ASFIKSIA NEONATORUM
Nina Surtiretna, dr. Sp.A(K), MKes
Fisiologi Bayi Baru Lahir
3
Paru-paru dan sirkulasi janin
sebelum lahir dan bayi setelah lahir
AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2006.
Konstriksi Dilatasi
Cairan dalam alveoli Oksigen dalam alveoli
Janin
Bayi Baru Lahir
4
Arteri
pulmonal
Aorta
Penutupan
duktus
arteriosus
Arteri
pulmon
al
Darah
ber- O2
di aorta
Sirkulasi Janin Sirkulasi Bayi setelah Lahir
Duktus
arteriosus
Transisi Normal
Tiga perubahan utama
1.Cairan alveoli diserap oleh jaringan paru,
digantikan oleh udara (oksigen)
2.Arteri dan vena umbilikalis konstriksi,
sehingga meningkatkan tekanan darah
sistemik
3.Pembuluh darah paru dilatasi/relaksasi,
meningkatkan aliran darah paru
AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020.
5
1. Ventilasi yang tidak adekuat, sumbatan jalan napas
2. Kehilangan banyak darah atau kontraktilitas jantung
yang buruk
3. Konstriksi pembuluh darah paru yang menetap
• AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020.
6
Masalah yang dapat terjadi
selama transisi
• Takipnea/nafas cepat
• Tarikan dinding dada bawah yang dalam
• Sianosis/biru ujung jari tangan, kaki dan bibir
• Tonus otot yang buruk
• Bradikardia
• Tekanan darah turun
Tanda-tanda klinis yang
membahayakan bayi baru lahir
Bagaimana keadaan bayi
segera setelah lahir?
Pada umumnya
• Sekitar 90% cukup dilakukan perawatan rutin
• Kira-kira 10% perlu beberapa bantuan untuk
memulai pernapasan
• Hanya kira-kira 1% perlu resusitasi lengkap
untuk kelangsungan hidup (intubasi, kompresi
dada, pemberian obat)
AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020.
8
ASFIKSIA NEONATORUM
PENDAHULUAN
Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir (WHO)
Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin di
intrauterine, akan mengalami asfiksia sesudah persalinan
Masalah ini mungkin berkaitan dengan keadaan ibu, tali
pusat, atau masalah pada bayi selama atau sesudah
persalinan
10
Definisi lain dari Asfiksia neonatus
• Merupakan kondisi gangguan pertukaran gas intapartum
yang apabila menetap dapat menyebabkan hipoksemia,
hiperkarbia progresif serta asidosi metabolic (Nataprawira,
2020)
Asfiksia perinatal
Definisi : suatu keadaan saat lahir dimana terlihat kombinasi
kelainan berikut:
❖ Selama periode perinatal terdapat kelainan hipoksia yang
berlanjut dengan asidosis;
❖ kegagalan fungsi dua organ atau lebih (termasuk paru-paru,
jantung, hati, otak, ginjal dan hematologi).
Source : Perinatal morbidity. Report of the Health Care Committee Expert panel
on Perinatal Morbidity. National Health and Medical Research Council.
Australian Government Publishing Service. 1995.
PENYEBAB ASFIKSIA
Keadaan pada
Ibu
aliran darah ibu
melalui plasenta
berkurang
aliran oksigen ke
janin berkurang
penurunan aliran
darah dan
oksigen
Asfiksia
gawat janin
13
Penyebab Asfiksia
KEADAAN TALI PUSAT
• Lilitan tali pusat
• Tali pusat pendek
• Simpul tali pusat
• Prolapsus tali pusat
KEADAAN IBU:
• Preeklampsia dan eklampsia
• Pendarahan abnormal
(plasenta previa atau solusio
plasenta)
• Partus lama
• Demam selama persalinan
• Infeksi berat
• Kehamilan post matur
Penyebab Asfiksia
KEADAAN BAYI
• Bayi prematur (sebelum 37 minggu
kehamilan)
• Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar,
distosia bahu, ekstraksi vakum, forsep)
• Kelainan kongenital
• Air ketuban bercampur mekonium (warna
kehijauan)
DIAGNOSIS ASFIKSIA
Pemeriksaan fisik:
•Upaya napas
• Frekuensi denyut jantung
• Tonus otot
• Warna kulit
Laboratorium : Analisa gas darah:
• Hipoksia
• Hiperkapne/ hiperkarbi
• Asidosis metabolik (pH<7,2)
KOMPLIKASI
• dapat terjadi pada semua organ/sistem, akibat hipoksia terjadi di seluruh tubuh, sehingga
organ-organ seperti otak, jantung, paru, ginjal, usus, dan organ lain akan terkena dampaknya.
• Manifestasi klinis komplikasi tergantung organ yang terkena.
• Komplikasi yang bisa terjadi adalah:
- Ensefalopati hipoksik iskemik
- Gangguan sirkulasi (hipotensi)
- PPHN (Primary Pulmonary Hypertention of Newborn)
- Gagal ginjal
- Enterokolitis nekrotikans
- Gangguan fungsi hati
- Perdarahan
- Gangguan metabolik
- Syndrome of inappropriate antidiuretic hormone
- Trombositopenia.
