DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
ABSES CEREBRI PADA ANAK
Baca Pustaka
NAMA : Nur Aisyah
NIM : C105202005
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
ABSES CEREBRI
0,3 - 1,8 kasus per 100.000 penduduk per
tahun
INSIDENSI TINGKAT KEMATIAN
berkisar antara 5-10%, dengan sekuele jangka
panjang terjadi pada sekitar sepertiga
PROGNOSIS
Pemberian antibiotik dan manajemen bedah segera
Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1
Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1
TINJAUAN
PUSTAKA
DEFINISI
Abses cerebri merupakan penyakit infeksi lokal intrakranial yang dapat disebabkan
oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan parasite, yang dimulai
dengan fase cerebritis dan berkembang menjadi kumpulan nanah yang dikelilingi
oleh kapsul
Elsevier Point of Care. Clinical Overview Brain Abscess. 2021. https://www.clinicalkey.com/#!/content/clinical_overview/67-s2.0-be42d16a-1099-4bbd-a786-5cdf0346b2bb
EPIDEMIOLOGI
• Insidensi keseluruhan berkisar antara 0,3 - 1,8 kasus per 100.000 penduduk per
tahun
• Abses cerebri dilaporkan mencapai 8% dari semua lesi massa intracranial
• 25% abses cerebri terjadi pada anak-anak
• 50% terjadi pada populasi berusia 0-20 tahun
Sahbudak Bal Z, Eraslan C, Bolat E, et al. Brain Abscess in Children: A Rare but Serious Infection. Clinical Pediatrics. 2018;57(5):574-579.
doi:10.1177/0009922817733301
FAKTOR RISIKO
INFEKSI
01
telinga, sinus, dan gigi
PENYAKIT
KONGENITAL
02
penyakit jantung bawaan
(PJB) dan fistula
arteriovenosa paru
INFEKSI
01 TRAUMA KEPALA
03
Riwayat trauma kepala
dan bedah kepala
IMUNOSUPRESIF
04
X-linked agammaglobulinemia
ataupun dengan infeksi HIV
Weinberg GA. Brain abscess. Pediatrics in Review. 2018;39(5):270-272. doi:10.1542/pir.2017-0147
ETIOLOGI
BAKTERI
• Terbanyak: Streptococcus (S. anginosus, S.
constellatus, dan S. intermedius), S. aureus
• Pada neonates: Citrobacter koseri, Cronobacter
sakazakii, Serratia marcescens, dan Proteus
mirabilis
• Pada PJB: S. aureus dan S. viridans
• Aspergillus, Candida, Cryptococcus
• Toxoplasma, Trypanosoma cruzi, Taenia
solium, Entamoeba histolytica, Schistosoma
spp., Microsporidia spp., dan Paragonimus
spp
JAMUR
PARASIT
Sahbudak Bal Z, Eraslan C, Bolat E, et al. Brain Abscess in Children: A Rare but Serious Infection. Clinical Pediatrics. 2018;57(5):574-579.
doi:10.1177/0009922817733301
PATOFISIOLOGI
40-50% kasus dari sumber infeksi yang dekat
(infeksi telinga, mastoid, dan sinus paranasal)
30-40% kasus secara hematogen dari abses gigi,
endokarditis, infeksi paru, atau infeksi kulit
• Lesi awal (1 sampai 2 minggu pertama): tanda-tanda inflamasi
akut seperti kongesti vaskular dan edema lokal.
• Setelah dua sampai tiga minggu, terjadi nekrosis dan likuifaksi
 ditutupi oleh kapsul yang terdiri dari lapisan dalam jaringan
granulasi, lapisan kolagen tengah, dan lapisan astroglial luar,
yang disebut sebagai abses cerebri.
Olorunmoteni OE, Onyia CU, Elusiyan JBE, Ugowe OJ, Babalola TE, Samuel I. Intracranial abscesses in children at Ile-Ife, Nigeria: a case series and review of literature. Child’s Nervous
System. 2020;36(8):1767-1771. doi:10.1007/s00381-020-04529-2
DIAGNOSIS
ANAMNESIS
• Gejala umum: demam, lesu, dan nafsu makan menurun
• Gejala neurologis: penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual, muntah dan kejang.
