LOMBA KARYA TULIS ILMIAH
PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRI DALAM PENGELOLAAN
PERKEBUNAN KOPI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI
PANGAN NON BERAS
Diusulkan oleh :
SAMI’UN (2012330042)
DIDI DION (2013330010)
MARIA FRANSISKA YULIANA J. (2013330035)
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2015
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang mahapengasih , atas berkah dan rahmat-
Nya, tim penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini dengan lancar.
Karya ini merupakan hasil observasi dan pengamatan mengenai penerapan
agroforestri yang dilakukan oleh petani kopi Dusun Tambak Watu Desa
Tambaksari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan.
Dalam pelaksanaan penelitian ini, kami telah dibantu oleh berbagai pihak,
maka dari itu kami menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Adra’I P. Wariono Selaku Ketua Kelompok Tani Warga Makmur
2. Bapak Ir. Edyson Indawan, MP. selaku dosen pembimbing
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
karya ilmiah ini, baik dalam segi penulisan maupun teknik penyajiannya,
mengingat keterbatasan kemampuan penulis. kritik bersifat membangun dari
berbagai pihak sangat kami harapkan.
Malang, 28 Agustus 2014
Penulis,
ii
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL............................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... vi
I. PENDAHULUAN...................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2. Tujuan................................................................................................... 2
1.3. Manfaat ................................................................................................ 2
II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3
2.1. Penerapan Sistem Agroforestri............................................................. 3
2.2.Pengelolaan Kebun Kopi...................................................................... 4
2.3. Pangan Non Beras ............................................................................... 5
III. PENDEKATAN PENELITIAN ................................................................ 7
3.1. Tempat dan Waktu............................................................................... 7
3.2. Metode Pengumpulan Data ................................................................. 7
3.3. Partisipasi Aktif dan Wawancara......................................................... 7
3.4. Analisis Data........................................................................................ 7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................. 8
4.1. Hasil..................................................................................................... 8
4.2. Pembahasan.......................................................................................... 11
iii
V. PENUTUP ................................................................................................. 16
5.1. Kesimpulan........................................................................................... 16
5.2. Saran.................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 17
LAMPIRAN...................................................................................................... 19
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... 20
iv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Komoditas yang ditanam pada lahan Tegalan........................................ 9
Tabel 2. Komoditas yang ditanam pada lahan pekarangan.................................. 10
v
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1............................................................................................................. 10
Gambar 2............................................................................................................. 13
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Dokumentasi Kegiatan......................................................................................... 19
Daftar Riwayat Hidup......................................................................................... 20
1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di
Dunia.Kondisi tersebut mengakibatkan timbulnya berbagai masalah, salah satunya
adalah kekurangan pangan.Masalah ini tidak hanya dihadapi Indonesia saja, tetapi
juga merupakan problema global.Peningkatan jumlah penduduk dunia semakin
tinggi sehingga kebutuhan pangan tidak bisa terpenuhi karena peningkatan
penduduk tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang bisa
dikembangkan.Disisi lain peralihan lahan pertanian menjadi daerah non pertanian
secara cepat mengakibatkan lahan pertanian semakin terbatas. Kondisi tersebut
selain akan menimbulkan kerusakan lingkungan, juga akan menimbulkan
ancaman kelaparan. Dalam rangka mengatasi masalah-masalah tersebut perlu
adanya inovasi dalam bidang pertanian maupun kehutanan yang memungkinkan
dapat meningkatkan produksi pangan non beras dengan kondisi lahan yang
terbatas.
Ekstensifikasi lahan perkebunan terus ditingkatkan sebagai upaya
memenuhi kebutuhan ekspor komoditas perkebunan, namun hal itu dinilai dapat
mengakibatkan lahan penanamantanaman pangan non beras semakin menurun,
sehingga kekurangan pangan tetap akan menjadi masalah. Penerapan sistem
Agroforestri dalam pengelolaan perkebunan di Indonesia merupakan salah satu
solusi. Luas lahan kering dan perkebunan di Indonesia sampai tahun 2012
mencapai lebih dari 11 juta ha, sehingga berpotensi sebagai alternatif
penyumbang pangan non beras bila diterapkan sistem Agroforestri. Penerapan
2
sistem tersebut, selain petani bisa menghasilkan komoditas perkebunan,
merekasekaligus memproduksi tanaman pangan non beras sehingga membantu
peningkatan ketersediaan pangan. Budidaya tanaman perkebunan dengan sistem
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan sumber daya alam yang dinamis dan
berbasis ekologi, dengan mamadukan berbagai jenis pohon dan tanaman pangan
non beras pada lahan pertanian. Sistem Agroforestri yang paling sederhana
bagaimanapun adalah sistem yang lebih kompleks dibandingkan sistem tanaman
tunggal, baik dilihat dari segi ekologis, fungsional, maupun dari segi sosial dan
ekonomi. Pola pemanfaatan lahan dengan sistem Agroforestri merupakan suatu
model usaha tani yang cocok bagi para petani Kopi. Penerapan sistem ini akan
meningkatkan hasil panen yang akhirnya mampu memberikan tambahan
pendapatan.
1.2.Tujuan
Mengetahui bentuk-bentuk penerapan sistem Agroforestri dalam
pengelolaan perkebunan Kopi sebagai upaya meningkatkan produksi pangan non
beras masyarakat Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi,
Kabupaten Pasuruan.
1.3. Manfaat
Informasi bagi masyarakat yang mengelola perkebunan Kopi agar dapat
menerapkan bentuk sistem Agroforestri sebagai upaya peningkatan produksi
pangan non beras.
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penerapan Sistem Agroforestri
Agroforestri tersusun dari dua kata yaitu agro (pertanian) dan forestry
(kehutanan), yang berarti gabungan antara ilmu pertanian dan ilmu kehutanan,
serta memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk
menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan kelestarian hutan.
Agroforestri merupakan praktik pengelolaan sumber daya biologi dengan
memanen energi matahari untuk menghasilkan suatu poduk pertanian dan produk
yang dihasilkan dari tegakan pohon (Arifin et al., 2009).
Teknik ini bukan dari penelitian tetapi perilaku petani yang memanfaatkan
lahannya dengan menanam banyak tanaman yang berbeda dan terdapat tanaman
semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini merupakan gabungan dari ilmu
kehutanan dan Agronomi yang memadukan usaha kehutanan dengan usaha
tanaman produksi untuk menciptakan keselarasan antara Intesifikasi pertanian dan
pelestarian hutan. Semua itu berjalan seiring waktu dan tidak pernah ada yang
mencatat proses dan hasil teknik Agroforestri ini (Anonim, 2011). Agroforestri
merupakan suatu sistem yang mengkombinasikan antara komponen hutan dengan
komponen pertanian, sehingga akan dihasilkan suatu bentuk pelestarian alam yang
dapat memberikan nilai ekonomi bagi pelakunya serta juga dapat digunakan untuk
pelestarian alam. Agroforestri sudah diaplikasikan oleh masyarakat pada zaman
dahulu dan sekarang tehnik ini digunakan kembali, karena dirasa sangat
bermanfaat bagi alam dan masyarakat sekarang (Karba, 2010).Ada beberapa
bentuk agroforestri berdasarkan komponen yang dipadukan. Bentuk-bentuk
4
agroforestri tersebut antara lain Agrifishery (kombinasi prinsip pertanian dan
perikanan), Silvofishery (kombinasi prinsip kehutanan dan perikanan),
Agrosilvikultur (kombinasi prinsip pertanian dan prinsip kehutanan), Agropastural
(kombinasi prinsip pertanian dan peternakan), Agrosilvofishery (kombinasi prinsip
pertanian, kehutanan, dan perikanan), Agrosilvopastural (kombinasi prinsip
pertanian, kehutanan, dan peternakan) (Lahjie, 2004).
Indawan (2006) mengemukakan bahwa sitem pertanian kombinasi antara
tanaman Agronomi dan tanaman kehutanan pada dasarnya mempunyai peranan
positif dalam produksi, proteksi, rehabilitasi, konservasi, sosial, dan ekonomi.
Penerapan sistem agroforesti merupakan salah satu usaha meningkatkan
kesuburan tanah dan bahan organik tanah, memperbaiki keadaan tanah,
mengurangi erosi, dan memperbaiki keadaan hidrologi pada daerah aliran sungai.
Selain itu, sistem Agroforestri juga merupakan cara yang efektif menyimpan
karbon alam. Tanaman berumur panjang yang tumbuh di hutan maupun di kebun
campuran merupakan tempat penimbun karbon yang jauh lebih besar daripada
tanaman semusim (Hairiah dan Rahayu, 2007). Penyerapan karbon dari satu ha
hutan adalah sebesar 6 ton karbon/tahun (Arifin et al., 2009).
