Chronic Obstructive
Pulmonary Disease
(COPD) Case Study
dr. Maghfira Ramadhani
Pembimbing :
dr. Hari Nandi Pinto, Sp.P
dr. Dessy Rahmawati
Latar
belakang
01
penyakit paru yang ditandai oleh
hambatan aliran udara yang
bersifat progresif, ireversibel,
dan berhubungan dengan respon
inflamasi paru terhadap partikel
atau gas yang beracun/berbahaya
PPOK
• penyebab keempat kematian secara global
• diperkirakan 2030 akan ada lebih dari 4,5
juta kematian setiap tahun akibat PPOK
tertinggi pada provinsi Nusa Tenggara Timur 10%,
provinsi Sumatera Barat prevalensi berada di angka
3,0%.
Riskesdas 2013
65 Juta orang dunia
menderita PPOK derajat
sedang hingga berat
WHO
RISKESDAS tahun 2013
sekitar 9,2 juta penduduk
Indonesia
PPOK
PPOK merupakan masalah kesehatan
masyarakat utama yang terkait dengan
peningkatan morbiditas dan mortalitas di
seluruh dunia
Morbiditas  menurunkan status fungsional
dan kualitas hidup
penyebab penting morbiditas PPOK adalah
kejadian eksaserbasi.
Tinjauan
Pustaka
02
DEFINISI
Penyakit paru heterogen, dengan gejala respirasi kronik:
1. Sesak napas
2. Batuk
3. Produksi sputum, dan atau
4. Eksaserbasi
Disertai abnormalitas saluran napas:
5. Bronkitis
6. Bronkiolitis, dan atau
7. Emfisema
YANG MENYEBABKAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS PERSISTEN DAN
PROGRESIF
ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO
GETomics
Mutasi SERPINA
1: a1 antitrypsin
deficiency
GENE
Interaction
occurring over
lifetime
ENVIRONMENT
Rokok
ETS
Inhalasi partikel toksik
Polusi udara
Host + environment:
Abnormal lung dev
Accelerated lung aging
Damage lung:
Alter lung dev
Aging processes
multimor
bidity
02
PULMONA
RY HT
04
PULMONARY
GAS
EXCHANGE
ABN 03
With gas
trapping
AIRWAY
OBS
01
EXACERBA
TIONS
05
PATOFISIOLOGI
Diagnosis
Pemfis (inspeksi)
mekanisme tubuh yang
berusaha mengeluarkan
CO2
retraksi dinding dada,
hipertropi otot bantu nafas,
serta pelebaran sela iga
gambaran yang khas pada
emfisema, yaitu kulit
kemerahan pasien kurus,
dan pernafasan pursed-lips
breathing
gambaran khas pada
bronkitis kronis, yaitu pasien
tampak sianosis sentral serta
perifer, gemuk, terdapat
edema tungkai dan ronki
basah di basal paru
Pursed-lips breathing Penggunaan otot bantu
napas
Barrel chest
merupakan penurunan
perbandingan diameter antero
posterior dan transversal pada
rongga dada akibat usaha
memperbesar volume paru
Pink puffer Blue bloater
Pemfis
Palpasi Perkusi
vokal fremitus melemah
dan sela iga melebar
Hipersonor akibat
peningkatan jumlah udara
yang terperangkap, batas
jantung mengecil, letak
diafragma rendah, hepar
terdorong ke bawah
terutama pada emfisema
ronki dan atau mengi pada
waktu bernafas biasa atau
pada ekspirasi paksa,
ekspirasi memanjang
Auskultasi
Pemeriksaan penunjang
Ro Thorax
• emfisema gambaran hiperinflasi, yaitu
diafragma rendah dan rata, hiperlusensi,
ruang retrosternal melebar, diafragma
mendatar, dan jantung pendulum
• bronkitis kronis hasil yang normal
ataupun dapat terlihat corakan
bronkovaskuler yang meningkat disertai
sebagian bagian yang hiperlusen.
