DIGITAL FORENSIK INVESTIGASI
I. PENDAHULUAN
Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan
untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut. Hal ini dapat dilihat dari
adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang
dibutuhkan untuk mengungkap suatu perkara baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan seperti
penyidikan dan penuntutan maupun pada tahap persidangan perkara tersebut. Sejalan dengan
perkembangan yang pesat dunia teknologi telekomunikasi dan teknologi komputer menghasilkan internet
yang multiguna. Perkembangan ini membawa kita ke revolusi dalam sejarah pemikiran manusia bila
ditinjau dari konstruksi pengetahuam umat manusia yang dicirikan dengan cara berfikir yang tanpa batas
dengan Percepatan teknologi semakin lama semakin canggih yang menjadi sebab perubahan yang terus
menerus dalam semua interaksi dan aktivitas masyarakat informasi. Internet merupakan bukti
masyarakat global. Era informasi ditandai dengan aksesibilitas informasi yang amat tinggi. Dalam era ini,
informasi merupakan komoditi utama yang diperjualbelikan sehingga akan muncul berbagai network &
information company yang akan memperjualbelikan berbagai fasilitas bermacam jaringan dan berbagai
basis data informasi tentang berbagai hal yang dapat diakses olehuser dan pelanggan. Perkembangan
Internet dan umumnya dunia cyber tidak selamanya menghasilkan hal-hal yang postif. Salah satu hal
negatif yang merupakan efek sampingannya antara lain adalah kejahatan di dunia maya.
Kini, sudah dikenal forensik asuransi, forensik akuntansi, forensik computer, toksikologi forensik dalam
kasus kejahatan lingkungan, dan forensik balistik. Meski berbeda sebutan, tujuannya tetap sama.
Forensik itu mengungkap kejahatan Saat ini.
Teknologi komputer dapat digunakan sebagai alat bagi para pelaku kejahatan komputer seperti dengan
berbagai istilah sehingga munculah istilah carding,hacking, cracking.Barang bukti yang berasal dari
komputer telah muncul dalam persidangan30 tahun. awal nya hakim menerima bukti tersebut tanpa
membedakan dengan bentuk bukti lainnya namun seiring dengan kemajuan teknologi komputer,
perlakuan tersebut menjadi membingungkan karena bukti elektronik sangat sulit dibedakannya antara
yang asli dan yang palsu berdasarkan sifat alaminya,data yang ada dalam komputer sangat mudah
dimodifikasi.
Oleh karena itu, penulis ingin memberikan pandangan terhadap aksi-aksi cyber crime khususnya yang
ada di Indonesia karena selama ini, pemberitaan tentang aksi- aksi kejahatan di internet sangat banyak
dan pembuktiannya pun sulit. Dalam melihat kasus ini adalah mencari akar masalah bukti elektronik atau
di kaji dalam computer forensic merupakan alat bukti hukum yang sah.
II. ISI
Menurut Ruby Alamsyah, digital forensik atau terkadang disebut komputer forensik adalah ilmu yang
menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan. Barang bukti
digital tersebut termasuk handphone, notebook, server, alat teknologi apapun yang mempunyai media
penyimpanan dan bisa dianalisa. Jumlah kejahatan komputer (computer crime),terutama yang
berhubungan dengan sistem informasi, akan terus meningkat karena kejahatan di internet terbagi dalam
berbagai versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa kejahatan ini terbagi dalam dua jenis, yaitu
kejahatan dengan motif intelektual. Biasanya jenis yang pertama ini tidak menimbulkan kerugian dan
dilakukan untuk kepuasan pribadi. Jenis kedua adalah kejahatan dengan motif politik, ekonomi, atau
kriminal yang potensial yang dapat menimbulkan kerugian bahkan perang informasi. komputer forensik
dapat diartikan sebagai pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber daya komputer yang
mencakup sistem komputer, jaringan komputer, jalur komunikasi, dan berbagai media penyimpanan yang
layak untuk diajukan dalam sidang pengadilan. Komputer forensik banyak ditempatkan dalam berbagai
keperluan, bukan hanya untuk menangani beberapa kasus kriminal yang melibatkan hukum, seperti
rekonstruksi perkara insiden keamanan komputer, upaya pemulihan kerusakan sistem, pemecahan
masalah yang melibatkan hardware ataupun software, dan dalam memahami sistem atau pun berbagai
perangkat digital agar mudah dimengerti. Komputer forensik merupakan ilmu baru yang akan terus
berkembang. Ilmu ini didasari oleh beberapa bidang keilmuan lainnya yang sudah ada. Bahkan,
komputer forensik pun dapat dispesifikasi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Disk Forensik, System
Forensik, Network Forensik, dan Internet Forensik. Pengetahuan Disk Forensik sudah terdokumentasi
dengan baik dibandingkan dengan bidang forensik lainnya. Beberapa kasus yang dapat dilakukan
dengan bantuan ilmu Disk Forensik antara lain mengembalikan file yang terhapus, mendapatkan
password, menganalisis File Akses dan System atau Aplikasi Logs, dan sebagainya.
Permodelan Forensik
Model forensik melibatkan tiga komponen terangkai yang dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi
sebuah tujuan akhir dengan segala kelayakan serta hasil yang berkualitas. Ketiga komponen tersebut
adalah:
• Manusia (People), diperlukan kualifikasi untuk mencapai manusia yang berkualitas. Memang mudah
untuk belajar komputer forensik, tetapi untuk menjadi ahlinya, dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan
dan pengalaman.
• Peralatan (Equipment), diperlukan sejumlah perangkat atau alat yang tepat untuk mendapatkan
sejumlah bukti (evidence) yang dapat dipercaya dan bukan sekadar bukti palsu.
• Aturan (Protocol), diperlukan dalam menggali, mendapatkan, menganalisis, dan akhirnya menyajikan
dalam bentuk laporan yang akurat. Dalam komponen aturan, diperlukan pemahaman yang baik dalam
segi hukum dan etika, kalau perlu dalam menyelesaikan sebuah kasus perlu melibatkan peran konsultasi
yang mencakup pengetahuan akan teknologi informasi dan ilmu hukum tentunya.
Ilmu forensik telah didefinisikan sebagai ilmu apapun yang digunakan untuk tujuan hukum (menyediakan)
tidak memihak bukti ilmiah untuk digunakan dalam kepentingan peradilan, dan dalam penyelidikan.
Menurut Marcus Ranum Jaringan forensik adalah menangkap, merekam, dan analisis peristiwa jaringan
untuk menemukan sumber serangan keamanan atau lainnya masalah insiden.
Sedangkan menurut Joel Weise and Brad Powell Komputer forensik adalah Penerapan, pengolahan,
pemeliharaan, dan analisis informasi yang diperoleh dari sistem, jaringan, aplikasi, atau sumber daya
komputasi lain, untuk menentukan sumber serangan terhadap sumber-sumber itu. Kegiatan-kegiatan ini
dilakukan dalam perjalanan sebuah investigasi forensik komputer sebenarnya yang dirasakan atau
serangan terhadap sumber daya komputer.
Kecanggihan TIK
Dampak positifnya adalah aktivitas manusia jadi lebih mudah , cepat , murah. Dan dampak negatifnya
seperti adanya kejahatan baru di dunia maya (cyber crime), pencurian data pada sebuah site, pencurian
informasi, penipuan keuangan dengan internet, carding, hacking, cracking, phising, viruses,
cybersquating. Dsb.
Kategori Tindak Pidana Cyber Crime
Kejahatan yang menggunakan TIK untuk melakukan perbuatan tindak pidana seperti :
cyber gambling (perjudian)
cyber terrorism (terorisme)
cyber fraud (penipuan kartu kredit)
cyber sex (pornografi)
cyber smuggling (penyelundupan)
cyber narcotism (narkotika)
cyber attack on critical infrastructure (penyerangan terhadap infrastruktur penting)
cyber blackmail (pemerasan)
cyber threathening (pengancaman)
cyber aspersion (pencemaran nama baik melalui internet)
phising dll
Kejahatan yang dilakukan dengan tujuan dan sasaran TIK seperti :
hacking
cracking
phreaking
DoS attack
Penyebaran kode jahat (malicious code, virus, spyware, Trojan horse, adware. dll)
Botnet (robot internet) dsb.
Menurut sumber yang dikutip dari Internet Crime Complain Center (IC3) yang merupakan lembaga yang
berdiri dibawah naungan FBI (Federal Bureau of Investigation) dan National White Collar Crime Center,
setiap tahun terjadi peningkatan kasus cyber crime yang mengakibatkan jumlah kerugian yang besar
seperti dinyatakan dalam tabel dibawah ini.
