PENGERTIAN
• Emulsi adalahsuatu system heterogen
yang tidak stabil secara termodinamika,
yang terdiri dari paling sedikit dua fase
cairan yang tidak bercampur, dimana salah
satunya terdispersi dalam cairan lainnya
dalam bentuk tetesan–tetesan kecil, yang
berukuran 0,1-100 mm, yang distabilkan
dengan emulgator/surfaktan yang cocok.
3.
Keuntungan Sediaan Emulsi
•Obat dapat dibuat lebih enak
• Lebih mudah diabsorbsi
• Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah dicuci bila diinginkan
• Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan kekerasan dari
emulsi
• Dapat diperpanjang dan efek emolien yang lebih besa
• Dapat mengantarkan obat dengan kelarutan dalam air yang rendah
• Emulsi farmasi dapat digunakan untuk mengelola obat untuk pasien yang
mengalami kesulitan menelan bentuk sediaan obat padat
• Emulsi digunakan untuk total nutrisi parenteral.
4.
Kerugian Emulsi
• Emulsifarmasi secara termodinamik
tidak stabil dan karena itu harus
diformulasikan untuk menstabilkan
emulsi dari pemisahan dua fase. Ini tidak
berarti mudah.
• Emulsi farmasi mungkin sulit untuk
diproduksi
5.
KOMPOSISI EMULSI
• Emulsiyang stabil harus terdiri dari 3 komponen yaitu fase
terdispersi atau fase internal, fase kontinyu atau fase eksternal
dan bahan pengemulsi
6.
TIPE-TIPE EMULSI DANUKURAN
TETESAN EMULSI
• M/A (minyak/air) : Suatu emulsi dimana minyak terdispersi sebagai
tetesan-tetesan dalam fase air dan diistilahkan emulsi minyak dalam air.
• A/M (air/minyak) : Jika air adalah fase terdispersi dan minyak adalah
medium pendispersi, maka emulsi disebut emulsi air dalam minyak.
• Emulsi ganda telah dikembangkan berdasarkan penundaan pelepasan
bahan aktif. Dalam tipe emulsi ini memiliki 3 fase yang disebut bentuk
emulsi A/M/A atau M/A/M atau disebut “emulsi dalam emulsi”.
7.
CARA MEMPREDIKSI TIPEEMULSI
• Jika ampifil adalah larutan air yang esensial (misalnya sabun kalium/polioksietilen alkil dengan
unit etilenoksida biasanya membantu pembentukan emulsi M/A, jika surfaktan terutama larut
dalam bagian lemak (sabun kalium, polioksietilen alkil dengan unit etilenoksida’-5) dapat
membantu pembentukan emulsi A/M jika kondisi lain diberikan
• Bagian polar dari emulgator biasanya adalah barier yang lebih baik koalesens daripada bagian
hidrokarbonnya. Di lain pihak emulsi A/M (bariernya adalah hidrokarbon alam) terbatas dalam
bagian ini dan berubah dengan mudah jika jumlah air yang ada sama.
• Bahkan jika airnya 20-30%, emulsi A/M akan tetap terbentuk jika air ditambahkan pada
minyak pada pencampuran. Penambahan kedua fase bersama-sama diikuti dengan
pencampuran menunjukkan emulsi M/A pada seluruh konsentrasi air diatas 10%.
• Terakhir, tipe emulsi yang terbentuk dipengaruhi oleh viskositas masing-masing fase,
peningkatan viskositas dari fase membentuk fase luar
8.
CARA MENENTUKAN TIPEEMULSI
• Uji Pengenceran
• Uji Konduktivitas
• Uji Kelarutan Warna
• Tes Pengenceran tetesan
• Uji kelarutan cat
• Uji arah creaming
• Uji hantaran listrik
• Tes fluoresensi
11.
PEMBENTUKAN DAN PEMECAHANTETESAN FASE TERDISPERSI
• Proses dispersi untuk membentuk
tetesan-tetesan
• Penggabungan tetesan-tetesan
• Koalesensi adalah proses tersendiri
dari flokulasi (agregasi) yang umumnya
mengawali flokulasi
12.
TEORI EMULSIFIKASI
• jikadua tetesan saling kontak satu sama lain, mereka berkoalesen
membentuk satu tetesan yang lebih besar dimana hasilnya terjadi
penurunan total permukaan ditunjukkan oleh massa cairan yang ada
• Kekuatan koalesen untuk keadaan ini dapat diukur dan dikenal sebagai
tegangan permukaan dari cairan jika kontak dengan udara atau dengan
uapnya sendiri dan “Tegangan antar muka” jika cairan kontak dengan
cairan yang lainnya.