• Riwayat trauma tembus otak, pasca kraniotomi, infeksi telinga dan mastoid, infeksi hidung
dan sinus parasinus, infeksi gigi, pneumonia atau memiliki penyakit jantung bawaan.
PEMERIKSAAN FISIK
• Tanda vital
• Status generalis (head to toe) untuk mencari sumber infeksi
• Pemeriksaan neurologis berupa kesadaran, tanda rangsangan meningeal, nervus kranialis,
motorik, sensorik, refleks fisiologis dan patologis serta fungsi otonom
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Laboratorium :
 Darah : jumlah leukosit, protein C-reaktif, laju sedimentasi eritrosit, dan kultur darah
 Pungsi lumbal
• Radiologi : MRI/CT scan
Gambar 1. MRI Abses cerebri A. T1 fl2D B. T2 TSE Gambar 2. CT scan abses cerebri
TATALAKSANA
• letak abses dalam dan diameter <2 cm,
• Abses multiple
• status klinis pasien kontraindikasi untuk
dilakukan pembedahan
ANTIBIOTIK DRAINASE BEDAH
• jika diameter abses >2,5 cm, diikuti
dengan terapi antibiotik intravena
selama 6-8 minggu
Olorunmoteni OE, Onyia CU, Elusiyan JBE, Ugowe OJ, Babalola TE, Samuel I. Intracranial abscesses in children at Ile-Ife, Nigeria: a case series and review of
literature. Child’s Nervous System. 2020;36(8):1767-1771. doi:10.1007/s00381-020-04529-2
TATALAKSANA
• Sesuai dengan hasil kultur dan sensitivitas antibiotic
• Terapi empiris : kombinasi sefalosporin generasi ketiga dan metronidazole, atau dengan vancomycin untuk mencakupi S. aureus
yang resisten methicillin dan strain S. pneumonia yang resisten terhadap sefalosporin.
• Listeria monocytogenes pada neonatus : penisilin G atau ampisilin dengan gentamisin.
• Pada pasien immunocompromised : antibiotik spektrum luas, dan terapi amfoterisin B
• Abses cerebri yang disebabkan oleh jamur : amfoterisin B, voriconazole, dan fluconazole
ANTIBIOTIK & ANTIJAMUR
KORTIKOSTEROID
• Indikasi: jika terdapat edema
• Kontraindikasi: pada kasus tanpa adanya hipertensi intrakranial, karena risiko pembentukan kapsul yang tertunda, nekrosis, dan
efektivitas antibiotik yang lebih rendah.
• Penggunaan kortikosteroid telah dikaitkan dengan penurunan penetrasi antibiotik, penghambatan migrasi leukosit, penghambatan
pembentukan kapsul dengan peningkatan risiko ruptur intraventrikular, dan penurunan pertahanan host
Kanu OO, Ojo O, Esezobor C, et al. Pediatric brain abscess - etiology, management challenges and outcome in Lagos Nigeria. Surgical Neurology International. 2021;12.
doi:10.25259/SNI_605_2021
PROGNOSIS
Tingkat kematian abses cerebri pada anak berkisar antara 5-10% dengan penggunaan CT dan MRI yang
lebih luas, pemeriksaan mikrobiologi yang lebih baik, pemberian antibiotik yang cepat dan manajemen bedah,
Faktor yang berhubungan dengan angka kematian yang tinggi pada saat masuk rumah sakit termasuk
keterlambatan pemberian antibiotik, usia <1 tahun, abses multipel, dan koma. Sekuele jangka panjang
terjadi pada sekitar sepertiga dari yang sembuh dan termasuk hemiparesis, kejang, hidrosefalus, kelainan
saraf kranial, dan kesulitan belajar
Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1
TERIMA
KASIH

Abses cerebri.pptx

  • 1.