100% bayi lahir perlu didampingi oleh
seseorang/ tim ahli resusitasi
10% bayi baru lahir butuh intervensi
setingkat Bag & Mask ventilation
untuk dapat bernapas saat lahir
1% bayi lahir butuh intubasi sampai
bantuan obat-obatan
Barkemeyer BM. Critical Concepts NICU. [diakses pada: 24 Januari 2012]. Diunduh dari : URL: www.medschool.lsuhsc.edu.
Penanganan bayi asfiksia dengan cara melakukan resusitasi neonatus yang
optimal, tepat waktu dan dikerjakan oleh tim resusitasi yang profesional
MANAJEMEN
RESUSITASI NEONATUS
Waktu
dari
Lahir
Target
SpO2
Preduktal
1 menit 60-65 %
2 menit 65-70 %
3 menit 70-75 %
4 menit 75-80 %
5 menit 80-85 %
10 menit 85-95 %
Keterangan:
LDJ naik, dada mengembang
(VTP efektif) lanjutkan
VTP 15 detik lagi
LDJ tidak naik, dada
mengembang lanjutkan
VTP 15 detik lagi
LDJ tidak naik, dada tidak
naik evaluasi SR IBTA
(Sungkup, Reposisi, Isap,
Buka mulut, Tekanan
dinaikan, Alternatif jalan
napas) sampai dada
mengembang lanjutkan
VTP ini sampai 30 detik
Tidak
Ya
Continuous positive airway
pressure (CPAP)
TPAE 7-8 cmH2O
Pemantauan SpO2
Pertimbangkan
suplementasi oksigen
Pemantauan SpO2
Gagal CPAP
TPAE 8 cmH2O
FiO2> 40%
Dengan distres napas
Pertimbangkan intubasi
PADA
SETIAP
LANGKAH
TANYAKAN:
APAKAH
ANDA
MEMBUTUHKAN
BANTUAN?
Keterangan:
Apabila LDJ > 100 kali per menit dan
target saturasi oksigen tercapai:
Tanpa alat bantu napas Lanjutkan
ke perawatan observasi
Dengan alat bantu napas
Lanjutkan ke perawatan pasca-
resusitasi
LDJ < 60/ menit?
Pertimbangkan
pemberian obat dan
cairan intravena
pneumotoraks?
< 60x/ menit
Evaluasi ventilasi
Pertimbangkan Intubasi
VTP (O2 100%) + kompresi
dada***
(3 kompresi : 1 napas)
Observasi LDJ dan usaha
napas tiap 60 detik
*** Kompresi dilakukan
setelah bayi terintubasi
Bernapas atau menangis?
Tonus baik?
Perawatan rutin:
Pastikan bayi tetap hangat
Keringkan bayi
Lanjutkan observasi
pernapasan, laju denyut
jantung, dan tonus
Langkah awal:(nyalakan pencatat waktu)
Pastikan bayi tetap hangat
Atur posisi dan bersihkan jalan napas
Keringkan dan stimulasi
Posisikan kembali
Tidak bernapas/ megap-
megap, dan atau
LDJ < 100x/ menit
Distres napas
(Takipnu, retraksi, atau
merintih)
Sianosis sentral persisten
Tanpa distres napas
Ventilasi tekanan
positif (VTP)
Pemantauan SpO2
EKG (bila ada)
Bernapas spontan
Observasi usaha napas, laju denyut jantung (LDJ), dan tonus otot
Keterangan:
Pada bayi dengan berat < 32
minggu, bayi langsung dibungkus
plastik bening tanpa dikeringkan
terlebih dahulu kecuali wajahnya,
kemudian dipasang topi. Bayi tetap
dapat distimulasi walaupun
dibungkus plastik
** Langkah awal dan pemberian VTP
harus dilakukan dalam 60 detik
pertama
60
detik**
Penilaian awal
(first assessment) VTP
Penilaian kedua
(second assessment) VTP
60-99x/
menit
Evaluasi
ventilasi
≥100 x/
menit
Konseling antenatal, persiapan alat, dan pembagian tugas dalam tim
Bayi lahir
UKK Neonatologi IDAI, 2017
60
detik
Konseling antenatal, persiapan alat dan pembagian tugas dalam tim
PRINSIP RESUSITASI
ABC resusitasi
A → airway
• jalan napas
• memposisikan & menjaga jalan napas bersih dan terbuka
B → breathing
• pernapasan
• merangsang pernapasan
C → circulation
• sirkulasi
• menilai frekuensi denyut jantung & warna kulit, lalu melakukan
tindakan yang perlu)
Faktor Risiko Antepartum
Diabetes maternal
Hipertensi dalam kehamilan
Hipertensi kronik
Anemia
Riwayat kematian janin/neonatus
Perdarahan pada trimester 2 / 3
Infeksi maternal
Ibu dengan penyakit jantung, ginjal,
paru, tiroid atau kelainan
neurologi
Polihidramnion
Oligohidramnion
Ketuban pecah dini
Kehamilan lewat waktu
Kehamilan ganda
Berat janin tidak sesuai masa
kehamilan
Obat-obatan: magnesium, B bloker
Ibu pengguna obat-obat bius
Malformasi janin
Berkurangnya gerakan janin
Tanpa pemeriksaan antenatal
Usia < 16 atau > 35 tahun
Faktor Risiko Intrapartum
Operasi kaesar darurat
Kelahiran dengan
ekstraksi vakum
Letak sungsang atau persentasi
abnormal
Kelahiran kurang bulan
Persalinan presipitatus
Korioamnionitis
Ketuban pecah lama
(>18 jam sebelum persalinan)
Partus lama (>24 jam)
Kala 2 lama (>2 jam)
Bradikardia janin
