Surabaya Post 11selasa
12 mei 2015surabaya
KomisiDDesakPemkotTingkatkanLayananKesehatan
Surabaya-Masih banyaknya
rumah sakit milik pemerin-
tah belum bisa dioptimalkan
dan banyak keluhan dari war-
ga terkait pelayanan membuat
komisi D DPRD Surabaya men-
desak Pemerintah Kota (Pem-
kot) untuk lebih konkrit lagi
dalam meningkatkan dalam
memberikan pelayanan kese-
hatan kepada masyarakat.
Ketua Komisi D DPRD Sura-
baya Agustin Poliana mengata-
kan, komitmen Walikota Sura-
baya terkait program Surabaya
sebagai Kota Wisata Kesehatan
perlu dipertanyakan. Paslnya,
hingga saat ini dua rumah sakit
milikpemkotbelumdiberdaya-
kan secara optimal sebagai sa-
rana pendukung. “Jangan dulu
bereuforia soal pembanguan
rumah sakit baru hanya karena
telah mencanangkan program
Surabaya Sebagai Kota Wisata
Kesehatan, kalau yang ada saja
masih apriori, tidak diberdaya-
kan secara optimal, karena
merupakan sarana pendukung
yang pokok, kalau jenis klinik
memang kita masih perlu, con-
tohnya klinik pasien stroke,
jantung dll,” Ucap Agustin Po-
liana Ketua Komisi D DPRD
Surabaya kemarin (7/5).
Politikus PDIP ini, meminta
agar pemkot Surabaya men-
dahulukan optimalisasi fungsi
RSUD BDH dan RSUD dr Soe-
wandhi karena nyatanya masih
banyak pasien kategori gawat
darurat yang akhrinya dirujuk
ke RSUD Soetomo hanya ka-
rena peralatan di kedua rumah
sakit kita tidak lengkap.
H.JunaediwakilketuaKomi-
si D DPRD Surabaya,“terkait
dengan program pemkot yang
dicanangkan yakni Surabaya
Wisata Kesehatan (health
City), harusnya sudah harus
bisa mengoptimalkan seluruh
rumah sakit yang ada di Sura-
baya utamanya milik pemkot
yakni soewandhi dan BDH,
karena yang terjadi sekarang
selalu dirujuk ke dr soetomo,”
katanya.
Ia kembali menambahkan
dewan akan tetap mendukung
pengadaan segala alat keseha-
tan dengan dana APBD asalkan
dibarengi dengan perawatan
yang baik.Namun dirinya juga
menyoroti soal proses lelang
pengadaan alat kesehatan di
lingkungan Dinas Kesehatan
Surabaya yang dianggapnya
masih belum transparan dan
banyak kendala nDre
Pidsus Dalami Prona Rungkut Tengah
Surabaya - Tim penyidik Kejaksaan Negeri
(Kejari) Surabaya, diam-diam mulai turun
kelapanganuntukmenelisikdugaanpenye-
lenggaraan Proyek Operasi Nasional Agrar-
ia (Prona) dikawasan Rungkut Tengah, Ke-
camatanGunungAnyar,Surabaya.
Berdasar informasi yang dihimpun, se-
lain melakukan klarifikasi adanya laporan
pungutan prona dari masayarakat, tim juga
mendapatkan keterangan warga yang me-
nyatakan adanya pungutan proyek tahun
2014 berjumlah 40 pemohon. Pihak pani-
tia, kabarnya menarik pungutan uang pada
pemohon sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2,5
juta. Terkait Program Tanah di wilayah Ke-
lurahan tersebut, Lurah Rungkut Tengah,
Luhur membenarkan. Ia mengaku siap ber-
sikap kooperatif jika pihak kejaksaan mem-
butuhkan keterangan dari dirinya selaku
lurah setempat, saat dikonfirmasi tentang
kebenaran kedatangan tim Pidsus Kejari
Surabaya. “Memang benar Mas.., tadi ada
jaksa datang ke tempat kami. Yaa.., mena-
nyakan seputar pelaksanaan prona tahun
2014. Kita kooperatif saja, ketika nanti kita
dibutuhkan untuk datang ke kejaksaan,
yaa..akan kami sampaikan apa adanya,” ujar
Luhurmenerangkanpadawartawan.
Dijelaskan Luhur, diakui memang jika
tempatnyaadapelaksaanaanprona.Namun
sepenuhnya, program tersebut ditangani
olehpanitia.
