CV. Prokreatif
ANALEKTA
KISAH
SEMESTA
JILID 2
YESSY RAMADHAN, THIARI KINASIH,
MEGA L, NOVIENDRA, GRAHITA RIZKI,
ULUL ILMI ARHAM, KARTIKA PITASARI, DHEISYA AD-
HYA, MERRY SALEKY, N’ESTHY, WIDA REZA HARDI-
YANTI, TIKA NEMOEST, PUTERICA, NITA LESTARI,
ALENA WINKER, ROSYIDHA BAIDURI, ENONG NUR-
MUTI’AH, KILLERBEE, MERLINDA YUANIKA,
AISHANAFI KHADIFYA, RINI UNTARI,
ERNA KALOKO, ELOK WARDANIYAH,
RIZKI NOVIE LESTARI.
PROPERTI OF P
Analekta Kisah Semesta Jilid 1
Copyright © CV.Prokreatif, 2021
Penulis:
Yessy Ramadhan, Thiari Kinasih, Mega L., dkk
ISBN:
lustrasi:
freepik.com
Penyunting :
Novalinda
Tata Letak dan Desain Sampul:
Asih Tria Wulandari
Penerbit:
CV. Prokreatif
Redaksi
Perumahan Mansyur USU Regency Blok A4
Medan, Sumatera Utara
Web		 : www. penerbit. prokreatif. com
Instagram	 : @pro_kreatif
E-mail		 : cv.prokreatif@gmail. com
Cetakan Pertama, Mei 2021
291 halaman; 14 x 21 cm
Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku dalam bentuk
dan dengan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit maupun
penulis
3 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
ANALEKTA
KISAH
SEMESTA
JILID 2
Analekta Kisah Semesta | 4
PROPERTI OF P
PENGANTAR
Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian
prosesi yang cukup pelik, buku keenam dari
tantangan Sagusaka Edisi Maret 2021 ini akhirnya dapat
dirampungkan juga
Rasa terima kasih dan apresiasi kami ucapkan
sebesar-besarnya kepada seluruh peserta yang telah
berhasil menyelesaikan tantangan minggu pertama,
terlebih kepada seluruh finisher yang telah berhasil
menaklukkan tantangan pertama sampai keempat dengan
sangat baik.
Buku keenam dari 6 buku Sagusaka Edisi Maret
ini merupakan buku kumpulan cerpen dari para penantang
Sagusaka Maret yang berhasil menyelesaikan keempat
tantangan. Isinya merupakan karya terbaik dengan
beragam genre yang penulis pilih dari keempat karya yang
telah mereka selesaikan.
5 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentunya, masih terdapat kekurangan di sana-sini
dalam penyelesaian buku ini. Oleh sebab itu, kritik dan
saran yang membangun sangat kami harapkan dari para
pembaca sekalian untuk seluruh penulis dan tim yang
tergabung dalam proses penyelesaian buku ini.
Terima kasih dan selamat membaca.
Salam hangat penuh semangat
Tim Ruang Nulis
Analekta Kisah Semesta | 6
PROPERTI OF P
DAFTAR ISI
DE JAVU	
Oleh: Yessy Ramadan	 9
RAGAYANG TERPERANGKAP	
Oleh: Thiari Kinasih	 23
BERAWAL DARI LUKA	
Oleh: Mega L	 41
MISTERI BAJU WARNA MERAH	
Oleh: Noviendra	 54
I AM BUCIN	 68
Oleh: Grahita Rizki	 68
PLAYBOY CAP DURIAN	
Oleh: Ulul Ilmi Arham	 78
	
BANOWATI	
Oleh: Kartika Pitasari	 88
MITOS MEMAKAI PAKAIAN MERAH	
Oleh: Dheisya Adhya	 92
	
TERMAKAN JANJI 	
Oleh: Mesaleky	 108
PELANGI SETELAH HUJAN 	
Oleh: N’esthy	 117
7 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
BLOODY SPRING IN AMSTERDAM	
Oleh: Wida Reza Hardiyanti	 136
MUSIM SEMI DI TANAH ATATURK	
Oleh: Tika Nemoest	 146
AUTUMN ANNIVERSARY	
Oleh: Puterica	154
DESA BULAN MATI	
Oleh: Nita Lestari	 165
MAINAN BARU	
Oleh: Alena Winker	 180
SENYUMANKU UNTUK KEPERGIANNYA	
Oleh: Rosyidha Baiduri	 184
ACCIDENT: MENYUSURI MEMORI	
Oleh: Enong Nurmuti’ah	 189
DUA BELAS KATA CINTA	
Oleh: KillerBee	 205
DALAM INGATAN WAKTU	
Oleh. Merlinda Yuanika	 215
GUGUR DI NEGERI SAKURA	
Oleh: Aishanafi Khadifya 	 233
SEMBURAT CINTA PERTAMA	
Oleh: Rini Untari	 240
Analekta Kisah Semesta | 8
PROPERTI OF P
BERSEMI DI MUSIM SEMI ISTANBUL	
Oleh: Erna Kaloko 	 249
RUI ORIONA	
Oleh: Rizki Novie Lestari	 258
RENDEZVOUS	
Oleh: Elok Wardaniyah	 279
9 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
DE JAVU
Oleh: Yessy Ramadan
	
Usia Aiko baru menginjak 20-an. Keterbatasan
keluarganya memaksa Aiko harus menumpas
cita-citanya untuk kuliah. Ia harus terima hanya memiliki
ijazah SMA sebagai jenjang pendidikan tertingginya.
Mimpinya untuk menjadi akuntan terpaksa harus ia pupus.
Kini, ia bekerja menjadi seorang pramuniaga di salah satu
toko sembako franchise yang banyak ditemui di kotanya.
	 Sebagai anak tertua,Aiko bertanggung jawab untuk
membantu ibunya mencari nafkah. Ayahnya meninggal
ketika Aiko duduk di kelas dua SMA. Sebuah kecelakaan
menimpa ayahnya ketika mengerjakan proyek konstruksi
yang dikerjakannya. Sejak itu, ibunya mulai mencoba
membuka usaha katering. Namun, hasil berjualan ibunya
Analekta Kisah Semesta | 10
PROPERTI OF P
tak cukup untuk membiayai hidup tiga orang.
	 Melihat kesulitan yang dihadapi ibunya, Aiko
berbesar hati untuk merelakan mimpi besarnya. Fokusnya
saat ini adalah mencari nafkah membantu ibunya. Dengan
gaji yang tak terlalu besar, Aiko harus berhemat. Ia
jarang sekali menggunakan uang gajinya untuk keperluan
pribadi. Semua diberikan kepada ibunya untuk dikelola
secukupnya.
	 “Mio, kamu harus semangat sekolahnya. Setelah
lulus nanti, kamu harus kuliah.Aku akan berusaha sebisaku
untuk menguliahkan kamu. Tugasmu hanya belajar. Nggak
usah pikirkan hal lain.” Aiko mewanti-wanti adiknya yang
hanya selisih tiga tahun dengannya.
	 “Kak, tak perlu dipaksakan. Aku ikhlas kok, kalau
harus bekerja seperti Kakak.” Mio sangat menyayangi
kakaknya, ia tak ingin melihat Aiko menderita karena
dirinya.
	 “Nggak, Mio. Salah satu dari kita harus menjadi
orang yang berhasil. Dulu ayah sering bilang kalau kita
berdua harus menjadi orang yang sukses. Kamu harus
bisa mewujudkannya.” Aiko membelai rambut Mio yang
duduk di sebelahnya.
	 Pemandangan itu membuat ibunya terharu. Ia
sangat bangga memiliki dua anak perempuan yang begitu
dewasa. Mereka selalu patuh. Nilai-nilai di rapornya juga
selalu bagus. Mereka selalu berperilaku baik. Di rumah,
11 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mereka selalu berbagi tugas untuk membantu pekerjaan
rumah.
	 Kedua kakak beradik itu memang sangat dekat
sejak kecil. Selisih usia yang tak terlalu jauh membuat
keduanya seperti sahabat. Mereka saling berbagi apa saja
yang mereka nikmati dan rasakan. Orang tuanya mendidik
mereka sangat baik, hingga mereka tumbuh menjadi dua
gadis remaja yang pekerja keras dan tak pernah mengeluh.
***
	 Tante Erla hari ini akan kembali ke ibu kota.
Jadwal visit suaminya ke cabang hanya dua hari. Ia sangat
senang ketika mendengar suaminya mendapat tugas
visit ke kampung halamannya. Beruntung, suaminya
mengizinkannya ikut dan menginap di rumah Aiko. Tante
Erla adalah adik kandung ibu Aiko.
	 Sepulang kerja, Aiko mampir ke toko oleh-oleh
dekat rumah. Ia akan membelikan buah tangan untuk
diberikan kepada Tante Erla. Sambil membawa keranjang
belanja, ia menyusuri lorong-lorong rak display toko.
Di ujung koridor, ada seorang lelaki berusia sekitar lima
tahun di atasnya terus melihat ke arahnya. Aiko salah
tingkah sebab merasa diperhatikan oleh orang yang tak
dikenalnya. Ia kemudian berusaha untuk berbalik arah.
	 “Hey!” Pemuda itu mengejar dan menepuk pundak
Aiko.
Analekta Kisah Semesta | 12
PROPERTI OF P
	 “Iya,adaapaya,Mas?”Aikosemakinkebingungan.
	 “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya,”
ucap pemuda itu, “tapi di mana, ya?”
	 “Oh, ya? Rasanya ini pertemuan pertama kita.
Mungkin Masnya salah orang,” jawab Aiko sambil
tersenyum sopan takut salah bicara.
	 Obrolan berlanjut di kafe sebelah toko oleh-oleh.
Pemuda itu bersikeras berkata bahwa ia pernah bertemu
Aiko sebelumnya. Hingga Aiko merasa kasihan dan
bersedia diajaknya berbincang di kafe. Sejak kecil, Aiko
memang selalu ramah dan mudah bersimpati.
	 “Saya lahir dan besar di kota ini, Mas Indra. Saya
belum pernah tinggal di luar kota.” Dengan ramah Aiko
menjelaskan pada orang yang baru pernah ditemuinya itu.
	 “Masa, sih. Kok rasanya aku nggak asing sama
kamu, ya.” Indra masih heran dengan pemikirannya
sendiri.
Indra masih menganggap bahwa ia pernah
mengenalAikosebelumnya.Namun,saatiniiabenar-benar
merasa bingung dengan apa yang tengah dihadapinya.
Aiko bersikukuh bahwa mereka baru saja bertemu. Sedang
Indra seolah hanya sedang sedikit lupa tentang kapan, di
mana dan sejauh apa hubungannya dengan wanita yang
kini duduk di hadapannya itu.
13 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Indra baru sebulan pindah di kota ini. Ia bekerja
di sebuah perusahaan milik negara. Sebelumnya ia dinas
di kota pelajar yang jaraknya sekitar 170 km dari sini.
Sejak pertemuan itu, mereka sering bertukar pesan. Indra
berdalih belum mengenal daerah-daerah di sini dan butuh
kenalan untuk mencari tahu tentang kota ini.
	 Aiko yang selalu berpikiran terbuka, menyambut
baik permintaan Indra. Ia hanya ingin memperbanyak
relasi. Terlebih Indra bekerja di perusahaan pemerintah.
Siapa tahu ke depan akan ada kesempatan untuk Mio
masuk ke sana. Setidaknya, dari Indra dia akan mencari
tahu tentang bagaimana proses melamar pekerjaan di sana.
	 Waktu berlalu begitu cepat. Indra danAiko semakin
dekat. Mereka sering pergi ke suatu tempat bersama. Indra
banyak mengenal tempat-tempat baru di kota ini karena
Aiko. Tak terasa sudah hampir setahun Indra bertugas di
sini.
	 Indra adalah pemuda yang baik. Pembawaannya
yang humble membuat Aiko nyaman untuk bercerita apa
saja kepadanya. Indra juga sering berkunjung ke rumah
Aiko. Bahkan terkadang mereka pergi menonton bertiga
bersama Mio. Indra seperti seorang kakak yang menjaga
adik-adiknya dengan baik. Pada ibu Aiko, Indra sudah
menganggap seperti ibunya sendiri.
	 Semakin sering bertemu dan berbincang dengan
Aiko, Indra semakin merasa bahwa ia telah mengenal
Aiko jauh sebelum pertemuan pertama mereka di toko
Analekta Kisah Semesta | 14
PROPERTI OF P
oleh-oleh. Aiko yang periang, Aiko yang dewasa, Aiko
yang tak mudah marah, Aiko yang selalu sabar. Hal-hal itu
seperti telah diketahui Indra sejak lama.
	 Dia atau aku yang amnesia?
	 Indra sering bertanya-tanya dalam hati. Sebab, dari
berkali-kali pertemuan, ia sering merasa pernah melakukan
hal yang sama. De Javu.
	 Masa,sih,beneranadayangnamanyareinkarnasi?
Lagi-lagi pertanyaan konyol itu terngiang-ngiang di benak
Indra.
	 Mungkin aku hanya pernah mengenal seseorang
yang mirip sama dia. Indra berusaha melogikakan
perasaannya.
	 Intensitas komunikasi di antara mereka perlahan
menumbuhkan rasa nyaman bagi keduanya. Bahkan,
Indra mulai merasakan ada sesuatu yang lain yang tumbuh
di hatinya. Awalnya ia pikir hanya perasaan simpati
pada sosok seorang perempuan perkasa yang tak pernah
mengeluh atas apa yang dihadapinya.
	 Semakin hari, Indra semakin sering memikirkan
Aiko. Sepertinya ada yang kurang bila dalam sehari belum
menelepon Aiko. Ia akhirnya mengakui perasaannya
sendiri. Ia menyukai Aiko. Rasa sayang yang tumbuh
bukan sebagai seorang kakak menyayangi adiknya.
Namun, perasaan lelaki pada seorang perempuan yang
dikaguminya.
15 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Indra hanya menyimpan perasaannya sendiri. Ia
tak berani mengungkapkannya pada Aiko. Saat berada di
dekat Aiko, Indra sering salah tingkah. Gesturnya tak bisa
berbohong. Namun, Indra tetap memilih untuk menikmati
sendiri rasa yang hadir tanpa permisi. Ia takut Aiko tak
memiliki perasaan yang sama dengannya.
	 Malam ini, Indra menjemput Aiko di tempat
kerjanya. Perihal menjemput Aiko bukanlah hal baru bagi
Indra. Sebetulnya Aiko sering menolah tawaran Indra.
Namun, Indra bersikeras untuk melakukannya. Sekaligus
cari makan malam, katanya. Aiko tak lagi bisa menolak
bila Indra telah mengatakan demikian.
	 “Makan di rumah aja, yuk. Ibu masak banyak hari
ini.” Ajakan Aiko langsung diiyakan Indra.
	 Indra sering menumpang makan di rumah Aiko.
Masakan sederhana ibu Aiko terasa sangat nikmat bagi
Indra. Ia bukan pemilih kalau soal makanan. Yang penting
higienis. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Indra adalah anak tunggal seorang pengusaha sukses
di kampung halamannya. Namun, kesibukan ayahnya
membuat hubungan keluarga mereka kurang harmonis.
“Kok ambil nasinya sedikit sekali? Ayo nambah
lagi, dong. Lauknya juga. Sini, biar Ibu ambilkan,”
berondong ibu Aiko pada Indra.
Analekta Kisah Semesta | 16
PROPERTI OF P
“Iya, Bu. Nanti kan kalau kurang pasti Indra
nambah. Biasanya juga begitu, kan,” balas Indra sambil
tersenyum dan tetap membiarkan ibu Aiko menambahkan
lauk di piringnya.
***
	 Tak terasa, akhirnya Mio lulus dengan nilai ujian
yang sangat memuaskan. Bahkan ia mendapatkan beasiswa
untuk masuk ke universitas negri di kotanya. Di dalam
nilai-nilai bagus Mio, ada andil Indra di dalamnya. Sebab
setiap ujian, Mio selalu belajar dengan Indra. Dengan
sabar Indra mengajari adik Aiko itu.
	 “Selamat ya, anak pintar. Akhirnya sebentar lagi
jadi mahasiswi juga kamu, Mio.” Indra menempelkan
kepalan tangannya di dahi Mio.
	 “Terima kasih, Mas. Berkat Mas Indra juga, kan,
nilaiku jadi nggak berwarna.” Mio langsung mengupas
sebatang cokelat dari Indra.
	 “Eh, Mas. Tapi kapan nih, mau resmiin hubungan
sama Kak Aiko?” Indra terperanjat dengan pertanyaan
Mio.
	 “Maksud kamu?” Indra pura-pura tak tahu ke arah
mana pertanyaan Mio.
	 “Ah, aku sama ibu juga udah tau, kok. Kak Aiko
aja tuh yang nggak peka.” Mio semakin meledek sabahat
kakaknya yang juga sudah seperti kakaknya sendiri.
17 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Indra menoleh ke kanan dan ke kiri penuh selidik.
Ia takut kalau Aiko mendengar apa yang diucapkan Mio.
Sebenarnya Indra ingin mengutarakan perasaannya pada
Aiko. Namun, ia masih memilah waktu yang tepat untuk
berbicara serius.
***
	 Hari ini jadwal libur Aiko. Menjelang waktu
makan siang, ia mengantarkan dua toples kue buatannya ke
kantor Indra. Ia sengaja tak memberi tahu Indra. Niatnya
Aiko hanya akan menitipkan bingkisan pada pak satpam.
	 Sesampainya di kantor, ia tak sengaja melihat Indra
sedang berjalan bersebelahan dengan seorang wanita.
Mereka terlihat begitu akrab. Tiba-tiba detak jantungnya
menguat. Tubuhnya terasa lemas. Ia lantas buru-buru
menitipkan bingkisan ke pak satpam dan bergegas pergi
dari kantor itu. Ia tak ingin Indra melihat kedatangannya.
	 Ia berjalan gontai meninggalkan kantor Indra. Ada
banyak tanda tanya yang mendadak muncul di kepalanya.
Siapa wanita itu? Ada hubungan apa Indra dengannya?
Kenapa mereka seakrab itu? Kenapa Indra tak pernah
memperkenalkan wanita itu?
	 Aiko mengenal beberapa teman kantor Indra.
Namun, ia baru pernah melihat wanita yang tadi bersama
Indra.Ada perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hatinya.
Ia gelisah. Ia ingin marah, tapi tak punya hak untuk itu.
Lagi pula, kenapa Aiko harus marah bila memang Indra
Analekta Kisah Semesta | 18
PROPERTI OF P
sedang dekat dengan seseorang?
	 Aiko mencoba menetralisir pikirannya. Ia harus
meredam perasaan-perasaan yang tak seharusnya ada.
Kenyataan bahwa Aiko dan Indra hanya berteman biasa
membuat Aiko menyalahkan dirinya sendiri.
	 “Kenapa aku jadi aneh begini, sih?” gumam Aiko.
	 Aiko masih tak menyadari perasaannya sendiri.
Ia menganggap perasaannya pada Indra hanyalah sebatas
menyayangi seorang kakak.
	 Namun, tanpa disadari kejadian itu membuat
Aiko sedikit berubah. Ia berusaha mengindar dari Indra.
Panggilan telepon dan chat dari Indra tak diresponnya.
Ia hanya membalas chat sesekali dengan kalimat pendek.
Bahkan, beberapa hari Aiko menolak jika Indra ingin
bertemu.
	 “Kak, kalian itu saling suka. Kalian hanya sama-
sama gengsi. Saling menunggu siapa yang akan duluan
mengutarakan perasaan.” Mio menanggapi curahan hati
kakak tersayangnya.
	 Sebelumnya, Mio juga telah mengatakan hal yang
sama pada Indra melalui telepon. Indra yang terus gagal
menghubungi Aiko akhirnya menelepon Mio. Dari situ
Indra mengetahui bahwa Aiko melihat ia bersama Wina,
anak magang yang tengah disupervisi olehnya.
19 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Jadi aku harus bagaimana, Mio? Pantas saja
ucapan terima kasihku di chat cuma dia baca aja.” Indra
menghela napas.
	 “Ajak ketemu, gih, langsung jemput ke rumah.
Nggak usah kasih kabar dulu kalau mau datang.” Mio
memberi saran.
	 Indra menuruti saran Mio. Tanpa memberitahu
Aiko terlebih dulu, ia datang ke rumah. Aiko yang sedang
duduk di teras tak bisa menghindar. Ia terus bersikap datar
pada Indra. Aiko hanya berbicara sepotong-sepotong,
seperlunya.
	 “Aiko, lebih baik kita bicara di luar, yuk. Nggak
enak dilihat Ibu sama Mio kalau kita begini.” Indra
memohon pada Aiko yang akhirnya bersedia diajaknya
pergi.
	 Indra berinisiatif untuk mengajak Aiko ke sebuah
coffee shop. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling
diam. Indra tak berani membuka percakapan karena takut
membuat Aiko semakin bad mood.
	 “Aiko, maafin aku, ya. Pas kamu ke kantor aku
nggak melihatmu. Bahkan aku belum sempat berterima
kasih untuk kue yang kamu bawakan. Rasanya enak
banget, loh. Aku suka.” Dengan tulus Indra meminta maaf
pada Aiko.
Analekta Kisah Semesta | 20
PROPERTI OF P
	 “Kemarin itu, aku mau ke ruang administrasi
bersama Wina. Dia anak baru yang harus aku supervisi.
Sungguh aku nggak ada apa-apa sama dia, Ai.” Indra
berusaha meluruskan apa yang sebenarnya terjadi.
	 Aiko hanya terdiam. Ia memutar-mutar cangir kopi
di hadapannya.
	 “Ai, bicaralah. Nggak apa kalau kamu mau marah
sama aku. Aku siap mendengarkan apa yang akan kamu
sampaikan,” bujuk Indra.
	 “Aku yang salah, Mas. Aku yang nggak bisa
memosisikan diriku. Maaf karena aku sudah melewati
batasku.” Aiko bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
	 Aiko telah memikirkan baik-baik bahwa responnya
yang seperti ini keliru. Ia justru seharusnya bahagia
kalau Indra memiliki seseorang yang memerhatikannya.
Sesimpel itu, ia sendiri yang membuatnya rumit.
	 “Nggak, Ai. Justru aku yang seharusnya minta
maaf. Selama ini aku hanya pecundang yang nggak
berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya ke
kamu. Aku sayang sama kamu, Aiko.” Indra meraih dan
menggenggam tangan Aiko.
	 Jantung Aiko mendadak seperti berhenti
berdetak. Napasnya terasa sesak. Seperti ada sesuatu
yang mengganjal di hatinya. Ia tak kuasa lagi menahan
air matanya. Ia menumpahkan seluruh perasaan yang ia
bendung. Sedih, haru, bahagia, dan ada kelegaan di sana.
21 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Terima kasih, ya. Kamu membuatku berani
untuk mengungkapkan rasa yang kumiliki untukmu.
Sebelumnya aku hanya pecundang yang tak percaya diri
dengan beralasan mencari waktu yang tepat. Nyatanya,
aku tak pernah menemukan sendiri waktu yang tepat itu.
kamulah yang menunjukkannya padaku.” Indra membelai
rambut Aiko.
	 “Mas, apa kamu mau menerima wanita sepertiku
yang tak pernah dekat dengan kata sempurna?” Amarah
Aiko turut menghilang tersapu air matanya.
	 “Ketidaksempurnaan kamulah yang membuatku
mencintaimu. Izinkan aku menggenapimu. Pun dengan
ketidaksempurnaan yang kumiliki.” Indra menatap dalam
mata Aiko.
Aiko mengusap matanya yang basah. Dan di saat
yang sama, Indra menyaksikan senyum termanis Aiko.
***
Analekta Kisah Semesta | 22
PROPERTI OF P
Tentang Penulis
Yessy Ramadan. Dengan aktivitas yang cukup padat
sebagai seorang banker, tak menyurutkan cita-citanya
menjadi seorang penulis. Harapannya adalah akan
menjadi seorang penulis yang melahirkan karya-karya
yang berkualitas. Berangkat dari berbagai kelas menulis,
dia ingin mewujudkan cita-citanya tersebut. Ia telah
menghasilkan lebih dari dua puluh buku antologi.
23 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
RAGA YANG
TERPERANGKAP
Oleh: Thiari Kinasih
Gadis pekerja keras dan berparas cantik itu
bernama Cahaya. Kesehariannya bekerja
sebagai di bagian administrasi di sebuah perusahaan asing
yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Selain menjadi
kerani, ia memiliki hobi menulis dan menggambar yang
ia tuang menjadi serial komik menarik. Tak sedikit hasil
karyanya terpilih sebagai karya terbaik dalam berbagai
perlombaan dan sederet penghargaan terpajang rapi di
salah satu sisi dinding kamarnya.
Analekta Kisah Semesta | 24
PROPERTI OF P
Suatu malam, ia terbangun dari tidurnya setelah
tersentak. Gadis yang suka warna biru itu merasa seperti
terjatuh dari ketinggian yang tak seberapa namun cukup
membuatnya terkejut. Ia heran mengapa pagi hari cepat
sekali tiba? Rasanya ia baru saja memejamkan mata dan
turun ke alam bawah sadarnya untuk beristirahat. Ia sering
kali mengeluh karena ia merasa tidak bisa menikmati
waktu untuk sekadar beristirahat, bahkan di hari liburnya.
Dalam keadaan sadarnya kali ini, ia tidak hanya
terkejut namun juga heran. Pasalnya, ia tiba-tiba sudah
berada di kampung halamannya di Bukittinggi. Ia
bergegas menuju rumah keluarganya di sana, namun
tak seorang pun mengenalinya. Diapun berulang kali
berusaha menjelaskan bahwa ini adalah dirinya—Cahaya,
namun tak ada seorang pun yang percaya. Bahkan ia
sampai diusir dari rumah tersebut dan ditinggalkan di
luar pagar. Adiknya yang merupakan putra nomor 2 itu
bahkan mengancam akan menghubungi polisi bila ia terus
memaksa masuk ke dalam pekarangan rumah.
Ia semakin heran, dan bertanya-tanya “Apakah
yang sebenarnya tengah terjadi? Apa salahku sampai
membuat keluargaku tak mau lagi menerimaku? Aku
bahkan tidak bisa menikmati hasil keringatku dan waktuku
untuk beristirahat agar bisa selalu membahagiakan
mereka. Mengapa mereka demikian memperlakukanku
tadi Tuhan?” jerit gadis yang cukup sensitif itu sambil
terisak, dadanya sesak dan tangisannya deras seolah ia
tengah melampiaskan seluruh isi hatinya kala itu.
25 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Dengan langkah berat, ia pergi berjalan menyusuri
kawasan wisata yang tak jauh dari rumah keluarganya. Ia
terduduk di salah satu bangku yang tersedia di taman yang
masih bagian dari tempat wisata tersebut. Perutnya lapar,
ia bahkan kebingungan harus ke mana. Sembari menatap
satu per satu bangunan baru --yang ia bahkan tak tahu
kapan bangunan itu dibangun karena sudah lama sekali ia
tidak pulang kampung—ia mendapati satu bangunan kecil
yang ia merasa sangat perlu sekali untuk ke sana untuk
buang air kecil. Ia berusaha menguatkan diri untuk menuju
toilet. “Rp2.000“, tulisan ini yang pertama kali ia jumpai
sesaat ia tiba di depan toilet. Ia rogoh saku celananya dan
bersyukur ia memiliki selembar uang Rp100.000,- yang ia
juga lupa kapan menaruh uang tersebut di sana.
Selesai urusannya di toilet, ia merasa perlu
bercermin untuk merapikan penampilannya. Ia bergegas
menuju cermin yang berada di samping toilet tersebut
dan “Aaaarrgghh....” Gadis yang tengah berwujud dalam
raga orang lain itu menyadari sesuatu yang hal tak beres
dan berteriak kencang sekali setelah mendapati pantulan
wajahnya di cermin tersebut. Ia bingung siapa orang
asing yang ada di cermin tersebut. Ia meraba wajahnya
dan kemudian menepuk hingga mencubit pipinya untuk
memastikan.
“Sakit,” ujarnya setelah sadar bahwa itu bukan
orang asing melainkan dirinya. Ia mencoba mengenali
lebih dalam dan mendapati bahwa penampilannya
berubah menjadi tokoh utama dalam cerita yang tengah
Analekta Kisah Semesta | 26
PROPERTI OF P
ia perjuangkan untuk selesai, bernama Cahyo. Seorang
laki-laki introvert namun memiliki mimpi untuk bisa
menaklukan dunia dengan cara meraih posisi penting yang
bisa mengantarkannya go international.
“Aku paham mengapa keluargaku tidak
mengenaliku, dan bahkan sangat kasar sekali terhadap
perempuan--sekalipun bila tadi itu bukan aku. Namun
bagaimana bisa aku masuk ke dalam raga Cahyo?” ucap
gadis yang gemar menggambar itu sambil masih menatap
wajahnya bahkan dalam jarak 1 cm dari cermin.
“Risih sekali,” gumam gadis bertubuh ideal itu
merasa ada yang tak biasa dari dirinya. Ia melanjutkan
langkahnya menuju salah satu restoran kesukaannya dan
selalu ia datangi bila ada kesempatan pulang kampung.
Perut kosong membuatnya tak mampu berpikir, terlebih
ia masih terheran-heran dengan fenomena yang tengah
terjadi itu.
“Logikaku buntu tanpa logistik, mari kita
kenyangkan diri dahulu sembari berpikir apa yang harus
kita lakukan,” ucapnya berusaha tenang dalam hatinya dan
beruntung ia masih memiliki sisa uang di sakunya.
Sembari menikmati hidangan nasi kapau
di restoran kesukaannya, ia menaruh kemungkinan-
kemungkinan yang terjadi. Dan ia memutuskan untuk
mengunjungi rumah sahabatnya yang sangat mendukung
hobinya sebagai komikus. Sesampainya ia di rumah
sahabatnya tersebut, ia tidak bisa berjumpa karena
27 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
sahabatnya tersebut masih di tempat kerja. Inda namanya.
Ia bermaksud mengunjungi Inda di tempat kerjanya
yang tak jauh dari rumah Inda. Sesampainya ia di salah-
satu pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bukittinggi yang
merupakan tempat bekerja Inda, ia masuk ke dalam dan
mencari Inda.
“Inda,” sapa raga laki-laki berbadan tinggi sekitar
180cm setelah mendapati sahabatnya sedang bekerja
merapikan susunan produk di rak pajangan.
“Maaf dengan siapa ya?” tanya seorang gadis
berseragam toko oleh-oleh itu tak mengenali sahabatnya
yang masih terperangkap dalam tubuh Cahyo.
“Ini aku Cahaya. Sahabatmu dari TK, yang kerja
di Jakarta,” jelas gadis berkacamata itu berusaha keras
meyakinkan sahabatnya yang berparas cantik namun
sahabatnya masih bingung dan sedikit takut. Akhir-
akhirnya marak kasus penipuan dan penculikan orang
dewasa.
“Maaf saya tidak kenal kamu. Bagaimana bisa
seorang laki-laki bernama Cahaya. Saya tidak kenal
kamu!” teriak sahabatnya berkulit putih itu yang sudah
tidak mampu mengendalikan rasa takutnya sambil berjalan
menjauh darinya dan sontak hal tersebut menarik perhatian
petugas keamanan toko tersebut.
Analekta Kisah Semesta | 28
PROPERTI OF P
“Inda. Ini aku Cahaya!” teriak laki-laki dengan
setelan baju casual itu terus berusaha meyakinkan namun
apa daya tubuhnya sudah ditarik paksa keluar oleh petugas
keamanan toko tersebut.
Ia tak ingin melawan seolah ia mendapatkan
gambaran apa yang akan terjadi selanjutnya bila ia
mencoba melawan. Laki-laki beponi itu pun keluar dari
toko tersebut dan mencoba menunggu sahabatnya pulang
kerja. Ia memutuskan menunggu di sudut persimpangan
dekat rumah Inda. Namun di saat ia menunggu sahabat
berambut panjang itu, ia terkantuk dan memejamkan
matanya dalam posisi duduk tersandar tembok pekarangan
rumah tetangga dari sahabat karibnya itu.
***
Gadis berkulit kuning itu tersadar dan mendapati
dirinya sudah kembali di kamar kosnya. Dengan irama
napas yang masih belum beraturan karena lelah, ia
kembali terheran. Ia langsung mengambil ponsel yang ada
di hadapannya untuk melihat jam dan waktu menunjukkan
pukul 2 dini hari. Kemudian ia memastikan apakah
dirinya masih berpenampilan sebagai Cahyo atau Cahaya.
“Cahaya,” ujarnya setelah bercermin dengan kamera
depan di ponselnya.
“Apakah tadi itu mimpi? Mengapa aku sudah
kembali di kamarku?Atau aku masih berada dalam mimpi?
Di mana aku sebenarnya? Dan apa yang sesungguhnya
terjadi padaku?” tanya gadis bertelinga caplang itu yang
29 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
tak bisa membedakan antara mimpi dan kehidupan nyata
karena keduanya terasa sama-sama hidup. Ia menutup
laptopnya dan melanjutkan istirahat kembali di atas kasur.
Beruntung esok hari masih hari libur dan ia bermaksud
melanjutkan komiknya nanti setelah ia melepas lelah.
***
Ia kembali di posisi terakhirnya di persimpangan
jalan rumah sahabat setianya itu, kembali dalam raga
Cahyo. Ia berdiri menatap cermin besar yang biasa
digunakan untuk membantu pejalan dari berbagai arah
dapat mengetahui kondisi jalanan yang ada di setiap
simpang tersebut. Gadis yang juga bersuara merdu itu
mengkerutkan keningnya karena bingung mengapa dirinya
kembali menjadi Cahyo? Tak lama berselang--masih
dalam kebingungannya--, ia mendapati sahabatnya yang
suka makan permen lolipop itu tengah berjalan menuju
rumahnya sepulang dari bekerja.
“Inda,” sapa laki-laki berkulit putih menghampiri
Inda.
“Anda? Mengapa anda tahu daerah sini? Jangan-
jangan anda sudah lama mengikuti saya?” tanya gadis yang
gemar dikepang dua tersebut dengan nada sedikit tinggi
karena mulai kesal namun dirinya juga merasa ketakutan.
“Ini aku Cahaya, Inda. Aku terjebak dalam tubuh
salah satu tokoh komik yang aku sedang aku buat,”
ucap Cahaya berusaha meyakinkan sahabatnya namun
Analekta Kisah Semesta | 30
PROPERTI OF P
sahabatnya malah berlari menuju rumahnya dan melesat
masuk ke dalam pekarangan rumah kemudian bergegas
mengunci pagarnya rapat-rapat agar tak seorang pun
mampu masuk. Kalaupun orang itu berhasil masuk, ia
sudah bersiap mengeluarkan kemampuannya berteriak
dengan suara terkencang yang ia miliki.
Ia mulai putus asa dan duduk di depan rumah cat
putih itu. Perutnya lapar namun tak ada lagi uang yang
tersisa. Pulang ke rumah keluarganya pun akan percuma.
Tak akan ada yang memercayainya. Sahabat yang juga
gemar membaca itu diam-diam memperhatikan gerak-
gerik Cahaya dari jendela kamarnya. Sahabatnya tersebut
merasa kasihan dengan laki-laki itu, namun ia juga takut.
Seketika sahabat si cantik itu teringat bahwa Cahaya
belum lama ini mengirimkan gambar para tokoh yang akan
muncul dalam serial komik terbarunya. Meski serial komik
tersebut masih belum selesai dibuat, namun Inda selalu
menjadi orang pertama yang menerima setiap gambar
Cahaya, sekalipun masih dalam tahapan perkenalan tokoh.
Inda bergegas membuka gambar tersebut yang dikirim
oleh sahabatnya melalui surat elektronik.
“Oooo,” ucap gadis penyuka buah strawberry
kaget karena merasa tak asing dengan wajah salah satu
tokoh utamanya dan ia langsung bergegas menuju ke luar
rumahnya dan menghampiri laki-laki yang nyaris pingsan
di depan rumahnya.
31 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Ca..ca..cahaya...,” ujar sahabatnya yang sudah
mengenakanpiyamaitudenganterbata-batamemberanikan
diri menemui sahabatnya yang masih duduk termenung di
depan rumah.
“Inda,” ucap laki-laki itu setelah melihat gadis
dengan kuncir kuda itu menghampirinya.
“Lapar?” tanya pemilik rumah memahami kondisi
sahabatnya dan laki-laki polos itu mengangguk lemah.
Tenaganya sudah habis setelah melalui dimensi ruang tiada
henti. Inda masuk ke dalam rumah dan kembali keluar
dengan membawakan makanan. Putri sulung dari pemilik
rumah itu tidak bisa mengajak masuk sahabatnya karena
keluarganya pasti akan marah karena hari sudah malam
terlebih sahabatnya “berpenampilan” seperti itu. Laki-
laki bermata elang itu makan dengan lahap dan sesekali
menceritakan apa yang ia ketahui sebelum kejadian ini
bisa terjadi. Meski ia masih belum tahu pasti apa yang
tengah terjadi pada dirinya, namun ia ingin sahabatnya
mendengarkan keluh kesahnya sembari melepas rindu
karena sudah lama tak bertemu.
“Nanti kita cari tahu sama-sama ya. Bawa ponsel?
Uang?” tanya Inda selesai mendengarkan cerita Cahaya.
“Terakhir ada uang disaku namun sudah habis
untuk makan siang tadi. Lainnya tertinggal di kos,” jelas
Cahaya dengan sedih. Ia mulai takut kalau hal ini akan
terus berlangsung tanpa henti, lantas apa yang harus ia
lakukan untuk mengakhirinya? Ia takut, sangat takut.
Analekta Kisah Semesta | 32
PROPERTI OF P
“Ok, malam ini kamu bermalam di rumah
keluargaku di sebelah ya. Di sana kosong, sebentar aku
ambilkan kuncinya di dalam. Tapi jangan sampai gaduh
ya, karena hanya aku dan kamu yang tahu,” ucap sahabat
yang baik hati itu memberi solusi sementara, setidaknya
untuk malam ini dan Cahaya mengiyakan.
***
Sesaat ketika pemilik rumah beratap rumah gadang
itu tengah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil
kunci, tiba-tiba laki-laki tersebut kembali mendapati
dirinya menghilang dari rumah sahabatnya di Bukittinggi
itu dan kembali di kamar kosnya.
“Haahh? Aku sudah ada di kos lagi? Apa yang
sebenarnya terjadi? Aku lelah!” jerit gadis berambut
sebahu itu sembari membangunkan tubuhnya yang semula
masih terbaring di atas kasur.
Sinar matahari masuk ke dalam kamar kosnya dan
ia keluar sejenak untuk menghirup udara pagi kemudian
membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, gadis yang
menyukai olahraga itu membeli sarapan nasi uduk dekat
kosnya. Selesai sarapan, ia kembali ke kamar kos dan
melanjutkan karyanya. Ia berjuang menyelesaikan serial
komiknya sebisa mungkin. Bukan karena tenggat waktu
pengiriman naskah, namun ia merasa kejadian yang tengah
terjadi pada dirinya saat itu ada kaitannya dengan proses
karya ini. Ia berharap dengan selesainya serial tersebut di
hari ini, bisa membantunya kembali menjalani kehidupan
33 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
yang normal.
Cahaya kembali terlelap di tengah perjalanannya
menyelesaikan serial tersebut. Dan lagi, ia mendapati
dirinya kembali di depan rumah putih berpagar tinggi
tersebut. Inda yang saat itu terus menatap kearah luar dari
jendela kamarnya, langsung menghampiri sahabatnya
yang kembali hadir dalam penampilan raga Cahyo.
***
“Kamu dari mana saja? Semalam aku keluar bawa
kunci tapi kamu sudah pergi? Kamu pergi ke mana Ca?”
tanya sahabatnya panik tiada jeda karena peduli.
“Aku kembali ke kamar kosku. Tersadar di sana
sudah pagi dan aku terbangun. Rasanya lelah sekali
padahal sebelum aku tiba di sini, aku tengah tidur di sana,”
jelas laki-laki yang masih tersenga-senga bernapas itu dan
dengan mudah kali ini sahabat kesayangannya itu percaya.
“Berarti kamu akan kembali ke sini sebagai Cahyo
ketika kami terlelap di sana? Dan kamu tidak akan terlelap
sekalipun, kamu bisa sakit Ca,” ujar Inda menerka-nerka.
“Ok, kamu sekarang istirahat dirumahku di
samping saja ya. Kita lihat apakah kalau kamu tertidur di
sini, kamu juga akan kembali ke kamar kosmu?” lanjut
sahabat berbaju merah muda itu dan laki-laki tampan
itu menurutinya. Tubuhnya sangat memerlukan istirahat
sekali.
Analekta Kisah Semesta | 34
PROPERTI OF P
Satu jam berlalu dan kedua sahabat itu masih
bersama. Pemilik rumah menjaga sahabatnya sekaligus
mencari tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu
sahabatnya keluar dari masalahnya. Namun lima menit
kemudian, laki-laki tersebut menghilang dari tempatnya
semula.
***
Gadis manis itu mendapati dirinya kembali berada
dikamarkosnya.Iamengangkatkepalanyayangmenempel
di atas laptop dan kembali melanjutkan cerita serial
komik tersebut. Gadis berambut hitam bergelombang itu
berhasil menyelesaikan serial komiknya dan mengirimkan
naskahnya kepada pihak penyelenggara untuk diseleksi
dan dinilai.
Selesai dengan komiknya, ia membaringkan diri
di atas kasur dan ingin mengetahui apakah dirinya akan
kembali berada di Bukittinggi setelah ia memejamkan
mata dan terlelap. Ia terbangun keesokan hari dipagi
hari dan langsung loncat dari kasur setelah melihat jam
di dinding kamarnya. Semalaman tadi ia tidak merasa
kembali ke rumah sahabatnya dan tetap di kamar kosnya.
Pagi hari ia bangun dari tidurnya dan masih berada
di kamar kosnya. Pekerja tetap itu berusaha mengalihkan
rasa penasarannya dan bergegas membersihkan diri serta
bersiap untuk berangkat ke kantor hari itu. Sepanjang
jalan ia berpikir keras mengingat dan merangkai kejadian
sebelumnya dengan rasa penasaran semakin tinggi.
35 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Sesampainya di kantor, ia menghubungi sahabat karibnya
itu.
“Lagi apa Nda?” tanya Cahaya sesaat setelah
sahabatnya mengangkat telpon darinya.
“Di jalan Ca, mau berangkat ke toko. Gimana?”
jelas sahabatnya kemudian bertanya.
“Gak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja,” ucap
gadis yang sedang menikmati teh panas itu menutupi
maksudnya. Ia tahu jika apa yang terjadi kemarin juga
bisa dirasakan oleh sahabatnya maka si cerewet itu akan
langsung berbicara tiada henti setelah mendapat telpon
dariku. Atau bahkan ia pasti akan menghubunginya
berulang kali sampai ia mengangkat telepon dan berbicara
dengannya.
“Halah, lebay ... Baru kemarin lalu kita ketemu,”
jawab sahabat jenaka itu dengan santai.
“Ooo, iya-iya. Kita ketemu di rumahmu ya,” ujar
gadis periang itu terus mencoba menggali informasi.
“Hah rumahku? Ngarang kamu Ca. Kamu saja
sudah setahun tidak mudik. Bagaimana bisa kamu ada
dirumahku kemarin?” jelas gadis penyuka film horor itu
sambil tertawa karena merasa sahabatnya tengah bergurau.
“Katamu kita baru saja ketemu?” tanya gadis yang
kesulitan tidur itu berusaha meluruskan pemahamannya
dari informasi sebelumnya.
Analekta Kisah Semesta | 36
PROPERTI OF P
“Iya kita ketemu di video call kan? Gitu saja
kamu sudah lupa Ca ... Ca ... Kebanyakan kerjaan kamu
tuh. Istirahat. Liburan sejenak, kamu juga harus pikirkan
dirimu sekali-kali,” ucap sahabatnya yang jago masak itu
menebak dengan banyak benarnya. Dan ia mengakhiri
teleponnya.
Ia mencoba mencari tahu informasi perihal
kejadian yang ia alami di internet. Beberapa orang pernah
mengalami hal serupa dan penyebab utamanya adalah
pikiran yang berlebih. Stres. Itu pula yang tengah dialami
gadis yang mampu mengerjakan banyak hal sekaligus.
Beban hidup yang berat, ditambah waktu istirahat yang
kurang, membawanya dengan mudah lelah dan merasa
cemas karena tekanan hidup yang tiada henti menimpanya.
***
Ia memutuskan pergi ke dokter spesial kesehatan
jiwa dan dokter membekalinya setumpuk lembaran untuk
diisi terlebih dahulu. Gadis pemikir itu menuruti dan
membawa lembaran tersebut untuk ia isi di kos dan akan
ia bawa pada jadwal konsultasi berikutnya. Seminggu
kemudian, gadis yang sering memakai high heels itu
kembali berkonsultasi dengan dokter. Ia menyerahkan
setumpuk lembaran tersebut kepada sang dokter, dan
dokter menggali informasi dari pertanyaan-pertanyaan
yang harus dijawab dengan cepat dan tepat.
“Apakah Ibu mengalami sulit tidur?” tanya dokter
tersebut kepada Cahaya.
37 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Iya Dok, sebelumnya bahkan saya harus
mengonsumsi obat tidur agar bisa terlelap. Dokter di
tempat sebelumnya memberikan obat tersebut agar saya
lebih pulas dan bisa fokus dalam bekerja,” jawab gadis
yang memakai blazer putih itu apa adanya.
“Ok, baik. Saya akan mempelajari dahulu lembar
yang sudah Ibu isi. Dan untuk obat tidurnya saya anjurkan
untuk tidak dikonsumsi lagi. Coba tenangkan diri dengan
mematikan lampu saat tidur, mengurangi sinar lampu
di ruang tidur. Jauhkan diri dari ponsel dan tarik napas
dalam-dalam kemudian embuskan, lakukan paling tidak
sebanyak 3x dan berdoa. Bisa juga dibantu dengan minum
susu hangat atau teh bunga hangat sebelum tidur. Itu akan
membantu Ibu agar lebih rileks dan mudah tidur. Usahakan
tidur di bawah jam 10 malam. Dan jangan lupa berdoa
sebelum tidur agar terhindar dari mimpi-mimpi yang tidak
diinginkan,” jelas dokter dengan rinci. Ia mengiyakan dan
meninggalkan ruang kerja praktik dokter tersebut.
***
Malam hari, ia sudah bersiap untuk tidur dari jam
setengah 10 malam. Sebelum kejadian itu terjadi, ia selalu
tertidur di atas jam 1 dini hari. Gadis penyuka musik
jazz itu melakukan streaching ringan dan menyeduh
chamomile tea yang ia beli lepas dari dokter tadi. Dan
kualitas tidurnya membaik. Meski ia masih sesekali
bermimpi tentang kampung halamannya. Namun kali ini
ia bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang
nyata.
Analekta Kisah Semesta | 38
PROPERTI OF P
Dokter melalui perawat menghubunginya untuk
bisa hadir dalam agenda konsultasi besok. Dan besok
adalah hari Sabtu di mana kantornya libur. Ia bergegas
menuju RS, tempat praktik dokter tersebut.
***
“Baik Ibu, hasil dari lembar uji yang sudah Ibu
isi memang menunjukkan bahwa Ibu sedang berada
dalam tekanan dan beban pikiran yang belum coba Ibu
selesaikan. Gejala seperti itu dalam dunia kesehatan
mental disebut Sleeping Disorder. Di mana seseorang
bisa mengalami kesulitan tidur atau bahkan selalu ingin
tidur ketika suasana hati sedang tidak baik. Dan seringkali
hal ini membuat orang tersebut kesulitan membedakan
mana alam bawah sadar dengan dunia nyata,” jelas dokter
langsung pada pokok permasalahannya.
“Berbahayakah dok?” tanya gadis yang hari itu
berpakai casual sedikit khawatir.
“Berbahaya bila berlanjut karena pembiaran dan
tidak disadari sedari awal. Pilihan Ibu sudah tepat untuk
berkonsultasi pada orang yang bisa Ibu percaya untuk
membantu Ibu. Namun saya melihat ini masih ringan
sehingga saya harap bisa sembuh setelah kedatangan Ibu
hari ini,” jelas dokter mencoba menenangkan kepanikan
gadis yang memakai sneaker biru muda tersebut.
“Baik Dokter. Terima kasih,” jawabnya sambil
menghela napas dalam-dalam sedikit tenang.
39 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
***
Ia akan selalu mengingat pesan dokter. Intinya, ia
harus lebih banyak bersyukur dengan nikmat yang telah
Tuhan berikan untuknya. Bila sulit tidur, maka konsumsi
obat tidur adalah pilihan terakhir. Itupun harus selalu
dengan panduan dokter. Sebaiknya gunakan bahan natural
seperti susu hangat atau teh bunga untuk optimalisasi
memperoleh kualitas tidur yang baik.
Gadis yang sudah rindu dengan kota kelahirannya
itu lantas menghubungi keluarganya dan memutuskan
untuk mengambil cuti panjang serta menggunakan bonus
dari kantor untuk biaya akomodasinya pulang kampung
ke Bukittinggi. Di sana ia berjumpa dengan keluarga
dan sahabatnya Inda. Mereka berkeliling dan menikmati
kuliner yang sudah sangat ia rindukan. Meski banyak yang
menjual masakan serupa, namun akan berbeda cerita bila
menyantapnya langsung dari tempat asal. Sawah hijau
dan pegunungan serta udara yang masih segar, membantu
penyembuhannya lebih cepat.
Sepulang dari pulang kampung, gadis periang itu
semakin ceria karena tiada lagi beban. Meski masalah
terus saja datang. Ia berhasil menikmati hidup.
“Menikmati tidak harus enak kan? Obat pahit
mungkin tidak enak, namun kita harus bisa meminumnya
agar sembuh.” ucapnya yang telah memahami makna
menikmati hidup.
Analekta Kisah Semesta | 40
PROPERTI OF P
Enam bulan kemudian, ia mendapat promosi
jabatan karena kinerjanya yang semakin berprestasi. Meski
disayang atasan, ia juga sering menolong rekan kerja. Itu
yang membuat gadis dengan loyalitas tinggi tersebut layak
menjadi yang terbaik.
“Terima kasih Tuhan, Terima kasih,” ujar Cahaya
sambil memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya
ke atas dan tersenyum, dengan selembar kertas yang ia
peluk erat-erat.
***
Tentang Penulis
Thiari Kinasih adalah nama penanya. Pemilik zodiak libra
dan suka dengan warna biru tua ini menghabiskan waktu
dengan bekerja dan berkarya. Selain menulis, ia memiliki
hobi olahraga, travelling dan crafting. Pembaca bisa lebih
dekat dengan penulis lewat akun media sosial Instagram
@thiari­_kinasih.
41 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
BERAWAL DARI
LUKA
Oleh: Mega L
Pagi itu aku baru terbangun dari tidur, kepala
terasa berat namun aku harus bangun lebih
awal karena banyak tugas yang harus dikerjakan. Aku
berjalan menuju dapur, menyeduh segelas kopi hangat,
lalu berjalan menuju ruang tengah mengambil remote
dan menyalakan TV, berjalan mundur lalu duduk di sofa
dengan sedikit bersantai mencoba menenangkan pikiran
sebelum berangkat kerja.
“Uuuhhh … pagi yang indah,” kataku sambil
menghirup udara pagi yang segar
Analekta Kisah Semesta | 42
PROPERTI OF P
Tik … tik … tik …
Jam dinding terus berdetak berpindah arah setiap
detiknya. Aku menatap jam sembari menghitung waktu.
Tersisa satu jam sebelum berangkat kerja.
“Hm waktunya masih sedikit panjang, cukuplah
buat rehat sedikit lagi.” gumamku
Segelas kopi hangat masih ada dalam
genggamanku. Aku terdiam dengan wajah tersenyum,
menutup mata dan menyandarkan tubuh pada sandaran
sofa, mencoba meresapi cahaya mentari pagi yang
terpancar menembus kaca jendela, mendamaikan diri
dengan keadaan.
Tiga puluh menit telah berlalu, saatnya untuk
bersiap dan bergegas ke kantor. Aku berjalan melewati
gedung-gedung yang amat tinggi. Berjalan di antara
kerumunan para pekerja kantoran yang bergerak menuju
lokasi kerjanya.
Saat masuk ruangan kerja semua tampak sibuk di
meja kerjanya. Aku berjalan menuju meja kerjaku. Di atas
meja sudah banyak tumpukan dokumen yang menunggu
diselesaikan.
“Huuffthhh… sepertinya hari ini aku bakal lembur.”
Aku menghela napas pasrah dengan sedikit senyuman.
Aku mengawalinya dengan menyalakan komputer
dan mulai mengecek dokumen satu per satu. Inilah
43 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
hidupku yang begitu sederhana dan selalu mencoba untuk
menikmatinya.
Mentari mulai terbenam para pekerja satu persatu
mulai meninggalkan meja kerjanya untuk kembali pulang,
namun diriku masih bergelut dengan beberapa dokumen
dan komputer. Saat aku sedang sibuk dengan semua itu.
Tiba-tiba sekotak bekal terletak di atas mejaku. Aku
dengan penasaran menatap kotak bekal itu dan melihat
siapa yang membawanya.
“Aku dengar kamu lembur hari ini, jadi aku
bawakan bekal untukmu,” kata seorang gadis yang berdiri
di depanku dengan senyuman indahnya
“Kapan kamu datang?” ucapku kaget
“Nggak usah dibahas, kamu pasti belum makan,
ayo makan dulu aku bawakan makanan kesukaanmu,”
kata gadis itu sembari membuka bekal makanan itu
	 “Oh yah, nampaknya lemburku kali ini tak akan
jadi masalah jika sampai pagi, aku akan jadi kuat karena
makanan yang kau bawakan, hehehe...,” candaku padanya
Dia adalah Aleta gadis manis yang begitu akrab
denganku, kita sudah saling kenal sejak aku masuk di
kantor ini. Dia adalah anak direktur perusahaan ini.
Ia begitu baik dan ramah terhadapku. Aku senang
karena tak ada yang memperhatikanku di kantor melebihi
dia.
Analekta Kisah Semesta | 44
PROPERTI OF P
“Oh ya, besok pamanku akan datang ke rumah
untuk berkunjung, dia satu-satunya keluargaku yang
tertinggal, kamu mau ikut berkunjung ke rumahku?”
ajakku pada Aleta
“Baiklah,” jawab Aleta tersenyum
Malam berlalu begitu cepat. Matahari mulai terbit.
Ting… Tong …. Bel rumahku berbunyi.
“Siapa?” tanyaku, yang baru saja beranjak dari
kasur sambil mengucek mata, aku berjalan menuju pintu
masuk untuk membuka pintu.
“Eh, Paman.” Seketika mataku menjadi plong
melihat kedatangan paman.
“Bagaimana kabarmu Nak?” tanya paman padaku,
yang berjalan masuk ke ruang tengah
“Baik, Paman.”
“Oh ya, Paman ke sini karena ada tugas dinas untuk
beberapa hari, jadi boleh yah Paman nginap di rumah
kamu, nggak apa-apakan?” Paman melihatku dengan
penuh harap.
“Yah, nggak apalah Paman, Paman mau nginap
setahun juga nggak ada masalah, hehehe,” candaku pada
paman.
45 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tik … Tik … Tik.
Terdengar seseorang tengah memasukkan sandi
untuk masuk ke dalam rumahku. Aku dan paman menatap
lorong pintu masuk, dengan penuh tanya entah siapa yang
masuk.
“Kejutan … aku membawa makanan yang banyak
untuk kalian,” ujar Aleta dengan wajah ceria sembari
mengangkat rantang yang ia bawa.
“Itu siapa?” paman menoleh kepadaku dan
menunjuk Aleta
“Oh, ini Aleta teman kantorku Paman,” jawabku
yang berjalan menghampiri Aleta. “Wah, padahal aku baru
mau masak loh, tapi kamu sudah bawa makanan aja.” Aku
dengan wajah riang
“Nggak usah masak, mending kita makan sekarang,
Pamanmu pasti lapar habis perjalanan jauh.”
“Siap, ayo Paman ke sinilah Paman kita makan
bersama,” ajakku pada paman.
Suasana di ruang makan begitu ramai tak biasanya
karena sosok kehadiran Aleta dan paman yang telah aku
anggap sebagai seorang ayah setelah kepergian ayah.
Beberapa hari telah berlalu begitu cepat. Ini adalah
hari di mana paman telah selesai dalam tugas dinasnya
dan akan kembali ke kampung halaman. Hari ini aku akan
Analekta Kisah Semesta | 46
PROPERTI OF P
menyelesaikan laporan secepatnya agar aku bisa mampir
ke toko untuk memberi sedikit bingkisan untuk dibawa
paman pulang ke kampung. Aku bahagia bisa memberikan
bingkisan kepada paman. Aku bergegas ke rumah dengan
wajah yang riang, aku merasa sosok ayah yang sudah
lama pergi kini telah kembali merangkul dalam sebuah
kedamaian.
“Paman aku pulang,” kataku dengan wajah yang
ceria, masuk ke dalam rumah dan melepas sepatuku depan
rak sepatuku.
Aku berjalan menuju ruang tengah. Seketika aku
terhenti, terdiam dengan mata yang melotot, seketika
bingkisan yang ada dalam genggamanku terjatuh, raut
wajahku seketika berubah.
“Paman!” teriakku
Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju
pamanku, entah apa yang telah terjadi. Kini kudapati
paman tergeletak di lantai dengan berlumurkan darah.
Ruang tengah begitu berantakan, keramik pecah tergeletak
tak beraturan di lantai. Aku hanya bisa menangis dan
berteriak.
“Kenapa kau pergi juga meninggalkan aku
Paman!” jeritku dengan cucuran air mata yang tak lagi
bisa terbendung.
Baru lagi aku merasakan sosok kehadiran ayah,
sekarang ia telah pergi meninggalkanku. Hatiku hancur
47 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
sehancurnya. Aku tak habis pikir entah siapa yang
melakukan hal keji ini pada paman. Tragedi meninggalnya
paman sama seperti kepergian ayah di masa itu. Kini aku
benar hidup seorang diri. Aku bertekad akan menemukan
pelaku dari kematian paman dan ayah.
Kini aku dipindahkan kerja di bidang informasi
di sebuah pusat penyiaran terbesar di negara ini. Ini
menguntungkan bagiku agar mampu belajar mengolah
dan mendeteksi beberapa informasi agar aku mampu
menemukan pelaku pembunuhan keluargaku.
Tak terasa sudah sepekan aku mengarungi
pekerjaannya ini, itu berarti sudah sepekan setelah
kematian paman. Pagi ini ruang kerja dihebohkan oleh
tewasnya masyarakat setempat dengan tubuh yang telah
dimutilasi beberapa anggota bagian tubuhnya dipenuhi
dengan memar dan beberapa luka tusukan pada perut
korban. Ia harus bersiap untuk menyiarkannya segera. Para
polisi pun tengah berusaha mencari pelaku pembunuhan
itu. Aku tetap fokus pada kerjaan meski ruangan tengah
begitu ramai.
Malam itu aku pulang, berjalan dan merogoh
kantong untuk mendapatkan kunci rumahku. Di depan
rumah Aleta sudah terlihat berdiri depan pintu.
“Kamu ngapain di sini?” tanyaku padanya
“Akumenunggumupulang”jawabAletatersenyum
padaku
Analekta Kisah Semesta | 48
PROPERTI OF P
Saat hendak membuka pintu aku melihat
tetanggaku Nek Mila menatap kepada kami dengan tatapan
yang kaget, seolah-olah kami ini orang yang menakutkan.
Aku hendak menghampirinya namun karena ada Aleta
maka kuurungkan niat itu.
Keesokan paginya, aku bersiap lebih awal. Aku
masih penasaran dengan tatapan Nek Mila semalam. Aku
menghapiri rumahnya dan menanyakan soal itu.
“Nak, gadis itu tidak baik untukmu, dia orang yang
telah membunuh pamanmu, percayalah Nak,” ujar Nek
Mila menangis.
Aku sontak kaget mendengar hal itu. Tanganku
bergetar seolah tak percaya. Aku memang menginginkan
kebenaran namun mengapa kebenaran itu tampak
menyakitkan dari yang kubayangkan. Bagaimana bisa
teman yang kuanggap seperti saudara adalah orang yang
membunuh paman. Tak disangka dia yang kuanggap baik
ternyata dalang dari kematian paman.
Aku bergegas menghampiri Aleta menariknya
ke sudut kantor. Dengan mata merah penuh amarah, aku
mempertanyakan segalanya pada Aleta.
“A... aku minta maaf, aku tak sengaja.” Aleta
menatapku menangis
Namun, aku tak lagi peduli padanya. Di hari itu juga
aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, dan berencana
meninggalkan kota itu. Aku mengendarai kendaraanku
49 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
begitu laju, aku begitu kesal sampai tak memedulikan apa
pun yang melintas.
Duubbbrrraaaak….
Kecelakaan lalu lintas terjadi. Aku melihat diriku
telah tergeletak dengan berlumuran darah.
Apakah aku akan bertemu dengan pamanku?
Inikah akhir hidupku? Mataku perlahan terpejam dan aku
telah tak sadarkan diri.
Tik … Tik … Tik…
Suara detak jantung pada sebuah komputer di
ruangan rumah sakit. Aku tampak tergeletak tak berdaya
di sebuah kasur mini ala rumah sakit. Mataku perlahan
terbuka, dengan bantuan alat pernapasan di hidung dan
jarum infus yang melekat pada tangan. Aku menatap ke
langit-langit dengan wajah yang polos dan lugu. Terlihat
sosok pria berpakaian putih menghampiri.
“Syukurlah Anda telah sadar, baik kami akan
memeriksa keadaan Anda sekarang,” kata dokter.
Aku hanya terdiam dan masih bingung dengan
keadaan ini. Di mana aku, kenapa aku di sini, apa yang
terjadi padaku pertanyaan yang terlontar dalam pikiranku.
	 “Bapak tahu di mana alamat Bapak?” tanya dokter
padaku.
Analekta Kisah Semesta | 50
PROPERTI OF P
Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan lugu.
“Baiklah, Anda istirahat dulu saya akan kembali
nanti.” Dokter itu meninggalkan ruangan. Di balik pintu
terlihat dokter itu tengah bicara dengan seorang lelaki
paruh baya. Orang tua itu sesekali menatap kearahku. Aku
hanya menatapnya dalam kondisi lemah.
Keesokan harinya beberapa alat yang dipasangkan
di tubuhku telah dilepaskan.
“Dari gejala yang Anda tunjukkan kemarin, Anda
mengalami amnesia dan syukurlah itu tidak tampak parah,
jadi Anda bisa pulang hari ini, jangan terlalu banyak
memikirkan sesuatu dulu karena itu berdampak pada
kepala anda,” kata dokter itu.
Aku hanya terdiam dan menatap lelaki yang ada di
samping dokter itu.
“Ini kakek yang menolong Anda saat kecelakaan.”
Dokter meraih tangan bapak itu dan mengenalkannya
padaku.
“Nak, karena ingatanmu belum pulih maka kamu
boleh tinggal di rumah bapak untuk sementara waktu,
karena kami juga belum tahu alamatmu,” ujar kakek itu
padaku.
Aku hanya menggangguk tanda menyetujui, lagi
pula aku tak tahu harus ke mana, semua yang kulihat
tampak asing.
51 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Sesampai di rumahnya aku ditunjukkan kamarku
padanya. “Istirahatlah Nak,” katanya padaku. Aku tak
mengenalnya, aku orang asing baginya namun ia begitu
kepadaku. Aku berjalan menuju kasur dan merebahkan
diri padanya.
Keesokan paginya aku keluar rumah hendak
berjalan ke taman, kulihat kakek sedang memetik sayuran
di kebun pribadinya di samping rumah. Saat ingin menuju
padanya aku terhenti sebab melihat semut tengah melintasi
sendalku, aku tak ingin menyakitinya sehingga kubiarkan
ia melintasinya dan memakai sendalku setelah itu.
“Apa yang Kakek petik?” sapaku.
“Kakek sedang memetik buah tomat, untuk sarapan
nanti.”
“Baiklah Kek.” Kami berjalan masuk dengan
keranjang yang terisi buah tomat.
Aku tinggal bersama kakek sudah hampir beranjak
seumuran jagung. Aku menjalani hidup dengan kakek
begitu damai dan tentram. Meski perasaan sedih kadang
datang karena aku tak mampu mengingat diriku.
“Permisi.” Suara yang terdengar dari luar rumah.
Kakek bergegas membuka pintu. “Iya, ada apa?”
tanya kakek.
Analekta Kisah Semesta | 52
PROPERTI OF P
“Kami ke sini atas surat perintah penangkapan,
kami tengah mencari sosok ini,” kata salah satu polisi
sambil menunjukkan surat perintah dan sebuah foto yang
persis denganku. Kakek terkejut dan menatapku yang
tengah di dalam rumah. Polisi itu masuk dan memasangkan
borgol di tanganku.
“Ada apa ini Pak?” tanyaku kaget.
“Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan.”
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku
sebelumnya. Apakah aku orang yang seperti itu? Tanyaku
pada diri sendiri.
Aku ditahan selama beberapa hari untuk sidangku.
Dalam sel tahanan seketika dalam pikiranku terlintas
bercak darah, namun aku tidak mengerti apa maksud dari
itu.
Di ruang persidangan ini, aku pesakitan dengan
berbagai tuduhan yang kejam yang jaksa tuntutkan. Aku
yang menyiangi ikan mati saja tidak berani didakwa
melakukan pembunuhan dengan korban mutilasi?
Bagaimana bisa? Aku sempat memberontak karena aku
merasa tak pernah melakukan itu. Namun, bukti yang
ditunjukkan membuat diriku bungkam dalam sakit. Semua
bukti sangat jelas mengarah padaku. Dan saat itulah aku di
vonis penjara seumur hidup.
Saat keluar dari persidangan aku melihat sebuah
telivisi yang menayangkan berita. Kepalaku tampak sakit
53 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
sebuah bayangan tampak terlintas di kepalaku. Polisi
mengabaikan dan menyeretku masuk ke dalam sel. Saat
aku masuk sel, aku tak sengaja terbentur. Kepalaku terasa
sakit dan aku perlahan mengingat hidupku yang dulu.
Ternyata aku pernah membunuh seorang pejalan
kaki hanya karena aku kesal dan sedih saat kepergian
pamanku, kekecewaan aku lampiaskan pada orang yang
kujumpai di jalan pada malam itu. Aku memukulnya dan
menusuknya dan membagi beberapa bagian tubuhnya.
Aku mengingat hari di mana aku kecelakaan, hari
di mana aku begitu terpukul mendengar bahwa teman
baikku yang telah membunuh paman karena paman telah
mengetahui kepribadian Aleta, sehingga Aleta kesal
saat tahu paman ingin memberitahukan itu padaku. Saat
itu juga amarahku berujung pada kematian Aleta yang
kupisahkan tangannya dan kulemparkan ke dasar jurang
yang jauh dari pemukiman. Darah yang ada pada tubuhku
saat kecelakaan bukanlah sepenuhnya darahku namun
sebagian darinya adalah darah dari Aleta.
Lukaku telah melayangkan nyawa seseorang.
Amarahku membuatku seperti psiko yang tak terkendali.
Sedih, kecewa, dan rasa sakit yang kualami membuat
diriku bertindak jahat dan semena-mena. Aku menangisi
perbuatan itu. Semua berawal dari luka dan lukaku telah
bertindak sejauh ini.
Analekta Kisah Semesta | 54
PROPERTI OF P
MISTERI BAJU
WARNA MERAH
Oleh: Noviendra
“Bagaimana, apa kalian setuju?” tanya Arya pada
kami.
“Kamu yakin kita akan ke tempat itu lagi,
setelah peristiwa KKN kemarin, salah
satu anak Fakultas MIPA kesurupan?” tanya Bimo balik.
“Kalo masalah itu, karena si Mela aja yang suka
bengong, makanya jadi mudah kerasukan hal-hal aneh.”
Arya mencoba meyakinkan.
55 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Jadi kita akan berapa lama berkemah di sana?”
tanyaku.
“Lima hari, bagaimana?” Arya menawarkan pada
kami.
“Okelah kalau begitu.” Bimo menyetujui,
sedangkan yang lain mengangguk tanda setuju. Aku
sebenarnya tidak ingin ikut. Ingin istirahat saja, karena
setelah kegiatan KKN di Kabupaten Nganjuk beberapa
waktu lalu, aku masih merasa lelah.
“Bel, kamu kenapa, kamu nggak papa, kan?”
“Eh, oh nggak papa, kok,” jawabku seraya
menutupi kegundahanku.
Aku Bella mahasiswa akhir Universitas
Bimantara jurusan sastra. Aku, Vika, Arya, Bimo,
Bagas, dan Wawan bersahabat, kami satu Tim Mapala
di kampusku. Mendaki adalah hobiku yang kulakukan
bersama mereka, tapi entah kenapa aku tidak terlalu
bergairah atas kegiatan yang diusulkan Bimo kali ini.
Hujan deras mengguyur kota ini semalamam.
Jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas. Namun,
rasa kantuk masih belum menyerangku. Aku masih saja
berkutat dengan tulisan novel perdanaku yang sempat
tersendat karena banyaknya kegiatan kampus akhir-
akhir ini. Sesaat setelah menyeruput kopi, aku teringat
akan rencana berkemah di Desa Kebonagung Kabupaten
Nganjuk, tepatnya di Goa Ndalem.
Analekta Kisah Semesta | 56
PROPERTI OF P
“Ah, anak-anak tuh gak ada capek-capeknya,
sih, istirahat kenapa, nggak usah deh berkemah dulu,”
protesku. Memang akhir-akhir ini kegiatan berkemah
jarang kita lakukan mengingat banyaknya kegiatan
kampus. Akhirnya aku memutuskan untuk segera tidur,
karena harus menyiapkan energiku untuk berkemah dua
hari lagi. Kumatikan laptopku. Baru saja aku merebahkan
tubuh di tempat tidurku, tiba- tiba terdengar suara benda
jatuh.
“Astaghfirullah al-‘azim.” Aku terkejut, lalu
pelan-pelan menuju ke sumber suara itu, yaitu arah
jendelaku. Aku membuka gorden jendela kamarku. Ah,
ternyata aku lupa tidak menutup jendela kamar, dan di luar
angin kencang. Aku segera menutupnya. Lalu kembali ke
tempat tidurku.
***
Hujan semalam masih menyisakan rintik hingga
pukullimapagiini.Mamamengetukpintukkamarku. “Bell
... Bella, bangun sayang.” Suara mama membangunkanku.
“Iya, Ma.” Aku menggeliat.
“Ayo, bangun shalat Subuh,” perintah Mama
setelah masuk ke dalam kamar.
“Oh, Bella sedang datang bulan, Ma.”
57 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Oh, begitu. Oh, iya apa kamu sudah menyiapkan
bekal kampingmu? Mama juga sudah masak makanan
kering buat bekal kampingmu besok.”
“Iya, Ma, bentar Bella siap-siap.”
“Ya udah, sana mandi,” perintah Mama.
“Iya, Ma,” jawabku sambil berjalan malas ke
arah kamar mandi.
Aku mengoles sepotong roti dengan selai stroberi
kesukaanku dan berkata, “Ma, aku tuh sebenernya malas
pergi kamping.” Aku menumpahkan kegundahanku pada
Mama.
“Emang kenapa?” tanya Mama.
“Entahlah, Ma. Bella kali ini ingin istirahat.”
“Ya udah, bilang saja sama teman-teman kamu.”
***
“Iya, Bell, ada apa?” Suara Vika di ujung telepon.
“Kamu udah siap-siap, belum? Duh banyak juga ya yang
harus dibawa,” kata Vika nyerocos. “Bel kok diam aja,
sih.”
“Eh, udah sih, em ... Vik, aku kayaknya nggak
jadu ikut pergi kamping, deh,” ucapku.
“Loh kenapa?” tanya Vika penasaran.
Analekta Kisah Semesta | 58
PROPERTI OF P
“Aku hanya ingin istirahat,” jawabku.
“Ayolah, Bell, ikut aja ya, kita, kan lama nggak
pernah kamping,” rajuk Vika.
“Ah, aku tahu kamu nggak suka lokasinya, ya?”
tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaan Vika.
“Ayolah Vik ikut aja, ya, toh juga nggak lama
kok, demi aku,” pintanya.
“Em ... iya deh, demi kamu.”
	 “Nah, gitu dong.” Vika terdengar antusias.
“Eh, nanti ke rumahku, ya, bantuin aku packing.”
“Siaplah,” jawab Vika
Beberapa jam kemudian Vika datang ke rumahku.
Aku sering sekali meminta bantuan Vika mengemasi
barang-barang setiap pergi kamping. Alasannya karena
Vika sangat detail dan rapi. Dia pintar mengemas barang-
barang, dari dua tas bisa menjadi satu. Maka dari itu aku
sangat mengandalkan Vika.
***
Tibalah pada hari keberangkatan. Kami
melakukan perjalanan pertama melalui udara, dari
Jakarta ke Malang. Kemudian singgah di hotel semalam.
Setelah melepas penat, aku dan yang lain melanjutkan
perjalanan darat menuju kota Nganjuk kurang lebih tiga
59 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
jam perjalanan. Kami beristirahat sebentar, makan di
rumah makan yang menyediakan menu rawon, makanan
khas Jawa Timur yang jarang kami temui di Jakarta. Lalu
menuju Desa Sawahan yang terletak lima belas kilo meter
dari selatan Kota Nganjuk.
Sesampainya di sana, kami mampir sebentar
di rumah kepala desa untuk meminta izin. Kami juga
memperkenalkan diri dan mencari informasi tentang Goa
Ndalem.
“Oh, jadi Mas-Mas sama Mbak-Mbak ini dari
Jakarta, ya?” tanya Bapak kepala desa.
“Inggih, Pak?” jawab Bimo dengan logat Jawa.
“Oh, Masnya bisa bahasa Jawa juga, ya?” tanya
Pak kepala desa dengan raut senang mendengar jawaban
Bimo menggunakan Bahasa Jawa.
“Iya, Pak, saya lahir di Yogya,” jawab Bimo
sambil tersenyum.
“Oh, makanya bisa bahasa Jawa.” Sambil
mengobrol santai, Pak Kepala Desa menceritakan sedikit
tentang Goa Ndalem. Bahwa sampai sekarang bukit Goa
Ndalem masih dikeramatkan dan dianggap sebagai tempat
suci oleh masyarakat setempat. Setidaknya terdapat empat
goa di sekitar kawasan bukit itu. Goa Macan, yang menurut
cerita turun-temurun memiliki panjang terowongan yang
mampu tembus sampai wilayah Kediri. Lalu ada Goa
Topo, yang digunakan sebagai pertapaan. Goa Payung
Analekta Kisah Semesta | 60
PROPERTI OF P
yang bentuknya serupa dengan paying. Terakhir, Goa
Kucur yang konon pada masa lampau digunakan Raden
Ayu Kaji Siti Kalimah dan para cantreknya sebagai tempat
wudu. Begitu sekilas yang diceritakan oleh Pak Kepala
Desa.
“Pesan saya, hati-hati, ya, jangan melakukan hal-
hal yang dilarang, nanti di sana akan berjumpa juru kunci
namanya Mbah Ngadiro,” pesan Pak kades pada kami.
***
Sesampainya di lokasi, benar saja kami bertemu
dengan Mbah Ngadiro. Mbah Ngadiro menunjukkan
tempat paling nyaman untuk mendirikan tenda. Namun,
tempat itu banyak sekali ditumbuhi rerumputan liar. Aku
melihat ada bekas perapian yang sepertinya sudah lama.
Mbah Ngadiro membantu kami membersihkan rerumputan
liar. Setelah rerumputan bersih, beberapa anak laki-laki
segera mendirikan tenda karena hari sudah mulai gelap.
Aku dan Vika duduk di atas tikar sambil menunggu. Arya
mencari ranting-ranting untuk perapian, sebenarnya kita
sudah membeli kayu bakar di desa, ranting-ranting untuk
persediaan perapian.
Setelah tenda berdiri, aku dan Vika mamasukkan
barang-barang di tenda. Demikian juga dengan anak
laki-laki. Saat aku melongok ke luar tenda untuk melihat
suasana, kulihat Arya berdiri membelakangi tenda Bagas
dan Wawan. Lalu aku keluar tenda untuk menyusulnya,
saat aku mau melangkah dia sudah tidak ada.
61 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Wan, mana korek apinya.” SuaraArya terdengar.
Kulihat ia keluar dari tendanya.
Hah kenapa Arya secepat itu berpindah dari
belakang tenda ke tendanya, ya. Batinku.
“Bell, ngapain kamu bengong?” Vika menepuk
pundakku dari belakang.
“Eh kamu ngagetin aja,” jawabku yang masih
bertanya-tanya.
“Yuk, Bell kita buat makan malam,” ajak Vika.
Aku mengikuti dia dari belakang, lalu kita memasak mie
mnstan.
Setelah makan malam tiba-tiba Vika ingin buang
air kecil. “Bell antar aku, yuk, udah nggak tahan nih, mau
pipis,” ucap Vika sambil meringis.
“Yuk,” jawabku.
“Aku antar, deh.” Arya menawarkan diri untuk
mengantar kami.
“Nggak usah,” jawab Vika seraya bergegas
mendahuluiku. Tak jauh dari tenda memang ada kamar
mandi yang cukup bersih.
“Duh, cepat sekali si Vika jalan,” runtukku.
“Mana dia ....”
Analekta Kisah Semesta | 62
PROPERTI OF P
Aku kehilangan jejaknya. Dari tempatku berdiri,
kulihat kamar mandi di sana, aku pun menuju ke tempat
tersebut. Setelah aku dekati ternyata itu bukan kamar
mandi yamg kami tuju sebelumnya, tapi sebuah rumah
dengan pelataran cukup luas dan banyak ditumbuhi
tanaman. Rumah khas Jawa dengan style pintu yang lebar.
Perasaan takut mulai menjalar, aku memasuki pelataran
rumah itu, berharap aku menemukan Vika di sana.
“Warsih akhirnya kamu pulang.” Seorang laki-
laki tiba muncul di sampingku.
“Hah? Aku bukan Warsih,” jawabku yang masih
terkejut
Aku membalikkan badan, tapi kakiku serasa susah
bergerak. Aku bergeming. Laki-laki itu mendekatiku, lalu
menggandeng tanganku menuntun masuk ke dalam rumah
khas Jawa itu.
“Warsih kamu ke mana saja? Kamu cantik
sekali. Aku selalu menunggu kedatanganmu,” ucapnya
sembari menuntunku duduk di kursi jati kuno. Aku masih
terbengong-bengong.
Laki-laki itu membuka tudung saji meja makan.
Harum aroma pepes di atas meja menusuk hidungku dan
satu lagi menu tumis daun singkong dan teri. Makanan
itu membuat isi perutku memberontak, rasa lapar pun
menghampiriku.
63 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Warsih, kamu pasti sudah lapar. Aku sudah
menyiapkan makanan untukmu, ini makanan kesukaanmu,
Warsih,” kata laki-laki itu sembari memberikan sepiring
nasi untukku.
Namun, meskipun perut ini terasa lapar, aku tidak
mau memakannya. Aku merasa ini aneh. Aku tidak tahu
siapa dia.Aku ingin pergi dari rumah itu tapi kakiku benar-
benar terasa berat. Tiba-tiba dia menyodorkan suapan nasi
ke mulutku. Aku hanya menggeleng, dan dia memaksa.
Aku pun meronta, seketika aku bisa membuka suara. Aku
berteriak sekuat tenaga.
***
“Bella, Bella, bangun, akhirnya kami
menemukanmu.” Seseorang mengguncangkan tubuhku.
Bella, Bella siapa pikirku.
“Bella, kamu nggak papa.” Seorang pemuda
menanyakan keadaanku. Aku berada di sebuah tenda, aku
tidak mengenal orang-orang yang mengelilingiku. Lalu
aku mendengar seseorang mengatakan sebaiknya aku di
bawa ke rumah Pak Kades.
“Mas Arya, sepertinya Mbak Bella mengalami
sesuatu yang tak kasat mata.” Sosok sepuh memberi saran.
“Nanti di sana kita bakal tahu apa yang terjadi sama Mbak
Bella, biar Pak Kades nanti yang menanganinya,” jelasnya
lagi.
Analekta Kisah Semesta | 64
PROPERTI OF P
“Iya, Mbah, bagaimana baiknya,” kata salah satu
laki-laki pasrah.
Sesampainya di rumah Pak Kades, aku masih
bengong dan benar-benar tidak ingat apa-apa. Sore itu aku
berada di sebuah gubuk tua dengan pakaian serba merah
menyala. Setelah mendengar cerita dari orang-orang yang
membawaku, konon memakai baju merah sangat dilarang
di tempat itu. tapi entahlah aku sangat menyukai pakaian
yang aku kenakan ini, dress lengan panjang berwarna
merah menyala.
“Bella, Bella, kamu masih ingat aku, kan?” tanya
seorang perempuan di hadapanku. “Aku Vika, Bell, itu
Wawan, Bimo, Bagas dan Arya. Apa kamu masih tidak
ingat juga?” Aku hanya menggelengkan kepala. “Kami
mencarimu seharian, lalu kami menemukanmu tergeletak
di depan gubuk tua.” Perempuan itu menjelaskan
kronologinya.
“Bell aku ganti bajumu, ya. Baju yang kamu pakai
ini sangat lusuh, dan aku tidak ingat kamu membawa dress
ini, padahal seingatku kamu memakai jaket merah,” kata
perempuan itu. Aku menggeleng tanda aku tak mau ganti
baju.
“Mbak Bella masih belum ingat, Mbak?” kata
laki-laki yang mereka sebut Pak Kades.
Pak bagaimana bisa ada kejadian seperti ini?”
tanya laki-laki bernama Arya kepada Pak Kades.
65 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Sebenarnya Mbak Bella mendatangi gubuk tua
yang dilihatnya sebuah rumah Jawa. Rumah itu milik
seorang laki-laki bernama Lenggono. Suami dari Warsih
yang bunuh diri setelah istrinya diperkosa oleh orang
Belanda. Dengan setia Lengono menunggu kedatangan
istrinya selama bertahun-tahun, pada akhirnya dia pun
bunuh diri setelah mendengar kematian Warsih yang
lama baru diketahuinya.” Seksama mereka mendengarkan
cerita Pak Kades.
“Namun, beruntung Mbak Bella tidak masuk ke
dunianya, ini mungkin karena Mbak Bella rajin ibadah dan
puasa Senin Kamis, apa betul begitu?” tanya Pak Kades.
“Iya, sih, Pak, Bella memang rajin ibadah dan
puasa Senin Kamis,” jawab perempuan bernama Vika.
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Entah apa yang
sudah terjadi, saat membuka mata kudengar suara Vika.
“Syukurlah kamu sudah siuman Bell, kamu ingat aku,
kan?” tanya Vika penuh harap.
“Vika ….” Aku langsung memeluknya. “Aku
pusing banget, Vik.” Aku menangis. Entahlah aku merasa
sangat lelah.
“Kamu istirahat saja, besok kita kembali ke
Jakarta.”
Pak Kades dan Mbah Ngadiro membantu
persiapan kami pulang ke Jakarta. Sebagian barang-barang
dikirim. Entah dengan apa kita membalas kebaikan Pak
Analekta Kisah Semesta | 66
PROPERTI OF P
Kades dan Mbah Ngadiro, mereka sangat baik sekali.
Setiba di Jakarta, Mama menjemput kami di
bandara. Terlihat Mama sangat khawatir kepadaku.
“Sayang, kamu pulang juga, kamu gak papa kan?”
tanya Mama sambil memelukku. Ternyata Mama sudah
mendengar semua dari Vika. “Kalian semua baik-baik
saja, kan?” tanya Mama pada yang lain.
“Kami semua baik, Tante,” jawab mereka
kompak.
“Syukurlah.” Mama menghela napas lega.
Akhirnya aku bisa melepaskan penat di kamarku
tercinta. Tempat paling nyaman untukku. Rupanya
aku ketiduran, saat melihat jam dinding waktu sudah
menunjukkan pukul satu dini hari. Aku teringat novelku,
tapi untuk menyelesaikan malam ini rasanya tak sanggup.
Aku masih sangat lelah.
Terdengar suara jendela kamarku tertiup angin.
Jendelaku terbuka? Apa Mama tidak menutupnya?
tanyaku pada diri sendiri.
Aku memang tidak sempat mengeceknya
sebelum tidur, karena tertutup dengan gorden. Lalu aku
menuju jendela untuk segera menutupnya. Saat aku
hendak menutup jendela yang menghadap jalan raya,
kulihat sosok laki-laki berjalan ke arahku. Laki-laki itu
terlihat tidak asing, tapi aku tidak mengingatnya. Dia terus
menatapku. Aku segera menutup jendela.
67 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Belum selesai rasa terkejutku, aku melihat dress
berwarna merah di lemariku yang pintunya sedikit terbuka.
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
***
Tentang Penulis
Noviendra adalah nama pena dari Novie Indra Purwandari,
lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 6 November. Bagi
perempuan penyuka warna pink dan ungu ini, menulis
adalah ungkapan rasa, karena karya yang dihasilkan
membuatnya bahagia. Ia menulis apa pun yang
membuatnya bahagia. Harapannya semoga bisa membawa
kebahagiaan kepada siapa saja yang membaca tulisannya.
Analekta Kisah Semesta | 68
PROPERTI OF P
I AM BUCIN
Oleh: Grahita Rizki
	
Ardy tidak sabar menunggu waktu pulang
kantor, setiap menit dia melihat jam yang
melingkar di tangannya. Ketika waktu menunjukkan tepat
pukul 17.00 WIB, dengan terburu-buru dia merapikan
dokumen-dokumen yang berserakan di meja lalu dengan
segera keluar ruangan menuju parkiran sepeda motor.
	 “Mau ke mana bro, kok buru-buru banget?” tanya
Satya, sahabat sekaligus rekan kerja Ardy di kantor.
Mereka sudah berteman sejak masih kuliah, sampai
sekarang menjadi sama-sama menjabat senior manajer di
kantor mereka.
69 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Biasalah pulang, udah kangen ketemu bini,”
jawab Ardy sambil nyengir kuda.
	 “Aduh yang bucin sama istri tercinta,” ledek Satya
	 “Iya dong, harus itu. Sepuluh tahun diperjuangin,
sekarang sudah dapet gak mungkinkan dicuekin, harus
makin cintalah.”
	 “Hehehe iya iya percaya. Langsung pulang apa
mampir dulu?”
	 “Mampir supermarket dulu, tadi bini gue nitip
belanja sayur.”
“Wah luar biasa lo bro, udah bucin masih mau-
maunya disuruh belanja sayur.” Satya tertawa sambal
menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat
perubahan sahabatnya sejak menikah.
Dulu sebelum menikah, Ardy terkenal sebagai
orang yang cuek. Wajah tampan, body bak peragawan, tapi
senyumnya mahal. Banyak cewek-cewek yang terang-
terangan ingin mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun
yang dilirik oleh Ardy.
Ternyata dia sudah memiliki kekasih sejak masa
kuliah dan mereka pacaran jarak jauh sudah delapan
tahun karena Ardy menempuh kuliah di Jogja, sementara
kekasihnya berada di ibu kota. Waktu yang cukup lama
untuk berpacaran apalagi dengan jarak yang memisahkan
mereka. Sekarang setelah menikah sikap Ardy berubah
Analekta Kisah Semesta | 70
PROPERTI OF P
180 derajat, dia lebih mudah senyum dan ramah. Tetapi
tingkat kebucinannya pada sang istri luar biasa.
“Ya kasian bini gue lah Sat, udah capek-capek
beresin rumah, masak, kalau masih harus keluar belanja
juga. Udah dulu ya bro, gue duluan,” pamit Ardy pada
Satya dan bergegas mengambil sepeda motornya.
“Yoi, ati-ati bro,” jawab Satya
***
“Assalammualaikum, Dek,” salam Ardy
saat masuk rumah sambil menenteng tas berisi sayur
belanjaannya tadi.
“Waalaikum salam Bang,” Ranti menyambut
suaminya dan mencium tangan Ardy. “Capek ya Bang?
Maaf ya udah ngerepotin belanja sayur.”
“Gak repot Dek, cuma belanja sayur aja, kan
sekalian lewat tadi dari kantor.” Ardy mengusap pelan
puncak kepala Ranti dan mencium keningnya dengan
mesra.
“Panas ya Bang di jalan? Keringetnya sampai
banyak banget gini. Baju Abang sampai basah keringat.
Cepetan mandi deh Bang, biar gak masuk angin.”
“Tiap hari juga gini Dek, biasa aja.” Ardy
melangkah ke dapur dan mengambil air putih dingin di
kulkas, langsung diminumnya untuk menghilangkan rasa
71 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
haus.
“Abang sih gak pernah mau bawa mobil. KanAdek
jarang pergi, mobilnya jadi nganggur kan.”
“Gak papa lah Dek. Mobil biar di rumah, jadi kalau
Adek mau pergi-pergi gak kepanasan. Lagian kalau Abang
ke kantor naik motor bisa lebih cepet, kalau naik mobil
males macetnya.” Ardy memang sengaja memilih sepeda
motor untuk aktivitas hariannya. Dia tidak tega kalau
istrinya harus keluar rumah dengan motor dan kepanasan.
“Lagian nanti kulit Adek terbakar matahari,
sayang dong kulit halus mulus gini kalau banyak kena
debu. Apalagi wajah cantik ini,” jawab Ardy lagi sambil
mencubit gemas pipi dan hidung mungil Ranti.
“Ih Abang genit, udah mandi sana, bau keringet.”
“Bau tapi suka kan?” Ardy senang menggoda
istrinya.
“Iya iya, gak cuma suka tapi cinta,” kata Ranti
dengan malu-malu
“Idih istri Abang, masih malu-malu aja sama
suaminya nih. Aku cium lho ya.” Ardy memajukan
bibirnya hendak mencium Ranti.
“Gak mau Abang bau.” Ranti berlari menghindar
sambal tertawa.
Analekta Kisah Semesta | 72
PROPERTI OF P
Ardy tertawa gemas melihat tingkah istrinya.
Sejak menikah Ardy selalu ingin cepat pulang dari kantor.
Rasanya bahagia disambut senyum manis istrinya, rasa
lelahnya setelah bekerja seharian langsung hilang .
***
	 Selesai mandi Ardy dan Ranti menikmati makan
malam sambal berbincang ringan, membicarakan apa saja
yang mereka lakukan hari ini, selesai makan Ardy dengan
sigap membereskan bekas alat makan dan mencucinya.
	 “Bang, biarAdek aja yang nyuci.Abang kan capek,
istirahat aja.” Ranti kasihan melihat Randy yang sudah
capek seharian bekerja masih mau membantu pekerjaan
rumah.
	 “Gak papa Dek, cuma nyuci dikit kok.”
	 Selesai mencuci piring Ardy menyusul Ranti
duduk di sofa ruang keluarga menonton acara TV sambil
menikmati teh hangat dan kue hasil karya sang istri.
Dipandanginya wajah Ranti, tak pernah ada rasa bosan
memandang wajah cantik dan lembut itu. Walaupun
mereka sudah menikah dua tahun, tetapi rasanya seperti
baru kemaren mereka melakukan akad nikah. Pelan-
pelan didekatinya sang istri, tangan kanannya memeluk
pinggang Ranti dan disusupkannya wajahnya ke ceruk
leher Ranti.
	 “Eh kenapa Bang?” tanya Ranti yang terkejut
dengan sikap suaminya.
73 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Kangen,” jawab Randy dengan manja
	 “Lah kan tiap hari ketemu, pisahnya cuma delapan
jam aja tiap hari.” Ranti merasa lehernya geli terkena
embusan napas dari hidung Randy.
	 “Tapi masih kangen. delapan jam itu lama
lho, Yang.” Randy semakin mengeratkan pelukannya
kepinggang Ranti dan mengusap-usapkan wajahnya ke
dada Ranti, seperti bayi yang mau menyusu.
	 “Geli ih Abang.” Ranti tertawa geli sambal
berusaha menjauhkan wajah Randy. “Kayak bayi aja
ngusep-ngusep gini.”
	 “Biarin, mumpung belum ada anak, puas-puasin
manja-manja ke sayangku. Nanti kalau sudah ada anak,
pasti kalah bersaing.”
	 “Bang sudah dua tahun kita nikah tapi aku masih
belum hamil. Abang gak papa?” Tiba-tiba Ranti menjadi
sedih, mengingat dirinya belum juga hamil, padahal tiap
malam mereka tidak pernah absen berusaha.
	 “Ya gak papa lah Dek. Kan Abang nikah sama
Adek karena Abang cinta dan sayang sama Adek, bukan
karena pengen punya keturunan. Tapi kalau sama Allah
nanti kita diberi kepercayaan seorang anak, itu namanya
rejeki.”
Analekta Kisah Semesta | 74
PROPERTI OF P
	 “Tapi Adek suka sedih kalau pas kumpul sama
temen-temen, mereka nikah belakangan tapi sudah pada
punya anak, ada yang lagi hamil, malah ada yang anaknya
sudahdua,”jawabRantisedih.Sebagaiperempuanpastilah
ingin memiliki anak, merasakan hamil dan melahirkan.
	 “Yang sabar ya cinta, nanti pasti ada waktunya kita
diberi anak. Mungkin sekarang Allah kasi kita kesempatan
pacarandulu,kan kemaren-kemarenkitagakpernahbener-
bener pacaran soalnya LDR-an terus.” Ardy mencium
kening Ranti sambal membelai pelan lengannya, memberi
rasa nyaman, berharap belaiannya dapat menghilangkan
rasa risau di hati Ranti.
	 “Sekarang dari pada sedih terus, yuk usaha bikin
anak lagi.” Ardy mengerlingkan matanya genit kepada
Ranti dan menarik tangan Ranti lembut untuk berdiri dari
sofa, menuntunnya ke kamar.
	 “Ah kalau itu sih emang hobinya Abang.” Ranti
mencubit lengan Ardy manja yang hanya dibalas dengan
tawa oleh Ardy.
***
	“Hei bro, buru-buru pulang lagi?” sapa Satya
kepadaArdy yang sedang berjalan tergesa ke arah parkiran
sepeda motor.
	 “Iya nih bro, Bini gue lagi datang bulan. Dari pagi
ngeluh perutnya sakit. Gue kepikiran terus, gak tega,”
jawab Ardy tanpa mengurangi kecepatan jalannya.
75 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Trus mau lo bawa ke dokter?”
	 “Nggak, cuma mau gue bikinin rebusan air jahe
kunyit hangat. Makanya ini buru-buru pulang mau mampir
beli bahannya dulu sama pembalut.”
	 “Buset dah, pembalut segala lo yang beli?” Satya
terkejut mendengar jawaban Ardy.
	 “Iyalah, kan buat bini sendiri. Gue udah sering beli
kok. Merk sama ukurannya juga udah hafal,” jawab Ardy
santai, seakan itu adalah hal biasa untuk para suami.
	 “Gile loe bro, bener-bener bucin sejati. Hahaha”
Tawa Satya dengan keras sampai membuat beberapa orang
yang ada di lobi kantor melihat ke arah mereka.
	 “Emang gue cinta mati sama bini gue. Kenapa,
masalah buat lo?” jawab Ardy dengan senyum yang
merekah diawajah tampannya, membuat para kaum hawa
yang ada di sekitar mereka memandang takjub akan
ketampanannya. 	
