lain yang berpegang teguh paa aqidah Ahli sunnah wal jamaah. Beberapa pendapat juga menyatakan bahwa kelompok ahlussunah muncul sebagai reaksi atas paham Mu’tazilah, yang dimotori oleh Washil bin Atha (w. 131 H) yang sangat mengandalkan akal dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam. Disamping aliran Mu’tazilah, adalagi aliran Maturidiyah yang terbagi dalam 2 kelompok besar: 1. Kelompok yang berpusat di Samarkhand dengan pemahaman yang sedikit liberal 2. Kelompok yang muncul di Bukhara yang cenderung bersifat tradisional dan lebih dekat dengan aliran asy’ariyah. Maturidiyah dan asy’ariyah termasuk golongan ahlussunah. Dalam surat Syaikh al azhar, Salim al Bisyri, kepada seorang tokoh Syiah, yaitu Abdul Husein Syariffuddin al Musawi, dipahami bahwa yang dimaksud ahlussunah adalah goongan terbesar kaum muslim yang mengikuti aliran asy’ari dalam urusan aqidah dan keempat imam mahzabmaliki, syafi’I, ahmad bin hambal, dan hanafi dalam urusan syariah. Dalam al Farqu bain al Firaq (Abu al khair bin thaher al Baghdadi) menyatakan dengan pasti bahwa termasuk pula dalam kategori ahlussunah adalah pengikut al auza’iy (88-150 H), ats tsaury (w. 161 H), Ibn Abi Laila, dan Ahl Adh Dhahir. Ini dalam bidang fiqh. Sedang dalam bidang aqidah, tokoh-tokoh utama faham ini adalah Imam abu Hasan Al Asy’ari (w. 324 H), al Baqillani (403 H), Imam al haramain al Juwaini (w. 478 H) dan
  • 6.
    yang paling berperandalam penyebarannya adalah Imam al Ghazali (w. 505) Menurut Muhammad ‘Imarah (Guru Besar Universitas Al Azhar, Mesir): ’’Ahlussunah adalah mayoritas umat islam yang anutannya menyatakan bahwa perbuatan manusia diciptakan oleh Allah dan bahwa baik dan buruk adalah karena qadha dan qadarnya (dengan demikian mereka adalah pengikut Jabariyah (paham fatalisme) yang moderat)’’. Mereka enggan membicarakan pergulatan/perselisihan sahabat-sahabat Nabi menyangkut kekuasaan.Mereka juga memperurutkan keutamaan Khulafa ar Rasyidin sesuai dengan urutan masa kekuasaan mereka. Mereka membaiat siapa yang memegang tampuk kekuasaan, baik penguasa yang taat maupun durhaka, dan menolak revolusi dan pembngkangan sebagai cara untuk mengubah ketidak adilan dan penganiayaan. Merka berpendapat bahwa rezeki bersumber dari Allah yang dianugerahkannya kepada hamba-hambanya, baik rezeki itu halal maupun haram (berbeda dengan Mu’tazilah yang menyatakan bahwa (yang dinamai) rezeki terbatas pada yang halal bukan yang haram. Sumber penetapan hukum Sunni: 1. Al Qur’an 2. Sunnah 3. Ijma’ (Consensus Ulama) 4. Qiyas (Analogi) Literature yang menjadi sumber rujukan Sunni (selain al Qur'an): 1. Shahih Bukhari (Al Jami ash Shahih al Musnad, al Mukhtashar min Hadist Rasulillah) karya Abu Abdullah Muhammad (w. 256 H) 2. Shahih Muslim (al Jami ash Shahih) karya Muslim bin Hajjaj (w. 261)
  • 7.
