1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengenalan alat – alat laboratorium sangat penting dalam penelitian dan
praktikum khususnya dalam mata kuliah bahan pakan dan formulasi ransum salah
satu komponen dalam melaksanakan praktikum di dalam laboratorium. Peralatan
dalam laboratorium ini mempunya fungsi yang beragam. Sebelum melakukan
aktivitas di dalam laboratorium pengenlan dasar mengenai jenis, bentuk, dan
fungsi peralatan yang digunakan dalam praktikum menjadi sangat penting.
Pengenalan alat - alat laboratorium salah satu komponen penting dalam
melaksanakan kegiatan praktikum di dalam laboratorium dengan perlengkapan
laboratorium ini mempunyai fungsi yang beragam mulai dari yang sangat spesifik
untuk pengujian zat tertentu hingga yang bersifat universal.
Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari berbagai kemungkinan
terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang bersifat sangat
berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada di
dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko
tinggi bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui
cara dan prosedur penggunaan alat yang akan digunakan. Setiap percobaan kita
selalu menggunakan peralatan yang berbeda atau meskipun sama tapi ukurannya
berbeda. Misalnya untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit kita harus
menggunakan gelas ukur bukan beaker glass ataupun erlenmeyer karena ketelitian
gelas ukur yang tinggi dan memang untuk mengukur zat cair serta mudah
digunakan, sedangkan beaker glass hanya sebagai wadah atu tempat larutan atau
sampel, meskipun terdapat skala pada beaker glass namun skala ini tidak akurat
dan tidak boleh digunakan untuk mengukur sampel yang sangat sensitif. Begitu
pula dengan prosedur percobaan yang lain, kita harus bisa menyesuaikan dan
menggunakan peralatan untuk praktikum tersebut.Oleh karena itu, kita harus
mengetahui bagaimana cara menggunakan alat – alat tersebut dengan tepat
sehingga tidak akan mengganggu kelancaran praktikum dan tidak terjadi
2
kecelakaan akibat dari kesalahan praktikan. Selain itu, pengenalan alat ini sangat
penting demi kelancaran praktikum kita selanjutnya. Dalam sebuah praktikum,
tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat yang akan
digunakan dalam praktikum tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan
kemampuan yang cukup untuk menggunakannya.Mengingat betapa pentingnya
pengetahuan dan prosedur penggunaan peralatan laboratorium, meka praktikum
pengenalan alat laboratorium dirasa penting agar setiap praktikum yang akan
dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa terjadi hal – hal yang
tidak di inginkan.
Alat – alat dilaboraturium dapat dibagi berdasarkan jenis bahan
pembuatannya atau berdasarkan fungsinya. Berdasarkan bahan pembuatnya alat –
alat laboraturium dapat dibagi menjadi : alat yang berfungsi sebagai pengukur
(volume dan berat),alat yang berfungsi sebagai wadah,alat yang berfungsi sebagai
tempat reaksi,alat yang berfungsi untuk mengukur sifat fisika dan kimia dari suatu
materi atau suatu reaksi kimia.
Pengenalan alat merupakan langkah pertama sebelum kita melakukan
percobaan atau penelitian. Dengan mengenal alat, kita dapat mengetahui fungsi
masing-masing bagian dari alat tersebut serta cara pengoprasian atau penggunaan
alat-alat yang akan digunakan dalam percobaan atau penelitian yang dilakukan.
Dan dengan kita mengetahui akan fungsi dan cara penggunaan alat-alat yang akan
digunakan dapat memperlancar jalannya suatu percobaan atau penelitian.
Sehingga dengan berbekal pengetahuan pemahaman akan fungsi dan cara kerja
dari alat yang digunakan kita dapat memperoleh hasil suatu percobaan atau
penelitian yang maksimal.
Praktikum ini pada dasarnya merupakan suatu kegiatan untuk menambah
pengertian dan pemahaman tentang bahan pakan dan alat-alat laboratorium
melalui pengamatan secara langsung. Sehingga mahasiswa peternakan secara
khusus dapat memahami dan mengenal lebih lanjut dari pada bahan pakan itu
sendiri maupun alat yang digunakan dalam percobaan maupun pengamatan.
Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan
kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau
3
bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur (Plummer,
1987). Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat
diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga
kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin. Hal ini
penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula.
Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang.
Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian harus
dalam kondisi steril. Untuk mencapainya, maka diperlukan teknik sterilisasi.
Sterilisasi ialah proses-proses untuk menjadikan peralatan dan bahan-bahan bebas
dari semua bentuk kehidupan. Tujuan utamanya adalah supaya sebelum
pengkulturan dapat mematikan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan tidak
turut tumbuh dalam kultur murni (suatu kultur mikroorganisme yang tersusun
dari sel-sel sejenis). Teknik Sterilisasi dibedakan menjadi empat kelompok,
antara lain : Sterilisasi fisik dengan panas, sterilisasi mekanik dengan filter,
Sterilisasi kimia, dan sterilisasi radiasi.
Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak,
dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada
ternak. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang
dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup
pokok dan untuk produksi.makanan hijauan merupakan semua bahan makanan
yang berasal dari hijauan dalam bentuk daun-daunan. Yang termasuk kelompok
makanan hijauan yaitu bangsa rumput (graminae ),leguminose,dan hijauan dari
tumbuh-tumbuhan lainnya seperti daun nangka,daun waru,dan lain
sebagainya.kelompok makanan hijauan ini biasanya di sebut makanan
kasar.hijauan sbagai bahan makanan ternak bias di berikan dalam dua bentuk
yakni hijauan segar dan hijaun kering.
Bahan pakan terbagi menjadi pakan sumber protein, sumber energi,
Sumber lemak, sumber vitamin, Sumber mineral dan feed aditif. Bahan pakan
dibagi dua yaitu bahan kering dan air. Sedangkan bahan kering juga dibagi dua
yaitu bahan organik dan abu. Selanjutnya bahan organik dibagi lagi menjadi
protein kasar dan bahan organik tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen
4
dibagi lagi menjadi lemak kasar dan karbohidrat. Dengan kata lain Bahan pakan
dapat diartikan juga sebagai sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna
dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak.
Nutrient-nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein,
lemak, vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrien karena
energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Perbedaan bahan pakan
yang dikonsumsi oleh ternak antara lain ternak ruminan dengan unggas hanyalah
perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetap untuk kandungan yang dibutuhkan
oleh ternak tidak berbeda.
Asal limbah pertanian atau agrobisnis terdiri dari kulit biji bunga matahari
dan kulit kacang kedele. Serta jenis-jenis obat hewan yang terdiri dari coxy dan
therapy. Sedangkan yang termasuk dari aditif pakan antara lain : egg stimulant,
neobro, vita chick, supertop, multivit.
Sedangkan bahan yang termasuk bahan pakan palsuan adalah batu bata,
serta nama hijauan tanaman pakan terdiri dari : rumput setaria, rumput stylo,
rumput benggala, rumput raja, rumput senduduk dan rumput gajah.
Kita ketahui bahwa didalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu
bahan pakan itu sendiri terbagi menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi
menjadi tepung ikan dan protein nabati dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil
kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi ada yang berbentuk biji-bijian
atau butiran yang terbagi atas : padi dan jagung, Bahan-bahan pakan sumber
energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan (SK). Sumber
protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu. Sumber lemak antara
lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber mineral antara lain
tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll.
Dewasa ini bahwa pengklasifikasian bahan pakan ada dua, pertama
klasifikasi klasik dan kedua klasifikasi modern atau internasional. Klasifikasi
klasik, bahan pakan dikelompokkan berdasarkan serat kasar atau sifat, Hijauan,
Berdasarkan kandungan gizi, Berdasarkan asalanya, dan berdasarkan kegunaanya.
Sedangkan klasifikasi modern dibagi atas beberapa kelas dengan urutan kelasnya
adalah sebagai berikut: bahan pakan dikelompokkan: Hijauan kering dan jerami,
5
Pasture dan hijauan segar, Silase, Sumber energi, Sumber protein, Sumber
mineral, sumber vitamin, dan aditif.
Dalam perusahan peternakan tidak lepas dari pakan, yang mana biaya
produksi pakan yang tinggi yaitu 60-70%. Pakan yang terjual dipasaran
merupakan pakan komersil saja. Ternak juga butuh pakan tambahan yang
berfungsi membantu proses pertumbuhan dan perkembangan ternak seperti
konsentrat.
Pakan merupakan bahan makanan yang sangat erat hubungannya oleh ternak
sebagai sumber kehidupan ternak yang mana nutrient adalah berbagai zat
makanan yang terdapat dalam bahan makanan yang terdapat dalam bahan
makanan yang digunakan dalam tubuh untuk memperoleh energi dan mengatur
proses dalam tubuh.
Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari
biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh
kualitas bahan baku yang menyusunnya. Pakan memiliki peranan penting bagi
ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan
hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak
dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan
kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang
diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup.
Preparasi Sampel adalah Suatu analisis suatu bahan pakan yang hanya
akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar
dan reprentatif. Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secara
acak dari bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi. Pengambilan sampel perlu
memperhatikan beberapa hal sepereti : Homogenitas sampel, Cara pengambilan
sampel, Jumlah sampel. Penangan sampel, Prosesing sampel, dan Penentuan
kadar sampel segar.
Homogenitas sampel efek ukuran dan berat partikel sangat berpengaruh
terhadap hemogenitas bahan, bagian yang berukuran dan mempunyai masa/berat
lebih besar cenderung akan terpisah (tersegregasi)dari bagian yang lebih kecil dan
ringan.oleh karena itu sebelum sampel diambil,bahan harus diaduk secara merata
6
atau sampel diambil secara acak dari beberapa bagian baik bagian dasar,bagian
tenggah maupun bagian atas sehingga diperoleh sampel yang refresentatif,
demikian juga pada hijauan disuatau lahan /area,kualitas hijauan pada tiap bagian
tanaman atau lahan yang mempunyai kualitas yang relatif berbeda..
Cara pengambilan sampel dapat dilakukan secara aselektif dan selektif.
Aselektif adalah pengambilan sempel secara acak dari keseluruhan sempel tanpa
membedakan/memperhatikan atau memisahkan bagian dari sempel
tersebut.misalnya dalam pengambilan sempel rumput gajah,sempel diambil secara
keseluruhan tanpa memperhatikan bagian dari sempel tersebut. Selektif adalah
pengambilan sempel dari sebagian sempel tersebut.misalnya sempel rumput gajah
tersebut dipisahkan bagian dari bagian rumput tersebut yaitu bagian dari batang
atau daun.
Jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh dalam tingkat
refresentatif sampel yang diambil.jumlah sempel yang diambil bergantung pada
kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya.sebagai
pedoman jumlah sempel yang diambil adalah 10% dari jumlah bahan.
Penanganan terhadap sampel yang diambil harus segera di diamkan agar
tidak rusak atau berubah sehingga mempunyai sifat yang berbeda dari mana
sampel tersebut diambil, misalnya terjadi penguapan air,pembusukan maupun
tumbuhnya jamur. Sempel yang mempunyai kadar air rendah (kurang dari 15%)
sangat kecil kemungkinan untuk mengalami kerusakan, sampel demikian dapat
langsung dimasukkan didalam kantong plastik dan dibawa ke laboraturium.
Sampel dengan kadar air tinggi seperti hijauan atau silase berpeluang besar
mengalami penguapan air,oleh sebab itu untuk mengontrol penguapan air sampel
yang telah diambil harus segera ditimbang,dimasukkan kedalam kantong plastik
kedap udara,dibawa ke laboraturium dan segera dianalisis kadar bahan keringnya.
Prosesing sempel bertujuan untuk evaluasi terutama evaluasi secara
mikroskopis,kimiawi,biologis,semua sempel harus digiling sehingga diperoleh
sempel yang halus.
Penentuan kadar air sampel segar, sampel dapat berasal dari tumbuh –
tumbuhan (seperti rumput – rumputan,biji – bijian,buah – buahan,hasil ikutan
7
produksi pertanian dean pangan).maupun hewan dan hasil ikutan.sebelim
dikeringkan sempel harus dipotong – potong terlebih dahulu agar lebih cepat
kering.
Akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara
benar dan representatif pada kegiatan resperasi sample pada praktikum ini
dilakukan pengambilan sample yang benar merupakan analisa bahan pakan, maka
teknik pengambilan sampel harus dilakukan dengan baik dalam arti tepat dan
benar. Tujuan diadakannya praktikum bahan pakan dan formulasi ransum ini
diharapkan kepada praktikan dapat mengetahui cara pengambilan sampel yang
benar dan baik sesuai aturan praktikum, dan manfaat praktikum ini bagi praktikan
yaitu parktikan dapat mengerti melakukan analisis ini sendiri dan dapat
menerapkannya serta kita dapat lebih teliti dalam praktikum serta konsentrasi
dalam pengamatan.
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk
mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat
pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat
memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama
pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu
manfaat dari analisis proksimat adalah dasar untuk formulasi ransum dan bagian
dari prosedur untuk uji kecernaan. Zat gizi sangat diperlukan oleh hewan untuk
pertumbuhan, produksi, reproduksi, dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat
gizi untuk kebutuhan energi dan fungsi-fungsidi atas. Tetapi setiap ternak
kandungan zat gizi yang dibutuhkannnya berbeda-beda. Suatu keuntungan bahwa
zat gizi, selain mineral dan vitamin tidak sendiri-sendiri mempunyai sifat kimia.
Zat sumber energi dapat digolongkan misalnya dari sumber karbohidrat yang
mempunyai kandungan kimia karbon, hydrogen dan oksigen. Sedangkan protein
terdiri dari asam amino dan berisi ± 16 % nitrogen. Selain itu, analisis proksimat
dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula ransum dengan baik.
Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari kekurangan pada ransom
tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan
menambahkan zat makanan yang diperlukan.
8
Analisis bahan pakan merupakan makanan yang dapat dimakan oleh
ternak dan tidak beracun atau tidak berguna bagi ternak. Bahan pakan terbagi dua
yaitu bahan kering dan air. Bahan kering juga terbagi dua yaitu bahan organik dan
abu. Bahan organik terbagi menjadi protein kasar dan (BOTN) bahan organik
tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen terbagi dua lagi yaitu lemak kasar
dan karbohidrat. Terakhir karbohidrat dibagi 2 serat kasar & (BETN) bahan
ekstrak tanpa nitrogen. Bahan pakan lain semua bahan pakan yang dapat dimakan
oleh ternak yang mengandung protein, lemak, bahan organik tanpa nitrogen
terbagi lagi menjadi lemak kasar dan karbohidrat. Karbohidrat terbagi lagi
menjadi serat kasar dan (BETN) bahan ekstrak tanpa nitrogen.
Ternak membutuhkan zat-zat makanan yang ada dalam pakan seperti
protein, karbohidrat, dan lemak. Dengan adanya analisis proksimat, kandungan
suatu pakan bisa diketahui. Contohnya pada rerumputan. Kita bisa mengetahui
kandungan zat makanan dalam rumput. Setelah kita mengetahuinya, kita bisa
membandingkan rumput apa saja yang paling tinggi kandungannya dan paling
cocok bagi ternak.
Energi pakan yang dikonsumsi ternak dapat digunakan dalam 3 cara: (1)
menyediakan energi untuk aktivitas; (2) dapat dikonversi menjadi panas; dan (3)
dapat disimpan sebagai jaringan tubuh. Kelebihan energi pakan yang dikonsumsi
setelah terpenuhi untuk kebutuhan pertumbuhan normal dan metabolisme
biasanya disimpan sebagai lemak. Kelebihan energi tersebut tidak dapat dibuang
(diekskresikan) oleh tubuh ternak. Energi disimpan di dalam karbohidrat, lemak
dan protein dari bahan makanan. Semua bahan tersebut mengandung karbon (C)
dan hidrogen (H) dalam bentuk yang bisa dioksidasi menjadi karbondioksida
(CO2) dan air (H2O) yang menunjukan energi potensial untuk ternak. Jumlah
panas yang diproduksi ketika pakan dibakar secara sempurna dengan adanya
oksigen dapat diukur dengan alat kalorimeter bom dan disebut Energi Bruto (EB)
dari pakan. Persentase EB yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak dan
digunakan untuk mendukung proses metabolik tergantung kemampuan ternak
untuk mencerna bahan makanan. Pencernaan mencerminkan proses fisika dan
kimia yang terjadi dalam saluran pencernaan dan menyebabkan pecahnya
9
senyawa kimia kompleks dalam pakan menjadi molekul lebih kecil yang dapat
diserap dan digunakan oleh ternak. Energi yang diserap tersebut disebut Energi
Dapat Dicerna (EDD). Pada ternak non-ruminansia, kehilangan energi lebih lanjut
terjadi melalui urin berupa limbah yang mengandung nitrogen dan senyawa lain
yang tidak dioksidasi oleh tubuh ternak serta untuk ternak ruminansia selain
melalui urin, kehilangan energi juga melalui pembentukan gas methan. EDD
dikurangi energi yang hilang melalui urin (non-ruminansia) atau urin+methan
(ruminansia) disebut Energi Metabolis (EM) pakan. Selama metabolisme zat
makanan, terjadi kehilangan energi yang disebut Heat Increament. Sisa energi
dari pakan yang tersedia bagi ternak untuk digunakan keperluan hidup pokok
(maintenance) dan produksi disebut Energi Neto (EN).
Dalam menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter
menggunakan alat serta bahan yaitu unit bomb calorimeter, tabung oksigen,
termometer, alat pembuat pellet, kawat platina, larutan methyl orange dan larutan
Na2CO3.
Peningkatan suhu yang telah diukur dengan termometer dapat dihitung
energi bruto yang telah dihasilkan. Penetapan energi bruto ini terjadi akibat
adanya pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan
diukur jumlah panas yang dihasilkan. Perbedaan sampel juga dapat
mempengaruhi.
Kandungan yang terdapat pada energi bruto di dalam bahan organic dapat
dicerminkan dengan melihat kondisi yang terjadi dari proses oksidasi yang
dilakukan didalam mencari energi bruto tersebut. Besarnya energi kimia juga
sangat dipengaruhi dengan adanya ratio antar C/H dengan atom O dan N.
Untuk melakukan pengukuran energi bruto dalam bomb calorimeter
protein akan mendapatkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan energi
karbohidrat, akan tetapi hasil pembakaran yang akan didapat di dalam tubuh
ternak adalah nilai energi protein yang mempunyai zat-zat yang dibutuhkan tubuh
mendekati energi karbohidrat.
Banyaknya kandungan energi bruto didalam bahan makanan sangat
tergantung pada komposisi dari karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat
10
dalam bahan makanan tersebut. Nilai energi bruto dari berbagai bahan makanan
bermacam- macam dan tidak menentu, akan tetapi secara umum telah ditetapkan
nilai energi bruto untuk KH = 4,15 kkal/kg, protein = 5,65 kkal/kg, dan lemak =
9,45 kkal/kg.
Jumlah bahan pakan ternak yang mempunyai hitungan energi bruto yang
tinggi juga tidak dapat menyumbangkan banyak enegi untuk keperluan tubuh
dalam jumlah yang banyak pula dikarenakan hal ini sangat dipengaruhi oleh daya
cerna bahan pakan ternak tersebut.
Penyusunan ransum yang dapat sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap periode
pertumbuhan dan produksi dipengaruhi oleh nilai gizi dan bahan-bahan makanan
yang dipergunakan. Perubahan gizi didalam bahan pakan dapat dipengaruhi yang
terutama oleh pengolahan dan penyimpanan.
Sebenarnya, tidaklah begitu sulit untuk menyusun atau membuat ransum
suatu ternak. Cara menyusun ransum dapat dikerjakan dengan bantuan tabel-tabel
komposisi bahan makanan dan kalkulator tangan. Dengan cara
mengkombinasikan berbagai bahan makanan dan menyesuaikan jumlah yang
digunakan, kadar zat-zat makanan yang dibutuhkan dapat diperoleh. Karena bahan
makanan ternak banyak jenisnya, maka sejumlah macam ransum dapat disusun
secara sempurna. Dalam memilih suatu ransum untuk tujuan tertentu, yang perlu
diperhatikan adalah kebutuhan gizi, tersedianya bahan makanan, nilai
pelengkapnya bila diberikan dalam kombinasi, harganya dan cara pemberiannya.
Komposisi bahan pakan dalam beberapa buku menyajikan rataan dari
sekumpulan data yang diperoleh dari beberapa hasil analisis dapat digunakan
sebagai pedoman dalam menentukan komposisi kimia suatu bahan pakan. Karena
komposisi kimia suatu bahan pakan dipengaruhi beberapa faktor, seperti umur
tanaman, kondisi tanah, iklim dan lain-lain, maka dalam penyusunan ransum
bahan-bahan penyusun harus dianalisis, agar diperoleh ransum merata.
Praktikum ini merupakan suatu kegiatan untuk menambah pengertian dan
pemahaman tentang formulasi ransum, sehingga mahasiswa peternakan dapat
memahami dan mengenal lebih lanjut dari pada formulasi ransum khususnya pada
11
ayam broiler/ayam pedaging, bagaimana cara menyusun ransum yang sesuai
dengan kebutuhan ayam broiler terhadap zat makanan tertentu.
Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR) merupakan meteri kuliah
yang dipraktikumkan yaitu berbagai jenis bahan pakan yang dapat dimakan oleh
ternak dan bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan ternak itu sendiri
serta mempelajari cara-cara dan penanganan bahan pakan tersebut. Pada
praktikum bahan pakan dan formulasi ransum ini, materi yang dibahas adalah
tentang mencampur ransum, dimana proses pencampuran dilakukan secara
manual.
Sebelum mencampur ransum, kita harus mengetahui bahan mana yang
harus dicampur terlebih dahulu, selanjutnya mengaduk bahan tersebut hingga
hasilnya rata atau homogen. Bahan yang dicampur terlebih dahulu biasanya
jumlahnya sedikit dan bentuk fisik halus, bahan yang jumlahnya banyak dicampur
kemudian. Ransum yang jumlahnya sedikit dapat dicampur secara manual tetapi
ransum yang jumlahnya banyak pencampuran dapat digunakan dengan mesin
campur ( mixer).
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan
perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum
dicampur dari bahan pakan yang mengandung gizi lengkap seprti protein, lemak,
serat kasar, vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu bahan pakan
kualitas ransum tersebut juga semakin baik terutama dari sumber protein hewani.
Bahan yang dapat digunakan untuk mencampur ransum yaitu dedak, bungkil inti
kelapa sawit, jagung, tepung ikan, minyak sawit, premix. Pada dasarnya yang
disebut sebagai mencampur ransum merupakan suatu kegiatan
mengkombinasikan berbagai macam bahan makanan ternak untuk memenuhi
kebutuhan ternak akan zat makanan tersebut.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum mengenai pengenalan alat-alat laboratorium
yaitu untuk memperkenalkan alat-alat laboratorium, fungsi dari masing-masing
alat, dan cara penggunaan alat-alat laboratorium tersebut.
12
Adapun tujuan dalam praktikum Bahan Pakan dan Formulasi ransum
mengenai pengenalan bahan pakan adalah agar praktikan dapat menjelaskan
berbagai macam bahan pakan sumber protein (hewani dan nabati), sumber energi
(biji-bijian, lemak/minyak, dan hijauan), vitamin dan mineral. Di samping itu
praktikan dapat menjelaskan bahan pakan yang tergolong aditif (antara lain obat-
obatan, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan minyak esensial), suplemen (premix)
dan bahan pemalsu pakan (sekam, pasir, dan serbuk gergaji).
Adapun tujuan dari praktikum mengenai preparasi sampel adalah agar
praktikan di dalam keberhasilan analisis suatu bahan pakan hanya akan dicapai
jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan representatife.
Tujuan dari praktikum mengenai analisis proksimat adalah untuk
mengetahui kandungan zat makanan dari bahan pakan yang akan diuji. Bukan itu
saja praktikum ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktikan
dalam menganalisis proksimat baik meliputi pengetahuan dasar dan aplikasinya.
Adapun tujuan dari praktikum mengenai analisis energi bruto adalah agar
mahasiswa dapat mengetahui jumlah energi yang terdapat pada
sampel,mendapatkan pengalaman cara-cara menentukan energi bruto, dan
mengenal alat – alat dari penentuan energi bruto.
Adapun tujuan dari pratikum bahan pakan dan formulasi ransum yang
berjudul Analisis Karbohidrat adalah agar mahasiswa dapat mengetahui jumlah
energi yang terdapat pada sampel.
Adapun tujuan dari praktikum mengenai Formulasi Ransum yaitu agar
mahasiswa belajar menyusun formula ransum sesuai dengan tujuan kebutuhan
ternak, dan mengetahui komposisi pakan yang baik untuk ternak agar
mendapatkan bobot badan ternak yang maksimal dengan meminimalisir harga
bahan pakan seminim mungkin.
Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum mencampur ransum ini yaitu
praktikan mengetahui bagaimana cara dalam mencampur ransum yang baik dan
benar, sehingga ransum yang diberikan kepada ternak dapat bermanfaat, baik
untuk kesehatan maupun produktivitasnya.
13
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum mengenai pengenalan alat-alat
laboratorium adalah praktikan dapat mengetahui apa nama alat-alat yang ada di
laboratorium, mengetahui fungsi dari masing-masing alat dan mengetahui cara
penggunaanya.
Adapun manfaat dari praktikum mengenai pengenalan bahan pakan yaitu
praktikan dapat mengetahui, mengenal dan membedakan secara langsung
klasifikasi gambaran dari pada jenis-jenis bahan pakan ternak.
Adapun manfaat dari praktikum mengenai preparasi sampel adalah agar
dapat mengetahui perubahan kadar air dan bahan kering yang terjadi pada sampel.
Manfaat yang diperoleh dari praktikum mengenai analisis proksimat
adalah praktikan dapat melakukan prosedur kerja dengan baik.
Adapun manfaat dari praktikum mengenai analisis energi bruto agar
praktikan mampu menentukan kandungan dari suatu bahan pakan, praktikan
dapat menjelaskan dan melakukan cara kerja penentuan kandungan bahan pakan.
Adapun manfaat mengenai analisis karbohidrat adalah praktikan dapat
menjelaskan dan melakukan cara kerja penentuan kandungan bahan pakan.
Adapun manfaat dari praktikum mengenai formulasi ransum adalah agar
praktikan lebih mengetahui kebutuhan ayam broiler terhadap suatu zat makanan
dan dapat menyusun suatu ransum sesuai dengan kebutuhan.
Manfaat dari pratikum mengenai mencampur sampel adalah agar praktikan
dapat mengetahui dan mengerti proses pencampuran ransum dengan baik, dan
juga mahasiswa mendapatkan pengalaman cara-cara dan mencampur ransum serta
dapat memahami prinsip kerja dalam mencampur ransum. Sehingga nantinya
kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam
bidang peternakan.
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ketaren ,﴾2008), menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki fungsi
masinng – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda.
Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan
alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa
kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-alat yang
berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti
thermometer,hygrometer dan spektrofotometer,dll. Alat-alat pengukur yang
disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti
thermograph,barograph ( Moningka, 2008).
Dari uraian tersebut,tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan
mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang
bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada
pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan
reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu
pengukuran atau penentuan (Moningka,2008).
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik,
fisik dan kimiawi (Indra, 2008) :
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori
sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada
saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas,
misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
• Pemanasan
a)Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung,
contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.b)Panas kering: sterilisasi
dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang
terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer,
15
tabung reaksi dll. C) Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan
yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi
dehidrasi.d) Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf.
• Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya
untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety
Cabinet dengan disinari lampu UV.
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara
lain alkohol.
Tanur sama jenis kegunaannya dengan oven, namun yang membedakan
kedua alat ini ialah dimana tanur mempunyai derajat suhu yang lebih tinggi dari
pada oven, sehingga setiap pakan yang dipanaskan menggunakan tanur akan
berubah menjadi abu (Prawirokusumo, 2008).
Tabung destruksi sepenuhnya terbuat dari gelas yang mudah sekali pecah apabila
saat melakukan percobaan harus berhati-hati karena bahan perangkat tersebut
sangat mudah sekali retak atau pecah (Debniknas, 2009).
Mikroskop adalah alat yang paling khas dalam laboratorium mikrobiologi
yang memberikan perbesaran yang membuat kita dapat melihat struktur
mikroorganisme yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Mikroskop yang
tersedia menungkinkan jangkauan perbesaran yang luas dari beberapa kali hingga
ribuan kali (Lay,2008).
Antonie Van Leuwenhook adalah orang yang pertama kali melihat bakteri
dengan menggunakan instrumen optik yang terdiri atas lensa bikonvens. Pada
waktu itu ia menemukan bakteri dalam berbagai cairan, diantara cairan tubuh, air,
ekstrak lada, serta bir. Penemuan mikroskop pada waktu itu membuka peluang
unttuk dilakukannya penelitian mengenai proses terjadinya fermentasi dan
penemuan jasad renik penyebab penyakit (Ferdias, 2008).
Andrea,2009, Kandungan nutrisi Jagung adalah: Karbohidrat 70%, Protein
10%, Air 11% sehingga pakan jagung dimasukkan ke dalam bahan pakan sumber
energi, karena kandungan proteinnya di bawah 20%, biasanya jagung semakin
kuning berarti kandungan nutrisinya lebih baik.
16
Anggoro,2008, Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang
dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga
antibiotika bagi ternak.
Ardina,2008, Aditif bahan konsentrat, aditif bahan suplemen dan aditif
bahan premix. Pakan aditif adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada
ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas
produksi. Selain itu merupakan tambahan umum digunakan dalam meramu pakan.
Budianto,2009, Bahan pakan untuk ternak adalah segala sesuatu yang
diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik maupun anorganik yang
sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak yang
mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial.
Selenium adalah salah satu contoh mineral yang baik untuk ternak.
Dodo,2009, Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang
dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh dan terdapat 6 macam zat
pakan yaitu: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin.
David,2008, Zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh antara lain:
karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial juga tersedia dalam
buah atau bijian seperti jagung dan kacang.
Jefriko,2008, Pakan Sumber Karbohidrat merupakan senyawa yang
banyak terdapat di alam terutama dalam tumbuhan dan hewan dan sangat berguna
bagi sumber energi, dan zat-zatnya terdiri atas Mono,Di, dan Polisaccarida.
Karina, 2008. Fungsi dari protein adalah sumber energi, suber gula darah,
sumber glikogen, sumber bagian-bagian kerangka karbon untuk sintesis protein,
dan sumber gula air susu bagi ternak.
Kertanegara,2009, Molekul protein adalah sebuah polimer-polimer dari
asam-asam amino yang digabungkan dengan ikatan-ikatan peptida.
Liliana,2008, Fungsi-fungsi protein dan asam-asam nukleat dalam tubuh
yaitu membangun dan menjaga protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan
asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh, Menyediakan
sumber lemak tubuh ternak.
17
Lora,2008, Fungsi protein lain yaitu untuk menyediakan sumber gula
darah, sumber beberapa hormon dalam tubuh, menyediakan komponen tertentu
dari DNA, menyediakan komponen tertentu dari RNA, dan menyediakan
komponen tertentu dari ATP.
Mahmuddin,2008, Pakan sumber vitamin merupakan katalisator yang
penting sekali dalam reaksi biokimia yang sangat penting dan selalu terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
Melinda,2009, Umumnya vitamin digunakan untuk mendesain senyawa
organik yang merupakan komponen pakan alamiah berbeda dari protein,
karbohidrat dan lemak, dan berada dalam pakan normal dalam konsentrasi sangat
kecil, serta penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal.
Nanda,2008, Vitain A, D, dan E banyak diperoleh dari hijauan yang
merupakan pakan pokok bagi ruminansia. Karena kemampuan mensintesis
vitamin B kompleks dan vitamin K.
Nelly,2009, Saat ini lebih dari 60 unsur mineral yang diketahui, yang
terdiri dari mineral makro dan mineral mikro dalam bahan makanan dan jaringan
tubuh.
Diantara bahan pakan sumber protein tepung ikan merupakan bahan pakan
yang paling baik dan superior dibandingkan dengan yang lainnya (Nurhayati, et
all, 2008).
Renova,2009, Apabila produksi tidak normal berarti terjadi
ketidakseibangan energi dan protein, kalau protein dan energi sudah seimbang
namun produksi juga tidak normal maka kemungkinan besar terjadi desiensi,
kelebihan atau ketidakseimbangan mineral.
Sartika,2008, Unsur-unsur yang membentuk bagian dari abu yang telah
mengalami pembebasan dari komponen organik, itulah yang kita sebut dengan
sebagai mineral, abu atau unsur-unsur organik.
Sudibyo,2008, Feed additive adalah imbuhan yang umum digunakan
dalam meramu pakan ternak, biasanya penambahan bahan hanya dalam jumlah
yang sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan
additive bahan premix atau campuran.
18
Urmadi,2009, Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan mineral
yaitu antara lain: jenis dan level produksi, Bentuk ikatan kimia, Bangsa ternak,
Proses adaptasi, Tingkat konsumsi, Umur hewan, Interksi dengan mineral lain.
Fungsi mineral ialah sebagai struktur kerangka, fungsi homeostatis, dan fungsi
utamanya ialah sebagai struktural.
Walfin,2008, Feed additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan
pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun
kualitas produksi.
Bradford ﴾2008﴿ menyatakan komposisi makanan ternak yang
mengandung protei perlu mendapatkan perhatian dalam menyusun bahan pakan
ternak. Sedangkan biji bijian, buah buahan, dan ayuran lain miskin akan vitamin.
Choct, M. (2008), menyatakan bahwa komoditi jagung sangat respon
terhhap industri pakan ternak dan industri pengolahan baik untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku makanan ternak sehari hari.
Oment, dkk. (2008), yang menyatakan bahwa suatu bahan makana ternak
sangat baik jika mengandung sumber-sumber yang baik dan lebih baik jika
mengandung protein yang tinggi.
