1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Populasi remaja di Indonesia mencapai 20% dari total populasi penduduk Indonesia
yaitu sekitar 30 juta jiwa. World Healt Organization menyebutkan bahwa banyak
masalah gizi pada remaja masih terabaikan disebabkan karena masih bnyakanya
factor-faktor yang belum diketahui, padahal remaja merupakan sumber daya
manusia Indonesia yang harus dilindungi karena potensiny yang sangat besar
dalam upaya pembangunan kualitas bangsa.
Anemia akibat kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah gizi
utama di Asia temasuk di Indonesia. Pada anak usia sekolah, prevalensi anemia
tertinggi ditemukan di Asia Tenggara dengan perkiraan sekitar 60% anak
mengalami anemia. Laporan berbagai studi di Indonesia memperlihatkan masih
tingginya prevalensi anemia gizi pada remaja puti yang berkisar antara 20-5-%.
Survey yang dilakukan oleh Gross et al d Jakarta dan Yogyakarta.
Berbagai studi merupakan dampak negative dan anemia akibat kekurangan
zat gizi besi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja. Anemia
pada ank menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal dan
menurunkan prestasi belajar karena rasa cepat lelah, kehlangan gairah dan tidak
dapat erkonsentrasi sedangkan pada remaja penderita anemia, sebagai calon ibu
yang akan melahirkan generasi penerus bangsa, anemia akan menyeabkan
tingginya risiko untuk melahirkan bayi berat lahir redah (BBLR) yang mempunya i
kualitas hidup yang tidak optimal.
Melihat dampak anemia yang sangat besar dalam menurunkan kualitas
sumber daya manusia. Maka sebaikya penanggulangan aemia perlu dilakukan sejak
dini, sebelu emaja putri mejadi ibu hamil, agar kondisi fisik remaja putri tersebut
telah siap menjadi iu yang sehat. Remaja putri termuk kelompok yang rawan
terhadap anemia. Hal ini disebabkan karena kebutuhan e pada wanita 3 kali lebih
bear darikebutuhan pria. Wanita mengalami menstruasi setiap bulannya yang
berarti kehilangan darah secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak, juga
kebuthan Fe meningkat karena pertumbuhan fisik, mental dan intelektual, dan
2
kurang mengkonsumsi sumber makanan hewani yang merupakan sumber Fe yang
mudah diserap. Kelompok remaja putri mempunyai resiko paling tinggi untuk
menderita anemia karena pada masa itu terjadi peningkatan kebutuhan Fe.
Peningkatan kebuthan ini terutama disebabkan karena pertumbuhan pesat yang
sedang dialami dan terjadiya kehilangan darah akibat menstruas.kelompok ini juga
memiliki kebiasaan makan tidak teratur, mengkonsumsi makanan berisiko seperti
fast food, snack, dan soft drink. Dan tingginya keinginan mereka untuk berdiet
agar tampak langsing yang mempengaruhi asupan zat gizi termask sumber Fe yang
adekuat. Strategi untuk mengatasi masalah anemia pada remaja putri adalah
dengan perbaikan kebiasaaan makanan, fortifikasi makanan dan pemberian
suplementasi Fe. Mengubah pola makan fortifikasi makanan merupakan strategi
jangka panjang yang penting namun tidak dapat diharapkan dapat berhasil dengan
cepat. Cara lain adalah dengan memberikan suplementasi Fe melalui pemberian
tablt tambah darah. Untuk mencegah dan pengobatan anemia suplementasi TTD
merupakan cara yang efisien karena mudah didapat, efeknya cepat terlihat, dan
harganya relative murah shingga terjangkau oleh masyarakat luas. Brabin
merekomendasikan program pencegahan anemia dengan suplementasi Fe lebih
banyak ditargetkan kepada remaja putrid an pada anak-anak, wanita dwasa dan ibu
hamil karea pembrian suplemenatasi kepada remaja putri akan memberi dampak
yang lebih besar pada kesehatan reproduksi dan keberhasilan proses reproduksi
dibandingkan dengan suplementasi selama masa hamil saja. Rmaja putri
merupakan calon ibu yang harus sehat dan tidak anemia, untuk dapat melahirka
bayi yang sehat.
Bergbagai studi intervensi menunjukkan bahwa dosis, frekuensi dan lama
pemberian TTD berbeda-beda. Namun demikian dibandingkan dengan dosis yang
umunya relative hamper sama (60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat),
frekuensi pemberian per mingu dan lama pemberiannya masih sangat bervariaso.
Department Kesehatan RI menyebutkan dosis terapi untuk remaja putri yang
anemia adalah 1 kali per hari selama satu bulan sedangkan WHO/UNICEF dalam
Gross et al, menyebutkan dua kali per hari untuk waktu dua sampai tiga bulan.
Studi evaluasi program suplementasi Fe sirup untuk balita di Nusa Tenggara Timur
menunjukkan pemberian sirup Fe harian lebih efektif daripada mingguan dalam
menentukan prevalensi anemia balita. Berbagai studi lain memperlihatkan bahwa
3
suplementasi miggua cukup efektif dan ekonomis dalam menurunkn prevalens i
anemia. Salah satu masalah dalam program suplementasi adalah rendahnya
keptatuhan. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2002-2003
pada ibu hamil menunjukkan bahwa hanya kurang dari sepertiga ibu hamil
mengkonsumsi TTD sebanyak 90 tablet, sepertiga mengkonsumsi <60 tablet, dan
20% tidak mengkonsumsi ama sekali.
Masalah kepatuhan merupakan kendala utama suplemntasi besi harian, dank
arena itu alternative suplementasi minguan diharapkan dapat mengurangi masalah
kepathan ini. Tetapi suplementasi mingguan menghadapi masalah dalam hal dosis
Fe yang diperlukan untuk meningkatkan kada haemoglobin dalam darah agar setara
dengan suplementasi harian. Sebagai salah satu opsi, dengan emikian, diperluka
penelitian untuk mengetahui keefektifan supmentasi Fe dengan frekuensi di antara
mingguan dan harian mialnya dua kali per minggu untuk menilai kefektifa n
suplementsi terhdap kadar haemoglobin (Hb).
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
a. Menganalisa masalah pemberian talet Fe di Wilayah Puskesmas Tanah Garam.
b. Menentukan pemecahan masalah pemberia Tablet Fe di wilayah krja Puskesmas Tanah
Garam.
c. Meningkatkan cakupan pemberian Tablet Fe di Puskesmas Tanah Garam.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Memahami dan mengerti program yang ada di Puskesmas Tanah Garam.
b. Memahami dan mengerti kegiatan dari program yang dijalankan selama KKS di
Pusksmas Tanah Garam.
c. Memahami dan mengerti tujuan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama KKS di
Puskesmas Tanah Garam.
4
1.3 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan ke Puskesmas Tanah Garam dalam
upaya mengoptimalkan kegiatan program pemberian Tablet Fe pada remaja perempuan SMP
dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam.
1.4 Ruang Lingkup
Ruang ligkup dalam pembahasan masalah ini adalah mengenai gambaran manajemen
program gizi tentang pemberian Tablet Fe pada pelajar perempuan SMP dan SMA yang masih
relative kurang di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam bulan Januari sampai bulan Juni
tahun 2017.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Puskesmas
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.75 Tahun 2014, Puskesmas merupakan
unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih
mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat. Dalam melaksanan tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsinya
yaitu penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan
Perorangan (UKP) tingakat pertama di wilayah kerjanya.
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan
dengan sasaran keluarga, kelompok dan masyarakat. Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat
pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat
pengembangan. UKM esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan ibu,anak, dan keluarga berencana, pelayanan gizi dan
pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) adalah
6
suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderita akibat penyakit dan
memulihkan kesehatan perorangan.
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk
mewujudkan masyarakat yang:
1) Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat.
2) Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu.
3) Hidup dalam lingkungan sehat.
4) Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya
kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas puskesmas menyelenggarakan fungsi:
1) Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk:
a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan
masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan.
c. Melaksanakan Komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan
masyarakat dalam bidang kesehatan.
d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang
bekerjasama dengan sektor lain terkait
e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya
kesehatan berbasis masyarakat
f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas
g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan.
h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan
cakupan pelayanan kesehatan.
i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk
dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggualangan
penyakit.
7
2) Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk:
a. Menyelnggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif,
berkesinambungan dan bermutu.
b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya
promotif dan preventif.
c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan
keselamatan pasien, petugas dan pengunjung.
e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan
kerja sama inter dan antar profesi,
f. Melaksanakan rekam medis
g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan,dan evaluasi terhadap mutu dan akses
pelayanan kesehatan.
h. Melaksanakan peningkat kompetensi tenaga kesehatan.
i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya.
j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem
rujukan.
2.2 Manajemen Puskesmas
Manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara
efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam hal ini manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri
utama penerapannya yaitu efisien dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih
alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalam pengambilan
keputusan manejerial.
2.2.1 Perencanaan
1) Pengertian
Perencanaan adalah suatu proses memulai dengan sasaran-sasaran, batasan strategi,
kebiijakan, dan rencana detail untuk mencapainya, mencapai organisasi untuk menerapkan
keputusan, dan termasuk tinjauan kinerja dan umpan balik terhadap pengenalan siklus
8
perencanaan baru (Steiner). Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen
karena fungsi ini akan menetukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Perencanaan manajerial
akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang dijalankan,
siapa yang akan melakukan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan
terhadap proses pencapaian terhadap tujuan secra efektif dan efisien.
2) Langkah-langkah perencanaan
Dalam perencanaan, terdapat beberapa langkah-langkah perencanaan yaitu sebagai
berikut:
a. Analisa situasi
b. Mengidentifikasi masalah prioritas
c. Menentukan tujuan program
d. Mengkaji hambatan dan kelemahan program
e. Menyusun Rencana Kerja Operasional (RKO)
2.2.2 Pengorganisasian
1) Pengertian
Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai
peranan penting, melalui fungsi pengorganisasian seluruh sumber daya yang dimiliki oleh
organisasi (manusia dan yang bukan manusia) akan diatur pengguanaannya secara efektif dan
efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.
Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan dan
mengatur berbagai macam kegiatan menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang dan
pendelegasian wewenang oleh pimpinan staf dalam mencapai tujuan organisasi.
2) Manfaat pengorganisasian
Dengan mengembangkan fungsi pengorganisasian seorang manajer akan mengetahui:
a. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok
b. Hubungan organisasi antar manusia yang akan terjadi antar anggota atau staf
organisasi
c. Pendelegasian wewenang
9
Manajer atau pimpinan akan melimpahkan wewenang kepada staf sesuai
dengan tugas pokok yang diberikan kepadanya
d. Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dimiliki organisasi
3) Langkah-langkah pengorganisasian
Ada lima langkah pentng dalam pengorganisasian yaitu sebagai berikut:
a. Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf
b. Membagi pekerjaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok untuk mencapai tujuan
c. Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan kegiatan yang praktis
d. Menetapkan kewajiban yang dilaksanakan oleh staf dan menyediakan fasilitas
pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya
e. Mendelegasikan wewenang
2.2.3 Penggerakan dan Pelaksanaan
1) Pengertian
Fungsi manajemen ini merupakan fungsi penggerak semua kegiatan program
(ditetapkan pada fungsi pengorganisasian) untuk mencapai tujuan program (yang dirumuskan
dalam fungsi perencanaan). Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana manajer
mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya (manusia dan yang bukan manusia) untuk
mencapai tujuan yang telah disepakati.
2) Tujuan dan fungsi pelaksanaan
Tujuan pelaksanaan yaitu
a. Menciptakan kerja sama yang lebih efisien
b. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan staf
c. Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
d. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi
kerja staf
e. Memuat organisasi berkembang secara dinamis
2.2.4 Pengawasan dan pengendalian
10
1) Prinsip Pengawasan
Fungsi pengawasan dan pengendalian merupakan fungsi yang terakhir dari proses
manajemen. Fungsi ini mempunyai kaitan erat dengan ketiga fungsi perencanaan. Melalui
fungsi pengawasan dan pengendalian, standar keberhasilan program yang dituangkan dalam
bentuk target, prosedur kerja dan sebagainya harus selalu dibandingkan dengan hasil yang
dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh staf. Jika ada kesenjangan dan penyimngan yang
terjadi harus segera diatasi. Penyimpangan ini harus dapat dideteksi secara dini dicegah,
dikendalikan atau dikurangi oleh pimpinan. Fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan
agar penggunaan sumber daya dapat lebih diefesiensikan dan tugas-tugas staf untuk mencapai
tujuan program dapat lebih diefektifkan.
2) Standar Pengawasan
Standar pengawasan mencakup :
a. Standar norma. Standar ini dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan
kegiatan program yang sejenis atau yang dilaksanakan dalam situasi yang sama di
masa lalu.
b. Standar kriteria. Standar ini diterapkan untuk kegiatan pelayanan oleh petugas yang
sudah mendapat pelatihan. Satandar ini berkaitan dengan tingkat profesionalisme
staf.
