i
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH
DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Oleh
ABDUL WAHID AHMADI
26.11.7.3.001
Tesis Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam
Mendapatkan Gelar Magister
PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN 2016
ii
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH
DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Abdul Wahid Ahmadi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perencanaan kompetensi
manajerial; (2) pelaksanaan kompetensi manajerial; (3) dan evaluasi kompetensi
manajerial kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian
diskriptif kualitatif. Subyeknya yaitu kepala sekolah. Adapun informannya yakni
wakil kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data (1) observasi, (2)
wawancara dan (3) dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan pemeriksaan
keabsahan data, menggunakan triangulasi, dengan verifikasi dan pengecekan
mengenai kecukupan referensi. Teknik analisis data menggunakan model
interaktif.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Perencanaan kompetensi manajerial yang
dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a)
Perencanaan berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need
assesment); (b) Melibatkan seluruh unsur civitas akademika sekolah; (c)
Melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis jabatan pekerjaan;
(d) dilakukan dalam rapat kerja. (2) Pelaksanaan kompetensi manajerial dalam
meningkatkan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Mengikutkan dalam diklat, seminar, maupun
workshop; (b) Studi lanjut; (c) Revitalisasi MGMP; (d) Membentuk forum
silaturrahim antar guru; (e) Meningkatkan kesejahteraan guru; (f) Penambahan
fasilitas penunjang; (g) Mengoptimalkan bimbingan konseling; (h) Studi banding
ke sekolah lain, dan (i) sertifikasi guru. Sedangkan (3) evaluasi yang dilakukan
oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) melakukan
supervisi, baik secara personal maupun kelompok; (b) Teknik yang digunakan
adalah secara langsung (directive) dan tidak langsung (non direcvtive); (c) Aspek
penilaian dalam supervisi adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah,
perkembangan siswa, RPP, dan silabus; (d) menggunakan format SKP/DP3.
Kata kunci : Kompetensi Manajerial, Profesionalisme Guru
iii
MANAGERIAL COMPETENCIES PRINCIPALS IN IMPROVING THE
PROFESSIONALISM OF TEACHERS AT SECONDARY VOCATIONAL
SCHOOLS ( SMK ) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Abdul Wahid Ahmadi
Abstract
The purpose of this research is: (1) Knowing planning managerial
competence; (2) Implementation of managerial competence; (3) and managerial
competency evaluation principals SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri to
improving the professionalism of teachers.
This research was conducted using qualitative descriptive approach.
Which is the principal as subject, as for the informant is the deputy principal and
teachers. The techniques of data collection using : (1) observation; (2) interviews;
and (3) documentation. Data have been collected followed by examination of the
validity of data, using triangulation, with the verification and checking on the
adequacy of reference. While technique of data analysis using an interactive
model.
The results of this research are : (1) Planning managerial competence that
is done by the SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal include : (a)
planning based on vision, mission, the purpose of schools and the needs of ( need
assessment ); (b) involve all elements of the school it broadcasts; (c) perform new
temporary teachers (GTT) recruitment and perform analysis of job position; (d)
which it is carried out in a working meeting. (2) The implementation of
managerial competence in improving the professionalism of teachers is done by
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal : (a) to join in the training;
seminar, and workshop; (b) advanced study; (c) revitalization of MGMP; (d)
formed get together between teachers; (e) increase the welfare of teachers; (f)
adding supporting facilities; (g) optimize guidance counseling; (h) study visits to
other schools; (i) teachers certification. (3) The evaluation is done by the principal
of SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri covers : (a) perform supervision both
personal and group; (b) techniques used is directly and indirectly; (c) the aspects
of the assessment in supervision is pupils teachers, teacher performance in
schools, the development of students, RPP, and Syllabus; (d) using format
SKP/DP3.
Key words : Managerial competence, the professionalism of teachers.
iv
‫اﻟﻤﺘﺨﺼﺼﺔ‬ ‫اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ‬ ‫اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ﻓﻲ‬ ‫اﻟﻤﺪرس‬ ‫اف‬‫ﺮ‬‫اﺣﺘ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﻓﻲ‬ ‫اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ﺮ‬‫ﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬
‫ﺑﺎﻧﺠﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻧﻮﻏﻴﺮي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻤ‬
‫اﺣﻤﺪى‬ ‫اﻟﻮاﺣﺪ‬ ‫ﻋﺒﺪ‬
‫اﻟﻤﻠﺨﺺ‬
‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫أﻗﻴﻢ‬‫ﻣﻨﻬﺎ‬ ‫أﻫﺪاف‬) :۱(‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻟﻜﻔﺎﺋﺔ‬ ‫ﺨﻄﻴﻂ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﺔ‬ّ‫ﻛﻴﻔﻴ‬‫ﳌﻌﺮﻓﺔ‬) :۲(‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫ﺗﻄﺒﻴﻖ‬
‫و‬ ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬,)۳(‫اﳌﺪرس‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬ ‫ﻟﻜﻔﺎﺋﺔ‬ ‫ﺗﻘﻮﱘ‬.
‫اﻟﻨﻮﻋﻲ‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﺑﺔ‬‫ر‬‫ﻣﻘﺎ‬ ‫ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫أﻗﻴﻢ‬.‫ﻫﻮ‬ ‫اﳌﺨﱪ‬ ‫و‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﻫﻮ‬ ‫اﳌﺒﺤﺚ‬‫ﻧ‬‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﺎﺋﺐ‬
‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫ﻧﺎﺋﺐ‬ ‫و‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬.‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺗﺸﻤﻞ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬ ‫ﲨﻊ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬‫ﻃ‬)۱(‫ﻊ‬ّ‫ﺘﺒ‬ّ‫اﻟﺘ‬,)۲(‫اﳌﻘﺎﺑﻠﺔ‬,)٣(‫ﺛﻴﻖ‬‫ﻮ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫و‬.‫ﳎﻤﻮﻋﺔ‬
‫ﻗﻴﻘﻲ‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬ ‫إﺛﺒﺎت‬ ‫ﻣﻨﻬﺎ‬ ‫اءات‬‫ﺮ‬‫ﺑﺈﺟ‬ ‫ﻣﻀﺒﻮﻃﺔ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬,‫ﳍﺎ‬ ‫اﻟﻜﺎﻓﻴﺔ‬ ‫اﺟﻊ‬‫ﺮ‬‫اﳌ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺗﻀﺒﻴﻂ‬ ‫و‬.‫ﲢﻠﻴﻞ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬‫ﻃ‬
‫ﻌﺎﻣﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﺷﻜﻞ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬.
‫ا‬‫ﻫﻲ‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫ﺘﺎﺋﺞ‬ّ‫ﻨ‬‫ﻟ‬) :۱(‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫اﳌﺘﻮﺳ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫اﻩ‬ّ‫اد‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺨﻄﻴﻂ‬ّ‫اﻟﺘ‬
‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ﻧﻮﻏﲑي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫اﻟﺮؤﻳﺔ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﺘﺨﻄﻴﻂ‬,‫ﻳﺔ‬‫ر‬‫اﳌﺄﻣﻮ‬‫و‬,‫اﺋﺠﻬﺎ‬‫ﻮ‬‫ﲝ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﻏﺎﻳﺔ‬ ‫و‬
,)‫ب‬(‫ﺎ‬‫ﺷﺆو‬ ‫ﲜﻤﻴﻊ‬ ّ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫ﺪﺑﲑ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻓﻴﻬﺎ‬ ‫داﺧﻞ‬,)‫ج‬(‫ﺤﻠﻴﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﻘﻴﺎم‬ ‫و‬ ‫اﳉﺪد‬ ‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺸﻐﻴﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬
‫اﳌﻬﻦ‬,)‫د‬(‫ﻮرى‬ّ‫اﻟﺸ‬ ‫أداء‬) .۲(‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫اﳌﺘﻮﺳ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫أداء‬
‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫وﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ووﻧﻮﻏﲑي‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫ﺔ‬ّ‫اﺳﻴ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﳊﻠﻘﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫اك‬‫ﱰ‬‫اﻹﺷ‬,‫اﳌ‬ ‫و‬ ‫ﺪوة‬ّ‫ﻨ‬‫اﻟ‬‫و‬‫ﻌﻤﻞ‬)‫ب‬(۰
‫اﳌﺘﺎﺑﻌﺔ‬ ‫اﺳﺔ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬)‫ج‬(‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫ﻮرى‬ّ‫اﻟﺸ‬)‫د‬(‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫اﳌﻨﺘﺪى‬ ‫ﺗﻜﻮﻳﻦ‬)‫ه‬(‫اﳌﺪرس‬ ‫ﻓﺎﻫﻴﺔ‬‫ﺮ‬‫ﺑ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬)‫و‬(‫ﻳﺎدة‬‫ز‬
‫ﺔ‬ّ‫اﻟﻌﻤﺎدﻳ‬ ‫اﻓﻖ‬‫ﺮ‬‫اﳌ‬)‫ز‬(‫ﻠﺒﺔ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬ ‫ﻟﺪى‬ ‫اﻹﺳﺘﺸﺎرة‬)‫ف‬(‫اﻷﺧﺮى‬ ‫اﳌﺪارس‬ ‫إﱃ‬ ‫ﻧﺔ‬‫ر‬‫اﳌﻘﺎ‬,)‫ق‬(‫اﳌﺪرس‬ ‫ق‬ّ‫ﺪ‬‫ﻣﺼ‬ ‫و‬.‫أﻣﺎ‬)۳(
‫اﳌ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫اﻩ‬ّ‫أد‬ ‫ﻘﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬ ‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫ﺘﻮﺳ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ﻧﻮﻏﲑي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫ﻗﻴﺐ‬ّ‫اﻟﱰ‬ ‫أداء‬
,ً‫ﺔ‬‫ﲨﺎﻋ‬ ‫ﺎ‬ّ‫إﻣ‬ ‫و‬ ً‫ﺔ‬‫ﻓﺮدﻳ‬ ‫ﺎ‬ّ‫إﻣ‬,)‫ب‬(‫ﻣﺒﺎﺷﺮة‬ ‫ﻏﲑ‬ ‫و‬ ‫ﻣﺒﺎﺷﺮة‬ ‫اﳌﺴﺘﺨﺪﻣﺔ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬,)‫ج‬(‫ﻫﻮ‬ ‫ﻗﻴﺐ‬ّ‫اﻟﱰ‬ ‫ﰲ‬ ‫ﻘﺪﻳﺮ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻧﺎﺣﻴﺔ‬
‫اﳌﺪرس‬ ‫ﺣﻀﻮر‬,‫ﺑﺎﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﲢﻘﻴﻖ‬,‫ﻠﺒﺔ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫اﻷﺣﺪاث‬ ‫ﳎﺮى‬,‫و‬ّ‫ﻳﺴﻲ‬‫ر‬‫ﺪ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﲣﻄﻴﻂ‬,)‫د‬(‫اﳍﻴﺌﺔ‬ ‫اﺳﺘﺨﺪام‬
‫ﺳﲔ‬ّ‫ﻟﻠﻤﺪر‬ ‫رة‬ّ‫اﳌﻘﺮ‬.
‫ﺔ‬ّ‫ﺋﻴﺴﻴ‬ّ‫اﻟﺮ‬ ‫اﻟﻜﻠﻤﺎت‬:‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬,‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬.
v
LEMBAR PENGESAHAN
TESIS
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH
DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Disusun Oleh :
Nama : ABDUL WAHID AHMADI
NIM : 26.11.7.3.001
Telah dipertahankan di depan Majelis Dewan Penguji Tesis Program
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Surakarta pada hari Selasa Tanggal 23
Bulan Februari tahun dua ribu enam belas dan dinyatakan telah memenuhi
syarat guna memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I)
Surakarta, 23 Februari 2016
Ketua / Sekretaris Sidang,
Dr. Moh. Bisri, M.Pd
NIP. 19620718199303 1 003
Penguji I, Penguji Utama,
Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D Dr. H. Baidi, M.Pd
NIP. 19600910 199203 1 003 NIP. 19640302 199603 1 001
Direktur Program Pascasarjana,
Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D
NIP. 19600910 199203 1 003
vi
PERSEMBAHAN
Tesis ini kupersembahkan kepada :
1. Isteri tercinta dan anak tersayang
2. Kedua orangtua dan saudaraku
3. Teman-teman seperjuangan dan almameterku
Pascasarjana IAIN Surakarta Program MPI.
vii
MOTTO
ُ ّ‫ﷲ‬ ‫ى‬َ َ َ َ ْ‫ا‬ ُ َ ْ ‫ا‬ ِ ُ َ‫و‬َ ِ‫إ‬ َ‫ون‬‫ﱡ‬‫د‬َ ُ َ َ‫و‬ َ‫ن‬ ُ ِ ْ ُ ْ ‫ا‬َ‫و‬ ُ ُ ُ َ‫ر‬َ‫و‬ ْ"ُ#َ َ َ
َ‫ن‬ ُ َ ْ$َ% ْ"ُ ُ& 'َ ِ( "ُ#ُ)‫ﱢ‬+َ ُ َ ِ‫ة‬َ‫د‬'َ-‫ﱠ‬/ ‫ا‬َ‫و‬ ِ0ْ َ1ْ ‫ا‬ ِ"ِ 'َ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah: 105)
Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya mangun karsa
Tut wuri handayani
( Ki Hajar Dewantara )
viii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis yang saya susun sebagai
syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Pascasarjana Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta seluruhnya merupakan hasil karya sendiri.
Adapun bagian-bagian dalam penulisan Tesis yang saya kutip dari hasil karya
orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah
dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruhnya atau sebagian Tesis ini bukan asli
karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia
menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi
lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Surakarta, Februari 2016
Yang Menyatakan
Abdul Wahid Ahmadi
NIM : 26.11.7.3.001
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT,
karena atas Rahmat, Taufiq, dan Hidayah serta Inayah-Nya, Tesis dengan Judul:
”Kompetensi Manajerial Kepala Sekolahdalam Meningkatkan Profesionalisme
Guru (Studi Kasus di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri)” ini dapat penulis
selesaikan.
Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyarataan dalam
mendapatkan gelar Magister Pendidikan Islam pada Program Pascasarjana Institut
Agama Islam Negeri Surakarta.
Tesis ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena
itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada:
1. Rektor IAIN Surakarta, Bapak Dr. Mudhofir, S.Ag, M.Pd
2. Direktur Pasca Sarjana IAIN Surakarta Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd,
Ph.D
3. Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd, Ph. D, selaku pembimbing yang dengan
penuh kesabaran disela-sela kesibukannya selalu memberikan petunjuk,
bimbingan, saran-saran serta dorongan bagi penyelesaian tesis ini.
4. Para Dosen pengampu mata kuliah pada Magister Manajemen Pendidikan
Islam IAIN Surakarta, yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat
bermanfaat bagi penulis.
5. Bapak Drs Aris Trilaksono, Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri,
yang telah memberikan izin bagi studi penulis.
x
6. Kedua orang tuaku yang senantiasa mendoakan kebaikan dan kebahagiaan
untuk putra-putrinya.
7. Istri tercinta dan anak-anakku tersayang, tiada kata-kata yang bermakna cukup
sepadan atas pengorbanan dan ketabahan kalian selama ini, marilah kita
syukuri nikmat Allah dengan amal sholih.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah membantu
selama penulis studi hingga penyelesaian Tesis ini.
Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan yang sesuai dengan budi
baik yang telah mereka berikan. Penulis berharap semoga Tesis ini bermanfaat
bagi pengembangan pendidikan, terutama di bidang Manajemen Pendidikan
Islam.
Wonogiri, Februari 2016
Penulis
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................... i
ABSTRAK .................................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... v
LEMBAR PERNYATAAB KEASLIAN TESIS........................................... vi
PERSEMBAHAN......................................................................................... vii
MOTTO .......................................................................................................viii
KATA PENGATAR..................................................................................... ix
DAFTAR ISI ............................................................................................... x
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar belakang masalah ........................................................................... 1
B. Perumusan masalah ................................................................................. 9
C. Tujuan penelitian ..................................................................................... 10
D. Manfaat penelitian ................................................................................... 10
BAB II KAJIAN TEORI............................................................................... 12
A. Teori yang Relevan .................................................................................. 12
1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah .............................................. 12
a. Pengertian Kompetensi.................................................................... 12
b. Pengertian Manajerial...................................................................... 13
c. Pengertian Kepala Sekolah .............................................................. 32
2. Profesionalisme Guru.......................................................................... 41
a. Kompetensi pedagogik ................................................................... 47
b. Kompetensi Kepribadian................................................................. 47
c. Kompetensi Profesional................................................................... 48
d. Kompetensi Sosial........................................................................... 49
3. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dalam Peningkatan
Profesionalisme Guru.......................................................................... 60
a. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru.............................. 64
b. Pengembangan Profesionalisme Guru.............................................. 71
c. Penilaian Profesionalisme Guru....................................................... 74
B. Penelitian yang relevan ............................................................................ 77
xii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 80
A. Metode Penelitian ................................................................................... 80
B. Latar SettingPenelitian ............................................................................ 83
C. Subjek dan Informan Penelitian................................................................ 87
D. Metode pengumpulan data ...................................................................... 88
1. Observasi terlibat ................................................................................ 88
2. Wawancara mendalam ........................................................................ 88
3. Dokumentasi....................................................................................... 89
E. Pemeriksaan Keabsahan Data ................................................................... 89
F. Teknik Analisa Data ................................................................................. 92
BAB IV HASIL PENELITIAN..................................................................... 95
A. Deskripsi data .......................................................................................... 95
1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru .................................. 95
2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru................................... 96
3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru......................................... 97
B. Penafsiran ................................................................................................ 97
1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru .................................. 97
2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru................................... 99
3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru.........................................100
C. Pembahasan .............................................................................................102
1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru ..................................102
2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru...................................108
3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru.........................................122
BAB V PENUTUP .......................................................................................126
A. Kesimpulan..............................................................................................126
B. Implikasi ..................................................................................................128
C. Saran........................................................................................................130
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................132
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 133
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Panduan Observasi .................................................................... 142
Lampiran 2 Panduan Wawancara ................................................................... 143
Lampiran 3 Foto-foto Kegiatan ..................................................................... 145
Lampiran 4 Catatan Lapangan ........................................................................ 146
i
KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH
DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)
PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Abdul Wahid Ahmadi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perencanaan kompetensi
manajerial; (2) pelaksanaan kompetensi manajerial; (3) dan evaluasi kompetensi
manajerial kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian
diskriptif kualitatif. Subyeknya yaitu kepala sekolah. Adapun informannya yakni
wakil kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data (1) observasi, (2)
wawancara dan (3) dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan pemeriksaan
keabsahan data, menggunakan triangulasi, dengan verifikasi dan pengecekan
mengenai kecukupan referensi. Teknik analisis data menggunakan model
interaktif.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Perencanaan kompetensi manajerial yang
dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a)
Perencanaan berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need
assesment); (b) Melibatkan seluruh unsur civitas akademika sekolah; (c)
Melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis jabatan pekerjaan;
(d) dilakukan dalam rapat kerja. (2) Pelaksanaan kompetensi manajerial dalam
meningkatkan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Mengikutkan dalam diklat, seminar, maupun
workshop; (b) Studi lanjut; (c) Revitalisasi MGMP; (d) Membentuk forum
silaturrahim antar guru; (e) Meningkatkan kesejahteraan guru; (f) Penambahan
fasilitas penunjang; (g) Mengoptimalkan bimbingan konseling; (h) Studi banding
ke sekolah lain, dan (i) sertifikasi guru. Sedangkan (3) evaluasi yang dilakukan
oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) melakukan
supervisi, baik secara personal maupun kelompok; (b) Teknik yang digunakan
adalah secara langsung (directive) dan tidak langsung (non direcvtive); (c) Aspek
penilaian dalam supervisi adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah,
perkembangan siswa, RPP, dan silabus; (d) menggunakan format SKP/DP3.
Kata kunci : Kompetensi Manajerial, Profesionalisme Guru
ii
MANAGERIAL COMPETENCIES PRINCIPALS IN IMPROVING THE
PROFESSIONALISM OF TEACHERS AT SECONDARY VOCATIONAL
SCHOOLS ( SMK ) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI
Abdul Wahid Ahmadi
Abstract
The purpose of this research is: (1) Knowing planning managerial
competence; (2) Implementation of managerial competence; (3) and managerial
competency evaluation principals SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri to
improving the professionalism of teachers.
This research was conducted using qualitative descriptive approach.
Which is the principal as subject, as for the informant is the deputy principal and
teachers. The techniques of data collection using : (1) observation; (2) interviews;
and (3) documentation. Data have been collected followed by examination of the
validity of data, using triangulation, with the verification and checking on the
adequacy of reference. While technique of data analysis using an interactive
model.
The results of this research are : (1) Planning managerial competence that
is done by the SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal include : (a)
planning based on vision, mission, the purpose of schools and the needs of ( need
assessment ); (b) involve all elements of the school it broadcasts; (c) perform new
temporary teachers (GTT) recruitment and perform analysis of job position; (d)
which it is carried out in a working meeting. (2) The implementation of
managerial competence in improving the professionalism of teachers is done by
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal : (a) to join in the training;
seminar, and workshop; (b) advanced study; (c) revitalization of MGMP; (d)
formed get together between teachers; (e) increase the welfare of teachers; (f)
adding supporting facilities; (g) optimize guidance counseling; (h) study visits to
other schools; (i) teachers certification. (3) The evaluation is done by the principal
of SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri covers : (a) perform supervision both
personal and group; (b) techniques used is directly and indirectly; (c) the aspects
of the assessment in supervision is pupils teachers, teacher performance in
schools, the development of students, RPP, and Syllabus; (d) using format
SKP/DP3.
Key words : Managerial competence, the professionalism of teachers.
iii
‫المتخصصة‬ ‫المتوسطة‬ ‫المدرسة‬ ‫في‬ ‫المدرس‬ ‫احتراف‬ ‫تنمية‬ ‫في‬ ‫المدرسة‬ ‫لرئيس‬ ‫التنظيم‬ ‫كفائة‬
‫بانجاسيال‬۸‫وونوغيري‬ ‫سلوغوهموا‬
‫احمدى‬ ‫الواحد‬ ‫عبد‬
‫الملخص‬
‫أقيم‬( : ‫منها‬ ‫أهداف‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬۱( : ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫لكفائة‬ ‫خطيط‬ّ‫الت‬ ‫ة‬ّ‫كيفي‬‫ملعرفة‬ )۲‫كفائة‬‫تطبيق‬ )
( ,‫و‬ ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫التنظيم‬۳.‫املدرس‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ ‫تنمية‬ ‫يف‬ ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫التنظيم‬ ‫لكفائة‬ ‫تقومي‬ )
‫ا‬ ‫و‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫هو‬ ‫املبحث‬ .‫النوعي‬ ‫البحث‬ ‫بة‬‫ر‬‫مقا‬ ‫باستخدام‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬ ‫أقيم‬‫هو‬ ‫ملخرب‬‫ئيس‬‫ر‬ ‫نائب‬
(‫على‬ ‫تشمل‬ ‫البيانات‬ ‫مجع‬ ‫يقة‬‫ر‬‫ط‬ .‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫من‬ ‫نائب‬ ‫و‬ ‫املدرسة‬۱)( , ‫ع‬ّ‫تب‬ّ‫الت‬۲( , ‫املقابلة‬ )٣‫وثيق.جمموعة‬ّ‫الت‬ ‫و‬ )
‫حتليل‬ ‫يقة‬‫ر‬‫ط‬ .‫هلا‬ ‫الكافية‬ ‫اجع‬‫ر‬‫امل‬ ‫على‬ ‫تضبيط‬ ‫و‬ , ‫قيقي‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫البيانات‬ ‫إثبات‬ ‫منها‬ ‫اءات‬‫ر‬‫بإج‬ ‫مضبوطة‬ ‫البيانات‬
.‫عامل‬ّ‫الت‬ ‫شكل‬ ‫على‬ ‫البيانات‬
( : ‫هي‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬ ‫من‬ ‫تائج‬ّ‫الن‬۱‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫اه‬ّ‫اد‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬‫على‬ ‫خطيط‬ّ‫الت‬ )
‫باجناسيال‬۸‫ائجها‬‫و‬‫حب‬ ‫املدرسة‬ ‫غاية‬ ‫و‬ ,‫ية‬‫ر‬‫املأمو‬‫و‬ , ‫الرؤية‬ ‫على‬ ‫التخطيط‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫يشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬
‫شؤو‬ ‫جبميع‬ ّ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫دبري‬ّ‫الت‬ ‫فيها‬ ‫داخل‬ )‫(ب‬ ,‫حليل‬ّ‫الت‬ ‫على‬ ‫القيام‬ ‫و‬ ‫اجلدد‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫على‬ ‫شغيل‬ّ‫الت‬ )‫(ج‬ , ‫هنا‬
( .‫ورى‬ّ‫الش‬ ‫أداء‬ )‫(د‬ , ‫املهن‬۲‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫من‬ ‫س‬ّ‫املدر‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ ‫تنمية‬ ‫يف‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬‫أداء‬ )
‫باجناسيال‬۸ّ‫الن‬‫و‬ , ‫ة‬ّ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫احللقة‬ ‫يف‬ ‫اك‬‫رت‬‫اإلش‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫ويشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬)‫(ب‬ ‫املعمل‬ ‫و‬ ‫دوة‬۰
‫يادة‬‫ز‬ )‫(و‬ ‫املدرس‬ ‫برفاهية‬ ‫تنمية‬ )‫(ه‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫بني‬ ‫املنتدى‬ ‫تكوين‬ )‫(د‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫بني‬ ‫ورى‬ّ‫الش‬ )‫(ج‬ ‫املتابعة‬ ‫اسة‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬
( ‫أما‬ .‫املدرس‬ ‫ق‬ّ‫د‬‫مص‬ ‫و‬ )‫(ق‬ , ‫األخرى‬ ‫املدارس‬ ‫إىل‬ ‫نة‬‫ر‬‫املقا‬ )‫(ف‬ ‫لبة‬ّ‫ط‬‫ال‬ ‫لدى‬ ‫اإلستشارة‬ )‫(ز‬ ‫ة‬ّ‫العمادي‬ ‫افق‬‫ر‬‫امل‬۳)
‫ئيس‬‫ر‬ ‫اه‬ّ‫أد‬ ‫قيم‬ّ‫الت‬‫باجناسيال‬ ‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬۸‫قيب‬ّ‫الرت‬ ‫أداء‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫يشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬
‫هو‬ ‫قيب‬ّ‫الرت‬ ‫يف‬ ‫قدير‬ّ‫الت‬ ‫ناحية‬ )‫(ج‬ , ‫مباشرة‬ ‫غري‬ ‫و‬ ‫مباشرة‬ ‫املستخدمة‬ ‫يقة‬‫ر‬ّ‫ط‬‫ال‬ )‫(ب‬ , ً‫ة‬‫مجاع‬ ‫ا‬ّ‫إم‬ ‫و‬ ً‫ة‬‫فردي‬ ‫ا‬ّ‫إم‬ ,
‫ال‬ ‫بني‬ ‫األحداث‬ ‫جمرى‬ , ‫باملدرسة‬ ‫س‬ّ‫املدر‬ ‫حتقيق‬ , ‫املدرس‬ ‫حضور‬‫اهليئة‬ ‫استخدام‬ )‫(د‬ ,ّ‫يسي‬‫ر‬‫د‬ّ‫الت‬ ‫ختطيط‬ ‫و‬ , ‫لبة‬ّ‫ط‬
.‫سني‬ّ‫للمدر‬ ‫رة‬ّ‫املقر‬
.‫س‬ّ‫املدر‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ , ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬: ‫ة‬ّ‫ئيسي‬ّ‫الر‬ ‫الكلمات‬
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal
yang sangat penting karena pendidikan merupakan salah satu penentu mutu
sumberdaya manusia (SDM). Keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai
dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan
sumberdaya manusianya. Mutu SDM berkorelasi positif dengan mutu
pendidikan, dan mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang
baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam
pendidikan. Komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran,
tenaga kependidikan, sarana prasarana serta biaya.
Mutu pendidikan akan tercapai apabila masukan, proses, keluaran, guru,
sarana dan prasarana serta biaya tersedia dan terlaksana dengan baik. Namun
dari beberapa komponen tersebut yang lebih banyak berperan adalah guru
yang bermutu atau berkualitas (Sri Damayanti, 2008: ). Seorang guru dituntut
untuk dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendidikan di
lingkungan sekolah terutama dalam hal belajar. Guru memegang peranan
sentral dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu mutu pendidikan
disuatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan yang
dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugas-tugasnya (Zainal Aqib,
2002: 22). Guru merupakan komponen yang sangat penting dalam
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
1
2
Berkaitan dengan pentingnya guru dalam meningkatkan kualitas/mutu
pendidikan, H.A.R. Tilaar (1999:23) mengatakan bahwa pendidik (guru) abad
21 harus memenuhi empat kriteria yaitu: (1) mempunyai kepribadian yang
matang (mature and developing personality), (2) menguasai ilmu
pengetahuan dan tekonologi, (3) mempunyai keterampilan untuk
membangkitkan minat peserta didik, dan (4) mengembangkan profesinya
secara kesinambungan. Dari pendapat Tilaar tersebut tugas pendidik sangat
kompleks dan penuh dengan tantangan untuk diaplikasikan dalam profesinya,
oleh sebab itu guru dituntut untuk terus mengembangkan profesionalitasnya.
Seorang guru yang profesional menurut Muhaimin (2003: 217) harus
mempunyai karakteristik yakni: (1) komitmen terhadap profesionalitas, yang
melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan
hasil kerja serta sikap continous improvement. (2) menguasai ilmu dan
mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan,
menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya atau sekaligus melakukan
“transfer ilmu/pengetahuan, internalisasi serta amaliyah (implementasi)”. (3)
memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui
pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan dan berusaha
mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka serta
melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
Berdasarkan pendapat Muhaimin tersebut, peningkatan profesionalisme guru
harus menjadi prioritas utama pemerintah dan instansi terkait demi
terwujudnya guru yang profesional.
3
Di sisi lain, profesionalisme guru di Indonesia masih jauh dari apa yang
dicita-citakan. Berdasarkan hasil tes kompetensi yang dilakukan Departemen
Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Lanjutan Pertama yang
bekerjasama dengan Pusat Penilaian Pendidikan Tahun 2003, menunjukkan
rata-rata nilai kompetensi guru hanya mencapai 42, 25 %. Angka ini masih
relatif jauh dibawah standar nilai kompetensi minimal yang diharapkan yaitu
75 %. Di samping itu menurut Human Development Index (HDI), guru yang
memiliki standar kualifikasi mengajar adalah berkisar 60% untuk SD, 40 %
untuk SMP, 34% untuk SMA. dan 17, 2 % guru mengajar tidak sesuai dengan
bidang studi atau latar belakang pendidikannya (Arni Hayati, 2009).
Menjadi guru yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa
adanya upaya untuk meningkatkannya, hal ini membutuhkan dukungan dari
pihak-pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah kepala
sekolah/madrasah, dimana kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan
yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan pelaksanaan
program pendidikan di sekolah. Ketercapaian dan terwujudnya guru yang
profesional sangat bergantung pada kecakapan/kemampuan manajerial kepala
sekolah.
Dalam konteks paradigma desentralisasi dan otonomi pendidikan,
sekolah mempunyai wewenang yang sangat besar untuk mengatur dan
mengelola sekolahnya sendiri. Otonomi yang lebih besar dari institusi sekolah
ini menuntut adanya kemauan dan kemampuan seluruh personel sekolah yang
lebih berkualitas. Hal ini berkaitan erat dengan implementasi berbagai prinsip
4
dan paradigma baru manajemen pendidikan, yang perlu diperhatikan seperti
transparansi, akuntabilitas, fleksibilitas, efektivitas dan efisiensi, partisipasi
seluruh warga dan stakeholders, penyederhanaan birokrasi, dan penyaluran
aspirasi dengan sistem bottom up, serta penerapan manajemen terbuka/open
management (Kusnan, 2007:1). Oleh sebab itu, kedudukan kepala sekolah
sangat penting dan strategis dalam mengelola dan mencapai tujuan institusi
sekolah yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan kepala sekolah sebagai
pemimpin puncak (top leader) di sekolah mempunyai otoritas penuh untuk
mengelola sekolah termasuk melakukan pengelolaan dan pengembangan
profesionalisme guru.
Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru dapat mencakup implementasi kegiatan atau
pelaksanaan fungsi-fungsi manajerial, mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, maupun pengawasan. Untuk dapat
melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut, kepala sekolah dituntut
menguasai sejumlah kompetensi atau kemampuan manajerial.
Secara operasional kepala sekolah adalah orang yang paling
bertanggungjawab dalam merencanakan, mengkoordinasikan, menggerakkan,
dan menyelaraskan semua sumberdaya (resources) sekolah serta dapat
mengevaluasinya. Kepala sekolah merupakan faktor pendorong untuk
mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah yang dipimpinnya menuju
sekolah yang bermutu, bermutu di bidang pelayanan, di bidang pembelajaran,
5
di bidang sarana prasarana, profesionalisme guru, dan di bidang prestasi
akademik dan non akademik (Syarnubi Som, 2008).
Berdasarkan kajian, dan hasil penelitian para ahli tentang kepala sekolah
dapat dikatakan bahwa kepala sekolah adalah kunci keberhasilan pendidikan
di sekolah (Sudarwan Danim, 2005:96). Kepala sekolah merupakan the
keyperson (penanggungjawab utama atau faktor kunci) untuk membawa
sekolah menjadi center of excellence, pusat keunggulan dalam mencetak dan
mengembangkan sumberdaya manusia.
Penelitian tentang kepala sekolah sebagai salah satu faktor yang dapat
meningkatkan profesionalisme guru adalah hasil kajian yang dilakukan oleh
Kusnan, dari hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa kemampuan manajerial
kepala sekolah merupakan faktor penting dan strategis dalam kerangka
peningkatan kualitas guru dan kemajuan sekolah yang dipimpinnya. Dengan
kemampuan manajerial, baik kemampuan teknik, kemampuan hubungan
kemanusian, maupun kemampuan konseptual yang memadai kepala sekolah
mampu menggerakkan seluruh potensi sekolah termasuk dapat memacu
peningkatan kualitas kinerja profesional para guru di sekolah (Kusnan,
2007:1).
Hasil penelitian Moedjiarto menyebutkan kepemimpinan kepala sekolah
pada SMA Swasta di Surabaya yang tergolong unggul ternyata dinilai cukup
baik dalam arti kepala sekolah mempunyai pemahaman yang baik terhadap
visi dan misi sekolahnya, melaksanakan kontrol terhadap siswa dan proses
pembelajaran terutama tugas para gurunya (Moedjiarto, 2001:90). Senada
6
dengan hasil penelitian Moedjiarto, hasil penelitian Lamatenggo
menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif dan meyakinkan antara
perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru Sekolah Dasar di
Daerah Gorontalo. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat perilaku
kepemimpinan kepala sekolah, semakin tinggi pula kinerja para gurunya
(Lamatenggo, 2001: 98).
Sutermeister mengemukakan hasil kajiannya bahwa ada beberapa faktor
determinan terhadap pruduktivitas kerja (termasuk produktiftas guru dalam
institusi pendidikan) antara lain iklim kepemimpinan (leadership climate),
tipe kepemimpinan (type of leadership), dan pemimpin (leaders), dari 33
faktor lain yang berpengaruh (Robert Sutermeister, 1976: 44). Ini berarti,
profesionalisme kepala sekolah menjadi sebuah keharusan. Keller (1979)
memperjelas pernyataan ini dengan ungkapan sebagai berikut: “The key to
the educational cookie is the principal. The principal is the motivational
yeast: how high the students and the teachers rise to their challenge is the
principal’s responsibility”.
De Roche, pakar pendidikan mengungkapkan bahwa tidak ada sekolah
yang baik tanpa kepala sekolah yang baik. Sergiovanni (1987) menyatakan
bahwa tidak ada siswa yang tidak dapat dididik, yang ada adalah guru yang
tidak berhasil mendidik. Tidak ada guru yang tidak berhasil mendidik, yang
ada adalah kepala sekolah yang tidak mampu membuat guru berhasil
mendidik. Wahjosumidjo (1999: 3) berpendapat bahwa keberhasilan sekolah
adalah keberhasilan kepala sekolah.
7
Kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam
organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumberdaya organisasi dan
bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan
pendidikan serta memahami semua kebutuhan sekolah. Dengan
keprofesionalan kepala sekolah, pengembangan profesionalisme guru mudah
dilakukan karena sesuai dengan peran dan fungsinya. Menurut Mulyasa
(2007: 78-79) yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru adalah sesebagai berikut: (1) menyusun penyetaraan
bagi guru yang memiliki kualifikasi SMA/DIII agar mengikuti penyetaraan
S1/Akta 1V, sehingga mereka dapat menambah wawasan keilmuan dan
pengetahuan yang menunjang tugasnya, (2) mengikutsertakan guru-guru
dalam forum ilmiah seperti seminar, pendidikan dan latihan maupun
lokakarya, (3) revitalisasi KKG (kelompok kerja guru), dan MGMP
(musyawarah guru mata pelajaran), serta (4) meningkatkan kesejahteraan
guru.
Profesionalisme kepala sekolah dapat tercapai apabila sudah memenuhi
syarat dan memiliki kompetensi tertentu yang sudah ditetapkan dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 13 Tahun 2007.
Ada lima kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah yakni: kompetensi
kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Dengan
terbitnya Permendiknas tersebut, pemerintah akan melakukan sertifikasi bagi
calon kepala sekolah di seluruh Indonesia. Adapun sertifikasi calon kepala
sekolah meliputi: (1) penetapan formasi kepala sekolah, (2) rekrutmen calon
8
kepala sekolah, (3) seleksi calon kepala sekolah, (4) pendidikan dan pelatihan
calon kepala sekolah, (5) uji kompetensi calon kepala sekolah, dan (6) uji
akseptabilitas calon kepala sekolah (Ibrahim Bafadal, 2008).
Namun banyak faktor penghambat tercapainya profesionalisme kepala
sekolah seperti proses pengangkatannya tidak transparan, kurang memenuhi
persyaratan dan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan dalam Permendiknas
No 13 tahun 2007, misalnya tidak mempunyai keahlian (kompetensi)
manajerial dalam mengelola dan mengembangkan profesionalisme guru,
rendahnya mental kepala sekolah yang ditandai dengan kurangnya motivasi
dan semangat serta kurangnya disiplin dalam melakukan tugas, dan seringnya
datang terlambat, wawasan kepala sekolah yang masih sempit, serta banyak
faktor penghambat lainnya yang menghambat tumbuhnya kepala sekolah
yang profesional untuk meningkatkan kualitas mutu guru dan mutu
pendidikan secara nasional.
Menyimak dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu
indikasi sebuah sekolah bermutu adalah tersedianya guru yang profesional,
tersedianya guru yang profesional tercapai apabila ada pihak-pihak yang
selalu konsisten mengembangkannya dalam hal ini adalah kepala sekolah.
Kepala sekolah selaku pemimpin dan manajer di sekolah dituntut professional
dalam mengemban tugas khususnya dalam mengelola dan meningkatkan
profesionalisme guru. Dengan kata lain semakin profesional seorang kepala
sekolah maka semakin besar harapan meningkatnya profesional guru di
sekolah.
9
Upaya mempertahankan bahkan mengembangkan SMK Pancasila 8
Slogohimo sebagai lembaga pendidikan swasta di tengah-tengah
berkembangnya sekolah negeri tentu bukanlah pekerjaan yang mudah dan
ringan. Di sini diperlukan kerja keras, komitmen, dedikasi, loyalitas dan
semangat pantang menyerah semua stakeholder di dalamnya. Dan aktor fital
dalam membangun kualitas pendidikan,agar lebih maju dan memberikan nilai
manfaat bagi lulusan dan masyarakat adalah kepala sekolah. Sebab
kedudukan kepala sekolah bukan hanya selaku top manajer tapi juga sebagai
motivator dan dinamisator yang mampu menggerakkan semua elemen di
sekolah.
Prestasi akademik dan non akademik yang selama ini dicapai oleh SMK
Pancasila 8 Slogohimo tentunya tak lepas dari peran kepala sekolah dalam
mengeksplorasi dan memberdayakan segala potensi yang ada di sekolah,
terutama dalam mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme guru.
Berdasarkan paparan di atas, penulis terdorong untuk mengkaji dan
meneliti tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru menjadi sebuah penelitian. Penelitian ini akan dilakukan
di SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri. Karena SMK ini termasuk sekolah
swasta yang berdiri sejak tahun 1988 dan belum ada satupun SMK Negeri di
wilayah timur Kabupaten Wonogiri, dan hingga kini sangat banyaknya
bermunculan SMK Negeri, SMK ini tetap eksis berdiri dan menjadi pilihan
utama para peserta didik dan masyarakat. Bahkan lulusan SMK Pancasila 8
10
Slogohimo telah banyak terserap di dunia kerja baik dalam maupun luar
negeri.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka secara rinci dapat dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana perencanaan manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru?
2. Bagaimana pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh
kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan
profesionalisme guru?
3. Bagaimana evaluasi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka secara rinci yang menjadi
tujuan utama penelitian ini adalah:
1. Untuk mendiskripsikan perencanaan manajerial yang dilakukan oleh
kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
11
2. Untuk mendiskripsikan pelaksanaan manajerial yang dilakukan oleh
kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
3. Untuk mendiskripsikan evaluasi manajerial yang dilakukan kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian terhadap kompetensi manajerial kepala sekolah dalam
peningkatan profesionalisme guru ini diharapkan memberikan manfaat antara
lain :
1. Manfaat teoritis
a. Sebagai penambahan referensi mengenai kompetensi manajerial
kepala sekolah baik pada aspek perencanaan, pelaksanaan maupun
evaluasinya.
b. Sebagai bahan rujukan ilmiyah dalam pengembangan kompetensi
dan profesionalisme guru.
2. Manfaat praktis
Manfaat praktis yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
a. Bagi kepala sekolah secara umum dan secara khusus bagi kepala
SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam melaksanakan
12
tugasnya, utamanya yang berkaitan dengan peningkatan
profesionalisme guru
b. Bagi para guru di Indonesia khususnya para guru SMK Pancasila 8
Slogohimo, Wonogiri untuk senantiasa menyadari akan pentingnya
peningkatan kualitas dalam melaksanakan proses belajar mengajar
guna menciptakan out-put yang berkualitas
c. Bagi seluruh civitas pendidikan khususnya di lingkungan sekolah
agar senantiasa memperhatikan pentingnya peningkatan
profesionalisme guru
d. Bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar semakin
meningkatkan perannya terhadap peningkatan profesionalisme guru
demi kemajuan sekolah
e. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan tentang kompetensi
manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan professionalisme
guru
f. Bagi peneliti lain selanjutnya sebagai bahan rujukan untuk penelitian
yang sama atau penelitian yang lebih luas pada umumnya.
13
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Teori yang Relevan
1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
a. Pengertian Kompetensi
Menurut Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005
disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai
oleh guru, dan dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
Louise Moqvist berpendapat bahwa “competency has been defined
in the light of actual circumsastances relating the indivudual and
work”. Kompetensi menurut training agency sebagaimana disebutkan
oleh Len Holmes menyebutkan bahwa” a competence is a description
of something wich a person mhi works in a given occupational area
should be able to do. It is description of an action, behavior or outcome
which a person should be able to demonstrate (E.Mulyasa, 2007: 25).
Dari beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
kompetensi pada hakikatnya merupakan gambaran tentang apa yang
seyogyanya dapat dilakukan seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa
kegiatan, perilaku dan hasil yang dapat ditampilkan atau ditunjukkan.
Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, orang harus
mempunyai kemampuan dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan
keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.
13
14
Spencer and Spencer menambahkan bahwa “a competency is an
underlying characteristic of individual that is causally related to
criterion-referenced effective and/or superior performance in a job or
situation” (Spencer, M,. Lyle, Jr and Signe M. Spencer, 1993: 8).
Artinya bahwa kompetensi seseorang menjadi ciri dasar individu
dikaitkan dengan standar kriteria kinerja yang efektif dan atau superior.
Dari penjelasan diatas spencer berpendapat bahwa kompetensi
disamping menentukan perilaku dan kinerja seseorang juga menentukan
apakah seseorang melakukan pekerjaannya dengan baik berdasarkan
standar kriteria yang telah ditentukan.
b. Pengertian Manajerial
Istilah manajerial merupakan kata sifat yang berhubungan dengan
kepemimpinan dan pengelolaan. Dalam banyak kepustakaan, kata
manajerial sering disebut sebagai asal kata dari management yang
berarti melatih kuda atau secara harfiah diartikan sebagai to handle
yang berarti mengurus, menangani, atau mengendalikan. manajemen
merupakan kata benda yang dapat berarti pengelolaan, tata pimpinan
atau ketatalaksanaan (Ulbert Silahahi, 2002: 135).
Kata manajemen menurut Mochtar Effendy berasal dari bahasa
Inggris, yakni dari kata kerja to manage yang bersinonim dengan kata
to hand yang berarti mengurus, to control memeriksa dan to guide yang
berarti memimpin. Jadi, apabila dilihat dari arti etimologi, manajemen
15
berarti pengurusan, pengendalian, memimpin atau membimbing
(Mochtar Effendy, 1986: 96).
Sedangkan pengertian manajemen secara terminologi sebagaimana
dikemukakan oleh Fridreck Taylor adalah : Management, the art of
management is defined as knowing exactly what you want to do, and
then seing that they do tersebut in the bestand cheapest way (Fridreck
Taylor W., 1974: 2). Manajemen adalah seni yang ditentukan untuk
mengetahui dengan sungguh-sungguh apa yang ingin kamu lakukan,
dan mangawasi bahwa mereka mengerjakan sesuatu dengan sebaik-
baiknya dan dengan cara yang semudah-mudahnya.
Dimek menyebutkan bahwa : management is knowing where you
want to go, what shall you must avoid, what the forces are with to
which you must deal, and how to handle your ship, and your crew
effectively and without waste, in the process of getting there (Dimeck,
1954: 10). Sedangkan Mondy, Sharplin, dan Flippo mengartikan
manajemen sebagai “the process of getting thing done through the
effort of other people” (Mondy, R.W., Sharplin, A. dan Flippo, 1988:
9).
Manajemen adalah suatu disiplin ilmu untuk mengetahui kemana
arah yang dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan-
kekuatan apa yang harus dijalankan, dan bagaimana memimpin para
guru dan staf secara efektif tanpa adanya pemborosan dalam proses
mengerjakannya.
16
Malayu S. P. Hasibuan (2001: 2) mengartikan manajemen adalah
ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan
sumber- sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu
tujuan tertentu.
Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa
manajemen merupakan suatu ilmu dan seni yang dimiliki oleh manusia
dalam upaya memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber
daya yang lain dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengawasan, yang dilakukan secara fektifdan efisien
dengan melibatkan seluruh anggota secara ektif untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pada prinsipnya pengertian manajemen mempunyai beberapa
karakteristik sebagai berikut: (1) ada tujuan yang ingin dicapai; (2)
sebagai perpaduan ilmu dan seni; (3) merupakan proses yang sistematis,
terkoordinasi, koperatif, dan terintegrasi dalam memanfaatkan unsur-
unsurnya; (4) ada dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam suatu
organisasi; (5) didasarkan pada pembagian kerja, tugas dan tanggung
jawab; (6) mencakup beberapa fungsi; (7) merupakan alat untuk
mencapai tujuan (Malayu SP. Hasibuan, 2001: 3).
Manajemen merupakan suatu proses pengelolaan sumber daya
yang ada mempunyai empat fungsi yaitu perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Hal ini sesuai dengan
17
pendapat George R. Terry dalam Sutopo (1999: 14) menyatakan bahwa
fungsi manajemen mencakup kegiatan-kegiatan:
1) Perencanaan (planning): Budgetting, Programming, Decision
Making, Forecasting
2) Pengorganisasian (organizing): Structuring, Assembling Resources,
Staffing
3) Penggerakan (directing): Coordinating, Directing, Commanding,
Motivating, Leading, Motivating
4) Pengawasan (controlling): Monitoring, Evaluating, Reporting yang
dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumberdaya lainnya.
Proses kegiatan manajemen dalam dunia pendidikan merupakan
suatu sistem yang terdiri dari sub-sub sistem yang saling berkaitan satu
dengan yang lain. Kegiatan tersebut meruapakan satu kesatuan yang
saling mempengaruhi. Perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengawasan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain meskipun
pelaksanaannya dikerjakan oleh unit-unit kerja yang berbeda. Apabila
keterpaduan proses kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik,
maka keterpaduan proses kegiatan tersebut menjadi suatu siklus proses
kegiatan yang dapat menunjang perkambangan dan peningkatan
kualitas kerja (Hendyat Sutopo, 2001: 5).
Upaya pencapaian tujuan pendidikan harus direncanakan dengan
memperhitungkan sumberdaya, situasi, dan kondisi yang ada dalam
18
rangka mencapai tujuan yang efektif. Semua sumberdaya yang terkait
dan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu
agar tercapai suatu kerjasama yang harmonis dalam mencapai tujuan
tersebut.
Keterpaduan kerja organisasi memerlukan pengarahan, dorongan,
koordinasi, dan kepemimpinan efektif. Pelakasanan semua kegiatan
tersebut harus dikendalikan, dimonitor dan dievaluasi kefektifan dan
keefisiennya. Hasilnya merupakan feedback yang sangat berguna untuk
menyempurnakan dan meningkatkan perencanaan, pengorganisasian,
dan pelaksaanaan kegiatan berikutnya (Hendyat Sutopo, 2001:5).
Secara visual siklus proses kegiatan manajemen dapat digambarkan
sebagai berikut:
Gambar 1
Siklus Kegiatan Manajemen
Seorang manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah, di samping
harus mampu melaksanakan proses manajemen yang merujuk pada
fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, actuating,
controlling), juga dituntut untuk memahami sekaligus menerapkan
Planning
Actuating
OrganizingControlling
19
seluruh substansi kegiatan pendidikan. Wayan Koster mengemukakan
bahwa dalam konteks MPMBS, kepala sekolah dituntut untuk memiliki
kemampuan: (1) menjabarkan sumber daya sekolah untuk mendukung
pelaksanaan proses belajar mengajar, (2) kepala administrasi, (3)
sebagai manajer perencanaan dan pemimpin pengajaran, dan (4)
mempunyai tugas untuk mengatur, mengorganisir dan memimpin
keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pendidikan di sekolah.
Dikemukakan pula bahwa sebagai kepala administrasi, kepala sekolah
bertugas untuk membangun manajemen sekolah serta
bertanggungjawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan
kebijakan sekolah (Akhmad Sudrajat, 2008: 6).
Sementara itu, menurut pendapat Sanusi dalam Akhmad Sudrajat
(2008: 6) menjelaskan bahwa:
“ Perubahan dalam peranan dan fungsi sekolah dari yang statis di
jaman lampau kepada yang dinamis dan fungsional-konstruktif di
era globalisasi, membawa tanggung jawab yang lebih luas kepada
sekolah, khususnya kepada administrator sekolah. Pada mereka
harus tersedia pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan nyata
masyarakat serta kesediaan dan keterampilan untuk mempelajari
secara kontinyu perubahan yang sedang terjadi di masyarakat
sehingga sekolah melalui program-program pendidikan yang
disajikannya dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan kebutuhan
baru dan kondisi baru”.
Diisyaratkan oleh pendapat tersebut, bahwa kepala sekolah sebagai
salah satu kategori administrator pendidikan perlu melengkapi wawasan
kepemimpinan pendidikannya dengan pengetahuan dan sikap yang
antisipatif terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat, termasuk perkembangan kebijakan makro pendidikan.
20
Wujud perubahan dan perkembangan yang paling aktual saat ini adalah
makin tingginya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, dan
gencarnya tuntutan kebijakan pendidikan yang meliputi peningkatan
aspek-aspek pemerataan kesempatan, mutu, efisiensi dan relevansi.
Pada bagian lain, Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir dengan
mengutip dari Dirawat mengemukakan tentang pemikiran Bogdan
bahwa dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan terdapat empat
kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pendidikan,
yaitu: (1) kemampuan mengorganisasikan dan membantu staf di dalam
merumuskan perbaikan pengajaran di sekolah dalam bentuk program
yang lengkap; (2) kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk
kepercayaan pada diri sendiri dari guru-guru dan anggota staf sekolah
lainnya; (3) kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama
dalam mengajukan dan melaksanakan program-program supervisi; dan
(4) kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta
segenap staf sekolah lainnya agar mereka dengan penuh kerelaan dan
tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha-usaha
sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah itu sebaik-baiknya
(Akhmad Sudrajat, 2008: 6).
Diantara tugas dan fungsi seorang kepala sekolah/madrasah adalah
kepala sekolah sebagai seorang manajer. A. F Stoner (1982: 8-13)
mengemukakan bahwa keberadaan manajer pada suatu organisasi
sangat diperlukan. Menurut Stoner ada delapan fungsi seorang manajer
21
yang perlu dilakanakan dalam suatu organisasi yaitu: (1) bekerja dan
dengan melalui orang lain; (2) dengan waktu dan sumber yang terbatas
mampu menghadapi berbagai persoalan; (3) bertanggung jawab dan
mempertanggung jawabkan; (4) berfikir secara realistik dan konseptual;
(5) adalah juru penengah; (6) adalah seorang politis; (7) adalah seorang
diplomat; (8) mengambil keputusan yang sulit.
Kedelapan fungsi manajer dikemukakan oleh Stoner tersebut tentu
saja berlaku bagi setiap manajer dari suatu organisasi apapun, termasuk
kepala madrasah Manajemen pada hakekatnya merupakan proses
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan
mengendalikan usaha pada anggota organisasi dalam rangka mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Dikatakan suatu proses karena semua manajer dengan ketangkasan
dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan
mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaiatan untuk
mencapai tujuan. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya
sebagai manajer, kepala sekolah harus mempunyai strategi yang tepat
untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui kerjasama yang
kooperatif, memberikan daorongan dan kesempatan bagi guru untuk
meningkatkan profesinya.
Menurut Mulyasa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan
kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru sebagai
berikut:
22
Pertama, memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama
yang dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga
kependidikan, kepala sekolah harus mementingkan kerjasama dengan
tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan
setiap kegiatan. Sebagai manajer kepala sekolah harus mau
mendayagunakan seluruh seluruh sumber daya sekolah dalam rangka
mewujudkan visi, misi dan mencapai tujuan. Kepala sekolah harus
mampu bekerja melalui orang lain / wakil-wakilnya.
Kedua, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan
untuk meningkatan profesinya, sebagai manajer kepala sekolah harus
meningkatkan profesi secara persuasif dan dari hati ke hati. Kepala
sekolah harus bersikap demokratis dan memberi kesempatan kepada
seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensinya.
Ketiga, mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan,
dimaksudkan bahwa kepala harus berusaha untuk mendorong
keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di
sekolah (pastisipatif). Dalam hal ini kepala sekolah bisa berpedoman
pada asas tujuan, keunggulan, mufakat, persatuan, empiris, keakraban,
dan asas integritas (E.Mulyasa, 2007: 103).
Tugas dan tanggung jawab kepala madrasah adalah merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi dan
mengevaluasi seluruh kegiatan madrasah, yang meliputi bidang proses
belajar mengajar, peningkatan dan pengembangan profesionalisme
23
guru, administrasi kantor, administrasi siswa, administrasi pegawai,
administrasi perlengkapan, administrasi keuangan, administrasi
perpustakaan, dan administrasi hubungan masyarakat (Burhanudin,
1994: 29).
Oleh sebab itu, dalam rangka mencapai tujuan organisasional,
kepala madrasah pada dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab
untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan
pengawasan terhadap seluruh sumberdaya yang ada dan kegiatan-
kegiatan yang dilakukan di sekolahnya.
Adapun penjelasan mengenai unsur atau fungsi/kegiatan dari
manajemen adalah sebagai berikut:
1) Perencanaan (planning)
Planning atau perencanaan adalah keseluruhan proses dan
penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di
masa akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan (A.W. Widjaya, 1987: 33). Perencanaan merupakan
keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang
hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan (Sondang P. Siagian,
1992: 50). Di dalam perencanaan ini dirumuskan dan ditetapkan
seluruh aktivitas lembaga yang menyangkut apa yang harus
dikerjakan, mengapa dikerjakan, di mana dikerjakan, kapan akan
dikerjakan, siapa yang mengerjakan dan bagaimana hal tersebut
24
dikerjakan. Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan dapat
meliputi penetapan tujuan, penegakan strategi, dan pengembangan
rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan. Kepala madrasah
sebagai top management di madrasah mempunyai tugas untuk
membuat perencanaan, baik dalam bidang program pembelajaran
dan kurikulum, guru dan kepegawaian, kesiswaan, keuangan
maupun perlengkapan (Ngalim Purwanyo, 1998: 107).
