penyakit paru yangditandai oleh
hambatan aliran udara yang
bersifat progresif, ireversibel,
dan berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap partikel
atau gas yang beracun/berbahaya
PPOK
4.
• penyebab keempatkematian secara global
• diperkirakan 2030 akan ada lebih dari 4,5
juta kematian setiap tahun akibat PPOK
tertinggi pada provinsi Nusa Tenggara Timur 10%,
provinsi Sumatera Barat prevalensi berada di angka
3,0%.
Riskesdas 2013
65 Juta orang dunia
menderita PPOK derajat
sedang hingga berat
WHO
RISKESDAS tahun 2013
sekitar 9,2 juta penduduk
Indonesia
PPOK
5.
PPOK merupakan masalahkesehatan
masyarakat utama yang terkait dengan
peningkatan morbiditas dan mortalitas di
seluruh dunia
Morbiditas menurunkan status fungsional
dan kualitas hidup
penyebab penting morbiditas PPOK adalah
kejadian eksaserbasi.
DEFINISI
Penyakit paru heterogen,dengan gejala respirasi kronik:
1. Sesak napas
2. Batuk
3. Produksi sputum, dan atau
4. Eksaserbasi
Disertai abnormalitas saluran napas:
5. Bronkitis
6. Bronkiolitis, dan atau
7. Emfisema
YANG MENYEBABKAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS PERSISTEN DAN
PROGRESIF
8.
ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO
GETomics
MutasiSERPINA
1: a1 antitrypsin
deficiency
GENE
Interaction
occurring over
lifetime
ENVIRONMENT
Rokok
ETS
Inhalasi partikel toksik
Polusi udara
Host + environment:
Abnormal lung dev
Accelerated lung aging
Damage lung:
Alter lung dev
Aging processes
Pemfis (inspeksi)
mekanisme tubuhyang
berusaha mengeluarkan
CO2
retraksi dinding dada,
hipertropi otot bantu nafas,
serta pelebaran sela iga
gambaran yang khas pada
emfisema, yaitu kulit
kemerahan pasien kurus,
dan pernafasan pursed-lips
breathing
gambaran khas pada
bronkitis kronis, yaitu pasien
tampak sianosis sentral serta
perifer, gemuk, terdapat
edema tungkai dan ronki
basah di basal paru
Pursed-lips breathing Penggunaan otot bantu
napas
Barrel chest
merupakan penurunan
perbandingan diameter antero
posterior dan transversal pada
rongga dada akibat usaha
memperbesar volume paru
Pink puffer Blue bloater
14.
Pemfis
Palpasi Perkusi
vokal fremitusmelemah
dan sela iga melebar
Hipersonor akibat
peningkatan jumlah udara
yang terperangkap, batas
jantung mengecil, letak
diafragma rendah, hepar
terdorong ke bawah
terutama pada emfisema
ronki dan atau mengi pada
waktu bernafas biasa atau
pada ekspirasi paksa,
ekspirasi memanjang
Auskultasi
Ro Thorax
• emfisemagambaran hiperinflasi, yaitu
diafragma rendah dan rata, hiperlusensi,
ruang retrosternal melebar, diafragma
mendatar, dan jantung pendulum
• bronkitis kronis hasil yang normal
ataupun dapat terlihat corakan
bronkovaskuler yang meningkat disertai
sebagian bagian yang hiperlusen.
17.
• Bronkitis kronis: hipoksemi yang
sedang sampai berat pada
pemberian oksigen 100%. asidosis
respiratorik kronik yang
terkompensasi
• Emfisema : normoksia atau
hipoksia ringan, dan normokapnia
untuk mengetahui pola kuman
dan memilih antibiotik yang
tepat
untuk mengetahui adanya faktor
pencetus seperti leukositosis
akibat infeksi
EKG mengetahui cor pulmonal
atau hipertensi pulmonal
uji latih kardiopulmoner, uji provokasi
bronkus, CT-scan resolusi tinggi,
ekokardiografi, dan pemeriksaan
kadar alpha-1 antitryipsin (jarang
dilakukan)
Pemeriksaan Penunjang
AGD
Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan sputum
Penunjang lainnya
Eksaserbasi PPOK
• Suatukeadaan yang ditandai dengan peningkatan
progresif sesak nafas dan/ batuk serta produksi sputum
yang memburuk dalam <14 hari yang bisa disertai dengan
takipneu dan/ takikardia dan biasanya berhubungan
dengan peningkatan local/sistemk inflamasi akibat
infeksi, polusi atau gangguan lain pada saluran napas
23.