Kategori kasus
Tahun 2007
Tahun 2008
Tahun 2009
Jumlah komplain yang diterima IC3 via website
206.884
275.264
334.655
Jumlah kerugian (dalam juta U$ dollar)
239.1
264.6
559.7
Jumlah kasus yang ditangani
90.008
72.940
146.663
Jumlah kasus computer crime dan computer related crime ditangani pusat laboratorium forensik mabes
POLRI mencapai sekitar 50 kasus, dengan total jumlah barang bukti elektronik sekitar 150 unit.
Tahun
Jumlah
2006
3 Kasus
2007
3 kasus
2008
7 Kasus
2009
15 Kasus
Mei 2010
27 Kasus
Guna menangani cyber crime dan kejahatan konvensional yang didukung TIK, peran forensic digital
sangat penting.
Mengapa forensic digital diperlukan dalam penyelidikan berbagai kasus? Menurut Brian carrier :
1. Teknik forensic computer digunakan untuk menganalisis system digital milik terdakwa terkait kasus
pidana dan perdata.
2. Memulihkan data apabila terjadi kegagalan pembacaan atau penyimpanan data pada perangkat keras
atau pada perangkat lunak.
3. Menganalisis system computer apabila telah terjadi penyerangan kedalam system computer.
4. Mendapatkan informasi tentang bagaimana system computer bekerja untuk tujuan debugging, kinerja
optimasi atau reverse engineering. (Brian carrier, 2005).
Sejarah Forensik
· Francis Galton (1822-1911) : sidik jari;
· Leone Lattes (1887-1954) : Golongan darah (A,B,AB & O)
· Calvin Goddard (1891-1955) : senjata dan peluru (Balistik)
· Albert Osborn (1858-1946) : Document examination
· Hans Gross (1847-1915) : menerapkan ilmiah dalam investigasi criminal
· FBI (1932) : Lab.forensik.
Definisi forensic
Jika dilihat dari kata berarti membawa ke pengadilan. Forensic adalah proses mengumpulkan,
menganalisis, dan mempresentasikan secara ilmiah barang bukti di pengadilan (US computer emergency
response team, US-CERT, 2008).
Sejarah perkembangan, forensik mengalami pergeseran menyangkut subyek forensic, proses,
metodologi, hingga meluas kebidang lain. Salah satunya, muncul istilah forensic computer/forensic digital
seiring makin beragamnya perangkat teknologi.
Forensik computer bisa dikatakan metodologi ilmiah dan system untuk mengidentifikasi, mencari,
mendapatkan kembali, dan menganalisis barang bukti dari computer, media penyimpanan computer dan
perangkat elektronik lainnya serta mempresentasikan hasil penemuan tersebut sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan oleh pengadilan (chan, Hilton, 2003). Jika menurut FBI ini berarti ilmu mengenalisis
dan mempresentasikan data yang sudah diproses secara elektronik dan disimpa dalam media computer.
Penggunaan metode ilmiah terhadap penjagaan, pengumpulan, validasi, identifikasi, analisis, interpretasi,
dokumentasi dan presentasi bukti digital yang berasal dari sumber-sumber digital guna memfasilitasi atau
melanjutkan rekontruksi terhadap kejadian tindak pidana (scientific working group on digital evidence,
2007).
Tujuan Digital Forensik
Tujuaan dari digital forensik adalah untuk menjelaskan seputar digital artefak yakni sistem komputer,
media penyimpanan (harddisk atau CD-ROM), dokumen elektronik (E-mail atau gambar JPEG) atau
paket – paket data yang bergerak melalui jaringan komputer.
Barang Bukti Digital Sebagai Alat Bukti Sah
Menurut Pasal 5 UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menyebutkan
bahwa “informasi elektronik dan atau dokumen elektronik dan atau hasil cetaknya merupakan alat bukti
hukum yang sah”
Bukti Digital / Elektronik
Menurut Eoghan Casey :
“Semua barang bukti informasi atau data baik yang tersimpan maupun yang melintas pada sistem
jaringan digital, yang dapat dipertanggungjawabkan di depan pengadilan”
Menurut Scientific Working Group on Digital Evidence :
“Informasi yang disimpan atau dikirimkan dalam bentuk digital”
Contoh barang bukti digital : alamat E-Mail, wordprocessor/spreadsheet files, source code dari perangkat
lunak, files bentuk images (JPEG, PNG, dll), web browser bookmarks, cookies serta kalender dan to do
list
Penanganan Barang Bukti Digital
Penanganan barang bukti digital perlu dilakukan secara khusus mengingat barang bukti digital tergolong
rapuh sehingga sangat besat kemungkinan terjadinya pencemaran barang bukti digital baik disengaja
maupun tidak disengaja. Kesalahan kecil pada penanganan barang bukti dapat membuat barang bukti
digital tidak dapat diajukan dipengadilan sebagai alat bukti yang sah dan akurat.
Prinsip Kerja Forensik Digital
Menurut Pavel Gladyshev prinsip kerja dari forensik digital adalah :
Pemeliharaan (“Freezing the Crime Scene”) Mengamankan lokasi dengan cara menghentikan atau
mencegah setiap aktivitas yang dapat merusak atau menghilangkan barang bukti.
Pengumpulan. Menemukan dan mengumpulkan semua barang bukti digital atau hal – hal yang dapat
menjadi barang bukti atau informasi apa saja yang masih bersangkutan dengan kasus yang sedang
diselidiki.
Pemeriksaan. Menganilisis barang bukti yang ada dan mencari data sebanyak – banyaknya yang
berhubungan dengan kasus. Tahap ini adalah penentuan apakah pelaku kejahatan bisa tertangkap atau
lolos dari jeratan hukum
Analisis. Menyimpulkan bukti – bukti yang dikumpulkan selama proses penyelidikan.
Perangkat Forensik Digital
Perangkat yang biasa digunakan oleh para penyidik untuk mengumpulkan bukti – bukti tindak pidana
kejahatan adalah :
· Encase Forensic
· Encase Pro Suite
· Encase Deluxe Version
· FTK (Forensic Tool Kit)
· Pro Discover
· SleuthKit-Autopsy
· Helix/Helix Pro
· Paraben Device Seizure
· Forensic Duplicator
· Mobile Forensic
· Write Blocker
Investigasi dan penuntutan kejahatan komputer memiliki beberapa isu unik, seperti:
1. Penyelidik dan pelaku memiliki kerangka waktu padat untuk investigasi.
2. Informasinya tidak dapat diukur.
3. Investigasi harus turut mencampuri tingkah laku normal bisnis organisasi.
4. Pasti ada kesulitan dalam memperoleh bukti.
5. Data yang berkaitan dengan investigasi kriminal harus berlokasi di komputer yang sama sebagaimana
kebutuhan data bagi kelakuan normal bisnis (percampuran data).
6. Dalam banyak hal, seorang ahli atau spesialis dibutuhkan.
7. Lokasi yang melibatkan kriminal pasti terpisah secara geografis dari jarak yang cukup jauh dalam
yurisdiksi yang berbeda.
8. Banyak yurisdiksi telah memperluas definisi properti untuk memasukkan informasi elektronik.
Aturan Bagi Investigator
pemeriksaan yang dilakukan oleh petudas yang tidak berpengalaman dan tidak mengerti forensic digital
(rosedur forensic digital), hampir dapat dipastikan akan menghasilkan bukti yang tidak hampir pasti
menghasilkan bukti yang tidak dapat diterima di pengadilan hukum.
Tantangan Forensik Digital
Dalam mengumpulkan bukti forensik digital, banyak tantangan – tantangan yang harus dihadapi oleh
para penyidik seperti :
Bagaimana menangani kasus yang melibatkan media perangkat digital
Bagaimana menemukan bukti dari web browser secara forensik suara
Bagaimana menganalisis bukti dalam segala kondisi berbeda baik secara perangkat maupun sistem
Bagaimana melacak dan mendapatkan pelaku (tak menutup kemungkinan si pelaku adalah orang dalam)
Bagaimana mengidentifikasi dan menyelidiki kasus – kasus seperti spionase korporasi
Bagaimana melakukan investigasi network logs guna melacak dan mengadili penjahat cyber
III. PENUTUP
Dalam UU ITE diatur bahwa informasi elektronik/dokumen elektronik dan/atau hasil
cetaknya(buktidigital)merupakan alat bukti hukum yang sah, dan merupakan perluasan dari alat bukti
yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Tapi, tidak sembarang informasi
elektronik/dokumen elektronik dapat dijadikan alat bukti yang sah. Menurut UU ITE, suatu informasi
elektronik/ dokumen elektronik dinyatakan sah untuk dijadikan alat bukti apabila menggunakan sistem
elektronik yang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ITE, yaitu sistem elektronik yang andal
dan aman, serta memenuhi persyaratan minimum sebagai berikut: dapat menampilkan kembali informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik secara utuh sesuai dengan masa retensi yang ditetapkan dengan
peraturan perundang- undangan, dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan,
dan keteraksesan informasi elektronik dalam penyelenggaraan sistem elektronik tersebut; dapat
beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam penyelenggaraan systemelektronik, dilengkapi
dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat
dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan penyelenggaraansistemelektronik. memiliki mekanisme
yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan kebertanggungjawaban prosedur atau
petunjuk.