	 “Iya iya, serah lo deh.”
	 “Yuk ya bro, sampai besok.”
	“Bye. Ati-ati lo di jalan, ingat bini di rumah
nungguin.” Ardy menjawab dengan memberikan tanda
jempol.
***
Analekta Kisah Semesta | 76
PROPERTI OF P
	 “Assalammulaikum Dek, masih sakit perutnya?”
tanya Ardy pada Ranti yang sedang berbaring miring di
Kasur sambal memeluk perutnya.
	 “Masih Bang.”
	 “Nih, tadi Abang sudah buatin rebusan air jahe
kunyit, buruan diminum mumpung masih anget.” Ardy
membantu Ranti duduk dan memberikan gelas berisi air
rebusan jahe kunyit.
	 “Kapan bikinnya Bang?”
	 “Tadi sampai rumah langsung bikin”
	 “Makasih ya Bang.” Ranti meminum pelan-pelan
air rebusan jahe kunyit buatan Ardy, ada rasa hangat
diperutnya membuat rasa sakitnya agak berkurang. Setelah
meminum setengah gelas, ditaruhnya gelas itu di nakas
sebelah Kasur.
	 “Bang.” panggil Ranti
	 “Apa Dek?” tanya Ardy yang terus memandang
wajah pucat istrinya karena menahan sakit. Dia benar-
benar tidak tega melihat istrinya sakit.
	 “Peluk” Ranti ingin rasanya bermanja-manja
dengan suaminya kalau lagi sakit.
	 “Iya sini Abang peluk, mau dipijit juga gak?”
77 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Hm.” Ranti mengangguk, sambil merebahkan
badannya di kasur. Ardy mulai memijit pelan punggung
Ranti, dari pundak sampai kaki, naik lagi kepundak.
Lama-lama terdengar embusan napas istrinya yang teratur
menandakan bahwa istrinya sudah tertidur. Dengan
perlahan diselimuti tubuh istrinya sampai ke pundak.
Kemudian dia mandi, setelah badannya terasa segar, dia
membaringkan badannya di samping sang istri dan masuk
ke dalam selimut. Dipeluk lembut pinggang istrinya
sambal mengusap pelan punggungnya, berharap bisa
mengurangi rasa sakitnya.
	 “Cantik banget sih istri Abang ini, gak bosen
liatnya. Cinta banget deh Dek, semoga kita bisa menua
bersama ya.” Ardy bermonolog dengan dirinya, perlahan
dicium kening istrinya, turun kemata, lalu ke pipi dan
terakhir kebibir mungil kesukaannya. Perlahan dia pun
terlelap sambil tetap memeluk sang istri.
	
***
Tentang Penulis
Grahita Rizki dengan nama pena Hita Cahaya, membaca
adalah hobinya sejak SMP, semua jenis buku dibaca
terutama yang bergenre romance. Mulai suka menulis
cerita fiksi, saat duduk di SMA karena dorongan dari guru
Bahasa Indonesia. Sudah beberapakali menulis antologi
baik fiksi maupun nonfiksi serta mengikuti beberapa
komunitas menulis.
Analekta Kisah Semesta | 78
PROPERTI OF P
	
PLAYBOY CAP
DURIAN
Oleh: Ulul Ilmi Arham
Matahari sudah benderang saat Sigit
menampakkan batang hidungnya di teras
rumah Mimi. Pemuda itu hanya mengenakan kaus
kedodoran dan celana pendek. Rambutnya yang gondrong
pun masih berantakan. Ia membawa setangkai bunga
berwarna kuning yang dipetik di pinggir jalan tadi.
Pantang baginya datang ke rumah kekasih hati tanpa
membawa cinderamata. Namun, bukan sambutan hangat
yang didapat melainkan wajah murung dan kesal tatkala
gadis itu membuka pintu.
79 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Kamu kalo lagi marah, kok tambah cantik, sih?”
tanya Sigit sambil menyodorkan bunga ke hadapan Mimi.
Dia tidak tahu apa gerangan penyebab Mimi murung hari
ini.
“Gombal!” keluh gadis yang masih memanyunkan
bibirnya itu. Ia hanya melengos kembali ke dapur dan
mengabaikan pujian Sigit.
Mimi sedang perang dingin dengan Sigit. Sudah
satu tahun terakhir ini ia dijanjikan akan dinikahi. Awal
tahun lalu, pernikahan mereka terpaksa ditunda karena
korona melanda. Pertengahan tahun, lagi-lagi pernikahan
tidak boleh diselenggarakan karena keluarga Sigit baru
saja kemalangan. Awal tahun ini, entah apalagi alasan
yang akan diberikan pemuda slengehan di hadapannya.
Mimi mulai gerah dengan omongan orang tuanya
yang sekarang menentang hubungannya dengan sang
playboy cap durian itu. Mereka meragukan keseriusan
Sigit untuk meminang putri kesayangannya. Mereka
juga sudah berniat menjodohkan Mimi dengan salah satu
anak kenalan jika sampai pertengahan tahun ini tidak ada
kejelasan. Ya, mereka khawatir putrinya cinta buta dan
menghabiskan masa muda menyimpan harap pada sang
playboy tanpa benar-benar dinikahi.
Bukan tanpa alasan semua orang menjulukinya
playboy cap durian. Sigit memang candu. Terkenal bisa
menaklukkan banyak gadis dengan mulut manis dan paras
tampan. Setelah berpisah pun, banyak yang gagal move
Analekta Kisah Semesta | 80
PROPERTI OF P
on dari Sigit karena masih terkenang masa-masa indah.
Sebagaimana buah durian, aromanya yang menggoda akan
selalu melekat walaupun buahnya sudah habis dinikmati.
Mimi awalnya bersyukur bisa pacaran dengan
Sigit. Ia sungguh tidak percaya tatkala laki-laki itu
mengetuk pintu rumahnya dua tahun yang lalu dan
menyatakan cinta. Tidak pernah terlintas di pikiran Mimi
bahwa laki-laki ini menyimpan perasaan untuknya. Mimi,
gadis chubby itu bahkan tidak menyangka ada seorang pria
yang menyukai dirinya. Ia jauh sekali dari definisi cantik.
Ia selalu merasa rendah diri dan tidak pantas bersanding
dengan Sigit. Namun, ia juga tidak menampik bahwa
lambat laun rasa sayang itu tumbuh juga.
Hanya saja, Mimi tidak tahu dengan perasaannya
terhadap Sigit sekarang. Apakah ia masih cinta atau sudah
menyerah dengan hubungan yang penuh tanda tanya ini.
“Yah, aku susah payah memetiknya. Kamu tega
menolak bunga yang indah ini? Ntar dia nangis, lho.”
Pemuda malah itu bernyanyi dan menggoda Mimi.
Menempelkan kelopak bunga yang baunya menyengat itu
ke kulit mulus gadisnya.
“Kamu tahu nggak sih itu bunga apa?” tanya Mimi
sinis. Ia tidak paham, mengapa pacarnya ini bodoh luar
biasa. Laki-laki ini sungguh tidak tahu atau bermaksud
menertawakan hubungan mereka.
81 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Bunga cintaku padamu, dong,” gombal Sigit lagi.
“kuning merekah laksana mentari pagi.”
“Itu bunga tahi ayam! Bunga tembelek. Kamu
nyamain aku sama kotoran ayam?” tanya Mimi setengah
berteriak kesal.
Sigit yang salah tingkah hanya cengengesan dan
menjejalkan bunga itu saku celana. Ia benar-benar tidak
tahu ada jenis bunga semacam itu. Lagipula, kenapa juga
bunga secantik ini harus diberi nama jelek begitu. Niatnya
datang hari ini bakal berantakan hanya gara-gara salah
membawa bunga, batin Sigit.
Mimi yang masih mengenakan celemek beranjak
meninggalkan Sigit sambil menghentakkan kaki kembali
ke dapur. Kekesalannya meledak-ledak. Ia benar-benar
akan minta putus. Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan
dari playboy ini. Janji palsu, kelakuan tidak romantis, dan
sikap selengehan-nya sudah cukup menjadi alasan untuk
berpisah dan menerima tawaran perjodohan orang tuanya.
Ya, dia akan minta putus dengan Sigit hari ini juga!
Sigit mengikuti indera penciumannya yang
terpikat wangi masakan enak yang menguar dari dapur. Ia
mempercepat langkah untuk mencari tahu sajian apa yang
sebenarnya sedang dimasak Mimi. Seleranya bangkit,
perutnya meronta kelaparan, air liurnya nyaris menetes
tatkala menyaksikan makanan lezat yang sudah terhidang
di atas meja makan.
Analekta Kisah Semesta | 82
PROPERTI OF P
Ada brownis, ayam goreng bumbu, plecing
kangkung. Sigit tidak meragukan kemampuan Mimi di
dapur. Sejak SMA, ia sudah tahu bahwa gadis pendiam ini
jago memasak. Mimi mungkin tidak pernah tahu bahwa
Sigit menyukai Mimi karena pelajaran PKK di sekolah.
Waktu kelas XII dan harus mengambil nilai
ujian praktik memasak, Sigit dan Mimi sekelompok.
Mereka ditantang untuk membuat masakan dengan bahan
makanan yang sudah ditentukan guru. Ya, bahan makanan
yang dipilih saat itu tidak mudah untuk diolah. Jantung
pisang. Di saat semua siswa kelabakan dan panik, Mimi
justru dengan sigap memerintah Sigit untuk mencuci dan
mencincang.
Pernah juga, menjelang peringatan 17 Agustus
tiba-tiba tiang yang sudah disiapkan untuk lomba makan
kerupuk roboh diterpa angin. Pagi itu semua orang bersedih
lantaran festival rakyat yang sudah mereka rencanakan
sejak sepekan lalu terpaksa batal. Namun, Mimi dengan
cepat berinisiatif memindahkan kegiatan ke balai desa.
Dengan peralatan sederhana, ia berhasil mengembalikan
tawa anak-anak kecil yang sempat sedih sebelumnya. Sigit
merasa hal itulah yang menjadi alasannya jatuh hati. Ia
sederhana, pemberani, tegas, dan tulus. Hal unik yang
jarang dimiliki gadis-gadis di kampung mereka.
“Wih, calon istri idaman. Kelihatan enak semua,
nih,” puji Sigit.
83 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Siapa juga yang mau jadi istri kamu?” tolak Mimi
sambil menjulurkan lidah. Bukannya marah, Sigit justru
tertawa melihat kelakuan Mimi yang persis seperti anak
kecil.
“Kamu. Bukankah kita pasangan serasi? Seluruh
dunia juga tahu, cungkring dan gendut, kita saling
melengkapi, kan? Seperti angka sepuluh,” goda Sigit lagi.
“Apa,sih?Nggaklucu,”omelMimi.Dasarplayboy
cap durian, kalau kebanyakan makan gombalannya bisa
panas dalam alias makan hati. Ia memandang Sigit yang
menyuapkan potongan brownis besar ke dalam mulut dan
mendengus kesal. Dia benar-benar akan cari pacar baru
yang sama chubby dengan dirinya sehingga mereka tidak
perlu berdebat masalah berat badan.
“Bunda sehat?”
“Sehat, kok.”
“Dari tadi aku nggak liat Bunda. Titip salam bilang
makasih, ya,” ucap Sigit sambil mencomot brownies
kedua.
“Kok makasih ke Bunda?” tanya Mimi penasaran.
Yang masak dirinya, kenapa yang dipuji malah Bunda.
“Iya, soalnya udah melahirkan kamu yang
menyempurnakan hidupku,” goda Sigit lagi.
“Gombal banget, Git.”
Analekta Kisah Semesta | 84
PROPERTI OF P
“Ya, habis gimana? Aku sukanya kamu. Kamu
nggak suka aku?” tanya Sigit yang membuat Mimi salah
tingkah.
Ini kesempatan yang tepat untuk minta putus!
Kebetulan Sigit sudah mengangkat topik itu, sekalian
saja utarakan keinginan untuk berpisah. Namun, kenapa
dia justru tidak tega kehilangan Sigit? Kenapa dia justru
bingung dengan perasaannya sendiri.
“Aku nggak tahu,” jawab Mimi menggaruk
kepala. Ia menyembunyikan wajah dan fokus menggoreng
kerupuk. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Sigit.
“Kamu bosen sama aku?” tanya Sigit sambil
tersenyum.
“Bukannya kamu yang bosen sama cewek jelek
dan gendut kayak aku? Kamu yang perfeksionis mana
mau nikah sama aku? Itu kan alasan kamu nggak ngelamar
aku? Karena kamu nggak benar-benar cinta?” tanya Mimi
ketus.
Dia meluapkan semua kekesalan yang dipendam.
Sakit hati lantaran sebutan gendut dan cungkring yang
disematkan orang-orang pada mereka menjadi pemantik
amarah murkanya tumpah ruah. Ia cukup tahu diri
bahwa penampilannya yang biasa saja tidak layak untuk
bersanding dengan Sigit yang rupawan dan favorit semua
wanita. Karena itu, Mimi berniat mengutarakan perpisahan
secara baik-baik. Mimi juga sudah berusaha untuk sabar,
85 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
tetapi ia tidak bisa pura-pura tidak ada masalah.
“Bentar, deh. Kalau kamu insecure gitu, menurut
kamu, apa ada cewek yang mau sama cowok kurus, malas
mandi, dan receh kayak aku?” tantang Sigit.
“Pasti ada! Kamu kan cakep. Eh, bentar, kamu
nggak mandi tadi sebelum ke sini?!” pekik Mimi. Sigit
hanya tertawa terbahak sedangkan Mimi menutup mulut
karena keceplosan tadi.
Kok bisa sih, gue betah pacaran sama cowok jorok
begini? tanyanya dalam hati.
“Kenapa kamu suka aku?” tanya Mimi lagi. Ya,
sebelum memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan
meraka, setidaknya ia harus tahu apa alasan Sigit
memilihnya dibanding puluhan gadis cantik di kampung
mereka. Playboy cap durian ini bisa saja memilih gadis
mana pun yang ia mau. Wina yang cantik, Euis yang
aduhai, ataupun Fatimah yang alim. Kenapa harus dirinya.
“Nggak tahu. Suka aja,” goda Sigit. Mimi
memanyunkan bibir, pacarnya ini tidak benar-benar
mencintainya. Dia mungkin tidak lebih dari sekadar
mainan yang bisa dibuang setelah punya yang baru.
“Kalau ditanya, kenapa aku suka kamu, ya nggak
tahu. Entah kenapa nyamanku ada di kamu,” jawab Sigit.
Analekta Kisah Semesta | 86
PROPERTI OF P
“Kenyamanan kan bisa pindah-pindah,” keluh
Mimi lagi. Ia masih belum puas dengan jawaban Sigit.
Begitu banyak pasangan yang awalnya saling suka justru
kandas bahkan berujung perceraian. Apalagi label playboy
yang tersemat di Sigit, bukan tidak mungkin ia bakal
ditinggal dalam sekejap.
“Sekalipun bisa dipindah, aku maunya cuma kamu.
Jadi, jangan minta aku untuk pindah ke lain hati. Aku
jamin itu cuma buang-buang waktu,” pinta Sigit sambil
mengeluarkan sebuah kotak dari saku celana. Ia merasa,
inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kesungguhan
cintanya.
Mimi kehilangan kata menyaksikan apa yang ada
di dalam kotak beludru itu. Sebuah cincin putih dengan
berlian mungil di tengahnya.
“Maaf, cuma bisa ngasih berlian kecil. Aku
nggak kaya, nggak cakep, nggak romantis. Nggak bisa
menjanjikan barang mewah juga. Aku cuma bisa janjikan
untuk menyayangi kamu satu-satunya sampai tua,” ujar
Sigit sambil menyematkan cincin ke jemari Mimi. Ia
berharap gadisnya ini akan mengatakan ‘ya’dan menerima
lamarannya.
***
87 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
Ulul Ilmi Arham, penyuka genre romance dan fantasi.
Hobi traveling dan masak-masak. Silakan layangkan
kritik dan saran dan baca karyanya yang lain di Instagram
@ululilmiarham
Analekta Kisah Semesta | 88
PROPERTI OF P
BANOWATI
Oleh: Kartika Pitasari
Terlahir dari keluarga ningrat yang masih
menjujung tinggi kemurnian darah biru,
wanita cerdas ini seakan terkurung dalam sangkar emas.
Banowati Nitisastro, lulusan sebuah perguruan tinggi
ternama di kota ini. Memiliki karier cemerlang, tetapi
harus rela menanggalkan semuanya untuk tunduk patuh
pada perjodohan yang telah diatur oleh orang tuanya.
Sejujurnya, sungguh berat hati menerima
perjodohan ini. Aku tidak pernah menyukai lelaki calon
suami itu. Tapi jika menolaknya, pasti kanjeng ibu akan
berpura-pura sakit atau melakukan sesuatu yang lebih
dramatis. Walaupun romo mengetahui jika aku tidak
89 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
menyetujui rencana kanjeng ibu, namun beliau lebih
memilih diam dan mengikuti semua kemauannya.
Dan hari pernikahan pun tiba, pesta meriah digelar
di sebuah hotel berbintang lima. Tamu undangan datang
dari kalangan elite seluruh penjuru negeri. Aku harus bisa
memendam kebencianku atas pernikahan ini dengan sikap
yang anggun juga senyum yang palsu.
Usai pesta digelar, kehidupan baru mulai dijalani.
Kami menempati kediaman suamiku, rumah megah bak
istana lengkap dengan beberapa orang yang selalu siap
melayani. Namun rumah ini selalu berkesan dingin dan
suram. Bagi aku dan suami surat nikah hanya sekadar
simbol, karena kami menempati kamar yang berbeda.
Sebenarnya aku memiliki seorang kekasih, dia
adalah rekan kerja di kantor. Selama ini kami berhubungan
secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua. Karena
jika mereka tahu Arya kekasihku bukan keluarga ningrat,
pasti mereka tidak akan merestuinya.
Walau aku telah menikah tetapi masih saling
bertukar pesan dengan Arya, untuk menanyakan kabar,
terkadang juga berkeluh kesah tentang pernikahan
palsu yang kujalani. Rupanya Arya tidak pernah bisa
melupakanku, dan berniat ingin membawaku keluar dari
rumah ini. Untuk apa bertahan dalam pernikahan tanpa
cinta, begitu katanya.
Analekta Kisah Semesta | 90
PROPERTI OF P
Karena aku tidak lagi bekerja, maka aku mencari
kegiatan lain untuk mengisi hari, agar tidak jenuh. Aku
mulai mengikuti beberapa kelas belajar daring, mulai kelas
memasak hingga kelas menulis. Apa saja aku pelajari,
selain menambah pengetahuan juga untuk menghibur diri
dari kesepian.
Suamiku tetap saja bersikap acuh padaku, bahkan
menganggapku tak ada di rumah besarnya. Kami hanya
bertemu saat sarapan, itu pun hanya sekadar basa-basi
menanyakan kabar, setelah itu kembali sunyi. Aku hampir
tidak pernah tahu bahkan tidak peduli jam berapa dia
sampai di rumah sepulang kerja.
Hariitu,akusarapansendiridimejamakan.Seorang
asisten mengabarkan bahwa suamiku tidak pulang sejak
semalam. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan
terima kasih.Aku tidak berusaha menghubungi ponselnya,
nanti dikira aku terlalu ingin tahu urusannya.
Dua hari sudah suamiku tak ada kabar, bak hilang
ditelan bumi. Hingga seorang asisten mengetuk pintu
kamarku dan mengabarkan bahwa ada petugas dari
kepolisian sedang menunggu di ruang tamu. Aku bergegas
menemui mereka.
Ternyata mereka mengabarkan bahwa telah
menemukan jasad suamiku di sebuah hotel, dan mereka
sedang melakukan otopsi pada jenazahnya. Aku diam,
tampak ekspresiku menunjukkan betapa kaget mengetahui
suami telah tiada. Baru tersadar ketika polisi berpamitan
91 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
untuk kembali ke tempat bertugas.
Aku segera masuk kamar dan menelepon Arya,
ingin mengucapkan terima kasih. Karena keinginanku
telah diselesaikan dengan baik olehnya. Aku memang
meminta Arya untuk melenyapkan suamiku, yang
terpenting jangan sampai meninggalkan jejak. Buat apa
bertahan dengan pernikahan konyol ini, dan ingin segera
mengakhirinya.
Setelah pemakaman suami, aku segera keluar dari
rumah besarnya dan kembali ke rumah sendiri. Sambil
menghitung hari menjelang pernikahanku dengan Arya.
Kanjeng ibu tidak punya pilihan lain, karena aku telah
mengikuti semua yang telah diatur olehnya. Sekarang
giliranku menikmati hidup.
***
Tentang Penulis
Kartika Pitasari, seorang pendidik anak usia dini. Memiliki
ketertarikan di dunia literasi. Prinsipnya tidak pernah
berhenti berkarya dan berharap karyanya bisa bermanfaat
bagi sesama. Teman-teman bisa menyapanya di akun
Instagram @kartikapitasari.
Analekta Kisah Semesta | 92
PROPERTI OF P
MITOS MEMAKAI
PAKAIAN MERAH
Oleh: Dheisya Adhya
Kata orang di sekitarku, memakai pakaian
merah di daerah ini sangat dilarang. Aku
lupa penyebabnya apa dan sore ini aku terbangun di
sebuah gubuk tua dengan pakaian serba merah menyala.
Aku yang entah kenapa tiba-tiba terbaring di atas kursi
panjang, langsung mengubah posisiku menjadi duduk
seraya bersandar ke dinding yang terbuat dari bilik kayu.
Kulihat, gubuk ini bersih dari sampah. Terasa
nyaman untuk sekadar beristirahat dari penatnya kota.
Terlihat ada tungku api dan beberapa peralatan dapur.
Namun, ada satu ruangan di gubuk tersebut yang menarik
93 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
perhatianku. Ini memang gubuk, tetapi kenapa ada ruangan
seperti kamar khusus?
Rasakuyangsudahpenasaran,ditambahkeberanian
yang cukup besar, aku melangkah ke ruangan tersebut
dengan badan yang sedikit lemas. Dari pembatas yang
tidak ada pintunya, kulihat beberapa pakaian tergantung
di pinggir dinding yang terbuat dari bilik kayu.
Rasanya, aku ingin melangkahkan kaki ke dalam
ruangan itu. Hanya bermodalkan keberanian dan rasa
penasaran, kakiku kulangkahkan untuk maju ke dalam.
“Hei.”
Aku terkejut bukan main. Baru saja melangkahkan
kaki, dari arah belakangku, tiba-tiba ada suara yang
menyapaku. Suara laki-laki. Aku reflek membalikkan
badan. Dia terlihat seumuran denganku—sekitar dua
puluh tahun atau mungkin lebih tua beberapa tahun.
“Kamu udah bangun?” tanyanya.
‘Kamu’? Memang, aku siapanya? Lantas, kenapa
aku tak mengenalinya? Aku terasa menjadi orang baru
yang tiba-tiba dilahirkan dalam usia dua puluh tahun.
“Kamu linglung, ya?” tanyanya lagi.
“Tolong, aku bingung. Aku gak tahu ini di mana
dan kamu siapa.”
Analekta Kisah Semesta | 94
PROPERTI OF P
“Tenang dulu, ya. Duduk dulu, saya masak air
dulu,” ucapnya menenangkan sekaligus meresahkan.
Dia berlalu menuju tungku api. Lalu, menuangkan
air ke dalam panci. Lelaki itu terlihat sibuk dengan panci
dan air mentah yang akan dimasaknya.
Sedangkan aku sedang merasakan ketakutan yang
begitu hebat. Pikiranku berkeliaran. Apakah dia akan
memasakku? Atau merebusku seperti pada dongeng yang
sepertinya sempat kubaca, tetapi entah di mana.
Karena rasa penasaranku selalu besar, kuberanikan
untuk bertanya, “Masak air untuk apa?”
“Untuk kamu minum,” ucapnya dengan santai.
Entah kenapa, perkataannya selalu ambigu. Aku
takut. Aku takut diracuninya. Bagaimana kalau airnya
diberi jampi-jampi?
“Kamu gak usah takut. Saya gak akan nyelakain
kamu. Kamu tenang aja, ya.”
Suaranya memang menenangkan, tetapi aku masih
merasa ketakutan. Tunggu, bagaimana bisa dia tahu aku
sedang cemas karena dirinya? Ah, sudahlah. Aku malas
terlalu berkeliaran dalam pikiran yang belum pasti
kebenarannya.
“Omong-omong, tadi kamu ngapain masuk
ruangan itu?” tanyanya.
95 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Aku diam. Aku tak bisa menjawabnya. Bibirku
kelu. Takut salah berkata.
“Em ... aku hanya penasaran. Di dalam gubuk tua
seperti ini, ada ruangan khusus seperti kamar,” jawabku
seapik mungkin.
“Iya, itu kamar tidur. Omong-omong, gimana
keadaan kamu sekarang? Pusing? Lemes? Atau mau
pingsan lagi?”
Menyebalkan sekali lelaki ini. Ucapan serius atau
bercanda, ekspresi sama saja. Sama-sama datar.
“Sebenarnya, kamu tahu cerita aku ada di sini,
gak?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
“Sebentar, ya. Nanti saya ceritakan,” ucapnya
seraya menutup panci kecil yang sudah berisi air di atas
tungku api.
Baiklah, aku menunggunya. Lihat saja, kalau dia
tidak tahu penyebab sebenarnya dan malah melakukan
yang tidak-tidak, sudah kusiapkan centong sayur kayu
untuk menggetok kepalanya.
Aku memperhatikan gerak-geriknya. Tak peduli
kalau ia risih kuperlakukan seperti itu. Lalu, lelaki itu ikut
duduk di samping kiriku. Duduk di kursi panjang yang
terbuat dari bambu.
“Keadaan kamu udah mendingan?” tanyanya.
Analekta Kisah Semesta | 96
PROPERTI OF P
“Udah.”
“Kamu masih gak ingat apa-apa?” tanyanya.
“Em ... yang aku ingat, kata orang di sekitarku,
kalau pakai baju merah di daerah ini sangat dilarang, tapi
aku lupa alasannya kenapa,” ucapku seraya mengingat apa
pun yang ada di kepala.
“Terus? Kenapa kamu pakai baju merah menyala
seperti ini?” tanyanya.
“Duuuhhh, aku gak ingat sama sekali. Coba kamu
ceritain gimana aku tiba-tiba ada di sini. Siapa tahu, aku
mengingat sesuatu,” pintaku padanya.
“Tapi masih ingat nama kamu sendiri, gak?”
tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Aku sedang mencari sebuah
nama di dalam kepala. Ya! Aku menemukannya.
“Namaku Denisa Kania,” ucapku dengan yakin.
“Untung saja masih ingat sama nama sendiri,”
ucapnya.
“Jadi, gimana ceritanya?” tanyaku.
“Eh, bentar. Airnya udah mendidih. Aku tuangin
buat kamu dulu.”
97 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Haduh.Banyaksekalistokalasannya.Kuperhatikan
lelaki yang sedang menuangkan air ke cangkir itu. Lelaki
biasa yang sepertinya memang tak punya niat jahat.
“Ini diminum dulu. Hati-hati masih panas,”
ucapnya seraya memberiku secangkir air panas.
“Iya, terima kasih.”
Aku mengambil cangkir berisi air panas itu. Karena
aku haus, kutiup airnya agar cepat dingin.
“Jadi, gimana ceritanya?” tanyaku lagi dengan
sabar karena aku butuh.
“Oh, tadi itu kamu pingsan di dekat sungai. Untung
saja gak sampai jatuh ke sungai. Kalau kamu jatuh,
mungkin saya gak akan ketemu kamu.”
“Hah?”
Sebentar, aku tidak mengerti maksudnya. Aneh
juga manusia ini.
“Hehe, maaf, ya. Saya cuma bercanda biar kamu
gak terlalu ketakutan.”
Bukannya terhibur, aku malah merasa bingung
padanya.
“Jadi, saya menemukan kamu dalam keadaan
pingsan. Saya gak tahu penyebab kamu pingsan kenapa.
Sampai sini ada yang kamu ingat?”
Analekta Kisah Semesta | 98
PROPERTI OF P
“Enggak,” jawabku seraya meniup air panas tadi.
“Saya lanjutkan ceritanya. Saya menemukan kamu
di dekat sungai. Sampai sini ada yang kamu ingat?”
“Enggak,” jawabku lagi.
“Saya lanjutkan lagi. Karena saya melihat kamu
pingsan, saya berinisiatif bawa kamu ke gubuk ini. Gubuk
yang biasa saya kunjungi dan tempat yang paling dekat
dengan posisi pingsan kamu. Kalau saya bawa kamu ke
rumah saya, kejauhan. Sampai sini ada yang kamu ingat?”
“Aku kan pingsan. Gimana mau ingat?” protesku.
“Oh, iya juga.”
“Terus, apa lagi?” tanyaku seraya meneguk air
yang sedikit lebih hangat.
“Terus saya tinggalin kamu di sini. Saya ngambil
air dulu ke sungai.”
Uhuk..
Aku terkejut. Ternyata, air yang kuminum adalah
air sungai. Apa tidak apa-apa?
“Eh, eh. Tenang aja, air sungainya juga bersih.
Bening. Sebening--”
“Apa?!” sanggahku sewot. “Aku tahu, kamu mau
bilang sebening aku, ‘kan?” tanyaku to the point.
99 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Tenang dulu, aku mau bilang sebening berlian di
pasaran.”
“Berlian kok pasaran,” gumamku kecil.
“Barusan kamu bilang apa? Enggak kedengeran,”
tanyanya.
“Aku mau pulang,” ucapku sendu.
“Emangnya kamu ingat rumah kamu di mana?”
tanyanya.
“Ingat. Sekarang aku ingat semuanya.” Ya, entah
ada keajaiban dari mana, tiba-tiba ingatanku pulih.
“Kayaknya, tadi aku linglung aja. Sekarang aku
ingat. Pagi itu, aku bersama teman-temanku. Namun, tiba-
tiba ada sosok yang mengejutkan kita semua. Aku malah
pingsan saking kagetnya,” paparku.
“Sosok apa?” tanyanya.
“Sosok nenek-nenek,” jawabku.
“Nenek-nenek yang bawa kayu bakar?” tanyanya.
“Entahlah, aku tak melihatnya dengan jelas.”
“Aku boleh nanya?” tanyanya.
“Nanya apa?”
Analekta Kisah Semesta | 100
PROPERTI OF P
“Kamu kenapa pakai pakaian merah menyala
seperti ini?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Mengingat sesuatu yang
masih tersimpan di pikiran.
“Ah, iya! Aku dan teman-temanku ingin
membuktikan mitos mengenai larangan memakai pakaian
merah di daerah ini. Aku dan teman-temanku sengaja
memakai pakaian merah pagi-pagi buta saat itu. Entah
sudah berapa lama aku di sini. Apa kamu tahu?”
“Kamu, saya temukan pagi tadi. Mungkin, kamu
datang ke daerah ini Subuh tadi?” tebaknya.
“Mungkin. Tapi aku gak habis pikir, teman-
temanku tega sekali meninggalkanku dan tak kembali
untuk mencariku,” ucapku dengan rasa kecewa.
“Sudah biasa. Teman hanya menemani saat senang
saja,” ucap lelaki itu.
Entah kenapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu.
Namun, ucapan lelaki itu ada benarnya. Nyatanya, teman-
temanku dengan tega meninggalkanku pagi itu dan tak
kunjung mencariku hingga saat ini.
“Omong-omong, nama kamu siapa?” tanyaku.
“Oh, iya. Nama saya Candra,” ucapnya diakhiri
senyuman. Tumben sekali dia tersenyum. Bercanda saja
ekspresinya masih datar.
101 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Emm ... kamu bisa antar aku pulang, enggak?”
pintaku ragu.
“Bisa, nanti, ya, sekalian saya juga mau pulang,”
ucap Candra.
Baiklah, kutunggu saja. Entah apa alasannya. Aku
malas bertanya.
Hari sudah menjelang malam. Matahari hanya
menampakkan senja yang tertutup pohon-pohon tinggi.
Aku mulai merasa takut lagi. Meski kuyakin Candra adalah
orang baik, tetap saja rasa cemas masih menyelimutiku.
“Kayaknya, aku pengin pipis, di mana, ya?”
tanyaku pada Candra.
“Em ... di belakang gubuk paling. Di semak-
semak,” ucap Candra.
“Hah?!”
Aku yang terkejut mendengar pernyataan itu pun
tiba-tiba menjadi tak ingin buang air kecil.
“Ayok, aku antar. Itu di belakang sana.” Candra
berjalan ke arah belakang gubuk dan menunjukkan sebuah
tempat.
Aku pun mengikutinya. Bukan untuk buang air
kecil, tetapi hanya ingin melihat tempat yang ditunjukkan
oleh Candra. Aku selalu penasaran dengan hal apa pun.
Termasuk mengenai mitos larangan memakai pakaian
Analekta Kisah Semesta | 102
PROPERTI OF P
merah di daerah ini yang menjadikanku terjebak di gubuk
tua ini.
“Kalau mau pipis, di sini saja,” ucap Candra seraya
menunjuk ke semak-semak yang cukup tinggi.
“Gak apa-apa, Can, gak jadi pipisnya,” ucapku.
“Ya, udah. Kalau masih bisa nahan. Kita masuk
lagi aja, ya,” ucap Candra.
Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Baru
saja membalikkan badan, tiba-tiba terlihat sosok nenek-
nenek yang kuceritakan tadi pada Candra.
“AAAAAAAAAA, CANDRAAAA!!!” Aku
berteriak dengan kencang seraya menutup wajah. Tubuhku
melemas. Jantung dan napasku tak karuan. Aku merasa
sangat ketakutan.
“Hei, tenang-tenang.”
Kudengar suara Candra memang ingin
menenangkan. Namun, jantungku terlanjur tak karuan
melihat sosok di depanku barusan.
“Hei, Denisa ... tenang, ya.”
Candra memelukku. Mungkin, ia benar-benar
ingin menenangkanku. Aku langsung diam. Mataku masih
terpejam. Namun, napasku masih tak dapat kuatur dengan
tenang.
103 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Denisa..” panggil Candra.
Napasku masih tak karuan.
“Buka mata kamu, De. Gak usah takut,” ucap
Candra.
Aku membuka mata perlahan.
“AAAAAAAAAAAAAAA”
Sosok itu masih berada di dekatku. Aku semakin
mendekatkeCandradenganmenutupmata.Akuketakutan.
Jantungku semakin tak karuan.
Ibu ... aku mau pulang.Aku tak akan bebal lagi, Bu.
Meski aku penasaran, akan kucoba untuk menahan agar
tak selalu mencari tahu kalau sekiranya membahayakan.
Aku menyesal karena sebelumnya telah
mengabaikan ucapan ibu yang melarangku untuk pergi ke
tempat ini.
“Hei, Denisa. Tenang. Ini Nek Asih. Nenek yang
punya gubuk ini.”
Candra masih berusaha untuk membujukku agar
tenang.
“Tenang, Cu. Nenek tidak akan ngapa-ngapain
kamu. Jangan takut, ya.”
Analekta Kisah Semesta | 104
PROPERTI OF P
Suara itu. Suara nenek-nenek yang terdengar
cukup baik, tetapi aku masih saja ketakutan.
Perlahan, kuberanikan untuk membuka mata lagi.
Kali ini, aku menghadap ke arah Candra dahulu. Kulihat,
Candra sedang tersenyum kepadaku. Senyumannya
menenangkan.
“Lihat, ini namanya Nek Asih,” ucap Candra
seraya merangkulku agar menghadap ke arah sosok itu.
Perlahan aku menghadap ke arahnya, meski masih
sedikit terkejut, kutahan agar tak berteriak lagi.
“Nek Asih?” tanyaku bingung.
“Iya, nenek yang punya gubuk ini, ” ucap Candra.
“Hm?” Aku bingung. Aku tak mengerti apa yang
dimaksud oleh Candra.
“Lebih baik kita duduk dulu, yuk. Nenek udah
nyari singkong tadi,” ucap nenek itu seraya berjalan ke
dalam gubuk.
Aku menatap Candra dengan tatapan cemas.
Candra langsung tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa.
Tenang aja, ya. Nanti, saya antar kamu pulang. Sekarang
masuk dulu aja.”
Aku dan Candra duduk kembali di kursi panjang
yang terbuat dari bambu itu. Kulihat, nenek itu sedang
memasukkan singkong ke dalam tungku api yang sudah
105 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
menjadi arang panas. Nenek yang sedikit membungkuk
sebahuku. Nenek yang menggunakan kebaya merah tua
dan samping batik dominan hitam. Kakinya tak beralaskan
apa-apa. Nenek berambut putih, digelung menggunakan
rambutnya yang lain. Entah bagaimana ia melakukannya.
Setelah beberapa saat aku memperhatikan nenek
itu, aku menatap lagi Candra yang ada di sampingku.
Mungkin, Candra peka dengan kebingunganku. Dia
langsung menceritakan sosok Nek Asih ini tanpa diminta.
“Mungkin, nenek-nenek yang kamu lihat pagi itu
adalah Nek Asih.”
Aku diam mendengarkannya.
“Setiap pagi buta, Nek Asih selalu mencari kayu
bakar untuk membuat air panas pagi-pagi.”
Aku penasaran, Nek Asih itu siapanya Candra.
Karena rasa penasaran, kutanyakan langsung pada Candra.
“Nek Asih itu siapa kamu, Can?” tanyaku.
“Nek Asih bukan siapa-siapa saya. Tapi saya
sering mengunjunginya ke sini ketika saya punya waktu
luang. Saya tahu beliau pada saat saya tersesat di daerah
ini. Beliau amat baik. Beliau yang memberi saya makan
ketika kelaparan saat itu. Saya disuruh menginap di sini
karena saat itu sudah larut malam. Dulu, saya juga sama
seperti kamu. Ingin membuktikan mengenai mitos di
daerah sini. Hanya saja, saat itu yang memakai baju merah
Analekta Kisah Semesta | 106
PROPERTI OF P
adalah teman saya. Sedangkan saya, memakai baju hitam,
tetapi tetap saja hilang.”
Aku masih mendengarkan paparan Candra.
“Aku masih bingung dengan semua ini,” ucapku
pada Candra.
“Jadi begini, mengenai mitos larangan memakai
baju merah itu, ya, sudah. Itu beneran hanya mitos.
Bukankah mitos itu tidak nyata dan tidak ada?” ucap
Candra.
Ya, mitos itu tidak ada.Aku telah membuktikannya
sekarang. Sosok yang sering dirumorkan orang-orang itu
adalah Nek Asih. Padahal, ia sangat baik. Buktinya, aku
diizinkan untuk berbaring di gubuknya hingga tersadar
dari pingsan. Sekarang pun aku sedang dibuatkan singkong
bakar olehnya.
Eh, tunggu-tunggu. Kok aku bisa menembus bilik
kayu ini, sih?!
“Can? Kok aku bisa nembus bilik kayu ini sih?”
tanyaku pada Candra.
“Selamat datang, Denisa. Aku akan selalu
menemani kamu, kok,” ucap Candra seraya tersenyum
dengan tulus.
***
107 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
DheisyaAdhya; mahasiswi tingkat dua yang memilih prodi
Sistem Informasi, tetapi hobinya menyusun bait-bait diksi.
Menurutku, menulis perihal rasa lebih menyenangkan
daripada memikirkan pelajaran algoritma. Karyaku
perihal menulis sudah dimuat dalam delapan buku antologi
yang berbeda jenis. Yuk, berbincang denganku melalui
Instagram @dhsyadhya!
Analekta Kisah Semesta | 108
PROPERTI OF P
TERMAKAN JANJI
Oleh: Mesaleky
Pertandingan siang itu diakhiri dengan penonton
yang meneriaki namanya. Kedua tim masih
saling bersalaman, saat seluruh isi GOR Amongrogo
memberi tepukan seolah tidak mau pertandingan ini usai.
Gadis manis itu melambai setinggi-tingginya dari tengah
lapangan, disusul riuh sorak-sorai hadirin dari kursi
penonton.
“Hai, jagoan. Hebat! Spike keras elu ternyata
selalu nggak ada yang bisa nerima apalagi ngembaliin
ya.” Sebuah suara teriakan berasal dari lelaki yang
sedang menduduki kap mobil di tengah lapangan parkir.
Lengannya lalu terbuka. Gadis itu mendekat bersimbah
senyum layaknya ketika tadi mewakili timnya menerima
109 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
piala dan hadiah pembinaan dari panitia turnamen Bola
Voli se-Jawa Tengah.
“Sini!” Dipeluk gadis itu. Lalu dengan sigap
sepotong handuk kecil sudah melalap sisa keringat di
dahinya.
“Selama gue ada, wajah ini dilarang terlihat lelah.”
Jelita memandang lekat kedua bola mata Satria yang
sedang meneliti butiran keringatnya satu-satu.
Ah, elu selalu begitu sedari dulu. Mana bisa gue
nggak makin sayang sama elu, kalau segininya perlakuan
elu. Jelita bergetar dalam hati.
“Eh, apaan sih? Kok malah bengong?” Satria
terkekeh. Handuk kecil dilipat dan disusupkan ke tas
ransel miliknya.
“Dari tadi gue tanya mau ke mana habis ini? Hamba
akan siap mengantar tuan putri.” Satria membungkuk
dengan satu tangan menyilang di dadanya. Jelita tampak
tersenyum.
“Nggak usah deh, gue mau pulang aja. Tumit gue
masih nyeri nih bekas cedera dulu, takut makin parah
kalau dibawa jalan.”
“Hah? Beneran, nih? Sang juara lapangan nggak
mau ditraktir?” Cowok atletis itu mengerling. Jelita sekuat
tenaga menahan hatinya agar tidak terbang. Sebegitu dekat
wajah mereka, sejenak wajah Satria yang tampan terlihat
Analekta Kisah Semesta | 110
PROPERTI OF P
sangat menggoda, terpaksa dia memundurkan kepalanya.
“Tuh, kan mulai nyut-nyutan,” keluh Jelita mencari
alasan, mencairkan rasa salah tingkahnya akibat digoda
Satria. Kaki kanan berselimut mizuno digerakkannya
pelan. Satria memperhatikan gerakan kaki Jelita yang
memutar sambil bertumpu di lantai.
“Ya, udah!” Satria berjongkok mempersembahkan
punggungnya menghadap Jelita.
“Mau ngapain?” Mata cokelat Jelita terbelalak.
“Yah, digendonglah. Ngapain lagi? Ayo, naik!
Keburu sore nanti elu nggak bisa istirahat.”
“Gue bisa jalan, Sat.” Jelita menolak. Tepatnya
sedang meredam jantungnya yang berlompatan. Mereka
bersahabat sudah lama, tapi perasaan ini baru saja
menghinggapi Jelita. Antara malu dan mau. Antara suka
dan sungkan. Lalu Satria menyenggol kaki Jelita, membuat
Jelita ahirnya terpental menelungkup di punggungnya.
“Selamat menikmati pemandangan dari
gendongan, ya,” goda Satria.
Dari sisi bahu kanan Satria, Jelita memandanginya.
Wangi khas Satria selama ini baginya terlalu biasa, bahkan
pernah diledeknya karena selama setahun Satria tidak
pernah berubah aroma, kini wangi itu menjadi wangi yang
dirindukannya.
111 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Ini pilihan gue, pasti enak.” Sebotol parfum
berwarna hitam pekat bertuliskan Acqua Di Gio keluar
dari sebuah kotak hadiah ulang tahun.
“Wah, enak juga wanginya. Gue suka!” ucap
Satria begitu memencet ujung botol itu ke arah tubuhnya.
Perpaduan wangi alam dan woody dipilih Jelita.
“Pokoknya parfum ini akan gue pakai selamanya.
Makasih ya kadonya. Kalau habis gue beli lagi.” Jelita
mengenang.
Siang ini wangi yang sudah karatan di hidungnya
itu serasa menumpahkan rasa yang sangat dalam.
Semakin dalam sehingga tidak berani dia ungkapkan
atau ditunjukkan barang sedikit saja, seperti sinyal
dalam sebuah senyuman atau tanda di tulisan. Jelita tidak
mempunyai keberanian sebesar itu.
“Pokoknya elu harus sama-sama terus dengan gue.
Nggak boleh ada cowok lain yang deketin. Gue juga nggak
akan punya cewek. Kita berdua sahabatan terus sampai
tua. Tanpa perlu ada perasaan cinta di antara kita. Karena
perasaan cinta itu bisa merusak inti persahabatan. Gimana
menurut elu?” ajak Satria.
“Oke. Siapa takut? Gue janji akan terus sahabatan
seperti ini, tidak kenal keadaan, tidak kenal kehidupan
lain selain persahabatan elu dan gue.” Setelah setuju,
sebuah gelang berbentuk ikatan dari jerami melingkar di
pergelangan tangan Jelita. Mereka baru saja berumur lima
Analekta Kisah Semesta | 112
PROPERTI OF P
belas tahun kala itu dan bertemu untuk pertama kali di
acara orientasi masuk SMA, lima tahun yang lalu.
Jelita yang menangis karena tidak mampu
mengejar Belalang Sembah untuk target dari kakak
kelasnya, mendapat simpati Satria. Dengan rela cowok
berkulit putih itu berlarian sampai jatuh ke kubangan
hanya untuk memenuhi jumlah belalang yang dibutuhkan.
Sejak itu, mereka berteman lalu mengikat ikrar mereka
untuk selalu bersama.
***
“Satria! Tunggu, Sat!”
“Elu ngapain sih ngejar-ngejar gue, nggak malu
sama orang sekampus? Udah gue bilang, gue pulang sama
Jelita.”
“Ayolah, Sat. Sekali ini aja. Jelita juga pasti
ngizinin kok,” rengek susi, pemenang putri kampus yang
sedari dulu mengincar Satria.
“Sori ya, Sus. Kali ini gue nggak ngizinin. Ayo,
Sat kita pulang. Permisi, ya!” Jelita merampas jemari
Satria yang tengah dirangkum Susi. Gadis jangkung
itu sungguh tidak peduli. Cemburu tengah membakar
dirinya. Sangat tidak bisa diterima memandang tangan
Satria menjadi pegangan siapa saja. Satria yang diseret
merasa kebingungan. Biasanya Jelita selalu setuju bahkan
mendorongnya untuk mau mengantar Susi pulang,
walaupun Satria kerap menolaknya.
113 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Tumben elu belain gue,” ucap Satria tersenyum
keheranan menyusul Jelita yang tengah duduk di tangga
menghadap danau kampus. Sambil merangkul bahu jelita,
satu cup es krim vanila tersembul diperlihatkan Satria.
“Kata elu kita harus saling dukung, gimana sih?”
Jelita berkelit.
“Oh iya, benar juga. Sebagai hadiah, ini es krim
untuk sahabatku tersayang.” Jelita melotot. Kalimat
sayang yang biasa Satria ucapkan kenapa sekarang terasa
menggemparkan isi dada? Suasana hatinya mendadak
awut-awutan. Lalu semakin kalang kabut manakala teman
sebayanya itu mendekatkan mulutnya untuk memakan
satu es krim itu berdua.
“Buat elu aja, deh. Gue lagi batuk.” Jelita
mengelak.
“Batuk? Demam juga?” Satria segera meraba dahi
dan leher Jelita yang setengah mati tengah menghindari
tatapan Satria.
Jangan sampai dia melihat muka gue yang merah
atau mungkin sudah berubah menjadi ungu. Jelita gelisah
sendiri.
“Elu kenapa, sih? Gue perhatiin kok agak beda,”
tanya Satria setelah memastikan bahwa sahabat dekatnya
itu baik-baik saja sambil menjilati es krim corn itu
sendirian.
Analekta Kisah Semesta | 114
PROPERTI OF P
Nah, lho. Tuh kan?Mati gue. Gue mesti jawab apa
ini? Gue sudah yakin pasti suatu saat dia ngerasa kalau
gue jadi aneh. Satria kan cerdas. Aduh, gimana ini? Kalau
ketahuan gue punya perasaan cinta bagaimana? Rasa ini
berjalan memilih jalannya sendiri. Keluar dari rambu
yang pernah diiikrarkan lima tahun lalu. Gue nggak siap
kehilangan elu, Satria. Jelita bolak balik mendiamkan
suara hatinya. Takut kalau kegelisahannya akan terdengar
oleh Satria yang terus memandangnya.
“Aneh, gimana?”
“Ya, aneh aja. Kemarin gue suapin di kantin, elu
nggak mau. Waktu kita kehujanan, gue gosokin tangan
elu, elu nolak. Kalau kita naik motor, elu nggak meluk gue
kayak biasanya. Terus sekarang ini. Gue ngerasa ada yang
elu sembunyiin, Lit. Ada apa?” Jelita hanya memandang.
Bagaimana bisa jujur pada manusia satu ini? Seandainya
bibirnya mampu melontarkan isi hatinya, niscaya ini
adalah sore terakhir untuk Jelita memandang sahabat
sekaligus pujaan hatinya.
Mereka sama-sama berjuang mempertahankan
hubungan ini. Satria yang harus kembali ke Yogyakarta
selepas SMA untuk kuliah dan meneruskan usaha
mendiang ayahnya, dipusingkan sebab tidak bisa
meninggalkan Jelita di Jakarta. Segala cara ditempuh, tapi
berujung nihil. Waktu tidak bisa berhenti untuk segera
membentangkan jarak antara mereka. Akhirnya dengan
kebulatan tekad penuh nekat, Jelita yang mengalah untuk
ikut Satria. Dia memutuskan ikut pindah kota termasuk
115 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
juga kepindahan ke klub voli barunya. Mana mungkin
hidup berjauhan dengan pengisi mimpinya? Segala
kekuatan memenuhi keyakinan mereka buat tetap bersama.
	 “Gue lagi mikir gimana nanti kita ke depannya?
Apa masih bisa terus seperti ini? bersahabat tanpa pamrih,
tanpa ikatan, tanpa keinginan …”
	 “Kok, elu jadi pesimis?” potong Satria.
	 “Bukan pesimis, Sat. Menurut gue ini pertanyaan
wajar. Gue takut nanti salah satu dari kita tanpa sengaja
jatuh cinta dan mengingkari janji persahabatan kita. Terus
kita berpisah.” Padahal ketakutan itu diperuntukkan untuk
dirinya sendiri. Jelita menyelipkan rambut pendeknya ke
telinga, cerminan gugup menunggu kalimat Satria.
	 “Yang pasti itu bukan gue. Gue tulus kok
bersahabat dan sampai kapan pun takdir gue, Satria Arka
hanya di samping Jelita Mayang Ayu, paham? Gue bakal
minta pada Tuhan agar kita masing-masing dijauhkan
jodohnya biar bisa terus sama-sama. Biar cuma gue yang
jagain elu sampai kita tua. Kalau ada cerita percintaan
yang dibawa sampai mati, persahabatan kita ini bakal
abadi sampai nanti.” Di anak tangga yang bersemen itu
mereka duduk memandangi danau yang tenang.
Sambil merangkum tangan Satria, Jelita
memutuskan hatinya untuk terus menyimpan satu rasa
itu diam-diam demi menunaikan janji. Satria pun enggan
melepas Jelita. Karena ternyata selama ini perasaan cinta
Analekta Kisah Semesta | 116
PROPERTI OF P
itu juga sudah mengalir kuat dalam batinnya, dalam
hasratnya yang mengingini Jelita lebih dari sahabat.
Namun, sayang hal itu hanya berbentuk keinginan dan
harapan tanpa mampu diubah menjadi kenyataan. Satria
pun telah termakan janjinya sendiri.
***
Tentang Penulis
Merry Saleky, percaya bahwa karya yang tulus akan lulus
ke hati pembacanya. Lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan
ini nekat memilih menulis jadi bagian untuk memotivasi
orang lain selain sebuah hobi. Dari lahirnya beberapa
antologi cerita pendek, membuatnya yakin menulis adalah
sebuah keniscyaan. Untuk mengenalnya bisa ke laman IG
@merry.cc_saleky.
117 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
PELANGI SETELAH
HUJAN
Oleh: N’esthy
	
Selama hampir beberapa minggu ini aku jarang
sekali keluar rumah untuk berbelanja atau
sekadar menghabiskan waktu berjalan-jalan. Semuanya
kulakukan dengan melalui daring. Sangat efisien untuk
kondisi saat ini yang terasa cukup aman karena tinggal dan
bekerja dari rumah.
	 Sore ini kuputuskan untuk keluar rumah mencari
suasana baru, berharap menemukan suatu hal yang bisa
menghilangkan rasa jenuh karena terlalu lama berada di
rumah. Berjalan santai memasuki pusat perbelanjaan,
membeli beberapa keperluan dan memanjakan diri
Analekta Kisah Semesta | 118
PROPERTI OF P
menikmati makanan kesukaan yang tidak dapat dipesan
secara online.
	 “Kayla?” seorang lelaki menyapa ketika sedang
menyantap kue sore ini. Aku tidak segera menjawab.
Kupandangi sosoknya yang berdiri tegak di depan,
menyunggingkan seulas senyum.
	 “Ya?” sahutku masih belum menyadari siapa lelaki
ini. Aku berusaha mengingat siapa dia yang kemudian
menarik kursi di depanku dan duduk meletakkan sepotong
kue di meja yang sama.
	 “Nando. Kamu enggak ingat siapa aku?” lanjutnya
cepat. Lelaki di depanku kemudian mengatakan bahwa ia
bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Beberapa bulan
yang lalu perusahaannya mengerjakan sejumlah proyek
yang tendernya dimenangkan oleh perusahaan tempatku
bekerja.
	 Entahlah, aku merasa bingung. Merasa bahwa
pertemuan sore ini adalah pertemuan pertama dengannya.
Namun ia bersikeras bahwa kami telah bertemu
sebelumnya. Ia seringkali melihatku saat mereka
datang untuk rapat di kantor. Seolah ia telah cukup
lama mengenalku. Dan dari ceritanya memang benar
perusahaan kami bekerja sama mengembangkan sebuah
proyek. Namun hanya itu saja yang dapat disimpulkan
dari pertemuan ini.
119 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Mungkin aku yang lupa siapa dirinya dan masih
merasa khawatir ia akan salah mengira bahwa kami pernah
saling mengenal.Aku masih belum merasa yakin mengenal
lelaki yang kemudian menyantap kuenya di depanku ini.
Ia terus saja bercerita tentang beberapa hal, seakan-akan ia
tengah berusaha mengingatkan tentang siapa dirinya.
	 Seperti menyadarkan orang amnesia saja,
gumamku dalam hati.
	 Nando mengatakan bahwa ia menikmati
pekerjaannya dan kerjasama yang dilakukan dengan
perusahaanku. Banyak ide-ide baru yang muncul dan
memberikan pengalaman yang bagus untuk menambah
catatan prestasinya dibidang arsitektur interior. Tidak
banyak yang bisa kukomentari atas ucapannya. Aku lebih
banyak mencerna dan mencoba mengingat-ingat siapa
sesungguhnya lelaki ini. Kapan tepatnya kami bertemu
atau bertegur sapa, di kantor ataukah tempat lainnya.
	 Kami berbincang sebentar sambil menyantap
makanan lainnya. Secangkir kopi hangat kami nikmati
dengan tetap mendengarkan ceritanya. Lelaki ini terlihat
ramah dan baik. Ia bahkan tidak segan mengambilkan
garpu untukku menggantinya dengan yang baru ketika
terjatuh barusan.
	 Akhirnya kami pun berpamitan dan ia mengatakan
akan menghubungiku untuk bertukar kabar. Sepanjang
perjalanan pulang pikiranku tak lepas mengingat sosoknya.
Seorang yang sesungguhnya benar-benar aku lupa.
Analekta Kisah Semesta | 120
PROPERTI OF P
Bagaimana mungkin aku melupakan seorang yang bekerja
di perusahaan yang sama, yang pernah datang ke kantor
untuk rapat dan bahkan ia memiliki nomor ponselku. Ia
mengucapkan dengan benar serangkaian nomor ponselku.
Sangat meyakinkan, batinku.
	 Masih saja penasaran bagaimana Nando begitu
akrab seolah kami telah lama saling kenal. Semakin
kucari tahu tentang siapa lelaki ini, aku semakin dibuatnya
pusing. Bahkan mencoba membayangkan kemungkinan
aku pernah membuat seseorang kesal dan kemudian orang
tersebut mengerjaiku. Atau mungkin aku sendiri yang
telah berbuat salah kepadanya. Mungkin ia sakit hati dan
berniat membalaskan sakit hatinya dengan membuatku
bingung menghadapinya.
***
	 Membayangkan sosoknya membuatku tertidur
hingga terbangun keesokan pagi. Menyelesaikan pekerjaan
dengan masih diliputi rasa penasaran sungguh sedikit
mengganggu. Aku jadi kurang konsentrasi dan memilih
mengakhiri perkerjaan hari ini lebih cepat dari biasanya.
Kuambil ponsel dan menghubungi Marisa, sahabat yang
kukenal sejak kami berteman dari mulai kelas dua sekolah
dasar.
	 “Ca, aku mau tanya sesuatu ke kamu. Kamu ingat
aku pernah cerita seseorang yang bernama Nando. Ia
rekan kerja dari perusahaan konstruksi yang bekerja sama
dengan kantorku. Kemarin sore aku bertemu dengannya
121 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
di pusat perbelanjaan. Ia menyapa. Kami pun berbincang
karena ia menghampiriku saat duduk di kafe.Aku sungguh
lupa siapa lelaki tersebut, Ca,” jelasku tanpa menghiraukan
ucapannya yang sesekali memotong pembicaraan.
	 Caca, panggilan sayang untuk sahabatku Marisa.
Kami bersahabat lebih dari lima belas tahun. Pasang surut
persahabatan mampu kami lalui dengan banyak cerita.
Dari pertengkaran karena merebutkan cowok incaran yang
sama, bersaing masuk perguruan tinggi negeri bahkan
bekerja di perusahaan bergensi seperti saat ini.
	 Kami pun merasakan kegembiraan bersama-
sama. Berwisata dan berpetualang ke negeri seberang,
melakukan perjalanan umrah hingga saling mendukung
dan menghibur ketika Ibunda Caca menderita gagal ginjal
dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali maupun
ketikaAyahku menjalani perawatan akibat serangan stroke
beberapa tahun yang lalu.
	 Hal yang sungguh membahagiakan adalah ketika
mengenalkan Caca dengan salah seorang sepupuku, Mas
Arif. Aku sengaja mengenalkannya karena mereka berdua
adalah orang-orang baik namun belum menemukan
jodohnya. Setelah beberapa bulan berjalan akhirnya
Caca menerima Mas Arif sebagai pasangan hidupnya dan
sekarang mereka tengah menanti kelahiran buah hati.
	 “Kay, sudah selesai bicaranya?” sahutnya cepat
dengan nada kesal. Aku tersenyum membayangkan
wajahnya yang ditekuk karena sebal dengan ocehan
Analekta Kisah Semesta | 122
PROPERTI OF P
ini. Aku pun mengiyakan sambil tertawa geli seolah ia
menyadari sedang menertawakan kekesalan hatinya.
	 “Entahlah Kay. Rasanya tidak ada lelaki bernama
Nando yang kamu ceritakan padaku. Mungkin kamu lupa
cerita ke aku atau kamu sengaja menyembunyikannya
dariku hingga kamu lupa telah mengenal orang tersebut,”
ucapnya menjawab pertanyaan.
	 Sekarang justru aku yang kebingungan karena
Caca pun tidak mengenal mau pun mendengar sosok
lelaki yang kutanya barusan. Masih penasaran dan tidak
mempercayai ucapannya, kuyakinkan diri menanyakannya
sekali lagi.
	 “Ca, yakin kamu kalau aku belum pernah cerita
soal cowok ini. Mungkin kamu bisa mengenali siapa
orangnya kalau kamu ingat ciri-ciri orang ini. Bisa jadi
Nando salah satu alumni sekolah kita atau kenalan kamu
yang pernah kamu ceritakan ke aku.” Pertanyaan kedua
untuk meyakinkan Caca demi membantu mengingat
Nando.
	 “Cowok ini bertubuh atletis dan rapi. Kulitnya
sedikit kecokelatan dengan bulu-bulu halus di sekitar
mukanya. Enggak berewokan banget sih, tapi wajahnya
seperti campuran orang Indonesia dengan Timur Tengah.
Bicaranya halus dan ramah. Dia bahkan membantuku
mengambilkan garpu baru ketika garpu yang kupakai
jatuh, Ca” jelasku menyebutkan ciri-ciri Nando yang bisa
kuingat sejauh ini.
123 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Reza Rahadian kali. Kamu aja yang salah
menjelaskan ciri-ciri Nando sama Reza. Belum juga umur
tiga puluh udah pikun, Kay. Ngaku-ngaku cowok namanya
Nando tapi cirinya persis banget sama Reza. Coba diingat-
ingat lagi,” timpalnya sambil terkekeh. Caca tahu benar
kelemahanku, menggoda dengan menyebutkan nama Reza
Rahadian sebagai salah satu aktor favorit kami.
	 “Eh tapi aku yakin Nando lebih tinggi dari Reza,
Ca,” sanggahku cepat.
	 “Bener kok. Aku kan baru ketemu Nando kemarin
sore. Enggak mungkin lupa perawakannya. Jelas-jelas
kami duduk berhadapan dan masih ingat betul bagaimana
wajahnya. Ca, aku enggak mungkin tiba-tiba amnesia kan
ya,” seruku masih belum menerima kenyataan tidak dapat
mengingat sosoknya.
	 Caca bersikukuh bahwa ia tidak mengenal Nando,
bahkan ia cukup yakin aku tidak pernah menceritakan
temanyangperawakannyasepertiNando.Hinggabeberapa
hari berikutnya aku masih saja mengusik Caca dengan
rasa penasaran tentang sosok Nando, bahkan berencana
mengajaknya untuk berkonsultasi ke dokter. Tiba-tiba aku
merasa khawatir dengan keadaanku.
***
	 Suatu sore ponselku berdering. Nomor yang tertera
tidak dikenal jadi kuabaikan panggilan itu. Hari berikutnya
ponselku berdering kembali. Aku masih mengingat tiga
Analekta Kisah Semesta | 124
PROPERTI OF P
nomor di belakang sama persis dengan nomor yang
menghubungiku kemarin sore. Kembali mengabaikannya,
tetapi ponsel terus berdering hingga beberapa kali
membuatku menyerah dan menyapa seseorang diseberang
sana.
	 “Halo Kayla. Aku Nando,” terdengar suara yang
tak asing diseberang sana.
	 “Hai, Ndo. Apa kabar?”
	 Nando menghubungi hanya untuk menanyakan
kabar dan juga berusaha mencari tahu apabila aku telah
berhasil mengingatnya. Terus terang aku menjawab bahwa
masih belum mengingat dengan baik bahkan tidak merasa
pernahmelihatnyadikantor.Ialalumenjelaskanbahwakali
pertama melihatku di kantor saat ia mewakili atasannya
untuk mengkonfimasi perihal anggaran pembelian barang-
barang interior. Saat itu aku tengah melakukan video call
di ruang rapat yang berseberangan dengan ruang rapat
mereka. Melihat banyak orang yang memasuki ruang rapat
diseberang lalu aku menutup tirai ruang rapat sehingga
ia tidak lagi dapat melihatku. Begitulah ia menjelaskan
secara runut peristiwa itu.
	 Saat berikutnya Caca menghubungi, kuceritakan
bahwaNando menjelaskansaatpertamakalikamibertemu.
Tentu saja aku masih penasaran karena menganggap
Nando cukup banyak mengenal diriku namun minim
sekali aku tahu tentang dirinya. Dan seketika aku teringat
satu hal.
125 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Ca, apa mungkin amnesia yang dulu pernah
aku derita balik lagi ya. Ada beberapa peristiwa yang
aku enggak ingat, makanya aku bingung kalau Nando
bilang kami pernah bertemu sebelumnya?” Pertanyaan
selanjutnya untuk Caca.
	 “Seharusnya ingatan kamu sudah pulih kembali,
Kay. Kalaupun dulu kamu sempat amnesia, masih
tergolong amnesia lacunar, artinya hanya beberapa
peristiwa saja yang mungkin terlupa. Peristiwa tersebut
biasanya sebuah kejadian yang membuat seseorang
mengalami trauma. Tapi aku yakin ingatan kamu sudah
pulih. Mungkin hanya kebetulan saja kamu belum
ingat Nando karena memang tidak pernah bertemu
bahkan bicara.” Caca yang seorang psikolog mencoba
menjelaskannya dan menenangkan kekhawatiranku.
***
	 Lebih dari enam bulan yang lalu aku mengalami
kecelakaan ketika sedang berkendara dengan Kenza,
mantan kekasihku. Saat itu kami tengah bertengkar
karena aku ingin mengakhiri hubungan. Hubungan yang
telah terjalin selama dua tahun ini harus kuakhiri karena
Kenza kerap kali berbicara keras dan tidak dapat menahan
emosi serta amarahnya. Ia sering berteriak dan tidak dapat
bersabar atas sesuatu hal. Saat itu adalah kali kedua aku
memintanya mengakhiri hubungan kami karena sudah
tidak tahan lagi dengan sikap dan sifatnya tersebut.
Analekta Kisah Semesta | 126
PROPERTI OF P
	 Akibat tidak dapat menahan emosinya, ia memacu
mobil yang dikendarai dengan kecepatan kencang di
jalan tol Bogor menuju Jakarta. Mobil lain yang didahului
Kenza dari sebelah kiri nampaknya tidak terima dan
tersulut emosi hingga akhirnya mengejar mobil kami.
Nahasnya, mobil tersebut kehilangan kendali saat hendak
mendahului kami hingga menabrak sisi kiri kendaraan.
Kenza yang juga kaget dan kehilangan kendali menghindar
ke bahu jalan sebelah kiri namun mobil justru terbalik dan
menabrak sebuah pohon.
	 Beruntung aku tidak terluka parah karena airbag
mobil berfungsi dengan baik menahan benturan saat
kecelakaan terjadi. Aku hanya mengalami beberapa
luka robek di tangan terkena pintu dan pecahan kaca.
Kepalaku juga sempat mengalami benturan karena dokter
yang merawat melakukan CT-Scan. Aku terdiagnosis
mengalami amnesia, namun akan pulih seiring waktu
sejalan dengan menghilangnya trauma di kepala.
	 Terkadang masih ada sedikit kekhawatiran dengan
ingatanku ini, apakah benar akan kembali pulih seperti
sebelumnya ataukah ada potongan peristiwa yang mungkin
terlupakan. Namun Caca selalu berhasil menenangkan
gundahku. Ia pula yang kerap kali menanyakan keadaanku
sejak peristiwa tersebut. Caca yang bersikeras tidak
mengizinkan Kenza bertemu denganku sejak kecelakaan.
Dia yang memutuskan semua komunikasi di antara kami,
menghapus kontak di ponselku dan tidak mengizinkan
Kenza datang ke rumah dan ke kantor, apa pun alasannya.
127 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
***
	 Akhir minggu ini Caca dan Mas Arif mengajakku
menghabiskan sore menemani mereka mencari keperluan
bayi. Keseruan aku dan Caca memilih baju dan
perlengkapan bayi nampaknya membuat Mas Arif harus
menanggung semua pilihan kami yang harus dibayarnya.
Semuanya tampak lucu, mungil dan beraroma harum khas
bayi.
	 Saat berjalan keluar toko kurasakan seseorang
menepuk pundak. Kaget melihat sosoknya berdiri di
belakangku dan senang karena aku bisa bertemu dengan
Nando lagi sore ini.
	 Kebetulan sekali, bisikku dalam hati.
	 Aku memperkenalkan Nando pada Caca dan
Mas Arif. Akhirnya Nando bergabung bersama kami
menghabiskan malam minggunya menikmati makan
malam. Aku dan Caca menunggu mereka berdua di
sebuah kafe di dalam pusat perbelanjaan sementara Nando
membantu Mas Arif memasukkan barang belanjaan ke
dalam mobil.
	 Kuperhatikan sekilas Nando memang sangat
ramah pribadinya. Ia mudah sekali akrab dengan Caca dan
suami, seakan-akan mereka telah lama saling mengenal
dan lama tidak berjumpa. Sempat terbayang olehku kalau
mereka bertiga telah saling mengenal namun segera
kutepis. Bagaimana mungkin Nando mengenal mereka
Analekta Kisah Semesta | 128
PROPERTI OF P
berdua karena keduanya adalah petugas medis yang setiap
hari berada di rumah sakit dan Nando seorang arsitek.
Tempat kerja kami pun berbeda wilayah. Sepertinya
tidak mungkin kalau mereka saling mengenal, lamunku
kemudian.
	 Tidak terasa waktu telah semakin malam ketika
Nando meminta izin Mas Arif untuk mengantarku
pulang. Mas Arif mengiyakan setelah melihatku
memperbolehkannya. Malam itu pertama kalinya aku
pulang dengan seorang lelaki yang belum lama dikenal.
Walaupun kenyataannya ia telah cukup mengetahui jati
diriku.
	 “Seneng banget kenal sama mereka berdua.
Keduanya orang yang baik dan ramah. Apalagi Mas
Arif dokter ortopedi terkenal di rumah sakit,” ucapnya
membuka perbincangan malam ini.
	 “Kok kamu tahu kalau Mas Arif dokter ortopedi?”
tanyaku seketika. Rasa-rasanya tadi saat kami berempat
berbicara Mas Arif hanya mengatakan kalau ia Dokter di
sebuah rumah sakit tapi tidak bilang kalau ia Ortopedi.
Sesaat mencurigai Nando mungkin sebenarnya sudah
mengenal Mas Arif.
	 “Ooh tadi Mas Arif sempat cerita kok kalau
dia dokter ortopedi. Mungkin kamu waktu itu sedang
tidak mendengarkan kami bicara,” jelasnya singkat.
Aku mengangguk setuju, mungkin mereka berdua tadi
sempat ngobrol sendiri saat aku berbicara dengan Caca
129 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
atau memang tidak memperhatikan pembicaraan mereka
berdua.
	 Kami masih meneruskan obrolan malam ini
dengan saling menceritakan kisah masing-masing. Nando
adalah anak bungsu dari dua bersaudara dengan kakak
perempuanyangjugaseorangdokteranak.Iatelahmenikah
namun menetap di Australia mengikuti suaminya bertugas
sebagai abdi negara. Kedua orang tuanya pengusaha.
Ayahnya pemegang sebagian saham otomotif dan ibunya
pemilik sebuah klinik kecantikan.
	 Tiba di rumah, terlihat ayah masih duduk diteras
dengan Kahfi, adik lelakiku. Mereka berdua tengah
menghabiskan malam dengan bermain catur. Nando
menyempatkan diri bertemu dengan ayah dan berkenalan
dengan beliau untuk kemudian pamit pulang. Ayah iseng
menggoda saat aku menemaninya membuat teh malam
ini. Ayah mengatakan kesan pertamanya saat bertemu
dengan Nando dan nampaknya beliau menyukai lelaki
itu. Ia terlihat sangat sopan dan ramah. Tutur katanya pun
lemah lembut, ungkap ayah. Ibu yang mendatangi kami
di dapur menjadi penasaran mengenai apa yang sedang
dibicarakan. Ibu justru tidak mau kalah dengan ayah
ikut menggodaku. Beliau menyatakan telah melewatkan
kesempatan bertemu dengan calon menantunya. Tidak
tahan dengan godaan mereka berdua, kutinggalkan ayah
dan ibu di dapur segera setelah mengecup kening mereka
dan mengucapkan selamat malam.
***
Analekta Kisah Semesta | 130
PROPERTI OF P
	 “Ca, aku rasa Mas Arif dan Nando sudah saling
mengenal sebelumnya,” tanyaku pada Caca saat beberapa
hari berikutnya ia menghubungiku. Sebenarnya Caca
lebih penasaran akan ceritaku ketika Nando mengantarku
pulang pada Sabtu malam lalu dibanding pernyataan yang
terlontar barusan.
	 “Sok tahu! Aku kenal semua teman Mas Arif, di
rumah sakit ataupun teman kuliahnya. Kenapa sih kamu
masih saja menanyakan soal Nando. Pakai nyeret-nyeret
Mas Arif lagi.” Caca mematahkan kecurigaanku.
	 “Tapi, Ca, waktu Nando mengantarku pulang ia
bilang kalau ia terkesan dengan Mas Arif karena menjadi
seorang dokter ortopedi terbaik di rumah sakit tempat
kalian bekerja. Aku rasa waktu kita ngobrol berempat aku
tidak pernah melewatkan obrolan kita. Coba kamu tanya
Mas Arif, siapa tahu memang mereka berdua telah saling
kenal sebelumnya,” lanjutku masih penasaran.
	 “Sudahlah Kay, mungkin saja memang Mas Arif
seterkenal itu,” godanya. Kami melanjutkan obrolan
dengan rencana lainnya untuk menyambut kelahiran bayi
Caca.
***
	 Beberapa minggu ini kujalani dengan sedikit
warna yang berbeda. Nando beberapa kali menghubungi
ponselku dan kami berbicara banyak hal. Ia juga sesekali
bertandang ke rumah, bertemu ayah dan tentu saja dengan
131 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
ibu juga. Seperti halnya ayah, ibu pun turut menerima
kedatangan Nando dengan tangan terbuka. Beliau berdua
nampaknya senang bertemu Nando setiap kali ia datang
bertamu. Kahfi bahkan telah menemukan lawan baru
bermain PS di rumah.
	 Kami berdua telah beberapa kali menghabiskan
waktu bersama. Mengunjungi toko buku, berbelanja
maupun menemani Caca dan Mas Arif melengkapi
kebutuhan bayi mereka. Saat bersama mereka, aku
beberapa kali memperhatikan kalau Nando dan Mas
Arif terlihat seperti sudah lama mengenal. Rasanya tidak
mungkin kalau mereka baru saja bertemu beberapa kali
dan langsung sangat akrab seperti ini, batinku dalam hati.
***
	 Suatu pagi Caca dan Mas Arif datang berkunjung
ke rumah. Ayah dan ibu menemani mereka berbincang
di teras belakang. Aku kembali ke kamar menyelesaikan
mandi pagi, untuk segera bergabung dengan mereka.
	 “Om senang Kayla bertemu dengan Nando dan
sepertinya mereka cukup dekat belakangan ini. Nando
sudah beberapa kali datang dan bertemu kami sebelum
mengajak Kayla pergi. Terima kasih kalian sudah
mengenalkan Kayla pada Nando.” Kudengar sayup-sayup
suara ayah dan Mas Arif. Pasti Mas Arif sebelumnya
sudah mengenal Nando, hanya saja aku tidak tahu kenapa
mereka menyembunyikannya.
Analekta Kisah Semesta | 132
PROPERTI OF P
	 “Iya, Om. Kami juga senang Kayla menerima
Nando walaupun harus melalui beberapa kejadian dahulu
sebelumnya. Semoga ini ….”
	 “Caca! Jahat banget sih kamu bohong ke aku.”Aku
menyela pembicaraan mereka sembari berteriak kearah
Caca.
	 “Kamu sama Mas Arif yang merencanakan semua
ini ya? Dan ternyata Ayah juga setuju? Ayah sama Ibu
kenapa enggak bilang terus terang saja sama Kayla kalau
mau mengenalkan dengan Nando,” ujarku mendatangi
mereka berempat dengan muka cemberut.
	 “Kami pikir kamu akan menolak kalau dikenalkan
begitu saja. Makanya Mas Arif meminta persetujuan Ayah
akan mengenalkan Nando padamu. Terlebih sebenarnya
Nando memang pernah bertemu denganmu di kantor,
bukan?” Ayah menerangkan. Ibu yang merasakan
kekesalanku, memeluk lembut sambil mengelus kepala.
	 “Kamu juga boleh marah sama Ibu karena
ikut mengerjai kamu, Kay. Tapi Ibu setuju kalau Ayah
menjodohkan kamu sama Nando,” goda Ibu.
	 “Kayla pikir beberapa waktu lalu amnesia Kayla
belum pulih benar. Dan Kayla memang tidak bisa
mengingat beberapa kejadian yang sudah lewat. Kayla
sempat tanya ke Caca juga waktu itu,” ujarku membela
diri dan melayangkan pandang ke arah Caca.
133 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Maaf ya, Kay. Sebenarnya kami enggak berniat
mengerjaimu, hanya saja kalau kamu tidak diperkenalkan
dengan cara seperti ini pasti kamu akan menolaknya.
Kami khawatir kamu balik lagi jadian sama Kenza. Aku
enggak rela, Kay. Baby di perutku juga pasti enggak rela
kalau Tante Kayla yang cantik dan baik hati ini disakiti
lagi,” sahut Caca diikuti gerakan tangannya mengelus
perut besarnya yang sudah hampir melahirkan itu diselingi
senyumnya yang menggoda.
	 Mas Arif akhirnya mengakui bahwa Nando
memang bukan temannya ataupun Caca. Ia adalah teman
dari salah satu pasiennya. Waktu itu Nando mengantarkan
temannya yang mengalami kecelakaan patah tulang
saat bersepeda dan beberapa kali memang Nando yang
selalu mengantarkannya. Mungkin mereka berdua
bersahabat. Dari beberapa kali pertemuan itu kemudian
Mas Arif menanyakan kesediaan Nando untuk berkenalan
denganku setelah ia mengetahui bahwa perusahaan kami
mengadakan kerja sama.
	 Mana mungkin aku marah pada orang-orang yang
menyayangiku. Aku tahu mereka sangat mengenalku
dan tidak mau hatiku terluka lagi. Kenza tidak hanya
meninggalkan luka batin, tapi ia juga meninggalkan
trauma dalam diriku.
	 Kami kemudian mengundang Nando untuk
bergabung malam ini di rumah. Mas Arif mengatakan
bahwa aku telah mengetahui rencana mereka untuk
menjodohkannya. Ia juga meminta maaf padaku juga
Analekta Kisah Semesta | 134
PROPERTI OF P
Nando karena harus mempertemukan kami berdua dengan
cara seperti ini. Tapi seru, kata Caca menanggapi ucapan
suaminya.
	 Rasanya tidak adil karena Nando sudah
lebih banyak mengenalku sedangkan aku tidak begitu
mengenalnya. Malam ini aku akan memintanya
mengatakan semua hal tentang dirinya. Mulai saat ini kita
akan melakukannya dengan benar dan terbuka, begitu
permintaanku padanya. Nando terpaksa menyetujuinya
alih-alih menghabiskan waktu berbincang dengan Mas
Arif dan ayah malam ini.
	 Senangnya malam ini gantian aku yang berhasil
memaksakan kehendak padanya. Juga memaksa Caca
untuk membuatkanku lasagna esok hari untuk menebus
kesalahan karena mengerjaiku. Sementara Mas Arif,
ia cukup harus menemani istrinya berbelanja dan
membantunya memasak makanan kesukaanku. Nikmatnya
mengerjai mereka semua tanpa rasa bersalah, gumamku
dalam hati.
	 Semoga awal yang baik dari pertemuan yang
direncanakan ini akan memberikan warna yang baru dan
berbeda.Menebarkanwarnakebahagiaandankebersamaan
dalam kehidupanku bersama orang-orang yang aku kasihi.
135 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
N’esthy, nama pena yang disunting dari nama aslinya.
Menyukai kisah kasih semua genre. Kini ia mencoba
mengasah kemampuannya menulis. Beberapa buku telah
diterbitkan bersama penulis lain, di antaranya bersama
penulis besar A. Rifa’I Rif’an dalam buku Tommorow
Will Be Better. Kisah pendek dalam keseharian dapat
ditemui di Instagramnya @cerita_mencerita.
Analekta Kisah Semesta | 136
PROPERTI OF P
BLOODY SPRING
IN AMSTERDAM
Oleh: Wida Reza Hardiyanti
Aku berprofesi sebagai seorang dokter di
Amsterdam UMC, sebuah rumah sakit kelas
internasional yang berada di jantung kota Amsterdam,
tepatnya di Jalan Meibergdreef No.9. Bulan April ini
adalah bulan yang membawa keceriaan dan bahagia dalam
hidupku karena di bulan ini datang musim semi. Musim
semi di Belanda sangatlah indah, penuh bunga bermekaran
dan festival bunga diadakan di masing-masing kota.
Musim semi membawa kenangan indah sejak aku masih
kanak-kanak. Orang tuaku sering mengajakku jalan-jalan
ke taman di musim semi. Ketika orang tuaku telah tiada
akhir tahun lalu, rasanya hanya kenangan yang tersisa,
137 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
salah satunya musim semi.
Hari ini aku ingin berjalan sendiri dari rumah sakit
tempatku bekerja. Kondominiumku terletak di dekat
taman di jalan Tafelberg, hanya perlu berjalan sekitar
500 m dari rumah sakit tempat aku bekerja. Hari ini aku
sengaja tak membawa mobil dan memilih berjalan kaki.
Aku ingin pulang cepat dari tugas dinasku dan menikmati
pemandangan malam di musim semi, melihat beraneka
bunga bermekaran di taman Volkstuinpark De Vijf Slagen
yang terletak di Jalan Tafelberg. Aku ingin menikmati
udara malam di taman bunga Volkstuinpark. Aku ingin
menikmati dunia penuh warna yang dipancarkan oleh
kelopak bunga tulip, daffodil, snowdrops, crocus, hyacinth,
peony, cannas, dan dahlia menghiasi taman1
. Keindahan
taman ditunjang pula dengan landscaping yang bagus,
bangku-bangku taman yang antik berwarna cokelat tua,
dan pencahayaan yang indah dari lampu taman. Semuanya
memancarkan aura musim semi yang penuh gairah,
semangat, dan keceriaan.
Aku sebenarnya ingin menikmati pemandangan
ini di pagi hari yang cerah sambil duduk di kursi taman,
tapi sudah berbulan-bulan lamanya, pekerjaanku sebagai
dokter bedah memaksaku selalu pulang larut malam.
1	 Belanda, negeriku ini, memang terkenal sebagai produsen bunga.
Belanda mampu berkontribusi sebanyak 60% dari total perdagangan dunia
dalam komoditas bunga. Maka tak heran bila Belanda dinobatkan sebagai
Sillicon Valley di industri bunga kelas dunia.
Analekta Kisah Semesta | 138
PROPERTI OF P
Aku tak sempat memiliki waktu untuk sekadar duduk-
duduk menikmati keindahan taman di pagi hari. Di waktu
senggang pun aku sudah terlalu lelah hingga kuhabiskan
sepanjang hari untuk beristirahat di kondominium,
memasak, atau merawat tanaman di halaman belakang
tempat tinggalku.
Perlahan kulangkahkan kakiku perlahan keluar
dari rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 21.00. Aku
menikmati sejuknya malam sambil berjalan kaki melintasi
trotoar jalan Meibergdreef. Entah kenapa malam ini sepi.
Tak banyak lalu lalang mobil seperti biasanya, hanya
satu dua pejalan kaki dan kendaraan yang melintas. Aku
menduga karena adanya terror seorang pembunuh berantai
di kota ini yang hingga kini belum ditemukan jejaknya oleh
Dienst Nationale Politie, suatu divisi kriminal kepolisian
setempat. Bahkan, kabarnya bekerjasama pula dengan
Dienst Landelijke Operationele Samenwerking karena
sulitnya melacak keberadaan pelaku. Tapi, aku tak peduli.
Hari ini aku ingin melihat bunga-bunga bermekaran
di taman kota, menikmati udara malam, kemudian
menyeruputsegelas kopi hangat di kafe dekat taman. Maka
kuputuskan untuk mengabaikan berita itu.
Baru beberapa langkah memasuki taman
bungaVolkstuinpark, aku mendengar suara rintihan
seorang perempuan merintih kesakitan, “Help mij,2
”
katanya lirih. Aku sebenarnya sedikit takut karena jalanan
begitu lengangdan tak ada lalu lintas kendaraan sama
2	 Tolong bantu saya­­
139 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
sekali. Lampu taman tampak temaram dikalahkan oleh
gelapnyamalam.Udaradinginjugaserasamenusuktulang.
Menambah suasana lebih mencekam. Langkah kakiku
terhenti. Hatiku tercekat. Degup jantung seolah saling
berpacu dengan deru napasku yang tak beraturan. Tiba-
tiba terlintas semua bayangan buruk tentang pembunuh
berantai buronan polisi.
Nyaliku ciut. Aku ingin rasanya segera lari menjauh
dari tempat itu, bergegas meninggalkan taman dan mencari
kafe terdekat di sana. Kafe yang biasanya ramai akan
kerumunan. Tapi kakiku rasanya tak bisa digerakkan sama
sekali seperti mati rasa. Keringat dingin juga membanjiri
tubuhku. Kupaksa tubuhku untuk bergerak. Setelah
sepersekian detik, akhirnya aku mulai bisa menata suasana
hatiku. Kutarik napas perlahan-lahan dan pikiranku mulai
jernih kembali. Kuputuskan untuk pergi dari sanaKetika
aku hendak bergegas pergi, tiba-tiba suara rintihan itu
terdengar kembali menembus sepinya malam.
Aku membulatkan tekad untuk mencari tahu.
Kulangkahkan kakiku perlahan mendekati sumber suara.
Rupanya suara itu berasal dari rimbun daun Breynia
Distichia atau yang lebih dikenal dengan pretty pink.
Daunnya kecil berwarna pink, rimbun, dan berdahan
rendah. Tapi anehnya, kulihat warna daunnya tak lagi
pink tapi seperti bercak warna merah darah. Di sekitar
semak dedaunan tampak bekas jejak kaki dan terdapat
noda merah di tanah. Kusibakkan rimbun daun dan
betapa tercekat diriku ketika melihat seorang perempuan
Analekta Kisah Semesta | 140
PROPERTI OF P
dengan rambut kusut masai dan tubuhnya tertelungkup
tak bergerak. Ia tak sadarkan diri, tapi bibirnya bergetar-
getar seperti menggugamkan sesuatu. Segera kudekati
perempuan tersebut. Tubuhnya tampak setengah telanjang
dengan rok panjangnya tersingkap ke atas dan baju lengan
panjangnya berada di samping tubuhnya. Tampak ada
selembar kerudung warna biru yang kini warnanya menjadi
sewarna darah. Di punggungnya tampak luka lebam
bekas pukulan. Segera kubalikkan badannya perlahan dan
kututupkan baju ke dadanya. Wajahnya penuh luka dan
tampak kotor berkas tanah. Darah segar mengucur dari
dahinya. Bibirnya sobek. Denyut nadinya masih terasa
meskipun samar, tapi napasnya mulai pendek. Aku segera
memanggil ambulans dan polisi. Ia pun segera dilarikan
ke rumah sakit terdekat, di rumah sakit tempatku bekerja.
Polisi menginterogasiku selama beberapa saat di
tempat kejadian.
“Je kent hem al eerder?3
” tanya polisi
“Nee, ik weet het helemaal niet.4
”
“Hoe laat heb je hem gevonden? Is hier eerder
iemand gepasseerd?5
”
3	 Apakah kamu mengenalnya sebelumnya?
4	 Tidak, aku tak mengenalnya sama sekali
5	 Pukul berapa kamu menemukannya? Apakah ada yang lewat di 	
	 sini sebelumnya?
141 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Rond 21:15 uur. Ik zag niemand langskomen. De
situatie is erg eenzaam.6
”
Karena tak banyak hal yang bisa digali dariku,
akhirnyapolisi tidakmemperpanjangprosesinterogasinya.
Polisi kemudian membolehkanku pergi dari TKP. Kulihat
mereka kemudian mulai memeriksa TKP dan mencari
barang bukti.
Aku segera beranjak pulang. Aku pulang dengan
langkah lunglai. Sesampai di kondominium aku segera
tidur terlelap. Esok paginya aku pergi lebih awal ke rumah
sakit untuk melihat kondisi perempuan itu. Pukul 6 pagi
aku segera memacu mobilku ke rumah sakit. Sesampainya
di rumah sakit, kutemui ia di kamar rawat No. 9.Tangannya
diinfus, alat bantu pernapasan terpasang di hidung, serta
tangan dan kakinya juga digips. Ada alat EKG7
yang
terpasang di sebelah tempat tidurnya. Kondisinya masih
tak sadarkan diri. Perempuan itu dalam kondisi sekarat,
berjuang antara hidup dan mati.
Aku segera bercakap-cakap dengan rekan sejawatku,
dokter yang merawatnya.
“Zijn toestand is vrij ernstig. Er waren 10 gebroken
ribben, bloedstolsels in het hoofd en breuken in zijn
handen en voeten. Het kan meer dan een maand duren om
6	 Sekitar jam 21:15. Saya tidak melihat siapa pun lewat. Situasinya 	
	 sangat sepi.
7	 Elektrokardiogram
Analekta Kisah Semesta | 142
PROPERTI OF P
te herstellen.”8
	 Dari hasil diskusi tersebut, kudapat informasi
bahwa perempuan tersebut menjadi korban kekerasan dan
penganiayaan. Ia juga mengalami luka sayatan di dada
sehingga harus segera dioperasi. Akulah yang kemudian
mengoperasi dirinya. Sementara untuk pengobatan dan
perawatan ia akan di tangani oleh dokter lainnya.
Aku sudah meminta kepolisian untuk menghubungi
keluarganya,tapitakadasatupunyangbisadihubungi.Dari
hasilpenelusuransementara,iabukanberkewarganegaraan
Belanda, tapi berkebangsaan Maroko. Ia bernama Alea
dan bekerja di sebuah butik pakaian tak jauh dari tempatku
bekerja. Akulah yang otomatis kini menjadi wali Alea.
Setiap hari kuluangkan waktu untuk menemui Alea di
ruang rawat. Alea tampak seperti sleeping beauty, si
cantik yang tertidur pulas dalam waktu lama. Wajahnya
putih mulus, beralis tebal, hidungnya mancung, bibir
merah dan penuh sempurna, dan pipi putih merona. Sudah
dua minggu ia terbaring di ranjang, tanpa ada tanda-tanda
bangun dari koma. Setiap hari itu pula aku mengajaknya
bicara banyak hal. Aku merasa sangat nyaman, bahkan
seolah sudah mengenalnya lama sejak dulu. Kadangkala
aku membawakannya bunga yang kutaruh di vas bunga
samping tempat tidurnya. Selama 2 minggu itu pula,
belum ada perkembangan berarti dari pihak kepolisian.
8	 Kondisinya cukup serius. Ada 10 tulang rusuk yang patah, terjadi
pembekuan darah di kepala, dan patah tulang di tangan dan kakinya. Mungkin
butuh waktu lebih dari sebulan untuk pulih.
143 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Polisi hanya mendapatkan bukti bahwa pelakunya adalah
seorang laki-laki dan ia merupakan orang yang mengenal
korban. Seiring dengan makin intensnya aku bertemu dan
bermonolog dengan Alea, perlahan muncul perasaan yang
belum pernah kurasakan sebelumnya. Semacam perasaan
bergejolak yang sulit dijelaskan. Aku yang telah terbiasa
hidup seorang diri belum pernah merasakan perasaan
ingin melindungi dan empati sebesar itu sebelumnya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa
sudah 2 bulan Alea terbaring di tempat tidur. Hari ini
bertepatan dengan tanggal 20 Juni dan diperkirakan
merupakan hari terakhir di musim semi. Mungkin baru
kali ini aku merasakan musim semi tanpa rasa bahagia.
Semenjak Alea dirawat, musim semi tak lagi bisa
membuatku ceria. Warna-warni bunga seolah tak bisa
kulihat selain warna merah darah yang tercecer di bunga
pretty pink ketika aku menemukannya di taman. Semilir
angin seolah tak lebih mencekam daripada dinginnya
malam saat aku menemukannya dalam kondisi sekarat.
Apalagi ditambah belum ada perkembangan apa pun lagi
dari kepolisian mengenai hasil pelacakannya terhadap
pelaku. Tapi, di hari terakhir musim semi ini aku masih
mengharap adanya keajaiban dari Tuhan. “Ya Tuhan,
semoga Alea segera sadarkan diri dan pelaku segera
ditemukan,” bisikku pelan.
Kulihat langit tampak cerah. Jam di dinding
menunjukkan pukul 10 pagi. Sebentar lagi aku ada jadwal
operasi. Kubisikkan pelan kata perpisahan di telinga Alea.
Analekta Kisah Semesta | 144
PROPERTI OF P
Kupandangi wajahnya sebelum aku pergi. Saat itulah
kulihat keajaiban terjadi. Mata Alea terbuka dan bibirnya
mulai bergerak. Dari tenggorokannya keluar suara parau
dan lirih, “Waar ben ik? wat is er met me gebeurd?”
Kukatakan padanya bahwa ia di rumah sakit dan
sekarang kondisinya sudah membaik. Kusampaikan
bahwa aku menemukannya dalam kondisi tak sadarkan
diri di taman. Alea hanya diam. Dahinya berkerut,
tampak merenung mencoba mengingat sesuatu. Tiba-tiba
terdengar dering telepon dari kepolisian. Aku buru-buru
mengangkatnya. Polisi baru saja memberi tahu bahwa
pelakunya telah tertangkap. Pelakunya adalah seorang
pembunuh berantai yang meneror kota kami.Aku akhirnya
bisa bernapas lega. Musim semi kali ini ditutup dengan
akhir yang indah. Kusunggingkan senyum termanisku
di hadapan Alea. Aku beulum pernah sebahagia ini
sebelumnya. MeskipunAlea belum mengenalku, namun ia
membalas senyumanku dengan hangat. Hatiku berbunga-
bunga seperti musim semi terakhir di Belanda.
***
145 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
Wida Reza Hardiyanti. Lahir 25 tahun lalu di sebuah
kota kecil di Jawa Tengah. Punya impian jadi penulis sejak
kecil. Menyempatkan menulis di waktu senggang. Pemula
dalam hal nulis fiksi, tapi ingin terus belajar. Berprofesi
sebagai konsultan, tapi dari kecil punya impian jadi penulis
yang menerbitkan buku.
Analekta Kisah Semesta | 146
PROPERTI OF P
MUSIM SEMI DI
TANAH ATATURK
Oleh: Tika Nemoest
Wajahku terasa panas meskipun angin tidak
berhenti berembus. Sekarang ini pasti
wajahku memerah. Menahan air mata untuk tidak keluar
memang tidak mudah.
“Seni çok seviyorum. Ağlama.”9
Aku memang mengerti bahasa Turki, tapi sekarang
mendengarnyaberkatakenaparasanyaakusulitmemahami
apa yang dia katakan. Aku memandang sekitar, mencoba
9	 Aku mencintaimu. Jangan menangis
147 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mengalihkan apa yang aku rasakan.
Aku tersenyum kecil, sangat kecil mungkin ketika
melihat seorang anak perempuan terlihat marah kepada
anak laki-laki di sampingnya. Dia berkata bahwa dia bisa
sendiri, tidak perlu dipegang. Dia ingin meluncur sendiri.
Tidak jauh darinya ada seorang wanita yang tersenyum
dan memegang kamera, pasti dia sedang merekam ketika
anak perempuan itu bermain sepatu roda. Di sampingnya
ada anak laki-laki yang sedikit lebih besar darinya,
merentangkan kedua tangan seolah siap untuk menangkap
jika anak perempuan berambut hitam ikal itu terjatuh.
“Dondurma yemek ister misin? en sevdiğin çilekli
dondurma.”10
Dia berkata lagi. Kali ini aku bisa mengerti
apa yang dia katakan, mungkin anak kecil tadi membuat
kesadaranku sedikit pulih. Tapi sayang, suasana hati dan
pikiranku sekarang tidak mendukung untuk makan es
krim stroberi. Apalagi dengan cuaca seperti ini.
