1
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY. M
UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM
DENGAN PUTTING SUSU LECET
DI BPS MARTINI, Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
DISUSUN OLEH
NAMA : LILIS ANGGRAINI
NIM : 2012 07 031
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
i
2
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY. M
UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM
DENGAN PUTTING SUSU LECET
DI BPS MARTINI, Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
KARYA TULIS ILMIAH
Karya Tulis Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar
Profesi Ahli Madya Kebidanan Pada Prodi DIII Kebidanan
Akbid Adila Bandar Lampung
DISUSUN OLEH
NAMA : LILIS ANGGRAINI
NIM : 2012 07 031
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
ii
3
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan ADILA Pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 7 Juli 2015
Penguji I, Penguji II,
Meriyana Cevestin, SKM, MM Ervina Irawati H., S.ST
NIK. 2011041003 NIK. 2009111020
Direktur Akademi Kebidanan ADILA
Bandar Lampung
dr.Wazni Adila, MPH
NIK.2011041008
iii
4
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS TERHADAP NY.M
UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN
PUTING SUSU LECET DI BPS MARTINI, Amd.Keb
BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015
Lilis Anggraini, Meriyana Cevestin, SKM,MM, Ervina Irawati Harianja,S.ST
INTISARI
Masa nifas (peurperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam organik yang disekresi oleh
kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan makanan terbaik untuk bayi.
Penulis melakukan survey di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung pada tanggal 07 April 2015,
terdapat ibu nifas 3 hari postpartum dengan putting susu lecet, berdasarkan asuhan kebidanan pada ibu
nifas serta besarnya peran bidan dalam pemberian asuhan kebidanan pada ibu nifas, sehingga penulis
tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny.M P2A0 3 Hari Postpartum
Dengan Putting Susu Lecet Di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015”.
Tujuan dilakukannya penelitian adalah diharapkan penulis mampu memberikan asuhan kebidanan
sesuai dengan manajemen kebidanan varney. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
deskriptif dan tehnik memperoleh data, yaitu ibu nifas dengan asuhan yang diberikan di BPS Martini,
Amd.Keb. Setelah diaplikasikan manajemen varney diatas, diharapkan untuk kedepannya melakukan
asuhan kebidanan pada ibu nifas yang lebih baik lagi.
Kesimpulan dari studi kasus ini adalah penulis mampu memberikan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas
Terhadap Ny M Umur 27 Tahun P2A0 3 Hari Postpartum Dengan Putting Susu Lecet Di BPS Martini,
Amd.Keb. Bandar Lampung Tahun 2015 dengan tujuh langkah varney.
Kata kunci : Ibu Nifas, Putting Susu Lecet
Perpustakaan : 2008-2013
iv
5
CURRICULUM VITAE
Nama : Lilis Anggraini
NIM : 201207031
TTL : Bandaragung, 17 Mei 1993
Agama : Islam
Alamat : Kahuripan Jaya, RT/RW 001/005 Kel/Desa Kahuripan
Jaya, Kec.Banjar Baru, Kab.Tulang Bawang
Angkatan : VII (Tujuh)
Riwayat pendidikan
SDN 1 Bandaragung Lampung Timur Tahun 1999-2005
SMP Paguyuban Bandar Sribhawono Lampung Timur Tahun 2005-2008
SMAN 1 Banjar Pagar Dewa Tulang Bawang Tahun 2009-2012
Dan sekarang Penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Akademi Kebidanan Adila
Bandar Lampung Sejak Tahun 2012 Hingga Sekarang
v
6
motto
“tiAdAnyA keyAkinAnLAh yAng membuAt orAng tAkut
menghAdApi tAntAngAn”
LiLis AnggrAini
*****************
vi
7
PERSEMBAHAN
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan Study Kasus ini, dan dibalik penyelesaian
tugas ini tidak lupa penulis memberikan persembahan kepada orang-orang yang telah
membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung.
1. Terima kasih buat Ayah dan ibu tercinta yang selalu memberikan semangat dan
Do’a setiap kegiatan apapun yang terbaik bagi penulis serta selalu mengharapkan
setiap keberhasilan yang penulis lakukan.
2. Kakak dan adik-adikku tercinta yang selalu memberikan semangat kepada
penulis.
3. Teman-temanku tercinta seperjuangan yang tidak bisa penulis sebutkan satu-
persatu terima kasih atas kebersamaan kita selama ini, memberikan motivasi
kepada penulis serta selalu sabar menghadapi sikap penulis dalam menyelesaikan
tugas akhir ini dan susah senang kita bersama.
4. Almamaterku tercinta Akademi kebidanan ADILA Bandar Lampung sebagai
tempat penulis menuntut ilmu selama tiga tahun.
5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas
partisipasi dan dukunganya selama penulis menyelesaikan tugas akhir Diploma
Kebidanan ini.
vii
8
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat TuhanYang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan study kasus yang berjudul :
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny.M Umur 27 Tahun
P2A0 3 Hari Postpartum Dengan puting susu lecet di BPS Martini,
Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015”.
Dalam penulisan study kasus ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr.Wasni Adila MPH, selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung
2. Ibu Adhesty Novita Xanda, S.ST.M.Kes selaku pembimbing satu dan Ibu Eka
Ayu Septiana, S.ST selaku pembimbing dua
3. Seluruh staf Akademi Kebidanan Adila yang selama ini memberikan ilmu dan
semoga bermanfaat
4. Bidan Martini, Amd.Keb selaku lahan penyusunan study kasus ini
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan study kasus ini baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari dalam penyusunan study kasus ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak. Akhirnya
penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
bagi pembaca.
Bandar Lampung, 2015
Penulis.
viii
9
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................. ii
INTISARI…………………………………………………………….. iii
CURICULUM VITAE.......................................................................... iv
MOTTO ................................................................................................. v
PERSEMBAHAN…………………………………………………….. vi
KATA PENGANTAR........................................................................... vii
DAFTAR ISI.......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL………………………………………………… ..... ix
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. x
DAFTAR GAMBAR............................................................................. xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................... 3
1.4 Ruang Lingkup............................................................................ 4
1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................... 5
1.6 Metodelogi Dan Tehnik Memperoleh Data ............................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori Medis.................................................................. 8
2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ............................................. 58
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan........................................ 69
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1. Pengkajian............................................................................ ....... 70
3.2 .Matrik.......................................................................................... 79
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengkajian................................................................................... 100
4.2 Interpretasi Data Dasar................................................................ 121
4.3 Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial................................... 122
4.4 Tindakan Segera.......................................................................... 122
4.5 Perencanaan................................................................................. 124
4.6 Pelaksanaan................................................................................. 127
4.7 Evaluasi....................................................................................... 138
ix
10
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................. 142
5.2 Saran ........................................................................................... 143
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
11
DAFTAR TABEL
Tabel 2.2 Involusi uterus.................................................................................. 33
Tabel 3.1 Matriks. ............................................................................................ 79
xi
xi
12
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN I : Surat izin penelitian
LAMPIRAN II : Jadwal penelitian
LAMPIRAN III : SAP
LAMPIRAN IV : Leaflet
LAMPIRAN V : Dokumentasi
LAMPIRAN VI : Lembar konsul penguji
xii
13
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Anatomi Payudara........................................................................ 18
xiii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna menurunkan
angka kematian ibu dan bayi di indonesia. Dari berbagai pengalaman dalam
menanggulangi kematian ibu dan bayi dibanyak Negara, para pakar kesehatan
menganjurkan upaya pertolongan difokuskan pada periode intrapartum
(Saleha, 2009; h. 2).
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam
organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan
makanan terbaik untuk bayi. Selain memenuhi segala kebutuhan baik gizi,
imunologi, atau lainnya-pemberian ASI memberi kesempatan bagi ibu
mencurahkan cinta kasih serta perlindungan kepada anaknya. Fungsi ini tidak
mungkin dapat dialihkan kepada ayah/suami dan merupakan suatu kelebihan
kaum wanita. ASI eksklusif diberikan sejak umur 0 sampai 6 bulan
(Bahiyatun, 2013; h. 29).
Pada keadaan ini, seorang ibu sering menghentikan proses menyusui karena
putingnya sakit. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh ibu adalah
mengecek bagaimana perlekatan ibu dan bayi, serta mengecek apakah terdapat
infeksi candida (dimulut bayi) (Sulistyawati, 2009; h. 32).
2
Puting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat menyusui. Selain itu,
dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah. Retakan pada putting
susu dapat sembuh sendiri dalam waktu 48 jam. Beberapa penyebab putting
susu lecet adalah sebagai berikut: teknik menyusui yang tidak benar, putting
susu yang terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun zat iritan lain saat ibu
membersihkan putting susu, moniliasis pada mulut bayi yang menular pada
putting susu ibu, bayi dengan lidah pendek (frenulum lingue), cara
menghentikan menyusui yang kurang tepat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39).
Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengambil judul
“Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari
post partum dengan puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar
Lampung tahun 2015”.
1.1 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka di identifikasi rumusan study kasus ini
sebagai berikut “Bagaimanakah Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas terhadap Ny
M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS
Martini, Amd.Keb Bandar LampungTahun 2015?
3
1.2 Tujuan penelitian
1.2.1 Tujuan umum
Penulis mampu memberikan Asuhan Kebidanan pada ibu nifas Terhadap
Ny M usia 27 tahun P2A03 hari post partum dengan putting susu lecet di
BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015.
1.2.2 Tujuan khusus
1.2.2.1 Diharapkan penulis mampu melakukan pengkajian data pada ibu
nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum
dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar
Lampung Tahun 2015.
1.2.2.2 Diharapkan penulis mampu melakukan interpretasi data dasar
pada Asuhan Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny M usia 27
tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS
Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015.
1.2.2.3 Diharapkan penulis mampu menentukan diagnosa atau masalah
potensial terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum
dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar
Lampung tahun 2015.
1.2.2.4 Diharapkan penlis mampu antisipasi masalah potensial Asuhan
Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari
post partum dengan putting susu lecet diBPS Martini, Amd.Keb
Bandar Lampung tahun 2015.
4
1.2.2.5 Diharapkan penulis mampu menentukan rencana tindakan
terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan
putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung
tahun 2015.
1.2.2.6 Diharapkan penulis mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan pada
nifas khususnya Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum
dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar
Lampung tahun 2015.
1.2.2.7 Diharapkan penulis mampu mengevaluasi Asuhan Kebidanan yang
telah dilakukan terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post
partum dengan putting susu lecet diBPS Martini, Amd.Keb Bandar
Lampung tahun 2015.
1.3 Ruang lingkup penelitian
1.3.1 Sasaran
Obyek penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah ibu nifas terhadap Ny M
umur 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet.
1.3.2 Tempat
Dilaksanakan di rumah pasien
1.3.3 Waktu
Pada tanggal 7- 13April tahun 2015.
5
1.4 Manfaat penelitian
1.4.1 Bagi institusi pendidikan
Dapat menambah bahan bacaan dan memberikan informasi pada peneliti-
peneliti selanjutnya terutama yang berhubungan dengan masalah pada ibu
nifas.
1.5.2 Bagi lahan praktek
Sebagai bahan masukan bagi tempat penelitian untuk dapat
mengoptimalkan system penyuluhan tentang penyebab terjadinya putting
lecet akibat dari tekhnik menyusui yang tidak benar.
1.5.3 Bagi pasien
Diharapkan dengan dilakukan penelitian tersebut ibu menyusui yang
mempunyai bayi mengetahui bahwa menyusui bayinya dengan tekhnik
menyusui yang benar sangat dianjurkan karena untuk mencegah
terjadinya masalah-masalah pada saat menyusui.
1.5.4 Bagi penulis
Memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan dilakukannya
penelitian dan sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan
yang telah didapat.
6
1.6 Metode penelitian dan tekhnik pengumpulan data
Metode yang digunakan dalam penulisan study kasus ini adalah:
1.6.4 Metode penelitian
Dalam penulisan study kasus ini, menggunakan metode penelitian
deskriptif.Metode penulisan deskriptif adalah suatu metode penelitian
yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu
fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.Metode penelitian deskriptif
digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah kesehatan serta
yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang
tinggal dalam komunitas tertentu (Notoatmodjo, 2012; h. 35-37).
1.6.5 Teknik memperoleh data
Untuk memperoleh data tehnik yang digunakan sebagai berikut:
1.6.2.1 Data primer
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang pergunakan untuk
mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan
keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran
penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan
muka dengan muka dengan orang tersebut (face to face)
(Notoatmodjo, 2005; h. 102).
7
2. Pengkajian Fisik
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan
tanda-tanda vital, meliputi:
a. Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi).
b. Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan
terbaru serta catatan sebelumnya) (Soepardan, 2007; h.
98).
8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Teori Medis
2.1.1 Masa Nifas
2.1.1.1 Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (peurperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti
prahamil. Lama masa nifas ini, yaitu 6-8 minggu (Bahiyatun, 2013;
h. 2).
Masa nifas (peurperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas atau peurperium di mulai sejak 2 jam
setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah
itu.
2.1.1.2 Tujuan asuhan masa nifas
a) Mendeteksi adanya perdarahan pada masa nifas. Tujuan
perawatan masa nifas adalah untuk menghindarkan/ mendeteksi
adanya kemungkinan adanya perdarahan post partum dan
infeksi. Oleh karna itu, penolong sebaikanya tetap waspada,
9
sekurang-kurangnya satu jam postpartum untuk mengatasi
kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan. Umumnya
wanita sangat lemah setelah melahirkan, terlebih bila partus
berlangsung lama.
b) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Menjaga kesehatan ibu dan
bayinya baik fisik maupun psikologis harus di berikan oleh
penolong persalinan. Ibu di anjurkan untuk menjaga kebersihan
seluruh tubuh. Bidan mengajarkan kepada ibu bersalin
bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.
Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di
sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang dan baru
membersihkan daerah sekitar anus. Sarankan ibu untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah
membersihkan daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka
episitomi atau laserasi sarankan ibu untuk menghindari/ tidak
menyentuh daerah luka.
c) Melaksanakan skrining secara komprehensif. Melaksanakan
skrining yang komprehensif dengan mendeteksi masalah,
mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya. Pada hal ini seorang bidan bertugas untuk melakukan
pengawasan kala IV yang meliputi pemeriksaan plasenta,
pengawasan TFU, pengawasan PPV, pengawasan konsistensi
10
rahim, dan pengawasan keadaan umum ibu. Bila di temukan
permasalahan, maka harus segera melakukan tindakan sesuai
dengan standar pelayanan pada penatalaksanaan masa nifas.
d) Memberikan pendidikan kesehatan diri. Memberikan pelayanan
kesehatan tentang perawatan diri, nutrisi KB, menyusui,
pemberian imunisai kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat.
Ibu-ibu post partum harus di berikan pendidikan mengenai
pentingnya gizi antara lain kebutuhan gizi ibu menyusui, yaitu
sebagai berikut.
(1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari.
(2) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein,
mineral, dan vitamin yang cukup.
(3) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk
minum sebelum menyusui).
e) Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan
payudara, yaitu sebagai berikut.
(1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering
(2) Menggunakan bra yang menyokong payudara
(3) Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang
keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui.
Menyusui tetap di lakukan melalui dari putting susu yang
tidak lecet.
11
(4) Lakukan pengompresan apabila bengkak dan terjadi
bendungan ASI.
f) Konseling mengenai KB. Bidan memberikan konseling
mengenai KB, antara lain sebagai berikut.
1. Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2
tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus
menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin
merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada
mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak
diinginkan.
2. Biasanya wanita akan menghasilkan ovulasi sebelum ia
mendapatkan lagi haidnya setelah persalnan. Oleh karena
itu, penggunaan KB dibutuhkan sebelum haid pertama
untuk mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode
KB dapat dimulai 2 minggu setelah persalinan.
3. Sebelum menggunakan KB sebaiknya dijelaskan
efektifitasnya, efek samping, untung ruginya, serta kapan
metode tersebut dapat digunakan.
4. Jika ibu dan pasangan telah memilih metode KB tertentu,
dalam 2 minggu ibu dianjurkan untuk kembali. Hal ini untuk
melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
12
2.1.1.3 Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan
masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60%
kematian ibu termasuk kehamilan terjadi setelah persalinan dan
50% kematian masa nifas tejadi dalam 24 jam. Oleh karena itu,
peran dan tanggung jawab bidan untuk memberikan asuhan
kebidanan ibu nifas dengan pemantauan mencegah beberapa
kematian ini. Peran bidan antara lain sebagai berikut.
1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa
nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan
fisik dan psikologis selama masa nifas.
2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayinya, serta
keluarga.
3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan
rasa nyaman.
4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang
berkaitan ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan
administrasi.
5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6. Memberikan konseling untuk ibu dan kelurganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenai tanda-tanda bahaya, menjaga
gizi yang baik, serta mempraktikan kebersihan yang aman.
13
7. Melakukan menajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga
melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, serta
mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi
selama periode nifas.
8. Memberikan asuhan secara professional (Dewi dan Sunarsih,
2011; h. 1-4).
2.1.1.4 Tahapan Masa Nifas
Masa nifas seperti yang dijelaskan diatas merupakan rangkaian
setelah proses persalinan dilalui oleh seorang wanita, beberapa
tahapan masa nifas yang harus dipahami oleh seorang bidan antara
lain:
a) Peurperium dini
Yaitu pemulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
b) Peurperium intermedial
Yaitu pemulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-
8 minggu.
14
c) Remote peurperium
Adalah waktu yang di perlukan untuk pulih dan sehat terutama
bila selama hamil atau bersalin memiliki komplikasi (Rukiyah et.
all, 2011, h. 5).
2.1.1.5 Kebijakan program nasional masa nifas
Pada kebijakan program nasional masa nifas paling sedikit 4 kali
kunjungan dilakukan. Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi lahir
serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-
masalah yang terjadi antara lain sebagai berikut.
1) 6-8 jam setelah persalinan
a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain pendarahan, rujuk
bila pendarahan berlanjut.
c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah pendarahan masa nifas
karena atonia uteri.
d) Pemberian ASI awal
e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
Catatan: jika petugas kesehatan menolong persalinan ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam
15
pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam
keadaan stabil.
2) 6 hari setelah persalinan
a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus
berkontraksi, fundusdi bawahumbilicus, tidak ada
pendarahan abnormal, dan tidak ada bau.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan pendarahan
abnormal.
c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan
istirahat.
d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada
bayi, dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan
merawat bayi sehari-hari.
3) 2 minggu setelah persalinan
Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur
dan meraba bagian rahim.
4) 6 minggu setelah persalinan
a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau
bayi alami.
b) Memberikan konseling untuk KB secara dini.
16
2.1.2 Proses laktasi dan menyusui
2.1.2.1 Anatomi payudara
Payudara yang matang adalah salah satu tanda kelamin sekunder
dari seorang gadis dan merupakan salah satu organ yang indah dan
menarik. Lebih dari itu, untuk mempertahankan kelangsungan
hidup keturunannya, maka organ ini menjadi sumber utama dari
kehidupankarena Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang
paling penting terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan.
Payudara (mammae) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit,
diatas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu
untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar
payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600
gram, dan saat menyusui 800 gram. Payudara disebut pula
glandula mamalia yang ada baik pada wanita maupun pria. Pada
pria secara normal tidak berkembang, kecuali jika dirangsang
dengan hormon. Pada wanita terus berkembang pada pubertas,
sedangkan selama kehamilan terutama berkembang pada masa
menyusui.
1) Letak: setiap payudara terletak pada sternum dan meluas
setinggi costa kedua dan keenam. Payudara ini terletak pada
fascia superficialis dinding rongga dada yang disangga oleh
ligamentum suspensorium.
17
2) Bentuk: masing-masing payudara berbentuk tonjolan setengah
bola dan mempunyai ekor (cauda) dari jaringan yang meluas
ke ketiak atau aksila.
3) Ukuran: ukuran payudara berbeda pada setiap individu, juga
tergantung pada stadium perkembangan dan umur. Tidak
jarang salah satu payudara ukurannya agak lebih besar
daripada yang lainnya.
2.1.2.2 Struktur makroskopis
Struktur makroskopis dari payudara adalah sebagai berikut.
a. Cauda akxillaris
Adalah jaringan payudara yang meluas kearah aksila.
b. Areola
Adalah daerah lingkaran yang terdiri dari atas kulit yang
longgar dan mengalami pigmentasi. Areola pada masing-
masing payudara memiliki garis tengah kira-kira 2,5 cm.
letaknya mengelilingi putting susu dan berwarna kegelapan
yang disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada
kulitnya.
c. Papilla mammae (putting susu)
Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi
bentuk dan ukuran payudara, maka letaknya akan bervariasi.
18
Pada tempat ini terdapat, lubang-lubang kecil yang merupakan
muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung serat saraf, pembuluh
darah, pembuluh getah bening, serat-serat otot polos yang
tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi duktus
laktiferus akan memadat dan menyebabkan putting susu ereksi,
sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik
kembali putting susu tersebut. Bentuk putting ada 4 macam
yaitu bentuk yang normal, pendek/datar, panjang dan terbenam
(inverted).
Gambar 2.1 Anatomi payudara
19
2.1.2.3 Struktur mikroskopis
1. Alveoli
Alveolus merupakan unit terkecil yang memproduksi susu.
Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel
plasma, sel otot polos, dan pembuluh darah.
2. Duktus laktiferus
Adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa
tubulus laktiferus.
3. Ampulla
Adalah bagian dari duktus laktiferus yang melebar,
merupakan tempat menyimpan air susu. Ampulla terletak
dibawah areola.
4. Lanjutan setiap duktus laktiferus
Meluas dari ampulla sampai muara pailla mammae (Dewi dan
Sunarsih, 2011; h. 4-9).
2.1.2.4 Proses laktasi dan menyusui
Proses ini dikenal juga dengan istilah inisiasi menyusu dini,
dimana ASI baru akan keluar setelah ari-ari atau plasenta lepas.
Plasenta mengandung hormone penghambat prolaktin (hormone
plasenta) yang menghambat pembentukan ASI.
20
2.1.2.5 Laktasi
Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi
karena mengandung kebutuhan energy dan zat yang dibutuhkan
selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Namun, ada kalanya
seorang ibu mengalami masalah dalam pemberian ASI. Kendala
yang utama adalah karena produksi ASI tidak lancar (Saleha,
2009; h. 11).
2.1.2.6 Fisiologi pengeluaran ASI
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks
antara rangsangan mekanik, saraf, dan bermacam-macam hormon.
Pengaturan hormon terdapat pengeluaran ASI, dapat dibedakan
menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
1) Pembentukan kelenjar payudara
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari
duktus yang baru, percabangan-percabangan dan lobulus, yang
dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum.
2) Pembentukan air susu
Pada ibu yang menyusui memiliki dua reflek yang masing-
masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air
susu yaitu sebagai berikut.
21
a) Reflek prolaktin
Pada akhir kehamilan, hormone prolaktin memegang peranan
untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas
karena aktivitas prolaktin di hambat oleh estrogen dan
progesterone yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus,
lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum
membuat estrogen dan progesterone sangat berkurang, di
tambah dengan isapan bayi yang merangsang putting susu dan
kalang payudara yang akan merangsang ujung-ujung saraf
sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan
ini di lanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis
hipotalamus yang akan menekan pengeluaran faktor-faktor
yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang
pengeluaran faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin.
Faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang
hipofisis anterior sehingga keluar prolaktin. Hormone ini
merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air
susu.
b) Reflek let down
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofisis anterior,
rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang di lanjutkan
22
ke hipofisis posterior (neurohipofisis) yang kemudian di
keluarkan oksitosin.
Melalui aliran darah, hormone ini di angkat menuju uterus yang
dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi
involusi dari organ tersebut. Kontraksi dari sel akan memeras
air susu yang telah di produksi keluar dari alveoli dan masuk ke
dalam system duktus, selanjutnya mengalir melaluiduktus
laktiferus masuk ke mulut bayi.
Faktor-faktor yang meningkatkan reflek let down adalah
sebagai berikut.
a) Melihat bayi
b) Mendengar suara bayi
c) Mencium bayi
d) Memikirkan untuk menyusui bayi
3) Pemeliharaan pengeluaran air susu
Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofisis akan
mengatur kadar prolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormon-
hormon ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan
pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui (Dewi dan
Sunarsih, 2011; h.11-13).
23
2.1.2.7 Manfaat menyusui
Berikut ini adalah manfaat yang didapatkan dengan menyusui bagi
bayi, ibu, keluarga, dan negara.
1) Manfaat bagi bayi
a. Komposisi sesuai kebutuhan.
b. Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia
enam bulan.
c. ASI mengandung zat pelindung.
d. Perkembangan psikomotorik lebih cepat.
e. Menunjang perkembangan kognitif.
f. Menunjang perkembangan penglihatan.
g. Memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak.
h. Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat.
i. Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri.
2) Manfaat bagi ibu
a) Mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat
kembalinya rahim ke bentuk semula.
b) Mencegah anemia defisiensi zat besi.
c) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil.
d) Menunda kesuburan.
e) Menimbulkan perasaan dibutuhkan.
f) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium.
24
3. Manfaat bagi keluarga
a) Mudah dalam proses pemberiannya.
b) Mengurangi biaya rumah tangga.
c) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat
menghemat biaya untuk berobat.
4. Manfaat bagi Negara
a) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-
obatan.
b) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula
danperlengkapan menyusui.
c) Mengurangi polusi.
d) Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas
(Saleha, 2009; h. 31-32).
2.1.2.8 Komposisi Gizi dalam ASI
ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.ASI khusus dibuat untuk
bayi manusia.Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan
sempurna, serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi.
1) Protein
Keistimewaan protein dalam ASI dapat dilihat dari rasio
protein whey:kasein=60:40, dibandingkan dengan air susu sapi
yang rasionya=20:80. ASI mengandung alfa-laktabumin,
25
sedangkan air susu sapi mengandung beta-laktoglobulin dan
bovine serum albumin. ASI mengandung asam amino esensial
taurin yang tinggi. Kadar metiolin dalam ASI lebih rendah
daripada susu sapi, sedangkan sistin lebih tinggi. Kadar
tirosindan fenilalanin pada ASI rendah. Kadar poliamin dan
nukleotid yang penting untuk sintesis protein pada ASI lebih
tinggi dibandingkan air susu sapi.
2) Karbohidrat
ASI mengandung karbohidrat lebih tinggi dari air susu sapi
(6,5-7 gram). Karbohidrat yang utama adalah laktosa.
3) Lemak
Bentuk emulsi lebih sempurna. Kadar lemak tak jenuh dalam
ASI 7-8 kali lebih besar dari susu sapi. Asam lemak rantai
panjang berperan dalam perkembangan otak.Kolestrol yang
diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf pusat dan
diperkirakan juga berfungsi dalam perkembangan pembentukan
enzim.
4) Mineral
ASI mengandung mineral lengkap. Total mineral selama laktasi
adalah konstan. Fa dan Ca paling stabil, tidak terpengaruh diet
ibu. Garam organik yang terdapat dalam ASI terutama kalsium,
kalium, dan natrium dari asam klorida dan fosfat. ASI memiliki
26
kalsium, fosfor, sodium potasium, dalam tingkat yang lebih
rendah dibandingkan dengan susu sapi. Bayi yang diberi ASI
tidak akan menerima pemasukan suatu muatan garam yang
berlebihan sehingga tidak memerlukan air tambahan di bawah
kondisi-kondisi umum.
5) Air
Kira-kira 88% ASI terdiri atas air yang berguna melarutkan zat-
zat yang terdapat didalamnya sekaligus juga dapat meredakan
rangsangan haus dari bayi.
6) Vitamin
Kandungan vitamin dalam ASI adalah lengkap, vitamin A, D,
dan C cukup. Sementara itu, golongan vitamin B kecuali
riboflavin dan asam penthotenik lebih kurang.
a. Vitamin A: air susu manusia sudah masak (dewasa
mengandung 280 IU) vitamin A dan kolustrum mengandung
sejumlah dua kali itu. Susu sapi hanya mengandung 18 IU.
b. Vitamin D: vitamin D larut dalam air dan lemak, terdalam
air susu manusia.
c. Vitamin E: kolustrum manusia kaya akan vitamin E,
fungsinya adalah untuk mencegah hemolitik anemia, akan
tetapi juga membantu melindungi paru-paru dan retina dari
cedera akibat oxide.
