1
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY.L
UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI,S.TR.KEB
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
KARYA TULIS ILMIAH
Disusun Oleh :
N a m a : IIF SARIFAH
NIM : 201308025
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
2
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY.L
UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI,S.TR.KEB
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan
DISUSUN OLEH :
IIF SARIFAH
NIM :201308025
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
i
Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan
Tim penguji
LEMBAR PERSETUJUAN
Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan
Tim penguji dalam Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila
Hari :
Tanggal :
Pembimbing
Elen Mariani,S.ST.,M.KES
NIK : 2011041008
ii
3
Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma
Penguji I
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila Pada :
Hari
Tanggal
Penguji I Penguji II
Mengetahui
Direktur,
Dr. Wazni Adila, MPA
NIK : 2011041008
iii
4
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
5
CURICULUM VITAE
Nama : IIF SARIFAH
NIM : 201308025
Tempat/Tanggal Lahir : Margomulyo, 04 April 1994
Alamat : Margo Dadi, Kec. Tumijajar
Kab.Tulang Bawang Barat
Institusi : Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung
AngkatanVIII (2013/2016)
No Riwayat Pendidikan Tahun
1 SDN 1 Margo Dadi Tumijajar Tulang Bawang
Barat
2001-2007
2 SMPN 1 Tumijajar Tulang Bawang Barat 2007-2010
3 SMA PGRI Tumijajar Tulang Bawang Barat 2010-2013
4 Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung 2013-sekarang
iv
6
MOTTO
Jika kita berusaha, maka kesuksesan
akan selalu ada untuk kita.
By:iif Sarifah
v
7
PERSEMBAHAN
Alhamdulillahirabbilalamin. Seagala puji hanya bagi allah SWT, sebagai rasa
syukur yang tidak bisa diuntaikan dengan segala sesuatu, akhirnya dengan
segala rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Kupersembahkan Karya Tulis ku ini untuk orang-orang yang selalu mengiringi
langkahku dengan doanya dan kasih sayang yang tiada hentinya.
 Terima kasih banyak untuk kedua orang tua ku yaitu mamak dan bapak
yang selalu memberi semangat iif selama ini, yang berjuang
membesarkan iif dan adik tanpa pernah mengeluh sedikitpun.
 Terima kasih juga buat Uda Jimmy Aldian Sp yang selalu memberi
semangat
 Terima kasih banyak buat bu Elen Mariani, S.ST, M.Kes yang sudah
membimbing saya dalam mengerjakan Karya Tulis Ilmiah ini
 Serta teman-teman angkatan VIII Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung tempat penulis menuntut ilmu selama 3 tahun terahir ini.
terima kasih untuk semangat dan suport nya selama ini.
vi
8
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY.L
UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POT PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI, S.TR.KEB
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
Elen Mariani S.ST.,M,Kes Iif Sarifah
INTISARI
WHO mengemukakan bahwa 500.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat
komplikasi kehamilan dan melahirkan dan sebagian besar kematian terjadi selama
atau segera setelah melahirkan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk
diperolehnya pengalaman nyata dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu
nifas 6 jam post partum dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan
varney. Metode yang digunakan penulis dalam Study kasus ini adalah metodologi
penelitian Deskriptif dengan pendekatan study kasus.Subjek yang diambil ini
adalah satu orang ibu nifas yaitu Ny.L umur 23 tahun, objektifnya ibu nifas 6 jam
post partum. Kesimpulan hasil ini ibu dalam keadaan sehat dan tidak ada penyulit
yang berhubungan dengan masa nifas namun ditemukan adanya kesenjangan yaitu
pada adat istiadat. Saran utama diharapkan ibu tidak mengikuti adat istiadat
setempat untuk bayi selanjutnya. Sehingga bayi dapat mendapatkan ASI
colostrums yang baik bagi bayi dan menambah kekebalan bagi tubuh bayi.
Kata Kunci :Masa Nifas 6 Jam Post Partum
Kepustakaan :24 refrensi (2007-2015)
Jumlah Halaman :136 Halaman
vii
9
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam
bentuk study kasus kebidanan yang berjudul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas
Terhadap Ny.L Umur 23 Tahun P10 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016”. Karya Tulis Ilmiah ini dapat
terselesaikan berkat bantuan berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. dr. Wazni Adila MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung
2. Elen Mariani S.ST.M.Kes selaku pembimbing Karya Tulis Ilmiah
3. BPS Desy Andriani S.Tr.Keb Bandar Lampung sebagai tempat pengambil
penelitian
4. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
5. Terimakasih untuk teman-teman angkatan delapan yang selalu memberi
dukungan dan semangat yang luar biasa.
Penulis menyadari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oeh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun guna perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga Karya
Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca umum
Bandar Lampung, Juli 2016
Penulis
viii
10
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN .......................................................................ii
LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................iii
INTISARI....................................................................................................iv
MOTTO ......................................................................................................v
CURRICULUM VITAE.............................................................................vi
PERSEMBAHAN .......................................................................................vii
KATA PENGANTAR.................................................................................viii
DAFTAR ISI...............................................................................................ix
DAFTAR TABEL .......................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..........................................................................1
B. Rumusan Masalah ......................................................................3
C. Tujuan Penelitian........................................................................4
D. Ruang Lingkup...........................................................................5
E. Manfaat Penelitian .....................................................................6
F. Metode Pengumpulan Data.........................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori Medis .................................................................10
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan..............................................41
C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan.........................................55
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Pengkajaian Data........................................................................63
B. Matriks.......................................................................................76
BAB IV PEMBAHASAN
A. Klien ..........................................................................................86
B. Pengumpulan Data Dasar............................................................116
C. Interpretasi Data Untuk Mengidentifikasi Diagnosa/Masalah......120
D. Mengidentifikasi Diagnosis Atau Masalah Potensial
Dan Mengantisipasi Penanganannya...........................................121
E. Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera,
Untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi Dengan Tenaga
Kesehataan Lain Berdasarkan Kondisi Menyusun Rencana
Asuhan Yang Menyeluruh ..........................................................122
F. Pelaksanaan Langsung Asuhandengan Efisien Dan Aman ..........124
G. Mengefaluasi .............................................................................129
ix
11
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................132
B. Saran ..........................................................................................134
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
12
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Kebijakan Program Masa Nifas....................................................15
Tabel 2.2 Involusi uterus...............................................................................16
Tabel 2.3 Penyimpanan ASI..........................................................................39
Tabel 3.1 Matrik ..........................................................................................76
xi
13
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Dokumentasi
Lampiran 2 : Tabel
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula
(sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (42 hari).
Puerpurium adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai
alat-alat kandungan kembali keseperti pra hamil. Sekitar 50% kematian ibu
terjadi dalam 24 jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca
persalinan yang berkualitas harus terselenggara pada masa itu untuk
memenuhi kebutuhan ibu dan bayi. (Dewi dan Sunarsih , 2011; h. 1).
WHO mengemukakan bahwa 500.000 perempuan meninggal setiap tahun
akibat komplikasi kehamilan dan melahirkan dan sebagian besar kematian
terjadi selama atau segera setelah melahirkan (Astuti et all, 2015; h. 2).
Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas) sebesar 359
per 100.000 kelahiran hidup. Namun pada tahun 2012 SDKI kembali
mencatat kenaikan AKI yang signifikan yakni dari 228 menjadi 359 kematian
ibu per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu, pada tahun 2012
Kementrian Kesehatan meluncurkkan program Ekspanding maternal dan
Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu
2
dan neonatal sebesar 25%. (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2014;
h. 226).
Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung
tahun 2012 kasus kematian ibu (kematian ibu saat hamil, saat melahirkan, dan
nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus, dimana, penyebab kasus kematian ibu
disebabkan oleh perdarahan (40,23%), eklamsi (59,33%), infeksi (4,2%), dan
lain-lain (75,4%). (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun, 2012; h.
56).
Periode masa nifas berlangsung dari persalinan selama 6 minggu setelah
melahirkan, yang merupakan waktu penyembuhan dan kembalinya organ
reproduksi ke keadaan sebelum hamil. Dikemukakan adanya resiko terjadinya
kematian ibu setelah melahirkan pada jam, hari, dan minggu setelah
melahirkan, dan periode tersebut merupakan waktu yang berbahaya bagi ibu
dan bayi baru lahir (Astuti et all, 2015; h.2).
Asuhan pada periode setelah kelahiran sangat penting. Tidak hanya untuk
keberlangsungan hidup saja, tetapi juga untuk masa depan ibu dan bayi yang
baaru lahir. Perubahan besar terjadi selama periode ini yang menentukan
kesejahteraan mereka dan potensi masa depan yang sehat
(Astuti et all, 2015; h.2).
Asuhan yang tepat dan kepedulian pada jam-jam pertama dan hari setelah
melahirkan bisa mencegah sebagian besar kematian. Pemantauan ketat oleh
bidan akan sangat membantu mencegah kematian tersebut, selain suami dan
keluarga, untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu dan bayi . Bidan
3
harus menyadari perubahan fisiologis dan psikologis yang normal yang
terjadi didalam tubuh dan pikiran ibu untuk memberikan asuhan yang
komprehensif selama periode nifas. Salah satu tanggung jawab yang paling
brermakna dari asuhan post partum adalah mengenali komplikasi setelah
melahirkan (Astuti et all, 2015; h.2).
Berdasarkan pra survey di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb diperoleh data
Ny.L yang melahirkan pada bulan Juni 2016. Pada tanggal 05 juni 2016
terdapat satu ibu 6 jam post partum yaitu Ny. L dan perlu diberi penjelasan
tentang bagaimana mencegah perdarahan karena atonia uteri, pemberian asi
awal, kebutuhan nutrisi, istirahat dan personal hygiene. Berdasarkan latar
belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Asuhan Kebidanan
Pada Ibu Nifas Terhadap Ny, L umur 23 Tahun P1A0 6 Jam Post Partum di
BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016”.
B. Rumusan Masalah
“Bagaimana Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny. L Umur 23
Tahun P1A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar
Lampung Tahun 2016”
4
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas normal terhadap Ny.
L umur 23 tahun P1A0 6 jam Post Partum di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian data pada ibu nifas
terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy
Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
b. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data untuk
mengidentifikasi diagnosa asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap
Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
c. Diharapkan penulis dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah
potensial pada asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur
23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb
Bandar Lampung Tahun 2016.
d. Diharapkan penulis dapat melakukan antisipasi tindakan segera pada
asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0
6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016.
e. Diharapkan penulis dapat menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
pada asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun
5
P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar
Lampung Tahun 2016.
f. Diharapkan penulis dapat melaksanakan rencana yang telah dibuat
khususnya pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny.
L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
g. Diharapkan penulis dapat mengevaluasi dari pelaksanaan asuhan
kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam
post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr,Keb Bandar Lampung Tahun
2016.
D. Ruang Lingkup
1. Objek penelitian
Ny L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum.
2. Tempat penelitian
BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung.
3. Waktu
dilaksanakan pada tanggal 05 Juni 2016, jam 18.30 WIB.
6
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan tentang asuhan
nifas 6 jam post partum.
2. Bagi Lahan Praktik
Study kasus ini dapat dijadikan salah satu informasi serta gambaran bagi
lahan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan pelayanan asuhan
kebidanan yang lebih baik dikemudian hari pada para pasien yang
berkaitan dengan asuhan pada ibu nifas 6 jam post partum.
3. Bagi pasien
Dapat dijadikan sebagai pengetahuan bagi pasien agar lebih mengerti
tentang perawatan ibu selama 6 jam post partum.
4. Bagi penulis
Sebagai bahan masukan, pengalaman dan dapat menambah pengetahuan
dalam mengaplikasikan asuhan kebidanan khususnya tentang
penatalaksanaan 6-8 jam post partum pada ibu nifas.
F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode
penulisan survey deskriptif dengan pendekatan study kasus.
Survey deskriptif juga dapat didefinisikan suatu penelitian yang dilakukan
untuk mendeskriptifkan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi
didalam masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat survey deskriptif
7
digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah kesehatan serta
yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal
dalam komunitas tertentu (Notoadmojdo, 2010; h.35).
Metode penelitian study kasus (case study) adalah suatu model yang
menekankan pada eksplorasi dari suatu “sistem yang berbatas” (bounded
system) pada satu satu kasus atau beberapa kasus secara mendetail, disertai
dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber
informasi yang kaya akan konteks (Herdiansyah,2012).
G. Teknik Memperoleh Data
1. Data Primer
Data primer merupakan materi atau kumpulan fakta yang dikumpulkan
sendiri oleh peneliti pada saat penelitian berlangsung
(Chandra, 2008; h. 20).
a. Wawancara
Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana
penelitian mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari
seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face)
(Notoatmodjo, 2012; h. 139).
8
b. Anamnesa
1) Auto Anamnesa
Auto anamnesa merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien
secara langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data primer karena
langsung dari sumbernya.
(Sulistyawati, 2009; h. 111).
c. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menjelaskan
pemeriksaan fisik (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 139).
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain
(Chandra, 2008; h. 20).
a. Study kepustakaan
Menurut sekaran (2006) dalam buku hidayat (2014) study kepustakaan
merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam
rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitian. Study
kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun
kerangka toritis yang komprehensif yakni hipotesis dapat dibuat untuk
diuji
b. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara
pengambilan data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli
9
tersebut dapat berupa gambar, tabel atau daftar periksa, dan film
documenter (Herdiansyah, 2012; h. 90).
10
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. TINJAUAN TEORI MEDIS
1. Masa Nifas
a. Pengertian Nifas
Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah
plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
keseperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung
selama kira-kira 6 minggu (Sulistyawati. 2009; h. 1)
Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa nifas atau puerpurium adalah dimulai sejak 2 jam setelah
lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam
bahasa latin, waktu mulai tertentu setelah melahirkan anak ini disebut
puerpurium yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous
melahirkan. Jadi puerpurium berarti masa setelah melahirkan bayi.
Puerpurium adalah masa pulih kembali. Mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Sekitar 50 %
kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama postpartum sehingga
pelayanan pasca-persalinan yangbberkualitas harusn terselenggara pada
masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi
(Dewi dan Sunarsih, 2013; h.1)
10
11
Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya
plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca
persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi
kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksindini
dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta
penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan,
imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Prawirohardjo, 2010; h. 356)
b. Prinsip dan Sasaran Asuhan Masa Nifas
Apabila merujuk pada kompetensi 5 (standar kompetensi bidan) maka
prinsip asuhan kebidanan bagi ibu pada masa nifas dan menyusui harus
bermutu tinggi serta tanggap tehadap budaya setempat. Jika dijabarkan
lebih luas asuhan kebidanan masa nifas meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Peningkatan kesehatan fisik dan psikologis
2) Identifikasi penyimpangan dari kondisi normal baik fisik maupun
psikis.
3) Mendorong agar dilaksanakan metode yang sehat tentang pemberian
makan anak dan peningkataan pengembangan hubungan antara ibu dan
anak yang baik.
4) Mendukung dan memperkuat percaya diri ibu dan memungkinkan ia
melaksanakan peran ibu dalam situasi keluarga dan budaya khusus.
5) Pencegahan, diagnosis dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu.
6) Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli jika perlu.
12
7) Imunisasi ibu terhadap tetanus
(Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 1)
c. Tujuan Asuhan Masa Nifas
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi
2) Pencegahan, diagnosa dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu
3) Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli bilamana perlu
4) Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu, serta memungkinkan ibu
untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga daan
budaya yang khusus
5) Imunisasi ibu terhadap tetanus
6) Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan
anak, serta peningkatan pengembangan hubungan ya g baik antara ibu
dan anak (Sulistyawati, 2009; h. 2)
d. Peran dan Tanggun Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan
masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian
ibu termasuk keha ilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa
nifas terjadi dalam 24 jam. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab
bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan pemantauan
mencegah beberapa kematian ini. Peran bidan antara lain sebagai berikut.
13
1) Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas
sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan
psikologis selama masa nifas.
2) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi, serta keluarga.
3) Mendorong ibu untuk menyusui bayinya untuk meningkatkan rasa
nyaman.
4) Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan
ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan administrasi.
5) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6) Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenaliu tanda-tanda bahaya, menjaga gizi
yang baik, serta memperhatikan kebersihan yang aman.
7) Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga melaksanakannya
untuk mempercepat proses pemulihan, serta mencegah komplikasi
dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas.
8) Memberikan asuhan secara profesional.
(Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 4)
14
e. Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu puerpurium dini, puerpurium
intermedial, dan remote puerpurium.
1) Puerpurium Dini
Puerpurium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
2) Puerpurium intermedial
Puerpurium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat-
alat genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
3) Remote puerpurium
Remote puerpurium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan
sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan
mempunyai kompliksi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung
selama berminggu-minggu bulanan bahkan tahunan.
(Sulistyawati, 2009; h. 5)
15
f. Kebijakan Program Masa Nifas
Tabel 2.1.
(Sulistyawati, 2009; h. 6)
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam
setelah
persalinan
a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan
rujuk bila perdarahan berlanjut
c) Memberikan konseling pada ibu atau pada salah satu
anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah
perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d) Pemberian ASI awal
e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayiyang baru lahir
f) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah
hypotermi
g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus
tinggal dengan ibu dan bayinyang baru lahir untuk 2 jam
pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya
dalam keadaan stabil
2 6 hari
setelah
persalinan
a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus
berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau
b) Menilai adanya tanda-tanda demam infeksi atau
perdarahan abnormal
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan cairan
dan istirahat
d) Memastikan ibu menyusuidengan baik dan tak
memperhatikan tanda-tanda penyulit
e) Memberikan konseling pada ibumengenai asuhan pada
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat
bayi sehari-hari
3 2 minggu
setelah
persalinan
Sama seperti diatas
4 6 minggu
setelah
persalinan
a) Menanyakan pada ibu tentang kesulitan- kesulitan yang
iya atau bayinya alami
b) Memberikan konseling KB secara dini
16
g. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
1) Perubahan Sistem Reproduksi
a) Uterus
Pengerutan Rahim (involusi)
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi
sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari desidua
yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi neurotic (layu/mati)
(Sulistyawati, 2009; h.73).
Tabel 2.2
Involusi uterus
Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat
uterus
(gr)
Diameter bekas
melekat plasenta
(cm)
Keadaan
servik
Bayi lahir Setinggi pusat 1000
Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 12,5 Lembek
Satu minggu Pertengahan pusat-simpisis 500 7,5 Beberapa
hari setelah
postpartum
dapat dilalui
2 jari, akhir
minggu
pertama
dapat
dimasuki 1
jari
Dua minggu Tak teraba diatas simpisis 350 3-4
Enam minggu Bertambah kecil 50-60 1-2
Delapan
minggu
Sebesar normal 30
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57)
17
Proses Involusi uterus terjadi melalui 3 proses yang bersamaan, antara lain:
a. Autolysis
Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi dalam
otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekan jaringan otot yang telah
sempat mengendur 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebarnya dari
sebelum hamil. Sitoplasma sel yang berlebihan terencana sendiri sehingga
tertinggal jaringan fibro elastic alam jumlah renik sebagai bukti kehamilan
b. Atrofi jaringan
Atrofi jaringan berpoliferasi dengan adanya esterogen dalam jumlah besar,
kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi
esterogen yangbmenyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada
otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan
meninggalkan lapisan basal yang akan bergenerasi menjadi endometrium
yang baru.
c. Efek oksitosin (kontraksi)
Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi
lahir. Diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin
yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hypofisis
memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah,
dan membantu proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uteri akan
mengurangi suplay darah keuterus. Proses ini akan membantu mengurangi
bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi perdarahan. Luka
18
bekas perlekatan plasenta memerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh total.
(sulistyawati, 2009: h. 74-75).
b) Lochea
Lochea adalah eksresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai
reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat
daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lochea mempunyai
bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-
beda pada setiap wanita. Sekret mikroskopik lochea terdiri atas eritrosit,
peluruhan desidua, sel epitel, dan bakteri. Lochea mengalami perubahan
karena proses involusi (Sulistyawati, 2009; h. 76)
Lochea dibedakan menjadi 3 jenis lochea berdasarkan warna dan waktu
keluarnya
(1) Lochea rubra/merah
Lochea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post
partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar,
jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut
bayi), dan mekonium.
(2) Lochea Sangualenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta
berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
19
(3) Lochea Serosa
Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum,
leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta, keluar pada hari ke-7
sampai hari ke-14.
(4) Lochea Alba
Lochea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel selaput lendir
servik, dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba ini dapat
berlangsung selama 2-6 minggu post partum.(Sulistyawati, 2009, h
76)
a. Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada servik ialah bentuk serviks agak
menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir. Bentukmini
disebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada
perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk semacam
cincin.Servik berwarna merah kehitam-hitaman karena penuh
dengan pembuluh darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang
terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang
terjadi selama berdilatasi maka serviks tidak akan pernah kembali
lagi ke keadaan sebelum hamil. Muara serviks yang berdilatasi
sampai 10 cm sewaktu persalinan akan menutup secara perlahan
dan bertahap. Setelah bayi lahir, tangan dapat masuk kedalam
20
rongga rahim. Setelah 2 jam, hanya dapat dimasuki 2-3 jari. Pada
minggu ke- 6 post partum, servik sudah menutup kembali.
(Sulistyawati, 2009, h 77).
b. Perubahan Vulva dan Vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari
pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap daalam
keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secarab
berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi
lebih menonjol (Sulistyawati, 2009; h. 77-78)
c. Perubahan Payudara
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi
secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme
fisiologis, yaiyu produksi susu dan sekresinsusu atau let down.
Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan
menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru
lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta
tidak ada lagi kelenjar pituitari akan mengeluarkan proklaktin
(hormon laktogenik). Hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin
pada payudara mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara
menjdi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak,
dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai
21
berfungsi. Ketika bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang
lobus posterior pituitari untuk menyekresi hormon oksitosin.
Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan) sehingga
menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus laktiferus payudara ke
duktus yang terdapat pada puting. Ketika ASI dialirkan karena
isaapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk
menghasilkan ASI lebih banyak. Reflek ini dapat berlanjut sampai
waktunyang cukup lama (Saleha, 2009; h. 58)
d. Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini
disebabkan karena pada waktu persalinan, alat pencernaan
mendapat tekanan yang menyebabkan calon menjadi kosong
pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan
(dehidrasi). Kurang makan, haemorroid, laserasi jalan lahir supaya
buang air besar kembali teratur.Dapat diberikan diit atau makanan
yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila
usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 haridapat ditolong
dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat
laksan yaang lain
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.80)
e. Perubahan Sistem Perkemihan
Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama
kehamilan kembali normal pada akhir minggu ke empat setelah
22
melahirkan. Pemeriksaan sistokopik setelah melahirkan
menunjukan tidak saja edema dan hyperemolonia dinding kandung
kemih, tetapi sering kali terdapat ekstravasi darah pada submukosa.
Kurang lebih 40% wanita nifas mengalami proteinuria yang non
patologis sejak pasca melahirkan sampai 2 hari post partum agar
dapat dikendalikan. Oleh karena itu, contoh specimen diambil
melalui kateterisasi agar tidak terkontaminasi dengan lochea yang
non patologis. Hal ini dapat diwujudkan hanya bila tidak adaa
tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan preeklampsi. Diuresi
yang normal dimulai segera setelah bersalin sampai hari ke lima
setelah persalinan. Jumlah persalinan yang keluar dapat melebihi
3.000 ml per harinya. Hal ini diperkirakan merupakan salah satu
cara untuk menghilangkan peningkatan cairan ekstraseluler yang
merupakan bagian normal bagi kehamilan. Selain itu juga di dapati
adanya keringat yang banyak pada beberaapa hari pertama setelah
persalinan..
(Saleha, 2009; h. 59).
f. Perubahan Muskuloskletal
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah paartus pembuluh-
pembuluh darah yang berada diaantaraa anyaman otot-otot uterus
akan terjepit. Proses ini akan meghentikan perdarahan setelah
plasenta dilahirkan. Ligamen-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia
yang meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur
23
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentu, rotundum
menjadi kendur. Tidak jarang pula wanita mengeluh
“kandungannya turun” setelah melahirkan karena ligamen, fasia
jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendur. Stabilisasi secara
sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.Sebagai
akibat putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang
berlangsung lama akibat besarnya uterus pada waktu hamil,
dinding abdomen masih agak lunak dan kendur untuk sementara
waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang
alat genetalia, serta otot-otot dinding perut dan dasar panggul,
dianjurkaan untuk melakukan laatihaan-latihan tertentu. Pada 2 hari
post partum, sudah dapat fisioterapi (Sulistyawati, 2009; h. 79)
g. Perubahan Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada
system endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperaan
dalam proses tersebut.
1) Hormon oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.
Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan
dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi,
sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang
24
produksi ASI dan sekreso oksitosin. Hal tersebut membantu
uterus kembali kebentuk normal.
2) Hormon Prolaktin
Menurunya kadar esterogen menimbulkan terangsangnya
kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan
prolaktin, hormon ini berperan dalaam pembesaran payudara
untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui
bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada
rangsangan folikel pada ovarium yang ditekan. Pada wanita
yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi protein menurun
dalam 14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang
kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium kearah
permulaan pola produksi esterogen dan progesteron yang
nor,al, pertumbuhan folikel, ovulasi dan menstruasi.
3) Hormon Esterogen dan Progesteron
sSelama hamil volume darah normal meningkat walaupun
mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan
bahwa tingkat esterogen yang tinggi memperbesar hormon
antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Disamping itu,
progesteron mempengaruhi perangsangan dan peningkatan
pembuluh darah. Hal ini sangat memengaruhi saluran kemih,
ginjal, usus, didnding vena, dasar panggul, perineum, dan
vulva, serta vagina.(Saleha, 2009; h. 60)
25
h. Perubahan Tanda-Tanda Vital
1) Suhu badan
Dalam satu hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik
sedikit (37,5o
C-38o
C) sebagai akibat kerja keras sewaktu
melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan
normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu
badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara
menjadi bengkak dan berwrna merah karena banyaknya ASI. Bila
suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium,
(mastitis, traktus genetalis, atau sistem lain)
2) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80x/menit.
Denyut nadi sesudah melahirkan biasanya akan lebih cepat.
Setiap denyut nadi yang melebihi 100x/menit adalah abnormal
dan hal ini menunjukan adanya kemungkinan infeksi
(Sulistyawati, 2009; h. 80-81)
3) Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh
arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota
tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia sistolik 90-120
mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus
normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan
darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan
26
oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post
partum merupakan tanda terjadinya pre eklampsi post partum.
Namun demikian, hal tersebutbsangat jarang terjadi (Rukiyah et
all, 2011; h. 69).
4) Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu
dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal
pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan khusus
pada saluran pernafasan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 85)
i. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk
menampung aliran darah yang bmeningkat, yang diperlukan oleh
plasdenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali esterogen
menyebabkan diuresi yang terjadi secara cepat sehingga mengurangi
volume plasma kembali kepada proporsi normal. Aliran terjadi
dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini, ibu
mengeluarkan banyak sekali jumlah urine. Hilangnya progesteron
membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan
meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan
bersama-sama dengan trauma masa persalinan. Pada persalinan
vagina kehilangan darah sekitar 200-500 ml. Sedangkan pada
27
persalinan dengan SC, pengeluaran dua kali lipat nya. Perubahan
tediri dari volume darah dan kadar haemotokrit.
1) Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan
plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat.
Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan
sedikit menurun, tetapi darah akan mengental sehingga
meningkatkan faktor pembekuan darah leukositosis yang
meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000
selama proses persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari
post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi
sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan yang lama.
(Sulistyawati, 2009; h. 82)
2) Perubahan Sistem Neurologi
Perubahan neurologi selama puerpurium merupakan kebalikan
adaptasi neurologic yang terjadi saat hamil dan disebabkan oleh
trauma yang dialami ibu saat bersalin dan melahirkan. Rasa tidak
nyaman neurologi yang diinduksi kehamilan dapat menghilang
saat ibu melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui dieresi
setelah bayi lahir menekan sindrom carpal tunnel dan mengurangi
kompresi saraf median (Roito, et all 2013; h. 72)
28
h. Proses Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Adaptasi psikologis post partum yaitu, ibu biasanya mengalami
penyesuaian psikologi selama masa post partum. Reva rubin
meneliti adaptasi ibu melahirkan pada tahun 1960, yaitu
mengidentifikasi tiga fase yang dapat membantu bidan
memahami perilaku ibu setelah melahirkan.Dikemukakan bahwa
setiap fase meliputi rentan waktu tertentu dan berkembang
melalui fase secara berurutan.
