ASPEK KEPERILAKUAN DALAM AKUNTANSI
AKUNTANSI KEPERILAKUAN
KELOMPOK :
1. DIANA LESTARI 13030076
2. KHOIRINA NUR FARIDA 13030069
3. IFA FAHROTUNNISA 13030045
Kelas : Akuntansi NR-D
STIE YPPI REMBANG
Tahun Ajaran 2014 / 2015
1
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah
yang berjudul “ Aspek Keperilakuan dalam Akuntansi ” .
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
Akuntansi Keperilakuan . Dengan dosen pengampu Ibu SITI
ALIYAH, S.E.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya.Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat
dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan
ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Rembang, 2 Maret 2015
Penyusun
3
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
Bab II Pembahasan
A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada
Akuntansi
B. Bagaimana Dimensi Akuntansi Keperilakuan
C. Bagaimana Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu
Keperilakuan
D. Persamaan dan perbedaan ilmu keperilakuan
dan akuntansi keperilakuan
E. Perspektif berdasarkan perilaku manusia :
psikologi, sosiologi,dan psikologi sosial
Bab III Penutup
Kesimpulan
4
Daftar Pustaka
5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan
untuk menjadi dasar dalam memilih informasi yang relevan terhadap
pengambilan keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah
berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks.
Begitu pula dengan kemajuan dalam teknologi komputer akuntansi
yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat., tetapi
seberapa canggih pun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang
dapat disediakan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir kesempurnaan
teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk mengetahui bahwa
tujuan jasa akuntansi organisasi bukan hanya sekedar teknik yang
didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan
bergantung pada bagaimana perilaku orang orang didalam perusahaan,
baik sebagai pemakai maupun pelaksana.
B. Rumusan Masalah
A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada
Akuntansi
B. Bagaimana Dimensi Akuntansi Keperilakuan
C. Bagaimana Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu
Keperilakuan
D. Persamaan dan perbedaan ilmu keperilakuan dan
akuntansi keperilakuan
E. Perspektif berdasarkan perilaku manusia : psikologi,
sosiologi,dan psikologi sosial
5
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada
Akuntansi
Akuntansi adalah tentang manusia
Berdasarkan pemikiran perilaku manusia dan faktor sosial secara
jelas didesain dalam aspek – aspek operasional utama dari seluruh
sistem akuntansi. Belum pernah ada sudut pandang semacam itu dan
para akuntan belum pernah mengoperasikan perilaku pada sesuatu
yang vakum.
Para akuntan secara berkelanjutan membuat beberapa asumsi
mengenai bagaimana mereka membuat orang termotivasi, bagaimana
mereka menginterpretasikan dan menggunakan informasi akuntansi
dan bagaimana sistem akuntansi mereka sesuai dengan kenyataan
manusia dan memengaruhi organisasi. Jika akuntan berhubungan
dengan efektivitas dan prosedur perusahaan secara luas, maka mereka
juga selayaknya memonitor Ketepatan asumsi yang bersifat
kontradiktif terhadap apa yang mereka lihat dalam realitas perusahaan,
Kita harus mengakui bahwa tidak semua akuntan berkeinginan untuk
mengikuti logika argumentasi diatas. akuntansi adalah mengenai
akuntansi orang yang merasa optimis Dengan hal tersebut akan
membantah bahwa terdapat banyak reaksi perilaku yang tidak
menguntungkan terhadap sistem akuntansi hal Ini merupakan
konsekuensi dari apa yang berusaha dilakukan oleh para akuntan.
Untuk membuat pandangan ini menjadi adil, maka cara pandang
akuntan harus mengandung beberapa pandangan interegasi. Dalam
pandangan ini pengertian yang lebih mendalam dan berharga dapat
diperoleh dari pemahaman atas perilaku dan ilmu – ilmu sosial. Akan
6
7
tetapi,terdapat banyak teori psikologi ,sosiologi,politik serta organisasi
yang bersifat sementara dan banyak bidang penting yang dapat
ditemukan kadang kala bertentangan. Walaupun demikian, teori – teori
tersebut menawarkan hal hal penting bagi perluasan pandangan, paling
tidak dalam bagian dari proses yang berhubungan dengan pola sistem
akuntansi secara lebih luas atas perilaku manusia, dengan menganalisis
secara sistematis hubungan antara sistem akuntansi secara lebih luas
atas perilaku manusia. Dengan menganalisis secara sistematis
hubungan antara sistem akuntansi, bentuk pengendalian,sikap manusia
dan keputusan, serta tingkatan sosial dan perilaku, akuntan dapat
memusatkan perhatiannya keluar, sehingga hal tersebut tidak menjadi
dasar bagi munculnya konflik dan pertentangan dari Banyaknya
permasalahan akuntansi, tetapi juga tidak menyebabkan potensi
organisasi dan akuntansi sosial itu sendiri diragukan.
AKUNTANSI ADALAH TINDAKAN
Dalam organisasi, semua anggotanya mempunyai peran yang
harus dimainkan dalam mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut
Bergantung pada seberapa besar porsi tanggung jawab anggota
tersebut terhadap pencapaian tujuan, rasa tanggung jawab tersebut
pada sebagian organisasi dihargai dalam Bentuk penghargaaan
tertentu. Pencapaian tujuan dalam bentuk kuantitatif juga mer upakan
salah satu bentuk tanggung jawab anggota organisasi dalam memenuhi
keinginannya untuk mencapai tujuan dan Sasaran organisasi. peran
anggota organisasi sangat berpengaruh pada pencapaian tersebut. Jika
suatu anggaran telah ditetapkan untuk dilaksanakan oleh suatu unit
atau unit – unit kerja dalam organisasi, atau oleh organisasi tersebut
secara keseluruhan , maka anggaran itu akan berinteraksi dengan para
individu dalam organisasi tersebut , dimana masing – masing individu
itu mempunyai tujuannya masing – masing dan sekaligus bertanggung
jawab untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, keselarasan tujuan
( goal congruence ) Antara individu dan organisasi diperlukan untuk
mewujudkan terjadinya sinergi antara individu dan organisasi
Keselarasan tersebut akan dapat lebih diwujudkan manakala individu
memahami dan patuh pada ketetapan – ketetapan yang ada didalam
anggaran.
7
8
B. Dimensi Akuntansi Keperilakuan
Akuntansi, biasanya hanya terpusat pada pelaporan informasi
keuangan. pada beberapa dekade terakhir, para manajer dan akuntan
profesional mulai mengetahui akan tambahan Informasi ekonomi yang
dihasilkan oleh sistem akuntansi. Oleh karena itu informasi ekonomi
dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data – data keungan
saja, tetapi juga data – data non keuangan yang terkait dengan proses
pengambilan keputusan. Berdasarkan kondisi ini, adalah wajar jika
akuntansi sebaiknya memasukkan dimensi – dimensi keperilakuan dari
berbagai pihak yang terkait dengan informasi yang dihasilkan oleh
sistem akuntansi.
Dalam dimensi akuntansi keperilakuan terdapat dua bidang yang
harus diperhatikan :
1. LINGKUP AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Akuntansi Keperilakuan berada dibalik peran akuntansi tradisional
yang berarti mengumpulkan, mengukur,mencatat dan melaporkan
informasi keuangan. Dengan demikian,dimensi akuntansi berkaitan
dengan perilaku manusia dan juga dengan desain,kontruksi,serta
penggunaan suatu sistem informasi akuntansi yang efisien. Akuntansi
keperilakuan, dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku
manusia dan sistem akuntansi, mencerminkan dimensi sosial dan
budaya manusia dalam suatu organisasi
Ruang lingkup akuntansi keperilakuan sungguh luas, yang
meliputi antara lain :
 Aplikasi dari konsep ilmu keperilakuan terhadap desain
dan konstruksi sistem akuntansi
 Studi reaksi manusia terhadap format dan isi laporan
akuntansi
 Cara dengan mana informasi diproses untuk membantu
dalam pengambilan keputusan
 Pengembangan teknih pelaporan yang dapat
mengkomunikasikan perilaku para pemakai data
8
9
 Pengembangan strategi untuk memotivasi dan
memengaruhi perilaku,cita – cita, serta tujuan dari orang – orang yang
menjalankan organisasi
Lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga
besar :
 Pengaruh perilaku manusia berdasarkan
desain,konstruksi dan penggunaan sistem akuntansi. Bidang dari
akuntansi keperilakuan ini mempunyai kaitan dengan sikap dan filosofi
manajemen yang memengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi
yang berfungsi dalam organisasi.
 Pengaruh sitem akuntansi terhadap perilaku manusia
bidang dari akuntansi keperilakuan ini berkenaan dengan bagaimana
sistem akuntansi memengaruhi motivasi,produktivitas, pengambilan
keputusan, kepuasan kerja, serta kerja sama.
 Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah
perilaku manusia. Bidang ketiga dari akuntansi keperilakuan ini
mempunyai hubungan dengan cara sistem akuntansi digunakan
sehingga memengaruhi perilaku.
2. AKUNTANSI KEPERILAKUAN: PERLUASAN
LOGIS DARI PERAN AKUNTANSI TRADISIONAL
Pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan akuntansi
akan dapat menjadi lebih baik jika laporan tersebut banyak
mengandung informasi yang relevan. Akuntan mengakui adanya fakta
ini melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan
penuh ( full disclosure). Prinsip ini memerlukan penjelasan yang tidak
hanya berfungsi sebagai pengganti dan penambah informasi guna
mendukung laporan data keuangan perusahaan, tetapi juga sebagai
laporan yang menjelaskan kritik terhadap kejadian non keuangan.
