KELOMPOK 4
                            Kelas E

Erly Anna Rosita   105050101111060
    Elanda Bagus      105050101111
Sheba Salsabila    105050101111079
Arin Maya R.       105050101111080
Denny Aprie W.     105050101111087
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
              (Penggaraman Daging)


Pendahuluan
            Latar Belakang :


      Daging
     sebagai
    kebutuhan       Kerusaka
     pangan         n daging         Curing
     manusia
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                (Penggaraman Daging)


    Rumusan Masalah
• Adakah persoalan yang dihasilkan melalui metode curing
dengan penambahan nitrat dan nitrit secara tidak
langsung?
• Bagaimanakah penggunaan metode curing pada ikan
yang diterapkan untuk daging kuda, domba, dan sapi?
• Apa perbedaan kualitas curing pada daging sapi dan
kerbau dengan menggunakan bahan curing yang berbeda?
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                 (Penggaraman Daging)



Tujuan Penulisan
• Memaparkan persoalan yang dihasilkan dari
  metode curing dengan penambahan nitrat dan
  nitrit secara tidak langsung.
• Menjelaskan penggunaan metode curing pada
  ikan yang diterapkan untuk daging kuda, domba
  dan sapi.
• Memberi penjelasan untuk masing-masing
  perbedaan kualitas curing pada daging sapi dan
  kerbau dengan menggunakan bahan curing yang
  berbeda.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                  (Penggaraman Daging)

                                  cara prosesing daging
                                 dengan menambahkan
Curing??                        beberapa bahan seperti
                               garam NaCl, Natrium nitrit
                              dan atau Natrium nitrat dan
                              gula (destroksa atau sukrosa
                                atau pati hidrolisis) serta
                                     bumbu-bumbu.




    Tujuannya . . .
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                (Penggaraman Daging)



MATERI DAN METODE
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
         (Penggaraman Daging)
 MATERI DAN METODE
• Prosedur



Daging mentah tanpa tulang

  Dipotong kecil-kecil

      Dilakukan pencucian
Natrium klorida, gula, kalium nitrat
dan air suling yang digunakan
sebagai curing agen.


      Semua sampel yang dikenakan untuk
      curing dalam bulan musim panas ketika
      kelembaban relatif itu 65-70% selama 10
      hari pada suhu kamar normal. Sampel
      disimpan diamati pada 0 30 60 dan 120 hari
      pada 120 hari periode total penyimpanan.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                    (Penggaraman Daging)


Pembahasan
4.1 Ilmunya
Menurut Winarno (2004), pada umumnya proses curing
terjadi karena: a. Reaksi biologis yang dapat mereduksi
nitrat menjadi nitrit dan NO, yang mampu mereduksi ferri
menjadi ferro. b. Terjadinya denaturasi globin oleh panas.
Bila daging yang di-curing dipanaskan pada suhu 150°F
atau lebih, maka terjadi proses denaturasi. c. Hasil akhir
curing daging membentuk pigmen nitrosilmioglobin bila
tidak dimasak, dan nitrosilhemokromogen bila telah
dimasak.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                   (Penggaraman Daging)



4.2 Prosesnya
Reaksi yang terjadi selama proses perkembangan
warna daging proses hingga tercapainya warna
yang stabil :
            Organisme
1) Nitrat : Pereduksi nitrat nitrit
2) Nitrit : Kondisi menguntungkan NO (nitric oksida)+
           Tanpa sinar dan Udara      H2O (air)
             Kondisi           NOMMb (Nitric Oksida
3) NO+Mb :   menguntungkan     metmiogoblin )
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                   (Penggaraman Daging)


               Kondisi           NOMb (Nitric Oksida
4) NOMMb :     menguntungkan     miogoblin, merah)

                              NO hemokromogen (nitrosil
5) NOMb +pa : Kondisi
  nas + asap    menguntungkan hemokromogen), warna
                              merah jambon, stabil
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                   (Penggaraman Daging)



• Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing
1. Perubahan Kandungan Bahan Kering
Hasil penelitian Islam et.al (2009), kandungan bahan kering
pada daging sebelum curing adalah berkisar antara 98,00 ± 2,0-
99,10 ± 0,1% dan pada akhir dari 120 hari penyimpanan nilai
bahan kering berkisar antara 89.50 ± 2,0-90,50 ± 0,8%,
Sedangkan rataan kadar air nikumi berdasarkan pencucian
adalah 58,65%, 58,45%, dan 60,98%. Kadar air ini juga lebih
rendah dari hasil penelitian Mega (2006a) berupa nikumi kuda
dan sapi yang dicuci dengan frekuensi hingga 9 kali dengan
kadar air masing-masing sebesar 70,80% dan 68,01% dan
Suryaningsih (2006) berupa nikumi kuda, sapi dan domba yang
diberi antidenaturan dengan kadar airnya masing-masing
adalah 67,92%, 65,68% dan 65,55%.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                  (Penggaraman Daging)



• Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing
• Perubahan Kadar Abu
•Kadar abu pada daging sebelum curing berkisar antara 13,07 ±
1,02-15,33 ± 2,2% dan pada nilai akhir setelah 120 hari masa
simpan kadar abu daging curing adalah 12,80 ± 2,2-14,80 ±
1,72%. Nilai abu menurun dengan waktu penyimpanan. Nilai
kadar abu pada daging curing menggunakan gula adalah relatif
lebih tinggi yaitu berkisar 93,20 sampai 94,25%. . Kadar abu
relatif lebih rendah dalam daging curing dengan metode
penggaraman cair (14,63%) dan penggaraman kering (13,04%).
Hal ini mungkin dikarenakan penetrasi garam dalam daging
dan penyerapan kelembaban dari jaringan daging (Islam
et.al,2009).
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                  (Penggaraman Daging)



• Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing
3 Perubahan Kadar Protein Kasar
kandungan protein awal daging sebelum curing adalah di
kisaran 75.01 ± 1,01- 81,07 ± 1,0%. Setelah melalui
perlakuan curing maka didapatkan hasil kandungan protein
kasar daging curing dengan metode penggaraman kering
protein kasar daging curing metode penggaraman kering
adalah 76,88% dan 77,23% untuk metode penggaraman
basah. Peningkatan kadar protein kasar dalam daging
curing penggaraman kering dan curing metode
penggaraman basah disebabakan peningkatan konten NPN
(Islam et.al, 2009).
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                  (Penggaraman Daging)



• Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing
Uji Ekstrak Eter
Uji ekstrak eter digunakan untuk mengetahui kadar lemak
daging curing karena lemak adalah bahan yang larut eter.
Nilai EE (eter ekstrak)awal adalah di kisaran 5,50 ± 0,5%.
Setelah diberi perlakuan curing EE menurun pada kisaran
3,56% sampai 4,54%. Penurunan nilai EE menunjukkan
penurunan kadar lemak dalam daging. Penggabungan
garam, gula dan garam dalam daging menyebabkan
meningkatkan oksidasi. Mereka mengamati bahwa lipolisis
terjadi selama curing yang menurunkan kandungan ekstrak
eter dalam daging.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                 (Penggaraman Daging)




• Bahan unik untuk prosesing daging secara alami dan
  organik
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                    (Penggaraman Daging)


 Kesimpulan
• Hasil penelitian Islam et.al (2009), kandungan protein
  awal daging sebelum curing adalah di kisaran 75.01 ±
  1,01- 81,07 ± 1,0%. kandungan bahan kering pada
  daging sebelum curing adalah berkisar antara 98,00 ±
  2,0-99,10 ± 0,1% dan pada akhir dari 120 hari
  penyimpanan nilai bahan kering berkisar antara 89.50 ±
  2,0-90,50 ± 0,8%. Nilai EE (eter ekstrak)awal adalah di
  kisaran 5,50 ± 0,5%. Setelah diberi perlakuan curing EE
  menurun pada kisaran 3,56% sampai 4,54%.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                    (Penggaraman Daging)


