BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa digunakan dalam kehidupan
sehari-hari dan biasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut.
Pengamatan terhadap gaya tarik listrik dapat ditelusuri sampai pada zaman
Yunani kuno. Orang-orang yunani kuno telah mengamati bahwa setelah batu
amber digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami atau
bulu. Sedangkan kata Listrik itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu
electron.
Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua
aspek dalam bidang kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam
tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh
manusia. Nah, listrik yang ada pada tubuh kita disebut dengan Biolistrik atau
sering diartikan sebagai listrik yang terdapat pada makhluk hidup, yang mana
berasal dari kata bio berarti makhluk hidup dan kata listrik.
Beberapa penyelidikan yang telah dilakukan berhubungan dengan
biolistrik antara lain:
a) Pada tahun 1856, Caldani meneliti kelistrikan pada otot katak mati.
b) Pada tahun 1780, Luigi galvanic meneliti kelistrikan pada tubuh
hewan.
c) Pada tahun 1786, Luigi Galvani meneliti tentang terangkatnya
kedua kaki katak setelah diberi aliran listrik melalui konduktor
d) Pada tahun 1892, Arons merasakan aliran frekuensi tinggi melalui
dirinya dan asistennya.
e) Pada tahun 1899, Van Seynek meneliti tentang terjadinya panas
pada jaringan akibat aliran frekuensi tinggi
1
f) Pada tahun 1928, Schliephake meneliti tentang pengobatan dengan
gelombang pendek (short wave).
Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja biolistrik di dalam ilmu
kesehatan pada makalah ini. Pada dasarnya, semua fungsi dan aktivitas tubuh
sedikit banyak melibatkan listrik. Gaya-gaya yang ditimbulkan oleh otot
disebabkan tarik-menarik antara muatan listrik yang berbeda. Kerja Otot, otak
dan jantung pada dasarnya bersifat elektrik (listrik). Sistem saraf berperan
penting pada hampir semua fungsi tubuh. Otak, yang pada dasarnya adalah
suatu komputer sentral, menerima sinyal eksternal dan internal dan (biasanya)
menghasilkan respons yang sesuai. Informasi disalurkan sebagai sinyal listrik
di sepanjang saraf-saraf. Saat kita menjalankan fungsi-fungsi khusus tubuh,
banyak sinyal listrik yang dihasilkan. Sinyal-sinyal ini dihasilkan dari proses
elektrokimiawi tertentu.
Oleh karena itu maka makalah ini akan membahas sebagian dari sinyal-
sinyal listrik dalam tubuh yaitu mengenai sistem saraf dan neuron, sinyal
listrik dari otot dan jantung serta potensial listrik saraf.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. pengertian biolistrik?
2. Hukum biolistrik?
3. Macam macam gelombang arus listrik ?
4. Kelistrikan dan Kemagnetan dalam tubuh ?
5. Isyarat Magnet dan Jantung otak ?
6. Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh?
7. Bagaimana Magnetik Blood Flow Water ?
8. Shock Listrik ?
9. Bagaimana sinyal listrik dari jantung (Elektrokardiogram) ?
2
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui asal mula dan pengertian dari biolistrik.
2. Dapat mengetahui macam – macam gelombang arus listrik.
3. Dapat mengatahui tentang kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam
tubuh.
4. Dapat mengetahui tentang isyarat magnet jantung dan otak.
5. Dapat mengetahui Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh.
6. Dapat mengetahui apa saja bagian-bagian dari sistem saraf serta fungsinya.
7. Dapat mengetahui Magnetik Blood Flow Water
8. Dapat mengetahui tentang Shock Listrik
9. Mengetahui manfaat bioelektrik dalam kesehatan dan atau keperawatan
1.4 Manfaat Penulisan
Dalam penulisan makalah, Dengan selesainya penulisan makalah ini serta
pembahasan makalah ini diharapkan mempunyai manfaat bagi pribadi maupun
rekan-rekan mahasiswa agar dapat menambah ilmu dan wawasan penulis
khususnya, pembaca pada umumnya mengenai kelistrikan dalam tubuh serta
dapat dimanfaatkan dalam profesi keperawatan.
1.5 Tinjauan Pustaka
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan materi
pembahasan dengan mencari ke media internet dan sumber dari buku.
Kemudian dari berbagai sumber tersebut dirangkum dengan memperhatikan
materi yang dibahas dalam makalah ini.
3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Biolistrik
Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang
bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan
oleh salah satu energi yang bernama mitchondria melalui proses respirasi sel.
Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan
potensial listrik yang merupakan lapisan tipis muatan positif pada permukaan
luar dan lapisan tipis muatan negative pada permukaan dalam bidang
batas/membran. Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat
biolistrik sangat penting.
Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang
dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke
neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan
temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu
otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air.
Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan
memasang beberapa elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat
listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa
kesehatan. Seperti halnya pada ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan
memasang beberapa elektroda pada posisi tertentu. Isyarat listrik yang
dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger otak dan
kelainan otak lainya.
4
2.2 Rumus/Hukum Dalam Biolistrik
Ada beberapa rumus atau hukum yang berkaitan dengan biolistrik antara
lain.
1. Hukum Ohm
Gambar: Arus listrik pada konduktor
Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan
arus yang melewati, berbanding berbalik dengan tahanan dari konduktor.
Hokum ini dapat dinyatakan dengan rumus:
R= V
I
Keterangan : R = Dalam Ohm
I = Arus (Ampere)
V = Tegangan (Volt)
2. Hukum Joule
Arus listrik melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam
waktu tertentu akan menimbulkan panas. Hukum ini dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Keterangan :V = Tegangan dalam Voltage
I = Arus dalam Ampere
5
H (Joule)= V.I.T
3
T = Waktu dalam detik
J = Joule = 0.239 Kal
2.3 Macam-macam Gelombang Arus Listrik
1) Arus bolak-balik/sinusoidal
2) Arus setengah gelombang ( telah diserahkan)
3) Arus searah penuh tapi masih mangandung ripple/desir
4) Arus searah murni
5) Faradik
6) Surged Faradic/sentakan sinusoidal
7) Surged sinusoidal/sentakan sinusoidal
8) Galvanik yang interuptus
9) Arus gigi gergaji
2.4 Kelistrikan dan Kemagnetan dalam Tubuh
A. System Saraf dan Neuron
System saraf dibagi dalam 2 bagian yaitu:
1. Sistem saraf pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer
ini adalah serat saraf yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke
Medulla spinalis disebut Saraf Affren, sedangkan serat saraf yang
menghantarkan informasi dari otak atau medulla spinalis ke otot atau
medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut saraf Efferen
2. Sistem saraf otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung,
usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak
sadar.
6
Gambar Sistem Saraf Tak Sadar (Saraf Otonom)
Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf otonom adalah sistem
saraf yang bekerja tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak
khusus pada sumsum tulang belakang. Sistem saraf otonom terdiri dari
neuron-neuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam,
misalnya jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem
pencernaan, otot polos pembuluh darah. Berdasarkan sifat kerjanya, sistem
saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu saraf simpatik dan saraf
parasimpatik. Saraf simpatik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang
tulang belakang yang menempel pada sumsum tulang belakang, sehingga
memilki serabut pra-ganglion pendek dan serabut post ganglion yang
panjang. Serabut pra-ganglion yaitu serabut saraf yang yang menuju
ganglion dan serabut saraf yang keluar dari ganglion disebut serabut post-
ganglion. Saraf parasimpatik berupa susunan saraf yang berhubungan
dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh.