Informasi tambahan ini dilaporkan baik dalam satu kerangka laporan
9
10
keuangan maupun dalam catatan atas laporan keuangan maupun dalam
catatan atas laporan keuangan perusahaan. Diperlukan suatu masukan
informasi keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain
yang segera dilaporkan, sukar untuk dipahami jika dikatakan bahwa
pengambil keputusan Tidak tertarik terhadap informasi yang relevan
karena menganggap bahwa informasi tersebut tidak memiliki nilai
tambah.
Beberapa ahli membantah pernyataan bahwa informasi pada
dimensi perilaku organisasi adalah tidak berguna bagi pengambil
keputusan internal dan eksternal. kekuatan para akuntan telah diakui
bahwa mereka memiliki pengalaman selama berabad – abad, dimana
mereka telah terbiasa dengan kebutuhan informasi dari pemakai
eksternal dan para manajer internal, proses kebutuhan bisnis yang
dibuat dan berbagai data keuangan yang dilaporkan yang terkait
dengan berbagai jenis situasi keputusan. Oleh karena itu para akuntan
yang berkualitas akan memilih gejala keperilakuan untuk data
keuangan. Lebih lanjut lagi para akuntan menjadi satu – satunya
kelompok yang secara logis mampu mengikutsertakan informasi
keperilakuan ke dalam laporan keuangan bisnis yang ada.
C. LINGKUP DAN SASARAN HASIL ILMU
KEPERILAKUAN
Siegel dan marcony ( 1989 ) menulis bahwa pada laporan tahun
1971, american accounting association’s committees bedasarkan pada
behavioral science content of the accounting curriculum
mengembangkan lingkup dan definisi dari “ ilmu keperilakuan “
sebagai berikut: Istilah ilmu keperilakuan adalah penemuan yang
relatif baru konsep tersebut begitu luasnya sehingga lebih baik lingkup
dan isinya digambarkan dari awal ilmu keperilakuan mencakup bidang
riset mana pun yang mempelajari bail melalui metode eksperimentasi
maupun observasi perilaku dari manusia dalam lingkungan fisik
maupun sosial. Agar dapat dianggap sebagai bagian dari ilmu
keperilakuan, riset tersebut harus memenuhi dua kriteria dasar,
pertama riset tersebut harus berkaitan dengan perilaku manusia. Tujuan
utama dari ilmu perilaku manusia adalah untuk mengidentifikasikan
kebiasaaan yang mendasari manusia dan konsekuensi yang
ditimbulkannya , kedua riset tersebut harus dilakukan “ secara ilmiah”
10
11
hal ini berarti harus ada suatu usaha sistematis yang
menggambarkan ,menghubungkan, menjelaskan dan oleh karena itu
memprediksikan sekelompok fenomena yaitu, kebiasaan yang
mendasari dalam perilaku manusia harus dapat diobservasi atau
mengarah pada dampak yang dapat diobservasi tujuan dari ilmu
keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan dan
memprediksikan perilaku manusia smpai pada generalisasi yang
ditetapkan mengenai perilaku manusia yang didukung oleh bukti
empiris yang dikumpulkan secara impersonal melalui prosedur yang
terbuka untuk peninjauan maupun replikasi dan dapat diverifikasi oleh
ilmuwan lainnya yang tertarik, dengan demikian ilmu keperilakuan
mencerminkan observasi sistematis atas perilaku manusia dengan
tujuan untuk mengonfirmasikan hipotesis tertentu secara eksperimental
melalui referensi terhadap perubahan perilaku yang dapat diobservasi.
Bernard berelson dan G.A stainer juga menjelaskan secara singkat
mengenai definisi keperilakuan yaitu sebagai suatu riset ilmiah yang
berhadapan secara langsung dengan perilaku manusia. Definisi ini
menangkap permasalahan inti dari ilmu keperilakuan yaitu riset ilmiah
(scientific research ) dan perilaku manusia (human behavior ) Ilmu
keperilakuan adalah bagian dari ilmu sosial manusia ilmu sosial
meliputi disiplin ilmu antropologi,ekonomi,sejarah,politik,psikologi
dan sosiologi ilmu keperilakuan meliputi psikologi dan sosiologi,aspek
ekonomi keperilakuan dan ilmu pengetahuan politik serta aspek
antropologi keperilakuan. Akuntan keperilakuan percaya bahwa tujuan
utama laporan akuntansi adalah untuk memengaruhi perilaku dalam
rangka memotivasi tindakan yang diinginkan, sebagai contoh suatu
perusahaan bisa berhasil dalam merundingkan kerja sama dengan
kelompok organisasi lainnya dengan baik atau mungkin akan menjadi
gagal karena orang – orang diorganisasi tersebut berjalan ke arah
tujuan yang berlawanan semua kondisi ini sangat dimungkinkan
karena bentuk dan isi dari laporan anggaran mungkin telah
melemahkan produktifitas karyawan, sehingga pada akhirnya
menyebabkan orang – orang tidak dapat bekerja secara bersama –
sama mereka mungkin bahkan menciptakan konflik internal dan
memprakasai kepuasan individu. Pengenalan hubungan timbal balik
antara alat akuntansi dan perilaku memunculkan modifikasi atas
definisi akuntansi konvensional. Definisi akuntansi terbaru dalam
lingkaran profesional akademis menyiratkan komunikasi dan
11
12
pengukuran data ekonomi untuk berbagai pengambilan keputusan serta
sasaran hasil keperilakuan lainnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ILMU
KEPERILAKUAN DAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN
Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan
prediksi keperilakuan manusia. Akuntansi keperilakuan
menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan akuntansi. Para
akuntan bertanya – tanya mengenai apa pengaruh dari mengerjakan
proses akuntansi ketika individu dan perilaku dikumpulkan dan apa
pengaruh perilaku manusia berdasarkan proses akuntansi ?? para
akuntan keperilakuan juga merasa tertarik untuk melihat bagaimana
keperilakuan dapat memengaruhi perubahan atas cara akuntansi
dilaksanakan dan bagaimana prosedur laporan akuntansi dapat
digunakan lebih efektif untuk membantu individu dan organisasi dalam
mencapai tujuannya sementara ilmu keperilakuan merupakan bagian
dari ilmu sosial akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu
akuntansi dan pengetahuan keperilakuan oleh karena itu ilmu
keperilakuan terlibat dalam riset terhadap aspek – aspek teori motivasi
kepuasan sosial maupun bentuk sikap, sementara akuntan keperilakuan
menerapkan unsur – unsur khusus dari riset atau teori tersebut untuk
menghasilkan hubungan dengan situasi akuntansi yang ada tetapi para
akuntan keperilakuan tidak akan mempelajari aspek tersebut, karena
sebagian berada diluar batasan akuntansi meskipun demikian temuan
studi antropologi membuktikan relevansi dalam menjelaskan hubungan
antara orang – orang dan sistem akuntansi sehingga oleh karena itu
para akuntan keperilakuan perlu mempertimbangkan dengan seksama.
Akuntansi keperilakuan diterapkan dengan praktis menggunakan riset
ilmu keperilakuan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku
manusia. Akuntansi selalu menggunakan konsep,prinsip dan
pendekatan dari disiplin ilmu lainnya untuk meningkatkan
kegunaannya sebagai contoh : akuntansi meminjam dengan bebas dari
ilmu ekonomi, matematika,statistik, dan informasi teknik, oleh karena
itu tidaklah mengherankan jika akuntansi juga meminjam dari ilmu
keperilakuan Suatu pertanyaan yang beralasan adalah apakah seorang
akuntan keperilakuan dalam kenyataanya merupakan seorang ilmuwan
keperilakuan terapan??? Adalah benar bahwa pekerjaan para akuntan
keperilakuan dan ilmuwan keperilakuan terapan saling tumpang tindih
12
13
dalam beberapa bidang kedua kelompok tersebut menggunakan prinsip
sosiologi dan psikologis untuk menilai dan memecahkan permasalahan
organisasi, terdapat aspek – aspek tertentu dalam sosiologi organisasi
psikologi industri, peran teori atau pendalaman teori yang akan
menarik perhatian Baik dari para akuntan keperilakuan maupun dari
ilmuwan keperilakuan terapan namun terdapat perbedaan penting
antara kedua golongan tersebut dalam hubungannya dengan sasaran
hasil, fokus pendidikan,keahlian dan fungsi masing – masing.
Akuntansi adalah fungsi profesi dan adalah sangat diinginkan agar
para akuntan menjadi terlatih untuk memikirkan tindakan secara
profesional pelatihan ini berbeda dari pengalaman yang dilihat oleh
para ilmuwan .
E. PERSPEKTIF BERDASARKAN PERILAKU
MANUSIA : PSIKOLOGI, SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SOSIAL.
Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha untuk
mengukur,menjelaskan dan terkadang untuk mengubah perilaku
manusia. para psikologi memerhatikan,mempelajari dan berupaya
memahami perilaku individual. Mereka yang telah menyumbangkan
dan terus menambah pengetahuan tentang perilaku organisasi adalah
teoritikus kepribadian, psikologi konseling dan yang paling penting
adalah psikologi industri dan organisasi. psikologi industri atau
organisasi awal memerhatikan masalah kelemahan, kebosanan dan
faktor – faktor lain yang relevan dengan kondisi kerja yang dapat
menghalangi kinerja yang diharapkan.
Sedangkan sosiologi mempelajari orang – orang dalam
hubungannya dengan sesama manusia, secara spesifik, sosiologi telah
memberikan kontribusi yang besar pada perilaku organisasi melalui
studi mereka terhadap perilaku kelompok dalam organisasi, terutama
organisasi yang formal dan relatif rumit. Psikologi sosial adalah suatu
bidang kajian didalam psikologi tetapi memadukan konsep – konsep
baik dari psikologi maupun sosiologi.
