NEURO DEVELOPMENTAL TREATMENT
NDT
SEJARAH
 Tahun 1940-1950 : Dr. Karel Bobath (neurologi) dan
Mrs. Berta Bobath( fisioterapi). Di kembangkan
hingga tahun 1967.
 Metode di khususkan untuk menangani problematik
motorik akibat gangguan syaraf Pusat. ( shepred,
1997).
 Menurut cooper dkk. 1994. pasien yang
mendapatlkan terapi latihan yang memadai
menunjukkkan adannya perbaikan fungsi koodinasi
dan motorik.
 NDT. (1977): aplikasi NDT mampu meningkatkan
kemampuan aktifitas penderita serta perbaikan
tonus otot yang normal.
FISOLOFI
 Motiode NDT berdasarkan pada prinsip
tumbuh kembang neurologis antaralain:
1. Dinamik
2. Sekuensis
3. Cepalocaudal
4. Automatis sebelum disadari.
DINAMIK
 Tumbuh kembang merupakan proses
dinamis yang selalu terjadi perubahan.
SEKUESIS
 Tubuh kembang selalu berurutan dan
kemampuan sederhana ke kemampuan
yang lebih kompleks.
PROKSIMAL KE DISTAL
 Tumbuh kembang berlangsung dari arah
proksimal menuju distal.
AUTOMATIS SEBELUM DISADARI
 Gerakan yang berkembang awal adalah
gerak otto matis yang nantinya berkembang
menjadi di sadari.
RESPONSIF DAN ADAPTIF
 Bahwa tumbuh kembang terjadi sebagai
respon terhadap stimulus serta merupakan
adaptasi terhadap stimulus.
PRINSIP DASAR NDT
1. Pattrens of movement
2. Use of handling
3. Pre requisites for movement.
PATTRENS OF MOVEMENT
 Kelainan anak pada sistem saraf pusat:
1. Dominasi refleks /reaksi primitif
2. berkemnbangnya pola gerak abnormal karena
terbatasnya kemampuan gerak.
3. Adanya kompensasi /adatasi gerak normal.
Misal : Pola gerak berjalan yang di rasakan
benar oleh anak adalah berjalan pada jari-jari
dengan panggul endorotasi dan lutut fleksi
pada hal pola gerak keliru karena minimnya
pembendaharaan gerak pada anak.
ATENTIONS
 Bila suatu gerak di buat dalam suatu pola
aksi kelompok otot tertentu akan
menghasilkan resposn dan adaptif pada
kelompok otot yang lain.
 Terbatasnya pola gerak berakibat terbatas
dan terhambatnya penguasaan
keterampilan lebih dan gerak responsif.
USE 0F HANDLING
- Respon dan pola gerak normal di kembangkan
melalui penggunaan teknik handling yang
spesifik.
- Terapis menjadi bagian dan sistem input
sensoris bagi anak dan handling selalu saling
mempengaruhi antara terapis dan anak.
- Tujuan hadling:
- 1. Normalisasi tonus .
- 2. membangkitkan koordinasi gerak dan posture
- 3. pengembangan keterampilan.
- 4. adaptasi respon.
USE 0F HANDLING
Respon terhadap anak :
1. Memperbaiki kualitas gerakan .
2. Menghambat pola gerakan abnormal yang
dimiliki.
3. Memfasilitasi gerak dasar dan semua
gerak motorik sehingga respon anak lebih
mudah terjadi.
PREREQUISITES FOR MOVEMENT
- Menurut bobath (1971) : gerak dalam latihan lebih
efisien ada 3 faktor:
1. Tonus postural yang normal mutlak di perlukan
agar dapat di gunakan untuk melawan gaya grafitasi,
sehingga dalam waktu bersamaan dapat melakukan
aktifitas yang lain.
2. Reciprocal Inervations: pada kelompok otot
memungkinkan terjadinya aksi kelompok agonis dan
antagonis yang terkoordinir dan seimbang.
3. Postural fixations. Mutlak di perlukan sehinggga
kelompok otot mampu menstabilkan badan.
CONTOH PRE-REQUISITIS FOR MOVEMENT
(ECKERSLEY, 1993)
No Pre –Requistes Resultant skill
1 Tonus postural normal Tegak , independent, duduk seimbang
2 Reciprocal innervations Fleksor dan ekstensor jari-jari
memingkan terjadi gerak pensil menulis.