3) Manfaat Pengawasan
Fungsi pengawasan dan pengendalian dilaksanakan dengan tepat, organisasi yang akan
memperoleh manfaatnya, yaitu :
a. Dapat mempengaruhi sejauh mana kegiatan program sudah dilaksanakan oleh staf,
apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdayanya sudah
digunakan seusai dengan yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini,fungsi pengawasan
dan pengendalian bermanfaat untuk meningkatkan efesiensi kegiatan program
b. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf melaksanakan
tugas-tugasnya
c. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan
dan telah dimanfaatkan secara efisien
d. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan
11
e. Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau
diberikan pelatihan lanjutan
4) Evaluasi
Fungsi pengawasan perlu dibedakan dengan evaluasi yang juga sering dilakukan untuk
mengetahui kemajuan pelaksanaan program. Perbedaannya terletak pada sasarannya, sumber
data, siapa yang akan melaksanakannya dan waktu pelaksanaannya. Antara evaluasi dengan
fungsi pengawasan juga mempunyai kesamaan tujuan yaitu untuk memperbaiki efesiensi dan
efektifitas pelaksanaan program dengan memperbaiki fungsi perencanaan.
2.3 Defenisi Mineral
Mineral adalah substansi inorganic sederhana yang tersebar luas di alam. Mineral
berperan meningkatkan pertumbuhan dan mempertahankan kesehatan. Mineral mewakili 4%
dari berat tubuh dan ditemukan di semua cairan dan jaringan tubuh.
Mineral merupakan unsur esensial fungsi normal sebagai enzim dan angat pentng
dalam pngndalian komposisi cairan tubuh 65% adalah air dalam bobot tubuh.
Mineral merupakan konstituen esensial pada jaringan lemak, cairan dan steletan.
Setekah mengandung mineral tubuh dalam propors yang besar. Mineral yang terliat dalam
berbagai proes yaitu Cu, Zn, I Co, Mn, Mg, Kr. Selenium.
Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh makhluk
idup di samping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Juga dikenal sebagai zat anorganik
atau kadar abu. Sebagai contoh, bila bahan biolois dibakar, semua senyawa organic akan
rusak. Sebagian bsar karbon berubah menjadi gas karbon dioksida (CO2), hydrogen menjadi
uap air, dan nitrogen menajdi up nitrogen (N2). Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam
12
bentuk au dalam bentuk senyawa anorganik sederhana, serta akan terjadi penggabungan antar
individu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik.
2.4 Jenis Mineral
Mineral dikelompokkan menjadi mineral utama (makromineral) dan mineral kelumit
(trace mineral, mikromineral). Mineral utama dijumpai dalam tubuh dalam jumlah lebih besar
dari 5 g (setara degan 1 sendok the) dan dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar pula.
Mikromineral dijumpai dalam tubuh dalam jumlah kurang dari 5 g dan hanya dibuthkan
dalam jumlah kecil.
Table 1. Unsur-unsur Mineral dalam Tubuh Orang Dewasa
Golongan Unsur % berat Badan
1. Makromineral Kalsium 1,5-2,2
Fosfor 0,8-1,2
Kalium 0,35
Sulphur 0,25
Natrium 0,15
Klor 0,15
Magnesium 0,05
2. makromineral Besi 0,00
Seng 0,002
Selenium 0,0003
Mangen 0,0002
13
Tembaga 0,00015
Iodium 0,00004
Sumber: Poedjiadi dan Supriyanti. 2009: 418
2.5 Fungsi Mineral
a. Mineral merupakan kostituen tulang dn gigi, yag memberikan kekuatan serta
iridita kepada jaringan tersebut. Ex: Te, P, Mg.
b. Mineral membentuk garam-garam yang dapat larut dan dengan demikian
mengendalikan komposisi cairan seluler dan darah: Te, Mg dan P merupakan
unsur penting dalam cairan intra seluler.
c. Mineral turut membangun enzim dan protein dan merupakan bagian dari asam
amino.
Keseimbangan ionion mineral dalam tubuh mengatur proses metabolisme, mengatur
keseimbangan asam basa, tekanan osmotic, membantu transport snyawa-senyawa penting
pembentuk jaringan tubuh. Secara tidak langsung, mineral banyak yang berperan dalam
proses pertumbuhan. Perlu dijelska disini bahwa peran mineral dalam tubuh kita erkaitan satu
sama lainnya. Dan kekurangan atau kelebihan salah satu mineral akan berpengaruh terhadap
kerja mineral lainnya.
2.6 Beberapa Mineral dalam Tubuh
a. Makromineral
ď‚· Kalsium (Ca)
Peranan kalsium tidak saja sebagai pembentukan tulang dan gigi serta
memegang peranan penting pada beberapa proses fisiologik dan biokhemik di
dalam tubuh. Fungsi dari kalsium yaitu :
1) Dalam cairan jaringan berfungsi untuk pengendalian kerja jantung
serta otot skeleton.
2) Eksitabilitasi syaraf otot.
3) Proses pembekuan darah
4) Memberikan kekerasan dan ketahanan terhadap pengeroposan
14
5) Transmisi impits
6) Relaksasi kontraksi
7) Absorbs dan aktivitas enzim
8) Memberikan rigiditas erhadap jaringan
9) Bersama fosofr membentuk matriks tulang yang dipengaruhi oleh
vitamin D.
ď‚· Fosfor (P)
Fungsi fosfor dalam ketrsediaannya didalam tubuh yaitu:
1) Mempengaruhi semua proses perombakan dan pembentukan zat
2) Membentuk fosforida, yaitu bagian [enting dari plasma
3) Pembelahan inti sel dan memindahkan sifat-sifat turunan
4) Membentuk matriks tulang bersama dengan Ca
5) Membantu proses pengerutan otot.
ď‚· Natrium (Na)
Fungsi natrium adalah:
1) Dalam plasma darah dan cairan berperan dalam menyelimuti jaringan.
2) Berperan dalam menghasilkan tekanan osmotic yang menatur
pertukaran cairan antara sel dan cairan disekitarnya.
3) Menentukan volume dalam cairan ekstraseluler.
4) Untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
b. Mikromineral
ď‚· Tembaga (Cu)
Fungsi tembaga :
1) Pembentukan tulang.
2) Warna kulit dan rambut.
3) Proses penyembuhan.
4) Pembentukan haemoglobin dan sel darah merah.
5) Mempertahankan seraut saraf.
6) Metabolisme besi.
ď‚· Iodium/iodin (I)
Fungsi iodium :
1) Produksi energy.
15
2) Metabolisme.
3) Perkembangan fisik dan mental.
ď‚· Besi (Fe)
Besi dalam tubuh berasal dari tiga sumber yaitu hasil perusakan sel-sel
arag merah, dari penyimpanan di dalam tubuh, dan hasil penyerapan pada
saluran pencernaan. Dari ketiga sumber tersebut, Fe hasil hemolisis
merupakan sumber utama.
Zat besi dalam tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia,
antara lain dalam memproduksi sel darah merah. Sel ini sangat diperlukan
untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Zat besi berperan
sebagai pembawa oksigen bukan saja oksigen pernafasan menuju jaringan,
tetapi juga dalam jaringa atau dalam sel.
Zat besi bukan hanya diperlukan dlam pembentukan arah, tetapi jga
sebagai bagian dari beberapa enzim hemoprotein. Enzim ini memgang erang
peting dalam proses oksidasi-reduksi dalam sel. Sitokrom merupakan
senyawa heme protein yang bertindak sebagai agens dalam perpindahan
electron pada reaksi oksidasi-reduksi di dalam sel. Zat besi mungkin
diperluka tidak hanya untuk pigmentasi bulu merah yang diketahui
mengandung ferrum, tetapi juga berfungsi dalam susunan enzim dalam proses
pigmentasi.
2.7 Zat Besi
a. Defenisi Zat Besi
Suati zat dalam tubuh manusia yang erat dengan ketersediaan jumlah darah yang
diperlukan.
b. Fungsi zat besi
ď‚· Pembentukan Hemoglobin (Hb)
Hemoglobin adalah pembawa utama oksigen ke seluruh tubuh dan
memberikan warna merah pada eritrosit.
16
ď‚· Fungsi Otot
Merupakan unsur penting yang ada pada otot yang beruba mioglobi.
Myoglobin mengangkut oksigen dari hemoglobi dan berdifusi ke seluruh sel-
sel otot. Tanpa at besi otot akan kehilangan kekuatan dan elastisitasnya,
sehingga kelemahan otot adalah salah satu tanda yang paling jelas dari
anemia akibat kekurangan zat besi.
ď‚· Fungsi Otak
Karena pasokan oksigen dalam darah dibantu oleh besi dan tentunya isi
sangat penting karena otak menggunakan sekitar 20% oksigen darah. Dengan
demikian zat besi secara langsung berhubungan dengan kesehatan dan fungsi
otak.
ď‚· Pengaturan Suhu Tubuh
Zat besi adalah fasilitator penting untuk menatur suhu tubuh. Menjaga suhu
tubuh tetap stabil akan memungkinka proses enzimatik dan metabolisme
dapat terjadi dengan optimal pada suhu yang sesuai.
ď‚· Metabolisme Energi
Hal ini meilibatkan proses bagaimana energy diektrak dari makanan yang
dikinsumsi dan kemudia didistrbusikan ke seluruh bagian tubuh.
ď‚· System Enzim
Zat besi juga sebagai bagian penting dari berbagai system enzimatik dan
konstituen penting lainnya karena terdapat pada myoglobin, sitokrom dan
katalase. Tanpa ini semua, sejumlah system organ akan terhambat bahkan
berhenti total.
c. Sumber Zat Besi
ď‚· Daging merah
100 gram daging sapi segar mengandung 201 kkal energy, 14 gram lemak,
dan 2,8 mg zat besi, selain itu juga kaya akan protein.
ď‚· Kuning telur
ď‚· Ikan
ď‚· Sayura berdaun gelap atau hijau
17
Terutama bayam, daun singkong, kangkung, dan sawi mengandung zat besi
yang banyak.
ď‚· Kacang-kacangan, kacang polong dan kacang kedelai
Kandungan zat besi pada 100 gram kacang kedelai mengandung 10 mg zat
besi. Sedangkan dalam 100 gram kacang polong mengandung 7,5 zat besi.
ď‚· Buah kering (plum, kismis)
Dalam ½ cangkir kismis erdapa 1,9 mg zat besi dan dalam 1 cangkir plum
terdapat 1 mg zat besi.
d. Akibat kekurangan Zat Besi
ď‚· Kekurangan zat besi menghambat fungsi motoric normal pada bayi (aktifitas
dan gerak tubuh) dan fungsi kecerdasan.
ď‚· Anemia kekuraga zat besi selama kehamilan dapat meningkatkan resiko bayi
premature dan berat lahir rendah (BBLR).
ď‚· Pada orang dewasa kekurangan zat besi membuat cepat lelah menurunkan
tenaga dan produktifitas kerja.
ď‚· Kekurangan zat besi juga dapat menurunkan daya ingat, fungsi mental dan
kecerdasan.
e. Kebutuhan Zat Besi
 Laki-laki dewasa (berat badan 75 Kg) mengandung ± 4000 mg zat besi,
sementara wanita dewasa (berat badan 55 kg) mengandung ±2100 mg zat
besi. Laki-laki memiliki cadangan zat besi didalam limpa dan sumsum tulang
sebanyak 500-1500 mg, utulah sebabnya kekurangah darah jarang dijumpai
pada laki-laki.
ď‚· Sebalikny wanita hanya mempunya cadangan zat besi 0-300 mg sehingga
rentan terhadap anemia, apalagi pada usia subur wanita mengalami
menstruasi. Kebutuhan zat besi tergantung kepada jenis kelamin dan umur.
Umur Kebutuhan per hari
18
Anak 2-6 tahun 4,7 mg/hari
Usia 6-12 tahun 7,8 mg/hari
Laki-laki 12-16 tahun 12,1 mg/hari
Gadis 12-16 tahun 21,4 mg/hari
Laki-laki dewasa 8,5 mg/hari
Wanita dewasa usia subur 18,9 mg/hari
Menopause 6,7 mg/hari
Menyusui 8,7 mg/hari
f. Pemberian tablet Fe
ď‚· Waktu minum ablet zat besi
Waktu yang tepat untuk minum tablet zat besi adalah pada malah hari
menjelang tidur, hal ni untuk mengurangi rasa mual yang timbul setelah
meminumnya. Jika diminum saat pagi hari maka akan timbul rasa mual
muntah karena salah satu efeknya menimbulkan rasa eneg (rasa tidak enak
pada perut).
ď‚· Tenaga yang memberikan Tablet Fe pada Remaja perempuan SMP dan SMA
Tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, tenaga gizi, dl), serta kader terlatih.
ď‚· Cara pemberian
1) Mendatangi sekolah sekolah yang berada di wilayah kerja Puskesmas
Tanah Garam.
2) Membagikan ke kelas-kelas dari kelas 1,2 dan 3.
3) Memberikan absen atau blanko peminuman yang diisi oleh guru atau
ketua kelas bagi remaja perempuan yang meminum tablet Fe.
4) Per orangan diberikan 4 tablet yang nantinya akan diminum satu kali
dalam seminggu
5) Dan diberikan juga penyuluhan tentang apa itu anemia yang di
akibatkan oleh defisiensi zat besi.
19
6) Tenaga kesehatan mendatangi sekolah untuk memantau sekali dalam
satu bulan.
ď‚· Tempat pemberian
1) Sarana fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu (pustu), polindes/poskesdes,balai pengobatan, praktek
dokter/bidan swasta).
2) Sekolah
20
BAB III
HASIL KEGIATAN
3.1 Profil Puskesmas
3.1.1 Peta Wilayah
Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku
Sumber: Data dasar puskesmas Tanjung Paku
3.1.2 Kondisi Geografis
Puskesmas Tanjung Paku merupakan satu dari Puskesmas yang ada di Kota Solok.
Berdiri pada tahun 1983 dengan luas tanah 1050 M2, merupakan Puskesmas Rawat Jalan.