Psikologi sosial memfokuskan pada pengaruh satu –satu terhadap
orang lain. Salah satu bidang utama adalah bagaimana melaksanakan
pengaruh tersebut dan bagaimana mengurangi hambatan terhadap
penerimaannya disamping itu dapat dilihat bahwa para psikologi sosial
memberikan sumbangan yang berarti dalam bidang pengukuran,
13
14
pemahaman dan perubahan sikap pola komunikasi cara – cara dengan
mana kegiatan kelompok dapat memuaskan kebutuhan individu serta
proses pengambilan keputusan kelompok. Ketiga hal tersebut yaitu
psikologi,sosiologi, dan psikologi sosial menjadi kontributor utama
dari ilmu keperilakuan, ketiganya melakukan pencarian untuk
menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia walaupun secara
keseluruhan mereka memiliki perspektif yang berbeda mengenai
kondisi manusia psikologi terutama merasa tertarik dengan bagaimana
cara seorang individu bertindak fokusnya didasarkan pada tindakan
orang – orang ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam
lingkungan mereka dan perilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya
dengan ciri,arah dan motivasi individu keutamaan psikologi didasarkan
pada seseorang sebagai suatu organisasi. Sarjana sosiologi psikologi
sosial dan psikologi meskipun berbeda dalam perspektif banyak
melakukan studi atas topik yang sama, sebagai contoh didalam
menjelaskan perilaku dari pengendalian perusahaan, psikologi akan
terpusat pada ciri kepribadian individu, tekanan,kebimbangan, harapan
dan motivasi Sebaliknya sosiologi dan psikologi sosial akan
memusatkan pada sturktur sosial sosialisasi anggota kelompok, peran
norma – norma dan pola komunikasi sarjana sosiologi menetapkan
bahwa orang – orang tidak bisa diberi konteks pelajaran sosial mereka
orang – orang belajar keterampilan dari hal hal yang paling mendasar.
BEBERAPA HAL PENTING DALAM PERILAKU ORGANISASI
 Teori peran
 Struktur sosial
 Budaya
 Komitmen organisasi
 Konflik peran
 Konflik kepentingan Pemberdayaan karyawan
Penjelasannya :
 Teori peran
14
15
Peran merupakan komponen perilaku nyata yang disebut norma,
norma – norma adalah harapan dan kebutuhan perilaku yang sesuai
untuk suatu peranan tertentu tiap –tiap peran berhubungan dengan
suatu identitas yang menggambarkan individu dalam hal bagaimana
mereka perlu bertindak dalam situasi khusus sebenarnya kita melihat
diri kita dalam hubungannya dengan sikap orang lain dalam menjaga
arah jika orang – orang berfikir dan menganggap kita memiliki suatu
kemampuan kita cenderung mempercayai hal itu, jika ternyata orang –
orang tersebut berfikir dengan cara lain kita juga akan cenderung
mempercayai juga sejumlah orang mempunyai peran identitas
bergantung pada situasi dimana mereka menemukan diri mereka satu
aspek penting dari teori peran adalah bahwa identitas dan perilaku
dianugerahkan secara sosial kepada dukungan sosial, posisi seseorang
yang menduduki suatu organisasi formal atau suatu kelompok informal
membawa pola perilaku bersama yang diharapkan.
 Struktur sosial
Untuk mencakup sejumlah aturan dalam perilaku manusia, konsep
masyarakat dan budaya perlu dipertimbangkan masyarakat mungkin
digambarkan sebagai penjumlahan dari total hubungan manusia
konsep masyarakat menyiratkan suatu kesinambungan dan
kompleksitas atas hubungan kelembagaan dan hubungan antarpribadi.
Sistem masyarakat sosial merupakan perhatian utama para akuntan
keperilakuan dalam organisasi bisnis atau masyarakat bisnis, didalam
sistem sosial ini masih ada subsistem dan kelompok manusia saling
berhubungan dan menarik perhatian para akuntan keperilakuan, disini
tampak bahwa suatu konsep sistem yang digunakan dalam ilmu
keperilakuan ternyata digunakan pula oleh ilmu pengetahuan lain
dengan mengacu kepada suatu bentuk yang menghubungkan satu
bagian dengan bagian lain serta bagian – bagian yang saling
bergantung selanjutnya baru dapat berbicara mengenai sistem
matahari, sistem biologi atau sistem sosial, pola teladan dari berbagai
bagian subsistem yang beroperasi dikenal sebagai struktur sistem
memasukkan struktur sosial yang mengacu pada hubungan yang
dipolakan antara berbagai subsistem sosial dan individu
15
16
memungkinkanya berfungsi bagi masyarakat, organisasi sosial atau
kelompok sosial.
 BUDAYA
Budaya merupakan satu titik pandang yang pada saat bersamaan
dijadikan jalan hidup oleh suatu masyarakat, tidak terdapat masyarakat
tanpa suatu budaya dan budaya tidak ada diluar suatu masyarakat jika
demikian maka budaya atau jalan hidup meliputi sistem kepercayaan
umum yang sesuai dengan harapan gaya perilaku atau pemikiran dan
pengetahuan teknis Serta menentukan cara melakukan sesuatu budaya
memengaruhi pola teladan perilaku manusia yang teratur karena
budaya menggambarkan perilaku yang sesuai untuk situasi tertentu
Aspek budaya yang terpenting adalah memastikan kehidupan manusia
baik secara fisik maupun secara sosial tidak seperti dengan kehidupan
makhluk lain yang semata – mata bergantung pada bakat, manusia
hidup terutama hanya atas dasar apa yang mereka pelajari manusia
adalah makhluk yang memiliki budaya, Dengan demikian akuntan
perilaku harus menyadari akan gagasan untuk budaya dalam beberapa
peristiwa, budaya dipelajari dari orang lain dan dibagikan kepada
orang lain apa yang kita ketahui dan bagaimana tindakan kita kadang
kala didasarkan pada penerimaan informasi dari orang tua, panutan,
guru, rekan sekerja, dan para penyedia pekerjaan. Untuk memahami
perilaku dalam suatu aturan organisasi, seorang akuntan keperilakuan
harus menyadari gagasan mengenai budaya, dalam beberapa peristiwa
budaya organisasi dikenal sebagai suatu lingkungan pekerjaan yang
mewujudkan iklim organisasi dalam budaya bisnis akan berlaku sistem
etika bisnis praktik bisnis, pengetahuan teknis dan perangkat keras
yang memengaruhi perilaku. Budaya telah didefinisikan dengan
berbagai cara namun sampai sekarang belum dapat ditentukan
definisinya secara pasti budaya merupakan norma – norma dan nilai –
nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi setiap anggota
akan berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku agar diterima
dilingkungan tersebut .
budaya dapat dipecah menjadi 3 faktor mendasar :
 Struktural
16
17
 Politis
 emosional
faktor struktural ditentukan oleh ukuran – ukuran, seperti umur
dan sejarah perusahaan, tempat operasi, serta lokasi geografis
perusahaan dalam satu jenis industri. Faktor politis ditentukan oleh
distribusi kekuasaan dan cara pengambilan keputusan manajerial.
Sedangkan faktor emosional merupakan pemikiran kolektif, kebiasaan,
sikap, perasaan, dan pola pola perilaku.
Menurut Hofstede ( 1980, 1991 ) ada empat dimensi budaya
nasional sebagai :
1. Jarak kekuasaan ( power distance )yaitu sejauh mana
orang percaya bahwa kekuasaan dan status didistribusikan secara
merata dan bagaimana orang menerima distribusi kekuasaan yang
tidak merata tersebut cara yang tepat untuk mengorganisasikan sistem
sosial.
2. Penghindaran ketidakpastian ( uncertain avoidance )
yaitu sejauh mana orang merasa terancam dengan keadaan yang tidak
tertentu atau tidak diketahui.
3. Maskulinitas dan feminisitas ( masculinity and
femininity )
Maskulinitas adalah suatu situasi yang ditandai dengan adanya
nilai – nilai yang dominan dalam masyarakat yang lebih menekankan
dan mementingkan uang,harta benda atau materi.
Feminisitas adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai – nilai
yang dominan dalam masyarakat yang lebih menekankan pada
pentingnya hubungan antar – manusia, kepedulian orang lain dan
ketentraman hidup
4. Individualisme dan kolektivisme ( individualism and
collectivism ) individualisme adalah situasi yang
menjelaskan orang orang dalam suatu masyarakat cenderung untuk
memerhatikan dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja
17
18
Kolektivisme adalah situasi yang menjelaskan orang – orang
dalam masyarakat yang cenderung untuk merasa memiliki ikatan yang
kuat dengan satu kelompok cenderung memedulikan dan melindungi
anggotanya dan mengharapkan kesetiaan terhadap kelompok tersebut.
 KOMITMEN ORGANISASI
Komitmen organisasi merupakan tingkat sampai sejauh mana
seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan –
tujuannya serta berniat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam
organisasi itu komitmen organisasi juga merupakan nilai personal yang
kadang – kadang mengacu pada sikap loyal pada perusahaan atau
komitmen pada perusahaan sering kali komitmen organisasional
diartikan secara individu dan berhubungan dengan keterlibatan orang
tersebut pada organisasi tersebut Robinson mengemukakan bahwa
komitmen karyawan pada organisasi merupakan salah satu sikap yang
mencerminkan perasaan suka atau tidak suka seorang karyawan
terhadap organisasi tempat dia bekerja tiga karakteristik yang
berhubungan dengan komitmen organisasi menurut cherrington
( 1996 ) adalah :
1) Keyakinan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai dan
tujuan organisasi
2) Kemauan untuk sekuat tenaga melakukan yang
diperlukan untuk kepentingan organisasi
3) Keinginan yang kuat untuk menjaga keanggotaan dalam
organisasi.