KESIMPULAN
Dalam menganalisa barang bukti digital harus dilakukan melalui proses forensik digital sehingga barang
bukti dapat diterima sebagai alat bukti yang sah
Perlu dukungan SDM yang memiliki pengetahuan dan skill terkait proses forensik digital (bisa melalui
pelatihan (training) dan proses sertifikasi)
Forensik digital tak hanya dibutuhkan untuk tindakan kejahatan cyber, tetapi juga kejahatan konvensional
yang didukung perangkat digital
Perlunya panduan proses forensik digital dan aturan hukum / regulasi secara detail.
Khusus untuk kasus tersebarnya video syur yang lalu, tugas seorang DFA adalah melacak pelaku penyebar
pertama yang meng-upload video. Yang pertama-tama dilakukan adalah melakukan analisis/riset secara
mendalam dan menyeluruh guna mengetahui siapa individu yang lebih dahulu memiliki file tersebut. Langkah
yang ditempuh misalnya melakukan pelacakan awal mula penyebaran (dari yang melakukan penyebaran pada
hari H), lalu meruut dan melacak siapa yang memiliki data tersebut paling awal.
Dalam hal ini sangat dimungkinkan untuk juga melacak IP address bila tidak diketahui secara pasti siapa
individu tersebut. Untuk memudahkan pekerjaan, seorang DFA diperbolehkan melakukan kerjasama dengan
ISP terkait yang memiliki log pelanggannya. ID-SIRTII pun bisa dimintai bantuan guna mendapatkan data
lebih lanjut. Dari sini akan bisa menjadi peringatan bagi kita untuk tidak sebarang mengunggah foto/video ke
dunia maya.
Seperti prajurit yang sedang bertempur, seorang DFA juga menggunakan "senjata" dalam melakukan
pelacakan. Ruby menjabarkan aneka software yang digunakan biasanya tergantung dari kebutuhan setiap
kasus. Namun, bila sudah mendapatkan barang bukti digital secara fisik, baru dilakukan proses forensik digital
secara detail. Namun sebelum itu, tekniknya bisa menggunakan e-discovery.
Bagi yang masih awam, e-discovery merupakan teknik pencarian data elektronik, di mana data elektronik
tersebut ditempatkan/berada, serta bagaimana mengamankan dan menyitanya untuk dapat dijadikan barang
bukti pada sebuah kasus. E-discovery dapat dilakukan pada komputer tertentu, atau pun pada jaringan tertentu.
Pada bidang forensik digital, e-discovery merupakan proses investigasi yang dilakukan terhadap harddisk pada
komputer tertentu. Barang bukti tersebut selanjutnya mengalami proses kloning (forensic imaging).
Perangkat yang digunakan untuk melakukan computer forensic dan mobile phone forensic pun berbeda.
“Untuk computer forensic, saya menggunakan Encase v6.15, FTK3, Sleuthkit-Autospy, Helix, dd, Forensic
Duplicator (Tbleau-TD1), Forensic Write Blocker, dan lain-lain. Sementara untuk [melakukan] mobile phone
forensic, [saya] menggunakan Cellbrite, XRY/XACT, Paraben Device Seizure, Bitpim, dan lain-lain,”
jelasnya.
kemajuan teknologi dan industri yang merupakan hasil dari budaya manusia
disamping membawa dampak positif, dalam arti dapat didayagunakan untuk
kepentingan umat manusia juga membawa dampak negatif terhadap perkembangan
dan peradaban manusia itu sendiri. Dampak negatif yang dimaksud adalah berkaitan
dengan dunia kejahatan. J.E. Saheteapy menyatakan dalam tulisannya, bahwa
kejahatan erat kaitannya dengan perkembangan masyarakat. Semakin maju kehidupan
masyarakat, maka kejahatan juga ikut semakin maju. Kejahatan juga menjadi sebagian
dari hasil budaya itu sendiri. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat budaya dan
semakin modern suatu bangsa, maka semakin modern pula kejahatan itu dalam bentuk,
sifat dan cara pelaksanaannya.
KEBUTUHAN COMPUTER FORENSIC
Seperti kita ketahui bersama, belakangan banyak terjadi tindak kejahatan di tanah air yang
melibatkan pemanfaatan teknologi informasi hingga menyita perhatian berbagai media, baik
cetak maupun elektronik. Seperti diantaranya pembobolan server pulsa salah satu provider
seluler di Indonesia yang diklaim mengakibatkan kerugian finansial miliaran rupiah,
diringkusnya kawanan pelaku prostitusi online, pembobolan email, dan bocornya data-data
penting perusahaan oleh seorang hacker yang menimpa salah satu perusahaan terbesar di
Indonesia, serta kasus yang masih hangat diberitakan yaitu ditangkapnya seorang hacker karena
diduga melakukan website defacement (mengubah tampilan website) salah satu petinggi negara.
Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat diiringi dengan teknologi jaringan
komputer yang semakin kompleks merupakan tantangan dalam computer forensic. Jika dulu
seorang tenaga ahli computer forensic dapat dengan mudah mendapatkan bukti digtal
dari hardisk pada sebuah komputer, kini dihadapkan dengan berbagai jenis aplikasi serta
penyimpanan data redundant seperti RAID storage, bahkan terintegrasi dengan internet atau
dikenal dengan komputasi awan (cloud computing). Oleh sebab itu, seorang tenaga ahli
computer forensic juga dituntut untuk memiliki kompetensi pengetahuan serta ketrampilan untuk
mengidentifikasi, menggali, serta menganalisis jenis- jenis dokumen dengan teknologi tertentu
yang berpotensi sebagai bukti digital. Seperti misalnya, sebuah gambar yang diambil
menggunakan kamera digital modern dapat mengandung informasi meliputi, tanggal dan jam
saat foto diambil, merk dan tipe kamera yang digunakan, karakteristik lensa yang digunakan,
bahkan mampu menampilkan informasi posisi di mana foto tersebut diambil. Semua informasi
tersebut merupakan informasi yang berharga dan berguna untuk membantu proses investigasi.
Seorang tenaga ahli computer forensic dituntut untuk mampu merespon suatu insiden secara
tanggap, serta memiliki kecakapan mengolah bukti digital dengan hati-hati. Terlebih sifat alami
dari bukti digital yang mudah rusak dan berubah. Sehingga diperlukan prosedur baku untuk
mengolah bukti digital tersebut karena kesalahan dalam menerapkan prosedur dapat mengancam
rusaknya bukti digital, bahkan berakibat pada gagalnya serangkaian proses investigasi.
PEMBERANTASAN SINDIKAT NARKOBA MENGGUNAKAN KOMPUTER FORENSIK
DI KABUPATEN BENGKALIS
PEMANFAATAN KOMPUTER FORENSIK DALAM MEMBANTU PEMBERANTASAN
SINDIKAT NARKOBA DI KABUPATEN BENGKALIS
Forensik merupakan sebuah proses ilmiah dalam mengumpulkan, menganalisis, dan
menghadirkan berbagai bukti pada sidang pengadilan karena adanya kasus hukum. Lalu, apa
yang dimaksud dengan Komputer Forensik?
Berbeda dari pengertian forensik pada umumnya, komputer forensik dapat diartikan sebagai pe-
ngumpulan dan analisis data dari berbagai sumber daya komputer yang mencakup sistem
komputer, jaringan komputer, jalur komunikasi, dan berbagai media penyimpanan yang layak
untuk diajukan dalam sidang pengadilan.
Definisi Digital Forensik
Ada beberapa definisi yang bisa dijadikan acuan tentang apa sebenarnya Digital
Forensik. Menurut Marcella8: digital forensik adalah aktivitas yang berhubungan
dengan pemeliharaan, identifikasi, pengambilan/penyaringan, dan dokumentasi
bukti digital dalam kejahatan computer. Istilah ini relatif baru dalam bidang komputer
dan teknologi, tapi telah muncul diluar term teknologi (berhubungan dengan investigasi
bukti-bukti intelijen dalam penegakan hukum dan militer) sejak pertengahan tahun
1980-an.
Sedangkan menurut Budhisantoso9, digital forensik adalah kombinasi disiplin
ilmu hukum dan pengetahuan komputer dalam mengumpulkan dan menganalisa
data dari sistem komputer, jaringan, komunikasi nirkabel, dan perangkat
penyimpanan sehingga dapat dibawa sebagai barang bukti di dalam penegakan
hukum.
Definisi lain sebagaimana yang terdapat pada situs Wikipedia10 yaitu: Komputer
forensik yang juga dikenal dengan nama digital forensik, adalah salah satu cabang
ilmu forensik yang berkaitan dengan bukti legal yang ditemui pada komputer dan
media penyimpanan digital.
Komponen Digital Forensik
Komponen pada digital forensik pada umumnya hampir sama dengan bidang yang lain.