Dalam proses perencanaan terhadap program pendidikan yang
akan dilaksanakan, khususnya dalam lembaga pendidikan Islam,
maka prinsip perencanaan harus mencerminkan terhadap nilai-nilai
Islami yang bersumberkan pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dalam hal
perencanaan, al-Qur'an mengajarkan kepada manusia dalam surat al-
Hajj ayat 77 yang berbunyi:
…
Artinya : … Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapatkan
keberuntungan (Al-Hajj: 77).
Selain ayat tersebut, terdapat pula ayat yang menganjurkan
kepada para manejer untuk menentukan sikap adil dan bijaksana
dalam proses perencanaan pendidikan.


Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan
berbuat kebajikan atau kebaikan, memberi kepada kaum kerabat
dan Allah melarang perbuatan yang keji, mungkar dan permusuhan.
25
Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran (An-Nahl: 90).
Ayat tersebut merupakan suatu hal yang sangat prinsipil dalam
proses perencanaan pendidikan, agar supaya tujuan yang ingin
dicapai dapat tercapai dengan sempurna. Disamping itu pula, intisari
ayat tersebut merupakan suatu “pembeda” antara manajemen secara
umum dengan manajemen dalam perspektif Islam yang sarat dengan
nilai.
2) Pengorganisasian (organizing)
Menurut Terry sebagaimana ditulis oleh Ulbert Silalahi (2002:
170) adalah pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk
diselesaikan oleh anggota kelompok pekerjaan, penentuan
hubungan-hubungan pekerjaan di antara mereka dan pemberian
lingkungan pekerjaan yang sepatutnya.
Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang
perlu mendapatkan perhatian dari kepala madrasah. Fungsi ini perlu
dilakukan untuk mewujudkan struktur organisasi madrasah, uraian
tugas tiap bidang, wewenang dan tanggung jawab menjadi lebih
jelas, dan penentuan sumber daya manusia dan materil yang
diperlukan.
Menurut Robbins, bahwa kegiatan yang dilakukan dalam
pengorganisasian dapat mencakup (1) menetapkan tugas yang harus
dikerjakan; (2) siapa yang mengerjakan; (3) bagaimana tugas itu
26
dikelompokkan; (4) siapa melapor ke siapa; (5) di mana keputusan
itu harus diambil (Stephen R. Robbins, 2003:5).
Wujud dari pelaksanaan organizing ini adalah tampaknya
kesatuan yang utuh, kekompakan, kesetiakawanan dan terciptanya
mekanisme yang sehat, sehingga kegiatan lancar, stabil dan mudah
mencapai tujuan yang ditetapkan (Jawahir Tanthowi, 1983: 71).
Proses organizing yang menekankan pentingnnya tercipta kesatuan
dalam segala tindakan, dalam hal ini al-Qur'an telah menyebutkan
betapa pentingnya tindakan kesatuan yang utuh, murni dan bulat
dalam suatu organisasi. Firman Allah dalam surat Ali Imron ayat
103:
ِ ّ‫للا‬ ِ‫ْل‬‫ب‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ْ‫ا‬‫ُو‬‫م‬ ِ‫ص‬َ‫ت‬ْ‫اع‬ َ‫و‬ْ‫ا‬‫و‬ُ‫ق‬َّ‫ر‬َ‫ف‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬ ً‫ا‬‫ِيع‬‫م‬َ‫ج‬
Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali
Allah (agama Allah), dan janganlah kamu bercerai berai…… (Ali-
Imran: 103).
Selanjutnya al-Qur'an memberikan petunjuk agar dalam suatu
wadah, tempat, persaudaraan, ikatan, organisasi, kelompok,
janganlah timbul pertentangan, perselisihan, percekcokan yang
mengakibatkan hancurnya kesatuan, runtuhnya mekanisme
kepemimpinan yang telah dibina. Firman Allah dalam surat Al-Anfal
ayat 46:
ْْ‫ُوا‬‫ع‬‫ي‬ِ‫ط‬َ‫أ‬َ‫و‬َْ ّ‫للا‬ُْ‫ه‬َ‫ل‬‫ُو‬‫س‬َ‫ر‬َ‫و‬َْ‫ل‬َ‫و‬ْْ‫وا‬ُ‫ع‬َ‫َاس‬‫ن‬َ‫ت‬ْْ‫وا‬ُ‫ل‬َ‫ش‬ْ‫ف‬َ‫ت‬َ‫ف‬َْ‫َب‬‫ه‬ْ‫َذ‬‫ت‬َ‫و‬ْْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ح‬‫ي‬ِ‫ر‬
ْْ‫ُوا‬‫ز‬ِ‫ب‬ْ‫اص‬َ‫و‬ْ‫ن‬ِ‫إ‬َْ ّ‫للا‬َْ‫ع‬َ‫م‬َْ‫ين‬ِ‫ز‬ِ‫ب‬‫ا‬‫الص‬
27
Artinya : Dan taatilah Allah dan RasulNya, jangalah kamu
berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar,
hilang kekuatanmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar. (Al-Anfal : 46)
3) Penggerakan/pengembangan (actuating)
Actuating adalah aktivitas untuk memberikan dorongan,
pengarahan, dan pengaruh terhadap semua anggota kelompok agar
mau bekerja secara sadar dan suka rela dalam rangka mencapai suatu
tujuan yang ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola
organisasi.
Fungsi actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau
organisasi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat
dikelompokkan ke dalam fungsi ini adalah directing commanding,
leading dan coordinating (Jawahir Tanthowi, 1983: 71).
Karena tindakan actuating sebagaimana tersebut di atas, maka
proses ini juga memberikan motivating, untuk memberikan
penggerakan dan kesadaran terhadap dasar dari pada pekerjaan yang
mereka lakukan, yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan, disertai
dengan member motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan,
sehingga mereka bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja
dengan tekun dan baik.
Bimbingan menurut Hadari Nawawi adalah memelihara,
menjaga dan memajukan organisasi melalui setiap personal, baik
secara structural maupun fungsional, agar setiap kegiatannya tidak
terlepas dari usaha mencapai tujuan (Hadari Nawawi, 1983: 74).
28
Masalah penggerakan ini pada dasarnya berkaitan erat dengan
unsure manusia sehingga keberhasilannya juga ditentukan oleh
kemampuan kepala madrasah dalam berhubungan dengan para guru
dan karyawannya. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan kepala
madrasah dalam berkomunikasi, daya kreasi serta inisiatif yang
tinggi dan mampu mendorong semangat dari para guru/karyawannya
(Soewadji Lazaruth, 1984: 4).
Untuk dapat menggerakkan guru agar mempunyai semangat dan
gairah kerja yang tinggi, maka perlu memperhatikan beberapa
prinsip berikut:
a) Memperlakukan para pegawai (guru) dengan sebaik-baiknya;
b) Mendorong pertumbuhan dan pengembangan bakat dan
kemampuan para pegawai tanpa menekan daya kreasinya;
c) Menanamkan semangat para pegawai agar mau terus berusaha
d) meningkatkan bakat dan kemampuannya;
e) Menghargai setiap karya yang baik dan sempurna yang
dihasilkan para pegawai;
f) Mengusahakan adanya keadilan dan bersikap bijaksana kepada
setiap pegawai tanpa pilih kasih.;
g) Memberikan kesempatan yang tepat bagi pengembangan
pegawainya, baik kesempatan belajar maupun biaya yang cukup
untuk tujuan tersebut;
29
h) Memberikan motivasi untuk dapat mengembangkan potensi
yang dimiliki para pegawai melalui ide, gagasan dan hasil
karyanya (Nunung Chomzanah dan Atingtedjasutisna, 1994:
56).
Al-Qur'an dalam hal ini telah memberikan pedoman dasar
terhadap proses pembimbingan, pengarahan ataupun memberikan
peringatan dalam bentuk actuating ini. Allah berfirman dalam Surat
al-Kahfi Ayat 2:
ِ‫م‬ ْ‫ُؤ‬‫م‬ْ‫ال‬ َ‫ر‬ِّ‫ش‬َ‫ب‬ُ‫ي‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬ُ‫د‬َّ‫ل‬ ‫ِن‬‫م‬ ً‫ا‬‫ِيد‬‫د‬َ‫ش‬ ً‫ا‬‫س‬ْ‫أ‬َ‫ب‬ َ‫ِر‬‫ذ‬‫ُن‬‫ي‬ِّ‫ل‬ ً‫ا‬‫ِّم‬‫ي‬َ‫ق‬َ‫ون‬ُ‫ل‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ِين‬‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِين‬‫ن‬
ً‫ا‬‫ن‬َ‫س‬َ‫ح‬ ً‫ا‬‫ر‬ ْ‫ج‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ت‬‫ا‬َ‫ِح‬‫ل‬‫َّا‬‫ص‬‫ال‬
Artinya : Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan
akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita
gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal
sholeh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang baik. (Al-Kahfi:
2).
Faktor membimbing dan memberikan peringatan sebagai hal
penunjang demi suksesnya rencana, sebab jika hal itu diabaikan akan
memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kelangsungan
suatu roda organisasi dan lain-lainnya.
4) Pengawasan/evaluasi (controlling and evaluating),
Pangawasan dan evaluasi dapat diartikan sebagai salah satu
kegiatan untuk mengetahui realisasi perilaku personel dalam
organisasi pendidikan dan apakah tingkat pencapaian tujuan
pendidikan sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian apakah perlu
30
diadakan perbaikan. Pengawasan dilakukan untuk mengumpulkan
data tentang penyelenggaraan kerja sama antara guru, kepala
madrasah, konselor, supervisor, dan petugas madrasah lainnya dalam
institusi satuan pendidikan. Pada dasarnya ada tiga langkah yang
perlu ditempuh dalam melaksanakan pengawasan, yaitu (1)
menetapkan alat ukur atau standar, (2) mengadakan penilaian atau
evaluasi, dan (3) mengadakan tindakan perbaikan atau koreksi dan
tindak lanjut. Oleh sebab itu, kegiatan pengawasan itu dimaksudkan
untuk mencegah penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan,
menilai proses dan hasil kegiatan dan sekaligus melakukan tindakan
perbaikan (Ngalim Purwanto, 1998: 106).
Menurut Onong Uchjana Efendy evaluasi adalah tahap terakhir
setelah tahap-tahap penelitian, perencanaan dan penggiatan yang
dilaksanakan oleh suatu organisasi. Dalam beberapa hal, evaluasi
memiliki karakteristik pengukuran dan penilaian, apakah kuantitaf
atau kualitatatif. Evaluasi dalam hal ini diartikan sebagai suatu
pengukuran (measurenment) atau penilaian (evaluation) terhadap
suatu perencanan yang telah dilakukan oleh organisasi yang biasa
dilakukan pada pertengahan, akhir bulan atau tahun. Terdapat suatu
perbedaan antara pengukuran dan penilaian dalam suatu obyek
dilakukan dalam suatu evaluasi (Onong Uchjana Efendy, 1993: 131).
Pengukuran (measurement) adalah membandingkan sesuatu
dengan satu ukuran, dan pengukuran ini bersifat kuantitatif.
31
Sedangkan penilaian (evaluation) adalah mengambil suatu keputusan
terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, dan penilaian bersifat
kualitatif. Mengadakan penilaian meliputi dua langkah tersebut,
yaitu mengukur dan menilai (Suharsimi Arikunto, 2001: 3).
Adapun unsur-unsur pokok dalam suatu evaluasi yaitu:
adanyaobyek yang mau dievaluasi, adanya tujuan pelaksanaan
evaluasi, adanya alat pengukuran (standar pengukuran/
perbandingan), adanya hasil evaluasi apakah bersifat kualitatif
maupun kuantitatif (M. Chabib Thoha, 1991: 3). Kualitatif artinya
adalah hasil tersebut tidak bisa diukur secara statistik, melainkan
diukur melalui pengalaman dan perbandingan nyata. Sedangkan
kuantitatif maksudnya adalah hasil dalam suatu pelaksaanan evaluasi
dapat diukur berdasarkan angka-angka atau statistik.
Dari pengertian tersebut di atas, maka akan dapat diketahui
mengenai tujuan dan fungsi dari evaluasi tersebut. Evaluasi dalam
hal ini bertujuan untuk mengetahui implikasi suatu lembaga
pendidikan terhadap publik/khalayak dalam berbagai hal. Sedangkan
fungsi dari evaluasi di berbagai lembaga pendidikan, khususnya
lembaga pendidikan Islam yaitu evaluasi berfungsi selektif, evaluasi
berfungsi diagnostik dan evaluasi berfungsi sebagai pengukuran
keberhasilan.
Mengingat pentingnya evaluasi dalam suatu organisasi, maka
Islam sebagai suatu agama yang komprensip memberikan pedoman-
32
pedoman yang dijadikan sebagai suatu prinsip dalam evaluasi.
Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:
‫توزن‬ ‫أن‬ ‫قبل‬ ‫أعمالكم‬ ‫نوا‬ ‫و‬ ‫بحاسبوا‬ ‫أن‬ ‫قبل‬ ‫آنفسكم‬ ‫حاسبوا‬
Artinya: Periksalah dirimu sebellum memeriksa orang lain.
Lihatlah terlebih dahulu atas kerjamu sebelum melihat atas kerja
orang lain.( Al Hadits)
Hadits tersebut memberikan anjuran kepada setiap pemimpin
organisasi maupun para stafnya untuk tidak saling menyalahkan
terhadap suatu suatu kelompok atau orang lain, melainkan berusaha
untuk berubah ke arah yang lebih baik secara bersama-sama.
Selanjutnya al-Qur'an juga menyatakan mengenai proses
evaluasi dalam Surah Al-Shaf ayat 2-3:


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu
mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besarlah kebencian
di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu
kerjakan (Q. S. AS-Shof : 2-3).
c. Pengertian Kepala Sekolah
Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi
tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses
belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang
member pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo,
:83). Rahman mengungkapkan bahwa “kepala sekolah adalah seorang
33
guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan
struktural di sekolah” (Rahman. Et., al., 2006: 106).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa kepala sekolah adalah sorang guru yang mempunyai kemampuan
untuk memimpin segala sumber daya yang ada pada suatu sekolah
sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan
bersama.
Jabatan kepala sekolah bila dikaitkan dengan pengertian
profesional adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi
untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang
bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dalam menjalankan dan
memimpin segala sumberdaya yang ada pada suatu sekolah/madrasah
untuk mau bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Menjadi seorang kepala madrasah yang profesional tidaklah
mudah, karena ada beberapa syarat dan kriteria (standar) yang harus
dipenuhi, misalnya seorang kepala sekolah harus memenuhi standar
tertentu seperti kualifikasi umum dan khusus, serta harus mempunyai
kompetensi-kompetensi tertentu. Oleh sebab itu, pemerintah
mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang standar
kepala sekolah/madrasah Nomor 13 Tahun 2007.
Adapun secara rinci isi Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007
tersebut adalah sebagai berikut:
34
1) Kualifikasi Umum:
a) Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat
(D-IV) kependidikan atau nonkependidikan pada perguruan
tinggi yang terakreditasi;
b) Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi-
tingginya 56 tahun;
c) Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima)
tahun menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di
Taman Kanak-kanak /Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki
pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di
TK/RA; dan
d) Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri
sipil (PNS) dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan
yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang
(Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13
Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007 Tentang Standar Kepala
Sekolah).
2) Kualifikasi Khusus menyangkut:
a) Berstatus sebagai guru sesuai jenjang mana akan menjadi kepala
sekolah;
b) Mempunyai sertifikat pendidik sebagai guru sesuai jenjangnya;
c) Mempunyai sertifikat kepala sekolah sesuai jenjangnya yang
diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah.
35
Sedangkan standar kompetensi yang harus dikuasai oleh kepala
sekolah adalah sebagai berikut: (1) Kompetensi kepribadian; (2)
Kompetensi Manajerial; (3) Kompetensi Kewirausahaan; (4)
Kompetensi Supervisi; (5) Kompetensi Sosial. Adapun
penjelasannya sebagai berikut:
No
Dimensi
Kompetensi
Kompetensi
1 Kepribadian 1.1 Berakhlak mulia, mengembangkan
budaya dan tradisi akhlak mulia, dan
menjadi teladan akhlak mulia bagi
komunitas di sekolah
1.2 Memiliki integritas kepribadian sebagai
pemimpin
1.3 Memiliki keinginan yang kuat dalam
pengembangan diri sebagai kepala sekolah
1.4 Bersikap terbuka dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsi
1.5 Mengendalikan diri dalam menghadapi
masalah dalam pekerjaan sebagai kepala
sekolah
1.6 Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai
pemimpin pendidikan
2 Manajerial 2.1 Menyusun perencanaan sekolah untuk
berbagai tingkatan perencanaan
2.2 Mengembangkan organisasi sekolah sesuai
dengan kebutuhan
2.3 Memimpin sekolah dalam rangka
pendayagunaan sumberdaya sekolah secara
optimal
2.4 Mengelola perubahan dan pengembangan
sekolah menuju organisasipembelajar
yang efektif
2.5 Menciptakan budaya dan iklim sekolah
yang kondusif dan inovatif bagi
pembelajaran peserta didik
2.6 Mengelola guru dan staf dalam rangka
pendayagunaan sumber daya manusia
secara optimal
2.7 Mengelola sarana dan prasarana sekolah
dalam rangka pendayagunaan secara
36
optimal
2.8 Mengelola hubungan sekolah dan
masyarakat dalam rangka pencarian
dukungan ide, sumber belajar, dan
pembiayaan sekolah
2.9 Mengelola peserta didik dalam rangka
penerimaan peserta didik baru, penempatan
dan pengembangan kapasitas peserta didik
2.10 Mengelola pengembangan kurikulum dan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah
dan tujuan pendidikan nasional
2.11 Mengelola keuangan sekolah sesuai
dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel,
transparan, dan efisien
2.12 Mengelola ketatausahaan sekolah dalam
mendukung pencapaian tujuan sekolah
2.13 Mengelola unit layanan khusus sekolah
dalam mendukung kegiatan pembelajaran
dan kegiatan peserta didik di sekolah
2.14 Memimpin sekolah dalam rangka
pendayagunaan sumberdaya sekolah secara
optimal
2.15 Mengelola perubahan dan pengembangan
sekolah menuju organisasipembelajar
yang efektif
2.16 Melakukan monitoring, evaluasi, dan
pelaporan pelaksanaan program kegiatan
sekolah dengan prosedur yang tepat, serta
merencanakan tindak lanjutnya
3 Kewirausahaan 3.1 Menciptakan inovasi yang berguna bagi
pengembangan sekolah
3.2 Bekerja keras untuk mencapai
keberhasilan sekolah sebagai organisasi
pembelajar yang efektif
3.3 Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses
dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya sebagai pemimpin sekolah
3.4 Pantang menyerah dan selalu mencari
solusi terbaik dalam menghadapi kendala
yang dihadapi sekolah
3.5 Memiliki naluri kewirausahaan dalam
mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah
sebagai sumber belajar peserta didik
3.6 Menciptakan inovasi yang berguna bagi
pengembangan sekolah
37
4 Supervisi 4.1 Merencanakan program supervisi
akademik dalam rangka peningkatan
profesionalisme guru
4.2 Melaksanakan supervisi akademik
terhadap guru dengan menggunakan
pendekatan dan teknik supervisi yang tepat
4.3 Menindaklanjuti hasil supervisi
akademik terhadap guru dalam rangka
peningkatan profesionalisme guru
5 Sosial 5.1 Bekerja sama dengan pihak lain untuk
kepentingan sekolah
5.2 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial
kemasyarakatan
5.3 Memiliki kepekaan sosial terhadap orang
atau kelompok lain.
Tabel 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007
Tanggal 17 April 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah
Melihat standar kompetensi menurut Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional diatas khususnya pada kompetensi manajerial,
menurut Akhmad Sudrajat kalau dijabarkan/dikembangkan lagi
seorang kepala sekolah dituntut menguasai hal-hal sebagai berikut:
1) Mampu menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai tingkatan
perencanaan, dalam hal ini seorang kepala madrasah dituntut
mempunyai keahlian diantaranya adalah:
a) Menguasai teori perencanaan dan seluruh kebijakan pendidikan
nasional sebagai landasan dalam perencanaan sekolah, baik
perencanaan strategis, perencanaan operasional, perencanaan
tahunan, maupun rencana angaran pendapatan dan belanja
sekolah,
38
b) Mampu menyusun rencana strategis (renstra) pengembangan
sekolah berlandaskan kepada keseluruhan kebijakan pendidikan
nasional, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan
perencanaan strategis yang memegang teguh prinsip-prinsip
penyusunan rencara strategis baik
c) Mampu menyusun rencana operasional (Renop) pengembangan
sekolah berlandaskan kepada keseluruhan rencana strategis yang
telah disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses
penyusunan perencanaan renop yang memegang teguh prinsip-
prinsip penyusunan rencana operasional.
d) Mampu menyusun rencana tahunan pengembangan sekolah
berlandaskan kepada keseluruhan rencana operasional yang telah
disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan
perencanaan tahunan yang memegang teguh prinsip-prinsip
penyusunan rencana tahunan yang baik.
e) Mampu menyusun rencana anggaran belanja sekolah (RAPBS)
berlandaskan kepada keseluruhan rencana tahunan yang telah
disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan
RAPBS yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan
RAPBS yang baik.
f) Mampu menyusun perencanaan program kegiatan berlandaskan
kepada keseluruhan rencana tahunan dan RAPBS yang telah
disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan
39
perencanaan program kegiatan yang memegang teguh prinsip-
prinsip penyusunan perencanaan program yang baik.
g) Mampu menyusun proposal kegiatan melalui pendekatan, strategi,
dan proses penyusunan perencanaan program kegiatan yang
memegang teguh prinsip-prinsip-prinsip penyusunan proposal
yang baik (Akhmad Sudrajat, 2008: 1).
2) Mampu mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan
kebutuhan:
a) Menguasai teori dan seluruh kebijakan pendidikan nasional dalam
pengorganisasian kelembagaan sekolah sebagai landasan dalam
mengorganisasikan kelembagaan maupun program insidental
sekolah.
b) Mampu mengembangkan struktur organisasi formal kelembagaan
sekolah yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan melalui
pendekatan, strategi, dan proses pengorganisasian yang baik.
c) Mampu mengembangkan deskripsi tugas pokok dan fungsi setiap
unit kerja melalui pendekatan, strategi, dan proses
pengorganisasian yang baik.
d) Menempatkan personalia yang sesuai dengan kebutuhan.
e) Mampu mengembangan standar operasional prosedur pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi setiap unit kerja melalui pendekatan,
strategi, dan proses pengorganisasian yang baik.
40
f) Mampu melakukan penempatan pendidik dan tenaga
kependidikan sesuai dengan prinsip-prinsip tepat kualifikasi, tepat
jumlah, dan tepat persebaran.
g) Mampu mengembangkan aneka ragam organisasi informal
sekolah yang efektif dalam mendukung implementasi
pengorganisasian formal sekolah dan sekaligus pemenuhan
kebutuhan, minat, dan bakat perseorangan pendidikan dan tenaga
kependidikan (Akhmad Sudrajat, 2008: 2).
3) Mampu memimpin guru dan staf dalam rangka pendayagunaan
sumber daya manusia secara optimal:
a) Mampu mengkomunikasikan visi, misi, tujuan, sasaran, dan
program strategis sekolah kepada keseluruhan guru dan staf.
b) Mampu mengkoordinasikan guru dan staf dalam merelalisasikan
keseluruhan rencana untuk mengapai visi, mengemban misi,
mengapai tujuan dan sasaran sekolah.
c) Mampu berkomunikasi, memberikan pengarahan penugasan, dan
memotivasi guru dan staf agar melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya masing-masing sesuai dengan standar operasional
prosedur yang telah ditetapkan.
d) Mampu membangun kerjasama tim (team work) antar guru, antar-
staf, dan antara guru dengan staf dalam memajukan sekolah.
e) Mampu melengkapi guru dan staf dengan keterampilan-
keterampilan profesional agar mereka mampu melihat sendiri apa
41
yang perlu dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya
masing-masing.
f) Mampu melengkapi staf dengan ketrampilan-ketrampilan agar
mereka mampu melihat sendiri apa yang perlu dan diperbaharui
untuk kemajuan sekolahnya.
g) Mampu memimpin rapat dengan guru-guru, staf, orang tua siswa
dan komite sekolah.
h) Mampu melakukan pengambilan keputusan dengan menggunakan
strategi yang tepat.
i) Mampu menerapkan manajemen konflik (Akhmad Sudrajat,
2008: 3).
4) Mampu mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan
sumber daya manusia secara optimal:
a) Mampu merencanakan kebutuhan guru dan staf berdasarkan
rencana pengembangan sekolah.
b) Mampu melaksanakan rekrutmen dan seleksi guru dan staf sesuai
tingkat kewenangan yang dimiliki oleh sekolah.
c) Mampu mengelola kegiatan pembinaan dan pengembangan
professional guru dan staf
d) Mampu melaksanakan mutasi dan promosi guru dan staf sesuai
kewenangan yang dimiliki sekolah.
42
e) Mampu mengelola pemberian kesejahteraan kepada guru dan staf
sesuai kewenangan dan kemampuan sekolah (Akhmad Sudrajat,
2008: 4).
2. Profesionalisme Guru
Profesionalisme merupakan sebutan yang mengacu pada sikap
mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk
senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalannya
(Muhammad Surya, 2007: 14).
Profesionalisme adalah proses usaha menuju kearah terpenuhinya
persyaratan suatu jenis model pekerjaan ideal berkemampuan, mendapat
perlindungan, memiliki kode etik profesionalisasi, serta upaya perubahan
struktur jabatan sehingga dapat direfleksikan model profesional sebagai
jabatan elit. Sedangkan profesi itu sendiri pada hakekatnya adalah sikap
bijaksana (informend responsiveness) yaitu pelayanan dan pengabdian
yang dilandasi oleh keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur yang
mantap diiringi sikap kepribadian tertentu (Syaiful Sagala, 2002: 197).
Menurut Volmer dan Mills (1996) dalam Sagala bahwa pada
dasarnya profesi adalah sebagai suatu spesialisasi dari jabatan intelektual
yang diperoleh melalui studi dan training, bertujuan mensuplay
ketrampilan melalui pelayanan dan bimbingan pada orang lain untuk
mendapatkan bayaran (fee) atau gaji. Dalam perspektif sosiologi, bahwa
profesi itu sesungguhnya suatu jenis model atau tipe pekerjaan ideal,
43
karena dalam realitasnya bukanlah hal yang mudah untuk mewujudkannya
(Syaiful Sagala, 2002: 195).
Kusnandar mengemukakan bahwa “profesionalisme adalah kondisi,
arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang
berkaitan dengan mata pencaharian seseorang” (Kusnandar, 2007: 46).
Sudarwan Danim mendefinisikan profesionalisme adalah komitmen
para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan
profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang
digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu
(Sudarwan Danim, 2002: 23).
Profesionalisme dapat diartikan sebagai konsep mengenai bidang
pekerjaan, yaitu pandangan yang menganggap bidang pekerjaan sebagai
suatu pengabdian melalui keahlian tertentu dan menganggap keahlian ini
sebagai suatu yang harus diperbaharui secara terus-menerus dengan
memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang terdapat dalam ilmu
pengetahuan.
Selanjutnya sebagai profesi, seorang profesional juga harus memiliki
etos kerja yang maju, antara lain dapat bekerja dengan hasil kualitas yang
unggul, tepat waktu, disiplin, sungguh-sungguh, cermat, teliti, sistematik,
dan berpedoman pada dasar keilmuan tertentu (Abuddin Nata, 2001: 139).
Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan
tuntunan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap
sesuai dengan tuntunan profesinya. Seseorang profesional akan terus
44
menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan
dan pelatihan (H.A.R. Tilaar , 2002: 86).
Ada tiga kriteria suatu pekerjaan dikatakan profesional; 1)
Pengabdian, yaitu untuk memberikan pelayanan tertentu kepada
masyarakat dengan beberapa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki,
2) Idealisme, yaitu tercakup pengetian pengabdian pada suatu yang luhur
dan idealis, 3) Pengembangan, yaitu, menyempurnakan prosedur kerja
yang mendasari pengabdiannya secara terus-menerus.
Berdasarkan uraian tersebut, tingkat profesionalisme dapat diketahui
melalui tiga hal : 1) apakah dalam bidang pekerjaan itu terdapat unsur-
unsur pengabdian dalam kadar yang memadai, 2) apakah kegiatan-
kegiatan yang dilakukan dalam bidang pekerjaan itu merupakan kegiatan-
kegiatan yang bertumpu pada temuan dan wawasan akademik, 3) apakah
prosedur kerja yang dipergunakan dalam bidang pekerjaan tersebut
merupakan prosedur kerja yang terus menerus mendapat pembaruan.
Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu
pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan
oleh sejauh mana kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya
melalui kegiatan belajar-mengajar. Dengan kata lain, untuk meningkatkan
mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional
mengajar guru.
Sebutan guru dapat menunjukkan suatu profesi atau jabatan
fungsional dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, atau seseorang
45
yang menduduki dan melaksanakan tugas dalam bidang pendidikan dan
pembelajaran. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Indonesia Pasal 39 ayat 3 dinyatakan bahwa pendidik
yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru.
Sementara itu, tugas guru sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 ayat 2
adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai
hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta
melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 20
Tahun 2003).
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Hal ini
berarti bahwa selain mengajar atau proses pembelajaran, guru juga
mempunyai tugas melaksanakan pembimbingan maupun pelatihan
pelatihan bahkan perlu melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat sekitar.
Guru sebagai jabatan profesional, paling tidak ada tiga hal yang
harus dikuasai, yaitu:
Pertama, harus menguasai bidang keilmuan, pengetahuan dan
keterampilan yang akan diajarkan kepada murid. Sebagai guru yang
profesional, ilmu pengetahuan dan keterampilannya itu harus terus
ditambah dan dikembangkan dengan melakukan kegiatan penelitian, baik
46
penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan, penelusuran karya
ilmiah dan lain sebagainya.
Dengan cara demikian, ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru
kepada para siswanya akan tetap up to date, aktual dan relevan dengan
kebutuhan masyarakat, sehingga peserta didik akan mengetahui tentang
hal-hal yang baru dan actual dalam kehidupannya.
Kedua, seorang guru professional harus memiliki kemampuan
menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya secara efisien dan efektif.
Untuk itu, sebagai seorang guru yang profesional harus mempelajari ilmu
keguruan dan ilmu pendidikan secara mendalam, terutama yang berkaitan
dengan didaktik dan metodik serta metodologi pembelajaran yang
didukung oleh pengetahuan di bidang psikologi anak atau psikologi
pendidikan.
Ketiga, sebagai guru yang profesional, guru harus memiliki
kepribadian dan budi pekerti yang mulia yang dapat mendorong para siswa
untuk mengamalkan ilmu yang diajarkannya dan agar para guru dapat
dijadikan sebagai panutan (Abudin Nata, 2001: 139-140).
Seorang pekerja profesional misalnya guru akan menampakkan
adanya ketrampilan teknis yang didukung oleh sikap kepribadian tertentu
karena dilandasi oleh pedoman-pedoman tingkah laku khusus (kode etik)
yang mempersatukan mereka dalam satu korps profesi. Pendidikan yang
baik sebagaimana yang diharapkan modern dewasa ini dan sifatnya yang
selalu menantang, adalah model pendidikan yang mengharuskan tenaga
47
kependidikan dan guru yang berkualitas dan profesional. Setidaknya ada 7
(tujuh) ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru yaitu:
1) Guru bekerja semata-mata hanya memberi pelayanan kemanusiaan
bukan usaha untuk kepentingan pribadi
2) Guru secara hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk
mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk
menjadi anggota profesi keguruan.
3) Guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi.
4) Guru dalam organisasi profesional memiliki publikasi yang dapat
melayani para guru sehingga tidak ketinggalan bahkan selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi.
5) Guru selalu diusahakan mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar,
konvensi dan terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service
training.
6) Guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karir hidup (a live carier).
7) Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun
secara local (Oteng Sutisna, 1983: 78).
Guru sebagai jabatan profesional dituntut mempunyai beberapa
kompetensi, dalam hal ini pemerintah telah merumuskan empat jenis
kompetensi guru sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Tentang Standar Nasional Pendidikan Nomor 19 Tahun 2005 diantaranya
adalah:
48
a. Kompetensi Pedagogik
Yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang
meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengemambangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya (PP. Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan).
Seorang guru harus mampu mengelola proses pembelajaran
dengan sebaik mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, disamping itu seorang guru juga harus mampu memahami
karakteristik peserta didik, baik itu dari segi kecerdasan, kreatifitas,
kondisi fisik, maupun perkembangan kognitifnya.
b. Kompetensi Kepribadian
Adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak
mulia (PP. Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan).
Kompetensi kepribadian seorang guru sangat dibutuhkan oleh
peserta didik dalam proses pembentukan pribadinya. Kompetensi
kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi ini memiliki
peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian
49
anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumberdaya manusia (E.
Mulyasa, 2003: 117).
c. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan
membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang
diterapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus
dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas utamanya yaitu
mengajar. Adapun ruang lingkup kompetensi profesional guru adalah:
a) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik secara
filosofi, psikologis, maupun sosiologis
b) Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf
perkembangan peserta didik.
c) Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang
menjadi tanggung jawabnya.
d) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang
bervariasi.
e) Mempu mengembangkan pembelajaran yang bervariasi
f) Mampu mengembangkan dan menggunakan alat, media, dan
sumber belajar yang relevan
g) Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program
pembelajaran (Martinis Yamin, 2006: 35).
50
d. Kompetensi Sosial
Adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk
berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan
masyarakat sekitar.
Peningkatan profesionalisme guru adalah upaya membantu pendidik
yang belum matang menjadi matang, yang tidak mampu mengelola sendiri
menjadi mampu mengelola sendiri, yang belum memenuhi kualifikasi,
yang belum terakreditasi menajadi terakreditasi (Ibrahim Bafadal, 2003:
44). Selain itu peningkatan profesionalisme guru diartikan sebagai upaya
membantu pendidik yang belum profesional menjadi profesional.
Peningkatan profesional pendidikan diartikan usaha untuk
memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan mengajar, dan
menumbuhkan sikap profesional sehingga para guru menjadi ahli dalam
mengelola kegiatan belajar mengajar untuk membelajarkan peserta didik
(Depdikbud RI, 1994: 12).
Guru yang profesional adalah pendidik yang memiliki visi yang tepat
dan berbagai inovatif yang mandiri.88 Visi dapat diartikan sebagai
pandangan sehingga guru harus memiliki pandangan yang benar tentang
pembelajaran yaitu: (a) kualitas guru terletak pada kualitas
pembelajarannya, (b) pembelajaran memerlukan proses yang terus
menerus berkembang, dan (c) pendidik sebagai sebuah pengabdian.
51
Apabila visi diartikan sebagai sesuatu yang dinamis yaitu sebagai harapan
yang ingin dicapai dimasa yang akan datang.
Proses peningkatan kemampuan profesional guru ada dua macam,
yaitu:
1) Pembinaan kemampuan guru melalui supervisi pendidikan, program
sertifikasi dan tugas belajar
2) Pembinaan komitmen atau motivasi atau moral kerja pendidik/guru
melalui pembinaan kesejahteraannya seperti penataran, bimbingan,
latihan, kursus, pendidikan formal, promosi, rotasi jabatan, konferensi,
rapat kerja, lakakarya, seminar, diskusi dan studi kasus (Ibrahim
Bafadal, 2003: 44).
Adapun langkah-langkah yang sistematis untuk program
peningkatan kemampuan profesionalisme guru sebagai berikut:
1) Mengidentifikasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalah-
masalah yang sering kali dimiliki atau dialami pendidik/guru.
2) Menetapkan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru
yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan, kelemahan, kesulitan,
atau masalah-masalah yang seringkali dimiliki atau dialami guru.
3) Merumuskan tujuan program peningkatan kemampuan profesionalisme
guru yang diharapkan dapat dicapai pada akhir program pengembangan.
4) Menetapkan serta merancang materi, metode dan media yang akan
digunakan dalam peningkatan profesionalisme guru.
52
5) Menetapkan bentuk dan pengembangan instrumen penilaian yang akan
dikenakan dalam mengukur keberhasilan program peningkatan
profesionalisme guru.
6) Menyusun dan mengalokasikan anggaran program peningkatan
kemampuan profesionalisme guru.
7) Melaksanakan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru
dengan materi, metode, dan media yang telah ditetapkan dan dirancang.
8) Mengukur keberhasilan program peningkatan kemampuan
profesionalisme guru.
9) Menetapkan program tindak lanjut program peningkatan kemampuan
pendidik (Ibrahim Bafadal, 2003: 45).
Adapun program/strategi yang dapat ditempuh oleh kepala sekolah
dalam meningkatkan profesionalisme adalah sebagai beikut:
1. Pendidikan dan Pelatihan (inservice training/up grading)
Dalam bahasa Indonesia sering disebut pendidikan dalam jabatan.
Istilah lain yang juga dipergunakan adalah up-grading atau penataran
dan inservice training education yang pada dasarnya mempunyai
maksud yang sama. Inservice training diberikan kepada guru-guru yang
dipandang perlu meningkatkan keterampilannya atau pengetahuannya
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang
pendidikan. Seorang guru pada dasarnya sudah dipersiapkan melalui
lembaga pendidikan guru sebelum terjun ke dalam jabatannya.
Pendidikan persiapan itu disebut pre-service education. Diantara
53
mereka banyak yang sudah cukup lama meninggalkan pre-service
education dan bertugas di lingkungan yang tidak memungkinkan untuk
mengikuti berbagai perkembangan dan kemajuan (Hadari Nawawi,
1988: 111). Di samping itu banyak pula dari mereka yang memang
tidak berusaha untuk berkembang di dalam meningkatkan kemampuan
sebagai guru atau pendidik dan tenggelam dalam kegiatan mengajar
secara rutin. Untuk mengejar ketinggalan itu agar guru selalu up-date,
actual dan sesuai dengan harapan masyarakat, dalam menjalankan
tugas-tugasnya diperlukan inservice training secara terarah dan
berencana.
Sejalan dengan uraian di atas, inservice training dapat diartikan
sebagai usaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam
bidang tertentu sesuai dengan tugasnya, agar dapat meningkatkan
efisiensi dan produktivitas dalam melakukan tugas-tugas tersebut.
Menurut Ngalim Purwanto (1998: 68), inservice training adalah
segala kegiatan yang diberikan dan diterima oleh para petugas
pendidikan yang bertujuan untuk menambah dan mempertinggi mutu
pengetahuan, kecakapan dan pengalaman guru-guru atau petugas
pendidikan lainnya, dalam menjalankan tugas kewajibannya.
Sebab-sebab perlunya inservice training, disamping pendidikan
persiapan (pre service training) yang kurang mencukupi, juga banyak
guru-guru yang telah keluar dari sekolah guru tidak pernah atau tidak
menambah pengetahuan mereka, sehingga menyebabkan cara kerja
54
mereka yang tidak berubah-ubah. Mereka tidak mengetahui dan tidak
dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial, budaya,
tekhnologi yang ada pada masyarakat.
Program inservice training dapat melingkupi berbagai kegiatan
seperti mengadakan aplikasi kursus, ceramah-ceramah, work shop,
pelatihan, seminar-seminar, mempelajari kurikulum, survey
masyarakat, kunjungan ke obyek-obyek tertentu, demonstrasi-
demonstrasi mengajarmenurut metode-metode yang baru, fieldtrip,
kunjungan-kunjungan ke sekolah-sekolah di luar daerah dan persiapan-
persiapan khusus untuk tugas-tugas baru.
Dari beberapa ulasan tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa
inservice training merupakan sarana/program/strategi untuk
mengadakan perubahan ke arah yang lebih maju dan upaya
pengembangan skill guru dalam proses pembelajaran yang mengarah
pada profesionalitas individu (A. Usmara (ed), 2002: 162).
Agar supaya inservice training berhasil dalam upaya peningkatan
mutu guru, maka guru-guru harus diberi kekuasaan lebih besar untuk
bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan dengan didasarkan
pada komitmen untuk mengembangkan budaya mutu bagi sekolah.
2. Sertifikasi guru
Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam
upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa
dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia, Oleh sebab itu,
55
diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara
berkesinambungan mereka dapat meningkatkan kompetensinya, baik
kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun profesional. Untuk
menguji kompetensi tersebut, pemerintah menerapkan sertifikasi bagi
guru khususnya guru dalam jabatan. Penilaian sertifikasi dilakukan
secara portofolio.
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat
pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen).
Adapun tujuan diadakannya sertifikasi guru adalah sebagai
berikut:
a) Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen
pembelajaran
b) Meningkatkan profesionalisme guru
c) Mengangkat harkat dan martabat guru
Sedangkan manfaat diadakannya sertifikasi guru adalah
melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang
dapat merusak citra profesi guru.
3. Supervisi Pendidikan
Supervisi menurut Burton dalam Sagala adalah upaya bantuan
yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya
56
agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi
lebih baik dari sebelumnya (Saiful Sagala, 2008: 230). Supervisi
sebagai bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar yang
lebih baik.
Secara general supervisi dapat dimaknai atas dasar keseluruhan
aktivitasnya yang dilakukan secara individu maupun kelompok sesuai
dengan tujuan masing-masing terhadap personel, kelompok ataupun
terhadap suatu program dalam berbagai bidang kependidikan (Richard
A. Gorton, 1977: 207).
Adapun rangkaian kegiatan supervise pendidikan dapat
dikelompokkan empat tahap kegiatan sebagai berikut:
a) Penelitian terhadap keadaan guru/orang yang disupervisi dalam
menjalankan tugas-tugasnya.
b) Penilaian (evaluation) yakni penafsiran tentang keadaan guru atau
orang yang disupervisi, baik mengenai kekurangan atau kelemahan-
kelemahannya, berdasarkan data hasil penelitian.
c) Perbaikan (improvement) yakni memberikan bimbingan dan
petunjuk untuk mengatasi kekurangan atau kelemahan guru, serta
mendorong pengembangan kebaikan-kebaikan atau kelebihan setiap
guru yang disupervisi. Usaha mengatasi kesulitan dan kelemahan itu
harus dilakukan oleh guru yang bersangkutan.
d) Pembinaan yakni kegiatan menumbuhkan sikap yang positif pada
guru atau orang yang disupervisi agar mampu menilai diri sendiri
57
dan berusaha memperbaiki atau mengembangkan diri sendiri ke arah
terbentuknya keterampilan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang
selalu up to date, aktual dan sesuai dengan tuntutan masyarakat dan
globalisasi (Hadari Nawawi, : 112-113).
Adapun teknik pelaksanaan supervisi yang dapat diambil oleh
seorang supervisor sesuai dengan kebutuhan, antara lain adalah dengan
melalui rapat dan kunjungan kelas (M. Daryanto, 2001: 185-187).
Menurut Mulyasa teknik pelaksanaan supervisi menjadi 4 hal
pokok, yaitu:
a) Diskusi kelompok, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan bersama guna
memecahkan berbagai masalah di sekolah dalam mencapai suatu
keputusan.
b) Kunjungan kelas, yaitu salah satu teknik untuk mengamati kegiatan
pembelajaran secara langsung, sehingga mengetahui segala hal yang
berkenaan dengan pembelajaran secara langsung di lapangan, hal ini
bisa diberitahukan sebelumnya atau juga bisa tidak dalam artian
mendadak.
c) Pembicaraan individual, yaitu teknik bimbingan dan konseling yang
sangat efektif guna mencapai profesionalitas para guru dan
memecahkan berbagai masalah terutama yang berkenaan dengan
pribadi para tenaga pengajar.
d) Simulasi pembelajaran, yaitu teknik supervisi yang berbentuk
demontrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah sehingga
58
guru dapat menganalisa penampilan yang diamati sebagai introspeksi
diri.
Adapun pendekatan dalam melakukan supervisi pendidikan yaitu ada
dua, supervisi secara langsung (klinikal/direct) dan supervisi umum (non
direct) (E. Mulyasa, 2003: 111-112).
4. Tugas belajar/studi lanjut
Tugas belajar atau studi lanjut merupakan pendidikan lanjutan bagi
guru kejenjang pendidikan yang lebih tinggi baik magister dan doctoral
agar kualifikasi akademiknya bertambah meningkat dan sesuai dengan
standar/undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah ada tiga tujuan
yang ingin dicapai dalam program tugas belajar:
a) Meningkatkan kualifikasi formal guru sehingga sesuai dengan
peraturan kepegawaian yang berlaku secara nasional.
b) Meningkatkan kemapuan profesional para guru dalam rangka
meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
c) Menumbuhkembangkan motivasi para pegawai/guru daam rangka
meningkatkan kinerjanya (Ibrahim Bafadal, : 56).
Adapun sifat tugas belajar diberikan secara selektif, mengikat dan
waktu penyelesaian studi terbatas. Artinya hanya mereka yang memenuhi
persaratan tertentu yang dapat mengikuti program tugas belajar, seteleh
selesai mengikuti pendidikan, peserta tugas belajar harus kembali
melanjutkan tugas di instansi asal kecuali ada ketentuan lain, dan
59
maksimal studi 30 bulan (5 semester) di luar negeri atau 24 bulan (4
semester) di dalam negeri (Iif Khoiru Ahmadi, : 24).
5. Penyediaan Fasilitas Penunjang (peningkatan layanan Perpustakaan dan
penambahan koleksi)
Dalam paradigma manajemen pendidikan, pengelolaan fasilitas yang
mencakup pengadaan, pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan
merupakan kewenangan sekolah, karena sekolah yang paling mengetahui
secara pasti fasilitas yang paling diperlukan dalam operasional sekolah,
terutama fasilitas pembelajaran seperti perpustakaan, sambungan internet
untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dan
kemudahan bagi guru untuk memperkaya wawasan dan disiplin ilmu
sesuai dengan bidang studinya masing-masing.
Menurut Mulyasa salah satu sarana peningkatan profesionalisme
guru adalah tersedianya buku yang dapat kegiatan belajar. Sangat sulit
rasanya meningkatkan profesionalisme guru jika tidak ditunjang oleh
sumber belajar yang memadai. Pengadaan buku pustaka diarahkan untuk
mendukung kegiatan pembelajaran serta memenuhi kebutuhan peserta
didik dan guru akan materi pembelajaran (E.Mulyasa, 2007: 82).
Berdasarkan pendapat Mulyasa tersebut, kepala sekolah harus
memperhatikan penyediaan sarana dan prasarana penunjang tersebut agar
para guru bertambah wawasan dan mendapatkan sumber belajar yang
banyak serta memadai, sehingga akan berdampak terhadap kualitas
pembelajaran di sekolah.
60
6. Peningkatan Kesejahteraan Guru
Kesejahteraan guru tidak dapat diabaikan, karena merupakan
salahnsatu faktor penentu dalam peningkatan kinerja yang secara langsung
berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Peningkatan kesejahteraan guru
dapat dilakukan antara lain pemberian insentif di luar gaji, imbalan dan
penghargaan, serta tunjangan yang dapat meningkatkan kinerja guru
(E.Mulyasa, 2007: 78).
Seorang kepala sekolah seyogyannya harus memperhatikan
kesejahteraan guru, agar guru tidak lagi direpotkan dengan mencari
penghasilan tambahan guna membiayai hidup keluarga mereka. Dengan
memberikan tunjangan kesejahteraan guru yang memadai, kinerja guru
akan meningkat dan akan berpengaruh terhadap kualitas kinerja dan
keprofesionalan guru di sekolah.
7. Revitalisasi organisasi profesi kependidikan
Organisasi profesi pendidikan seperti musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP), kelompok kerja guru (KKG) dan kelompok kerja
madrasah merupakan wadah yang sangat bermanfaat bagi peningkatan
profesionalisme guru di sekolah (E. Mulyasa, 2007: 70).
Menurut Mulyasa, dengan MGMP, dan KKG dapat dipikirkan
begaimana menyiasati padatnya kurikulum, memecahkan persoalan dan
masalah yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran, dan mencari
alternatif pembelajaran yang tepat serta dapat menemukan berbagai variasi
metode dan media pembelajaran. Dengan mengefektifkan MGMP, dan
61
KKG, semua kesulitan dan permasalahan yang dihadapi guru dalam
kegiatan pendidikan dan pengajaran dapat dipecahkan, dan diharapkan
dapat meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan (E.
Mulyasa, 2007: 70).
3. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dalam Meningkatkan
Profesionalisme Guru Melalui Penerapan Unsur-Unsur Manajemen
Setelah disahkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi
Daerah (OTODA) kemudian ditindak lanjuti dengan PP. Nomor 25 tahun
2000, kemudian disempurnakan dengan UU nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah yang berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan,
sekolah mempunyai wewenang yang sangat besar untuk mengatur dan
mengelola sekolahnya sendiri. Otonomi yang lebih besar dari institusi
sekolah ini menuntut adanya kemauan dan kemampuan seluruh personel
sekolah yang lebih berkualitas. Hal ini berkaitan erat dengan implementasi
berbagai prinsip dan paradigma baru manajemen pendidikan, yang perlu
diperhatikan seperti transparansi, akuntabilitas, fleksibilitas, efektivitas
dan efisiensi, partisipasi seluruh warga dan stakeholders, penyederhanaan
birokrasi, dan penyaluran aspirasi dengan sistem bottom up, serta
penerapan manajemen terbuka (open management). Oleh sebab itu,
kedudukan kepala madrasah sangat penting dan strategis dalam mengelola
dan mencapai tujuan institusi sekolah yang bersangkutan. Hal ini
dikarenakan kepala sekolah sebagai pemimpin puncak (top leader) di
sekolah mempunyai otoritas penuh untuk mengelola sekolah dan sekaligus
62
bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah yang bersangkutan. Namun
demikian, bukan berarti komponen lain yang terkait di sekolah diabaikan,
melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan dalam
upaya mencapai fungsi tertentu sebagaimana diharapkan.
Dengan demikian, dalam kerangka pelaksanaan otonomisasi
pendidikan khususnya di sekolah, paling tidak ada dua hal penting yang
perlu mendapatkan perhatian secara signifikan, yaitu kompetensi
manajerial kepala sekolah dan peningkatan profesionalisme para guru.
Kompetensi manajerial kepala sekolah merupakan kecakapan (skill) yang
dimiliki oleh seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas
pengelolaan terhadap seluruh sumber daya yang ada di madrasahnya
dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditatapkan. Kompetensi
manajerial kepala sekolah ini erat kaitannya dengan tugas dan tanggung
jawabnya di sekolah.
Tugas dan tanggung jawab kepala madrasah tersebut dapat
mencakup implementasi kegiatan atau pelaksanaan fungsi-fungsi
manajerial, mulai dari perencanaan, pembinaan, pengembangan, hingga
evaluasi terhadap seluruh bidang garapan lembaga madrasah yang
bersangkutan. Bidang garapan lembaga pendidikan di madrasah meliputi
bidang kesiswaan, personalia, keuangan, ketatalaksanaan, kurikulum,
hubungan sekolah dan masyarakat, dan unit-unit penunjang lainnya yang
ada di sekolah tersebut seperti unit kantin, poliklinik, asrama siswa,
koperasi, dan lain-lain. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung
63
jawab tersebut, kepala madrasah dituntut menguasai sejumlah kecakapan
atau kompetensi manajerial.
Secara spesifik kompetensi kepala sekolah tingkat SMP/MTs dalam
bidang pengelolaan tenaga kependidikan adalah sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi karakteristik tenaga kependidikan yang efektif
b) Merencanakan tenaga kependidikan sekolah (permintaan, persediaan,
dan kesenjangan)
c) Merekrut, menyeleksi, menempatkan, dan mengorientasikan tenaga
kependidikan baru
d) Mengembangkan profesionalisme tenaga kependidikan
e) Memanfaatkan dan memelihara tenaga kependidikan
f) Menilai kinerja tenaga kependidikan
g) Mengembangkan sistem pengupahan, reward, dan punishment yang
mampu menjamin kepastian dan keadilan
h) Melaksanakan dan mengembangkan sistem pembinaan karir
i) Memotivasi tenaga kependidikan
j) Membina hubungan kerja yang harmonis
k) Memelihara dokumentasi personel sekolah atau mengelola
administrasi personel sekolah
l) Mengelola konflik
m) Melakukan analisis jabatan dan menyusun uraian jabatan tenaga
kependidikan
64
n) Memiliki apresiasi, empati, dan simpati terhadap tenaga kependidikan
(Depdiknas).
Melihat kompetensi kepala madrasah diatas, bisa diambil
kesimpulan bahwa meningkatnya profesionalisme guru sangat ditentukan
oleh keberhasilan kepala madrasah dalam mengelola tenaga kependidikan.
Dalam hal ini peningkatan produktifitas dan prestasi kerja dapat dilakukan
dengan meningkatkan profesionalisme guru di madrasah melalui aplikasi
beberapa konsep dan teknik manajemen sumberdaya manusia.
Manajemen sumberdaya manusia merupakan bagian dari ilmu
manajemen yang memfokuskan perhatiannya pada pengaturan peranan
sumberdaya manusia dalam kegiatan suatu organisasi (Tjutju Yuniarsih
dan Suwatno, 2008: 1).
Adapun langkah-langkah peningkatan profesionalisme guru yang
dapat dilakukan oleh kepala madrasah melalui aplikasi unsur/fungsi dari
manajemen sumberdaya manusia adalah sebagai berikut:
a. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru
Perencanaan peningakatan profesionalisme guru/tenaga kerja
merupakan operasi dari manajemen sumber daya manusia. Perencanaan
sumber daya manusia (human resource planning) merupakan bagian
dari alur proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber daya
organisasi (sekolah), dari posisi saat ini menuju posisi yang diinginkan
di masa depan.
65
Perencanaan ketenagaan/guru adalah proses kegiatan penentuan
kebijaksanaan dan perkiraan jumlah kebutuhan personalia untuk jangka
waktu tertentu menurut bidang-bidang kegiatan yang terdapat dalam
suatu organisasi.
Perencanaan personalia dalam hal ini guru adalah meliputi jumlah
dan jenis keahlian atau keterampilan orang, ditempatkan pada pekerjaan
yang tepat, pada waktu tertentu yang dalam jangka panjang akan
memberi keuntungan bagi individu dan organisasi (Made Pidarta,1988:
120).
Perencanaan merupakan langkah awal yang dilakukan dalam
proses manajemen sumberdaya manusia, yaitu dengan menyusun
rancangan sekitar guru sekolah. Perencanaan guru menyangkut
penetapan jumlah dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan
semua program kerja dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan
madrasah. Dalam hal ini dirancang atas dasar job analysis, job
discription, job spesification, dan job evaluation (Tjutju Yuniarsih dan
Suwatno, 2008: 82).
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah
sebagai manajer dalam proses perencanaan guru antara lain: 1) berapa
jumlah tenaga yang dibutuhkan oleh madrasah, 2) berapa macam
keterampilan yang dibutuhkan dan dan berapa orang yang dibutuhkan
pada setiap jenis keahlian, dan 3) upaya menempatkan mereka pada
66
pekerjaan yang tepat untuk jangka waktu tertentu (Tjutju Yuniarsih dan
Suwatno, 2008: 82).
Dalam merencanakan profesionalisme guru, para pengambil
kebijakan (policy makers) dalam hal ini kepala sekolah menurut Udin
Syaifudin Sa’ud harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru harus berorientasi
masa depan, karena pendidikan adalah proses jangka panjang dan
jauh untuk menghadapi masa depan
b) Perencanaan peningkatan profesionalisme harus selalu
memperhatikan masalah, kebutuhan (analisis kebutuhan/need
assesment), situasi, dan tujuan (visi dan misi sekolah)
c) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru harus bersifat
inovatif, kuantitatif dan kualitatif.
d) Perencanaan peningkatan profesionalisme harus kenyal dan
responsive terhadap kebutuhan yang berkembang dimasyarakat
(dinamis dan kontinyu) (Udin Syaifudin Sa’ud, dkk, 2007: 12).
Perencanaan Tenaga kependidikan merupakan kegiatan untuk
menentukan kebutuhan tenaga kependidikan, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif untuk sekarang dan masa depan. Penyusunan tenaga
pendidikan yang baik dan tepat memerlukan informasi yang lengkap
dan jelas tentang pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan dalam
setiap lembaga pendidikan.