Spark dan shelby (1998) melalui sampel riset atas para manajer
pemasaran mengemukakan bahwa komitmen organisasi mempunyai
hubungan dengan orientasi etika dan sensivitas etika. Hasil riset
didukung oleh riset lain yang dilakukan sebelumnya oleh beau dan
yamoor ( 1985 ) dengan unit analisis pada Dokter gigi oleh Volker
(1984) dengan profesi konsultan manajemen dan oleh Shaub (1989)
dengan profesi akuntan publik
Meyer dan Allen (1991, 1997 ) mengemukakan tiga komponen
mengenai komitmen organisasi yang antara lain adalah :
18
19
 Komitmen aktif ( acffective commitment )
terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi
karena adanya ikatan emosional atau psikologis terhadap organisasi .
 Komitmen kontinu (continuance commitment )
karena muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu
organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan lain atau karena
karyawan tersebut tidak menemukan pekerjaan lain, dengan kata lain
karyawan tersebut tinggal diorganisasi itu karena dia membutuhkan
organisasi tersebut.
 Komitmen normatif ( normative commitment )
timbul dari nilai - nilai diri karyawan bertahan menjadi anggota
suatu organisasi karena memiliki kesadaran bahwa komitment terhadap
organisasi merupakan hal yang memang seharusnya dilakukan jadi
karyawan tersebut tinggal diorganisasi itu karena dia merasa
berkewajiban untuk itu.
Dari ketiga jenis komitmen tersebut komitmen efektif adalah jenis
yang paling diinginkan oleh perusahaan karyawan yang memiliki
loyalitas yaitu karyawan yang mempunyai komitmen efektif akan
cenderung tetap ( bekerja dalam perusahaan ) mereka akan
merekomendasikan kepada orang lain bahwa tempat kerjanya
merupakan tempat yang bagus, mereka akan dengan sukarela
melakukan pekerjaan tambahan untuk perusahaan dan memberikan
saran – saran bagi perbaikan serta kemajuan organisasi.
 KONFLIK PERAN
Menurut Wolfe dan Snoke ( 1962) konflik peran timbul karena
adanya dua “perintah “ berbeda yang diterima secara bersamaan dan
pelaksaan atas salah satu perintah saja akan mengakibatkan
diabaikannya perintah yang lain seorang profesional dalam
melaksanakan tugasnya terutama ketika menghadapi suatu masalah
tertentu sering menerima dua perintah sekaligus perintah pertama
berasal dari kode etik profesi sedangkan perintah kedua berasal dari
sistem pengendalian yang berlaku diperusahaan apabila seorang
profesional bertindak sesuai dengan kode etik maka ia akan maka ia
19
20
akan merasa tidak berperan sebagai karyawan perusahaan yang baik
sebaliknya apabila ia bertindak sesuai dengan prosedur yang
ditentukan oleh perusahaan maka ia akan merasa telah bertindak secara
tidak profesional kondisi seperti inilah yang disebut dengan konflik
peran yaitu suatu konflik yang timbul karena mekanisme pengendalian
birokratis organisasi tidak sesuai dengan norma aturan etika dan
kemandirian profesional misalnya saja dalam lingkungan kerja akuntan
publik konflik peran berhubungan dengan adanya dua rangkaian
tuntutan bertentangan tanpa pengetahuan mengenai struktur audit yang
baku staf akuntan mempunyai kecenderungan untuk mengalami
kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Konflik peran merupakan
suatu gejala psikologis yang dialami oleh anggota organisasi yang bisa
menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan berpotensi untuk
menurunkan motivasi kerja konflik peran mempunyai dampak yang
negatif terhadap perilaku karyawan seperti timbulnya ketegangan
kerja, penurunan komitmen pada organisasi dan penurunan kinerja
secara keseluruhan.
 KONFLIK KEPENTINGAN
Mas’ud (2002) menjelaskan bahwa organisasi diBarat dibangun
berdasarkan prinsip depersonalisasi yang merupakan salah satu prinsip
birokrasi hal ini kemudian diperkuat oleh praktik manajemen ilmiah
yang dipelopori oleh taylor sistem ciptaan taylor banyak diterapkan
dalam bisnis seperti perusahaan general motors dimana jam kerja telah
dibagi dalam periode enam menit tugas tugas telah diberikan dengan
hati – hati sehingga para pekerja dinilai berdasarkan hasil kerja selama
enam menit tersebut selama proses yang paling efisien berjalan
masalah para pekerja yang diabaikan dala pengambilan keputusan
dianggap tidak relevan. Disamping itu menurut prinsip manajemen
yang dikemukakan oleh henry (1914), yakni prinsip no. 6 kepentigan
pribadi atau kelompok harus tunduk kepada kepentingan organisasi
secara keseluruhan maka sudah sangat dipahami bila dalam praktik
bisnis demi kepentingan orang yang lebih banyak atau organisasi
manajemen harus memutuskan hubungan kerja dengan seorang atau
beberapa orang karyawan walaupun karyawan tersebut mungkin telah
selama puluhan tahun ikut serta dalam mengembangkan dan
membesarkan perusahaan karena menganut pandangan bahwa urusan
pribadi harus dipisahkan dari bisnis serta bahwa kepentingan
20
21
perusahaan harus lebih didahulukan daripada kepentingan pribadi
maka banyak eksekutif yang sukses dalam memimpin dan mengatur
perusahaan tetapi gagal dalam memimpin dan mengatur keluarga.
Banyak bukti riset yang menunjukkan bahwa konflik kepentingan
pekerja dan keluarga sangat merugikan karyawan dan perusahaan,
konflik kerja dan keluarga cenderung berpengaruh negatif terhadap
kinerja karyawan hasil – hasil riset tersebut merekomendasikan
perlunya manajemen perusahaan untuk mengambil kebijakan yang
menginterpretasikan kepentingan pekerjaan dengan kepentingan
pribadi.
 PEMBERDAYAAN KARYAWAN
Mas’ud ( 2002 ) menuliskan bahwa terdapat beberapa faktor Yang
mendorong organisasi dalam melaksanakan pemberdayaan beberapa
diantaranya adalah :
 Tuntutan pelanggan yang semakin tinggi terhadap kualitas
produk maupun layanan jaminan keamanan
 Perlindungan konsumen Persaingan dalam efisiensi dan inovasi
produk
 Penggunaan teknologi baru yang canggih
 Peraturan pemerintah
Akan tetapi dalam praktik terdapat banyak pengertian mengenai
apa yang dimaksud Pemberdayaan dan bagaimana cara untuk
melakukan pemberdayaan hal ini disebabkan oleh banyaknya definisi
atau pengertian yangdiberikan oleh para ahli berbagai literatur namun
terdapat kesamaan dalam hal maksud dilakukannya pemberdayaan
dalam organisasi yaitu antara lain untuk :
a) Meningkatkan motivasi guna mengurangi kesalahan Dan
mendorong karyawan untuk bertanggung jawab terhadap
tindakannya.
b) Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan
inovasi
c) Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa
21
22
d) Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mendekatkan
karyawan terhadap pelanggan sehingga karyawan dapat melayani
dengan lebih baik
e) Meningkatkan kesetiaan pada saat yang sama
mengurangi tingkat kemangkiran
f)Mendorong kerja sama yang lebih baik dengan sesama rekan
kerja dalam meningkatkan pengawasan dan produktivitas
g) Mengurangi tugas pengoawasan (pengendalian) dari
manajemen menengah dalam pekerjaan operasional sehari – hari para
manajer lebih mempunyai waktu dan perhatian terhadap masalah yang
lebih besar.
h) Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan
menghadapi perubahan suksesidan tuntutan persaingan
i)Meningkatkan daya saing bisnis
Untuk melaksanakan pemberdayaan tersebut biasanya organisasi
kemudian menyusun dan menentukan visi serta misi organisasi
disamping itu perusahaan melaksanakan pula perencanaan strategis
dan berbagai macam pelatihan berkaitan dengan pemberdayaan seperti
membangun kerja sama tim, pemberdayaan kepemimpinan dan
motivasi, kepekaan emosional ditempat kerja peningkatan kualitas
terus – menerus, pelatihan keterampilan khusus yang berkaitan dengan
pekerjaan dan lain sebagainya.
Bab. III Penutup
KESIMPULAN :
Pada bagian ini telah didiskusikan mengenai ilmu keperilakuan
pada masa lalu para akuntan semata – mata fokus pada pengukuran
pendapatan dan biaya yang berusaha untuk mempelajari pencapaian
22
23
kinerja perusahaan dimasa lalu dalam rangka memprediksikan masa
depan ilmu pengetahuankeperilakuan mempunyai kaitan dengan
penjelasan dan prediksi mengenai keperilakuan manusia dan akuntansi
keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dan
akuntansi. Sementara ilmu pengetahuan keperilakuan merupakan
bagian dari ilmu sosial akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari
ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan. Oleh karena itu
ilmuwan keperilakuan terlibat dalam riset terhadap aspek – aspek teori
motivasi,kepuasan sosial maupun bentuk sikap. Para akuntan
keperilakuan bagaimana pun juga akan menerapkan unsur – unsur
khusus dari riset atau teori ini untuk menghasilkan hubungan dengan
situasi yang ada . akuntansi keperilakuan praktis diterapkan dengan
menggunakan riset ilmu keperilakuan untuk menjelaskan dan
memprediksi perilaku manusia, akuntansi selalu menggunakan
konsep,prinsip, dan pendekatan dari disiplin ilmu lainnya untuk
meningkatkan kegunaannya sebagai contoh : akuntansi meminjam
dengan bebas dari ilmu ekonomi,matematika,statistik dan informasi
teknik.
