7.2.2 Analisis Kemampuan Lahan
        Analisis kemampuan lahan digunakan untuk mengetahui kemampuan lahan yang
terdapat di Desa Donowarih. Kemampuan lahan itu sendiri adalah kemampuan suatu
lahan untuk digunakan sebagaiusaha pertanian yang paling intensif yang termasuk juga
tindakan pengelolaannyatanpa menyebabkan tanahnya menjadi rusak dalam jangka waktu
yang terbatas. Agar pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman dapat optimal dan
berkesinambungan maka diperlukan lahan yang mendukung, yaitu lahan yang memiliki
kemampuan yang baik, dengan sifat fisik dan kimianya sesuai untuk kebutuhan tanaman.
Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya dapat merusak lahan serta
menghambat pertumbuhan tanaman itu sendiri.
        Analisis kemampuan lahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mengetahui
potensi suatu lahan. Dari analisis ini akan didapatkan penilaian terhadap potensi lahan yang
nantinya akan menjadi acuan untuk menentukan pengelolaan dan pemanfaatan lahan yang
benar. Selain itu, analisis kemampuan lahan juga dapat digunakan untuk mendukung proses
dalam penyusunan renacana penggunaan lahan di suatu wilayah. Menurut Surat Keputusan
Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981tentang kriteria
dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi, terdapat tiga faktor yang
mempengaruhi kriteria penetapan fungsi lahan yang dinilai sebagai penentu kemampuan
lahan, yaitu :
        1. Kelerengan
            Faktor kelerengan dapat mempengaruhi analisis kemampuanlahan dengan
            penentuan fungsi lahan yang memiliki kriteria datar, landai, agak curam, curam,
            dan sangat curam.
                   Tabel ?.? Klasifikasi dan Nilai Skor Menurut Kelerengan Lahan
                 Kelas         Kelerengan (%)        Klasifikasi          Nilai skor
                   I                0-8                Datar                 20
                  II                8 - 15             Landai                40
                  III              15 - 25          Agak curam               60
                  IV               25 - 40             Curam                 80
                  V                  > 40           Sangat curam             100

            Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981

                         a. Kelerengan 0-8 % atau kelerengan tingkat I, tanah dengan kemiringan
                            lereng ini dapat digunakan secara intensif dengan pengolahan yang
                            kecil.
b. Kelerengan 8-15 % atau kelerengan tingkat II (landai), tanah dapat
                     digunakan untuk kegiatan permukiman dan pertanian, tetapi bila terjadi
                     kesalahan dalam pengolahannya masih mungkin terjadi erosi.
                 c. Kelerengan 15-25 % atau kelerengan tingkat III (agak curam),
                     kemungkinan terjadi erosi lebih besar dibandingkan dengan kelerengan
                     sebelumnya.
                 d. Kelerengan 25-45 % atau kelerengan tingkat IV (curam), jika
                     pertumbuhan menutupi permukaan tanah di tebing, maka lereng akan
                     mudah terkena erosi.
                 e. Kelerengan > 45 % atau kelerengan tingkat V (sangat curam),
                     kelerengan yang sangat peka terhadap erosi, kegiatannya harus bersifat
                     non budidaya.
     2. Jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi
          Analisis kemampuan lahan berdasarkan faktor jenis tanah menurut kepekaan
          terhadap erosi menggunakan penyekoran yang berbeda-beda tergantung dari
          kriteria jenis tanah beserta klasifikasinya.
                 Tabel ?.? Klasifikasi dan Nilai Skor Menurut Jenis Tanah
  Kelas                           Jenis tanah                         Klasifikasi   Nilai skor
     I       Aluvial, Glei, Planosol, Hidromerf, Laterik air tanah   Tidak peka        15
    II                              Latosol                          Kurang peka       30
    III        Brown forest soil, non calcic brown mediteran          Agak peka        45
    IV         Androsol, Laterit, Grumusol, Podsol, Podsolic            Peka           60
    V               Regosol, Litosol, Organosol, Rensina             Sangat peka       75

Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981

     3. Intensitas hujan
          Faktor intensitas hujan mempengaruhi analisis kemampuan lahan untuk penetapan
          fungsi lahan suatu kawasan berdasarkan intensitas hujan yang dihitung dalam
          satuan mm/hari.
Tabel ?.? Klasifikasi dan Nilai Skor Menurut Intensitas Hujan
                             Intensitas Hujan
                   Kelas                            Klasifikasi        Nilai skor
                                (mm/hari)
                     I           0 - 13,6          Sangat redah           10
                     II         13,6 - 20,7          Rendah               20
                    III         20,7 - 27,7          Sedang               30
                    IV          27,7 - 34,8           Tinggi              40
                     V            > 34,8           Sangat tinggi          50

                Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981

        Kemudian penetapan fungsi kawasan dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor dari
ketiga faktor yang dinilai pada setiap satuan lahan. Besarnya jumlah nilai skor tersebut
merupakan nilai skor kemampuan lahan untuk masing - masing satuan lahan. Kemudian
setelah skor dijumlahkan maka ditetapkan penggunaan lahan pada setiap kawasan dengan
kriteria:
        1. Kawasan Fungsi Lindung
             Kawasan fungsi lindung adalah suatu wilayah yang keadaan sumberdaya alamair,
        flora dan fauna seperti hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, daerahsekitar sumber
        mata air, alur sungai, dan kawasan lindung lainnya sebagimanadiatur dalam Kepres 32
        Tahun 1990.Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindung,
        apabilabesarnya     skorkemampuan        lahannya     ≥175,    atau    memenuhi       salah
        satu/beberapasyarat berikut :
        a.   Mempunyai kemiringan lahan lebih dari 40 %
        b.   Jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol,dan renzina)
             dengan kemiringan lapangan lebih dari 15 %
        c.   Merupakan jalur pengaman aliran air/sungai yaitu sekurang-kurangnya 100
             meter di kiri-kanan sungai besar dan 50 meter kiri-kanan anak sungai.
        d.   Merupakan perlindungan mata air, yaitu sekurang-kurangnya radius 200
             meter di sekeliling mata air.
        e.   Merupakan perlindungan danau/waduk, yaitu 50-100 meter sekeliling
             danau/waduk.
        f.   Mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih di atasa permukaan laut.
        g.   Merupakan kawasan Taman Nasional yang lokasinya telah ditetapkan oleh
             pemerintah.
        h.   Guna keperluan/kepentingan khusus dan ditetapkan sebagai kawasan lindung.
2. Kawasan Fungsi Penyangga
           Kawasan fungsi penyangga adalah suatu wilayah yang dapat berfungsi
      lindungdanberfungsi budidaya, letaknya diantara kawasan fungsi lindung dan
      kawasanfungsi budidaya seperti hutan produksi terbatas, perkebunan (tanaman
      keras),kebun campur dan lainnya yang sejenis.Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai
      kawasan fungsi penyangga apabilabesarnya nilai skor kemampuan lahannya sebesar
      125 -174 dan atau memenuhikriteria umum sebagai berikut :
      a.   Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidayasecara
           ekonomis.
      b.   Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasanpenyangga.
      c.   Tidak merugikan dilihat dari segi ekologi/lingkungan hidup biladikembangkan
           sebagai kawasan penyangga
      3. Kawasan fungsi Budidaya Tanaman Tahunan
           Kawasan fungsi budidaya tanaman tahunan adalah kawasan budidaya yang
      diusahakan dengan tanaman tahunan seperti Hutan Produksi Tetap, HutanTanaman
      Industri, Hutan rakyat, Perkebunan (tanaman keras), dan tanamanbuah - buahan.Suatu
      satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan dengan fungsi budidayatanaman tahunan
      apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya ≤ 124 sertamempunyai tingkat
      kemiringan lahan 15 - 40% dan memenuhi kriteria umumseperti pada kawasan fungsi
      penyangga.
      4. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim
           Kawasan     fungsi   budidaya      tanaman   semusim     adalah    kawasan   yang
      mempunyaifungsi budidaya dan diusahakan dengan tanaman semusim terutama
      tanamanpangan atau untuk pemukiman. Untuk memelihara kelestarian kawasan
      fungsibudidaya     tanaman     semusim,       pemilihan      jenis     komoditi   harus
      mempertimbangkankeseuaian            fisik   terhadap       komoditi      yang    akan
      dikembangkan.Untuk kawasan pemukiman, selain memiliki nilai kemampuan lahan
      maksimal124 dan memenuhi kriteria tersebut diatas, secara mikro lahannya
      mempunyaikemiringan tidak lebih dari 8%.
     Menurut data jenistanah,
DesaDonowarihdapatdiklasifikasikanmenjadiduawilayahyaituwilayahdenganjenistanahlitosol
danwilayahdenganjenistanahkompleks mediteran coklat kemerahanataunon calcic brown
mediteran.Berdasarkanklasifikasidanskordarifaktor yang mempengaruhikemampuanlahan,
makadiperoleh data hasilanalisiskemampuanlahan di DesaDonowarihadalahsebagaiberikut :
Tabel ?.?AnalisisHasilSkoringKemampuanLahanDesaDonowarih
       Variabel                   Interval              Skor     Jumlah     FungsiKawasan
     Kelerengan                  8 – 15 %                40
     Jenis Tanah                  Litosol                30       120     KawasanPenyangga
   IntensitasHujan                 > 34,8                50
     Kelerengan                  8 – 15 %                40
     Jenis Tanah        non calcic brown mediteran       45       135     KawasanPenyangga
   IntensitasHujan                 > 34,8                50
Sumber:HasilAnalisis 2012