Selanjutnya pendapat dari ooment dinyatakan atau didukung dengan
pendapat ( Yullen 2008), yang menyatakan bahwa hijauan makanan ternak
mengandung berbagai sumber sperti sumber protein, sumber vitamin, sumber
karbohidrat, sumber mineral.
Parning, (2008).menyatakan bahwa bahan pakan merupakan sesuatu yang
dapat dimakan oleh ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan
nabati, sumber energi, sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan
mencukupi kebutuhan dari ternak.
Sunarso et al. (2009), Bahan pakan (bahan makanan ternak) adalah segala
sesuatu yang diberikan kepada ternak (baik berupa bahan organik maupun
organik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganngu
kesehatan ternak.
19
Ella. H. (2008), Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan
yang dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh (ada 6 macam zat
pakan: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin).
Waha. (2009), menyatakan bahwa zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh
antara lain: karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial juga
tersedia dalam buah maupun daun jagung.
Tilman, (2009), Pemakaian dedak halus dalam jumlah banyak dalam
ransum,akan terjadi kekurangan isoleusin dan treonin yang gejala-gejalanya sama
dengan kekurangan lisin
Hartadi,(2008), Tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik
untuk unggas karena mengandung asam-asam amino esensial yang cukup untuk
kebutuhan ayam dan sumber utama dari lisin dan merhionin.
Soekanto, (2008), Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga
menjadi sumber energi didalam ransum, jagung mempunyai kadar triftopan yang
rendah.
Adnan,2008,mengatakan bahwa Hijauan makanan ternak (rumput dan legum)
sampai hasil dan limbah tanaman pertanian dengan jumlah air yang terkandung
didalamnya sangat beragam berat jenis airnya dan walaupun telah dikeringkan
dengan jumlah berat awal yang sana akan tetapi hasilnya akan berbeda. Pada
preparasi sampel, terdapat teknik pemanfaatan bahan pakan dengan konversi
penggunaan bahan pakan yang sesuai pada standarnya.
Anggoro,2008,mengatakn bahwa Feed additive merupakan bahan
makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin,
mineral-mineral dan atau juga antibiotika bagi ternak.
Carita,2008,mengatakan bahwa Pengurangan kadar air dengan pelayuan
perlu ditentukan lama dan KA akhir yang diperoleh. Demikian juga penambahan
air pada bahan dengan KA yang rendah, diperlukan perhitungan yang lebih
cermat.
Dedyarso,2009, Kadar air yang terdapat didalam bahan makanan akan
menguap disebabkan oleh panas yang tersisa dimana dengan melakukan
20
pengeringan secara alami dan secara buatan maka yang tertinggal hanyalah bahan
keringnya saja.
Ernidian,2008, Bahan pakan (bahan makanan ternak) adalah segala
sesuatu yang diberikan kepada ternak (baik berupa bahan organik maupun
organik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganngu
kesehatan ternak.
Galuh,2009, Dalam penentuan kadar air dari setiap sampel-sampel dapat
berasal dari tumbuh tumbuhan maupun hewan dan hasil ikutan lainnnya dengan
kadar air yang berragam jumlah dan keadaan normalnya.
Gursiyanti, (2009) menyatakan bahwa jangka pengambilan sampel harus
dilakukan secara aselektif dan selektif dan penyimpanan bahan pakan yang lama.
Ikalita,2008, Koefisien cerna yang ditentukan secara In vivo biasanya 1%
sampai 2 % lebih rendah dari pada nilai kecernaan yang diperoleh secara In vitro.
Pencernaan ruminansia terjadi secara mekanis, fermentative, dan hidrolisis.
Joko,2008, Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang
dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh dan terdapat 6 macam zat
pakan yaitu: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin.
Karim,2011, Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil
secara acak dari bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi. Dalam pengambilan
sampel suatu bahan harus dilakukan secara benar agar diperoleh sampel yang
benar-benar representative.
Laura,2008, Aditif bahan konsentrat, aditif bahan suplemen dan aditif
bahan premix. Pakan aditif adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada
ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas
produksi. Selain itu merupakan tambahan umum digunakan dalam meramu pakan.
Martha,2008, Bahan pakan untuk ternak adalah segala sesuatu yang
diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik maupun anorganik yang
sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak yang
mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial.
Selenium adalah salah satu contoh mineral yang baik untuk ternak.
21
Walfin,2010, Feed additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan
pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun
kualitas produksi.
Adnan.2008. Formulasi ransum adalah upaya untuk mengkombinasikan
berbagai macam bahan makananternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan
zat makanan dengan meniminalkan biaya yang ditimbulkan akibat penyusunan
ransum tersebut.
Carlia.2008. Makanan sumber protein adalah semua bahan makanan yang
mempunyai kandungan protein 20% atau lebih,baik makanan berasal dari
tumbuhan maupun hewan.
Darmani.2008. Pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas
maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu
agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya
disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Penggantian
ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus,
tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum
finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum
finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher
75% dan hari terakhir diberi ransum finisher seluruhnya. Jika tahapan ini tidak
dilakukan maka nafsu makan ayam menurun untuk beberapa hari dan
dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan.
Ekanita.2009. Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang
umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil
daging.
Farhan.2010. Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai
kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang
dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih & cepat tumbuh.
Farida.2008. Ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami
pertumbuhan pesatpada umur 1 – 5 minggu. Selanjutnya dijelaskan bahwa ayam
broiler yang berumur 6 minggu sudah sama besarnya dengan ayam kampung
dewasa yang dipelihara selama 8 bulan. Keunggulan ayam broiler tersebut
22
didukung oleh sifat genetic dan keadaanlingkungan yang meliputi makanan,
temperature lingkungan dan pemeliharaan.
Galuh.2008. Kadar protein rata-rata dedak gandum adalah 15%; kadar
lemak 9% dan biasanya kadar serat kasarnya tidak lebih dari semua bahan
makanan ternak, akan tetapi dedak tersebut rendah kadar kalsiumnya.
Kandungannya adalah 1,1% fosfor, tetapi hanya 1,14% kalsium. Bahan makanan
ini kaya akan masin dan tinggi kadar thiaminnya. Tetapi rendah kadar
riboflavinnya.
Harmoko.2008. Kandungan dalam dedak gandum adalah serat kasar
89,29%; protein kasar 16,89%; serat kasar 9,91%; lemak kasar 3,59%; abu 4,96%,
dan BETN 64,9%.
Intan.2008. Ransum seimbang atau ransum serasi adalah ransum yang
mengandung semua nutrien yang dibutuhkan ternak sesuai dengan tujuan
pemeliharaan.
Klementina.2008. Formulasi Ransum untuk ayam pedaging dibedakan
menjadi dua macam yaitu ransum untuk periode starter dan periode finisher. Hal
ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan nutrien ransum sesuai dengan periode
pertumbuhan ayam.
Kronika.2008. Ransum merupakan sumber utama kebutuhan nutrien
ayam broiler untuk keperluan hidup pokok dan produksinya karena tanpa
ransum yang sesuai dengan yang dibutuhkan menyebabkan produksi tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
Laurent.2009. Oleh karena sifatnya volumeous dan berserat tinggi serta
sifat yang dipunyai tidak mengijinkan digunakan terlalu banyak pada ransum.
Leo.2008. Khusus untuk ransum broiler, maka ransum broiler hendaklah
memiliki nisbah kandungan energi-protein yang diketahui, kandungan
proteinnya tinggi untuk menopang pertumbuhannya yang sangat cepat,
mengandung energi yang lebih untuk membuat ayam broiler dipanen cukup
mengandung lemak.
23
Nana.2008. Konsumsi ransum ayam broiler merupakan cermin dari
masuknya sejumlah unsur nutrien kedalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk ini
harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya.
Okta.2008. Pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan-
lahan kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum
setelah itu menurun kembali hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang
paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian
mengalami penurunan.
Ratno.2009. Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum
yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan.
Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan
untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit.
Ratih.2008. Nutrien tersebut adalah energi, protein, serat kasar, kalsium
(Ca) dan fosfor (P). Sumber energi utama yang terdapat ransum ayam broiler
adalah karbohidrat dan lemak. Energi metabolisme yang diperlukan ayam
berbeda, sesuai tingkat umurnya, jenis kelamin dan cuaca. Semakin tua ayam
membutuhkan energi metabolisme lebih tinggi.
Rahardja.2010. Energi yang dikonsumsi oleh ayam digunakan untuk
pertumbuhan jaringan tubuh, produksi, menyelenggarakan aktivitas fisik dan
mempertahankan temperatur tubuh yang normal.
Reno.2008. Menyatakan bahwa kebutuhan energi untuk ayam broiler
periode starter 3080 kkal/kg ransum pada tingkat protein 24%, sedangkan
periode finisher 3190 kkal/kg ransum pada tingkat protein 21%. Angka kebutuhan
energi yang absolut tidak ada karena ayam dapat menyesuaikan jumlah rasnsum
yang dikonsumsi dengan kebutuhan energi bagi tubuhnya.
Revika.2008. Kandungan protein dalam ransum untuk ayam broiler
umur 1-14 hari adalah 24% dan untuk umur 14-39 hari adalah 21%.
Riandy.2008. Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat
digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum.
Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi
dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu.
24
Sandra.2008. Menyatakan salah satu ukuran efisiensi adalah dengan
membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang
diperole baik itu daging atau telur (output).
Shella.2008. Nilai suatu ransum selain ditentukan oleh nilai konsumsi
ransum dan tingkat pertumbuhan bobot badan juga ditentukan oleh tingkat
konversi ransum, dimana konversi ransum menggambarkan banyaknya jumlah
ransum yang digunakan untuk pertumbuhannya.
Sintha.2008. Semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas
ransum semakin baik. Nilai konversi ransum dapat dipenuhi oleh beberapa factor,
diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui alat
pencernaan, bentuk fisik, dan konsumsi ransum.
Solihin.2008. Bahwa kebutuhan energi metabolis berhubungan erat
dengan kebutuhan protein yang mempunyai peranan penting pada pertumbuhan
ayam broiler selama masa pertumbuhan.
Tandirta.2010. Nilai konversi ransum berhubungan dengan biaya
produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi ransum maka
biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang dikonsumsi untuk
menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin tinggi. Nilai
konversi ransum ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang
dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi
ransum semakin rendah.
Teriska.2008. Persentase serat kasar yang dapat dicerna oleh ternak ayam
sangat bervariasi. Efeknya terhadap penggunaan energi sangat kompleks. Serat
kasar yang tidak tercerna dapat membawa nutrien lain yang keluar bersama feses.
Tika.2008. Kesanggupan ternak dalam mencerna serat kasar tergantung
dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak tersebut dan tergantung pula
dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan. Ternak ayam
tidak dapat memanfaatkan serat kasar sebagai sumber energi.
Tjatiro.2009. Serat kasar ini masih dibutuhkan dalam jumlah kecil
oleh unggas yang berperan sebagi bulky, untuk memperlancar pengeluaran
feses.
25
Udin.2008. Serat kasar yang berlebihan akan mengurangi efisiensi
penggunaan nutrien-nutrien lainnya, sebaliknya apabila serat kasar yang
terkandung dalam ransum terlalu rendah, maka hal ini juga membuat ransum
tidak dapat dicerna dengan baik.
Ulfa.2008. Kebutuhan anak ayam (starter) akan kalsium (Ca) adalah
1% dan ayam sedang tumbuh adalah 0,6%, sedangkan kebutuhan ayam
akan fosfor (P) bervariasi dari 0,2-0,45% dalam ransum.
Uriph.2010. Ransum ternak unggas perlu mengandung mineral Ca dan P
dalam jumlah yang cukup. Peranan Ca dalam tubuh ternak unggas tercermin jelas
bahwa 70-80% tulang ternak terdiri atas Ca dan P.
Vindra.2009. Ca dan P adalah mineral esensial, dan keduanya saling
berhubungan erat dalam proses biologis ternak ayam. Nisbah Ca dan P antara
1:1-2:1. Apabila nisbahnya tidak tepat selanjutnya dapat mempengaruhi
penyerapannya.
Wahyu.2009. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi
lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100
ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari)
4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi
jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6
liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi
tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang
diberikan adalah 50 gram/liter air.
Wiryosuharto. S (2008) menyatakan bahwa bahan pakan sumber
protein adalah bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein 20 % atau
lebih, baik berasal dari hewan maupun tanaman.
Kamal, (2008) menyatakan bahwa air dalam analisis proksimat adalah
semua cairan yang menguap pada pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu
1050-1100C dengan tekanan udara bebas sampai sisa yang tidak menguap
mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari suatu bahan
sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan tersebut.
26
Soejono (2008) menyatakan bahwa analisis proksimat karena hasil yang
diperoleh hanya mendekati nilai yang sebenarnya, oleh karena itu untuk
menunjukkan nilai dari system analisis proksimat selalu dilengkapi dengan istilah
minimum atau maksimum sesuai dengan manfaat fraksi tersebut.
Tillman et al., (2008) menyatakan bahwa Sampel makanan ditimbang
dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven dengan suhu
105ᵒC. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah
pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan
penggunaanya dengan sampel disebut kadar air.
Utomo (2009) menyatakan bahwa hijauan pakan segar berkadar air
sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan
pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry
weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering udara
dan sering disebut kondisi as fed (keadaan apa adanya).
Prawiradiputra.Dkk, (2011) menyatakan bahwa pakan hijauan
merupakan pakan utama bagi ternak sapi, hijauan pakan ternak terdiri dari rumput
dan legume.
Siregar. S, (2009) menyatakan bahwa bahan yang berasal dari hewan
seperti tepung daging, tepung tulang, tepung kerabang telur, dan lain sebagainya
adalah bahan makanan yang bekosentrasi tinggi, dengan kadar serat kasar rendah
dan mudah di cerna.
Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan
pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki
jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi
dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga
merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 2010). Lemak
yang dioksidasi secara sempur-na dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak,
sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2
kalori/g (Sediatama 2009).
Minyak dan lemak terdiri atas trigliserida campuran, yang merupakan ester
dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Minyak dan lemak dapat diperoleh
27
dari hewan maupun tumbuhan. Minyak nabati terdapat dalam buah- buahan,
kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan sayuran. Trigliserida dapat
berwujud padat atau cair,bergantung pada komposisi asam lemak yang
menyusunnya. Sebagian besar minyak nabati berbentuk cair karena mengandung
sejumlah asam lemak tidak jenuh, sedangkan lemak hewani pada umumnya
berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak mengandung asam lemak jenuh.
Kacang-kacangan (Leguminoceae) merupakan bahan pangan yang kaya
akan protein dan lemak. Agar asam-asam lemak dalam kacang-kacangan dapat
ditentukan, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi minyak dan lemak antara lain
ekstraksi dengan pelarut (solvent extraction) menggunakan heksan dan
seperangkat soklet. Selanjutnya dilakukan esterifikasi untuk mengubah asam-
asam lemak trigliserida menjadi bentuk ester. Pengubahan bentuk ini dilakukan
untuk mengubah bahan yang nonvolatil menjadi volatil. Untuk menentukan jenis
asam lemaknya dapat digunakan kromatografi gas. Pemisahan akan terjadi untuk
setiap komponen asam lemak yang terdapat pada kacang-kacangan mengikuti
ukuran panjang rantai asam lemak, dari yang terkecil sampai yang terbesar yang
dibawa oleh fase gerak yang digunakan (H2, N2, dan O2). Pemisahan ini disebut
size exclution chromatography. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui
komposisi kimia beberapa komoditas kacang-kacangan.
Lemak sekelompok molekul yang terdiri karbon, hidrogen, dan oksigen
meliputi asam lemak, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak ( vitamin A, D,
E, dan K) Lemak secara khusus mempunyai sebutan minyak hewani pada suhu
ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan
tubuh yang disebut adiposa (Anonim 2010).
Analisis proksimat merupakan analisis yang diambil dari bahan pakan
yang menguap serta bahan yang tinggal adalah bahan kering yang dapat dihitung
pada penentuan kadar air. Anonymous (2009).
Analisis proksimat adalah analisis terhadap suatu bahan yang menyangkut
air, protein, lemak, abu dan serat. Arora (2008).
Dengan serat kasar adalah sisa bahan makanan yang telah mengalami
proses pemanasan dengan asam kuat selama 30 menit yang dilakukan di
28
laboratorium. Berdasarkan pengujian serat kasar dengan SNI 01-2891-1992 harus
memenuhi persyaratanh mutu yang telah ditentukan yaitu 7 %. Djojosoebagjo
(2010).
Penentuan kadar abu yaitu usaha untuk mengetahui kadar abu, dalam
analisis secara umum ditentukan dengan membakar bahan pakan biasanya hanya
zat-zat organik selanjutnya ditimbang, sisanya disebut abu. M. Rasyaf (1990)
Kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni
melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan
karoten. Yunus (2009).
Protein merupakan komponen penting yang terdapat dalam makanan, dari
hasil penelitian bahwa protein sangat berkualitas tinggi. Sutardi (2010).
Analisis proksimat adalah analisis atau pengujian kimia yang dilakukan
untuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut dalam industri menjadi barang
jadi. Moore (2010).
Bahan pakan formulasi ransum terdapat perhitungan proksimat yang
terdiri dari beberapa bagian yang mesti diperhitungkan pada penelitian tersebut.
Praworo (2009).
Dalam menyusun ransum kadar air bahan terpiilih harus diketahui dengan
tepat atau setidaknya mendekati, disamping kadar nutrisi yang lain sehingga
ransom yang kita susun akan mengandung zat-zat gizi yang tepat dan serasi sesuai
dengan kebutuhan ternak yang dipelihara. ( Anggorodi.2010)
Tubuh dapat kehilangan semua lemak, setengah atau lebih protein akan
tetapi bila kekurangan 0,1 bagian dari kadar air yang normal ada dalam tubuh
akan mengakibatkan kematian. Jadi ternak akan lebih menderita jika kekurangan
air dari pada kekurangan protein, karbohidrat, lemak, vitamin atau
mineral.(Maynard dan Loosli.2009)
. Andrew (2008) menyatakan bahwa untuk memperoleh kadar BETN
tidak boleh ada nilai kadar air, abu, protein, lemak dan serat kasar yang lebih dari
100. Sebab jika lebih dari seratus, maka akan diperoleh nilai BETN yang minus
atau negatif. Jika BETN minus, berarti ada kesalahan dalam perhitungan kadar air,
abu maupun dalam perhitungan yang lainnya
29
Ager, (2009) menyatakan bahwa metode pengeringan untuk determinasi
bahan kering pakan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, pengeringan
temperature rendah, peneringan temperature tinggi, dan pengeringan beku, namun
yang biasa dilakukan adalah pengeringan dengan temperature tinggi dengan
menggunakan oven pada usaha 105 C.
Hijuan merupakan bahan pakan ternak yang mempunyai kadar air yang
tinggi sekitar 70-80% dari Hijuan ( Parakkari,2009 ).
Lubis (2009) , dimana beliau menyatakan bahwa abu suatu bahan pakan
ditentukan dengan pembakaran bahan tersebut pada suhu tinggi (500-600o
c),dimana pada suhu ini bahan organik yang ada akan terbakar dan sisanya
merupakan abu.
Triaz (2008), dimana beliau menyatakan bahwa pada analisi protein kasar
terdapat kesalahan asumsi yaitu mengasumsikan semua nitrogen bahan pakan
merupakn protein padahal kenyataanya bahwa tidak semua nitrogen berasal dari
protein dan mengasumsikan bahwa kadar nitrogen protein 16 % padahal
kenyataanya kadar nitrogen protein tidak selalu 16 %.
Hari Hartadi (2009), yang menyatakan bahwa pada umumnya untuk
menguji kadar protein ditentukan kadar N secara kimiawi kemudian angka yang
diperoleh dikalikan 6,25 (100:16) faktor tersebut digunakan sebab Nitrat mewakili
sekitar 16% dari protein.
Benny, T ( 2008 ) menyatakan bahwa analisis proksimat adalah analisis
terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak, abu dan serat kasar.
Eszra.Y. (2010), yang mengatakan bahwa kandungan yang ada pada
lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa
zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten
Hendrik (2009), menyatakan bahwa istilah ekstrak erher adalah yang
paling tepat dalam analisis lamak karena dalam analisis proksimat senyawa
tersebut diperoleh setelah melakukan ekstraksi menggunakan pelarut lemak.
Adnan.2004. Formulasi ransum adalah upaya untuk mengkombinasikan
berbagai macam bahan makananternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan
30
zat makanan dengan meniminalkan biaya yang ditimbulkan akibat penyusunan
ransum tersebut.
Darmani.2001. Pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas
maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu
agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya
disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Penggantian
ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus,
tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum
finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum
finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher
75% dan hari terakhir diberi ransum finisher seluruhnya. Jika tahapan ini tidak
dilakukan maka nafsu makan ayam menurun untuk beberapa hari dan
dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan.
Ekanita.2006. Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang
umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil
daging.
Farhan.2007. Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai
kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang
dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih & cepat tumbuh.
Laurent.2005. Oleh karena sifatnya volumeous dan berserat tinggi serta
sifat yang dipunyai tidak mengijinkan digunakan terlalu banyak pada ransum.
Farida.2001. Ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami
pertumbuhan pesatpada umur 1 – 5 minggu. Selanjutnya dijelaskan bahwa ayam
broiler yang berumur 6 minggu sudah sama besarnya dengan ayam kampung
dewasa yang dipelihara selama 8 bulan. Keunggulan ayam broiler tersebut
didukung oleh sifat genetic dan keadaanlingkungan yang meliputi makanan,
temperature lingkungan dan pemeliharaan.
Galuh.2000. Kadar protein rata-rata dedak gandum adalah 15%; kadar
lemak 9% dan biasanya kadar serat kasarnya tidak lebih dari semua bahan
makanan ternak, akan tetapi dedak tersebut rendah kadar kalsiumnya.
Kandungannya adalah 1,1% fosfor, tetapi hanya 1,14% kalsium. Bahan makanan
31
ini kaya akan masin dan tinggi kadar thiaminnya. Tetapi rendah kadar
riboflavinnya.
Harmoko.2001. Kandungan dalam dedak gandum adalah serat kasar
89,29%; protein kasar 16,89%; serat kasar 9,91%; lemak kasar 3,59%; abu 4,96%,
dan BETN 64,9%.
Intan.2000. Ransum seimbang atau ransum serasi adalah ransum yang
mengandung semua nutrien yang dibutuhkan ternak sesuai dengan tujuan
pemeliharaan.
Klementina.2004. Formulasi Ransum untuk ayam pedaging dibedakan
menjadi dua macam yaitu ransum untuk periode starter dan periode finisher. Hal
ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan nutrien ransum sesuai dengan periode
pertumbuhan ayam.
Kronika.2000. Ransum merupakan sumber utama kebutuhan nutrien
ayam broiler untuk keperluan hidup pokok dan produksinya karena tanpa
ransum yang sesuai dengan yang dibutuhkan menyebabkan produksi tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
Leo.2003. Khusus untuk ransum broiler, maka ransum broiler hendaklah
memiliki nisbah kandungan energi-protein yang diketahui, kandungan
proteinnya tinggi untuk menopang pertumbuhannya yang sangat cepat,
mengandung energi yang lebih untuk membuat ayam broiler dipanen cukup
mengandung lemak.
Nana.2001. Konsumsi ransum ayam broiler merupakan cermin dari
masuknya sejumlah unsur nutrien kedalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk ini
harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya.
Okta.2001. Pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan-
lahan kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum
setelah itu menurun kembali hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang
paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian
mengalami penurunan.
Ratno.2006. Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum
yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan.
32
Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan
untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit.
Reno.2001. Menyatakan bahwa kebutuhan energi untuk ayam broiler
periode starter 3080 kkal/kg ransum pada tingkat protein 24%, sedangkan
periode finisher 3190 kkal/kg ransum pada tingkat protein 21%. Angka kebutuhan
energi yang absolut tidak ada karena ayam dapat menyesuaikan jumlah rasnsum
yang dikonsumsi dengan kebutuhan energi bagi tubuhnya.
Riandy.2001. Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat
digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum.
Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi
dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu.
Sandra.2001. Menyatakan salah satu ukuran efisiensi adalah dengan
membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang
diperole baik itu daging atau telur (output).
Teriska.2000. Persentase serat kasar yang dapat dicerna oleh ternak ayam
sangat bervariasi. Efeknya terhadap penggunaan energi sangat kompleks. Serat
kasar yang tidak tercerna dapat membawa nutrien lain yang keluar bersama feses.
Tika.2000. Kesanggupan ternak dalam mencerna serat kasar tergantung
dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak tersebut dan tergantung pula
dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan. Ternak ayam
tidak dapat memanfaatkan serat kasar sebagai sumber energi.
Tjatiro.2006. Serat kasar ini masih dibutuhkan dalam jumlah kecil
oleh unggas yang berperan sebagi bulky, untuk memperlancar pengeluaran
feses.
Udin.2003. Serat kasar yang berlebihan akan mengurangi efisiensi
penggunaan nutrien-nutrien lainnya, sebaliknya apabila serat kasar yang
terkandung dalam ransum terlalu rendah, maka hal ini juga membuat ransum
tidak dapat dicerna dengan baik.
Ulfa.2001. Kebutuhan anak ayam (starter) akan kalsium (Ca) adalah
1% dan ayam sedang tumbuh adalah 0,6%, sedangkan kebutuhan ayam
akan fosfor (P) bervariasi dari 0,2-0,45% dalam ransum.
33
Uriph.2007. Ransum ternak unggas perlu mengandung mineral Ca dan P
dalam jumlah yang cukup. Peranan Ca dalam tubuh ternak unggas tercermin jelas
bahwa 70-80% tulang ternak terdiri atas Ca dan P.
Vindra.2005. Ca dan P adalah mineral esensial, dan keduanya saling
berhubungan erat dalam proses biologis ternak ayam. Nisbah Ca dan P antara
1:1-2:1. Apabila nisbahnya tidak tepat selanjutnya dapat mempengaruhi
penyerapannya.
Ewing (2001) menyatakan bahwa ayam lebih menyukai bahan – bahan
makanan yang berwarna cerah. Unggas mengkonsumsi ransum kira-kira setara
dengan 5% dari bobot badan.
34
BAB III
MATERI DAN METODA
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dilaksanakan pada hari
Rabu, 2 April – 14 Juni 2014 pada pukul 14.00 Wib s/d selesai yang bertempat di
Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
3.2. Materi
Adapu metoda yang digunakan pada saat praktikum yaitu: neraca analitik,
eksikator, cawan porselin, oven, tanur, peralatan gelas, peralatan penyaring,
penjepit, alat Soklet, alat-alat tulis, eksikator oven 105 C, soxhlet, lemari asam,
pinset, sarung tangan, masker, tissue, kertas saring bebas lemak, batu didih, gelas
ukur, biuret, destilator, labu destruksi, labu destilasi, gelas piala, corong bucner,
pompa vacum dan pemanas listrik, Tabel Kebutuhan Ternak, Tabel komposisi
bahan makanan ternak, Kalkulator, terpal, unit bomb calorimeter, tabung oksigen,
termometer, alat pembuat pelet, kawat platina, larutan methyl orange, larutan
Na2CO3, Erlenmeyer, kertas saring dan penyaring, pipet, spektrofotometer,
aquades, larutan HCl, larutan NaOH, larutan fenol, larutan H2SO4, tepung bagas
tebu, tepung tongkol jagung, tepung ampas jamu, tepung biji karet, tepung kulit
durian, tepung kulit nanas, pelepah sawit, bungkil kelapa, tepung kelobot jagung,
jagung kasar, bungkil inti sawit, serbuk gergaji, tepung biji durian, tepung legume
callopogonium, tepung legume leucaena, tepung legume stylosanthes, tepung
ampas tahu, tepung jeroan ikan, dedak padi, minyak sayur, tepung cangkang telur,
tepung kulit kerang, tepung kulit duku, bungkil kedelai, tepung bulu ayam, serbuk
batu bata, rumput benggala, rumput kumpei, rumput gajah, rumput raja, legume
leucaena, feses ayam kampung, feses ayam broiler, feses kelinci, feses itik, feses
sapi, feses kuda, feses kambing, feses rusa, dedak, minyak sayur, top mix, jagung.
3.3. Metoda
Pada praktikum pengenalan alat-alat praktikum ini, para praktikan
melakukan pengenalan alat-alat laboratorium dan mengamati alat-alat tersebut.
35
Lalu para praktikan harus mengerti cara kerja dan fungsi dari alat-alat
laboratorium yang di amati tersebut dan kemudian menggambarnya dengan baik.
Metoda yang digunakan dalam pengenalan bahan pakan ini adalah pertama-
tama mengamati bahan-bahan yang telah tersedia atau bahan-bahan yang telah
dibawa setiap kelompok, setelah di amati kita diwajibkan untuk menentukan
bahan pakan tersebut termasuk kemana, baik sebagai sumber protein (bagaimana
bentuk fisiknya, tekstur, warna, dan bau), sumber energi baik berbentuk biji-bijian
(bentuk fisik, ukuran (mm) ada panjang dan lebar), berbentuk tepung (bentuk
fisik, warna, dan bau), berbentuk cairan (tingkat kekentalan, warna, bau, dan
rasa), sumber mineral (bentuk fisik, warna, dan bau), asal limbah pertanian/agro
atau pun by prodak industri (asal limbah, bentuk fisik, warna, dan bau), dan bahan
pemalsuan pakan (warna, dan bentuk).
Cara kerja atau metode yang dilakukan oleh praktikan pada praktikum
preparasi sampel ini yaitu praktikan menimbang bahan yang masih dalam keadaan
segar dimana berat itu adalah berat awal bahan tersebut setelah ditimbang
kemudian bahan di jemur hingga kadar air tidak ada kemudian ditimbang lagi dan
dihitung berat akhir lalu hitung kembali kadar air dan kadar bahan kering. Ada
pun cara lain yang dapat dilakukan seperti dilakukan berikut ini cawan perselen
yang telah dicuci bersih, dikeringan didalam oven ± 1 jam dengan temperatur
1050C. kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan
ditimbang, kemudian sampel sebanyak 0,5-1 gram dan dimasukkan dalam cawan
porselen. Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam oven 1050C
selama ± 12-16 jam, lalu cawan dan sampel dikeluarkan dari oven dan
didinginkan dalam eksikator selama ± 10-20 menit sampai diperoleh berat yang
tetap.
Metoda pada praktikum formulasi ransum, yaitu Tentukan jenis ransum
yang akan disusun terlebih dahulu, lalu tentukan bahan pakan yang akan
digunakan. Kemudian tentukan kandungan zat makanan masing-masing bahan
pakan penyusun ransum terpilih pada tabel komposisi zat makanan bahan pakan.
Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun dan perkirakan persentase
penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan pakan. Hitung kontribusi
36
zat gizi (PK, Sk, LK, Energi Metabolisme, dan Lemak) dari masing-masing jenis
bahan pakan. Bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan
kebutuhan ternak yang bersangkutan.
Metoda yang digunakan dalam Analisis Proksimat ini adalah kegiatan
pertama adalah :
Penentuan Kadar Air
Cawan porselan yang dicuci bersih, dikeringkan didalam oven selama +
1 jam dengan temperature 1050 C. Kemudian didinginkan didalam eksikator
sekitar 10-20 menit dan ditimbang (C). Sampel ditimbang sebanyak 0,5-1 gram
(D) dan dimasukan kedalam cawan porselan. Kemudian cawan dan sampel
tersebut dikeringkandalam oven 1050 C selama 12-16 jam. Cawan dan sampel (E)
dikeluarkan dari oven dan didinginkan dalam eksikator selama 10-20 menit
sampai diperoleh berat yang tetep.
Untuk menghitung kadar air tersebut digunakan rumus :
Kadar air (%X) = [berat cawan + berat sampel] – berat cawan + sampel
x 100 %
Berat sampel
= (C+D) – E x 100%
D
Penentuan Kadar Abu
Cawan porselan yang telah dicuci bersih di keringkan di dalam
ovensekitar 1 jam pada temperature 1050 C. Kemudian didinginkan di dalam
eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang dengan teliti (F). sampel ditimbang
dengan teliti sebanyak 3 gram untuk sampel hijauan atau 5 gram untuk sampel
konsentrat (G) dan dimasukan kedalam cawan porselan. Pijarkan sampel yang
terdapat dalam cawan porselen hingga tak berasap. Bakar cawan porselen berisi
sampel dalam tanur bersuhu 6000C.
Selanjutnya sampel di biarkan terbakar selama 3-4 jam atau sampai
warna berubah menjadi putih semua. Setelah sampel berwarna jadi putih,
37
kemudian dinginkan dalam tanur pada suhu 1200c sebelum di pindahkan ke dalam
eksikator. Setelah dingin di timbang dengan teliti (H).
Untuk menghitung kadar abu di gunakan rumus:
Kadar abu =
G
FH 
x 100 %
Penentuan Protein Kasar
Sampel di timbang dengan teliti sejumlah 0,3 gram ( I )dan masukkan ke
dalam labu destruksi dan ditambah kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml
H2SO4 pekat. Campuran tersebut di panaskan dalam lemari asam, dan
diperhatikan proses destruksi selama pemanasan agar tidak meluap. Destruksi
dihentikan bila larutan sudah menjadi hijau terang atau jernih, lalu dinginkan
dalam lemari asam. Selanjutnya larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dan
diencerkan dengan 60 ml aquades dan dimasukkan beberapa buah batu didih.
Ditambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40% dan segera
dihubungkan dengan destilator. Sulingan ( NH3 dan air ) ditangkap oleh labu
erlemeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3N dan 2 tetes indikator campuran
(metylen red 0,1% dan bromcerol green 0,2% dalam alcohol). Penyulingan
dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut tertangkap oleh H2SO4 yang ada
dalam erlemeyer (2/3 dari cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau
terjadi letupan-letupan kecil atau erlemeyer mencapai volume 75ml). labu
erlemeyer berisi sulingan diambil dan dititer kembali dengan NaOH 0.3N ( J ).