Sebelum sampai pada organ serabut saraf akan mempunyai sinaps
pada sebuah ganglion seperti pada bagan berikut. Saraf parasimpatik
memiliki serabut pra-ganglion yang panjang dan serabut post-ganglion
pendek. Saraf simpatik dan parasimpatik bekerja pada efektor yang sama
tetapi pengaruh kerjanya berlawanan sehingga keduanya bersifat
antagonis.
Contoh fungsi saraf simpatik dan saraf parasimpatik antara lain:
Saraf simpatik mempercepat denyut jantung, memperlambat proses
pencernaan, merangsang ereksi, memperkecil diameter pembuluh arteri,
memperbesar pupil, memperkecil bronkus dan mengembangkan kantung
kemih, sedangkan saraf parasimpatik dapat memperlambat denyut jantung,
mempercepat proses pencernaan, menghambat ereksi, memperbesar
diameter pembuluh arteri, memperkecil pupil, mempebesar bronkus dan
mengerutkan kantung kemih.
7
B. Konsentrasi ion Dalam dan luar sel
Melalui suatu percobaan dapat ditunjukan suatu model membrane
permeable terhadap larutan KCL. merupakan suatu bentuk model potensial
istirahat pada waktu 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari kosentrasi
tinggi ke konsntrasi rendah sehingga saat tertentu akan terjadi membrane
dipole/membran dua kutub dimana larutan dengan konsentrasi yang
tadinya rendah akan kelebihaan ion positif, kebalikan dengan larutan yang
konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi
lebih negatif. Membrane permeabel biasanya terhadap ion K , Na dan Cl
sedangkan terhadap protein besar (A) sangat tidak permeabel
C. Kelistrikan saraf
Kalau ditinjau besar kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat di
bagi dalam 3 bagian yaitu serat saraf tipe A, B, dan C. dengan
mempergunakan mikroskop electron, serat saraf dibagi dalam 2 tipe: yakni
serat saraf bermielin dan serat saraf tanpa myelin. Saraf bermielin banyak
terdapat pada manusia. Myelin merupakan suatu insulator (isolasi) makin
menurun apabila melewati serat saraf yang bermielin.
Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang
sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan mielin ini.
Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50
m/detik. Serat saraf bermielin pada diameter 10 um mempunyai 100
8
m/detik. Pada serat saraf bermielin aliran sinyal dapat meloncat dari suatu
simpul ke simpul yang lain.
Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat
(tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih
banyak diluar sel dari pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative
dibandingkan dengan di luar sel.
Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90
m Volt, membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan
potensial membrane istirahat -90 m Volt.
D. Perambatan Potensial Aksi
Potensial aksi terjadi apabila suatu daerah membrane saraf atau otot
mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri
mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membrane
untuk mencapai aksi kesegala jurusan sel membrane, keadaan ini disebut
perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi.
Setelah timbul potensial aksi, sel membrane akan mengalami
repolarisasi sel membrane disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter
dibagi dalam 2 fase:
1. Periode Refrakter Absolut
Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsure kekuatan
untuk menghasilkan aksi yang lain.
2. Periode Refrakter Relatif
Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari
periode refrakter absolute akan menjadi periode refrakter relatif, dan
apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan
menghasilkan potensial aksi yang baru.
Sel membrane setelah mencapai potensial membrane istirahat, sel
membran tersebut telah siap untuk menghantarkan implus yang lain.
Gelombang depolarisasi setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah
9
terjadi depolarisasi seluruhnya, gelombang tersebut akan berhenti dan
tidak pernah aliran balik kearah mulainya datang rangsangan.
E. Kelistrikan pada sinapsis dan neuron
Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsi, berakhirnya saraf pada
sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal junction. Baik sinapsis
maupun neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan
gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang
berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membrane otot,
oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi. Zat kimia yang terdapat pada
otot akan tringger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan
setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami
reaksi.
F. Macam-macam sel saraf dan hantarannya
Secara umum ada 3 macam sel saraf, yaitu:
1) Neuron sensorik
Neuron ini berawal dari reseptor, yang merupakan ujung dari dendrit
selanjutnya menuju dendrit, lalu badan sel, akson dan akhirnya
bersinapsis (hubungan antar neuron) dengan dendrit dari neuron
penghubung
2) Neuron penghubung
Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron sensorik, berlanjut
ke dendrit, lalu badan sel, akson dan diakhiri pada sinapsis dengan
neuron motorik. Umumnya neuron ini terdapat pada sistem saraf
pusat.
3) Neuron motorik
Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron penghubung,
berlanjut ke dendrit lalu badan sel, akson dan diakhiri pada pilihan-
pilihan di bawah ini:
10
a) Neuromyal junction, yang berhubungan dengan sel otot
b) Neuroglandular junction, yang berhubungan dengan
kelenjar
Kedua junction di atas merupakan jenis dari neuroeffector junction.
Neuromyal junction jika efektornya berupa jaringan otot, sedangkan
neuroglandular junction jika efektornya berupa kelenjar (misalnya
kelenjar saliva, kelenjar keringat dll.)
Gambar: Hubungan antara neuron sensorik, neuron penghubung dan
neuron motorik
Impuls yang berjalan di sepanjang neuron akan berakhir
pada bagian ujung yang mengandung vesikel sinaptik. Dengan
adanya impuls tersebut maka vesikel akan terstimuli dan akhirnya
mengeluarkan neurotransmitter (misalnya asetilkolin).
Neurotransmitter inilah yang membantu meneruskan impuls
menuju sel berikutnya. Reseptor sinaptik dari sel berikutnya akan
menangkap neurotransmitter tersebut sehingga impuls dapat
diteruskan ke sel berikutnya tersebut. Hubungan antara neuron satu
dengan neuron lainnya tadi dinamakan sinapsis.
11
Gambar: Konduksi impuls saraf pada sinapsis
Gambar: Konduksi impuls saraf pada neuromyal junction
Neuromyal junction adalah hubungan antara sel saraf dengan sel
otot. Seperti halnya pada sinapsis, neuromyal junction memiliki
kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara meloncat
dari sel satu ke sel berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada
membrane sel otot karena pada saat terjadi depolarisasi, zat kimia yang
terdapat pada otot akan bergetar, menyebabkan kontraksi otot yang
akhirnya dilanjutkan dengan repolarisasi.
12
G. KELISTRIKAN OTOT JANTUNG
Membran sel otot jantung (miokardium) sangat berbeda karakteristiknya
dengan membran sel otot bergaris atau sel saraf. Pada membran sel otot
bergaris atau sel saraf dalam keadaan potensial membran istirahat, jika ada
rangsangan barulah ion-ion natrium akan berdifusi ke dalam sel hingga
mencapai nilai ambang dan selanjutnya terjadi depolarisasi.
