KEMISKINAN EKSTREM
DI INDONESIA
Disampaikan Pada Sesi
Sharing Knowledge Hansos
Jum’at, 25 Feb 2022
KONSEP KEMISKINAN
2
Poverty is pronounced deprivation in well-being, and comprises many dimensions
Basic concept of monetary poverty Multidimensional aspects
• Low incomes and the inability to acquire the basic
goods and services necessary for survival with dignity
• Low levels of health and education
• Poor access to clean water and sanitation
• Inadequate physical security, lack of voice
• Insufficient capacity and opportunity to better one’s
life
METODOLOGI KEMISKINAN
BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan
pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan & bukan makanan).
 Garis kemiskinan makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan (setara 2100
kkalori per kapita per hari)
 Garis kemiskinan bukan makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang,
pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok non-makanan lainnya.
 Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata PENGELUARAN per kapita per bulan di
bawah Garis Kemiskinan.
 Metode ini dipakai BPS sejak tahun 1998 supaya hasil penghitungan konsisten dan terbanding dari
waktu ke waktu (apple to apple).
 Sumber Data: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
3
METODE KEMISKINAN BANK DUNIA
4
Konsep yang digunakan dalam menghitung kemiskinan Bank Dunia
adalah menggunakan konsep Purchasing Power Parity (PPP) 
memungkinkan keterbandingan tingkat kemiskinan antar-negara yang
memiliki tingkat harga atau biaya hidup yang berbeda-beda.
Purchasing Power Parity (PPP) adalah indeks harga internasional yang
diukur dengan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli
sekeranjang barang yang sama di setiap negara yang dilakukan
pembanding dengan menggunakan US $ (Deaton dan Aten, 2017)
METODE KEMISKINAN BANK DUNIA
5
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
6
BATAS KEMISKINAN EKSTREM
Pada tahun dasar tahun 2011, kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai
mereka yang hidup di bawah US $ 1,9 PPP per hari.
Dalam laporan Poverty & Equity Brief East Asia & Pacific (2019) dari
World Bank bahwa pada tahun 2017 nilai US $ 1,9 PPP ≈ Rp10.195,6 per
kapita per hari.
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
7
KONSEP KEMISKINAN DAN KEMISKINAN EKSTREM
Miskin
●
●
Miskin
Ekstrem
● ● ●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
Tidak
Miskin
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
● ●
●
● ●
●
●
●
●
●
●
Garis
kemiskinan
1,9 US$ PPP
Rp358.233
Konsep kemiskinan yang digunakan BPS:
pendekatan kebutuhan dasar
(basic needs approach)
Ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk
memenuhi kebutuhan dasar makanan dan
bukan makanan yang diukur menurut
garis kemiskinan (makanan dan non-makanan)
Pada tahun dasar tahun 2011, kemiskinan
ekstrem didefinisikan sebagai mereka yang
hidup di bawah US $ 1,9 PPP per hari
(World Bank)
Tahun 2021 setara dengan:
• Rp11.941 per kapita per hari, atau
• Rp358.233 per kapita per bulan
Kemiskinan
Kemiskinan Ekstrem
PERKEMBANGAN PERSENTASE PENDUDUK MISKIN DAN
MISKIN EKSTREM DI INDONESIA, 2014-2021
11.25 11.22 10.86 10.64
9.82 9.41 9.78 10.14
7.9
7.2
6.5
5.7
4.6
3.7 3.8 4.0
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
Miskin Miskin Ekstrim
Perkiraan konversi 1 US $ PPP dengan baseline 2017:
Tahun 2017: 1.9 US $ PPP = Rp 10.195,6 (data terakhir, bersumber dari World Bank)
Tahun 2021: 1.9 US $ PPP = Rp 11.941,1*
*) Estimasi berdasarkan konversi USD PPP Tahun 2017 yang digerakkan dengan perubahan inflasi Maret 2017-Maret 2021
Target 2024:
Kemiskinan
Ekstrem
Nol Persen
8
9
Peta Sebaran Jumlah Penduduk Miskin Ekstrem Menurut Kab Kota,
Maret 2020
“Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk miskin ekstrim > 30 ribu jiwa
sebagian besar berada di Pulau Jawa