Komponen ini mencakup manusia (people), perangkat/peralatan (equipment) dan aturan
(protocol) yang dirangkai, dikelola dan diberdayakan sedemikian rupa dalam upaya mencapai
tujuan akhir dengan segala kelayakan dan kualitas sebagaimana bisa
dilihat pada gambar berikut:
Manusia yang diperlukan dalam komputer forensik merupakan pelaku yang tentunya mempunyai
kualifikasi tertentu untuk mencapai kualitas yang diinginkan.
Belajar forensik tidak sama dengan menjadi ahli dalam bidang forensik. Dibutuhkan
lebih dari sekedar pengetahuan umum tentang komputer, tetapi juga pengalaman
(experience) disamping berbagai pelatihan (training) pada materi-materi digital forensik
yang telah ditempuh dan dibuktikan dengan sertifikat-sertifikat pendukung.
Ada tiga kelompok sebagai pelaku digital forensik:
MANUSIA
PERANGKAT
ATURAN
1. Collection Specialist, yang bertugas mengumpulkan barang bukti berupa
digital evidence.
2. Examiner, tingkatan ini hanya memiliki kemampuan sebagai penguji terhadap
media dan mengekstrak data.
3. Investigator, tingkatan ini sudah masuk kedalam tingkatan ahli atau sebagai
penyidik.
dari kasus yang terjadi.
Menyiapkan Investigasi Komputer
Peran seorang professional forensik komputer di dalam perusahaan adalah mengumpulkan bukti
dari komputer tersangka dan menentukan apakah tersangka berhubungan dengan suatu kejahatan
atau melanggar peraturan perusahaan. Bila bukti-bukti mengarah pada terjadinya kejahatan atau
pelanggaran peraturan perusahaan maka kasus dapat diberikan kepada pengadilan atau
manajemen perusahaan itu sendiri berdasarkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan. Untuk
mengumpulkan bukti-bukti forensik komputer, investigasi akan dimulai dari komputer tersangka
dan kemudian menyimpan bukti-bukti pada komputer yang berbeda
Memasuki Kasus
Dalam pengidentifikasian kasus diperlukan penentuan tipe kasus yang di identifikasi, hal ini
berarti secara sistematis anda harus membuat outline case yang lebih detail.
Mengenali kasus:
1. Situasi – kasus kejahatan karyawan
2. Sifat kasus – bisnis sampingan pada komputer bisnis karyawan.
3. Hal spesifik pada kasus – karyawan dilaporkan melakukan bisnis sampingan pada
komputernya. Binis melakukan pendaftaran nama domain untuk klien dan setting up web
site pada ISP lokal.
4. Jenis barang bukti – floppy disk
5. Sistem operasi – Microsoft Windows XP
6. Format disk yang diketahui – FAT32
7. Lokasi barang bukti – satu 3.5” floppy disk ditemukan manajer pada workstation
karyawan. Manajer menerima komplain dari karyawan pembantu bahwa karyawan
menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bisnisnya sendiri dan tidak
memenuhi penugasan pekerjaannya. Peraturan perusahaan menyatakan bahwa seluruh asset
komputer yang dimiliki perusahaan setiap saat merupakan subyek inspeksi manajemen
perusahaan. Karyawan tidak memiliki privasi atau keberatan bila perusahaan
mengoperasikannya.
Berdasarkan detail di atas, anda dapat menentukan kebutuhan-kebutuhan kasus. Anda
mengetahui telah terjadi penyalahgunaan komputer oleh karyawan, dan anda mencari barang
bukti yang menunjukkan penggunaan komputer untuk kepentingan bisnis pribadi karyawan.
Anda mengetahui sistem operasi pada komputer karyawan adalah Windows XP dan floppy disk
yang dtemukan diformat menggunakan sistem file FAT12. Untuk membuat salinan floopy dan
menemukan file yang disembunyikan anda membutuhkan tools forensik seperti DriveSpy atau
Image Acquisition yang berbasis DOS atau FTK dan EnCase jika menggunakan platform GUI.
Merencanakan Investigasi
Setelah melakukan identifikasi terhadap kebutuhan, investigasi dapat dimulai. Kebanyaka
langkah berikut ini digunakan investigasi,
1. Mengakuisisi floppy disk dari manajer Donno
2. Melengkapi format barang bukti dan melakukan pencatatan aktivitas.
3. Membawa barang bukti ke laboratorium forensik
4. Mengamankan barang bukti dalam wadah yang aman yang disetujui
5. Menyiapkan forensik workstation
6. Menyediakan barang bukti dari wadah barang bukti yang aman
7. Membuat salinan dari barang bukti floppy disk
8. Mengembalikan barang bukti floppy disk ke wadah barang bukti yang aman
9. Memproses salinan floppy disk dengan tools forensik komputer.
Aturan pertama pada semua investigasi adalah mengamankan barang bukti, yang berarti barang
bukti tidak boleh terkontaminasi.
Untuk mendukumentasikan barang bukti, harus dibuat laporan detailnya, siapa yang menemukan
barang bukti dan waktunya, siapa yang menggunakan barang bukti dan waktunya.
Lembar penyitaan (custody form) perlu dibuat yang biasanya berisi:
 Nomer Kasus
 Organisasi penginvestigasi
 Sifat Kasus
 Lokasi penemuan barang bukti
 Deskripsi barang bukti
 Nama vendor
 Nomer model dan nomer serial
 Penemu barang bukti
 Waktu dan tanggalTempat barang bukti di dalam locker
 Item
 Halaman
Form barang bukti dapat dibuat rangkap, satu untuk disimpan bersama barang bukti, dan lainnya
dapat digunakan untuk pelaporan.
Investigasi komputer menuntut anda untuk menyesuaikan prosedur anda dengan ketersediaan
tempat penyimpan. Beberapa barang bukti dapat dimasukkan ke dalam tas barang bukti.
Beberapa item dapat terlalu besar untuk disimpan dalam tas barang bukti.
Untuk mengamankan dan memberi katalog pada komponen perangkat komputer yang besar,
anda dapat menggunakan tas barang bukti yang besar, pita, tag, label, dan produk lainnya yang
disediakan vendor supplier kepolisian. Ketika memilih produk untuk mengamankan barang
bukti, harus diyakinkan produk tersebut aman dan efektif digunakan terhadap barang bukti.
Penanganan barang bukti harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan
komponen atau terjadi kontak dengan listrik statis, yang dapat menghancurkan data digital.
Tempatkan barang bukti pada container dengan alas yang baik.alas yang baik dapat mencegah
kerusakan yang mungkin terjadi saat mengirimkan barang bukti ke locker, ruang barang bukti,
atau lab komputer.
Komponen-komponen komputer memiliki toleransi terhadap temperatur dan kelembaban yang
spesifik. Lingkungan yang terlalu dingin atau basah dapat merusakkan kompgonen komputer dan
media magnetic. Kursi mobil yang panas dapat merusak media digital, menempatkan komputer
diatas speaker bagasi dapat merusak media magnetic. Ketika mengumpulkan barang bukti,
pastikan lingkungan transpotasi dan penyimpanannya aman.
Mengenal Workstation dan Perangkat Lunak Data-Recovery
Untuk melakukan investigasi dan analisis, anda memerlukan komputer personal yang
dikonfigurasi secara khusus, yang merupakan komputer dengan penambahan bay dan software
forensik. Kebanyakan komputer forensik dapat bekerja pada lingkungan sistem operasi
Microsoft:
 MS-DOS 6.22
 Windows 95, 98, atau Me
 Windows NT 3.5 atau 4.0
 Windows 2000
 Windows XP
Ketika anda memulai Windows untuk melakukan pengujian hard disk, Windows merubah disk
barang bukti dengan menuliskan data pada file Recycle Bin dan merusak kualitas serta integritas
barang bukti. Sistem Windows XP dan 2000 juga mencatat nomer serial hard drives dan CPU
dalam suatu file, yang akan sulit dipulihkan.
Pada keseluruhan sistem operasi, MS-DOS 6.22 melakukan paling sedikit perubahan data pada
floppy disk dan hard disk. Bootable floppy disk khusus dapat menghindari perubahan data pada
disk komputer tersangka. Ketika anda mengakuisisi data dari suatu hard disk,anda harus memulai
sistem dari boot floppy disk forensik. Pengecualian dapat dilakukan bila anda menggunakan
write blockers yang memungkinkan anda melakukan boot ke Windows tanpa melakukan
penulisan data dalam bentuk apapun ke dalam disk barang bukti. Sirkuit write blockers
mencegah sistem operasi menuliskan data pada disk drive yang terhubung ke komputer.
Anda dapat mengkonfigurasi komputer forensik menggunakan Windows 98 yang di konfigurasi
untuk boot ke MS-DOS. Anda memerlukan Windows 98, karena Windows XP dan 2000 hanya
dapat mengakses DOS melalui shell; Windows XP dan 2000 tidak dapat langsung melakukan
boot langsung ke DOS. Banyak tools software akuisisi bekerja pada lingkungan MS-DOS.