Sedangkan pada sel otot jantung, mudah terjadi kebocoran ion natrium
sehingga setelah selesai potensial aksi, ion natrium secara perlahan-lahan
akan berdifusi kembali ke dalam sel. Akibatnya terjadilah depolarisasi
spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadilah potensial aksi tanpa
rangsangan dari luar.
Gambar: Potensial aksi pada sel otot jantung
13
Secara lebih rinci, mekanisme kelistrikan jantung digambarkan sebagai berikut:
No Proses Skema
1 ATRIUM:
Impuls dari Nodus SA memulai
depolarisasi, selanjutnya gelombang
depolarisasi merambat ke seluruh bagian
atrium sehingga terjadilah kontraksi
atrium.
VENTRIKEL:
Pada tahap ini ventrikel berada dalam
fase istirahat (polarisasi)
2 ATRIUM:
Terjadi repolarisasi atrium.
VENTRIKEL:
Gelombang depolarisasi diteruskan
menuju Nodus AV, untuk diteruskan
menuju berkas his, selanjutnya melalui
cabang berkas his kiri dan kanan, lalu
diteruskan ke serabut-serabut purkinje di
miokardium ventrikel. Akhirnya
terjadilah depolarisasi ventrikel sehingga
kontraksi ventrikel terjadi.
14
3 ATRIUM:
Berada dalam kondisi istirahat
(polarisasi)
VENTRIKEL:
Terjadi repolarisasi ventrikel
4 ATRIUM:
Berada dalam kondisi istirahat
(polarisasi)
VENTRIKEL:
Berada dalam kondisi istirahat
(polarisasi)
Waktu Atrium Ventrikel Rekaman EKG
T1 Depolarisasi Polarisasi P
T2 Repolarisasi Depolarisasi Kompleks QRS
T3 Polarisasi Repolarisasi T
T4 Polarisasi Polarisasi -
15
P
Q
R
S
T P
Q
R
S
TP
Q
R
S
T P
Q
R
S
T
Gambar: Hasil rekaman elektrokardiogram (EKG)
2.5 Perekaman aktifitas listrik jantung
Perekaman kelistrikan jantung dapat dilakukan dengan elektrokardiograf.
Gambar hasil rekamannya dinamakan elektrokardiogram (EKG). Hasil
gambaran pokok dari rekaman ini adalah:
1) Gelombang P
Gelombang P merupakan gambaran dari depolarisasi atrium, sedangkan
gambaran repolarisasi atrium tidak tampak sebab tertutup oleh
gambaran dari depolarisasi ventrikel. Mengapa demikian? Karena
repolarisasi atrium dan depolarisasi ventrikel terjadi secara bersamaan,
dan kebetulan depolarisasi ventrikel lebih dominan.
2) Gelombang Kompleks QRS
Kompleks QRS merupakan gambaran dari depolarisasi ventrikel
3) Gelombang T
Gelombang T merupakan gambaran dari repolarisasi ventrikel
Gambar: Hasil rekaman sebuah EKG
Waktu dan kecepatan:
16
Prinsip EKG adalah berjalan dengan kecepatan standar dan
menggunakan kertas dengan kuadran-kuadran standar.
Satu kuadran kecil = 1/25 detik = 0,04 detik
Satu kuadran besar = 5 X 1/25 detik = 1/5 detik= 0,2 detik
Maka:
1 detik = 25 kuadran kecil
= 5 kuadran besar
1 menit = 60 detik = 60 x 25 kuadran kecil = 1500
kuadran kecil
= 60 detik = 60 x 5 kuadran besar = 300 kuadran
besar
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penghitungan frekuensi denyut
jantung dapat didasarkan atas jumlah kuadran kecil atau jumlah kuadran
besar.
Karena 1 menit 1500 kuadran kecil, maka:
Frekuensi denyut jantung X jumlah kuadran kecil dalam 1 siklus harus
sama dengan 1500. Atau dengan kata lain:
Frekuensi denyut jantung = . 1500 _______ .
Jumlah kuadran kecil persiklus
Jika dihitung berdasarkan jumlah kuadran besar:
Frekuensi denyut jantung = . ________ 300______ .
Jumlah kuadran besar persiklus
Jika patokan kuadran besar ini diringkas, maka:
Jika panjang 1 siklus adalah:
17
1 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/1 = 300
kali/menit
2 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/2 = 150 kali/menit
3 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/3 = 100 kali/menit
4 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/4 = 75 kali/menit
5 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/5 = 60 kali/menit
6 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/6 = 50 kali/menit
Untuk arah vertikal, 1 kuadran kecil menunjukkan nilai 0,1 mV.
18
2.6 Isyarat Magnet Jantung dan Otak
Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet.
Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya aliran listrik jantung
yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan medan magnet
disebut magnetoksdiogram. Besar medan magnet sekita jantung adalah
sekitar 5 x 10 pangkat -11 T( Testa) atau sekitar 10 x 10 pangkat 8 medan
megnet bumi. Hubungan Testa (T) dengan Gauss dapat dinyatakan:
Untuk mengukur medan magnet dari suatu besaran benda
diperlukan suatu ruang yang terlindung dan sangat peka terhadap detector
medan magnet (magnetometer). Detector yang dipergunakan yaitu SQUID
( Superconding Quantum Interference Device) yang bekerja pada suhu 5
derajat K, dan dapat mendeteksi medan magnet yang disebabkan arus
searah atau arus bolak-balik. Ada 2 alat untuk mencatat medan magnet ini
antara lain:
1) Magnetokardiografi (MKG)
MKG memberi informasi jantung tanpa mempergunakan elektroda
yang didekatkan/ditempelkan pada badan, tidak seperti halnya pada waktu
melakukan EKG. Pencatatan dilakukan di daerah badan dengan jarak 5
cm. lokasi rekaman diberi kode B, D, F, H, I, J, L (vertical). Horizontal
dilakukan perekaman 5-6 kali dibubuhi huruf I dan ditandai dengan angka
(1, 3, 5, 9)
Informasi yang diperlukan pada MKG tidak dapat dipakai sebagai
EKG oleh karena dalam pengukuran medan magnet mempergunakan arus
searah yang mengenai otot dan saraf. Perekaman MCG akan memberi
informasi yang berguna dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu
jantung mengalami serangan oleh karena pada saat ini dipergunakan arus
listrik.
19
IT = 10.10 4 Gauss
2) Magnetoensefalogram (MEG)
MEG yaitu pencatatan medan magnet sekeliling otak dengan
mempergunakan arus searah. Alat yang adalah SQUID magnetometer.
Pada rithme alpha, medan magnet berkisar 1 x 10 pangkat -13 T.
2.7 Penggunaan Listrik dan Magnet pada Tubuh
Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik
berfrekwensi rendah untuk menimbulkan efek panas. Tahun 1992 telah pula
menggunakan listrik dengan frekwensi 30 MHz untuk memanaskan yang
disebut “Short Wave Diaththermy”. Pada 1950 sudah diperkenalkan
penggunaan gelombang mikro dengan frekwensi 2.450 MHz untuk keperluan
diathermi dan pemakain radar.