Faktor Pemicu
• Infeksivirus (tersering
rhinovirus)
• Infeksi bakteri
• Polusi lingkungan
Pada PPOK eksaserbasi,
peningkatan gejala biasanya
berlangsung selama 7-10
hari, tapi pada beberapa
pasien bisa lebih lama
24.
Klasifikasi Eksaserbasi PPOK
SABDs(Short
Acting
Bronchodilator
s)
Ringan
SABDs dan
Kortikosteroid
oral ± antibiotik
Sedang
Rawat inap atau
ICU
Sering berkaitan
dengan gagal
napas akut
Berat
01 02 03
26.
Pengobatan farmakologis
Bronkodilator:
pemberian bronkodilatorshort
acting bisa menggunakan
nebulizer ataupun inhalasi
inhaler: 1-2 puff/jam selama
dua atau tiga dosis dan
kemudian setiap 2-4 jam
Kortikoste
roid:
Predniso
n 40
mg/hari
selama 5
hari
Antibiotik
Antibiotik harus diberikan pada pasien dengan 3 cardinal symptom :
• Peningkatan dispnea
• Volume sputum
• Purulensi sputum
27.
Bantuan Pernapasan
Terapi oksigen.
•Ini adalah komponen kunci dari perawatan rumah sakit
untuk eksaserbasi.
• Oksigen tambahan harus dititrasi untuk memperbaiki
hipoksemia pasien dengan target saturasi 88-92%.
• Setelah oksigen dimulai, gas darah harus sering diperiksa
untuk memastikan oksigenasi tercapai tanpa retensi
karbon dioksida dan/atau asidosis yang memburuk.
• Pulse oksimeter tidak seakurat pemeriksaan Analisa gas
darah
Nama : Tn.G
No. MR : 486617
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 71 tahun
Alamat : Tambangan
Negeri Asal : Indonesia
Tanggal Pemeriksaan : 9 Mei 2025
Identitas Pasien
30.
Sesak napas yangmeningkat
sejak 1 hari sebelum masuk
Rumah Sakit.
Keluhan utama
31.
• Sesak napasdirasakan meningkat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, sesak napas
menciut, timbul dan memberat dengan aktivitas, sesak tidak dipengaruhi cuaca, makanan
ataupun posisi.
• Pasien telah dikenal dengan PPOK dan mendapat terapi Berotec.
• Batuk berdahak sejak 2 hari yang lalu, dahak kental berwarna kuning, dahak sulit
dikeluarkan, jumlah dahak yang dikeluarkan tidak diketahui oleh pasien.
• Demam sejak 3 hari
• Terbangun malam hari karena sesak ada.
• Nyeri ulu hati ada.
• Keringat malam tidak ada.
• Batuk darah tidak ada, riwayat batuk darah tidak ada.
Riwayat penyakit
sekarang
32.
• Sulit menelantidak ada.
• Mual muntah tidak ada.
• Penurunan nafsu makan tidak ada.
• Keluhan BAB dan BAK tidak ada.
Riwayat penyakit
sekarang
33.
Riwayat Penyakit Dahulu:
● Riwayat PPOK
● Riwayat alergi tidak ada
● Riwayat DM tidak ada
● Riwayat tuberkulosis tidak ada
● Riwayat jantung ada, tidak kontrol rutin
34.
● Riwayat penyakitparu tidak ada
● Riwayat alergi pada keluarga tidak
ada
● Riwayat hipertensi tidak diketahui
● Riwayat DM tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga :
35.
Riwayat Pekerjaan, Sosial,Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan :
● Pasien adalah seorang petani.
● Rumah permanen, lantai semen, ada lantai yang retak,
ventilasi rumah cukup, sumur di dalam rumah.
● Pasien seorang bekas perokok dengan IB berat, sudah
merokok ±40 tahun, sebanyak 2 bungkus per hari.
36.