Walau software tersebut dapat berjalan pada lingkungan Windows 98, Windows XP dan 2000,
beberapa fungsinya akan di non-aktifkan atau menghaslkan pesan-pesan error
Digital forensik investigasi

Digital forensik investigasi

  • 1.
    DIGITAL FORENSIK INVESTIGASI I.PENDAHULUAN Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada hakekatnya adalah bertujuan untuk mencari kebenaran materiil (materiile waarheid) terhadap perkara tersebut. Hal ini dapat dilihat dari adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mengungkap suatu perkara baik pada tahap pemeriksaan pendahuluan seperti penyidikan dan penuntutan maupun pada tahap persidangan perkara tersebut. Sejalan dengan perkembangan yang pesat dunia teknologi telekomunikasi dan teknologi komputer menghasilkan internet yang multiguna. Perkembangan ini membawa kita ke revolusi dalam sejarah pemikiran manusia bila ditinjau dari konstruksi pengetahuam umat manusia yang dicirikan dengan cara berfikir yang tanpa batas dengan Percepatan teknologi semakin lama semakin canggih yang menjadi sebab perubahan yang terus menerus dalam semua interaksi dan aktivitas masyarakat informasi. Internet merupakan bukti masyarakat global. Era informasi ditandai dengan aksesibilitas informasi yang amat tinggi. Dalam era ini, informasi merupakan komoditi utama yang diperjualbelikan sehingga akan muncul berbagai network & information company yang akan memperjualbelikan berbagai fasilitas bermacam jaringan dan berbagai basis data informasi tentang berbagai hal yang dapat diakses olehuser dan pelanggan. Perkembangan Internet dan umumnya dunia cyber tidak selamanya menghasilkan hal-hal yang postif. Salah satu hal negatif yang merupakan efek sampingannya antara lain adalah kejahatan di dunia maya. Kini, sudah dikenal forensik asuransi, forensik akuntansi, forensik computer, toksikologi forensik dalam kasus kejahatan lingkungan, dan forensik balistik. Meski berbeda sebutan, tujuannya tetap sama. Forensik itu mengungkap kejahatan Saat ini. Teknologi komputer dapat digunakan sebagai alat bagi para pelaku kejahatan komputer seperti dengan berbagai istilah sehingga munculah istilah carding,hacking, cracking.Barang bukti yang berasal dari komputer telah muncul dalam persidangan30 tahun. awal nya hakim menerima bukti tersebut tanpa membedakan dengan bentuk bukti lainnya namun seiring dengan kemajuan teknologi komputer, perlakuan tersebut menjadi membingungkan karena bukti elektronik sangat sulit dibedakannya antara yang asli dan yang palsu berdasarkan sifat alaminya,data yang ada dalam komputer sangat mudah dimodifikasi. Oleh karena itu, penulis ingin memberikan pandangan terhadap aksi-aksi cyber crime khususnya yang ada di Indonesia karena selama ini, pemberitaan tentang aksi- aksi kejahatan di internet sangat banyak dan pembuktiannya pun sulit. Dalam melihat kasus ini adalah mencari akar masalah bukti elektronik atau di kaji dalam computer forensic merupakan alat bukti hukum yang sah. II. ISI Menurut Ruby Alamsyah, digital forensik atau terkadang disebut komputer forensik adalah ilmu yang menganalisa barang bukti digital sehingga dapat dipertanggungjawabkan di pengadilan. Barang bukti digital tersebut termasuk handphone, notebook, server, alat teknologi apapun yang mempunyai media penyimpanan dan bisa dianalisa. Jumlah kejahatan komputer (computer crime),terutama yang berhubungan dengan sistem informasi, akan terus meningkat karena kejahatan di internet terbagi dalam berbagai versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa kejahatan ini terbagi dalam dua jenis, yaitu kejahatan dengan motif intelektual. Biasanya jenis yang pertama ini tidak menimbulkan kerugian dan dilakukan untuk kepuasan pribadi. Jenis kedua adalah kejahatan dengan motif politik, ekonomi, atau kriminal yang potensial yang dapat menimbulkan kerugian bahkan perang informasi. komputer forensik dapat diartikan sebagai pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber daya komputer yang mencakup sistem komputer, jaringan komputer, jalur komunikasi, dan berbagai media penyimpanan yang
  • 2.
    layak untuk diajukandalam sidang pengadilan. Komputer forensik banyak ditempatkan dalam berbagai keperluan, bukan hanya untuk menangani beberapa kasus kriminal yang melibatkan hukum, seperti rekonstruksi perkara insiden keamanan komputer, upaya pemulihan kerusakan sistem, pemecahan masalah yang melibatkan hardware ataupun software, dan dalam memahami sistem atau pun berbagai perangkat digital agar mudah dimengerti. Komputer forensik merupakan ilmu baru yang akan terus berkembang. Ilmu ini didasari oleh beberapa bidang keilmuan lainnya yang sudah ada. Bahkan, komputer forensik pun dapat dispesifikasi lagi menjadi beberapa bagian, seperti Disk Forensik, System Forensik, Network Forensik, dan Internet Forensik. Pengetahuan Disk Forensik sudah terdokumentasi dengan baik dibandingkan dengan bidang forensik lainnya. Beberapa kasus yang dapat dilakukan dengan bantuan ilmu Disk Forensik antara lain mengembalikan file yang terhapus, mendapatkan password, menganalisis File Akses dan System atau Aplikasi Logs, dan sebagainya. Permodelan Forensik Model forensik melibatkan tiga komponen terangkai yang dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah tujuan akhir dengan segala kelayakan serta hasil yang berkualitas. Ketiga komponen tersebut adalah: • Manusia (People), diperlukan kualifikasi untuk mencapai manusia yang berkualitas. Memang mudah untuk belajar komputer forensik, tetapi untuk menjadi ahlinya, dibutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan dan pengalaman. • Peralatan (Equipment), diperlukan sejumlah perangkat atau alat yang tepat untuk mendapatkan sejumlah bukti (evidence) yang dapat dipercaya dan bukan sekadar bukti palsu. • Aturan (Protocol), diperlukan dalam menggali, mendapatkan, menganalisis, dan akhirnya menyajikan dalam bentuk laporan yang akurat. Dalam komponen aturan, diperlukan pemahaman yang baik dalam segi hukum dan etika, kalau perlu dalam menyelesaikan sebuah kasus perlu melibatkan peran konsultasi yang mencakup pengetahuan akan teknologi informasi dan ilmu hukum tentunya. Ilmu forensik telah didefinisikan sebagai ilmu apapun yang digunakan untuk tujuan hukum (menyediakan) tidak memihak bukti ilmiah untuk digunakan dalam kepentingan peradilan, dan dalam penyelidikan. Menurut Marcus Ranum Jaringan forensik adalah menangkap, merekam, dan analisis peristiwa jaringan untuk menemukan sumber serangan keamanan atau lainnya masalah insiden. Sedangkan menurut Joel Weise and Brad Powell Komputer forensik adalah Penerapan, pengolahan, pemeliharaan, dan analisis informasi yang diperoleh dari sistem, jaringan, aplikasi, atau sumber daya komputasi lain, untuk menentukan sumber serangan terhadap sumber-sumber itu. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam perjalanan sebuah investigasi forensik komputer sebenarnya yang dirasakan atau serangan terhadap sumber daya komputer. Kecanggihan TIK Dampak positifnya adalah aktivitas manusia jadi lebih mudah , cepat , murah. Dan dampak negatifnya seperti adanya kejahatan baru di dunia maya (cyber crime), pencurian data pada sebuah site, pencurian informasi, penipuan keuangan dengan internet, carding, hacking, cracking, phising, viruses, cybersquating. Dsb. Kategori Tindak Pidana Cyber Crime Kejahatan yang menggunakan TIK untuk melakukan perbuatan tindak pidana seperti : cyber gambling (perjudian) cyber terrorism (terorisme) cyber fraud (penipuan kartu kredit) cyber sex (pornografi) cyber smuggling (penyelundupan) cyber narcotism (narkotika)
  • 3.
    cyber attack oncritical infrastructure (penyerangan terhadap infrastruktur penting) cyber blackmail (pemerasan) cyber threathening (pengancaman) cyber aspersion (pencemaran nama baik melalui internet) phising dll Kejahatan yang dilakukan dengan tujuan dan sasaran TIK seperti : hacking cracking phreaking DoS attack Penyebaran kode jahat (malicious code, virus, spyware, Trojan horse, adware. dll) Botnet (robot internet) dsb. Menurut sumber yang dikutip dari Internet Crime Complain Center (IC3) yang merupakan lembaga yang berdiri dibawah naungan FBI (Federal Bureau of Investigation) dan National White Collar Crime Center, setiap tahun terjadi peningkatan kasus cyber crime yang mengakibatkan jumlah kerugian yang besar seperti dinyatakan dalam tabel dibawah ini. Kategori kasus Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah komplain yang diterima IC3 via website 206.884 275.264 334.655 Jumlah kerugian (dalam juta U$ dollar) 239.1 264.6 559.7 Jumlah kasus yang ditangani 90.008 72.940 146.663
  • 4.