DAFTAR PUSTAKA
oAranya,dkk.1990 “Accounting information and the outcome of
collective bargaining: someexplanatory evidance,” behavioral research
in accounting, 2:31
oBamber,snowball dan tubbs,1989.
23
24
oCherrington,1994.” Organizational behavior,” edisi kedua, oleh
Allyn dan Bacon.
oHenry Fayol,1914 industrial and general
administration,paris:Dirrad.
oMas’ud, Fuad,2002.”40 Mitos manajemen sumber daya
manusia” , Universitas Diponegoro.
oRobinson ,1996
oRobins,Stephens,1996.perilaku organisasi,edisi kedelapan, jilid 1
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31

2.makalah aspek keperilakuan

  • 1.
    ASPEK KEPERILAKUAN DALAMAKUNTANSI AKUNTANSI KEPERILAKUAN KELOMPOK : 1. DIANA LESTARI 13030076 2. KHOIRINA NUR FARIDA 13030069 3. IFA FAHROTUNNISA 13030045 Kelas : Akuntansi NR-D STIE YPPI REMBANG Tahun Ajaran 2014 / 2015 1
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurpenyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ Aspek Keperilakuan dalam Akuntansi ” . Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Keperilakuan . Dengan dosen pengampu Ibu SITI ALIYAH, S.E. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Rembang, 2 Maret 2015 Penyusun
  • 3.
    3 DAFTAR ISI Kata Pengantar DaftarIsi Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah Bab II Pembahasan A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada Akuntansi B. Bagaimana Dimensi Akuntansi Keperilakuan C. Bagaimana Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan D. Persamaan dan perbedaan ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan E. Perspektif berdasarkan perilaku manusia : psikologi, sosiologi,dan psikologi sosial Bab III Penutup Kesimpulan
  • 4.
  • 5.
    5 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Peningkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan untuk menjadi dasar dalam memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yang kompleks. Begitu pula dengan kemajuan dalam teknologi komputer akuntansi yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat., tetapi seberapa canggih pun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir kesempurnaan teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk mengetahui bahwa tujuan jasa akuntansi organisasi bukan hanya sekedar teknik yang didasarkan pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan bergantung pada bagaimana perilaku orang orang didalam perusahaan, baik sebagai pemakai maupun pelaksana. B. Rumusan Masalah A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada Akuntansi B. Bagaimana Dimensi Akuntansi Keperilakuan C. Bagaimana Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan D. Persamaan dan perbedaan ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan E. Perspektif berdasarkan perilaku manusia : psikologi, sosiologi,dan psikologi sosial 5
  • 6.
    6 BAB II PEMBAHASAN A. MempertimbangkanAspek Keperilakuan pada Akuntansi Akuntansi adalah tentang manusia Berdasarkan pemikiran perilaku manusia dan faktor sosial secara jelas didesain dalam aspek – aspek operasional utama dari seluruh sistem akuntansi. Belum pernah ada sudut pandang semacam itu dan para akuntan belum pernah mengoperasikan perilaku pada sesuatu yang vakum. Para akuntan secara berkelanjutan membuat beberapa asumsi mengenai bagaimana mereka membuat orang termotivasi, bagaimana mereka menginterpretasikan dan menggunakan informasi akuntansi dan bagaimana sistem akuntansi mereka sesuai dengan kenyataan manusia dan memengaruhi organisasi. Jika akuntan berhubungan dengan efektivitas dan prosedur perusahaan secara luas, maka mereka juga selayaknya memonitor Ketepatan asumsi yang bersifat kontradiktif terhadap apa yang mereka lihat dalam realitas perusahaan, Kita harus mengakui bahwa tidak semua akuntan berkeinginan untuk mengikuti logika argumentasi diatas. akuntansi adalah mengenai akuntansi orang yang merasa optimis Dengan hal tersebut akan membantah bahwa terdapat banyak reaksi perilaku yang tidak menguntungkan terhadap sistem akuntansi hal Ini merupakan konsekuensi dari apa yang berusaha dilakukan oleh para akuntan. Untuk membuat pandangan ini menjadi adil, maka cara pandang akuntan harus mengandung beberapa pandangan interegasi. Dalam pandangan ini pengertian yang lebih mendalam dan berharga dapat diperoleh dari pemahaman atas perilaku dan ilmu – ilmu sosial. Akan 6
  • 7.
    7 tetapi,terdapat banyak teoripsikologi ,sosiologi,politik serta organisasi yang bersifat sementara dan banyak bidang penting yang dapat ditemukan kadang kala bertentangan. Walaupun demikian, teori – teori tersebut menawarkan hal hal penting bagi perluasan pandangan, paling tidak dalam bagian dari proses yang berhubungan dengan pola sistem akuntansi secara lebih luas atas perilaku manusia, dengan menganalisis secara sistematis hubungan antara sistem akuntansi secara lebih luas atas perilaku manusia. Dengan menganalisis secara sistematis hubungan antara sistem akuntansi, bentuk pengendalian,sikap manusia dan keputusan, serta tingkatan sosial dan perilaku, akuntan dapat memusatkan perhatiannya keluar, sehingga hal tersebut tidak menjadi dasar bagi munculnya konflik dan pertentangan dari Banyaknya permasalahan akuntansi, tetapi juga tidak menyebabkan potensi organisasi dan akuntansi sosial itu sendiri diragukan. AKUNTANSI ADALAH TINDAKAN Dalam organisasi, semua anggotanya mempunyai peran yang harus dimainkan dalam mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut Bergantung pada seberapa besar porsi tanggung jawab anggota tersebut terhadap pencapaian tujuan, rasa tanggung jawab tersebut pada sebagian organisasi dihargai dalam Bentuk penghargaaan tertentu. Pencapaian tujuan dalam bentuk kuantitatif juga mer upakan salah satu bentuk tanggung jawab anggota organisasi dalam memenuhi keinginannya untuk mencapai tujuan dan Sasaran organisasi. peran anggota organisasi sangat berpengaruh pada pencapaian tersebut. Jika suatu anggaran telah ditetapkan untuk dilaksanakan oleh suatu unit atau unit – unit kerja dalam organisasi, atau oleh organisasi tersebut secara keseluruhan , maka anggaran itu akan berinteraksi dengan para individu dalam organisasi tersebut , dimana masing – masing individu itu mempunyai tujuannya masing – masing dan sekaligus bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, keselarasan tujuan ( goal congruence ) Antara individu dan organisasi diperlukan untuk mewujudkan terjadinya sinergi antara individu dan organisasi Keselarasan tersebut akan dapat lebih diwujudkan manakala individu memahami dan patuh pada ketetapan – ketetapan yang ada didalam anggaran. 7
  • 8.
    8 B. Dimensi AkuntansiKeperilakuan Akuntansi, biasanya hanya terpusat pada pelaporan informasi keuangan. pada beberapa dekade terakhir, para manajer dan akuntan profesional mulai mengetahui akan tambahan Informasi ekonomi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi. Oleh karena itu informasi ekonomi dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data – data keungan saja, tetapi juga data – data non keuangan yang terkait dengan proses pengambilan keputusan. Berdasarkan kondisi ini, adalah wajar jika akuntansi sebaiknya memasukkan dimensi – dimensi keperilakuan dari berbagai pihak yang terkait dengan informasi yang dihasilkan oleh sistem akuntansi. Dalam dimensi akuntansi keperilakuan terdapat dua bidang yang harus diperhatikan : 1. LINGKUP AKUNTANSI KEPERILAKUAN Akuntansi Keperilakuan berada dibalik peran akuntansi tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur,mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Dengan demikian,dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia dan juga dengan desain,kontruksi,serta penggunaan suatu sistem informasi akuntansi yang efisien. Akuntansi keperilakuan, dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dan sistem akuntansi, mencerminkan dimensi sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi Ruang lingkup akuntansi keperilakuan sungguh luas, yang meliputi antara lain :  Aplikasi dari konsep ilmu keperilakuan terhadap desain dan konstruksi sistem akuntansi  Studi reaksi manusia terhadap format dan isi laporan akuntansi  Cara dengan mana informasi diproses untuk membantu dalam pengambilan keputusan  Pengembangan teknih pelaporan yang dapat mengkomunikasikan perilaku para pemakai data 8
  • 9.
    9  Pengembangan strategiuntuk memotivasi dan memengaruhi perilaku,cita – cita, serta tujuan dari orang – orang yang menjalankan organisasi Lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga besar :  Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain,konstruksi dan penggunaan sistem akuntansi. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai kaitan dengan sikap dan filosofi manajemen yang memengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi yang berfungsi dalam organisasi.  Pengaruh sitem akuntansi terhadap perilaku manusia bidang dari akuntansi keperilakuan ini berkenaan dengan bagaimana sistem akuntansi memengaruhi motivasi,produktivitas, pengambilan keputusan, kepuasan kerja, serta kerja sama.  Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia. Bidang ketiga dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai hubungan dengan cara sistem akuntansi digunakan sehingga memengaruhi perilaku. 2. AKUNTANSI KEPERILAKUAN: PERLUASAN LOGIS DARI PERAN AKUNTANSI TRADISIONAL Pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan akuntansi akan dapat menjadi lebih baik jika laporan tersebut banyak mengandung informasi yang relevan. Akuntan mengakui adanya fakta ini melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan penuh ( full disclosure). Prinsip ini memerlukan penjelasan yang tidak hanya berfungsi sebagai pengganti dan penambah informasi guna mendukung laporan data keuangan perusahaan, tetapi juga sebagai laporan yang menjelaskan kritik terhadap kejadian non keuangan. Informasi tambahan ini dilaporkan baik dalam satu kerangka laporan 9
  • 10.