Musim semi di Turki memang menakjubkan.
Ketika badanku terkena sinar matahari akan terasa sangat
panas, seperti musim panas di Indonesia. Rasanya ingin
sekali minum es buah segar dengan ekstra es batu dan
susunya. Mungkin jika aku menginginkan kulit hitam atau
cokelat, aku hanya perlu memakai baju minim dan duduk
santai di balkon hotel yang baru saja aku check in.
10	 Apakah kau mau es krim? Es krim strawberry kesukaanmu.
Analekta Kisah Semesta | 148
PROPERTI OF P
Tapi ketika matahari menghilang atau kau berada
di tempat teduh, maka bersiaplah merasakan hawa yang
dingin. Seperti aku sekarang ini. Meskipun aku memakai
mantel tebal dan penutup kepala serta sarung tangan
dan syal, hal itu tidak mengurangi rasa dingin di sekujur
tubuhku. Tapi dingin musim semi lebih bisa aku terima
dibandingkan musim dingin di Turki dan sikap dingin
Mehkeve. Ibu dari pria yang sekarang duduk di depanku.
Kami sudah merencanakan semua sejak tahun
lalu. Kedatanganku ke Turki bukan hanya untuk travelling
tapi juga bertemu dengan keluarga Adem, pria Turki yang
menjadi kekasih virtualku selama hampir 3 tahun. Dia tidak
bisa mengunjungiku di Indonesia karena pekerjaannya
sebagai aşker tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Banyak
hal yang harus diurus jika dia ingin mengambil cuti.
“Onunla evlenemezsin! O bizden farklı biri,
Adem.”11
Suara Mehkeve masih terdengar jelas di telingaku.
Adem bilang bahwa waktu yang tepat untuk datang ke
Turki adalah bulan Maret hingga Mei, karena saat itu
bunga-bunga tulip akan bermekaran dan terlihat sangat
indah di taman Emirgan. Jaraknya cukup jauh dari tempat
makanku sekarang. Ah … haruskah aku ke sana sebelum
kembali ke Indonesia?
11	 Kau tidak bisa menikah dengannya! Dia berbeda dengan kita, 	
	Adem.
149 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Akan ada banyak pasangan atau keluarga yang
menghabiskan waktu di taman Emirgan, sekadar untuk
berbicara, menghabiskan waktu atau mengabadikan
moment. Memang indah. Angin semilir dingin dengan
hangatnya cahaya matahari dan juga pemandangan warna-
warni dari bunga tulip. Perpaduan yang nyaris sempurna,
bukan?
Tapi sejak hari pertama aku berada di Turki, aku
belum merasakan keindahan itu. Setibanya di Turki,
Adem membawaku ke rumahnya. Dia begitu bersemangat
mengenalkanku pada ibu dan adiknya. Mehkeve sedikit
terkejut ketika pertama kali melihatku dan dia berubah
ekspresi wajah ketika Adem memanggilku balım, yang
dalam artian itu adalah panggilan sayang untuk orang
spesial.
Aku keluar dari rumah Adem sekitar pukul 6
sore. Matahari masih bersinar di sana waktu itu, Adem
bilang ketika musim semi matahari akan sedikit lebih
lama bersama kita, menghangatkan kita. Tapi aku justru
merasakan dingin. Dia menemaniku mencari penginapan
terdekat. Setelah kami menemukannya, dia mengajakku
makan di tempat yang tidak jauh dari tempatku menginap.
Aku suka tempat ini. Bersih, rapi dan ada meja
makan yang dekat dengan laut atau orang sini menyebutnya
laut Marmara. Seharusnya ini menjadi tempat yang sangat
sempurna bagi kami. Andai saja aku ke sini lebih dulu
sebelum ke rumah Adem.
Analekta Kisah Semesta | 150
PROPERTI OF P
“Neden sessizsin? Hala annemin ne dediğini mi
düşünüyorsun?”12
Kali ini dia memegang dan mengusap
lembut punggung tanganku. Ada rasa nyeri di hati.
“Yok. Sadece seninle olmaktan zevk alıyorum,
balım.”13
Aku berusaha tersenyum. Aku tidak mau merusak
momen ketika akhirnya aku bisa merasakan usapan
tangannya secara nyata, bukan lagi virtual.
Dia begitu tampan dengan rahang yang tegas dan
sakal yang tipis tapi bisa membuatku merasa geli ketika
aku mencium pipinya. Dia tinggi, dan berbadan tegap.
Pantas saja dia menjadi seorang aşker.14
Aku berdiri, melepas perlahan genggaman tangan
hangat itu.Tersenyum tipis padanya, memberi tanda bahwa
aku baik-baik saja. Semakin sulit bagiku untuk menahan
air mata ini jika dia menyentuhku. Aku berjalan perlahan
meninggalkan meja makan putih yang kami tempati untuk
makan, meskipun tidak ada makanan di sana.
Sebenarnya pandangan mataku mulai kabur
karena aku sudah mulai berkaca-kaca. Aku mengedipkan
beberapa kali dan mengelap air mata dengan tanganku,
berharap semoga Adem tidak melihatnya.
12	 Kenapa kau diam? Apakah kau masih memikirkan ucapan ibuku?
13	 Tidak. Aku hanya menikmati momen bersamamu, sayang.
14	 Tentara
151 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Kuhirup udara musim semi di kota seribu masjid
ini. Dingin, seperti yang ku katakan tadi. Musim semi
di Turki memang dingin, tapi menurutku hawa ini bisa
diterima oleh orang tropis sepertiku.
Kucing berwarna abu-abu yang juga memiliki
warna putih mencuri perhatianku. Baguslah. Aku sering
melihat di media sosial bahwa kucing dan anjing liar di
Turki hidup dengan nyaman. Aku tidak tahu apakah itu
berlaku di semua kota bagian Turki atau hanya di kota-
kota besar yang memiliki nama. Salah satu alasan kenapa
aku pergi ke Turki juga adalah ingin melihat kucing-kucing
ini. Sebagai pecinta kucing, melihat dan bertemu mereka
begitu menyenangkan.
Ternyata benar, kucing di sini, di Istanbul bagian
selatan memang hidup dengan tenang. Mereka gembul
dan bulu mereka lebat. Mereka juga tidak takut pada
orang-orang di sekitar mereka yang berlalu-lalang. Aku
bisa dengan mudah mengelus mereka. Aku cukup terkejut
ketika tidak sengaja aku melihat ada seekor anjing yang
tiduran di meja makan yang panjang dan orang-orang yang
sedang makan tidak keberatan dengan hal itu. Mereka
menyediakan rumah anjing dan kucing di tepian jalan.
Mereka juga menyediakan seperti mesin penjual makanan
dan minuman untuk kucing. Kita hanya perlu membayar
1 lira atau sekitar tidak lebih dari lima ribu rupiah untuk
mengeluarkan makanan dan minuman untuk kucing dan
anjing liar.
Analekta Kisah Semesta | 152
PROPERTI OF P
Ternyata Adem mengikutiku. Aku melihat
bayangannya tepat di depanku, yang artinya sekarang
dia berdiri di belakangku. Aku masih mengelus kucing
gembul abu-abu untuk menenangkan hatiku. Tapi hanya
dengan melihat bayangan Adem, membuat hatiku kembali
berkecamuk. Aku berdiri tapi masih membelakanginya.
Matahari sudah beranjak ternyata, cahayanya yang hangat
kini berganti dengan lampu jalanan.
“Seni çok seviyorum biliyorsun. Annemle tekrar
konuşacağım, anlayacaktır.”15
Curang.Kenapadiaharusmemelukkudaribelakang
seperti sekarang ini. Suara dan embusan napasnya begitu
terasa. Hangat dan menenangkan.
“Biliyorum. Endişelenmenize gerek yok,”16
akhirnya aku menjawab setelah aku diam sejak kami
keluar dari rumah Adem. Dia memelukku semakin erat,
kali ini aku memutar badanku dan membalas pelukannya.
Aku tidak tahu apakah kami bisa seperti ini lagi atau tidak.
Penolakan dari Mehkeve pada pertemuan pertama
kami cukup membuat aku syok. Kami berdua berasal dari
keluarga yang sama. Adem tumbuh dari keluarga yang
Islam yang kuat dan aku tumbuh dari keluarga hindu yang
juga kuat.
15	 Aku sangat mencintaimu,kau tahu. Aku akan berbicara lagi 	
	 dengan ibu,dia akan mengerti.
16	 Aku tahu. Kau tidak perlu khawatir.
153 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Ben de seni çok seviyorum, Adem.”17
Hangatnya pelukan Adem bagaikan sinar hangat
matahari dan sikap dingin Mehkeve seperti embusan angin.
Apakah musim semi di tanah Ataturk semenyakitkan ini?
***
Tentang Penulis
Gadis kelahiran bulan September dan memiliki nama
pena Tika Nemoest ini berasal dari kota Dawet Ayu
Banjarnegara. Anak pertama dari tiga bersaudara dan
semuanya adalah perempuan. Memiliki hobi makan
dan cita-cita kurus. Nemoest berasal dari bahasa Latin
yang memiliki arti nothing dan nama Tika adalah nama
depan aslinya yang memiliki arti bintang. Dan sejak
menyelesaikan pendidikannya, tika membantu orang
tuanya di toko sederhana. Menjalani sehari-hari dengan
berjualan, memberi makan kucing dan mengikuti beberapa
kelas menulis secara online.
17	 Aku juga sangat mencintaimu, Adem.
Analekta Kisah Semesta | 154
PROPERTI OF P
AUTUMN
ANNIVERSARY
Oleh: Puterica
Musim gugur di Paris selalu jadi pemandangan
yang memanjakan mata. Kota yang anggun
ini tampak jauh lebih semarak dengan warna kuning,
oranye, cokelat, dan semburat merah di sana-sini. Ada
kesan hangat dari bangunan-bangunan cantik yang
memagari lajur-lajur jalan, meski udara berembus dingin
dan hujan datang sesekali. Dari tempat aku berdiri, aku
dapat melihat Arc de Triomphe berdiri dengan gagah
dikelilingi dua belas rute jalan, seakan monumen itu
pusat dari sebuah jam raksasa. Sebuah kafe di dekatku
menguarkan aroma croissant yang baru dipanggang
dan kopi yang menggiurkan, berebut menyerbu indera
155 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
penciuman. Orang-orang berlalu lalang melewatiku–
sendirian, bergandengan dengan pasangan, sahabat, atau
keluarga–kebanyakan mengenakan jas panjang dan sepatu
bot yang selalu jadi tren di musim gugur. Kota pesolek
ini bagai putri kerajaan dalam balutan gaun indah–dan
kecantikannya selalu tercermin pada manusia-manusia
yang tinggal di dalamnya.
“Yuk, jalan lagi.”
Aku menoleh. Kamu tiba-tiba sudah hadir di
sisiku, tampak sangat cantik seperti biasa. Mata biru,
rambut pirang yang diikat sederhana, dan kulit mulus
bagai porselen. Tanganmu menyisip di lenganku, lalu kita
berjalan bersisian menyusuri Champs-Élysées.
“Pont Neuf?” tanyaku, memastikan tujuan kita.
Kamu membalas dengan senyuman manis dan sebuah
anggukan.
“Cantik, ya?” ujarmu tiba-tiba.
“Kamu? Iya, luar biasa.”
Kamu merengut sebal. “Jadi dari tadi aku bicara
kamu tidak dengar?”
Aku mengangkat bahu. Bola matamu berputar,
kelakuan menggemaskanmu jika dibuat kesal. “Itu,”
katamu–seraya menunjuk jaket penuh bulu yang dipajang
di sebuah etalase, “edisi musim dingin yang terbaru.”
Analekta Kisah Semesta | 156
PROPERTI OF P
Aku membayangkanmu dibalut jaket mewah itu,
lalu terkekeh.
“Apa yang lucu?” Suaramu terdengar menuntut.
“Tidak,” ujarku buru-buru. “Hanya saja,
menurutku, kamu terlalu mungil untuk pakai jaket seperti
itu.” Meski tentu saja tetap cantik, tambahku dalam hati.
Kamu tidak menjawab, tapi matamu masih
menatap etalase itu penuh rasa kepingin. Kita kembali
berjalan dalam diam.
Omong-omong, aku dapat mengingat sosokmu
dengan jelas waktu pertama kali kita bertemu. Saat itu
aku tengah berjalan-jalan melepas penat di Jardin du
Luxembourg, ketika melihat seorang gadis mungil sedang
membaca sendirian di salah satu bangku. Bukan parasmu
yang membuatku tertarik untuk menyapa, tapi buku yang
sedang kamu baca. Aku juga sedang membaca buku yang
sama dan aku ingin mendiskusikannya dengan seseorang.
Maka, aku menyapamu dengan sopan.
Kamu mendongak dan membalas sapaanku. Ketika
mata kita bertemu, kelu lidahku tak mampu berucap.
Kecantikanmu merebut kesadaranku. Demi seluruh hal
cantik di dunia, keindahan macam ini seharusnya ilegal
di muka bumi. Bagaimana mungkin seorang bidadari bisa
lepas dari kahyangan dan duduk di sini?
157 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Terlambat aku sadari pertanyaan itu kuucapkan
keras-keras. Kamu tertawa lepas. Semu merah di pipimu
makin nyata. Entah karena tawamu yang sebegitu bahagia,
entah karena udara dingin makin menyesakkan napas.
Aku memandangimu dengan malu-malu. Ketika akhirnya
tawamu berhenti, kamu mengulurkan tangan dan berucap,
“Sophie Auclair.”
“AnthonieBellamy,”balasku.Senjaitu,percakapan
kita mengalir seperti kita sudah lama berteman. Aku
mengagumi sifatmu yang ramah dan periang, dan betapa
luar biasa cemerlang otak di balik paras malaikat itu.
Pont Neuf masih sama seperti biasanya, selain
kini daun-daun oranye beterbangan terbawa angin dan
air Sungai Seine jauh lebih hijau karena udara dingin.
Beberapa bus air hilir mudik membawa wisatawan.
Sungai Seine membentang sejauh 776 kilometer,
membelah kota Paris jadi dua bagian. Saat itu, demi
merayakan ulang tahunmu, kamu berkeras memaksaku
untuk mengikuti tur bus air itu. Puluhan tahun hidup di
Paris, baru sekali itu aku benar-benar memaknai keindahan
kota ini. Walaupun, kuakui hanya dalam hati, cantiknya
Paris luluh lantak jika disandingkan dengan kecantikanmu.
Tur itu membawa kita ke tujuh ikon wisata Paris–Musée
d’Orsay, St-Germain-des-Prés, Notre-Dame, Jardin des
Plantes, Hotel de Ville, Louvre, Champs Élysées, dan
kembali lagi ke Menara Eiffel.
Analekta Kisah Semesta | 158
PROPERTI OF P
Pont Neuf adalah salah satu tempat favoritmu
menikmati keindahan Sungai Seine. Pont des Arts lebih
terkenal karena pagar jembatan yang disesaki gembok-
gembok yang ditulisi nama pasangan-pasangan kasmaran,
tapi kamu berkeras Pont Neuf lebih cantik dan lebih
tenang.
“Romantisme Paris lebih elegan dibanding
gombalan seperti menulis inisial di gembok,” kilahmu
selalu. Biasanya, aku menggoda bahwa kamu hanya iri,
karena tak punya nama siapa pun untuk ditulis bersama
namamu di gembok itu. Dan seperti biasanya juga, kita
akan menyusuri setapak di Pont Neuf sambil berbincang.
Tertawa, saling goda, bergandengan tangan–tak pernah
berbeda.
“Apa nama restoran tempat kita makan siang
waktu itu?” tanyamu tiba-tiba.
“Maison Maison,” jawabku. Restoran berdinding
bata yang terkesan seperti penginapan abad ke-18 itu
selalu jadi pilihan yang tepat untuk melepas lelah.
Kamu mengangguk antusias. “Ayo, waktunya
makan siang.”
Ketika kita duduk berhadapan di Maison Maison
yang hangat dan penuh dengan muda-mudi menikmati
santapannya, aku sudah hapal pesananmu bahkan sebelum
daftar menu sempat kamu baca. Kamu akan memesan
coq au vin–hidangan kaki ayam yang dimasak dengan
159 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
anggur merah–karena kamu jarang sekali berganti pilihan
makanan. Aku akan memesan sepiring foie gras–hati
angsa yang dimasak dengan saus–dan menyisihkan
sepotong kecil untukmu karena kamu juga menyukai
hidangan itu. Hal yang sama akan terjadi jika kita makan
di Marché des Enfants atau Pizzeria Popolare, aku tahu
persis apa yang kamu ingin makan dan minum. Kadang,
aku memesan makanan itu tanpa bertanya lagi padamu, dan
kamu akan keheranan karena aku seperti bisa membaca
pikiranmu. Sementara aku menyimpan keherananku
bahwa kamu mungkin tidak sadar kamu selalu sama dan
kita sudah terlalu sering bersama untuk sejauh ini saling
mengenal.
“Bon appetit!18
” ujarmu girang ketika makanan
kita sampai di meja. Aku tersenyum. Kamu selalu makan
terlalu banyak untuk seseorang dengan tubuh mungil.
Aku berani bertaruh jika setelah ini aku menawarkanmu
beberapa potong donat crème brûlée kamu akan
menyantapnya tanpa ragu.
Perhentian dari tur singkat kita ini adalah Jardin
du Luxembourg, yang letaknya tak jauh dari sini. Taman
yang luar biasa luas itu terhampar di depan Palais du
Luxembourg, sebuah kastel tua yang dibangun pada abad
ke-17. Pohon-pohonnya ditanam berpola, dengan patung-
patung pualam putih berbentuk macam-macam hewan dan
dewa-dewi, hamparan rumput dan setapak untuk pejalan
18	 “Selamat makan!”
Analekta Kisah Semesta | 160
PROPERTI OF P
kaki, kolam-kolam berair hijau, serta bangku-bangku
untuk pengunjung duduk.
Jardin du Luxembourg tampak bagai tersiram cat
emas di senja pertengahan musim gugur ini. Dedaunan
yang gugur menutupi setapak bagai karpet oranye yang
cantik, burung-burung beterbangan saling menggoda,
kawanan bebek berenang dengan tenang di kolam,
dan udara yang berangin dingin membuat pengunjung
hanya duduk-duduk malas di sudut-sudut yang nyaman.
Aroma petrichor19
khas musim gugur begitu kuat dan
menyenangkan.
Aku bisa mendengar hela napasmu. Entah
menikmati udara, entah mengatasi gugup–karena sebentar
lagi kita tiba pada penutup. Langkahku berat saat kita
menuju tempat itu. Tempat ketika kita mengawali ini dan
sekaligus mengakhirinya. Bahkan setelah bertahun-tahun,
tempat itu masih sama. Bangku yang sama, cahaya senja
yang sama, pemandangan yang sama. Aku yang sama.
Dan kamu yang berbeda.
Setahun lebih kita saling mengenal, saling bertukar
segala hal–aku jelas jatuh cinta padamu. Mungkin aku
sudah jatuh cinta sejak kita pertama saling tatap. Aku
tahu segala hal tentangmu, dari yang terlihat di mata
sampai yang hanya kita ketahui berdua. Kukira, kamu
pun begitu. Sampai hari itu, di sini, kamu berkata dengan
19	 Petrichor–aroma air hujan ketika bertemu dengan tanah.
161 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
antusias bahwa kamu menemukan belahan jiwamu. Butuh
beberapa saat untuk akhirnya paham, yang kamu maksud
bukan aku.
“Tempat ini tidak pernah berbeda, n’est-ce pas?20
”
Aku tersenyum. “Oui. Nous sommes différents.21
”
Wajahmu murung seketika. Jeda yang tidak
nyaman segera menyekat kita. Kugenggam tanganmu
dengan lembut ketika aku berkata, “Aku belajar sesuatu
dari musim gugur, kamu tahu itu?”
Kamumenggeleng.Sesuatudimatamumembuatku
yakin sebentar lagi kamu akan menangis.
“Aku adalah pohon, kamu adalah daun, dan
dia adalah angin. Selama apa pun aku bersamamu,
menumbuhkan perasaanku untukmu, ketika waktunya tiba
dan angin musim gugur bertiup–kamu tetap akan terbang
juga.Aku tak bisa menahanmu. Sama seperti pohon-pohon
itu tak bisa mencegah diri mereka sendiri meranggaskan
daun.”
“Je suis désolée, Anthonie,22
” ujarmu dengan suara
pelan.
20	 “..., bukankah begitu?”
21	“Ya. Kita yang berbeda.”
22	 “Maafkan aku, Anthonie.”
Analekta Kisah Semesta | 162
PROPERTI OF P
Permintaan maaf itu juga terucap saat aku
akhirnya menyatakan cintaku padamu, dengan air mata
berlinang dan rasa frustasi yang menyakitkan. Aku
marah karena kamu memutuskan untuk pergi. Aku marah
karena kamu tak pernah merasakan hal yang sama seperti
yang kurasakan. Aku marah karena aku tak menyatakan
ini sejak lama. Aku marah karena cinta tak berpihak
pada kita. Kamu memelukku dengan erat, susah payah
menyembunyikan isak. Berulang-ulang meminta maaf.
Maka aku menjawab dengan jawaban yang sama,
“C’est pas grave, Sophie23
. Ini bukan salahmu.”
Lenganmu yang terulur kusambut tanpa ragu, dan
di sanalah kita terdampar–dalam dekapan masing-masing,
meredam segala perasaan yang terpendam dan rindu
yang tak pernah diucapkan. Aku tak pernah tahu apakah
pelukan ini kamu maksudkan sebagai tanda perasaanku
punya kesempatan untuk berbalas atau hanya sebagai
bentuk penyesalan. Yang aku tahu, aku tak pernah bisa
menghilangkan rasa ini sepenuhnya. Je t’appartiens
toujours, même si tu n’as pas demandé.24
“Kenapa kita melakukan ini?” tanyaku waktu
itu, ketika pertama kali kamu datang tiba-tiba–musim
gugur beberapa tahun silam–dan memintaku untuk
kembali mengunjungi tempat-tempat yang dulu kita
sering kunjungi, layaknya sepasang kekasih. Kamu tidak
23	 “Tidak apa-apa, Sophie.”
24	 Aku masih milikmu, bahkan jika kamu tidak memintanya.
163 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
menjawab saat itu, hanya menangis di pelukanku. Namun
seiring berjalannya waktu, aku memahaminya. Kamu akan
kembali padaku, lagi dan lagi, seperti ranting yang kembali
menumbuhkan daun, seperti musim gugur yang kembali
datang setiap tahun. Dan kita akan terus merayakan ini
sampai suatu hari kita muak dan barangkali memutuskan
untuk berhenti.
Dering telepon genggam membuat
cengkeramanmu mengendur. Dengan berat hati, aku
melepasmu, membiarkanmu menerima panggilan itu.
Suaramudibuatsetenangmungkin,tapiakutahusiapayang
ada di seberang sana. Ia memilikimu dan ia memintamu
pulang. Artinya, waktu singgahmu sudah usai.
“Pulanglah,” ujarku. “Anna pasti sudah
menunggu.”
Kamu tersenyum ketika aku menyebut bidadari
kecilmu itu. “Dia akan senang kalau kamu datang
berkunjung kapan-kapan.”
“Kapan-kapan,” ulangku.
Kamu memelukku untuk terakhir kali, lalu
menyematkan kecupan di pipiku.
“On se revoit, Chérie.25
”
25	 “Sampai jumpa lagi, Sayang.”
Analekta Kisah Semesta | 164
PROPERTI OF P
Lalu langkahmu menjauh, menyerak lapisan daun
berantakan. Menyisakan aku duduk di bangku sendirian,
bersulang bersama matahari yang bersiap pulang–
merayakan daun yang gugur terbang terbawa angin dan
cintaku yang gugur ketika kekasihku memilih pria lain.
***
Tentang Penulis
Puteri CikalAnasta, yang lebih akrab disapa Puterica, lahir
di Bandung tanggal 14 Januari 2000. Saat ini berstatus
mahasiswa di Politeknik Negeri Bandung. Kesehariannya–
selain belajar di kampus–adalah membaca dan menulis
cerita. Aktif di media sosial Instagram (@puterica) dan
dapat dihubungi melalui e-mail putericaaa@gmail.com.
165 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
DESA BULAN MATI
Oleh: Nita Lestari
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa
ini, aku sudah merasakan beberapa keanehan.
Aku merasa orang-orang di desa ini ‘kelewat ramah’ pada
pendatang baru seperti kami. Entah ini hanya perasaanku
saja, atau mungkin memang benar adanya. Aku merasa
orang-orang itu terus mengawasi gerak-gerikku. Mereka
menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bahkan
sesekali kulihat mereka berbisik satu sama lain.
Perasaanku tidak enak. Aku merasa tidak nyaman dengan
berbagai prasangka yang kini mulai menari di benakku.
Apa ini karena aku telah berbohong pada
Mama? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba saja rasa bersalah
itu menyergapku. Aku tahu aku salah karena telah
Analekta Kisah Semesta | 166
PROPERTI OF P
membohongi mama mengenai tempat tujuanku berlibur
kali ini. Namun setiap kali aku mengingat betapa
protektifnya mama kepadaku, kurasa pilihanku berbohong
kali ini cukup beralasan. Aku hanya tidak ingin membuat
mama khawatir. Lagi pula aku benar-benar membutuhkan
ketenangan agar bisa melupakan patah hatiku.
Desa Bulan Mati adalah desa tujuan kami, sebuah
desa terpencil yang terletak di pesisir Jawa bagian timur.
Entah mengapa, sejak pertama kali mendengarnya dari
Mia, nama desa itu tampak begitu akrab di telingaku.
Aku seperti pernah mendengarnya, tapi entah kapan dan
dari siapa, aku tidak mengingatnya. Mia memilih desa
itu sebagai destinasi wisata kami setelah menemukan
lokasinya dari sebuah situs online. Menurut Mia, tempat
itu cocok untuk menenangkan diri dan melepas penat. Aku
memang butuh suasana baru yang jauh dari hingar bingar
kota. Meski sempat ragu, nyatanya aku tidak bisa menolak
ajakan mereka.
Aku merasa liburan bukanlah sebuah ide yang
buruk. Aku butuh jeda untuk sejenak melupakan sakit
hatiku. Sejak awal Mia dan Siska memang sudah
memeringatiku kalau Rian adalah seorang playboy, namun
aku masih saja menutup mata dan telinga. Sampai suatu
hari aku menemukan Rian tengah berselingkuh dengan
teman kampusnya. Bahkan aku memergoki mereka
sedang melakukan perbuatan yang tidak pantas. Kilasan
tentang kejadian itu terus membayangi hari-hariku. Aku
benar-benar merasa kecewa dan sakit hati setiap kali
167 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mengingatnya.
Sejak kejadian itu, Rian berusaha menghubungiku
berkali-kali, meski ujung-ujungnya tidak kuangkat.
Ia juga terus berusaha menemuiku di kampus. Sebisa
mungkin aku berusaha untuk menghindarinya. Sampai
suatu hari, Rian marah karena terus menerus kuabaikan. Ia
mencegatku saat aku hendak menuju parkiran. Ia bahkan
tega menamparku di depan umum dan mempermalukanku
dengan menyebarkan berita yang tidak benar. Ia
menjadikanku kambing hitam atas penghianatan yang ia
lakukan. Bodohnya aku hanya bisa diam sambil menahan
tangis. Akibat ulah Rian, teman-teman kampusku mulai
memandangku dengan cara yang berbeda. Tatapan mereka
seolah menghakimiku. Aku tidak tahan dengan semua itu,
dan memilih melarikan diri ke desa ini.
Kami menempuh perjalanan cukup lama sebelum
akhirnya sampai di desa ini. Letaknya yang jauh dari
pusat kota, membuat desa ini sedikit sulit dijangkau.
Setelah turun dari kendaraan umum, kami masih harus
berjalan kaki untuk bisa sampai ke pangkalan ojek. Tapi
perjuangan itu sebanding dengan pemandangan yang kami
dapatkan. Desa ini tampak begitu asri. Di sepanjang jalan
dapat kami jumpai pepohonan yang menjulang tinggi,
serta lahan pertanian yang terbentang luas. Sesampainya
di sana kami disambut oleh Pak Ranto selaku tetua desa,
juga Mbok Rondo, salah satu pemilik rumah di desa itu.
Sekilas, pakaian kami tampak kontras dengan pakaian
mereka. Beberapa warga desa yang kebetulan berkumpul
Analekta Kisah Semesta | 168
PROPERTI OF P
di rumah Mbok Rondo masih mengenakan pakaian
tradisonal berupa kemben yang terbuat dari kain jarik.
Setelah sempat bertegur sapa sejenak sekaligus
memperkenalkan diri, Mbok Rondo mengantarkan kami
ke kamar masing-masing. Rumah ini sekilas tampak
bersih dan terawat. Menurut cerita Mbok Rondo, rumah
beliau ini sering dijadikan tempat menginap bagi para
pendatang. Entah mengapa aku justru merasakan aura
suram dari rumah ini.
“Oiya nduk, rasanya Mbok perlu menyampaikan
pantangan yang tidak boleh kalian lakukan di tempat
ini. Untuk berjaga-jaga saja supaya tidak terjadi hal-hal
yang tidak kita inginkan,” kata Mbok Rondo saat masing-
masing dari kami sudah mencapai pintu kamar. Kami pun
langsung menghadap Mbok Rondo dengan raut wajah
penasaran.
“Apa itu, Mbok?” tanya Mia penasaran.
“Jangan sekali-kali kalian mengenakan pakaian
berwarna merah di tempat ini, jangan tanya alasannya,
cukup patuhi pantangan itu,” jawab Mbok Rondo tegas.
Jawaban Mbok Rondo mau tidak mau membuatku
mengernyitkan dahi. Sebenarnya ada apa dengan tempat
ini? tanyaku dalam hati.
“Sekarang kalian beristirahatlah, besok Mbok
akan minta Ratih untuk menemani kalian berkeliling ke
area persawahan,” kata Mbok Rondo menutup percakapan
169 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
di antara kami.
Sepeninggalan Mbok Rondo, kami bertiga saling
bertukar pandangan. Berhubung kamar kosong yang
tersedia di rumah ini hanya dua kamar, aku memutuskan
untuk sekamar dengan Mia. Sementara Siska seorang diri
menempati kamar di sebelah kamar kami. Entah mengapa,
aku merasa kalimat yang diucapkan Mbok Rondo tadi
sedikit janggal. Terdengar mirip dengan petuah-petuah
yang sering mama sampaikan padaku. Selama ini mama
tidak pernah mengizinkan aku untuk membeli pakaian
berwarna merah. Entah apa alasannya, mama tidak pernah
mengatakannya padaku.
Rasanya tidak mungkin ada hubungan antara
aku, Mama, dan tempat ini, sangkalku dalam hati. Aku
segera menepis segala prasangka yang seketika melintas
di benakku. Setelah meletakkan pakaian yang kami bawa
ke dalam lemari, aku memilih merebahkan diri di kasur.
Rasanya perjalanan kali ini terasa begitu melelahkan.
Kulihat Mia masih sibuk menata pakaian dan pernak-
perniknya.
“Mia, kamu yakin sudah mencari info yang benar
tentang tempat ini? Entah kenapa, sejak sampai di tempat
ini perasaanku sedikit tidak nyaman,” kataku berusaha
memecah keheningan.
“Itu cuma perasaan kamu saja kali Ta, coba deh
kamu hubungi Mama kamu dulu, barang kali setelah itu
perasaan kamu bisa membaik,” jawab Mia.
Analekta Kisah Semesta | 170
PROPERTI OF P
Aku segera bangkit untuk memeriksa ponselku
yang ternyata sudah kehabisan daya. Aku memutuskan
untuk menghubungi mama besok pagi saja. Setelah
menyambungkan ponsel dengan charger-nya, aku kembali
merebahkan tubuhku. Tubuhku yang lelah memudahkanku
untuk terlelap. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku
terbangun berkat suara-suara samar yang terus bergaung
di telingaku. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar
suara itu. Mimpi itu datang berulang sejak usiaku genap
tujuh belas tahun. Memang tidak setiap malam, hanya saja
mimpi itu selalu sama.
“Sing abang marai padhang, sing ayu teko o
marang aku.” Kira-kira begitulah bunyi suara itu. Aku
selaluterbangundenganpeluhmembanjirsetiapkalimimpi
itu datang, seperti malam ini. Kulihat Mia sudah terlelap di
sampingku. Biasanya setiap kali aku terbangun gara-gara
mimpi buruk, aku akan segera meminum segelas air putih
untuk menenangkan diri. Mama hafal betul kebiasaanku
satu itu. Itu sebabnya mama selalu meletakkan segelas air
di samping nakas. Tapi malam ini aku tidak sedang tidur
di kamarku. Itu sebabnya untuk mendapatkan segelas air,
aku harus berjalan ke luar kamar.
Udara malam ini terasa menggigit kulitku,
membuatku bergidik menahan dingin. Rumah Mbok
Rondo tampak begitu sepi. Sekilas kulirik jam di layar
ponsel, waktu masih menunjuk pukul satu dini hari.
Aku berjalan mengendap-ngendap menuju dapur, takut
membangunkan orang-orang. Saat langkahku mencapai
171 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
bibir dapur, aku dikejutkan oleh sesosok bayangan hitam
yang berdiri di sudut dapur. Jantungku berdegup kencang
sebelum akhirnya aku bisa bernapas lega saat menyadari
bahwa sosok itu adalah Mbok Rondo.
Sedang apa Mbok Rondo malam-malam di dapur?
tanyaku dalam hati,Aku tak berani menyuarakan tanya itu.
“Maaf Mbok, saya terbangun dan merasa haus.
Saya ingin mengambil minum,” kataku sambil tersenyum
sopan. Mbok Rondo hanya menatapku sebentar dan
menganggukkan kepala.
“Saya permisi dulu, Mbok, mau kembali ke
kamar,” pamitku sambil menggenggam segelas air. Aku
sedikit heran dengan sikap Mbok Rondo yang mendadak
diam malam ini. Buru-buru aku kembali ke kamar dan
mengunci pintu. Aku masih penasaran dengan apa yang
Mbok Rondo lakukan tadi, lebih-lebih aku tadi sempat
mencium bau kemenyan. Susah payah aku berusaha
mengenyahkan pikiranku yang berkecamuk, dan berusaha
kembali tidur.
Keesokan harinya semua berjalan dengan normal.
Mbok Rondo kembali bersikap ramah kepada kami.
Beliau bahkan menyiapkan sarapan untuk kami bertiga.
Mbok Rondo juga meminta Ratih untuk menemani kami
berkeliling ke area persawahan. Ratih adalah anak salah
satu petani di desa ini. Usianya tak jauh dari kami, mungkin
sekitar delapan belas tahun. Kami berjalan kaki melalui
jalan setapak untuk sampai di area persawahan. Udara di
Analekta Kisah Semesta | 172
PROPERTI OF P
desa ini tergolong sangat sejuk. Sejauh mata memandang,
kami disuguhi pemandangan yang asri. Bahkan sepagi
ini orang-orang sudah berbondong-bondong menggarap
sawah. Tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini aku bisa
melihat anak-anak kecil berlarian serta ibu-ibu muda yang
mencuci di aliran sungai. Sekilas tidak ada yang aneh
dengan desa ini. Sungai di desa ini airnya masih begitu
jernih. Tak jarang digunakan untuk mandi dan mencuci
pakaian oleh warga sekitar. Aku menghirup udara dalam-
dalam. Bisa kurasakan betapa segarnya udara pagi ini.
Aku kemudian melarikan pandanganku ke sekeliling.
Pandanganku jatuh pada sebuah gubuk tua yang berdiri di
tengah-tengah area persawahan. Jauhnya letak gubuk itu,
membuatnya tampak begitu kecil.
“Ratih, gubuk itu digunakan untuk apa?”
tanyaku tiba-tiba. Mia dan Siska kemudian mengarahkan
pandangan ke arah gubuk yang kutunjuk. Kulihat Ratih
tampak salah tingkah dan berusaha mengalihkan perhatian
kami.
“Sebaiknya kita segera kembali, matahari sudah
mulai tinggi dan sebaiknya kalian segera membersihkan
diri,” balas Ratih.
Kami pun menurut dan mengekor di belakang
Ratih. Keengganan Ratih menjawab pertanyaanku tadi
justru membuatku semakin penasaran. Sesekali aku
menengok ke belakang untuk memastikan kembali
keberadaan gubuk itu. Di tengah perjalanan, kami
dikejutkan oleh peringatan terselubung yang coba
173 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
disampaikan oleh Ratih.
“Sebaiknya kalian simpan rasa penasaran kalian
tentang desa ini. Bersikaplah sewajarnya dan pergilah
selagi kalian masih ada kesempatan,” bisik Ratih pelan di
perjalanan kami kembali ke rumah Mbok Rondo.
“Maksud kamu apa, Ratih? Kami tak mengerti,”
tanyaku begitu mendapati kejanggalan di setiap kalimat
yang Ratih ucapkan.
“Entah apa yang membuat kalian berkunjung ke
desa ini, yang jelas tidak ada yang menarik dari desa ini.
Kalau bisa pun aku juga ingin meninggalkan desa ini dan
melihat dunia luar,” ucap Ratih sedih.
“Kamu bisa ikut kami kembali ke kota kalau kamu
mau,” jawab Mia bersemangat. Ratih tak menanggapi
ajakan Mia. Ia hanya tersenyum kecil kepada kami.
Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dengan diam.
Sesampainya di rumah Mbok Rondo, kami
bergegas membersihkan diri. Aku pun teringat untuk
menghubungi mama terlebih dahulu. Apalagi setelah
mendapati puluhan chat dan panggilan tak terjawab di
ponselku. Aku bisa merasakan kekhawatiran mama.
Begitu ponsel tersambung, mama langsung mencecarku
dengan berbagai pertanyaan. Setelah menimbang-nimbang
akhirnya aku memilih jujur pada mama mengenai lokasi
liburanku kali ini.
Analekta Kisah Semesta | 174
PROPERTI OF P
“Ma, Lita sekarang baik-baik saja. Lagi pula di sini
ada Mia dan Siska, kita bakalan saling menjaga satu sama
lain, jadi mama nggak usah khawatir,” kataku berusaha
menenangkan mama.
“….”
“Iya Ma, Lita nggak bakalan lepas kalung itu, Lita
janji. Udah dulu ya Ma, Lita mau mandi dulu,” kataku
sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.
Mama sempat panik begitu mengetahui aku ada
di desa Bulan Mati. Mama terus mewanti-wanti agar aku
segera pulang dan memastikan aku tidak melepas kalung
berbentuk bulan sabit yang kini melingkar di leherku.
Kalung itu mama yang memasangkannya padaku sejak
pertama kali mama mengetahui aku sering mendapatkan
mimpi buruk. Entah mengapa, aku merasa kalung ini
memiliki keterikatan dengan tempat ini. Setelah menelpon
mama, rasa penasaranku justru semakin menjadi. Setelah
memastikan Mia dan Siska sibuk sendiri-sendiri, aku
memutusku untuk berkeliling sebentar di rumah ini. Aku
berjalan mengendap-ngendap dan menelisik setiap sudut
rumah. Betapa terkejutnya aku saat mendapati bunga
mawar dan kantil tersebar di sudut-sudut rumah beserta
aroma kemenyan yang menyengat.
Untuk apa bunga-bunga dan kemenyan itu?
tanyaku dalam hati. Tak ayal pemandangan itu membuatku
bergidik ngeri. Lagi-lagi aku dibuat terkejut saat tiba-tiba
dari arah belakang ada seseorang yang menepuk bahuku.
175 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Aku sontak menjerit.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Nduk?” tanya
Mbok Rondo. Lagi-lagi aku bertemu Mbok Rondo dalam
situasi yang ganjil.
“Maaf tadi saya berniat jalan-jalan sebentar dan
tanpa sengaja saya menemukan ini. Kalau boleh tahu,
untuk apa ini semua, Mbok?” tanyaku pelan. “Maaf kalau
saya lancang,” lanjutku kemudian,
“Itu hanya salah satu bentuk penghormatan kami
terhadap leluhur. Nanti malam bulan purnama, jadi
sebaiknya kalian bertiga tetap di kamar,” jawab Mbok
Rondo. “Lagi pula aromamu benar-benar tak biasa,
Nduk. Mbok takut itu akan mengundang tamu yang tidak
kita harapkan,” lanjut Mbok Rondo. Aku hanya bisa
mengernyitkan dahi mendengar jawaban Mbok Rondo.
Entah apa maksud perkataan Mbok Rondo barusan.
Setelahnya aku buru-buru pamit masuk ke dalam.
Hari sudah beranjak gelap saat aku memandangi
langit dari balik jendela kamar. Kulihat bulan tampak
bulat sempurna. Tiba-tiba saja aku melihat Mbok Rondo
dengan pakaian serba hitam berjalan mengendap-endap
menuju ke area persawahan. Kebetulan Mia dan Siska
saat ini sedang sibuk melihat foto-foto hasil memotret tadi
pagi. Mereka pasti tak akan menyadari ketidakberadaanku
di kamar ini. Diam-diam aku melangkahkan kaki keluar
dari kamar, hendak mengikuti Mbok Rondo. Berbekal
cahaya dari ponsel, aku menyisiri jalan setapak yang
Analekta Kisah Semesta | 176
PROPERTI OF P
tampak gelap. Dari kejauhan aku melihat Mbok Rondo
berjalan menuju ke arah gubuk tua yang pernah kulihat
sebelumnya. Kulihat di sana ada banyak warga desa
dengan pakaian serupa. Masing-masing dari mereka
memegang obor dengan tangan kanan. Aku hanya bisa
menutup mulut rapat-rapat saat mataku menangkap
bayangan Ratih tengah di seret oleh beberapa warga. Ratih
mengenakan pakaian yang serba merah menyala. Orang-
orang itu kemudian mengucapkan kalimat-kalimat yang
lebih terdengar seperti mantra. Melihat pemandangan itu
tubuhku mendadak kaku dan enggan digerakkan. Rasa
takut seketika menyergapku. Dengan langkah tertatih
aku berusaha pergi dari tempatku berdiri saat ini. Meski
sempat terjatuh beberapa kali, akhirnya aku berhasil
sampai ke rumah Mbok Rondo dengan selamat. Kulihat
Mia dan Siska tengah menungguku di depan pintu rumah.
Mereka tampak begitu panik, lebih-lebih melihat wajahku
yang tampak begitu pucat. Mereka kemudian menarikku
masuk ke dalam kamar dan memberiku segelas air putih.
Aku masih syok dengan apa yang aku saksikan
barusan. Bayangan Ratih yang tengah di seret menari-nari
di kepalaku. Rasa takut seketika mendekapku.
“Mia, Siska, pokoknya kita harus segera pergi dari
sini!” kataku sambil memegang bahu Mia.
“Lita, kamu kenapa sebenarnya? Kamu tenang
dulu ya. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kalau kamu
memang ingin pulang, kita bisa berkemas besok,” kata
Mia berusaha menenangkanku.
177 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Akhirnya aku hanya bisa menurut pada mereka dan
memutuskan untuk tidur. Lagi pula, malam-malam seperti
ini akan sulit bagi kami untuk mendapatkan kendaraan.
Pagi harinya aku terbangun dengan peluh yang
membanjiri dahiku. Matahari sudah lumayan tinggi saat
aku menanggalkan selimut. Aku tidak menemukan Mia
dan Siska di kamar ini. Aku bahkan tak menemukan
kalung bulan sabit yang biasanya melingkar di leherku.
Kalungku…apa mungkin jatuh semalam? tanyaku dalam
hati. Aku harus segera mencari Mia dan Siska, pikirku.
Saat aku keluar kamar, aku hanya menemukan Mbok
Rondo sedang duduk sendirian di meja makan.
“Teman-temanmu tadi pamit untuk mencari udara
segar,” kata Mbok Rondo saat mendapati aku celingukan
mencari mereka.
“Sebaiknya kamu lupakan apa yang kamu lihat
semalam, semua demi kebaikan kalian,” lanjut Mbok
Rondo. Ucapan beliau membuatku tertegun lama.
Apa itu artinya apa yang aku lihat semalam itu
nyata? tanyaku dalam hati.
“Anak muda seperti kalian memang wajar
mempunyai rasa penasaran yang menggebu-gebu. Tapi
yang harus kalian ingat, rasa penasaran yang tidak pada
tempatnya, bisa menjadi bumerang bagi diri kalian
sendiri,” lanjut Mbok Rondo. “Sebaiknya kalian segera
berkemas dan meninggalkan tempat ini, kalian masih
Analekta Kisah Semesta | 178
PROPERTI OF P
muda, masa depan kalian masih panjang,” kata-kata Mbok
Rondo terdengar tulus. Mbok Rondo kemudian bangkit
berdiri dan meninggalkanku seorang diri di meja makan.
Ucapan Mbok Rondo terus terngiang-ngiang di
benakku. Belum lagi suara-suara aneh yang kini mulai
terdengar meski aku tidak sedang bermimpi. Suara-suara
itu bersahut-sahutan hingga membuat kepalaku pening.
Pandanganku tiba-tiba saja berputar dan semua mendadak
gelap.
Entah apa yang terjadi padaku setelahnya. Tiba-
tiba saja sore ini aku terbangun di sebuah gubuk tua
dengan pakaian serba merah menyala. Aku terkejut
mendapati kondisiku yang kini terlentang pasrah dengan
tangan dan kaki terikat dengan ujung tiang. Sekilas aku
membandingkan kondisiku ini dengan bayangan Ratih
yang kulihat malam itu. Rasa takut seketika menggerogoti
jantungku. Aku begitu panik saat mendapati orang-orang
mulai berdatangan dan mengelilingiku sambil merapalkan
mantra yang sering kudengar dalam mimpiku. Sekarang
aku mengerti mengapa warna merah begitu dilarang di
desa ini. Ternyata warna merah menyala adalah simbol
bagi gadis yang akan dijadikan tumbal seserahan bagi
penunggu desa Bulan Mati. Sayangnya, aku tidak ingat,
apa yang membawaku sampai di posisi ini. Aku masih
berharap bahwa ini semua mimpi, sebelum akhirnya aku
mendengar lolongan jeritanku sendiri.
“Mama…tolong aku!”
179 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
Cerpen berjudul Desa Bulan Mati ini ditulis oleh gadis
kelahiran Bantul, dua puluh enam tahun silam. Nita,
begitu biasanya ia disapa. Menulis adalah salah satu
hobinya. Beberapa karyanya sudah pernah dimuat dalam
beberapa antalogi bersama. Kalian bisa menghubungi ia
via Instagram @nitalestari23. Salam kenal.
Analekta Kisah Semesta | 180
PROPERTI OF P
MAINAN BARU
Oleh: Alena Winker
Lagi dan lagi peserta olimpiade menghilang,
dalam waktu tiga hari tercatat sudah ada
lima peserta olimpiade yang menghilang. Salah satu
dari mereka telah diketemukan, tubuhnya penuh luka dan
lebam. Dan itu adalah aku. Semua itu merupakan rencana
yang sudah kurancang sedemikian rupa. Aku menculik
satu persatu peserta karena bagiku jeritan mereka
bagaikan lagu merdu pengantar tidur. Suara mereka
terdengar lebih merdu saat mereka bermain bersamaku
dibandingkan saat mereka berebut menjawab pertanyaan
dari dewan juri. Jeritan mereka ketika aku sedikit demi
sedikit menggoreskan pisau ke tubuh mereka membuatku
semakin bernafsu untuk melakukan permainan lainnya
seperti dengan menggunakan gergaji mesin di pojokan
181 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
ruangan ini, atau mengikat mereka dengan posisi terbalik
dan mencambuk mereka terlihat lebih mengasyikkan
bukan?
Pertama-tama aku mengamati mereka dari
dekat perlu sekitar sejam aku mengamati mereka, aku
melakukan itu dengan sangat hati-hati. Tanpa seorang pun
yang tahu dan melihatku berada di sana. Ketika mereka
lengah segera kubekap mereka dengan sapu tangan yang
sudah kuberikan obat penenang. Mereka meronta, dan
mencoba berteriak namun percuma, dalam hitungan menit
mereka tertidur. Wajah mereka yang tengah pulas tertidur
membuat semangatku bangkit. Kenapa aku melakukan
itu semua? Mudah, karena aku ingin kemenangan mutlak
saat olimpiade nanti, ditambah sudah beberapa waktu ini
aku kehilangan teman bermain. Teman bermainku semua
sudah menjadi makanan untuk Bulls, anjing peliharaanku
yang selalu kuberikan makan dari mainanku, ya walaupun
ada beberapa bagian dari tubuh mereka yang aku koleksi.
Ada beberapa bola mata yang aku simpan.Ada juga jemari
lentik yang aku simpan. Dan beberapa organ lainnya. Tapi
kali ini tak ada yang aku inginkan sebagai koleksi.
Kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana aku
bisa lepas dari dugaan polisi? Aku melakukannya dengan
segala kemampuan yang telah dipelajari dari ayahku
dulu. Ayah sering kali menyiksaku, dan setiap kali dia
menyiksaku selalu ada senyum yang mengembang di
bibirnya. Aku juga belajar segala macam kemampuan
seperti merekayasa CCTV, parkour, dan lainnya, sehingga
Analekta Kisah Semesta | 182
PROPERTI OF P
aku aman. Tak lupa aku juga berpura-pura menjadi korban,
lihatlah luka di wajahku.
Ada empat orang yang sedang menemani
aku bermain. Salah satunya seorang gadis, dia cantik
sayangnya bukan tipeku dan nasibnya buruk sehingga
dia harus menjadi salah satu mainanku. Karena dia yang
paling lemah akan aku biarkan dia menonton aksiku
bermain bersama tiga lelaki di hadapanku. Pakaian mereka
telah robek, darah mengucur di mana-mana, bau amis
menyeruak, bau yang amat sangat kusukai semenjak lima
tahun lalu, saat pertama kalinya aku menemukan rumah di
tengah hutan ini, saat itu aku baru berusia dua belas tahun.
Aku mencambuk satu persatu dari mereka. Ah,
tapi sepertinya mereka kurang semangat. Mungkin aku
harus berbaik hati mengunakan samurai yang baru kubeli
minggu lalu. Sayatan demi sayatan meninggalkan jejaknya
di tubuh mereka. Tapi sepertinya ada yang kurang,
mungkin aku terlalu baik pada mereka sehingga aku
memutuskan untuk motong satu persatu jari-jari mereka.
Salah satu dari mereka akhirnya tidak sanggup bermain
lagi, ya sudah sekalian saja aku gunakan pedang untuk
menghunus dirinya. Mayatnya aku lemparkan ke kandang
Bulls saja. Tiga teman bermainku yang tersisa aku biarkan
beristirahat sejenak secara fisikku juga perlu istirahat.
Bandung, 17 Maret 2021
183 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
AlenaWinker lahir dan besar dibandung, saat ini dia tengah
mencoba untuk rutin menulis. Dirinya nyukai beragam
warna yang lembut. Dirinya juga menyukai langit senja.
Dirinya bisa kalian kenali di Ig : @alena_winker.
Analekta Kisah Semesta | 184
PROPERTI OF P
SENYUMANKU
UNTUK
KEPERGIANNYA
Oleh: Rosyidha Baiduri
Lagi-lagi, senyuman dan perhatian itu hanya
untuknya. Mukanya manis sekali, merebut
perhatian seluruh penghuni rumah. Sungguh aku malas
melihat wajahnya setiap hari. Hari ini, aku benar-benar
mual melihat kelakuannya. Dari pagi anak itu dan orang
tuaku sudah sibuk mengurusi persiapannya ke luar negeri.
Enakya?Dikuliahinkeluarnegeri!Akucukupdimasukkan
ke universitas swasta yang tak jauh dari rumah. Di mana
keadilan, hei?
185 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Ren! Cepat sini! Bantu adikmu berkemas, besok
kita harus antar dia ke bandara,” kata mama.
“Males ah, Ma. Dia kan anak kesayangan Mama
sama Papa, ngapain aku ikut-ikutan,” sahutku kesal.
“Ren! Kalian berdua anak kesayangan kami,” ujar
papa
“Percuma bohong sekarang, Pa.”
Sekilas kulirik gadis itu. Dia sedang asyik
mengepak barang-barangnya. Aku melangkah pergi dan
masuk ke kamar. Kuputar otakku. Aku yakin. Saat ini aku
sedang menyeringai.
Terbayang dalam benakku hal-hal pahit yang aku
lalui bertahun-tahun. Aku dan gadis itu sama pintarnya.
Kita sama-sama cantik. Usia kita juga tidak beda jauh.
Tapi kenapa harus dibedakan? Apa karena dia punya
prestasi lebih banyak dan masuk sekolah elite?
Malam ini aku mengendap masuk ke kamar anak
kesayangan itu. Aku ambil paspor dan dokumen penting,
aku buang ke tempat pembuangan sampah jauh dari
rumah. Sama seperti yang kubayangkan, pagi ini mereka
semua panik dan harus menunda kuliahnya ke luar negeri.
Kalian tahu, tak ada yan mencurigaiku.
Rasakan!
Analekta Kisah Semesta | 186
PROPERTI OF P
Ketika sarapan, kulihat mata gadis itu sembab.
Papa dan mama membesarkan hatinya. Aku? Diam saja
sambil mengunyah sarapan. Mama menjelaskan kenapa
adikku itu tak jadi berangkat keluar negeri dan aku hanya
ber-oh saja. Aku pamit ke kamar. Sebal rasanya melihat
papa dan mama lebih banyak menghiburnya. Padahal aku
juga punya setumpuk luka dan ingin dihibur.
Apa aku tak pernah bilang ke mereka, tanyamu?
Tentu saja pernah. Tapi mereka menganggap aku terlalu
kuat tanpa hiburan dari mereka. Omong kosong apa itu?
Aku juga anak mereka kan? Kenapa tidak sedikit saja
meluangkan waktu untuk bertanya lebih padaku.
Aku tidak suka dengan kehadiran gadis itu. Andai
saja gadis itu tidak pernah terlahir.
***
Esoknya kulihat mereka bersiap pergi.
“Mau ke mana, Ma?” tanyaku
“Itu, ngurusin persyaratan adik kamu yang hilang,”
jawab mama tanpa melihatku.
“Oh. Ren boleh ikut?”
Mama menatapku heran lalu mengangguk. Selama
dalam perjalanan kami diam saja. Tak ada obrolan. Hanya
sesekali mama yang bertanya.
“Kuliahmu lancar, Ren?”
187 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Begitulah.”
Aku melirik adikku yang diam saja. Kepalanya
menunduk dan tangannya terkepal, berkeringat.
“Ma, gimana kalau kepergianku dibatalin aja?”
katanya
“Kenapa? Bukannya ini keinginan kamu?”
“Iya, tapi ... “
Aku tersenyum kecut. Entah kenapa aku merasa
akan lebih baik kalau dia tidak ada.
***
Seminggu kemudian, mama memaksaku ikut
ke bandara. Mau apalagi kalau bukan mengantarkan
anak kesayangan. Meski malas, aku ikuti saja kemauan
mama. Tak ada sapaan antara aku dan adikku ketika
kami berpapasan di ruang makan. Aku melirik sekilas.
Wajahnya terlihat cerah, senyum-senyum sendiri. Aku
semakin membencinya.
Tibalah saat ia akan segera meninggalkan negeri
ini. Lama berpelukan dengan mama dan papa. Aku tak
mau memeluknya. Entah kenapa hatiku terasa tersayat.
Bukan karena anak itu akan pergi. Sama sekali bukan.
Ia melihatku dan mencoba tersenyum. Dapat kupastikan
wajahku datar. Ia melambaikan tangannya pada kami.
Analekta Kisah Semesta | 188
PROPERTI OF P
Andai kepergiannya ini bukan untuk kembali lagi
suatu hari nanti.
Aku membayangkan menjadi anak tunggal
seutuhnya. Aku tersenyum tipis.
***
Tentang Penulis
Penulis bernama Rosyidha Baiduri, yang sering dipanggil
Rosy adalah seorang full time mom dari seorang putri. Baru
mulai melangkahkan kaki lebih jauh dan memberanikan
diri mengikuti kegiatan menulis. Kontributor untuk
beberapa antologi. Jejaknya bisa ditemukan di nararosy.
wordpress.com dan Instagram @rosynee_
189 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
ACCIDENT:
MENYUSURI
MEMORI
	
Oleh: Enong Nurmuti’ah
Aku tak tahu Tuhan bisa menyembunyikan sesuatu
Kupikir semua di hadapanku adalah aku.
Aku tak mengerti mengapa Tuhan sembunyikan
sesuatu.
Kupikir tak ada rahasia di antara kita
Kini kutahu.
Ada hadiah indah untukku dari-Nya
Tuhan, terima kasih telah menjaganya.
Kubersyukur untuk pertemuan indah ini.
Sekali ini saja.
Jangan sembunyikan lagi, ya.
Analekta Kisah Semesta | 190
PROPERTI OF P
“Maaf, Mas. Boleh saya rapikan
rambutnya?” tanya gadis berkerudung
hitam di hadapanku. Tatapannya memohon. Kulihat
tangannya sudah memegang sisir pink kecil. Aku
terdiam sejenak menatapnya heran. Ia masih menunggu
jawabannya.
“Silakan,” sahutku. Meski rasanya aneh rambutku
disentuh tangan lembutnya, aku memenuhi keinginannya.
Ia mulai merapikan rambutku yang tak pernah disentuh
orang lain. Anehnya setiap gerakan dari sisirnya
membuatku tenang. De javu? Aku pernah merasakan hal
ini. Ia kah? Sepertinya memang benar.
“Selesai!”serunya dengan binar senang. “Sudah
lebih ganteng sekarang!”
Aku menatapnya tak percaya ekspresinya begitu
bercahaya. Kusentuh rambut yang disebutnya sudah rapi.
Aku masih bergeming bahkan ketika gadis berhidung
mungil mancung itu memasukkan sisir ke dalam sling bag
merahnya.
“Tidak ada say thank you?” tanya gadis itu lagi.
Aku terperanjat kembali mendengar suaranya. Wajahnya
kembali memasang ekspresi lucu.
“Oh,Ia.Maaf,”sahutkugelagapan.Pikirankumasih
melayang. “Terima kasih,” ucapku gugup dan tersenyum
kaku. Entah bagaimana harus aku harus berekspresi.
191 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Lain kali rambutnya dibuat rapi, ya,” ucap gadis
itu. “Nanti dirapiin lagi sama orang lain macam sekarang,
terus ada ada yang cemburu,” tambahnya. “Untung di sini
cuma ada kia sama mas kasir.” Bibir mungilnya memasang
senyum pula.
Ya, di toko oleh-oleh ini hanya ada kami bertiga.
Hujan rintik sejak pagi membuat orang malas keluar. Apa
lagi untuk sekadar ke toko dan beli oleh-oleh. Buah tangan
ini hanya dibeli untuk orang mampir dan akan bepergian
jauh.
“Maaf.” Aku mulai berbicara setelah tadi
mendengar gadis itu berbicara sendiri padaku. “Apa kita
pernah bertemu sebelumnya? Rasanya tidak asing.”
Gadis itu berpikir sejenak. Ia bergumam.
“Sepertinya ini pertama kali. Ada apa? De javu?”
Gadis itu juga menyebut de javu seperti pikiranku.
Ia menatapku sejenak dan kembali berpikir. Dugaanku, ia
terusik oleh pertanyaanku. Ekspresinya serius, tapi secepat
kilat memasang tersenyum kembali. Ia kemudian bertanya
apa aku pernah beberapa ke toko ini dan mengalami hal
serupa, seperti disisiri oleh orang asing. Aku bingung
bagaimana menjawabnya.
“Ya dan tidak,” jawabku. Absurd. Bingung.
Bagaimana kujelaskan? Aku masih tidak tahu harus
berbuat apa di sisinya. Hatiku masih juga mengatakan
bahwa aku mengenalnya dan ini tempat kita bertemu.
Analekta Kisah Semesta | 192
PROPERTI OF P
Stuck! Ah! Sisir kecil telah mengunci gadis itu di
kepalaku. Semakin kubiarkan pikiran melayang mencari
jawaban. Sakit kepalaku perlahan datang. Hujan ini juga
menyiksaku. Memaksaku terjebak di toko ini. Mas kasir
tak mengajakku berbicara walau sekadar meringankan
salah tingkahku.
“Pokoknya, senang sekali ketemu Mas di sini.”
Lagi-lagi si gadis sisir memecah kesunyian. “Besok
saya mau pulang ke Jakarta. Hari ini terakhir dan saya
memutuskan untuk membawa oleh-oleh untuk si adik.
Boleh minta saran baju apa yang cocok untuk anak laki-
laki?”
“Adiknya usia berapa?” tanyaku. Aku mulai
mengamati dan memilih kaus T-shirt terkenal oleh-oleh
Pare Kediri. Tanganku pun mulai bekerja. “Dia suka warna
apa? Biasanya orang memilih T-shirt berdasarkan warna
kemudian bahan kainnya, setelah itu baru lihat harganya.”
“Dongker,” jawabnya. “Usianya 17 Tahun.”
Aku berjalan menyusuri rak display dan dia
mengikutinya. Banyak warna biru dongker kutemui,
namun desain unik belum muncul. Selagi pikiranku fokus
pada berbagai warna dan model desain T-shirt, kudengar
sebuah suara nyaring.
“Maaf.” si gadis menutup mulutnya yang terbuka
sedikit lebar, kemudian ia menunduk malu. Dipegangi si
perut yang tadi berbunyi.
193 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Aku menoleh padanya dan tersenyum. Tanpa
pikir panjang lagi, tanganku menemukan kaus yang
menarik perhatianku. Kaus biru dongker untuk anak laki-
laki dalam masa puber.
“Bagaimana menurutmu? Ini cocok untuk
adikmu?” tanyaku. Kutunjukkan kaus itu di hadapannya.
Seperti yang kuduga dia akan senang melihatnya.
“Waaah, kereeen! Terima kasih.” Senyumnya lebar
dan senyum manisnya terpancar. “Saya suka!”
Bagai sinar yang menerjang tiba-tiba. Senyum
itu mengejutkan kepalaku, sakit. Ada apa ini? Potongan
memori senyum datang dan pergi dengan cepat. Meski
sesaat dan kuperkirakan 5 senyum yang muncul beserta
ekpresinya, ingatan itu menusuk. Aku hampir limbung
karenanya, namun segara kubuat diri sadar dan terjaga.
Gadis sisir itu sudah di kasir. aku senang dia menerima
pilihanku. Hatiku berdebar kencang melihatnya dari jauh.
Aku tak tahu apakah ingatanku mengingatkan kepadanya
ataukah hatiku menyimpan tentangnya. Atau aku tertarik
padanya saat ini. Aku merasa kita pernah bertemu. Hatiku
berkata bahwa aku mengenalnya sangat dekat. Kemarin
aku baik-baik saja berada di sini. Sekarang pikiran dan
hatiku terganggu olehnya. Siapa dia?”
“Tunggu!” seru si gadis.
Analekta Kisah Semesta | 194
PROPERTI OF P
Ia menghampiriku dengan cepat ketika tanganku
sudah menyentuh gagang pintu kaca bening. Aku
bermaksud keluar dari toko ini. Sesak. Ingin kuhidu
sejenak angin dingin di luar tempat ini walau hujan rintik
masih menyerbu bumi untuk menenangkan diri. Aku
menoleh panggilannya.
“Mau pulang? Sudah selesai belanja?” tanya gadis
itu.
Aku mengangguk.
“Di luar masih hujan. Enggak apa-apa?”
“Aku sudah terlalu lama di sini,” jawabku. “Aku
….”
Bunyi keroncong perut itu muncul lagi dan
memotong kalimatku. Ia kembali tersipu dan menyentuh
perutnya.
“Kalau enggak keberatan, saya traktir Mas makan.
Boleh? Sepertinya lambung saya engaak bisa di-mute.”
Dia memamerkan senyum malunya. Kupikir
keberaniannya patut diacungi jempol. Menyisiri rambutku,
dan kini mengajakku makan siang. Traktir, katanya.
Bolehkah?
“Hujannya belum berhenti. Are you oke?” Aku
memastikan bahwa hujan ini tidak masalah baginya. Meski
hujan turun setetes, tapi karena turunnya rombongan, tetap
195 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
saja akan membasahi pakaian dan meresap ke badan.
“Di depan toko ini ada tempat makan. Kita bisa
makan di sana,” jawab si gadis yang siap mendorong
keluar pintu dengan sikutnya. Aku melihat cara uniknya
membuka pintu kaca itu tak bisa menahan senyum di
sudut bibirku. Aku pun memilih mengikutinya tanpa ia
tanya apa aku setuju atau tidak.
Gadis tinggi kurus itu membiarkan dirinya basah
oleh hujan dan meraih sepeda yang terparkir di depan
toko. Sepedaku juga ternyata terparkir di sebelahnya. Bisa
kulihat hujan tak membuatnya takut basah. Raut wajah
gadis itu tersenyum. Entah mengapa lagi-lagi kupikir ia
mirip seseorang. Seorang gadis penyuka hujan.
***
Di sinilah aku. Bersama lelaki asing, merapikan
rambutnya dengan sisir kesayangan, kemudian
memintanya memilihkan oleh-oleh kaus untuk si adik
balegku, lalu mengajaknya makan siang sebagai ucapan
terima kasihku karena menyita waktunya. Aku pun
tidak tahu mengapa begitu berani berbicara padanya.
Kuakui memang kalau aku tidak bisa melihat rambut tak
sedap dipandang, seperti rambutnya yang tak beraturan.
Seandainya saja ada lima orang dengan rambut tak terawat,
aku akan berani mengajukan diri merapikannya, dengan
izin pemilik rambut itu tentunya.
Analekta Kisah Semesta | 196
PROPERTI OF P
Menurut Ana, sahabatku, aku gadis ceroboh dan
tak tahu malu karena tak peduli siapa pun kusisiri rambut
berantakan sampai tak satu helai pun keluar dari barisan
rambut. Hatiku membesar puas ketika rabut acak itu
rapi. Abaikan pandangan Ana terhadapku. Itu memang
kenyataan.
“Kamu tak makan kuning telurnya?” tanya lelaki
berambut model bowl cut macam oppa korea yang
kurapikan. Matanya sekilas melihatku namun tertuju pada
kuning telur di piringku yang telah kusingkirkan dari
lingkaran putihnya.
Aku menggeleng. Kenapa dia tanyakan pasal telur.
“Boleh kumakan? Sebagai gantinya, aku kasih
putih telurnya,” ucapnya.
Tangannya telah terangkat dan berada di atas
piringnya. Tanpa menunggu persetujuanku, ia meletakkan
putih telur di atas piringku dan mengangkut kuning
telurnya. Telur ceplok kini sudah tak lagi dua warna.
Mereka berpisah dan bersatu warna di piringku dan di
piringnya. Aku tak bereaksi, hanya melihatnya makan.
Otakku tiba-tiba merasakan sesuatu. Kuning telur ini
mengetuk pikiranku. Kuning telurku biasanya tak pernah
beralih meski aku tak menginginkannya. Hatiku resah.
Perasaan macam apa ini?
197 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Aku merasa seseorang pernah meminta yolk itu.
Tapi aku tak tahu siapa. Karena selama ini tidak ada
yang memintanya. Sejenak aku sibuk dengan hati dan
pikiranku. Sepertinya ini pernah terjadi. Kapan? Di mana?
Aku memasukkan makanan ke mulutku dengan perlahan.
Perutku terasa kenyang melihatnya makan kuning telur
dari piringku dengan lahap.
Aku ingat! Lelaki di hadapanku juga menanyakan
apakah aku pernah bertemu denganya sebelum ini.
Kujawab tidak. Mungkinkah ini yang dirasakannya tadi?
Apakah aku merasakan apa yang ia rasakan. Aku terus
meraba untuk mendapat jawaban perasaan dan pikiranku
hingga denyut sakit kepala datang. Aku mengerjap-kerjap
mata agar pusing tak berlanjut.
“Kamubaik-baiksaja?”tanyalelakipemilikbentuk
mata almond itu. Ia memperhatikan wajahku sejenak.
Aku mengangguk. Apakah ia melihatku melamun?
Apa ia menangkapku memperhatikannya? Tak ingin
terlalu malu, aku makan dengan cepat. Baru saja kutelan
nasi, kutangkap tangannya.
“Ini air minum gelas ketigamu,” ucapku. Ia
tertegun. “Enggak baik banyak minum ketika makan.
Habiskanlah dulu makanannya, baru minum. Kalau
enggak, perut bisa kembung. Perut kembung enggak bisa
ditusuk jarum seperti kita menusuk jari ketika sakit perut.”
Analekta Kisah Semesta | 198
PROPERTI OF P
Ia terkejut hingga gelas turun dari tangannya tanpa
terasa. Dia menatap mataku lekat dengan mulut masih
penuh makanan. Aku tidak tahu kenapa keterkejutannya
begitu hebat.Apa dia terkejut karena aku mengkhawatirkan
orang asing sakit?
“Boleh kutahu siapa kamu?” tanyanya dengan
perlahan dan pandangannya masih terkunci padaku.
“Aku seperti pernah dilarang seperti itu oleh seseorang.
Kalimatnya persis.”
“Aku? Alba,” jawabku. “Oh, ya. Kita belum
kenalan. Aku bahkan enggak tahu namamu siapa.” Aku
tersenyum canggung. Malu. Mengomel padanya walau
kami tidak saling kenal. “Kita bisa berkenalan setelah nasi
ini habis.”
Lelaki itu terdiam. Tak mengatakan sepatah kata
pun. Mungkin karena kami orang asing. Aku banyak tidak
tahu, bahkan tidak mengerti ekspresinya saat kusebutkan
namaku. Apakah dia kesal karena aku berlagak cerewet?
Suasana menjadi lebih dingin setelah insiden air minum,
dan karena hujan kecil ini belum juga berhenti. Kami
bahkan masih saling diam ketika keluar dari warung
makan itu. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Dia
hanya tersenyum saat kutanya apakah dia baik-baik saja.
Kami berjalan beriringan tanpa mengayuh sepeda.
Jalanan sudah mulai ramai. Lalu lalang para siswa
kampung bahasa Inggris mulai terlihat karena hujan telah
berhenti. Waktu makan siang tiba dan tempat makan serta
199 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
kafe di pinggir jalan Brawijaya itu mulai dipenuhi para
siswa secara bertahap. Namun, aku dan dia masih sunyi,
tak sepatah kata pun. Situasi awkward ini membuat tak
nyaman. Tapi mau bagaimana lagi dia belum mengucap
pamit untuk pergi. Aku pun belum mau berpisah darinya.
Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hati dan
pikiranku masih berkecamuk memikirkan perasaan De
javu ini. Mungkinkah ia merasakan hal yang sama?
***
Alba? Dia bilang namanya Alba?
Aku menggumamkan namanya di tengah sakit
kepala yang mendera sejak kami berpisah di Jalan Anyelir
kemarin siang. Kelebat bayangan dan potongan memori
menyerang otakku kini. Tak hanya otakku yang berdenyut.
Hatiku berdebar merasakan sebuah kerinduan yang
membuatku tak mengerti.
“Aku sudah minum obat, kenapa kepala ini tak
berhenti menyiksaku. Ingatan apa ini?” ucapku lirih
sambil menahan sakit. Tak kusangka, akan kualami
demam secepat ini. Terkadang ini terjadi sebelumnya, tapi
tak sehebat ini. Tiga bulan sudah aku datang ke Kampung
Inggris ini untuk refreshing dan atas permintaan mama.
“Datanglah lagi ke sana. Siapa tahu kamu bisa
sembuh. Mama harap kamu bisa menemukan ingatan yang
selama ini tersembunyi di alam bawah sadarmu, Nak,”
kata mama seminggu sebelum keberangkatanku ke Pare.
Analekta Kisah Semesta | 200
PROPERTI OF P
“Meski akan menyakitkan. Mama yakin kamu pasti bisa.”
“Ingatan? Mungkinkah ingatan ini?”
“Alba.”
“Alba.”
Kusebut namanya berkali-kali sejalan dengan
potongan ingatan yang datang silih berganti. Apakah
sudah mulai bereaksi? Mungkinkah ingatanku kembali?
Kecamuk pikiran dan kemungkinan hadir sendiri tanpa
kuinginkan.
“Amnesia retrograde. Fatih tidak dapat mengingat
informasi atau kejadian di masa lalunya. Ini adalah sebuah
gangguan yang memengaruhi bagaimana ingatan baru
terbentuk,” kata-kata dokter yang disalin mama terngiang
di telingaku. Aku mual mengingatnya. “Benturan kencang
di kepala karena kecelakaan menyebabkan kerusakan
bagian otak pemilik fungsi membentuk sistem limbik
yang berperan mengatur emosi dan ingatan seseorang.
Ada kemungkinan dinding otak Fatih mengalami cedera
berupa retak.” Ingin kuhentikan ingatan ini tak tak bisa. Ia
berlanjut dengan sendirinya. “Benturan di kepala itu yang
meningkatkan risiko Fatih untuk mengidap amnesia.”
Langit-langit kamarku terasa berputar. Ribuan
paku serasa tertancap dan membengkakkan kepalaku. Aku
menjerit memohon ampun agar siksaan ini berhenti. Aku
memohon untuk menghilangkan ingatan ini. Allah….
201 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Sampaikan ke orang tuamu, jangan biarkan lelaki
mana pun masuk ke dalam rumahmu. Hanya aku. Aku
yang aka nada di sana.”
BRUKKK!!!
***
“Jangan lagi, kumohon!” Aku menyudutkan diri
pojok kamar asramaku. Keringat membanjiri seluruh
tubuhku padahal hujan kembali lebat, kipas angin kuputar
penuh. Dadaku sesak. Kepalaku sakit tak tertahankan
sepertitumpukanduridisekujurtubuh.Duriitumembuatku
tergolek lemah di lantai. Jika sakitku karena hujanan tadi
siang, tidak akan seperti ini.
Tiba-tiba kejadian tadi siang di toko oleh-oleh dan
tempat makan muncul. Tentu saja aku tak lupa karena
kemarin baru saja terlewati. Tapi tak sejelas ini. Biasanya
aku akan melewati kejadian hari kemarin kecuali sangat
spesial. Meskipun keanehan hati dan pikiranku sejak
kemarin tak kubuat arti apa-apa, tapi itu masih terjadi
dan membentuk ingatan yang tak kumengerti. Potongan
ingatan dalam siksaan ini muncul perlahan.
Terkadang ketakutan dan trauma ini datang, tapi ini
tidak biasa. Ada apa ini? Aku sekarat? Kenapa ada rindu
di ujung ajalku? Siapa yang kurindukan? Kenapa muncul
lelaki kuning telur itu muncul terus? Tidak hanya lelaki itu
yang muncul. Bayangan lain ataukah ingatan? Memori
yang terkubur? Aku tak sempat mencari tahu. Sekujur
Analekta Kisah Semesta | 202
PROPERTI OF P
tubuhku menggigil bersama serpihan kejadian yang datang
di memoriku. Potongan berbagi kuning telur tidak hanya
muncul berkali-kali dengan suasana dan tempat berbeda.
Wajah lelaki itu tergambar jelas tersenyum padaku sambil
melambaik tangannya. Aktifitas kelas. Satu serpihan
menjadi puluhan serpihan ingatan.
Fatih ….
Lelaki telur ceplok?
“Alba trauma apa, Bu?” tanya dokter.
Mama menggeleng.
“Alba dalam keadaan amnesia dissosiatif. Ini
terjadi ketika seseorang memblokir informasi tertentu.
Biasanya berupa kejadian yang berhubungan dengan
trauma psikologis atau stres. Hal ini membuat dirinya tidak
mampu mengingat poin-poin informasi yang sebenarnya
penting. ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan
sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat.”
***
“Bisa kita bicara?” tanya Fatih. Ia berada di depan
gerbang asrama Alba. Pukul 9.30 gerbang asrama dikunci
dan tidak boleh ada aktivitas luar. “Aku harus bicara sama
kamu.”
Albamenggeleng.IabisamelihatFatihberkeringat.
Bukan keringat, tapi air mata yang membasahi seluruh
203 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
wajahnya. Wajahnya pucat sepucat dirinya. Alba segera
bisa menebak, Fatih mendapat ingatannya kembali seperti
apa yang dirinya alami.
“Kamu Fatih? Aku ingat kamu Fatih. Apakah
kamu orang yang sama?” Suara Alba mulai menunjukkan
tangis dari hati terdalam. Faith hanya membalas dengan
anggukan. Ia menangis tanpa suara.
Buncah rindu memenuhi dada keduanya. Fatih
dan Alba hanya bisa membisu satu sama lain, gerbang
dan aturan menghalangi mereka. Tapi mereka tahu isi
hati masing-masing. Mendapatkan ingatan dan kenangan
satu sama lain sudah lebih dari cukup. Keduanya saling
merindukan dengan ingatan tersimpan dalam. Kini
kembali bersua dan bersama.
Malam menyaksikan dengan desiran angin
dinginnya. Gerbang menjadi saksi tangis bahagia. Betapa
Tuhan Maha baik menyatukan dua insan dengan indah
sesuai rencana-Nya.
***
Jalan Brawijaya, Pare, Kediri. 29 Maret 2015
“Kamu tunggu di sini, ya. Aku nyebrang ke sana
buat beli pentol.” Fatih senang melihat Alba semangat
mendengar ia membeli makanan favoritnya. Raut cinta
dan wajah bahagia keduanya terpancar dengan sinar
matahari di langit. Fatih bahkan sampai melambaikan
tangannya sambil tersenyum di tengah jalan.
Analekta Kisah Semesta | 204
PROPERTI OF P
BRAKK!
Sebuah mobil menabrak tubuh Fatih dan seketika
tumbang. Darah menggenang dan tercecer ke mana-mana.
“Fatiiiiiiih!”
***
Tentang Penulis
Enong Nurmuti’ah, si ibu (agak) muda yang lahir 31
tahun yang lalu. Ribet oleh si jagoan, Ugama, usia 2,5
tahun, namun masih sangat ingin menjadi penulis baik,
kalau bisa penulis hebat berkualitas. Beberapa kali ikut
kelas menulis untuk mengasah kemampuan menulis. Suka
membaca sebagai penguat bakat menulis.
205 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
DUA BELAS KATA
CINTA
Oleh: KillerBee
“Will you marry me?”
“Maaf.”
Aku hanya bisa tersenyum kecut menjawab
jawaban singkat itu. Sepuluh kali mengatakan
kalimat yang sama, dan sepuluh kali juga aku mendapatkan
jawaban yang sama. 
“Maaf.” Hanya itu jawaban yang
kuterima, tanpa ada penjelasan apa pun darinya.
Electra, seorang gadis dengan paras cantik dan mata bulat
yang sudah menemaniku selama lima tahun. Sesuai dengan
Analekta Kisah Semesta | 206
PROPERTI OF P
namanya, cahaya yang bersinar. Electra sudah membuat
hidupku yang kelam makin bersinar setiap harinya.Gadis
itu berhasil mengubahku menjadi jauh lebih baik. Aku
bisa berada di puncak karirku sebagai seorang aktor pun
tak luput dari campur tangan gadis yang sangat kucintai
itu. Dia adalah semestaku meskipun sepertinya semua itu
tidak berlaku baginya. Entahlah, kata cinta selalu terucap
darinya, namun sayang sekali dia tidak pernah mau
menerima lamaranku.
“Jadi gimana? La? Gala?”
Aku tersentak saat sebuah tangan menepuk bahuku
agak kencang.
“Ah iya Ra? Kenapa tadi?” tanyaku kikuk, Electra
tampak menarik napas panjang lalu mengembuskannya
kasar.
“Kamu melamun lagi. Kenapa sih?” tanyanya
pelan.
“Ah tidak. Kamu tadi bilang apa?”
“Minggu depan, jadinya mau ke pantai atau
nonton?”
“Memangnya kamu bisa pergi Ra? Itu kan bukan
weekend,” ucapku. Electra adalah editor di sebuah penerbit
besar dan dia cukup sibuk. Bahkan terkadang dia lebih
sibuk daripada aku.
207 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Aku sudah menyelesaikan semua deadline-ku,
harusnya sih tidak masalah kalau aku mengambil cuti.
Toh aku juga hampir tidak pernah memakai jatah cutiku,”
sahut Electra sambil tetap asik dengan laptopnya. Moto
hidup Electra adalah “Hidup untuk kerja, kerja untuk
hidup”. Baginya yang terutama adalah pekerjaannya. Aku
menyukai kegigihan dan sikap pekerja kerasnya.
*** 
“Gala kamu mau beli apa lagi sih?” Aku terkekeh
melihat Kak Rimba yang sudah memasang wajah kesalnya,
tentu saja dia mulai kesal. Aku lalu menurunkan masker
yang menutupi wajahku dan memasang cengiran khasku
padanya. 
“Terakhir ya Kak, setelah beli parfum kita makan
siang,” janjiku, terlihat Kak Rimba menghela napas kasar
lalu berjalan mendahuluiku masuk ke dalam toko parfum.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, bagi Electra
pekerjaan jauh lebih penting daripada yang lain, termasuk
aku. Jadi aku tidak kaget kalau hari ini dia membatalkan
janji denganku dan akhirnya aku harus terdampar di mall
bersama kakak tersayangku ini. Sebenarnya aku bukan tipe
orang yang gila belanja.  Hanya saja karena kesibukanku,
hal seperti ini menjadi sesuatu yang sangat langka
bagiku. Kulirik Kak Rimba yang masih setia berdiri di
belakangku sambil asyik memainkan ponselnya.  Sebagai
public figure tentu saja bukan hal yang aneh bila banyak
penggemar yang mendekatiku. Terkadang aku cukup
Analekta Kisah Semesta | 208
PROPERTI OF P
kewalahan menghadapi mereka, dan di situlah Kak
Rimba akan mengambil peran sebagai seorang pelindung.
Dengan gagah berani dia akan menerobos kerumunan dan
membawaku pergi. Oke lupakan kalimatku barusan.
“Gala, itu Lectra bukan sih?”
“Lectra lagi kerja Kak,” sahutku sambil tetap
fokus pada aktivitasku sampai akhirnya tangan besar Kak
Rimba menyentuh puncak kepalaku dan menolehkanku ke
arah luar toko. Netraku langsung menangkap sosok gadis
cantik yang sudah menjadi penghuni hatiku selama lima
tahun itu.
“Kamu kenal laki-laki yang jalan sama dia?” tanya
Kak Rimba yang kujawab dengan gelengan. Baru saja
aku hendak berlari ke luar untuk mengejarnya namun Kak
Rimba menahanku.
“Selesaikannantidirumah,kamutidakmaufotomu
ada di halaman depan media massa besok pagi kan.”
Kurasakan pegangan tangan Kak Rimba mulai mengendur.
Aku cukup tahu maksud perkataannya barusan. 
“Kakak tahu perasaanmu, tapi emosi tidak akan
menyelesaikan masalah.”
***
	
Menjadi seorang public figure bukanlah hal yang
mudah. Hampir seluruh kehidupanku diketahui orang
banyak, bahkan kehidupan percintaan. Butuh waktu yang
209 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
tidak sebentar untuk membuat fans menerima hubunganku
dengan Electra. Bahkan kekasihku itu sempat menutup
kolom komentar akun Instagramnya karena selalu
mendapat cibiran pedas dari penggemarku.
Aku hanya diam menatap gadis cantik yang baru
saja membukakan pintu untukku ini. Mulutku seakan
terkunci saat melihat sosoknya. Jantungku mendadak
memompa semakin cepat, ada rasa takut yang amat sangat
saat melihat sosoknya. Kedua telapak tanganku saling
meremas bahkan sudah terasa sedingin es saat kami duduk
berdampingan di kursi taman rumah Lectra. Aku menelan
salivaku kasar sebelum akhirnya aku memberanikan diri
menatap iris gelapnya itu.
“Nikah yuk.” Suasana semakin hening saat kalimat
sakral itu terucap dariku untuk yang kesebelas kalinya.
“Gala, aku ...”
“Yes or not Electra.”
Kulihat mata cantiknya mulai berkaca-kaca dan
bibirnya bergetar. Entah mengapa aku jadi tidak tega
melihatnya. Aku lalu bangkit berdiri namun tangannya
menahan tanganku.
“Aku cinta sama kamu Gala.” Hatiku semakin
sakit mendengarnya.
“Hari ini aku melihat kamu jalan dengan seorang
laki-laki. Aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Tapi
Analekta Kisah Semesta | 210
PROPERTI OF P
setidaknya, jangan terlalu mudah mengucapkan cinta
kalau kamu sendiri tidak ingin memilikiku.”
Aku tahu perkataanku barusan sangat jahat. Tapi
setiap orang punya batas kesabaran kan. Bukan berarti aku
tidak mencintainya, aku lelah menunggu sebuah jawaban
yang entah sampai kapan aku bisa mendapatkannya.
***
“Jenggala! Kamu mau bertelur dalam kamar atau
gimana sih?”
Aku menutup kepalaku menggunakan bantal
meskipun percuma, seruan mama masih terdengar jelas
olehku.
“JENGGALA SURYA!” Aku langsung beranjak
duduk saat mendengar suara menggelegar dari mama.
Namun baru saja aku hendak mengeluarkan segudang kata
mutiaraku, mulutku mendadak terkunci rapat saat melihat
sosok Electra yang sudah berdiri di samping mama.
“Lectra, tante tinggal ke bawah dulu ya. Gala,
selesaikan masalahmu dengan Lectra,” ucap mama
sebelum mama pergi meninggalkan kami berdua.  Aku
lalu bergeser duduk di pinggiran tempat tidur sedangkan
Electra duduk di kursi tidak jauh dariku. 
“Maaf.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya
setelah beberapa saat kami saling diam. 
211 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Untuk?”
“Aku sudah lihat berita yang tersebar dua hari ini,
maaf. Semua ini karena aku tidak tegas.” 
Aku meraba dadaku, ada yang sedang
berdenyut nyeri di dalam sana. Aku sama sekali tidak
mempermasalahkan gosip yang beredar. Mau ratusan kali
pun aku digosipkan putus dengan Electra, semua itu tidak
akan terjadi. Aku sudah terlalu mencintainya, bahkan aku
tidak berani membayangkan bagaimana hidupku tanpa
wanita di depanku ini. 
“Pria itu adalah kakakku.” Aku langsung
mengangkat kepalaku yang tadi sempat tertunduk. Mataku
menatap iris gelapnya lekat. Electra tampak menarik napas
panjang lalu mengembuskannya perlahan. 
“Tadinya aku pikir aku adalah anak yang paling
bahagia di dunia ini karena aku memiliki orang tua yang
sangat mencintaiku. Sampai sepuluh tahun yang lalu ada
seorang wanita datang ke rumah sambil marah-marah.
Dia memaki mama, dia bilang mama adalah perusak
rumah tangga orang. Duniaku hancur saat itu juga, sakit
rasanya saat tahu kalau ternyata mama adalah selingkuhan
papa, bertahun-tahun aku dan mama harus menghadapi
kebencian dari istri sah papa. Sampai akhirnya lima
tahun lalu aku bertemu Kak Raka. Kami saling mengenal,
perlahan Kak Raka mulai bisa menerimaku begitu juga
dengan mamanya. Keluargaku berbeda, aku punya dua
ibu dan kakak tiri, keluargaku tidak pantas disandingkan
Analekta Kisah Semesta | 212
PROPERTI OF P
dengan keluargamu Gala.”
Biasanya, saat Electra menangis, aku akan
memeluknya dan mengelus punggungnya untuk
menenangkannya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya
aku hanya bisa terdiam menatap wanita cantik yang
sedang menangis tersedu-sedu di depanku ini.  Sejak
ayah meninggal, aku hanya punya Kak Rimba dan mama,
mereka berdua sangat menjagaku meskipun terkadang
mereka suka sekali menggodaku. Tapi terlepas dari semua
itu aku sangat mencintai mereka.
*** 
Setelah beberapa hari berusaha berdiam diri,
ternyata gosip yang beredar semakin meluas. Hadirnya
pihak ketiga lah, Electra yang merebut kekasih orang
lah, aku yang diselingkuhi lah. Jadi demi membersihkan
nama baik Electra dan menjauhkan keluarga kami dari
serangan media, hari ini aku dan Electra memutuskan
untuk mengadakan konferensi pers. 
“Jenggala, menanggapi gosip yang beredar, apakah
benar kalau hubungan kalian sudah berakhir?” tanya salah
seorang wartawan mengawali sesi wawancara siang ini.
Aku tersenyum singkat sambil menatap Electra sejenak. 
“Hubungan kami baik-baik saja.”Aku mengangkat
tanganku yang masih menggenggam tangan Electra ke
udara, kilatan kamera langsung menyorot ke arah tangan
kami.
213 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Seperti yang kalian lihat, kami masih bersama,”
ucapku mantap. Electra menatapku lekat, matanya mulai
berkaca-kaca .
“Kamisudahmenjalinhubunganselamalimatahun,
dan tidak pernah sekalipun kata “putus” terlintas dalam
pikiran saya. Electra adalah sosok yang sempurna bagi
saya, bagaimanapun dia saya akan tetap mencintainya,”
ucapku lagi. 
“Lalu bagaimana dengan gosip yang beredar?”
tanya salah seorang wartawan lagi dan kali ini Electra
sudah bersiap menjawab pertanyaan tersebut. 
“Dia adalah saudara saya. Seperti yang Gala
katakan barusan, kami sudah bersama sangat lama dan
tidak pernah sekalipun kata “putus” itu melintas dalam
kepala saya. Semua ini terjadi karena saya yang tidak tegas,
saya terlalu takut untuk melangkah maju. Tapi terlepas
dari semua itu, tidak sekalipun Gala meninggalkan saya.”
Electra menatapku lekat, wajah cantiknya
tersenyum lembut padaku. 
“Maukah kamu mengucapkan kalimat itu untuk
kedua belas kalinya padaku?” Tubuhku menegang
mendengar permintaannya barusan.Aku menelan salivaku
kasar, entah kenapa saat ini kalimat itu terasa menakutkan
untuk terucap sekarang. 
Analekta Kisah Semesta | 214
PROPERTI OF P
“Will you marry me Electra?” Ruang pertemuan
mendadak hening, tidak ada seorang pun yang berani
bersuara. Sama denganku, semua orang di tempat ini pun
menunggu jawaban dari Electra. 
“I will, Jenggala.” 
Suasana riuh seketika, tepuk tangan langsung
memenuhi ruang pertemuan.  Banyak kata selamat terucap
dari orang-orang. Berbeda denganku yang masih terdiam
menatap Electra.Aku kira ini mimpi, ya sepertinya mimpi.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama, aku
mencintaimu Gala dan aku mau bersamamu selamanya.” 
Aku langsung menarik tubuh Electra ke dalam
pelukanku, berkali-kali ucapan terima kasih meluncur
dariku. Seperti kata pepatah, tidak ada hasil yang
mengkhianati usaha dan aku bersyukur aku tidak pernah
menyerah untuk mencintai Electra. 
***
Tentang Penulis
Erlinsia Adelin Hehakaya, S.Psi dilahirkan di Samarinda
Kalimantan Timur tanggal 7 Juni 1991, lebih suka disapa
“KillerBee”. Fans sejati anime Naruto. Aktif di Instagram
dengan nama akun “killerbee_91”. Aktif sebagai penulis
di wattpad dengan nama akun “killerbee91”.
215 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
DALAM INGATAN
WAKTU
Oleh. Merlinda Yuanika
Kepalaku rasanya berat, tubuhku lemas,
pandanganku mengabur, aku merasa asing
di tempat aku terbangun. Rumah berdinding anyaman
bambu membuatku merasa semakin asing, aku mencoba
duduk, tetapi gagal, aku hanya bisa mengubah posisi
tidurku. Gubuk usang yang tidak terawat dan mungkin
tanpa penghuni sekian tahun lamanya, banyak sarang laba-
laba menghiasi ruangan. Ada cahaya keemasan masuk
di sela-sela dinding anyaman, tanda hari masih sore dan
senja sedang dalam perjalanan. Di meja yang jauh dari
jangkauan ada lampu minyak kecil menyala.
Analekta Kisah Semesta | 216
PROPERTI OF P
“Apa ini?” Suaraku lemah melihat pakaian yang
menempel di badan. “Ya ... Tuhan, apa yang terjadi?” Aku
merasa menjadi orang yang menyedihkan di atas bumi.
Aku hanya bisa merintih beberapa lama, mulutku
kering,sayupsuarapanggilanshalatterdengar.Sangatjauh,
suara azan yang kecil. Hari mulai gelap hingga suara gaduh
dengan nyala terang seperti api obor menuju ke arahku.
Antara senang dan takut, ingin meminta tolong sekaligus
ingin berlari jauh. Tidak ada daya untuk melangkah pun
untuk berlari. Suara bambu pecah menghentakan dada
kemudian cahaya yang menyilaukan masuk membuat
mataku menyipit.
“Bawa perempuan berdosa ini. Perempuan bawa
sial, kita arak keliling desa.” Aku merasakan takut teramat
menyergap tubuh ketika suara yang berat berteriak dekat
sekali dengan keberadaanku yang lunglai.
Aku hanya bisa menangis, sepatah kata ingin aku
keluarkan dari mulut, tetapi tenaga sudah habis. Sejurus
kemudian tubuhku seperti diseret dan aku tidak ingat lagi.
Kesadaranku hilang saat ada yang menarikku dengan
paksa karena rasa sakit telah menyergap.
“Lihat! Anak perempuanmu tidak tahu malu. Kami
menemukannya di gubuk dekat sungai.”
“Nak, apa yang terjadi?” Aku melihat wajah
ayahku begitu dekat, dia memasang raut gelisah dan sedih
teramat.
217 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Ayah.” Suaraku lemah lalu tangis pecah begitu
tubuhku tersungkur di kaki ayah.
“Kita dengar dulu apa yang terjadi dengan Dhia.
Semoga Bapak-Bapak semua tidak terburu menghakimi
anak saya.” Sebuah gelas berisi air dari ibu aku teguk
dengan kilat tanpa meninggalkan sisa.
“Dhia bangun di gubuk usang, Yah. Pakaian Dhia
sudah seperti ini, kepala dan tubuh dia berat, tidak bisa
berjalan. Dhia tidak tahu apa yang sudah terjadi.”
“Dhia sudah menyalahi adat, seharusnya dia tahu
aturan di dusun kita bahwa dilarang memakai pakaian
merah. Sangat dilarang sejak dulu. Dhia harus segera
diusir dari dusun ini atau dia harus dikucilkan di hutan.”
Tangisku kembali pecah mendengar hal itu. Aku tidak
tahu nasib buruk apa yang akan menimpaku setelah aku
kedapatan memakai pakaian dengan warna terlarang.
“Dhia mohon, jangan kucilkan Dhia, Dhia masih
mau hidup normal. Sekolah tinggi, membahagiakan Bapak
dan Ibu.” Aku menatap mata orang tuaku.
“Ibu, ada apa ramai sekali?” Suara bocah terdengar
keluar dari kamarku. Aku terheran, siapa gerangan bocah
cantik yang mengusap matanya karena terusik tidurnya.
Suasana mendadak senyap karena suara si cantik.
Analekta Kisah Semesta | 218
PROPERTI OF P
“Bapak-Bapak sekalian, hari sudah malam,
sebaiknya besok pagi kita lanjutkan membahas masalah
Dhia. Saya menjamin dia tidak akan melarikan diri.”