2.2.Pengelolaan Kebun Kopi
Kopi merupakan komoditas perkebunan yang terus dikembangkan di
Indonesia. Tanaman kopi tumbuh rimbun dan membentuk perdu kecil. Adapun
tanaman kopi jenis lain memiliki pertumbuhan pohon yang besar dan kuat.
Tanaman kopi memiliki dua tipe pertumbuhan cabang, yaitu cabang ortotrop yang
tumbuh vertikal ke atas dan plagiotrop yang tumbuh ke arah horizontal.
5
Pembangunan kebun kopi membutuhkan persiapan bibit dan Persiapan lahan yang
baik. persiapan lahan meliputi menyiapkan pohon penaung sementara dan
penaung tetap serta lubang tanam. Naungan harus ditanam beberapa bulan
sebelumnya atau paling lambat 1 tahun sebelumnya (Rahardjo, 2012).Erwiyono
dan Prawoto (2008), menyatakan bahwa penaung tanaman lamtoro paling baik
dalam meningkatkan N tanah, sedangkan penaung kayu–kayuan industri lebih
baik meningkatkan kadar mineral tanah seperti Ca, Mg, P dan Zn. Ada tendesnsi
bahwa peningkatan hara mineral tanah terkait dengan jenis tipe penaung.
Secara umum kopi tumbuh baikpada daerah dengan kondisi geografis pada
garis lintang 200 LS sampai 200 LU, tinggi tempat 1000-2000 m dpl, dengan
curah hujan 1000-1500 mm/th, dan suhu rata-rata harian 15-250 C. Lahan yang
cocok untuk budidaya kopi adalah tidak memiliki kemiringan di atas 45%.
Kedalaman efektif tanah lebih dari 100 cm, tekstur tanah Geluhan, dengan strustur
tanah lapisan atas remah. Sifat kimia lapisan tanah atas memiliki kandungan
bahan organik diatas 3,5%, nisbah C/N 10-12, KTK tidak kurang dari 15 me/ 100
g tanah, pH tanah 5,6-6,5 (Wibawa, 2008).
2.3. Pangan Non Beras
Pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia pada saat ini umumnya
masih belum beragam dan bergizi seimbang. Tingkat konsumsi per kapita
Indonesia sebesar 139 kg/tahun. Sementara untuk konsumsi hasil pertanian dari
tanaman kelompok Gramineae (beras, jagung dan terigu) di rumah tangga sebesar
316/gr/kapita/hari, padahal menurut Standar Pola Pangan Harapan (PPH)
seharusnya 275 gram/hari saja. Konsumsi umbi–umbian hanya 40 gr/kapita/hari,
6
sedangkan jumlah idealnya 100 gr/kapita/hari. Mengkonsumsi satu jenis
karbohidrat secara terus menerus mampu menyebabkan gangguan kesehatan.
Indonesia kaya akan pangan alternatif pengganti beras, antara lain Singkong,
Sagu, Ubi jalar, Jagung, dan lainnya (Anonim, 2014). Jawa Barat sendiri memiliki
berbagai kekayaan alam dari hasil pertanian dengan 77 sumber karbohidrat, 75
sumber lemak, 26 sumber kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, dan 228 jenis
sayuran (Anonim, 2013).
Pangan non beras terdiri dari beberapa jenis umbi-umbian dan seperti
Singkong, Gembili, Ubi jalar, dan beberapa jenis buah salah satunya Pisang. Di
Afrika pisang dapat diolah menjadi tepung dan dimakan sebagai makanan pokok
(Muldan, 2014). Selain itu, Talas (Colocasia) juga kelompok ubi-ubian
yangpotensial untuk dikembangkan sebagai cadangan pangan. Diketahui ada 300
varietas Talas budidaya yang dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, warna daun,
batang, umbi, dan bunga (Walujo, 2011). Berdasarkan penelitian tepung Talas
mengandung 75% kadar pati, 3,57% amilosa, dan 71,43 kadar amilopektin
(Rahmawati et al., 2012).
7
III. PENDEKATAN PENELITIAN
3.1. Tempat dan waktu
Observasi dilaksanakan di lahan perkebunan kelompok tani Warga
Makmur di Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi
Kabupaten Pasuruan pada bulan Februari 2015.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data meliputi kondisi lokasi, teknik penerapan sistem
agroforestri pada masyarakat dusun Tambak Watu, serta pola budidaya yang di
terapkan berdasarkan luas sampel 100 m2 pada lahan tegalan dan pekarangan
seluas 0,5 ha.
3.1.1. Partisipasi Aktif dan wawancara
Pengumpulan informasi juga dilakukan dengan keikutsertaan dalam
beberapa kegiatan budidaya dan penerapan sistem agroforesti pada lahan
perkebunan kopi.Data juga diperoleh melalui diskusi dan wawancara. Diskusi dan
wawancara bertujuan untukmemperoleh penjelasan dan pemahaman dari beberapa
kegiatan yang dilakukan petani.
3.3. Analisis Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan selanjutnya dianalisis
secara deskriptif berdasarkan sampel terpilih pada lahan perkebunan Kopi.
8
IV. HASIL DANPEMBAHASAN
4.1.Hasil
4.1.1. Gambaran Umum lokasi Penelitian
Dusun Tambak Watu merupakan dusun paling ujung dari Desa
Tambaksari dan berada di lereng gunung Arjuna. Jarak dari Desa Tambaksari ke
Kecamatan adalah sejauh 12 km dan jarak ke Kabupaten Pasuruan adalah sejauh
40 km yang dapat ditempuh selama 80-90 menit.Desa Tambaksari berbatasan
dengan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Purwosari di sebelah utara dan Desa
Pucangsari, Kecamatan Purwodadi di sebelah timur, sedangkan sebelah barat
berbatasan dengan Hutan Raden Soerjo dan sebelah selatan berbatasan dengan
Desa Jatisari, Kecamatan Purwodadi.
Karakteristik geografis berada pada ketinggian 1.200 m dpl dengan suhu
rata- rata harian berkisar 260C dengan banyaknya curah hujan 200 mm/ bulan.
Total luas lahan pertanian adalah 773,88 ha. Luas tersebut terdiri dari tegalan,
sawah, dan pekarangan. Di Dusun Tambak Watu telah terbentuk kelompok tani
yang bernama kelompoktani Warga Makmur. Kelompok tani ini berdiri pada
tahun 1992 dengan ketua kelompok bapak Adra’i P. Wariono. Pada tahun 2004
oleh pemerintah setempat kelompok tani ini dirombak yang semula beranggota 75
orang, menjadi 50 orang. Kelompok Tani Warga Makmur hingga sekarang
mengelola lahan tegalan dan pekarangan seluas 47,12 ha.
4.1.2. Penerapan Sistem Agroforestri di Kebun Kopi Desa Tambak Sari
Berdasarkan pengamatan, beberapa jenis tanaman yang dikembangkan
masyarakat pada lahan tegalan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
9
Tabel 1.Jenis tanaman yang ditanam di lahan tegalan.
No Jenis Tanaman Fungsi Populasi (%)
1. Kopi (coffeaarabica L.) Tanaman Utama 15,28
2. Singkong(Manihot esculenta Crantz.) Tanaman Sela 23,61
3. Cabe (Capsicum frutescenc L.) Tanaman Sela 4,17
4. Talas (Colocasia esculentaL.) Tanaman Sela 45,83
5. Rumput gajah (PennisetumpurpureumS.) Penguat Teras 2,78
6. Pisang (Musa parasidiaca L.) Tanaman Pelindung 2,78
7. Sengon (Albizzia chinensis Osbeck.) Tanaman Pelindung 5,56
Berdasarkan data jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat pada
Tabel 1, terbukti masyarakat telah menerapkan sistem Agroforestri secara
kompleks. Pola yang diterapkan adalah Agrosilvicultur, yaitu perpaduan prinsip
kehutanan dengan prinsip pertanian. Komoditas utama yang dikembangkan adalah
tanaman Kopi, sedangkan disela-sela antara tanaman Kopi dan tanaman pelindung
dimanfaatkan masyarakat dengan penanaman tanaman pangan seperti Singkong
Talasdan Pisang (Gambar 1). Selain itu dilahan yang sama juga ditanam berbagai
tanaman pohon seperti Sengon sebagai tanaman pelindung Kopi dan rumput
Gajah sebagai tanaman penguat teras sekaligus membantu memenuhi kebutuhan
pakan ternak. Pada lahan tegalan pengelolaan tanaman lebih intensif dan teratur.
