Idul Fitri,Juli 2015
Luapan pujian kehadirat Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta dari
ketiadaan.
Maha suci Allah yang telah menciptakan kerajaan langit dan bumi dan tiadalah apa –
apa yang ada didalamnya itu melainkan lambang keagungan dan kesucian Allah SWT.
Alat panca indera kita pun merupakan titipan dari Allah SWT yang berfungsi untuk
menangkap keagungan dan kemegahan Allah SWT, maka didalam kehadiran ciptaan-
Nya ini, menyulut jiwa raga kita agar senantiasa berdzikir kepada Allah SWT.
Setiap apa yang kita lihat, hakikatnya tersimpan keagungan dan kesempurnaan Allah
SWT, maka beruntunglah bagi jiwa – jiwa yang terpanggil untuk senantiasa basah
lisannya dalam mengingat Allah dikondisi dan keadaan baagaimanapun.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Hakikatnya takbir dan tahmid itu hanya milik Allah penguasa jagat ini, dan hanya pantas
tertuju kepada Allah SWT. Sejak malam dan pagi ini, tiada alunan suara yang pantas
terdengar selain alunan takdir dan tahmid sehingga menggelegar seantero jagat raya ini,
menembus arasy Allah membuat tiangnya bergentar tiada henti dan membuat remuknya
relung hati orang – orang yang beriman yang tak kering lisannya dari kalimat takbiran.
Sesungguhnya hari raya ini hanya milik hamba Allah yang benar – benar bertambah iman dan
ketaqwaannya yaitu hari raya dari kemenangan inipun hanya betul – betul milik orang –
orang yang berjuang dengan gigih di bulan ramadhan, maka pagi inilah imbalannya. Pagi ini
Allah betul – betul membagikan hadiah ampunan kecuali kepada tiga orang yaitu (1) sang
peminum arak (2) orang yang berani dengan orang tuanya (3) orang yang memutuskan
hubungan dengan sana family, maka mereka inilah yang tidak mendapatkan ampunan dari
Allah.
Alangkah besarnya rahmat Allah yang diturunkan di bulan ramadhan, maka mestinya kita
berpikir, apakah dengan jalani ramadhan dosa – dosa kita telah diampuni oleh Allah, bila
dosa kita diampuni, alangkah beruntungnya kita pagi ini, sehingga perjalanan kita menuju
syurga-Nya Allah menjadi perjalanan yang akan dimudahkan dan menyenangkan.
Namun bila dosa – dosa kita belum diampuni, maka sekaranglah waktunya kita bertaubat
kepada Allah dengan sebenar – benarnya taubat agar Allah mengampuni dosa – dosa kita
karna pagi ini pintu taubat Allah buka lebar, lebih lebar dari tumpukan dosa – dosa hamba –
hamba Nya.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Bulan ramadhan yang telah kita jalani itu tak ubahnya pendidikan di bangku sekolah,
disamping banyak pelajaran – pelajaran, kedisiplinan dalam memanfaatkan waktu, di akhir
Idul Fitri,Juli 2015
kegiatan akan ada ujian dalam menentukan nilai/kualitas amal kita. Di sekolah ada ulangan
harian, ada ulangan kenaikan kelas dan ada juga ulangan tes akhir yaitu penentuan kelulusan.
Begitu juga keadaan kita, setiap hari kita ada ulangan tes kualitas amal sebanyak lima kali
dalam sehari semalam yaitu shalat fardhu, jika nilai/kualitas shalat fardhu kita baik dzuhur
misalnya maka kita akan selamat dari kemaksiatan hingga tiba waktu ashar “Innashalata
tanha ‘anil fahsya iwal munkar” dan kitapun akan memiliki jazbah atau semangat yang tinggi
untuk melaksanakan shalat ashar, bila seperti ini keadaannya berarti shalat dzuhur kita betul –
betul ternilai baik. Kemudian dapat kita lihat bila sehabis shalat dzuhur kita gampang
melaksanakan kemaksiatan dan bermalas – malasan untuk melakukan shalat ashar, itu berarti
bahwa kualitas shalat dzuhur kita tidak baik begitu juga seterusnya dari waktu ke waktu.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Kemudian ulangan tahunan yaitu puasa ramadhan, bila nilai ramadhan kita tahun kemarin
baik, maka dapat dibuktikan dalam menyambut dan menjalani ibadah bulan ramadhan
berikutnya yaitu akan lebih semangat dan lebih baik, maka bila ibadah ramadhan kita jalani
dengan baik tentu kita akan naik kelas yaitu kelas yang lebih baik dari pada hidup tahun
kemarin dan mendapat predikat hakikat takwa baik hubungan secara sosial maupun hubungan
kepada Allah.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Setiap hari kita mendapatkan nilai baik dari shalat 5 waktu kita. Setiap tahun juga
mendapatkan nilai yang baik dari puasa kita, maka dapat mendukung sebagai penentu pada
ujian terakhir hidup di dunia ini, yaitu saat – saat sakaratul maut, inilah ujian akhir kita. Jika
kita tidak betul – betul berhasil dari ujian – ujian sebelumnya, shalat dan puasanya sehingga
tak sedikit orang yang gagal dalam ujia akhir yaitu sakaratul maut dalam su’ul khotimah.