    10 keuangan maupun dalamcatatan atas laporan keuangan maupun dalam catatan atas laporan keuangan perusahaan. Diperlukan suatu masukan informasi keperilakuan guna melengkapi data keuangan dan data lain yang segera dilaporkan, sukar untuk dipahami jika dikatakan bahwa pengambil keputusan Tidak tertarik terhadap informasi yang relevan karena menganggap bahwa informasi tersebut tidak memiliki nilai tambah. Beberapa ahli membantah pernyataan bahwa informasi pada dimensi perilaku organisasi adalah tidak berguna bagi pengambil keputusan internal dan eksternal. kekuatan para akuntan telah diakui bahwa mereka memiliki pengalaman selama berabad – abad, dimana mereka telah terbiasa dengan kebutuhan informasi dari pemakai eksternal dan para manajer internal, proses kebutuhan bisnis yang dibuat dan berbagai data keuangan yang dilaporkan yang terkait dengan berbagai jenis situasi keputusan. Oleh karena itu para akuntan yang berkualitas akan memilih gejala keperilakuan untuk data keuangan. Lebih lanjut lagi para akuntan menjadi satu – satunya kelompok yang secara logis mampu mengikutsertakan informasi keperilakuan ke dalam laporan keuangan bisnis yang ada. C. LINGKUP DAN SASARAN HASIL ILMU KEPERILAKUAN Siegel dan marcony ( 1989 ) menulis bahwa pada laporan tahun 1971, american accounting association’s committees bedasarkan pada behavioral science content of the accounting curriculum mengembangkan lingkup dan definisi dari “ ilmu keperilakuan “ sebagai berikut: Istilah ilmu keperilakuan adalah penemuan yang relatif baru konsep tersebut begitu luasnya sehingga lebih baik lingkup dan isinya digambarkan dari awal ilmu keperilakuan mencakup bidang riset mana pun yang mempelajari bail melalui metode eksperimentasi maupun observasi perilaku dari manusia dalam lingkungan fisik maupun sosial. Agar dapat dianggap sebagai bagian dari ilmu keperilakuan, riset tersebut harus memenuhi dua kriteria dasar, pertama riset tersebut harus berkaitan dengan perilaku manusia. Tujuan utama dari ilmu perilaku manusia adalah untuk mengidentifikasikan kebiasaaan yang mendasari manusia dan konsekuensi yang ditimbulkannya , kedua riset tersebut harus dilakukan “ secara ilmiah” 10
  • 11.
    11 hal ini berartiharus ada suatu usaha sistematis yang menggambarkan ,menghubungkan, menjelaskan dan oleh karena itu memprediksikan sekelompok fenomena yaitu, kebiasaan yang mendasari dalam perilaku manusia harus dapat diobservasi atau mengarah pada dampak yang dapat diobservasi tujuan dari ilmu keperilakuan adalah untuk memahami, menjelaskan dan memprediksikan perilaku manusia smpai pada generalisasi yang ditetapkan mengenai perilaku manusia yang didukung oleh bukti empiris yang dikumpulkan secara impersonal melalui prosedur yang terbuka untuk peninjauan maupun replikasi dan dapat diverifikasi oleh ilmuwan lainnya yang tertarik, dengan demikian ilmu keperilakuan mencerminkan observasi sistematis atas perilaku manusia dengan tujuan untuk mengonfirmasikan hipotesis tertentu secara eksperimental melalui referensi terhadap perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Bernard berelson dan G.A stainer juga menjelaskan secara singkat mengenai definisi keperilakuan yaitu sebagai suatu riset ilmiah yang berhadapan secara langsung dengan perilaku manusia. Definisi ini menangkap permasalahan inti dari ilmu keperilakuan yaitu riset ilmiah (scientific research ) dan perilaku manusia (human behavior ) Ilmu keperilakuan adalah bagian dari ilmu sosial manusia ilmu sosial meliputi disiplin ilmu antropologi,ekonomi,sejarah,politik,psikologi dan sosiologi ilmu keperilakuan meliputi psikologi dan sosiologi,aspek ekonomi keperilakuan dan ilmu pengetahuan politik serta aspek antropologi keperilakuan. Akuntan keperilakuan percaya bahwa tujuan utama laporan akuntansi adalah untuk memengaruhi perilaku dalam rangka memotivasi tindakan yang diinginkan, sebagai contoh suatu perusahaan bisa berhasil dalam merundingkan kerja sama dengan kelompok organisasi lainnya dengan baik atau mungkin akan menjadi gagal karena orang – orang diorganisasi tersebut berjalan ke arah tujuan yang berlawanan semua kondisi ini sangat dimungkinkan karena bentuk dan isi dari laporan anggaran mungkin telah melemahkan produktifitas karyawan, sehingga pada akhirnya menyebabkan orang – orang tidak dapat bekerja secara bersama – sama mereka mungkin bahkan menciptakan konflik internal dan memprakasai kepuasan individu. Pengenalan hubungan timbal balik antara alat akuntansi dan perilaku memunculkan modifikasi atas definisi akuntansi konvensional. Definisi akuntansi terbaru dalam lingkaran profesional akademis menyiratkan komunikasi dan 11
  • 12.
    12 pengukuran data ekonomiuntuk berbagai pengambilan keputusan serta sasaran hasil keperilakuan lainnya. D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ILMU KEPERILAKUAN DAN AKUNTANSI KEPERILAKUAN Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan akuntansi. Para akuntan bertanya – tanya mengenai apa pengaruh dari mengerjakan proses akuntansi ketika individu dan perilaku dikumpulkan dan apa pengaruh perilaku manusia berdasarkan proses akuntansi ?? para akuntan keperilakuan juga merasa tertarik untuk melihat bagaimana keperilakuan dapat memengaruhi perubahan atas cara akuntansi dilaksanakan dan bagaimana prosedur laporan akuntansi dapat digunakan lebih efektif untuk membantu individu dan organisasi dalam mencapai tujuannya sementara ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan oleh karena itu ilmu keperilakuan terlibat dalam riset terhadap aspek – aspek teori motivasi kepuasan sosial maupun bentuk sikap, sementara akuntan keperilakuan menerapkan unsur – unsur khusus dari riset atau teori tersebut untuk menghasilkan hubungan dengan situasi akuntansi yang ada tetapi para akuntan keperilakuan tidak akan mempelajari aspek tersebut, karena sebagian berada diluar batasan akuntansi meskipun demikian temuan studi antropologi membuktikan relevansi dalam menjelaskan hubungan antara orang – orang dan sistem akuntansi sehingga oleh karena itu para akuntan keperilakuan perlu mempertimbangkan dengan seksama. Akuntansi keperilakuan diterapkan dengan praktis menggunakan riset ilmu keperilakuan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia. Akuntansi selalu menggunakan konsep,prinsip dan pendekatan dari disiplin ilmu lainnya untuk meningkatkan kegunaannya sebagai contoh : akuntansi meminjam dengan bebas dari ilmu ekonomi, matematika,statistik, dan informasi teknik, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika akuntansi juga meminjam dari ilmu keperilakuan Suatu pertanyaan yang beralasan adalah apakah seorang akuntan keperilakuan dalam kenyataanya merupakan seorang ilmuwan keperilakuan terapan??? Adalah benar bahwa pekerjaan para akuntan keperilakuan dan ilmuwan keperilakuan terapan saling tumpang tindih 12
  • 13.
    13 dalam beberapa bidangkedua kelompok tersebut menggunakan prinsip sosiologi dan psikologis untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi, terdapat aspek – aspek tertentu dalam sosiologi organisasi psikologi industri, peran teori atau pendalaman teori yang akan menarik perhatian Baik dari para akuntan keperilakuan maupun dari ilmuwan keperilakuan terapan namun terdapat perbedaan penting antara kedua golongan tersebut dalam hubungannya dengan sasaran hasil, fokus pendidikan,keahlian dan fungsi masing – masing. Akuntansi adalah fungsi profesi dan adalah sangat diinginkan agar para akuntan menjadi terlatih untuk memikirkan tindakan secara profesional pelatihan ini berbeda dari pengalaman yang dilihat oleh para ilmuwan . E. PERSPEKTIF BERDASARKAN PERILAKU MANUSIA : PSIKOLOGI, SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI SOSIAL. Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha untuk mengukur,menjelaskan dan terkadang untuk mengubah perilaku manusia. para psikologi memerhatikan,mempelajari dan berupaya memahami perilaku individual. Mereka yang telah menyumbangkan dan terus menambah pengetahuan tentang perilaku organisasi adalah teoritikus kepribadian, psikologi konseling dan yang paling penting adalah psikologi industri dan organisasi. psikologi industri atau organisasi awal memerhatikan masalah kelemahan, kebosanan dan faktor – faktor lain yang relevan dengan kondisi kerja yang dapat menghalangi kinerja yang diharapkan. Sedangkan sosiologi mempelajari orang – orang dalam hubungannya dengan sesama manusia, secara spesifik, sosiologi telah memberikan kontribusi yang besar pada perilaku organisasi melalui studi mereka terhadap perilaku kelompok dalam organisasi, terutama organisasi yang formal dan relatif rumit. Psikologi sosial adalah suatu bidang kajian didalam psikologi tetapi memadukan konsep – konsep baik dari psikologi maupun sosiologi. Psikologi sosial memfokuskan pada pengaruh satu –satu terhadap orang lain. Salah satu bidang utama adalah bagaimana melaksanakan pengaruh tersebut dan bagaimana mengurangi hambatan terhadap penerimaannya disamping itu dapat dilihat bahwa para psikologi sosial memberikan sumbangan yang berarti dalam bidang pengukuran, 13
  • 14.