    3. Sunan AbuDawud, karya Sulayman bin Asy’ast as Sijistani (w. 275) 4. Al Jami ash Shahih/Sunan at tirmidzy karya abu isa Muhammad at Tirmidzy (w. 279H) 5. As Sunan/Sunan Ibnu Majah (w. 273) 6. Sunan an Nasa’I (w. 303) Dengan demikian sunnni atau ahlussunah waljama’ah adalah orang-orang atau kumpulan yang mengikuti perkataan, perbuatan dan ketetapan Rasulullah SAW dan para sahabatnya jika menyimpang dari apa yang mereka katakan, perbuat dan tetapkan maka itu bukan ahlissunah. Tapi berubah menjadi ahlul bid’ah, yaitu melakukan hal yang menyimpang dari apa yang dikatakan, diperbuat dan ditetapkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. 2.2 Pengertian Syi’ah Secara Etimologi Berasal dari kata: ُ‫اء‬َ‫ب‬‫أ‬‫ت‬َ ‫أ‬‫ْل‬َ‫ا‬: Pengikut, ُ‫ار‬َ‫ص‬‫أ‬‫ن‬َ ‫أ‬‫ْل‬َ‫ا‬: Penolong ُ‫ة‬َّ‫ص‬‫َا‬‫خ‬‫أ‬‫ل‬َ‫ا‬: Teman dekat Ad Dzahiri berkata: ُ‫ار‬َ‫ص‬‫أ‬‫ن‬َ‫أ‬ُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫الش‬ َ‫و‬ٍُُُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ ِّ‫م‬‫أ‬‫ه‬َ‫ف‬ُ ِّ‫ر‬‫أ‬‫م‬َ‫أ‬ُ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫وا‬‫ع‬َ‫م‬َ‫ت‬َ‫ج‬‫ُا‬ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُُّ‫ل‬‫ك‬ َ‫,ُو‬‫ه‬‫اع‬َ‫ب‬‫أ‬‫ت‬َ‫أ‬ َ‫ُو‬ِّ‫ل‬‫ج‬َّ‫الر‬ “Syi’ah adalah penolong dan pengikut seseorang, dan setiap kaum yang berkumpul atas suatu urusan, maka mereka disebut Syi’ah.”
  • 8.
    Az Zubaidi berkata: ‫ه‬َ‫ل‬ٌُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬َُ‫و‬‫ه‬َ‫ف‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ُ‫ب‬‫ز‬‫أ‬‫ح‬َ‫ت‬ َ‫ُو‬‫ا‬ً‫ن‬‫ا‬َ‫س‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫إ‬ُ َ‫ن‬ َ‫او‬َ‫ع‬ُ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُ ُّ‫ل‬‫ك‬ َ‫ُو‬,ٌ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ ‫أ‬‫م‬‫ه‬َ‫ف‬ُ ٍ‫ر‬‫أ‬‫م‬َ‫أ‬ُ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫وا‬‫ع‬َ‫م‬َ‫ت‬‫أ‬‫ج‬‫ُا‬ ٍ‫م‬ ‫أ‬‫و‬َ‫ق‬ُ ُّ‫ل‬‫ك‬ُ ِّ‫ة‬َ‫ع‬ َ‫او‬َ‫ط‬‫م‬ِّ‫ل‬ُ َ‫ي‬ِّ‫ه‬ َ‫ُو‬ ِّ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ي‬َ‫ش‬‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ُا‬ َ‫ن‬ ِّ‫ُم‬‫ه‬‫ل‬‫أ‬‫ص‬َ‫أ‬ َ‫ُو‬, ُِّ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ب‬‫ا‬َ‫ت‬‫الم‬ َ‫و‬ “Setiap kaum yang berkumpul atas suatu urusan, maka mereka disebut Syi’ah, dan setiap kaum yang menolong manusia dan berkelompok kepadanya disebut Syi’ah baginya.Aslinya adalah dari kata ُ‫ة‬َ‫ع‬َ‫ي‬‫َا‬‫ش‬‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ا‬ (yang berarti) ketundukan dan mengikuti.” Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab‫شيعة‬Syī`ah.Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī‫".شيعي‬Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali‫ُعلي‬ ‫شيعة‬ artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun) Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin AbuThalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran.Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab. Pemakaian Nama Syi’ah Di Dalam Al Qur’an Al Karim Kalimat Syi’ah dan pecahannya yang bermakna secara bahasa, yang berlaku di dalam Al Qur’an al Karim adalah: 1. Yang bermakna firqah (kelompok) atau ummat atau jama’ah (kumpulan) manusia
  • 9.