Lisannya kelu tak dapat mengucapkan kalimat thayibah sehingga banyak orang – orang ingin
rasanya menghindari diri dari proses maut ini karena begitu sangat menakutkan keadaannya,
dalam itu dijawab oleh Allah SWT QS. An Nisa’: 78
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di
dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka
mengatakan, "Ini dari sisi Allah", dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka
mengatakan, "Ini datangnya dari kamu (Muhammad”. Katakanlah, "Semuanya (datang) dari
sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak
memahami pembicaraan sedikitpun?”
Idul Fitri,Juli 2015
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Betapa tidak mengerikan saat – saat ajal tiba, semua akan berubah dengan dahsyatnya.
Sebelumnya ia kuat seketika menjadi lemah, yang sehat menjadi sakit, yang tenang menjadi
gelisah dan gundah.
Saudara - saudariku yang mulia, coba renungkan siapa yang kiranya mampu menenangkan
dimana seorang hamba berada dalama sakarat? Bisakah seorang dokter memberi obat untuk
menenangkan kegoncangan jiwanya saat itu? Atau adakah sarana duniawi yang mampu
menghibur kegalauan hatinya kala itu? Maka tidak bisa dilakukan bila detik – detik maut itu
tiba, kecuali nasihat/arahan agama dan ucapkan talkin “Lailahaillallah”, hanya ini yang
sanggup meredam penderitaannya, hanya kalimat ini yang sanggup menghibur kondisi
jiwanya kala itu. Allahuakbar...
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Permasalahan dunia ini kecil sekali bila dibandingkan ujian terakhir kala ajal menjemput dan
ini sebagai penentu selamat ataukah ia celaka selama – lamanya. Namun, sebesar apapun
permasalahan atau ujian tersebut, yang sanggup meredamnya hanya nasihat iman
“Lailahaillallah”, maka baegitu jarang bila kita hadapi ujian – ujian kecil yang lainnya,
berusahalah tenangkan dengan kalimat “Lailahaillallah”.
Permasalahan yang paling besar adalah kelak di akhirat. Namun sebesar apapun
permasalahan kubur, mahsyar, shirat, mizan, hanya dapat diselesaikan dengan kalimat
“Lailahaillallah”, pegang kalimat ini erat – erat dan tancapkan dalam hati sehingga
mengakar kuat dan membuahkan amalan kebaikan yang sempurna dihadapan Allah SWT.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Disamping ramadhan menempa keimanan dan takwa kita, ramadhan juga mendidik untuk
peduli kasih sayang kepada orang – orang yang memiliki keterbatasan dalam segala
keadaannya yang mana jika mereka melihat orang – orang berkendaraan, berpakaian bagus –
bagus ia hanya bisa menundukan kepala dan merenungkannya andai saja bisa memiliki yang
ia punya, mungkin saja saya bisa lebih bahagia menyambut hari raya ini. jika ia melihat
rumah mereka yang bagus – bagus dan catnya yang warna warni merekapun tertunduk
berpikir dan berandai saja. Begitupun saat ia meyaksikan orang – orang hulu lalang
membawa anyaman ketupat dan daging untuk dimasak, ia pun hanya bisa berandai – andai,
namun ketika ia tercium bau masakan – masakannya seraya ia mengatakan dalam hatinya
seperti apa nikmatnya masakannya itu untuk sekedar baunya saja sudah merasa enak untuk
dirasakan. Coba sesekali saja kita lihat tempat tinggal mereka, sesekali saja kita lihat pakaian
yang ia pakai, coba lihat menu makanan yang ia makan. Jika kita memiliki kelebihan dari
mereka itu sekecil apapun bentuknya santuni mereka – mereka ini dengan kasih sayang,
jangan cerca dia, jangan hina dia. Jangan sampai kita tergolong sebagai orang – orang
pendusta agama seperti yang Allah kabari dalam firman-Nya QS. Al Ma’un: 1-3
Idul Fitri,Juli 2015
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama yaitu orang – orang yang menghardik anak
yatim dan tidak memberi makan orang miskin”.
Dan jangan sampai saudara – saudaraku seperti sebuah gambaran hikayat singkat sesosok
anak kecil yang lagi makan-minum pada bulan puasa, sering kepergok masyarakat ia makan-
minum disiang hari ditempat umum persis dimana perut sang puasa kelaparan dan
tenggorokan si puasa tercekik rasa kehausan, sehingga orang – orang yang menyaksikan anak
kecil ini membuatnya ngiler atau bahasa kitanya terliur – liur pertanda tergoda ingin rasanya
makan-minum seperti anak kecil itu dan karna sering kali anak kecil ini lakukan hal yang
sama, maka tiba – tiba ada seorang bapak – bapak yang memberanikan diri untuk sekedar
memperingati perilaku anak kecil tersebut, namun anehnya anak kecil tersebut seakan – akan
sudah tahu maksud kedatangan bapak tersebut yang akan menegurnya. Anak kecil itu berkata
“ada apa bapak melarang saya makan dan minum? Yang mana ini semua milik saya” tanya
anak kecil tersebut itu. Bapak itu menjawab “iya nak, bapak larang karna kamu
melakukannya di siang hari di bulan puasa, kamu telah buat ulah membuat kesal orang –
orang yang melihatmu karna sikapmu telah menggoda semua orang yang berpuasa.”
Kemudian anak kecil itu berdiri menatap tajam kepada bapak tersebut dengan melontarkan
kata – kata menusuk. Kata anak itu “itukan yang bapak lakukan kepada kami semua,
bukankah bapak sering melakukan ini ketimbang saya? Bapak – bapak semua sering kali
mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup miskin pada sebelas bulan di luar puasa?