Frekuensi jantung janin
tak beraturan
Penggunaan anastesi umum
Tetani uterus
Penggunaan obat narkotik dalam
< 4 jam sebelum persalinan
Air ketuban campur mekonium
Prolaps tali pusat
Solusio plasenta
Plasenta previa
Resusitasi Neonatus - - - Daftar Alat-alat
%
konsentrasi
O2
Udara Bertekanan (liter/menit)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28%
2 61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34%
3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39%
4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44%
5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47%
6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51%
7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54%
8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56%
9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58%
10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61%
A Airway
Langkah Awal
B Breathing
Ventilasi Tekanan Positif
C Circulation
Kompresi Dada + Ventilasi Tekanan Positif
D Drug
Epinephrin
E Equipment
`
3
Drugs
Equipment
1
Airway
Breathing
1. Ketua Tim
(Jalan Napas & Pernapasan)
• Ulas singkat peran, rencana dengan tim
• Hisap mulut & hidung bayi
• Jaga patensi jalan napas
• Berikan VTP
- PEEP 5, PIP 20-25
- RR 30-60
• Intubasi bayi & perhatikan kedalaman ET
• Beri surfaktan jika perlu
• Thorakosintesis jika perlu
• Nilai APGAR 1 & 5 menit
• Beri pengarahan pada tim dengan tenang
2. Sirkulasi
• Keringkan bayi
• Bekerja sama dengan sirkulasi
mengeringkan & merangsang bayi,
memasang plastik, mengganti linen
• Dengarkan suara jantung & napas
• Dengarkan suara napas setelah ET
terpasang
• Pijat jantung
3. Equipment
• Siapkan alat
• Aktifkan timer saat lahir
• Pasang probe suhu
• Bekerja sama dengan sirkulasi mengeringkan dan merangsang
bayi, memasang plastik, mengganti linen
• Pasang sensor pulse oxymetri di tangan kanan
• Berikan pengobatan emergensi jika dibutuhkan
• Mengingatkan lama resusitasi dan mencatat tindakan dan obat-
obatan yang sudah dilakukan
• Memastikan inkubator siap digunakan dan ada tempat di NICU
• Pasang kateter vena umbilikal bila diperlukan
2 Circulation
STABILISASI PASKA RESUSITASI
Stabilisasi adalah mengidentifikasi faktor-faktor neonatus paska
resusitasi yang apabila tidak dikoreksi akan memperburuk
keadaan
Tindakan stabilisasi yang terfokus pada 6 dasar, serta meningkatkan keamanan pasien
baik dalam manajemen, pencegahan kemungkinan adanya kesalahan serta mengurangi
efek samping
BATASAN
TUJUAN
ASPEK PENTING STABILISASI NEONATUS
• S Sugar and Safe Care
• T Temperature
• A Airway
• B Blood pressure
• L Laboratory
• E Emotional support
Langkah-langkah stabilisasi paska resusitasi
• S = sugar
Langkah untuk menstabilkan kadar gula darah neonatus
Hipoglikemia adalah keadaan kadar glukosa darah tidak dapat
mencukupi kebutuhan tubuh
Kebutuhan glukosa
• Awal kehidupan: kelangsungan asupan nutrisi terhenti segera
setelah tali pusat diklem
• Bayi baru lahir: perlu kelangsungan nutrisi untuk
mempertahankan asupan glukosa. Glukosa diperlukan
terutama untuk metabolism sel otak
• Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk stabilisasi gula darah
neonatus
- memberikan makanan enteral
- memberikan glukosa melalui jalur intravena
• Neonatus berisiko tinggi mengalami hipoglikemia
- bayi prematur (<37 mgg)
- bayi kecil untuk masa kehamilan, BBLR, IUGR
- bayi besar untuk masa kehamilan
- bayi dari ibu diabetes melitus
- bayi sakit
- bayi dari ibu yang mendapat obat hipoglikemik atau diinfus
glukosa saat persalinan
Skrining hipoglikemia :
• Menggunakan darah kapiler
• Dekstrostix
• Simple, Cukup akurat
• Target gula darah : 50-110 mg/dl
• 15% lebih rendah dari gula serum
Frekuensi :
• Sebelum transpor
• Diulang lagi saat akan ditranspor
• Proses transpor
• Bila hasil pemeriksaan I normal : tidak perlu diulang
• Tanda bayi hipoglikemia:
- jitteriness
- tremor
- hipotermia
- letargis
- lemas
- hipotonia
- apnea atau takipnea
- malas menetek
- muntah
- menangis lemah
- high pitched cry
- kejang
- henti jantung
Stabilisasikan bayi dengan :
— Bila hipoglikemi : start terapi !