Tahapan Rubin dalam Adaptasi Psikologi Ibu
a) Fase Taking In (fase ketergantungan)
Lamanya 3 hari pertama setelah melahirkan. Fokus pada diri
ibu sendiri, tidak pada bayi, ibu membutuhkan waktu untuk
tidur dan istirahat. Pasif, ibu mempunyai ketergantungan dan
tidak bisa membuat keputusan. Ibu memerlukan bimbingan
dalam merawat bayi dan mempunyai perasaan takjub ketika
melihat bayinya yang baru lahir.
b) Fase Taking Hold (fase independen)
Akhir hari ke-3 sampai hari ke-10 aktif mandiri dan bisa
membuat keputusan. Memulai aktivitas perawatan diri, fokus
pada perut, dan kandung kemih. Fokus pada bayi dan
menyusui. Merespon instruksi tentang perawatan bayi dan
perawatan diri, dapat mengungkapkan kurangnya kepercayaan
diri dalam merawat bayi.
29
c) Letting Go (fase interdependen)
Terakhir hari ke-10 sampai 6 minggu post partum. Ibu sudah
mengubah peran barunya. Menyadari bayi merupakan bagian
dari dirinya. Ibu sudah dapat menajalankan perannya.
(Astuti sri et all, 2015; h. 22)
i. Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas.
1. Nutrisi dan Cairan
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius,
karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu
dan sangat memengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus
bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori tinggi protein, dan banyak
mengandung cairan.
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai
berikut.
a) Mengonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari
d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya
selama 40 hari pasca persalinan
e) Minum kapsul Vit A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A
kepada bayinya melalui ASI (Saleha, 2009; h. 7)
30
2. Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat
mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat
tidurnya dan membimbing ibu secepat ibu untuk berjalan. Sekarang
tidak perlu lagi menahan ibu post partum telentang ditempat tidurnya
selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu postb partum sudah
diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam post
partum. (Saleha, 2009; h. 72)
3. Eliminasi
Buang bair kecil (BAK) setelah melahirkan terutama bagi bu yang
pertama kali melahirkan akan terasa pedih bila BAK keadaan ini
diakibatkan oleh iritasi pada uretra sebagai akibat persalinan
sehingga penderita takut BAK. Miksi disebut normal bila dapat BAK
spontan tiap 3-4 jam ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri,
bila tidak, maka dilakukan tindakan berikut ini.
a) Dirangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien
b) Mengompres air hangat diatas simpisis
c) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK.
Katerterisasi tidak dilakukan sebelumlewat enam jam post partum
BAB (buang air besr) defekasi BAB harus dalam 3 hari post
partum. Bila ada konstipasi dan timbul koprostase hingga skibala
(feses yang mengeras) tertimbun direktum mungkin akan terjadi
fibris, pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan
31
sehingga dapat bmempengaruhi terjadinya konstipasi. Bila
penderita selama 2 hari sesudah persalinan akan ditolong dengan
pemberian spuit, gliserin/ obat-obatan dan biasanya 2-3 hari post
partum masih susah BAB, maka sebaiknya diberikan laksan dan
parffin (1-2 hari post partum) atau pada hari ke-3 diberi laksan
supositoria dam ninum air hangat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.
73-74).
4. Personal hygiene
Selama post partum, ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh
karena itu, kebersihan sangat penting untuk pencegahan infeksi.
Apabila dijaga kebersihannya, terutama kebersihan pribadi, ibu
dapat terhindar dari infeksi yang dapat mengancaam jiwa.
5. Kebersihan kulit dan tubuh
Untuk mencegah kebersihan tubuh ibu nifas mandi dua kali sehari
6. Kebersihan pakaian
Ibu disarankan untuk mengganti pakaian minimal dua kali sehari
sehabis mandi, bila perlu dan bila pakaian terasa lembab atau
basah.
7. Kebersihan tempat tidur
Kebersihan tempat tidur juga harus juga diperhatikan. Beri alas
perlak atau kain dibawah bokong ibu sehingga darah nifas tidak
langsung mengenai alas kasur atau seprei diganti 2 minggu sekali,
karena bila seprei kotor dapat menjadi perkembangbiakan kuman.
32
8. Kebersihan lingkungan
Kebersihan lingkungan bukan hanya dilingkungan dalam rumah,
namu diluar rumah seperti kebersihan peralatan dapur, peralatan
rumah tangga, dan kebersihan halaman, termasuk pembuanagan air
limbah dan sampah.
9. Kebersihan gigi
Ibu yang sedang menjalani masa nifas harus juga memerhatikan
kebersihan giginya dengan cara menggosok gigi setelah makan,
sebelum tidur malam, dan saat mandi.
10. Kebersihan perineum
Semasa melahirkan, vagina dan vulva dipaksa meregang dan
mungkin telah mengalami cedera, disertai alat kelamin yang
sedikit merah, bengkak, lecet, dan atau luka. Hal sepenuhnya
normal kecuali terjadi peningkatan panas atau kelembekan daerah
vagina dan busuknyang menyebabkan gangguan rasa nyaman
(Roito, et all 2013; h. 85-86)
11. Istirahat
Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas
untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan
untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang
cukup sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti.
Kurang istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan
beberapa kerugian misaalnya:
33
a) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
c) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri. Bidan harus menyampaikan kepada
pasien dan keluarga bahwa untuk kembali melakukan kegiatan-
kegiatan rumah tangga, harus dilakukan secara perlahan-lahan
dan bertahap. Selain itu, pasien harus selalu diingatkan untuk
selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur.
Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari,
yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang
(Sulistyawati, 2009; h. 103).
12. Aktifitas seksual
Aktifitas seksual yang dapat dilakukian oleh ibu masa nifas harus
memenuhi syarat berikut ini.
a) Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami
istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu
atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Maka ibu aman
untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu
siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan
suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari
34
atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan ini tergantung pada
pasangan yang bersangkutan.
13. Senam nifas
Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ
tubuh wanita. Involusi ini jelas sangat terlihat pada lat-alat
kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi
lembek dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang
membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena
itu, mereka akan selalu berusaha untuk memulihkan dan
mengencangkan keadaan dinding perut yang sudah tidak indah
lagi. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indahdan
langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan
senam nifas. (Saleha, 2009; h. 75)
j. Deteksi Dini Komplikasi Pada Ibu Masa Nifas
1) Perdarahan post partum
Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya darah 500 ml
atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala tiga
persalinan. Perdarahan postpartum adalah penyebab pentingnya
kematian ibu: ¼
dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan, .
(perdarahan postpartum, plasenta previa, solusio plasenta, kehamilan
ektopik, abortus, dan ruptur uteri) (Astuti, et all 2015; h. 76-77)
35
Berdasarkan waktu kejadiannya perdarahan pascapersalinan dibagi dua
bagian, yaitu:
2) Perdarahan pascapersalinan dini (early postpartum haemorhage), atau
perdarahan pascapersalinan primer, atau (pasca persalinan segera).
Perdarahan pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama.
Penyebab utama perdarahan pascapersalina primer adalah atonia uteri,
retensio plasenta, robekan jalan lahir.
3) Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau perdarahan persalinan sekunder
atau perdarahan pasca persalinan lambat, atau Late PPH). Perdarahan
pasca persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan
pasca pesalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi penyusutan
rahim yang tidak baik, atau sisa palsenta yang tertinggal (Sari dan
Rimandini, 2014; h. 226)
Penyebab perdarahan postpartum
4) Atonia uteri, atonia uteri merupakan kegagalan miometrium
berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalamkeadaan relaksasi
penuh, melebar, lembek, dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi
pembuluh darah.
5) Retensio plasenta adalah keadaan dimanaplasenta belum lahir setengah
jam setelah janin lahir. Hal ini disebabkan:
a) Plasenta belum lepas dari dinding uterus
b) Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
36
6) Sisa plasenta, saat suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus
tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat
menimbulkan perdarahan.
7) Robekan jalan lahir, robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan
atonia uteri. Perdarahan pascapersalinan dengan uterus yang
berkontraksi baik bisanya disebabkan oleh robekan servik atau vagina.
8) Inversion uteri, inversion uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri
masuk kedalam kavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi
perlahan(Astuti et all, 2015; h. 78-80)
k.Infeksi Masa Nifas
Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman
yang masuk kedalam organ genetalia pada saat persalinan dan masa nifas.
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi
setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38o
C atau lebih
selama 2 hari dalam 10 hari pertama pascapersalinan, fdengan
mengecualikan 24 jam pertama (Sari dan Rimandini, 2014, h. 244).
l. Pemberian ASI awal
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI tidak hanya
memberikan manfaat untuk bayi saja, melainkan untuk ibu, keluarga,
dan Negara.
37
1) Manfaat ASI
a) bagi bayi
Nutrient (zat gizi) dalam ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Zat gizi
yang terdapat dalam ASI antara lain: lemak, karbohidrat, protein,
garam, mineral, serta vitamin. ASI memberikan seluruh kebutuhan
nutrisi dan energi selama 1 bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi
selama 6 bulan kedua dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih
selama tahun kedua.(Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 17).
b) Manfaat untuk ibu
(1) Membantu ibu memulihkan diri dari proses persalinannya.
Mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat
kembalinya rahim kebentuk semula karena kontraksi yang
terjadi ketika menyusui.
(2) Mencegah anemia defesiensi zat besi pada ibu nifas karena
cepatnya prosesnya involusi uterus
(3) Mempercepat ibu kembali keberat badan sebelum hamil.
c) Manfaat bagi keluarga
(1) Mudah dalam proses pemberian
(2) Mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga.
(3) Bayi yang mendapat ASI jarang sekali sakit, sehingga dapat
menghemat biaya untuk berobat.
38
d) Manfaat bagi Negara
(1) Penghematan subsidi anak sakit dan pemakaian obat
obatan.
(2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan
perlengkapan menyusui.
(3) Mengurangi polusi.
(4) Mendapat sumber daya manusia (SDM0 masa depan berkualitas
(Sari dan Rumandini, 2014; h. 35-36)
2) Komposisi Gizi dalam ASI
a) protein
b) karbohidrat
c) lemak
d) mineral
e) air
f) vitamin
(dewi dan sunarsih, 2011; h 19-20)
3) Tanda bayi cukup ASI
a) Bayi kencing setidaknya 6x dalam sehari dan warnanya jernih
sampai kuning muda.
b) Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan berbiji.
c) Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun, dan tidur
cukup. Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam.
39
d) Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai
menyusui.
e) Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap bayi mulai
menyusu.
f) Bayi bertambah berat badannya (sulistyawati, 2009; h. 23).
2.3 Tabel Penyimpanan ASI
Suhu Ruang Lemari Es Freezer
Setela diperas 6-8 Jm lebih 26o
C 3-5 Hari (kurang
lebih 4O
C)
2 minggu freezer jadi
1 dengan refrigerator
3 bulan, dengan pintu
sendiri 6-12 bulan
(kurang lebih 18o
C)
Dari freezer
disimpan
dilemari es
(tidak
dihangatkan)
4 jam atau kurang
berikutnya)
24 jam Jangan dibekukan
Dikeluarkan
dari lemari es
(dihangatkan)
Langsung diberikan 4 jam/minum
berikutnya
Jangan dibekukan
ulang
Sisa minum
bayi
Minum berikutnya Buang Buang
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 28)
m. Rawat gabung
Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru
dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah
ruangan selama 24 jam penuh. Istilah rawat gabung parsial yang dahulu
banyak dianut seperti hanya dilakukan pada siang hari, sedangkan pada
40
malam harinya bayi dirawat dikamar bayi, sudah tidak dibenarkan lagi
(Prawirohardjo, 2012; h. 386).
1) Manfaat
Kontak dini antara ibu dan bayi yang telah dibina sejak dari kamr
bersalin seharusnya tetap dipertahankan dengan merawat bayi bersama
ibunya.
2) Keuntungan Rawat Gabung
a) Aspek psikologis
Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat
(bonding). Hal ininsangat mempengaruhi perkembangan psikologi
bayi selanjutnya. Kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi
mental yang mutlak diperlukan oleh bayi. Rasa aman, terlindungi,
dan percaya pada orang lain merupakan dasar terbentuk nya rasa
percaya diri pada bayi. Ibu akan merasa bangga karena dapat
memberikan yang terbaik bagi bayinya.
b) Aspek fisik
Dengan rawat gabung, ibu dengan mudah menyusui kapan saja
bayi menginginkannya. Dengan demikian, ASI jugs dspat cepat
keluar.
c) Aspek fisiologis
Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan frekuensi yang
lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang memacu
proses produksi ASI dn mempercepat involusi rahim.
41
d) Aspek edukatif
Dengan rawat gabung ibu, terutama yang primipara, akan
mempunyai pengalaman menyusui dan merawat bayinya.
e) Aspek medis
Dengan rawat gabung, ibu merawat bayinyaa sendiri. Bayi juga
tidak terpapar dengan banyak petugas sehingga infeksi nosokomial
dapat dicegah.
f) Aspek ekonomi
Dengan rawat gabung, pemberian ASI dapat dilakukan sedini
mungkin sehingga anggaran pengeluaran untuk membeli susu
formula dan peralatan untuk membuatnya dapat dihemat.
(Prawirohardjo, 2012; h.386).
B. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
Langkah dalam manajemen kebidanan menurut varney
1. Pengkajian data asuhan kebidanan
Dalam tahaap ini data/fakta yang dikumpulkan data subjektif dan/atau data
objektif dari pasien. Bidan dapat mencatat haasil penemuan dataa dalam
catatan harian sebelum didokumentasikan
(Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34).
2. Anamnesa
Anamnesa dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut:
42
3. Auto anamnesa
Merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien secara langsung,
jadi data yang diperoleh adalah dataa primer karena langsung bdari
sumbernya.
4. Allo anamnesa
Merupakan anamnesa yang dilakukan pada keluarga pasien untuk
memperoleh dataa tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat
ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang
akurat.(Sulistyawati, 2009; h. 111).
5. Pengumpulan data dasar
a. Data Subjektif
1) Identitas pasien
a) Nama
Nama jelas dan lengkap, apabila perlu nama paanggilan sehari-
hari agar tidaak keliru dalam memberikan penanganan.
b) Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang mental
dan psikis nya belum siap. Sedangkann umur lebih dari 35
tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas.
c) Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk
membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
43
d) Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan
dapaat memberikan konseling dengan pendidikannya.
d) Suku/bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebisaan sehaari-hari
e) Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tinggi sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut
f) Alamat
Ditanyaka untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131-132).
2) Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasa pasien datang
kefasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya, ibu postpartum normal
ingin memeriksakan kesehatannya setelah persalinan. Contoh lain,
ibu postpartum patologis dengan keluhan demam, keluar darah
segar dan banyak, nyeri dan infeksi luka jahitan, dan lain-lain
(Sulistyawati, 2009; h. 111).
44
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adaanya
riwayat ataau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, DM,
Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas
ini.
b) Riwayat kesehatan sekaraang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang adaa hubungaannya
dengan masa nifas dan baayinya.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadaap gangguan kesehatan
pasien dan bayinya, yaitu apaabila ada penyakit keluarga
menertainya
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
4) Status perkawinan
Hal ini penting untuk bidan kaji karena dari data inilah bidan akan
mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan.
Beberapa pertaanyaan yang dapat dajukan, antara lain:
a) Usia nikah pertama kali
b) Status pernikahan
c) Lama pernikahan
45
d) Ini adalah suami yang ke
(Sulistyawati, 2009; h. 114).
5) Riwayat Obstetrik
a) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu, Berapa
kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, caraa
persalina yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang
lalu.
6) Riwayat persalinan sekaraang
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin, kaadaaan bayi
meliputi, PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk
mengetahui apakah proses persalinaan mengalami kelainan atau
tidak yang bisa nerpengaruh padaa masa nifas seperti ini.
7) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah paasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
dan beralih kekontrasepsi apa.
8) Kehidupan Sosial Budaya
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat
yang akan menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pad
masa nifas misalnya pada kebiasaan pantang makana.
46
9) Data Psikososial
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinyawanita
banyak mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama
masaa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.
Cukup ibu menunjukan depresi ringan beberapa setelah kelahiran.
Depresi tersebut sering disebut sebagai postpartum blues.
Postpartum blue sebagian besar merupakan perwujudan fenomena
psikoligis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan
bayinya. Hal ini sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor
a) Kekecewaan emosional yang mengikuti rasaa puas dan takut
yang dialami kebanyakaan wanita selama kehamilan dan
persalinan.
b) Rasa sakit masa nifas awal
c) Kelelahan karena kurang tidur
Selama persalinan dan postpartum
d) Kecemasan padaa kemampuannya merawat bayinya setelah
meninggalkan rumah sakit
e) Rasa sakit takut tidak menarik lagi bagi suaminya
10) Data Pengetahuan
Untuk mengetahui seberapa jauh ibu tentang perawatan setelah
melahirkan sehingga akan menguntungkan selamaa masa nifas
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133-136).
47
11) Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a) Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,
banyaknya, jenis makanan, dan pantangaan makaanan.
12) Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi yaitu kebiasaan ibu buang air
besar meliputi, frekuensi, jumlah, konsistensi, dan kebiasaan
buang air kecil meliputi, frekuensi, warna , dan jumlah.
13) Istirahat
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam tidur,
kebiasaan sebelum tidur misalnya, membaca, mendengarkan
musik, kebiasaan mengonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang,
dan penggunaan waktu luang. Istirahat sangat penting bagi ibu
nifas karena dengan istirahat yang cukup dapaat mempercepat
penyembuhan.
14) Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan
tubuh terutamaa paada pada daerah genetalia, karena masa nifas
masih mengeluarkan lochea.
15) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini
perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi
sedini mungkin dapat mempercepat prose pengembalian alat-alaat
48
reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering,
apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 137)
16) Aktivitas seksual
Walaupun hal ini merupakan hal yang cukup privasi bagi pasien,
namun bidan harus menggali Data dan kebiasaan ini karena
pernah tetjadi beberapa kasus keluhan dalam aktivitas seksual
yang cukup mengganggu pasien (Sulistyawati, 2009; h. 118).
b. Data Objektif
Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan dari hasil pemeriksaan
fisik, pemeriksaan khusus kebidanan, dataa penunjang, hasil
laboratorium, seperti VDRL,HIV, pemeriksaan radiodiagnostik,
ataupun USG yang dilakukan sesuai dengan beratnya masalah. Data
yang telah terkumpul diolah, disusaikan dengan kebutuhan pasien
kemudian dilakukan pengolahan data, yaitu mrnggabungkan dan
menghubungkan data satu dengan yang lainnya, sehingga
menunjukkan fakta. Tujuan dari pengolahan dri data adalah untuk
menunjukan fakta berdasarkan kumpulan data. Data yangbtelah
diolah dianalisis dan hasil nya didokumentasikan (Wildan dan
Hidayat, 2013; h. 34).
49
Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus
melakukan pengkajian dataa objektif melalui pemeriksaan inpeksi,
palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan.
1) Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan
pasien secaraa keseluruhan. Hasil pengamataan akan bidan
laporkan dengan kriteria:
a) Baik
Pasien diamasukan dalam kriteria ini jika pasien
memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami
ketergantungan dalam berjalan
b) Lemah
Pasien dimasukan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak
memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan
sendiri.
c) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien
dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai
dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar)
(Sulistyawati, 2009; h. 121-122).
50
d) Vital sign
Ditunjukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan
kondisi yang dialaminya.
(1) Pengukuran suhu tubuh
Suhu tubuh adalah derajat panas yang dipertahankan oleh
tubuh dan diatur oleh hipotalamus (dipertahankan dalam
batas normal yaitu kurang lebih dari 37o
C) dengan
menyeimbangkan antara panas yang dihasilkan dan
panas yang dilepaskan
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 15).
(2) Nadi
Nadi adalah gelombang yang diakibatkan oleh adanya
perubahan pelebaran (vasodilatasi) dari penyempitan
(vasokontriksi) dari pembuluh darah arteri akibat
kontraksi ventrikel melawan dinding aorta. Tekanan
nadi adalah tekanan yang ditimbulkan oleh perbedaan
sistolik dan diastolik. Denyut nadi dipengaruhi oleh
saraf simpatik (untuk meningkatkan) dan saraf para
simpatik (untuk menurunkan) (Tambunan dan Kasim,
2012; h. 34).
51
(3) Pernafasan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekuensi
pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola
pernafasan (Uliyah dan Hidayat, 2009; h. 159).
(4) Tekanan darah
Sangat penting untuk mengetahui tekanan darah normal
seseorang karena adanya perbedaan tekana darah pada
setiap individu. Peningkatan atau penurunan 20-30
mmHg pada tekanan darah seseorang adalah bermakna,
bahkan walaupun itu masih dalam rentan normal
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 50).
e) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik seyogyakarta dilakukan berurutan secara
logis yakni biasa dilakukan menurut pendekatan kepala ke
kaki atau pendekatan system. Pengkajian yang baik menuntut
penguasaan terhadap teknik pemeriksaan, serta parmeter-
parameter ukuran normal klien
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 63).
1) Kepala
Kepala merupakan organ tubuh yang perlu dikaji karena
pada kepala terdapat organ-organ yang sangat penting.
52
2) Muka
Pada daerah muka/wajah dilihat kesimetrisan muka
apakah kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikterus.
Bagian muka keadaan normalnya adalah siametris antara
kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan muka menunjukkan
adanya gangguan pada saraf ketujuh (nervus
fasialis)(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 66).
3) Mata
Tujuan pengkajian mata untuk mengetahui bentuk dan
fungsi mata. Dalam setiap pengkajian selalu dibandingkan
antara mata kanan dan kiri. Teknik yang digunakan adalah
inspeksi dan palpas. Inspeksi merupakan teknik yang palin
penting dilakukan sebelum palpasi
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 67).
4) Telinga
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan
menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum
bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar saluran
telinga, gendang telinga/membrane timpani, dan
pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan
umumnya adalah inspeksi dan palpasi
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73).
53
5) Hidung
Hidung dikaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan
fungsi hidung. Dimulai dari bagian luar hidung dalam, lalu
sinus-sinus. Bila memungkinkan, selama pemeriksaan
klien dalam posisi duduk
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 79).
6) Mulut
Pemeriksaan mulut dan faring harus dilakukan dengan
pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua
bagian dalam mulut
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81).
7) Leher
Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk
leher, serta organ-organ pentingnya yang berkaitan,
Pengkajian dimulai dengan inspeksi dan palpasi
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 83).
8) Dada
Payudara: Keadaan payudara dan puting susu
a) Simetris/tidak
b) Konsistensi, ada pembengkakan atau tidak
c) Puting menonjol/tidak
9) Abdomen: Bentuk, striae, linea, kontraksi uterus dan TFU
(Sulistyawati, 2009; h. 124).
54
Keadaan involusi uterus selama nifas;
a) Bayi lahir setinggi pusat 1000 gr
b) Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gr
c) Satu minggu pertengahan pusat-simpisis 500 gr
d) Dua minggu tak teraba atas simpisis 350 gr
e) Enam minggu bertambah kecil 50-60 gr
f) Delapan minggu sebesar normal 30 gr
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57).
10) Genetalia: Kebersihan, pengeluaran pervagina, keadaan
luka jahitan, dan tanda-tanda infeksi vagina
(Sulistyawati, 2009; h. 124).
a) Lochea Rubra/merah
Lochea keluar darihari pertama sampai hari ke-4 masa
postpartum,. Cairan ya g keluar berwarna merah
karena terisis darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,
dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan
mekonium.
b) Lochea sangualenta
Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir
serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post
partum.
55
c) Lochea serosa
Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena
mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi
plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai ke-14.
d) Lochea alba
Lochea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati,
lochea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu
postpartum (Sulistyawati, 2009; h. 76)
11) Anus
Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapatkan data
mengenai kondisi anus dan rectum.
12) Keadaan ekstermitas: Varices, oedema, reflek patella
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141).
C. Interpretasi Data Dasar
Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Datavdasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga
dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan
diagnosis maupun masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah
tidak bisa dikatakan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan
penanganan (Soepardan, 2007; h. 99)
56
1. Diagnose Kebidanan
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah dan
kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data
yaang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnose atau
masalah adalah pengolahan data dan analisa dengan menggabungkan
data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta
(Sulistyawati, 2009; h. 125).
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para abortus anak
hidup, umur ibu dan keadaan nifas. Data dasar meliputi:
a) Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah abortu atau tidak,
keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya
b) Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan
tentang pengeluaran pervagina, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141-142).
2. Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien Data dasar
meliputi:
a) Data subjektif
Data yang didapat dari hasil anamnesa pasien
57
b) Data objektif
Data yang didapat dari hasil pemeriksaan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 142).
D. Identifikasi Diagnosis/Masalah potensial
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan.
Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 143).
E. Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya penanganan segera oleh bidan atau dokter atau
untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim
kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien, misalnya klien
mengalami kejang atau perdarahan
(Rukiyah et all, 2011; h. 110).
F. Merencanakan Asuhan
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan
berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan
kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang telah
diidentifikasikan atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang
tidak lengkap dapat dilengkapi
(Soepardan, 2007; h. 101).
58
G. Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana dari semua
rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis
yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilaksanakan oleh bidan secara
mandiri maupun berkolaborasai dengan tim kesehatan lainnya
(Wildan dan Hidayat, 2013; h. 39).
H. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan ulangi lagi proses
manajemen dengan benar terhadap semua aspek asuhan yang telah
diberikan namun belum efektif dan merencanakan kembali yang belum
terencana (Rukiyah et all, 2011; h. 111).
C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN
Berdasarkan permenkes No.1464/Menkes/PER/X/2010 tentang izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan serta memperhatikan kompetensi bidan
Indonesia yang mengacu kepada kompetensi inti yang telah disusun oleh
ICM, Juni 2011, maka kompetensi bidan di Indonesia dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Kompetensi Bidan
a) Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari
ilmu-ilmu social, kesehatan masyarakat, dan etik yang membentuk
59
dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, ntuk
wanita, bayi baru lahir, dan keluarganya.
b) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan
yang tanggap terhadap budaya, dan pelayanan menyeluruh di
masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga
yang sehat perencanaan kehamilan, dan kesiapan menjadi orang tua.
c) Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk
mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi deteksi
dini, pengobatan, atau rujukan dari komplikasi tertentu.
d) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap
kebudayaan setempat selama persalinan memimpin suatu persalinan
yang bersihbdan aman, serta menangani situasi kegawatdaruratan
tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang
baru lahir.
e) Bidan memberikan asuhan kepada ibu nifas dan menyusui yang
bermutu tinggi terhadap budaya setempat.
f) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada
bayi baru lahir sampai dengan sayu bulan
g) Bidan memberikan asaauhan yang bermutu tinggi, komprehensif
pada bayi dan balita sehat (satu bulan sampai lima tahun).
h) Bidan memberikan asauhan yang bermutu tinggi, dan komprehensif
pada keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan budaya
setempat.
60
i) Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan
reproduksi (Aticeh et all, 2014; h.70-71).
2. Undang-undang Tentang Praktik Bidan UU 23 Tahun 1992
Pasal 50
a) Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau
melaksanakankegiatan kesehatan yang sesuai dengan bidang
keahlian dan sesuai dengan kewenangan tenaga kesehatan yang
bersangkutan.
b) Ketentuan mengenai kategori, jenis dan klasifikaasi tenaga
kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 53
a) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan dalam
melaksanakan tugas sesuai profesinya.
b) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas berkewajiban
mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien.
c) Tenaga kesehatan untuk kepentingaan pembuktian dapat
melakukan tindakan medic terhadap seseoraang dengan
memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan.
d) Ketentuan mengenai staandar profesi dan hak-hak pasien
sebagaimana dimaksud ayat 2 ditentukan dengan peraturan
pemerintah.
61
Pasal 54
a) Terhadap tenaga kesehatan yang melaksanakan kesalahan atau
kelalaian dalam melaksanakan profesi dapat dikenakan tindakan
disiplin.
b) Penentuan ada dan tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana
dalam ayat (1) ditentukan oleh majelis disiplin tenaga kesehatan.
c) Ketentuan mengenai pembentukan fungsi, tugas tata kerja majelis
disiplin tenaga kesehatan ditetapkan oleh keputusan Presiden.
Pasal 55
a) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian
yang dilakukan tenaga kesehatan.
b) Ganti rugi yang sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan
sesuai dengan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
(Karwati et all, 2011; h.71-72).
3. Tiga Standar Pelayanan Nifas
a) Standar 13; Perawatan Bayi Baru Lahir
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan
pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan
kelainan dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan
kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia.
b) Standar 14: Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan.