Bukankah bapak – bapak semua yang lebih sering melupakan kami yang kehausan dan
kelaparan? Tahukah bapak akibat dan ancaman dari Allah terhadap orang – orang yang
melupakan orang – orang yang seharusnya diingat dan diperhatikan? Dan bukankah bapak
semua yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang merintih menangis? Bukankah
bapak yang selalu berobat mahal jika sedikit saja sakit menyerangnya? Sementara bapak
membiarkan kami mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput kami. Bukankah bagi
bapak – bapak bulan puasa ini hanya sekedar pergeseran waktu saja untuk menahan lapar dan
dahaga, namun ketika bedug magrib tiba bapak – bapak kembali berkenyang – kenyang?
Anak itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan kepada orang yang ia panggil bapak.
Tiba – tiba suara anak itu berubah kalau tadinya begitu tegas dan terdengar menusuk namun
kali ini ia bersuara lirih dan mengiba. “ketahuilah pak.... kami ini berpuasa tanpa ujung, kami
berpuasa siang dan malam, meskipun bukan waktunya berpuasa, ini disebabkan karna tidak
adanya makanan yang dapat kami makan. Sedangkan bapak – bapak hanya berpuasa
sepanjang siang saja dan ketahuilah juga justru bapak – bapak semua dan orang disekeliling
bapaklah yang selalu menggoda dan menyakiti perasaan kami semua dengan makanan,
pakaian, kendaraan yang luar biasa mewahnya. Sebelas bulan bapak – bapak tertawa(2x)
disaat mana kami merintih menangis bahkan pada bulan ramadhan hanya ada kepedulian
seadanya saja kepada kami, seperti mengantar bukaan beberapa kali namun karna tiada yang
dapat kami balaskan dari pemberiaannya maka tiada lagi antaran bukanya kepada kami.
Kemudian ada juga diantaranya yang mengantar dzakat fitrah itupun mungkin karna
kewajiban, namun bagi kami cukuplah mengembirakan, sehingga kami terpikir, andai
sepanjang tahun ini bisa dijadikan ramadhan, mungkin dapatlah mengurangi penderitaan
hidup kami.
Sadarkah bapak atas ketidakabadian harta? Lalu kenapa bapak masih saja menimbun –
nimbun harta secara berlebihan? Bahkan berlebihannya bukan hanya dari sisi jumlahnya,
akan tetapi dari sisi penggunaannya kepada jalan dosa dan kemaksiatan. Tahukah bapak
Idul Fitri,Juli 2015
bahwa ada azab Allah yang akan menimpa? Jangan sekali – kali merasa aman lantaran kaki
bapak masih berpijak ke bumi! Dan jangan bapak merasa tenang dari kelaparan karna masih
tersimpan stok makanan untuk setahun. Dan jangan merasa matahari tidak pernah menyatu ke
bumi dan menjadi rata, bahkan kiamat itu pasti terjadi. Kemudian anak kecil itu pergi
meninggalkannya dan dengan seketika menghilang tanpa kembali. Bapak tersebut hanya
terbengong – bengong dan berlinangan air mata sambil mengingat – ingat ucapan anak kecil
yang misterius tersebut.
Maka dari itu bapak ibu hadirin semua, jangan sia – siaka fakir miskin, jangan sia – siakan
anak yatim, kasihi mereka, sayangi mereka, dan santuni mereka.
Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah...
Disamping puasa menempa iman dan takwa, menempa kasih sayang juga puasa akan
menempa rasa syukur yang amat dalam. Sebagaiman firman Allah SWT QS. Ibrahim: 7
Kemudian baginda rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada
manusia maka sebenarnya tidak berterimakasih kepada Allah” (Al Hadits)
Adapun orang yang patut mendapatkan ucapan terimakasih yaitu orang yang telah
memberikan kebaikan kepada kita, dan orang yang paling banyak memberikan kebaikan serta
kita tentu banyak berutang budi kepadanya adalah kedua orang tua kita. Firman Allah QS.
Lukman: 14
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Sebab setelah kekuasaan Allah, yang kedua adalah orang tualah yang menajdi penyebab
lahirnya kita ke dunia ini. firman Allah QS. Al Isyra’: 23
Idul Fitri,Juli 2015
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau
kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah engkau
mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya,
dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik".
Sesungguhnya sangatlah beruntung mereka yang memiliki kedua orang tua karna kedua
orang tua itu merupakan keramat dunia dan gerbangnya menuju syurga.
“Keridhaan Allah tergantung keredhaan orang tua dan murka Allah tergantung pada
murkanya orang tua” (Al hadits).
Al qur’an berulang kali memerintahkan, berperilaku menyenangkan patuh dan berbaktilah
kepada orang tuamu, selanjutnya apabila orang tua telah lanjut usia sifat dan perasaan mereka
cepat berubah, selera makan yang tak menentu, mudah tersinggung, cepat marah, cepat
bersedih hati, ini disebabkan pengaruh dari ketuaan usia mereka, maka kepada kita selaku
anak diperintahkan agar dengan perubahan ini menilainya dengan sesuatu yang lumrah dan
diterima secara ikhlas dengan selalu menampakkan muka manis dan kasih sayang, sebagai
buah dari keluhuran budi pekerti seorang mukmin yang bertakwa. Dalam usia seperti ini
orang tua kita sangat mengharapkan kasih sayang dari anak – anaknya yang telah mereka
besarkan dengan kasih sayang, untuk itu simaklah dengan baik pesan – pesan kedua orang tua
kita sebagai anaknya.
