Kisah ini menggambarkan sikap sabar Nabi Muhammad SAW ketika mengalami penolakan dalam dakwah di kota Thaif. Meskipun disiksa oleh penduduk lokal, beliau memilih untuk mengharapkan petunjuk Allah bagi mereka daripada menghukum mereka.
Meneladani Rasulullah s.a.w.dengan
Sikap Al-Hilm
,(Disampaikan dalam acara Pengajian Majelis Ta’lim Manajemen Qalbu
,Daarut Tauhiid, di Masjid Pertiwi, Gendingan, Kelurahan Notoprajan
)3102 Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta, Ahad 24 November
..Sifat al-Hilm merupakan sifat yang melekat pada diri Nabi Muhammad s.a.w
Dalam situasi dan kondisi apa pun, Nabi s.a.w. mampu bersikap lemah-lembut dan
.menunjukkan kesabarannya untuk menghadapai semua persoalan
:Dalam sebuah riwayat, dinyatakan sebagai berikut
أَن عائشة زوج النبى -صلى ا عليه وسلم- «
ّ َ ِ َ َ َ ْ َ ِّ ّ
حدثته أَنها قالت لرسول الله -صلى ا عليه وسلم-
َ َّْ ُ ّ َ َ َ ْ ِ َ ُ ِ ّ ِ
ََْ َ َ ْ ٌ َ َ َ ّ ِ ْ َ ْ ِ
يا رسول الله هل أَتى عليك يوم كان أ َشد من يوم
َ َ ُ َ ّ ِ َ ْ َ
أُحد فقال »لقد لقيت من قومك وَكان أَشد ما لقيت
ُ ٍ َ َ َ َ َ ْ َ ِ ُ ِ ْ َ ْ ِ ِ َ َ َ ّ َ َ ِ ُ
ْ ِ َْ ِ
منهم يوم العقبة إِذ عرضت نفسى على ابن عبد
ََ
ِْ ُ ْ َ ْ َ ْ َ ََ ِ ْ َ َ ْ ُ َ ْ ِ
َ ْ ُ
ياليل بن عبد كل َل فلم يجبنى إ ِلى ما أ َردت
َ
َ
َ ِ َ ْ ِ َْ ِ ُ ٍ ََ ْ ُ ِِْ
ََ ْ َْ ِ ْ
َ ْ ِ
َ ْ ََ ْ ُ َ َ َ ْ ُ ٌ ََ
فانطلقت وأَنا مهموم على وجهى فلم أ َستفق إ ِل ّ
َِ َ َ ِ َ َ َ ٍ ْ
بقَرن الثعالب فرفعت رأسى فإذا أَنا بسحابة قَد
ِ ْ ِ ّ َ ِ ِ َ َ َ ْ ُ َْ ِ
أَظلتنى فنظرت فإذا فيها جبريل فنادانى فقال إ ِن
َ َ َ ّ
ََ َ ْ ُ َِ َ ِ َ ِْ ِ ُ ََ َ ِ
َِّْ
الله عز وجل قد سمع قول قومك لك وما ردوا
ّ َ َ ّ َ َ ّ َ ْ َ ِ َ َ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ّ
َْ َ َ َ ْ َ َ َ َْ َ ََ َ ْ َِ ِ َِْ ُ َ ُ ِ َ ِْ َ
عَليك وقد بعث إِليك ملك الجبال لتأمره بما شئت
فيهم قال فنادانى ملك الجبال وسلم على . ثم قال
ََ ُ ْ َِ ِ َ َّ َ ََ ّ ُ ّ َ َ
ِ ِ ْ َ َ ََ َ ِ
َ ُ َ ّ ُ ّ ّ َ َ ْ َ ِ َ َ ْ َ َ ْ ِ َ َ َ َ َ ََ ُ
يا محمد إِن الله قد سمع قول قومك لك وأ َنا ملك
الجبال وقد بعثنى ربك إِليك لتأمُرنى بأمرك فما
َِ ْ ِ َ َ َ
َّ َ َْ َ َِْ َِ
ْ َِ ِ َ َ ْ َ ََِ
ْ َ َ ْ ِ «. َ َ َ َ ُ
شئت إ ِن شئت أ َن أ ُطبق عليهم ال َخشبين فقال له
ِْ َ ْ ِْ َ ْ ِْ َ ََْ ِ ُ
ْ
رسول الله -صلى ا عليه وسلم - » بل أ َرجو أ َن
َ ْ ْ ُ
َ ُ ُ ّ ِ
1
2.