    Berdasarkan hasil analisis menggunakan analisis kemampuan lahan yang dengan faktor
kelerengan, jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi, dan intensitas hujan total skoring
kemampuanlahan Desa Donowarih memiliki jumlahnilaisebesar 120 dan 135. Hal tersebut
dapat disimpulkan bahwa seluruh lahan yang terdapat di DesaDonowarih memiliki fungsi
lahan     sebagaiKawasanPenyangga.         Kawasanpenyanggadi         DesaDonowarih   memiliki
kelerengan tidak lebih dari 15% dengan klasifikasi lahan landai dan jenis tanah kompleks
mediteran coklat kemerahan dan lisotol yang dengan klasifikasi kepekaan terhadap erosi
untuktanahlitosolkurangpekadanjenistanahkompleksmediterancoklatmemilikitingkatkepekaan
agak peka. Jenis tanah di Desa Donowarihtersebutcocok untuk budidaya seperti hutan
produksi terbatas, perkebunan (tanaman keras),kebun campur dan lainnya yang sejenis.
Kondisi kelerengan Desa Donowarihdengan kelerengan sebesar 8-15% dengan klasifikasi
lahan                            landai                        juga                         dapat
digunakansebagaikawasanpertaniandanpermukimanamunpengolahannyaharussesuaidenganat
uran-aturan                                                                                 yang
berlakukarenajikaterjadikesalahandalampengolahannyadapatmenimbulkanbahayalongsor.
        Kesesuaian lahan merupakan penilaian          tentang kesesuaian suatu lahan terhadap
penggunaan tertentu dengan memperhatikan kelestarian produktifitas dan lingkungannya.
Desa Donowarih memiliki fungsi lahan budidaya dan permukiman, dengan dua jenis
peruntukan lahan yaitu lahan terbangun dan tidak terbangun. Lahantidak terbangun di Desa
Donowarih terdiri dari kawasan terdiri atas persawahan, perkebunan, dan hutan. Berdasarkan
SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981 penggunaan
lahantidak    terbangun     di   Desa     Donowarih    telahsesuaidenganperuntukanlahan     yang
seharusnya.
        Sedangkan untuk lahan terbangun di Desa Donowarih terdiri dari kawasan perumahan,
sarana pemerintahan, dan beberapa sarana penunjang permukiman. Berdasarkan SK Menteri
Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981, lahan di Desa
Donowarih dapat dikembangkan sebagai wilayah permukiman. Oleh karena itu peruntukan
lahan tidak terbangun di Desa Donowarih telah sesuai dengan peruntukan lahan yang
seharusnya, karena peruntukan lahan tidak terbangun di Desa Donowarih terletak pada
kelerangan 8-15 % atau kelerengan tingkat II (landai), meskipun masih mungkin terjadi erosi.
                        Tabel ?.?MatriksKesesuaianLahanDesaDonowarih
Fungsi
                                 KondisiEk
Kawas    KarakteristikKawasan                               KesesuaianLahan
                                  sisting
  an
Penyan      Keadaan fisik          Lahan      Lahanpermukiman di
gga
            satuan lahan           di Desa    DesaDonowarihtelahsesuaidenganfungsikawasan
            memungkinkan           Donow      yang dibangun di ataskelerengan 8-15%
            untuk dilakukan        arih       Lahantidakterbangun di
            budidayasecara         diguna     DesaDonowarihtelahdigunakansebagaikawasanlin
            ekonomis.              kan        dungdankawasanbudidayacontohnyaperkebunand
            Lokasinya secara       sebagai    anhutanproduksi
            ekonomis mudah         permuk
            dikembangkan           iman,
            sebagai                perkeb
            kawasanpenyangga       unan,
            .                      dan
            Tidak merugikan        pertani
            dilihat dari segi      an.
            ekologi/lingkungan     Permu
            hidup                  kiman
            biladikembangkan       dan
            sebagai kawasan        perkeb
            penyangga              unan
            Memilikinilaikema      dibang
            mpuanlahandengan       un
            rentang 124-174        dengan
                                   keleren
                                   gan
                                   lahan
                                   berkisa
                                   r antara
                                   8–
15%
                                       Nilai
                                       keleren
                                       gan
                                       lahan
                                       di
                                       wilaya
                                       h Desa
                                       Donow
                                       arih
                                       berdasa
                                       rkan
                                       hasil
                                       skoring
                                       adalah
                                       120 -
                                       135
Sumber:HasilAnalisis 2012

7.2.4 Analisis Pola Penggunaan Lahan
        Desa Donowarih memiliki luas wilayah 1.298,018 ha dengan pembagian menjadi
lahan terbangun dan tak terbangun. Sebagian besar lahan di desa ini merupakan lahan tak
terbangun dengan luas 1137,598 ha sedangakan lahan terbangunnya seluas 160,42 ha
dengan perbandingan lahan terbangun dan tak terbangun dari Desa Donowarih adalah 12 : 88.




               Tabel ?.? Perbandingan lahan terbangun dan tak terbangun
                        No.             JenisLahan         Luas (Ha)
                         1.   LahanTerbangun                160,42
                        2.    LahanTakTerbangun           1137,598
                                        Jumlah            1.298,018
                      Sumber: Hasil Analisis (2012)
Penggunaan Lahan Terbangun dan
                             Tak Terbangun

                                          12.36%



                                                                          Lahan Terbangun
                                                                          Lahan Tak Terbangun
                       87.64%




    Gambar ?.? Prosentase Penggunaan Lahan Terbangun dan Tak Terbangun
    Sumber: Hasil Analisis (2012)