Abduksi-adduksi shoulder
memungkinkan gerak pensil kanan dan
kiri
3 Postural fixations Shoulder girdle stabil, wrist dan elbow
stabil
KONSEP NEURODEVELOPMENTAL TREATMENT
Siklus terapi menurut konsep bobat:
Inhibit abnormal
reactions
RIP
Fasilitasi Normal
Reactions
Key of Control
Develop functional skill
Play, activity, ADL
Develop Movement
Sequences
Balance & Protektive
Rections
INHIBISI
Refleks inhibiting patterns (RIP’S) : di gunakan
untuk menurunkan aktifitas refleks yang
abnormal dan reaksi asosiasi serta timbulnya
tonus yang abnormal.
Cara : menggerakkan badan rotasi secara pasif
/mengoyang-goyangkan pada lingkup gerak
tertentu secara sekuensis dapat dihasilkan
tonus postural yang normal.
SEKUENSIS
Sekuensis dalam terapi:
1. Bagian tubuh yang tingkat afected terkecil
didahulukan.
2. Handling diawali dari proksimal
Misal:
- penurunan spastisitas pada lengan
diawali dengan gerakan pada shoulder
girdle terlebih dahulu baru menjalar ke
bagian distal. (bobath, 1966)
CONTOH RIPS (ECKERSLEY, 1993)
no Pattern of increase
tone
RIP Suplementary RIP
1 Spastisitas fleksor
bahu dan lengan
-Ekstensi leher
- ekstensi badan
- eksorotasi bahu
- ekstensi siku
- Ekstensi pergelangan
tangan
- Supinasi lengan bawah
- Abduksi ibu jari
2 Spastisitas ekstensor
badan dan leher
- Fleksi panggul
- Protaksi gelang bahu
- Abduksi panggul
- Endorotasi bahu
- Fleksi badan
- Fleksi leher
- Retraksi rahang.
3 Spastisitas ekstensor
badan dan tungkai
- Retraksi gelang bahu
- Fleksi panggul
- Abduksi panggul
- Eksorotasi panggul
- Fleksi badan
- Fleksi kedua lutut dorsi
- - fleksi jari-jari dan
pergelangan kaki.
KEY POINT OF CONTROL
Adalah bagian tubuh (yang biasanya terletak
di proksimal) yang di gunakan untuk
normalisasi tonus maupun menuntun gerak
aktif yang normal. (The bobath centre, 1987).
FACILITATIONS
Di gunakan agar anak mampu:
1. mencapai tonus normal sebagai dasar
untuk bergerak.
2. mengembangkan reaksi righting dan
equibrrilium.
3. Mengembangkan pola gerak dasar
untuk membangun aktifitas yang lebih
terampil.
4. menyesuaikan gerak dengan
perfomancenya.
DUKUNGAN LATIHAN MOTORIS DAN STIMULUS
SENSORIS
Sesuai Dengan:
1. Tingkat tumbuh anak
2. Bagaimana anak melakukan gerak normal.
3. Tidak menghambat anak berpartisipasi
secara aktif dalam bergerak.
PROPIOSEPTIF STIMULATIONS
- Di gunakan untuk menambah fasilitasi jika
anak pasien mempunyai tonus yang sangat
rendah / anak kekurangan sensori motor
experience.
- Teknik pressure: di gunakan sebagai
kombinasi fasiltasi: pemberian tekanan pada
gelang panggul pada posisi duduk dapat
menghasilkan stabilitas posture saat
ekstremitas atas / badan bergerak
TAPPING
Fungsi : untuk memberikan input intermitent
agar anak dapat mempertahankan posisi.
Misal : taping pada bagian belakang bahu
dan otot triceps dapat merangsang anak
untuk memelihara weight bearing pada
lengan yang menyangga.
Cara: berikan dengan kecepatan yang cukup
untuk mencegah hilangnya control tetapi
cukup lambat agar anak cepat bereaksi.
MOVEMENT SEQUENSIS AND FUNGTIONAL SKILL
Tehnik inhibisi dan fasilitasi pada dasarnya
di gunakan untuk menumbuhkan
kemampuan sekuensis motorik dan
kemampuan motorik anak.
DASAR KEMAMPUAN MOTORIK
Menurut:Eckersley (1993):
- Berguling
- Berbaring ke duduk
- Tengkurap dengan kedua lengan bawah
menyangga badan.