ُ ِ ُْ ُ َ ْ َ َ ّ ُ ُْ َ ْ َ ْ ِ ْ ْ ِ ُ ّ َ ِ ُ
يخْرج الله من أَصل َِبهم من يعبد الله وحده ل َ يشرك
.» به شيْئا
ً َ ِ ِ
“Suatu ketika, Aisyah radiyallâhu anhâ pernah bertanya kepada Rasulullah shalallâhu alaihi wa
sallam, “Pernahkah engkau mengalami suatu hari yang lebih berat daripada perang uhud?”. Beliau
menjawab “Aku sudah mendapatkan apa yang pernah aku dapatkan dari kaummu (kaum
Quraisy), namun yang paling berat adalah saat di ‘Aqabah saat itu aku akan menyeru Ibnu Abdi
Yalil bin Abdi Kullah” (pemimpin Bani Tsaqif di Thaif). Saat itu Rasulullah s.a.w. sedang
berdakwah di daerah Thaif, dan beliau menginap di sana selama 10 hari. Setiap pemuka
masyarakat yang datang kepada beliau pasti beliau menyerunya untuk masuk Islam. Namun tidak
satupun dari mereka yang menerima ajakan beliau. Akhirnya mereka mengusir beliau dengan
mengatakan: “Usir orang ini dari negeri kita, kerahkan semua rakyat untuk memerdayainya”.
Ketika beliau hendak pergi, orang-orang jahat dan para hamba sahaya dari kalangan mereka
membuntuti beliau sambil mencaci maki. Kemudian mereka membentuk 2 barisan di samping beliau
dan melempari beliau dengan batu sambil diiringi dengan cacian. Karena lemparan itu kaki beliau
berdarah hingga membasahi terompahnya. Sementara Zaid bin Haritsah melindungi beliau dengan
badannya, hingga tidak terhitung lagi berapa luka yang ada ditubuhnya. Mereka terus berbuat
demikian hingga beliau sampai disebuah kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah.
Setelah itu beliau menengadahkan mukanya ke atas yang disana ada segumpal awan yang
melindunginya, dan disana ada Jibril. Dia berseru “Sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang
dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang mereka lakukan terhadap dirimu. Allah telah
mengutus malaikat penjaga gunung agar engkau menyuruhnya menurut apa yang engkau
kehendaki”. Lalu malaikat penjaga gunung itu menyeru kepada Nabi s.a.w. sambil mengucapkan
salam: “Wahai Muhammad, hal itu sudah terjadi. Apa yang engkau kehendaki (sekarang)? Jika
engkau menghendaki untuk meratakan Akhsyabain (Thaif), tentu aku akan melakukannya”.
Nabi s.a.w. menjawab: “(tidak perlu), bahkan aku berharap kepada Allah agar dia mengeluarkan
dari kalangan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu
pun denganNya”. (Hadits Riwayat al-Bukhari dari ‘Aisyah r.a., Shahîh al-Bukhâriy, juz IV,
halaman 139, hadits nomor 3231 dan Hadits Riwayat Muslim dari ‘Aisyah r.a., Shahîh
Muslim, juz V, halaman 181, hadits nomor 4754 )
Kisah ini sangat mewakili tentang harapan besar Nabi s.a.w. agar Allah
berkenan memberi petunjuk umatnya. Melalui pertanyaan Sang Isteri, Ummul
Mukminin ‘Aisyah, terucap dari bibir beliau bahwa kepulangan dari dakwah di kota
Thaif -- sepeninggal Abu Thalib dan Khadijah -- merupakan kejadian yang sangat berat
dan sulit setelah kekalahan yang dialami kaum Muslimin di perang Uhud.
Selama sepuluh hari berada di Thaif, beliau menawarkan Islam kepada para
tokoh di sana, di antaranya Yalil bin Abdi Kullah. Beliau mengadukan kepada mereka
sikap kaum Quraisy yang buruk terhadap dakwah Islam. Namun respon mereka tidak
berbeda dengan apa yang diperbuat kaum Quraisy terhadap Nabi. Bahkan lebih buruk.