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya
komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan
62
tindakan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberikan
penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan
ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
c) Standar 15: Pelayanan Bagi Ibu Pada Masa Nifas
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui
kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu ke
enam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu
dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada
masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara
umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi
baru lahir, pemberian ASI, Imunisasi dan KB
(Karwati et all, 2011; h.80).
63
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY.L
UMUR 23 TAHUN P1AO 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI, S.TR.KEB
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
Oleh : Iif Sarifah
Waktu : 05 Juni 2016
Pukul : 18.30 WIB
A. PENGKAJIAN
1. Data Subjektif
a. Identitas
Biodata
Istri Suami
Nama : Ny. L : Tn. R
Umur : 23 Tahun : 26 Tahun
Agama : Islam : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMA : SMA
Pekerjaan : IRT : Wiraswasta
Alamat : Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk Betung
Bandar Lampng
63
64
b. Keluhan Utama : Ibu mengatakan mules pada perutnya dan terasa
lemas.
c. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehataan sekarang
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
TBC : Tidak ada
b. Riwayat kesehatan dahulu
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
TBC : Tidak ada
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
65
Asma : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
TBC : Tidak ada
d. Riwayat Perkawinan
Usia nikah pertama : 22 tahun
Status pernikahan : Syah
Lama pernikahan : 1 tahun
e. Riwayat obstetri
Riwayat Haid
Menarche : 12 Tahun
Siklus : Teratur (28 hari)
Volume : 2-3 kali ganti pembalut/hari
Sifat : Encer
Disminore : Tidak ada
HPHT : 10-09-2015
1) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Tabel 3.1
Tanggal Tempat
Persalinan
Usia
Kehamilan
Jenis
Persalinan
Penolong Penyulit Keadaan Ket
Nifas Anak
66
2) Riwayat Persalinan Sekarang
Jenis Persalinan : Spontan
Tanggal : 05-06-2016
Jenis Kelamin : Perempuan
Panjang Badan : 50 cm
Berat Badan : 3500 gram
Keadaan Bayi : Sehat tanpa cacat
f. Riwayat KB
Tabel 3.2
g. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
1) Pola Nutrisi
Saat Hamil
Makan
Frekuensi : 3x sehari
Porsi : 1 posi sekali makan
Jenis makanan : Nasi, tempe, sayur
Pantangan : Tidak ada
Minum
Frekuensi : ± 4x sehari dengan jumlah
2 gelas setiap kali minum
NO Jenis
Kontrasepsi
Mulai Memakai Mulai Berhenti
Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Alasan
67
Jumlah : ± 8 gelas/hari
Jenis minuman : Air mineral
Saat Nifas
Makan
Frekuensi :Ibu baru makan 1x
Porsi :1porsi sekali makan
Jenis makanan :Nasi, sop, dan daging ayam
Pantangan :Tidak ada
Minum
Frekuensi :± ibu sudah minum 3 kali
Jumlah :± 3 gelas
Jenis minuman :Air mineral
2) Pola eliminasi
Saat Hamil
BAK
Frekuensi : 5-7 x/hari
Warna : Jernih
BAB
Frekuensi : 1x/hari
Warna : Kuning
Konsistensi : Keras
68
Saat Nifas
BAK
Frekuensi : 1 kali pada 8 jam persalinan
Warna : Kuning
BAB
Frekuensi : Belum BAB selama pemantauan 6 jam
postpartum
3) Pola Aktivitas
Saat Hamil : Berjalan-jalan, memasak
Saat Nifas : Saat pengkajian ibu sudah
mampu berjalan sendiri pada 6 jam
postpartum
4) Pola istirahat
Saat Hamil :Malam 6-7 jam dan
siang 1 jam
Saat Nifas : Saat pengkajian ibu
istirahat ditempat tidur
5) Pola Personal Hygiene
: Ganti pembalut bari 1 kali, ibu belum
mengerti tentang cara membersihkan
daerah genetalianya
dari belakang ke depan, dan tidak
69
pernah mengeringkan daerah
genetalianya sehabis BAK dan BAB.
6) Pola Seksual : Tidak dilakukan Pengkajian
7) Psikososial
Tanggapan ibu terhadap dirinya : senang
Tingkat pengetahuan ibu terhadap kondisinya : Baik
Tanggapan keluarga terhadap kelahiran bayi : Baik
Pengambil keputusan : Bersama
Lingkungan berpengaruh : Tidak ada
1. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan emosional : Stabil
TTV
TD : 120/80 mmHg
N : 80x/menit
RR : 23x/menit
T : 36,5o
C
b. Pemeriksaan fisik
1) Kepala
Wajah
70
Pucat :Tidak ada
Oedema :Tidak ada
2) Mata
Simetris :Ya, kanan dan kiri
Kelopak mata :Tidak oedema
Konjungtiva : Merah muda
Sklera : Putih
3) Hidung
Simetris : Ya, kanan dan kiri
Polip : Tidak ada
Kebersihan : Bersih
3) Mulut
Bibir : Lembab
Lidah : Bersih
Gusi : Tidak ada pendarahan
Gigi : Tidak ada caries
4) Telinga
Simetris : Simetris
Gangguan Pendengaran : Tidak ada
5) Leher
Tumor : Tidak ada
71
Pembesaran Kelenjar Tiroid : Tidak ada
Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada
Pembesaran Vena Jugularis :Tidak ada
6) Ketiak
Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada
7) Dada
Retraksi : Tidak ada
Bunyi Mengi dan Ronchi : Tidak ada
8) Payudara
Simetris : Ya, kanan dan kiri
Pembesaran : Ada
Puting Susu : Menonjol
Aerola Mamae : Hiperpigmentasi
Benjolan : Tidak ada
Pengeluaran : Ada, Colostrum
9) Punggung dan Pinggang
Simetris : Simetris
Nyeri ketuk : Tidak ada
10) Abdomen
Benjolan : Tidak ada
Konsistensi : Keras
72
Kantung Kemih : Kosong
Uterus TFU : 2 Jari di bawah pusat
Kontraksi : Baik
11) Anogenital
Labiya Mayora/Minora : Tidak ada
pembengkakan
Kelenjar Bhartolini : Tidak ada
pembesaran
Pengeluaran Vagina
Jenis Lochea : Rubra
Warna : Merah segar
Bau : Amis
Perineum : Terdapat laserasi
Anus : Tidak ada hemoroid
12) Ekstermitas Bawah
Oedema : Tidak oedema
Kemerahan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Reflek Patella : Positif, kanan dan Kiri
73
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
HB : Tidak dilakukan
Golongan Darah : Tidak dilakukan
b. Urine
Protein : Tidak dilakukan
Glukosa : Tidak dilakukan
2) Riwayat Persalinan Sekarang
a) Ibu
Tempat Melahirkan : BPS
Penolong : Bidan
Jenis persalinan : Spontan
Catatan waktu
Kala I : 11 jam 0 menit
Kala II : 1 jam menit
Kala III : 0 jam 10 menit
Kala IV : 2 jam 0 menit
Lamanya : 14 jam 10 menit
Ketuban Pecah pukul : 12.00 WIB
Plasenta
Lahir Secara : Spontan
74
Ukuran : 20 Cm
Berat : ± 500 gram
Panjang Tali Pusat : ± 50 Cm
b) Bayi
Lahir Tanggal/Pukul : 05 Juni 2016 Pukul
12.30 WIB
Jenis Kelamin : Perempuan
Cacat Bawaan : Tidak ada
Masa Gestasi : Aterm, 38 minggu 2 hari
75
TABEL 3.3
MATRIKS
Tgl/Jam Pengkajian Interpretasi data (diagnosa,
masalah dan kebutuhan)
Dx masalah
potensial
Antisipasi/tindakan
segera
Intervensi Implementasi evaluasi
05 Juni
2016
pukul
14.30
WIB
DS:
1. Ibu mengatakan
melahirkan
anak
pertamanya
pada tanggal 05
juni 2016 pukul
12.30 wib
2. Ibu mengatakan
perutnya mulas
DO:
1. Ibu terlihat
sedikit cemas
2. Dari hasil
pemeriksaan
diperolehh hasil
TD: 120/80
RR: 23x/i
N: 80x/i
T: 36,5O
c
3. Payudara
tampak normal,
puting
DX:
Ny. L umur 23 tahun
P1AO 2 Jam postpartum
DS:
1. Ibu mengatakan
melahirkan anak
pertama tanggal 05
juni 2016 pukul 12.30
wib
DO:
1. Ibu melahirkan pukul
12.30 wib
2. Dari hasil pemeriksaan
diperoleh hasil
TD: 120/80
RR: 23x/i
N:80x/i
T: 36,50
c
3. Payudara tampak
normal, puting
menonjol, sudah ada
Tidak ada Tidak ada 1. Jelaskan
tentang
kondisi ibu
saat ini
1. Menjelaskan keadaan
ibu saat ini dalam
keadaan baik sesuai
dengan pemeriksaan
fisik yaitu keadaan
ibu baik
a. Hasil TTV:
TD:120/80
RR: 23x/i
N: 80x/i
T: 36,5O
C
b. Payudara tampak
normal, Puting
menonjol, sudah
ada pengeluaran,
colostrum
c. TFU 2 jari
bawah pusat,
konsistensi
keras, kontraksi
baik
d. Lochea rubra,
terdapat robekan
Perineum
1. Ibu mengerti
keadaanya
saat ini
76
menonjol,
sudah ada
pengeluaran,
colostrums
4. TFU 2 jari
dibawah pusat,
konsistensi
keras,kontraksi
baik
5. Lochea rubra,
terdapat
robekan
perineum
pengeluaran,colostrum
4. TFU 2 Jari dibawah
pusat, konsistensi
keras, kontraksi baik
5. Lochea rubra, terdapat
robekan perineum
Masalah: Tidak ada
Kebutuhan: Asuhan 6
jam postpartum
2. Beritahu ibu
mengenai
keluhan
yang
dirasakan
3. Lakukan
dan ajarkan
pada ibu
atau salah
satu
keluarga
untuk
mencegah
perdarahan
karena
atonia uteri
4. Anjurkan
ibu untuk
memberikan
ASI awal
2. Memberitahu ibu
mengenai keluhan
yang dialami bahwa
rasa mulas yang
dirasakan saat ini
adalah normal karena
adanya proses
pengembalian rahim
kebentuk semula
3. Melakukan dan
mengajarkan ibu atau
salah satu keluarga
untuk mencegah
perdarahan karena
adanya atonia uteri
dengan cara masase
15x dalam 15 detik
pada perut ibu
menggunakan
telapak tangan
dengan meletakkan
diperut ibu dan
sedikit sitekan
diputar agak tidak
terjadi perdarahan
4. Menganjurkan ibu
untuk memberikan
ASI awal yaitu
secara ondemand dan
ekslusif yaitu dengan
menyusui bayi
sesering mungkin
2. Ibu mengerti
bahwa keluhan
yang
dialaminya
adalah normal
3. Masase sudah
dilakukan dan
keluarga ibu
telah mengerti
cara mencegah
perdarahan
dengan
memasase perut
ibu
4. Ibu bersedia
menyusui
bayinya seawal
mungkin
77
5. Lakukan
rawat
gabung ibu
dan bayi
minimal 2 jam sekali
satau bila bayi
menginginkannya.
Secaraa eksklusif
yaitu selama 6 bulan
tanpa makanan
tambahan apapun,
yang banyak
mengandung kadar
protein yang tinghi
dan mengandung zat
antibody sehingga
mampu melindungi
tubuh bayi dari
penyakit infeksi
5. Melakukan rawat
gabung antara ibu
dan bayi yaitu
menempatkan ibu
dan bayi dalam satu
ruangan agar
hubungan bayi dan
ibu lebih dekat dan
ibu dapat
memberikan ASI
secara dini dan
sesering mungkin
5. Ibu bersedia
dan mengerti
tentang rawat
gabung
78
6. Lakukan
pencegahan
hipotermi
7. Anjurkan
ibu untuk
mobilisasi
dini
6. Melakukan
pencegahan
hipotermi dengan
keringkan bayi
secara seksama,
selimuti bayi dengan
selimut atau kain
bersih yang kering
dan hangat, tutup
bagian kepala bayi,
menganjurkan ibu
untuk memeluk dan
menyusui bayinya,
jangan memandikan
bayi dalam 24 jam
postpartum, dan
tempatkan bayi
dilingkungan yang
hangat
7. Menganjurkan ibu
untuk mobilisasi dini
yaitu belajar miring
kiri, kanan, duduk,
kemudian jalan
kekamar mandi
secara perlahan-
lahan untuk
membantu
menguatkan otot-otot
perut sehingga ibu
cepat pulih
6. Bayi sudah
dalam keadaan
hangat
7. Ibu sudah bisa
miring kiri,
kanan.
79
8. Anjurkan
ibu tetap
memenuhi
kebutuhan
nutrisinya
9. Jelaskan
pada ibu
tentang
kebutuhan
istirahat
8. Menganjurkan ibu
untuk terap
memenuhi kebutuhan
nutrisi selama masa
nifas ini, makanan
yang dikonsumsi
haruslah makanan
yang memiliki nilai
gizi yang tinggi
seoertinkarbihidrat
pada nasi, jagung dan
kentang, protein pada
tahu, tempe, telor,
ikan, dan daging,
vitamin pada buah
dan sayur serta
mineral. Agar
kondisi ibu cepat
pulih
9. Menjelaskan kepada
ibu tentang
kebutuhan istirahat
pada ibu nifas yaitu
memerlukan istirahat
yang cukup sekitar 8
jam pada malam hari
dan 1 jam pada siang
hari atau saat bayi
tertidur, usahakan
agar ibu dapat
beristirahat
semaksimal mungkin
hal ini agar kondisi
8. Ibu mengerti
tentang
kebutuhan
nutrisinya
9. Ibu bersedia
untuk istirahat
80
10. Ajarkan
pada ibu
tentang
personal
hygiene
ibu tetap terjaga
selama masa nifas.
Apabila kurang
istirahat dapat
menyebabkan
produksi ASI
berkurang, proses
involusi berjalan
lambat sehingga
dapat menyebabkan
perdarahan
10. Mengajarkan ibu
tentang personal
hygiene yaitu:
a. Menganjurkan
ibu untuk
membersihkan
seluruh tubuh
b. Mengajarkan
ibu bagaimana
membersihkan
daerah
kemaluan
dengan air
bersih pastikan
bahwa ia
mengerti untuk
membersihkan
daerah vulva
terlebih dahulu
dari arah depan
kebelakang,
baru kemudian
10. Ibu mengerti
pola personal
hygiene yang
baik
81
membersihkan
daerah anus
c. Menyarankan
ibu untuk
mengganti
pembalut
setidaknya 2
kali sehari atau
bila sudah
terasa penuh
d. Menyarankan
ibu untuk
mencuci tangan
dengan sabun
dan air bersih
sebelum dan
sesudah
membersihkan
daerah
kelaminnya
82
05 Juni
2016
pukul
20.30
wib
DS:
1. Ibu mengatakan
melahirkan
anak
pertamanya
pada tanggal 05
juni 2016 pukul
12.30 wib
2. Ibu mengatakan
perutnya mulas
DO:
1. Ibu terlihat
sedikit cemas
2. Dari hasil
pemeriksaan
diperoleh hasil
TD: 120/80
RR: 23x/i
N:81x/i
T: 36,5o
c
3. Payudara
tampak normal,
puting susu
menonjol,
sudah ada
pengeluaran,
colostrums
4. TFU 2 jari
dibawah pusat,
konsistensi
DX:
Ny. L umur 23 tahun P1A0
8 Jam postpartum
DS:
1. Ibu mengatakan
melahirkan anak
pertamanya pada
tanggal 05 juni 2016
pukul 12.30 wib
2. Ibu mengatakan
perutnya mulas
DO:
1. Ibu terlihat sedikit
cemas
2. Dari hasil
pemeriksatan diperoleh
hasil
TD: 120/80
RR: 23x/i
N: 81x/i
T: 36,5O
C
3. Payudara tampak
normal , puting
menonjol, sudah ada
pengeluaran,
colostrums
4. TFU 2 Jari dibawah
pusat, konsistensi
keras, kontraksi baik
Tidak ada Tidak ada 1. Evaluasi
kondisi ibu
saat ini
2. evaluasi
kembali
bahwa ibu
masih
merasa
mulas
1. Mengevaluasi
kondisi ibu saat ini
dalam keadaan baik
sesuai dengan hasil
pemeriksaan yaitu
keadaan umum
baik
a. TTV:
TD: 120/80
RR: 23x/i
N: 81x/i
T: 36,5O
C
b. Payudara
tampak normal,
puting
menonjol,
sudah ada
pengeluaran,col
ostrums
c. TFU 2 Jari
dibawah pusat,
konsistensi
keras, kontraksi
baik
2. Mengevaluasi pada
ibu bahwa rasa
mulas yang dialami
adalah hal yang
normal
1. Ibu sudah
mengetahui
kondisinya saat
ini dalam
keadaan baik
2. Ibu mengerti
bahwa rasa
mulas yang
dialami adalah
hal yang
normal, ini
dikarenakan
proses
pengembalian
83
keras, kontraksi
baik
5. Lochea rubra,
terdapat
robekan
perineum
5. Lochea rubra, terdapat
robekan perineum
Masalah: Tidak ada
Kebutuhan: Asuhan 6
jam postpartum
3. Pastikan dan
evaluasi
pencegahan
perdarahan
yang telah
diajarkan
keluarga
4. Evaluasi
kepada ibu
tentang
pemberian
ASI awal
5. Evaluasi
mengenai
rawat
gabung
antara ibu
dan bayi
6. Evaluasi
pencegahan
hypotermi
3. Memastikan dan
mengevalusi
pencegahan
perdarahan yang
telah diajarkan
dengan melakukan
masase 15x dalam
15 detik pada
uterus ibu yang
diajarkan kepada
keluarga
4. Mengevaluasi ibu
mengenai
pemberian ASI
awal
5. Mengevaluasi
rawat gabung
antara ibu dan bayi
6. Mengevaluasi
pencegahan
hypotermi
rahim kebentuk
semula
3. Ibu dan
keluarga telah
melakukan
masase perut
ibu dan
kontraksi baik,
tidak terjadi
perdarahan
4. Ibu telah
menyusui
bayinya 3 kali
dan bayi cukup
ASI
5. Ibu dan bayi
telah disatukan
dalam satu
ruangan agar
terjalin kasih
sayang antara
ibu dan bayi
6. Bayi dalam
keadaan baik
dan telah
dibedong
dengan
84
7. Evaluasi ibu
tentang
mobilisasi
dini
8. Evaliasi
kebutuhan
nutrisi ibu
9. Evaluasi
kebutuhan
istirahat ibu
7. Mengevaluasi ibu
mengenai
mobilisasi dini
yang telah
dianjurkan pada ibu
8. Mengevaluasi ibu
akan kebutuhan
nutrisi ibu
9. Mengevaluasi
kebutuhan
istirahat ibu
menggunakan
kainkering serta
bayi telah
menggunakan
tutup kepala
7. Ibu telah
mampu miring
kanan dan kiri
serta berjalan
kekamar mandi
8. Ibu sudah
memenuhi
kebutuhan
nutrisi dengan
makan satu
piring nasi
dengan lauk
tempe dan telur
serta sayur
bayam dan 1
buah jeruk,
ditambahkan
dengan 1 gelas
teh manis
9. Ibu sudah
memenuhi
kebutuhan
istirahatnya
dengan tidur
selama 6
85
10. Evaluasi
personal
hygiene ibu
11. Anjurkan
ibu untuk
kunjungan
ulang
10. Mengevaluasi
personal hygiene
ibu
11. Menganjurkan ibu
untuk
melakukankunjung
an ulang dan
apabila terdapat
keluhan dan tanda-
tanda bahaya pada
masa nifas
jam setelah
persalinan
10. Ibu sudah
mandi dan
mengganti
pembalut
sebanyak 2 kali
11. Ibu bersedia
untuk
melakukan
kunjungan
ulang pada
tanggal 11 juni
2016 dan
apabila terdapat
keluhan.
86
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian (Pengumpulan Data Dasar)
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua
data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan
langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131).
Pada pengkajian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang
keadaan pasien pada Ny. L dengan asuhan kebidanan Ibu Nifas terhadap
Ny.L umur 23 Tahun P1A0 6 Jam Postpartum di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung, dan didapatkan hasil yaitu sebagai berikut:
1. DATA SUBJEKTIF
a. Nama
1) Tinjauan Teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari
agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h. 131).
2) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian, nama ibu diberi inisial Ny. L
87
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus
dimana bidan mengkaji nama pasien dengan jelas dan lengkap dan
tercatat dalam buku registrasi agar dalam memberikan penanganan
tidak terjadi kekeliruan.
b. Umur
1) Tinjauan Teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang,
mentalnya dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari
35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131).
2) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian, Ny.L berumur 23 tahun
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara
keseluruhan Ny.L mengatakan usianya 23 tahun dimana
berdasarkan teori usia ibu masih termasuk usia reproduktif dan
tiak termasuk pada faktor resiko.
88
c. Agama
1) Tinjauan Teori
Untuk memgetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing
atau mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h. 131).
2) Tinjauan Kasus
Setelah dikaji Ny. L adalah agama islam
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada
kesenjangan karena penulis mendengar Ny.L menyebut asma
Allah dan berdoa saat proses persalinan. Begitu juga saat
persalinan bidan yang memimpin persalinan menyarankan
keluarga untuk banyak berdoa.
d. Suku/bangsa
1) Tinjauan Teori
Berpengaruh pada istiadat atau kebiasaan sehari-hari
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
2) Tinjauan Kasus
Ibu berkebangsaan Indonesia dan suku ibu Jawa
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena didalam keluarga tidak menganut kepercayaan
89
yang berhubungan dengan adat istiadat dalam suatu suku di dalam
keluarga tersebut.
e. Pendidikan
1) Tinjauan Teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 132).
2) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian pendidikan Ny.L SMA
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teri dan tinjauan kasus
karena tingkat pendidikan ibu adalah SMA, pada saat memberikan
konseling kepada klien dengan menggunakan bahasa yang baik
dan mudah dimengerti dan mampu melaksanakan konseling yang
telah diberikan.
f. Pekerjaan
1) Tinjauan Teori
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut (Ambarwati dsan Wulandari, 2010; h. 132).
2) Tinjauan Kasus
Ny.L bekerja sebagai ibu rumah tangga, suami wiraswasta
90
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena meskipun Ny.L hanya sebagai ibu rumah
tangga tetrapi nutrisi dan kebutuhan sehari-haari terpenuhi sebab
hal ini didukung oleh pekerjaan suami sebagai wiraswata
g. Alamat
1) Tinjauan Teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
2) Tinjauan Kasus
Ny.L Beralamat di Jl. Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk
Betung Bandar Lampung.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada
kesenjangan karena saat bidan melakukan pengkajian Ny.L di Jl.
Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk Betung Bandar Lampung.
Menurut teori alamat dikaji untuk mempermudah kunjungan
rumah bila diperlukan.
h. Keluhan Utama
1) Tinjauan Teori
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alaan pasien datang
ke fasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati, 2009; h. 111)
91
2) Tinjauan Kasus
Ny.L mengeluh terasa mulas pada perutnya dan ibu merasa lemas
setelah melahirkan anak pertamanya.
3) Pembahasan
Tidak terdapat kesenjanagan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus dikarenakan dengan bidan mengkaji keluhan utama pasien
bidan dapat mengetahui hal yang dirasakan oleh pasien dan bidan
dapat segera memberikan penanganan.
i. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Tinjauan Teori
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini uang ada hubungannya
dengan masa nifas dan bayinya (Ambarwati dan Wulandari, 2010;
h. 133).
2) Tinjauan Kasus
Ny.L tidak memiliki riwayat penyakit penyulit baik penyakit
keturunan Diabetes, Hipertensi, Jantung, Asma ataupun penyakit
menular seperti Hepatitis, PMS/HIV AIDS, Dikeluarga ibu juga
tidak ada yang memiliki riwayat penyakit menular ataupun
keturunan.
92
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.L tidak memiliki riwayat penyakit baik
dari ibu maupun dari keluarga pada saat ini.
j. Riwayat Kesehatan yang Lalu
1) Tinjauan Teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, Hipertensi,
Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini (Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 133).
2) Tinjauan Kasus
Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit
seperti penyakit menular mauapun penyakit keturunan.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena dengan menganamnesa riwayat kesehatan yang lalu, bidan
dapat mengetahui bahwa Ny.L tidak memiliki penyakit yang
mempengaruhi masa nifasnya.
k. Riwayat Kesehatan Keluarga
1) Tinjauan Teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadaap gangguan pasien dan
93
bayinya yaitu apabila ada penyakit keluarga menyertainya
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
2) Tinjauan Kasus
Ibu mengatakan keluarganya tidak sedang/pernah menderita
penyakit seperti penyakit menular maupun penyakit keturunan
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena dengan menganamnesa riwayat kesehatan keluarga Ny.L
tidak memiliki riwayat penyakit menular maupun keturunan yang
mempengaruhi masa nifasanya.
l. Riwayat Perkawinan
1) Tinjauan Teori
Hal ini penting untuk bidan kaji karena dari data inilah bidan akan
mendapatkan gambaran mengenai suasanan rumah tangga
pasangan.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain:
a) Usia nikah pertama kali
b) Status pernikahan
c) Lama pernikahan
d) Ini adalah suami yang ke
(Sulistyawati, 2009; h. 114).
94
2) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny.L menikah usia 22 tahun dam
status pernikahannya syah, lama 1 tahun.
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena saat bidan
melakukan pengkajian, bidan menanyakan pada pasien mengenai
usia nikah pertama kali, status pernikahan, lama pernikahan, dan
suami keberapa. Ibu mengatakan ini pernikahan yang syah yang
sudah berjalan 1 tahun, dapat disimpulkan suasana rumah tangga
Ny.L dalam keadaan baik.
m. Riwayat Obstetrik
1) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu
a) Tinjauan Teori
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak,
cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas
yang lalu (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
b) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny.L baru pertama kali
melahirkan dan tidak pernah abortus
c) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus sehingga bidan
mengetahui bahwa Ny.L baru melahirkan satu kali dan tidak
pernah abortus.
95
2) Riwayat Persalinan Sekaraang
a) Tinjauan Teori
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jemis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini
perlu dikaji untuk mengdetahui apakah proses persalinan
mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada
masa nifas saat ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134)
b) Tinjauan Kasus
Dalam riwayat obstetric Ny.L pada persalinan sekarang Ny.L
melahirkan pada tanggal 05 juni 2016. Jenis persalinan
spontan, dengan PB 50 cm dan BB 3500 gram dan ditolong
oleh bidan.
c) Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan
kasus dikarenakan pada saat bidan mengkaji terhadap riwayat
persalinan sekarang bidan dapat mengetahui bahwa Ny.L
melahirkan secara spontan pervaginam, pada tanggal 05 Juni
2016. Jenis persalinan spontan, jenis kelamin perempuan
dengan PB 50 cm dan berat badan 3500 gram dan ditolong
oleh bidan. dan proses persalinan tidak mengalami kelainan
yang berpengaruh pada masa nifas pada saat ini.
96
n. Riwayat KB
1) Tinjauan Teori
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
dan beralih ke kontrasespsi apa
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134).
2) Tinjauan Kasus
Ny.L sebelumnya belum pernah memakai KB
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara
keseluruhan sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L belum
pernah menggunakan alat kontrasepsi.
o. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
1) Nutrisi
a) Tinjauan Teori
Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,
banyaknya, jenis makanan, dan pantangan makanan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136).
b) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian, ibu baru makan 1 kali dari
setelah melahirkan dengan menu nasi, sayur sop, lauk pauk 1
97
potong daging ayam dan satu potong tempe serta air putih dan
teh hangat dan ibu tidak memiliki pantangan dalam makan dan
minum.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara
menyeluruh sehingga bidan mengetahui Ny.L segera
memenuhi kebutuhan nutrisinya dan Ny.L tidak memiliki
pantangan makanan apapun yang dapat mengganggu pada
proses masa nifas
2) Eliminasi
a) Tinjauan Teori
Menggambarkan pola fungsi eksresi yaitu kebiasaan ibu
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi, dan
kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, dan
jumlah (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136).
b) Tinjauan Kasus
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan
pengkajian Ny.L telah BAK setelah 3 jam postpartum yaitu
pada pukul 15.30 wib dan ibu belum BAB dimana
berdasarkan teori normal ibu nifas mengalami defekasi adalah
98
pada hari 3-4 setelah persalinan dan ibu mengalami BAK 3-4
jam postpartum.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus pola eliminasi
pada Ny L tidak terdapat kesenjangan karena dalam 3 jam
post partum Ny L sudah BAK dengan frekuensi dan warna
yang normal. Hal ini sesuai dengan teori yang ada yaitu ibu
akan BAK pada 3-4 jam setelah bersalin dengan frekuensi dan
warna yang normal
3) Pola istirahat
a) Tinjauan Teori
Menggambarkan pola instirahat daan tidur pasien, berapa jam
pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya, membaca,
mendengarkan musik, kebiasaan mengonsumsi obat tidur,
kebiasaan tidur siang, dan penggunaan waktu luang. Istirahat
sangat cukup penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat
yang cukup dapat mempercepat penyembuhan (Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 136).
b) Tinjauan Kasus
Saat pengkajian ibu beristirahat di tempat tidur
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena ibu sudah beristrirahat selama 2 jam
99
sehingga dapat membantu pemulihan tenaga ibu yang lelah
setelah bersalin.