• Bronkitis kronis : hipoksemi yang
sedang sampai berat pada
pemberian oksigen 100%. asidosis
respiratorik kronik yang
terkompensasi
• Emfisema : normoksia atau
hipoksia ringan, dan normokapnia
untuk mengetahui pola kuman
dan memilih antibiotik yang
tepat
untuk mengetahui adanya faktor
pencetus seperti leukositosis
akibat infeksi
EKG  mengetahui cor pulmonal
atau hipertensi pulmonal
uji latih kardiopulmoner, uji provokasi
bronkus, CT-scan resolusi tinggi,
ekokardiografi, dan pemeriksaan
kadar alpha-1 antitryipsin (jarang
dilakukan)
Pemeriksaan Penunjang
AGD
Pemeriksaan darah rutin
Pemeriksaan sputum
Penunjang lainnya
Farmakologi
PPOK Stabil
Eksaserbasi PPOK
• Suatu keadaan yang ditandai dengan peningkatan
progresif sesak nafas dan/ batuk serta produksi sputum
yang memburuk dalam <14 hari yang bisa disertai dengan
takipneu dan/ takikardia dan biasanya berhubungan
dengan peningkatan local/sistemk inflamasi akibat
infeksi, polusi atau gangguan lain pada saluran napas
Faktor Pemicu
• Infeksi virus (tersering
rhinovirus)
• Infeksi bakteri
• Polusi lingkungan
Pada PPOK eksaserbasi,
peningkatan gejala biasanya
berlangsung selama 7-10
hari, tapi pada beberapa
pasien bisa lebih lama
Klasifikasi Eksaserbasi PPOK
SABDs (Short
Acting
Bronchodilator
s)
Ringan
SABDs dan
Kortikosteroid
oral ± antibiotik
Sedang
Rawat inap atau
ICU
Sering berkaitan
dengan gagal
napas akut
Berat
01 02 03
Pengobatan farmakologis
Bronkodilator:
pemberian bronkodilator short
acting bisa menggunakan
nebulizer ataupun inhalasi
inhaler: 1-2 puff/jam selama
dua atau tiga dosis dan
kemudian setiap 2-4 jam
Kortikoste
roid:
Predniso
n 40
mg/hari
selama 5
hari
Antibiotik
Antibiotik harus diberikan pada pasien dengan 3 cardinal symptom :
• Peningkatan dispnea
• Volume sputum
• Purulensi sputum
Bantuan Pernapasan
Terapi oksigen.
• Ini adalah komponen kunci dari perawatan rumah sakit
untuk eksaserbasi.
• Oksigen tambahan harus dititrasi untuk memperbaiki
hipoksemia pasien dengan target saturasi 88-92%.
• Setelah oksigen dimulai, gas darah harus sering diperiksa
untuk memastikan oksigenasi tercapai tanpa retensi
karbon dioksida dan/atau asidosis yang memburuk.
• Pulse oksimeter tidak seakurat pemeriksaan Analisa gas
darah
Laporan
Kasus
03
Nama : Tn. G
No. MR : 486617
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 71 tahun
Alamat : Tambangan
Negeri Asal : Indonesia
Tanggal Pemeriksaan : 9 Mei 2025
Identitas Pasien
Sesak napas yang meningkat
sejak 1 hari sebelum masuk
Rumah Sakit.
Keluhan utama
• Sesak napas dirasakan meningkat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, sesak napas
menciut, timbul dan memberat dengan aktivitas, sesak tidak dipengaruhi cuaca, makanan
ataupun posisi.
• Pasien telah dikenal dengan PPOK dan mendapat terapi Berotec.
• Batuk berdahak sejak 2 hari yang lalu, dahak kental berwarna kuning, dahak sulit
dikeluarkan, jumlah dahak yang dikeluarkan tidak diketahui oleh pasien.
• Demam sejak 3 hari
• Terbangun malam hari karena sesak ada.
• Nyeri ulu hati ada.
• Keringat malam tidak ada.
• Batuk darah tidak ada, riwayat batuk darah tidak ada.
Riwayat penyakit
sekarang
• Sulit menelan tidak ada.
• Mual muntah tidak ada.
• Penurunan nafsu makan tidak ada.
