Konsumsi
Produksi
Defisit
• Daging 4,9%
• Daging Sapi 5,33%
• Daging 4,89
• Daging Sapi 5,28%
• Daging 5,24%
• Daging Sapi 2,14%
desain suatu langkah-langkah strategis road-map komoditas unggulan
“PERCEPATAN SWASEMBADA DAGING SAPI TAHUN 2012 MENUJU
SURPLUS PRODUKSI TAHUN 2015”
Tahun 2012 defisit neraca perdagangan Provinsi Jambi Rp. 83,137 M
(Tim Road Map, 2007).
PEMANFAATAN SUMBERDAYA BERSAMA
SEHINGGA MENDORONG SINERGI ATAU
SIMBIOSIS MUTUALISM ANTAR
KOMODITAS
LEBIHPADA
MEMELIHARA SAPI PADA
AREAL SAWIT
INTEGRASI SAPI-SAWIT TIDAK SELALU HARUS
1. komoditas kelapa sawit merupakan komoditas
unggulan daerah yang melibatkan lebih dari 100 ribu
rumah tangga,
2. sebagian besar areal perkebunan sawit merupakan
areal kemitraan (BUMN atau swasta) yang memiliki
alokasi dana tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan,
3. pemerintah menyadari bahwa percepatan swasembada
tahun 2012 tidak akan berhasil tanpa partisipasi
semua pihak termasuk dunia usaha karena
keterbatasan anggaran
4. program integrasi akan berkembang baik jika terjadi
sinergi antara komoditas, sektor dan pelaku
pembangunan yang saling menguntungkan.
Pemilihan perkebunan sawit tidak hanya karena potensi sumber hijauan antar
tanaman (HAT) dan limbah sebagai sumber pakan tetapi juga beberapa potensi lain
Sumber gangguan yang menjadi sumber kekuatiran pihak perkebunan
1. Pengembalaan sapi secara berlebihan (tidak terkendali) menyebabkan
pengerasan lahan sehingga kemampuan lahan menyerap unsur hara
akan menurun.
2. Perilaku ternak sapi yang suka “mengais” terutama di sekitar pokok
tanaman menyebabkan kerusakan pada akar permukaan tanaman sawit.
3. Perilaku ternak sapi yang suka “merenggut” daun tanaman
menyebabkan kerusakan terutama pada tanaman sawit muda dan baru
menghasilkan.
4. Pengembalaan yang tidak terkendali dan berlebihan (over grazing) akan
menyebabkan kelangkaan hijauan antar tanaman (HAT).
5. Pemeliharaan ternak sapi potong pada areal perkebunan sawit akan
menganggu kegiatan pemupukan dan penyemprotan hama serta dapat
menyebabkan ternak sapi keracunan.
MENGATASI KENDALA
AGAR DAPAT BERJALAN EFEKTIF:
 Pengembangan integrasi harus didukung dengan sistem
kelembagaan yang jelas.
 Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi (a players
of organize) tetapi juga aturan main dalam kerjasama (rule
of the game).
 Aturan main dalam kelembagaan tidak hanya internal
kelompok peternak sasaran, tetapi juga hubungan dengan
pihak lain yang harus disepakati bersama.
GANGGUAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN SAWIT:
• Sistem pemeliharaan intensif karena integrasi tidak harus dengan pengembalaan
ternak pada areal perkebunan terutama pada tanaman sawit muda dan belum
menghasilkan.
• Jika pengembalaan lebih efektif, maka pengaturan jadual dengan pengembalaan
sistem rotasi atau jalur dapat meminimalisir pengerasan tanah dan kerusakan
akar permukaan tanaman kelapa sawit.
 Potensial mendukung program replanting guna
mengatasi masalah temporary loss income rumah
tangga plasma.
 Salah satu alternatif implementasi CSR terhadap
lingkungan internal (butuh) dan eksternal (masyarakat
sekitar) perusahaan.
 Integrasi (tanpa menganggu produktivitas sawit)
meningkatkan citra perusahaan dimata masyarakat
dan pemerintah daerah.
