Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
BERSINERGI DAN BERBAGI CERITA
Enewsletter Juni 2018 Halaman 1
Kearifan lokal mendukung pencapaian Bebas BABS
Berdaya Tanpa Batas
Semangat dan energi gotong royong dapat terlihat di
berbagai tingkatan di masyarakat. Contohnya di Desa
Banyumas – desa pertama di Kecamatan Candipuro
yang bebas BABS – ada seorang Ibu yang sudah lanjut
usia yang tidak memiliki toilet. Dengan semangat gotong
royong, masyarakat, staf puskesmas dan kepala desa
membantu Ibu tersebut untuk membangun toilet
sehingga beliau mendapat akses yang layak terhadap
sanitasi.
Pada peringatan Hari Kebersihan Menstruasi tahun 2018 ini,
Jejaring AMPL menyelenggarakan bincang sehat dengan tema
“Peduli Menstruasi, Berdaya Tanpa Batas.” Acara tersebut
diselenggarakan pada tanggal 24 Mei 2018 di studio 4 CGV
Grand Indonesia, Jakarta Pusat.
Penyusunan Strategi Sanitasi Sekolah
Pada tanggal 30-31 Mei 2018 yang lalu Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Strategi Sanitasi Sekolah dengan menggandeng Kelompok Kerja
Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Nasional (Pokja AMPL
Nasional) bertempat di Hotel Mega Anggrek, Jakarta.
Peserta Bimtek berasal dari daerah peserta Program PPSP
(Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman), khususnya
Regional Barat (Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan sebagian
Kalimantan) dengan total 23 Kabupaten/ Kota.
Kewirausahaan Sanitasi Berbasis Minat untuk Masyarakat Pedesaan di
Kabupaten Manggarai Barat
Peningkatan kapasitas melalui pendekatan STBM 5 Pilar dilaksanakan untuk memunculkan wirausaha
sanitasi organik. Para wirausahawan hadir atas minat sendiri setelah pelaksanaan sosialisasi 5 pilar
STBM di tingkat kecamatan dan desa.
Kearifan lokal sebagai inspirasi gerakan sanitasi
untuk mencapai bebas BABS
“Yang Anda temui ini bukanlah sebuah tim, kami adalah KELUARGA
yang berdedikasi untuk memperbaiki kondisi sanitasi di Lampung
Selatan” ujar Dedy Prabowo, memperkenalkan tim sanitasinya.
6 bulan telah berlalu seusai SNV menyelesaikan
program sanitasi perdesaan mendukung STBM
dengan pendekatan Sustainable Sanitation and
Hygiene for All (SSH4A) di Provinsi Lampung,
saat studi evaluasi untuk program dijalankan.
Dedy Prabowo, yang merupakan staf lapangan
SNV pada saat itu memperkenalkan evaluator
kepada tim sanitasinya. Yang sangat menarik
adalah beliau tidak memperkenalkan mereka
sebagai tim – melainkan sebuah keluarga.
Indonesia merupakan negara dengan lebih dari
380 suku daerah yang memiliki berbagai bahasa,
budaya, kearifan lokal, dan nilai-nilai norma yang
dianut. Banyak dari kearifan lokal dan nilai
budaya tersebut yang dilestarikan dan
diturunkan dari generasi ke generasi
selanjutnya. Salah satu contohnya adalah
kekeluargaan dan gotong royong.
Dalam praktisnya di era modern ini, dapat
terlihat bahwa implementasi dari nilai-nilai ini
sangat beragam. Namun, cerita berikut
membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia
masih sangat kuat hingga saat ini.
Cerita ini berasal dari dua kecamatan di
Lampung Selatan; Candipuro dan Tanjung Sari.
Pada tahun 2014, kedua lokasi ini mengalami
berbagai masalah di bidang air, sanitasi dan
kebersihan (WASH): dari total 20.000 rumah
tangga, terdapat 1.500 di antaranya tanpa toilet;
6.000 dengan masalah fungsional fasilitas
sanitasi; dan juga 12.000 rumah tangga tanpa
tempat cuci tangan. Untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut, SNV bersama dengan
Pemerintah Kabupaten melaksanakan gerakan
Swasembada WC, yang berarti masyarakat
secara mandiri memenuhi kebutuhan
sanitasinya.
Tim STBM di Lampung Selatan yang berkomitmen
mendukung STBM melalui gerakan Swasembada WC
Swasembada WC memiliki 4 pilar utama, yaitu:
(1) pemahaman dari pentingnya sanitasi, (2)
fasilitasi dan bekerja dengan gembira, (3)
gotong royong, dan (4) kader militan.
Menurut salah satu anggota tim STBM, kader ini
datang dari berbagai institusi: mulai dari staf
puskesmas, petugas desa, sampai guru. Kunci
kesuksesan dari gerakan Swasembada WC ini
adalah keberadaan kader militan tersebut.