*wahai anakku... jika aku tua nanti, mengertilah terhadapku jika aku lupa cara mengancing
baju ingatkanlah aku seperti saat aku dulu mengajarimu.
*bila aku berulang kali mengatakan sesuatu bersabarlah mendengarkannya jangan
memutuskan pembicaraanku walaupun sudah bosan telingamu, bagiku apa yang aku
bicarakan sebenarnya tidaklah begitu penting, yang aku harapkan agar engkau setia
mendengarkan disampingku.
*jika suatu ketika aku lupa pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingatnya.
*saat engkau kecil dulu aku harus mengulang – ulang cerita yang telah beratus kali aku
ceritakan kepadamu, agar engkau tidur dengan gembira.
*jika aku tua nanti dekap eratlah jemariku, rangkullah dan berilah perhatianmu padaku yang
tak pernah henti.
*jika aku perlu engkau untuk memandikan aku, janganlah engkau marahi aku, ingatlah
sewaktu engkau kecil dulu, aku harus memakai seribu cara untuk membujukmu agar engkau
mandi.
*dan jika aku tidak mengerti hal – hal yang baru, jangan engkau mengejek dan menertawakan
aku, ingatlah waktu dulu aku harus bersabar menjawab pertanyaan mengapa darimu yang
berulang – ulang kali.
*jika nanti aku sudah lemah dan tak sanggup lagi berjalan ingatlah disaat engkau dulu
menapakkan kakimu, aku papah dengan baik, maka ulurkanlah tanganmu yang masih kuat
untuk memapahku saat mana dulu aku dengan gembira mendampingimu belajar berjalan.
Idul Fitri,Juli 2015
*kemudian aku mohon temani aku di sisa – sisa usiaku, sebagaimana hari – hari aku tak
pernah bosan menemanimu bermain, berikan kasih tulusmu kepadaku, maka akan aku balas
dengan ridha dari rasa syukur dan cintaku yang tak terhingga kepadamu.
*jika aku tua nanti kelak akan tiba masaku untuk berpisah dengamu selamanya, maka
mandikan dan shalatkanlah jenazahku, engkaulah yang meletakkanku dipembaringan
terakhirku dan jangan lupa panjatkanlah selalu doamu karna doa anak yang soleh akan
melesat tinggi bagai cahaya dalam kuburku.
*janganlah engkau ratapi dengan kesedihan, berdoa dan perbanyaklah amal baikmu, karna
hanya doamu yang dapat membantu dan menjadi pelita dalam kuburku, jadilah engaku anak
yang baik, isi setiap kisi – kisi kehidupan ini dengan hal yang berarti, agar kelak Allah
mempertemukan kita kembali didalam naungan syurganya yang kekal abadi.
Idul Fitri,Juli 2015
Untuk itu sekedar meluruskan keimanan dan takwa kita kepada Allah, mari kita sama – sama
muhasabah memperhitungkan diri kita sebelum diperhitungkan kelak oleh Allah dengan
diiringi dzikrul maut, karna mungkin pagi ini kita masih bersama – sama bertatap muka entah
besok atau di lain kesempatan Allah panggil diantara kita untuk menghadapNya.
Mari sekarang kita bayangkan dengan sungguh – sungguh, seolah – olah jasad kita telah
terbujur dan dikerumuni sanak keluarga dan para tetangga, bayangkan dimana jasad kita
dimandikan dan dikafani, segenap keluarga mencium dengan salam terakhir yang diiringi
deraian air mata, kemudian kita dishalati oleh segenap yang datang dan dipanggul
kepemakaman, disana kita akan dibaringkan terbujur jasad kita dalam kubur dan sejumlah
orang menutupi kita dengan tanah, semakin lama semakin gelap dan terhimpit tanah,
kemudian tidak lama kita didatangi munkar dan nankir, serta merta bertanya kepad kita “hei
manusia... apa saja yang kau lakukan semasa didunia, setiap hari siang dan malam hanya
memburu dunia, Allah tidak pernah engkau ingat, panggilan shalat engkau abaikan, orang tua
engkau aniaya, seakan – akan tidak ada waktu untuk tersenyum kepadanya, keluargamu
engkau hianati, anak – anakmu tidak engkau perhatikan dengan baik. Mana dunia yang mati –
matian engkau cari siang dan malam itu? Kini engkau menjadi mayat yang tak berdaya dalam
kubur tanpa hartamu yang dapat membantumu, sekarang engkau hanya dikerumuni cacing –
cacing dan ular – ular yang mengerikan.
Saudaraku.... sesungguhnya tiada teman yang menyenangkan di dalam kubur selain amal baik
kita yang diterima Allah, dunia ini tempat mampir sejenak, dunia ini hanya tempat mencari
bekal untuk berpulang, dunia ini hanya tempat mempersembahkan yang terbaik bukan untuk
mendapatkan pujian orang.
Saudaraku.... semestinya Allah bangga dengan kita sebagai hambaNya yang patuh dan taat
dalam segala ibadah. Mestinya orang tua kitapun bangga dengan kita sebagai anaknya,
mestinya istri kita menjadi bangga memiliki suami seperti kita, begitu juga suaminya bangga
memiliki istri seperti kamu, anak – anak kitapun mestinya harus bangga memiliki orang tua
seperti kita. Bila kita sadari keadaan ini, akankah kita berani menentang Allah? Berani
kepada kedua orang tua? Jahat kepada saudara? Zhalim kepada tetangga?