    DEPARTEMEN ILMU KESEHATANANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN ABSES CEREBRI PADA ANAK Baca Pustaka NAMA : Nur Aisyah NIM : C105202005
  • 2.
  • 3.
    PENDAHULUAN ABSES CEREBRI 0,3 -1,8 kasus per 100.000 penduduk per tahun INSIDENSI TINGKAT KEMATIAN berkisar antara 5-10%, dengan sekuele jangka panjang terjadi pada sekitar sepertiga PROGNOSIS Pemberian antibiotik dan manajemen bedah segera Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1 Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1
  • 4.
  • 5.
    DEFINISI Abses cerebri merupakanpenyakit infeksi lokal intrakranial yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, fungi, dan parasite, yang dimulai dengan fase cerebritis dan berkembang menjadi kumpulan nanah yang dikelilingi oleh kapsul Elsevier Point of Care. Clinical Overview Brain Abscess. 2021. https://www.clinicalkey.com/#!/content/clinical_overview/67-s2.0-be42d16a-1099-4bbd-a786-5cdf0346b2bb
  • 6.
    EPIDEMIOLOGI • Insidensi keseluruhanberkisar antara 0,3 - 1,8 kasus per 100.000 penduduk per tahun • Abses cerebri dilaporkan mencapai 8% dari semua lesi massa intracranial • 25% abses cerebri terjadi pada anak-anak • 50% terjadi pada populasi berusia 0-20 tahun Sahbudak Bal Z, Eraslan C, Bolat E, et al. Brain Abscess in Children: A Rare but Serious Infection. Clinical Pediatrics. 2018;57(5):574-579. doi:10.1177/0009922817733301
  • 7.
    FAKTOR RISIKO INFEKSI 01 telinga, sinus,dan gigi PENYAKIT KONGENITAL 02 penyakit jantung bawaan (PJB) dan fistula arteriovenosa paru INFEKSI 01 TRAUMA KEPALA 03 Riwayat trauma kepala dan bedah kepala IMUNOSUPRESIF 04 X-linked agammaglobulinemia ataupun dengan infeksi HIV Weinberg GA. Brain abscess. Pediatrics in Review. 2018;39(5):270-272. doi:10.1542/pir.2017-0147
  • 8.
    ETIOLOGI BAKTERI • Terbanyak: Streptococcus(S. anginosus, S. constellatus, dan S. intermedius), S. aureus • Pada neonates: Citrobacter koseri, Cronobacter sakazakii, Serratia marcescens, dan Proteus mirabilis • Pada PJB: S. aureus dan S. viridans • Aspergillus, Candida, Cryptococcus • Toxoplasma, Trypanosoma cruzi, Taenia solium, Entamoeba histolytica, Schistosoma spp., Microsporidia spp., dan Paragonimus spp JAMUR PARASIT Sahbudak Bal Z, Eraslan C, Bolat E, et al. Brain Abscess in Children: A Rare but Serious Infection. Clinical Pediatrics. 2018;57(5):574-579. doi:10.1177/0009922817733301
  • 9.
    PATOFISIOLOGI 40-50% kasus darisumber infeksi yang dekat (infeksi telinga, mastoid, dan sinus paranasal) 30-40% kasus secara hematogen dari abses gigi, endokarditis, infeksi paru, atau infeksi kulit • Lesi awal (1 sampai 2 minggu pertama): tanda-tanda inflamasi akut seperti kongesti vaskular dan edema lokal. • Setelah dua sampai tiga minggu, terjadi nekrosis dan likuifaksi  ditutupi oleh kapsul yang terdiri dari lapisan dalam jaringan granulasi, lapisan kolagen tengah, dan lapisan astroglial luar, yang disebut sebagai abses cerebri. Olorunmoteni OE, Onyia CU, Elusiyan JBE, Ugowe OJ, Babalola TE, Samuel I. Intracranial abscesses in children at Ile-Ife, Nigeria: a case series and review of literature. Child’s Nervous System. 2020;36(8):1767-1771. doi:10.1007/s00381-020-04529-2
  • 10.