         Lahan terbangun yang terdapat di Desa Donowarih meliputi permukiman dan sarana
sedangkan lahan tak terbangunnya meliputi hutan, pemakaman, perkebunan, ladang dan
sawah.
                       Tabel ?.? Penggunaan Lahan Desa Donowarih
                                                   LuasLahan
                          BentukPeruntukan                     Prosentase (%)
                                                      (ha)
                     Terbangun (160,42 ha)
                     Permukiman                      146,6        11,290
                     Peribadatan                      0,7          0,054
                     Pergudangan                      1,2          0,092
                     Industri                        2,46          0,190
                     Pemerintahan dan Pelayanan
                                                      4,8          0,370
                     Umum
                     PerdagangandanJasa              3,57          0,275
                     Pendidikan                       1            0,077
                     Kesehatan                       0,09          0,007
                     TakTerbangun (1137,568 ha)
                     Perkebunan                     24,771         1,910
                     Ladang                          289,9        22,335
                     Pemakaman                        6            0,463
                     Hutan                           660          50,848
                     Persawahan                     156,927       12,091
                   Total                           1297,988         100
               Sumber: RPJM Desa Donowarih
Dalam pengembangan dan pengelolaan lahan di Desa Donowarih haruslah sesuai
dengan kesesuaian lahan, keadaan eksisting, dan daya dukung lingkungannya, dengan
demikian diharapkan penggunaan lahannya dapat berkesinambungan dan tidak menyebabkan
dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu diharapkan penggunaan lahannya dapat
berkelanjutan, artinya dapat digunakan sekarang dan di masa depan tanpa mengurangi
kualitas lahan tersebut. Berikut tabel analisis kesesuaian guna lahan Desa Donowarih.
                              Tabel ?.? Analisis Pola Guna Lahan
        No                Fakta                                Analisis
         1      Tingkat perbandingan        Tingkat perbandingan lahan terbangun dan
                penggunaan lahan            tidak    terbangun   di     Desa  Donowarih
                terbangun dan tak           menunjukkan perbandingan yang tinggi, dimana
                terbangun 12,4 : 87,6       lahan tidak terbangun lebih mendominasi yaitu
                                            berupa hutan. Sebagian besar kawasan Desa
                                            Donowarih berupa hutan dengan persentase
                                            sebesar 87,6%, sedangkan lahan terbangunnya
                                            hanya sebesar12,4%. Kawasan permukiman di
                                            Desa Donowarih terpusat di dusun Karangan,
                                            sedangkan untuk lahan tidak terbangun yaitu
                                            hutan sebagian besar terdapat di dusun
                                            Borogragal.
         2      Tersedianya hutan dengan    Adanya hutan di Desa Donowarih terdapat di
                luas yang besar yaitu 660   Dusun Borogragal dengan luas 660 ha, dengan
                ha.                         sebagian merupakan hutan pinus. Hutan pinus
                                            tersebut dimanfaatkan masyarakat dengan
                                            pengambilan getah yang kemudian dijual ke
                                            pihak Perhutani. Selain itu hutan juga
                                            dimanfaatkan untuk menanam tanaman seperti
                                            cabai dan sayur mayur. Dengan demikian hutan
                                            memiliki potensi untuk dikelola dan
                                            dikembangkan
      Sumber: Hasil analisis (2012)
       A. Penggunaan Lahan Terbangun
                    Peruntukkan lahan terbangun di Desa Donowarih digunakan untuk lahan
             permukiman dan fasilitas umum sarana. Total luas lahan yang dipergunakan
             untuk lahan terbangun sebesar 160,42 ha. Sebesar 146,6 ha dari luas lahan yang
             terbangun tersebut berupa permukiman, sedangkan sisanya sebesar 13,82 ha
             berupa fasilitas sarana yang akan dikaji sebagai berikut:
                    1. Permukiman
                        Permukiman sebagai penggunaan lahan terbesar dari lahan terbangun
             dengan luas 146,6 ha atau 11,29 % dari luas Desa Donowarih, berada di seluruh
             dusun di Desa Donowarih. Dusun Karangjuwet, Dusun Jaraan, Dusun Karangan,
             dan Dusun Borogragal. Permukiman terluas terdapat di Dusun Karangan dengan
luas 54 ha atau 37 % dari luas total permukiman yang ada di Desa Donoarih
   sedangkan pusat kegiatan desa berada di Dusun Jaraan.
          2. Fasilitas sarana
          Ketersediaan    fasilitas   sarana   sangat   penting   untuk   menunjang
   keberlangsungan hidup masyarakat di Desa Donowarih. Fasilitas fasilitas sarana
   yang terdapat di Desa Donowarih meliputi sarana perdagangan dan jasa dengan
   luas 3,57 ha yang merupakan sarana dengan lahan terluas, sarana pendidikan 1
   ha, sarana peribadatan 0,7 ha, industri dengan luas 2,46 ha, pemerintah dan
   pelayanan umum denga luas 4,8 ha yang tersebar di permukiman penduduk.
   Sarana peribadatan, perdagangan dan jasa serta pendidikan berada di setiap dusun
   sedangkan sarana industri berada di sepanjang Jalan Raya Donowarih yang
   melewati Dusun Karangjuwet, Dusun Jaraan, Dusun Karangan.
B. Penggunaan Lahan Tak Terbangun
          Luas lahan tak terbangun yang terdapat di Desa Donowarih adalah 1138
   ha atau 87,6 % dari luas keseluruhan Desa Donowarih yang luasnya sebesar 1298
   ha. Lahan tak terbangun yang ada di Desa Donowarih, peruntukannya terbagi
   menjadi area persawahan, ladang, perkebunan, pemakaman, RTH dan olahraga,
   serta hutan yang dikelola oleh pihak Perhutani. Persawahan, ladang dan
   perkebunan memiliki luas lahan terbesar yaitu 470,8 ha atau 36,3 % dari luas total
   desa. Hal ini sesuai dengan kegiatan masyarakat Desa Donowarih yang mayoritas
   bekerja di sektor pertanian yang menghasilkan komoditas meliputi padi, jagung,
   jeruk, apel, cabai, tomat, sawi, tebu dan kopi. Pemakaman berada di seluruh
   dusun di Desa Donowarih dengan luas 6 ha, sedangkan RTH dan olahraga yang
   meliputi lapangan sepakbola, taman bermain, lapangan voli dan tenis memiliki
   luas keseluruhan yaitu 1,2 ha. Keberadaan hutan di Desa Donowarih terletak di
   bagian utara atau berada di Dusun Borogragal, hal ini dikarenakan sebagian
   wilayah Dusun Borogragal merupakan kaki Gunung Arjuna yang wilayahnya
   tertutup oleh hutan dengan luas 660 ha adalah masuk wilayah dari Desa
   Donowarih.

