DISUSUN OLEH:
Anggi Putri Intani
Hasti Pratiwi
Nuranisa
Saskiya Nurhalizah
CACING
PLANARIA
MAKALAH
BIOLOGI
X.MIA-1
SMA NEGERI 9 TANGERANG
2014
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hewan yang tidak bertulang belakang atau Invertebrata terdiri atas beberapa jenis
dan golongan. Jika ada yang memiliki rangka, maka rangka itu berbeda dengan rangka biasa
yang kita kenal. Umumnya rangka Invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya.
Hewan-hewan yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan
anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang.
Misalnya untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran darah pada hewan bertulang
belakang telah sempurna dengan jantung yang memiliki kamar-kamar dan pembuluh yang
mempunyai tugas masing-masing.
Jika ada hewan yang tidak bertulang belakang memiliki peredaran darah tertutup,
peredaran darah itu tidak sesempurna peredaran darah katak dan ikan atau hewan bertulang
belakang lainnya. Selain peredaran darahnya, sistem pernafasan, pencernaan, dan
pengeluarannya pun lebih sederhana. Hal ini berkaitan dengan struktur tubuh Vertebrata
yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan struktur tubuh Invertebrata.
Pada makalah ini kami akan menyajikan satu contoh dari filum yang ada pada hewan tidak
bertulang belakang atau Invertebrata. Berasal dari filum Platyhelminthes dari kelas Turbellaria,
yaitu Planaria sp.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana ciri-ciri Planaria?
2. Bagaimana reproduksi Planaria?
3. Bagaimana peranan Planaria di kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan Penulisan
1.Untuk mengetahui ciri-ciri Planaria.
2.Untuk mengetahui reproduksi Planaria.
3.Untuk mengetahui peranan dan manfaat Planaria.
PEMBAHASAN
Klasifikasi Planaria
Kingdom : Animalia
Philum : Platyhelminthes
Kelas : Turbellaria
Ordo : Tricladida
Familia : Paludicola
Genus : Euplanaria
Spesies : Euplanaria sp
Pengertian Planaria
Planaria merupakan hewan invertebrata, termasuk cacing pipih yang hidupnya bebas di alam,
umumnya hidup di air tawar, sungai, danau atau di laut. Planaria termasuk dalam anggota filum
platyhelminthes dari kelas turbellaria (cacing berambut getar). Planaria sp umumnya dapat
ditemukan di habitat akuatik yang tidak tercemar dengan arus yang mengalir serta hidup
dibawah bebatuan yang terhindar dari sinar matahari. Planaria sp dikatakan sebagai
bioindikator dikarenakan membutuhkan kondusifitas lingkungan hidup yang tidak tercemar
dengan polutan organik, kaya oksigen, dan tidak bersifat asam.
Meskipun hidup di air planaria tidak berenang, tetapi bergerak dengan cara meluncur dan
merayap. Gerakan meluncur terjadi dengan bantuan silia yang ada pada bagian ventral
tubuhnya dan zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir dari bagian tepi tubuh. Zat lendir
itu merupakan “jalur” yang akan dilalui. Gerakan silia yang menyentuh jalur lendir
menyebabkan hewan bergerak. Selama berjalan meluncur, gelombang yang bersifat teratur
tampak bergerak dari kepala ke arah belakang. Pada gerak merayap, tubuh planaria memanjang
sebagai akibat dari kontraksi otot sirkular dan dorsoventral. Kemudian bagian depan tubuh
mencengkeram pada substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus.
Hampir semua anggota Turbellaria hidup secara bebas, hanya ada beberapa saja
yang hidup secara ektokomensalis atau secara parasitis. Tubuh cacing Turbellaria tidak
terbagi atas segmen-segmen, bagian luarnya ditutupi oleh epidermis yang berinsitium
sebagian daripadanya dilengkapi dengan sel-sel yang menghasilkan zat mucosa.
Struktur Planaria tubuhnya pipih, memanjang dan lunak, berukuran kira-kira 15mm (5-25mm)
panjang, bagian anterior (kepala) berbentuk segitiga tumpul, dan meruncing kearah belakang,
dan berpigmen yang gelap. Dinding tubuh Planaria pada prinsipnya tersusun atas 4 lapisan
jaringan, yaitu secara berturut-turut dari luar ke dalam sebagai berikut: (1) lapisan epidermis,
(2) lapisan kelenjar sub-epidermis, (3) lapisan otot (musculus), (4) lapisan mesenchyme
(parenchyma).
Lubang mulut berada di ventral tubuh agak kearah ekor, berhubungan dengan pharink
(proboscis) berbentuk tubuler dengan dinding berotot, dapat ditarik dan dijulurkan untuk
menangkap makanan. Di bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan
menyerupai telinga disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat tubuh menyempit,
menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher. Di sepanjang tubuh
bagian ventral diketemukan zona adesif. Zona adesif menghasilkan lendir liat yang berfungsi
untuk melekatkan tubuh planaria ke permukaan benda yang ditempelinya. Di permukaan
ventral tubuh planaria ditutupi oleh rambut-rambut getar halus, berfungsi dalam pergerakan.