Perubahan dari warna biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi dibandingkan
dengan titer blanko ( K ).
Untuk menghitung protein kasar digunakan rumus :
Protein kasar (%) = %100
25,6014,0)(
x
I
xxNaOHNormJK 
Penentuan Lemak Kasar
Sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 1 gram (L) dan dibungkus
dengan kertas saring bebas lemak. Keringkan dalam oven 1050C selama 5 jam,
didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (M),Sampel dimasukkan dalam
tabung ekstraksi soxhlet. Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat kondensor
38
dengan corong. Alat pendingin dialirkan dan panas di hidupkan. Ekstraksi
berlangsung selama 16 jam sampai pelarut pada alat soxhet terlihat jernih sampel
di keluarkan dari alat soxhlet dan di keringkan dalam oven 1050c selama 5 jam,
kemudian di dinginkan dalam eksikator dan ditimbang (N).
Menghitung lemak = %100x
L
NM 
Penentuan serat kasar
Kertas saring hatman No 41 dikeringkan di dalam oven 105 OC selama 1
jam dan ditimbang (O). sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 1 gram (P) dan
dimasukkan dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 n dan
didihkanselama 30 menit. Selama 30 menit didihkan tambahkan dengan cepat
50ml NaOH 1,5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Selanjutnya cairan
disaring melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya daalm corong buncer
yang telah dihubungka dengan pompa vacuum. Kertas saring bersama residu
dimasukkan dalam cawan porselinbersih dan kering oven. Cawan berisi sampel
dikeringkan dalam oven 105 OC sampai didapat berat yang konstan didinginkan
dalam eksikator dan ditimbang (Q). sampel dipijarkan dalam cawan hingga tak
berasap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan dalam tanur 600 OC selam
a 3-4 jam. Setelah isi cawan berubah menjadi abu yang berwarna putih, diangkat,
didinginkan dn ditimbang (R).
Untuk menghitung serat kasar digunakan rumus.
Seart kasar (%) = Q-R-O x 100 %
P
Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN)
Kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) ditentukan dengan
mengurangi total kandungan zat makanan dalam bahan pakan dengan persentase
air, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar.
Rumus: BETN (%) = 100 % - (% air + % abu + % Pk + % Lk + % Sk )
Metoda yang digunakan dalam mencampur ransum yaitu Kelompokkan
bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus (misalnya garam,
39
premix, CaCO3) dan campurkan sampai rata, Jika menggunakan dedak dan
minyak sawit, campurkan keduanya terlebih dahulu. Setelah itu tambahkan tepung
ikan, bungkil kedele, jagung dan bahan lainnya. Campurkan semua bahan tersebut
sampai rata dan homogen.
Metoda yang digunakan dalam menentukan energi bruto adalah pertama,
sampel dalam bentuk pellet ditimbang 0,5 – 1 gram. Sampel dimasukkkan
kedalam cawan bomb, kemudian disentuhkan kawat platina sepanjang 10 cm pada
sampel dalam tabung bomb. Kemudian tabung bomb distabilkan dengan memutar
tombol pemutar selama 5 menit, setelah itu dicatat suhu awal (TM). Sampel
dibakar dengan menekan tombol pemutar pada alat parr ignition, biarkan
temperature naik sampai stabil (lebih kurang 5 menit), setelah itu suhu dicatat
sebagai suhu akhir (TA).kemudian, buka calorimeter, keluarkan tabung bomb dan
buang oksigen dari bomb, lalu cuci bagian dala, tabung dan cawan bomb dengan
menyeprotkan akuades dan berii beberapa tetes larutan methyl orange. Titer
dengan larutan Na2CO3 dampai berbah warna, catat volume titrasi yang terpakai.
(E1). Dan yang terakhir adalah kawat yang terbakar diukur dengan skala dari
kawat yang tidak terbakar (E2).
Dengan rumus sebagai berikut:
𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 (
𝑘𝑎𝑙
𝑔𝑟𝑎𝑚
) =
(TA − TM)x W − E1 − E2
berat sampel x % BK
40
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 PENGENALAN ALAT – ALAT LABORATORIUM
Tabel 1. Pengenalan alat – alat laboratorium
Literatur Fungsi alat
Lemari Asam Tempat untuk mereaksikan zat, pemanasan, dan
pekerjaan lain yang menghasilkan asap/ uap yang
membahayakan kesehatan. Juga untuk menyimpan
benda-benda ataupun larutan yang mudah menguap.
Eksikator (Botol
Pengering)
Digunakan untuk menyimpan zat supaya tetap kering
atau untuk mengeringkan zat.
Neraca analitik Pada neraca analitik angka untuk massa benda langsung
muncul ketika kita menimbangnya.
Neraca digital ini juga termasuk neraca kasar.
41
Oven Digunakan untuk mengeringkan bahan. Ada oven 60⁰C
(kering matahari) dan oven 105⁰C (kering BK).
Cawan Petri Berfungsi untuk mengembangbiakan mikroba baik
secara aerob maupun anaerob dengan media agar-agar.
Labu Erlenmeyer Berfungsi sebagai wadah titrasi dan juga untuk
mereaksikan zat.
Corong Kaca Digunakan untuk memindahkan larutan ke wadah yang
bermulut kecil dan juga untuk penyaringan.
42
Gelas Ukur Digunakan untuk mengukur volume suatu larutan
dengan tudak tepat.
Gelas Piala Berfungsi untuk wadah pemanasan, mereaksikan cairan
dan membuat endapan dalam jumlah yang besar
Buret Digunakan untuk titrasi dan mengeluarkan cairan
dengan volume secara sembarang tetapi tepat.
Tanur Berfungsi untuk penentuan kadar abu suhunya 300ºc –
600ºc
43
Cawan porselin Wadah atau tempat sampel
Alat socklet Untuk destilasi larutan. Juga untuk penentuan lemak
kasar.
Pompa semprot Sebagai alat bantu untuk memasukkan zat kedalam
biuret.
Timbangan Manual. untuk menimbang sampel secara manual.
44
Corong Buncher Digunakan dalam penentuan serat kasar.
Pompa Vakum Untuk membantu penyaringan dalam serat kasar.
Digunakan saat terjadi penyulingan dan untuk
proses destilasi.
45
Labu destruksi Digunakan pada proses destruksi dan biasanya juga
dipakai di lemari asam.
Pipet Biasa digunakan untuk proses pengambilan zsat atau
sampel.
Destilator Alat yang digunakan pada proses destilasi.
Gelas kimia Sebagai wadah memanaskan sampel, tempat cairan
yang ingin diuji,untuk mereaksikan sampel yang
akan diabalisis.
46
Cawan petri Sebagai wadah tempat penelitian mikroba.
Penjepit Untuk membantu mengambil dan mengangkat
sampel
Pengenalan alat - alat laboratorium salah satu komponen penting dalam
melaksanakan kegiatan praktikum di dalam laboratorium dengan perlengkapan
laboratorium ini mempunyai fungsi yang beragam mulai dari yang sangat spesifik
untuk pengujian zat tertentu hingga yang bersifat universal, hal ini sesuai
pendapat Ketaren ,﴾2008), menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki
fungsi masinng – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda. Yaitu
sebagai berikut :
Gambar.1 Neraca atau timbangan
Fungsi dari pada neraca atau timbangan pertama berfungsi untuk
menimbang dalam jumlah sekala paling kecil, dan neraca bisa juga digunakan
untuk menimbang ukuran yang paling besar, dan juga berfungsi untuk menimbang
sampel dengan jumlah yang besar.
47
Gambar.2 Oven
Oven berfungsi untuk memanaskan sampel atau bahan dengan suhu yang
digunakan adalah 105°C sehingga otomatis kadar airnya akan berkurang dengan
kata lain oven juga digunakan sebagai merubah sampel atau bahan menjadi sisa
bahan kering.
Gambar.3 Eksikator
Eksikator berfungsi untuk mendinginkan sampel atau bahan setengah
dipanaskan dengan oven , dengan syarat : bahan atau sampel yang masih panas
tidak boleh langsung dimasukkan kedalam eksikator terlebih dahulu dimana
didalam tabung eksikator terdapat butir-butiran ( Silika gell) yang berfungsi untuk
menyerap panas suatu bahan atau sampel, dan untuk membuka tutupnya harus
digeser dan tidak boleh diangkat begitu saja.
48
Gambar.4 Cawan porselin
Cawan porselin berfungsi untuk menempatkan sampel yang akan
dipanaskan dan sebagai alat yang digunakan untuk tempat sampel yang akan
diteliti atau di praktikumkan dan mengusahakan agar suhu didalam cawan
porselin tersebut tidak terkontaminasi dengan suhu udara luar.
Gambar.5 Tanur
Tanur berfungsi untuk memanaskan sampel atau bahan yang digunakan
pada suhu 400- 600°C hingga sampel berubah menjadi abu, biasanya digunakan
untuk mengukur kadar abu dari pada suatu percobaan.
49
Gambar.6 Biuret
Buret berfungsi untuk meneteskan zat yang akan digunakan untuk
penelitian atau pencamuran suatu bahan percobaan. Dan juga berfungsi untuk
sebagai mentitrasi cairan, pada skala buret ini lebih akurat dibandingkan dengan
gelas ukur.
Gambar.7 Pipet
Berbagai jenis dari pipet: Pipet ukur:Untuk mengukur volume larutan
dengan tingkat ketelitian yang tinggi (Untuk mengukur volume larutan sesuai
dengan ketentuan yang ada pada pipet.0,01 mm).Pipet gondok: Untuk mengukur
volume larutan sesuai dengan ketentuan yang ada pada pipet.Pipet
tetes:Digunakan untuk memindahkan beberapa tetes zat cair.Ball pipet:Sebagai
pasangan antara pipet ukur dan pipet gondok yang disertai dengan tanda untuk
menghisap(↑) dan untuk mengeluarkan larutan (↓).
Berikut ini merupakan gambar dari pada pipet ukur,pipet tetes,ball pipet
dan pipet gondok:
Pipet ukur Pipet gondok
50
Pipet tetes Ball pipet
Gambar.8 Corong Buchener
Corong Buchner adalah sebuah peralatan laboratorium yang digunakan
dalam penyaringan vakum. Di bagian atasnya terdapat sebuah silinder dengan
dasar yang berpori-pori. Corong Hirsch juga memiliki struktur dan kegunaan yang
sama, namun ia lebih kecil dan biasanya terbuat dari kaca.Bahan penyaring
(biasanya kertas saring) diletakkan di atas corong tersebut dan dibasahi dengan
pelarut untuk mencegah kebocoran pada awal penyaringan. Cairan yang akan
disaring ditumpahkan ke dalam corong dan dihisap ke dalam labu dari dasar
corong yang berpori denganpompa vakum.
Gambar.9 Alat Soklet
Alat soklet dapat secara khusus untuk penentuan kadar lemak. Fungsi dari alat ini:
sebagai media untuk mengukur kadar lemak, dan untuk mengurangi ataupun
mengeluarkan serta memompakan cairan pada saat terjadinya pemisahan lemak.
51
Gambar.10 Autoclave
Autoclave berfungsi mensterilkan alat-alat laboratorium yang kita gunakan
dengan menggunakan uap air.
Gambar.11 Lemari Asam
(Anonim:2008), Lemari asam yaitu alat yang ada dilaboraturium yang
seperti lemari besar. Lemari asam berfungsi sebagai penyerap racun ketika
pembakran bahan pakan. Hal ini sesuai dengan Prinsipnya adalah sama untuk
kedua jenis udara digambarkan dalam dari depan (terbuka) samping kabinet, dan
dibuang di luar gedung atau dibuat aman melalui filtrasi dan dimasukkan kembali
ke dalam ruangan.
52
Gambar.12 PompaVakum
Pompa vakum dipakai dalam proses penyaringan pada analisis serat kasar.
4.2 PENGENALAN BAHAN PAKAN
Bahan pakan adalah sesuatu yang bisa dimakan, dicerna seluruh/sebagian
tubuh dan tidak menggangu kesehatan ternak yang memakannya. Didalam bahan
pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak
untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk
produksi. Bahan makanan yang digunakan dalam metabolism antara ke-3 jenis
makanan secara umum tersebut, makanan tersebut bebeda untuk metabolism yang
didasarkan pada struktur dan bentuk-bentuk daripada pakan tersebut. Pernyataan
ini sesuai dengan pendapat (Urip Santoso 2010), menyatakan bahwa bentuk fisik
bahan makanan dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu bahan makan butiran (
jagung, kacang-kacangan, sorgum ), bahan makan berbentuk tepung ( dedak
halus, tepung ikan, tepung tulang ) dan bahan makan berbentuk cairan ( minyak
ikan, minyak kelapa, molasses ). Komponen dari bahan makanan yang dapat
dicerna/diserap dan digunakan dalam tubuh ternak terdiri dari: karbohidrat,
protein, lemak,vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrient
karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut.
Secara umum bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan
oleh ternak dan tidak beracun terhadap ternak tersebut. Bahan pakan dibagi dua
yaitu bahan kering dan air. Sedangkan bahan kering juga dibagi dua yaitu bahan
organik dan abu. Selanjutnya bahan organik dibagi lagi menjadi protein kasar dan
bahan organik tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen dibagi lagi menjadi
lemak kasar dan karbohidrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Banerjee (2010),
53
yang menyatakan bahwa pakan merupakan sesuatu yang dapat dimakan oleh
ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan nabati, sumber energi,
sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan mencukupi kebutuhan
dari ternak.
 Sumber Protein
Sumber Protein adalah semua bahan pakan ternak yang bahan makan
sumber protein adalah bahan makanan yang kaya akan protein dengan nilai
protein di atas 20 persen. Fungsi protein meliputi banyak aspek. 1) Sebagai
struktur penting untuk jaringan urat daging, tenunan pengikat, kolagen, rambut,
bulu, kuku dan bagian tanduk serta paruh. 2) Sebagai komponen protein darah,
albumin dan globulin yang dapat membantu mempertahankan sifat homeostatis
dan mengatur tekanan osmosis. 3) sebagai komponen fibrinogen dan
tromboplastin dalam proses pembekuan darah sebagai komponen fibrinogen,
tromboplastin. 4) Sebagai karrier oksigen ke sel dalam bentuk sebagai
hemoglobin. 5) Sebagai komponen lipoprotein yang berfungsi mengangkut
vitamin yang larut dalam lemak dan metabolit lemak yang lain 6) Sebagai
komponen enzim yang bertugas mempercepat reaksi kimia dalam sistem
metabolisme. 7) Sebagai nukleoprotein, glikoprotein dan vitellin.
 Pakan Sumber Protein
 Tabel .2 Protein Hewani
No. Bahan pakan Bentuk
fisik
Tekstur Warna Bau
1. Tepung
jeroan ikan
Tepung Serbuk
kasar
Coklat Bau
amis
2. Tepung bulu
ayam
Tepung Serbuk
halus
Putih Bau
amis
Gambar.13 Tepung jeroan ikan
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gopalan,V. (2009), yang mengatakan
bahwa kandungan nutrisi tepung ikan adalah berkisar antara 60 – 70%. Tepung
54
ikan merupakan pemasok lysin dan metionin yang baik, di mana hal ini tidak
terdapat pada kebanyakan bahan baku nabati. Mineral kalsium dan fosfornya pun
sangat tinggi, dan karena berbagai keunggulan inilah maka harga tepung ikan
menjadi mahal.
 Tabel.3 Protein Nabati
No. Bahan Pakan Bentuk Fisik Tekstur Warna Bau
1. Tepung ampas
tahu
Tepung Serbuk
halus
Putih Harum
2. Tepung bungkil
kedelai
Tepung Serbuk
halus
Putih Harum
3. Tepung biji karet Tepung Butiran
halus
Hijau Bau apek
4. Bungkil kelapa
sawit
Tepung Serbuk
halus
Coklat tua Bau
menyengat
5. Tepung leucaena Tepung Serbuk
halus
Hijau Harum
Bahan pakan sumber protein bisa juga berupa biji. bijian, misalnya tepung
bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas, atau tepung-tepungan yang
berasal dari hewan atau bagian tubuh hewan, seperti tepung ikan dan tepung
darah. Ayers,R.S., (2008), yang menyatakan bahwa bungkil kedele merupakan
limbah dari industri minyak biji kedele. Kandungan protein bungkil kedele yang
diperoleh secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%.
Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak
sebesar 1,32%. Bungkil kedele agak rendah mengandung kalsium (0,27%).
55
Kandungan phospor lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas
yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedele, bungkil kedele tidak menyediakan
karoten dan vitamin D. Bungkil kedele tidak kaya riboflavin tetapi kandungannya
lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butiran lainnya.Maka hal tersebut
sesuai dengan pendapat Partodihardjo (2008), yang menyatakan bahwa tidak
seperti tepung dan minyak ikan, bungkil kacang kedelai/soybean meal (SBM)
merupakan sumber global protein dan lemak yang sangat berlimpah. Penggantian
tepung dan minyak ikan dengan SBM memberikan kemungkinan kestabilan harga
pakan ternak di masa depan.
Menurut Haines,TH. (2008), yang merekonmendasi bahwa golongan
bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan
protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). Golongan ini dibedakan
menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis
daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka,daun ketela rambat, ganggang
dan bungkil).
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi
kaliandra, gamal dan sentero.
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung
tulang dan sebagainya).
Gambar. 14 Literatur bahan pakan sumber protein nabati
Bungkil Kedelai
Bungkil kelapa sawit
 Sumber Energi
Sumber Energi adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein
kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi seratkasar di bawah 18%.
56
Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat
kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput
gajah, rumput benggala dan rumput setaria).
Tabel.4 Bentuk Biji – bijian / Butir – butiran
No. Bahan Pakan Bentuk
Fisik
Tekstur Warna Bau
1. Jagung kasar Burtiran Kasar Orange Tidak
berbau
2. Dedak padi Tepung Serbuk
halus
Putih Harum
3. Tepung biji
durian
Tepung Serbuk
halus
Coklat
kehitaman
Harum
4. Bungkil inti
sawit
Tepung Serbuk
halus
Coklat Harum
Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya
dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak
14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat
dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian
dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat.
Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum
mengalami ketengikan selama penyimpanan.Berg,J.M., (2009)Bulk desinty dedak
padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein
rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%.
Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung.
Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. Jagung merupakan
bahan pakan yang sangat baik dan disukai ternak, namun pemakaian jagung dalam
ransum yang berlebihan untuk ternak akan menyebabkan kelebihan lemak dan
juga dapat mengakibatkan ternak sulit berproduksi. Jagung merupakan butiran
yang mempunyai total nutrien tercerna (TDN) Net Energi (NE) yang tinggi.
Kandungan TDN yang tinggi (81,9%) adalah karena jagung sangat kaya akan
57
bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) yang hampir semua patinya. Soekanto,
(2010), Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber
energi didalam ransum, jagung mempunyai kadar triftopan yang rendah.
Gambar.15 Literatur bahan pakan sumber energi
Bungkil kelapa Dedak padi jagung kasar
Tabel.5 Berbentuk cairan
No Bahan pakan Bentuk fisik Tekstur Warna Bau
1. Minyak sayur Cairan Cair Kuning Bau apek
 Sumber Mineral
Bahan makanan unggas sumber mineral terbesar berasal dari hewan, di
samping sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan. Contoh yang dapat dikemukakan
adalah tepung kulit kerang dan tepung cangkang telur.
Tabel.6 Sumber Mineral
No. Bahan Pakan Bentuk Fisik Tekstur Warna Bau
1. Tepung kulit
kerang
Tepung Serbuk
halus
Abu-abu Bau
menyengat
2. Tepung
cangkang
telur
Tepung Serbuk
halus
Putih Bau amis
Semua mineral dianggap ada dalam tubuh hewan. Pengelompokan mineral-
mineral yang dianggap esensial bagi ternak dibagi menjadi tiga, yaitu mineral
makro yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif banyak dan karenanya sangat
58
esensial, mineral mikro yang dibagi menjadi dua yaitu esensial dan kemungkinan
esensial bagi ternak karena kebutuhannya hanya sedikit dan mineral trace yang
dibagi menjadi dua yaitu kemungkinan esensial dan yang fungsinya belum pasti
karena mungkin dibutuhkan dalam jumlah sedikit.
 Limbah Pertanian
Limbah pertanian sebagai pakan ternak terdiri atas jerami untuk yang dan
tanaman lainnya yang umum digunakan diantaranya : Jerami padi, Jerami jenis
kacang-kacangan , Jerami Jagung, dan Limbah tanaman lainnya. Limbah
pertanian lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan untuk ternak antara lain
(Ety Widayati, dkk 2009) antara lain kulit buah nanas (diberikan 15% dari jumlah
pakan), biji pepaya (diberikan 15% dari jumlah pakan) dan bungkil kelapa sawit
karet (diberikan 20% dari jumlah pakan). Limbah ini dapat diberikan langusng
kepada ternak.
Tabel.7 Asal Limbah Pertanian/Agroindustri
No. Nama limbah Asal limbah Bentuk fisik Warna Bau
1. Tepung pelepah
daun sawit
Daun sawit Tepung Coklat Harum
2. Tepung tongkol
jagung
Tongkol
jagung
Tepung Coklat
muda
Tidak berbau
3. Tepung klobot
jagung
Daun jagung Tepung Hijau Harum
4. Tepung bagas
tebu
Daun tebu Tepung Putih Harum
5. Ampas tahu Kacang
kedelai
Tepung Putih Harum
6. Tepung kulit
durian
Kulit durian Tepung Putih Bau
menyengat
7. Tepung kulit
duku
Kulit duku Tepung Bau apek
59
Gambar.16 Literatur bahan pakan asal limbah pertanian/ agroindustri
Bagas tebu Pelepah sawit Klobot jagung
 Bahan Palsuan Pakan
Bahan Pemalsuan pakan adalah bahan pakan tiruan atau mirip dengan bentuk
bahan pakan yang lain akan tetapi bahan pakan pemalsuan ini tidak dapat
diberikan kepada ternak, karena bahan pakan pemalsu ini akan membawa
dampak/efek negatif bagi kesehatan (tubuh) ternak.
Tabel.8 Bahan Palsuan Pakan
No. Nama Bahan Warna Bentuk Digunakan/dicampur
pada bahan pakan
1. Serbuk gergaji Kuning
pucat
Serbuk -
2. Serbuk batu bata Merah
Bata
Serbuk -
3. Pasir Coklat Kasar -
Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat Srigandono (2010), yang
menyatakan bahwa bahan pemalsuan pakan tidak terdapat kandungan nutrisi (nilai
gizi) yang baik bagi kesehatan (tebuh) ternak, karena bahan pemalsuan ini tidak
berasal atau bersumber dari hewan dan tumbuh-tumbuhan sehingga bahan
pemalsuan pakan ini tidak terdapat kandungan nutrisi.Dampak/pengaruh negatif
dari bahan pemalsuan pakan ini yaitu dapat membuat ternak menjadi sakit dan
60
akhirnya ternak tersebut menjadi mati. Contoh bahan pemalsuan pakan ini adalah
serbuk gergaji, serbuk batu bata, batu kapur dan bahan-bahan lainnya.
Gambar 17 Literatur bahan pakan palsuan
Serbuk gergaji Serbuk batu bata Pasir
 Tabel.9 Bahan pakan hijauan
No Jenis pakan Bentuk fisik Tekstur Warna Bau
1. Tepung
legume
callopogonium
Tepung Serat
kasar
Hijau Bau
menyengat
2. Tepung
legume
styloshantes
Tepung Serat
kasar
Hijau Bau
menyengat
3. Tepung
legume
leucaena
Tepung Serat
kasar
Hijau Bau
menyengat
4.3 PREPARASI SAMPEL
Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secara acak dari
bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi.Preparasi Sampel adalah Suatu
analisis bahan pakan yang hanya akan dicapai secara baik jika pengambilan
sampel bahan dilakukan secara benar dan reprentatif. Dalam pengambilan sampel
suatu bahan harus dilakukan secara benar agar diperoleh sampel yang benar-benar
representatif, yang mampu menggambarkan keadaan bahan yang diambil
sampelnya secara tepat.Pengambilan sampel perlu memperhatikan beberapa hal
61
seperti: Homogenitas sampel, Cara pengambilan sampel, Jumlah sampel,
Penangan sampel, Presesing sampel., dan Penentuan kadar sampel segar. Hal yang
akan dibahas pada praktikum ini yaitu: penentuan kadar air sampel segar. Sampel
segar tersebut yaitu rumput gajah, rumput raja, feses sapi, dan feses ayam.
Untuk jenis dari pada hijauan yang diri dari rumput benggala,rumput
raja,rumput kumpei,rumput gajah, legume leucaena.
Untuk rumput gajah
Pengambilan rumput gajah yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat
ini.namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sampel segar (Ag) adalah 500
gr. Setelah dilakukan proses pengeringan padasampel diperoleh berat sampel
yaitu 300 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
kadarbahan kering (BK)yaitusebesar 60%.
Untuk rumput kumpei
Pengambilan rumput kumpei yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini,
namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 750 gr.
Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu
600 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg). Kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 20%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
kadarbahan kering (BK) adalah 80%.
Untuk rumput raja
Pengambilan rumput raja yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini,
62
namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sampel segar (Ag) adalah 500 gr.
Setelah dilakukan proses pengeringan pada sampel diperoleh berat sempel yaitu
300gr.
Setelah berat awal yaitu sampel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sempel adalah 60%.
Untuk rumput benggala
Pengambilan rumput benggalayang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini,
namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr.
Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu
200 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 60%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sempel udara adalah 40%.
Untuk legume leucaena
Pengambilan legume leucaenayang segar,kemudian dipotong dalam
ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih
cepat ini, namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag)
adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh
berat sempel yaitu 300 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sempel udara adalah 60%.
63
Untuk rumput kumpei
Pengambilan rumput kumpei yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini,
namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr.
Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu
300 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sempel udara adalah 60%.Maka hal tersebut sesuai dengan
pendapat Berg,J.M., (2009),menyatakan bahwa sampel yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan seperti rerumputan, biji-bijian, buah-buahan, hasil ikutan produksi
pertanian dan pangan maupun berasal dari hewan dan ikutan lainnya, sebelum
dikeringkan bahan segar dipotong-potong untuk mendapatkan partikel yang lebih
kecil agar dapat dengan cepat kering.
Untuk rumput kumpei
Pengambilan rumput kumpeiyang segar,kemudian dipotong dalam ukuran
partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat
ini.namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah
500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat
sempel yaitu 100 gr.
Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat
sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian
dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar
air (KA) adalah 80%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sempel udara adalah 20%.
Untuk jenis sempel dari pada feses adalah sebagai berikut yaitu feses
kuda, fesesayam kampung,feses ayam broiler, fesessapi,feseskelinci,feses
itik,feses kambing.
64
Untuk feses kuda
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 675 grdan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 400
gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg). Selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 41%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) udara sempel yaitu 59%.
Untuk feses ayam kampung
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 520 gr, dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 470gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 9%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) udara sempel yaitu 90%
Untuk feses ayam broiler
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 300 gr. Dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 150gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sampel yaitu 50%
Untuk feses sapi
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
65
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 550 gr.dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 300gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg). Selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu45%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) udara sempel yaitu 55%.
Untuk feses kelinci
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 1000 gr. Dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 500gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sampel yaitu 50%.
Untuk feses itik
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 600 gr.Dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 400gr.
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 33%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sampel yaitu 67%.
Untuk feses kambing
Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses
pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 1000 gr.dan setelah di
lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 500 gr
Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan
proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
66
dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan
bahan kering (BK) sampel yaitu 50%.
Berikut ini adalah tabel dari hasil pengamatan/perhitungan dari (Ag)berat
awal/sempel segar,(Bg)berat setelah dilakukan pengeringan/sempel kering,(KA)
kadar air sampel segar,(BK) bahan kering udara sempel,maupun bahan kering
sempel ovendan (KA) segar(%) untuk (KA) total dan (BK) total yang di
perolehuntuk semua jenis sampel baik berupa feses maupun hijauan.
Tabel.10 Preparasi sampel
Kelo
mpok
Bahan Berat Awal (gr) Berat Kering
(gr)
Kadar
Air (%)
Kadar
Bahan
Kering
(%)
9 Rumput gajah 500 300 40 60
Feses kuda 675 400 41 59
10 Rumput kumpei 750 600 20 80
Feses ayam
kampung
520 470 10 90
11 Rumput raja 500 300 40 60
Feses ayam
broiler
300 150 50 50
12 Rumput benggala 500 200 60 40
Feses sapi 550 300 45 55
13 Legume leucaena 500 300 40 60
Feses kelinci 1000 500 50 50
14 Rumput kumpei 500 300 40 60
Feses itik 600 400 33 67
15 Rumput kumpei 500 100 80 20
Feses kambing 1000 500 50 50
67
4.4 ANALISIS PROKSIMAT
Tabel.11 Penentuan kadar air
Nama kelompok Bahan pakan C D E KA %
B1 Bungkil Inti
Kelapa Sawit
30,20 1 40,07 13
B2 Tepung kulit
duku
35,01 1 35,89 12
B3 Tepung ampas
jamu
20,10 1 20,98 12
B4 Tepung kulit
nanas
37,13 1 37,97 16
B5 Bungkil biji
karet
20,65 1 21,53 12
B6 Tepung jerami
padi
26,74 1 27,66 8
B7 Tepung kelobot
jagung
25,17 1 26,08 9
B8 Tepung petai
cina
17,95 1 18,82 13
B9 Tepung ikan 26,11 1 26,73 38
B10 Tepung jeroan
ikan
21,15 1 22,10 5
B11 Tepung ampas
tahu
22,32 1 23,02 30
B12 Bungkil kelapa 39,11 1 39,42 69
B13 Tepung biji
durian
18,42 1 19,28 14
B14 Bungkil kedelei 21,53 1 22,42 11
B15 Tepung kulit
durian
34,36 1 35,34 2
68
Tabel.12 PenentuanKadar Abu
Nama
kelompok
Bahan pakan H F G KADAR ABU (
%)
B1 Bungkil inti sawit 39,25 39,20 1 5
B2 Tepungkulitduku 35,08 35,01 1 7
B3 Tepungampas
jamu
20,14 20,10 1 4
B4 Tepungkulit
nanas
37,19 37,13 1 6
B5 Bungkil biji karet 20,67 20,65 1 2
B6 Tepungjerami
padi
26,88 26,74 1 14
B7 Tepungkelobot
jagung
25,17 26,08 1 9
B8 Tepungpetai cina 18,00 17,95 1 5
B9 Tepungikan 26,30 26,11 1 19
B10 Tepungjeroan
ikan
22,10 21,05 1 19
B11 Tepungampas
tahu
22,16 20,64 1 1,52
B12 Bungkil kelapa 39,14 39,11 1 3
B13 Tepungbiji
durian
19,40 19,28 1 12
B14 Bungkil kedelei 21,58 21,53 1 5
B15 Tepungkulit
durian
34,51 34,36 1 15
Tabel.13 Penentuan Kadar Protein
NAMA
KELOMPOK
BAHAN
PAKAN
K J I PK ( % )
B1 Bungkil inti
kelapasawit
23,8 9,5 0,3 37,60
B2 Tepungkulit
duku
23,8 5 0,3 25,37
B3 Tepung
ampas jamu
23,8 22,5 0,3 11,37
B4 Tpung kulit
nanas
23,8 21,3 0,3 21,87
B5 Bungkil biji
karet
23,8 21 0,3 24,50
B6 Tepung
jerami padi
23,8 20 0,3 33,25
B7 Tepung
kelobot
jagung
23,8
22,8
0,3 8,75
69
B8 Tepungpetai
cina
23,8 19,5 0,3 37,62
B9 Tepungikan 23,8 17,9 0,3 50
B10 Tepung
jeroanikan
23,8 18 0,3 51
B11 Tepung
ampas tahu
23,8 21 0,3 24,5
B12 Bungkil
kelapa
23,8 19 0,3 42
B13 Tepungbiji
durian
23,8 20,2 0,3 31,5
B14 Bungkil
kedelei
23,8 7 0,3 147
B15 Tepungkulit
durian
23,8 22,1 0,3 14,87
Tabel.14 Penentuan Kadar Lemak Kasar
Nama
kelompok
NAMA
BAHAN
PAKAN
M N L LK ( % )
B1 Tepungkulit
duku
1,85 1,67 1 18
B2 Bungkil inti
kelapasawit
1,90 1,83 1 7
B3 Tepungampas
tahu
1,86 1,76 1 1
B4 Tepungkulit
nanas
1,83 1,81 1 2
B5 Bungkil biji
karet
1,85 1,76 1 9
B6 Tepungjerami
padi
1,99 1,93 1 6
B7 Tepung
kelobot
jagung
1,96 1,95 1 1
B8 Tepungpetai
cina
1,88 1,87 1 1
B9 Tepungikan 1,62 1,61 1 1
B10 Tepungjeroan
ikan
1,99 1,81 1 18
B11 Tepungampas
tahu
1,87 1,79 1 8
B12 Bungkil kelapa 1,40 1,81 1 9
B13 Tepungbiji
durian
1,90 1,87 1 3
B14 Bungkil 1,85 1,80 1 5
70
kedelei
B15 Tepungkulit
durian
1,92 1,85 1 7
Tabel.15 Penentuan Kadar Serat Kasar
Nama
kelompok
Bahan
pakan
Q R O P SK ( % )
B1 Bungkil
inti kelap
sawit
21,70 20,60 1,01 1 9
B2 Tepung
kulitduku
23,39 22,19 1,05 1 15
B3 ampas
jamu
20,57 19,37 1,08 1 12
B4 Tepung
kulitnanas
20,85 19,73 1,04 1 8
B5 Bungkil biji
karet
28,57 27,38 1,05 1 14
B6 Tepung
jerami
padi
25,53 24,32 0,96 1 25
B7 tepung
kelobot
jagung
38,59 37,32 1,06 1 21
B8 Tepung
petai cina
1 19,85
B9 Tepung
ikan
33,56 32,52 1,02 1 2
B10 Tepung
jeroan
ikan
41,67 40,55 0,99 1 13
B11 Tepung
ampas
tahu
38,59 37,33 1,03 1 13
B12 Bungkil
kelapa
23,84 22,73 1,05 1 6
B13 Tepungbiji
durian
23,84 22,78 1,04 1 2
B14 bungkil
kedeli
23,50 22,34 1,01 1 15
B15 Tepung
kulit
durian
23,74 22,25 1,04 1 45
71
Tabel.16 Penentuan BETN
Nama
kelompok
Bahan
pakan
BK ( % ) K.ABU ( % ) PK ( % ) LK ( % ) SK ( % ) BETN ( % )
B1 Bungkil inti
kelapa
sawit
87 5 37,6 7 9 28,7
6 Tepung
kulitduku
88 7 25,3 18 15 22,7
B3 Tepung
ampas
jamu
88 4 11 1 12 60
B4 Tepung
kulitnanas
84 6 21,87 2 8 46,12
B5 Bungkil biji
karet
88 2 24,5 9 14 38,5
B6 Tepung
jerami padi
92 14 33,25 6 25 13,75
B7 Tepung
kelobot
jagung
91 14 8,75 1 21 46,25
B8 Tepung
petai cina
87 5 37,625 1 19,85 23,52
B9 Tepung
ikan
82 49 50 1 2 10
B10 Tepung
jeroanikan
95 19 50,57 6 13 6,43
B11 Tepung
ampas tahu
70 1,5 24,5 8 13 45,05
B12 Bungkil
kelapa
31 3 42 9 6 29
B13 Tepungbiji
durian
78 12 31,5 3 2 29,5
B14 Bungkil
kedelei
89 5 147 5 15 83
B15 Tepung
kulitdurian
98 15 14,875 7 45 16,12
4.5 ANALISIS ENERGI BRUTO
Untuk mempermudah mengetahui nilai energi bruto praktikan
menggunakan beberapa bahan sampel seperti dedak, bungkil kelapa, rumput
gajah, jagung giling yang kemudia dicetak berbentuk pellet dengan menggunakan
pellet press dan diukur dengan timbangan analitik dengan kisaran 0,5-1 gram.