Suara ayah menenangkan warga, mereka setuju kasus akan
dilanjutkan esok hari. “Sebaiknya Bapak-Bapak kembali
ke rumah, besok saya sendiri yang akan menyerahkan
Dhia ke sidang adat.”
***
“Anak? Menikah?”Aku melihat sebuah album foto
pernikahan bahkan di ruang tamu ada foto besar menempel
di dinding. Aku semakin pusing, bingung harus memutar
memori yang mana, sementara setelah aku menguras
tenaga mencari memori di kepala, tidak juga aku temukan
perihal pernikahan.
“Siapa namamu, Nak?” tanya ayah memastikan.
“Dhia Khulaida,” jawabku yakin.
“Ini siapa?” Ayah bertanya tentang sosok lelaki
yang duduk di sampingnya. Aku menggeleng kemudian
ibu menggenggam tanganku dan air matanya mengalir.
“Dia suamimu, Faqih Fairuza, lelaki yang sepuluh
tahun lalu menikahimu.”
“Apa? Sepuluh tahun? Maksud Ayah?”
“Apa yang sebenarnya terjadi selama kamu
menghilang, Nak?” Ibu bertanya dengan rasa sedih yang
219 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mendalam.
“Menghilang? Dhia menghilang? Tapi di mana,
kenapa?”
“Seharusnya kami yang bertanya,“ ucap Ayah
heran.
Aku bergegas melihat kalender di dekat meja TV.
Aku mengusap mata dan mengedip beberapa kali, angka
2020 tetap bertengger di kalender itu. Aku menjelajah
waktu atau hilang ingatan, aku bingung sekaligus terbesit
ketakutan dalam diri.
Tergesa aku menghampiri Ayah, “Ayah, sebelum
aku ada di gubuk tua itu kemarin sore, aku ada di kebun.
Aku ingat betul aku belum menikah dan kalender masih
di angka 2010. Aku yakin belum menikah, Yah.” Bibirku
bergetar hebat.
“Aku Faqih suami kamu? Apa tidak ada namaku
dalam ingatanmu?” Aku melirik ke arah Faqih yang
meminta pengakuan.
“Ayah, aku tidak ingat ada pernikahan, hamil,
apalagi anak. Aku masih dua puluh tahun.”
“Dhia!” Ayah membentak keras. “Kita bawa dia
pergi dari dusun ini, cari dokter, kita periksakan istrimu!”
Perintah Ayah kepada Faqih.
Analekta Kisah Semesta | 220
PROPERTI OF P
“Ibu, aku tidak gila, aku masih ingat semua.” Aku
merengek seperti anak kecil.
“Ayah akan menerima hukuman ketua adat, kamu
harus pergi dari dusun ini. Kamu melanggar larangan.
Kamu sepatutnya mendapat hukuman. Ayah tidak akan
mencari tahu kebenaran apa pun karena kebenaran tentang
pernikahannya saja dia tidak ingat.”
Sidang adat telah dilakukan, aku menjadi pendosa
yang melanggar adat dusun, ketetapan untuk mengusirku
dari dusun ini telah disepakati bersama. Dalam hitungan
jam nasibku berubah bahkan dalam sekejap aku telah
menjadi istri dan ibu dari seorang anak sekaligus menjadi
tersangka yang melanggar adat.
***
“Apa kamu mencintaiku sejak lama?”
“Tentu, kita memang tidak lama saling mengenal
lalu memutuskan menikah. Kamu memilih tetap tinggal
dengan orang tuamu dan aku ke kota untuk mencari
nafkah. Dhia, apa yang terjadi sebenarnya?”
“Jika aku tahu apa yang terjadi mungkin aku tidak
akan di sisimu saat ini, tapi masih di dusun kecil itu.”
“Aku dan Sean merasa takut, apalagi Sean, dia
sangat sedih karena ibunya tidak mengingatnya.”
221 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa
mengingat kalian.” Aku turut merasakan apa yang mereka
rasakan, tidak ada dalam ingatan orang yang kita sayang,
itu hal yang menyedihkan.
Kecupan hangat meluncur di bibirku. Aku bisa
merasakan ketulusan lelaki itu. Rasanya itu menjadi
ciuman pertamaku. Aku tidak tahu harus menolak atau
membalas kecupan itu, bahkan untuk mengucap kata
seperti apa, tidak terlintas.
“Aku akan membantumu mengingat semua,
sekarang tidurlah, besok kita ke dokter. Tidak perlu takut,
semua akan mendukungmu, akan di sisimu membantu.”
Aku mengangguk lemah, menuruti semua
ucapan Faqih. Aku memejamkan mata, tubuhku di dera
lelah menempuh perjalanan panjang. Bukan hanya fisik
tetapi jiwaku merasa meronta, lelah mengingat seperti
terperangkap dalam ingatan waktu.
***
Aku kembali dari lamunanku ketika tiba-tiba Faqih
menarik lengan bajuku sambil tersenyum lebar. Aku tidak
mendengar perbincangan ayah dan ibu.
“Kamu tidak perlu cemas, aku akan menjagamu
dan Sean.” Faqih menatap ramah.
“Ayah dan Ibu kenapa tidak tinggal di sini saja?
Rumah ini sangat besar,” pintaku dengan manja.
Analekta Kisah Semesta | 222
PROPERTI OF P
“Di dusun banyak yang harus kami kerjakan,
sawah, kebun, kolam ikan, kalau hanya mengandalkan
Si Salim, adikmu itu, tidak akan beres semua.” Ayah
mengusap rambutku.
“Iya, Ibu juga tidak terlalu khawatir lagi, hasil
pemeriksaanmu cukup bagus, kamu mungkin hanya lelah.
Maafkan juga warga desa yang mengarakmu ke rumah dan
menghakimimu.” Aku mengangguk, aku tahu sebenarnya
Ibu sangat khawatir kepada anak gadisnya ini.
“Maafkan Dhia, Yah, Bu. Dhia membuat Ayah dan
Ibu kecewa. “
Pemeriksaan CT Scan dan MRI tidak menunjukkan
gejala aneh. Dokter yang memeriksa mengatakan
kemungkinan ingatanku hilang karena amnesia traumatis.
Mungkin saat aku menghilang berada di tempat asing,
kepalaku terbentur sesuatu atau aku mengalami kejadian
yang berat. Ini hanya bersifat sementara dan aku akan
mengingat semuanya lagi. Penjelasan dokter lebih
menenangkan pikiran orang tuaku dan suamiku, tidak
dalam batin dan pikiranku.
“Boleh aku tanya? Berapa lama aku menghilang?
Di mana terakhir aku terlihat?” Aku bertanya ketika ada
kesempatan berdua saja dengan Faqih.
“Kamu tidak ingat hal itu? Kata Ayah kamu keluar
sendirian, pamit membeli sesuatu. Ternyata kamu tidak
kembali dan enam belas hari kamu tidak ada kabar.”
223 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Selama itu? Lapor polisi dan tindakan pencarian?”
“Sudah, tidak ada hasil. Kamu seperti ditelan
bumi.”
“Jadi aku 30 tahun sekarang?”
“Hampir, belum genap,” ungkap Faqih.
Aku harus memulai membiasakan diri dengan usia
tiga puluh sebelum teka-teki di kepala terpecahkan. Suami
dan anak, mereka menunggu agar aku selalu ada untuk
mereka. Aku juga akan mencari tahu ingatan yang hilang
atau aku melintasi distorsi waktu.
“Dhia, bangun! Kamu mimpi apa?” Suara Faqih
terdengar jelas.
Aku terperanjat, sebuah mimpi melintas di kepala.
Aku berdiri di depan sebuah pohon besar yang seolah-olah
akan menelanku hidup-hidup. Beruntung aku mendengar
suara Faqih.
***
“Apa makanan kesukaan Sean?”
“Ibu lupa?” Sean menampakkan muka kecewanya,
“Martabak mi telur buatan Ibu yang super besar,” jawab
Sean sambil membentangkan tangan. Aku mengerjap
seperti ada bayangan besar melintas. Aku terhuyun di
depan Sean. “Ibu, apa Ibu masih sakit? Sean telepon Ayah,
ya? Kata Ayah kalau ada apa-apa sama Ibu, Sean harus
Analekta Kisah Semesta | 224
PROPERTI OF P
telepon Ayah.”
“Tidak apa-apa, maafkan Ibu. Ibu akan masak
martabak mi telur untuk Sean.” Aku mengumbar senyum
tetapi masih memikirkan sekelebat bayang besar yang
muncul tiba-tiba.
“Ibu, yakin?” Aku mengangguk dan membelai pipi
Sean.
Keluarga dalam ingatan baruku ini begitu hangat
dan tulus, tetapi aku merasa asing dengan mereka bahkan
diriku sendiri. Aku masih mengingat peristiwa di gubuk
tua itu, pakaian merah yang membuatku terusir dari tanah
kelahiranku. Aku lupa kenapa warna merah dilarang, yang
aku ingat setiap orang yang memakainya akan dianggap
pendosa, kotor, membawa sial, nasib buruk akan selalu
menaunginya kemudian yang paling kejam diusir atau
dikucilkan dari dusun. Semakin aku memikirkan justru
semakin aku tidak menemukan titik terang.
Sebuah dering telepon membahana dalam ruangan,
membuat aku dan Sean saling pandang.
“Ibu yang angkat, kamu duduk manis saja.”
“Iya, Bu.”
Sebuah suara yang aku kenal, Faqih. Dia
mengabarkan akan pulang cepat karena ada rapat di luar
kantor dan selesai sebelum jam kantor. Faqih dalam
perjalanan ke rumah.
225 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Itu Ayah? Dia akan pulang cepat?”
“Iya, katanya dia dalam perjalanan pulang.”
“Ibu … aku suka seperti ini, Ibu bersamaku dan
Ayah tidak lagi jauh. Aku suka kita sama-sama.”
Aku memandang anak delapan tahun yang
wajahnya sangat mirip dengan Faqih hanya beberapa
kelakuannya mirip sekali denganku. Anak cantik yang
tidak ada dalam ingatanku ini membuatku jatuh hati.
Pelukannya dan tatapannya yang penuh cinta membuatku
nyaman.
“Ayah pulang.” Suara nyaring dari arah pintu depan
membuat Sean berlari untuk menyambut kedatangan
ayahnya.
“Bawa apa,Yah?”
“Bawa makanan dan kue, wah … bau apa ini?
Harum dan nikmat sepertinya?”
“Ibu masak, kenapa Ayah bawa makanan? Kasihan
masakan Ibu.”
“Eit, kita akan makan semuanya.”
“Iya, makan semua sampai kenyang.” Aku melihat
dua orang yang memiliki ikatan darah itu tertawa bahagia.
Aku mulai menikmati berada dalam keluarga
sederhana ini.
Analekta Kisah Semesta | 226
PROPERTI OF P
“Mas!” seruku ketika membuka bungkusan yang
dibawa Faqih.
“Dhia,” seru Faqih berlari dari kamar merasa
khawatir.
Aku menunduk di bawah meja, entah darimana
datangnya rasa jijik dan ngeri melihat ingkung ayam yang
utuh di dalam kotak. Faqih membenamkan kepalaku di
dadanya. Aku merasa baik-baik saja selama sekian menit.
Dia berusaha melindungi dengan segenap raga.
“Aku hanya kaget,” ucapku lirih dengan menunjuk
ke arah ayam dalam kotak.
“Aku kira kamu kenapa-kenapa, itu hanya ayam
panggang,” ujar Faqih.
Sean tertawa melihat tingkah kami, dia sepertinya
bahagia melihat kemesraan orang tuanya. Hal yang langka
untuk dilihat.
***
“Dhia, bangun! Dhia.” Sebuah suara kembali aku
dengar untuk membangunkanku.
“Mas, aku takut. Tolong aku,” ucapku terengah
setelah bangun dari tidur.
“Tenang, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan,
Dhia. Semua akan baik-baik saja.”
227 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Besok aku harus pulang ke rumah Ayah dan Ibu.
Aku mau pulang secepatnya,”
“Tapi, be—”
“Besok atau tidak akan ada kesempatan.” Aku
menyela dengan cepat.
“Baiklah, aku akan mengantarmu, aku akan minta
izin ke kantor.”
Pelukan yang menenangkan membuatku terhanyut.
Aku semakin ingin tahu bayangan yang sering melintas
dan mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Pohon besar
yang aku ingat ada di dekat kebun ayah. Sosok perempuan
berbaju merah yang mendatangiku dalam mimpi. Aku
ingin memastikan semua hal tersebut.
“Kenapa kamu punya pikiran untuk kembali ke
kampung halamanmu?”
Aku tak menjawab, hanya sesungging tersenyum,
aku tahu seperti apa kekhawatiran Faqih. Dia yang melihat
hukuman yang dijatuhkan padaku dari putusan adat.
“Kalau aku diusir sekali lagi setidaknya kalian
masih bisa pulang ke rumah Ayah, Ibu.”
Perjalanan panjang dimulai, lima belas jam
perjalanan darat dengan mobil pribadi. Aku sudah tidak
sabar untuk mencari titik terang. Menuntaskan rasa
penasaranku. Beberapa kali Sean mengajak bernyanyi
Analekta Kisah Semesta | 228
PROPERTI OF P
dan bercerita, dia tidak memberiku kesempatan tidur atau
melamun. Lagipula mata tidak bisa terpejam lelap sekuat
apa pun aku berusaha. Ada perasaan yang mengganggu.
“Mas, awas!”
“Ya, Allah.” Faqih menginjak rem mendadak.
“Apa itu tadi?”
“Tidak tahu, Mas.”
“Mas akan cek sebentar, kamu di dalam saja,
jangan keluar!” Perintah Faqih mendekatkan wajahnya
sebelum keluar mobil.
Suara berdebum, sesuatu dibanting ke arah badan
mobil. Mobil bergoyang membuatku berteriak dan Sean
meloncat ke arahku. Aku mengambil alih kemudi, Sean
aku perintahkan memakai sabuk pengaman di kursi depan.
Tidak ada suara dari Faqih hingga tiba-tiba kepalanya
menyembul di kaca pintu dengan darah segar mengalir.
Aku dan Sean menangis dan berteriak, aku tancap gas
meninggalkannya. Dadaku berdebar kencang, jalanan di
tengah perkebunan karet sangat sepi, hanya satu dua yang
melintas, berteriak minta pertolongan sangat percuma.
Aku melihat sekelebat selendang merah melayang,
aku menangis, berusaha melindungi Sean. Mobil berhenti
tiba-tiba, tidak mau jalan lagi, aku sudah berusaha
menyalakan mesin beberapa kali.Aku panik ketika seorang
perempuan yang terlihat miris, wajah pucat dalam balutan
gaun merah menyala muncul di kap mobil dengan tatapan
229 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mengerikan tanpa bersuara. Aku memeluk Sean sekuat
tenaga, melantunkan doa apa pun yang ada di kepala.
***
Aku membuka mata dan berada di depan sebuah
pohon. Ada banyak pita merah terikat di rantingnya,
batangnya yang sangat tua pun berselimut kain merah.
Aku ingat itu pohon keramat di ujung dusun.
“Masih bernyali untuk menyepelekan
keberadaanku? Kamu sudah kehilangan semua, tidak
adakah penyesalan?”
“Apa yang kamu lakukan dengan suami dan
anakku?”
“Kamu masih punya kesombongan tinggi?”
“Kembalikan mereka, biar aku yang menanggung
nasib buruk, kembalikan mereka karena mereka tidak tahu
apa-apa.”
“Begitukah?”
“Aku minta maaf untuk semua perbuatanku di masa
lalu atau di masa depan.Aku akan lebih menghargai segala
sesuatu di sekitarku. Aku akan menebus kesalahanku.”
Aku mengakui segala kesalahanku.
“Setiap yang hidup adalah mukjizat Tuhan, bukan
berarti yang tidak kasat mata bisa dihinakan. Segala
sesuatu di semesta hidup atas izin Tuhan.” Nasihat hidup
Analekta Kisah Semesta | 230
PROPERTI OF P
yang aku dengar dari mulut seorang perempuan cantik nan
anggun dengan gaun merahnya, dia tidak menampakkan
raut wajah kejam, tetapi mata tajam dan bibir merah
merona yang justru mempertegas seramnya. Ini seperti
pertarungan emosi dengan makhluk imajiner.
Tangan perempuan itu menyentil sebuah pita
merah ke arahku, aku merasakan tubuh ini ditabrak dengan
keras lalu terhempas dan jatuh ke tanah, rasanya sakit dan
mataku memberat kemudian.
***
Kepala dan mataku berat, ada banyak suara-suara
mengiang di telinga. Aku ingin membuka mata, sia-sia,
aku merasa heran, mimpi macam apa yang datang dan
membuat ngeri merasuk.
“Hanya penjaga dusun ini yang berhak berpakaian
merah, kita menghormatinya, bukan sakadar hormat, tapi
adat leluhur yang harus dijaga.” Suara yang menenangkan
sayup terdengar. Membuatku sekuat tenaga membuka
mata.
Kalimat ayah tentang alasan tidak bolehnya
memakai pakaian merah. Aku mengingat ayah bercerita
tentang hal itu ketika aku kecil. Aku terbangun di depan
sebuah pohon besar di kebun. Pohon yang disakralkan
oleh warga dusunku.
Aku berlari terhuyung menuju rumah, keringat
dingin dan rasa takut menguasaiku. Aku menggenggam
231 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
sesuatu di tangan kananku, entah apa di dalam kepalan
tanganku.
“Ayah, Ibu, kalian tidak apa-apa?”
“Tidak, ada apa? Kami pulang dari sawah.”
“Syukurlah,” kataku lega dan memeluk Ibu.
“Ada apa, Nak?”
Aku berdiri linglung, semua yang aku alami di luar
nalar.
Air mata membanjiri pipiku, pakaianku sudah
lusuh tak menarik. Aku melirik kalender di dekat TV,
angka 2010 tercetak tebal. Tidak ada potret pernikahanku
di dinding rumah.
“Tidak ada apa-apa, Bu.”
Aku bermimpi aneh, mimpi yang membuat tubuh
benar-benar lelah dan sakit, mimpi yang membuatku
merasa sedih tentang kehilangan. Aku menjadi pendosa
untuk diriku sendiri, mencela adat masyarakatku sendiri.
Aku tergugu, tangisku tak terhenti. Aku membuka
kepalan tanganku, ada pita warna merah yang sedari tadi
kugenggam. Dalam ingatan lainnya aku merasa ada cinta
dan ketulusan yang dibenamkan oleh dua orang bernama
Faqih dan anak cantik bernama Sean.
Pati, 28 Maret 2021
Analekta Kisah Semesta | 232
PROPERTI OF P
Tentang Penulis
Lahir 8 Juni dengan nama Merlinda Yuanika ini biasa
dipanggil Dek Nda. Kesibukannya membaca buku
juga menulis. Semua tulisannya bisa ditemukan dalam
Instagramnya @d3k_nda, dan cuitannya bisa disimak di
@d3k_linda.
233 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
GUGUR DI NEGERI
SAKURA
Oleh: Aishanafi Khadifya
“Apakah aku harus mundur?” Pertanyaan itu
kembali ia utarakan. Tak tahu lagi sudah
berapa kali ia tanyakan hal yang serupa kepadaku. Entah
mengapa lelaki di hadapanku ini sangat sensitif sekali.
Ada apa lagi ini? Selidikku dalam hati.
Kini lelaki di hadapanku menatapku dengan
sungguh-sungguh sambil memelankan suaranya, “Kamu
lolos beasiswa ke Jepang, kan?”
“Oh ini sebabnya.” gumamku dalam hati.
Analekta Kisah Semesta | 234
PROPERTI OF P
“Iya alhamdulillah aku lolos beasiswa ke Jepang
Mas, baru aja aku mau cer...” Tiba-tiba dia memotong
sambil mengusap kepalaku. “Kamu hebat Nduk, aku aja
belum lulus S1, kamu sudah selangkah di depanku. Aku
malu, aku enggak bisa ngimbangi kamu”.
“Salah kalo aku ngelanjutin S2?” tanyaku.
“Ya tapi gimana aku belum lulus kamu udah mau
pergi aja—“ Ia menggantung ucapannya, dan kami sama-
sama terdiam. Aku jadi tak selera dengan hidangan yang
baru saja datang. Aku memesan spageti dengan saus
aglio olio kesukaanku, dan es teh tentunya. Aku mencoba
mencairkan suasana kembali dengan mencoba meyakinkan
lelaki di hadapanku.
“Gini Mas, kelak aku nanti akan menjadi seorang
ibu, jadi madrasah buat anak-anak kita kelak. Bukannya
harusnya enggak apa-apa kalau aku lanjut sekolah sekolah
lagi? Kan buat masa depan anak kita kelak, aku kan
sekolah pertama bagi mereka nanti.” Dia terlihat berpikir,
sambil menatap mataku, entah mencari apa.
“Aku di Jepang juga cuma fokus belajar kok, biar
cepet selesai juga. Engga mungkin aku seli...” Tiba-tiba
dia memotong. “Yakin kamu mau ke Jepang Nduk?”
	 Suara pengumuman bahwa kereta yang akan
kutumpangi memecah lamunanku. Aku terkesiap dan
segera bersiap. Waktu menunggu membuatku mengingat
kembali percakapan dua tahun yang silam. Salah satu
235 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
faktor yang menguatkanku untuk melanjutkan studiku
ke Negeri Sakura ini. Di luar jendela aku melihat daun
musim panas telah meninggalkan dahannya. Tidak seperti
di Indonesia, di sini bunga yang gugur berwarna merah,
momiji namanya. Indah sekali, orang Jepang di sini
juga sangat menikmati musim ini, banyak sekali yang
mengabadikan momen ini di taman bersama keluarga.
Meskipun sudah hampir dua tahun aku di sini, aku masih
saja takjub dengan musim gugur. Musim yang memberikan
harapan cinta. Namun sepertinya musim gugur di tahun ke
duaku di sini, harapan cinta itu tidak berpihak kepadaku.
	 Setibanya aku di stasiun pemberhentian aku
melihat beberapa orang yang juga sepertinya sama
tujuannya denganku. Di bulan Oktober ini beberapa
mahasiswa yang akan ikut perkuliahan musism gugur
sudah mulai terlihat memenuhi stasiun dan juga jalan-jalan.
Angin yang sejuk diawal musim gugur ini membuatku
lebih bersemangat datang ke kampus. Sedikit melupakan
lamunanku di staiun tadi.
Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum
perkuliahan akan dimulai, aku menuju kantin untuk
memakan bekal sarapan yang kubawa dari rumah dan
membeli beberapa cemilan untuk kumakan siang nanti.
Musim gugur seperti ini pakaian para mahasiswa tak jauh
berbeda dengan mahasiswa di Indonesia pada umumnya.
Karena cuaca yang sejuk, tidak panas dan juga tidak
dingin, kadang masih terlihat beberapa yang mengenakan
sweater ke kampus. Alhamdulillah jilbab ini sedikit
Analekta Kisah Semesta | 236
PROPERTI OF P
membantuku yang kadang alergi dingin yang datang tiba-
tiba sebab angin yang berembus.
Ketika sampai di rumah aku langsung mandi
dan ingin segera menghubunginya. Aku tiba-tiba
merindukannya yang sudah lama tidak menghubungiku.
Sedang apa ya dia? Batinku.
Tuuut tuuut tuut.
Hanya nada dering yang sejauh ini terdengar. Chat
personal juga tidak terbaca sejak aku di kampus tadi.
Hubungan jarak jauh seperti ini memang rawan, rawan
untuk memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan dan
juga rawan kepercayaan diri. Ah, aku kesal dengan diriku
sendiri yang seperti ini. Padahal kuliah di negara orang
adalah pilihanku sendiri, namun rasanya ingin segera lulus
dan kembali ke tanah air.
Harusnya di Indonesia tepatnya di kota Kediri
masih menunjukkan jam delapan malam. Mengapa dia
tidak mengangkat teleponku. Aku sudah mulai pasrah dan
ingin segera beristirahat karena besok akan ada kuliah
pagi, aku harus ikut kereta subuh agar tidak terlambat.
Baru beberapa menit aku memejamkan mata dan mulai
terlelap, aku mendengar ada suara pesan masuk di ponsel
ku. Segera kubuka dan ternyata itu pesan dari dia.
[Gimana kabarnya Nduk? Maaf tadi seharian aku
ada dedline kerjaan dan baru bisa pegang ponsel dengan
tenang. Kamu udah istirahat ya? Met istirahat sayang...]
237 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Aku bergegas mengetik untuk menjawab.
[Alhamdulillah baik Mas, wah jangan lupa jaga
kesehatan kalau lagi lembur. Makannya dijaga, vitamin
jangan lupa.]
[Iya Nduk] jawabnya singkat.
Udah dijawab gitu aja sama dia? Belakangan ini
susah dihubungi, tak ada kabar dia sama sekali dan enggak
bilang kangen gitu? Oh lelaki, aku tak mengerti jalan
pikirmu. Apakah dia sudah lelah dengan hubungan jarak
jauh ini?
[Mas, gimana lanjutan pembicaraan kita beberapa
bulan yang lalu?]
Hanya dibaca saja olehnya. Aku melanjutkan
mengetik di ponsel.
[Beberapa bulan ini Mas susah banget dihubungi,
aku bingung kelanjutan hubungan ini Mas. Semester depan
aku sudah pulang ke Indonesia, jika Mas mau serius—]
belum selesai aku mengetik, tiba-tiba ada telpon masuk.
“Halo Nduk.” Suara beratnya menyapa.
“Assalamu’alaikum Mas....”
“Wa’alaikumsalam Nduk, udah tidur?” Aku tak
menjawab.
“Kok diem aja Mas tanya?” tanyanya.
Analekta Kisah Semesta | 238
PROPERTI OF P
“Iya enggak apa-apa.” Aku jawab seadanya.
“Gimana kuliahnya?” Dia mulai memgulur waktu.
“Alhamdulillah lancar, semester depan aku bisa
pulang ke Indonesia beberapa minggu, mungkin itu bisa
jadi kejelasan hubungan kita kalau Mas mau...” Tiba-tiba
dia memutus pembicaraanku.
“Jadi gini Nduk, sebenarnya bapakku sudah
memutuskan suatu hal, dan aku enggak mungkin bisa
membantah orang tuaku. Kamu sendiri tahu aku enggak
akan bisa berbuat banyak jika orang tuaku sudah
memutuskan sesuatu”
“------“
Aku menunggu dalam diam dan mulai mengerti
arah pembicaraan ini.
“Bapak kurang setuju dengan hubungan kita,
melihat latar belakang keluargamu yang berada di kota
Lamongan sedangkan aku di Kediri menurut leluhur itu
tidak baik bila diteruskan.”
Aku sudah tidak bisa beragumen kali ini, aku hanya
bisa pasrah dan menahan tangis di ujung telepon. Ketika
dia selesai bercerita dan aku sudah cukup mendengar
alasannya berbulan-bulan ini susah untuk dihubungi.
Aku memilih tidur dalam tangisan, atau lebih tepatnya
aku tertidur setelah lelah menangis. Setelah beberapa
bulan aku menjadi mengerti alasan mengapa dia tidak lagi
239 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
memperjuangkanku, ternyata restu dari bapaknyalah yang
memberhentikan langkahnya sampai sini saja.
Beginilah, cintaku gugur bersamaan dengan
jatuhnya bunga-bunga dan dedaunan di negara Sakura.
Cintaku gugur di Negeri Sakura.
***
Tentang Penulis
Saya adalah seorang anak pertama yang menyukai
tantangan. Alhamdulillah saat ini saya telah melahirkan
tiga buku antologi dan sedang menekuni karya solo.
Kesenangan saya dalam menulis telah diasah ibu saya
semenjak memasuki kelas 3 SD. Saya adalah lulusan
sarjana Ekonomi Islam dan saat ini tertarik dengan ilmu
parenting dan marriage.
Analekta Kisah Semesta | 240
PROPERTI OF P
SEMBURAT CINTA
PERTAMA
Oleh: Rini Untari
Bahagia yang dirasa berpadu dengan asa yang
terikat. Cinta yang tulus di antara dua manusia
tercipta janji untuk bermufakat. Tak perlu berdebat atas
upaya cinta yang berkhidmat. Semoga Tuhan beri rahmat
atas janji yang terucap. 
Rinai hujan masih membuatku belum bisa beranjak
dari kursi kerja yang telah menjadi tempat bersandarku
selama dua tahun terakhir. Aku bekerja di sebuah media
besar di usiaku yang kini masuk seperempat abad. Usia
yang sudah pantas untuk melangkah ke pelaminan.
Ah, entah kenapa tiba-tiba terbesit pikiran itu. Apalagi
semenjak pesan sederhana tapi manis kuterima malam itu. 
241 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tring... Sebuah pesan singkat masuk dan kulihat
ada pesan dari nomor yang tak kukenal. 
[Apa kabar Risna? Ini aku Dika. Masih simpan
nomor Rahmat?] tanya Dika di ujung sana. 
Deggg.. Tak ada hujan tak ada angin, Risna
membelalakkan matanya untuk meyakinkan pengirim
pesan sederhana itu. DIKA ... ya, Dika adalah pria manis
yang sangat aku sukai sejak kami praktik lapangan di
bangku perkuliahan dulu. Dika sosok idola wanita yang
bukan hanya tampan dan memiliki senyum manis tapi
sopan dan berasal dari keluarga berpunya karena ayahnya
bos di sebuah institusi plat merah. 
Aku merasa seperti punguk merindukan bulan
saat itu. Sejak lulus dari bangku kuliah aku tak pernah
berkomunikasi lagi karena kesibukan masing-masing. 
[Kabar baik, Dika. Maaf nanti dicari dulu ya]
Aku menjawab singkat karena sebelum membalas
pesan Dika, Kintan redaktur tempat aku bekerja
memanggil.  Meskipun aku tahu akan kehilangan momen
berharga setelah beberapa purnama tak bertukar kabar
tentang Dika. Waktu menunjukkan jam 23:00 WIB tapi
aku belum bisa pulang dari kantor karena ada berita di
halaman pertama yang harus aku cek ulang sebelum naik
cetak.
Analekta Kisah Semesta | 242
PROPERTI OF P
[Dika, ini nomor Rahmat. Maaf aku baru balas
karena tadi ada kerjaan kantor belum selesai dan ini sudah
mau pulang. Semoga bisa ngobrol lain waktu.] Ujarku 
membalas pesan Dika. 
[Oke, tidak apa-apa Risna. Hati-hati di jalan ya.]
Balas Dika mengakhiri pertemuan kami melalui dunia
maya setelah sekian lama tak berkabar. Aku baca ulang
pesan terakhir yang dikirim Dika. Tak ada emoticon
yang mendebarkan tapi kenapa dadaku tiba-tiba berdetak
kencang dan membuat diriku tersenyum sendiri hanya
dengan sebuah kata hari-hati. 
Aku merasa dipertemukan kembali dengan cinta
pertamaku di bangku kuliah. Dika pria yang selalu
bersikap baik kepada semua orang. Kadang aku berpikir,
aku terlalu percaya diri akan rasa yang dimiliki Dika. Kami
tak pernah mendeklarasikan sebagai pasangan apalagi ada
ungkapan rasa suka Dika kepadaku secara personal. Itu
hanya mimpi pikirku saat itu. 
Malam itu sesampainya di rumah, aku segera
bergegas ke kamarku dan membuka sebuah buku harian
berwarna merah muda. Buku harian yang menemaniku
sewaktu praktik lapangan di sebuah Kota di Jawa Tengah. 
Kembali mengingat kebersamaan dengan teman-teman
dan tentu saja dengan Dika.  Ada sebuah catatan manis
yang sangat melekat dalam ingatan dan tertuang dalam
buku harian itu. Saat itu aku, Dika dan teman sekelompok
praktik pergi menyusuri hutan untuk melakukan analisis
vegetasi. Tiba-tiba medan yang kami lewati licin
243 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
membuatku terpleset dan Dika berusaha membantuku dan
mengucapkan kata hati-hati saat itu. 
Banyak momen manis di antara aku dan Dika
juga teman-teman praktik lapangan tercipta karena
kebersamaan di lapangan selama hampir dua bulan. Tapi
tak pernah ada pernyataan mengenai statusku saat itu
lagipula saat itu aku tak pernah berpikir untuk berpacaran
dengan Dika. Aku belajar melupakan rasa yang ada karena
ternyata sabahat dekatku juga menyukai Dika. Sebelum
berangkat praktik lapangan, Shinta sahabat terbaikku
malah meminta tolong untuk melaporkan sikap Dika
selama di lapangan dan juga menyampaikan salam kepada
Dika. Sungguh memperhatikan pria semanis dan sebaik
Dika malah menjadi bumerang bagiku. Nyatanya dalam
perjalanan kebersamaan praktik lapangan, aku mulai
menyukainya. 
Pagi itu, seperti biasa aku bertugas liputan di
sekitar gedung dewan dan pengadilan negeri. Ada kasus
sidang pembunuhan gadis cantik yang sedang hamil oleh
pacarnya yang menarik untuk dijadikan berita. Tak lama
sebuah pesan dari redaktur pelaksana harian tempatku
bekerja meminta untuk bersiap magang di kantor pusat. 
“Risna, mulai besok magang di kantor pusat ya. Paling
tidak satu bulan nanti di sana,” ujar Kintan sore itu di kantor
menginformasikan kembali rencana magang untukku. 
Tentu saja aku bersemangat meskipun terbesit
selama sebulan aku akan belajar mandiri di kota besar
melakukan rutinitas liputan dengan cakupan yang lebih
Analekta Kisah Semesta | 244
PROPERTI OF P
luas pastinya lebih menarik. 
Hari-hari menjalani liputan di kota besar ternyata
sangat besar tantangannya. Setelah seminggu baru aku
bisa adaptasi dengan teman-teman liputan di bidang sosial
termasuk lingkungan kantor yang hiruk pikuknya berbeda.
Pejabat yang ditemui juga setingkat menteri. Tentunya
pengalaman yang baru dan menarik. 
“Risna, apa kabar?” Terdengar suara seseorang
memanggil namaku siang itu saat aku makan siang di
sebuah rumah makan tak jauh dari lokasi liputanku. 
Hampir saja aku tersedak karena seorang Dika
yang memanggilku namaku. Ah mimpi apa semalam
hingga bertemu dengan cinta pertamaku dalam kondisi
yang tak terduga.  Siang itu, Dika mengobrol sebentar
denganku. Dika menceritakan pekerjaannya dan begitu
antusias bertemu denganku. 	
“Aku ingin mengucapkan terima kasih,” ucap Dika
siang itu. 
“Terima kasih?” tanyaku bingung. 
“Iya terima kasih karena dulu Risna banyak
membantu selama praktik juga membantu merawatku
saat sakit di lapangan,” ujar Dika tulus dan menunjukkan
senyum terbaiknya yang sering memabukkan para wanita.
245 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Kenapa aku jadi tiba-tiba merasakan merah di pipi
dan jantungku berdetak lebih kencang. Sungguh aku kikuk
dengan kondisi siang itu. Apalagi Dika menyampaikan
kalau tidak menyangka akan bertemu dengan Risna karena
sebenarnya sudah mencari informasi Risna dari teman
teman praktik lapang dahulu. 
“Aku pamit Risna. Semoga kita bisa bertemu lagi
lain waktu ya. Kamu masih tugas di sini selama sebulan
kan?” tanya Dika menutup pertemuan singkat namun
sangat berkesan bagiku. 
Kejadian siang tadi, tentu saja mengganggu waktu
tidurku. Terbayang kembali wajah dan sikap Dika yang
tidak banyak berubah terutama senyuman manisnya.
Sungguh jatuh cinta membuat hati tak menentu. Padahal
pertemuan aku dan Dika singkat sekali tapi sangat
membekas karena Dika adalah cinta pertamaku. 
Hari ketujuh magang di kantor pusat semakin
menantang. Hari itu aku ditugaskan untuk meliput
demonstrasi di depan kantor kementerian sosial. Jalanan
ramai dan polisi sudah bersiap mengamankan aksi. Tak
ada aksi anarkis demo pagi itu semua berjalan tenang
sampai akhirnya bubar karena perwakilan pendemo bisa
menemui sosok menteri yang menjadi kontroversi karena
kebijakan yang dikeluarkannya. 
“Risna, aku tidak menyangka kita bertemu lagi.”
Dika menyapaku kembali saat bertemu di rumah makan
pasca aku istirahat liputan. 
Analekta Kisah Semesta | 246
PROPERTI OF P
Pertemuan kembali dengan cinta pertamaku
kembali. Apakah ini suatu kebetulan? sungguh pertemuan
yang sangat menyenangkan. 
“Eh iya Dika. Kamu memang kantornya di sebelah
mana Dika?” tanyaku kepada Dika karena pertemuan
kedua ini terjadi di rumah makan yang berbeda dengan
sebelumnya. 
“Aku bekerja di kantor kehutanan memang di
sini komplek perkantoran pemerintah, Risna,” ujar Dika
menjelaskan. 
“Aku gak menyangka bertemu kamu lagi di sini
Risna. Apakah ini pertemuan kebetulan atau memang kita
berjodoh,” ucap Dika tiba-tiba membuatku tersedak karena
sedang minum saat itu. Dika meminta maaf kepadaku.
Bagaimana mungkin aku tidak bahagia dengan kalimat
pertanyaan tentang jodoh. 
Pertemuan kami siang itu juga singkat karena
aku harus kembali ke kantor untuk membuat berita
hasil liputanku pagi itu tentang demonstrasi.  Aku pamit
dengan Dika meskipun perasaanku tak menentu.
Dika memberikan senyuman terbaiknya kembali dan
mengatakan semoga aku masih berkenan membalas
pesannya. Ah tentu saja Dika, aku pasti akan membalas
pesan darimu karena ternyata perasaanku tidak berubah
terhadapmu meskipun aku mencoba melupakannya. 
247 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Minggu pagi, aku libur liputan sebuah pesan
singkat mendarat terlihat notifikasi di layar gawaiku.
Aku sempat terkejut karena terlihat nama Dika tertera di
sana. Segera aku buka pesan singkat itu. Ternyata Dika
mengajakku untuk bertemu di rumah makan tempat
terakhir kami dipertemukan kembali. 
Minggu sore aku begitu bersemangat
mempersiapkan pertemuan ketigaku dengan Dika. Aku
memakai kerudung merah muda dengan blouse warna
senada.  Sesampainya di rumah makan, ternyata Dika
sudah sampai terlebih dahulu dan melambaikan tangannya
ke arahku. Duh, aku sudah tidak sanggup menata jantung
yang hampir copot dan kaki terasa gemetar mendekati
meja di mana Dika duduk.
“Maaf ya kalau hari Minggu mengganggu waktu
liburmu,” ucap Dika memberikan senyuman. 
“Iya tidak apa-apa Dika,” jawabku sambil menata
jantungku yang berdebar. 
“Risna, sebenarnya aku sudah lama mencari
informasi tentang kamu. Ternyata kita dipertemukan
kembali setelah sekian lama tidak berjumpa ya. Aku
kemudian memikirkan pertemuan singkat dan kembali
mengingat kebaikan kamu selama di lapangan dulu dan
Risna yang aku kenal selama kuliah meskipun beda
program studi, “ujar Dika. 
Analekta Kisah Semesta | 248
PROPERTI OF P
“Beberapa hari terakhir, aku meyakinkan diri
akan rasa yang tiba-tiba muncul setelah bertemu kembali
dengan kamu. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk
meyakinkan diri bahwa aku sudah menyukaimu sejak
dulu Risna,” ucap Dika yang membuat diriku terdiam
karena tak menyangka Dika akan berani menyampaikan
perasaannya selama ini. 
“Maaf kalau aku tidak pernah menyatakan
perasaan ini sejak lama karena aku mau meyakinkan dan
mempersiapkan diri akan rasa ini. Ternyata aku benar-
benar menyukaimu Risna. Aku berharap kamu bisa
menjadi pendamping dalam kehidupanku selanjutnya.
Kamu menjadi istri dan juga ibu bagi anak-anakku,“
tutur Dika penuh keyakinan dan tersenyum meyakinkan
diriku yang sore itu berkaca-kaca karena tak mampu lagi
membendung haru sekaligus bahagia dengan pernyataan
Dika sore itu. 
***
Tentang Penulis
Penulis berprofesi sebagai Ibu rumah tangga yang juga
memiliki aktivitas mengajar di sebuah Perguruan Tinggi
Negeri di Bogor, Jawa Barat. Penulis memiliki dua orang
putra dan telah menghasilkan puluhan buku antologi non
fiksi, fiksi serta puisi. Penulis bisa dihubungi di Instagram
@untari170.
249 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
BERSEMI DI
MUSIM SEMI
ISTANBUL
Oleh: Erna Kaloko
Selalu ada penawar untuk luka yang tampak
menganga. Kadang aku merasa hidup begitu
nelangsa dan tidak adil, tetapi bersama situasi
yang sulit itu hadir bahagia dalam bentuk
lainnya. Aku hanya perlu bersabar pada realita
dan berupaya menjadi lebih baik lagi.
Analekta Kisah Semesta | 250
PROPERTI OF P
“Ini, Bunga Tulip pertama untukmu, Tania!”
Setangkai bunga Tulip putih kini berada di
tangan kananku. Raiver Gerato memetiknya
entah dari mana. Bunga tulip di taman hanya bisa dilihat,
dipandang sesuka hati, tetapi tidak boleh mengusik
kuntumnya. Jangan coba-coba menyentuh apalagi
mengambil bunganya, alarm otomatis akan memekakkan
telinga. Alamat akan berurusan dengan penjaga taman.
Raiver berkata tulip putih ini mewakili isi hatinya. 
Ada filosofi tersirat di sana, tulip putih
melambangkan penghormatan dan perdamaian. Dapat
dipakai saat penyambutan tamu, pernikahan, kematian,
dan acara sakral lainnya. Tulip biru melambangkan
ketenangan dan perdamaian, biasanya para suami
memberikan tulip biru ketika berdamai setelah bertengkar.
Tulip oren menyiratkan semangat, cocok diberikan kepada
orang yang bersedih atau upaya menyemangati seseorang
agar tetap bahagia.
Tulip merah muda (pink) adalah lambang
penghargaan dan harapan yang baik. Dapat diberikan
sebagai apresiasi berupa kalung atau buket bunga untuk
pengantin. Tulip kuning melambangkan persahabatan,
biasanya diberikan ketika menjenguk orang yang sakit
agar ceria dan berseri-seri. Tulip merah identik dengan
ungkapan perasaan cinta, bermakna cinta abadi tanpa
pamrih. Tulip ungu sebagai simbol kebangsawanan,
terkesan high class, melambangkan royalti dan
kesempurnaan. 
251 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Hati dan hari-harimu akan penuh dengan bunga
di sini. Semoga hidup kita senantiasa bahagia.”
Raiver tersenyum lalu membawaku berkeliling
taman. Mampir ke Museum Tulip dan mengunjungi Danau
Tulip. Aku masih tidak percaya ada pemuda sepertinya,
pertemuan yang tak terduga. Raiver menemani dan
mewarnai hari-hariku selama di Istanbul, Turki. Sepanjang
Maret hingga Mei, musim semi akan berlangsung. Ada
Festival Tulip di sini. Di setiap sisi ruas jalan dan taman,
penuh warna-warni bunga berbagai jenis tulip. Pesona
alam dengan segala keindahannya.
“Kapan pun kamu berkunjung, Turki selalu
memesona sepanjang masa Tania.”
“Pesona Turki terutama Istanbul sungguh memikat
hati.”
“Tentu saja. Sepanjang tahun, aku jamin kamu
pasti betah di sini Tania.”
“Alasannya?”
“Turki mengalami 4 musim, seperti negara Eropa
lainnya. Dan akan ada aku yang selalu setia di sisimu
InsyaAllah.”
Embusan napasku perlahan mengendur. Apakah
Raiver menggodaku lagi…
Analekta Kisah Semesta | 252
PROPERTI OF P
Beberapa literatur yang aku baca, Raiver benar.
Turki memiliki 4 musim. Musim semi terjadi pada Maret
hingga Mei. Musim panas pada Juni-Agustus, musim
gugur terjadi September-November, dan musim dingin
pada Desember hingga Februari. Sepanjang tahun penuh
keindahan.
Akankah hatiku juga terpaut pada Raiver?
Akubelumbisamenentukansikap.Tujuanutamaku
berkunjung ke Istanbul di musim semi ini hanya untuk
menenangkan diri. Sakit sekali rasanya mengingat Arkan,
Maret ini berencana melamarku, ternyata dia sedang akad
nikah dengan adik angkatnya. Tragis.
Arkan memang meminta izin padaku dan
memohon maaf atas rasa teganya berpaling. Menentang
ibunya bukan hal sulit, tetapi akhirnya ia luruh pada
rida orang tuanya. Aku yang terluka menjejakkan kaki
di Taman Bunga Tulip Istanbul. Bertemu Raiver dengan
tingkah polahnya. Awalnya tanpa sengaja berpapasan di
lobi penginapan, hotel yang sama.
Mungkinkah ini keadilan dari-Nya? Bersama
kesulitan itu ada kemudahan.
Ketika Arkan melukai hati dan harga diriku, ada
Raiver yang menjadi penawar segala luka. Mengisi hari-
hariku dengan keceriaan. Semoga aku bisa segera move on
dari Arkan.
253 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Aku baru tahu asal muasal tulip di Belanda,
berawal saat orang-orang Turki membawa tulip masuk
ke Belanda. Tulip artinya sorban (dalam bahasa Turki),
sejenis kain penutup kepala yang dililit. 
Aku dibawa oleh Raiver berkeliling Grand Bazaar,
pasar tertua dan terbesar di dunia. Kalau di Indonesia
kebayang deh Tanah Abang, jadi Grand Bazaar adalah
Tanah Abangnya Turki. Berbagai macam oleh-oleh
dan cinderamata tersedia di sini, tetapi terkait harga
memang lebih murah di Cappadocia. Berlaku sistem
tawar menawar, jadi kita boleh negosiasi harga. Jumlah
pengunjung harian berkisar 250-400 ribu pengunjung.
Luar biasa.
“Bila suatu saat ada kesempatan berkunjung
ke Indonesia, aku akan membawamu ke Tanah Abang,
Raiver.” Dia hanya tersenyum lalu mengangguk.
Grand Bazaar menjadi tempat wisata nomor satu
di dunia. Lorong-lorong pasar memiliki cita rasa seni
yang tinggi, hiasan dan ornamen yang indah pada langit-
langitnya. Usia bangunan sekitar 550 tahun lebih, nilai
sejarah dan eksotis pasar yang bersih dan asri. Luasnya
30.000 meter persegi dengan 61 lorong dan memiliki lebih
dari 3.000 toko, dijamin aku bakal pingsan sebelum selesai
menyambangi sudut-sudut pasar Grand Bazaar. 
Raiver menemaniku berbelanja sesuai kebutuhan
barang yang kuajukan. Aku memilih beberapa suvenir
berupa gantungan kunci dan sajadah mini. Kemudian
Analekta Kisah Semesta | 254
PROPERTI OF P
mampir menikmati kebab turki. Pesona pasar dengan
segala keindahannya. Pasca pandemi Covid-19 Turki
juga menerapkan lockdown. Tidak semua gerai atau toko
dibuka, hanya beberapa titik lorong yang dapat dikunjungi.
“Tania, aku memandu kamu hingga Hagia Sophia.
Saat kembali ke Indonesia, ingatlah saat-saat kebersamaan
kita.” 
“Yang ada tiba-tiba aku kangen Turki, Raiver.”
“Rindu padaku juga boleh, kok. Nanti aku jemput.”
“Hmm … mungkin kunjungan berikutnya, aku
akan ambil promo umroh plus Turki saja.”
“Baiklah, aku akan menunggumu, Tania.”
“Hai, Raiver. Sejak kita bertemu mengapa
menggodaku? Itu sungguh membuatku tidak nyaman.”
“Selama ini aku selalu mendengar kata hati dan
batinku. Toh aku tidak memaksa dan membuatmu terluka
kan?”
“Oke, stop. Beri aku jeda.”
Aku dan River berkunjung ke Hagia Sophia.
Bangunan yang menyejarah sepanjang masa. Gedung
bersejarah ini pernah dipakai sebagai gereja, kemudian
digunakan sebagai masjid, lalu dijadikan museum.
Sekarang ... kembali digunakan sebagai masjid.
255 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Bila kamu sudah yakin kabari aku ya Tania.”
“Untuk apa?”
“Menjemput dan melamarmu kepada orang
tuamu!”
“Jangan mengumbar janji dan harapan Raiver. Saat
aku berlalu dari hadapanmu, barangkali kamu bersikap
sama pada setiap perempuan yang kamu temui.”
“Aku tipe pria setia dan pencemburu Tania.
Percayalah aku tulus terhadapmu.”
Hmm … lagi- lagi Raiver menggombal. Ya
Robbana kuatkan hamba. 
“Btw, kamu mahir berbahasa Indonesia sejak
kapan?”
“Oo, aku punya teman namanya Partono asli
Pekalongan. Sedang kuliah sekaligus kerja di kafe dekat
rumah. Ayah ibuku menyukainya, jadi ia tinggal bersama
kami hingga hari kelulusan.”
Syukurlah aku dipertemukan dengan Raiver. Pria
baik dan tulus, ia lancar menggunakan bahasa Indonesia
sehingga asyik diajak mengobrol. Teman bicara yang tidak
membosankan. Membuatku nyaman, menikmati hari-hari
di Istanbul. Cerdas, Raiver belajar berbahasa Indonesia
dari Partono. Bercakap-cakap secara langsung dalam
kehidupan sehari-hari, praktik tanpa banyak teori. Ini jadi
Analekta Kisah Semesta | 256
PROPERTI OF P
poin tersendiri, menambah daftar kekagumanku padanya.
Beberapa bibliografi yang aku baca, menyebutkan
bahwa lelaki Turki memiliki watak dan sifat yang
keras kepala. Mudah marah, tetapi cepat mereda atau
berbaikan. Penyayang juga ekspresif dalam mengutarakan
perasaan. Saat ia mencintai dengan tulus maka ia akan
mengorbankan segala yang ia miliki. Pria Turki yang baik
akan menjaga wanitanya, tetapi jangan pernah samakan
atau membanding-bandingkan dengan lelaki Arab. Harga
dirinya seolah tercabik sehingga mudah  tersulut untuk
marah bahkan beringas. Aku setuju dengan penjelasan
di atas setelah mengamati beberapa orang saat berada di
penginapan dan bertemu dengan Raiver.
Raiver dan Istanbul di musim semi April 2021,
Taman Emirgan Park pada Festival Bunga Tulip yang
kusinggahi, menjadi momen terindah yang mengharu biru.
Bunga cinta dan tulip pun bersemi di sana. Istikharah dan
yakinku semoga mengerucut pada satu keputusan.
***
257 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Tentang Penulis
Erna Kaloko, berdomisili di Riau. Perempuan sederhana
yang belajar mengeja aksara. Semoga mampu mengispirasi
lewat tulisan kisah-kisah inspiratifnya sebagai warisan
terindah untuk generasi berikutnya. Erna Kaloko dapat
dihubungi via surel erna.kaloko@gmail.com
Analekta Kisah Semesta | 258
PROPERTI OF P
RUI ORIONA
Oleh: Rizki Novie Lestari
Amnesia Psikogenik adalah kondisi di mana
saat mengalami stres, trauma, dan depresi
yang cukup berat, sehingga ingatan yang berkaitan dengan
penyebabnya dapat diblokir sebagai bentuk pertahanan
diri. Itulah yang terjadi padaku sekarang. Di mana aku
akan melupakan hal- hal yang terjadi saat merasakan deja
vu, atau saat aku merasa dalam situasi yang menyesakkan
dan memicu otak untuk memblokir seketika ingatan
itu. Ingatan yang hilang pun terkadang berbeda setiap
fasenya. Jika pemicu itu cukup kuat, ingatanku akan
mundur beberapa tahun begitu pula sebaliknya, terkadang
ingatanku hanya mundur beberapa hari dari kejadian.
259 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
Perkenalkan namaku Rui Oriona— gadis blasteran
Jepang-Belanda, namun aku lahir dan besar di Boston
sampai usia 8 tahun, lalu aku dan ibu pindah ke Indonesia.
Kata ibu sih orang tuanya dari sebelah ayah ada keturunan
negara ini, karena itu kami pindah ke salah satu kota di
Indonesia.
	 Kupikir semuanya akan sama seperti di Boston.
Aku bisa bersikap layaknya anak pada usiaku, bermain
bersama teman sebaya dan memiliki banyak kenangan
menyenangkan lainnya. Namun, perpisahan kedua orang
tuaku— yang baru kuketahui saat kami sudah menetap
di Indonesia, memberikan dampak besar dalam hidupku,
terutama pada kesehatan mentalku.
	 Kami tinggal bersama kakek dan nenek dari ibu,
yang merupakan mantan anggota TNI-AD dan TNI-AL.
Dari sanalah semuanya dimulai, semua hal yang menjadi
penyebab trauma dan depresiku serta takdir masa depan
yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Apa yang kalian harapkan dari seorang anak
kecil berusia 10 tahun, yang seharusnya menikmati masa
kecilnya lalu tiba-tiba hal buruk terjadi padanya dan dia
justru kehilangan ingatan masa kecilnya. Sesuatu yang
orang dewasa saja belum tentu sanggup menghadapinya,
hingga semua itu membuatku mengalami Amnesia
Psikogenik.
	 Kalau bisa, jauhkan dia dahulu dari hal-hal yang
menjadi penyebab semua hal ini terjadi.
Analekta Kisah Semesta | 260
PROPERTI OF P
	 Kata-kata itu di ucapkan oleh seorang dokter yang
merawatku dulu.
	 Jika kalian bertanya lebih jauh apakah aku
mengingat masa kecilku, maka jawabannya adalah aku
mengingatnya tapi hanya sebatas saat aku masih tinggal di
Boston. Masih jelas di ingatan saat itu sebuah pertanyaan
polos yang kutanyakan pada ibu dengan bahasa yang
selalu kugunakan saat di Boston dulu.
	 “Mom, where’s Daddy? this is not our home,mom.
Rui wanna back home,” ujarku.
Ibuku saat itu hanya diam, bingung bagaimana
menjawab pertanyaanku. “Yes, sweetheart. This is not our
home. We’ll find our new home okay? Only both of us,”
ucapnya sambil memelukku.
Seperti ucapan ibu, kami pun pergi dari rumah
kakek dan nenek buyut— membuatku curiga bahwa semua
hal yang terjadi padaku hingga aku kehilangan ingatanku
ada kaitannya dengan mereka. Kami mengontrak di sebuah
kontrakan yang berukuran 3 x 3 meter karena saat itu gaji
ibu hanya cukup untuk menyewa kamar ukuran itu. Lalu
setiap ibu akan pergi ke rumah mereka, aku selalu beliau
titipkan ke tetangga yang dia percayai atau saat ada yang
berkunjung ke kontrakan kami, ibu akan menyuruhku
masuk ke kontrakan dan menguncinya, sedangkan dia
akan mengobrol di teras.
261 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Aku dan ibu saling menyayangi karena kami
hanya memiliki satu sama lain. Kami mengisi kekosongan
yang ada di masing- masing diri kami. Ibu bekerja dengan
sangat giat dan merawatku dengan sepenuh hatinya,
hingga satu tahun setelah kami pindah ke kontrakan
tersebut aku bisa mengikuti ujian paket A untuk kelulusan
sekolah dasar, dan mulai bisa bersikap seperti biasanya.
Semua itu kulakukan agar aku bisa melanjutkan ke jenjang
pendidikan selanjutnya dan juga demi ibuku.
	 “Semua yang dilakukan dengan niat dan
kesungguhan tidak akan mengkhianati hasil,” ujar ibu saat
itu dan semua hal itu memang benar adanya. Aku berhasil
lulus ujian tersebut dan bisa mendaftar ke SMP, sekaligus
ibu yang mendapatkan pekerjaan dan posisi tetap di
tempatnya bekerja sekarang.
	 Perjalanan hidup kami berdua memang tidak
selalu mulus, untungnya saat ibu mendapat pekerjaan
tetap yang berada di kota lain itu membuat berkurangnya
pemicu traumaku muncul walau memang tidak menutup
kemungkinan ada hal lain yang bisa memicunya.
	 “Rui, sayang? Ibu pulang.” Ah, sepertinya aku
harus mengakhiri ceritaku, toh dari SMP hingga sekarang
aku berada di tingkat akhir sekolah menengah atas
semuanya aman dan damai. Jadi, hanya itu yang bisa
kuceritakan sekarang.
	 Aku menghentikan kegiatanku dan segera
mematikan laptop saat aku mendengar ibu berteriak
Analekta Kisah Semesta | 262
PROPERTI OF P
memanggilku. Aku segera keluar dari kamar dan berlari
memeluknya, maklum ibuku itu baru pulang dari dinas
luar kota.
	 “Ibu, Rui kangen,” ujarku sambil memeluknya
erat.
	 “Aduhh, anak ibu yang cantik ini rupanya kangen
sama ibu ya,” jawabnya sambil balas memeluk. “Kamu
kangen ibu atau oleh-olehnya hm?” goda ibu yang
membuat wajahku sedikit merona.
	 “I˗ibu ihhh, Rui tuh beneran kangen ibuuuu.”
Rengekku pada ibu yang justru membuatnya tertawa.
	 “Hahaha, maaf sayang. Ini Ibu enggak boleh duduk
dulu hm?” tanyanya.
	 “Hehehe, maaf Bu. Ibu duduk dulu gih, biar Rui
ambilin minum dulu buat ibu ya.” Aku pun langsung
berlari ke dapur untuk mengambilkan air minum ibu dan
segera kembali lagi padanya.
	 “Oh iya Dek, kamu kapan kelulusan?” tanya ibuku
saat aku menyerahkan minuman dan duduk di sebelahnya.
	 “Hmm, 3 bulanan lagi kayaknya Bu. Kenapa
emang?”
	 “Enggak, ibu ditawarin posisi lebih tinggi di
cabang Solo, tapi ibu maunya pindah sekalian sama kamu.
Biar kamu kuliahnya di sana aja,” jelas ibu.
263 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Wahh, emang posisi apa Bu?” tanyaku antusias.
	“Branch manager gitu, tapi ya itu tadi lokasinya
jauh dari sini.”
	 “Ya emang kenapa Bu? Kan kita tinggal pindah,
toh sekolah Rui juga udah mau selesaikan. Cuma beberapa
bulan lagi kok. Rui bisa sendiri di sini buat sementara
hehehe,” ujarku pada ibu.
	 “Kamu yang bisa, Ibu mana bisa ninggalin kamu
sendiri,” jawab ibu dengan raut wajah datarnya.
	 “Kenapa? Ibu khawatir Rui kumat ya? Kan akhir-
akhir ini enggak sering kumat Bu,” ujarku sambil memeluk
lengannya dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.
	“Tapi....”
	 “Enggak ada tapi- tapian. Pokoknya Ibu setujuin
aja soal kepindahan Ibu ya?” bujukku sambil menatapnya
tegas.
	 “Hahhh, baiklah Ibu setuju,” jawab ibu dan
kurespon dengan senyuman.
	 Berat rasanya harus berpisah dengan ibuku
walau sejenak, tapi sudah cukup selama ini dia banyak
berkorban untukku. Hanya 3 bulan, aku pasti bisa bukan.
Setelah obrolan itu, ibu memutuskan untuk masuk ke
kamarnya dan beristirahat. Aku hanya melihat beliau
berjalan ke kamarnya tanpa melakukan apa pun, lalu aku
Analekta Kisah Semesta | 264
PROPERTI OF P
menyandarkan tubuhku ke sofa dan memejamkan mataku.
Berusaha mensugesti diriku sendiri bahwa semua akan
baik- baik saja.
	 “Kak Rui, maen yok!” teriak seseorang dari
luar rumah. Aku yang tadinya hampir terlelap langsung
terlonjak mendengar teriakan itu dan bergegas berlari
membuka pintu untuk melihat siapa yang tidak sopannya
berteriak di depan rumah orang pukul 8 malam.
	 “Ares? Kamu ngapain jam segini teriak- teriak
depan rumah orang?” tanyaku pada orang yang kupanggil
Ares tersebut, sambil berjalan mendekatinya dan membuka
pagar rumahku.
	 “Hehehe, Ares tadi habis nongkrong sama temen.
Terus lewat tempat martabak kesukaan Kakak. Ya udah
deh Ares sekalian beliin buat Kakak,” jawabnya sambil
menyerahkan kantong berisi makanan kesukaanku itu.
	 “Beliin sih beliin Res, tapi enggak usah teriak-
teriak juga,” ujarku sambil mengambil kantong tersebut.
“Ngomong- ngomong makasih ya, kebetulan laper nih
hehehe. Kamu mau mampir enggak? Ibu udah pulang
tuh, sekalian ambil oleh-oleh kamu.” Tawarku padanya.
Ngomong- ngomong, Ares ini salah satu adik tingkatku
di sekolah, kami menjadi sangat dekat karena rumah kami
yang tidak berjauhan, lalu kami satu club di Sains Club
dan ibu kami yang tergabung di arisan ibu-ibu kompleks.
265 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Wahh, Ibu udah pulang kak? Asyikk, oleh-oleh.
Tapi besok aja deh Kak, pas pulang nge-basket.”
	 “Oke, jangan lupa loh ya. Eh ini perlu dibayar
enggak nih?” tanyaku padanya sembari tertawa.
	 “Kak, astagaa. Bayarlah, masa enggak.” Aku
terdiam mendengar ucapannya.
	 “Hahahahah, mukanya langsung berubah.
Bercanda aja astaga Kak,” ujarnya sambil mencubit pelan
pipi kananku.
	 “I˗ihhh, usil bangettt.” Aku langsung menjauhkan
tangannya dari pipiku dan mengalihkan pandanganku
darinya. Aduh, ini pasti merah banget muka aku. Ibu,
tolongin Rui.
	 “Ya udah, aku pulang dulu ya Kak. Nanti makin
malem,” ujar Ares sambil mengenakan lagi helm dan
menyalakan motornya. “Aku pulang ya kak?”
	 “Iya, hati- hati ya,” jawabku.
	 “Iya, udah gih sana Kakak masuk. Aku pulang
dulu ya Kakak cantikk hehehe,” ujarnya sambil mengusak
rambutku lalu melajukan motornya.
	 Aku masih terdiam saat Ares sudah menghilang di
tikungan dekat rumah. Saat tersadar, aku langsung berlari
masuk ke dalam rumah dan berteriak. “Ibuuu!”
Analekta Kisah Semesta | 266
PROPERTI OF P
	 “Apa Nak? Ada apa?!” Ibu keluar dari kamarnya
sambil berlari dengan raut wajahnya yang khawatir.
	 Aku mendongak dengan wajah cemberut. “Ibuuu.”
Rengekku.
	 “Loh, kok muka kamu merah? Ares mana? Tadi
ibu kayak denger suara dia dari kamar.” tanya ibu.
	 Aku berdiri dan mendekat ke arah ibu sembari
menyerahkan martabak pemberian Ares padanya.
“Ares nyebelin,” ujarku sambil memeluk ibu dan
menyembunyikan wajah di lehernya.
	 “Hahaha, anak ibu ternyata abis digodain cowok
toh makanya gini.” Goda ibuku.
	 “Ibuuu ihhh.”
	 Malam itu aku dan ibu menghabiskan malam
bersama, sambil memakan martabak yang dibawakan
oleh Ares dan menceritakan semua kegiatan kami. Ibu
juga tidak berhenti menggoda perkara Ares tadi, aku jadi
menyesal menceritakannya pada ibu. Ibu juga bilang
bahwa dia sudah mengkonfirmasi pada atasannya tentang
kepindahan itu dan atasannya meminta ibu untuk segera
mengurus berkas-berkas yang berkaitan dengan cabang di
sana.
	 Dua minggu kemudian surat keputusan dari kantor
ibu pun keluar. Ibu segera menyiapkan keperluannya dan
semua bajunya karena memang kami sudah memutuskan
267 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
untuk menetap di Solo setelah lulus nanti. Sebenarnya aku
ingin ikut ibu ke sana, tapi ibu khawatir jika aku bertemu
dengan mereka dan itu akan berdampak buruk padaku.
Padahal baru beberapa jam ibu meninggalkanku tapi aku
sudah merasa kesepian.
	 Bulan pertama tanpa ibu terkesan berat, namun aku
berhasil melewatinya dengan lancar. Walau ada beberapa
hal yang masih kusembunyikan dari ibu, seperti kejadian 2
hari lalu. Saat aku dan Ares pulang dari sekolah bersama,
kami tidak sengaja melihat seorang bapak yang memukuli
anaknya menggunakan sapu lidi. Hal itu sontak memicu
sakit pada kepalaku, aku berusaha untuk menahannya
karena aku takut Ares melihatku dalam kondisi tidak
baik dan dia menghubungi ibu. Namun aku gagal karena
aku merasa seperti ada mesin yang berhenti tiba-tiba dan
bergerak secara tiba- tiba di kepalaku.
	“....”
	 “Kak Rui!” teriak Ares seketika.
	 “Eh, iya kenapa?” tanyaku padanya.
	 “Kakak ngelamunin apa sih? Padahal daritadi aku
panggil-panggil,” ucap Ares.
	 “Enggak kok hehehe. Oh iya ini kok kita di jalan
pulang? Bukannya kita mau ke toko buku?” tanyaku
bingung.
Analekta Kisah Semesta | 268
PROPERTI OF P
	 “Loh? Kakak mau ke toko buku lagi? Kan udah
minggu tadi kak?” tanya Ares bingung.
	 Mendengar ucapannya aku pun terdiam. “A˗ah iya
ya. Tadi tuh sebenernya Kakak mau minta temenin lagi ke
sana, tapi lupa bilang hehehe,” elakku.
	 Ares seketika menghentikan motornya. “Mau
sekarang aja? Tapi jangan lewat tempat tadi ya Kak? Ares
males liat bapak-bapak yang mukulin anaknya kejam
banget kayak tadi,” ujar Ares.
	 Ah, jadi karena itu aku tiba- tiba lupa. ”Enggak ah,
nanggung bentar lagi sampe rumah. Balik aja kita, Kakak
laper nih.”
	 “Yakin?” tanya Ares lagi sambil menoleh dan
menatapku.
	 “Yakin 100%,” jawabku tegas.
	 Ares pun mengangguk dan kembali melajukan
kendaraannya.
***
	 Aku melangkahkan kakiku menuju pengambilan
bagasi. Setelah mendapatkan koper milikku, aku segera
berjalan ke arah gate keluar. Mengeluarkan ponsel dan
menghubungi seseorang.
	 “Bu, Ibu di mana? Rui udah di gate nih,” ucapku
pada ibu setelah terdengar suara telepon diangkat.
269 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 “Iya Sayang, sebentar lagi Ibu sampai kok. Kamu
tunggu di pinggir aja ya, soalnya Ibu enggak nyari parkir
lagi,” ujar ibu.
	 “Okee Bu,” jawabku lalu mematikan telepon dan
menyimpannya dalam saku celana.
	 Kalian benar, sekarang aku sedang berada di Solo.
Satu minggu yang lalu adalah hari kelulusanku, tiga hari
setelahnya ibu dan aku segera membereskan barang-
barang kami di rumah sana. Ibu kembali ke Solo terlebih
dahulu bersama semua barang kami. Aku berangkat
belakangan karena masih ada beberapa hal yang harus di
urus. Hari ini aku baru sampai dan sedang menunggu ibu
untuk menjemput.
	 Sekitar setengah jam aku menunggu akhirnya
ibu datang, aku pun langsung menarik koper dan
memasukkannya ke bagasi.
	 “Ibu lama banget sih,” keluhku pada ibu saat
memasuki mobil.
	 “Maaf ya Syang, tadi pekerjaan Ibu ada kendala
sedikit,” jawab ibuku sambil menjalankan kembali
mobilnya. “Kamu istirahat aja gih, nanti kalo udah sampe
ibu bangunin.”
	 “Enggak ah, Rui mau liat pemandangan hehehe.
Udah lama enggak liat Solo,Bu.”
Analekta Kisah Semesta | 270
PROPERTI OF P
	 “Sebenernya ada yang pengen Ibu kasih tahu.”
ucapan ibu membuat kegiatanku melihat jalanan terhenti
dan menoleh ke arahnya, menunggu ibu melanjutkan
ucapannya. “Kakek dan nenek buyut ternyata sudah
meninggal tahun lalu.”
	 Aku terdiam mendengar ucapan ibu barusan.
Sedikit kaget, namun mungkin itu hal yang wajar
mengingat usia mereka yang sudah tua. “Kalau gitu,
gimana kalo kita ziarah ke makam mereka aja Bu sebelum
pulang ke rumah?” tawarku pada ibu.
	 “Kamu yakin?” tanya ibu padaku sembari menoleh
karena lampu lalu lintas sedang merah dan aku pun
mengangguk.
	 “Iya Bu, Rui yakin,” ujarku tegas.
	 Ibu pun menyetujui permintaanku, kami sempat
pergi sebentar ke toko bunga dan bergegas menuju lokasi
pemakaman kedua buyutku itu, takut keburu sore. Siapa
yang menyangka jika sesampainya kami di sana malah
bertemu dengan beberapa keluarga yang lainnya sedang
berziarah juga.
	 Sepanjang pertemuan itu entah mengapa aku
menggenggam tangan ibu dengan erat. Dengan tubuh
sedikit kusembunyikan di belakang ibu dan hanya
bersuara ketika ada yang bertanya. Aku terus menunduk
karena takut akan sesuatu, aku bisa merasakannya jika
ada seseorang yang menatapku seolah-olah aku adalah
271 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
mangsa yang sangat empuk untuk dinikmati. Untungnya
ibu memahami kode yang kuberikan sehingga kami pun
segera berpamitan pada mereka.
	 Selama dalam perjalanan menuju ke rumah
aku hanya diam sambil memejamkan mata. Ibu pun
tidak banyak berbicara. Sesampainya di rumah pun aku
langsung masuk ke kamar dan keesokan harinya seperti
biasa aku melupakan kejadian kemarin dan terkejut karena
sudah berada di Solo, sedangkan aku merasa bahwa aku
baru akan berangkat, bukan sudah berangkat.
	 Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Tidak terasa sudah hampir 2 bulan aku dan ibu menetap
di Solo. Sejak kejadian waktu itu, ibu menawariku untuk
mendatangi lagi seorang psikolog kenalan temannya
dan selama masa perawatan itu belum ada kemajuan
yang signifikan. Hingga akhirnya ibu menyerah untuk
menyuruhku melanjutkan pengobatan tersebut.
	 “Kamu mau kita berhenti aja Nak?” tawarnya saat
itu dan aku hanya memandanginya dalam diamku. “Jujur,
Ibu mau kamu ke psikolog itu biar cepet sembuh, biar bisa
tenang pergi ke mana-mana dan raih mimpi kamu buat
kuliah di luar negeri tanpa harus terlalu takut sama trauma
kamu. Tapi ngeliat kamu kesakitan, teriak dan menangis
saat pengobatan rasanya sangat sakit. Kamu harta ibu satu-
satunya.” Setelah berkata begitu ibu langsung memelukku
dengan erat.
Analekta Kisah Semesta | 272
PROPERTI OF P
	 Ibumaaf,maafjikaRuienggakmaungelanjutinnya,
Rui takut bu. Ingatan yang terkubur belasan tahun
perlahan kembali dan Rui takut, takut jika Rui harus
kehilangan lagi semua kenangan Rui jika Rui memaksa
diri Rui untuk mengingat semuanya.
	 Beberapa hari berlalu sejak ibu menyetujui agar
aku berhenti ke psikolog dan mengizinkanku untuk
berlibur ke Malang bersama Ares dan keluarganya. Aku
baru saja turun dari taksi bandara saat mendengar teriakan
ibu. Aku refleks langsung berlari masuk ke dalam rumah
mengabaikan koper begitu saja dan saat aku masuk, aku
melihat tubuh ibuku yang jatuh dari lantai dua rumah kami.
Aku melihatnya, sosok itu. Sosok yang segera berlari dari
lantai dua dan keluar dari pintu belakang rumahku. Dia
pelakunya. Kami sempat bertatapan dan aku tahu tatapan
itu milik siapa karena seumur hidup aku tidak akan pernah
melupakannya.
	 Aku mendekat ke arah ibu dan memeluk tubuhnya
yang penuh dengan darah, air mataku rasanya tidak
sanggup untuk keluar. “Ibu bertahan ya Bu, bertahan. Rui
telepon ambulans sekarang,” ujarku sambil mengeluarkan
ponselku untuk menghubungi pihak rumah sakit.
Untungnya mereka segera datang dalam waktu 10 menit,
namun ibu memilih menyerah. Dia meninggal dalam
perjalanan ke rumah sakit. Hari itu aku kehilangan sosok
panutan, pahlawan dalam hidupku dan satu- satunya
alasanku untuk terus bertahan hidup.
273 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Selama beberapa hari setelah pemakaman ibuku,
Ares dan keluarganya datang dan menemaniku. Mereka
menghibur semampu mereka sekalipun mereka tahu itu
percuma karena aku sudah kehilangan semangat hidup.
Tepat di hari ke 7, Ares dan keluarganya memutuskan
untuk pulang walau mereka bilang berat meninggalkanku
sendirian di rumah, namun aku berhasil meyakinkan
mereka bahwa aku baik- baik saja dan akan segera bangkit.
Akhirnya mereka pun luluh dan percaya. Ya, aku berjanji
pada diri sendiri dan almarhumah ibu bahwa aku akan
bangkit dan melanjutkan hidup demi ibuku.
	 Selama 6 bulan aku berjuang mati- matian untuk
bertahan hidup. Selama itu pula aku mempelajari segala
hal tentang diriku. Apa saja yang aku ketahui dan tidak
tentang diriku. Belajar ini dan itu agar aku bisa melanjutkan
kuliahku dengan uang peninggalan ibu. Aku belajar mati-
matian untuk mendapatkan beasiswa ke Boston dan selama
6 bulan itu pula aku mempelajari banyak hal yang dapat
kujamin pasti akan bermanfaat ke depannya.
	 Tepat satu tahun setelah ibu pergi, akhirnya aku
berhasilmenyelesaikansemuatargetku,termasukbeasiswa
yang kuincar. Selama satu tahun pula aku berusaha untuk
memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku dan
ibu. Ingatan masa kecilku kembali tepat saat ibu meninggal
waktu itu. Jika aku mau jujur, semuanya terlalu berat untuk
kupikul sendiri. Ditinggal oleh sumber kekuatanku satu-
satunya dan harus berjuang mengatasi trauma masa kecil
dengan kondisi semua ingatan saat itu tiba-tiba muncul
Analekta Kisah Semesta | 274
PROPERTI OF P
kembali. Namun semua itu sudah berlalu, besok aku harus
berangkat ke Boston untuk kuliah.Aku memutuskan untuk
mengunjungi pamanku dan keluarganya malam itu untuk
berpamitan dan meminta maaf. Sepulang dari pertemuan
itu pun aku merasakan lega luar biasa dalam hati. Bebanku
terangkat semuanya dan malam itu aku tidur dengan
nyenyak.
	 Keesokan harinya, saat aku sudah siap berangkat
ke bandara, ada beberapa polisi yang tiba-tiba mendatangi
dan menangkapku. Mereka lalu menahanku di kantor polisi
dan menyuruhku menunggu panggilan dari pengadilan.
Beberapa hari kuhabiskan hidup di balik jeruji besi atas
kesalahan yang tidak kulakukan bahkan tidak kuketahui,
tanpa satu pun sanak-saudara yang mengunjungi. Hingga
surat panggilan dari pengadilan pun datang dan di sinilah
aku sekarang berada. Di tengah-tengah ruang sidang,
di mana aku telah dituduh membunuh dan memutilasi
pamanku sendiri.
	 “Bukan aku pembunuhnya,” ucapku dengan
tenang.
	 “Tapi semua bukti mengarah pada Anda.”
	 “Saya benar- benar ada di rumah saat itu.”
	 “Tapi para tetangga, bahkan istri dan anak korban
pun mengatakan bahwa Anda keluar dari rumah tersebut
sekitar pukul 7 malam bersama dengan korban.”
275 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
	 Aku tertunduk mendengar ucapan dari jaksa
penuntut. Memang benar saat itu aku mengunjungi
mereka, namun hanya untuk meminta maaf dan meminta
mereka untuk tidak mengganggu hidupku lagi, tapi mereka
justru meminta sejumlah uang padaku. Akhirnya aku pergi
bersama paman ke ATM karena aku tidak memiliki uang
tunai dengan jumlah yang mereka minta.
Bisa-bisanya mereka menuduh aku memutilasi
seseorang, sedangkan aku yang membunuh seekor kecoa
saja tidak tega. Aku pun menoleh ke arah pengacaraku
dan menghela napas lalu kembali menatap hakim dalam
persidangan itu.
	 “Kami memang pergi berdua Pak Hakim, aku ke
sana pun untuk meminta maaf dan berpamitan padanya
karena keesokan harinya aku harus berangkat ke Boston
untuk melanjutkan kuliah. Tapi dia malah meminta uang
padaku, karena aku tidak membawa uang tunai seperti
yang dia minta aku pun mengajaknya ke ATM ,” jelasku.
	 “Apa Anda memiliki bukti?” tanya salah satu jaksa
penuntut.
	 “Kami memiliki bukti,” ucap pengacaraku
dengan tegas. Dia lalu berjalan ke arah narator dan
menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi bukti CCTV
keberadaanku malam itu. Dalam video tersebut terlihat
setelah aku menyerahkan uang tersebut, aku dan paman
berjalan terpisah. Lalu video kembali dilanjutkan saat aku
memasuki minimarket 24 jam dan duduk di sana selama
Analekta Kisah Semesta | 276
PROPERTI OF P
satu jam untuk menikmati mie instan, setelah selesai aku
bergegas pulang. Semua itu terlihat dari CCTV milik
tetanggaku.
	 “Untuk korban sendiri hanya terekam saat dia
berbelok memasuki kawasan perumahannya, kebetulan
CCTV di belokan itu sedang rusak. Sedangkan satpam
yang berjaga saat itu sudah memberikan kesaksian bahwa
dia melihat korban menaiki sebuah taksi dan pergi entah
ke mana.”
	 Setelah menyerahkan semua bukti dan alibi yang
kuat. Pihak pengadilan pun memutuskan bahwa aku tidak
bersalah. Walau bisa kulihat bahwa istri dan anak dari
pamanku tidak terima dengan semua keputusan itu tapi
aku tidak peduli, karena semua bukti menunjukkan bahwa
aku tidak bersalah. Aku berjalan meninggalkan ruang
sidang tersebut bersama pengacaraku, saat melewati istri
pamanku dan keluarganya yang lain, aku menundukkan
wajahku hanya untuk menutupi seringai bahagia pada
wajahku.
***
Hari kejadian pembunuhan
	 Malam itu aku mendatangi rumah paman.
Bukan untuk meminta maaf atau memintanya berhenti
mengganggu hidupku. Aku mendatanginya dengan
niat untuk membunuhnya. Namun aku beralibi ingin
memberikannya uang yang banyak sebagai permintaan
277 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
dariku agar dia tidak lagi mengusik hidupku dan berjanji
tidak akan menjebloskannya ke penjara atas apa yang
pernah dia lakukan padaku dan ibu. Mulai dari dia yang
pernah memperkosaku sewaktu aku berusia 10 tahun, ulah
dia yang memprovokasi kakek dan nenek buyut untuk
mendidikku sekeras militer dan juga perbuatannya yang
telah menewaskan ibu. Lalu aku membujuknya untuk ikut,
karena aku tidak membawa uang tunai dan bodohnya dia
setuju untuk ikut.
	 Sesampainya di ATM aku langsung mengambil
uang dan menyerahkan uang tersebut pada paman. Kami
berjalan terpisah setelah penyerahan uang tersebut. Aku
pun tetap berjalan tanpa menoleh lagi dan memasuki
minimarket 24 jam untuk memakan mie instan di sana.
Namun semua itu hanya alibi yang kubuat, saat memilih
mie instan aku bertukar dengan seseorang yang telah
kubayar untuk menggantikanku makan di sana dan
kusuruh dia untuk pulang ke rumah. Untungnya posisi
rak mie instan itu adalah titik buta, sehingga apa yang
kulakukan tidak terekam CCTV. Sedangkan CCTV di
tempat aku makan hanya bisa melihat tubuh dari samping,
apalagi aku makan sambil menunduk sehingga wajahku
tidak terlihat di CCTV.
	 Aku yang sudah bertukar peran dengan orang
tersebut pun segera keluar dari pintu belakang dan
mengendarai sebuah taksi yang sudah kubeli. Menjemput
paman di dekat pos satpam komplek rumahnya, karena
aku tahu dia tidak akan langsung pulang melainkan akan
Analekta Kisah Semesta | 278
PROPERTI OF P
menuju sebuah kasino yang biasa dia gunakan untuk
berjudi. Sayangnya, malam itu dia bukan kuantarkan
ke tujuannya melainkan ke neraka. Malam itu, aku
memukulinya habis-habisan dan memutilasi tubuhnya.
	 “Aku Rui Oriona. Anak perempuan yang sewaktu
kecil paman lecehkan dan ibunya paman bunuh. Aku Rui
Oriona. Oriona pada namaku bukan hanya nama. Oriona
atau orionus adalah pemburu dan pemburu tidak pernah
melepaskan mangsanya begitu saja.”
	 Setelah mengucapkan itu aku menancapkan pisau
di tengah-tengah tubuhnya dan membelah dadanya hingga
terbuka. Mengambil jantungnya dan kulemparkan pada
anjing liar yang berada tidak jauh dari posisi kami saat
itu. Setelah selesai aku pun memasukkan tubuhnya dalam
sebuah karung dan meninggalkannya begitu saja di sudut
gang yang gelap.
***
Tentang Penulis
Hai, namaku Rizki Novie Lestari. Biasa di panggil Rin.
Aku berasal dari kota Palembang. Usiaku 25 tahun, cita-
citanya kurus tapi hobinya makan, hobi mengkhayal juga.
Suka menulis sejak di sekolah menengah pertama dan
mulai berani menulis di salah satu platform sejak tahun
2016 hingga sekarang.
279 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
RENDEZVOUS
Oleh: Elok Wardaniyah
Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa
yang baru saja kudengar. Aku amnesia? Apa
ini pengaruh rum yang kuminum tadi bersama teman-
temanku tadi di lounge Hotel Swastika? Aku masih
memejamkan mata meski aku mendengar percakapan di
sekitarku, aku menunggu sunyi untuk membuka mata,
agar aku bisa mengenali di mana aku berada kini dan
dapat memahami apa yang terjadi padaku. Setelah suara-
suara itu berhenti aku membuka mata tetapi kudengar
gemerisik dedaunan juga langkah kaki, sepertinya bukan
suara hak sepatu atau sandal yang beradu dengan lantai
marmer/keramik atau sejenisnya, sehingga aku kembali
memejamkan mataku dengan tetap siaga menajamkan
telingaku.
Analekta Kisah Semesta | 280
PROPERTI OF P
“Dia sepertinya mengalami amnesia lakunar26
.”
Terdengar suara perempuan
“Apa dia belum sadar sama sekali beberapa
hari ini?” Suara laki-laki yang tadi kudengar di awal
kesadaranku, yang mengatakan bahwa aku amnesia.
Astaga, aku bahkan masih ingat kalau Arkan tadi yang
memberi kami tantangan untuk mengganti gin yang biasa
kami minum saat kumpul dengan rum, dan aku baru
menghabiskan dua collin glass-hampir tiga sih, sebelum
lampu padam dan....apa? aku tidak mengingatnya, setelah
lampu padam lalu apa? Otakku berpikir keras dan yang
kurasakan adalah denyutan hebat di kepalaku, sehingga
aku mengerang bahkan berteriak sambil memegang
kepalaku. Kurasakan dua tangan memegang tanganku
erat dan sakit di kepalaku berangsur-angsur berkurang,
lalu tangan itu melepaskan tanganku dan aku membuka
mata. Aku mengerjapkan mata dan kulihat sekelilingku,
aku berada di gubuk tua dan baju yang kupakai, kenapa
berwarna merah? Padahal tadi aku memakai one shoulder
dress hitam dengan aksen sulaman naga kecil berwarna
emas melingkar di bagian pinggang seperti belt, kado dari
Rossana pada ulang tahun seperempat abad bulan lalu,
yang kata orang quarter life crisis.
Kulihat dua orang dengan baju hitam-hitam sedang
menatapku tajam, aku bergerak bangun dengan tatapan
waspada, tapi belum juga berhasil aku bangun, terasa ada
26	 Pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan 		
	 mengenai suatu peristiwa secara acak.
281 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
dentuman di kepalaku yang menyakitkan sehingga aku
kembali berbaring. Kenapa hanya ada orang lelaki, ke
mana perempuan yang tadi kudengar suaranya mengatakan
aku amnesia? Batinku terus menyuarakan tanya yang tak
sanggup kupikirkan jawabannya, karena semakin aku
berpikir, sakit di kepalaku semakin terasa.
“Kenapa kamu berbaju merah, Gadis?” tanya
lelaki tua yang menggunakan udeng di kepala.
“Saya ...”
“Kamu seharusnya tahu di desa ini, memakai
warna merah adalah petaka, artinya terlarang sejak dulu
kala,” sahut lelaki satunya yang lebih muda. Sorot matanya
tajam bak elang dan dia sangat tampan, andai boleh aku
tidak mengkhawatirkan keadaan diriku, kupastikan aku
akan flirting padanya, wajahnya seperti Jenderal Valerius
Magnus di Dark Hunter, garang tapi juga seksi. Astaga,
bisa-bisanya pikiranku ke mana-mana
“Saya....”
“Kami memberimu waktu dua kali matahari terbit
untuk memulihkan keadaan, lalu pergilah dari sini, ikuti
jalan yang ada di luar ke arah matahari terbit sampai nanti
akan ada perkampungan penduduk Desa Permukaan dan
bertanyalah di sana arah asal tempatmu datang,” sela lelaki
itu (lagi) sebelum aku selesai berkata-kata. Keduanya lalu
keluar dari pintu yang terlihat reot dan meninggalkanku
sendiri dalam kebingungan.
Analekta Kisah Semesta | 282
PROPERTI OF P
Aku kembali mengamati keadaan diri dan
sekitarku, terusan berwarna merah menyala sampai di
bawah lutut dengan kerah melingkar dan lengan baju
sampai siku dengan aksen pita kecil yang manis, sangat
kontras dengan gubuk ini. Pelan aku berusaha bangun
meski sakit di kepala masih sangat terasa. Aku bersandar
untuk bisa lebih leluasa melihat sekitar. Ternyata, aku
terbaring di sebuah dipan kuno yang aneh rasanya berada
di sebuah gubuk , meski tidak besar, tapi dipan ini lebih
cocok berada di sebuah teras rumah tradisional Jawa, kalau
tidak salah namanya Joglo. Ya, dipan yang kutempati ini
hanya dipan beralas tikar tanpa kasur, bantal yang kupakai
pun ternyata berupa kain yang dilipat asal-asalan berwarna
cokelat tua dengan motif entah yang sudah pudar. Aku
berusaha menggerakkan kaki perlahan untuk menjejak
(yang kukira lantai) tanah, ada peep toe flat shoes dengan
warna merah persis dengan gaun yang kukenakan.
Oh Tuhan, apa yang terjadi, jelas sekali tadi ketika
mataku terpejam aku mendengar obrolan dua orang yang
mengatakan aku amnesia meski batinku membantah
karena kuyakin kuingat segalanya. Sekarang, saat aku
membuka mata, justru segalanya kian tak terduga, ada
apa sebenarnya, di mana kini aku berada? Aku mencoba
berdiri dengan berpegangan pada dinding bambu, tapi
kakiku tak mampu menopang tubuhku, aku kembali
terhuyung dan duduk kembali di dipan. Kupejamkan mata
dengan kembali duduk bersandar. Entah berapa lama
mataku terpejam sampai sakit di kepala berangsur-angsur
berkurang, sampai kudengar pintu reot gubuk terbuka
283 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
dan munculnya si Valerius Magnus dengan nampan berisi
wadah-wadah dari tempurung kelapa dan mendekat
padaku, lalu duduk di tepi dipan.
“Makan dan minumlah, lalu istirahatlah, aku di
luar gubuk jika ada yang kau perlukan,” katanya sambil
berdiri dan kembali berbalik menuju pintu.
“Hai, siapa namamu? Terima kasih ya,” kataku
mencoba bersikap ramah
“Jagad,” jawabnya singkat lalu menghilang di balik
pintu. Ya ampun, bahkan namanya terdengar seksi sekali
dan ... kuno, batinku sambil tersenyum. Duh, kok aku tidak
tanya namaku ya, dia buru-buru pergi sih. Kulihat nampan,
ada air, kuteguk air yang ternyata rasanya seperti air kelapa.
Makanan yang ada di wadah satunya terbungkus daun yang
terlihat seperti bekas dibakar, kubuka dan aromanya enak
sekali, aku langsung memakannya bahkan tanpa mencuci
tangan, setelah selesai barulah aku bingung harus di mana
aku mencuci tanganku. Masih akan berdiri menuju pintu,
pintu gubuk kembali terbuka yang memunculkan Jagad
dengan batang bambu di tangannya.
“Ini untuk mencuci tangan.” Ia meletakkan batang
bambu itu di pojok gubuk dekat pintu
“Jagad, apa kamu tahu siapa namaku? Karena aku
lupa.”
“Pulihkan diri segera, kalau besok pagi sudah terasa
segar semua badan, kau bisa segera pergi dari sini sebelum
Analekta Kisah Semesta | 284
PROPERTI OF P
penduduk desa ini melihatmu dengan gaun merah itu.”
Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah mengusirku
secara halus, aku membrengut kesal dan segera mencuci
tangan.
Bingung memikirkan segala kemungkinan
mengapa aku bisa berada di sini, terdengar suara ribut
banyak orang dari kejauhan yang terdengar semakin
mendekat. Lalu pintu gubuk terbuka dengan keras.
“Segera pergi dari sini, sebentar lagi matahari
terbit, masih ingat kan pesan tetua kemarin, penduduk
desa sedang ke sini karena keberadaanmu telah diketahui,
cepat sebelum kamu dibakar hidup-hidup karena gaun
merahmu itu.” Jagad masuk dan langsung berbicara
panjang. Aku masih mnegerjapkan mata dan dia sudah
menarik lenganku, aku memakai sepatu dan ditariknya
menuju pintu.
“Cepat, aku akan menahan penduduk di sini agar
mereka tidak mengejar.” Jagad mendorongku keluar dari
gubuk.
“Lari, cepat!” tambahnya
Dan aku seperti terhipnotis, aku berlari sekencang
yang kubisa, sesekali menoleh untuk melihat gubuk yang
kutinggalkan tadi, yang semakin lama semakin tertinggal
jauh di belakang lalu tak tampak lagi dalam pandangan.
Aku terus berlari sampai kemudian kusadari sesuatu yang
janggal, tapi kuabaikan dan terus berlari terus menyusuri
285 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
jalan mengikuti arah matahari yang hampir tenggelam.
Aku takut kegelapan segera meyelimuti sekitar sedangkan
belumtampaksedikitpunpenandaakanadaperkampungan
permukaan yang dikatakan tetua Desa Dalam beberapa
hari lalu.
Aku berhenti dengan terengah karena napasku
hampir habis setelah berlari entah untuk berapa lama,
tanpa menggunakan jam tangan atau membawa ponsel
membuatku nyaris tidak mengenal waktu selain dari
langit yang mulai memerah tanda senja telah tiba.
Kemudian sebuah kesadaran menghantamku, Tetua Desa
Dalam bilang, aku harus berjalan ke arah matahari terbit,
sedangkan dari tadi aku berlari ke arah matahari terbenam,
artinya?
“Oh, Gosh, aku salah arah.” Aku segera berbalik,
tapi di ujung jalan sana terihat sosok Jagad berdiri
memandangku, aku berlari ke arahnya dan dia tersenyum,
Tuhan bisakah aku di sini saja untuk bisa melihat
senyumnya setiap saat. Tapi mau jadi apa aku di sini,
bagaimana dengan Mama, Papa, dan Elisa, tentu mereka
akan merindukan aku, belum lagi geng Xoxo yang akan
kehilangan anggota terkerenya, karirku di biro arsitek
impian yang sedang bagus-bagusnya, oh no.
“Baru sadar salah arah hm?” Suaranya terdengar
merdu di telingaku, tangannya terulur memintaku meraih
tangannya.
Analekta Kisah Semesta | 286
PROPERTI OF P
“Pejamkan matamu, percaya padaku, kan kuantar
kau ke Desa Permukaan, tapi berjanjilah jangan buka
matamu selama masih kau rasakan tanganmu dalam
genggamanku,” lanjutnya
Aku hanya mengangguk dan mulai memejamkan
mata, aku seolah terhipnotis dengan perkataannya.
Embusan angin terasa menampar di kulitku, aku
membayangkan seperti Isabella Swan ketika diajak
Edward Cullen menjelajah hutan Forks dengan kecepatan
flash, ah tapi Jagad tidak pucat sih, jadi tidak mungkin dia
vampir, lagi pula tadi aku di gubuk tua yang tampak lusuh,
bukan di mansion mewah seperti punya keluarga Cullen.
Perlahan kurasakan kami mulai berjalan normal dan
menapak tanah dan dia mulai melonggarkan genggaman
tangannya sampai kemudian terlepas, aku merasakan
kehilangan tapi juga lega karena artinya kami sudah
sampai di Desa Permukaan. Perlahan kubuka mata dan
kulihat sebuah perkampungan dengan aktivitas penduduk
khas pagi hari di pedesaan, ada yang menyapu halaman,
ada yang menumbuk sesuatu di balok kayu juga ada ibu-
bu yang membawa keranjang.
“Hanya sampai sini aku bisa mengantarmu,
bertanyalah pada salah satu dari mereka ke mana arah
kamu bisa kembali pulang ke tempat asalmu.” Suara
Jagad terdengar dekat di telingaku, saat aku menoleh,
mata kami berpadangan dalam sekian detik yang terasa
menyesatkanku sampai akhirnya dia memutus kontak
mata kami.
287 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
“Sudah ingat siapa namamu?” tanyanya dan aku
tak bisa menjawab, siapa sebenarnya namaku, sungguh
kesal aku tidak menemukan jawabannya sejak aku
tersadar di gubuk tua itu. Bagaimana mungkin aku lupa
namaku, sedangkan sebelum aku terbangun di gubuk tua,
aku sedang di Lounge bersama Arkan, Brigita, dan Chicko
untuk merayakan tender pembangunan cluster elit di
Jakarta Selatan yang divisi kami menangkan. Aku bahkan
ingat kami bekerja di sebuah biro arsitek kenamaan,
Numero Uno Architect milik dari Abraham Giovanni,
yang menjadi husband material para wanita di tower kami
bahkan mungkin di Jakarta. Saat aku menoleh ke kanan,
sudah tak ada lagi Jagad di sisi kananku, kuelus telapak
tangan kananku, masih terasa genggaman Jagad di sana
dan sekarang dia sudah menghilang. Kuembuskan napas
panjang sebelum melangkah mendekat ke pemukiman
penduduk. Kuhampiri seorang ibu paruh baya yang
sedang sibuk dengan keranjang dan beberapa sayur
mayur di sebelahnya. Darinya kuperoleh keterangan
bahwa aku harus berjalan lurus mengikuti jalan desa
sampai bertemu dengan pohon beringin di perempatan
pertama, lalu berbelok ke kanan dan aku akan sampai di
tepi jalan antara, di sana akan terlihat tempatku berasal.