“Tim panitia ini nanti yang bisa men-
jelaskansecaradetail,”terangnya.
Sementara, informasi dari salah jaksa
KejaksaanNegeri(Kejari)Surabayamenga-
takan, jika turunnya tim ke lapangan untuk
menindaklanjutipersoalanprona.
“Untuk menindaklanjuti laporan ma-
syarakat. Bahwa memang benar disana ada
prona dan ditarik pungutan. Informasinya,
pungutan mencapai Rp 1 juta. Makanya
ditindaklanjuti. Dan lurah juga mengakui
jika panitia telah menerima pungutan itu,”
ujarnya.
Terpisah, Kepala Seksi Pidana Khusus
(Pidsus), Roy Rovalino dikonfirmasi mem-
benarkan jika pihaknya tengah mendapat-
kan laporan adanya dugaan pelaksanaan
pronayangdidugamenyalahiaturan.
“Memang ada beberapa laporan. Pasti-
nya setiap laporan akan kita tindaklanjuti,”
pungkasRonyRevallino,SHntoh
Pidsus Kejari Surabaya, Roy Rovalino
BanyakTowerIlegal,DewanDesakPemkotTertibkan
Surabaya-Banyaknya pengguna alat telekomu-
nikasi membuat para pemilik provider saling ber-
saing mengembangkan dan memperkuat sinyal
guna memuaskan para pelanggan.Namun fakta ini
berbanding terbalik bagi pemerintah ketika me-
kanisme yang dilaksanakan tidak berjlan dengan
baik. berdasarkan data Dinas Komunikasi dan
Informasi, jumlah tower yang berdiri di Surabaya
berjumlah 1.100 unit. Dan, 995 tower diantaranya
dalam pengendalian. Dari jumlah itu, sebanyak
705 menara telekomunikasi kena wajib retribusi
karena memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB).
Sedangkan 290 tower saat ini tengah mengurus
perizinan. Sementara menara telekomunikasi ti-
dak mempunyai legalitas sebanyak 182 unit.
Wakil Ketua Komisi A, Adi Sutarwiyono, meng-
ungkapkan, “Sebanyak 182 tower yang tak jelas
perizinnnya, dan kami mendesak pemerintah
kota menertibkan ratusan tower seluler ilegal di
wilayahnya. ” kata Adi Sutarwiyono Kamis (7/5).
Dari sejumlah tower ilegal tersebut, 50 unit
sudah dikeluarkan bantuan penertiban dari Dinas
Cipta Karya dan Tata Ruang ke Satpol PP. Namun,
baru 4 tower yang sudah ditertibkan. ”4 tower su-
dah dieksekusi, dengan memutus aliran listriknya
diputus karena Satpol tidak mempunyai alat un-
tuk menurunkan,” kata Alumnus FISIP Unair
tersebut. Politikus PDIP ini berharap, Satpol PP
menertibkan semua tower telekomunikasi yang
tak berizin. Minggu depan, menurutnya Komisi A
akan memanggil beberapa Satuan Kerja Perang-
kat Daerah (SKPD) guna membahas penertiban
tower tersebut. “Kita akan panggil Satpol PP,
DCKTR, Diskominfo serta PLN,” tegasnya.
Lebih lanjut Adi menuturkan, alasan penerti-
ban selain tak berizin, sejumlah menara teleko-
munikasi tersebut ternyata memicu komplain dari
masyarakat sekitar. “Sudah tak berizin sehingga
tak memberikan pendapatan bagi daerah, banyak
warga yang komplain dengan keberadaan tower
tersebut,” jelasnya nDre
petugas sidak di salah satu tower
Surabaya-Pengadaan gabah dan be-
ras Perum Bulog Jatim dengan target
520 ribu ton yang seharusnya dicapai
hinggaKamis(7/5)kemarin total yang
didapat masih rendah yakni diangka
147,924 ribu ton atau sebesar 27,9 per-
sendari totalkeseluruhan.
“Pengadaan kami masih mencapai
sekitar147ributon.Inimemangmasih
belum optimal. Namun dibandingkan
provinsi lain, pengadaan Bulog Jatim
termasuk tertinggi nasional. Jawa
Tengah saja pengadaannya sekitar 50
ribu ton,” kata Kepala Perum Bulog
Divre Jatim, Witono saat ditemui di
kantornya.