 Pengembangan CSR melalui integrasi sebagai salah
• Tidak membutuhkan investasi pengadaan lahan dan pembangunan
kebun rumput (memanfaatkan HAT dan limbah sawit)
• Melalui kemitraan tidak membutuhkan rekruitmen TK khusus
(memanfaatkan TKL, plasma dan masyarakat sekitar).
• Usaha ternak sapi dapat menjadi sumber income alternatif ditengah
anjloknya harga TBS (memberikan pelajaran “rumah tangga komoditas
tunggal rentan terhadap fluktuasi harga”).
MANAJEMEN LIMBAH
 Menurunkan ketergantungan RT terhadap energi fosil dimana 3-4 ekor
menghemat MT 2 ltr/hr ≈ Rp. 5.000 (Rp. 2.500/ltr) ≈ Rp. 912.500/thn/RT (
 Mengurangi ketergantungan pupuk komersial (semakin mahal dan langka) dan
meningkatkan efisiensi biaya UT sawit. Setiap ekor sapi dewasa menghasilkan
feces 8–10 kg/hr (basah) ≈ kompos 2 – 3 kg/hari ≈ 0,5 ton/tahun.
Analisis unsur hara (N = 0,89%, P = 0.06%, dan K = 0.51%) maka setiap ton
kompos setara 19,2 kg Urea, 10,87 kg TSP dan 92,52 MOP, dengan rata-rata
kebutuhan/pokok 2 kg Urea, 1,5 kg RP dan 2,5 MOP maka setiap ekor sapi dalam
satu tahun mampu memenuhi kebutuhan ± 5 pokok sawit.
 Efisiensi pemeliharaan kebun dengan proyeksi nilai ekonomi (Replacement Cost
Method). Jika penyiangan 2 kali/thn gunakan 2 klg herbisida (Rp. 75.000/klg) dan
TK 4 HOK (upah Rp. 27.500/org/hr) maka nilai efisiensi mencapai Rp.
520.000/Ha/tahun.
OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH DAN PERBAIKAN KUALITAS LINGKUNGAN
UNTUK SUATU SIMBIOSIS MUTUALISM DAN SINERGI ANTAR KOMODITAS SERTA INTENSIFIKASI UT SAPI
Murni fattening (single objective) sapi
potong pola kemitraan antara
perusahaan sebagai inti dan rumah
tangga sasaran sebagai plasma.
Pola kemitraan dengan skala usaha
awal 100 ekor menggunakan sistem
bagi hasil inti dan plasma 50 : 50.
Tujuan ganda (multi objective) yaitu
kombinasi antara
1. penggemukan (fattening) skala 50
ekor dengan sistem bagi hasil 50:50
2. pembibitan (breeding) dengan
skala awal 2 ekor pejantan dan 48
ekor betina dengan sistem 1
kembali 1 tetapi plasma juga
membayar kekurangan selisih
harga ternak dikembalikan dengan
ternak awal (bibit sebar).
Estimasi kelayakan finansial investasi dalam integrasi sapi sawit dengan mitra
sasaran 25 KK pada 2 (dua) jenis usaha
PENGGEMUKAN PEMBIBITAN
 Lama penggemukan 270 hari,
 PBB harian 0,35 kg/ekor/hari atau 94,5
kg/ekor/periode,
 Harga sapi bakalan Rp. 5,5 juta.
 Nilai tambah penggemukan (Rp. 1,42 jt)
merupakan selisih antara harga jual sapi
siap potong (hasil penggemukan).
 Harga jual sapi siap potong (Rp. 6,92 jt)
merupakan perkalian antara harga sapi
hidup (Rp. 23.500/kg) dan bobot akhir
(294,5 kg).
 Resiko kegagalan (kematian) ternak
bakalan usaha sekitar 2%.
 Ternak bibit sebar dikembalikan adalah
betina yang nilai jualnya diperkirakan
Rp. 4,5 juta sehingga dengan harga awal
Rp. 6 jt maka diwajibkan membayar
defisit harga Rp. 1,5 jt tahun berikutnya.