• Keluhan BAB dan BAK tidak ada.
Riwayat penyakit
sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu :
● Riwayat PPOK
● Riwayat alergi tidak ada
● Riwayat DM tidak ada
● Riwayat tuberkulosis tidak ada
● Riwayat jantung ada, tidak kontrol rutin
● Riwayat penyakit paru tidak ada
● Riwayat alergi pada keluarga tidak
ada
● Riwayat hipertensi tidak diketahui
● Riwayat DM tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan :
● Pasien adalah seorang petani.
● Rumah permanen, lantai semen, ada lantai yang retak,
ventilasi rumah cukup, sumur di dalam rumah.
● Pasien seorang bekas perokok dengan IB berat, sudah
merokok ±40 tahun, sebanyak 2 bungkus per hari.
● Keadaan Umum : Sedang
● Kesadaran : CMC
● Tekanan Darah : 166/81
mmHg
● Nadi : 102 x/menit
● Pernapasan : 30 x/menit
● Suhu : 36,8ºC
● SpO2 : 82%
● Sianosis : (-)
● Ikterus : (-)
● Tinggi Badan : 164 cm
● Berat Badan : 50 kg
● Skor mMRC : 3
● Skor CAT : 24
Pemeriksaan Fisik
● Kepala : Normocephal
● Rambut : Hitam, tidak mudah rontok
● Kulit : Turgor kulit baik, Anemis (-), Ikterik (-) Mata : Konjungtiva Anemis (-/-),
Sklera ikterik (-/-) Telinga : Sekret (-), massa (-), hiperemis (-)
● Hidung : Deviasi septum (-), massa (-), hiperemis (-), sekret (-) Tenggorokan :
Tonsil T1-T1, tidak hiperemis
● Gigi dan mulut : Oral higiene baik
● Leher : JVP 5 cmH2O, tidak ada pembesaran KGB
● Dinding dada : Barrel chest
Status generalisata
● Inspeksi : Statis = simetris kanan dan kiri
● Dinamis = pergerakan dinding dada kanan sama dengan kiri
● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama
● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+), Rhonki
(+/+)
Paru depan
● Inspeksi : Statis = simetris kanan dan kiri
● Dinamis = pergerakan dinding punggung kanan sama
dengan kiri
● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama
● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+),
Rhonki (+/+)
Paru belakang
Jantung
● Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.
● Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari lateral LMCS RIC V
● Perkusi : Batas atas: RIC II sinistra linea parasternalis sinistra, kanan: RIC V linea
sternalis dekstra, kiri: 1 jari lateral LMCS RIC V
● Auskultasi : S1-S2 Reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
● Inspeksi : Distensi (-)
● Palpasi : Supel, Nyeri Tekan (+), hepar dan lien tidak teraba, massa (-)
● Perkusi : Timpani
● Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas
● Akral hangat, edema tungkai (-/-), CRT <2 detik
Pemeriksaan
penunjang
• Laboratorium (08/05/25)
• Hb/Ht/Leu/Trom : 14,4/43/9.850/240.000
• GDS : 132
• Ur/Cr : 28/0,8
• Na/K/Cl : 140/4.4/106
Ro thorax
Sela iga melebar, jantung
pendulum, diafragma
mendatar, CBV meningkat,
terdapat infiltrat
spirometri
Diagnosis
PPOK Eksaserbasi Akut Tipe Moderate pada Populasi E
Dyspepsia
Pneumonia unspesified
Terapi
• IVFD NaCl 0,9% + drip aminofilin 12 jam/kolf
• inj ceftriaxone 2x1 gr
• inj metilprednisolon2x125 mg
• inj ranitidin 2x1 amp
• inj omeprazol 2x1 amp
• nebu combivent 3x1 selang seling nairet 3x0,4 cc
• azitromisin 1x500mg
• ambroxol 3x1 tab
• curcuma 3x1 tab
Diskusi
04
Diskusi
keluhan utama -->
sesak napas
memberat sejak 1 hari
SMRS
batuk berdahak warna
kuning dan demam
Saturasi 82% terdapat infiltrar pada
rontgen thorax
kemungkinan CAP Eksaserbasi PPOK dengan