Puskesmas Tanjung Paku terletak di wilayah kerja Kecamatan Tanjung Harapan dengan
batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan VI Suku Kota Solok
2. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aripan Kabupaten Solok
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Saok Laweh Kabupaten Solok
4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Simpang Rumbio Kota Solok
Jarak antara Puskesmas Tanjung Paku dengan Ibukota Provinsi Sumatera Barat 65
Km, dengan luas wilayah kerja 22,64 Km yang berbagi atas 4 (empat) kelurahan, yaitu :
1. Kelurahan Koto Panjang
2. Kelurahan PPA
3. Kelurahan Tanjung Paku
4. Kelurahan Kampung Jawa
21
3.1.3 Kondisi Demografis dan Kependudukan
Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk 20.765 jiwa, dengan jumlah penduduk
perkelurahan sebagai berikut :
Tabel 3.1. Data Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Tahun
2015
No Kelurahan Jumlah Penduduk Jumlah KK
Laki Perempuan Jumlah
1 Kota Panjang 1.115 1.139 2.254 439
2 PPA 2.890 2.954 5.844 1186
3 Tanjung Paku 3.007 3.073 6.080 1196
4 Kampung Jawa 3.258 3.329 6.587 1502
Jumlah 10.270 10.495 20.765 4.223
Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015
3.1.4 Sosial Budaya
1. Agama
Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk mayoritas beragama islam
2. Suku
Sebagian besar masyarakatnya Suku Minang
3. Mata Pencarian
Masyarakat Puskesmas Tanjung Paku bermata pencarian sebagai pegawai,
pedagang dan petani.
4. Sarana Kependidikan
Sarana pendidikan yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Paku cukup
lengkap, yaitu 16 TK/PAUD, 18 SD/MI, 3 SLTP, 3 SLTA dan 2 PT. Pada tabel
berikut dapat dilihat fasilitas pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku
menurut Kelurahan :
22
Tabel 3.2. Fasilitas Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku
Tahun 2015
No Kelurahan TK/Paud SD/MIN SLTP SLTA/SMK PT
1 Kota Panjang 1 1 0 1 0
2 PPA 3 5 0 2 1
3 Tanjung Paku 5 4 1 0 1
4 Kampung Jawa 9 8 2 0 0
Jumlah 18 18 3 3 2
Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015
3.1.5 Sumber Daya Kesehatan
a. Tenaga Kesehatan
Tabel 3.3 Sumber Daya Kesehatan Puskesmas Tanjung Paku tahun 2016
No JenisTenaga yang ada
Jumlah
PNS
Jumlah
PTT
Jumlah
THL
Jumlah
Sukarela
1. Dokter Umum 2
2. Dokter Gigi 1
3. Dokter Spisialis 0
4. Perawat S1 4 2
5. Sarjana Kesehatan
Masyarakat
5
6. Perawat D3 2 2
7. Perawat Gigi 1 1
8. Bidan D4 0 0
9. Bidan D3 11 3 3
10 Bidan D1 1
11 Tenaga Gizi 2
23
12 Tenaga Sanitasi 1
13 Tenaga Analis Kesehatan 1
14 Apoteker 0
15 Asisten Apoteker 3
16 Fisioterapi 0
17 SPK 4
18 Satpam 0
19 Sopir 1
20 Cleaning Servis 2
21 Staf Administrasi 1
22 Staf Keuangan 1
23 Staf Elektromedik 1
a. Sarana dan Prasarana
Tabel 3.4 Sarana dan prasana puskesmas Tanjung Paku tahun 2016
No Nama Ruang No Nama Ruang
1. GEDUNG I Mushalla
LANTAI I Ruang ATK
Ruang Pendaftaran dan Rekam
Medik
Gudang Alat
Ruang Tunggu Ruang Klinik Sanitasi
Ruang Dokter Surveilance
Poli Gizi Promkes
Gudang Obat Toilet
Ruang PKPR
Labor 2. GEDUNG 2
Apotik Ruang Tindakan
Ruang Konsultasi
Ruang Laktasi
Konsultasi TB Paru
Imunisasi Ruang Bersalin IVA/KB
Poli KIA Ruang Dokter Referal
24
Poli Gigi Ruang VCT
Toilet Wanita Toilet
Toilet Pria
3.
RUMAH PARAMEDIS 3
UNIT
LANTAI 2 4. Parkir Ambulance
Ruang Kepala Puskesmas
Promkes
Ruang Bimbingan Mahasiswa
Aula
Tata Usaha
Ruang Admin
No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah
1 Puskesmas Induk 1
2 Puskesmas Pembantu 5
3 Poskeskel 4
4 Posyandu Balita 32
5 Posyandu Lansia 11
6 Apotik 4
7 Optikal 4
8 Toko Obat Berizin 4
9 RSUD/RST 1
10 Rumah Sakit Swasta 1
11 Labor 2
12 Sarana Transportasi Kendaraan Roda 4 Puskesmas Tanjung Paku 2
25
13 Sarana Transportasi Kendaraan Roda 2 Puskesmas Tanjung Paku 22
Jumlah 93
3.1.6 Visi, Misi, Motto dan Janji Pelayanan
Visi dan Misi Puskesmas Tanjung Paku berpedoman pada visi Dinas Kesehatan Kota
Solok yaitu Masyarakat Kota Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan, dan berdasarkan
permasalahan yang ada dan sumber daya yang dimiliki, Puskesmas Tanjung Paku
menetapkan Visi, Misi, Motto dan Janji Pelayanan
VISI:
Visi Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok adalah “Terwujudnya Pelayanan Prima
Menuju Masyarakat Mandiri untuk Hidup Sehat”
MISI :
Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, ditetapkanlah misi yaitu :
1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk ber PHBS
2. Meningkatkan kemitraan dengan Stake Holder bidang kesehatan
3. Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan
4. Meningkatkan sumber daya manusia (SDM) bidang kesehatan
5. Memantapkan manajemen Puskesmas dan sistem informasi
6. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerja
7. Memelihara dan meningkatkan upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya
kesehatan masyarakat (UKM) beserta kesehatan lingkungan
MOTTO:
UPT Puskesmas Tanjung Paku menuju Puskesmas “Berprestasi” ( Bersih, Prestise,
Takwa, Santun dan Inovatif)
26
JANJI PELAYANAN.
Puskesmas Tanjung Paku siap mewujudkan Pelayanan Puskesmas “ SIMPATIK”
1. Senyum
Senyum, salam dan sapa selalu di utamakan.
2. Ikhlas
Ikhlas dalam memberikan pelayanan
3. Mudah
Mudah dalam proses pelayanan.
4. Peduli
Peduli terhadap keluhan pasien.
5. Adil
Pelayanan yang diberikan adil dan merata.
6. Terpadu
Terpadu dalam memberikan pelayanan.
7. Inovatif
Inovasi dalam pelayanan selalu dikembangkan
8. Komitmen
Melaksanakan tugas sesuai dengan komitmen
3.2 Situasi Derajat Kesehatan Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku
Derajat kesehatan masyarakat ditunjukkan dengan suatu indikator status
kesehatan, yaitu Angka Kematian, Angka Kesakitan dan Angka Status Gizi. Berikut
kami gambarkan Gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 dari berbagai data dan informasi yang
dilaporkan adalah sebagai berikut.
1. Angka Kematian
a. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Angka kematian ibu maternal tahun 2015 di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku
adalah 1 orang, kasus kematian terjadi di klinik Permata Bunda Kota Solok.
b. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka kematian bayi tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah
sebanyak 1 orang dan lahir mati sebanyak 2 orang, kematian 4 orang bayi dengan
beberapa penyebab kematian diantaranya, BBLR, Diare, Syndroma gangguan nafas,
aspirasi, dan KJDK.
27
c. Angka Kematian Balita (AKABA)
Seperti halnya AKI dan AKB, Angka Kematian Balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Tanjung Paku tahun 2015 adalah 1 orang, dengan penyebab kematian adalah penyakit
jantung bawaan.
2. Angka Kesakitan
a. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Tanjung
Paku pada tahun 2015 sebanyak 88 orang dengan rincian 46 laki-laki dan 42
perempuan, inimengalami kenaikan dari tahun sebelumya karena pada tahun 2014
hanya sebanyak 16 kasusdenganrincian 8 orang laki-lakidan 8 orang perempuan,
dan tahun 2013 hanyaterjadi 3 kasus DBD denganrincian 1 laki-lakidan 2
perempuan.
b. Diare
Angka kesakitan diare di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015
sebanyak 688 dengan rincian 297 laki-laki dan perempuan 391, sedikit mengalami
penurunan dari tahun 2014 sebanyak 775 kasusdenganrincian 370 laki-lakidan 405
perempuan yang semua kasus sudah tertangani. Dan tahun 2013 hanya terjadi 581
kasusdenganrincian 280 laki-lakidan 301 perempuan.
c. Tuberkolosis (TBC)
Untuk angka kesakitan Tuberculosis pada tahun 2015 sebanyak 12 pasien dan tahun
2014 terdapat 14 pasien yang mendapat pengobatan dan dinyatakan sembuh diobati,
sedangkanjumlahkasus TBC tahun 2013 adalahsebanyak 11 orang yang diobati.
Sehinggaterdapat kenaikan kasus dari tahun 2013 – 2014 sebanyak 3 kasus tetapi
terjadi penurunan kasus pada tahun 2015 yaitu 12 kasus.
d. Penyakit Menular Seksual
Kasus penyakit menular seksual yang dilaporkan dan diobati pada periode 2015 di
wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nihil.
e. HIV / AIDS
Pelaporan kasus HIV / AIDS di tahun 2015 adalah nol. Begitu juga dengan tahun
sebelumnya, tidak ada pelaporan kasus HIV / AIDS di tahun 2013. Hal ini
menjadikan angka kesakitan HIV / AIDS 2 tahun terakhir ini di wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Paku adalah nihil.
28
f. Malaria
Seperti halnya angka kesakitan HIV / AIDS, kasus malaria tahun 2015 di wilayah
kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nol. Di tahun 2014, angka kesakitan malaria
juga nol.
g. Acute Flaccid Paralysis < 15 tahun
Angka kesakitan dari Acute Flaccid Paralysis (AFP) di wilayah kerja Puskesmas
Tanjung Paku tahun 2015 adalah nihil. Tidak adanya laporan AFP tahun 2014,
menjadikan 2 tahun terakhir ini angka kesakitan AFP di wilayah kerja Puskesmas
Tanjung Paku adalah nol.
h. Kusta
Tidak ada pelaporan kasus kusta pada tahun 2015. Sehingga, angka kesakitan kusta
di wilayah Puskesmas Tanjung Paku pada tahun 2015 adalah nihil. Hal
inimengalamipenurunankarenapadatahun 2013
terdapatpelaporankasuskustasebanyak 2 kasus.
i. Filariasis
Angka kesakitan filariasis tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku
adalah nihil. Begitu juga pada tahun sebelumnya, angka kesakitan filariasis tahun
2014 adalah nihil.
j. Pneumonia Balita
Angka kesakitan pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun
2015 adalah 71 kasus terjadi penurunan dari tahun 2014 yaitusebanyak 219
kasussedangkanpadatahunsebelumnya 2013 hanya 27 kasus yang dilaporkan. Hal
ini juga mengindikasikan program pelayanan pada tahun sebelumnya belum
berjalan baik sehingga banyak sekali kasus pneumonia yang tidak terlaporkan.
k. PD3I : Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio, dan
Hepatitis B
Kasus PD3I yang meliputi Pertusis, Difteri, Tetanus, Tetanus Neonatorum,
Campak, Polio, dan Hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun
2015 adalah nol.
l. Sepuluh Penyakit Terbanyak
Sepuluh besat penyakit yang dilaporkan di Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015
adalah sebagai berikut:
1. ISPA : 2.079 kasus
2. Demam, Anemia,Gastritis,Hipotensi, dll : 1.425 kasus
29
3. Rheumatik : 867 kasus
4. Vulnus (kecelakaandanrudapaksa) : 757 kasus
5. Diare : 688 kasus
6. PenyakitPulpadanJaringanPeripikal : 571 kasus
7. PenyakitKulitdanAlergi : 373 kasus
8. Hipertensi : 271 kasus
9. Commond Cold : 181 kasus
10. Bronchitis : 149 kasus
m. Angka Status GIzi
Untuk kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Tanjung paku pada tahun
2015 dan tahun 2014 ini tidak ada kasus gizi buruk yang dilaporkan dengan arti
kata kasusnya nihil, hal ini mengalami peningkatan status gizi karena pada tahun
2013 terdapat 1 kasus gizi buruk yang ditemukan dan telah ditangani sesuai
dengan SOP yang ditetapkan untuk kasus gizi buruk.
3.3 Gambaran Umum Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas
Tanjung Paku
3.3.1 Kegiatan Program dan Pelayanan
Mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) No 75 tahun 2014,
Berdasarkan karakteristik wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku dikategorikan
Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan puskesmas kawasan perkotaan dengan karakteristik
kegiatan sebagai berikut:
1. Memprioritaskan pelayanan UKM
2. Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat
3. Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat
4. Optimalisasi peningkatan kemapuan jaringan dan jejaring fasilitas pelayanan
kesehatan
5. Pendekatan pelayanan yang diberikan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan
kehidupan masyarakat perkotaan.
