Rahasia dari segala rahasia kehidupan
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Rahasia dari segala rahasia kehidupan

on

  • 14,450 views

 

Statistics

Views

Total Views
14,450
Slideshare-icon Views on SlideShare
14,438
Embed Views
12

Actions

Likes
0
Downloads
74
Comments
1

2 Embeds 12

http://akumengenaldiri.blogspot.com 8
http://www.blogger.com 4

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel

11 of 1

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Rahasia dari segala rahasia kehidupan Rahasia dari segala rahasia kehidupan Document Transcript

    • Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan Oleh Wiyanto SuudMereka sedikit sekali tidur di waktu malamDan menjelang fajar mereka mohon ampunanAllah memandu kepada cahaya-Nya siapa yang Dia inginkan Sir al-Asrar wa Muzhhir al-Anwar fi ma Yahtaju Ilayhi al-Abrar (Rahasia dari SegalaRahasia Kehidupan), karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menjelaskan tentang dasar-dasar ajaran Islam, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji dari sudut pandang sufistik.Terdiri dari 24 bab, diberdasarkan pada 24 huruf yang ada dalam dua kalimat syahadat,dan 24 jam dalam sehari semalam. Kitab ini dianggap sebagai jembatan yang mengantarkan pada tiga karyanya yangterkenal, yaitu Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (Bekal para Pencari Kebenaran), Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani (Menyelami Samudra Hikmah), dan Futuh al-Ghayb (Penyingkapan Kegaiban). Adapun metode pengajaran yang digunakannya adalah metode bayani, yaknidengan menggunakan kata-kata yang tepat, ungkapan yang mudah, seimbang, dan jauhdari keruwetan. Seperti ketika memberikan pengertian tentang iman, ia berkata, “Kamiyakin bahwa keimanan adalah pengucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati danpelaksanaan dengan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengankemaksiatan, menguat dengan ilmu, melemah dengan kebodohan dan timbul karenaadanya taufik.” Lalu apa saja 24 rahasia yang ingin disampaikan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.Di antaranya; Pertama, pembahasan ini dimulai dengan keberadaan manusia yangdilihat dari sudut pandang jiwa dan raga. Secara umum, manusia mempunyai ciri-ciri Dimuat di Republika, Islam Digest, Kolom Kitab, 14 Juni 2009.
    • fisik yang hampir sama. Tapi dari sisi jiwa, setiap orang berbeda-beda. Karena itu, perlupenjelasan yang lebih khusus, yakni sebuah kaidah tentang jalan menapaki satutingkatan ke tingkatan lainnya, untuk mencapai alam ilmu, sebagai tingkatan tertinggi. Ia mendasarkan pada sebuah hadis, “Ada satu tingkatan yang di dalamnya semuadan segala sesuatu dihimpun, yaitu makrifah—ilmu.” Diperkuat dengan beberapa hadislain, “Tafakkur sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.” Atau, “Sesaat tafakur lebihutama daripada ibadah seribu tahun.” Kedua, Ia mengatakan bahwa jalan pertama menuju kesempurnaan adalah tobat.Seperti disebutkan dalam Alquran “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yangbertobat dan dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah [2]:222) Dan diperkuat dengan ayat lain, “Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman danmengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan [25]: 70) Ketiga, tentang zakat dan sedekah Syaikh mengatakan bahwa segala sesuatu yangdiberikan sebagai zakat akan melalui tangan Allah sebelum sampai kepada kaum fakir.Karena itu, tujuan zakat tidak semata-mata untuk membantu kaum fakir, karena Allahmaha mengetahui semua kebutuhan, termasuk kebutuhan kaum fakir. Tujuan sejatizakat adalah agar niat seorang yang berzakat diterima oleh Allah. Ia mengutip firman Allah swt, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan(yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. danapa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. AliImran [3]: 62) Keempat, Syaikh membagi puasa menjadi dua, puasa lahir dan puasa batin. Puasalahir dibatasi oleh waktu, dengan menjauhi makan, minum, dan hubungan seks, darifajar hingga tenggelam matahari. Sedangkan puasa batin dijalani selama-lamanya,
    • selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat, dengan menjaga semua indra danpikiran dari segala yang diharamkan. Inilah puasa yang sejati. Ia mengutip hadis, “Bagiorang yang berpuasa ada dua kegembiraan. Satu kegembiraan saat berbuka dankegembiraan lainnya saat ia melihat—makrifah.” Syaikh juga mengupas tentang aspek lahir dan batin dari shalat dan ibadah haji.Memberi panduan zikir, wirid, dan berkhalwat. Menyingkap hakikat kebahagiaan,penderitaan, dan menyucikan jiwa. Menganjurkan perang melawan hawa nafsu danmelihat hakikat ilahi, hingga meraih maqam penyaksian (musyahadah).Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menggambarkan secara lengkap tentang tasawuf yangmemadukan antara ilmu syariat, yang didasarkan pada Alquran dan as-Sunah denganpenerapan praktis dengan keharusan untuk menghayati hakikat serta manfaatditerapkannya syariat. Jadi, tasawuf yang dirumuskannya jauh dari paham-paham yangmengatakan bahwa setelah seseorang mencapai tingkat hakikat, maka sudah tidakdibutuhkan lagi syariat. Dengan kata lain, kajian ini mengajak kita untuk berpindah dari Iman yang barusampai pada batasan rasio dan teori (iman ‘aqli), kepada Iman yang sudah sampai padatahapan penghayatan dan pendalaman (iman dzauqi). Dan dari kesadaran hati akanperbuatan-perbuatan dan sifat-sifat-Nya (maqâm fanâ), kepada ketenggelaman ruhaniakan zat-Nya (maqâm baqâ). Dengan demikian, kita akan meraih hakikat kelembutan, mencapai keikhlasan, danmenghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Inilah rahasia dari segala rahasia kehidupan,yang baru diketahui sebagian rahasianya oleh Barat, dengan terbitnya buku The Secretyang fenomenal itu. Kalau tidak boleh dibilang terpengaruh, spiritualitas Barat sebenarnya jauhtertinggal dengan spiritualitas Islam, karena kitab Sir al-Asrar dikarang jauh sebelumBarat mengungkapnya.
    • Tafsir Sufi, Menyingkap Rahasia Cakrawala Misykat Oleh Wiyanto Suud Makna “perjalanan menuju Allah” adalah berpindah dari akal non syar’i kepadaakal syar’i, dari hati yang sakit dan keras kepada hati yang sehat, dari ruh yang lari daripintu Allah kepada ruh yang mengenal Allah, dan dari jiwa yang kotor kepada jiwa yangsuci bergelimang cahaya, seperti yang tergambar dalam Alquran, Surat an-Nur ayat 35-38. Ayat ini merupakan perumpamaan tahapan-tahapan “menuju cahaya Allah swt”.Jasad diumpamakan Al-Misykât, sebuah lubang di dinding yang tidak tembus. Hatidiumpamakan az-Zujâjah, tabung kaca yang berisi pelita besar. Dan hati yang sucidiumpamakan Al-Mishbâh, pelita besar yang bercahaya. Dalam Kitab Sir al-Asrar, ketika menafsirkan ayat di atas, Syaikh Abdul Qadir Jailanimenyatakan, “Jika cahaya Allah—yang merupakan cahaya langit dan bumi—menerangihatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada dalam kaca yang bening. Danberkilaulah bintang ilahi dalam hatimu. Kilauan itu memancar dari awan makna yang takberasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun, cahaya itu memantul daripohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski takdisentuh api. Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin iapadam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?” Dari pernyataan tersebut, setidaknya ada empat perumpamaan tahap untuksampai pada cahaya Allah. Pertama; manusia mempunyai dua potensi, jasad dan hati.Lubang di dinding rumah yang tidak tembus ibarat jasad dan tabung kaca ibarat hati.Dan cahaya keimanan akan masuk ke dalam hati seorang mukmin. Dimuat di Republika, Islam Digest, Kolom Kitab, 14 Juni 2009.