Sesuai dengan efek yang ditimbulkan oleh listrik, maka arus listrik di
bagi dalam 2 bentuk:
a. Listrik Berfrekwensi Rendah
Batas frekuensi antara 20 Hz sampai dengan 500.000 z frekuensi
rendah ini mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi
kontraksi otot. Untuk pemakain dalam jantung waktu singkat dan bersifat
merangsang persarafan otot, maka dipakai arus faradic. Sedangkan untuk
jangka waktu
lama dan bertujuan merangsang otot yang telah kehilangan persarafan
maka dipakai arus listrik yang intereptur/terputus-putus atau arus DC yang
telahdimodifikasi.
Selain arus DC ada pula menggunakan arus AC dengan frekuensi
50 Hz arus AC ini serupa dengan arus DC, mempunyai kemkampuan
antara lain: merangsang saraf sensorik, merangsang saraf motoris, dan
berefk kontraksi otot.
b. Listrik Berfrekuensi Tinggi
Yang tergolong berfrekuensi tinggi adalah frekuensi arus listrik
diatas 500.000 siklus perdetik (500.000 Hz). Listrik berfrekuensi tidak
mempunyai sifat merangsang saraf motoris atau saraf sensoris, kecuali
20
dilakukan rangsangan dengan pengulangan yang lama. Frekuensi sifat ini
maka frekuensi tinggi digunakan dalam bidang kedokteran di bagi menjadi
2 bagian yaitu:
1. Short Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Pendek)
2. Mikro Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Mkro)
2.8 Magnetik Blood Flow Water
Alat pengukur aliran darah magnetis berdasarkan atas prinsip
induksi magnetis. Apabila suatu konduktor listrik digerakkan dalam
medan magnet akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan
kecepatan gerakan ( Hukum Farady). Prinsip yang sama pula
dipergunakan disini yaitu apabila konduktor bukan suatu melainkan pipa
konduksi yang ditempati pada medan magnet dan dilewati zat cair.
Apabila darah melewati pipa konduksi tersebut, dengan rata-rata
kecepatan V melewati medan magnet B maka tegangan yang dihasilkan
antara elektroda dinyatakan:
Keterangan : V = Tegangan ( Volt)
B = Kuat Medan Magnet ( Gauss)
D = Diameter Pembuluh darah
V = Kecepatan ( m/sec)
Jumlah zat cair/darah dapat pula dihitung yaitu:
21
V= B dv
Q = d x V
4 Bd
Q = Kecepatan x luas penampang
2.9 Shock Listrik
Syok listrik atau kejutan adalah suatu nyeri pada syaraf sensorik
yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-tiba melalui
tubuh. Kejadian syok listrik merupakan kejadian yang timbul secara
kebetulan. Bahaya syok listrik sangat besar, tubuh penderita akan
mengalami ventricular fibrillon, kemudian diikiuti dengan kematian. Oleh
karena itu, perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul akibat syok
listrik, metoda pengamanan sehingga bahaya syok dapat dihindari.
Dalam bidang kedokteran ada 2 macam syok listrik antara lain:
1. Syok Dengan Tujuan Tertentu
Syok listrik ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Dalam bidang
psiaktri dikenal dengan nama “ Electric Convultion Teraphy”
2. Syok tanpa tujuan tertentu
Timbul syok ini diakibatkan dari suatu kecelakaan. Faktor-faktor yang
menyokong sehinggga timbulnya syok ini listrik ini :
 Peralatan
1. Petunujuk penggunaan alat-alat yang kurang jelas
2. Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang
jelas
3. Peralatan ECG yang lama tanpa menggunakan
transformator
 Perorangan
1. Petugas-petugas yang kurang latihan
2. Kurang pengertian akan kelistrikan maupun bahaya-
bahaya yang ditimbulkan
3. Kurang pengertian tetang cara-cara proteksi bagi
petugas sendiri maupun penderita
22
Syok yang timbul dari suatu kecelakaan ini dikenal
dengan “ Earth Syok”. Berdasarkan besar kecilnya tegangan “
Earth Syok” dapat di bagi menjadi 2 : Low tension shock ( syok
tegangan rendah) dan high tension shock ( syok tegangan tinggi)
Syok semakin serius, apabila arus yang melewati tubuh
semakin besar. Menurut Hukum Ohm intensias arus listrik
tergantung kepada tegangan dan tahanan yang ada. ( I = V/R) berarti
tegangan penting dalam menentukan beberapa arus yang dapat
dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh tubuh. Disamping itu ada
pula parameter-parameter lain yang turut berperan mempengaruhi
tingkat syok.
1. Dari Sudut Arus
a.Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan 220 Volt
dari pada tegangan 80 Volt. Oleh karena, kuat arus pada tegangan
220 Volt lebih besar dari pada tegangan 80 Volt (R) sama.
b. Basah atau tidaknya kulit penderita
c.Basah tidaknya lantai
2. dari sudut parameter-paraameter lainya:
a.Jenis kelamin
b. Frekuensi AC
c.Duration
d. Berat Badan
e.Jalan yang ditempuh arus
Oleh karena bahaya syok sangat besar, dapat mengakibatkan kematian
sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan pencegahan yang
meliputi alat-alat yang dipergunakan
23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Biolistrik adalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup, tegangan listrik
pada tubuh berbeda dengan yang kita bayangkan seperti listrik di rumah tangga.
Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam
tubuh. Kelistrikan dan kemagnetan didalam tubuh sangat berpengaruh pada sistem
saraf. Sistem saraf di dalam tubuh mempuanyai listrik. Pada sistem saraf pusat
dan sistem saraf ootonom.
3.2. Saran
Penulis menyadari, dalam penyusunan makalah ini belum sepenuhnya
sempurna. Untuk itu dapat kiranya memberikan kritik dan saran mengenai
makalah ini.
Walaupun demikian penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.
24
DAFTAR PUSTAKA
Gabriel JF, Fisika Kedokteran, EGC, Jakarta, 1996.
Young HD, Freedman RA, Sandin TR, Ford AL, Fisika Universitas Jilid I,
Penerjemah: Juliastuti E, Edisi X, EGC, Jakarta, 2001.
Junaedi A., Kumpulan Kuliah Fisika Kedokteran, FKUGM, Yogyakarta, 2000
Tortora G.J., Principles of Human Anatomy, Edisi IV, Harper and Row
Publisher, New York, 1986.
manepus.sch.id/kumpulan%20materi/KUMPULAN%20MATERI/biologi/kls
%20xi/mp_373/materi7.html
http://www.scribd.com/doc/131796559/Pengertian-Biolistrik
Purwanto. 2007. Ensiklopedi fisika. Bandung : PT Kiblat Buku Utama.