Selajutnya ditentukan energinya dengan menggunakan unit bomb kalorimeter. Hal
72
ini sesuai dengan pendapat (Anshory.1984)yang mengemukakan bahwa Sebelum
sampel dimasukkan kedalam cawan bomb kalorimeter sampel dibentuk pelet
dahulu kemudian ditimbang, agar mudah untuk menghitung energinya.
Oleh karena itu, dalam memperoleh hasil energi bruto yang diperoleh dari
beberapa bahan sampel yang digunakan dalam pembuatan pelet tersebut maka kita
harus mengetahui suhu awal, suhu akhir, berat sampel dan kabar bahan kering dari
masing-masing bahan. Perhitungan dari energi ditentukan dulu energi ekuivalen
asam benzoat, suhu awal dan suhu akhir, volume titrasi serta jumlah kawat
terbakar (Samuel, 1997).
Energi kimia dapat di ukur dalam kaitannya dengan panas yang dinyatakan
dengan kalori . satu kalori merupakan jumlah energi yang di hasilkan dan dapat
diperlukan untuk menaikkan temperature (Anggorodi.2005).
Adapun rumus yang digunakan dalam menentukan energi bruto pada
sampel bahan pakan:
Energi (Kal/gram) = (TA – TM) x W – E1 – E2
Berat sampel x % BK
Adapun alat – alat yang digunakan dalam menentukan energy bruto ini adalah:
1. Bomb Calorimeter
Fungsi bom kalorimeter, Menganalisa jumlah kalor (Nilai Kalor) yang dibebaskan
padapembakaransempurna (dalam O2berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar
dari suatu produk ataubisa disebut untuk mengukur Heating Value suatu material.
Carakerjanya dengan menempatkan sejumlah sampel pada tabung beroksigen yang
tercelupdalam medium penyerap kalor (kalorimeter), dansampel akanterbakar oleh apilistrik
dari kawatlogam terpasang dalam tabung. Sejumlah sampel dalam suatu ruang bernama
“BOMB” dan dinyalakan ataudibakar dengan sistem penyalaan elektris sehingga sampel
tersebut terbakarhabis danmenghasilkan panas.
73
2.tabung oksigen
Tabung Oksigen O2 + Regulator + Troli = Terapi Oksigen, adalah tabung
O2 yang sudah dilengkapi dengan regulator dan troli untuk kemudahan mobilitas.
Peralatan ini dapat memenuhi kebutuhan Oxigen dan juga untuk terapi oksigen.
Sangat berguna bagi penderita penyakit asma dalam keadaan darurat. Tabung
Oxygen berisi 1 M3 (1000 Liter). Pure Oksigen Murni 99% dalam Botol, adalah
Oksigen yang dikemas dalam botol kaleng ukuran 30 cm, sehingga mudah dibawa
atau disimpan. Sangat berguna ketika anda sedang dalam perjalanan atau jauh dari
rumah dan rumah sakit untuk kebutuhan darurat oksigen:
- Isi 8 liter pure Oksigen 92-99%
- Tekanan dalam botol: 1 Mpa
- Lama penggunaan 10/20/30 menit dengan pengaturan regulator
- Untuk penyakit Asma dadakan yang gawat dan datang tiba-tiba
- Cocok untuk Ambulance dan Unit Gawat Darurat
- Cocok untuk olahraga mendaki yang minus oksigen
- Praktis ringan dan mudah dibawa dalam kemasan botol ukuran 30cm.
- Asesories: Nose cap (cannula), air tube, oksigen.
3.Thermometer
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu
(temperatur), ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa
Latin thermo yang berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip
kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum digunakan adalah
termometer air raksa.
74
4.6 ANALISIS KARBOHIDRAT
Dari praktikum yang telah dilakukan bahwa pakan memiliki peranan
penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk
mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta
tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya
tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan,
jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah
cukup.
Pemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makanan itu
sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah zat
makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara penyusunan ransum, diperlukan
pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu
keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai
sifat kimia secara individual (Handaka, 2008).
Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada ternak
selama 24 jam. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan pakan adalah komponen
ransum yang dapat memberikan manfaat bagi ternak yang mengkonsumsinya.
Ransum merupakan factor yang sangat penting di dalam suatu usaha peternakan,
karena ransum berpengaruh langsung terhadap produksi ternak (Sinurat, 2000).
Perubahan ransum baik secara kualitas maupun kuantitas maupun
perubahan pada komponennya akan dapat menyebabkan penurunan produksi yang
cukup serius. Sehingga untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum
perubahan ransum cukup sulit dicapai dan akan memakan waktu cukup lama
(Santoso, 2003).
Ransum adalah susunan dari beberapa bahan pakan dengan. perbandingan tertentu
sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Jadi dengan mencampur
beberapa jenis bahan pakan diharapkan kandungan gizi ransum sesuai dengan
kebutuhan gizi ayam sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik. Hal
terpenting yang harus diperhatikan dalam mencampur ransum adalah mengetahui
bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu agar hasilnya rata atau
75
homogen. Jika ransum dibuat dalam jumlah kecil dapat dilakukan secara manual
tetapi bila dalam jumlah besar dapat digunakan mesin pencampur atau mixer.
4.7 FORMULASI RANSUM
Formulasi Ransum ini merupakan suatu proses untuk menentukan
kandungan zat-zat dari bahan pakan kemudian diseimbangkan atau disesuaikan
terhadap kebutuhan zat makanan oleh ternak yang digunakan.
Ransum adalah bahan pakan yang dapat mempengaruhi kebutuhan ternak
selama 24 jam. Namun menurut Leeson,S. and J.D. Summers, (2001) Ransum
merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan
formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak
mengganggu kesehatan ternak.
Dalam penyusunan ransum tentunya kita akan memakai ransum yang baik
dan berkualitas, ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu
memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta
imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh
pada proses metabolism tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging
yang sesuai dengan potensinya. pernyataan tersebut dipertegas lagi oleh M,
Astawan, (2007) Ransum yang berkualitas baik merupakan salah satu syarat
untuk dapat menghasilkan produksi ayam broiler yang optimal. Produksi optimal
dapat dicapai bila bahan pakan yang digunakan dapat memenuhi keperluan gizi
dalam tubuh ayam.
Menurut Barnes, Jones D. (2000) ada berapa faktor penting yang harus
diperhatikan dalam formulasi ransum ayam broiler fase starter dan memasuki fase
grower yaitu kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P. Komponen nutrient
tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi ayam broiler terutama untuk
pertumbuhan dan produksi daging. Kebutuhan nutrien ransum digunakan ternak
untuk hidup pokok dan produksi.
Dalam penyusunan ramsum ada beberapa metode yang digunakan yaitu :
1. Metode coba-coba (Trial and Error Method).
2. Metode bujur sangkar (Square Method).
3. Metode programming method (LP).
76
4. Metode matrik 2 x 2 (Two By Two Matrik).
5. Metode berpedoman kadar protein.
6. Metode berpedoman kadar energy.
Dalam penyusunan ransum pada praktikum ini metode yang dipakai yaitu
metode coba-coba, menurut Faishal (2011) kelemahan dari metode ini yaitu meskipun
metode ini merupakan penyusunyan ransum dengan cara yang paling mudah tetapi
membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup besar.
Dari praktikum yang telah dilaksanakan mengenai formulasi ransum
dengan metode coba-coba dengan menggunakan beberapa bahan pakan yaitu
tepung ikan, bungkil kelapa sawit, jagung, dedak, minyak sayur, dan premix,
didapatlah hasil nya dibawah ini :
Tabel 17. Nilai kebutuhan nutrisi ternak Ayam broiler Fase Starter
ME
(kkal/kg)
PK (%) LK (%) SK (%) Ca (%)
3.200 23.00 1 <7 1
Tabel 18 kebutuhan nutrisi bahan pakan yang digunakan
No Bahan
pakan
ME PK LK SK Ca
1 Dedak 2980 12.9 13 11.4 0.07
2 Jagung 3350 8.5 3.8 2.2 0.02
3 Bungkil
kedele
2230 44 0.8 7.0 0.2
4 Minyak 100% - 100 - -
5 Tepung
kulit
kerang
- - - - 38
77
Tabel 19. Penggunaan dan Perhitungan Zat Makanan
NO Bahan pakan
yang
digunakan
Penggunaan ME
(kkal/kg)
PK (%) LK (%) SK (%) Ca (%)
1 Dedak 30 8.94 3.87 0.039 3.42 0.021
2 Jagung 40 13.4 3.4 0.0152 0.88 0.008
3 Bungkil kedele 26 5.798 11.44 0.00208 1.82 0.0754
4 Minyak 2 0.02 2 0.02 0.02 0.02
5 Tepung kulit
kerang
2 0.02 2 0.02 0.02 0.02
Totalitas 100 28.178 22.71 0.09628 6.16 0.844
Ayam broiler merupakan hasil teknologi yang memiliki karakteristik
ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan
rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil
daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut North (1984) pertambahan
berat badan yang ideal adalah 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina
300 gram per minggu.
Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki
pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan
energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi
pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi yang lebih banyak daripada
betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Untuk
memenuhi kebutuhan pakan yang cukup maka disusun lah ransum.
Kebutuhan protein tergantung pada umur ayam, tingkat pertumbuhan ,
iklim, dan penyakit. Anak ayam mulai menetas (DOC) sampai umur 6-7 minggu
diberikan ransum mengandung protein 20 – 21%, sedangkan setelah itu 17 –
18%. Vitamin berfungsi antara lain melancarkan proses kehidupan di dlam alat-
alat tubuh seperti pencernaan, pembentukkan tulang, perumbuhan, dan
memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi (Veronicha, 2000).
78
Jagung
Jagung merupakan bahan baku utama dalam pembuatan pakan. Proporsi
penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan pakan ayam ras mencapai 51.4
persen dari total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja et al, 2002 dan Deptan,
2002). Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi
bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%),
bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan.
Jagung merupakan salah satu komponen pakan ternak yang paling banyak
dibutuhkan. Menurut Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan (2002)
sesuai dengan standar, komposisi pakan yang berasal dari jagung, adalah untuk
ayam pedaging 54 persen, ayam petelur 47,14 persen dan untuk ternak babi
grower sebesar 49,34 persen. Dengan demikian fungsi jagung khususnya untuk
pakan menjadi sangat penting.
Kandungan nutrisi jagung :
 Bahan kering : 75 – 90 %
 Serat kasar : 2,0 %
 Protein kasar : 8,9 %
 Lemak kasar : 3,5 %
 Energi gross : 3918 Kkal/kg
 Niacin : 26,3 mg/kg
 TDN : 82 %
 Calcium : 0,02 %
 Fosfor : 3000 IU/kg
 Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg
 Riboflavin : 1,3 mg/kg
 Tiamin : 3,6 mg/kg
Jagung merupakan sebagai sumber energi yang rendah serat kasarnya,
sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan
lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji-
bijian.
79
Dedak
Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya
dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak
14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat
dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian
dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat.
Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum
mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik
adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam
bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 13,0 %. Kandungan
protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi
kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. (A. Husin, 2009)
Kelemahan utama dedak padi adalah kandungan serat kasarnya yang
cukup tinggi, yaitu antara 13,0 % – 15,8 % dan adanya senyawa fitat yang dapat
mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh enzim
pencernaan. Inilah yang merupakan faktor pembatas penggunaannya dalam
penyusunan ransum. Namun, dilihat dari kandungan proteinnya yang berkisar
antara 12-13,5 %, bahan pakan ini sangat diperhitungkan dalam penyusunan
ransum unggas. Dedak padi mengandung energi termetabolis berkisar antara
1640-1890 kkal/kg. Kelemahan lain pada dedak padi adalah kandungan asam
aminonya yang rendah, demikian juga halnya dengan vitamin dan mineral nya
(Rasyaf, 2004). Penggunaan dedak padi dalam ransum unggas ada batasanya,
yaitu 0-15 % untuk ayam petelur fase starter, 0-20 % untuk ayam petelur fase
grower. untuk ayam broiler, itu berkisar antara 5-20 %, dan tidak lebih dari 20 %
karena akan dapat menurunkan produktivitas ayam yang disebabkan oleh adanya
kandungan asam fitat dalam dedak padi yang berada dalam bentuk kompleks
dengan protein, pektin, dan polisakarida bukan pati atau serat kasar sehingga
protein dan fosfor sulit dicerna dan dimanfaatkan oleh ayam. (Hendri, 2002).
Minyak Sayur
Kandungan energi minyak berkisar antara 8400 8600 kkal / kg bergantung
dari bahan dan kualitas minyak tersebut. Minyak dianjurkan untuk diberikan pada
80
unggas dalam jumlah yang relatif sedikit. Campuran minyak goreng pada pakan
maksimal di bawah 5%.
Terdapat tiga faktor utama yang harus diperhitungkan dalam menyusun
pakan yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas. Ke tiga hal tersebut adalah
ketersediaan bahan pakan unggas di daerah peternakan tersebut, harga bahan
pakan unggas, dan kandungan zat-zat makanan bahan pakan unggas. Ketiga faktor
tersebut mempengaruhi lima komponen bahan pakan unggas yang menjadi
penyusun pakan terbesar, yaitu bekatul, minyak goreng dan jagung sebagai
sumber energi pakan, bungkil kedelai dan tepung ikan sebagai sumber protein
pakan. Dalam fomilasi ransum minyak jugaberfungsi sebagai perekan antara
bahan pakan yang satu dengan yang lainnya agar menjadi homogen. (Anas, 2005)
4.8 MENCAMPUR RANSUM
Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan
perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum
dicampur dari bahan pakan yang mengandung gizi lengkap seprti protein, lemak,
serat kasar, vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu bahan pakan
kualitas ransum tersebut juga semakin baik terutama dari sumber protein hewani.
Bahan yang dapat digunakan untuk mencampur ransum yaitu dedak, bungkil
kelapa, jagung, minyak sayur, premix/top mix. Pada dasarnya yang disebut
sebagai mencampur ransum merupakan suatu kegiatan mengkombinasikan
berbagai macam bahan makanan ternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan
zat makanan tersebut.
Ransum ayam sebagian besar tersusun atas bahan baku ransum berupa
biji-bijian, seperti jagung dan bungkil kedelai yang notabene kadar asam
aminonya kurang ideal, terutama metionin. Seperti yang dikatakan Bahan pakan
harus disesuaikan dengan komposisi pakan dari ternak itu sendiri sebab di dalam
pemberian pakan harus disesuaikan berapa yang harus diberikan kepada ternak.
Dan juga kebutuhan ternak akan zat-zat makanan dapat terpenuhi jika ternak
mengkonsumsi ransum (dalam bahan kering) sebesar 3% dari bobot tubuh, hal ini
sesuai dengan pendapat Ewing (2001) menambahkan bahwa ayam lebih
81
menyukai bahan – bahan makanan yang berwarna cerah. Unggas mengkonsumsi
ransum kira-kira setara dengan 5% dari bobot badan
Konsumsi ransum pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
akan energi, sehingga ternak akan berhenti makan apabila telah merasa tercukupi
kebutuhan energinya. Namun, apabila ransum tidak padat energi (tinggi serat),
maka daya tampung alat pencernaan, terutama organ fermentatif akan menjadi
factor pembatas utama konsumsi ransum. Sesuai dengan pendapat Card and
Nesheim, (2006), yang menyatakan bahwa nilai konversi ransum berhubungan
dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi
ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang
dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu
semakin tinggi. Nilai konversi ransum ransum yang tinggi menunjukkan jumlah
ransum yang dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan semakin meningkat dan
efisiensi ransum semakin rendah.
Dengan demikian sebelum mencampur ransum, bahan-bahan pakan harus
diformulasikan terlebih dahulu. Dari bahan-bahan tersebut, dihitung berapa
kebutuhan dari pada ternak unggas tersebut, setelah itu ransum baru ditimbang
untuk kemudian dicampur.
Dalam praktikum mengenai Mencampur Ransum ini, dapat dilihat ransum yang
akan dicampur yaitu ransum untuk ayam broiler/ ayam pedaging. Bahan pakan
yang akan digunakan yaitu Bungkil Kelapa, Jagung, Dedak, Minyak Sayur dan
Premix/ top mix.
Tabel.20 komposisi nutrisi pada ternak ayam layer fase 6-12 minggu
ME PK LK SK Ca
2.85 16 1 <7 0.8
82
Tabel.21 komposisi nutrisi bahan pakan yang digunakan
Bahan pakan
ME
(kkal/kg)
PK (%) LK
(%)
SK
(%)
Ca(%)
Dedak 2980 12.9 13 11.4 0.07
Jagung 3350 8.5 3.8 2.2 0.02
Bungkil kelapa 2.573 36.1 0.2 1.28
Minyak sayur 100% - 100 - -
Top Mix - - - - 100
Tabel.22 formulasi ransum
Bahan
pakan
Penggunaan ME
(kkal/kg)
PK (%) LK
(%)
SK
(%)
Ca(%)
Dedak 40 1192 5.16 5.2 4.56 0.028
Jagung 40 1340 3.4 1.52 0.88 0.008
Bungkil
kelapa
18 0.46314 6.498 0 0.036 0.2304
Minyak
sayur
1.5 0.015 0 1.5 0 0
Top Mix 0.5 0 0 0 0 0.5
Jumlah 100 2532.478 15.058 8.22 5.476 0.7664
Hal ini sesuai dengan pendapat Riandy.2001. yang menyatakan bahwa
Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai
efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Konversi ransum adalah
perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot
badan dalam jangka waktu tertentu. Dan didukung oleh Ratno.2006. yang
menyatakan bahwa Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum
yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan.
Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan
untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit.
Dalam mencampur ransum yang pertama di campur ialah dedak dan minyak
sayur. Kemudian tambahkan top mix, bungkil kelapa, jagung dengan memberi
sedikit demi sedikit minyak sayur pada pencampuran bahan pakan tersebut sampai
rata dan homogen.
83
Dedak
Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya
dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak
14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat
dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian
dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat.
Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum
mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik
adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam
bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%. Kandungan
protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi
kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin.
Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas, yaitu:
Dedak Kasar: Adalah kulit gabah halus yang bercampur dengan sedikit
pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif rendah.
Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa
N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19
Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat
(konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%)
Dedak halus biasa: Merupakan hasil sisa dari penumbukan padi secara
tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak halus biasa ini banyak
mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan pecahan lembaga
beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi sudah termasuk dalam
golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%. Martabat Pati nya
termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna.
Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N, 16.4%
serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya 53
Dedak lunteh: Merupakan hasil ikutan dari pengasahan/pemutihan beras (slep
atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak inilah yang banyak
mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar terdiri dari selaput
84
perak dan bahan lembaga, dan hanya sedikit mengandung kulit. Di beberapa
tempat dedak ini disebut juga dedak murni. Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3%
protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu
serta nilai MP adalah 67.
Bekatul: Merupakan hasil sisa ikutan dari pabrik pengolahan khususnya
bagian asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta
lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan pecahan-
pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat dimanfaatkan
sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat. Analisa nutrisi: 15% air,
14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu serta nilai MP adalah 70.
Minyak sayur
Fungsi minyak untuk pencampuran ransum adalah sebagaim pelekat,
Penggunaan minyak pada pencammpuran pakan sebaiknya digunakan adalah
minyak nabati yang baik, tidak mengakibatkan mudah tengikdan tidak mudah
rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit.
Jagung merupakan bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai sumber
protein, kadar protein jagung bekisar 8,9 %, bahkan defisien terhadap asam amino
penting, terutama lysin dan tryptopan.Proses pencampuran mixing bahan baku
ransum sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, juka memakai mixer vertikal
berkapasitas 1,5-3 ton biasanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, sedangkan
jika menggunakan mixer horizontal waktu yang diperlukan relatif lebih
singkatkarena kapasitasnya lebih sedikit, mixer horizontal biasanya digunakan
untuk mencampur bahan baku ransum dengan persentase bahan yang kecil
(sedikit), misalnya pencampuran dengan minyak. Setelah dicampur dengan mixer
85
horizontal, bahan baku tersebut dimasukkan kedalam mixer vertikal untuk
dicampur dengan bahan baku ransum lainnya yang persentasenya lebih besar.
Premix /top mix
Premix merupakan feed suplement atau bahan pakan tambahan yang
digunakan untuk pemenuhi atau menyediakan sumber vitamin, mineral dan atau
juga antibiotik. Premix memiliki campuran bahan pakan yang telah diencerkan
yang dalam pemakaiannya harus dicampurkan kedalam pakan. Premix juga
merupakan kombinasi beberapa mikro-ingridient dengan bahan penyerta sehigga
merupakan kombinasi yang siap dicampurkan dalam pakan ternak.
Dosis penggunaan premix pada unggas tergantung pada jenis unggas dan
umurnya. Pada ayam pedaging periode starter dan finisher serta ayam petelur
masing-masing menggunkan 500g premix yang dicampurkan kedalam pakan.
Penggunaan premix ini harus disesuaikan dengan aturan pakai seperti yang
tercantum pada kemasan.
86
Jagung
Jagung merupakan bahan yang terakhir dicampurkan karena mengandung
tekstur yang paling kasar.
Biji jagung mengandung pati 54,1-71,7%, sedangkan kandungan gulanya
2,6-12,0%. Karbohidrat pada jagung sebagian besar merupakan komponen pati,
sedangkan komponen lainnya adalah pentosan, serat kasar, dekstrin, sukrosa, dan
gula pereduksi.
87
BAB.V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat pada praktikum Bahan Pakan dan
Formilasi Ransum mengenai pengenalan alat-alat laboratorium ini dapat di tarik
suatu kesimpulan bahwa dari seluruh alat-alat laboratorium ini memiliki fungsi
dan keunggulan yang berbeda-beda.
Adapun kesimpulan yang didapat pada praktikum Bahan Pakan Dan
Formulasi Ransum dengan judul pengenalan bahan pakan ini dapat ditarik suatu
kesimpulan dimana dalam pengenalan bahan pakan ada beberapa komponen yang
perlu diketahui antara lain bahan pakan yang digunakan mengandung sumber
protein (hewani dan nabati), sumber energi, sumber mineral, dan sebagainya, dari
beberapa bahan yang diuji menghasilkan banyak perbedaan. Dan dapat
mengetahui jenis bahan Hijauan Makanan Ternak yang digunakan yakni legume
callopogonium, legume styloshantes, legume leucaena.
Dari pratikum bahan pakan dan formulasi ransum yang berjudul preparasi
sampel dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam preparasi sampel (persiapan
sampel),sampel tersebut harus ditimbang terlebih dahulu.dan setiap sampel
hampir dari keseluruhan memiliki berat awal sama yaitu 1000gr,namun setelah
dilakukan proses pengeringan sampel tersebut memiliki berat yang berbeda –
beda. Sampel yang di amati juga memiliki kadar air,dan bahan kering yang
berbeda – beda.
Dari praktikum bahan pakan dan formulasi ransum yang berjudul
Menentukan Energi Bruto dapat ditarik kesimpulan bahwa dari penentuan energi
bruto dengan oksigen bomb kalorimeter dapat disimpulkan bahwa setiap masing –
masing bahan keringmempunyai nilai yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan
setelah di lakukan praktikum, yang di lakukan selama kurang lebih 4 jam. Dalam
88
penetapan energi ini terjadi pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi
energi panas dan di ukur jumlah panas yang di hasilkan.
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pakan memiliki
peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk
mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta
tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya
tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan,
dan jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah
cukup.
Dari praktikum mengenai Formulasi Ransum yang telah dilaksanakan
maka dapat disimpulkan bahwa dalam formulasi ransum menggunakan beberapa
metode yaitu metode coba-coba (trial and error method), metode bujur sangkar
(square method), metode programming method (lp), metode matrik 2 x 2 (two by
two matrik), metode berpedoman kadar protein, metode berpedoman kadar energi.
Dalam praktikum kegiatan formulasi ransum ini menggunakan beberapa bahan
pakan antara lain tepung ikan, bungkil kelapa sawit, jagung, dedak, Minyak sayur,
dan premix. Dan ternayata ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
formulasi ransum yaitu biaya, kebutuhan zat makanan oleh ternak, kebutuhan zat
makanan dari bahan pakan, dan palabilitas.
5.2 Saran
Adapun saran dari praktikum ini yaitu bahwa sebaiknya praktikan lebih
menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam mengikuti praktikum agar praktikum
dapat berjalan dengan baik dan efisien serta dapat menambah wawasan yang lebih
luas tentang Bahan Pakan dan Formulasi Ransum.
89
LAMPIRAN
I. Preparasi Sampel
 Penentuan kadar air
Kelompok 9
Feses kuda
Berat awal (A) : 675 gr
Berat kering (B) : 400 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
675 gr−400 gr
675 gr
X 100%
= 41 %
Kadar Bahan Kering (%) =100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100%-41%
= 59%
Rumput gajah
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 300 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−300 gr
500 gr
X 100%
= 40%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40%
= 60%
Kelompok 10
Feses ayam kampung
Berat awal (A) : 520 gr
Berat kering (B) : 470 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
520 gr−470 gr
570 gr
X 100%
= 9%
90
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 9%
= 90%
Rumput kumpei
Berat awal : 750 gr
Berat kering: 600 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
750 gr−600 gr
750 gr
X 100%
= 20%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 20%
= 80%
Kelompok 11
Feses ayam broiler
Berat awal (A) : 300 gr
Berat kering (B) : 150 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
300 gr−150 gr
300 gr
X 100%
= 50%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50%
= 50%
Rumput raja
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 300 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−300 gr
500 gr
X 100%
= 40%
91
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40%
= 60%
Kelompok 12
Feses sapi
Berat awal (A) : 550 gr
Berat kering (B) : 300 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
550 gr−300 gr
550 gr
X 100%
= 45%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 45%
= 55%
Rumput benggala
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 200 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−200 gr
500 gr
X 100%
= 60%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 60%
= 40%
Kelompok 13
Feses kelinci
Berat awal (A) : 1000 gr
Berat kering (B) : 500 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
1000 gr−500 gr
1000 gr
X 100%
= 50%
92
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50%
= 50%
Legume leucaena
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 300 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−300 gr
500 gr
X 100%
=40%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40%
= 60%
Kelompok 14
Feses itik
Berat awal (A) : 600 gr
Berat kering (B) : 400 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
600 gr−400 gr
600 gr
X 100%
= 33%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 33%
= 67%
Rumput kumpei
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 300 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−300 gr
500 gr
X 100%
= 40%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
93
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40%
= 60%
Kelompok 15
Feses kambing
Berat awal (A) : 1000 gr
Berat kering (B) : 500 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
1000 gr−500 gr
1000 gr
X 100%
= 50%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50%
= 50%
Rumput kumpei
Berat awal : 500 gr
Berat kering: 100 gr
Kadar Air =
𝐴−𝐵
𝐴
X 100%
KA =
500 gr−100 gr
500 gr
X 100%
= 80%
Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 80%
= 20%
II. ANALISIS PROKSIMAT
Metode penghitungan
Rumus yang digunakan untuk mencari kandungan bahan pakan adalah;
Kadar Air (%) = (C+D)E x 100%
D
Kadar Abu (%) = H - F x 100%
G
94
Protein Kasar (%) = (K - J) x Norm NaOH x 0,014 x 6,25 x 100%
I
Lemak Kasar (%) = M – N x 100%
L
Serat Kasar (%) = Q – R – O x 100%
P
BETN (%) = %BK – (% Abu + % PK + % LK + % SK)
1. Bngkil Inti Kelapa Sawit
Kadar Air (%) = (30,20+1) – 40,07 x 100%
1
= 13 %
Kadar Abu (%) =39,25–39,20 x 100%
1
= 5 %
Protein Kasar (%) = (23,8 – 9,5) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 37,60%
Lemak Kasar (%) = 1,85 –1,67x 100%
1
= 18%
Serat Kasar (%) =21,70–20,60– 1,01 x 100%
1
= 9%
BETN (%) = 87 – (5+ 37,60 + 18 + 9) %
= 28,7%
2. Bungkil kulit duku
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
95
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
3. Tepung ampas jamu
Kadar Air (%) = (20,10+ 1) 20,98x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 20,14 – 20,10 x 100%
1
=4 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –22,5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 11,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,86– 1,76 x 100%
1
= 1%
Serat Kasar (%) = 20,57–19,37 – 1,08 x 100%
1
= 12 %
BETN (%) =88– (4 +11,37+1+12) %
= 60%
96
4. Tepung kulit nanas
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
5. Bungkil biji karet
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
97
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
6. Tepung jerami padi
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
7. Tepung kelobot jagung
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
98
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
8. Tepung petai cina
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
99
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
9. Tepung ikan
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
10. Tepung jeroan ikan
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
100
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
11. Tepung ampas tahu
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
12. Bungkil kelapa
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
101
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
13. Tepung biji durian
Kadar Air (%) = (18,42+ 1) x 100%
1
= 14%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
102
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
14. Bungkil kedele
Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100%
1
= 12%
Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100%
1
=7 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
0,3
= 25,37 %
Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
1
= 15 %
BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) %
= 22,7 %
15. Tepung kulit durian
Kadar Air (%) = (34,36+ 1) 35,34 x 100%
1
= 2%
Kadar Abu (%) = 34,36 – 354,36 x 100%
1
=15 %
Protein Kasar (%) = (23,8 –22,1 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
103
0,3
= 14,87 %
Lemak Kasar (%) = 1,92– 1,85 x 100%
1
= 7%
Serat Kasar (%) = 23,74–22,19 – 1,04 x 100%
1
= 45 %
BETN (%) =98– (15 +14,87+7+45) %
= 16,12 %
III. FORMULASI RANSUM
ME
Jagung =
3
100
x 2980
=894
Dedak =
4
100
𝑥 3350
= 1340
Bungkil kedele =
26
100
𝑥 2230
= 579.8
Minyak =
2
100
𝑥 100%
= 0.02
Tepung kulit kerang =
2
100
= 0.02
Total ME = 28.178 kkal/kg
PK
Jagung =
3
100
x 12.9%
=3.87
104
Dedak =
4
100
𝑥 8.5%
= 3.4
Bungkil kedele =
26
100
𝑥 44%
= 11.44
Minyak =
2
100
= 0.02
Tepung kulit kerang =
2
100
= 0.02
Total PK = 22.71%
LK
Jagung =
3
100
x13%
=0.039
Dedak =
4
100
𝑥 3.8%
= 0.0152
Bungkil kedele =
26
100
𝑥 0.8%
= 0.00208
Minyak =
2
100
𝑥 100%
= 2
Tepung kulit kerang =
2
100
= 0.02
Total LK = 1%
SK
Jagung =
3
100
x 11.4%
=3.42
Dedak =
4
100
𝑥 2.2%
105
= 0.88
Bungkil kedele =
26
100
𝑥 7.0%
= 1.82
Minyak =
2
100
= 0.02
Tepung kulit kerang =
2
100
= 0.02
Total SK =6.16% =<7%
Ca
Dedak =
3
100
x 0.07%
=0.021
Jagung =
4
100
𝑥 0.02%
= 0.008
Bungkil kedele =
26
100
𝑥 0.29%
= 0.0754
Minyak =
2
100
= 0.02
Tepung kulit kerang =
2
100
= 0.02
Toatal Ca = 0.844% = 1%
IV.MENCAMPURRANSUM
Dengan konversi sebagai berikut:
1. Jagung
=
28
100
x 5000 = 1400
2. Dedak
106
=
30
100
x 5000 = 1500
3. Tepung ikan
=
23
100
x 5000 = 1150
4. BIS
=
17,5
100
x 5000 = 875
5. Minyak sayur
1
100
x 5000 = 50
6. Premix
=
0,5
100
x 5000 = 25

Bpfr vero

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Pengenalan alat – alat laboratorium sangat penting dalam penelitian dan praktikum khususnya dalam mata kuliah bahan pakan dan formulasi ransum salah satu komponen dalam melaksanakan praktikum di dalam laboratorium. Peralatan dalam laboratorium ini mempunya fungsi yang beragam. Sebelum melakukan aktivitas di dalam laboratorium pengenlan dasar mengenai jenis, bentuk, dan fungsi peralatan yang digunakan dalam praktikum menjadi sangat penting. Pengenalan alat - alat laboratorium salah satu komponen penting dalam melaksanakan kegiatan praktikum di dalam laboratorium dengan perlengkapan laboratorium ini mempunyai fungsi yang beragam mulai dari yang sangat spesifik untuk pengujian zat tertentu hingga yang bersifat universal. Bekerja di laboratorium kimia tak akan lepas dari berbagai kemungkinan terjadinya bahaya dari berbagai jenis bahan kimia baik yang bersifat sangat berbahaya maupun yang bersifat berbahaya. Selain itu, peralatan yang ada di dalam Laboratorium juga dapat mengakibatkan bahaya yang tak jarang berisiko tinggi bagi Praktikan yang sedang melakukan praktikum jika tidak mengetahui cara dan prosedur penggunaan alat yang akan digunakan. Setiap percobaan kita selalu menggunakan peralatan yang berbeda atau meskipun sama tapi ukurannya berbeda. Misalnya untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit kita harus menggunakan gelas ukur bukan beaker glass ataupun erlenmeyer karena ketelitian gelas ukur yang tinggi dan memang untuk mengukur zat cair serta mudah digunakan, sedangkan beaker glass hanya sebagai wadah atu tempat larutan atau sampel, meskipun terdapat skala pada beaker glass namun skala ini tidak akurat dan tidak boleh digunakan untuk mengukur sampel yang sangat sensitif. Begitu pula dengan prosedur percobaan yang lain, kita harus bisa menyesuaikan dan menggunakan peralatan untuk praktikum tersebut.Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakan alat – alat tersebut dengan tepat sehingga tidak akan mengganggu kelancaran praktikum dan tidak terjadi
  • 2.