67
Oleh karena itu sebelum menyusun rencana, perlu dilakukan
analisis pekerjaan (job analysis), dan analisis jabatan untuk
memperoleh diskripsi pekerjaan (gambaran tentang tugas dan pekerjaan
yang harus dilaksanakan).
Informasi tersebut sangat membantu dalam menentukan jumlah
tenaga kependidikan yang di butuhkan, dan juga akan menghasilkan
spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan zaman.
Spesifikasi jabatan ini memberikan gambaran tentang kualitas
minimum calon tenaga kependidikan (guru) yang dapat diterima dan
yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan sebagaimana mestinya
(E. Mulyasa, :152).
Adapun mengenai tahapan-tahapan perencanaan sumberdaya guru
merujuk pendapatnya Schuler (1987: 62-78) dapat disimpulkan empat
tahapan proses perencanaan yaitu:
Tahap pertama, gathering, analyzing, and forecasting supply and
demand data. Pada tahap ini dilakukan sejumlah aktifitas untuk
mengumpulkan, menginvestigasi, menganalisis, dan memprediksi
kebutuhan data untuk menetapkan supply dan demand. Sumber data
bisa berasal dari lingkungan internal dan eksternal, yang digali dari
pengalaman masa lalu, pengamatan masa kini, dan prediksi kebutuhan
masa depan.
Tahap kedua, Estabilishing, human resource objective and
policies. Penetapan tujuan dan kebijakan sumberdaya manusia/guru
68
harus berlandaskan tujuan dan kebijakan corporate yang jelas. Tujuan
utama penetapan kebijakan dalam perencanaan sumberdaya
manusia/guru adalah merancang kebutuhan jumlah dan kualifikasi yang
handal dan memilliki kompetensi professional untuk mendukung
tercapainya sasaran corporate/sekolah.
Tahap ketiga, human resource programming. Pada tahap ini
dirancang mekanisme dan prosedur manajemen sumberdaya
manusia/guru yang dapat diimplementasikan dengan baik, terutama
dalam meningkatkan daya tawar bagi rekrutmen yang qualified.
Kegiatan meliputi penyusunan program yang berkaitan dengan hal-hal
berikut: program pengadaan guru baru (mulai dari proses rekrutmen,
seleksi, sampai pada penempatan), program perancangan kompensasi,
pemberdayaan, pengembangan yang optimal (melalui pendidikan,
pelatihan).
Tahap keempat, human resource planning-controll and
evaluation. Pada tahap ini, kegiatan lebih difokuskan untuk mengawasi
dan mengevaluasi implementasi program-program manajemen guru
yang sedang berjalan agar tetap pada jalurnya (on the right track).
Berdasarkan hasil evaluasi dapat diketahui kondisi obyektif SDM
organisasi yang kemudian dimanfaatkan sebagai feedback untuk
merevisi kebijakan, disamping itu hasil evaluasi dapat digunakan
sebagai basis feedforward, khususnya untuk menyusun perencanaan
69
selanjutnya di masa yang akan dating (Randall S. Schuler, 1987: 62-
78).
Secara skematik, dasar pertimbangan dan proses perencanaan
sumberdaya guru di madrasah dapat diilustrasikan dalam diagram
berikut:
Gambar 2
Diagram Perencanaan Sumberdaya manusia/guru di sekolah
Gambar 3
Proses Perencanaan Sumberdaya manusia/guru di Sekolah
Keadaan pegawai
saat ini:
• Jumlah guru
• Tingkat kompetensi
guru
Keadaan Sekolah:
• Visi, Misi, dan
Tujuan
• Sarpras
• Dukungan sumber
daya Lainnya
Kebutuhan masa yang akan
datang, terkait dengan:
• Kualifikasi
• Jumlah
• Perkembangan (kelas
& teknologi)
Perencanaan
Profesionalisme
Guru
Pengadaan:
Rekrutmen,
seleksi,
penempatan
Visi Sekolah
Misi Sekolah
Tujuan Sekolah
Memotret
Profil Guru
yang Ada
Kebutuhan
(Demand)
Analisa
S & D
Penawaran
(Supply)
Kebutuhan
Berlebih
Penawaran
Berlebih
Prekrutan
Dekrutmen
70
Pengadaan tenaga kependidikan merupakan kegiatan untuk
memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan pada suatu lembaga
pendidikan, baik jumlah maupun kualitasnya. Untuk mendapatkan
tenaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan maka dilakukan
kegiatan rekrutmen (E.Mulyasa, 2007: 153).
Pengadaan ketenagaan adalah usaha yang dilakukan untuk
mengisi jabatan tertentu yang masih kosong, baik akibat pembentukan
unit baru yang menyebabkan timbulnya kegiatan yang memerlukan
pelaksana-pelaksana, maupun sebagai akibat terjadinya mutasi atau
pergantian pegawai mulai dari penerimaan, pengangkatan, dan
penempatan yang selanjutnya masih dapat diperinci lagi menjadi
langkah-langkah pengadaan yang lebih detail. Rumusan yang lebih
teknis dan menurut pedoman umum administrasi kepegawaian dan
lingkungan departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) sebagai
berikut: “pengadaan pegawai adalah proses kegiatan yang mengisi
formasi yang lowong mulai perencanaan, pengumuman pelamaran,
penyaringan sampai dengan pengangkatan menjadi pegawai negeri”
(E.Mulyasa, 2007: 153).
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan mengenai
pengadaan guru, yaitu: analisis jabatan, sumber-sumber tenaga kerja
dan seleksi.
George R. Terry sebagaimana dikutip oleh Slamet
mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan analisis jabatan adalah
71
proses penyelidikan secara mendalam mengenai tugas, kewajiban dan
tanggung jawab dari suatu jabatan. Analisis jabatan ini diperlukan
untuk:
a) memperoleh gambaran mengenai segala macam karakteristik, fisik,
mental, pendidikan, pengetahuan dan pengalaman yang harus
dimiliki oleh seorang untuk menjalankan suatu jabatan dengan
baik.
b) menyusun rencana pendidikan dan latihan yang perlu dilakukan
dalam mengajarkan suatu pekerjaan pada pegawai baru.
c) memperoleh informasi unuk menilai jabatan, memperbaiki syarat-
syarat pekerjaan, merencanakan organisasi, pemindahan, dan
promosi (Slamet Saksono: 1997: 49-52).
Menurut Mulyasa (2007: 129), Seleksi dapat dilakukan dengan
cara:
a) Persiapan menerima para pelamar yang akan mengikuti seleksi
b) Menyelenggarakan berbagai macam tes
c) Wawancara
d) Penelitian latar belakang pelamar
e) Evaluasi medis
f) Penelitian pendahuluan tentang kecakapan, pengetahuan, dan
keterampilanpelamar.
g) Pengambilan keputusan, apakah lamaran diterima atau ditolak.
72
h) Dan harus berdasarkan mutu, dan sejalan dengan semangat
otonomi daerah, dan desentralisasi pendidikan.
b. Pengembangan Profesionalisme Guru
Yang dimaksud dengan pengembangan ketenagaan adalah usaha-
usaha untuk meningkatkan mutu serta efisiensi kerja seluruh tenaga yang
berada dalam suatu unit organisasi.
Usaha-usaha pengembangan itu melalui beberapa hal, di antaranya
adalah; (1) pendidikan dan latihan (inservice training), pendidikan dan
pelatihan adalah unsur utama dalam proses pengembangan pegawai
(guru).
Pendidikan disajikan untuk membekali pendidik dalam memperluas
kapasitas mereka untuk menerapkannya dimasa yang akan datang, (2)
tugas belajar, (3) formasi dalam arti penempatan pada jabatan yang lebih
dari semula, (4) pemindahan jabatan, (5) pemindahan lapangan dan
pemindahan wilayah (tour of duty and tour of area), usaha-usaha lain
dalam bentuk seminar, work shop, konferensi, rapat dinas dalam berbagai
bentuk. Dalam hal ini perlu diperhatikan data mengenai rata-rata ijazah
dan usaha promosi guru (Sanusi Uwes, 1999: 28).
Dalam pengembangan pegawai negeri sipil ada beberapa macam
latihan jabatan, yaitu latihan pra jabatan (preservice training atau
presentry training), dan latihan dalam jabatan (inservice training).
Latihan pra jabatan dibedakan menjadi dua, yaitu yang bersifat umum
dan khusus. Latihan pra jabatan yang bersifat khusus hanya diikuti oleh
73
CPNS yang ditunjuk oleh pimpinan instansi yang bersangkutan.
Sedangkan latihan pra jabatan yang bersifat umum adalah latihan yang
diikuti oleh setiap CPNS yang baru diangkat.
Latihan dalam jabatan terdiri dari latihan jabatan staf yang
diberikan kepada para staf pimpinan atau para pembantu pimpinan,
latihan jabatan lini yang diberikan pada para pimpian lini, dan latihan
jabatan pimpinan yang diberikan kepada para pegawaiyang menduduki
jabatan kepala dan wakil kepala kantor, biro dan sebagainya (Wursanto,
1988: 86).
Secara skematik dapatlah digambarkan sasaran dari pengembangan
profesionalisme guru sebagai berikut:
Gambar 4 Sasaran pengembangan Sumberdaya Guru
Dalam mengembangkan profesionalisme guru harus ada
pemeliharaan, pemeliharaan ketenagaan ialah usaha-usaha untuk
menjamin terpenuhinya secara optimal kebutuhan sosial ekonomi maupun
social psychologis para guru. Yang termasuk dalam berbagai usaha
Pengembangan Fisik:
• Peningkatan
kesehatan
• Keamanan lingkungan
• Pemenuhan
Kebutuhan
Pengembangan Psikologis:
• Kepuasan
• Kenyamanan
• Aktualisasi
Pengembangan Skill:
• Pendidikan
• Latihan
• Mutasi
SASARAN:
PROFESIONALISME GURU
74
pemenuhan kebutuhan tersebut di atas antara lain; gaji, tunjangan
kesejahteraan, pemeliharaan kesehatan maupun keselamatan fisik dan
mental pegawai, perlakuan yang adil dan wajar, penghargaan terhadap
setiap prestasi, perwujudan semangat kekeluargaan, persaudaraan dan
kerja sama.
Fungsi pemeliharaan/perawatan (maintenance) berkaitan dengan
upaya untuk memelihara dan mempertahankan guru yang produktif dan
professional. Perawatan dapat dilakukan melalui berbagai program,
misalnya: perlindungan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja),
kesejahteraan, pembagian kerja dan pemberdayaan kompetensi yang adil,
dan perencanaan karir dan sebagainya (Tjutju Yuniarsih, 2008: 85-86).
c. Penilaian Profesionalisme Guru
Sebagai seorang pekerja profesional misalnya guru akan
menampakkan adanya ketrampilan teknis yang didukung oleh sikap
kepribadian tertentu karena dilandasi oleh pedoman-pedoman tingkah laku
khusus (kode etik) yang mempersatukan mereka dalam satu korps profesi.
Pendidikan yang baik sebagaimana yang diharapkan modern dewasa ini
dan sifatnya yang selalu menantang, adalah model pendidikan yang
mengharuskan tenaga kependidikan dan guru yang berkualitas dan
profesional. Setidaknya ada 7 (tujuh) ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru
yaitu:
75
8) Guru bekerja semata-mata hanya memberi pelayanan kemanusiaan
bukan usaha untuk kepentingan pribadi
9) Guru secara hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk
mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk
menjadi anggota profesi keguruan.
10) Guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi.
11) Guru dalam organisasi profesional memiliki publikasi yang dapat
melayani para guru sehingga tidak ketinggalan bahkan selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi.
12) Guru selalu diusahakan mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar,
konvensi dan terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service
training.
13) Guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karir hidup (a live carier).
14) Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun
secara local (Oteng Sutisna, 1983: 78).
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dikemukakan diatas,
diperlukan sistem penilaian tenaga kependidikan secara transparan,
objektif, dan akurat, adalah dilakukannya proses penelian atau
pengontrolan. Penilaian tenaga kependidikan biasanya lebih difokuskan
pada prestasi individu, dan peran sertanya dalam kegiatan sekolah
(Mulyasa, 2007: 157).
Penilaian ketenagaan adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengetahui secara formal (conduite) maupun informal (managerial
76
supervision) untuk mengetahui hal-hal yang menyangkut pribadi, status,
pekerjaan, prestasi kerja maupun perkembangan guru sehingga dapat
dikembangkan pertimbangan nilai obyektif dalam mengambil tindakan
terhadap seorang tenaga, khusus yang diperlukan untuk
mempertimbangkan; kenaikan pangkat, gaji berkala, pemindahan jabatan
(promosi), perpindahan wilayah kerja (mutasi). Fungsi controlling
diarahkan untuk mengatur dan menilai sejauh mana rencana dapat
dilaksanakan dan tujuan dapat direalisasikan.
Selain itu, penilaian khususnya terhadap guru harus dilakukan
untuk memantau perkembangan profesionalisme guru dan untuk
mempermudah meningkatkannya. Dalam hal ini Ronald T.C. Boyd
(2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk
melayani dua tujuan, yaitu : (a) untuk mengukur kompetensi guru dan (b)
mendukung pengembangan profesional. Sistem evaluasi kinerja guru
hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi
berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat memberikan
peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran, serta
mendapatkan konseling dari kepala sekolah, pengawas pendidikan atau
guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas
(Akhmad Sudrajat, 2008: 29).
Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator dalam hal ini
adalah kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus
menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. Penetapan
77
standar hendaknya dikaitkan dengan : (1) keterampilan-keterampilan
dalam mengajar; (2) bersifat seobyektif mungkin; (3) komunikasi secara
jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang
setelah selesai dievaluasi, dan (4) dikaitkan dengan pengembangan
profesional guru. Kepala sekolah sebagai seorang evaluator hendaknya
mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang
dimiliki guru. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang
kinerja guru, sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat.
Menurut Ronald T.C. Boyd (2002) ada beberapa prosedur evaluasi
kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator, diantaranya :
a. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini
merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai
kinerja guru. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh
gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas.
Kendati demikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator dalam
menentukan hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif
sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi dapat
dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh
informasi yang bernilai (valuable)
b. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam
kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru
dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan
78
dalam kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator
sejauh mana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran ,
proses pengajaran dan testing (evaluasi).
c. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika
tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka
kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai
evaluator, seperti: siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi.
Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang
kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi,
pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala
sekolah dan pengawas.
Diantara format penilaian yang sering digunakan dalam melakukan
penilaian terhadap perkembangan guru khususnya yang berstatus PNS
oleh kepala sekolah adalah Daftar Penilaian Pekerjaan (DP3) yang
sekarang menjadi nilai SKP (Sasaran Kerja Pegawai). Format penilaian
ini telah dibakukan dan berlaku bagi Pagawai Negeri Sipil (PNS).
Dengan adanya penilaian itu, maka setiap guru akan mengetahui
kelebihan dan kekurangannya, sehingga diharapkan dapat
membangkitkan dorongan untuk melakukan perbaikan (Hendyat Sutopo,
2001: 145).
Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan agar dapat
memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan
kelemahannya. Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
79
evaluator : (a) penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan
bijak; (b) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya
perubahan pada guru; (c) menjaga derajat formalitas sesuai dengan
keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi; (d) menjaga
keseimbangan antara pujian dan kritik; (e) memberikan umpan balik
yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan (Hendyat
Sutopo, 2001: 148).
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian terdahulu dicantumkan untuk mengetahui perbedaan
penelitian yang terdahulu sehingga tidak terjadi plagiasi (penjiplakan) karya
dan untuk mempermudah fokus apa yang akan dikaji dalam penelitian ini.
Adapun beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara
lain:
Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan profesionalisme
guru (studi kasus di MAN 1 Malang) oleh Sri Rahmi, Manajemen
pengembangan kompetensi pendidik (studi kasus di SMA unggulan Zainul
Hasan Probolinggo) oleh Khoirul Camalia, Manajemen pengembangan
profesionalisme pendidik di MI (studi kasus di MIJS Malang) oleh Iif Khoiru
Ahmadi, dan Manajemen strategik peningkatan mutu pendidik (studi multi
kasus di MAN Tlogo Blitar dan SMAN Talun Blitar) oleh Siti Mardiyatul
Jannah. Dari keempat penelitian diatas dapat diketahui secara rinci tentang
80
persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti pada
tabel di bawah ini:
No
Nama
Peneliti,
dan Tahun
penelitian
Persamaan Perbedaan
Originalitas
Penelitian
1 Sri Rahmi
(2002)
1. Fokus
penelitian pada
peningkatan
profesionalisme
guru.
2. Aktor
manajemen
dalam hal ini
kepala
sekolah
melakukan
pembinaan
dalam
meningkatkan
profesionalisme
guru
1. Dalam
penelitian
tersebut
fokusnya
adalah
kepemimpinan
kepala
madrasah dan
tidak
mengaplikasik
an unsur-unsur
manajemen
secara lengkap
2. Peningkatan
profesionalisme
guru di
tentukan oleh
gaya
kepemimpinan
kepala madrasah
3. Jenjang
pendidikan
yang berbeda
(MAN)
4. Lokasi
penelitian
(MAN 1
Malang)
1. fokus pada
kompetensi
manajerial
kepala
sekolah
dalam
meningkatkan
profesionalis
me guru
2. meneliti
berbagai
aspek dari
kompetensi
manajerial
kepala
sekolah
dalam
mengaplikasi
kan unsur-
unsur
manajemen,
mulai dari
proses
perencanaan,
pengembangan,
hingga
evaluasi
3.Lokasi atau
obyek
penelitian di
Slogohimo,
Wonogiri
81 81
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah berupaya untuk mengetahui, dan menelaah tentang
"kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme
guru” (studi kasus di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri). Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian kualitatif manusia
adalah sebagai sumber data utama dan hasil penelitiannya berupa kata-kata
atau pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya (alamiah). Hal ini
sesuai dengan pendapat Denzin dan Lincoln yang mangatakan bahwa
penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah,
dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan
jalan melibatkan berbagai metode yang ada (Lexy J. Moleong, 2006: 5).
Menurut Donal Ary (2002: 424 - 425), penelitian kualitatif memiliki
enam ciri yaitu: (1) memperdulikan konteks dan situasi (concern of context),
(2) berlatar alamiah (natural setting), (3) manusia sebagai instrumen utama
(human instrument), (4) data bersifat deskriptif (descriptive data), (5)
rancangan penelitian muncul bersamaan dengan pengamatan (emergent
design), (6) analisis data secara induktif (inductive analysis).
Penelitian kualitatif menurut Muhajir (1988: 118) setidak-tidaknya
mengakui empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik senual, empirik logik
teoritik, empirik etik, dan kebenaran empirik transendental. Kemampuan dan
pemaknaan manusia atas indikasi empirik manusia menjadi mampu mengenal
81
82
keempat kebenaran tersebut. Menurut Williams penelitian kualitatif adalah
pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode
alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah
(Lexy J. Moleong, 2006: 5).
Studi tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan
prfesionalisme guru akan dikaji dengan menggunakan pendekatan
fenomenologi, sebab dalam studi atau penelitian ini memerlukan penghayatan
dan interpretasi terhadap perilaku kepala sekolah, guru-guru maupun tenaga
pendukung lainnya.
Selanjutnya mengenai penelitian kualitatif menurut Marriam dan
Simpson (1984) dalam buku Sardjan terdapat enam jenis, yaitu: (1) etnografi,
(2) studi kasus; (3) grounded teori; (4) interaktif; (5) ekologi dan (6) fututre.
Dari enam rancangan penelitian tersebut yang dipergunakan peneliti
dalam penelitian adalah studi kasus (case study) yang menurut Bogdan (1982)
adalah suatu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci suatu latar atau
suatu subyek atau suatu tempat penyimpanan dokumen atau suatu pristiwa
tertentu. Menurut Donal Ary studi kasus adalah: “In case study the
investigator attemp to examine an individual or unit in depth. The
investigator tries to discover all the variables that are important in the
history or development of the subject” (Donal Ary, 2002: 424 – 425).
Tentang jenis dan ragam studi kasus menurut Lingfood (1978) yang
dikutip oleh Maidatul Jannah dalam penelitiannya menyebutkan terdapat tiga
macam studi kasus, yaitu studi kasus tunggal, studi multi kasus dan studi
83
kasus perbandingan. Studi ini menggunakan studi kasus untuk
mendiskripsikan kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru dengan menggunakan latar penelitian di SMK Pancasila
8 Slogohimo, Wonogiri.
B. Latar Seting Penelitian
Fokus penelitian ini adalah tentang kompetensi manajerial kepala
sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru,baik pada aspek
perencanan, pelaksanaan maupun evaluasinya.
Kompetensi manajerial atau pelaksanaan proses manajemen yang
dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru
merupakan gejala sosial (social action) yakni interaksi antara kepala sekolah
para guru dan seluruh civitas akademika sekolah. Sehingga dalam konteks ini
peneliti memahami proses tersebut dengan menggunakan sudut pandang
persepsi emik, yang menurut Moeleong adalah suatu pendekatan yang
berusaha memahami suatu fenomena yang berangkat dari titik dalam (internal
atau domestik). Sasaran studi ini adalah perilaku atau tindakan-tindakan,
kebijakan-kebijakan yang dipergunakan dan diambil oleh kepala sekolah
dalam mengelola dan meningkatkan profesionalisme guru.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka pendekatan penelitian kualitatif
yang sesuai adalah fenomenologik naturalistic. Penelitian fenomenologi
menurut Moeleong bermakna memahami peristiwa dalam kaitannya dengan
orang dalam situasi tertentu. Penelitian ini memahami fenomena-fenomena
84
yang terjadi yaitu pertama perencanaan yang dilakukan oleh kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru,
kedua adalah pengembangan yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, dan ketiga
adalah evaluasi yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru.
C. Subjek dan Informan Penelitian
Taylor dan Bogdan (1998) menyebutkan istilah informan untuk
mengganti istilah subjek penelitian dalam penelitian kualitatif. Informan
digunakan karena mengacu pada pengertian bahwa informan merupakan
pihak yang memberikan informasi mengenai pemahamannya sendiri terhadap
pengalaman dan apa yang terjadi disekitarnya. Subjek dalam penelitian ini
adalah kepala sekolah dan informannya adalah wakil kepala sekolah dan guru
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri.
D. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi Terlibat
Observasi berasal dari bahasa latin yang berarti memperhatikan dan
mengikuti, memperhatikan dan mengikuti dalam arti mengamati dengan
teliti dan sistematis sasaran perilaku yang dituju. Menurut Cartwright yang
dikutip dalam Haris Herdiansyah (2010: 131) mendefinisikan sebagai
85
suatu proses melihat, mengamati dan mencermati serta merekam perilaku
secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu.
Definisi lain observasi adalah suatu kegiatan mencari data yang
dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis. Inti
dari observasi ialah adanya perilaku yang tampak dan adanya tujuan yang
ingin dicapai.
Pengamatan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana
peranan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dalam meningkatkan
profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri.
2. Wawancara Mendalam
Dalam penelitian kualitatif, wawancara menjadi metode
pengumpulan data yang utama. Menurut moleong, wawancara adalah
percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak
yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan
tersebut. Definisi lain dari wawancara merupakan percakapan antara dua
orang yang salah satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan
informasi untuk suatu tujuan tertentu (Moleong, 2002).
Wawancara ditujukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah
dan guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri.
86
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data
kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang
dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain oleh subjek. Dokumentasi
merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk
mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media
tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek
yang bersangkutan (Haris Herdiansyah, 2010: 143).
Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang
sudah ada, sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang
berhubungan dengan penelitian seperti: gambaran umum sekolah, struktur
organisasi sekolah dan personalia, keadaan guru dan peserta didik, catatan-
catatan, foto-foto dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan
untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode
observasi dan wawancara.
E. Pemeriksaan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data dibutuhkan untuk membuktikan bahwa data
yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya melaui verifikasi
data. Moleong menyebutkan ada empat kriteria yaitu: (1) kredibilitas
(validitas internal), (2) transferabilitas (validitas eksternal), (3)
dependabilitas (reliabilitas), dan (4) konfirmabilitas (objektivitas).
87
1. Kredibilitas
Dalam penelitian ini dipenuhi dengan melalui beberapa kegiatan,
pertama, aktivitas yang dilakukan untuk membuat temauan dan interpretasi
yang akan dihasilkan lebih terpercaya, terdiri dari: pertama,
memperpanjang waktu observasi di lapangan, perpanjangan waktu
berkaitan dengan kompetensi manajerial kepala kepala sekolah dalam
meningkatkan profesionalisme guru (studi kasus di SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri) dilakukan sebagai langkah untuk menggali data
lebih mendalam.
Kedua melakukan pengamatan secara terus menerus; disini peneliti
mengadakan observasi terus menenerus sehingga memahami gejala
dengan lebih mendalam sehingga mengetahui aspek yang penting, terfokus
dan relevan dengan topik penelitian.
Ketiga melakukan trianggulasi. Dalam penelitian trianggulasi
dilakukan dengan menggunkaan sumber, metode, dan teori. Trianggulasi
sumber digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari
seorang informan dengan informan lainnya. Trianggulasi metode
dilakukan dengan cara pengumpulan data yang beredar, seperti observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan trianggulasi teori adalah
pengecekan data dengan membandingkan teori-teori yang dihasilkan para
ahli yang dianggap sesuai dan sepadan melalui penjelasan banding,
kemudian hasil penelitian dikonsultasikan dengan subyek penelitian
sebelum dianggap mencukupi.
88
Dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan dua triangulasi
yaitu triangulasi sumber dan metode, hal ini berdasarkan pendapatnya
Sanapiah Faisal (1990) bahwa untuk mencapai standar kredibilitas hasil
penelitian stidak-tidaknya menggunakan triangulasi metode dan triangulasi
sumber data.
2. Transferabilitas
Transferabilitas berfungsi untuk membangun keteralihan dalam
penelitian ini dilakukan dengan cara “uraian rinci” untuk menjawab
persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat “ditransfer” pada
beberapa konteks lain. Dengan teknik ini peneliti akan melaporkan
penelitian seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks
tempat penelitian diselenggarakan dengan mengacu pada fokus penelitian.
3. Dependabilitas
Dependabilitas adalah kriteria menilai apakah proses penelitian
bermutu atau tidak. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapt
dipertahankan ialah dengan audit dependabilitas oleh auditor independent
guna mengkaji kegiatan yang dilakukan oleh peneliti. Dalam hal ini yang
menjadi auditor independent adalah Prof. H. Rohmat, Ph.D selaku
pembimbing yang terlibat secara langsung dalam penelitian ini.
4. Konfirmabilitas
Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang yang
dilakukan dengan cara mengecek data dadn informasi dan interpretasi hasil
penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit (audit
89
trail). Dalam pelacakan audit ini peneliti menyiapkan bahan-bahan yang
diperlukan seperti data lapangan berupa (1) catatan lapangan dari hasil
pengamatan peneliti tentang aktivitas kompetensi manajerial kepala kepala
sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri, (2) kompetensi manajerial kepala sekolah, (3)
kemampuan/profesionalisme para tenaga kependidikannya, (4) interaksi
antara kepala sekolah dan guru (5) wawancara dan transkip wawancara
dengan kepala sekolah, (6) hasil rekaman, (7) analisis data, (8) hasil
sintesa dan (9) catatan proses pelaksanaan penelitian yang mencakup
metodologi, strategi, serta usaha keabsahan.
Dengan demikian pendekatan konfirmabilitas lebih menekankan
pada karakteristik data yang menyangkut kegiatan para pengelolanya
dalam mewujudkan konsep tersebut. Upaya ini berujuan mendapatkan
kepastian bahwa data yang diperoleh itu benar-benar obyektif, bermakna,
dapat dipercaya, faktual dan dapt dipastikan.
Berkaitan dengan pengumpulan data ini, keterangan dari kepala
SMK Pancasila 8 dan civitas akademikanya perlu diuji kredibilitasnya.
Hal inilah yang menjadi tumpuan penglihatan, pengamatan obyektifitas,
subyektifitas untuk menuju kepastian.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis
transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang telah
90
dihimpun oleh peneliti untuk menambah pemahaman peneliti sendiri dan
untuk memungkinkan peneliti melaporkan apa yang telah ditemukan pada
pihak lain. Oleh karena itu, analisis dilakukan melalui kegiatan menelaah
data,manata membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskan, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang
akan diteliti dan diputuskan peneliti untuk dilaporkan secara sistematis
(Bogdan dan Biklen, 1982: 145).
Secara umum, langkah-langkah menganalis data adalah sebagai berikut:
1. Penyajian data
Penyajian data dimaksudkan untuk memaparkan data secara rinci
dan sistematis setelah dianalisis ke dalam format yang disiapkan untuk itu.
Namun data yang disajikan masih dalam bentuk data sementara untuk
kepentingan penelti dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut secara cermat,
sehingga diperoleh tingkat keabsahannya. Jika ternyata data yang disajikan
telah teruji kebenarannya maka akan bisa dilanjutkan pada tahap
pemeriksaan kesimpulan-kesimpulan sementara. Akan tetapi jika ternyata
data yang disajikan belum sesuai, maka konsekuensinya belum dapat
ditarik kesimpulan melainkan harus dilakukan reduksi data kembali.
2. Reduksi data
Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan,
menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak relevan, dan
mengorganisasikannya, sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan,
menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan dan rangkuman inti,
91
merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Dengan demikian reduksi
data ini akan berlangsung secara terus menerus selama penelitian
berlangsung.
3. Penarikan kesimpulan (verifikasi)
Penarikan kesimpulan dimaksudkan untuk member arti atau
memakai data yang diperoleh baik melalui observasi, wawancara, maupun
dokumentasi (Miles dan Huberman, 1988: 21-23).
Analisis data dilakukan setelah data terkumpul melalui suatu siklus
yang bersifat interaktif antara peneliti dan data-data yang diperoleh di
lapangan. Oleh karena itu harus bergerak diantara keempat sumbu tersebut
selama pengumpulan data. Hal ini tersebut seperti yang digambarkan
dalam diagram dibawah ini:
Gambar 3.1 Komponen dan siklus analisis data model interaktif
Data Collection (1)
Data Reduction (2)
Data Display (3)
Conclution
Drawing Verifying(4)
92
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
1. Gambaran umum Lokasi Penelitian
SMK Pancasila 8 Slogohimo berada di bawah naungan Yayasan
Pendidikan Pancasila Pusat Surakarta Cabang Wonogiri. Pada tanggal 10
Oktober 1989 dengan surat Nomor: 1704/YPP/Cab/2/Wng/St/88 tentang
permohonan ijin/persetujuan pendirian sekolah swasta, akhirnya mendapat
Surat Persetujuan Pendirian / Penyelenggaraan Sekolah Swasta dari
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Jawa
Tengah Nomor: 610/I.03/I/89 tanggal 30 Maret 1989.
Pada awal berdirinya bernama SMEA Pancasila dengan alamat Jl. Raya
Slogohimo – Wonogiri tepatnya di Ngerjopuro RT. 02 Rw. 03 Desa
Slogohimo Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa
Tengah. Mendapat status DIAKUI berdasarkan Piagam Jenjang Akreditasi
dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar dan Menengah Nomor: 35/CC/Kep/MN/1998 tanggal 10 Maret 1998.
Kemudian pada tanggal 28 Januari 2006 berdasarkan Sertifikat
Akreditasi Sekolah dari Badan Akreditasi Sekolah Nasional Departemen
Pendidikan Nasional Republik Indonesia, SMK Pancasila 8 Slogohimo
memperoleh akreditasi dengan peringkat TERAKREDITASI B, pada tanggal
11 Nopember 2009 dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia
melalui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), SMK
93
Pancasila 8 Slogohimo kembali memperoleh akreditasi dengan peringkat
Terakreditasi B.
Bidang Keahlian yang dibuka pada awalnya adalah Bisnis Manajemen
Program Keahlian Keuangan Kompetensi Keahlian Akuntansi dan pada tahun
pelajaran 2012/2013 membuka Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan
Komunikasi Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika
Kompetensi Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak.
Yang menjabat Kepala Sekolah di SMK Pancasila 8 Slogohimo:
Tahun 1989 – 2000 : Drs. Triyono
Tahun 2001 – 2004 : Drs. M. Subur
Tahun 2005 – 2006 : Drs. M. Subur
Tahun 2007 – 2011 : Drs. Aris Trilaksono
Tahun 2012 – 2016 : Drs. Aris Trilaksono
Untuk mengetahui mengeanai gambaran dan keadaan umum SMK Pancasila
8 Slogohimo dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Visi dan Misi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
VISI :
Terciptanya tenaga kerja tingkat menengah yang berjiwa Pancasila dan
Profesional yang mampu berkompetisi di era globalisasi
MISI :
a) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berbasis produktif
b) Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang unggul sesuai
dengan kebutuhan dunia usaha / dunia industri
94
c) Memberikan bekal kepada siswa agar mampu mengembangkan diri
dan meningkatkan martabatnya
d) Menghasilkan tamatan yang dapat mengakses pasar kerja
2. Struktur Organisasi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
STRUKTUR ORGANISASI
SMK PANCASILA 8 SLOGOHIMO
TAHUN DIKLAT 2014/2015
I. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Kepala Tata Usaha
1. Kepala Sekolah : Drs. Aris Trilaksono
2. Waka Bidang Kurikulum : Sri Haryanti, B.A.
3. Waka Bidang Kesiswaan : Maryadi, S.Pd.
4. Waka Bidang Sarana Prasarana : Pujiono, A.MPd.
5. Waka Bidang Humas /
Kerjasama DUDI :
6. Kepala Tata Usaha : Widodo
II. Ketua Kompetensi Keahlian
1. Akuntansi : Drs. Marmin
2. Rekayasa Perangkat Lunak : Gathot Suseno, A.Md.Kom
III. Wali Kelas
Kelas X AK1 : Yuyun Wahyusri, S.Pd.
Kelas X AK2 : Suradi, S.Pd.
Kelas X AK3 : Paryanti, S.E, S.Pd.
95
Kelas X AK4 : Sudir, S.Pd.
Kelas X RPL1 : Taryanto, S.Pd.
Kelas X RPL2 : Nanik Winarni, S.S.
Kelas XI AK1 : Nanang Widi Setiawan, S.Pd.
Kelas XI AK2 : Riana Widya Palupi, S.Pd.
Kelas XI AK3 : Sri Rahayu, S.Pd.
Kelas XI RPL1 : Muryati, S.Kom.
Kelas XI RPL2 : Toto Kasih Suhartoko, S.Pd.
Kelas XII AK1 : Sri Mulyani, S.Pd.
Kelas XII AK2 : Heri Susanto, S.Pd.
Kelas XII RPL1 : Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom.
Kelas XII RPL2 : Gathot Suseno, A.Md.Kom
IV. BP / BK : Dra. Endang Purwantiningsih
: Toto Kasih Suhartoko, S.Pd.
: Paryanti, S.E., S.Pd.
V. Pembina Ekstrakurikuler
1. Pembina OSIS : Maryadi, S.Pd., Nanik W,S.S.
2. Pembina Olahraga : Toto Kasih Suhartoko, S.Pd.
3. Pembina Pramuka : Paryanti, SE, S.Pd,
: Wahyudi
4. Pembina Hansek/PKS : Gathot Suseno, A.Md.Kom
5. Pembina PMR : Waluya, S.Pd.I
6. Pembina Rohis : Heri Susanto, S.Pd.
96
7. Pembina Seni Theater : Nanik Winarni, S.S.
8. Pembina Seni Tari : Gempa Pamulat, S.Sn.
VI. Ketua Bursa Kerja Khusus : Drs. Marmin
VII. Ketua Perpustakaan : Sri Haryanti, B.A.
VIII. Ketua Koperasi : Sri Rahayu, S.Pd.
IX. Laboran Komputer : Ambar Yulianti
3. Sarana dan prasarana
Tabel 1.1. Sarana dan prasarana
No. Nama Ruang Jumlah Volume
(M2)
Buku Jumlah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
Kelas/teori
Lab. Komputer
Lab. Bahasa
Bengkel Komputer
Perpustakaan
BKK
Seni/Musik/Teater
Koprasi/Toko
Praktik PAI
Kepala Sekolah
Guru
TU
Musholla
Kamar mandi/WC
Gudang
UKS
15
3
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
1
12
1
2
840
168
56
56
56
56
56
40
56
42
105
56
36
48
42
12
Judul Buku
Juml. Buku
155
2125
Sumber : Dokumen SMK Pancasila 8 Slogohimo
97
Menyimak table 1.1 di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa sarana dan
prasarana yang dimiliki adalah berupa ruang kelas 15 buah (840 m2),
laboratorium komputer 3 buah (168m2), laboratorium bahasa 1 buah (56 m2),
ruang bengkel komputer 1 buah (56m2), ruang perpustakaan 1 buah (56m2),
ruang Bursa Kerja Khusus 1 buah (56m2), ruang seni/musi dan teater 1 buah
(56m2),ruang koperasi/took 2 buah (40m2), ruang praktik PAI 1 buah
(56m2), ruang kepala sekolah 1 buah (42m2), ruang guru 1 buah (105m2),
ruang TU 1 buah (56m2), mushalla 1 buah (36m2), kamar mandi/WC 12
buah (48m2), gudang 1 buah (42m2), ruang UKS 2 buah (12m2). Sedangkan
buku yang dimiliki perpustakaan sebanyak 2125 buah, yang terdiri tidak
kurang dari 155 judul.
4. Tenaga guru dan tenaga administratif
Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas tenaga edukatif dan tenaga
administrative dapat dilihat pada table 1.2.
Tabel 1.2. Keadaan tenaga edukatif dan tenaga administratif
No Sumber Daya
Tingkat Pendidikan
Jumlah
SLTA D1 D2 D3 S1 S2
1.
2.
3.
4
Guru tetap
Guru tidak tetap
Pegawai tetap
Pegawai tidak tetap
-
-
4
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2
-
34
4
2
1
1
1
-
-
35
4
8
1
Jumlah 4 - - 2 41 48
Presentase 8 % - - 4 % 84 % 4 % 100 %
Sumber : Dokumen SMK Pancasila 8 Slogohimo
98
Tabel 1.2 menunjukkan bahwa dari tingkat pendidikan, kualitas tenaga
edukatif maupun tenaga administrative sudah cukup memadai untuk ukuran
SMK Pancasila 8 Slogohimo, di mana yang berpendidikan strata du (S2) ada
2 orang atau 4 %, S1 ada 41 orang atau 84 %, D3 ada 2 orang atau 4 %,
SLTA ada 4 orang atau 8 %.
5. Keadaan peserta didik
Tabel 1.3. Keadaan peserta didik SMK Pancasila 8 Slogohimo
No. Tahun Pelajaran
Pendaftar Diterima
L P Jml L P J
1 2 3 4 5 6 7 8
1.
2.
3.
4.
5.
2010/2011
2011/2012
2012/2013
2013/2014
2014/2015
121
126
131
160
172
370
381
402
415
422
491
507
533
575
594
105
114
115
140
155
342
360
372
378
409
447
474
487
518
564
Menyimak tabel 1.3 tersebut di atas ternyata jumlah peserta didik
dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dari jumlah pendaftar
maupun jumlah yang diterima. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab
meningkatnya jumlah peserta didik yang mendaftar ke SMK Pancasila 8
Slogohimo. Disamping sarana prasarana/fasilitas yang kian memadai, jenis
kegiatan yang terus dikembangkan, serta prestasi dalam berbagai kegiatan
dan kejuaraan yang sering diraih. Pengaruh yang paling dominan
meningkatnya jumlah peserta didik di SMK Pancasila 8 Slogohimo adalah
99
peran Bursa Kerja Khusus (BKK) yang berhasil menyalurkan lulusan ke
berbagai perusahaan di dalam maupun luar negeri.
6. Keadaan lulusan yang disalurkan ke dunia kerja tiga tahun terakhir
Tabel 1.4. Keadaan peserta didik SMK Pancasila 8 Slogohimo
No. Nama Perusahaan Lokasi
Jumlah Lulusan
disalurkan Jml.
2013 2014 2015
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
ASJ Components
NXP Semiconductor
Win Textile
PT. Cheil Jedang
PT. Bumi Cikarang
PT. Astra
PT. Citra Bunda
Karya Tama MS.
Hartono Mall
Tomang Mas
Malaysia
Malaysia
Korea di Indonesia
Korea di Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
3
4
2
3
4
5
6
-
-
-
4
5
4
3
7
6
6
9
8
12
6
6
5
5
8
7
7
11
9
10
13
15
11
11
19
18
19
20
17
22
27 64 74 165
Tabel 1.4 di atas menunjukkan bahwa para lulusan yang terserap di
dunia kerja tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Bekerja di ASJ
Componens Malaysia sebanyak 13 orang, bekerja di NXP Semiconductor
Malaysia sebanyak 15 orang, bekerja di Win Textile sebanyak 11 orang,
bekerja di PT Cheil Jedang sebanyak 11 orang, bekerja di PT Bumi Cikarang
sebanyak 19 orang, bekerja di PT Astra sebanyak 18 orang, bekerja di PT
Citra Bunda sebanyak 19 orang, bekerja di Karya Tama MS sebanyak 20
orang, bekerja di Hartono Mall sebanyak 17 orang dan bekerja di Tomang
Mas sebanyak 22 orang.
100
B. Penafsiran
1. Perencanaan Manajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
a. Perencanaan peningkatan profesionalisme guru yang berlandaskan
visi,misi, dan tujuan sekolah yang sudah direncanakan dan ditetapkan
serta melibatkan para guru dapat mempermudah mencapai tujuan yaitu
meningkatnya guru yang professional
b. Perencanaan yang berdasarkan analisa kebutuhan, analisa pekerjaan
dan berorientasi masa depan dapat menghindari salah sasaran, tumpang
tindih (over lapping) pekerjaan dan tugas
c. Pengadaan atau rekrutmen guru baru yang melalui prosedur yang tepat
akan menjadi faktor determinan tersedianya guru baru yang
profesional.
Gambar Perencanaan peningkatan profesionalisme guru
Keadaan Guru di
SMK
Pancasila 8 saat
ini:
• Jumlah guru
kompetensi
• Tingkat guru
Keadaan SMK
Pancasila 8
Slogohimo saat
ini:
• Visi, Misi,
dan Tujuan
• Sarpras
• Dukungan
sumber daya
Lainnya
Kebutuhan masa
yang akan datang,
terkait dengan:
• Kualifikasi
• Jumlah
• Perkembangan
(kelas &
teknologi)
Perencanaan
Profesionalis
me
Guru
Pengadaan:
Rekrutmen,
seleksi,
penempatan
101
Proses perencanaan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo
hingga rekrutmen kalau digambarkan dalam bentuk diagram adalah sebagai
berikut:
2. Pelaksanaan Manajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
a. Guru yang mengikuti pendidikan, latihan (inservice training education),
seminar, dan workshop akan menjadi faktor determinan meningkatnya
profesionalisme guru
b. Guru yang memenuhi standar kualifikasi, lulus sertifikasi guru,
ditempatkan secara tepat, dan kesejahteraannya dipenuhi akan menjadi
faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru.
c. Efektifnya organisasi profesi guru, kuatnya hubungan emosional dan
rasa kekeluargaan yang tercipta dengan adanya wadah atau forum
silaturrahim antar guru dapat meningkatkan kualitas guru dalam
mengajar, berkepribadian, profesional, dan bermasyarakat.
d. Pengelolaan dan peningkatan layanan kepustakaan yang baik dengan
tersedianya buku teks bacaan yang memadai dapat memperluan
wawasan dan mempertinggi kualitas mengajar guru.
Visi SMK P 8
Misi SMK P 8
Tujuan SMK P
Memotret
Profil Guru
yang Ada
Kebutuhan
(Demand)
Analisa
S & D
Penawaran
(Supply)
Kebutuhan
Berlebih
Penawaran
Berlebih
Prekrutan
Dekrutmen
102
e. Pengelolaan dan penyediaan fasilitas akses internet, laboratorium
komputer dan bahasa dapat meningkatkan profesionalisme guru.
Secara skematik sasaran dari pelaksanaan pengembangan
profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo dapat digambarkan
sebagai berikut:
3. Evaluasi Manajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
Dalam meningkatkan profesionalisme guru, Kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo melakukan langkah-langkah evaluasi sebagai berikut :
a. Penilaian dan supervisi yang berdasarkan prosedur, format dan
instrumen penilaian yang tepat dapat mempermudah mengetahui
kondisi dan perkembangan guru secara obyektif
b. Teknik supervisi yang digunakan ada tiga yaitu:
1) Teknik kunjungan kelas
2) Pembicaraan pribadi
3) Diskusi kelompok
Pengembangan Fisik:
• Pemenuhan Kebutuhan
(Tunjangan Kesejahteraan
Guru)
Pengembangan Psikologis:
• Kepuasan
• Kenyamanan
• Aktualisasi
Pengembangan Skill:
• Pendidikan
• Latihan
• Seminar
SASARAN:
PROFESIONALISME GURU
103
c. Pendekatan yang digunakan adalah secara langsung (directif) dan tidak
langsung (non directif)
d. Dalam melakukan supervisi kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo adalah
melakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.
Sasaran maupun aspek yang dievaluasi adalah kehadiran guru
(presensi), kinerja guru, prestasi dan perkembangan siswa, catatan
kelasdalam hal ini adalah tes harian, mingguan, bulanan hingga
semesteran,silabus dan RPP guru
e. Ketika ada guru yang mempunyai masalah, kepala sekolah memanggil
secara pribadi masalah apa yang sedang dihadapi guru tersebut,
kemudian dicarikan pemecahannya.
f. Dalam mengevaluasi guru secara kelompok adalah diadakannya forum
silaturrahmi para guru yang diikuti oleh kepala sekolah, pengawas
pendidikan dan tenaga kependidikan secara bergiliran setian bulan
untuk melakukan koordinasi dan pemecahan masalah yang ada.
g. Evaluasi tesebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan
permasalahan yang ada dan untuk membina serta meningkatkan
profesionalisme guru kedepan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
h. Metode penilaian yang diterapkan oleh kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo selain melakukan supervisi juga menggunakan Sasaran
Kerja Pegawai (SKP) atau Daftar Penilaian Kinerja (DP3)
104
B. Pembahasan
1. Perencanaan kompetensi manajerial yang dilakukan Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru
Perencanaan merupakan rangkaian kegiatan pertama dalam proses
manajemen, tidak terkecuali dalam meningkatkan profesionalisme guru.
Perencanaan profesionalisme guru merupakan tindakan untuk masa yang
akan datang demi tercapainya visi dan misi suatu sekolah. Perencanaan
profesionalisme guru merupakan bagian dari alur proses manajemen dalam
menentukan pergerakan sumberdaya manusia (guru), dari posisi saat ini
menuju posisi yang diinginkan di masa depan.
Berkaitan dengan pelaksanaan perencanaan profesionalisme guru
yang merupakan rangkaian kegiatan/bagian dari manajemen, Drs. Aris
Trilaksono kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
mengungkapkan:
“Di SMK Pancasila 8 Slogohimo, perencanaan profesionalisme guru
direncanakan dan ditentukan dalam bentuk rapat/pertemuan tatap
muka bersama para guru, karyawan, wakil kepala sekolah, waka
kurikulum dan seluruh tenaga kependidikan yang dipimpin oleh
kepala Sekolah. Rapat semacam ini biasanya dilakukan pada awal
ajaran baru, awal semester, dan pertengahan semester.”
Lebih lanjut kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut semua guru diminta pendapat dan
gagasannya terkait dengan program-program sekolah lebih-lebih
menyangkut pengembangan profesionalisme guru, hambatan-hambatan
105
yang dihadapi para guru dalam proses pembelajaran dikelas, serta
bagaimana cara pemecahannya. Berkaitan dengan perencanaan
profesionalisme guru Sri Haryanti, B.A.selaku wakil kepala sekolah
bidang kurikum menjelaskan:
“Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah
dan jajarannya selalu mengundang para guru untuk diskusi bersama
merencanakan dan menentukan program-program yang akan
dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan sekolah khususnya
dibidang peningkatan profesionalisme guru sesuai dengan visi dan
misi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, dalam rapat tersebut
kepala sekolah memberikan keleluasaan bagi guru untuk
mengungkapkan ide, saran yang membangun yang berhubungan
dengan peningkatan profesionalisme guru, misalnya mendorong
guru untuk melakukan studi lanjut, mengikuti pelatihan, dan
seminar-seminar yang menunjang kualitas mengajar guru”.
Ungkapan di atas didukung oleh penyataan Yossy Firman P, S.Pd.
S.Kom salah satu guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
menyatakan:
“Saya selaku guru dan juga guru-guru yang lain selalu dilibatkan
dalam rapat mengenai perencanaan dan program sekolah ke depan
diantaranya adalah tentang perencanaan profesionalisme guru, pak
Aris sebagai kepala sekolah sangat demokratis dalam mengambil
kebijakan terutama menyangkut perencanaan profesionalisme
guru, setiap guru diminta pendapat dan ide kreatifnya tentang
bagaimana meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri, karena para guru merupakan orang yang
paling mengerti tentang kondisi dan keadaan yang menyangkut
kegiatan belajar mengajar dan kondisi dirinya sendiri”.
Seperti penjelasan di atas, setiap awal tahun pembelajaran, SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melakukan rapat untuk membahas dan
menetapkan program/rencana-rancana ke depan (khususnya rencana
peningkatan profesionalisme guru) berdasarkan visi dan misi yang sudah
ditetapkan. Diantara rencana yang yang sudah ditetapkan adalah antara
106
lain rencana strategis (renstra) SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
untuk meningkatkan profesionalisme guru. Adapun rencana tersebut
adalah:
1. Peningkatan profesionalisme guru dengan mengikutkan program
sertifikasi guru dalam jabatan,
2. Peningkatan profesionalisme guru dalam proses kegiatan belajar
mengajar (KBM)
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri disamping memiliki rencana
strategis seperti di atas juga memiliki rencana yang berbentuk operasional
(RENOP), hal ini merupakan program-program oprasional sekolah dalam
jangka pendek dan menengah, yaitu:
a. Perekrutan guru baru untuk GTT
b. Pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru
1. Pendidikan dan Latihan
2. Seminar dan workshop
3. Studi lanjut
4. Revitalisasi MGMP
5. Mengadakan forum silaturrahmi antar guru
6. Penyediaan sarana dan fasilitas penunjang
c. Monitoring dan evaluasi.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri dalam melakukan perencanaan dengan cara
melakukan rapat (musyawarah) atau pertemuan antara seluruh civitas
107
akademika yang ada disekolah. Dalam rapat dan musyawarah tersebut
akan dibahas program-program perencanaan kedepan. Oleh karena itu,
para guru dituntut berperan akatif dalam menyampaikan ide dan
gagasannya karena kepala sekolah sangat demokratis dalam artian
memberikan keleluasaan kepada para guru untuk menyampaikan ide
maupu gagasannya.
Dalam proses perencanaan profesionalisme guru, kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang mempunyai kebijakan menetapkan
perencanaan profesionalisme guru selalu memperhatikan kebutuhan
(demand/need assesment), memperhatikan visi dan misi dan tujuan
pendidikan sekolah, serta analisis jabatan pekerjaan, untuk kemudian
menyusun desain struktur yang tepat, sebagai landasan utama dalam
menempatkan orang/guru dalam posisi yang tepat. Hal ini sejalan dengan
konsep the right man in the right job at the right time.
Berkaitan dengan hal ini Drs. Aris Trilaksono selaku kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menyampaikan:
“Dalam merencanakan profesionalisme guru, saya selaku pimpinan
dengan dibantu para guru selalu mengadakan analisis kebutuhan,
memperhatikan visi, misi dan tujuan SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dan analisis jabatan pekerjaan. Analisis tersebut dilakukan
berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan dari hasil
identifikasi dari tahun-tahun sebelumnya agar kami tepat sasaran
dalam merencanakan profesionalisme guru demi tercapainya visi dan
misi sekolah yang sudah ditetapkan”.
Untuk mendapat hasil optimal dari sebuah proses perencanaan guru
di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, maka pada saat perumusan
108
rencana harus didukung oleh data faktual yang aktual, perencanaan
profesionalisme guru disusun berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi
internal saat ini yang dipadukan dengan analisis prediksi kebutuhan di
masa yang akan datang. Analisis eksternal dilakukan untuk memahami dan
memprediksi perubahan kebutuhan guru sebagai dampak adanya
perkembangan kelas, kemajuan teknologi. Data-data maupun hasil dari
proses manajemen peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri dari tahun-tahun sebelumnya diperlukan dalam
perencanaan sebagai acuau dalam merencanakan agar perencanaan yang
dilakukan tepat sasara, efektif, efisien dan selalu sesuai dan sejalan dengan
visi dan misi sekolah.
Rekrutmen merupakan rangkaian kegiatan dari proses perencanaan,
rekrutmen/pengadaan guru baru dalam hal ini adalah guru, rekrutmen
merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan akan guru pada suatu
sekolah baik dari segi kuantitatif dan kualitatif. Perekrutan guru baru
merupakan rangkaian lanjutan dari proses perencanaan, dalam proses
rekrutmen harus memperhatikan guru-guru yang sudah ada yang
dibandingkan dengan pekerjaan yang tersedia (job analysis),
memperhatikan kebutuhan (demand), penawaran (supply), melakukan
analisis antara keduanya yang kemudian dilanjutkan dengan perekrutan
guru baru.
Pengadaan guru baru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
dalam hal ini adalah guru tidak tetap (GTT), karena guru yang berstatus
109
PNS tidak melalui mekanisme perekrutan akan tetapi bantuan dari
pemerintah yang didistribusikan langsung oleh Dinas Pendidikan maupun
Kemenag, sehingga SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri hanya
memerlukan usaha peningkatan profesionalisme guru.
Untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan, pihak sekolah harus
melakukan seleksi secara ketat, mulai dari tes kemapuan yang dilakukan
dengan cara lisan (wawancara), tertulis (tes tulis), dan praktek. SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam melakukan pengadaan guru GTT
baru melalui rangkaian kegiatan mulai dari persiapan menerima para
pelamar yang akan mengikuti seleksi, menyelenggarakan berbagai macam
tes, melakukan wawancara, penelitian latar belakang pelamar, penelitian
pendahuluan tentang kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan pelamar.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono sebagai berikut:
“Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam melakukan
rekrutmen/pengadaan guru baru melalui serangkaian kegiatan
dimulai dari persiapan menerima para pelamar yang akan mengikuti
seleksi, menyelenggarakan berbagai macam tes, melakukan
wawancara, penelitian latar belakang pelamar, penelitian
pendahuluan tentang kecakapan, nilai akademiknya yang dibuktikan
dengan transkip nilainya, wawasan pengetahuan, dan keterampilan
pelamar dibidang pembelajaran”.
Dengan diadakanya seleksi yang ketat, calon guru yang berhasil
direkrut adalah benar-benar guru yang sesuai dengan harapan dan yang
telah direncanakan sebelumnya (sesuai kebutuhan) karena sudah melalui
proses mulai dari analisis jabatan hingga analisa pekerjaan.
110
Dalam melakukan pengadaan/rekrutmen guru, kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri terlebih dahulu mengkonsultasikan ke
Yayasan dan Dinas Pendidikan KabupatenWonogiri seperti yang
dipaparkan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, Drs.Aris
Trilaksono:
“Sebelum mengadakan rekrutmen guru, saya terlebih dahulu
mengkonsultasikan ke Yayasan dan Dinas Pendidikan Kab.
Wonogiri karena secara hirarkis SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dibawah naungan Dinas Pendidikan, apabila disetujui ya
kami melakukan rekrutmen, tapi apabila tidak diperkenankan kami
tidak melaksanakan, tapi biasanya apabila kami mengusulkan
perekrutan guru baru selalu disetujui karena berdasarkan
pertimbangan kebutuhan, seperti perkembangan kelas, dan
perkembangan iptek. Untuk mengetahui itu kami malakukan analisa
pekerjaan/jabatan”.
Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang melakukan
konsultasi kepada Dinas Pendidikan adalah dimaksudkan untuk
menghindari kesalah pahaman (miss communication) karena SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri secara hirarkis birokrasi berada dibawah
naungan kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri.
2. Pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru
Pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru merupakan
tindak lanjut dari proses perencanaan dan perekrutan guru. Perencanaan
yang matang dan perekrutan guru GTT baru akan menentukan
keberhasilan proses pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru.