Witono menyebutkan, banyak fak-
tor yang menjadi kendala bagi Bulog
sehingga belum mampu menyerap
gabah dan beras petani. DI antaranya,
yakni kendala persaingan usaha de-
ngan pihak swasta. “Pelaku usaha per-
berasan swasta yang skala besar bisa
beli gabah dengan mutu dan kualitas
apapun diatas HPP (Harga Pembelian
Pemerintah),”katanya.
Witono kembali menyebutkan,
kesulitan lain, Perum Bulog masih di-
batasi HPP yang ditentukan melalui
Instruksi Presiden (Inpres). Apalagi
Inpres terbaru Nomor 5 Tahun 2015
soalHPPberasbarukeluar Maret saat
panen raya sudah berlangsung. Nilai
ketentuan HPP, kata dia, juga masih
terlalurendahkarenadilapanganhar-
ga jual sudah diatasnya. Dalam Inpres
disebutkan, harga gabah kering panen
(GKP) Rp 3.700 per kilogram (kg) di
tingkat petani, GKP di penggilingan
Rp 3.750 per kg, gabah kering giling
(GKG) di penggilingan Rp 4.600 per
kg,GKGdiBulogRp4.600perkg.
Sedangkan harga pengadaan beras
di Bulog ditetapkan Rp 7.300 per kg.
“Untuk HPP GKP idelanya sekitar
Rp 4.000 per kg, karena pihak swasta
sudah beli lebih tinggi dari HPP. Tapi
kami tetap berupaya menyerap gabah
beras petani sesuai HPP yang ditetap-
kan,”ujarnya.
Anggota Komisi VI DPR RI, Bam-
bang Haryo menegaskan, persoalan
mendasar yang menjadikan petani
enggan menjual gabah beras ke Bulog
karena adanya pajak yang dibebankan
pada petani. Ia memisalkan, petani
yang menjual gabah beras ke Bulog
harusdikenakanpajak1persen.
“Kalau harga beras yang dibeli Bu-
log dari petani Rp 7.300 maka pajak
yang dikenakan Rp 73 per kg. Nilai itu
kalau dikalikan dalam jumlah yang
besar sangat membebani petani,” te-
gasnya.
Terlebih, lanjutnya, Jatim selama
ini jadi tumpuan utama penyaluran
beras Bulog ke seluruh wilayah Indo-
nesia Barat dan Timur. “Beras Bulog
Jatim ini dikirim ke Dumai, Ponti-
anak, Samarinda, Bengkulu, Lampung
hingga Papua. Kalau petani dikenakan
pajakpenghasilan1persenpastisangat
membebani dan petani enggan jual ke
Bulog. Akibatnya penyerapan rendah
danstoksedikit,”ungkapnyanDre
StokBerasBulogMasih
jauhLampauiTarget

11 surabaya

  • 1.
    Surabaya Post 11selasa 12mei 2015surabaya KomisiDDesakPemkotTingkatkanLayananKesehatan Surabaya-Masih banyaknya rumah sakit milik pemerin- tah belum bisa dioptimalkan dan banyak keluhan dari war- ga terkait pelayanan membuat komisi D DPRD Surabaya men- desak Pemerintah Kota (Pem- kot) untuk lebih konkrit lagi dalam meningkatkan dalam memberikan pelayanan kese- hatan kepada masyarakat. Ketua Komisi D DPRD Sura- baya Agustin Poliana mengata- kan, komitmen Walikota Sura- baya terkait program Surabaya sebagai Kota Wisata Kesehatan perlu dipertanyakan. Paslnya, hingga saat ini dua rumah sakit milikpemkotbelumdiberdaya- kan secara optimal sebagai sa- rana pendukung. “Jangan dulu bereuforia soal pembanguan rumah sakit baru hanya karena telah mencanangkan program Surabaya Sebagai Kota Wisata Kesehatan, kalau yang ada saja masih apriori, tidak diberdaya- kan secara optimal, karena merupakan sarana pendukung yang pokok, kalau jenis klinik memang kita masih perlu, con- tohnya klinik pasien stroke, jantung dll,” Ucap Agustin Po- liana Ketua Komisi D DPRD Surabaya kemarin (7/5). Politikus PDIP ini, meminta agar pemkot Surabaya men- dahulukan optimalisasi fungsi RSUD BDH dan RSUD dr Soe- wandhi karena nyatanya masih banyak pasien kategori gawat darurat yang akhrinya dirujuk ke RSUD Soetomo hanya ka- rena peralatan di kedua rumah sakit kita tidak lengkap. H.JunaediwakilketuaKomi- si D DPRD Surabaya,“terkait dengan program pemkot yang dicanangkan yakni Surabaya Wisata Kesehatan (health City), harusnya sudah harus bisa mengoptimalkan