    2 kecelakaan akibat darikesalahan praktikan. Selain itu, pengenalan alat ini sangat penting demi kelancaran praktikum kita selanjutnya. Dalam sebuah praktikum, tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung menggunakan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menggunakannya.Mengingat betapa pentingnya pengetahuan dan prosedur penggunaan peralatan laboratorium, meka praktikum pengenalan alat laboratorium dirasa penting agar setiap praktikum yang akan dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa terjadi hal – hal yang tidak di inginkan. Alat – alat dilaboraturium dapat dibagi berdasarkan jenis bahan pembuatannya atau berdasarkan fungsinya. Berdasarkan bahan pembuatnya alat – alat laboraturium dapat dibagi menjadi : alat yang berfungsi sebagai pengukur (volume dan berat),alat yang berfungsi sebagai wadah,alat yang berfungsi sebagai tempat reaksi,alat yang berfungsi untuk mengukur sifat fisika dan kimia dari suatu materi atau suatu reaksi kimia. Pengenalan alat merupakan langkah pertama sebelum kita melakukan percobaan atau penelitian. Dengan mengenal alat, kita dapat mengetahui fungsi masing-masing bagian dari alat tersebut serta cara pengoprasian atau penggunaan alat-alat yang akan digunakan dalam percobaan atau penelitian yang dilakukan. Dan dengan kita mengetahui akan fungsi dan cara penggunaan alat-alat yang akan digunakan dapat memperlancar jalannya suatu percobaan atau penelitian. Sehingga dengan berbekal pengetahuan pemahaman akan fungsi dan cara kerja dari alat yang digunakan kita dapat memperoleh hasil suatu percobaan atau penelitian yang maksimal. Praktikum ini pada dasarnya merupakan suatu kegiatan untuk menambah pengertian dan pemahaman tentang bahan pakan dan alat-alat laboratorium melalui pengamatan secara langsung. Sehingga mahasiswa peternakan secara khusus dapat memahami dan mengenal lebih lanjut dari pada bahan pakan itu sendiri maupun alat yang digunakan dalam percobaan maupun pengamatan. Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau
  • 3.
    3 bahkan berbahaya jikapenggunaannya tidak sesuai dengan prosedur (Plummer, 1987). Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian harus dalam kondisi steril. Untuk mencapainya, maka diperlukan teknik sterilisasi. Sterilisasi ialah proses-proses untuk menjadikan peralatan dan bahan-bahan bebas dari semua bentuk kehidupan. Tujuan utamanya adalah supaya sebelum pengkulturan dapat mematikan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan tidak turut tumbuh dalam kultur murni (suatu kultur mikroorganisme yang tersusun dari sel-sel sejenis). Teknik Sterilisasi dibedakan menjadi empat kelompok, antara lain : Sterilisasi fisik dengan panas, sterilisasi mekanik dengan filter, Sterilisasi kimia, dan sterilisasi radiasi. Bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi.makanan hijauan merupakan semua bahan makanan yang berasal dari hijauan dalam bentuk daun-daunan. Yang termasuk kelompok makanan hijauan yaitu bangsa rumput (graminae ),leguminose,dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lainnya seperti daun nangka,daun waru,dan lain sebagainya.kelompok makanan hijauan ini biasanya di sebut makanan kasar.hijauan sbagai bahan makanan ternak bias di berikan dalam dua bentuk yakni hijauan segar dan hijaun kering. Bahan pakan terbagi menjadi pakan sumber protein, sumber energi, Sumber lemak, sumber vitamin, Sumber mineral dan feed aditif. Bahan pakan dibagi dua yaitu bahan kering dan air. Sedangkan bahan kering juga dibagi dua yaitu bahan organik dan abu. Selanjutnya bahan organik dibagi lagi menjadi protein kasar dan bahan organik tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen
  • 4.
    4 dibagi lagi menjadilemak kasar dan karbohidrat. Dengan kata lain Bahan pakan dapat diartikan juga sebagai sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak, dicerna dengan sempurna atau sebagian dan tidak menimbulkan keracunan pada ternak. Nutrient-nutrient dalam bahan pakan tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrien karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Perbedaan bahan pakan yang dikonsumsi oleh ternak antara lain ternak ruminan dengan unggas hanyalah perbedaan bentuk/ struktur bahan pakan tetap untuk kandungan yang dibutuhkan oleh ternak tidak berbeda. Asal limbah pertanian atau agrobisnis terdiri dari kulit biji bunga matahari dan kulit kacang kedele. Serta jenis-jenis obat hewan yang terdiri dari coxy dan therapy. Sedangkan yang termasuk dari aditif pakan antara lain : egg stimulant, neobro, vita chick, supertop, multivit. Sedangkan bahan yang termasuk bahan pakan palsuan adalah batu bata, serta nama hijauan tanaman pakan terdiri dari : rumput setaria, rumput stylo, rumput benggala, rumput raja, rumput senduduk dan rumput gajah. Kita ketahui bahwa didalam pengenalan bahan pakan, terlebih dahulu bahan pakan itu sendiri terbagi menjadi pakan sumber protein hewani yang dibagi menjadi tepung ikan dan protein nabati dibagi menjadi bungkil kelapa dan bungkil kedele. Sedangkan sumber energi dibagi menjadi ada yang berbentuk biji-bijian atau butiran yang terbagi atas : padi dan jagung, Bahan-bahan pakan sumber energi antara lain jagung, beras, sorgum, dedak padi, hijauan (SK). Sumber protein antara lain tepung ikan, bungkil kedele, ampas tahu. Sumber lemak antara lain minyak sayur; sumber vitamin antara lain premik. Sumber mineral antara lain tepung tulanh, tepung kerabang telur, tepung kulit kerang, dll. Dewasa ini bahwa pengklasifikasian bahan pakan ada dua, pertama klasifikasi klasik dan kedua klasifikasi modern atau internasional. Klasifikasi klasik, bahan pakan dikelompokkan berdasarkan serat kasar atau sifat, Hijauan, Berdasarkan kandungan gizi, Berdasarkan asalanya, dan berdasarkan kegunaanya. Sedangkan klasifikasi modern dibagi atas beberapa kelas dengan urutan kelasnya adalah sebagai berikut: bahan pakan dikelompokkan: Hijauan kering dan jerami,
  • 5.
    5 Pasture dan hijauansegar, Silase, Sumber energi, Sumber protein, Sumber mineral, sumber vitamin, dan aditif. Dalam perusahan peternakan tidak lepas dari pakan, yang mana biaya produksi pakan yang tinggi yaitu 60-70%. Pakan yang terjual dipasaran merupakan pakan komersil saja. Ternak juga butuh pakan tambahan yang berfungsi membantu proses pertumbuhan dan perkembangan ternak seperti konsentrat. Pakan merupakan bahan makanan yang sangat erat hubungannya oleh ternak sebagai sumber kehidupan ternak yang mana nutrient adalah berbagai zat makanan yang terdapat dalam bahan makanan yang terdapat dalam bahan makanan yang digunakan dalam tubuh untuk memperoleh energi dan mengatur proses dalam tubuh. Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh kualitas bahan baku yang menyusunnya. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Preparasi Sampel adalah Suatu analisis suatu bahan pakan yang hanya akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan reprentatif. Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secara acak dari bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi. Pengambilan sampel perlu memperhatikan beberapa hal sepereti : Homogenitas sampel, Cara pengambilan sampel, Jumlah sampel. Penangan sampel, Prosesing sampel, dan Penentuan kadar sampel segar. Homogenitas sampel efek ukuran dan berat partikel sangat berpengaruh terhadap hemogenitas bahan, bagian yang berukuran dan mempunyai masa/berat lebih besar cenderung akan terpisah (tersegregasi)dari bagian yang lebih kecil dan ringan.oleh karena itu sebelum sampel diambil,bahan harus diaduk secara merata
  • 6.
    6 atau sampel diambilsecara acak dari beberapa bagian baik bagian dasar,bagian tenggah maupun bagian atas sehingga diperoleh sampel yang refresentatif, demikian juga pada hijauan disuatau lahan /area,kualitas hijauan pada tiap bagian tanaman atau lahan yang mempunyai kualitas yang relatif berbeda.. Cara pengambilan sampel dapat dilakukan secara aselektif dan selektif. Aselektif adalah pengambilan sempel secara acak dari keseluruhan sempel tanpa membedakan/memperhatikan atau memisahkan bagian dari sempel tersebut.misalnya dalam pengambilan sempel rumput gajah,sempel diambil secara keseluruhan tanpa memperhatikan bagian dari sempel tersebut. Selektif adalah pengambilan sempel dari sebagian sempel tersebut.misalnya sempel rumput gajah tersebut dipisahkan bagian dari bagian rumput tersebut yaitu bagian dari batang atau daun. Jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh dalam tingkat refresentatif sampel yang diambil.jumlah sempel yang diambil bergantung pada kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya.sebagai pedoman jumlah sempel yang diambil adalah 10% dari jumlah bahan. Penanganan terhadap sampel yang diambil harus segera di diamkan agar tidak rusak atau berubah sehingga mempunyai sifat yang berbeda dari mana sampel tersebut diambil, misalnya terjadi penguapan air,pembusukan maupun tumbuhnya jamur. Sempel yang mempunyai kadar air rendah (kurang dari 15%) sangat kecil kemungkinan untuk mengalami kerusakan, sampel demikian dapat langsung dimasukkan didalam kantong plastik dan dibawa ke laboraturium. Sampel dengan kadar air tinggi seperti hijauan atau silase berpeluang besar mengalami penguapan air,oleh sebab itu untuk mengontrol penguapan air sampel yang telah diambil harus segera ditimbang,dimasukkan kedalam kantong plastik kedap udara,dibawa ke laboraturium dan segera dianalisis kadar bahan keringnya. Prosesing sempel bertujuan untuk evaluasi terutama evaluasi secara mikroskopis,kimiawi,biologis,semua sempel harus digiling sehingga diperoleh sempel yang halus. Penentuan kadar air sampel segar, sampel dapat berasal dari tumbuh – tumbuhan (seperti rumput – rumputan,biji – bijian,buah – buahan,hasil ikutan
  • 7.
    7 produksi pertanian deanpangan).maupun hewan dan hasil ikutan.sebelim dikeringkan sempel harus dipotong – potong terlebih dahulu agar lebih cepat kering. Akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan representatif pada kegiatan resperasi sample pada praktikum ini dilakukan pengambilan sample yang benar merupakan analisa bahan pakan, maka teknik pengambilan sampel harus dilakukan dengan baik dalam arti tepat dan benar. Tujuan diadakannya praktikum bahan pakan dan formulasi ransum ini diharapkan kepada praktikan dapat mengetahui cara pengambilan sampel yang benar dan baik sesuai aturan praktikum, dan manfaat praktikum ini bagi praktikan yaitu parktikan dapat mengerti melakukan analisis ini sendiri dan dapat menerapkannya serta kita dapat lebih teliti dalam praktikum serta konsentrasi dalam pengamatan. Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya. Selain itu manfaat dari analisis proksimat adalah dasar untuk formulasi ransum dan bagian dari prosedur untuk uji kecernaan. Zat gizi sangat diperlukan oleh hewan untuk pertumbuhan, produksi, reproduksi, dan hidup pokok. Makanan ternak berisi zat gizi untuk kebutuhan energi dan fungsi-fungsidi atas. Tetapi setiap ternak kandungan zat gizi yang dibutuhkannnya berbeda-beda. Suatu keuntungan bahwa zat gizi, selain mineral dan vitamin tidak sendiri-sendiri mempunyai sifat kimia. Zat sumber energi dapat digolongkan misalnya dari sumber karbohidrat yang mempunyai kandungan kimia karbon, hydrogen dan oksigen. Sedangkan protein terdiri dari asam amino dan berisi ± 16 % nitrogen. Selain itu, analisis proksimat dapat digunakan untuk mengevaluasi dan menyusun formula ransum dengan baik. Mengevaluasi ransum yang telah ada seperti mencari kekurangan pada ransom tersebut kemudian kita bisa menyusun formula ransum baru dengan menambahkan zat makanan yang diperlukan.
  • 8.
    8 Analisis bahan pakanmerupakan makanan yang dapat dimakan oleh ternak dan tidak beracun atau tidak berguna bagi ternak. Bahan pakan terbagi dua yaitu bahan kering dan air. Bahan kering juga terbagi dua yaitu bahan organik dan abu. Bahan organik terbagi menjadi protein kasar dan (BOTN) bahan organik tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen terbagi dua lagi yaitu lemak kasar dan karbohidrat. Terakhir karbohidrat dibagi 2 serat kasar & (BETN) bahan ekstrak tanpa nitrogen. Bahan pakan lain semua bahan pakan yang dapat dimakan oleh ternak yang mengandung protein, lemak, bahan organik tanpa nitrogen terbagi lagi menjadi lemak kasar dan karbohidrat. Karbohidrat terbagi lagi menjadi serat kasar dan (BETN) bahan ekstrak tanpa nitrogen. Ternak membutuhkan zat-zat makanan yang ada dalam pakan seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Dengan adanya analisis proksimat, kandungan suatu pakan bisa diketahui. Contohnya pada rerumputan. Kita bisa mengetahui kandungan zat makanan dalam rumput. Setelah kita mengetahuinya, kita bisa membandingkan rumput apa saja yang paling tinggi kandungannya dan paling cocok bagi ternak. Energi pakan yang dikonsumsi ternak dapat digunakan dalam 3 cara: (1) menyediakan energi untuk aktivitas; (2) dapat dikonversi menjadi panas; dan (3) dapat disimpan sebagai jaringan tubuh. Kelebihan energi pakan yang dikonsumsi setelah terpenuhi untuk kebutuhan pertumbuhan normal dan metabolisme biasanya disimpan sebagai lemak. Kelebihan energi tersebut tidak dapat dibuang (diekskresikan) oleh tubuh ternak. Energi disimpan di dalam karbohidrat, lemak dan protein dari bahan makanan. Semua bahan tersebut mengandung karbon (C) dan hidrogen (H) dalam bentuk yang bisa dioksidasi menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O) yang menunjukan energi potensial untuk ternak. Jumlah panas yang diproduksi ketika pakan dibakar secara sempurna dengan adanya oksigen dapat diukur dengan alat kalorimeter bom dan disebut Energi Bruto (EB) dari pakan. Persentase EB yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh ternak dan digunakan untuk mendukung proses metabolik tergantung kemampuan ternak untuk mencerna bahan makanan. Pencernaan mencerminkan proses fisika dan kimia yang terjadi dalam saluran pencernaan dan menyebabkan pecahnya
  • 9.
    9 senyawa kimia kompleksdalam pakan menjadi molekul lebih kecil yang dapat diserap dan digunakan oleh ternak. Energi yang diserap tersebut disebut Energi Dapat Dicerna (EDD). Pada ternak non-ruminansia, kehilangan energi lebih lanjut terjadi melalui urin berupa limbah yang mengandung nitrogen dan senyawa lain yang tidak dioksidasi oleh tubuh ternak serta untuk ternak ruminansia selain melalui urin, kehilangan energi juga melalui pembentukan gas methan. EDD dikurangi energi yang hilang melalui urin (non-ruminansia) atau urin+methan (ruminansia) disebut Energi Metabolis (EM) pakan. Selama metabolisme zat makanan, terjadi kehilangan energi yang disebut Heat Increament. Sisa energi dari pakan yang tersedia bagi ternak untuk digunakan keperluan hidup pokok (maintenance) dan produksi disebut Energi Neto (EN). Dalam menentukan energi bruto dengan oxygen bomb calorimeter menggunakan alat serta bahan yaitu unit bomb calorimeter, tabung oksigen, termometer, alat pembuat pellet, kawat platina, larutan methyl orange dan larutan Na2CO3. Peningkatan suhu yang telah diukur dengan termometer dapat dihitung energi bruto yang telah dihasilkan. Penetapan energi bruto ini terjadi akibat adanya pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan. Perbedaan sampel juga dapat mempengaruhi. Kandungan yang terdapat pada energi bruto di dalam bahan organic dapat dicerminkan dengan melihat kondisi yang terjadi dari proses oksidasi yang dilakukan didalam mencari energi bruto tersebut. Besarnya energi kimia juga sangat dipengaruhi dengan adanya ratio antar C/H dengan atom O dan N. Untuk melakukan pengukuran energi bruto dalam bomb calorimeter protein akan mendapatkan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan energi karbohidrat, akan tetapi hasil pembakaran yang akan didapat di dalam tubuh ternak adalah nilai energi protein yang mempunyai zat-zat yang dibutuhkan tubuh mendekati energi karbohidrat. Banyaknya kandungan energi bruto didalam bahan makanan sangat tergantung pada komposisi dari karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat
  • 10.
    10 dalam bahan makanantersebut. Nilai energi bruto dari berbagai bahan makanan bermacam- macam dan tidak menentu, akan tetapi secara umum telah ditetapkan nilai energi bruto untuk KH = 4,15 kkal/kg, protein = 5,65 kkal/kg, dan lemak = 9,45 kkal/kg. Jumlah bahan pakan ternak yang mempunyai hitungan energi bruto yang tinggi juga tidak dapat menyumbangkan banyak enegi untuk keperluan tubuh dalam jumlah yang banyak pula dikarenakan hal ini sangat dipengaruhi oleh daya cerna bahan pakan ternak tersebut. Penyusunan ransum yang dapat sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap periode pertumbuhan dan produksi dipengaruhi oleh nilai gizi dan bahan-bahan makanan yang dipergunakan. Perubahan gizi didalam bahan pakan dapat dipengaruhi yang terutama oleh pengolahan dan penyimpanan. Sebenarnya, tidaklah begitu sulit untuk menyusun atau membuat ransum suatu ternak. Cara menyusun ransum dapat dikerjakan dengan bantuan tabel-tabel komposisi bahan makanan dan kalkulator tangan. Dengan cara mengkombinasikan berbagai bahan makanan dan menyesuaikan jumlah yang digunakan, kadar zat-zat makanan yang dibutuhkan dapat diperoleh. Karena bahan makanan ternak banyak jenisnya, maka sejumlah macam ransum dapat disusun secara sempurna. Dalam memilih suatu ransum untuk tujuan tertentu, yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan gizi, tersedianya bahan makanan, nilai pelengkapnya bila diberikan dalam kombinasi, harganya dan cara pemberiannya. Komposisi bahan pakan dalam beberapa buku menyajikan rataan dari sekumpulan data yang diperoleh dari beberapa hasil analisis dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan komposisi kimia suatu bahan pakan. Karena komposisi kimia suatu bahan pakan dipengaruhi beberapa faktor, seperti umur tanaman, kondisi tanah, iklim dan lain-lain, maka dalam penyusunan ransum bahan-bahan penyusun harus dianalisis, agar diperoleh ransum merata. Praktikum ini merupakan suatu kegiatan untuk menambah pengertian dan pemahaman tentang formulasi ransum, sehingga mahasiswa peternakan dapat memahami dan mengenal lebih lanjut dari pada formulasi ransum khususnya pada
  • 11.
    11 ayam broiler/ayam pedaging,bagaimana cara menyusun ransum yang sesuai dengan kebutuhan ayam broiler terhadap zat makanan tertentu. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum (BPFR) merupakan meteri kuliah yang dipraktikumkan yaitu berbagai jenis bahan pakan yang dapat dimakan oleh ternak dan bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan ternak itu sendiri serta mempelajari cara-cara dan penanganan bahan pakan tersebut. Pada praktikum bahan pakan dan formulasi ransum ini, materi yang dibahas adalah tentang mencampur ransum, dimana proses pencampuran dilakukan secara manual. Sebelum mencampur ransum, kita harus mengetahui bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu, selanjutnya mengaduk bahan tersebut hingga hasilnya rata atau homogen. Bahan yang dicampur terlebih dahulu biasanya jumlahnya sedikit dan bentuk fisik halus, bahan yang jumlahnya banyak dicampur kemudian. Ransum yang jumlahnya sedikit dapat dicampur secara manual tetapi ransum yang jumlahnya banyak pencampuran dapat digunakan dengan mesin campur ( mixer). Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum dicampur dari bahan pakan yang mengandung gizi lengkap seprti protein, lemak, serat kasar, vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu bahan pakan kualitas ransum tersebut juga semakin baik terutama dari sumber protein hewani. Bahan yang dapat digunakan untuk mencampur ransum yaitu dedak, bungkil inti kelapa sawit, jagung, tepung ikan, minyak sawit, premix. Pada dasarnya yang disebut sebagai mencampur ransum merupakan suatu kegiatan mengkombinasikan berbagai macam bahan makanan ternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan tersebut. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum mengenai pengenalan alat-alat laboratorium yaitu untuk memperkenalkan alat-alat laboratorium, fungsi dari masing-masing alat, dan cara penggunaan alat-alat laboratorium tersebut.
  • 12.
    12 Adapun tujuan dalampraktikum Bahan Pakan dan Formulasi ransum mengenai pengenalan bahan pakan adalah agar praktikan dapat menjelaskan berbagai macam bahan pakan sumber protein (hewani dan nabati), sumber energi (biji-bijian, lemak/minyak, dan hijauan), vitamin dan mineral. Di samping itu praktikan dapat menjelaskan bahan pakan yang tergolong aditif (antara lain obat- obatan, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan minyak esensial), suplemen (premix) dan bahan pemalsu pakan (sekam, pasir, dan serbuk gergaji). Adapun tujuan dari praktikum mengenai preparasi sampel adalah agar praktikan di dalam keberhasilan analisis suatu bahan pakan hanya akan dicapai jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan representatife. Tujuan dari praktikum mengenai analisis proksimat adalah untuk mengetahui kandungan zat makanan dari bahan pakan yang akan diuji. Bukan itu saja praktikum ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktikan dalam menganalisis proksimat baik meliputi pengetahuan dasar dan aplikasinya. Adapun tujuan dari praktikum mengenai analisis energi bruto adalah agar mahasiswa dapat mengetahui jumlah energi yang terdapat pada sampel,mendapatkan pengalaman cara-cara menentukan energi bruto, dan mengenal alat – alat dari penentuan energi bruto. Adapun tujuan dari pratikum bahan pakan dan formulasi ransum yang berjudul Analisis Karbohidrat adalah agar mahasiswa dapat mengetahui jumlah energi yang terdapat pada sampel. Adapun tujuan dari praktikum mengenai Formulasi Ransum yaitu agar mahasiswa belajar menyusun formula ransum sesuai dengan tujuan kebutuhan ternak, dan mengetahui komposisi pakan yang baik untuk ternak agar mendapatkan bobot badan ternak yang maksimal dengan meminimalisir harga bahan pakan seminim mungkin. Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum mencampur ransum ini yaitu praktikan mengetahui bagaimana cara dalam mencampur ransum yang baik dan benar, sehingga ransum yang diberikan kepada ternak dapat bermanfaat, baik untuk kesehatan maupun produktivitasnya.
  • 13.
    13 1.3 Manfaat Adapun manfaatdari praktikum mengenai pengenalan alat-alat laboratorium adalah praktikan dapat mengetahui apa nama alat-alat yang ada di laboratorium, mengetahui fungsi dari masing-masing alat dan mengetahui cara penggunaanya. Adapun manfaat dari praktikum mengenai pengenalan bahan pakan yaitu praktikan dapat mengetahui, mengenal dan membedakan secara langsung klasifikasi gambaran dari pada jenis-jenis bahan pakan ternak. Adapun manfaat dari praktikum mengenai preparasi sampel adalah agar dapat mengetahui perubahan kadar air dan bahan kering yang terjadi pada sampel. Manfaat yang diperoleh dari praktikum mengenai analisis proksimat adalah praktikan dapat melakukan prosedur kerja dengan baik. Adapun manfaat dari praktikum mengenai analisis energi bruto agar praktikan mampu menentukan kandungan dari suatu bahan pakan, praktikan dapat menjelaskan dan melakukan cara kerja penentuan kandungan bahan pakan. Adapun manfaat mengenai analisis karbohidrat adalah praktikan dapat menjelaskan dan melakukan cara kerja penentuan kandungan bahan pakan. Adapun manfaat dari praktikum mengenai formulasi ransum adalah agar praktikan lebih mengetahui kebutuhan ayam broiler terhadap suatu zat makanan dan dapat menyusun suatu ransum sesuai dengan kebutuhan. Manfaat dari pratikum mengenai mencampur sampel adalah agar praktikan dapat mengetahui dan mengerti proses pencampuran ransum dengan baik, dan juga mahasiswa mendapatkan pengalaman cara-cara dan mencampur ransum serta dapat memahami prinsip kerja dalam mencampur ransum. Sehingga nantinya kegiatan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam bidang peternakan.
  • 14.
    14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ketaren,﴾2008), menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki fungsi masinng – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer,hygrometer dan spektrofotometer,dll. Alat-alat pengukur yang disertai dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,barograph ( Moningka, 2008). Dari uraian tersebut,tersirat bahwa nama pada setiap alat menggambarkan mengenai kegunaan alat dan atau menggambarkan prinsip kerja pada alat yang bersangkutan. Dalam penggunaannya ada alat-alat yang bersifat umum dan ada pula yang khusus. Peralatan umum biasanya digunakan untuk suatu kegiatan reparasi, sedangkan peralatan khusus lebih banyak digunakan untuk suatu pengukuran atau penentuan (Moningka,2008). Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi (Indra, 2008) : 1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik. 2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran. • Pemanasan a)Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.b)Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer,
  • 15.
    15 tabung reaksi dll.C) Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.d) Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf. • Penyinaran dengan UV Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV. 3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol. Tanur sama jenis kegunaannya dengan oven, namun yang membedakan kedua alat ini ialah dimana tanur mempunyai derajat suhu yang lebih tinggi dari pada oven, sehingga setiap pakan yang dipanaskan menggunakan tanur akan berubah menjadi abu (Prawirokusumo, 2008). Tabung destruksi sepenuhnya terbuat dari gelas yang mudah sekali pecah apabila saat melakukan percobaan harus berhati-hati karena bahan perangkat tersebut sangat mudah sekali retak atau pecah (Debniknas, 2009). Mikroskop adalah alat yang paling khas dalam laboratorium mikrobiologi yang memberikan perbesaran yang membuat kita dapat melihat struktur mikroorganisme yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Mikroskop yang tersedia menungkinkan jangkauan perbesaran yang luas dari beberapa kali hingga ribuan kali (Lay,2008). Antonie Van Leuwenhook adalah orang yang pertama kali melihat bakteri dengan menggunakan instrumen optik yang terdiri atas lensa bikonvens. Pada waktu itu ia menemukan bakteri dalam berbagai cairan, diantara cairan tubuh, air, ekstrak lada, serta bir. Penemuan mikroskop pada waktu itu membuka peluang unttuk dilakukannya penelitian mengenai proses terjadinya fermentasi dan penemuan jasad renik penyebab penyakit (Ferdias, 2008). Andrea,2009, Kandungan nutrisi Jagung adalah: Karbohidrat 70%, Protein 10%, Air 11% sehingga pakan jagung dimasukkan ke dalam bahan pakan sumber energi, karena kandungan proteinnya di bawah 20%, biasanya jagung semakin kuning berarti kandungan nutrisinya lebih baik.
  • 16.
    16 Anggoro,2008, Feed additivemerupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika bagi ternak. Ardina,2008, Aditif bahan konsentrat, aditif bahan suplemen dan aditif bahan premix. Pakan aditif adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Selain itu merupakan tambahan umum digunakan dalam meramu pakan. Budianto,2009, Bahan pakan untuk ternak adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik maupun anorganik yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial. Selenium adalah salah satu contoh mineral yang baik untuk ternak. Dodo,2009, Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh dan terdapat 6 macam zat pakan yaitu: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. David,2008, Zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh antara lain: karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial juga tersedia dalam buah atau bijian seperti jagung dan kacang. Jefriko,2008, Pakan Sumber Karbohidrat merupakan senyawa yang banyak terdapat di alam terutama dalam tumbuhan dan hewan dan sangat berguna bagi sumber energi, dan zat-zatnya terdiri atas Mono,Di, dan Polisaccarida. Karina, 2008. Fungsi dari protein adalah sumber energi, suber gula darah, sumber glikogen, sumber bagian-bagian kerangka karbon untuk sintesis protein, dan sumber gula air susu bagi ternak. Kertanegara,2009, Molekul protein adalah sebuah polimer-polimer dari asam-asam amino yang digabungkan dengan ikatan-ikatan peptida. Liliana,2008, Fungsi-fungsi protein dan asam-asam nukleat dalam tubuh yaitu membangun dan menjaga protein jaringan dan organ tubuh, menyediakan asam-asam amino makanan, menyediakan energi dalam tubuh, Menyediakan sumber lemak tubuh ternak.
  • 17.
    17 Lora,2008, Fungsi proteinlain yaitu untuk menyediakan sumber gula darah, sumber beberapa hormon dalam tubuh, menyediakan komponen tertentu dari DNA, menyediakan komponen tertentu dari RNA, dan menyediakan komponen tertentu dari ATP. Mahmuddin,2008, Pakan sumber vitamin merupakan katalisator yang penting sekali dalam reaksi biokimia yang sangat penting dan selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melinda,2009, Umumnya vitamin digunakan untuk mendesain senyawa organik yang merupakan komponen pakan alamiah berbeda dari protein, karbohidrat dan lemak, dan berada dalam pakan normal dalam konsentrasi sangat kecil, serta penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Nanda,2008, Vitain A, D, dan E banyak diperoleh dari hijauan yang merupakan pakan pokok bagi ruminansia. Karena kemampuan mensintesis vitamin B kompleks dan vitamin K. Nelly,2009, Saat ini lebih dari 60 unsur mineral yang diketahui, yang terdiri dari mineral makro dan mineral mikro dalam bahan makanan dan jaringan tubuh. Diantara bahan pakan sumber protein tepung ikan merupakan bahan pakan yang paling baik dan superior dibandingkan dengan yang lainnya (Nurhayati, et all, 2008). Renova,2009, Apabila produksi tidak normal berarti terjadi ketidakseibangan energi dan protein, kalau protein dan energi sudah seimbang namun produksi juga tidak normal maka kemungkinan besar terjadi desiensi, kelebihan atau ketidakseimbangan mineral. Sartika,2008, Unsur-unsur yang membentuk bagian dari abu yang telah mengalami pembebasan dari komponen organik, itulah yang kita sebut dengan sebagai mineral, abu atau unsur-unsur organik. Sudibyo,2008, Feed additive adalah imbuhan yang umum digunakan dalam meramu pakan ternak, biasanya penambahan bahan hanya dalam jumlah yang sedikit, misalnya additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen dan additive bahan premix atau campuran.
  • 18.
    18 Urmadi,2009, Beberapa faktoryang mempengaruhi kebutuhan mineral yaitu antara lain: jenis dan level produksi, Bentuk ikatan kimia, Bangsa ternak, Proses adaptasi, Tingkat konsumsi, Umur hewan, Interksi dengan mineral lain. Fungsi mineral ialah sebagai struktur kerangka, fungsi homeostatis, dan fungsi utamanya ialah sebagai struktural. Walfin,2008, Feed additive adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Bradford ﴾2008﴿ menyatakan komposisi makanan ternak yang mengandung protei perlu mendapatkan perhatian dalam menyusun bahan pakan ternak. Sedangkan biji bijian, buah buahan, dan ayuran lain miskin akan vitamin. Choct, M. (2008), menyatakan bahwa komoditi jagung sangat respon terhhap industri pakan ternak dan industri pengolahan baik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku makanan ternak sehari hari. Oment, dkk. (2008), yang menyatakan bahwa suatu bahan makana ternak sangat baik jika mengandung sumber-sumber yang baik dan lebih baik jika mengandung protein yang tinggi. Selanjutnya pendapat dari ooment dinyatakan atau didukung dengan pendapat ( Yullen 2008), yang menyatakan bahwa hijauan makanan ternak mengandung berbagai sumber sperti sumber protein, sumber vitamin, sumber karbohidrat, sumber mineral. Parning, (2008).menyatakan bahwa bahan pakan merupakan sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan nabati, sumber energi, sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan mencukupi kebutuhan dari ternak. Sunarso et al. (2009), Bahan pakan (bahan makanan ternak) adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak (baik berupa bahan organik maupun organik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganngu kesehatan ternak.