4) Aktivitas
a) Tinjauan Teori
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola
ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya.
Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat proses
pengembalian alat-alat reproduksi. Apakah ibu melakukan
ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan, dengan bantuan
atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 137).
b) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny.L sudah mampu ke kamar
mandi sendiri pada 6 jam postpartum.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara
menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L sudah
melakukan ambulasi dengan baik sehingga dapat membantu
proses involusi uterus dengan baik
100
5) Personal hygiene
a) Tinjauan Teori
Dikaji untuk mengetahui apakah ibubselalu menjaga
kebersihan tubuh terutamaa pada daerah genetalia, karena
masa nifas masih mengeluarkan lochea
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 135).
b) Tinjauan Kasus
Saat pengkajian ibu sudah mengganti pembalut sebanyak 2
kali tetapi ibu kurang mengerti cara menjaga personal hygiene
khususnya pada bagian genetalia.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bida melakukan pengkajian
Ny.L sudah mengganti pembalutnya sebanyak 2 kali tetapi ibu
kurang mengerti dan kurang menjaga kebersihan diri terutama
bagia genetalianya. Seperti, ibu masih membersihkan
kemaluannya dari arah belakang krdeepan, tidak
mengeringkan genetalian bila sehabis BAK serta tidak
mencuci tangan saat sesudah BAK.
6) Kehidupan Sosial Budaya
a) Tinjauan Teori
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat
istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien
101
khususnya pada yang masa nifas misalnya pada kebiasaan
pantang makan (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
b) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajian keluarga Ny.L menganut adat
istiadat yang akan merugikan bayi Ny.L
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus terdapat
kesenjangan dikarenakan Ny.L tidak memberikan ASI
colostrums pada bayinya, hal ini dapat berpengaruh bagi bayi
Ny L, karena ASI kolostrum sangat bermanfaat bagi kekebalan
tubuh bayi.
7) Data Psikososial
a. Tinjauan Teori
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya.
Wanita mengalami banyak perubahan emosi/ psikologis
selamamasa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi
seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan
beberaapa hari setelah kelahiran. Depresi tersebut sering
sebagai postpartum blues. Postpartum blues sebagian besar
merupakan perwujudan fenomena psikologis yang dialami oleh
wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinyaa. Hal ini sering
terjadi sering diakibatkan oleh sejumlah faktor.
102
(1) Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan
takut yangbdialami kebanyakan wanita selama kehamilan
dan persalinan.
(2) Rasa sakit masa nifas awal
(3) Kelelahan karena kurang tidutr selama persalinan dan
postpartum.
(4) Kecemasan pada kemampuannya untuk merawat bayinya
setelah meninggalkan rumah sakit.
(5) Rasa taakut tidak menarik lagi bagi suaminya
Menjelaskan Pengkajian psikologisnya:
(6) Respon keluarga terhadapnibudan bayinya
(7) Respon ibu terhadap bayinya
(8) Respon ibu terhadap dirinya
(Ambarwati dan Wulandari, 2010)
b. Tinjun Kasus
Setelah dilakukan pengkajian ibu mengatakan sangat senag
dengan kelahiran bayinya, dan ibu secara perlahan mulai
merawat bayinyandengan senang hati. Status emosional ibu
stabil, dan respon keluarga terhadap bayinya baik.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidaak terdapat
kesenjangan karena pada saat bidan melakukan pengkahian ibu
dalam keadaan stabil, ibu dapat menerima bayinya serta
103
merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan respon keluarga
juga baik terhadap bayinya.
8) Data Pengetahuan
a) Tinjauan Teori
Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang
perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan
selama masa nifas (Ambarwati dan Wulandaari, 2010).
b) Tinjauan Kasus
Setelah dilakukan pengkajiaan Ny.L kurang mengerti
mengenai perawatan setelah melahirkan
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara
keseluruhan sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L kurang
mengerti mengenai perawatan setelah melahirkan.
2. DATA OBJEKTIF
Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus
melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,
palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan.
Langkah-langkah pemeriksaanya sebagai berikut:
104
a. Keadaan Umum
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan
pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan
laporkan dengan kriteria:
a) Baik
Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika pasien
memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami
ketergantungan dalam berjalan.
b) Lemah
Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak
memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan
sendiri.
2) Tinjauan Kasus
Keadaan Ny.L : Baik
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian
secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa ibu saat ini dalam
keadaan baik.
105
b. Kesadaran
1) Tinjauan Teori
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan
dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari
keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
coma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
(Sulistyawati, 2009; h. 121-122).
2) Tinjauan Kasus
Kesadaran Ny.L Composmentis
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara
menyeluruh pada Ny.L dan kesadaran ibu dalam keadaan
composmentis.
c. Tanda-tanda Vital
1) Tekanan Darah
a) Tinjauan Teori
Sangat penting untyk mengetahui tekanan darah normal
seseorang karena adanya perbedaan tekanan darah pada
setiap individu. Peningkatan atau penurunan 20-30 mmHg
pada tekanan darah seseorang adalah bermakna, bahkan
walaupun itu masih dalam rentan normal
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 50).
106
Tekanan darah adalah tekana yang dialami darah pada
pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke
seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal
manusia adalah sistolik 90-120 mmHg dan diastolik 60-80
mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah
biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi
lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh
perdarahan. Sedangkan tekann darah tinggi pada postpartum
merupakan tanda terjadinya pre eklampsi postpartum.
Namun demikian , hal tersebut sangat jarang terjadi
(Rukiyah et all, 2011; h. 69).
b) Tinjauan Kasus
Tekanan darah Ny.L TD: 120/80 mmHg
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan
pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa
Ny.L saat ini tidak mengalami peningkatan atau penurunan
tekanan darah dimana dari hasil pemeriksaan didapatkan
TD: 120/80 mmHg.
107
2) Nadi
a) Tinjauan Teori
Nadi adalah gelombang yang diakibatkan oleh adanya
perubahan pelebaran (vasodilatasi) dari penyempitan
(vasokontriksi) dari pembuluh darah arteri akibat kontraksi
ventrikel melawan dinding aorta. Tekanan nadi adalah
tekanan yang ditimbulkan oleh perbedaan sistolik dan
diastolic. Denyut nadi dipengaruhi oleh saraf simpatik
(untuk meningkatkan) dan saraf parasimpatik (untuk
menurunkan) )Tambunan dan Kasim, 2011; h. 34).
b) Tinjauan Kasus
Nadi Ny.L : 80x/menit
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian
secara menyeluruh, sehingga bidan mengetahui bahwa nadi
Ny.L dalam batas normal, dimana didapatkan hasil
80x/menit.
3) Pernafasan
a) Tinjauan Teori
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekuensi
pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan
(Uliyah dan hidayat, 2009; h. 159).
108
b) Tinjauan Kasus
Pernafasan Ny.L 23x/menit
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan
pengkajian secara menyeluruh vidan mengetahui bahwa
pernafasan Ny.L dalam batas normak dimana hasil
pemeriksaan didapat 23x/menit.
4) Suhu Badan
a) Tinjauan Teori
Suhu tubuh adalah derajat panas yang dipertahankan oleh
tubuh dan diatur oleh hipotalamus (dipertahankan dalam
batas normal yaitu ±6o
c dari 37o
c) dengan menyeimbangkan
antara panas yang dihasilkan dan panas yang dilepaskan
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 15).
b) Tinjauan Kasus
Suhu Ny.L 36,5 o
c
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian
secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa suhu
ibu dalam batas normal, dimana hasil yang didapat dari
pemeriksaan yaitu 36,5o
c.
109
d. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
a) Tinjauan Teori
Kepala merupakan organ tubuh yang perlu dikaji karena
pada kepala terdapat organ-organ yang sangat penting yang
meliputi:
(1) Mata
Tujuan pengkajian mata untuk mengetahui bentuk dan
fungsi mata. Dalam setiap pengkajian selalu
dibandingkan antara mata kana dengan kiri. Teknik
yang digunakan adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi
merupakan teknik yang paling penting dilakukan
sebelum palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 67).
(2) Hidung
Hidung dikaji untuk mengetaahui keadaan bentuk dan
fungsi hidung. Dimulri bagian luar hidung dalam , lalu
sinus-sinus. Bila memungkinkan, selama pemeriksaan
klien dalam posisi duduk
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81).
(3) Mulut
Pemeriksaan mulut dan fungsi faring harus dilakukan
dengan pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat
semua bagian dalam mulut
110
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81).
(4) Telinga
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran
dan menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara
umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga
luar, saluran telinga, gendang telinga/membrane
timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian yang
digunakan umumnbya adalah inspeksi dan palpasi
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73).
b) Tinjauan Kasus
Dari hasil pemeriksaan kepala Ny.L Tidak terdapat
kelainan, pada bagian mata ibu tidak terdapat
pembengkakan pada bagian kelopak mata, konjungtiva
tidak pucat serta sclera berwarna putih. Pada bagian hidung
ibu tidak terdapat pembesaran polip dan kebersihan cukup
bersih. Bagian mulut ibu tidak terdapat pembengkakan pada
gusi , keadaan lidah bersih dan tidak ada karies gigi. Bagian
telinga tidak terdapat gangguan pendengaran.
2) Leher
a) Tinjauan Teori
Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk
leher, serta organ-organ penting yang berkaitan. Pengkajian
dimulai dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakukan
111
untuk melihat apakah ada kelainan dan ada tidaknya
pembengkakan. Pemeriksaan palpasi ditunjukkan untuk
melihat apakah ada masa yang teraba pada kelenjar limfe,
kelenjar tiroid, dan trakea. (Tambunan dan Kasim, 2012; h.
83).
b) Tinjauan Kasus
Dari hasil pemeriksaan leher Ny.L tidak terdapat
pembesaran kelenjar limfe dan tiroid
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian
secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa
bagian leher Ny.L tidak terdapat kelainan. Serta tidak
terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid.
3) Dada
a) Payudara:
(1) Tinjauan Teori
Payudara:
Pada payudara, terjadi proses laktasi. Dalam hal
melakukan pengkajian fisik dengan perabaan apakah
terdapat benjolan, pembesaran kelenjar, atau abses,
serta bagaimana keadaan puting
(Sulistyawati, 2009; h. 124).
112
(2) Tinjauan Kasus
Dari hasil pemeriksaan payudaraNy. L tidak terdapat
benjolan, terdapat pembesaran, terjadi hiperpigmentasi
pada bagian areola, puting susu menonjol dan sudah ada
pengeluaran ASI berupa kolostrum
(3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan
melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan
mengetahui bahwa pada bagian payudara ibu tidak
terjadi kelainan, semua dalam batas normal.
4) Abdomen
a) Tinjauan teori
(1) Uterus:
Pada pemeriksaan uterus sama hal nya dengan
pemeriksaan payudara dilakukan terlebih dahulu periksa
pandang warna perut, pembesaran pada perut, kemudian
lakukan pemeriksaan raba (palpasi) yakni: periksa ada
tidaknya rasa nyeri saat diraba, periksa kontraksi uterus,
kemudian raba tinggi fundus.
(Rukiyah et all, 2011; h. 99).
113
Keadaan involusi uterus selama nifas
1. Bayi lahir setinggi pusat 1000 gram
2. Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram
3. Satu minggu pertengahan puat-simfisis 500 gram
4. Dua minggu tak teraba atas simfisis 350 gram
5. Enam minggu bertambah kecil 50-60 gram
6. Delapan minggu sebesar normal 30 gram
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57).
(2)Kandung kemih:
Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap
keadaan kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan kandung
kemih jangan diabaikan karena jika kontraksi terhambat
oleh kandung kemih yang penuh bisa berakibat keluar
darah yang cukup banyak (perdarahan), pemeriksaan
kandung kemih dilakukan bersamaan saat memeriksa
pembesaran uterus, jika kandung kemih penuh ajarkan
ibu untuk buang aair kecil, jika ibu tidak bisa buang air
kecil secara spontan dapat dikeluarkan dengan kateter
sekali pakai (Rukiyah et all, 2011; h. 100).
b) Tinjauan Kasus
Dari hasil pemeriksaan abdomen Ny.L TFU teraba 2 jari
dibawah pusat dengan kontraksi baik dan konsistensi keras
dan kandung kemih kosong
114
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian
secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa pada
bagian abdomen Ny.L sesuai dengan teori yaitu TFU ibu
sudah sesuai 2 jari dibawah pusat konsistensi keras dan
kontraksi baik serta bagian kandung kemih ibu kososng
karena ibu sudah dapaat buang air kecil secara spontan dan
tidak terdapat perdarahan.
5) Anogenital
a) Tinjauan Teori
Genetalia:
(1) Lochea:
Normal:
Merah Hitam (Lochea rubra)
Bau biasa
Tidak ada bekuan darah atau butir-butir darah beku
(ukuran jeruk kecil)
Jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya
perlu mengganti pembalut 3-5 jam)
(2) Keadaan perineum: oedema, hematoma, bekas luka
episiotomi/robekan, hecting.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 140-141).
115
b) Tinjauan Kasus
Dari hasil pemeriksaan Ny.L lochea yang keluar adalah
lochea rubra yang berwarna merah segar terdapat robekan
pada perineum
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaua kasus tidak terjadi
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan
pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa
bagian genetalia ibu masih dalam keadaan yaitu lochea
yang keluar adalah lochea rubra berwarna merah segar.
6) Ekstremitas
a) Tinjauan Teori
Keadaan Ekstremitas: Varices, Oedema, Reflek patella
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141).
b) Tinjauan Kasus
Pada bagian ekstremitas Ny.L tidak terdapat varices dan
oedema serta reflek patella positif
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan
pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa
tidak ada kelainan pada bagian ekstremitas ibu seperti
oedema pada tungkai dan muka ibu
116
B. Interpretasi Data
Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga
dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan
diagnosis maupun masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah
tidak bisa dikataakan sebagaai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan
penanganan. (Soepardan, 2007; h. 99).
1. Diagnosa Kebidanan
a. Tinjauan Teori
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis,
masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang
benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari
perumusan diagnose atau masalah adalah pengolahan data dan
analisa dengan menggabungkan data satu dengan lainnya
sehingga tergambar fakta (Sulistyawati, 2009; h. 125).
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus,
anak hiup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi:
1) Data Subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah
abortus tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu
tentang keluhannya.
117
2) Data Objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil
pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginan, hasil
pemeriksaan tanda- tanda vital
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141-142).
b. Tinjauan Kasus
1) Didapatkan diagnosa pada Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 Jam
post partum
a) Data subjektif
(1) Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada
tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30 wib
(2) Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan ibu
merasa lelah
b) Data objektif
(1) Ibu melahirkan pukul 12.30 wib
(2) Hasil pemeriksaan TTV
TD : 120/80 mmHG
RR : 23x/i
N : 80x/i
T : 36,5 o
C
(3) Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada
pengeluaran colostrums.
118
(4) TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras,
kontraksi baik
(5) Lochea rubra, terdapat robekan perineum 8 Jam
postpartum.
2. Didapatkan diagnosa pada Ny L 23 tahun P1A0 8 jam post
partum
a) Data Subjektif :
(1) Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada
tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30 wib
(2) Ibu mengatakan perutnya mulas dan ibu merasa lelah
b) Data Objektif :
(1) Ibu melahirkan pukul 12.30 wib
(2) Hasil pemeriksaan TTV
TD : 120/80 mmHg
RR : 23x/i
N : 80xx/i
T : 36,5o
C
c) Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada
pengeluaran, colostrums
d) TFU 2 Jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi
baik
e) Lochea rubra, terdapat robekan pada perineum 8 jam
postpartum
119
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan menegakkan diagnose
berdasarkan hasil dari pengkajian yang telah dikumpulkan.
2. Masalah
a. Tinjauan Teori
Dalam asuhan kebidanan istilah “masalah” dan “diagnosis”
dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat
didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan
untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering
berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan
terhadap diagnosisnya
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h. 229).
b. Tinjauan Kasus
Selama 6 jam postpartum Ny.L Mengeluh perutnya masih terasa
mulas
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan telah menentukan masalah pasien
yang tidak dapat dimasukkan kedalam diagnose yaitu ibu
merasakan mulas pada perutny dimana keluhan tersebut adalah hal
yang normal karena terjadinya proses invousi.
120
3. Kebutuhan
a. Tinjauan Teori
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan
keadaan dan masalahnya.
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h. 229).
b. Tinjauan Kasus
Kebutuhan Ny.L adalah Asuhan 6 jam postpartum
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan Ny.L tidak memiliki masalah dan saat
pengkajian dalam keadaan baik sehingga ibu membutuhkan
asauhan 6 jam postpartum normal.
C. Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial
1. Tinjauan Teori
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan.
Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 143).
121
2. Tinjauan Kasus
Berdasarkan masalah atau diagnosis tidak terdapat maslah potensial
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan berdasarkan diagnosa yang telah bidan
tegakkan, Ny.L tidak memiliki masalah potensial.
D. Tindakan Segera atau Kolaborasi
1) Tinjauan Teori
Mengidentifikasi perlunya penanganan segera oleh bidan atau dokter
untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggotaa tim
kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien, misalnya klien
mengalami kejang atau perdarahan.
(Rukiyah et all, 2011; h. 110).
2) Tinjauan Kasus
Tidak ada tindakan segera yang dilakukan pada Ny.L karena tidak ada
keadaan patologis yang memerlukan penanganan segera
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan dari hasil diagnose bidan pada Ny.L tidaak
ditemukan keadaan patologis yang memerlukan tindakan segera.
122
E. Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh
1. Tinjauan Teori
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang
ditemukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang
telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi
data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
(Soepardan, 2007; h. 101).
Asuhan yang diberikan pada 6-8 jam postpartum :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberi
rujukan bila perdarahan berlanjut
c. Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggotaa keluarga
mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
d. Pemberiaan ASI awal
e. Melakukan hubugan antara ibudan baayi baru lahir
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
(Dewi dan Sunarsih, 201; h. 4-5).
2. Tinjauan Kasus
a. Rencana asuhan yangdiberikan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul
14.30 wib adalah:
1) Jelaskan tentang kondisi ibu saat ini
123
2) Beritahu ibu mengenai keluhan yang dialami
3) Lakukan dan ajarkan ibu atau salah satu keluarga untuk
mencegah perdarahan karena aotonia uteri
4) Tanayakan pada ibu tentang pemberian ASI awal
5) Anjurkan ibu untuk memberikan ASI
6) Lakukan rawat gabung ibu dan bayi
7) Lakukan pencegahan hipotermi
8) Anjurkan ibuuntuk mobilisasi dini
9) Anjurkan ibu untuk tetaap memenuhi kebutuhan nutrisinya
10) Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan istirahat
11) Ajarkan ibu tentang personal hygiene
b. Rencana asuhan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib
1) Pantau kondisi ibu saat ini
2) Pastikan dan evaluasi kembali bahwa ibu masih merasa mulas
3) Pastikan dan evaluasi pencegahan perdarahan yang telah
diajarkan kepada keluarga
4) Pastikan dan evaluasi kepada ibu tentang pemberian ASI
5) Pastikan dan evaluasi mengenai rawat gabungantara ibu dan
bayi
6) Pastikan dan evaluasi pencegahan hipotermi
7) Pastikan dan evaluasi tentang mobilisasi dini
8) Pastikan dan evaluasi kebutuhan nutrisi ibu
9) Pastikan dan evaluasi kebutuhan istirahat ibu
124
10) Pastikan dan evaluasi personal hygiene ibu
11) Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan
kesenjangan dikarenakan penulis telah melakukan perencanaan asuhan
yang sesuai dengan teori yang menyatakan Kebijakan Program
Nasional masa nifas 6-8 jam postpartum sebagai berikut :
a. Mencegah terjadinya perdarahan
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberika
rujukan bila perdarahan berlanjut.
c. Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
d. Pemberian ASI pada awal menjadi ibu
e. Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
F. Pelaksanaan Langsung Asuhan
1. Tinjauan Teori
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada
klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan
secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 145).
125
2. Tinjauan Kasus
a. Penatalaksanaan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 14.30 wib
adalah:
1) Menjelaskan keadaan ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai
dengan pemeriksaan fisik yaitu keadaan ibu baik. Hasil TTV
TD: 120/80 mmHg, RR: 23x/i, N: 80x/i, T: 36,5o
C. Payudara
tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran,
colostrums. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras,
kontraksi baik. Lochea rubra, terdapat robekan pada perenium.
2) Memberitahu ibu mengenai keluhan yang dialami bahwa rasa
mulas yang dirasakan saat ini adalah normal karena adanya
proses kembalinya rahim kebentuk semula. Serta rasa lelah
yang dialami ibu adalah karena ibu mengalami dehidrasi
setelah persalinan.
3) Melakukan dan mengajarkan ibu atau salah satu keluarga untuk
mencegah perdarahan karena atonia uteri dengan cara
memasase perut ibu menggunakan telapak tangan dengan
meletakkan diperut ibu dan sedikit ditekan dan diputar tidak
terjadi perdarahan.
4) Menanyakan pada ibu tentang pemberian ASI awal/IMD yaitu
permulaan bayi menyusui segera setelah lahir dan pemberian
cairan ASI pertama yaitu kolostrums.
126
5) Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya
secara ondemand dan eksklusif. Secara ondemand yaitu dengan
menyusui bayi sesring mungkin minimal 2 jam sekali atau bila
bayi menginginkannya. Secara eksklusif yaitu dengan
menyusui bayi selama 6 bulan penuh tanpa makanan tambahan
apapun.
6) Melakukan rawat gabung antara ibu dan bayi yaitu
menempatkan ibubdan bayi dalam satu ruangan agar hubungan
bayi dan ibu lebih dekat dan ibu dapat memberikan ASI secara
dini dan sesering mungkin.
7) Melakukan pencegahan hipotermi dengan selimuti bayi dengan
selimut atau kain bersih yang kering dan hangat, tutup bagaian
kepala bayi. Maenganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui
bayinya, merawat bayi diruangan yang hangat (tidak kurang
25o
c dan bebas dari aliran dingin) dan jangan memandikan bayi
dalam 24 jam postpartum, dan tempatkan bayi dilingkungan
yang hangat.
8) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini yaitu belajar miring
kanan, kiri, duduk, kemudian jalan ke kamar mandi secara
perlahan-lahan untuk membantu menguatkan otot-otot perut
sehingga ibu cepat pulih
9) Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi
selama masa nifas ini, makanan yang dikonsumsi haruslah
127
makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi seperti
karbohidrat pada nasi, jagung, kentang, protein pada tahu,
tempe, telor, ikan dan daging, vitamin pada buah dan sayur
serta mineral. Agar kondisi ibu cepat pulih.
10) Menjelaskan kepada ibu tentang kebutuhan istirahat pada ibu
nifas yaitu memerlukan istirahat yang cukup, usahakan agar ibu
dapat beristirahat semaksimal mungkin. Hal ini agar kondisi
ibu tetap terjaga selama masa nifas. Apabila kurang istirahat
dapat menyebabkan produksi ASI berkurang, proses involusi
berjalan lambat, perdarahan lebih banyak, dan dapat
menimbulkan depresi sehingga ibu kurang mampu merawat
bayinya.
11) Mengajarkan ibu tentang personal hygiene yaitu:
(a) Mengajarkan ibu untuk membersihkan seluruh tubuh
dengan mandi 2 kali sehari
(b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah
kemaluan dengan air bersih pastikan bahwa ia mengerti
untuk membersihkan vulva terlebih dahulu dari arah depan
ke belakang, baru kemudian dibersihkan didaerah anus
(c) Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya 2
kali sehari atau bila sudah terasa penuh
128
b. Penatalaksanaan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib
1) Memantau kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai
dengan hasil pemeriksaan yaitu keadaan umum baik TD:
120/70 mmHg, RR: 23x/i, N: 81x/i, T: 36,5o
C. Payudara
tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran,
colostrums. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras,
kontraksi baik. Lochea rubra, terdapat robekan pada perenium
2) Mengevaluasi pada ibu bahwa rasa mulas yang dialaminya saat
ini
3) Memastikan dan mengevaluasi pencegahan perdarahan
yangbtelah diajarkan dengan melakukan masase pada uterus
ibu yang diajarkan kepada keluarga
4) Memastikan dan mengevaluasi ibu mengenai pemberian ASI
secara on demand dan eksklusif
5) Memastikan dan mengevaluasi rawat gabung antara ibu dan
bayi
6) Memastikan dan mengevaluasi mengenai pencegahan
hipotermi
7) Memastikan dan mengevaluasi ibu mengenai mobilisasi dini
yang telah dianjurkan pada ibu
8) Memastikan dan mengevaluasi kebutuhan nutrisi ibu
9) Memastikan dan mengevaluasi kebutuhan istirahat ibu
10) Memastikan dan mengevaluasi personal hygiene ibu
129
11) Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan melakukan seluruh rencana asuhan
yang telah ditetapkan dengan baik.
G.Evaluasi
1. Tinjauan Teori
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan ulangi lagi
proses manajemen dengan benar terhadap semua aspek asuhan yang
telah diberikan namun belum efektif dan merencanakan kembali yang
belum terencana.
2. Tinjauan Kasus
c. Tanggal 05 Juni 2016 Pukul 14.30 wib
1) Ibu mengerti keadaannya saat ini
2) Ibu mengerti bahwa keluhan yang dialaminya adalah normal
3) Masase sudah dilakukan dan keluarga ibu telah mengerti cara
mencegah perdarahan dengan masase perut ibu
4) Ibu mengatakan bayinya tidak diberikan ASI segera setelah
lahir namun setelahnyaibu selalu menyusui bayinya. Sehingga
bayinya tetap mendapatkan colostrums
5) Ibu bersedia menyusui bayinya secara on demand dan
eksklusif
130
6) Ibu bersedia dan mengerti tentang rawat gabung
7) Bayi sudah dalam keadaan hangat
8) Ibu sudah miring kiri, kanan, dan duduk
9) Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisinya
10) Ibu sedang mencoba untuk istirahat
11) Ibu mengerti tentang kunjungan ulang
d.Tanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib
1) Ibu sudah mengetahui kondisinya saat ini
2) Ibu masih merasa mulas pada perutnya dan ibu mengerti
bahwa rasa mulas yang dialami adalah hal yang normal, hal ini
dikarenakan proses pengembalian rahim ke bentuk semula.
Dan rasa lelah yang dialami adalah karena ibu ,mengalami
dehidrasi setelah persalinan.
3) Ibu dan keluarga telah melakukan masase perut ibu seperti
yang telah diajarkan dan hasilnya kontraksinya baik, tidak
terjadi perdarahan
4) Ibu telah menyusui bayinya secara on demand hal ini terlihat
bahwa bayi tampak cukup ASI yaitu bayi tenang dan tidak
rewel serta ibu akan menyusui bayinya secara eksklusif.
5) Ibu dan bayi telah disatukan dalam satu ruangan agar terjalin
kasih sayang antara ibu dan bayi, hal ini terlihat bahwa bayi
tampak tenang dalam dekapan ibu.
131
6) Bayi dalam keadaan baik dan telah dibedong dengan
menggunakan kain kering serta bayi telah menggunakan tutup
kepala dari hasil pemeriksaan suhu bayi didapat 37,0o
C
7) Ibu telah mampu miring kiri dan kanan serta berjalan-jalan
kecil
8) Ibu sudah memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makan satu
piring nasi dengan lauk tempe, daging ayam serta sayur sop
ditambah 1 gelas teh hangat.
9) Ibu sudah memenuhi kebutuhan istirahatnya dengan tidur
disaat bayinya juga tertidur
10) Ibu belum mandi tetapi sudah ganti pembalut 2 kali dan ibu
sudah mengerti tentang menjaga personal hygiene khususnya
bagian genetalia.
11) Ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang pada tanggal
11 juni 2016 dan apabila terdapat keluhan.
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dikarenakan bidan telah mengevaluasi seluruh
perencanaan dan pelaksanaan yang telah dilakukan.