Meski bingung dengan penjelasannya, tapi kuikuti saja
petunjuknya dan di sinilah aku sekarang, di tepi jalan
antara (kata ibu tadi), kulihat gedung-gedung tinggi
kota Jakarta tempatku lahir dan tumbuh dewasa, rasa
lega menyeruak di dadaku, kuembuskan napas panjang
dengan hati yang ringan aku melangkah menuju trotoar
untuk mencegat taksi. Kulambaikan tangan dan sebuah
Analekta Kisah Semesta | 288
PROPERTI OF P
taksi berhenti, kusebutkan alamat rumahku dan taksi
melaju perlahan. Aku menoleh ke belakang untuk melihat
tempatku keluar dari Desa Permukaan dan tidak tampak
apa pun selain jajaran ruko-ruko dan kafe modern di sana.
Apa yang sebenarnya kualami Tuhan, aku mengingat
alamat rumahku dan aku tetap belum berhasil mengingat
namaku. Untungnya, saat taksi berhenti di depan rumah,
ada mama di teras yang tampak cemas memandang ke
arah pagar dan terlonjak senang saat melihatku.
“Diandraaa, anak Mama, dari mana saja Nak
kamu?” Mama langsung memelukku dengan erat bahkan
kurasakan air matanya menetes di bahuku.
“Ma, taksinya belum dibayar.”
Setelah taksi pergi, kami berjalan memasuki rumah
dengan mama yang mengamit lenganku erat.
“Kamu ke mana aja kok tiba-tiba nggak ada di
rumah sakit, kami bingung cari kamu Nak. Pa, Papa,
Diandra pulang Pa.” Dari dalam rumah tampak papa
dan Elisa yang berlari menubrukku sehingga aku hampir
terhuyung ke belakang karenanya.
Setelah kami duduk di ruang keluarga, aku bertanya
sebenarnya apa yang terjadi padaku sampai aku dirawat di
rumah sakit. Jujur kukatakan kalau aku lupa namaku, tapi
tidak dengan hal lain terkait keluarga, teman, pekerjaan
dan juga peristiwa yang kualami kemarin tanpa ada yang
terlewat. Mereka terdiam, tampak antara percaya dan tidak
289 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
dengan ceritaku, tapi Elisa yang lebih dulu menyuarakan
rasa percayanya.
“Tapi Ma, Pa, Kak, Di memang nggak punya baju
warna merah gini lho setahuku, peep toe flat shoes warna
gini juga nggak punya, dan malam Kak Di diajak jalan
sama teman kantornya ke Hotel Swastika itu kan aku yang
anterin, karena mobil Kak Di kubawa ke tempat Sherly
buat ngerjain tugas, Kak Di pakai baju warna hitam. Lagian
habis peristiwa bom bunuh diri di Hotel Swastika kan Kak
Di dirawat di rumah sakit, masa iya pakai dress kaya gini,
warna merah pula.” Kami terdiam dengan pikiran kami
dan papa akhirnya mengambil alih keheningan kami.
“Ya udah, yang penting Diandra sudah kembali ke
rumah, setelah menghilang hampir seminggu dan dalam
keadaan sehat, itu aja yang kita syukuri ya, semoga seiring
waktu Diandra akan ingat dengan utuh yang dialaminya. “
Kami sepakat dan kemudian aku ke kamar dengan ditemani
mama juga Elisa, sementara papa mengabari pihak rumah
sakit dan teman-teman dekatku di kantor, tepatnya geng
bahwa aku sudah kembali pulang.
Satu purnama berlalu dari kejadian itu, semua
sudah kembali seperti semula dengan tetap aku kehilangan
sekeping puzzle tentang ingatanku yang entah apa. Aku
kembali bekerja di Numero Uno Architect dengan timku
dan hang out di akhir pekan, tapi aku dan juga gengku
masih menghindari lounge/club atau sejenisnya karena
masih trauma akan ada kejadian pengeboman lagi.
Sesekali aku teringat Jagad dan memikirkan siapa lelaki itu
Analekta Kisah Semesta | 290
PROPERTI OF P
sebenarnya dan di mana sebenarnya tempat aku bertemu
dengannya waktu itu. Gaun merah yang tergantung rapi di
lemari itu selalu mengingatkanku akan Jagad dan peristiwa
aneh yang kualami setiap kali aku membukanya.
Siang ini setelah meeting dengan klien, Arkan,
Brigita, Chicko, dan aku memutuskan mampir ke coffee
shop lantai dasar tower gedung kami sebelum naik
ke lantai kantor kami berada. Aku dan Arkan memesan
Caramel Macchiato sementara Brigitta dan Chicko
memesan Frappuccino Green Tea Creme, saat berbalik
untuk menuju meja tempat kami meletakkan tas dan
barang-barang kami, seorang lelaki masuk ke dalam
coffee shop dan aku hampir menahan napasku. Lelaki
itu Jagad, tapi dalam balutan jas kasual warna merah dan
celana jeans warna hitam yang pas sekali di badannya.
Tidak tampak seperti Jagad yang kutemui di tempat antah
berantah beberapa waktu lalu yang bahkan bajunya seperti
bukan dari dekade ini. Aku masih terpana menatapnya,
sampai kemudian dia melewatiku dan berkata, “Hai
gadis berbaju merah.” Dengan suara yang membuat
bulu kudukku meremang. Aku duduk di kursiku dan
Brigita menyadari keanehanku, dia menyenggol sikuku
membuatku terkesiap.
“Biasa aja kali lihat cowok cakep, nggak usah
mendadak gagu gitu deh.”
“Dia lelaki yang kutemui di tempat antah berantah
kemarin lalu, Ta,” bisikku, dan Brigitta membulatkan
matanya, lalu kembali melihat ke arah lelaki itu yang
291 | Analekta Kisah Semesta
PROKREATIF
katanya sedang menatapku, kuberanikan diri menoleh dan
benar dia sedang menatapku, tersenyum tipis padaku, lalu
berbalik ke arah kasir memunggungiku. Debaran di dadaku
terasa semakin kencang dan aku seperti terbawa ke dimensi
waktu berbeda, tiba-tiba sekitarku terasa blur dan suara
pekikan Arkan, Brigita juga Chicko memanggil namaku
bergantian terdengar semakin jauh sampai kemudian
kegelapan kembali menelanku dalam ketidaksadaran.
***
.
Tentang Penulis:
Elok Wardaniyah, terlahir di Jombang pada 38 tahun lalu,
tepatnya pada Oktober 1983. Alumi S1 Jurusan Ilmu
SejarahdariUniversitasJemberyangsukabangetmembaca
sejak kecil baik itu tentang sejarah, novel atau lainnya.
Berharap dengan menulis dapat menjadi stres release dan
menuangkan ide/imajinasi yang terdokumentasikan dan
dapat dibaca orang lain. Saat ini tinggal di Jombang, Jawa
Timur dengan suami dan dua putri. Akun media sosial
yang digunakan adalah Instagram dan Facebook dengan
nama akun Elok Wardaniyah.

Analekta Kisah Semesta

  • 1.
    CV. Prokreatif ANALEKTA KISAH SEMESTA JILID 2 YESSYRAMADHAN, THIARI KINASIH, MEGA L, NOVIENDRA, GRAHITA RIZKI, ULUL ILMI ARHAM, KARTIKA PITASARI, DHEISYA AD- HYA, MERRY SALEKY, N’ESTHY, WIDA REZA HARDI- YANTI, TIKA NEMOEST, PUTERICA, NITA LESTARI, ALENA WINKER, ROSYIDHA BAIDURI, ENONG NUR- MUTI’AH, KILLERBEE, MERLINDA YUANIKA, AISHANAFI KHADIFYA, RINI UNTARI, ERNA KALOKO, ELOK WARDANIYAH, RIZKI NOVIE LESTARI.
  • 2.
    PROPERTI OF P AnalektaKisah Semesta Jilid 1 Copyright © CV.Prokreatif, 2021 Penulis: Yessy Ramadhan, Thiari Kinasih, Mega L., dkk ISBN: lustrasi: freepik.com Penyunting : Novalinda Tata Letak dan Desain Sampul: Asih Tria Wulandari Penerbit: CV. Prokreatif Redaksi Perumahan Mansyur USU Regency Blok A4 Medan, Sumatera Utara Web : www. penerbit. prokreatif. com Instagram : @pro_kreatif E-mail : cv.prokreatif@gmail. com Cetakan Pertama, Mei 2021 291 halaman; 14 x 21 cm Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku dalam bentuk dan dengan cara apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit maupun penulis
  • 3.
    3 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF ANALEKTA KISAH SEMESTA JILID 2
  • 4.
    Analekta Kisah Semesta| 4 PROPERTI OF P PENGANTAR Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian prosesi yang cukup pelik, buku keenam dari tantangan Sagusaka Edisi Maret 2021 ini akhirnya dapat dirampungkan juga Rasa terima kasih dan apresiasi kami ucapkan sebesar-besarnya kepada seluruh peserta yang telah berhasil menyelesaikan tantangan minggu pertama, terlebih kepada seluruh finisher yang telah berhasil menaklukkan tantangan pertama sampai keempat dengan sangat baik. Buku keenam dari 6 buku Sagusaka Edisi Maret ini merupakan buku kumpulan cerpen dari para penantang Sagusaka Maret yang berhasil menyelesaikan keempat tantangan. Isinya merupakan karya terbaik dengan beragam genre yang penulis pilih dari keempat karya yang telah mereka selesaikan.
  • 5.
    5 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentunya, masih terdapat kekurangan di sana-sini dalam penyelesaian buku ini. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari para pembaca sekalian untuk seluruh penulis dan tim yang tergabung dalam proses penyelesaian buku ini. Terima kasih dan selamat membaca. Salam hangat penuh semangat Tim Ruang Nulis
  • 6.
    Analekta Kisah Semesta| 6 PROPERTI OF P DAFTAR ISI DE JAVU Oleh: Yessy Ramadan 9 RAGAYANG TERPERANGKAP Oleh: Thiari Kinasih 23 BERAWAL DARI LUKA Oleh: Mega L 41 MISTERI BAJU WARNA MERAH Oleh: Noviendra 54 I AM BUCIN 68 Oleh: Grahita Rizki 68 PLAYBOY CAP DURIAN Oleh: Ulul Ilmi Arham 78 BANOWATI Oleh: Kartika Pitasari 88 MITOS MEMAKAI PAKAIAN MERAH Oleh: Dheisya Adhya 92 TERMAKAN JANJI Oleh: Mesaleky 108 PELANGI SETELAH HUJAN Oleh: N’esthy 117
  • 7.
    7 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF BLOODY SPRING IN AMSTERDAM Oleh: Wida Reza Hardiyanti 136 MUSIM SEMI DI TANAH ATATURK Oleh: Tika Nemoest 146 AUTUMN ANNIVERSARY Oleh: Puterica 154 DESA BULAN MATI Oleh: Nita Lestari 165 MAINAN BARU Oleh: Alena Winker 180 SENYUMANKU UNTUK KEPERGIANNYA Oleh: Rosyidha Baiduri 184 ACCIDENT: MENYUSURI MEMORI Oleh: Enong Nurmuti’ah 189 DUA BELAS KATA CINTA Oleh: KillerBee 205 DALAM INGATAN WAKTU Oleh. Merlinda Yuanika 215 GUGUR DI NEGERI SAKURA Oleh: Aishanafi Khadifya 233 SEMBURAT CINTA PERTAMA Oleh: Rini Untari 240
  • 8.
    Analekta Kisah Semesta| 8 PROPERTI OF P BERSEMI DI MUSIM SEMI ISTANBUL Oleh: Erna Kaloko 249 RUI ORIONA Oleh: Rizki Novie Lestari 258 RENDEZVOUS Oleh: Elok Wardaniyah 279
  • 9.
    9 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF DE JAVU Oleh: Yessy Ramadan Usia Aiko baru menginjak 20-an. Keterbatasan keluarganya memaksa Aiko harus menumpas cita-citanya untuk kuliah. Ia harus terima hanya memiliki ijazah SMA sebagai jenjang pendidikan tertingginya. Mimpinya untuk menjadi akuntan terpaksa harus ia pupus. Kini, ia bekerja menjadi seorang pramuniaga di salah satu toko sembako franchise yang banyak ditemui di kotanya. Sebagai anak tertua,Aiko bertanggung jawab untuk membantu ibunya mencari nafkah. Ayahnya meninggal ketika Aiko duduk di kelas dua SMA. Sebuah kecelakaan menimpa ayahnya ketika mengerjakan proyek konstruksi yang dikerjakannya. Sejak itu, ibunya mulai mencoba membuka usaha katering. Namun, hasil berjualan ibunya
  • 10.
    Analekta Kisah Semesta| 10 PROPERTI OF P tak cukup untuk membiayai hidup tiga orang. Melihat kesulitan yang dihadapi ibunya, Aiko berbesar hati untuk merelakan mimpi besarnya. Fokusnya saat ini adalah mencari nafkah membantu ibunya. Dengan gaji yang tak terlalu besar, Aiko harus berhemat. Ia jarang sekali menggunakan uang gajinya untuk keperluan pribadi. Semua diberikan kepada ibunya untuk dikelola secukupnya. “Mio, kamu harus semangat sekolahnya. Setelah lulus nanti, kamu harus kuliah.Aku akan berusaha sebisaku untuk menguliahkan kamu. Tugasmu hanya belajar. Nggak usah pikirkan hal lain.” Aiko mewanti-wanti adiknya yang hanya selisih tiga tahun dengannya. “Kak, tak perlu dipaksakan. Aku ikhlas kok, kalau harus bekerja seperti Kakak.” Mio sangat menyayangi kakaknya, ia tak ingin melihat Aiko menderita karena dirinya. “Nggak, Mio. Salah satu dari kita harus menjadi orang yang berhasil. Dulu ayah sering bilang kalau kita berdua harus menjadi orang yang sukses. Kamu harus bisa mewujudkannya.” Aiko membelai rambut Mio yang duduk di sebelahnya. Pemandangan itu membuat ibunya terharu. Ia sangat bangga memiliki dua anak perempuan yang begitu dewasa. Mereka selalu patuh. Nilai-nilai di rapornya juga selalu bagus. Mereka selalu berperilaku baik. Di rumah,
  • 11.
    11 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mereka selalu berbagi tugas untuk membantu pekerjaan rumah. Kedua kakak beradik itu memang sangat dekat sejak kecil. Selisih usia yang tak terlalu jauh membuat keduanya seperti sahabat. Mereka saling berbagi apa saja yang mereka nikmati dan rasakan. Orang tuanya mendidik mereka sangat baik, hingga mereka tumbuh menjadi dua gadis remaja yang pekerja keras dan tak pernah mengeluh. *** Tante Erla hari ini akan kembali ke ibu kota. Jadwal visit suaminya ke cabang hanya dua hari. Ia sangat senang ketika mendengar suaminya mendapat tugas visit ke kampung halamannya. Beruntung, suaminya mengizinkannya ikut dan menginap di rumah Aiko. Tante Erla adalah adik kandung ibu Aiko. Sepulang kerja, Aiko mampir ke toko oleh-oleh dekat rumah. Ia akan membelikan buah tangan untuk diberikan kepada Tante Erla. Sambil membawa keranjang belanja, ia menyusuri lorong-lorong rak display toko. Di ujung koridor, ada seorang lelaki berusia sekitar lima tahun di atasnya terus melihat ke arahnya. Aiko salah tingkah sebab merasa diperhatikan oleh orang yang tak dikenalnya. Ia kemudian berusaha untuk berbalik arah. “Hey!” Pemuda itu mengejar dan menepuk pundak Aiko.
  • 12.
    Analekta Kisah Semesta| 12 PROPERTI OF P “Iya,adaapaya,Mas?”Aikosemakinkebingungan. “Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya,” ucap pemuda itu, “tapi di mana, ya?” “Oh, ya? Rasanya ini pertemuan pertama kita. Mungkin Masnya salah orang,” jawab Aiko sambil tersenyum sopan takut salah bicara. Obrolan berlanjut di kafe sebelah toko oleh-oleh. Pemuda itu bersikeras berkata bahwa ia pernah bertemu Aiko sebelumnya. Hingga Aiko merasa kasihan dan bersedia diajaknya berbincang di kafe. Sejak kecil, Aiko memang selalu ramah dan mudah bersimpati. “Saya lahir dan besar di kota ini, Mas Indra. Saya belum pernah tinggal di luar kota.” Dengan ramah Aiko menjelaskan pada orang yang baru pernah ditemuinya itu. “Masa, sih. Kok rasanya aku nggak asing sama kamu, ya.” Indra masih heran dengan pemikirannya sendiri. Indra masih menganggap bahwa ia pernah mengenalAikosebelumnya.Namun,saatiniiabenar-benar merasa bingung dengan apa yang tengah dihadapinya. Aiko bersikukuh bahwa mereka baru saja bertemu. Sedang Indra seolah hanya sedang sedikit lupa tentang kapan, di mana dan sejauh apa hubungannya dengan wanita yang kini duduk di hadapannya itu.
  • 13.
    13 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Indra baru sebulan pindah di kota ini. Ia bekerja di sebuah perusahaan milik negara. Sebelumnya ia dinas di kota pelajar yang jaraknya sekitar 170 km dari sini. Sejak pertemuan itu, mereka sering bertukar pesan. Indra berdalih belum mengenal daerah-daerah di sini dan butuh kenalan untuk mencari tahu tentang kota ini. Aiko yang selalu berpikiran terbuka, menyambut baik permintaan Indra. Ia hanya ingin memperbanyak relasi. Terlebih Indra bekerja di perusahaan pemerintah. Siapa tahu ke depan akan ada kesempatan untuk Mio masuk ke sana. Setidaknya, dari Indra dia akan mencari tahu tentang bagaimana proses melamar pekerjaan di sana. Waktu berlalu begitu cepat. Indra danAiko semakin dekat. Mereka sering pergi ke suatu tempat bersama. Indra banyak mengenal tempat-tempat baru di kota ini karena Aiko. Tak terasa sudah hampir setahun Indra bertugas di sini. Indra adalah pemuda yang baik. Pembawaannya yang humble membuat Aiko nyaman untuk bercerita apa saja kepadanya. Indra juga sering berkunjung ke rumah Aiko. Bahkan terkadang mereka pergi menonton bertiga bersama Mio. Indra seperti seorang kakak yang menjaga adik-adiknya dengan baik. Pada ibu Aiko, Indra sudah menganggap seperti ibunya sendiri. Semakin sering bertemu dan berbincang dengan Aiko, Indra semakin merasa bahwa ia telah mengenal Aiko jauh sebelum pertemuan pertama mereka di toko
  • 14.
    Analekta Kisah Semesta| 14 PROPERTI OF P oleh-oleh. Aiko yang periang, Aiko yang dewasa, Aiko yang tak mudah marah, Aiko yang selalu sabar. Hal-hal itu seperti telah diketahui Indra sejak lama. Dia atau aku yang amnesia? Indra sering bertanya-tanya dalam hati. Sebab, dari berkali-kali pertemuan, ia sering merasa pernah melakukan hal yang sama. De Javu. Masa,sih,beneranadayangnamanyareinkarnasi? Lagi-lagi pertanyaan konyol itu terngiang-ngiang di benak Indra. Mungkin aku hanya pernah mengenal seseorang yang mirip sama dia. Indra berusaha melogikakan perasaannya. Intensitas komunikasi di antara mereka perlahan menumbuhkan rasa nyaman bagi keduanya. Bahkan, Indra mulai merasakan ada sesuatu yang lain yang tumbuh di hatinya. Awalnya ia pikir hanya perasaan simpati pada sosok seorang perempuan perkasa yang tak pernah mengeluh atas apa yang dihadapinya. Semakin hari, Indra semakin sering memikirkan Aiko. Sepertinya ada yang kurang bila dalam sehari belum menelepon Aiko. Ia akhirnya mengakui perasaannya sendiri. Ia menyukai Aiko. Rasa sayang yang tumbuh bukan sebagai seorang kakak menyayangi adiknya. Namun, perasaan lelaki pada seorang perempuan yang dikaguminya.
  • 15.
    15 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Indra hanya menyimpan perasaannya sendiri. Ia tak berani mengungkapkannya pada Aiko. Saat berada di dekat Aiko, Indra sering salah tingkah. Gesturnya tak bisa berbohong. Namun, Indra tetap memilih untuk menikmati sendiri rasa yang hadir tanpa permisi. Ia takut Aiko tak memiliki perasaan yang sama dengannya. Malam ini, Indra menjemput Aiko di tempat kerjanya. Perihal menjemput Aiko bukanlah hal baru bagi Indra. Sebetulnya Aiko sering menolah tawaran Indra. Namun, Indra bersikeras untuk melakukannya. Sekaligus cari makan malam, katanya. Aiko tak lagi bisa menolak bila Indra telah mengatakan demikian. “Makan di rumah aja, yuk. Ibu masak banyak hari ini.” Ajakan Aiko langsung diiyakan Indra. Indra sering menumpang makan di rumah Aiko. Masakan sederhana ibu Aiko terasa sangat nikmat bagi Indra. Ia bukan pemilih kalau soal makanan. Yang penting higienis. Ia merasakan kehangatan sebuah keluarga. Indra adalah anak tunggal seorang pengusaha sukses di kampung halamannya. Namun, kesibukan ayahnya membuat hubungan keluarga mereka kurang harmonis. “Kok ambil nasinya sedikit sekali? Ayo nambah lagi, dong. Lauknya juga. Sini, biar Ibu ambilkan,” berondong ibu Aiko pada Indra.
  • 16.
    Analekta Kisah Semesta| 16 PROPERTI OF P “Iya, Bu. Nanti kan kalau kurang pasti Indra nambah. Biasanya juga begitu, kan,” balas Indra sambil tersenyum dan tetap membiarkan ibu Aiko menambahkan lauk di piringnya. *** Tak terasa, akhirnya Mio lulus dengan nilai ujian yang sangat memuaskan. Bahkan ia mendapatkan beasiswa untuk masuk ke universitas negri di kotanya. Di dalam nilai-nilai bagus Mio, ada andil Indra di dalamnya. Sebab setiap ujian, Mio selalu belajar dengan Indra. Dengan sabar Indra mengajari adik Aiko itu. “Selamat ya, anak pintar. Akhirnya sebentar lagi jadi mahasiswi juga kamu, Mio.” Indra menempelkan kepalan tangannya di dahi Mio. “Terima kasih, Mas. Berkat Mas Indra juga, kan, nilaiku jadi nggak berwarna.” Mio langsung mengupas sebatang cokelat dari Indra. “Eh, Mas. Tapi kapan nih, mau resmiin hubungan sama Kak Aiko?” Indra terperanjat dengan pertanyaan Mio. “Maksud kamu?” Indra pura-pura tak tahu ke arah mana pertanyaan Mio. “Ah, aku sama ibu juga udah tau, kok. Kak Aiko aja tuh yang nggak peka.” Mio semakin meledek sabahat kakaknya yang juga sudah seperti kakaknya sendiri.
  • 17.
    17 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Indra menoleh ke kanan dan ke kiri penuh selidik. Ia takut kalau Aiko mendengar apa yang diucapkan Mio. Sebenarnya Indra ingin mengutarakan perasaannya pada Aiko. Namun, ia masih memilah waktu yang tepat untuk berbicara serius. *** Hari ini jadwal libur Aiko. Menjelang waktu makan siang, ia mengantarkan dua toples kue buatannya ke kantor Indra. Ia sengaja tak memberi tahu Indra. Niatnya Aiko hanya akan menitipkan bingkisan pada pak satpam. Sesampainya di kantor, ia tak sengaja melihat Indra sedang berjalan bersebelahan dengan seorang wanita. Mereka terlihat begitu akrab. Tiba-tiba detak jantungnya menguat. Tubuhnya terasa lemas. Ia lantas buru-buru menitipkan bingkisan ke pak satpam dan bergegas pergi dari kantor itu. Ia tak ingin Indra melihat kedatangannya. Ia berjalan gontai meninggalkan kantor Indra. Ada banyak tanda tanya yang mendadak muncul di kepalanya. Siapa wanita itu? Ada hubungan apa Indra dengannya? Kenapa mereka seakrab itu? Kenapa Indra tak pernah memperkenalkan wanita itu? Aiko mengenal beberapa teman kantor Indra. Namun, ia baru pernah melihat wanita yang tadi bersama Indra.Ada perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap di hatinya. Ia gelisah. Ia ingin marah, tapi tak punya hak untuk itu. Lagi pula, kenapa Aiko harus marah bila memang Indra
  • 18.
    Analekta Kisah Semesta| 18 PROPERTI OF P sedang dekat dengan seseorang? Aiko mencoba menetralisir pikirannya. Ia harus meredam perasaan-perasaan yang tak seharusnya ada. Kenyataan bahwa Aiko dan Indra hanya berteman biasa membuat Aiko menyalahkan dirinya sendiri. “Kenapa aku jadi aneh begini, sih?” gumam Aiko. Aiko masih tak menyadari perasaannya sendiri. Ia menganggap perasaannya pada Indra hanyalah sebatas menyayangi seorang kakak. Namun, tanpa disadari kejadian itu membuat Aiko sedikit berubah. Ia berusaha mengindar dari Indra. Panggilan telepon dan chat dari Indra tak diresponnya. Ia hanya membalas chat sesekali dengan kalimat pendek. Bahkan, beberapa hari Aiko menolak jika Indra ingin bertemu. “Kak, kalian itu saling suka. Kalian hanya sama- sama gengsi. Saling menunggu siapa yang akan duluan mengutarakan perasaan.” Mio menanggapi curahan hati kakak tersayangnya. Sebelumnya, Mio juga telah mengatakan hal yang sama pada Indra melalui telepon. Indra yang terus gagal menghubungi Aiko akhirnya menelepon Mio. Dari situ Indra mengetahui bahwa Aiko melihat ia bersama Wina, anak magang yang tengah disupervisi olehnya.
  • 19.
    19 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Jadi aku harus bagaimana, Mio? Pantas saja ucapan terima kasihku di chat cuma dia baca aja.” Indra menghela napas. “Ajak ketemu, gih, langsung jemput ke rumah. Nggak usah kasih kabar dulu kalau mau datang.” Mio memberi saran. Indra menuruti saran Mio. Tanpa memberitahu Aiko terlebih dulu, ia datang ke rumah. Aiko yang sedang duduk di teras tak bisa menghindar. Ia terus bersikap datar pada Indra. Aiko hanya berbicara sepotong-sepotong, seperlunya. “Aiko, lebih baik kita bicara di luar, yuk. Nggak enak dilihat Ibu sama Mio kalau kita begini.” Indra memohon pada Aiko yang akhirnya bersedia diajaknya pergi. Indra berinisiatif untuk mengajak Aiko ke sebuah coffee shop. Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Indra tak berani membuka percakapan karena takut membuat Aiko semakin bad mood. “Aiko, maafin aku, ya. Pas kamu ke kantor aku nggak melihatmu. Bahkan aku belum sempat berterima kasih untuk kue yang kamu bawakan. Rasanya enak banget, loh. Aku suka.” Dengan tulus Indra meminta maaf pada Aiko.
  • 20.
    Analekta Kisah Semesta| 20 PROPERTI OF P “Kemarin itu, aku mau ke ruang administrasi bersama Wina. Dia anak baru yang harus aku supervisi. Sungguh aku nggak ada apa-apa sama dia, Ai.” Indra berusaha meluruskan apa yang sebenarnya terjadi. Aiko hanya terdiam. Ia memutar-mutar cangir kopi di hadapannya. “Ai, bicaralah. Nggak apa kalau kamu mau marah sama aku. Aku siap mendengarkan apa yang akan kamu sampaikan,” bujuk Indra. “Aku yang salah, Mas. Aku yang nggak bisa memosisikan diriku. Maaf karena aku sudah melewati batasku.” Aiko bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. Aiko telah memikirkan baik-baik bahwa responnya yang seperti ini keliru. Ia justru seharusnya bahagia kalau Indra memiliki seseorang yang memerhatikannya. Sesimpel itu, ia sendiri yang membuatnya rumit. “Nggak, Ai. Justru aku yang seharusnya minta maaf. Selama ini aku hanya pecundang yang nggak berani mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya ke kamu. Aku sayang sama kamu, Aiko.” Indra meraih dan menggenggam tangan Aiko. Jantung Aiko mendadak seperti berhenti berdetak. Napasnya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia menumpahkan seluruh perasaan yang ia bendung. Sedih, haru, bahagia, dan ada kelegaan di sana.
  • 21.
    21 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Terima kasih, ya. Kamu membuatku berani untuk mengungkapkan rasa yang kumiliki untukmu. Sebelumnya aku hanya pecundang yang tak percaya diri dengan beralasan mencari waktu yang tepat. Nyatanya, aku tak pernah menemukan sendiri waktu yang tepat itu. kamulah yang menunjukkannya padaku.” Indra membelai rambut Aiko. “Mas, apa kamu mau menerima wanita sepertiku yang tak pernah dekat dengan kata sempurna?” Amarah Aiko turut menghilang tersapu air matanya. “Ketidaksempurnaan kamulah yang membuatku mencintaimu. Izinkan aku menggenapimu. Pun dengan ketidaksempurnaan yang kumiliki.” Indra menatap dalam mata Aiko. Aiko mengusap matanya yang basah. Dan di saat yang sama, Indra menyaksikan senyum termanis Aiko. ***
  • 22.
    Analekta Kisah Semesta| 22 PROPERTI OF P Tentang Penulis Yessy Ramadan. Dengan aktivitas yang cukup padat sebagai seorang banker, tak menyurutkan cita-citanya menjadi seorang penulis. Harapannya adalah akan menjadi seorang penulis yang melahirkan karya-karya yang berkualitas. Berangkat dari berbagai kelas menulis, dia ingin mewujudkan cita-citanya tersebut. Ia telah menghasilkan lebih dari dua puluh buku antologi.
  • 23.
    23 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF RAGA YANG TERPERANGKAP Oleh: Thiari Kinasih Gadis pekerja keras dan berparas cantik itu bernama Cahaya. Kesehariannya bekerja sebagai di bagian administrasi di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang ekspor dan impor. Selain menjadi kerani, ia memiliki hobi menulis dan menggambar yang ia tuang menjadi serial komik menarik. Tak sedikit hasil karyanya terpilih sebagai karya terbaik dalam berbagai perlombaan dan sederet penghargaan terpajang rapi di salah satu sisi dinding kamarnya.
  • 24.
    Analekta Kisah Semesta| 24 PROPERTI OF P Suatu malam, ia terbangun dari tidurnya setelah tersentak. Gadis yang suka warna biru itu merasa seperti terjatuh dari ketinggian yang tak seberapa namun cukup membuatnya terkejut. Ia heran mengapa pagi hari cepat sekali tiba? Rasanya ia baru saja memejamkan mata dan turun ke alam bawah sadarnya untuk beristirahat. Ia sering kali mengeluh karena ia merasa tidak bisa menikmati waktu untuk sekadar beristirahat, bahkan di hari liburnya. Dalam keadaan sadarnya kali ini, ia tidak hanya terkejut namun juga heran. Pasalnya, ia tiba-tiba sudah berada di kampung halamannya di Bukittinggi. Ia bergegas menuju rumah keluarganya di sana, namun tak seorang pun mengenalinya. Diapun berulang kali berusaha menjelaskan bahwa ini adalah dirinya—Cahaya, namun tak ada seorang pun yang percaya. Bahkan ia sampai diusir dari rumah tersebut dan ditinggalkan di luar pagar. Adiknya yang merupakan putra nomor 2 itu bahkan mengancam akan menghubungi polisi bila ia terus memaksa masuk ke dalam pekarangan rumah. Ia semakin heran, dan bertanya-tanya “Apakah yang sebenarnya tengah terjadi? Apa salahku sampai membuat keluargaku tak mau lagi menerimaku? Aku bahkan tidak bisa menikmati hasil keringatku dan waktuku untuk beristirahat agar bisa selalu membahagiakan mereka. Mengapa mereka demikian memperlakukanku tadi Tuhan?” jerit gadis yang cukup sensitif itu sambil terisak, dadanya sesak dan tangisannya deras seolah ia tengah melampiaskan seluruh isi hatinya kala itu.
  • 25.
    25 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Dengan langkah berat, ia pergi berjalan menyusuri kawasan wisata yang tak jauh dari rumah keluarganya. Ia terduduk di salah satu bangku yang tersedia di taman yang masih bagian dari tempat wisata tersebut. Perutnya lapar, ia bahkan kebingungan harus ke mana. Sembari menatap satu per satu bangunan baru --yang ia bahkan tak tahu kapan bangunan itu dibangun karena sudah lama sekali ia tidak pulang kampung—ia mendapati satu bangunan kecil yang ia merasa sangat perlu sekali untuk ke sana untuk buang air kecil. Ia berusaha menguatkan diri untuk menuju toilet. “Rp2.000“, tulisan ini yang pertama kali ia jumpai sesaat ia tiba di depan toilet. Ia rogoh saku celananya dan bersyukur ia memiliki selembar uang Rp100.000,- yang ia juga lupa kapan menaruh uang tersebut di sana. Selesai urusannya di toilet, ia merasa perlu bercermin untuk merapikan penampilannya. Ia bergegas menuju cermin yang berada di samping toilet tersebut dan “Aaaarrgghh....” Gadis yang tengah berwujud dalam raga orang lain itu menyadari sesuatu yang hal tak beres dan berteriak kencang sekali setelah mendapati pantulan wajahnya di cermin tersebut. Ia bingung siapa orang asing yang ada di cermin tersebut. Ia meraba wajahnya dan kemudian menepuk hingga mencubit pipinya untuk memastikan. “Sakit,” ujarnya setelah sadar bahwa itu bukan orang asing melainkan dirinya. Ia mencoba mengenali lebih dalam dan mendapati bahwa penampilannya berubah menjadi tokoh utama dalam cerita yang tengah
  • 26.
    Analekta Kisah Semesta| 26 PROPERTI OF P ia perjuangkan untuk selesai, bernama Cahyo. Seorang laki-laki introvert namun memiliki mimpi untuk bisa menaklukan dunia dengan cara meraih posisi penting yang bisa mengantarkannya go international. “Aku paham mengapa keluargaku tidak mengenaliku, dan bahkan sangat kasar sekali terhadap perempuan--sekalipun bila tadi itu bukan aku. Namun bagaimana bisa aku masuk ke dalam raga Cahyo?” ucap gadis yang gemar menggambar itu sambil masih menatap wajahnya bahkan dalam jarak 1 cm dari cermin. “Risih sekali,” gumam gadis bertubuh ideal itu merasa ada yang tak biasa dari dirinya. Ia melanjutkan langkahnya menuju salah satu restoran kesukaannya dan selalu ia datangi bila ada kesempatan pulang kampung. Perut kosong membuatnya tak mampu berpikir, terlebih ia masih terheran-heran dengan fenomena yang tengah terjadi itu. “Logikaku buntu tanpa logistik, mari kita kenyangkan diri dahulu sembari berpikir apa yang harus kita lakukan,” ucapnya berusaha tenang dalam hatinya dan beruntung ia masih memiliki sisa uang di sakunya. Sembari menikmati hidangan nasi kapau di restoran kesukaannya, ia menaruh kemungkinan- kemungkinan yang terjadi. Dan ia memutuskan untuk mengunjungi rumah sahabatnya yang sangat mendukung hobinya sebagai komikus. Sesampainya ia di rumah sahabatnya tersebut, ia tidak bisa berjumpa karena
  • 27.
    27 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF sahabatnya tersebut masih di tempat kerja. Inda namanya. Ia bermaksud mengunjungi Inda di tempat kerjanya yang tak jauh dari rumah Inda. Sesampainya ia di salah- satu pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bukittinggi yang merupakan tempat bekerja Inda, ia masuk ke dalam dan mencari Inda. “Inda,” sapa raga laki-laki berbadan tinggi sekitar 180cm setelah mendapati sahabatnya sedang bekerja merapikan susunan produk di rak pajangan. “Maaf dengan siapa ya?” tanya seorang gadis berseragam toko oleh-oleh itu tak mengenali sahabatnya yang masih terperangkap dalam tubuh Cahyo. “Ini aku Cahaya. Sahabatmu dari TK, yang kerja di Jakarta,” jelas gadis berkacamata itu berusaha keras meyakinkan sahabatnya yang berparas cantik namun sahabatnya masih bingung dan sedikit takut. Akhir- akhirnya marak kasus penipuan dan penculikan orang dewasa. “Maaf saya tidak kenal kamu. Bagaimana bisa seorang laki-laki bernama Cahaya. Saya tidak kenal kamu!” teriak sahabatnya berkulit putih itu yang sudah tidak mampu mengendalikan rasa takutnya sambil berjalan menjauh darinya dan sontak hal tersebut menarik perhatian petugas keamanan toko tersebut.
  • 28.
    Analekta Kisah Semesta| 28 PROPERTI OF P “Inda. Ini aku Cahaya!” teriak laki-laki dengan setelan baju casual itu terus berusaha meyakinkan namun apa daya tubuhnya sudah ditarik paksa keluar oleh petugas keamanan toko tersebut. Ia tak ingin melawan seolah ia mendapatkan gambaran apa yang akan terjadi selanjutnya bila ia mencoba melawan. Laki-laki beponi itu pun keluar dari toko tersebut dan mencoba menunggu sahabatnya pulang kerja. Ia memutuskan menunggu di sudut persimpangan dekat rumah Inda. Namun di saat ia menunggu sahabat berambut panjang itu, ia terkantuk dan memejamkan matanya dalam posisi duduk tersandar tembok pekarangan rumah tetangga dari sahabat karibnya itu. *** Gadis berkulit kuning itu tersadar dan mendapati dirinya sudah kembali di kamar kosnya. Dengan irama napas yang masih belum beraturan karena lelah, ia kembali terheran. Ia langsung mengambil ponsel yang ada di hadapannya untuk melihat jam dan waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Kemudian ia memastikan apakah dirinya masih berpenampilan sebagai Cahyo atau Cahaya. “Cahaya,” ujarnya setelah bercermin dengan kamera depan di ponselnya. “Apakah tadi itu mimpi? Mengapa aku sudah kembali di kamarku?Atau aku masih berada dalam mimpi? Di mana aku sebenarnya? Dan apa yang sesungguhnya terjadi padaku?” tanya gadis bertelinga caplang itu yang
  • 29.
    29 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF tak bisa membedakan antara mimpi dan kehidupan nyata karena keduanya terasa sama-sama hidup. Ia menutup laptopnya dan melanjutkan istirahat kembali di atas kasur. Beruntung esok hari masih hari libur dan ia bermaksud melanjutkan komiknya nanti setelah ia melepas lelah. *** Ia kembali di posisi terakhirnya di persimpangan jalan rumah sahabat setianya itu, kembali dalam raga Cahyo. Ia berdiri menatap cermin besar yang biasa digunakan untuk membantu pejalan dari berbagai arah dapat mengetahui kondisi jalanan yang ada di setiap simpang tersebut. Gadis yang juga bersuara merdu itu mengkerutkan keningnya karena bingung mengapa dirinya kembali menjadi Cahyo? Tak lama berselang--masih dalam kebingungannya--, ia mendapati sahabatnya yang suka makan permen lolipop itu tengah berjalan menuju rumahnya sepulang dari bekerja. “Inda,” sapa laki-laki berkulit putih menghampiri Inda. “Anda? Mengapa anda tahu daerah sini? Jangan- jangan anda sudah lama mengikuti saya?” tanya gadis yang gemar dikepang dua tersebut dengan nada sedikit tinggi karena mulai kesal namun dirinya juga merasa ketakutan. “Ini aku Cahaya, Inda. Aku terjebak dalam tubuh salah satu tokoh komik yang aku sedang aku buat,” ucap Cahaya berusaha meyakinkan sahabatnya namun
  • 30.
    Analekta Kisah Semesta| 30 PROPERTI OF P sahabatnya malah berlari menuju rumahnya dan melesat masuk ke dalam pekarangan rumah kemudian bergegas mengunci pagarnya rapat-rapat agar tak seorang pun mampu masuk. Kalaupun orang itu berhasil masuk, ia sudah bersiap mengeluarkan kemampuannya berteriak dengan suara terkencang yang ia miliki. Ia mulai putus asa dan duduk di depan rumah cat putih itu. Perutnya lapar namun tak ada lagi uang yang tersisa. Pulang ke rumah keluarganya pun akan percuma. Tak akan ada yang memercayainya. Sahabat yang juga gemar membaca itu diam-diam memperhatikan gerak- gerik Cahaya dari jendela kamarnya. Sahabatnya tersebut merasa kasihan dengan laki-laki itu, namun ia juga takut. Seketika sahabat si cantik itu teringat bahwa Cahaya belum lama ini mengirimkan gambar para tokoh yang akan muncul dalam serial komik terbarunya. Meski serial komik tersebut masih belum selesai dibuat, namun Inda selalu menjadi orang pertama yang menerima setiap gambar Cahaya, sekalipun masih dalam tahapan perkenalan tokoh. Inda bergegas membuka gambar tersebut yang dikirim oleh sahabatnya melalui surat elektronik. “Oooo,” ucap gadis penyuka buah strawberry kaget karena merasa tak asing dengan wajah salah satu tokoh utamanya dan ia langsung bergegas menuju ke luar rumahnya dan menghampiri laki-laki yang nyaris pingsan di depan rumahnya.
  • 31.
    31 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ca..ca..cahaya...,” ujar sahabatnya yang sudah mengenakanpiyamaitudenganterbata-batamemberanikan diri menemui sahabatnya yang masih duduk termenung di depan rumah. “Inda,” ucap laki-laki itu setelah melihat gadis dengan kuncir kuda itu menghampirinya. “Lapar?” tanya pemilik rumah memahami kondisi sahabatnya dan laki-laki polos itu mengangguk lemah. Tenaganya sudah habis setelah melalui dimensi ruang tiada henti. Inda masuk ke dalam rumah dan kembali keluar dengan membawakan makanan. Putri sulung dari pemilik rumah itu tidak bisa mengajak masuk sahabatnya karena keluarganya pasti akan marah karena hari sudah malam terlebih sahabatnya “berpenampilan” seperti itu. Laki- laki bermata elang itu makan dengan lahap dan sesekali menceritakan apa yang ia ketahui sebelum kejadian ini bisa terjadi. Meski ia masih belum tahu pasti apa yang tengah terjadi pada dirinya, namun ia ingin sahabatnya mendengarkan keluh kesahnya sembari melepas rindu karena sudah lama tak bertemu. “Nanti kita cari tahu sama-sama ya. Bawa ponsel? Uang?” tanya Inda selesai mendengarkan cerita Cahaya. “Terakhir ada uang disaku namun sudah habis untuk makan siang tadi. Lainnya tertinggal di kos,” jelas Cahaya dengan sedih. Ia mulai takut kalau hal ini akan terus berlangsung tanpa henti, lantas apa yang harus ia lakukan untuk mengakhirinya? Ia takut, sangat takut.
  • 32.
    Analekta Kisah Semesta| 32 PROPERTI OF P “Ok, malam ini kamu bermalam di rumah keluargaku di sebelah ya. Di sana kosong, sebentar aku ambilkan kuncinya di dalam. Tapi jangan sampai gaduh ya, karena hanya aku dan kamu yang tahu,” ucap sahabat yang baik hati itu memberi solusi sementara, setidaknya untuk malam ini dan Cahaya mengiyakan. *** Sesaat ketika pemilik rumah beratap rumah gadang itu tengah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci, tiba-tiba laki-laki tersebut kembali mendapati dirinya menghilang dari rumah sahabatnya di Bukittinggi itu dan kembali di kamar kosnya. “Haahh? Aku sudah ada di kos lagi? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku lelah!” jerit gadis berambut sebahu itu sembari membangunkan tubuhnya yang semula masih terbaring di atas kasur. Sinar matahari masuk ke dalam kamar kosnya dan ia keluar sejenak untuk menghirup udara pagi kemudian membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, gadis yang menyukai olahraga itu membeli sarapan nasi uduk dekat kosnya. Selesai sarapan, ia kembali ke kamar kos dan melanjutkan karyanya. Ia berjuang menyelesaikan serial komiknya sebisa mungkin. Bukan karena tenggat waktu pengiriman naskah, namun ia merasa kejadian yang tengah terjadi pada dirinya saat itu ada kaitannya dengan proses karya ini. Ia berharap dengan selesainya serial tersebut di hari ini, bisa membantunya kembali menjalani kehidupan
  • 33.
    33 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF yang normal. Cahaya kembali terlelap di tengah perjalanannya menyelesaikan serial tersebut. Dan lagi, ia mendapati dirinya kembali di depan rumah putih berpagar tinggi tersebut. Inda yang saat itu terus menatap kearah luar dari jendela kamarnya, langsung menghampiri sahabatnya yang kembali hadir dalam penampilan raga Cahyo. *** “Kamu dari mana saja? Semalam aku keluar bawa kunci tapi kamu sudah pergi? Kamu pergi ke mana Ca?” tanya sahabatnya panik tiada jeda karena peduli. “Aku kembali ke kamar kosku. Tersadar di sana sudah pagi dan aku terbangun. Rasanya lelah sekali padahal sebelum aku tiba di sini, aku tengah tidur di sana,” jelas laki-laki yang masih tersenga-senga bernapas itu dan dengan mudah kali ini sahabat kesayangannya itu percaya. “Berarti kamu akan kembali ke sini sebagai Cahyo ketika kami terlelap di sana? Dan kamu tidak akan terlelap sekalipun, kamu bisa sakit Ca,” ujar Inda menerka-nerka. “Ok, kamu sekarang istirahat dirumahku di samping saja ya. Kita lihat apakah kalau kamu tertidur di sini, kamu juga akan kembali ke kamar kosmu?” lanjut sahabat berbaju merah muda itu dan laki-laki tampan itu menurutinya. Tubuhnya sangat memerlukan istirahat sekali.
  • 34.
    Analekta Kisah Semesta| 34 PROPERTI OF P Satu jam berlalu dan kedua sahabat itu masih bersama. Pemilik rumah menjaga sahabatnya sekaligus mencari tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu sahabatnya keluar dari masalahnya. Namun lima menit kemudian, laki-laki tersebut menghilang dari tempatnya semula. *** Gadis manis itu mendapati dirinya kembali berada dikamarkosnya.Iamengangkatkepalanyayangmenempel di atas laptop dan kembali melanjutkan cerita serial komik tersebut. Gadis berambut hitam bergelombang itu berhasil menyelesaikan serial komiknya dan mengirimkan naskahnya kepada pihak penyelenggara untuk diseleksi dan dinilai. Selesai dengan komiknya, ia membaringkan diri di atas kasur dan ingin mengetahui apakah dirinya akan kembali berada di Bukittinggi setelah ia memejamkan mata dan terlelap. Ia terbangun keesokan hari dipagi hari dan langsung loncat dari kasur setelah melihat jam di dinding kamarnya. Semalaman tadi ia tidak merasa kembali ke rumah sahabatnya dan tetap di kamar kosnya. Pagi hari ia bangun dari tidurnya dan masih berada di kamar kosnya. Pekerja tetap itu berusaha mengalihkan rasa penasarannya dan bergegas membersihkan diri serta bersiap untuk berangkat ke kantor hari itu. Sepanjang jalan ia berpikir keras mengingat dan merangkai kejadian sebelumnya dengan rasa penasaran semakin tinggi.
  • 35.
    35 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Sesampainya di kantor, ia menghubungi sahabat karibnya itu. “Lagi apa Nda?” tanya Cahaya sesaat setelah sahabatnya mengangkat telpon darinya. “Di jalan Ca, mau berangkat ke toko. Gimana?” jelas sahabatnya kemudian bertanya. “Gak ada apa-apa kok. Cuma kangen aja,” ucap gadis yang sedang menikmati teh panas itu menutupi maksudnya. Ia tahu jika apa yang terjadi kemarin juga bisa dirasakan oleh sahabatnya maka si cerewet itu akan langsung berbicara tiada henti setelah mendapat telpon dariku. Atau bahkan ia pasti akan menghubunginya berulang kali sampai ia mengangkat telepon dan berbicara dengannya. “Halah, lebay ... Baru kemarin lalu kita ketemu,” jawab sahabat jenaka itu dengan santai. “Ooo, iya-iya. Kita ketemu di rumahmu ya,” ujar gadis periang itu terus mencoba menggali informasi. “Hah rumahku? Ngarang kamu Ca. Kamu saja sudah setahun tidak mudik. Bagaimana bisa kamu ada dirumahku kemarin?” jelas gadis penyuka film horor itu sambil tertawa karena merasa sahabatnya tengah bergurau. “Katamu kita baru saja ketemu?” tanya gadis yang kesulitan tidur itu berusaha meluruskan pemahamannya dari informasi sebelumnya.
  • 36.
    Analekta Kisah Semesta| 36 PROPERTI OF P “Iya kita ketemu di video call kan? Gitu saja kamu sudah lupa Ca ... Ca ... Kebanyakan kerjaan kamu tuh. Istirahat. Liburan sejenak, kamu juga harus pikirkan dirimu sekali-kali,” ucap sahabatnya yang jago masak itu menebak dengan banyak benarnya. Dan ia mengakhiri teleponnya. Ia mencoba mencari tahu informasi perihal kejadian yang ia alami di internet. Beberapa orang pernah mengalami hal serupa dan penyebab utamanya adalah pikiran yang berlebih. Stres. Itu pula yang tengah dialami gadis yang mampu mengerjakan banyak hal sekaligus. Beban hidup yang berat, ditambah waktu istirahat yang kurang, membawanya dengan mudah lelah dan merasa cemas karena tekanan hidup yang tiada henti menimpanya. *** Ia memutuskan pergi ke dokter spesial kesehatan jiwa dan dokter membekalinya setumpuk lembaran untuk diisi terlebih dahulu. Gadis pemikir itu menuruti dan membawa lembaran tersebut untuk ia isi di kos dan akan ia bawa pada jadwal konsultasi berikutnya. Seminggu kemudian, gadis yang sering memakai high heels itu kembali berkonsultasi dengan dokter. Ia menyerahkan setumpuk lembaran tersebut kepada sang dokter, dan dokter menggali informasi dari pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat dan tepat. “Apakah Ibu mengalami sulit tidur?” tanya dokter tersebut kepada Cahaya.
  • 37.
    37 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Iya Dok, sebelumnya bahkan saya harus mengonsumsi obat tidur agar bisa terlelap. Dokter di tempat sebelumnya memberikan obat tersebut agar saya lebih pulas dan bisa fokus dalam bekerja,” jawab gadis yang memakai blazer putih itu apa adanya. “Ok, baik. Saya akan mempelajari dahulu lembar yang sudah Ibu isi. Dan untuk obat tidurnya saya anjurkan untuk tidak dikonsumsi lagi. Coba tenangkan diri dengan mematikan lampu saat tidur, mengurangi sinar lampu di ruang tidur. Jauhkan diri dari ponsel dan tarik napas dalam-dalam kemudian embuskan, lakukan paling tidak sebanyak 3x dan berdoa. Bisa juga dibantu dengan minum susu hangat atau teh bunga hangat sebelum tidur. Itu akan membantu Ibu agar lebih rileks dan mudah tidur. Usahakan tidur di bawah jam 10 malam. Dan jangan lupa berdoa sebelum tidur agar terhindar dari mimpi-mimpi yang tidak diinginkan,” jelas dokter dengan rinci. Ia mengiyakan dan meninggalkan ruang kerja praktik dokter tersebut. *** Malam hari, ia sudah bersiap untuk tidur dari jam setengah 10 malam. Sebelum kejadian itu terjadi, ia selalu tertidur di atas jam 1 dini hari. Gadis penyuka musik jazz itu melakukan streaching ringan dan menyeduh chamomile tea yang ia beli lepas dari dokter tadi. Dan kualitas tidurnya membaik. Meski ia masih sesekali bermimpi tentang kampung halamannya. Namun kali ini ia bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata.
  • 38.
    Analekta Kisah Semesta| 38 PROPERTI OF P Dokter melalui perawat menghubunginya untuk bisa hadir dalam agenda konsultasi besok. Dan besok adalah hari Sabtu di mana kantornya libur. Ia bergegas menuju RS, tempat praktik dokter tersebut. *** “Baik Ibu, hasil dari lembar uji yang sudah Ibu isi memang menunjukkan bahwa Ibu sedang berada dalam tekanan dan beban pikiran yang belum coba Ibu selesaikan. Gejala seperti itu dalam dunia kesehatan mental disebut Sleeping Disorder. Di mana seseorang bisa mengalami kesulitan tidur atau bahkan selalu ingin tidur ketika suasana hati sedang tidak baik. Dan seringkali hal ini membuat orang tersebut kesulitan membedakan mana alam bawah sadar dengan dunia nyata,” jelas dokter langsung pada pokok permasalahannya. “Berbahayakah dok?” tanya gadis yang hari itu berpakai casual sedikit khawatir. “Berbahaya bila berlanjut karena pembiaran dan tidak disadari sedari awal. Pilihan Ibu sudah tepat untuk berkonsultasi pada orang yang bisa Ibu percaya untuk membantu Ibu. Namun saya melihat ini masih ringan sehingga saya harap bisa sembuh setelah kedatangan Ibu hari ini,” jelas dokter mencoba menenangkan kepanikan gadis yang memakai sneaker biru muda tersebut. “Baik Dokter. Terima kasih,” jawabnya sambil menghela napas dalam-dalam sedikit tenang.
  • 39.
    39 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF *** Ia akan selalu mengingat pesan dokter. Intinya, ia harus lebih banyak bersyukur dengan nikmat yang telah Tuhan berikan untuknya. Bila sulit tidur, maka konsumsi obat tidur adalah pilihan terakhir. Itupun harus selalu dengan panduan dokter. Sebaiknya gunakan bahan natural seperti susu hangat atau teh bunga untuk optimalisasi memperoleh kualitas tidur yang baik. Gadis yang sudah rindu dengan kota kelahirannya itu lantas menghubungi keluarganya dan memutuskan untuk mengambil cuti panjang serta menggunakan bonus dari kantor untuk biaya akomodasinya pulang kampung ke Bukittinggi. Di sana ia berjumpa dengan keluarga dan sahabatnya Inda. Mereka berkeliling dan menikmati kuliner yang sudah sangat ia rindukan. Meski banyak yang menjual masakan serupa, namun akan berbeda cerita bila menyantapnya langsung dari tempat asal. Sawah hijau dan pegunungan serta udara yang masih segar, membantu penyembuhannya lebih cepat. Sepulang dari pulang kampung, gadis periang itu semakin ceria karena tiada lagi beban. Meski masalah terus saja datang. Ia berhasil menikmati hidup. “Menikmati tidak harus enak kan? Obat pahit mungkin tidak enak, namun kita harus bisa meminumnya agar sembuh.” ucapnya yang telah memahami makna menikmati hidup.
  • 40.
    Analekta Kisah Semesta| 40 PROPERTI OF P Enam bulan kemudian, ia mendapat promosi jabatan karena kinerjanya yang semakin berprestasi. Meski disayang atasan, ia juga sering menolong rekan kerja. Itu yang membuat gadis dengan loyalitas tinggi tersebut layak menjadi yang terbaik. “Terima kasih Tuhan, Terima kasih,” ujar Cahaya sambil memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya ke atas dan tersenyum, dengan selembar kertas yang ia peluk erat-erat. *** Tentang Penulis Thiari Kinasih adalah nama penanya. Pemilik zodiak libra dan suka dengan warna biru tua ini menghabiskan waktu dengan bekerja dan berkarya. Selain menulis, ia memiliki hobi olahraga, travelling dan crafting. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun media sosial Instagram @thiari­_kinasih.
  • 41.
    41 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF BERAWAL DARI LUKA Oleh: Mega L Pagi itu aku baru terbangun dari tidur, kepala terasa berat namun aku harus bangun lebih awal karena banyak tugas yang harus dikerjakan. Aku berjalan menuju dapur, menyeduh segelas kopi hangat, lalu berjalan menuju ruang tengah mengambil remote dan menyalakan TV, berjalan mundur lalu duduk di sofa dengan sedikit bersantai mencoba menenangkan pikiran sebelum berangkat kerja. “Uuuhhh … pagi yang indah,” kataku sambil menghirup udara pagi yang segar
  • 42.
    Analekta Kisah Semesta| 42 PROPERTI OF P Tik … tik … tik … Jam dinding terus berdetak berpindah arah setiap detiknya. Aku menatap jam sembari menghitung waktu. Tersisa satu jam sebelum berangkat kerja. “Hm waktunya masih sedikit panjang, cukuplah buat rehat sedikit lagi.” gumamku Segelas kopi hangat masih ada dalam genggamanku. Aku terdiam dengan wajah tersenyum, menutup mata dan menyandarkan tubuh pada sandaran sofa, mencoba meresapi cahaya mentari pagi yang terpancar menembus kaca jendela, mendamaikan diri dengan keadaan. Tiga puluh menit telah berlalu, saatnya untuk bersiap dan bergegas ke kantor. Aku berjalan melewati gedung-gedung yang amat tinggi. Berjalan di antara kerumunan para pekerja kantoran yang bergerak menuju lokasi kerjanya. Saat masuk ruangan kerja semua tampak sibuk di meja kerjanya. Aku berjalan menuju meja kerjaku. Di atas meja sudah banyak tumpukan dokumen yang menunggu diselesaikan. “Huuffthhh… sepertinya hari ini aku bakal lembur.” Aku menghela napas pasrah dengan sedikit senyuman. Aku mengawalinya dengan menyalakan komputer dan mulai mengecek dokumen satu per satu. Inilah
  • 43.
    43 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF hidupku yang begitu sederhana dan selalu mencoba untuk menikmatinya. Mentari mulai terbenam para pekerja satu persatu mulai meninggalkan meja kerjanya untuk kembali pulang, namun diriku masih bergelut dengan beberapa dokumen dan komputer. Saat aku sedang sibuk dengan semua itu. Tiba-tiba sekotak bekal terletak di atas mejaku. Aku dengan penasaran menatap kotak bekal itu dan melihat siapa yang membawanya. “Aku dengar kamu lembur hari ini, jadi aku bawakan bekal untukmu,” kata seorang gadis yang berdiri di depanku dengan senyuman indahnya “Kapan kamu datang?” ucapku kaget “Nggak usah dibahas, kamu pasti belum makan, ayo makan dulu aku bawakan makanan kesukaanmu,” kata gadis itu sembari membuka bekal makanan itu “Oh yah, nampaknya lemburku kali ini tak akan jadi masalah jika sampai pagi, aku akan jadi kuat karena makanan yang kau bawakan, hehehe...,” candaku padanya Dia adalah Aleta gadis manis yang begitu akrab denganku, kita sudah saling kenal sejak aku masuk di kantor ini. Dia adalah anak direktur perusahaan ini. Ia begitu baik dan ramah terhadapku. Aku senang karena tak ada yang memperhatikanku di kantor melebihi dia.
  • 44.
    Analekta Kisah Semesta| 44 PROPERTI OF P “Oh ya, besok pamanku akan datang ke rumah untuk berkunjung, dia satu-satunya keluargaku yang tertinggal, kamu mau ikut berkunjung ke rumahku?” ajakku pada Aleta “Baiklah,” jawab Aleta tersenyum Malam berlalu begitu cepat. Matahari mulai terbit. Ting… Tong …. Bel rumahku berbunyi. “Siapa?” tanyaku, yang baru saja beranjak dari kasur sambil mengucek mata, aku berjalan menuju pintu masuk untuk membuka pintu. “Eh, Paman.” Seketika mataku menjadi plong melihat kedatangan paman. “Bagaimana kabarmu Nak?” tanya paman padaku, yang berjalan masuk ke ruang tengah “Baik, Paman.” “Oh ya, Paman ke sini karena ada tugas dinas untuk beberapa hari, jadi boleh yah Paman nginap di rumah kamu, nggak apa-apakan?” Paman melihatku dengan penuh harap. “Yah, nggak apalah Paman, Paman mau nginap setahun juga nggak ada masalah, hehehe,” candaku pada paman.
  • 45.
    45 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tik … Tik … Tik. Terdengar seseorang tengah memasukkan sandi untuk masuk ke dalam rumahku. Aku dan paman menatap lorong pintu masuk, dengan penuh tanya entah siapa yang masuk. “Kejutan … aku membawa makanan yang banyak untuk kalian,” ujar Aleta dengan wajah ceria sembari mengangkat rantang yang ia bawa. “Itu siapa?” paman menoleh kepadaku dan menunjuk Aleta “Oh, ini Aleta teman kantorku Paman,” jawabku yang berjalan menghampiri Aleta. “Wah, padahal aku baru mau masak loh, tapi kamu sudah bawa makanan aja.” Aku dengan wajah riang “Nggak usah masak, mending kita makan sekarang, Pamanmu pasti lapar habis perjalanan jauh.” “Siap, ayo Paman ke sinilah Paman kita makan bersama,” ajakku pada paman. Suasana di ruang makan begitu ramai tak biasanya karena sosok kehadiran Aleta dan paman yang telah aku anggap sebagai seorang ayah setelah kepergian ayah. Beberapa hari telah berlalu begitu cepat. Ini adalah hari di mana paman telah selesai dalam tugas dinasnya dan akan kembali ke kampung halaman. Hari ini aku akan
  • 46.
    Analekta Kisah Semesta| 46 PROPERTI OF P menyelesaikan laporan secepatnya agar aku bisa mampir ke toko untuk memberi sedikit bingkisan untuk dibawa paman pulang ke kampung. Aku bahagia bisa memberikan bingkisan kepada paman. Aku bergegas ke rumah dengan wajah yang riang, aku merasa sosok ayah yang sudah lama pergi kini telah kembali merangkul dalam sebuah kedamaian. “Paman aku pulang,” kataku dengan wajah yang ceria, masuk ke dalam rumah dan melepas sepatuku depan rak sepatuku. Aku berjalan menuju ruang tengah. Seketika aku terhenti, terdiam dengan mata yang melotot, seketika bingkisan yang ada dalam genggamanku terjatuh, raut wajahku seketika berubah. “Paman!” teriakku Tanpa berpikir panjang aku berlari menuju pamanku, entah apa yang telah terjadi. Kini kudapati paman tergeletak di lantai dengan berlumurkan darah. Ruang tengah begitu berantakan, keramik pecah tergeletak tak beraturan di lantai. Aku hanya bisa menangis dan berteriak. “Kenapa kau pergi juga meninggalkan aku Paman!” jeritku dengan cucuran air mata yang tak lagi bisa terbendung. Baru lagi aku merasakan sosok kehadiran ayah, sekarang ia telah pergi meninggalkanku. Hatiku hancur
  • 47.
    47 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF sehancurnya. Aku tak habis pikir entah siapa yang melakukan hal keji ini pada paman. Tragedi meninggalnya paman sama seperti kepergian ayah di masa itu. Kini aku benar hidup seorang diri. Aku bertekad akan menemukan pelaku dari kematian paman dan ayah. Kini aku dipindahkan kerja di bidang informasi di sebuah pusat penyiaran terbesar di negara ini. Ini menguntungkan bagiku agar mampu belajar mengolah dan mendeteksi beberapa informasi agar aku mampu menemukan pelaku pembunuhan keluargaku. Tak terasa sudah sepekan aku mengarungi pekerjaannya ini, itu berarti sudah sepekan setelah kematian paman. Pagi ini ruang kerja dihebohkan oleh tewasnya masyarakat setempat dengan tubuh yang telah dimutilasi beberapa anggota bagian tubuhnya dipenuhi dengan memar dan beberapa luka tusukan pada perut korban. Ia harus bersiap untuk menyiarkannya segera. Para polisi pun tengah berusaha mencari pelaku pembunuhan itu. Aku tetap fokus pada kerjaan meski ruangan tengah begitu ramai. Malam itu aku pulang, berjalan dan merogoh kantong untuk mendapatkan kunci rumahku. Di depan rumah Aleta sudah terlihat berdiri depan pintu. “Kamu ngapain di sini?” tanyaku padanya “Akumenunggumupulang”jawabAletatersenyum padaku
  • 48.
    Analekta Kisah Semesta| 48 PROPERTI OF P Saat hendak membuka pintu aku melihat tetanggaku Nek Mila menatap kepada kami dengan tatapan yang kaget, seolah-olah kami ini orang yang menakutkan. Aku hendak menghampirinya namun karena ada Aleta maka kuurungkan niat itu. Keesokan paginya, aku bersiap lebih awal. Aku masih penasaran dengan tatapan Nek Mila semalam. Aku menghapiri rumahnya dan menanyakan soal itu. “Nak, gadis itu tidak baik untukmu, dia orang yang telah membunuh pamanmu, percayalah Nak,” ujar Nek Mila menangis. Aku sontak kaget mendengar hal itu. Tanganku bergetar seolah tak percaya. Aku memang menginginkan kebenaran namun mengapa kebenaran itu tampak menyakitkan dari yang kubayangkan. Bagaimana bisa teman yang kuanggap seperti saudara adalah orang yang membunuh paman. Tak disangka dia yang kuanggap baik ternyata dalang dari kematian paman. Aku bergegas menghampiri Aleta menariknya ke sudut kantor. Dengan mata merah penuh amarah, aku mempertanyakan segalanya pada Aleta. “A... aku minta maaf, aku tak sengaja.” Aleta menatapku menangis Namun, aku tak lagi peduli padanya. Di hari itu juga aku mengundurkan diri dari pekerjaanku, dan berencana meninggalkan kota itu. Aku mengendarai kendaraanku
  • 49.
    49 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF begitu laju, aku begitu kesal sampai tak memedulikan apa pun yang melintas. Duubbbrrraaaak…. Kecelakaan lalu lintas terjadi. Aku melihat diriku telah tergeletak dengan berlumuran darah. Apakah aku akan bertemu dengan pamanku? Inikah akhir hidupku? Mataku perlahan terpejam dan aku telah tak sadarkan diri. Tik … Tik … Tik… Suara detak jantung pada sebuah komputer di ruangan rumah sakit. Aku tampak tergeletak tak berdaya di sebuah kasur mini ala rumah sakit. Mataku perlahan terbuka, dengan bantuan alat pernapasan di hidung dan jarum infus yang melekat pada tangan. Aku menatap ke langit-langit dengan wajah yang polos dan lugu. Terlihat sosok pria berpakaian putih menghampiri. “Syukurlah Anda telah sadar, baik kami akan memeriksa keadaan Anda sekarang,” kata dokter. Aku hanya terdiam dan masih bingung dengan keadaan ini. Di mana aku, kenapa aku di sini, apa yang terjadi padaku pertanyaan yang terlontar dalam pikiranku. “Bapak tahu di mana alamat Bapak?” tanya dokter padaku.
  • 50.
    Analekta Kisah Semesta| 50 PROPERTI OF P Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan lugu. “Baiklah, Anda istirahat dulu saya akan kembali nanti.” Dokter itu meninggalkan ruangan. Di balik pintu terlihat dokter itu tengah bicara dengan seorang lelaki paruh baya. Orang tua itu sesekali menatap kearahku. Aku hanya menatapnya dalam kondisi lemah. Keesokan harinya beberapa alat yang dipasangkan di tubuhku telah dilepaskan. “Dari gejala yang Anda tunjukkan kemarin, Anda mengalami amnesia dan syukurlah itu tidak tampak parah, jadi Anda bisa pulang hari ini, jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu dulu karena itu berdampak pada kepala anda,” kata dokter itu. Aku hanya terdiam dan menatap lelaki yang ada di samping dokter itu. “Ini kakek yang menolong Anda saat kecelakaan.” Dokter meraih tangan bapak itu dan mengenalkannya padaku. “Nak, karena ingatanmu belum pulih maka kamu boleh tinggal di rumah bapak untuk sementara waktu, karena kami juga belum tahu alamatmu,” ujar kakek itu padaku. Aku hanya menggangguk tanda menyetujui, lagi pula aku tak tahu harus ke mana, semua yang kulihat tampak asing.
  • 51.
    51 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Sesampai di rumahnya aku ditunjukkan kamarku padanya. “Istirahatlah Nak,” katanya padaku. Aku tak mengenalnya, aku orang asing baginya namun ia begitu kepadaku. Aku berjalan menuju kasur dan merebahkan diri padanya. Keesokan paginya aku keluar rumah hendak berjalan ke taman, kulihat kakek sedang memetik sayuran di kebun pribadinya di samping rumah. Saat ingin menuju padanya aku terhenti sebab melihat semut tengah melintasi sendalku, aku tak ingin menyakitinya sehingga kubiarkan ia melintasinya dan memakai sendalku setelah itu. “Apa yang Kakek petik?” sapaku. “Kakek sedang memetik buah tomat, untuk sarapan nanti.” “Baiklah Kek.” Kami berjalan masuk dengan keranjang yang terisi buah tomat. Aku tinggal bersama kakek sudah hampir beranjak seumuran jagung. Aku menjalani hidup dengan kakek begitu damai dan tentram. Meski perasaan sedih kadang datang karena aku tak mampu mengingat diriku. “Permisi.” Suara yang terdengar dari luar rumah. Kakek bergegas membuka pintu. “Iya, ada apa?” tanya kakek.
  • 52.
    Analekta Kisah Semesta| 52 PROPERTI OF P “Kami ke sini atas surat perintah penangkapan, kami tengah mencari sosok ini,” kata salah satu polisi sambil menunjukkan surat perintah dan sebuah foto yang persis denganku. Kakek terkejut dan menatapku yang tengah di dalam rumah. Polisi itu masuk dan memasangkan borgol di tanganku. “Ada apa ini Pak?” tanyaku kaget. “Anda ditangkap atas tuduhan pembunuhan.” Aku tidak tahu apa yang terjadi pada hidupku sebelumnya. Apakah aku orang yang seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri. Aku ditahan selama beberapa hari untuk sidangku. Dalam sel tahanan seketika dalam pikiranku terlintas bercak darah, namun aku tidak mengerti apa maksud dari itu. Di ruang persidangan ini, aku pesakitan dengan berbagai tuduhan yang kejam yang jaksa tuntutkan. Aku yang menyiangi ikan mati saja tidak berani didakwa melakukan pembunuhan dengan korban mutilasi? Bagaimana bisa? Aku sempat memberontak karena aku merasa tak pernah melakukan itu. Namun, bukti yang ditunjukkan membuat diriku bungkam dalam sakit. Semua bukti sangat jelas mengarah padaku. Dan saat itulah aku di vonis penjara seumur hidup. Saat keluar dari persidangan aku melihat sebuah telivisi yang menayangkan berita. Kepalaku tampak sakit
  • 53.
    53 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF sebuah bayangan tampak terlintas di kepalaku. Polisi mengabaikan dan menyeretku masuk ke dalam sel. Saat aku masuk sel, aku tak sengaja terbentur. Kepalaku terasa sakit dan aku perlahan mengingat hidupku yang dulu. Ternyata aku pernah membunuh seorang pejalan kaki hanya karena aku kesal dan sedih saat kepergian pamanku, kekecewaan aku lampiaskan pada orang yang kujumpai di jalan pada malam itu. Aku memukulnya dan menusuknya dan membagi beberapa bagian tubuhnya. Aku mengingat hari di mana aku kecelakaan, hari di mana aku begitu terpukul mendengar bahwa teman baikku yang telah membunuh paman karena paman telah mengetahui kepribadian Aleta, sehingga Aleta kesal saat tahu paman ingin memberitahukan itu padaku. Saat itu juga amarahku berujung pada kematian Aleta yang kupisahkan tangannya dan kulemparkan ke dasar jurang yang jauh dari pemukiman. Darah yang ada pada tubuhku saat kecelakaan bukanlah sepenuhnya darahku namun sebagian darinya adalah darah dari Aleta. Lukaku telah melayangkan nyawa seseorang. Amarahku membuatku seperti psiko yang tak terkendali. Sedih, kecewa, dan rasa sakit yang kualami membuat diriku bertindak jahat dan semena-mena. Aku menangisi perbuatan itu. Semua berawal dari luka dan lukaku telah bertindak sejauh ini.
  • 54.
    Analekta Kisah Semesta| 54 PROPERTI OF P MISTERI BAJU WARNA MERAH Oleh: Noviendra “Bagaimana, apa kalian setuju?” tanya Arya pada kami. “Kamu yakin kita akan ke tempat itu lagi, setelah peristiwa KKN kemarin, salah satu anak Fakultas MIPA kesurupan?” tanya Bimo balik. “Kalo masalah itu, karena si Mela aja yang suka bengong, makanya jadi mudah kerasukan hal-hal aneh.” Arya mencoba meyakinkan.
  • 55.
    55 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Jadi kita akan berapa lama berkemah di sana?” tanyaku. “Lima hari, bagaimana?” Arya menawarkan pada kami. “Okelah kalau begitu.” Bimo menyetujui, sedangkan yang lain mengangguk tanda setuju. Aku sebenarnya tidak ingin ikut. Ingin istirahat saja, karena setelah kegiatan KKN di Kabupaten Nganjuk beberapa waktu lalu, aku masih merasa lelah. “Bel, kamu kenapa, kamu nggak papa, kan?” “Eh, oh nggak papa, kok,” jawabku seraya menutupi kegundahanku. Aku Bella mahasiswa akhir Universitas Bimantara jurusan sastra. Aku, Vika, Arya, Bimo, Bagas, dan Wawan bersahabat, kami satu Tim Mapala di kampusku. Mendaki adalah hobiku yang kulakukan bersama mereka, tapi entah kenapa aku tidak terlalu bergairah atas kegiatan yang diusulkan Bimo kali ini. Hujan deras mengguyur kota ini semalamam. Jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas. Namun, rasa kantuk masih belum menyerangku. Aku masih saja berkutat dengan tulisan novel perdanaku yang sempat tersendat karena banyaknya kegiatan kampus akhir- akhir ini. Sesaat setelah menyeruput kopi, aku teringat akan rencana berkemah di Desa Kebonagung Kabupaten Nganjuk, tepatnya di Goa Ndalem.
  • 56.
    Analekta Kisah Semesta| 56 PROPERTI OF P “Ah, anak-anak tuh gak ada capek-capeknya, sih, istirahat kenapa, nggak usah deh berkemah dulu,” protesku. Memang akhir-akhir ini kegiatan berkemah jarang kita lakukan mengingat banyaknya kegiatan kampus. Akhirnya aku memutuskan untuk segera tidur, karena harus menyiapkan energiku untuk berkemah dua hari lagi. Kumatikan laptopku. Baru saja aku merebahkan tubuh di tempat tidurku, tiba- tiba terdengar suara benda jatuh. “Astaghfirullah al-‘azim.” Aku terkejut, lalu pelan-pelan menuju ke sumber suara itu, yaitu arah jendelaku. Aku membuka gorden jendela kamarku. Ah, ternyata aku lupa tidak menutup jendela kamar, dan di luar angin kencang. Aku segera menutupnya. Lalu kembali ke tempat tidurku. *** Hujan semalam masih menyisakan rintik hingga pukullimapagiini.Mamamengetukpintukkamarku. “Bell ... Bella, bangun sayang.” Suara mama membangunkanku. “Iya, Ma.” Aku menggeliat. “Ayo, bangun shalat Subuh,” perintah Mama setelah masuk ke dalam kamar. “Oh, Bella sedang datang bulan, Ma.”
  • 57.
    57 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Oh, begitu. Oh, iya apa kamu sudah menyiapkan bekal kampingmu? Mama juga sudah masak makanan kering buat bekal kampingmu besok.” “Iya, Ma, bentar Bella siap-siap.” “Ya udah, sana mandi,” perintah Mama. “Iya, Ma,” jawabku sambil berjalan malas ke arah kamar mandi. Aku mengoles sepotong roti dengan selai stroberi kesukaanku dan berkata, “Ma, aku tuh sebenernya malas pergi kamping.” Aku menumpahkan kegundahanku pada Mama. “Emang kenapa?” tanya Mama. “Entahlah, Ma. Bella kali ini ingin istirahat.” “Ya udah, bilang saja sama teman-teman kamu.” *** “Iya, Bell, ada apa?” Suara Vika di ujung telepon. “Kamu udah siap-siap, belum? Duh banyak juga ya yang harus dibawa,” kata Vika nyerocos. “Bel kok diam aja, sih.” “Eh, udah sih, em ... Vik, aku kayaknya nggak jadu ikut pergi kamping, deh,” ucapku. “Loh kenapa?” tanya Vika penasaran.
  • 58.
    Analekta Kisah Semesta| 58 PROPERTI OF P “Aku hanya ingin istirahat,” jawabku. “Ayolah, Bell, ikut aja ya, kita, kan lama nggak pernah kamping,” rajuk Vika. “Ah, aku tahu kamu nggak suka lokasinya, ya?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaan Vika. “Ayolah Vik ikut aja, ya, toh juga nggak lama kok, demi aku,” pintanya. “Em ... iya deh, demi kamu.” “Nah, gitu dong.” Vika terdengar antusias. “Eh, nanti ke rumahku, ya, bantuin aku packing.” “Siaplah,” jawab Vika Beberapa jam kemudian Vika datang ke rumahku. Aku sering sekali meminta bantuan Vika mengemasi barang-barang setiap pergi kamping. Alasannya karena Vika sangat detail dan rapi. Dia pintar mengemas barang- barang, dari dua tas bisa menjadi satu. Maka dari itu aku sangat mengandalkan Vika. *** Tibalah pada hari keberangkatan. Kami melakukan perjalanan pertama melalui udara, dari Jakarta ke Malang. Kemudian singgah di hotel semalam. Setelah melepas penat, aku dan yang lain melanjutkan perjalanan darat menuju kota Nganjuk kurang lebih tiga
  • 59.
    59 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF jam perjalanan. Kami beristirahat sebentar, makan di rumah makan yang menyediakan menu rawon, makanan khas Jawa Timur yang jarang kami temui di Jakarta. Lalu menuju Desa Sawahan yang terletak lima belas kilo meter dari selatan Kota Nganjuk. Sesampainya di sana, kami mampir sebentar di rumah kepala desa untuk meminta izin. Kami juga memperkenalkan diri dan mencari informasi tentang Goa Ndalem. “Oh, jadi Mas-Mas sama Mbak-Mbak ini dari Jakarta, ya?” tanya Bapak kepala desa. “Inggih, Pak?” jawab Bimo dengan logat Jawa. “Oh, Masnya bisa bahasa Jawa juga, ya?” tanya Pak kepala desa dengan raut senang mendengar jawaban Bimo menggunakan Bahasa Jawa. “Iya, Pak, saya lahir di Yogya,” jawab Bimo sambil tersenyum. “Oh, makanya bisa bahasa Jawa.” Sambil mengobrol santai, Pak Kepala Desa menceritakan sedikit tentang Goa Ndalem. Bahwa sampai sekarang bukit Goa Ndalem masih dikeramatkan dan dianggap sebagai tempat suci oleh masyarakat setempat. Setidaknya terdapat empat goa di sekitar kawasan bukit itu. Goa Macan, yang menurut cerita turun-temurun memiliki panjang terowongan yang mampu tembus sampai wilayah Kediri. Lalu ada Goa Topo, yang digunakan sebagai pertapaan. Goa Payung
  • 60.
    Analekta Kisah Semesta| 60 PROPERTI OF P yang bentuknya serupa dengan paying. Terakhir, Goa Kucur yang konon pada masa lampau digunakan Raden Ayu Kaji Siti Kalimah dan para cantreknya sebagai tempat wudu. Begitu sekilas yang diceritakan oleh Pak Kepala Desa. “Pesan saya, hati-hati, ya, jangan melakukan hal- hal yang dilarang, nanti di sana akan berjumpa juru kunci namanya Mbah Ngadiro,” pesan Pak kades pada kami. *** Sesampainya di lokasi, benar saja kami bertemu dengan Mbah Ngadiro. Mbah Ngadiro menunjukkan tempat paling nyaman untuk mendirikan tenda. Namun, tempat itu banyak sekali ditumbuhi rerumputan liar. Aku melihat ada bekas perapian yang sepertinya sudah lama. Mbah Ngadiro membantu kami membersihkan rerumputan liar. Setelah rerumputan bersih, beberapa anak laki-laki segera mendirikan tenda karena hari sudah mulai gelap. Aku dan Vika duduk di atas tikar sambil menunggu. Arya mencari ranting-ranting untuk perapian, sebenarnya kita sudah membeli kayu bakar di desa, ranting-ranting untuk persediaan perapian. Setelah tenda berdiri, aku dan Vika mamasukkan barang-barang di tenda. Demikian juga dengan anak laki-laki. Saat aku melongok ke luar tenda untuk melihat suasana, kulihat Arya berdiri membelakangi tenda Bagas dan Wawan. Lalu aku keluar tenda untuk menyusulnya, saat aku mau melangkah dia sudah tidak ada.
  • 61.
    61 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Wan, mana korek apinya.” SuaraArya terdengar. Kulihat ia keluar dari tendanya. Hah kenapa Arya secepat itu berpindah dari belakang tenda ke tendanya, ya. Batinku. “Bell, ngapain kamu bengong?” Vika menepuk pundakku dari belakang. “Eh kamu ngagetin aja,” jawabku yang masih bertanya-tanya. “Yuk, Bell kita buat makan malam,” ajak Vika. Aku mengikuti dia dari belakang, lalu kita memasak mie mnstan. Setelah makan malam tiba-tiba Vika ingin buang air kecil. “Bell antar aku, yuk, udah nggak tahan nih, mau pipis,” ucap Vika sambil meringis. “Yuk,” jawabku. “Aku antar, deh.” Arya menawarkan diri untuk mengantar kami. “Nggak usah,” jawab Vika seraya bergegas mendahuluiku. Tak jauh dari tenda memang ada kamar mandi yang cukup bersih. “Duh, cepat sekali si Vika jalan,” runtukku. “Mana dia ....”
  • 62.
    Analekta Kisah Semesta| 62 PROPERTI OF P Aku kehilangan jejaknya. Dari tempatku berdiri, kulihat kamar mandi di sana, aku pun menuju ke tempat tersebut. Setelah aku dekati ternyata itu bukan kamar mandi yamg kami tuju sebelumnya, tapi sebuah rumah dengan pelataran cukup luas dan banyak ditumbuhi tanaman. Rumah khas Jawa dengan style pintu yang lebar. Perasaan takut mulai menjalar, aku memasuki pelataran rumah itu, berharap aku menemukan Vika di sana. “Warsih akhirnya kamu pulang.” Seorang laki- laki tiba muncul di sampingku. “Hah? Aku bukan Warsih,” jawabku yang masih terkejut Aku membalikkan badan, tapi kakiku serasa susah bergerak. Aku bergeming. Laki-laki itu mendekatiku, lalu menggandeng tanganku menuntun masuk ke dalam rumah khas Jawa itu. “Warsih kamu ke mana saja? Kamu cantik sekali. Aku selalu menunggu kedatanganmu,” ucapnya sembari menuntunku duduk di kursi jati kuno. Aku masih terbengong-bengong. Laki-laki itu membuka tudung saji meja makan. Harum aroma pepes di atas meja menusuk hidungku dan satu lagi menu tumis daun singkong dan teri. Makanan itu membuat isi perutku memberontak, rasa lapar pun menghampiriku.
  • 63.
    63 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Warsih, kamu pasti sudah lapar. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, ini makanan kesukaanmu, Warsih,” kata laki-laki itu sembari memberikan sepiring nasi untukku. Namun, meskipun perut ini terasa lapar, aku tidak mau memakannya. Aku merasa ini aneh. Aku tidak tahu siapa dia.Aku ingin pergi dari rumah itu tapi kakiku benar- benar terasa berat. Tiba-tiba dia menyodorkan suapan nasi ke mulutku. Aku hanya menggeleng, dan dia memaksa. Aku pun meronta, seketika aku bisa membuka suara. Aku berteriak sekuat tenaga. *** “Bella, Bella, bangun, akhirnya kami menemukanmu.” Seseorang mengguncangkan tubuhku. Bella, Bella siapa pikirku. “Bella, kamu nggak papa.” Seorang pemuda menanyakan keadaanku. Aku berada di sebuah tenda, aku tidak mengenal orang-orang yang mengelilingiku. Lalu aku mendengar seseorang mengatakan sebaiknya aku di bawa ke rumah Pak Kades. “Mas Arya, sepertinya Mbak Bella mengalami sesuatu yang tak kasat mata.” Sosok sepuh memberi saran. “Nanti di sana kita bakal tahu apa yang terjadi sama Mbak Bella, biar Pak Kades nanti yang menanganinya,” jelasnya lagi.
  • 64.
    Analekta Kisah Semesta| 64 PROPERTI OF P “Iya, Mbah, bagaimana baiknya,” kata salah satu laki-laki pasrah. Sesampainya di rumah Pak Kades, aku masih bengong dan benar-benar tidak ingat apa-apa. Sore itu aku berada di sebuah gubuk tua dengan pakaian serba merah menyala. Setelah mendengar cerita dari orang-orang yang membawaku, konon memakai baju merah sangat dilarang di tempat itu. tapi entahlah aku sangat menyukai pakaian yang aku kenakan ini, dress lengan panjang berwarna merah menyala. “Bella, Bella, kamu masih ingat aku, kan?” tanya seorang perempuan di hadapanku. “Aku Vika, Bell, itu Wawan, Bimo, Bagas dan Arya. Apa kamu masih tidak ingat juga?” Aku hanya menggelengkan kepala. “Kami mencarimu seharian, lalu kami menemukanmu tergeletak di depan gubuk tua.” Perempuan itu menjelaskan kronologinya. “Bell aku ganti bajumu, ya. Baju yang kamu pakai ini sangat lusuh, dan aku tidak ingat kamu membawa dress ini, padahal seingatku kamu memakai jaket merah,” kata perempuan itu. Aku menggeleng tanda aku tak mau ganti baju. “Mbak Bella masih belum ingat, Mbak?” kata laki-laki yang mereka sebut Pak Kades. Pak bagaimana bisa ada kejadian seperti ini?” tanya laki-laki bernama Arya kepada Pak Kades.
  • 65.
    65 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Sebenarnya Mbak Bella mendatangi gubuk tua yang dilihatnya sebuah rumah Jawa. Rumah itu milik seorang laki-laki bernama Lenggono. Suami dari Warsih yang bunuh diri setelah istrinya diperkosa oleh orang Belanda. Dengan setia Lengono menunggu kedatangan istrinya selama bertahun-tahun, pada akhirnya dia pun bunuh diri setelah mendengar kematian Warsih yang lama baru diketahuinya.” Seksama mereka mendengarkan cerita Pak Kades. “Namun, beruntung Mbak Bella tidak masuk ke dunianya, ini mungkin karena Mbak Bella rajin ibadah dan puasa Senin Kamis, apa betul begitu?” tanya Pak Kades. “Iya, sih, Pak, Bella memang rajin ibadah dan puasa Senin Kamis,” jawab perempuan bernama Vika. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Entah apa yang sudah terjadi, saat membuka mata kudengar suara Vika. “Syukurlah kamu sudah siuman Bell, kamu ingat aku, kan?” tanya Vika penuh harap. “Vika ….” Aku langsung memeluknya. “Aku pusing banget, Vik.” Aku menangis. Entahlah aku merasa sangat lelah. “Kamu istirahat saja, besok kita kembali ke Jakarta.” Pak Kades dan Mbah Ngadiro membantu persiapan kami pulang ke Jakarta. Sebagian barang-barang dikirim. Entah dengan apa kita membalas kebaikan Pak
  • 66.
    Analekta Kisah Semesta| 66 PROPERTI OF P Kades dan Mbah Ngadiro, mereka sangat baik sekali. Setiba di Jakarta, Mama menjemput kami di bandara. Terlihat Mama sangat khawatir kepadaku. “Sayang, kamu pulang juga, kamu gak papa kan?” tanya Mama sambil memelukku. Ternyata Mama sudah mendengar semua dari Vika. “Kalian semua baik-baik saja, kan?” tanya Mama pada yang lain. “Kami semua baik, Tante,” jawab mereka kompak. “Syukurlah.” Mama menghela napas lega. Akhirnya aku bisa melepaskan penat di kamarku tercinta. Tempat paling nyaman untukku. Rupanya aku ketiduran, saat melihat jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Aku teringat novelku, tapi untuk menyelesaikan malam ini rasanya tak sanggup. Aku masih sangat lelah. Terdengar suara jendela kamarku tertiup angin. Jendelaku terbuka? Apa Mama tidak menutupnya? tanyaku pada diri sendiri. Aku memang tidak sempat mengeceknya sebelum tidur, karena tertutup dengan gorden. Lalu aku menuju jendela untuk segera menutupnya. Saat aku hendak menutup jendela yang menghadap jalan raya, kulihat sosok laki-laki berjalan ke arahku. Laki-laki itu terlihat tidak asing, tapi aku tidak mengingatnya. Dia terus menatapku. Aku segera menutup jendela.
  • 67.
    67 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Belum selesai rasa terkejutku, aku melihat dress berwarna merah di lemariku yang pintunya sedikit terbuka. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. *** Tentang Penulis Noviendra adalah nama pena dari Novie Indra Purwandari, lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 6 November. Bagi perempuan penyuka warna pink dan ungu ini, menulis adalah ungkapan rasa, karena karya yang dihasilkan membuatnya bahagia. Ia menulis apa pun yang membuatnya bahagia. Harapannya semoga bisa membawa kebahagiaan kepada siapa saja yang membaca tulisannya.
  • 68.
    Analekta Kisah Semesta| 68 PROPERTI OF P I AM BUCIN Oleh: Grahita Rizki Ardy tidak sabar menunggu waktu pulang kantor, setiap menit dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Ketika waktu menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB, dengan terburu-buru dia merapikan dokumen-dokumen yang berserakan di meja lalu dengan segera keluar ruangan menuju parkiran sepeda motor. “Mau ke mana bro, kok buru-buru banget?” tanya Satya, sahabat sekaligus rekan kerja Ardy di kantor. Mereka sudah berteman sejak masih kuliah, sampai sekarang menjadi sama-sama menjabat senior manajer di kantor mereka.
  • 69.
    69 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Biasalah pulang, udah kangen ketemu bini,” jawab Ardy sambil nyengir kuda. “Aduh yang bucin sama istri tercinta,” ledek Satya “Iya dong, harus itu. Sepuluh tahun diperjuangin, sekarang sudah dapet gak mungkinkan dicuekin, harus makin cintalah.” “Hehehe iya iya percaya. Langsung pulang apa mampir dulu?” “Mampir supermarket dulu, tadi bini gue nitip belanja sayur.” “Wah luar biasa lo bro, udah bucin masih mau- maunya disuruh belanja sayur.” Satya tertawa sambal menggelengkan kepalanya tidak percaya melihat perubahan sahabatnya sejak menikah. Dulu sebelum menikah, Ardy terkenal sebagai orang yang cuek. Wajah tampan, body bak peragawan, tapi senyumnya mahal. Banyak cewek-cewek yang terang- terangan ingin mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang dilirik oleh Ardy. Ternyata dia sudah memiliki kekasih sejak masa kuliah dan mereka pacaran jarak jauh sudah delapan tahun karena Ardy menempuh kuliah di Jogja, sementara kekasihnya berada di ibu kota. Waktu yang cukup lama untuk berpacaran apalagi dengan jarak yang memisahkan mereka. Sekarang setelah menikah sikap Ardy berubah
  • 70.
    Analekta Kisah Semesta| 70 PROPERTI OF P 180 derajat, dia lebih mudah senyum dan ramah. Tetapi tingkat kebucinannya pada sang istri luar biasa. “Ya kasian bini gue lah Sat, udah capek-capek beresin rumah, masak, kalau masih harus keluar belanja juga. Udah dulu ya bro, gue duluan,” pamit Ardy pada Satya dan bergegas mengambil sepeda motornya. “Yoi, ati-ati bro,” jawab Satya *** “Assalammualaikum, Dek,” salam Ardy saat masuk rumah sambil menenteng tas berisi sayur belanjaannya tadi. “Waalaikum salam Bang,” Ranti menyambut suaminya dan mencium tangan Ardy. “Capek ya Bang? Maaf ya udah ngerepotin belanja sayur.” “Gak repot Dek, cuma belanja sayur aja, kan sekalian lewat tadi dari kantor.” Ardy mengusap pelan puncak kepala Ranti dan mencium keningnya dengan mesra. “Panas ya Bang di jalan? Keringetnya sampai banyak banget gini. Baju Abang sampai basah keringat. Cepetan mandi deh Bang, biar gak masuk angin.” “Tiap hari juga gini Dek, biasa aja.” Ardy melangkah ke dapur dan mengambil air putih dingin di kulkas, langsung diminumnya untuk menghilangkan rasa
  • 71.
    71 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF haus. “Abang sih gak pernah mau bawa mobil. KanAdek jarang pergi, mobilnya jadi nganggur kan.” “Gak papa lah Dek. Mobil biar di rumah, jadi kalau Adek mau pergi-pergi gak kepanasan. Lagian kalau Abang ke kantor naik motor bisa lebih cepet, kalau naik mobil males macetnya.” Ardy memang sengaja memilih sepeda motor untuk aktivitas hariannya. Dia tidak tega kalau istrinya harus keluar rumah dengan motor dan kepanasan. “Lagian nanti kulit Adek terbakar matahari, sayang dong kulit halus mulus gini kalau banyak kena debu. Apalagi wajah cantik ini,” jawab Ardy lagi sambil mencubit gemas pipi dan hidung mungil Ranti. “Ih Abang genit, udah mandi sana, bau keringet.” “Bau tapi suka kan?” Ardy senang menggoda istrinya. “Iya iya, gak cuma suka tapi cinta,” kata Ranti dengan malu-malu “Idih istri Abang, masih malu-malu aja sama suaminya nih. Aku cium lho ya.” Ardy memajukan bibirnya hendak mencium Ranti. “Gak mau Abang bau.” Ranti berlari menghindar sambal tertawa.
  • 72.
    Analekta Kisah Semesta| 72 PROPERTI OF P Ardy tertawa gemas melihat tingkah istrinya. Sejak menikah Ardy selalu ingin cepat pulang dari kantor. Rasanya bahagia disambut senyum manis istrinya, rasa lelahnya setelah bekerja seharian langsung hilang . *** Selesai mandi Ardy dan Ranti menikmati makan malam sambal berbincang ringan, membicarakan apa saja yang mereka lakukan hari ini, selesai makan Ardy dengan sigap membereskan bekas alat makan dan mencucinya. “Bang, biarAdek aja yang nyuci.Abang kan capek, istirahat aja.” Ranti kasihan melihat Randy yang sudah capek seharian bekerja masih mau membantu pekerjaan rumah. “Gak papa Dek, cuma nyuci dikit kok.” Selesai mencuci piring Ardy menyusul Ranti duduk di sofa ruang keluarga menonton acara TV sambil menikmati teh hangat dan kue hasil karya sang istri. Dipandanginya wajah Ranti, tak pernah ada rasa bosan memandang wajah cantik dan lembut itu. Walaupun mereka sudah menikah dua tahun, tetapi rasanya seperti baru kemaren mereka melakukan akad nikah. Pelan- pelan didekatinya sang istri, tangan kanannya memeluk pinggang Ranti dan disusupkannya wajahnya ke ceruk leher Ranti. “Eh kenapa Bang?” tanya Ranti yang terkejut dengan sikap suaminya.
  • 73.