Dalam Permenkes No. 75 tahun 2014 juga dijelaskan ada 2 fungsi Puskesmas yaitu:
1. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya
2. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
30
Upaya kesehatan Masyarakat di Puskesmas Tanjung Paku juga telah mengacu kepada
permenkes No 75 tahun 2014 yaitu meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan
upaya kesehatan masyarakat pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial yang
ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai
daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat yaitu :
1. Pelayanan Promosi Kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
3. Pelayanan Kesehatan Ibu , Anak dan Keluarga Berencana
4. Pelayanan Gizi
5. Pelayanan Pencegahan dan pengendalian Penyakit
Pelayanan kesehatan masyarakat essensial diselenggarakan untuk mendukung
pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kota bidang kesehatan. Upaya Kesehatan
Masyarakat Pengembangan adalah upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya
memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi
pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan
potensi sumber daya yang tersedia di Puskesmas Tanjung Paku.
Beberapa program pengembangan di Puskesmas Tanjung Paku yang telah berjalan
sejak tahun 2015 sampai sekarang adalah :
1. Pelayanan Kesehatan Mata dan Telinga
2. Puskesmas Santun Lansia
3. Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular)
4. Pembinaan UKS/UKGS
4. Kesehatan Gigi dan Mulut
5. Kesehatan Jiwa
6. Kesehatan Haji
7. PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja)
Dalam menyusun kegiatan selain mengacu kepada pedoman dan acuan yang sudah ada
ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, maupun Dinas
Kesehatan Kota, Puskesmas Tanjung Paku juga memperhatikan kebutuhan dan harapan
masyarakat terutama sasaran program. Kebutuhan dan harapan masyarakat maupun sasaran
program dapat di identifikasi melaui survei, kotak saran, maupun temu muka dengan tokoh
masyarakat.
Penyusunan kegiatan-kegiatan program perlu mempertimbangkan masukan dari
masyarakat. Dengan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat/sasaran program
31
diperoleh informasi tentang kegiatan apa yang diharapkan oleh masyarakat sehingga
kegiatan-kegiatan program dapat mengatasi permasalahan yang ada dan mencapai tujuan
yang ditentukan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.
Dengan mempertimbangkan masukan dan harapan masyarakat serta persiapan
menghadapi akreditasi tahun 2016 hanya ada beberapa program pengembangan prioritas
yang bisa memenuhi standar untuk dikreditasi, diantaranya; Posbindu PTM, UKS/UKGS.
Sementara untuk program pengembangan yang lainnya tetap dijalankan sebagaimana
mestinya.
Berkaitan dengan penyelenggaraan pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP),
Puskesmas Tanjung Paku telah melaksanakan kegiatan :
1. Rawat Jalan
2. Perkesmas / Home care
3. Perawatan Terapeutik Feeding Center (TFC) dengan sarana penunjang
Laboratorium, Ruang Farmasi , Ruang ASI, Ruang bermain anak, 1 Unit Rumah
Dokter, 3 Unit Rumah Para Medis, 1 unit ambulance dan 5 Unit Puskesmas
Pembantu serta 4 Unit Poskeskel.
3.3.2 Laporan Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Tanjung Paku Tahun
2015-2016
1. KEGIATAN UPAYA KESEHATAN PERORANGAN
Table 3.5 Kegiatan upaya kesehatan perorangan
No Pelayanan Jumlah / Tahun 2015
Jumlah s/d September
2016
1. Rawat Jalan 13.403 17.442
2. INDIKATOR DAN PENCAPAIAN KEGIATAN UPAYA KESEHATAN
MASYARAKAT TAHUN 2016
Tabel 3.6 Indikator dan pencapaian kegiatan upaya kesehatanmasyarakat tahun 2016
NO
UPAYA KESEHATAN
MASYARAKAT
TAHUN 2015
JANUARI S/D
SEPTEMBER 2016
32
Target
(%)
Pencapaian
Indikator
Kinerja
Pencapai
an
I. PROGRAM ESSENSIAL
A. PROMOSI KESEHATAN
1. Penyuluhan Posyandu 62 288 kali 288 kali
2. Penyuluhan ke Sekolah 46 54 kali 54 kali
3. Penyuluhan keliling 8 12 kali 12 kali
4. Keluarga Siaga 92% 100 % 69% 69%
B. KESEHATAN LINGKUNGAN
1. Akses Air Bersih
91,58% 73% 68,68 73%
2. Jamban Keluarga 82,5% 69% 61,87 71%
3. Pembuangan limbah 82,5% 87% 61,12 60%
4. Pengelolaan sampah 81,5% 89% 61,12 60%
5. Rumah Sehat 83,78% 83% 62,8 85%
6. TTU 41,10% 62,5% 50 84,6%
7. TPM 47,80% 45,31% 36,14 41,25%
8. Kunjungan Klinik Sanitasi 70% 70% 45 25%
C KESEHATAN IBU, DAN
ANAK
1. Program Kesehatan Ibu
1. Cakupan K1 100% 98,2% 75 % 75,5 %
2. Cakupan K 4 95% 89,5% 71,25 % 71,49 %
3. Persalinan Oleh Nakes 90% 77% 67,5 % 69,3 %
4. Persalinan komplikasi
Obstetri yang
ditangani
80% 100% 80 % 100 %
5. Kunjunan Nifas 90% 77,2% 67,5 % 69,3 %
6. Deteksi bumil Resti
Oleh Nakes
100% 100% 75 % 89,22 %
33
7. Deteksi bumil Resti
Oleh Masyarakat
100% 73% 75 % 89,22 %
8. Kematian
Bumil/busulin/bufas
0 - 0 1
9. Cakupan Neonatus
Lengkap
90% 68,2% 67,5 % 73,60 %
2. Program kesehatan Anak
1. Cakupan KN 1 90% 78,2% 67,50 78,2%
2. Cakupan KN Lengkap 90% 68,2% 67,50 68,2%
3. Neonatus dengan
Komplikasi
80% 100% 60 100%
4. Pelayan Kesehatan
Bayi
87% 90% 65,25 90%
5. DDTK Bayi kali
pertahun
90% 75,38% 60 100%
6. Bayi DDTK yang
dirujuk
0 - 60 51%
7. DDTK balita 2 kali
pertahun
85% 90% 80 41,35
8. Balita DDTK yang
dirujuk
- 8 orang 80 67,43
9. DDTK Apras 2 Kali
Pertahun
8 orang 60 40
10. Pelayanan kesehatan
anak balita
83% 100% 83% 28,87%
11. Cakupan MTBM 80% 97% 80% 97,61%
12. Jumlah kunjungan
neonatus MTBM yang
dirujuk
- 0 - 2
13. Cakupan MTBS 80% 79% 80% 89,29%
14. Jumlah kunjungan
MTBS yang dirujuk
- 3 kasus - 16 Kasus
34
15. Jumlah kematian
neonatus
0 3 kasus - 1
16. Jumlah kematian bayi 0 0 - 1
17. Jumlah kematian
balita
0 3 kasus - -
D. GIZI MASYARAKAT
1. Cakupan D/S balita 85% 65,2% 63,75 65,2
2. Cakupan N/D balita 78% 78,3% 58,50 78,3
3. Cakupan BGM/D balita 3,6% 0,2% 2,7 0,2
4. Cakupan Asi Ekslusif 80% 88,4% 60 88,4
5. Cakupan vitamin A Balita 85% 81,5% 63,75 81,5
6. Cakupan Penimbangan
missal
90% 82,8% 67,5 82,8
7. Cakupan Fe3 ibu hamil 95% 101,6% 71,25 100
8. Cakupan Fe ibu nifas 78% 74,9% 58,50 74,9
9. Cakupan vitamin A ibu
nifas
78% 74,9% 58,50 74,9
10. Cakupan PMT pemilihan
balita kurang gizi
100% 100% 100 100
11. Cakupan TFC 100% 100% 100 100
12. Kasus gizi buruk 0 3 kasus 0 3 kasus
E.
PENCEGAHAN DAN
PENANGGULANGAN
PENYAKIT
1. Pelayanan TB Paru
1. Penemuan BTA
Positif
33 orang 7 orang 33% 15%
2. BTA positif
kambuh
- 4 orang - 3
3. BTA negatif,
rontgen positif
- 3 orang - 2
35
2. Pelayan pencegahan dan
pemberantasan DBD
1. Angka bebas
jentik (ABJ)
95% 82,6% - 95%
2. Penemuan kasus
DBD
- 28 kasus 31 -
3. Penangana kasus
DBD
100% 100% 100% 100%
4. Kematian akibat
DBD
0 - - -
3. Pelayanan penemuan dan
penaggulangan ISPA dan
pneumonia
1. Penemuan kasus
pneumonia
210
kasus
116 kasus
2. Kematian akibat
pneumonia
0 0
4. Pelayanan penemuan dan
penaggulangan Diare
1. Pengobatan /
Penderita semua
umur
100% 100% 100% 100%
5. Pelayanan penemuan dan
penaggulangan Malaria
1. Pengobatan /
penderita semua
umur
- - - -
6. Pelayanan penaggulangan
rabies
1. Pengobatan /
penderita semua
umur
- 19 kasus -
7. Pelayanan Imunisasi
36
1. Kontak pertama
a. HBO 95% 95,6% 71,25% 70 %
b. BCG 95% 99,6% 71,25% 72 %
c. DPT+HB1 95% 97,8% 71,25% 72 %
2. Kontak lengkap
a. DPT+HB3 90% 97,8% 67,5 % 97,8%
b. Polio 90% 98,9% 67,5 % 98,9%
c. Campak 90% 96,8% 67,5 % 96,8%
3. B IAS Campak anak
SD Imunisasi lanjut
90% 98,5% 90 % 98,5 %
a. Pentavalen 80% 11,7% 11,7%
b. Campak 80% 4,6% 4,6%
c. BIAS
Campak
95% 93% 93%
d. BIAS DT/TT 90% 96,4% - -
8. Pelayanan PTM
1. Cakupan deteksi dini
Ca Mammae dan Ca
serviks
692 orang 96 orang
2. Kasus tumor jinak
pada mammae
- 0
3. Kasus curiga kanker
mammae
- 0
4. Kelainan lain pada
mammae
- 0
5. Kasus IVA positif 2 orang 2 orang
6. Kasus curiga kanker
serviks
- 0
7. Kelainan lain pada
kanker serviks
- 10rang
37
8. Pemeriksaan calon
jemaah haji
- 77 orang
9. Pemeriksaan calon
10. jemaah >60 tahun
- 27 orang
11. Jumlah calon jemaah
50-60 tahun
- 26 orang
12. Calon jemaah <50
tahun
- 21 0rang
13. Penyakit terbanyak
calon jemaah
-
Jantung dan
pembuluh
darah
metabolik
PROGRAM PENGEMBANGAN
UKS / UKGS
1. Peningkatan Kesehatan gigi
a. Sikat gigi massal 100% 95% 100% -
b. Penyuluhan 100% 100% 100% -
2. Kegiatan pencegahan
kerusakan gigi lebih lanjut
a. Fissure sealent 85% 83% 100% -
B. PERKESMAS
1. Kunjungan rumah KK resti 100% 100%
2. Rapat koordinasi lintas
program dalam
pelaksanaan Perkesmas
100% 100%
C PROGRAM JIWA
1. Cakupan pelayanan jiwa 15% 14,06% 15 13
38
D.
PROGRAM KESEHATAN
JIWA DAN LANSIA
1. Total kunjungan pelayanan
lansia
3714 3714
2. Tiga penyakit terbanyak
lansia
-
Hipertensi,P
enyakit otot
dan jaringan
ikat, ISPA
3. Jumlah KK yang dibina
pada Puskesmas - 256KK
4. Pelayanan dalam dan luar
gedung
3346
orang
2619 orang
39
3.4 Fokus Kajian Program
3.4.1 Identifikasi Masalah
Proses identifikasi masalah dilakukan melalui observasi, laporan di Puskesmas Tanah
Garam tahun 2017 dan wawancara dengan penanggung jawab program di Puskesmas.
Beberapa masalah di Puskemas Tanah Garam yang ditemui antara lain :
a. Rendahnya penggunaan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
b. Rendahnya pengelolaan sampah di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
c. DBD dan pengolahannya di wilayah Puskesmas Tanah Garam
d. Rendahnya tingkat penemuan penderita TB di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
e. Rendahnya cakupan imunisasi booster di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
f. Rendahnya cakupan D/S Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam
g. Upaya peningkatan kunjungan klinik sanitasi di Puskesmas Tanah Garam
3.4.2 Penetapan Prioritas Masalah
Beberapa masalah yang ditemukan di puskesmas tanah garam harus ditentukan prioritas
masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan puskesmas. Upaya yang dilakukan
untuk menentukan prioritas masalah tersebut adalah menggunakan teknik scoring sebagai
berikut :
a. Urgensi (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting
b. Seriousness ( tingkat keseriusan masalah)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
40
Nilai 5 : sangat penting
c. Growth (tingkat perkembangan masalah)
Nilai 1 : tidak penting
Nilai 2 : kurang penting
Nilai 3 : cukup penting
Nilai 4 : penting
Nilai 5 : sangat penting
3.5.3 Penilaian Prioritas Masalah Di puskesmas Tanah Garam
Berdasarkan keseluruhan program yang belum mencapai target, dipilih 7 masalah yang
memiliki skor tertinggi berdasarkan skala prioritas USG. Penilaian 7 masalah prioritas tersebut
ditentukan berdasarkan data laporan tahuan puskesmas, wawancara dengan pemegang program
dan pimpian puskesmas, serta observasi langsung ke lapangan. Permasalahan ini tidak hanya
dilihat dari kesenjangan antara target dan pencapaian, tetapi juga dilihat dari urgensi,
seriousness, dan growth.