Aspek budidaya dan konservasi diperhatikan, seperti jarak tanam yang teratur
baik antar komoditas perkebunan maupun dengan tanaman sela, pembuatan teras
dilahan miring, dan penguatan teras dengan tanaman penguat teras.
10
Penerapan Agroforestri di lahan tegalan dapat dilihat padaGambar 1 di
bawah ini.
Gambar 1. Penerapan Sistem Agroforestri dengan memadukan tanaman Kopi,
Sengon, Pisang, dan Talas.
Jenis tanaman yang ditanam pada lahan pekarangan dapat dilihat pada
Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Jenis tanaman yang ditanam di lahan pekarangan
No Jenis Tanaman Fungsi Populasi (%)
1. Kopi (coffeaarabica L.) Tanaman Utama 13,41
2. Kakao (Theobroma cacaoL.) Tanaman Pelindung 2,44
3. Talas (Colocasia esculenta L.) Tanaman Sela 40,24
4. Singkong (Manihot esculenta C.) Tanaman Sela 20,73
5. Rumput gajah (Pennisetum purpureumS.) Penguat Teras 12,19
6. Pisang (Musa parisidiaca L.) Tanaman Pelindung 2,44
7. Sengon (Albizzia Chinensis Osbeck.) Tanaman Pelindung 4,90
8. Cengkeh (SyzygiumaromaticumL.) Tanaman Pelindung 2,44
9. Nangka (ArtocarpusheterophyllusL.) Tanaman Pelindung 0.6
10. Alpukat (Persea AmericanaP.Mill.) Tanaman Pelindung 0,6
Pengelolaan lahan pekarangan tidak jauh berbeda pada lahan tegalan. Pada
lahan pekarangan tetap mengutamakan tanaman Kopi sebagai komoditas utama
11
yang dikembangkan, namun dilahan ini, jenis tanaman yang ditanam lebih
bervariasi. Jenis tanaman pelindung yang ditanam berupa Kakao, Sengon,
Alpukat, Cengkeh, Pisang, dan Nangka. Adapun jenis tanaman pangan yang
ditanam adalah Talas dan Singkong. Lahan pekarangan dimanfaatkan pula sebagai
penyumbang pakan ternak dengan penanaman jenis rumput Gajah yang ditanam
di pinggir-pinggir perkebunan kopi. Di lahan ini petani juga bisa mendirikan
kandang ternak Ayam, atau Sapi karena dekat dengan pemukiman. Pada dasarnya
pengelolaan lahan pekarangan dan lahan tegalan sama, namun ada perbedaan
dalam pola penanamanya. Pada lahan pekarangan penanaman komoditas
perkebunan tidak terlalu baik dilihat dari aspek budidayanya, yaitu yang paling
mencolok adalah jarak tanam yang digunakan tidak teratur serta terlalu banyak
jenis tanaman pelindung yang ditanam.
Sistem Agroforestri dapat diterapkan masyarakat mulai dari persiapan
perkebunan Kopi yang dimulai dengan penanaman pohon pelindung hingga pada
saat tanaman Kopi telah berumur dewasa. Jenis tanaman pelindung yang biasa
digunakan petani di Dusun tambak watu adalah tanaman Sengon walaupun pada
lahan pekarangan jenis pohon pelindunnya sangat bervariasi. Pemilihan jenis ini,
dimaksudkan juga sebagai penghasil kayu industri. Pemilihan tanaman sela pada
saat tanaman kopi telah berumur dewasa dilakukan dengan pertimbangan bahwa
tanaman sela toleran terhadap naungan misalnya tanaman Talas (Gambar 1).
4.2.Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa sistem Agroforestri
kompleks telah diterapkan oleh masyrakat Dusun Tambak Watu, Desa
12
Tambaksaridalam pengelolaan perkebunan Kopi.Penanaman tanaman Kopi dan
pohon pelindung yang dipadukan dengan penanaman tanaman sela berupa
Singkong, Talas, dan Pisang menunjukan bahwa petani telah menerapkan sistem
Agroforestrikompleks. Penciri utama model ini adalah kenampakan fisik dan
dinamika didalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan sehingga disebut juga
sebagai Agroforest (De foresta dan Michon, 1997 dalam Mayrowani dan Ashari
2011). Ada dua tipe lahan yang dikelola masyarakat, yaitu tipe lahan tegalan dan
tipe lahan pekarangan. Pada lahan tegalan pengelolaan perkebunan lebih intensif
dibandingkan pada lahan pekarangan. Bentuk Agroforestri yang diterapkan di
lahan tegalan adalah bentuk Agrosilvikultur yaitu perpaduan antara prinsip
pertanian dan prinsip kehutanan (Tabel 1), sedangkan pada lahan pekarangan
bentuk agroforestri yang diterapkan adalahAgrosilvipasturalyaitu perpaduan
antara prinsip pertanian, kehutanan, dan peternakan (Tabel 2).
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa masyarakat telah
memanfaatkan kebun kopi di lahan tegalan dengan penanaman tanaman pangan
berupa : Singkong, Talas, dan Pisang dengan prosentase masing-masing 23,61%,
45,83%, dan 2,78%, sedangkan di lahan pekarangan sebesar20,73%, 40,24%, dan
2,44%. Kondisi tersebut menunjukan bahwa pengelolaan perkebunan Kopi
dilahan tegalan maupun lahan pekarangan dengan penerapan sistem Agroforestri
mampu meningkatkan produksi pangan non beras bagi masyarakat.Rauf et al.
(2013), menyatakan bahwa lahan pekarangan dapat dioptimalkan pemanfaatannya
untuk memproduksi pangan dan papan di satu sisi, sekaligus memelihara dan
memperbaiki kondisi ekologis serta meningkatkan dan mempertahankaan
13
biodiversitas di sisi lain, melalui penerapan sistem pertanian terpadu dalam bentuk
Agroforestri, seperti tipe Agrosilvopastural. Perkebunan kopi dapat dimanfaatkan
sebagai penghasil pangan non beras seperti pemanfaatan hutan yang dikelola
dengan penerapan sistem Agroforestri. Pemanfaatan kawasan hutan sudah banyak
dilakukan bersama masyarakat untuk mengembangkan sektor lain di luar sektor
kehutanan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan obat-obatan.
Kegiatan Agroforestri dan rencana pemanfatan kawasan hutan produksi melalui
Silvopastura, menjadi alternatif utama dalam meningkatkan kontribusi sektor
kehutanan dalam penyediaan pangan (Departemen Kehutanan, 2010 dalam
Mayrowani dan Ashari, 2011).
Sistem Agroforestri yang diterapkan masyarakat di Dusun Tambak Watu
Desa Tambaksari pada Gambar 2 di bawah ini.
Gambar 2. Penerapan Agroforestri dengan memadukan Tanaman Kopi,
Pisang, Singkong dan Sengon
Pengeloaan ruang tumbuh tanaman pada lahan Kopi akan mempengaruhi
keberhasilan sistem Agroforestri. Hal tersebut erat kaitannya dengan pemilihan
jenis tanaman pelindung dan tanaman sela. Pada Lokasi penelitian diketahui
14
bahwa masyarakat biasa menggunakan tanaman Sengon sebagai pohon pelindung.
Pemilihan jenis ini dimaksutkan tidak hanya sebagai tanamaan pelindung Kopi,
namun juga sebagai penambah bahan organik danpenghasil kayu industri,
sehingga dapat meningkatkan kesuburan lahan dan juga meningkatkan pendapatan
petani.Tanaman sengon juga diketahui memiliki tajuk yang tidak begitu rapat,
sehingga cocok digunakan sebagai pelindung tanaman Kopi dalam sistem
Agroforestri (Gambar 2). Penggunaan pohon pelindung dipilih jenis pohon
memiliki fungsi ekologis sebagai naungan bagi tanaman Kopi, penambah bahan
organik tanah, meningkatkan kadar N (jenis Leguminacea), serta fungsi ekonomi
sebagai penghasil kayu industri. Erwiyono dan Prawoto (2008), menyatakan
bahwa penaung tanaman Lamtoro (Leguminacea) paling baik dalam
meningkatkan N tanah, sedangkan penaung kayu–kayuan industri lebih baik
meningkatkan kadar mineral tanah seperti Ca, Mg, P dan Zn. Penerapan sistem
Agroforestri dengan pemilihan kombinasi jenis tanaman yang tepat tidak hanya
akan menghasilkan komoditas perkebunandan produksi pangan yang baik, tetapi
juga berdampak terhadap kesuburan dan keberlanjutan lahan. Salah satu indikator
keberlanjutan suatu lahan adalah tercapainya kondisi tanah yang sehat, yaitu tanah
produktif yang mampu menyangga pertumbuhan tanaman dan aktivitas organisme
tanah sesuai dengan jenis tanah dan kondisi iklim tertentu (Handayanto dan
Hairiah, 2009).