 Biaya operasional pemeliharaan ternak
bibit sesuai perkembangan populasi
 Angka kelahiran 80%, imbangan
1:1, angka kelahiran sesuai kelompok
umur.
 Kepemilikan ternak sapi setelah
pengembalian bibit sebar lunas menjadi
milik plasma dan pada akhir periode
kegiatan diperhitungkan sebagai nilai
asset plasma.
Asumsi umum: inflasi (kenaikan harga-harga) input dan output
5%/tahun, sedangkan asumsi spesifik;
ASUMSI LAIN:
ANGSURAN KREDIT
1. Total kredit yang diberikan kepada plasma berasal
dari dana perusahaan sebesar Rp. 200 jt atau Rp. 8
jt/KK dengan tingkat bunga kredit (subsidi) 6%
dan jangka waktu 5 tahun (60 bulan).
2. Cicilan kredit wajib disetor kepada perusahaan
sebagai pemilik modal sebesar 3,87 jt/bulan atau
Rp. 34,8 jt/periode.
3. Besarnya cicilan kredit investasi yang harus
dibayarkan plasma adalah Rp. 155 rb/bulan atau
1,39 jt/periode
No INVESTASI
Nilai (Rp) Komposisi (%)
Fattening Kombinasi Fattening Kombinasi
A INTI (PERUSAHAAN)
1 Pengadaan Ternak
a. Pejantan - 14,000,000 - 1.05
b. Induk - 312,000,000 - 23.47
c. Bakalan 550,000,000 275,000,000 47.83 20.69
Jumlah Investasi 550,000,000 601,000,000 47.83 45.21
2 Dana Kredit 200,000,000 200,000,000 17.39 15.04
3 Operasional P I (Hibah) 165,392,790 280,633,331 14.38 21.11
JUMLAH 915,392,790 1,081,633,331 79.61 81.36
B PLASMA (PETERNAK) - -
1 Investasi 210,000,000 210,000,000 18.26 15.80
2 Operasional Periode I 24,480,657 37,778,004 2.13 2.84
3 Cicilan Kredit Periode I 34,799,043 34,799,043 3.03 2.62
JUMLAH 234,480,657 247,778,004 20.39 18.64
TOTAL 1,149,873,447 1,329,411,335 100.00 100.00
PENGGEMUKAN KOMBINASI
 Tingkat keuntungan inti (IRR=
28,57%/periode) > peternak plasma
(IRR = 24,32%/periode)
 tetapi bagi plasma trend keuntungan
secara nominal cenderung menigkat
terutama pasca pelunasan kredit
yaitu mulai periode produksi ke 9
atau setelah 5 tahun (jangka waktu
kredit).
 IRR Plasma 27,07% > Inti 14,21%
(tetap saling menguntungkan)
Upaya peningkatan IRR Inti
 Pemberian insentif investasi CSR
(cukup dengan penyediaan tenaga
pendamping akan meningkatkan
performa investasi inti
 IRR Inti meningkat dari 14,21%
menjadi 22,43%).
KESIMPULAN  Prospek tingkat keuntungan investasi usaha
fattening lebih tinggi tetapi kurang mendorong
kemandirian RT mitra dan perluasan jangkauan
sasaran CSR.
 Prospek tingkat keuntungan investasi kombinasi
(fattening dan breeding) lebih rendah tetapi
mampu mendorong kemandirian dan dengan
sistem perguliran bibit akan memperluas
jangkauan mitra binaan.
 Keputusan investasi yang dipilih tergantung
kebijakan perusahaan dengan mempertimbangkan
tujuan atau orientasi investasi (profit dan/atau
sosial).
 Agar investasi perusahaan lebih seimbang maka
untuk mendorong perkembangan investasi dalam
usaha pembibitan (breeding), maka pemerintah
sewajarnya memberikan berbagai bentuk insentif.
Demikianlah makalah yang merupakan kumpulan pemikiran dari beberapa tulisan
yang telah saya susun, semoga dapat bermanfaat bagi pengembangan integrasi
ternak sapi potong dan sawit di indonesia khususnya di Provinsi Jambi.