- Posisi merangkak
- Kneeling ke berdiri
- Duduk ke berdiri
REAKSI PROTEKSI DAN KESEIMBANGAN
- Memindahkan berat badan pada posisi
merangkak
- Lengan meyangga pada saat duduk
- Keseimbangan badan saat duduk
- Memindahkan berat badan saat kneeling
- Memindahkan berat badan saat berdiri
- Proteksi tungkai eksterisi saat berdiri.
PRINSIP TERAPI TIPE CP (BOBATH
CENTRE,1987)
N
o
Tipe CP Prinsip therapy
1
2
3.
Spastis
spastik athetoid
Tonic spasm athehoid
Inhibisi spastisitas
Fasilitasi righting
Keseimbangan dan proteksi
Menanamkan pola gerak normal
Menghambat gerak asosiasi
Memberi arah gerak volunteir
Latihan penumpuan berat badan dan
plccing mencegah pemendekan otot dan
kecacatan
Sama dengan CP
Spastik di tambah : latiahn mengontrol
tubuh melalui kepala.gelang bahu dan
lengan.
Mengarahkan posture ke mid line
Mengajarkan control gerak ke segala
N
o
Tonic spasm athetoid Sama dengan CP Spastic athetoid
Inhibisi spastisitas
Pemberian stimulasi tetapi tidak boleh
berlebihan
Latihan mempertahankan postural
tonus
Latrihan fiksasi sebelum dan selama
bergerak.
4. Choreo athethoid Normalisasi tinus dengan latihan
weight bearing
Aproksimasi dan pemberiaan tahanan
Latihan mengontrol tubuh memalaui
kepala, gelang bahu dan lengan.
5 Athethoid murni Sama dengan CP tipe choreo athethoid
6 ataxia Fasilitasi geraka dan aktifitas normal
Memelihara kemampuan kontraksi
dengan mempertahankan posisi
tertentu.
Pemberian pressure taping untuk
menambah kontraksi.
7 Flaccid Perbaikan control kepala
Stimulasi deep breathing, tertawa dan
menangis
Fasilitasi gerak dan aktifitas normal
Setiap pemberian stimulasi selalu
menunggu reaksi sebelum di ulang,
dilakukan berbagai posisi
Diusahakan selalu tenang dan
memelihara agar stimulus tetap minimal
8 Hyperkinetik Control ketat agar tidak menangis/tertawa
Latihan konsentrasi
SEKIAN TERIMA KASIH
JENIS POLA LATIHAN
SEKIAN TERIMA KASIH

Bobat exc

  • 1.
  • 2.
    SEJARAH  Tahun 1940-1950: Dr. Karel Bobath (neurologi) dan Mrs. Berta Bobath( fisioterapi). Di kembangkan hingga tahun 1967.  Metode di khususkan untuk menangani problematik motorik akibat gangguan syaraf Pusat. ( shepred, 1997).  Menurut cooper dkk. 1994. pasien yang mendapatlkan terapi latihan yang memadai menunjukkkan adannya perbaikan fungsi koodinasi dan motorik.  NDT. (1977): aplikasi NDT mampu meningkatkan kemampuan aktifitas penderita serta perbaikan tonus otot yang normal.
  • 3.
    FISOLOFI  Motiode NDTberdasarkan pada prinsip tumbuh kembang neurologis antaralain: 1. Dinamik 2. Sekuensis 3. Cepalocaudal 4. Automatis sebelum disadari.
  • 4.
    DINAMIK  Tumbuh kembangmerupakan proses dinamis yang selalu terjadi perubahan.
  • 5.
    SEKUESIS  Tubuh kembangselalu berurutan dan kemampuan sederhana ke kemampuan yang lebih kompleks.
  • 6.
    PROKSIMAL KE DISTAL Tumbuh kembang berlangsung dari arah proksimal menuju distal.
  • 7.
    AUTOMATIS SEBELUM DISADARI Gerakan yang berkembang awal adalah gerak otto matis yang nantinya berkembang menjadi di sadari.
  • 8.
    RESPONSIF DAN ADAPTIF Bahwa tumbuh kembang terjadi sebagai respon terhadap stimulus serta merupakan adaptasi terhadap stimulus.
  • 9.
    PRINSIP DASAR NDT 1.Pattrens of movement 2. Use of handling 3. Pre requisites for movement.
  • 10.
    PATTRENS OF MOVEMENT Kelainan anak pada sistem saraf pusat: 1. Dominasi refleks /reaksi primitif 2. berkemnbangnya pola gerak abnormal karena terbatasnya kemampuan gerak. 3. Adanya kompensasi /adatasi gerak normal. Misal : Pola gerak berjalan yang di rasakan benar oleh anak adalah berjalan pada jari-jari dengan panggul endorotasi dan lutut fleksi pada hal pola gerak keliru karena minimnya pembendaharaan gerak pada anak.