27
d. Vitamin K: diperlukan untuk sintesis faktor-faktor
pembekuan darah, bayi yang mendapatkan ASI mendapat
vitamin K lebih banyak.
e. Vitamin B kompleks: semua vitamin B ada pada tingkat
yang diyakini memberikan kebutuhan harian yang
diperlukan.
f. Vitamin C: vitamin C sangat penting dalam sintesis kolagen,
ASI mengandung 43 mg/100 ml vitamin C dibandingkan
dengan susu sapi.
2.1.2.9 Stadium ASI
ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu sebagai berikut :
1). Kolustrum
Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah
kolustrum, yang mengandung kaya akan protein, mineral, dan
antibodi daripada ASI yang telah matang. ASI mulai ada kira-
kira pada hari ke-3 atau hari ke-4.Kolustrum berubah menjadi
ASI yang matang kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila
menyusui sesudah bayi lahir dan bayi sering menyusui, maka
proses adanya ASI akan meningkat.
28
2). ASI transisi/peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolustrum
sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari
ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah banyak
dan berubah warna, serta komposisinya. Kadar
immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan
laktosa meningkat.
3). ASI matur
ASI matur disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya.ASI matur
tampak berwarna putih.Kandungan ASI matur relatif konstan,
tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang mengalir
pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk.
Foremilk lebih encer, serta mempunyai kandungan rendah
lemak, tinggi laktosa, gula, protein, mineral, dan air.
2.1.2.10 Tanda bayi cukup ASI
Bayi usia 0-6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila
mencapai keadaan sebagai berikut.
1. Bayi minum ASI tiap 2-3jam atau dalam 24 jam minimal
mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama.
2. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan warna
menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.
29
3. Bayiakanbuang air besar (BAK) paling tidak 6-8x sehari.
4. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.
5. Payudara terasa lebih lembek yang menandakan ASI telah
habis.
6. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.
7. Pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) bayi
sesuai dengan grafik pertumbuhan.
8. Perkembangan motorik bayi (bayi aktif dan motoriknya sesuai
dengan rentan usianya).
9. Bayi kelihatan puas sewaktu-waktu akan lapar akan bangun
dan tidur dengan cukup.
10.Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan
tertidur pulas.
2.1.3 Cara Menyusui Yang Benar
2.1.3.1 Pengertian tekhnik menyusui
Pengertian tekhnik menyusui yang benar adalah cara
memberikanASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan
bayi dengan benar.
2.1.3.2 Posisi dan perlekatan menyusui
Hal terpenting dalam posisi menyusui adalah ibu merasa nyaman
dan rileks. Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara
30
menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk,
berdiri, atau berbaring.
Beberapa langkah-langkah menyusui yang benar adalah sebagai
berikut.
1). Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan
oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai.
2). Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak
ditempat tidur/kursi. Ibu harus merasa rileks.
3). Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi
(kepala dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi
menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting
susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut
bayi menghadap perut ibu. Bayi seharusnya berbaring miring
dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu. Kepalanya harus
sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung kebelakang/
menyamping, telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam
satu garis lurus.
4). Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu)
dan mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut,
bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat
dengan payudara ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan
31
dan bayi tidak merenggangkan lehernya untuk mencari
putting susu ibu.
5). Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu
hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan
mulut bayi ke putting susu ibu hingga bibir bayi dapat
menangkap putting susu tersebut. Ibu memegang payudara
dengan satu tangan dengan cara meletakkan empat jari
dibawah payudara dan ibu jari diatas payudara. Ibu jari dan
telunjuk harus membentuk huruf “C”. Semua jari ibu tidak
boleh terlalu dekat dengan areola.
6). Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut
bayi.Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh
bagian atas payudara.Bibir bawah bayi melengkung keluar.
7). Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh
tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan
tubuh bayi harus lurus, hadapkanbayi kedada ibu sehingga
hidung bayi berhadapan dengan putting susu, dekatkan badan
bayi ke badan ibu, menyentuh bibir bayi keputting susunya
dan menunggu mulut bayi terbuka lebar.
8). Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting
dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking ibu
diantara mulut dan payudara.
32
9). Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi dipundak
atau menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-
nepuk punggung bayi (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 19-34).
2.1.3.3 Apabila bayi telah menyusui dengan benar, maka akan
memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut.
1. Bayi tampak tenang.
2. Badan bayi menempel pada perut ibu.
3. Mulut bayi terbuka lebar.
4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu.
5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah
lebih banyak yang masuk.
6. Bayi nampak menghisap dengan ritme perlahan-lahan.
7. Putting susu tidak terasa nyeri.
8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
9. Kepala bayi tagak menengadah (Saleha, 2009; h. 37-38).
2.1.3.4 Lama dan frekuensi menyusui
Sebaiknya tindakan menyusui bayi dilakukan setiap saat bayi
membutuhkan karena bayi akan menentukan sendiri
kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis
bukan karena penyebab lain (BAK, kepanasan/kedinginan, atau
33
sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui
bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara
sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam
waktu 2 jam (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 36).
2.1.4 Perubahan fisiologi pada masa nifas
2.1.3.1 Perubahan sistem reproduksi
a) Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi
posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara
umbilikus dan simpisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari
kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut,
sehingga dalam dua minggu telah turun masuk kedalam rongga
pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar.
Tabel 2.1 Finggi fundus uteri dan berat uterus menurut
masa involusi
Involusi TFU Berat
uterus
Bayi
lahir
Setinggi pusat 1000 gr
1 minggu Pertengahan pusat simpisi 750 gr
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 500 gr
6 minggu Normal 50 gr
8 minggu Normal tapi sebelum hamil 30 gr
34
b) Lokia
Lokia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan
vagina selama masa nifas. Lokia terbagi menjadi tiga jenis,
yaitu : lokia rubra, sangulenta, dan lokia serosa atau alba.
1. Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah
segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desisdua, verniks
caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 hari
pascapersalinan. Inilah lokia yang akan keluarselama dua
sampai tiga hari postpartum.
2. Lokia sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah dan
lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7
pascapersalinan.
3. Lokia serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan versi
yang lebih pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk serum
dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning.
Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai hari ke-14
pascapersalinan. Lokia alba mengandung terutama cairan
serum, jaringan desidua, luekosit, dan eritrosit.
4. Lokia alba adalah lokia yang terakhir. Dimulai dari hari ke-
14 kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali
berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya.
35
Bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri
atas leukosit dan sel-sel desidua.
c) Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya trombosis,
degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada
hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai
permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput
janin. Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada
pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta.
d) Serviks
Segera setelah berakhirnya kala TU, serviks menjadi sangat
lembek, kendur, dan terkulai. Serviks tersebut bisa melepuh
dan lecet, terutama di bagian anterior. Serviks akan terlihat
padat yang mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang
serviks lambat laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan
diri retak karena robekan dalam persalinan. Rongga leher
serviks bagian luar akan membentuk seperti keadaan sebelum
hamil pada saat empat minggu postpartum.
e) Vagina
Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerpurium
merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara
berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali
36
kembali seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali
pada minggu ketiga.
f) Payudara (mamae)
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi
secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme
fisiologis, yaitu sebagai berikut :
1. Produksi susu
2. Sekresi susu atau let down
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara
tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan
makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika
hormone yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk
menghambatnya kelenjar pituitari akan mengeluarkan
prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah
melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa
dirasakan.Pembuluh darah payudara menjadi bengkak, terisi
darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit.
2.1.3.2 Sistem pencernaan
Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyantap
makanannya dua jam setelah persalinan. Kalsium amat penting
untukgigi pada kehamilan dan masa nifas, dimana pada masa ini
37
terjadi penurunan konsentrasi ion kalsium karena meningkatnya
kebutuhan kalsium pada ibu, terutama pada bayi yang
dikandungnya untuk proses pertumbuhan janin juga pada ibu
dalam masa laktasi.
Pada ibu nifas terutama yang partus lama dan terlantar mudah
terjadi ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak
adanya peristaltik usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada
dalam kehamilan dan partus lama, sehingga membatasi gerak
peristaltic usus, serta bisa juga karena pengaruh psikis takut BAB
karena ada luka jahitan perineum.
2.1.3.3 Perubahan tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah
sebagai berikut.
1) Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidk lebih dari 37,2 derajat Celcius.
Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari
keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8 derajat Celcius.
Sesudah 2 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan
kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 derajat Celcius,
mungkin terjadi infeksi pada klien.
38
2) Nadi dan pernafasan
Nadi berkisar antara 60-80 denyutan per menit setelah partus,
dan dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardia dan suhu
suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan
atau ada vitium kordis pada penderita. Pada masa nifas
umumnyadenyut nadi labil dibandingkan dengan suhu tubuh,
sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat setelah patus
kemudian kembali seperti keadaan semula.
3) Tekanan darah
Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum
akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat
penyakit-penyakit lain yang menyertai dalam ½ bulan tanpa
pengobatan (Saleha, 2009; h. 53-61).
2.1.4 Adaptasi psikologis ibu masa nifas
Dorongan dan perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya merupakan
dukungan yang positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah
melahirkan ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut.
1. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.Pada saat itu, fokus
perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman ibu selama
39
proses persalinan berulang kali diceritakannya. Hal ini membuat ibu
cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya sekitar. Kemampuan
mendengarkan (listening skills) dan menyediakan waktu yang cukup
merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu. Kehadiran suami dan
keluarga sangat diperlukan pada fase ini.
2. Fase taking hold
Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah tersinggung
dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati dalam
berkomunikasi dengan ibu.Pada fase ini ibu memerlukan dukungan
karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima
berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul
percaya diri.
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran
barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah
dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan
dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada
fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam
40
memenuhi kebutuhan diri dan bayinya (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.65-
66).
2.1.5 Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas
2.1.5.1 Nutrisi dan cairan
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang,
terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu
menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang
sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi.
1) Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan
jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama
ibu menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kandungan
kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70
kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap
100 ml yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira
640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6
bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-
rata ibu harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika
menyusui.
2) Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein di atas kebutuhan
normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16 % dari
tambahan 500 kalori yang dianjurkan pada ibu nifas. Protein
41
diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang
rusak dan mati. Sumber protein dapat diperoleh dari protein
hewani dan protein nabati. Protein hewani antara lain telur,
daging, ikan, udang, kerang, susu dan keju. Sementara itu,
protein nabati banyak terkandung dalam tahu, tempe, kacang-
kacangan, dan lain-lain.
3) Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan
cairan. Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari
dalam bentuk air putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk
minum setiap kali menyusui). Mineral, air, dan vitamin
digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit
dan mengatur kelancaran metabolisme di dalam tubuh.
Sumber zat pengatur tersebut bisa diperoleh dari semua jenis
sayur dan buah-buahan segar.
4) Pil zat besi (Fe) harus diminum, untuk menambah zat gizi
setidaknya selama 40 hari pascabersalin.
5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu
pada 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar
dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
42
2.1.5.2 Ambulasi
Ambulasi dini adalah kebijaksanaan untuk secepat mungkin
membimbing penderita keluar dari tempat tidur dan
membimbingnya secepat mungkin untuk berjalan. Pada persalinan
normal sebaiknya ambulasi dikerjakan setelah 2 jam ( ibu boleh
miring kekanan dan miring kekiriuntuk mencegah adanya
trombosit).
Keuntungan lain dari ambulasi dini adalah sebagai berikut.
1. Ibu merasa lebih sehat dan kuat.
2. Faal usus dan kandung kemih lebih baik.
3. Kesempatan yang baik untuk mengajar ibu merawat/
memelihara anaknya.
4. Tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal.
5. Tidak memengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di
perut.
6. Tidak memperbesar kemungkinan prolaps atau retroflexio.
2.1.5.3 Eliminasi
Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam. Ibu
diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, lakukan
tindakan sebagai berikut.
1. Dirangsang dengan mengalirkan air keran didekat klien
43
2. Mengompres air hangat di atas simfisis
3. Saat site bath ( berendam air hangat ) klien disuruh BAK.
Bila tidak berhasil dengan cara di atas, maka dilakukan
kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman
dan risiko infeksi saluran kemih tinggi. Oleh karena sebab itu,
kateterisasi tidak dilakukan sebelum lewat enamjam postpartum.
Buang Air Besar (BAB). Defekasi (buang air besar) harus ada
dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase
hingga skibala (feses mengeras) tertimbun di rektum, mungkin
akan terjadi febris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan
klisma atau diberi laksa per os (melalui mulut).
Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga
dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi. Biasanya bila
penderitatidak BAB sampai 2 hari sesudah persalinan, akan
ditolong dengan pemberian spuit gliserine/ diberikan obat-obatan.
Biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB, maka sebaiknya
diberikan laksa atau paraffin (1-2 hari postpartum), atau pada hari
ke-3 diberi laksa supositoria dan minum air hangat. Berikut adalah
cara agar dapat BAB dengan teratur.
1) Diet teratur
2) Pemberian cairan yang banyak
3) Ambulasi yang baik
44
4) Bila takut buang air besar setelah episiotomi maka diberikan
laksa supposotria ( Dewi dan Sunarsih, 2011;h.71-74 ).
2.1.5.4 Istirahat
Ibu postpartum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas
untk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan
untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang
cukup sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti.
Kurang istirahat pada ibu postpartum akan mengakibatkan
beberapa kerugian, misalnya:
1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
3) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri.
Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa
untuk kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga, harus
dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Selain itu, pasien
juga perlu diingatkan untuk selalu tidur siang atau beristirahat
selagi bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui
45
minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam
dan siang (Sulistyawati, 2009; h. 103).
2.1.5.5 Personal hygiene
Mandi di tempat tidur dilakukan sampai ibu dapat mandi sendiri di
kamar mandi. Bagian yang paling utama dibersihkan adalah
puting susu dan mammae.
1) Putting susu
Harus di perhatikan kebersihannya dan luka pecah (rhagade)
harus segera di obati karena kerusakan putting susu merupakan
port de entree dan dapat menimbulkan mastitis. Air susu yang
menjadi kering akan menjadi kerak dan dapat merangsang kulit
sehingga timbul enzema. Oleh karena itu, sebaiknya putting
susu dibersihkan dengan air yang telah dimasak, tiap kali
sebelum dan sesudah menyusukan bayi, diobati dengan salep
penicillin, lanolin, dan sebagainya.
2) Patrum lokia
Lokia adalah cairan yang keluar dari vagina pada masa nifas
yang tidak lain adalah sekret dari rahim terutama luka plasenta
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 74).
Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk
46
mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian,
tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga
(Saleha, 2009; h. 73).
2.1.5.6 Perineum
Bila sudah buang air besar atau buang air kecil, perineum harus di
bersihkan secara rutin.Caranya di bersihkan dengan sabun yang
lembut minimal sehari sekali. Biasanya ibu akan takut akan jahitan
yang lepas, juga merasa sakit sehingga perineum tidak di
bersihkan atau tidak di cuci.
2.1.5.7 Seksual
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil dalam
waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu dapat
memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri.
Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan
ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai hubungan suami
istri kapan saja ibu siap.Hubungan seksual dapat dilakukan dengan
aman ketika luka episiotomi telah sembuh dan lokia telah
berhenti.Sebaiknya hubungan seksual dapat ditunda sedapat
mungkin sampai 40 hari setelah persalinan karena pada saat itu
47
diharapkan organ-organ tubuh telah pulih kembali (Dewi dan
Sunarsih, 2011; h.75-77 ).
2.1.6 Masalah-masalah menyusui pada ibu
Beragam masalah sering terjadi pada saat menyusui. Bidan/perawat perlu
mengetahui masalah-masalah yang sering terjadi ini, agar dapat
memberikan dukungan bagi ibu untuk menyusui secara berhasil.Masalah-
masalah menyusui pada ibu yang sering terjadi antara lain :
2.1.6.1 Stress
Ibu-ibu yang baru pertama kali mempunyai anak sering kali
merasa kurang percaya diri sehingga timbul stress. Masalah-
masalah yang dihadapi ibu yang kurang percaya diri dalam
menyusui ini antara lain:
a. Ibu masih “takut” untuk memegang, menggendong maupun
menyusui bayinya
b. Lingkungan keluarga terdekat seperti suami, orang tua, mertua,
atau saudara yang tinggal serumah tidak memberi dukungan.
Cara mengatasinya :
Bidan/perawat dapat memberikan nasihat pada ibu dan keluarga
agar ibu berhasil menyusui dengan penuh rasa percaya diri
dengan:
48
a. Meyakinkan ibu bahwa ibu dapat menyusui dan ibu harus yakin
bahwa ASI akan mencukupi kebutuhan bayinya dan produksi
ASI tidak tergantung pada besar kecilnya payudara.
b. Menganjurkan suami dan keluarga terdekat untuk memberikan
dukungan dengan cara antara lain menenangkan atau
membantu perawatan sederhana seperti mengganti popok,
menidurkan, dan sebagainya.
2.1.6.2 Putting susu datar atau terbenam
Untuk mengetahui apakah putting susu datar/terbenam yaitu
dengan cara menjepit areola antara ibu jari telunjuk dibelakang
putting susu. Bila putting menonjol berarti putting tersebut
normal, namun bila putting tidak menonjol berarti putting susu
datar/terbenam.
Cara mengatasinya :
Dengan menggunakan pompa putting. Putting susu yang datar
atau terbenam dapat dibantu agar menonjol dan dapat dihisap oleh
mulut bayi. Upaya ini dapat dimulai sejak kehamilan 3 dan
biasanya hanya perlu dibantu hingga bayi berusia 5-7 hari.
Putting juga bisa ditarik keluar secara teratur hingga putting akan
sedikit menonjol dan dapat diisapkan kemulut bayi, putting akan
lebih menonjol lagi (Maryunani, 2009; h. 90-92).
49
2.1.6.3 Putting susu lecet/nyeri
Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan
menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan
kadang-kadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat
disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula
disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis ( Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 46).
Putting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat menyusui.
Selain itu, dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah.
Retakan pada putting susu dapat sembuh sendiri dalam waktu 48
jam (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39).
Putting susu dapat mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-
celah. Putting susu lecet ini sering terjadi saat minggu pertama
setelah bayi lahir, hal ini biasanya disebabkan karena:
a. Kesalahan dalam tekhnik menyusui, yaitu bayi hanya menyusu
pada putting susu saja tidak sampai ke areola.
b. Adanya monilisir pada mulut bayi yang menular pada putting
susu ibu.
c. Akibat dari pemakaian sabun, alcohol, krim atau zat iritan
lainnya untuk mencuci putting.
50
d. Bayi dengan tali lidah (frenulum lingue) yang pendek,
menyebabkan bayi hanya dapat mengisap sampai putting susu
ibu saja.
e. Ibu menghentikan menyusu kurang hati-hati (Maryunani, 2009;
h. 92).
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi putting susu lecet
adalah sebagai berikut.
a. Cari penyebab putting susu lecet.
b. Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap
dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat
pompa karena nyeri atau bayi disusukan lebih dulu pada
putting susu normal atau lecetnya sedikit.
c. Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak
menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain
saat membersihkan payudara.
d. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam).
e. Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara
waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh
sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam.
f. Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan sabun.
51
g. Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang
payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua
payudara.
h. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan
biarkan kering.
i. Pergunakan bra yang menyangga (Dewi dan Sunarsih, 2011;
h. 39-40).
2.1.6.4 Payudara bengkak
Pada payudara bengkak;payudara udem, sakit, putting kencang,
kulit mengkilap walau tidak merah, dan bila diperiksa/dihisap ASI
tidak keluar.Badan bisa demam setelah 24 jam.
Penyebab. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui yang
tidak kontinu sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah duktus.
Hal ini terjadi karena antara lain produksi ASI meningkat,
terlambat menyusukan dini, perlekatan kurang baik, mungkin
kurang sering ASI dikeluarkan, dan mungkin juga ada pembatasan
waktu menyusui.
Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mencegah payudara
bengkak adalah sebagai berikut.
52
1) Menyusui segera setelah lahir dengan posisi dan perlekatan
yang benar.
2) Menyusui bayi tanpa jadwal (nir-jadwal dan on demand).
3) Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi
kebutuhan bayi.
4) Jangan memberikan minuman lain pada bayi.
5) Lakukan perawatan payudara pasca persalinan (masase dan
sebagainya).
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
payudara bengkak adalah sebagai berikut.
1) Setiap 2 jam sekali sebelum menyusui kompreslah payudara
dengan lap bersih atau dengan daun pepaya basah.
2) Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih
lembek sehingga lebih mudah memasukkannya kedalam mulut
bayi.
3) Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dikeluarkan dengan
tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan
cangkir/sendok.
4) Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai
bendungan teratasi.
53
5) Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi kompres hangat dan
dingin.
6) Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan
pengurang sakit.
7) Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak,
bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran ASI.
8) Pada saat menyusui sebaiknya ibu tetap rileks.
9) Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh
dan perbanyak minum.
10) Jika ibu yang sedang menyusui terserang penyakit seperti
misalnya pilek, usahakan tetap memberikan ASI dengan
menutup mulut dan hidung dengan masker (Dewi dan
Sunarsih, 2011; h.40-41).
2.1.6.3 Saluran susu tersumbat
Berikut ini akan dijelaskan mengenai penyebab, gejala,
penatalaksanaan, dan pencegahan saluran susu yang tersumbat.
Penyebab
Hal-hal yang menjadi penyebab saluran susu tersumbat adalah
sebagai berikut.
1) Tekanan jari ibu yang terlalu kuat pada waktu menyusui.
2) Pemakaian bra yang terlalu ketat.
54
3) Komplikasi payudara bengkak, yaitu susu terkumpul tidak
segera dikeluarkan, sehingga terbentuklah sumbatan.
Gejala
Gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut.
1) Pada wanita yang kurus, gejalanya terlihat dengan jelas dan
lunak pada perabaan.
2) Payudara pada daerah yang mengalami penyumbatan terasa
nyeri dan bengkak yang terlokalisir.
Penatalaksanaan
Saluran susu yang tersumbat ini harus dirawat, sehinggabenar-
benar sembuh, untuk menghindari terjadinya radang payudara
(mastitis). Adapun cara untuk merawat payudata adalah sebagai
berikut.
1) Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak, dapat dilakukan
masase serta kompres panas dan dingin secara bergantian.
2) Bila payudara masih terasa penuh, ibu dianjurkan untuk
mengeluarkan ASI dengan tangan atau dengan pompa setiap
kali selesai menyusui.
3) Ubah-ubah posisi menyusui untuk melancarkan aliran ASI.
Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan agar payudara tidak tersumbat
adalah sebagai berikut.
55
1. Perawatan payudara pascapersalinan secara teratur, untuk
menghindari terjadinya statis aliran ASI.
2. Posisi menyusui yang di ubah-ubah.
3. Mengenakan bra yang menyangga, bukan yang menekan
(Saleha, 2009; h. 107-109).
2.1.6.4 Mastitis/radang payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara bagian yang terkena
menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas.Ibu bisa mengalami
demam bahkan disertai menggigil. Mastitis biasanya terjadi pada
masa 1-3 minggu setelah melahirkan akibat saluran susu tersumbat
dan tidak segera diatasi (Maryunani, 2009; h. 95).
Penyebab
Penyebab terjadinya mastitis adalah sebagai berikut.
1. Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat, akhirnya
terjadi mastitis.
2. Puting susu lecet akan memudahkan masuknya kuman dan
terjadinya payudara bengkak.
3. Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement,
jika tidak segera disusui dengan adekuat, maka bisa terjadi
mastitis.
56
4. Ibu yang dietnya buruk, kurang istirahat, dan anemia akan
mudah terkena infeksi.
Gejala
Gejala-gejala dirasakan adalah sebagai berikut.
1. Bengkak, nyeri pada seluruh payudara/nyeri lokal.
2. Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal.
3. Payudara keras dan berbenjol-benjol.
4. Panas badan dan rasa sakit umum (Saleha, 2009; h. 109).
Ada dua jenis mastitis, yaitu yang terinfeksi milk statissdisebut
Non-Infective mastitisdan yang telah terinfeksi bakteri : Infective
Mastisis. Lecet pada putting dan trauma pada kulit juga dapat
mengundang infeksi bakteri. Beberapa tindakan yang dapat
dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Kompres hangat/panas dan pemijatan.
2) Rangsang oksitosin; dimulai pada payudara yang tidak sakit,
yaitu stimulasi putting, pijat leher-punggung, dan lain-lain
3) Pemberian antibiotic; Flucloxacilin atau Erythromycin selama
7-10 hari.
4) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk
penghilang rasa nyeri.
57
5) Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak
boleh disusukan karena mungkin memerlukan tindakan bedah
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 41).
2.1.6.5 Abses payudara
Abses payudara dapat terjadi akibat mastitis yang terlambat
diobati.Ibu tampak kesakitan, pada payudara merah mengkilap
dan benjolan yang teraba mengandung cairan berupa nanah.
Cara mengatasinya:
1) Jika susu terjadi abses, payudara yang sakit tidak
bolehdisusukan, mungkin perlu tindakan bedah. Tapi payudara
yang sehat harus tetap digunakan untuk menyusui dengan
perawatan dan kebersihan yang sebaik mungkin.
2) Rujuk ibu ke dokter bedah untuk dilakukan insisi dan drainase
pus/nanah.
3) Pemberian antibiotik dosis tinggi dan obat analgesik/antipiretik
oleh dokter.
4) Ibu harus cukup istirahat (Maryunani, 2009; h. 96).
58
2.2 Teori Asuhan Kebidanan
2.2.1 Pengertian
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan
dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai
dari pengkajian, analisa data, diagnose kebidanan, perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Proses manajemen merupakan proses
pemecahan masalah yang memperkenalkan sebuah metode atau pemikiran
dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis sehingga pelayanan
komprehensif dan aman dapat tercapai.
7 langkah manajemen menurut Helen Varney
1) Pengkajian (Pengumpulan data dasar)
Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua
data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan
langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien.
A. Data subjektif
1. Biodata
Yang mencakup identitas pasien :
a. Nama
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari
agar tidak keliru dalampemberian penanganan.
59
b. Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental
psikisnya belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan
sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas.
c. Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing
atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
d. Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahuisejauh mana tingkat intelektualnya. Sehingga bidan
dapat memberikan konseling sesuai pendidikannya.
e. Suku/bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.
f. Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut.
g. Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.
60
2. Keluhan utama
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan
masa nifas misalnya pasien merasa mules, sakit pada jalan lahir
karena ada jahitan pada perineum.
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
hipertensi, asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya
dengan masa nifas dan bayinya.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien
dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang
menyertainya.
61
4. Riwayat obstetric
a. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara
persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang
lalu.
b. Riwayat persalinan sekarang
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan
bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji
untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan
atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini.
5. Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi
jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan
kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke
kontrasepsi apa.
6. Data psikososial
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita
mengalami banyak perubahan emosi/psikologi selama masa nifas
sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.
62
7. Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,
banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan.
b. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air
besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta
kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah.
c. Istirahat
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien
tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca, mendengarkan
musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang,
pengguanaan waktu luang.
d. Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan
tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas
masih mengeluarkan lochea.
e. Aktivitas
Menggambarkan pola aktifitas pasien sehari-hari.Pada pola ini
perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi
sedini mungkin dapat mempercepat proses pengembalian alat-alat
reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering,
63
apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.
136-137).
B. Data obyektif
Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus
melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,palpasi,
auskultasi, perkusi yang bidan lakukan secara berurutan.
Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
1) Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien
secara keseluruhan. Hasil pengamatan ini akan bidan laporkan
dengan kriteria:
1. Baik
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika pasien memperlihatkan
respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta
secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam
berjalan.
2. Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak
memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang
64
lain, serta pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri
(Sulistyawati, 2009; h.122) .
2) Vital sign
Ditujukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi
yang dialaminya.
a. Temperatut/suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama masa
nifas pada umumnya disebabkan oleh dehidrasi, yang disebabkan
oleh keluarnya cairan padawaktu melahirkan, selain itu juga bisa
disebabkan karena istirahat dan tidur yang diperpanjang selama
awal persalinan. Tetapi pada umumnya setelah 12 jam post
partum suhu tubuh kembali normal. Kenaikan suhu yang
mencapai > 380
C adalah mengarah ketanda-tanda infeksi.
b. Nadi dan pernafasan
1) Nadi berkisar antara 60-80x/m. denyut nadi diatas 100x/m
pada masa nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi,
hal ini salah satunya bisa diakibatkan oleh proses persalinan
sulit atau karena kehilangan darah yang berlebihan.