Ya allah dipagi yang penuh ampunan ini, ampunilah segenap dosa – dosa kami, bersihkanlah
sebersih kain putih dari noda dan nista. Ya allah kami hidup sudah puluhan tahun, sudah
berapa banyak orang yang kami sakiti dan para orang tua yang tidak kami hargai.

Ceramah aby

  • 1.
    Idul Fitri,Juli 2015 Luapanpujian kehadirat Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta dari ketiadaan. Maha suci Allah yang telah menciptakan kerajaan langit dan bumi dan tiadalah apa – apa yang ada didalamnya itu melainkan lambang keagungan dan kesucian Allah SWT. Alat panca indera kita pun merupakan titipan dari Allah SWT yang berfungsi untuk menangkap keagungan dan kemegahan Allah SWT, maka didalam kehadiran ciptaan- Nya ini, menyulut jiwa raga kita agar senantiasa berdzikir kepada Allah SWT. Setiap apa yang kita lihat, hakikatnya tersimpan keagungan dan kesempurnaan Allah SWT, maka beruntunglah bagi jiwa – jiwa yang terpanggil untuk senantiasa basah lisannya dalam mengingat Allah dikondisi dan keadaan baagaimanapun. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Hakikatnya takbir dan tahmid itu hanya milik Allah penguasa jagat ini, dan hanya pantas tertuju kepada Allah SWT. Sejak malam dan pagi ini, tiada alunan suara yang pantas terdengar selain alunan takdir dan tahmid sehingga menggelegar seantero jagat raya ini, menembus arasy Allah membuat tiangnya bergentar tiada henti dan membuat remuknya relung hati orang – orang yang beriman yang tak kering lisannya dari kalimat takbiran. Sesungguhnya hari raya ini hanya milik hamba Allah yang benar – benar bertambah iman dan ketaqwaannya yaitu hari raya dari kemenangan inipun hanya betul – betul milik orang – orang yang berjuang dengan gigih di bulan ramadhan, maka pagi inilah imbalannya. Pagi ini Allah betul – betul membagikan hadiah ampunan kecuali kepada tiga orang yaitu (1) sang peminum arak (2) orang yang berani dengan orang tuanya (3) orang yang memutuskan hubungan dengan sana family, maka mereka inilah yang tidak mendapatkan ampunan dari Allah. Alangkah besarnya rahmat Allah yang diturunkan di bulan ramadhan, maka mestinya kita berpikir, apakah dengan jalani ramadhan dosa – dosa kita telah diampuni oleh Allah, bila dosa kita diampuni, alangkah beruntungnya kita pagi ini, sehingga perjalanan kita menuju syurga-Nya Allah menjadi perjalanan yang akan dimudahkan dan menyenangkan. Namun bila dosa – dosa kita belum diampuni, maka sekaranglah waktunya kita bertaubat kepada Allah dengan sebenar – benarnya taubat agar Allah mengampuni dosa – dosa kita karna pagi ini pintu taubat Allah buka lebar, lebih lebar dari tumpukan dosa – dosa hamba – hamba Nya. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Bulan ramadhan yang telah kita jalani itu tak ubahnya pendidikan di bangku sekolah, disamping banyak pelajaran – pelajaran, kedisiplinan dalam memanfaatkan waktu, di akhir
  • 2.
    Idul Fitri,Juli 2015 kegiatanakan ada ujian dalam menentukan nilai/kualitas amal kita. Di sekolah ada ulangan harian, ada ulangan kenaikan kelas dan ada juga ulangan tes akhir yaitu penentuan kelulusan. Begitu juga keadaan kita, setiap hari kita ada ulangan tes kualitas amal sebanyak lima kali dalam sehari semalam yaitu shalat fardhu, jika nilai/kualitas shalat fardhu kita baik dzuhur misalnya maka kita akan selamat dari kemaksiatan hingga tiba waktu ashar “Innashalata tanha ‘anil fahsya iwal munkar” dan kitapun akan memiliki jazbah atau semangat yang tinggi untuk melaksanakan shalat ashar, bila seperti ini keadaannya berarti shalat dzuhur kita betul – betul ternilai baik. Kemudian dapat kita lihat bila sehabis shalat dzuhur kita gampang melaksanakan kemaksiatan dan bermalas – malasan untuk melakukan shalat ashar, itu berarti bahwa kualitas shalat dzuhur kita tidak baik begitu juga seterusnya dari waktu ke waktu. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Kemudian ulangan tahunan yaitu puasa ramadhan, bila nilai ramadhan kita tahun kemarin baik, maka dapat dibuktikan dalam menyambut dan menjalani ibadah bulan ramadhan berikutnya yaitu akan lebih semangat dan lebih baik, maka bila ibadah ramadhan kita jalani dengan baik tentu kita akan naik kelas yaitu kelas yang lebih baik dari pada hidup tahun kemarin dan mendapat predikat hakikat takwa baik hubungan secara sosial maupun hubungan kepada Allah. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Setiap hari kita mendapatkan nilai baik dari shalat 5 waktu kita. Setiap tahun juga mendapatkan nilai yang baik dari puasa kita, maka dapat mendukung sebagai penentu pada ujian terakhir hidup di dunia ini, yaitu saat – saat sakaratul maut, inilah ujian akhir kita. Jika kita tidak betul – betul berhasil dari ujian – ujian sebelumnya, shalat dan puasanya sehingga tak sedikit orang yang gagal dalam ujia akhir yaitu sakaratul maut dalam su’ul khotimah. Lisannya kelu tak dapat mengucapkan kalimat thayibah sehingga banyak orang – orang ingin rasanya menghindari diri dari proses maut ini karena begitu sangat menakutkan keadaannya, dalam itu dijawab oleh Allah SWT QS. An Nisa’: 78 “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, "Ini dari sisi Allah", dan jika mereka ditimpa suatu keburukan mereka mengatakan, "Ini datangnya dari kamu (Muhammad”. Katakanlah, "Semuanya (datang) dari sisi Allah." Maka mengapa orang-orang itu (orang-orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”
  • 3.