Hasil penelitian menunjukan bahwa masyaraakat mengembangkan jenis
tanaman pangan seperti Singkong dan Talas sebagai tanaman sela. Hal inididuga
karena jenis tanaman ini tahan terhadap naungan. Suatu penelitian uji tingkat
15
toleransi talas terhadap naungan yang dilakukan Djukri (2003) menghasilkan
beberapa jenis talas yang toleran terhadap naungan dan dapat dibudidayakan pada
daerah dengan intensitas cahaya rendah. Lewerissa (2013), menyatakan dalam
hasil penelitiannya di Halmahera Utara bahwa Masyarakat telah menerapkan
sistem Agroforestri dengan hasil pangan berupa Singkong, Pisang, Ubi Jalar, dan
Batatas. Pemilihan jenis tanaman sela sebaiknya menyesuaikan kondisi
perkebunan Kopi. Tanaman Kopi yang masih berumur muda memiliki tajuk yang
tidak begitu lebat, sehingga ruang pada lahan dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin untuk budidaya tanaman pangan, namun bila tanaman Kopi telah
berumur dewasa maka tajuk tanaman akan semakin lebat dan akan mengakibatkan
semakin berkurangnya ruang tumbuh dan intensitas cahaya bagi tanaman
dibawahnya.Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman. Cahaya berperan penting dalam proses fisiologi tanaman,
terutama fotosintesis, respirasi, dan transpirasi (Gardner etal., 1991 dalamPantilu
et al., 2012). Mengingat pentingnya cahaya bagi pertumbuhan tanaman, maka
pengelolaan Agroforestri perlu memperhatikan pengaturan jarak tanam maupun
jenis tanaman sela yang digunakan sehingga persaingan cahaya dapat
dioptimalkan. Menurut Suryantoet al. (2006), beberapa faktor penentu dinamika
ruang yang berpengaruh terhadap model sistem Agroforestri yaitu luas lahan,
kepadatan tajuk, intensitas cahaya dan budidaya petani.
16
V. PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penerapan sistem Agroforestri telah diterapkan masyarakat di Dusun Tambak
Watu dalam pengelolaan kebun Kopi di lahan tegalan dan pekarangan
sehubungan dengan peningkatan produksi pangan non beras.
2. Pada lahan tegalan dikembangkan tanaman pangan berupa Singkong, Talas,
dan Pisang dengan prosentase 23,61%, 45,83%, dan 2,78%, sedangkan pada
lahan pekarangan dengan jenis tanaman yang sama sebesar 20,73%, 40,24%,
dan 2,44%.
5.2.Saran
Dalam rangka peningkatan pangan non beras, maka perlu adanya usaha dari
berbagai pihak untuk meningkatkan penerapan sistem Agroforestri dalam
pengelolaan perkebunan Kopi dengan pengembangan tanaman Singkong, Talas,
dan Pisang.
17
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011.Sistem Agroforestry di Indonesia.
https://fandicka.wordpress.com/2011/03/31/sistem-agroforestri-di-
indonesia-dan-biodiversitas. Diakases pada tanggal 7 Juli 2015.
Anonim. 2013.Apa Kabar Progam One DayNo Rice Pemprov Jabar.
http://bandung.bisnis.com/read/20131017/6/445859/apa-kabar-program-
one-day-no-rice-pemprov-jabar. Diakses pada tanggal 30 Juli 2015.
Anonim. 2014. One Day No Rice.
https://id.wikipedia.org/wiki/One_Day_No_Rice. Diakses pada tanggal 30
Juli 2015
Arifin, H.S.; C. Wulandari; Q. Pramukanto; R. L. Kaswanto. 2009. Analisis
Lanscape Agroforestri. IPB Perss, Bogor.
Erwiyono, R.; A.A.Prawoto 2008. Kondisi Hara Tanah padaBudidaya Kopi
dengan Tanaman Kayu Industri. Pelita Perkebunan Vol 24 (1) : 24-36.
Hairiah, K. dan S. Rahayu. 2007. PengukuranKarbon Tersimpandi Berbagai
Macam Penggunaan Lahan. ICRAF South Asia Regional Office, Bogor.
Handayanto, E. dan K. Hairiah. 2009. Biologi Tanah. Landasan Pengelolaan
Tanah Sehat. Pustaka Adipura, Yogyakarta.
Indawan, E. 2006. Dasar-dasar Agronomi. Sofa Perss, Malang.
Karba, M. 2010. Agroforestri di Indonesia. Teknik Agroforestri yang Baik.
http://munawarkarba.blogspot.com/2010/12/agroforestry-di-indonesia.html.
Diakses pada tanggal 8 Juli 2015.
Lahjie, A. M. 2004. Teknik Agroforestri. Universitas Mulawarman, Samarinda.
Lewerissa, E. 2013. Inventarisasi Jenis Umbian di Bawah Tegakan Agroforestri
sebagai Sumber Pangan. J Agroforestri VIII (4) : 277-285.
Mayrowani, H. dan Ashari. 2011. Pengembangan Agroforestri untuk Mendukung
Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Petani Sekitar Hutan. J Penelitian
Agro Ekonomi Vol 29 (2) : 63-98.
Muldan. 2014. 10 Makanan Pokok Pengganti Nasi.
http://bkpd.jabarprov.go.id/10-makanan-pokok-pengganti-nasi/. Diakses
pada tanggal 30 Agustus 2015.
Pantilu, L. I.; F. R. Manturi; N. S. Ai; D. Pangdiangan. 2012. Respon Morfologi
18
dan Anatomi Kecambah Kacang kedelai (Glycine Max L.) Terhadap
Intensitas Cahaya yang Berbeda. JBioslogos Vol 2 (2) :79-87.
Rahardjo, P. 2012. Panduan budidaya dan pengolahan Kopi Arabika dan
Robusta. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rahmawati, W.; Y. A. Kusumastuti; N. Aryanti. 2012. Karakterisasi Pati Talas
sebagai Alternatif Sumber Pati Industri di Indonesia. J. Teknologi Kimia
dan Industri Vol 1 (1) : 347-351.
Suryanto, P.; W.B. Aryono; M. S. Sabarnurdin. 2006. Model Beradalam
Sistem Agroforestri. J Manajemen Hutan Tropik Vol XII (2) : 15-26.
Walojo, E. B. 2011. Keanekaragaman Hayati untuk Pangan. Makalah Kongres
Ilmu Pengetahuan Nasional X. Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian
Biologi. LIPI. Jakarta, 8-10 November.
Wibawa, A, 2008. Panduan Budidaya dan Pengolahan kopi Gayo. Jember: Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
19
LAMPIRAN
1. Dokumentasi Kegiatan
20
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Biodata Ketua Kelompok
A. Identitas Diri
Nama Lengkap(dengangelar) Sami’un
JenisKelamin Laki – laki
ProgramStudi Agroteknologi
NIM 2012330042
TempatdanTanggalLahir Rembang, 18 November 1993
E-mail assamioune@gmail.com
Nomor Telepon/HP 089664811531
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi MIN Sale
Rembang
MTsN Sale MA Al-Azhar
Sale Rembang
TahunMasuk-
Lulus
1999-2006 2006-2009 2009-2012
Biodata Anggota Kelompok 1
A. Identitas Diri
Nama Lengkap(dengangelar) Didi Dion
JenisKelamin Laki – laki
ProgramStudi Agroteknologi
NIM 2013330010
TempatdanTanggalLahir Entibuh, 16September 1994
E-mail didi.dion48@yahoo.com
Nomor Telepon/HP 085332270474
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SDN 10 Entibuh SMPN 1 Mukok SMKN 1 Mukok
TahunMasuk-
Lulus
1999-2006 2006-2009 2009-2012
21
Biodata Anggota Kelompok 2
A. Identitas Diri
Nama Lengkap(dengangelar) Maria Fransiska Yuliana Jawa
JenisKelamin Perempuan
ProgramStudi Agroteknologi
NIM 2013330035
TempatdanTanggalLahir Wotoloto, 25 Februari 1992
E-mail yully.jawa120913@gmail.com
Nomor Telepon/HP 085230248715
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Nama Institusi SD Inpres Detusoko SMP Katolik
Marsudirini Detusoko
SMKN 1 Bukit Sawit
Kalimantan Tengah
TahunMasuk-
Lulus
2000-2005 2005-2008 2008-2011
22
23
24
25

Lkti agroforestri UNITRI 2016

  • 1.