Planaria menarik untuk diamati baik morfologi maupun perilakunya. Selain itu daya regenerasi
Planaria sp sangat unik, dimana planaria mampu memperbaiki bagian tubuh yang tidak
sempurna menjadi bagian yang utuh seperti semula dalam waktu yang relative singkat,
meskipun hanya memiliki system saraf yang sederhana. Planaria merupakan pemakan makanan
yang beraneka ragam (versatile feeder), ia juga mampu mencari-cari dan memakan bangkai
hewan lain yang telah mati.
Ciri-ciri Planaria sp
ď‚· Bentuk tubuh pipih (dorsoventral), bilateral simetri dan tidak bersegmen, pada bagian kepala
terdapat bagian yang mirip dengan telinga (auricle) yang dipenuhi reseptor kimia.
ď‚· Bergerak dengan silia yang terdapat pada epidermis tubuhnya.
ď‚· Mempunyai saluran pencernaan yang terdiri dari mulut, faring dan usus. Planaria sp tidak
memiliki anus, sisa makanan yang tidak tercerna akan dikeluarkan melalui mulut.
ď‚· Sistem eksresi menggunakan sel-sel api yang tersebar di tepi tubuh.
ď‚· Sistem syaraf terdiri dari ganglia yang terdapat di kepala serta pada bagian posterior
terdapat dua bintik mata (eye spot) yang sangat peka terhadap rangsang cahaya.
ď‚· Perkembangbiakan secara seksual dan aseksual.
ď‚· Planaria sp bersifat hermaprodit serta memiliki daya regenerasi yang tinggi.
Reproduksi Cacing Planaria
Planaria bersifat hermaphrodit, maka dalam tubuh seekor hewan tersebut
terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina.
Adapun susunan alat kelamin tersebut adalah sebagai berikut:
ď‚· Organ kelamin jantan terdiri atas:
a. Testis: berjumlah ratusan, berbentuk bulat selebar di sepanjang sisi kedua tubuh.
b. Vasa eferensia: merupakan pembuluh yang menghubungkan testis dengan bagian pemb
uluh lainnya yang lebih besar.
c. Vasa deferensia: merupakan pembuluh yang berjumlah dua buah yang masing-masing
membentang disetiap sisi tubuh yang kedua-duanya saling bertemu dan bermuara
ke dalam suatu kantung yang disebut vesiculus seminalis.
d. Vesicular seminalis: merupakan kantung yang berfungsi menampung sperma dan
menyalurkan sperma ke penis.
e. Penis: merupakan alat pentransfer ke tubuh atau kealat kelamin Planaria yang lain pada
waktu
mengadakan kopulasi dalam rangka mengadakan perkawinan silang. Penis ini bermuara
kedalam ruang genetalis.
f. Ruang genetalis yang waktu kopulasi menjulur keluar melalui poros genitalis.
ď‚· Organ kelamin betina terdiri atas :
a. Ovari: berjumlah dua buah, berbentuk bulat terletak di bagian anterior tubuh.
b. Oviduct: (saluran telur) dari setiap ovarium akan membentang ke arah posterior sebuah
saluran yang disebut oviduct atau aliran telur. Antara saluran telur kanan dan kiri saling
bersejajar yang saling dilengkapi dengan kelenjar yang menghasilkan kuning telur.
c. Kelenjar kuning telur: menghasilkan kuning telur yang akan disediakan bagi sel telur bila
telah diproduksi oleh ovarium.
d. Vagina: merupakan saluran yang berfungsi untuk menerima transfer spermatozoid dari
Planaria lain, dimana spermatozoid yang telah ditransfer selanjutnya akan disimpan dala
m ruangan yang disebut receptaculus seminalis.
e. Uterus: (receptaculus seminalis) merupakan ruangan yang bentuknya menggelembung y
ang berfungsi untuk menyimpan spermatozoid hasil transfer dari Planaria lain.
f. Genital atrium (ruang genitalis) merupakan muara bersama antara kedua buah saluran t
elur (oviduct) yang telah disebut di atas.
Planaria berkembangbiak dengan cara seksual dan aseksual. Planaria yang sudah dewasa
mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina, jadi bersifat monoecious (hermafrodit). Testis
dan ovarium berkembang dari sel-sel formatif. Reproduksi seksual planaria dilakukan dengan
cara dua planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya dan terjadi kopulasi (cross
fertilisasi), saling pertukaran produk seks antara dua planaria yang berbeda. Planaria melakukan
reproduksi seksual setiap tahun di bulan Februari-Maret. Setelah masa reproduksi seksual, alat
reproduksi mengalami degenerasi dan planaria kemudian mengalami masa reproduksi aseksual.
Reproduksi planaria aseksual terjadi dengan pembelahan arah transversal. Seekor cacing
Planaria dapat mengalami kontriksi (penyempitan) biasanya di belakang faring, kemudian
membelah dan masing-masing potongan melengkapi bagian tubuhnya menjadi individu-
individu baru.
Reproduksi secara seksual: Dua Planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya
dan terjadi kopulasi, penis masing-masing dimasukkan kedalam atrium genitalis. Sperma dari
vesikula seminalis pada system reproduksi jantan masing-masing masuk ke seminal reseptacle
cacing pasangannya, saling bertukaran produk sex antara dua individu yang berbeda disebut
cross fertilisasi, dan transfer langsung sperma dari jantan ke organ kelamin betina disebut
fertilisasi internal. Setelah perkawinan selesai, 2 cacing tersebut memisah, dan sperma
mengadakan migrasi di dalam oviduct, untuk membuahi telur-telur. Beberapa zygot dan banyak
sel-sel yolk kemudian bersatu didalam kapsul yang terpisah (di dalam kulit telur, di buat oleh
dinding atrium kemudian keluar). Perkembangan secara langsung tidak ada stadium larva.