25

Makalah biolistrik

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Kelistrikan merupakan sesuatu yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan biasanya kita tidak terlalu banyak memikirkan hal tersebut. Pengamatan terhadap gaya tarik listrik dapat ditelusuri sampai pada zaman Yunani kuno. Orang-orang yunani kuno telah mengamati bahwa setelah batu amber digosok, batu tersebut akan menarik benda kecil seperti jerami atau bulu. Sedangkan kata Listrik itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu electron. Kelistrikan memegang peranan penting dalam bidang kedokteran. Ada dua aspek dalam bidang kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh manusia. Nah, listrik yang ada pada tubuh kita disebut dengan Biolistrik atau sering diartikan sebagai listrik yang terdapat pada makhluk hidup, yang mana berasal dari kata bio berarti makhluk hidup dan kata listrik. Beberapa penyelidikan yang telah dilakukan berhubungan dengan biolistrik antara lain: a) Pada tahun 1856, Caldani meneliti kelistrikan pada otot katak mati. b) Pada tahun 1780, Luigi galvanic meneliti kelistrikan pada tubuh hewan. c) Pada tahun 1786, Luigi Galvani meneliti tentang terangkatnya kedua kaki katak setelah diberi aliran listrik melalui konduktor d) Pada tahun 1892, Arons merasakan aliran frekuensi tinggi melalui dirinya dan asistennya. e) Pada tahun 1899, Van Seynek meneliti tentang terjadinya panas pada jaringan akibat aliran frekuensi tinggi 1
  • 2.
    f) Pada tahun1928, Schliephake meneliti tentang pengobatan dengan gelombang pendek (short wave). Makalah ini akan membahas bagaimana cara kerja biolistrik di dalam ilmu kesehatan pada makalah ini. Pada dasarnya, semua fungsi dan aktivitas tubuh sedikit banyak melibatkan listrik. Gaya-gaya yang ditimbulkan oleh otot disebabkan tarik-menarik antara muatan listrik yang berbeda. Kerja Otot, otak dan jantung pada dasarnya bersifat elektrik (listrik). Sistem saraf berperan penting pada hampir semua fungsi tubuh. Otak, yang pada dasarnya adalah suatu komputer sentral, menerima sinyal eksternal dan internal dan (biasanya) menghasilkan respons yang sesuai. Informasi disalurkan sebagai sinyal listrik di sepanjang saraf-saraf. Saat kita menjalankan fungsi-fungsi khusus tubuh, banyak sinyal listrik yang dihasilkan. Sinyal-sinyal ini dihasilkan dari proses elektrokimiawi tertentu. Oleh karena itu maka makalah ini akan membahas sebagian dari sinyal- sinyal listrik dalam tubuh yaitu mengenai sistem saraf dan neuron, sinyal listrik dari otot dan jantung serta potensial listrik saraf. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut : 1. pengertian biolistrik? 2. Hukum biolistrik? 3. Macam macam gelombang arus listrik ? 4. Kelistrikan dan Kemagnetan dalam tubuh ? 5. Isyarat Magnet dan Jantung otak ? 6. Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh? 7. Bagaimana Magnetik Blood Flow Water ? 8. Shock Listrik ? 9. Bagaimana sinyal listrik dari jantung (Elektrokardiogram) ? 2
  • 3.
    1.3 Tujuan Penulisan Tujuandari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut : 1. Dapat mengetahui asal mula dan pengertian dari biolistrik. 2. Dapat mengetahui macam – macam gelombang arus listrik. 3. Dapat mengatahui tentang kelistrikan dan kemagnetan yang timbul dalam tubuh. 4. Dapat mengetahui tentang isyarat magnet jantung dan otak. 5. Dapat mengetahui Penggunaan listrik dan magnet pada tubuh. 6. Dapat mengetahui apa saja bagian-bagian dari sistem saraf serta fungsinya. 7. Dapat mengetahui Magnetik Blood Flow Water 8. Dapat mengetahui tentang Shock Listrik 9. Mengetahui manfaat bioelektrik dalam kesehatan dan atau keperawatan 1.4 Manfaat Penulisan Dalam penulisan makalah, Dengan selesainya penulisan makalah ini serta pembahasan makalah ini diharapkan mempunyai manfaat bagi pribadi maupun rekan-rekan mahasiswa agar dapat menambah ilmu dan wawasan penulis khususnya, pembaca pada umumnya mengenai kelistrikan dalam tubuh serta dapat dimanfaatkan dalam profesi keperawatan. 1.5 Tinjauan Pustaka Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapatkan materi pembahasan dengan mencari ke media internet dan sumber dari buku. Kemudian dari berbagai sumber tersebut dirangkum dengan memperhatikan materi yang dibahas dalam makalah ini. 3
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 PengertianBiolistrik Biolistrik adalah energi yang dimiliki setiap manusia yang bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini di hasilkan oleh salah satu energi yang bernama mitchondria melalui proses respirasi sel. Biolistrik juga merupakan fenomena sel. Sel-sel mampu menghasilkan potensial listrik yang merupakan lapisan tipis muatan positif pada permukaan luar dan lapisan tipis muatan negative pada permukaan dalam bidang batas/membran. Kemampuan sel syaraf (neurons) menghantarkan isyarat biolistrik sangat penting. Transmisi sinyal biolistrik (TSB) mempunyai sebuah alat yang dinamakan Dendries yang berfungsi mentransmsikan isyarat dari sensor ke neuron. Stimulus untuk mentringer neuron dapat berupa tekanan, perubahaan temperature, dan isyarat listrik dari neuron lain. Aktifitasi bolistrik pada suatu otot dapat menyebar ke seluruh tubuh seperti gelombang pada permukaan air. Pengamatan pulsa listrik tersebut dapat dilakukan dengan memasang beberapa elektroda pada permukaan kulit. Hasil rekaman isyarat listrik dari jantung (Electrocardiogran-ECG) diganti untuk diagnosa kesehatan. Seperti halnya pada ECG, aktivitasi otak dapat dimonitor dengan memasang beberapa elektroda pada posisi tertentu. Isyarat listrik yang dihasilkan dapat untuk mendiagnosa gejala epilepsy, tumor, geger otak dan kelainan otak lainya. 4
  • 5.
    2.2 Rumus/Hukum DalamBiolistrik Ada beberapa rumus atau hukum yang berkaitan dengan biolistrik antara lain. 1. Hukum Ohm Gambar: Arus listrik pada konduktor Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati, berbanding berbalik dengan tahanan dari konduktor. Hokum ini dapat dinyatakan dengan rumus: R= V I Keterangan : R = Dalam Ohm I = Arus (Ampere) V = Tegangan (Volt) 2. Hukum Joule Arus listrik melewati konduktor dengan perbedaan tegangan (V) dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas. Hukum ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Keterangan :V = Tegangan dalam Voltage I = Arus dalam Ampere 5 H (Joule)= V.I.T 3
  • 6.
    T = Waktudalam detik J = Joule = 0.239 Kal 2.3 Macam-macam Gelombang Arus Listrik 1) Arus bolak-balik/sinusoidal 2) Arus setengah gelombang ( telah diserahkan) 3) Arus searah penuh tapi masih mangandung ripple/desir 4) Arus searah murni 5) Faradik 6) Surged Faradic/sentakan sinusoidal 7) Surged sinusoidal/sentakan sinusoidal 8) Galvanik yang interuptus 9) Arus gigi gergaji 2.4 Kelistrikan dan Kemagnetan dalam Tubuh A. System Saraf dan Neuron System saraf dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Sistem saraf pusat Terdiri dari otak, medulla spinalis dan saraf perifer. Saraf perifer ini adalah serat saraf yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke Medulla spinalis disebut Saraf Affren, sedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medulla spinalis ke otot atau medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut saraf Efferen 2. Sistem saraf otonom Serat saraf ini mengatur organ dalam tubuh. Misalnya jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan secara tidak sadar. 6
  • 7.