    LOMBA KARYA TULISILMIAH PENERAPAN SISTEM AGROFORESTRI DALAM PENGELOLAAN PERKEBUNAN KOPI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN NON BERAS Diusulkan oleh : SAMI’UN (2012330042) DIDI DION (2013330010) MARIA FRANSISKA YULIANA J. (2013330035) UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI MALANG 2015
  • 2.
    i KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat Tuhan yang mahapengasih , atas berkah dan rahmat- Nya, tim penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini dengan lancar. Karya ini merupakan hasil observasi dan pengamatan mengenai penerapan agroforestri yang dilakukan oleh petani kopi Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Dalam pelaksanaan penelitian ini, kami telah dibantu oleh berbagai pihak, maka dari itu kami menyampaikan terima kasih kepada : 1. Bapak Adra’I P. Wariono Selaku Ketua Kelompok Tani Warga Makmur 2. Bapak Ir. Edyson Indawan, MP. selaku dosen pembimbing Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya ilmiah ini, baik dalam segi penulisan maupun teknik penyajiannya, mengingat keterbatasan kemampuan penulis. kritik bersifat membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan. Malang, 28 Agustus 2014 Penulis,
  • 3.
    ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR...................................................................................... i DAFTAR ISI.................................................................................................... ii DAFTAR TABEL............................................................................................. iv DAFTAR GAMBAR........................................................................................ v DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... vi I. PENDAHULUAN...................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang..................................................................................... 1 1.2. Tujuan................................................................................................... 2 1.3. Manfaat ................................................................................................ 2 II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3 2.1. Penerapan Sistem Agroforestri............................................................. 3 2.2.Pengelolaan Kebun Kopi...................................................................... 4 2.3. Pangan Non Beras ............................................................................... 5 III. PENDEKATAN PENELITIAN ................................................................ 7 3.1. Tempat dan Waktu............................................................................... 7 3.2. Metode Pengumpulan Data ................................................................. 7 3.3. Partisipasi Aktif dan Wawancara......................................................... 7 3.4. Analisis Data........................................................................................ 7 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................. 8 4.1. Hasil..................................................................................................... 8 4.2. Pembahasan.......................................................................................... 11
  • 4.
    iii V. PENUTUP .................................................................................................16 5.1. Kesimpulan........................................................................................... 16 5.2. Saran.................................................................................................... 16 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 17 LAMPIRAN...................................................................................................... 19 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... 20
  • 5.
    iv DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.Komoditas yang ditanam pada lahan Tegalan........................................ 9 Tabel 2. Komoditas yang ditanam pada lahan pekarangan.................................. 10
  • 6.
    v DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.............................................................................................................10 Gambar 2............................................................................................................. 13
  • 7.
    vi DAFTAR LAMPIRAN Halaman Dokumentasi Kegiatan.........................................................................................19 Daftar Riwayat Hidup......................................................................................... 20
  • 8.
    1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Indonesia merupakanNegara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di Dunia.Kondisi tersebut mengakibatkan timbulnya berbagai masalah, salah satunya adalah kekurangan pangan.Masalah ini tidak hanya dihadapi Indonesia saja, tetapi juga merupakan problema global.Peningkatan jumlah penduduk dunia semakin tinggi sehingga kebutuhan pangan tidak bisa terpenuhi karena peningkatan penduduk tidak sebanding dengan luas lahan pertanian yang bisa dikembangkan.Disisi lain peralihan lahan pertanian menjadi daerah non pertanian secara cepat mengakibatkan lahan pertanian semakin terbatas. Kondisi tersebut selain akan menimbulkan kerusakan lingkungan, juga akan menimbulkan ancaman kelaparan. Dalam rangka mengatasi masalah-masalah tersebut perlu adanya inovasi dalam bidang pertanian maupun kehutanan yang memungkinkan dapat meningkatkan produksi pangan non beras dengan kondisi lahan yang terbatas. Ekstensifikasi lahan perkebunan terus ditingkatkan sebagai upaya memenuhi kebutuhan ekspor komoditas perkebunan, namun hal itu dinilai dapat mengakibatkan lahan penanamantanaman pangan non beras semakin menurun, sehingga kekurangan pangan tetap akan menjadi masalah. Penerapan sistem Agroforestri dalam pengelolaan perkebunan di Indonesia merupakan salah satu solusi. Luas lahan kering dan perkebunan di Indonesia sampai tahun 2012 mencapai lebih dari 11 juta ha, sehingga berpotensi sebagai alternatif penyumbang pangan non beras bila diterapkan sistem Agroforestri. Penerapan
  • 9.
    2 sistem tersebut, selainpetani bisa menghasilkan komoditas perkebunan, merekasekaligus memproduksi tanaman pangan non beras sehingga membantu peningkatan ketersediaan pangan. Budidaya tanaman perkebunan dengan sistem Agroforestri merupakan sistem pengelolaan sumber daya alam yang dinamis dan berbasis ekologi, dengan mamadukan berbagai jenis pohon dan tanaman pangan non beras pada lahan pertanian. Sistem Agroforestri yang paling sederhana bagaimanapun adalah sistem yang lebih kompleks dibandingkan sistem tanaman tunggal, baik dilihat dari segi ekologis, fungsional, maupun dari segi sosial dan ekonomi. Pola pemanfaatan lahan dengan sistem Agroforestri merupakan suatu model usaha tani yang cocok bagi para petani Kopi. Penerapan sistem ini akan meningkatkan hasil panen yang akhirnya mampu memberikan tambahan pendapatan. 1.2.Tujuan Mengetahui bentuk-bentuk penerapan sistem Agroforestri dalam pengelolaan perkebunan Kopi sebagai upaya meningkatkan produksi pangan non beras masyarakat Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. 1.3. Manfaat Informasi bagi masyarakat yang mengelola perkebunan Kopi agar dapat menerapkan bentuk sistem Agroforestri sebagai upaya peningkatan produksi pangan non beras.
  • 10.
    3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Penerapan Sistem Agroforestri Agroforestri tersusun dari dua kata yaitu agro (pertanian) dan forestry (kehutanan), yang berarti gabungan antara ilmu pertanian dan ilmu kehutanan, serta memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan kelestarian hutan. Agroforestri merupakan praktik pengelolaan sumber daya biologi dengan memanen energi matahari untuk menghasilkan suatu poduk pertanian dan produk yang dihasilkan dari tegakan pohon (Arifin et al., 2009). Teknik ini bukan dari penelitian tetapi perilaku petani yang memanfaatkan lahannya dengan menanam banyak tanaman yang berbeda dan terdapat tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini merupakan gabungan dari ilmu kehutanan dan Agronomi yang memadukan usaha kehutanan dengan usaha tanaman produksi untuk menciptakan keselarasan antara Intesifikasi pertanian dan pelestarian hutan. Semua itu berjalan seiring waktu dan tidak pernah ada yang mencatat proses dan hasil teknik Agroforestri ini (Anonim, 2011). Agroforestri merupakan suatu sistem yang mengkombinasikan antara komponen hutan dengan komponen pertanian, sehingga akan dihasilkan suatu bentuk pelestarian alam yang dapat memberikan nilai ekonomi bagi pelakunya serta juga dapat digunakan untuk pelestarian alam. Agroforestri sudah diaplikasikan oleh masyarakat pada zaman dahulu dan sekarang tehnik ini digunakan kembali, karena dirasa sangat bermanfaat bagi alam dan masyarakat sekarang (Karba, 2010).Ada beberapa bentuk agroforestri berdasarkan komponen yang dipadukan. Bentuk-bentuk
  • 11.