“Usaha yang kami lakukan adalah
cara kami untuk berkontribusi bagi
masyarakat” ujar M. Roshid Ridho,
anggota tim Swasembada WC.
“Kami berharap kami dapat
menciptakan perubahan positif
untuk kami sendiri, keluarga kami
dan juga generasi selanjutnya.”
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 2
Semangat dan energi gotong royong dapat
terlihat di berbagai tingkatan di masyarakat.
Contohnya di Desa Banyumas – desa pertama
di Kecamatan Candipuro yang bebas BABS –
ada seorang Ibu yang sudah lanjut usia yang
tidak memiliki toilet. Dengan semangat gotong
royong, masyarakat, staf puskesmas dan kepala
desa membantu Ibu tersebut untuk membangun
toilet sehingga beliau mendapat akses yang
layak terhadap sanitasi.
Pada Juli 2017, kerja keras dan kegigihan tim
Swasembada WC membuahkan hasil yang luar
biasa saat Kecamatan Candipuro dan
Tanjungsari dideklarasikan bebas BABS. Di
akhir program, terdapat lebih dari 20.000
rumah tangga yang memiliki toilet yang ramah
lingkungan dan 97% rumah tangga memiliki
tempat cuci tangan.
Gerakan ini juga telah memberikan dampak
positif untuk penerapan norma sosial di
masyarakat. Masyarakat kini mengerti
kebutuhan akan sanitasi yang layak; pengaruh
perilaku tersebut bagi kesehatan diri sendiri dan
orang lain, serta meningkatkan rasa aman
karena tidak perlu lagi pergi ke sungai atau
semak untuk BAB di malam hari.
Sebagai apresiasi atas kerja keras dan strategi
mereka dalam pemberdayaan masyarakat,
Swasembada WC mendapatkan penghargaan
inovasi pembangunan sanitasi yang diberikan
oleh Pokja AMPL Nasional pada tahun 2017.
Tidak berhenti ketika program SNV usai, hingga
saat ini tim Swasembada WC tetap
melaksanakan upaya advokasi, pelatihan teknis
baik di dalam maupun luar Lampung Selatan,
serta bergerak menuju Kabupaten ODF 2018.
Artikel dari: SNV
“BerdayaTanpa Batas”
Peringatan Hari Kebersihan Menstruasi 2018
Secara global, peringatan Hari Kebersihan
Menstruasi diadakan mulai tahun 2014 setiap
tanggal 28 Mei. Sejak tahun 2017, Indonesia
mulai memperingatinya juga. Alasan pemilihan
tanggal 28 Mei karena terkait dengan fakta
tentang menstruasi itu sendiri, yaitu rata-rata
menstruasi mempunyai interval 28 hari dengan
rata-rata lama menstruasi selama 5 hari. Angka
28 digunakan sebagai tanggal dan angka 5
digunakan sebagai bulan, sehingga gabungan
keduanya menjadi sebuah tanggal yaitu 28 Mei.
Pada peringatan Hari Kebersihan Menstruasi
tahun 2018 ini, Jejaring AMPL (Air Minum dan
Penyehatan Lingkungan) yang merupakan
kolaborasi dari beberapa lembaga, antara lain
seperti Plan Indonesia, Unicef, SNV, SIMAVI,
Wahana Visi Indonesia, SPEAK Indonesia, dan
YPCII menyelenggarakan bincang sehat dengan
tema “Peduli Menstruasi, Berdaya Tanpa
Batas.” Acara tersebut diselenggarakan pada
tanggal 24 Mei 2018 di studio 4 CGV Grand
Indonesia, Jakarta Pusat.
Para pembicara yang hadir adalah Drs. P. Agung
Tri Wahyunto, M.Ed (Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan), dr. Eni Gustina, MPH
(Direktur Kesehatan Keluarga, Ditjen.
Kesehatan Masyarakat, Kementerian
Kesehatan), Nadine Alexandra (Puteri
Indonesia 2010), Shahnaz Haque beserta Gilang
Ramadhan dan putri kedua mereka Charlotte,
serta dr. Dyana Safitri Velies, SpOG(K), MKes
(pengajar di FK Universitas Pelita Harapan).
Moderator saat sesi bincang sehat dibawakan
oleh Kenia Gusnaeni, sedangkan Host
dibawakan oleh Arie Kriting.
Acara dibuka dengan tarian khas betawi yaitu
tari Sirih Kuning yang dibawakan oleh delapan
anak di daerah dampingan Wahana Visi
Indonesia dari Penjaringan. Selanjutnya, host
acara Arie Kriting menyambut audiens dalam
suasana akrab dengan joke segar namun berisi.
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 3
Arie Kriting juga menyampaikan kepeduliannya
tentang tingginya kasus kematian bayi yang
antara lain disebabkan karena masih rendahnya
kesadaran kesehatan reproduksi. Salah satunya
berkaitan dengan kebersihan menstruasi.