Perkembangan planaria secara aseksual: Dilakukan selain bulan februari-maret. Kondisi
lingkungan selain bulan tersebut, planaria sudah dewasa/maksimum dalam beregenerasi,
sehingga planaria mengalami kontriksi atau penyempitan di belakang faring, terjadinya kontriksi
karena sel-sel cuboid yang menutupi bagian luar permukaan tubuh, kemudian dengan adanya
dorongan dari otot-otot sirkuler dan longitudinal akan berkontraksi dan menimbulkan
perubahan bagian tubuh diantara epidermis dan tractus digestivus yang berguna untuk
membantu distribusi makanan dan pengeluaran sisa-sisa makanan terhambat dan kemudian
terjadi pembelahan. Selain itu faktor abiotik yang minimum membantu perkembangan planaria
secara aseksual.
Sistem reproduksi pada kebanyakan cacing pipih sangat berkembang dan kompleks. Reproduksi
aseksual dengan cara memotong tubuh di alami oleh sebagian besar anggota Turbellaria air
tawar. Pada umumnya cacing pipih telurnya tidak mempunyai kuning telur, tetapi di lengkapi
dengan “sel yolk khusus” yang tertutup oleh cangkang telur.
Fragmentasi merupakan proses reproduksi aseksual pada planaria, dengan membelah diri
secara transversal, masing-masing belahan mengembangkan bagian-bagian yang hilang dan
berkembang menjadi satu organisme utuh. Meskipun jumlah individu yang dihasilkan dengan
reproduksi aseksual itu sangat besar, tetapi proses ini mempunyai batasan yang serius, yaitu
bahwa tiap turunan identik dengan induknya.
Kemampuan planaria mengembangkan bagian-bagian tubuh yang hilang, hingga terbentuk
planaria baru yang lengkap pada reproduksi aseksual, menyebabkan planaria dikatakan
mempunyai daya regenerasi yang tinggi.
Apabila tubuhnya disayat (dipotong), planaria akan segera memperbaiki bagian tubuhnya yang
dipotong dengan proses epimorfis yaitu perbaikan yang dilakukan dengan cara proliferasi
jaringan baru (blastema), di atas jaringan lama sehingga akan terbentuk planaria baru yang
sempurna. Fenomena ini menarik untuk diteliti, khususnya mengenai pertumbuhan dan
perkembangan planaria setelah dilakukan regenerasi secara buatan, yaitu dengan memotong
melintang planaria menjadi 2 dan 3 bagian. Pengamatan terhadap planaria yang dipotong ini
dilakukan hingga tumbuh kuncup pada bagian yang hilang dan berkembang menjadi planaria
baru yang lengkap.
Regenerasi Planaria
Reganerasi adalah kemampuan untuk memproduksi sel, jaringan atau bagian tubuh yang rusak,
hilang atau mati. Planaria menunjukan daya regenerasi yang kuat, bila cacing tersebut
mengalami luka baik secara alami maupun secara buatan, bagian tubuh manapun yang
mengalami kerusakan akan diganti dengan yang baru. Individu cacing yang di potong-potong
akan menghasilkan cacing-cacing kecil yang utuh, Setiap potongan dapat tumbuh kembali
(regenerasi) menjadi individu-individu baru yang lengkap bagian-bagiannya seperti induknya.
Sepotong potongan membujur dari bagian samping akan beregenerasi dengan normal, jika
potongan itu tetap lurus. Jika potongan itu membengkok atau melengkung, maka kepala akan
tumbuh pada bagian samping dalam. Jika kepala Planaria dibelah akan dapat terbentuk seekor
Planaria yang berkepala dua, kemudian jika pembelahan ini dilanjutkan ke posterior sampai
terjadi dua buah belahan, maka tiap belahan akan dapat tumbuh menjadi seekor cacing yang
lengkap bagian-bagiannya seperti induknya. Tahapan Regenerasi Planaria dimulai dengan
adanya neoblast yang akan tampak terhimpun pada permukaan luka bagian sebelah bawah
epithelium sehingga terbentuknya suatu blastema yang kemudian struktur sel mengalami
diferensiasi dalam pertumbuhan blastema dan dibawah kondisi yang optimal mengalami
regenerasi berpoliferasi 12 membentuk bagian-bagian yang hilang. Tahapan regenerasinya
sebagai berikut dediferensiasi blastema-rediferensiasi.
Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan terdiri atas mulut, faring, esofagus, dan usus halus (intestin).
Lubang mulut dilanjutkan oleh kantung yang berbentuk silindris memanjang dan disebut rongga
mulut (rongga faringeal). Esophagus merupakan persambungan dari faring yang langsung
bermuara kedalam usus. Usus bercabang tiga, satu menuju ke anterior, sedangkan yang kedua
lagi secara berjajar sebelah menyebelah menuju kearah posterior. Masing-masing cabang
bercabang lagi ke arah lateral. Percabangan ke arah lateral disebut “devertikulata”.