__ Early feeding atau
— Infus mengandung Dekstrosa (Dex 10%)
— 80 ml/kg/hari
— Target setidaknya : GIR = 4-6 mg/kg/menit
T = temperature
• Hipotermia → dapat dicegah dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas
(khususnya bayi prematur)
• Risiko tinggi hipotermia:
- bayi prematur, BBLR (t.u. BB<1500 gr)
- bayi kecil untuk masa kehamilan
- bayi yang mengalami resusitasi yang lama
- bayi yang sakit berat dengan masalah infeksi, jantung, neurologis,
endokrin dan bedah
- bayi yang hipotonik akibat sedatif, analgesik, atau anestesi
• Konsep utama dalam pencegahan
hipotermia (pascaresusitasi)
- dilakukan pada bayi sakit atau sehat
- bayi prematur dan berat badan rendah sangat rentan
mengalami hipotermia
- bayi yang dilakukan resusitasi lama berisiko tinggi
mengalami hipotermia
Patofisiologi Hipotermia
Proses kehilangan panas:
❖ Konduksi: melalui kontak benda padat (dengan alas/timbangan)
Pencegahan: beri alas timbangan, hangatkan alat-alat
❖ Konveksi: melalui kontak dengan aliran udara (dari jendela,
pintu, AC)
Pencegahan:
- menaikkan suhu ruangan menjadi 25-28ᵒC,
- melapisi tubuh bayi prematur (<1500 gr) dengan plastik
polietilen
- mentransfer bayi dengan inkubator tertutup yang telah
dihangatkan terlebih dahulu
❖ Evaporasi : melalui penguapan
- Segera mengeringkan bayi dengan handuk hangat
setelah lahir
untuk mengurangi kehilangan panas,
- lapisi permukaan tubuh bayi prematur,
- hangatkan suhu ruangan,
- kurangi adanya turbulensi udara yang melewati
bayi
❖ Radiasi: proses kehilangan panas antara dua benda
padat yang tidak bersentuhan
Dapat dikurangi dengan cara:
- mempertahankan kehangatan suhu ruangan
- menjauhkan bayi dari jendela terbuka
- dengan meletakkan bayi di dalam inkubator
A = Airway
Harus dievaluasi:
1. Laju nafas → normal 40-60x/m
2. Usaha nafas
- takipnea
- retraksi (tarikan dinding dada)
- grunting (merintih), pernafasan cuping hidung
- apnea, nafas megap-megap, atau periodic breathing
3. Kebutuhan oksigen
4. Saturasi oksigen
5. Analisis gas darah
Evaluasi distress napas
• Skor Downes
Skor Frekuensi
Napas
Sianosis Udara
Masuk
Merintih Retraksi
0 <60/menit Tidak
sianosis
Udara
masuk
Tidak
merintih
Tidak ada
retraksi
1 60-
80/menit
Sianosis
hilang
dengan O2
Penurunan
ringan
udara
masuk
Dapat
didengar
dengan
stetoskop
Retraksi
ringan
2 >80/menit Sianosis
menetap
walau
diberi O2
Tidak ada
udara
masuk
Dapat
didengar
tanpa alat
bantu
Retraksi
berat
Skor <=3 Distres napas Ringan
Skor 4-5 Distres napas Sedang
Skor >= 6 Distres napas Berat
Acuan sederhana untuk oksigenasi
USAHA
NAPAS
TAKIPNEA RETRAKSI OKSIGENA
SI
Napas
spontan
+ - Kanul
hidung
Merintih + + CPAP
Megap-
megap
- - VTP
Retraksi hebat, FiO2>60% ------------>
Intubasi
VENTILASI PARU
Pemberian tekanan agar alveol tetap
terbuka dan tidak kolaps
→ Memakai CPAP
→ T-Rescucitator/Neopuff®)
BLENDER OKSIGEN
B = blood pressure
▪ Curah jantung yang cukup → mempertahankan sirkulasi
▪ Tanda-tanda bayi syok:
- usaha nafas: takipnea, retraksi, pernafasan cuping hidung, grunting,
apnea, gasping
- nadi: lemah, tidak teraba
- perfusi perifer: > 3 detik
- warna: sianosis atau pucat
- frekuensi jantung: normal 120-160x/m
- jantung: murmur, pembesaran jantung
- tekanan darah: hipotensi
L = Laboratory studies
• Sebelum transportasi:
- blood count (pemeriksaan darah rutin)
- blood culture (kultur darah)
- blood glucose (kadar glukosa darah)
- blood gas (analisis gas darah)
• Setelah transportasi:
tergantung pada riwayat, faktor risiko, gejala klinis bayi
E = Emotional support
• Keluarga dari bayi yang mengalami krisis biasanya akan
mengalami rasa bersalah, marah, tidak percaya, merasa gagal,
tidak berdaya, serta takut dan depresi
• Orangtua bayi akan mengalami beberapa tahapan emosional:
- terkejut
- menyangkal
- berkabung, sedih, takut
- marah dan merasa bersalah
- tahap ekuilibrium dan terorganisir
Terima Kasih

Asfiksia Neonatorum-STABLE .pdf

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    3 Paru-paru dan sirkulasijanin sebelum lahir dan bayi setelah lahir AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2006. Konstriksi Dilatasi Cairan dalam alveoli Oksigen dalam alveoli Janin Bayi Baru Lahir
  • 4.