    Jumlah kasus computercrime dan computer related crime ditangani pusat laboratorium forensik mabes POLRI mencapai sekitar 50 kasus, dengan total jumlah barang bukti elektronik sekitar 150 unit. Tahun Jumlah 2006 3 Kasus 2007 3 kasus 2008 7 Kasus 2009 15 Kasus Mei 2010 27 Kasus Guna menangani cyber crime dan kejahatan konvensional yang didukung TIK, peran forensic digital sangat penting. Mengapa forensic digital diperlukan dalam penyelidikan berbagai kasus? Menurut Brian carrier : 1. Teknik forensic computer digunakan untuk menganalisis system digital milik terdakwa terkait kasus pidana dan perdata. 2. Memulihkan data apabila terjadi kegagalan pembacaan atau penyimpanan data pada perangkat keras atau pada perangkat lunak. 3. Menganalisis system computer apabila telah terjadi penyerangan kedalam system computer. 4. Mendapatkan informasi tentang bagaimana system computer bekerja untuk tujuan debugging, kinerja optimasi atau reverse engineering. (Brian carrier, 2005). Sejarah Forensik · Francis Galton (1822-1911) : sidik jari; · Leone Lattes (1887-1954) : Golongan darah (A,B,AB & O) · Calvin Goddard (1891-1955) : senjata dan peluru (Balistik) · Albert Osborn (1858-1946) : Document examination · Hans Gross (1847-1915) : menerapkan ilmiah dalam investigasi criminal · FBI (1932) : Lab.forensik. Definisi forensic Jika dilihat dari kata berarti membawa ke pengadilan. Forensic adalah proses mengumpulkan, menganalisis, dan mempresentasikan secara ilmiah barang bukti di pengadilan (US computer emergency response team, US-CERT, 2008). Sejarah perkembangan, forensik mengalami pergeseran menyangkut subyek forensic, proses, metodologi, hingga meluas kebidang lain. Salah satunya, muncul istilah forensic computer/forensic digital seiring makin beragamnya perangkat teknologi.
  • 5.
    Forensik computer bisadikatakan metodologi ilmiah dan system untuk mengidentifikasi, mencari, mendapatkan kembali, dan menganalisis barang bukti dari computer, media penyimpanan computer dan perangkat elektronik lainnya serta mempresentasikan hasil penemuan tersebut sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh pengadilan (chan, Hilton, 2003). Jika menurut FBI ini berarti ilmu mengenalisis dan mempresentasikan data yang sudah diproses secara elektronik dan disimpa dalam media computer. Penggunaan metode ilmiah terhadap penjagaan, pengumpulan, validasi, identifikasi, analisis, interpretasi, dokumentasi dan presentasi bukti digital yang berasal dari sumber-sumber digital guna memfasilitasi atau melanjutkan rekontruksi terhadap kejadian tindak pidana (scientific working group on digital evidence, 2007). Tujuan Digital Forensik Tujuaan dari digital forensik adalah untuk menjelaskan seputar digital artefak yakni sistem komputer, media penyimpanan (harddisk atau CD-ROM), dokumen elektronik (E-mail atau gambar JPEG) atau paket – paket data yang bergerak melalui jaringan komputer. Barang Bukti Digital Sebagai Alat Bukti Sah Menurut Pasal 5 UU No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menyebutkan bahwa “informasi elektronik dan atau dokumen elektronik dan atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah” Bukti Digital / Elektronik Menurut Eoghan Casey : “Semua barang bukti informasi atau data baik yang tersimpan maupun yang melintas pada sistem jaringan digital, yang dapat dipertanggungjawabkan di depan pengadilan” Menurut Scientific Working Group on Digital Evidence : “Informasi yang disimpan atau dikirimkan dalam bentuk digital” Contoh barang bukti digital : alamat E-Mail, wordprocessor/spreadsheet files, source code dari perangkat lunak, files bentuk images (JPEG, PNG, dll), web browser bookmarks, cookies serta kalender dan to do list Penanganan Barang Bukti Digital Penanganan barang bukti digital perlu dilakukan secara khusus mengingat barang bukti digital tergolong rapuh sehingga sangat besat kemungkinan terjadinya pencemaran barang bukti digital baik disengaja maupun tidak disengaja. Kesalahan kecil pada penanganan barang bukti dapat membuat barang bukti digital tidak dapat diajukan dipengadilan sebagai alat bukti yang sah dan akurat. Prinsip Kerja Forensik Digital Menurut Pavel Gladyshev prinsip kerja dari forensik digital adalah : Pemeliharaan (“Freezing the Crime Scene”) Mengamankan lokasi dengan cara menghentikan atau mencegah setiap aktivitas yang dapat merusak atau menghilangkan barang bukti. Pengumpulan. Menemukan dan mengumpulkan semua barang bukti digital atau hal – hal yang dapat menjadi barang bukti atau informasi apa saja yang masih bersangkutan dengan kasus yang sedang diselidiki. Pemeriksaan. Menganilisis barang bukti yang ada dan mencari data sebanyak – banyaknya yang berhubungan dengan kasus. Tahap ini adalah penentuan apakah pelaku kejahatan bisa tertangkap atau lolos dari jeratan hukum Analisis. Menyimpulkan bukti – bukti yang dikumpulkan selama proses penyelidikan.
  • 6.
    Perangkat Forensik Digital Perangkatyang biasa digunakan oleh para penyidik untuk mengumpulkan bukti – bukti tindak pidana kejahatan adalah : · Encase Forensic · Encase Pro Suite · Encase Deluxe Version · FTK (Forensic Tool Kit) · Pro Discover · SleuthKit-Autopsy · Helix/Helix Pro · Paraben Device Seizure · Forensic Duplicator · Mobile Forensic · Write Blocker Investigasi dan penuntutan kejahatan komputer memiliki beberapa isu unik, seperti: 1. Penyelidik dan pelaku memiliki kerangka waktu padat untuk investigasi. 2. Informasinya tidak dapat diukur. 3. Investigasi harus turut mencampuri tingkah laku normal bisnis organisasi. 4. Pasti ada kesulitan dalam memperoleh bukti. 5. Data yang berkaitan dengan investigasi kriminal harus berlokasi di komputer yang sama sebagaimana kebutuhan data bagi kelakuan normal bisnis (percampuran data). 6. Dalam banyak hal, seorang ahli atau spesialis dibutuhkan. 7. Lokasi yang melibatkan kriminal pasti terpisah secara geografis dari jarak yang cukup jauh dalam yurisdiksi yang berbeda. 8. Banyak yurisdiksi telah memperluas definisi properti untuk memasukkan informasi elektronik. Aturan Bagi Investigator pemeriksaan yang dilakukan oleh petudas yang tidak berpengalaman dan tidak mengerti forensic digital (rosedur forensic digital), hampir dapat dipastikan akan menghasilkan bukti yang tidak hampir pasti menghasilkan bukti yang tidak dapat diterima di pengadilan hukum. Tantangan Forensik Digital Dalam mengumpulkan bukti forensik digital, banyak tantangan – tantangan yang harus dihadapi oleh para penyidik seperti : Bagaimana menangani kasus yang melibatkan media perangkat digital Bagaimana menemukan bukti dari web browser secara forensik suara Bagaimana menganalisis bukti dalam segala kondisi berbeda baik secara perangkat maupun sistem Bagaimana melacak dan mendapatkan pelaku (tak menutup kemungkinan si pelaku adalah orang dalam) Bagaimana mengidentifikasi dan menyelidiki kasus – kasus seperti spionase korporasi Bagaimana melakukan investigasi network logs guna melacak dan mengadili penjahat cyber III. PENUTUP
  • 7.