    14 pemahaman dan perubahansikap pola komunikasi cara – cara dengan mana kegiatan kelompok dapat memuaskan kebutuhan individu serta proses pengambilan keputusan kelompok. Ketiga hal tersebut yaitu psikologi,sosiologi, dan psikologi sosial menjadi kontributor utama dari ilmu keperilakuan, ketiganya melakukan pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia walaupun secara keseluruhan mereka memiliki perspektif yang berbeda mengenai kondisi manusia psikologi terutama merasa tertarik dengan bagaimana cara seorang individu bertindak fokusnya didasarkan pada tindakan orang – orang ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam lingkungan mereka dan perilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya dengan ciri,arah dan motivasi individu keutamaan psikologi didasarkan pada seseorang sebagai suatu organisasi. Sarjana sosiologi psikologi sosial dan psikologi meskipun berbeda dalam perspektif banyak melakukan studi atas topik yang sama, sebagai contoh didalam menjelaskan perilaku dari pengendalian perusahaan, psikologi akan terpusat pada ciri kepribadian individu, tekanan,kebimbangan, harapan dan motivasi Sebaliknya sosiologi dan psikologi sosial akan memusatkan pada sturktur sosial sosialisasi anggota kelompok, peran norma – norma dan pola komunikasi sarjana sosiologi menetapkan bahwa orang – orang tidak bisa diberi konteks pelajaran sosial mereka orang – orang belajar keterampilan dari hal hal yang paling mendasar. BEBERAPA HAL PENTING DALAM PERILAKU ORGANISASI  Teori peran  Struktur sosial  Budaya  Komitmen organisasi  Konflik peran  Konflik kepentingan Pemberdayaan karyawan Penjelasannya :  Teori peran 14
  • 15.
    15 Peran merupakan komponenperilaku nyata yang disebut norma, norma – norma adalah harapan dan kebutuhan perilaku yang sesuai untuk suatu peranan tertentu tiap –tiap peran berhubungan dengan suatu identitas yang menggambarkan individu dalam hal bagaimana mereka perlu bertindak dalam situasi khusus sebenarnya kita melihat diri kita dalam hubungannya dengan sikap orang lain dalam menjaga arah jika orang – orang berfikir dan menganggap kita memiliki suatu kemampuan kita cenderung mempercayai hal itu, jika ternyata orang – orang tersebut berfikir dengan cara lain kita juga akan cenderung mempercayai juga sejumlah orang mempunyai peran identitas bergantung pada situasi dimana mereka menemukan diri mereka satu aspek penting dari teori peran adalah bahwa identitas dan perilaku dianugerahkan secara sosial kepada dukungan sosial, posisi seseorang yang menduduki suatu organisasi formal atau suatu kelompok informal membawa pola perilaku bersama yang diharapkan.  Struktur sosial Untuk mencakup sejumlah aturan dalam perilaku manusia, konsep masyarakat dan budaya perlu dipertimbangkan masyarakat mungkin digambarkan sebagai penjumlahan dari total hubungan manusia konsep masyarakat menyiratkan suatu kesinambungan dan kompleksitas atas hubungan kelembagaan dan hubungan antarpribadi. Sistem masyarakat sosial merupakan perhatian utama para akuntan keperilakuan dalam organisasi bisnis atau masyarakat bisnis, didalam sistem sosial ini masih ada subsistem dan kelompok manusia saling berhubungan dan menarik perhatian para akuntan keperilakuan, disini tampak bahwa suatu konsep sistem yang digunakan dalam ilmu keperilakuan ternyata digunakan pula oleh ilmu pengetahuan lain dengan mengacu kepada suatu bentuk yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain serta bagian – bagian yang saling bergantung selanjutnya baru dapat berbicara mengenai sistem matahari, sistem biologi atau sistem sosial, pola teladan dari berbagai bagian subsistem yang beroperasi dikenal sebagai struktur sistem memasukkan struktur sosial yang mengacu pada hubungan yang dipolakan antara berbagai subsistem sosial dan individu 15
  • 16.
    16 memungkinkanya berfungsi bagimasyarakat, organisasi sosial atau kelompok sosial.  BUDAYA Budaya merupakan satu titik pandang yang pada saat bersamaan dijadikan jalan hidup oleh suatu masyarakat, tidak terdapat masyarakat tanpa suatu budaya dan budaya tidak ada diluar suatu masyarakat jika demikian maka budaya atau jalan hidup meliputi sistem kepercayaan umum yang sesuai dengan harapan gaya perilaku atau pemikiran dan pengetahuan teknis Serta menentukan cara melakukan sesuatu budaya memengaruhi pola teladan perilaku manusia yang teratur karena budaya menggambarkan perilaku yang sesuai untuk situasi tertentu Aspek budaya yang terpenting adalah memastikan kehidupan manusia baik secara fisik maupun secara sosial tidak seperti dengan kehidupan makhluk lain yang semata – mata bergantung pada bakat, manusia hidup terutama hanya atas dasar apa yang mereka pelajari manusia adalah makhluk yang memiliki budaya, Dengan demikian akuntan perilaku harus menyadari akan gagasan untuk budaya dalam beberapa peristiwa, budaya dipelajari dari orang lain dan dibagikan kepada orang lain apa yang kita ketahui dan bagaimana tindakan kita kadang kala didasarkan pada penerimaan informasi dari orang tua, panutan, guru, rekan sekerja, dan para penyedia pekerjaan. Untuk memahami perilaku dalam suatu aturan organisasi, seorang akuntan keperilakuan harus menyadari gagasan mengenai budaya, dalam beberapa peristiwa budaya organisasi dikenal sebagai suatu lingkungan pekerjaan yang mewujudkan iklim organisasi dalam budaya bisnis akan berlaku sistem etika bisnis praktik bisnis, pengetahuan teknis dan perangkat keras yang memengaruhi perilaku. Budaya telah didefinisikan dengan berbagai cara namun sampai sekarang belum dapat ditentukan definisinya secara pasti budaya merupakan norma – norma dan nilai – nilai yang mengarahkan perilaku anggota organisasi setiap anggota akan berperilaku sesuai dengan budaya yang berlaku agar diterima dilingkungan tersebut . budaya dapat dipecah menjadi 3 faktor mendasar :  Struktural 16
  • 17.
    17  Politis  emosional faktorstruktural ditentukan oleh ukuran – ukuran, seperti umur dan sejarah perusahaan, tempat operasi, serta lokasi geografis perusahaan dalam satu jenis industri. Faktor politis ditentukan oleh distribusi kekuasaan dan cara pengambilan keputusan manajerial. Sedangkan faktor emosional merupakan pemikiran kolektif, kebiasaan, sikap, perasaan, dan pola pola perilaku. Menurut Hofstede ( 1980, 1991 ) ada empat dimensi budaya nasional sebagai : 1. Jarak kekuasaan ( power distance )yaitu sejauh mana orang percaya bahwa kekuasaan dan status didistribusikan secara merata dan bagaimana orang menerima distribusi kekuasaan yang tidak merata tersebut cara yang tepat untuk mengorganisasikan sistem sosial. 2. Penghindaran ketidakpastian ( uncertain avoidance ) yaitu sejauh mana orang merasa terancam dengan keadaan yang tidak tertentu atau tidak diketahui. 3. Maskulinitas dan feminisitas ( masculinity and femininity ) Maskulinitas adalah suatu situasi yang ditandai dengan adanya nilai – nilai yang dominan dalam masyarakat yang lebih menekankan dan mementingkan uang,harta benda atau materi. Feminisitas adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai – nilai yang dominan dalam masyarakat yang lebih menekankan pada pentingnya hubungan antar – manusia, kepedulian orang lain dan ketentraman hidup 4. Individualisme dan kolektivisme ( individualism and collectivism ) individualisme adalah situasi yang menjelaskan orang orang dalam suatu masyarakat cenderung untuk memerhatikan dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja 17
  • 18.
    18 Kolektivisme adalah situasiyang menjelaskan orang – orang dalam masyarakat yang cenderung untuk merasa memiliki ikatan yang kuat dengan satu kelompok cenderung memedulikan dan melindungi anggotanya dan mengharapkan kesetiaan terhadap kelompok tersebut.  KOMITMEN ORGANISASI Komitmen organisasi merupakan tingkat sampai sejauh mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan – tujuannya serta berniat untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi itu komitmen organisasi juga merupakan nilai personal yang kadang – kadang mengacu pada sikap loyal pada perusahaan atau komitmen pada perusahaan sering kali komitmen organisasional diartikan secara individu dan berhubungan dengan keterlibatan orang tersebut pada organisasi tersebut Robinson mengemukakan bahwa komitmen karyawan pada organisasi merupakan salah satu sikap yang mencerminkan perasaan suka atau tidak suka seorang karyawan terhadap organisasi tempat dia bekerja tiga karakteristik yang berhubungan dengan komitmen organisasi menurut cherrington ( 1996 ) adalah : 1) Keyakinan dan penerimaan yang kuat terhadap nilai dan tujuan organisasi 2) Kemauan untuk sekuat tenaga melakukan yang diperlukan untuk kepentingan organisasi 3) Keinginan yang kuat untuk menjaga keanggotaan dalam organisasi. Spark dan shelby (1998) melalui sampel riset atas para manajer pemasaran mengemukakan bahwa komitmen organisasi mempunyai hubungan dengan orientasi etika dan sensivitas etika. Hasil riset didukung oleh riset lain yang dilakukan sebelumnya oleh beau dan yamoor ( 1985 ) dengan unit analisis pada Dokter gigi oleh Volker (1984) dengan profesi konsultan manajemen dan oleh Shaub (1989) dengan profesi akuntan publik Meyer dan Allen (1991, 1997 ) mengemukakan tiga komponen mengenai komitmen organisasi yang antara lain adalah : 18
  • 19.