  • 5.
    Transisi Normal Tiga perubahanutama 1.Cairan alveoli diserap oleh jaringan paru, digantikan oleh udara (oksigen) 2.Arteri dan vena umbilikalis konstriksi, sehingga meningkatkan tekanan darah sistemik 3.Pembuluh darah paru dilatasi/relaksasi, meningkatkan aliran darah paru AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020. 5
  • 6.
    1. Ventilasi yangtidak adekuat, sumbatan jalan napas 2. Kehilangan banyak darah atau kontraktilitas jantung yang buruk 3. Konstriksi pembuluh darah paru yang menetap • AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020. 6 Masalah yang dapat terjadi selama transisi
  • 7.
    • Takipnea/nafas cepat •Tarikan dinding dada bawah yang dalam • Sianosis/biru ujung jari tangan, kaki dan bibir • Tonus otot yang buruk • Bradikardia • Tekanan darah turun Tanda-tanda klinis yang membahayakan bayi baru lahir
  • 8.
    Bagaimana keadaan bayi segerasetelah lahir? Pada umumnya • Sekitar 90% cukup dilakukan perawatan rutin • Kira-kira 10% perlu beberapa bantuan untuk memulai pernapasan • Hanya kira-kira 1% perlu resusitasi lengkap untuk kelangsungan hidup (intubasi, kompresi dada, pemberian obat) AHA and AAP. Textbook of Neonatal Resuscitation, 2020. 8
  • 9.
  • 10.
    PENDAHULUAN Asfiksia adalah keadaanbayi yang tidak bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir (WHO) Seringkali bayi yang sebelumnya mengalami gawat janin di intrauterine, akan mengalami asfiksia sesudah persalinan Masalah ini mungkin berkaitan dengan keadaan ibu, tali pusat, atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan 10
  • 11.
    Definisi lain dariAsfiksia neonatus • Merupakan kondisi gangguan pertukaran gas intapartum yang apabila menetap dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkarbia progresif serta asidosi metabolic (Nataprawira, 2020)
  • 12.
    Asfiksia perinatal Definisi :suatu keadaan saat lahir dimana terlihat kombinasi kelainan berikut: ❖ Selama periode perinatal terdapat kelainan hipoksia yang berlanjut dengan asidosis; ❖ kegagalan fungsi dua organ atau lebih (termasuk paru-paru, jantung, hati, otak, ginjal dan hematologi). Source : Perinatal morbidity. Report of the Health Care Committee Expert panel on Perinatal Morbidity. National Health and Medical Research Council. Australian Government Publishing Service. 1995.
  • 13.
    PENYEBAB ASFIKSIA Keadaan pada Ibu alirandarah ibu melalui plasenta berkurang aliran oksigen ke janin berkurang penurunan aliran darah dan oksigen Asfiksia gawat janin 13
  • 14.
    Penyebab Asfiksia KEADAAN TALIPUSAT • Lilitan tali pusat • Tali pusat pendek • Simpul tali pusat • Prolapsus tali pusat KEADAAN IBU: • Preeklampsia dan eklampsia • Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta) • Partus lama • Demam selama persalinan • Infeksi berat • Kehamilan post matur
  • 15.
    Penyebab Asfiksia KEADAAN BAYI •Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan) • Persalinan sulit (letak sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, forsep) • Kelainan kongenital • Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
  • 17.
    DIAGNOSIS ASFIKSIA Pemeriksaan fisik: •Upayanapas • Frekuensi denyut jantung • Tonus otot • Warna kulit Laboratorium : Analisa gas darah: • Hipoksia • Hiperkapne/ hiperkarbi • Asidosis metabolik (pH<7,2)
  • 18.
    KOMPLIKASI • dapat terjadipada semua organ/sistem, akibat hipoksia terjadi di seluruh tubuh, sehingga organ-organ seperti otak, jantung, paru, ginjal, usus, dan organ lain akan terkena dampaknya. • Manifestasi klinis komplikasi tergantung organ yang terkena. • Komplikasi yang bisa terjadi adalah: - Ensefalopati hipoksik iskemik - Gangguan sirkulasi (hipotensi) - PPHN (Primary Pulmonary Hypertention of Newborn) - Gagal ginjal - Enterokolitis nekrotikans - Gangguan fungsi hati - Perdarahan - Gangguan metabolik - Syndrome of inappropriate antidiuretic hormone - Trombositopenia.
  • 19.