2) Jikatakikarditidak disertai panas kemungkinan disebabkan
karena adanya vitium kordis.
3) Beberapa ibu post partum kadang-kadang mengalami
bradikardi puerperal, yang denyut nadinya mencapai serendah
65
rendahnya 40 sampai 50x/m, beberapa alasan telah diberikan
sebagai penyebab yang mungkin, tetapi belum ada penelitian
yang membuktikan bahwa hal itu adalah suatu kelainan.
4) Pernafasan harus berada dalam rentang yangnormal, yaitu
sekitar 20-30x/m.
c. Tekanan darah
Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum,
tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila
tidak ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2
bulan pengobatan.
3). Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Menjelaskan pemeriksaan fisik.
a. Keadaan buah dada dan puting susu
1) Simetris/tidak
2) Konsistensi, ada pembengkakan/tidak
3) Putting menonjol/tidak,lecet/tidak
b. Keadaan abdomen
1) Uterus :
Normal :
Kokoh, berkontraksi baik.
Tidak berada di atas ketinggian fundal saat masa nifas segera.
66
Abnormal :
Lembek
Diatas ketinggian fundal saat masa postpartum segera.
c. Keadaan genetalia
(a) Lochea
Normal:
Merah hitam (lochea rubra).
Bau biasa.
Tidak ada bekuan darah atau butir-butir darah beku (ukuran
jeruk kecil).
Jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu
mengganti pembalut setiap 3-5 jam)
Abnormal :
Merah terang.
Berbau busuk.
Mengeluarkan darah beku.
Perdarahan berat (memerlukan penggatian pembalut setiap 0-
2 jam).
Keadaan perineum : oedema, hematoma, bekas luka
episiotomi/robekan, hecting.
Keadaan anus : hemorrhoid
67
Keadaan ekstremitas :
Varices
Edema
Refleks patella
2. Interpretasi data
Mengidentifikasi diagnose kebidanan dan masalah berdasarkan
intepretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam
langkah ini data yang telah dikumpulkan diintepretasikan menjadi
diagnose kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena
beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnose tetapi
membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan
terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita
yang diidentifikasikan oleh bidan.
(1) Diagnosa Kebidanan
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,abortus,anak
hidup,umur ibu,dan keadaan nifas.
(2) Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien.
68
3. Diagnosa potensial
Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnose
potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose, hal ini
membutuhkan antisipasi, pencegahan. Bila memungkinkan menunggu
mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar
terjadi.Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini.
4. Antisipasi masalah/tindakan segera
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan.
Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 130-143).
5. Perencanaan
Berdasarkan diagnosa yang didapat, bidan dapat merencanakan asuhan
pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh
ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya (pengkajian data dan
perumusan diagnosis) (Dewi dan Sunarsih, 2011, h. 88).
69
6. Pelaksanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada
klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan
secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2008, h. 145).
7. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi
kembali proses menejemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan
yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan
kembali asuhan yang belum terlaksana (Dewi dan Sunarsih, 2011, h.
125).
2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan
Permenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 yang mengatur tentang regristrasi dan
praktik bidan. Bidan dalam melaksanakan praktiknya diberi kewenangan untuk
memberikan pelayanan yang meliputi:
a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan pranikah, antenatal, postnatal,
bayi baru lahir, dan balita.
b. Pelayanan keluarga berencana yang meliputi pemberian obat dan alat
kontrasepsi melalui oral, suntikan, pemasangan dan pencabutan AKDR dan
AKBK tanpa penyulit (Soepardan, 2007; h.13).
70
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY. M UMUR 27 TAHUN
P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN PUTTING SUSU LECET
DI BPS MARTINI, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
3.1 Pengkajian
Nama Mahasiswa: Lilis Anggraini
Nim : 201207031
Tanggal : 7 April 2015
Jam : 17.00 WIB
3.1.1 Data subjektif
a. Identitas pasien Penanggung jawab
Nama : Ny M Tn F
Umur : 27 tahun 33 tahun
Agama : Islam Islam
Suku bangsa : Palembang Palembang
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : IRT Buruh
Alamat : Jl. Kancil No.18
Kedaton Bandar Lampung
71
b. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kondisinya
c. Keluhan utama
Ibu mengatakan putingnya terasa nyeri dan sakit saat menyusui
d. Riwayat kesehatan
1) Sekarang
Ibu sedang tidak mengalami penyakit apapun seperti penyakit
menular maupun penyakit keturunan
2) Yang lalu
Ibu tidak pernah menderita penyakit menular maupun penyakit
menurun
3) Keluarga
Dalam keluarganya tidak ada/pernah menderita penyakit seperti
penyakit menular maupun keturunan
4) Riwayat obstetric
1. Riwayat haid
Menarche : 14 tahun
Siklus : 28 hari
Teratur/tidak : tidak teratur
Lama : 5-7 hari
Volume : 100cc
Warna : merah kental
72
Disminore : tidak ada
Bau : anyir
Flour albus : tidak ada
2. Riwayat kehamilan sekarang
1) HPHT : 07-07-2014
2) Taksiran persalinan : 14-04-2015
3) Tanggal bersalin : 04-04-2015
4) Frekuensi ANC : 6 kali selama kehamilan
5) Penyuluhan yang sudah didapatkan : gizi, KB, tanda-tanda
persalinan, tanda bahaya persalinan, ASI eksklusif, inisiasi
menyusui dini.
3. Riwayat persalinan sekarang
1) IBU
Tempat melahirkan : BPS Martini, Amd.Keb
Penolong : Bidan
Jenis persalinan : Spontan
Lama persalinan : 9 jam 50menit
Catatan waktu
Kala I : 7 jam 10 menit
Kala II : 0 jam 35 menit
Kala III : 0 jam 5 menit
Kala IV : 2 jam
73
Jumlah : 9 jam 50 menit
Ketuban pecah pukul 21.00 wib, spontan.
Plasenta
Lahir secara : spontan, lengkap
Berat : 500 gram
Panjang tali pusat : 45 cm
Perineum : ada luka perineum derajat 2
2) Bayi
Lahir tanggal/pukul : 04-04-2015/22.05 wib
Berat badan : 2800 gram
Nilai apgar : 9/10
Jenis kelamin : perempuan
Cacat bawaan : tidak ada
Masa gestasi : 38 minggu 5 hari
3) Riwayat KB
Ibu sebelumnya menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan
selama 2.5 tahun.
4) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Tahun
Partus
Tempat UK Jenis
Persalinan
Penolong Penyulit Nifas Ket
1
2
2012
2015
BPS
BPS
Aterm
Aterm
Spontan
Spontan
Bidan
Bidan
Tidak ada
Tidak ada
Baik
Baik
JK:L
BB: 3100 gram
JK:P
BB: 2800
74
5) Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
Selama hamil : Ibu makan dengan nasi, ikan,
tempe, dan sayur tumis kangkung
porsi sedang 3x/hari.
Selama nifas : Ibu makan dengan nasi, ayam
goreng, tahu bacem, sayur daun
katuk dengan porsi 1 piring 3x/hari,
setiap harinya ibu makan dengan
menu yang berbeda dan tidak ada
pantangan dalam makanan.
b. Pola eliminasi
Selama hamil : Ibu BAK 7-8 kali/ hari bau khas,
warna kuning jernih, BAB 1-2
kali/hari konsistensi lunak warna
kekuningan.
Selama nifas : Ibu BAK 7-8 kali/ hari bau khas
warna kuning jernih, BAB 1
kali/hari konsistensi lunak warna
kekuningan
c. Pola istirahat
Selama hamil : Ibu tidur malam 7-8 jam, siang
75
jarang tidur.
Selama nifas : Ibu tidur malam 5-6 jam, siang 1/2
jam.
d. Personal hygiene
Selama hamil : Ibu ganti celana dalam 2-3 kali/hari.
Selama nifas : Ibu ganti pembalut 3-4 kali/hari.
e. Pola seksual
Selama hamil : Ibu melakukannya 2 kali/minggu.
Selama nifas : Ibu belum melakukannya
6) Riwayat psikososial
a. Status perkawinan : syah, 1 kali
b. Status emosional : stabil
7) Riwayat spiritual
a. Selama hamil : tidak ada
b. Selama nifas : tidak ada
3.1.2 Data obyektif
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran : Compos mentis
c. Keadaan emosional : stabil
76
d. Tanda vital
1) TD : 110/80 Mmhg
2) Pernafasan : 20x/i
3) Nadi : 80x/i
4) Suhu : 36,5ºc
e. Pemeriksaan fisik
1) Kepala :
Warna rambut : hitam
Ketombe : bersih, tidak ada ketombe
Benjolan : tidak ada
2) Wajah :
Simetris : simetris
Edema : tidak edema
3) Mata :
Simetris : ya, kanan kiri
Kelopak mata : tidak edema
Konjungtiva : merah muda
Sclera : putih
4) Hidung
Simetris : ya, kanan dan kiri
Polip : tidak ada
77
Kebersihan : bersih
5) Mulut :
Warna bibir : merah muda
Sariawan : tidak ada
Gusi berdarah : tidak ada
Gigi : bersih
6) Telinga :
Simetris : ya, kanan dan kiri
Gangguan pendengaran : tidak ada
7) Leher :
Simetris : ya, kanan dan kiri
Pembesaran kelenjar tyroid : tidak ada
Pembesaran limfe : tidak ada
8) Payudara :
Simetris : ya, kanan dan kiri
Putting susu : lecet bagian kanan
Konsistensi : lunak
Pengeluaran : kolostrum
9) Abdomen
Pembesaran : tidak ada
Konsistensi : kuat
78
Kandung kemih : kosong
Uterus : TFU : 3 jari dibawah pusat
Kontraksi : keras
10) Anogenital
Vulva : warna merah muda
Perineum : terdapat luka jahitan derajat 2
Pengeluaran pervaginam : lochea rubra
Anus : tidak ada hemoroid
11) Ekstremitas bawah
Oedema : tidak oedema
Kemerahan : tidak ada
Varices : tidak ada
Reflex patella : positif, kanan dan kiri
12) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboraturium
HB : tidak dilakukan pemeriksaan
Protein urine : tidak dilakukan pemeriksaan
Glukosa urine : tidak dilakukan pemeriksaan
79
TABEL 3.1 MATRIKS
TGL/JAM Pengkajian Interpretasi
data
Dx potensial Antisipasi Intervensi Implementasi Evaluasi
07/04/15
17.00 wib
DS :
Keluhan :
- Ibu
mengatakan
nyeri pada
putting susu
bagian kanan.
DO :
K/U:baik
TTV:
Td : 120/70
N:80x/M
S:36,50
c
RR:20X/M
Payudara :
putting terlihat
lecet terjadi
retak dan
pembentukan
celah-celah
Pengeluaran :
ada, kolustrum
TFU :3 jari
dibawah pusat
Kontraksi : baik
Lokhea rubra
Terdapat bekas
Dx : Ny M
P2A0 3 hari
post partum
dengan putting
susu lecet
Ds :
- Ibu
mengatakan
pernah
melahirkan
2x ini dan
belum
pernah
Keguguran
- Ibu
mengatakan
putting susu
sebelah
kanan terasa
nyeri
Masalah :
nyeri bagian
putting susu
Kebutuhan
- Penjelasan
tentang
Bendungan
ASI
Teknik
menyusui
yang baik
dan benar.
1. Beritahu
kepada
ibu
tentang
keadaan
nya saat
ini
2. Cari
tahu
penyeba
b
terjadin
ya
putting
susu
lecet
1. Memberitahu kepada ibu
hasil pemeriksaannya yang
di lakukan secara head to
toe, keadaan umum baik,
TD : 120/70 mmhg
N:80x/m
S:36,50
c
RR:20x/m,
Payudara : putting susu lecet,
tidak terdapat infeksi pada
bagian putting susu ibu kanan
dan kiri
Pengeluaran : ada, kolustrum
TFU :3 jari dibawah pusat
Kontraksi : baik
Lokhea rubra
Terdapat bekas jahitan
perineum derajat 2
2. Mencari tahu
penyebab putting
susu lecet:
- Tehnik menyusui
yang kurang benar
- Putting susu terpapar
oleh sabun, krim,
alkohol, atau zat
iritan lainnya saat ibu
1. ibu mengetahui
tentang
keadaannya saat
ini yaitu keadaan
ibu dalam batas
normal TFU
berjalan normal,
kontraksi baik, dan
terdapat luka pada
putting susu kanan.
2. penyebab putting
susu lecet yang
dialami ibu adalah
tehnik menyusui
yang kurang benar
bayi hanya
menyusu pada
putting susu saja
tidak sampai
80
jahitan perinium
derajat 2.
tekhnik
menyusui
3. Beritahu
kepada
ibu
tentang
keluhan
yang di
alaminya
4. Beritahu
ibu cara
perawat
an
puting
susu
lecet.
membersihkan
putting susu
- Moniliasis pada
mulut bayi menular
pada putting susu ibu
- Bayi dengan lidah
pendek
3. Memberitahu kepada
ibu keluhan yang
dialaminya
disebabkan karena
tekhnik menyusui
yang tidak benar
4. Memberitahu ibu cara
perawatan putting susu
lecet:
j. Cari penyebab putting
susu lecet
k. Selama putting susu
diistirahatkan,
sebaiknya ASI tetap
dikeluarkan dengan
tangan dan tidak
dianjurkan dengan alat
pompa karena nyeri
atau bayi disusukan
lebih dulu pada putting
susu normal yang
lecetnya sedikit
l. Olesi putting susu
dengan ASI akhir
(hind milk), tidak
areola.
3. Ibu mengetahui
penyebab
keluhannya.
4.ibu mengetahui cara
melakukan
perawatan putting
susu lecet
81
5. Beritahu
dan
menggunakan sabun,
krim, alcohol, ataupun
zat iritan lain saat
membersihkan
payudara
m. Menyusui lebih sering
(8-12 kali dalam 24
jam)
n. Putting susu yang sakit
dapat diistirahatkan
untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam,
dan biasanya akan
sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam
o. Cuci payudara sekali
sehari dan tidak
dibenarkan untuk
menggunakan sabun
p. Posisi menyusui harus
benar, bayi menyusu
sampai ke kalang
payudara dan susukan
secara bergantian
diantara kedua
payudara
q. Keluarkan sedikit ASI
dan oleskan ke putting
yang lecet dan biarkan
kering
r. Pergunakan bra yang
menyangga
5. Memberitahu dan
mengajarkan kepada ibu
5. ibu mengetahui
tentang tekhnik
82
ajarkan
kepada
ibu
tentang
tekhnik
menyusu
i yang
benar
tentang tekhnik menyusui
yang benar yaitu :
a. Cuci tangan yang
bersih dengan sabun,
perah sedikit ASI dan
oleskan disekitar
putting, duduk dan
berbaring dengan
santai
b. Ibu harus mencari
posisi nyaman,
biasanya duduk tegak
ditempat tidur/kursi
ibu harus merasa rileks
c. Lengan ibu menopang
kepala, leher, dan
seluruh badan bayi
(kepala dan tubuh
berada dalam garis
lurus), muka bayi
menghadap
kepayudara ibu,
hidung bayi didepan
putting susu ibu. Posisi
bayi harus sedemikian
rupa sehingga perut
bayi menghadap perut
ibu. Bayi seharusnya
berabring miring
dengan seluruh tubuh
nya menghadap ibu.
Kepalanya harus
sejajar dengan
tubuhnya, tidak
melengkung
menyusui yang
benar yaitu:
a. Bayi tampak
tenang
b. Mulut bayi
terbuka lebar
c.Sebagian areola
masuk kedalam
mulut bayi, areola
bawah lebih
banyak yang
masuk
d. Bayi tampak
menghisap kuat
dengan irama
perlahan
e. Putting susu tidak
terasa nyeri
83
kebelakang/menyampi
ng, telinga, bahu, dan
panggul bayi berada
dalam satu garis lurus.
d. Ibu mendekatkan bayi
ketubuhnya (muka
bayi kepayudara ibu)
dan mengamati bayi
yang siap menyusu:
membuka mulut,
bergerak mencari, dan
menoleh. Bayi harus
berada dekat dengan
payudara ibu. Ibu tidak
harus mencondongkan
badan dan bayi tidak
merenggangkan
lehernya utuk mencari
putting susu ibu.
e. Ibu menyentuh putting
susunya ke bibir bayi,
menunggu hingga bayi
terbuka lebar
kemudian
mengarahkan mulut
bayi keputting susu ibu
hingga bibir bayi dapat
menangkap putting
susu tersebut. Ibu
memegang payudara
dengan satu tangan
dengan cara
meletakkan empat jari
dibawah payudara dan
ibu jari diatas
84
payudara. Ibu jari dan
telunjuk harus
membentuk huruf “C”.
semua jari ibu tidak
boleh terlalu dekat
dengan areola.
f. Pastikan bahwa
sebagian besar areola
masuk kedalam mulut
bayi. Dagu rapat
kepayudara ibu dan
hidungnya menyentuh
bagian atas payudara.
Bibir bawah bayi
melengkung keluar.
g. Bayi diletakkan
menghadap ibu dengan
posisi sanggah seluruh
tubuh bayi, jangan
hanya leher dan
bahunya saja, kepala
dan tubuh bayi harus
lurus, hadapkan badan
bayi kebadan ibu,
menyentuh bibir bayi
keputting susu nya dan
menunggu mulut bayi
terbuka lebar.
h. Jika bayi sudah selesai
menyusui, ibu
mengeluarkan putting
dari mulut bayi dengan
cara memasukan jari
kelingking diantara
mulut dan payudara.
85
i. Menyendawakan bayi
dengan menyandarkan
bayi dipundak atau
menelungkupkan bayi
melintang kemudian
menepuk-nepuk
punggung bayi
6. Memberitahu ibu tanda-
tanda infeksi pada
payudara yaitu bengkak
payudara disertai demam
tinggi, keluar nanah
dibagian putting susu.
7. Memastikan uterus
berjalan normal dengan
meraba uterus keras, TFU
3 jari dibawah pusat,
pengeluaran lokae rubra.
8. Memberitahu pada ibu
bahwa ibu nifas dan
menyusui membutuhkan
nutrisi yang cukup, gizi
seimbang, seperti :
1. Rata-rata kandungan
kalori ASI yang
dihasilkan ibu dengan
nutrisi baik adalah 70
kal/100 ml dan kira-
kira 85kal diperlukan
oleh ibu untuk tiap
100 ml yang
86
6. Beritahu
ibu
tanda-
tanda
infeksi
7. Pastikan
involusi
uterus
ibu
berjalan
normal
8.Beritahu
ibu
kebutuhan
nutrisi
yang
dibutuhka
n oleh ibu
nifas dan
menyusui
dihasilkan rata-rata
ibu menggunakan
kira-kira 640 kal/hari
untuk 6 bulan pertama
dan 510 kal/hari
selama 6 bulan kedua
untuk menghasilkan
jumlah susu normal.
Rata-rata ibu harus
mengkonsumsi 2300-
2700 kal ketika
menyusui.
2. Protein, misalnya :
ikan, daging, telur,
udang, kerang susu,
dan tempe, tahu,
kacang-kacangan
yang berguna untuk
pertumbuhan dan
penggantian sel-sel
yang rusak dan mati.
3. Asupan cairan yang di
anjurkan
mengkonsumsi 2-3
liter per hari dalam
bentuk air putih, susu
dan jus buah.
4. Pil FE harus diminum
1x1 sehari untuk
menambah zat besi
selama 40 hari
pascapersalinan
9. Memberitahu kepada ibu
tentang kebutuhan istirahat
6. Ibu bersedia datang
ketenaga kesehatan
bila mengalami
tanda-tanda infeksi.
7. Involusi uterus ibu
berjalan normal
8. Ibu telah
mengetahui tentang
kebutuhan nutrisi
yang di butuhkan
oleh ibu nifas dan
menyusui.
87
9. Beritahu
kepada
ibu
tentang
kebutuh
an
istirahat
yang cukup yaitu tidur
siang 1-2 jam dan tidur
malam 7-8 jam dalam
sehari karena istirahat
sangat diperlukan bagi ibu
di masa nifas agar
pengembalian fungsi
organ-organ tubuh setelah
40 minggu kehamilan
mengalami beberapa
perubahan baik anatomi
maupun fungsinya.
10. Memberitahu ibu jadwal
kunjungan ulang pada
tanggal 10-04-2015.
9. Ibu megetahui
tentang kebutuhan
istirahat yang cukup
88
yang
cukup
10. Beritahu
ibu
jadwal
kunjung
an ulang.
10. Ibu mengetahui
jadwal kunjungan
ulang.
10/04/15
16.30 wib
Subjektif:
Keluhan :
ibu mengatakan
nyeri pada
puting susu
sebelah kanan
sudah mulai
berkurang
merasakan.
Objektif :
TD :120/70
mmhg
N :80x/i
Rr :20x/i
T : 37,5ºc
Payudara :
puting susu
tampak lecet
pada puting
susu sebelah
kanan mulai
berkurang.
Dx: Ny M
P2AO 6 hari
post partum
dengan putting
lecet
Ds :
Ibu
mengatakan
nyeri pada
putting susu
sebelah kanan
sudah mulai
berkurang.
Masalah :
nyeri pada
putting susu
Kebutuhan :
- perawatan
putting susu
Bendungan
ASI
Teknik
menyusui
yang benar
1. Beritahu
pada ibu
tentang
keadaan
nya saat
ini
2. Kaji
ulang
1. Memberitahukan pada
ibu tentang keadannya
saat ini bahwa dalam
keadaan baik sesuai
dengan hasil pemeriksaan
Td :120/70 mmhg
N :80x/i
Rr :20x/i
T : 37,5ºc
Payudara : putting susu
tampak lecet pada putting susu
sebelah kanan sudah mulai
membaik.
Pengeluaran : ada,ASI
TFU :pertengahan pusat
simfisis
Kontraksi :kuat
Lokhea :sanguelenta
Perineum :Bekas jahitan
perineum mulai mengering.
2. Mengkaji ulang tentang
keluhan yang dialami ibu
1. Ibu mengetahui
tentang keadaannya
saat ini bahwa ibu
dalam keadaan
sehat dan TFU
berjalan dengan
normal, luka
perineum sudah
mulai mengering
dan tampak lecet
pada putting susu
sebelah kanan
mulai mengering.
2. Ibu mengetahui
penyabab keluhan
89
Pengeluaran :
ada,ASI transisi
TFU
:pertengahan
pusat simfisis
Kontraksi :kuat
Lokhea
:sanguilenta
Terdapat bekas
jahitan perinium
derajat 2 dan
tidak ada tanda-
tanda infeksi
dan jahitan
sudah
mengering
lecet
- Tekhnik
menyusui
yang baik
dan benar
tentang
keluhan
yang
dialami
ibu
3. Kaji
ulang
kepada
ibu
tentang
perawata
n puting
susu
lecet.
4. Kaji
ulang
kembali
kepada
ibu
apakah
sudah
melakuk
an
tekhnik
menyusu
i dengan
benar.
dan penyebabnya.
3. Mengkaji ulang ibu
tentang perawatan puting
susu lecet.
4. Mengkaji ulang kembali
kepada ibu apakah sudah
melakukan tehnik
menyusui dengan benar.
yang dialaminya.
3. Ibu dapat
melakukan
perawatan puting
susu lecet pagi dan
sore hari dan lecet
berkurang pada
puting sebelah
kanan.
4.Ibu mengatakan
bahwa ia sudah
melakukan tekhnik
menyusui yang
benar, yaitu dengan
tanda-tanda :
a. Bayi tampak
tenang
b. Mulut bayi
terbuka lebar
c. Bayi tampak
menghisap kuat
dengan irama
perlahan.
d. Namun masih
terasa nyeri pada
bagian putting
susu sebelah
kanan, karna saat
90
5. Kaji
ulang
apakah
ibu
mengala
mi tanda
infeksi.
6. Kaji
ulang
involusi
uterus
ibu
7. Kaji
ulang
tentang
kebutuha
n nutrisi
yang
dibutuhk
an ibu
nifas dan
ibu
menyusu
i.
5. Mengkaji ulang apakah
ibu mengalami tanda
infeksi.
6. Mengkaji ulang involusi
uterus ibu TFU
pertengahan pusat simpisis
7. Mengkaji ulang tentang
kebutuhan nutrisi yang di
butuhkan ibu nifas dan ibu
menyusui.
menyusui ibu
masih hanya
memasukan
bagian putting
susu saja ke
dalam mulut bayi
tidak sampai
areola.
5. Ibu mengatakan
bahwa ia tidak
mengalami tanda
infeksi
payudaranya tidak
bengkak, keluar
nanah dan demam.
6. Ibu mengatakan
pengeluaran darah
kemaluannya
berwarna merah
kekuningan.
7. Ibu telah
mengkonsumsi
makanan yang
mengandung
nutrisi yang
seimbang seperti
karbohidrat,
protein, mineral,
Tab. zat besi.
91
8. Kaji
ulang
tentang
kebutuha
n
istirahat.
9. Beritah
ibu
jadwal
kunjung
an ulang.
8. Mengkaji ulang tentang
kebutuhan istirahat.
9. Memberitahu ibu jadwal
kunjungan ulang pada
tanggal 13-04-2015.
8. Ibu mengatakan
telah istirahat
cukup pada malam
hari 7-8 jam/hari,
siang 1-2 jam/hari.
9. Ibu mengetahui
jadwal kunjungan
ulang.
13/04/15
16.00 wib
Subjektif :
Keluhan :
ibu mengatakan
putingnya tidak
lecet lagi
Objektif :
Td : 120/70
mmhg
N :80x/i
Rr :20x/i
T : 37,5ºc
Payudara
:putting tampak
tidak lecet lagi.
Pengeluaran
:ASI
TFU
:pertengahan
pusat simfisis
Dx :Ny.M 27
tahun P2A0 9
hari post
partum
Masalah :
tidak ada
Kebutuhan :
Tidak ada
Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu
kepada
ibu
tentang
keadaan
nya saat
ini
2. Mengev
aluasi
ibu
1. Memberitahu kepada ibu
tentang keadaannya saat
ini bahwa dalam keadaan
baik sesuai dengan hasil
pemeriksaan :
TD : 120/70 mmHg
N : 80x/i
Rr : 20x/i
T : 37,50
C
Payudara : puting menonjol
Peneluaran : ASI
TFU : pertengahan pusat
simpisis
Lochea : serosa
Tampak putting susu ibu
normal dan tidak ada tanda-
tanda infeksi.
2. Mengevaluasi ibu apakah
sudah melakukan tekhnik
menyusui yang benar.
1. Ibu mengetahui
tentang keadaannya
saat ini bahwa ibu
dalam keadaan
sehat dan TFU
pertengahan pusat
simpisis, dan
putting susu normal
dan tidak ada
tanda-tanda infeksi.
2. Ibu mengatakan
bahwa ia sudah
melakukan tekhnik
92
Lokhea :serosa
Perineum
:bekas jahitan
perineum sudah
mengering serta
tidak ada tanda-
tanda infeksi.
apakah
sudah
melakuk
an teknik
menyusu
i dengan
benar
3. Beritahu
ibu
jadwal
kunjunga
n ulang
ke
tenaga
kesehata
n
3. Memberitahu ibu jadwal
kunjungan ulang pada
tanggal 21 April 2015.
menyusui yang
benar, yaitu dengan
tanda-tanda :
a. Bayi tampak
tenang
b. Mulut bayi terbuka
lebar
c. Sebagian areola
masuk kedalam
mulut bayi, areola
lebih banyak yang
masuk
d. Bayi tampak
menhisap kuat
dengan irama
perlahan
e. Puting susu tidak
terasa nyeri.
3. Ibu bersedia
kunjungan ulang
pada tanggal 21
April 2015
93
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan data dasar
a. Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang
keadaan pasien pada Ny M usia 27 tahun P2AO 3 hari postpartum dengan
putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung dan
didapatkan hasil yaitu sebagai berikut
Data subjektif
1. Nama
a. Tinjauan teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar
tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h. 131).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini nama ibu bernama Ny M.
c. Pembahasan
Dalam kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus
karena Ny M memiliki nama jelas yang dapat membedakan dengan
klien yang lain sehingga terhindar dari kekeliruan dalam
memberikan penanganan.
94
2. Umur
a. Tinjauan teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang
dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental psikisnya
belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk
terjadi perdarahan masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.