komplikasi infeksi
meningkatkan risiko gagal
napas dan memperberat
prognosis
mMRC 3 sesak napas saat berjalan
datar dan mengambil berhenti untuk
mengambil napas setelah berjalan 100
m
CAT24
polutan, pestisida
faktor risiko pada pasien
Skor mMRC 3 dan CAT 24
menunjukkan beban gejala berat riwayat merokok
merokok lebih dari 40 tahun dengan 2
bungkus perhari
IB --> 24x40 = 960
IB Berat
komorbid penyakit
jantung yang tidak
terkontrol
faktor lingkungan
tatalaksana
• Tujuan utama: kurangi dampak eksaserbasi
& cegah kejadian ulang
• Terapi lini pertama: bronkodilator
kombinasi (SABA + SAMA) via nebulisasi
• Terapi steroid sistemik jangka pendek (~5
hari) untuk meredakan inflamasi
• Antibiotik betalaktam (seftriakson) dan
makrolid (azitromisin) untuk infeksi bakteri,
durasi 5 hari
• Rehabilitasi paru: fisioterapi dada dan
latihan pernapasan untuk mobilisasi
dahak dan fungsi paru
• Pemulihan fungsi paru 4–6 minggu,
sering tidak kembali penuh
• Pemantauan ketat dan dukungan medis
serta psikososial penting untuk
optimalkan kualitas hidup pasien
Pendekatan multidisipliner: terapi,
rehabilitasi, edukasi, dan perhatian
pada lingkungan
Penggunaan spirometri untuk
diagnosis dan evaluasi PPOK
Fokus pengelolaan PPOK: pengobatan akut
dan konteks kesehatan pasien secara
menyeluruh untuk hasil klinis optimal
CREDITS: This presentation template was created by
Slidesgo, and includes icons by Flaticon and
infographics & images by Freepik
Terimakasih

Chronic Obstructive Pulmonary Disease COPD

  • 1.
    Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD)Case Study dr. Maghfira Ramadhani Pembimbing : dr. Hari Nandi Pinto, Sp.P dr. Dessy Rahmawati
  • 2.
  • 3.
    penyakit paru yangditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat progresif, ireversibel, dan berhubungan dengan respon inflamasi paru terhadap partikel atau gas yang beracun/berbahaya PPOK
  • 4.
    • penyebab keempatkematian secara global • diperkirakan 2030 akan ada lebih dari 4,5 juta kematian setiap tahun akibat PPOK tertinggi pada provinsi Nusa Tenggara Timur 10%, provinsi Sumatera Barat prevalensi berada di angka 3,0%. Riskesdas 2013 65 Juta orang dunia menderita PPOK derajat sedang hingga berat WHO RISKESDAS tahun 2013 sekitar 9,2 juta penduduk Indonesia PPOK
  • 5.
    PPOK merupakan masalahkesehatan masyarakat utama yang terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia Morbiditas  menurunkan status fungsional dan kualitas hidup penyebab penting morbiditas PPOK adalah kejadian eksaserbasi.
  • 6.
  • 7.
    DEFINISI Penyakit paru heterogen,dengan gejala respirasi kronik: 1. Sesak napas 2. Batuk 3. Produksi sputum, dan atau 4. Eksaserbasi Disertai abnormalitas saluran napas: 5. Bronkitis 6. Bronkiolitis, dan atau 7. Emfisema YANG MENYEBABKAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS PERSISTEN DAN PROGRESIF
  • 8.
    ETIOLOGI, FAKTOR RISIKO GETomics MutasiSERPINA 1: a1 antitrypsin deficiency GENE Interaction occurring over lifetime ENVIRONMENT Rokok ETS Inhalasi partikel toksik Polusi udara Host + environment: Abnormal lung dev Accelerated lung aging Damage lung: Alter lung dev Aging processes
  • 10.
    multimor bidity 02 PULMONA RY HT 04 PULMONARY GAS EXCHANGE ABN 03 Withgas trapping AIRWAY OBS 01 EXACERBA TIONS 05 PATOFISIOLOGI
  • 11.