    19  Komitmen aktif( acffective commitment ) terjadi apabila karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional atau psikologis terhadap organisasi .  Komitmen kontinu (continuance commitment ) karena muncul apabila karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan lain atau karena karyawan tersebut tidak menemukan pekerjaan lain, dengan kata lain karyawan tersebut tinggal diorganisasi itu karena dia membutuhkan organisasi tersebut.  Komitmen normatif ( normative commitment ) timbul dari nilai - nilai diri karyawan bertahan menjadi anggota suatu organisasi karena memiliki kesadaran bahwa komitment terhadap organisasi merupakan hal yang memang seharusnya dilakukan jadi karyawan tersebut tinggal diorganisasi itu karena dia merasa berkewajiban untuk itu. Dari ketiga jenis komitmen tersebut komitmen efektif adalah jenis yang paling diinginkan oleh perusahaan karyawan yang memiliki loyalitas yaitu karyawan yang mempunyai komitmen efektif akan cenderung tetap ( bekerja dalam perusahaan ) mereka akan merekomendasikan kepada orang lain bahwa tempat kerjanya merupakan tempat yang bagus, mereka akan dengan sukarela melakukan pekerjaan tambahan untuk perusahaan dan memberikan saran – saran bagi perbaikan serta kemajuan organisasi.  KONFLIK PERAN Menurut Wolfe dan Snoke ( 1962) konflik peran timbul karena adanya dua “perintah “ berbeda yang diterima secara bersamaan dan pelaksaan atas salah satu perintah saja akan mengakibatkan diabaikannya perintah yang lain seorang profesional dalam melaksanakan tugasnya terutama ketika menghadapi suatu masalah tertentu sering menerima dua perintah sekaligus perintah pertama berasal dari kode etik profesi sedangkan perintah kedua berasal dari sistem pengendalian yang berlaku diperusahaan apabila seorang profesional bertindak sesuai dengan kode etik maka ia akan maka ia 19
  • 20.
    20 akan merasa tidakberperan sebagai karyawan perusahaan yang baik sebaliknya apabila ia bertindak sesuai dengan prosedur yang ditentukan oleh perusahaan maka ia akan merasa telah bertindak secara tidak profesional kondisi seperti inilah yang disebut dengan konflik peran yaitu suatu konflik yang timbul karena mekanisme pengendalian birokratis organisasi tidak sesuai dengan norma aturan etika dan kemandirian profesional misalnya saja dalam lingkungan kerja akuntan publik konflik peran berhubungan dengan adanya dua rangkaian tuntutan bertentangan tanpa pengetahuan mengenai struktur audit yang baku staf akuntan mempunyai kecenderungan untuk mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Konflik peran merupakan suatu gejala psikologis yang dialami oleh anggota organisasi yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan berpotensi untuk menurunkan motivasi kerja konflik peran mempunyai dampak yang negatif terhadap perilaku karyawan seperti timbulnya ketegangan kerja, penurunan komitmen pada organisasi dan penurunan kinerja secara keseluruhan.  KONFLIK KEPENTINGAN Mas’ud (2002) menjelaskan bahwa organisasi diBarat dibangun berdasarkan prinsip depersonalisasi yang merupakan salah satu prinsip birokrasi hal ini kemudian diperkuat oleh praktik manajemen ilmiah yang dipelopori oleh taylor sistem ciptaan taylor banyak diterapkan dalam bisnis seperti perusahaan general motors dimana jam kerja telah dibagi dalam periode enam menit tugas tugas telah diberikan dengan hati – hati sehingga para pekerja dinilai berdasarkan hasil kerja selama enam menit tersebut selama proses yang paling efisien berjalan masalah para pekerja yang diabaikan dala pengambilan keputusan dianggap tidak relevan. Disamping itu menurut prinsip manajemen yang dikemukakan oleh henry (1914), yakni prinsip no. 6 kepentigan pribadi atau kelompok harus tunduk kepada kepentingan organisasi secara keseluruhan maka sudah sangat dipahami bila dalam praktik bisnis demi kepentingan orang yang lebih banyak atau organisasi manajemen harus memutuskan hubungan kerja dengan seorang atau beberapa orang karyawan walaupun karyawan tersebut mungkin telah selama puluhan tahun ikut serta dalam mengembangkan dan membesarkan perusahaan karena menganut pandangan bahwa urusan pribadi harus dipisahkan dari bisnis serta bahwa kepentingan 20
  • 21.
    21 perusahaan harus lebihdidahulukan daripada kepentingan pribadi maka banyak eksekutif yang sukses dalam memimpin dan mengatur perusahaan tetapi gagal dalam memimpin dan mengatur keluarga. Banyak bukti riset yang menunjukkan bahwa konflik kepentingan pekerja dan keluarga sangat merugikan karyawan dan perusahaan, konflik kerja dan keluarga cenderung berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan hasil – hasil riset tersebut merekomendasikan perlunya manajemen perusahaan untuk mengambil kebijakan yang menginterpretasikan kepentingan pekerjaan dengan kepentingan pribadi.  PEMBERDAYAAN KARYAWAN Mas’ud ( 2002 ) menuliskan bahwa terdapat beberapa faktor Yang mendorong organisasi dalam melaksanakan pemberdayaan beberapa diantaranya adalah :  Tuntutan pelanggan yang semakin tinggi terhadap kualitas produk maupun layanan jaminan keamanan  Perlindungan konsumen Persaingan dalam efisiensi dan inovasi produk  Penggunaan teknologi baru yang canggih  Peraturan pemerintah Akan tetapi dalam praktik terdapat banyak pengertian mengenai apa yang dimaksud Pemberdayaan dan bagaimana cara untuk melakukan pemberdayaan hal ini disebabkan oleh banyaknya definisi atau pengertian yangdiberikan oleh para ahli berbagai literatur namun terdapat kesamaan dalam hal maksud dilakukannya pemberdayaan dalam organisasi yaitu antara lain untuk : a) Meningkatkan motivasi guna mengurangi kesalahan Dan mendorong karyawan untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya. b) Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi c) Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa 21
  • 22.
    22 d) Meningkatkan kepuasanpelanggan dengan mendekatkan karyawan terhadap pelanggan sehingga karyawan dapat melayani dengan lebih baik e) Meningkatkan kesetiaan pada saat yang sama mengurangi tingkat kemangkiran f)Mendorong kerja sama yang lebih baik dengan sesama rekan kerja dalam meningkatkan pengawasan dan produktivitas g) Mengurangi tugas pengoawasan (pengendalian) dari manajemen menengah dalam pekerjaan operasional sehari – hari para manajer lebih mempunyai waktu dan perhatian terhadap masalah yang lebih besar. h) Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan menghadapi perubahan suksesidan tuntutan persaingan i)Meningkatkan daya saing bisnis Untuk melaksanakan pemberdayaan tersebut biasanya organisasi kemudian menyusun dan menentukan visi serta misi organisasi disamping itu perusahaan melaksanakan pula perencanaan strategis dan berbagai macam pelatihan berkaitan dengan pemberdayaan seperti membangun kerja sama tim, pemberdayaan kepemimpinan dan motivasi, kepekaan emosional ditempat kerja peningkatan kualitas terus – menerus, pelatihan keterampilan khusus yang berkaitan dengan pekerjaan dan lain sebagainya. Bab. III Penutup KESIMPULAN : Pada bagian ini telah didiskusikan mengenai ilmu keperilakuan pada masa lalu para akuntan semata – mata fokus pada pengukuran pendapatan dan biaya yang berusaha untuk mempelajari pencapaian 22
  • 23.
    23 kinerja perusahaan dimasalalu dalam rangka memprediksikan masa depan ilmu pengetahuankeperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi mengenai keperilakuan manusia dan akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dan akuntansi. Sementara ilmu pengetahuan keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keperilakuan. Oleh karena itu ilmuwan keperilakuan terlibat dalam riset terhadap aspek – aspek teori motivasi,kepuasan sosial maupun bentuk sikap. Para akuntan keperilakuan bagaimana pun juga akan menerapkan unsur – unsur khusus dari riset atau teori ini untuk menghasilkan hubungan dengan situasi yang ada . akuntansi keperilakuan praktis diterapkan dengan menggunakan riset ilmu keperilakuan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia, akuntansi selalu menggunakan konsep,prinsip, dan pendekatan dari disiplin ilmu lainnya untuk meningkatkan kegunaannya sebagai contoh : akuntansi meminjam dengan bebas dari ilmu ekonomi,matematika,statistik dan informasi teknik. DAFTAR PUSTAKA oAranya,dkk.1990 “Accounting information and the outcome of collective bargaining: someexplanatory evidance,” behavioral research in accounting, 2:31 oBamber,snowball dan tubbs,1989. 23
  • 24.
    24 oCherrington,1994.” Organizational behavior,”edisi kedua, oleh Allyn dan Bacon. oHenry Fayol,1914 industrial and general administration,paris:Dirrad. oMas’ud, Fuad,2002.”40 Mitos manajemen sumber daya manusia” , Universitas Diponegoro. oRobinson ,1996 oRobins,Stephens,1996.perilaku organisasi,edisi kedelapan, jilid 1 24
  • 25.
  • 26.
  • 27.
  • 28.
  • 29.
  • 30.
  • 31.