Karena terpengaruhnya dengan keadaan yang tidak mengenakkan dan
keprihatinan yang besar, Nabi s.a.w. sampai tidak sadarkan diri. Begitu siuman dan
mengangkat kepala, tiba-tiba awan terlihat menaungi beliau: “Allah telah mendengar
komentar dan respon kaummu terhadap (dakwah)mu. Dia telah mengutus satu malaikat penjaga
2
3.
gunung untuk engkauperintah apa saja berkenaan dengan mereka.” Malaikat penjaga gunung
memanggilku sembari berkata: “Wahai Muhammad, kalau engkau ingin agar aku tubrukkan
gunung Akhsyabain di atas mereka, maka akan kulakukan.”
Akhsyabain adalah dua buah gunung besar di kota Mekkah, gunung Abu
Qubais dan gunung Ahmar (merah). Disebut sebagai Akhsyabain karena kekokohan dan
kekerasan bebatuannya.
Nabi s.aw. yang sangat mencintai dan menyayangi umatnya, meskipun telah
mendapatkan perlakuan yang sangat tidak baik dari meraka, ternyata justeru berharap,
seraya bersabda: “Justeru aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka
keturunan yang beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun.” Dan
Allah pun merealisasikan harapan Nabi s.a.w. dengan memunculkan dari keturunan
mereka, sekian banyak sahabat yang masuk Islam, sementara orang tua dan kakek-kakek
mereka mati dalam kekufuran.
‘Ikrimah bin Abi Jahal – misalnya -- masuk Islam, sementara ayahnya Abu
Jahal tokoh besar kaum musyrik dalam memerangi Islam. Khalid bin Walid, ayahnya
Walid bin Mughirah, pembesar kaum Quraisy yang menentang Islam. Demikian pula,
Shafwan bin Umayyah bin Khalf, ayahnya termasuk yang sering menyiksa kaum
Muslimin di Mekkah. Ia tewas di perang Badar dalam kekafirannya. Sedangkan Sang
Anak, akhirnya masuk Islam pada penaklukan kota Mekkah dan ikut serta peperangan
Yarmuk. Hindun binti ‘Uqbah bin Rabi’ah, ayahnya terhitung sebagai tokoh suku
Quraisy. Ia melawan kaum muslimin di perang Badar mati-matian dan akhirnya tewas.
Sedangkan sang putri akhirnya masuk Islam setelah penaklukan kota Mekkah.
Itulah gambaran sikap lemah lembut (al-Hilm), yaitu “posisi mulia antara
dua hal yang hina”, yakni kemarahan dan kedunguan. Jadi jika seseorang mengikuti
amarahnya tanpa menggunakan akal pikiran dan perenungan, berarti dia berada dalam
satu kehinaan, dan jika ia rela dengan kezaliman dan kesewenangan maka dia pun
berada dalam kehinaan yang serupa. Tetapi jika dia menghadapinya secara sabar
meskipun dia memunyai kemampuan untuk melampiaskan kemarahannya, maka dia
berada dalam kebaikan, dan itulah hakikatnya sikap al-Hilm.
Begitulah sikap Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, beliau diuji dengan cacian
dan siksaan dari orang-orang Thaif. Dan di situ beliau diuji juga dengan tawaran dari
malaikat untuk menghancurkan orang-orang Thaif saat itu juga. Tapi beliau mengambil
sikap pertengahan dari hal itu. Beliau tidak memerintahkan malaikat untuk
meghancurkan Thaif, tetapi justeru beliau mendoakan mereka supaya keturunan mereka
menjadi orang-orang yang beriman.
Al-Hilm yaitu: “sikap tenang dan menahan diri pada saat marah. Jadi
orang yang memunyai sikap ini tidak akan marah oleh ejekan orang-orang yang
tidak mengetahui dan tidak juga takut dihina oleh orang-orang yang tidak
menggunakan akalnya, tetapi dia akan mengendalikan diri pada saat amarahnya
bergejolak”.