PENUTUP

INTEGRATED FARMING SYSTEM: PROSPEK DAN POTENSI

  • 2.
    Konsumsi Produksi Defisit • Daging 4,9% •Daging Sapi 5,33% • Daging 4,89 • Daging Sapi 5,28% • Daging 5,24% • Daging Sapi 2,14% desain suatu langkah-langkah strategis road-map komoditas unggulan “PERCEPATAN SWASEMBADA DAGING SAPI TAHUN 2012 MENUJU SURPLUS PRODUKSI TAHUN 2015” Tahun 2012 defisit neraca perdagangan Provinsi Jambi Rp. 83,137 M (Tim Road Map, 2007).
  • 4.
    PEMANFAATAN SUMBERDAYA BERSAMA SEHINGGAMENDORONG SINERGI ATAU SIMBIOSIS MUTUALISM ANTAR KOMODITAS LEBIHPADA MEMELIHARA SAPI PADA AREAL SAWIT INTEGRASI SAPI-SAWIT TIDAK SELALU HARUS
  • 5.
    1. komoditas kelapasawit merupakan komoditas unggulan daerah yang melibatkan lebih dari 100 ribu rumah tangga, 2. sebagian besar areal perkebunan sawit merupakan areal kemitraan (BUMN atau swasta) yang memiliki alokasi dana tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan, 3. pemerintah menyadari bahwa percepatan swasembada tahun 2012 tidak akan berhasil tanpa partisipasi semua pihak termasuk dunia usaha karena keterbatasan anggaran 4. program integrasi akan berkembang baik jika terjadi sinergi antara komoditas, sektor dan pelaku pembangunan yang saling menguntungkan. Pemilihan perkebunan sawit tidak hanya karena potensi sumber hijauan antar tanaman (HAT) dan limbah sebagai sumber pakan tetapi juga beberapa potensi lain
  • 6.
    Sumber gangguan yangmenjadi sumber kekuatiran pihak perkebunan 1. Pengembalaan sapi secara berlebihan (tidak terkendali) menyebabkan pengerasan lahan sehingga kemampuan lahan menyerap unsur hara akan menurun. 2. Perilaku ternak sapi yang suka “mengais” terutama di sekitar pokok tanaman menyebabkan kerusakan pada akar permukaan tanaman sawit. 3. Perilaku ternak sapi yang suka “merenggut” daun tanaman menyebabkan kerusakan terutama pada tanaman sawit muda dan baru menghasilkan. 4. Pengembalaan yang tidak terkendali dan berlebihan (over grazing) akan menyebabkan kelangkaan hijauan antar tanaman (HAT). 5. Pemeliharaan ternak sapi potong pada areal perkebunan sawit akan menganggu kegiatan pemupukan dan penyemprotan hama serta dapat menyebabkan ternak sapi keracunan.
  • 7.
    MENGATASI KENDALA AGAR DAPATBERJALAN EFEKTIF:  Pengembangan integrasi harus didukung dengan sistem kelembagaan yang jelas.  Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi (a players of organize) tetapi juga aturan main dalam kerjasama (rule of the game).  Aturan main dalam kelembagaan tidak hanya internal kelompok peternak sasaran, tetapi juga hubungan dengan pihak lain yang harus disepakati bersama. GANGGUAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TANAMAN SAWIT: • Sistem pemeliharaan intensif karena integrasi tidak harus dengan pengembalaan ternak pada areal perkebunan terutama pada tanaman sawit muda dan belum menghasilkan. • Jika pengembalaan lebih efektif, maka pengaturan jadual dengan pengembalaan sistem rotasi atau jalur dapat meminimalisir pengerasan tanah dan kerusakan akar permukaan tanaman kelapa sawit.
  • 8.