    Allah Ta’ala berfirman: ُِّ‫ن‬َ‫م‬‫أ‬‫ح‬َّ‫ىُالر‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ُ‫أ‬‫م‬‫ُّه‬‫ي‬َ‫أ‬ٍُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُِّ‫ل‬‫ُك‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َّ‫ن‬َ‫ع‬ ِّ‫ز‬‫أ‬‫ن‬َ‫ن‬‫َل‬َُّ‫م‬‫ث‬‫ًّا‬‫ي‬ِّ‫ت‬ِّ‫ع‬ “Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syi’ah siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah).” (QS. Maryam: 69). Maksud dari ‘tiap-tiap Syi’ah’ adalah “Dari tiap kelompok Jama’ah dan ummat”. 2. Yang bermakna firqah Allah Ta’ala berfirman: ‫ًّا‬‫ي‬ِّ‫ت‬ِّ‫ع‬ُِّ‫ن‬َ‫م‬‫أ‬‫ح‬ َّ‫ىُالر‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ُ‫أ‬‫م‬‫ُّه‬‫ي‬َ‫أ‬ٍُ‫ة‬َ‫ع‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُِّ‫ل‬‫ُك‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َّ‫ن‬َ‫ع‬ ِّ‫ز‬‫أ‬‫ن‬َ‫ن‬‫َل‬َُّ‫م‬‫ث‬ “Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap Syi’ah siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Ar Rahman (Yang Maha Pemurah).” (QS. Maryam: 69). Maksud dari ‘tiap-tiap Syi’ah’ adalah “Dari tiap kelompok Jama’ah dan ummat”. 3. Yang bermakna firqah Allah Ta’ala berfirman: ‫ء‬‫أ‬‫ى‬َ‫ش‬ُ‫ي‬ِّ‫ف‬ُ‫أ‬‫م‬‫ه‬‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬َ‫ت‬‫أ‬‫س‬َ‫ل‬ُ‫ا‬ً‫ع‬َ‫ي‬ِّ‫ش‬ُ‫ا‬ ‫أ‬‫و‬‫ان‬َ‫ك‬ َ‫ُو‬‫أ‬‫م‬‫َه‬‫ن‬‫أ‬‫ي‬ِّ‫د‬ُ‫ا‬ ‫أ‬‫و‬‫ق‬َّ‫ر‬َ‫ف‬ُ َ‫أن‬‫ي‬ِّ‫ذ‬‫ل‬َّ‫ا‬ُ َّ‫ن‬ِّ‫إ‬ “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah dien-Nya dan mereka menjadi Syi’ah tidak ada tanggung jawabmu sedikitpun terhadap mereka.” (QS. Al An’am: 159). Maksud dari “Mereka menjadi Syi’ah” adalah “Golongan” 4. Bermakna Serupa Firman Allah Ta’ala: َُ‫أ‬ُ‫أ‬‫د‬َ‫ق‬َ‫ل‬ َ‫و‬ٍُ‫ر‬ِّ‫ك‬َّ‫د‬ُّ‫م‬ُ‫ن‬ِّ‫ُم‬‫أ‬‫ل‬َ‫ه‬َ‫ف‬ُ‫أ‬‫م‬‫ك‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ي‬‫أ‬‫ش‬َ‫أ‬ُ‫َآ‬‫ن‬‫أ‬‫ك‬َ‫ل‬‫أ‬‫ه‬
  • 10.
    “Dan sungguh telahKami binasakan “As Syi’ah” dari kalian, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” (QS. Al Qomar: 51) Maksud dari “As Syi’ah dari kalian” adalah “Yang serupa dengan kalian dalam kekufuran, dari ummat-ummat yang terdahulu”. 5. Bermakna pengikut, teman dekat, dan penolong Allah Ta’ala berfirman: َُ‫ذ‬َ‫ه‬ َ‫ُو‬ِّ‫ه‬ِّ‫ت‬َ‫ع‬‫ي‬ِّ‫ش‬ُ‫ن‬ ِّ‫اُم‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ُ ِّ‫ن‬َ‫ال‬ِّ‫ت‬َ‫ت‬‫أ‬‫ق‬َ‫ي‬ُ ِّ‫أن‬‫ي‬َ‫ل‬‫ج‬َ‫اُر‬َ‫ه‬‫ي‬ِّ‫ف‬َُ‫د‬َ‫ج‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُ‫ا‬َ‫ه‬ِّ‫ل‬‫أ‬‫ه‬َ‫أ‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫ُم‬ ٍ‫ة‬َ‫ل‬‫أ‬‫ف‬َ‫غ‬ُ ِّ‫ين‬ ِّ‫ىُح‬َ‫ل‬َ‫ع‬َُ‫ة‬َ‫ن‬‫ي‬ِّ‫د‬َ‫م‬‫أ‬‫ل‬‫ُا‬َ‫ل‬َ‫خ‬َ‫د‬ َ‫و‬ُ ‫أ‬‫ن‬ ِّ‫اُم‬ُِّ‫ش‬ُ‫ن‬ ِّ‫يُم‬ِّ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ُا‬‫ه‬َ‫ث‬‫َا‬‫غ‬َ‫ت‬‫أ‬‫س‬‫ا‬َ‫ف‬ُِّ‫ه‬ِّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُِّ‫ه‬ِّ‫ت‬َ‫ع‬‫ي‬ ُِّ‫ب‬ُّ‫م‬ٌُّ‫ل‬ ِّ‫ض‬ُّ‫م‬ُ ٌّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِّ‫إ‬ُِّ‫ان‬َ‫ط‬‫أ‬‫ي‬َّ‫ش‬‫ُال‬ِّ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫اُم‬َ‫ذ‬َ‫ه‬َُ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ُِّ‫ه‬‫أ‬‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫ى‬َ‫ض‬َ‫ق‬َ‫ف‬ُ‫ى‬َ‫س‬‫و‬‫ُم‬‫ه‬ َ‫ز‬َ‫ك‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُِّ‫ه‬ِّ‫و‬‫د‬َ‫ع‬ُ ‫أ‬‫ن‬ِّ‫يُم‬ِّ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ٌُ‫ين‬ “Maka didapatinya di dalam kota dua orang laki-laki yang berkelahi, yang seorang dari Syi’ahnya (bani isail) dan seorang lagi dari musuhnya (kaum Fir’aun), maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al Qashash: 15)[5] Definisi Secara Terminologi (istilah) Dalam mendefinisikan Syi’ah para ulama berbeda pendapat: 1. Setiap orang yang berwali kepada Ali dan Ahli Baitnya,sebagaimana perkataan Al Fairuz Abadi: “Sungguh nama ini telah umum atas setiap orang yang berwali kepada Ali dan Ahli Baitnya sehingga jadilah nama khusus bagi mereka.” 2. Menurut kitab Al-Imam Zaid karya Abdul Aziz bin Ishaq Al-Baghdadiy, yang dimaksud dengan istilah Syi’ah ialah segolongan kaum muslimin yang mencintai Imam Ali bin Abi Thalib secara berlebih-lebihan, yang juga lazim dikenakan pada kaum Rawafidh, salah satu sekte syi'ah 3. Mereka adalah orang-orang yang menolong Ahli Bait dan meyakini Imamahnya Ali, dan khilafah orang yang sebelum beliau adalah mendhalimi beliau. 4. Mereka adalah orang-orang yang mengutamakan Ali atas khalifah Ar Rasyidin sebelumnya radhiyallahu ‘anhum, dan ia berpendapat bahwa Ahlul Bait adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah.