13.
TEORI TEGANGAN PERMUKAAN
•TEORI ORIENTED-WEDGE
• Dugaan bahwa bahan pengemulsi seperti sabun mengubahnya menjadi lapisan monomolekuler dari
semua kelompok dengan polaritas yang sama dari sisi lapisan. Pengubahan dari setiap molekul setiap
tetesan air, memberikan bentuk Wedge. Oleh karena itu, kurva dari lapisan molekul dan pembentukan
suatu minyak dalam air atau emulsi air dalam minyak yang tergantung pada baik kelarutan minyak atau
sejumlah kelarutan dari molekul yang lebih besar
• TEORI LAPISAN PLASTIS
• Efek dari bahan pengemulsi murni secara mekanik dan tidak tergantung pada tegangan antar muka
apapun. Pembentukan emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air dijelaskan berdasarkan kelarutan
selektif dari bahan pengemulsi yang digunakan bahwa kelarutan memberikan peningkatan kepada
emulsi minyak dalam air dan kelarutan minyak membentuk emulsi air dalam minyak.
14.
KETIDAKSTABILAN DALAM EMULSIFARMASI DAPAT
DIGOLONGKAN
• Flokulasi dan creaming
• Penggabungan dan pemecahan
• Berbagai jenis perubahan kimia dan fisika
• Inversi fase (pengubahan fase)
15.
PENGERTIAN EMULGATOR
• Emulgatoradalah bahan aktif permukaan yang menurunkan tegangan
antar muka antara minyak dan air dan mengelilingi tetesan terdispersi
dengan membentuk lapisan yang kuat untuk mencegah koalesensi dan
pemisahan fase terdispersi.
• Bahan pengemulsi adalah bahan yang digunakan untuk pembentukan
proses emulsifikasi pada waktu pembuatan dan pengontrolan saat
penyimpanan.
16.
SIFAT-SIFAT EMULGATOR YANG
DIINGINKAN
•Harus efektif pada permukaan dan mengurangi tegangan antar muka sampai di
bawah 10 dyne/cm.
• Harus diabsorbsi cepat di sekitar tetesan terdispersi sebagai lapisan kental
mengadheren yang dapat mencegah koalesensi
• Memberikan tetesan-tetesan yang potensial listriknya cukup sehingga terjadi saling
tolak-menolak
• Harus meningkatkan viskositas emulsi
• Harus efektif pada konsentrasi rendah
INTERMITTEN SHAKING
• Pengocokanberselang–seling lebih efisien dibandingkan dengan
pengocokan terus menerus karena dengan interval waktu yang
singkat dapat memberi kerataan terhadap fase terdispersi
bercampur dengan fase pendispersi. Pengocokan terus menerus
dapat merusak emulsi menjadi pecah karena merusak lapisan
pelindung antarmuka. Secara sempurna dalam air dengan
pengocokan mekanis dengan menggunakan waktu kira – kira 2
menit dan emulsi tersebut didiamkan selama 20 – 30 detik.
21.
REKOMENDASI TAMBAHAN
• Untukmembuat suatu fase minyak yang mengandung sama bahan larut dalam minyak maka dipanaskan
kira–kira 5 – 10o diatas titik didih dari bahan yang titik lelehnya paling tinggi.
• Untuk fase air dipanaskan pada suhu yang lebih tinggi daripada fase minyak (missal minyak 70o dan air
80o). Hal ini dimaksudkan karena minyak lebih lama dingin daripada air, sehingga jika suhu air lebih
rendah dari minyak maka air akan terlebih dahulu dingin sehingga suhunya tidak sama lagi dengan minyak.
• Jika sabun digunakan sebagai pengemulsi maka tidak perlu emulgator tambahan karena sabun bersifat
insito dimana sabun merupakan hasil reaksi antara asam lemah dengan alkali dengan asam lemak ini akan
bercampur dengan fase minyak sedang alkali akan bercampur dengan fase air membentuk suatu emulgator
pada masing – masing fase.
• Emulgator yang larut air dilarutkan dalam fase air, sedang emulgator yang larut minyak dilarutkan dalam
minyak, kadang – kadang bermamfaat jika memecahkan emulgator larut dalam air dan larut dalam minyak
• Untuk mencegah kehilangan pengaroma, dua parfum lebih baik ditambahkan pada suhu terendah (55o
–
45o
)