132
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penulis mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap
Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum normal dengan
menggunakan metode langkah varney diantaranya :
1. Penulis mampu melaksanakan pengkajian data tanggal 05 Juni 2016
jam 18.30 wib yang meliputi data subjektif yaitu ibu mengatakan
melahirkan anak pertamnya pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30
wib dan ibu mengeluh merasa mulas pada bagian perutnya. Dan data
objektif keadaan umum baik TD: 120/80 mmHg, RR: 23x/menit, N:
80x/menit, T:36,5o
C serta hasil dari pengkajian fisik secara
keseluruhan dalam batas normal terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6
jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016.
2. Penulis mampu menginterpretasikan data yang ada sehingga mampu
menyusun diagnose kebidanan yaitu Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam
post partum, masalah pada ibu tidak ada kebutuhan yang diberikan
pada Ny.L umur 23 tahun P1A0 di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb
Bandar Lampun Tahun 2016.
3. Penulis mampu menetapkan identifikasi diagnose/masalah potensial
yaitu tidak ada masalah potensial yang terjadi dari diagnose yang
132
133
ditetapkan bidan terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jaam post
partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun
2016.
4. Penulis mampu melaksanakan tindakan segera/kolaborasi dalam hal ini
tidak memerlukan tindakan segera/kolaborasi terhadap Ny.L umur 23
tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb
Bandar Lampung Tahun 2016.
5. Penulis mampu merencanakan tindakan yaitu memberitahu kondisi ibi
memberikan penjelasan tentang keluhan yang dialami, melakukan dan
mengajarkan salah satu keluarga cara mencegah perdarahan karena
atonia uteri, menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal,
melakukan rawat gabung antaraa ibu dan bayi, melakukan pencegahan
hipotermi pada bayi baru lahir, menganjurkan ibu mobilisasi dini,
menjelaskan tentang kebutuhan nutrisi, istirahat dan personal hygiene
yang baik pada ibu masa nifas terhadap Ny.L umur 23 taahun P1A0 6
jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016.
6. Penulis mampu melaksanakan seluruh perencanaan tindakan asuhan
yang telah dibuat terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post
partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun
2016.
7. Penulis mampu mengevaluasi Asuhan Kebidanan pada ibu nifas
dengan hasil ibu dalam keadaan sehat, rasa mulas pada perut ibu tidak
134
dirasakan lagi dan tidak ada penyulit yang berhubungan dengan masa
nifas terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS
Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
B. Saran
Saran yang penulis berikan dan tunjukan dalam Karya Tulis Ilmiah ini
adalah :
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dosen
pendidik dengan mengikuti pelatihan-pelatihan khususnya dalam
asuhan nifas 6 jam post partum.
2. Bagi Lahan Praktek
Diharapkan bagi lahan praktek untuk tetap dan lebih baik lagi dalam
hal meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara komprehensif
sesuai dengan standar pelayanan kebidanan, dalam hal ini yaitu
mendeteksi secara dini komplikasi masa nifas khususnya pada asuhan
6 jam post partum.
3. Bagi Pasien
Diharapkan ibu tidak mengikuti adat istiadat setempat untuk bayi
selanjutnya. Sehingga bayi dapat mendapatkan ASI colostrums yang
baik bagi bayi dan menambah kekebalan bagi tubuh bayi.
135
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati Retna Eny: & Wulandari Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Astuti Sri, et all. 2015. Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Jakarta: Erlangga
Aticeh, et all. 2014. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Chandra Budiman. Dr. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.
Dewi Vivian Nanny Lia., & Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Estiwidani Dwana, et all. 2008. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Herdiansyah Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba
Humanika.
Hidayat A. Aziz Alimul. 2014. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Karwati, et all. 2011. Asuhan Kebidanan V(Kebidanan Komunitas). Jakarta: CV
trans Info Media.
Notoadmojdo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2012
Provil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2014
Prawirohardjo Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.
Roito Juraida. 2013. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas & Deteksi Dini Komplikasi.
Jakarta: Kedokteran EGC
Rukiyah Ai Yeyeh., & Yulianti Lia. 2010. Asuhan Kebidanan Patologi
Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media.
Rukiyah Ai Yeyeh, et.all. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta:
Trans Info Media.
Saleha Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba
Medika.
Saminem. 2010. Dokumentasi Asuhan Kebidanan Konsep dan Praktik. Jakarta:
Kedokteran EGC
136
Sari Puspita Eka., & Rimandini Dwi Kurnia. 2014. Asuhan Kebidanan Masa
Nifas Trans Info Media
Profil Kesehatan Indonesia. 2012. Survey Demografi Kesehatan Indonesia
Soepardan. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
Sulistyawati Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
Yogyakarta: Andi.
Tambunan Eviani S., & Kasim Deswani. 2012. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi
Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Uliyah Musrifatul., & Hidayat Alimul A. Azis. 2009. Keterampilan Dasar Praktik
Klinik Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Wildan Moh., & Hidayat Alimul A. Azis. 2013. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika.
137
LAMPIRAN
138
DOKUMENTASI
139
HASIL DOKUMENTASI
140
DOKUMENTASI

Kti iif sarifah

  • 1.
    1 ASUHAN KEBIDANAN IBUNIFAS TERHADAP NY.L UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI,S.TR.KEB BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 KARYA TULIS ILMIAH Disusun Oleh : N a m a : IIF SARIFAH NIM : 201308025 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016
  • 2.
    2 ASUHAN KEBIDANAN IBUNIFAS TERHADAP NY.L UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI,S.TR.KEB BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan DISUSUN OLEH : IIF SARIFAH NIM :201308025 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 i
  • 3.
    Diterima dan disetujuiuntuk diajukan dan dipertahankan di depan Tim penguji LEMBAR PERSETUJUAN Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan Tim penguji dalam Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Adila Hari : Tanggal : Pembimbing Elen Mariani,S.ST.,M.KES NIK : 2011041008 ii 3 Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan
  • 4.
    Diterima dan disahkanoleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma Penguji I LEMBAR PENGESAHAN Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Adila Pada : Hari Tanggal Penguji I Penguji II Mengetahui Direktur, Dr. Wazni Adila, MPA NIK : 2011041008 iii 4 Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
  • 5.
    5 CURICULUM VITAE Nama :IIF SARIFAH NIM : 201308025 Tempat/Tanggal Lahir : Margomulyo, 04 April 1994 Alamat : Margo Dadi, Kec. Tumijajar Kab.Tulang Bawang Barat Institusi : Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung AngkatanVIII (2013/2016) No Riwayat Pendidikan Tahun 1 SDN 1 Margo Dadi Tumijajar Tulang Bawang Barat 2001-2007 2 SMPN 1 Tumijajar Tulang Bawang Barat 2007-2010 3 SMA PGRI Tumijajar Tulang Bawang Barat 2010-2013 4 Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung 2013-sekarang iv
  • 6.
    6 MOTTO Jika kita berusaha,maka kesuksesan akan selalu ada untuk kita. By:iif Sarifah v
  • 7.
    7 PERSEMBAHAN Alhamdulillahirabbilalamin. Seagala pujihanya bagi allah SWT, sebagai rasa syukur yang tidak bisa diuntaikan dengan segala sesuatu, akhirnya dengan segala rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Kupersembahkan Karya Tulis ku ini untuk orang-orang yang selalu mengiringi langkahku dengan doanya dan kasih sayang yang tiada hentinya.  Terima kasih banyak untuk kedua orang tua ku yaitu mamak dan bapak yang selalu memberi semangat iif selama ini, yang berjuang membesarkan iif dan adik tanpa pernah mengeluh sedikitpun.  Terima kasih juga buat Uda Jimmy Aldian Sp yang selalu memberi semangat  Terima kasih banyak buat bu Elen Mariani, S.ST, M.Kes yang sudah membimbing saya dalam mengerjakan Karya Tulis Ilmiah ini  Serta teman-teman angkatan VIII Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung tempat penulis menuntut ilmu selama 3 tahun terahir ini. terima kasih untuk semangat dan suport nya selama ini. vi
  • 8.
    8 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU NIFAS TERHADAP NY.L UMUR 23 TAHUN P1A0 6 JAM POT PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI, S.TR.KEB BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Elen Mariani S.ST.,M,Kes Iif Sarifah INTISARI WHO mengemukakan bahwa 500.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan dan melahirkan dan sebagian besar kematian terjadi selama atau segera setelah melahirkan. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk diperolehnya pengalaman nyata dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas 6 jam post partum dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan varney. Metode yang digunakan penulis dalam Study kasus ini adalah metodologi penelitian Deskriptif dengan pendekatan study kasus.Subjek yang diambil ini adalah satu orang ibu nifas yaitu Ny.L umur 23 tahun, objektifnya ibu nifas 6 jam post partum. Kesimpulan hasil ini ibu dalam keadaan sehat dan tidak ada penyulit yang berhubungan dengan masa nifas namun ditemukan adanya kesenjangan yaitu pada adat istiadat. Saran utama diharapkan ibu tidak mengikuti adat istiadat setempat untuk bayi selanjutnya. Sehingga bayi dapat mendapatkan ASI colostrums yang baik bagi bayi dan menambah kekebalan bagi tubuh bayi. Kata Kunci :Masa Nifas 6 Jam Post Partum Kepustakaan :24 refrensi (2007-2015) Jumlah Halaman :136 Halaman vii
  • 9.
    9 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam bentuk study kasus kebidanan yang berjudul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny.L Umur 23 Tahun P10 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016”. Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat bantuan berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. dr. Wazni Adila MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung 2. Elen Mariani S.ST.M.Kes selaku pembimbing Karya Tulis Ilmiah 3. BPS Desy Andriani S.Tr.Keb Bandar Lampung sebagai tempat pengambil penelitian 4. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung 5. Terimakasih untuk teman-teman angkatan delapan yang selalu memberi dukungan dan semangat yang luar biasa. Penulis menyadari penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oeh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca umum Bandar Lampung, Juli 2016 Penulis viii
  • 10.
    10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...................................................................................i LEMBARPERSETUJUAN .......................................................................ii LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................iii INTISARI....................................................................................................iv MOTTO ......................................................................................................v CURRICULUM VITAE.............................................................................vi PERSEMBAHAN .......................................................................................vii KATA PENGANTAR.................................................................................viii DAFTAR ISI...............................................................................................ix DAFTAR TABEL .......................................................................................xi DAFTAR LAMPIRAN...............................................................................xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ..........................................................................1 B. Rumusan Masalah ......................................................................3 C. Tujuan Penelitian........................................................................4 D. Ruang Lingkup...........................................................................5 E. Manfaat Penelitian .....................................................................6 F. Metode Pengumpulan Data.........................................................6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori Medis .................................................................10 B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan..............................................41 C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan.........................................55 BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajaian Data........................................................................63 B. Matriks.......................................................................................76 BAB IV PEMBAHASAN A. Klien ..........................................................................................86 B. Pengumpulan Data Dasar............................................................116 C. Interpretasi Data Untuk Mengidentifikasi Diagnosa/Masalah......120 D. Mengidentifikasi Diagnosis Atau Masalah Potensial Dan Mengantisipasi Penanganannya...........................................121 E. Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera, Untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi Dengan Tenaga Kesehataan Lain Berdasarkan Kondisi Menyusun Rencana Asuhan Yang Menyeluruh ..........................................................122 F. Pelaksanaan Langsung Asuhandengan Efisien Dan Aman ..........124 G. Mengefaluasi .............................................................................129 ix
  • 11.
    11 BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ................................................................................132 B. Saran ..........................................................................................134 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x
  • 12.
    12 DAFTAR TABEL Tabel 2.1.Kebijakan Program Masa Nifas....................................................15 Tabel 2.2 Involusi uterus...............................................................................16 Tabel 2.3 Penyimpanan ASI..........................................................................39 Tabel 3.1 Matrik ..........................................................................................76 xi
  • 13.
    13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Dokumentasi Lampiran 2 : Tabel xii
  • 14.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (42 hari). Puerpurium adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali keseperti pra hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca persalinan yang berkualitas harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi. (Dewi dan Sunarsih , 2011; h. 1). WHO mengemukakan bahwa 500.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan dan melahirkan dan sebagian besar kematian terjadi selama atau segera setelah melahirkan (Astuti et all, 2015; h. 2). Berdasarkan survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Namun pada tahun 2012 SDKI kembali mencatat kenaikan AKI yang signifikan yakni dari 228 menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu, pada tahun 2012 Kementrian Kesehatan meluncurkkan program Ekspanding maternal dan Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan angka kematian ibu
  • 15.
    2 dan neonatal sebesar25%. (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2014; h. 226). Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 kasus kematian ibu (kematian ibu saat hamil, saat melahirkan, dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus, dimana, penyebab kasus kematian ibu disebabkan oleh perdarahan (40,23%), eklamsi (59,33%), infeksi (4,2%), dan lain-lain (75,4%). (Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun, 2012; h. 56). Periode masa nifas berlangsung dari persalinan selama 6 minggu setelah melahirkan, yang merupakan waktu penyembuhan dan kembalinya organ reproduksi ke keadaan sebelum hamil. Dikemukakan adanya resiko terjadinya kematian ibu setelah melahirkan pada jam, hari, dan minggu setelah melahirkan, dan periode tersebut merupakan waktu yang berbahaya bagi ibu dan bayi baru lahir (Astuti et all, 2015; h.2). Asuhan pada periode setelah kelahiran sangat penting. Tidak hanya untuk keberlangsungan hidup saja, tetapi juga untuk masa depan ibu dan bayi yang baaru lahir. Perubahan besar terjadi selama periode ini yang menentukan kesejahteraan mereka dan potensi masa depan yang sehat (Astuti et all, 2015; h.2). Asuhan yang tepat dan kepedulian pada jam-jam pertama dan hari setelah melahirkan bisa mencegah sebagian besar kematian. Pemantauan ketat oleh bidan akan sangat membantu mencegah kematian tersebut, selain suami dan keluarga, untuk memberikan perhatian khusus kepada ibu dan bayi . Bidan
  • 16.
    3 harus menyadari perubahanfisiologis dan psikologis yang normal yang terjadi didalam tubuh dan pikiran ibu untuk memberikan asuhan yang komprehensif selama periode nifas. Salah satu tanggung jawab yang paling brermakna dari asuhan post partum adalah mengenali komplikasi setelah melahirkan (Astuti et all, 2015; h.2). Berdasarkan pra survey di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb diperoleh data Ny.L yang melahirkan pada bulan Juni 2016. Pada tanggal 05 juni 2016 terdapat satu ibu 6 jam post partum yaitu Ny. L dan perlu diberi penjelasan tentang bagaimana mencegah perdarahan karena atonia uteri, pemberian asi awal, kebutuhan nutrisi, istirahat dan personal hygiene. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny, L umur 23 Tahun P1A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016”. B. Rumusan Masalah “Bagaimana Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny. L Umur 23 Tahun P1A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016”
  • 17.
    4 C. Tujuan Penulisan 1.Tujuan Umum Mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas normal terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung tahun 2016. 2. Tujuan Khusus a. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian data pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. b. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data untuk mengidentifikasi diagnosa asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. c. Diharapkan penulis dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. d. Diharapkan penulis dapat melakukan antisipasi tindakan segera pada asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. e. Diharapkan penulis dapat menyusun rencana asuhan yang menyeluruh pada asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun
  • 18.
    5 P1A0 6 jampost partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. f. Diharapkan penulis dapat melaksanakan rencana yang telah dibuat khususnya pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. g. Diharapkan penulis dapat mengevaluasi dari pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr,Keb Bandar Lampung Tahun 2016. D. Ruang Lingkup 1. Objek penelitian Ny L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum. 2. Tempat penelitian BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung. 3. Waktu dilaksanakan pada tanggal 05 Juni 2016, jam 18.30 WIB.
  • 19.
    6 E. Manfaat Penelitian 1.Bagi Institusi Pendidikan Dapat digunakan sebagai bahan bacaan di perpustakaan tentang asuhan nifas 6 jam post partum. 2. Bagi Lahan Praktik Study kasus ini dapat dijadikan salah satu informasi serta gambaran bagi lahan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan yang lebih baik dikemudian hari pada para pasien yang berkaitan dengan asuhan pada ibu nifas 6 jam post partum. 3. Bagi pasien Dapat dijadikan sebagai pengetahuan bagi pasien agar lebih mengerti tentang perawatan ibu selama 6 jam post partum. 4. Bagi penulis Sebagai bahan masukan, pengalaman dan dapat menambah pengetahuan dalam mengaplikasikan asuhan kebidanan khususnya tentang penatalaksanaan 6-8 jam post partum pada ibu nifas. F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode penulisan survey deskriptif dengan pendekatan study kasus. Survey deskriptif juga dapat didefinisikan suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskriptifkan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat. Dalam bidang kesehatan masyarakat survey deskriptif
  • 20.
    7 digunakan untuk menggambarkanatau memotret masalah kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu (Notoadmojdo, 2010; h.35). Metode penelitian study kasus (case study) adalah suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari suatu “sistem yang berbatas” (bounded system) pada satu satu kasus atau beberapa kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan konteks (Herdiansyah,2012). G. Teknik Memperoleh Data 1. Data Primer Data primer merupakan materi atau kumpulan fakta yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti pada saat penelitian berlangsung (Chandra, 2008; h. 20). a. Wawancara Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face) (Notoatmodjo, 2012; h. 139).
  • 21.
    8 b. Anamnesa 1) AutoAnamnesa Auto anamnesa merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien secara langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari sumbernya. (Sulistyawati, 2009; h. 111). c. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menjelaskan pemeriksaan fisik (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 139). 2. Data sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain (Chandra, 2008; h. 20). a. Study kepustakaan Menurut sekaran (2006) dalam buku hidayat (2014) study kepustakaan merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitian. Study kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun kerangka toritis yang komprehensif yakni hipotesis dapat dibuat untuk diuji b. Dokumentasi Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara pengambilan data yang berasal dari dokumen asli. Dokumen asli
  • 22.
    9 tersebut dapat berupagambar, tabel atau daftar periksa, dan film documenter (Herdiansyah, 2012; h. 90).
  • 23.
    10 BAB II TINJAUAN TEORI A.TINJAUAN TEORI MEDIS 1. Masa Nifas a. Pengertian Nifas Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali keseperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sulistyawati. 2009; h. 1) Masa nifas (puerpurium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau puerpurium adalah dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam bahasa latin, waktu mulai tertentu setelah melahirkan anak ini disebut puerpurium yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous melahirkan. Jadi puerpurium berarti masa setelah melahirkan bayi. Puerpurium adalah masa pulih kembali. Mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Sekitar 50 % kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca-persalinan yangbberkualitas harusn terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi (Dewi dan Sunarsih, 2013; h.1) 10
  • 24.
    11 Masa nifas ataupuerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksindini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Prawirohardjo, 2010; h. 356) b. Prinsip dan Sasaran Asuhan Masa Nifas Apabila merujuk pada kompetensi 5 (standar kompetensi bidan) maka prinsip asuhan kebidanan bagi ibu pada masa nifas dan menyusui harus bermutu tinggi serta tanggap tehadap budaya setempat. Jika dijabarkan lebih luas asuhan kebidanan masa nifas meliputi hal-hal sebagai berikut. 1) Peningkatan kesehatan fisik dan psikologis 2) Identifikasi penyimpangan dari kondisi normal baik fisik maupun psikis. 3) Mendorong agar dilaksanakan metode yang sehat tentang pemberian makan anak dan peningkataan pengembangan hubungan antara ibu dan anak yang baik. 4) Mendukung dan memperkuat percaya diri ibu dan memungkinkan ia melaksanakan peran ibu dalam situasi keluarga dan budaya khusus. 5) Pencegahan, diagnosis dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu. 6) Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli jika perlu.
  • 25.
    12 7) Imunisasi ibuterhadap tetanus (Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 1) c. Tujuan Asuhan Masa Nifas 1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi 2) Pencegahan, diagnosa dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu 3) Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli bilamana perlu 4) Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu, serta memungkinkan ibu untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga daan budaya yang khusus 5) Imunisasi ibu terhadap tetanus 6) Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan ya g baik antara ibu dan anak (Sulistyawati, 2009; h. 2) d. Peran dan Tanggun Jawab Bidan dalam Masa Nifas Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu termasuk keha ilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan pemantauan mencegah beberapa kematian ini. Peran bidan antara lain sebagai berikut.
  • 26.
    13 1) Memberikan dukungansecara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. 2) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi, serta keluarga. 3) Mendorong ibu untuk menyusui bayinya untuk meningkatkan rasa nyaman. 4) Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan administrasi. 5) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan. 6) Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenaliu tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta memperhatikan kebersihan yang aman. 7) Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, serta mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas. 8) Memberikan asuhan secara profesional. (Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 4)
  • 27.
    14 e. Tahapan MasaNifas Masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu puerpurium dini, puerpurium intermedial, dan remote puerpurium. 1) Puerpurium Dini Puerpurium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. 2) Puerpurium intermedial Puerpurium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat- alat genetalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu. 3) Remote puerpurium Remote puerpurium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai kompliksi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu-minggu bulanan bahkan tahunan. (Sulistyawati, 2009; h. 5)
  • 28.
    15 f. Kebijakan ProgramMasa Nifas Tabel 2.1. (Sulistyawati, 2009; h. 6) Kunjungan Waktu Tujuan 1 6-8 jam setelah persalinan a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan rujuk bila perdarahan berlanjut c) Memberikan konseling pada ibu atau pada salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri d) Pemberian ASI awal e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayiyang baru lahir f) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hypotermi g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayinyang baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil 2 6 hari setelah persalinan a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau b) Menilai adanya tanda-tanda demam infeksi atau perdarahan abnormal c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan cairan dan istirahat d) Memastikan ibu menyusuidengan baik dan tak memperhatikan tanda-tanda penyulit e) Memberikan konseling pada ibumengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari 3 2 minggu setelah persalinan Sama seperti diatas 4 6 minggu setelah persalinan a) Menanyakan pada ibu tentang kesulitan- kesulitan yang iya atau bayinya alami b) Memberikan konseling KB secara dini
  • 29.
    16 g. Perubahan FisiologisMasa Nifas 1) Perubahan Sistem Reproduksi a) Uterus Pengerutan Rahim (involusi) Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi sebelum hamil. Dengan involusi uterus ini, lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi neurotic (layu/mati) (Sulistyawati, 2009; h.73). Tabel 2.2 Involusi uterus Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat uterus (gr) Diameter bekas melekat plasenta (cm) Keadaan servik Bayi lahir Setinggi pusat 1000 Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 12,5 Lembek Satu minggu Pertengahan pusat-simpisis 500 7,5 Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari, akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari Dua minggu Tak teraba diatas simpisis 350 3-4 Enam minggu Bertambah kecil 50-60 1-2 Delapan minggu Sebesar normal 30 (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57)
  • 30.
    17 Proses Involusi uterusterjadi melalui 3 proses yang bersamaan, antara lain: a. Autolysis Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi dalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekan jaringan otot yang telah sempat mengendur 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebarnya dari sebelum hamil. Sitoplasma sel yang berlebihan terencana sendiri sehingga tertinggal jaringan fibro elastic alam jumlah renik sebagai bukti kehamilan b. Atrofi jaringan Atrofi jaringan berpoliferasi dengan adanya esterogen dalam jumlah besar, kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi terhadap penghentian produksi esterogen yangbmenyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot-otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan bergenerasi menjadi endometrium yang baru. c. Efek oksitosin (kontraksi) Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas dari kelenjar hypofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengompresi pembuluh darah, dan membantu proses homeostatis. Kontraksi dan retraksi otot uteri akan mengurangi suplay darah keuterus. Proses ini akan membantu mengurangi bekas luka tempat implantasi plasenta dan mengurangi perdarahan. Luka
  • 31.
    18 bekas perlekatan plasentamemerlukan waktu 8 minggu untuk sembuh total. (sulistyawati, 2009: h. 74-75). b) Lochea Lochea adalah eksresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lochea mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda- beda pada setiap wanita. Sekret mikroskopik lochea terdiri atas eritrosit, peluruhan desidua, sel epitel, dan bakteri. Lochea mengalami perubahan karena proses involusi (Sulistyawati, 2009; h. 76) Lochea dibedakan menjadi 3 jenis lochea berdasarkan warna dan waktu keluarnya (1) Lochea rubra/merah Lochea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium. (2) Lochea Sangualenta Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
  • 32.
    19 (3) Lochea Serosa Locheaini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta, keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14. (4) Lochea Alba Lochea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel selaput lendir servik, dan serabut jaringan yang mati. Lochea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.(Sulistyawati, 2009, h 76) a. Perubahan pada serviks Perubahan yang terjadi pada servik ialah bentuk serviks agak menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir. Bentukmini disebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk semacam cincin.Servik berwarna merah kehitam-hitaman karena penuh dengan pembuluh darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat laserasi atau perlukaan kecil. Karena robekan kecil yang terjadi selama berdilatasi maka serviks tidak akan pernah kembali lagi ke keadaan sebelum hamil. Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir, tangan dapat masuk kedalam
  • 33.
    20 rongga rahim. Setelah2 jam, hanya dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke- 6 post partum, servik sudah menutup kembali. (Sulistyawati, 2009, h 77). b. Perubahan Vulva dan Vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi. Dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap daalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu, vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secarab berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih menonjol (Sulistyawati, 2009; h. 77-78) c. Perubahan Payudara Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaiyu produksi susu dan sekresinsusu atau let down. Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi kelenjar pituitari akan mengeluarkan proklaktin (hormon laktogenik). Hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjdi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai
  • 34.
    21 berfungsi. Ketika bayimenghisap puting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan) sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus laktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada puting. Ketika ASI dialirkan karena isaapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak. Reflek ini dapat berlanjut sampai waktunyang cukup lama (Saleha, 2009; h. 58) d. Perubahan Sistem Pencernaan Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu persalinan, alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan calon menjadi kosong pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi). Kurang makan, haemorroid, laserasi jalan lahir supaya buang air besar kembali teratur.Dapat diberikan diit atau makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 haridapat ditolong dengan pemberian huknah atau gliserin spuit atau diberikan obat laksan yaang lain (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.80) e. Perubahan Sistem Perkemihan Pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama kehamilan kembali normal pada akhir minggu ke empat setelah
  • 35.
    22 melahirkan. Pemeriksaan sistokopiksetelah melahirkan menunjukan tidak saja edema dan hyperemolonia dinding kandung kemih, tetapi sering kali terdapat ekstravasi darah pada submukosa. Kurang lebih 40% wanita nifas mengalami proteinuria yang non patologis sejak pasca melahirkan sampai 2 hari post partum agar dapat dikendalikan. Oleh karena itu, contoh specimen diambil melalui kateterisasi agar tidak terkontaminasi dengan lochea yang non patologis. Hal ini dapat diwujudkan hanya bila tidak adaa tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan preeklampsi. Diuresi yang normal dimulai segera setelah bersalin sampai hari ke lima setelah persalinan. Jumlah persalinan yang keluar dapat melebihi 3.000 ml per harinya. Hal ini diperkirakan merupakan salah satu cara untuk menghilangkan peningkatan cairan ekstraseluler yang merupakan bagian normal bagi kehamilan. Selain itu juga di dapati adanya keringat yang banyak pada beberaapa hari pertama setelah persalinan.. (Saleha, 2009; h. 59). f. Perubahan Muskuloskletal Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah paartus pembuluh- pembuluh darah yang berada diaantaraa anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan meghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Ligamen-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur
  • 36.
    23 menjadi ciut danpulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentu, rotundum menjadi kendur. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan karena ligamen, fasia jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendur. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minggu setelah persalinan.Sebagai akibat putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan kendur untuk sementara waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genetalia, serta otot-otot dinding perut dan dasar panggul, dianjurkaan untuk melakukan laatihaan-latihan tertentu. Pada 2 hari post partum, sudah dapat fisioterapi (Sulistyawati, 2009; h. 79) g. Perubahan Sistem Endokrin Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada system endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperaan dalam proses tersebut. 1) Hormon oksitosin Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang
  • 37.
    24 produksi ASI dansekreso oksitosin. Hal tersebut membantu uterus kembali kebentuk normal. 2) Hormon Prolaktin Menurunya kadar esterogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalaam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel pada ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi protein menurun dalam 14-21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium kearah permulaan pola produksi esterogen dan progesteron yang nor,al, pertumbuhan folikel, ovulasi dan menstruasi. 3) Hormon Esterogen dan Progesteron sSelama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat esterogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Disamping itu, progesteron mempengaruhi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat memengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, didnding vena, dasar panggul, perineum, dan vulva, serta vagina.(Saleha, 2009; h. 60)
  • 38.