    Gambar Sistem SarafTak Sadar (Saraf Otonom) Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf otonom adalah sistem saraf yang bekerja tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat dan terletak khusus pada sumsum tulang belakang. Sistem saraf otonom terdiri dari neuron-neuron motorik yang mengatur kegiatan organ-organ dalam, misalnya jantung, paru-paru, ginjal, kelenjar keringat, otot polos sistem pencernaan, otot polos pembuluh darah. Berdasarkan sifat kerjanya, sistem saraf otonom dibedakan menjadi dua yaitu saraf simpatik dan saraf parasimpatik. Saraf simpatik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang yang menempel pada sumsum tulang belakang, sehingga memilki serabut pra-ganglion pendek dan serabut post ganglion yang panjang. Serabut pra-ganglion yaitu serabut saraf yang yang menuju ganglion dan serabut saraf yang keluar dari ganglion disebut serabut post- ganglion. Saraf parasimpatik berupa susunan saraf yang berhubungan dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh. Sebelum sampai pada organ serabut saraf akan mempunyai sinaps pada sebuah ganglion seperti pada bagan berikut. Saraf parasimpatik memiliki serabut pra-ganglion yang panjang dan serabut post-ganglion pendek. Saraf simpatik dan parasimpatik bekerja pada efektor yang sama tetapi pengaruh kerjanya berlawanan sehingga keduanya bersifat antagonis. Contoh fungsi saraf simpatik dan saraf parasimpatik antara lain: Saraf simpatik mempercepat denyut jantung, memperlambat proses pencernaan, merangsang ereksi, memperkecil diameter pembuluh arteri, memperbesar pupil, memperkecil bronkus dan mengembangkan kantung kemih, sedangkan saraf parasimpatik dapat memperlambat denyut jantung, mempercepat proses pencernaan, menghambat ereksi, memperbesar diameter pembuluh arteri, memperkecil pupil, mempebesar bronkus dan mengerutkan kantung kemih. 7
  • 8.
    B. Konsentrasi ionDalam dan luar sel Melalui suatu percobaan dapat ditunjukan suatu model membrane permeable terhadap larutan KCL. merupakan suatu bentuk model potensial istirahat pada waktu 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari kosentrasi tinggi ke konsntrasi rendah sehingga saat tertentu akan terjadi membrane dipole/membran dua kutub dimana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan kelebihaan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsentrasi tinggi akan berubah menjadi kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif. Membrane permeabel biasanya terhadap ion K , Na dan Cl sedangkan terhadap protein besar (A) sangat tidak permeabel C. Kelistrikan saraf Kalau ditinjau besar kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat di bagi dalam 3 bagian yaitu serat saraf tipe A, B, dan C. dengan mempergunakan mikroskop electron, serat saraf dibagi dalam 2 tipe: yakni serat saraf bermielin dan serat saraf tanpa myelin. Saraf bermielin banyak terdapat pada manusia. Myelin merupakan suatu insulator (isolasi) makin menurun apabila melewati serat saraf yang bermielin. Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan mielin ini. Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50 m/detik. Serat saraf bermielin pada diameter 10 um mempunyai 100 8
  • 9.
    m/detik. Pada seratsaraf bermielin aliran sinyal dapat meloncat dari suatu simpul ke simpul yang lain. Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak diluar sel dari pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative dibandingkan dengan di luar sel. Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90 m Volt, membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan potensial membrane istirahat -90 m Volt. D. Perambatan Potensial Aksi Potensial aksi terjadi apabila suatu daerah membrane saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membrane untuk mencapai aksi kesegala jurusan sel membrane, keadaan ini disebut perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi. Setelah timbul potensial aksi, sel membrane akan mengalami repolarisasi sel membrane disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter dibagi dalam 2 fase: 1. Periode Refrakter Absolut Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsure kekuatan untuk menghasilkan aksi yang lain. 2. Periode Refrakter Relatif Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrakter absolute akan menjadi periode refrakter relatif, dan apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru. Sel membrane setelah mencapai potensial membrane istirahat, sel membran tersebut telah siap untuk menghantarkan implus yang lain. Gelombang depolarisasi setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah 9
  • 10.
    terjadi depolarisasi seluruhnya,gelombang tersebut akan berhenti dan tidak pernah aliran balik kearah mulainya datang rangsangan. E. Kelistrikan pada sinapsis dan neuron Hubungan antara dua buah saraf disebut sinapsi, berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan saraf otot disebut Neuromyal junction. Baik sinapsis maupun neuromyal junction mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel yang berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel membrane otot, oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi. Zat kimia yang terdapat pada otot akan tringger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami reaksi. F. Macam-macam sel saraf dan hantarannya Secara umum ada 3 macam sel saraf, yaitu: 1) Neuron sensorik Neuron ini berawal dari reseptor, yang merupakan ujung dari dendrit selanjutnya menuju dendrit, lalu badan sel, akson dan akhirnya bersinapsis (hubungan antar neuron) dengan dendrit dari neuron penghubung 2) Neuron penghubung Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron sensorik, berlanjut ke dendrit, lalu badan sel, akson dan diakhiri pada sinapsis dengan neuron motorik. Umumnya neuron ini terdapat pada sistem saraf pusat. 3) Neuron motorik Neuron ini berawal dari sinapsis dengan neuron penghubung, berlanjut ke dendrit lalu badan sel, akson dan diakhiri pada pilihan- pilihan di bawah ini: 10
  • 11.
    a) Neuromyal junction,yang berhubungan dengan sel otot b) Neuroglandular junction, yang berhubungan dengan kelenjar Kedua junction di atas merupakan jenis dari neuroeffector junction. Neuromyal junction jika efektornya berupa jaringan otot, sedangkan neuroglandular junction jika efektornya berupa kelenjar (misalnya kelenjar saliva, kelenjar keringat dll.) Gambar: Hubungan antara neuron sensorik, neuron penghubung dan neuron motorik Impuls yang berjalan di sepanjang neuron akan berakhir pada bagian ujung yang mengandung vesikel sinaptik. Dengan adanya impuls tersebut maka vesikel akan terstimuli dan akhirnya mengeluarkan neurotransmitter (misalnya asetilkolin). Neurotransmitter inilah yang membantu meneruskan impuls menuju sel berikutnya. Reseptor sinaptik dari sel berikutnya akan menangkap neurotransmitter tersebut sehingga impuls dapat diteruskan ke sel berikutnya tersebut. Hubungan antara neuron satu dengan neuron lainnya tadi dinamakan sinapsis. 11
  • 12.
    Gambar: Konduksi impulssaraf pada sinapsis Gambar: Konduksi impuls saraf pada neuromyal junction Neuromyal junction adalah hubungan antara sel saraf dengan sel otot. Seperti halnya pada sinapsis, neuromyal junction memiliki kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara meloncat dari sel satu ke sel berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada membrane sel otot karena pada saat terjadi depolarisasi, zat kimia yang terdapat pada otot akan bergetar, menyebabkan kontraksi otot yang akhirnya dilanjutkan dengan repolarisasi. 12
  • 13.