131).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny M berusia 27 tahun.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini tidak terjadi
kesenjangan pada usia ibu. Karena usia 27 tahun sudah dianggap
matang baik organ reproduksi ibu maupun dari psikis ibu.
3. Suku
a. Tinjauan teori
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari
(Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 132).
b. Tinjauan kasus
Ibu bersuku palembang dan selama ini ibu tidak memiliki
kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh terhadap kehamilan,
persalinan, dan nifas.
95
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena ibu tidak memiliki
kebiasaan adat istiadat yang berpengaruh terhadap kehamilan,
persalinan, dan nifas
4. Pendidikan
a. Tinjauan teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati
dan Wulandari, 2010; h. 132).
b. Tinjauan khusus
Dalam kasus ini Ny M berpendidikan terakhir SMA
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena Ny M memiliki
pendidikan SMA dimana asuhan yang akan dilakukan oleh petugas
kesehatan berpengaruh dalam tindakan yang akan dilakukan.
5. Pekerjaan
a. Tinjauan teori
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
96
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny M bekerja sebagai ibu rumah tangga dan
suaminya bekerja sebagai buruh
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny M dapat memenuhi nutrisinya meskipun
suaminya hanya bekerja sebagai seorang buruh karena nutrisi yang
seimbang tidak harus mahal
6. Alamat
a. Tinjauan teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
b. Tinjauan kasus
Alamat rumah Ny M adalah Jl.Kelinci No.18 Kedaton Bandar
Lampung
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M
memiliki alamat rumah yang lengkap untuk mempermudah dalam
melakukan kunjungan rumah bila diperlukan
97
7. Keluhan
a. Tinjauan teori
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan
masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan
menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadang-
kadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan
oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh
thrush (candidates) atau dermatitis. (Ambarwati dan Wulandari,
2010; h. 44-47).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny M mengatakan keluhannya yaitu nyeri pada
putting susu bagian kanan.
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus,
karena keluhan dari puting susu lecet adalah nyeri dan puting susu
lecet diakibatkan teknik menyusui ibu yang salah, karena dalam
kasus ini Ny. M P2A0 postpartum hari ke-3 dan ibu mengeluh
kesulitan dalam menyusui bayinya, diakibatkan teknik menyusui
ibu yang salah sesuai teori yang menyatakan bahwa posisi
menyusui yang salah dapat mengakibatkan puting susu lecet.
98
8. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
1) Tinjauan teori
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada
hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h. 133).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit
apapun
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny M sedang tidak menderita penyakit apapun
b. Riwayat kesehatan yang lalu
1) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
hipertensi, asma, yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
99
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami riwayat
penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, hipertensi, dan
asma.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny M memang sebelumnya tidak ada riwayat
penyakit menular dan menurun.
c. Riwayat kesehatan keluarga
1) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan
pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang
menyertainya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang/pernah
menderita penyakit
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena didalam keluarga Ny M tidak ada yang
sedang/pernah menderita penyakit sehingga tidak ada pengaruh
terhadap kesehatan Ny M dan bayinya.
100
9. Riwayat obstetric
a. Tinjauan teori
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan
bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji
untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan
atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134).
b. Tinjauan kasus
Dalam riwayat obstetric Ny M pada persalinan sekarang Ny M
melahirkan pada tanggal 04 april 2015, jenis persalinan spontan
menangis letak belakang kepala, jenis kelamin anak perempuan
dengan berat badan 2800 gram, panjang badan 50 cm dan ditolong
oleh bidan.
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena Ny M melahirkan secara spontan pervaginam dan bayi
dalam keadaan sehat.
10. Riwayat KB
a. Tinjauan teori
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
101
dan beralih kekontrasepsi apa (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.
134).
b. Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sebelumnya sudah pernah KB suntik 3 bulan
selama 2,5 tahun.
c. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus
dikarenakan Ny M sudah pernah memakai KB suntik 3 bulan
selama 2,5 tahun.
11. Pola kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
1) Tinjauan teori
Tinjauan teori menggambarkan tentang pola makan dan
minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan
pantangan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136).
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang
terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu
menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang
sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi.
a) Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan
nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal
diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-
102
rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan
pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk
menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus
mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui.
b) Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu,
dan tempe, tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk
pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati.
c) Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalam
bentuk air putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk
minum setiap kali menyusui). Mineral, air, dan vitamin
digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit
dan mengatur kelancaran metabolisme didalam tubuh.
d) Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi
selama 40 hari pascapersalinan (Dewi dan Sunarsih, 2011;
h. 71).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan selama masa nifas ini telah makan dengan
nasi, ayam goreng, tahu bacem, sayur daun katuk dengan porsi
1 piring 3x/hari, setiap harinya ibu makan dengan menu yang
berbeda dan tidak ada pantangan dalam makanan.
103
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena Ny M telah makan dengan porsi yang cukup dan
teratur serta mengkonsumsi makanan yang mengandung
karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang berguna untuk
proses produksi ASI, ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi
bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya, serta mengatur
kelancaran metabolisme didalam tubuh. Setiap hari ibu
mengkonsumsi tablet Fe 1x1 sehari.
b. Pola eliminasi
1) Tinjauan teori
Ibu diminta untuk buang air kecil minimal 6 jam post partum,
apabila setelah 8 jam post partum ibu belum dapat berkemih
maka ibu hendaknya dilakukan katerisasi.
Untuk pola buang air besar, setelah 2 hari ibu diharapkan sudah
dapat buang air besar, jika pada hari ke 3 ibu belum dapat buang
air besar maka ibu diberi obat peroral atau perrektal (Saleha,
2009; h. 73).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sudah buang air kecil 5-7 kali/hari dengan bau
khas warna kuning jernih dan sudah buang air besar 1 kali/hari
konsistensi lunak warna kekuningan
104
3) Pembahasan
Dalam kasus ini Ny. M P2A0 post partum hari ke-3 tidak di
temukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. M tidak
memiliki keluhan dalam pola eliminasinya hal ini dikarenakan
Ny.M sudah dapat beradaptasi dengan masa nifasnya.
c. Pola istirahat
1) Tinjauan teori
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam
pasien tidur. Istirahat sangat penting bagi ibu nifas karena
dengan istirahat yang cukup dapat mempecepat penyembuhan
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136).
Istirahat sangat diperlukan bagi ibu di masa nifas agar
pegembalian fungsi organ-organ tubuh setelah 40 minggu
kehamilan mengalami beberapa perubahan baik anatomi
maupun fungsinya. Tidur pada malam hari selama 7-8 jam dan
tidur pada siang hari sebaiknya selama 1-2 jam (Rukiyah et.
all, 2011; h. 127 ).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sudah tidur siang ½ jam karena ibu harus
mengurus urusan rumah tangga dan anak-anaknya. Tidur
malam 5-6 jam sehari karena ibu sering terbangun di sebabkan
anaknya sering menangis.
105
3) Pembahasan
Dalam hal ini ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena dalam kasus ini pola istirahat Ny.M tidak terpenuhi
Ny.M hanya tidur ½ jam pada siang hari dan 5-6 jam pada
malam hari.
d. Personal hygiene
1) Tinjauan teori
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan
tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas
masih mengeluarkan lochea (Ambarwati dan Wulandari, 2010;
h. 137).
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk
mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat
tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga (Saleha,
2009; h. 73).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan telah menjaga kebersihan dirinya dengan mandi
2 kali sehari, ganti pembalut 3-4 kali/hari atau tiap basah dan
lembab serta menjaga lingkungan tetap bersih.
106
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus. Karena ibu bisa personal hygiene dengan baik dan tidak
terdapat tanda-tanda infeksi pada ibu.
e. Pola seksual
1) Tinjauan teori
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu
darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari
ke dalam vagina tanpa rasa nyeri maka aman untuk memulai
hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Hubungan seksual
dapat dilakukan dengan aman ketika luka episiotomi telah
sembuh dan lokia telah berhenti. Sebaiknya hubungan seksual
dapat ditunda sedapat mungkin sampai 40 hari setelah
persalinan karena saat itu diharapkan organ-organ tubuh telah
pulih kembali (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 77).
2) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini belum melakukan hubungan seksual.
3) Pembahasan
Ny M postpartum 3 hari belum melakukan hubungan seksual
karena luka episiotomi belum sembuh dan pengeluaran lochea
belum berhenti. Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan
antara teori dan kasus.
107
f. Riwayat psikososial
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya,
wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama
masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134).
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan
mengalami fase-fase sebagai berikut :
1. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang
berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah
melahirkan. Pada saat itu, focus perhatian ibu terutama pada
dirinya sendiri.
2. Fase taking hold
Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung
antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu
merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa
tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
3. Fase letting go
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab
akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah
melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat
108
diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 65).
2) Tinjauan kasus
Status emosional ibu stabil, ibu dapat diajak berbicara, namun
ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa
tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus. Ibu dalam fase taking hold karena status emosional ibu
stabil, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa
tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
Data Objektif
1. Tanda-tanda vital
a. Tinjauan teori
1) Tekanan darah
Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum,
tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila
tidak ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2
bulan pengobatan.
109
2) Nadi
Nadi berkisar antara 60-80x/menit. Denyut nadi diatas
100x/menit pada masa nifas adalah mengidentifikasikan adanya
suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa diakibatkan oleh proses
persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang berlebihan.
3) Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut
nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal maka pernafasan juga akan
mengikutinya, kecuali bila ada gangguan khusus pada saluran
pencernaan. Pernafasan harus berada dalam rentang yang
normal, yaitu sekitar 20-30x/menit.
4) Suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama masa
nifas pada umumnya disebabkan oleh dehidrasi, yang disebabkan
oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan, selain itu juga bisa
disebabkan karena istirahat dan tidur yang diperpanjang selama
awal persalinan. Tetapi pada umumnya setelah 12 jam post
partum suhu tubuh kembali normal. Kenaikan suhu yang
mencapai > 380
C adalah mengarah ketanda-tanda infeksi
(Ambarwati dan Sunarsih, 2010; h. 138).
110
b. Tinjauan kasus
Berdasarkan tinjauan kasus, hasil pemeriksaan yang dilakukan
didapatkan hasil :
Tekanan darah : 120/70 mmhg nadi : 80x/menit
Suhu : 37,5ºC nafas : 20x/menit
c. Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara teori
dan kasus. Tekanan darah ibu normal 120/70 mmhg, suhu ibu normal
37,5ºC karena suhu ibu tidak mencapai >38ºC yang mengarah
ketanda-tanda infeksi, nafas dan nadi ibu juga dalam batas normal.
2. Pemeriksaan fisik
a) Dada
1) Tinjauan teori
Menjelaskan pemeriksaan fisik keadaan buah dada dan putting
susu.
d. Simetris/tidak
e. Konsistensi, ada pembengkakan/tidak
f. Putting menonjol/tidak,lecet/tidak (Ambarwati dan Sunarsih,
2010; h. 139).
Putting susu dapat mengalami lecet, retak atau terbentuk celah
celah. Putting susu lecet ini sering terjadi saat minggu pertama
setelah bayi lahir, hal ini biasanya disebabkan karena:
111
a) Kesalahan dalam tekhnik menyusui, yaitu bayi hanya menyusu
pada putting susu saja tidak sampai ke areola.
b) Adanya monilisir pada mulut bayi yang menular pada putting
susu ibu.
c) Akibat dari pemakaian sabun, alcohol, krim atau zat iritan
lainnya untuk membersihkan putting susu.
d) Bayi dengan tali lidah (frenulum lingue) yang pendek,
menyebabkan bayi hanya dapat mengisap sampai putting susu
ibu saja.
e) Ibu menghentikan menyusu kurang hati-hati (Maryunani, 2009;
h. 92).
2) Tinjauan kasus
Pada hari ketiga :
Payudara simetris kanan dan kiri, pembesaran normal kanan dan
kiri, putting susu lecet bagian kanan, tidak ada benjolan,
konsistensi lunak, pengeluaran colustrum.
Pada hari keenam :
Payudara simetris kanan dan kiri, pembesaran normal kanan dan
kiri, putting susu lecet sedikit berkurang pada bagian kanan, tidak
ada benjolan, konsistensi lunak, pengeluaran ASI.
Pada hari kesembilan :
112
Payudara simetris kanan dan kiri, pembesaran normal kanan dan
kiri, putting susu lecet teratasi, tidak ada benjolan, konsistensi
lunak, pengeluraran ASI.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena menurut teori pada hari kedua atau keempat pasca
persalinan mulai ada sekresi ASI, payudara simetris kanan dan
kiri, tidak ada benjolan dan ibu sudah mengeluarkan colustrum.
Ibu mengalami putting susu lecet akibat dari kurangnya
pengetahuan perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang
tidak benar.
b) Abdomen
1) Tinjauan teori
Proses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam
keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai
segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos
uterus.
Involusi uterus
Bayi baru lahir : setinggi pusat
Uri lahir : 3 jari dibawah pusat
Satu minggu : pertengahan pusat-simfisis
Dua minggu : tak teraba diatas simfisis
113
Enam minggu : bertambah kecil
Delapan minggu : sebesar normal (Dewi dan Sunarsih,
2011; h. 55-57).
2) Tinjauan kasus
Tidak ada pembesaran, konsistensi keras pada fundus lunak pada
bagian lain, kandung kemih kosong, TFU 3 jari dibawah pusat,
dan kontraksinya baik
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus. TFU ibu sesuai dengan teori involusi uterus yaitu 3 jari
dibawah pusat.
c) Anogenital
1) Tinjauan teori
Lochea : Normal ( Merah hitam (lochea rubra),
berbau biasa, tidak ada bekuan darah atau
butir-butir darah beku (ukuran jeruk
kecil, jumlah perdarahan yang ringan
atau sedikit (hanya perlu mengganti
pembalut setiap 3-5 jam)
Abnormal (Merah terang, berbau busuk,
mengeluarkan darah beku, dan
perdarahan berat).
114
Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi/alkalis yang dapat membuat organisme
berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada
vagina normal. Lokhea rubra muncul pada hari ke 1-4 masa
postpartum.
Keadaan perineum (edema, hematoma, bekas luka
episotomi/robekan, heacting).
Keadaan anus (ada/tidak hemoroid) (Ambarwati dan Wulandari,
2010; h. 78, 140-141).
2) Tinjauan kasus
Vulva berwarna merah muda, perineum terdapat luka jahitan,
pengeluaran pervaginam lochea rubra, dan pada anus tidak ada
hemoroid.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan
kasus karena ibu dalam postpartum 3 hari dan lokhea ibu lokhea
rubra berwarna merah yang berisi darah. Lokhea rubra pada hari
pertama sampai hari ke 4.
115
4.2 Interpretasi Data
a. Tinjauan teori
Mengidentifikasi diagnose kebidanan dan masalah berdasarkan intepretasi
yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data
yang telah dikumpulkan diintepretasikan menjadi diagnose kebidanan dan
masalah. Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat
diselesaikan seperti diagnose tetapi membutuhkan penanganan yang
dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering
berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasikan oleh bidan.
(3) Diagnosa Kebidanan
Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para, abortus, anak
hidup, umur ibu, dan keadaan nifas.
(4) Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141).
b. Tinjauan kasus
Diagnosa: Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari post partum post partum
dengan puting susu lecet.
Masalah: putting susu lecet pada bagian kanan
Kebutuhan: perawatan payudara dan tehnik menyusui
116
c. Pembahasan
Pada kasus ini, tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori karena
diagnosa yang ditegakkan pada Ny. M dilakukan berdasarkan identifikasi
yang benar.
4.3 Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial
a. Tinjauan teori
Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnose potensial
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose, hal ini membutuhkan
antisipasi, pencegahan. Bila memungkinkan menunggu mengamati dan
bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h. 142).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini Ny M mengalami putting susu lecet dan belum mengerti
tentang perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang benar. Jika putting
susu tidak segera ditangani maka akan terjadi masalah menyusui yaitu
bendungan ASI.
c. Pembahasan
Dalam kasus ini ada data yang menunjang perlunya antisipasi masalah
potensial karena ibu kurang mengetahui tekhnik menyusui yang benar
117
sehingga menyebabkan perlunya diagnose masalah potensial yang akan
terjadi pada ibu.
4.4 Tindakan segera dan kolaborasi
a. Tinjauan teori
Langkah ini memerlukan kesinambungan dari menejemen kebidanan.
Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan
anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan
Wulandari, 2010; h.143).
b. Tinjauan kasus
Pada kasus Ny. M tidak dilakukan tindakan segera.
c. Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena
mengajari tehnik menyusui adalah langkah awal untuk mengatasi putting
susu ibu yang lecet.
4.5 Perencanaan
a. Tinjauan teori
Berdasarkan diagnosis yang didapat, bidan dapat merencanakan asuhan
pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya (pengkajian data dan perumusan
diagnosis (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 88).
118
1. Memberitahu ibu cara perawatan putting susu lecet:
s. Cari penyebab putting susu lecet
t. Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan
dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri
atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang
lecetnya sedikit
u. Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan
sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan
payudara
v. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam)
w. Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam
x. Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan sabun
y. Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang
payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara
z. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan
kering
aa.Pergunakan bra yang menyangga
119
b. Tinjauan kasus
Rencana asuhan yang diberikan terhadap Ny M adalah
Pada tanggal 7 april 2015
1. Beritahu kepada ibu tentang keadaannya
2. Cari tahu penyebab terjadinya putting susu lecet
3. Beritahu kepada ibu tentang keluhan yang dialami.
4. Beritahu ibu tentang perawatan puting susu lecet
5. Beritahu dan ajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui yang benar
6. Beritahu ibu tanda-tanda infeksi
7. Pastikan involusi uteri ibu berjalan normal
8. Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi
9. Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat
10. Jelaskan kepada ibu jadwal kunjungan ulang
Pada tanggal 10 april 2015
1. Beritahu ibu tentang keadaanya saat ini
2. Kaji ulang tentang keluhannya yang dialami
3. Kaji ulang kepada ibu tentang perawatan puting susu lecet
4. Kaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakukan tekhnik
menyusui dengan benar.
5. Kaji ulang apakah ibu mengalami tanda infeksi
6. Kaji ulang involusi uteri ibu
120
7. Kaji ulang tentang kebutuhan
8. Kaji ulang tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu nifas dan ibu
menyusui
9. Kaji ulang tentang kebutuhan istirahat
10.Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang
Pada tanggal 13 april 2015
1. Beritahu ibu tentang keadaannya saat ini
2. Evalusi ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui dengan benar
3. Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang ke tenaga kesehatan
c. Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena
rencana asuhan yang diberikan sesuai dengan diagnose yang ditegakkan,
dimana menurut teori bahwa puting susu lecet dapat diakibatkan oleh
teknik menyusui yang salah, sehingga rencana yang dibuat adalah
melakukan penanganan pada puting susu lecet dan mengajarkan teknik
menyusui.
4.6 Pelaksanaan
a. Tinjauan teori
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien
ini dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara
efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 145).
121
Pada tanggal 7 april 2015
1. Memberitahu ibu tentang keadaannya saat ini
2. Mencari tahu penyebab putting susu lecet:
- Tehnik menyusui yang kurang benar
- Putting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, atau zat iritan
lainnya saat ibu membersihkan putting susu
- Moniliasis pada mulut bayi menular pada putting susu ibu
- Bayi dengan lidah pendek
3. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dialaminya yaitu puting susu
mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-celah. Puting susu lecet ini
sering terjadi pada minggu pertama setelah bayi lahir, yang dapat
disebabkan karena kesalahan dalam tehnik menyusui, yaitu bayi hanya
menyusu pada putting susu saja tidak sampai areola.
4. Memberitahu kepada ibu cara melakukan perawatan putting susu lecet
yaitu :
a) Cari penyebab putting susu lecet
b) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan
dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri
atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang
lecetnya sedikit
122
c) Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak
menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat
membersihkan payudara
d) Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam)
e) Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam
f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan sabun
g) Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang
payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara
h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan
biarkan kering
i) Pergunakan bra yang menyangga
5. Memberitahu dan ajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui yang
benar, yaitu :
a) Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan
oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai
b) Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat
tidur/kursi ibu harus merasa rileks
c) Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala
dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap
123
kepayudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi
harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu.
Bayi seharusnya berabring miring dengan seluruh tubuh nya
menghadap ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak
melengkung kebelakang/menyamping, telinga, bahu, dan panggul
bayi berada dalam satu garis lurus.
d) Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan
mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak
mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara
ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan dan bayi tidak
merenggangkan lehernya utuk mencari putting susu ibu.
e) Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga
bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi keputting
susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut.
Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara
meletakkan empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas
payudara. Ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf “C”. semua
jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan areola.
f) Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi.
Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas
payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar.
124
g) Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh
tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh
bayi harus lurus, hadapkan badan bayi kebadan ibu, menyentuh
bibir bayi keputting susu nya dan menunggu mulut bayi terbuka
lebar.
h) Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari
mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking diantara mulut
dan payudara.
i) Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi dipundak atau
menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk
punggung bayi.
6. Memberitahu ibu tanda-tanda infeksi
Memberitahu ibu untuk segera ke petugas kesehatan jika terdapat tanda-
tanda infeksi pada payudara yaitu: bengkak payudara disertai demam
tinggi, keluar nanah dibagian putting susu.
7. Memastikan involusi uterus ibu berjalan dengan normal.
Memastikan involusi uterus ibu berjalan normal dengan meraba uterus
teraba keras, TFU 3 jari di bawah pusat, pengeluaran lokea rubra
barwarna merah segar.
8. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi
- Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi
baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85kal diperlukan oleh ibu
125
untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira
640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan
kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus
mengkonsumsi 2300-2700 kal ketika menyusui.
- Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe,
tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan
penggantian sel-sel yang rusak dan mati.
- Asupan cairan yang di anjurkan mengkonsumsi 2-3 liter per hari dalam
bentuk air putih, susu dan jus buah.
- Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40
hari pascapersalinan.
9. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup.
Istirahat sangat diperlukan bagi ibu dimasa nifas agar pengembalian
fungsi organ-organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami
beberapa perubahan baik anatomi maupun fungsinya. Tidur malam hari
selama 7-8 jam, siang 1-2 jam.
10.Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang.
Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 10 april 2015.
b. Tinjauan kasus
1. Menjelaskan kepada ibu tentang keadaannya
Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaannya yang dilakukan secara
head to toe.keadaan umum baik,
126
TD : 120/70 mmhgN:80x/mS:37,50
cRR:20x/i,
Payudara : simetris kanan dan kiri, putting susu tampak lecet bagian
kanan, Pengeluaran: ada, kolustrum, TFU: 3 jari dibawah pusat,
Kontraksi : baik, Lokhea rubra, terdapat bekas jahitan perineum.
2. Mencari tahu penyebab putting susu lecet:
- Tehnik menyusui yang kurang benar
- Putting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, atau zat iritan lainnya
saat ibu membersihkan putting susu
- Moniliasis pada mulut bayi menular pada putting susu ibu
- Bayi dengan lidah pendek
3. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dialaminya yaitu puting susu
mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-celah. Puting susu lecet ini
sering terjadi pada minggu pertama setelah bayi lahir, penyebab
putting susu lecet yang dialami ibu adalah tehnik menyusui yang
kurang benar bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai
areola.
4. Memberitahu kepada ibu cara melakukan perawatan putting susu lecet
yaitu :
a) Cari penyebab putting susu lecet
b) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan
dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri
127
atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang
lecetnya sedikit
c) Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak
menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat
membersihkan payudara
d) Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam)
e) Putting susu yang sakit dapat diistirahsatkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam
waktu sekitar 2x24 jam
f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan sabun
g) Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang
payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara
h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan
biarkan kering
i) Pergunakan bra yang menyangga
5. Memberitahu dan mengajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui
yang benar, yaitu :
a) Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan
disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai
b) Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat
tidur/kursi ibu harus merasa rileks
128
c) Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala
dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap ke
payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus
sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu. Bayi
seharusnya berabring miring dengan seluruh tubuh nya menghadap
ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung
kebelakang/menyamping, telinga, bahu, dan panggul bayi berada
dalam satu garis lurus.
d) Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan
mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak
mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu.
Ibu tidak harus mencondongkan badan dan bayi tidak merenggangkan
lehernya utuk mencari putting susu ibu.
e) Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga bayi
terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi keputting susu ibu
hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. Ibu
memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakkan
empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas payudara. Ibu jari dan
telunjuk harus membentuk huruf “C”. semua jari ibu tidak boleh
terlalu dekat dengan areola.
129
f) Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi.
Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas
payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar.
g) Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh
bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi
harus lurus, hadapkan badan bayi kebadan ibu, menyentuh bibir bayi
keputting susu nya dan menunggu mulut bayi terbuka lebar.
h) Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari mulut
bayi dengan cara memasukan jari kelingking diantara mulut dan
payudara.
i) Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi dipundak atau
menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung
bayi.
6. Memberitahu ibu tanda-tanda infeksi
Memberitahu ibu untuk segera ke petugas kesehatan jika terdapat tanda-
tanda infeksi pada payudara yaitu: bengkak payudara disertai demam
tinggi, keluar nanah dibagian putting susu.
7. Memastikan involusi uterus ibu berjalan dengan normal.
Memastikan involusi uterus ibu berjalan normal dengan meraba uterus
teraba keras, TFU 3 jari di bawah pusat, pengeluaran lokea rubra
barwarna merah segar.
130
8. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi
a) Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi
baik adalah 70 kal/100ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu
untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira
640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan
kedua untuk mengahsilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus
mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui.
b) Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe,
tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan
penggantian sel-sel yang rusak dan mati.
c) Asupan cairan yang di anjurkan mengkonsumsi 2-3 liter per hari dalam
bentuk air putih, susu dan jus buah.
d) Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40
hari pascapersalinan.
9. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup yaitu
tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 7-8 jam dalam sehari karena istirahat
sangat diperlukan bagi ibu di masa nifas agar pengembalian fungsi organ-
organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami beberapa
perubahan baik anatomi maupun fungsinya.
10. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang.
131
Pada tanggal 10 april 2015
1) Memberitahukan pada ibu tentang keadannya saat ini
2) Mengkaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu dan penyebabnya
3) Mengkaji ulang ibu tentang perawatan putting susu lecet
4) Mengkaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakukan tekhnik
menyusui dengan benar
5) Mengkaji ulang apakah ibu mengalami tanda infeksi
6) Mengkaji ulang involusi uterus ibu TFU pertengahan pusat simpisis
7) Mengkaji ulang tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu nifas dan
ibu menyusui
8) Mengkaji ulang tentang kebutuhan istirahat
9) Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 13 april 2015
Pada tanggal 13 april 2015
1) Memberitahu ibu tentang keadaannya saat ini
2) Mengevaluasi ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar
3) Memberitahu ibu jadwal kunjungan ke tenaga kesehatan pada tanggal 21
April 2015
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, penulis
melakukan tindakan sesuai dengan rencana asuhan yang telah diberikan
terhadap Ny. M.
132
4.7 Evaluasi
a. Tinjauan teori
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi
kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan
yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali
asuhan yang belum terlaksana (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 125).
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini hasil evaluasi yang telah dilakukan adalah:
Pada tanggal 7 april 2015
1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini yaitu keadaan ibu dalam
batas normal, kontraksi baik dan terdapat luka pada puting susu kanan.
2. Penyebab putting susu lecet yang dialami ibu adalah tehnik menyusui
yang kurang benar bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak
sampai areola.
3. Ibu mengetahui penyabab keluhannya karena tehnik menyusui yang
tidak benar
4. Ibu mengetahui cara perawatan puting susu lecet
5. Ibu mengetahui tehnik menyusui yang benar
6. Ibu bersedia datang ke tenaga kesehatan bila mengalami tanda-tanda
infeksi
7. Involusi uterus ibu berjalan normal
133
8. Ibu telah mengetahui tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh
ibu nifas dan menyusui
9. Ibu mengetahui tentang kebutuhan istirahat yang cukup
10. Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang
Pada tanggal 10 april 2015
1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan
sehat dan TFU berjalan dengan normal, luka perineum sudah mulai
mengering dan tampak lecet pada putting susu sebelah kanan mulai
mengering.
2. Ibu mengetahui penyabab keluhan yang dialaminya.
3. Ibu dapat melakukan perawatan puting susu lecet pagi dan sore hari dan
lecet berkurang pada puting sebelah kanan.
4. Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik menyusui yang
benar, yaitu dengan tanda-tanda :
a. Bayi tampak tenang
b. Mulut bayi terbuka lebar
c. Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
d. Namun masih terasa nyeri pada bagian putting susu sebelah kanan,
karna saat menyusui ibu masih hanya memasukan bagian putting
susu saja ke dalam mulut bayi tidak sampai areola.
5. Ibu mengatakan bahwa ia tidak mengalami tanda infeksi payudaranya
tidak bengkak, keluar nanah dan demam.
134
6. Ibu mengatakan pengeluaran darah kemaluannya berwarna merah
kekuningan.
7. Ibu telah mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi yang
seimbang seperti karbohidrat, protein dan mineral.
8. Ibu mengatakan telah istirahat cukup pada malam hari 7-8 jam/hari,
siang 1-2 jam/hari.
9. Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang.
Pada tanggal 13 april 2015
1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan
sehat dan TFU pertengahan pusat simpisis, dan putting susu normal dan
tidak ada tanda-tanda infeksi.
2. Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik menyusui yang
benar, yaitu dengan tanda-tanda :
a) Bayi tampak tenang
b) Mulut bayi terbuka lebar
c) Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola lebih banyak
yang masuk
d) Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan
e) Puting susu tidak terasa nyeri.
3. Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 21 April 2015.
135
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus diatas Ny M diberikan asuhan perawatan
putting susu lecet dan tekhnik menyusui yang baik dan benar.
Perkembangan kondisi Ny M dipantau selama 7 hari, di rumah Ny M Jl.
Kancil No.18 Kedaton Bandar lampung. Setelah dilakukan perawatan
selama 6 hari, asuhan yang diberikan pada Ny M dianggap berhasil, pada
tanggal 13 april 2015 ibu telah menyusui dengan tekhnik yang benar dan
putting susu lecet dapat teratasi.
136
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas yaitu Ny M umur 27
tahun P2A0 3 hari postpartum dengan putting susu lecet di BPS Martini,
Amd..Keb Bandar Lampung tahun 2015.
Maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
5.1.1 Penulis mampu melakukan pengumpulan data dasar terhadap Ny M umur
27 tahun P2A0 3 hari postpartum dengan puting susu lecet di BPS
Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. Pengkajian data
dilakukan menggunakan manajemen varney dengan data subjektif ibu
mengatakan nyeri pada putting susu sebelah kanan dan data obyektif
putting terlihat lecet terjadi retak.
5.1.2 Penulis mampu melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil
pengumpulan data terhadap Ny M umur 27 tahun hari postpartum dengan
puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015.
5.1.3 Penulis mampu melakukan diagnose potensial seperti bendungan ASI,
karena masalah Ny. M yaitu tidak tahu bagaimana tekhnik menyusui
yang baik dan benar sehingga menyebabkan putting susu ibu lecet.
5.1.4 Penulis mampu melakukan antisipasi sebagaimana dalam teori yaitu
melakukan perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang baik dan
137
benar sehingga apabila tidak menyusui yang benar maka akan
kemungkinan terjadi komplikasi bendungan ASI pada payudara.
5.1.5 Penulis mampu memberikan rencana asuhan kebidanan pada Ny M umur
27 tahun P2A0 3 hari postpartum sesuai dengan tindakan yang diberikan
yaitu dengan mengajarkan ibu bagaimana tekhnik menyusui yang baik
dan benar.
5.1.6 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan sesuai yang telah
direncanakan dengan hasil Ny M telah menyusui dengan tekhnik yang
benar dan putting susu lecet dapat teratasi.
5.1.7 Penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny M dengan perawatan
payudara dan tekhnik menyusui yang baik dan benar, dan ibu dalam
keadaan baik.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan saran
sebagai berikut :
5.2.1 Bagi Akademik
Dengan telah disusunnya karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat
meningkatkan keefektifan dalam belajar, pengetahuan, kemampuan dan
keterampilan mahasiswa dalam menerapkan atau mengaplikasikan study
yang telah didapat, serta untuk melengkapi sumber-sumber buku
kepustakaan sebagai bahan informasi dan referensi yang penting dalam
138
mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah bagi mahasiswa semester
akhir.
5.2.2 Bagi Lahan Praktik
Diharapkan pihak bidan praktik swasta dapat meningkatkan mutu
pelayanan secara kompherensif berdasarkan kewenangan dalam
memberikan pelayanan pada ibu nifas dengan putting susu lecet.
5.2.3 Bagi Pasien
Diharapkan lebih memperhatikan bagaimana cara menyusui yang baik
dan benar sehingga tidak menyebabkan putting susu lecet. Dan ibu dapat
secara langsung mengatasi masalah yang terjadi pada masa nifas.
5.2.4 Bagi Penulis
Sebaiknya setiap mahasiswa (penulis) dapat terus menerapkan
manajemen dan asuhan kebidanan yang telah dimiliki serta terus
mengikuti kemajuan dan perkembangan dalam dunia kesehatan
khususnya dalam dunia kebidanan.
139
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Eny Retna dan Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas.
Jogyakarta :Nuha Medika
Bahiyatun. 2013. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
Dewi, Vivian dan Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta :
Salemba Medika
Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Pospartum). Jakarta :
Trans Info Medika
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
Rukiyah et. all, 2011. Asuhan Kebidanan III Nifas. Jakarta : Trans Info Media
Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika
Soepardan, Suryani, 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta :
Salemba Medika

Kti lilis anggraini

  • 1.
    1 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU NIFAS TERHADAP NY. M UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN PUTTING SUSU LECET DI BPS MARTINI, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH DISUSUN OLEH NAMA : LILIS ANGGRAINI NIM : 2012 07 031 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 i
  • 2.
    2 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU NIFAS TERHADAP NY. M UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN PUTTING SUSU LECET DI BPS MARTINI, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 KARYA TULIS ILMIAH Karya Tulis Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Profesi Ahli Madya Kebidanan Pada Prodi DIII Kebidanan Akbid Adila Bandar Lampung DISUSUN OLEH NAMA : LILIS ANGGRAINI NIM : 2012 07 031 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 ii
  • 3.
    3 LEMBAR PENGESAHAN Diterima dandisahkan oleh Tim Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan ADILA Pada : Hari : Selasa Tanggal : 7 Juli 2015 Penguji I, Penguji II, Meriyana Cevestin, SKM, MM Ervina Irawati H., S.ST NIK. 2011041003 NIK. 2009111020 Direktur Akademi Kebidanan ADILA Bandar Lampung dr.Wazni Adila, MPH NIK.2011041008 iii
  • 4.
    4 ASUHAN KEBIDANAN PADAIBU NIFAS TERHADAP NY.M UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN PUTING SUSU LECET DI BPS MARTINI, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 Lilis Anggraini, Meriyana Cevestin, SKM,MM, Ervina Irawati Harianja,S.ST INTISARI Masa nifas (peurperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan makanan terbaik untuk bayi. Penulis melakukan survey di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung pada tanggal 07 April 2015, terdapat ibu nifas 3 hari postpartum dengan putting susu lecet, berdasarkan asuhan kebidanan pada ibu nifas serta besarnya peran bidan dalam pemberian asuhan kebidanan pada ibu nifas, sehingga penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny.M P2A0 3 Hari Postpartum Dengan Putting Susu Lecet Di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015”. Tujuan dilakukannya penelitian adalah diharapkan penulis mampu memberikan asuhan kebidanan sesuai dengan manajemen kebidanan varney. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan tehnik memperoleh data, yaitu ibu nifas dengan asuhan yang diberikan di BPS Martini, Amd.Keb. Setelah diaplikasikan manajemen varney diatas, diharapkan untuk kedepannya melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas yang lebih baik lagi. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah penulis mampu memberikan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny M Umur 27 Tahun P2A0 3 Hari Postpartum Dengan Putting Susu Lecet Di BPS Martini, Amd.Keb. Bandar Lampung Tahun 2015 dengan tujuh langkah varney. Kata kunci : Ibu Nifas, Putting Susu Lecet Perpustakaan : 2008-2013 iv
  • 5.
    5 CURRICULUM VITAE Nama :Lilis Anggraini NIM : 201207031 TTL : Bandaragung, 17 Mei 1993 Agama : Islam Alamat : Kahuripan Jaya, RT/RW 001/005 Kel/Desa Kahuripan Jaya, Kec.Banjar Baru, Kab.Tulang Bawang Angkatan : VII (Tujuh) Riwayat pendidikan SDN 1 Bandaragung Lampung Timur Tahun 1999-2005 SMP Paguyuban Bandar Sribhawono Lampung Timur Tahun 2005-2008 SMAN 1 Banjar Pagar Dewa Tulang Bawang Tahun 2009-2012 Dan sekarang Penulis terdaftar sebagai Mahasiswa di Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Sejak Tahun 2012 Hingga Sekarang v
  • 6.
    6 motto “tiAdAnyA keyAkinAnLAh yAngmembuAt orAng tAkut menghAdApi tAntAngAn” LiLis AnggrAini ***************** vi
  • 7.
    7 PERSEMBAHAN Puji syukur penulispanjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Study Kasus ini, dan dibalik penyelesaian tugas ini tidak lupa penulis memberikan persembahan kepada orang-orang yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. 1. Terima kasih buat Ayah dan ibu tercinta yang selalu memberikan semangat dan Do’a setiap kegiatan apapun yang terbaik bagi penulis serta selalu mengharapkan setiap keberhasilan yang penulis lakukan. 2. Kakak dan adik-adikku tercinta yang selalu memberikan semangat kepada penulis. 3. Teman-temanku tercinta seperjuangan yang tidak bisa penulis sebutkan satu- persatu terima kasih atas kebersamaan kita selama ini, memberikan motivasi kepada penulis serta selalu sabar menghadapi sikap penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini dan susah senang kita bersama. 4. Almamaterku tercinta Akademi kebidanan ADILA Bandar Lampung sebagai tempat penulis menuntut ilmu selama tiga tahun. 5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas partisipasi dan dukunganya selama penulis menyelesaikan tugas akhir Diploma Kebidanan ini. vii
  • 8.
    8 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat TuhanYang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan study kasus yang berjudul : Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny.M Umur 27 Tahun P2A0 3 Hari Postpartum Dengan puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015”. Dalam penulisan study kasus ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr.Wasni Adila MPH, selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung 2. Ibu Adhesty Novita Xanda, S.ST.M.Kes selaku pembimbing satu dan Ibu Eka Ayu Septiana, S.ST selaku pembimbing dua 3. Seluruh staf Akademi Kebidanan Adila yang selama ini memberikan ilmu dan semoga bermanfaat 4. Bidan Martini, Amd.Keb selaku lahan penyusunan study kasus ini 5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan study kasus ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari dalam penyusunan study kasus ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Bandar Lampung, 2015 Penulis. viii
  • 9.
    9 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL............................................................................. i LEMBAR PENGESAHAN .................................................................. ii INTISARI…………………………………………………………….. iii CURICULUM VITAE.......................................................................... iv MOTTO ................................................................................................. v PERSEMBAHAN…………………………………………………….. vi KATA PENGANTAR........................................................................... vii DAFTAR ISI.......................................................................................... viii DAFTAR TABEL………………………………………………… ..... ix DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. x DAFTAR GAMBAR............................................................................. xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah....................................................................... 2 1.3 Tujuan ......................................................................................... 3 1.4 Ruang Lingkup............................................................................ 4 1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................... 5 1.6 Metodelogi Dan Tehnik Memperoleh Data ............................... 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori Medis.................................................................. 8 2.2 Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan ............................................. 58 2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan........................................ 69 BAB III TINJAUAN KASUS 3.1. Pengkajian............................................................................ ....... 70 3.2 .Matrik.......................................................................................... 79 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengkajian................................................................................... 100 4.2 Interpretasi Data Dasar................................................................ 121 4.3 Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial................................... 122 4.4 Tindakan Segera.......................................................................... 122 4.5 Perencanaan................................................................................. 124 4.6 Pelaksanaan................................................................................. 127 4.7 Evaluasi....................................................................................... 138 ix
  • 10.
    10 BAB V PENUTUP 5.1Kesimpulan ................................................................................. 142 5.2 Saran ........................................................................................... 143 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN x
  • 11.
    11 DAFTAR TABEL Tabel 2.2Involusi uterus.................................................................................. 33 Tabel 3.1 Matriks. ............................................................................................ 79 xi xi
  • 12.
    12 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN I: Surat izin penelitian LAMPIRAN II : Jadwal penelitian LAMPIRAN III : SAP LAMPIRAN IV : Leaflet LAMPIRAN V : Dokumentasi LAMPIRAN VI : Lembar konsul penguji xii
  • 13.
    13 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1Anatomi Payudara........................................................................ 18 xiii
  • 14.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Masa nifas merupakan hal penting untuk diperhatikan guna menurunkan angka kematian ibu dan bayi di indonesia. Dari berbagai pengalaman dalam menanggulangi kematian ibu dan bayi dibanyak Negara, para pakar kesehatan menganjurkan upaya pertolongan difokuskan pada periode intrapartum (Saleha, 2009; h. 2). ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan makanan terbaik untuk bayi. Selain memenuhi segala kebutuhan baik gizi, imunologi, atau lainnya-pemberian ASI memberi kesempatan bagi ibu mencurahkan cinta kasih serta perlindungan kepada anaknya. Fungsi ini tidak mungkin dapat dialihkan kepada ayah/suami dan merupakan suatu kelebihan kaum wanita. ASI eksklusif diberikan sejak umur 0 sampai 6 bulan (Bahiyatun, 2013; h. 29). Pada keadaan ini, seorang ibu sering menghentikan proses menyusui karena putingnya sakit. Dalam hal ini, yang perlu dilakukan oleh ibu adalah mengecek bagaimana perlekatan ibu dan bayi, serta mengecek apakah terdapat infeksi candida (dimulut bayi) (Sulistyawati, 2009; h. 32).
  • 15.
    2 Puting susu lecetdapat disebabkan oleh trauma saat menyusui. Selain itu, dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah. Retakan pada putting susu dapat sembuh sendiri dalam waktu 48 jam. Beberapa penyebab putting susu lecet adalah sebagai berikut: teknik menyusui yang tidak benar, putting susu yang terpapar oleh sabun, krim, alkohol, ataupun zat iritan lain saat ibu membersihkan putting susu, moniliasis pada mulut bayi yang menular pada putting susu ibu, bayi dengan lidah pendek (frenulum lingue), cara menghentikan menyusui yang kurang tepat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39). Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015”. 1.1 Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka di identifikasi rumusan study kasus ini sebagai berikut “Bagaimanakah Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar LampungTahun 2015?
  • 16.
    3 1.2 Tujuan penelitian 1.2.1Tujuan umum Penulis mampu memberikan Asuhan Kebidanan pada ibu nifas Terhadap Ny M usia 27 tahun P2A03 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015. 1.2.2 Tujuan khusus 1.2.2.1 Diharapkan penulis mampu melakukan pengkajian data pada ibu nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung Tahun 2015. 1.2.2.2 Diharapkan penulis mampu melakukan interpretasi data dasar pada Asuhan Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 1.2.2.3 Diharapkan penulis mampu menentukan diagnosa atau masalah potensial terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 1.2.2.4 Diharapkan penlis mampu antisipasi masalah potensial Asuhan Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet diBPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015.
  • 17.
    4 1.2.2.5 Diharapkan penulismampu menentukan rencana tindakan terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 1.2.2.6 Diharapkan penulis mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan pada nifas khususnya Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 1.2.2.7 Diharapkan penulis mampu mengevaluasi Asuhan Kebidanan yang telah dilakukan terhadap Ny M usia 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet diBPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 1.3 Ruang lingkup penelitian 1.3.1 Sasaran Obyek penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah ibu nifas terhadap Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet. 1.3.2 Tempat Dilaksanakan di rumah pasien 1.3.3 Waktu Pada tanggal 7- 13April tahun 2015.
  • 18.
    5 1.4 Manfaat penelitian 1.4.1Bagi institusi pendidikan Dapat menambah bahan bacaan dan memberikan informasi pada peneliti- peneliti selanjutnya terutama yang berhubungan dengan masalah pada ibu nifas. 1.5.2 Bagi lahan praktek Sebagai bahan masukan bagi tempat penelitian untuk dapat mengoptimalkan system penyuluhan tentang penyebab terjadinya putting lecet akibat dari tekhnik menyusui yang tidak benar. 1.5.3 Bagi pasien Diharapkan dengan dilakukan penelitian tersebut ibu menyusui yang mempunyai bayi mengetahui bahwa menyusui bayinya dengan tekhnik menyusui yang benar sangat dianjurkan karena untuk mencegah terjadinya masalah-masalah pada saat menyusui. 1.5.4 Bagi penulis Memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman dengan dilakukannya penelitian dan sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah didapat.
  • 19.
    6 1.6 Metode penelitiandan tekhnik pengumpulan data Metode yang digunakan dalam penulisan study kasus ini adalah: 1.6.4 Metode penelitian Dalam penulisan study kasus ini, menggunakan metode penelitian deskriptif.Metode penulisan deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.Metode penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan atau memotret masalah kesehatan serta yang terkait dengan kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang tinggal dalam komunitas tertentu (Notoatmodjo, 2012; h. 35-37). 1.6.5 Teknik memperoleh data Untuk memperoleh data tehnik yang digunakan sebagai berikut: 1.6.2.1 Data primer 1. Wawancara Wawancara adalah suatu metode yang pergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan muka dengan orang tersebut (face to face) (Notoatmodjo, 2005; h. 102).
  • 20.
    7 2. Pengkajian Fisik Pemeriksaanfisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi: a. Pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi). b. Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru serta catatan sebelumnya) (Soepardan, 2007; h. 98).
  • 21.
    8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1Tinjauan Teori Medis 2.1.1 Masa Nifas 2.1.1.1 Pengertian Masa Nifas Masa nifas (peurperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama masa nifas ini, yaitu 6-8 minggu (Bahiyatun, 2013; h. 2). Masa nifas (peurperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau peurperium di mulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. 2.1.1.2 Tujuan asuhan masa nifas a) Mendeteksi adanya perdarahan pada masa nifas. Tujuan perawatan masa nifas adalah untuk menghindarkan/ mendeteksi adanya kemungkinan adanya perdarahan post partum dan infeksi. Oleh karna itu, penolong sebaikanya tetap waspada,
  • 22.
    9 sekurang-kurangnya satu jampostpartum untuk mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan. Umumnya wanita sangat lemah setelah melahirkan, terlebih bila partus berlangsung lama. b) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologis harus di berikan oleh penolong persalinan. Ibu di anjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh. Bidan mengajarkan kepada ibu bersalin bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang dan baru membersihkan daerah sekitar anus. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episitomi atau laserasi sarankan ibu untuk menghindari/ tidak menyentuh daerah luka. c) Melaksanakan skrining secara komprehensif. Melaksanakan skrining yang komprehensif dengan mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Pada hal ini seorang bidan bertugas untuk melakukan pengawasan kala IV yang meliputi pemeriksaan plasenta, pengawasan TFU, pengawasan PPV, pengawasan konsistensi
  • 23.
    10 rahim, dan pengawasankeadaan umum ibu. Bila di temukan permasalahan, maka harus segera melakukan tindakan sesuai dengan standar pelayanan pada penatalaksanaan masa nifas. d) Memberikan pendidikan kesehatan diri. Memberikan pelayanan kesehatan tentang perawatan diri, nutrisi KB, menyusui, pemberian imunisai kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat. Ibu-ibu post partum harus di berikan pendidikan mengenai pentingnya gizi antara lain kebutuhan gizi ibu menyusui, yaitu sebagai berikut. (1) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. (2) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup. (3) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum sebelum menyusui). e) Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan payudara, yaitu sebagai berikut. (1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering (2) Menggunakan bra yang menyokong payudara (3) Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap di lakukan melalui dari putting susu yang tidak lecet.
  • 24.
    11 (4) Lakukan pengompresanapabila bengkak dan terjadi bendungan ASI. f) Konseling mengenai KB. Bidan memberikan konseling mengenai KB, antara lain sebagai berikut. 1. Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. 2. Biasanya wanita akan menghasilkan ovulasi sebelum ia mendapatkan lagi haidnya setelah persalnan. Oleh karena itu, penggunaan KB dibutuhkan sebelum haid pertama untuk mencegah kehamilan baru. Pada umumnya metode KB dapat dimulai 2 minggu setelah persalinan. 3. Sebelum menggunakan KB sebaiknya dijelaskan efektifitasnya, efek samping, untung ruginya, serta kapan metode tersebut dapat digunakan. 4. Jika ibu dan pasangan telah memilih metode KB tertentu, dalam 2 minggu ibu dianjurkan untuk kembali. Hal ini untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.
  • 25.
    12 2.1.1.3 Peran dantanggung jawab bidan dalam masa Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu termasuk kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas tejadi dalam 24 jam. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan pemantauan mencegah beberapa kematian ini. Peran bidan antara lain sebagai berikut. 1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. 2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayinya, serta keluarga. 3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman. 4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan administrasi. 5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan. 6. Memberikan konseling untuk ibu dan kelurganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenai tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktikan kebersihan yang aman.
  • 26.
    13 7. Melakukan menajemenasuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, serta mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas. 8. Memberikan asuhan secara professional (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 1-4). 2.1.1.4 Tahapan Masa Nifas Masa nifas seperti yang dijelaskan diatas merupakan rangkaian setelah proses persalinan dilalui oleh seorang wanita, beberapa tahapan masa nifas yang harus dipahami oleh seorang bidan antara lain: a) Peurperium dini Yaitu pemulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. b) Peurperium intermedial Yaitu pemulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6- 8 minggu.
  • 27.
    14 c) Remote peurperium Adalahwaktu yang di perlukan untuk pulih dan sehat terutama bila selama hamil atau bersalin memiliki komplikasi (Rukiyah et. all, 2011, h. 5). 2.1.1.5 Kebijakan program nasional masa nifas Pada kebijakan program nasional masa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan dilakukan. Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi lahir serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah- masalah yang terjadi antara lain sebagai berikut. 1) 6-8 jam setelah persalinan a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain pendarahan, rujuk bila pendarahan berlanjut. c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah pendarahan masa nifas karena atonia uteri. d) Pemberian ASI awal e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Catatan: jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam
  • 28.
    15 pertama setelah kelahiranatau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil. 2) 6 hari setelah persalinan a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundusdi bawahumbilicus, tidak ada pendarahan abnormal, dan tidak ada bau. b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan pendarahan abnormal. c) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat. d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. e) Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. 3) 2 minggu setelah persalinan Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur dan meraba bagian rahim. 4) 6 minggu setelah persalinan a) Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami. b) Memberikan konseling untuk KB secara dini.
  • 29.
    16 2.1.2 Proses laktasidan menyusui 2.1.2.1 Anatomi payudara Payudara yang matang adalah salah satu tanda kelamin sekunder dari seorang gadis dan merupakan salah satu organ yang indah dan menarik. Lebih dari itu, untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya, maka organ ini menjadi sumber utama dari kehidupankarena Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan bayi yang paling penting terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan. Payudara (mammae) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit, diatas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram, dan saat menyusui 800 gram. Payudara disebut pula glandula mamalia yang ada baik pada wanita maupun pria. Pada pria secara normal tidak berkembang, kecuali jika dirangsang dengan hormon. Pada wanita terus berkembang pada pubertas, sedangkan selama kehamilan terutama berkembang pada masa menyusui. 1) Letak: setiap payudara terletak pada sternum dan meluas setinggi costa kedua dan keenam. Payudara ini terletak pada fascia superficialis dinding rongga dada yang disangga oleh ligamentum suspensorium.
  • 30.
    17 2) Bentuk: masing-masingpayudara berbentuk tonjolan setengah bola dan mempunyai ekor (cauda) dari jaringan yang meluas ke ketiak atau aksila. 3) Ukuran: ukuran payudara berbeda pada setiap individu, juga tergantung pada stadium perkembangan dan umur. Tidak jarang salah satu payudara ukurannya agak lebih besar daripada yang lainnya. 2.1.2.2 Struktur makroskopis Struktur makroskopis dari payudara adalah sebagai berikut. a. Cauda akxillaris Adalah jaringan payudara yang meluas kearah aksila. b. Areola Adalah daerah lingkaran yang terdiri dari atas kulit yang longgar dan mengalami pigmentasi. Areola pada masing- masing payudara memiliki garis tengah kira-kira 2,5 cm. letaknya mengelilingi putting susu dan berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan dan penimbunan pigmen pada kulitnya. c. Papilla mammae (putting susu) Terletak setinggi interkosta IV, tetapi berhubung adanya variasi bentuk dan ukuran payudara, maka letaknya akan bervariasi.
  • 31.
    18 Pada tempat initerdapat, lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari duktus laktiferus, ujung-ujung serat saraf, pembuluh darah, pembuluh getah bening, serat-serat otot polos yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada kontraksi duktus laktiferus akan memadat dan menyebabkan putting susu ereksi, sedangkan serat-serat otot yang longitudinal akan menarik kembali putting susu tersebut. Bentuk putting ada 4 macam yaitu bentuk yang normal, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted). Gambar 2.1 Anatomi payudara
  • 32.
    19 2.1.2.3 Struktur mikroskopis 1.Alveoli Alveolus merupakan unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos, dan pembuluh darah. 2. Duktus laktiferus Adalah saluran sentral yang merupakan muara beberapa tubulus laktiferus. 3. Ampulla Adalah bagian dari duktus laktiferus yang melebar, merupakan tempat menyimpan air susu. Ampulla terletak dibawah areola. 4. Lanjutan setiap duktus laktiferus Meluas dari ampulla sampai muara pailla mammae (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 4-9). 2.1.2.4 Proses laktasi dan menyusui Proses ini dikenal juga dengan istilah inisiasi menyusu dini, dimana ASI baru akan keluar setelah ari-ari atau plasenta lepas. Plasenta mengandung hormone penghambat prolaktin (hormone plasenta) yang menghambat pembentukan ASI.
  • 33.
    20 2.1.2.5 Laktasi Air susuibu (ASI) merupakan nutrisi alamiah terbaik bagi bayi karena mengandung kebutuhan energy dan zat yang dibutuhkan selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Namun, ada kalanya seorang ibu mengalami masalah dalam pemberian ASI. Kendala yang utama adalah karena produksi ASI tidak lancar (Saleha, 2009; h. 11). 2.1.2.6 Fisiologi pengeluaran ASI Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks antara rangsangan mekanik, saraf, dan bermacam-macam hormon. Pengaturan hormon terdapat pengeluaran ASI, dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut. 1) Pembentukan kelenjar payudara Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari duktus yang baru, percabangan-percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum. 2) Pembentukan air susu Pada ibu yang menyusui memiliki dua reflek yang masing- masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu sebagai berikut.
  • 34.
    21 a) Reflek prolaktin Padaakhir kehamilan, hormone prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin di hambat oleh estrogen dan progesterone yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus, lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum membuat estrogen dan progesterone sangat berkurang, di tambah dengan isapan bayi yang merangsang putting susu dan kalang payudara yang akan merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini di lanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus yang akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofisis anterior sehingga keluar prolaktin. Hormone ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. b) Reflek let down Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofisis anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang di lanjutkan
  • 35.
    22 ke hipofisis posterior(neurohipofisis) yang kemudian di keluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini di angkat menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah di produksi keluar dari alveoli dan masuk ke dalam system duktus, selanjutnya mengalir melaluiduktus laktiferus masuk ke mulut bayi. Faktor-faktor yang meningkatkan reflek let down adalah sebagai berikut. a) Melihat bayi b) Mendengar suara bayi c) Mencium bayi d) Memikirkan untuk menyusui bayi 3) Pemeliharaan pengeluaran air susu Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofisis akan mengatur kadar prolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormon- hormon ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.11-13).
  • 36.
    23 2.1.2.7 Manfaat menyusui Berikutini adalah manfaat yang didapatkan dengan menyusui bagi bayi, ibu, keluarga, dan negara. 1) Manfaat bagi bayi a. Komposisi sesuai kebutuhan. b. Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan. c. ASI mengandung zat pelindung. d. Perkembangan psikomotorik lebih cepat. e. Menunjang perkembangan kognitif. f. Menunjang perkembangan penglihatan. g. Memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak. h. Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat. i. Dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri. 2) Manfaat bagi ibu a) Mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula. b) Mencegah anemia defisiensi zat besi. c) Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil. d) Menunda kesuburan. e) Menimbulkan perasaan dibutuhkan. f) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium.
  • 37.