111
Bentuk Peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri antara lain mengikutkan para guru dalam forum
ilmiah (seminar, diklat, lokakarya, wokshop dan kursus), studi lanjut,
revitalisasi MGMP, forum silaturrahmi antar guru, tunjangan
kesejahteraan, penyediaan fasilitas penunjang seperti penyediaan fasilitas
internet untuk mengakses informasi baru, pembelian buku baru yang
menunjang terhadap profesionalisme guru, hal ini seperti yang dipaparkan
oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs.Aris Trilaksono
sebagai berikut:
“Program ataupun usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru
yang saya lakukan selaku kepala sekolah yang dibantu wakil kepala
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dan jajaran yang terkait,
adalah mengikutkan seminar, diklat, kursus-kursus, MGMP, Studi
lanjut, meningkatkan kesejateraan guru, penyediaan sarana
penunjang seperti internet dan buku bacaan baru penunjang dan kami
membentuk forum silaturrahmi antar guru”.
Secara detail, usaha pembinaan dan pengembangan yang dilakukan
oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah sebagai
berikut:
a. Mengadakan dan mengikutsertakan guru dalam forum ilmiah (Pendidikan
dan latihan (up grading/inservice training), workshop, dan seminar)
Pendidikan dan latihan (inservice training/up grading) merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan/profesionalisme guru.
Selain meningkatkan kemampuan profesionalisme guru dalam kegiatan
belajar mengajar (KBM), pendidikan dan latihan juga bermanfaat bagi
guru untuk memperoleh informasi baru yang berkaitan dengan pendidikan,
112
pengajaran, metode-metode yang baru dalam bidang pembelajaran
sekaligus bermanfaat bagi guru yang sedang menyusun portofolio
sertifikasi guru sebagai poin tambahan untuk memenuhi poin yang
ditetapkan untuk mencapai kelulusan. Mengenai hal ini Drs. Aris
Trilaksono selaku kepala sekolah menjelaskan:
“Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, kami selalu
mengirimkan para guru secara bergiliran dan yang sesuai dengan bidang
studinya untuk mengikuti pelatihan, seminar, lokakarya, workshop ataupun
kegiatan pendidikan lainnya baik yang diadakan oleh balai diklat
(pemerintah), penyelenggara swasta maupun diklat yang diadakan secara
mandiri oleh sekolah”.
Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan bahwa SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam rangka meningkatkan
profesionalisme guru pada bulan Februari 2014 menyelenggarakan Diklat
tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara mandiri, hal ini sesuai
dengan pernyataan Drs. Aris Trilaksono:
“Pada bulan Februari 2014, SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
menyelenggarakan Diklat secara mandiri tentang penyusunan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hal ini dimaksudkan agar guru-
guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri lebih memahami dan
dapat melakukan penelitian tindakan kelas sehingga proses belajar
mengajar (PBM) dapat berjalan dengan baik dan lancar”.
Bapak Pujiono, A.M.Pd sebagai wakil kepala sekolah bagian sarana
prasarana juga memberikan pernyataan:
113
“Untuk meningkatkan profesionalisme guru, pihak sekolah
mengikutsertakan para guru dalam penataran, pelatihan, workshop,
seminar yang relevan serta dibiayai oleh sekolah”.
Senada dengan pernyataan kepala dan wakil kepala sekolah bidang
sarpras tersebut, Maryadi, S.Pd. wakil kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri bidang kesiswaan yang pernah diikutkan dalam pelatihan dan
seminar mengungkapkan:
“Kepala sekolah sering menunjuk guru-guru secara bergiliran untuk
ikut pendidikan dan latihan, workshop, dan seminar yang sesuai
dengan mata pelajaran dan yang relevan dengan kependidikan dan
pengembangan profesionalisme guru. Para guru yang sudah
mengikuti pelatihan diminta untuk menjelaskan hasil dari pelatihan
dan seminar kepada guru yang lain dalam rapat sekolah, MGMP,
maupun dalam forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri”.
Kepala sekolah selaku pengambil kebijakan (policy makers) dalam
mengikutkan para guru dalam diklat, seminar, maupun workshop adalah
dengan membiayai secara penuh kegiatan tersebut. Hal ini seperti yang
diungkapkan oleh Drs. Aris Trilaksono kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri:
“Dalam hal pembiayaan mengikutsertakan guru-guru dalam
pelatihan, seminar, maupun lokakarya pihak sekolah membiayai
secara penuh semua biaya yang timbul akibat kegiatan tersebut,
dalam artian para guru yang diikutkan dalam kegiatan pelatihan
tersebut secara gratis, sehingga guru lebih bersemangat dan tidak
mengalami kendala dalam hal biaya”.
Salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh guru
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah pendidikan dan pelatihan
mengenai Implementasi kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh LPMP
114
Jawa Tengah pada tahun 2014. Untuk lebih mengetahui detil nama guru,
jenis diklat, tingkat diklat dan tahun dilaksanakan diklat dapat melihat
tabel di bawah ini yang diambil dari dokumen TU SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri.
Tabel 1.5. Guru yang pernah mengikuti diklat
No. NAMA JENIS DIKLAT TINGKAT
TAH
UN
1. Drs. Aris Trilaksono Manajemen Peningkatan
Kompetensi Kepala Sekolah
Regional 2014
2. Drs. Marmin Peningkatan Kompetensi Komputer
Akuntansi
Nasional 2012
3. Dra. Endang
Purwantiningsih
1. Pelatihan Enterpreneur Insight Kab. 2012
2. Pelatihan Implementasi
Kurikulum 2013
Regional 2014
4. Siti Rahayu, S.Pd Pelatihan Enterpreneur Insight Kab. 2012
5. Drs. Sudir Pelatihan Implementasi Kurikulum
2013
Regional 2014
6. Suradi, S.Pd 1. Workshop Penyusunan
Perangkat Pembelajaran
Kurikulum 2013 Kompetensi
Keahlian Akuntansi
Kab. 2014
2. Diklat Kompetensi Akuntansi
Pola 50 Jam
Regional 2006
7. Abdul Wahid, S.Ag Workshop Peningkatan
Kompetensi Guru PAI
Kab. 2013
8. Maryadi, S.Pd TOT Sistem Pendataan Manajemen
Sekolah Berbasis IT
Nasional 2012
9. Sri Mulyani, S.Pd Pelatihan Implementasi Kurikulum Regional 2014
115
10. Toto Kasih
Suhartoko, S.Pd
1. Diklat Kepalatihan Atletik Regional 2012
2. Peningkatan Kompetensi Guru
Penjasorkes
Kab. 2013
11. Sri Haryanti, BA 1. Pelatihan Implementasi
Kurikulum 2013
Regional 2014
2. Diklat Manajemen
Perpustakaan Sekolah
Nasional 2013
13. Sri Mulyani, S.Pd Diklat Kompetensi Akuntansi Pola
50 Jam
Regional 2006
Para guru yang sudah selesai mengikuti kegiatan seperti pendidikan
dan latihan, dan seminar oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri diminta untuk memaparkan dan melaporkan hasilnya bagi
kepala sekolah secara khusus dan kepada guru-guru secara umum, hal ini
bertujuan agar materi maupun ilmu yang diperoleh dapat ditularkan
kepada guru-guru yang lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan
profesionalisme guru, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
mengikutkan guru-guru dalam program pendidikan dan latihan, dan
bahkan menyelenggarakan pendidikan dan latihan yang dilaksanakan
secara mandiri oleh guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melalui
organisasi MGMP.
b. Studi Lanjut
Studi lanjut sangat diperlukan dalam menunjang karir guru
khususnya dalam kenaikan pangkat bagi guru PNS, bermanfaat dalam
116
meningkatkan kualifikasi akademik seorang guru lebih-lebih bagi guru
yang akan mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan. Selain itu, studi lanjut
juga bermanfaat bagi pengembangan keilmuan seorang guru. Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri selalu memberikan dorongan dan
motifasi bagi guru untuk melakukan studi lanjut ke jenjang yang lebih
tinggi. Pada tahun ajaran 2014/2015 sudah ada dua orang yang
melaksanakan study lanjut ke jenjang pasca sarjana yaitu:
1) Drs. Marmin sedang melanjutkan study di Unwidha Klaten
2) Abdul Wahid Ahmadi, S.Ag sedang melanjutkan di IAIN Surakarta
Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Drs. Aris Trilaksono yaitu:
“Untuk meningkatkan karir guru dan peningkatan kualifikasi
akademik dan juga akan berdampak terhadap meningkatnya
profesionalisme guru, studi lanjut sangat dan bahkan mutlak
dilakukan, guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang sedang
melaksanakan study ke pasca sarjana ada dua yaitu Bapak Drs.
Marmin dan Bapak Abdul Wachid Ahmadi, S.Ag.”
Dalam melakukan studi lanjut ada dua macam jalur yang dapat
ditempuh yaitu melalui pendidikan kedinasan (beasiswa dari pemerintah)
dan ada yang melalui jalur biaya mandiri (biaya pribadi). Guru SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang sedang melakukan studi lanjut ke
jenjang pasca sarjana semuanya atas inisiatif sendiri atau biaya
sendiri/pribadi, hal ini seperti yang disampaikan oleh Drs. Marmin guru
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri:
“Saya dan Pak Wahid melanjutkan kuliah ke S-2 atas dorongan
kepala sekolah dan inisiatif sendiri dan pembiayaan kami tanggung
secara pribadi, karena saya sadar bahwa seorang guru untuk dapat
naik karir dan kepangkatannya, meningkat kualifikasi akedemiknya,
117
serta meningkatnya profesionalismenya harus melakukan studi
lanjut, dan hal ini akan menjadi motifasi bagi guru-guru yang lain
untuk mengikuti jejak kami”.
Tindakan yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam memotifasi, dan mendorong para guru untuk melakukan
studi lanjut bagi guru merupakan sebuah inisiatif dan kebijakan untuk
meningkatkan kualifikasi akademik guru, dan mempermudah guru yang
akan mengikuti program sertifikasi guru dalam jabatan. Dengan
meningkatkan kualifikasi akademiknya, para guru diharapkan lebih
meningkat daya, dan kemampuannya dalam mengemban tugas sebagai
pendidik di sekolah.
c. Revitalisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
MGMP maupun kelompok kerja guru (KKG) merupakan wadah atau
organisasi para guru untuk melakukan kegiatan-kegiatan diantaranya
adalah menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan pendidikan
di sekolah, menyiasati kurikulum yang padat dan mencari alternative
pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metode, variasi
media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri dibawah kendali Drs. Aris Trilaksono selaku kepala
sekolah sudah memiliki dan mengoptimalkan MGMP sebagaimana yang
diungkapkan:
“Untuk mencapai kualitas pembelajaran yang optimal, mengatasi
persoalan-persoalan yang timbul dalam proses pembelajaran, di
SMK ini telah berhasil membentuk MGMP dan sudah berjalan
dengan baik, MGMP disini bersifat internal dan eksternal
118
bekerjasama dengan MGMP sekolah yang berada dibawah naungan
Diknas”.
Senada dengan pernyataan kepala sekolah di atas, Ibu Sri Rahayu,
S.Pd selaku koordinator MGMP Bahasa Indonesia menyatakan:
“Saya dengan guru basaha Indonesia lainnya selalu mengoptimalkan
organisasi MGMP untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
bahasa Indonesia, bagaimana menggunakan metode pembelajaran
terbaru dan media pembelajaran yang efektif”
Setiap pertemuan MGMP dilakukan, para anggota MGMP saling
bertukar pendapat mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam
kegiatan belajar mengajar, serta mencari solusi. Disamping itu juga para
anggota MGMP saling bertukar informasi mengenai metode-metode baru
untuk mempermudah penyampaian materi pembelajaran bagi perserta
didik.
MGMP SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri selain membahas
tentang bagaimana mengefektifkan proses dan kegiatan belajar mengajar
di kelas, juga sudah berhasil menyelenggarakan diklat secara mandiri
tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada bulan Januari dan bulan
April untuk guru-guru dibawah naungan MGMP intenal dan eksternal
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dan SMK se-Kabupaten Wonogiri
bekerjasama (dibiayai) dengan Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri.
Berkaitan dengan hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh kepala
SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, Drs. Aris Trilaksono:
“Pada pertengahan bulan Januari tahun 2013 MGMP SMK Pancasila
8 Slogohimo Wonogiri telah mengikutsertakan guru-guru kami
untuk mengikuti diklat bagi guru SMK se-Kabupaten Wonogiri
kerjasama MGMP SMK dengan Diknas Wonogiri tentang PTK yang
119
dibiayai oleh Diknas Kabupaten Wonogiri, Diklat ini diadakan agar
para guru dapat dan mampu melakukan penelitian tindakan kelas di
lingkungan sekolahnya masing-masing”.
MGMP SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri diadakan setiap
setengah bulan sekali, dan ada yang setiap bulan sekali, dan tempatnya
kondisional berdasarkan kemufakatan anggota MGMP, akan tetapi paling
sering dilaksanakan di sekolah untuk lebih kondusifnya pertemuan.
Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono
menyatakan:
“MGMP IPA SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dilaksanakan
setiap bulan, MGMP Bahasa Inggris setiap bulan sekali, dan MGMP
Matematika setiap setengah bulan sekali. Mengenai waktu dan
tempatnya kondisional berdasarkan keputusan dan kesepakatan antar
guru anggota MGMP, akan tetap yang paling sering adalah diadakan
di sekolah”.
Adapun mengenai biaya MGMP ada yang dibiayai oleh pihak atau
lembaga donator seperti Penerbit Buku LKS, dan juga dapat bantuan dari
Diknas Kabupaten Wonogiri serta ada juga yang dibiayai sendiri oleh
sekolah, hal ini sebagaimana pernyataan kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri:
“Mengenai biaya yang timbul akibat diadakannya MGMP di SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri ada tiga model pembiayaan, yaitu
bantuan dari pihak Penerbit yang buku /LKS-nya kami gunakan,
MGMP juga dapat bantuan dari Diknas Wonogiri dan juga dibiayai
oleh sekolah”.
Dengan adanya organisasi profesi guru seperrti MGMP, maka kepala
sekolah sudah menjalankan proses pengembangan profesionalisme guru,
karena dengan adanya forum seperti MGMP ini para guru dapat bertukar
120
pikiran dan informasi dalam hal mata pelajaran yang akan mereka
sampaikan kepada peserta didik, baik menyangkut metode, media maupun
materi pelajaran. Selain itu, para guru juga bisa saling berdiskusi denga
masalah-masalah yang mereka hadapi dalam proses belajar mengajar di
sekolah dan mencari jalan keluarnya.
d. Penyediaan Fasilitas Penunjang
Fasilitas penunjang sangat mutlak dibutuhkan untuk menunjang
proses dan kegiatan belajar mengajar (KBM), dalam hal ini adalah
penyediaan sumber belajar seperti sarana internet agar para guru dapat
mengakses informasi-informasi baru yang mendukung terhadap
pengembangan keilmuan dan profesionalnya, pengadaan bahan bacaan
baru seperti buku, majalah kependidikan, jurnal kependidikan, dan akses
internet sebagai tambahan sumber belajar juga menunjang terhadap
peningkatan profesionalisme guru. Berkaitan dengan hal ini, kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono menjelaskan:
“Penyediaan fasilitas penunjang seperti sambungan internet dan
pengadaan buku-buku penunjang merupakan salah satu perhatian
saya selaku kepala sekolah, di SMK ini sudah ada sambungan
internet untuk diakses, dan pihak sekolah selalu memperbaharui
buku buku dengan membeli buku-buku baru, dan saya selalu
menganjurkan kepada guru agar selalu mengakses informasi-
informasi baru dan membeli buku-buku baru yang relevan dengan
mata pelajaran masing-masing dan pihak sekolah yang
membiayainya.”
Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri sudah tersedia fasiltas
penunjang seperti buku-buku perpustakaan, akses internet, media
pembelajaran seperti audio visual, lab komputer dan lab bahasa.
121
Dengan tersedianya fasilitas penunjang tersebut, menurut hasil
pengamatan peneliti yang berhasil didapat. Di perpustakaan, lab komputer,
maupun di ruang guru, para guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
pada hari Senin tanggal 26 Januari 2015 sekitar jam 12.10 WIB terlihat
para guru sangat enjoy menikmati fasilitas yang tersedia, ada yang asik
baca buku, mengakses internet, berdiskusi antar guru, maupun ada yang
khusyuk membaca majalah dan jurnal kependidikan, hal tersebut
dilakukan untuk menunjang dan memperkaya bahan ajar yang akan
disampaikan pada peserta didik.
e. Meningkatkan Tunjangan Kesejahteraan Guru
Tunjangan kesejahteraan guru termasuk bagian yang menjadi
prioritas utama kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam
meningkatkan profesionalisme guru, berkaitan dengan hal ini, Drs. Aris
Trilaksono menyatakan:
“Tunjangan kesejahteraan merupakan bagian dari usaha saya dalam
meningkatkan profesionalisme guru SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri, para guru yang mendapat tugas tambahan mengajar, les
privat, binsus, maupun yang terlibat dalam kegiatan intrakurikuler
dan ekstra kurikuler saya beri tambahan insentif dan transport diluar
gaji pokok guru”.
Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan:
“Tunjangan insentif dan transport yang diberikan kepada guru
semata-mata untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru agar
kinerja dan semangat guru menjadi meningkat, disamping itu,
tunjangan kesejahteraan guru diberikan agar para guru menjadi fokus
terhadap pekerjaannya supaya tidak disibukkan dengan mencari uang
tambahan diluar tugas utamanya yaitu mengajar”.
122
Dengan adanya perhatian kepala sekolah terhadap kesejahteraan
guru, maka para guru-guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
diharapkan lebih berkonsentrasi terhadap pekerjaannya sebagai seorang
pendidik dan selalu termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan
keahliaanya demi tercapainya visi dan misi sekolah kedepan.
f. Membentuk Forum Silaturrahmi Antar Guru SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri
Dalam usaha meningkatkan kemampuan profesionalisme guru,
kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono
membentuk forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri seperti yang dipaparkan oleh Drs. Aris Trilaksono Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri:
“Sejak saya menjabat kepala di sini saya membentuk forum semi
formal yaitu forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri untuk menjalin keakraban, mempererat
hubungan emosional dan komunikasi antar guru, melakukan diskusi
seputar pendidikan dan pengajaran, forum curhat antar guru
mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi guru di sekolah dan
juga dalam forum tersebut sebagai wadah untuk mencari solusi
mengatasi persoalan-persoalan yang ada”.
Senada dengan pernyataan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri tersebut, Drs. Marmin (guru DPK) mengemukakan bahwa:
“Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri sudah terbentuk forum
silaturaahmi para guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
sebagai wadah silaturrahmi dan tempat melakukan diskusi mengenai
persoalan yang dihadapi para guru, dan bertukar pendapat dan
berbagi informasi baru antar guru. Di samping itu forum ini juga
menampung pendapat, ide ide baru yang dikemukakan oleh guru
demi kemajuan sekolah”.
123
Kemudian kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
menerangkan lebih lanjut mengenai forum silaturrahmi ini:
“Forum silaturrahmi ini diadakan secara bergiliran di rumah guru-
guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, dan juga kadang-
kadang disini, acara ini diselenggarakan setiap dua bulan
sekali.”
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, para civitas
akademika SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri mulai dari kepala
sekolah, wakil kepala bidang, kepala TU maupun juga guru terlihat akrab
dan terlihat hangat penuh rasa kekeluargaan, hal ini merupakan manfaat
dari diadakannya forum silaturrahmi antar guru.
g. Mengikutkan Dalam Program Sertifikasi Guru
Usaha yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
dalam meningkatkan profesionalisme guru adalah dengan mengikutkan
guru dalam program sertifikasi guru. Dalam hal ini, Drs. Aris Trilaksono
menjelaskan:
“Semua guru disini saya ikutkan sertifikasi guru kalau memang
sudah sesuai aturan untuk mengikuti sertifikasi, dan alhamdulillah
sudah 9 orang yang berhasil lulus dalam sertifikasi guru termasuk
saya”.
Senada dengan penjelasan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri tersebut, Dra. Endang Purwantiningsih guru SMK Pancasila 8
Slogohimo yang lulus sertifikasi guru menjelaskan:
“Guru-guru disini sudah ada 9 orang yang sudah lulus sertifikasi,
diantaranya adalah saya dan kepala sekolah”.
124
Adapun guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang lulus
sertifikasi guru dalam jabatan adalah Dra. Endang Purwantiningsih, Toto
Kasih Suhartoko, S.Pd., Suradi, S.Pd., Sri Mulyani, S.Pd., Sri Rahayu,
S.Pd., Sudir, S.Pd., Maryadi, S.Pd.,Drs. Aris Trilaksono, S.Pd dan Drs.
Marmin Subur, S.Pd. Kebijakan kepala sekolah dalam mengikutkan guru-
guru dalam program sertifikasi adalah sebuah tindakan yang membantu
guru untuk memperoleh pengakuan secara resmi dengan diterbitkannya
piagam/sertifikat sebagai tenaga guru yang profesional. Dengan adanya
dorongan dan motifasi yang kuat dari kepala sekolah, guru-guru SMK
Pancasila 8 Slogohimo akan lebih bersemangat dalam mempersiapkan
bahan-bahan untuk mengikuti ujian sertifikasi, sehingga guru yang lolos
sertifikasi secara dejure diakui oleh undang-undang sebagai guru yang
profesional.
3. Evaluasi Kompetensi Manajerial yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru
Dalam mengembangkan profesionalisme guru, evaluasi secara
transparan dan obyektif mutlak diperlukan, dan evaluasi merupakan
kegiatan akhir dari proses dan tindakan manajemen. Evaluasi atau
penilaian terhadap guru biasanya lebih difokuskan pada prestasi individu
guru terutama dalam kegiatan proses belajar mengajar, dan peran sertanya
dalam kegiatan pendidikan di sekolah. SMK Pancasila 8 Slogohimo
dibawah pimpinan Drs. Aris Trilaksono sebagai kepala sekolah selalu
mengadakan penilaian dan evaluasi terhadap guru terutama menyangkut
125
kinerja guru di sekolah. Berkaitan dengan hal ini kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo menyampaikan, bahwa:
“Untuk melihat perkembangan guru, terutama dalam proses belajar
mengajar di kelas dan kinerja guru di sekolah, saya selaku kepala
selalu memantau dan menilai guru dengan melakukan supervisi
terhadap guru, baik melalui teknik kunjungan kelas, pembicaraan
secara individu maupun dalam diskusi kelompok dalam acara
silaturrahmi antar guru”.
Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan,
“Di samping melakukan kegiatan supervisi pendidikan dalam
melakukan penilaian pribadi, saya setiap hari mengecek kehadiran
guru melalui presensi kehadiran guru di kelas, ketika saya
mendapatkan guru-guru yang mempunyai masalah, saya
memanggilnya ke kantor untuk menanyakan problem-problem apa
yang sedang dihadapi, kemudian saya mengajak diskusi untuk
mencari jalan keluarnya, selain itu saya juga mengoptimalkan layanan
bimbingan konseling untuk mengatasi persoalan-persoalan yang
dihadapi oleh guru”.
Penilaian terhadap guru yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo untuk mengetahui hal-hal yang menyangkut pribadi, status,
pekerjaan, prestasi kerja maupun perkembangan guru sehingga dapat
dikembangkan pertimbangan nilai obyektif dalam mengambil tindakan
terhadap seorang tenaga khusus yang diperlukan untuk
mempertimbangkan; kenaikan pangkat, gaji berkala, penghargaan,
pemindahan jabatan (promosi), perpindahan wilayah kerja (mutasi).
Seorang evaluator dalam hal ini kepala sekolah selalu bersikap
obyektif dalam melakukan penilaian terhadap guru agar mudah untuk
membina dan meningkatkannya. Sasaran penilaian terhadap guru yang
dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah meninjau
126
kembali catatan-catatan dalam kelas seperti prestasi dan perkembangan
siswa, hasil tes, rencana pembelajaran.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Drs. Aris Trilaksono:
“Yang menjadi sasaran penilaian selain kinerja guru, kehadiran guru,
saya juga melakukan penilaian terhadap guru dengan mengecek
catatan-catatan dikelas, perkembangan siswa, prestasi siswa, hasil tes
baik harian, mingguan, bulanan hingga semesteran dan juga silabus
dan RPP yang dibuat oleh guru”.
Penjelasan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo tersebut diperkuat
oleh pernyataan Sri Haryanti, B.A. selaku wakil kepala sekolah bidang
kurikum menyatakan:
“Evaluasi guru dilakukan oleh kepala sekolah dengan menyesuaikan
waktu yang ada”.
Selain melakukan supervisi, metode yang dipakai untuk menilai
kondisi dan perkembangan guru baik kinerja dan kompetensinya adalah
dengan membuat format penilaian yang sudah dibakukan oleh pemerintah
untuk menilai kinerja guru dan staf dilingkungan Dinas Pendidikan yaitu
Sasaran Kerja Pegawai (SKP) yang dulu disebut Daftar Penilaian Kinerja
(DP3). Penilaian ini biasanya dilakukan disetiap akhir tahun.
Pernyataan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dan Wakil kepala
SMK Pancasila 8 Slogohimo diatas sesuai dengan hasil pengamatan
peneliti di lapangan, Drs Aris Trilaksono sebagai kepala SMK Pancasila 8
Slogohimo setiap pagi selalu berkeliling sekolah untuk mengecek satu
persatu ruang kelas untuk memastikan apakah ada ruang kelas yang
kosong/guru yang tidak masuk kelas.
127
Terkait dengan hal ini, pada tanggal 27 Januari 2015, Drs. Aris
Trilaksono terlihat mondar mandir mengelilingi seluruh kelas yang ada di
SMK Pancasila 8 Slogohimo, dan beliaupun berhenti didepan kelas XII
Ak.3 karena kelas tersebut tampak kosong karena guru Bahasa Inggris
hari itu izin tidak bisa mengajar, kemudian beliau mengucapkan salam
“Assalamu’alaikum?” kemudian para siswa kelas tersebut seperti
dikomando mungkin dari saking gembirannya diajar langsung oleh kepala
sekolah “wa’alaikum salam”. Kemudian beliau bertanya kabar seluruh
sisiwa kelas XII, dan kepala sekolah juga bertanya seputar cara mengajar
guru bahasa Inggris ini. Ternyata mayoritas para siswa menjawab
menyenangkan.
128
BAB V
PENUTUP
Dalam bab ini akan dikemukakan kesimpulan, implikasi dan saran.
Penarikan kesimpulan berdasarkan paparan data, analisis kasus, dan temuan
penelitian yang disesuaikan dengan fokus penelitian. Saran-saran yang
dikemukakan berupa hal-hal yang menarik yang belum terungkap dan terpecahkan
dalam studi ini, sehingga dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya.
A. Kesimpulan
Sesuai dengan fokus utama penelitian ini yaitu kompetensi manajerial
kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila
8 Slogohimo Wonogiri dengan sub fokus penelitian yaitu : perencanaan
kompetensi manajerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, pelaksanaan
kompetensi manajerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, dan evaluasi
kompetensi manjerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, maka berdasarkan
paparan data, analisis kasus, temuan penelitian dan pembahasan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
128
129
1. Perencanaan Kompetensi Manajerial yang dilakukan Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam Meningkatkan
Profesionalisme Guru
Perencanaan kompetensi manajerial dalam meningkatkan profesionalisme
guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
adalah berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need
assesment). Dalam merencanakan peningkatan profesionalisme guru
kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melibatkan seluruh unsur
civitas akademika sekolah termasuk guru. Dalam merencanakan
peningkatan profesionalisme guru kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis
jabatan pekerjaan, juga dalam melakukan proses rekrutmen kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melalui prosedur seleksi yang
komprehensif (comprehensive selection). Perencanaan peningkatan
profesionalisme guru dilakukan dalam rapat kerja dan dijabarkan dalam
rencana strategis dan rencana operasional sekolah.
2. Pelaksanaan Kompetensi Manajerial yang Dilakukan Kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam Meningkatkan
Profesionalisme Guru
Pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK
Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme
guru adalah dengan melakukan berbagai upaya diantaranya adalah :
130
Mengikutkan dalam berbagai forum ilmiah (seperti diklat, penataran,
seminar, maupun workshop),studi lanjut, revitalisasi MGMP, membentuk
forum silaturrahim antar guru, meningkatkan kesejahteraan guru,
penambahan fasilitas penunjang dan layanan serta penambahan koleksi
perpustakaan, mengoptimalkan layanan bimbingan konseling, studi
banding ke sekolah/madrasah lain secara personal dan sertifikasi guru.
3. Evaluasi yang Dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo
Wonogiri dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru
Melakukan supervisi pendidikan bagi guru secara personal maupun
kelompok, baik dengan teknik supervisi pendidikan secara langsung
(directive) dan tidak langsung (non direcvtive). Aspek penilaian dalam
supervisi pendidikan adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah,
perkembangan siswa (hasil tes dan prestasi siswa), RPP, dan silabus.
Dalam melakukan evaluasi, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
disamping menggunakan supervisi pendidikan, juga menggunakan format
Sasaran Kerja Pegawai (SKP) / Daftar Penilaian Pekerjaan (DP3).
B. Implikasi
1) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru yang berlandaskan visi,
misi, dan tujuan sekolah yang sudah direncanakan dan ditetapkan serta
melibatkan para guru dapat mempermudah mencapai tujuan yaitu
meningkatnya guru yang professional
131
2) Perencanaan yang berdasarkan analisa kebutuhan, analisa pekerjaan dan
berorientasi masa depan dapat mengindari salah sasaran, tumpang tindih
(over lapping) pekerjaan dan tugas
3) Pengadaan atau rekrutmen guru baru yang melalui prosedur yang tepat
akan menjadi faktor determinan tersedianya guru baru yang profesional.
4) Guru yang mengikuti pendidikan, latihan (inservice training education),
seminar, dan workshop akan menjadi faktor determinan meningkatnya
profesionalisme guru
5) Guru yang memenuhi standar kualifikasi, lulus sertifikasi guru,
ditempatkan secara tepat, dan kesejahteraannya dipenuhi akan menjadi
faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru.
6) Efektifnya organisasi profesi guru, kuatnya hubungan emosional dan rasa
kekeluargaan yang tercipta dengan adanya wadah atau forum silaturrahim
antar guru dapat meningkatkan kualitas guru dalam mengajar,
berkepribadian, profesional, dan bermasyarakat.
7) Pengelolaan dan peningkatan layanan kepustakaan yang baik dengan
tersedianya buku teks bacaan yang memadai dapat memperluan wawasan
dan mempertinggi kualitas mengajar guru.
8) Pengelolaan dan penyediaan fasilitas akses internet, laboratorium
komputer dan bahasa dapat meningkatkan profesionalisme guru.
9) Penilaian atau supervisi terhadap guru yang dilakukan secara obyektif dan
transparan sangat membantu mengetahui kondisi dan perkembangan
profesionalisme guru
132
10) Penilaian dan supervisi yang dilakukan berdasarkan prosedur, format dan
instrumen penilaian yang tepat dapat mempermudah mengetahui kondisi
dan perkembangan guru secara obyektif
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka berikut ini kami
sampaikan saran kepada:
1. Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri
a) Agar tetap berusaha lebih optimal dalam merencanakan program
peningkatan profesionalime guru yang berorientasi pada tercapainya
visi, misi dan tujuan sekolah. Pengadaan guru tetap mengacu pada
prosedur dan mekanisme yang sudah ditetapkan dalam rencana
operasional (Renop).
b) Agar lebih meningkatkan kesempatan bagi para guru untuk mengikuti
program peningkatan kompetensi dan profesionalisme baik yang
diadakan oleh sekolah, pemerintah maupun pihak lain yang memiliki
kualifikasi dan telah tersertifikasi.
2. Penyelenggara pendidikan dan kepala SMK dan SMU dan atau yang
sederajat pada umumnya
a) SMK ini bisa dijadikan percontohan kepala sekolah sebagai seorang
manajer dalam mengelola dan meningkatkan profesionalisme guru
bagi SMK dan atau yang sederajat yang masih kurang optimal dalam
hal penegelolaan dan peningkatan profesionalisme guru
133
b) Memperhatikan aspek keberhasilan pengelolaan dan peningakatan
profesionalisme guru selain ditentukan oleh kompetensi manajerial
dan kepiawaian kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme
guru juga di pengaruhi oleh komitmen guru dan keterlibatan dan
partisipasi dari semua civitas pendidikan sekolah untuk turut
merencanakan, mengembangkan dan mengevaluasi peningkatan
profesionalisme guru.
3. Pemerintah/pengambil kebijakan
a) Agar segera dilaksanakannya sertifikasi kepala sekolah supaya calon
kepala sekolah memenuhi standar
b) Agar selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadap sekolah
seiring diberlakukannya otonomi sekolah secara luas.
4. Para peneliti lain
a) Agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang mampu mengungkapkan
lebih dalam tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam
menigkatkan profesionalisme guru ditinjau dari berbagai bidang yang
lain. Sebab penelitian ini mengandung sejumlah keterbatasan.
b) Agar ditindak lanjuti langkah-langkah dengan menyelenggarkan studi
yang sama pada setting yang lain, juga sekolah lain pada umumnya
yang dapat berperan sebagai kasus negatif yang diperlukan untuk
memberi data tambahan guna mengurangi kesalahan temuan
penelitian ini.
134
DAFTAR PUSTAKA
Aqib. Zainal. (2002). Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:
Cendikia
Arikunto, Suharsimi. (2001). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara
____. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Arni Hayati. (tt). Guru Bermutu Pendidikan Juga Bermutu.
www.Fai.Uhamka.ac.id
Arsyad, Muhammad. (2008). Mencermati Standar Kepala Sekolah. (online)
(www.PendidikanNetwork.co.id)
Ary, Donal.(2002). An Invtation to Research in Social Education. Baverly Hills:
Sage publication
Bafadal, Ibrahim. (2003). Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar:
Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.
____. (2008). Tuntutan Profesionalisme Kepala Sekolah. Materi Seminar
“Menyongsong Era Profesionalisme Kepala Sekolah” disajikan pada tanggal
15 Desember 2008 di Aula Utama Universitas Negeri Malang (UM)
Bogdan, RC dan Biklen. SK. (1992). Qualitative Research for Educational to
theory and methods. London; Allyn and Bacon. Inc.
Burhanuddin. (1994). Analisis Administrasi, Mmanajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.
Camalia, Khoirul. (2005). Manajemen Pengembangan Kompetensi Pendidik.
Tesis, tidak diterbitkan. Malang Program Pascasarjan UIN Malang
Chomzanah, Nunung et., al. (1998). Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Penerbit
Armico
Damayanti, Sri. (2008). Profesionalisme Kepala Sekolah. (online),
(http://Akhmadsudrajat.wordpress.com)
Danim, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan
Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: PT Pustaka Setia
134
135
_____. (2005). Visi Baru Manajemen, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga.
Akademik. Jakarta : Bumi Aksara
Daryanto, M. (2001). Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Sertifikasi Guru dalam Jabatan (Materi
Sosialisasi sertifikasi guru)
Depdikbud RI. (1994). Pedoman Pembinaan Profesional Pendidik Sekolah
Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Dimeck. (1954). The Executive in Action. New York: Harpen and Bross
Efendy, Onong Uchjana. (1993). Human Relation dan Public Relation. Bandung:
Mandar Maju
Effendy, Mochtar. (1986). Manajemen: Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran
Islam. Jakarta: PT Bhatara Karya Aksa
____. (1986). Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Jakarta:
Bhrata Karya Aksara
Faisal, Sanapiah. (1990). Penelitian Kualitatif, Dasar-Dasar dan Aplikasi.
Malang: Yayasan Asih Asah Asuh
Glasser, BG. & Strauss, A.L. (1974). The Discovery of Grounded Theory
Strategies for Research. Chicago: Aldine Publishing Company
Gorton, Richard A. (1977). School Administration (challenge and opportunity for
leadership). USA: Wm. C Brown Company Publishers
H. A. R. Tilaar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam
Persepektif Abad 21. Magelang: Indonesia Tera
Haris Herdiansyah. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba
Humanika
Hasibuan, Malayu SP. (2001). Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah.
Jakarta: Penerbit Bumi Aksara
Hayati, Arni. (2009). Guru Bermutu Pendidikan Juga Bermutu.
www.Fai.Uhamka.ac.id
Ibrahim Bafadal. (2008). Tuntutan Profesionalisme Kepala Sekolah. Materi
Seminar Nasional “Menyongsong Era Profesionalisme Kepala Sekolah”
disampaikan pada tanggal 15 Desember 2008 di Aula Utama Universitas
Negeri Malang (UM)
136
Iif Khoiru Ahmadi. (2005). Manajemen pengembangan profesionalisme pendidik
di MI (studi kasus di MIJS Malang). Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs
UIN Malang
Jannah, Maidatul. (2004). Manajemen Kinerja Guru Dalam Upaya Meningkatkan
Profesionalisme Guru Studi Kasus di MTsN 1 Malang. Tesis, tidak
diterbitkan. Malang Program Pascasarjana UIN Malang
Khoirul Camalia. (2005). Manajemen pengembangan kompetensi pendidik (studi
kasus di SMA unggulan Zainul Hasan Probolinggo). Tesis tidak diterbitkan.
Malang: PPs UIN Malang
Kusnan. (2007). Kemampuan Manajerial Kepala Madrasah dan Implikasinya
Terhadap Kinerja Guru. Jakarta: Jurnal IQRA’ Volume 3 Januari 2007
Kusnandar. (2007). Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo
Lamatenggo. (2001). Kinerja Guru: Korelasi antara Persepsi Guru terhadap
Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Kinerja Guru
SD di Gorontalo. Tesis. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta
Lazaruth, Soewadji. (1994). Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabnya.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Lincoln, Guba.(tt). Naturalistic Inquiry. New Delhi: Sage Publication, inc
M.B.Miles, dan Huberman, A.M. (1994). Qualitatif Data Analysis. Jakarta: UI
Press
_____. (1988). Qualitatif Data Analysis. California: Sage Publication Inc
Miftah Toha. (1995). Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada
Moedjiarto. (2001). Sekolah Unggul: Metodologi untuk Meningkatkan Mutu
Pendidikan. Jakarta: Duta Graha Pustaka
Moleong, Lexy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Mondy, R.W., Sharplin, A. dan Flippo, E.B. (1988). Management, Concept and
Practice. Boston : Allyn and Bacon, Inc
Muhadjir, Noeng. (1993). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Muhaimin. (2003). Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
137
Muhajir. (1988). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin
Muhammad Arsyad. (tt). Mencermati Standar Kepala Sekolah.
www.pendidikan.network.co.id
Mulyasa, E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep,Strategi dan
Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
_____. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja
Rosda Karya
_____. (2003). Menjadi Kepada Sekolah Profesional, dalam konteks
Mensukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Remaja Rosda karya
_____. (2007). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, cet ke-VII
Nata, Abuddin. (2001). Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Grasindo
Nawawi dan Mimi Martini. (1994). Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Nawawi. Hadari. (1983). Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Gunung Agung
_____. (2001). Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta: Gajahmada
University Press
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2007 Tentang Standar Kepala Sekolah dan Madrasah
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. (2007). Tentang Standar Kepala
Sekolah/Madrasah Nomor 13 Tanggal Tahun 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. (2007). Tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi Guru Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
Pidarta, Made. (1988). Manajemen pendidikan Indonesia. Jakarta: Bina Aksara
Purwanto, Ngalim. (1998). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung:
PT.Remaja Rosdakarya
Rahman (at all). (2006). Peran Strategis Kapala Sekolah dalam Meningkatkan
Mutu Pendidikan. Jatinangor: Alqaprint.
Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen serta UU No. 20 Tahun 2003 Tentang
SISDIKNAS. Bandung: Penerbit Citra Umbara
138
Robbins. SP. (1984). Essentials of organizational behavior. Englewoods Cliffs,
NJ: Prentice Hall, inc
Robert A. Sutermeister. (1976). People and Productivity. New York: McGraw
Hill Book Company
Sa’ud, Udin Syaifudin. (at all). (2007). Perencanaan Pendidikan Suatu
Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Sadili, Samsudin. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV.
Pustaka Setia
Sagala, Syaiful. (2002). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung:
Alfabeta
Sahertian, Piet. A. (2000). Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta
Saksono, Slamet. (1997). Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius
Schuler, Randall S. (1987). Personal and Human Resource Management. Third
Edition. United States Of America, tanpa penerbit
Scriven, Michael. (2008). Formative and Summative Evaluation.
http://www.heirn.com/atoz/atozf/formeval.php
Sergiovanni, Thomas J.( tt). Educational Governance and Administration.
Prentice Hall Inc
Siagian, Sondang. P. 1992. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Penerbit Bumi
Aksara
_____. (2004). Manajemen Strategik. Jakarta: Bumi Aksara
Silahahi, Ulbert. (2002). Studi tentang Ilmu Administrasi: Konsep, Teori, dan
Dimensi. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Siti Mardiyatul Jannnah. (2008). Manajemen strategik peningkatan mutu pendidik
(studi multi kasus di MAN Tlogo Blitar dan SMAN Talun Blitar). Tesis tidak
diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang
Spencer, M,. Lyle, Jr and Signe M. Spencer. (1993). Competency at work Models
for Superior Performance. New York: John Wiley & Sons Inc
Sri Rahmi. (2003). Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan
profesionalisme guru (studi kasus di MAN 1 Malang). Tesis tidak
diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang
139
STAIN Surakarta. (tt). Panduan Penulisan Tesis. Surakarta: Program
Pascasarjana STAIN Surakarta
Stephen P Robbin. Alih bahasa: Halida, dan Dewi Sartika. (1999). Prinsip-Prinsip
Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Erlangga
Stoner. James A.F. (1982). Management, Second Edition. Englewood Cliffs:
Prantice Hal Inc
Sudarwan Danim. (2005). Visi Baru Manajemen, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga
Akademik. Jakarta: Bumi Aksara
Sudrajat, Akhmad. (tt). Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah.
http://andalas-comunity.blogspot.com/2008/06/kemampuan-manajerial-
kepala-sekolah.html
_____. (tt). Manajemen Kinerja Guru. (online),
(http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/manajemenkinerjaguru/
Sukarno, Edy. (2000). Sistem Pengendalian Manajemen, Suatu Pendekatan
Praktis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Surya, Muhammad. (2007). Organisasi Profesi, Kode Etik dan Kehormatan Guru.
Tanpa nama kota dan penerbit
Sutisna, Oteng. (1983). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek
dan Profesional. Bandung: Angkasa
Sutopo, Hendyat . (2001). Manajemen Pendidikan. Malang: Program Pascasarjan
Universitas Negeri Malang
Sutopo. (1999). Administrasi, Manajemen dan Organisasi. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara
Syarifuddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan : Konsep,
Strategi dan Apliaksi. Jakarta, PT. Grasindo
Syarnubi Som. (2008). Kepala Madrasah Sebagai The Key Person Madrasah.
http://syarnubi.wordpress.com/2008/12/31/75/kepalamadrasahsebagaithe
key person madrasah
Tanthowi, Jawahir. (1983). Unsur-unsur Manajemen Menurut Ajaran Al-Qur'an.
Jakarta: Pustaka al-Husna
Taylor W. Fridreck. (1974). Scientific Management. New York : Happer and
Breos
Thoha, M. Chabib. (1991). Tekhnik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
140
Thomas J. Sergiovanni. (tt). Educational Governance and Administration.
Prentice Hall Inc
Tilaar. H. A. R. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam
Persepektif 21. Magelang: Indonesia Tera
Toha, Miftah. (2005). Perilaku Organisasi Konsep dan Aplikasinya. Jakarta:
PT.Raja Grafindo
Usmara, A. (ed). (2002). Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: Amara Books
Uwes, Sanusi. (1999). Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Jakarta: PT
Logos Wacana Ilmu
Wahidmurni. (2008). Menulis Proposal Dan Laporan Penelitian Lapangan:
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, Skripsi, Tesis, Desertasi. Tidak
diterbitkan, Malang Program Pascasarjan UIN Malang
Wahjosumidjo. (1999). Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Widjaya, AW. (1987). Perencanaan sebagai Fungsi Manajemen. Jakarta: PT
Bina Aksara
Wursanto. (1988). Manajemen Kepegawaian 2. Yogyakarta: Kanisius
Yamin, Martinis. (2006). Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta:
Gaung Persada Press
Yuniarsih, Tjutju dan Suwatno. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Bandung: Alfabeta
Zainal Aqib. (2002). Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya:
Cendikia
141
LAMPIRAN-LAMPIRAN
142
LAMPIRAN 1
PANDUAN OBSERVASI
No. Aktivitas Yang diamati Keterangan
1. Pengamatan komplek sekolah
dan lingkungannya
Sekolah berada di pinggir jalan raya
sehingga memudahkan akses transportasi
2. Pengamatan ruang kepala
sekolah
Ruang kepala sekolah tersendiri dan tidak
jauh dari ruang guru dan ruang tata usaha
3. Pengamatan struktur organisasi
sekolah
Struktur yang baik, efisien, efektif dan
praktis
4. Pengamatan suasana kegiatan
belajar mengajar di kelas
KBM berjalan dinamis, kreatif dan
inovatif
5. Pengamatan suasana belajar di
kelas
Sangat kondusif, terkendali dan
menyenangkan
6. Pengamatan ruang guru Ruang guru dalam kondisi bersih, tertata
dengan rapi dan indah
7. Pengamatan ruang kelas Ruang kelas dalam keadaan bersih, rapi,
dan setiap ruang dilengkapi dengan LCD
8. Pengamatan ruang perpustakaan Penataan buku dalam keadaan rapi, ruang
baca cukup memadai
9. Pengamatan kegiatan ekstra
kurikuler
Kegiatan ekstra Rohis, Pramuka, Musik,
Teater dan olah raga berjalan dengan baik
143
LAMPIRAN 2
PANDUAN WAWANCARA
A. Perencanaan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
1. Bagaimana proses perencanaan peningkatan profesionalisme guru di SMK
Pancasila 8 Slogohimo ?
2. Sejauh mana keterlibatan dan kontribusi para guru dalam proses
perencanaan peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8
Slogohimo?
3. Bagaimana sikap kepala sekolah terhadap pendapat dan masukan guru
pada waktu musyawarah perencanaan peningkatan profesionalisme guru?
4. Apa strategi yang dilakukan untuk merumuskan perencanaan peningkatan
profesionalisme guru sehingga visi dan misi sekolah dapat tercapai ?
5. Bagaimana proses rekruitmen tenaga pendidik untuk memenuhi kebutuhan
guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ?
B. Pelaksanaan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
1. Apa saja usaha yang dilakukan dalam upaya peningkatan profesionalisme
guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ?
2. Bagaimana strategi pembiayaan yang dilakukan oleh sekolah terhadap
kegiatan peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo?
3. Bagaimana optimalisasi kegiatan MGMP sebagai forum peningkatan
profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ?
4. Bagaimana ketersediaan fasilitas yang ada di SMK Pancasila 8 Slogohimo
144
dalam upaya mendukung peningkatan profesionalisme guru ?
5. Apa strategi yang dibangun dalam rangka meningkatkan interaksi
antara kepala sekolah dan jajarannya dengan guru seluruh stakeholder
di SMK Pancasila 8 Slogohimo ?
C. Evaluasi Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
1. Apa bentuk kegiatan yang Anda lakukan untuk menilai profesionalisme
guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ?
2. Apa usaha yang Anda lakukan ketika menjumpai guru yang sedang
menghadapi masalah sehingga mengganngu kinerjanya ?
3. Apa yang menjadi sasaran efaluasi terhadap profesionalisme guru di SMK
Pancasila 8 Slogohimo ?
145
LAMPIRAN 3
DOKUMENTASI KEGIATAN
1. Kegiatan di Laboratorium Bahasa
146
2. Kegiatan Pembelajaran di Laboratorium Komputer
147
3. Praktek peserta didik jurusan RPL di bengkel Komputer
148
CATATAN LAPANGAN
Hari : Senin, 5 Januari 2015
Waktu : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
A. Diskripsi
Pada tanggal 5 Januari 2015 jam 09.00 saat istirahat peneliti datang ke SMK
Pancasila 8 Slogohimo untuk mengadakan penelitian tentang kompetensi manajerial
kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Pada saat itu saya datang
disambut oleh bapak kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dan segenap guru dan
karyawan karena bersamaan dengan sosialisasi Ujian Nasional tahun pelajaran
2014/2015.
Pada waktu itu saya mengutarakan maksud dan keinginan saya untuk
mengadakan penelitian di SMK Pancasila 8 Slogohimo dengan menjelaskan maksud
dan tujuan penelitian agar tidak terjadi salah faham dari semua fihak. Setelah saya
presentasi secukupnya di hadapan bapak/ibu guru dan karyawan saya meminta
jadwal waktu untuk mengadakan penelitian.
Setelah selesai presentasi saya minta selama lima hari kedepan untuk disiapkan
profil sekolah dan data-data lain yang akan saya gunakan sebagai bahan penelitian
tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme
guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo
B. Tafsir
Seperti yang kita ketahui bahwa kepemimpinan di SMK Pancasila 8 Slogohimo
bersifat kolektif kolegial. Setiap ada kegiatan apa pun selalu dipersiapkan dan
direncanakan dengan adanya musyawarah dan selalu disosialisasikan ke semua
warga sekolah. Hal ini untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan
dalam usaha mencapai tujuan bersama.
149
CATATAN LAPANGAN
Hari : Senin,12 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Ruang Kepala Sekolah
Pelaku : Bapak Drs. Aris Trilaksono
A. Diskripsi
Pada tanggal 12 Januari 2015 saya datang kembali ke SMK Pancasila 8
Slogohimo untuk mendapatkan data-data yang saya inginkan dengan bertemu Bapak
kepala sekolah. Di samping itu saya juga memberikan beberapa pertanyaan kepada
beliau diantaranya :
Peneliti : Apakah Bapak menyusun rencana program peningkatan
profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo?
Drs. Aris Tri L. : Iya. Program peningkatan profesionalisme tersebut merupakan
prioritas utama dalam perencanaan kami. Karena mutu tidaknya
kualitas KBM ditentukan oleh profesionalisme pendidiknya.
Peneliti : Bagaimana proses perencanaan itu dilakukan?
Drs. Aris Tri L. : Proses perencanaan itu dilakukan melalui pertemuan, diskusi
atau musyawarah untuk merumuskan perencanaan yang baik,
akurat dan mampu diwujudkan.
Peneliti : Siapa saja yang terlibat dalam perencanaan itu?
Drs. Aris Tri L. : Kami melibatkan seluruh stakeholder, utamanya bapak/ibu guru
yang merupakan aktor utama dalam KBM.
B. Tafsir
Peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo
merupakan program prioritas yang didesain secara bersama-sama khususnya para
guru dalam forum rapat.
150
CATATAN LAPANGAN
Hari : Kamis,15 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
Pelaku : Ibu Sri Haryanti, BA (Waka Bidang Kurikulum)
A. Diskripsi
Pada tanggal 15 Januari 2015 saya datng kembali ke SMK Pancasila 8
Slogohimo untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan wakil kepala sekolah
bidang kurikulum dengan materi pertanyaan :
Peneliti : Bagaimana interaksi antara kepala sekolah dengan
para guru gi SMK Pancasila 8 Slogohimo?
Sri Haryanti, BA : Interaksi antara kepala sekolah dengan guru dan
dan seluruh stakeholder berlangsung harmonis, akrab
dan penuh dengan rasa persaudaraan.
Peneliti : Apakah kepala sekolah bersikap akomodatif dalam
merespon ide atau gagasan para guru?
Sri Haryanti, BA : Iya. Kepala sekolah kami sangat demokratis dan
responsive, sehingga beliau sangat menghargai
terhadap segala usul, saran, pendapat bahkan kritik
dari bawahannya.
Peneliti : Apakah di SMK Pancasila Slogohimo forum diskusi
untuk memperluas pengetahua dan ,wawasan guru?
Sri Haryanti, BA : Iya. Bahkan sudah berjalan selama tiga tahun
yang lalu. Ternyata manfaatnya sangat besar sekali.
Bahkan bukan hanya pengetahuan dan wawasan guru
yang meningkat, tetapi kawan-kawan juga semakin
PD dalam berinteraksi dengan pihak-pihak lain.
151
B. Tafsir
Nilai-nilai demokrasi sangat dikembangkan di SMK Pancasila 8 Slogohimo.
Terbukti kepala sekolah sangat akomodatif dalam merespon terhadap ide-ide, usul,
masukan dan saran bahkan kritik dari para guru. Ini karena dampak dari forum
diskusi yang diadakan setiap tengah semester dan guru secara bergiliran
menyampaikan makalah.
152
CATATAN LAPANGAN
Hari : Senin,19 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
Pelaku : Bapak Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom (Guru)
A. Diskripsi
Untuk melengkapi data yang kami perlukan, kami melakukan wawancara
dengan bapak Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom salah satu guru mata diklat komputer
dengan beberapa pertanyaan :
Peneliti : Apakah di SMK Pancasila 8 Slogohimo memiliki
Rencana Operasional (Renop)?
Yossy F.P. S.Pd : Benar. Sekolah kami memiliki rencana operasional
sebagai pedoman dan rambu-rambu agar semua
kegiatan sejalan dengan visi dan missi sekolah.
Peneliti : Apa saja program-program dalam Renop yang bapak
ketahui?
Yossy F.P., S.Pd : Rekrutmen guru, pembinaan dan pengembangan
profesionalisme guru, monitoring dan evaluasi.
Peneliti : Apakah program-program tersebut sejauh ini dapat
direalisasikan?
Yossy F.P., S.Pd : Alhamdulillah, menurut saya program-program
tersebut dapat direalisasikan dengan baik.
Peneliti : Apa dampak yang dihasilkan ?
Yossy F.P.,S.Pd : Tanggung jawab guru baik secara administratif
maupun kegiatannya semakin baik dan tertib.
153
B. Tafsir
Semua program kegiatan sekolah harus berorientasi pada pencapaian visi, misi
dan tujuan sekolah. Agar dalam pelaksanaan program tidak tumpang tindih dan
tetap sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah maka perlu disusun rencana
operasional (Renop).
154
CATATAN LAPANGAN
Hari : Rabu,21 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Ruang Kepala Sekolah
Pelaku : Bapak Drs. Aris Trilaksono
A. Diskripsi
Pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2015 peneliti melakukan wawancara
dengan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk melengkapi data-data yang
peneliti perlukan.
Peneliti : Apakah jumlah guru di SMK Pancasila 8 sudah
sesuai dengan kebutuhan?
Drs. Aris Tri L. : Ya. Alhamdulillah jumlah guru di sekolah kami
sesuai dengan kebutuhan, sehingga masing-masing
dapat melaksanakan tugas secara optimal.
Peneliti : Apakan guru-guru mengajar sesuai dengan latar
belakang pendidikannya?
Drs. Aris Tri L. : Ya benar. Bapak/ibu guru mengajar sesuai dengan
latar belakang pendidikannya.
Peneliti : Bagaimana proses rekrutmen guru yang dilakukan
di SMK Pancasila 8 Slogohimo?
Drs. Aris Tri L. : Kami selama ini melakukan seleksi secara ketat,
agar kami benar-benar mendapatkan tenaga
pendidik yang memiliki kompetensi dan komitmen.
Peneliti : Apakah dalam rekrutmen guru juga melibatkan
pihak lain?
Drs. Aris Tri L. : Benar. Dalam proses rekrutmen guru kami juga
berkonsultasi dengan pihak Yayasan dan Dinas
Pendidikan.
155
B. Tafsir
Untuk mendapatkan calon tenaga pendidik yang berkualitas, kompeten
dan memiliki komitmen perlu dilakukan seleksi dengan menetapkan beberapa
kreteria dan kualifikasi yang dibakukan. Sehingga para guru mampu melaksa-
nakan KBM secara baik.
156
CATATAN LAPANGAN
Hari : Rabu,21 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
Pelaku : Bapak Marmin Subur, S.Pd (Ketua Program)
A. Diskripsi
Pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 2015 peneliti juga melakukan wawancara
dengan Ketua Program Akuntansi SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk melengkapi
data-data yang peneliti perlukan.
Peneliti : Apakah guru-guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo
sudah tersertifikasi?
Marmin Subur,S.Pd : Belum semuanya. Karena mayoritas guru-guru di
Sini baru memiliki masa kerja di bawah 8 tahun.
Peneliti : Ada berapa orang yang sudah sertifikasi? Siapa saja?
Marmin Subur,S.Pd : Yang sudah sertifikasi ada 9 orang. Mereka adalah
pak Aris, Bu Endang, pak Toto, pak Suradi, Bu Sri
Mulyani, bu Sri Rahayu, pak Maryadi dan pak
Marmin Subur.
Peneliti : Bagaimana sikap profesionalisme guru-guru yang
sudah sertifikasi?