Analisis kemampuan lahan

  • 1.
    7.2.2 Analisis KemampuanLahan Analisis kemampuan lahan digunakan untuk mengetahui kemampuan lahan yang terdapat di Desa Donowarih. Kemampuan lahan itu sendiri adalah kemampuan suatu lahan untuk digunakan sebagaiusaha pertanian yang paling intensif yang termasuk juga tindakan pengelolaannyatanpa menyebabkan tanahnya menjadi rusak dalam jangka waktu yang terbatas. Agar pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman dapat optimal dan berkesinambungan maka diperlukan lahan yang mendukung, yaitu lahan yang memiliki kemampuan yang baik, dengan sifat fisik dan kimianya sesuai untuk kebutuhan tanaman. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan lahannya dapat merusak lahan serta menghambat pertumbuhan tanaman itu sendiri. Analisis kemampuan lahan merupakan upaya yang dilakukan untuk mengetahui potensi suatu lahan. Dari analisis ini akan didapatkan penilaian terhadap potensi lahan yang nantinya akan menjadi acuan untuk menentukan pengelolaan dan pemanfaatan lahan yang benar. Selain itu, analisis kemampuan lahan juga dapat digunakan untuk mendukung proses dalam penyusunan renacana penggunaan lahan di suatu wilayah. Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981tentang kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung dan hutan produksi, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kriteria penetapan fungsi lahan yang dinilai sebagai penentu kemampuan lahan, yaitu : 1. Kelerengan Faktor kelerengan dapat mempengaruhi analisis kemampuanlahan dengan penentuan fungsi lahan yang memiliki kriteria datar, landai, agak curam, curam, dan sangat curam. Tabel ?.? Klasifikasi dan Nilai Skor Menurut Kelerengan Lahan Kelas Kelerengan (%) Klasifikasi Nilai skor I 0-8 Datar 20 II 8 - 15 Landai 40 III 15 - 25 Agak curam 60 IV 25 - 40 Curam 80 V > 40 Sangat curam 100 Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981 a. Kelerengan 0-8 % atau kelerengan tingkat I, tanah dengan kemiringan lereng ini dapat digunakan secara intensif dengan pengolahan yang kecil.
  • 2.
    b. Kelerengan 8-15% atau kelerengan tingkat II (landai), tanah dapat digunakan untuk kegiatan permukiman dan pertanian, tetapi bila terjadi kesalahan dalam pengolahannya masih mungkin terjadi erosi. c. Kelerengan 15-25 % atau kelerengan tingkat III (agak curam), kemungkinan terjadi erosi lebih besar dibandingkan dengan kelerengan sebelumnya. d. Kelerengan 25-45 % atau kelerengan tingkat IV (curam), jika pertumbuhan menutupi permukaan tanah di tebing, maka lereng akan mudah terkena erosi. e. Kelerengan > 45 % atau kelerengan tingkat V (sangat curam), kelerengan yang sangat peka terhadap erosi, kegiatannya harus bersifat non budidaya. 2. Jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi Analisis kemampuan lahan berdasarkan faktor jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi menggunakan penyekoran yang berbeda-beda tergantung dari kriteria jenis tanah beserta klasifikasinya. Tabel ?.? Klasifikasi dan Nilai Skor Menurut Jenis Tanah Kelas Jenis tanah Klasifikasi Nilai skor I Aluvial, Glei, Planosol, Hidromerf, Laterik air tanah Tidak peka 15 II Latosol Kurang peka 30 III Brown forest soil, non calcic brown mediteran Agak peka 45 IV Androsol, Laterit, Grumusol, Podsol, Podsolic Peka 60 V Regosol, Litosol, Organosol, Rensina Sangat peka 75 Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981 3. Intensitas hujan Faktor intensitas hujan mempengaruhi analisis kemampuan lahan untuk penetapan fungsi lahan suatu kawasan berdasarkan intensitas hujan yang dihitung dalam satuan mm/hari.
  • 3.
    Tabel ?.? Klasifikasidan Nilai Skor Menurut Intensitas Hujan Intensitas Hujan Kelas Klasifikasi Nilai skor (mm/hari) I 0 - 13,6 Sangat redah 10 II 13,6 - 20,7 Rendah 20 III 20,7 - 27,7 Sedang 30 IV 27,7 - 34,8 Tinggi 40 V > 34,8 Sangat tinggi 50 Sumber:SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981 Kemudian penetapan fungsi kawasan dilakukan dengan menjumlahkan nilai skor dari ketiga faktor yang dinilai pada setiap satuan lahan. Besarnya jumlah nilai skor tersebut merupakan nilai skor kemampuan lahan untuk masing - masing satuan lahan. Kemudian setelah skor dijumlahkan maka ditetapkan penggunaan lahan pada setiap kawasan dengan kriteria: 1. Kawasan Fungsi Lindung Kawasan fungsi lindung adalah suatu wilayah yang keadaan sumberdaya alamair, flora dan fauna seperti hutan lindung, hutan suaka, hutan wisata, daerahsekitar sumber mata air, alur sungai, dan kawasan lindung lainnya sebagimanadiatur dalam Kepres 32 Tahun 1990.Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi lindung, apabilabesarnya skorkemampuan lahannya ≥175, atau memenuhi salah satu/beberapasyarat berikut : a. Mempunyai kemiringan lahan lebih dari 40 % b. Jenis tanahnya sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol,dan renzina) dengan kemiringan lapangan lebih dari 15 % c. Merupakan jalur pengaman aliran air/sungai yaitu sekurang-kurangnya 100 meter di kiri-kanan sungai besar dan 50 meter kiri-kanan anak sungai. d. Merupakan perlindungan mata air, yaitu sekurang-kurangnya radius 200 meter di sekeliling mata air. e. Merupakan perlindungan danau/waduk, yaitu 50-100 meter sekeliling danau/waduk. f. Mempunyai ketinggian 2.000 meter atau lebih di atasa permukaan laut. g. Merupakan kawasan Taman Nasional yang lokasinya telah ditetapkan oleh pemerintah. h. Guna keperluan/kepentingan khusus dan ditetapkan sebagai kawasan lindung.
  • 4.
    2. Kawasan FungsiPenyangga Kawasan fungsi penyangga adalah suatu wilayah yang dapat berfungsi lindungdanberfungsi budidaya, letaknya diantara kawasan fungsi lindung dan kawasanfungsi budidaya seperti hutan produksi terbatas, perkebunan (tanaman keras),kebun campur dan lainnya yang sejenis.Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan fungsi penyangga apabilabesarnya nilai skor kemampuan lahannya sebesar 125 -174 dan atau memenuhikriteria umum sebagai berikut : a. Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidayasecara ekonomis. b. Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasanpenyangga. c. Tidak merugikan dilihat dari segi ekologi/lingkungan hidup biladikembangkan sebagai kawasan penyangga 3. Kawasan fungsi Budidaya Tanaman Tahunan Kawasan fungsi budidaya tanaman tahunan adalah kawasan budidaya yang diusahakan dengan tanaman tahunan seperti Hutan Produksi Tetap, HutanTanaman Industri, Hutan rakyat, Perkebunan (tanaman keras), dan tanamanbuah - buahan.Suatu satuan lahan ditetapkan sebagai kawasan dengan fungsi budidayatanaman tahunan apabila besarnya nilai skor kemampuan lahannya ≤ 124 sertamempunyai tingkat kemiringan lahan 15 - 40% dan memenuhi kriteria umumseperti pada kawasan fungsi penyangga. 4. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim Kawasan fungsi budidaya tanaman semusim adalah kawasan yang mempunyaifungsi budidaya dan diusahakan dengan tanaman semusim terutama tanamanpangan atau untuk pemukiman. Untuk memelihara kelestarian kawasan fungsibudidaya tanaman semusim, pemilihan jenis komoditi harus mempertimbangkankeseuaian fisik terhadap komoditi yang akan dikembangkan.Untuk kawasan pemukiman, selain memiliki nilai kemampuan lahan maksimal124 dan memenuhi kriteria tersebut diatas, secara mikro lahannya mempunyaikemiringan tidak lebih dari 8%. Menurut data jenistanah, DesaDonowarihdapatdiklasifikasikanmenjadiduawilayahyaituwilayahdenganjenistanahlitosol danwilayahdenganjenistanahkompleks mediteran coklat kemerahanataunon calcic brown mediteran.Berdasarkanklasifikasidanskordarifaktor yang mempengaruhikemampuanlahan, makadiperoleh data hasilanalisiskemampuanlahan di DesaDonowarihadalahsebagaiberikut :
  • 5.
    Tabel ?.?AnalisisHasilSkoringKemampuanLahanDesaDonowarih Variabel Interval Skor Jumlah FungsiKawasan Kelerengan 8 – 15 % 40 Jenis Tanah Litosol 30 120 KawasanPenyangga IntensitasHujan > 34,8 50 Kelerengan 8 – 15 % 40 Jenis Tanah non calcic brown mediteran 45 135 KawasanPenyangga IntensitasHujan > 34,8 50 Sumber:HasilAnalisis 2012 Berdasarkan hasil analisis menggunakan analisis kemampuan lahan yang dengan faktor kelerengan, jenis tanah menurut kepekaan terhadap erosi, dan intensitas hujan total skoring kemampuanlahan Desa Donowarih memiliki jumlahnilaisebesar 120 dan 135. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh lahan yang terdapat di DesaDonowarih memiliki fungsi lahan sebagaiKawasanPenyangga. Kawasanpenyanggadi DesaDonowarih memiliki kelerengan tidak lebih dari 15% dengan klasifikasi lahan landai dan jenis tanah kompleks mediteran coklat kemerahan dan lisotol yang dengan klasifikasi kepekaan terhadap erosi untuktanahlitosolkurangpekadanjenistanahkompleksmediterancoklatmemilikitingkatkepekaan agak peka. Jenis tanah di Desa Donowarihtersebutcocok untuk budidaya seperti hutan produksi terbatas, perkebunan (tanaman keras),kebun campur dan lainnya yang sejenis. Kondisi kelerengan Desa Donowarihdengan kelerengan sebesar 8-15% dengan klasifikasi lahan landai juga dapat digunakansebagaikawasanpertaniandanpermukimanamunpengolahannyaharussesuaidenganat uran-aturan yang berlakukarenajikaterjadikesalahandalampengolahannyadapatmenimbulkanbahayalongsor. Kesesuaian lahan merupakan penilaian tentang kesesuaian suatu lahan terhadap penggunaan tertentu dengan memperhatikan kelestarian produktifitas dan lingkungannya. Desa Donowarih memiliki fungsi lahan budidaya dan permukiman, dengan dua jenis peruntukan lahan yaitu lahan terbangun dan tidak terbangun. Lahantidak terbangun di Desa Donowarih terdiri dari kawasan terdiri atas persawahan, perkebunan, dan hutan. Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980 dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981 penggunaan lahantidak terbangun di Desa Donowarih telahsesuaidenganperuntukanlahan yang seharusnya. Sedangkan untuk lahan terbangun di Desa Donowarih terdiri dari kawasan perumahan, sarana pemerintahan, dan beberapa sarana penunjang permukiman. Berdasarkan SK Menteri
  • 6.
    Pertanian No. 837/Kpts/Um/11/1980dan No. : 683/Kpts/Um/8/1981, lahan di Desa Donowarih dapat dikembangkan sebagai wilayah permukiman. Oleh karena itu peruntukan lahan tidak terbangun di Desa Donowarih telah sesuai dengan peruntukan lahan yang seharusnya, karena peruntukan lahan tidak terbangun di Desa Donowarih terletak pada kelerangan 8-15 % atau kelerengan tingkat II (landai), meskipun masih mungkin terjadi erosi. Tabel ?.?MatriksKesesuaianLahanDesaDonowarih Fungsi KondisiEk Kawas KarakteristikKawasan KesesuaianLahan sisting an Penyan Keadaan fisik Lahan Lahanpermukiman di gga satuan lahan di Desa DesaDonowarihtelahsesuaidenganfungsikawasan memungkinkan Donow yang dibangun di ataskelerengan 8-15% untuk dilakukan arih Lahantidakterbangun di budidayasecara diguna DesaDonowarihtelahdigunakansebagaikawasanlin ekonomis. kan dungdankawasanbudidayacontohnyaperkebunand Lokasinya secara sebagai anhutanproduksi ekonomis mudah permuk dikembangkan iman, sebagai perkeb kawasanpenyangga unan, . dan Tidak merugikan pertani dilihat dari segi an. ekologi/lingkungan Permu hidup kiman biladikembangkan dan sebagai kawasan perkeb penyangga unan Memilikinilaikema dibang mpuanlahandengan un rentang 124-174 dengan keleren gan lahan berkisa r antara 8–
  • 7.
    15% Nilai keleren gan lahan di wilaya h Desa Donow arih berdasa rkan hasil skoring adalah 120 - 135 Sumber:HasilAnalisis 2012 7.2.4 Analisis Pola Penggunaan Lahan Desa Donowarih memiliki luas wilayah 1.298,018 ha dengan pembagian menjadi lahan terbangun dan tak terbangun. Sebagian besar lahan di desa ini merupakan lahan tak terbangun dengan luas 1137,598 ha sedangakan lahan terbangunnya seluas 160,42 ha dengan perbandingan lahan terbangun dan tak terbangun dari Desa Donowarih adalah 12 : 88. Tabel ?.? Perbandingan lahan terbangun dan tak terbangun No. JenisLahan Luas (Ha) 1. LahanTerbangun 160,42 2. LahanTakTerbangun 1137,598 Jumlah 1.298,018 Sumber: Hasil Analisis (2012)
  • 8.
    Penggunaan Lahan Terbangundan Tak Terbangun 12.36% Lahan Terbangun Lahan Tak Terbangun 87.64% Gambar ?.? Prosentase Penggunaan Lahan Terbangun dan Tak Terbangun Sumber: Hasil Analisis (2012) Lahan terbangun yang terdapat di Desa Donowarih meliputi permukiman dan sarana sedangkan lahan tak terbangunnya meliputi hutan, pemakaman, perkebunan, ladang dan sawah. Tabel ?.? Penggunaan Lahan Desa Donowarih LuasLahan BentukPeruntukan Prosentase (%) (ha) Terbangun (160,42 ha) Permukiman 146,6 11,290 Peribadatan 0,7 0,054 Pergudangan 1,2 0,092 Industri 2,46 0,190 Pemerintahan dan Pelayanan 4,8 0,370 Umum PerdagangandanJasa 3,57 0,275 Pendidikan 1 0,077 Kesehatan 0,09 0,007 TakTerbangun (1137,568 ha) Perkebunan 24,771 1,910 Ladang 289,9 22,335 Pemakaman 6 0,463 Hutan 660 50,848 Persawahan 156,927 12,091 Total 1297,988 100 Sumber: RPJM Desa Donowarih
  • 9.
