LAPORAN PENDAHULUAN
CEBOL
DISUSUN OLEH:
1. Afan setiaji
2. Ajis Susahabat
3. Ami tri Utami
4. Amiril Mu’minin Rizki A.S
5. Ana lestari
6. Ari Kustiyani
PRODI: D3 KEPERAWATAN
STIKes HARAPAN BANGSA PURWOKERTO
2012-09-23
A. DEFINISI
Dwarfism berkaitan dengan pubertas dimana mempengaruhi sekresi hormon
gonadotropin. Apabila defisiensi hormon pertumbuhan sangat parah, penderita bisa
mengalami kegagalan untuk pubertas. Akan tetapi, konsentrasi hormon pertumbuhan
berada di bawah kadar fisiologis mengalami keterlambatan pubertas. Kekurangan
hormon pertumbuhan pada dewasa (setelah lempeng epifisis menutup) mengalami
beberapa gangguan seperti: penurunan kekuatan otot serta penurunan kepadatan
tulang.
Dwarfism (cebol) yaitu gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada fungsi hormon
pertumbuhan / growth hormone.
B. ETIOLOGI
Kekurangan hormon pertumbuhan dapat disebabkan oleh defek pada hipofisis anterior
(hiposekresi) atau pun sekunder yaitu disfungsi hipotalamus (defisiensi GHRH).1
Akibat dari kekurangan hormon ini pada masa anak-anak yaitu cebol (dwarfism).
Gambaran utamanya yaitu perawakan yang pendek karena retardasi pertumbuhan
tulang. Gambaran penunjang antara lain: gangguan pertumbuhan otot akibat
penurunan sintesis protein otot, mobilisasi lemak sub kutis yang minim. Pertumbuhan
anak tidak sesuai dengan rentang umur yang tepat, contohnya: ketika berumur 10
tahun, mempunyai tinggi badan yang seharusnya dimiliki oleh anak berumur 5 tahun.
C. PATOFISIOLOGI
Gejalanya berupa badan pendek, gemuk, muka dan suara imatur (tampak
seperti anak kecil), pematangan tulang yang terlambat, lipolisis (proses pemecahan
lemak tubuh) yang berkurang, peningkatankolesterol total / LDL, dan hipoglikemia.
Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena serangan
hipoglikemia berat yang berulang. Hormon pertumbuhan ini diproduksi oleh
somatrotop (bagian dari sel asidofilik) yang ada di kelenjar hipofisis. Hormon ini
merupakan hormon yang penting untuk pertumbuhan setelah kelahiran dan
metabolisme normal karbohidrat, lemak, nitrogen serta mineral. Hormon ini tidak
bekerja secara langsung dalam mempengaruhi pertumbuhan, tetapi melalui
perantaraan suatu peptida yang disebut somatomedin (IGF I dan IGF II) yang
produksinya diinduksi oleh hormon pertumbuhan. Somatomedin yang produksi
utamanya di hati ini dipengaruhi juga oleh usia dan status gizi seseorang.
Kekurangan hormon pertumbuhan ini akan mempengaruhi pertumbuhan
tulang dan otot serta mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan mineral yang
bermanifestasi menjadi cebol. Ada dua sebab kekurangan hormon pertumbuhan yaitu:
Kekurangan hormon pertumbuhan yang congenital (bawaan) yaitu karena
produksinya memang kurang atau karena reseptor dalam sel yang kurang atau tidak
sensitive terhadap ragsangan hormon. Biasanya gejala mulai tampak sejak bayi
hingga puncaknya pada dewasa, jadi dari kecil postur tubuhnya selalu lebih kecil dari
anak yang lain. Misalnya karena agenesis hipofisis atau defek /mutasi dari gen
tertentu yang menyebabkan kurangnya kadar hormon seperti sindroma laron dan
fenomena pada suku pygmi di Afrika.