  • 11.
    ATENTIONS  Bila suatugerak di buat dalam suatu pola aksi kelompok otot tertentu akan menghasilkan resposn dan adaptif pada kelompok otot yang lain.  Terbatasnya pola gerak berakibat terbatas dan terhambatnya penguasaan keterampilan lebih dan gerak responsif.
  • 12.
    USE 0F HANDLING -Respon dan pola gerak normal di kembangkan melalui penggunaan teknik handling yang spesifik. - Terapis menjadi bagian dan sistem input sensoris bagi anak dan handling selalu saling mempengaruhi antara terapis dan anak. - Tujuan hadling: - 1. Normalisasi tonus . - 2. membangkitkan koordinasi gerak dan posture - 3. pengembangan keterampilan. - 4. adaptasi respon.
  • 13.
    USE 0F HANDLING Responterhadap anak : 1. Memperbaiki kualitas gerakan . 2. Menghambat pola gerakan abnormal yang dimiliki. 3. Memfasilitasi gerak dasar dan semua gerak motorik sehingga respon anak lebih mudah terjadi.
  • 14.
    PREREQUISITES FOR MOVEMENT -Menurut bobath (1971) : gerak dalam latihan lebih efisien ada 3 faktor: 1. Tonus postural yang normal mutlak di perlukan agar dapat di gunakan untuk melawan gaya grafitasi, sehingga dalam waktu bersamaan dapat melakukan aktifitas yang lain. 2. Reciprocal Inervations: pada kelompok otot memungkinkan terjadinya aksi kelompok agonis dan antagonis yang terkoordinir dan seimbang. 3. Postural fixations. Mutlak di perlukan sehinggga kelompok otot mampu menstabilkan badan.
  • 15.
    CONTOH PRE-REQUISITIS FORMOVEMENT (ECKERSLEY, 1993) No Pre –Requistes Resultant skill 1 Tonus postural normal Tegak , independent, duduk seimbang 2 Reciprocal innervations Fleksor dan ekstensor jari-jari memingkan terjadi gerak pensil menulis. Abduksi-adduksi shoulder memungkinkan gerak pensil kanan dan kiri 3 Postural fixations Shoulder girdle stabil, wrist dan elbow stabil
  • 16.
    KONSEP NEURODEVELOPMENTAL TREATMENT Siklusterapi menurut konsep bobat: Inhibit abnormal reactions RIP Fasilitasi Normal Reactions Key of Control Develop functional skill Play, activity, ADL Develop Movement Sequences Balance & Protektive Rections
  • 17.
    INHIBISI Refleks inhibiting patterns(RIP’S) : di gunakan untuk menurunkan aktifitas refleks yang abnormal dan reaksi asosiasi serta timbulnya tonus yang abnormal. Cara : menggerakkan badan rotasi secara pasif /mengoyang-goyangkan pada lingkup gerak tertentu secara sekuensis dapat dihasilkan tonus postural yang normal.
  • 18.
    SEKUENSIS Sekuensis dalam terapi: 1.Bagian tubuh yang tingkat afected terkecil didahulukan. 2. Handling diawali dari proksimal Misal: - penurunan spastisitas pada lengan diawali dengan gerakan pada shoulder girdle terlebih dahulu baru menjalar ke bagian distal. (bobath, 1966)
  • 19.
    CONTOH RIPS (ECKERSLEY,1993) no Pattern of increase tone RIP Suplementary RIP 1 Spastisitas fleksor bahu dan lengan -Ekstensi leher - ekstensi badan - eksorotasi bahu - ekstensi siku - Ekstensi pergelangan tangan - Supinasi lengan bawah - Abduksi ibu jari 2 Spastisitas ekstensor badan dan leher - Fleksi panggul - Protaksi gelang bahu - Abduksi panggul - Endorotasi bahu - Fleksi badan - Fleksi leher - Retraksi rahang. 3 Spastisitas ekstensor badan dan tungkai - Retraksi gelang bahu - Fleksi panggul - Abduksi panggul - Eksorotasi panggul - Fleksi badan - Fleksi kedua lutut dorsi - - fleksi jari-jari dan pergelangan kaki.
  • 20.
