LATAR BELAKANG
Minyak nabatibanyak digunakan dalam industri karena sifatnya yang
aman dan terbarukan, namun viskositasnya yang tinggi membuatnya
perlu dimodifikasi sebelum digunakan. Salah satu bentuk modifikasi
adalah emulsi, tetapi emulsi memiliki kelemahan yaitu kurang stabil
secara termodinamik. Untuk mengatasi hal tersebut, dikembangkan
mikroemulsi yang lebih stabil, transparan, dan mampu meningkatkan
efektivitas formulasi minyak nabati. Oleh karena itu, penting memahami
perbedaan emulsi dan mikroemulsi untuk menentukan sistem terbaik
dalam pengolahan minyak nabati.
4.
PENGERTIAN EMULSI
1.Menurut Farmakope:sediaan berisi obat cair yang terdispersi dalam
cairan pembawa dan distabilkan surfaktan.
2. Menurut Formularium: campuran dua fase cairan dalam sistem
dispersi.
3.Emulsi = sistem koloid dengan ukuran 1–1000 nm.
5.
TUJUAN
Tujuannya adalah untukmemberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai
perbedaan antara emulsi dan mikroemulsi, terutama ketika keduanya digunakan
dalam formulasi minyak nabati. Penelitian ini bertujuan menjelaskan karakteristik,
stabilitas, metode pembuatan, serta kelebihan dan kekurangan masing-masing
sistem. Selain itu, jurnal ini juga bertujuan memperkenalkan mikroemulsi sebagai
alternatif yang lebih unggul, karena memiliki stabilitas termodinamik lebih baik,
ukuran partikel yang lebih kecil, serta potensi meningkatkan efektivitas formulasi.
Melalui kajian literatur ini, diharapkan mikroemulsi dapat menjadi pilihan baru yang
lebih efisien, ekonomis, dan aplikatif dalam pengolahan minyak nabati di berbagai
industri seperti pangan, kosmetik, dan farmasi.
6.
PERBEDAAN EMULSI DAN
MIKROEMULSI
1.Emulsi:keruh, stabil kinetik, viskositas rendah.
2. Mikroemulsi: transparan, stabil termodinamik, viskositas
tinggi.
3.Mikroemulsi butuh energi & biaya lebih besar.
7.
Metode pembuatan emulsi
1.MetodeGom Kering (Dry Gum Method /
4:2:1)
2. Surfaktan (gom) dicampurkan terlebih
dahulu dengan minyak, kemudian
ditambahkan air untuk membentuk
dasar emulsi.
3.Metode Gom Basah (Wet Gum Method)
4. Surfaktan dilarutkan dalam air untuk
membentuk mucilago, lalu minyak
ditambahkan perlahan sambil diaduk
hingga membentuk emulsi.
5.Metode Botol (Forbes Bottle Method)
6. Digunakan untuk minyak yang encer
atau mudah menguap. Semua bahan
dimasukkan ke dalam botol dan dikocok
hingga menjadi emulsi.
METODE PEMBUATAN
metode pembuatan
mikroemulsi
1.metode fase inversi
Mengubah sistem O/W menjadi W/O
atau sebaliknya dengan penambahan fase
terdispersi berlebih atau perubahan suhu.
Metode ini mempengaruhi ukuran partikel
secara signifikan.
2.Metode Fase Titrasi (Emulsifikasi
Spontan)
Minyak dan obat dicampur, lalu dititrasi
dengan surfaktan dan air hingga
terbentuk mikroemulsi secara spontan.
Metode ini dapat menghasilkan berbagai
struktur seperti misel, gel, atau kubik.
8.
HASIL
Hasil menunjukkan bahwaemulsi dan mikroemulsi memiliki
perbedaan penting dalam karakteristik dan stabilitas. Emulsi
cenderung tidak stabil, tampak keruh, dan mudah mengalami
kerusakan selama penyimpanan. Sebaliknya, mikroemulsi memiliki
ukuran partikel lebih kecil, tampak transparan, dan stabil secara
termodinamik. Mikroemulsi juga lebih efektif dalam meningkatkan
kelarutan, penyerapan, serta stabilitas minyak nabati, sehingga
dianggap lebih unggul dan berpotensi besar digunakan dalam
berbagai aplikasi industri.
9.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil review,mikroemulsi terbukti menjadi alternatif yang
lebih unggul dibandingkan emulsi konvensional dalam pengolahan
minyak nabati. Mikroemulsi memiliki ukuran partikel yang jauh lebih kecil,
stabil secara termodinamik, serta mampu meningkatkan kelarutan,
penyerapan, dan bioavailabilitas bahan aktif. Teknologi ini juga lebih
efisien dan ekonomis dalam proses formulasi. Sementara emulsi masih
banyak digunakan, kelemahan seperti ketidakstabilan dan risiko
kerusakan selama penyimpanan membuat mikroemulsi menjadi pilihan
yang lebih menjanjikan untuk aplikasi di industri pangan, kosmetik, dan
farmasi.