• Hasil penelitian “Komposisi Proksimat Nikumi (Surimi-
  like) Curing pada Beberapa Jenis Daging yang Dicuci
  (Leached) dengan Cara Kominusi Berbeda”
  menunjukkan bahwa baik interaksi antara pencucian
  dan jenis daging maupun faktor pencucian terhadap
  komposisi proksimat nikumi tidak menunjukkan
  pengaruh nyata (P>0,05). Jenis daging berpengaruh
  nyata terhadap kadar lemak kasar nikumi (P<0,01).
  Kadar lemak kasar nikumi domba lebih tinggi
  dibandingkan kadar lemak jenis daging lainnya (P<0,01).
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                     (Penggaraman Daging)


• Evaluasi produk curing daging babi yang diproduksi dengan
  sumber alam nitrat (seledri bubuk) dan dengan atau tanpa
  bubuk 0.28% cherry menunjukkan bahwa termasuk bubuk
  cherry dikurangi sisa nitrit sekitar 50% (Baseler, 2007). Sisa
  nitrit menurun dari 61 ppm untuk 32 ppm selama 12 minggu
  penyimpanan untuk kontrol curing nitrit, 18% ppm untuk
  pengobatan bubuk seledri dan 10% ppm penyelamat untuk
  pengobatan bubuk bubuk cherry seledri. Penambahan
  bubuk cherry tidak mengubah pH produk. Sifat-sifat produk
  lain (warna, lipid oksidasi) yang tidak konsisten berbeda
  meskipun pengobatan curing nitrit menunjukkan lebih besar
  kemerahan (Hunter nilai) setelah sekitar 4 minggu
  penyimpanan.
Ilmu Teknologi Pengolahan Daging Curing
                    (Penggaraman Daging)


• Para penulis menyimpulkan bahwa jus seledri bubuk
  starter budaya pengobatan alternatif yang efektif untuk
  penambahan langsung natrium nitrit untuk berdiameter
  kecil, curing bergaya frankfurter sosis tetapi waktu itu
  inkubasi pada 38 C adalah faktor penting untuk kualitas
  produk. Jus seledri bubuk starter budaya pengobatan
  juga efektif untuk paha tetapi dalam kasus ini jumlah
  bubuk jus seledri terbukti lebih kritis. Untuk besar
  diameter produk seperti paha, tampaknya bahwa
  kenaikan suhu lambat yang merupakan bagian dari
  proses termal khas dapat memberikan cukup waktu
  untuk budaya untuk mencapai pengurangan nitrat di-
  nitrit.
Daging ppt