  • 11.
    Syi’ah adalah satualiran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau golongan, seperti yang terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).” Syi’ah secara harfiah berarti kelompok atau pengikut. Kata tersebut dimaksudkan untuk menunjuk para pengikut ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama ahlulbait. Ketokohan ‘Ali bin Abi Thalib dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan Nabi Muhammad sendiri, ketika dia (Nabi Muhammad—pen.) masih hidup. Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri (Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya. Sehinggga dari pengertian diatas dapat ditarik pengertian bahwa syi’ah adalahkelompok pembela Ali Bin abi thalib dan keturunannya.
  • 12.
    BAB III PEMBAHASAN 3.1 Pokok-PokokAjaran Syi’ah Ada beberapa pokok Ajaran Tentang Syi”ah, sebagai berikut: a) Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad saw. Ada tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad saw dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas hanya pada Nabi sendiri, ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih populer. b) Al-Badâ’.Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak.Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.
  • 13.
    c) Asyura. Asyuraberasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh.Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang- orang Syi’ah juga membaca salawat bagi Nabi saw dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di berbagai daerah seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut. d) Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi. Atau, dalam pengertian Ali Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim- rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan. Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah, kecuali Syi’ah Zaidiyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.
  • 14.
    e) ‘Ishmah. Darisegi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang berarti memelihara atau menjaga.‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa.Ali Syari’ati mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas atau masyarakat—yakni, orang yang memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi amanat kepemimpinan oleh orang banyak—mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan. f) Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datanganya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia. g) Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua kata: wilâyah berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau ahli hukum Islam. Wilâyah al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqaha. h) Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali.Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan
  • 15.
    sejumlah hamba Allahyang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi.Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa sebagian manusiaakan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk memenuhi selera dan keinginan memerintah.Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali. i) Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya takut.Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan.Perilaku taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu dasar mazhab Syi’ah. j) Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali suaya doanya tersebut cepat dikabulkan Allah swt. Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syi’ah terbatas pada pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh” (wahai Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.
