1

   MENGHINDARI ANEKA MACAM “BAHAYA                                        LISAN”
         DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN
                           Oleh: Drs. H. Moh. Holili, M.PdI

                 Salah satu panca indra manusia dalam hidup dan kehidupan yang sangat
penting adalah lisan. Lisan adalah sepotong daging dari tubuh manusia yang sempurna. Ia
bisa menikmati makanan dan minuman yang enak dan lezat. Demikian pula, lisanlah yang
dapat menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Lisanlah yang menciptakan segala
bahasa. Lisanlah yang memberi suara semua pikiran dan cita. Lisanlah yang memberi nada
segala rasa. Lisanlah yang memperintah nyani dan irama. Lisan dapat membuat hati yang
rindu menjadi mesraria. Lisan yang bernasehat dapat menerangkan gelora amarah dalam
dada. Lisan dapat memutar balikkan segala pristiwa. Lisan dapat mempersona masyarakat.
Dan dengan lisan pula dapat membuat orang yang menangis menjadi tertawa.
      Lisan yang dihiasi pancaran iman dan akal yang sempurna akan selalu berdzikir,
beristighfar dan akan selalu mengucapkan hal-hal yang terpuji, seperti: “Aku mengakui
bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan
bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Utusan-Nya. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi
Muhammad SAW:
Artinya: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam. (H.R. Buchori dan Muslim dari Abu Hurairah).

BAHAYA LISAN
     Adapun lisan yang tidak dihiasai pancaran iman dan akal yang sempurna akan
melakukan hal-hal apa yang biasa dikenal dengan istilah bahaya lisan sebagai berikut:
1. Dusta (bohong)
     Dusta adalah termasuk bahaya yang timbulnya dari lisan. Berdusta merupakan suatu
perbuatan dosa besar, karena dapat merusak pribadi dan tatanan masyarakat.
Terhadap bahaya lisan dari perbuatan dusta ini, Allah berfirman:




Artinya: Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap
Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah di dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi
orang-orang yang menyombongkan diri ?. (Q.S.Az Zumar: 60)
Demikian pula Rasulullah SAW; bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku,
maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di neraka Jahannam”.(H.R. Muslim).
2. Su’udhon (buruk sangka)
     Su’udhon atau buruk sangka merupakan suatu perbuatan yang timbulnya dari lisan.
Tidak akan pernah ada buruk sangka terhadap seseorang, jika lesan tidak berbicara. Buruk
sangka terhadap siapapun sangat dicela oleh Islam, baik buruk sangka terhadap Allah
maupun buruk sangka terhadap sesama manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT:




Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari buruk sangka,
sesungguhnya sebagian buruk sangka itu adalah dosa dan jangnlah kamu cari-cari
kesalahan orang lain…”.(Q.S.Al Hujuraat: 12)
3. Ghibah (menggunjing)
     Ghibah atau menggunjing artinya membicarakan kejelekan orang lain dibelakang
orangnya. Kejelekan orang yang dibicarakan itu, baik tentang keadaan dirinya sendiri atau
keluarganya, badannya, atau akhlaknya (budi pekertinya). Menggunjing atau ghibah adalah
sangat dilarang dalam Islam, karena perbuatan tersebut berarti telah merusak citra
kehormatan seseorang. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT:
2




Artinya: Dan janganlah sebagian kamu menggunjung sebagian yang lain. Sukakah salah
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (Q.S.Al-Hujaraat: 12).
Demikian juga Rasullah SAW, bersabda:
“Hai golongan orang-orang yang beriman hanya dengan lesannya, tetapi belum lagi
beriman dengan hatinya. Janganlah kamu semua menggunjing orang-orang Islam dan
jangan pula meneliti cela-cela mereka. Sebab barang siapa yang meneliti celah
saudaranya, maka Allah akan meneliti pula celahnya dan barangsiapa yang diteliti
celahnya oleh Allah, maka Allah akan menampakkan sekalipun ia berada di dalam
rumahnya”.(H.R. Ibnu Abid Dunya dan Abu Daud).
4. Namimah (mengadu domba)
      Namimah atau mengadu domba adalah mengadu perkataan kepada orang lain dengan
tujuan mengadu domba antara kedunya. Perkataan yang diadukan bukanlah sembarangan
perkataan, tetapi mengandung rahasia orang lain yang apabila disiarkan kepada orang lain,
maka ia tidak akan suka dan akan marah.
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menjaga lisan, sebab dari lisan, manusia dapat
berbuat namimah (mengadu domba) dan memporak-porandakan ketentraman umat
manusia. Sebab itu jauhilah adu domba, karena Islam diturunkan bertujuan untuk
menguatkan kasih saying di antara manusia dan menghilangkan sebab-sebab perpecahan
dan kebencian di antara mereka.
5. Banyak bicara
      Banyak bicara adalah perkataan yang berlebihan, seprti turut campur pada suatu
perkataan yang tidak penting. Sebab perkataan yang penting dan bermutu hanya dapat
dicapai dengan ucapan yang singkat, pendek, padat dan mudah difahami.
Menurut sahabat ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata: “Bahwa orang-orang dahulu sebelum
kamu, tidak suka akan perkataan yang berlebihan. Mereka menghitung setiap kalimat yang
dirasa berlebihan, selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW atau pada amar ma’ruf
dan nahi mungkar atau mengatakan sesuatu yang dianggap perlu yang tidak boleh tidak”.
Larangan banyak bicara ini adalah sebagaimana Firman Allah SWT:




Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-
bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau
mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian
karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar”.(Q.S.An Nisaa’: 114)
Demikian juga Rasulullah SAW bersabda:
“Berbahagilah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan apa-
apa yang kelebihan hartanya”.(H.R.Imam Baihaqi).
      Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita sebagai umat beriman perlu
menjaga lisan kita masing-masing. Karena akibat dari bahaya lisan yang tidak terkontrol
seperti: berdusta, su’udhon. Ghibah, namimah, dan banyak bicara, akan menyebabkan
retaknya hubungan; baik antara kita dengan teman, antara golongan satu dengan lainnya,
maupun antara suatu negara dengan negara lainnya, sebagaimana banyak terjadi akhir-akhir
ini. Semoga kita terhindar dari bahaya-bahaya lisan tersebut dan tetap dalam lindungan
Allah SWT. Amin Allohumah Amin.
3
         %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Penulias adalah Kepala UPT SDN Blandongan Kota Pasuruan dan Staf Pengajar Madrsah Miftahul Ulum Tingkat Aliyah
Pondok Pesantren Sidogiri Kabupaten Pasuruan. Tinggal di Jl. Anjasmoro Gg. X / 34 Kelurahan Bugul Lor Kota Pasuruan.
HP. 08123321181. No. Rekening Bank Mandiri : 144-00-1122959-5 A/N Drs. MOH. HOLILI, S.Pd.I
                                                   ^^^^^^^^^^^^
                                    E-mail : moh.holili@yahoo.co.id
4