    25 h. Perubahan Tanda-TandaVital 1) Suhu badan Dalam satu hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit (37,5o C-38o C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwrna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, (mastitis, traktus genetalis, atau sistem lain) 2) Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80x/menit. Denyut nadi sesudah melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100x/menit adalah abnormal dan hal ini menunjukan adanya kemungkinan infeksi (Sulistyawati, 2009; h. 80-81) 3) Tekanan darah Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia sistolik 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan
  • 39.
    26 oleh perdarahan. Sedangkantekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklampsi post partum. Namun demikian, hal tersebutbsangat jarang terjadi (Rukiyah et all, 2011; h. 69). 4) Pernafasan Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan mengikutinya kecuali ada gangguan khusus pada saluran pernafasan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 85) i. Perubahan Sistem Kardiovaskuler Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang bmeningkat, yang diperlukan oleh plasdenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali esterogen menyebabkan diuresi yang terjadi secara cepat sehingga mengurangi volume plasma kembali kepada proporsi normal. Aliran terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selama masa ini, ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urine. Hilangnya progesteron membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma masa persalinan. Pada persalinan vagina kehilangan darah sekitar 200-500 ml. Sedangkan pada
  • 40.
    27 persalinan dengan SC,pengeluaran dua kali lipat nya. Perubahan tediri dari volume darah dan kadar haemotokrit. 1) Perubahan Sistem Hematologi Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah leukositosis yang meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan yang lama. (Sulistyawati, 2009; h. 82) 2) Perubahan Sistem Neurologi Perubahan neurologi selama puerpurium merupakan kebalikan adaptasi neurologic yang terjadi saat hamil dan disebabkan oleh trauma yang dialami ibu saat bersalin dan melahirkan. Rasa tidak nyaman neurologi yang diinduksi kehamilan dapat menghilang saat ibu melahirkan. Eliminasi edema fisiologis melalui dieresi setelah bayi lahir menekan sindrom carpal tunnel dan mengurangi kompresi saraf median (Roito, et all 2013; h. 72)
  • 41.
    28 h. Proses AdaptasiPsikologi Masa Nifas Adaptasi psikologis post partum yaitu, ibu biasanya mengalami penyesuaian psikologi selama masa post partum. Reva rubin meneliti adaptasi ibu melahirkan pada tahun 1960, yaitu mengidentifikasi tiga fase yang dapat membantu bidan memahami perilaku ibu setelah melahirkan.Dikemukakan bahwa setiap fase meliputi rentan waktu tertentu dan berkembang melalui fase secara berurutan. Tahapan Rubin dalam Adaptasi Psikologi Ibu a) Fase Taking In (fase ketergantungan) Lamanya 3 hari pertama setelah melahirkan. Fokus pada diri ibu sendiri, tidak pada bayi, ibu membutuhkan waktu untuk tidur dan istirahat. Pasif, ibu mempunyai ketergantungan dan tidak bisa membuat keputusan. Ibu memerlukan bimbingan dalam merawat bayi dan mempunyai perasaan takjub ketika melihat bayinya yang baru lahir. b) Fase Taking Hold (fase independen) Akhir hari ke-3 sampai hari ke-10 aktif mandiri dan bisa membuat keputusan. Memulai aktivitas perawatan diri, fokus pada perut, dan kandung kemih. Fokus pada bayi dan menyusui. Merespon instruksi tentang perawatan bayi dan perawatan diri, dapat mengungkapkan kurangnya kepercayaan diri dalam merawat bayi.
  • 42.
    29 c) Letting Go(fase interdependen) Terakhir hari ke-10 sampai 6 minggu post partum. Ibu sudah mengubah peran barunya. Menyadari bayi merupakan bagian dari dirinya. Ibu sudah dapat menajalankan perannya. (Astuti sri et all, 2015; h. 22) i. Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas. 1. Nutrisi dan Cairan Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat memengaruhi susunan air susu. Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut. a) Mengonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40 hari pasca persalinan e) Minum kapsul Vit A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI (Saleha, 2009; h. 7)
  • 43.
    30 2. Ambulasi Ambulasi dini(early ambulation) ialah kebijaksanaan agar secepat mungkin bidan membimbing ibu post partum bangun dari tempat tidurnya dan membimbing ibu secepat ibu untuk berjalan. Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu post partum telentang ditempat tidurnya selama 7-14 hari setelah melahirkan. Ibu postb partum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48 jam post partum. (Saleha, 2009; h. 72) 3. Eliminasi Buang bair kecil (BAK) setelah melahirkan terutama bagi bu yang pertama kali melahirkan akan terasa pedih bila BAK keadaan ini diakibatkan oleh iritasi pada uretra sebagai akibat persalinan sehingga penderita takut BAK. Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, maka dilakukan tindakan berikut ini. a) Dirangsang dengan mengalirkan air kran di dekat klien b) Mengompres air hangat diatas simpisis c) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK. Katerterisasi tidak dilakukan sebelumlewat enam jam post partum BAB (buang air besr) defekasi BAB harus dalam 3 hari post partum. Bila ada konstipasi dan timbul koprostase hingga skibala (feses yang mengeras) tertimbun direktum mungkin akan terjadi fibris, pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan
  • 44.
    31 sehingga dapat bmempengaruhiterjadinya konstipasi. Bila penderita selama 2 hari sesudah persalinan akan ditolong dengan pemberian spuit, gliserin/ obat-obatan dan biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB, maka sebaiknya diberikan laksan dan parffin (1-2 hari post partum) atau pada hari ke-3 diberi laksan supositoria dam ninum air hangat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 73-74). 4. Personal hygiene Selama post partum, ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan sangat penting untuk pencegahan infeksi. Apabila dijaga kebersihannya, terutama kebersihan pribadi, ibu dapat terhindar dari infeksi yang dapat mengancaam jiwa. 5. Kebersihan kulit dan tubuh Untuk mencegah kebersihan tubuh ibu nifas mandi dua kali sehari 6. Kebersihan pakaian Ibu disarankan untuk mengganti pakaian minimal dua kali sehari sehabis mandi, bila perlu dan bila pakaian terasa lembab atau basah. 7. Kebersihan tempat tidur Kebersihan tempat tidur juga harus juga diperhatikan. Beri alas perlak atau kain dibawah bokong ibu sehingga darah nifas tidak langsung mengenai alas kasur atau seprei diganti 2 minggu sekali, karena bila seprei kotor dapat menjadi perkembangbiakan kuman.
  • 45.
    32 8. Kebersihan lingkungan Kebersihanlingkungan bukan hanya dilingkungan dalam rumah, namu diluar rumah seperti kebersihan peralatan dapur, peralatan rumah tangga, dan kebersihan halaman, termasuk pembuanagan air limbah dan sampah. 9. Kebersihan gigi Ibu yang sedang menjalani masa nifas harus juga memerhatikan kebersihan giginya dengan cara menggosok gigi setelah makan, sebelum tidur malam, dan saat mandi. 10. Kebersihan perineum Semasa melahirkan, vagina dan vulva dipaksa meregang dan mungkin telah mengalami cedera, disertai alat kelamin yang sedikit merah, bengkak, lecet, dan atau luka. Hal sepenuhnya normal kecuali terjadi peningkatan panas atau kelembekan daerah vagina dan busuknyang menyebabkan gangguan rasa nyaman (Roito, et all 2013; h. 85-86) 11. Istirahat Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti. Kurang istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan beberapa kerugian misaalnya:
  • 46.
    33 a) Mengurangi jumlahASI yang diproduksi b) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan. c) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kembali melakukan kegiatan- kegiatan rumah tangga, harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Selain itu, pasien harus selalu diingatkan untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang (Sulistyawati, 2009; h. 103). 12. Aktifitas seksual Aktifitas seksual yang dapat dilakukian oleh ibu masa nifas harus memenuhi syarat berikut ini. a) Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Maka ibu aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari
  • 47.
    34 atau 6 minggusetelah persalinan, keputusan ini tergantung pada pasangan yang bersangkutan. 13. Senam nifas Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ tubuh wanita. Involusi ini jelas sangat terlihat pada lat-alat kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi lembek dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu. Oleh karena itu, mereka akan selalu berusaha untuk memulihkan dan mengencangkan keadaan dinding perut yang sudah tidak indah lagi. Cara untuk mengembalikan bentuk tubuh menjadi indahdan langsing seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas. (Saleha, 2009; h. 75) j. Deteksi Dini Komplikasi Pada Ibu Masa Nifas 1) Perdarahan post partum Perdarahan postpartum didefinisikan sebagai hilangnya darah 500 ml atau lebih dari organ-organ reproduksi setelah selesainya kala tiga persalinan. Perdarahan postpartum adalah penyebab pentingnya kematian ibu: ¼ dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan, . (perdarahan postpartum, plasenta previa, solusio plasenta, kehamilan ektopik, abortus, dan ruptur uteri) (Astuti, et all 2015; h. 76-77)
  • 48.
    35 Berdasarkan waktu kejadiannyaperdarahan pascapersalinan dibagi dua bagian, yaitu: 2) Perdarahan pascapersalinan dini (early postpartum haemorhage), atau perdarahan pascapersalinan primer, atau (pasca persalinan segera). Perdarahan pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan pascapersalina primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan lahir. 3) Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau perdarahan persalinan sekunder atau perdarahan pasca persalinan lambat, atau Late PPH). Perdarahan pasca persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca pesalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa palsenta yang tertinggal (Sari dan Rimandini, 2014; h. 226) Penyebab perdarahan postpartum 4) Atonia uteri, atonia uteri merupakan kegagalan miometrium berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalamkeadaan relaksasi penuh, melebar, lembek, dan tidak mampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. 5) Retensio plasenta adalah keadaan dimanaplasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir. Hal ini disebabkan: a) Plasenta belum lepas dari dinding uterus b) Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
  • 49.
    36 6) Sisa plasenta,saat suatu bagian dari plasenta tertinggal, maka uterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. 7) Robekan jalan lahir, robekan jalan lahir dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pascapersalinan dengan uterus yang berkontraksi baik bisanya disebabkan oleh robekan servik atau vagina. 8) Inversion uteri, inversion uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri masuk kedalam kavum uteri, dapat secara mendadak atau terjadi perlahan(Astuti et all, 2015; h. 78-80) k.Infeksi Masa Nifas Infeksi masa nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang masuk kedalam organ genetalia pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi setelah melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38o C atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pascapersalinan, fdengan mengecualikan 24 jam pertama (Sari dan Rimandini, 2014, h. 244). l. Pemberian ASI awal ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI tidak hanya memberikan manfaat untuk bayi saja, melainkan untuk ibu, keluarga, dan Negara.
  • 50.
    37 1) Manfaat ASI a)bagi bayi Nutrient (zat gizi) dalam ASI sesuai dengan kebutuhan bayi. Zat gizi yang terdapat dalam ASI antara lain: lemak, karbohidrat, protein, garam, mineral, serta vitamin. ASI memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energi selama 1 bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi selama 6 bulan kedua dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih selama tahun kedua.(Dewi dan Sunarsih, 2013; h. 17). b) Manfaat untuk ibu (1) Membantu ibu memulihkan diri dari proses persalinannya. Mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim kebentuk semula karena kontraksi yang terjadi ketika menyusui. (2) Mencegah anemia defesiensi zat besi pada ibu nifas karena cepatnya prosesnya involusi uterus (3) Mempercepat ibu kembali keberat badan sebelum hamil. c) Manfaat bagi keluarga (1) Mudah dalam proses pemberian (2) Mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga. (3) Bayi yang mendapat ASI jarang sekali sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.
  • 51.
    38 d) Manfaat bagiNegara (1) Penghematan subsidi anak sakit dan pemakaian obat obatan. (2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui. (3) Mengurangi polusi. (4) Mendapat sumber daya manusia (SDM0 masa depan berkualitas (Sari dan Rumandini, 2014; h. 35-36) 2) Komposisi Gizi dalam ASI a) protein b) karbohidrat c) lemak d) mineral e) air f) vitamin (dewi dan sunarsih, 2011; h 19-20) 3) Tanda bayi cukup ASI a) Bayi kencing setidaknya 6x dalam sehari dan warnanya jernih sampai kuning muda. b) Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan berbiji. c) Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun, dan tidur cukup. Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam.
  • 52.
    39 d) Payudara ibuterasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui. e) Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap bayi mulai menyusu. f) Bayi bertambah berat badannya (sulistyawati, 2009; h. 23). 2.3 Tabel Penyimpanan ASI Suhu Ruang Lemari Es Freezer Setela diperas 6-8 Jm lebih 26o C 3-5 Hari (kurang lebih 4O C) 2 minggu freezer jadi 1 dengan refrigerator 3 bulan, dengan pintu sendiri 6-12 bulan (kurang lebih 18o C) Dari freezer disimpan dilemari es (tidak dihangatkan) 4 jam atau kurang berikutnya) 24 jam Jangan dibekukan Dikeluarkan dari lemari es (dihangatkan) Langsung diberikan 4 jam/minum berikutnya Jangan dibekukan ulang Sisa minum bayi Minum berikutnya Buang Buang (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 28) m. Rawat gabung Rawat gabung adalah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan selama 24 jam penuh. Istilah rawat gabung parsial yang dahulu banyak dianut seperti hanya dilakukan pada siang hari, sedangkan pada
  • 53.
    40 malam harinya bayidirawat dikamar bayi, sudah tidak dibenarkan lagi (Prawirohardjo, 2012; h. 386). 1) Manfaat Kontak dini antara ibu dan bayi yang telah dibina sejak dari kamr bersalin seharusnya tetap dipertahankan dengan merawat bayi bersama ibunya. 2) Keuntungan Rawat Gabung a) Aspek psikologis Dengan rawat gabung antara ibu dan bayi akan terjalin proses lekat (bonding). Hal ininsangat mempengaruhi perkembangan psikologi bayi selanjutnya. Kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak diperlukan oleh bayi. Rasa aman, terlindungi, dan percaya pada orang lain merupakan dasar terbentuk nya rasa percaya diri pada bayi. Ibu akan merasa bangga karena dapat memberikan yang terbaik bagi bayinya. b) Aspek fisik Dengan rawat gabung, ibu dengan mudah menyusui kapan saja bayi menginginkannya. Dengan demikian, ASI jugs dspat cepat keluar. c) Aspek fisiologis Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan refleks prolaktin yang memacu proses produksi ASI dn mempercepat involusi rahim.
  • 54.
    41 d) Aspek edukatif Denganrawat gabung ibu, terutama yang primipara, akan mempunyai pengalaman menyusui dan merawat bayinya. e) Aspek medis Dengan rawat gabung, ibu merawat bayinyaa sendiri. Bayi juga tidak terpapar dengan banyak petugas sehingga infeksi nosokomial dapat dicegah. f) Aspek ekonomi Dengan rawat gabung, pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin sehingga anggaran pengeluaran untuk membeli susu formula dan peralatan untuk membuatnya dapat dihemat. (Prawirohardjo, 2012; h.386). B. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN Langkah dalam manajemen kebidanan menurut varney 1. Pengkajian data asuhan kebidanan Dalam tahaap ini data/fakta yang dikumpulkan data subjektif dan/atau data objektif dari pasien. Bidan dapat mencatat haasil penemuan dataa dalam catatan harian sebelum didokumentasikan (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34). 2. Anamnesa Anamnesa dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut:
  • 55.
    42 3. Auto anamnesa Merupakananamnesa yang dilakukan kepada pasien secara langsung, jadi data yang diperoleh adalah dataa primer karena langsung bdari sumbernya. 4. Allo anamnesa Merupakan anamnesa yang dilakukan pada keluarga pasien untuk memperoleh dataa tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat.(Sulistyawati, 2009; h. 111). 5. Pengumpulan data dasar a. Data Subjektif 1) Identitas pasien a) Nama Nama jelas dan lengkap, apabila perlu nama paanggilan sehari- hari agar tidaak keliru dalam memberikan penanganan. b) Umur Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang mental dan psikis nya belum siap. Sedangkann umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas. c) Agama Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
  • 56.
    43 d) Pendidikan Berpengaruh dalamtindakan tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapaat memberikan konseling dengan pendidikannya. d) Suku/bangsa Berpengaruh pada adat istiadat atau kebisaan sehaari-hari e) Pekerjaan Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tinggi sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut f) Alamat Ditanyaka untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131-132). 2) Keluhan utama Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasa pasien datang kefasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya, ibu postpartum normal ingin memeriksakan kesehatannya setelah persalinan. Contoh lain, ibu postpartum patologis dengan keluhan demam, keluar darah segar dan banyak, nyeri dan infeksi luka jahitan, dan lain-lain (Sulistyawati, 2009; h. 111).
  • 57.
    44 3) Riwayat kesehatan a)Riwayat kesehatan yang lalu Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adaanya riwayat ataau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini. b) Riwayat kesehatan sekaraang Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang adaa hubungaannya dengan masa nifas dan baayinya. c) Riwayat kesehatan keluarga Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadaap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apaabila ada penyakit keluarga menertainya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 4) Status perkawinan Hal ini penting untuk bidan kaji karena dari data inilah bidan akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan. Beberapa pertaanyaan yang dapat dajukan, antara lain: a) Usia nikah pertama kali b) Status pernikahan c) Lama pernikahan
  • 58.
    45 d) Ini adalahsuami yang ke (Sulistyawati, 2009; h. 114). 5) Riwayat Obstetrik a) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu, Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, caraa persalina yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu. 6) Riwayat persalinan sekaraang Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin, kaadaaan bayi meliputi, PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinaan mengalami kelainan atau tidak yang bisa nerpengaruh padaa masa nifas seperti ini. 7) Riwayat KB Untuk mengetahui apakah paasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih kekontrasepsi apa. 8) Kehidupan Sosial Budaya Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pad masa nifas misalnya pada kebiasaan pantang makana.
  • 59.
    46 9) Data Psikososial Untukmengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinyawanita banyak mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama masaa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup ibu menunjukan depresi ringan beberapa setelah kelahiran. Depresi tersebut sering disebut sebagai postpartum blues. Postpartum blue sebagian besar merupakan perwujudan fenomena psikoligis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinya. Hal ini sering terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor a) Kekecewaan emosional yang mengikuti rasaa puas dan takut yang dialami kebanyakaan wanita selama kehamilan dan persalinan. b) Rasa sakit masa nifas awal c) Kelelahan karena kurang tidur Selama persalinan dan postpartum d) Kecemasan padaa kemampuannya merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit e) Rasa sakit takut tidak menarik lagi bagi suaminya 10) Data Pengetahuan Untuk mengetahui seberapa jauh ibu tentang perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan selamaa masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133-136).
  • 60.
    47 11) Pola pemenuhankebutuhan sehari-hari a) Nutrisi Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, dan pantangaan makaanan. 12) Eliminasi Menggambarkan pola fungsi eksresi yaitu kebiasaan ibu buang air besar meliputi, frekuensi, jumlah, konsistensi, dan kebiasaan buang air kecil meliputi, frekuensi, warna , dan jumlah. 13) Istirahat Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya, membaca, mendengarkan musik, kebiasaan mengonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang, dan penggunaan waktu luang. Istirahat sangat penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat yang cukup dapaat mempercepat penyembuhan. 14) Personal hygiene Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutamaa paada pada daerah genetalia, karena masa nifas masih mengeluarkan lochea. 15) Aktivitas Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat prose pengembalian alat-alaat
  • 61.
    48 reproduksi. Apakah ibumelakukan ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 137) 16) Aktivitas seksual Walaupun hal ini merupakan hal yang cukup privasi bagi pasien, namun bidan harus menggali Data dan kebiasaan ini karena pernah tetjadi beberapa kasus keluhan dalam aktivitas seksual yang cukup mengganggu pasien (Sulistyawati, 2009; h. 118). b. Data Objektif Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus kebidanan, dataa penunjang, hasil laboratorium, seperti VDRL,HIV, pemeriksaan radiodiagnostik, ataupun USG yang dilakukan sesuai dengan beratnya masalah. Data yang telah terkumpul diolah, disusaikan dengan kebutuhan pasien kemudian dilakukan pengolahan data, yaitu mrnggabungkan dan menghubungkan data satu dengan yang lainnya, sehingga menunjukkan fakta. Tujuan dari pengolahan dri data adalah untuk menunjukan fakta berdasarkan kumpulan data. Data yangbtelah diolah dianalisis dan hasil nya didokumentasikan (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34).
  • 62.
    49 Untuk melengkapi datadalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian dataa objektif melalui pemeriksaan inpeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan. 1) Keadaan umum Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secaraa keseluruhan. Hasil pengamataan akan bidan laporkan dengan kriteria: a) Baik Pasien diamasukan dalam kriteria ini jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan b) Lemah Pasien dimasukan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri. c) Kesadaran Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar) (Sulistyawati, 2009; h. 121-122).
  • 63.
    50 d) Vital sign Ditunjukanuntuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi yang dialaminya. (1) Pengukuran suhu tubuh Suhu tubuh adalah derajat panas yang dipertahankan oleh tubuh dan diatur oleh hipotalamus (dipertahankan dalam batas normal yaitu kurang lebih dari 37o C) dengan menyeimbangkan antara panas yang dihasilkan dan panas yang dilepaskan (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 15). (2) Nadi Nadi adalah gelombang yang diakibatkan oleh adanya perubahan pelebaran (vasodilatasi) dari penyempitan (vasokontriksi) dari pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel melawan dinding aorta. Tekanan nadi adalah tekanan yang ditimbulkan oleh perbedaan sistolik dan diastolik. Denyut nadi dipengaruhi oleh saraf simpatik (untuk meningkatkan) dan saraf para simpatik (untuk menurunkan) (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 34).
  • 64.
    51 (3) Pernafasan Pemeriksaan inibertujuan untuk menilai frekuensi pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan (Uliyah dan Hidayat, 2009; h. 159). (4) Tekanan darah Sangat penting untuk mengetahui tekanan darah normal seseorang karena adanya perbedaan tekana darah pada setiap individu. Peningkatan atau penurunan 20-30 mmHg pada tekanan darah seseorang adalah bermakna, bahkan walaupun itu masih dalam rentan normal (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 50). e) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik seyogyakarta dilakukan berurutan secara logis yakni biasa dilakukan menurut pendekatan kepala ke kaki atau pendekatan system. Pengkajian yang baik menuntut penguasaan terhadap teknik pemeriksaan, serta parmeter- parameter ukuran normal klien (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 63). 1) Kepala Kepala merupakan organ tubuh yang perlu dikaji karena pada kepala terdapat organ-organ yang sangat penting.
  • 65.
    52 2) Muka Pada daerahmuka/wajah dilihat kesimetrisan muka apakah kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikterus. Bagian muka keadaan normalnya adalah siametris antara kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan muka menunjukkan adanya gangguan pada saraf ketujuh (nervus fasialis)(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 66). 3) Mata Tujuan pengkajian mata untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata. Dalam setiap pengkajian selalu dibandingkan antara mata kanan dan kiri. Teknik yang digunakan adalah inspeksi dan palpas. Inspeksi merupakan teknik yang palin penting dilakukan sebelum palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 67). 4) Telinga Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar saluran telinga, gendang telinga/membrane timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan umumnya adalah inspeksi dan palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73).
  • 66.
    53 5) Hidung Hidung dikajiuntuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Dimulai dari bagian luar hidung dalam, lalu sinus-sinus. Bila memungkinkan, selama pemeriksaan klien dalam posisi duduk (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 79). 6) Mulut Pemeriksaan mulut dan faring harus dilakukan dengan pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua bagian dalam mulut (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81). 7) Leher Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk leher, serta organ-organ pentingnya yang berkaitan, Pengkajian dimulai dengan inspeksi dan palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 83). 8) Dada Payudara: Keadaan payudara dan puting susu a) Simetris/tidak b) Konsistensi, ada pembengkakan atau tidak c) Puting menonjol/tidak 9) Abdomen: Bentuk, striae, linea, kontraksi uterus dan TFU (Sulistyawati, 2009; h. 124).
  • 67.
    54 Keadaan involusi uterusselama nifas; a) Bayi lahir setinggi pusat 1000 gr b) Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gr c) Satu minggu pertengahan pusat-simpisis 500 gr d) Dua minggu tak teraba atas simpisis 350 gr e) Enam minggu bertambah kecil 50-60 gr f) Delapan minggu sebesar normal 30 gr (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57). 10) Genetalia: Kebersihan, pengeluaran pervagina, keadaan luka jahitan, dan tanda-tanda infeksi vagina (Sulistyawati, 2009; h. 124). a) Lochea Rubra/merah Lochea keluar darihari pertama sampai hari ke-4 masa postpartum,. Cairan ya g keluar berwarna merah karena terisis darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium. b) Lochea sangualenta Lochea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
  • 68.
    55 c) Lochea serosa Locheaini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai ke-14. d) Lochea alba Lochea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati, lochea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu postpartum (Sulistyawati, 2009; h. 76) 11) Anus Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapatkan data mengenai kondisi anus dan rectum. 12) Keadaan ekstermitas: Varices, oedema, reflek patella (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141). C. Interpretasi Data Dasar Pada langkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Datavdasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa dikatakan sebagai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan (Soepardan, 2007; h. 99)
  • 69.
    56 1. Diagnose Kebidanan Padalangkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yaang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnose atau masalah adalah pengolahan data dan analisa dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyawati, 2009; h. 125). Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para abortus anak hidup, umur ibu dan keadaan nifas. Data dasar meliputi: a) Data subjektif Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah abortu atau tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya b) Data objektif Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang pengeluaran pervagina, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141-142). 2. Masalah Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien Data dasar meliputi: a) Data subjektif Data yang didapat dari hasil anamnesa pasien
  • 70.
    57 b) Data objektif Datayang didapat dari hasil pemeriksaan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 142). D. Identifikasi Diagnosis/Masalah potensial Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 143). E. Tindakan Segera Mengidentifikasi perlunya penanganan segera oleh bidan atau dokter atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien, misalnya klien mengalami kejang atau perdarahan (Rukiyah et all, 2011; h. 110). F. Merencanakan Asuhan Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi (Soepardan, 2007; h. 101).
  • 71.
    58 G. Pelaksanaan Tahap inimerupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilaksanakan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasai dengan tim kesehatan lainnya (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 39). H. Evaluasi Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan ulangi lagi proses manajemen dengan benar terhadap semua aspek asuhan yang telah diberikan namun belum efektif dan merencanakan kembali yang belum terencana (Rukiyah et all, 2011; h. 111). C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN Berdasarkan permenkes No.1464/Menkes/PER/X/2010 tentang izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan serta memperhatikan kompetensi bidan Indonesia yang mengacu kepada kompetensi inti yang telah disusun oleh ICM, Juni 2011, maka kompetensi bidan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Kompetensi Bidan a) Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-ilmu social, kesehatan masyarakat, dan etik yang membentuk
  • 72.
    59 dasar dari asuhanyang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, ntuk wanita, bayi baru lahir, dan keluarganya. b) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya, dan pelayanan menyeluruh di masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat perencanaan kehamilan, dan kesiapan menjadi orang tua. c) Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi deteksi dini, pengobatan, atau rujukan dari komplikasi tertentu. d) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan memimpin suatu persalinan yang bersihbdan aman, serta menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir. e) Bidan memberikan asuhan kepada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi terhadap budaya setempat. f) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru lahir sampai dengan sayu bulan g) Bidan memberikan asaauhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi dan balita sehat (satu bulan sampai lima tahun). h) Bidan memberikan asauhan yang bermutu tinggi, dan komprehensif pada keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
  • 73.
    60 i) Melaksanakan asuhankebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan reproduksi (Aticeh et all, 2014; h.70-71). 2. Undang-undang Tentang Praktik Bidan UU 23 Tahun 1992 Pasal 50 a) Tenaga kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melaksanakankegiatan kesehatan yang sesuai dengan bidang keahlian dan sesuai dengan kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. b) Ketentuan mengenai kategori, jenis dan klasifikaasi tenaga kesehatan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 53 a) Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas sesuai profesinya. b) Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugas berkewajiban mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien. c) Tenaga kesehatan untuk kepentingaan pembuktian dapat melakukan tindakan medic terhadap seseoraang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. d) Ketentuan mengenai staandar profesi dan hak-hak pasien sebagaimana dimaksud ayat 2 ditentukan dengan peraturan pemerintah.
  • 74.
    61 Pasal 54 a) Terhadaptenaga kesehatan yang melaksanakan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesi dapat dikenakan tindakan disiplin. b) Penentuan ada dan tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana dalam ayat (1) ditentukan oleh majelis disiplin tenaga kesehatan. c) Ketentuan mengenai pembentukan fungsi, tugas tata kerja majelis disiplin tenaga kesehatan ditetapkan oleh keputusan Presiden. Pasal 55 a) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. b) Ganti rugi yang sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Karwati et all, 2011; h.71-72). 3. Tiga Standar Pelayanan Nifas a) Standar 13; Perawatan Bayi Baru Lahir Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia. b) Standar 14: Penanganan pada dua jam pertama setelah persalinan. Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan
  • 75.