seluruh rumah sakit yang ada di Sura- baya utamanya milik pemkot yakni soewandhi dan BDH, karena yang terjadi sekarang selalu dirujuk ke dr soetomo,” katanya. Ia kembali menambahkan dewan akan tetap mendukung pengadaan segala alat keseha- tan dengan dana APBD asalkan dibarengi dengan perawatan yang baik.Namun dirinya juga menyoroti soal proses lelang pengadaan alat kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan Surabaya yang dianggapnya masih belum transparan dan banyak kendala nDre Pidsus Dalami Prona Rungkut Tengah Surabaya - Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, diam-diam mulai turun kelapanganuntukmenelisikdugaanpenye- lenggaraan Proyek Operasi Nasional Agrar- ia (Prona) dikawasan Rungkut Tengah, Ke- camatanGunungAnyar,Surabaya. Berdasar informasi yang dihimpun, se- lain melakukan klarifikasi adanya laporan pungutan prona dari masayarakat, tim juga mendapatkan keterangan warga yang me- nyatakan adanya pungutan proyek tahun 2014 berjumlah 40 pemohon. Pihak pani- tia, kabarnya menarik pungutan uang pada pemohon sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta. Terkait Program Tanah di wilayah Ke- lurahan tersebut, Lurah Rungkut Tengah, Luhur membenarkan. Ia mengaku siap ber- sikap kooperatif jika pihak kejaksaan mem- butuhkan keterangan dari dirinya selaku lurah setempat, saat dikonfirmasi tentang kebenaran kedatangan tim Pidsus Kejari Surabaya. “Memang benar Mas.., tadi ada jaksa datang ke tempat kami. Yaa.., mena- nyakan seputar pelaksanaan prona tahun 2014. Kita kooperatif saja, ketika nanti kita dibutuhkan untuk datang ke kejaksaan, yaa..akan kami sampaikan apa adanya,” ujar Luhurmenerangkanpadawartawan. Dijelaskan Luhur, diakui memang jika tempatnyaadapelaksaanaanprona.Namun sepenuhnya, program tersebut ditangani olehpanitia. “Tim panitia ini nanti yang bisa men- jelaskansecaradetail,”terangnya. Sementara, informasi dari salah jaksa KejaksaanNegeri(Kejari)Surabayamenga- takan, jika turunnya tim ke lapangan untuk menindaklanjutipersoalanprona. “Untuk menindaklanjuti laporan ma- syarakat. Bahwa memang benar disana ada prona dan ditarik pungutan. Informasinya, pungutan mencapai Rp 1 juta. Makanya ditindaklanjuti. Dan lurah juga mengakui jika panitia telah menerima pungutan itu,” ujarnya. Terpisah, Kepala Seksi Pidana Khusus (Pidsus), Roy Rovalino dikonfirmasi mem- benarkan jika pihaknya tengah mendapat- kan laporan adanya dugaan pelaksanaan pronayangdidugamenyalahiaturan. “Memang ada beberapa laporan. Pasti- nya setiap laporan akan kita tindaklanjuti,” pungkasRonyRevallino,SHntoh Pidsus Kejari Surabaya, Roy Rovalino BanyakTowerIlegal,DewanDesakPemkotTertibkan Surabaya-Banyaknya pengguna alat telekomu- nikasi membuat para pemilik provider saling ber- saing mengembangkan dan memperkuat sinyal guna memuaskan para pelanggan.Namun fakta ini berbanding terbalik bagi pemerintah ketika me- kanisme yang dilaksanakan tidak berjlan dengan baik. berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informasi, jumlah tower yang berdiri di Surabaya berjumlah 1.100 unit. Dan, 995 tower diantaranya dalam pengendalian. Dari jumlah itu, sebanyak 705 menara telekomunikasi kena wajib retribusi karena memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sedangkan 290 tower saat ini tengah mengurus perizinan. Sementara menara telekomunikasi ti- dak mempunyai legalitas sebanyak 182 unit. Wakil Ketua Komisi A, Adi Sutarwiyono, meng- ungkapkan, “Sebanyak 182 tower yang tak jelas perizinnnya, dan kami mendesak pemerintah kota menertibkan ratusan tower seluler ilegal di wilayahnya. ” kata Adi Sutarwiyono Kamis (7/5). Dari