     Potensial mendukungprogram replanting guna mengatasi masalah temporary loss income rumah tangga plasma.  Salah satu alternatif implementasi CSR terhadap lingkungan internal (butuh) dan eksternal (masyarakat sekitar) perusahaan.  Integrasi (tanpa menganggu produktivitas sawit) meningkatkan citra perusahaan dimata masyarakat dan pemerintah daerah.  Pengembangan CSR melalui integrasi sebagai salah • Tidak membutuhkan investasi pengadaan lahan dan pembangunan kebun rumput (memanfaatkan HAT dan limbah sawit) • Melalui kemitraan tidak membutuhkan rekruitmen TK khusus (memanfaatkan TKL, plasma dan masyarakat sekitar). • Usaha ternak sapi dapat menjadi sumber income alternatif ditengah anjloknya harga TBS (memberikan pelajaran “rumah tangga komoditas tunggal rentan terhadap fluktuasi harga”).
  • 9.
    MANAJEMEN LIMBAH  Menurunkanketergantungan RT terhadap energi fosil dimana 3-4 ekor menghemat MT 2 ltr/hr ≈ Rp. 5.000 (Rp. 2.500/ltr) ≈ Rp. 912.500/thn/RT (  Mengurangi ketergantungan pupuk komersial (semakin mahal dan langka) dan meningkatkan efisiensi biaya UT sawit. Setiap ekor sapi dewasa menghasilkan feces 8–10 kg/hr (basah) ≈ kompos 2 – 3 kg/hari ≈ 0,5 ton/tahun. Analisis unsur hara (N = 0,89%, P = 0.06%, dan K = 0.51%) maka setiap ton kompos setara 19,2 kg Urea, 10,87 kg TSP dan 92,52 MOP, dengan rata-rata kebutuhan/pokok 2 kg Urea, 1,5 kg RP dan 2,5 MOP maka setiap ekor sapi dalam satu tahun mampu memenuhi kebutuhan ± 5 pokok sawit.  Efisiensi pemeliharaan kebun dengan proyeksi nilai ekonomi (Replacement Cost Method). Jika penyiangan 2 kali/thn gunakan 2 klg herbisida (Rp. 75.000/klg) dan TK 4 HOK (upah Rp. 27.500/org/hr) maka nilai efisiensi mencapai Rp. 520.000/Ha/tahun. OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH DAN PERBAIKAN KUALITAS LINGKUNGAN UNTUK SUATU SIMBIOSIS MUTUALISM DAN SINERGI ANTAR KOMODITAS SERTA INTENSIFIKASI UT SAPI
  • 10.
    Murni fattening (singleobjective) sapi potong pola kemitraan antara perusahaan sebagai inti dan rumah tangga sasaran sebagai plasma. Pola kemitraan dengan skala usaha awal 100 ekor menggunakan sistem bagi hasil inti dan plasma 50 : 50. Tujuan ganda (multi objective) yaitu kombinasi antara 1. penggemukan (fattening) skala 50 ekor dengan sistem bagi hasil 50:50 2. pembibitan (breeding) dengan skala awal 2 ekor pejantan dan 48 ekor betina dengan sistem 1 kembali 1 tetapi plasma juga membayar kekurangan selisih harga ternak dikembalikan dengan ternak awal (bibit sebar). Estimasi kelayakan finansial investasi dalam integrasi sapi sawit dengan mitra sasaran 25 KK pada 2 (dua) jenis usaha
  • 11.
    PENGGEMUKAN PEMBIBITAN  Lamapenggemukan 270 hari,  PBB harian 0,35 kg/ekor/hari atau 94,5 kg/ekor/periode,  Harga sapi bakalan Rp. 5,5 juta.  Nilai tambah penggemukan (Rp. 1,42 jt) merupakan selisih antara harga jual sapi siap potong (hasil penggemukan).  Harga jual sapi siap potong (Rp. 6,92 jt) merupakan perkalian antara harga sapi hidup (Rp. 23.500/kg) dan bobot akhir (294,5 kg).  Resiko kegagalan (kematian) ternak bakalan usaha sekitar 2%.  Ternak bibit sebar dikembalikan adalah betina yang nilai jualnya diperkirakan Rp. 4,5 juta sehingga dengan harga awal Rp. 6 jt maka diwajibkan membayar defisit harga Rp. 1,5 jt tahun berikutnya.  Biaya operasional pemeliharaan ternak bibit sesuai perkembangan populasi  Angka kelahiran 80%, imbangan 1:1, angka kelahiran sesuai kelompok umur.  Kepemilikan ternak sapi setelah pengembalian bibit sebar lunas menjadi milik plasma dan pada akhir periode kegiatan diperhitungkan sebagai nilai asset plasma. Asumsi umum: inflasi (kenaikan harga-harga) input dan output 5%/tahun, sedangkan asumsi spesifik;
  • 12.