Marmin Subur,S.Pd : Alhamdulillah menurut saya mereka sangat
tertib, disiplin, penuh rasa tanggung jawab dalam
menjalankan KBM dan tugas-tugas lainnya.
B. Tafsir
Program sertifikasi sangat berpengaruh terhadap profesionalisme guru.
Karena program tersebut mampu merubah mainset guru sehingga guru merasa
Tertuntut untuk meningkatkan kompetensinya baik secara pedagogis, personal,
sosial dan profesionalnya.
157
CATATAN LAPANGAN
Hari : Kamis, 22 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
Pelaku : Bapak Maryadi, S.Pd (Waka Bidang Kesiswaan)
A. Diskripsi
Pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2015 peneliti menemui Bapak Maryadi,
S.Pd, selaku Waka Kesiswaan untuk melakukan wawancara dengan beberapa
pertanyaan berikut ini :
Peneliti : Apa yang dilakukan kepala sekolah untuk mening-
katkan profesionalisme guru?
Maryadi, S.Pd : Mengikutkan guru dalam program diklat, workshop,
seminar, loka karya secara bergantian.
Peneliti : Bagaimana pembiayaannya?
Maryadi, S.Pd : Semua biaya untuk mengikuti kegiatan tersebut
ditanggung oleh pihak sekolah, sehingga guru
tidak merasa terbebani.
Peneliti : Sejauh mana aplikasi hasil diklat dalam kegiatan
KBM di sekolah?
Maryadi, S.Pd : Mereka berusaha untuk menerapkannya dalam
kegiatan belajar mengajar di kelas meskipun belum
sepenuhnya.
B. Tafsir
Untuk meningkatkan kompetensinya para guru harus difasilitasi dalam
mengikuti kegiatan diklat, workshop, seminar pendidikan, loka karya. Oleh
karena itu alokasi penganggaran untuk peningkatan kompetensi guru harus di-
tingkatkan.
158
CATATAN LAPANGAN
Hari : Kamis, 22 Januari 2015
Jam : 09.40 – Saat istirahat
Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo
Pelaku : Bapak Pujiono, S.Pd (Waka Bidang Sarpras)
A. Diskripsi
Pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2015 peneliti menemui Bapak Pujiono,
S.Pd, selaku Waka Bidang Sarpras untuk melakukan wawancara dengan beberapa
pertanyaan berikut ini :
Peneliti : Bagaimana ketersediaan fasilitas penunjang KBM
Di SMK Pancasila 8 Slogohimo?
Pujiono, S.Pd : Fasilitas penunjang KBM di sini sangat memadai
untuk semua jurusan yang ada. Sehingga pelaksa-
naan KBM dapat berjalan lebih produktif.
Peneliti : Apa saja fasilitas tersebut?
Pujiono, S.Pd : Sambungan internet, laboratorium bahasa, lab
komputer, bengkel computer,dan perpustakaan.
masih ada lagi sarana olah raga yang memadai,
Alat seni musik baik keroncong maupun band,
ruang untuk membatik sekaligus alatnya.
Peneliti : Bagaimana optimalisasi pemanfaatan fasilitas itu?
Pujiono, S.Pd : Semua fasilitas yang ada dimanfaatkan dengan
baik dan maksimal. Semua didaya gunakan.
B. Tafsir
Untuk menciptakan KBM yang berkualitas dan penuh dengan produktifitas
perlu ketersediaan sarana penunjang, sehingga mampu menumbuhkan suasana
belajar yang dinamis, inovatif dan tidak membosankan.
159
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Abdul Wahid Ahmadi
NIM : 26.11.7.3.001
Tempat/Tgl. Lahir : Wonogiri, 1 Maret 1970
Alamat : Dusun Kembar RT 02 RW 01 Desa Pandan
Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri. KP 57694.
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Guru
PENDIDIKAN
1. Tamat SD Negeri 2 Pandan Tahun 1983
2. Tamat MTs Negeri Purwantoro Tahun 1986
3. Tamat MA Negeri Wonogiri Tahun 1989
4. Tamat IAIN Walisongo Semarang Tahun 1995
PENGALAMAN PEKERJAAN
1. Guru di MTs Ar Rahman Slogohimo mulai Tahun 1995 s.d sekarang
2. Guru di MTs Negeri Purwantoro mulai tahun 1999 s.d 2005
3. Kepala MTs Ar Rahman Slogohimo mulai tahun 1997 s.d tahun 2015
4. Tanggal 1 Januari 2007 DPK PNS di MTs Ar Rahman Slogohimo
Slogohimo, 16 Februari 2016
Yang bertanda tangan
Abdul Wahid ahmadi
160 161
162

2016 ts0034

  • 1.
    i KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALASEKOLAH DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Oleh ABDUL WAHID AHMADI 26.11.7.3.001 Tesis Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mendapatkan Gelar Magister PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA TAHUN 2016 ii KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Abdul Wahid Ahmadi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perencanaan kompetensi manajerial; (2) pelaksanaan kompetensi manajerial; (3) dan evaluasi kompetensi manajerial kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian diskriptif kualitatif. Subyeknya yaitu kepala sekolah. Adapun informannya yakni wakil kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data (1) observasi, (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan pemeriksaan keabsahan data, menggunakan triangulasi, dengan verifikasi dan pengecekan mengenai kecukupan referensi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) Perencanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Perencanaan berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need assesment); (b) Melibatkan seluruh unsur civitas akademika sekolah; (c) Melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis jabatan pekerjaan; (d) dilakukan dalam rapat kerja. (2) Pelaksanaan kompetensi manajerial dalam meningkatkan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Mengikutkan dalam diklat, seminar, maupun workshop; (b) Studi lanjut; (c) Revitalisasi MGMP; (d) Membentuk forum silaturrahim antar guru; (e) Meningkatkan kesejahteraan guru; (f) Penambahan fasilitas penunjang; (g) Mengoptimalkan bimbingan konseling; (h) Studi banding ke sekolah lain, dan (i) sertifikasi guru. Sedangkan (3) evaluasi yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) melakukan supervisi, baik secara personal maupun kelompok; (b) Teknik yang digunakan adalah secara langsung (directive) dan tidak langsung (non direcvtive); (c) Aspek penilaian dalam supervisi adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah, perkembangan siswa, RPP, dan silabus; (d) menggunakan format SKP/DP3. Kata kunci : Kompetensi Manajerial, Profesionalisme Guru
  • 2.
    iii MANAGERIAL COMPETENCIES PRINCIPALSIN IMPROVING THE PROFESSIONALISM OF TEACHERS AT SECONDARY VOCATIONAL SCHOOLS ( SMK ) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Abdul Wahid Ahmadi Abstract The purpose of this research is: (1) Knowing planning managerial competence; (2) Implementation of managerial competence; (3) and managerial competency evaluation principals SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri to improving the professionalism of teachers. This research was conducted using qualitative descriptive approach. Which is the principal as subject, as for the informant is the deputy principal and teachers. The techniques of data collection using : (1) observation; (2) interviews; and (3) documentation. Data have been collected followed by examination of the validity of data, using triangulation, with the verification and checking on the adequacy of reference. While technique of data analysis using an interactive model. The results of this research are : (1) Planning managerial competence that is done by the SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal include : (a) planning based on vision, mission, the purpose of schools and the needs of ( need assessment ); (b) involve all elements of the school it broadcasts; (c) perform new temporary teachers (GTT) recruitment and perform analysis of job position; (d) which it is carried out in a working meeting. (2) The implementation of managerial competence in improving the professionalism of teachers is done by SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal : (a) to join in the training; seminar, and workshop; (b) advanced study; (c) revitalization of MGMP; (d) formed get together between teachers; (e) increase the welfare of teachers; (f) adding supporting facilities; (g) optimize guidance counseling; (h) study visits to other schools; (i) teachers certification. (3) The evaluation is done by the principal of SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri covers : (a) perform supervision both personal and group; (b) techniques used is directly and indirectly; (c) the aspects of the assessment in supervision is pupils teachers, teacher performance in schools, the development of students, RPP, and Syllabus; (d) using format SKP/DP3. Key words : Managerial competence, the professionalism of teachers. iv ‫اﻟﻤﺘﺨﺼﺼﺔ‬ ‫اﻟﻤﺘﻮﺳﻄﺔ‬ ‫اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ﻓﻲ‬ ‫اﻟﻤﺪرس‬ ‫اف‬‫ﺮ‬‫اﺣﺘ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﻓﻲ‬ ‫اﻟﻤﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ﺮ‬‫ﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬ ‫ﺑﺎﻧﺠﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻧﻮﻏﻴﺮي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻤ‬ ‫اﺣﻤﺪى‬ ‫اﻟﻮاﺣﺪ‬ ‫ﻋﺒﺪ‬ ‫اﻟﻤﻠﺨﺺ‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫أﻗﻴﻢ‬‫ﻣﻨﻬﺎ‬ ‫أﻫﺪاف‬) :۱(‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻟﻜﻔﺎﺋﺔ‬ ‫ﺨﻄﻴﻂ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﺔ‬ّ‫ﻛﻴﻔﻴ‬‫ﳌﻌﺮﻓﺔ‬) :۲(‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫ﺗﻄﺒﻴﻖ‬ ‫و‬ ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬,)۳(‫اﳌﺪرس‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺘﻨﻈﻴﻢ‬ ‫ﻟﻜﻔﺎﺋﺔ‬ ‫ﺗﻘﻮﱘ‬. ‫اﻟﻨﻮﻋﻲ‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﺑﺔ‬‫ر‬‫ﻣﻘﺎ‬ ‫ﺑﺎﺳﺘﺨﺪام‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫أﻗﻴﻢ‬.‫ﻫﻮ‬ ‫اﳌﺨﱪ‬ ‫و‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﻫﻮ‬ ‫اﳌﺒﺤﺚ‬‫ﻧ‬‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﺎﺋﺐ‬ ‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫ﻧﺎﺋﺐ‬ ‫و‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬.‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺗﺸﻤﻞ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬ ‫ﲨﻊ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬‫ﻃ‬)۱(‫ﻊ‬ّ‫ﺘﺒ‬ّ‫اﻟﺘ‬,)۲(‫اﳌﻘﺎﺑﻠﺔ‬,)٣(‫ﺛﻴﻖ‬‫ﻮ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫و‬.‫ﳎﻤﻮﻋﺔ‬ ‫ﻗﻴﻘﻲ‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬ ‫إﺛﺒﺎت‬ ‫ﻣﻨﻬﺎ‬ ‫اءات‬‫ﺮ‬‫ﺑﺈﺟ‬ ‫ﻣﻀﺒﻮﻃﺔ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬,‫ﳍﺎ‬ ‫اﻟﻜﺎﻓﻴﺔ‬ ‫اﺟﻊ‬‫ﺮ‬‫اﳌ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺗﻀﺒﻴﻂ‬ ‫و‬.‫ﲢﻠﻴﻞ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬‫ﻃ‬ ‫ﻌﺎﻣﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﺷﻜﻞ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﺒﻴﺎﻧﺎت‬. ‫ا‬‫ﻫﻲ‬ ‫اﻟﺒﺤﺚ‬ ‫ﻫﺬا‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫ﺘﺎﺋﺞ‬ّ‫ﻨ‬‫ﻟ‬) :۱(‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫اﳌﺘﻮﺳ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫اﻩ‬ّ‫اد‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺨﻄﻴﻂ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ﻧﻮﻏﲑي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫اﻟﺮؤﻳﺔ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﺘﺨﻄﻴﻂ‬,‫ﻳﺔ‬‫ر‬‫اﳌﺄﻣﻮ‬‫و‬,‫اﺋﺠﻬﺎ‬‫ﻮ‬‫ﲝ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﻏﺎﻳﺔ‬ ‫و‬ ,)‫ب‬(‫ﺎ‬‫ﺷﺆو‬ ‫ﲜﻤﻴﻊ‬ ّ‫اﺳﻲ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫ﺪﺑﲑ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻓﻴﻬﺎ‬ ‫داﺧﻞ‬,)‫ج‬(‫ﺤﻠﻴﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫اﻟﻘﻴﺎم‬ ‫و‬ ‫اﳉﺪد‬ ‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﺸﻐﻴﻞ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫اﳌﻬﻦ‬,)‫د‬(‫ﻮرى‬ّ‫اﻟﺸ‬ ‫أداء‬) .۲(‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫اﳌﺘﻮﺳ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫ﻣﻦ‬ ‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬‫أداء‬ ‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫وﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ووﻧﻮﻏﲑي‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫ﺔ‬ّ‫اﺳﻴ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬ ‫اﳊﻠﻘﺔ‬ ‫ﰲ‬ ‫اك‬‫ﱰ‬‫اﻹﺷ‬,‫اﳌ‬ ‫و‬ ‫ﺪوة‬ّ‫ﻨ‬‫اﻟ‬‫و‬‫ﻌﻤﻞ‬)‫ب‬(۰ ‫اﳌﺘﺎﺑﻌﺔ‬ ‫اﺳﺔ‬‫ر‬ّ‫ﺪ‬‫اﻟ‬)‫ج‬(‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫ﻮرى‬ّ‫اﻟﺸ‬)‫د‬(‫ﺳﲔ‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫اﳌﻨﺘﺪى‬ ‫ﺗﻜﻮﻳﻦ‬)‫ه‬(‫اﳌﺪرس‬ ‫ﻓﺎﻫﻴﺔ‬‫ﺮ‬‫ﺑ‬ ‫ﺗﻨﻤﻴﺔ‬)‫و‬(‫ﻳﺎدة‬‫ز‬ ‫ﺔ‬ّ‫اﻟﻌﻤﺎدﻳ‬ ‫اﻓﻖ‬‫ﺮ‬‫اﳌ‬)‫ز‬(‫ﻠﺒﺔ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬ ‫ﻟﺪى‬ ‫اﻹﺳﺘﺸﺎرة‬)‫ف‬(‫اﻷﺧﺮى‬ ‫اﳌﺪارس‬ ‫إﱃ‬ ‫ﻧﺔ‬‫ر‬‫اﳌﻘﺎ‬,)‫ق‬(‫اﳌﺪرس‬ ‫ق‬ّ‫ﺪ‬‫ﻣﺼ‬ ‫و‬.‫أﻣﺎ‬)۳( ‫اﳌ‬ ‫اﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫ﺋﻴﺲ‬‫ر‬ ‫اﻩ‬ّ‫أد‬ ‫ﻘﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬‫ﺑﺎﳒﺎﺳﻴﻼ‬ ‫ﺼﺔ‬ّ‫اﳌﺘﺨﺼ‬ ‫ﻄﺔ‬ّ‫ﺘﻮﺳ‬۸‫ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻳﺸﻤﻞ‬ ‫ﻧﻮﻏﲑي‬‫و‬‫و‬ ‫ا‬‫ﻮ‬‫ﺳﻠﻮﻏﻮﻫﻴﻤ‬) :‫أ‬(‫ﻗﻴﺐ‬ّ‫اﻟﱰ‬ ‫أداء‬ ,ً‫ﺔ‬‫ﲨﺎﻋ‬ ‫ﺎ‬ّ‫إﻣ‬ ‫و‬ ً‫ﺔ‬‫ﻓﺮدﻳ‬ ‫ﺎ‬ّ‫إﻣ‬,)‫ب‬(‫ﻣﺒﺎﺷﺮة‬ ‫ﻏﲑ‬ ‫و‬ ‫ﻣﺒﺎﺷﺮة‬ ‫اﳌﺴﺘﺨﺪﻣﺔ‬ ‫ﻳﻘﺔ‬‫ﺮ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬,)‫ج‬(‫ﻫﻮ‬ ‫ﻗﻴﺐ‬ّ‫اﻟﱰ‬ ‫ﰲ‬ ‫ﻘﺪﻳﺮ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻧﺎﺣﻴﺔ‬ ‫اﳌﺪرس‬ ‫ﺣﻀﻮر‬,‫ﺑﺎﳌﺪرﺳﺔ‬ ‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫ﲢﻘﻴﻖ‬,‫ﻠﺒﺔ‬ّ‫ﻄ‬‫اﻟ‬ ‫ﺑﲔ‬ ‫اﻷﺣﺪاث‬ ‫ﳎﺮى‬,‫و‬ّ‫ﻳﺴﻲ‬‫ر‬‫ﺪ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﲣﻄﻴﻂ‬,)‫د‬(‫اﳍﻴﺌﺔ‬ ‫اﺳﺘﺨﺪام‬ ‫ﺳﲔ‬ّ‫ﻟﻠﻤﺪر‬ ‫رة‬ّ‫اﳌﻘﺮ‬. ‫ﺔ‬ّ‫ﺋﻴﺴﻴ‬ّ‫اﻟﺮ‬ ‫اﻟﻜﻠﻤﺎت‬:‫ﻨﻈﻴﻢ‬ّ‫اﻟﺘ‬ ‫ﻛﻔﺎﺋﺔ‬,‫س‬ّ‫اﳌﺪر‬ ‫اف‬‫ﱰ‬‫اﺣ‬.
  • 3.
    v LEMBAR PENGESAHAN TESIS KOMPETENSI MANAJERIALKEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Disusun Oleh : Nama : ABDUL WAHID AHMADI NIM : 26.11.7.3.001 Telah dipertahankan di depan Majelis Dewan Penguji Tesis Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Surakarta pada hari Selasa Tanggal 23 Bulan Februari tahun dua ribu enam belas dan dinyatakan telah memenuhi syarat guna memperoleh gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I) Surakarta, 23 Februari 2016 Ketua / Sekretaris Sidang, Dr. Moh. Bisri, M.Pd NIP. 19620718199303 1 003 Penguji I, Penguji Utama, Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D Dr. H. Baidi, M.Pd NIP. 19600910 199203 1 003 NIP. 19640302 199603 1 001 Direktur Program Pascasarjana, Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd., Ph.D NIP. 19600910 199203 1 003 vi PERSEMBAHAN Tesis ini kupersembahkan kepada : 1. Isteri tercinta dan anak tersayang 2. Kedua orangtua dan saudaraku 3. Teman-teman seperjuangan dan almameterku Pascasarjana IAIN Surakarta Program MPI.
  • 4.
    vii MOTTO ُ ّ‫ﷲ‬ ‫ى‬ََ َ َ ْ‫ا‬ ُ َ ْ ‫ا‬ ِ ُ َ‫و‬َ ِ‫إ‬ َ‫ون‬‫ﱡ‬‫د‬َ ُ َ َ‫و‬ َ‫ن‬ ُ ِ ْ ُ ْ ‫ا‬َ‫و‬ ُ ُ ُ َ‫ر‬َ‫و‬ ْ"ُ#َ َ َ َ‫ن‬ ُ َ ْ$َ% ْ"ُ ُ& 'َ ِ( "ُ#ُ)‫ﱢ‬+َ ُ َ ِ‫ة‬َ‫د‬'َ-‫ﱠ‬/ ‫ا‬َ‫و‬ ِ0ْ َ1ْ ‫ا‬ ِ"ِ 'َ Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah: 105) Ing ngarsa sung tuladha Ing madya mangun karsa Tut wuri handayani ( Ki Hajar Dewantara ) viii PERNYATAAN KEASLIAN TESIS Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta seluruhnya merupakan hasil karya sendiri. Adapun bagian-bagian dalam penulisan Tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan seluruhnya atau sebagian Tesis ini bukan asli karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Surakarta, Februari 2016 Yang Menyatakan Abdul Wahid Ahmadi NIM : 26.11.7.3.001
  • 5.
    ix KATA PENGANTAR Alhamdulillah pujidan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas Rahmat, Taufiq, dan Hidayah serta Inayah-Nya, Tesis dengan Judul: ”Kompetensi Manajerial Kepala Sekolahdalam Meningkatkan Profesionalisme Guru (Studi Kasus di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri)” ini dapat penulis selesaikan. Tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu persyarataan dalam mendapatkan gelar Magister Pendidikan Islam pada Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Tesis ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Rektor IAIN Surakarta, Bapak Dr. Mudhofir, S.Ag, M.Pd 2. Direktur Pasca Sarjana IAIN Surakarta Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd, Ph.D 3. Bapak Prof. Drs. H. Rohmat, M.Pd, Ph. D, selaku pembimbing yang dengan penuh kesabaran disela-sela kesibukannya selalu memberikan petunjuk, bimbingan, saran-saran serta dorongan bagi penyelesaian tesis ini. 4. Para Dosen pengampu mata kuliah pada Magister Manajemen Pendidikan Islam IAIN Surakarta, yang telah memberikan bekal ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis. 5. Bapak Drs Aris Trilaksono, Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, yang telah memberikan izin bagi studi penulis. x 6. Kedua orang tuaku yang senantiasa mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untuk putra-putrinya. 7. Istri tercinta dan anak-anakku tersayang, tiada kata-kata yang bermakna cukup sepadan atas pengorbanan dan ketabahan kalian selama ini, marilah kita syukuri nikmat Allah dengan amal sholih. 8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebut satu persatu yang telah membantu selama penulis studi hingga penyelesaian Tesis ini. Semoga Allah SWT berkenan memberikan balasan yang sesuai dengan budi baik yang telah mereka berikan. Penulis berharap semoga Tesis ini bermanfaat bagi pengembangan pendidikan, terutama di bidang Manajemen Pendidikan Islam. Wonogiri, Februari 2016 Penulis
  • 6.
    xi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................... i ABSTRAK .................................................................................................. ii LEMBAR PENGESAHAN .......................................................................... v LEMBAR PERNYATAAB KEASLIAN TESIS........................................... vi PERSEMBAHAN......................................................................................... vii MOTTO .......................................................................................................viii KATA PENGATAR..................................................................................... ix DAFTAR ISI ............................................................................................... x BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1 A. Latar belakang masalah ........................................................................... 1 B. Perumusan masalah ................................................................................. 9 C. Tujuan penelitian ..................................................................................... 10 D. Manfaat penelitian ................................................................................... 10 BAB II KAJIAN TEORI............................................................................... 12 A. Teori yang Relevan .................................................................................. 12 1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah .............................................. 12 a. Pengertian Kompetensi.................................................................... 12 b. Pengertian Manajerial...................................................................... 13 c. Pengertian Kepala Sekolah .............................................................. 32 2. Profesionalisme Guru.......................................................................... 41 a. Kompetensi pedagogik ................................................................... 47 b. Kompetensi Kepribadian................................................................. 47 c. Kompetensi Profesional................................................................... 48 d. Kompetensi Sosial........................................................................... 49 3. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dalam Peningkatan Profesionalisme Guru.......................................................................... 60 a. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru.............................. 64 b. Pengembangan Profesionalisme Guru.............................................. 71 c. Penilaian Profesionalisme Guru....................................................... 74 B. Penelitian yang relevan ............................................................................ 77 xii BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...................................................... 80 A. Metode Penelitian ................................................................................... 80 B. Latar SettingPenelitian ............................................................................ 83 C. Subjek dan Informan Penelitian................................................................ 87 D. Metode pengumpulan data ...................................................................... 88 1. Observasi terlibat ................................................................................ 88 2. Wawancara mendalam ........................................................................ 88 3. Dokumentasi....................................................................................... 89 E. Pemeriksaan Keabsahan Data ................................................................... 89 F. Teknik Analisa Data ................................................................................. 92 BAB IV HASIL PENELITIAN..................................................................... 95 A. Deskripsi data .......................................................................................... 95 1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru .................................. 95 2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru................................... 96 3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru......................................... 97 B. Penafsiran ................................................................................................ 97 1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru .................................. 97 2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru................................... 99 3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru.........................................100 C. Pembahasan .............................................................................................102 1. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru ..................................102 2. Pelaksanaan Peningkatan Profesionalisme Guru...................................108 3. Evaluasi Peningkatan Profesionalisme Guru.........................................122 BAB V PENUTUP .......................................................................................126 A. Kesimpulan..............................................................................................126 B. Implikasi ..................................................................................................128 C. Saran........................................................................................................130 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................132 LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................ 133
  • 7.
    xiii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1Panduan Observasi .................................................................... 142 Lampiran 2 Panduan Wawancara ................................................................... 143 Lampiran 3 Foto-foto Kegiatan ..................................................................... 145 Lampiran 4 Catatan Lapangan ........................................................................ 146 i KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Abdul Wahid Ahmadi Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perencanaan kompetensi manajerial; (2) pelaksanaan kompetensi manajerial; (3) dan evaluasi kompetensi manajerial kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian diskriptif kualitatif. Subyeknya yaitu kepala sekolah. Adapun informannya yakni wakil kepala sekolah dan guru. Teknik pengumpulan data (1) observasi, (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan pemeriksaan keabsahan data, menggunakan triangulasi, dengan verifikasi dan pengecekan mengenai kecukupan referensi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Hasil penelitian ini adalah: (1) Perencanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Perencanaan berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need assesment); (b) Melibatkan seluruh unsur civitas akademika sekolah; (c) Melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis jabatan pekerjaan; (d) dilakukan dalam rapat kerja. (2) Pelaksanaan kompetensi manajerial dalam meningkatkan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) Mengikutkan dalam diklat, seminar, maupun workshop; (b) Studi lanjut; (c) Revitalisasi MGMP; (d) Membentuk forum silaturrahim antar guru; (e) Meningkatkan kesejahteraan guru; (f) Penambahan fasilitas penunjang; (g) Mengoptimalkan bimbingan konseling; (h) Studi banding ke sekolah lain, dan (i) sertifikasi guru. Sedangkan (3) evaluasi yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri meliputi: (a) melakukan supervisi, baik secara personal maupun kelompok; (b) Teknik yang digunakan adalah secara langsung (directive) dan tidak langsung (non direcvtive); (c) Aspek penilaian dalam supervisi adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah, perkembangan siswa, RPP, dan silabus; (d) menggunakan format SKP/DP3. Kata kunci : Kompetensi Manajerial, Profesionalisme Guru
  • 8.
    ii MANAGERIAL COMPETENCIES PRINCIPALSIN IMPROVING THE PROFESSIONALISM OF TEACHERS AT SECONDARY VOCATIONAL SCHOOLS ( SMK ) PANCASILA 8 SLOGOHIMO WONOGIRI Abdul Wahid Ahmadi Abstract The purpose of this research is: (1) Knowing planning managerial competence; (2) Implementation of managerial competence; (3) and managerial competency evaluation principals SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri to improving the professionalism of teachers. This research was conducted using qualitative descriptive approach. Which is the principal as subject, as for the informant is the deputy principal and teachers. The techniques of data collection using : (1) observation; (2) interviews; and (3) documentation. Data have been collected followed by examination of the validity of data, using triangulation, with the verification and checking on the adequacy of reference. While technique of data analysis using an interactive model. The results of this research are : (1) Planning managerial competence that is done by the SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal include : (a) planning based on vision, mission, the purpose of schools and the needs of ( need assessment ); (b) involve all elements of the school it broadcasts; (c) perform new temporary teachers (GTT) recruitment and perform analysis of job position; (d) which it is carried out in a working meeting. (2) The implementation of managerial competence in improving the professionalism of teachers is done by SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri’s principal : (a) to join in the training; seminar, and workshop; (b) advanced study; (c) revitalization of MGMP; (d) formed get together between teachers; (e) increase the welfare of teachers; (f) adding supporting facilities; (g) optimize guidance counseling; (h) study visits to other schools; (i) teachers certification. (3) The evaluation is done by the principal of SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri covers : (a) perform supervision both personal and group; (b) techniques used is directly and indirectly; (c) the aspects of the assessment in supervision is pupils teachers, teacher performance in schools, the development of students, RPP, and Syllabus; (d) using format SKP/DP3. Key words : Managerial competence, the professionalism of teachers. iii ‫المتخصصة‬ ‫المتوسطة‬ ‫المدرسة‬ ‫في‬ ‫المدرس‬ ‫احتراف‬ ‫تنمية‬ ‫في‬ ‫المدرسة‬ ‫لرئيس‬ ‫التنظيم‬ ‫كفائة‬ ‫بانجاسيال‬۸‫وونوغيري‬ ‫سلوغوهموا‬ ‫احمدى‬ ‫الواحد‬ ‫عبد‬ ‫الملخص‬ ‫أقيم‬( : ‫منها‬ ‫أهداف‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬۱( : ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫لكفائة‬ ‫خطيط‬ّ‫الت‬ ‫ة‬ّ‫كيفي‬‫ملعرفة‬ )۲‫كفائة‬‫تطبيق‬ ) ( ,‫و‬ ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫التنظيم‬۳.‫املدرس‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ ‫تنمية‬ ‫يف‬ ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫التنظيم‬ ‫لكفائة‬ ‫تقومي‬ ) ‫ا‬ ‫و‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫هو‬ ‫املبحث‬ .‫النوعي‬ ‫البحث‬ ‫بة‬‫ر‬‫مقا‬ ‫باستخدام‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬ ‫أقيم‬‫هو‬ ‫ملخرب‬‫ئيس‬‫ر‬ ‫نائب‬ (‫على‬ ‫تشمل‬ ‫البيانات‬ ‫مجع‬ ‫يقة‬‫ر‬‫ط‬ .‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫من‬ ‫نائب‬ ‫و‬ ‫املدرسة‬۱)( , ‫ع‬ّ‫تب‬ّ‫الت‬۲( , ‫املقابلة‬ )٣‫وثيق.جمموعة‬ّ‫الت‬ ‫و‬ ) ‫حتليل‬ ‫يقة‬‫ر‬‫ط‬ .‫هلا‬ ‫الكافية‬ ‫اجع‬‫ر‬‫امل‬ ‫على‬ ‫تضبيط‬ ‫و‬ , ‫قيقي‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫البيانات‬ ‫إثبات‬ ‫منها‬ ‫اءات‬‫ر‬‫بإج‬ ‫مضبوطة‬ ‫البيانات‬ .‫عامل‬ّ‫الت‬ ‫شكل‬ ‫على‬ ‫البيانات‬ ( : ‫هي‬ ‫البحث‬ ‫هذا‬ ‫من‬ ‫تائج‬ّ‫الن‬۱‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫اه‬ّ‫اد‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬‫على‬ ‫خطيط‬ّ‫الت‬ ) ‫باجناسيال‬۸‫ائجها‬‫و‬‫حب‬ ‫املدرسة‬ ‫غاية‬ ‫و‬ ,‫ية‬‫ر‬‫املأمو‬‫و‬ , ‫الرؤية‬ ‫على‬ ‫التخطيط‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫يشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬ ‫شؤو‬ ‫جبميع‬ ّ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫دبري‬ّ‫الت‬ ‫فيها‬ ‫داخل‬ )‫(ب‬ ,‫حليل‬ّ‫الت‬ ‫على‬ ‫القيام‬ ‫و‬ ‫اجلدد‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫على‬ ‫شغيل‬ّ‫الت‬ )‫(ج‬ , ‫هنا‬ ( .‫ورى‬ّ‫الش‬ ‫أداء‬ )‫(د‬ , ‫املهن‬۲‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬ ‫ئيس‬‫ر‬ ‫من‬ ‫س‬ّ‫املدر‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ ‫تنمية‬ ‫يف‬ ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬‫أداء‬ ) ‫باجناسيال‬۸ّ‫الن‬‫و‬ , ‫ة‬ّ‫اسي‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ‫احللقة‬ ‫يف‬ ‫اك‬‫رت‬‫اإلش‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫ويشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬)‫(ب‬ ‫املعمل‬ ‫و‬ ‫دوة‬۰ ‫يادة‬‫ز‬ )‫(و‬ ‫املدرس‬ ‫برفاهية‬ ‫تنمية‬ )‫(ه‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫بني‬ ‫املنتدى‬ ‫تكوين‬ )‫(د‬ ‫سني‬ّ‫املدر‬ ‫بني‬ ‫ورى‬ّ‫الش‬ )‫(ج‬ ‫املتابعة‬ ‫اسة‬‫ر‬ّ‫د‬‫ال‬ ( ‫أما‬ .‫املدرس‬ ‫ق‬ّ‫د‬‫مص‬ ‫و‬ )‫(ق‬ , ‫األخرى‬ ‫املدارس‬ ‫إىل‬ ‫نة‬‫ر‬‫املقا‬ )‫(ف‬ ‫لبة‬ّ‫ط‬‫ال‬ ‫لدى‬ ‫اإلستشارة‬ )‫(ز‬ ‫ة‬ّ‫العمادي‬ ‫افق‬‫ر‬‫امل‬۳) ‫ئيس‬‫ر‬ ‫اه‬ّ‫أد‬ ‫قيم‬ّ‫الت‬‫باجناسيال‬ ‫صة‬ّ‫املتخص‬ ‫طة‬ّ‫املتوس‬ ‫املدرسة‬۸‫قيب‬ّ‫الرت‬ ‫أداء‬ )‫(أ‬ : ‫على‬ ‫يشمل‬ ‫وونوغريي‬ ‫ا‬‫و‬‫سلوغوهيم‬ ‫هو‬ ‫قيب‬ّ‫الرت‬ ‫يف‬ ‫قدير‬ّ‫الت‬ ‫ناحية‬ )‫(ج‬ , ‫مباشرة‬ ‫غري‬ ‫و‬ ‫مباشرة‬ ‫املستخدمة‬ ‫يقة‬‫ر‬ّ‫ط‬‫ال‬ )‫(ب‬ , ً‫ة‬‫مجاع‬ ‫ا‬ّ‫إم‬ ‫و‬ ً‫ة‬‫فردي‬ ‫ا‬ّ‫إم‬ , ‫ال‬ ‫بني‬ ‫األحداث‬ ‫جمرى‬ , ‫باملدرسة‬ ‫س‬ّ‫املدر‬ ‫حتقيق‬ , ‫املدرس‬ ‫حضور‬‫اهليئة‬ ‫استخدام‬ )‫(د‬ ,ّ‫يسي‬‫ر‬‫د‬ّ‫الت‬ ‫ختطيط‬ ‫و‬ , ‫لبة‬ّ‫ط‬ .‫سني‬ّ‫للمدر‬ ‫رة‬ّ‫املقر‬ .‫س‬ّ‫املدر‬ ‫اف‬‫رت‬‫اح‬ , ‫نظيم‬ّ‫الت‬ ‫كفائة‬: ‫ة‬ّ‫ئيسي‬ّ‫الر‬ ‫الكلمات‬
  • 9.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Masalah Seiring dengan tantangan kehidupan global, pendidikan merupakan hal yang sangat penting karena pendidikan merupakan salah satu penentu mutu sumberdaya manusia (SDM). Keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditandai dengan melimpahnya kekayaan alam, melainkan pada keunggulan sumberdaya manusianya. Mutu SDM berkorelasi positif dengan mutu pendidikan, dan mutu pendidikan sering diindikasikan dengan kondisi yang baik, memenuhi syarat, dan segala komponen yang harus terdapat dalam pendidikan. Komponen-komponen tersebut adalah masukan, proses, keluaran, tenaga kependidikan, sarana prasarana serta biaya. Mutu pendidikan akan tercapai apabila masukan, proses, keluaran, guru, sarana dan prasarana serta biaya tersedia dan terlaksana dengan baik. Namun dari beberapa komponen tersebut yang lebih banyak berperan adalah guru yang bermutu atau berkualitas (Sri Damayanti, 2008: ). Seorang guru dituntut untuk dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendidikan di lingkungan sekolah terutama dalam hal belajar. Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar, oleh karena itu mutu pendidikan disuatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menjalankan tugas-tugasnya (Zainal Aqib, 2002: 22). Guru merupakan komponen yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. 1 2 Berkaitan dengan pentingnya guru dalam meningkatkan kualitas/mutu pendidikan, H.A.R. Tilaar (1999:23) mengatakan bahwa pendidik (guru) abad 21 harus memenuhi empat kriteria yaitu: (1) mempunyai kepribadian yang matang (mature and developing personality), (2) menguasai ilmu pengetahuan dan tekonologi, (3) mempunyai keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik, dan (4) mengembangkan profesinya secara kesinambungan. Dari pendapat Tilaar tersebut tugas pendidik sangat kompleks dan penuh dengan tantangan untuk diaplikasikan dalam profesinya, oleh sebab itu guru dituntut untuk terus mengembangkan profesionalitasnya. Seorang guru yang profesional menurut Muhaimin (2003: 217) harus mempunyai karakteristik yakni: (1) komitmen terhadap profesionalitas, yang melekat pada dirinya sikap dedikatif, komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja serta sikap continous improvement. (2) menguasai ilmu dan mampu mengembangkan serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya atau sekaligus melakukan “transfer ilmu/pengetahuan, internalisasi serta amaliyah (implementasi)”. (3) memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Berdasarkan pendapat Muhaimin tersebut, peningkatan profesionalisme guru harus menjadi prioritas utama pemerintah dan instansi terkait demi terwujudnya guru yang profesional.
  • 10.
    3 Di sisi lain,profesionalisme guru di Indonesia masih jauh dari apa yang dicita-citakan. Berdasarkan hasil tes kompetensi yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Lanjutan Pertama yang bekerjasama dengan Pusat Penilaian Pendidikan Tahun 2003, menunjukkan rata-rata nilai kompetensi guru hanya mencapai 42, 25 %. Angka ini masih relatif jauh dibawah standar nilai kompetensi minimal yang diharapkan yaitu 75 %. Di samping itu menurut Human Development Index (HDI), guru yang memiliki standar kualifikasi mengajar adalah berkisar 60% untuk SD, 40 % untuk SMP, 34% untuk SMA. dan 17, 2 % guru mengajar tidak sesuai dengan bidang studi atau latar belakang pendidikannya (Arni Hayati, 2009). Menjadi guru yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya, hal ini membutuhkan dukungan dari pihak-pihak yang mempunyai peran penting dalam hal ini adalah kepala sekolah/madrasah, dimana kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Ketercapaian dan terwujudnya guru yang profesional sangat bergantung pada kecakapan/kemampuan manajerial kepala sekolah. Dalam konteks paradigma desentralisasi dan otonomi pendidikan, sekolah mempunyai wewenang yang sangat besar untuk mengatur dan mengelola sekolahnya sendiri. Otonomi yang lebih besar dari institusi sekolah ini menuntut adanya kemauan dan kemampuan seluruh personel sekolah yang lebih berkualitas. Hal ini berkaitan erat dengan implementasi berbagai prinsip 4 dan paradigma baru manajemen pendidikan, yang perlu diperhatikan seperti transparansi, akuntabilitas, fleksibilitas, efektivitas dan efisiensi, partisipasi seluruh warga dan stakeholders, penyederhanaan birokrasi, dan penyaluran aspirasi dengan sistem bottom up, serta penerapan manajemen terbuka/open management (Kusnan, 2007:1). Oleh sebab itu, kedudukan kepala sekolah sangat penting dan strategis dalam mengelola dan mencapai tujuan institusi sekolah yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan kepala sekolah sebagai pemimpin puncak (top leader) di sekolah mempunyai otoritas penuh untuk mengelola sekolah termasuk melakukan pengelolaan dan pengembangan profesionalisme guru. Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dapat mencakup implementasi kegiatan atau pelaksanaan fungsi-fungsi manajerial, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, maupun pengawasan. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab tersebut, kepala sekolah dituntut menguasai sejumlah kompetensi atau kemampuan manajerial. Secara operasional kepala sekolah adalah orang yang paling bertanggungjawab dalam merencanakan, mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyelaraskan semua sumberdaya (resources) sekolah serta dapat mengevaluasinya. Kepala sekolah merupakan faktor pendorong untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah yang dipimpinnya menuju sekolah yang bermutu, bermutu di bidang pelayanan, di bidang pembelajaran,
  • 11.
    5 di bidang saranaprasarana, profesionalisme guru, dan di bidang prestasi akademik dan non akademik (Syarnubi Som, 2008). Berdasarkan kajian, dan hasil penelitian para ahli tentang kepala sekolah dapat dikatakan bahwa kepala sekolah adalah kunci keberhasilan pendidikan di sekolah (Sudarwan Danim, 2005:96). Kepala sekolah merupakan the keyperson (penanggungjawab utama atau faktor kunci) untuk membawa sekolah menjadi center of excellence, pusat keunggulan dalam mencetak dan mengembangkan sumberdaya manusia. Penelitian tentang kepala sekolah sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan profesionalisme guru adalah hasil kajian yang dilakukan oleh Kusnan, dari hasil kajian tersebut disimpulkan bahwa kemampuan manajerial kepala sekolah merupakan faktor penting dan strategis dalam kerangka peningkatan kualitas guru dan kemajuan sekolah yang dipimpinnya. Dengan kemampuan manajerial, baik kemampuan teknik, kemampuan hubungan kemanusian, maupun kemampuan konseptual yang memadai kepala sekolah mampu menggerakkan seluruh potensi sekolah termasuk dapat memacu peningkatan kualitas kinerja profesional para guru di sekolah (Kusnan, 2007:1). Hasil penelitian Moedjiarto menyebutkan kepemimpinan kepala sekolah pada SMA Swasta di Surabaya yang tergolong unggul ternyata dinilai cukup baik dalam arti kepala sekolah mempunyai pemahaman yang baik terhadap visi dan misi sekolahnya, melaksanakan kontrol terhadap siswa dan proses pembelajaran terutama tugas para gurunya (Moedjiarto, 2001:90). Senada 6 dengan hasil penelitian Moedjiarto, hasil penelitian Lamatenggo menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif dan meyakinkan antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru Sekolah Dasar di Daerah Gorontalo. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat perilaku kepemimpinan kepala sekolah, semakin tinggi pula kinerja para gurunya (Lamatenggo, 2001: 98). Sutermeister mengemukakan hasil kajiannya bahwa ada beberapa faktor determinan terhadap pruduktivitas kerja (termasuk produktiftas guru dalam institusi pendidikan) antara lain iklim kepemimpinan (leadership climate), tipe kepemimpinan (type of leadership), dan pemimpin (leaders), dari 33 faktor lain yang berpengaruh (Robert Sutermeister, 1976: 44). Ini berarti, profesionalisme kepala sekolah menjadi sebuah keharusan. Keller (1979) memperjelas pernyataan ini dengan ungkapan sebagai berikut: “The key to the educational cookie is the principal. The principal is the motivational yeast: how high the students and the teachers rise to their challenge is the principal’s responsibility”. De Roche, pakar pendidikan mengungkapkan bahwa tidak ada sekolah yang baik tanpa kepala sekolah yang baik. Sergiovanni (1987) menyatakan bahwa tidak ada siswa yang tidak dapat dididik, yang ada adalah guru yang tidak berhasil mendidik. Tidak ada guru yang tidak berhasil mendidik, yang ada adalah kepala sekolah yang tidak mampu membuat guru berhasil mendidik. Wahjosumidjo (1999: 3) berpendapat bahwa keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.
  • 12.
    7 Kepala sekolah merupakanseorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumberdaya organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan serta memahami semua kebutuhan sekolah. Dengan keprofesionalan kepala sekolah, pengembangan profesionalisme guru mudah dilakukan karena sesuai dengan peran dan fungsinya. Menurut Mulyasa (2007: 78-79) yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru adalah sesebagai berikut: (1) menyusun penyetaraan bagi guru yang memiliki kualifikasi SMA/DIII agar mengikuti penyetaraan S1/Akta 1V, sehingga mereka dapat menambah wawasan keilmuan dan pengetahuan yang menunjang tugasnya, (2) mengikutsertakan guru-guru dalam forum ilmiah seperti seminar, pendidikan dan latihan maupun lokakarya, (3) revitalisasi KKG (kelompok kerja guru), dan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran), serta (4) meningkatkan kesejahteraan guru. Profesionalisme kepala sekolah dapat tercapai apabila sudah memenuhi syarat dan memiliki kompetensi tertentu yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 13 Tahun 2007. Ada lima kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah yakni: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Dengan terbitnya Permendiknas tersebut, pemerintah akan melakukan sertifikasi bagi calon kepala sekolah di seluruh Indonesia. Adapun sertifikasi calon kepala sekolah meliputi: (1) penetapan formasi kepala sekolah, (2) rekrutmen calon 8 kepala sekolah, (3) seleksi calon kepala sekolah, (4) pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah, (5) uji kompetensi calon kepala sekolah, dan (6) uji akseptabilitas calon kepala sekolah (Ibrahim Bafadal, 2008). Namun banyak faktor penghambat tercapainya profesionalisme kepala sekolah seperti proses pengangkatannya tidak transparan, kurang memenuhi persyaratan dan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan dalam Permendiknas No 13 tahun 2007, misalnya tidak mempunyai keahlian (kompetensi) manajerial dalam mengelola dan mengembangkan profesionalisme guru, rendahnya mental kepala sekolah yang ditandai dengan kurangnya motivasi dan semangat serta kurangnya disiplin dalam melakukan tugas, dan seringnya datang terlambat, wawasan kepala sekolah yang masih sempit, serta banyak faktor penghambat lainnya yang menghambat tumbuhnya kepala sekolah yang profesional untuk meningkatkan kualitas mutu guru dan mutu pendidikan secara nasional. Menyimak dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu indikasi sebuah sekolah bermutu adalah tersedianya guru yang profesional, tersedianya guru yang profesional tercapai apabila ada pihak-pihak yang selalu konsisten mengembangkannya dalam hal ini adalah kepala sekolah. Kepala sekolah selaku pemimpin dan manajer di sekolah dituntut professional dalam mengemban tugas khususnya dalam mengelola dan meningkatkan profesionalisme guru. Dengan kata lain semakin profesional seorang kepala sekolah maka semakin besar harapan meningkatnya profesional guru di sekolah.
  • 13.
    9 Upaya mempertahankan bahkanmengembangkan SMK Pancasila 8 Slogohimo sebagai lembaga pendidikan swasta di tengah-tengah berkembangnya sekolah negeri tentu bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. Di sini diperlukan kerja keras, komitmen, dedikasi, loyalitas dan semangat pantang menyerah semua stakeholder di dalamnya. Dan aktor fital dalam membangun kualitas pendidikan,agar lebih maju dan memberikan nilai manfaat bagi lulusan dan masyarakat adalah kepala sekolah. Sebab kedudukan kepala sekolah bukan hanya selaku top manajer tapi juga sebagai motivator dan dinamisator yang mampu menggerakkan semua elemen di sekolah. Prestasi akademik dan non akademik yang selama ini dicapai oleh SMK Pancasila 8 Slogohimo tentunya tak lepas dari peran kepala sekolah dalam mengeksplorasi dan memberdayakan segala potensi yang ada di sekolah, terutama dalam mengembangkan dan meningkatkan profesionalisme guru. Berdasarkan paparan di atas, penulis terdorong untuk mengkaji dan meneliti tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru menjadi sebuah penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri. Karena SMK ini termasuk sekolah swasta yang berdiri sejak tahun 1988 dan belum ada satupun SMK Negeri di wilayah timur Kabupaten Wonogiri, dan hingga kini sangat banyaknya bermunculan SMK Negeri, SMK ini tetap eksis berdiri dan menjadi pilihan utama para peserta didik dan masyarakat. Bahkan lulusan SMK Pancasila 8 10 Slogohimo telah banyak terserap di dunia kerja baik dalam maupun luar negeri. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka secara rinci dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana perencanaan manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru? 2. Bagaimana pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru? 3. Bagaimana evaluasi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka secara rinci yang menjadi tujuan utama penelitian ini adalah: 1. Untuk mendiskripsikan perencanaan manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru.
  • 14.
    11 2. Untuk mendiskripsikanpelaksanaan manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru. 3. Untuk mendiskripsikan evaluasi manajerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian terhadap kompetensi manajerial kepala sekolah dalam peningkatan profesionalisme guru ini diharapkan memberikan manfaat antara lain : 1. Manfaat teoritis a. Sebagai penambahan referensi mengenai kompetensi manajerial kepala sekolah baik pada aspek perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasinya. b. Sebagai bahan rujukan ilmiyah dalam pengembangan kompetensi dan profesionalisme guru. 2. Manfaat praktis Manfaat praktis yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : a. Bagi kepala sekolah secara umum dan secara khusus bagi kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri dalam melaksanakan 12 tugasnya, utamanya yang berkaitan dengan peningkatan profesionalisme guru b. Bagi para guru di Indonesia khususnya para guru SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri untuk senantiasa menyadari akan pentingnya peningkatan kualitas dalam melaksanakan proses belajar mengajar guna menciptakan out-put yang berkualitas c. Bagi seluruh civitas pendidikan khususnya di lingkungan sekolah agar senantiasa memperhatikan pentingnya peningkatan profesionalisme guru d. Bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat agar semakin meningkatkan perannya terhadap peningkatan profesionalisme guru demi kemajuan sekolah e. Bagi peneliti, untuk menambah wawasan tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan professionalisme guru f. Bagi peneliti lain selanjutnya sebagai bahan rujukan untuk penelitian yang sama atau penelitian yang lebih luas pada umumnya.
  • 15.
    13 BAB II KAJIAN TEORI A.Teori yang Relevan 1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah a. Pengertian Kompetensi Menurut Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru, dan dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Louise Moqvist berpendapat bahwa “competency has been defined in the light of actual circumsastances relating the indivudual and work”. Kompetensi menurut training agency sebagaimana disebutkan oleh Len Holmes menyebutkan bahwa” a competence is a description of something wich a person mhi works in a given occupational area should be able to do. It is description of an action, behavior or outcome which a person should be able to demonstrate (E.Mulyasa, 2007: 25). Dari beberapa pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi pada hakikatnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, orang harus mempunyai kemampuan dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya. 13 14 Spencer and Spencer menambahkan bahwa “a competency is an underlying characteristic of individual that is causally related to criterion-referenced effective and/or superior performance in a job or situation” (Spencer, M,. Lyle, Jr and Signe M. Spencer, 1993: 8). Artinya bahwa kompetensi seseorang menjadi ciri dasar individu dikaitkan dengan standar kriteria kinerja yang efektif dan atau superior. Dari penjelasan diatas spencer berpendapat bahwa kompetensi disamping menentukan perilaku dan kinerja seseorang juga menentukan apakah seseorang melakukan pekerjaannya dengan baik berdasarkan standar kriteria yang telah ditentukan. b. Pengertian Manajerial Istilah manajerial merupakan kata sifat yang berhubungan dengan kepemimpinan dan pengelolaan. Dalam banyak kepustakaan, kata manajerial sering disebut sebagai asal kata dari management yang berarti melatih kuda atau secara harfiah diartikan sebagai to handle yang berarti mengurus, menangani, atau mengendalikan. manajemen merupakan kata benda yang dapat berarti pengelolaan, tata pimpinan atau ketatalaksanaan (Ulbert Silahahi, 2002: 135). Kata manajemen menurut Mochtar Effendy berasal dari bahasa Inggris, yakni dari kata kerja to manage yang bersinonim dengan kata to hand yang berarti mengurus, to control memeriksa dan to guide yang berarti memimpin. Jadi, apabila dilihat dari arti etimologi, manajemen
  • 16.
    15 berarti pengurusan, pengendalian,memimpin atau membimbing (Mochtar Effendy, 1986: 96). Sedangkan pengertian manajemen secara terminologi sebagaimana dikemukakan oleh Fridreck Taylor adalah : Management, the art of management is defined as knowing exactly what you want to do, and then seing that they do tersebut in the bestand cheapest way (Fridreck Taylor W., 1974: 2). Manajemen adalah seni yang ditentukan untuk mengetahui dengan sungguh-sungguh apa yang ingin kamu lakukan, dan mangawasi bahwa mereka mengerjakan sesuatu dengan sebaik- baiknya dan dengan cara yang semudah-mudahnya. Dimek menyebutkan bahwa : management is knowing where you want to go, what shall you must avoid, what the forces are with to which you must deal, and how to handle your ship, and your crew effectively and without waste, in the process of getting there (Dimeck, 1954: 10). Sedangkan Mondy, Sharplin, dan Flippo mengartikan manajemen sebagai “the process of getting thing done through the effort of other people” (Mondy, R.W., Sharplin, A. dan Flippo, 1988: 9). Manajemen adalah suatu disiplin ilmu untuk mengetahui kemana arah yang dituju, kesukaran apa yang harus dihindari, kekuatan- kekuatan apa yang harus dijalankan, dan bagaimana memimpin para guru dan staf secara efektif tanpa adanya pemborosan dalam proses mengerjakannya. 16 Malayu S. P. Hasibuan (2001: 2) mengartikan manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber- sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dari beberapa definisi tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa manajemen merupakan suatu ilmu dan seni yang dimiliki oleh manusia dalam upaya memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya yang lain dalam kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan, yang dilakukan secara fektifdan efisien dengan melibatkan seluruh anggota secara ektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada prinsipnya pengertian manajemen mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut: (1) ada tujuan yang ingin dicapai; (2) sebagai perpaduan ilmu dan seni; (3) merupakan proses yang sistematis, terkoordinasi, koperatif, dan terintegrasi dalam memanfaatkan unsur- unsurnya; (4) ada dua orang atau lebih yang bekerjasama dalam suatu organisasi; (5) didasarkan pada pembagian kerja, tugas dan tanggung jawab; (6) mencakup beberapa fungsi; (7) merupakan alat untuk mencapai tujuan (Malayu SP. Hasibuan, 2001: 3). Manajemen merupakan suatu proses pengelolaan sumber daya yang ada mempunyai empat fungsi yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Hal ini sesuai dengan
  • 17.
    17 pendapat George R.Terry dalam Sutopo (1999: 14) menyatakan bahwa fungsi manajemen mencakup kegiatan-kegiatan: 1) Perencanaan (planning): Budgetting, Programming, Decision Making, Forecasting 2) Pengorganisasian (organizing): Structuring, Assembling Resources, Staffing 3) Penggerakan (directing): Coordinating, Directing, Commanding, Motivating, Leading, Motivating 4) Pengawasan (controlling): Monitoring, Evaluating, Reporting yang dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumberdaya lainnya. Proses kegiatan manajemen dalam dunia pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari sub-sub sistem yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Kegiatan tersebut meruapakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain meskipun pelaksanaannya dikerjakan oleh unit-unit kerja yang berbeda. Apabila keterpaduan proses kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka keterpaduan proses kegiatan tersebut menjadi suatu siklus proses kegiatan yang dapat menunjang perkambangan dan peningkatan kualitas kerja (Hendyat Sutopo, 2001: 5). Upaya pencapaian tujuan pendidikan harus direncanakan dengan memperhitungkan sumberdaya, situasi, dan kondisi yang ada dalam 18 rangka mencapai tujuan yang efektif. Semua sumberdaya yang terkait dan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu dikoordinasikan secara terpadu agar tercapai suatu kerjasama yang harmonis dalam mencapai tujuan tersebut. Keterpaduan kerja organisasi memerlukan pengarahan, dorongan, koordinasi, dan kepemimpinan efektif. Pelakasanan semua kegiatan tersebut harus dikendalikan, dimonitor dan dievaluasi kefektifan dan keefisiennya. Hasilnya merupakan feedback yang sangat berguna untuk menyempurnakan dan meningkatkan perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksaanaan kegiatan berikutnya (Hendyat Sutopo, 2001:5). Secara visual siklus proses kegiatan manajemen dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1 Siklus Kegiatan Manajemen Seorang manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah, di samping harus mampu melaksanakan proses manajemen yang merujuk pada fungsi-fungsi manajemen (planning, organizing, actuating, controlling), juga dituntut untuk memahami sekaligus menerapkan Planning Actuating OrganizingControlling
  • 18.
    19 seluruh substansi kegiatanpendidikan. Wayan Koster mengemukakan bahwa dalam konteks MPMBS, kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan: (1) menjabarkan sumber daya sekolah untuk mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar, (2) kepala administrasi, (3) sebagai manajer perencanaan dan pemimpin pengajaran, dan (4) mempunyai tugas untuk mengatur, mengorganisir dan memimpin keseluruhan pelaksanaan tugas-tugas pendidikan di sekolah. Dikemukakan pula bahwa sebagai kepala administrasi, kepala sekolah bertugas untuk membangun manajemen sekolah serta bertanggungjawab dalam pelaksanaan keputusan manajemen dan kebijakan sekolah (Akhmad Sudrajat, 2008: 6). Sementara itu, menurut pendapat Sanusi dalam Akhmad Sudrajat (2008: 6) menjelaskan bahwa: “ Perubahan dalam peranan dan fungsi sekolah dari yang statis di jaman lampau kepada yang dinamis dan fungsional-konstruktif di era globalisasi, membawa tanggung jawab yang lebih luas kepada sekolah, khususnya kepada administrator sekolah. Pada mereka harus tersedia pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan nyata masyarakat serta kesediaan dan keterampilan untuk mempelajari secara kontinyu perubahan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga sekolah melalui program-program pendidikan yang disajikannya dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru dan kondisi baru”. Diisyaratkan oleh pendapat tersebut, bahwa kepala sekolah sebagai salah satu kategori administrator pendidikan perlu melengkapi wawasan kepemimpinan pendidikannya dengan pengetahuan dan sikap yang antisipatif terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, termasuk perkembangan kebijakan makro pendidikan. 20 Wujud perubahan dan perkembangan yang paling aktual saat ini adalah makin tingginya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, dan gencarnya tuntutan kebijakan pendidikan yang meliputi peningkatan aspek-aspek pemerataan kesempatan, mutu, efisiensi dan relevansi. Pada bagian lain, Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir dengan mengutip dari Dirawat mengemukakan tentang pemikiran Bogdan bahwa dalam perspektif peningkatan mutu pendidikan terdapat empat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin pendidikan, yaitu: (1) kemampuan mengorganisasikan dan membantu staf di dalam merumuskan perbaikan pengajaran di sekolah dalam bentuk program yang lengkap; (2) kemampuan untuk membangkitkan dan memupuk kepercayaan pada diri sendiri dari guru-guru dan anggota staf sekolah lainnya; (3) kemampuan untuk membina dan memupuk kerja sama dalam mengajukan dan melaksanakan program-program supervisi; dan (4) kemampuan untuk mendorong dan membimbing guru-guru serta segenap staf sekolah lainnya agar mereka dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab berpartisipasi secara aktif pada setiap usaha-usaha sekolah untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah itu sebaik-baiknya (Akhmad Sudrajat, 2008: 6). Diantara tugas dan fungsi seorang kepala sekolah/madrasah adalah kepala sekolah sebagai seorang manajer. A. F Stoner (1982: 8-13) mengemukakan bahwa keberadaan manajer pada suatu organisasi sangat diperlukan. Menurut Stoner ada delapan fungsi seorang manajer
  • 19.