Planaria sebagian besar bersifat karnivora. Planaria memiliki kemoreseptor (terletak di kiri-
kanan bagian anterior), sehingga memungkinkan cacing ini bereaksi terhadap zat makanannya
yang berupa rangsangan zat protein.
Jika mangsa telah disentuh, ujung anterior membelok dengan cepat ke arah mangsanya dan
kemudian melingkarinya. Dengan lendir yang diekskresikan oleh kelenjar mukosa dan
“rhabdibes” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan keluar untuk mengambil
mangsa dan segera ditarik kembali kedalam rongga mulut. Makanan dicerna secara ekstrasel,
kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna
mangsanya di dalam vakuola makanan (pencernaan intrasel). Sari-sari makanan diabsorpsi
dan secara difusi masuk ke seluruh jaringan tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna
dikeluarkan kembali ke usus. Bilamana persediaan makanan telah habis, ia akan memakan
tubuhnya sendiri. Pertama ia akan mengorbankan organ reproduktif, kemudian sel-sel
parenkim, otot, dan seterusnya. Sehingga tubuhnya berukuran kecil. Ketika ia mendapatkan
makanan, ia melakukan regenerasi pada masing-masing sel yang rusak.
Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi terdiri dari dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan bercabang
ke seluruh bagian tubuh dan berakhir di sel api (protonephridia). Sel api adalah sel berbentuk
gelembung berisi seberkas silia dan terdapat lubang di bagian tengah gelembung itu. Sel api ini
berfungsi baik untuk ekskresi maupun pengaturan osmosis. Sel api berlubang dan mengandung
silia yang berfungsi untuk mendorong air dan sisa metabolism masuk kedalam saluran ekskresi.
Pada masing-masing sisi tubuh biasanya terdapat 1-4 buah pembuluh pengumpul yang
membentang longitudinal. Di bagian anterior pembuluh-pembuluh sisi longitudinal tersebut
mengadakan pertemuan, dihubungkan oleh pembuluh transversal sedikit agak di depan bintik
mata. Dibagian posterior pembuluh-pembuluh sisi tersebut masih terpisah.
Di bagian permukaan dorsal daripada tubuhnya, pembuluh-pembuluh sisi tersebut bermuara
pada suatu pori-pori yang disebut nephridiophor. Pada permukaan dorsal saluran induk
mempunyai lubang ekskresi. Pengeluaran sisa metabolism berlangsung selain melalui saluran
ekskresi juga melalui lapisan gastrodermis. Belum mempunyai organ respirasi sehingga
pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh permukaa tubuhnya.
Sistem Syaraf
Susunan syaraf Planaria bila dibandingkan dengan susunan syaraf Coelenterata
sudah lebih maju, sebab pada Planaria ini sudah ditemukan sejumlah ganglion yang
berfungsi sebagai pusat susunan syaraf. Terdiri dari ganglion serebral, terletak di bagian
kepala dan berfungsi sebagai otak. Dari ganglion serebral ini keluarlah cabang-cabang
urat syaraf secara radier menuju ke arah lateral, anterior dan posterior. Cabang anterior
menuju ke bagian bintik mata, cabang lateral menuju ke alat indra kemoreseptor
sedangkan cabang posterior terdiri dari satu pasang (kanan dan kiri) yang saling
bersejajar yang membentang di bagian ventral tubuh yang disebut tali syaraf.
Alat Indera
Alat indera berupa bintik mata dan indera aurikel yang keduanya terletak di bagian kepala.
Bintik mata merupakan titik hitam yang terletak di bagian dorsal dari kepala. Masing-
masing bintik mata terdiri dari sel-sel pigmen yang tersusun dalam bentuk mangkok yang
dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sangat sensitif terhadap sinar. Bintik mata
tersebut sekedar dapat membedakan gelap dan terang saja. Planaria bersifat photonegatif.
Dari kenyataan bahwa bila Planaria dikenai cahaya pada salah satu sisinya, maka cacing
tersebut akan bergerak menjauhi cahaya. Aurikel merupakan indera rasa, bau dan sentuhan.
Jika aurikel tidak berfungsi, maka hewan tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan
kesukaannya.
Peranan Planaria di Kehidupan Sehari-hari
Peranan Planaria terhadap kehidupan manusia belum diketahui secara pasti. Namun secara
umum diperkirakan bahwa planaria dapat dijadikan bioindicator. Yakni sebagai indikasi atau
alat ukur untuk mengetahui apakah air pada suatu tempat sudah tercemar atau tidak. Hal ini
dikarenakan planaria hanya dapat hidup pada tempat yang masih bersih dan belum tercemar
oleh bahan-bahan kimia. Sudah banyak ilmuan yang melakukan penelitian tentang cacing
planaria, namun belum juga ditemukan apakah manfaat dari cacing ini terhadap kehidupan
manusia. Penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan oleh para peneliti hanyalah berkisar
tentang kemampuan regenerasi hewan ini.

CACING PLANARIA SP

  • 1.
    DISUSUN OLEH: Anggi PutriIntani Hasti Pratiwi Nuranisa Saskiya Nurhalizah CACING PLANARIA MAKALAH BIOLOGI X.MIA-1 SMA NEGERI 9 TANGERANG 2014
  • 2.
    PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hewanyang tidak bertulang belakang atau Invertebrata terdiri atas beberapa jenis dan golongan. Jika ada yang memiliki rangka, maka rangka itu berbeda dengan rangka biasa yang kita kenal. Umumnya rangka Invertebrata tersebut ada di luar menyelubungi tubuhnya. Hewan-hewan yang tidak bertulang belakang semuanya memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana dibandingkan dengan kelompok hewan bertulang belakang. Misalnya untuk peredaran darahnya bila kita amati, peredaran darah pada hewan bertulang belakang telah sempurna dengan jantung yang memiliki kamar-kamar dan pembuluh yang mempunyai tugas masing-masing. Jika ada hewan yang tidak bertulang belakang memiliki peredaran darah tertutup, peredaran darah itu tidak sesempurna peredaran darah katak dan ikan atau hewan bertulang belakang lainnya. Selain peredaran darahnya, sistem pernafasan, pencernaan, dan pengeluarannya pun lebih sederhana. Hal ini berkaitan dengan struktur tubuh Vertebrata yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan struktur tubuh Invertebrata. Pada makalah ini kami akan menyajikan satu contoh dari filum yang ada pada hewan tidak bertulang belakang atau Invertebrata. Berasal dari filum Platyhelminthes dari kelas Turbellaria, yaitu Planaria sp. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana ciri-ciri Planaria? 2. Bagaimana reproduksi Planaria? 3. Bagaimana peranan Planaria di kehidupan sehari-hari? C. Tujuan Penulisan 1.Untuk mengetahui ciri-ciri Planaria. 2.Untuk mengetahui reproduksi Planaria. 3.Untuk mengetahui peranan dan manfaat Planaria.
  • 3.
    PEMBAHASAN Klasifikasi Planaria Kingdom :Animalia Philum : Platyhelminthes Kelas : Turbellaria Ordo : Tricladida Familia : Paludicola Genus : Euplanaria Spesies : Euplanaria sp Pengertian Planaria Planaria merupakan hewan invertebrata, termasuk cacing pipih yang hidupnya bebas di alam, umumnya hidup di air tawar, sungai, danau atau di laut. Planaria termasuk dalam anggota filum platyhelminthes dari kelas turbellaria (cacing berambut getar). Planaria sp umumnya dapat ditemukan di habitat akuatik yang tidak tercemar dengan arus yang mengalir serta hidup dibawah bebatuan yang terhindar dari sinar matahari. Planaria sp dikatakan sebagai bioindikator dikarenakan membutuhkan kondusifitas lingkungan hidup yang tidak tercemar dengan polutan organik, kaya oksigen, dan tidak bersifat asam. Meskipun hidup di air planaria tidak berenang, tetapi bergerak dengan cara meluncur dan merayap. Gerakan meluncur terjadi dengan bantuan silia yang ada pada bagian ventral tubuhnya dan zat lendir yang dihasilkan oleh kelenjar lendir dari bagian tepi tubuh. Zat lendir itu merupakan “jalur” yang akan dilalui. Gerakan silia yang menyentuh jalur lendir menyebabkan hewan bergerak. Selama berjalan meluncur, gelombang yang bersifat teratur tampak bergerak dari kepala ke arah belakang. Pada gerak merayap, tubuh planaria memanjang sebagai akibat dari kontraksi otot sirkular dan dorsoventral. Kemudian bagian depan tubuh mencengkeram pada substrat dengan mukosa atau alat perekat khusus. Hampir semua anggota Turbellaria hidup secara bebas, hanya ada beberapa saja yang hidup secara ektokomensalis atau secara parasitis. Tubuh cacing Turbellaria tidak terbagi atas segmen-segmen, bagian luarnya ditutupi oleh epidermis yang berinsitium sebagian daripadanya dilengkapi dengan sel-sel yang menghasilkan zat mucosa. Struktur Planaria tubuhnya pipih, memanjang dan lunak, berukuran kira-kira 15mm (5-25mm) panjang, bagian anterior (kepala) berbentuk segitiga tumpul, dan meruncing kearah belakang, dan berpigmen yang gelap. Dinding tubuh Planaria pada prinsipnya tersusun atas 4 lapisan jaringan, yaitu secara berturut-turut dari luar ke dalam sebagai berikut: (1) lapisan epidermis, (2) lapisan kelenjar sub-epidermis, (3) lapisan otot (musculus), (4) lapisan mesenchyme (parenchyma).
  • 4.