    24 3. Manfaat bagikeluarga a) Mudah dalam proses pemberiannya. b) Mengurangi biaya rumah tangga. c) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat. 4. Manfaat bagi Negara a) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat- obatan. b) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula danperlengkapan menyusui. c) Mengurangi polusi. d) Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas (Saleha, 2009; h. 31-32). 2.1.2.8 Komposisi Gizi dalam ASI ASI adalah makanan terbaik untuk bayi.ASI khusus dibuat untuk bayi manusia.Kandungan gizi dari ASI sangat khusus dan sempurna, serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang bayi. 1) Protein Keistimewaan protein dalam ASI dapat dilihat dari rasio protein whey:kasein=60:40, dibandingkan dengan air susu sapi yang rasionya=20:80. ASI mengandung alfa-laktabumin,
  • 38.
    25 sedangkan air sususapi mengandung beta-laktoglobulin dan bovine serum albumin. ASI mengandung asam amino esensial taurin yang tinggi. Kadar metiolin dalam ASI lebih rendah daripada susu sapi, sedangkan sistin lebih tinggi. Kadar tirosindan fenilalanin pada ASI rendah. Kadar poliamin dan nukleotid yang penting untuk sintesis protein pada ASI lebih tinggi dibandingkan air susu sapi. 2) Karbohidrat ASI mengandung karbohidrat lebih tinggi dari air susu sapi (6,5-7 gram). Karbohidrat yang utama adalah laktosa. 3) Lemak Bentuk emulsi lebih sempurna. Kadar lemak tak jenuh dalam ASI 7-8 kali lebih besar dari susu sapi. Asam lemak rantai panjang berperan dalam perkembangan otak.Kolestrol yang diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf pusat dan diperkirakan juga berfungsi dalam perkembangan pembentukan enzim. 4) Mineral ASI mengandung mineral lengkap. Total mineral selama laktasi adalah konstan. Fa dan Ca paling stabil, tidak terpengaruh diet ibu. Garam organik yang terdapat dalam ASI terutama kalsium, kalium, dan natrium dari asam klorida dan fosfat. ASI memiliki
  • 39.
    26 kalsium, fosfor, sodiumpotasium, dalam tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi. Bayi yang diberi ASI tidak akan menerima pemasukan suatu muatan garam yang berlebihan sehingga tidak memerlukan air tambahan di bawah kondisi-kondisi umum. 5) Air Kira-kira 88% ASI terdiri atas air yang berguna melarutkan zat- zat yang terdapat didalamnya sekaligus juga dapat meredakan rangsangan haus dari bayi. 6) Vitamin Kandungan vitamin dalam ASI adalah lengkap, vitamin A, D, dan C cukup. Sementara itu, golongan vitamin B kecuali riboflavin dan asam penthotenik lebih kurang. a. Vitamin A: air susu manusia sudah masak (dewasa mengandung 280 IU) vitamin A dan kolustrum mengandung sejumlah dua kali itu. Susu sapi hanya mengandung 18 IU. b. Vitamin D: vitamin D larut dalam air dan lemak, terdalam air susu manusia. c. Vitamin E: kolustrum manusia kaya akan vitamin E, fungsinya adalah untuk mencegah hemolitik anemia, akan tetapi juga membantu melindungi paru-paru dan retina dari cedera akibat oxide.
  • 40.
    27 d. Vitamin K:diperlukan untuk sintesis faktor-faktor pembekuan darah, bayi yang mendapatkan ASI mendapat vitamin K lebih banyak. e. Vitamin B kompleks: semua vitamin B ada pada tingkat yang diyakini memberikan kebutuhan harian yang diperlukan. f. Vitamin C: vitamin C sangat penting dalam sintesis kolagen, ASI mengandung 43 mg/100 ml vitamin C dibandingkan dengan susu sapi. 2.1.2.9 Stadium ASI ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu sebagai berikut : 1). Kolustrum Cairan pertama yang diperoleh bayi pada ibunya adalah kolustrum, yang mengandung kaya akan protein, mineral, dan antibodi daripada ASI yang telah matang. ASI mulai ada kira- kira pada hari ke-3 atau hari ke-4.Kolustrum berubah menjadi ASI yang matang kira-kira 15 hari sesudah bayi lahir. Bila menyusui sesudah bayi lahir dan bayi sering menyusui, maka proses adanya ASI akan meningkat.
  • 41.
    28 2). ASI transisi/peralihan ASIperalihan adalah ASI yang keluar setelah kolustrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna, serta komposisinya. Kadar immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat. 3). ASI matur ASI matur disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya.ASI matur tampak berwarna putih.Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk. Foremilk lebih encer, serta mempunyai kandungan rendah lemak, tinggi laktosa, gula, protein, mineral, dan air. 2.1.2.10 Tanda bayi cukup ASI Bayi usia 0-6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai berikut. 1. Bayi minum ASI tiap 2-3jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama. 2. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.
  • 42.
    29 3. Bayiakanbuang airbesar (BAK) paling tidak 6-8x sehari. 4. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI. 5. Payudara terasa lebih lembek yang menandakan ASI telah habis. 6. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal. 7. Pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) bayi sesuai dengan grafik pertumbuhan. 8. Perkembangan motorik bayi (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan rentan usianya). 9. Bayi kelihatan puas sewaktu-waktu akan lapar akan bangun dan tidur dengan cukup. 10.Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur pulas. 2.1.3 Cara Menyusui Yang Benar 2.1.3.1 Pengertian tekhnik menyusui Pengertian tekhnik menyusui yang benar adalah cara memberikanASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar. 2.1.3.2 Posisi dan perlekatan menyusui Hal terpenting dalam posisi menyusui adalah ibu merasa nyaman dan rileks. Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara
  • 43.
    30 menyusui yang tergolongbiasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri, atau berbaring. Beberapa langkah-langkah menyusui yang benar adalah sebagai berikut. 1). Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai. 2). Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat tidur/kursi. Ibu harus merasa rileks. 3). Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu. Bayi seharusnya berbaring miring dengan seluruh tubuhnya menghadap ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung kebelakang/ menyamping, telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam satu garis lurus. 4). Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan
  • 44.
    31 dan bayi tidakmerenggangkan lehernya untuk mencari putting susu ibu. 5). Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakkan empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas payudara. Ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf “C”. Semua jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan areola. 6). Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi.Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas payudara.Bibir bawah bayi melengkung keluar. 7). Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi harus lurus, hadapkanbayi kedada ibu sehingga hidung bayi berhadapan dengan putting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyentuh bibir bayi keputting susunya dan menunggu mulut bayi terbuka lebar. 8). Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking ibu diantara mulut dan payudara.
  • 45.
    32 9). Menyendawakan bayidengan menyandarkan bayi dipundak atau menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk- nepuk punggung bayi (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 19-34). 2.1.3.3 Apabila bayi telah menyusui dengan benar, maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut. 1. Bayi tampak tenang. 2. Badan bayi menempel pada perut ibu. 3. Mulut bayi terbuka lebar. 4. Dagu bayi menempel pada payudara ibu. 5. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk. 6. Bayi nampak menghisap dengan ritme perlahan-lahan. 7. Putting susu tidak terasa nyeri. 8. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. 9. Kepala bayi tagak menengadah (Saleha, 2009; h. 37-38). 2.1.3.4 Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya tindakan menyusui bayi dilakukan setiap saat bayi membutuhkan karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena penyebab lain (BAK, kepanasan/kedinginan, atau
  • 46.
    33 sekedar ingin didekap)atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 36). 2.1.4 Perubahan fisiologi pada masa nifas 2.1.3.1 Perubahan sistem reproduksi a) Uterus Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilikus dan simpisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam dua minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Tabel 2.1 Finggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi Involusi TFU Berat uterus Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gr 1 minggu Pertengahan pusat simpisi 750 gr 2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 500 gr 6 minggu Normal 50 gr 8 minggu Normal tapi sebelum hamil 30 gr
  • 47.
    34 b) Lokia Lokia adalahcairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina selama masa nifas. Lokia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu : lokia rubra, sangulenta, dan lokia serosa atau alba. 1. Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desisdua, verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 hari pascapersalinan. Inilah lokia yang akan keluarselama dua sampai tiga hari postpartum. 2. Lokia sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah dan lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pascapersalinan. 3. Lokia serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan versi yang lebih pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai hari ke-14 pascapersalinan. Lokia alba mengandung terutama cairan serum, jaringan desidua, luekosit, dan eritrosit. 4. Lokia alba adalah lokia yang terakhir. Dimulai dari hari ke- 14 kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya.
  • 48.
    35 Bentuknya seperti cairanputih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit dan sel-sel desidua. c) Endometrium Perubahan pada endometrium adalah timbulnya trombosis, degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi plasenta. d) Serviks Segera setelah berakhirnya kala TU, serviks menjadi sangat lembek, kendur, dan terkulai. Serviks tersebut bisa melepuh dan lecet, terutama di bagian anterior. Serviks akan terlihat padat yang mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang serviks lambat laun mengecil, beberapa hari setelah persalinan diri retak karena robekan dalam persalinan. Rongga leher serviks bagian luar akan membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat empat minggu postpartum. e) Vagina Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerpurium merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali
  • 49.
    36 kembali seperti ukuranseorang nulipara. Rugae timbul kembali pada minggu ketiga. f) Payudara (mamae) Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu sebagai berikut : 1. Produksi susu 2. Sekresi susu atau let down Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormone yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitari akan mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan.Pembuluh darah payudara menjadi bengkak, terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit. 2.1.3.2 Sistem pencernaan Seorang wanita dapat merasa lapar dan siap menyantap makanannya dua jam setelah persalinan. Kalsium amat penting untukgigi pada kehamilan dan masa nifas, dimana pada masa ini
  • 50.
    37 terjadi penurunan konsentrasiion kalsium karena meningkatnya kebutuhan kalsium pada ibu, terutama pada bayi yang dikandungnya untuk proses pertumbuhan janin juga pada ibu dalam masa laktasi. Pada ibu nifas terutama yang partus lama dan terlantar mudah terjadi ileus paralitikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak adanya peristaltik usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada dalam kehamilan dan partus lama, sehingga membatasi gerak peristaltic usus, serta bisa juga karena pengaruh psikis takut BAB karena ada luka jahitan perineum. 2.1.3.3 Perubahan tanda-tanda vital Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas adalah sebagai berikut. 1) Suhu Suhu tubuh wanita inpartu tidk lebih dari 37,2 derajat Celcius. Sesudah partus dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal, namun tidak akan melebihi 8 derajat Celcius. Sesudah 2 jam pertama melahirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 derajat Celcius, mungkin terjadi infeksi pada klien.
  • 51.
    38 2) Nadi danpernafasan Nadi berkisar antara 60-80 denyutan per menit setelah partus, dan dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardia dan suhu suhu tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada vitium kordis pada penderita. Pada masa nifas umumnyadenyut nadi labil dibandingkan dengan suhu tubuh, sedangkan pernapasan akan sedikit meningkat setelah patus kemudian kembali seperti keadaan semula. 3) Tekanan darah Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat penyakit-penyakit lain yang menyertai dalam ½ bulan tanpa pengobatan (Saleha, 2009; h. 53-61). 2.1.4 Adaptasi psikologis ibu masa nifas Dorongan dan perhatian dari seluruh anggota keluarga lainnya merupakan dukungan yang positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut. 1. Fase taking in Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman ibu selama
  • 52.
    39 proses persalinan berulangkali diceritakannya. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya sekitar. Kemampuan mendengarkan (listening skills) dan menyediakan waktu yang cukup merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu. Kehadiran suami dan keluarga sangat diperlukan pada fase ini. 2. Fase taking hold Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan ibu.Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri. 3. Fase letting go Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam
  • 53.
    40 memenuhi kebutuhan diridan bayinya (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.65- 66). 2.1.5 Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas 2.1.5.1 Nutrisi dan cairan Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. 1) Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama ibu menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata- rata ibu harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui. 2) Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein di atas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16 % dari tambahan 500 kalori yang dianjurkan pada ibu nifas. Protein
  • 54.
    41 diperlukan untuk pertumbuhandan penggantian sel-sel yang rusak dan mati. Sumber protein dapat diperoleh dari protein hewani dan protein nabati. Protein hewani antara lain telur, daging, ikan, udang, kerang, susu dan keju. Sementara itu, protein nabati banyak terkandung dalam tahu, tempe, kacang- kacangan, dan lain-lain. 3) Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan. Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Mineral, air, dan vitamin digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran metabolisme di dalam tubuh. Sumber zat pengatur tersebut bisa diperoleh dari semua jenis sayur dan buah-buahan segar. 4) Pil zat besi (Fe) harus diminum, untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pascabersalin. 5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu pada 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
  • 55.
    42 2.1.5.2 Ambulasi Ambulasi diniadalah kebijaksanaan untuk secepat mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidur dan membimbingnya secepat mungkin untuk berjalan. Pada persalinan normal sebaiknya ambulasi dikerjakan setelah 2 jam ( ibu boleh miring kekanan dan miring kekiriuntuk mencegah adanya trombosit). Keuntungan lain dari ambulasi dini adalah sebagai berikut. 1. Ibu merasa lebih sehat dan kuat. 2. Faal usus dan kandung kemih lebih baik. 3. Kesempatan yang baik untuk mengajar ibu merawat/ memelihara anaknya. 4. Tidak menyebabkan perdarahan yang abnormal. 5. Tidak memengaruhi penyembuhan luka episiotomi atau luka di perut. 6. Tidak memperbesar kemungkinan prolaps atau retroflexio. 2.1.5.3 Eliminasi Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam. Ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, lakukan tindakan sebagai berikut. 1. Dirangsang dengan mengalirkan air keran didekat klien
  • 56.
    43 2. Mengompres airhangat di atas simfisis 3. Saat site bath ( berendam air hangat ) klien disuruh BAK. Bila tidak berhasil dengan cara di atas, maka dilakukan kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman dan risiko infeksi saluran kemih tinggi. Oleh karena sebab itu, kateterisasi tidak dilakukan sebelum lewat enamjam postpartum. Buang Air Besar (BAB). Defekasi (buang air besar) harus ada dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala (feses mengeras) tertimbun di rektum, mungkin akan terjadi febris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi laksa per os (melalui mulut). Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi. Biasanya bila penderitatidak BAB sampai 2 hari sesudah persalinan, akan ditolong dengan pemberian spuit gliserine/ diberikan obat-obatan. Biasanya 2-3 hari post partum masih susah BAB, maka sebaiknya diberikan laksa atau paraffin (1-2 hari postpartum), atau pada hari ke-3 diberi laksa supositoria dan minum air hangat. Berikut adalah cara agar dapat BAB dengan teratur. 1) Diet teratur 2) Pemberian cairan yang banyak 3) Ambulasi yang baik
  • 57.
    44 4) Bila takutbuang air besar setelah episiotomi maka diberikan laksa supposotria ( Dewi dan Sunarsih, 2011;h.71-74 ). 2.1.5.4 Istirahat Ibu postpartum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti. Kurang istirahat pada ibu postpartum akan mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya: 1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi 2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan. 3) Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga, harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Selain itu, pasien juga perlu diingatkan untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui
  • 58.
    45 minimal 8 jamsehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang (Sulistyawati, 2009; h. 103). 2.1.5.5 Personal hygiene Mandi di tempat tidur dilakukan sampai ibu dapat mandi sendiri di kamar mandi. Bagian yang paling utama dibersihkan adalah puting susu dan mammae. 1) Putting susu Harus di perhatikan kebersihannya dan luka pecah (rhagade) harus segera di obati karena kerusakan putting susu merupakan port de entree dan dapat menimbulkan mastitis. Air susu yang menjadi kering akan menjadi kerak dan dapat merangsang kulit sehingga timbul enzema. Oleh karena itu, sebaiknya putting susu dibersihkan dengan air yang telah dimasak, tiap kali sebelum dan sesudah menyusukan bayi, diobati dengan salep penicillin, lanolin, dan sebagainya. 2) Patrum lokia Lokia adalah cairan yang keluar dari vagina pada masa nifas yang tidak lain adalah sekret dari rahim terutama luka plasenta (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 74). Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk
  • 59.
    46 mencegah terjadinya infeksi.Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga (Saleha, 2009; h. 73). 2.1.5.6 Perineum Bila sudah buang air besar atau buang air kecil, perineum harus di bersihkan secara rutin.Caranya di bersihkan dengan sabun yang lembut minimal sehari sekali. Biasanya ibu akan takut akan jahitan yang lepas, juga merasa sakit sehingga perineum tidak di bersihkan atau tidak di cuci. 2.1.5.7 Seksual Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai hubungan suami istri kapan saja ibu siap.Hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman ketika luka episiotomi telah sembuh dan lokia telah berhenti.Sebaiknya hubungan seksual dapat ditunda sedapat mungkin sampai 40 hari setelah persalinan karena pada saat itu
  • 60.
    47 diharapkan organ-organ tubuhtelah pulih kembali (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.75-77 ). 2.1.6 Masalah-masalah menyusui pada ibu Beragam masalah sering terjadi pada saat menyusui. Bidan/perawat perlu mengetahui masalah-masalah yang sering terjadi ini, agar dapat memberikan dukungan bagi ibu untuk menyusui secara berhasil.Masalah- masalah menyusui pada ibu yang sering terjadi antara lain : 2.1.6.1 Stress Ibu-ibu yang baru pertama kali mempunyai anak sering kali merasa kurang percaya diri sehingga timbul stress. Masalah- masalah yang dihadapi ibu yang kurang percaya diri dalam menyusui ini antara lain: a. Ibu masih “takut” untuk memegang, menggendong maupun menyusui bayinya b. Lingkungan keluarga terdekat seperti suami, orang tua, mertua, atau saudara yang tinggal serumah tidak memberi dukungan. Cara mengatasinya : Bidan/perawat dapat memberikan nasihat pada ibu dan keluarga agar ibu berhasil menyusui dengan penuh rasa percaya diri dengan:
  • 61.
    48 a. Meyakinkan ibubahwa ibu dapat menyusui dan ibu harus yakin bahwa ASI akan mencukupi kebutuhan bayinya dan produksi ASI tidak tergantung pada besar kecilnya payudara. b. Menganjurkan suami dan keluarga terdekat untuk memberikan dukungan dengan cara antara lain menenangkan atau membantu perawatan sederhana seperti mengganti popok, menidurkan, dan sebagainya. 2.1.6.2 Putting susu datar atau terbenam Untuk mengetahui apakah putting susu datar/terbenam yaitu dengan cara menjepit areola antara ibu jari telunjuk dibelakang putting susu. Bila putting menonjol berarti putting tersebut normal, namun bila putting tidak menonjol berarti putting susu datar/terbenam. Cara mengatasinya : Dengan menggunakan pompa putting. Putting susu yang datar atau terbenam dapat dibantu agar menonjol dan dapat dihisap oleh mulut bayi. Upaya ini dapat dimulai sejak kehamilan 3 dan biasanya hanya perlu dibantu hingga bayi berusia 5-7 hari. Putting juga bisa ditarik keluar secara teratur hingga putting akan sedikit menonjol dan dapat diisapkan kemulut bayi, putting akan lebih menonjol lagi (Maryunani, 2009; h. 90-92).
  • 62.
    49 2.1.6.3 Putting susulecet/nyeri Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadang-kadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis ( Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 46). Putting susu lecet dapat disebabkan oleh trauma saat menyusui. Selain itu, dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah. Retakan pada putting susu dapat sembuh sendiri dalam waktu 48 jam (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39). Putting susu dapat mengalami lecet, retak atau terbentuk celah- celah. Putting susu lecet ini sering terjadi saat minggu pertama setelah bayi lahir, hal ini biasanya disebabkan karena: a. Kesalahan dalam tekhnik menyusui, yaitu bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai ke areola. b. Adanya monilisir pada mulut bayi yang menular pada putting susu ibu. c. Akibat dari pemakaian sabun, alcohol, krim atau zat iritan lainnya untuk mencuci putting.
  • 63.
    50 d. Bayi dengantali lidah (frenulum lingue) yang pendek, menyebabkan bayi hanya dapat mengisap sampai putting susu ibu saja. e. Ibu menghentikan menyusu kurang hati-hati (Maryunani, 2009; h. 92). Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi putting susu lecet adalah sebagai berikut. a. Cari penyebab putting susu lecet. b. Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal atau lecetnya sedikit. c. Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara. d. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam). e. Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam. f. Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun.
  • 64.
    51 g. Posisi menyusuiharus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara. h. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan kering. i. Pergunakan bra yang menyangga (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 39-40). 2.1.6.4 Payudara bengkak Pada payudara bengkak;payudara udem, sakit, putting kencang, kulit mengkilap walau tidak merah, dan bila diperiksa/dihisap ASI tidak keluar.Badan bisa demam setelah 24 jam. Penyebab. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui yang tidak kontinu sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah duktus. Hal ini terjadi karena antara lain produksi ASI meningkat, terlambat menyusukan dini, perlekatan kurang baik, mungkin kurang sering ASI dikeluarkan, dan mungkin juga ada pembatasan waktu menyusui. Beberapa tindakan yang dilakukan untuk mencegah payudara bengkak adalah sebagai berikut.
  • 65.
    52 1) Menyusui segerasetelah lahir dengan posisi dan perlekatan yang benar. 2) Menyusui bayi tanpa jadwal (nir-jadwal dan on demand). 3) Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi. 4) Jangan memberikan minuman lain pada bayi. 5) Lakukan perawatan payudara pasca persalinan (masase dan sebagainya). Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi payudara bengkak adalah sebagai berikut. 1) Setiap 2 jam sekali sebelum menyusui kompreslah payudara dengan lap bersih atau dengan daun pepaya basah. 2) Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek sehingga lebih mudah memasukkannya kedalam mulut bayi. 3) Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan cangkir/sendok. 4) Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai bendungan teratasi.
  • 66.
    53 5) Untuk mengurangirasa sakit dapat diberi kompres hangat dan dingin. 6) Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan pengurang sakit. 7) Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak, bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran ASI. 8) Pada saat menyusui sebaiknya ibu tetap rileks. 9) Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan perbanyak minum. 10) Jika ibu yang sedang menyusui terserang penyakit seperti misalnya pilek, usahakan tetap memberikan ASI dengan menutup mulut dan hidung dengan masker (Dewi dan Sunarsih, 2011; h.40-41). 2.1.6.3 Saluran susu tersumbat Berikut ini akan dijelaskan mengenai penyebab, gejala, penatalaksanaan, dan pencegahan saluran susu yang tersumbat. Penyebab Hal-hal yang menjadi penyebab saluran susu tersumbat adalah sebagai berikut. 1) Tekanan jari ibu yang terlalu kuat pada waktu menyusui. 2) Pemakaian bra yang terlalu ketat.
  • 67.
    54 3) Komplikasi payudarabengkak, yaitu susu terkumpul tidak segera dikeluarkan, sehingga terbentuklah sumbatan. Gejala Gejala yang dirasakan adalah sebagai berikut. 1) Pada wanita yang kurus, gejalanya terlihat dengan jelas dan lunak pada perabaan. 2) Payudara pada daerah yang mengalami penyumbatan terasa nyeri dan bengkak yang terlokalisir. Penatalaksanaan Saluran susu yang tersumbat ini harus dirawat, sehinggabenar- benar sembuh, untuk menghindari terjadinya radang payudara (mastitis). Adapun cara untuk merawat payudata adalah sebagai berikut. 1) Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak, dapat dilakukan masase serta kompres panas dan dingin secara bergantian. 2) Bila payudara masih terasa penuh, ibu dianjurkan untuk mengeluarkan ASI dengan tangan atau dengan pompa setiap kali selesai menyusui. 3) Ubah-ubah posisi menyusui untuk melancarkan aliran ASI. Pencegahan Pencegahan yang dapat dilakukan agar payudara tidak tersumbat adalah sebagai berikut.
  • 68.
    55 1. Perawatan payudarapascapersalinan secara teratur, untuk menghindari terjadinya statis aliran ASI. 2. Posisi menyusui yang di ubah-ubah. 3. Mengenakan bra yang menyangga, bukan yang menekan (Saleha, 2009; h. 107-109). 2.1.6.4 Mastitis/radang payudara Mastitis adalah peradangan pada payudara bagian yang terkena menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas.Ibu bisa mengalami demam bahkan disertai menggigil. Mastitis biasanya terjadi pada masa 1-3 minggu setelah melahirkan akibat saluran susu tersumbat dan tidak segera diatasi (Maryunani, 2009; h. 95). Penyebab Penyebab terjadinya mastitis adalah sebagai berikut. 1. Payudara bengkak yang tidak disusui secara adekuat, akhirnya terjadi mastitis. 2. Puting susu lecet akan memudahkan masuknya kuman dan terjadinya payudara bengkak. 3. Bra yang terlalu ketat mengakibatkan segmental engorgement, jika tidak segera disusui dengan adekuat, maka bisa terjadi mastitis.
  • 69.
    56 4. Ibu yangdietnya buruk, kurang istirahat, dan anemia akan mudah terkena infeksi. Gejala Gejala-gejala dirasakan adalah sebagai berikut. 1. Bengkak, nyeri pada seluruh payudara/nyeri lokal. 2. Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya lokal. 3. Payudara keras dan berbenjol-benjol. 4. Panas badan dan rasa sakit umum (Saleha, 2009; h. 109). Ada dua jenis mastitis, yaitu yang terinfeksi milk statissdisebut Non-Infective mastitisdan yang telah terinfeksi bakteri : Infective Mastisis. Lecet pada putting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut. 1) Kompres hangat/panas dan pemijatan. 2) Rangsang oksitosin; dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi putting, pijat leher-punggung, dan lain-lain 3) Pemberian antibiotic; Flucloxacilin atau Erythromycin selama 7-10 hari. 4) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.
  • 70.
    57 5) Kalau sudahterjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh disusukan karena mungkin memerlukan tindakan bedah (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 41). 2.1.6.5 Abses payudara Abses payudara dapat terjadi akibat mastitis yang terlambat diobati.Ibu tampak kesakitan, pada payudara merah mengkilap dan benjolan yang teraba mengandung cairan berupa nanah. Cara mengatasinya: 1) Jika susu terjadi abses, payudara yang sakit tidak bolehdisusukan, mungkin perlu tindakan bedah. Tapi payudara yang sehat harus tetap digunakan untuk menyusui dengan perawatan dan kebersihan yang sebaik mungkin. 2) Rujuk ibu ke dokter bedah untuk dilakukan insisi dan drainase pus/nanah. 3) Pemberian antibiotik dosis tinggi dan obat analgesik/antipiretik oleh dokter. 4) Ibu harus cukup istirahat (Maryunani, 2009; h. 96).
  • 71.
    58 2.2 Teori AsuhanKebidanan 2.2.1 Pengertian Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisa data, diagnose kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proses manajemen merupakan proses pemecahan masalah yang memperkenalkan sebuah metode atau pemikiran dan tindakan-tindakan dengan urutan yang logis sehingga pelayanan komprehensif dan aman dapat tercapai. 7 langkah manajemen menurut Helen Varney 1) Pengkajian (Pengumpulan data dasar) Pengkajian atau pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan pasien. Merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien. A. Data subjektif 1. Biodata Yang mencakup identitas pasien : a. Nama Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalampemberian penanganan.
  • 72.
    59 b. Umur Dicatat dalamtahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental psikisnya belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dalam masa nifas. c. Agama Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa. d. Pendidikan Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahuisejauh mana tingkat intelektualnya. Sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai pendidikannya. e. Suku/bangsa Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari. f. Pekerjaan Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut. g. Alamat Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan.
  • 73.
    60 2. Keluhan utama Untukmengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa nifas misalnya pasien merasa mules, sakit pada jalan lahir karena ada jahitan pada perineum. 3. Riwayat kesehatan a. Riwayat kesehatan yang lalu Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, hipertensi, asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini. b. Riwayat kesehatan sekarang Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya. c. Riwayat kesehatan keluarga Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertainya.
  • 74.
    61 4. Riwayat obstetric a.Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu. b. Riwayat persalinan sekarang Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini. 5. Riwayat KB Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa. 6. Data psikososial Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologi selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.
  • 75.
    62 7. Pola pemenuhankebutuhan sehari-hari a. Nutrisi Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan. b. Eliminasi Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah. c. Istirahat Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca, mendengarkan musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang, pengguanaan waktu luang. d. Personal hygiene Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas masih mengeluarkan lochea. e. Aktivitas Menggambarkan pola aktifitas pasien sehari-hari.Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat proses pengembalian alat-alat reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering,
  • 76.