< 10 ribu : 240 kab/kota
10 – 20 ribu : 108 kab/kota
20 – 30 ribu : 56 kab/kota
> 30 ribu : 110 kab/kota
10
Peta Sebaran Persentase Penduduk Miskin Ekstrem Menurut Kab
Kota, Maret 2020
0,0 – 2,50 : 176 kab/kota
2,50 – 5,00 : 162 kab/kota
5,00 – 7,50 : 84 kab/kota
> 7,50 : 92 kab/kota
“ Kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan ekstrim lebih dari 7,5
persen sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia
Multiple Interventions dalam Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
Menurunkan
Beban Pengeluaran
Perlindungan Sosial
Bantuan Sosial
(BPNT, PKH, PIP,
LansiaPenyandang Disabilitas)
Jaminan Sosial
(JKN-PBI)
Subsidi
(Listrik, LPG)
Lanjutan JPS COVID-19
(BST, BLT-DD, Banpres)
Meningkatkan
Pendapatan
Produktivitas & Inklusi Keuangan
Pengembangan Potensi
(Prudes, BUMDes, Kluster)
Pemberdayaan
(Pendampingan, PLUT)
Transfer Aset
(Lahan, Sarana produksi, Ternak)
Pelatihan & Akses Pekerjaan
(Padat Karya & Pelatihan K/L, Prakerja)
Respon COVID-19
(PKTD DD, BPUM)
Akses & Informasi Pasar
(Keperantaraan, digitalisasi)
Akses Modal & Asuransi
(KUR, UMi, Mekaar, Asuransi Tani,
Ternak & Nelayan)
Meminimalkan
Wilayah Kantong Kemiskinan
Kesempatan & Mobilitas Sosial
Akses Layanan Dasar
(PAUD, FKTP-FKRTL, Sanitasi Air
Bersih )
Konektivitas Wilayah
(Pembangunan jalan dan sarana
transportasi)
Komitmen & Sinergitas Pemda
dan Desa
(Program Kawasan Perdesaan,
Insentif Fiskal)
Penguatan Kecamatan
(sebagai koordinator pembangunan
wilayah
Sumber: TNP2K
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
ROADMAP PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN EKSTREM
12
• Jangka pendek: pemberian additional cash transfer selama 3 bulan yang difokuskan pada 35 wilayah prioritas.
• Jangka menengah: diutamakan pada konvergensi program pemberdayaan dan bansos, pemberian additional cash transfer untuk RT miskin ekstrem
diperluas ke 212 wilayah prioritas, serta perbaikan social registry.
35 kabupaten/Kota
prioritas dalam 7
provinsi
212 kabupaten/Kota
prioritas perluasan
514 kabupaten/Kota
prioritas perluasan
nasional secara
bertahap
Kemiskinan
ekstrem
mencapai
0%
2024
2023-2024
2022
Oktober – Desember 2021
Model Konvergensi
Penanggulangan
Kemiskinan Ekstrem
Evaluasi Model
Konvergensi untuk
Wilayah Perluasan
Adopsi Model
Konvergensi Nasional
Tingkat Kemiskinan: 10,19%. •
Kemiskinan ekstrem: 3,8%.
Tingkat Kemiskinan: 9,2 – 9,7%. •
Kemiskinan ekstrem: 3-3,5%.
Tingkat Kemiskinan: 8,5 - 9%. •
Kemiskinan ekstrem: 2,5-3%.
Tingkat Kemiskinan: 6 - 7%. •
Kemiskinan ekstrem: 0-1%.
Additional Cash
Transfer
Program
• Pemberdayaan Masy.
• Social Registry
• Cash Transfer
• Pemberdayaan Masy.
• Social Registry
• Cash Transfer
Sumber: Setwapres, TNP2K, Bappenas & Hasil Rakortas Menteri Koordinator Perekonomian, 28 September 2021
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
PERAN BPS DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN EKSTREM
PELAKSANAAN SURVEI EFEKTIVITAS PROGRAM BANTUAN SOSIAL (SEPBS)
13
• Sampel: 23.360 rumah tangga
panel dari Susenas Maret 2021
• Lokus: 35 kabupaten di 7 provinsi
• Periode: 15 s.d. 20 Desember 2021
RANCANGAN PENDATAAN
Mendapatkan informasi kualitatif yang mendalam
tentang determinan kemiskinan ekstrem
• Sampel: kantong-kantong kemiskinan ekstrem
berdasarkan informasi dari PODES
• Lokus: 20 kabupaten
• Periode: 17 s.d. 22 Desember 2021
Indepth Study
SEPBS
Pilar 1: Komitmen Pemerintah
Pilar 2: Konvergensi Program Anggaran dan Sasaran
Pilar 3: Pemantauan dan Evaluasi
Penetapan indikator/rujukan capaian
penghapusan kemiskinan ekstrem
BPS melakukan Survei Efektivitas Program Bantuan
Sosial (SEPBS) pada wilayah target penyaluran program
bantuan pengentasan kemiskinan ekstrem 2021
(35 kabupaten/kota di 7 provinsi**)
*) Berdasarkan Booklet Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem, TNP2K.