Kekurangan hormon pertumbuhan yang didapat. Biasanya gejala baru muncul
pada penghujung masa kanak-kanak atau pada masa pubertas, jadi saat kecil sama
dengan yang lain, namun kemudian tampak terhentinya pertumbuhan sehingga
menjadi lebih pendek dari yang lain. Kadang juga disertai gejala-gejala lain akibat
kurangnya hormon-hormon lain yang juga diproduksi hipofisis. Penyebab paling
sering adalah tumor pada hipothalamus – kelenjar hipofisis seperti kraniofaringioma,
glioma, histioma atau germinoma. Iradiasi kronis juga dapat mengurangi produksi
hormon.
D. PATHWAY
kelebihan hormon hipofise
pada hipotalamus hipofise interior post parfume
Hipofisis Endokrin
Primer Sekunder
(Hipofisis) (Hipotalamus)
Penyakit Autoimun Kelebihan Hormon
(Hipofisi Limfosid Autoimun)
Hipopitutiarisme
Perubahan struktur Kronisitas Kondisi Penampilan Transmisi Perubahan
Fungsi Tubuh Penyakit Tubuh Impuls Status Kesehatan
E. PENATALAKSANAAN
Pengobatan hipopituitarisme mencakup penggantian hormon-hormon yang kurang.
GH manusia, hormon yang hanya efektif pada manusia, dihasilkan dari tehnik
rekombinasi asam deoksiribonukleat(DNA), dapat digunakan untuk mengobati pasien
dengan defesiensi GH dan hanya dapat dikerjakan oleh dokter spesialis.
GH manusia jika diberikan pada anak-anak yang menderita dwarfisme hipofisis, dapat
menyebabkan peningkatan tinggi badan yang berlebihan. GH manusia rekombinan juga
dapat digunakan sebagai hormon pengganti pada pasien dewasa dengan
panhipopituitarisme. Hormon hipofisis hanya dapat diberikan dengan cara disuntikan.
Sehingga, terapi harian pengganti hormon kelenjar target akibat defesiensi hipofisis untuk
jangka waktu yang lama, hanya diberikan sebagai alternatif.
F. PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan Laboratorik ditemukan Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17
hidraksi kortikosteroid dalam urin menurun, BMR menurun.
b. Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis ditemukan Sella Tursika.
i. Foto polos kepala.
ii. Poliomografi berbagai arah (multi direksional).
iii. Pneumoensefalografi.
iv. CTScan.
v. Angiografi serebral.
c. Pemeriksaan Lapang Pandang.
i. Adanya kelainan lapangan pandang mencurigakan.
ii. Adanya tumor hipofisis yang menekankiasma optik.
d. Pemeriksaan Diagnostik.
i. Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen atau testosteron.
ii. Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH.
iii. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormon,
dan dengan melakukan pengukuran efeknya terhadap kadar hormon
serum.
iv. Tes provokatif.
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI
1. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi
tubuh akibat defisiensi ganodotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan.
Intervensi Rasional
Dorong klien untuk mengeksprsikan
perasaannya.
Agar klien mampu mengungkapkan
perasaannya.
Dorong klien untuk bertanya mengenai
masalah yang dihadapinya
klien mampu mengenal masalah
kesehatan yang dihadapinya
Berikan kesempatan pada klien untuk
merawat dirinya sendiri
membuat klien bisa mandiri
memenuhi kebutuhannya
Kolaborasi : pemberian hormon
pertumbuhan sintetis (eksogen).
2. Disfungsi seksual
Intervensi Rasional
Identifikasi masalah spesifik yang
berhubungan dengan pengalaman klien
terhadap fungsi seksualnya.
Klien memahami masalah terhadap
fungsi seksualnya
Dorong klien untuk mendiskusikan
masalah tersebut dengan pasangannnya
Klien dapat mengungkapkan
perasaannya mengenai masalah
fungsi seksualnya.
Bangkitkan motivasi klien untuk
mengikuti program pengobatan secara
teratur
Klien dapat mengikuti program
pengibatan dengn teratur
Kolaborasi pemberian obat
bromokriptin
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kronisitas kondisi penyakit.
Intervensi Rasional
Bantu klien untuk dapat
berkomunikasi.
Agar klien mampu mengalami
peningkatan komunikasi
Bantu klien dalam memecahkan
masalah yang dialaminya
Agar klien dapat memecahkan
masalahnya sendiri.