    63 apakah kesulitan, denganbantuan atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136-137). B. Data obyektif Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi,palpasi, auskultasi, perkusi yang bidan lakukan secara berurutan. Langkah-langkah pemeriksaannya adalah sebagai berikut: 1) Keadaan umum Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan ini akan bidan laporkan dengan kriteria: 1. Baik Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. 2. Lemah Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang
  • 77.
    64 lain, serta pasiensudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri (Sulistyawati, 2009; h.122) . 2) Vital sign Ditujukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi yang dialaminya. a. Temperatut/suhu Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama masa nifas pada umumnya disebabkan oleh dehidrasi, yang disebabkan oleh keluarnya cairan padawaktu melahirkan, selain itu juga bisa disebabkan karena istirahat dan tidur yang diperpanjang selama awal persalinan. Tetapi pada umumnya setelah 12 jam post partum suhu tubuh kembali normal. Kenaikan suhu yang mencapai > 380 C adalah mengarah ketanda-tanda infeksi. b. Nadi dan pernafasan 1) Nadi berkisar antara 60-80x/m. denyut nadi diatas 100x/m pada masa nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa diakibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang berlebihan. 2) Jikatakikarditidak disertai panas kemungkinan disebabkan karena adanya vitium kordis. 3) Beberapa ibu post partum kadang-kadang mengalami bradikardi puerperal, yang denyut nadinya mencapai serendah
  • 78.
    65 rendahnya 40 sampai50x/m, beberapa alasan telah diberikan sebagai penyebab yang mungkin, tetapi belum ada penelitian yang membuktikan bahwa hal itu adalah suatu kelainan. 4) Pernafasan harus berada dalam rentang yangnormal, yaitu sekitar 20-30x/m. c. Tekanan darah Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum, tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2 bulan pengobatan. 3). Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dari ujung rambut sampai ujung kaki. Menjelaskan pemeriksaan fisik. a. Keadaan buah dada dan puting susu 1) Simetris/tidak 2) Konsistensi, ada pembengkakan/tidak 3) Putting menonjol/tidak,lecet/tidak b. Keadaan abdomen 1) Uterus : Normal : Kokoh, berkontraksi baik. Tidak berada di atas ketinggian fundal saat masa nifas segera.
  • 79.
    66 Abnormal : Lembek Diatas ketinggianfundal saat masa postpartum segera. c. Keadaan genetalia (a) Lochea Normal: Merah hitam (lochea rubra). Bau biasa. Tidak ada bekuan darah atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk kecil). Jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu mengganti pembalut setiap 3-5 jam) Abnormal : Merah terang. Berbau busuk. Mengeluarkan darah beku. Perdarahan berat (memerlukan penggatian pembalut setiap 0- 2 jam). Keadaan perineum : oedema, hematoma, bekas luka episiotomi/robekan, hecting. Keadaan anus : hemorrhoid
  • 80.
    67 Keadaan ekstremitas : Varices Edema Reflekspatella 2. Interpretasi data Mengidentifikasi diagnose kebidanan dan masalah berdasarkan intepretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan diintepretasikan menjadi diagnose kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnose tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasikan oleh bidan. (1) Diagnosa Kebidanan Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para,abortus,anak hidup,umur ibu,dan keadaan nifas. (2) Masalah Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien.
  • 81.
    68 3. Diagnosa potensial Mengidentifikasidiagnose atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnose potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan. Bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi.Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini. 4. Antisipasi masalah/tindakan segera Langkah ini memerlukan kesinambungan dari manajemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 130-143). 5. Perencanaan Berdasarkan diagnosa yang didapat, bidan dapat merencanakan asuhan pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya (pengkajian data dan perumusan diagnosis) (Dewi dan Sunarsih, 2011, h. 88).
  • 82.
    69 6. Pelaksanaan Langkah inimerupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2008, h. 145). 7. Evaluasi Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi kembali proses menejemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang belum terlaksana (Dewi dan Sunarsih, 2011, h. 125). 2.3 Landasan Hukum Kewenangan Bidan Permenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 yang mengatur tentang regristrasi dan praktik bidan. Bidan dalam melaksanakan praktiknya diberi kewenangan untuk memberikan pelayanan yang meliputi: a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan pranikah, antenatal, postnatal, bayi baru lahir, dan balita. b. Pelayanan keluarga berencana yang meliputi pemberian obat dan alat kontrasepsi melalui oral, suntikan, pemasangan dan pencabutan AKDR dan AKBK tanpa penyulit (Soepardan, 2007; h.13).
  • 83.
    70 BAB III TINJAUAN KASUS ASUHANKEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY. M UMUR 27 TAHUN P2A0 3 HARI POSTPARTUM DENGAN PUTTING SUSU LECET DI BPS MARTINI, Amd.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2015 3.1 Pengkajian Nama Mahasiswa: Lilis Anggraini Nim : 201207031 Tanggal : 7 April 2015 Jam : 17.00 WIB 3.1.1 Data subjektif a. Identitas pasien Penanggung jawab Nama : Ny M Tn F Umur : 27 tahun 33 tahun Agama : Islam Islam Suku bangsa : Palembang Palembang Pendidikan : SMA SMA Pekerjaan : IRT Buruh Alamat : Jl. Kancil No.18 Kedaton Bandar Lampung
  • 84.
    71 b. Alasan datang Ibumengatakan ingin memeriksakan kondisinya c. Keluhan utama Ibu mengatakan putingnya terasa nyeri dan sakit saat menyusui d. Riwayat kesehatan 1) Sekarang Ibu sedang tidak mengalami penyakit apapun seperti penyakit menular maupun penyakit keturunan 2) Yang lalu Ibu tidak pernah menderita penyakit menular maupun penyakit menurun 3) Keluarga Dalam keluarganya tidak ada/pernah menderita penyakit seperti penyakit menular maupun keturunan 4) Riwayat obstetric 1. Riwayat haid Menarche : 14 tahun Siklus : 28 hari Teratur/tidak : tidak teratur Lama : 5-7 hari Volume : 100cc Warna : merah kental
  • 85.
    72 Disminore : tidakada Bau : anyir Flour albus : tidak ada 2. Riwayat kehamilan sekarang 1) HPHT : 07-07-2014 2) Taksiran persalinan : 14-04-2015 3) Tanggal bersalin : 04-04-2015 4) Frekuensi ANC : 6 kali selama kehamilan 5) Penyuluhan yang sudah didapatkan : gizi, KB, tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan, ASI eksklusif, inisiasi menyusui dini. 3. Riwayat persalinan sekarang 1) IBU Tempat melahirkan : BPS Martini, Amd.Keb Penolong : Bidan Jenis persalinan : Spontan Lama persalinan : 9 jam 50menit Catatan waktu Kala I : 7 jam 10 menit Kala II : 0 jam 35 menit Kala III : 0 jam 5 menit Kala IV : 2 jam
  • 86.
    73 Jumlah : 9jam 50 menit Ketuban pecah pukul 21.00 wib, spontan. Plasenta Lahir secara : spontan, lengkap Berat : 500 gram Panjang tali pusat : 45 cm Perineum : ada luka perineum derajat 2 2) Bayi Lahir tanggal/pukul : 04-04-2015/22.05 wib Berat badan : 2800 gram Nilai apgar : 9/10 Jenis kelamin : perempuan Cacat bawaan : tidak ada Masa gestasi : 38 minggu 5 hari 3) Riwayat KB Ibu sebelumnya menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan selama 2.5 tahun. 4) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu No Tahun Partus Tempat UK Jenis Persalinan Penolong Penyulit Nifas Ket 1 2 2012 2015 BPS BPS Aterm Aterm Spontan Spontan Bidan Bidan Tidak ada Tidak ada Baik Baik JK:L BB: 3100 gram JK:P BB: 2800
  • 87.
    74 5) Pola kebutuhansehari-hari a. Nutrisi Selama hamil : Ibu makan dengan nasi, ikan, tempe, dan sayur tumis kangkung porsi sedang 3x/hari. Selama nifas : Ibu makan dengan nasi, ayam goreng, tahu bacem, sayur daun katuk dengan porsi 1 piring 3x/hari, setiap harinya ibu makan dengan menu yang berbeda dan tidak ada pantangan dalam makanan. b. Pola eliminasi Selama hamil : Ibu BAK 7-8 kali/ hari bau khas, warna kuning jernih, BAB 1-2 kali/hari konsistensi lunak warna kekuningan. Selama nifas : Ibu BAK 7-8 kali/ hari bau khas warna kuning jernih, BAB 1 kali/hari konsistensi lunak warna kekuningan c. Pola istirahat Selama hamil : Ibu tidur malam 7-8 jam, siang
  • 88.
    75 jarang tidur. Selama nifas: Ibu tidur malam 5-6 jam, siang 1/2 jam. d. Personal hygiene Selama hamil : Ibu ganti celana dalam 2-3 kali/hari. Selama nifas : Ibu ganti pembalut 3-4 kali/hari. e. Pola seksual Selama hamil : Ibu melakukannya 2 kali/minggu. Selama nifas : Ibu belum melakukannya 6) Riwayat psikososial a. Status perkawinan : syah, 1 kali b. Status emosional : stabil 7) Riwayat spiritual a. Selama hamil : tidak ada b. Selama nifas : tidak ada 3.1.2 Data obyektif a. Keadaan umum : Baik b. Kesadaran : Compos mentis c. Keadaan emosional : stabil
  • 89.
    76 d. Tanda vital 1)TD : 110/80 Mmhg 2) Pernafasan : 20x/i 3) Nadi : 80x/i 4) Suhu : 36,5ºc e. Pemeriksaan fisik 1) Kepala : Warna rambut : hitam Ketombe : bersih, tidak ada ketombe Benjolan : tidak ada 2) Wajah : Simetris : simetris Edema : tidak edema 3) Mata : Simetris : ya, kanan kiri Kelopak mata : tidak edema Konjungtiva : merah muda Sclera : putih 4) Hidung Simetris : ya, kanan dan kiri Polip : tidak ada
  • 90.
    77 Kebersihan : bersih 5)Mulut : Warna bibir : merah muda Sariawan : tidak ada Gusi berdarah : tidak ada Gigi : bersih 6) Telinga : Simetris : ya, kanan dan kiri Gangguan pendengaran : tidak ada 7) Leher : Simetris : ya, kanan dan kiri Pembesaran kelenjar tyroid : tidak ada Pembesaran limfe : tidak ada 8) Payudara : Simetris : ya, kanan dan kiri Putting susu : lecet bagian kanan Konsistensi : lunak Pengeluaran : kolostrum 9) Abdomen Pembesaran : tidak ada Konsistensi : kuat
  • 91.
    78 Kandung kemih :kosong Uterus : TFU : 3 jari dibawah pusat Kontraksi : keras 10) Anogenital Vulva : warna merah muda Perineum : terdapat luka jahitan derajat 2 Pengeluaran pervaginam : lochea rubra Anus : tidak ada hemoroid 11) Ekstremitas bawah Oedema : tidak oedema Kemerahan : tidak ada Varices : tidak ada Reflex patella : positif, kanan dan kiri 12) Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboraturium HB : tidak dilakukan pemeriksaan Protein urine : tidak dilakukan pemeriksaan Glukosa urine : tidak dilakukan pemeriksaan
  • 92.
    79 TABEL 3.1 MATRIKS TGL/JAMPengkajian Interpretasi data Dx potensial Antisipasi Intervensi Implementasi Evaluasi 07/04/15 17.00 wib DS : Keluhan : - Ibu mengatakan nyeri pada putting susu bagian kanan. DO : K/U:baik TTV: Td : 120/70 N:80x/M S:36,50 c RR:20X/M Payudara : putting terlihat lecet terjadi retak dan pembentukan celah-celah Pengeluaran : ada, kolustrum TFU :3 jari dibawah pusat Kontraksi : baik Lokhea rubra Terdapat bekas Dx : Ny M P2A0 3 hari post partum dengan putting susu lecet Ds : - Ibu mengatakan pernah melahirkan 2x ini dan belum pernah Keguguran - Ibu mengatakan putting susu sebelah kanan terasa nyeri Masalah : nyeri bagian putting susu Kebutuhan - Penjelasan tentang Bendungan ASI Teknik menyusui yang baik dan benar. 1. Beritahu kepada ibu tentang keadaan nya saat ini 2. Cari tahu penyeba b terjadin ya putting susu lecet 1. Memberitahu kepada ibu hasil pemeriksaannya yang di lakukan secara head to toe, keadaan umum baik, TD : 120/70 mmhg N:80x/m S:36,50 c RR:20x/m, Payudara : putting susu lecet, tidak terdapat infeksi pada bagian putting susu ibu kanan dan kiri Pengeluaran : ada, kolustrum TFU :3 jari dibawah pusat Kontraksi : baik Lokhea rubra Terdapat bekas jahitan perineum derajat 2 2. Mencari tahu penyebab putting susu lecet: - Tehnik menyusui yang kurang benar - Putting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, atau zat iritan lainnya saat ibu 1. ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini yaitu keadaan ibu dalam batas normal TFU berjalan normal, kontraksi baik, dan terdapat luka pada putting susu kanan. 2. penyebab putting susu lecet yang dialami ibu adalah tehnik menyusui yang kurang benar bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai
  • 93.
    80 jahitan perinium derajat 2. tekhnik menyusui 3.Beritahu kepada ibu tentang keluhan yang di alaminya 4. Beritahu ibu cara perawat an puting susu lecet. membersihkan putting susu - Moniliasis pada mulut bayi menular pada putting susu ibu - Bayi dengan lidah pendek 3. Memberitahu kepada ibu keluhan yang dialaminya disebabkan karena tekhnik menyusui yang tidak benar 4. Memberitahu ibu cara perawatan putting susu lecet: j. Cari penyebab putting susu lecet k. Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang lecetnya sedikit l. Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak areola. 3. Ibu mengetahui penyebab keluhannya. 4.ibu mengetahui cara melakukan perawatan putting susu lecet
  • 94.
    81 5. Beritahu dan menggunakan sabun, krim,alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara m. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) n. Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam o. Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun p. Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara q. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan kering r. Pergunakan bra yang menyangga 5. Memberitahu dan mengajarkan kepada ibu 5. ibu mengetahui tentang tekhnik
  • 95.
    82 ajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusu i yang benar tentang tekhnikmenyusui yang benar yaitu : a. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai b. Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat tidur/kursi ibu harus merasa rileks c. Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap kepayudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu. Bayi seharusnya berabring miring dengan seluruh tubuh nya menghadap ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung menyusui yang benar yaitu: a. Bayi tampak tenang b. Mulut bayi terbuka lebar c.Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk d. Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan e. Putting susu tidak terasa nyeri
  • 96.
    83 kebelakang/menyampi ng, telinga, bahu,dan panggul bayi berada dalam satu garis lurus. d. Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan dan bayi tidak merenggangkan lehernya utuk mencari putting susu ibu. e. Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi keputting susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakkan empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas
  • 97.
    84 payudara. Ibu jaridan telunjuk harus membentuk huruf “C”. semua jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan areola. f. Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi. Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar. g. Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi harus lurus, hadapkan badan bayi kebadan ibu, menyentuh bibir bayi keputting susu nya dan menunggu mulut bayi terbuka lebar. h. Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking diantara mulut dan payudara.
  • 98.
    85 i. Menyendawakan bayi denganmenyandarkan bayi dipundak atau menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung bayi 6. Memberitahu ibu tanda- tanda infeksi pada payudara yaitu bengkak payudara disertai demam tinggi, keluar nanah dibagian putting susu. 7. Memastikan uterus berjalan normal dengan meraba uterus keras, TFU 3 jari dibawah pusat, pengeluaran lokae rubra. 8. Memberitahu pada ibu bahwa ibu nifas dan menyusui membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, seperti : 1. Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira- kira 85kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang
  • 99.
    86 6. Beritahu ibu tanda- tanda infeksi 7. Pastikan involusi uterus ibu berjalan normal 8.Beritahu ibu kebutuhan nutrisi yang dibutuhka noleh ibu nifas dan menyusui dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2300- 2700 kal ketika menyusui. 2. Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe, tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati. 3. Asupan cairan yang di anjurkan mengkonsumsi 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu dan jus buah. 4. Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40 hari pascapersalinan 9. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat 6. Ibu bersedia datang ketenaga kesehatan bila mengalami tanda-tanda infeksi. 7. Involusi uterus ibu berjalan normal 8. Ibu telah mengetahui tentang kebutuhan nutrisi yang di butuhkan oleh ibu nifas dan menyusui.
  • 100.
    87 9. Beritahu kepada ibu tentang kebutuh an istirahat yang cukupyaitu tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 7-8 jam dalam sehari karena istirahat sangat diperlukan bagi ibu di masa nifas agar pengembalian fungsi organ-organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami beberapa perubahan baik anatomi maupun fungsinya. 10. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 10-04-2015. 9. Ibu megetahui tentang kebutuhan istirahat yang cukup
  • 101.
    88 yang cukup 10. Beritahu ibu jadwal kunjung an ulang. 10.Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang. 10/04/15 16.30 wib Subjektif: Keluhan : ibu mengatakan nyeri pada puting susu sebelah kanan sudah mulai berkurang merasakan. Objektif : TD :120/70 mmhg N :80x/i Rr :20x/i T : 37,5ºc Payudara : puting susu tampak lecet pada puting susu sebelah kanan mulai berkurang. Dx: Ny M P2AO 6 hari post partum dengan putting lecet Ds : Ibu mengatakan nyeri pada putting susu sebelah kanan sudah mulai berkurang. Masalah : nyeri pada putting susu Kebutuhan : - perawatan putting susu Bendungan ASI Teknik menyusui yang benar 1. Beritahu pada ibu tentang keadaan nya saat ini 2. Kaji ulang 1. Memberitahukan pada ibu tentang keadannya saat ini bahwa dalam keadaan baik sesuai dengan hasil pemeriksaan Td :120/70 mmhg N :80x/i Rr :20x/i T : 37,5ºc Payudara : putting susu tampak lecet pada putting susu sebelah kanan sudah mulai membaik. Pengeluaran : ada,ASI TFU :pertengahan pusat simfisis Kontraksi :kuat Lokhea :sanguelenta Perineum :Bekas jahitan perineum mulai mengering. 2. Mengkaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu 1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan sehat dan TFU berjalan dengan normal, luka perineum sudah mulai mengering dan tampak lecet pada putting susu sebelah kanan mulai mengering. 2. Ibu mengetahui penyabab keluhan
  • 102.
    89 Pengeluaran : ada,ASI transisi TFU :pertengahan pusatsimfisis Kontraksi :kuat Lokhea :sanguilenta Terdapat bekas jahitan perinium derajat 2 dan tidak ada tanda- tanda infeksi dan jahitan sudah mengering lecet - Tekhnik menyusui yang baik dan benar tentang keluhan yang dialami ibu 3. Kaji ulang kepada ibu tentang perawata n puting susu lecet. 4. Kaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakuk an tekhnik menyusu i dengan benar. dan penyebabnya. 3. Mengkaji ulang ibu tentang perawatan puting susu lecet. 4. Mengkaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakukan tehnik menyusui dengan benar. yang dialaminya. 3. Ibu dapat melakukan perawatan puting susu lecet pagi dan sore hari dan lecet berkurang pada puting sebelah kanan. 4.Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar, yaitu dengan tanda-tanda : a. Bayi tampak tenang b. Mulut bayi terbuka lebar c. Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan. d. Namun masih terasa nyeri pada bagian putting susu sebelah kanan, karna saat
  • 103.
    90 5. Kaji ulang apakah ibu mengala mi tanda infeksi. 6.Kaji ulang involusi uterus ibu 7. Kaji ulang tentang kebutuha n nutrisi yang dibutuhk an ibu nifas dan ibu menyusu i. 5. Mengkaji ulang apakah ibu mengalami tanda infeksi. 6. Mengkaji ulang involusi uterus ibu TFU pertengahan pusat simpisis 7. Mengkaji ulang tentang kebutuhan nutrisi yang di butuhkan ibu nifas dan ibu menyusui. menyusui ibu masih hanya memasukan bagian putting susu saja ke dalam mulut bayi tidak sampai areola. 5. Ibu mengatakan bahwa ia tidak mengalami tanda infeksi payudaranya tidak bengkak, keluar nanah dan demam. 6. Ibu mengatakan pengeluaran darah kemaluannya berwarna merah kekuningan. 7. Ibu telah mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi yang seimbang seperti karbohidrat, protein, mineral, Tab. zat besi.
  • 104.
    91 8. Kaji ulang tentang kebutuha n istirahat. 9. Beritah ibu jadwal kunjung anulang. 8. Mengkaji ulang tentang kebutuhan istirahat. 9. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 13-04-2015. 8. Ibu mengatakan telah istirahat cukup pada malam hari 7-8 jam/hari, siang 1-2 jam/hari. 9. Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang. 13/04/15 16.00 wib Subjektif : Keluhan : ibu mengatakan putingnya tidak lecet lagi Objektif : Td : 120/70 mmhg N :80x/i Rr :20x/i T : 37,5ºc Payudara :putting tampak tidak lecet lagi. Pengeluaran :ASI TFU :pertengahan pusat simfisis Dx :Ny.M 27 tahun P2A0 9 hari post partum Masalah : tidak ada Kebutuhan : Tidak ada Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu kepada ibu tentang keadaan nya saat ini 2. Mengev aluasi ibu 1. Memberitahu kepada ibu tentang keadaannya saat ini bahwa dalam keadaan baik sesuai dengan hasil pemeriksaan : TD : 120/70 mmHg N : 80x/i Rr : 20x/i T : 37,50 C Payudara : puting menonjol Peneluaran : ASI TFU : pertengahan pusat simpisis Lochea : serosa Tampak putting susu ibu normal dan tidak ada tanda- tanda infeksi. 2. Mengevaluasi ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar. 1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan sehat dan TFU pertengahan pusat simpisis, dan putting susu normal dan tidak ada tanda-tanda infeksi. 2. Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik
  • 105.
    92 Lokhea :serosa Perineum :bekas jahitan perineumsudah mengering serta tidak ada tanda- tanda infeksi. apakah sudah melakuk an teknik menyusu i dengan benar 3. Beritahu ibu jadwal kunjunga n ulang ke tenaga kesehata n 3. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 21 April 2015. menyusui yang benar, yaitu dengan tanda-tanda : a. Bayi tampak tenang b. Mulut bayi terbuka lebar c. Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola lebih banyak yang masuk d. Bayi tampak menhisap kuat dengan irama perlahan e. Puting susu tidak terasa nyeri. 3. Ibu bersedia kunjungan ulang pada tanggal 21 April 2015
  • 106.
    93 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulandata dasar a. Pengkajian Pada pengkajian yang dilakukan untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien pada Ny M usia 27 tahun P2AO 3 hari postpartum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung dan didapatkan hasil yaitu sebagai berikut Data subjektif 1. Nama a. Tinjauan teori Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini nama ibu bernama Ny M. c. Pembahasan Dalam kasus ini tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M memiliki nama jelas yang dapat membedakan dengan klien yang lain sehingga terhindar dari kekeliruan dalam memberikan penanganan.
  • 107.
    94 2. Umur a. Tinjauanteori Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental psikisnya belum siap, sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131). b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny M berusia 27 tahun. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus ini tidak terjadi kesenjangan pada usia ibu. Karena usia 27 tahun sudah dianggap matang baik organ reproduksi ibu maupun dari psikis ibu. 3. Suku a. Tinjauan teori Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari (Ambarwati dan Wulandari, 2008; h. 132). b. Tinjauan kasus Ibu bersuku palembang dan selama ini ibu tidak memiliki kebiasaan-kebiasaan yang berpengaruh terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas.
  • 108.
    95 c. Pembahasan Dalam halini tidak terdapat kesenjangan karena ibu tidak memiliki kebiasaan adat istiadat yang berpengaruh terhadap kehamilan, persalinan, dan nifas 4. Pendidikan a. Tinjauan teori Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). b. Tinjauan khusus Dalam kasus ini Ny M berpendidikan terakhir SMA c. Pembahasan Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan karena Ny M memiliki pendidikan SMA dimana asuhan yang akan dilakukan oleh petugas kesehatan berpengaruh dalam tindakan yang akan dilakukan. 5. Pekerjaan a. Tinjauan teori Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132).
  • 109.
    96 b. Tinjauan kasus Dalamkasus ini Ny M bekerja sebagai ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai buruh c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny M dapat memenuhi nutrisinya meskipun suaminya hanya bekerja sebagai seorang buruh karena nutrisi yang seimbang tidak harus mahal 6. Alamat a. Tinjauan teori Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). b. Tinjauan kasus Alamat rumah Ny M adalah Jl.Kelinci No.18 Kedaton Bandar Lampung c. Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M memiliki alamat rumah yang lengkap untuk mempermudah dalam melakukan kunjungan rumah bila diperlukan
  • 110.
    97 7. Keluhan a. Tinjauanteori Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa nifas (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 132). Puting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadang- kadang mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 44-47). b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny M mengatakan keluhannya yaitu nyeri pada putting susu bagian kanan. c. Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus, karena keluhan dari puting susu lecet adalah nyeri dan puting susu lecet diakibatkan teknik menyusui ibu yang salah, karena dalam kasus ini Ny. M P2A0 postpartum hari ke-3 dan ibu mengeluh kesulitan dalam menyusui bayinya, diakibatkan teknik menyusui ibu yang salah sesuai teori yang menyatakan bahwa posisi menyusui yang salah dapat mengakibatkan puting susu lecet.
  • 111.
    98 8. Riwayat kesehatan a.Riwayat kesehatan sekarang 1) Tinjauan teori Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit apapun 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M sedang tidak menderita penyakit apapun b. Riwayat kesehatan yang lalu 1) Tinjauan teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, hipertensi, asma, yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133).
  • 112.
    99 2) Tinjauan kasus Ibumengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami riwayat penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, hipertensi, dan asma. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M memang sebelumnya tidak ada riwayat penyakit menular dan menurun. c. Riwayat kesehatan keluarga 1) Tinjauan teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertainya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 133). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang/pernah menderita penyakit 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena didalam keluarga Ny M tidak ada yang sedang/pernah menderita penyakit sehingga tidak ada pengaruh terhadap kesehatan Ny M dan bayinya.
  • 113.
    100 9. Riwayat obstetric a.Tinjauan teori Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134). b. Tinjauan kasus Dalam riwayat obstetric Ny M pada persalinan sekarang Ny M melahirkan pada tanggal 04 april 2015, jenis persalinan spontan menangis letak belakang kepala, jenis kelamin anak perempuan dengan berat badan 2800 gram, panjang badan 50 cm dan ditolong oleh bidan. c. Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M melahirkan secara spontan pervaginam dan bayi dalam keadaan sehat. 10. Riwayat KB a. Tinjauan teori Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
  • 114.
    101 dan beralih kekontrasepsiapa (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134). b. Tinjauan kasus Ibu mengatakan sebelumnya sudah pernah KB suntik 3 bulan selama 2,5 tahun. c. Pembahasan Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus dikarenakan Ny M sudah pernah memakai KB suntik 3 bulan selama 2,5 tahun. 11. Pola kebutuhan sehari-hari a. Nutrisi 1) Tinjauan teori Tinjauan teori menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136). Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. a) Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-
  • 115.
    102 rata ibu menggunakankira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui. b) Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe, tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati. c) Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Mineral, air, dan vitamin digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran metabolisme didalam tubuh. d) Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40 hari pascapersalinan (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 71). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan selama masa nifas ini telah makan dengan nasi, ayam goreng, tahu bacem, sayur daun katuk dengan porsi 1 piring 3x/hari, setiap harinya ibu makan dengan menu yang berbeda dan tidak ada pantangan dalam makanan.
  • 116.
    103 3) Pembahasan Dalam halini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny M telah makan dengan porsi yang cukup dan teratur serta mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang berguna untuk proses produksi ASI, ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya, serta mengatur kelancaran metabolisme didalam tubuh. Setiap hari ibu mengkonsumsi tablet Fe 1x1 sehari. b. Pola eliminasi 1) Tinjauan teori Ibu diminta untuk buang air kecil minimal 6 jam post partum, apabila setelah 8 jam post partum ibu belum dapat berkemih maka ibu hendaknya dilakukan katerisasi. Untuk pola buang air besar, setelah 2 hari ibu diharapkan sudah dapat buang air besar, jika pada hari ke 3 ibu belum dapat buang air besar maka ibu diberi obat peroral atau perrektal (Saleha, 2009; h. 73). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan sudah buang air kecil 5-7 kali/hari dengan bau khas warna kuning jernih dan sudah buang air besar 1 kali/hari konsistensi lunak warna kekuningan
  • 117.