    100% bayi lahirperlu didampingi oleh seseorang/ tim ahli resusitasi 10% bayi baru lahir butuh intervensi setingkat Bag & Mask ventilation untuk dapat bernapas saat lahir 1% bayi lahir butuh intubasi sampai bantuan obat-obatan Barkemeyer BM. Critical Concepts NICU. [diakses pada: 24 Januari 2012]. Diunduh dari : URL: www.medschool.lsuhsc.edu. Penanganan bayi asfiksia dengan cara melakukan resusitasi neonatus yang optimal, tepat waktu dan dikerjakan oleh tim resusitasi yang profesional MANAJEMEN
  • 20.
  • 21.
    Waktu dari Lahir Target SpO2 Preduktal 1 menit 60-65% 2 menit 65-70 % 3 menit 70-75 % 4 menit 75-80 % 5 menit 80-85 % 10 menit 85-95 % Keterangan: LDJ naik, dada mengembang (VTP efektif) lanjutkan VTP 15 detik lagi LDJ tidak naik, dada mengembang lanjutkan VTP 15 detik lagi LDJ tidak naik, dada tidak naik evaluasi SR IBTA (Sungkup, Reposisi, Isap, Buka mulut, Tekanan dinaikan, Alternatif jalan napas) sampai dada mengembang lanjutkan VTP ini sampai 30 detik Tidak Ya Continuous positive airway pressure (CPAP) TPAE 7-8 cmH2O Pemantauan SpO2 Pertimbangkan suplementasi oksigen Pemantauan SpO2 Gagal CPAP TPAE 8 cmH2O FiO2> 40% Dengan distres napas Pertimbangkan intubasi PADA SETIAP LANGKAH TANYAKAN: APAKAH ANDA MEMBUTUHKAN BANTUAN? Keterangan: Apabila LDJ > 100 kali per menit dan target saturasi oksigen tercapai: Tanpa alat bantu napas Lanjutkan ke perawatan observasi Dengan alat bantu napas Lanjutkan ke perawatan pasca- resusitasi LDJ < 60/ menit? Pertimbangkan pemberian obat dan cairan intravena pneumotoraks? < 60x/ menit Evaluasi ventilasi Pertimbangkan Intubasi VTP (O2 100%) + kompresi dada*** (3 kompresi : 1 napas) Observasi LDJ dan usaha napas tiap 60 detik *** Kompresi dilakukan setelah bayi terintubasi Bernapas atau menangis? Tonus baik? Perawatan rutin: Pastikan bayi tetap hangat Keringkan bayi Lanjutkan observasi pernapasan, laju denyut jantung, dan tonus Langkah awal:(nyalakan pencatat waktu) Pastikan bayi tetap hangat Atur posisi dan bersihkan jalan napas Keringkan dan stimulasi Posisikan kembali Tidak bernapas/ megap- megap, dan atau LDJ < 100x/ menit Distres napas (Takipnu, retraksi, atau merintih) Sianosis sentral persisten Tanpa distres napas Ventilasi tekanan positif (VTP) Pemantauan SpO2 EKG (bila ada) Bernapas spontan Observasi usaha napas, laju denyut jantung (LDJ), dan tonus otot Keterangan: Pada bayi dengan berat < 32 minggu, bayi langsung dibungkus plastik bening tanpa dikeringkan terlebih dahulu kecuali wajahnya, kemudian dipasang topi. Bayi tetap dapat distimulasi walaupun dibungkus plastik ** Langkah awal dan pemberian VTP harus dilakukan dalam 60 detik pertama 60 detik** Penilaian awal (first assessment) VTP Penilaian kedua (second assessment) VTP 60-99x/ menit Evaluasi ventilasi ≥100 x/ menit Konseling antenatal, persiapan alat, dan pembagian tugas dalam tim Bayi lahir UKK Neonatologi IDAI, 2017 60 detik Konseling antenatal, persiapan alat dan pembagian tugas dalam tim
  • 22.
    PRINSIP RESUSITASI ABC resusitasi A→ airway • jalan napas • memposisikan & menjaga jalan napas bersih dan terbuka B → breathing • pernapasan • merangsang pernapasan C → circulation • sirkulasi • menilai frekuensi denyut jantung & warna kulit, lalu melakukan tindakan yang perlu)
  • 23.
    Faktor Risiko Antepartum Diabetesmaternal Hipertensi dalam kehamilan Hipertensi kronik Anemia Riwayat kematian janin/neonatus Perdarahan pada trimester 2 / 3 Infeksi maternal Ibu dengan penyakit jantung, ginjal, paru, tiroid atau kelainan neurologi Polihidramnion Oligohidramnion Ketuban pecah dini Kehamilan lewat waktu Kehamilan ganda Berat janin tidak sesuai masa kehamilan Obat-obatan: magnesium, B bloker Ibu pengguna obat-obat bius Malformasi janin Berkurangnya gerakan janin Tanpa pemeriksaan antenatal Usia < 16 atau > 35 tahun
  • 24.
    Faktor Risiko Intrapartum Operasikaesar darurat Kelahiran dengan ekstraksi vakum Letak sungsang atau persentasi abnormal Kelahiran kurang bulan Persalinan presipitatus Korioamnionitis Ketuban pecah lama (>18 jam sebelum persalinan) Partus lama (>24 jam) Kala 2 lama (>2 jam) Bradikardia janin Frekuensi jantung janin tak beraturan Penggunaan anastesi umum Tetani uterus Penggunaan obat narkotik dalam < 4 jam sebelum persalinan Air ketuban campur mekonium Prolaps tali pusat Solusio plasenta Plasenta previa
  • 25.