    Dalam pengembangan danpengelolaan lahan di Desa Donowarih haruslah sesuai dengan kesesuaian lahan, keadaan eksisting, dan daya dukung lingkungannya, dengan demikian diharapkan penggunaan lahannya dapat berkesinambungan dan tidak menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu diharapkan penggunaan lahannya dapat berkelanjutan, artinya dapat digunakan sekarang dan di masa depan tanpa mengurangi kualitas lahan tersebut. Berikut tabel analisis kesesuaian guna lahan Desa Donowarih. Tabel ?.? Analisis Pola Guna Lahan No Fakta Analisis 1 Tingkat perbandingan Tingkat perbandingan lahan terbangun dan penggunaan lahan tidak terbangun di Desa Donowarih terbangun dan tak menunjukkan perbandingan yang tinggi, dimana terbangun 12,4 : 87,6 lahan tidak terbangun lebih mendominasi yaitu berupa hutan. Sebagian besar kawasan Desa Donowarih berupa hutan dengan persentase sebesar 87,6%, sedangkan lahan terbangunnya hanya sebesar12,4%. Kawasan permukiman di Desa Donowarih terpusat di dusun Karangan, sedangkan untuk lahan tidak terbangun yaitu hutan sebagian besar terdapat di dusun Borogragal. 2 Tersedianya hutan dengan Adanya hutan di Desa Donowarih terdapat di luas yang besar yaitu 660 Dusun Borogragal dengan luas 660 ha, dengan ha. sebagian merupakan hutan pinus. Hutan pinus tersebut dimanfaatkan masyarakat dengan pengambilan getah yang kemudian dijual ke pihak Perhutani. Selain itu hutan juga dimanfaatkan untuk menanam tanaman seperti cabai dan sayur mayur. Dengan demikian hutan memiliki potensi untuk dikelola dan dikembangkan Sumber: Hasil analisis (2012) A. Penggunaan Lahan Terbangun Peruntukkan lahan terbangun di Desa Donowarih digunakan untuk lahan permukiman dan fasilitas umum sarana. Total luas lahan yang dipergunakan untuk lahan terbangun sebesar 160,42 ha. Sebesar 146,6 ha dari luas lahan yang terbangun tersebut berupa permukiman, sedangkan sisanya sebesar 13,82 ha berupa fasilitas sarana yang akan dikaji sebagai berikut: 1. Permukiman Permukiman sebagai penggunaan lahan terbesar dari lahan terbangun dengan luas 146,6 ha atau 11,29 % dari luas Desa Donowarih, berada di seluruh dusun di Desa Donowarih. Dusun Karangjuwet, Dusun Jaraan, Dusun Karangan, dan Dusun Borogragal. Permukiman terluas terdapat di Dusun Karangan dengan
  • 10.
    luas 54 haatau 37 % dari luas total permukiman yang ada di Desa Donoarih sedangkan pusat kegiatan desa berada di Dusun Jaraan. 2. Fasilitas sarana Ketersediaan fasilitas sarana sangat penting untuk menunjang keberlangsungan hidup masyarakat di Desa Donowarih. Fasilitas fasilitas sarana yang terdapat di Desa Donowarih meliputi sarana perdagangan dan jasa dengan luas 3,57 ha yang merupakan sarana dengan lahan terluas, sarana pendidikan 1 ha, sarana peribadatan 0,7 ha, industri dengan luas 2,46 ha, pemerintah dan pelayanan umum denga luas 4,8 ha yang tersebar di permukiman penduduk. Sarana peribadatan, perdagangan dan jasa serta pendidikan berada di setiap dusun sedangkan sarana industri berada di sepanjang Jalan Raya Donowarih yang melewati Dusun Karangjuwet, Dusun Jaraan, Dusun Karangan. B. Penggunaan Lahan Tak Terbangun Luas lahan tak terbangun yang terdapat di Desa Donowarih adalah 1138 ha atau 87,6 % dari luas keseluruhan Desa Donowarih yang luasnya sebesar 1298 ha. Lahan tak terbangun yang ada di Desa Donowarih, peruntukannya terbagi menjadi area persawahan, ladang, perkebunan, pemakaman, RTH dan olahraga, serta hutan yang dikelola oleh pihak Perhutani. Persawahan, ladang dan perkebunan memiliki luas lahan terbesar yaitu 470,8 ha atau 36,3 % dari luas total desa. Hal ini sesuai dengan kegiatan masyarakat Desa Donowarih yang mayoritas bekerja di sektor pertanian yang menghasilkan komoditas meliputi padi, jagung, jeruk, apel, cabai, tomat, sawi, tebu dan kopi. Pemakaman berada di seluruh dusun di Desa Donowarih dengan luas 6 ha, sedangkan RTH dan olahraga yang meliputi lapangan sepakbola, taman bermain, lapangan voli dan tenis memiliki luas keseluruhan yaitu 1,2 ha. Keberadaan hutan di Desa Donowarih terletak di bagian utara atau berada di Dusun Borogragal, hal ini dikarenakan sebagian wilayah Dusun Borogragal merupakan kaki Gunung Arjuna yang wilayahnya tertutup oleh hutan dengan luas 660 ha adalah masuk wilayah dari Desa Donowarih.