Masalah
Urgensi
(U)
Seriousness
(S)
Growth
(G)
Total Prioritas
Manajemen dan
pelayanan LROA yang
belum terlaksana
5 5 5 125 P1
Rendahnya cakupan D/S
posyandu
5 4 3 60 P2
Rendahnya pemberian vit
A pada bayi dan balita
P
Rendahnya penggunaan
air bersih
5 3 3 45 P4
Rendahnya pengetahuan
masyarakat tentang TB
4 4 3 48 P3
Tabel 11. Penetapan Masalah

Makalah ph sebagian

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Populasi remaja di Indonesia mencapai 20% dari total populasi penduduk Indonesia yaitu sekitar 30 juta jiwa. World Healt Organization menyebutkan bahwa banyak masalah gizi pada remaja masih terabaikan disebabkan karena masih bnyakanya factor-faktor yang belum diketahui, padahal remaja merupakan sumber daya manusia Indonesia yang harus dilindungi karena potensiny yang sangat besar dalam upaya pembangunan kualitas bangsa. Anemia akibat kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah gizi utama di Asia temasuk di Indonesia. Pada anak usia sekolah, prevalensi anemia tertinggi ditemukan di Asia Tenggara dengan perkiraan sekitar 60% anak mengalami anemia. Laporan berbagai studi di Indonesia memperlihatkan masih tingginya prevalensi anemia gizi pada remaja puti yang berkisar antara 20-5-%. Survey yang dilakukan oleh Gross et al d Jakarta dan Yogyakarta. Berbagai studi merupakan dampak negative dan anemia akibat kekurangan zat gizi besi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja. Anemia pada ank menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tidak optimal dan menurunkan prestasi belajar karena rasa cepat lelah, kehlangan gairah dan tidak dapat erkonsentrasi sedangkan pada remaja penderita anemia, sebagai calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa, anemia akan menyeabkan tingginya risiko untuk melahirkan bayi berat lahir redah (BBLR) yang mempunya i kualitas hidup yang tidak optimal. Melihat dampak anemia yang sangat besar dalam menurunkan kualitas sumber daya manusia. Maka sebaikya penanggulangan aemia perlu dilakukan sejak dini, sebelu emaja putri mejadi ibu hamil, agar kondisi fisik remaja putri tersebut telah siap menjadi iu yang sehat. Remaja putri termuk kelompok yang rawan terhadap anemia. Hal ini disebabkan karena kebutuhan e pada wanita 3 kali lebih bear darikebutuhan pria. Wanita mengalami menstruasi setiap bulannya yang berarti kehilangan darah secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak, juga kebuthan Fe meningkat karena pertumbuhan fisik, mental dan intelektual, dan
  • 2.
    2 kurang mengkonsumsi sumbermakanan hewani yang merupakan sumber Fe yang mudah diserap. Kelompok remaja putri mempunyai resiko paling tinggi untuk menderita anemia karena pada masa itu terjadi peningkatan kebutuhan Fe. Peningkatan kebuthan ini terutama disebabkan karena pertumbuhan pesat yang sedang dialami dan terjadiya kehilangan darah akibat menstruas.kelompok ini juga memiliki kebiasaan makan tidak teratur, mengkonsumsi makanan berisiko seperti fast food, snack, dan soft drink. Dan tingginya keinginan mereka untuk berdiet agar tampak langsing yang mempengaruhi asupan zat gizi termask sumber Fe yang adekuat. Strategi untuk mengatasi masalah anemia pada remaja putri adalah dengan perbaikan kebiasaaan makanan, fortifikasi makanan dan pemberian suplementasi Fe. Mengubah pola makan fortifikasi makanan merupakan strategi jangka panjang yang penting namun tidak dapat diharapkan dapat berhasil dengan cepat. Cara lain adalah dengan memberikan suplementasi Fe melalui pemberian tablt tambah darah. Untuk mencegah dan pengobatan anemia suplementasi TTD merupakan cara yang efisien karena mudah didapat, efeknya cepat terlihat, dan harganya relative murah shingga terjangkau oleh masyarakat luas. Brabin merekomendasikan program pencegahan anemia dengan suplementasi Fe lebih banyak ditargetkan kepada remaja putrid an pada anak-anak, wanita dwasa dan ibu hamil karea pembrian suplemenatasi kepada remaja putri akan memberi dampak yang lebih besar pada kesehatan reproduksi dan keberhasilan proses reproduksi dibandingkan dengan suplementasi selama masa hamil saja. Rmaja putri merupakan calon ibu yang harus sehat dan tidak anemia, untuk dapat melahirka bayi yang sehat. Bergbagai studi intervensi menunjukkan bahwa dosis, frekuensi dan lama pemberian TTD berbeda-beda. Namun demikian dibandingkan dengan dosis yang umunya relative hamper sama (60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat), frekuensi pemberian per mingu dan lama pemberiannya masih sangat bervariaso. Department Kesehatan RI menyebutkan dosis terapi untuk remaja putri yang anemia adalah 1 kali per hari selama satu bulan sedangkan WHO/UNICEF dalam Gross et al, menyebutkan dua kali per hari untuk waktu dua sampai tiga bulan. Studi evaluasi program suplementasi Fe sirup untuk balita di Nusa Tenggara Timur menunjukkan pemberian sirup Fe harian lebih efektif daripada mingguan dalam menentukan prevalensi anemia balita. Berbagai studi lain memperlihatkan bahwa
  • 3.
    3 suplementasi miggua cukupefektif dan ekonomis dalam menurunkn prevalens i anemia. Salah satu masalah dalam program suplementasi adalah rendahnya keptatuhan. Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 2002-2003 pada ibu hamil menunjukkan bahwa hanya kurang dari sepertiga ibu hamil mengkonsumsi TTD sebanyak 90 tablet, sepertiga mengkonsumsi <60 tablet, dan 20% tidak mengkonsumsi ama sekali. Masalah kepatuhan merupakan kendala utama suplemntasi besi harian, dank arena itu alternative suplementasi minguan diharapkan dapat mengurangi masalah kepathan ini. Tetapi suplementasi mingguan menghadapi masalah dalam hal dosis Fe yang diperlukan untuk meningkatkan kada haemoglobin dalam darah agar setara dengan suplementasi harian. Sebagai salah satu opsi, dengan emikian, diperluka penelitian untuk mengetahui keefektifan supmentasi Fe dengan frekuensi di antara mingguan dan harian mialnya dua kali per minggu untuk menilai kefektifa n suplementsi terhdap kadar haemoglobin (Hb). 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum a. Menganalisa masalah pemberian talet Fe di Wilayah Puskesmas Tanah Garam. b. Menentukan pemecahan masalah pemberia Tablet Fe di wilayah krja Puskesmas Tanah Garam. c. Meningkatkan cakupan pemberian Tablet Fe di Puskesmas Tanah Garam. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Memahami dan mengerti program yang ada di Puskesmas Tanah Garam. b. Memahami dan mengerti kegiatan dari program yang dijalankan selama KKS di Pusksmas Tanah Garam. c. Memahami dan mengerti tujuan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama KKS di Puskesmas Tanah Garam.
  • 4.
    4 1.3 Manfaat Makalah inidiharapkan dapat memberikan masukan ke Puskesmas Tanah Garam dalam upaya mengoptimalkan kegiatan program pemberian Tablet Fe pada remaja perempuan SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam. 1.4 Ruang Lingkup Ruang ligkup dalam pembahasan masalah ini adalah mengenai gambaran manajemen program gizi tentang pemberian Tablet Fe pada pelajar perempuan SMP dan SMA yang masih relative kurang di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam bulan Januari sampai bulan Juni tahun 2017.
  • 5.
    5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Puskesmas Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.75 Tahun 2014, Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanan tugas tersebut, puskesmas menyelenggarakan fungsinya yaitu penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) tingakat pertama di wilayah kerjanya. Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan dengan sasaran keluarga, kelompok dan masyarakat. Upaya Kesehatan Masyarakat tingkat pertama meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan. UKM esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan, pelayanan kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan ibu,anak, dan keluarga berencana, pelayanan gizi dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit. Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) adalah
  • 6.
    6 suatu kegiatan atauserangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit, pengurangan penderita akibat penyakit dan memulihkan kesehatan perorangan. Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang: 1) Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat. 2) Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu. 3) Hidup dalam lingkungan sehat. 4) Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugas puskesmas menyelenggarakan fungsi: 1) Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk: a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan. c. Melaksanakan Komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan. d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan. h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan cakupan pelayanan kesehatan. i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggualangan penyakit.
  • 7.
    7 2) Penyelenggaraan UKPtingkat pertama di wilayah kerjanya Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk: a. Menyelnggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu. b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif. c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung. e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi, f. Melaksanakan rekam medis g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan,dan evaluasi terhadap mutu dan akses pelayanan kesehatan. h. Melaksanakan peningkat kompetensi tenaga kesehatan. i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya. j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem rujukan. 2.2 Manajemen Puskesmas Manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri utama penerapannya yaitu efisien dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi, dan rasional dalam pengambilan keputusan manejerial. 2.2.1 Perencanaan 1) Pengertian Perencanaan adalah suatu proses memulai dengan sasaran-sasaran, batasan strategi, kebiijakan, dan rencana detail untuk mencapainya, mencapai organisasi untuk menerapkan keputusan, dan termasuk tinjauan kinerja dan umpan balik terhadap pengenalan siklus
  • 8.
    8 perencanaan baru (Steiner).Perencanaan merupakan fungsi terpenting dalam manajemen karena fungsi ini akan menetukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Perencanaan manajerial akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang dijalankan, siapa yang akan melakukan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan tuntutan terhadap proses pencapaian terhadap tujuan secra efektif dan efisien. 2) Langkah-langkah perencanaan Dalam perencanaan, terdapat beberapa langkah-langkah perencanaan yaitu sebagai berikut: a. Analisa situasi b. Mengidentifikasi masalah prioritas c. Menentukan tujuan program d. Mengkaji hambatan dan kelemahan program e. Menyusun Rencana Kerja Operasional (RKO) 2.2.2 Pengorganisasian 1) Pengertian Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai peranan penting, melalui fungsi pengorganisasian seluruh sumber daya yang dimiliki oleh organisasi (manusia dan yang bukan manusia) akan diatur pengguanaannya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan. Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolong-golongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan staf dalam mencapai tujuan organisasi. 2) Manfaat pengorganisasian Dengan mengembangkan fungsi pengorganisasian seorang manajer akan mengetahui: a. Pembagian tugas untuk perorangan dan kelompok b. Hubungan organisasi antar manusia yang akan terjadi antar anggota atau staf organisasi c. Pendelegasian wewenang
  • 9.
    9 Manajer atau pimpinanakan melimpahkan wewenang kepada staf sesuai dengan tugas pokok yang diberikan kepadanya d. Pemanfaatan staf dan fasilitas fisik yang dimiliki organisasi 3) Langkah-langkah pengorganisasian Ada lima langkah pentng dalam pengorganisasian yaitu sebagai berikut: a. Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf b. Membagi pekerjaan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pokok untuk mencapai tujuan c. Menggolongkan kegiatan pokok kedalam satuan kegiatan yang praktis d. Menetapkan kewajiban yang dilaksanakan oleh staf dan menyediakan fasilitas pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya e. Mendelegasikan wewenang 2.2.3 Penggerakan dan Pelaksanaan 1) Pengertian Fungsi manajemen ini merupakan fungsi penggerak semua kegiatan program (ditetapkan pada fungsi pengorganisasian) untuk mencapai tujuan program (yang dirumuskan dalam fungsi perencanaan). Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana manajer mengarahkan dan menggerakkan semua sumber daya (manusia dan yang bukan manusia) untuk mencapai tujuan yang telah disepakati. 2) Tujuan dan fungsi pelaksanaan Tujuan pelaksanaan yaitu a. Menciptakan kerja sama yang lebih efisien b. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan staf c. Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan d. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf e. Memuat organisasi berkembang secara dinamis 2.2.4 Pengawasan dan pengendalian
  • 10.
    10 1) Prinsip Pengawasan Fungsipengawasan dan pengendalian merupakan fungsi yang terakhir dari proses manajemen. Fungsi ini mempunyai kaitan erat dengan ketiga fungsi perencanaan. Melalui fungsi pengawasan dan pengendalian, standar keberhasilan program yang dituangkan dalam bentuk target, prosedur kerja dan sebagainya harus selalu dibandingkan dengan hasil yang dicapai atau yang mampu dikerjakan oleh staf. Jika ada kesenjangan dan penyimngan yang terjadi harus segera diatasi. Penyimpangan ini harus dapat dideteksi secara dini dicegah, dikendalikan atau dikurangi oleh pimpinan. Fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan agar penggunaan sumber daya dapat lebih diefesiensikan dan tugas-tugas staf untuk mencapai tujuan program dapat lebih diefektifkan. 2) Standar Pengawasan Standar pengawasan mencakup : a. Standar norma. Standar ini dibuat berdasarkan pengalaman staf melaksanakan kegiatan program yang sejenis atau yang dilaksanakan dalam situasi yang sama di masa lalu. b. Standar kriteria. Standar ini diterapkan untuk kegiatan pelayanan oleh petugas yang sudah mendapat pelatihan. Satandar ini berkaitan dengan tingkat profesionalisme staf. 3) Manfaat Pengawasan Fungsi pengawasan dan pengendalian dilaksanakan dengan tepat, organisasi yang akan memperoleh manfaatnya, yaitu : a. Dapat mempengaruhi sejauh mana kegiatan program sudah dilaksanakan oleh staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdayanya sudah digunakan seusai dengan yang sudah ditetapkan. Dalam hal ini,fungsi pengawasan dan pengendalian bermanfaat untuk meningkatkan efesiensi kegiatan program b. Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf melaksanakan tugas-tugasnya c. Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien d. Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan
  • 11.