    Dalam UU ITEdiatur bahwa informasi elektronik/dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya(buktidigital)merupakan alat bukti hukum yang sah, dan merupakan perluasan dari alat bukti yang sah sesuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia. Tapi, tidak sembarang informasi elektronik/dokumen elektronik dapat dijadikan alat bukti yang sah. Menurut UU ITE, suatu informasi elektronik/ dokumen elektronik dinyatakan sah untuk dijadikan alat bukti apabila menggunakan sistem elektronik yang sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ITE, yaitu sistem elektronik yang andal dan aman, serta memenuhi persyaratan minimum sebagai berikut: dapat menampilkan kembali informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik secara utuh sesuai dengan masa retensi yang ditetapkan dengan peraturan perundang- undangan, dapat melindungi ketersediaan, keutuhan, keotentikan, kerahasiaan, dan keteraksesan informasi elektronik dalam penyelenggaraan sistem elektronik tersebut; dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau petunjuk dalam penyelenggaraan systemelektronik, dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan penyelenggaraansistemelektronik. memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk menjaga kebaruan, kejelasan, dan kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk. KESIMPULAN Dalam menganalisa barang bukti digital harus dilakukan melalui proses forensik digital sehingga barang bukti dapat diterima sebagai alat bukti yang sah Perlu dukungan SDM yang memiliki pengetahuan dan skill terkait proses forensik digital (bisa melalui pelatihan (training) dan proses sertifikasi) Forensik digital tak hanya dibutuhkan untuk tindakan kejahatan cyber, tetapi juga kejahatan konvensional yang didukung perangkat digital Perlunya panduan proses forensik digital dan aturan hukum / regulasi secara detail. Khusus untuk kasus tersebarnya video syur yang lalu, tugas seorang DFA adalah melacak pelaku penyebar pertama yang meng-upload video. Yang pertama-tama dilakukan adalah melakukan analisis/riset secara mendalam dan menyeluruh guna mengetahui siapa individu yang lebih dahulu memiliki file tersebut. Langkah yang ditempuh misalnya melakukan pelacakan awal mula penyebaran (dari yang melakukan penyebaran pada hari H), lalu meruut dan melacak siapa yang memiliki data tersebut paling awal. Dalam hal ini sangat dimungkinkan untuk juga melacak IP address bila tidak diketahui secara pasti siapa individu tersebut. Untuk memudahkan pekerjaan, seorang DFA diperbolehkan melakukan kerjasama dengan ISP terkait yang memiliki log pelanggannya. ID-SIRTII pun bisa dimintai bantuan guna mendapatkan data lebih lanjut. Dari sini akan bisa menjadi peringatan bagi kita untuk tidak sebarang mengunggah foto/video ke dunia maya.
  • 8.
    Seperti prajurit yangsedang bertempur, seorang DFA juga menggunakan "senjata" dalam melakukan pelacakan. Ruby menjabarkan aneka software yang digunakan biasanya tergantung dari kebutuhan setiap kasus. Namun, bila sudah mendapatkan barang bukti digital secara fisik, baru dilakukan proses forensik digital secara detail. Namun sebelum itu, tekniknya bisa menggunakan e-discovery. Bagi yang masih awam, e-discovery merupakan teknik pencarian data elektronik, di mana data elektronik tersebut ditempatkan/berada, serta bagaimana mengamankan dan menyitanya untuk dapat dijadikan barang bukti pada sebuah kasus. E-discovery dapat dilakukan pada komputer tertentu, atau pun pada jaringan tertentu. Pada bidang forensik digital, e-discovery merupakan proses investigasi yang dilakukan terhadap harddisk pada komputer tertentu. Barang bukti tersebut selanjutnya mengalami proses kloning (forensic imaging). Perangkat yang digunakan untuk melakukan computer forensic dan mobile phone forensic pun berbeda. “Untuk computer forensic, saya menggunakan Encase v6.15, FTK3, Sleuthkit-Autospy, Helix, dd, Forensic Duplicator (Tbleau-TD1), Forensic Write Blocker, dan lain-lain. Sementara untuk [melakukan] mobile phone forensic, [saya] menggunakan Cellbrite, XRY/XACT, Paraben Device Seizure, Bitpim, dan lain-lain,” jelasnya. kemajuan teknologi dan industri yang merupakan hasil dari budaya manusia disamping membawa dampak positif, dalam arti dapat didayagunakan untuk kepentingan umat manusia juga membawa dampak negatif terhadap perkembangan dan peradaban manusia itu sendiri. Dampak negatif yang dimaksud adalah berkaitan dengan dunia kejahatan. J.E. Saheteapy menyatakan dalam tulisannya, bahwa kejahatan erat kaitannya dengan perkembangan masyarakat. Semakin maju kehidupan masyarakat, maka kejahatan juga ikut semakin maju. Kejahatan juga menjadi sebagian dari hasil budaya itu sendiri. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat budaya dan semakin modern suatu bangsa, maka semakin modern pula kejahatan itu dalam bentuk, sifat dan cara pelaksanaannya. KEBUTUHAN COMPUTER FORENSIC Seperti kita ketahui bersama, belakangan banyak terjadi tindak kejahatan di tanah air yang melibatkan pemanfaatan teknologi informasi hingga menyita perhatian berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Seperti diantaranya pembobolan server pulsa salah satu provider seluler di Indonesia yang diklaim mengakibatkan kerugian finansial miliaran rupiah, diringkusnya kawanan pelaku prostitusi online, pembobolan email, dan bocornya data-data penting perusahaan oleh seorang hacker yang menimpa salah satu perusahaan terbesar di
  • 9.
    Indonesia, serta kasusyang masih hangat diberitakan yaitu ditangkapnya seorang hacker karena diduga melakukan website defacement (mengubah tampilan website) salah satu petinggi negara. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat diiringi dengan teknologi jaringan komputer yang semakin kompleks merupakan tantangan dalam computer forensic. Jika dulu seorang tenaga ahli computer forensic dapat dengan mudah mendapatkan bukti digtal dari hardisk pada sebuah komputer, kini dihadapkan dengan berbagai jenis aplikasi serta penyimpanan data redundant seperti RAID storage, bahkan terintegrasi dengan internet atau dikenal dengan komputasi awan (cloud computing). Oleh sebab itu, seorang tenaga ahli computer forensic juga dituntut untuk memiliki kompetensi pengetahuan serta ketrampilan untuk mengidentifikasi, menggali, serta menganalisis jenis- jenis dokumen dengan teknologi tertentu yang berpotensi sebagai bukti digital. Seperti misalnya, sebuah gambar yang diambil menggunakan kamera digital modern dapat mengandung informasi meliputi, tanggal dan jam saat foto diambil, merk dan tipe kamera yang digunakan, karakteristik lensa yang digunakan, bahkan mampu menampilkan informasi posisi di mana foto tersebut diambil. Semua informasi tersebut merupakan informasi yang berharga dan berguna untuk membantu proses investigasi. Seorang tenaga ahli computer forensic dituntut untuk mampu merespon suatu insiden secara tanggap, serta memiliki kecakapan mengolah bukti digital dengan hati-hati. Terlebih sifat alami dari bukti digital yang mudah rusak dan berubah. Sehingga diperlukan prosedur baku untuk mengolah bukti digital tersebut karena kesalahan dalam menerapkan prosedur dapat mengancam rusaknya bukti digital, bahkan berakibat pada gagalnya serangkaian proses investigasi. PEMBERANTASAN SINDIKAT NARKOBA MENGGUNAKAN KOMPUTER FORENSIK DI KABUPATEN BENGKALIS PEMANFAATAN KOMPUTER FORENSIK DALAM MEMBANTU PEMBERANTASAN SINDIKAT NARKOBA DI KABUPATEN BENGKALIS Forensik merupakan sebuah proses ilmiah dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menghadirkan berbagai bukti pada sidang pengadilan karena adanya kasus hukum. Lalu, apa yang dimaksud dengan Komputer Forensik? Berbeda dari pengertian forensik pada umumnya, komputer forensik dapat diartikan sebagai pe- ngumpulan dan analisis data dari berbagai sumber daya komputer yang mencakup sistem komputer, jaringan komputer, jalur komunikasi, dan berbagai media penyimpanan yang layak untuk diajukan dalam sidang pengadilan.
  • 10.
    Definisi Digital Forensik Adabeberapa definisi yang bisa dijadikan acuan tentang apa sebenarnya Digital Forensik. Menurut Marcella8: digital forensik adalah aktivitas yang berhubungan dengan pemeliharaan, identifikasi, pengambilan/penyaringan, dan dokumentasi bukti digital dalam kejahatan computer. Istilah ini relatif baru dalam bidang komputer dan teknologi, tapi telah muncul diluar term teknologi (berhubungan dengan investigasi bukti-bukti intelijen dalam penegakan hukum dan militer) sejak pertengahan tahun 1980-an. Sedangkan menurut Budhisantoso9, digital forensik adalah kombinasi disiplin ilmu hukum dan pengetahuan komputer dalam mengumpulkan dan menganalisa data dari sistem komputer, jaringan, komunikasi nirkabel, dan perangkat penyimpanan sehingga dapat dibawa sebagai barang bukti di dalam penegakan hukum. Definisi lain sebagaimana yang terdapat pada situs Wikipedia10 yaitu: Komputer forensik yang juga dikenal dengan nama digital forensik, adalah salah satu cabang ilmu forensik yang berkaitan dengan bukti legal yang ditemui pada komputer dan media penyimpanan digital. Komponen Digital Forensik Komponen pada digital forensik pada umumnya hampir sama dengan bidang yang lain. Komponen ini mencakup manusia (people), perangkat/peralatan (equipment) dan aturan (protocol) yang dirangkai, dikelola dan diberdayakan sedemikian rupa dalam upaya mencapai tujuan akhir dengan segala kelayakan dan kualitas sebagaimana bisa dilihat pada gambar berikut: Manusia yang diperlukan dalam komputer forensik merupakan pelaku yang tentunya mempunyai kualifikasi tertentu untuk mencapai kualitas yang diinginkan. Belajar forensik tidak sama dengan menjadi ahli dalam bidang forensik. Dibutuhkan lebih dari sekedar pengetahuan umum tentang komputer, tetapi juga pengalaman (experience) disamping berbagai pelatihan (training) pada materi-materi digital forensik yang telah ditempuh dan dibuktikan dengan sertifikat-sertifikat pendukung. Ada tiga kelompok sebagai pelaku digital forensik: MANUSIA PERANGKAT ATURAN
  • 11.