Disampaikan pada Rapat Pleno Tingkat Menteri, 18 Agustus 2021
**) Rapat Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem, 28 September 2021
Target Pemerintah:
Kemiskinan ekstrem 2024  0%
PERAN BPS*)
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
CONTOH PENENTUAN 5 KABUPATEN PRIORITAS DI JAWA BARAT
14
[JUDUL SLIDE SATU BARIS]
KETEPATAN DAN REALISASI PENYALURAN BANSOS
Keterangan:
Persentase Penerima Bantuan Sosial Rutin
57.53%
57.42%
53.01%
53.76%
49.52%
47.99%
43.65%
38.12%
33.73%
22.68%
44.65%
42.47%
42.58%
46.99%
46.24%
50.48%
52.01%
56.35%
61.88%
66.27%
77.32%
55.35%
D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 Total
Menerima Tidak Menerima
Bantual sosial rutin masih menyasar
semua kelompok masyarakat
Persentase Penerima Top-Up Bansos
(PKH, BPNT, dll.) (BLT-DD dan/atau Sembako)
• D = Desil kelompok pengeluaran
• Rumah tangga dikategorikan ”menerima” jika menerima
minimal satu bantuan sosial rutin
9.29%
8.27%
7.85%
7.30%
8.59%
6.29%
6.20%
6.82%
4.53%
4.45%
6.82%
90.71%
91.73%
92.15%
92.70%
91.41%
93.71%
93.80%
93.18%
95.47%
95.55%
93.18%
D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 Total
Menerima Tidak Menerima
15
Realisasi penyaluran top-up bansos masih rendah
pada saat SEPBS dilaksanakan (15-20 Desember 2021)
Hasil indepth study juga mendukung temuan bahwa
belum seluruh rumah tangga miskin ekstrem menerima
top-up bansos saat survei dilakukan
15
16
Aspek Ekonomi Aspek Individu
Aspek Sosial
Keterbatasan: tidak memiliki akses
permodalan dan pasar
Biaya produksi sektor pertanian tinggi dan
harga jual rendah
Ketidakpastian pekerjaan: pekerjaan
bergantung pada alam, terkena PHK
Ketimpangan: upah pekerja perempuan
lebih rendah
Lokasi geografis kurang mendukung: kondisi
alam yang sulit, lahan pertanian terbatas,
Infrastruktur buruk dan terbatasnya akses
kepada fasilitas publik
Keadaan kahar: bencana, hama dan wabah,
pandemi Covid-19
Aspek Lingkungan
Ketidakberdayaan: Lansia, difabel,
permasalahan kesehatan
Ketidakmampuan: Pendidikan rendah,
akses pendidikan yang terbatas, minimnya
keterampilan minim, dan miskin informasi
Tekanan Budaya: budaya urunan untuk acara
adat, budaya patriarki, menikah muda
Beban sosial: jumlah ART besar, menitipkan
anak pada orang tua uang sudah lansia
Pewaris kemiskinan (intergenerational poverty)
Tinggal dalam lingkungan miskin: jejaring
sosial terbatas
Kepala keluarga perempuan
KEMISKINAN EKSTREM MERUPAKAN FENOMENA MULTIDIMENSI
Pengentasan kemiskinan ekstrem tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek lainnya
Sumber: Hasil Indepth Study
17
ISU STRATEGIS
2
3
Bantuan sosial melalui pemberian top-up belum cukup
mendorong masyarakat keluar dari kemiskinan ekstrem.
Perlu ada kebijakan khusus pengentasan kemiskinan ekstrem untuk kelompok masyarakat
yang sudah tidak berdaya (difabel, lansia, & penduduk dengan penyakit lainnya).
Kelompok masyarakat tersebut harus mendapat jaminan sosial seumur hidup.