    G. KELISTRIKAN OTOTJANTUNG Membran sel otot jantung (miokardium) sangat berbeda karakteristiknya dengan membran sel otot bergaris atau sel saraf. Pada membran sel otot bergaris atau sel saraf dalam keadaan potensial membran istirahat, jika ada rangsangan barulah ion-ion natrium akan berdifusi ke dalam sel hingga mencapai nilai ambang dan selanjutnya terjadi depolarisasi. Sedangkan pada sel otot jantung, mudah terjadi kebocoran ion natrium sehingga setelah selesai potensial aksi, ion natrium secara perlahan-lahan akan berdifusi kembali ke dalam sel. Akibatnya terjadilah depolarisasi spontan sampai mencapai nilai ambang dan terjadilah potensial aksi tanpa rangsangan dari luar. Gambar: Potensial aksi pada sel otot jantung 13
  • 14.
    Secara lebih rinci,mekanisme kelistrikan jantung digambarkan sebagai berikut: No Proses Skema 1 ATRIUM: Impuls dari Nodus SA memulai depolarisasi, selanjutnya gelombang depolarisasi merambat ke seluruh bagian atrium sehingga terjadilah kontraksi atrium. VENTRIKEL: Pada tahap ini ventrikel berada dalam fase istirahat (polarisasi) 2 ATRIUM: Terjadi repolarisasi atrium. VENTRIKEL: Gelombang depolarisasi diteruskan menuju Nodus AV, untuk diteruskan menuju berkas his, selanjutnya melalui cabang berkas his kiri dan kanan, lalu diteruskan ke serabut-serabut purkinje di miokardium ventrikel. Akhirnya terjadilah depolarisasi ventrikel sehingga kontraksi ventrikel terjadi. 14
  • 15.
    3 ATRIUM: Berada dalamkondisi istirahat (polarisasi) VENTRIKEL: Terjadi repolarisasi ventrikel 4 ATRIUM: Berada dalam kondisi istirahat (polarisasi) VENTRIKEL: Berada dalam kondisi istirahat (polarisasi) Waktu Atrium Ventrikel Rekaman EKG T1 Depolarisasi Polarisasi P T2 Repolarisasi Depolarisasi Kompleks QRS T3 Polarisasi Repolarisasi T T4 Polarisasi Polarisasi - 15
  • 16.
    P Q R S T P Q R S TP Q R S T P Q R S T Gambar:Hasil rekaman elektrokardiogram (EKG) 2.5 Perekaman aktifitas listrik jantung Perekaman kelistrikan jantung dapat dilakukan dengan elektrokardiograf. Gambar hasil rekamannya dinamakan elektrokardiogram (EKG). Hasil gambaran pokok dari rekaman ini adalah: 1) Gelombang P Gelombang P merupakan gambaran dari depolarisasi atrium, sedangkan gambaran repolarisasi atrium tidak tampak sebab tertutup oleh gambaran dari depolarisasi ventrikel. Mengapa demikian? Karena repolarisasi atrium dan depolarisasi ventrikel terjadi secara bersamaan, dan kebetulan depolarisasi ventrikel lebih dominan. 2) Gelombang Kompleks QRS Kompleks QRS merupakan gambaran dari depolarisasi ventrikel 3) Gelombang T Gelombang T merupakan gambaran dari repolarisasi ventrikel Gambar: Hasil rekaman sebuah EKG Waktu dan kecepatan: 16
  • 17.
    Prinsip EKG adalahberjalan dengan kecepatan standar dan menggunakan kertas dengan kuadran-kuadran standar. Satu kuadran kecil = 1/25 detik = 0,04 detik Satu kuadran besar = 5 X 1/25 detik = 1/5 detik= 0,2 detik Maka: 1 detik = 25 kuadran kecil = 5 kuadran besar 1 menit = 60 detik = 60 x 25 kuadran kecil = 1500 kuadran kecil = 60 detik = 60 x 5 kuadran besar = 300 kuadran besar dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penghitungan frekuensi denyut jantung dapat didasarkan atas jumlah kuadran kecil atau jumlah kuadran besar. Karena 1 menit 1500 kuadran kecil, maka: Frekuensi denyut jantung X jumlah kuadran kecil dalam 1 siklus harus sama dengan 1500. Atau dengan kata lain: Frekuensi denyut jantung = . 1500 _______ . Jumlah kuadran kecil persiklus Jika dihitung berdasarkan jumlah kuadran besar: Frekuensi denyut jantung = . ________ 300______ . Jumlah kuadran besar persiklus Jika patokan kuadran besar ini diringkas, maka: Jika panjang 1 siklus adalah: 17
  • 18.
    1 kuadran besar,maka frekuensi denyut hantung = 300/1 = 300 kali/menit 2 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/2 = 150 kali/menit 3 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/3 = 100 kali/menit 4 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/4 = 75 kali/menit 5 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/5 = 60 kali/menit 6 kuadran besar, maka frekuensi denyut hantung = 300/6 = 50 kali/menit Untuk arah vertikal, 1 kuadran kecil menunjukkan nilai 0,1 mV. 18
  • 19.
    2.6 Isyarat MagnetJantung dan Otak Mengalirnya aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet sekitar jantung disebabkan adanya aliran listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan repolarisasi. Pencatatan medan magnet disebut magnetoksdiogram. Besar medan magnet sekita jantung adalah sekitar 5 x 10 pangkat -11 T( Testa) atau sekitar 10 x 10 pangkat 8 medan megnet bumi. Hubungan Testa (T) dengan Gauss dapat dinyatakan: Untuk mengukur medan magnet dari suatu besaran benda diperlukan suatu ruang yang terlindung dan sangat peka terhadap detector medan magnet (magnetometer). Detector yang dipergunakan yaitu SQUID ( Superconding Quantum Interference Device) yang bekerja pada suhu 5 derajat K, dan dapat mendeteksi medan magnet yang disebabkan arus searah atau arus bolak-balik. Ada 2 alat untuk mencatat medan magnet ini antara lain: 1) Magnetokardiografi (MKG) MKG memberi informasi jantung tanpa mempergunakan elektroda yang didekatkan/ditempelkan pada badan, tidak seperti halnya pada waktu melakukan EKG. Pencatatan dilakukan di daerah badan dengan jarak 5 cm. lokasi rekaman diberi kode B, D, F, H, I, J, L (vertical). Horizontal dilakukan perekaman 5-6 kali dibubuhi huruf I dan ditandai dengan angka (1, 3, 5, 9) Informasi yang diperlukan pada MKG tidak dapat dipakai sebagai EKG oleh karena dalam pengukuran medan magnet mempergunakan arus searah yang mengenai otot dan saraf. Perekaman MCG akan memberi informasi yang berguna dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu jantung mengalami serangan oleh karena pada saat ini dipergunakan arus listrik. 19 IT = 10.10 4 Gauss
  • 20.