    1. Collection Specialist,yang bertugas mengumpulkan barang bukti berupa digital evidence. 2. Examiner, tingkatan ini hanya memiliki kemampuan sebagai penguji terhadap media dan mengekstrak data. 3. Investigator, tingkatan ini sudah masuk kedalam tingkatan ahli atau sebagai penyidik. dari kasus yang terjadi. Menyiapkan Investigasi Komputer Peran seorang professional forensik komputer di dalam perusahaan adalah mengumpulkan bukti dari komputer tersangka dan menentukan apakah tersangka berhubungan dengan suatu kejahatan atau melanggar peraturan perusahaan. Bila bukti-bukti mengarah pada terjadinya kejahatan atau pelanggaran peraturan perusahaan maka kasus dapat diberikan kepada pengadilan atau manajemen perusahaan itu sendiri berdasarkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan. Untuk mengumpulkan bukti-bukti forensik komputer, investigasi akan dimulai dari komputer tersangka dan kemudian menyimpan bukti-bukti pada komputer yang berbeda Memasuki Kasus Dalam pengidentifikasian kasus diperlukan penentuan tipe kasus yang di identifikasi, hal ini berarti secara sistematis anda harus membuat outline case yang lebih detail. Mengenali kasus: 1. Situasi – kasus kejahatan karyawan 2. Sifat kasus – bisnis sampingan pada komputer bisnis karyawan. 3. Hal spesifik pada kasus – karyawan dilaporkan melakukan bisnis sampingan pada komputernya. Binis melakukan pendaftaran nama domain untuk klien dan setting up web site pada ISP lokal. 4. Jenis barang bukti – floppy disk 5. Sistem operasi – Microsoft Windows XP 6. Format disk yang diketahui – FAT32 7. Lokasi barang bukti – satu 3.5” floppy disk ditemukan manajer pada workstation karyawan. Manajer menerima komplain dari karyawan pembantu bahwa karyawan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bisnisnya sendiri dan tidak memenuhi penugasan pekerjaannya. Peraturan perusahaan menyatakan bahwa seluruh asset komputer yang dimiliki perusahaan setiap saat merupakan subyek inspeksi manajemen perusahaan. Karyawan tidak memiliki privasi atau keberatan bila perusahaan mengoperasikannya. Berdasarkan detail di atas, anda dapat menentukan kebutuhan-kebutuhan kasus. Anda mengetahui telah terjadi penyalahgunaan komputer oleh karyawan, dan anda mencari barang bukti yang menunjukkan penggunaan komputer untuk kepentingan bisnis pribadi karyawan.
  • 12.
    Anda mengetahui sistemoperasi pada komputer karyawan adalah Windows XP dan floppy disk yang dtemukan diformat menggunakan sistem file FAT12. Untuk membuat salinan floopy dan menemukan file yang disembunyikan anda membutuhkan tools forensik seperti DriveSpy atau Image Acquisition yang berbasis DOS atau FTK dan EnCase jika menggunakan platform GUI. Merencanakan Investigasi Setelah melakukan identifikasi terhadap kebutuhan, investigasi dapat dimulai. Kebanyaka langkah berikut ini digunakan investigasi, 1. Mengakuisisi floppy disk dari manajer Donno 2. Melengkapi format barang bukti dan melakukan pencatatan aktivitas. 3. Membawa barang bukti ke laboratorium forensik 4. Mengamankan barang bukti dalam wadah yang aman yang disetujui 5. Menyiapkan forensik workstation 6. Menyediakan barang bukti dari wadah barang bukti yang aman 7. Membuat salinan dari barang bukti floppy disk 8. Mengembalikan barang bukti floppy disk ke wadah barang bukti yang aman 9. Memproses salinan floppy disk dengan tools forensik komputer. Aturan pertama pada semua investigasi adalah mengamankan barang bukti, yang berarti barang bukti tidak boleh terkontaminasi. Untuk mendukumentasikan barang bukti, harus dibuat laporan detailnya, siapa yang menemukan barang bukti dan waktunya, siapa yang menggunakan barang bukti dan waktunya. Lembar penyitaan (custody form) perlu dibuat yang biasanya berisi:  Nomer Kasus  Organisasi penginvestigasi  Sifat Kasus  Lokasi penemuan barang bukti  Deskripsi barang bukti  Nama vendor  Nomer model dan nomer serial  Penemu barang bukti  Waktu dan tanggalTempat barang bukti di dalam locker  Item  Halaman Form barang bukti dapat dibuat rangkap, satu untuk disimpan bersama barang bukti, dan lainnya dapat digunakan untuk pelaporan.
  • 13.
    Investigasi komputer menuntutanda untuk menyesuaikan prosedur anda dengan ketersediaan tempat penyimpan. Beberapa barang bukti dapat dimasukkan ke dalam tas barang bukti. Beberapa item dapat terlalu besar untuk disimpan dalam tas barang bukti. Untuk mengamankan dan memberi katalog pada komponen perangkat komputer yang besar, anda dapat menggunakan tas barang bukti yang besar, pita, tag, label, dan produk lainnya yang disediakan vendor supplier kepolisian. Ketika memilih produk untuk mengamankan barang bukti, harus diyakinkan produk tersebut aman dan efektif digunakan terhadap barang bukti. Penanganan barang bukti harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan komponen atau terjadi kontak dengan listrik statis, yang dapat menghancurkan data digital. Tempatkan barang bukti pada container dengan alas yang baik.alas yang baik dapat mencegah kerusakan yang mungkin terjadi saat mengirimkan barang bukti ke locker, ruang barang bukti, atau lab komputer. Komponen-komponen komputer memiliki toleransi terhadap temperatur dan kelembaban yang spesifik. Lingkungan yang terlalu dingin atau basah dapat merusakkan kompgonen komputer dan media magnetic. Kursi mobil yang panas dapat merusak media digital, menempatkan komputer diatas speaker bagasi dapat merusak media magnetic. Ketika mengumpulkan barang bukti, pastikan lingkungan transpotasi dan penyimpanannya aman. Mengenal Workstation dan Perangkat Lunak Data-Recovery Untuk melakukan investigasi dan analisis, anda memerlukan komputer personal yang dikonfigurasi secara khusus, yang merupakan komputer dengan penambahan bay dan software forensik. Kebanyakan komputer forensik dapat bekerja pada lingkungan sistem operasi Microsoft:  MS-DOS 6.22  Windows 95, 98, atau Me  Windows NT 3.5 atau 4.0  Windows 2000  Windows XP Ketika anda memulai Windows untuk melakukan pengujian hard disk, Windows merubah disk barang bukti dengan menuliskan data pada file Recycle Bin dan merusak kualitas serta integritas barang bukti. Sistem Windows XP dan 2000 juga mencatat nomer serial hard drives dan CPU dalam suatu file, yang akan sulit dipulihkan. Pada keseluruhan sistem operasi, MS-DOS 6.22 melakukan paling sedikit perubahan data pada floppy disk dan hard disk. Bootable floppy disk khusus dapat menghindari perubahan data pada disk komputer tersangka. Ketika anda mengakuisisi data dari suatu hard disk,anda harus memulai sistem dari boot floppy disk forensik. Pengecualian dapat dilakukan bila anda menggunakan write blockers yang memungkinkan anda melakukan boot ke Windows tanpa melakukan penulisan data dalam bentuk apapun ke dalam disk barang bukti. Sirkuit write blockers mencegah sistem operasi menuliskan data pada disk drive yang terhubung ke komputer.
  • 14.
    Anda dapat mengkonfigurasikomputer forensik menggunakan Windows 98 yang di konfigurasi untuk boot ke MS-DOS. Anda memerlukan Windows 98, karena Windows XP dan 2000 hanya dapat mengakses DOS melalui shell; Windows XP dan 2000 tidak dapat langsung melakukan boot langsung ke DOS. Banyak tools software akuisisi bekerja pada lingkungan MS-DOS. Walau software tersebut dapat berjalan pada lingkungan Windows 98, Windows XP dan 2000, beberapa fungsinya akan di non-aktifkan atau menghaslkan pesan-pesan error