    73 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Kangen,” jawab Randy dengan manja “Lah kan tiap hari ketemu, pisahnya cuma delapan jam aja tiap hari.” Ranti merasa lehernya geli terkena embusan napas dari hidung Randy. “Tapi masih kangen. delapan jam itu lama lho, Yang.” Randy semakin mengeratkan pelukannya kepinggang Ranti dan mengusap-usapkan wajahnya ke dada Ranti, seperti bayi yang mau menyusu. “Geli ih Abang.” Ranti tertawa geli sambal berusaha menjauhkan wajah Randy. “Kayak bayi aja ngusep-ngusep gini.” “Biarin, mumpung belum ada anak, puas-puasin manja-manja ke sayangku. Nanti kalau sudah ada anak, pasti kalah bersaing.” “Bang sudah dua tahun kita nikah tapi aku masih belum hamil. Abang gak papa?” Tiba-tiba Ranti menjadi sedih, mengingat dirinya belum juga hamil, padahal tiap malam mereka tidak pernah absen berusaha. “Ya gak papa lah Dek. Kan Abang nikah sama Adek karena Abang cinta dan sayang sama Adek, bukan karena pengen punya keturunan. Tapi kalau sama Allah nanti kita diberi kepercayaan seorang anak, itu namanya rejeki.”
  • 74.
    Analekta Kisah Semesta| 74 PROPERTI OF P “Tapi Adek suka sedih kalau pas kumpul sama temen-temen, mereka nikah belakangan tapi sudah pada punya anak, ada yang lagi hamil, malah ada yang anaknya sudahdua,”jawabRantisedih.Sebagaiperempuanpastilah ingin memiliki anak, merasakan hamil dan melahirkan. “Yang sabar ya cinta, nanti pasti ada waktunya kita diberi anak. Mungkin sekarang Allah kasi kita kesempatan pacarandulu,kan kemaren-kemarenkitagakpernahbener- bener pacaran soalnya LDR-an terus.” Ardy mencium kening Ranti sambal membelai pelan lengannya, memberi rasa nyaman, berharap belaiannya dapat menghilangkan rasa risau di hati Ranti. “Sekarang dari pada sedih terus, yuk usaha bikin anak lagi.” Ardy mengerlingkan matanya genit kepada Ranti dan menarik tangan Ranti lembut untuk berdiri dari sofa, menuntunnya ke kamar. “Ah kalau itu sih emang hobinya Abang.” Ranti mencubit lengan Ardy manja yang hanya dibalas dengan tawa oleh Ardy. *** “Hei bro, buru-buru pulang lagi?” sapa Satya kepadaArdy yang sedang berjalan tergesa ke arah parkiran sepeda motor. “Iya nih bro, Bini gue lagi datang bulan. Dari pagi ngeluh perutnya sakit. Gue kepikiran terus, gak tega,” jawab Ardy tanpa mengurangi kecepatan jalannya.
  • 75.
    75 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Trus mau lo bawa ke dokter?” “Nggak, cuma mau gue bikinin rebusan air jahe kunyit hangat. Makanya ini buru-buru pulang mau mampir beli bahannya dulu sama pembalut.” “Buset dah, pembalut segala lo yang beli?” Satya terkejut mendengar jawaban Ardy. “Iyalah, kan buat bini sendiri. Gue udah sering beli kok. Merk sama ukurannya juga udah hafal,” jawab Ardy santai, seakan itu adalah hal biasa untuk para suami. “Gile loe bro, bener-bener bucin sejati. Hahaha” Tawa Satya dengan keras sampai membuat beberapa orang yang ada di lobi kantor melihat ke arah mereka. “Emang gue cinta mati sama bini gue. Kenapa, masalah buat lo?” jawab Ardy dengan senyum yang merekah diawajah tampannya, membuat para kaum hawa yang ada di sekitar mereka memandang takjub akan ketampanannya. “Iya iya, serah lo deh.” “Yuk ya bro, sampai besok.” “Bye. Ati-ati lo di jalan, ingat bini di rumah nungguin.” Ardy menjawab dengan memberikan tanda jempol. ***
  • 76.
    Analekta Kisah Semesta| 76 PROPERTI OF P “Assalammulaikum Dek, masih sakit perutnya?” tanya Ardy pada Ranti yang sedang berbaring miring di Kasur sambal memeluk perutnya. “Masih Bang.” “Nih, tadi Abang sudah buatin rebusan air jahe kunyit, buruan diminum mumpung masih anget.” Ardy membantu Ranti duduk dan memberikan gelas berisi air rebusan jahe kunyit. “Kapan bikinnya Bang?” “Tadi sampai rumah langsung bikin” “Makasih ya Bang.” Ranti meminum pelan-pelan air rebusan jahe kunyit buatan Ardy, ada rasa hangat diperutnya membuat rasa sakitnya agak berkurang. Setelah meminum setengah gelas, ditaruhnya gelas itu di nakas sebelah Kasur. “Bang.” panggil Ranti “Apa Dek?” tanya Ardy yang terus memandang wajah pucat istrinya karena menahan sakit. Dia benar- benar tidak tega melihat istrinya sakit. “Peluk” Ranti ingin rasanya bermanja-manja dengan suaminya kalau lagi sakit. “Iya sini Abang peluk, mau dipijit juga gak?”
  • 77.
    77 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Hm.” Ranti mengangguk, sambil merebahkan badannya di kasur. Ardy mulai memijit pelan punggung Ranti, dari pundak sampai kaki, naik lagi kepundak. Lama-lama terdengar embusan napas istrinya yang teratur menandakan bahwa istrinya sudah tertidur. Dengan perlahan diselimuti tubuh istrinya sampai ke pundak. Kemudian dia mandi, setelah badannya terasa segar, dia membaringkan badannya di samping sang istri dan masuk ke dalam selimut. Dipeluk lembut pinggang istrinya sambal mengusap pelan punggungnya, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. “Cantik banget sih istri Abang ini, gak bosen liatnya. Cinta banget deh Dek, semoga kita bisa menua bersama ya.” Ardy bermonolog dengan dirinya, perlahan dicium kening istrinya, turun kemata, lalu ke pipi dan terakhir kebibir mungil kesukaannya. Perlahan dia pun terlelap sambil tetap memeluk sang istri. *** Tentang Penulis Grahita Rizki dengan nama pena Hita Cahaya, membaca adalah hobinya sejak SMP, semua jenis buku dibaca terutama yang bergenre romance. Mulai suka menulis cerita fiksi, saat duduk di SMA karena dorongan dari guru Bahasa Indonesia. Sudah beberapakali menulis antologi baik fiksi maupun nonfiksi serta mengikuti beberapa komunitas menulis.
  • 78.
    Analekta Kisah Semesta| 78 PROPERTI OF P PLAYBOY CAP DURIAN Oleh: Ulul Ilmi Arham Matahari sudah benderang saat Sigit menampakkan batang hidungnya di teras rumah Mimi. Pemuda itu hanya mengenakan kaus kedodoran dan celana pendek. Rambutnya yang gondrong pun masih berantakan. Ia membawa setangkai bunga berwarna kuning yang dipetik di pinggir jalan tadi. Pantang baginya datang ke rumah kekasih hati tanpa membawa cinderamata. Namun, bukan sambutan hangat yang didapat melainkan wajah murung dan kesal tatkala gadis itu membuka pintu.
  • 79.
    79 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Kamu kalo lagi marah, kok tambah cantik, sih?” tanya Sigit sambil menyodorkan bunga ke hadapan Mimi. Dia tidak tahu apa gerangan penyebab Mimi murung hari ini. “Gombal!” keluh gadis yang masih memanyunkan bibirnya itu. Ia hanya melengos kembali ke dapur dan mengabaikan pujian Sigit. Mimi sedang perang dingin dengan Sigit. Sudah satu tahun terakhir ini ia dijanjikan akan dinikahi. Awal tahun lalu, pernikahan mereka terpaksa ditunda karena korona melanda. Pertengahan tahun, lagi-lagi pernikahan tidak boleh diselenggarakan karena keluarga Sigit baru saja kemalangan. Awal tahun ini, entah apalagi alasan yang akan diberikan pemuda slengehan di hadapannya. Mimi mulai gerah dengan omongan orang tuanya yang sekarang menentang hubungannya dengan sang playboy cap durian itu. Mereka meragukan keseriusan Sigit untuk meminang putri kesayangannya. Mereka juga sudah berniat menjodohkan Mimi dengan salah satu anak kenalan jika sampai pertengahan tahun ini tidak ada kejelasan. Ya, mereka khawatir putrinya cinta buta dan menghabiskan masa muda menyimpan harap pada sang playboy tanpa benar-benar dinikahi. Bukan tanpa alasan semua orang menjulukinya playboy cap durian. Sigit memang candu. Terkenal bisa menaklukkan banyak gadis dengan mulut manis dan paras tampan. Setelah berpisah pun, banyak yang gagal move
  • 80.
    Analekta Kisah Semesta| 80 PROPERTI OF P on dari Sigit karena masih terkenang masa-masa indah. Sebagaimana buah durian, aromanya yang menggoda akan selalu melekat walaupun buahnya sudah habis dinikmati. Mimi awalnya bersyukur bisa pacaran dengan Sigit. Ia sungguh tidak percaya tatkala laki-laki itu mengetuk pintu rumahnya dua tahun yang lalu dan menyatakan cinta. Tidak pernah terlintas di pikiran Mimi bahwa laki-laki ini menyimpan perasaan untuknya. Mimi, gadis chubby itu bahkan tidak menyangka ada seorang pria yang menyukai dirinya. Ia jauh sekali dari definisi cantik. Ia selalu merasa rendah diri dan tidak pantas bersanding dengan Sigit. Namun, ia juga tidak menampik bahwa lambat laun rasa sayang itu tumbuh juga. Hanya saja, Mimi tidak tahu dengan perasaannya terhadap Sigit sekarang. Apakah ia masih cinta atau sudah menyerah dengan hubungan yang penuh tanda tanya ini. “Yah, aku susah payah memetiknya. Kamu tega menolak bunga yang indah ini? Ntar dia nangis, lho.” Pemuda malah itu bernyanyi dan menggoda Mimi. Menempelkan kelopak bunga yang baunya menyengat itu ke kulit mulus gadisnya. “Kamu tahu nggak sih itu bunga apa?” tanya Mimi sinis. Ia tidak paham, mengapa pacarnya ini bodoh luar biasa. Laki-laki ini sungguh tidak tahu atau bermaksud menertawakan hubungan mereka.
  • 81.
    81 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Bunga cintaku padamu, dong,” gombal Sigit lagi. “kuning merekah laksana mentari pagi.” “Itu bunga tahi ayam! Bunga tembelek. Kamu nyamain aku sama kotoran ayam?” tanya Mimi setengah berteriak kesal. Sigit yang salah tingkah hanya cengengesan dan menjejalkan bunga itu saku celana. Ia benar-benar tidak tahu ada jenis bunga semacam itu. Lagipula, kenapa juga bunga secantik ini harus diberi nama jelek begitu. Niatnya datang hari ini bakal berantakan hanya gara-gara salah membawa bunga, batin Sigit. Mimi yang masih mengenakan celemek beranjak meninggalkan Sigit sambil menghentakkan kaki kembali ke dapur. Kekesalannya meledak-ledak. Ia benar-benar akan minta putus. Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan dari playboy ini. Janji palsu, kelakuan tidak romantis, dan sikap selengehan-nya sudah cukup menjadi alasan untuk berpisah dan menerima tawaran perjodohan orang tuanya. Ya, dia akan minta putus dengan Sigit hari ini juga! Sigit mengikuti indera penciumannya yang terpikat wangi masakan enak yang menguar dari dapur. Ia mempercepat langkah untuk mencari tahu sajian apa yang sebenarnya sedang dimasak Mimi. Seleranya bangkit, perutnya meronta kelaparan, air liurnya nyaris menetes tatkala menyaksikan makanan lezat yang sudah terhidang di atas meja makan.
  • 82.
    Analekta Kisah Semesta| 82 PROPERTI OF P Ada brownis, ayam goreng bumbu, plecing kangkung. Sigit tidak meragukan kemampuan Mimi di dapur. Sejak SMA, ia sudah tahu bahwa gadis pendiam ini jago memasak. Mimi mungkin tidak pernah tahu bahwa Sigit menyukai Mimi karena pelajaran PKK di sekolah. Waktu kelas XII dan harus mengambil nilai ujian praktik memasak, Sigit dan Mimi sekelompok. Mereka ditantang untuk membuat masakan dengan bahan makanan yang sudah ditentukan guru. Ya, bahan makanan yang dipilih saat itu tidak mudah untuk diolah. Jantung pisang. Di saat semua siswa kelabakan dan panik, Mimi justru dengan sigap memerintah Sigit untuk mencuci dan mencincang. Pernah juga, menjelang peringatan 17 Agustus tiba-tiba tiang yang sudah disiapkan untuk lomba makan kerupuk roboh diterpa angin. Pagi itu semua orang bersedih lantaran festival rakyat yang sudah mereka rencanakan sejak sepekan lalu terpaksa batal. Namun, Mimi dengan cepat berinisiatif memindahkan kegiatan ke balai desa. Dengan peralatan sederhana, ia berhasil mengembalikan tawa anak-anak kecil yang sempat sedih sebelumnya. Sigit merasa hal itulah yang menjadi alasannya jatuh hati. Ia sederhana, pemberani, tegas, dan tulus. Hal unik yang jarang dimiliki gadis-gadis di kampung mereka. “Wih, calon istri idaman. Kelihatan enak semua, nih,” puji Sigit.
  • 83.
    83 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Siapa juga yang mau jadi istri kamu?” tolak Mimi sambil menjulurkan lidah. Bukannya marah, Sigit justru tertawa melihat kelakuan Mimi yang persis seperti anak kecil. “Kamu. Bukankah kita pasangan serasi? Seluruh dunia juga tahu, cungkring dan gendut, kita saling melengkapi, kan? Seperti angka sepuluh,” goda Sigit lagi. “Apa,sih?Nggaklucu,”omelMimi.Dasarplayboy cap durian, kalau kebanyakan makan gombalannya bisa panas dalam alias makan hati. Ia memandang Sigit yang menyuapkan potongan brownis besar ke dalam mulut dan mendengus kesal. Dia benar-benar akan cari pacar baru yang sama chubby dengan dirinya sehingga mereka tidak perlu berdebat masalah berat badan. “Bunda sehat?” “Sehat, kok.” “Dari tadi aku nggak liat Bunda. Titip salam bilang makasih, ya,” ucap Sigit sambil mencomot brownies kedua. “Kok makasih ke Bunda?” tanya Mimi penasaran. Yang masak dirinya, kenapa yang dipuji malah Bunda. “Iya, soalnya udah melahirkan kamu yang menyempurnakan hidupku,” goda Sigit lagi. “Gombal banget, Git.”
  • 84.
    Analekta Kisah Semesta| 84 PROPERTI OF P “Ya, habis gimana? Aku sukanya kamu. Kamu nggak suka aku?” tanya Sigit yang membuat Mimi salah tingkah. Ini kesempatan yang tepat untuk minta putus! Kebetulan Sigit sudah mengangkat topik itu, sekalian saja utarakan keinginan untuk berpisah. Namun, kenapa dia justru tidak tega kehilangan Sigit? Kenapa dia justru bingung dengan perasaannya sendiri. “Aku nggak tahu,” jawab Mimi menggaruk kepala. Ia menyembunyikan wajah dan fokus menggoreng kerupuk. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Sigit. “Kamu bosen sama aku?” tanya Sigit sambil tersenyum. “Bukannya kamu yang bosen sama cewek jelek dan gendut kayak aku? Kamu yang perfeksionis mana mau nikah sama aku? Itu kan alasan kamu nggak ngelamar aku? Karena kamu nggak benar-benar cinta?” tanya Mimi ketus. Dia meluapkan semua kekesalan yang dipendam. Sakit hati lantaran sebutan gendut dan cungkring yang disematkan orang-orang pada mereka menjadi pemantik amarah murkanya tumpah ruah. Ia cukup tahu diri bahwa penampilannya yang biasa saja tidak layak untuk bersanding dengan Sigit yang rupawan dan favorit semua wanita. Karena itu, Mimi berniat mengutarakan perpisahan secara baik-baik. Mimi juga sudah berusaha untuk sabar,
  • 85.
    85 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF tetapi ia tidak bisa pura-pura tidak ada masalah. “Bentar, deh. Kalau kamu insecure gitu, menurut kamu, apa ada cewek yang mau sama cowok kurus, malas mandi, dan receh kayak aku?” tantang Sigit. “Pasti ada! Kamu kan cakep. Eh, bentar, kamu nggak mandi tadi sebelum ke sini?!” pekik Mimi. Sigit hanya tertawa terbahak sedangkan Mimi menutup mulut karena keceplosan tadi. Kok bisa sih, gue betah pacaran sama cowok jorok begini? tanyanya dalam hati. “Kenapa kamu suka aku?” tanya Mimi lagi. Ya, sebelum memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan meraka, setidaknya ia harus tahu apa alasan Sigit memilihnya dibanding puluhan gadis cantik di kampung mereka. Playboy cap durian ini bisa saja memilih gadis mana pun yang ia mau. Wina yang cantik, Euis yang aduhai, ataupun Fatimah yang alim. Kenapa harus dirinya. “Nggak tahu. Suka aja,” goda Sigit. Mimi memanyunkan bibir, pacarnya ini tidak benar-benar mencintainya. Dia mungkin tidak lebih dari sekadar mainan yang bisa dibuang setelah punya yang baru. “Kalau ditanya, kenapa aku suka kamu, ya nggak tahu. Entah kenapa nyamanku ada di kamu,” jawab Sigit.
  • 86.
    Analekta Kisah Semesta| 86 PROPERTI OF P “Kenyamanan kan bisa pindah-pindah,” keluh Mimi lagi. Ia masih belum puas dengan jawaban Sigit. Begitu banyak pasangan yang awalnya saling suka justru kandas bahkan berujung perceraian. Apalagi label playboy yang tersemat di Sigit, bukan tidak mungkin ia bakal ditinggal dalam sekejap. “Sekalipun bisa dipindah, aku maunya cuma kamu. Jadi, jangan minta aku untuk pindah ke lain hati. Aku jamin itu cuma buang-buang waktu,” pinta Sigit sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku celana. Ia merasa, inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kesungguhan cintanya. Mimi kehilangan kata menyaksikan apa yang ada di dalam kotak beludru itu. Sebuah cincin putih dengan berlian mungil di tengahnya. “Maaf, cuma bisa ngasih berlian kecil. Aku nggak kaya, nggak cakep, nggak romantis. Nggak bisa menjanjikan barang mewah juga. Aku cuma bisa janjikan untuk menyayangi kamu satu-satunya sampai tua,” ujar Sigit sambil menyematkan cincin ke jemari Mimi. Ia berharap gadisnya ini akan mengatakan ‘ya’dan menerima lamarannya. ***
  • 87.
    87 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis Ulul Ilmi Arham, penyuka genre romance dan fantasi. Hobi traveling dan masak-masak. Silakan layangkan kritik dan saran dan baca karyanya yang lain di Instagram @ululilmiarham
  • 88.
    Analekta Kisah Semesta| 88 PROPERTI OF P BANOWATI Oleh: Kartika Pitasari Terlahir dari keluarga ningrat yang masih menjujung tinggi kemurnian darah biru, wanita cerdas ini seakan terkurung dalam sangkar emas. Banowati Nitisastro, lulusan sebuah perguruan tinggi ternama di kota ini. Memiliki karier cemerlang, tetapi harus rela menanggalkan semuanya untuk tunduk patuh pada perjodohan yang telah diatur oleh orang tuanya. Sejujurnya, sungguh berat hati menerima perjodohan ini. Aku tidak pernah menyukai lelaki calon suami itu. Tapi jika menolaknya, pasti kanjeng ibu akan berpura-pura sakit atau melakukan sesuatu yang lebih dramatis. Walaupun romo mengetahui jika aku tidak
  • 89.
    89 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF menyetujui rencana kanjeng ibu, namun beliau lebih memilih diam dan mengikuti semua kemauannya. Dan hari pernikahan pun tiba, pesta meriah digelar di sebuah hotel berbintang lima. Tamu undangan datang dari kalangan elite seluruh penjuru negeri. Aku harus bisa memendam kebencianku atas pernikahan ini dengan sikap yang anggun juga senyum yang palsu. Usai pesta digelar, kehidupan baru mulai dijalani. Kami menempati kediaman suamiku, rumah megah bak istana lengkap dengan beberapa orang yang selalu siap melayani. Namun rumah ini selalu berkesan dingin dan suram. Bagi aku dan suami surat nikah hanya sekadar simbol, karena kami menempati kamar yang berbeda. Sebenarnya aku memiliki seorang kekasih, dia adalah rekan kerja di kantor. Selama ini kami berhubungan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua. Karena jika mereka tahu Arya kekasihku bukan keluarga ningrat, pasti mereka tidak akan merestuinya. Walau aku telah menikah tetapi masih saling bertukar pesan dengan Arya, untuk menanyakan kabar, terkadang juga berkeluh kesah tentang pernikahan palsu yang kujalani. Rupanya Arya tidak pernah bisa melupakanku, dan berniat ingin membawaku keluar dari rumah ini. Untuk apa bertahan dalam pernikahan tanpa cinta, begitu katanya.
  • 90.
    Analekta Kisah Semesta| 90 PROPERTI OF P Karena aku tidak lagi bekerja, maka aku mencari kegiatan lain untuk mengisi hari, agar tidak jenuh. Aku mulai mengikuti beberapa kelas belajar daring, mulai kelas memasak hingga kelas menulis. Apa saja aku pelajari, selain menambah pengetahuan juga untuk menghibur diri dari kesepian. Suamiku tetap saja bersikap acuh padaku, bahkan menganggapku tak ada di rumah besarnya. Kami hanya bertemu saat sarapan, itu pun hanya sekadar basa-basi menanyakan kabar, setelah itu kembali sunyi. Aku hampir tidak pernah tahu bahkan tidak peduli jam berapa dia sampai di rumah sepulang kerja. Hariitu,akusarapansendiridimejamakan.Seorang asisten mengabarkan bahwa suamiku tidak pulang sejak semalam. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.Aku tidak berusaha menghubungi ponselnya, nanti dikira aku terlalu ingin tahu urusannya. Dua hari sudah suamiku tak ada kabar, bak hilang ditelan bumi. Hingga seorang asisten mengetuk pintu kamarku dan mengabarkan bahwa ada petugas dari kepolisian sedang menunggu di ruang tamu. Aku bergegas menemui mereka. Ternyata mereka mengabarkan bahwa telah menemukan jasad suamiku di sebuah hotel, dan mereka sedang melakukan otopsi pada jenazahnya. Aku diam, tampak ekspresiku menunjukkan betapa kaget mengetahui suami telah tiada. Baru tersadar ketika polisi berpamitan
  • 91.
    91 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF untuk kembali ke tempat bertugas. Aku segera masuk kamar dan menelepon Arya, ingin mengucapkan terima kasih. Karena keinginanku telah diselesaikan dengan baik olehnya. Aku memang meminta Arya untuk melenyapkan suamiku, yang terpenting jangan sampai meninggalkan jejak. Buat apa bertahan dengan pernikahan konyol ini, dan ingin segera mengakhirinya. Setelah pemakaman suami, aku segera keluar dari rumah besarnya dan kembali ke rumah sendiri. Sambil menghitung hari menjelang pernikahanku dengan Arya. Kanjeng ibu tidak punya pilihan lain, karena aku telah mengikuti semua yang telah diatur olehnya. Sekarang giliranku menikmati hidup. *** Tentang Penulis Kartika Pitasari, seorang pendidik anak usia dini. Memiliki ketertarikan di dunia literasi. Prinsipnya tidak pernah berhenti berkarya dan berharap karyanya bisa bermanfaat bagi sesama. Teman-teman bisa menyapanya di akun Instagram @kartikapitasari.
  • 92.
    Analekta Kisah Semesta| 92 PROPERTI OF P MITOS MEMAKAI PAKAIAN MERAH Oleh: Dheisya Adhya Kata orang di sekitarku, memakai pakaian merah di daerah ini sangat dilarang. Aku lupa penyebabnya apa dan sore ini aku terbangun di sebuah gubuk tua dengan pakaian serba merah menyala. Aku yang entah kenapa tiba-tiba terbaring di atas kursi panjang, langsung mengubah posisiku menjadi duduk seraya bersandar ke dinding yang terbuat dari bilik kayu. Kulihat, gubuk ini bersih dari sampah. Terasa nyaman untuk sekadar beristirahat dari penatnya kota. Terlihat ada tungku api dan beberapa peralatan dapur. Namun, ada satu ruangan di gubuk tersebut yang menarik
  • 93.
    93 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF perhatianku. Ini memang gubuk, tetapi kenapa ada ruangan seperti kamar khusus? Rasakuyangsudahpenasaran,ditambahkeberanian yang cukup besar, aku melangkah ke ruangan tersebut dengan badan yang sedikit lemas. Dari pembatas yang tidak ada pintunya, kulihat beberapa pakaian tergantung di pinggir dinding yang terbuat dari bilik kayu. Rasanya, aku ingin melangkahkan kaki ke dalam ruangan itu. Hanya bermodalkan keberanian dan rasa penasaran, kakiku kulangkahkan untuk maju ke dalam. “Hei.” Aku terkejut bukan main. Baru saja melangkahkan kaki, dari arah belakangku, tiba-tiba ada suara yang menyapaku. Suara laki-laki. Aku reflek membalikkan badan. Dia terlihat seumuran denganku—sekitar dua puluh tahun atau mungkin lebih tua beberapa tahun. “Kamu udah bangun?” tanyanya. ‘Kamu’? Memang, aku siapanya? Lantas, kenapa aku tak mengenalinya? Aku terasa menjadi orang baru yang tiba-tiba dilahirkan dalam usia dua puluh tahun. “Kamu linglung, ya?” tanyanya lagi. “Tolong, aku bingung. Aku gak tahu ini di mana dan kamu siapa.”
  • 94.
    Analekta Kisah Semesta| 94 PROPERTI OF P “Tenang dulu, ya. Duduk dulu, saya masak air dulu,” ucapnya menenangkan sekaligus meresahkan. Dia berlalu menuju tungku api. Lalu, menuangkan air ke dalam panci. Lelaki itu terlihat sibuk dengan panci dan air mentah yang akan dimasaknya. Sedangkan aku sedang merasakan ketakutan yang begitu hebat. Pikiranku berkeliaran. Apakah dia akan memasakku? Atau merebusku seperti pada dongeng yang sepertinya sempat kubaca, tetapi entah di mana. Karena rasa penasaranku selalu besar, kuberanikan untuk bertanya, “Masak air untuk apa?” “Untuk kamu minum,” ucapnya dengan santai. Entah kenapa, perkataannya selalu ambigu. Aku takut. Aku takut diracuninya. Bagaimana kalau airnya diberi jampi-jampi? “Kamu gak usah takut. Saya gak akan nyelakain kamu. Kamu tenang aja, ya.” Suaranya memang menenangkan, tetapi aku masih merasa ketakutan. Tunggu, bagaimana bisa dia tahu aku sedang cemas karena dirinya? Ah, sudahlah. Aku malas terlalu berkeliaran dalam pikiran yang belum pasti kebenarannya. “Omong-omong, tadi kamu ngapain masuk ruangan itu?” tanyanya.
  • 95.
    95 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku diam. Aku tak bisa menjawabnya. Bibirku kelu. Takut salah berkata. “Em ... aku hanya penasaran. Di dalam gubuk tua seperti ini, ada ruangan khusus seperti kamar,” jawabku seapik mungkin. “Iya, itu kamar tidur. Omong-omong, gimana keadaan kamu sekarang? Pusing? Lemes? Atau mau pingsan lagi?” Menyebalkan sekali lelaki ini. Ucapan serius atau bercanda, ekspresi sama saja. Sama-sama datar. “Sebenarnya, kamu tahu cerita aku ada di sini, gak?” tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan. “Sebentar, ya. Nanti saya ceritakan,” ucapnya seraya menutup panci kecil yang sudah berisi air di atas tungku api. Baiklah, aku menunggunya. Lihat saja, kalau dia tidak tahu penyebab sebenarnya dan malah melakukan yang tidak-tidak, sudah kusiapkan centong sayur kayu untuk menggetok kepalanya. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Tak peduli kalau ia risih kuperlakukan seperti itu. Lalu, lelaki itu ikut duduk di samping kiriku. Duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu. “Keadaan kamu udah mendingan?” tanyanya.
  • 96.
    Analekta Kisah Semesta| 96 PROPERTI OF P “Udah.” “Kamu masih gak ingat apa-apa?” tanyanya. “Em ... yang aku ingat, kata orang di sekitarku, kalau pakai baju merah di daerah ini sangat dilarang, tapi aku lupa alasannya kenapa,” ucapku seraya mengingat apa pun yang ada di kepala. “Terus? Kenapa kamu pakai baju merah menyala seperti ini?” tanyanya. “Duuuhhh, aku gak ingat sama sekali. Coba kamu ceritain gimana aku tiba-tiba ada di sini. Siapa tahu, aku mengingat sesuatu,” pintaku padanya. “Tapi masih ingat nama kamu sendiri, gak?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. Aku sedang mencari sebuah nama di dalam kepala. Ya! Aku menemukannya. “Namaku Denisa Kania,” ucapku dengan yakin. “Untung saja masih ingat sama nama sendiri,” ucapnya. “Jadi, gimana ceritanya?” tanyaku. “Eh, bentar. Airnya udah mendidih. Aku tuangin buat kamu dulu.”
  • 97.
    97 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Haduh.Banyaksekalistokalasannya.Kuperhatikan lelaki yang sedang menuangkan air ke cangkir itu. Lelaki biasa yang sepertinya memang tak punya niat jahat. “Ini diminum dulu. Hati-hati masih panas,” ucapnya seraya memberiku secangkir air panas. “Iya, terima kasih.” Aku mengambil cangkir berisi air panas itu. Karena aku haus, kutiup airnya agar cepat dingin. “Jadi, gimana ceritanya?” tanyaku lagi dengan sabar karena aku butuh. “Oh, tadi itu kamu pingsan di dekat sungai. Untung saja gak sampai jatuh ke sungai. Kalau kamu jatuh, mungkin saya gak akan ketemu kamu.” “Hah?” Sebentar, aku tidak mengerti maksudnya. Aneh juga manusia ini. “Hehe, maaf, ya. Saya cuma bercanda biar kamu gak terlalu ketakutan.” Bukannya terhibur, aku malah merasa bingung padanya. “Jadi, saya menemukan kamu dalam keadaan pingsan. Saya gak tahu penyebab kamu pingsan kenapa. Sampai sini ada yang kamu ingat?”
  • 98.
    Analekta Kisah Semesta| 98 PROPERTI OF P “Enggak,” jawabku seraya meniup air panas tadi. “Saya lanjutkan ceritanya. Saya menemukan kamu di dekat sungai. Sampai sini ada yang kamu ingat?” “Enggak,” jawabku lagi. “Saya lanjutkan lagi. Karena saya melihat kamu pingsan, saya berinisiatif bawa kamu ke gubuk ini. Gubuk yang biasa saya kunjungi dan tempat yang paling dekat dengan posisi pingsan kamu. Kalau saya bawa kamu ke rumah saya, kejauhan. Sampai sini ada yang kamu ingat?” “Aku kan pingsan. Gimana mau ingat?” protesku. “Oh, iya juga.” “Terus, apa lagi?” tanyaku seraya meneguk air yang sedikit lebih hangat. “Terus saya tinggalin kamu di sini. Saya ngambil air dulu ke sungai.” Uhuk.. Aku terkejut. Ternyata, air yang kuminum adalah air sungai. Apa tidak apa-apa? “Eh, eh. Tenang aja, air sungainya juga bersih. Bening. Sebening--” “Apa?!” sanggahku sewot. “Aku tahu, kamu mau bilang sebening aku, ‘kan?” tanyaku to the point.
  • 99.
    99 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Tenang dulu, aku mau bilang sebening berlian di pasaran.” “Berlian kok pasaran,” gumamku kecil. “Barusan kamu bilang apa? Enggak kedengeran,” tanyanya. “Aku mau pulang,” ucapku sendu. “Emangnya kamu ingat rumah kamu di mana?” tanyanya. “Ingat. Sekarang aku ingat semuanya.” Ya, entah ada keajaiban dari mana, tiba-tiba ingatanku pulih. “Kayaknya, tadi aku linglung aja. Sekarang aku ingat. Pagi itu, aku bersama teman-temanku. Namun, tiba- tiba ada sosok yang mengejutkan kita semua. Aku malah pingsan saking kagetnya,” paparku. “Sosok apa?” tanyanya. “Sosok nenek-nenek,” jawabku. “Nenek-nenek yang bawa kayu bakar?” tanyanya. “Entahlah, aku tak melihatnya dengan jelas.” “Aku boleh nanya?” tanyanya. “Nanya apa?”
  • 100.
    Analekta Kisah Semesta| 100 PROPERTI OF P “Kamu kenapa pakai pakaian merah menyala seperti ini?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. Mengingat sesuatu yang masih tersimpan di pikiran. “Ah, iya! Aku dan teman-temanku ingin membuktikan mitos mengenai larangan memakai pakaian merah di daerah ini. Aku dan teman-temanku sengaja memakai pakaian merah pagi-pagi buta saat itu. Entah sudah berapa lama aku di sini. Apa kamu tahu?” “Kamu, saya temukan pagi tadi. Mungkin, kamu datang ke daerah ini Subuh tadi?” tebaknya. “Mungkin. Tapi aku gak habis pikir, teman- temanku tega sekali meninggalkanku dan tak kembali untuk mencariku,” ucapku dengan rasa kecewa. “Sudah biasa. Teman hanya menemani saat senang saja,” ucap lelaki itu. Entah kenapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu. Namun, ucapan lelaki itu ada benarnya. Nyatanya, teman- temanku dengan tega meninggalkanku pagi itu dan tak kunjung mencariku hingga saat ini. “Omong-omong, nama kamu siapa?” tanyaku. “Oh, iya. Nama saya Candra,” ucapnya diakhiri senyuman. Tumben sekali dia tersenyum. Bercanda saja ekspresinya masih datar.
  • 101.
    101 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Emm ... kamu bisa antar aku pulang, enggak?” pintaku ragu. “Bisa, nanti, ya, sekalian saya juga mau pulang,” ucap Candra. Baiklah, kutunggu saja. Entah apa alasannya. Aku malas bertanya. Hari sudah menjelang malam. Matahari hanya menampakkan senja yang tertutup pohon-pohon tinggi. Aku mulai merasa takut lagi. Meski kuyakin Candra adalah orang baik, tetap saja rasa cemas masih menyelimutiku. “Kayaknya, aku pengin pipis, di mana, ya?” tanyaku pada Candra. “Em ... di belakang gubuk paling. Di semak- semak,” ucap Candra. “Hah?!” Aku yang terkejut mendengar pernyataan itu pun tiba-tiba menjadi tak ingin buang air kecil. “Ayok, aku antar. Itu di belakang sana.” Candra berjalan ke arah belakang gubuk dan menunjukkan sebuah tempat. Aku pun mengikutinya. Bukan untuk buang air kecil, tetapi hanya ingin melihat tempat yang ditunjukkan oleh Candra. Aku selalu penasaran dengan hal apa pun. Termasuk mengenai mitos larangan memakai pakaian
  • 102.
    Analekta Kisah Semesta| 102 PROPERTI OF P merah di daerah ini yang menjadikanku terjebak di gubuk tua ini. “Kalau mau pipis, di sini saja,” ucap Candra seraya menunjuk ke semak-semak yang cukup tinggi. “Gak apa-apa, Can, gak jadi pipisnya,” ucapku. “Ya, udah. Kalau masih bisa nahan. Kita masuk lagi aja, ya,” ucap Candra. Aku menganggukkan kepala dengan pelan. Baru saja membalikkan badan, tiba-tiba terlihat sosok nenek- nenek yang kuceritakan tadi pada Candra. “AAAAAAAAAA, CANDRAAAA!!!” Aku berteriak dengan kencang seraya menutup wajah. Tubuhku melemas. Jantung dan napasku tak karuan. Aku merasa sangat ketakutan. “Hei, tenang-tenang.” Kudengar suara Candra memang ingin menenangkan. Namun, jantungku terlanjur tak karuan melihat sosok di depanku barusan. “Hei, Denisa ... tenang, ya.” Candra memelukku. Mungkin, ia benar-benar ingin menenangkanku. Aku langsung diam. Mataku masih terpejam. Namun, napasku masih tak dapat kuatur dengan tenang.
  • 103.
    103 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Denisa..” panggil Candra. Napasku masih tak karuan. “Buka mata kamu, De. Gak usah takut,” ucap Candra. Aku membuka mata perlahan. “AAAAAAAAAAAAAAA” Sosok itu masih berada di dekatku. Aku semakin mendekatkeCandradenganmenutupmata.Akuketakutan. Jantungku semakin tak karuan. Ibu ... aku mau pulang.Aku tak akan bebal lagi, Bu. Meski aku penasaran, akan kucoba untuk menahan agar tak selalu mencari tahu kalau sekiranya membahayakan. Aku menyesal karena sebelumnya telah mengabaikan ucapan ibu yang melarangku untuk pergi ke tempat ini. “Hei, Denisa. Tenang. Ini Nek Asih. Nenek yang punya gubuk ini.” Candra masih berusaha untuk membujukku agar tenang. “Tenang, Cu. Nenek tidak akan ngapa-ngapain kamu. Jangan takut, ya.”
  • 104.
    Analekta Kisah Semesta| 104 PROPERTI OF P Suara itu. Suara nenek-nenek yang terdengar cukup baik, tetapi aku masih saja ketakutan. Perlahan, kuberanikan untuk membuka mata lagi. Kali ini, aku menghadap ke arah Candra dahulu. Kulihat, Candra sedang tersenyum kepadaku. Senyumannya menenangkan. “Lihat, ini namanya Nek Asih,” ucap Candra seraya merangkulku agar menghadap ke arah sosok itu. Perlahan aku menghadap ke arahnya, meski masih sedikit terkejut, kutahan agar tak berteriak lagi. “Nek Asih?” tanyaku bingung. “Iya, nenek yang punya gubuk ini, ” ucap Candra. “Hm?” Aku bingung. Aku tak mengerti apa yang dimaksud oleh Candra. “Lebih baik kita duduk dulu, yuk. Nenek udah nyari singkong tadi,” ucap nenek itu seraya berjalan ke dalam gubuk. Aku menatap Candra dengan tatapan cemas. Candra langsung tersenyum dan berkata, “Gak apa-apa. Tenang aja, ya. Nanti, saya antar kamu pulang. Sekarang masuk dulu aja.” Aku dan Candra duduk kembali di kursi panjang yang terbuat dari bambu itu. Kulihat, nenek itu sedang memasukkan singkong ke dalam tungku api yang sudah
  • 105.
    105 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF menjadi arang panas. Nenek yang sedikit membungkuk sebahuku. Nenek yang menggunakan kebaya merah tua dan samping batik dominan hitam. Kakinya tak beralaskan apa-apa. Nenek berambut putih, digelung menggunakan rambutnya yang lain. Entah bagaimana ia melakukannya. Setelah beberapa saat aku memperhatikan nenek itu, aku menatap lagi Candra yang ada di sampingku. Mungkin, Candra peka dengan kebingunganku. Dia langsung menceritakan sosok Nek Asih ini tanpa diminta. “Mungkin, nenek-nenek yang kamu lihat pagi itu adalah Nek Asih.” Aku diam mendengarkannya. “Setiap pagi buta, Nek Asih selalu mencari kayu bakar untuk membuat air panas pagi-pagi.” Aku penasaran, Nek Asih itu siapanya Candra. Karena rasa penasaran, kutanyakan langsung pada Candra. “Nek Asih itu siapa kamu, Can?” tanyaku. “Nek Asih bukan siapa-siapa saya. Tapi saya sering mengunjunginya ke sini ketika saya punya waktu luang. Saya tahu beliau pada saat saya tersesat di daerah ini. Beliau amat baik. Beliau yang memberi saya makan ketika kelaparan saat itu. Saya disuruh menginap di sini karena saat itu sudah larut malam. Dulu, saya juga sama seperti kamu. Ingin membuktikan mengenai mitos di daerah sini. Hanya saja, saat itu yang memakai baju merah
  • 106.
    Analekta Kisah Semesta| 106 PROPERTI OF P adalah teman saya. Sedangkan saya, memakai baju hitam, tetapi tetap saja hilang.” Aku masih mendengarkan paparan Candra. “Aku masih bingung dengan semua ini,” ucapku pada Candra. “Jadi begini, mengenai mitos larangan memakai baju merah itu, ya, sudah. Itu beneran hanya mitos. Bukankah mitos itu tidak nyata dan tidak ada?” ucap Candra. Ya, mitos itu tidak ada.Aku telah membuktikannya sekarang. Sosok yang sering dirumorkan orang-orang itu adalah Nek Asih. Padahal, ia sangat baik. Buktinya, aku diizinkan untuk berbaring di gubuknya hingga tersadar dari pingsan. Sekarang pun aku sedang dibuatkan singkong bakar olehnya. Eh, tunggu-tunggu. Kok aku bisa menembus bilik kayu ini, sih?! “Can? Kok aku bisa nembus bilik kayu ini sih?” tanyaku pada Candra. “Selamat datang, Denisa. Aku akan selalu menemani kamu, kok,” ucap Candra seraya tersenyum dengan tulus. ***
  • 107.
    107 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis DheisyaAdhya; mahasiswi tingkat dua yang memilih prodi Sistem Informasi, tetapi hobinya menyusun bait-bait diksi. Menurutku, menulis perihal rasa lebih menyenangkan daripada memikirkan pelajaran algoritma. Karyaku perihal menulis sudah dimuat dalam delapan buku antologi yang berbeda jenis. Yuk, berbincang denganku melalui Instagram @dhsyadhya!
  • 108.
    Analekta Kisah Semesta| 108 PROPERTI OF P TERMAKAN JANJI Oleh: Mesaleky Pertandingan siang itu diakhiri dengan penonton yang meneriaki namanya. Kedua tim masih saling bersalaman, saat seluruh isi GOR Amongrogo memberi tepukan seolah tidak mau pertandingan ini usai. Gadis manis itu melambai setinggi-tingginya dari tengah lapangan, disusul riuh sorak-sorai hadirin dari kursi penonton. “Hai, jagoan. Hebat! Spike keras elu ternyata selalu nggak ada yang bisa nerima apalagi ngembaliin ya.” Sebuah suara teriakan berasal dari lelaki yang sedang menduduki kap mobil di tengah lapangan parkir. Lengannya lalu terbuka. Gadis itu mendekat bersimbah senyum layaknya ketika tadi mewakili timnya menerima
  • 109.
    109 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF piala dan hadiah pembinaan dari panitia turnamen Bola Voli se-Jawa Tengah. “Sini!” Dipeluk gadis itu. Lalu dengan sigap sepotong handuk kecil sudah melalap sisa keringat di dahinya. “Selama gue ada, wajah ini dilarang terlihat lelah.” Jelita memandang lekat kedua bola mata Satria yang sedang meneliti butiran keringatnya satu-satu. Ah, elu selalu begitu sedari dulu. Mana bisa gue nggak makin sayang sama elu, kalau segininya perlakuan elu. Jelita bergetar dalam hati. “Eh, apaan sih? Kok malah bengong?” Satria terkekeh. Handuk kecil dilipat dan disusupkan ke tas ransel miliknya. “Dari tadi gue tanya mau ke mana habis ini? Hamba akan siap mengantar tuan putri.” Satria membungkuk dengan satu tangan menyilang di dadanya. Jelita tampak tersenyum. “Nggak usah deh, gue mau pulang aja. Tumit gue masih nyeri nih bekas cedera dulu, takut makin parah kalau dibawa jalan.” “Hah? Beneran, nih? Sang juara lapangan nggak mau ditraktir?” Cowok atletis itu mengerling. Jelita sekuat tenaga menahan hatinya agar tidak terbang. Sebegitu dekat wajah mereka, sejenak wajah Satria yang tampan terlihat
  • 110.
    Analekta Kisah Semesta| 110 PROPERTI OF P sangat menggoda, terpaksa dia memundurkan kepalanya. “Tuh, kan mulai nyut-nyutan,” keluh Jelita mencari alasan, mencairkan rasa salah tingkahnya akibat digoda Satria. Kaki kanan berselimut mizuno digerakkannya pelan. Satria memperhatikan gerakan kaki Jelita yang memutar sambil bertumpu di lantai. “Ya, udah!” Satria berjongkok mempersembahkan punggungnya menghadap Jelita. “Mau ngapain?” Mata cokelat Jelita terbelalak. “Yah, digendonglah. Ngapain lagi? Ayo, naik! Keburu sore nanti elu nggak bisa istirahat.” “Gue bisa jalan, Sat.” Jelita menolak. Tepatnya sedang meredam jantungnya yang berlompatan. Mereka bersahabat sudah lama, tapi perasaan ini baru saja menghinggapi Jelita. Antara malu dan mau. Antara suka dan sungkan. Lalu Satria menyenggol kaki Jelita, membuat Jelita ahirnya terpental menelungkup di punggungnya. “Selamat menikmati pemandangan dari gendongan, ya,” goda Satria. Dari sisi bahu kanan Satria, Jelita memandanginya. Wangi khas Satria selama ini baginya terlalu biasa, bahkan pernah diledeknya karena selama setahun Satria tidak pernah berubah aroma, kini wangi itu menjadi wangi yang dirindukannya.
  • 111.
    111 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ini pilihan gue, pasti enak.” Sebotol parfum berwarna hitam pekat bertuliskan Acqua Di Gio keluar dari sebuah kotak hadiah ulang tahun. “Wah, enak juga wanginya. Gue suka!” ucap Satria begitu memencet ujung botol itu ke arah tubuhnya. Perpaduan wangi alam dan woody dipilih Jelita. “Pokoknya parfum ini akan gue pakai selamanya. Makasih ya kadonya. Kalau habis gue beli lagi.” Jelita mengenang. Siang ini wangi yang sudah karatan di hidungnya itu serasa menumpahkan rasa yang sangat dalam. Semakin dalam sehingga tidak berani dia ungkapkan atau ditunjukkan barang sedikit saja, seperti sinyal dalam sebuah senyuman atau tanda di tulisan. Jelita tidak mempunyai keberanian sebesar itu. “Pokoknya elu harus sama-sama terus dengan gue. Nggak boleh ada cowok lain yang deketin. Gue juga nggak akan punya cewek. Kita berdua sahabatan terus sampai tua. Tanpa perlu ada perasaan cinta di antara kita. Karena perasaan cinta itu bisa merusak inti persahabatan. Gimana menurut elu?” ajak Satria. “Oke. Siapa takut? Gue janji akan terus sahabatan seperti ini, tidak kenal keadaan, tidak kenal kehidupan lain selain persahabatan elu dan gue.” Setelah setuju, sebuah gelang berbentuk ikatan dari jerami melingkar di pergelangan tangan Jelita. Mereka baru saja berumur lima
  • 112.
    Analekta Kisah Semesta| 112 PROPERTI OF P belas tahun kala itu dan bertemu untuk pertama kali di acara orientasi masuk SMA, lima tahun yang lalu. Jelita yang menangis karena tidak mampu mengejar Belalang Sembah untuk target dari kakak kelasnya, mendapat simpati Satria. Dengan rela cowok berkulit putih itu berlarian sampai jatuh ke kubangan hanya untuk memenuhi jumlah belalang yang dibutuhkan. Sejak itu, mereka berteman lalu mengikat ikrar mereka untuk selalu bersama. *** “Satria! Tunggu, Sat!” “Elu ngapain sih ngejar-ngejar gue, nggak malu sama orang sekampus? Udah gue bilang, gue pulang sama Jelita.” “Ayolah, Sat. Sekali ini aja. Jelita juga pasti ngizinin kok,” rengek susi, pemenang putri kampus yang sedari dulu mengincar Satria. “Sori ya, Sus. Kali ini gue nggak ngizinin. Ayo, Sat kita pulang. Permisi, ya!” Jelita merampas jemari Satria yang tengah dirangkum Susi. Gadis jangkung itu sungguh tidak peduli. Cemburu tengah membakar dirinya. Sangat tidak bisa diterima memandang tangan Satria menjadi pegangan siapa saja. Satria yang diseret merasa kebingungan. Biasanya Jelita selalu setuju bahkan mendorongnya untuk mau mengantar Susi pulang, walaupun Satria kerap menolaknya.
  • 113.
    113 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Tumben elu belain gue,” ucap Satria tersenyum keheranan menyusul Jelita yang tengah duduk di tangga menghadap danau kampus. Sambil merangkul bahu jelita, satu cup es krim vanila tersembul diperlihatkan Satria. “Kata elu kita harus saling dukung, gimana sih?” Jelita berkelit. “Oh iya, benar juga. Sebagai hadiah, ini es krim untuk sahabatku tersayang.” Jelita melotot. Kalimat sayang yang biasa Satria ucapkan kenapa sekarang terasa menggemparkan isi dada? Suasana hatinya mendadak awut-awutan. Lalu semakin kalang kabut manakala teman sebayanya itu mendekatkan mulutnya untuk memakan satu es krim itu berdua. “Buat elu aja, deh. Gue lagi batuk.” Jelita mengelak. “Batuk? Demam juga?” Satria segera meraba dahi dan leher Jelita yang setengah mati tengah menghindari tatapan Satria. Jangan sampai dia melihat muka gue yang merah atau mungkin sudah berubah menjadi ungu. Jelita gelisah sendiri. “Elu kenapa, sih? Gue perhatiin kok agak beda,” tanya Satria setelah memastikan bahwa sahabat dekatnya itu baik-baik saja sambil menjilati es krim corn itu sendirian.
  • 114.
    Analekta Kisah Semesta| 114 PROPERTI OF P Nah, lho. Tuh kan?Mati gue. Gue mesti jawab apa ini? Gue sudah yakin pasti suatu saat dia ngerasa kalau gue jadi aneh. Satria kan cerdas. Aduh, gimana ini? Kalau ketahuan gue punya perasaan cinta bagaimana? Rasa ini berjalan memilih jalannya sendiri. Keluar dari rambu yang pernah diiikrarkan lima tahun lalu. Gue nggak siap kehilangan elu, Satria. Jelita bolak balik mendiamkan suara hatinya. Takut kalau kegelisahannya akan terdengar oleh Satria yang terus memandangnya. “Aneh, gimana?” “Ya, aneh aja. Kemarin gue suapin di kantin, elu nggak mau. Waktu kita kehujanan, gue gosokin tangan elu, elu nolak. Kalau kita naik motor, elu nggak meluk gue kayak biasanya. Terus sekarang ini. Gue ngerasa ada yang elu sembunyiin, Lit. Ada apa?” Jelita hanya memandang. Bagaimana bisa jujur pada manusia satu ini? Seandainya bibirnya mampu melontarkan isi hatinya, niscaya ini adalah sore terakhir untuk Jelita memandang sahabat sekaligus pujaan hatinya. Mereka sama-sama berjuang mempertahankan hubungan ini. Satria yang harus kembali ke Yogyakarta selepas SMA untuk kuliah dan meneruskan usaha mendiang ayahnya, dipusingkan sebab tidak bisa meninggalkan Jelita di Jakarta. Segala cara ditempuh, tapi berujung nihil. Waktu tidak bisa berhenti untuk segera membentangkan jarak antara mereka. Akhirnya dengan kebulatan tekad penuh nekat, Jelita yang mengalah untuk ikut Satria. Dia memutuskan ikut pindah kota termasuk
  • 115.
    115 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF juga kepindahan ke klub voli barunya. Mana mungkin hidup berjauhan dengan pengisi mimpinya? Segala kekuatan memenuhi keyakinan mereka buat tetap bersama. “Gue lagi mikir gimana nanti kita ke depannya? Apa masih bisa terus seperti ini? bersahabat tanpa pamrih, tanpa ikatan, tanpa keinginan …” “Kok, elu jadi pesimis?” potong Satria. “Bukan pesimis, Sat. Menurut gue ini pertanyaan wajar. Gue takut nanti salah satu dari kita tanpa sengaja jatuh cinta dan mengingkari janji persahabatan kita. Terus kita berpisah.” Padahal ketakutan itu diperuntukkan untuk dirinya sendiri. Jelita menyelipkan rambut pendeknya ke telinga, cerminan gugup menunggu kalimat Satria. “Yang pasti itu bukan gue. Gue tulus kok bersahabat dan sampai kapan pun takdir gue, Satria Arka hanya di samping Jelita Mayang Ayu, paham? Gue bakal minta pada Tuhan agar kita masing-masing dijauhkan jodohnya biar bisa terus sama-sama. Biar cuma gue yang jagain elu sampai kita tua. Kalau ada cerita percintaan yang dibawa sampai mati, persahabatan kita ini bakal abadi sampai nanti.” Di anak tangga yang bersemen itu mereka duduk memandangi danau yang tenang. Sambil merangkum tangan Satria, Jelita memutuskan hatinya untuk terus menyimpan satu rasa itu diam-diam demi menunaikan janji. Satria pun enggan melepas Jelita. Karena ternyata selama ini perasaan cinta
  • 116.
    Analekta Kisah Semesta| 116 PROPERTI OF P itu juga sudah mengalir kuat dalam batinnya, dalam hasratnya yang mengingini Jelita lebih dari sahabat. Namun, sayang hal itu hanya berbentuk keinginan dan harapan tanpa mampu diubah menjadi kenyataan. Satria pun telah termakan janjinya sendiri. *** Tentang Penulis Merry Saleky, percaya bahwa karya yang tulus akan lulus ke hati pembacanya. Lulusan Fakultas Ilmu Keperawatan ini nekat memilih menulis jadi bagian untuk memotivasi orang lain selain sebuah hobi. Dari lahirnya beberapa antologi cerita pendek, membuatnya yakin menulis adalah sebuah keniscyaan. Untuk mengenalnya bisa ke laman IG @merry.cc_saleky.
  • 117.
    117 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF PELANGI SETELAH HUJAN Oleh: N’esthy Selama hampir beberapa minggu ini aku jarang sekali keluar rumah untuk berbelanja atau sekadar menghabiskan waktu berjalan-jalan. Semuanya kulakukan dengan melalui daring. Sangat efisien untuk kondisi saat ini yang terasa cukup aman karena tinggal dan bekerja dari rumah. Sore ini kuputuskan untuk keluar rumah mencari suasana baru, berharap menemukan suatu hal yang bisa menghilangkan rasa jenuh karena terlalu lama berada di rumah. Berjalan santai memasuki pusat perbelanjaan, membeli beberapa keperluan dan memanjakan diri
  • 118.
    Analekta Kisah Semesta| 118 PROPERTI OF P menikmati makanan kesukaan yang tidak dapat dipesan secara online. “Kayla?” seorang lelaki menyapa ketika sedang menyantap kue sore ini. Aku tidak segera menjawab. Kupandangi sosoknya yang berdiri tegak di depan, menyunggingkan seulas senyum. “Ya?” sahutku masih belum menyadari siapa lelaki ini. Aku berusaha mengingat siapa dia yang kemudian menarik kursi di depanku dan duduk meletakkan sepotong kue di meja yang sama. “Nando. Kamu enggak ingat siapa aku?” lanjutnya cepat. Lelaki di depanku kemudian mengatakan bahwa ia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Beberapa bulan yang lalu perusahaannya mengerjakan sejumlah proyek yang tendernya dimenangkan oleh perusahaan tempatku bekerja. Entahlah, aku merasa bingung. Merasa bahwa pertemuan sore ini adalah pertemuan pertama dengannya. Namun ia bersikeras bahwa kami telah bertemu sebelumnya. Ia seringkali melihatku saat mereka datang untuk rapat di kantor. Seolah ia telah cukup lama mengenalku. Dan dari ceritanya memang benar perusahaan kami bekerja sama mengembangkan sebuah proyek. Namun hanya itu saja yang dapat disimpulkan dari pertemuan ini.
  • 119.
    119 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Mungkin aku yang lupa siapa dirinya dan masih merasa khawatir ia akan salah mengira bahwa kami pernah saling mengenal.Aku masih belum merasa yakin mengenal lelaki yang kemudian menyantap kuenya di depanku ini. Ia terus saja bercerita tentang beberapa hal, seakan-akan ia tengah berusaha mengingatkan tentang siapa dirinya. Seperti menyadarkan orang amnesia saja, gumamku dalam hati. Nando mengatakan bahwa ia menikmati pekerjaannya dan kerjasama yang dilakukan dengan perusahaanku. Banyak ide-ide baru yang muncul dan memberikan pengalaman yang bagus untuk menambah catatan prestasinya dibidang arsitektur interior. Tidak banyak yang bisa kukomentari atas ucapannya. Aku lebih banyak mencerna dan mencoba mengingat-ingat siapa sesungguhnya lelaki ini. Kapan tepatnya kami bertemu atau bertegur sapa, di kantor ataukah tempat lainnya. Kami berbincang sebentar sambil menyantap makanan lainnya. Secangkir kopi hangat kami nikmati dengan tetap mendengarkan ceritanya. Lelaki ini terlihat ramah dan baik. Ia bahkan tidak segan mengambilkan garpu untukku menggantinya dengan yang baru ketika terjatuh barusan. Akhirnya kami pun berpamitan dan ia mengatakan akan menghubungiku untuk bertukar kabar. Sepanjang perjalanan pulang pikiranku tak lepas mengingat sosoknya. Seorang yang sesungguhnya benar-benar aku lupa.
  • 120.
    Analekta Kisah Semesta| 120 PROPERTI OF P Bagaimana mungkin aku melupakan seorang yang bekerja di perusahaan yang sama, yang pernah datang ke kantor untuk rapat dan bahkan ia memiliki nomor ponselku. Ia mengucapkan dengan benar serangkaian nomor ponselku. Sangat meyakinkan, batinku. Masih saja penasaran bagaimana Nando begitu akrab seolah kami telah lama saling kenal. Semakin kucari tahu tentang siapa lelaki ini, aku semakin dibuatnya pusing. Bahkan mencoba membayangkan kemungkinan aku pernah membuat seseorang kesal dan kemudian orang tersebut mengerjaiku. Atau mungkin aku sendiri yang telah berbuat salah kepadanya. Mungkin ia sakit hati dan berniat membalaskan sakit hatinya dengan membuatku bingung menghadapinya. *** Membayangkan sosoknya membuatku tertidur hingga terbangun keesokan pagi. Menyelesaikan pekerjaan dengan masih diliputi rasa penasaran sungguh sedikit mengganggu. Aku jadi kurang konsentrasi dan memilih mengakhiri perkerjaan hari ini lebih cepat dari biasanya. Kuambil ponsel dan menghubungi Marisa, sahabat yang kukenal sejak kami berteman dari mulai kelas dua sekolah dasar. “Ca, aku mau tanya sesuatu ke kamu. Kamu ingat aku pernah cerita seseorang yang bernama Nando. Ia rekan kerja dari perusahaan konstruksi yang bekerja sama dengan kantorku. Kemarin sore aku bertemu dengannya
  • 121.
    121 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF di pusat perbelanjaan. Ia menyapa. Kami pun berbincang karena ia menghampiriku saat duduk di kafe.Aku sungguh lupa siapa lelaki tersebut, Ca,” jelasku tanpa menghiraukan ucapannya yang sesekali memotong pembicaraan. Caca, panggilan sayang untuk sahabatku Marisa. Kami bersahabat lebih dari lima belas tahun. Pasang surut persahabatan mampu kami lalui dengan banyak cerita. Dari pertengkaran karena merebutkan cowok incaran yang sama, bersaing masuk perguruan tinggi negeri bahkan bekerja di perusahaan bergensi seperti saat ini. Kami pun merasakan kegembiraan bersama- sama. Berwisata dan berpetualang ke negeri seberang, melakukan perjalanan umrah hingga saling mendukung dan menghibur ketika Ibunda Caca menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seminggu sekali maupun ketikaAyahku menjalani perawatan akibat serangan stroke beberapa tahun yang lalu. Hal yang sungguh membahagiakan adalah ketika mengenalkan Caca dengan salah seorang sepupuku, Mas Arif. Aku sengaja mengenalkannya karena mereka berdua adalah orang-orang baik namun belum menemukan jodohnya. Setelah beberapa bulan berjalan akhirnya Caca menerima Mas Arif sebagai pasangan hidupnya dan sekarang mereka tengah menanti kelahiran buah hati. “Kay, sudah selesai bicaranya?” sahutnya cepat dengan nada kesal. Aku tersenyum membayangkan wajahnya yang ditekuk karena sebal dengan ocehan
  • 122.
    Analekta Kisah Semesta| 122 PROPERTI OF P ini. Aku pun mengiyakan sambil tertawa geli seolah ia menyadari sedang menertawakan kekesalan hatinya. “Entahlah Kay. Rasanya tidak ada lelaki bernama Nando yang kamu ceritakan padaku. Mungkin kamu lupa cerita ke aku atau kamu sengaja menyembunyikannya dariku hingga kamu lupa telah mengenal orang tersebut,” ucapnya menjawab pertanyaan. Sekarang justru aku yang kebingungan karena Caca pun tidak mengenal mau pun mendengar sosok lelaki yang kutanya barusan. Masih penasaran dan tidak mempercayai ucapannya, kuyakinkan diri menanyakannya sekali lagi. “Ca, yakin kamu kalau aku belum pernah cerita soal cowok ini. Mungkin kamu bisa mengenali siapa orangnya kalau kamu ingat ciri-ciri orang ini. Bisa jadi Nando salah satu alumni sekolah kita atau kenalan kamu yang pernah kamu ceritakan ke aku.” Pertanyaan kedua untuk meyakinkan Caca demi membantu mengingat Nando. “Cowok ini bertubuh atletis dan rapi. Kulitnya sedikit kecokelatan dengan bulu-bulu halus di sekitar mukanya. Enggak berewokan banget sih, tapi wajahnya seperti campuran orang Indonesia dengan Timur Tengah. Bicaranya halus dan ramah. Dia bahkan membantuku mengambilkan garpu baru ketika garpu yang kupakai jatuh, Ca” jelasku menyebutkan ciri-ciri Nando yang bisa kuingat sejauh ini.
  • 123.
    123 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Reza Rahadian kali. Kamu aja yang salah menjelaskan ciri-ciri Nando sama Reza. Belum juga umur tiga puluh udah pikun, Kay. Ngaku-ngaku cowok namanya Nando tapi cirinya persis banget sama Reza. Coba diingat- ingat lagi,” timpalnya sambil terkekeh. Caca tahu benar kelemahanku, menggoda dengan menyebutkan nama Reza Rahadian sebagai salah satu aktor favorit kami. “Eh tapi aku yakin Nando lebih tinggi dari Reza, Ca,” sanggahku cepat. “Bener kok. Aku kan baru ketemu Nando kemarin sore. Enggak mungkin lupa perawakannya. Jelas-jelas kami duduk berhadapan dan masih ingat betul bagaimana wajahnya. Ca, aku enggak mungkin tiba-tiba amnesia kan ya,” seruku masih belum menerima kenyataan tidak dapat mengingat sosoknya. Caca bersikukuh bahwa ia tidak mengenal Nando, bahkan ia cukup yakin aku tidak pernah menceritakan temanyangperawakannyasepertiNando.Hinggabeberapa hari berikutnya aku masih saja mengusik Caca dengan rasa penasaran tentang sosok Nando, bahkan berencana mengajaknya untuk berkonsultasi ke dokter. Tiba-tiba aku merasa khawatir dengan keadaanku. *** Suatu sore ponselku berdering. Nomor yang tertera tidak dikenal jadi kuabaikan panggilan itu. Hari berikutnya ponselku berdering kembali. Aku masih mengingat tiga
  • 124.
    Analekta Kisah Semesta| 124 PROPERTI OF P nomor di belakang sama persis dengan nomor yang menghubungiku kemarin sore. Kembali mengabaikannya, tetapi ponsel terus berdering hingga beberapa kali membuatku menyerah dan menyapa seseorang diseberang sana. “Halo Kayla. Aku Nando,” terdengar suara yang tak asing diseberang sana. “Hai, Ndo. Apa kabar?” Nando menghubungi hanya untuk menanyakan kabar dan juga berusaha mencari tahu apabila aku telah berhasil mengingatnya. Terus terang aku menjawab bahwa masih belum mengingat dengan baik bahkan tidak merasa pernahmelihatnyadikantor.Ialalumenjelaskanbahwakali pertama melihatku di kantor saat ia mewakili atasannya untuk mengkonfimasi perihal anggaran pembelian barang- barang interior. Saat itu aku tengah melakukan video call di ruang rapat yang berseberangan dengan ruang rapat mereka. Melihat banyak orang yang memasuki ruang rapat diseberang lalu aku menutup tirai ruang rapat sehingga ia tidak lagi dapat melihatku. Begitulah ia menjelaskan secara runut peristiwa itu. Saat berikutnya Caca menghubungi, kuceritakan bahwaNando menjelaskansaatpertamakalikamibertemu. Tentu saja aku masih penasaran karena menganggap Nando cukup banyak mengenal diriku namun minim sekali aku tahu tentang dirinya. Dan seketika aku teringat satu hal.
  • 125.
    125 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ca, apa mungkin amnesia yang dulu pernah aku derita balik lagi ya. Ada beberapa peristiwa yang aku enggak ingat, makanya aku bingung kalau Nando bilang kami pernah bertemu sebelumnya?” Pertanyaan selanjutnya untuk Caca. “Seharusnya ingatan kamu sudah pulih kembali, Kay. Kalaupun dulu kamu sempat amnesia, masih tergolong amnesia lacunar, artinya hanya beberapa peristiwa saja yang mungkin terlupa. Peristiwa tersebut biasanya sebuah kejadian yang membuat seseorang mengalami trauma. Tapi aku yakin ingatan kamu sudah pulih. Mungkin hanya kebetulan saja kamu belum ingat Nando karena memang tidak pernah bertemu bahkan bicara.” Caca yang seorang psikolog mencoba menjelaskannya dan menenangkan kekhawatiranku. *** Lebih dari enam bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan ketika sedang berkendara dengan Kenza, mantan kekasihku. Saat itu kami tengah bertengkar karena aku ingin mengakhiri hubungan. Hubungan yang telah terjalin selama dua tahun ini harus kuakhiri karena Kenza kerap kali berbicara keras dan tidak dapat menahan emosi serta amarahnya. Ia sering berteriak dan tidak dapat bersabar atas sesuatu hal. Saat itu adalah kali kedua aku memintanya mengakhiri hubungan kami karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap dan sifatnya tersebut.
  • 126.
    Analekta Kisah Semesta| 126 PROPERTI OF P Akibat tidak dapat menahan emosinya, ia memacu mobil yang dikendarai dengan kecepatan kencang di jalan tol Bogor menuju Jakarta. Mobil lain yang didahului Kenza dari sebelah kiri nampaknya tidak terima dan tersulut emosi hingga akhirnya mengejar mobil kami. Nahasnya, mobil tersebut kehilangan kendali saat hendak mendahului kami hingga menabrak sisi kiri kendaraan. Kenza yang juga kaget dan kehilangan kendali menghindar ke bahu jalan sebelah kiri namun mobil justru terbalik dan menabrak sebuah pohon. Beruntung aku tidak terluka parah karena airbag mobil berfungsi dengan baik menahan benturan saat kecelakaan terjadi. Aku hanya mengalami beberapa luka robek di tangan terkena pintu dan pecahan kaca. Kepalaku juga sempat mengalami benturan karena dokter yang merawat melakukan CT-Scan. Aku terdiagnosis mengalami amnesia, namun akan pulih seiring waktu sejalan dengan menghilangnya trauma di kepala. Terkadang masih ada sedikit kekhawatiran dengan ingatanku ini, apakah benar akan kembali pulih seperti sebelumnya ataukah ada potongan peristiwa yang mungkin terlupakan. Namun Caca selalu berhasil menenangkan gundahku. Ia pula yang kerap kali menanyakan keadaanku sejak peristiwa tersebut. Caca yang bersikeras tidak mengizinkan Kenza bertemu denganku sejak kecelakaan. Dia yang memutuskan semua komunikasi di antara kami, menghapus kontak di ponselku dan tidak mengizinkan Kenza datang ke rumah dan ke kantor, apa pun alasannya.
  • 127.
    127 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF *** Akhir minggu ini Caca dan Mas Arif mengajakku menghabiskan sore menemani mereka mencari keperluan bayi. Keseruan aku dan Caca memilih baju dan perlengkapan bayi nampaknya membuat Mas Arif harus menanggung semua pilihan kami yang harus dibayarnya. Semuanya tampak lucu, mungil dan beraroma harum khas bayi. Saat berjalan keluar toko kurasakan seseorang menepuk pundak. Kaget melihat sosoknya berdiri di belakangku dan senang karena aku bisa bertemu dengan Nando lagi sore ini. Kebetulan sekali, bisikku dalam hati. Aku memperkenalkan Nando pada Caca dan Mas Arif. Akhirnya Nando bergabung bersama kami menghabiskan malam minggunya menikmati makan malam. Aku dan Caca menunggu mereka berdua di sebuah kafe di dalam pusat perbelanjaan sementara Nando membantu Mas Arif memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil. Kuperhatikan sekilas Nando memang sangat ramah pribadinya. Ia mudah sekali akrab dengan Caca dan suami, seakan-akan mereka telah lama saling mengenal dan lama tidak berjumpa. Sempat terbayang olehku kalau mereka bertiga telah saling mengenal namun segera kutepis. Bagaimana mungkin Nando mengenal mereka
  • 128.
    Analekta Kisah Semesta| 128 PROPERTI OF P berdua karena keduanya adalah petugas medis yang setiap hari berada di rumah sakit dan Nando seorang arsitek. Tempat kerja kami pun berbeda wilayah. Sepertinya tidak mungkin kalau mereka saling mengenal, lamunku kemudian. Tidak terasa waktu telah semakin malam ketika Nando meminta izin Mas Arif untuk mengantarku pulang. Mas Arif mengiyakan setelah melihatku memperbolehkannya. Malam itu pertama kalinya aku pulang dengan seorang lelaki yang belum lama dikenal. Walaupun kenyataannya ia telah cukup mengetahui jati diriku. “Seneng banget kenal sama mereka berdua. Keduanya orang yang baik dan ramah. Apalagi Mas Arif dokter ortopedi terkenal di rumah sakit,” ucapnya membuka perbincangan malam ini. “Kok kamu tahu kalau Mas Arif dokter ortopedi?” tanyaku seketika. Rasa-rasanya tadi saat kami berempat berbicara Mas Arif hanya mengatakan kalau ia Dokter di sebuah rumah sakit tapi tidak bilang kalau ia Ortopedi. Sesaat mencurigai Nando mungkin sebenarnya sudah mengenal Mas Arif. “Ooh tadi Mas Arif sempat cerita kok kalau dia dokter ortopedi. Mungkin kamu waktu itu sedang tidak mendengarkan kami bicara,” jelasnya singkat. Aku mengangguk setuju, mungkin mereka berdua tadi sempat ngobrol sendiri saat aku berbicara dengan Caca
  • 129.
    129 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF atau memang tidak memperhatikan pembicaraan mereka berdua. Kami masih meneruskan obrolan malam ini dengan saling menceritakan kisah masing-masing. Nando adalah anak bungsu dari dua bersaudara dengan kakak perempuanyangjugaseorangdokteranak.Iatelahmenikah namun menetap di Australia mengikuti suaminya bertugas sebagai abdi negara. Kedua orang tuanya pengusaha. Ayahnya pemegang sebagian saham otomotif dan ibunya pemilik sebuah klinik kecantikan. Tiba di rumah, terlihat ayah masih duduk diteras dengan Kahfi, adik lelakiku. Mereka berdua tengah menghabiskan malam dengan bermain catur. Nando menyempatkan diri bertemu dengan ayah dan berkenalan dengan beliau untuk kemudian pamit pulang. Ayah iseng menggoda saat aku menemaninya membuat teh malam ini. Ayah mengatakan kesan pertamanya saat bertemu dengan Nando dan nampaknya beliau menyukai lelaki itu. Ia terlihat sangat sopan dan ramah. Tutur katanya pun lemah lembut, ungkap ayah. Ibu yang mendatangi kami di dapur menjadi penasaran mengenai apa yang sedang dibicarakan. Ibu justru tidak mau kalah dengan ayah ikut menggodaku. Beliau menyatakan telah melewatkan kesempatan bertemu dengan calon menantunya. Tidak tahan dengan godaan mereka berdua, kutinggalkan ayah dan ibu di dapur segera setelah mengecup kening mereka dan mengucapkan selamat malam. ***
  • 130.
    Analekta Kisah Semesta| 130 PROPERTI OF P “Ca, aku rasa Mas Arif dan Nando sudah saling mengenal sebelumnya,” tanyaku pada Caca saat beberapa hari berikutnya ia menghubungiku. Sebenarnya Caca lebih penasaran akan ceritaku ketika Nando mengantarku pulang pada Sabtu malam lalu dibanding pernyataan yang terlontar barusan. “Sok tahu! Aku kenal semua teman Mas Arif, di rumah sakit ataupun teman kuliahnya. Kenapa sih kamu masih saja menanyakan soal Nando. Pakai nyeret-nyeret Mas Arif lagi.” Caca mematahkan kecurigaanku. “Tapi, Ca, waktu Nando mengantarku pulang ia bilang kalau ia terkesan dengan Mas Arif karena menjadi seorang dokter ortopedi terbaik di rumah sakit tempat kalian bekerja. Aku rasa waktu kita ngobrol berempat aku tidak pernah melewatkan obrolan kita. Coba kamu tanya Mas Arif, siapa tahu memang mereka berdua telah saling kenal sebelumnya,” lanjutku masih penasaran. “Sudahlah Kay, mungkin saja memang Mas Arif seterkenal itu,” godanya. Kami melanjutkan obrolan dengan rencana lainnya untuk menyambut kelahiran bayi Caca. *** Beberapa minggu ini kujalani dengan sedikit warna yang berbeda. Nando beberapa kali menghubungi ponselku dan kami berbicara banyak hal. Ia juga sesekali bertandang ke rumah, bertemu ayah dan tentu saja dengan
  • 131.
    131 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF ibu juga. Seperti halnya ayah, ibu pun turut menerima kedatangan Nando dengan tangan terbuka. Beliau berdua nampaknya senang bertemu Nando setiap kali ia datang bertamu. Kahfi bahkan telah menemukan lawan baru bermain PS di rumah. Kami berdua telah beberapa kali menghabiskan waktu bersama. Mengunjungi toko buku, berbelanja maupun menemani Caca dan Mas Arif melengkapi kebutuhan bayi mereka. Saat bersama mereka, aku beberapa kali memperhatikan kalau Nando dan Mas Arif terlihat seperti sudah lama mengenal. Rasanya tidak mungkin kalau mereka baru saja bertemu beberapa kali dan langsung sangat akrab seperti ini, batinku dalam hati. *** Suatu pagi Caca dan Mas Arif datang berkunjung ke rumah. Ayah dan ibu menemani mereka berbincang di teras belakang. Aku kembali ke kamar menyelesaikan mandi pagi, untuk segera bergabung dengan mereka. “Om senang Kayla bertemu dengan Nando dan sepertinya mereka cukup dekat belakangan ini. Nando sudah beberapa kali datang dan bertemu kami sebelum mengajak Kayla pergi. Terima kasih kalian sudah mengenalkan Kayla pada Nando.” Kudengar sayup-sayup suara ayah dan Mas Arif. Pasti Mas Arif sebelumnya sudah mengenal Nando, hanya saja aku tidak tahu kenapa mereka menyembunyikannya.
  • 132.
    Analekta Kisah Semesta| 132 PROPERTI OF P “Iya, Om. Kami juga senang Kayla menerima Nando walaupun harus melalui beberapa kejadian dahulu sebelumnya. Semoga ini ….” “Caca! Jahat banget sih kamu bohong ke aku.”Aku menyela pembicaraan mereka sembari berteriak kearah Caca. “Kamu sama Mas Arif yang merencanakan semua ini ya? Dan ternyata Ayah juga setuju? Ayah sama Ibu kenapa enggak bilang terus terang saja sama Kayla kalau mau mengenalkan dengan Nando,” ujarku mendatangi mereka berempat dengan muka cemberut. “Kami pikir kamu akan menolak kalau dikenalkan begitu saja. Makanya Mas Arif meminta persetujuan Ayah akan mengenalkan Nando padamu. Terlebih sebenarnya Nando memang pernah bertemu denganmu di kantor, bukan?” Ayah menerangkan. Ibu yang merasakan kekesalanku, memeluk lembut sambil mengelus kepala. “Kamu juga boleh marah sama Ibu karena ikut mengerjai kamu, Kay. Tapi Ibu setuju kalau Ayah menjodohkan kamu sama Nando,” goda Ibu. “Kayla pikir beberapa waktu lalu amnesia Kayla belum pulih benar. Dan Kayla memang tidak bisa mengingat beberapa kejadian yang sudah lewat. Kayla sempat tanya ke Caca juga waktu itu,” ujarku membela diri dan melayangkan pandang ke arah Caca.
  • 133.
    133 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Maaf ya, Kay. Sebenarnya kami enggak berniat mengerjaimu, hanya saja kalau kamu tidak diperkenalkan dengan cara seperti ini pasti kamu akan menolaknya. Kami khawatir kamu balik lagi jadian sama Kenza. Aku enggak rela, Kay. Baby di perutku juga pasti enggak rela kalau Tante Kayla yang cantik dan baik hati ini disakiti lagi,” sahut Caca diikuti gerakan tangannya mengelus perut besarnya yang sudah hampir melahirkan itu diselingi senyumnya yang menggoda. Mas Arif akhirnya mengakui bahwa Nando memang bukan temannya ataupun Caca. Ia adalah teman dari salah satu pasiennya. Waktu itu Nando mengantarkan temannya yang mengalami kecelakaan patah tulang saat bersepeda dan beberapa kali memang Nando yang selalu mengantarkannya. Mungkin mereka berdua bersahabat. Dari beberapa kali pertemuan itu kemudian Mas Arif menanyakan kesediaan Nando untuk berkenalan denganku setelah ia mengetahui bahwa perusahaan kami mengadakan kerja sama. Mana mungkin aku marah pada orang-orang yang menyayangiku. Aku tahu mereka sangat mengenalku dan tidak mau hatiku terluka lagi. Kenza tidak hanya meninggalkan luka batin, tapi ia juga meninggalkan trauma dalam diriku. Kami kemudian mengundang Nando untuk bergabung malam ini di rumah. Mas Arif mengatakan bahwa aku telah mengetahui rencana mereka untuk menjodohkannya. Ia juga meminta maaf padaku juga
  • 134.
    Analekta Kisah Semesta| 134 PROPERTI OF P Nando karena harus mempertemukan kami berdua dengan cara seperti ini. Tapi seru, kata Caca menanggapi ucapan suaminya. Rasanya tidak adil karena Nando sudah lebih banyak mengenalku sedangkan aku tidak begitu mengenalnya. Malam ini aku akan memintanya mengatakan semua hal tentang dirinya. Mulai saat ini kita akan melakukannya dengan benar dan terbuka, begitu permintaanku padanya. Nando terpaksa menyetujuinya alih-alih menghabiskan waktu berbincang dengan Mas Arif dan ayah malam ini. Senangnya malam ini gantian aku yang berhasil memaksakan kehendak padanya. Juga memaksa Caca untuk membuatkanku lasagna esok hari untuk menebus kesalahan karena mengerjaiku. Sementara Mas Arif, ia cukup harus menemani istrinya berbelanja dan membantunya memasak makanan kesukaanku. Nikmatnya mengerjai mereka semua tanpa rasa bersalah, gumamku dalam hati. Semoga awal yang baik dari pertemuan yang direncanakan ini akan memberikan warna yang baru dan berbeda.Menebarkanwarnakebahagiaandankebersamaan dalam kehidupanku bersama orang-orang yang aku kasihi.
  • 135.
    135 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis N’esthy, nama pena yang disunting dari nama aslinya. Menyukai kisah kasih semua genre. Kini ia mencoba mengasah kemampuannya menulis. Beberapa buku telah diterbitkan bersama penulis lain, di antaranya bersama penulis besar A. Rifa’I Rif’an dalam buku Tommorow Will Be Better. Kisah pendek dalam keseharian dapat ditemui di Instagramnya @cerita_mencerita.
  • 136.
    Analekta Kisah Semesta| 136 PROPERTI OF P BLOODY SPRING IN AMSTERDAM Oleh: Wida Reza Hardiyanti Aku berprofesi sebagai seorang dokter di Amsterdam UMC, sebuah rumah sakit kelas internasional yang berada di jantung kota Amsterdam, tepatnya di Jalan Meibergdreef No.9. Bulan April ini adalah bulan yang membawa keceriaan dan bahagia dalam hidupku karena di bulan ini datang musim semi. Musim semi di Belanda sangatlah indah, penuh bunga bermekaran dan festival bunga diadakan di masing-masing kota. Musim semi membawa kenangan indah sejak aku masih kanak-kanak. Orang tuaku sering mengajakku jalan-jalan ke taman di musim semi. Ketika orang tuaku telah tiada akhir tahun lalu, rasanya hanya kenangan yang tersisa,
  • 137.
    137 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF salah satunya musim semi. Hari ini aku ingin berjalan sendiri dari rumah sakit tempatku bekerja. Kondominiumku terletak di dekat taman di jalan Tafelberg, hanya perlu berjalan sekitar 500 m dari rumah sakit tempat aku bekerja. Hari ini aku sengaja tak membawa mobil dan memilih berjalan kaki. Aku ingin pulang cepat dari tugas dinasku dan menikmati pemandangan malam di musim semi, melihat beraneka bunga bermekaran di taman Volkstuinpark De Vijf Slagen yang terletak di Jalan Tafelberg. Aku ingin menikmati udara malam di taman bunga Volkstuinpark. Aku ingin menikmati dunia penuh warna yang dipancarkan oleh kelopak bunga tulip, daffodil, snowdrops, crocus, hyacinth, peony, cannas, dan dahlia menghiasi taman1 . Keindahan taman ditunjang pula dengan landscaping yang bagus, bangku-bangku taman yang antik berwarna cokelat tua, dan pencahayaan yang indah dari lampu taman. Semuanya memancarkan aura musim semi yang penuh gairah, semangat, dan keceriaan. Aku sebenarnya ingin menikmati pemandangan ini di pagi hari yang cerah sambil duduk di kursi taman, tapi sudah berbulan-bulan lamanya, pekerjaanku sebagai dokter bedah memaksaku selalu pulang larut malam. 1 Belanda, negeriku ini, memang terkenal sebagai produsen bunga. Belanda mampu berkontribusi sebanyak 60% dari total perdagangan dunia dalam komoditas bunga. Maka tak heran bila Belanda dinobatkan sebagai Sillicon Valley di industri bunga kelas dunia.
  • 138.
    Analekta Kisah Semesta| 138 PROPERTI OF P Aku tak sempat memiliki waktu untuk sekadar duduk- duduk menikmati keindahan taman di pagi hari. Di waktu senggang pun aku sudah terlalu lelah hingga kuhabiskan sepanjang hari untuk beristirahat di kondominium, memasak, atau merawat tanaman di halaman belakang tempat tinggalku. Perlahan kulangkahkan kakiku perlahan keluar dari rumah sakit. Jam menunjukkan pukul 21.00. Aku menikmati sejuknya malam sambil berjalan kaki melintasi trotoar jalan Meibergdreef. Entah kenapa malam ini sepi. Tak banyak lalu lalang mobil seperti biasanya, hanya satu dua pejalan kaki dan kendaraan yang melintas. Aku menduga karena adanya terror seorang pembunuh berantai di kota ini yang hingga kini belum ditemukan jejaknya oleh Dienst Nationale Politie, suatu divisi kriminal kepolisian setempat. Bahkan, kabarnya bekerjasama pula dengan Dienst Landelijke Operationele Samenwerking karena sulitnya melacak keberadaan pelaku. Tapi, aku tak peduli. Hari ini aku ingin melihat bunga-bunga bermekaran di taman kota, menikmati udara malam, kemudian menyeruputsegelas kopi hangat di kafe dekat taman. Maka kuputuskan untuk mengabaikan berita itu. Baru beberapa langkah memasuki taman bungaVolkstuinpark, aku mendengar suara rintihan seorang perempuan merintih kesakitan, “Help mij,2 ” katanya lirih. Aku sebenarnya sedikit takut karena jalanan begitu lengangdan tak ada lalu lintas kendaraan sama 2 Tolong bantu saya­­
  • 139.
    139 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF sekali. Lampu taman tampak temaram dikalahkan oleh gelapnyamalam.Udaradinginjugaserasamenusuktulang. Menambah suasana lebih mencekam. Langkah kakiku terhenti. Hatiku tercekat. Degup jantung seolah saling berpacu dengan deru napasku yang tak beraturan. Tiba- tiba terlintas semua bayangan buruk tentang pembunuh berantai buronan polisi. Nyaliku ciut. Aku ingin rasanya segera lari menjauh dari tempat itu, bergegas meninggalkan taman dan mencari kafe terdekat di sana. Kafe yang biasanya ramai akan kerumunan. Tapi kakiku rasanya tak bisa digerakkan sama sekali seperti mati rasa. Keringat dingin juga membanjiri tubuhku. Kupaksa tubuhku untuk bergerak. Setelah sepersekian detik, akhirnya aku mulai bisa menata suasana hatiku. Kutarik napas perlahan-lahan dan pikiranku mulai jernih kembali. Kuputuskan untuk pergi dari sanaKetika aku hendak bergegas pergi, tiba-tiba suara rintihan itu terdengar kembali menembus sepinya malam. Aku membulatkan tekad untuk mencari tahu. Kulangkahkan kakiku perlahan mendekati sumber suara. Rupanya suara itu berasal dari rimbun daun Breynia Distichia atau yang lebih dikenal dengan pretty pink. Daunnya kecil berwarna pink, rimbun, dan berdahan rendah. Tapi anehnya, kulihat warna daunnya tak lagi pink tapi seperti bercak warna merah darah. Di sekitar semak dedaunan tampak bekas jejak kaki dan terdapat noda merah di tanah. Kusibakkan rimbun daun dan betapa tercekat diriku ketika melihat seorang perempuan
  • 140.
    Analekta Kisah Semesta| 140 PROPERTI OF P dengan rambut kusut masai dan tubuhnya tertelungkup tak bergerak. Ia tak sadarkan diri, tapi bibirnya bergetar- getar seperti menggugamkan sesuatu. Segera kudekati perempuan tersebut. Tubuhnya tampak setengah telanjang dengan rok panjangnya tersingkap ke atas dan baju lengan panjangnya berada di samping tubuhnya. Tampak ada selembar kerudung warna biru yang kini warnanya menjadi sewarna darah. Di punggungnya tampak luka lebam bekas pukulan. Segera kubalikkan badannya perlahan dan kututupkan baju ke dadanya. Wajahnya penuh luka dan tampak kotor berkas tanah. Darah segar mengucur dari dahinya. Bibirnya sobek. Denyut nadinya masih terasa meskipun samar, tapi napasnya mulai pendek. Aku segera memanggil ambulans dan polisi. Ia pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, di rumah sakit tempatku bekerja. Polisi menginterogasiku selama beberapa saat di tempat kejadian. “Je kent hem al eerder?3 ” tanya polisi “Nee, ik weet het helemaal niet.4 ” “Hoe laat heb je hem gevonden? Is hier eerder iemand gepasseerd?5 ” 3 Apakah kamu mengenalnya sebelumnya? 4 Tidak, aku tak mengenalnya sama sekali 5 Pukul berapa kamu menemukannya? Apakah ada yang lewat di sini sebelumnya?
  • 141.
    141 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Rond 21:15 uur. Ik zag niemand langskomen. De situatie is erg eenzaam.6 ” Karena tak banyak hal yang bisa digali dariku, akhirnyapolisi tidakmemperpanjangprosesinterogasinya. Polisi kemudian membolehkanku pergi dari TKP. Kulihat mereka kemudian mulai memeriksa TKP dan mencari barang bukti. Aku segera beranjak pulang. Aku pulang dengan langkah lunglai. Sesampai di kondominium aku segera tidur terlelap. Esok paginya aku pergi lebih awal ke rumah sakit untuk melihat kondisi perempuan itu. Pukul 6 pagi aku segera memacu mobilku ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, kutemui ia di kamar rawat No. 9.Tangannya diinfus, alat bantu pernapasan terpasang di hidung, serta tangan dan kakinya juga digips. Ada alat EKG7 yang terpasang di sebelah tempat tidurnya. Kondisinya masih tak sadarkan diri. Perempuan itu dalam kondisi sekarat, berjuang antara hidup dan mati. Aku segera bercakap-cakap dengan rekan sejawatku, dokter yang merawatnya. “Zijn toestand is vrij ernstig. Er waren 10 gebroken ribben, bloedstolsels in het hoofd en breuken in zijn handen en voeten. Het kan meer dan een maand duren om 6 Sekitar jam 21:15. Saya tidak melihat siapa pun lewat. Situasinya sangat sepi. 7 Elektrokardiogram
  • 142.
    Analekta Kisah Semesta| 142 PROPERTI OF P te herstellen.”8 Dari hasil diskusi tersebut, kudapat informasi bahwa perempuan tersebut menjadi korban kekerasan dan penganiayaan. Ia juga mengalami luka sayatan di dada sehingga harus segera dioperasi. Akulah yang kemudian mengoperasi dirinya. Sementara untuk pengobatan dan perawatan ia akan di tangani oleh dokter lainnya. Aku sudah meminta kepolisian untuk menghubungi keluarganya,tapitakadasatupunyangbisadihubungi.Dari hasilpenelusuransementara,iabukanberkewarganegaraan Belanda, tapi berkebangsaan Maroko. Ia bernama Alea dan bekerja di sebuah butik pakaian tak jauh dari tempatku bekerja. Akulah yang otomatis kini menjadi wali Alea. Setiap hari kuluangkan waktu untuk menemui Alea di ruang rawat. Alea tampak seperti sleeping beauty, si cantik yang tertidur pulas dalam waktu lama. Wajahnya putih mulus, beralis tebal, hidungnya mancung, bibir merah dan penuh sempurna, dan pipi putih merona. Sudah dua minggu ia terbaring di ranjang, tanpa ada tanda-tanda bangun dari koma. Setiap hari itu pula aku mengajaknya bicara banyak hal. Aku merasa sangat nyaman, bahkan seolah sudah mengenalnya lama sejak dulu. Kadangkala aku membawakannya bunga yang kutaruh di vas bunga samping tempat tidurnya. Selama 2 minggu itu pula, belum ada perkembangan berarti dari pihak kepolisian. 8 Kondisinya cukup serius. Ada 10 tulang rusuk yang patah, terjadi pembekuan darah di kepala, dan patah tulang di tangan dan kakinya. Mungkin butuh waktu lebih dari sebulan untuk pulih.
  • 143.
    143 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Polisi hanya mendapatkan bukti bahwa pelakunya adalah seorang laki-laki dan ia merupakan orang yang mengenal korban. Seiring dengan makin intensnya aku bertemu dan bermonolog dengan Alea, perlahan muncul perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Semacam perasaan bergejolak yang sulit dijelaskan. Aku yang telah terbiasa hidup seorang diri belum pernah merasakan perasaan ingin melindungi dan empati sebesar itu sebelumnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa sudah 2 bulan Alea terbaring di tempat tidur. Hari ini bertepatan dengan tanggal 20 Juni dan diperkirakan merupakan hari terakhir di musim semi. Mungkin baru kali ini aku merasakan musim semi tanpa rasa bahagia. Semenjak Alea dirawat, musim semi tak lagi bisa membuatku ceria. Warna-warni bunga seolah tak bisa kulihat selain warna merah darah yang tercecer di bunga pretty pink ketika aku menemukannya di taman. Semilir angin seolah tak lebih mencekam daripada dinginnya malam saat aku menemukannya dalam kondisi sekarat. Apalagi ditambah belum ada perkembangan apa pun lagi dari kepolisian mengenai hasil pelacakannya terhadap pelaku. Tapi, di hari terakhir musim semi ini aku masih mengharap adanya keajaiban dari Tuhan. “Ya Tuhan, semoga Alea segera sadarkan diri dan pelaku segera ditemukan,” bisikku pelan. Kulihat langit tampak cerah. Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Sebentar lagi aku ada jadwal operasi. Kubisikkan pelan kata perpisahan di telinga Alea.
  • 144.
    Analekta Kisah Semesta| 144 PROPERTI OF P Kupandangi wajahnya sebelum aku pergi. Saat itulah kulihat keajaiban terjadi. Mata Alea terbuka dan bibirnya mulai bergerak. Dari tenggorokannya keluar suara parau dan lirih, “Waar ben ik? wat is er met me gebeurd?” Kukatakan padanya bahwa ia di rumah sakit dan sekarang kondisinya sudah membaik. Kusampaikan bahwa aku menemukannya dalam kondisi tak sadarkan diri di taman. Alea hanya diam. Dahinya berkerut, tampak merenung mencoba mengingat sesuatu. Tiba-tiba terdengar dering telepon dari kepolisian. Aku buru-buru mengangkatnya. Polisi baru saja memberi tahu bahwa pelakunya telah tertangkap. Pelakunya adalah seorang pembunuh berantai yang meneror kota kami.Aku akhirnya bisa bernapas lega. Musim semi kali ini ditutup dengan akhir yang indah. Kusunggingkan senyum termanisku di hadapan Alea. Aku beulum pernah sebahagia ini sebelumnya. MeskipunAlea belum mengenalku, namun ia membalas senyumanku dengan hangat. Hatiku berbunga- bunga seperti musim semi terakhir di Belanda. ***
  • 145.
    145 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis Wida Reza Hardiyanti. Lahir 25 tahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Punya impian jadi penulis sejak kecil. Menyempatkan menulis di waktu senggang. Pemula dalam hal nulis fiksi, tapi ingin terus belajar. Berprofesi sebagai konsultan, tapi dari kecil punya impian jadi penulis yang menerbitkan buku.
  • 146.
    Analekta Kisah Semesta| 146 PROPERTI OF P MUSIM SEMI DI TANAH ATATURK Oleh: Tika Nemoest Wajahku terasa panas meskipun angin tidak berhenti berembus. Sekarang ini pasti wajahku memerah. Menahan air mata untuk tidak keluar memang tidak mudah. “Seni çok seviyorum. Ağlama.”9 Aku memang mengerti bahasa Turki, tapi sekarang mendengarnyaberkatakenaparasanyaakusulitmemahami apa yang dia katakan. Aku memandang sekitar, mencoba 9 Aku mencintaimu. Jangan menangis
  • 147.
    147 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mengalihkan apa yang aku rasakan. Aku tersenyum kecil, sangat kecil mungkin ketika melihat seorang anak perempuan terlihat marah kepada anak laki-laki di sampingnya. Dia berkata bahwa dia bisa sendiri, tidak perlu dipegang. Dia ingin meluncur sendiri. Tidak jauh darinya ada seorang wanita yang tersenyum dan memegang kamera, pasti dia sedang merekam ketika anak perempuan itu bermain sepatu roda. Di sampingnya ada anak laki-laki yang sedikit lebih besar darinya, merentangkan kedua tangan seolah siap untuk menangkap jika anak perempuan berambut hitam ikal itu terjatuh. “Dondurma yemek ister misin? en sevdiğin çilekli dondurma.”10 Dia berkata lagi. Kali ini aku bisa mengerti apa yang dia katakan, mungkin anak kecil tadi membuat kesadaranku sedikit pulih. Tapi sayang, suasana hati dan pikiranku sekarang tidak mendukung untuk makan es krim stroberi. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Musim semi di Turki memang menakjubkan. Ketika badanku terkena sinar matahari akan terasa sangat panas, seperti musim panas di Indonesia. Rasanya ingin sekali minum es buah segar dengan ekstra es batu dan susunya. Mungkin jika aku menginginkan kulit hitam atau cokelat, aku hanya perlu memakai baju minim dan duduk santai di balkon hotel yang baru saja aku check in. 10 Apakah kau mau es krim? Es krim strawberry kesukaanmu.