    2) Magnetoensefalogram (MEG) MEGyaitu pencatatan medan magnet sekeliling otak dengan mempergunakan arus searah. Alat yang adalah SQUID magnetometer. Pada rithme alpha, medan magnet berkisar 1 x 10 pangkat -13 T. 2.7 Penggunaan Listrik dan Magnet pada Tubuh Pada tahun 1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik berfrekwensi rendah untuk menimbulkan efek panas. Tahun 1992 telah pula menggunakan listrik dengan frekwensi 30 MHz untuk memanaskan yang disebut “Short Wave Diaththermy”. Pada 1950 sudah diperkenalkan penggunaan gelombang mikro dengan frekwensi 2.450 MHz untuk keperluan diathermi dan pemakain radar. Sesuai dengan efek yang ditimbulkan oleh listrik, maka arus listrik di bagi dalam 2 bentuk: a. Listrik Berfrekwensi Rendah Batas frekuensi antara 20 Hz sampai dengan 500.000 z frekuensi rendah ini mempunyai efek merangsang saraf dan otot sehingga terjadi kontraksi otot. Untuk pemakain dalam jantung waktu singkat dan bersifat merangsang persarafan otot, maka dipakai arus faradic. Sedangkan untuk jangka waktu lama dan bertujuan merangsang otot yang telah kehilangan persarafan maka dipakai arus listrik yang intereptur/terputus-putus atau arus DC yang telahdimodifikasi. Selain arus DC ada pula menggunakan arus AC dengan frekuensi 50 Hz arus AC ini serupa dengan arus DC, mempunyai kemkampuan antara lain: merangsang saraf sensorik, merangsang saraf motoris, dan berefk kontraksi otot. b. Listrik Berfrekuensi Tinggi Yang tergolong berfrekuensi tinggi adalah frekuensi arus listrik diatas 500.000 siklus perdetik (500.000 Hz). Listrik berfrekuensi tidak mempunyai sifat merangsang saraf motoris atau saraf sensoris, kecuali 20
  • 21.
    dilakukan rangsangan denganpengulangan yang lama. Frekuensi sifat ini maka frekuensi tinggi digunakan dalam bidang kedokteran di bagi menjadi 2 bagian yaitu: 1. Short Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Pendek) 2. Mikro Wave Diathermy ( Diatermi Gelombang Mkro) 2.8 Magnetik Blood Flow Water Alat pengukur aliran darah magnetis berdasarkan atas prinsip induksi magnetis. Apabila suatu konduktor listrik digerakkan dalam medan magnet akan menghasilkan suatu tegangan yang sebanding dengan kecepatan gerakan ( Hukum Farady). Prinsip yang sama pula dipergunakan disini yaitu apabila konduktor bukan suatu melainkan pipa konduksi yang ditempati pada medan magnet dan dilewati zat cair. Apabila darah melewati pipa konduksi tersebut, dengan rata-rata kecepatan V melewati medan magnet B maka tegangan yang dihasilkan antara elektroda dinyatakan: Keterangan : V = Tegangan ( Volt) B = Kuat Medan Magnet ( Gauss) D = Diameter Pembuluh darah V = Kecepatan ( m/sec) Jumlah zat cair/darah dapat pula dihitung yaitu: 21 V= B dv Q = d x V 4 Bd Q = Kecepatan x luas penampang
  • 22.
    2.9 Shock Listrik Syoklistrik atau kejutan adalah suatu nyeri pada syaraf sensorik yang diakibatkan aliran listrik yang mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Kejadian syok listrik merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan. Bahaya syok listrik sangat besar, tubuh penderita akan mengalami ventricular fibrillon, kemudian diikiuti dengan kematian. Oleh karena itu, perlu diketahui perubahan-perubahan yang timbul akibat syok listrik, metoda pengamanan sehingga bahaya syok dapat dihindari. Dalam bidang kedokteran ada 2 macam syok listrik antara lain: 1. Syok Dengan Tujuan Tertentu Syok listrik ini dilakukan atas dasar indikasi medis. Dalam bidang psiaktri dikenal dengan nama “ Electric Convultion Teraphy” 2. Syok tanpa tujuan tertentu Timbul syok ini diakibatkan dari suatu kecelakaan. Faktor-faktor yang menyokong sehinggga timbulnya syok ini listrik ini :  Peralatan 1. Petunujuk penggunaan alat-alat yang kurang jelas 2. Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang jelas 3. Peralatan ECG yang lama tanpa menggunakan transformator  Perorangan 1. Petugas-petugas yang kurang latihan 2. Kurang pengertian akan kelistrikan maupun bahaya- bahaya yang ditimbulkan 3. Kurang pengertian tetang cara-cara proteksi bagi petugas sendiri maupun penderita 22
  • 23.
    Syok yang timbuldari suatu kecelakaan ini dikenal dengan “ Earth Syok”. Berdasarkan besar kecilnya tegangan “ Earth Syok” dapat di bagi menjadi 2 : Low tension shock ( syok tegangan rendah) dan high tension shock ( syok tegangan tinggi) Syok semakin serius, apabila arus yang melewati tubuh semakin besar. Menurut Hukum Ohm intensias arus listrik tergantung kepada tegangan dan tahanan yang ada. ( I = V/R) berarti tegangan penting dalam menentukan beberapa arus yang dapat dilewati oleh tahanan yang diberikan oleh tubuh. Disamping itu ada pula parameter-parameter lain yang turut berperan mempengaruhi tingkat syok. 1. Dari Sudut Arus a.Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan 220 Volt dari pada tegangan 80 Volt. Oleh karena, kuat arus pada tegangan 220 Volt lebih besar dari pada tegangan 80 Volt (R) sama. b. Basah atau tidaknya kulit penderita c.Basah tidaknya lantai 2. dari sudut parameter-paraameter lainya: a.Jenis kelamin b. Frekuensi AC c.Duration d. Berat Badan e.Jalan yang ditempuh arus Oleh karena bahaya syok sangat besar, dapat mengakibatkan kematian sehingga dipandang perlu untuk melakukan tindakan pencegahan yang meliputi alat-alat yang dipergunakan 23
  • 24.
    BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Biolistrikadalah listrik yang terdapat pada makhluk hidup, tegangan listrik pada tubuh berbeda dengan yang kita bayangkan seperti listrik di rumah tangga. Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam tubuh. Kelistrikan dan kemagnetan didalam tubuh sangat berpengaruh pada sistem saraf. Sistem saraf di dalam tubuh mempuanyai listrik. Pada sistem saraf pusat dan sistem saraf ootonom. 3.2. Saran Penulis menyadari, dalam penyusunan makalah ini belum sepenuhnya sempurna. Untuk itu dapat kiranya memberikan kritik dan saran mengenai makalah ini. Walaupun demikian penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. 24
  • 25.
    DAFTAR PUSTAKA Gabriel JF,Fisika Kedokteran, EGC, Jakarta, 1996. Young HD, Freedman RA, Sandin TR, Ford AL, Fisika Universitas Jilid I, Penerjemah: Juliastuti E, Edisi X, EGC, Jakarta, 2001. Junaedi A., Kumpulan Kuliah Fisika Kedokteran, FKUGM, Yogyakarta, 2000 Tortora G.J., Principles of Human Anatomy, Edisi IV, Harper and Row Publisher, New York, 1986. manepus.sch.id/kumpulan%20materi/KUMPULAN%20MATERI/biologi/kls %20xi/mp_373/materi7.html http://www.scribd.com/doc/131796559/Pengertian-Biolistrik Purwanto. 2007. Ensiklopedi fisika. Bandung : PT Kiblat Buku Utama. 25