  • 19.
    19 Ella. H. (2008),Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh (ada 6 macam zat pakan: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin). Waha. (2009), menyatakan bahwa zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh antara lain: karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial juga tersedia dalam buah maupun daun jagung. Tilman, (2009), Pemakaian dedak halus dalam jumlah banyak dalam ransum,akan terjadi kekurangan isoleusin dan treonin yang gejala-gejalanya sama dengan kekurangan lisin Hartadi,(2008), Tepung ikan adalah sumber protein yang sangat baik untuk unggas karena mengandung asam-asam amino esensial yang cukup untuk kebutuhan ayam dan sumber utama dari lisin dan merhionin. Soekanto, (2008), Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi didalam ransum, jagung mempunyai kadar triftopan yang rendah. Adnan,2008,mengatakan bahwa Hijauan makanan ternak (rumput dan legum) sampai hasil dan limbah tanaman pertanian dengan jumlah air yang terkandung didalamnya sangat beragam berat jenis airnya dan walaupun telah dikeringkan dengan jumlah berat awal yang sana akan tetapi hasilnya akan berbeda. Pada preparasi sampel, terdapat teknik pemanfaatan bahan pakan dengan konversi penggunaan bahan pakan yang sesuai pada standarnya. Anggoro,2008,mengatakn bahwa Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika bagi ternak. Carita,2008,mengatakan bahwa Pengurangan kadar air dengan pelayuan perlu ditentukan lama dan KA akhir yang diperoleh. Demikian juga penambahan air pada bahan dengan KA yang rendah, diperlukan perhitungan yang lebih cermat. Dedyarso,2009, Kadar air yang terdapat didalam bahan makanan akan menguap disebabkan oleh panas yang tersisa dimana dengan melakukan
  • 20.
    20 pengeringan secara alamidan secara buatan maka yang tertinggal hanyalah bahan keringnya saja. Ernidian,2008, Bahan pakan (bahan makanan ternak) adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak (baik berupa bahan organik maupun organik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganngu kesehatan ternak. Galuh,2009, Dalam penentuan kadar air dari setiap sampel-sampel dapat berasal dari tumbuh tumbuhan maupun hewan dan hasil ikutan lainnnya dengan kadar air yang berragam jumlah dan keadaan normalnya. Gursiyanti, (2009) menyatakan bahwa jangka pengambilan sampel harus dilakukan secara aselektif dan selektif dan penyimpanan bahan pakan yang lama. Ikalita,2008, Koefisien cerna yang ditentukan secara In vivo biasanya 1% sampai 2 % lebih rendah dari pada nilai kecernaan yang diperoleh secara In vitro. Pencernaan ruminansia terjadi secara mekanis, fermentative, dan hidrolisis. Joko,2008, Zat pakan (zat makanan) adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh dan terdapat 6 macam zat pakan yaitu: air, mineral, karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Karim,2011, Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secara acak dari bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi. Dalam pengambilan sampel suatu bahan harus dilakukan secara benar agar diperoleh sampel yang benar-benar representative. Laura,2008, Aditif bahan konsentrat, aditif bahan suplemen dan aditif bahan premix. Pakan aditif adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Selain itu merupakan tambahan umum digunakan dalam meramu pakan. Martha,2008, Bahan pakan untuk ternak adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak, baik berupa bahan organik maupun anorganik yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral-mineral esensial. Selenium adalah salah satu contoh mineral yang baik untuk ternak.
  • 21.
    21 Walfin,2010, Feed additiveadalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi. Adnan.2008. Formulasi ransum adalah upaya untuk mengkombinasikan berbagai macam bahan makananternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan dengan meniminalkan biaya yang ditimbulkan akibat penyusunan ransum tersebut. Carlia.2008. Makanan sumber protein adalah semua bahan makanan yang mempunyai kandungan protein 20% atau lebih,baik makanan berasal dari tumbuhan maupun hewan. Darmani.2008. Pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher 75% dan hari terakhir diberi ransum finisher seluruhnya. Jika tahapan ini tidak dilakukan maka nafsu makan ayam menurun untuk beberapa hari dan dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan. Ekanita.2009. Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging. Farhan.2010. Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih & cepat tumbuh. Farida.2008. Ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami pertumbuhan pesatpada umur 1 – 5 minggu. Selanjutnya dijelaskan bahwa ayam broiler yang berumur 6 minggu sudah sama besarnya dengan ayam kampung dewasa yang dipelihara selama 8 bulan. Keunggulan ayam broiler tersebut
  • 22.
    22 didukung oleh sifatgenetic dan keadaanlingkungan yang meliputi makanan, temperature lingkungan dan pemeliharaan. Galuh.2008. Kadar protein rata-rata dedak gandum adalah 15%; kadar lemak 9% dan biasanya kadar serat kasarnya tidak lebih dari semua bahan makanan ternak, akan tetapi dedak tersebut rendah kadar kalsiumnya. Kandungannya adalah 1,1% fosfor, tetapi hanya 1,14% kalsium. Bahan makanan ini kaya akan masin dan tinggi kadar thiaminnya. Tetapi rendah kadar riboflavinnya. Harmoko.2008. Kandungan dalam dedak gandum adalah serat kasar 89,29%; protein kasar 16,89%; serat kasar 9,91%; lemak kasar 3,59%; abu 4,96%, dan BETN 64,9%. Intan.2008. Ransum seimbang atau ransum serasi adalah ransum yang mengandung semua nutrien yang dibutuhkan ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Klementina.2008. Formulasi Ransum untuk ayam pedaging dibedakan menjadi dua macam yaitu ransum untuk periode starter dan periode finisher. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan nutrien ransum sesuai dengan periode pertumbuhan ayam. Kronika.2008. Ransum merupakan sumber utama kebutuhan nutrien ayam broiler untuk keperluan hidup pokok dan produksinya karena tanpa ransum yang sesuai dengan yang dibutuhkan menyebabkan produksi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Laurent.2009. Oleh karena sifatnya volumeous dan berserat tinggi serta sifat yang dipunyai tidak mengijinkan digunakan terlalu banyak pada ransum. Leo.2008. Khusus untuk ransum broiler, maka ransum broiler hendaklah memiliki nisbah kandungan energi-protein yang diketahui, kandungan proteinnya tinggi untuk menopang pertumbuhannya yang sangat cepat, mengandung energi yang lebih untuk membuat ayam broiler dipanen cukup mengandung lemak.
  • 23.
    23 Nana.2008. Konsumsi ransumayam broiler merupakan cermin dari masuknya sejumlah unsur nutrien kedalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk ini harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya. Okta.2008. Pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan- lahan kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum setelah itu menurun kembali hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan. Ratno.2009. Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan. Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit. Ratih.2008. Nutrien tersebut adalah energi, protein, serat kasar, kalsium (Ca) dan fosfor (P). Sumber energi utama yang terdapat ransum ayam broiler adalah karbohidrat dan lemak. Energi metabolisme yang diperlukan ayam berbeda, sesuai tingkat umurnya, jenis kelamin dan cuaca. Semakin tua ayam membutuhkan energi metabolisme lebih tinggi. Rahardja.2010. Energi yang dikonsumsi oleh ayam digunakan untuk pertumbuhan jaringan tubuh, produksi, menyelenggarakan aktivitas fisik dan mempertahankan temperatur tubuh yang normal. Reno.2008. Menyatakan bahwa kebutuhan energi untuk ayam broiler periode starter 3080 kkal/kg ransum pada tingkat protein 24%, sedangkan periode finisher 3190 kkal/kg ransum pada tingkat protein 21%. Angka kebutuhan energi yang absolut tidak ada karena ayam dapat menyesuaikan jumlah rasnsum yang dikonsumsi dengan kebutuhan energi bagi tubuhnya. Revika.2008. Kandungan protein dalam ransum untuk ayam broiler umur 1-14 hari adalah 24% dan untuk umur 14-39 hari adalah 21%. Riandy.2008. Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu.
  • 24.
    24 Sandra.2008. Menyatakan salahsatu ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang diperole baik itu daging atau telur (output). Shella.2008. Nilai suatu ransum selain ditentukan oleh nilai konsumsi ransum dan tingkat pertumbuhan bobot badan juga ditentukan oleh tingkat konversi ransum, dimana konversi ransum menggambarkan banyaknya jumlah ransum yang digunakan untuk pertumbuhannya. Sintha.2008. Semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas ransum semakin baik. Nilai konversi ransum dapat dipenuhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik, dan konsumsi ransum. Solihin.2008. Bahwa kebutuhan energi metabolis berhubungan erat dengan kebutuhan protein yang mempunyai peranan penting pada pertumbuhan ayam broiler selama masa pertumbuhan. Tandirta.2010. Nilai konversi ransum berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin tinggi. Nilai konversi ransum ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi ransum semakin rendah. Teriska.2008. Persentase serat kasar yang dapat dicerna oleh ternak ayam sangat bervariasi. Efeknya terhadap penggunaan energi sangat kompleks. Serat kasar yang tidak tercerna dapat membawa nutrien lain yang keluar bersama feses. Tika.2008. Kesanggupan ternak dalam mencerna serat kasar tergantung dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak tersebut dan tergantung pula dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan. Ternak ayam tidak dapat memanfaatkan serat kasar sebagai sumber energi. Tjatiro.2009. Serat kasar ini masih dibutuhkan dalam jumlah kecil oleh unggas yang berperan sebagi bulky, untuk memperlancar pengeluaran feses.
  • 25.
    25 Udin.2008. Serat kasaryang berlebihan akan mengurangi efisiensi penggunaan nutrien-nutrien lainnya, sebaliknya apabila serat kasar yang terkandung dalam ransum terlalu rendah, maka hal ini juga membuat ransum tidak dapat dicerna dengan baik. Ulfa.2008. Kebutuhan anak ayam (starter) akan kalsium (Ca) adalah 1% dan ayam sedang tumbuh adalah 0,6%, sedangkan kebutuhan ayam akan fosfor (P) bervariasi dari 0,2-0,45% dalam ransum. Uriph.2010. Ransum ternak unggas perlu mengandung mineral Ca dan P dalam jumlah yang cukup. Peranan Ca dalam tubuh ternak unggas tercermin jelas bahwa 70-80% tulang ternak terdiri atas Ca dan P. Vindra.2009. Ca dan P adalah mineral esensial, dan keduanya saling berhubungan erat dalam proses biologis ternak ayam. Nisbah Ca dan P antara 1:1-2:1. Apabila nisbahnya tidak tepat selanjutnya dapat mempengaruhi penyerapannya. Wahyu.2009. Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air. Wiryosuharto. S (2008) menyatakan bahwa bahan pakan sumber protein adalah bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein 20 % atau lebih, baik berasal dari hewan maupun tanaman. Kamal, (2008) menyatakan bahwa air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu 1050-1100C dengan tekanan udara bebas sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan tersebut.
  • 26.
    26 Soejono (2008) menyatakanbahwa analisis proksimat karena hasil yang diperoleh hanya mendekati nilai yang sebenarnya, oleh karena itu untuk menunjukkan nilai dari system analisis proksimat selalu dilengkapi dengan istilah minimum atau maksimum sesuai dengan manfaat fraksi tersebut. Tillman et al., (2008) menyatakan bahwa Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven dengan suhu 105ᵒC. Pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan penggunaanya dengan sampel disebut kadar air. Utomo (2009) menyatakan bahwa hijauan pakan segar berkadar air sangat tinggi, setelah dikeringkan 550C sampai beratnya tetap diperoleh bahan pakan dalam kondisi kering udara disebut juga berat kering, kering udara atau dry weight. Bahan pakan konsentrat pada umumnya berada pada kondisi kering udara dan sering disebut kondisi as fed (keadaan apa adanya). Prawiradiputra.Dkk, (2011) menyatakan bahwa pakan hijauan merupakan pakan utama bagi ternak sapi, hijauan pakan ternak terdiri dari rumput dan legume. Siregar. S, (2009) menyatakan bahwa bahan yang berasal dari hewan seperti tepung daging, tepung tulang, tepung kerabang telur, dan lain sebagainya adalah bahan makanan yang bekosentrasi tinggi, dengan kadar serat kasar rendah dan mudah di cerna. Protein, karbohidrat, dan air merupakan kandungan utama dalam bahan pangan. Protein dibutuhkan terutama untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, sedangkan garam-garam mineral dan vitamin juga merupakan faktor penting dalam kelangsungan hidup (Winarno 2010). Lemak yang dioksidasi secara sempur-na dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori/g lemak, sedangkan protein dan karbohidrat masing-masing menghasilkan 4,1 dan 4,2 kalori/g (Sediatama 2009). Minyak dan lemak terdiri atas trigliserida campuran, yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Minyak dan lemak dapat diperoleh
  • 27.
    27 dari hewan maupuntumbuhan. Minyak nabati terdapat dalam buah- buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, akar tanaman, dan sayuran. Trigliserida dapat berwujud padat atau cair,bergantung pada komposisi asam lemak yang menyusunnya. Sebagian besar minyak nabati berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh, sedangkan lemak hewani pada umumnya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak mengandung asam lemak jenuh. Kacang-kacangan (Leguminoceae) merupakan bahan pangan yang kaya akan protein dan lemak. Agar asam-asam lemak dalam kacang-kacangan dapat ditentukan, terlebih dahulu dilakukan ekstraksi minyak dan lemak antara lain ekstraksi dengan pelarut (solvent extraction) menggunakan heksan dan seperangkat soklet. Selanjutnya dilakukan esterifikasi untuk mengubah asam- asam lemak trigliserida menjadi bentuk ester. Pengubahan bentuk ini dilakukan untuk mengubah bahan yang nonvolatil menjadi volatil. Untuk menentukan jenis asam lemaknya dapat digunakan kromatografi gas. Pemisahan akan terjadi untuk setiap komponen asam lemak yang terdapat pada kacang-kacangan mengikuti ukuran panjang rantai asam lemak, dari yang terkecil sampai yang terbesar yang dibawa oleh fase gerak yang digunakan (H2, N2, dan O2). Pemisahan ini disebut size exclution chromatography. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui komposisi kimia beberapa komoditas kacang-kacangan. Lemak sekelompok molekul yang terdiri karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K) Lemak secara khusus mempunyai sebutan minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa (Anonim 2010). Analisis proksimat merupakan analisis yang diambil dari bahan pakan yang menguap serta bahan yang tinggal adalah bahan kering yang dapat dihitung pada penentuan kadar air. Anonymous (2009). Analisis proksimat adalah analisis terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak, abu dan serat. Arora (2008). Dengan serat kasar adalah sisa bahan makanan yang telah mengalami proses pemanasan dengan asam kuat selama 30 menit yang dilakukan di
  • 28.
    28 laboratorium. Berdasarkan pengujianserat kasar dengan SNI 01-2891-1992 harus memenuhi persyaratanh mutu yang telah ditentukan yaitu 7 %. Djojosoebagjo (2010). Penentuan kadar abu yaitu usaha untuk mengetahui kadar abu, dalam analisis secara umum ditentukan dengan membakar bahan pakan biasanya hanya zat-zat organik selanjutnya ditimbang, sisanya disebut abu. M. Rasyaf (1990) Kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten. Yunus (2009). Protein merupakan komponen penting yang terdapat dalam makanan, dari hasil penelitian bahwa protein sangat berkualitas tinggi. Sutardi (2010). Analisis proksimat adalah analisis atau pengujian kimia yang dilakukan untuk bahan baku yang akan diproses lebih lanjut dalam industri menjadi barang jadi. Moore (2010). Bahan pakan formulasi ransum terdapat perhitungan proksimat yang terdiri dari beberapa bagian yang mesti diperhitungkan pada penelitian tersebut. Praworo (2009). Dalam menyusun ransum kadar air bahan terpiilih harus diketahui dengan tepat atau setidaknya mendekati, disamping kadar nutrisi yang lain sehingga ransom yang kita susun akan mengandung zat-zat gizi yang tepat dan serasi sesuai dengan kebutuhan ternak yang dipelihara. ( Anggorodi.2010) Tubuh dapat kehilangan semua lemak, setengah atau lebih protein akan tetapi bila kekurangan 0,1 bagian dari kadar air yang normal ada dalam tubuh akan mengakibatkan kematian. Jadi ternak akan lebih menderita jika kekurangan air dari pada kekurangan protein, karbohidrat, lemak, vitamin atau mineral.(Maynard dan Loosli.2009) . Andrew (2008) menyatakan bahwa untuk memperoleh kadar BETN tidak boleh ada nilai kadar air, abu, protein, lemak dan serat kasar yang lebih dari 100. Sebab jika lebih dari seratus, maka akan diperoleh nilai BETN yang minus atau negatif. Jika BETN minus, berarti ada kesalahan dalam perhitungan kadar air, abu maupun dalam perhitungan yang lainnya
  • 29.
    29 Ager, (2009) menyatakanbahwa metode pengeringan untuk determinasi bahan kering pakan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, pengeringan temperature rendah, peneringan temperature tinggi, dan pengeringan beku, namun yang biasa dilakukan adalah pengeringan dengan temperature tinggi dengan menggunakan oven pada usaha 105 C. Hijuan merupakan bahan pakan ternak yang mempunyai kadar air yang tinggi sekitar 70-80% dari Hijuan ( Parakkari,2009 ). Lubis (2009) , dimana beliau menyatakan bahwa abu suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan tersebut pada suhu tinggi (500-600o c),dimana pada suhu ini bahan organik yang ada akan terbakar dan sisanya merupakan abu. Triaz (2008), dimana beliau menyatakan bahwa pada analisi protein kasar terdapat kesalahan asumsi yaitu mengasumsikan semua nitrogen bahan pakan merupakn protein padahal kenyataanya bahwa tidak semua nitrogen berasal dari protein dan mengasumsikan bahwa kadar nitrogen protein 16 % padahal kenyataanya kadar nitrogen protein tidak selalu 16 %. Hari Hartadi (2009), yang menyatakan bahwa pada umumnya untuk menguji kadar protein ditentukan kadar N secara kimiawi kemudian angka yang diperoleh dikalikan 6,25 (100:16) faktor tersebut digunakan sebab Nitrat mewakili sekitar 16% dari protein. Benny, T ( 2008 ) menyatakan bahwa analisis proksimat adalah analisis terhadap suatu bahan yang menyangkut air, protein, lemak, abu dan serat kasar. Eszra.Y. (2010), yang mengatakan bahwa kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten Hendrik (2009), menyatakan bahwa istilah ekstrak erher adalah yang paling tepat dalam analisis lamak karena dalam analisis proksimat senyawa tersebut diperoleh setelah melakukan ekstraksi menggunakan pelarut lemak. Adnan.2004. Formulasi ransum adalah upaya untuk mengkombinasikan berbagai macam bahan makananternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan
  • 30.
    30 zat makanan denganmeniminalkan biaya yang ditimbulkan akibat penyusunan ransum tersebut. Darmani.2001. Pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher 75% dan hari terakhir diberi ransum finisher seluruhnya. Jika tahapan ini tidak dilakukan maka nafsu makan ayam menurun untuk beberapa hari dan dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan. Ekanita.2006. Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging. Farhan.2007. Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yang dipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih & cepat tumbuh. Laurent.2005. Oleh karena sifatnya volumeous dan berserat tinggi serta sifat yang dipunyai tidak mengijinkan digunakan terlalu banyak pada ransum. Farida.2001. Ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami pertumbuhan pesatpada umur 1 – 5 minggu. Selanjutnya dijelaskan bahwa ayam broiler yang berumur 6 minggu sudah sama besarnya dengan ayam kampung dewasa yang dipelihara selama 8 bulan. Keunggulan ayam broiler tersebut didukung oleh sifat genetic dan keadaanlingkungan yang meliputi makanan, temperature lingkungan dan pemeliharaan. Galuh.2000. Kadar protein rata-rata dedak gandum adalah 15%; kadar lemak 9% dan biasanya kadar serat kasarnya tidak lebih dari semua bahan makanan ternak, akan tetapi dedak tersebut rendah kadar kalsiumnya. Kandungannya adalah 1,1% fosfor, tetapi hanya 1,14% kalsium. Bahan makanan
  • 31.
    31 ini kaya akanmasin dan tinggi kadar thiaminnya. Tetapi rendah kadar riboflavinnya. Harmoko.2001. Kandungan dalam dedak gandum adalah serat kasar 89,29%; protein kasar 16,89%; serat kasar 9,91%; lemak kasar 3,59%; abu 4,96%, dan BETN 64,9%. Intan.2000. Ransum seimbang atau ransum serasi adalah ransum yang mengandung semua nutrien yang dibutuhkan ternak sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Klementina.2004. Formulasi Ransum untuk ayam pedaging dibedakan menjadi dua macam yaitu ransum untuk periode starter dan periode finisher. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan nutrien ransum sesuai dengan periode pertumbuhan ayam. Kronika.2000. Ransum merupakan sumber utama kebutuhan nutrien ayam broiler untuk keperluan hidup pokok dan produksinya karena tanpa ransum yang sesuai dengan yang dibutuhkan menyebabkan produksi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Leo.2003. Khusus untuk ransum broiler, maka ransum broiler hendaklah memiliki nisbah kandungan energi-protein yang diketahui, kandungan proteinnya tinggi untuk menopang pertumbuhannya yang sangat cepat, mengandung energi yang lebih untuk membuat ayam broiler dipanen cukup mengandung lemak. Nana.2001. Konsumsi ransum ayam broiler merupakan cermin dari masuknya sejumlah unsur nutrien kedalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk ini harus sesuai dengan yang dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya. Okta.2001. Pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan- lahan kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum setelah itu menurun kembali hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan. Ratno.2006. Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan.
  • 32.
    32 Angka konversi ransumyang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit. Reno.2001. Menyatakan bahwa kebutuhan energi untuk ayam broiler periode starter 3080 kkal/kg ransum pada tingkat protein 24%, sedangkan periode finisher 3190 kkal/kg ransum pada tingkat protein 21%. Angka kebutuhan energi yang absolut tidak ada karena ayam dapat menyesuaikan jumlah rasnsum yang dikonsumsi dengan kebutuhan energi bagi tubuhnya. Riandy.2001. Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu. Sandra.2001. Menyatakan salah satu ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang diperole baik itu daging atau telur (output). Teriska.2000. Persentase serat kasar yang dapat dicerna oleh ternak ayam sangat bervariasi. Efeknya terhadap penggunaan energi sangat kompleks. Serat kasar yang tidak tercerna dapat membawa nutrien lain yang keluar bersama feses. Tika.2000. Kesanggupan ternak dalam mencerna serat kasar tergantung dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak tersebut dan tergantung pula dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan. Ternak ayam tidak dapat memanfaatkan serat kasar sebagai sumber energi. Tjatiro.2006. Serat kasar ini masih dibutuhkan dalam jumlah kecil oleh unggas yang berperan sebagi bulky, untuk memperlancar pengeluaran feses. Udin.2003. Serat kasar yang berlebihan akan mengurangi efisiensi penggunaan nutrien-nutrien lainnya, sebaliknya apabila serat kasar yang terkandung dalam ransum terlalu rendah, maka hal ini juga membuat ransum tidak dapat dicerna dengan baik. Ulfa.2001. Kebutuhan anak ayam (starter) akan kalsium (Ca) adalah 1% dan ayam sedang tumbuh adalah 0,6%, sedangkan kebutuhan ayam akan fosfor (P) bervariasi dari 0,2-0,45% dalam ransum.
  • 33.
    33 Uriph.2007. Ransum ternakunggas perlu mengandung mineral Ca dan P dalam jumlah yang cukup. Peranan Ca dalam tubuh ternak unggas tercermin jelas bahwa 70-80% tulang ternak terdiri atas Ca dan P. Vindra.2005. Ca dan P adalah mineral esensial, dan keduanya saling berhubungan erat dalam proses biologis ternak ayam. Nisbah Ca dan P antara 1:1-2:1. Apabila nisbahnya tidak tepat selanjutnya dapat mempengaruhi penyerapannya. Ewing (2001) menyatakan bahwa ayam lebih menyukai bahan – bahan makanan yang berwarna cerah. Unggas mengkonsumsi ransum kira-kira setara dengan 5% dari bobot badan.
  • 34.
    34 BAB III MATERI DANMETODA 3.1. Waktu dan Tempat Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum dilaksanakan pada hari Rabu, 2 April – 14 Juni 2014 pada pukul 14.00 Wib s/d selesai yang bertempat di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi. 3.2. Materi Adapu metoda yang digunakan pada saat praktikum yaitu: neraca analitik, eksikator, cawan porselin, oven, tanur, peralatan gelas, peralatan penyaring, penjepit, alat Soklet, alat-alat tulis, eksikator oven 105 C, soxhlet, lemari asam, pinset, sarung tangan, masker, tissue, kertas saring bebas lemak, batu didih, gelas ukur, biuret, destilator, labu destruksi, labu destilasi, gelas piala, corong bucner, pompa vacum dan pemanas listrik, Tabel Kebutuhan Ternak, Tabel komposisi bahan makanan ternak, Kalkulator, terpal, unit bomb calorimeter, tabung oksigen, termometer, alat pembuat pelet, kawat platina, larutan methyl orange, larutan Na2CO3, Erlenmeyer, kertas saring dan penyaring, pipet, spektrofotometer, aquades, larutan HCl, larutan NaOH, larutan fenol, larutan H2SO4, tepung bagas tebu, tepung tongkol jagung, tepung ampas jamu, tepung biji karet, tepung kulit durian, tepung kulit nanas, pelepah sawit, bungkil kelapa, tepung kelobot jagung, jagung kasar, bungkil inti sawit, serbuk gergaji, tepung biji durian, tepung legume callopogonium, tepung legume leucaena, tepung legume stylosanthes, tepung ampas tahu, tepung jeroan ikan, dedak padi, minyak sayur, tepung cangkang telur, tepung kulit kerang, tepung kulit duku, bungkil kedelai, tepung bulu ayam, serbuk batu bata, rumput benggala, rumput kumpei, rumput gajah, rumput raja, legume leucaena, feses ayam kampung, feses ayam broiler, feses kelinci, feses itik, feses sapi, feses kuda, feses kambing, feses rusa, dedak, minyak sayur, top mix, jagung. 3.3. Metoda Pada praktikum pengenalan alat-alat praktikum ini, para praktikan melakukan pengenalan alat-alat laboratorium dan mengamati alat-alat tersebut.
  • 35.
    35 Lalu para praktikanharus mengerti cara kerja dan fungsi dari alat-alat laboratorium yang di amati tersebut dan kemudian menggambarnya dengan baik. Metoda yang digunakan dalam pengenalan bahan pakan ini adalah pertama- tama mengamati bahan-bahan yang telah tersedia atau bahan-bahan yang telah dibawa setiap kelompok, setelah di amati kita diwajibkan untuk menentukan bahan pakan tersebut termasuk kemana, baik sebagai sumber protein (bagaimana bentuk fisiknya, tekstur, warna, dan bau), sumber energi baik berbentuk biji-bijian (bentuk fisik, ukuran (mm) ada panjang dan lebar), berbentuk tepung (bentuk fisik, warna, dan bau), berbentuk cairan (tingkat kekentalan, warna, bau, dan rasa), sumber mineral (bentuk fisik, warna, dan bau), asal limbah pertanian/agro atau pun by prodak industri (asal limbah, bentuk fisik, warna, dan bau), dan bahan pemalsuan pakan (warna, dan bentuk). Cara kerja atau metode yang dilakukan oleh praktikan pada praktikum preparasi sampel ini yaitu praktikan menimbang bahan yang masih dalam keadaan segar dimana berat itu adalah berat awal bahan tersebut setelah ditimbang kemudian bahan di jemur hingga kadar air tidak ada kemudian ditimbang lagi dan dihitung berat akhir lalu hitung kembali kadar air dan kadar bahan kering. Ada pun cara lain yang dapat dilakukan seperti dilakukan berikut ini cawan perselen yang telah dicuci bersih, dikeringan didalam oven ± 1 jam dengan temperatur 1050C. kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang, kemudian sampel sebanyak 0,5-1 gram dan dimasukkan dalam cawan porselen. Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkan dalam oven 1050C selama ± 12-16 jam, lalu cawan dan sampel dikeluarkan dari oven dan didinginkan dalam eksikator selama ± 10-20 menit sampai diperoleh berat yang tetap. Metoda pada praktikum formulasi ransum, yaitu Tentukan jenis ransum yang akan disusun terlebih dahulu, lalu tentukan bahan pakan yang akan digunakan. Kemudian tentukan kandungan zat makanan masing-masing bahan pakan penyusun ransum terpilih pada tabel komposisi zat makanan bahan pakan. Tentukanlah jumlah ransum yang akan disusun dan perkirakan persentase penggunaan setiap bahan pakan dari jumlah total bahan pakan. Hitung kontribusi
  • 36.
    36 zat gizi (PK,Sk, LK, Energi Metabolisme, dan Lemak) dari masing-masing jenis bahan pakan. Bandingkan hasil perhitungan ransum yang dibuat dengan kebutuhan ternak yang bersangkutan. Metoda yang digunakan dalam Analisis Proksimat ini adalah kegiatan pertama adalah : Penentuan Kadar Air Cawan porselan yang dicuci bersih, dikeringkan didalam oven selama + 1 jam dengan temperature 1050 C. Kemudian didinginkan didalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang (C). Sampel ditimbang sebanyak 0,5-1 gram (D) dan dimasukan kedalam cawan porselan. Kemudian cawan dan sampel tersebut dikeringkandalam oven 1050 C selama 12-16 jam. Cawan dan sampel (E) dikeluarkan dari oven dan didinginkan dalam eksikator selama 10-20 menit sampai diperoleh berat yang tetep. Untuk menghitung kadar air tersebut digunakan rumus : Kadar air (%X) = [berat cawan + berat sampel] – berat cawan + sampel x 100 % Berat sampel = (C+D) – E x 100% D Penentuan Kadar Abu Cawan porselan yang telah dicuci bersih di keringkan di dalam ovensekitar 1 jam pada temperature 1050 C. Kemudian didinginkan di dalam eksikator sekitar 10-20 menit dan ditimbang dengan teliti (F). sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 3 gram untuk sampel hijauan atau 5 gram untuk sampel konsentrat (G) dan dimasukan kedalam cawan porselan. Pijarkan sampel yang terdapat dalam cawan porselen hingga tak berasap. Bakar cawan porselen berisi sampel dalam tanur bersuhu 6000C. Selanjutnya sampel di biarkan terbakar selama 3-4 jam atau sampai warna berubah menjadi putih semua. Setelah sampel berwarna jadi putih,
  • 37.
    37 kemudian dinginkan dalamtanur pada suhu 1200c sebelum di pindahkan ke dalam eksikator. Setelah dingin di timbang dengan teliti (H). Untuk menghitung kadar abu di gunakan rumus: Kadar abu = G FH  x 100 % Penentuan Protein Kasar Sampel di timbang dengan teliti sejumlah 0,3 gram ( I )dan masukkan ke dalam labu destruksi dan ditambah kira-kira 0,2 gram katalis campuran dan 5 ml H2SO4 pekat. Campuran tersebut di panaskan dalam lemari asam, dan diperhatikan proses destruksi selama pemanasan agar tidak meluap. Destruksi dihentikan bila larutan sudah menjadi hijau terang atau jernih, lalu dinginkan dalam lemari asam. Selanjutnya larutan dimasukkan ke dalam labu destilasi dan diencerkan dengan 60 ml aquades dan dimasukkan beberapa buah batu didih. Ditambahkan pelan-pelan melalui dinding labu 20 ml NaOH 40% dan segera dihubungkan dengan destilator. Sulingan ( NH3 dan air ) ditangkap oleh labu erlemeyer yang berisi 25 ml H2SO4 0,3N dan 2 tetes indikator campuran (metylen red 0,1% dan bromcerol green 0,2% dalam alcohol). Penyulingan dilakukan hingga nitrogen dari cairan tersebut tertangkap oleh H2SO4 yang ada dalam erlemeyer (2/3 dari cairan yang ada pada labu destilasi menguap atau terjadi letupan-letupan kecil atau erlemeyer mencapai volume 75ml). labu erlemeyer berisi sulingan diambil dan dititer kembali dengan NaOH 0.3N ( J ). Perubahan dari warna biru ke hijau menandakan titik akhir titrasi dibandingkan dengan titer blanko ( K ). Untuk menghitung protein kasar digunakan rumus : Protein kasar (%) = %100 25,6014,0)( x I xxNaOHNormJK  Penentuan Lemak Kasar Sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 1 gram (L) dan dibungkus dengan kertas saring bebas lemak. Keringkan dalam oven 1050C selama 5 jam, didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (M),Sampel dimasukkan dalam tabung ekstraksi soxhlet. Alat soxhlet diisi dengan pelarut lewat kondensor
  • 38.