Selanjutnya, dr Eni dalam sambutannya
menyampaikan apresiasi kepada Kemendikbud
yang memasukkan isu kesehatan reproduksi
dalam kurikulum sekolah. Program Upaya
Kesehatan Sekolah (UKS) dilakukan oleh
Kemenkes terintegrasi dengan Kemendikbud
melalui puskesmas yang berkoordinasi dengan
Dinas Pendidikan. Dr Eni juga menyebutkan
bahwa usia anak perempuan yang mendapatkan
menstruasi makin muda, yaitu di sekolah dasar.
Menurut Pak Agung, topik manajemen
kebersihan menstruasi (MKM) bisa masuk
dalam materi pelajaran karena dalam kurikulum
tahun 2013 menggunakan pelajaran tematik.
Guru bisa memasukkan topik tersebut saat
pelajaran tematik tentang manusia, namun hal
tersebut juga tergantung dari kemampuan guru
dan minat siswa untuk bertanya.
Nadine Alexandra menceritakan
pengalamannya saat menstruasi di sekolah.
Ketika harus minta ijin ke toilet kepada guru
laki-laki, Nadine merasa canggung menjelaskan
alasan mengapa harus ke toilet saat pelajaran
sedang berlangsung. Hal itu berbeda dengan
pengalamannya di rumah. Ibu Nadine sudah
memberi informasi tentang menstruasi ketika
Nadine masih berusia sekitar 12-13 tahun. Ibu
Nadine berpesan supaya Nadine
memberitahunya ketika mendapat menstruasi.
Nadine mendapat menstruasi di usia 15 tahun
dan dia hanya menceritakan hal itu kepada
ibunya.
Shahnaz dan keluarganya juga membagikan
pengalaman seru mereka ketika menghadapi
anak-anak perempuannya yang sudah
menstruasi. Menurut Shahnaz, seharusnya ilmu
di sekolah digabungkan dengan ilmu parenting.
Kalau anak nyaman, mereka tidak akan merasa
tabu bicara tentang menstruasi. Shahnaz
berprinsip bahwa sebaiknya anaknya
mengetahui tentang menstruasi darinya. “Tapi
saya juga butuh dukungan. Kasih informasinya
harus berdua. Butuh bantuan Gilang sebagai
Bapak,” ungkap Shahnaz.
Pembicara bincang sehat lainnya yaitu dr.
Dyana banyak memberi informasi penting dan
praktis terkait dengan menstruasi. Dr. Dyana
mengingatkan kalau memang air di toilet umum
tidak bersih, sebaiknya kita menggunakan tisu
untuk membersihkan area vagina. Tentu saja
tisu perlu disimpan rapi dalam kemasan
sehingga kondisinya bersih. "Kalau pakai tisu
basah, harus pakai tisu kering setelahnya karena
daerah vagina harus tetap kering, kalau lembap
akan timbulkan jamur dan bakteri,” tambah dr.
Dyana. Dr. Dyana juga membahas hal-hal yang
menjadi mitos seputar menstruasi dengan
bahasa sederhana dan jelas sehingga mudah
dipahami oleh audiens.
Promosi manajemen kebersihan menstruasi
(MKM) perlu didukung oleh banyak pihak,
termasuk kaum laki-laki. Dukungan dari banyak
pihak diharapkan dapat meluruskan mitos-mitos
dan hal-hal tabu sehingga membuat kaum
perempuan, termasuk anak perempuan,
berdaya tanpa batas bahkan di saat menstruasi.
Artikel dari: C. Vita Aristyanita, WVI
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 4
Pada tanggal 30-31 Mei 2018 yang lalu
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Strategi Sanitasi Sekolah dengan menggandeng
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan Nasional (Pokja AMPL Nasional)
bertempat di Hotel Mega Anggrek, Jakarta.
Peserta Bimtek SSS berasal dari daerah peserta
Program PPSP (Percepatan Pembangunan
Sanitasi Permukiman), khususnya Regional Barat
(Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan sebagian
Kalimantan) dengan total 23 Kabupaten/ Kota
yang masing-masing mengirimkan 4 (empat)
orang perwakilan yaitu terdiri atas instansi
Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan,
dan Fasilitator PPSP/ AMPL.
Program sanitasi sekolah diyakini mempunyai
dampak signifikan dalam memberikan daya
ungkit terhadap terjadinya perubahan perilaku
hidup bersih dan sehat di tingkat sekolah yang
akan berimbas pada perubahan perilaku di
keluarga dan di tengah masyarakat. Selain itu
Pemerintah mulai menyadari bahwa program
pembangunan sanitasi sekolah menjadi salah
satu strategi potensial untuk mendukung
pencapaian target pembangunan AMPL dalam
mencapai akses universal.