    21 yang perlu dilakanakandalam suatu organisasi yaitu: (1) bekerja dan dengan melalui orang lain; (2) dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan; (3) bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan; (4) berfikir secara realistik dan konseptual; (5) adalah juru penengah; (6) adalah seorang politis; (7) adalah seorang diplomat; (8) mengambil keputusan yang sulit. Kedelapan fungsi manajer dikemukakan oleh Stoner tersebut tentu saja berlaku bagi setiap manajer dari suatu organisasi apapun, termasuk kepala madrasah Manajemen pada hakekatnya merupakan proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha pada anggota organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dikatakan suatu proses karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimilikinya mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaiatan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah harus mempunyai strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme guru melalui kerjasama yang kooperatif, memberikan daorongan dan kesempatan bagi guru untuk meningkatkan profesinya. Menurut Mulyasa ada beberapa strategi yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru sebagai berikut: 22 Pertama, memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama yang dimaksudkan bahwa dalam peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah harus mementingkan kerjasama dengan tenaga kependidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan. Sebagai manajer kepala sekolah harus mau mendayagunakan seluruh seluruh sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi dan mencapai tujuan. Kepala sekolah harus mampu bekerja melalui orang lain / wakil-wakilnya. Kedua, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatan profesinya, sebagai manajer kepala sekolah harus meningkatkan profesi secara persuasif dan dari hati ke hati. Kepala sekolah harus bersikap demokratis dan memberi kesempatan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensinya. Ketiga, mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan, dimaksudkan bahwa kepala harus berusaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (pastisipatif). Dalam hal ini kepala sekolah bisa berpedoman pada asas tujuan, keunggulan, mufakat, persatuan, empiris, keakraban, dan asas integritas (E.Mulyasa, 2007: 103). Tugas dan tanggung jawab kepala madrasah adalah merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengkoordinasikan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan madrasah, yang meliputi bidang proses belajar mengajar, peningkatan dan pengembangan profesionalisme
  • 20.
    23 guru, administrasi kantor,administrasi siswa, administrasi pegawai, administrasi perlengkapan, administrasi keuangan, administrasi perpustakaan, dan administrasi hubungan masyarakat (Burhanudin, 1994: 29). Oleh sebab itu, dalam rangka mencapai tujuan organisasional, kepala madrasah pada dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan terhadap seluruh sumberdaya yang ada dan kegiatan- kegiatan yang dilakukan di sekolahnya. Adapun penjelasan mengenai unsur atau fungsi/kegiatan dari manajemen adalah sebagai berikut: 1) Perencanaan (planning) Planning atau perencanaan adalah keseluruhan proses dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (A.W. Widjaya, 1987: 33). Perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan (Sondang P. Siagian, 1992: 50). Di dalam perencanaan ini dirumuskan dan ditetapkan seluruh aktivitas lembaga yang menyangkut apa yang harus dikerjakan, mengapa dikerjakan, di mana dikerjakan, kapan akan dikerjakan, siapa yang mengerjakan dan bagaimana hal tersebut 24 dikerjakan. Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan dapat meliputi penetapan tujuan, penegakan strategi, dan pengembangan rencana untuk mengkoordinasikan kegiatan. Kepala madrasah sebagai top management di madrasah mempunyai tugas untuk membuat perencanaan, baik dalam bidang program pembelajaran dan kurikulum, guru dan kepegawaian, kesiswaan, keuangan maupun perlengkapan (Ngalim Purwanyo, 1998: 107). Dalam proses perencanaan terhadap program pendidikan yang akan dilaksanakan, khususnya dalam lembaga pendidikan Islam, maka prinsip perencanaan harus mencerminkan terhadap nilai-nilai Islami yang bersumberkan pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dalam hal perencanaan, al-Qur'an mengajarkan kepada manusia dalam surat al- Hajj ayat 77 yang berbunyi: … Artinya : … Dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapatkan keberuntungan (Al-Hajj: 77). Selain ayat tersebut, terdapat pula ayat yang menganjurkan kepada para manejer untuk menentukan sikap adil dan bijaksana dalam proses perencanaan pendidikan.   Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan atau kebaikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan yang keji, mungkar dan permusuhan.
  • 21.
    25 Dia memberi pelajarankepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (An-Nahl: 90). Ayat tersebut merupakan suatu hal yang sangat prinsipil dalam proses perencanaan pendidikan, agar supaya tujuan yang ingin dicapai dapat tercapai dengan sempurna. Disamping itu pula, intisari ayat tersebut merupakan suatu “pembeda” antara manajemen secara umum dengan manajemen dalam perspektif Islam yang sarat dengan nilai. 2) Pengorganisasian (organizing) Menurut Terry sebagaimana ditulis oleh Ulbert Silalahi (2002: 170) adalah pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kelompok pekerjaan, penentuan hubungan-hubungan pekerjaan di antara mereka dan pemberian lingkungan pekerjaan yang sepatutnya. Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi manajemen yang perlu mendapatkan perhatian dari kepala madrasah. Fungsi ini perlu dilakukan untuk mewujudkan struktur organisasi madrasah, uraian tugas tiap bidang, wewenang dan tanggung jawab menjadi lebih jelas, dan penentuan sumber daya manusia dan materil yang diperlukan. Menurut Robbins, bahwa kegiatan yang dilakukan dalam pengorganisasian dapat mencakup (1) menetapkan tugas yang harus dikerjakan; (2) siapa yang mengerjakan; (3) bagaimana tugas itu 26 dikelompokkan; (4) siapa melapor ke siapa; (5) di mana keputusan itu harus diambil (Stephen R. Robbins, 2003:5). Wujud dari pelaksanaan organizing ini adalah tampaknya kesatuan yang utuh, kekompakan, kesetiakawanan dan terciptanya mekanisme yang sehat, sehingga kegiatan lancar, stabil dan mudah mencapai tujuan yang ditetapkan (Jawahir Tanthowi, 1983: 71). Proses organizing yang menekankan pentingnnya tercipta kesatuan dalam segala tindakan, dalam hal ini al-Qur'an telah menyebutkan betapa pentingnya tindakan kesatuan yang utuh, murni dan bulat dalam suatu organisasi. Firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 103: ِ ّ‫للا‬ ِ‫ْل‬‫ب‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ْ‫ا‬‫ُو‬‫م‬ ِ‫ص‬َ‫ت‬ْ‫اع‬ َ‫و‬ْ‫ا‬‫و‬ُ‫ق‬َّ‫ر‬َ‫ف‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ َ‫و‬ ً‫ا‬‫ِيع‬‫م‬َ‫ج‬ Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah (agama Allah), dan janganlah kamu bercerai berai…… (Ali- Imran: 103). Selanjutnya al-Qur'an memberikan petunjuk agar dalam suatu wadah, tempat, persaudaraan, ikatan, organisasi, kelompok, janganlah timbul pertentangan, perselisihan, percekcokan yang mengakibatkan hancurnya kesatuan, runtuhnya mekanisme kepemimpinan yang telah dibina. Firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 46: ْْ‫ُوا‬‫ع‬‫ي‬ِ‫ط‬َ‫أ‬َ‫و‬َْ ّ‫للا‬ُْ‫ه‬َ‫ل‬‫ُو‬‫س‬َ‫ر‬َ‫و‬َْ‫ل‬َ‫و‬ْْ‫وا‬ُ‫ع‬َ‫َاس‬‫ن‬َ‫ت‬ْْ‫وا‬ُ‫ل‬َ‫ش‬ْ‫ف‬َ‫ت‬َ‫ف‬َْ‫َب‬‫ه‬ْ‫َذ‬‫ت‬َ‫و‬ْْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ح‬‫ي‬ِ‫ر‬ ْْ‫ُوا‬‫ز‬ِ‫ب‬ْ‫اص‬َ‫و‬ْ‫ن‬ِ‫إ‬َْ ّ‫للا‬َْ‫ع‬َ‫م‬َْ‫ين‬ِ‫ز‬ِ‫ب‬‫ا‬‫الص‬
  • 22.
    27 Artinya : Dantaatilah Allah dan RasulNya, jangalah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar, hilang kekuatanmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al-Anfal : 46) 3) Penggerakan/pengembangan (actuating) Actuating adalah aktivitas untuk memberikan dorongan, pengarahan, dan pengaruh terhadap semua anggota kelompok agar mau bekerja secara sadar dan suka rela dalam rangka mencapai suatu tujuan yang ditetapkan sesuai dengan perencanaan dan pola organisasi. Fungsi actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan ke dalam fungsi ini adalah directing commanding, leading dan coordinating (Jawahir Tanthowi, 1983: 71). Karena tindakan actuating sebagaimana tersebut di atas, maka proses ini juga memberikan motivating, untuk memberikan penggerakan dan kesadaran terhadap dasar dari pada pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan, disertai dengan member motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan, sehingga mereka bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja dengan tekun dan baik. Bimbingan menurut Hadari Nawawi adalah memelihara, menjaga dan memajukan organisasi melalui setiap personal, baik secara structural maupun fungsional, agar setiap kegiatannya tidak terlepas dari usaha mencapai tujuan (Hadari Nawawi, 1983: 74). 28 Masalah penggerakan ini pada dasarnya berkaitan erat dengan unsure manusia sehingga keberhasilannya juga ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam berhubungan dengan para guru dan karyawannya. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan kepala madrasah dalam berkomunikasi, daya kreasi serta inisiatif yang tinggi dan mampu mendorong semangat dari para guru/karyawannya (Soewadji Lazaruth, 1984: 4). Untuk dapat menggerakkan guru agar mempunyai semangat dan gairah kerja yang tinggi, maka perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut: a) Memperlakukan para pegawai (guru) dengan sebaik-baiknya; b) Mendorong pertumbuhan dan pengembangan bakat dan kemampuan para pegawai tanpa menekan daya kreasinya; c) Menanamkan semangat para pegawai agar mau terus berusaha d) meningkatkan bakat dan kemampuannya; e) Menghargai setiap karya yang baik dan sempurna yang dihasilkan para pegawai; f) Mengusahakan adanya keadilan dan bersikap bijaksana kepada setiap pegawai tanpa pilih kasih.; g) Memberikan kesempatan yang tepat bagi pengembangan pegawainya, baik kesempatan belajar maupun biaya yang cukup untuk tujuan tersebut;
  • 23.
    29 h) Memberikan motivasiuntuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki para pegawai melalui ide, gagasan dan hasil karyanya (Nunung Chomzanah dan Atingtedjasutisna, 1994: 56). Al-Qur'an dalam hal ini telah memberikan pedoman dasar terhadap proses pembimbingan, pengarahan ataupun memberikan peringatan dalam bentuk actuating ini. Allah berfirman dalam Surat al-Kahfi Ayat 2: ِ‫م‬ ْ‫ُؤ‬‫م‬ْ‫ال‬ َ‫ر‬ِّ‫ش‬َ‫ب‬ُ‫ي‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬ُ‫د‬َّ‫ل‬ ‫ِن‬‫م‬ ً‫ا‬‫ِيد‬‫د‬َ‫ش‬ ً‫ا‬‫س‬ْ‫أ‬َ‫ب‬ َ‫ِر‬‫ذ‬‫ُن‬‫ي‬ِّ‫ل‬ ً‫ا‬‫ِّم‬‫ي‬َ‫ق‬َ‫ون‬ُ‫ل‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ِين‬‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِين‬‫ن‬ ً‫ا‬‫ن‬َ‫س‬َ‫ح‬ ً‫ا‬‫ر‬ ْ‫ج‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫ل‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ت‬‫ا‬َ‫ِح‬‫ل‬‫َّا‬‫ص‬‫ال‬ Artinya : Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal sholeh, bahwa mereka akan mendapat pahala yang baik. (Al-Kahfi: 2). Faktor membimbing dan memberikan peringatan sebagai hal penunjang demi suksesnya rencana, sebab jika hal itu diabaikan akan memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap kelangsungan suatu roda organisasi dan lain-lainnya. 4) Pengawasan/evaluasi (controlling and evaluating), Pangawasan dan evaluasi dapat diartikan sebagai salah satu kegiatan untuk mengetahui realisasi perilaku personel dalam organisasi pendidikan dan apakah tingkat pencapaian tujuan pendidikan sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian apakah perlu 30 diadakan perbaikan. Pengawasan dilakukan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan kerja sama antara guru, kepala madrasah, konselor, supervisor, dan petugas madrasah lainnya dalam institusi satuan pendidikan. Pada dasarnya ada tiga langkah yang perlu ditempuh dalam melaksanakan pengawasan, yaitu (1) menetapkan alat ukur atau standar, (2) mengadakan penilaian atau evaluasi, dan (3) mengadakan tindakan perbaikan atau koreksi dan tindak lanjut. Oleh sebab itu, kegiatan pengawasan itu dimaksudkan untuk mencegah penyimpangan dalam pelaksanaan pekerjaan, menilai proses dan hasil kegiatan dan sekaligus melakukan tindakan perbaikan (Ngalim Purwanto, 1998: 106). Menurut Onong Uchjana Efendy evaluasi adalah tahap terakhir setelah tahap-tahap penelitian, perencanaan dan penggiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi. Dalam beberapa hal, evaluasi memiliki karakteristik pengukuran dan penilaian, apakah kuantitaf atau kualitatatif. Evaluasi dalam hal ini diartikan sebagai suatu pengukuran (measurenment) atau penilaian (evaluation) terhadap suatu perencanan yang telah dilakukan oleh organisasi yang biasa dilakukan pada pertengahan, akhir bulan atau tahun. Terdapat suatu perbedaan antara pengukuran dan penilaian dalam suatu obyek dilakukan dalam suatu evaluasi (Onong Uchjana Efendy, 1993: 131). Pengukuran (measurement) adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, dan pengukuran ini bersifat kuantitatif.
  • 24.
    31 Sedangkan penilaian (evaluation)adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, dan penilaian bersifat kualitatif. Mengadakan penilaian meliputi dua langkah tersebut, yaitu mengukur dan menilai (Suharsimi Arikunto, 2001: 3). Adapun unsur-unsur pokok dalam suatu evaluasi yaitu: adanyaobyek yang mau dievaluasi, adanya tujuan pelaksanaan evaluasi, adanya alat pengukuran (standar pengukuran/ perbandingan), adanya hasil evaluasi apakah bersifat kualitatif maupun kuantitatif (M. Chabib Thoha, 1991: 3). Kualitatif artinya adalah hasil tersebut tidak bisa diukur secara statistik, melainkan diukur melalui pengalaman dan perbandingan nyata. Sedangkan kuantitatif maksudnya adalah hasil dalam suatu pelaksaanan evaluasi dapat diukur berdasarkan angka-angka atau statistik. Dari pengertian tersebut di atas, maka akan dapat diketahui mengenai tujuan dan fungsi dari evaluasi tersebut. Evaluasi dalam hal ini bertujuan untuk mengetahui implikasi suatu lembaga pendidikan terhadap publik/khalayak dalam berbagai hal. Sedangkan fungsi dari evaluasi di berbagai lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan Islam yaitu evaluasi berfungsi selektif, evaluasi berfungsi diagnostik dan evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan. Mengingat pentingnya evaluasi dalam suatu organisasi, maka Islam sebagai suatu agama yang komprensip memberikan pedoman- 32 pedoman yang dijadikan sebagai suatu prinsip dalam evaluasi. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW: ‫توزن‬ ‫أن‬ ‫قبل‬ ‫أعمالكم‬ ‫نوا‬ ‫و‬ ‫بحاسبوا‬ ‫أن‬ ‫قبل‬ ‫آنفسكم‬ ‫حاسبوا‬ Artinya: Periksalah dirimu sebellum memeriksa orang lain. Lihatlah terlebih dahulu atas kerjamu sebelum melihat atas kerja orang lain.( Al Hadits) Hadits tersebut memberikan anjuran kepada setiap pemimpin organisasi maupun para stafnya untuk tidak saling menyalahkan terhadap suatu suatu kelompok atau orang lain, melainkan berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik secara bersama-sama. Selanjutnya al-Qur'an juga menyatakan mengenai proses evaluasi dalam Surah Al-Shaf ayat 2-3:   Artinya: Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besarlah kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (Q. S. AS-Shof : 2-3). c. Pengertian Kepala Sekolah Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang member pelajaran dan murid yang menerima pelajaran (Wahjosumidjo, :83). Rahman mengungkapkan bahwa “kepala sekolah adalah seorang
  • 25.
    33 guru (jabatan fungsional)yang diangkat untuk menduduki jabatan struktural di sekolah” (Rahman. Et., al., 2006: 106). Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah adalah sorang guru yang mempunyai kemampuan untuk memimpin segala sumber daya yang ada pada suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan bersama. Jabatan kepala sekolah bila dikaitkan dengan pengertian profesional adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dalam menjalankan dan memimpin segala sumberdaya yang ada pada suatu sekolah/madrasah untuk mau bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Menjadi seorang kepala madrasah yang profesional tidaklah mudah, karena ada beberapa syarat dan kriteria (standar) yang harus dipenuhi, misalnya seorang kepala sekolah harus memenuhi standar tertentu seperti kualifikasi umum dan khusus, serta harus mempunyai kompetensi-kompetensi tertentu. Oleh sebab itu, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang standar kepala sekolah/madrasah Nomor 13 Tahun 2007. Adapun secara rinci isi Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tersebut adalah sebagai berikut: 34 1) Kualifikasi Umum: a) Memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan atau nonkependidikan pada perguruan tinggi yang terakreditasi; b) Pada waktu diangkat sebagai kepala sekolah berusia setinggi- tingginya 56 tahun; c) Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun menurut jenjang sekolah masing-masing, kecuali di Taman Kanak-kanak /Raudhatul Athfal (TK/RA) memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan d) Memiliki pangkat serendah-rendahnya III/c bagi pegawai negeri sipil (PNS) dan bagi non-PNS disetarakan dengan kepangkatan yang dikeluarkan oleh yayasan atau lembaga yang berwenang (Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah). 2) Kualifikasi Khusus menyangkut: a) Berstatus sebagai guru sesuai jenjang mana akan menjadi kepala sekolah; b) Mempunyai sertifikat pendidik sebagai guru sesuai jenjangnya; c) Mempunyai sertifikat kepala sekolah sesuai jenjangnya yang diterbitkan oleh lembaga yang ditetapkan Pemerintah.
  • 26.
    35 Sedangkan standar kompetensiyang harus dikuasai oleh kepala sekolah adalah sebagai berikut: (1) Kompetensi kepribadian; (2) Kompetensi Manajerial; (3) Kompetensi Kewirausahaan; (4) Kompetensi Supervisi; (5) Kompetensi Sosial. Adapun penjelasannya sebagai berikut: No Dimensi Kompetensi Kompetensi 1 Kepribadian 1.1 Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah 1.2 Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin 1.3 Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah 1.4 Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi 1.5 Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah 1.6 Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan 2 Manajerial 2.1 Menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai tingkatan perencanaan 2.2 Mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan 2.3 Memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumberdaya sekolah secara optimal 2.4 Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah menuju organisasipembelajar yang efektif 2.5 Menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik 2.6 Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal 2.7 Mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka pendayagunaan secara 36 optimal 2.8 Mengelola hubungan sekolah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah 2.9 Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik 2.10 Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional 2.11 Mengelola keuangan sekolah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien 2.12 Mengelola ketatausahaan sekolah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah 2.13 Mengelola unit layanan khusus sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah 2.14 Memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumberdaya sekolah secara optimal 2.15 Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah menuju organisasipembelajar yang efektif 2.16 Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya 3 Kewirausahaan 3.1 Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah 3.2 Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif 3.3 Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah 3.4 Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah 3.5 Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik 3.6 Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah
  • 27.
    37 4 Supervisi 4.1Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru 4.2 Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat 4.3 Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru 5 Sosial 5.1 Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah 5.2 Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan 5.3 Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain. Tabel 1 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tanggal 17 April 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah Melihat standar kompetensi menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional diatas khususnya pada kompetensi manajerial, menurut Akhmad Sudrajat kalau dijabarkan/dikembangkan lagi seorang kepala sekolah dituntut menguasai hal-hal sebagai berikut: 1) Mampu menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai tingkatan perencanaan, dalam hal ini seorang kepala madrasah dituntut mempunyai keahlian diantaranya adalah: a) Menguasai teori perencanaan dan seluruh kebijakan pendidikan nasional sebagai landasan dalam perencanaan sekolah, baik perencanaan strategis, perencanaan operasional, perencanaan tahunan, maupun rencana angaran pendapatan dan belanja sekolah, 38 b) Mampu menyusun rencana strategis (renstra) pengembangan sekolah berlandaskan kepada keseluruhan kebijakan pendidikan nasional, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan perencanaan strategis yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan rencara strategis baik c) Mampu menyusun rencana operasional (Renop) pengembangan sekolah berlandaskan kepada keseluruhan rencana strategis yang telah disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan perencanaan renop yang memegang teguh prinsip- prinsip penyusunan rencana operasional. d) Mampu menyusun rencana tahunan pengembangan sekolah berlandaskan kepada keseluruhan rencana operasional yang telah disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan perencanaan tahunan yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan rencana tahunan yang baik. e) Mampu menyusun rencana anggaran belanja sekolah (RAPBS) berlandaskan kepada keseluruhan rencana tahunan yang telah disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan RAPBS yang memegang teguh prinsip-prinsip penyusunan RAPBS yang baik. f) Mampu menyusun perencanaan program kegiatan berlandaskan kepada keseluruhan rencana tahunan dan RAPBS yang telah disusun, melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan
  • 28.
    39 perencanaan program kegiatanyang memegang teguh prinsip- prinsip penyusunan perencanaan program yang baik. g) Mampu menyusun proposal kegiatan melalui pendekatan, strategi, dan proses penyusunan perencanaan program kegiatan yang memegang teguh prinsip-prinsip-prinsip penyusunan proposal yang baik (Akhmad Sudrajat, 2008: 1). 2) Mampu mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan: a) Menguasai teori dan seluruh kebijakan pendidikan nasional dalam pengorganisasian kelembagaan sekolah sebagai landasan dalam mengorganisasikan kelembagaan maupun program insidental sekolah. b) Mampu mengembangkan struktur organisasi formal kelembagaan sekolah yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan melalui pendekatan, strategi, dan proses pengorganisasian yang baik. c) Mampu mengembangkan deskripsi tugas pokok dan fungsi setiap unit kerja melalui pendekatan, strategi, dan proses pengorganisasian yang baik. d) Menempatkan personalia yang sesuai dengan kebutuhan. e) Mampu mengembangan standar operasional prosedur pelaksanaan tugas pokok dan fungsi setiap unit kerja melalui pendekatan, strategi, dan proses pengorganisasian yang baik. 40 f) Mampu melakukan penempatan pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan prinsip-prinsip tepat kualifikasi, tepat jumlah, dan tepat persebaran. g) Mampu mengembangkan aneka ragam organisasi informal sekolah yang efektif dalam mendukung implementasi pengorganisasian formal sekolah dan sekaligus pemenuhan kebutuhan, minat, dan bakat perseorangan pendidikan dan tenaga kependidikan (Akhmad Sudrajat, 2008: 2). 3) Mampu memimpin guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal: a) Mampu mengkomunikasikan visi, misi, tujuan, sasaran, dan program strategis sekolah kepada keseluruhan guru dan staf. b) Mampu mengkoordinasikan guru dan staf dalam merelalisasikan keseluruhan rencana untuk mengapai visi, mengemban misi, mengapai tujuan dan sasaran sekolah. c) Mampu berkomunikasi, memberikan pengarahan penugasan, dan memotivasi guru dan staf agar melaksanakan tugas pokok dan fungsinya masing-masing sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. d) Mampu membangun kerjasama tim (team work) antar guru, antar- staf, dan antara guru dengan staf dalam memajukan sekolah. e) Mampu melengkapi guru dan staf dengan keterampilan- keterampilan profesional agar mereka mampu melihat sendiri apa
  • 29.
    41 yang perlu dilakukansesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. f) Mampu melengkapi staf dengan ketrampilan-ketrampilan agar mereka mampu melihat sendiri apa yang perlu dan diperbaharui untuk kemajuan sekolahnya. g) Mampu memimpin rapat dengan guru-guru, staf, orang tua siswa dan komite sekolah. h) Mampu melakukan pengambilan keputusan dengan menggunakan strategi yang tepat. i) Mampu menerapkan manajemen konflik (Akhmad Sudrajat, 2008: 3). 4) Mampu mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal: a) Mampu merencanakan kebutuhan guru dan staf berdasarkan rencana pengembangan sekolah. b) Mampu melaksanakan rekrutmen dan seleksi guru dan staf sesuai tingkat kewenangan yang dimiliki oleh sekolah. c) Mampu mengelola kegiatan pembinaan dan pengembangan professional guru dan staf d) Mampu melaksanakan mutasi dan promosi guru dan staf sesuai kewenangan yang dimiliki sekolah. 42 e) Mampu mengelola pemberian kesejahteraan kepada guru dan staf sesuai kewenangan dan kemampuan sekolah (Akhmad Sudrajat, 2008: 4). 2. Profesionalisme Guru Profesionalisme merupakan sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalannya (Muhammad Surya, 2007: 14). Profesionalisme adalah proses usaha menuju kearah terpenuhinya persyaratan suatu jenis model pekerjaan ideal berkemampuan, mendapat perlindungan, memiliki kode etik profesionalisasi, serta upaya perubahan struktur jabatan sehingga dapat direfleksikan model profesional sebagai jabatan elit. Sedangkan profesi itu sendiri pada hakekatnya adalah sikap bijaksana (informend responsiveness) yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilandasi oleh keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur yang mantap diiringi sikap kepribadian tertentu (Syaiful Sagala, 2002: 197). Menurut Volmer dan Mills (1996) dalam Sagala bahwa pada dasarnya profesi adalah sebagai suatu spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training, bertujuan mensuplay ketrampilan melalui pelayanan dan bimbingan pada orang lain untuk mendapatkan bayaran (fee) atau gaji. Dalam perspektif sosiologi, bahwa profesi itu sesungguhnya suatu jenis model atau tipe pekerjaan ideal,
  • 30.
    43 karena dalam realitasnyabukanlah hal yang mudah untuk mewujudkannya (Syaiful Sagala, 2002: 195). Kusnandar mengemukakan bahwa “profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang” (Kusnandar, 2007: 46). Sudarwan Danim mendefinisikan profesionalisme adalah komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya itu (Sudarwan Danim, 2002: 23). Profesionalisme dapat diartikan sebagai konsep mengenai bidang pekerjaan, yaitu pandangan yang menganggap bidang pekerjaan sebagai suatu pengabdian melalui keahlian tertentu dan menganggap keahlian ini sebagai suatu yang harus diperbaharui secara terus-menerus dengan memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan. Selanjutnya sebagai profesi, seorang profesional juga harus memiliki etos kerja yang maju, antara lain dapat bekerja dengan hasil kualitas yang unggul, tepat waktu, disiplin, sungguh-sungguh, cermat, teliti, sistematik, dan berpedoman pada dasar keilmuan tertentu (Abuddin Nata, 2001: 139). Seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntunan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntunan profesinya. Seseorang profesional akan terus 44 menerus meningkatkan mutu karyanya secara sadar, melalui pendidikan dan pelatihan (H.A.R. Tilaar , 2002: 86). Ada tiga kriteria suatu pekerjaan dikatakan profesional; 1) Pengabdian, yaitu untuk memberikan pelayanan tertentu kepada masyarakat dengan beberapa pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, 2) Idealisme, yaitu tercakup pengetian pengabdian pada suatu yang luhur dan idealis, 3) Pengembangan, yaitu, menyempurnakan prosedur kerja yang mendasari pengabdiannya secara terus-menerus. Berdasarkan uraian tersebut, tingkat profesionalisme dapat diketahui melalui tiga hal : 1) apakah dalam bidang pekerjaan itu terdapat unsur- unsur pengabdian dalam kadar yang memadai, 2) apakah kegiatan- kegiatan yang dilakukan dalam bidang pekerjaan itu merupakan kegiatan- kegiatan yang bertumpu pada temuan dan wawasan akademik, 3) apakah prosedur kerja yang dipergunakan dalam bidang pekerjaan tersebut merupakan prosedur kerja yang terus menerus mendapat pembaruan. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan belajar-mengajar. Dengan kata lain, untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional mengajar guru. Sebutan guru dapat menunjukkan suatu profesi atau jabatan fungsional dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, atau seseorang
  • 31.
    45 yang menduduki danmelaksanakan tugas dalam bidang pendidikan dan pembelajaran. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia Pasal 39 ayat 3 dinyatakan bahwa pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru. Sementara itu, tugas guru sebagaimana disebutkan dalam Pasal 39 ayat 2 adalah merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 20 Tahun 2003). Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Hal ini berarti bahwa selain mengajar atau proses pembelajaran, guru juga mempunyai tugas melaksanakan pembimbingan maupun pelatihan pelatihan bahkan perlu melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sekitar. Guru sebagai jabatan profesional, paling tidak ada tiga hal yang harus dikuasai, yaitu: Pertama, harus menguasai bidang keilmuan, pengetahuan dan keterampilan yang akan diajarkan kepada murid. Sebagai guru yang profesional, ilmu pengetahuan dan keterampilannya itu harus terus ditambah dan dikembangkan dengan melakukan kegiatan penelitian, baik 46 penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan, penelusuran karya ilmiah dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru kepada para siswanya akan tetap up to date, aktual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga peserta didik akan mengetahui tentang hal-hal yang baru dan actual dalam kehidupannya. Kedua, seorang guru professional harus memiliki kemampuan menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya secara efisien dan efektif. Untuk itu, sebagai seorang guru yang profesional harus mempelajari ilmu keguruan dan ilmu pendidikan secara mendalam, terutama yang berkaitan dengan didaktik dan metodik serta metodologi pembelajaran yang didukung oleh pengetahuan di bidang psikologi anak atau psikologi pendidikan. Ketiga, sebagai guru yang profesional, guru harus memiliki kepribadian dan budi pekerti yang mulia yang dapat mendorong para siswa untuk mengamalkan ilmu yang diajarkannya dan agar para guru dapat dijadikan sebagai panutan (Abudin Nata, 2001: 139-140). Seorang pekerja profesional misalnya guru akan menampakkan adanya ketrampilan teknis yang didukung oleh sikap kepribadian tertentu karena dilandasi oleh pedoman-pedoman tingkah laku khusus (kode etik) yang mempersatukan mereka dalam satu korps profesi. Pendidikan yang baik sebagaimana yang diharapkan modern dewasa ini dan sifatnya yang selalu menantang, adalah model pendidikan yang mengharuskan tenaga
  • 32.
    47 kependidikan dan guruyang berkualitas dan profesional. Setidaknya ada 7 (tujuh) ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru yaitu: 1) Guru bekerja semata-mata hanya memberi pelayanan kemanusiaan bukan usaha untuk kepentingan pribadi 2) Guru secara hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota profesi keguruan. 3) Guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi. 4) Guru dalam organisasi profesional memiliki publikasi yang dapat melayani para guru sehingga tidak ketinggalan bahkan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. 5) Guru selalu diusahakan mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar, konvensi dan terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service training. 6) Guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karir hidup (a live carier). 7) Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun secara local (Oteng Sutisna, 1983: 78). Guru sebagai jabatan profesional dituntut mempunyai beberapa kompetensi, dalam hal ini pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Tentang Standar Nasional Pendidikan Nomor 19 Tahun 2005 diantaranya adalah: 48 a. Kompetensi Pedagogik Yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengemambangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (PP. Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan). Seorang guru harus mampu mengelola proses pembelajaran dengan sebaik mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, disamping itu seorang guru juga harus mampu memahami karakteristik peserta didik, baik itu dari segi kecerdasan, kreatifitas, kondisi fisik, maupun perkembangan kognitifnya. b. Kompetensi Kepribadian Adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia (PP. Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan). Kompetensi kepribadian seorang guru sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses pembentukan pribadinya. Kompetensi kepribadian sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi para peserta didik. Kompetensi ini memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian
  • 33.
    49 anak, guna menyiapkandan mengembangkan sumberdaya manusia (E. Mulyasa, 2003: 117). c. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang diterapkan dalam Standar Nasional Pendidikan. Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas utamanya yaitu mengajar. Adapun ruang lingkup kompetensi profesional guru adalah: a) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik secara filosofi, psikologis, maupun sosiologis b) Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik. c) Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya. d) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi. e) Mempu mengembangkan pembelajaran yang bervariasi f) Mampu mengembangkan dan menggunakan alat, media, dan sumber belajar yang relevan g) Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran (Martinis Yamin, 2006: 35). 50 d. Kompetensi Sosial Adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Peningkatan profesionalisme guru adalah upaya membantu pendidik yang belum matang menjadi matang, yang tidak mampu mengelola sendiri menjadi mampu mengelola sendiri, yang belum memenuhi kualifikasi, yang belum terakreditasi menajadi terakreditasi (Ibrahim Bafadal, 2003: 44). Selain itu peningkatan profesionalisme guru diartikan sebagai upaya membantu pendidik yang belum profesional menjadi profesional. Peningkatan profesional pendidikan diartikan usaha untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan mengajar, dan menumbuhkan sikap profesional sehingga para guru menjadi ahli dalam mengelola kegiatan belajar mengajar untuk membelajarkan peserta didik (Depdikbud RI, 1994: 12). Guru yang profesional adalah pendidik yang memiliki visi yang tepat dan berbagai inovatif yang mandiri.88 Visi dapat diartikan sebagai pandangan sehingga guru harus memiliki pandangan yang benar tentang pembelajaran yaitu: (a) kualitas guru terletak pada kualitas pembelajarannya, (b) pembelajaran memerlukan proses yang terus menerus berkembang, dan (c) pendidik sebagai sebuah pengabdian.
  • 34.
    51 Apabila visi diartikansebagai sesuatu yang dinamis yaitu sebagai harapan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang. Proses peningkatan kemampuan profesional guru ada dua macam, yaitu: 1) Pembinaan kemampuan guru melalui supervisi pendidikan, program sertifikasi dan tugas belajar 2) Pembinaan komitmen atau motivasi atau moral kerja pendidik/guru melalui pembinaan kesejahteraannya seperti penataran, bimbingan, latihan, kursus, pendidikan formal, promosi, rotasi jabatan, konferensi, rapat kerja, lakakarya, seminar, diskusi dan studi kasus (Ibrahim Bafadal, 2003: 44). Adapun langkah-langkah yang sistematis untuk program peningkatan kemampuan profesionalisme guru sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalah- masalah yang sering kali dimiliki atau dialami pendidik/guru. 2) Menetapkan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan, kelemahan, kesulitan, atau masalah-masalah yang seringkali dimiliki atau dialami guru. 3) Merumuskan tujuan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru yang diharapkan dapat dicapai pada akhir program pengembangan. 4) Menetapkan serta merancang materi, metode dan media yang akan digunakan dalam peningkatan profesionalisme guru. 52 5) Menetapkan bentuk dan pengembangan instrumen penilaian yang akan dikenakan dalam mengukur keberhasilan program peningkatan profesionalisme guru. 6) Menyusun dan mengalokasikan anggaran program peningkatan kemampuan profesionalisme guru. 7) Melaksanakan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru dengan materi, metode, dan media yang telah ditetapkan dan dirancang. 8) Mengukur keberhasilan program peningkatan kemampuan profesionalisme guru. 9) Menetapkan program tindak lanjut program peningkatan kemampuan pendidik (Ibrahim Bafadal, 2003: 45). Adapun program/strategi yang dapat ditempuh oleh kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme adalah sebagai beikut: 1. Pendidikan dan Pelatihan (inservice training/up grading) Dalam bahasa Indonesia sering disebut pendidikan dalam jabatan. Istilah lain yang juga dipergunakan adalah up-grading atau penataran dan inservice training education yang pada dasarnya mempunyai maksud yang sama. Inservice training diberikan kepada guru-guru yang dipandang perlu meningkatkan keterampilannya atau pengetahuannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pendidikan. Seorang guru pada dasarnya sudah dipersiapkan melalui lembaga pendidikan guru sebelum terjun ke dalam jabatannya. Pendidikan persiapan itu disebut pre-service education. Diantara
  • 35.
    53 mereka banyak yangsudah cukup lama meninggalkan pre-service education dan bertugas di lingkungan yang tidak memungkinkan untuk mengikuti berbagai perkembangan dan kemajuan (Hadari Nawawi, 1988: 111). Di samping itu banyak pula dari mereka yang memang tidak berusaha untuk berkembang di dalam meningkatkan kemampuan sebagai guru atau pendidik dan tenggelam dalam kegiatan mengajar secara rutin. Untuk mengejar ketinggalan itu agar guru selalu up-date, actual dan sesuai dengan harapan masyarakat, dalam menjalankan tugas-tugasnya diperlukan inservice training secara terarah dan berencana. Sejalan dengan uraian di atas, inservice training dapat diartikan sebagai usaha meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang tertentu sesuai dengan tugasnya, agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam melakukan tugas-tugas tersebut. Menurut Ngalim Purwanto (1998: 68), inservice training adalah segala kegiatan yang diberikan dan diterima oleh para petugas pendidikan yang bertujuan untuk menambah dan mempertinggi mutu pengetahuan, kecakapan dan pengalaman guru-guru atau petugas pendidikan lainnya, dalam menjalankan tugas kewajibannya. Sebab-sebab perlunya inservice training, disamping pendidikan persiapan (pre service training) yang kurang mencukupi, juga banyak guru-guru yang telah keluar dari sekolah guru tidak pernah atau tidak menambah pengetahuan mereka, sehingga menyebabkan cara kerja 54 mereka yang tidak berubah-ubah. Mereka tidak mengetahui dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial, budaya, tekhnologi yang ada pada masyarakat. Program inservice training dapat melingkupi berbagai kegiatan seperti mengadakan aplikasi kursus, ceramah-ceramah, work shop, pelatihan, seminar-seminar, mempelajari kurikulum, survey masyarakat, kunjungan ke obyek-obyek tertentu, demonstrasi- demonstrasi mengajarmenurut metode-metode yang baru, fieldtrip, kunjungan-kunjungan ke sekolah-sekolah di luar daerah dan persiapan- persiapan khusus untuk tugas-tugas baru. Dari beberapa ulasan tersebut di atas, maka dapat diketahui bahwa inservice training merupakan sarana/program/strategi untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih maju dan upaya pengembangan skill guru dalam proses pembelajaran yang mengarah pada profesionalitas individu (A. Usmara (ed), 2002: 162). Agar supaya inservice training berhasil dalam upaya peningkatan mutu guru, maka guru-guru harus diberi kekuasaan lebih besar untuk bertindak sesuai dengan apa yang mereka inginkan dengan didasarkan pada komitmen untuk mengembangkan budaya mutu bagi sekolah. 2. Sertifikasi guru Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia, Oleh sebab itu,
  • 36.
    55 diperlukan guru yangmemiliki kemampuan yang maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara berkesinambungan mereka dapat meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun profesional. Untuk menguji kompetensi tersebut, pemerintah menerapkan sertifikasi bagi guru khususnya guru dalam jabatan. Penilaian sertifikasi dilakukan secara portofolio. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen). Adapun tujuan diadakannya sertifikasi guru adalah sebagai berikut: a) Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran b) Meningkatkan profesionalisme guru c) Mengangkat harkat dan martabat guru Sedangkan manfaat diadakannya sertifikasi guru adalah melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru. 3. Supervisi Pendidikan Supervisi menurut Burton dalam Sagala adalah upaya bantuan yang diberikan kepada guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya 56 agar guru mampu membantu para siswa dalam belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya (Saiful Sagala, 2008: 230). Supervisi sebagai bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Secara general supervisi dapat dimaknai atas dasar keseluruhan aktivitasnya yang dilakukan secara individu maupun kelompok sesuai dengan tujuan masing-masing terhadap personel, kelompok ataupun terhadap suatu program dalam berbagai bidang kependidikan (Richard A. Gorton, 1977: 207). Adapun rangkaian kegiatan supervise pendidikan dapat dikelompokkan empat tahap kegiatan sebagai berikut: a) Penelitian terhadap keadaan guru/orang yang disupervisi dalam menjalankan tugas-tugasnya. b) Penilaian (evaluation) yakni penafsiran tentang keadaan guru atau orang yang disupervisi, baik mengenai kekurangan atau kelemahan- kelemahannya, berdasarkan data hasil penelitian. c) Perbaikan (improvement) yakni memberikan bimbingan dan petunjuk untuk mengatasi kekurangan atau kelemahan guru, serta mendorong pengembangan kebaikan-kebaikan atau kelebihan setiap guru yang disupervisi. Usaha mengatasi kesulitan dan kelemahan itu harus dilakukan oleh guru yang bersangkutan. d) Pembinaan yakni kegiatan menumbuhkan sikap yang positif pada guru atau orang yang disupervisi agar mampu menilai diri sendiri
  • 37.
    57 dan berusaha memperbaikiatau mengembangkan diri sendiri ke arah terbentuknya keterampilan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang selalu up to date, aktual dan sesuai dengan tuntutan masyarakat dan globalisasi (Hadari Nawawi, : 112-113). Adapun teknik pelaksanaan supervisi yang dapat diambil oleh seorang supervisor sesuai dengan kebutuhan, antara lain adalah dengan melalui rapat dan kunjungan kelas (M. Daryanto, 2001: 185-187). Menurut Mulyasa teknik pelaksanaan supervisi menjadi 4 hal pokok, yaitu: a) Diskusi kelompok, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan bersama guna memecahkan berbagai masalah di sekolah dalam mencapai suatu keputusan. b) Kunjungan kelas, yaitu salah satu teknik untuk mengamati kegiatan pembelajaran secara langsung, sehingga mengetahui segala hal yang berkenaan dengan pembelajaran secara langsung di lapangan, hal ini bisa diberitahukan sebelumnya atau juga bisa tidak dalam artian mendadak. c) Pembicaraan individual, yaitu teknik bimbingan dan konseling yang sangat efektif guna mencapai profesionalitas para guru dan memecahkan berbagai masalah terutama yang berkenaan dengan pribadi para tenaga pengajar. d) Simulasi pembelajaran, yaitu teknik supervisi yang berbentuk demontrasi pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah sehingga 58 guru dapat menganalisa penampilan yang diamati sebagai introspeksi diri. Adapun pendekatan dalam melakukan supervisi pendidikan yaitu ada dua, supervisi secara langsung (klinikal/direct) dan supervisi umum (non direct) (E. Mulyasa, 2003: 111-112). 4. Tugas belajar/studi lanjut Tugas belajar atau studi lanjut merupakan pendidikan lanjutan bagi guru kejenjang pendidikan yang lebih tinggi baik magister dan doctoral agar kualifikasi akademiknya bertambah meningkat dan sesuai dengan standar/undang-undang yang ditetapkan oleh pemerintah ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam program tugas belajar: a) Meningkatkan kualifikasi formal guru sehingga sesuai dengan peraturan kepegawaian yang berlaku secara nasional. b) Meningkatkan kemapuan profesional para guru dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan. c) Menumbuhkembangkan motivasi para pegawai/guru daam rangka meningkatkan kinerjanya (Ibrahim Bafadal, : 56). Adapun sifat tugas belajar diberikan secara selektif, mengikat dan waktu penyelesaian studi terbatas. Artinya hanya mereka yang memenuhi persaratan tertentu yang dapat mengikuti program tugas belajar, seteleh selesai mengikuti pendidikan, peserta tugas belajar harus kembali melanjutkan tugas di instansi asal kecuali ada ketentuan lain, dan
  • 38.
    59 maksimal studi 30bulan (5 semester) di luar negeri atau 24 bulan (4 semester) di dalam negeri (Iif Khoiru Ahmadi, : 24). 5. Penyediaan Fasilitas Penunjang (peningkatan layanan Perpustakaan dan penambahan koleksi) Dalam paradigma manajemen pendidikan, pengelolaan fasilitas yang mencakup pengadaan, pemeliharaan, perbaikan, dan pengembangan merupakan kewenangan sekolah, karena sekolah yang paling mengetahui secara pasti fasilitas yang paling diperlukan dalam operasional sekolah, terutama fasilitas pembelajaran seperti perpustakaan, sambungan internet untuk memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dan kemudahan bagi guru untuk memperkaya wawasan dan disiplin ilmu sesuai dengan bidang studinya masing-masing. Menurut Mulyasa salah satu sarana peningkatan profesionalisme guru adalah tersedianya buku yang dapat kegiatan belajar. Sangat sulit rasanya meningkatkan profesionalisme guru jika tidak ditunjang oleh sumber belajar yang memadai. Pengadaan buku pustaka diarahkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran serta memenuhi kebutuhan peserta didik dan guru akan materi pembelajaran (E.Mulyasa, 2007: 82). Berdasarkan pendapat Mulyasa tersebut, kepala sekolah harus memperhatikan penyediaan sarana dan prasarana penunjang tersebut agar para guru bertambah wawasan dan mendapatkan sumber belajar yang banyak serta memadai, sehingga akan berdampak terhadap kualitas pembelajaran di sekolah. 60 6. Peningkatan Kesejahteraan Guru Kesejahteraan guru tidak dapat diabaikan, karena merupakan salahnsatu faktor penentu dalam peningkatan kinerja yang secara langsung berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Peningkatan kesejahteraan guru dapat dilakukan antara lain pemberian insentif di luar gaji, imbalan dan penghargaan, serta tunjangan yang dapat meningkatkan kinerja guru (E.Mulyasa, 2007: 78). Seorang kepala sekolah seyogyannya harus memperhatikan kesejahteraan guru, agar guru tidak lagi direpotkan dengan mencari penghasilan tambahan guna membiayai hidup keluarga mereka. Dengan memberikan tunjangan kesejahteraan guru yang memadai, kinerja guru akan meningkat dan akan berpengaruh terhadap kualitas kinerja dan keprofesionalan guru di sekolah. 7. Revitalisasi organisasi profesi kependidikan Organisasi profesi pendidikan seperti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), kelompok kerja guru (KKG) dan kelompok kerja madrasah merupakan wadah yang sangat bermanfaat bagi peningkatan profesionalisme guru di sekolah (E. Mulyasa, 2007: 70). Menurut Mulyasa, dengan MGMP, dan KKG dapat dipikirkan begaimana menyiasati padatnya kurikulum, memecahkan persoalan dan masalah yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran, dan mencari alternatif pembelajaran yang tepat serta dapat menemukan berbagai variasi metode dan media pembelajaran. Dengan mengefektifkan MGMP, dan
  • 39.
    61 KKG, semua kesulitandan permasalahan yang dihadapi guru dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran dapat dipecahkan, dan diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan (E. Mulyasa, 2007: 70). 3. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penerapan Unsur-Unsur Manajemen Setelah disahkannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah (OTODA) kemudian ditindak lanjuti dengan PP. Nomor 25 tahun 2000, kemudian disempurnakan dengan UU nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang berimplikasi terhadap otonomisasi pendidikan, sekolah mempunyai wewenang yang sangat besar untuk mengatur dan mengelola sekolahnya sendiri. Otonomi yang lebih besar dari institusi sekolah ini menuntut adanya kemauan dan kemampuan seluruh personel sekolah yang lebih berkualitas. Hal ini berkaitan erat dengan implementasi berbagai prinsip dan paradigma baru manajemen pendidikan, yang perlu diperhatikan seperti transparansi, akuntabilitas, fleksibilitas, efektivitas dan efisiensi, partisipasi seluruh warga dan stakeholders, penyederhanaan birokrasi, dan penyaluran aspirasi dengan sistem bottom up, serta penerapan manajemen terbuka (open management). Oleh sebab itu, kedudukan kepala madrasah sangat penting dan strategis dalam mengelola dan mencapai tujuan institusi sekolah yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan kepala sekolah sebagai pemimpin puncak (top leader) di sekolah mempunyai otoritas penuh untuk mengelola sekolah dan sekaligus 62 bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah yang bersangkutan. Namun demikian, bukan berarti komponen lain yang terkait di sekolah diabaikan, melainkan sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan dalam upaya mencapai fungsi tertentu sebagaimana diharapkan. Dengan demikian, dalam kerangka pelaksanaan otonomisasi pendidikan khususnya di sekolah, paling tidak ada dua hal penting yang perlu mendapatkan perhatian secara signifikan, yaitu kompetensi manajerial kepala sekolah dan peningkatan profesionalisme para guru. Kompetensi manajerial kepala sekolah merupakan kecakapan (skill) yang dimiliki oleh seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pengelolaan terhadap seluruh sumber daya yang ada di madrasahnya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditatapkan. Kompetensi manajerial kepala sekolah ini erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawabnya di sekolah. Tugas dan tanggung jawab kepala madrasah tersebut dapat mencakup implementasi kegiatan atau pelaksanaan fungsi-fungsi manajerial, mulai dari perencanaan, pembinaan, pengembangan, hingga evaluasi terhadap seluruh bidang garapan lembaga madrasah yang bersangkutan. Bidang garapan lembaga pendidikan di madrasah meliputi bidang kesiswaan, personalia, keuangan, ketatalaksanaan, kurikulum, hubungan sekolah dan masyarakat, dan unit-unit penunjang lainnya yang ada di sekolah tersebut seperti unit kantin, poliklinik, asrama siswa, koperasi, dan lain-lain. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung
  • 40.
    63 jawab tersebut, kepalamadrasah dituntut menguasai sejumlah kecakapan atau kompetensi manajerial. Secara spesifik kompetensi kepala sekolah tingkat SMP/MTs dalam bidang pengelolaan tenaga kependidikan adalah sebagai berikut: a) Mengidentifikasi karakteristik tenaga kependidikan yang efektif b) Merencanakan tenaga kependidikan sekolah (permintaan, persediaan, dan kesenjangan) c) Merekrut, menyeleksi, menempatkan, dan mengorientasikan tenaga kependidikan baru d) Mengembangkan profesionalisme tenaga kependidikan e) Memanfaatkan dan memelihara tenaga kependidikan f) Menilai kinerja tenaga kependidikan g) Mengembangkan sistem pengupahan, reward, dan punishment yang mampu menjamin kepastian dan keadilan h) Melaksanakan dan mengembangkan sistem pembinaan karir i) Memotivasi tenaga kependidikan j) Membina hubungan kerja yang harmonis k) Memelihara dokumentasi personel sekolah atau mengelola administrasi personel sekolah l) Mengelola konflik m) Melakukan analisis jabatan dan menyusun uraian jabatan tenaga kependidikan 64 n) Memiliki apresiasi, empati, dan simpati terhadap tenaga kependidikan (Depdiknas). Melihat kompetensi kepala madrasah diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa meningkatnya profesionalisme guru sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala madrasah dalam mengelola tenaga kependidikan. Dalam hal ini peningkatan produktifitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan profesionalisme guru di madrasah melalui aplikasi beberapa konsep dan teknik manajemen sumberdaya manusia. Manajemen sumberdaya manusia merupakan bagian dari ilmu manajemen yang memfokuskan perhatiannya pada pengaturan peranan sumberdaya manusia dalam kegiatan suatu organisasi (Tjutju Yuniarsih dan Suwatno, 2008: 1). Adapun langkah-langkah peningkatan profesionalisme guru yang dapat dilakukan oleh kepala madrasah melalui aplikasi unsur/fungsi dari manajemen sumberdaya manusia adalah sebagai berikut: a. Perencanaan Peningkatan Profesionalisme Guru Perencanaan peningakatan profesionalisme guru/tenaga kerja merupakan operasi dari manajemen sumber daya manusia. Perencanaan sumber daya manusia (human resource planning) merupakan bagian dari alur proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumber daya organisasi (sekolah), dari posisi saat ini menuju posisi yang diinginkan di masa depan.
  • 41.
    65 Perencanaan ketenagaan/guru adalahproses kegiatan penentuan kebijaksanaan dan perkiraan jumlah kebutuhan personalia untuk jangka waktu tertentu menurut bidang-bidang kegiatan yang terdapat dalam suatu organisasi. Perencanaan personalia dalam hal ini guru adalah meliputi jumlah dan jenis keahlian atau keterampilan orang, ditempatkan pada pekerjaan yang tepat, pada waktu tertentu yang dalam jangka panjang akan memberi keuntungan bagi individu dan organisasi (Made Pidarta,1988: 120). Perencanaan merupakan langkah awal yang dilakukan dalam proses manajemen sumberdaya manusia, yaitu dengan menyusun rancangan sekitar guru sekolah. Perencanaan guru menyangkut penetapan jumlah dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan semua program kerja dalam rangka mencapai visi, misi, dan tujuan madrasah. Dalam hal ini dirancang atas dasar job analysis, job discription, job spesification, dan job evaluation (Tjutju Yuniarsih dan Suwatno, 2008: 82). Adapun hal-hal yang harus diperhatikan oleh kepala sekolah sebagai manajer dalam proses perencanaan guru antara lain: 1) berapa jumlah tenaga yang dibutuhkan oleh madrasah, 2) berapa macam keterampilan yang dibutuhkan dan dan berapa orang yang dibutuhkan pada setiap jenis keahlian, dan 3) upaya menempatkan mereka pada 66 pekerjaan yang tepat untuk jangka waktu tertentu (Tjutju Yuniarsih dan Suwatno, 2008: 82). Dalam merencanakan profesionalisme guru, para pengambil kebijakan (policy makers) dalam hal ini kepala sekolah menurut Udin Syaifudin Sa’ud harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru harus berorientasi masa depan, karena pendidikan adalah proses jangka panjang dan jauh untuk menghadapi masa depan b) Perencanaan peningkatan profesionalisme harus selalu memperhatikan masalah, kebutuhan (analisis kebutuhan/need assesment), situasi, dan tujuan (visi dan misi sekolah) c) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru harus bersifat inovatif, kuantitatif dan kualitatif. d) Perencanaan peningkatan profesionalisme harus kenyal dan responsive terhadap kebutuhan yang berkembang dimasyarakat (dinamis dan kontinyu) (Udin Syaifudin Sa’ud, dkk, 2007: 12). Perencanaan Tenaga kependidikan merupakan kegiatan untuk menentukan kebutuhan tenaga kependidikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk sekarang dan masa depan. Penyusunan tenaga pendidikan yang baik dan tepat memerlukan informasi yang lengkap dan jelas tentang pekerjaan atau tugas yang harus dilakukan dalam setiap lembaga pendidikan.
  • 42.