1
Tata kelola pemutakhiran data targeting dalam pengentasan kemiskinan ekstrem
menjadi prioritas untuk disempurnakan.
Terima Kasih

25022022 Bahan Sharing Knowledge Kemiskinan Ekstreme (1).pptx

  • 1.
    KEMISKINAN EKSTREM DI INDONESIA DisampaikanPada Sesi Sharing Knowledge Hansos Jum’at, 25 Feb 2022
  • 2.
    KONSEP KEMISKINAN 2 Poverty ispronounced deprivation in well-being, and comprises many dimensions Basic concept of monetary poverty Multidimensional aspects • Low incomes and the inability to acquire the basic goods and services necessary for survival with dignity • Low levels of health and education • Poor access to clean water and sanitation • Inadequate physical security, lack of voice • Insufficient capacity and opportunity to better one’s life
  • 3.
    METODOLOGI KEMISKINAN BPS menggunakankonsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan & bukan makanan).  Garis kemiskinan makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan (setara 2100 kkalori per kapita per hari)  Garis kemiskinan bukan makanan adalah nilai minimum pengeluaran untuk perumahan, sandang, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan pokok non-makanan lainnya.  Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata PENGELUARAN per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.  Metode ini dipakai BPS sejak tahun 1998 supaya hasil penghitungan konsisten dan terbanding dari waktu ke waktu (apple to apple).  Sumber Data: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). 3
  • 4.
    METODE KEMISKINAN BANKDUNIA 4 Konsep yang digunakan dalam menghitung kemiskinan Bank Dunia adalah menggunakan konsep Purchasing Power Parity (PPP)  memungkinkan keterbandingan tingkat kemiskinan antar-negara yang memiliki tingkat harga atau biaya hidup yang berbeda-beda. Purchasing Power Parity (PPP) adalah indeks harga internasional yang diukur dengan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk membeli sekeranjang barang yang sama di setiap negara yang dilakukan pembanding dengan menggunakan US $ (Deaton dan Aten, 2017)
  • 5.
  • 6.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] 6 BATAS KEMISKINAN EKSTREM Pada tahun dasar tahun 2011, kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai mereka yang hidup di bawah US $ 1,9 PPP per hari. Dalam laporan Poverty & Equity Brief East Asia & Pacific (2019) dari World Bank bahwa pada tahun 2017 nilai US $ 1,9 PPP ≈ Rp10.195,6 per kapita per hari.
  • 7.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] 7 KONSEP KEMISKINAN DAN KEMISKINAN EKSTREM Miskin ● ● Miskin Ekstrem ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Tidak Miskin ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Garis kemiskinan 1,9 US$ PPP Rp358.233 Konsep kemiskinan yang digunakan BPS: pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) Ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan non-makanan) Pada tahun dasar tahun 2011, kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai mereka yang hidup di bawah US $ 1,9 PPP per hari (World Bank) Tahun 2021 setara dengan: • Rp11.941 per kapita per hari, atau • Rp358.233 per kapita per bulan Kemiskinan Kemiskinan Ekstrem
  • 8.
    PERKEMBANGAN PERSENTASE PENDUDUKMISKIN DAN MISKIN EKSTREM DI INDONESIA, 2014-2021 11.25 11.22 10.86 10.64 9.82 9.41 9.78 10.14 7.9 7.2 6.5 5.7 4.6 3.7 3.8 4.0 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 Miskin Miskin Ekstrim Perkiraan konversi 1 US $ PPP dengan baseline 2017: Tahun 2017: 1.9 US $ PPP = Rp 10.195,6 (data terakhir, bersumber dari World Bank) Tahun 2021: 1.9 US $ PPP = Rp 11.941,1* *) Estimasi berdasarkan konversi USD PPP Tahun 2017 yang digerakkan dengan perubahan inflasi Maret 2017-Maret 2021 Target 2024: Kemiskinan Ekstrem Nol Persen 8
  • 9.
    9 Peta Sebaran JumlahPenduduk Miskin Ekstrem Menurut Kab Kota, Maret 2020 “Kabupaten/kota dengan jumlah penduduk miskin ekstrim > 30 ribu jiwa sebagian besar berada di Pulau Jawa < 10 ribu : 240 kab/kota 10 – 20 ribu : 108 kab/kota 20 – 30 ribu : 56 kab/kota > 30 ribu : 110 kab/kota
  • 10.