● Keadaan Umum: Sedang
● Kesadaran : CMC
● Tekanan Darah : 166/81
mmHg
● Nadi : 102 x/menit
● Pernapasan : 30 x/menit
● Suhu : 36,8ºC
● SpO2 : 82%
● Sianosis : (-)
● Ikterus : (-)
● Tinggi Badan : 164 cm
● Berat Badan : 50 kg
● Skor mMRC : 3
● Skor CAT : 24
Pemeriksaan Fisik
37.
● Kepala :Normocephal
● Rambut : Hitam, tidak mudah rontok
● Kulit : Turgor kulit baik, Anemis (-), Ikterik (-) Mata : Konjungtiva Anemis (-/-),
Sklera ikterik (-/-) Telinga : Sekret (-), massa (-), hiperemis (-)
● Hidung : Deviasi septum (-), massa (-), hiperemis (-), sekret (-) Tenggorokan :
Tonsil T1-T1, tidak hiperemis
● Gigi dan mulut : Oral higiene baik
● Leher : JVP 5 cmH2O, tidak ada pembesaran KGB
● Dinding dada : Barrel chest
Status generalisata
38.
● Inspeksi :Statis = simetris kanan dan kiri
● Dinamis = pergerakan dinding dada kanan sama dengan kiri
● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama
● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+), Rhonki
(+/+)
Paru depan
● Inspeksi : Statis = simetris kanan dan kiri
● Dinamis = pergerakan dinding punggung kanan sama
dengan kiri
● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama
● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+),
Rhonki (+/+)
Paru belakang
39.
Jantung
● Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat.
● Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari lateral LMCS RIC V
● Perkusi : Batas atas: RIC II sinistra linea parasternalis sinistra, kanan: RIC V linea
sternalis dekstra, kiri: 1 jari lateral LMCS RIC V
● Auskultasi : S1-S2 Reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
● Inspeksi : Distensi (-)
● Palpasi : Supel, Nyeri Tekan (+), hepar dan lien tidak teraba, massa (-)
● Perkusi : Timpani
● Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas
● Akral hangat, edema tungkai (-/-), CRT <2 detik
Diskusi
keluhan utama -->
sesaknapas
memberat sejak 1 hari
SMRS
batuk berdahak warna
kuning dan demam
Saturasi 82% terdapat infiltrar pada
rontgen thorax
kemungkinan CAP Eksaserbasi PPOK dengan
komplikasi infeksi
meningkatkan risiko gagal
napas dan memperberat
prognosis
47.
mMRC 3 sesaknapas saat berjalan
datar dan mengambil berhenti untuk
mengambil napas setelah berjalan 100
m
CAT24
polutan, pestisida
faktor risiko pada pasien
Skor mMRC 3 dan CAT 24
menunjukkan beban gejala berat riwayat merokok
merokok lebih dari 40 tahun dengan 2
bungkus perhari
IB --> 24x40 = 960
IB Berat
komorbid penyakit
jantung yang tidak
terkontrol
faktor lingkungan
48.
tatalaksana
• Tujuan utama:kurangi dampak eksaserbasi
& cegah kejadian ulang
• Terapi lini pertama: bronkodilator
kombinasi (SABA + SAMA) via nebulisasi
• Terapi steroid sistemik jangka pendek (~5
hari) untuk meredakan inflamasi
• Antibiotik betalaktam (seftriakson) dan
makrolid (azitromisin) untuk infeksi bakteri,
durasi 5 hari
• Rehabilitasi paru: fisioterapi dada dan
latihan pernapasan untuk mobilisasi
dahak dan fungsi paru
• Pemulihan fungsi paru 4–6 minggu,
sering tidak kembali penuh
• Pemantauan ketat dan dukungan medis
serta psikososial penting untuk
optimalkan kualitas hidup pasien
49.
Pendekatan multidisipliner: terapi,
rehabilitasi,edukasi, dan perhatian
pada lingkungan
Penggunaan spirometri untuk
diagnosis dan evaluasi PPOK
Fokus pengelolaan PPOK: pengobatan akut
dan konteks kesehatan pasien secara
menyeluruh untuk hasil klinis optimal
50.