Menyadari bahwa program kegiatan
pembangunan sanitasi sekolah menjadi salah
satu strategi potensial untuk mendukung
pencapaian target pembangunan AMPL dalam
mencapai akses universal, Direktorat
Pendidikan Dasar yang selama ini aktif
mengikuti kegiatan AMPL, berkolaborasi
dengan Pokja AMPL Nasional dibawah
Direktorat Perkotaan, Perumahan, dan
Permukiman - Bappenas dan UNICEF untuk
dapat memastikan Kabupaten/ Kota memiliki
kapasitas dalam menyusun strategi sanitasi
sekolah yang terintegrasi didalam dokumen
strategi sanitasi kabupaten/ kota (SSK).
Pada sambutannya dalam pembukaan, Direktur
Pembinaan Sekolah Dasar, Bapak Dr. Khamim,
M.Pd, menegaskan bahwa pentingnya memiliki
suatu dokumen perencanaan sehingga dapat
diketahui kebutuhan real sanitasi di sekolah
sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Lebih
lanjut Direktur PSD juga mengapresiasi peserta
yang datang dari unsur Bappeda, Dinas
Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Fasilitator
AMPL dari berbagai daerah yang merupakan
daerah pelaksana program Percepatan
Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Hal
ini menunjukkan adanya komitmen untuk
berkolaborasi bersama demi tercapainya
sanitasi sekolah yang berkualitas untuk
menciptakan generasi sehat.
BimbinganTeknis
Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Sekolah
Direktur Pembinaan Sekolah Dasar pada Pembukaan
Bimtek SSS
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 5
Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan
metode pembelajaran dewasa yaitu dengan
melibatkan peserta secara aktif untuk dapat
mempraktikan tahapan-tahapan penyusunan
dokumen strategi sanitasi sekolah. Melalui
Bimtek SSS peserta diberikan pembekalan
materi pemetaan/ mapping sanitasi sekolah;
peserta dimampukan untuk dapat memahami
kuesioner, melakukan pengumpulan data dan
menganalisa data tersebut sehingga diketahui
permasalahan sanitasi di sekolah dan
Kabupaten/ Kota mampu merumuskan program
dan kegiatan yang tepat untuk mengatasi
permasalahan sanitasi di sekolah tersebut.
Lebih lanjut, peserta yang berasal dari berbagai
instansi diharapkan mampu mensinergikan
sanitasi sekolah dalam lingkup perencanaan
kabupaten/ kota sehingga adanya integrasi baik
dalam perencanaan maupun layanan air bersih
dan sanitasi di permukiman yang menjangkau
sampai ke sekolah-sekolah.
Artikel dari: Unicef
Kewirausahaan Sanitasi Berbasis Minat untuk Masyarakat
Pedesaan di Kabupaten Manggarai Barat
Usaha kecil kini memainkan peran yang semakin
penting dalam penyediaan produk dan jasa
sanitasi Indonesia. Di Kabupaten Manggarai
Barat, minimnya infrastruktur, akses geografis
dan wirausahawan sanitasi yang masih terpusat
di kota Labuhan Bajo merupakan kendala dalam
pemerataan layanan sanitasi. Akibatnya harga
produk dan layanan menjadi sangat tinggi di
desa. Selain itu, sulitnya akses pembiayaan dan
kurangnya dukungan pemerintah menyebabkan
rendahnya minat kewirausahaan masyarakat.
Peningkatan kapasitas melalui pendekatan STBM
5 Pilar dilaksanakan untuk memunculkan
wirausaha sanitasi organik. Wirausahawan ini
hadir atas dasar minat sendiri setelah
pelaksanaan sosialisasi 5 pilar STBM di tingkat
kecamatan dan desa. Wirausahawan yang
berminat kemudian dilatih untuk membuat
kloset dan membangun jamban sehat
menggunakan bahan lokal serta memasarkan
produknya kepada masyarakat yang telah
terpicu.
Pemerintah daerah juga dikapasitasi untuk
menyediakan dukungan anggaran dan regulasi.
Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan
produk dan layanan sanitasi dapat terjangkau
secara luas, khususnya masyarakat miskin di
desa terpencil.
Hingga akhir tahun 2017, telah ada 44
wirausaha sanitasi berbasis minat yang tersebar
di 30 desa dan 10 kecamatan. Adapun jamban
yang dibangun sebanyak 1.512 buah. Melalui
wirausaha sanitasi berbasis minat ini, partisipasi
aktif masyarakat umum juga tercipta selama
proses pembangunan jamban. Hal ini
menunjukkan adanya kesadaran masyarakat
untuk mendapatkan akses sanitasi yang layak
dengan harga terjangkau.
Pemerintah daerah dan desa memainkan peran
penting untuk menghubungkan permintaan dan
penyediaan serta memfasilitasi pengembangan
pasar untuk mencapai akses universal pada
tahun 2019. Oleh karenanya, perlu ada
kebijakan untuk mewadai wirausaha sanitasi
berbasis minat terutama paska deklarasi STBM
5 pilar.