    10 Peta Sebaran PersentasePenduduk Miskin Ekstrem Menurut Kab Kota, Maret 2020 0,0 – 2,50 : 176 kab/kota 2,50 – 5,00 : 162 kab/kota 5,00 – 7,50 : 84 kab/kota > 7,50 : 92 kab/kota “ Kabupaten/kota dengan tingkat kemiskinan ekstrim lebih dari 7,5 persen sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia
  • 11.
    Multiple Interventions dalamPercepatan Penanggulangan Kemiskinan Menurunkan Beban Pengeluaran Perlindungan Sosial Bantuan Sosial (BPNT, PKH, PIP, LansiaPenyandang Disabilitas) Jaminan Sosial (JKN-PBI) Subsidi (Listrik, LPG) Lanjutan JPS COVID-19 (BST, BLT-DD, Banpres) Meningkatkan Pendapatan Produktivitas & Inklusi Keuangan Pengembangan Potensi (Prudes, BUMDes, Kluster) Pemberdayaan (Pendampingan, PLUT) Transfer Aset (Lahan, Sarana produksi, Ternak) Pelatihan & Akses Pekerjaan (Padat Karya & Pelatihan K/L, Prakerja) Respon COVID-19 (PKTD DD, BPUM) Akses & Informasi Pasar (Keperantaraan, digitalisasi) Akses Modal & Asuransi (KUR, UMi, Mekaar, Asuransi Tani, Ternak & Nelayan) Meminimalkan Wilayah Kantong Kemiskinan Kesempatan & Mobilitas Sosial Akses Layanan Dasar (PAUD, FKTP-FKRTL, Sanitasi Air Bersih ) Konektivitas Wilayah (Pembangunan jalan dan sarana transportasi) Komitmen & Sinergitas Pemda dan Desa (Program Kawasan Perdesaan, Insentif Fiskal) Penguatan Kecamatan (sebagai koordinator pembangunan wilayah Sumber: TNP2K
  • 12.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] ROADMAP PERCEPATAN PENGENTASAN KEMISKINAN EKSTREM 12 • Jangka pendek: pemberian additional cash transfer selama 3 bulan yang difokuskan pada 35 wilayah prioritas. • Jangka menengah: diutamakan pada konvergensi program pemberdayaan dan bansos, pemberian additional cash transfer untuk RT miskin ekstrem diperluas ke 212 wilayah prioritas, serta perbaikan social registry. 35 kabupaten/Kota prioritas dalam 7 provinsi 212 kabupaten/Kota prioritas perluasan 514 kabupaten/Kota prioritas perluasan nasional secara bertahap Kemiskinan ekstrem mencapai 0% 2024 2023-2024 2022 Oktober – Desember 2021 Model Konvergensi Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem Evaluasi Model Konvergensi untuk Wilayah Perluasan Adopsi Model Konvergensi Nasional Tingkat Kemiskinan: 10,19%. • Kemiskinan ekstrem: 3,8%. Tingkat Kemiskinan: 9,2 – 9,7%. • Kemiskinan ekstrem: 3-3,5%. Tingkat Kemiskinan: 8,5 - 9%. • Kemiskinan ekstrem: 2,5-3%. Tingkat Kemiskinan: 6 - 7%. • Kemiskinan ekstrem: 0-1%. Additional Cash Transfer Program • Pemberdayaan Masy. • Social Registry • Cash Transfer • Pemberdayaan Masy. • Social Registry • Cash Transfer Sumber: Setwapres, TNP2K, Bappenas & Hasil Rakortas Menteri Koordinator Perekonomian, 28 September 2021
  • 13.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] PERAN BPS DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN EKSTREM PELAKSANAAN SURVEI EFEKTIVITAS PROGRAM BANTUAN SOSIAL (SEPBS) 13 • Sampel: 23.360 rumah tangga panel dari Susenas Maret 2021 • Lokus: 35 kabupaten di 7 provinsi • Periode: 15 s.d. 20 Desember 2021 RANCANGAN PENDATAAN Mendapatkan informasi kualitatif yang mendalam tentang determinan kemiskinan ekstrem • Sampel: kantong-kantong kemiskinan ekstrem berdasarkan informasi dari PODES • Lokus: 20 kabupaten • Periode: 17 s.d. 22 Desember 2021 Indepth Study SEPBS Pilar 1: Komitmen Pemerintah Pilar 2: Konvergensi Program Anggaran dan Sasaran Pilar 3: Pemantauan dan Evaluasi Penetapan indikator/rujukan capaian penghapusan kemiskinan ekstrem BPS melakukan Survei Efektivitas Program Bantuan Sosial (SEPBS) pada wilayah target penyaluran program bantuan pengentasan kemiskinan ekstrem 2021 (35 kabupaten/kota di 7 provinsi**) *) Berdasarkan Booklet Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem, TNP2K. Disampaikan pada Rapat Pleno Tingkat Menteri, 18 Agustus 2021 **) Rapat Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem, 28 September 2021 Target Pemerintah: Kemiskinan ekstrem 2024  0% PERAN BPS*)
  • 14.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] CONTOH PENENTUAN 5 KABUPATEN PRIORITAS DI JAWA BARAT 14
  • 15.