  • 16.
    k) Tawallî dantabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata tabarra’a ‘an fulân yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk- pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallî kepada Ahlulbait dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi mengenai ‘Ali bin Abi Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya maka hendaklah ia menjadikan ‘Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina ‘Ali dan lindungilah orang yang melindungi ‘Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal) 3.2 Pengaruh Ajaran Syi’ah Terhadap Sunni Di Indonsia Jika kita mengingat kembali pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Beliau mengatakan bahwa “Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.”.Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Tentu bukan tanpa alasan statemen di atas dilontarkan, karena NU dan Syiah secara budaya memiliki banyak kesamaan. Di Indonesia sendiri tak dapat dipastikan apakah Sunni atau Syiah yang datang terlebih dahulu, sebagaimana madzhab leluhur para habaib di Hadramaut yang masih diperdebatkan, apakah Sunni atau Syiah.Tapi, yang pasti, kajian tentang Syiah di Indonesia telah dilakukan oleh para ahli dan pengamat sejarah. Dan sebagian besar di antaranya bahwa orang2 Persia -yang pernah tinggal di Gujarat- yang berpaham Syiah-lah yang pertama kali menyebarkan Islam di Indonesia.
  • 17.
    M. Yunus Jamil,misalnya, dalam bukunya, “Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh” (1968) menulis tentang kerajaan Islam pertama yang beridiri di Nusantara adalah kerajaan Peureulak (Perlak), yang didirikan pada 225 H/845 M. Para pendiri kerajaan ini adalah para pelaut- pedagang Muslim asal Persia, Arab dan Gujarat, dan mengangkat seorang Sayyid Maulana Abd. Aziz Syah, keturunan Arab-Quraisy, yang menganut paham poltik Syiah, sebagai Sultan Perlak. Sehingga tak heran jika tradisi serta budaya Syiah demikian kental terasa di daerah Aceh dan sekitarnya (baca: sebagian Sumatera). Sebagai contoh adalah perayaan Hoyak Tabuik di daerah Pariaman Sumatera Barat. Konon perayaan ini pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Burhanudin Ulakan atau yang terkenal dengan Imam Senggolo pada tahun 1685 M. Perayaan ini dimulai dari hari pertama bulan Muharram hingga hari yang kesepuluh. Dan puncak dari perayaan tersebut ialah prosesi mengarak usungan (tabut) yang dilambangkan sebagai keranda Imam Husain, cucu Nabi yang gugur di Padang Karbala. Kartomi menemukan bukti kuat adanya tradisi Syiah di kota-kota pesisir Sumatra termasuk festival tahunan Tabut. Menurutnya ada beberapa keluarga Syiah di kota Pariaman dan Bengkulu. Mereka dianggap sebagai keturunan tentara India Inggris (British India) yang datang ke daerah itu di akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Masyarkat setempat tidak bermasalah dengan kepercayaan dan praktek ajaran mereka, bahkan Imam masjid setempat membantu mereka, antara lain dengan melakukan doa dan puji-pujian dengan cara Syii pada setiap arak- arakan Tabut. Namun peringatan Asyura akhirnya mengalami perubahan. Menurut Snouck Hurgronje, gelombang Islam Sunni dari Mekah datang untuk "memurnikan" Islam di Hindia Belanda dari "khurafat dan bid'ah" termasuk peringatan Asyura. Begitu juga dengan Aceh yang hubungan internasionalnya dengan negara-negara Islam, khususnya Mekah dan Mesir, menyebabkan hilangnya fakta-fakta sejarah Syiah hilang dari masyarakat Islam Indonesia.Kartomi juga menunjukkan bahwa sejak tahun 1974 arak-arakan Tabut telah dibelokkan maknanya hanya semata-mata untuk atraksi turisme yang berarti hilangnya unsur-unsur utama gairah kecintaan dan emosi, yang merupakan ciri khas Syiah.
  • 18.