    Resusitasi Neonatus -- - Daftar Alat-alat
  • 26.
    % konsentrasi O2 Udara Bertekanan (liter/menit) 12 3 4 5 6 7 8 9 10 1 41% 37% 34% 32% 31% 30% 29% 28% 2 61% 53% 47% 44% 41% 38% 37% 35% 34% 3 80% 68% 61% 55% 51% 47% 45% 43% 41% 39% 4 84% 74% 66% 61% 56% 52% 50% 47% 45% 44% 5 86% 77% 70% 65% 61% 57% 54% 51% 49% 47% 6 88% 80% 74% 68% 64% 61% 57% 54% 53% 51% 7 90% 82% 76% 71% 67% 64% 61% 58% 56% 54% 8 91% 84% 78% 74% 70% 66% 63% 61% 58% 56% 9 92% 86% 80% 76% 72% 68% 65% 63% 61% 58% 10 93% 87% 82% 77% 74% 70% 67% 65% 63% 61%
  • 27.
    A Airway Langkah Awal BBreathing Ventilasi Tekanan Positif C Circulation Kompresi Dada + Ventilasi Tekanan Positif D Drug Epinephrin E Equipment
  • 28.
    ` 3 Drugs Equipment 1 Airway Breathing 1. Ketua Tim (JalanNapas & Pernapasan) • Ulas singkat peran, rencana dengan tim • Hisap mulut & hidung bayi • Jaga patensi jalan napas • Berikan VTP - PEEP 5, PIP 20-25 - RR 30-60 • Intubasi bayi & perhatikan kedalaman ET • Beri surfaktan jika perlu • Thorakosintesis jika perlu • Nilai APGAR 1 & 5 menit • Beri pengarahan pada tim dengan tenang 2. Sirkulasi • Keringkan bayi • Bekerja sama dengan sirkulasi mengeringkan & merangsang bayi, memasang plastik, mengganti linen • Dengarkan suara jantung & napas • Dengarkan suara napas setelah ET terpasang • Pijat jantung 3. Equipment • Siapkan alat • Aktifkan timer saat lahir • Pasang probe suhu • Bekerja sama dengan sirkulasi mengeringkan dan merangsang bayi, memasang plastik, mengganti linen • Pasang sensor pulse oxymetri di tangan kanan • Berikan pengobatan emergensi jika dibutuhkan • Mengingatkan lama resusitasi dan mencatat tindakan dan obat- obatan yang sudah dilakukan • Memastikan inkubator siap digunakan dan ada tempat di NICU • Pasang kateter vena umbilikal bila diperlukan 2 Circulation
  • 30.
  • 31.
    Stabilisasi adalah mengidentifikasifaktor-faktor neonatus paska resusitasi yang apabila tidak dikoreksi akan memperburuk keadaan Tindakan stabilisasi yang terfokus pada 6 dasar, serta meningkatkan keamanan pasien baik dalam manajemen, pencegahan kemungkinan adanya kesalahan serta mengurangi efek samping BATASAN TUJUAN
  • 32.
    ASPEK PENTING STABILISASINEONATUS • S Sugar and Safe Care • T Temperature • A Airway • B Blood pressure • L Laboratory • E Emotional support
  • 33.
    Langkah-langkah stabilisasi paskaresusitasi • S = sugar Langkah untuk menstabilkan kadar gula darah neonatus Hipoglikemia adalah keadaan kadar glukosa darah tidak dapat mencukupi kebutuhan tubuh
  • 34.
    Kebutuhan glukosa • Awalkehidupan: kelangsungan asupan nutrisi terhenti segera setelah tali pusat diklem • Bayi baru lahir: perlu kelangsungan nutrisi untuk mempertahankan asupan glukosa. Glukosa diperlukan terutama untuk metabolism sel otak
  • 35.
    • Beberapa langkahyang dapat dilakukan untuk stabilisasi gula darah neonatus - memberikan makanan enteral - memberikan glukosa melalui jalur intravena • Neonatus berisiko tinggi mengalami hipoglikemia - bayi prematur (<37 mgg) - bayi kecil untuk masa kehamilan, BBLR, IUGR - bayi besar untuk masa kehamilan - bayi dari ibu diabetes melitus - bayi sakit - bayi dari ibu yang mendapat obat hipoglikemik atau diinfus glukosa saat persalinan
  • 36.
    Skrining hipoglikemia : •Menggunakan darah kapiler • Dekstrostix • Simple, Cukup akurat • Target gula darah : 50-110 mg/dl • 15% lebih rendah dari gula serum Frekuensi : • Sebelum transpor • Diulang lagi saat akan ditranspor • Proses transpor • Bila hasil pemeriksaan I normal : tidak perlu diulang
  • 37.
    • Tanda bayihipoglikemia: - jitteriness - tremor - hipotermia - letargis - lemas - hipotonia - apnea atau takipnea - malas menetek - muntah - menangis lemah - high pitched cry - kejang - henti jantung
  • 38.