  • 13.
    Pemfis (inspeksi) mekanisme tubuhyang berusaha mengeluarkan CO2 retraksi dinding dada, hipertropi otot bantu nafas, serta pelebaran sela iga gambaran yang khas pada emfisema, yaitu kulit kemerahan pasien kurus, dan pernafasan pursed-lips breathing gambaran khas pada bronkitis kronis, yaitu pasien tampak sianosis sentral serta perifer, gemuk, terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru Pursed-lips breathing Penggunaan otot bantu napas Barrel chest merupakan penurunan perbandingan diameter antero posterior dan transversal pada rongga dada akibat usaha memperbesar volume paru Pink puffer Blue bloater
  • 14.
    Pemfis Palpasi Perkusi vokal fremitusmelemah dan sela iga melebar Hipersonor akibat peningkatan jumlah udara yang terperangkap, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah terutama pada emfisema ronki dan atau mengi pada waktu bernafas biasa atau pada ekspirasi paksa, ekspirasi memanjang Auskultasi
  • 15.
  • 16.
    Ro Thorax • emfisemagambaran hiperinflasi, yaitu diafragma rendah dan rata, hiperlusensi, ruang retrosternal melebar, diafragma mendatar, dan jantung pendulum • bronkitis kronis hasil yang normal ataupun dapat terlihat corakan bronkovaskuler yang meningkat disertai sebagian bagian yang hiperlusen.
  • 17.
    • Bronkitis kronis: hipoksemi yang sedang sampai berat pada pemberian oksigen 100%. asidosis respiratorik kronik yang terkompensasi • Emfisema : normoksia atau hipoksia ringan, dan normokapnia untuk mengetahui pola kuman dan memilih antibiotik yang tepat untuk mengetahui adanya faktor pencetus seperti leukositosis akibat infeksi EKG  mengetahui cor pulmonal atau hipertensi pulmonal uji latih kardiopulmoner, uji provokasi bronkus, CT-scan resolusi tinggi, ekokardiografi, dan pemeriksaan kadar alpha-1 antitryipsin (jarang dilakukan) Pemeriksaan Penunjang AGD Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan sputum Penunjang lainnya
  • 19.
  • 22.
    Eksaserbasi PPOK • Suatukeadaan yang ditandai dengan peningkatan progresif sesak nafas dan/ batuk serta produksi sputum yang memburuk dalam <14 hari yang bisa disertai dengan takipneu dan/ takikardia dan biasanya berhubungan dengan peningkatan local/sistemk inflamasi akibat infeksi, polusi atau gangguan lain pada saluran napas
  • 23.
    Faktor Pemicu • Infeksivirus (tersering rhinovirus) • Infeksi bakteri • Polusi lingkungan Pada PPOK eksaserbasi, peningkatan gejala biasanya berlangsung selama 7-10 hari, tapi pada beberapa pasien bisa lebih lama
  • 24.
    Klasifikasi Eksaserbasi PPOK SABDs(Short Acting Bronchodilator s) Ringan SABDs dan Kortikosteroid oral ± antibiotik Sedang Rawat inap atau ICU Sering berkaitan dengan gagal napas akut Berat 01 02 03
  • 26.
    Pengobatan farmakologis Bronkodilator: pemberian bronkodilatorshort acting bisa menggunakan nebulizer ataupun inhalasi inhaler: 1-2 puff/jam selama dua atau tiga dosis dan kemudian setiap 2-4 jam Kortikoste roid: Predniso n 40 mg/hari selama 5 hari Antibiotik Antibiotik harus diberikan pada pasien dengan 3 cardinal symptom : • Peningkatan dispnea • Volume sputum • Purulensi sputum
  • 27.
    Bantuan Pernapasan Terapi oksigen. •Ini adalah komponen kunci dari perawatan rumah sakit untuk eksaserbasi. • Oksigen tambahan harus dititrasi untuk memperbaiki hipoksemia pasien dengan target saturasi 88-92%. • Setelah oksigen dimulai, gas darah harus sering diperiksa untuk memastikan oksigenasi tercapai tanpa retensi karbon dioksida dan/atau asidosis yang memburuk. • Pulse oksimeter tidak seakurat pemeriksaan Analisa gas darah
  • 28.