Artikel dari: SIMAVI dan Yayasan Dian Desa
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 6
Sekretariat Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL)
Menteng Square Apartment, Tower B, 22th floor No. 11
Jl. Matraman Raya No 30E
Jakarta Pusat 10430
Email: info@jejaringampl.org, jejaring.ampl@gmail.com
Jejaring AMPL menerima artikel terkait pembangunan air minum dan sanitasi setiap bulannya.
Layangkan artikel lembaga Anda ke indriany@gmail.com, cc ke jejaringampl@gmail.com
Lampirkan juga foto artikel beserta keterangan foto.
Semua enewsletter Jejaring AMPL bisa diakses di www.jejaringampl.org
Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita
Enewsletter Juni 2018 Halaman 7

Enewsletter Jejaring AMPL Juni 2018

  • 1.
    Jejaring Bersinergi danBerbagi Cerita BERSINERGI DAN BERBAGI CERITA Enewsletter Juni 2018 Halaman 1 Kearifan lokal mendukung pencapaian Bebas BABS Berdaya Tanpa Batas Semangat dan energi gotong royong dapat terlihat di berbagai tingkatan di masyarakat. Contohnya di Desa Banyumas – desa pertama di Kecamatan Candipuro yang bebas BABS – ada seorang Ibu yang sudah lanjut usia yang tidak memiliki toilet. Dengan semangat gotong royong, masyarakat, staf puskesmas dan kepala desa membantu Ibu tersebut untuk membangun toilet sehingga beliau mendapat akses yang layak terhadap sanitasi. Pada peringatan Hari Kebersihan Menstruasi tahun 2018 ini, Jejaring AMPL menyelenggarakan bincang sehat dengan tema “Peduli Menstruasi, Berdaya Tanpa Batas.” Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 24 Mei 2018 di studio 4 CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Penyusunan Strategi Sanitasi Sekolah Pada tanggal 30-31 Mei 2018 yang lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Sanitasi Sekolah dengan menggandeng Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Nasional (Pokja AMPL Nasional) bertempat di Hotel Mega Anggrek, Jakarta. Peserta Bimtek berasal dari daerah peserta Program PPSP (Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman), khususnya Regional Barat (Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan sebagian Kalimantan) dengan total 23 Kabupaten/ Kota. Kewirausahaan Sanitasi Berbasis Minat untuk Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Manggarai Barat Peningkatan kapasitas melalui pendekatan STBM 5 Pilar dilaksanakan untuk memunculkan wirausaha sanitasi organik. Para wirausahawan hadir atas minat sendiri setelah pelaksanaan sosialisasi 5 pilar STBM di tingkat kecamatan dan desa.
  • 2.
    Kearifan lokal sebagaiinspirasi gerakan sanitasi untuk mencapai bebas BABS “Yang Anda temui ini bukanlah sebuah tim, kami adalah KELUARGA yang berdedikasi untuk memperbaiki kondisi sanitasi di Lampung Selatan” ujar Dedy Prabowo, memperkenalkan tim sanitasinya. 6 bulan telah berlalu seusai SNV menyelesaikan program sanitasi perdesaan mendukung STBM dengan pendekatan Sustainable Sanitation and Hygiene for All (SSH4A) di Provinsi Lampung, saat studi evaluasi untuk program dijalankan. Dedy Prabowo, yang merupakan staf lapangan SNV pada saat itu memperkenalkan evaluator kepada tim sanitasinya. Yang sangat menarik adalah beliau tidak memperkenalkan mereka sebagai tim – melainkan sebuah keluarga. Indonesia merupakan negara dengan lebih dari 380 suku daerah yang memiliki berbagai bahasa, budaya, kearifan lokal, dan nilai-nilai norma yang dianut. Banyak dari kearifan lokal dan nilai budaya tersebut yang dilestarikan dan diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Salah satu contohnya adalah kekeluargaan dan gotong royong. Dalam praktisnya di era modern ini, dapat terlihat bahwa implementasi dari nilai-nilai ini sangat beragam. Namun, cerita berikut membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia masih sangat kuat hingga saat ini. Cerita ini berasal dari dua kecamatan di Lampung Selatan; Candipuro dan Tanjung Sari. Pada tahun 2014, kedua lokasi ini mengalami berbagai masalah di bidang air, sanitasi dan kebersihan (WASH): dari total 20.000 rumah tangga, terdapat 1.500 di antaranya tanpa toilet; 6.000 dengan masalah fungsional fasilitas sanitasi; dan juga 12.000 rumah tangga tanpa tempat cuci tangan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, SNV bersama dengan Pemerintah Kabupaten melaksanakan gerakan Swasembada WC, yang berarti masyarakat secara mandiri memenuhi kebutuhan sanitasinya. Tim STBM di Lampung Selatan yang berkomitmen mendukung STBM melalui gerakan Swasembada WC Swasembada WC memiliki 4 pilar utama, yaitu: (1) pemahaman dari pentingnya sanitasi, (2) fasilitasi dan bekerja dengan gembira, (3) gotong royong, dan (4) kader militan. Menurut salah satu anggota tim STBM, kader ini datang dari berbagai institusi: mulai dari staf puskesmas, petugas desa, sampai guru. Kunci kesuksesan dari gerakan Swasembada WC ini adalah keberadaan kader militan tersebut. “Usaha yang kami lakukan adalah cara kami untuk berkontribusi bagi masyarakat” ujar M. Roshid Ridho, anggota tim Swasembada WC. “Kami berharap kami dapat menciptakan perubahan positif untuk kami sendiri, keluarga kami dan juga generasi selanjutnya.” Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 2
  • 3.