sejumlah tower ilegal tersebut, 50 unit sudah dikeluarkan bantuan penertiban dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang ke Satpol PP. Namun, baru 4 tower yang sudah ditertibkan. ”4 tower su- dah dieksekusi, dengan memutus aliran listriknya diputus karena Satpol tidak mempunyai alat un- tuk menurunkan,” kata Alumnus FISIP Unair tersebut. Politikus PDIP ini berharap, Satpol PP menertibkan semua tower telekomunikasi yang tak berizin. Minggu depan, menurutnya Komisi A akan memanggil beberapa Satuan Kerja Perang- kat Daerah (SKPD) guna membahas penertiban tower tersebut. “Kita akan panggil Satpol PP, DCKTR, Diskominfo serta PLN,” tegasnya. Lebih lanjut Adi menuturkan, alasan penerti- ban selain tak berizin, sejumlah menara teleko- munikasi tersebut ternyata memicu komplain dari masyarakat sekitar. “Sudah tak berizin sehingga tak memberikan pendapatan bagi daerah, banyak warga yang komplain dengan keberadaan tower tersebut,” jelasnya nDre petugas sidak di salah satu tower Surabaya-Pengadaan gabah dan be- ras Perum Bulog Jatim dengan target 520 ribu ton yang seharusnya dicapai hinggaKamis(7/5)kemarin total yang didapat masih rendah yakni diangka 147,924 ribu ton atau sebesar 27,9 per- sendari totalkeseluruhan. “Pengadaan kami masih mencapai sekitar147ributon.Inimemangmasih belum optimal. Namun dibandingkan provinsi lain, pengadaan Bulog Jatim termasuk tertinggi nasional. Jawa Tengah saja pengadaannya sekitar 50 ribu ton,” kata Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Witono saat ditemui di kantornya. Witono menyebutkan, banyak fak- tor yang menjadi kendala bagi Bulog sehingga belum mampu menyerap gabah dan beras petani. DI antaranya, yakni kendala persaingan usaha de- ngan pihak swasta. “Pelaku usaha per- berasan swasta yang skala besar bisa beli gabah dengan mutu dan kualitas apapun diatas HPP (Harga Pembelian Pemerintah),”katanya. Witono kembali menyebutkan, kesulitan lain, Perum Bulog masih di- batasi HPP yang ditentukan melalui Instruksi Presiden (Inpres). Apalagi Inpres terbaru Nomor 5 Tahun 2015 soalHPPberasbarukeluar Maret saat panen raya sudah berlangsung. Nilai ketentuan HPP, kata dia, juga masih terlalurendahkarenadilapanganhar- ga jual sudah diatasnya. Dalam Inpres disebutkan, harga gabah kering panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram (kg) di tingkat petani, GKP di penggilingan Rp 3.750 per kg, gabah kering giling (GKG) di penggilingan Rp 4.600 per kg,GKGdiBulogRp4.600perkg. Sedangkan harga pengadaan beras di Bulog ditetapkan Rp 7.300 per kg. “Untuk HPP GKP idelanya sekitar Rp 4.000 per kg, karena pihak swasta sudah beli lebih tinggi dari HPP. Tapi kami tetap berupaya menyerap gabah beras petani sesuai HPP yang ditetap- kan,”ujarnya. Anggota Komisi VI DPR RI, Bam- bang Haryo menegaskan, persoalan mendasar yang menjadikan petani enggan menjual gabah beras ke Bulog karena adanya pajak yang dibebankan pada petani. Ia memisalkan, petani yang menjual gabah beras ke Bulog harusdikenakanpajak1persen. “Kalau harga beras yang dibeli Bu- log dari petani Rp 7.300 maka pajak yang dikenakan Rp 73 per kg. Nilai itu kalau dikalikan dalam jumlah yang besar sangat membebani petani,” te- gasnya. Terlebih, lanjutnya, Jatim selama ini jadi tumpuan utama penyaluran beras Bulog ke seluruh wilayah Indo- nesia Barat dan Timur. “Beras Bulog Jatim ini dikirim ke Dumai, Ponti- anak, Samarinda, Bengkulu, Lampung hingga Papua. Kalau petani dikenakan pajakpenghasilan1persenpastisangat membebani dan petani enggan jual ke Bulog. Akibatnya penyerapan rendah danstoksedikit,”ungkapnyanDre StokBerasBulogMasih jauhLampauiTarget