Sikap ini akan terwujud dengan adanya kesempurnaan ilmu yang ada pada diri
kita, di saat kita sudah mendapatkan al-Hikmah (pengetahuan yang mendalam terhadap
3
4.
sesuatu, yang mengarahkandiri kitaberilmu amaliah dan beramal ilmiah. Kita -- dengan
hikmah yang kita terima dari Allah – akan memilki ilmu yang bermanfaat karena
didukung oleh amal kita, dan amal yang proporsional karena didukung oleh ilmu kita).
Kemudian setelah itu kita akan bertindak dengan sangat hati-hati, yaitu bertindak bijak
antara ketergesa-gesaan dan sikap sikap lamban. Ini menunjukkan kecemerlangan
dalam berfikir. Dari sini kemudian muncul sikap sangat agung yang jarang dimiliki oleh
orang awam pada umumnya, yaitu segi praktis dari sikap sabar dan kehati-hatian yang
sering disebut oleh orang dengan sebutan ar-Rifq, di mana seseorang akan mengambil
hal yang paling mudah dan lurus, sehingga kita akan melihat orang tersebut sebagai
seorang yang lemah lembut.
Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Sesungguhnya sikap al-hilm pada diri
seseorang itu dapat diketahui ketika dia marah, orang yang marah maka awalnya (pada
saat marah itu) dia seperti orang gila, dan setelahnya yang ada hanya penyesalan”.
Karena seseorang yang marah, bisa terjadi dua kemungkinan padanya.
Yang pertama ada kemungkinan dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan ia
melampiaskan rasa marahnya itu dengan cara-cara yang buruk, yang menimbulkan
banyak kerusakan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Inilah yang disebut oleh
Ali bin Abi Thalib sebagai sikap orang gila, di mana saat itu dia tidak peduli dengan
dirinya dan keadaan orang lain. Setelah marahnya hilang yang timbul adalah penyesalan,
karena seolah-olah ketika ia dalam keadaan marah, ia tidak sadar apa yang terjadi pada
dirinya.
Sementara kemungkinan kedua adalah dia bisa mengendalikan dirinya dan
tidak melampiaskan kemarahannya, dan inilah yang disebut oleh Ali bin Abi Thalib
sebagai sikap al-Hilm.
Adapun Ahnaf bin Qais memaknai al-hilm dengan makna yang lebih luas,
yaitu beliau mengatakan al-Hilm adalah: “engkau bersabar terhadap apa yang engkau
benci”.
Banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan tentang anjuran untuk
membiasakan sikap al-hilm yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan atTirmidzi dari Ibnu Abbas, dia berkata, bahwa Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam
pernah bersabda kepada Asyajj Abdul Qais:
« .» إِن فيك خصلتين يحبهما الله الحلم وال ََناة
ُ
َ ُ ِْ ْ ُ ّ َ ُ ِّ ُ ِ ََْْ َ َ ِ ّ
“Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua perangai yang dicintai oleh Allah, yaitu a-Hilm dan alAnât (kehati-hatian)”. (Hadits Riwayat Muslim dari Abdullah bin Abbas r.a., Shahîh
Muslim, juz I, halaman 36, hadits nomor 126 dan Hadits Riwayat at-Tirmidzi dari
Abdullah bin Abbas r.a, Sunan at-Tirmidzi, juz IV, halaman 366, hadits nomor 2011)
Dalam hadits ini disebutkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya memunyai
sifat al-hilm dan al-’anât (kehati-hatian), tinggal bagaimana dia memberdayakan sikap itu
dalam kehidupannya. Jadi pada hakikatnya semua orang berpotensi untuk menjadi
4
5.
orang yang shalih,tapi kebanyakan manusia lalai dari hal ini dan menganggap bahwa
Allah telah menghendaki keburukan pada mereka.
Rasulullah shalallâhu alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang keutamaan sikap
ar-rifq, bahwasannya sikap ini sangat dicintai oleh Allah, beliau bersabda yang
diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« .» إِن الله رفيق يحب الرفق في ال َمر كله
ُّ ِ ْ
ِ َ ْ ّ ّ ِ ُ ٌ ِ َ َ ّ ّ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan”. (HR alBukhari dari ‘Aisyah r.a., Shahîh al-Bukhâriy, juz IX, halaman 20, hadits nomor 6927 dan
Muslim dari ‘Aisyah r.a.,, Shahîh Muslim, juz VII, halaman `4, hadits no. 5784).