Daging ppt

  • 1.
    KELOMPOK 4 Kelas E Erly Anna Rosita 105050101111060 Elanda Bagus 105050101111 Sheba Salsabila 105050101111079 Arin Maya R. 105050101111080 Denny Aprie W. 105050101111087
  • 2.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) Pendahuluan Latar Belakang : Daging sebagai kebutuhan Kerusaka pangan n daging Curing manusia
  • 3.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) Rumusan Masalah • Adakah persoalan yang dihasilkan melalui metode curing dengan penambahan nitrat dan nitrit secara tidak langsung? • Bagaimanakah penggunaan metode curing pada ikan yang diterapkan untuk daging kuda, domba, dan sapi? • Apa perbedaan kualitas curing pada daging sapi dan kerbau dengan menggunakan bahan curing yang berbeda?
  • 4.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) Tujuan Penulisan • Memaparkan persoalan yang dihasilkan dari metode curing dengan penambahan nitrat dan nitrit secara tidak langsung. • Menjelaskan penggunaan metode curing pada ikan yang diterapkan untuk daging kuda, domba dan sapi. • Memberi penjelasan untuk masing-masing perbedaan kualitas curing pada daging sapi dan kerbau dengan menggunakan bahan curing yang berbeda.
  • 5.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) cara prosesing daging dengan menambahkan Curing?? beberapa bahan seperti garam NaCl, Natrium nitrit dan atau Natrium nitrat dan gula (destroksa atau sukrosa atau pati hidrolisis) serta bumbu-bumbu. Tujuannya . . .
  • 6.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) MATERI DAN METODE
  • 7.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging)
  • 8.
     MATERI DANMETODE • Prosedur Daging mentah tanpa tulang Dipotong kecil-kecil Dilakukan pencucian
  • 9.
    Natrium klorida, gula,kalium nitrat dan air suling yang digunakan sebagai curing agen. Semua sampel yang dikenakan untuk curing dalam bulan musim panas ketika kelembaban relatif itu 65-70% selama 10 hari pada suhu kamar normal. Sampel disimpan diamati pada 0 30 60 dan 120 hari pada 120 hari periode total penyimpanan.
  • 10.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) Pembahasan 4.1 Ilmunya Menurut Winarno (2004), pada umumnya proses curing terjadi karena: a. Reaksi biologis yang dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit dan NO, yang mampu mereduksi ferri menjadi ferro. b. Terjadinya denaturasi globin oleh panas. Bila daging yang di-curing dipanaskan pada suhu 150°F atau lebih, maka terjadi proses denaturasi. c. Hasil akhir curing daging membentuk pigmen nitrosilmioglobin bila tidak dimasak, dan nitrosilhemokromogen bila telah dimasak.
  • 11.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) 4.2 Prosesnya Reaksi yang terjadi selama proses perkembangan warna daging proses hingga tercapainya warna yang stabil : Organisme 1) Nitrat : Pereduksi nitrat nitrit 2) Nitrit : Kondisi menguntungkan NO (nitric oksida)+ Tanpa sinar dan Udara H2O (air) Kondisi NOMMb (Nitric Oksida 3) NO+Mb : menguntungkan metmiogoblin )
  • 12.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) Kondisi NOMb (Nitric Oksida 4) NOMMb : menguntungkan miogoblin, merah) NO hemokromogen (nitrosil 5) NOMb +pa : Kondisi nas + asap menguntungkan hemokromogen), warna merah jambon, stabil
  • 13.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing 1. Perubahan Kandungan Bahan Kering Hasil penelitian Islam et.al (2009), kandungan bahan kering pada daging sebelum curing adalah berkisar antara 98,00 ± 2,0- 99,10 ± 0,1% dan pada akhir dari 120 hari penyimpanan nilai bahan kering berkisar antara 89.50 ± 2,0-90,50 ± 0,8%, Sedangkan rataan kadar air nikumi berdasarkan pencucian adalah 58,65%, 58,45%, dan 60,98%. Kadar air ini juga lebih rendah dari hasil penelitian Mega (2006a) berupa nikumi kuda dan sapi yang dicuci dengan frekuensi hingga 9 kali dengan kadar air masing-masing sebesar 70,80% dan 68,01% dan Suryaningsih (2006) berupa nikumi kuda, sapi dan domba yang diberi antidenaturan dengan kadar airnya masing-masing adalah 67,92%, 65,68% dan 65,55%.