    Lubang mulut beradadi ventral tubuh agak kearah ekor, berhubungan dengan pharink (proboscis) berbentuk tubuler dengan dinding berotot, dapat ditarik dan dijulurkan untuk menangkap makanan. Di bagian kepala, yaitu bagian samping kanan dan kiri terdapat tonjolan menyerupai telinga disebut aurikel. Tepat di bawah bagian kepala terdapat tubuh menyempit, menghubungkan bagian badan dan bagian kepala, disebut bagian leher. Di sepanjang tubuh bagian ventral diketemukan zona adesif. Zona adesif menghasilkan lendir liat yang berfungsi untuk melekatkan tubuh planaria ke permukaan benda yang ditempelinya. Di permukaan ventral tubuh planaria ditutupi oleh rambut-rambut getar halus, berfungsi dalam pergerakan. Planaria menarik untuk diamati baik morfologi maupun perilakunya. Selain itu daya regenerasi Planaria sp sangat unik, dimana planaria mampu memperbaiki bagian tubuh yang tidak sempurna menjadi bagian yang utuh seperti semula dalam waktu yang relative singkat, meskipun hanya memiliki system saraf yang sederhana. Planaria merupakan pemakan makanan yang beraneka ragam (versatile feeder), ia juga mampu mencari-cari dan memakan bangkai hewan lain yang telah mati. Ciri-ciri Planaria sp ď‚· Bentuk tubuh pipih (dorsoventral), bilateral simetri dan tidak bersegmen, pada bagian kepala terdapat bagian yang mirip dengan telinga (auricle) yang dipenuhi reseptor kimia. ď‚· Bergerak dengan silia yang terdapat pada epidermis tubuhnya. ď‚· Mempunyai saluran pencernaan yang terdiri dari mulut, faring dan usus. Planaria sp tidak memiliki anus, sisa makanan yang tidak tercerna akan dikeluarkan melalui mulut. ď‚· Sistem eksresi menggunakan sel-sel api yang tersebar di tepi tubuh. ď‚· Sistem syaraf terdiri dari ganglia yang terdapat di kepala serta pada bagian posterior terdapat dua bintik mata (eye spot) yang sangat peka terhadap rangsang cahaya. ď‚· Perkembangbiakan secara seksual dan aseksual. ď‚· Planaria sp bersifat hermaprodit serta memiliki daya regenerasi yang tinggi.
  • 5.
    Reproduksi Cacing Planaria Planariabersifat hermaphrodit, maka dalam tubuh seekor hewan tersebut terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Adapun susunan alat kelamin tersebut adalah sebagai berikut: ď‚· Organ kelamin jantan terdiri atas: a. Testis: berjumlah ratusan, berbentuk bulat selebar di sepanjang sisi kedua tubuh. b. Vasa eferensia: merupakan pembuluh yang menghubungkan testis dengan bagian pemb uluh lainnya yang lebih besar. c. Vasa deferensia: merupakan pembuluh yang berjumlah dua buah yang masing-masing membentang disetiap sisi tubuh yang kedua-duanya saling bertemu dan bermuara ke dalam suatu kantung yang disebut vesiculus seminalis. d. Vesicular seminalis: merupakan kantung yang berfungsi menampung sperma dan menyalurkan sperma ke penis. e. Penis: merupakan alat pentransfer ke tubuh atau kealat kelamin Planaria yang lain pada waktu mengadakan kopulasi dalam rangka mengadakan perkawinan silang. Penis ini bermuara kedalam ruang genetalis. f. Ruang genetalis yang waktu kopulasi menjulur keluar melalui poros genitalis. ď‚· Organ kelamin betina terdiri atas : a. Ovari: berjumlah dua buah, berbentuk bulat terletak di bagian anterior tubuh. b. Oviduct: (saluran telur) dari setiap ovarium akan membentang ke arah posterior sebuah saluran yang disebut oviduct atau aliran telur. Antara saluran telur kanan dan kiri saling bersejajar yang saling dilengkapi dengan kelenjar yang menghasilkan kuning telur. c. Kelenjar kuning telur: menghasilkan kuning telur yang akan disediakan bagi sel telur bila telah diproduksi oleh ovarium. d. Vagina: merupakan saluran yang berfungsi untuk menerima transfer spermatozoid dari Planaria lain, dimana spermatozoid yang telah ditransfer selanjutnya akan disimpan dala m ruangan yang disebut receptaculus seminalis. e. Uterus: (receptaculus seminalis) merupakan ruangan yang bentuknya menggelembung y ang berfungsi untuk menyimpan spermatozoid hasil transfer dari Planaria lain. f. Genital atrium (ruang genitalis) merupakan muara bersama antara kedua buah saluran t elur (oviduct) yang telah disebut di atas.
  • 6.