    Tradisi Syiah diIndonesia tidak hanya kita temukan di daerah Sumatera dan sekitarnya, melainkan juga di tanah Jawa. Menurut Sunyoto, di Jawa tradisi Syiah diajarkan oleh Wali Sanga yang dikenal sebagai para penyebar Islam di pulau ini. (Nama-nama mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Ditambah Syekh Siti Jenar, yang tidak dimasukkan ke dalam salah satu dari yang sembilan) Menurutnya, dua diantara mereka, Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, bertanggungjawab sebagai penyebar tradisi Syiah diantara orang- orang di Jawa.Namun, berbeda dengan keduanya mayoritas para Wali Sanga mengajarkan Islam Sunni. Sunan Bonang, yang moderat, berusaha menjembatani kedua kelompok ini. Jalan ketiga yang moderat ini, yakni secara teologi Sunni tapi secara kultur Syii, berpengaruh besar tehadap pembentukan Islam di Jawa. Bersandar pada sumber Jawa, Babad Tanah Jawi,Muhaimin menunjukkan Syekh Siti Jenar, yang juga dikenal sebagai LemahAbang, sebagai pengikut Syiah Duabelas dan berpegang pada doktrin bahwa Imam harus merupakan tokoh politik tertinggi dalam Negara; doktrin yang sama dianut oleh Sufi syahid Persia Mansur al-Hallaj (w. 922), yakni doktrin sufi wujudiyyah. Menurut Muhaimin, Syekh Siti Jenar datang ke Jawa dari Baghdad dandikatakan telah mengislamkan banyak raja dan pengikutnya di tanah Jawa. Pengaruh Sufi dan Syiah ini pula yang telah membuat rakyat Jawa percaya tentang Imam Mahdi yang sering disebut sebagai Ratu Adil. Pengaruh Syiah di Jawa dan sebagain besar Indonesia terlihat pula dalam peringatan wafatnya Imam Husayn, antara lain dengan adanya tradisi bubur Syura. Di pantai barat Sumatra seperti Pariaman dan Bengkulu Tradisi Syiah di Indonesia tidak hanya kita temukan di daerah Sumatera dan sekitarnya, melainkan juga ada tradisi perayaan Tabut. Di Jogjakarta, misalnya, kita menemukan tradisi “grebek suro”. Menurut sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro (Muharram) adalah bulan yang penuh dengan kenahasan, karenanya mereka enderung berpantang untuk menggelar perayaan nikah atau membangun rumah pada bulan tersebut.Dan untuk menebus segala kesialan itu, mereka mengadakan upacara Grebeg Suro. Semua itu sebagai bias langsung dari gugurnya Imam Husain di Padang Karbala. Belum lagi tradisi2 keagamaan di Indonesia, seperti Marhaba, Shalawatan, Tahlil Arwah, Haul, Kenduri, yang sangat terasa adanya unsur budaya Syiah di sana. Kenduri, misalnya, adalah
  • 19.
    tradisi khas Campayang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah. Bahkan, katanya, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW. Agaknya masih banyak tradisi khas syiah yang diadopsi oleh masyarakat Indonesia, seperti dari cerita2 kepahlawan Nabi atau di Sunda terkenal cerita tentang Tongkat Ali dan Rumput Fatimah, namun karena keterbatasan ruang, waktu serta literatur yang terbatas sehingga saya mencukupkan hingga di sini. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak tradisi Syiah yang tak tercatat atau belum terlacak oleh para pakar sejarah. Diketemukannya beberapa tradisi Syiah sekaligus pertanda bahwa Syiah bukanlah hal yang baru di Nusantara.Walaupun kita boleh tidak menyepakati fikih dan teologi Syiah, tetapi tradisi keberagamaan di Indonesia mempunyai kesamaan dengan tradisi yang sering dilakukan oleh Muslim Syiah.Dan itu kiranya menambah kaya ragam khazanah budaya Indonesia. Jadi Harus diakui bahwa pengaruh Syi’ah pada suni sangat besar dan mendalam secara budaya. Seperti Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura diJogjakarta dan Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia. Karena kuatnya unsur- unsur Syiah dalam corak keislaman di Indonesia inilah, hubungan antara Sunni dan Syiah, sejak dahulu, berlangsung dengan cukup bersahabat. Pada saat Gus Dur memimpin ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU), sejak 1984-1999, hubungan antara kalangan NU dan Syiah juga cukup bersahabat.
  • 20.
    BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Kehadiransyi’ah di Indonesia merupakan hal yang phenomenal sekarang ini.padahal syi’ah masuk ke Indonesia sudah dari zaman sebelum penjajah datang ke Indonesia. Kedatangan syi’ah sekarang ini tidak sama dengan kedatangan syi’ah pada saat penyebaran agama islam. Syiah sekarang bangkit setelah terjadi revolusi Iran pada 1979. Banyak para cendikiawan dan pelajar kagum dengan keberhasilan iran ini. Melalui revolusi ini iran megekspor ajaran syi’ah kesuluh dunia tanpa terkecuali di asia tenggara. Terutama di Indonesia. Setelah masuk di indonesia syi’ah dianggap ajaran pemicu konflik, dan ada juga yang mengatakan ajaran sesat. Dengan itulah para cendikiawan dari NU dan Muhammadiyah mengadakan kajian-kajian tentang paham syi’ah di Indonesia yang mempengaruhi penganut sunni Indonesia. Sehingga terciptalah transformasi dan reformasi pikiran dari cendikaiawan, yang salah satu tokoh “sunni sejati” Gusdur dalam satatmennya mengungkapkan bahwa Nahdatul Ulama secara kultural adalah Syi’ah. Ada beberapa shalawat khas Syi’ah yang sampai sekarang masih dijalankan di pesantren-pesantren. Ada wirid-wirid tertentu yang jelas menyebutkan lima keturunan Ahlul Bait. Kemudian juga tradisi ziarah kubur, lalu membuat kubah pada kuburan.Itu semua tradisi Syi’ah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam bentuk mazhab Syafi’i padahal sangat berbeda dengan mazhab Syafi’i yang dijalankan di negara-negara lain. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah ritus teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia.Doktor Muhammad Zafar Iqbal dalam bukunya, Kafilah Budaya meruntut berbagai fakta tentang adanya pengaruh-pengaruh tradisi Syiah dan Iran di tanah air terutama bagi masyarakat Minangkabau yang masih terjaga sampai kini. Sehingga perkembangan syi’ah di Indonesia tidak mempengaruhi suni dalam bidang ajaran-ajaran pokok tentang islam melainkan syi’ah mempengaruhi suni secara cultural (budaya) yangsering ditradisikan oleh kaum suni sampai sekarang.
  • 21.
    4.2 Saran Harapan penulisdari tulisan ini adalah pembaca bisa mengetahui perkembangan syi’ah di Indonesia dan bagaimana pengaruhnya kepada islam suni di Indonesia. Dan semoga tulisan ini bisa menjadi sumber bacaan yang bermamfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.Dalam makalah ini penulis menyadari tulisan tersebut masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu, penulis mengahrapkan saran dan kritikan bersifat konstruktif untuk penyempuranaan tulisan ini.
  • 22.
    DAFTAR PUSTAKA Aceh, Abubakar.Perbandingan Mazhab Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam. Solo: Ramadhani, t.t. Risalah seminar "Masuknya Islam ke Indonesia" oleh Panitia seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia Medan, m.s. 77- 88 dan "Islam di Asia Tenggara. Perspektif Sejarah" oleh LP3ES, m.s. 7-9. “Pertentangan Antara Svi'ah dan Sunnah".Terbitan Media , Dakwah Jakarta, oleh Drs. Dahlan Bashray Thariry LSO.m.s. 21. "Sejarah dan Dokumen-dokumen Syi’ah" oleh Syiekh Dr Abdul Mun'in al Nemr, m.s. 49-52. "Imam Mahdi" oleh H.M. Arayad Thalib Lubis, m.s. 52, dan "Mukhtashar al Tuhfah al Ithna Asyariah" oleh Sayyid Mahmud Syukri Al Alusi m.s. 200-201. "Pertentangan antara Syi'ah dan Sunnah". Terbitan Media Dakwah Jakarta, m.s. 30-32. "Syi'ah dan Sunnah" oleh Ihsan Ilahi Zhahiri terjemahan Bey Arifin, m.s. 9-10. Harun Nasution, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah, analisan perbandingan, ui press Jakarta, 1986Sumber : Dr. Abdul Rozak, M.Ag., dan Dr. Rosihon, M.Ag, “Ilmu Kalam”. Pustaka Setia. Bandung : 2001.
  • 23.
    Tugas “HUBUNGAN AQIDAH ISLAMDALAM ALIRAN AHLUSSUNNAH” (ALIRAN SUNNI DAN ALIRAN SYIAH) Oleh : AMELINDA ANGRAENY WARDAYA 111 2013 0007 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA 2014