    Idul Fitri,Juli 2015 Hadirinjama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Betapa tidak mengerikan saat – saat ajal tiba, semua akan berubah dengan dahsyatnya. Sebelumnya ia kuat seketika menjadi lemah, yang sehat menjadi sakit, yang tenang menjadi gelisah dan gundah. Saudara - saudariku yang mulia, coba renungkan siapa yang kiranya mampu menenangkan dimana seorang hamba berada dalama sakarat? Bisakah seorang dokter memberi obat untuk menenangkan kegoncangan jiwanya saat itu? Atau adakah sarana duniawi yang mampu menghibur kegalauan hatinya kala itu? Maka tidak bisa dilakukan bila detik – detik maut itu tiba, kecuali nasihat/arahan agama dan ucapkan talkin “Lailahaillallah”, hanya ini yang sanggup meredam penderitaannya, hanya kalimat ini yang sanggup menghibur kondisi jiwanya kala itu. Allahuakbar... Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Permasalahan dunia ini kecil sekali bila dibandingkan ujian terakhir kala ajal menjemput dan ini sebagai penentu selamat ataukah ia celaka selama – lamanya. Namun, sebesar apapun permasalahan atau ujian tersebut, yang sanggup meredamnya hanya nasihat iman “Lailahaillallah”, maka baegitu jarang bila kita hadapi ujian – ujian kecil yang lainnya, berusahalah tenangkan dengan kalimat “Lailahaillallah”. Permasalahan yang paling besar adalah kelak di akhirat. Namun sebesar apapun permasalahan kubur, mahsyar, shirat, mizan, hanya dapat diselesaikan dengan kalimat “Lailahaillallah”, pegang kalimat ini erat – erat dan tancapkan dalam hati sehingga mengakar kuat dan membuahkan amalan kebaikan yang sempurna dihadapan Allah SWT. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Disamping ramadhan menempa keimanan dan takwa kita, ramadhan juga mendidik untuk peduli kasih sayang kepada orang – orang yang memiliki keterbatasan dalam segala keadaannya yang mana jika mereka melihat orang – orang berkendaraan, berpakaian bagus – bagus ia hanya bisa menundukan kepala dan merenungkannya andai saja bisa memiliki yang ia punya, mungkin saja saya bisa lebih bahagia menyambut hari raya ini. jika ia melihat rumah mereka yang bagus – bagus dan catnya yang warna warni merekapun tertunduk berpikir dan berandai saja. Begitupun saat ia meyaksikan orang – orang hulu lalang membawa anyaman ketupat dan daging untuk dimasak, ia pun hanya bisa berandai – andai, namun ketika ia tercium bau masakan – masakannya seraya ia mengatakan dalam hatinya seperti apa nikmatnya masakannya itu untuk sekedar baunya saja sudah merasa enak untuk dirasakan. Coba sesekali saja kita lihat tempat tinggal mereka, sesekali saja kita lihat pakaian yang ia pakai, coba lihat menu makanan yang ia makan. Jika kita memiliki kelebihan dari mereka itu sekecil apapun bentuknya santuni mereka – mereka ini dengan kasih sayang, jangan cerca dia, jangan hina dia. Jangan sampai kita tergolong sebagai orang – orang pendusta agama seperti yang Allah kabari dalam firman-Nya QS. Al Ma’un: 1-3
  • 4.
    Idul Fitri,Juli 2015 “Tahukahkamu orang yang mendustakan agama yaitu orang – orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin”. Dan jangan sampai saudara – saudaraku seperti sebuah gambaran hikayat singkat sesosok anak kecil yang lagi makan-minum pada bulan puasa, sering kepergok masyarakat ia makan- minum disiang hari ditempat umum persis dimana perut sang puasa kelaparan dan tenggorokan si puasa tercekik rasa kehausan, sehingga orang – orang yang menyaksikan anak kecil ini membuatnya ngiler atau bahasa kitanya terliur – liur pertanda tergoda ingin rasanya makan-minum seperti anak kecil itu dan karna sering kali anak kecil ini lakukan hal yang sama, maka tiba – tiba ada seorang bapak – bapak yang memberanikan diri untuk sekedar memperingati perilaku anak kecil tersebut, namun anehnya anak kecil tersebut seakan – akan sudah tahu maksud kedatangan bapak tersebut yang akan menegurnya. Anak kecil itu berkata “ada apa bapak melarang saya makan dan minum? Yang mana ini semua milik saya” tanya anak kecil tersebut itu. Bapak itu menjawab “iya nak, bapak larang karna kamu melakukannya di siang hari di bulan puasa, kamu telah buat ulah membuat kesal orang – orang yang melihatmu karna sikapmu