    4 agroforestri tersebut antaralain Agrifishery (kombinasi prinsip pertanian dan perikanan), Silvofishery (kombinasi prinsip kehutanan dan perikanan), Agrosilvikultur (kombinasi prinsip pertanian dan prinsip kehutanan), Agropastural (kombinasi prinsip pertanian dan peternakan), Agrosilvofishery (kombinasi prinsip pertanian, kehutanan, dan perikanan), Agrosilvopastural (kombinasi prinsip pertanian, kehutanan, dan peternakan) (Lahjie, 2004). Indawan (2006) mengemukakan bahwa sitem pertanian kombinasi antara tanaman Agronomi dan tanaman kehutanan pada dasarnya mempunyai peranan positif dalam produksi, proteksi, rehabilitasi, konservasi, sosial, dan ekonomi. Penerapan sistem agroforesti merupakan salah satu usaha meningkatkan kesuburan tanah dan bahan organik tanah, memperbaiki keadaan tanah, mengurangi erosi, dan memperbaiki keadaan hidrologi pada daerah aliran sungai. Selain itu, sistem Agroforestri juga merupakan cara yang efektif menyimpan karbon alam. Tanaman berumur panjang yang tumbuh di hutan maupun di kebun campuran merupakan tempat penimbun karbon yang jauh lebih besar daripada tanaman semusim (Hairiah dan Rahayu, 2007). Penyerapan karbon dari satu ha hutan adalah sebesar 6 ton karbon/tahun (Arifin et al., 2009). 2.2.Pengelolaan Kebun Kopi Kopi merupakan komoditas perkebunan yang terus dikembangkan di Indonesia. Tanaman kopi tumbuh rimbun dan membentuk perdu kecil. Adapun tanaman kopi jenis lain memiliki pertumbuhan pohon yang besar dan kuat. Tanaman kopi memiliki dua tipe pertumbuhan cabang, yaitu cabang ortotrop yang tumbuh vertikal ke atas dan plagiotrop yang tumbuh ke arah horizontal.
  • 12.
    5 Pembangunan kebun kopimembutuhkan persiapan bibit dan Persiapan lahan yang baik. persiapan lahan meliputi menyiapkan pohon penaung sementara dan penaung tetap serta lubang tanam. Naungan harus ditanam beberapa bulan sebelumnya atau paling lambat 1 tahun sebelumnya (Rahardjo, 2012).Erwiyono dan Prawoto (2008), menyatakan bahwa penaung tanaman lamtoro paling baik dalam meningkatkan N tanah, sedangkan penaung kayu–kayuan industri lebih baik meningkatkan kadar mineral tanah seperti Ca, Mg, P dan Zn. Ada tendesnsi bahwa peningkatan hara mineral tanah terkait dengan jenis tipe penaung. Secara umum kopi tumbuh baikpada daerah dengan kondisi geografis pada garis lintang 200 LS sampai 200 LU, tinggi tempat 1000-2000 m dpl, dengan curah hujan 1000-1500 mm/th, dan suhu rata-rata harian 15-250 C. Lahan yang cocok untuk budidaya kopi adalah tidak memiliki kemiringan di atas 45%. Kedalaman efektif tanah lebih dari 100 cm, tekstur tanah Geluhan, dengan strustur tanah lapisan atas remah. Sifat kimia lapisan tanah atas memiliki kandungan bahan organik diatas 3,5%, nisbah C/N 10-12, KTK tidak kurang dari 15 me/ 100 g tanah, pH tanah 5,6-6,5 (Wibawa, 2008). 2.3. Pangan Non Beras Pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia pada saat ini umumnya masih belum beragam dan bergizi seimbang. Tingkat konsumsi per kapita Indonesia sebesar 139 kg/tahun. Sementara untuk konsumsi hasil pertanian dari tanaman kelompok Gramineae (beras, jagung dan terigu) di rumah tangga sebesar 316/gr/kapita/hari, padahal menurut Standar Pola Pangan Harapan (PPH) seharusnya 275 gram/hari saja. Konsumsi umbi–umbian hanya 40 gr/kapita/hari,
  • 13.
    6 sedangkan jumlah idealnya100 gr/kapita/hari. Mengkonsumsi satu jenis karbohidrat secara terus menerus mampu menyebabkan gangguan kesehatan. Indonesia kaya akan pangan alternatif pengganti beras, antara lain Singkong, Sagu, Ubi jalar, Jagung, dan lainnya (Anonim, 2014). Jawa Barat sendiri memiliki berbagai kekayaan alam dari hasil pertanian dengan 77 sumber karbohidrat, 75 sumber lemak, 26 sumber kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, dan 228 jenis sayuran (Anonim, 2013). Pangan non beras terdiri dari beberapa jenis umbi-umbian dan seperti Singkong, Gembili, Ubi jalar, dan beberapa jenis buah salah satunya Pisang. Di Afrika pisang dapat diolah menjadi tepung dan dimakan sebagai makanan pokok (Muldan, 2014). Selain itu, Talas (Colocasia) juga kelompok ubi-ubian yangpotensial untuk dikembangkan sebagai cadangan pangan. Diketahui ada 300 varietas Talas budidaya yang dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, warna daun, batang, umbi, dan bunga (Walujo, 2011). Berdasarkan penelitian tepung Talas mengandung 75% kadar pati, 3,57% amilosa, dan 71,43 kadar amilopektin (Rahmawati et al., 2012).
  • 14.
    7 III. PENDEKATAN PENELITIAN 3.1.Tempat dan waktu Observasi dilaksanakan di lahan perkebunan kelompok tani Warga Makmur di Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan pada bulan Februari 2015. 3.2. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data meliputi kondisi lokasi, teknik penerapan sistem agroforestri pada masyarakat dusun Tambak Watu, serta pola budidaya yang di terapkan berdasarkan luas sampel 100 m2 pada lahan tegalan dan pekarangan seluas 0,5 ha. 3.1.1. Partisipasi Aktif dan wawancara Pengumpulan informasi juga dilakukan dengan keikutsertaan dalam beberapa kegiatan budidaya dan penerapan sistem agroforesti pada lahan perkebunan kopi.Data juga diperoleh melalui diskusi dan wawancara. Diskusi dan wawancara bertujuan untukmemperoleh penjelasan dan pemahaman dari beberapa kegiatan yang dilakukan petani. 3.3. Analisis Data Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif berdasarkan sampel terpilih pada lahan perkebunan Kopi.
  • 15.
    8 IV. HASIL DANPEMBAHASAN 4.1.Hasil 4.1.1.Gambaran Umum lokasi Penelitian Dusun Tambak Watu merupakan dusun paling ujung dari Desa Tambaksari dan berada di lereng gunung Arjuna. Jarak dari Desa Tambaksari ke Kecamatan adalah sejauh 12 km dan jarak ke Kabupaten Pasuruan adalah sejauh 40 km yang dapat ditempuh selama 80-90 menit.Desa Tambaksari berbatasan dengan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Purwosari di sebelah utara dan Desa Pucangsari, Kecamatan Purwodadi di sebelah timur, sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Hutan Raden Soerjo dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Jatisari, Kecamatan Purwodadi. Karakteristik geografis berada pada ketinggian 1.200 m dpl dengan suhu rata- rata harian berkisar 260C dengan banyaknya curah hujan 200 mm/ bulan. Total luas lahan pertanian adalah 773,88 ha. Luas tersebut terdiri dari tegalan, sawah, dan pekarangan. Di Dusun Tambak Watu telah terbentuk kelompok tani yang bernama kelompoktani Warga Makmur. Kelompok tani ini berdiri pada tahun 1992 dengan ketua kelompok bapak Adra’i P. Wariono. Pada tahun 2004 oleh pemerintah setempat kelompok tani ini dirombak yang semula beranggota 75 orang, menjadi 50 orang. Kelompok Tani Warga Makmur hingga sekarang mengelola lahan tegalan dan pekarangan seluas 47,12 ha. 4.1.2. Penerapan Sistem Agroforestri di Kebun Kopi Desa Tambak Sari Berdasarkan pengamatan, beberapa jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat pada lahan tegalan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
  • 16.
    9 Tabel 1.Jenis tanamanyang ditanam di lahan tegalan. No Jenis Tanaman Fungsi Populasi (%) 1. Kopi (coffeaarabica L.) Tanaman Utama 15,28 2. Singkong(Manihot esculenta Crantz.) Tanaman Sela 23,61 3. Cabe (Capsicum frutescenc L.) Tanaman Sela 4,17 4. Talas (Colocasia esculentaL.) Tanaman Sela 45,83 5. Rumput gajah (PennisetumpurpureumS.) Penguat Teras 2,78 6. Pisang (Musa parasidiaca L.) Tanaman Pelindung 2,78 7. Sengon (Albizzia chinensis Osbeck.) Tanaman Pelindung 5,56 Berdasarkan data jenis tanaman yang dikembangkan masyarakat pada Tabel 1, terbukti masyarakat telah menerapkan sistem Agroforestri secara kompleks. Pola yang diterapkan adalah Agrosilvicultur, yaitu perpaduan prinsip kehutanan dengan prinsip pertanian. Komoditas utama yang dikembangkan adalah tanaman Kopi, sedangkan disela-sela antara tanaman Kopi dan tanaman pelindung dimanfaatkan masyarakat dengan penanaman tanaman pangan seperti Singkong Talasdan Pisang (Gambar 1). Selain itu dilahan yang sama juga ditanam berbagai tanaman pohon seperti Sengon sebagai tanaman pelindung Kopi dan rumput Gajah sebagai tanaman penguat teras sekaligus membantu memenuhi kebutuhan pakan ternak. Pada lahan tegalan pengelolaan tanaman lebih intensif dan teratur. Aspek budidaya dan konservasi diperhatikan, seperti jarak tanam yang teratur baik antar komoditas perkebunan maupun dengan tanaman sela, pembuatan teras dilahan miring, dan penguatan teras dengan tanaman penguat teras.