    11 e. Dapat mengetahuistaf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan 4) Evaluasi Fungsi pengawasan perlu dibedakan dengan evaluasi yang juga sering dilakukan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan program. Perbedaannya terletak pada sasarannya, sumber data, siapa yang akan melaksanakannya dan waktu pelaksanaannya. Antara evaluasi dengan fungsi pengawasan juga mempunyai kesamaan tujuan yaitu untuk memperbaiki efesiensi dan efektifitas pelaksanaan program dengan memperbaiki fungsi perencanaan. 2.3 Defenisi Mineral Mineral adalah substansi inorganic sederhana yang tersebar luas di alam. Mineral berperan meningkatkan pertumbuhan dan mempertahankan kesehatan. Mineral mewakili 4% dari berat tubuh dan ditemukan di semua cairan dan jaringan tubuh. Mineral merupakan unsur esensial fungsi normal sebagai enzim dan angat pentng dalam pngndalian komposisi cairan tubuh 65% adalah air dalam bobot tubuh. Mineral merupakan konstituen esensial pada jaringan lemak, cairan dan steletan. Setekah mengandung mineral tubuh dalam propors yang besar. Mineral yang terliat dalam berbagai proes yaitu Cu, Zn, I Co, Mn, Mg, Kr. Selenium. Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh makhluk idup di samping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Juga dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Sebagai contoh, bila bahan biolois dibakar, semua senyawa organic akan rusak. Sebagian bsar karbon berubah menjadi gas karbon dioksida (CO2), hydrogen menjadi uap air, dan nitrogen menajdi up nitrogen (N2). Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam
  • 12.
    12 bentuk au dalambentuk senyawa anorganik sederhana, serta akan terjadi penggabungan antar individu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik. 2.4 Jenis Mineral Mineral dikelompokkan menjadi mineral utama (makromineral) dan mineral kelumit (trace mineral, mikromineral). Mineral utama dijumpai dalam tubuh dalam jumlah lebih besar dari 5 g (setara degan 1 sendok the) dan dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar pula. Mikromineral dijumpai dalam tubuh dalam jumlah kurang dari 5 g dan hanya dibuthkan dalam jumlah kecil. Table 1. Unsur-unsur Mineral dalam Tubuh Orang Dewasa Golongan Unsur % berat Badan 1. Makromineral Kalsium 1,5-2,2 Fosfor 0,8-1,2 Kalium 0,35 Sulphur 0,25 Natrium 0,15 Klor 0,15 Magnesium 0,05 2. makromineral Besi 0,00 Seng 0,002 Selenium 0,0003 Mangen 0,0002
  • 13.
    13 Tembaga 0,00015 Iodium 0,00004 Sumber:Poedjiadi dan Supriyanti. 2009: 418 2.5 Fungsi Mineral a. Mineral merupakan kostituen tulang dn gigi, yag memberikan kekuatan serta iridita kepada jaringan tersebut. Ex: Te, P, Mg. b. Mineral membentuk garam-garam yang dapat larut dan dengan demikian mengendalikan komposisi cairan seluler dan darah: Te, Mg dan P merupakan unsur penting dalam cairan intra seluler. c. Mineral turut membangun enzim dan protein dan merupakan bagian dari asam amino. Keseimbangan ionion mineral dalam tubuh mengatur proses metabolisme, mengatur keseimbangan asam basa, tekanan osmotic, membantu transport snyawa-senyawa penting pembentuk jaringan tubuh. Secara tidak langsung, mineral banyak yang berperan dalam proses pertumbuhan. Perlu dijelska disini bahwa peran mineral dalam tubuh kita erkaitan satu sama lainnya. Dan kekurangan atau kelebihan salah satu mineral akan berpengaruh terhadap kerja mineral lainnya. 2.6 Beberapa Mineral dalam Tubuh a. Makromineral ď‚· Kalsium (Ca) Peranan kalsium tidak saja sebagai pembentukan tulang dan gigi serta memegang peranan penting pada beberapa proses fisiologik dan biokhemik di dalam tubuh. Fungsi dari kalsium yaitu : 1) Dalam cairan jaringan berfungsi untuk pengendalian kerja jantung serta otot skeleton. 2) Eksitabilitasi syaraf otot. 3) Proses pembekuan darah 4) Memberikan kekerasan dan ketahanan terhadap pengeroposan
  • 14.
    14 5) Transmisi impits 6)Relaksasi kontraksi 7) Absorbs dan aktivitas enzim 8) Memberikan rigiditas erhadap jaringan 9) Bersama fosofr membentuk matriks tulang yang dipengaruhi oleh vitamin D. ď‚· Fosfor (P) Fungsi fosfor dalam ketrsediaannya didalam tubuh yaitu: 1) Mempengaruhi semua proses perombakan dan pembentukan zat 2) Membentuk fosforida, yaitu bagian [enting dari plasma 3) Pembelahan inti sel dan memindahkan sifat-sifat turunan 4) Membentuk matriks tulang bersama dengan Ca 5) Membantu proses pengerutan otot. ď‚· Natrium (Na) Fungsi natrium adalah: 1) Dalam plasma darah dan cairan berperan dalam menyelimuti jaringan. 2) Berperan dalam menghasilkan tekanan osmotic yang menatur pertukaran cairan antara sel dan cairan disekitarnya. 3) Menentukan volume dalam cairan ekstraseluler. 4) Untuk mempertahankan keseimbangan tubuh. b. Mikromineral ď‚· Tembaga (Cu) Fungsi tembaga : 1) Pembentukan tulang. 2) Warna kulit dan rambut. 3) Proses penyembuhan. 4) Pembentukan haemoglobin dan sel darah merah. 5) Mempertahankan seraut saraf. 6) Metabolisme besi. ď‚· Iodium/iodin (I) Fungsi iodium : 1) Produksi energy.
  • 15.
    15 2) Metabolisme. 3) Perkembanganfisik dan mental. ď‚· Besi (Fe) Besi dalam tubuh berasal dari tiga sumber yaitu hasil perusakan sel-sel arag merah, dari penyimpanan di dalam tubuh, dan hasil penyerapan pada saluran pencernaan. Dari ketiga sumber tersebut, Fe hasil hemolisis merupakan sumber utama. Zat besi dalam tubuh berperan penting dalam berbagai reaksi biokimia, antara lain dalam memproduksi sel darah merah. Sel ini sangat diperlukan untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Zat besi berperan sebagai pembawa oksigen bukan saja oksigen pernafasan menuju jaringan, tetapi juga dalam jaringa atau dalam sel. Zat besi bukan hanya diperlukan dlam pembentukan arah, tetapi jga sebagai bagian dari beberapa enzim hemoprotein. Enzim ini memgang erang peting dalam proses oksidasi-reduksi dalam sel. Sitokrom merupakan senyawa heme protein yang bertindak sebagai agens dalam perpindahan electron pada reaksi oksidasi-reduksi di dalam sel. Zat besi mungkin diperluka tidak hanya untuk pigmentasi bulu merah yang diketahui mengandung ferrum, tetapi juga berfungsi dalam susunan enzim dalam proses pigmentasi. 2.7 Zat Besi a. Defenisi Zat Besi Suati zat dalam tubuh manusia yang erat dengan ketersediaan jumlah darah yang diperlukan. b. Fungsi zat besi ď‚· Pembentukan Hemoglobin (Hb) Hemoglobin adalah pembawa utama oksigen ke seluruh tubuh dan memberikan warna merah pada eritrosit.
  • 16.
    16 ď‚· Fungsi Otot Merupakanunsur penting yang ada pada otot yang beruba mioglobi. Myoglobin mengangkut oksigen dari hemoglobi dan berdifusi ke seluruh sel- sel otot. Tanpa at besi otot akan kehilangan kekuatan dan elastisitasnya, sehingga kelemahan otot adalah salah satu tanda yang paling jelas dari anemia akibat kekurangan zat besi. ď‚· Fungsi Otak Karena pasokan oksigen dalam darah dibantu oleh besi dan tentunya isi sangat penting karena otak menggunakan sekitar 20% oksigen darah. Dengan demikian zat besi secara langsung berhubungan dengan kesehatan dan fungsi otak. ď‚· Pengaturan Suhu Tubuh Zat besi adalah fasilitator penting untuk menatur suhu tubuh. Menjaga suhu tubuh tetap stabil akan memungkinka proses enzimatik dan metabolisme dapat terjadi dengan optimal pada suhu yang sesuai. ď‚· Metabolisme Energi Hal ini meilibatkan proses bagaimana energy diektrak dari makanan yang dikinsumsi dan kemudia didistrbusikan ke seluruh bagian tubuh. ď‚· System Enzim Zat besi juga sebagai bagian penting dari berbagai system enzimatik dan konstituen penting lainnya karena terdapat pada myoglobin, sitokrom dan katalase. Tanpa ini semua, sejumlah system organ akan terhambat bahkan berhenti total. c. Sumber Zat Besi ď‚· Daging merah 100 gram daging sapi segar mengandung 201 kkal energy, 14 gram lemak, dan 2,8 mg zat besi, selain itu juga kaya akan protein. ď‚· Kuning telur ď‚· Ikan ď‚· Sayura berdaun gelap atau hijau
  • 17.
    17 Terutama bayam, daunsingkong, kangkung, dan sawi mengandung zat besi yang banyak.  Kacang-kacangan, kacang polong dan kacang kedelai Kandungan zat besi pada 100 gram kacang kedelai mengandung 10 mg zat besi. Sedangkan dalam 100 gram kacang polong mengandung 7,5 zat besi.  Buah kering (plum, kismis) Dalam ½ cangkir kismis erdapa 1,9 mg zat besi dan dalam 1 cangkir plum terdapat 1 mg zat besi. d. Akibat kekurangan Zat Besi  Kekurangan zat besi menghambat fungsi motoric normal pada bayi (aktifitas dan gerak tubuh) dan fungsi kecerdasan.  Anemia kekuraga zat besi selama kehamilan dapat meningkatkan resiko bayi premature dan berat lahir rendah (BBLR).  Pada orang dewasa kekurangan zat besi membuat cepat lelah menurunkan tenaga dan produktifitas kerja.  Kekurangan zat besi juga dapat menurunkan daya ingat, fungsi mental dan kecerdasan. e. Kebutuhan Zat Besi  Laki-laki dewasa (berat badan 75 Kg) mengandung ± 4000 mg zat besi, sementara wanita dewasa (berat badan 55 kg) mengandung ±2100 mg zat besi. Laki-laki memiliki cadangan zat besi didalam limpa dan sumsum tulang sebanyak 500-1500 mg, utulah sebabnya kekurangah darah jarang dijumpai pada laki-laki.  Sebalikny wanita hanya mempunya cadangan zat besi 0-300 mg sehingga rentan terhadap anemia, apalagi pada usia subur wanita mengalami menstruasi. Kebutuhan zat besi tergantung kepada jenis kelamin dan umur. Umur Kebutuhan per hari
  • 18.
    18 Anak 2-6 tahun4,7 mg/hari Usia 6-12 tahun 7,8 mg/hari Laki-laki 12-16 tahun 12,1 mg/hari Gadis 12-16 tahun 21,4 mg/hari Laki-laki dewasa 8,5 mg/hari Wanita dewasa usia subur 18,9 mg/hari Menopause 6,7 mg/hari Menyusui 8,7 mg/hari f. Pemberian tablet Fe ď‚· Waktu minum ablet zat besi Waktu yang tepat untuk minum tablet zat besi adalah pada malah hari menjelang tidur, hal ni untuk mengurangi rasa mual yang timbul setelah meminumnya. Jika diminum saat pagi hari maka akan timbul rasa mual muntah karena salah satu efeknya menimbulkan rasa eneg (rasa tidak enak pada perut). ď‚· Tenaga yang memberikan Tablet Fe pada Remaja perempuan SMP dan SMA Tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, tenaga gizi, dl), serta kader terlatih. ď‚· Cara pemberian 1) Mendatangi sekolah sekolah yang berada di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam. 2) Membagikan ke kelas-kelas dari kelas 1,2 dan 3. 3) Memberikan absen atau blanko peminuman yang diisi oleh guru atau ketua kelas bagi remaja perempuan yang meminum tablet Fe. 4) Per orangan diberikan 4 tablet yang nantinya akan diminum satu kali dalam seminggu 5) Dan diberikan juga penyuluhan tentang apa itu anemia yang di akibatkan oleh defisiensi zat besi.
  • 19.
    19 6) Tenaga kesehatanmendatangi sekolah untuk memantau sekali dalam satu bulan. ď‚· Tempat pemberian 1) Sarana fasilitas kesehatan (rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), polindes/poskesdes,balai pengobatan, praktek dokter/bidan swasta). 2) Sekolah
  • 20.