    67 Oleh karena itusebelum menyusun rencana, perlu dilakukan analisis pekerjaan (job analysis), dan analisis jabatan untuk memperoleh diskripsi pekerjaan (gambaran tentang tugas dan pekerjaan yang harus dilaksanakan). Informasi tersebut sangat membantu dalam menentukan jumlah tenaga kependidikan yang di butuhkan, dan juga akan menghasilkan spesifikasi pekerjaan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan zaman. Spesifikasi jabatan ini memberikan gambaran tentang kualitas minimum calon tenaga kependidikan (guru) yang dapat diterima dan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan sebagaimana mestinya (E. Mulyasa, :152). Adapun mengenai tahapan-tahapan perencanaan sumberdaya guru merujuk pendapatnya Schuler (1987: 62-78) dapat disimpulkan empat tahapan proses perencanaan yaitu: Tahap pertama, gathering, analyzing, and forecasting supply and demand data. Pada tahap ini dilakukan sejumlah aktifitas untuk mengumpulkan, menginvestigasi, menganalisis, dan memprediksi kebutuhan data untuk menetapkan supply dan demand. Sumber data bisa berasal dari lingkungan internal dan eksternal, yang digali dari pengalaman masa lalu, pengamatan masa kini, dan prediksi kebutuhan masa depan. Tahap kedua, Estabilishing, human resource objective and policies. Penetapan tujuan dan kebijakan sumberdaya manusia/guru 68 harus berlandaskan tujuan dan kebijakan corporate yang jelas. Tujuan utama penetapan kebijakan dalam perencanaan sumberdaya manusia/guru adalah merancang kebutuhan jumlah dan kualifikasi yang handal dan memilliki kompetensi professional untuk mendukung tercapainya sasaran corporate/sekolah. Tahap ketiga, human resource programming. Pada tahap ini dirancang mekanisme dan prosedur manajemen sumberdaya manusia/guru yang dapat diimplementasikan dengan baik, terutama dalam meningkatkan daya tawar bagi rekrutmen yang qualified. Kegiatan meliputi penyusunan program yang berkaitan dengan hal-hal berikut: program pengadaan guru baru (mulai dari proses rekrutmen, seleksi, sampai pada penempatan), program perancangan kompensasi, pemberdayaan, pengembangan yang optimal (melalui pendidikan, pelatihan). Tahap keempat, human resource planning-controll and evaluation. Pada tahap ini, kegiatan lebih difokuskan untuk mengawasi dan mengevaluasi implementasi program-program manajemen guru yang sedang berjalan agar tetap pada jalurnya (on the right track). Berdasarkan hasil evaluasi dapat diketahui kondisi obyektif SDM organisasi yang kemudian dimanfaatkan sebagai feedback untuk merevisi kebijakan, disamping itu hasil evaluasi dapat digunakan sebagai basis feedforward, khususnya untuk menyusun perencanaan
  • 43.
    69 selanjutnya di masayang akan dating (Randall S. Schuler, 1987: 62- 78). Secara skematik, dasar pertimbangan dan proses perencanaan sumberdaya guru di madrasah dapat diilustrasikan dalam diagram berikut: Gambar 2 Diagram Perencanaan Sumberdaya manusia/guru di sekolah Gambar 3 Proses Perencanaan Sumberdaya manusia/guru di Sekolah Keadaan pegawai saat ini: • Jumlah guru • Tingkat kompetensi guru Keadaan Sekolah: • Visi, Misi, dan Tujuan • Sarpras • Dukungan sumber daya Lainnya Kebutuhan masa yang akan datang, terkait dengan: • Kualifikasi • Jumlah • Perkembangan (kelas & teknologi) Perencanaan Profesionalisme Guru Pengadaan: Rekrutmen, seleksi, penempatan Visi Sekolah Misi Sekolah Tujuan Sekolah Memotret Profil Guru yang Ada Kebutuhan (Demand) Analisa S & D Penawaran (Supply) Kebutuhan Berlebih Penawaran Berlebih Prekrutan Dekrutmen 70 Pengadaan tenaga kependidikan merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan pada suatu lembaga pendidikan, baik jumlah maupun kualitasnya. Untuk mendapatkan tenaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan maka dilakukan kegiatan rekrutmen (E.Mulyasa, 2007: 153). Pengadaan ketenagaan adalah usaha yang dilakukan untuk mengisi jabatan tertentu yang masih kosong, baik akibat pembentukan unit baru yang menyebabkan timbulnya kegiatan yang memerlukan pelaksana-pelaksana, maupun sebagai akibat terjadinya mutasi atau pergantian pegawai mulai dari penerimaan, pengangkatan, dan penempatan yang selanjutnya masih dapat diperinci lagi menjadi langkah-langkah pengadaan yang lebih detail. Rumusan yang lebih teknis dan menurut pedoman umum administrasi kepegawaian dan lingkungan departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) sebagai berikut: “pengadaan pegawai adalah proses kegiatan yang mengisi formasi yang lowong mulai perencanaan, pengumuman pelamaran, penyaringan sampai dengan pengangkatan menjadi pegawai negeri” (E.Mulyasa, 2007: 153). Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan mengenai pengadaan guru, yaitu: analisis jabatan, sumber-sumber tenaga kerja dan seleksi. George R. Terry sebagaimana dikutip oleh Slamet mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan analisis jabatan adalah
  • 44.
    71 proses penyelidikan secaramendalam mengenai tugas, kewajiban dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Analisis jabatan ini diperlukan untuk: a) memperoleh gambaran mengenai segala macam karakteristik, fisik, mental, pendidikan, pengetahuan dan pengalaman yang harus dimiliki oleh seorang untuk menjalankan suatu jabatan dengan baik. b) menyusun rencana pendidikan dan latihan yang perlu dilakukan dalam mengajarkan suatu pekerjaan pada pegawai baru. c) memperoleh informasi unuk menilai jabatan, memperbaiki syarat- syarat pekerjaan, merencanakan organisasi, pemindahan, dan promosi (Slamet Saksono: 1997: 49-52). Menurut Mulyasa (2007: 129), Seleksi dapat dilakukan dengan cara: a) Persiapan menerima para pelamar yang akan mengikuti seleksi b) Menyelenggarakan berbagai macam tes c) Wawancara d) Penelitian latar belakang pelamar e) Evaluasi medis f) Penelitian pendahuluan tentang kecakapan, pengetahuan, dan keterampilanpelamar. g) Pengambilan keputusan, apakah lamaran diterima atau ditolak. 72 h) Dan harus berdasarkan mutu, dan sejalan dengan semangat otonomi daerah, dan desentralisasi pendidikan. b. Pengembangan Profesionalisme Guru Yang dimaksud dengan pengembangan ketenagaan adalah usaha- usaha untuk meningkatkan mutu serta efisiensi kerja seluruh tenaga yang berada dalam suatu unit organisasi. Usaha-usaha pengembangan itu melalui beberapa hal, di antaranya adalah; (1) pendidikan dan latihan (inservice training), pendidikan dan pelatihan adalah unsur utama dalam proses pengembangan pegawai (guru). Pendidikan disajikan untuk membekali pendidik dalam memperluas kapasitas mereka untuk menerapkannya dimasa yang akan datang, (2) tugas belajar, (3) formasi dalam arti penempatan pada jabatan yang lebih dari semula, (4) pemindahan jabatan, (5) pemindahan lapangan dan pemindahan wilayah (tour of duty and tour of area), usaha-usaha lain dalam bentuk seminar, work shop, konferensi, rapat dinas dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini perlu diperhatikan data mengenai rata-rata ijazah dan usaha promosi guru (Sanusi Uwes, 1999: 28). Dalam pengembangan pegawai negeri sipil ada beberapa macam latihan jabatan, yaitu latihan pra jabatan (preservice training atau presentry training), dan latihan dalam jabatan (inservice training). Latihan pra jabatan dibedakan menjadi dua, yaitu yang bersifat umum dan khusus. Latihan pra jabatan yang bersifat khusus hanya diikuti oleh
  • 45.
    73 CPNS yang ditunjukoleh pimpinan instansi yang bersangkutan. Sedangkan latihan pra jabatan yang bersifat umum adalah latihan yang diikuti oleh setiap CPNS yang baru diangkat. Latihan dalam jabatan terdiri dari latihan jabatan staf yang diberikan kepada para staf pimpinan atau para pembantu pimpinan, latihan jabatan lini yang diberikan pada para pimpian lini, dan latihan jabatan pimpinan yang diberikan kepada para pegawaiyang menduduki jabatan kepala dan wakil kepala kantor, biro dan sebagainya (Wursanto, 1988: 86). Secara skematik dapatlah digambarkan sasaran dari pengembangan profesionalisme guru sebagai berikut: Gambar 4 Sasaran pengembangan Sumberdaya Guru Dalam mengembangkan profesionalisme guru harus ada pemeliharaan, pemeliharaan ketenagaan ialah usaha-usaha untuk menjamin terpenuhinya secara optimal kebutuhan sosial ekonomi maupun social psychologis para guru. Yang termasuk dalam berbagai usaha Pengembangan Fisik: • Peningkatan kesehatan • Keamanan lingkungan • Pemenuhan Kebutuhan Pengembangan Psikologis: • Kepuasan • Kenyamanan • Aktualisasi Pengembangan Skill: • Pendidikan • Latihan • Mutasi SASARAN: PROFESIONALISME GURU 74 pemenuhan kebutuhan tersebut di atas antara lain; gaji, tunjangan kesejahteraan, pemeliharaan kesehatan maupun keselamatan fisik dan mental pegawai, perlakuan yang adil dan wajar, penghargaan terhadap setiap prestasi, perwujudan semangat kekeluargaan, persaudaraan dan kerja sama. Fungsi pemeliharaan/perawatan (maintenance) berkaitan dengan upaya untuk memelihara dan mempertahankan guru yang produktif dan professional. Perawatan dapat dilakukan melalui berbagai program, misalnya: perlindungan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja), kesejahteraan, pembagian kerja dan pemberdayaan kompetensi yang adil, dan perencanaan karir dan sebagainya (Tjutju Yuniarsih, 2008: 85-86). c. Penilaian Profesionalisme Guru Sebagai seorang pekerja profesional misalnya guru akan menampakkan adanya ketrampilan teknis yang didukung oleh sikap kepribadian tertentu karena dilandasi oleh pedoman-pedoman tingkah laku khusus (kode etik) yang mempersatukan mereka dalam satu korps profesi. Pendidikan yang baik sebagaimana yang diharapkan modern dewasa ini dan sifatnya yang selalu menantang, adalah model pendidikan yang mengharuskan tenaga kependidikan dan guru yang berkualitas dan profesional. Setidaknya ada 7 (tujuh) ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru yaitu:
  • 46.
    75 8) Guru bekerjasemata-mata hanya memberi pelayanan kemanusiaan bukan usaha untuk kepentingan pribadi 9) Guru secara hukum dituntut memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota profesi keguruan. 10) Guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi. 11) Guru dalam organisasi profesional memiliki publikasi yang dapat melayani para guru sehingga tidak ketinggalan bahkan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. 12) Guru selalu diusahakan mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar, konvensi dan terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service training. 13) Guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karir hidup (a live carier). 14) Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun secara local (Oteng Sutisna, 1983: 78). Untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang dikemukakan diatas, diperlukan sistem penilaian tenaga kependidikan secara transparan, objektif, dan akurat, adalah dilakukannya proses penelian atau pengontrolan. Penilaian tenaga kependidikan biasanya lebih difokuskan pada prestasi individu, dan peran sertanya dalam kegiatan sekolah (Mulyasa, 2007: 157). Penilaian ketenagaan adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk mengetahui secara formal (conduite) maupun informal (managerial 76 supervision) untuk mengetahui hal-hal yang menyangkut pribadi, status, pekerjaan, prestasi kerja maupun perkembangan guru sehingga dapat dikembangkan pertimbangan nilai obyektif dalam mengambil tindakan terhadap seorang tenaga, khusus yang diperlukan untuk mempertimbangkan; kenaikan pangkat, gaji berkala, pemindahan jabatan (promosi), perpindahan wilayah kerja (mutasi). Fungsi controlling diarahkan untuk mengatur dan menilai sejauh mana rencana dapat dilaksanakan dan tujuan dapat direalisasikan. Selain itu, penilaian khususnya terhadap guru harus dilakukan untuk memantau perkembangan profesionalisme guru dan untuk mempermudah meningkatkannya. Dalam hal ini Ronald T.C. Boyd (2002) mengemukakan bahwa evaluasi kinerja guru didesain untuk melayani dua tujuan, yaitu : (a) untuk mengukur kompetensi guru dan (b) mendukung pengembangan profesional. Sistem evaluasi kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik untuk memenuhi berbagai kebutuhan di kelas (classroom needs), dan dapat memberikan peluang bagi pengembangan teknik-teknik baru dalam pengajaran, serta mendapatkan konseling dari kepala sekolah, pengawas pendidikan atau guru lainnya untuk membuat berbagai perubahan di dalam kelas (Akhmad Sudrajat, 2008: 29). Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator dalam hal ini adalah kepala sekolah atau pengawas sekolah) terlebih dahulu harus menyusun prosedur spesifik dan menetapkan standar evaluasi. Penetapan
  • 47.
    77 standar hendaknya dikaitkandengan : (1) keterampilan-keterampilan dalam mengajar; (2) bersifat seobyektif mungkin; (3) komunikasi secara jelas dengan guru sebelum penilaian dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi, dan (4) dikaitkan dengan pengembangan profesional guru. Kepala sekolah sebagai seorang evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran yang dimiliki guru. dan menggunakan berbagai sumber informasi tentang kinerja guru, sehingga dapat memberikan penilaian secara lebih akurat. Menurut Ronald T.C. Boyd (2002) ada beberapa prosedur evaluasi kinerja guru yang dapat digunakan oleh evaluator, diantaranya : a. Mengobservasi kegiatan kelas (observe classroom activities). Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam menilai kinerja guru. Tujuan observasi kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representatif tentang kinerja guru di dalam kelas. Kendati demikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator dalam menentukan hasil evaluasi tidak cukup dengan waktu yang relatif sedikit atau hanya satu kelas. Oleh karena itu observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh informasi yang bernilai (valuable) b. Meninjau kembali rencana pengajaran dan catatan – catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana guru dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-cataan 78 dalam kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indikator sejauh mana guru dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran , proses pengajaran dan testing (evaluasi). c. Memperluas jumlah orang-orang yang terlibat dalam evaluasi. Jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak sebagai evaluator, seperti: siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk kepentingan pengujian kompetensi, pada umumnya yang bertindak sebagai evaluator adalah kepala sekolah dan pengawas. Diantara format penilaian yang sering digunakan dalam melakukan penilaian terhadap perkembangan guru khususnya yang berstatus PNS oleh kepala sekolah adalah Daftar Penilaian Pekerjaan (DP3) yang sekarang menjadi nilai SKP (Sasaran Kerja Pegawai). Format penilaian ini telah dibakukan dan berlaku bagi Pagawai Negeri Sipil (PNS). Dengan adanya penilaian itu, maka setiap guru akan mengetahui kelebihan dan kekurangannya, sehingga diharapkan dapat membangkitkan dorongan untuk melakukan perbaikan (Hendyat Sutopo, 2001: 145). Setiap hasil evaluasi seyogyanya dilaporkan agar dapat memberikan umpan balik kepada guru tentang kekuatan dan kelemahannya. Dalam hal ini, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh
  • 48.
    79 evaluator : (a)penyampaian umpan balik dilakukan secara positif dan bijak; (b) penyampaian gagasan dan mendorong untuk terjadinya perubahan pada guru; (c) menjaga derajat formalitas sesuai dengan keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi; (d) menjaga keseimbangan antara pujian dan kritik; (e) memberikan umpan balik yang bermanfaat secara secukupnya dan tidak berlebihan (Hendyat Sutopo, 2001: 148). B. Penelitian yang Relevan Penelitian terdahulu dicantumkan untuk mengetahui perbedaan penelitian yang terdahulu sehingga tidak terjadi plagiasi (penjiplakan) karya dan untuk mempermudah fokus apa yang akan dikaji dalam penelitian ini. Adapun beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain: Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan profesionalisme guru (studi kasus di MAN 1 Malang) oleh Sri Rahmi, Manajemen pengembangan kompetensi pendidik (studi kasus di SMA unggulan Zainul Hasan Probolinggo) oleh Khoirul Camalia, Manajemen pengembangan profesionalisme pendidik di MI (studi kasus di MIJS Malang) oleh Iif Khoiru Ahmadi, dan Manajemen strategik peningkatan mutu pendidik (studi multi kasus di MAN Tlogo Blitar dan SMAN Talun Blitar) oleh Siti Mardiyatul Jannah. Dari keempat penelitian diatas dapat diketahui secara rinci tentang 80 persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti pada tabel di bawah ini: No Nama Peneliti, dan Tahun penelitian Persamaan Perbedaan Originalitas Penelitian 1 Sri Rahmi (2002) 1. Fokus penelitian pada peningkatan profesionalisme guru. 2. Aktor manajemen dalam hal ini kepala sekolah melakukan pembinaan dalam meningkatkan profesionalisme guru 1. Dalam penelitian tersebut fokusnya adalah kepemimpinan kepala madrasah dan tidak mengaplikasik an unsur-unsur manajemen secara lengkap 2. Peningkatan profesionalisme guru di tentukan oleh gaya kepemimpinan kepala madrasah 3. Jenjang pendidikan yang berbeda (MAN) 4. Lokasi penelitian (MAN 1 Malang) 1. fokus pada kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalis me guru 2. meneliti berbagai aspek dari kompetensi manajerial kepala sekolah dalam mengaplikasi kan unsur- unsur manajemen, mulai dari proses perencanaan, pengembangan, hingga evaluasi 3.Lokasi atau obyek penelitian di Slogohimo, Wonogiri
  • 49.
    81 81 BAB III METODOLOGIPENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini adalah berupaya untuk mengetahui, dan menelaah tentang "kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru” (studi kasus di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian kualitatif manusia adalah sebagai sumber data utama dan hasil penelitiannya berupa kata-kata atau pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya (alamiah). Hal ini sesuai dengan pendapat Denzin dan Lincoln yang mangatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada (Lexy J. Moleong, 2006: 5). Menurut Donal Ary (2002: 424 - 425), penelitian kualitatif memiliki enam ciri yaitu: (1) memperdulikan konteks dan situasi (concern of context), (2) berlatar alamiah (natural setting), (3) manusia sebagai instrumen utama (human instrument), (4) data bersifat deskriptif (descriptive data), (5) rancangan penelitian muncul bersamaan dengan pengamatan (emergent design), (6) analisis data secara induktif (inductive analysis). Penelitian kualitatif menurut Muhajir (1988: 118) setidak-tidaknya mengakui empat kebenaran, yaitu kebenaran empirik senual, empirik logik teoritik, empirik etik, dan kebenaran empirik transendental. Kemampuan dan pemaknaan manusia atas indikasi empirik manusia menjadi mampu mengenal 81
  • 50.
    82 keempat kebenaran tersebut.Menurut Williams penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah (Lexy J. Moleong, 2006: 5). Studi tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan prfesionalisme guru akan dikaji dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, sebab dalam studi atau penelitian ini memerlukan penghayatan dan interpretasi terhadap perilaku kepala sekolah, guru-guru maupun tenaga pendukung lainnya. Selanjutnya mengenai penelitian kualitatif menurut Marriam dan Simpson (1984) dalam buku Sardjan terdapat enam jenis, yaitu: (1) etnografi, (2) studi kasus; (3) grounded teori; (4) interaktif; (5) ekologi dan (6) fututre. Dari enam rancangan penelitian tersebut yang dipergunakan peneliti dalam penelitian adalah studi kasus (case study) yang menurut Bogdan (1982) adalah suatu strategi penelitian yang mengkaji secara rinci suatu latar atau suatu subyek atau suatu tempat penyimpanan dokumen atau suatu pristiwa tertentu. Menurut Donal Ary studi kasus adalah: “In case study the investigator attemp to examine an individual or unit in depth. The investigator tries to discover all the variables that are important in the history or development of the subject” (Donal Ary, 2002: 424 – 425). Tentang jenis dan ragam studi kasus menurut Lingfood (1978) yang dikutip oleh Maidatul Jannah dalam penelitiannya menyebutkan terdapat tiga macam studi kasus, yaitu studi kasus tunggal, studi multi kasus dan studi 83 kasus perbandingan. Studi ini menggunakan studi kasus untuk mendiskripsikan kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dengan menggunakan latar penelitian di SMK Pancasila 8 Slogohimo, Wonogiri. B. Latar Seting Penelitian Fokus penelitian ini adalah tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru,baik pada aspek perencanan, pelaksanaan maupun evaluasinya. Kompetensi manajerial atau pelaksanaan proses manajemen yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru merupakan gejala sosial (social action) yakni interaksi antara kepala sekolah para guru dan seluruh civitas akademika sekolah. Sehingga dalam konteks ini peneliti memahami proses tersebut dengan menggunakan sudut pandang persepsi emik, yang menurut Moeleong adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami suatu fenomena yang berangkat dari titik dalam (internal atau domestik). Sasaran studi ini adalah perilaku atau tindakan-tindakan, kebijakan-kebijakan yang dipergunakan dan diambil oleh kepala sekolah dalam mengelola dan meningkatkan profesionalisme guru. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pendekatan penelitian kualitatif yang sesuai adalah fenomenologik naturalistic. Penelitian fenomenologi menurut Moeleong bermakna memahami peristiwa dalam kaitannya dengan orang dalam situasi tertentu. Penelitian ini memahami fenomena-fenomena
  • 51.
    84 yang terjadi yaitupertama perencanaan yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, kedua adalah pengembangan yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, dan ketiga adalah evaluasi yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru. C. Subjek dan Informan Penelitian Taylor dan Bogdan (1998) menyebutkan istilah informan untuk mengganti istilah subjek penelitian dalam penelitian kualitatif. Informan digunakan karena mengacu pada pengertian bahwa informan merupakan pihak yang memberikan informasi mengenai pemahamannya sendiri terhadap pengalaman dan apa yang terjadi disekitarnya. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan informannya adalah wakil kepala sekolah dan guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri. D. Metode Pengumpulan Data 1. Observasi Terlibat Observasi berasal dari bahasa latin yang berarti memperhatikan dan mengikuti, memperhatikan dan mengikuti dalam arti mengamati dengan teliti dan sistematis sasaran perilaku yang dituju. Menurut Cartwright yang dikutip dalam Haris Herdiansyah (2010: 131) mendefinisikan sebagai 85 suatu proses melihat, mengamati dan mencermati serta merekam perilaku secara sistematis untuk suatu tujuan tertentu. Definisi lain observasi adalah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis. Inti dari observasi ialah adanya perilaku yang tampak dan adanya tujuan yang ingin dicapai. Pengamatan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri. 2. Wawancara Mendalam Dalam penelitian kualitatif, wawancara menjadi metode pengumpulan data yang utama. Menurut moleong, wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Definisi lain dari wawancara merupakan percakapan antara dua orang yang salah satunya bertujuan untuk menggali dan mendapatkan informasi untuk suatu tujuan tertentu (Moleong, 2002). Wawancara ditujukan kepada kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri.
  • 52.
    86 3. Dokumentasi Metode dokumentasiadalah salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain oleh subjek. Dokumentasi merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan peneliti kualitatif untuk mendapatkan gambaran dari sudut pandang subjek melalui suatu media tertulis dan dokumen lainnya yang ditulis atau dibuat langsung oleh subjek yang bersangkutan (Haris Herdiansyah, 2010: 143). Dengan metode ini, peneliti mengumpulkan data dari dokumen yang sudah ada, sehingga penulis dapat memperoleh catatan-catatan yang berhubungan dengan penelitian seperti: gambaran umum sekolah, struktur organisasi sekolah dan personalia, keadaan guru dan peserta didik, catatan- catatan, foto-foto dan sebagainya. Metode dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan data-data yang belum didapatkan melalui metode observasi dan wawancara. E. Pemeriksaan Keabsahan Data Pengecekan keabsahan data dibutuhkan untuk membuktikan bahwa data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya melaui verifikasi data. Moleong menyebutkan ada empat kriteria yaitu: (1) kredibilitas (validitas internal), (2) transferabilitas (validitas eksternal), (3) dependabilitas (reliabilitas), dan (4) konfirmabilitas (objektivitas). 87 1. Kredibilitas Dalam penelitian ini dipenuhi dengan melalui beberapa kegiatan, pertama, aktivitas yang dilakukan untuk membuat temauan dan interpretasi yang akan dihasilkan lebih terpercaya, terdiri dari: pertama, memperpanjang waktu observasi di lapangan, perpanjangan waktu berkaitan dengan kompetensi manajerial kepala kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru (studi kasus di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri) dilakukan sebagai langkah untuk menggali data lebih mendalam. Kedua melakukan pengamatan secara terus menerus; disini peneliti mengadakan observasi terus menenerus sehingga memahami gejala dengan lebih mendalam sehingga mengetahui aspek yang penting, terfokus dan relevan dengan topik penelitian. Ketiga melakukan trianggulasi. Dalam penelitian trianggulasi dilakukan dengan menggunkaan sumber, metode, dan teori. Trianggulasi sumber digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari seorang informan dengan informan lainnya. Trianggulasi metode dilakukan dengan cara pengumpulan data yang beredar, seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan trianggulasi teori adalah pengecekan data dengan membandingkan teori-teori yang dihasilkan para ahli yang dianggap sesuai dan sepadan melalui penjelasan banding, kemudian hasil penelitian dikonsultasikan dengan subyek penelitian sebelum dianggap mencukupi.
  • 53.
    88 Dalam penelitian ini,peneliti hanya menggunakan dua triangulasi yaitu triangulasi sumber dan metode, hal ini berdasarkan pendapatnya Sanapiah Faisal (1990) bahwa untuk mencapai standar kredibilitas hasil penelitian stidak-tidaknya menggunakan triangulasi metode dan triangulasi sumber data. 2. Transferabilitas Transferabilitas berfungsi untuk membangun keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara “uraian rinci” untuk menjawab persoalan sampai sejauh mana hasil penelitian dapat “ditransfer” pada beberapa konteks lain. Dengan teknik ini peneliti akan melaporkan penelitian seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat penelitian diselenggarakan dengan mengacu pada fokus penelitian. 3. Dependabilitas Dependabilitas adalah kriteria menilai apakah proses penelitian bermutu atau tidak. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapt dipertahankan ialah dengan audit dependabilitas oleh auditor independent guna mengkaji kegiatan yang dilakukan oleh peneliti. Dalam hal ini yang menjadi auditor independent adalah Prof. H. Rohmat, Ph.D selaku pembimbing yang terlibat secara langsung dalam penelitian ini. 4. Konfirmabilitas Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang yang dilakukan dengan cara mengecek data dadn informasi dan interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit (audit 89 trail). Dalam pelacakan audit ini peneliti menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan seperti data lapangan berupa (1) catatan lapangan dari hasil pengamatan peneliti tentang aktivitas kompetensi manajerial kepala kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, (2) kompetensi manajerial kepala sekolah, (3) kemampuan/profesionalisme para tenaga kependidikannya, (4) interaksi antara kepala sekolah dan guru (5) wawancara dan transkip wawancara dengan kepala sekolah, (6) hasil rekaman, (7) analisis data, (8) hasil sintesa dan (9) catatan proses pelaksanaan penelitian yang mencakup metodologi, strategi, serta usaha keabsahan. Dengan demikian pendekatan konfirmabilitas lebih menekankan pada karakteristik data yang menyangkut kegiatan para pengelolanya dalam mewujudkan konsep tersebut. Upaya ini berujuan mendapatkan kepastian bahwa data yang diperoleh itu benar-benar obyektif, bermakna, dapat dipercaya, faktual dan dapt dipastikan. Berkaitan dengan pengumpulan data ini, keterangan dari kepala SMK Pancasila 8 dan civitas akademikanya perlu diuji kredibilitasnya. Hal inilah yang menjadi tumpuan penglihatan, pengamatan obyektifitas, subyektifitas untuk menuju kepastian. F. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang telah
  • 54.
    90 dihimpun oleh penelitiuntuk menambah pemahaman peneliti sendiri dan untuk memungkinkan peneliti melaporkan apa yang telah ditemukan pada pihak lain. Oleh karena itu, analisis dilakukan melalui kegiatan menelaah data,manata membagi menjadi satuan-satuan yang dapat dikelola, mensintesiskan, mencari pola, menemukan apa yang bermakna, dan apa yang akan diteliti dan diputuskan peneliti untuk dilaporkan secara sistematis (Bogdan dan Biklen, 1982: 145). Secara umum, langkah-langkah menganalis data adalah sebagai berikut: 1. Penyajian data Penyajian data dimaksudkan untuk memaparkan data secara rinci dan sistematis setelah dianalisis ke dalam format yang disiapkan untuk itu. Namun data yang disajikan masih dalam bentuk data sementara untuk kepentingan penelti dalam rangka pemeriksaan lebih lanjut secara cermat, sehingga diperoleh tingkat keabsahannya. Jika ternyata data yang disajikan telah teruji kebenarannya maka akan bisa dilanjutkan pada tahap pemeriksaan kesimpulan-kesimpulan sementara. Akan tetapi jika ternyata data yang disajikan belum sesuai, maka konsekuensinya belum dapat ditarik kesimpulan melainkan harus dilakukan reduksi data kembali. 2. Reduksi data Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak relevan, dan mengorganisasikannya, sehingga kesimpulan akhir dapat dirumuskan, menseleksi data secara ketat, membuat ringkasan dan rangkuman inti, 91 merupakan kegiatan-kegiatan mereduksi data. Dengan demikian reduksi data ini akan berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung. 3. Penarikan kesimpulan (verifikasi) Penarikan kesimpulan dimaksudkan untuk member arti atau memakai data yang diperoleh baik melalui observasi, wawancara, maupun dokumentasi (Miles dan Huberman, 1988: 21-23). Analisis data dilakukan setelah data terkumpul melalui suatu siklus yang bersifat interaktif antara peneliti dan data-data yang diperoleh di lapangan. Oleh karena itu harus bergerak diantara keempat sumbu tersebut selama pengumpulan data. Hal ini tersebut seperti yang digambarkan dalam diagram dibawah ini: Gambar 3.1 Komponen dan siklus analisis data model interaktif Data Collection (1) Data Reduction (2) Data Display (3) Conclution Drawing Verifying(4)
  • 55.
    92 BAB IV HASIL PENELITIAN A.Deskripsi Data 1. Gambaran umum Lokasi Penelitian SMK Pancasila 8 Slogohimo berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pancasila Pusat Surakarta Cabang Wonogiri. Pada tanggal 10 Oktober 1989 dengan surat Nomor: 1704/YPP/Cab/2/Wng/St/88 tentang permohonan ijin/persetujuan pendirian sekolah swasta, akhirnya mendapat Surat Persetujuan Pendirian / Penyelenggaraan Sekolah Swasta dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Provinsi Jawa Tengah Nomor: 610/I.03/I/89 tanggal 30 Maret 1989. Pada awal berdirinya bernama SMEA Pancasila dengan alamat Jl. Raya Slogohimo – Wonogiri tepatnya di Ngerjopuro RT. 02 Rw. 03 Desa Slogohimo Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah. Mendapat status DIAKUI berdasarkan Piagam Jenjang Akreditasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 35/CC/Kep/MN/1998 tanggal 10 Maret 1998. Kemudian pada tanggal 28 Januari 2006 berdasarkan Sertifikat Akreditasi Sekolah dari Badan Akreditasi Sekolah Nasional Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, SMK Pancasila 8 Slogohimo memperoleh akreditasi dengan peringkat TERAKREDITASI B, pada tanggal 11 Nopember 2009 dari Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), SMK 93 Pancasila 8 Slogohimo kembali memperoleh akreditasi dengan peringkat Terakreditasi B. Bidang Keahlian yang dibuka pada awalnya adalah Bisnis Manajemen Program Keahlian Keuangan Kompetensi Keahlian Akuntansi dan pada tahun pelajaran 2012/2013 membuka Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi Program Keahlian Teknik Komputer dan Informatika Kompetensi Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Yang menjabat Kepala Sekolah di SMK Pancasila 8 Slogohimo: Tahun 1989 – 2000 : Drs. Triyono Tahun 2001 – 2004 : Drs. M. Subur Tahun 2005 – 2006 : Drs. M. Subur Tahun 2007 – 2011 : Drs. Aris Trilaksono Tahun 2012 – 2016 : Drs. Aris Trilaksono Untuk mengetahui mengeanai gambaran dan keadaan umum SMK Pancasila 8 Slogohimo dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Visi dan Misi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri VISI : Terciptanya tenaga kerja tingkat menengah yang berjiwa Pancasila dan Profesional yang mampu berkompetisi di era globalisasi MISI : a) Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berbasis produktif b) Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang unggul sesuai dengan kebutuhan dunia usaha / dunia industri
  • 56.
    94 c) Memberikan bekalkepada siswa agar mampu mengembangkan diri dan meningkatkan martabatnya d) Menghasilkan tamatan yang dapat mengakses pasar kerja 2. Struktur Organisasi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri STRUKTUR ORGANISASI SMK PANCASILA 8 SLOGOHIMO TAHUN DIKLAT 2014/2015 I. Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan Kepala Tata Usaha 1. Kepala Sekolah : Drs. Aris Trilaksono 2. Waka Bidang Kurikulum : Sri Haryanti, B.A. 3. Waka Bidang Kesiswaan : Maryadi, S.Pd. 4. Waka Bidang Sarana Prasarana : Pujiono, A.MPd. 5. Waka Bidang Humas / Kerjasama DUDI : 6. Kepala Tata Usaha : Widodo II. Ketua Kompetensi Keahlian 1. Akuntansi : Drs. Marmin 2. Rekayasa Perangkat Lunak : Gathot Suseno, A.Md.Kom III. Wali Kelas Kelas X AK1 : Yuyun Wahyusri, S.Pd. Kelas X AK2 : Suradi, S.Pd. Kelas X AK3 : Paryanti, S.E, S.Pd. 95 Kelas X AK4 : Sudir, S.Pd. Kelas X RPL1 : Taryanto, S.Pd. Kelas X RPL2 : Nanik Winarni, S.S. Kelas XI AK1 : Nanang Widi Setiawan, S.Pd. Kelas XI AK2 : Riana Widya Palupi, S.Pd. Kelas XI AK3 : Sri Rahayu, S.Pd. Kelas XI RPL1 : Muryati, S.Kom. Kelas XI RPL2 : Toto Kasih Suhartoko, S.Pd. Kelas XII AK1 : Sri Mulyani, S.Pd. Kelas XII AK2 : Heri Susanto, S.Pd. Kelas XII RPL1 : Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom. Kelas XII RPL2 : Gathot Suseno, A.Md.Kom IV. BP / BK : Dra. Endang Purwantiningsih : Toto Kasih Suhartoko, S.Pd. : Paryanti, S.E., S.Pd. V. Pembina Ekstrakurikuler 1. Pembina OSIS : Maryadi, S.Pd., Nanik W,S.S. 2. Pembina Olahraga : Toto Kasih Suhartoko, S.Pd. 3. Pembina Pramuka : Paryanti, SE, S.Pd, : Wahyudi 4. Pembina Hansek/PKS : Gathot Suseno, A.Md.Kom 5. Pembina PMR : Waluya, S.Pd.I 6. Pembina Rohis : Heri Susanto, S.Pd.
  • 57.
    96 7. Pembina SeniTheater : Nanik Winarni, S.S. 8. Pembina Seni Tari : Gempa Pamulat, S.Sn. VI. Ketua Bursa Kerja Khusus : Drs. Marmin VII. Ketua Perpustakaan : Sri Haryanti, B.A. VIII. Ketua Koperasi : Sri Rahayu, S.Pd. IX. Laboran Komputer : Ambar Yulianti 3. Sarana dan prasarana Tabel 1.1. Sarana dan prasarana No. Nama Ruang Jumlah Volume (M2) Buku Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Kelas/teori Lab. Komputer Lab. Bahasa Bengkel Komputer Perpustakaan BKK Seni/Musik/Teater Koprasi/Toko Praktik PAI Kepala Sekolah Guru TU Musholla Kamar mandi/WC Gudang UKS 15 3 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 12 1 2 840 168 56 56 56 56 56 40 56 42 105 56 36 48 42 12 Judul Buku Juml. Buku 155 2125 Sumber : Dokumen SMK Pancasila 8 Slogohimo 97 Menyimak table 1.1 di atas, dapat dilihat dengan jelas bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki adalah berupa ruang kelas 15 buah (840 m2), laboratorium komputer 3 buah (168m2), laboratorium bahasa 1 buah (56 m2), ruang bengkel komputer 1 buah (56m2), ruang perpustakaan 1 buah (56m2), ruang Bursa Kerja Khusus 1 buah (56m2), ruang seni/musi dan teater 1 buah (56m2),ruang koperasi/took 2 buah (40m2), ruang praktik PAI 1 buah (56m2), ruang kepala sekolah 1 buah (42m2), ruang guru 1 buah (105m2), ruang TU 1 buah (56m2), mushalla 1 buah (36m2), kamar mandi/WC 12 buah (48m2), gudang 1 buah (42m2), ruang UKS 2 buah (12m2). Sedangkan buku yang dimiliki perpustakaan sebanyak 2125 buah, yang terdiri tidak kurang dari 155 judul. 4. Tenaga guru dan tenaga administratif Untuk mengetahui kualitas dan kuantitas tenaga edukatif dan tenaga administrative dapat dilihat pada table 1.2. Tabel 1.2. Keadaan tenaga edukatif dan tenaga administratif No Sumber Daya Tingkat Pendidikan Jumlah SLTA D1 D2 D3 S1 S2 1. 2. 3. 4 Guru tetap Guru tidak tetap Pegawai tetap Pegawai tidak tetap - - 4 - - - - - - - - - - - 2 - 34 4 2 1 1 1 - - 35 4 8 1 Jumlah 4 - - 2 41 48 Presentase 8 % - - 4 % 84 % 4 % 100 % Sumber : Dokumen SMK Pancasila 8 Slogohimo
  • 58.
    98 Tabel 1.2 menunjukkanbahwa dari tingkat pendidikan, kualitas tenaga edukatif maupun tenaga administrative sudah cukup memadai untuk ukuran SMK Pancasila 8 Slogohimo, di mana yang berpendidikan strata du (S2) ada 2 orang atau 4 %, S1 ada 41 orang atau 84 %, D3 ada 2 orang atau 4 %, SLTA ada 4 orang atau 8 %. 5. Keadaan peserta didik Tabel 1.3. Keadaan peserta didik SMK Pancasila 8 Slogohimo No. Tahun Pelajaran Pendaftar Diterima L P Jml L P J 1 2 3 4 5 6 7 8 1. 2. 3. 4. 5. 2010/2011 2011/2012 2012/2013 2013/2014 2014/2015 121 126 131 160 172 370 381 402 415 422 491 507 533 575 594 105 114 115 140 155 342 360 372 378 409 447 474 487 518 564 Menyimak tabel 1.3 tersebut di atas ternyata jumlah peserta didik dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dari jumlah pendaftar maupun jumlah yang diterima. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab meningkatnya jumlah peserta didik yang mendaftar ke SMK Pancasila 8 Slogohimo. Disamping sarana prasarana/fasilitas yang kian memadai, jenis kegiatan yang terus dikembangkan, serta prestasi dalam berbagai kegiatan dan kejuaraan yang sering diraih. Pengaruh yang paling dominan meningkatnya jumlah peserta didik di SMK Pancasila 8 Slogohimo adalah 99 peran Bursa Kerja Khusus (BKK) yang berhasil menyalurkan lulusan ke berbagai perusahaan di dalam maupun luar negeri. 6. Keadaan lulusan yang disalurkan ke dunia kerja tiga tahun terakhir Tabel 1.4. Keadaan peserta didik SMK Pancasila 8 Slogohimo No. Nama Perusahaan Lokasi Jumlah Lulusan disalurkan Jml. 2013 2014 2015 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. ASJ Components NXP Semiconductor Win Textile PT. Cheil Jedang PT. Bumi Cikarang PT. Astra PT. Citra Bunda Karya Tama MS. Hartono Mall Tomang Mas Malaysia Malaysia Korea di Indonesia Korea di Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia Indonesia 3 4 2 3 4 5 6 - - - 4 5 4 3 7 6 6 9 8 12 6 6 5 5 8 7 7 11 9 10 13 15 11 11 19 18 19 20 17 22 27 64 74 165 Tabel 1.4 di atas menunjukkan bahwa para lulusan yang terserap di dunia kerja tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Bekerja di ASJ Componens Malaysia sebanyak 13 orang, bekerja di NXP Semiconductor Malaysia sebanyak 15 orang, bekerja di Win Textile sebanyak 11 orang, bekerja di PT Cheil Jedang sebanyak 11 orang, bekerja di PT Bumi Cikarang sebanyak 19 orang, bekerja di PT Astra sebanyak 18 orang, bekerja di PT Citra Bunda sebanyak 19 orang, bekerja di Karya Tama MS sebanyak 20 orang, bekerja di Hartono Mall sebanyak 17 orang dan bekerja di Tomang Mas sebanyak 22 orang.
  • 59.
    100 B. Penafsiran 1. PerencanaanManajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru a. Perencanaan peningkatan profesionalisme guru yang berlandaskan visi,misi, dan tujuan sekolah yang sudah direncanakan dan ditetapkan serta melibatkan para guru dapat mempermudah mencapai tujuan yaitu meningkatnya guru yang professional b. Perencanaan yang berdasarkan analisa kebutuhan, analisa pekerjaan dan berorientasi masa depan dapat menghindari salah sasaran, tumpang tindih (over lapping) pekerjaan dan tugas c. Pengadaan atau rekrutmen guru baru yang melalui prosedur yang tepat akan menjadi faktor determinan tersedianya guru baru yang profesional. Gambar Perencanaan peningkatan profesionalisme guru Keadaan Guru di SMK Pancasila 8 saat ini: • Jumlah guru kompetensi • Tingkat guru Keadaan SMK Pancasila 8 Slogohimo saat ini: • Visi, Misi, dan Tujuan • Sarpras • Dukungan sumber daya Lainnya Kebutuhan masa yang akan datang, terkait dengan: • Kualifikasi • Jumlah • Perkembangan (kelas & teknologi) Perencanaan Profesionalis me Guru Pengadaan: Rekrutmen, seleksi, penempatan 101 Proses perencanaan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo hingga rekrutmen kalau digambarkan dalam bentuk diagram adalah sebagai berikut: 2. Pelaksanaan Manajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru a. Guru yang mengikuti pendidikan, latihan (inservice training education), seminar, dan workshop akan menjadi faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru b. Guru yang memenuhi standar kualifikasi, lulus sertifikasi guru, ditempatkan secara tepat, dan kesejahteraannya dipenuhi akan menjadi faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru. c. Efektifnya organisasi profesi guru, kuatnya hubungan emosional dan rasa kekeluargaan yang tercipta dengan adanya wadah atau forum silaturrahim antar guru dapat meningkatkan kualitas guru dalam mengajar, berkepribadian, profesional, dan bermasyarakat. d. Pengelolaan dan peningkatan layanan kepustakaan yang baik dengan tersedianya buku teks bacaan yang memadai dapat memperluan wawasan dan mempertinggi kualitas mengajar guru. Visi SMK P 8 Misi SMK P 8 Tujuan SMK P Memotret Profil Guru yang Ada Kebutuhan (Demand) Analisa S & D Penawaran (Supply) Kebutuhan Berlebih Penawaran Berlebih Prekrutan Dekrutmen
  • 60.
    102 e. Pengelolaan danpenyediaan fasilitas akses internet, laboratorium komputer dan bahasa dapat meningkatkan profesionalisme guru. Secara skematik sasaran dari pelaksanaan pengembangan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo dapat digambarkan sebagai berikut: 3. Evaluasi Manajerial dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Dalam meningkatkan profesionalisme guru, Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo melakukan langkah-langkah evaluasi sebagai berikut : a. Penilaian dan supervisi yang berdasarkan prosedur, format dan instrumen penilaian yang tepat dapat mempermudah mengetahui kondisi dan perkembangan guru secara obyektif b. Teknik supervisi yang digunakan ada tiga yaitu: 1) Teknik kunjungan kelas 2) Pembicaraan pribadi 3) Diskusi kelompok Pengembangan Fisik: • Pemenuhan Kebutuhan (Tunjangan Kesejahteraan Guru) Pengembangan Psikologis: • Kepuasan • Kenyamanan • Aktualisasi Pengembangan Skill: • Pendidikan • Latihan • Seminar SASARAN: PROFESIONALISME GURU 103 c. Pendekatan yang digunakan adalah secara langsung (directif) dan tidak langsung (non directif) d. Dalam melakukan supervisi kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo adalah melakukan dengan cara langsung dan tidak langsung. Sasaran maupun aspek yang dievaluasi adalah kehadiran guru (presensi), kinerja guru, prestasi dan perkembangan siswa, catatan kelasdalam hal ini adalah tes harian, mingguan, bulanan hingga semesteran,silabus dan RPP guru e. Ketika ada guru yang mempunyai masalah, kepala sekolah memanggil secara pribadi masalah apa yang sedang dihadapi guru tersebut, kemudian dicarikan pemecahannya. f. Dalam mengevaluasi guru secara kelompok adalah diadakannya forum silaturrahmi para guru yang diikuti oleh kepala sekolah, pengawas pendidikan dan tenaga kependidikan secara bergiliran setian bulan untuk melakukan koordinasi dan pemecahan masalah yang ada. g. Evaluasi tesebut diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada dan untuk membina serta meningkatkan profesionalisme guru kedepan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. h. Metode penilaian yang diterapkan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo selain melakukan supervisi juga menggunakan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) atau Daftar Penilaian Kinerja (DP3)
  • 61.
    104 B. Pembahasan 1. Perencanaankompetensi manajerial yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru Perencanaan merupakan rangkaian kegiatan pertama dalam proses manajemen, tidak terkecuali dalam meningkatkan profesionalisme guru. Perencanaan profesionalisme guru merupakan tindakan untuk masa yang akan datang demi tercapainya visi dan misi suatu sekolah. Perencanaan profesionalisme guru merupakan bagian dari alur proses manajemen dalam menentukan pergerakan sumberdaya manusia (guru), dari posisi saat ini menuju posisi yang diinginkan di masa depan. Berkaitan dengan pelaksanaan perencanaan profesionalisme guru yang merupakan rangkaian kegiatan/bagian dari manajemen, Drs. Aris Trilaksono kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri mengungkapkan: “Di SMK Pancasila 8 Slogohimo, perencanaan profesionalisme guru direncanakan dan ditentukan dalam bentuk rapat/pertemuan tatap muka bersama para guru, karyawan, wakil kepala sekolah, waka kurikulum dan seluruh tenaga kependidikan yang dipimpin oleh kepala Sekolah. Rapat semacam ini biasanya dilakukan pada awal ajaran baru, awal semester, dan pertengahan semester.” Lebih lanjut kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut semua guru diminta pendapat dan gagasannya terkait dengan program-program sekolah lebih-lebih menyangkut pengembangan profesionalisme guru, hambatan-hambatan 105 yang dihadapi para guru dalam proses pembelajaran dikelas, serta bagaimana cara pemecahannya. Berkaitan dengan perencanaan profesionalisme guru Sri Haryanti, B.A.selaku wakil kepala sekolah bidang kurikum menjelaskan: “Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah dan jajarannya selalu mengundang para guru untuk diskusi bersama merencanakan dan menentukan program-program yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan sekolah khususnya dibidang peningkatan profesionalisme guru sesuai dengan visi dan misi SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, dalam rapat tersebut kepala sekolah memberikan keleluasaan bagi guru untuk mengungkapkan ide, saran yang membangun yang berhubungan dengan peningkatan profesionalisme guru, misalnya mendorong guru untuk melakukan studi lanjut, mengikuti pelatihan, dan seminar-seminar yang menunjang kualitas mengajar guru”. Ungkapan di atas didukung oleh penyataan Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom salah satu guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menyatakan: “Saya selaku guru dan juga guru-guru yang lain selalu dilibatkan dalam rapat mengenai perencanaan dan program sekolah ke depan diantaranya adalah tentang perencanaan profesionalisme guru, pak Aris sebagai kepala sekolah sangat demokratis dalam mengambil kebijakan terutama menyangkut perencanaan profesionalisme guru, setiap guru diminta pendapat dan ide kreatifnya tentang bagaimana meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, karena para guru merupakan orang yang paling mengerti tentang kondisi dan keadaan yang menyangkut kegiatan belajar mengajar dan kondisi dirinya sendiri”. Seperti penjelasan di atas, setiap awal tahun pembelajaran, SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melakukan rapat untuk membahas dan menetapkan program/rencana-rancana ke depan (khususnya rencana peningkatan profesionalisme guru) berdasarkan visi dan misi yang sudah ditetapkan. Diantara rencana yang yang sudah ditetapkan adalah antara
  • 62.
    106 lain rencana strategis(renstra) SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri untuk meningkatkan profesionalisme guru. Adapun rencana tersebut adalah: 1. Peningkatan profesionalisme guru dengan mengikutkan program sertifikasi guru dalam jabatan, 2. Peningkatan profesionalisme guru dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri disamping memiliki rencana strategis seperti di atas juga memiliki rencana yang berbentuk operasional (RENOP), hal ini merupakan program-program oprasional sekolah dalam jangka pendek dan menengah, yaitu: a. Perekrutan guru baru untuk GTT b. Pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru 1. Pendidikan dan Latihan 2. Seminar dan workshop 3. Studi lanjut 4. Revitalisasi MGMP 5. Mengadakan forum silaturrahmi antar guru 6. Penyediaan sarana dan fasilitas penunjang c. Monitoring dan evaluasi. Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam melakukan perencanaan dengan cara melakukan rapat (musyawarah) atau pertemuan antara seluruh civitas 107 akademika yang ada disekolah. Dalam rapat dan musyawarah tersebut akan dibahas program-program perencanaan kedepan. Oleh karena itu, para guru dituntut berperan akatif dalam menyampaikan ide dan gagasannya karena kepala sekolah sangat demokratis dalam artian memberikan keleluasaan kepada para guru untuk menyampaikan ide maupu gagasannya. Dalam proses perencanaan profesionalisme guru, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang mempunyai kebijakan menetapkan perencanaan profesionalisme guru selalu memperhatikan kebutuhan (demand/need assesment), memperhatikan visi dan misi dan tujuan pendidikan sekolah, serta analisis jabatan pekerjaan, untuk kemudian menyusun desain struktur yang tepat, sebagai landasan utama dalam menempatkan orang/guru dalam posisi yang tepat. Hal ini sejalan dengan konsep the right man in the right job at the right time. Berkaitan dengan hal ini Drs. Aris Trilaksono selaku kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menyampaikan: “Dalam merencanakan profesionalisme guru, saya selaku pimpinan dengan dibantu para guru selalu mengadakan analisis kebutuhan, memperhatikan visi, misi dan tujuan SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dan analisis jabatan pekerjaan. Analisis tersebut dilakukan berdasarkan data-data yang berhasil dikumpulkan dari hasil identifikasi dari tahun-tahun sebelumnya agar kami tepat sasaran dalam merencanakan profesionalisme guru demi tercapainya visi dan misi sekolah yang sudah ditetapkan”. Untuk mendapat hasil optimal dari sebuah proses perencanaan guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, maka pada saat perumusan
  • 63.
    108 rencana harus didukungoleh data faktual yang aktual, perencanaan profesionalisme guru disusun berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi internal saat ini yang dipadukan dengan analisis prediksi kebutuhan di masa yang akan datang. Analisis eksternal dilakukan untuk memahami dan memprediksi perubahan kebutuhan guru sebagai dampak adanya perkembangan kelas, kemajuan teknologi. Data-data maupun hasil dari proses manajemen peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dari tahun-tahun sebelumnya diperlukan dalam perencanaan sebagai acuau dalam merencanakan agar perencanaan yang dilakukan tepat sasara, efektif, efisien dan selalu sesuai dan sejalan dengan visi dan misi sekolah. Rekrutmen merupakan rangkaian kegiatan dari proses perencanaan, rekrutmen/pengadaan guru baru dalam hal ini adalah guru, rekrutmen merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan akan guru pada suatu sekolah baik dari segi kuantitatif dan kualitatif. Perekrutan guru baru merupakan rangkaian lanjutan dari proses perencanaan, dalam proses rekrutmen harus memperhatikan guru-guru yang sudah ada yang dibandingkan dengan pekerjaan yang tersedia (job analysis), memperhatikan kebutuhan (demand), penawaran (supply), melakukan analisis antara keduanya yang kemudian dilanjutkan dengan perekrutan guru baru. Pengadaan guru baru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam hal ini adalah guru tidak tetap (GTT), karena guru yang berstatus 109 PNS tidak melalui mekanisme perekrutan akan tetapi bantuan dari pemerintah yang didistribusikan langsung oleh Dinas Pendidikan maupun Kemenag, sehingga SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri hanya memerlukan usaha peningkatan profesionalisme guru. Untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan, pihak sekolah harus melakukan seleksi secara ketat, mulai dari tes kemapuan yang dilakukan dengan cara lisan (wawancara), tertulis (tes tulis), dan praktek. SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam melakukan pengadaan guru GTT baru melalui rangkaian kegiatan mulai dari persiapan menerima para pelamar yang akan mengikuti seleksi, menyelenggarakan berbagai macam tes, melakukan wawancara, penelitian latar belakang pelamar, penelitian pendahuluan tentang kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan pelamar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono sebagai berikut: “Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam melakukan rekrutmen/pengadaan guru baru melalui serangkaian kegiatan dimulai dari persiapan menerima para pelamar yang akan mengikuti seleksi, menyelenggarakan berbagai macam tes, melakukan wawancara, penelitian latar belakang pelamar, penelitian pendahuluan tentang kecakapan, nilai akademiknya yang dibuktikan dengan transkip nilainya, wawasan pengetahuan, dan keterampilan pelamar dibidang pembelajaran”. Dengan diadakanya seleksi yang ketat, calon guru yang berhasil direkrut adalah benar-benar guru yang sesuai dengan harapan dan yang telah direncanakan sebelumnya (sesuai kebutuhan) karena sudah melalui proses mulai dari analisis jabatan hingga analisa pekerjaan.
  • 64.
    110 Dalam melakukan pengadaan/rekrutmenguru, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri terlebih dahulu mengkonsultasikan ke Yayasan dan Dinas Pendidikan KabupatenWonogiri seperti yang dipaparkan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, Drs.Aris Trilaksono: “Sebelum mengadakan rekrutmen guru, saya terlebih dahulu mengkonsultasikan ke Yayasan dan Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri karena secara hirarkis SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dibawah naungan Dinas Pendidikan, apabila disetujui ya kami melakukan rekrutmen, tapi apabila tidak diperkenankan kami tidak melaksanakan, tapi biasanya apabila kami mengusulkan perekrutan guru baru selalu disetujui karena berdasarkan pertimbangan kebutuhan, seperti perkembangan kelas, dan perkembangan iptek. Untuk mengetahui itu kami malakukan analisa pekerjaan/jabatan”. Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang melakukan konsultasi kepada Dinas Pendidikan adalah dimaksudkan untuk menghindari kesalah pahaman (miss communication) karena SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri secara hirarkis birokrasi berada dibawah naungan kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri. 2. Pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru Pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru merupakan tindak lanjut dari proses perencanaan dan perekrutan guru. Perencanaan yang matang dan perekrutan guru GTT baru akan menentukan keberhasilan proses pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru. 111 Bentuk Peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri antara lain mengikutkan para guru dalam forum ilmiah (seminar, diklat, lokakarya, wokshop dan kursus), studi lanjut, revitalisasi MGMP, forum silaturrahmi antar guru, tunjangan kesejahteraan, penyediaan fasilitas penunjang seperti penyediaan fasilitas internet untuk mengakses informasi baru, pembelian buku baru yang menunjang terhadap profesionalisme guru, hal ini seperti yang dipaparkan oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs.Aris Trilaksono sebagai berikut: “Program ataupun usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru yang saya lakukan selaku kepala sekolah yang dibantu wakil kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dan jajaran yang terkait, adalah mengikutkan seminar, diklat, kursus-kursus, MGMP, Studi lanjut, meningkatkan kesejateraan guru, penyediaan sarana penunjang seperti internet dan buku bacaan baru penunjang dan kami membentuk forum silaturrahmi antar guru”. Secara detail, usaha pembinaan dan pengembangan yang dilakukan oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah sebagai berikut: a. Mengadakan dan mengikutsertakan guru dalam forum ilmiah (Pendidikan dan latihan (up grading/inservice training), workshop, dan seminar) Pendidikan dan latihan (inservice training/up grading) merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan/profesionalisme guru. Selain meningkatkan kemampuan profesionalisme guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), pendidikan dan latihan juga bermanfaat bagi guru untuk memperoleh informasi baru yang berkaitan dengan pendidikan,
  • 65.