    KEY POINT OFCONTROL Adalah bagian tubuh (yang biasanya terletak di proksimal) yang di gunakan untuk normalisasi tonus maupun menuntun gerak aktif yang normal. (The bobath centre, 1987).
  • 21.
    FACILITATIONS Di gunakan agaranak mampu: 1. mencapai tonus normal sebagai dasar untuk bergerak. 2. mengembangkan reaksi righting dan equibrrilium. 3. Mengembangkan pola gerak dasar untuk membangun aktifitas yang lebih terampil. 4. menyesuaikan gerak dengan perfomancenya.
  • 22.
    DUKUNGAN LATIHAN MOTORISDAN STIMULUS SENSORIS Sesuai Dengan: 1. Tingkat tumbuh anak 2. Bagaimana anak melakukan gerak normal. 3. Tidak menghambat anak berpartisipasi secara aktif dalam bergerak.
  • 23.
    PROPIOSEPTIF STIMULATIONS - Digunakan untuk menambah fasilitasi jika anak pasien mempunyai tonus yang sangat rendah / anak kekurangan sensori motor experience. - Teknik pressure: di gunakan sebagai kombinasi fasiltasi: pemberian tekanan pada gelang panggul pada posisi duduk dapat menghasilkan stabilitas posture saat ekstremitas atas / badan bergerak
  • 24.
    TAPPING Fungsi : untukmemberikan input intermitent agar anak dapat mempertahankan posisi. Misal : taping pada bagian belakang bahu dan otot triceps dapat merangsang anak untuk memelihara weight bearing pada lengan yang menyangga. Cara: berikan dengan kecepatan yang cukup untuk mencegah hilangnya control tetapi cukup lambat agar anak cepat bereaksi.
  • 25.
    MOVEMENT SEQUENSIS ANDFUNGTIONAL SKILL Tehnik inhibisi dan fasilitasi pada dasarnya di gunakan untuk menumbuhkan kemampuan sekuensis motorik dan kemampuan motorik anak.
  • 26.
    DASAR KEMAMPUAN MOTORIK Menurut:Eckersley(1993): - Berguling - Berbaring ke duduk - Tengkurap dengan kedua lengan bawah menyangga badan. - Posisi merangkak - Kneeling ke berdiri - Duduk ke berdiri
  • 27.
    REAKSI PROTEKSI DANKESEIMBANGAN - Memindahkan berat badan pada posisi merangkak - Lengan meyangga pada saat duduk - Keseimbangan badan saat duduk - Memindahkan berat badan saat kneeling - Memindahkan berat badan saat berdiri - Proteksi tungkai eksterisi saat berdiri.
  • 28.
    PRINSIP TERAPI TIPECP (BOBATH CENTRE,1987) N o Tipe CP Prinsip therapy 1 2 3. Spastis spastik athetoid Tonic spasm athehoid Inhibisi spastisitas Fasilitasi righting Keseimbangan dan proteksi Menanamkan pola gerak normal Menghambat gerak asosiasi Memberi arah gerak volunteir Latihan penumpuan berat badan dan plccing mencegah pemendekan otot dan kecacatan Sama dengan CP Spastik di tambah : latiahn mengontrol tubuh melalui kepala.gelang bahu dan lengan. Mengarahkan posture ke mid line Mengajarkan control gerak ke segala
  • 29.
    N o Tonic spasm athetoidSama dengan CP Spastic athetoid Inhibisi spastisitas Pemberian stimulasi tetapi tidak boleh berlebihan Latihan mempertahankan postural tonus Latrihan fiksasi sebelum dan selama bergerak. 4. Choreo athethoid Normalisasi tinus dengan latihan weight bearing Aproksimasi dan pemberiaan tahanan Latihan mengontrol tubuh memalaui kepala, gelang bahu dan lengan. 5 Athethoid murni Sama dengan CP tipe choreo athethoid
  • 30.
    6 ataxia Fasilitasigeraka dan aktifitas normal Memelihara kemampuan kontraksi dengan mempertahankan posisi tertentu. Pemberian pressure taping untuk menambah kontraksi. 7 Flaccid Perbaikan control kepala Stimulasi deep breathing, tertawa dan menangis Fasilitasi gerak dan aktifitas normal Setiap pemberian stimulasi selalu menunggu reaksi sebelum di ulang, dilakukan berbagai posisi Diusahakan selalu tenang dan memelihara agar stimulus tetap minimal 8 Hyperkinetik Control ketat agar tidak menangis/tertawa Latihan konsentrasi
  • 31.
  • 32.
  • 48.