    Planaria berkembangbiak dengancara seksual dan aseksual. Planaria yang sudah dewasa mempunyai sistem reproduksi jantan dan betina, jadi bersifat monoecious (hermafrodit). Testis dan ovarium berkembang dari sel-sel formatif. Reproduksi seksual planaria dilakukan dengan cara dua planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya dan terjadi kopulasi (cross fertilisasi), saling pertukaran produk seks antara dua planaria yang berbeda. Planaria melakukan reproduksi seksual setiap tahun di bulan Februari-Maret. Setelah masa reproduksi seksual, alat reproduksi mengalami degenerasi dan planaria kemudian mengalami masa reproduksi aseksual. Reproduksi planaria aseksual terjadi dengan pembelahan arah transversal. Seekor cacing Planaria dapat mengalami kontriksi (penyempitan) biasanya di belakang faring, kemudian membelah dan masing-masing potongan melengkapi bagian tubuhnya menjadi individu- individu baru. Reproduksi secara seksual: Dua Planaria saling melekat pada sisi ventral-posterior tubuhnya dan terjadi kopulasi, penis masing-masing dimasukkan kedalam atrium genitalis. Sperma dari vesikula seminalis pada system reproduksi jantan masing-masing masuk ke seminal reseptacle cacing pasangannya, saling bertukaran produk sex antara dua individu yang berbeda disebut cross fertilisasi, dan transfer langsung sperma dari jantan ke organ kelamin betina disebut fertilisasi internal. Setelah perkawinan selesai, 2 cacing tersebut memisah, dan sperma mengadakan migrasi di dalam oviduct, untuk membuahi telur-telur. Beberapa zygot dan banyak sel-sel yolk kemudian bersatu didalam kapsul yang terpisah (di dalam kulit telur, di buat oleh dinding atrium kemudian keluar). Perkembangan secara langsung tidak ada stadium larva. Perkembangan planaria secara aseksual: Dilakukan selain bulan februari-maret. Kondisi lingkungan selain bulan tersebut, planaria sudah dewasa/maksimum dalam beregenerasi, sehingga planaria mengalami kontriksi atau penyempitan di belakang faring, terjadinya kontriksi karena sel-sel cuboid yang menutupi bagian luar permukaan tubuh, kemudian dengan adanya dorongan dari otot-otot sirkuler dan longitudinal akan berkontraksi dan menimbulkan perubahan bagian tubuh diantara epidermis dan tractus digestivus yang berguna untuk membantu distribusi makanan dan pengeluaran sisa-sisa makanan terhambat dan kemudian terjadi pembelahan. Selain itu faktor abiotik yang minimum membantu perkembangan planaria secara aseksual. Sistem reproduksi pada kebanyakan cacing pipih sangat berkembang dan kompleks. Reproduksi aseksual dengan cara memotong tubuh di alami oleh sebagian besar anggota Turbellaria air tawar. Pada umumnya cacing pipih telurnya tidak mempunyai kuning telur, tetapi di lengkapi dengan “sel yolk khusus” yang tertutup oleh cangkang telur.
  • 7.
    Fragmentasi merupakan prosesreproduksi aseksual pada planaria, dengan membelah diri secara transversal, masing-masing belahan mengembangkan bagian-bagian yang hilang dan berkembang menjadi satu organisme utuh. Meskipun jumlah individu yang dihasilkan dengan reproduksi aseksual itu sangat besar, tetapi proses ini mempunyai batasan yang serius, yaitu bahwa tiap turunan identik dengan induknya. Kemampuan planaria mengembangkan bagian-bagian tubuh yang hilang, hingga terbentuk planaria baru yang lengkap pada reproduksi aseksual, menyebabkan planaria dikatakan mempunyai daya regenerasi yang tinggi. Apabila tubuhnya disayat (dipotong), planaria akan segera memperbaiki bagian tubuhnya yang dipotong dengan proses epimorfis yaitu perbaikan yang dilakukan dengan cara proliferasi jaringan baru (blastema), di atas jaringan lama sehingga akan terbentuk planaria baru yang sempurna. Fenomena ini menarik untuk diteliti, khususnya mengenai pertumbuhan dan perkembangan planaria setelah dilakukan regenerasi secara buatan, yaitu dengan memotong melintang planaria menjadi 2 dan 3 bagian. Pengamatan terhadap planaria yang dipotong ini dilakukan hingga tumbuh kuncup pada bagian yang hilang dan berkembang menjadi planaria baru yang lengkap.
  • 8.
    Regenerasi Planaria Reganerasi adalahkemampuan untuk memproduksi sel, jaringan atau bagian tubuh yang rusak, hilang atau mati. Planaria menunjukan daya regenerasi yang kuat, bila cacing tersebut mengalami luka baik secara alami maupun secara buatan, bagian tubuh manapun yang mengalami kerusakan akan diganti dengan yang baru. Individu cacing yang di potong-potong akan menghasilkan cacing-cacing kecil yang utuh, Setiap potongan dapat tumbuh kembali (regenerasi) menjadi individu-individu baru yang lengkap bagian-bagiannya seperti induknya. Sepotong potongan membujur dari bagian samping akan beregenerasi dengan normal, jika potongan itu tetap lurus. Jika potongan itu membengkok atau melengkung, maka kepala akan tumbuh pada bagian samping dalam. Jika kepala Planaria dibelah akan dapat terbentuk seekor Planaria yang berkepala dua, kemudian jika pembelahan ini dilanjutkan ke posterior sampai terjadi dua buah belahan, maka tiap belahan akan dapat tumbuh menjadi seekor cacing yang lengkap bagian-bagiannya seperti induknya. Tahapan Regenerasi Planaria dimulai dengan adanya neoblast yang akan tampak terhimpun pada permukaan luka bagian sebelah bawah epithelium sehingga terbentuknya suatu blastema yang kemudian struktur sel mengalami diferensiasi dalam pertumbuhan blastema dan dibawah kondisi yang optimal mengalami regenerasi berpoliferasi 12 membentuk bagian-bagian yang hilang. Tahapan regenerasinya sebagai berikut dediferensiasi blastema-rediferensiasi. Sistem Pencernaan Makanan Saluran pencernaan terdiri atas mulut, faring, esofagus, dan usus halus (intestin). Lubang mulut dilanjutkan oleh kantung yang berbentuk silindris memanjang dan disebut rongga mulut (rongga faringeal). Esophagus merupakan persambungan dari faring yang langsung bermuara kedalam usus. Usus bercabang tiga, satu menuju ke anterior, sedangkan yang kedua lagi secara berjajar sebelah menyebelah menuju kearah posterior. Masing-masing cabang bercabang lagi ke arah lateral. Percabangan ke arah lateral disebut “devertikulata”. Planaria sebagian besar bersifat karnivora. Planaria memiliki kemoreseptor (terletak di kiri- kanan bagian anterior), sehingga memungkinkan cacing ini bereaksi terhadap zat makanannya yang berupa rangsangan zat protein.