  • 14.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing • Perubahan Kadar Abu •Kadar abu pada daging sebelum curing berkisar antara 13,07 ± 1,02-15,33 ± 2,2% dan pada nilai akhir setelah 120 hari masa simpan kadar abu daging curing adalah 12,80 ± 2,2-14,80 ± 1,72%. Nilai abu menurun dengan waktu penyimpanan. Nilai kadar abu pada daging curing menggunakan gula adalah relatif lebih tinggi yaitu berkisar 93,20 sampai 94,25%. . Kadar abu relatif lebih rendah dalam daging curing dengan metode penggaraman cair (14,63%) dan penggaraman kering (13,04%). Hal ini mungkin dikarenakan penetrasi garam dalam daging dan penyerapan kelembaban dari jaringan daging (Islam et.al,2009).
  • 15.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing 3 Perubahan Kadar Protein Kasar kandungan protein awal daging sebelum curing adalah di kisaran 75.01 ± 1,01- 81,07 ± 1,0%. Setelah melalui perlakuan curing maka didapatkan hasil kandungan protein kasar daging curing dengan metode penggaraman kering protein kasar daging curing metode penggaraman kering adalah 76,88% dan 77,23% untuk metode penggaraman basah. Peningkatan kadar protein kasar dalam daging curing penggaraman kering dan curing metode penggaraman basah disebabakan peningkatan konten NPN (Islam et.al, 2009).
  • 16.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Perubahan- perubahan yang terjadi selama Curing Uji Ekstrak Eter Uji ekstrak eter digunakan untuk mengetahui kadar lemak daging curing karena lemak adalah bahan yang larut eter. Nilai EE (eter ekstrak)awal adalah di kisaran 5,50 ± 0,5%. Setelah diberi perlakuan curing EE menurun pada kisaran 3,56% sampai 4,54%. Penurunan nilai EE menunjukkan penurunan kadar lemak dalam daging. Penggabungan garam, gula dan garam dalam daging menyebabkan meningkatkan oksidasi. Mereka mengamati bahwa lipolisis terjadi selama curing yang menurunkan kandungan ekstrak eter dalam daging.
  • 17.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Bahan unik untuk prosesing daging secara alami dan organik
  • 18.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging)  Kesimpulan • Hasil penelitian Islam et.al (2009), kandungan protein awal daging sebelum curing adalah di kisaran 75.01 ± 1,01- 81,07 ± 1,0%. kandungan bahan kering pada daging sebelum curing adalah berkisar antara 98,00 ± 2,0-99,10 ± 0,1% dan pada akhir dari 120 hari penyimpanan nilai bahan kering berkisar antara 89.50 ± 2,0-90,50 ± 0,8%. Nilai EE (eter ekstrak)awal adalah di kisaran 5,50 ± 0,5%. Setelah diberi perlakuan curing EE menurun pada kisaran 3,56% sampai 4,54%.
  • 19.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Hasil penelitian “Komposisi Proksimat Nikumi (Surimi- like) Curing pada Beberapa Jenis Daging yang Dicuci (Leached) dengan Cara Kominusi Berbeda” menunjukkan bahwa baik interaksi antara pencucian dan jenis daging maupun faktor pencucian terhadap komposisi proksimat nikumi tidak menunjukkan pengaruh nyata (P>0,05). Jenis daging berpengaruh nyata terhadap kadar lemak kasar nikumi (P<0,01). Kadar lemak kasar nikumi domba lebih tinggi dibandingkan kadar lemak jenis daging lainnya (P<0,01).
  • 20.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Evaluasi produk curing daging babi yang diproduksi dengan sumber alam nitrat (seledri bubuk) dan dengan atau tanpa bubuk 0.28% cherry menunjukkan bahwa termasuk bubuk cherry dikurangi sisa nitrit sekitar 50% (Baseler, 2007). Sisa nitrit menurun dari 61 ppm untuk 32 ppm selama 12 minggu penyimpanan untuk kontrol curing nitrit, 18% ppm untuk pengobatan bubuk seledri dan 10% ppm penyelamat untuk pengobatan bubuk bubuk cherry seledri. Penambahan bubuk cherry tidak mengubah pH produk. Sifat-sifat produk lain (warna, lipid oksidasi) yang tidak konsisten berbeda meskipun pengobatan curing nitrit menunjukkan lebih besar kemerahan (Hunter nilai) setelah sekitar 4 minggu penyimpanan.
  • 21.
    Ilmu Teknologi PengolahanDaging Curing (Penggaraman Daging) • Para penulis menyimpulkan bahwa jus seledri bubuk starter budaya pengobatan alternatif yang efektif untuk penambahan langsung natrium nitrit untuk berdiameter kecil, curing bergaya frankfurter sosis tetapi waktu itu inkubasi pada 38 C adalah faktor penting untuk kualitas produk. Jus seledri bubuk starter budaya pengobatan juga efektif untuk paha tetapi dalam kasus ini jumlah bubuk jus seledri terbukti lebih kritis. Untuk besar diameter produk seperti paha, tampaknya bahwa kenaikan suhu lambat yang merupakan bagian dari proses termal khas dapat memberikan cukup waktu untuk budaya untuk mencapai pengurangan nitrat di- nitrit.