    Stabilisasikan bayi dengan: — Bila hipoglikemi : start terapi ! __ Early feeding atau — Infus mengandung Dekstrosa (Dex 10%) — 80 ml/kg/hari — Target setidaknya : GIR = 4-6 mg/kg/menit
  • 39.
    T = temperature •Hipotermia → dapat dicegah dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas (khususnya bayi prematur) • Risiko tinggi hipotermia: - bayi prematur, BBLR (t.u. BB<1500 gr) - bayi kecil untuk masa kehamilan - bayi yang mengalami resusitasi yang lama - bayi yang sakit berat dengan masalah infeksi, jantung, neurologis, endokrin dan bedah - bayi yang hipotonik akibat sedatif, analgesik, atau anestesi
  • 40.
    • Konsep utamadalam pencegahan hipotermia (pascaresusitasi) - dilakukan pada bayi sakit atau sehat - bayi prematur dan berat badan rendah sangat rentan mengalami hipotermia - bayi yang dilakukan resusitasi lama berisiko tinggi mengalami hipotermia
  • 41.
  • 42.
    Proses kehilangan panas: ❖Konduksi: melalui kontak benda padat (dengan alas/timbangan) Pencegahan: beri alas timbangan, hangatkan alat-alat ❖ Konveksi: melalui kontak dengan aliran udara (dari jendela, pintu, AC) Pencegahan: - menaikkan suhu ruangan menjadi 25-28ᵒC, - melapisi tubuh bayi prematur (<1500 gr) dengan plastik polietilen - mentransfer bayi dengan inkubator tertutup yang telah dihangatkan terlebih dahulu
  • 43.
    ❖ Evaporasi :melalui penguapan - Segera mengeringkan bayi dengan handuk hangat setelah lahir untuk mengurangi kehilangan panas, - lapisi permukaan tubuh bayi prematur, - hangatkan suhu ruangan, - kurangi adanya turbulensi udara yang melewati bayi
  • 44.
    ❖ Radiasi: proseskehilangan panas antara dua benda padat yang tidak bersentuhan Dapat dikurangi dengan cara: - mempertahankan kehangatan suhu ruangan - menjauhkan bayi dari jendela terbuka - dengan meletakkan bayi di dalam inkubator
  • 45.
    A = Airway Harusdievaluasi: 1. Laju nafas → normal 40-60x/m 2. Usaha nafas - takipnea - retraksi (tarikan dinding dada) - grunting (merintih), pernafasan cuping hidung - apnea, nafas megap-megap, atau periodic breathing 3. Kebutuhan oksigen 4. Saturasi oksigen 5. Analisis gas darah
  • 46.
    Evaluasi distress napas •Skor Downes Skor Frekuensi Napas Sianosis Udara Masuk Merintih Retraksi 0 <60/menit Tidak sianosis Udara masuk Tidak merintih Tidak ada retraksi 1 60- 80/menit Sianosis hilang dengan O2 Penurunan ringan udara masuk Dapat didengar dengan stetoskop Retraksi ringan 2 >80/menit Sianosis menetap walau diberi O2 Tidak ada udara masuk Dapat didengar tanpa alat bantu Retraksi berat Skor <=3 Distres napas Ringan Skor 4-5 Distres napas Sedang Skor >= 6 Distres napas Berat
  • 47.
    Acuan sederhana untukoksigenasi USAHA NAPAS TAKIPNEA RETRAKSI OKSIGENA SI Napas spontan + - Kanul hidung Merintih + + CPAP Megap- megap - - VTP Retraksi hebat, FiO2>60% ------------> Intubasi
  • 49.
    VENTILASI PARU Pemberian tekananagar alveol tetap terbuka dan tidak kolaps → Memakai CPAP → T-Rescucitator/Neopuff®)
  • 52.
  • 54.
    B = bloodpressure ▪ Curah jantung yang cukup → mempertahankan sirkulasi ▪ Tanda-tanda bayi syok: - usaha nafas: takipnea, retraksi, pernafasan cuping hidung, grunting, apnea, gasping - nadi: lemah, tidak teraba - perfusi perifer: > 3 detik - warna: sianosis atau pucat - frekuensi jantung: normal 120-160x/m - jantung: murmur, pembesaran jantung - tekanan darah: hipotensi
  • 60.
    L = Laboratorystudies • Sebelum transportasi: - blood count (pemeriksaan darah rutin) - blood culture (kultur darah) - blood glucose (kadar glukosa darah) - blood gas (analisis gas darah) • Setelah transportasi: tergantung pada riwayat, faktor risiko, gejala klinis bayi
  • 61.
    E = Emotionalsupport • Keluarga dari bayi yang mengalami krisis biasanya akan mengalami rasa bersalah, marah, tidak percaya, merasa gagal, tidak berdaya, serta takut dan depresi • Orangtua bayi akan mengalami beberapa tahapan emosional: - terkejut - menyangkal - berkabung, sedih, takut - marah dan merasa bersalah - tahap ekuilibrium dan terorganisir
  • 62.