    38 dengan corong. Alatpendingin dialirkan dan panas di hidupkan. Ekstraksi berlangsung selama 16 jam sampai pelarut pada alat soxhet terlihat jernih sampel di keluarkan dari alat soxhlet dan di keringkan dalam oven 1050c selama 5 jam, kemudian di dinginkan dalam eksikator dan ditimbang (N). Menghitung lemak = %100x L NM  Penentuan serat kasar Kertas saring hatman No 41 dikeringkan di dalam oven 105 OC selama 1 jam dan ditimbang (O). sampel ditimbang dengan teliti sebanyak 1 gram (P) dan dimasukkan dalam gelas piala. Ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 n dan didihkanselama 30 menit. Selama 30 menit didihkan tambahkan dengan cepat 50ml NaOH 1,5 N dan didihkan kembali selama 30 menit. Selanjutnya cairan disaring melalui kertas saring yang telah diketahui beratnya daalm corong buncer yang telah dihubungka dengan pompa vacuum. Kertas saring bersama residu dimasukkan dalam cawan porselinbersih dan kering oven. Cawan berisi sampel dikeringkan dalam oven 105 OC sampai didapat berat yang konstan didinginkan dalam eksikator dan ditimbang (Q). sampel dipijarkan dalam cawan hingga tak berasap. Kemudian cawan bersama isinya dimasukkan dalam tanur 600 OC selam a 3-4 jam. Setelah isi cawan berubah menjadi abu yang berwarna putih, diangkat, didinginkan dn ditimbang (R). Untuk menghitung serat kasar digunakan rumus. Seart kasar (%) = Q-R-O x 100 % P Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) Kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) ditentukan dengan mengurangi total kandungan zat makanan dalam bahan pakan dengan persentase air, abu, protein kasar, lemak kasar, dan serat kasar. Rumus: BETN (%) = 100 % - (% air + % abu + % Pk + % Lk + % Sk ) Metoda yang digunakan dalam mencampur ransum yaitu Kelompokkan bahan-bahan yang jumlahnya sedikit dan teksturnya halus (misalnya garam,
  • 39.
    39 premix, CaCO3) dancampurkan sampai rata, Jika menggunakan dedak dan minyak sawit, campurkan keduanya terlebih dahulu. Setelah itu tambahkan tepung ikan, bungkil kedele, jagung dan bahan lainnya. Campurkan semua bahan tersebut sampai rata dan homogen. Metoda yang digunakan dalam menentukan energi bruto adalah pertama, sampel dalam bentuk pellet ditimbang 0,5 – 1 gram. Sampel dimasukkkan kedalam cawan bomb, kemudian disentuhkan kawat platina sepanjang 10 cm pada sampel dalam tabung bomb. Kemudian tabung bomb distabilkan dengan memutar tombol pemutar selama 5 menit, setelah itu dicatat suhu awal (TM). Sampel dibakar dengan menekan tombol pemutar pada alat parr ignition, biarkan temperature naik sampai stabil (lebih kurang 5 menit), setelah itu suhu dicatat sebagai suhu akhir (TA).kemudian, buka calorimeter, keluarkan tabung bomb dan buang oksigen dari bomb, lalu cuci bagian dala, tabung dan cawan bomb dengan menyeprotkan akuades dan berii beberapa tetes larutan methyl orange. Titer dengan larutan Na2CO3 dampai berbah warna, catat volume titrasi yang terpakai. (E1). Dan yang terakhir adalah kawat yang terbakar diukur dengan skala dari kawat yang tidak terbakar (E2). Dengan rumus sebagai berikut: 𝑒𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖 ( 𝑘𝑎𝑙 𝑔𝑟𝑎𝑚 ) = (TA − TM)x W − E1 − E2 berat sampel x % BK
  • 40.
    40 BAB IV HASIL DANPEMBAHASAN 4.1 PENGENALAN ALAT – ALAT LABORATORIUM Tabel 1. Pengenalan alat – alat laboratorium Literatur Fungsi alat Lemari Asam Tempat untuk mereaksikan zat, pemanasan, dan pekerjaan lain yang menghasilkan asap/ uap yang membahayakan kesehatan. Juga untuk menyimpan benda-benda ataupun larutan yang mudah menguap. Eksikator (Botol Pengering) Digunakan untuk menyimpan zat supaya tetap kering atau untuk mengeringkan zat. Neraca analitik Pada neraca analitik angka untuk massa benda langsung muncul ketika kita menimbangnya. Neraca digital ini juga termasuk neraca kasar.
  • 41.
    41 Oven Digunakan untukmengeringkan bahan. Ada oven 60⁰C (kering matahari) dan oven 105⁰C (kering BK). Cawan Petri Berfungsi untuk mengembangbiakan mikroba baik secara aerob maupun anaerob dengan media agar-agar. Labu Erlenmeyer Berfungsi sebagai wadah titrasi dan juga untuk mereaksikan zat. Corong Kaca Digunakan untuk memindahkan larutan ke wadah yang bermulut kecil dan juga untuk penyaringan.
  • 42.
    42 Gelas Ukur Digunakanuntuk mengukur volume suatu larutan dengan tudak tepat. Gelas Piala Berfungsi untuk wadah pemanasan, mereaksikan cairan dan membuat endapan dalam jumlah yang besar Buret Digunakan untuk titrasi dan mengeluarkan cairan dengan volume secara sembarang tetapi tepat. Tanur Berfungsi untuk penentuan kadar abu suhunya 300ºc – 600ºc
  • 43.
    43 Cawan porselin Wadahatau tempat sampel Alat socklet Untuk destilasi larutan. Juga untuk penentuan lemak kasar. Pompa semprot Sebagai alat bantu untuk memasukkan zat kedalam biuret. Timbangan Manual. untuk menimbang sampel secara manual.
  • 44.
    44 Corong Buncher Digunakandalam penentuan serat kasar. Pompa Vakum Untuk membantu penyaringan dalam serat kasar. Digunakan saat terjadi penyulingan dan untuk proses destilasi.
  • 45.
    45 Labu destruksi Digunakanpada proses destruksi dan biasanya juga dipakai di lemari asam. Pipet Biasa digunakan untuk proses pengambilan zsat atau sampel. Destilator Alat yang digunakan pada proses destilasi. Gelas kimia Sebagai wadah memanaskan sampel, tempat cairan yang ingin diuji,untuk mereaksikan sampel yang akan diabalisis.
  • 46.
    46 Cawan petri Sebagaiwadah tempat penelitian mikroba. Penjepit Untuk membantu mengambil dan mengangkat sampel Pengenalan alat - alat laboratorium salah satu komponen penting dalam melaksanakan kegiatan praktikum di dalam laboratorium dengan perlengkapan laboratorium ini mempunyai fungsi yang beragam mulai dari yang sangat spesifik untuk pengujian zat tertentu hingga yang bersifat universal, hal ini sesuai pendapat Ketaren ,﴾2008), menyatakan bahwa setiap alat –alat lab memiliki fungsi masinng – masing dan mempunyai peranan yang berbeda-beda. Yaitu sebagai berikut : Gambar.1 Neraca atau timbangan Fungsi dari pada neraca atau timbangan pertama berfungsi untuk menimbang dalam jumlah sekala paling kecil, dan neraca bisa juga digunakan untuk menimbang ukuran yang paling besar, dan juga berfungsi untuk menimbang sampel dengan jumlah yang besar.
  • 47.
    47 Gambar.2 Oven Oven berfungsiuntuk memanaskan sampel atau bahan dengan suhu yang digunakan adalah 105°C sehingga otomatis kadar airnya akan berkurang dengan kata lain oven juga digunakan sebagai merubah sampel atau bahan menjadi sisa bahan kering. Gambar.3 Eksikator Eksikator berfungsi untuk mendinginkan sampel atau bahan setengah dipanaskan dengan oven , dengan syarat : bahan atau sampel yang masih panas tidak boleh langsung dimasukkan kedalam eksikator terlebih dahulu dimana didalam tabung eksikator terdapat butir-butiran ( Silika gell) yang berfungsi untuk menyerap panas suatu bahan atau sampel, dan untuk membuka tutupnya harus digeser dan tidak boleh diangkat begitu saja.
  • 48.
    48 Gambar.4 Cawan porselin Cawanporselin berfungsi untuk menempatkan sampel yang akan dipanaskan dan sebagai alat yang digunakan untuk tempat sampel yang akan diteliti atau di praktikumkan dan mengusahakan agar suhu didalam cawan porselin tersebut tidak terkontaminasi dengan suhu udara luar. Gambar.5 Tanur Tanur berfungsi untuk memanaskan sampel atau bahan yang digunakan pada suhu 400- 600°C hingga sampel berubah menjadi abu, biasanya digunakan untuk mengukur kadar abu dari pada suatu percobaan.
  • 49.
    49 Gambar.6 Biuret Buret berfungsiuntuk meneteskan zat yang akan digunakan untuk penelitian atau pencamuran suatu bahan percobaan. Dan juga berfungsi untuk sebagai mentitrasi cairan, pada skala buret ini lebih akurat dibandingkan dengan gelas ukur. Gambar.7 Pipet Berbagai jenis dari pipet: Pipet ukur:Untuk mengukur volume larutan dengan tingkat ketelitian yang tinggi (Untuk mengukur volume larutan sesuai dengan ketentuan yang ada pada pipet.0,01 mm).Pipet gondok: Untuk mengukur volume larutan sesuai dengan ketentuan yang ada pada pipet.Pipet tetes:Digunakan untuk memindahkan beberapa tetes zat cair.Ball pipet:Sebagai pasangan antara pipet ukur dan pipet gondok yang disertai dengan tanda untuk menghisap(↑) dan untuk mengeluarkan larutan (↓). Berikut ini merupakan gambar dari pada pipet ukur,pipet tetes,ball pipet dan pipet gondok: Pipet ukur Pipet gondok
  • 50.
    50 Pipet tetes Ballpipet Gambar.8 Corong Buchener Corong Buchner adalah sebuah peralatan laboratorium yang digunakan dalam penyaringan vakum. Di bagian atasnya terdapat sebuah silinder dengan dasar yang berpori-pori. Corong Hirsch juga memiliki struktur dan kegunaan yang sama, namun ia lebih kecil dan biasanya terbuat dari kaca.Bahan penyaring (biasanya kertas saring) diletakkan di atas corong tersebut dan dibasahi dengan pelarut untuk mencegah kebocoran pada awal penyaringan. Cairan yang akan disaring ditumpahkan ke dalam corong dan dihisap ke dalam labu dari dasar corong yang berpori denganpompa vakum. Gambar.9 Alat Soklet Alat soklet dapat secara khusus untuk penentuan kadar lemak. Fungsi dari alat ini: sebagai media untuk mengukur kadar lemak, dan untuk mengurangi ataupun mengeluarkan serta memompakan cairan pada saat terjadinya pemisahan lemak.
  • 51.
    51 Gambar.10 Autoclave Autoclave berfungsimensterilkan alat-alat laboratorium yang kita gunakan dengan menggunakan uap air. Gambar.11 Lemari Asam (Anonim:2008), Lemari asam yaitu alat yang ada dilaboraturium yang seperti lemari besar. Lemari asam berfungsi sebagai penyerap racun ketika pembakran bahan pakan. Hal ini sesuai dengan Prinsipnya adalah sama untuk kedua jenis udara digambarkan dalam dari depan (terbuka) samping kabinet, dan dibuang di luar gedung atau dibuat aman melalui filtrasi dan dimasukkan kembali ke dalam ruangan.
  • 52.
    52 Gambar.12 PompaVakum Pompa vakumdipakai dalam proses penyaringan pada analisis serat kasar. 4.2 PENGENALAN BAHAN PAKAN Bahan pakan adalah sesuatu yang bisa dimakan, dicerna seluruh/sebagian tubuh dan tidak menggangu kesehatan ternak yang memakannya. Didalam bahan pakan terdapat zat-zat yang dinamakan nutrient yang dibutuhkan oleh ternak untuk metabolisme yang menghasilkan energi untuk hidup pokok dan untuk produksi. Bahan makanan yang digunakan dalam metabolism antara ke-3 jenis makanan secara umum tersebut, makanan tersebut bebeda untuk metabolism yang didasarkan pada struktur dan bentuk-bentuk daripada pakan tersebut. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat (Urip Santoso 2010), menyatakan bahwa bentuk fisik bahan makanan dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu bahan makan butiran ( jagung, kacang-kacangan, sorgum ), bahan makan berbentuk tepung ( dedak halus, tepung ikan, tepung tulang ) dan bahan makan berbentuk cairan ( minyak ikan, minyak kelapa, molasses ). Komponen dari bahan makanan yang dapat dicerna/diserap dan digunakan dalam tubuh ternak terdiri dari: karbohidrat, protein, lemak,vitamin, mineral dan air. Energi tidak termasuk kedalam nutrient karena energi diperoleh dari pembakarn zat makanan tersebut. Secara umum bahan pakan merupakan segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak dan tidak beracun terhadap ternak tersebut. Bahan pakan dibagi dua yaitu bahan kering dan air. Sedangkan bahan kering juga dibagi dua yaitu bahan organik dan abu. Selanjutnya bahan organik dibagi lagi menjadi protein kasar dan bahan organik tanpa nitrogen. Bahan organik tanpa nitrogen dibagi lagi menjadi lemak kasar dan karbohidrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Banerjee (2010),
  • 53.
    53 yang menyatakan bahwapakan merupakan sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik itu yang bersumber dari protein hewani dan nabati, sumber energi, sumber mineral dan sumber-sumber yang lain yang akan mencukupi kebutuhan dari ternak.  Sumber Protein Sumber Protein adalah semua bahan pakan ternak yang bahan makan sumber protein adalah bahan makanan yang kaya akan protein dengan nilai protein di atas 20 persen. Fungsi protein meliputi banyak aspek. 1) Sebagai struktur penting untuk jaringan urat daging, tenunan pengikat, kolagen, rambut, bulu, kuku dan bagian tanduk serta paruh. 2) Sebagai komponen protein darah, albumin dan globulin yang dapat membantu mempertahankan sifat homeostatis dan mengatur tekanan osmosis. 3) sebagai komponen fibrinogen dan tromboplastin dalam proses pembekuan darah sebagai komponen fibrinogen, tromboplastin. 4) Sebagai karrier oksigen ke sel dalam bentuk sebagai hemoglobin. 5) Sebagai komponen lipoprotein yang berfungsi mengangkut vitamin yang larut dalam lemak dan metabolit lemak yang lain 6) Sebagai komponen enzim yang bertugas mempercepat reaksi kimia dalam sistem metabolisme. 7) Sebagai nukleoprotein, glikoprotein dan vitellin.  Pakan Sumber Protein  Tabel .2 Protein Hewani No. Bahan pakan Bentuk fisik Tekstur Warna Bau 1. Tepung jeroan ikan Tepung Serbuk kasar Coklat Bau amis 2. Tepung bulu ayam Tepung Serbuk halus Putih Bau amis Gambar.13 Tepung jeroan ikan Hal tersebut sesuai dengan pendapat Gopalan,V. (2009), yang mengatakan bahwa kandungan nutrisi tepung ikan adalah berkisar antara 60 – 70%. Tepung
  • 54.
    54 ikan merupakan pemasoklysin dan metionin yang baik, di mana hal ini tidak terdapat pada kebanyakan bahan baku nabati. Mineral kalsium dan fosfornya pun sangat tinggi, dan karena berbagai keunggulan inilah maka harga tepung ikan menjadi mahal.  Tabel.3 Protein Nabati No. Bahan Pakan Bentuk Fisik Tekstur Warna Bau 1. Tepung ampas tahu Tepung Serbuk halus Putih Harum 2. Tepung bungkil kedelai Tepung Serbuk halus Putih Harum 3. Tepung biji karet Tepung Butiran halus Hijau Bau apek 4. Bungkil kelapa sawit Tepung Serbuk halus Coklat tua Bau menyengat 5. Tepung leucaena Tepung Serbuk halus Hijau Harum Bahan pakan sumber protein bisa juga berupa biji. bijian, misalnya tepung bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas, atau tepung-tepungan yang berasal dari hewan atau bagian tubuh hewan, seperti tepung ikan dan tepung darah. Ayers,R.S., (2008), yang menyatakan bahwa bungkil kedele merupakan limbah dari industri minyak biji kedele. Kandungan protein bungkil kedele yang diperoleh secara mekanik adalah 41% dan mempunyai kandungan lemak 4,8%. Sedangkan yang diperoleh dengan pelarutan mempunyai kandungan lemak sebesar 1,32%. Bungkil kedele agak rendah mengandung kalsium (0,27%).
  • 55.
    55 Kandungan phospor lebihrendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas yaitu rata-rata 0,63%. Seperti biji kedele, bungkil kedele tidak menyediakan karoten dan vitamin D. Bungkil kedele tidak kaya riboflavin tetapi kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butiran lainnya.Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat Partodihardjo (2008), yang menyatakan bahwa tidak seperti tepung dan minyak ikan, bungkil kacang kedelai/soybean meal (SBM) merupakan sumber global protein dan lemak yang sangat berlimpah. Penggantian tepung dan minyak ikan dengan SBM memberikan kemungkinan kestabilan harga pakan ternak di masa depan. Menurut Haines,TH. (2008), yang merekonmendasi bahwa golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok: a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka,daun ketela rambat, ganggang dan bungkil). b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero. c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya). Gambar. 14 Literatur bahan pakan sumber protein nabati Bungkil Kedelai Bungkil kelapa sawit  Sumber Energi Sumber Energi adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi seratkasar di bawah 18%.
  • 56.
    56 Berdasarkan jenisnya, bahanpakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum) b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan) c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya) d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria). Tabel.4 Bentuk Biji – bijian / Butir – butiran No. Bahan Pakan Bentuk Fisik Tekstur Warna Bau 1. Jagung kasar Burtiran Kasar Orange Tidak berbau 2. Dedak padi Tepung Serbuk halus Putih Harum 3. Tepung biji durian Tepung Serbuk halus Coklat kehitaman Harum 4. Bungkil inti sawit Tepung Serbuk halus Coklat Harum Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat. Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan.Berg,J.M., (2009)Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. Jagung merupakan bahan pakan yang sangat baik dan disukai ternak, namun pemakaian jagung dalam ransum yang berlebihan untuk ternak akan menyebabkan kelebihan lemak dan juga dapat mengakibatkan ternak sulit berproduksi. Jagung merupakan butiran yang mempunyai total nutrien tercerna (TDN) Net Energi (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tinggi (81,9%) adalah karena jagung sangat kaya akan
  • 57.
    57 bahan ekstrak tiadanitrogen (BETN) yang hampir semua patinya. Soekanto, (2010), Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi didalam ransum, jagung mempunyai kadar triftopan yang rendah. Gambar.15 Literatur bahan pakan sumber energi Bungkil kelapa Dedak padi jagung kasar Tabel.5 Berbentuk cairan No Bahan pakan Bentuk fisik Tekstur Warna Bau 1. Minyak sayur Cairan Cair Kuning Bau apek  Sumber Mineral Bahan makanan unggas sumber mineral terbesar berasal dari hewan, di samping sebagian kecil dari tumbuh-tumbuhan. Contoh yang dapat dikemukakan adalah tepung kulit kerang dan tepung cangkang telur. Tabel.6 Sumber Mineral No. Bahan Pakan Bentuk Fisik Tekstur Warna Bau 1. Tepung kulit kerang Tepung Serbuk halus Abu-abu Bau menyengat 2. Tepung cangkang telur Tepung Serbuk halus Putih Bau amis Semua mineral dianggap ada dalam tubuh hewan. Pengelompokan mineral- mineral yang dianggap esensial bagi ternak dibagi menjadi tiga, yaitu mineral makro yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif banyak dan karenanya sangat
  • 58.
    58 esensial, mineral mikroyang dibagi menjadi dua yaitu esensial dan kemungkinan esensial bagi ternak karena kebutuhannya hanya sedikit dan mineral trace yang dibagi menjadi dua yaitu kemungkinan esensial dan yang fungsinya belum pasti karena mungkin dibutuhkan dalam jumlah sedikit.  Limbah Pertanian Limbah pertanian sebagai pakan ternak terdiri atas jerami untuk yang dan tanaman lainnya yang umum digunakan diantaranya : Jerami padi, Jerami jenis kacang-kacangan , Jerami Jagung, dan Limbah tanaman lainnya. Limbah pertanian lainnya yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan untuk ternak antara lain (Ety Widayati, dkk 2009) antara lain kulit buah nanas (diberikan 15% dari jumlah pakan), biji pepaya (diberikan 15% dari jumlah pakan) dan bungkil kelapa sawit karet (diberikan 20% dari jumlah pakan). Limbah ini dapat diberikan langusng kepada ternak. Tabel.7 Asal Limbah Pertanian/Agroindustri No. Nama limbah Asal limbah Bentuk fisik Warna Bau 1. Tepung pelepah daun sawit Daun sawit Tepung Coklat Harum 2. Tepung tongkol jagung Tongkol jagung Tepung Coklat muda Tidak berbau 3. Tepung klobot jagung Daun jagung Tepung Hijau Harum 4. Tepung bagas tebu Daun tebu Tepung Putih Harum 5. Ampas tahu Kacang kedelai Tepung Putih Harum 6. Tepung kulit durian Kulit durian Tepung Putih Bau menyengat 7. Tepung kulit duku Kulit duku Tepung Bau apek
  • 59.
    59 Gambar.16 Literatur bahanpakan asal limbah pertanian/ agroindustri Bagas tebu Pelepah sawit Klobot jagung  Bahan Palsuan Pakan Bahan Pemalsuan pakan adalah bahan pakan tiruan atau mirip dengan bentuk bahan pakan yang lain akan tetapi bahan pakan pemalsuan ini tidak dapat diberikan kepada ternak, karena bahan pakan pemalsu ini akan membawa dampak/efek negatif bagi kesehatan (tubuh) ternak. Tabel.8 Bahan Palsuan Pakan No. Nama Bahan Warna Bentuk Digunakan/dicampur pada bahan pakan 1. Serbuk gergaji Kuning pucat Serbuk - 2. Serbuk batu bata Merah Bata Serbuk - 3. Pasir Coklat Kasar - Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat Srigandono (2010), yang menyatakan bahwa bahan pemalsuan pakan tidak terdapat kandungan nutrisi (nilai gizi) yang baik bagi kesehatan (tebuh) ternak, karena bahan pemalsuan ini tidak berasal atau bersumber dari hewan dan tumbuh-tumbuhan sehingga bahan pemalsuan pakan ini tidak terdapat kandungan nutrisi.Dampak/pengaruh negatif dari bahan pemalsuan pakan ini yaitu dapat membuat ternak menjadi sakit dan
  • 60.
    60 akhirnya ternak tersebutmenjadi mati. Contoh bahan pemalsuan pakan ini adalah serbuk gergaji, serbuk batu bata, batu kapur dan bahan-bahan lainnya. Gambar 17 Literatur bahan pakan palsuan Serbuk gergaji Serbuk batu bata Pasir  Tabel.9 Bahan pakan hijauan No Jenis pakan Bentuk fisik Tekstur Warna Bau 1. Tepung legume callopogonium Tepung Serat kasar Hijau Bau menyengat 2. Tepung legume styloshantes Tepung Serat kasar Hijau Bau menyengat 3. Tepung legume leucaena Tepung Serat kasar Hijau Bau menyengat 4.3 PREPARASI SAMPEL Sampel merupakan bagian dari suatu bahan yang diambil secara acak dari bahan tersebut untuk selanjutnya dievaluasi.Preparasi Sampel adalah Suatu analisis bahan pakan yang hanya akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan reprentatif. Dalam pengambilan sampel suatu bahan harus dilakukan secara benar agar diperoleh sampel yang benar-benar representatif, yang mampu menggambarkan keadaan bahan yang diambil sampelnya secara tepat.Pengambilan sampel perlu memperhatikan beberapa hal
  • 61.
    61 seperti: Homogenitas sampel,Cara pengambilan sampel, Jumlah sampel, Penangan sampel, Presesing sampel., dan Penentuan kadar sampel segar. Hal yang akan dibahas pada praktikum ini yaitu: penentuan kadar air sampel segar. Sampel segar tersebut yaitu rumput gajah, rumput raja, feses sapi, dan feses ayam. Untuk jenis dari pada hijauan yang diri dari rumput benggala,rumput raja,rumput kumpei,rumput gajah, legume leucaena. Untuk rumput gajah Pengambilan rumput gajah yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini.namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sampel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan padasampel diperoleh berat sampel yaitu 300 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan kadarbahan kering (BK)yaitusebesar 60%. Untuk rumput kumpei Pengambilan rumput kumpei yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini, namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 750 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu 600 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg). Kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 20%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan kadarbahan kering (BK) adalah 80%. Untuk rumput raja Pengambilan rumput raja yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini,
  • 62.
    62 namun sebelum dikeringkandiperoleh berat dari sampel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sampel diperoleh berat sempel yaitu 300gr. Setelah berat awal yaitu sampel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sempel adalah 60%. Untuk rumput benggala Pengambilan rumput benggalayang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini, namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu 200 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 60%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sempel udara adalah 40%. Untuk legume leucaena Pengambilan legume leucaenayang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini, namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu 300 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sempel udara adalah 60%.
  • 63.
    63 Untuk rumput kumpei Pengambilanrumput kumpei yang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini, namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu 300 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 40%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sempel udara adalah 60%.Maka hal tersebut sesuai dengan pendapat Berg,J.M., (2009),menyatakan bahwa sampel yang berasal dari tumbuh- tumbuhan seperti rerumputan, biji-bijian, buah-buahan, hasil ikutan produksi pertanian dan pangan maupun berasal dari hewan dan ikutan lainnya, sebelum dikeringkan bahan segar dipotong-potong untuk mendapatkan partikel yang lebih kecil agar dapat dengan cepat kering. Untuk rumput kumpei Pengambilan rumput kumpeiyang segar,kemudian dipotong dalam ukuran partikel yang lebih kecil yang bertujuan untuk pengeringan yang lebih cepat ini.namun sebelum dikeringkan diperoleh berat dari sempel segar (Ag) adalah 500 gr. Setelah dilakukan proses pengeringan pada sempel diperoleh berat sempel yaitu 100 gr. Setelah berat awal yaitu sempel segar sebelum di keringkan (Ag) dan berat sempel setelah di lakukan proses pengeringan atau sempel kering (Bg).kemudian dicari selisih antara berat sebelunya dengan setelah dikeringkan merupakan kadar air (KA) adalah 80%. Setelah kadar air diperoleh selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sempel udara adalah 20%. Untuk jenis sempel dari pada feses adalah sebagai berikut yaitu feses kuda, fesesayam kampung,feses ayam broiler, fesessapi,feseskelinci,feses itik,feses kambing.
  • 64.
    64 Untuk feses kuda Pengambilanfeses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 675 grdan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 400 gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg). Selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 41%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) udara sempel yaitu 59%. Untuk feses ayam kampung Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 520 gr, dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 470gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 9%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) udara sempel yaitu 90% Untuk feses ayam broiler Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 300 gr. Dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 150gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sampel yaitu 50% Untuk feses sapi Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh
  • 65.
    65 berat sebelum fesesdi keringkan/berat awal (Ag) adalah 550 gr.dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 300gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg). Selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu45%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) udara sempel yaitu 55%. Untuk feses kelinci Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 1000 gr. Dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 500gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sampel yaitu 50%. Untuk feses itik Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 600 gr.Dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 400gr. Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag) dan (Bg) yang disebut kadar air (KA) yaitu 33%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sampel yaitu 67%. Untuk feses kambing Pengambilan feses dalam keadaan segar,sebelum dilakukan proses pengeringan pada feses, feses harus terlebih dahulu di timbang untuk diproleh berat sebelum feses di keringkan/berat awal (Ag) adalah 1000 gr.dan setelah di lakukan pengeringan timbang kembali berat/massa dari sempel (Bg) adalah 500 gr Setelah berat awal dari feses di peroleh (Ag) dan berat setelah dilakukan proses pengeringan (Bg).selanjutnya dicari selisih antara keduaanya yaitu (Ag)
  • 66.
    66 dan (Bg) yangdisebut kadar air (KA) yaitu 50%. Selanjutnya dapat ditentukan bahan kering (BK) sampel yaitu 50%. Berikut ini adalah tabel dari hasil pengamatan/perhitungan dari (Ag)berat awal/sempel segar,(Bg)berat setelah dilakukan pengeringan/sempel kering,(KA) kadar air sampel segar,(BK) bahan kering udara sempel,maupun bahan kering sempel ovendan (KA) segar(%) untuk (KA) total dan (BK) total yang di perolehuntuk semua jenis sampel baik berupa feses maupun hijauan. Tabel.10 Preparasi sampel Kelo mpok Bahan Berat Awal (gr) Berat Kering (gr) Kadar Air (%) Kadar Bahan Kering (%) 9 Rumput gajah 500 300 40 60 Feses kuda 675 400 41 59 10 Rumput kumpei 750 600 20 80 Feses ayam kampung 520 470 10 90 11 Rumput raja 500 300 40 60 Feses ayam broiler 300 150 50 50 12 Rumput benggala 500 200 60 40 Feses sapi 550 300 45 55 13 Legume leucaena 500 300 40 60 Feses kelinci 1000 500 50 50 14 Rumput kumpei 500 300 40 60 Feses itik 600 400 33 67 15 Rumput kumpei 500 100 80 20 Feses kambing 1000 500 50 50
  • 67.
    67 4.4 ANALISIS PROKSIMAT Tabel.11Penentuan kadar air Nama kelompok Bahan pakan C D E KA % B1 Bungkil Inti Kelapa Sawit 30,20 1 40,07 13 B2 Tepung kulit duku 35,01 1 35,89 12 B3 Tepung ampas jamu 20,10 1 20,98 12 B4 Tepung kulit nanas 37,13 1 37,97 16 B5 Bungkil biji karet 20,65 1 21,53 12 B6 Tepung jerami padi 26,74 1 27,66 8 B7 Tepung kelobot jagung 25,17 1 26,08 9 B8 Tepung petai cina 17,95 1 18,82 13 B9 Tepung ikan 26,11 1 26,73 38 B10 Tepung jeroan ikan 21,15 1 22,10 5 B11 Tepung ampas tahu 22,32 1 23,02 30 B12 Bungkil kelapa 39,11 1 39,42 69 B13 Tepung biji durian 18,42 1 19,28 14 B14 Bungkil kedelei 21,53 1 22,42 11 B15 Tepung kulit durian 34,36 1 35,34 2
  • 68.
    68 Tabel.12 PenentuanKadar Abu Nama kelompok Bahanpakan H F G KADAR ABU ( %) B1 Bungkil inti sawit 39,25 39,20 1 5 B2 Tepungkulitduku 35,08 35,01 1 7 B3 Tepungampas jamu 20,14 20,10 1 4 B4 Tepungkulit nanas 37,19 37,13 1 6 B5 Bungkil biji karet 20,67 20,65 1 2 B6 Tepungjerami padi 26,88 26,74 1 14 B7 Tepungkelobot jagung 25,17 26,08 1 9 B8 Tepungpetai cina 18,00 17,95 1 5 B9 Tepungikan 26,30 26,11 1 19 B10 Tepungjeroan ikan 22,10 21,05 1 19 B11 Tepungampas tahu 22,16 20,64 1 1,52 B12 Bungkil kelapa 39,14 39,11 1 3 B13 Tepungbiji durian 19,40 19,28 1 12 B14 Bungkil kedelei 21,58 21,53 1 5 B15 Tepungkulit durian 34,51 34,36 1 15 Tabel.13 Penentuan Kadar Protein NAMA KELOMPOK BAHAN PAKAN K J I PK ( % ) B1 Bungkil inti kelapasawit 23,8 9,5 0,3 37,60 B2 Tepungkulit duku 23,8 5 0,3 25,37 B3 Tepung ampas jamu 23,8 22,5 0,3 11,37 B4 Tpung kulit nanas 23,8 21,3 0,3 21,87 B5 Bungkil biji karet 23,8 21 0,3 24,50 B6 Tepung jerami padi 23,8 20 0,3 33,25 B7 Tepung kelobot jagung 23,8 22,8 0,3 8,75
  • 69.
    69 B8 Tepungpetai cina 23,8 19,50,3 37,62 B9 Tepungikan 23,8 17,9 0,3 50 B10 Tepung jeroanikan 23,8 18 0,3 51 B11 Tepung ampas tahu 23,8 21 0,3 24,5 B12 Bungkil kelapa 23,8 19 0,3 42 B13 Tepungbiji durian 23,8 20,2 0,3 31,5 B14 Bungkil kedelei 23,8 7 0,3 147 B15 Tepungkulit durian 23,8 22,1 0,3 14,87 Tabel.14 Penentuan Kadar Lemak Kasar Nama kelompok NAMA BAHAN PAKAN M N L LK ( % ) B1 Tepungkulit duku 1,85 1,67 1 18 B2 Bungkil inti kelapasawit 1,90 1,83 1 7 B3 Tepungampas tahu 1,86 1,76 1 1 B4 Tepungkulit nanas 1,83 1,81 1 2 B5 Bungkil biji karet 1,85 1,76 1 9 B6 Tepungjerami padi 1,99 1,93 1 6 B7 Tepung kelobot jagung 1,96 1,95 1 1 B8 Tepungpetai cina 1,88 1,87 1 1 B9 Tepungikan 1,62 1,61 1 1 B10 Tepungjeroan ikan 1,99 1,81 1 18 B11 Tepungampas tahu 1,87 1,79 1 8 B12 Bungkil kelapa 1,40 1,81 1 9 B13 Tepungbiji durian 1,90 1,87 1 3 B14 Bungkil 1,85 1,80 1 5
  • 70.
    70 kedelei B15 Tepungkulit durian 1,92 1,851 7 Tabel.15 Penentuan Kadar Serat Kasar Nama kelompok Bahan pakan Q R O P SK ( % ) B1 Bungkil inti kelap sawit 21,70 20,60 1,01 1 9 B2 Tepung kulitduku 23,39 22,19 1,05 1 15 B3 ampas jamu 20,57 19,37 1,08 1 12 B4 Tepung kulitnanas 20,85 19,73 1,04 1 8 B5 Bungkil biji karet 28,57 27,38 1,05 1 14 B6 Tepung jerami padi 25,53 24,32 0,96 1 25 B7 tepung kelobot jagung 38,59 37,32 1,06 1 21 B8 Tepung petai cina 1 19,85 B9 Tepung ikan 33,56 32,52 1,02 1 2 B10 Tepung jeroan ikan 41,67 40,55 0,99 1 13 B11 Tepung ampas tahu 38,59 37,33 1,03 1 13 B12 Bungkil kelapa 23,84 22,73 1,05 1 6 B13 Tepungbiji durian 23,84 22,78 1,04 1 2 B14 bungkil kedeli 23,50 22,34 1,01 1 15 B15 Tepung kulit durian 23,74 22,25 1,04 1 45
  • 71.