  • 17.
    10 Penerapan Agroforestri dilahan tegalan dapat dilihat padaGambar 1 di bawah ini. Gambar 1. Penerapan Sistem Agroforestri dengan memadukan tanaman Kopi, Sengon, Pisang, dan Talas. Jenis tanaman yang ditanam pada lahan pekarangan dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Jenis tanaman yang ditanam di lahan pekarangan No Jenis Tanaman Fungsi Populasi (%) 1. Kopi (coffeaarabica L.) Tanaman Utama 13,41 2. Kakao (Theobroma cacaoL.) Tanaman Pelindung 2,44 3. Talas (Colocasia esculenta L.) Tanaman Sela 40,24 4. Singkong (Manihot esculenta C.) Tanaman Sela 20,73 5. Rumput gajah (Pennisetum purpureumS.) Penguat Teras 12,19 6. Pisang (Musa parisidiaca L.) Tanaman Pelindung 2,44 7. Sengon (Albizzia Chinensis Osbeck.) Tanaman Pelindung 4,90 8. Cengkeh (SyzygiumaromaticumL.) Tanaman Pelindung 2,44 9. Nangka (ArtocarpusheterophyllusL.) Tanaman Pelindung 0.6 10. Alpukat (Persea AmericanaP.Mill.) Tanaman Pelindung 0,6 Pengelolaan lahan pekarangan tidak jauh berbeda pada lahan tegalan. Pada lahan pekarangan tetap mengutamakan tanaman Kopi sebagai komoditas utama
  • 18.
    11 yang dikembangkan, namundilahan ini, jenis tanaman yang ditanam lebih bervariasi. Jenis tanaman pelindung yang ditanam berupa Kakao, Sengon, Alpukat, Cengkeh, Pisang, dan Nangka. Adapun jenis tanaman pangan yang ditanam adalah Talas dan Singkong. Lahan pekarangan dimanfaatkan pula sebagai penyumbang pakan ternak dengan penanaman jenis rumput Gajah yang ditanam di pinggir-pinggir perkebunan kopi. Di lahan ini petani juga bisa mendirikan kandang ternak Ayam, atau Sapi karena dekat dengan pemukiman. Pada dasarnya pengelolaan lahan pekarangan dan lahan tegalan sama, namun ada perbedaan dalam pola penanamanya. Pada lahan pekarangan penanaman komoditas perkebunan tidak terlalu baik dilihat dari aspek budidayanya, yaitu yang paling mencolok adalah jarak tanam yang digunakan tidak teratur serta terlalu banyak jenis tanaman pelindung yang ditanam. Sistem Agroforestri dapat diterapkan masyarakat mulai dari persiapan perkebunan Kopi yang dimulai dengan penanaman pohon pelindung hingga pada saat tanaman Kopi telah berumur dewasa. Jenis tanaman pelindung yang biasa digunakan petani di Dusun tambak watu adalah tanaman Sengon walaupun pada lahan pekarangan jenis pohon pelindunnya sangat bervariasi. Pemilihan jenis ini, dimaksudkan juga sebagai penghasil kayu industri. Pemilihan tanaman sela pada saat tanaman kopi telah berumur dewasa dilakukan dengan pertimbangan bahwa tanaman sela toleran terhadap naungan misalnya tanaman Talas (Gambar 1). 4.2.Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa sistem Agroforestri kompleks telah diterapkan oleh masyrakat Dusun Tambak Watu, Desa
  • 19.
    12 Tambaksaridalam pengelolaan perkebunanKopi.Penanaman tanaman Kopi dan pohon pelindung yang dipadukan dengan penanaman tanaman sela berupa Singkong, Talas, dan Pisang menunjukan bahwa petani telah menerapkan sistem Agroforestrikompleks. Penciri utama model ini adalah kenampakan fisik dan dinamika didalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan sehingga disebut juga sebagai Agroforest (De foresta dan Michon, 1997 dalam Mayrowani dan Ashari 2011). Ada dua tipe lahan yang dikelola masyarakat, yaitu tipe lahan tegalan dan tipe lahan pekarangan. Pada lahan tegalan pengelolaan perkebunan lebih intensif dibandingkan pada lahan pekarangan. Bentuk Agroforestri yang diterapkan di lahan tegalan adalah bentuk Agrosilvikultur yaitu perpaduan antara prinsip pertanian dan prinsip kehutanan (Tabel 1), sedangkan pada lahan pekarangan bentuk agroforestri yang diterapkan adalahAgrosilvipasturalyaitu perpaduan antara prinsip pertanian, kehutanan, dan peternakan (Tabel 2). Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa masyarakat telah memanfaatkan kebun kopi di lahan tegalan dengan penanaman tanaman pangan berupa : Singkong, Talas, dan Pisang dengan prosentase masing-masing 23,61%, 45,83%, dan 2,78%, sedangkan di lahan pekarangan sebesar20,73%, 40,24%, dan 2,44%. Kondisi tersebut menunjukan bahwa pengelolaan perkebunan Kopi dilahan tegalan maupun lahan pekarangan dengan penerapan sistem Agroforestri mampu meningkatkan produksi pangan non beras bagi masyarakat.Rauf et al. (2013), menyatakan bahwa lahan pekarangan dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk memproduksi pangan dan papan di satu sisi, sekaligus memelihara dan memperbaiki kondisi ekologis serta meningkatkan dan mempertahankaan
  • 20.
    13 biodiversitas di sisilain, melalui penerapan sistem pertanian terpadu dalam bentuk Agroforestri, seperti tipe Agrosilvopastural. Perkebunan kopi dapat dimanfaatkan sebagai penghasil pangan non beras seperti pemanfaatan hutan yang dikelola dengan penerapan sistem Agroforestri. Pemanfaatan kawasan hutan sudah banyak dilakukan bersama masyarakat untuk mengembangkan sektor lain di luar sektor kehutanan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan obat-obatan. Kegiatan Agroforestri dan rencana pemanfatan kawasan hutan produksi melalui Silvopastura, menjadi alternatif utama dalam meningkatkan kontribusi sektor kehutanan dalam penyediaan pangan (Departemen Kehutanan, 2010 dalam Mayrowani dan Ashari, 2011). Sistem Agroforestri yang diterapkan masyarakat di Dusun Tambak Watu Desa Tambaksari pada Gambar 2 di bawah ini. Gambar 2. Penerapan Agroforestri dengan memadukan Tanaman Kopi, Pisang, Singkong dan Sengon Pengeloaan ruang tumbuh tanaman pada lahan Kopi akan mempengaruhi keberhasilan sistem Agroforestri. Hal tersebut erat kaitannya dengan pemilihan jenis tanaman pelindung dan tanaman sela. Pada Lokasi penelitian diketahui
  • 21.
    14 bahwa masyarakat biasamenggunakan tanaman Sengon sebagai pohon pelindung. Pemilihan jenis ini dimaksutkan tidak hanya sebagai tanamaan pelindung Kopi, namun juga sebagai penambah bahan organik danpenghasil kayu industri, sehingga dapat meningkatkan kesuburan lahan dan juga meningkatkan pendapatan petani.Tanaman sengon juga diketahui memiliki tajuk yang tidak begitu rapat, sehingga cocok digunakan sebagai pelindung tanaman Kopi dalam sistem Agroforestri (Gambar 2). Penggunaan pohon pelindung dipilih jenis pohon memiliki fungsi ekologis sebagai naungan bagi tanaman Kopi, penambah bahan organik tanah, meningkatkan kadar N (jenis Leguminacea), serta fungsi ekonomi sebagai penghasil kayu industri. Erwiyono dan Prawoto (2008), menyatakan bahwa penaung tanaman Lamtoro (Leguminacea) paling baik dalam meningkatkan N tanah, sedangkan penaung kayu–kayuan industri lebih baik meningkatkan kadar mineral tanah seperti Ca, Mg, P dan Zn. Penerapan sistem Agroforestri dengan pemilihan kombinasi jenis tanaman yang tepat tidak hanya akan menghasilkan komoditas perkebunandan produksi pangan yang baik, tetapi juga berdampak terhadap kesuburan dan keberlanjutan lahan. Salah satu indikator keberlanjutan suatu lahan adalah tercapainya kondisi tanah yang sehat, yaitu tanah produktif yang mampu menyangga pertumbuhan tanaman dan aktivitas organisme tanah sesuai dengan jenis tanah dan kondisi iklim tertentu (Handayanto dan Hairiah, 2009). Hasil penelitian menunjukan bahwa masyaraakat mengembangkan jenis tanaman pangan seperti Singkong dan Talas sebagai tanaman sela. Hal inididuga karena jenis tanaman ini tahan terhadap naungan. Suatu penelitian uji tingkat
  • 22.