  • 148.
    Analekta Kisah Semesta| 148 PROPERTI OF P Tapi ketika matahari menghilang atau kau berada di tempat teduh, maka bersiaplah merasakan hawa yang dingin. Seperti aku sekarang ini. Meskipun aku memakai mantel tebal dan penutup kepala serta sarung tangan dan syal, hal itu tidak mengurangi rasa dingin di sekujur tubuhku. Tapi dingin musim semi lebih bisa aku terima dibandingkan musim dingin di Turki dan sikap dingin Mehkeve. Ibu dari pria yang sekarang duduk di depanku. Kami sudah merencanakan semua sejak tahun lalu. Kedatanganku ke Turki bukan hanya untuk travelling tapi juga bertemu dengan keluarga Adem, pria Turki yang menjadi kekasih virtualku selama hampir 3 tahun. Dia tidak bisa mengunjungiku di Indonesia karena pekerjaannya sebagai aşker tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Banyak hal yang harus diurus jika dia ingin mengambil cuti. “Onunla evlenemezsin! O bizden farklı biri, Adem.”11 Suara Mehkeve masih terdengar jelas di telingaku. Adem bilang bahwa waktu yang tepat untuk datang ke Turki adalah bulan Maret hingga Mei, karena saat itu bunga-bunga tulip akan bermekaran dan terlihat sangat indah di taman Emirgan. Jaraknya cukup jauh dari tempat makanku sekarang. Ah … haruskah aku ke sana sebelum kembali ke Indonesia? 11 Kau tidak bisa menikah dengannya! Dia berbeda dengan kita, Adem.
  • 149.
    149 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Akan ada banyak pasangan atau keluarga yang menghabiskan waktu di taman Emirgan, sekadar untuk berbicara, menghabiskan waktu atau mengabadikan moment. Memang indah. Angin semilir dingin dengan hangatnya cahaya matahari dan juga pemandangan warna- warni dari bunga tulip. Perpaduan yang nyaris sempurna, bukan? Tapi sejak hari pertama aku berada di Turki, aku belum merasakan keindahan itu. Setibanya di Turki, Adem membawaku ke rumahnya. Dia begitu bersemangat mengenalkanku pada ibu dan adiknya. Mehkeve sedikit terkejut ketika pertama kali melihatku dan dia berubah ekspresi wajah ketika Adem memanggilku balım, yang dalam artian itu adalah panggilan sayang untuk orang spesial. Aku keluar dari rumah Adem sekitar pukul 6 sore. Matahari masih bersinar di sana waktu itu, Adem bilang ketika musim semi matahari akan sedikit lebih lama bersama kita, menghangatkan kita. Tapi aku justru merasakan dingin. Dia menemaniku mencari penginapan terdekat. Setelah kami menemukannya, dia mengajakku makan di tempat yang tidak jauh dari tempatku menginap. Aku suka tempat ini. Bersih, rapi dan ada meja makan yang dekat dengan laut atau orang sini menyebutnya laut Marmara. Seharusnya ini menjadi tempat yang sangat sempurna bagi kami. Andai saja aku ke sini lebih dulu sebelum ke rumah Adem.
  • 150.
    Analekta Kisah Semesta| 150 PROPERTI OF P “Neden sessizsin? Hala annemin ne dediğini mi düşünüyorsun?”12 Kali ini dia memegang dan mengusap lembut punggung tanganku. Ada rasa nyeri di hati. “Yok. Sadece seninle olmaktan zevk alıyorum, balım.”13 Aku berusaha tersenyum. Aku tidak mau merusak momen ketika akhirnya aku bisa merasakan usapan tangannya secara nyata, bukan lagi virtual. Dia begitu tampan dengan rahang yang tegas dan sakal yang tipis tapi bisa membuatku merasa geli ketika aku mencium pipinya. Dia tinggi, dan berbadan tegap. Pantas saja dia menjadi seorang aşker.14 Aku berdiri, melepas perlahan genggaman tangan hangat itu.Tersenyum tipis padanya, memberi tanda bahwa aku baik-baik saja. Semakin sulit bagiku untuk menahan air mata ini jika dia menyentuhku. Aku berjalan perlahan meninggalkan meja makan putih yang kami tempati untuk makan, meskipun tidak ada makanan di sana. Sebenarnya pandangan mataku mulai kabur karena aku sudah mulai berkaca-kaca. Aku mengedipkan beberapa kali dan mengelap air mata dengan tanganku, berharap semoga Adem tidak melihatnya. 12 Kenapa kau diam? Apakah kau masih memikirkan ucapan ibuku? 13 Tidak. Aku hanya menikmati momen bersamamu, sayang. 14 Tentara
  • 151.
    151 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Kuhirup udara musim semi di kota seribu masjid ini. Dingin, seperti yang ku katakan tadi. Musim semi di Turki memang dingin, tapi menurutku hawa ini bisa diterima oleh orang tropis sepertiku. Kucing berwarna abu-abu yang juga memiliki warna putih mencuri perhatianku. Baguslah. Aku sering melihat di media sosial bahwa kucing dan anjing liar di Turki hidup dengan nyaman. Aku tidak tahu apakah itu berlaku di semua kota bagian Turki atau hanya di kota- kota besar yang memiliki nama. Salah satu alasan kenapa aku pergi ke Turki juga adalah ingin melihat kucing-kucing ini. Sebagai pecinta kucing, melihat dan bertemu mereka begitu menyenangkan. Ternyata benar, kucing di sini, di Istanbul bagian selatan memang hidup dengan tenang. Mereka gembul dan bulu mereka lebat. Mereka juga tidak takut pada orang-orang di sekitar mereka yang berlalu-lalang. Aku bisa dengan mudah mengelus mereka. Aku cukup terkejut ketika tidak sengaja aku melihat ada seekor anjing yang tiduran di meja makan yang panjang dan orang-orang yang sedang makan tidak keberatan dengan hal itu. Mereka menyediakan rumah anjing dan kucing di tepian jalan. Mereka juga menyediakan seperti mesin penjual makanan dan minuman untuk kucing. Kita hanya perlu membayar 1 lira atau sekitar tidak lebih dari lima ribu rupiah untuk mengeluarkan makanan dan minuman untuk kucing dan anjing liar.
  • 152.
    Analekta Kisah Semesta| 152 PROPERTI OF P Ternyata Adem mengikutiku. Aku melihat bayangannya tepat di depanku, yang artinya sekarang dia berdiri di belakangku. Aku masih mengelus kucing gembul abu-abu untuk menenangkan hatiku. Tapi hanya dengan melihat bayangan Adem, membuat hatiku kembali berkecamuk. Aku berdiri tapi masih membelakanginya. Matahari sudah beranjak ternyata, cahayanya yang hangat kini berganti dengan lampu jalanan. “Seni çok seviyorum biliyorsun. Annemle tekrar konuşacağım, anlayacaktır.”15 Curang.Kenapadiaharusmemelukkudaribelakang seperti sekarang ini. Suara dan embusan napasnya begitu terasa. Hangat dan menenangkan. “Biliyorum. Endişelenmenize gerek yok,”16 akhirnya aku menjawab setelah aku diam sejak kami keluar dari rumah Adem. Dia memelukku semakin erat, kali ini aku memutar badanku dan membalas pelukannya. Aku tidak tahu apakah kami bisa seperti ini lagi atau tidak. Penolakan dari Mehkeve pada pertemuan pertama kami cukup membuat aku syok. Kami berdua berasal dari keluarga yang sama. Adem tumbuh dari keluarga yang Islam yang kuat dan aku tumbuh dari keluarga hindu yang juga kuat. 15 Aku sangat mencintaimu,kau tahu. Aku akan berbicara lagi dengan ibu,dia akan mengerti. 16 Aku tahu. Kau tidak perlu khawatir.
  • 153.
    153 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ben de seni çok seviyorum, Adem.”17 Hangatnya pelukan Adem bagaikan sinar hangat matahari dan sikap dingin Mehkeve seperti embusan angin. Apakah musim semi di tanah Ataturk semenyakitkan ini? *** Tentang Penulis Gadis kelahiran bulan September dan memiliki nama pena Tika Nemoest ini berasal dari kota Dawet Ayu Banjarnegara. Anak pertama dari tiga bersaudara dan semuanya adalah perempuan. Memiliki hobi makan dan cita-cita kurus. Nemoest berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti nothing dan nama Tika adalah nama depan aslinya yang memiliki arti bintang. Dan sejak menyelesaikan pendidikannya, tika membantu orang tuanya di toko sederhana. Menjalani sehari-hari dengan berjualan, memberi makan kucing dan mengikuti beberapa kelas menulis secara online. 17 Aku juga sangat mencintaimu, Adem.
  • 154.
    Analekta Kisah Semesta| 154 PROPERTI OF P AUTUMN ANNIVERSARY Oleh: Puterica Musim gugur di Paris selalu jadi pemandangan yang memanjakan mata. Kota yang anggun ini tampak jauh lebih semarak dengan warna kuning, oranye, cokelat, dan semburat merah di sana-sini. Ada kesan hangat dari bangunan-bangunan cantik yang memagari lajur-lajur jalan, meski udara berembus dingin dan hujan datang sesekali. Dari tempat aku berdiri, aku dapat melihat Arc de Triomphe berdiri dengan gagah dikelilingi dua belas rute jalan, seakan monumen itu pusat dari sebuah jam raksasa. Sebuah kafe di dekatku menguarkan aroma croissant yang baru dipanggang dan kopi yang menggiurkan, berebut menyerbu indera
  • 155.
    155 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF penciuman. Orang-orang berlalu lalang melewatiku– sendirian, bergandengan dengan pasangan, sahabat, atau keluarga–kebanyakan mengenakan jas panjang dan sepatu bot yang selalu jadi tren di musim gugur. Kota pesolek ini bagai putri kerajaan dalam balutan gaun indah–dan kecantikannya selalu tercermin pada manusia-manusia yang tinggal di dalamnya. “Yuk, jalan lagi.” Aku menoleh. Kamu tiba-tiba sudah hadir di sisiku, tampak sangat cantik seperti biasa. Mata biru, rambut pirang yang diikat sederhana, dan kulit mulus bagai porselen. Tanganmu menyisip di lenganku, lalu kita berjalan bersisian menyusuri Champs-Élysées. “Pont Neuf?” tanyaku, memastikan tujuan kita. Kamu membalas dengan senyuman manis dan sebuah anggukan. “Cantik, ya?” ujarmu tiba-tiba. “Kamu? Iya, luar biasa.” Kamu merengut sebal. “Jadi dari tadi aku bicara kamu tidak dengar?” Aku mengangkat bahu. Bola matamu berputar, kelakuan menggemaskanmu jika dibuat kesal. “Itu,” katamu–seraya menunjuk jaket penuh bulu yang dipajang di sebuah etalase, “edisi musim dingin yang terbaru.”
  • 156.
    Analekta Kisah Semesta| 156 PROPERTI OF P Aku membayangkanmu dibalut jaket mewah itu, lalu terkekeh. “Apa yang lucu?” Suaramu terdengar menuntut. “Tidak,” ujarku buru-buru. “Hanya saja, menurutku, kamu terlalu mungil untuk pakai jaket seperti itu.” Meski tentu saja tetap cantik, tambahku dalam hati. Kamu tidak menjawab, tapi matamu masih menatap etalase itu penuh rasa kepingin. Kita kembali berjalan dalam diam. Omong-omong, aku dapat mengingat sosokmu dengan jelas waktu pertama kali kita bertemu. Saat itu aku tengah berjalan-jalan melepas penat di Jardin du Luxembourg, ketika melihat seorang gadis mungil sedang membaca sendirian di salah satu bangku. Bukan parasmu yang membuatku tertarik untuk menyapa, tapi buku yang sedang kamu baca. Aku juga sedang membaca buku yang sama dan aku ingin mendiskusikannya dengan seseorang. Maka, aku menyapamu dengan sopan. Kamu mendongak dan membalas sapaanku. Ketika mata kita bertemu, kelu lidahku tak mampu berucap. Kecantikanmu merebut kesadaranku. Demi seluruh hal cantik di dunia, keindahan macam ini seharusnya ilegal di muka bumi. Bagaimana mungkin seorang bidadari bisa lepas dari kahyangan dan duduk di sini?
  • 157.
    157 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Terlambat aku sadari pertanyaan itu kuucapkan keras-keras. Kamu tertawa lepas. Semu merah di pipimu makin nyata. Entah karena tawamu yang sebegitu bahagia, entah karena udara dingin makin menyesakkan napas. Aku memandangimu dengan malu-malu. Ketika akhirnya tawamu berhenti, kamu mengulurkan tangan dan berucap, “Sophie Auclair.” “AnthonieBellamy,”balasku.Senjaitu,percakapan kita mengalir seperti kita sudah lama berteman. Aku mengagumi sifatmu yang ramah dan periang, dan betapa luar biasa cemerlang otak di balik paras malaikat itu. Pont Neuf masih sama seperti biasanya, selain kini daun-daun oranye beterbangan terbawa angin dan air Sungai Seine jauh lebih hijau karena udara dingin. Beberapa bus air hilir mudik membawa wisatawan. Sungai Seine membentang sejauh 776 kilometer, membelah kota Paris jadi dua bagian. Saat itu, demi merayakan ulang tahunmu, kamu berkeras memaksaku untuk mengikuti tur bus air itu. Puluhan tahun hidup di Paris, baru sekali itu aku benar-benar memaknai keindahan kota ini. Walaupun, kuakui hanya dalam hati, cantiknya Paris luluh lantak jika disandingkan dengan kecantikanmu. Tur itu membawa kita ke tujuh ikon wisata Paris–Musée d’Orsay, St-Germain-des-Prés, Notre-Dame, Jardin des Plantes, Hotel de Ville, Louvre, Champs Élysées, dan kembali lagi ke Menara Eiffel.
  • 158.
    Analekta Kisah Semesta| 158 PROPERTI OF P Pont Neuf adalah salah satu tempat favoritmu menikmati keindahan Sungai Seine. Pont des Arts lebih terkenal karena pagar jembatan yang disesaki gembok- gembok yang ditulisi nama pasangan-pasangan kasmaran, tapi kamu berkeras Pont Neuf lebih cantik dan lebih tenang. “Romantisme Paris lebih elegan dibanding gombalan seperti menulis inisial di gembok,” kilahmu selalu. Biasanya, aku menggoda bahwa kamu hanya iri, karena tak punya nama siapa pun untuk ditulis bersama namamu di gembok itu. Dan seperti biasanya juga, kita akan menyusuri setapak di Pont Neuf sambil berbincang. Tertawa, saling goda, bergandengan tangan–tak pernah berbeda. “Apa nama restoran tempat kita makan siang waktu itu?” tanyamu tiba-tiba. “Maison Maison,” jawabku. Restoran berdinding bata yang terkesan seperti penginapan abad ke-18 itu selalu jadi pilihan yang tepat untuk melepas lelah. Kamu mengangguk antusias. “Ayo, waktunya makan siang.” Ketika kita duduk berhadapan di Maison Maison yang hangat dan penuh dengan muda-mudi menikmati santapannya, aku sudah hapal pesananmu bahkan sebelum daftar menu sempat kamu baca. Kamu akan memesan coq au vin–hidangan kaki ayam yang dimasak dengan
  • 159.
    159 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF anggur merah–karena kamu jarang sekali berganti pilihan makanan. Aku akan memesan sepiring foie gras–hati angsa yang dimasak dengan saus–dan menyisihkan sepotong kecil untukmu karena kamu juga menyukai hidangan itu. Hal yang sama akan terjadi jika kita makan di Marché des Enfants atau Pizzeria Popolare, aku tahu persis apa yang kamu ingin makan dan minum. Kadang, aku memesan makanan itu tanpa bertanya lagi padamu, dan kamu akan keheranan karena aku seperti bisa membaca pikiranmu. Sementara aku menyimpan keherananku bahwa kamu mungkin tidak sadar kamu selalu sama dan kita sudah terlalu sering bersama untuk sejauh ini saling mengenal. “Bon appetit!18 ” ujarmu girang ketika makanan kita sampai di meja. Aku tersenyum. Kamu selalu makan terlalu banyak untuk seseorang dengan tubuh mungil. Aku berani bertaruh jika setelah ini aku menawarkanmu beberapa potong donat crème brûlée kamu akan menyantapnya tanpa ragu. Perhentian dari tur singkat kita ini adalah Jardin du Luxembourg, yang letaknya tak jauh dari sini. Taman yang luar biasa luas itu terhampar di depan Palais du Luxembourg, sebuah kastel tua yang dibangun pada abad ke-17. Pohon-pohonnya ditanam berpola, dengan patung- patung pualam putih berbentuk macam-macam hewan dan dewa-dewi, hamparan rumput dan setapak untuk pejalan 18 “Selamat makan!”
  • 160.
    Analekta Kisah Semesta| 160 PROPERTI OF P kaki, kolam-kolam berair hijau, serta bangku-bangku untuk pengunjung duduk. Jardin du Luxembourg tampak bagai tersiram cat emas di senja pertengahan musim gugur ini. Dedaunan yang gugur menutupi setapak bagai karpet oranye yang cantik, burung-burung beterbangan saling menggoda, kawanan bebek berenang dengan tenang di kolam, dan udara yang berangin dingin membuat pengunjung hanya duduk-duduk malas di sudut-sudut yang nyaman. Aroma petrichor19 khas musim gugur begitu kuat dan menyenangkan. Aku bisa mendengar hela napasmu. Entah menikmati udara, entah mengatasi gugup–karena sebentar lagi kita tiba pada penutup. Langkahku berat saat kita menuju tempat itu. Tempat ketika kita mengawali ini dan sekaligus mengakhirinya. Bahkan setelah bertahun-tahun, tempat itu masih sama. Bangku yang sama, cahaya senja yang sama, pemandangan yang sama. Aku yang sama. Dan kamu yang berbeda. Setahun lebih kita saling mengenal, saling bertukar segala hal–aku jelas jatuh cinta padamu. Mungkin aku sudah jatuh cinta sejak kita pertama saling tatap. Aku tahu segala hal tentangmu, dari yang terlihat di mata sampai yang hanya kita ketahui berdua. Kukira, kamu pun begitu. Sampai hari itu, di sini, kamu berkata dengan 19 Petrichor–aroma air hujan ketika bertemu dengan tanah.
  • 161.
    161 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF antusias bahwa kamu menemukan belahan jiwamu. Butuh beberapa saat untuk akhirnya paham, yang kamu maksud bukan aku. “Tempat ini tidak pernah berbeda, n’est-ce pas?20 ” Aku tersenyum. “Oui. Nous sommes différents.21 ” Wajahmu murung seketika. Jeda yang tidak nyaman segera menyekat kita. Kugenggam tanganmu dengan lembut ketika aku berkata, “Aku belajar sesuatu dari musim gugur, kamu tahu itu?” Kamumenggeleng.Sesuatudimatamumembuatku yakin sebentar lagi kamu akan menangis. “Aku adalah pohon, kamu adalah daun, dan dia adalah angin. Selama apa pun aku bersamamu, menumbuhkan perasaanku untukmu, ketika waktunya tiba dan angin musim gugur bertiup–kamu tetap akan terbang juga.Aku tak bisa menahanmu. Sama seperti pohon-pohon itu tak bisa mencegah diri mereka sendiri meranggaskan daun.” “Je suis désolée, Anthonie,22 ” ujarmu dengan suara pelan. 20 “..., bukankah begitu?” 21 “Ya. Kita yang berbeda.” 22 “Maafkan aku, Anthonie.”
  • 162.
    Analekta Kisah Semesta| 162 PROPERTI OF P Permintaan maaf itu juga terucap saat aku akhirnya menyatakan cintaku padamu, dengan air mata berlinang dan rasa frustasi yang menyakitkan. Aku marah karena kamu memutuskan untuk pergi. Aku marah karena kamu tak pernah merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Aku marah karena aku tak menyatakan ini sejak lama. Aku marah karena cinta tak berpihak pada kita. Kamu memelukku dengan erat, susah payah menyembunyikan isak. Berulang-ulang meminta maaf. Maka aku menjawab dengan jawaban yang sama, “C’est pas grave, Sophie23 . Ini bukan salahmu.” Lenganmu yang terulur kusambut tanpa ragu, dan di sanalah kita terdampar–dalam dekapan masing-masing, meredam segala perasaan yang terpendam dan rindu yang tak pernah diucapkan. Aku tak pernah tahu apakah pelukan ini kamu maksudkan sebagai tanda perasaanku punya kesempatan untuk berbalas atau hanya sebagai bentuk penyesalan. Yang aku tahu, aku tak pernah bisa menghilangkan rasa ini sepenuhnya. Je t’appartiens toujours, même si tu n’as pas demandé.24 “Kenapa kita melakukan ini?” tanyaku waktu itu, ketika pertama kali kamu datang tiba-tiba–musim gugur beberapa tahun silam–dan memintaku untuk kembali mengunjungi tempat-tempat yang dulu kita sering kunjungi, layaknya sepasang kekasih. Kamu tidak 23 “Tidak apa-apa, Sophie.” 24 Aku masih milikmu, bahkan jika kamu tidak memintanya.
  • 163.
    163 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF menjawab saat itu, hanya menangis di pelukanku. Namun seiring berjalannya waktu, aku memahaminya. Kamu akan kembali padaku, lagi dan lagi, seperti ranting yang kembali menumbuhkan daun, seperti musim gugur yang kembali datang setiap tahun. Dan kita akan terus merayakan ini sampai suatu hari kita muak dan barangkali memutuskan untuk berhenti. Dering telepon genggam membuat cengkeramanmu mengendur. Dengan berat hati, aku melepasmu, membiarkanmu menerima panggilan itu. Suaramudibuatsetenangmungkin,tapiakutahusiapayang ada di seberang sana. Ia memilikimu dan ia memintamu pulang. Artinya, waktu singgahmu sudah usai. “Pulanglah,” ujarku. “Anna pasti sudah menunggu.” Kamu tersenyum ketika aku menyebut bidadari kecilmu itu. “Dia akan senang kalau kamu datang berkunjung kapan-kapan.” “Kapan-kapan,” ulangku. Kamu memelukku untuk terakhir kali, lalu menyematkan kecupan di pipiku. “On se revoit, Chérie.25 ” 25 “Sampai jumpa lagi, Sayang.”
  • 164.
    Analekta Kisah Semesta| 164 PROPERTI OF P Lalu langkahmu menjauh, menyerak lapisan daun berantakan. Menyisakan aku duduk di bangku sendirian, bersulang bersama matahari yang bersiap pulang– merayakan daun yang gugur terbang terbawa angin dan cintaku yang gugur ketika kekasihku memilih pria lain. *** Tentang Penulis Puteri CikalAnasta, yang lebih akrab disapa Puterica, lahir di Bandung tanggal 14 Januari 2000. Saat ini berstatus mahasiswa di Politeknik Negeri Bandung. Kesehariannya– selain belajar di kampus–adalah membaca dan menulis cerita. Aktif di media sosial Instagram (@puterica) dan dapat dihubungi melalui e-mail putericaaa@gmail.com.
  • 165.
    165 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF DESA BULAN MATI Oleh: Nita Lestari Sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini, aku sudah merasakan beberapa keanehan. Aku merasa orang-orang di desa ini ‘kelewat ramah’ pada pendatang baru seperti kami. Entah ini hanya perasaanku saja, atau mungkin memang benar adanya. Aku merasa orang-orang itu terus mengawasi gerak-gerikku. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bahkan sesekali kulihat mereka berbisik satu sama lain. Perasaanku tidak enak. Aku merasa tidak nyaman dengan berbagai prasangka yang kini mulai menari di benakku. Apa ini karena aku telah berbohong pada Mama? tanyaku dalam hati. Tiba-tiba saja rasa bersalah itu menyergapku. Aku tahu aku salah karena telah
  • 166.
    Analekta Kisah Semesta| 166 PROPERTI OF P membohongi mama mengenai tempat tujuanku berlibur kali ini. Namun setiap kali aku mengingat betapa protektifnya mama kepadaku, kurasa pilihanku berbohong kali ini cukup beralasan. Aku hanya tidak ingin membuat mama khawatir. Lagi pula aku benar-benar membutuhkan ketenangan agar bisa melupakan patah hatiku. Desa Bulan Mati adalah desa tujuan kami, sebuah desa terpencil yang terletak di pesisir Jawa bagian timur. Entah mengapa, sejak pertama kali mendengarnya dari Mia, nama desa itu tampak begitu akrab di telingaku. Aku seperti pernah mendengarnya, tapi entah kapan dan dari siapa, aku tidak mengingatnya. Mia memilih desa itu sebagai destinasi wisata kami setelah menemukan lokasinya dari sebuah situs online. Menurut Mia, tempat itu cocok untuk menenangkan diri dan melepas penat. Aku memang butuh suasana baru yang jauh dari hingar bingar kota. Meski sempat ragu, nyatanya aku tidak bisa menolak ajakan mereka. Aku merasa liburan bukanlah sebuah ide yang buruk. Aku butuh jeda untuk sejenak melupakan sakit hatiku. Sejak awal Mia dan Siska memang sudah memeringatiku kalau Rian adalah seorang playboy, namun aku masih saja menutup mata dan telinga. Sampai suatu hari aku menemukan Rian tengah berselingkuh dengan teman kampusnya. Bahkan aku memergoki mereka sedang melakukan perbuatan yang tidak pantas. Kilasan tentang kejadian itu terus membayangi hari-hariku. Aku benar-benar merasa kecewa dan sakit hati setiap kali
  • 167.
    167 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mengingatnya. Sejak kejadian itu, Rian berusaha menghubungiku berkali-kali, meski ujung-ujungnya tidak kuangkat. Ia juga terus berusaha menemuiku di kampus. Sebisa mungkin aku berusaha untuk menghindarinya. Sampai suatu hari, Rian marah karena terus menerus kuabaikan. Ia mencegatku saat aku hendak menuju parkiran. Ia bahkan tega menamparku di depan umum dan mempermalukanku dengan menyebarkan berita yang tidak benar. Ia menjadikanku kambing hitam atas penghianatan yang ia lakukan. Bodohnya aku hanya bisa diam sambil menahan tangis. Akibat ulah Rian, teman-teman kampusku mulai memandangku dengan cara yang berbeda. Tatapan mereka seolah menghakimiku. Aku tidak tahan dengan semua itu, dan memilih melarikan diri ke desa ini. Kami menempuh perjalanan cukup lama sebelum akhirnya sampai di desa ini. Letaknya yang jauh dari pusat kota, membuat desa ini sedikit sulit dijangkau. Setelah turun dari kendaraan umum, kami masih harus berjalan kaki untuk bisa sampai ke pangkalan ojek. Tapi perjuangan itu sebanding dengan pemandangan yang kami dapatkan. Desa ini tampak begitu asri. Di sepanjang jalan dapat kami jumpai pepohonan yang menjulang tinggi, serta lahan pertanian yang terbentang luas. Sesampainya di sana kami disambut oleh Pak Ranto selaku tetua desa, juga Mbok Rondo, salah satu pemilik rumah di desa itu. Sekilas, pakaian kami tampak kontras dengan pakaian mereka. Beberapa warga desa yang kebetulan berkumpul
  • 168.
    Analekta Kisah Semesta| 168 PROPERTI OF P di rumah Mbok Rondo masih mengenakan pakaian tradisonal berupa kemben yang terbuat dari kain jarik. Setelah sempat bertegur sapa sejenak sekaligus memperkenalkan diri, Mbok Rondo mengantarkan kami ke kamar masing-masing. Rumah ini sekilas tampak bersih dan terawat. Menurut cerita Mbok Rondo, rumah beliau ini sering dijadikan tempat menginap bagi para pendatang. Entah mengapa aku justru merasakan aura suram dari rumah ini. “Oiya nduk, rasanya Mbok perlu menyampaikan pantangan yang tidak boleh kalian lakukan di tempat ini. Untuk berjaga-jaga saja supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata Mbok Rondo saat masing- masing dari kami sudah mencapai pintu kamar. Kami pun langsung menghadap Mbok Rondo dengan raut wajah penasaran. “Apa itu, Mbok?” tanya Mia penasaran. “Jangan sekali-kali kalian mengenakan pakaian berwarna merah di tempat ini, jangan tanya alasannya, cukup patuhi pantangan itu,” jawab Mbok Rondo tegas. Jawaban Mbok Rondo mau tidak mau membuatku mengernyitkan dahi. Sebenarnya ada apa dengan tempat ini? tanyaku dalam hati. “Sekarang kalian beristirahatlah, besok Mbok akan minta Ratih untuk menemani kalian berkeliling ke area persawahan,” kata Mbok Rondo menutup percakapan
  • 169.
    169 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF di antara kami. Sepeninggalan Mbok Rondo, kami bertiga saling bertukar pandangan. Berhubung kamar kosong yang tersedia di rumah ini hanya dua kamar, aku memutuskan untuk sekamar dengan Mia. Sementara Siska seorang diri menempati kamar di sebelah kamar kami. Entah mengapa, aku merasa kalimat yang diucapkan Mbok Rondo tadi sedikit janggal. Terdengar mirip dengan petuah-petuah yang sering mama sampaikan padaku. Selama ini mama tidak pernah mengizinkan aku untuk membeli pakaian berwarna merah. Entah apa alasannya, mama tidak pernah mengatakannya padaku. Rasanya tidak mungkin ada hubungan antara aku, Mama, dan tempat ini, sangkalku dalam hati. Aku segera menepis segala prasangka yang seketika melintas di benakku. Setelah meletakkan pakaian yang kami bawa ke dalam lemari, aku memilih merebahkan diri di kasur. Rasanya perjalanan kali ini terasa begitu melelahkan. Kulihat Mia masih sibuk menata pakaian dan pernak- perniknya. “Mia, kamu yakin sudah mencari info yang benar tentang tempat ini? Entah kenapa, sejak sampai di tempat ini perasaanku sedikit tidak nyaman,” kataku berusaha memecah keheningan. “Itu cuma perasaan kamu saja kali Ta, coba deh kamu hubungi Mama kamu dulu, barang kali setelah itu perasaan kamu bisa membaik,” jawab Mia.
  • 170.
    Analekta Kisah Semesta| 170 PROPERTI OF P Aku segera bangkit untuk memeriksa ponselku yang ternyata sudah kehabisan daya. Aku memutuskan untuk menghubungi mama besok pagi saja. Setelah menyambungkan ponsel dengan charger-nya, aku kembali merebahkan tubuhku. Tubuhku yang lelah memudahkanku untuk terlelap. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun berkat suara-suara samar yang terus bergaung di telingaku. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar suara itu. Mimpi itu datang berulang sejak usiaku genap tujuh belas tahun. Memang tidak setiap malam, hanya saja mimpi itu selalu sama. “Sing abang marai padhang, sing ayu teko o marang aku.” Kira-kira begitulah bunyi suara itu. Aku selaluterbangundenganpeluhmembanjirsetiapkalimimpi itu datang, seperti malam ini. Kulihat Mia sudah terlelap di sampingku. Biasanya setiap kali aku terbangun gara-gara mimpi buruk, aku akan segera meminum segelas air putih untuk menenangkan diri. Mama hafal betul kebiasaanku satu itu. Itu sebabnya mama selalu meletakkan segelas air di samping nakas. Tapi malam ini aku tidak sedang tidur di kamarku. Itu sebabnya untuk mendapatkan segelas air, aku harus berjalan ke luar kamar. Udara malam ini terasa menggigit kulitku, membuatku bergidik menahan dingin. Rumah Mbok Rondo tampak begitu sepi. Sekilas kulirik jam di layar ponsel, waktu masih menunjuk pukul satu dini hari. Aku berjalan mengendap-ngendap menuju dapur, takut membangunkan orang-orang. Saat langkahku mencapai
  • 171.
    171 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF bibir dapur, aku dikejutkan oleh sesosok bayangan hitam yang berdiri di sudut dapur. Jantungku berdegup kencang sebelum akhirnya aku bisa bernapas lega saat menyadari bahwa sosok itu adalah Mbok Rondo. Sedang apa Mbok Rondo malam-malam di dapur? tanyaku dalam hati,Aku tak berani menyuarakan tanya itu. “Maaf Mbok, saya terbangun dan merasa haus. Saya ingin mengambil minum,” kataku sambil tersenyum sopan. Mbok Rondo hanya menatapku sebentar dan menganggukkan kepala. “Saya permisi dulu, Mbok, mau kembali ke kamar,” pamitku sambil menggenggam segelas air. Aku sedikit heran dengan sikap Mbok Rondo yang mendadak diam malam ini. Buru-buru aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Aku masih penasaran dengan apa yang Mbok Rondo lakukan tadi, lebih-lebih aku tadi sempat mencium bau kemenyan. Susah payah aku berusaha mengenyahkan pikiranku yang berkecamuk, dan berusaha kembali tidur. Keesokan harinya semua berjalan dengan normal. Mbok Rondo kembali bersikap ramah kepada kami. Beliau bahkan menyiapkan sarapan untuk kami bertiga. Mbok Rondo juga meminta Ratih untuk menemani kami berkeliling ke area persawahan. Ratih adalah anak salah satu petani di desa ini. Usianya tak jauh dari kami, mungkin sekitar delapan belas tahun. Kami berjalan kaki melalui jalan setapak untuk sampai di area persawahan. Udara di
  • 172.
    Analekta Kisah Semesta| 172 PROPERTI OF P desa ini tergolong sangat sejuk. Sejauh mata memandang, kami disuguhi pemandangan yang asri. Bahkan sepagi ini orang-orang sudah berbondong-bondong menggarap sawah. Tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini aku bisa melihat anak-anak kecil berlarian serta ibu-ibu muda yang mencuci di aliran sungai. Sekilas tidak ada yang aneh dengan desa ini. Sungai di desa ini airnya masih begitu jernih. Tak jarang digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian oleh warga sekitar. Aku menghirup udara dalam- dalam. Bisa kurasakan betapa segarnya udara pagi ini. Aku kemudian melarikan pandanganku ke sekeliling. Pandanganku jatuh pada sebuah gubuk tua yang berdiri di tengah-tengah area persawahan. Jauhnya letak gubuk itu, membuatnya tampak begitu kecil. “Ratih, gubuk itu digunakan untuk apa?” tanyaku tiba-tiba. Mia dan Siska kemudian mengarahkan pandangan ke arah gubuk yang kutunjuk. Kulihat Ratih tampak salah tingkah dan berusaha mengalihkan perhatian kami. “Sebaiknya kita segera kembali, matahari sudah mulai tinggi dan sebaiknya kalian segera membersihkan diri,” balas Ratih. Kami pun menurut dan mengekor di belakang Ratih. Keengganan Ratih menjawab pertanyaanku tadi justru membuatku semakin penasaran. Sesekali aku menengok ke belakang untuk memastikan kembali keberadaan gubuk itu. Di tengah perjalanan, kami dikejutkan oleh peringatan terselubung yang coba
  • 173.
    173 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF disampaikan oleh Ratih. “Sebaiknya kalian simpan rasa penasaran kalian tentang desa ini. Bersikaplah sewajarnya dan pergilah selagi kalian masih ada kesempatan,” bisik Ratih pelan di perjalanan kami kembali ke rumah Mbok Rondo. “Maksud kamu apa, Ratih? Kami tak mengerti,” tanyaku begitu mendapati kejanggalan di setiap kalimat yang Ratih ucapkan. “Entah apa yang membuat kalian berkunjung ke desa ini, yang jelas tidak ada yang menarik dari desa ini. Kalau bisa pun aku juga ingin meninggalkan desa ini dan melihat dunia luar,” ucap Ratih sedih. “Kamu bisa ikut kami kembali ke kota kalau kamu mau,” jawab Mia bersemangat. Ratih tak menanggapi ajakan Mia. Ia hanya tersenyum kecil kepada kami. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dengan diam. Sesampainya di rumah Mbok Rondo, kami bergegas membersihkan diri. Aku pun teringat untuk menghubungi mama terlebih dahulu. Apalagi setelah mendapati puluhan chat dan panggilan tak terjawab di ponselku. Aku bisa merasakan kekhawatiran mama. Begitu ponsel tersambung, mama langsung mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku memilih jujur pada mama mengenai lokasi liburanku kali ini.
  • 174.
    Analekta Kisah Semesta| 174 PROPERTI OF P “Ma, Lita sekarang baik-baik saja. Lagi pula di sini ada Mia dan Siska, kita bakalan saling menjaga satu sama lain, jadi mama nggak usah khawatir,” kataku berusaha menenangkan mama. “….” “Iya Ma, Lita nggak bakalan lepas kalung itu, Lita janji. Udah dulu ya Ma, Lita mau mandi dulu,” kataku sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon. Mama sempat panik begitu mengetahui aku ada di desa Bulan Mati. Mama terus mewanti-wanti agar aku segera pulang dan memastikan aku tidak melepas kalung berbentuk bulan sabit yang kini melingkar di leherku. Kalung itu mama yang memasangkannya padaku sejak pertama kali mama mengetahui aku sering mendapatkan mimpi buruk. Entah mengapa, aku merasa kalung ini memiliki keterikatan dengan tempat ini. Setelah menelpon mama, rasa penasaranku justru semakin menjadi. Setelah memastikan Mia dan Siska sibuk sendiri-sendiri, aku memutusku untuk berkeliling sebentar di rumah ini. Aku berjalan mengendap-ngendap dan menelisik setiap sudut rumah. Betapa terkejutnya aku saat mendapati bunga mawar dan kantil tersebar di sudut-sudut rumah beserta aroma kemenyan yang menyengat. Untuk apa bunga-bunga dan kemenyan itu? tanyaku dalam hati. Tak ayal pemandangan itu membuatku bergidik ngeri. Lagi-lagi aku dibuat terkejut saat tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menepuk bahuku.
  • 175.
    175 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku sontak menjerit. “Apa yang kamu lakukan di sini, Nduk?” tanya Mbok Rondo. Lagi-lagi aku bertemu Mbok Rondo dalam situasi yang ganjil. “Maaf tadi saya berniat jalan-jalan sebentar dan tanpa sengaja saya menemukan ini. Kalau boleh tahu, untuk apa ini semua, Mbok?” tanyaku pelan. “Maaf kalau saya lancang,” lanjutku kemudian, “Itu hanya salah satu bentuk penghormatan kami terhadap leluhur. Nanti malam bulan purnama, jadi sebaiknya kalian bertiga tetap di kamar,” jawab Mbok Rondo. “Lagi pula aromamu benar-benar tak biasa, Nduk. Mbok takut itu akan mengundang tamu yang tidak kita harapkan,” lanjut Mbok Rondo. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar jawaban Mbok Rondo. Entah apa maksud perkataan Mbok Rondo barusan. Setelahnya aku buru-buru pamit masuk ke dalam. Hari sudah beranjak gelap saat aku memandangi langit dari balik jendela kamar. Kulihat bulan tampak bulat sempurna. Tiba-tiba saja aku melihat Mbok Rondo dengan pakaian serba hitam berjalan mengendap-endap menuju ke area persawahan. Kebetulan Mia dan Siska saat ini sedang sibuk melihat foto-foto hasil memotret tadi pagi. Mereka pasti tak akan menyadari ketidakberadaanku di kamar ini. Diam-diam aku melangkahkan kaki keluar dari kamar, hendak mengikuti Mbok Rondo. Berbekal cahaya dari ponsel, aku menyisiri jalan setapak yang
  • 176.
    Analekta Kisah Semesta| 176 PROPERTI OF P tampak gelap. Dari kejauhan aku melihat Mbok Rondo berjalan menuju ke arah gubuk tua yang pernah kulihat sebelumnya. Kulihat di sana ada banyak warga desa dengan pakaian serupa. Masing-masing dari mereka memegang obor dengan tangan kanan. Aku hanya bisa menutup mulut rapat-rapat saat mataku menangkap bayangan Ratih tengah di seret oleh beberapa warga. Ratih mengenakan pakaian yang serba merah menyala. Orang- orang itu kemudian mengucapkan kalimat-kalimat yang lebih terdengar seperti mantra. Melihat pemandangan itu tubuhku mendadak kaku dan enggan digerakkan. Rasa takut seketika menyergapku. Dengan langkah tertatih aku berusaha pergi dari tempatku berdiri saat ini. Meski sempat terjatuh beberapa kali, akhirnya aku berhasil sampai ke rumah Mbok Rondo dengan selamat. Kulihat Mia dan Siska tengah menungguku di depan pintu rumah. Mereka tampak begitu panik, lebih-lebih melihat wajahku yang tampak begitu pucat. Mereka kemudian menarikku masuk ke dalam kamar dan memberiku segelas air putih. Aku masih syok dengan apa yang aku saksikan barusan. Bayangan Ratih yang tengah di seret menari-nari di kepalaku. Rasa takut seketika mendekapku. “Mia, Siska, pokoknya kita harus segera pergi dari sini!” kataku sambil memegang bahu Mia. “Lita, kamu kenapa sebenarnya? Kamu tenang dulu ya. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kalau kamu memang ingin pulang, kita bisa berkemas besok,” kata Mia berusaha menenangkanku.
  • 177.
    177 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Akhirnya aku hanya bisa menurut pada mereka dan memutuskan untuk tidur. Lagi pula, malam-malam seperti ini akan sulit bagi kami untuk mendapatkan kendaraan. Pagi harinya aku terbangun dengan peluh yang membanjiri dahiku. Matahari sudah lumayan tinggi saat aku menanggalkan selimut. Aku tidak menemukan Mia dan Siska di kamar ini. Aku bahkan tak menemukan kalung bulan sabit yang biasanya melingkar di leherku. Kalungku…apa mungkin jatuh semalam? tanyaku dalam hati. Aku harus segera mencari Mia dan Siska, pikirku. Saat aku keluar kamar, aku hanya menemukan Mbok Rondo sedang duduk sendirian di meja makan. “Teman-temanmu tadi pamit untuk mencari udara segar,” kata Mbok Rondo saat mendapati aku celingukan mencari mereka. “Sebaiknya kamu lupakan apa yang kamu lihat semalam, semua demi kebaikan kalian,” lanjut Mbok Rondo. Ucapan beliau membuatku tertegun lama. Apa itu artinya apa yang aku lihat semalam itu nyata? tanyaku dalam hati. “Anak muda seperti kalian memang wajar mempunyai rasa penasaran yang menggebu-gebu. Tapi yang harus kalian ingat, rasa penasaran yang tidak pada tempatnya, bisa menjadi bumerang bagi diri kalian sendiri,” lanjut Mbok Rondo. “Sebaiknya kalian segera berkemas dan meninggalkan tempat ini, kalian masih
  • 178.
    Analekta Kisah Semesta| 178 PROPERTI OF P muda, masa depan kalian masih panjang,” kata-kata Mbok Rondo terdengar tulus. Mbok Rondo kemudian bangkit berdiri dan meninggalkanku seorang diri di meja makan. Ucapan Mbok Rondo terus terngiang-ngiang di benakku. Belum lagi suara-suara aneh yang kini mulai terdengar meski aku tidak sedang bermimpi. Suara-suara itu bersahut-sahutan hingga membuat kepalaku pening. Pandanganku tiba-tiba saja berputar dan semua mendadak gelap. Entah apa yang terjadi padaku setelahnya. Tiba- tiba saja sore ini aku terbangun di sebuah gubuk tua dengan pakaian serba merah menyala. Aku terkejut mendapati kondisiku yang kini terlentang pasrah dengan tangan dan kaki terikat dengan ujung tiang. Sekilas aku membandingkan kondisiku ini dengan bayangan Ratih yang kulihat malam itu. Rasa takut seketika menggerogoti jantungku. Aku begitu panik saat mendapati orang-orang mulai berdatangan dan mengelilingiku sambil merapalkan mantra yang sering kudengar dalam mimpiku. Sekarang aku mengerti mengapa warna merah begitu dilarang di desa ini. Ternyata warna merah menyala adalah simbol bagi gadis yang akan dijadikan tumbal seserahan bagi penunggu desa Bulan Mati. Sayangnya, aku tidak ingat, apa yang membawaku sampai di posisi ini. Aku masih berharap bahwa ini semua mimpi, sebelum akhirnya aku mendengar lolongan jeritanku sendiri. “Mama…tolong aku!”
  • 179.
    179 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis Cerpen berjudul Desa Bulan Mati ini ditulis oleh gadis kelahiran Bantul, dua puluh enam tahun silam. Nita, begitu biasanya ia disapa. Menulis adalah salah satu hobinya. Beberapa karyanya sudah pernah dimuat dalam beberapa antalogi bersama. Kalian bisa menghubungi ia via Instagram @nitalestari23. Salam kenal.
  • 180.
    Analekta Kisah Semesta| 180 PROPERTI OF P MAINAN BARU Oleh: Alena Winker Lagi dan lagi peserta olimpiade menghilang, dalam waktu tiga hari tercatat sudah ada lima peserta olimpiade yang menghilang. Salah satu dari mereka telah diketemukan, tubuhnya penuh luka dan lebam. Dan itu adalah aku. Semua itu merupakan rencana yang sudah kurancang sedemikian rupa. Aku menculik satu persatu peserta karena bagiku jeritan mereka bagaikan lagu merdu pengantar tidur. Suara mereka terdengar lebih merdu saat mereka bermain bersamaku dibandingkan saat mereka berebut menjawab pertanyaan dari dewan juri. Jeritan mereka ketika aku sedikit demi sedikit menggoreskan pisau ke tubuh mereka membuatku semakin bernafsu untuk melakukan permainan lainnya seperti dengan menggunakan gergaji mesin di pojokan
  • 181.
    181 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF ruangan ini, atau mengikat mereka dengan posisi terbalik dan mencambuk mereka terlihat lebih mengasyikkan bukan? Pertama-tama aku mengamati mereka dari dekat perlu sekitar sejam aku mengamati mereka, aku melakukan itu dengan sangat hati-hati. Tanpa seorang pun yang tahu dan melihatku berada di sana. Ketika mereka lengah segera kubekap mereka dengan sapu tangan yang sudah kuberikan obat penenang. Mereka meronta, dan mencoba berteriak namun percuma, dalam hitungan menit mereka tertidur. Wajah mereka yang tengah pulas tertidur membuat semangatku bangkit. Kenapa aku melakukan itu semua? Mudah, karena aku ingin kemenangan mutlak saat olimpiade nanti, ditambah sudah beberapa waktu ini aku kehilangan teman bermain. Teman bermainku semua sudah menjadi makanan untuk Bulls, anjing peliharaanku yang selalu kuberikan makan dari mainanku, ya walaupun ada beberapa bagian dari tubuh mereka yang aku koleksi. Ada beberapa bola mata yang aku simpan.Ada juga jemari lentik yang aku simpan. Dan beberapa organ lainnya. Tapi kali ini tak ada yang aku inginkan sebagai koleksi. Kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana aku bisa lepas dari dugaan polisi? Aku melakukannya dengan segala kemampuan yang telah dipelajari dari ayahku dulu. Ayah sering kali menyiksaku, dan setiap kali dia menyiksaku selalu ada senyum yang mengembang di bibirnya. Aku juga belajar segala macam kemampuan seperti merekayasa CCTV, parkour, dan lainnya, sehingga
  • 182.
    Analekta Kisah Semesta| 182 PROPERTI OF P aku aman. Tak lupa aku juga berpura-pura menjadi korban, lihatlah luka di wajahku. Ada empat orang yang sedang menemani aku bermain. Salah satunya seorang gadis, dia cantik sayangnya bukan tipeku dan nasibnya buruk sehingga dia harus menjadi salah satu mainanku. Karena dia yang paling lemah akan aku biarkan dia menonton aksiku bermain bersama tiga lelaki di hadapanku. Pakaian mereka telah robek, darah mengucur di mana-mana, bau amis menyeruak, bau yang amat sangat kusukai semenjak lima tahun lalu, saat pertama kalinya aku menemukan rumah di tengah hutan ini, saat itu aku baru berusia dua belas tahun. Aku mencambuk satu persatu dari mereka. Ah, tapi sepertinya mereka kurang semangat. Mungkin aku harus berbaik hati mengunakan samurai yang baru kubeli minggu lalu. Sayatan demi sayatan meninggalkan jejaknya di tubuh mereka. Tapi sepertinya ada yang kurang, mungkin aku terlalu baik pada mereka sehingga aku memutuskan untuk motong satu persatu jari-jari mereka. Salah satu dari mereka akhirnya tidak sanggup bermain lagi, ya sudah sekalian saja aku gunakan pedang untuk menghunus dirinya. Mayatnya aku lemparkan ke kandang Bulls saja. Tiga teman bermainku yang tersisa aku biarkan beristirahat sejenak secara fisikku juga perlu istirahat. Bandung, 17 Maret 2021
  • 183.
    183 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis AlenaWinker lahir dan besar dibandung, saat ini dia tengah mencoba untuk rutin menulis. Dirinya nyukai beragam warna yang lembut. Dirinya juga menyukai langit senja. Dirinya bisa kalian kenali di Ig : @alena_winker.
  • 184.
    Analekta Kisah Semesta| 184 PROPERTI OF P SENYUMANKU UNTUK KEPERGIANNYA Oleh: Rosyidha Baiduri Lagi-lagi, senyuman dan perhatian itu hanya untuknya. Mukanya manis sekali, merebut perhatian seluruh penghuni rumah. Sungguh aku malas melihat wajahnya setiap hari. Hari ini, aku benar-benar mual melihat kelakuannya. Dari pagi anak itu dan orang tuaku sudah sibuk mengurusi persiapannya ke luar negeri. Enakya?Dikuliahinkeluarnegeri!Akucukupdimasukkan ke universitas swasta yang tak jauh dari rumah. Di mana keadilan, hei?
  • 185.
    185 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ren! Cepat sini! Bantu adikmu berkemas, besok kita harus antar dia ke bandara,” kata mama. “Males ah, Ma. Dia kan anak kesayangan Mama sama Papa, ngapain aku ikut-ikutan,” sahutku kesal. “Ren! Kalian berdua anak kesayangan kami,” ujar papa “Percuma bohong sekarang, Pa.” Sekilas kulirik gadis itu. Dia sedang asyik mengepak barang-barangnya. Aku melangkah pergi dan masuk ke kamar. Kuputar otakku. Aku yakin. Saat ini aku sedang menyeringai. Terbayang dalam benakku hal-hal pahit yang aku lalui bertahun-tahun. Aku dan gadis itu sama pintarnya. Kita sama-sama cantik. Usia kita juga tidak beda jauh. Tapi kenapa harus dibedakan? Apa karena dia punya prestasi lebih banyak dan masuk sekolah elite? Malam ini aku mengendap masuk ke kamar anak kesayangan itu. Aku ambil paspor dan dokumen penting, aku buang ke tempat pembuangan sampah jauh dari rumah. Sama seperti yang kubayangkan, pagi ini mereka semua panik dan harus menunda kuliahnya ke luar negeri. Kalian tahu, tak ada yan mencurigaiku. Rasakan!
  • 186.
    Analekta Kisah Semesta| 186 PROPERTI OF P Ketika sarapan, kulihat mata gadis itu sembab. Papa dan mama membesarkan hatinya. Aku? Diam saja sambil mengunyah sarapan. Mama menjelaskan kenapa adikku itu tak jadi berangkat keluar negeri dan aku hanya ber-oh saja. Aku pamit ke kamar. Sebal rasanya melihat papa dan mama lebih banyak menghiburnya. Padahal aku juga punya setumpuk luka dan ingin dihibur. Apa aku tak pernah bilang ke mereka, tanyamu? Tentu saja pernah. Tapi mereka menganggap aku terlalu kuat tanpa hiburan dari mereka. Omong kosong apa itu? Aku juga anak mereka kan? Kenapa tidak sedikit saja meluangkan waktu untuk bertanya lebih padaku. Aku tidak suka dengan kehadiran gadis itu. Andai saja gadis itu tidak pernah terlahir. *** Esoknya kulihat mereka bersiap pergi. “Mau ke mana, Ma?” tanyaku “Itu, ngurusin persyaratan adik kamu yang hilang,” jawab mama tanpa melihatku. “Oh. Ren boleh ikut?” Mama menatapku heran lalu mengangguk. Selama dalam perjalanan kami diam saja. Tak ada obrolan. Hanya sesekali mama yang bertanya. “Kuliahmu lancar, Ren?”
  • 187.
    187 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Begitulah.” Aku melirik adikku yang diam saja. Kepalanya menunduk dan tangannya terkepal, berkeringat. “Ma, gimana kalau kepergianku dibatalin aja?” katanya “Kenapa? Bukannya ini keinginan kamu?” “Iya, tapi ... “ Aku tersenyum kecut. Entah kenapa aku merasa akan lebih baik kalau dia tidak ada. *** Seminggu kemudian, mama memaksaku ikut ke bandara. Mau apalagi kalau bukan mengantarkan anak kesayangan. Meski malas, aku ikuti saja kemauan mama. Tak ada sapaan antara aku dan adikku ketika kami berpapasan di ruang makan. Aku melirik sekilas. Wajahnya terlihat cerah, senyum-senyum sendiri. Aku semakin membencinya. Tibalah saat ia akan segera meninggalkan negeri ini. Lama berpelukan dengan mama dan papa. Aku tak mau memeluknya. Entah kenapa hatiku terasa tersayat. Bukan karena anak itu akan pergi. Sama sekali bukan. Ia melihatku dan mencoba tersenyum. Dapat kupastikan wajahku datar. Ia melambaikan tangannya pada kami.
  • 188.
    Analekta Kisah Semesta| 188 PROPERTI OF P Andai kepergiannya ini bukan untuk kembali lagi suatu hari nanti. Aku membayangkan menjadi anak tunggal seutuhnya. Aku tersenyum tipis. *** Tentang Penulis Penulis bernama Rosyidha Baiduri, yang sering dipanggil Rosy adalah seorang full time mom dari seorang putri. Baru mulai melangkahkan kaki lebih jauh dan memberanikan diri mengikuti kegiatan menulis. Kontributor untuk beberapa antologi. Jejaknya bisa ditemukan di nararosy. wordpress.com dan Instagram @rosynee_
  • 189.
    189 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF ACCIDENT: MENYUSURI MEMORI Oleh: Enong Nurmuti’ah Aku tak tahu Tuhan bisa menyembunyikan sesuatu Kupikir semua di hadapanku adalah aku. Aku tak mengerti mengapa Tuhan sembunyikan sesuatu. Kupikir tak ada rahasia di antara kita Kini kutahu. Ada hadiah indah untukku dari-Nya Tuhan, terima kasih telah menjaganya. Kubersyukur untuk pertemuan indah ini. Sekali ini saja. Jangan sembunyikan lagi, ya.
  • 190.
    Analekta Kisah Semesta| 190 PROPERTI OF P “Maaf, Mas. Boleh saya rapikan rambutnya?” tanya gadis berkerudung hitam di hadapanku. Tatapannya memohon. Kulihat tangannya sudah memegang sisir pink kecil. Aku terdiam sejenak menatapnya heran. Ia masih menunggu jawabannya. “Silakan,” sahutku. Meski rasanya aneh rambutku disentuh tangan lembutnya, aku memenuhi keinginannya. Ia mulai merapikan rambutku yang tak pernah disentuh orang lain. Anehnya setiap gerakan dari sisirnya membuatku tenang. De javu? Aku pernah merasakan hal ini. Ia kah? Sepertinya memang benar. “Selesai!”serunya dengan binar senang. “Sudah lebih ganteng sekarang!” Aku menatapnya tak percaya ekspresinya begitu bercahaya. Kusentuh rambut yang disebutnya sudah rapi. Aku masih bergeming bahkan ketika gadis berhidung mungil mancung itu memasukkan sisir ke dalam sling bag merahnya. “Tidak ada say thank you?” tanya gadis itu lagi. Aku terperanjat kembali mendengar suaranya. Wajahnya kembali memasang ekspresi lucu. “Oh,Ia.Maaf,”sahutkugelagapan.Pikirankumasih melayang. “Terima kasih,” ucapku gugup dan tersenyum kaku. Entah bagaimana harus aku harus berekspresi.
  • 191.
    191 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Lain kali rambutnya dibuat rapi, ya,” ucap gadis itu. “Nanti dirapiin lagi sama orang lain macam sekarang, terus ada ada yang cemburu,” tambahnya. “Untung di sini cuma ada kia sama mas kasir.” Bibir mungilnya memasang senyum pula. Ya, di toko oleh-oleh ini hanya ada kami bertiga. Hujan rintik sejak pagi membuat orang malas keluar. Apa lagi untuk sekadar ke toko dan beli oleh-oleh. Buah tangan ini hanya dibeli untuk orang mampir dan akan bepergian jauh. “Maaf.” Aku mulai berbicara setelah tadi mendengar gadis itu berbicara sendiri padaku. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Rasanya tidak asing.” Gadis itu berpikir sejenak. Ia bergumam. “Sepertinya ini pertama kali. Ada apa? De javu?” Gadis itu juga menyebut de javu seperti pikiranku. Ia menatapku sejenak dan kembali berpikir. Dugaanku, ia terusik oleh pertanyaanku. Ekspresinya serius, tapi secepat kilat memasang tersenyum kembali. Ia kemudian bertanya apa aku pernah beberapa ke toko ini dan mengalami hal serupa, seperti disisiri oleh orang asing. Aku bingung bagaimana menjawabnya. “Ya dan tidak,” jawabku. Absurd. Bingung. Bagaimana kujelaskan? Aku masih tidak tahu harus berbuat apa di sisinya. Hatiku masih juga mengatakan bahwa aku mengenalnya dan ini tempat kita bertemu.
  • 192.
    Analekta Kisah Semesta| 192 PROPERTI OF P Stuck! Ah! Sisir kecil telah mengunci gadis itu di kepalaku. Semakin kubiarkan pikiran melayang mencari jawaban. Sakit kepalaku perlahan datang. Hujan ini juga menyiksaku. Memaksaku terjebak di toko ini. Mas kasir tak mengajakku berbicara walau sekadar meringankan salah tingkahku. “Pokoknya, senang sekali ketemu Mas di sini.” Lagi-lagi si gadis sisir memecah kesunyian. “Besok saya mau pulang ke Jakarta. Hari ini terakhir dan saya memutuskan untuk membawa oleh-oleh untuk si adik. Boleh minta saran baju apa yang cocok untuk anak laki- laki?” “Adiknya usia berapa?” tanyaku. Aku mulai mengamati dan memilih kaus T-shirt terkenal oleh-oleh Pare Kediri. Tanganku pun mulai bekerja. “Dia suka warna apa? Biasanya orang memilih T-shirt berdasarkan warna kemudian bahan kainnya, setelah itu baru lihat harganya.” “Dongker,” jawabnya. “Usianya 17 Tahun.” Aku berjalan menyusuri rak display dan dia mengikutinya. Banyak warna biru dongker kutemui, namun desain unik belum muncul. Selagi pikiranku fokus pada berbagai warna dan model desain T-shirt, kudengar sebuah suara nyaring. “Maaf.” si gadis menutup mulutnya yang terbuka sedikit lebar, kemudian ia menunduk malu. Dipegangi si perut yang tadi berbunyi.
  • 193.
    193 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Aku menoleh padanya dan tersenyum. Tanpa pikir panjang lagi, tanganku menemukan kaus yang menarik perhatianku. Kaus biru dongker untuk anak laki- laki dalam masa puber. “Bagaimana menurutmu? Ini cocok untuk adikmu?” tanyaku. Kutunjukkan kaus itu di hadapannya. Seperti yang kuduga dia akan senang melihatnya. “Waaah, kereeen! Terima kasih.” Senyumnya lebar dan senyum manisnya terpancar. “Saya suka!” Bagai sinar yang menerjang tiba-tiba. Senyum itu mengejutkan kepalaku, sakit. Ada apa ini? Potongan memori senyum datang dan pergi dengan cepat. Meski sesaat dan kuperkirakan 5 senyum yang muncul beserta ekpresinya, ingatan itu menusuk. Aku hampir limbung karenanya, namun segara kubuat diri sadar dan terjaga. Gadis sisir itu sudah di kasir. aku senang dia menerima pilihanku. Hatiku berdebar kencang melihatnya dari jauh. Aku tak tahu apakah ingatanku mengingatkan kepadanya ataukah hatiku menyimpan tentangnya. Atau aku tertarik padanya saat ini. Aku merasa kita pernah bertemu. Hatiku berkata bahwa aku mengenalnya sangat dekat. Kemarin aku baik-baik saja berada di sini. Sekarang pikiran dan hatiku terganggu olehnya. Siapa dia?” “Tunggu!” seru si gadis.
  • 194.
    Analekta Kisah Semesta| 194 PROPERTI OF P Ia menghampiriku dengan cepat ketika tanganku sudah menyentuh gagang pintu kaca bening. Aku bermaksud keluar dari toko ini. Sesak. Ingin kuhidu sejenak angin dingin di luar tempat ini walau hujan rintik masih menyerbu bumi untuk menenangkan diri. Aku menoleh panggilannya. “Mau pulang? Sudah selesai belanja?” tanya gadis itu. Aku mengangguk. “Di luar masih hujan. Enggak apa-apa?” “Aku sudah terlalu lama di sini,” jawabku. “Aku ….” Bunyi keroncong perut itu muncul lagi dan memotong kalimatku. Ia kembali tersipu dan menyentuh perutnya. “Kalau enggak keberatan, saya traktir Mas makan. Boleh? Sepertinya lambung saya engaak bisa di-mute.” Dia memamerkan senyum malunya. Kupikir keberaniannya patut diacungi jempol. Menyisiri rambutku, dan kini mengajakku makan siang. Traktir, katanya. Bolehkah? “Hujannya belum berhenti. Are you oke?” Aku memastikan bahwa hujan ini tidak masalah baginya. Meski hujan turun setetes, tapi karena turunnya rombongan, tetap
  • 195.
    195 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF saja akan membasahi pakaian dan meresap ke badan. “Di depan toko ini ada tempat makan. Kita bisa makan di sana,” jawab si gadis yang siap mendorong keluar pintu dengan sikutnya. Aku melihat cara uniknya membuka pintu kaca itu tak bisa menahan senyum di sudut bibirku. Aku pun memilih mengikutinya tanpa ia tanya apa aku setuju atau tidak. Gadis tinggi kurus itu membiarkan dirinya basah oleh hujan dan meraih sepeda yang terparkir di depan toko. Sepedaku juga ternyata terparkir di sebelahnya. Bisa kulihat hujan tak membuatnya takut basah. Raut wajah gadis itu tersenyum. Entah mengapa lagi-lagi kupikir ia mirip seseorang. Seorang gadis penyuka hujan. *** Di sinilah aku. Bersama lelaki asing, merapikan rambutnya dengan sisir kesayangan, kemudian memintanya memilihkan oleh-oleh kaus untuk si adik balegku, lalu mengajaknya makan siang sebagai ucapan terima kasihku karena menyita waktunya. Aku pun tidak tahu mengapa begitu berani berbicara padanya. Kuakui memang kalau aku tidak bisa melihat rambut tak sedap dipandang, seperti rambutnya yang tak beraturan. Seandainya saja ada lima orang dengan rambut tak terawat, aku akan berani mengajukan diri merapikannya, dengan izin pemilik rambut itu tentunya.
  • 196.
    Analekta Kisah Semesta| 196 PROPERTI OF P Menurut Ana, sahabatku, aku gadis ceroboh dan tak tahu malu karena tak peduli siapa pun kusisiri rambut berantakan sampai tak satu helai pun keluar dari barisan rambut. Hatiku membesar puas ketika rabut acak itu rapi. Abaikan pandangan Ana terhadapku. Itu memang kenyataan. “Kamu tak makan kuning telurnya?” tanya lelaki berambut model bowl cut macam oppa korea yang kurapikan. Matanya sekilas melihatku namun tertuju pada kuning telur di piringku yang telah kusingkirkan dari lingkaran putihnya. Aku menggeleng. Kenapa dia tanyakan pasal telur. “Boleh kumakan? Sebagai gantinya, aku kasih putih telurnya,” ucapnya. Tangannya telah terangkat dan berada di atas piringnya. Tanpa menunggu persetujuanku, ia meletakkan putih telur di atas piringku dan mengangkut kuning telurnya. Telur ceplok kini sudah tak lagi dua warna. Mereka berpisah dan bersatu warna di piringku dan di piringnya. Aku tak bereaksi, hanya melihatnya makan. Otakku tiba-tiba merasakan sesuatu. Kuning telur ini mengetuk pikiranku. Kuning telurku biasanya tak pernah beralih meski aku tak menginginkannya. Hatiku resah. Perasaan macam apa ini?
  • 197.
    197 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku merasa seseorang pernah meminta yolk itu. Tapi aku tak tahu siapa. Karena selama ini tidak ada yang memintanya. Sejenak aku sibuk dengan hati dan pikiranku. Sepertinya ini pernah terjadi. Kapan? Di mana? Aku memasukkan makanan ke mulutku dengan perlahan. Perutku terasa kenyang melihatnya makan kuning telur dari piringku dengan lahap. Aku ingat! Lelaki di hadapanku juga menanyakan apakah aku pernah bertemu denganya sebelum ini. Kujawab tidak. Mungkinkah ini yang dirasakannya tadi? Apakah aku merasakan apa yang ia rasakan. Aku terus meraba untuk mendapat jawaban perasaan dan pikiranku hingga denyut sakit kepala datang. Aku mengerjap-kerjap mata agar pusing tak berlanjut. “Kamubaik-baiksaja?”tanyalelakipemilikbentuk mata almond itu. Ia memperhatikan wajahku sejenak. Aku mengangguk. Apakah ia melihatku melamun? Apa ia menangkapku memperhatikannya? Tak ingin terlalu malu, aku makan dengan cepat. Baru saja kutelan nasi, kutangkap tangannya. “Ini air minum gelas ketigamu,” ucapku. Ia tertegun. “Enggak baik banyak minum ketika makan. Habiskanlah dulu makanannya, baru minum. Kalau enggak, perut bisa kembung. Perut kembung enggak bisa ditusuk jarum seperti kita menusuk jari ketika sakit perut.”
  • 198.
    Analekta Kisah Semesta| 198 PROPERTI OF P Ia terkejut hingga gelas turun dari tangannya tanpa terasa. Dia menatap mataku lekat dengan mulut masih penuh makanan. Aku tidak tahu kenapa keterkejutannya begitu hebat.Apa dia terkejut karena aku mengkhawatirkan orang asing sakit? “Boleh kutahu siapa kamu?” tanyanya dengan perlahan dan pandangannya masih terkunci padaku. “Aku seperti pernah dilarang seperti itu oleh seseorang. Kalimatnya persis.” “Aku? Alba,” jawabku. “Oh, ya. Kita belum kenalan. Aku bahkan enggak tahu namamu siapa.” Aku tersenyum canggung. Malu. Mengomel padanya walau kami tidak saling kenal. “Kita bisa berkenalan setelah nasi ini habis.” Lelaki itu terdiam. Tak mengatakan sepatah kata pun. Mungkin karena kami orang asing. Aku banyak tidak tahu, bahkan tidak mengerti ekspresinya saat kusebutkan namaku. Apakah dia kesal karena aku berlagak cerewet? Suasana menjadi lebih dingin setelah insiden air minum, dan karena hujan kecil ini belum juga berhenti. Kami bahkan masih saling diam ketika keluar dari warung makan itu. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya. Dia hanya tersenyum saat kutanya apakah dia baik-baik saja. Kami berjalan beriringan tanpa mengayuh sepeda. Jalanan sudah mulai ramai. Lalu lalang para siswa kampung bahasa Inggris mulai terlihat karena hujan telah berhenti. Waktu makan siang tiba dan tempat makan serta
  • 199.
    199 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF kafe di pinggir jalan Brawijaya itu mulai dipenuhi para siswa secara bertahap. Namun, aku dan dia masih sunyi, tak sepatah kata pun. Situasi awkward ini membuat tak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi dia belum mengucap pamit untuk pergi. Aku pun belum mau berpisah darinya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hati dan pikiranku masih berkecamuk memikirkan perasaan De javu ini. Mungkinkah ia merasakan hal yang sama? *** Alba? Dia bilang namanya Alba? Aku menggumamkan namanya di tengah sakit kepala yang mendera sejak kami berpisah di Jalan Anyelir kemarin siang. Kelebat bayangan dan potongan memori menyerang otakku kini. Tak hanya otakku yang berdenyut. Hatiku berdebar merasakan sebuah kerinduan yang membuatku tak mengerti. “Aku sudah minum obat, kenapa kepala ini tak berhenti menyiksaku. Ingatan apa ini?” ucapku lirih sambil menahan sakit. Tak kusangka, akan kualami demam secepat ini. Terkadang ini terjadi sebelumnya, tapi tak sehebat ini. Tiga bulan sudah aku datang ke Kampung Inggris ini untuk refreshing dan atas permintaan mama. “Datanglah lagi ke sana. Siapa tahu kamu bisa sembuh. Mama harap kamu bisa menemukan ingatan yang selama ini tersembunyi di alam bawah sadarmu, Nak,” kata mama seminggu sebelum keberangkatanku ke Pare.
  • 200.
    Analekta Kisah Semesta| 200 PROPERTI OF P “Meski akan menyakitkan. Mama yakin kamu pasti bisa.” “Ingatan? Mungkinkah ingatan ini?” “Alba.” “Alba.” Kusebut namanya berkali-kali sejalan dengan potongan ingatan yang datang silih berganti. Apakah sudah mulai bereaksi? Mungkinkah ingatanku kembali? Kecamuk pikiran dan kemungkinan hadir sendiri tanpa kuinginkan. “Amnesia retrograde. Fatih tidak dapat mengingat informasi atau kejadian di masa lalunya. Ini adalah sebuah gangguan yang memengaruhi bagaimana ingatan baru terbentuk,” kata-kata dokter yang disalin mama terngiang di telingaku. Aku mual mengingatnya. “Benturan kencang di kepala karena kecelakaan menyebabkan kerusakan bagian otak pemilik fungsi membentuk sistem limbik yang berperan mengatur emosi dan ingatan seseorang. Ada kemungkinan dinding otak Fatih mengalami cedera berupa retak.” Ingin kuhentikan ingatan ini tak tak bisa. Ia berlanjut dengan sendirinya. “Benturan di kepala itu yang meningkatkan risiko Fatih untuk mengidap amnesia.” Langit-langit kamarku terasa berputar. Ribuan paku serasa tertancap dan membengkakkan kepalaku. Aku menjerit memohon ampun agar siksaan ini berhenti. Aku memohon untuk menghilangkan ingatan ini. Allah….
  • 201.
    201 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Sampaikan ke orang tuamu, jangan biarkan lelaki mana pun masuk ke dalam rumahmu. Hanya aku. Aku yang aka nada di sana.” BRUKKK!!! *** “Jangan lagi, kumohon!” Aku menyudutkan diri pojok kamar asramaku. Keringat membanjiri seluruh tubuhku padahal hujan kembali lebat, kipas angin kuputar penuh. Dadaku sesak. Kepalaku sakit tak tertahankan sepertitumpukanduridisekujurtubuh.Duriitumembuatku tergolek lemah di lantai. Jika sakitku karena hujanan tadi siang, tidak akan seperti ini. Tiba-tiba kejadian tadi siang di toko oleh-oleh dan tempat makan muncul. Tentu saja aku tak lupa karena kemarin baru saja terlewati. Tapi tak sejelas ini. Biasanya aku akan melewati kejadian hari kemarin kecuali sangat spesial. Meskipun keanehan hati dan pikiranku sejak kemarin tak kubuat arti apa-apa, tapi itu masih terjadi dan membentuk ingatan yang tak kumengerti. Potongan ingatan dalam siksaan ini muncul perlahan. Terkadang ketakutan dan trauma ini datang, tapi ini tidak biasa. Ada apa ini? Aku sekarat? Kenapa ada rindu di ujung ajalku? Siapa yang kurindukan? Kenapa muncul lelaki kuning telur itu muncul terus? Tidak hanya lelaki itu yang muncul. Bayangan lain ataukah ingatan? Memori yang terkubur? Aku tak sempat mencari tahu. Sekujur
  • 202.
    Analekta Kisah Semesta| 202 PROPERTI OF P tubuhku menggigil bersama serpihan kejadian yang datang di memoriku. Potongan berbagi kuning telur tidak hanya muncul berkali-kali dengan suasana dan tempat berbeda. Wajah lelaki itu tergambar jelas tersenyum padaku sambil melambaik tangannya. Aktifitas kelas. Satu serpihan menjadi puluhan serpihan ingatan. Fatih …. Lelaki telur ceplok? “Alba trauma apa, Bu?” tanya dokter. Mama menggeleng. “Alba dalam keadaan amnesia dissosiatif. Ini terjadi ketika seseorang memblokir informasi tertentu. Biasanya berupa kejadian yang berhubungan dengan trauma psikologis atau stres. Hal ini membuat dirinya tidak mampu mengingat poin-poin informasi yang sebenarnya penting. ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat.” *** “Bisa kita bicara?” tanya Fatih. Ia berada di depan gerbang asrama Alba. Pukul 9.30 gerbang asrama dikunci dan tidak boleh ada aktivitas luar. “Aku harus bicara sama kamu.” Albamenggeleng.IabisamelihatFatihberkeringat. Bukan keringat, tapi air mata yang membasahi seluruh
  • 203.
    203 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF wajahnya. Wajahnya pucat sepucat dirinya. Alba segera bisa menebak, Fatih mendapat ingatannya kembali seperti apa yang dirinya alami. “Kamu Fatih? Aku ingat kamu Fatih. Apakah kamu orang yang sama?” Suara Alba mulai menunjukkan tangis dari hati terdalam. Faith hanya membalas dengan anggukan. Ia menangis tanpa suara. Buncah rindu memenuhi dada keduanya. Fatih dan Alba hanya bisa membisu satu sama lain, gerbang dan aturan menghalangi mereka. Tapi mereka tahu isi hati masing-masing. Mendapatkan ingatan dan kenangan satu sama lain sudah lebih dari cukup. Keduanya saling merindukan dengan ingatan tersimpan dalam. Kini kembali bersua dan bersama. Malam menyaksikan dengan desiran angin dinginnya. Gerbang menjadi saksi tangis bahagia. Betapa Tuhan Maha baik menyatukan dua insan dengan indah sesuai rencana-Nya. *** Jalan Brawijaya, Pare, Kediri. 29 Maret 2015 “Kamu tunggu di sini, ya. Aku nyebrang ke sana buat beli pentol.” Fatih senang melihat Alba semangat mendengar ia membeli makanan favoritnya. Raut cinta dan wajah bahagia keduanya terpancar dengan sinar matahari di langit. Fatih bahkan sampai melambaikan tangannya sambil tersenyum di tengah jalan.
  • 204.
    Analekta Kisah Semesta| 204 PROPERTI OF P BRAKK! Sebuah mobil menabrak tubuh Fatih dan seketika tumbang. Darah menggenang dan tercecer ke mana-mana. “Fatiiiiiiih!” *** Tentang Penulis Enong Nurmuti’ah, si ibu (agak) muda yang lahir 31 tahun yang lalu. Ribet oleh si jagoan, Ugama, usia 2,5 tahun, namun masih sangat ingin menjadi penulis baik, kalau bisa penulis hebat berkualitas. Beberapa kali ikut kelas menulis untuk mengasah kemampuan menulis. Suka membaca sebagai penguat bakat menulis.
  • 205.
    205 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF DUA BELAS KATA CINTA Oleh: KillerBee “Will you marry me?” “Maaf.” Aku hanya bisa tersenyum kecut menjawab jawaban singkat itu. Sepuluh kali mengatakan kalimat yang sama, dan sepuluh kali juga aku mendapatkan jawaban yang sama.  “Maaf.” Hanya itu jawaban yang kuterima, tanpa ada penjelasan apa pun darinya. Electra, seorang gadis dengan paras cantik dan mata bulat yang sudah menemaniku selama lima tahun. Sesuai dengan
  • 206.
    Analekta Kisah Semesta| 206 PROPERTI OF P namanya, cahaya yang bersinar. Electra sudah membuat hidupku yang kelam makin bersinar setiap harinya.Gadis itu berhasil mengubahku menjadi jauh lebih baik. Aku bisa berada di puncak karirku sebagai seorang aktor pun tak luput dari campur tangan gadis yang sangat kucintai itu. Dia adalah semestaku meskipun sepertinya semua itu tidak berlaku baginya. Entahlah, kata cinta selalu terucap darinya, namun sayang sekali dia tidak pernah mau menerima lamaranku. “Jadi gimana? La? Gala?” Aku tersentak saat sebuah tangan menepuk bahuku agak kencang. “Ah iya Ra? Kenapa tadi?” tanyaku kikuk, Electra tampak menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar. “Kamu melamun lagi. Kenapa sih?” tanyanya pelan. “Ah tidak. Kamu tadi bilang apa?” “Minggu depan, jadinya mau ke pantai atau nonton?” “Memangnya kamu bisa pergi Ra? Itu kan bukan weekend,” ucapku. Electra adalah editor di sebuah penerbit besar dan dia cukup sibuk. Bahkan terkadang dia lebih sibuk daripada aku.
  • 207.
    207 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Aku sudah menyelesaikan semua deadline-ku, harusnya sih tidak masalah kalau aku mengambil cuti. Toh aku juga hampir tidak pernah memakai jatah cutiku,” sahut Electra sambil tetap asik dengan laptopnya. Moto hidup Electra adalah “Hidup untuk kerja, kerja untuk hidup”. Baginya yang terutama adalah pekerjaannya. Aku menyukai kegigihan dan sikap pekerja kerasnya. ***  “Gala kamu mau beli apa lagi sih?” Aku terkekeh melihat Kak Rimba yang sudah memasang wajah kesalnya, tentu saja dia mulai kesal. Aku lalu menurunkan masker yang menutupi wajahku dan memasang cengiran khasku padanya.  “Terakhir ya Kak, setelah beli parfum kita makan siang,” janjiku, terlihat Kak Rimba menghela napas kasar lalu berjalan mendahuluiku masuk ke dalam toko parfum. Seperti yang kukatakan sebelumnya, bagi Electra pekerjaan jauh lebih penting daripada yang lain, termasuk aku. Jadi aku tidak kaget kalau hari ini dia membatalkan janji denganku dan akhirnya aku harus terdampar di mall bersama kakak tersayangku ini. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang gila belanja.  Hanya saja karena kesibukanku, hal seperti ini menjadi sesuatu yang sangat langka bagiku. Kulirik Kak Rimba yang masih setia berdiri di belakangku sambil asyik memainkan ponselnya.  Sebagai public figure tentu saja bukan hal yang aneh bila banyak penggemar yang mendekatiku. Terkadang aku cukup
  • 208.
    Analekta Kisah Semesta| 208 PROPERTI OF P kewalahan menghadapi mereka, dan di situlah Kak Rimba akan mengambil peran sebagai seorang pelindung. Dengan gagah berani dia akan menerobos kerumunan dan membawaku pergi. Oke lupakan kalimatku barusan. “Gala, itu Lectra bukan sih?” “Lectra lagi kerja Kak,” sahutku sambil tetap fokus pada aktivitasku sampai akhirnya tangan besar Kak Rimba menyentuh puncak kepalaku dan menolehkanku ke arah luar toko. Netraku langsung menangkap sosok gadis cantik yang sudah menjadi penghuni hatiku selama lima tahun itu. “Kamu kenal laki-laki yang jalan sama dia?” tanya Kak Rimba yang kujawab dengan gelengan. Baru saja aku hendak berlari ke luar untuk mengejarnya namun Kak Rimba menahanku. “Selesaikannantidirumah,kamutidakmaufotomu ada di halaman depan media massa besok pagi kan.” Kurasakan pegangan tangan Kak Rimba mulai mengendur. Aku cukup tahu maksud perkataannya barusan.  “Kakak tahu perasaanmu, tapi emosi tidak akan menyelesaikan masalah.” *** Menjadi seorang public figure bukanlah hal yang mudah. Hampir seluruh kehidupanku diketahui orang banyak, bahkan kehidupan percintaan. Butuh waktu yang
  • 209.
    209 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF tidak sebentar untuk membuat fans menerima hubunganku dengan Electra. Bahkan kekasihku itu sempat menutup kolom komentar akun Instagramnya karena selalu mendapat cibiran pedas dari penggemarku. Aku hanya diam menatap gadis cantik yang baru saja membukakan pintu untukku ini. Mulutku seakan terkunci saat melihat sosoknya. Jantungku mendadak memompa semakin cepat, ada rasa takut yang amat sangat saat melihat sosoknya. Kedua telapak tanganku saling meremas bahkan sudah terasa sedingin es saat kami duduk berdampingan di kursi taman rumah Lectra. Aku menelan salivaku kasar sebelum akhirnya aku memberanikan diri menatap iris gelapnya itu. “Nikah yuk.” Suasana semakin hening saat kalimat sakral itu terucap dariku untuk yang kesebelas kalinya. “Gala, aku ...” “Yes or not Electra.” Kulihat mata cantiknya mulai berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Entah mengapa aku jadi tidak tega melihatnya. Aku lalu bangkit berdiri namun tangannya menahan tanganku. “Aku cinta sama kamu Gala.” Hatiku semakin sakit mendengarnya. “Hari ini aku melihat kamu jalan dengan seorang laki-laki. Aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Tapi
  • 210.
    Analekta Kisah Semesta| 210 PROPERTI OF P setidaknya, jangan terlalu mudah mengucapkan cinta kalau kamu sendiri tidak ingin memilikiku.” Aku tahu perkataanku barusan sangat jahat. Tapi setiap orang punya batas kesabaran kan. Bukan berarti aku tidak mencintainya, aku lelah menunggu sebuah jawaban yang entah sampai kapan aku bisa mendapatkannya. *** “Jenggala! Kamu mau bertelur dalam kamar atau gimana sih?” Aku menutup kepalaku menggunakan bantal meskipun percuma, seruan mama masih terdengar jelas olehku. “JENGGALA SURYA!” Aku langsung beranjak duduk saat mendengar suara menggelegar dari mama. Namun baru saja aku hendak mengeluarkan segudang kata mutiaraku, mulutku mendadak terkunci rapat saat melihat sosok Electra yang sudah berdiri di samping mama. “Lectra, tante tinggal ke bawah dulu ya. Gala, selesaikan masalahmu dengan Lectra,” ucap mama sebelum mama pergi meninggalkan kami berdua.  Aku lalu bergeser duduk di pinggiran tempat tidur sedangkan Electra duduk di kursi tidak jauh dariku.  “Maaf.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya setelah beberapa saat kami saling diam. 
  • 211.
    211 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Untuk?” “Aku sudah lihat berita yang tersebar dua hari ini, maaf. Semua ini karena aku tidak tegas.”  Aku meraba dadaku, ada yang sedang berdenyut nyeri di dalam sana. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan gosip yang beredar. Mau ratusan kali pun aku digosipkan putus dengan Electra, semua itu tidak akan terjadi. Aku sudah terlalu mencintainya, bahkan aku tidak berani membayangkan bagaimana hidupku tanpa wanita di depanku ini.  “Pria itu adalah kakakku.” Aku langsung mengangkat kepalaku yang tadi sempat tertunduk. Mataku menatap iris gelapnya lekat. Electra tampak menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.  “Tadinya aku pikir aku adalah anak yang paling bahagia di dunia ini karena aku memiliki orang tua yang sangat mencintaiku. Sampai sepuluh tahun yang lalu ada seorang wanita datang ke rumah sambil marah-marah. Dia memaki mama, dia bilang mama adalah perusak rumah tangga orang. Duniaku hancur saat itu juga, sakit rasanya saat tahu kalau ternyata mama adalah selingkuhan papa, bertahun-tahun aku dan mama harus menghadapi kebencian dari istri sah papa. Sampai akhirnya lima tahun lalu aku bertemu Kak Raka. Kami saling mengenal, perlahan Kak Raka mulai bisa menerimaku begitu juga dengan mamanya. Keluargaku berbeda, aku punya dua ibu dan kakak tiri, keluargaku tidak pantas disandingkan
  • 212.
    Analekta Kisah Semesta| 212 PROPERTI OF P dengan keluargamu Gala.” Biasanya, saat Electra menangis, aku akan memeluknya dan mengelus punggungnya untuk menenangkannya. Tapi hari ini untuk pertama kalinya aku hanya bisa terdiam menatap wanita cantik yang sedang menangis tersedu-sedu di depanku ini.  Sejak ayah meninggal, aku hanya punya Kak Rimba dan mama, mereka berdua sangat menjagaku meskipun terkadang mereka suka sekali menggodaku. Tapi terlepas dari semua itu aku sangat mencintai mereka. ***  Setelah beberapa hari berusaha berdiam diri, ternyata gosip yang beredar semakin meluas. Hadirnya pihak ketiga lah, Electra yang merebut kekasih orang lah, aku yang diselingkuhi lah. Jadi demi membersihkan nama baik Electra dan menjauhkan keluarga kami dari serangan media, hari ini aku dan Electra memutuskan untuk mengadakan konferensi pers.  “Jenggala, menanggapi gosip yang beredar, apakah benar kalau hubungan kalian sudah berakhir?” tanya salah seorang wartawan mengawali sesi wawancara siang ini. Aku tersenyum singkat sambil menatap Electra sejenak.  “Hubungan kami baik-baik saja.”Aku mengangkat tanganku yang masih menggenggam tangan Electra ke udara, kilatan kamera langsung menyorot ke arah tangan kami.
  • 213.
    213 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Seperti yang kalian lihat, kami masih bersama,” ucapku mantap. Electra menatapku lekat, matanya mulai berkaca-kaca . “Kamisudahmenjalinhubunganselamalimatahun, dan tidak pernah sekalipun kata “putus” terlintas dalam pikiran saya. Electra adalah sosok yang sempurna bagi saya, bagaimanapun dia saya akan tetap mencintainya,” ucapku lagi.  “Lalu bagaimana dengan gosip yang beredar?” tanya salah seorang wartawan lagi dan kali ini Electra sudah bersiap menjawab pertanyaan tersebut.  “Dia adalah saudara saya. Seperti yang Gala katakan barusan, kami sudah bersama sangat lama dan tidak pernah sekalipun kata “putus” itu melintas dalam kepala saya. Semua ini terjadi karena saya yang tidak tegas, saya terlalu takut untuk melangkah maju. Tapi terlepas dari semua itu, tidak sekalipun Gala meninggalkan saya.” Electra menatapku lekat, wajah cantiknya tersenyum lembut padaku.  “Maukah kamu mengucapkan kalimat itu untuk kedua belas kalinya padaku?” Tubuhku menegang mendengar permintaannya barusan.Aku menelan salivaku kasar, entah kenapa saat ini kalimat itu terasa menakutkan untuk terucap sekarang. 
  • 214.
    Analekta Kisah Semesta| 214 PROPERTI OF P “Will you marry me Electra?” Ruang pertemuan mendadak hening, tidak ada seorang pun yang berani bersuara. Sama denganku, semua orang di tempat ini pun menunggu jawaban dari Electra.  “I will, Jenggala.”  Suasana riuh seketika, tepuk tangan langsung memenuhi ruang pertemuan.  Banyak kata selamat terucap dari orang-orang. Berbeda denganku yang masih terdiam menatap Electra.Aku kira ini mimpi, ya sepertinya mimpi. “Maaf sudah membuatmu menunggu lama, aku mencintaimu Gala dan aku mau bersamamu selamanya.”  Aku langsung menarik tubuh Electra ke dalam pelukanku, berkali-kali ucapan terima kasih meluncur dariku. Seperti kata pepatah, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha dan aku bersyukur aku tidak pernah menyerah untuk mencintai Electra.  *** Tentang Penulis Erlinsia Adelin Hehakaya, S.Psi dilahirkan di Samarinda Kalimantan Timur tanggal 7 Juni 1991, lebih suka disapa “KillerBee”. Fans sejati anime Naruto. Aktif di Instagram dengan nama akun “killerbee_91”. Aktif sebagai penulis di wattpad dengan nama akun “killerbee91”.
  • 215.
    215 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF DALAM INGATAN WAKTU Oleh. Merlinda Yuanika Kepalaku rasanya berat, tubuhku lemas, pandanganku mengabur, aku merasa asing di tempat aku terbangun. Rumah berdinding anyaman bambu membuatku merasa semakin asing, aku mencoba duduk, tetapi gagal, aku hanya bisa mengubah posisi tidurku. Gubuk usang yang tidak terawat dan mungkin tanpa penghuni sekian tahun lamanya, banyak sarang laba- laba menghiasi ruangan. Ada cahaya keemasan masuk di sela-sela dinding anyaman, tanda hari masih sore dan senja sedang dalam perjalanan. Di meja yang jauh dari jangkauan ada lampu minyak kecil menyala.
  • 216.
    Analekta Kisah Semesta| 216 PROPERTI OF P “Apa ini?” Suaraku lemah melihat pakaian yang menempel di badan. “Ya ... Tuhan, apa yang terjadi?” Aku merasa menjadi orang yang menyedihkan di atas bumi. Aku hanya bisa merintih beberapa lama, mulutku kering,sayupsuarapanggilanshalatterdengar.Sangatjauh, suara azan yang kecil. Hari mulai gelap hingga suara gaduh dengan nyala terang seperti api obor menuju ke arahku. Antara senang dan takut, ingin meminta tolong sekaligus ingin berlari jauh. Tidak ada daya untuk melangkah pun untuk berlari. Suara bambu pecah menghentakan dada kemudian cahaya yang menyilaukan masuk membuat mataku menyipit. “Bawa perempuan berdosa ini. Perempuan bawa sial, kita arak keliling desa.” Aku merasakan takut teramat menyergap tubuh ketika suara yang berat berteriak dekat sekali dengan keberadaanku yang lunglai. Aku hanya bisa menangis, sepatah kata ingin aku keluarkan dari mulut, tetapi tenaga sudah habis. Sejurus kemudian tubuhku seperti diseret dan aku tidak ingat lagi. Kesadaranku hilang saat ada yang menarikku dengan paksa karena rasa sakit telah menyergap. “Lihat! Anak perempuanmu tidak tahu malu. Kami menemukannya di gubuk dekat sungai.” “Nak, apa yang terjadi?” Aku melihat wajah ayahku begitu dekat, dia memasang raut gelisah dan sedih teramat.
  • 217.
    217 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Ayah.” Suaraku lemah lalu tangis pecah begitu tubuhku tersungkur di kaki ayah. “Kita dengar dulu apa yang terjadi dengan Dhia. Semoga Bapak-Bapak semua tidak terburu menghakimi anak saya.” Sebuah gelas berisi air dari ibu aku teguk dengan kilat tanpa meninggalkan sisa. “Dhia bangun di gubuk usang, Yah. Pakaian Dhia sudah seperti ini, kepala dan tubuh dia berat, tidak bisa berjalan. Dhia tidak tahu apa yang sudah terjadi.” “Dhia sudah menyalahi adat, seharusnya dia tahu aturan di dusun kita bahwa dilarang memakai pakaian merah. Sangat dilarang sejak dulu. Dhia harus segera diusir dari dusun ini atau dia harus dikucilkan di hutan.” Tangisku kembali pecah mendengar hal itu. Aku tidak tahu nasib buruk apa yang akan menimpaku setelah aku kedapatan memakai pakaian dengan warna terlarang. “Dhia mohon, jangan kucilkan Dhia, Dhia masih mau hidup normal. Sekolah tinggi, membahagiakan Bapak dan Ibu.” Aku menatap mata orang tuaku. “Ibu, ada apa ramai sekali?” Suara bocah terdengar keluar dari kamarku. Aku terheran, siapa gerangan bocah cantik yang mengusap matanya karena terusik tidurnya. Suasana mendadak senyap karena suara si cantik.
  • 218.
    Analekta Kisah Semesta| 218 PROPERTI OF P “Bapak-Bapak sekalian, hari sudah malam, sebaiknya besok pagi kita lanjutkan membahas masalah Dhia. Saya menjamin dia tidak akan melarikan diri.” Suara ayah menenangkan warga, mereka setuju kasus akan dilanjutkan esok hari. “Sebaiknya Bapak-Bapak kembali ke rumah, besok saya sendiri yang akan menyerahkan Dhia ke sidang adat.” *** “Anak? Menikah?”Aku melihat sebuah album foto pernikahan bahkan di ruang tamu ada foto besar menempel di dinding. Aku semakin pusing, bingung harus memutar memori yang mana, sementara setelah aku menguras tenaga mencari memori di kepala, tidak juga aku temukan perihal pernikahan. “Siapa namamu, Nak?” tanya ayah memastikan. “Dhia Khulaida,” jawabku yakin. “Ini siapa?” Ayah bertanya tentang sosok lelaki yang duduk di sampingnya. Aku menggeleng kemudian ibu menggenggam tanganku dan air matanya mengalir. “Dia suamimu, Faqih Fairuza, lelaki yang sepuluh tahun lalu menikahimu.” “Apa? Sepuluh tahun? Maksud Ayah?” “Apa yang sebenarnya terjadi selama kamu menghilang, Nak?” Ibu bertanya dengan rasa sedih yang
  • 219.
    219 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mendalam. “Menghilang? Dhia menghilang? Tapi di mana, kenapa?” “Seharusnya kami yang bertanya,“ ucap Ayah heran. Aku bergegas melihat kalender di dekat meja TV. Aku mengusap mata dan mengedip beberapa kali, angka 2020 tetap bertengger di kalender itu. Aku menjelajah waktu atau hilang ingatan, aku bingung sekaligus terbesit ketakutan dalam diri. Tergesa aku menghampiri Ayah, “Ayah, sebelum aku ada di gubuk tua itu kemarin sore, aku ada di kebun. Aku ingat betul aku belum menikah dan kalender masih di angka 2010. Aku yakin belum menikah, Yah.” Bibirku bergetar hebat. “Aku Faqih suami kamu? Apa tidak ada namaku dalam ingatanmu?” Aku melirik ke arah Faqih yang meminta pengakuan. “Ayah, aku tidak ingat ada pernikahan, hamil, apalagi anak. Aku masih dua puluh tahun.” “Dhia!” Ayah membentak keras. “Kita bawa dia pergi dari dusun ini, cari dokter, kita periksakan istrimu!” Perintah Ayah kepada Faqih.
  • 220.
    Analekta Kisah Semesta| 220 PROPERTI OF P “Ibu, aku tidak gila, aku masih ingat semua.” Aku merengek seperti anak kecil. “Ayah akan menerima hukuman ketua adat, kamu harus pergi dari dusun ini. Kamu melanggar larangan. Kamu sepatutnya mendapat hukuman. Ayah tidak akan mencari tahu kebenaran apa pun karena kebenaran tentang pernikahannya saja dia tidak ingat.” Sidang adat telah dilakukan, aku menjadi pendosa yang melanggar adat dusun, ketetapan untuk mengusirku dari dusun ini telah disepakati bersama. Dalam hitungan jam nasibku berubah bahkan dalam sekejap aku telah menjadi istri dan ibu dari seorang anak sekaligus menjadi tersangka yang melanggar adat. *** “Apa kamu mencintaiku sejak lama?” “Tentu, kita memang tidak lama saling mengenal lalu memutuskan menikah. Kamu memilih tetap tinggal dengan orang tuamu dan aku ke kota untuk mencari nafkah. Dhia, apa yang terjadi sebenarnya?” “Jika aku tahu apa yang terjadi mungkin aku tidak akan di sisimu saat ini, tapi masih di dusun kecil itu.” “Aku dan Sean merasa takut, apalagi Sean, dia sangat sedih karena ibunya tidak mengingatnya.”