    71 Tabel.16 Penentuan BETN Nama kelompok Bahan pakan BK( % ) K.ABU ( % ) PK ( % ) LK ( % ) SK ( % ) BETN ( % ) B1 Bungkil inti kelapa sawit 87 5 37,6 7 9 28,7 6 Tepung kulitduku 88 7 25,3 18 15 22,7 B3 Tepung ampas jamu 88 4 11 1 12 60 B4 Tepung kulitnanas 84 6 21,87 2 8 46,12 B5 Bungkil biji karet 88 2 24,5 9 14 38,5 B6 Tepung jerami padi 92 14 33,25 6 25 13,75 B7 Tepung kelobot jagung 91 14 8,75 1 21 46,25 B8 Tepung petai cina 87 5 37,625 1 19,85 23,52 B9 Tepung ikan 82 49 50 1 2 10 B10 Tepung jeroanikan 95 19 50,57 6 13 6,43 B11 Tepung ampas tahu 70 1,5 24,5 8 13 45,05 B12 Bungkil kelapa 31 3 42 9 6 29 B13 Tepungbiji durian 78 12 31,5 3 2 29,5 B14 Bungkil kedelei 89 5 147 5 15 83 B15 Tepung kulitdurian 98 15 14,875 7 45 16,12 4.5 ANALISIS ENERGI BRUTO Untuk mempermudah mengetahui nilai energi bruto praktikan menggunakan beberapa bahan sampel seperti dedak, bungkil kelapa, rumput gajah, jagung giling yang kemudia dicetak berbentuk pellet dengan menggunakan pellet press dan diukur dengan timbangan analitik dengan kisaran 0,5-1 gram. Selajutnya ditentukan energinya dengan menggunakan unit bomb kalorimeter. Hal
  • 72.
    72 ini sesuai denganpendapat (Anshory.1984)yang mengemukakan bahwa Sebelum sampel dimasukkan kedalam cawan bomb kalorimeter sampel dibentuk pelet dahulu kemudian ditimbang, agar mudah untuk menghitung energinya. Oleh karena itu, dalam memperoleh hasil energi bruto yang diperoleh dari beberapa bahan sampel yang digunakan dalam pembuatan pelet tersebut maka kita harus mengetahui suhu awal, suhu akhir, berat sampel dan kabar bahan kering dari masing-masing bahan. Perhitungan dari energi ditentukan dulu energi ekuivalen asam benzoat, suhu awal dan suhu akhir, volume titrasi serta jumlah kawat terbakar (Samuel, 1997). Energi kimia dapat di ukur dalam kaitannya dengan panas yang dinyatakan dengan kalori . satu kalori merupakan jumlah energi yang di hasilkan dan dapat diperlukan untuk menaikkan temperature (Anggorodi.2005). Adapun rumus yang digunakan dalam menentukan energi bruto pada sampel bahan pakan: Energi (Kal/gram) = (TA – TM) x W – E1 – E2 Berat sampel x % BK Adapun alat – alat yang digunakan dalam menentukan energy bruto ini adalah: 1. Bomb Calorimeter Fungsi bom kalorimeter, Menganalisa jumlah kalor (Nilai Kalor) yang dibebaskan padapembakaransempurna (dalam O2berlebih) suatu senyawa, bahan makanan, bahan bakar dari suatu produk ataubisa disebut untuk mengukur Heating Value suatu material. Carakerjanya dengan menempatkan sejumlah sampel pada tabung beroksigen yang tercelupdalam medium penyerap kalor (kalorimeter), dansampel akanterbakar oleh apilistrik dari kawatlogam terpasang dalam tabung. Sejumlah sampel dalam suatu ruang bernama “BOMB” dan dinyalakan ataudibakar dengan sistem penyalaan elektris sehingga sampel tersebut terbakarhabis danmenghasilkan panas.
  • 73.
    73 2.tabung oksigen Tabung OksigenO2 + Regulator + Troli = Terapi Oksigen, adalah tabung O2 yang sudah dilengkapi dengan regulator dan troli untuk kemudahan mobilitas. Peralatan ini dapat memenuhi kebutuhan Oxigen dan juga untuk terapi oksigen. Sangat berguna bagi penderita penyakit asma dalam keadaan darurat. Tabung Oxygen berisi 1 M3 (1000 Liter). Pure Oksigen Murni 99% dalam Botol, adalah Oksigen yang dikemas dalam botol kaleng ukuran 30 cm, sehingga mudah dibawa atau disimpan. Sangat berguna ketika anda sedang dalam perjalanan atau jauh dari rumah dan rumah sakit untuk kebutuhan darurat oksigen: - Isi 8 liter pure Oksigen 92-99% - Tekanan dalam botol: 1 Mpa - Lama penggunaan 10/20/30 menit dengan pengaturan regulator - Untuk penyakit Asma dadakan yang gawat dan datang tiba-tiba - Cocok untuk Ambulance dan Unit Gawat Darurat - Cocok untuk olahraga mendaki yang minus oksigen - Praktis ringan dan mudah dibawa dalam kemasan botol ukuran 30cm. - Asesories: Nose cap (cannula), air tube, oksigen. 3.Thermometer Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum digunakan adalah termometer air raksa.
  • 74.
    74 4.6 ANALISIS KARBOHIDRAT Daripraktikum yang telah dilakukan bahwa pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Pemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara penyusunan ransum, diperlukan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai sifat kimia secara individual (Handaka, 2008). Ransum adalah jumlah total bahan makanan yang diberikan pada ternak selama 24 jam. Sedangkan yang dimaksud dengan bahan pakan adalah komponen ransum yang dapat memberikan manfaat bagi ternak yang mengkonsumsinya. Ransum merupakan factor yang sangat penting di dalam suatu usaha peternakan, karena ransum berpengaruh langsung terhadap produksi ternak (Sinurat, 2000). Perubahan ransum baik secara kualitas maupun kuantitas maupun perubahan pada komponennya akan dapat menyebabkan penurunan produksi yang cukup serius. Sehingga untuk mengembalikan produksi seperti semula sebelum perubahan ransum cukup sulit dicapai dan akan memakan waktu cukup lama (Santoso, 2003). Ransum adalah susunan dari beberapa bahan pakan dengan. perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Jadi dengan mencampur beberapa jenis bahan pakan diharapkan kandungan gizi ransum sesuai dengan kebutuhan gizi ayam sehingga ayam dapat berproduksi dengan baik. Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam mencampur ransum adalah mengetahui bahan mana yang harus dicampur terlebih dahulu agar hasilnya rata atau
  • 75.
    75 homogen. Jika ransumdibuat dalam jumlah kecil dapat dilakukan secara manual tetapi bila dalam jumlah besar dapat digunakan mesin pencampur atau mixer. 4.7 FORMULASI RANSUM Formulasi Ransum ini merupakan suatu proses untuk menentukan kandungan zat-zat dari bahan pakan kemudian diseimbangkan atau disesuaikan terhadap kebutuhan zat makanan oleh ternak yang digunakan. Ransum adalah bahan pakan yang dapat mempengaruhi kebutuhan ternak selama 24 jam. Namun menurut Leeson,S. and J.D. Summers, (2001) Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Dalam penyusunan ransum tentunya kita akan memakai ransum yang baik dan berkualitas, ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolism tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan potensinya. pernyataan tersebut dipertegas lagi oleh M, Astawan, (2007) Ransum yang berkualitas baik merupakan salah satu syarat untuk dapat menghasilkan produksi ayam broiler yang optimal. Produksi optimal dapat dicapai bila bahan pakan yang digunakan dapat memenuhi keperluan gizi dalam tubuh ayam. Menurut Barnes, Jones D. (2000) ada berapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum ayam broiler fase starter dan memasuki fase grower yaitu kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P. Komponen nutrient tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi ayam broiler terutama untuk pertumbuhan dan produksi daging. Kebutuhan nutrien ransum digunakan ternak untuk hidup pokok dan produksi. Dalam penyusunan ramsum ada beberapa metode yang digunakan yaitu : 1. Metode coba-coba (Trial and Error Method). 2. Metode bujur sangkar (Square Method). 3. Metode programming method (LP).
  • 76.
    76 4. Metode matrik2 x 2 (Two By Two Matrik). 5. Metode berpedoman kadar protein. 6. Metode berpedoman kadar energy. Dalam penyusunan ransum pada praktikum ini metode yang dipakai yaitu metode coba-coba, menurut Faishal (2011) kelemahan dari metode ini yaitu meskipun metode ini merupakan penyusunyan ransum dengan cara yang paling mudah tetapi membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang cukup besar. Dari praktikum yang telah dilaksanakan mengenai formulasi ransum dengan metode coba-coba dengan menggunakan beberapa bahan pakan yaitu tepung ikan, bungkil kelapa sawit, jagung, dedak, minyak sayur, dan premix, didapatlah hasil nya dibawah ini : Tabel 17. Nilai kebutuhan nutrisi ternak Ayam broiler Fase Starter ME (kkal/kg) PK (%) LK (%) SK (%) Ca (%) 3.200 23.00 1 <7 1 Tabel 18 kebutuhan nutrisi bahan pakan yang digunakan No Bahan pakan ME PK LK SK Ca 1 Dedak 2980 12.9 13 11.4 0.07 2 Jagung 3350 8.5 3.8 2.2 0.02 3 Bungkil kedele 2230 44 0.8 7.0 0.2 4 Minyak 100% - 100 - - 5 Tepung kulit kerang - - - - 38
  • 77.
    77 Tabel 19. Penggunaandan Perhitungan Zat Makanan NO Bahan pakan yang digunakan Penggunaan ME (kkal/kg) PK (%) LK (%) SK (%) Ca (%) 1 Dedak 30 8.94 3.87 0.039 3.42 0.021 2 Jagung 40 13.4 3.4 0.0152 0.88 0.008 3 Bungkil kedele 26 5.798 11.44 0.00208 1.82 0.0754 4 Minyak 2 0.02 2 0.02 0.02 0.02 5 Tepung kulit kerang 2 0.02 2 0.02 0.02 0.02 Totalitas 100 28.178 22.71 0.09628 6.16 0.844 Ayam broiler merupakan hasil teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut North (1984) pertambahan berat badan yang ideal adalah 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu. Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energi yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak. Untuk memenuhi kebutuhan pakan yang cukup maka disusun lah ransum. Kebutuhan protein tergantung pada umur ayam, tingkat pertumbuhan , iklim, dan penyakit. Anak ayam mulai menetas (DOC) sampai umur 6-7 minggu diberikan ransum mengandung protein 20 – 21%, sedangkan setelah itu 17 – 18%. Vitamin berfungsi antara lain melancarkan proses kehidupan di dlam alat- alat tubuh seperti pencernaan, pembentukkan tulang, perumbuhan, dan memberikan daya tahan tubuh terhadap penyakit atau infeksi (Veronicha, 2000).
  • 78.
    78 Jagung Jagung merupakan bahanbaku utama dalam pembuatan pakan. Proporsi penggunaan jagung khususnya dalam pembuatan pakan ayam ras mencapai 51.4 persen dari total bahan baku yang digunakan (Tangendjaja et al, 2002 dan Deptan, 2002). Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan. Jagung merupakan salah satu komponen pakan ternak yang paling banyak dibutuhkan. Menurut Direktorat Jendral Bina Produksi Tanaman Pangan (2002) sesuai dengan standar, komposisi pakan yang berasal dari jagung, adalah untuk ayam pedaging 54 persen, ayam petelur 47,14 persen dan untuk ternak babi grower sebesar 49,34 persen. Dengan demikian fungsi jagung khususnya untuk pakan menjadi sangat penting. Kandungan nutrisi jagung :  Bahan kering : 75 – 90 %  Serat kasar : 2,0 %  Protein kasar : 8,9 %  Lemak kasar : 3,5 %  Energi gross : 3918 Kkal/kg  Niacin : 26,3 mg/kg  TDN : 82 %  Calcium : 0,02 %  Fosfor : 3000 IU/kg  Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg  Riboflavin : 1,3 mg/kg  Tiamin : 3,6 mg/kg Jagung merupakan sebagai sumber energi yang rendah serat kasarnya, sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji- bijian.
  • 79.
    79 Dedak Dedak padi diperolehdari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat. Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 13,0 %. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. (A. Husin, 2009) Kelemahan utama dedak padi adalah kandungan serat kasarnya yang cukup tinggi, yaitu antara 13,0 % – 15,8 % dan adanya senyawa fitat yang dapat mengikat mineral dan protein sehingga sulit dapat dimanfaatkan oleh enzim pencernaan. Inilah yang merupakan faktor pembatas penggunaannya dalam penyusunan ransum. Namun, dilihat dari kandungan proteinnya yang berkisar antara 12-13,5 %, bahan pakan ini sangat diperhitungkan dalam penyusunan ransum unggas. Dedak padi mengandung energi termetabolis berkisar antara 1640-1890 kkal/kg. Kelemahan lain pada dedak padi adalah kandungan asam aminonya yang rendah, demikian juga halnya dengan vitamin dan mineral nya (Rasyaf, 2004). Penggunaan dedak padi dalam ransum unggas ada batasanya, yaitu 0-15 % untuk ayam petelur fase starter, 0-20 % untuk ayam petelur fase grower. untuk ayam broiler, itu berkisar antara 5-20 %, dan tidak lebih dari 20 % karena akan dapat menurunkan produktivitas ayam yang disebabkan oleh adanya kandungan asam fitat dalam dedak padi yang berada dalam bentuk kompleks dengan protein, pektin, dan polisakarida bukan pati atau serat kasar sehingga protein dan fosfor sulit dicerna dan dimanfaatkan oleh ayam. (Hendri, 2002). Minyak Sayur Kandungan energi minyak berkisar antara 8400 8600 kkal / kg bergantung dari bahan dan kualitas minyak tersebut. Minyak dianjurkan untuk diberikan pada
  • 80.
    80 unggas dalam jumlahyang relatif sedikit. Campuran minyak goreng pada pakan maksimal di bawah 5%. Terdapat tiga faktor utama yang harus diperhitungkan dalam menyusun pakan yang akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas. Ke tiga hal tersebut adalah ketersediaan bahan pakan unggas di daerah peternakan tersebut, harga bahan pakan unggas, dan kandungan zat-zat makanan bahan pakan unggas. Ketiga faktor tersebut mempengaruhi lima komponen bahan pakan unggas yang menjadi penyusun pakan terbesar, yaitu bekatul, minyak goreng dan jagung sebagai sumber energi pakan, bungkil kedelai dan tepung ikan sebagai sumber protein pakan. Dalam fomilasi ransum minyak jugaberfungsi sebagai perekan antara bahan pakan yang satu dengan yang lainnya agar menjadi homogen. (Anas, 2005) 4.8 MENCAMPUR RANSUM Ransum merupakan susunan dari beberapa bahan pakan dengan perbandingan tertentu sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi ternak. Ransum dicampur dari bahan pakan yang mengandung gizi lengkap seprti protein, lemak, serat kasar, vitamin dan mineral. Semakin banyak ragam suatu bahan pakan kualitas ransum tersebut juga semakin baik terutama dari sumber protein hewani. Bahan yang dapat digunakan untuk mencampur ransum yaitu dedak, bungkil kelapa, jagung, minyak sayur, premix/top mix. Pada dasarnya yang disebut sebagai mencampur ransum merupakan suatu kegiatan mengkombinasikan berbagai macam bahan makanan ternak untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat makanan tersebut. Ransum ayam sebagian besar tersusun atas bahan baku ransum berupa biji-bijian, seperti jagung dan bungkil kedelai yang notabene kadar asam aminonya kurang ideal, terutama metionin. Seperti yang dikatakan Bahan pakan harus disesuaikan dengan komposisi pakan dari ternak itu sendiri sebab di dalam pemberian pakan harus disesuaikan berapa yang harus diberikan kepada ternak. Dan juga kebutuhan ternak akan zat-zat makanan dapat terpenuhi jika ternak mengkonsumsi ransum (dalam bahan kering) sebesar 3% dari bobot tubuh, hal ini sesuai dengan pendapat Ewing (2001) menambahkan bahwa ayam lebih
  • 81.
    81 menyukai bahan –bahan makanan yang berwarna cerah. Unggas mengkonsumsi ransum kira-kira setara dengan 5% dari bobot badan Konsumsi ransum pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan energi, sehingga ternak akan berhenti makan apabila telah merasa tercukupi kebutuhan energinya. Namun, apabila ransum tidak padat energi (tinggi serat), maka daya tampung alat pencernaan, terutama organ fermentatif akan menjadi factor pembatas utama konsumsi ransum. Sesuai dengan pendapat Card and Nesheim, (2006), yang menyatakan bahwa nilai konversi ransum berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin tinggi. Nilai konversi ransum ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi ransum semakin rendah. Dengan demikian sebelum mencampur ransum, bahan-bahan pakan harus diformulasikan terlebih dahulu. Dari bahan-bahan tersebut, dihitung berapa kebutuhan dari pada ternak unggas tersebut, setelah itu ransum baru ditimbang untuk kemudian dicampur. Dalam praktikum mengenai Mencampur Ransum ini, dapat dilihat ransum yang akan dicampur yaitu ransum untuk ayam broiler/ ayam pedaging. Bahan pakan yang akan digunakan yaitu Bungkil Kelapa, Jagung, Dedak, Minyak Sayur dan Premix/ top mix. Tabel.20 komposisi nutrisi pada ternak ayam layer fase 6-12 minggu ME PK LK SK Ca 2.85 16 1 <7 0.8
  • 82.
    82 Tabel.21 komposisi nutrisibahan pakan yang digunakan Bahan pakan ME (kkal/kg) PK (%) LK (%) SK (%) Ca(%) Dedak 2980 12.9 13 11.4 0.07 Jagung 3350 8.5 3.8 2.2 0.02 Bungkil kelapa 2.573 36.1 0.2 1.28 Minyak sayur 100% - 100 - - Top Mix - - - - 100 Tabel.22 formulasi ransum Bahan pakan Penggunaan ME (kkal/kg) PK (%) LK (%) SK (%) Ca(%) Dedak 40 1192 5.16 5.2 4.56 0.028 Jagung 40 1340 3.4 1.52 0.88 0.008 Bungkil kelapa 18 0.46314 6.498 0 0.036 0.2304 Minyak sayur 1.5 0.015 0 1.5 0 0 Top Mix 0.5 0 0 0 0 0.5 Jumlah 100 2532.478 15.058 8.22 5.476 0.7664 Hal ini sesuai dengan pendapat Riandy.2001. yang menyatakan bahwa Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu. Dan didukung oleh Ratno.2006. yang menyatakan bahwa Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan. Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit. Dalam mencampur ransum yang pertama di campur ialah dedak dan minyak sayur. Kemudian tambahkan top mix, bungkil kelapa, jagung dengan memberi sedikit demi sedikit minyak sayur pada pencampuran bahan pakan tersebut sampai rata dan homogen.
  • 83.
    83 Dedak Dedak padi diperolehdari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahannya. Sebanyak 14,44% dedak kasar, 26,99% dedak halus, 3% bekatul dan 1-17% menir dapat dihasilkan dari berat gabah kering. Dedak padi sangat disukai ternak, pemakaian dedak padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran kosentrat. Kelebihan penambahan dedak padi dalam ransum dapat menyebabkan ransum mengalami ketengikan selama penyimpanan. Bulk desinty dedak padi yang baik adalah 337,2-350,7 g/l. Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4%, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas, yaitu: Dedak Kasar: Adalah kulit gabah halus yang bercampur dengan sedikit pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif rendah. Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19 Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%) Dedak halus biasa: Merupakan hasil sisa dari penumbukan padi secara tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak halus biasa ini banyak mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan pecahan lembaga beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi sudah termasuk dalam golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%. Martabat Pati nya termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna. Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N, 16.4% serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya 53 Dedak lunteh: Merupakan hasil ikutan dari pengasahan/pemutihan beras (slep atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak inilah yang banyak mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar terdiri dari selaput
  • 84.
    84 perak dan bahanlembaga, dan hanya sedikit mengandung kulit. Di beberapa tempat dedak ini disebut juga dedak murni. Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67. Bekatul: Merupakan hasil sisa ikutan dari pabrik pengolahan khususnya bagian asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan pecahan- pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat. Analisa nutrisi: 15% air, 14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu serta nilai MP adalah 70. Minyak sayur Fungsi minyak untuk pencampuran ransum adalah sebagaim pelekat, Penggunaan minyak pada pencammpuran pakan sebaiknya digunakan adalah minyak nabati yang baik, tidak mengakibatkan mudah tengikdan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit. Jagung merupakan bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai sumber protein, kadar protein jagung bekisar 8,9 %, bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan tryptopan.Proses pencampuran mixing bahan baku ransum sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, juka memakai mixer vertikal berkapasitas 1,5-3 ton biasanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, sedangkan jika menggunakan mixer horizontal waktu yang diperlukan relatif lebih singkatkarena kapasitasnya lebih sedikit, mixer horizontal biasanya digunakan untuk mencampur bahan baku ransum dengan persentase bahan yang kecil (sedikit), misalnya pencampuran dengan minyak. Setelah dicampur dengan mixer
  • 85.
    85 horizontal, bahan bakutersebut dimasukkan kedalam mixer vertikal untuk dicampur dengan bahan baku ransum lainnya yang persentasenya lebih besar. Premix /top mix Premix merupakan feed suplement atau bahan pakan tambahan yang digunakan untuk pemenuhi atau menyediakan sumber vitamin, mineral dan atau juga antibiotik. Premix memiliki campuran bahan pakan yang telah diencerkan yang dalam pemakaiannya harus dicampurkan kedalam pakan. Premix juga merupakan kombinasi beberapa mikro-ingridient dengan bahan penyerta sehigga merupakan kombinasi yang siap dicampurkan dalam pakan ternak. Dosis penggunaan premix pada unggas tergantung pada jenis unggas dan umurnya. Pada ayam pedaging periode starter dan finisher serta ayam petelur masing-masing menggunkan 500g premix yang dicampurkan kedalam pakan. Penggunaan premix ini harus disesuaikan dengan aturan pakai seperti yang tercantum pada kemasan.
  • 86.
    86 Jagung Jagung merupakan bahanyang terakhir dicampurkan karena mengandung tekstur yang paling kasar. Biji jagung mengandung pati 54,1-71,7%, sedangkan kandungan gulanya 2,6-12,0%. Karbohidrat pada jagung sebagian besar merupakan komponen pati, sedangkan komponen lainnya adalah pentosan, serat kasar, dekstrin, sukrosa, dan gula pereduksi.
  • 87.
    87 BAB.V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulanyang didapat pada praktikum Bahan Pakan dan Formilasi Ransum mengenai pengenalan alat-alat laboratorium ini dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa dari seluruh alat-alat laboratorium ini memiliki fungsi dan keunggulan yang berbeda-beda. Adapun kesimpulan yang didapat pada praktikum Bahan Pakan Dan Formulasi Ransum dengan judul pengenalan bahan pakan ini dapat ditarik suatu kesimpulan dimana dalam pengenalan bahan pakan ada beberapa komponen yang perlu diketahui antara lain bahan pakan yang digunakan mengandung sumber protein (hewani dan nabati), sumber energi, sumber mineral, dan sebagainya, dari beberapa bahan yang diuji menghasilkan banyak perbedaan. Dan dapat mengetahui jenis bahan Hijauan Makanan Ternak yang digunakan yakni legume callopogonium, legume styloshantes, legume leucaena. Dari pratikum bahan pakan dan formulasi ransum yang berjudul preparasi sampel dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam preparasi sampel (persiapan sampel),sampel tersebut harus ditimbang terlebih dahulu.dan setiap sampel hampir dari keseluruhan memiliki berat awal sama yaitu 1000gr,namun setelah dilakukan proses pengeringan sampel tersebut memiliki berat yang berbeda – beda. Sampel yang di amati juga memiliki kadar air,dan bahan kering yang berbeda – beda. Dari praktikum bahan pakan dan formulasi ransum yang berjudul Menentukan Energi Bruto dapat ditarik kesimpulan bahwa dari penentuan energi bruto dengan oksigen bomb kalorimeter dapat disimpulkan bahwa setiap masing – masing bahan keringmempunyai nilai yang berbeda. Hal ini dapat dibuktikan setelah di lakukan praktikum, yang di lakukan selama kurang lebih 4 jam. Dalam
  • 88.
    88 penetapan energi initerjadi pengubahan energi kimia dalam suatu sampel menjadi energi panas dan di ukur jumlah panas yang di hasilkan. Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, dan jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Dari praktikum mengenai Formulasi Ransum yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa dalam formulasi ransum menggunakan beberapa metode yaitu metode coba-coba (trial and error method), metode bujur sangkar (square method), metode programming method (lp), metode matrik 2 x 2 (two by two matrik), metode berpedoman kadar protein, metode berpedoman kadar energi. Dalam praktikum kegiatan formulasi ransum ini menggunakan beberapa bahan pakan antara lain tepung ikan, bungkil kelapa sawit, jagung, dedak, Minyak sayur, dan premix. Dan ternayata ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi formulasi ransum yaitu biaya, kebutuhan zat makanan oleh ternak, kebutuhan zat makanan dari bahan pakan, dan palabilitas. 5.2 Saran Adapun saran dari praktikum ini yaitu bahwa sebaiknya praktikan lebih menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam mengikuti praktikum agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan efisien serta dapat menambah wawasan yang lebih luas tentang Bahan Pakan dan Formulasi Ransum.
  • 89.
    89 LAMPIRAN I. Preparasi Sampel Penentuan kadar air Kelompok 9 Feses kuda Berat awal (A) : 675 gr Berat kering (B) : 400 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 675 gr−400 gr 675 gr X 100% = 41 % Kadar Bahan Kering (%) =100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100%-41% = 59% Rumput gajah Berat awal : 500 gr Berat kering: 300 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−300 gr 500 gr X 100% = 40% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40% = 60% Kelompok 10 Feses ayam kampung Berat awal (A) : 520 gr Berat kering (B) : 470 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 520 gr−470 gr 570 gr X 100% = 9%
  • 90.
    90 Kadar Bahan Kering(%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 9% = 90% Rumput kumpei Berat awal : 750 gr Berat kering: 600 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 750 gr−600 gr 750 gr X 100% = 20% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 20% = 80% Kelompok 11 Feses ayam broiler Berat awal (A) : 300 gr Berat kering (B) : 150 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 300 gr−150 gr 300 gr X 100% = 50% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50% = 50% Rumput raja Berat awal : 500 gr Berat kering: 300 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−300 gr 500 gr X 100% = 40%
  • 91.
    91 Kadar Bahan Kering(%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40% = 60% Kelompok 12 Feses sapi Berat awal (A) : 550 gr Berat kering (B) : 300 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 550 gr−300 gr 550 gr X 100% = 45% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 45% = 55% Rumput benggala Berat awal : 500 gr Berat kering: 200 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−200 gr 500 gr X 100% = 60% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 60% = 40% Kelompok 13 Feses kelinci Berat awal (A) : 1000 gr Berat kering (B) : 500 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 1000 gr−500 gr 1000 gr X 100% = 50%
  • 92.
    92 Kadar Bahan Kering(%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50% = 50% Legume leucaena Berat awal : 500 gr Berat kering: 300 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−300 gr 500 gr X 100% =40% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 40% = 60% Kelompok 14 Feses itik Berat awal (A) : 600 gr Berat kering (B) : 400 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 600 gr−400 gr 600 gr X 100% = 33% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 33% = 67% Rumput kumpei Berat awal : 500 gr Berat kering: 300 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−300 gr 500 gr X 100% = 40% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air
  • 93.
    93 Kadar Bahan Kering(%)= 100% - 40% = 60% Kelompok 15 Feses kambing Berat awal (A) : 1000 gr Berat kering (B) : 500 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 1000 gr−500 gr 1000 gr X 100% = 50% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering (%) = 100% - 50% = 50% Rumput kumpei Berat awal : 500 gr Berat kering: 100 gr Kadar Air = 𝐴−𝐵 𝐴 X 100% KA = 500 gr−100 gr 500 gr X 100% = 80% Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar air Kadar Bahan Kering(%) = 100% - 80% = 20% II. ANALISIS PROKSIMAT Metode penghitungan Rumus yang digunakan untuk mencari kandungan bahan pakan adalah; Kadar Air (%) = (C+D)E x 100% D Kadar Abu (%) = H - F x 100% G
  • 94.
    94 Protein Kasar (%)= (K - J) x Norm NaOH x 0,014 x 6,25 x 100% I Lemak Kasar (%) = M – N x 100% L Serat Kasar (%) = Q – R – O x 100% P BETN (%) = %BK – (% Abu + % PK + % LK + % SK) 1. Bngkil Inti Kelapa Sawit Kadar Air (%) = (30,20+1) – 40,07 x 100% 1 = 13 % Kadar Abu (%) =39,25–39,20 x 100% 1 = 5 % Protein Kasar (%) = (23,8 – 9,5) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 37,60% Lemak Kasar (%) = 1,85 –1,67x 100% 1 = 18% Serat Kasar (%) =21,70–20,60– 1,01 x 100% 1 = 9% BETN (%) = 87 – (5+ 37,60 + 18 + 9) % = 28,7% 2. Bungkil kulit duku Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1
  • 95.
    95 =7 % Protein Kasar(%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 3. Tepung ampas jamu Kadar Air (%) = (20,10+ 1) 20,98x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 20,14 – 20,10 x 100% 1 =4 % Protein Kasar (%) = (23,8 –22,5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 11,37 % Lemak Kasar (%) = 1,86– 1,76 x 100% 1 = 1% Serat Kasar (%) = 20,57–19,37 – 1,08 x 100% 1 = 12 % BETN (%) =88– (4 +11,37+1+12) % = 60%
  • 96.
    96 4. Tepung kulitnanas Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 5. Bungkil biji karet Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100%
  • 97.
    97 1 = 7% Serat Kasar(%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 6. Tepung jerami padi Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 7. Tepung kelobot jagung Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12%
  • 98.
    98 Kadar Abu (%)= 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 8. Tepung petai cina Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1
  • 99.
    99 = 15 % BETN(%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 9. Tepung ikan Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 10. Tepung jeroan ikan Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 %
  • 100.
    100 Lemak Kasar (%)= 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 11. Tepung ampas tahu Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 12. Bungkil kelapa Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1
  • 101.
    101 = 12% Kadar Abu(%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 13. Tepung biji durian Kadar Air (%) = (18,42+ 1) x 100% 1 = 14% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100%
  • 102.
    102 1 = 15 % BETN(%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 14. Bungkil kedele Kadar Air (%) = (35,01+ 1) 35,89 x 100% 1 = 12% Kadar Abu (%) = 39,25 – 35,01 x 100% 1 =7 % Protein Kasar (%) = (23,8 –5 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100% 0,3 = 25,37 % Lemak Kasar (%) = 1,90– 1,83 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,39–22,19 – 1,05 x 100% 1 = 15 % BETN (%) =88– (7 +25,37+7+15) % = 22,7 % 15. Tepung kulit durian Kadar Air (%) = (34,36+ 1) 35,34 x 100% 1 = 2% Kadar Abu (%) = 34,36 – 354,36 x 100% 1 =15 % Protein Kasar (%) = (23,8 –22,1 ) x 0,3 x 0,014 x 6,25 x 100%
  • 103.
    103 0,3 = 14,87 % LemakKasar (%) = 1,92– 1,85 x 100% 1 = 7% Serat Kasar (%) = 23,74–22,19 – 1,04 x 100% 1 = 45 % BETN (%) =98– (15 +14,87+7+45) % = 16,12 % III. FORMULASI RANSUM ME Jagung = 3 100 x 2980 =894 Dedak = 4 100 𝑥 3350 = 1340 Bungkil kedele = 26 100 𝑥 2230 = 579.8 Minyak = 2 100 𝑥 100% = 0.02 Tepung kulit kerang = 2 100 = 0.02 Total ME = 28.178 kkal/kg PK Jagung = 3 100 x 12.9% =3.87
  • 104.
    104 Dedak = 4 100 𝑥 8.5% =3.4 Bungkil kedele = 26 100 𝑥 44% = 11.44 Minyak = 2 100 = 0.02 Tepung kulit kerang = 2 100 = 0.02 Total PK = 22.71% LK Jagung = 3 100 x13% =0.039 Dedak = 4 100 𝑥 3.8% = 0.0152 Bungkil kedele = 26 100 𝑥 0.8% = 0.00208 Minyak = 2 100 𝑥 100% = 2 Tepung kulit kerang = 2 100 = 0.02 Total LK = 1% SK Jagung = 3 100 x 11.4% =3.42 Dedak = 4 100 𝑥 2.2%
  • 105.
    105 = 0.88 Bungkil kedele= 26 100 𝑥 7.0% = 1.82 Minyak = 2 100 = 0.02 Tepung kulit kerang = 2 100 = 0.02 Total SK =6.16% =<7% Ca Dedak = 3 100 x 0.07% =0.021 Jagung = 4 100 𝑥 0.02% = 0.008 Bungkil kedele = 26 100 𝑥 0.29% = 0.0754 Minyak = 2 100 = 0.02 Tepung kulit kerang = 2 100 = 0.02 Toatal Ca = 0.844% = 1% IV.MENCAMPURRANSUM Dengan konversi sebagai berikut: 1. Jagung = 28 100 x 5000 = 1400 2. Dedak
  • 106.
    106 = 30 100 x 5000 =1500 3. Tepung ikan = 23 100 x 5000 = 1150 4. BIS = 17,5 100 x 5000 = 875 5. Minyak sayur 1 100 x 5000 = 50 6. Premix = 0,5 100 x 5000 = 25