    62 tindakan yang diperlukan.Disamping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI. c) Standar 15: Pelayanan Bagi Ibu Pada Masa Nifas Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, Imunisasi dan KB (Karwati et all, 2011; h.80).
  • 76.
    63 BAB III TINJAUAN KASUS ASUHANKEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY.L UMUR 23 TAHUN P1AO 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI, S.TR.KEB BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Oleh : Iif Sarifah Waktu : 05 Juni 2016 Pukul : 18.30 WIB A. PENGKAJIAN 1. Data Subjektif a. Identitas Biodata Istri Suami Nama : Ny. L : Tn. R Umur : 23 Tahun : 26 Tahun Agama : Islam : Islam Suku/bangsa : Jawa/Indonesia : Jawa/Indonesia Pendidikan : SMA : SMA Pekerjaan : IRT : Wiraswasta Alamat : Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk Betung Bandar Lampng 63
  • 77.
    64 b. Keluhan Utama: Ibu mengatakan mules pada perutnya dan terasa lemas. c. Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehataan sekarang Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada Ginjal : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada TBC : Tidak ada b. Riwayat kesehatan dahulu Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada Ginjal : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada TBC : Tidak ada c. Riwayat Kesehatan Keluarga Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada
  • 78.
    65 Asma : Tidakada Ginjal : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada TBC : Tidak ada d. Riwayat Perkawinan Usia nikah pertama : 22 tahun Status pernikahan : Syah Lama pernikahan : 1 tahun e. Riwayat obstetri Riwayat Haid Menarche : 12 Tahun Siklus : Teratur (28 hari) Volume : 2-3 kali ganti pembalut/hari Sifat : Encer Disminore : Tidak ada HPHT : 10-09-2015 1) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu Tabel 3.1 Tanggal Tempat Persalinan Usia Kehamilan Jenis Persalinan Penolong Penyulit Keadaan Ket Nifas Anak
  • 79.
    66 2) Riwayat PersalinanSekarang Jenis Persalinan : Spontan Tanggal : 05-06-2016 Jenis Kelamin : Perempuan Panjang Badan : 50 cm Berat Badan : 3500 gram Keadaan Bayi : Sehat tanpa cacat f. Riwayat KB Tabel 3.2 g. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari 1) Pola Nutrisi Saat Hamil Makan Frekuensi : 3x sehari Porsi : 1 posi sekali makan Jenis makanan : Nasi, tempe, sayur Pantangan : Tidak ada Minum Frekuensi : ± 4x sehari dengan jumlah 2 gelas setiap kali minum NO Jenis Kontrasepsi Mulai Memakai Mulai Berhenti Tgl Oleh Tempat Keluhan Tgl Oleh Tempat Alasan
  • 80.
    67 Jumlah : ±8 gelas/hari Jenis minuman : Air mineral Saat Nifas Makan Frekuensi :Ibu baru makan 1x Porsi :1porsi sekali makan Jenis makanan :Nasi, sop, dan daging ayam Pantangan :Tidak ada Minum Frekuensi :± ibu sudah minum 3 kali Jumlah :± 3 gelas Jenis minuman :Air mineral 2) Pola eliminasi Saat Hamil BAK Frekuensi : 5-7 x/hari Warna : Jernih BAB Frekuensi : 1x/hari Warna : Kuning Konsistensi : Keras
  • 81.
    68 Saat Nifas BAK Frekuensi :1 kali pada 8 jam persalinan Warna : Kuning BAB Frekuensi : Belum BAB selama pemantauan 6 jam postpartum 3) Pola Aktivitas Saat Hamil : Berjalan-jalan, memasak Saat Nifas : Saat pengkajian ibu sudah mampu berjalan sendiri pada 6 jam postpartum 4) Pola istirahat Saat Hamil :Malam 6-7 jam dan siang 1 jam Saat Nifas : Saat pengkajian ibu istirahat ditempat tidur 5) Pola Personal Hygiene : Ganti pembalut bari 1 kali, ibu belum mengerti tentang cara membersihkan daerah genetalianya dari belakang ke depan, dan tidak
  • 82.
    69 pernah mengeringkan daerah genetalianyasehabis BAK dan BAB. 6) Pola Seksual : Tidak dilakukan Pengkajian 7) Psikososial Tanggapan ibu terhadap dirinya : senang Tingkat pengetahuan ibu terhadap kondisinya : Baik Tanggapan keluarga terhadap kelahiran bayi : Baik Pengambil keputusan : Bersama Lingkungan berpengaruh : Tidak ada 1. Data Objektif a. Pemeriksaan Umum Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Keadaan emosional : Stabil TTV TD : 120/80 mmHg N : 80x/menit RR : 23x/menit T : 36,5o C b. Pemeriksaan fisik 1) Kepala Wajah
  • 83.
    70 Pucat :Tidak ada Oedema:Tidak ada 2) Mata Simetris :Ya, kanan dan kiri Kelopak mata :Tidak oedema Konjungtiva : Merah muda Sklera : Putih 3) Hidung Simetris : Ya, kanan dan kiri Polip : Tidak ada Kebersihan : Bersih 3) Mulut Bibir : Lembab Lidah : Bersih Gusi : Tidak ada pendarahan Gigi : Tidak ada caries 4) Telinga Simetris : Simetris Gangguan Pendengaran : Tidak ada 5) Leher Tumor : Tidak ada
  • 84.
    71 Pembesaran Kelenjar Tiroid: Tidak ada Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada Pembesaran Vena Jugularis :Tidak ada 6) Ketiak Pembesaran Kelenjar Limfe : Tidak ada 7) Dada Retraksi : Tidak ada Bunyi Mengi dan Ronchi : Tidak ada 8) Payudara Simetris : Ya, kanan dan kiri Pembesaran : Ada Puting Susu : Menonjol Aerola Mamae : Hiperpigmentasi Benjolan : Tidak ada Pengeluaran : Ada, Colostrum 9) Punggung dan Pinggang Simetris : Simetris Nyeri ketuk : Tidak ada 10) Abdomen Benjolan : Tidak ada Konsistensi : Keras
  • 85.
    72 Kantung Kemih :Kosong Uterus TFU : 2 Jari di bawah pusat Kontraksi : Baik 11) Anogenital Labiya Mayora/Minora : Tidak ada pembengkakan Kelenjar Bhartolini : Tidak ada pembesaran Pengeluaran Vagina Jenis Lochea : Rubra Warna : Merah segar Bau : Amis Perineum : Terdapat laserasi Anus : Tidak ada hemoroid 12) Ekstermitas Bawah Oedema : Tidak oedema Kemerahan : Tidak ada Varices : Tidak ada Reflek Patella : Positif, kanan dan Kiri
  • 86.
    73 c. Pemeriksaan Penunjang 1)Pemeriksaan Laboratorium a. Darah HB : Tidak dilakukan Golongan Darah : Tidak dilakukan b. Urine Protein : Tidak dilakukan Glukosa : Tidak dilakukan 2) Riwayat Persalinan Sekarang a) Ibu Tempat Melahirkan : BPS Penolong : Bidan Jenis persalinan : Spontan Catatan waktu Kala I : 11 jam 0 menit Kala II : 1 jam menit Kala III : 0 jam 10 menit Kala IV : 2 jam 0 menit Lamanya : 14 jam 10 menit Ketuban Pecah pukul : 12.00 WIB Plasenta Lahir Secara : Spontan
  • 87.
    74 Ukuran : 20Cm Berat : ± 500 gram Panjang Tali Pusat : ± 50 Cm b) Bayi Lahir Tanggal/Pukul : 05 Juni 2016 Pukul 12.30 WIB Jenis Kelamin : Perempuan Cacat Bawaan : Tidak ada Masa Gestasi : Aterm, 38 minggu 2 hari
  • 88.
    75 TABEL 3.3 MATRIKS Tgl/Jam PengkajianInterpretasi data (diagnosa, masalah dan kebutuhan) Dx masalah potensial Antisipasi/tindakan segera Intervensi Implementasi evaluasi 05 Juni 2016 pukul 14.30 WIB DS: 1. Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada tanggal 05 juni 2016 pukul 12.30 wib 2. Ibu mengatakan perutnya mulas DO: 1. Ibu terlihat sedikit cemas 2. Dari hasil pemeriksaan diperolehh hasil TD: 120/80 RR: 23x/i N: 80x/i T: 36,5O c 3. Payudara tampak normal, puting DX: Ny. L umur 23 tahun P1AO 2 Jam postpartum DS: 1. Ibu mengatakan melahirkan anak pertama tanggal 05 juni 2016 pukul 12.30 wib DO: 1. Ibu melahirkan pukul 12.30 wib 2. Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil TD: 120/80 RR: 23x/i N:80x/i T: 36,50 c 3. Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada Tidak ada Tidak ada 1. Jelaskan tentang kondisi ibu saat ini 1. Menjelaskan keadaan ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai dengan pemeriksaan fisik yaitu keadaan ibu baik a. Hasil TTV: TD:120/80 RR: 23x/i N: 80x/i T: 36,5O C b. Payudara tampak normal, Puting menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrum c. TFU 2 jari bawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik d. Lochea rubra, terdapat robekan Perineum 1. Ibu mengerti keadaanya saat ini
  • 89.
    76 menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums 4. TFU2 jari dibawah pusat, konsistensi keras,kontraksi baik 5. Lochea rubra, terdapat robekan perineum pengeluaran,colostrum 4. TFU 2 Jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik 5. Lochea rubra, terdapat robekan perineum Masalah: Tidak ada Kebutuhan: Asuhan 6 jam postpartum 2. Beritahu ibu mengenai keluhan yang dirasakan 3. Lakukan dan ajarkan pada ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena atonia uteri 4. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI awal 2. Memberitahu ibu mengenai keluhan yang dialami bahwa rasa mulas yang dirasakan saat ini adalah normal karena adanya proses pengembalian rahim kebentuk semula 3. Melakukan dan mengajarkan ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena adanya atonia uteri dengan cara masase 15x dalam 15 detik pada perut ibu menggunakan telapak tangan dengan meletakkan diperut ibu dan sedikit sitekan diputar agak tidak terjadi perdarahan 4. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal yaitu secara ondemand dan ekslusif yaitu dengan menyusui bayi sesering mungkin 2. Ibu mengerti bahwa keluhan yang dialaminya adalah normal 3. Masase sudah dilakukan dan keluarga ibu telah mengerti cara mencegah perdarahan dengan memasase perut ibu 4. Ibu bersedia menyusui bayinya seawal mungkin
  • 90.
    77 5. Lakukan rawat gabung ibu danbayi minimal 2 jam sekali satau bila bayi menginginkannya. Secaraa eksklusif yaitu selama 6 bulan tanpa makanan tambahan apapun, yang banyak mengandung kadar protein yang tinghi dan mengandung zat antibody sehingga mampu melindungi tubuh bayi dari penyakit infeksi 5. Melakukan rawat gabung antara ibu dan bayi yaitu menempatkan ibu dan bayi dalam satu ruangan agar hubungan bayi dan ibu lebih dekat dan ibu dapat memberikan ASI secara dini dan sesering mungkin 5. Ibu bersedia dan mengerti tentang rawat gabung
  • 91.
    78 6. Lakukan pencegahan hipotermi 7. Anjurkan ibuuntuk mobilisasi dini 6. Melakukan pencegahan hipotermi dengan keringkan bayi secara seksama, selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat, tutup bagian kepala bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya, jangan memandikan bayi dalam 24 jam postpartum, dan tempatkan bayi dilingkungan yang hangat 7. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini yaitu belajar miring kiri, kanan, duduk, kemudian jalan kekamar mandi secara perlahan- lahan untuk membantu menguatkan otot-otot perut sehingga ibu cepat pulih 6. Bayi sudah dalam keadaan hangat 7. Ibu sudah bisa miring kiri, kanan.
  • 92.
    79 8. Anjurkan ibu tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya 9.Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan istirahat 8. Menganjurkan ibu untuk terap memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa nifas ini, makanan yang dikonsumsi haruslah makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi seoertinkarbihidrat pada nasi, jagung dan kentang, protein pada tahu, tempe, telor, ikan, dan daging, vitamin pada buah dan sayur serta mineral. Agar kondisi ibu cepat pulih 9. Menjelaskan kepada ibu tentang kebutuhan istirahat pada ibu nifas yaitu memerlukan istirahat yang cukup sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari atau saat bayi tertidur, usahakan agar ibu dapat beristirahat semaksimal mungkin hal ini agar kondisi 8. Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisinya 9. Ibu bersedia untuk istirahat
  • 93.
    80 10. Ajarkan pada ibu tentang personal hygiene ibutetap terjaga selama masa nifas. Apabila kurang istirahat dapat menyebabkan produksi ASI berkurang, proses involusi berjalan lambat sehingga dapat menyebabkan perdarahan 10. Mengajarkan ibu tentang personal hygiene yaitu: a. Menganjurkan ibu untuk membersihkan seluruh tubuh b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kemaluan dengan air bersih pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah vulva terlebih dahulu dari arah depan kebelakang, baru kemudian 10. Ibu mengerti pola personal hygiene yang baik
  • 94.
    81 membersihkan daerah anus c. Menyarankan ibuuntuk mengganti pembalut setidaknya 2 kali sehari atau bila sudah terasa penuh d. Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
  • 95.
    82 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib DS: 1. Ibumengatakan melahirkan anak pertamanya pada tanggal 05 juni 2016 pukul 12.30 wib 2. Ibu mengatakan perutnya mulas DO: 1. Ibu terlihat sedikit cemas 2. Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil TD: 120/80 RR: 23x/i N:81x/i T: 36,5o c 3. Payudara tampak normal, puting susu menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums 4. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi DX: Ny. L umur 23 tahun P1A0 8 Jam postpartum DS: 1. Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada tanggal 05 juni 2016 pukul 12.30 wib 2. Ibu mengatakan perutnya mulas DO: 1. Ibu terlihat sedikit cemas 2. Dari hasil pemeriksatan diperoleh hasil TD: 120/80 RR: 23x/i N: 81x/i T: 36,5O C 3. Payudara tampak normal , puting menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums 4. TFU 2 Jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik Tidak ada Tidak ada 1. Evaluasi kondisi ibu saat ini 2. evaluasi kembali bahwa ibu masih merasa mulas 1. Mengevaluasi kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai dengan hasil pemeriksaan yaitu keadaan umum baik a. TTV: TD: 120/80 RR: 23x/i N: 81x/i T: 36,5O C b. Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran,col ostrums c. TFU 2 Jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik 2. Mengevaluasi pada ibu bahwa rasa mulas yang dialami adalah hal yang normal 1. Ibu sudah mengetahui kondisinya saat ini dalam keadaan baik 2. Ibu mengerti bahwa rasa mulas yang dialami adalah hal yang normal, ini dikarenakan proses pengembalian
  • 96.
    83 keras, kontraksi baik 5. Lochearubra, terdapat robekan perineum 5. Lochea rubra, terdapat robekan perineum Masalah: Tidak ada Kebutuhan: Asuhan 6 jam postpartum 3. Pastikan dan evaluasi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan keluarga 4. Evaluasi kepada ibu tentang pemberian ASI awal 5. Evaluasi mengenai rawat gabung antara ibu dan bayi 6. Evaluasi pencegahan hypotermi 3. Memastikan dan mengevalusi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan dengan melakukan masase 15x dalam 15 detik pada uterus ibu yang diajarkan kepada keluarga 4. Mengevaluasi ibu mengenai pemberian ASI awal 5. Mengevaluasi rawat gabung antara ibu dan bayi 6. Mengevaluasi pencegahan hypotermi rahim kebentuk semula 3. Ibu dan keluarga telah melakukan masase perut ibu dan kontraksi baik, tidak terjadi perdarahan 4. Ibu telah menyusui bayinya 3 kali dan bayi cukup ASI 5. Ibu dan bayi telah disatukan dalam satu ruangan agar terjalin kasih sayang antara ibu dan bayi 6. Bayi dalam keadaan baik dan telah dibedong dengan
  • 97.
    84 7. Evaluasi ibu tentang mobilisasi dini 8.Evaliasi kebutuhan nutrisi ibu 9. Evaluasi kebutuhan istirahat ibu 7. Mengevaluasi ibu mengenai mobilisasi dini yang telah dianjurkan pada ibu 8. Mengevaluasi ibu akan kebutuhan nutrisi ibu 9. Mengevaluasi kebutuhan istirahat ibu menggunakan kainkering serta bayi telah menggunakan tutup kepala 7. Ibu telah mampu miring kanan dan kiri serta berjalan kekamar mandi 8. Ibu sudah memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makan satu piring nasi dengan lauk tempe dan telur serta sayur bayam dan 1 buah jeruk, ditambahkan dengan 1 gelas teh manis 9. Ibu sudah memenuhi kebutuhan istirahatnya dengan tidur selama 6
  • 98.
    85 10. Evaluasi personal hygiene ibu 11.Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 10. Mengevaluasi personal hygiene ibu 11. Menganjurkan ibu untuk melakukankunjung an ulang dan apabila terdapat keluhan dan tanda- tanda bahaya pada masa nifas jam setelah persalinan 10. Ibu sudah mandi dan mengganti pembalut sebanyak 2 kali 11. Ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang pada tanggal 11 juni 2016 dan apabila terdapat keluhan.
  • 99.
    86 BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian(Pengumpulan Data Dasar) Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). Pada pengkajian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien pada Ny. L dengan asuhan kebidanan Ibu Nifas terhadap Ny.L umur 23 Tahun P1A0 6 Jam Postpartum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung, dan didapatkan hasil yaitu sebagai berikut: 1. DATA SUBJEKTIF a. Nama 1) Tinjauan Teori Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). 2) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian, nama ibu diberi inisial Ny. L
  • 100.
    87 3) Pembahasan Tidak adakesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus dimana bidan mengkaji nama pasien dengan jelas dan lengkap dan tercatat dalam buku registrasi agar dalam memberikan penanganan tidak terjadi kekeliruan. b. Umur 1) Tinjauan Teori Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mentalnya dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). 2) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian, Ny.L berumur 23 tahun 3) Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara keseluruhan Ny.L mengatakan usianya 23 tahun dimana berdasarkan teori usia ibu masih termasuk usia reproduktif dan tiak termasuk pada faktor resiko.
  • 101.
    88 c. Agama 1) TinjauanTeori Untuk memgetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). 2) Tinjauan Kasus Setelah dikaji Ny. L adalah agama islam 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada kesenjangan karena penulis mendengar Ny.L menyebut asma Allah dan berdoa saat proses persalinan. Begitu juga saat persalinan bidan yang memimpin persalinan menyarankan keluarga untuk banyak berdoa. d. Suku/bangsa 1) Tinjauan Teori Berpengaruh pada istiadat atau kebiasaan sehari-hari (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). 2) Tinjauan Kasus Ibu berkebangsaan Indonesia dan suku ibu Jawa 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena didalam keluarga tidak menganut kepercayaan
  • 102.
    89 yang berhubungan denganadat istiadat dalam suatu suku di dalam keluarga tersebut. e. Pendidikan 1) Tinjauan Teori Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). 2) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian pendidikan Ny.L SMA 3) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teri dan tinjauan kasus karena tingkat pendidikan ibu adalah SMA, pada saat memberikan konseling kepada klien dengan menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti dan mampu melaksanakan konseling yang telah diberikan. f. Pekerjaan 1) Tinjauan Teori Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut (Ambarwati dsan Wulandari, 2010; h. 132). 2) Tinjauan Kasus Ny.L bekerja sebagai ibu rumah tangga, suami wiraswasta
  • 103.
    90 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena meskipun Ny.L hanya sebagai ibu rumah tangga tetrapi nutrisi dan kebutuhan sehari-haari terpenuhi sebab hal ini didukung oleh pekerjaan suami sebagai wiraswata g. Alamat 1) Tinjauan Teori Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). 2) Tinjauan Kasus Ny.L Beralamat di Jl. Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk Betung Bandar Lampung. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ada kesenjangan karena saat bidan melakukan pengkajian Ny.L di Jl. Kupang Tebu, Kec. Bumi Waras Teluk Betung Bandar Lampung. Menurut teori alamat dikaji untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan. h. Keluhan Utama 1) Tinjauan Teori Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alaan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan (Sulistyawati, 2009; h. 111)
  • 104.
    91 2) Tinjauan Kasus Ny.Lmengeluh terasa mulas pada perutnya dan ibu merasa lemas setelah melahirkan anak pertamanya. 3) Pembahasan Tidak terdapat kesenjanagan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus dikarenakan dengan bidan mengkaji keluhan utama pasien bidan dapat mengetahui hal yang dirasakan oleh pasien dan bidan dapat segera memberikan penanganan. i. Riwayat Kesehatan Sekarang 1) Tinjauan Teori Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini uang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 2) Tinjauan Kasus Ny.L tidak memiliki riwayat penyakit penyulit baik penyakit keturunan Diabetes, Hipertensi, Jantung, Asma ataupun penyakit menular seperti Hepatitis, PMS/HIV AIDS, Dikeluarga ibu juga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit menular ataupun keturunan.
  • 105.
    92 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny.L tidak memiliki riwayat penyakit baik dari ibu maupun dari keluarga pada saat ini. j. Riwayat Kesehatan yang Lalu 1) Tinjauan Teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 2) Tinjauan Kasus Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit menular mauapun penyakit keturunan. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena dengan menganamnesa riwayat kesehatan yang lalu, bidan dapat mengetahui bahwa Ny.L tidak memiliki penyakit yang mempengaruhi masa nifasnya. k. Riwayat Kesehatan Keluarga 1) Tinjauan Teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadaap gangguan pasien dan
  • 106.
    93 bayinya yaitu apabilaada penyakit keluarga menyertainya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 2) Tinjauan Kasus Ibu mengatakan keluarganya tidak sedang/pernah menderita penyakit seperti penyakit menular maupun penyakit keturunan 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena dengan menganamnesa riwayat kesehatan keluarga Ny.L tidak memiliki riwayat penyakit menular maupun keturunan yang mempengaruhi masa nifasanya. l. Riwayat Perkawinan 1) Tinjauan Teori Hal ini penting untuk bidan kaji karena dari data inilah bidan akan mendapatkan gambaran mengenai suasanan rumah tangga pasangan. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain: a) Usia nikah pertama kali b) Status pernikahan c) Lama pernikahan d) Ini adalah suami yang ke (Sulistyawati, 2009; h. 114).
  • 107.
    94 2) Tinjauan Kasus Setelahdilakukan pengkajian Ny.L menikah usia 22 tahun dam status pernikahannya syah, lama 1 tahun. 3) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena saat bidan melakukan pengkajian, bidan menanyakan pada pasien mengenai usia nikah pertama kali, status pernikahan, lama pernikahan, dan suami keberapa. Ibu mengatakan ini pernikahan yang syah yang sudah berjalan 1 tahun, dapat disimpulkan suasana rumah tangga Ny.L dalam keadaan baik. m. Riwayat Obstetrik 1) Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang lalu a) Tinjauan Teori Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). b) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian Ny.L baru pertama kali melahirkan dan tidak pernah abortus c) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L baru melahirkan satu kali dan tidak pernah abortus.
  • 108.
    95 2) Riwayat PersalinanSekaraang a) Tinjauan Teori Tanggal persalinan, jenis persalinan, jemis kelamin anak, keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengdetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134) b) Tinjauan Kasus Dalam riwayat obstetric Ny.L pada persalinan sekarang Ny.L melahirkan pada tanggal 05 juni 2016. Jenis persalinan spontan, dengan PB 50 cm dan BB 3500 gram dan ditolong oleh bidan. c) Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus dikarenakan pada saat bidan mengkaji terhadap riwayat persalinan sekarang bidan dapat mengetahui bahwa Ny.L melahirkan secara spontan pervaginam, pada tanggal 05 Juni 2016. Jenis persalinan spontan, jenis kelamin perempuan dengan PB 50 cm dan berat badan 3500 gram dan ditolong oleh bidan. dan proses persalinan tidak mengalami kelainan yang berpengaruh pada masa nifas pada saat ini.
  • 109.
    96 n. Riwayat KB 1)Tinjauan Teori Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke kontrasespsi apa (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134). 2) Tinjauan Kasus Ny.L sebelumnya belum pernah memakai KB 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara keseluruhan sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L belum pernah menggunakan alat kontrasepsi. o. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari 1) Nutrisi a) Tinjauan Teori Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, dan pantangan makanan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136). b) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian, ibu baru makan 1 kali dari setelah melahirkan dengan menu nasi, sayur sop, lauk pauk 1
  • 110.
    97 potong daging ayamdan satu potong tempe serta air putih dan teh hangat dan ibu tidak memiliki pantangan dalam makan dan minum. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui Ny.L segera memenuhi kebutuhan nutrisinya dan Ny.L tidak memiliki pantangan makanan apapun yang dapat mengganggu pada proses masa nifas 2) Eliminasi a) Tinjauan Teori Menggambarkan pola fungsi eksresi yaitu kebiasaan ibu buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi, dan kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, dan jumlah (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136). b) Tinjauan Kasus Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian Ny.L telah BAK setelah 3 jam postpartum yaitu pada pukul 15.30 wib dan ibu belum BAB dimana berdasarkan teori normal ibu nifas mengalami defekasi adalah
  • 111.
    98 pada hari 3-4setelah persalinan dan ibu mengalami BAK 3-4 jam postpartum. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus pola eliminasi pada Ny L tidak terdapat kesenjangan karena dalam 3 jam post partum Ny L sudah BAK dengan frekuensi dan warna yang normal. Hal ini sesuai dengan teori yang ada yaitu ibu akan BAK pada 3-4 jam setelah bersalin dengan frekuensi dan warna yang normal 3) Pola istirahat a) Tinjauan Teori Menggambarkan pola instirahat daan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya, membaca, mendengarkan musik, kebiasaan mengonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang, dan penggunaan waktu luang. Istirahat sangat cukup penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136). b) Tinjauan Kasus Saat pengkajian ibu beristirahat di tempat tidur c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena ibu sudah beristrirahat selama 2 jam
  • 112.
    99 sehingga dapat membantupemulihan tenaga ibu yang lelah setelah bersalin. 4) Aktivitas a) Tinjauan Teori Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat proses pengembalian alat-alat reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 137). b) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian Ny.L sudah mampu ke kamar mandi sendiri pada 6 jam postpartum. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L sudah melakukan ambulasi dengan baik sehingga dapat membantu proses involusi uterus dengan baik
  • 113.
    100 5) Personal hygiene a)Tinjauan Teori Dikaji untuk mengetahui apakah ibubselalu menjaga kebersihan tubuh terutamaa pada daerah genetalia, karena masa nifas masih mengeluarkan lochea (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 135). b) Tinjauan Kasus Saat pengkajian ibu sudah mengganti pembalut sebanyak 2 kali tetapi ibu kurang mengerti cara menjaga personal hygiene khususnya pada bagian genetalia. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bida melakukan pengkajian Ny.L sudah mengganti pembalutnya sebanyak 2 kali tetapi ibu kurang mengerti dan kurang menjaga kebersihan diri terutama bagia genetalianya. Seperti, ibu masih membersihkan kemaluannya dari arah belakang krdeepan, tidak mengeringkan genetalian bila sehabis BAK serta tidak mencuci tangan saat sesudah BAK. 6) Kehidupan Sosial Budaya a) Tinjauan Teori Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien
  • 114.
    101 khususnya pada yangmasa nifas misalnya pada kebiasaan pantang makan (Ambarwati dan Wulandari, 2010). b) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajian keluarga Ny.L menganut adat istiadat yang akan merugikan bayi Ny.L c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus terdapat kesenjangan dikarenakan Ny.L tidak memberikan ASI colostrums pada bayinya, hal ini dapat berpengaruh bagi bayi Ny L, karena ASI kolostrum sangat bermanfaat bagi kekebalan tubuh bayi. 7) Data Psikososial a. Tinjauan Teori Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita mengalami banyak perubahan emosi/ psikologis selamamasa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberaapa hari setelah kelahiran. Depresi tersebut sering sebagai postpartum blues. Postpartum blues sebagian besar merupakan perwujudan fenomena psikologis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinyaa. Hal ini sering terjadi sering diakibatkan oleh sejumlah faktor.
  • 115.