    104 3) Pembahasan Dalam kasusini Ny. M P2A0 post partum hari ke-3 tidak di temukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. M tidak memiliki keluhan dalam pola eliminasinya hal ini dikarenakan Ny.M sudah dapat beradaptasi dengan masa nifasnya. c. Pola istirahat 1) Tinjauan teori Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur. Istirahat sangat penting bagi ibu nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempecepat penyembuhan (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 136). Istirahat sangat diperlukan bagi ibu di masa nifas agar pegembalian fungsi organ-organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami beberapa perubahan baik anatomi maupun fungsinya. Tidur pada malam hari selama 7-8 jam dan tidur pada siang hari sebaiknya selama 1-2 jam (Rukiyah et. all, 2011; h. 127 ). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan sudah tidur siang ½ jam karena ibu harus mengurus urusan rumah tangga dan anak-anaknya. Tidur malam 5-6 jam sehari karena ibu sering terbangun di sebabkan anaknya sering menangis.
  • 118.
    105 3) Pembahasan Dalam halini ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena dalam kasus ini pola istirahat Ny.M tidak terpenuhi Ny.M hanya tidur ½ jam pada siang hari dan 5-6 jam pada malam hari. d. Personal hygiene 1) Tinjauan teori Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas masih mengeluarkan lochea (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 137). Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga (Saleha, 2009; h. 73). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan telah menjaga kebersihan dirinya dengan mandi 2 kali sehari, ganti pembalut 3-4 kali/hari atau tiap basah dan lembab serta menjaga lingkungan tetap bersih.
  • 119.
    106 3) Pembahasan Dalam halini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Karena ibu bisa personal hygiene dengan baik dan tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada ibu. e. Pola seksual 1) Tinjauan teori Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri maka aman untuk memulai hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Hubungan seksual dapat dilakukan dengan aman ketika luka episiotomi telah sembuh dan lokia telah berhenti. Sebaiknya hubungan seksual dapat ditunda sedapat mungkin sampai 40 hari setelah persalinan karena saat itu diharapkan organ-organ tubuh telah pulih kembali (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 77). 2) Tinjauan kasus Ibu mengatakan saat ini belum melakukan hubungan seksual. 3) Pembahasan Ny M postpartum 3 hari belum melakukan hubungan seksual karena luka episiotomi belum sembuh dan pengeluaran lochea belum berhenti. Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
  • 120.
    107 f. Riwayat psikososial 1)Tinjauan teori Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya, wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 134). Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut : 1. Fase taking in Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. 2. Fase taking hold Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. 3. Fase letting go Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat
  • 121.
    108 diri dan bayinya,serta kepercayaan dirinya sudah meningkat (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 65). 2) Tinjauan kasus Status emosional ibu stabil, ibu dapat diajak berbicara, namun ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Ibu dalam fase taking hold karena status emosional ibu stabil, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Data Objektif 1. Tanda-tanda vital a. Tinjauan teori 1) Tekanan darah Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum, tetapi keadaan ini akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit-penyakit lain yang menyertainya dalam 2 bulan pengobatan.
  • 122.
    109 2) Nadi Nadi berkisarantara 60-80x/menit. Denyut nadi diatas 100x/menit pada masa nifas adalah mengidentifikasikan adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa diakibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena kehilangan darah yang berlebihan. 3) Pernafasan Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal maka pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali bila ada gangguan khusus pada saluran pencernaan. Pernafasan harus berada dalam rentang yang normal, yaitu sekitar 20-30x/menit. 4) Suhu Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama masa nifas pada umumnya disebabkan oleh dehidrasi, yang disebabkan oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan, selain itu juga bisa disebabkan karena istirahat dan tidur yang diperpanjang selama awal persalinan. Tetapi pada umumnya setelah 12 jam post partum suhu tubuh kembali normal. Kenaikan suhu yang mencapai > 380 C adalah mengarah ketanda-tanda infeksi (Ambarwati dan Sunarsih, 2010; h. 138).
  • 123.
    110 b. Tinjauan kasus Berdasarkantinjauan kasus, hasil pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil : Tekanan darah : 120/70 mmhg nadi : 80x/menit Suhu : 37,5ºC nafas : 20x/menit c. Pembahasan Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. Tekanan darah ibu normal 120/70 mmhg, suhu ibu normal 37,5ºC karena suhu ibu tidak mencapai >38ºC yang mengarah ketanda-tanda infeksi, nafas dan nadi ibu juga dalam batas normal. 2. Pemeriksaan fisik a) Dada 1) Tinjauan teori Menjelaskan pemeriksaan fisik keadaan buah dada dan putting susu. d. Simetris/tidak e. Konsistensi, ada pembengkakan/tidak f. Putting menonjol/tidak,lecet/tidak (Ambarwati dan Sunarsih, 2010; h. 139). Putting susu dapat mengalami lecet, retak atau terbentuk celah celah. Putting susu lecet ini sering terjadi saat minggu pertama setelah bayi lahir, hal ini biasanya disebabkan karena:
  • 124.
    111 a) Kesalahan dalamtekhnik menyusui, yaitu bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai ke areola. b) Adanya monilisir pada mulut bayi yang menular pada putting susu ibu. c) Akibat dari pemakaian sabun, alcohol, krim atau zat iritan lainnya untuk membersihkan putting susu. d) Bayi dengan tali lidah (frenulum lingue) yang pendek, menyebabkan bayi hanya dapat mengisap sampai putting susu ibu saja. e) Ibu menghentikan menyusu kurang hati-hati (Maryunani, 2009; h. 92). 2) Tinjauan kasus Pada hari ketiga : Payudara simetris kanan dan kiri, pembesaran normal kanan dan kiri, putting susu lecet bagian kanan, tidak ada benjolan, konsistensi lunak, pengeluaran colustrum. Pada hari keenam : Payudara simetris kanan dan kiri, pembesaran normal kanan dan kiri, putting susu lecet sedikit berkurang pada bagian kanan, tidak ada benjolan, konsistensi lunak, pengeluaran ASI. Pada hari kesembilan :
  • 125.
    112 Payudara simetris kanandan kiri, pembesaran normal kanan dan kiri, putting susu lecet teratasi, tidak ada benjolan, konsistensi lunak, pengeluraran ASI. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena menurut teori pada hari kedua atau keempat pasca persalinan mulai ada sekresi ASI, payudara simetris kanan dan kiri, tidak ada benjolan dan ibu sudah mengeluarkan colustrum. Ibu mengalami putting susu lecet akibat dari kurangnya pengetahuan perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang tidak benar. b) Abdomen 1) Tinjauan teori Proses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Involusi uterus Bayi baru lahir : setinggi pusat Uri lahir : 3 jari dibawah pusat Satu minggu : pertengahan pusat-simfisis Dua minggu : tak teraba diatas simfisis
  • 126.
    113 Enam minggu :bertambah kecil Delapan minggu : sebesar normal (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 55-57). 2) Tinjauan kasus Tidak ada pembesaran, konsistensi keras pada fundus lunak pada bagian lain, kandung kemih kosong, TFU 3 jari dibawah pusat, dan kontraksinya baik 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus. TFU ibu sesuai dengan teori involusi uterus yaitu 3 jari dibawah pusat. c) Anogenital 1) Tinjauan teori Lochea : Normal ( Merah hitam (lochea rubra), berbau biasa, tidak ada bekuan darah atau butir-butir darah beku (ukuran jeruk kecil, jumlah perdarahan yang ringan atau sedikit (hanya perlu mengganti pembalut setiap 3-5 jam) Abnormal (Merah terang, berbau busuk, mengeluarkan darah beku, dan perdarahan berat).
  • 127.
    114 Lokia adalah ekskresicairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokhea rubra muncul pada hari ke 1-4 masa postpartum. Keadaan perineum (edema, hematoma, bekas luka episotomi/robekan, heacting). Keadaan anus (ada/tidak hemoroid) (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 78, 140-141). 2) Tinjauan kasus Vulva berwarna merah muda, perineum terdapat luka jahitan, pengeluaran pervaginam lochea rubra, dan pada anus tidak ada hemoroid. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena ibu dalam postpartum 3 hari dan lokhea ibu lokhea rubra berwarna merah yang berisi darah. Lokhea rubra pada hari pertama sampai hari ke 4.
  • 128.
    115 4.2 Interpretasi Data a.Tinjauan teori Mengidentifikasi diagnose kebidanan dan masalah berdasarkan intepretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan diintepretasikan menjadi diagnose kebidanan dan masalah. Keduanya digunakan karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnose tetapi membutuhkan penanganan yang dituangkan dalam rencana asuhan terhadap pasien, masalah sering berkaitan dengan pengalaman wanita yang diidentifikasikan oleh bidan. (3) Diagnosa Kebidanan Diagnosis dapat di tegakkan berkaitan dengan para, abortus, anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas. (4) Masalah Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 141). b. Tinjauan kasus Diagnosa: Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari post partum post partum dengan puting susu lecet. Masalah: putting susu lecet pada bagian kanan Kebutuhan: perawatan payudara dan tehnik menyusui
  • 129.
    116 c. Pembahasan Pada kasusini, tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori karena diagnosa yang ditegakkan pada Ny. M dilakukan berdasarkan identifikasi yang benar. 4.3 Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial a. Tinjauan teori Mengidentifikasi diagnose atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnose potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnose, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan. Bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 142). b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini Ny M mengalami putting susu lecet dan belum mengerti tentang perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang benar. Jika putting susu tidak segera ditangani maka akan terjadi masalah menyusui yaitu bendungan ASI. c. Pembahasan Dalam kasus ini ada data yang menunjang perlunya antisipasi masalah potensial karena ibu kurang mengetahui tekhnik menyusui yang benar
  • 130.
    117 sehingga menyebabkan perlunyadiagnose masalah potensial yang akan terjadi pada ibu. 4.4 Tindakan segera dan kolaborasi a. Tinjauan teori Langkah ini memerlukan kesinambungan dari menejemen kebidanan. Identifikasi dan menetapkan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi pasien (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h.143). b. Tinjauan kasus Pada kasus Ny. M tidak dilakukan tindakan segera. c. Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena mengajari tehnik menyusui adalah langkah awal untuk mengatasi putting susu ibu yang lecet. 4.5 Perencanaan a. Tinjauan teori Berdasarkan diagnosis yang didapat, bidan dapat merencanakan asuhan pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya (pengkajian data dan perumusan diagnosis (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 88).
  • 131.
    118 1. Memberitahu ibucara perawatan putting susu lecet: s. Cari penyebab putting susu lecet t. Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang lecetnya sedikit u. Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara v. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) w. Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam x. Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun y. Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara z. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan kering aa.Pergunakan bra yang menyangga
  • 132.
    119 b. Tinjauan kasus Rencanaasuhan yang diberikan terhadap Ny M adalah Pada tanggal 7 april 2015 1. Beritahu kepada ibu tentang keadaannya 2. Cari tahu penyebab terjadinya putting susu lecet 3. Beritahu kepada ibu tentang keluhan yang dialami. 4. Beritahu ibu tentang perawatan puting susu lecet 5. Beritahu dan ajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui yang benar 6. Beritahu ibu tanda-tanda infeksi 7. Pastikan involusi uteri ibu berjalan normal 8. Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi 9. Beritahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat 10. Jelaskan kepada ibu jadwal kunjungan ulang Pada tanggal 10 april 2015 1. Beritahu ibu tentang keadaanya saat ini 2. Kaji ulang tentang keluhannya yang dialami 3. Kaji ulang kepada ibu tentang perawatan puting susu lecet 4. Kaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui dengan benar. 5. Kaji ulang apakah ibu mengalami tanda infeksi 6. Kaji ulang involusi uteri ibu
  • 133.
    120 7. Kaji ulangtentang kebutuhan 8. Kaji ulang tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu nifas dan ibu menyusui 9. Kaji ulang tentang kebutuhan istirahat 10.Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang Pada tanggal 13 april 2015 1. Beritahu ibu tentang keadaannya saat ini 2. Evalusi ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui dengan benar 3. Beritahu ibu jadwal kunjungan ulang ke tenaga kesehatan c. Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena rencana asuhan yang diberikan sesuai dengan diagnose yang ditegakkan, dimana menurut teori bahwa puting susu lecet dapat diakibatkan oleh teknik menyusui yang salah, sehingga rencana yang dibuat adalah melakukan penanganan pada puting susu lecet dan mengajarkan teknik menyusui. 4.6 Pelaksanaan a. Tinjauan teori Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada klien ini dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 145).
  • 134.
    121 Pada tanggal 7april 2015 1. Memberitahu ibu tentang keadaannya saat ini 2. Mencari tahu penyebab putting susu lecet: - Tehnik menyusui yang kurang benar - Putting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, atau zat iritan lainnya saat ibu membersihkan putting susu - Moniliasis pada mulut bayi menular pada putting susu ibu - Bayi dengan lidah pendek 3. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dialaminya yaitu puting susu mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-celah. Puting susu lecet ini sering terjadi pada minggu pertama setelah bayi lahir, yang dapat disebabkan karena kesalahan dalam tehnik menyusui, yaitu bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai areola. 4. Memberitahu kepada ibu cara melakukan perawatan putting susu lecet yaitu : a) Cari penyebab putting susu lecet b) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri atau bayi disusukan lebih dulu pada putting susu normal yang lecetnya sedikit
  • 135.
    122 c) Olesi puttingsusu dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara d) Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) e) Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun g) Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan kering i) Pergunakan bra yang menyangga 5. Memberitahu dan ajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui yang benar, yaitu : a) Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai b) Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat tidur/kursi ibu harus merasa rileks c) Lengan ibu menopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap
  • 136.
    123 kepayudara ibu, hidungbayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu. Bayi seharusnya berabring miring dengan seluruh tubuh nya menghadap ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung kebelakang/menyamping, telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam satu garis lurus. d) Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan dan bayi tidak merenggangkan lehernya utuk mencari putting susu ibu. e) Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi keputting susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakkan empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas payudara. Ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf “C”. semua jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan areola. f) Pastikan bahwa sebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi. Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar.
  • 137.
    124 g) Bayi diletakkanmenghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi harus lurus, hadapkan badan bayi kebadan ibu, menyentuh bibir bayi keputting susu nya dan menunggu mulut bayi terbuka lebar. h) Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking diantara mulut dan payudara. i) Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi dipundak atau menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung bayi. 6. Memberitahu ibu tanda-tanda infeksi Memberitahu ibu untuk segera ke petugas kesehatan jika terdapat tanda- tanda infeksi pada payudara yaitu: bengkak payudara disertai demam tinggi, keluar nanah dibagian putting susu. 7. Memastikan involusi uterus ibu berjalan dengan normal. Memastikan involusi uterus ibu berjalan normal dengan meraba uterus teraba keras, TFU 3 jari di bawah pusat, pengeluaran lokea rubra barwarna merah segar. 8. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan nutrisi - Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85kal diperlukan oleh ibu
  • 138.
    125 untuk tiap 100ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2300-2700 kal ketika menyusui. - Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe, tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati. - Asupan cairan yang di anjurkan mengkonsumsi 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu dan jus buah. - Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40 hari pascapersalinan. 9. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup. Istirahat sangat diperlukan bagi ibu dimasa nifas agar pengembalian fungsi organ-organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami beberapa perubahan baik anatomi maupun fungsinya. Tidur malam hari selama 7-8 jam, siang 1-2 jam. 10.Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 10 april 2015. b. Tinjauan kasus 1. Menjelaskan kepada ibu tentang keadaannya Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaannya yang dilakukan secara head to toe.keadaan umum baik,
  • 139.
    126 TD : 120/70mmhgN:80x/mS:37,50 cRR:20x/i, Payudara : simetris kanan dan kiri, putting susu tampak lecet bagian kanan, Pengeluaran: ada, kolustrum, TFU: 3 jari dibawah pusat, Kontraksi : baik, Lokhea rubra, terdapat bekas jahitan perineum. 2. Mencari tahu penyebab putting susu lecet: - Tehnik menyusui yang kurang benar - Putting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol, atau zat iritan lainnya saat ibu membersihkan putting susu - Moniliasis pada mulut bayi menular pada putting susu ibu - Bayi dengan lidah pendek 3. Memberitahu ibu tentang keluhan yang dialaminya yaitu puting susu mengalami lecet, retak atau terbentuk celah-celah. Puting susu lecet ini sering terjadi pada minggu pertama setelah bayi lahir, penyebab putting susu lecet yang dialami ibu adalah tehnik menyusui yang kurang benar bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai areola. 4. Memberitahu kepada ibu cara melakukan perawatan putting susu lecet yaitu : a) Cari penyebab putting susu lecet b) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri
  • 140.
    127 atau bayi disusukanlebih dulu pada putting susu normal yang lecetnya sedikit c) Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), tidak menggunakan sabun, krim, alcohol, ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara d) Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) e) Putting susu yang sakit dapat diistirahsatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2x24 jam f) Cuci payudara sekali sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun g) Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara h) Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke putting yang lecet dan biarkan kering i) Pergunakan bra yang menyangga 5. Memberitahu dan mengajarkan kepada ibu tentang tekhnik menyusui yang benar, yaitu : a) Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk dan berbaring dengan santai b) Ibu harus mencari posisi nyaman, biasanya duduk tegak ditempat tidur/kursi ibu harus merasa rileks
  • 141.
    128 c) Lengan ibumenopang kepala, leher, dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada dalam garis lurus), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap perut ibu. Bayi seharusnya berabring miring dengan seluruh tubuh nya menghadap ibu. Kepalanya harus sejajar dengan tubuhnya, tidak melengkung kebelakang/menyamping, telinga, bahu, dan panggul bayi berada dalam satu garis lurus. d) Ibu mendekatkan bayi ketubuhnya (muka bayi kepayudara ibu) dan mengamati bayi yang siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari, dan menoleh. Bayi harus berada dekat dengan payudara ibu. Ibu tidak harus mencondongkan badan dan bayi tidak merenggangkan lehernya utuk mencari putting susu ibu. e) Ibu menyentuh putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi keputting susu ibu hingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. Ibu memegang payudara dengan satu tangan dengan cara meletakkan empat jari dibawah payudara dan ibu jari diatas payudara. Ibu jari dan telunjuk harus membentuk huruf “C”. semua jari ibu tidak boleh terlalu dekat dengan areola.
  • 142.
    129 f) Pastikan bahwasebagian besar areola masuk kedalam mulut bayi. Dagu rapat kepayudara ibu dan hidungnya menyentuh bagian atas payudara. Bibir bawah bayi melengkung keluar. g) Bayi diletakkan menghadap ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi harus lurus, hadapkan badan bayi kebadan ibu, menyentuh bibir bayi keputting susu nya dan menunggu mulut bayi terbuka lebar. h) Jika bayi sudah selesai menyusui, ibu mengeluarkan putting dari mulut bayi dengan cara memasukan jari kelingking diantara mulut dan payudara. i) Menyendawakan bayi dengan menyandarkan bayi dipundak atau menelungkupkan bayi melintang kemudian menepuk-nepuk punggung bayi. 6. Memberitahu ibu tanda-tanda infeksi Memberitahu ibu untuk segera ke petugas kesehatan jika terdapat tanda- tanda infeksi pada payudara yaitu: bengkak payudara disertai demam tinggi, keluar nanah dibagian putting susu. 7. Memastikan involusi uterus ibu berjalan dengan normal. Memastikan involusi uterus ibu berjalan normal dengan meraba uterus teraba keras, TFU 3 jari di bawah pusat, pengeluaran lokea rubra barwarna merah segar.
  • 143.
    130 8. Memberitahu kepadaibu tentang kebutuhan nutrisi a) Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk mengahsilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui. b) Protein, misalnya : ikan, daging, telur, udang, kerang susu, dan tempe, tahu, kacang-kacangan yang berguna untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak dan mati. c) Asupan cairan yang di anjurkan mengkonsumsi 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu dan jus buah. d) Pil FE harus diminum 1x1 sehari untuk menambah zat besi selama 40 hari pascapersalinan. 9. Memberitahu kepada ibu tentang kebutuhan istirahat yang cukup yaitu tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 7-8 jam dalam sehari karena istirahat sangat diperlukan bagi ibu di masa nifas agar pengembalian fungsi organ- organ tubuh setelah 40 minggu kehamilan mengalami beberapa perubahan baik anatomi maupun fungsinya. 10. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang.
  • 144.
    131 Pada tanggal 10april 2015 1) Memberitahukan pada ibu tentang keadannya saat ini 2) Mengkaji ulang tentang keluhan yang dialami ibu dan penyebabnya 3) Mengkaji ulang ibu tentang perawatan putting susu lecet 4) Mengkaji ulang kembali kepada ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui dengan benar 5) Mengkaji ulang apakah ibu mengalami tanda infeksi 6) Mengkaji ulang involusi uterus ibu TFU pertengahan pusat simpisis 7) Mengkaji ulang tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan ibu nifas dan ibu menyusui 8) Mengkaji ulang tentang kebutuhan istirahat 9) Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 13 april 2015 Pada tanggal 13 april 2015 1) Memberitahu ibu tentang keadaannya saat ini 2) Mengevaluasi ibu apakah sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar 3) Memberitahu ibu jadwal kunjungan ke tenaga kesehatan pada tanggal 21 April 2015 c. Pembahasan Tidak terdapat kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, penulis melakukan tindakan sesuai dengan rencana asuhan yang telah diberikan terhadap Ny. M.
  • 145.
    132 4.7 Evaluasi a. Tinjauanteori Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tetapi belum efektif atau merencanakan kembali asuhan yang belum terlaksana (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 125). b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini hasil evaluasi yang telah dilakukan adalah: Pada tanggal 7 april 2015 1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini yaitu keadaan ibu dalam batas normal, kontraksi baik dan terdapat luka pada puting susu kanan. 2. Penyebab putting susu lecet yang dialami ibu adalah tehnik menyusui yang kurang benar bayi hanya menyusu pada putting susu saja tidak sampai areola. 3. Ibu mengetahui penyabab keluhannya karena tehnik menyusui yang tidak benar 4. Ibu mengetahui cara perawatan puting susu lecet 5. Ibu mengetahui tehnik menyusui yang benar 6. Ibu bersedia datang ke tenaga kesehatan bila mengalami tanda-tanda infeksi 7. Involusi uterus ibu berjalan normal
  • 146.
    133 8. Ibu telahmengetahui tentang kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu nifas dan menyusui 9. Ibu mengetahui tentang kebutuhan istirahat yang cukup 10. Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang Pada tanggal 10 april 2015 1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan sehat dan TFU berjalan dengan normal, luka perineum sudah mulai mengering dan tampak lecet pada putting susu sebelah kanan mulai mengering. 2. Ibu mengetahui penyabab keluhan yang dialaminya. 3. Ibu dapat melakukan perawatan puting susu lecet pagi dan sore hari dan lecet berkurang pada puting sebelah kanan. 4. Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar, yaitu dengan tanda-tanda : a. Bayi tampak tenang b. Mulut bayi terbuka lebar c. Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan. d. Namun masih terasa nyeri pada bagian putting susu sebelah kanan, karna saat menyusui ibu masih hanya memasukan bagian putting susu saja ke dalam mulut bayi tidak sampai areola. 5. Ibu mengatakan bahwa ia tidak mengalami tanda infeksi payudaranya tidak bengkak, keluar nanah dan demam.
  • 147.
    134 6. Ibu mengatakanpengeluaran darah kemaluannya berwarna merah kekuningan. 7. Ibu telah mengkonsumsi makanan yang mengandung nutrisi yang seimbang seperti karbohidrat, protein dan mineral. 8. Ibu mengatakan telah istirahat cukup pada malam hari 7-8 jam/hari, siang 1-2 jam/hari. 9. Ibu mengetahui jadwal kunjungan ulang. Pada tanggal 13 april 2015 1. Ibu mengetahui tentang keadaannya saat ini bahwa ibu dalam keadaan sehat dan TFU pertengahan pusat simpisis, dan putting susu normal dan tidak ada tanda-tanda infeksi. 2. Ibu mengatakan bahwa ia sudah melakukan tekhnik menyusui yang benar, yaitu dengan tanda-tanda : a) Bayi tampak tenang b) Mulut bayi terbuka lebar c) Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola lebih banyak yang masuk d) Bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan e) Puting susu tidak terasa nyeri. 3. Ibu akan melakukan kunjungan ulang pada tanggal 21 April 2015.
  • 148.
    135 c. Pembahasan Berdasarkan tinjauankasus diatas Ny M diberikan asuhan perawatan putting susu lecet dan tekhnik menyusui yang baik dan benar. Perkembangan kondisi Ny M dipantau selama 7 hari, di rumah Ny M Jl. Kancil No.18 Kedaton Bandar lampung. Setelah dilakukan perawatan selama 6 hari, asuhan yang diberikan pada Ny M dianggap berhasil, pada tanggal 13 april 2015 ibu telah menyusui dengan tekhnik yang benar dan putting susu lecet dapat teratasi.
  • 149.
    136 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Setelahpenulis melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas yaitu Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari postpartum dengan putting susu lecet di BPS Martini, Amd..Keb Bandar Lampung tahun 2015. Maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 5.1.1 Penulis mampu melakukan pengumpulan data dasar terhadap Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari postpartum dengan puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. Pengkajian data dilakukan menggunakan manajemen varney dengan data subjektif ibu mengatakan nyeri pada putting susu sebelah kanan dan data obyektif putting terlihat lecet terjadi retak. 5.1.2 Penulis mampu melakukan interpretasi data dasar berdasarkan hasil pengumpulan data terhadap Ny M umur 27 tahun hari postpartum dengan puting susu lecet di BPS Martini, Amd.Keb Bandar Lampung tahun 2015. 5.1.3 Penulis mampu melakukan diagnose potensial seperti bendungan ASI, karena masalah Ny. M yaitu tidak tahu bagaimana tekhnik menyusui yang baik dan benar sehingga menyebabkan putting susu ibu lecet. 5.1.4 Penulis mampu melakukan antisipasi sebagaimana dalam teori yaitu melakukan perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang baik dan
  • 150.
    137 benar sehingga apabilatidak menyusui yang benar maka akan kemungkinan terjadi komplikasi bendungan ASI pada payudara. 5.1.5 Penulis mampu memberikan rencana asuhan kebidanan pada Ny M umur 27 tahun P2A0 3 hari postpartum sesuai dengan tindakan yang diberikan yaitu dengan mengajarkan ibu bagaimana tekhnik menyusui yang baik dan benar. 5.1.6 Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan sesuai yang telah direncanakan dengan hasil Ny M telah menyusui dengan tekhnik yang benar dan putting susu lecet dapat teratasi. 5.1.7 Penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny M dengan perawatan payudara dan tekhnik menyusui yang baik dan benar, dan ibu dalam keadaan baik. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan saran sebagai berikut : 5.2.1 Bagi Akademik Dengan telah disusunnya karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan keefektifan dalam belajar, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan atau mengaplikasikan study yang telah didapat, serta untuk melengkapi sumber-sumber buku kepustakaan sebagai bahan informasi dan referensi yang penting dalam
  • 151.
    138 mendukung dalam pembuatankarya tulis ilmiah bagi mahasiswa semester akhir. 5.2.2 Bagi Lahan Praktik Diharapkan pihak bidan praktik swasta dapat meningkatkan mutu pelayanan secara kompherensif berdasarkan kewenangan dalam memberikan pelayanan pada ibu nifas dengan putting susu lecet. 5.2.3 Bagi Pasien Diharapkan lebih memperhatikan bagaimana cara menyusui yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan putting susu lecet. Dan ibu dapat secara langsung mengatasi masalah yang terjadi pada masa nifas. 5.2.4 Bagi Penulis Sebaiknya setiap mahasiswa (penulis) dapat terus menerapkan manajemen dan asuhan kebidanan yang telah dimiliki serta terus mengikuti kemajuan dan perkembangan dalam dunia kesehatan khususnya dalam dunia kebidanan.
  • 152.
    139 DAFTAR PUSTAKA Ambarwati, EnyRetna dan Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogyakarta :Nuha Medika Bahiyatun. 2013. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Dewi, Vivian dan Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Pospartum). Jakarta : Trans Info Medika Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta Rukiyah et. all, 2011. Asuhan Kebidanan III Nifas. Jakarta : Trans Info Media Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika Soepardan, Suryani, 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta : Salemba Medika