    DIAGNOSIS ANAMNESIS • Gejala umum:demam, lesu, dan nafsu makan menurun • Gejala neurologis: penurunan kesadaran, nyeri kepala, mual, muntah dan kejang. • Riwayat trauma tembus otak, pasca kraniotomi, infeksi telinga dan mastoid, infeksi hidung dan sinus parasinus, infeksi gigi, pneumonia atau memiliki penyakit jantung bawaan. PEMERIKSAAN FISIK • Tanda vital • Status generalis (head to toe) untuk mencari sumber infeksi • Pemeriksaan neurologis berupa kesadaran, tanda rangsangan meningeal, nervus kranialis, motorik, sensorik, refleks fisiologis dan patologis serta fungsi otonom
  • 11.
    DIAGNOSIS PEMERIKSAAN PENUNJANG • Laboratorium:  Darah : jumlah leukosit, protein C-reaktif, laju sedimentasi eritrosit, dan kultur darah  Pungsi lumbal • Radiologi : MRI/CT scan Gambar 1. MRI Abses cerebri A. T1 fl2D B. T2 TSE Gambar 2. CT scan abses cerebri
  • 12.
    TATALAKSANA • letak absesdalam dan diameter <2 cm, • Abses multiple • status klinis pasien kontraindikasi untuk dilakukan pembedahan ANTIBIOTIK DRAINASE BEDAH • jika diameter abses >2,5 cm, diikuti dengan terapi antibiotik intravena selama 6-8 minggu Olorunmoteni OE, Onyia CU, Elusiyan JBE, Ugowe OJ, Babalola TE, Samuel I. Intracranial abscesses in children at Ile-Ife, Nigeria: a case series and review of literature. Child’s Nervous System. 2020;36(8):1767-1771. doi:10.1007/s00381-020-04529-2
  • 13.
    TATALAKSANA • Sesuai denganhasil kultur dan sensitivitas antibiotic • Terapi empiris : kombinasi sefalosporin generasi ketiga dan metronidazole, atau dengan vancomycin untuk mencakupi S. aureus yang resisten methicillin dan strain S. pneumonia yang resisten terhadap sefalosporin. • Listeria monocytogenes pada neonatus : penisilin G atau ampisilin dengan gentamisin. • Pada pasien immunocompromised : antibiotik spektrum luas, dan terapi amfoterisin B • Abses cerebri yang disebabkan oleh jamur : amfoterisin B, voriconazole, dan fluconazole ANTIBIOTIK & ANTIJAMUR KORTIKOSTEROID • Indikasi: jika terdapat edema • Kontraindikasi: pada kasus tanpa adanya hipertensi intrakranial, karena risiko pembentukan kapsul yang tertunda, nekrosis, dan efektivitas antibiotik yang lebih rendah. • Penggunaan kortikosteroid telah dikaitkan dengan penurunan penetrasi antibiotik, penghambatan migrasi leukosit, penghambatan pembentukan kapsul dengan peningkatan risiko ruptur intraventrikular, dan penurunan pertahanan host Kanu OO, Ojo O, Esezobor C, et al. Pediatric brain abscess - etiology, management challenges and outcome in Lagos Nigeria. Surgical Neurology International. 2021;12. doi:10.25259/SNI_605_2021
  • 14.
    PROGNOSIS Tingkat kematian absescerebri pada anak berkisar antara 5-10% dengan penggunaan CT dan MRI yang lebih luas, pemeriksaan mikrobiologi yang lebih baik, pemberian antibiotik yang cepat dan manajemen bedah, Faktor yang berhubungan dengan angka kematian yang tinggi pada saat masuk rumah sakit termasuk keterlambatan pemberian antibiotik, usia <1 tahun, abses multipel, dan koma. Sekuele jangka panjang terjadi pada sekitar sepertiga dari yang sembuh dan termasuk hemiparesis, kejang, hidrosefalus, kelainan saraf kranial, dan kesulitan belajar Janowski AB, Hunstad DA. Brain Abscess. Nelson Textbook of Pediatrics. 2020; Chapter 622, 3235-3236.e1
  • 15.