  • 29.
    Nama : Tn.G No. MR : 486617 Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 71 tahun Alamat : Tambangan Negeri Asal : Indonesia Tanggal Pemeriksaan : 9 Mei 2025 Identitas Pasien
  • 30.
    Sesak napas yangmeningkat sejak 1 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Keluhan utama
  • 31.
    • Sesak napasdirasakan meningkat sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit, sesak napas menciut, timbul dan memberat dengan aktivitas, sesak tidak dipengaruhi cuaca, makanan ataupun posisi. • Pasien telah dikenal dengan PPOK dan mendapat terapi Berotec. • Batuk berdahak sejak 2 hari yang lalu, dahak kental berwarna kuning, dahak sulit dikeluarkan, jumlah dahak yang dikeluarkan tidak diketahui oleh pasien. • Demam sejak 3 hari • Terbangun malam hari karena sesak ada. • Nyeri ulu hati ada. • Keringat malam tidak ada. • Batuk darah tidak ada, riwayat batuk darah tidak ada. Riwayat penyakit sekarang
  • 32.
    • Sulit menelantidak ada. • Mual muntah tidak ada. • Penurunan nafsu makan tidak ada. • Keluhan BAB dan BAK tidak ada. Riwayat penyakit sekarang
  • 33.
    Riwayat Penyakit Dahulu: ● Riwayat PPOK ● Riwayat alergi tidak ada ● Riwayat DM tidak ada ● Riwayat tuberkulosis tidak ada ● Riwayat jantung ada, tidak kontrol rutin
  • 34.
    ● Riwayat penyakitparu tidak ada ● Riwayat alergi pada keluarga tidak ada ● Riwayat hipertensi tidak diketahui ● Riwayat DM tidak ada Riwayat Penyakit Keluarga :
  • 35.
    Riwayat Pekerjaan, Sosial,Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan : ● Pasien adalah seorang petani. ● Rumah permanen, lantai semen, ada lantai yang retak, ventilasi rumah cukup, sumur di dalam rumah. ● Pasien seorang bekas perokok dengan IB berat, sudah merokok ±40 tahun, sebanyak 2 bungkus per hari.
  • 36.
    ● Keadaan Umum: Sedang ● Kesadaran : CMC ● Tekanan Darah : 166/81 mmHg ● Nadi : 102 x/menit ● Pernapasan : 30 x/menit ● Suhu : 36,8ºC ● SpO2 : 82% ● Sianosis : (-) ● Ikterus : (-) ● Tinggi Badan : 164 cm ● Berat Badan : 50 kg ● Skor mMRC : 3 ● Skor CAT : 24 Pemeriksaan Fisik
  • 37.
    ● Kepala :Normocephal ● Rambut : Hitam, tidak mudah rontok ● Kulit : Turgor kulit baik, Anemis (-), Ikterik (-) Mata : Konjungtiva Anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-) Telinga : Sekret (-), massa (-), hiperemis (-) ● Hidung : Deviasi septum (-), massa (-), hiperemis (-), sekret (-) Tenggorokan : Tonsil T1-T1, tidak hiperemis ● Gigi dan mulut : Oral higiene baik ● Leher : JVP 5 cmH2O, tidak ada pembesaran KGB ● Dinding dada : Barrel chest Status generalisata
  • 38.
    ● Inspeksi :Statis = simetris kanan dan kiri ● Dinamis = pergerakan dinding dada kanan sama dengan kiri ● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama ● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru ● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+), Rhonki (+/+) Paru depan ● Inspeksi : Statis = simetris kanan dan kiri ● Dinamis = pergerakan dinding punggung kanan sama dengan kiri ● Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama ● Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru ● Auskultasi : SN ekspirasi memanjang, Wheezing (+/+), Rhonki (+/+) Paru belakang
  • 39.