telah menggoda semua orang yang berpuasa.” Kemudian anak kecil itu berdiri menatap tajam kepada bapak tersebut dengan melontarkan kata – kata menusuk. Kata anak itu “itukan yang bapak lakukan kepada kami semua, bukankah bapak sering melakukan ini ketimbang saya? Bapak – bapak semua sering kali mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup miskin pada sebelas bulan di luar puasa? Bukankah bapak – bapak semua yang lebih sering melupakan kami yang kehausan dan kelaparan? Tahukah bapak akibat dan ancaman dari Allah terhadap orang – orang yang melupakan orang – orang yang seharusnya diingat dan diperhatikan? Dan bukankah bapak semua yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang merintih menangis? Bukankah bapak yang selalu berobat mahal jika sedikit saja sakit menyerangnya? Sementara bapak membiarkan kami mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput kami. Bukankah bagi bapak – bapak bulan puasa ini hanya sekedar pergeseran waktu saja untuk menahan lapar dan dahaga, namun ketika bedug magrib tiba bapak – bapak kembali berkenyang – kenyang? Anak itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan kepada orang yang ia panggil bapak. Tiba – tiba suara anak itu berubah kalau tadinya begitu tegas dan terdengar menusuk namun kali ini ia bersuara lirih dan mengiba. “ketahuilah pak.... kami ini berpuasa tanpa ujung, kami berpuasa siang dan malam, meskipun bukan waktunya berpuasa, ini disebabkan karna tidak adanya makanan yang dapat kami makan. Sedangkan bapak – bapak hanya berpuasa sepanjang siang saja dan ketahuilah juga justru bapak – bapak semua dan orang disekeliling bapaklah yang selalu menggoda dan menyakiti perasaan kami semua dengan makanan, pakaian, kendaraan yang luar biasa mewahnya. Sebelas bulan bapak – bapak tertawa(2x) disaat mana kami merintih menangis bahkan pada bulan ramadhan hanya ada kepedulian seadanya saja kepada kami, seperti mengantar bukaan beberapa kali namun karna tiada yang dapat kami balaskan dari pemberiaannya maka tiada lagi antaran bukanya kepada kami. Kemudian ada juga diantaranya yang mengantar dzakat fitrah itupun mungkin karna kewajiban, namun bagi kami cukuplah mengembirakan, sehingga kami terpikir, andai sepanjang tahun ini bisa dijadikan ramadhan, mungkin dapatlah mengurangi penderitaan hidup kami. Sadarkah bapak atas ketidakabadian harta? Lalu kenapa bapak masih saja menimbun – nimbun harta secara berlebihan? Bahkan berlebihannya bukan hanya dari sisi jumlahnya, akan tetapi dari sisi penggunaannya kepada jalan dosa dan kemaksiatan. Tahukah bapak
  • 5.
    Idul Fitri,Juli 2015 bahwaada azab Allah yang akan menimpa? Jangan sekali – kali merasa aman lantaran kaki bapak masih berpijak ke bumi! Dan jangan bapak merasa tenang dari kelaparan karna masih tersimpan stok makanan untuk setahun. Dan jangan merasa matahari tidak pernah menyatu ke bumi dan menjadi rata, bahkan kiamat itu pasti terjadi. Kemudian anak kecil itu pergi meninggalkannya dan dengan seketika menghilang tanpa kembali. Bapak tersebut hanya terbengong – bengong dan berlinangan air mata sambil mengingat – ingat ucapan anak kecil yang misterius tersebut. Maka dari itu bapak ibu hadirin semua, jangan sia – siaka fakir miskin, jangan sia – siakan anak yatim, kasihi mereka, sayangi mereka, dan santuni mereka. Hadirin jama’ah idul fitri yang sama – sama mengharap rahmat, ampunan dan ridha Allah... Disamping puasa menempa iman dan takwa, menempa kasih sayang juga puasa akan menempa rasa syukur yang amat dalam. Sebagaiman firman Allah SWT QS. Ibrahim: 7 Kemudian baginda rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada manusia maka sebenarnya tidak berterimakasih kepada Allah” (Al Hadits) Adapun orang yang patut mendapatkan ucapan terimakasih yaitu orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita, dan orang yang paling banyak memberikan kebaikan serta kita tentu banyak berutang budi kepadanya adalah kedua orang tua kita. Firman Allah QS. Lukman: 14 “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Sebab setelah kekuasaan Allah, yang kedua adalah orang tualah yang menajdi penyebab lahirnya kita ke dunia ini. firman Allah QS. Al Isyra’: 23
  • 6.