Hadits ini mengandung perintah untuk berlemah lembut baik dalam ucapan
maupun perbuatan, serta memilih yang paling mudah, karena yang demikian itu akan
menimbulkan hubungan yang harmonis dan akrab di antara sesama orang yang
beriman (mu’min).
Kelembutan harus mewarnai seluruh segi kehidupan seseorang, karena sikap
ini sangat dicintai oleh Allah. Seluruh segi kehidupan kita harus kita warnai dengan
kelembutan karena denganNya akan mendatangkan cinta dan ridha dariNya. ‘Aisyah
juga meriwayatkan bahwasannya Rasulullah shalallâhu alaihi wa sallam bersabda:
« إِن الرفق ل َ يكون فى شىء إ ِل ّ زانه ول َ ينزع من
ْ ِ ُ َ ُْ َ ُ َ َ
ٍ ْ َ
ِ ُ ُ َ َ ْ ّ ّ
ُ َ َ
» شىء إ ِل ّ شانه
ٍ ْ َ
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak terdapat pada sesuatu melainkan akan menjadi penghias
baginya, dan tidak juga lepas dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk”.(Hadits Riwayat
Muslim dari ‘Aisyah r.a., Shahîh Muslim, juz VIII, halaman 22, hadits nomor 6767)
Setiap perkara yang di dalamnya disertai dengan kelembutan maka kelembutan
itu akan menghiasinya dan menjadikan perkara itu baik. Sebaliknya apabila ada suatu
perkara yang awalnya disertai dengan kelembutan, kemudian kelembutan itu dicabut
darinya, maka seketika itu juga perkara itu akan menjadi buruk (rusak nilai
kebaikannya).
Wallâhu ‘Alamu bish-Shawâb.
5
6.
orang yang shalih,tapi kebanyakan manusia lalai dari hal ini dan menganggap bahwa
Allah telah menghendaki keburukan pada mereka.
Rasulullah shalallâhu alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang keutamaan sikap
ar-rifq, bahwasannya sikap ini sangat dicintai oleh Allah, beliau bersabda yang
diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« .» إِن الله رفيق يحب الرفق في ال َمر كله
ُّ ِ ْ
ِ َ ْ ّ ّ ِ ُ ٌ ِ َ َ ّ ّ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan”. (HR alBukhari dari ‘Aisyah r.a., Shahîh al-Bukhâriy, juz IX, halaman 20, hadits nomor 6927 dan
Muslim dari ‘Aisyah r.a.,, Shahîh Muslim, juz VII, halaman `4, hadits no. 5784).
Hadits ini mengandung perintah untuk berlemah lembut baik dalam ucapan
maupun perbuatan, serta memilih yang paling mudah, karena yang demikian itu akan
menimbulkan hubungan yang harmonis dan akrab di antara sesama orang yang
beriman (mu’min).
Kelembutan harus mewarnai seluruh segi kehidupan seseorang, karena sikap
ini sangat dicintai oleh Allah. Seluruh segi kehidupan kita harus kita warnai dengan
kelembutan karena denganNya akan mendatangkan cinta dan ridha dariNya. ‘Aisyah
juga meriwayatkan bahwasannya Rasulullah shalallâhu alaihi wa sallam bersabda:
« إِن الرفق ل َ يكون فى شىء إ ِل ّ زانه ول َ ينزع من
ْ ِ ُ َ ُْ َ ُ َ َ
ٍ ْ َ
ِ ُ ُ َ َ ْ ّ ّ
ُ َ َ
» شىء إ ِل ّ شانه
ٍ ْ َ
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak terdapat pada sesuatu melainkan akan menjadi penghias
baginya, dan tidak juga lepas dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk”.(Hadits Riwayat
Muslim dari ‘Aisyah r.a., Shahîh Muslim, juz VIII, halaman 22, hadits nomor 6767)
Setiap perkara yang di dalamnya disertai dengan kelembutan maka kelembutan
itu akan menghiasinya dan menjadikan perkara itu baik. Sebaliknya apabila ada suatu
perkara yang awalnya disertai dengan kelembutan, kemudian kelembutan itu dicabut
darinya, maka seketika itu juga perkara itu akan menjadi buruk (rusak nilai
kebaikannya).
Wallâhu ‘Alamu bish-Shawâb.
5