    15 toleransi talas terhadapnaungan yang dilakukan Djukri (2003) menghasilkan beberapa jenis talas yang toleran terhadap naungan dan dapat dibudidayakan pada daerah dengan intensitas cahaya rendah. Lewerissa (2013), menyatakan dalam hasil penelitiannya di Halmahera Utara bahwa Masyarakat telah menerapkan sistem Agroforestri dengan hasil pangan berupa Singkong, Pisang, Ubi Jalar, dan Batatas. Pemilihan jenis tanaman sela sebaiknya menyesuaikan kondisi perkebunan Kopi. Tanaman Kopi yang masih berumur muda memiliki tajuk yang tidak begitu lebat, sehingga ruang pada lahan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk budidaya tanaman pangan, namun bila tanaman Kopi telah berumur dewasa maka tajuk tanaman akan semakin lebat dan akan mengakibatkan semakin berkurangnya ruang tumbuh dan intensitas cahaya bagi tanaman dibawahnya.Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Cahaya berperan penting dalam proses fisiologi tanaman, terutama fotosintesis, respirasi, dan transpirasi (Gardner etal., 1991 dalamPantilu et al., 2012). Mengingat pentingnya cahaya bagi pertumbuhan tanaman, maka pengelolaan Agroforestri perlu memperhatikan pengaturan jarak tanam maupun jenis tanaman sela yang digunakan sehingga persaingan cahaya dapat dioptimalkan. Menurut Suryantoet al. (2006), beberapa faktor penentu dinamika ruang yang berpengaruh terhadap model sistem Agroforestri yaitu luas lahan, kepadatan tajuk, intensitas cahaya dan budidaya petani.
  • 23.
    16 V. PENUTUP 5.1.Kesimpulan Berdasarkan hasilobservasi ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Penerapan sistem Agroforestri telah diterapkan masyarakat di Dusun Tambak Watu dalam pengelolaan kebun Kopi di lahan tegalan dan pekarangan sehubungan dengan peningkatan produksi pangan non beras. 2. Pada lahan tegalan dikembangkan tanaman pangan berupa Singkong, Talas, dan Pisang dengan prosentase 23,61%, 45,83%, dan 2,78%, sedangkan pada lahan pekarangan dengan jenis tanaman yang sama sebesar 20,73%, 40,24%, dan 2,44%. 5.2.Saran Dalam rangka peningkatan pangan non beras, maka perlu adanya usaha dari berbagai pihak untuk meningkatkan penerapan sistem Agroforestri dalam pengelolaan perkebunan Kopi dengan pengembangan tanaman Singkong, Talas, dan Pisang.
  • 24.
    17 DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2011.SistemAgroforestry di Indonesia. https://fandicka.wordpress.com/2011/03/31/sistem-agroforestri-di- indonesia-dan-biodiversitas. Diakases pada tanggal 7 Juli 2015. Anonim. 2013.Apa Kabar Progam One DayNo Rice Pemprov Jabar. http://bandung.bisnis.com/read/20131017/6/445859/apa-kabar-program- one-day-no-rice-pemprov-jabar. Diakses pada tanggal 30 Juli 2015. Anonim. 2014. One Day No Rice. https://id.wikipedia.org/wiki/One_Day_No_Rice. Diakses pada tanggal 30 Juli 2015 Arifin, H.S.; C. Wulandari; Q. Pramukanto; R. L. Kaswanto. 2009. Analisis Lanscape Agroforestri. IPB Perss, Bogor. Erwiyono, R.; A.A.Prawoto 2008. Kondisi Hara Tanah padaBudidaya Kopi dengan Tanaman Kayu Industri. Pelita Perkebunan Vol 24 (1) : 24-36. Hairiah, K. dan S. Rahayu. 2007. PengukuranKarbon Tersimpandi Berbagai Macam Penggunaan Lahan. ICRAF South Asia Regional Office, Bogor. Handayanto, E. dan K. Hairiah. 2009. Biologi Tanah. Landasan Pengelolaan Tanah Sehat. Pustaka Adipura, Yogyakarta. Indawan, E. 2006. Dasar-dasar Agronomi. Sofa Perss, Malang. Karba, M. 2010. Agroforestri di Indonesia. Teknik Agroforestri yang Baik. http://munawarkarba.blogspot.com/2010/12/agroforestry-di-indonesia.html. Diakses pada tanggal 8 Juli 2015. Lahjie, A. M. 2004. Teknik Agroforestri. Universitas Mulawarman, Samarinda. Lewerissa, E. 2013. Inventarisasi Jenis Umbian di Bawah Tegakan Agroforestri sebagai Sumber Pangan. J Agroforestri VIII (4) : 277-285. Mayrowani, H. dan Ashari. 2011. Pengembangan Agroforestri untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Petani Sekitar Hutan. J Penelitian Agro Ekonomi Vol 29 (2) : 63-98. Muldan. 2014. 10 Makanan Pokok Pengganti Nasi. http://bkpd.jabarprov.go.id/10-makanan-pokok-pengganti-nasi/. Diakses pada tanggal 30 Agustus 2015. Pantilu, L. I.; F. R. Manturi; N. S. Ai; D. Pangdiangan. 2012. Respon Morfologi
  • 25.
    18 dan Anatomi KecambahKacang kedelai (Glycine Max L.) Terhadap Intensitas Cahaya yang Berbeda. JBioslogos Vol 2 (2) :79-87. Rahardjo, P. 2012. Panduan budidaya dan pengolahan Kopi Arabika dan Robusta. Jakarta: Penebar Swadaya. Rahmawati, W.; Y. A. Kusumastuti; N. Aryanti. 2012. Karakterisasi Pati Talas sebagai Alternatif Sumber Pati Industri di Indonesia. J. Teknologi Kimia dan Industri Vol 1 (1) : 347-351. Suryanto, P.; W.B. Aryono; M. S. Sabarnurdin. 2006. Model Beradalam Sistem Agroforestri. J Manajemen Hutan Tropik Vol XII (2) : 15-26. Walojo, E. B. 2011. Keanekaragaman Hayati untuk Pangan. Makalah Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional X. Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi. LIPI. Jakarta, 8-10 November. Wibawa, A, 2008. Panduan Budidaya dan Pengolahan kopi Gayo. Jember: Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
  • 26.
  • 27.
    20 DAFTAR RIWAYAT HIDUP BiodataKetua Kelompok A. Identitas Diri Nama Lengkap(dengangelar) Sami’un JenisKelamin Laki – laki ProgramStudi Agroteknologi NIM 2012330042 TempatdanTanggalLahir Rembang, 18 November 1993 E-mail assamioune@gmail.com Nomor Telepon/HP 089664811531 B. Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi MIN Sale Rembang MTsN Sale MA Al-Azhar Sale Rembang TahunMasuk- Lulus 1999-2006 2006-2009 2009-2012 Biodata Anggota Kelompok 1 A. Identitas Diri Nama Lengkap(dengangelar) Didi Dion JenisKelamin Laki – laki ProgramStudi Agroteknologi NIM 2013330010 TempatdanTanggalLahir Entibuh, 16September 1994 E-mail didi.dion48@yahoo.com Nomor Telepon/HP 085332270474 B. Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi SDN 10 Entibuh SMPN 1 Mukok SMKN 1 Mukok TahunMasuk- Lulus 1999-2006 2006-2009 2009-2012
  • 28.
    21 Biodata Anggota Kelompok2 A. Identitas Diri Nama Lengkap(dengangelar) Maria Fransiska Yuliana Jawa JenisKelamin Perempuan ProgramStudi Agroteknologi NIM 2013330035 TempatdanTanggalLahir Wotoloto, 25 Februari 1992 E-mail yully.jawa120913@gmail.com Nomor Telepon/HP 085230248715 B. Riwayat Pendidikan SD SMP SMA Nama Institusi SD Inpres Detusoko SMP Katolik Marsudirini Detusoko SMKN 1 Bukit Sawit Kalimantan Tengah TahunMasuk- Lulus 2000-2005 2005-2008 2008-2011
  • 29.
  • 30.
  • 31.
  • 32.