    Jantung ● Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat. ● Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari lateral LMCS RIC V ● Perkusi : Batas atas: RIC II sinistra linea parasternalis sinistra, kanan: RIC V linea sternalis dekstra, kiri: 1 jari lateral LMCS RIC V ● Auskultasi : S1-S2 Reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen ● Inspeksi : Distensi (-) ● Palpasi : Supel, Nyeri Tekan (+), hepar dan lien tidak teraba, massa (-) ● Perkusi : Timpani ● Auskultasi : Bising usus (+) normal Ekstremitas ● Akral hangat, edema tungkai (-/-), CRT <2 detik
  • 40.
    Pemeriksaan penunjang • Laboratorium (08/05/25) •Hb/Ht/Leu/Trom : 14,4/43/9.850/240.000 • GDS : 132 • Ur/Cr : 28/0,8 • Na/K/Cl : 140/4.4/106
  • 41.
    Ro thorax Sela igamelebar, jantung pendulum, diafragma mendatar, CBV meningkat, terdapat infiltrat
  • 42.
  • 43.
    Diagnosis PPOK Eksaserbasi AkutTipe Moderate pada Populasi E Dyspepsia Pneumonia unspesified
  • 44.
    Terapi • IVFD NaCl0,9% + drip aminofilin 12 jam/kolf • inj ceftriaxone 2x1 gr • inj metilprednisolon2x125 mg • inj ranitidin 2x1 amp • inj omeprazol 2x1 amp • nebu combivent 3x1 selang seling nairet 3x0,4 cc • azitromisin 1x500mg • ambroxol 3x1 tab • curcuma 3x1 tab
  • 45.
  • 46.
    Diskusi keluhan utama --> sesaknapas memberat sejak 1 hari SMRS batuk berdahak warna kuning dan demam Saturasi 82% terdapat infiltrar pada rontgen thorax kemungkinan CAP Eksaserbasi PPOK dengan komplikasi infeksi meningkatkan risiko gagal napas dan memperberat prognosis
  • 47.
    mMRC 3 sesaknapas saat berjalan datar dan mengambil berhenti untuk mengambil napas setelah berjalan 100 m CAT24 polutan, pestisida faktor risiko pada pasien Skor mMRC 3 dan CAT 24 menunjukkan beban gejala berat riwayat merokok merokok lebih dari 40 tahun dengan 2 bungkus perhari IB --> 24x40 = 960 IB Berat komorbid penyakit jantung yang tidak terkontrol faktor lingkungan
  • 48.
    tatalaksana • Tujuan utama:kurangi dampak eksaserbasi & cegah kejadian ulang • Terapi lini pertama: bronkodilator kombinasi (SABA + SAMA) via nebulisasi • Terapi steroid sistemik jangka pendek (~5 hari) untuk meredakan inflamasi • Antibiotik betalaktam (seftriakson) dan makrolid (azitromisin) untuk infeksi bakteri, durasi 5 hari • Rehabilitasi paru: fisioterapi dada dan latihan pernapasan untuk mobilisasi dahak dan fungsi paru • Pemulihan fungsi paru 4–6 minggu, sering tidak kembali penuh • Pemantauan ketat dan dukungan medis serta psikososial penting untuk optimalkan kualitas hidup pasien
  • 49.