    Semangat dan energigotong royong dapat terlihat di berbagai tingkatan di masyarakat. Contohnya di Desa Banyumas – desa pertama di Kecamatan Candipuro yang bebas BABS – ada seorang Ibu yang sudah lanjut usia yang tidak memiliki toilet. Dengan semangat gotong royong, masyarakat, staf puskesmas dan kepala desa membantu Ibu tersebut untuk membangun toilet sehingga beliau mendapat akses yang layak terhadap sanitasi. Pada Juli 2017, kerja keras dan kegigihan tim Swasembada WC membuahkan hasil yang luar biasa saat Kecamatan Candipuro dan Tanjungsari dideklarasikan bebas BABS. Di akhir program, terdapat lebih dari 20.000 rumah tangga yang memiliki toilet yang ramah lingkungan dan 97% rumah tangga memiliki tempat cuci tangan. Gerakan ini juga telah memberikan dampak positif untuk penerapan norma sosial di masyarakat. Masyarakat kini mengerti kebutuhan akan sanitasi yang layak; pengaruh perilaku tersebut bagi kesehatan diri sendiri dan orang lain, serta meningkatkan rasa aman karena tidak perlu lagi pergi ke sungai atau semak untuk BAB di malam hari. Sebagai apresiasi atas kerja keras dan strategi mereka dalam pemberdayaan masyarakat, Swasembada WC mendapatkan penghargaan inovasi pembangunan sanitasi yang diberikan oleh Pokja AMPL Nasional pada tahun 2017. Tidak berhenti ketika program SNV usai, hingga saat ini tim Swasembada WC tetap melaksanakan upaya advokasi, pelatihan teknis baik di dalam maupun luar Lampung Selatan, serta bergerak menuju Kabupaten ODF 2018. Artikel dari: SNV “BerdayaTanpa Batas” Peringatan Hari Kebersihan Menstruasi 2018 Secara global, peringatan Hari Kebersihan Menstruasi diadakan mulai tahun 2014 setiap tanggal 28 Mei. Sejak tahun 2017, Indonesia mulai memperingatinya juga. Alasan pemilihan tanggal 28 Mei karena terkait dengan fakta tentang menstruasi itu sendiri, yaitu rata-rata menstruasi mempunyai interval 28 hari dengan rata-rata lama menstruasi selama 5 hari. Angka 28 digunakan sebagai tanggal dan angka 5 digunakan sebagai bulan, sehingga gabungan keduanya menjadi sebuah tanggal yaitu 28 Mei. Pada peringatan Hari Kebersihan Menstruasi tahun 2018 ini, Jejaring AMPL (Air Minum dan Penyehatan Lingkungan) yang merupakan kolaborasi dari beberapa lembaga, antara lain seperti Plan Indonesia, Unicef, SNV, SIMAVI, Wahana Visi Indonesia, SPEAK Indonesia, dan YPCII menyelenggarakan bincang sehat dengan tema “Peduli Menstruasi, Berdaya Tanpa Batas.” Acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 24 Mei 2018 di studio 4 CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Para pembicara yang hadir adalah Drs. P. Agung Tri Wahyunto, M.Ed (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dr. Eni Gustina, MPH (Direktur Kesehatan Keluarga, Ditjen. Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan), Nadine Alexandra (Puteri Indonesia 2010), Shahnaz Haque beserta Gilang Ramadhan dan putri kedua mereka Charlotte, serta dr. Dyana Safitri Velies, SpOG(K), MKes (pengajar di FK Universitas Pelita Harapan). Moderator saat sesi bincang sehat dibawakan oleh Kenia Gusnaeni, sedangkan Host dibawakan oleh Arie Kriting. Acara dibuka dengan tarian khas betawi yaitu tari Sirih Kuning yang dibawakan oleh delapan anak di daerah dampingan Wahana Visi Indonesia dari Penjaringan. Selanjutnya, host acara Arie Kriting menyambut audiens dalam suasana akrab dengan joke segar namun berisi. Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 3
  • 4.