CREDITS: This presentationtemplate was created by
Slidesgo, and includes icons by Flaticon and
infographics & images by Freepik
Terimakasih
Editor's Notes
#5 Eksaserbasi dimana terjadi perburukan gejala PPOK sesak meningkat, saturasi menurun, dan dapat terjadi ancaman gagal napas
#8 Etiologi dan faktor risiko PPOK berasal dari sebuah pneumonik GETomics, yaitu gene(G)-environment(E) interaction over the lifetime(T) of the individual yang dapat menyebabkan kerusakan paru dan dapat merubah pembentukan atau proses pematangan normal paru tersebut
ETS: environmental tobacco smoke
#10 OBS JALAN NAFAS : gangguan pada saluran nafas yang lebih kecil dan kerusakan parenkim paru, proses inflamasi yang berlangsung kronik menyebabkan terjadinya perubahan struktur jalan nafas, mempersempit saluran nafas yang lebih kecil dan kerusakan parenkim paru sehingga kemampuan paru untuk mengembang menurun
KELAINAN PERTUKARAN GAS : Abnormalitas struktural pada saluran udara, alveoli dan sirkulasi pulmonal pada pasien PPOK mengubah keadaan normal distribusi ventilasi-perfusi, Kerusakan parenkim akibat emfisema juga menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru
HIPERTENSI PULMONAL : dapat berkembang pada akhir PPOK dan dapat disebabkan oleh kombinasi dari hilangnya kapiler paru karena emfisema dan/atau vasokonstriksi hipoksia dari arteri pulmonalis kecil.
EKSASERBASI : dipicu oleh sejumlah faktor berbeda, termasuk infeksi pernapasan dengan bakteri atau virus lingkungan, polutan,
MORBIDITAS
#15 Forced vital capacity (FVC) : mengukur volume maksimal udara yang dikeluarkan setelah inspirasi maksimal
Forced ExpiratoryVolume in 1 second (FEV1) : mengukur volume udara yang dikeluarkan pada satu detik pertama setelah inspirasi max
Pemeriksaan post-bronchodilator dilakukan dengan memberikan bonkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, dan 15-20 menit kemudian dilihat perubahan nilai FEV1. Bila perubahan nilai FEV1 <20%, maka ini menunjukkan pembatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Uji ini dilakukan saat PPOK dalam keadaan stabil (di luar eksaserbasi akut). Dari hasil pemeriksaan spirometri setelah pemberian bronkodilator dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi penyakit PPOK berdasarkan derajat obstruksinya.
#23 Jika sputum purulent --- biasanya akibat infeksi bakteri
Eosinofil meningkat di airways, paru, dan darah dg jumlah yg signifikan pada ppok.
Jika eosinophil >> pada sputum/darah --- susp infeksi virus.
Jika eksaserbasi berkaitan dengan peningkatan eosinophil pada sputum atau darah maka responsive dengan sistemik steroid
#25 Short acting inhalasi beta2 agonis dengan/ tanpa short acting antikolinergik direkomendasikan sebagai inisial bronkodilator utk tatalaksana akut eksaserbasi
Kortikosteroid sistemik bisa meningkatkan fungsi paru (FEV1), oksigenasi, dan perpendek durasi rawatan.dimana durasi rawatan seharusnya <5 hari
Antibioyik, saat diindikasikan, bisa mempersingkat waktu pemulihan, emnurunkan resiko relaps lebih cepat, kegagalan terapi, dan durasi rawatan
Methylxanthines tidak direkomendasikan karena bisa meningkatkan efek samping
Ventilasi non invasive sebaiknya jd ventilasi lini pertama yang digunakan pada PPOK dengan gagal napas akut yang tidak ada kontraindikasi karena dapat meningkatkan pertukaran gas, menurunkan kerja na
pas dan butuh intubasi, menurunkan durasi rawatan
#26 Penggunaan kortikosteroid oral dalam waktu lama berkaitan dengan peningkatan resiko pneumonia dan mortalitas
Karena etionya bisa dr virus/bakteri, penggunaan antibiotic sebenarnya masih kontroversi
Antibiotik diberikan pada pasien dengan klinis infeksi bakteri : Peningkatan dan purulensi sputum;
2/3 dari cardinal symptom, jika terjadi peningkatan purulensi sputum adalah dr 2 gejala tersebut, atau memerlukan ventilasi mekanis (invasive atau non invasive)
Penggunaan antibiotic adalah 5 hari
Pilihan antibiotic disesuaikan dengan pola local bacterial resisten. Tapi inisial treatmentnya adalah aminopenicillin dengan asam clavulanic, macrolide atau tetrasiklin