    102 (1) Kekecewaan emosionalyang mengikuti rasa puas dan takut yangbdialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan. (2) Rasa sakit masa nifas awal (3) Kelelahan karena kurang tidutr selama persalinan dan postpartum. (4) Kecemasan pada kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit. (5) Rasa taakut tidak menarik lagi bagi suaminya Menjelaskan Pengkajian psikologisnya: (6) Respon keluarga terhadapnibudan bayinya (7) Respon ibu terhadap bayinya (8) Respon ibu terhadap dirinya (Ambarwati dan Wulandari, 2010) b. Tinjun Kasus Setelah dilakukan pengkajian ibu mengatakan sangat senag dengan kelahiran bayinya, dan ibu secara perlahan mulai merawat bayinyandengan senang hati. Status emosional ibu stabil, dan respon keluarga terhadap bayinya baik. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidaak terdapat kesenjangan karena pada saat bidan melakukan pengkahian ibu dalam keadaan stabil, ibu dapat menerima bayinya serta
  • 116.
    103 merawatnya dengan penuhkasih sayang, dan respon keluarga juga baik terhadap bayinya. 8) Data Pengetahuan a) Tinjauan Teori Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan selama masa nifas (Ambarwati dan Wulandaari, 2010). b) Tinjauan Kasus Setelah dilakukan pengkajiaan Ny.L kurang mengerti mengenai perawatan setelah melahirkan c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara keseluruhan sehingga bidan mengetahui bahwa Ny.L kurang mengerti mengenai perawatan setelah melahirkan. 2. DATA OBJEKTIF Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan. Langkah-langkah pemeriksaanya sebagai berikut:
  • 117.
    104 a. Keadaan Umum 1)Tinjauan teori Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan kriteria: a) Baik Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. b) Lemah Pasien dimasukan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri. 2) Tinjauan Kasus Keadaan Ny.L : Baik 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa ibu saat ini dalam keadaan baik.
  • 118.
    105 b. Kesadaran 1) TinjauanTeori Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2009; h. 121-122). 2) Tinjauan Kasus Kesadaran Ny.L Composmentis 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh pada Ny.L dan kesadaran ibu dalam keadaan composmentis. c. Tanda-tanda Vital 1) Tekanan Darah a) Tinjauan Teori Sangat penting untyk mengetahui tekanan darah normal seseorang karena adanya perbedaan tekanan darah pada setiap individu. Peningkatan atau penurunan 20-30 mmHg pada tekanan darah seseorang adalah bermakna, bahkan walaupun itu masih dalam rentan normal (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 50).
  • 119.
    106 Tekanan darah adalahtekana yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekann darah tinggi pada postpartum merupakan tanda terjadinya pre eklampsi postpartum. Namun demikian , hal tersebut sangat jarang terjadi (Rukiyah et all, 2011; h. 69). b) Tinjauan Kasus Tekanan darah Ny.L TD: 120/80 mmHg c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa Ny.L saat ini tidak mengalami peningkatan atau penurunan tekanan darah dimana dari hasil pemeriksaan didapatkan TD: 120/80 mmHg.
  • 120.
    107 2) Nadi a) TinjauanTeori Nadi adalah gelombang yang diakibatkan oleh adanya perubahan pelebaran (vasodilatasi) dari penyempitan (vasokontriksi) dari pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel melawan dinding aorta. Tekanan nadi adalah tekanan yang ditimbulkan oleh perbedaan sistolik dan diastolic. Denyut nadi dipengaruhi oleh saraf simpatik (untuk meningkatkan) dan saraf parasimpatik (untuk menurunkan) )Tambunan dan Kasim, 2011; h. 34). b) Tinjauan Kasus Nadi Ny.L : 80x/menit c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh, sehingga bidan mengetahui bahwa nadi Ny.L dalam batas normal, dimana didapatkan hasil 80x/menit. 3) Pernafasan a) Tinjauan Teori Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekuensi pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan (Uliyah dan hidayat, 2009; h. 159).
  • 121.
    108 b) Tinjauan Kasus PernafasanNy.L 23x/menit c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh vidan mengetahui bahwa pernafasan Ny.L dalam batas normak dimana hasil pemeriksaan didapat 23x/menit. 4) Suhu Badan a) Tinjauan Teori Suhu tubuh adalah derajat panas yang dipertahankan oleh tubuh dan diatur oleh hipotalamus (dipertahankan dalam batas normal yaitu ±6o c dari 37o c) dengan menyeimbangkan antara panas yang dihasilkan dan panas yang dilepaskan (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 15). b) Tinjauan Kasus Suhu Ny.L 36,5 o c c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa suhu ibu dalam batas normal, dimana hasil yang didapat dari pemeriksaan yaitu 36,5o c.
  • 122.
    109 d. Pemeriksaan Fisik 1)Kepala a) Tinjauan Teori Kepala merupakan organ tubuh yang perlu dikaji karena pada kepala terdapat organ-organ yang sangat penting yang meliputi: (1) Mata Tujuan pengkajian mata untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata. Dalam setiap pengkajian selalu dibandingkan antara mata kana dengan kiri. Teknik yang digunakan adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi merupakan teknik yang paling penting dilakukan sebelum palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 67). (2) Hidung Hidung dikaji untuk mengetaahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Dimulri bagian luar hidung dalam , lalu sinus-sinus. Bila memungkinkan, selama pemeriksaan klien dalam posisi duduk (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81). (3) Mulut Pemeriksaan mulut dan fungsi faring harus dilakukan dengan pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua bagian dalam mulut
  • 123.
    110 (Tambunan dan Kasim,2012; h. 81). (4) Telinga Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga/membrane timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan umumnbya adalah inspeksi dan palpasi (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73). b) Tinjauan Kasus Dari hasil pemeriksaan kepala Ny.L Tidak terdapat kelainan, pada bagian mata ibu tidak terdapat pembengkakan pada bagian kelopak mata, konjungtiva tidak pucat serta sclera berwarna putih. Pada bagian hidung ibu tidak terdapat pembesaran polip dan kebersihan cukup bersih. Bagian mulut ibu tidak terdapat pembengkakan pada gusi , keadaan lidah bersih dan tidak ada karies gigi. Bagian telinga tidak terdapat gangguan pendengaran. 2) Leher a) Tinjauan Teori Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk leher, serta organ-organ penting yang berkaitan. Pengkajian dimulai dengan inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakukan
  • 124.
    111 untuk melihat apakahada kelainan dan ada tidaknya pembengkakan. Pemeriksaan palpasi ditunjukkan untuk melihat apakah ada masa yang teraba pada kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan trakea. (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 83). b) Tinjauan Kasus Dari hasil pemeriksaan leher Ny.L tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa bagian leher Ny.L tidak terdapat kelainan. Serta tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid. 3) Dada a) Payudara: (1) Tinjauan Teori Payudara: Pada payudara, terjadi proses laktasi. Dalam hal melakukan pengkajian fisik dengan perabaan apakah terdapat benjolan, pembesaran kelenjar, atau abses, serta bagaimana keadaan puting (Sulistyawati, 2009; h. 124).
  • 125.
    112 (2) Tinjauan Kasus Darihasil pemeriksaan payudaraNy. L tidak terdapat benjolan, terdapat pembesaran, terjadi hiperpigmentasi pada bagian areola, puting susu menonjol dan sudah ada pengeluaran ASI berupa kolostrum (3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa pada bagian payudara ibu tidak terjadi kelainan, semua dalam batas normal. 4) Abdomen a) Tinjauan teori (1) Uterus: Pada pemeriksaan uterus sama hal nya dengan pemeriksaan payudara dilakukan terlebih dahulu periksa pandang warna perut, pembesaran pada perut, kemudian lakukan pemeriksaan raba (palpasi) yakni: periksa ada tidaknya rasa nyeri saat diraba, periksa kontraksi uterus, kemudian raba tinggi fundus. (Rukiyah et all, 2011; h. 99).
  • 126.
    113 Keadaan involusi uterusselama nifas 1. Bayi lahir setinggi pusat 1000 gram 2. Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram 3. Satu minggu pertengahan puat-simfisis 500 gram 4. Dua minggu tak teraba atas simfisis 350 gram 5. Enam minggu bertambah kecil 50-60 gram 6. Delapan minggu sebesar normal 30 gram (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 57). (2)Kandung kemih: Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap keadaan kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan kandung kemih jangan diabaikan karena jika kontraksi terhambat oleh kandung kemih yang penuh bisa berakibat keluar darah yang cukup banyak (perdarahan), pemeriksaan kandung kemih dilakukan bersamaan saat memeriksa pembesaran uterus, jika kandung kemih penuh ajarkan ibu untuk buang aair kecil, jika ibu tidak bisa buang air kecil secara spontan dapat dikeluarkan dengan kateter sekali pakai (Rukiyah et all, 2011; h. 100). b) Tinjauan Kasus Dari hasil pemeriksaan abdomen Ny.L TFU teraba 2 jari dibawah pusat dengan kontraksi baik dan konsistensi keras dan kandung kemih kosong
  • 127.
    114 c) Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh sehingga bidan mengetahui bahwa pada bagian abdomen Ny.L sesuai dengan teori yaitu TFU ibu sudah sesuai 2 jari dibawah pusat konsistensi keras dan kontraksi baik serta bagian kandung kemih ibu kososng karena ibu sudah dapaat buang air kecil secara spontan dan tidak terdapat perdarahan. 5) Anogenital a) Tinjauan Teori Genetalia: (1) Lochea: Normal: Merah Hitam (Lochea rubra) Bau biasa Tidak ada bekuan darah atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk kecil) Jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu mengganti pembalut 3-5 jam) (2) Keadaan perineum: oedema, hematoma, bekas luka episiotomi/robekan, hecting. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 140-141).
  • 128.
    115 b) Tinjauan Kasus Darihasil pemeriksaan Ny.L lochea yang keluar adalah lochea rubra yang berwarna merah segar terdapat robekan pada perineum c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaua kasus tidak terjadi kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa bagian genetalia ibu masih dalam keadaan yaitu lochea yang keluar adalah lochea rubra berwarna merah segar. 6) Ekstremitas a) Tinjauan Teori Keadaan Ekstremitas: Varices, Oedema, Reflek patella (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141). b) Tinjauan Kasus Pada bagian ekstremitas Ny.L tidak terdapat varices dan oedema serta reflek patella positif c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan pada saat bidan melakukan pengkajian secara menyeluruh bidan mengetahui bahwa tidak ada kelainan pada bagian ekstremitas ibu seperti oedema pada tungkai dan muka ibu
  • 129.
    116 B. Interpretasi Data Padalangkah kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa dikataakan sebagaai diagnosis, tetapi tetap membutuhkan penanganan. (Soepardan, 2007; h. 99). 1. Diagnosa Kebidanan a. Tinjauan Teori Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnose atau masalah adalah pengolahan data dan analisa dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta (Sulistyawati, 2009; h. 125). Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus, anak hiup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi: 1) Data Subjektif Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya.
  • 130.
    117 2) Data Objektif Palpasitentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginan, hasil pemeriksaan tanda- tanda vital (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141-142). b. Tinjauan Kasus 1) Didapatkan diagnosa pada Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 Jam post partum a) Data subjektif (1) Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30 wib (2) Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas dan ibu merasa lelah b) Data objektif (1) Ibu melahirkan pukul 12.30 wib (2) Hasil pemeriksaan TTV TD : 120/80 mmHG RR : 23x/i N : 80x/i T : 36,5 o C (3) Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran colostrums.
  • 131.
    118 (4) TFU 2jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik (5) Lochea rubra, terdapat robekan perineum 8 Jam postpartum. 2. Didapatkan diagnosa pada Ny L 23 tahun P1A0 8 jam post partum a) Data Subjektif : (1) Ibu mengatakan melahirkan anak pertamanya pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30 wib (2) Ibu mengatakan perutnya mulas dan ibu merasa lelah b) Data Objektif : (1) Ibu melahirkan pukul 12.30 wib (2) Hasil pemeriksaan TTV TD : 120/80 mmHg RR : 23x/i N : 80xx/i T : 36,5o C c) Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums d) TFU 2 Jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik e) Lochea rubra, terdapat robekan pada perineum 8 jam postpartum
  • 132.
    119 c. Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan menegakkan diagnose berdasarkan hasil dari pengkajian yang telah dikumpulkan. 2. Masalah a. Tinjauan Teori Dalam asuhan kebidanan istilah “masalah” dan “diagnosis” dipakai keduanya karena beberapa masalah tidak dapat didefinisikan sebagai diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h. 229). b. Tinjauan Kasus Selama 6 jam postpartum Ny.L Mengeluh perutnya masih terasa mulas c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan telah menentukan masalah pasien yang tidak dapat dimasukkan kedalam diagnose yaitu ibu merasakan mulas pada perutny dimana keluhan tersebut adalah hal yang normal karena terjadinya proses invousi.
  • 133.
    120 3. Kebutuhan a. TinjauanTeori Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. (Sulistyawati dan Nugraheny, 2012; h. 229). b. Tinjauan Kasus Kebutuhan Ny.L adalah Asuhan 6 jam postpartum c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan Ny.L tidak memiliki masalah dan saat pengkajian dalam keadaan baik sehingga ibu membutuhkan asauhan 6 jam postpartum normal. C. Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial 1. Tinjauan Teori Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 143).
  • 134.
    121 2. Tinjauan Kasus Berdasarkanmasalah atau diagnosis tidak terdapat maslah potensial 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan berdasarkan diagnosa yang telah bidan tegakkan, Ny.L tidak memiliki masalah potensial. D. Tindakan Segera atau Kolaborasi 1) Tinjauan Teori Mengidentifikasi perlunya penanganan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggotaa tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien, misalnya klien mengalami kejang atau perdarahan. (Rukiyah et all, 2011; h. 110). 2) Tinjauan Kasus Tidak ada tindakan segera yang dilakukan pada Ny.L karena tidak ada keadaan patologis yang memerlukan penanganan segera 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan dari hasil diagnose bidan pada Ny.L tidaak ditemukan keadaan patologis yang memerlukan tindakan segera.
  • 135.
    122 E. Menyusun RencanaAsuhan Menyeluruh 1. Tinjauan Teori Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang ditemukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi. (Soepardan, 2007; h. 101). Asuhan yang diberikan pada 6-8 jam postpartum : a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberi rujukan bila perdarahan berlanjut c. Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggotaa keluarga mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri d. Pemberiaan ASI awal e. Melakukan hubugan antara ibudan baayi baru lahir f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi (Dewi dan Sunarsih, 201; h. 4-5). 2. Tinjauan Kasus a. Rencana asuhan yangdiberikan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 14.30 wib adalah: 1) Jelaskan tentang kondisi ibu saat ini
  • 136.
    123 2) Beritahu ibumengenai keluhan yang dialami 3) Lakukan dan ajarkan ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena aotonia uteri 4) Tanayakan pada ibu tentang pemberian ASI awal 5) Anjurkan ibu untuk memberikan ASI 6) Lakukan rawat gabung ibu dan bayi 7) Lakukan pencegahan hipotermi 8) Anjurkan ibuuntuk mobilisasi dini 9) Anjurkan ibu untuk tetaap memenuhi kebutuhan nutrisinya 10) Jelaskan pada ibu tentang kebutuhan istirahat 11) Ajarkan ibu tentang personal hygiene b. Rencana asuhan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib 1) Pantau kondisi ibu saat ini 2) Pastikan dan evaluasi kembali bahwa ibu masih merasa mulas 3) Pastikan dan evaluasi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan kepada keluarga 4) Pastikan dan evaluasi kepada ibu tentang pemberian ASI 5) Pastikan dan evaluasi mengenai rawat gabungantara ibu dan bayi 6) Pastikan dan evaluasi pencegahan hipotermi 7) Pastikan dan evaluasi tentang mobilisasi dini 8) Pastikan dan evaluasi kebutuhan nutrisi ibu 9) Pastikan dan evaluasi kebutuhan istirahat ibu
  • 137.
    124 10) Pastikan danevaluasi personal hygiene ibu 11) Anjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan dikarenakan penulis telah melakukan perencanaan asuhan yang sesuai dengan teori yang menyatakan Kebijakan Program Nasional masa nifas 6-8 jam postpartum sebagai berikut : a. Mencegah terjadinya perdarahan b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dan memberika rujukan bila perdarahan berlanjut. c. Memberi konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri d. Pemberian ASI pada awal menjadi ibu e. Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi F. Pelaksanaan Langsung Asuhan 1. Tinjauan Teori Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 145).
  • 138.
    125 2. Tinjauan Kasus a.Penatalaksanaan pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 14.30 wib adalah: 1) Menjelaskan keadaan ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai dengan pemeriksaan fisik yaitu keadaan ibu baik. Hasil TTV TD: 120/80 mmHg, RR: 23x/i, N: 80x/i, T: 36,5o C. Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik. Lochea rubra, terdapat robekan pada perenium. 2) Memberitahu ibu mengenai keluhan yang dialami bahwa rasa mulas yang dirasakan saat ini adalah normal karena adanya proses kembalinya rahim kebentuk semula. Serta rasa lelah yang dialami ibu adalah karena ibu mengalami dehidrasi setelah persalinan. 3) Melakukan dan mengajarkan ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena atonia uteri dengan cara memasase perut ibu menggunakan telapak tangan dengan meletakkan diperut ibu dan sedikit ditekan dan diputar tidak terjadi perdarahan. 4) Menanyakan pada ibu tentang pemberian ASI awal/IMD yaitu permulaan bayi menyusui segera setelah lahir dan pemberian cairan ASI pertama yaitu kolostrums.
  • 139.
    126 5) Menganjurkan ibuuntuk memberikan ASI kepada bayinya secara ondemand dan eksklusif. Secara ondemand yaitu dengan menyusui bayi sesring mungkin minimal 2 jam sekali atau bila bayi menginginkannya. Secara eksklusif yaitu dengan menyusui bayi selama 6 bulan penuh tanpa makanan tambahan apapun. 6) Melakukan rawat gabung antara ibu dan bayi yaitu menempatkan ibubdan bayi dalam satu ruangan agar hubungan bayi dan ibu lebih dekat dan ibu dapat memberikan ASI secara dini dan sesering mungkin. 7) Melakukan pencegahan hipotermi dengan selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat, tutup bagaian kepala bayi. Maenganjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya, merawat bayi diruangan yang hangat (tidak kurang 25o c dan bebas dari aliran dingin) dan jangan memandikan bayi dalam 24 jam postpartum, dan tempatkan bayi dilingkungan yang hangat. 8) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini yaitu belajar miring kanan, kiri, duduk, kemudian jalan ke kamar mandi secara perlahan-lahan untuk membantu menguatkan otot-otot perut sehingga ibu cepat pulih 9) Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa nifas ini, makanan yang dikonsumsi haruslah
  • 140.
    127 makanan yang memilikinilai gizi yang tinggi seperti karbohidrat pada nasi, jagung, kentang, protein pada tahu, tempe, telor, ikan dan daging, vitamin pada buah dan sayur serta mineral. Agar kondisi ibu cepat pulih. 10) Menjelaskan kepada ibu tentang kebutuhan istirahat pada ibu nifas yaitu memerlukan istirahat yang cukup, usahakan agar ibu dapat beristirahat semaksimal mungkin. Hal ini agar kondisi ibu tetap terjaga selama masa nifas. Apabila kurang istirahat dapat menyebabkan produksi ASI berkurang, proses involusi berjalan lambat, perdarahan lebih banyak, dan dapat menimbulkan depresi sehingga ibu kurang mampu merawat bayinya. 11) Mengajarkan ibu tentang personal hygiene yaitu: (a) Mengajarkan ibu untuk membersihkan seluruh tubuh dengan mandi 2 kali sehari (b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kemaluan dengan air bersih pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan vulva terlebih dahulu dari arah depan ke belakang, baru kemudian dibersihkan didaerah anus (c) Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut setidaknya 2 kali sehari atau bila sudah terasa penuh
  • 141.
    128 b. Penatalaksanaan padatanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib 1) Memantau kondisi ibu saat ini dalam keadaan baik sesuai dengan hasil pemeriksaan yaitu keadaan umum baik TD: 120/70 mmHg, RR: 23x/i, N: 81x/i, T: 36,5o C. Payudara tampak normal, puting menonjol, sudah ada pengeluaran, colostrums. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi baik. Lochea rubra, terdapat robekan pada perenium 2) Mengevaluasi pada ibu bahwa rasa mulas yang dialaminya saat ini 3) Memastikan dan mengevaluasi pencegahan perdarahan yangbtelah diajarkan dengan melakukan masase pada uterus ibu yang diajarkan kepada keluarga 4) Memastikan dan mengevaluasi ibu mengenai pemberian ASI secara on demand dan eksklusif 5) Memastikan dan mengevaluasi rawat gabung antara ibu dan bayi 6) Memastikan dan mengevaluasi mengenai pencegahan hipotermi 7) Memastikan dan mengevaluasi ibu mengenai mobilisasi dini yang telah dianjurkan pada ibu 8) Memastikan dan mengevaluasi kebutuhan nutrisi ibu 9) Memastikan dan mengevaluasi kebutuhan istirahat ibu 10) Memastikan dan mengevaluasi personal hygiene ibu
  • 142.
    129 11) Menganjurkan ibuuntuk melakukan kunjungan ulang 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan melakukan seluruh rencana asuhan yang telah ditetapkan dengan baik. G.Evaluasi 1. Tinjauan Teori Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan ulangi lagi proses manajemen dengan benar terhadap semua aspek asuhan yang telah diberikan namun belum efektif dan merencanakan kembali yang belum terencana. 2. Tinjauan Kasus c. Tanggal 05 Juni 2016 Pukul 14.30 wib 1) Ibu mengerti keadaannya saat ini 2) Ibu mengerti bahwa keluhan yang dialaminya adalah normal 3) Masase sudah dilakukan dan keluarga ibu telah mengerti cara mencegah perdarahan dengan masase perut ibu 4) Ibu mengatakan bayinya tidak diberikan ASI segera setelah lahir namun setelahnyaibu selalu menyusui bayinya. Sehingga bayinya tetap mendapatkan colostrums 5) Ibu bersedia menyusui bayinya secara on demand dan eksklusif
  • 143.
    130 6) Ibu bersediadan mengerti tentang rawat gabung 7) Bayi sudah dalam keadaan hangat 8) Ibu sudah miring kiri, kanan, dan duduk 9) Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisinya 10) Ibu sedang mencoba untuk istirahat 11) Ibu mengerti tentang kunjungan ulang d.Tanggal 05 Juni 2016 pukul 20.30 wib 1) Ibu sudah mengetahui kondisinya saat ini 2) Ibu masih merasa mulas pada perutnya dan ibu mengerti bahwa rasa mulas yang dialami adalah hal yang normal, hal ini dikarenakan proses pengembalian rahim ke bentuk semula. Dan rasa lelah yang dialami adalah karena ibu ,mengalami dehidrasi setelah persalinan. 3) Ibu dan keluarga telah melakukan masase perut ibu seperti yang telah diajarkan dan hasilnya kontraksinya baik, tidak terjadi perdarahan 4) Ibu telah menyusui bayinya secara on demand hal ini terlihat bahwa bayi tampak cukup ASI yaitu bayi tenang dan tidak rewel serta ibu akan menyusui bayinya secara eksklusif. 5) Ibu dan bayi telah disatukan dalam satu ruangan agar terjalin kasih sayang antara ibu dan bayi, hal ini terlihat bahwa bayi tampak tenang dalam dekapan ibu.
  • 144.
    131 6) Bayi dalamkeadaan baik dan telah dibedong dengan menggunakan kain kering serta bayi telah menggunakan tutup kepala dari hasil pemeriksaan suhu bayi didapat 37,0o C 7) Ibu telah mampu miring kiri dan kanan serta berjalan-jalan kecil 8) Ibu sudah memenuhi kebutuhan nutrisi dengan makan satu piring nasi dengan lauk tempe, daging ayam serta sayur sop ditambah 1 gelas teh hangat. 9) Ibu sudah memenuhi kebutuhan istirahatnya dengan tidur disaat bayinya juga tertidur 10) Ibu belum mandi tetapi sudah ganti pembalut 2 kali dan ibu sudah mengerti tentang menjaga personal hygiene khususnya bagian genetalia. 11) Ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang pada tanggal 11 juni 2016 dan apabila terdapat keluhan. 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dikarenakan bidan telah mengevaluasi seluruh perencanaan dan pelaksanaan yang telah dilakukan.
  • 145.
    132 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Penulismampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum normal dengan menggunakan metode langkah varney diantaranya : 1. Penulis mampu melaksanakan pengkajian data tanggal 05 Juni 2016 jam 18.30 wib yang meliputi data subjektif yaitu ibu mengatakan melahirkan anak pertamnya pada tanggal 05 Juni 2016 pukul 12.30 wib dan ibu mengeluh merasa mulas pada bagian perutnya. Dan data objektif keadaan umum baik TD: 120/80 mmHg, RR: 23x/menit, N: 80x/menit, T:36,5o C serta hasil dari pengkajian fisik secara keseluruhan dalam batas normal terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 2. Penulis mampu menginterpretasikan data yang ada sehingga mampu menyusun diagnose kebidanan yaitu Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum, masalah pada ibu tidak ada kebutuhan yang diberikan pada Ny.L umur 23 tahun P1A0 di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampun Tahun 2016. 3. Penulis mampu menetapkan identifikasi diagnose/masalah potensial yaitu tidak ada masalah potensial yang terjadi dari diagnose yang 132
  • 146.
    133 ditetapkan bidan terhadapNy.L umur 23 tahun P1A0 6 jaam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 4. Penulis mampu melaksanakan tindakan segera/kolaborasi dalam hal ini tidak memerlukan tindakan segera/kolaborasi terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 5. Penulis mampu merencanakan tindakan yaitu memberitahu kondisi ibi memberikan penjelasan tentang keluhan yang dialami, melakukan dan mengajarkan salah satu keluarga cara mencegah perdarahan karena atonia uteri, menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal, melakukan rawat gabung antaraa ibu dan bayi, melakukan pencegahan hipotermi pada bayi baru lahir, menganjurkan ibu mobilisasi dini, menjelaskan tentang kebutuhan nutrisi, istirahat dan personal hygiene yang baik pada ibu masa nifas terhadap Ny.L umur 23 taahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 6. Penulis mampu melaksanakan seluruh perencanaan tindakan asuhan yang telah dibuat terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 7. Penulis mampu mengevaluasi Asuhan Kebidanan pada ibu nifas dengan hasil ibu dalam keadaan sehat, rasa mulas pada perut ibu tidak
  • 147.
    134 dirasakan lagi dantidak ada penyulit yang berhubungan dengan masa nifas terhadap Ny.L umur 23 tahun P1A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. B. Saran Saran yang penulis berikan dan tunjukan dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah : 1. Bagi Institusi Pendidikan Dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dosen pendidik dengan mengikuti pelatihan-pelatihan khususnya dalam asuhan nifas 6 jam post partum. 2. Bagi Lahan Praktek Diharapkan bagi lahan praktek untuk tetap dan lebih baik lagi dalam hal meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara komprehensif sesuai dengan standar pelayanan kebidanan, dalam hal ini yaitu mendeteksi secara dini komplikasi masa nifas khususnya pada asuhan 6 jam post partum. 3. Bagi Pasien Diharapkan ibu tidak mengikuti adat istiadat setempat untuk bayi selanjutnya. Sehingga bayi dapat mendapatkan ASI colostrums yang baik bagi bayi dan menambah kekebalan bagi tubuh bayi.
  • 148.
    135 DAFTAR PUSTAKA Ambarwati RetnaEny: & Wulandari Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika. Astuti Sri, et all. 2015. Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Jakarta: Erlangga Aticeh, et all. 2014. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. Chandra Budiman. Dr. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC. Dewi Vivian Nanny Lia., & Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Estiwidani Dwana, et all. 2008. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya. Herdiansyah Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba Humanika. Hidayat A. Aziz Alimul. 2014. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika. Karwati, et all. 2011. Asuhan Kebidanan V(Kebidanan Komunitas). Jakarta: CV trans Info Media. Notoadmojdo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2012 Provil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2014 Prawirohardjo Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka. Roito Juraida. 2013. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas & Deteksi Dini Komplikasi. Jakarta: Kedokteran EGC Rukiyah Ai Yeyeh., & Yulianti Lia. 2010. Asuhan Kebidanan Patologi Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media. Rukiyah Ai Yeyeh, et.all. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Trans Info Media. Saleha Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Saminem. 2010. Dokumentasi Asuhan Kebidanan Konsep dan Praktik. Jakarta: Kedokteran EGC
  • 149.
    136 Sari Puspita Eka.,& Rimandini Dwi Kurnia. 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas Trans Info Media Profil Kesehatan Indonesia. 2012. Survey Demografi Kesehatan Indonesia Soepardan. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC Sulistyawati Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Andi. Tambunan Eviani S., & Kasim Deswani. 2012. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Uliyah Musrifatul., & Hidayat Alimul A. Azis. 2009. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. Wildan Moh., & Hidayat Alimul A. Azis. 2013. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
  • 150.
  • 151.
  • 152.
  • 153.