    112 pengajaran, metode-metode yangbaru dalam bidang pembelajaran sekaligus bermanfaat bagi guru yang sedang menyusun portofolio sertifikasi guru sebagai poin tambahan untuk memenuhi poin yang ditetapkan untuk mencapai kelulusan. Mengenai hal ini Drs. Aris Trilaksono selaku kepala sekolah menjelaskan: “Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, kami selalu mengirimkan para guru secara bergiliran dan yang sesuai dengan bidang studinya untuk mengikuti pelatihan, seminar, lokakarya, workshop ataupun kegiatan pendidikan lainnya baik yang diadakan oleh balai diklat (pemerintah), penyelenggara swasta maupun diklat yang diadakan secara mandiri oleh sekolah”. Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan bahwa SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru pada bulan Februari 2014 menyelenggarakan Diklat tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara mandiri, hal ini sesuai dengan pernyataan Drs. Aris Trilaksono: “Pada bulan Februari 2014, SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menyelenggarakan Diklat secara mandiri tentang penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) hal ini dimaksudkan agar guru- guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri lebih memahami dan dapat melakukan penelitian tindakan kelas sehingga proses belajar mengajar (PBM) dapat berjalan dengan baik dan lancar”. Bapak Pujiono, A.M.Pd sebagai wakil kepala sekolah bagian sarana prasarana juga memberikan pernyataan: 113 “Untuk meningkatkan profesionalisme guru, pihak sekolah mengikutsertakan para guru dalam penataran, pelatihan, workshop, seminar yang relevan serta dibiayai oleh sekolah”. Senada dengan pernyataan kepala dan wakil kepala sekolah bidang sarpras tersebut, Maryadi, S.Pd. wakil kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri bidang kesiswaan yang pernah diikutkan dalam pelatihan dan seminar mengungkapkan: “Kepala sekolah sering menunjuk guru-guru secara bergiliran untuk ikut pendidikan dan latihan, workshop, dan seminar yang sesuai dengan mata pelajaran dan yang relevan dengan kependidikan dan pengembangan profesionalisme guru. Para guru yang sudah mengikuti pelatihan diminta untuk menjelaskan hasil dari pelatihan dan seminar kepada guru yang lain dalam rapat sekolah, MGMP, maupun dalam forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri”. Kepala sekolah selaku pengambil kebijakan (policy makers) dalam mengikutkan para guru dalam diklat, seminar, maupun workshop adalah dengan membiayai secara penuh kegiatan tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Drs. Aris Trilaksono kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri: “Dalam hal pembiayaan mengikutsertakan guru-guru dalam pelatihan, seminar, maupun lokakarya pihak sekolah membiayai secara penuh semua biaya yang timbul akibat kegiatan tersebut, dalam artian para guru yang diikutkan dalam kegiatan pelatihan tersebut secara gratis, sehingga guru lebih bersemangat dan tidak mengalami kendala dalam hal biaya”. Salah satu bentuk pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah pendidikan dan pelatihan mengenai Implementasi kurikulum 2013 yang dilaksanakan oleh LPMP
  • 66.
    114 Jawa Tengah padatahun 2014. Untuk lebih mengetahui detil nama guru, jenis diklat, tingkat diklat dan tahun dilaksanakan diklat dapat melihat tabel di bawah ini yang diambil dari dokumen TU SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri. Tabel 1.5. Guru yang pernah mengikuti diklat No. NAMA JENIS DIKLAT TINGKAT TAH UN 1. Drs. Aris Trilaksono Manajemen Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Regional 2014 2. Drs. Marmin Peningkatan Kompetensi Komputer Akuntansi Nasional 2012 3. Dra. Endang Purwantiningsih 1. Pelatihan Enterpreneur Insight Kab. 2012 2. Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Regional 2014 4. Siti Rahayu, S.Pd Pelatihan Enterpreneur Insight Kab. 2012 5. Drs. Sudir Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Regional 2014 6. Suradi, S.Pd 1. Workshop Penyusunan Perangkat Pembelajaran Kurikulum 2013 Kompetensi Keahlian Akuntansi Kab. 2014 2. Diklat Kompetensi Akuntansi Pola 50 Jam Regional 2006 7. Abdul Wahid, S.Ag Workshop Peningkatan Kompetensi Guru PAI Kab. 2013 8. Maryadi, S.Pd TOT Sistem Pendataan Manajemen Sekolah Berbasis IT Nasional 2012 9. Sri Mulyani, S.Pd Pelatihan Implementasi Kurikulum Regional 2014 115 10. Toto Kasih Suhartoko, S.Pd 1. Diklat Kepalatihan Atletik Regional 2012 2. Peningkatan Kompetensi Guru Penjasorkes Kab. 2013 11. Sri Haryanti, BA 1. Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Regional 2014 2. Diklat Manajemen Perpustakaan Sekolah Nasional 2013 13. Sri Mulyani, S.Pd Diklat Kompetensi Akuntansi Pola 50 Jam Regional 2006 Para guru yang sudah selesai mengikuti kegiatan seperti pendidikan dan latihan, dan seminar oleh Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri diminta untuk memaparkan dan melaporkan hasilnya bagi kepala sekolah secara khusus dan kepada guru-guru secara umum, hal ini bertujuan agar materi maupun ilmu yang diperoleh dapat ditularkan kepada guru-guru yang lain. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan profesionalisme guru, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri mengikutkan guru-guru dalam program pendidikan dan latihan, dan bahkan menyelenggarakan pendidikan dan latihan yang dilaksanakan secara mandiri oleh guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melalui organisasi MGMP. b. Studi Lanjut Studi lanjut sangat diperlukan dalam menunjang karir guru khususnya dalam kenaikan pangkat bagi guru PNS, bermanfaat dalam
  • 67.
    116 meningkatkan kualifikasi akademikseorang guru lebih-lebih bagi guru yang akan mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan. Selain itu, studi lanjut juga bermanfaat bagi pengembangan keilmuan seorang guru. Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri selalu memberikan dorongan dan motifasi bagi guru untuk melakukan studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun ajaran 2014/2015 sudah ada dua orang yang melaksanakan study lanjut ke jenjang pasca sarjana yaitu: 1) Drs. Marmin sedang melanjutkan study di Unwidha Klaten 2) Abdul Wahid Ahmadi, S.Ag sedang melanjutkan di IAIN Surakarta Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Drs. Aris Trilaksono yaitu: “Untuk meningkatkan karir guru dan peningkatan kualifikasi akademik dan juga akan berdampak terhadap meningkatnya profesionalisme guru, studi lanjut sangat dan bahkan mutlak dilakukan, guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang sedang melaksanakan study ke pasca sarjana ada dua yaitu Bapak Drs. Marmin dan Bapak Abdul Wachid Ahmadi, S.Ag.” Dalam melakukan studi lanjut ada dua macam jalur yang dapat ditempuh yaitu melalui pendidikan kedinasan (beasiswa dari pemerintah) dan ada yang melalui jalur biaya mandiri (biaya pribadi). Guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang sedang melakukan studi lanjut ke jenjang pasca sarjana semuanya atas inisiatif sendiri atau biaya sendiri/pribadi, hal ini seperti yang disampaikan oleh Drs. Marmin guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri: “Saya dan Pak Wahid melanjutkan kuliah ke S-2 atas dorongan kepala sekolah dan inisiatif sendiri dan pembiayaan kami tanggung secara pribadi, karena saya sadar bahwa seorang guru untuk dapat naik karir dan kepangkatannya, meningkat kualifikasi akedemiknya, 117 serta meningkatnya profesionalismenya harus melakukan studi lanjut, dan hal ini akan menjadi motifasi bagi guru-guru yang lain untuk mengikuti jejak kami”. Tindakan yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam memotifasi, dan mendorong para guru untuk melakukan studi lanjut bagi guru merupakan sebuah inisiatif dan kebijakan untuk meningkatkan kualifikasi akademik guru, dan mempermudah guru yang akan mengikuti program sertifikasi guru dalam jabatan. Dengan meningkatkan kualifikasi akademiknya, para guru diharapkan lebih meningkat daya, dan kemampuannya dalam mengemban tugas sebagai pendidik di sekolah. c. Revitalisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) MGMP maupun kelompok kerja guru (KKG) merupakan wadah atau organisasi para guru untuk melakukan kegiatan-kegiatan diantaranya adalah menyusun dan mengevaluasi perkembangan kemajuan pendidikan di sekolah, menyiasati kurikulum yang padat dan mencari alternative pembelajaran yang tepat serta menemukan berbagai variasi metode, variasi media untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dibawah kendali Drs. Aris Trilaksono selaku kepala sekolah sudah memiliki dan mengoptimalkan MGMP sebagaimana yang diungkapkan: “Untuk mencapai kualitas pembelajaran yang optimal, mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dalam proses pembelajaran, di SMK ini telah berhasil membentuk MGMP dan sudah berjalan dengan baik, MGMP disini bersifat internal dan eksternal
  • 68.
    118 bekerjasama dengan MGMPsekolah yang berada dibawah naungan Diknas”. Senada dengan pernyataan kepala sekolah di atas, Ibu Sri Rahayu, S.Pd selaku koordinator MGMP Bahasa Indonesia menyatakan: “Saya dengan guru basaha Indonesia lainnya selalu mengoptimalkan organisasi MGMP untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, bagaimana menggunakan metode pembelajaran terbaru dan media pembelajaran yang efektif” Setiap pertemuan MGMP dilakukan, para anggota MGMP saling bertukar pendapat mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar, serta mencari solusi. Disamping itu juga para anggota MGMP saling bertukar informasi mengenai metode-metode baru untuk mempermudah penyampaian materi pembelajaran bagi perserta didik. MGMP SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri selain membahas tentang bagaimana mengefektifkan proses dan kegiatan belajar mengajar di kelas, juga sudah berhasil menyelenggarakan diklat secara mandiri tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada bulan Januari dan bulan April untuk guru-guru dibawah naungan MGMP intenal dan eksternal SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dan SMK se-Kabupaten Wonogiri bekerjasama (dibiayai) dengan Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri. Berkaitan dengan hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, Drs. Aris Trilaksono: “Pada pertengahan bulan Januari tahun 2013 MGMP SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri telah mengikutsertakan guru-guru kami untuk mengikuti diklat bagi guru SMK se-Kabupaten Wonogiri kerjasama MGMP SMK dengan Diknas Wonogiri tentang PTK yang 119 dibiayai oleh Diknas Kabupaten Wonogiri, Diklat ini diadakan agar para guru dapat dan mampu melakukan penelitian tindakan kelas di lingkungan sekolahnya masing-masing”. MGMP SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri diadakan setiap setengah bulan sekali, dan ada yang setiap bulan sekali, dan tempatnya kondisional berdasarkan kemufakatan anggota MGMP, akan tetapi paling sering dilaksanakan di sekolah untuk lebih kondusifnya pertemuan. Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono menyatakan: “MGMP IPA SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dilaksanakan setiap bulan, MGMP Bahasa Inggris setiap bulan sekali, dan MGMP Matematika setiap setengah bulan sekali. Mengenai waktu dan tempatnya kondisional berdasarkan keputusan dan kesepakatan antar guru anggota MGMP, akan tetap yang paling sering adalah diadakan di sekolah”. Adapun mengenai biaya MGMP ada yang dibiayai oleh pihak atau lembaga donator seperti Penerbit Buku LKS, dan juga dapat bantuan dari Diknas Kabupaten Wonogiri serta ada juga yang dibiayai sendiri oleh sekolah, hal ini sebagaimana pernyataan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri: “Mengenai biaya yang timbul akibat diadakannya MGMP di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri ada tiga model pembiayaan, yaitu bantuan dari pihak Penerbit yang buku /LKS-nya kami gunakan, MGMP juga dapat bantuan dari Diknas Wonogiri dan juga dibiayai oleh sekolah”. Dengan adanya organisasi profesi guru seperrti MGMP, maka kepala sekolah sudah menjalankan proses pengembangan profesionalisme guru, karena dengan adanya forum seperti MGMP ini para guru dapat bertukar
  • 69.
    120 pikiran dan informasidalam hal mata pelajaran yang akan mereka sampaikan kepada peserta didik, baik menyangkut metode, media maupun materi pelajaran. Selain itu, para guru juga bisa saling berdiskusi denga masalah-masalah yang mereka hadapi dalam proses belajar mengajar di sekolah dan mencari jalan keluarnya. d. Penyediaan Fasilitas Penunjang Fasilitas penunjang sangat mutlak dibutuhkan untuk menunjang proses dan kegiatan belajar mengajar (KBM), dalam hal ini adalah penyediaan sumber belajar seperti sarana internet agar para guru dapat mengakses informasi-informasi baru yang mendukung terhadap pengembangan keilmuan dan profesionalnya, pengadaan bahan bacaan baru seperti buku, majalah kependidikan, jurnal kependidikan, dan akses internet sebagai tambahan sumber belajar juga menunjang terhadap peningkatan profesionalisme guru. Berkaitan dengan hal ini, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono menjelaskan: “Penyediaan fasilitas penunjang seperti sambungan internet dan pengadaan buku-buku penunjang merupakan salah satu perhatian saya selaku kepala sekolah, di SMK ini sudah ada sambungan internet untuk diakses, dan pihak sekolah selalu memperbaharui buku buku dengan membeli buku-buku baru, dan saya selalu menganjurkan kepada guru agar selalu mengakses informasi- informasi baru dan membeli buku-buku baru yang relevan dengan mata pelajaran masing-masing dan pihak sekolah yang membiayainya.” Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri sudah tersedia fasiltas penunjang seperti buku-buku perpustakaan, akses internet, media pembelajaran seperti audio visual, lab komputer dan lab bahasa. 121 Dengan tersedianya fasilitas penunjang tersebut, menurut hasil pengamatan peneliti yang berhasil didapat. Di perpustakaan, lab komputer, maupun di ruang guru, para guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri pada hari Senin tanggal 26 Januari 2015 sekitar jam 12.10 WIB terlihat para guru sangat enjoy menikmati fasilitas yang tersedia, ada yang asik baca buku, mengakses internet, berdiskusi antar guru, maupun ada yang khusyuk membaca majalah dan jurnal kependidikan, hal tersebut dilakukan untuk menunjang dan memperkaya bahan ajar yang akan disampaikan pada peserta didik. e. Meningkatkan Tunjangan Kesejahteraan Guru Tunjangan kesejahteraan guru termasuk bagian yang menjadi prioritas utama kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, berkaitan dengan hal ini, Drs. Aris Trilaksono menyatakan: “Tunjangan kesejahteraan merupakan bagian dari usaha saya dalam meningkatkan profesionalisme guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, para guru yang mendapat tugas tambahan mengajar, les privat, binsus, maupun yang terlibat dalam kegiatan intrakurikuler dan ekstra kurikuler saya beri tambahan insentif dan transport diluar gaji pokok guru”. Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan: “Tunjangan insentif dan transport yang diberikan kepada guru semata-mata untuk membantu meningkatkan kesejahteraan guru agar kinerja dan semangat guru menjadi meningkat, disamping itu, tunjangan kesejahteraan guru diberikan agar para guru menjadi fokus terhadap pekerjaannya supaya tidak disibukkan dengan mencari uang tambahan diluar tugas utamanya yaitu mengajar”.
  • 70.
    122 Dengan adanya perhatiankepala sekolah terhadap kesejahteraan guru, maka para guru-guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri diharapkan lebih berkonsentrasi terhadap pekerjaannya sebagai seorang pendidik dan selalu termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dan keahliaanya demi tercapainya visi dan misi sekolah kedepan. f. Membentuk Forum Silaturrahmi Antar Guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Dalam usaha meningkatkan kemampuan profesionalisme guru, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri Drs. Aris Trilaksono membentuk forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri seperti yang dipaparkan oleh Drs. Aris Trilaksono Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri: “Sejak saya menjabat kepala di sini saya membentuk forum semi formal yaitu forum silaturrahmi antar guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri untuk menjalin keakraban, mempererat hubungan emosional dan komunikasi antar guru, melakukan diskusi seputar pendidikan dan pengajaran, forum curhat antar guru mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi guru di sekolah dan juga dalam forum tersebut sebagai wadah untuk mencari solusi mengatasi persoalan-persoalan yang ada”. Senada dengan pernyataan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri tersebut, Drs. Marmin (guru DPK) mengemukakan bahwa: “Di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri sudah terbentuk forum silaturaahmi para guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri sebagai wadah silaturrahmi dan tempat melakukan diskusi mengenai persoalan yang dihadapi para guru, dan bertukar pendapat dan berbagi informasi baru antar guru. Di samping itu forum ini juga menampung pendapat, ide ide baru yang dikemukakan oleh guru demi kemajuan sekolah”. 123 Kemudian kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri menerangkan lebih lanjut mengenai forum silaturrahmi ini: “Forum silaturrahmi ini diadakan secara bergiliran di rumah guru- guru SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri, dan juga kadang- kadang disini, acara ini diselenggarakan setiap dua bulan sekali.” Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, para civitas akademika SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri mulai dari kepala sekolah, wakil kepala bidang, kepala TU maupun juga guru terlihat akrab dan terlihat hangat penuh rasa kekeluargaan, hal ini merupakan manfaat dari diadakannya forum silaturrahmi antar guru. g. Mengikutkan Dalam Program Sertifikasi Guru Usaha yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru adalah dengan mengikutkan guru dalam program sertifikasi guru. Dalam hal ini, Drs. Aris Trilaksono menjelaskan: “Semua guru disini saya ikutkan sertifikasi guru kalau memang sudah sesuai aturan untuk mengikuti sertifikasi, dan alhamdulillah sudah 9 orang yang berhasil lulus dalam sertifikasi guru termasuk saya”. Senada dengan penjelasan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri tersebut, Dra. Endang Purwantiningsih guru SMK Pancasila 8 Slogohimo yang lulus sertifikasi guru menjelaskan: “Guru-guru disini sudah ada 9 orang yang sudah lulus sertifikasi, diantaranya adalah saya dan kepala sekolah”.
  • 71.
    124 Adapun guru SMKPancasila 8 Slogohimo Wonogiri yang lulus sertifikasi guru dalam jabatan adalah Dra. Endang Purwantiningsih, Toto Kasih Suhartoko, S.Pd., Suradi, S.Pd., Sri Mulyani, S.Pd., Sri Rahayu, S.Pd., Sudir, S.Pd., Maryadi, S.Pd.,Drs. Aris Trilaksono, S.Pd dan Drs. Marmin Subur, S.Pd. Kebijakan kepala sekolah dalam mengikutkan guru- guru dalam program sertifikasi adalah sebuah tindakan yang membantu guru untuk memperoleh pengakuan secara resmi dengan diterbitkannya piagam/sertifikat sebagai tenaga guru yang profesional. Dengan adanya dorongan dan motifasi yang kuat dari kepala sekolah, guru-guru SMK Pancasila 8 Slogohimo akan lebih bersemangat dalam mempersiapkan bahan-bahan untuk mengikuti ujian sertifikasi, sehingga guru yang lolos sertifikasi secara dejure diakui oleh undang-undang sebagai guru yang profesional. 3. Evaluasi Kompetensi Manajerial yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru Dalam mengembangkan profesionalisme guru, evaluasi secara transparan dan obyektif mutlak diperlukan, dan evaluasi merupakan kegiatan akhir dari proses dan tindakan manajemen. Evaluasi atau penilaian terhadap guru biasanya lebih difokuskan pada prestasi individu guru terutama dalam kegiatan proses belajar mengajar, dan peran sertanya dalam kegiatan pendidikan di sekolah. SMK Pancasila 8 Slogohimo dibawah pimpinan Drs. Aris Trilaksono sebagai kepala sekolah selalu mengadakan penilaian dan evaluasi terhadap guru terutama menyangkut 125 kinerja guru di sekolah. Berkaitan dengan hal ini kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo menyampaikan, bahwa: “Untuk melihat perkembangan guru, terutama dalam proses belajar mengajar di kelas dan kinerja guru di sekolah, saya selaku kepala selalu memantau dan menilai guru dengan melakukan supervisi terhadap guru, baik melalui teknik kunjungan kelas, pembicaraan secara individu maupun dalam diskusi kelompok dalam acara silaturrahmi antar guru”. Lebih lanjut Drs. Aris Trilaksono menjelaskan, “Di samping melakukan kegiatan supervisi pendidikan dalam melakukan penilaian pribadi, saya setiap hari mengecek kehadiran guru melalui presensi kehadiran guru di kelas, ketika saya mendapatkan guru-guru yang mempunyai masalah, saya memanggilnya ke kantor untuk menanyakan problem-problem apa yang sedang dihadapi, kemudian saya mengajak diskusi untuk mencari jalan keluarnya, selain itu saya juga mengoptimalkan layanan bimbingan konseling untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh guru”. Penilaian terhadap guru yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk mengetahui hal-hal yang menyangkut pribadi, status, pekerjaan, prestasi kerja maupun perkembangan guru sehingga dapat dikembangkan pertimbangan nilai obyektif dalam mengambil tindakan terhadap seorang tenaga khusus yang diperlukan untuk mempertimbangkan; kenaikan pangkat, gaji berkala, penghargaan, pemindahan jabatan (promosi), perpindahan wilayah kerja (mutasi). Seorang evaluator dalam hal ini kepala sekolah selalu bersikap obyektif dalam melakukan penilaian terhadap guru agar mudah untuk membina dan meningkatkannya. Sasaran penilaian terhadap guru yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah meninjau
  • 72.
    126 kembali catatan-catatan dalamkelas seperti prestasi dan perkembangan siswa, hasil tes, rencana pembelajaran. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Drs. Aris Trilaksono: “Yang menjadi sasaran penilaian selain kinerja guru, kehadiran guru, saya juga melakukan penilaian terhadap guru dengan mengecek catatan-catatan dikelas, perkembangan siswa, prestasi siswa, hasil tes baik harian, mingguan, bulanan hingga semesteran dan juga silabus dan RPP yang dibuat oleh guru”. Penjelasan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo tersebut diperkuat oleh pernyataan Sri Haryanti, B.A. selaku wakil kepala sekolah bidang kurikum menyatakan: “Evaluasi guru dilakukan oleh kepala sekolah dengan menyesuaikan waktu yang ada”. Selain melakukan supervisi, metode yang dipakai untuk menilai kondisi dan perkembangan guru baik kinerja dan kompetensinya adalah dengan membuat format penilaian yang sudah dibakukan oleh pemerintah untuk menilai kinerja guru dan staf dilingkungan Dinas Pendidikan yaitu Sasaran Kerja Pegawai (SKP) yang dulu disebut Daftar Penilaian Kinerja (DP3). Penilaian ini biasanya dilakukan disetiap akhir tahun. Pernyataan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dan Wakil kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo diatas sesuai dengan hasil pengamatan peneliti di lapangan, Drs Aris Trilaksono sebagai kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo setiap pagi selalu berkeliling sekolah untuk mengecek satu persatu ruang kelas untuk memastikan apakah ada ruang kelas yang kosong/guru yang tidak masuk kelas. 127 Terkait dengan hal ini, pada tanggal 27 Januari 2015, Drs. Aris Trilaksono terlihat mondar mandir mengelilingi seluruh kelas yang ada di SMK Pancasila 8 Slogohimo, dan beliaupun berhenti didepan kelas XII Ak.3 karena kelas tersebut tampak kosong karena guru Bahasa Inggris hari itu izin tidak bisa mengajar, kemudian beliau mengucapkan salam “Assalamu’alaikum?” kemudian para siswa kelas tersebut seperti dikomando mungkin dari saking gembirannya diajar langsung oleh kepala sekolah “wa’alaikum salam”. Kemudian beliau bertanya kabar seluruh sisiwa kelas XII, dan kepala sekolah juga bertanya seputar cara mengajar guru bahasa Inggris ini. Ternyata mayoritas para siswa menjawab menyenangkan.
  • 73.
    128 BAB V PENUTUP Dalam babini akan dikemukakan kesimpulan, implikasi dan saran. Penarikan kesimpulan berdasarkan paparan data, analisis kasus, dan temuan penelitian yang disesuaikan dengan fokus penelitian. Saran-saran yang dikemukakan berupa hal-hal yang menarik yang belum terungkap dan terpecahkan dalam studi ini, sehingga dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya. A. Kesimpulan Sesuai dengan fokus utama penelitian ini yaitu kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dengan sub fokus penelitian yaitu : perencanaan kompetensi manajerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, dan evaluasi kompetensi manjerial yang dilakukan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru, maka berdasarkan paparan data, analisis kasus, temuan penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: 128 129 1. Perencanaan Kompetensi Manajerial yang dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Perencanaan kompetensi manajerial dalam meningkatkan profesionalisme guru yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri adalah berdasarkan visi, misi, tujuan sekolah, dan kebutuhan (need assesment). Dalam merencanakan peningkatan profesionalisme guru kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melibatkan seluruh unsur civitas akademika sekolah termasuk guru. Dalam merencanakan peningkatan profesionalisme guru kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melakukan rekrutmen guru GTT baru dan melakukan analisis jabatan pekerjaan, juga dalam melakukan proses rekrutmen kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri melalui prosedur seleksi yang komprehensif (comprehensive selection). Perencanaan peningkatan profesionalisme guru dilakukan dalam rapat kerja dan dijabarkan dalam rencana strategis dan rencana operasional sekolah. 2. Pelaksanaan Kompetensi Manajerial yang Dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Pelaksanaan kompetensi manajerial yang dilakukan oleh kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam meningkatkan profesionalisme guru adalah dengan melakukan berbagai upaya diantaranya adalah :
  • 74.
    130 Mengikutkan dalam berbagaiforum ilmiah (seperti diklat, penataran, seminar, maupun workshop),studi lanjut, revitalisasi MGMP, membentuk forum silaturrahim antar guru, meningkatkan kesejahteraan guru, penambahan fasilitas penunjang dan layanan serta penambahan koleksi perpustakaan, mengoptimalkan layanan bimbingan konseling, studi banding ke sekolah/madrasah lain secara personal dan sertifikasi guru. 3. Evaluasi yang Dilakukan Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Melakukan supervisi pendidikan bagi guru secara personal maupun kelompok, baik dengan teknik supervisi pendidikan secara langsung (directive) dan tidak langsung (non direcvtive). Aspek penilaian dalam supervisi pendidikan adalah presensi guru, kinerja guru di sekolah, perkembangan siswa (hasil tes dan prestasi siswa), RPP, dan silabus. Dalam melakukan evaluasi, kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri disamping menggunakan supervisi pendidikan, juga menggunakan format Sasaran Kerja Pegawai (SKP) / Daftar Penilaian Pekerjaan (DP3). B. Implikasi 1) Perencanaan peningkatan profesionalisme guru yang berlandaskan visi, misi, dan tujuan sekolah yang sudah direncanakan dan ditetapkan serta melibatkan para guru dapat mempermudah mencapai tujuan yaitu meningkatnya guru yang professional 131 2) Perencanaan yang berdasarkan analisa kebutuhan, analisa pekerjaan dan berorientasi masa depan dapat mengindari salah sasaran, tumpang tindih (over lapping) pekerjaan dan tugas 3) Pengadaan atau rekrutmen guru baru yang melalui prosedur yang tepat akan menjadi faktor determinan tersedianya guru baru yang profesional. 4) Guru yang mengikuti pendidikan, latihan (inservice training education), seminar, dan workshop akan menjadi faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru 5) Guru yang memenuhi standar kualifikasi, lulus sertifikasi guru, ditempatkan secara tepat, dan kesejahteraannya dipenuhi akan menjadi faktor determinan meningkatnya profesionalisme guru. 6) Efektifnya organisasi profesi guru, kuatnya hubungan emosional dan rasa kekeluargaan yang tercipta dengan adanya wadah atau forum silaturrahim antar guru dapat meningkatkan kualitas guru dalam mengajar, berkepribadian, profesional, dan bermasyarakat. 7) Pengelolaan dan peningkatan layanan kepustakaan yang baik dengan tersedianya buku teks bacaan yang memadai dapat memperluan wawasan dan mempertinggi kualitas mengajar guru. 8) Pengelolaan dan penyediaan fasilitas akses internet, laboratorium komputer dan bahasa dapat meningkatkan profesionalisme guru. 9) Penilaian atau supervisi terhadap guru yang dilakukan secara obyektif dan transparan sangat membantu mengetahui kondisi dan perkembangan profesionalisme guru
  • 75.
    132 10) Penilaian dansupervisi yang dilakukan berdasarkan prosedur, format dan instrumen penilaian yang tepat dapat mempermudah mengetahui kondisi dan perkembangan guru secara obyektif C. Saran Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka berikut ini kami sampaikan saran kepada: 1. Kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo Wonogiri a) Agar tetap berusaha lebih optimal dalam merencanakan program peningkatan profesionalime guru yang berorientasi pada tercapainya visi, misi dan tujuan sekolah. Pengadaan guru tetap mengacu pada prosedur dan mekanisme yang sudah ditetapkan dalam rencana operasional (Renop). b) Agar lebih meningkatkan kesempatan bagi para guru untuk mengikuti program peningkatan kompetensi dan profesionalisme baik yang diadakan oleh sekolah, pemerintah maupun pihak lain yang memiliki kualifikasi dan telah tersertifikasi. 2. Penyelenggara pendidikan dan kepala SMK dan SMU dan atau yang sederajat pada umumnya a) SMK ini bisa dijadikan percontohan kepala sekolah sebagai seorang manajer dalam mengelola dan meningkatkan profesionalisme guru bagi SMK dan atau yang sederajat yang masih kurang optimal dalam hal penegelolaan dan peningkatan profesionalisme guru 133 b) Memperhatikan aspek keberhasilan pengelolaan dan peningakatan profesionalisme guru selain ditentukan oleh kompetensi manajerial dan kepiawaian kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru juga di pengaruhi oleh komitmen guru dan keterlibatan dan partisipasi dari semua civitas pendidikan sekolah untuk turut merencanakan, mengembangkan dan mengevaluasi peningkatan profesionalisme guru. 3. Pemerintah/pengambil kebijakan a) Agar segera dilaksanakannya sertifikasi kepala sekolah supaya calon kepala sekolah memenuhi standar b) Agar selalu memberikan dukungan dan motivasi terhadap sekolah seiring diberlakukannya otonomi sekolah secara luas. 4. Para peneliti lain a) Agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang mampu mengungkapkan lebih dalam tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam menigkatkan profesionalisme guru ditinjau dari berbagai bidang yang lain. Sebab penelitian ini mengandung sejumlah keterbatasan. b) Agar ditindak lanjuti langkah-langkah dengan menyelenggarkan studi yang sama pada setting yang lain, juga sekolah lain pada umumnya yang dapat berperan sebagai kasus negatif yang diperlukan untuk memberi data tambahan guna mengurangi kesalahan temuan penelitian ini.
  • 76.
    134 DAFTAR PUSTAKA Aqib. Zainal.(2002). Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya: Cendikia Arikunto, Suharsimi. (2001). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara ____. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta Arni Hayati. (tt). Guru Bermutu Pendidikan Juga Bermutu. www.Fai.Uhamka.ac.id Arsyad, Muhammad. (2008). Mencermati Standar Kepala Sekolah. (online) (www.PendidikanNetwork.co.id) Ary, Donal.(2002). An Invtation to Research in Social Education. Baverly Hills: Sage publication Bafadal, Ibrahim. (2003). Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar: Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara. ____. (2008). Tuntutan Profesionalisme Kepala Sekolah. Materi Seminar “Menyongsong Era Profesionalisme Kepala Sekolah” disajikan pada tanggal 15 Desember 2008 di Aula Utama Universitas Negeri Malang (UM) Bogdan, RC dan Biklen. SK. (1992). Qualitative Research for Educational to theory and methods. London; Allyn and Bacon. Inc. Burhanuddin. (1994). Analisis Administrasi, Mmanajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Camalia, Khoirul. (2005). Manajemen Pengembangan Kompetensi Pendidik. Tesis, tidak diterbitkan. Malang Program Pascasarjan UIN Malang Chomzanah, Nunung et., al. (1998). Dasar-Dasar Manajemen. Bandung: Penerbit Armico Damayanti, Sri. (2008). Profesionalisme Kepala Sekolah. (online), (http://Akhmadsudrajat.wordpress.com) Danim, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: PT Pustaka Setia 134 135 _____. (2005). Visi Baru Manajemen, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga. Akademik. Jakarta : Bumi Aksara Daryanto, M. (2001). Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Sertifikasi Guru dalam Jabatan (Materi Sosialisasi sertifikasi guru) Depdikbud RI. (1994). Pedoman Pembinaan Profesional Pendidik Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Dimeck. (1954). The Executive in Action. New York: Harpen and Bross Efendy, Onong Uchjana. (1993). Human Relation dan Public Relation. Bandung: Mandar Maju Effendy, Mochtar. (1986). Manajemen: Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Jakarta: PT Bhatara Karya Aksa ____. (1986). Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Jakarta: Bhrata Karya Aksara Faisal, Sanapiah. (1990). Penelitian Kualitatif, Dasar-Dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh Glasser, BG. & Strauss, A.L. (1974). The Discovery of Grounded Theory Strategies for Research. Chicago: Aldine Publishing Company Gorton, Richard A. (1977). School Administration (challenge and opportunity for leadership). USA: Wm. C Brown Company Publishers H. A. R. Tilaar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Persepektif Abad 21. Magelang: Indonesia Tera Haris Herdiansyah. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Salemba Humanika Hasibuan, Malayu SP. (2001). Manajemen: Dasar, Pengertian, dan Masalah. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara Hayati, Arni. (2009). Guru Bermutu Pendidikan Juga Bermutu. www.Fai.Uhamka.ac.id Ibrahim Bafadal. (2008). Tuntutan Profesionalisme Kepala Sekolah. Materi Seminar Nasional “Menyongsong Era Profesionalisme Kepala Sekolah” disampaikan pada tanggal 15 Desember 2008 di Aula Utama Universitas Negeri Malang (UM)
  • 77.
    136 Iif Khoiru Ahmadi.(2005). Manajemen pengembangan profesionalisme pendidik di MI (studi kasus di MIJS Malang). Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang Jannah, Maidatul. (2004). Manajemen Kinerja Guru Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru Studi Kasus di MTsN 1 Malang. Tesis, tidak diterbitkan. Malang Program Pascasarjana UIN Malang Khoirul Camalia. (2005). Manajemen pengembangan kompetensi pendidik (studi kasus di SMA unggulan Zainul Hasan Probolinggo). Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang Kusnan. (2007). Kemampuan Manajerial Kepala Madrasah dan Implikasinya Terhadap Kinerja Guru. Jakarta: Jurnal IQRA’ Volume 3 Januari 2007 Kusnandar. (2007). Guru Profesional. Jakarta: PT Raja Grafindo Lamatenggo. (2001). Kinerja Guru: Korelasi antara Persepsi Guru terhadap Perilaku Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Kinerja Guru SD di Gorontalo. Tesis. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Lazaruth, Soewadji. (1994). Kepala Sekolah dan Tanggung Jawabnya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Lincoln, Guba.(tt). Naturalistic Inquiry. New Delhi: Sage Publication, inc M.B.Miles, dan Huberman, A.M. (1994). Qualitatif Data Analysis. Jakarta: UI Press _____. (1988). Qualitatif Data Analysis. California: Sage Publication Inc Miftah Toha. (1995). Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Moedjiarto. (2001). Sekolah Unggul: Metodologi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jakarta: Duta Graha Pustaka Moleong, Lexy. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Mondy, R.W., Sharplin, A. dan Flippo, E.B. (1988). Management, Concept and Practice. Boston : Allyn and Bacon, Inc Muhadjir, Noeng. (1993). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Muhaimin. (2003). Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 137 Muhajir. (1988). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin Muhammad Arsyad. (tt). Mencermati Standar Kepala Sekolah. www.pendidikan.network.co.id Mulyasa, E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep,Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya _____. (2007). Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosda Karya _____. (2003). Menjadi Kepada Sekolah Profesional, dalam konteks Mensukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Remaja Rosda karya _____. (2007). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, cet ke-VII Nata, Abuddin. (2001). Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Grasindo Nawawi dan Mimi Martini. (1994). Penelitian Terapan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Nawawi. Hadari. (1983). Administrasi Pendidikan. Jakarta: PT Gunung Agung _____. (2001). Kepemimpinan Menurut Islam. Yogyakarta: Gajahmada University Press Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah dan Madrasah Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. (2007). Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah Nomor 13 Tanggal Tahun 2007 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. (2007). Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pidarta, Made. (1988). Manajemen pendidikan Indonesia. Jakarta: Bina Aksara Purwanto, Ngalim. (1998). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya Rahman (at all). (2006). Peran Strategis Kapala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jatinangor: Alqaprint. Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen serta UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS. Bandung: Penerbit Citra Umbara
  • 78.
    138 Robbins. SP. (1984).Essentials of organizational behavior. Englewoods Cliffs, NJ: Prentice Hall, inc Robert A. Sutermeister. (1976). People and Productivity. New York: McGraw Hill Book Company Sa’ud, Udin Syaifudin. (at all). (2007). Perencanaan Pendidikan Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Sadili, Samsudin. (2006). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: CV. Pustaka Setia Sagala, Syaiful. (2002). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta Sahertian, Piet. A. (2000). Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Saksono, Slamet. (1997). Administrasi Kepegawaian. Yogyakarta: Kanisius Schuler, Randall S. (1987). Personal and Human Resource Management. Third Edition. United States Of America, tanpa penerbit Scriven, Michael. (2008). Formative and Summative Evaluation. http://www.heirn.com/atoz/atozf/formeval.php Sergiovanni, Thomas J.( tt). Educational Governance and Administration. Prentice Hall Inc Siagian, Sondang. P. 1992. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara _____. (2004). Manajemen Strategik. Jakarta: Bumi Aksara Silahahi, Ulbert. (2002). Studi tentang Ilmu Administrasi: Konsep, Teori, dan Dimensi. Bandung: Sinar Baru Algensindo Siti Mardiyatul Jannnah. (2008). Manajemen strategik peningkatan mutu pendidik (studi multi kasus di MAN Tlogo Blitar dan SMAN Talun Blitar). Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang Spencer, M,. Lyle, Jr and Signe M. Spencer. (1993). Competency at work Models for Superior Performance. New York: John Wiley & Sons Inc Sri Rahmi. (2003). Kepemimpinan kepala madrasah dalam meningkatkan profesionalisme guru (studi kasus di MAN 1 Malang). Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPs UIN Malang 139 STAIN Surakarta. (tt). Panduan Penulisan Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana STAIN Surakarta Stephen P Robbin. Alih bahasa: Halida, dan Dewi Sartika. (1999). Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: PT Erlangga Stoner. James A.F. (1982). Management, Second Edition. Englewood Cliffs: Prantice Hal Inc Sudarwan Danim. (2005). Visi Baru Manajemen, Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik. Jakarta: Bumi Aksara Sudrajat, Akhmad. (tt). Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah. http://andalas-comunity.blogspot.com/2008/06/kemampuan-manajerial- kepala-sekolah.html _____. (tt). Manajemen Kinerja Guru. (online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/29/manajemenkinerjaguru/ Sukarno, Edy. (2000). Sistem Pengendalian Manajemen, Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Surya, Muhammad. (2007). Organisasi Profesi, Kode Etik dan Kehormatan Guru. Tanpa nama kota dan penerbit Sutisna, Oteng. (1983). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek dan Profesional. Bandung: Angkasa Sutopo, Hendyat . (2001). Manajemen Pendidikan. Malang: Program Pascasarjan Universitas Negeri Malang Sutopo. (1999). Administrasi, Manajemen dan Organisasi. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Syarifuddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan : Konsep, Strategi dan Apliaksi. Jakarta, PT. Grasindo Syarnubi Som. (2008). Kepala Madrasah Sebagai The Key Person Madrasah. http://syarnubi.wordpress.com/2008/12/31/75/kepalamadrasahsebagaithe key person madrasah Tanthowi, Jawahir. (1983). Unsur-unsur Manajemen Menurut Ajaran Al-Qur'an. Jakarta: Pustaka al-Husna Taylor W. Fridreck. (1974). Scientific Management. New York : Happer and Breos Thoha, M. Chabib. (1991). Tekhnik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
  • 79.
    140 Thomas J. Sergiovanni.(tt). Educational Governance and Administration. Prentice Hall Inc Tilaar. H. A. R. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Persepektif 21. Magelang: Indonesia Tera Toha, Miftah. (2005). Perilaku Organisasi Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: PT.Raja Grafindo Usmara, A. (ed). (2002). Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Amara Books Uwes, Sanusi. (1999). Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu Wahidmurni. (2008). Menulis Proposal Dan Laporan Penelitian Lapangan: Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif, Skripsi, Tesis, Desertasi. Tidak diterbitkan, Malang Program Pascasarjan UIN Malang Wahjosumidjo. (1999). Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Widjaya, AW. (1987). Perencanaan sebagai Fungsi Manajemen. Jakarta: PT Bina Aksara Wursanto. (1988). Manajemen Kepegawaian 2. Yogyakarta: Kanisius Yamin, Martinis. (2006). Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press Yuniarsih, Tjutju dan Suwatno. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta Zainal Aqib. (2002). Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya: Cendikia 141 LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • 80.
    142 LAMPIRAN 1 PANDUAN OBSERVASI No.Aktivitas Yang diamati Keterangan 1. Pengamatan komplek sekolah dan lingkungannya Sekolah berada di pinggir jalan raya sehingga memudahkan akses transportasi 2. Pengamatan ruang kepala sekolah Ruang kepala sekolah tersendiri dan tidak jauh dari ruang guru dan ruang tata usaha 3. Pengamatan struktur organisasi sekolah Struktur yang baik, efisien, efektif dan praktis 4. Pengamatan suasana kegiatan belajar mengajar di kelas KBM berjalan dinamis, kreatif dan inovatif 5. Pengamatan suasana belajar di kelas Sangat kondusif, terkendali dan menyenangkan 6. Pengamatan ruang guru Ruang guru dalam kondisi bersih, tertata dengan rapi dan indah 7. Pengamatan ruang kelas Ruang kelas dalam keadaan bersih, rapi, dan setiap ruang dilengkapi dengan LCD 8. Pengamatan ruang perpustakaan Penataan buku dalam keadaan rapi, ruang baca cukup memadai 9. Pengamatan kegiatan ekstra kurikuler Kegiatan ekstra Rohis, Pramuka, Musik, Teater dan olah raga berjalan dengan baik 143 LAMPIRAN 2 PANDUAN WAWANCARA A. Perencanaan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah 1. Bagaimana proses perencanaan peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? 2. Sejauh mana keterlibatan dan kontribusi para guru dalam proses perencanaan peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo? 3. Bagaimana sikap kepala sekolah terhadap pendapat dan masukan guru pada waktu musyawarah perencanaan peningkatan profesionalisme guru? 4. Apa strategi yang dilakukan untuk merumuskan perencanaan peningkatan profesionalisme guru sehingga visi dan misi sekolah dapat tercapai ? 5. Bagaimana proses rekruitmen tenaga pendidik untuk memenuhi kebutuhan guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? B. Pelaksanaan Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah 1. Apa saja usaha yang dilakukan dalam upaya peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? 2. Bagaimana strategi pembiayaan yang dilakukan oleh sekolah terhadap kegiatan peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo? 3. Bagaimana optimalisasi kegiatan MGMP sebagai forum peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? 4. Bagaimana ketersediaan fasilitas yang ada di SMK Pancasila 8 Slogohimo
  • 81.
    144 dalam upaya mendukungpeningkatan profesionalisme guru ? 5. Apa strategi yang dibangun dalam rangka meningkatkan interaksi antara kepala sekolah dan jajarannya dengan guru seluruh stakeholder di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? C. Evaluasi Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah 1. Apa bentuk kegiatan yang Anda lakukan untuk menilai profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? 2. Apa usaha yang Anda lakukan ketika menjumpai guru yang sedang menghadapi masalah sehingga mengganngu kinerjanya ? 3. Apa yang menjadi sasaran efaluasi terhadap profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo ? 145 LAMPIRAN 3 DOKUMENTASI KEGIATAN 1. Kegiatan di Laboratorium Bahasa
  • 82.
    146 2. Kegiatan Pembelajarandi Laboratorium Komputer 147 3. Praktek peserta didik jurusan RPL di bengkel Komputer
  • 83.
    148 CATATAN LAPANGAN Hari :Senin, 5 Januari 2015 Waktu : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo A. Diskripsi Pada tanggal 5 Januari 2015 jam 09.00 saat istirahat peneliti datang ke SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk mengadakan penelitian tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru. Pada saat itu saya datang disambut oleh bapak kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo dan segenap guru dan karyawan karena bersamaan dengan sosialisasi Ujian Nasional tahun pelajaran 2014/2015. Pada waktu itu saya mengutarakan maksud dan keinginan saya untuk mengadakan penelitian di SMK Pancasila 8 Slogohimo dengan menjelaskan maksud dan tujuan penelitian agar tidak terjadi salah faham dari semua fihak. Setelah saya presentasi secukupnya di hadapan bapak/ibu guru dan karyawan saya meminta jadwal waktu untuk mengadakan penelitian. Setelah selesai presentasi saya minta selama lima hari kedepan untuk disiapkan profil sekolah dan data-data lain yang akan saya gunakan sebagai bahan penelitian tentang kompetensi manajerial kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo B. Tafsir Seperti yang kita ketahui bahwa kepemimpinan di SMK Pancasila 8 Slogohimo bersifat kolektif kolegial. Setiap ada kegiatan apa pun selalu dipersiapkan dan direncanakan dengan adanya musyawarah dan selalu disosialisasikan ke semua warga sekolah. Hal ini untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan kebersamaan dalam usaha mencapai tujuan bersama. 149 CATATAN LAPANGAN Hari : Senin,12 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Ruang Kepala Sekolah Pelaku : Bapak Drs. Aris Trilaksono A. Diskripsi Pada tanggal 12 Januari 2015 saya datang kembali ke SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk mendapatkan data-data yang saya inginkan dengan bertemu Bapak kepala sekolah. Di samping itu saya juga memberikan beberapa pertanyaan kepada beliau diantaranya : Peneliti : Apakah Bapak menyusun rencana program peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo? Drs. Aris Tri L. : Iya. Program peningkatan profesionalisme tersebut merupakan prioritas utama dalam perencanaan kami. Karena mutu tidaknya kualitas KBM ditentukan oleh profesionalisme pendidiknya. Peneliti : Bagaimana proses perencanaan itu dilakukan? Drs. Aris Tri L. : Proses perencanaan itu dilakukan melalui pertemuan, diskusi atau musyawarah untuk merumuskan perencanaan yang baik, akurat dan mampu diwujudkan. Peneliti : Siapa saja yang terlibat dalam perencanaan itu? Drs. Aris Tri L. : Kami melibatkan seluruh stakeholder, utamanya bapak/ibu guru yang merupakan aktor utama dalam KBM. B. Tafsir Peningkatan profesionalisme guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo merupakan program prioritas yang didesain secara bersama-sama khususnya para guru dalam forum rapat.
  • 84.
    150 CATATAN LAPANGAN Hari :Kamis,15 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo Pelaku : Ibu Sri Haryanti, BA (Waka Bidang Kurikulum) A. Diskripsi Pada tanggal 15 Januari 2015 saya datng kembali ke SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk bertemu dan melakukan wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dengan materi pertanyaan : Peneliti : Bagaimana interaksi antara kepala sekolah dengan para guru gi SMK Pancasila 8 Slogohimo? Sri Haryanti, BA : Interaksi antara kepala sekolah dengan guru dan dan seluruh stakeholder berlangsung harmonis, akrab dan penuh dengan rasa persaudaraan. Peneliti : Apakah kepala sekolah bersikap akomodatif dalam merespon ide atau gagasan para guru? Sri Haryanti, BA : Iya. Kepala sekolah kami sangat demokratis dan responsive, sehingga beliau sangat menghargai terhadap segala usul, saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya. Peneliti : Apakah di SMK Pancasila Slogohimo forum diskusi untuk memperluas pengetahua dan ,wawasan guru? Sri Haryanti, BA : Iya. Bahkan sudah berjalan selama tiga tahun yang lalu. Ternyata manfaatnya sangat besar sekali. Bahkan bukan hanya pengetahuan dan wawasan guru yang meningkat, tetapi kawan-kawan juga semakin PD dalam berinteraksi dengan pihak-pihak lain. 151 B. Tafsir Nilai-nilai demokrasi sangat dikembangkan di SMK Pancasila 8 Slogohimo. Terbukti kepala sekolah sangat akomodatif dalam merespon terhadap ide-ide, usul, masukan dan saran bahkan kritik dari para guru. Ini karena dampak dari forum diskusi yang diadakan setiap tengah semester dan guru secara bergiliran menyampaikan makalah.
  • 85.
    152 CATATAN LAPANGAN Hari :Senin,19 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo Pelaku : Bapak Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom (Guru) A. Diskripsi Untuk melengkapi data yang kami perlukan, kami melakukan wawancara dengan bapak Yossy Firman P, S.Pd. S.Kom salah satu guru mata diklat komputer dengan beberapa pertanyaan : Peneliti : Apakah di SMK Pancasila 8 Slogohimo memiliki Rencana Operasional (Renop)? Yossy F.P. S.Pd : Benar. Sekolah kami memiliki rencana operasional sebagai pedoman dan rambu-rambu agar semua kegiatan sejalan dengan visi dan missi sekolah. Peneliti : Apa saja program-program dalam Renop yang bapak ketahui? Yossy F.P., S.Pd : Rekrutmen guru, pembinaan dan pengembangan profesionalisme guru, monitoring dan evaluasi. Peneliti : Apakah program-program tersebut sejauh ini dapat direalisasikan? Yossy F.P., S.Pd : Alhamdulillah, menurut saya program-program tersebut dapat direalisasikan dengan baik. Peneliti : Apa dampak yang dihasilkan ? Yossy F.P.,S.Pd : Tanggung jawab guru baik secara administratif maupun kegiatannya semakin baik dan tertib. 153 B. Tafsir Semua program kegiatan sekolah harus berorientasi pada pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah. Agar dalam pelaksanaan program tidak tumpang tindih dan tetap sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah maka perlu disusun rencana operasional (Renop).
  • 86.
    154 CATATAN LAPANGAN Hari :Rabu,21 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Ruang Kepala Sekolah Pelaku : Bapak Drs. Aris Trilaksono A. Diskripsi Pada hari Rabu tanggal 21 Januari 2015 peneliti melakukan wawancara dengan kepala SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk melengkapi data-data yang peneliti perlukan. Peneliti : Apakah jumlah guru di SMK Pancasila 8 sudah sesuai dengan kebutuhan? Drs. Aris Tri L. : Ya. Alhamdulillah jumlah guru di sekolah kami sesuai dengan kebutuhan, sehingga masing-masing dapat melaksanakan tugas secara optimal. Peneliti : Apakan guru-guru mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya? Drs. Aris Tri L. : Ya benar. Bapak/ibu guru mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Peneliti : Bagaimana proses rekrutmen guru yang dilakukan di SMK Pancasila 8 Slogohimo? Drs. Aris Tri L. : Kami selama ini melakukan seleksi secara ketat, agar kami benar-benar mendapatkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dan komitmen. Peneliti : Apakah dalam rekrutmen guru juga melibatkan pihak lain? Drs. Aris Tri L. : Benar. Dalam proses rekrutmen guru kami juga berkonsultasi dengan pihak Yayasan dan Dinas Pendidikan. 155 B. Tafsir Untuk mendapatkan calon tenaga pendidik yang berkualitas, kompeten dan memiliki komitmen perlu dilakukan seleksi dengan menetapkan beberapa kreteria dan kualifikasi yang dibakukan. Sehingga para guru mampu melaksa- nakan KBM secara baik.
  • 87.
    156 CATATAN LAPANGAN Hari :Rabu,21 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo Pelaku : Bapak Marmin Subur, S.Pd (Ketua Program) A. Diskripsi Pada hari Rabu, tanggal 21 Januari 2015 peneliti juga melakukan wawancara dengan Ketua Program Akuntansi SMK Pancasila 8 Slogohimo untuk melengkapi data-data yang peneliti perlukan. Peneliti : Apakah guru-guru di SMK Pancasila 8 Slogohimo sudah tersertifikasi? Marmin Subur,S.Pd : Belum semuanya. Karena mayoritas guru-guru di Sini baru memiliki masa kerja di bawah 8 tahun. Peneliti : Ada berapa orang yang sudah sertifikasi? Siapa saja? Marmin Subur,S.Pd : Yang sudah sertifikasi ada 9 orang. Mereka adalah pak Aris, Bu Endang, pak Toto, pak Suradi, Bu Sri Mulyani, bu Sri Rahayu, pak Maryadi dan pak Marmin Subur. Peneliti : Bagaimana sikap profesionalisme guru-guru yang sudah sertifikasi? Marmin Subur,S.Pd : Alhamdulillah menurut saya mereka sangat tertib, disiplin, penuh rasa tanggung jawab dalam menjalankan KBM dan tugas-tugas lainnya. B. Tafsir Program sertifikasi sangat berpengaruh terhadap profesionalisme guru. Karena program tersebut mampu merubah mainset guru sehingga guru merasa Tertuntut untuk meningkatkan kompetensinya baik secara pedagogis, personal, sosial dan profesionalnya. 157 CATATAN LAPANGAN Hari : Kamis, 22 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo Pelaku : Bapak Maryadi, S.Pd (Waka Bidang Kesiswaan) A. Diskripsi Pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2015 peneliti menemui Bapak Maryadi, S.Pd, selaku Waka Kesiswaan untuk melakukan wawancara dengan beberapa pertanyaan berikut ini : Peneliti : Apa yang dilakukan kepala sekolah untuk mening- katkan profesionalisme guru? Maryadi, S.Pd : Mengikutkan guru dalam program diklat, workshop, seminar, loka karya secara bergantian. Peneliti : Bagaimana pembiayaannya? Maryadi, S.Pd : Semua biaya untuk mengikuti kegiatan tersebut ditanggung oleh pihak sekolah, sehingga guru tidak merasa terbebani. Peneliti : Sejauh mana aplikasi hasil diklat dalam kegiatan KBM di sekolah? Maryadi, S.Pd : Mereka berusaha untuk menerapkannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas meskipun belum sepenuhnya. B. Tafsir Untuk meningkatkan kompetensinya para guru harus difasilitasi dalam mengikuti kegiatan diklat, workshop, seminar pendidikan, loka karya. Oleh karena itu alokasi penganggaran untuk peningkatan kompetensi guru harus di- tingkatkan.
  • 88.
    158 CATATAN LAPANGAN Hari :Kamis, 22 Januari 2015 Jam : 09.40 – Saat istirahat Tempat : Kantor SMK Pancasila 8 Slogohimo Pelaku : Bapak Pujiono, S.Pd (Waka Bidang Sarpras) A. Diskripsi Pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2015 peneliti menemui Bapak Pujiono, S.Pd, selaku Waka Bidang Sarpras untuk melakukan wawancara dengan beberapa pertanyaan berikut ini : Peneliti : Bagaimana ketersediaan fasilitas penunjang KBM Di SMK Pancasila 8 Slogohimo? Pujiono, S.Pd : Fasilitas penunjang KBM di sini sangat memadai untuk semua jurusan yang ada. Sehingga pelaksa- naan KBM dapat berjalan lebih produktif. Peneliti : Apa saja fasilitas tersebut? Pujiono, S.Pd : Sambungan internet, laboratorium bahasa, lab komputer, bengkel computer,dan perpustakaan. masih ada lagi sarana olah raga yang memadai, Alat seni musik baik keroncong maupun band, ruang untuk membatik sekaligus alatnya. Peneliti : Bagaimana optimalisasi pemanfaatan fasilitas itu? Pujiono, S.Pd : Semua fasilitas yang ada dimanfaatkan dengan baik dan maksimal. Semua didaya gunakan. B. Tafsir Untuk menciptakan KBM yang berkualitas dan penuh dengan produktifitas perlu ketersediaan sarana penunjang, sehingga mampu menumbuhkan suasana belajar yang dinamis, inovatif dan tidak membosankan. 159 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Abdul Wahid Ahmadi NIM : 26.11.7.3.001 Tempat/Tgl. Lahir : Wonogiri, 1 Maret 1970 Alamat : Dusun Kembar RT 02 RW 01 Desa Pandan Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri. KP 57694. Agama : Islam Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Guru PENDIDIKAN 1. Tamat SD Negeri 2 Pandan Tahun 1983 2. Tamat MTs Negeri Purwantoro Tahun 1986 3. Tamat MA Negeri Wonogiri Tahun 1989 4. Tamat IAIN Walisongo Semarang Tahun 1995 PENGALAMAN PEKERJAAN 1. Guru di MTs Ar Rahman Slogohimo mulai Tahun 1995 s.d sekarang 2. Guru di MTs Negeri Purwantoro mulai tahun 1999 s.d 2005 3. Kepala MTs Ar Rahman Slogohimo mulai tahun 1997 s.d tahun 2015 4. Tanggal 1 Januari 2007 DPK PNS di MTs Ar Rahman Slogohimo Slogohimo, 16 Februari 2016 Yang bertanda tangan Abdul Wahid ahmadi
  • 89.
  • 90.