    • Kedua; ketetapan bagi seorang mukmin adalah selalu terikat dengan hukum syara’.Pohon zaitun merupakan perumpamaan dari syariat Allah yang tidak miring ke Timurdan tidak pula miring ke Barat. Inilah cahaya Alquran. Ketiga; syariat yang bermanfaat bagi manusia ibarat pohon yang diberkahi. SyariatIslam yang mengatur semua perkara kehidupan manusia, akan memberikan kepuasanbagi akal, menenangkan hati, sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan menjadi rahmatbagi seluruh alam. Di sinilah cahaya iman dan cahaya Alquran menyatu. Keempat; Ketika cahaya Alquran dan cahaya iman berkumpul, niscaya keduanyaakan menerangi. Salah satu dari keduanya tidak akan ada jika tidak ada yang lain.Cahaya yang merupakan gambaran dari kebenaran yang memiliki bentuk berlapis-lapis.Ia diperkuat oleh lubang dinding yang tidak tembus, tabung kaca, pelita dan minyak,hingga tidak ada satu pun yang tidak memperkuat cahaya itu. Jika manusia mengamalkan Alquran, maka akan bertambahlah cahaya hatinya.Cahaya ini akan senantiasa membekas pada lubang dinding, yakni jasad manusia, hinggasang jasad bisa memberi sinar bagi jalan yang dilaluinya dan orang selain dirinya. Syaikh Abdul Qadir Jailani mengatakan, “Semua itu berawal sejak kaumembersihkan cermin hati. Cahaya hakikat ilahi akan menyinarinya jika kaumenghendaki dan mencari-Nya, dari-Nya, bersama-Nya.”
    • Mengenal Sang Maestro, Sultan Aulia Oleh Wiyanto Suud Ia adalah Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Janki Dausat bin AbuAbdullah bin Yahya Az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah binMusa al-Jun bin Abdullah al-Mahadh, yang lebih populer dengan panggilan SyaikhMuhyiddin Abdul Qadir al-Jailani. Lahir pada tahun 470 H (1077 – 1078 M) di Jil, daerahdi belakang Tabaristan, kini termasuk wilayah Iran. Ia mendapat julukan al-ghawts al-a’zham, manifestasi sifat Allah “YangMahaagung”, yang mendengar permohonan dan memberikan pertolongan, dan al-qutbal-a’zham, pusat dan ujung kembara ruhani, sultan aulia, sumber hikmah,perbendaharaan ilmu, teladan iman dan Islam, dan pewaris hakiki kesempurnaan NabiMuhammad saw. ia belajar kepada beberapa orang ulama, seperti Ali Abul Wafa al-Qayl, AbulKhaththab Mahfuzh, Abul Hasan Muhammad al-Qadhi, dan Abu Sa’ad al-Mubarak ibn Alial-Muharrami. Ia menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasaitiga belas bidang ilmu. Banyak orang yang belajar padanya tentang Tafsir, Hadis, danpersoalan mazhab. Setiap mengeluarkan fatwa, ia menggunakan kaidah Fikih ImamSyafi’i dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Ia juga menguasai Ilmu Perbandingan, Ushul Fikih,Nahwu, dan Ilmu Qira’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang terkenal kritis terhadap sufi dantasawuf, dalam beberapa fatwanya menyanjung dan memuji Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau menyebutkan, bahwa karamah-karamah yang dimiliki oleh Syaikh AbdulQadir dinukil secara mutawatir. Ada banyak buku dan artikel yang dinisbatkan kepadanya, namun yang disepakatisebagai karya syaikh hanya ada tiga, yaitu Dimuat di Republika, Islam Digest, Kolom Kitab, 14 Juni 2009.
    • 1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (Bekal para Pencari Kebenaran), Karya ini banyak terpengaruh—baik tema maupun gaya bahasanya—dengan Ihya’ ‘Ulum ad- Din karya al-Ghazali. Ini terlihat dengan penggabungan fikih, akhlak, dan prinsip suluk.2. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani (Menyelami Samudra Hikmah), kumpulan tausiah yang pernah disampaikan Syaikh dalam majelisnya. Tiap satu pertemuan menjadi satu tema. Semua pertemuan yang dibukukan ada 62 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 3 Syawal 545 H. Pertemuan terakhir pada hari Jumat, awal Rajab 546 H.3. Futuh al-Ghayb (Penyingkapan Kegaiban), kompilasi dari 78 artikel yang ditulis Syaikh berkaitan dengan suluk, akhlak, dan lain-lain. Tema dan gaya bahasanya sama dengan al-Fath al-Rabbani. Ia wafat Sabtu, 8 Rabi al-Tsani 562 H. Makamnya terletak di madrasah Bab al-Darajah di Baghdad, telah menjadi tempat ziarah penting bagi kaum muslim, dankhususnya kaum sufi. Sepanjang usianya dihabiskan untuk berbuat baik, mengajar, danbertausiah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani merupakan tokoh sufi yang paling masyhur diIndonesia. Ia adalah pendiri Tarekat Qadiriyah. Terlepas dari pro dan kontra ataskebenaran karamahnya, cerita-cerita tentangnya sering dibacakan dalam majelis yangdikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban. Peringatan Haul waliyullah ini punselalu dirayakan setiap tahunnya oleh umat Islam di Indonesia.