    20 BAB III HASIL KEGIATAN 3.1Profil Puskesmas 3.1.1 Peta Wilayah Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Sumber: Data dasar puskesmas Tanjung Paku 3.1.2 Kondisi Geografis Puskesmas Tanjung Paku merupakan satu dari Puskesmas yang ada di Kota Solok. Berdiri pada tahun 1983 dengan luas tanah 1050 M2, merupakan Puskesmas Rawat Jalan. Puskesmas Tanjung Paku terletak di wilayah kerja Kecamatan Tanjung Harapan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : 1. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan VI Suku Kota Solok 2. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aripan Kabupaten Solok 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Saok Laweh Kabupaten Solok 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Simpang Rumbio Kota Solok Jarak antara Puskesmas Tanjung Paku dengan Ibukota Provinsi Sumatera Barat 65 Km, dengan luas wilayah kerja 22,64 Km yang berbagi atas 4 (empat) kelurahan, yaitu : 1. Kelurahan Koto Panjang 2. Kelurahan PPA 3. Kelurahan Tanjung Paku 4. Kelurahan Kampung Jawa
  • 21.
    21 3.1.3 Kondisi Demografisdan Kependudukan Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk 20.765 jiwa, dengan jumlah penduduk perkelurahan sebagai berikut : Tabel 3.1. Data Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Tahun 2015 No Kelurahan Jumlah Penduduk Jumlah KK Laki Perempuan Jumlah 1 Kota Panjang 1.115 1.139 2.254 439 2 PPA 2.890 2.954 5.844 1186 3 Tanjung Paku 3.007 3.073 6.080 1196 4 Kampung Jawa 3.258 3.329 6.587 1502 Jumlah 10.270 10.495 20.765 4.223 Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015 3.1.4 Sosial Budaya 1. Agama Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk mayoritas beragama islam 2. Suku Sebagian besar masyarakatnya Suku Minang 3. Mata Pencarian Masyarakat Puskesmas Tanjung Paku bermata pencarian sebagai pegawai, pedagang dan petani. 4. Sarana Kependidikan Sarana pendidikan yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Paku cukup lengkap, yaitu 16 TK/PAUD, 18 SD/MI, 3 SLTP, 3 SLTA dan 2 PT. Pada tabel berikut dapat dilihat fasilitas pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku menurut Kelurahan :
  • 22.
    22 Tabel 3.2. FasilitasPendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Tahun 2015 No Kelurahan TK/Paud SD/MIN SLTP SLTA/SMK PT 1 Kota Panjang 1 1 0 1 0 2 PPA 3 5 0 2 1 3 Tanjung Paku 5 4 1 0 1 4 Kampung Jawa 9 8 2 0 0 Jumlah 18 18 3 3 2 Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2015 3.1.5 Sumber Daya Kesehatan a. Tenaga Kesehatan Tabel 3.3 Sumber Daya Kesehatan Puskesmas Tanjung Paku tahun 2016 No JenisTenaga yang ada Jumlah PNS Jumlah PTT Jumlah THL Jumlah Sukarela 1. Dokter Umum 2 2. Dokter Gigi 1 3. Dokter Spisialis 0 4. Perawat S1 4 2 5. Sarjana Kesehatan Masyarakat 5 6. Perawat D3 2 2 7. Perawat Gigi 1 1 8. Bidan D4 0 0 9. Bidan D3 11 3 3 10 Bidan D1 1 11 Tenaga Gizi 2
  • 23.
    23 12 Tenaga Sanitasi1 13 Tenaga Analis Kesehatan 1 14 Apoteker 0 15 Asisten Apoteker 3 16 Fisioterapi 0 17 SPK 4 18 Satpam 0 19 Sopir 1 20 Cleaning Servis 2 21 Staf Administrasi 1 22 Staf Keuangan 1 23 Staf Elektromedik 1 a. Sarana dan Prasarana Tabel 3.4 Sarana dan prasana puskesmas Tanjung Paku tahun 2016 No Nama Ruang No Nama Ruang 1. GEDUNG I Mushalla LANTAI I Ruang ATK Ruang Pendaftaran dan Rekam Medik Gudang Alat Ruang Tunggu Ruang Klinik Sanitasi Ruang Dokter Surveilance Poli Gizi Promkes Gudang Obat Toilet Ruang PKPR Labor 2. GEDUNG 2 Apotik Ruang Tindakan Ruang Konsultasi Ruang Laktasi Konsultasi TB Paru Imunisasi Ruang Bersalin IVA/KB Poli KIA Ruang Dokter Referal
  • 24.
    24 Poli Gigi RuangVCT Toilet Wanita Toilet Toilet Pria 3. RUMAH PARAMEDIS 3 UNIT LANTAI 2 4. Parkir Ambulance Ruang Kepala Puskesmas Promkes Ruang Bimbingan Mahasiswa Aula Tata Usaha Ruang Admin No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah 1 Puskesmas Induk 1 2 Puskesmas Pembantu 5 3 Poskeskel 4 4 Posyandu Balita 32 5 Posyandu Lansia 11 6 Apotik 4 7 Optikal 4 8 Toko Obat Berizin 4 9 RSUD/RST 1 10 Rumah Sakit Swasta 1 11 Labor 2 12 Sarana Transportasi Kendaraan Roda 4 Puskesmas Tanjung Paku 2
  • 25.
    25 13 Sarana TransportasiKendaraan Roda 2 Puskesmas Tanjung Paku 22 Jumlah 93 3.1.6 Visi, Misi, Motto dan Janji Pelayanan Visi dan Misi Puskesmas Tanjung Paku berpedoman pada visi Dinas Kesehatan Kota Solok yaitu Masyarakat Kota Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan, dan berdasarkan permasalahan yang ada dan sumber daya yang dimiliki, Puskesmas Tanjung Paku menetapkan Visi, Misi, Motto dan Janji Pelayanan VISI: Visi Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok adalah “Terwujudnya Pelayanan Prima Menuju Masyarakat Mandiri untuk Hidup Sehat” MISI : Untuk mewujudkan visi tersebut diatas, ditetapkanlah misi yaitu : 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk ber PHBS 2. Meningkatkan kemitraan dengan Stake Holder bidang kesehatan 3. Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan 4. Meningkatkan sumber daya manusia (SDM) bidang kesehatan 5. Memantapkan manajemen Puskesmas dan sistem informasi 6. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerja 7. Memelihara dan meningkatkan upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya kesehatan masyarakat (UKM) beserta kesehatan lingkungan MOTTO: UPT Puskesmas Tanjung Paku menuju Puskesmas “Berprestasi” ( Bersih, Prestise, Takwa, Santun dan Inovatif)
  • 26.
    26 JANJI PELAYANAN. Puskesmas TanjungPaku siap mewujudkan Pelayanan Puskesmas “ SIMPATIK” 1. Senyum Senyum, salam dan sapa selalu di utamakan. 2. Ikhlas Ikhlas dalam memberikan pelayanan 3. Mudah Mudah dalam proses pelayanan. 4. Peduli Peduli terhadap keluhan pasien. 5. Adil Pelayanan yang diberikan adil dan merata. 6. Terpadu Terpadu dalam memberikan pelayanan. 7. Inovatif Inovasi dalam pelayanan selalu dikembangkan 8. Komitmen Melaksanakan tugas sesuai dengan komitmen 3.2 Situasi Derajat Kesehatan Masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku Derajat kesehatan masyarakat ditunjukkan dengan suatu indikator status kesehatan, yaitu Angka Kematian, Angka Kesakitan dan Angka Status Gizi. Berikut kami gambarkan Gambaran situasi derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 dari berbagai data dan informasi yang dilaporkan adalah sebagai berikut. 1. Angka Kematian a. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Angka kematian ibu maternal tahun 2015 di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah 1 orang, kasus kematian terjadi di klinik Permata Bunda Kota Solok. b. Angka Kematian Bayi (AKB) Angka kematian bayi tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah sebanyak 1 orang dan lahir mati sebanyak 2 orang, kematian 4 orang bayi dengan beberapa penyebab kematian diantaranya, BBLR, Diare, Syndroma gangguan nafas, aspirasi, dan KJDK.
  • 27.
    27 c. Angka KematianBalita (AKABA) Seperti halnya AKI dan AKB, Angka Kematian Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 adalah 1 orang, dengan penyebab kematian adalah penyakit jantung bawaan. 2. Angka Kesakitan a. Demam Berdarah Dengue (DBD) Angka kesakitan Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku pada tahun 2015 sebanyak 88 orang dengan rincian 46 laki-laki dan 42 perempuan, inimengalami kenaikan dari tahun sebelumya karena pada tahun 2014 hanya sebanyak 16 kasusdenganrincian 8 orang laki-lakidan 8 orang perempuan, dan tahun 2013 hanyaterjadi 3 kasus DBD denganrincian 1 laki-lakidan 2 perempuan. b. Diare Angka kesakitan diare di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 sebanyak 688 dengan rincian 297 laki-laki dan perempuan 391, sedikit mengalami penurunan dari tahun 2014 sebanyak 775 kasusdenganrincian 370 laki-lakidan 405 perempuan yang semua kasus sudah tertangani. Dan tahun 2013 hanya terjadi 581 kasusdenganrincian 280 laki-lakidan 301 perempuan. c. Tuberkolosis (TBC) Untuk angka kesakitan Tuberculosis pada tahun 2015 sebanyak 12 pasien dan tahun 2014 terdapat 14 pasien yang mendapat pengobatan dan dinyatakan sembuh diobati, sedangkanjumlahkasus TBC tahun 2013 adalahsebanyak 11 orang yang diobati. Sehinggaterdapat kenaikan kasus dari tahun 2013 – 2014 sebanyak 3 kasus tetapi terjadi penurunan kasus pada tahun 2015 yaitu 12 kasus. d. Penyakit Menular Seksual Kasus penyakit menular seksual yang dilaporkan dan diobati pada periode 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nihil. e. HIV / AIDS Pelaporan kasus HIV / AIDS di tahun 2015 adalah nol. Begitu juga dengan tahun sebelumnya, tidak ada pelaporan kasus HIV / AIDS di tahun 2013. Hal ini menjadikan angka kesakitan HIV / AIDS 2 tahun terakhir ini di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nihil.
  • 28.
    28 f. Malaria Seperti halnyaangka kesakitan HIV / AIDS, kasus malaria tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nol. Di tahun 2014, angka kesakitan malaria juga nol. g. Acute Flaccid Paralysis < 15 tahun Angka kesakitan dari Acute Flaccid Paralysis (AFP) di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 adalah nihil. Tidak adanya laporan AFP tahun 2014, menjadikan 2 tahun terakhir ini angka kesakitan AFP di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nol. h. Kusta Tidak ada pelaporan kasus kusta pada tahun 2015. Sehingga, angka kesakitan kusta di wilayah Puskesmas Tanjung Paku pada tahun 2015 adalah nihil. Hal inimengalamipenurunankarenapadatahun 2013 terdapatpelaporankasuskustasebanyak 2 kasus. i. Filariasis Angka kesakitan filariasis tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku adalah nihil. Begitu juga pada tahun sebelumnya, angka kesakitan filariasis tahun 2014 adalah nihil. j. Pneumonia Balita Angka kesakitan pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 adalah 71 kasus terjadi penurunan dari tahun 2014 yaitusebanyak 219 kasussedangkanpadatahunsebelumnya 2013 hanya 27 kasus yang dilaporkan. Hal ini juga mengindikasikan program pelayanan pada tahun sebelumnya belum berjalan baik sehingga banyak sekali kasus pneumonia yang tidak terlaporkan. k. PD3I : Difteri, Pertusis, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio, dan Hepatitis B Kasus PD3I yang meliputi Pertusis, Difteri, Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio, dan Hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 adalah nol. l. Sepuluh Penyakit Terbanyak Sepuluh besat penyakit yang dilaporkan di Puskesmas Tanjung Paku tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1. ISPA : 2.079 kasus 2. Demam, Anemia,Gastritis,Hipotensi, dll : 1.425 kasus
  • 29.
    29 3. Rheumatik :867 kasus 4. Vulnus (kecelakaandanrudapaksa) : 757 kasus 5. Diare : 688 kasus 6. PenyakitPulpadanJaringanPeripikal : 571 kasus 7. PenyakitKulitdanAlergi : 373 kasus 8. Hipertensi : 271 kasus 9. Commond Cold : 181 kasus 10. Bronchitis : 149 kasus m. Angka Status GIzi Untuk kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Tanjung paku pada tahun 2015 dan tahun 2014 ini tidak ada kasus gizi buruk yang dilaporkan dengan arti kata kasusnya nihil, hal ini mengalami peningkatan status gizi karena pada tahun 2013 terdapat 1 kasus gizi buruk yang ditemukan dan telah ditangani sesuai dengan SOP yang ditetapkan untuk kasus gizi buruk. 3.3 Gambaran Umum Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Tanjung Paku 3.3.1 Kegiatan Program dan Pelayanan Mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES) No 75 tahun 2014, Berdasarkan karakteristik wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku dikategorikan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan puskesmas kawasan perkotaan dengan karakteristik kegiatan sebagai berikut: 1. Memprioritaskan pelayanan UKM 2. Pelayanan UKM dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat 3. Pelayanan UKP dilaksanakan oleh Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat 4. Optimalisasi peningkatan kemapuan jaringan dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan 5. Pendekatan pelayanan yang diberikan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan kehidupan masyarakat perkotaan. Dalam Permenkes No. 75 tahun 2014 juga dijelaskan ada 2 fungsi Puskesmas yaitu: 1. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya 2. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya
  • 30.