    Pendekatan multidisipliner: terapi, rehabilitasi,edukasi, dan perhatian pada lingkungan Penggunaan spirometri untuk diagnosis dan evaluasi PPOK Fokus pengelolaan PPOK: pengobatan akut dan konteks kesehatan pasien secara menyeluruh untuk hasil klinis optimal
  • 50.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, and includes icons by Flaticon and infographics & images by Freepik Terimakasih

Editor's Notes

  • #5 Eksaserbasi  dimana terjadi perburukan gejala PPOK sesak meningkat, saturasi menurun, dan dapat terjadi ancaman gagal napas
  • #8 Etiologi dan faktor risiko PPOK berasal dari sebuah pneumonik GETomics, yaitu gene(G)-environment(E) interaction over the lifetime(T) of the individual yang dapat menyebabkan kerusakan paru dan dapat merubah pembentukan atau proses pematangan normal paru tersebut ETS: environmental tobacco smoke
  • #10 OBS JALAN NAFAS : gangguan pada saluran nafas yang lebih kecil dan kerusakan parenkim paru, proses inflamasi yang berlangsung kronik menyebabkan terjadinya perubahan struktur jalan nafas, mempersempit saluran nafas yang lebih kecil dan kerusakan parenkim paru sehingga kemampuan paru untuk mengembang menurun KELAINAN PERTUKARAN GAS : Abnormalitas struktural pada saluran udara, alveoli dan sirkulasi pulmonal pada pasien PPOK mengubah keadaan normal distribusi ventilasi-perfusi, Kerusakan parenkim akibat emfisema juga menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru HIPERTENSI PULMONAL : dapat berkembang pada akhir PPOK dan dapat disebabkan oleh kombinasi dari hilangnya kapiler paru karena emfisema dan/atau vasokonstriksi hipoksia dari arteri pulmonalis kecil. EKSASERBASI : dipicu oleh sejumlah faktor berbeda, termasuk infeksi pernapasan dengan bakteri atau virus lingkungan, polutan, MORBIDITAS
  • #15 Forced vital capacity (FVC) : mengukur volume maksimal udara yang dikeluarkan setelah inspirasi maksimal Forced ExpiratoryVolume in 1 second (FEV1) : mengukur volume udara yang dikeluarkan pada satu detik pertama setelah inspirasi max Pemeriksaan post-bronchodilator dilakukan dengan memberikan bonkodilator inhalasi sebanyak 8 hisapan, dan 15-20 menit kemudian dilihat perubahan nilai FEV1. Bila perubahan nilai FEV1 <20%, maka ini menunjukkan pembatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Uji ini dilakukan saat PPOK dalam keadaan stabil (di luar eksaserbasi akut). Dari hasil pemeriksaan spirometri setelah pemberian bronkodilator dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi penyakit PPOK berdasarkan derajat obstruksinya.
  • #23 Jika sputum purulent --- biasanya akibat infeksi bakteri Eosinofil meningkat di airways, paru, dan darah dg jumlah yg signifikan pada ppok. Jika eosinophil >> pada sputum/darah --- susp infeksi virus. Jika eksaserbasi berkaitan dengan peningkatan eosinophil pada sputum atau darah maka responsive dengan sistemik steroid
  • #25 Short acting inhalasi beta2 agonis dengan/ tanpa short acting antikolinergik direkomendasikan sebagai inisial bronkodilator utk tatalaksana akut eksaserbasi Kortikosteroid sistemik bisa meningkatkan fungsi paru (FEV1), oksigenasi, dan perpendek durasi rawatan.dimana durasi rawatan seharusnya <5 hari Antibioyik, saat diindikasikan, bisa mempersingkat waktu pemulihan, emnurunkan resiko relaps lebih cepat, kegagalan terapi, dan durasi rawatan Methylxanthines tidak direkomendasikan karena bisa meningkatkan efek samping Ventilasi non invasive sebaiknya jd ventilasi lini pertama yang digunakan pada PPOK dengan gagal napas akut yang tidak ada kontraindikasi karena dapat meningkatkan pertukaran gas, menurunkan kerja na pas dan butuh intubasi, menurunkan durasi rawatan
  • #26 Penggunaan kortikosteroid oral dalam waktu lama berkaitan dengan peningkatan resiko pneumonia dan mortalitas Karena etionya bisa dr virus/bakteri, penggunaan antibiotic sebenarnya masih kontroversi Antibiotik diberikan pada pasien dengan klinis infeksi bakteri : Peningkatan dan purulensi sputum; 2/3 dari cardinal symptom, jika terjadi peningkatan purulensi sputum adalah dr 2 gejala tersebut, atau memerlukan ventilasi mekanis (invasive atau non invasive) Penggunaan antibiotic adalah 5 hari Pilihan antibiotic disesuaikan dengan pola local bacterial resisten. Tapi inisial treatmentnya adalah aminopenicillin dengan asam clavulanic, macrolide atau tetrasiklin