    Arie Kriting jugamenyampaikan kepeduliannya tentang tingginya kasus kematian bayi yang antara lain disebabkan karena masih rendahnya kesadaran kesehatan reproduksi. Salah satunya berkaitan dengan kebersihan menstruasi. Selanjutnya, dr Eni dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kemendikbud yang memasukkan isu kesehatan reproduksi dalam kurikulum sekolah. Program Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) dilakukan oleh Kemenkes terintegrasi dengan Kemendikbud melalui puskesmas yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Dr Eni juga menyebutkan bahwa usia anak perempuan yang mendapatkan menstruasi makin muda, yaitu di sekolah dasar. Menurut Pak Agung, topik manajemen kebersihan menstruasi (MKM) bisa masuk dalam materi pelajaran karena dalam kurikulum tahun 2013 menggunakan pelajaran tematik. Guru bisa memasukkan topik tersebut saat pelajaran tematik tentang manusia, namun hal tersebut juga tergantung dari kemampuan guru dan minat siswa untuk bertanya. Nadine Alexandra menceritakan pengalamannya saat menstruasi di sekolah. Ketika harus minta ijin ke toilet kepada guru laki-laki, Nadine merasa canggung menjelaskan alasan mengapa harus ke toilet saat pelajaran sedang berlangsung. Hal itu berbeda dengan pengalamannya di rumah. Ibu Nadine sudah memberi informasi tentang menstruasi ketika Nadine masih berusia sekitar 12-13 tahun. Ibu Nadine berpesan supaya Nadine memberitahunya ketika mendapat menstruasi. Nadine mendapat menstruasi di usia 15 tahun dan dia hanya menceritakan hal itu kepada ibunya. Shahnaz dan keluarganya juga membagikan pengalaman seru mereka ketika menghadapi anak-anak perempuannya yang sudah menstruasi. Menurut Shahnaz, seharusnya ilmu di sekolah digabungkan dengan ilmu parenting. Kalau anak nyaman, mereka tidak akan merasa tabu bicara tentang menstruasi. Shahnaz berprinsip bahwa sebaiknya anaknya mengetahui tentang menstruasi darinya. “Tapi saya juga butuh dukungan. Kasih informasinya harus berdua. Butuh bantuan Gilang sebagai Bapak,” ungkap Shahnaz. Pembicara bincang sehat lainnya yaitu dr. Dyana banyak memberi informasi penting dan praktis terkait dengan menstruasi. Dr. Dyana mengingatkan kalau memang air di toilet umum tidak bersih, sebaiknya kita menggunakan tisu untuk membersihkan area vagina. Tentu saja tisu perlu disimpan rapi dalam kemasan sehingga kondisinya bersih. "Kalau pakai tisu basah, harus pakai tisu kering setelahnya karena daerah vagina harus tetap kering, kalau lembap akan timbulkan jamur dan bakteri,” tambah dr. Dyana. Dr. Dyana juga membahas hal-hal yang menjadi mitos seputar menstruasi dengan bahasa sederhana dan jelas sehingga mudah dipahami oleh audiens. Promosi manajemen kebersihan menstruasi (MKM) perlu didukung oleh banyak pihak, termasuk kaum laki-laki. Dukungan dari banyak pihak diharapkan dapat meluruskan mitos-mitos dan hal-hal tabu sehingga membuat kaum perempuan, termasuk anak perempuan, berdaya tanpa batas bahkan di saat menstruasi. Artikel dari: C. Vita Aristyanita, WVI Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 4
  • 5.
    Pada tanggal 30-31Mei 2018 yang lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Strategi Sanitasi Sekolah dengan menggandeng Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Nasional (Pokja AMPL Nasional) bertempat di Hotel Mega Anggrek, Jakarta. Peserta Bimtek SSS berasal dari daerah peserta Program PPSP (Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman), khususnya Regional Barat (Pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan sebagian Kalimantan) dengan total 23 Kabupaten/ Kota yang masing-masing mengirimkan 4 (empat) orang perwakilan yaitu terdiri atas instansi Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Fasilitator PPSP/ AMPL. Program sanitasi sekolah diyakini mempunyai dampak signifikan dalam memberikan daya ungkit terhadap terjadinya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat sekolah yang akan berimbas pada perubahan perilaku di keluarga dan di tengah masyarakat. Selain itu Pemerintah mulai menyadari bahwa program pembangunan sanitasi sekolah menjadi salah satu strategi potensial untuk mendukung pencapaian target pembangunan AMPL dalam mencapai akses universal. Menyadari bahwa program kegiatan pembangunan sanitasi sekolah menjadi salah satu strategi potensial untuk mendukung pencapaian target pembangunan AMPL dalam mencapai akses universal, Direktorat Pendidikan Dasar yang selama ini aktif mengikuti kegiatan AMPL, berkolaborasi dengan Pokja AMPL Nasional dibawah Direktorat Perkotaan, Perumahan, dan Permukiman - Bappenas dan UNICEF untuk dapat memastikan Kabupaten/ Kota memiliki kapasitas dalam menyusun strategi sanitasi sekolah yang terintegrasi didalam dokumen strategi sanitasi kabupaten/ kota (SSK). Pada sambutannya dalam pembukaan, Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Bapak Dr. Khamim, M.Pd, menegaskan bahwa pentingnya memiliki suatu dokumen perencanaan sehingga dapat diketahui kebutuhan real sanitasi di sekolah sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Lebih lanjut Direktur PSD juga mengapresiasi peserta yang datang dari unsur Bappeda, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Fasilitator AMPL dari berbagai daerah yang merupakan daerah pelaksana program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Hal ini menunjukkan adanya komitmen untuk berkolaborasi bersama demi tercapainya sanitasi sekolah yang berkualitas untuk menciptakan generasi sehat. BimbinganTeknis Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Sekolah Direktur Pembinaan Sekolah Dasar pada Pembukaan Bimtek SSS Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 5
  • 6.