    [JUDUL SLIDE SATUBARIS] KETEPATAN DAN REALISASI PENYALURAN BANSOS Keterangan: Persentase Penerima Bantuan Sosial Rutin 57.53% 57.42% 53.01% 53.76% 49.52% 47.99% 43.65% 38.12% 33.73% 22.68% 44.65% 42.47% 42.58% 46.99% 46.24% 50.48% 52.01% 56.35% 61.88% 66.27% 77.32% 55.35% D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 Total Menerima Tidak Menerima Bantual sosial rutin masih menyasar semua kelompok masyarakat Persentase Penerima Top-Up Bansos (PKH, BPNT, dll.) (BLT-DD dan/atau Sembako) • D = Desil kelompok pengeluaran • Rumah tangga dikategorikan ”menerima” jika menerima minimal satu bantuan sosial rutin 9.29% 8.27% 7.85% 7.30% 8.59% 6.29% 6.20% 6.82% 4.53% 4.45% 6.82% 90.71% 91.73% 92.15% 92.70% 91.41% 93.71% 93.80% 93.18% 95.47% 95.55% 93.18% D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 Total Menerima Tidak Menerima 15 Realisasi penyaluran top-up bansos masih rendah pada saat SEPBS dilaksanakan (15-20 Desember 2021) Hasil indepth study juga mendukung temuan bahwa belum seluruh rumah tangga miskin ekstrem menerima top-up bansos saat survei dilakukan 15
  • 16.
    16 Aspek Ekonomi AspekIndividu Aspek Sosial Keterbatasan: tidak memiliki akses permodalan dan pasar Biaya produksi sektor pertanian tinggi dan harga jual rendah Ketidakpastian pekerjaan: pekerjaan bergantung pada alam, terkena PHK Ketimpangan: upah pekerja perempuan lebih rendah Lokasi geografis kurang mendukung: kondisi alam yang sulit, lahan pertanian terbatas, Infrastruktur buruk dan terbatasnya akses kepada fasilitas publik Keadaan kahar: bencana, hama dan wabah, pandemi Covid-19 Aspek Lingkungan Ketidakberdayaan: Lansia, difabel, permasalahan kesehatan Ketidakmampuan: Pendidikan rendah, akses pendidikan yang terbatas, minimnya keterampilan minim, dan miskin informasi Tekanan Budaya: budaya urunan untuk acara adat, budaya patriarki, menikah muda Beban sosial: jumlah ART besar, menitipkan anak pada orang tua uang sudah lansia Pewaris kemiskinan (intergenerational poverty) Tinggal dalam lingkungan miskin: jejaring sosial terbatas Kepala keluarga perempuan KEMISKINAN EKSTREM MERUPAKAN FENOMENA MULTIDIMENSI Pengentasan kemiskinan ekstrem tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek lainnya Sumber: Hasil Indepth Study
  • 17.
    17 ISU STRATEGIS 2 3 Bantuan sosialmelalui pemberian top-up belum cukup mendorong masyarakat keluar dari kemiskinan ekstrem. Perlu ada kebijakan khusus pengentasan kemiskinan ekstrem untuk kelompok masyarakat yang sudah tidak berdaya (difabel, lansia, & penduduk dengan penyakit lainnya). Kelompok masyarakat tersebut harus mendapat jaminan sosial seumur hidup. 1 Tata kelola pemutakhiran data targeting dalam pengentasan kemiskinan ekstrem menjadi prioritas untuk disempurnakan.
  • 18.

Editor's Notes