Ajarkan klien untuk dapat melakukan
tehnik relaksasi yang benar
Agar klien dapat melakukan relaksasi
4. Harga diri rendah yang berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh.
Intervensi Rasional
Bantu klien dalam membina
saling hubungan percaya
antara klien dengan perawat
Agar klien mampu membina
hubungan saling percaya
antara klien dan perawat.
Bantu klien dalam hal
berinteraksi sosial
Agar klien mampu
berinteraksi sosial
Bantu klien untuk
meningkatkan harga dirinya
kembali dengan mendukung
segala tindakan, harapan, dan
keinginan pasien
Agar klien mampu
mendiskusikan perasaannya
5. Ansietas (cemas) berhubungan dengan ancaman atau perubahan status kesehatan.
Intervensi Rasional
Berikan kenyamanan dan ketentraman
hati pada klien
Agar klien memiliki rasa percaya
terhadap sesama
Bantu klien dalam melakukan aktifitas
yang dapat menurunkan ketegangan
emosi
Agar klien dapat memberikan respon
secara verbal maupun non verbal.
Ajarkan tehnik penghentian ansietas Agarklien dapat menstimulasi
dirinya kembali
6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan menurunnya kadar hormonal
Intervensi Rasional
Ajarkan klien melakukan cara
perawatan kulit secara teratur
setiap hari
Perawatan kulit yang teratur dapat
memperbaiki kerusakan kulit
Anjurkan klien menggunakan
lotion pelembab
Lotion pelembab menbantu menjaga
kelembaban kulit klien
Anjurkan klien untuk tidak
menggaruk kulitnya
Menggaruk kulit dapat mengakibatkan
iritasi kulit.
Pertahankan kecukupan masukan
cairan untuk hidrasi yang adekuat.
Terpenuhinya hidrasi yang adekuat
H. DAFTAR PUSTAKA
Noer, sjaifoellah. DKK, 1996, ilmu penyakit dalam, JAKARTA : FKUI
Gayton & Hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Edisi : 11
Price & Wilson. 2007Patofisiologi. Jakarta : EGC Edisi : 6 Jilid II
NN.2002 Acromegaly. http//Wikipidia.com
Cebol

Cebol

  • 1.
    LAPORAN PENDAHULUAN CEBOL DISUSUN OLEH: 1.Afan setiaji 2. Ajis Susahabat 3. Ami tri Utami 4. Amiril Mu’minin Rizki A.S 5. Ana lestari 6. Ari Kustiyani PRODI: D3 KEPERAWATAN STIKes HARAPAN BANGSA PURWOKERTO 2012-09-23
  • 2.
    A. DEFINISI Dwarfism berkaitandengan pubertas dimana mempengaruhi sekresi hormon gonadotropin. Apabila defisiensi hormon pertumbuhan sangat parah, penderita bisa mengalami kegagalan untuk pubertas. Akan tetapi, konsentrasi hormon pertumbuhan berada di bawah kadar fisiologis mengalami keterlambatan pubertas. Kekurangan hormon pertumbuhan pada dewasa (setelah lempeng epifisis menutup) mengalami beberapa gangguan seperti: penurunan kekuatan otot serta penurunan kepadatan tulang. Dwarfism (cebol) yaitu gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada fungsi hormon pertumbuhan / growth hormone. B. ETIOLOGI Kekurangan hormon pertumbuhan dapat disebabkan oleh defek pada hipofisis anterior (hiposekresi) atau pun sekunder yaitu disfungsi hipotalamus (defisiensi GHRH).1 Akibat dari kekurangan hormon ini pada masa anak-anak yaitu cebol (dwarfism). Gambaran utamanya yaitu perawakan yang pendek karena retardasi pertumbuhan tulang. Gambaran penunjang antara lain: gangguan pertumbuhan otot akibat penurunan sintesis protein otot, mobilisasi lemak sub kutis yang minim. Pertumbuhan anak tidak sesuai dengan rentang umur yang tepat, contohnya: ketika berumur 10 tahun, mempunyai tinggi badan yang seharusnya dimiliki oleh anak berumur 5 tahun. C. PATOFISIOLOGI Gejalanya berupa badan pendek, gemuk, muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil), pematangan tulang yang terlambat, lipolisis (proses pemecahan lemak tubuh) yang berkurang, peningkatankolesterol total / LDL, dan hipoglikemia. Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena serangan hipoglikemia berat yang berulang. Hormon pertumbuhan ini diproduksi oleh somatrotop (bagian dari sel asidofilik) yang ada di kelenjar hipofisis. Hormon ini merupakan hormon yang penting untuk pertumbuhan setelah kelahiran dan metabolisme normal karbohidrat, lemak, nitrogen serta mineral. Hormon ini tidak bekerja secara langsung dalam mempengaruhi pertumbuhan, tetapi melalui perantaraan suatu peptida yang disebut somatomedin (IGF I dan IGF II) yang produksinya diinduksi oleh hormon pertumbuhan. Somatomedin yang produksi utamanya di hati ini dipengaruhi juga oleh usia dan status gizi seseorang. Kekurangan hormon pertumbuhan ini akan mempengaruhi pertumbuhan tulang dan otot serta mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan mineral yang bermanifestasi menjadi cebol. Ada dua sebab kekurangan hormon pertumbuhan yaitu: Kekurangan hormon pertumbuhan yang congenital (bawaan) yaitu karena produksinya memang kurang atau karena reseptor dalam sel yang kurang atau tidak sensitive terhadap ragsangan hormon. Biasanya gejala mulai tampak sejak bayi hingga puncaknya pada dewasa, jadi dari kecil postur tubuhnya selalu lebih kecil dari anak yang lain. Misalnya karena agenesis hipofisis atau defek /mutasi dari gen tertentu yang menyebabkan kurangnya kadar hormon seperti sindroma laron dan fenomena pada suku pygmi di Afrika. Kekurangan hormon pertumbuhan yang didapat. Biasanya gejala baru muncul pada penghujung masa kanak-kanak atau pada masa pubertas, jadi saat kecil sama
  • 3.
    dengan yang lain,namun kemudian tampak terhentinya pertumbuhan sehingga menjadi lebih pendek dari yang lain. Kadang juga disertai gejala-gejala lain akibat kurangnya hormon-hormon lain yang juga diproduksi hipofisis. Penyebab paling sering adalah tumor pada hipothalamus – kelenjar hipofisis seperti kraniofaringioma, glioma, histioma atau germinoma. Iradiasi kronis juga dapat mengurangi produksi hormon. D. PATHWAY kelebihan hormon hipofise pada hipotalamus hipofise interior post parfume Hipofisis Endokrin Primer Sekunder (Hipofisis) (Hipotalamus) Penyakit Autoimun Kelebihan Hormon (Hipofisi Limfosid Autoimun) Hipopitutiarisme Perubahan struktur Kronisitas Kondisi Penampilan Transmisi Perubahan Fungsi Tubuh Penyakit Tubuh Impuls Status Kesehatan
  • 4.
    E. PENATALAKSANAAN Pengobatan hipopituitarismemencakup penggantian hormon-hormon yang kurang. GH manusia, hormon yang hanya efektif pada manusia, dihasilkan dari tehnik rekombinasi asam deoksiribonukleat(DNA), dapat digunakan untuk mengobati pasien dengan defesiensi GH dan hanya dapat dikerjakan oleh dokter spesialis. GH manusia jika diberikan pada anak-anak yang menderita dwarfisme hipofisis, dapat menyebabkan peningkatan tinggi badan yang berlebihan. GH manusia rekombinan juga dapat digunakan sebagai hormon pengganti pada pasien dewasa dengan panhipopituitarisme. Hormon hipofisis hanya dapat diberikan dengan cara disuntikan. Sehingga, terapi harian pengganti hormon kelenjar target akibat defesiensi hipofisis untuk jangka waktu yang lama, hanya diberikan sebagai alternatif. F. PEMERIKSAAN a. Pemeriksaan Laboratorik ditemukan Pengeluaran 17 ketosteroid dan 17 hidraksi kortikosteroid dalam urin menurun, BMR menurun. b. Pemeriksaan Radiologik / Rontgenologis ditemukan Sella Tursika. i. Foto polos kepala. ii. Poliomografi berbagai arah (multi direksional). iii. Pneumoensefalografi. iv. CTScan. v. Angiografi serebral. c. Pemeriksaan Lapang Pandang. i. Adanya kelainan lapangan pandang mencurigakan. ii. Adanya tumor hipofisis yang menekankiasma optik. d. Pemeriksaan Diagnostik. i. Pemeriksaan kartisol, T3 dan T4, serta esterogen atau testosteron. ii. Pemeriksaan ACTH, TSH, dan LH. iii. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormon, dan dengan melakukan pengukuran efeknya terhadap kadar hormon serum. iv. Tes provokatif. G. DIAGNOSA KEPERAWATAN INTERVENSI 1. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat defisiensi ganodotropin dan defisiensi hormon pertumbuhan. Intervensi Rasional Dorong klien untuk mengeksprsikan perasaannya. Agar klien mampu mengungkapkan perasaannya. Dorong klien untuk bertanya mengenai masalah yang dihadapinya klien mampu mengenal masalah kesehatan yang dihadapinya
  • 5.