    Idul Fitri,Juli 2015 "DanTuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-sekali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik". Sesungguhnya sangatlah beruntung mereka yang memiliki kedua orang tua karna kedua orang tua itu merupakan keramat dunia dan gerbangnya menuju syurga. “Keridhaan Allah tergantung keredhaan orang tua dan murka Allah tergantung pada murkanya orang tua” (Al hadits). Al qur’an berulang kali memerintahkan, berperilaku menyenangkan patuh dan berbaktilah kepada orang tuamu, selanjutnya apabila orang tua telah lanjut usia sifat dan perasaan mereka cepat berubah, selera makan yang tak menentu, mudah tersinggung, cepat marah, cepat bersedih hati, ini disebabkan pengaruh dari ketuaan usia mereka, maka kepada kita selaku anak diperintahkan agar dengan perubahan ini menilainya dengan sesuatu yang lumrah dan diterima secara ikhlas dengan selalu menampakkan muka manis dan kasih sayang, sebagai buah dari keluhuran budi pekerti seorang mukmin yang bertakwa. Dalam usia seperti ini orang tua kita sangat mengharapkan kasih sayang dari anak – anaknya yang telah mereka besarkan dengan kasih sayang, untuk itu simaklah dengan baik pesan – pesan kedua orang tua kita sebagai anaknya. *wahai anakku... jika aku tua nanti, mengertilah terhadapku jika aku lupa cara mengancing baju ingatkanlah aku seperti saat aku dulu mengajarimu. *bila aku berulang kali mengatakan sesuatu bersabarlah mendengarkannya jangan memutuskan pembicaraanku walaupun sudah bosan telingamu, bagiku apa yang aku bicarakan sebenarnya tidaklah begitu penting, yang aku harapkan agar engkau setia mendengarkan disampingku. *jika suatu ketika aku lupa pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingatnya. *saat engkau kecil dulu aku harus mengulang – ulang cerita yang telah beratus kali aku ceritakan kepadamu, agar engkau tidur dengan gembira. *jika aku tua nanti dekap eratlah jemariku, rangkullah dan berilah perhatianmu padaku yang tak pernah henti. *jika aku perlu engkau untuk memandikan aku, janganlah engkau marahi aku, ingatlah sewaktu engkau kecil dulu, aku harus memakai seribu cara untuk membujukmu agar engkau mandi. *dan jika aku tidak mengerti hal – hal yang baru, jangan engkau mengejek dan menertawakan aku, ingatlah waktu dulu aku harus bersabar menjawab pertanyaan mengapa darimu yang berulang – ulang kali. *jika nanti aku sudah lemah dan tak sanggup lagi berjalan ingatlah disaat engkau dulu menapakkan kakimu, aku papah dengan baik, maka ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku saat mana dulu aku dengan gembira mendampingimu belajar berjalan.
  • 7.
    Idul Fitri,Juli 2015 *kemudianaku mohon temani aku di sisa – sisa usiaku, sebagaimana hari – hari aku tak pernah bosan menemanimu bermain, berikan kasih tulusmu kepadaku, maka akan aku balas dengan ridha dari rasa syukur dan cintaku yang tak terhingga kepadamu. *jika aku tua nanti kelak akan tiba masaku untuk berpisah dengamu selamanya, maka mandikan dan shalatkanlah jenazahku, engkaulah yang meletakkanku dipembaringan terakhirku dan jangan lupa panjatkanlah selalu doamu karna doa anak yang soleh akan melesat tinggi bagai cahaya dalam kuburku. *janganlah engkau ratapi dengan kesedihan, berdoa dan perbanyaklah amal baikmu, karna hanya doamu yang dapat membantu dan menjadi pelita dalam kuburku, jadilah engaku anak yang baik, isi setiap kisi – kisi kehidupan ini dengan hal yang berarti, agar kelak Allah mempertemukan kita kembali didalam naungan syurganya yang kekal abadi.
  • 8.
    Idul Fitri,Juli 2015 Untukitu sekedar meluruskan keimanan dan takwa kita kepada Allah, mari kita sama – sama muhasabah memperhitungkan diri kita sebelum diperhitungkan kelak oleh Allah dengan diiringi dzikrul maut, karna mungkin pagi ini kita masih bersama – sama bertatap muka entah besok atau di lain kesempatan Allah panggil diantara kita untuk menghadapNya. Mari sekarang kita bayangkan dengan sungguh – sungguh, seolah – olah jasad kita telah terbujur dan dikerumuni sanak keluarga dan para tetangga, bayangkan dimana jasad kita dimandikan dan dikafani, segenap keluarga mencium dengan salam terakhir yang diiringi deraian air mata, kemudian kita dishalati oleh segenap yang datang dan dipanggul kepemakaman, disana kita akan dibaringkan terbujur jasad kita dalam kubur dan sejumlah orang menutupi kita dengan tanah, semakin lama semakin gelap dan terhimpit tanah, kemudian tidak lama kita didatangi munkar dan nankir, serta merta bertanya kepad kita “hei manusia... apa saja yang kau lakukan semasa didunia, setiap hari siang dan malam hanya memburu dunia, Allah tidak pernah engkau ingat, panggilan shalat engkau abaikan, orang tua engkau aniaya, seakan – akan tidak ada waktu untuk tersenyum kepadanya, keluargamu engkau hianati, anak – anakmu tidak engkau perhatikan dengan baik. Mana dunia yang mati – matian engkau cari siang dan malam itu? Kini engkau menjadi mayat yang tak berdaya dalam kubur tanpa hartamu yang dapat membantumu, sekarang engkau hanya dikerumuni cacing – cacing dan ular – ular yang mengerikan. Saudaraku.... sesungguhnya tiada teman yang menyenangkan di dalam kubur selain amal baik kita yang diterima Allah, dunia ini tempat mampir sejenak, dunia ini hanya tempat mencari bekal untuk berpulang, dunia ini hanya tempat mempersembahkan yang terbaik bukan untuk mendapatkan pujian orang. Saudaraku.... semestinya Allah bangga dengan kita sebagai hambaNya yang patuh dan taat dalam segala ibadah. Mestinya orang tua kitapun bangga dengan kita sebagai anaknya, mestinya istri kita menjadi bangga memiliki suami seperti kita, begitu juga suaminya bangga memiliki istri seperti kamu, anak – anak kitapun mestinya harus bangga memiliki orang tua seperti kita. Bila kita sadari keadaan ini, akankah kita berani menentang Allah? Berani kepada kedua orang tua? Jahat kepada saudara? Zhalim kepada tetangga? Ya allah dipagi yang penuh ampunan ini, ampunilah segenap dosa – dosa kami, bersihkanlah sebersih kain putih dari noda dan nista. Ya allah kami hidup sudah puluhan tahun, sudah berapa banyak orang yang kami sakiti dan para orang tua yang tidak kami hargai.