    30 Upaya kesehatan Masyarakatdi Puskesmas Tanjung Paku juga telah mengacu kepada permenkes No 75 tahun 2014 yaitu meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan. Upaya kesehatan masyarakat esensial yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat yaitu : 1. Pelayanan Promosi Kesehatan 2. Pelayanan Kesehatan Lingkungan 3. Pelayanan Kesehatan Ibu , Anak dan Keluarga Berencana 4. Pelayanan Gizi 5. Pelayanan Pencegahan dan pengendalian Penyakit Pelayanan kesehatan masyarakat essensial diselenggarakan untuk mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kota bidang kesehatan. Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan adalah upaya kesehatan masyarakat yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di Puskesmas Tanjung Paku. Beberapa program pengembangan di Puskesmas Tanjung Paku yang telah berjalan sejak tahun 2015 sampai sekarang adalah : 1. Pelayanan Kesehatan Mata dan Telinga 2. Puskesmas Santun Lansia 3. Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) 4. Pembinaan UKS/UKGS 4. Kesehatan Gigi dan Mulut 5. Kesehatan Jiwa 6. Kesehatan Haji 7. PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) Dalam menyusun kegiatan selain mengacu kepada pedoman dan acuan yang sudah ada ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, maupun Dinas Kesehatan Kota, Puskesmas Tanjung Paku juga memperhatikan kebutuhan dan harapan masyarakat terutama sasaran program. Kebutuhan dan harapan masyarakat maupun sasaran program dapat di identifikasi melaui survei, kotak saran, maupun temu muka dengan tokoh masyarakat. Penyusunan kegiatan-kegiatan program perlu mempertimbangkan masukan dari masyarakat. Dengan identifikasi kebutuhan dan harapan masyarakat/sasaran program
  • 31.
    31 diperoleh informasi tentangkegiatan apa yang diharapkan oleh masyarakat sehingga kegiatan-kegiatan program dapat mengatasi permasalahan yang ada dan mencapai tujuan yang ditentukan dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Dengan mempertimbangkan masukan dan harapan masyarakat serta persiapan menghadapi akreditasi tahun 2016 hanya ada beberapa program pengembangan prioritas yang bisa memenuhi standar untuk dikreditasi, diantaranya; Posbindu PTM, UKS/UKGS. Sementara untuk program pengembangan yang lainnya tetap dijalankan sebagaimana mestinya. Berkaitan dengan penyelenggaraan pelayanan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Puskesmas Tanjung Paku telah melaksanakan kegiatan : 1. Rawat Jalan 2. Perkesmas / Home care 3. Perawatan Terapeutik Feeding Center (TFC) dengan sarana penunjang Laboratorium, Ruang Farmasi , Ruang ASI, Ruang bermain anak, 1 Unit Rumah Dokter, 3 Unit Rumah Para Medis, 1 unit ambulance dan 5 Unit Puskesmas Pembantu serta 4 Unit Poskeskel. 3.3.2 Laporan Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Tanjung Paku Tahun 2015-2016 1. KEGIATAN UPAYA KESEHATAN PERORANGAN Table 3.5 Kegiatan upaya kesehatan perorangan No Pelayanan Jumlah / Tahun 2015 Jumlah s/d September 2016 1. Rawat Jalan 13.403 17.442 2. INDIKATOR DAN PENCAPAIAN KEGIATAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT TAHUN 2016 Tabel 3.6 Indikator dan pencapaian kegiatan upaya kesehatanmasyarakat tahun 2016 NO UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT TAHUN 2015 JANUARI S/D SEPTEMBER 2016
  • 32.
    32 Target (%) Pencapaian Indikator Kinerja Pencapai an I. PROGRAM ESSENSIAL A.PROMOSI KESEHATAN 1. Penyuluhan Posyandu 62 288 kali 288 kali 2. Penyuluhan ke Sekolah 46 54 kali 54 kali 3. Penyuluhan keliling 8 12 kali 12 kali 4. Keluarga Siaga 92% 100 % 69% 69% B. KESEHATAN LINGKUNGAN 1. Akses Air Bersih 91,58% 73% 68,68 73% 2. Jamban Keluarga 82,5% 69% 61,87 71% 3. Pembuangan limbah 82,5% 87% 61,12 60% 4. Pengelolaan sampah 81,5% 89% 61,12 60% 5. Rumah Sehat 83,78% 83% 62,8 85% 6. TTU 41,10% 62,5% 50 84,6% 7. TPM 47,80% 45,31% 36,14 41,25% 8. Kunjungan Klinik Sanitasi 70% 70% 45 25% C KESEHATAN IBU, DAN ANAK 1. Program Kesehatan Ibu 1. Cakupan K1 100% 98,2% 75 % 75,5 % 2. Cakupan K 4 95% 89,5% 71,25 % 71,49 % 3. Persalinan Oleh Nakes 90% 77% 67,5 % 69,3 % 4. Persalinan komplikasi Obstetri yang ditangani 80% 100% 80 % 100 % 5. Kunjunan Nifas 90% 77,2% 67,5 % 69,3 % 6. Deteksi bumil Resti Oleh Nakes 100% 100% 75 % 89,22 %
  • 33.
    33 7. Deteksi bumilResti Oleh Masyarakat 100% 73% 75 % 89,22 % 8. Kematian Bumil/busulin/bufas 0 - 0 1 9. Cakupan Neonatus Lengkap 90% 68,2% 67,5 % 73,60 % 2. Program kesehatan Anak 1. Cakupan KN 1 90% 78,2% 67,50 78,2% 2. Cakupan KN Lengkap 90% 68,2% 67,50 68,2% 3. Neonatus dengan Komplikasi 80% 100% 60 100% 4. Pelayan Kesehatan Bayi 87% 90% 65,25 90% 5. DDTK Bayi kali pertahun 90% 75,38% 60 100% 6. Bayi DDTK yang dirujuk 0 - 60 51% 7. DDTK balita 2 kali pertahun 85% 90% 80 41,35 8. Balita DDTK yang dirujuk - 8 orang 80 67,43 9. DDTK Apras 2 Kali Pertahun 8 orang 60 40 10. Pelayanan kesehatan anak balita 83% 100% 83% 28,87% 11. Cakupan MTBM 80% 97% 80% 97,61% 12. Jumlah kunjungan neonatus MTBM yang dirujuk - 0 - 2 13. Cakupan MTBS 80% 79% 80% 89,29% 14. Jumlah kunjungan MTBS yang dirujuk - 3 kasus - 16 Kasus
  • 34.
    34 15. Jumlah kematian neonatus 03 kasus - 1 16. Jumlah kematian bayi 0 0 - 1 17. Jumlah kematian balita 0 3 kasus - - D. GIZI MASYARAKAT 1. Cakupan D/S balita 85% 65,2% 63,75 65,2 2. Cakupan N/D balita 78% 78,3% 58,50 78,3 3. Cakupan BGM/D balita 3,6% 0,2% 2,7 0,2 4. Cakupan Asi Ekslusif 80% 88,4% 60 88,4 5. Cakupan vitamin A Balita 85% 81,5% 63,75 81,5 6. Cakupan Penimbangan missal 90% 82,8% 67,5 82,8 7. Cakupan Fe3 ibu hamil 95% 101,6% 71,25 100 8. Cakupan Fe ibu nifas 78% 74,9% 58,50 74,9 9. Cakupan vitamin A ibu nifas 78% 74,9% 58,50 74,9 10. Cakupan PMT pemilihan balita kurang gizi 100% 100% 100 100 11. Cakupan TFC 100% 100% 100 100 12. Kasus gizi buruk 0 3 kasus 0 3 kasus E. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT 1. Pelayanan TB Paru 1. Penemuan BTA Positif 33 orang 7 orang 33% 15% 2. BTA positif kambuh - 4 orang - 3 3. BTA negatif, rontgen positif - 3 orang - 2
  • 35.
    35 2. Pelayan pencegahandan pemberantasan DBD 1. Angka bebas jentik (ABJ) 95% 82,6% - 95% 2. Penemuan kasus DBD - 28 kasus 31 - 3. Penangana kasus DBD 100% 100% 100% 100% 4. Kematian akibat DBD 0 - - - 3. Pelayanan penemuan dan penaggulangan ISPA dan pneumonia 1. Penemuan kasus pneumonia 210 kasus 116 kasus 2. Kematian akibat pneumonia 0 0 4. Pelayanan penemuan dan penaggulangan Diare 1. Pengobatan / Penderita semua umur 100% 100% 100% 100% 5. Pelayanan penemuan dan penaggulangan Malaria 1. Pengobatan / penderita semua umur - - - - 6. Pelayanan penaggulangan rabies 1. Pengobatan / penderita semua umur - 19 kasus - 7. Pelayanan Imunisasi
  • 36.
    36 1. Kontak pertama a.HBO 95% 95,6% 71,25% 70 % b. BCG 95% 99,6% 71,25% 72 % c. DPT+HB1 95% 97,8% 71,25% 72 % 2. Kontak lengkap a. DPT+HB3 90% 97,8% 67,5 % 97,8% b. Polio 90% 98,9% 67,5 % 98,9% c. Campak 90% 96,8% 67,5 % 96,8% 3. B IAS Campak anak SD Imunisasi lanjut 90% 98,5% 90 % 98,5 % a. Pentavalen 80% 11,7% 11,7% b. Campak 80% 4,6% 4,6% c. BIAS Campak 95% 93% 93% d. BIAS DT/TT 90% 96,4% - - 8. Pelayanan PTM 1. Cakupan deteksi dini Ca Mammae dan Ca serviks 692 orang 96 orang 2. Kasus tumor jinak pada mammae - 0 3. Kasus curiga kanker mammae - 0 4. Kelainan lain pada mammae - 0 5. Kasus IVA positif 2 orang 2 orang 6. Kasus curiga kanker serviks - 0 7. Kelainan lain pada kanker serviks - 10rang
  • 37.
    37 8. Pemeriksaan calon jemaahhaji - 77 orang 9. Pemeriksaan calon 10. jemaah >60 tahun - 27 orang 11. Jumlah calon jemaah 50-60 tahun - 26 orang 12. Calon jemaah <50 tahun - 21 0rang 13. Penyakit terbanyak calon jemaah - Jantung dan pembuluh darah metabolik PROGRAM PENGEMBANGAN UKS / UKGS 1. Peningkatan Kesehatan gigi a. Sikat gigi massal 100% 95% 100% - b. Penyuluhan 100% 100% 100% - 2. Kegiatan pencegahan kerusakan gigi lebih lanjut a. Fissure sealent 85% 83% 100% - B. PERKESMAS 1. Kunjungan rumah KK resti 100% 100% 2. Rapat koordinasi lintas program dalam pelaksanaan Perkesmas 100% 100% C PROGRAM JIWA 1. Cakupan pelayanan jiwa 15% 14,06% 15 13
  • 38.
    38 D. PROGRAM KESEHATAN JIWA DANLANSIA 1. Total kunjungan pelayanan lansia 3714 3714 2. Tiga penyakit terbanyak lansia - Hipertensi,P enyakit otot dan jaringan ikat, ISPA 3. Jumlah KK yang dibina pada Puskesmas - 256KK 4. Pelayanan dalam dan luar gedung 3346 orang 2619 orang
  • 39.
    39 3.4 Fokus KajianProgram 3.4.1 Identifikasi Masalah Proses identifikasi masalah dilakukan melalui observasi, laporan di Puskesmas Tanah Garam tahun 2017 dan wawancara dengan penanggung jawab program di Puskesmas. Beberapa masalah di Puskemas Tanah Garam yang ditemui antara lain : a. Rendahnya penggunaan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam b. Rendahnya pengelolaan sampah di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam c. DBD dan pengolahannya di wilayah Puskesmas Tanah Garam d. Rendahnya tingkat penemuan penderita TB di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam e. Rendahnya cakupan imunisasi booster di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam f. Rendahnya cakupan D/S Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tanah Garam g. Upaya peningkatan kunjungan klinik sanitasi di Puskesmas Tanah Garam 3.4.2 Penetapan Prioritas Masalah Beberapa masalah yang ditemukan di puskesmas tanah garam harus ditentukan prioritas masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan puskesmas. Upaya yang dilakukan untuk menentukan prioritas masalah tersebut adalah menggunakan teknik scoring sebagai berikut : a. Urgensi (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan) Nilai 1 : tidak penting Nilai 2 : kurang penting Nilai 3 : cukup penting Nilai 4 : penting Nilai 5 : sangat penting b. Seriousness ( tingkat keseriusan masalah) Nilai 1 : tidak penting Nilai 2 : kurang penting Nilai 3 : cukup penting Nilai 4 : penting
  • 40.
    40 Nilai 5 :sangat penting c. Growth (tingkat perkembangan masalah) Nilai 1 : tidak penting Nilai 2 : kurang penting Nilai 3 : cukup penting Nilai 4 : penting Nilai 5 : sangat penting 3.5.3 Penilaian Prioritas Masalah Di puskesmas Tanah Garam Berdasarkan keseluruhan program yang belum mencapai target, dipilih 7 masalah yang memiliki skor tertinggi berdasarkan skala prioritas USG. Penilaian 7 masalah prioritas tersebut ditentukan berdasarkan data laporan tahuan puskesmas, wawancara dengan pemegang program dan pimpian puskesmas, serta observasi langsung ke lapangan. Permasalahan ini tidak hanya dilihat dari kesenjangan antara target dan pencapaian, tetapi juga dilihat dari urgensi, seriousness, dan growth. Masalah Urgensi (U) Seriousness (S) Growth (G) Total Prioritas Manajemen dan pelayanan LROA yang belum terlaksana 5 5 5 125 P1 Rendahnya cakupan D/S posyandu 5 4 3 60 P2 Rendahnya pemberian vit A pada bayi dan balita P Rendahnya penggunaan air bersih 5 3 3 45 P4 Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang TB 4 4 3 48 P3 Tabel 11. Penetapan Masalah