2. bahaya lisan

  • 1.
    1 MENGHINDARI ANEKA MACAM “BAHAYA LISAN” DALAM HIDUP DAN KEHIDUPAN Oleh: Drs. H. Moh. Holili, M.PdI Salah satu panca indra manusia dalam hidup dan kehidupan yang sangat penting adalah lisan. Lisan adalah sepotong daging dari tubuh manusia yang sempurna. Ia bisa menikmati makanan dan minuman yang enak dan lezat. Demikian pula, lisanlah yang dapat menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Lisanlah yang menciptakan segala bahasa. Lisanlah yang memberi suara semua pikiran dan cita. Lisanlah yang memberi nada segala rasa. Lisanlah yang memperintah nyani dan irama. Lisan dapat membuat hati yang rindu menjadi mesraria. Lisan yang bernasehat dapat menerangkan gelora amarah dalam dada. Lisan dapat memutar balikkan segala pristiwa. Lisan dapat mempersona masyarakat. Dan dengan lisan pula dapat membuat orang yang menangis menjadi tertawa. Lisan yang dihiasi pancaran iman dan akal yang sempurna akan selalu berdzikir, beristighfar dan akan selalu mengucapkan hal-hal yang terpuji, seperti: “Aku mengakui bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Utusan-Nya. Hal ini sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW: Artinya: Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (H.R. Buchori dan Muslim dari Abu Hurairah). BAHAYA LISAN Adapun lisan yang tidak dihiasai pancaran iman dan akal yang sempurna akan melakukan hal-hal apa yang biasa dikenal dengan istilah bahaya lisan sebagai berikut: 1. Dusta (bohong) Dusta adalah termasuk bahaya yang timbulnya dari lisan. Berdusta merupakan suatu perbuatan dosa besar, karena dapat merusak pribadi dan tatanan masyarakat. Terhadap bahaya lisan dari perbuatan dusta ini, Allah berfirman: Artinya: Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah di dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri ?. (Q.S.Az Zumar: 60) Demikian pula Rasulullah SAW; bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di neraka Jahannam”.(H.R. Muslim). 2. Su’udhon (buruk sangka) Su’udhon atau buruk sangka merupakan suatu perbuatan yang timbulnya dari lisan. Tidak akan pernah ada buruk sangka terhadap seseorang, jika lesan tidak berbicara. Buruk sangka terhadap siapapun sangat dicela oleh Islam, baik buruk sangka terhadap Allah maupun buruk sangka terhadap sesama manusia. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari buruk sangka, sesungguhnya sebagian buruk sangka itu adalah dosa dan jangnlah kamu cari-cari kesalahan orang lain…”.(Q.S.Al Hujuraat: 12) 3. Ghibah (menggunjing) Ghibah atau menggunjing artinya membicarakan kejelekan orang lain dibelakang orangnya. Kejelekan orang yang dibicarakan itu, baik tentang keadaan dirinya sendiri atau keluarganya, badannya, atau akhlaknya (budi pekertinya). Menggunjing atau ghibah adalah sangat dilarang dalam Islam, karena perbuatan tersebut berarti telah merusak citra kehormatan seseorang. Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT:
  • 2.
    2 Artinya: Dan janganlahsebagian kamu menggunjung sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (Q.S.Al-Hujaraat: 12). Demikian juga Rasullah SAW, bersabda: “Hai golongan orang-orang yang beriman hanya dengan lesannya, tetapi belum lagi beriman dengan hatinya. Janganlah kamu semua menggunjing orang-orang Islam dan jangan pula meneliti cela-cela mereka. Sebab barang siapa yang meneliti celah saudaranya, maka Allah akan meneliti pula celahnya dan barangsiapa yang diteliti celahnya oleh Allah, maka Allah akan menampakkan sekalipun ia berada di dalam rumahnya”.(H.R. Ibnu Abid Dunya dan Abu Daud). 4. Namimah (mengadu domba) Namimah atau mengadu domba adalah mengadu perkataan kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba antara kedunya. Perkataan yang diadukan bukanlah sembarangan perkataan, tetapi mengandung rahasia orang lain yang apabila disiarkan kepada orang lain, maka ia tidak akan suka dan akan marah. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam menjaga lisan, sebab dari lisan, manusia dapat berbuat namimah (mengadu domba) dan memporak-porandakan ketentraman umat manusia. Sebab itu jauhilah adu domba, karena Islam diturunkan bertujuan untuk menguatkan kasih saying di antara manusia dan menghilangkan sebab-sebab perpecahan dan kebencian di antara mereka. 5. Banyak bicara Banyak bicara adalah perkataan yang berlebihan, seprti turut campur pada suatu perkataan yang tidak penting. Sebab perkataan yang penting dan bermutu hanya dapat dicapai dengan ucapan yang singkat, pendek, padat dan mudah difahami. Menurut sahabat ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata: “Bahwa orang-orang dahulu sebelum kamu, tidak suka akan perkataan yang berlebihan. Mereka menghitung setiap kalimat yang dirasa berlebihan, selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW atau pada amar ma’ruf dan nahi mungkar atau mengatakan sesuatu yang dianggap perlu yang tidak boleh tidak”. Larangan banyak bicara ini adalah sebagaimana Firman Allah SWT: Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan- bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.(Q.S.An Nisaa’: 114) Demikian juga Rasulullah SAW bersabda: “Berbahagilah seseorang yang menahan kelebihan dari lidahnya dan membelanjakan apa- apa yang kelebihan hartanya”.(H.R.Imam Baihaqi). Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kita sebagai umat beriman perlu menjaga lisan kita masing-masing. Karena akibat dari bahaya lisan yang tidak terkontrol seperti: berdusta, su’udhon. Ghibah, namimah, dan banyak bicara, akan menyebabkan retaknya hubungan; baik antara kita dengan teman, antara golongan satu dengan lainnya, maupun antara suatu negara dengan negara lainnya, sebagaimana banyak terjadi akhir-akhir ini. Semoga kita terhindar dari bahaya-bahaya lisan tersebut dan tetap dalam lindungan Allah SWT. Amin Allohumah Amin.
  • 3.
    3 %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% Penulias adalah Kepala UPT SDN Blandongan Kota Pasuruan dan Staf Pengajar Madrsah Miftahul Ulum Tingkat Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri Kabupaten Pasuruan. Tinggal di Jl. Anjasmoro Gg. X / 34 Kelurahan Bugul Lor Kota Pasuruan. HP. 08123321181. No. Rekening Bank Mandiri : 144-00-1122959-5 A/N Drs. MOH. HOLILI, S.Pd.I ^^^^^^^^^^^^ E-mail : moh.holili@yahoo.co.id
  • 4.