  • 9.
    Jika mangsa telahdisentuh, ujung anterior membelok dengan cepat ke arah mangsanya dan kemudian melingkarinya. Dengan lendir yang diekskresikan oleh kelenjar mukosa dan “rhabdibes” mangsa dapat diikat erat. Kemudian faring ditonjolkan keluar untuk mengambil mangsa dan segera ditarik kembali kedalam rongga mulut. Makanan dicerna secara ekstrasel, kemudian sel-sel tertentu pada epitel usus dapat membentuk pseudopodia dan mencerna mangsanya di dalam vakuola makanan (pencernaan intrasel). Sari-sari makanan diabsorpsi dan secara difusi masuk ke seluruh jaringan tubuh. Sisa-sisa makanan yang tidak dicerna dikeluarkan kembali ke usus. Bilamana persediaan makanan telah habis, ia akan memakan tubuhnya sendiri. Pertama ia akan mengorbankan organ reproduktif, kemudian sel-sel parenkim, otot, dan seterusnya. Sehingga tubuhnya berukuran kecil. Ketika ia mendapatkan makanan, ia melakukan regenerasi pada masing-masing sel yang rusak. Sistem Ekskresi Sistem ekskresi terdiri dari dua saluran longitudinal yang berbentuk seperti jala dan bercabang ke seluruh bagian tubuh dan berakhir di sel api (protonephridia). Sel api adalah sel berbentuk gelembung berisi seberkas silia dan terdapat lubang di bagian tengah gelembung itu. Sel api ini berfungsi baik untuk ekskresi maupun pengaturan osmosis. Sel api berlubang dan mengandung silia yang berfungsi untuk mendorong air dan sisa metabolism masuk kedalam saluran ekskresi. Pada masing-masing sisi tubuh biasanya terdapat 1-4 buah pembuluh pengumpul yang membentang longitudinal. Di bagian anterior pembuluh-pembuluh sisi longitudinal tersebut mengadakan pertemuan, dihubungkan oleh pembuluh transversal sedikit agak di depan bintik mata. Dibagian posterior pembuluh-pembuluh sisi tersebut masih terpisah. Di bagian permukaan dorsal daripada tubuhnya, pembuluh-pembuluh sisi tersebut bermuara pada suatu pori-pori yang disebut nephridiophor. Pada permukaan dorsal saluran induk mempunyai lubang ekskresi. Pengeluaran sisa metabolism berlangsung selain melalui saluran ekskresi juga melalui lapisan gastrodermis. Belum mempunyai organ respirasi sehingga pertukaran gas berlangsung secara difusi melalui seluruh permukaa tubuhnya.
  • 10.
    Sistem Syaraf Susunan syarafPlanaria bila dibandingkan dengan susunan syaraf Coelenterata sudah lebih maju, sebab pada Planaria ini sudah ditemukan sejumlah ganglion yang berfungsi sebagai pusat susunan syaraf. Terdiri dari ganglion serebral, terletak di bagian kepala dan berfungsi sebagai otak. Dari ganglion serebral ini keluarlah cabang-cabang urat syaraf secara radier menuju ke arah lateral, anterior dan posterior. Cabang anterior menuju ke bagian bintik mata, cabang lateral menuju ke alat indra kemoreseptor sedangkan cabang posterior terdiri dari satu pasang (kanan dan kiri) yang saling bersejajar yang membentang di bagian ventral tubuh yang disebut tali syaraf. Alat Indera Alat indera berupa bintik mata dan indera aurikel yang keduanya terletak di bagian kepala. Bintik mata merupakan titik hitam yang terletak di bagian dorsal dari kepala. Masing- masing bintik mata terdiri dari sel-sel pigmen yang tersusun dalam bentuk mangkok yang dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sangat sensitif terhadap sinar. Bintik mata tersebut sekedar dapat membedakan gelap dan terang saja. Planaria bersifat photonegatif. Dari kenyataan bahwa bila Planaria dikenai cahaya pada salah satu sisinya, maka cacing tersebut akan bergerak menjauhi cahaya. Aurikel merupakan indera rasa, bau dan sentuhan. Jika aurikel tidak berfungsi, maka hewan tersebut tidak dapat mengetahui jenis makanan kesukaannya. Peranan Planaria di Kehidupan Sehari-hari Peranan Planaria terhadap kehidupan manusia belum diketahui secara pasti. Namun secara umum diperkirakan bahwa planaria dapat dijadikan bioindicator. Yakni sebagai indikasi atau alat ukur untuk mengetahui apakah air pada suatu tempat sudah tercemar atau tidak. Hal ini dikarenakan planaria hanya dapat hidup pada tempat yang masih bersih dan belum tercemar oleh bahan-bahan kimia. Sudah banyak ilmuan yang melakukan penelitian tentang cacing planaria, namun belum juga ditemukan apakah manfaat dari cacing ini terhadap kehidupan manusia. Penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan oleh para peneliti hanyalah berkisar tentang kemampuan regenerasi hewan ini.