    Kegiatan berlangsung selamadua hari dengan metode pembelajaran dewasa yaitu dengan melibatkan peserta secara aktif untuk dapat mempraktikan tahapan-tahapan penyusunan dokumen strategi sanitasi sekolah. Melalui Bimtek SSS peserta diberikan pembekalan materi pemetaan/ mapping sanitasi sekolah; peserta dimampukan untuk dapat memahami kuesioner, melakukan pengumpulan data dan menganalisa data tersebut sehingga diketahui permasalahan sanitasi di sekolah dan Kabupaten/ Kota mampu merumuskan program dan kegiatan yang tepat untuk mengatasi permasalahan sanitasi di sekolah tersebut. Lebih lanjut, peserta yang berasal dari berbagai instansi diharapkan mampu mensinergikan sanitasi sekolah dalam lingkup perencanaan kabupaten/ kota sehingga adanya integrasi baik dalam perencanaan maupun layanan air bersih dan sanitasi di permukiman yang menjangkau sampai ke sekolah-sekolah. Artikel dari: Unicef Kewirausahaan Sanitasi Berbasis Minat untuk Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Manggarai Barat Usaha kecil kini memainkan peran yang semakin penting dalam penyediaan produk dan jasa sanitasi Indonesia. Di Kabupaten Manggarai Barat, minimnya infrastruktur, akses geografis dan wirausahawan sanitasi yang masih terpusat di kota Labuhan Bajo merupakan kendala dalam pemerataan layanan sanitasi. Akibatnya harga produk dan layanan menjadi sangat tinggi di desa. Selain itu, sulitnya akses pembiayaan dan kurangnya dukungan pemerintah menyebabkan rendahnya minat kewirausahaan masyarakat. Peningkatan kapasitas melalui pendekatan STBM 5 Pilar dilaksanakan untuk memunculkan wirausaha sanitasi organik. Wirausahawan ini hadir atas dasar minat sendiri setelah pelaksanaan sosialisasi 5 pilar STBM di tingkat kecamatan dan desa. Wirausahawan yang berminat kemudian dilatih untuk membuat kloset dan membangun jamban sehat menggunakan bahan lokal serta memasarkan produknya kepada masyarakat yang telah terpicu. Pemerintah daerah juga dikapasitasi untuk menyediakan dukungan anggaran dan regulasi. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan produk dan layanan sanitasi dapat terjangkau secara luas, khususnya masyarakat miskin di desa terpencil. Hingga akhir tahun 2017, telah ada 44 wirausaha sanitasi berbasis minat yang tersebar di 30 desa dan 10 kecamatan. Adapun jamban yang dibangun sebanyak 1.512 buah. Melalui wirausaha sanitasi berbasis minat ini, partisipasi aktif masyarakat umum juga tercipta selama proses pembangunan jamban. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat untuk mendapatkan akses sanitasi yang layak dengan harga terjangkau. Pemerintah daerah dan desa memainkan peran penting untuk menghubungkan permintaan dan penyediaan serta memfasilitasi pengembangan pasar untuk mencapai akses universal pada tahun 2019. Oleh karenanya, perlu ada kebijakan untuk mewadai wirausaha sanitasi berbasis minat terutama paska deklarasi STBM 5 pilar. Artikel dari: SIMAVI dan Yayasan Dian Desa Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 6
  • 7.
    Sekretariat Jejaring AirMinum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) Menteng Square Apartment, Tower B, 22th floor No. 11 Jl. Matraman Raya No 30E Jakarta Pusat 10430 Email: info@jejaringampl.org, jejaring.ampl@gmail.com Jejaring AMPL menerima artikel terkait pembangunan air minum dan sanitasi setiap bulannya. Layangkan artikel lembaga Anda ke indriany@gmail.com, cc ke jejaringampl@gmail.com Lampirkan juga foto artikel beserta keterangan foto. Semua enewsletter Jejaring AMPL bisa diakses di www.jejaringampl.org Jejaring Bersinergi dan Berbagi Cerita Enewsletter Juni 2018 Halaman 7