  • 221.
    221 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa mengingat kalian.” Aku turut merasakan apa yang mereka rasakan, tidak ada dalam ingatan orang yang kita sayang, itu hal yang menyedihkan. Kecupan hangat meluncur di bibirku. Aku bisa merasakan ketulusan lelaki itu. Rasanya itu menjadi ciuman pertamaku. Aku tidak tahu harus menolak atau membalas kecupan itu, bahkan untuk mengucap kata seperti apa, tidak terlintas. “Aku akan membantumu mengingat semua, sekarang tidurlah, besok kita ke dokter. Tidak perlu takut, semua akan mendukungmu, akan di sisimu membantu.” Aku mengangguk lemah, menuruti semua ucapan Faqih. Aku memejamkan mata, tubuhku di dera lelah menempuh perjalanan panjang. Bukan hanya fisik tetapi jiwaku merasa meronta, lelah mengingat seperti terperangkap dalam ingatan waktu. *** Aku kembali dari lamunanku ketika tiba-tiba Faqih menarik lengan bajuku sambil tersenyum lebar. Aku tidak mendengar perbincangan ayah dan ibu. “Kamu tidak perlu cemas, aku akan menjagamu dan Sean.” Faqih menatap ramah. “Ayah dan Ibu kenapa tidak tinggal di sini saja? Rumah ini sangat besar,” pintaku dengan manja.
  • 222.
    Analekta Kisah Semesta| 222 PROPERTI OF P “Di dusun banyak yang harus kami kerjakan, sawah, kebun, kolam ikan, kalau hanya mengandalkan Si Salim, adikmu itu, tidak akan beres semua.” Ayah mengusap rambutku. “Iya, Ibu juga tidak terlalu khawatir lagi, hasil pemeriksaanmu cukup bagus, kamu mungkin hanya lelah. Maafkan juga warga desa yang mengarakmu ke rumah dan menghakimimu.” Aku mengangguk, aku tahu sebenarnya Ibu sangat khawatir kepada anak gadisnya ini. “Maafkan Dhia, Yah, Bu. Dhia membuat Ayah dan Ibu kecewa. “ Pemeriksaan CT Scan dan MRI tidak menunjukkan gejala aneh. Dokter yang memeriksa mengatakan kemungkinan ingatanku hilang karena amnesia traumatis. Mungkin saat aku menghilang berada di tempat asing, kepalaku terbentur sesuatu atau aku mengalami kejadian yang berat. Ini hanya bersifat sementara dan aku akan mengingat semuanya lagi. Penjelasan dokter lebih menenangkan pikiran orang tuaku dan suamiku, tidak dalam batin dan pikiranku. “Boleh aku tanya? Berapa lama aku menghilang? Di mana terakhir aku terlihat?” Aku bertanya ketika ada kesempatan berdua saja dengan Faqih. “Kamu tidak ingat hal itu? Kata Ayah kamu keluar sendirian, pamit membeli sesuatu. Ternyata kamu tidak kembali dan enam belas hari kamu tidak ada kabar.”
  • 223.
    223 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Selama itu? Lapor polisi dan tindakan pencarian?” “Sudah, tidak ada hasil. Kamu seperti ditelan bumi.” “Jadi aku 30 tahun sekarang?” “Hampir, belum genap,” ungkap Faqih. Aku harus memulai membiasakan diri dengan usia tiga puluh sebelum teka-teki di kepala terpecahkan. Suami dan anak, mereka menunggu agar aku selalu ada untuk mereka. Aku juga akan mencari tahu ingatan yang hilang atau aku melintasi distorsi waktu. “Dhia, bangun! Kamu mimpi apa?” Suara Faqih terdengar jelas. Aku terperanjat, sebuah mimpi melintas di kepala. Aku berdiri di depan sebuah pohon besar yang seolah-olah akan menelanku hidup-hidup. Beruntung aku mendengar suara Faqih. *** “Apa makanan kesukaan Sean?” “Ibu lupa?” Sean menampakkan muka kecewanya, “Martabak mi telur buatan Ibu yang super besar,” jawab Sean sambil membentangkan tangan. Aku mengerjap seperti ada bayangan besar melintas. Aku terhuyun di depan Sean. “Ibu, apa Ibu masih sakit? Sean telepon Ayah, ya? Kata Ayah kalau ada apa-apa sama Ibu, Sean harus
  • 224.
    Analekta Kisah Semesta| 224 PROPERTI OF P telepon Ayah.” “Tidak apa-apa, maafkan Ibu. Ibu akan masak martabak mi telur untuk Sean.” Aku mengumbar senyum tetapi masih memikirkan sekelebat bayang besar yang muncul tiba-tiba. “Ibu, yakin?” Aku mengangguk dan membelai pipi Sean. Keluarga dalam ingatan baruku ini begitu hangat dan tulus, tetapi aku merasa asing dengan mereka bahkan diriku sendiri. Aku masih mengingat peristiwa di gubuk tua itu, pakaian merah yang membuatku terusir dari tanah kelahiranku. Aku lupa kenapa warna merah dilarang, yang aku ingat setiap orang yang memakainya akan dianggap pendosa, kotor, membawa sial, nasib buruk akan selalu menaunginya kemudian yang paling kejam diusir atau dikucilkan dari dusun. Semakin aku memikirkan justru semakin aku tidak menemukan titik terang. Sebuah dering telepon membahana dalam ruangan, membuat aku dan Sean saling pandang. “Ibu yang angkat, kamu duduk manis saja.” “Iya, Bu.” Sebuah suara yang aku kenal, Faqih. Dia mengabarkan akan pulang cepat karena ada rapat di luar kantor dan selesai sebelum jam kantor. Faqih dalam perjalanan ke rumah.
  • 225.
    225 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Itu Ayah? Dia akan pulang cepat?” “Iya, katanya dia dalam perjalanan pulang.” “Ibu … aku suka seperti ini, Ibu bersamaku dan Ayah tidak lagi jauh. Aku suka kita sama-sama.” Aku memandang anak delapan tahun yang wajahnya sangat mirip dengan Faqih hanya beberapa kelakuannya mirip sekali denganku. Anak cantik yang tidak ada dalam ingatanku ini membuatku jatuh hati. Pelukannya dan tatapannya yang penuh cinta membuatku nyaman. “Ayah pulang.” Suara nyaring dari arah pintu depan membuat Sean berlari untuk menyambut kedatangan ayahnya. “Bawa apa,Yah?” “Bawa makanan dan kue, wah … bau apa ini? Harum dan nikmat sepertinya?” “Ibu masak, kenapa Ayah bawa makanan? Kasihan masakan Ibu.” “Eit, kita akan makan semuanya.” “Iya, makan semua sampai kenyang.” Aku melihat dua orang yang memiliki ikatan darah itu tertawa bahagia. Aku mulai menikmati berada dalam keluarga sederhana ini.
  • 226.
    Analekta Kisah Semesta| 226 PROPERTI OF P “Mas!” seruku ketika membuka bungkusan yang dibawa Faqih. “Dhia,” seru Faqih berlari dari kamar merasa khawatir. Aku menunduk di bawah meja, entah darimana datangnya rasa jijik dan ngeri melihat ingkung ayam yang utuh di dalam kotak. Faqih membenamkan kepalaku di dadanya. Aku merasa baik-baik saja selama sekian menit. Dia berusaha melindungi dengan segenap raga. “Aku hanya kaget,” ucapku lirih dengan menunjuk ke arah ayam dalam kotak. “Aku kira kamu kenapa-kenapa, itu hanya ayam panggang,” ujar Faqih. Sean tertawa melihat tingkah kami, dia sepertinya bahagia melihat kemesraan orang tuanya. Hal yang langka untuk dilihat. *** “Dhia, bangun! Dhia.” Sebuah suara kembali aku dengar untuk membangunkanku. “Mas, aku takut. Tolong aku,” ucapku terengah setelah bangun dari tidur. “Tenang, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Dhia. Semua akan baik-baik saja.”
  • 227.
    227 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Besok aku harus pulang ke rumah Ayah dan Ibu. Aku mau pulang secepatnya,” “Tapi, be—” “Besok atau tidak akan ada kesempatan.” Aku menyela dengan cepat. “Baiklah, aku akan mengantarmu, aku akan minta izin ke kantor.” Pelukan yang menenangkan membuatku terhanyut. Aku semakin ingin tahu bayangan yang sering melintas dan mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Pohon besar yang aku ingat ada di dekat kebun ayah. Sosok perempuan berbaju merah yang mendatangiku dalam mimpi. Aku ingin memastikan semua hal tersebut. “Kenapa kamu punya pikiran untuk kembali ke kampung halamanmu?” Aku tak menjawab, hanya sesungging tersenyum, aku tahu seperti apa kekhawatiran Faqih. Dia yang melihat hukuman yang dijatuhkan padaku dari putusan adat. “Kalau aku diusir sekali lagi setidaknya kalian masih bisa pulang ke rumah Ayah, Ibu.” Perjalanan panjang dimulai, lima belas jam perjalanan darat dengan mobil pribadi. Aku sudah tidak sabar untuk mencari titik terang. Menuntaskan rasa penasaranku. Beberapa kali Sean mengajak bernyanyi
  • 228.
    Analekta Kisah Semesta| 228 PROPERTI OF P dan bercerita, dia tidak memberiku kesempatan tidur atau melamun. Lagipula mata tidak bisa terpejam lelap sekuat apa pun aku berusaha. Ada perasaan yang mengganggu. “Mas, awas!” “Ya, Allah.” Faqih menginjak rem mendadak. “Apa itu tadi?” “Tidak tahu, Mas.” “Mas akan cek sebentar, kamu di dalam saja, jangan keluar!” Perintah Faqih mendekatkan wajahnya sebelum keluar mobil. Suara berdebum, sesuatu dibanting ke arah badan mobil. Mobil bergoyang membuatku berteriak dan Sean meloncat ke arahku. Aku mengambil alih kemudi, Sean aku perintahkan memakai sabuk pengaman di kursi depan. Tidak ada suara dari Faqih hingga tiba-tiba kepalanya menyembul di kaca pintu dengan darah segar mengalir. Aku dan Sean menangis dan berteriak, aku tancap gas meninggalkannya. Dadaku berdebar kencang, jalanan di tengah perkebunan karet sangat sepi, hanya satu dua yang melintas, berteriak minta pertolongan sangat percuma. Aku melihat sekelebat selendang merah melayang, aku menangis, berusaha melindungi Sean. Mobil berhenti tiba-tiba, tidak mau jalan lagi, aku sudah berusaha menyalakan mesin beberapa kali.Aku panik ketika seorang perempuan yang terlihat miris, wajah pucat dalam balutan gaun merah menyala muncul di kap mobil dengan tatapan
  • 229.
    229 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mengerikan tanpa bersuara. Aku memeluk Sean sekuat tenaga, melantunkan doa apa pun yang ada di kepala. *** Aku membuka mata dan berada di depan sebuah pohon. Ada banyak pita merah terikat di rantingnya, batangnya yang sangat tua pun berselimut kain merah. Aku ingat itu pohon keramat di ujung dusun. “Masih bernyali untuk menyepelekan keberadaanku? Kamu sudah kehilangan semua, tidak adakah penyesalan?” “Apa yang kamu lakukan dengan suami dan anakku?” “Kamu masih punya kesombongan tinggi?” “Kembalikan mereka, biar aku yang menanggung nasib buruk, kembalikan mereka karena mereka tidak tahu apa-apa.” “Begitukah?” “Aku minta maaf untuk semua perbuatanku di masa lalu atau di masa depan.Aku akan lebih menghargai segala sesuatu di sekitarku. Aku akan menebus kesalahanku.” Aku mengakui segala kesalahanku. “Setiap yang hidup adalah mukjizat Tuhan, bukan berarti yang tidak kasat mata bisa dihinakan. Segala sesuatu di semesta hidup atas izin Tuhan.” Nasihat hidup
  • 230.
    Analekta Kisah Semesta| 230 PROPERTI OF P yang aku dengar dari mulut seorang perempuan cantik nan anggun dengan gaun merahnya, dia tidak menampakkan raut wajah kejam, tetapi mata tajam dan bibir merah merona yang justru mempertegas seramnya. Ini seperti pertarungan emosi dengan makhluk imajiner. Tangan perempuan itu menyentil sebuah pita merah ke arahku, aku merasakan tubuh ini ditabrak dengan keras lalu terhempas dan jatuh ke tanah, rasanya sakit dan mataku memberat kemudian. *** Kepala dan mataku berat, ada banyak suara-suara mengiang di telinga. Aku ingin membuka mata, sia-sia, aku merasa heran, mimpi macam apa yang datang dan membuat ngeri merasuk. “Hanya penjaga dusun ini yang berhak berpakaian merah, kita menghormatinya, bukan sakadar hormat, tapi adat leluhur yang harus dijaga.” Suara yang menenangkan sayup terdengar. Membuatku sekuat tenaga membuka mata. Kalimat ayah tentang alasan tidak bolehnya memakai pakaian merah. Aku mengingat ayah bercerita tentang hal itu ketika aku kecil. Aku terbangun di depan sebuah pohon besar di kebun. Pohon yang disakralkan oleh warga dusunku. Aku berlari terhuyung menuju rumah, keringat dingin dan rasa takut menguasaiku. Aku menggenggam
  • 231.
    231 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF sesuatu di tangan kananku, entah apa di dalam kepalan tanganku. “Ayah, Ibu, kalian tidak apa-apa?” “Tidak, ada apa? Kami pulang dari sawah.” “Syukurlah,” kataku lega dan memeluk Ibu. “Ada apa, Nak?” Aku berdiri linglung, semua yang aku alami di luar nalar. Air mata membanjiri pipiku, pakaianku sudah lusuh tak menarik. Aku melirik kalender di dekat TV, angka 2010 tercetak tebal. Tidak ada potret pernikahanku di dinding rumah. “Tidak ada apa-apa, Bu.” Aku bermimpi aneh, mimpi yang membuat tubuh benar-benar lelah dan sakit, mimpi yang membuatku merasa sedih tentang kehilangan. Aku menjadi pendosa untuk diriku sendiri, mencela adat masyarakatku sendiri. Aku tergugu, tangisku tak terhenti. Aku membuka kepalan tanganku, ada pita warna merah yang sedari tadi kugenggam. Dalam ingatan lainnya aku merasa ada cinta dan ketulusan yang dibenamkan oleh dua orang bernama Faqih dan anak cantik bernama Sean. Pati, 28 Maret 2021
  • 232.
    Analekta Kisah Semesta| 232 PROPERTI OF P Tentang Penulis Lahir 8 Juni dengan nama Merlinda Yuanika ini biasa dipanggil Dek Nda. Kesibukannya membaca buku juga menulis. Semua tulisannya bisa ditemukan dalam Instagramnya @d3k_nda, dan cuitannya bisa disimak di @d3k_linda.
  • 233.
    233 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF GUGUR DI NEGERI SAKURA Oleh: Aishanafi Khadifya “Apakah aku harus mundur?” Pertanyaan itu kembali ia utarakan. Tak tahu lagi sudah berapa kali ia tanyakan hal yang serupa kepadaku. Entah mengapa lelaki di hadapanku ini sangat sensitif sekali. Ada apa lagi ini? Selidikku dalam hati. Kini lelaki di hadapanku menatapku dengan sungguh-sungguh sambil memelankan suaranya, “Kamu lolos beasiswa ke Jepang, kan?” “Oh ini sebabnya.” gumamku dalam hati.
  • 234.
    Analekta Kisah Semesta| 234 PROPERTI OF P “Iya alhamdulillah aku lolos beasiswa ke Jepang Mas, baru aja aku mau cer...” Tiba-tiba dia memotong sambil mengusap kepalaku. “Kamu hebat Nduk, aku aja belum lulus S1, kamu sudah selangkah di depanku. Aku malu, aku enggak bisa ngimbangi kamu”. “Salah kalo aku ngelanjutin S2?” tanyaku. “Ya tapi gimana aku belum lulus kamu udah mau pergi aja—“ Ia menggantung ucapannya, dan kami sama- sama terdiam. Aku jadi tak selera dengan hidangan yang baru saja datang. Aku memesan spageti dengan saus aglio olio kesukaanku, dan es teh tentunya. Aku mencoba mencairkan suasana kembali dengan mencoba meyakinkan lelaki di hadapanku. “Gini Mas, kelak aku nanti akan menjadi seorang ibu, jadi madrasah buat anak-anak kita kelak. Bukannya harusnya enggak apa-apa kalau aku lanjut sekolah sekolah lagi? Kan buat masa depan anak kita kelak, aku kan sekolah pertama bagi mereka nanti.” Dia terlihat berpikir, sambil menatap mataku, entah mencari apa. “Aku di Jepang juga cuma fokus belajar kok, biar cepet selesai juga. Engga mungkin aku seli...” Tiba-tiba dia memotong. “Yakin kamu mau ke Jepang Nduk?” Suara pengumuman bahwa kereta yang akan kutumpangi memecah lamunanku. Aku terkesiap dan segera bersiap. Waktu menunggu membuatku mengingat kembali percakapan dua tahun yang silam. Salah satu
  • 235.
    235 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF faktor yang menguatkanku untuk melanjutkan studiku ke Negeri Sakura ini. Di luar jendela aku melihat daun musim panas telah meninggalkan dahannya. Tidak seperti di Indonesia, di sini bunga yang gugur berwarna merah, momiji namanya. Indah sekali, orang Jepang di sini juga sangat menikmati musim ini, banyak sekali yang mengabadikan momen ini di taman bersama keluarga. Meskipun sudah hampir dua tahun aku di sini, aku masih saja takjub dengan musim gugur. Musim yang memberikan harapan cinta. Namun sepertinya musim gugur di tahun ke duaku di sini, harapan cinta itu tidak berpihak kepadaku. Setibanya aku di stasiun pemberhentian aku melihat beberapa orang yang juga sepertinya sama tujuannya denganku. Di bulan Oktober ini beberapa mahasiswa yang akan ikut perkuliahan musism gugur sudah mulai terlihat memenuhi stasiun dan juga jalan-jalan. Angin yang sejuk diawal musim gugur ini membuatku lebih bersemangat datang ke kampus. Sedikit melupakan lamunanku di staiun tadi. Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum perkuliahan akan dimulai, aku menuju kantin untuk memakan bekal sarapan yang kubawa dari rumah dan membeli beberapa cemilan untuk kumakan siang nanti. Musim gugur seperti ini pakaian para mahasiswa tak jauh berbeda dengan mahasiswa di Indonesia pada umumnya. Karena cuaca yang sejuk, tidak panas dan juga tidak dingin, kadang masih terlihat beberapa yang mengenakan sweater ke kampus. Alhamdulillah jilbab ini sedikit
  • 236.
    Analekta Kisah Semesta| 236 PROPERTI OF P membantuku yang kadang alergi dingin yang datang tiba- tiba sebab angin yang berembus. Ketika sampai di rumah aku langsung mandi dan ingin segera menghubunginya. Aku tiba-tiba merindukannya yang sudah lama tidak menghubungiku. Sedang apa ya dia? Batinku. Tuuut tuuut tuut. Hanya nada dering yang sejauh ini terdengar. Chat personal juga tidak terbaca sejak aku di kampus tadi. Hubungan jarak jauh seperti ini memang rawan, rawan untuk memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan dan juga rawan kepercayaan diri. Ah, aku kesal dengan diriku sendiri yang seperti ini. Padahal kuliah di negara orang adalah pilihanku sendiri, namun rasanya ingin segera lulus dan kembali ke tanah air. Harusnya di Indonesia tepatnya di kota Kediri masih menunjukkan jam delapan malam. Mengapa dia tidak mengangkat teleponku. Aku sudah mulai pasrah dan ingin segera beristirahat karena besok akan ada kuliah pagi, aku harus ikut kereta subuh agar tidak terlambat. Baru beberapa menit aku memejamkan mata dan mulai terlelap, aku mendengar ada suara pesan masuk di ponsel ku. Segera kubuka dan ternyata itu pesan dari dia. [Gimana kabarnya Nduk? Maaf tadi seharian aku ada dedline kerjaan dan baru bisa pegang ponsel dengan tenang. Kamu udah istirahat ya? Met istirahat sayang...]
  • 237.
    237 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku bergegas mengetik untuk menjawab. [Alhamdulillah baik Mas, wah jangan lupa jaga kesehatan kalau lagi lembur. Makannya dijaga, vitamin jangan lupa.] [Iya Nduk] jawabnya singkat. Udah dijawab gitu aja sama dia? Belakangan ini susah dihubungi, tak ada kabar dia sama sekali dan enggak bilang kangen gitu? Oh lelaki, aku tak mengerti jalan pikirmu. Apakah dia sudah lelah dengan hubungan jarak jauh ini? [Mas, gimana lanjutan pembicaraan kita beberapa bulan yang lalu?] Hanya dibaca saja olehnya. Aku melanjutkan mengetik di ponsel. [Beberapa bulan ini Mas susah banget dihubungi, aku bingung kelanjutan hubungan ini Mas. Semester depan aku sudah pulang ke Indonesia, jika Mas mau serius—] belum selesai aku mengetik, tiba-tiba ada telpon masuk. “Halo Nduk.” Suara beratnya menyapa. “Assalamu’alaikum Mas....” “Wa’alaikumsalam Nduk, udah tidur?” Aku tak menjawab. “Kok diem aja Mas tanya?” tanyanya.
  • 238.
    Analekta Kisah Semesta| 238 PROPERTI OF P “Iya enggak apa-apa.” Aku jawab seadanya. “Gimana kuliahnya?” Dia mulai memgulur waktu. “Alhamdulillah lancar, semester depan aku bisa pulang ke Indonesia beberapa minggu, mungkin itu bisa jadi kejelasan hubungan kita kalau Mas mau...” Tiba-tiba dia memutus pembicaraanku. “Jadi gini Nduk, sebenarnya bapakku sudah memutuskan suatu hal, dan aku enggak mungkin bisa membantah orang tuaku. Kamu sendiri tahu aku enggak akan bisa berbuat banyak jika orang tuaku sudah memutuskan sesuatu” “------“ Aku menunggu dalam diam dan mulai mengerti arah pembicaraan ini. “Bapak kurang setuju dengan hubungan kita, melihat latar belakang keluargamu yang berada di kota Lamongan sedangkan aku di Kediri menurut leluhur itu tidak baik bila diteruskan.” Aku sudah tidak bisa beragumen kali ini, aku hanya bisa pasrah dan menahan tangis di ujung telepon. Ketika dia selesai bercerita dan aku sudah cukup mendengar alasannya berbulan-bulan ini susah untuk dihubungi. Aku memilih tidur dalam tangisan, atau lebih tepatnya aku tertidur setelah lelah menangis. Setelah beberapa bulan aku menjadi mengerti alasan mengapa dia tidak lagi
  • 239.
    239 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF memperjuangkanku, ternyata restu dari bapaknyalah yang memberhentikan langkahnya sampai sini saja. Beginilah, cintaku gugur bersamaan dengan jatuhnya bunga-bunga dan dedaunan di negara Sakura. Cintaku gugur di Negeri Sakura. *** Tentang Penulis Saya adalah seorang anak pertama yang menyukai tantangan. Alhamdulillah saat ini saya telah melahirkan tiga buku antologi dan sedang menekuni karya solo. Kesenangan saya dalam menulis telah diasah ibu saya semenjak memasuki kelas 3 SD. Saya adalah lulusan sarjana Ekonomi Islam dan saat ini tertarik dengan ilmu parenting dan marriage.
  • 240.
    Analekta Kisah Semesta| 240 PROPERTI OF P SEMBURAT CINTA PERTAMA Oleh: Rini Untari Bahagia yang dirasa berpadu dengan asa yang terikat. Cinta yang tulus di antara dua manusia tercipta janji untuk bermufakat. Tak perlu berdebat atas upaya cinta yang berkhidmat. Semoga Tuhan beri rahmat atas janji yang terucap.  Rinai hujan masih membuatku belum bisa beranjak dari kursi kerja yang telah menjadi tempat bersandarku selama dua tahun terakhir. Aku bekerja di sebuah media besar di usiaku yang kini masuk seperempat abad. Usia yang sudah pantas untuk melangkah ke pelaminan. Ah, entah kenapa tiba-tiba terbesit pikiran itu. Apalagi semenjak pesan sederhana tapi manis kuterima malam itu. 
  • 241.
    241 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tring... Sebuah pesan singkat masuk dan kulihat ada pesan dari nomor yang tak kukenal.  [Apa kabar Risna? Ini aku Dika. Masih simpan nomor Rahmat?] tanya Dika di ujung sana.  Deggg.. Tak ada hujan tak ada angin, Risna membelalakkan matanya untuk meyakinkan pengirim pesan sederhana itu. DIKA ... ya, Dika adalah pria manis yang sangat aku sukai sejak kami praktik lapangan di bangku perkuliahan dulu. Dika sosok idola wanita yang bukan hanya tampan dan memiliki senyum manis tapi sopan dan berasal dari keluarga berpunya karena ayahnya bos di sebuah institusi plat merah.  Aku merasa seperti punguk merindukan bulan saat itu. Sejak lulus dari bangku kuliah aku tak pernah berkomunikasi lagi karena kesibukan masing-masing.  [Kabar baik, Dika. Maaf nanti dicari dulu ya] Aku menjawab singkat karena sebelum membalas pesan Dika, Kintan redaktur tempat aku bekerja memanggil.  Meskipun aku tahu akan kehilangan momen berharga setelah beberapa purnama tak bertukar kabar tentang Dika. Waktu menunjukkan jam 23:00 WIB tapi aku belum bisa pulang dari kantor karena ada berita di halaman pertama yang harus aku cek ulang sebelum naik cetak.
  • 242.
    Analekta Kisah Semesta| 242 PROPERTI OF P [Dika, ini nomor Rahmat. Maaf aku baru balas karena tadi ada kerjaan kantor belum selesai dan ini sudah mau pulang. Semoga bisa ngobrol lain waktu.] Ujarku  membalas pesan Dika.  [Oke, tidak apa-apa Risna. Hati-hati di jalan ya.] Balas Dika mengakhiri pertemuan kami melalui dunia maya setelah sekian lama tak berkabar. Aku baca ulang pesan terakhir yang dikirim Dika. Tak ada emoticon yang mendebarkan tapi kenapa dadaku tiba-tiba berdetak kencang dan membuat diriku tersenyum sendiri hanya dengan sebuah kata hari-hati.  Aku merasa dipertemukan kembali dengan cinta pertamaku di bangku kuliah. Dika pria yang selalu bersikap baik kepada semua orang. Kadang aku berpikir, aku terlalu percaya diri akan rasa yang dimiliki Dika. Kami tak pernah mendeklarasikan sebagai pasangan apalagi ada ungkapan rasa suka Dika kepadaku secara personal. Itu hanya mimpi pikirku saat itu.  Malam itu sesampainya di rumah, aku segera bergegas ke kamarku dan membuka sebuah buku harian berwarna merah muda. Buku harian yang menemaniku sewaktu praktik lapangan di sebuah Kota di Jawa Tengah.  Kembali mengingat kebersamaan dengan teman-teman dan tentu saja dengan Dika.  Ada sebuah catatan manis yang sangat melekat dalam ingatan dan tertuang dalam buku harian itu. Saat itu aku, Dika dan teman sekelompok praktik pergi menyusuri hutan untuk melakukan analisis vegetasi. Tiba-tiba medan yang kami lewati licin
  • 243.
    243 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF membuatku terpleset dan Dika berusaha membantuku dan mengucapkan kata hati-hati saat itu.  Banyak momen manis di antara aku dan Dika juga teman-teman praktik lapangan tercipta karena kebersamaan di lapangan selama hampir dua bulan. Tapi tak pernah ada pernyataan mengenai statusku saat itu lagipula saat itu aku tak pernah berpikir untuk berpacaran dengan Dika. Aku belajar melupakan rasa yang ada karena ternyata sabahat dekatku juga menyukai Dika. Sebelum berangkat praktik lapangan, Shinta sahabat terbaikku malah meminta tolong untuk melaporkan sikap Dika selama di lapangan dan juga menyampaikan salam kepada Dika. Sungguh memperhatikan pria semanis dan sebaik Dika malah menjadi bumerang bagiku. Nyatanya dalam perjalanan kebersamaan praktik lapangan, aku mulai menyukainya.  Pagi itu, seperti biasa aku bertugas liputan di sekitar gedung dewan dan pengadilan negeri. Ada kasus sidang pembunuhan gadis cantik yang sedang hamil oleh pacarnya yang menarik untuk dijadikan berita. Tak lama sebuah pesan dari redaktur pelaksana harian tempatku bekerja meminta untuk bersiap magang di kantor pusat.  “Risna, mulai besok magang di kantor pusat ya. Paling tidak satu bulan nanti di sana,” ujar Kintan sore itu di kantor menginformasikan kembali rencana magang untukku.  Tentu saja aku bersemangat meskipun terbesit selama sebulan aku akan belajar mandiri di kota besar melakukan rutinitas liputan dengan cakupan yang lebih
  • 244.
    Analekta Kisah Semesta| 244 PROPERTI OF P luas pastinya lebih menarik.  Hari-hari menjalani liputan di kota besar ternyata sangat besar tantangannya. Setelah seminggu baru aku bisa adaptasi dengan teman-teman liputan di bidang sosial termasuk lingkungan kantor yang hiruk pikuknya berbeda. Pejabat yang ditemui juga setingkat menteri. Tentunya pengalaman yang baru dan menarik.  “Risna, apa kabar?” Terdengar suara seseorang memanggil namaku siang itu saat aku makan siang di sebuah rumah makan tak jauh dari lokasi liputanku.  Hampir saja aku tersedak karena seorang Dika yang memanggilku namaku. Ah mimpi apa semalam hingga bertemu dengan cinta pertamaku dalam kondisi yang tak terduga.  Siang itu, Dika mengobrol sebentar denganku. Dika menceritakan pekerjaannya dan begitu antusias bertemu denganku.  “Aku ingin mengucapkan terima kasih,” ucap Dika siang itu.  “Terima kasih?” tanyaku bingung.  “Iya terima kasih karena dulu Risna banyak membantu selama praktik juga membantu merawatku saat sakit di lapangan,” ujar Dika tulus dan menunjukkan senyum terbaiknya yang sering memabukkan para wanita.
  • 245.
    245 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Kenapa aku jadi tiba-tiba merasakan merah di pipi dan jantungku berdetak lebih kencang. Sungguh aku kikuk dengan kondisi siang itu. Apalagi Dika menyampaikan kalau tidak menyangka akan bertemu dengan Risna karena sebenarnya sudah mencari informasi Risna dari teman teman praktik lapang dahulu.  “Aku pamit Risna. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu ya. Kamu masih tugas di sini selama sebulan kan?” tanya Dika menutup pertemuan singkat namun sangat berkesan bagiku.  Kejadian siang tadi, tentu saja mengganggu waktu tidurku. Terbayang kembali wajah dan sikap Dika yang tidak banyak berubah terutama senyuman manisnya. Sungguh jatuh cinta membuat hati tak menentu. Padahal pertemuan aku dan Dika singkat sekali tapi sangat membekas karena Dika adalah cinta pertamaku.  Hari ketujuh magang di kantor pusat semakin menantang. Hari itu aku ditugaskan untuk meliput demonstrasi di depan kantor kementerian sosial. Jalanan ramai dan polisi sudah bersiap mengamankan aksi. Tak ada aksi anarkis demo pagi itu semua berjalan tenang sampai akhirnya bubar karena perwakilan pendemo bisa menemui sosok menteri yang menjadi kontroversi karena kebijakan yang dikeluarkannya.  “Risna, aku tidak menyangka kita bertemu lagi.” Dika menyapaku kembali saat bertemu di rumah makan pasca aku istirahat liputan. 
  • 246.
    Analekta Kisah Semesta| 246 PROPERTI OF P Pertemuan kembali dengan cinta pertamaku kembali. Apakah ini suatu kebetulan? sungguh pertemuan yang sangat menyenangkan.  “Eh iya Dika. Kamu memang kantornya di sebelah mana Dika?” tanyaku kepada Dika karena pertemuan kedua ini terjadi di rumah makan yang berbeda dengan sebelumnya.  “Aku bekerja di kantor kehutanan memang di sini komplek perkantoran pemerintah, Risna,” ujar Dika menjelaskan.  “Aku gak menyangka bertemu kamu lagi di sini Risna. Apakah ini pertemuan kebetulan atau memang kita berjodoh,” ucap Dika tiba-tiba membuatku tersedak karena sedang minum saat itu. Dika meminta maaf kepadaku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia dengan kalimat pertanyaan tentang jodoh.  Pertemuan kami siang itu juga singkat karena aku harus kembali ke kantor untuk membuat berita hasil liputanku pagi itu tentang demonstrasi.  Aku pamit dengan Dika meskipun perasaanku tak menentu. Dika memberikan senyuman terbaiknya kembali dan mengatakan semoga aku masih berkenan membalas pesannya. Ah tentu saja Dika, aku pasti akan membalas pesan darimu karena ternyata perasaanku tidak berubah terhadapmu meskipun aku mencoba melupakannya. 
  • 247.
    247 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Minggu pagi, aku libur liputan sebuah pesan singkat mendarat terlihat notifikasi di layar gawaiku. Aku sempat terkejut karena terlihat nama Dika tertera di sana. Segera aku buka pesan singkat itu. Ternyata Dika mengajakku untuk bertemu di rumah makan tempat terakhir kami dipertemukan kembali.  Minggu sore aku begitu bersemangat mempersiapkan pertemuan ketigaku dengan Dika. Aku memakai kerudung merah muda dengan blouse warna senada.  Sesampainya di rumah makan, ternyata Dika sudah sampai terlebih dahulu dan melambaikan tangannya ke arahku. Duh, aku sudah tidak sanggup menata jantung yang hampir copot dan kaki terasa gemetar mendekati meja di mana Dika duduk. “Maaf ya kalau hari Minggu mengganggu waktu liburmu,” ucap Dika memberikan senyuman.  “Iya tidak apa-apa Dika,” jawabku sambil menata jantungku yang berdebar.  “Risna, sebenarnya aku sudah lama mencari informasi tentang kamu. Ternyata kita dipertemukan kembali setelah sekian lama tidak berjumpa ya. Aku kemudian memikirkan pertemuan singkat dan kembali mengingat kebaikan kamu selama di lapangan dulu dan Risna yang aku kenal selama kuliah meskipun beda program studi, “ujar Dika. 
  • 248.
    Analekta Kisah Semesta| 248 PROPERTI OF P “Beberapa hari terakhir, aku meyakinkan diri akan rasa yang tiba-tiba muncul setelah bertemu kembali dengan kamu. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk meyakinkan diri bahwa aku sudah menyukaimu sejak dulu Risna,” ucap Dika yang membuat diriku terdiam karena tak menyangka Dika akan berani menyampaikan perasaannya selama ini.  “Maaf kalau aku tidak pernah menyatakan perasaan ini sejak lama karena aku mau meyakinkan dan mempersiapkan diri akan rasa ini. Ternyata aku benar- benar menyukaimu Risna. Aku berharap kamu bisa menjadi pendamping dalam kehidupanku selanjutnya. Kamu menjadi istri dan juga ibu bagi anak-anakku,“ tutur Dika penuh keyakinan dan tersenyum meyakinkan diriku yang sore itu berkaca-kaca karena tak mampu lagi membendung haru sekaligus bahagia dengan pernyataan Dika sore itu.  *** Tentang Penulis Penulis berprofesi sebagai Ibu rumah tangga yang juga memiliki aktivitas mengajar di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Bogor, Jawa Barat. Penulis memiliki dua orang putra dan telah menghasilkan puluhan buku antologi non fiksi, fiksi serta puisi. Penulis bisa dihubungi di Instagram @untari170.
  • 249.
    249 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF BERSEMI DI MUSIM SEMI ISTANBUL Oleh: Erna Kaloko Selalu ada penawar untuk luka yang tampak menganga. Kadang aku merasa hidup begitu nelangsa dan tidak adil, tetapi bersama situasi yang sulit itu hadir bahagia dalam bentuk lainnya. Aku hanya perlu bersabar pada realita dan berupaya menjadi lebih baik lagi.
  • 250.
    Analekta Kisah Semesta| 250 PROPERTI OF P “Ini, Bunga Tulip pertama untukmu, Tania!” Setangkai bunga Tulip putih kini berada di tangan kananku. Raiver Gerato memetiknya entah dari mana. Bunga tulip di taman hanya bisa dilihat, dipandang sesuka hati, tetapi tidak boleh mengusik kuntumnya. Jangan coba-coba menyentuh apalagi mengambil bunganya, alarm otomatis akan memekakkan telinga. Alamat akan berurusan dengan penjaga taman. Raiver berkata tulip putih ini mewakili isi hatinya.  Ada filosofi tersirat di sana, tulip putih melambangkan penghormatan dan perdamaian. Dapat dipakai saat penyambutan tamu, pernikahan, kematian, dan acara sakral lainnya. Tulip biru melambangkan ketenangan dan perdamaian, biasanya para suami memberikan tulip biru ketika berdamai setelah bertengkar. Tulip oren menyiratkan semangat, cocok diberikan kepada orang yang bersedih atau upaya menyemangati seseorang agar tetap bahagia. Tulip merah muda (pink) adalah lambang penghargaan dan harapan yang baik. Dapat diberikan sebagai apresiasi berupa kalung atau buket bunga untuk pengantin. Tulip kuning melambangkan persahabatan, biasanya diberikan ketika menjenguk orang yang sakit agar ceria dan berseri-seri. Tulip merah identik dengan ungkapan perasaan cinta, bermakna cinta abadi tanpa pamrih. Tulip ungu sebagai simbol kebangsawanan, terkesan high class, melambangkan royalti dan kesempurnaan. 
  • 251.
    251 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Hati dan hari-harimu akan penuh dengan bunga di sini. Semoga hidup kita senantiasa bahagia.” Raiver tersenyum lalu membawaku berkeliling taman. Mampir ke Museum Tulip dan mengunjungi Danau Tulip. Aku masih tidak percaya ada pemuda sepertinya, pertemuan yang tak terduga. Raiver menemani dan mewarnai hari-hariku selama di Istanbul, Turki. Sepanjang Maret hingga Mei, musim semi akan berlangsung. Ada Festival Tulip di sini. Di setiap sisi ruas jalan dan taman, penuh warna-warni bunga berbagai jenis tulip. Pesona alam dengan segala keindahannya. “Kapan pun kamu berkunjung, Turki selalu memesona sepanjang masa Tania.” “Pesona Turki terutama Istanbul sungguh memikat hati.” “Tentu saja. Sepanjang tahun, aku jamin kamu pasti betah di sini Tania.” “Alasannya?” “Turki mengalami 4 musim, seperti negara Eropa lainnya. Dan akan ada aku yang selalu setia di sisimu InsyaAllah.” Embusan napasku perlahan mengendur. Apakah Raiver menggodaku lagi…
  • 252.
    Analekta Kisah Semesta| 252 PROPERTI OF P Beberapa literatur yang aku baca, Raiver benar. Turki memiliki 4 musim. Musim semi terjadi pada Maret hingga Mei. Musim panas pada Juni-Agustus, musim gugur terjadi September-November, dan musim dingin pada Desember hingga Februari. Sepanjang tahun penuh keindahan. Akankah hatiku juga terpaut pada Raiver? Akubelumbisamenentukansikap.Tujuanutamaku berkunjung ke Istanbul di musim semi ini hanya untuk menenangkan diri. Sakit sekali rasanya mengingat Arkan, Maret ini berencana melamarku, ternyata dia sedang akad nikah dengan adik angkatnya. Tragis. Arkan memang meminta izin padaku dan memohon maaf atas rasa teganya berpaling. Menentang ibunya bukan hal sulit, tetapi akhirnya ia luruh pada rida orang tuanya. Aku yang terluka menjejakkan kaki di Taman Bunga Tulip Istanbul. Bertemu Raiver dengan tingkah polahnya. Awalnya tanpa sengaja berpapasan di lobi penginapan, hotel yang sama. Mungkinkah ini keadilan dari-Nya? Bersama kesulitan itu ada kemudahan. Ketika Arkan melukai hati dan harga diriku, ada Raiver yang menjadi penawar segala luka. Mengisi hari- hariku dengan keceriaan. Semoga aku bisa segera move on dari Arkan.
  • 253.
    253 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku baru tahu asal muasal tulip di Belanda, berawal saat orang-orang Turki membawa tulip masuk ke Belanda. Tulip artinya sorban (dalam bahasa Turki), sejenis kain penutup kepala yang dililit.  Aku dibawa oleh Raiver berkeliling Grand Bazaar, pasar tertua dan terbesar di dunia. Kalau di Indonesia kebayang deh Tanah Abang, jadi Grand Bazaar adalah Tanah Abangnya Turki. Berbagai macam oleh-oleh dan cinderamata tersedia di sini, tetapi terkait harga memang lebih murah di Cappadocia. Berlaku sistem tawar menawar, jadi kita boleh negosiasi harga. Jumlah pengunjung harian berkisar 250-400 ribu pengunjung. Luar biasa. “Bila suatu saat ada kesempatan berkunjung ke Indonesia, aku akan membawamu ke Tanah Abang, Raiver.” Dia hanya tersenyum lalu mengangguk. Grand Bazaar menjadi tempat wisata nomor satu di dunia. Lorong-lorong pasar memiliki cita rasa seni yang tinggi, hiasan dan ornamen yang indah pada langit- langitnya. Usia bangunan sekitar 550 tahun lebih, nilai sejarah dan eksotis pasar yang bersih dan asri. Luasnya 30.000 meter persegi dengan 61 lorong dan memiliki lebih dari 3.000 toko, dijamin aku bakal pingsan sebelum selesai menyambangi sudut-sudut pasar Grand Bazaar.  Raiver menemaniku berbelanja sesuai kebutuhan barang yang kuajukan. Aku memilih beberapa suvenir berupa gantungan kunci dan sajadah mini. Kemudian
  • 254.
    Analekta Kisah Semesta| 254 PROPERTI OF P mampir menikmati kebab turki. Pesona pasar dengan segala keindahannya. Pasca pandemi Covid-19 Turki juga menerapkan lockdown. Tidak semua gerai atau toko dibuka, hanya beberapa titik lorong yang dapat dikunjungi. “Tania, aku memandu kamu hingga Hagia Sophia. Saat kembali ke Indonesia, ingatlah saat-saat kebersamaan kita.”  “Yang ada tiba-tiba aku kangen Turki, Raiver.” “Rindu padaku juga boleh, kok. Nanti aku jemput.” “Hmm … mungkin kunjungan berikutnya, aku akan ambil promo umroh plus Turki saja.” “Baiklah, aku akan menunggumu, Tania.” “Hai, Raiver. Sejak kita bertemu mengapa menggodaku? Itu sungguh membuatku tidak nyaman.” “Selama ini aku selalu mendengar kata hati dan batinku. Toh aku tidak memaksa dan membuatmu terluka kan?” “Oke, stop. Beri aku jeda.” Aku dan River berkunjung ke Hagia Sophia. Bangunan yang menyejarah sepanjang masa. Gedung bersejarah ini pernah dipakai sebagai gereja, kemudian digunakan sebagai masjid, lalu dijadikan museum. Sekarang ... kembali digunakan sebagai masjid.
  • 255.
    255 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Bila kamu sudah yakin kabari aku ya Tania.” “Untuk apa?” “Menjemput dan melamarmu kepada orang tuamu!” “Jangan mengumbar janji dan harapan Raiver. Saat aku berlalu dari hadapanmu, barangkali kamu bersikap sama pada setiap perempuan yang kamu temui.” “Aku tipe pria setia dan pencemburu Tania. Percayalah aku tulus terhadapmu.” Hmm … lagi- lagi Raiver menggombal. Ya Robbana kuatkan hamba.  “Btw, kamu mahir berbahasa Indonesia sejak kapan?” “Oo, aku punya teman namanya Partono asli Pekalongan. Sedang kuliah sekaligus kerja di kafe dekat rumah. Ayah ibuku menyukainya, jadi ia tinggal bersama kami hingga hari kelulusan.” Syukurlah aku dipertemukan dengan Raiver. Pria baik dan tulus, ia lancar menggunakan bahasa Indonesia sehingga asyik diajak mengobrol. Teman bicara yang tidak membosankan. Membuatku nyaman, menikmati hari-hari di Istanbul. Cerdas, Raiver belajar berbahasa Indonesia dari Partono. Bercakap-cakap secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, praktik tanpa banyak teori. Ini jadi
  • 256.
    Analekta Kisah Semesta| 256 PROPERTI OF P poin tersendiri, menambah daftar kekagumanku padanya. Beberapa bibliografi yang aku baca, menyebutkan bahwa lelaki Turki memiliki watak dan sifat yang keras kepala. Mudah marah, tetapi cepat mereda atau berbaikan. Penyayang juga ekspresif dalam mengutarakan perasaan. Saat ia mencintai dengan tulus maka ia akan mengorbankan segala yang ia miliki. Pria Turki yang baik akan menjaga wanitanya, tetapi jangan pernah samakan atau membanding-bandingkan dengan lelaki Arab. Harga dirinya seolah tercabik sehingga mudah  tersulut untuk marah bahkan beringas. Aku setuju dengan penjelasan di atas setelah mengamati beberapa orang saat berada di penginapan dan bertemu dengan Raiver. Raiver dan Istanbul di musim semi April 2021, Taman Emirgan Park pada Festival Bunga Tulip yang kusinggahi, menjadi momen terindah yang mengharu biru. Bunga cinta dan tulip pun bersemi di sana. Istikharah dan yakinku semoga mengerucut pada satu keputusan. ***
  • 257.
    257 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Tentang Penulis Erna Kaloko, berdomisili di Riau. Perempuan sederhana yang belajar mengeja aksara. Semoga mampu mengispirasi lewat tulisan kisah-kisah inspiratifnya sebagai warisan terindah untuk generasi berikutnya. Erna Kaloko dapat dihubungi via surel erna.kaloko@gmail.com
  • 258.
    Analekta Kisah Semesta| 258 PROPERTI OF P RUI ORIONA Oleh: Rizki Novie Lestari Amnesia Psikogenik adalah kondisi di mana saat mengalami stres, trauma, dan depresi yang cukup berat, sehingga ingatan yang berkaitan dengan penyebabnya dapat diblokir sebagai bentuk pertahanan diri. Itulah yang terjadi padaku sekarang. Di mana aku akan melupakan hal- hal yang terjadi saat merasakan deja vu, atau saat aku merasa dalam situasi yang menyesakkan dan memicu otak untuk memblokir seketika ingatan itu. Ingatan yang hilang pun terkadang berbeda setiap fasenya. Jika pemicu itu cukup kuat, ingatanku akan mundur beberapa tahun begitu pula sebaliknya, terkadang ingatanku hanya mundur beberapa hari dari kejadian.
  • 259.
    259 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Perkenalkan namaku Rui Oriona— gadis blasteran Jepang-Belanda, namun aku lahir dan besar di Boston sampai usia 8 tahun, lalu aku dan ibu pindah ke Indonesia. Kata ibu sih orang tuanya dari sebelah ayah ada keturunan negara ini, karena itu kami pindah ke salah satu kota di Indonesia. Kupikir semuanya akan sama seperti di Boston. Aku bisa bersikap layaknya anak pada usiaku, bermain bersama teman sebaya dan memiliki banyak kenangan menyenangkan lainnya. Namun, perpisahan kedua orang tuaku— yang baru kuketahui saat kami sudah menetap di Indonesia, memberikan dampak besar dalam hidupku, terutama pada kesehatan mentalku. Kami tinggal bersama kakek dan nenek dari ibu, yang merupakan mantan anggota TNI-AD dan TNI-AL. Dari sanalah semuanya dimulai, semua hal yang menjadi penyebab trauma dan depresiku serta takdir masa depan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Apa yang kalian harapkan dari seorang anak kecil berusia 10 tahun, yang seharusnya menikmati masa kecilnya lalu tiba-tiba hal buruk terjadi padanya dan dia justru kehilangan ingatan masa kecilnya. Sesuatu yang orang dewasa saja belum tentu sanggup menghadapinya, hingga semua itu membuatku mengalami Amnesia Psikogenik. Kalau bisa, jauhkan dia dahulu dari hal-hal yang menjadi penyebab semua hal ini terjadi.
  • 260.
    Analekta Kisah Semesta| 260 PROPERTI OF P Kata-kata itu di ucapkan oleh seorang dokter yang merawatku dulu. Jika kalian bertanya lebih jauh apakah aku mengingat masa kecilku, maka jawabannya adalah aku mengingatnya tapi hanya sebatas saat aku masih tinggal di Boston. Masih jelas di ingatan saat itu sebuah pertanyaan polos yang kutanyakan pada ibu dengan bahasa yang selalu kugunakan saat di Boston dulu. “Mom, where’s Daddy? this is not our home,mom. Rui wanna back home,” ujarku. Ibuku saat itu hanya diam, bingung bagaimana menjawab pertanyaanku. “Yes, sweetheart. This is not our home. We’ll find our new home okay? Only both of us,” ucapnya sambil memelukku. Seperti ucapan ibu, kami pun pergi dari rumah kakek dan nenek buyut— membuatku curiga bahwa semua hal yang terjadi padaku hingga aku kehilangan ingatanku ada kaitannya dengan mereka. Kami mengontrak di sebuah kontrakan yang berukuran 3 x 3 meter karena saat itu gaji ibu hanya cukup untuk menyewa kamar ukuran itu. Lalu setiap ibu akan pergi ke rumah mereka, aku selalu beliau titipkan ke tetangga yang dia percayai atau saat ada yang berkunjung ke kontrakan kami, ibu akan menyuruhku masuk ke kontrakan dan menguncinya, sedangkan dia akan mengobrol di teras.
  • 261.
    261 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku dan ibu saling menyayangi karena kami hanya memiliki satu sama lain. Kami mengisi kekosongan yang ada di masing- masing diri kami. Ibu bekerja dengan sangat giat dan merawatku dengan sepenuh hatinya, hingga satu tahun setelah kami pindah ke kontrakan tersebut aku bisa mengikuti ujian paket A untuk kelulusan sekolah dasar, dan mulai bisa bersikap seperti biasanya. Semua itu kulakukan agar aku bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya dan juga demi ibuku. “Semua yang dilakukan dengan niat dan kesungguhan tidak akan mengkhianati hasil,” ujar ibu saat itu dan semua hal itu memang benar adanya. Aku berhasil lulus ujian tersebut dan bisa mendaftar ke SMP, sekaligus ibu yang mendapatkan pekerjaan dan posisi tetap di tempatnya bekerja sekarang. Perjalanan hidup kami berdua memang tidak selalu mulus, untungnya saat ibu mendapat pekerjaan tetap yang berada di kota lain itu membuat berkurangnya pemicu traumaku muncul walau memang tidak menutup kemungkinan ada hal lain yang bisa memicunya. “Rui, sayang? Ibu pulang.” Ah, sepertinya aku harus mengakhiri ceritaku, toh dari SMP hingga sekarang aku berada di tingkat akhir sekolah menengah atas semuanya aman dan damai. Jadi, hanya itu yang bisa kuceritakan sekarang. Aku menghentikan kegiatanku dan segera mematikan laptop saat aku mendengar ibu berteriak
  • 262.
    Analekta Kisah Semesta| 262 PROPERTI OF P memanggilku. Aku segera keluar dari kamar dan berlari memeluknya, maklum ibuku itu baru pulang dari dinas luar kota. “Ibu, Rui kangen,” ujarku sambil memeluknya erat. “Aduhh, anak ibu yang cantik ini rupanya kangen sama ibu ya,” jawabnya sambil balas memeluk. “Kamu kangen ibu atau oleh-olehnya hm?” goda ibu yang membuat wajahku sedikit merona. “I˗ibu ihhh, Rui tuh beneran kangen ibuuuu.” Rengekku pada ibu yang justru membuatnya tertawa. “Hahaha, maaf sayang. Ini Ibu enggak boleh duduk dulu hm?” tanyanya. “Hehehe, maaf Bu. Ibu duduk dulu gih, biar Rui ambilin minum dulu buat ibu ya.” Aku pun langsung berlari ke dapur untuk mengambilkan air minum ibu dan segera kembali lagi padanya. “Oh iya Dek, kamu kapan kelulusan?” tanya ibuku saat aku menyerahkan minuman dan duduk di sebelahnya. “Hmm, 3 bulanan lagi kayaknya Bu. Kenapa emang?” “Enggak, ibu ditawarin posisi lebih tinggi di cabang Solo, tapi ibu maunya pindah sekalian sama kamu. Biar kamu kuliahnya di sana aja,” jelas ibu.
  • 263.
    263 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Wahh, emang posisi apa Bu?” tanyaku antusias. “Branch manager gitu, tapi ya itu tadi lokasinya jauh dari sini.” “Ya emang kenapa Bu? Kan kita tinggal pindah, toh sekolah Rui juga udah mau selesaikan. Cuma beberapa bulan lagi kok. Rui bisa sendiri di sini buat sementara hehehe,” ujarku pada ibu. “Kamu yang bisa, Ibu mana bisa ninggalin kamu sendiri,” jawab ibu dengan raut wajah datarnya. “Kenapa? Ibu khawatir Rui kumat ya? Kan akhir- akhir ini enggak sering kumat Bu,” ujarku sambil memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku pada bahunya. “Tapi....” “Enggak ada tapi- tapian. Pokoknya Ibu setujuin aja soal kepindahan Ibu ya?” bujukku sambil menatapnya tegas. “Hahhh, baiklah Ibu setuju,” jawab ibu dan kurespon dengan senyuman. Berat rasanya harus berpisah dengan ibuku walau sejenak, tapi sudah cukup selama ini dia banyak berkorban untukku. Hanya 3 bulan, aku pasti bisa bukan. Setelah obrolan itu, ibu memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan beristirahat. Aku hanya melihat beliau berjalan ke kamarnya tanpa melakukan apa pun, lalu aku
  • 264.
    Analekta Kisah Semesta| 264 PROPERTI OF P menyandarkan tubuhku ke sofa dan memejamkan mataku. Berusaha mensugesti diriku sendiri bahwa semua akan baik- baik saja. “Kak Rui, maen yok!” teriak seseorang dari luar rumah. Aku yang tadinya hampir terlelap langsung terlonjak mendengar teriakan itu dan bergegas berlari membuka pintu untuk melihat siapa yang tidak sopannya berteriak di depan rumah orang pukul 8 malam. “Ares? Kamu ngapain jam segini teriak- teriak depan rumah orang?” tanyaku pada orang yang kupanggil Ares tersebut, sambil berjalan mendekatinya dan membuka pagar rumahku. “Hehehe, Ares tadi habis nongkrong sama temen. Terus lewat tempat martabak kesukaan Kakak. Ya udah deh Ares sekalian beliin buat Kakak,” jawabnya sambil menyerahkan kantong berisi makanan kesukaanku itu. “Beliin sih beliin Res, tapi enggak usah teriak- teriak juga,” ujarku sambil mengambil kantong tersebut. “Ngomong- ngomong makasih ya, kebetulan laper nih hehehe. Kamu mau mampir enggak? Ibu udah pulang tuh, sekalian ambil oleh-oleh kamu.” Tawarku padanya. Ngomong- ngomong, Ares ini salah satu adik tingkatku di sekolah, kami menjadi sangat dekat karena rumah kami yang tidak berjauhan, lalu kami satu club di Sains Club dan ibu kami yang tergabung di arisan ibu-ibu kompleks.
  • 265.
    265 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Wahh, Ibu udah pulang kak? Asyikk, oleh-oleh. Tapi besok aja deh Kak, pas pulang nge-basket.” “Oke, jangan lupa loh ya. Eh ini perlu dibayar enggak nih?” tanyaku padanya sembari tertawa. “Kak, astagaa. Bayarlah, masa enggak.” Aku terdiam mendengar ucapannya. “Hahahahah, mukanya langsung berubah. Bercanda aja astaga Kak,” ujarnya sambil mencubit pelan pipi kananku. “I˗ihhh, usil bangettt.” Aku langsung menjauhkan tangannya dari pipiku dan mengalihkan pandanganku darinya. Aduh, ini pasti merah banget muka aku. Ibu, tolongin Rui. “Ya udah, aku pulang dulu ya Kak. Nanti makin malem,” ujar Ares sambil mengenakan lagi helm dan menyalakan motornya. “Aku pulang ya kak?” “Iya, hati- hati ya,” jawabku. “Iya, udah gih sana Kakak masuk. Aku pulang dulu ya Kakak cantikk hehehe,” ujarnya sambil mengusak rambutku lalu melajukan motornya. Aku masih terdiam saat Ares sudah menghilang di tikungan dekat rumah. Saat tersadar, aku langsung berlari masuk ke dalam rumah dan berteriak. “Ibuuu!”
  • 266.
    Analekta Kisah Semesta| 266 PROPERTI OF P “Apa Nak? Ada apa?!” Ibu keluar dari kamarnya sambil berlari dengan raut wajahnya yang khawatir. Aku mendongak dengan wajah cemberut. “Ibuuu.” Rengekku. “Loh, kok muka kamu merah? Ares mana? Tadi ibu kayak denger suara dia dari kamar.” tanya ibu. Aku berdiri dan mendekat ke arah ibu sembari menyerahkan martabak pemberian Ares padanya. “Ares nyebelin,” ujarku sambil memeluk ibu dan menyembunyikan wajah di lehernya. “Hahaha, anak ibu ternyata abis digodain cowok toh makanya gini.” Goda ibuku. “Ibuuu ihhh.” Malam itu aku dan ibu menghabiskan malam bersama, sambil memakan martabak yang dibawakan oleh Ares dan menceritakan semua kegiatan kami. Ibu juga tidak berhenti menggoda perkara Ares tadi, aku jadi menyesal menceritakannya pada ibu. Ibu juga bilang bahwa dia sudah mengkonfirmasi pada atasannya tentang kepindahan itu dan atasannya meminta ibu untuk segera mengurus berkas-berkas yang berkaitan dengan cabang di sana. Dua minggu kemudian surat keputusan dari kantor ibu pun keluar. Ibu segera menyiapkan keperluannya dan semua bajunya karena memang kami sudah memutuskan
  • 267.
    267 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF untuk menetap di Solo setelah lulus nanti. Sebenarnya aku ingin ikut ibu ke sana, tapi ibu khawatir jika aku bertemu dengan mereka dan itu akan berdampak buruk padaku. Padahal baru beberapa jam ibu meninggalkanku tapi aku sudah merasa kesepian. Bulan pertama tanpa ibu terkesan berat, namun aku berhasil melewatinya dengan lancar. Walau ada beberapa hal yang masih kusembunyikan dari ibu, seperti kejadian 2 hari lalu. Saat aku dan Ares pulang dari sekolah bersama, kami tidak sengaja melihat seorang bapak yang memukuli anaknya menggunakan sapu lidi. Hal itu sontak memicu sakit pada kepalaku, aku berusaha untuk menahannya karena aku takut Ares melihatku dalam kondisi tidak baik dan dia menghubungi ibu. Namun aku gagal karena aku merasa seperti ada mesin yang berhenti tiba-tiba dan bergerak secara tiba- tiba di kepalaku. “....” “Kak Rui!” teriak Ares seketika. “Eh, iya kenapa?” tanyaku padanya. “Kakak ngelamunin apa sih? Padahal daritadi aku panggil-panggil,” ucap Ares. “Enggak kok hehehe. Oh iya ini kok kita di jalan pulang? Bukannya kita mau ke toko buku?” tanyaku bingung.
  • 268.
    Analekta Kisah Semesta| 268 PROPERTI OF P “Loh? Kakak mau ke toko buku lagi? Kan udah minggu tadi kak?” tanya Ares bingung. Mendengar ucapannya aku pun terdiam. “A˗ah iya ya. Tadi tuh sebenernya Kakak mau minta temenin lagi ke sana, tapi lupa bilang hehehe,” elakku. Ares seketika menghentikan motornya. “Mau sekarang aja? Tapi jangan lewat tempat tadi ya Kak? Ares males liat bapak-bapak yang mukulin anaknya kejam banget kayak tadi,” ujar Ares. Ah, jadi karena itu aku tiba- tiba lupa. ”Enggak ah, nanggung bentar lagi sampe rumah. Balik aja kita, Kakak laper nih.” “Yakin?” tanya Ares lagi sambil menoleh dan menatapku. “Yakin 100%,” jawabku tegas. Ares pun mengangguk dan kembali melajukan kendaraannya. *** Aku melangkahkan kakiku menuju pengambilan bagasi. Setelah mendapatkan koper milikku, aku segera berjalan ke arah gate keluar. Mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. “Bu, Ibu di mana? Rui udah di gate nih,” ucapku pada ibu setelah terdengar suara telepon diangkat.
  • 269.
    269 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Iya Sayang, sebentar lagi Ibu sampai kok. Kamu tunggu di pinggir aja ya, soalnya Ibu enggak nyari parkir lagi,” ujar ibu. “Okee Bu,” jawabku lalu mematikan telepon dan menyimpannya dalam saku celana. Kalian benar, sekarang aku sedang berada di Solo. Satu minggu yang lalu adalah hari kelulusanku, tiga hari setelahnya ibu dan aku segera membereskan barang- barang kami di rumah sana. Ibu kembali ke Solo terlebih dahulu bersama semua barang kami. Aku berangkat belakangan karena masih ada beberapa hal yang harus di urus. Hari ini aku baru sampai dan sedang menunggu ibu untuk menjemput. Sekitar setengah jam aku menunggu akhirnya ibu datang, aku pun langsung menarik koper dan memasukkannya ke bagasi. “Ibu lama banget sih,” keluhku pada ibu saat memasuki mobil. “Maaf ya Syang, tadi pekerjaan Ibu ada kendala sedikit,” jawab ibuku sambil menjalankan kembali mobilnya. “Kamu istirahat aja gih, nanti kalo udah sampe ibu bangunin.” “Enggak ah, Rui mau liat pemandangan hehehe. Udah lama enggak liat Solo,Bu.”
  • 270.
    Analekta Kisah Semesta| 270 PROPERTI OF P “Sebenernya ada yang pengen Ibu kasih tahu.” ucapan ibu membuat kegiatanku melihat jalanan terhenti dan menoleh ke arahnya, menunggu ibu melanjutkan ucapannya. “Kakek dan nenek buyut ternyata sudah meninggal tahun lalu.” Aku terdiam mendengar ucapan ibu barusan. Sedikit kaget, namun mungkin itu hal yang wajar mengingat usia mereka yang sudah tua. “Kalau gitu, gimana kalo kita ziarah ke makam mereka aja Bu sebelum pulang ke rumah?” tawarku pada ibu. “Kamu yakin?” tanya ibu padaku sembari menoleh karena lampu lalu lintas sedang merah dan aku pun mengangguk. “Iya Bu, Rui yakin,” ujarku tegas. Ibu pun menyetujui permintaanku, kami sempat pergi sebentar ke toko bunga dan bergegas menuju lokasi pemakaman kedua buyutku itu, takut keburu sore. Siapa yang menyangka jika sesampainya kami di sana malah bertemu dengan beberapa keluarga yang lainnya sedang berziarah juga. Sepanjang pertemuan itu entah mengapa aku menggenggam tangan ibu dengan erat. Dengan tubuh sedikit kusembunyikan di belakang ibu dan hanya bersuara ketika ada yang bertanya. Aku terus menunduk karena takut akan sesuatu, aku bisa merasakannya jika ada seseorang yang menatapku seolah-olah aku adalah
  • 271.
    271 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF mangsa yang sangat empuk untuk dinikmati. Untungnya ibu memahami kode yang kuberikan sehingga kami pun segera berpamitan pada mereka. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah aku hanya diam sambil memejamkan mata. Ibu pun tidak banyak berbicara. Sesampainya di rumah pun aku langsung masuk ke kamar dan keesokan harinya seperti biasa aku melupakan kejadian kemarin dan terkejut karena sudah berada di Solo, sedangkan aku merasa bahwa aku baru akan berangkat, bukan sudah berangkat. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa sudah hampir 2 bulan aku dan ibu menetap di Solo. Sejak kejadian waktu itu, ibu menawariku untuk mendatangi lagi seorang psikolog kenalan temannya dan selama masa perawatan itu belum ada kemajuan yang signifikan. Hingga akhirnya ibu menyerah untuk menyuruhku melanjutkan pengobatan tersebut. “Kamu mau kita berhenti aja Nak?” tawarnya saat itu dan aku hanya memandanginya dalam diamku. “Jujur, Ibu mau kamu ke psikolog itu biar cepet sembuh, biar bisa tenang pergi ke mana-mana dan raih mimpi kamu buat kuliah di luar negeri tanpa harus terlalu takut sama trauma kamu. Tapi ngeliat kamu kesakitan, teriak dan menangis saat pengobatan rasanya sangat sakit. Kamu harta ibu satu- satunya.” Setelah berkata begitu ibu langsung memelukku dengan erat.
  • 272.
    Analekta Kisah Semesta| 272 PROPERTI OF P Ibumaaf,maafjikaRuienggakmaungelanjutinnya, Rui takut bu. Ingatan yang terkubur belasan tahun perlahan kembali dan Rui takut, takut jika Rui harus kehilangan lagi semua kenangan Rui jika Rui memaksa diri Rui untuk mengingat semuanya. Beberapa hari berlalu sejak ibu menyetujui agar aku berhenti ke psikolog dan mengizinkanku untuk berlibur ke Malang bersama Ares dan keluarganya. Aku baru saja turun dari taksi bandara saat mendengar teriakan ibu. Aku refleks langsung berlari masuk ke dalam rumah mengabaikan koper begitu saja dan saat aku masuk, aku melihat tubuh ibuku yang jatuh dari lantai dua rumah kami. Aku melihatnya, sosok itu. Sosok yang segera berlari dari lantai dua dan keluar dari pintu belakang rumahku. Dia pelakunya. Kami sempat bertatapan dan aku tahu tatapan itu milik siapa karena seumur hidup aku tidak akan pernah melupakannya. Aku mendekat ke arah ibu dan memeluk tubuhnya yang penuh dengan darah, air mataku rasanya tidak sanggup untuk keluar. “Ibu bertahan ya Bu, bertahan. Rui telepon ambulans sekarang,” ujarku sambil mengeluarkan ponselku untuk menghubungi pihak rumah sakit. Untungnya mereka segera datang dalam waktu 10 menit, namun ibu memilih menyerah. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari itu aku kehilangan sosok panutan, pahlawan dalam hidupku dan satu- satunya alasanku untuk terus bertahan hidup.
  • 273.
    273 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Selama beberapa hari setelah pemakaman ibuku, Ares dan keluarganya datang dan menemaniku. Mereka menghibur semampu mereka sekalipun mereka tahu itu percuma karena aku sudah kehilangan semangat hidup. Tepat di hari ke 7, Ares dan keluarganya memutuskan untuk pulang walau mereka bilang berat meninggalkanku sendirian di rumah, namun aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku baik- baik saja dan akan segera bangkit. Akhirnya mereka pun luluh dan percaya. Ya, aku berjanji pada diri sendiri dan almarhumah ibu bahwa aku akan bangkit dan melanjutkan hidup demi ibuku. Selama 6 bulan aku berjuang mati- matian untuk bertahan hidup. Selama itu pula aku mempelajari segala hal tentang diriku. Apa saja yang aku ketahui dan tidak tentang diriku. Belajar ini dan itu agar aku bisa melanjutkan kuliahku dengan uang peninggalan ibu. Aku belajar mati- matian untuk mendapatkan beasiswa ke Boston dan selama 6 bulan itu pula aku mempelajari banyak hal yang dapat kujamin pasti akan bermanfaat ke depannya. Tepat satu tahun setelah ibu pergi, akhirnya aku berhasilmenyelesaikansemuatargetku,termasukbeasiswa yang kuincar. Selama satu tahun pula aku berusaha untuk memaafkan semua orang yang pernah menyakitiku dan ibu. Ingatan masa kecilku kembali tepat saat ibu meninggal waktu itu. Jika aku mau jujur, semuanya terlalu berat untuk kupikul sendiri. Ditinggal oleh sumber kekuatanku satu- satunya dan harus berjuang mengatasi trauma masa kecil dengan kondisi semua ingatan saat itu tiba-tiba muncul
  • 274.
    Analekta Kisah Semesta| 274 PROPERTI OF P kembali. Namun semua itu sudah berlalu, besok aku harus berangkat ke Boston untuk kuliah.Aku memutuskan untuk mengunjungi pamanku dan keluarganya malam itu untuk berpamitan dan meminta maaf. Sepulang dari pertemuan itu pun aku merasakan lega luar biasa dalam hati. Bebanku terangkat semuanya dan malam itu aku tidur dengan nyenyak. Keesokan harinya, saat aku sudah siap berangkat ke bandara, ada beberapa polisi yang tiba-tiba mendatangi dan menangkapku. Mereka lalu menahanku di kantor polisi dan menyuruhku menunggu panggilan dari pengadilan. Beberapa hari kuhabiskan hidup di balik jeruji besi atas kesalahan yang tidak kulakukan bahkan tidak kuketahui, tanpa satu pun sanak-saudara yang mengunjungi. Hingga surat panggilan dari pengadilan pun datang dan di sinilah aku sekarang berada. Di tengah-tengah ruang sidang, di mana aku telah dituduh membunuh dan memutilasi pamanku sendiri. “Bukan aku pembunuhnya,” ucapku dengan tenang. “Tapi semua bukti mengarah pada Anda.” “Saya benar- benar ada di rumah saat itu.” “Tapi para tetangga, bahkan istri dan anak korban pun mengatakan bahwa Anda keluar dari rumah tersebut sekitar pukul 7 malam bersama dengan korban.”
  • 275.
    275 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF Aku tertunduk mendengar ucapan dari jaksa penuntut. Memang benar saat itu aku mengunjungi mereka, namun hanya untuk meminta maaf dan meminta mereka untuk tidak mengganggu hidupku lagi, tapi mereka justru meminta sejumlah uang padaku. Akhirnya aku pergi bersama paman ke ATM karena aku tidak memiliki uang tunai dengan jumlah yang mereka minta. Bisa-bisanya mereka menuduh aku memutilasi seseorang, sedangkan aku yang membunuh seekor kecoa saja tidak tega. Aku pun menoleh ke arah pengacaraku dan menghela napas lalu kembali menatap hakim dalam persidangan itu. “Kami memang pergi berdua Pak Hakim, aku ke sana pun untuk meminta maaf dan berpamitan padanya karena keesokan harinya aku harus berangkat ke Boston untuk melanjutkan kuliah. Tapi dia malah meminta uang padaku, karena aku tidak membawa uang tunai seperti yang dia minta aku pun mengajaknya ke ATM ,” jelasku. “Apa Anda memiliki bukti?” tanya salah satu jaksa penuntut. “Kami memiliki bukti,” ucap pengacaraku dengan tegas. Dia lalu berjalan ke arah narator dan menyerahkan sebuah flashdisk yang berisi bukti CCTV keberadaanku malam itu. Dalam video tersebut terlihat setelah aku menyerahkan uang tersebut, aku dan paman berjalan terpisah. Lalu video kembali dilanjutkan saat aku memasuki minimarket 24 jam dan duduk di sana selama
  • 276.
    Analekta Kisah Semesta| 276 PROPERTI OF P satu jam untuk menikmati mie instan, setelah selesai aku bergegas pulang. Semua itu terlihat dari CCTV milik tetanggaku. “Untuk korban sendiri hanya terekam saat dia berbelok memasuki kawasan perumahannya, kebetulan CCTV di belokan itu sedang rusak. Sedangkan satpam yang berjaga saat itu sudah memberikan kesaksian bahwa dia melihat korban menaiki sebuah taksi dan pergi entah ke mana.” Setelah menyerahkan semua bukti dan alibi yang kuat. Pihak pengadilan pun memutuskan bahwa aku tidak bersalah. Walau bisa kulihat bahwa istri dan anak dari pamanku tidak terima dengan semua keputusan itu tapi aku tidak peduli, karena semua bukti menunjukkan bahwa aku tidak bersalah. Aku berjalan meninggalkan ruang sidang tersebut bersama pengacaraku, saat melewati istri pamanku dan keluarganya yang lain, aku menundukkan wajahku hanya untuk menutupi seringai bahagia pada wajahku. *** Hari kejadian pembunuhan Malam itu aku mendatangi rumah paman. Bukan untuk meminta maaf atau memintanya berhenti mengganggu hidupku. Aku mendatanginya dengan niat untuk membunuhnya. Namun aku beralibi ingin memberikannya uang yang banyak sebagai permintaan
  • 277.
    277 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF dariku agar dia tidak lagi mengusik hidupku dan berjanji tidak akan menjebloskannya ke penjara atas apa yang pernah dia lakukan padaku dan ibu. Mulai dari dia yang pernah memperkosaku sewaktu aku berusia 10 tahun, ulah dia yang memprovokasi kakek dan nenek buyut untuk mendidikku sekeras militer dan juga perbuatannya yang telah menewaskan ibu. Lalu aku membujuknya untuk ikut, karena aku tidak membawa uang tunai dan bodohnya dia setuju untuk ikut. Sesampainya di ATM aku langsung mengambil uang dan menyerahkan uang tersebut pada paman. Kami berjalan terpisah setelah penyerahan uang tersebut. Aku pun tetap berjalan tanpa menoleh lagi dan memasuki minimarket 24 jam untuk memakan mie instan di sana. Namun semua itu hanya alibi yang kubuat, saat memilih mie instan aku bertukar dengan seseorang yang telah kubayar untuk menggantikanku makan di sana dan kusuruh dia untuk pulang ke rumah. Untungnya posisi rak mie instan itu adalah titik buta, sehingga apa yang kulakukan tidak terekam CCTV. Sedangkan CCTV di tempat aku makan hanya bisa melihat tubuh dari samping, apalagi aku makan sambil menunduk sehingga wajahku tidak terlihat di CCTV. Aku yang sudah bertukar peran dengan orang tersebut pun segera keluar dari pintu belakang dan mengendarai sebuah taksi yang sudah kubeli. Menjemput paman di dekat pos satpam komplek rumahnya, karena aku tahu dia tidak akan langsung pulang melainkan akan
  • 278.
    Analekta Kisah Semesta| 278 PROPERTI OF P menuju sebuah kasino yang biasa dia gunakan untuk berjudi. Sayangnya, malam itu dia bukan kuantarkan ke tujuannya melainkan ke neraka. Malam itu, aku memukulinya habis-habisan dan memutilasi tubuhnya. “Aku Rui Oriona. Anak perempuan yang sewaktu kecil paman lecehkan dan ibunya paman bunuh. Aku Rui Oriona. Oriona pada namaku bukan hanya nama. Oriona atau orionus adalah pemburu dan pemburu tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja.” Setelah mengucapkan itu aku menancapkan pisau di tengah-tengah tubuhnya dan membelah dadanya hingga terbuka. Mengambil jantungnya dan kulemparkan pada anjing liar yang berada tidak jauh dari posisi kami saat itu. Setelah selesai aku pun memasukkan tubuhnya dalam sebuah karung dan meninggalkannya begitu saja di sudut gang yang gelap. *** Tentang Penulis Hai, namaku Rizki Novie Lestari. Biasa di panggil Rin. Aku berasal dari kota Palembang. Usiaku 25 tahun, cita- citanya kurus tapi hobinya makan, hobi mengkhayal juga. Suka menulis sejak di sekolah menengah pertama dan mulai berani menulis di salah satu platform sejak tahun 2016 hingga sekarang.
  • 279.
    279 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF RENDEZVOUS Oleh: Elok Wardaniyah Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku amnesia? Apa ini pengaruh rum yang kuminum tadi bersama teman- temanku tadi di lounge Hotel Swastika? Aku masih memejamkan mata meski aku mendengar percakapan di sekitarku, aku menunggu sunyi untuk membuka mata, agar aku bisa mengenali di mana aku berada kini dan dapat memahami apa yang terjadi padaku. Setelah suara- suara itu berhenti aku membuka mata tetapi kudengar gemerisik dedaunan juga langkah kaki, sepertinya bukan suara hak sepatu atau sandal yang beradu dengan lantai marmer/keramik atau sejenisnya, sehingga aku kembali memejamkan mataku dengan tetap siaga menajamkan telingaku.
  • 280.
    Analekta Kisah Semesta| 280 PROPERTI OF P “Dia sepertinya mengalami amnesia lakunar26 .” Terdengar suara perempuan “Apa dia belum sadar sama sekali beberapa hari ini?” Suara laki-laki yang tadi kudengar di awal kesadaranku, yang mengatakan bahwa aku amnesia. Astaga, aku bahkan masih ingat kalau Arkan tadi yang memberi kami tantangan untuk mengganti gin yang biasa kami minum saat kumpul dengan rum, dan aku baru menghabiskan dua collin glass-hampir tiga sih, sebelum lampu padam dan....apa? aku tidak mengingatnya, setelah lampu padam lalu apa? Otakku berpikir keras dan yang kurasakan adalah denyutan hebat di kepalaku, sehingga aku mengerang bahkan berteriak sambil memegang kepalaku. Kurasakan dua tangan memegang tanganku erat dan sakit di kepalaku berangsur-angsur berkurang, lalu tangan itu melepaskan tanganku dan aku membuka mata. Aku mengerjapkan mata dan kulihat sekelilingku, aku berada di gubuk tua dan baju yang kupakai, kenapa berwarna merah? Padahal tadi aku memakai one shoulder dress hitam dengan aksen sulaman naga kecil berwarna emas melingkar di bagian pinggang seperti belt, kado dari Rossana pada ulang tahun seperempat abad bulan lalu, yang kata orang quarter life crisis. Kulihat dua orang dengan baju hitam-hitam sedang menatapku tajam, aku bergerak bangun dengan tatapan waspada, tapi belum juga berhasil aku bangun, terasa ada 26 Pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak.
  • 281.
    281 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF dentuman di kepalaku yang menyakitkan sehingga aku kembali berbaring. Kenapa hanya ada orang lelaki, ke mana perempuan yang tadi kudengar suaranya mengatakan aku amnesia? Batinku terus menyuarakan tanya yang tak sanggup kupikirkan jawabannya, karena semakin aku berpikir, sakit di kepalaku semakin terasa. “Kenapa kamu berbaju merah, Gadis?” tanya lelaki tua yang menggunakan udeng di kepala. “Saya ...” “Kamu seharusnya tahu di desa ini, memakai warna merah adalah petaka, artinya terlarang sejak dulu kala,” sahut lelaki satunya yang lebih muda. Sorot matanya tajam bak elang dan dia sangat tampan, andai boleh aku tidak mengkhawatirkan keadaan diriku, kupastikan aku akan flirting padanya, wajahnya seperti Jenderal Valerius Magnus di Dark Hunter, garang tapi juga seksi. Astaga, bisa-bisanya pikiranku ke mana-mana “Saya....” “Kami memberimu waktu dua kali matahari terbit untuk memulihkan keadaan, lalu pergilah dari sini, ikuti jalan yang ada di luar ke arah matahari terbit sampai nanti akan ada perkampungan penduduk Desa Permukaan dan bertanyalah di sana arah asal tempatmu datang,” sela lelaki itu (lagi) sebelum aku selesai berkata-kata. Keduanya lalu keluar dari pintu yang terlihat reot dan meninggalkanku sendiri dalam kebingungan.
  • 282.
    Analekta Kisah Semesta| 282 PROPERTI OF P Aku kembali mengamati keadaan diri dan sekitarku, terusan berwarna merah menyala sampai di bawah lutut dengan kerah melingkar dan lengan baju sampai siku dengan aksen pita kecil yang manis, sangat kontras dengan gubuk ini. Pelan aku berusaha bangun meski sakit di kepala masih sangat terasa. Aku bersandar untuk bisa lebih leluasa melihat sekitar. Ternyata, aku terbaring di sebuah dipan kuno yang aneh rasanya berada di sebuah gubuk , meski tidak besar, tapi dipan ini lebih cocok berada di sebuah teras rumah tradisional Jawa, kalau tidak salah namanya Joglo. Ya, dipan yang kutempati ini hanya dipan beralas tikar tanpa kasur, bantal yang kupakai pun ternyata berupa kain yang dilipat asal-asalan berwarna cokelat tua dengan motif entah yang sudah pudar. Aku berusaha menggerakkan kaki perlahan untuk menjejak (yang kukira lantai) tanah, ada peep toe flat shoes dengan warna merah persis dengan gaun yang kukenakan. Oh Tuhan, apa yang terjadi, jelas sekali tadi ketika mataku terpejam aku mendengar obrolan dua orang yang mengatakan aku amnesia meski batinku membantah karena kuyakin kuingat segalanya. Sekarang, saat aku membuka mata, justru segalanya kian tak terduga, ada apa sebenarnya, di mana kini aku berada? Aku mencoba berdiri dengan berpegangan pada dinding bambu, tapi kakiku tak mampu menopang tubuhku, aku kembali terhuyung dan duduk kembali di dipan. Kupejamkan mata dengan kembali duduk bersandar. Entah berapa lama mataku terpejam sampai sakit di kepala berangsur-angsur berkurang, sampai kudengar pintu reot gubuk terbuka
  • 283.
    283 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF dan munculnya si Valerius Magnus dengan nampan berisi wadah-wadah dari tempurung kelapa dan mendekat padaku, lalu duduk di tepi dipan. “Makan dan minumlah, lalu istirahatlah, aku di luar gubuk jika ada yang kau perlukan,” katanya sambil berdiri dan kembali berbalik menuju pintu. “Hai, siapa namamu? Terima kasih ya,” kataku mencoba bersikap ramah “Jagad,” jawabnya singkat lalu menghilang di balik pintu. Ya ampun, bahkan namanya terdengar seksi sekali dan ... kuno, batinku sambil tersenyum. Duh, kok aku tidak tanya namaku ya, dia buru-buru pergi sih. Kulihat nampan, ada air, kuteguk air yang ternyata rasanya seperti air kelapa. Makanan yang ada di wadah satunya terbungkus daun yang terlihat seperti bekas dibakar, kubuka dan aromanya enak sekali, aku langsung memakannya bahkan tanpa mencuci tangan, setelah selesai barulah aku bingung harus di mana aku mencuci tanganku. Masih akan berdiri menuju pintu, pintu gubuk kembali terbuka yang memunculkan Jagad dengan batang bambu di tangannya. “Ini untuk mencuci tangan.” Ia meletakkan batang bambu itu di pojok gubuk dekat pintu “Jagad, apa kamu tahu siapa namaku? Karena aku lupa.” “Pulihkan diri segera, kalau besok pagi sudah terasa segar semua badan, kau bisa segera pergi dari sini sebelum
  • 284.
    Analekta Kisah Semesta| 284 PROPERTI OF P penduduk desa ini melihatmu dengan gaun merah itu.” Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah mengusirku secara halus, aku membrengut kesal dan segera mencuci tangan. Bingung memikirkan segala kemungkinan mengapa aku bisa berada di sini, terdengar suara ribut banyak orang dari kejauhan yang terdengar semakin mendekat. Lalu pintu gubuk terbuka dengan keras. “Segera pergi dari sini, sebentar lagi matahari terbit, masih ingat kan pesan tetua kemarin, penduduk desa sedang ke sini karena keberadaanmu telah diketahui, cepat sebelum kamu dibakar hidup-hidup karena gaun merahmu itu.” Jagad masuk dan langsung berbicara panjang. Aku masih mnegerjapkan mata dan dia sudah menarik lenganku, aku memakai sepatu dan ditariknya menuju pintu. “Cepat, aku akan menahan penduduk di sini agar mereka tidak mengejar.” Jagad mendorongku keluar dari gubuk. “Lari, cepat!” tambahnya Dan aku seperti terhipnotis, aku berlari sekencang yang kubisa, sesekali menoleh untuk melihat gubuk yang kutinggalkan tadi, yang semakin lama semakin tertinggal jauh di belakang lalu tak tampak lagi dalam pandangan. Aku terus berlari sampai kemudian kusadari sesuatu yang janggal, tapi kuabaikan dan terus berlari terus menyusuri
  • 285.
    285 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF jalan mengikuti arah matahari yang hampir tenggelam. Aku takut kegelapan segera meyelimuti sekitar sedangkan belumtampaksedikitpunpenandaakanadaperkampungan permukaan yang dikatakan tetua Desa Dalam beberapa hari lalu. Aku berhenti dengan terengah karena napasku hampir habis setelah berlari entah untuk berapa lama, tanpa menggunakan jam tangan atau membawa ponsel membuatku nyaris tidak mengenal waktu selain dari langit yang mulai memerah tanda senja telah tiba. Kemudian sebuah kesadaran menghantamku, Tetua Desa Dalam bilang, aku harus berjalan ke arah matahari terbit, sedangkan dari tadi aku berlari ke arah matahari terbenam, artinya? “Oh, Gosh, aku salah arah.” Aku segera berbalik, tapi di ujung jalan sana terihat sosok Jagad berdiri memandangku, aku berlari ke arahnya dan dia tersenyum, Tuhan bisakah aku di sini saja untuk bisa melihat senyumnya setiap saat. Tapi mau jadi apa aku di sini, bagaimana dengan Mama, Papa, dan Elisa, tentu mereka akan merindukan aku, belum lagi geng Xoxo yang akan kehilangan anggota terkerenya, karirku di biro arsitek impian yang sedang bagus-bagusnya, oh no. “Baru sadar salah arah hm?” Suaranya terdengar merdu di telingaku, tangannya terulur memintaku meraih tangannya.
  • 286.
    Analekta Kisah Semesta| 286 PROPERTI OF P “Pejamkan matamu, percaya padaku, kan kuantar kau ke Desa Permukaan, tapi berjanjilah jangan buka matamu selama masih kau rasakan tanganmu dalam genggamanku,” lanjutnya Aku hanya mengangguk dan mulai memejamkan mata, aku seolah terhipnotis dengan perkataannya. Embusan angin terasa menampar di kulitku, aku membayangkan seperti Isabella Swan ketika diajak Edward Cullen menjelajah hutan Forks dengan kecepatan flash, ah tapi Jagad tidak pucat sih, jadi tidak mungkin dia vampir, lagi pula tadi aku di gubuk tua yang tampak lusuh, bukan di mansion mewah seperti punya keluarga Cullen. Perlahan kurasakan kami mulai berjalan normal dan menapak tanah dan dia mulai melonggarkan genggaman tangannya sampai kemudian terlepas, aku merasakan kehilangan tapi juga lega karena artinya kami sudah sampai di Desa Permukaan. Perlahan kubuka mata dan kulihat sebuah perkampungan dengan aktivitas penduduk khas pagi hari di pedesaan, ada yang menyapu halaman, ada yang menumbuk sesuatu di balok kayu juga ada ibu- bu yang membawa keranjang. “Hanya sampai sini aku bisa mengantarmu, bertanyalah pada salah satu dari mereka ke mana arah kamu bisa kembali pulang ke tempat asalmu.” Suara Jagad terdengar dekat di telingaku, saat aku menoleh, mata kami berpadangan dalam sekian detik yang terasa menyesatkanku sampai akhirnya dia memutus kontak mata kami.
  • 287.
    287 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF “Sudah ingat siapa namamu?” tanyanya dan aku tak bisa menjawab, siapa sebenarnya namaku, sungguh kesal aku tidak menemukan jawabannya sejak aku tersadar di gubuk tua itu. Bagaimana mungkin aku lupa namaku, sedangkan sebelum aku terbangun di gubuk tua, aku sedang di Lounge bersama Arkan, Brigita, dan Chicko untuk merayakan tender pembangunan cluster elit di Jakarta Selatan yang divisi kami menangkan. Aku bahkan ingat kami bekerja di sebuah biro arsitek kenamaan, Numero Uno Architect milik dari Abraham Giovanni, yang menjadi husband material para wanita di tower kami bahkan mungkin di Jakarta. Saat aku menoleh ke kanan, sudah tak ada lagi Jagad di sisi kananku, kuelus telapak tangan kananku, masih terasa genggaman Jagad di sana dan sekarang dia sudah menghilang. Kuembuskan napas panjang sebelum melangkah mendekat ke pemukiman penduduk. Kuhampiri seorang ibu paruh baya yang sedang sibuk dengan keranjang dan beberapa sayur mayur di sebelahnya. Darinya kuperoleh keterangan bahwa aku harus berjalan lurus mengikuti jalan desa sampai bertemu dengan pohon beringin di perempatan pertama, lalu berbelok ke kanan dan aku akan sampai di tepi jalan antara, di sana akan terlihat tempatku berasal. Meski bingung dengan penjelasannya, tapi kuikuti saja petunjuknya dan di sinilah aku sekarang, di tepi jalan antara (kata ibu tadi), kulihat gedung-gedung tinggi kota Jakarta tempatku lahir dan tumbuh dewasa, rasa lega menyeruak di dadaku, kuembuskan napas panjang dengan hati yang ringan aku melangkah menuju trotoar untuk mencegat taksi. Kulambaikan tangan dan sebuah
  • 288.
    Analekta Kisah Semesta| 288 PROPERTI OF P taksi berhenti, kusebutkan alamat rumahku dan taksi melaju perlahan. Aku menoleh ke belakang untuk melihat tempatku keluar dari Desa Permukaan dan tidak tampak apa pun selain jajaran ruko-ruko dan kafe modern di sana. Apa yang sebenarnya kualami Tuhan, aku mengingat alamat rumahku dan aku tetap belum berhasil mengingat namaku. Untungnya, saat taksi berhenti di depan rumah, ada mama di teras yang tampak cemas memandang ke arah pagar dan terlonjak senang saat melihatku. “Diandraaa, anak Mama, dari mana saja Nak kamu?” Mama langsung memelukku dengan erat bahkan kurasakan air matanya menetes di bahuku. “Ma, taksinya belum dibayar.” Setelah taksi pergi, kami berjalan memasuki rumah dengan mama yang mengamit lenganku erat. “Kamu ke mana aja kok tiba-tiba nggak ada di rumah sakit, kami bingung cari kamu Nak. Pa, Papa, Diandra pulang Pa.” Dari dalam rumah tampak papa dan Elisa yang berlari menubrukku sehingga aku hampir terhuyung ke belakang karenanya. Setelah kami duduk di ruang keluarga, aku bertanya sebenarnya apa yang terjadi padaku sampai aku dirawat di rumah sakit. Jujur kukatakan kalau aku lupa namaku, tapi tidak dengan hal lain terkait keluarga, teman, pekerjaan dan juga peristiwa yang kualami kemarin tanpa ada yang terlewat. Mereka terdiam, tampak antara percaya dan tidak
  • 289.
    289 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF dengan ceritaku, tapi Elisa yang lebih dulu menyuarakan rasa percayanya. “Tapi Ma, Pa, Kak, Di memang nggak punya baju warna merah gini lho setahuku, peep toe flat shoes warna gini juga nggak punya, dan malam Kak Di diajak jalan sama teman kantornya ke Hotel Swastika itu kan aku yang anterin, karena mobil Kak Di kubawa ke tempat Sherly buat ngerjain tugas, Kak Di pakai baju warna hitam. Lagian habis peristiwa bom bunuh diri di Hotel Swastika kan Kak Di dirawat di rumah sakit, masa iya pakai dress kaya gini, warna merah pula.” Kami terdiam dengan pikiran kami dan papa akhirnya mengambil alih keheningan kami. “Ya udah, yang penting Diandra sudah kembali ke rumah, setelah menghilang hampir seminggu dan dalam keadaan sehat, itu aja yang kita syukuri ya, semoga seiring waktu Diandra akan ingat dengan utuh yang dialaminya. “ Kami sepakat dan kemudian aku ke kamar dengan ditemani mama juga Elisa, sementara papa mengabari pihak rumah sakit dan teman-teman dekatku di kantor, tepatnya geng bahwa aku sudah kembali pulang. Satu purnama berlalu dari kejadian itu, semua sudah kembali seperti semula dengan tetap aku kehilangan sekeping puzzle tentang ingatanku yang entah apa. Aku kembali bekerja di Numero Uno Architect dengan timku dan hang out di akhir pekan, tapi aku dan juga gengku masih menghindari lounge/club atau sejenisnya karena masih trauma akan ada kejadian pengeboman lagi. Sesekali aku teringat Jagad dan memikirkan siapa lelaki itu
  • 290.
    Analekta Kisah Semesta| 290 PROPERTI OF P sebenarnya dan di mana sebenarnya tempat aku bertemu dengannya waktu itu. Gaun merah yang tergantung rapi di lemari itu selalu mengingatkanku akan Jagad dan peristiwa aneh yang kualami setiap kali aku membukanya. Siang ini setelah meeting dengan klien, Arkan, Brigita, Chicko, dan aku memutuskan mampir ke coffee shop lantai dasar tower gedung kami sebelum naik ke lantai kantor kami berada. Aku dan Arkan memesan Caramel Macchiato sementara Brigitta dan Chicko memesan Frappuccino Green Tea Creme, saat berbalik untuk menuju meja tempat kami meletakkan tas dan barang-barang kami, seorang lelaki masuk ke dalam coffee shop dan aku hampir menahan napasku. Lelaki itu Jagad, tapi dalam balutan jas kasual warna merah dan celana jeans warna hitam yang pas sekali di badannya. Tidak tampak seperti Jagad yang kutemui di tempat antah berantah beberapa waktu lalu yang bahkan bajunya seperti bukan dari dekade ini. Aku masih terpana menatapnya, sampai kemudian dia melewatiku dan berkata, “Hai gadis berbaju merah.” Dengan suara yang membuat bulu kudukku meremang. Aku duduk di kursiku dan Brigita menyadari keanehanku, dia menyenggol sikuku membuatku terkesiap. “Biasa aja kali lihat cowok cakep, nggak usah mendadak gagu gitu deh.” “Dia lelaki yang kutemui di tempat antah berantah kemarin lalu, Ta,” bisikku, dan Brigitta membulatkan matanya, lalu kembali melihat ke arah lelaki itu yang
  • 291.
    291 | AnalektaKisah Semesta PROKREATIF katanya sedang menatapku, kuberanikan diri menoleh dan benar dia sedang menatapku, tersenyum tipis padaku, lalu berbalik ke arah kasir memunggungiku. Debaran di dadaku terasa semakin kencang dan aku seperti terbawa ke dimensi waktu berbeda, tiba-tiba sekitarku terasa blur dan suara pekikan Arkan, Brigita juga Chicko memanggil namaku bergantian terdengar semakin jauh sampai kemudian kegelapan kembali menelanku dalam ketidaksadaran. *** . Tentang Penulis: Elok Wardaniyah, terlahir di Jombang pada 38 tahun lalu, tepatnya pada Oktober 1983. Alumi S1 Jurusan Ilmu SejarahdariUniversitasJemberyangsukabangetmembaca sejak kecil baik itu tentang sejarah, novel atau lainnya. Berharap dengan menulis dapat menjadi stres release dan menuangkan ide/imajinasi yang terdokumentasikan dan dapat dibaca orang lain. Saat ini tinggal di Jombang, Jawa Timur dengan suami dan dua putri. Akun media sosial yang digunakan adalah Instagram dan Facebook dengan nama akun Elok Wardaniyah.