    ASUMSI LAIN: ANGSURAN KREDIT 1.Total kredit yang diberikan kepada plasma berasal dari dana perusahaan sebesar Rp. 200 jt atau Rp. 8 jt/KK dengan tingkat bunga kredit (subsidi) 6% dan jangka waktu 5 tahun (60 bulan). 2. Cicilan kredit wajib disetor kepada perusahaan sebagai pemilik modal sebesar 3,87 jt/bulan atau Rp. 34,8 jt/periode. 3. Besarnya cicilan kredit investasi yang harus dibayarkan plasma adalah Rp. 155 rb/bulan atau 1,39 jt/periode
  • 13.
    No INVESTASI Nilai (Rp)Komposisi (%) Fattening Kombinasi Fattening Kombinasi A INTI (PERUSAHAAN) 1 Pengadaan Ternak a. Pejantan - 14,000,000 - 1.05 b. Induk - 312,000,000 - 23.47 c. Bakalan 550,000,000 275,000,000 47.83 20.69 Jumlah Investasi 550,000,000 601,000,000 47.83 45.21 2 Dana Kredit 200,000,000 200,000,000 17.39 15.04 3 Operasional P I (Hibah) 165,392,790 280,633,331 14.38 21.11 JUMLAH 915,392,790 1,081,633,331 79.61 81.36 B PLASMA (PETERNAK) - - 1 Investasi 210,000,000 210,000,000 18.26 15.80 2 Operasional Periode I 24,480,657 37,778,004 2.13 2.84 3 Cicilan Kredit Periode I 34,799,043 34,799,043 3.03 2.62 JUMLAH 234,480,657 247,778,004 20.39 18.64 TOTAL 1,149,873,447 1,329,411,335 100.00 100.00
  • 14.
    PENGGEMUKAN KOMBINASI  Tingkatkeuntungan inti (IRR= 28,57%/periode) > peternak plasma (IRR = 24,32%/periode)  tetapi bagi plasma trend keuntungan secara nominal cenderung menigkat terutama pasca pelunasan kredit yaitu mulai periode produksi ke 9 atau setelah 5 tahun (jangka waktu kredit).  IRR Plasma 27,07% > Inti 14,21% (tetap saling menguntungkan) Upaya peningkatan IRR Inti  Pemberian insentif investasi CSR (cukup dengan penyediaan tenaga pendamping akan meningkatkan performa investasi inti  IRR Inti meningkat dari 14,21% menjadi 22,43%).
  • 15.
    KESIMPULAN  Prospektingkat keuntungan investasi usaha fattening lebih tinggi tetapi kurang mendorong kemandirian RT mitra dan perluasan jangkauan sasaran CSR.  Prospek tingkat keuntungan investasi kombinasi (fattening dan breeding) lebih rendah tetapi mampu mendorong kemandirian dan dengan sistem perguliran bibit akan memperluas jangkauan mitra binaan.  Keputusan investasi yang dipilih tergantung kebijakan perusahaan dengan mempertimbangkan tujuan atau orientasi investasi (profit dan/atau sosial).  Agar investasi perusahaan lebih seimbang maka untuk mendorong perkembangan investasi dalam usaha pembibitan (breeding), maka pemerintah sewajarnya memberikan berbagai bentuk insentif.
  • 16.
    Demikianlah makalah yangmerupakan kumpulan pemikiran dari beberapa tulisan yang telah saya susun, semoga dapat bermanfaat bagi pengembangan integrasi ternak sapi potong dan sawit di indonesia khususnya di Provinsi Jambi. PENUTUP