    Berikan kesempatan padaklien untuk merawat dirinya sendiri membuat klien bisa mandiri memenuhi kebutuhannya Kolaborasi : pemberian hormon pertumbuhan sintetis (eksogen). 2. Disfungsi seksual Intervensi Rasional Identifikasi masalah spesifik yang berhubungan dengan pengalaman klien terhadap fungsi seksualnya. Klien memahami masalah terhadap fungsi seksualnya Dorong klien untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan pasangannnya Klien dapat mengungkapkan perasaannya mengenai masalah fungsi seksualnya. Bangkitkan motivasi klien untuk mengikuti program pengobatan secara teratur Klien dapat mengikuti program pengibatan dengn teratur Kolaborasi pemberian obat bromokriptin 3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan kronisitas kondisi penyakit. Intervensi Rasional Bantu klien untuk dapat berkomunikasi. Agar klien mampu mengalami peningkatan komunikasi Bantu klien dalam memecahkan masalah yang dialaminya Agar klien dapat memecahkan masalahnya sendiri. Ajarkan klien untuk dapat melakukan tehnik relaksasi yang benar Agar klien dapat melakukan relaksasi 4. Harga diri rendah yang berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. Intervensi Rasional Bantu klien dalam membina saling hubungan percaya antara klien dengan perawat Agar klien mampu membina hubungan saling percaya antara klien dan perawat. Bantu klien dalam hal berinteraksi sosial Agar klien mampu berinteraksi sosial Bantu klien untuk meningkatkan harga dirinya kembali dengan mendukung segala tindakan, harapan, dan keinginan pasien Agar klien mampu mendiskusikan perasaannya
  • 6.
    5. Ansietas (cemas)berhubungan dengan ancaman atau perubahan status kesehatan. Intervensi Rasional Berikan kenyamanan dan ketentraman hati pada klien Agar klien memiliki rasa percaya terhadap sesama Bantu klien dalam melakukan aktifitas yang dapat menurunkan ketegangan emosi Agar klien dapat memberikan respon secara verbal maupun non verbal. Ajarkan tehnik penghentian ansietas Agarklien dapat menstimulasi dirinya kembali 6. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan menurunnya kadar hormonal Intervensi Rasional Ajarkan klien melakukan cara perawatan kulit secara teratur setiap hari Perawatan kulit yang teratur dapat memperbaiki kerusakan kulit Anjurkan klien menggunakan lotion pelembab Lotion pelembab menbantu menjaga kelembaban kulit klien Anjurkan klien untuk tidak menggaruk kulitnya Menggaruk kulit dapat mengakibatkan iritasi kulit. Pertahankan kecukupan masukan cairan untuk hidrasi yang adekuat. Terpenuhinya hidrasi yang adekuat H. DAFTAR PUSTAKA Noer, sjaifoellah. DKK, 1996, ilmu penyakit dalam, JAKARTA : FKUI Gayton & Hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC Edisi : 11 Price & Wilson. 2007Patofisiologi. Jakarta : EGC Edisi : 6 Jilid II NN.2002 Acromegaly. http//Wikipidia.com