Dampak lingkungan pada kegiatan budidaya perikanan di china
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Dampak lingkungan pada kegiatan budidaya perikanan di china

on

  • 4,645 views

Kegiatan perikanan budidaya dikenal baik ...

Kegiatan perikanan budidaya dikenal baik
menjadi penyumbang utama terhadap peningkatan tingkat limbah organik dan bahan
beracun dalam industri budidaya. Seiring dengan perkembangan budidaya perikanan yang
intensif di Cina, menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan dampak dari limbah
budidaya yang semakin meningkat baik terhadap produktivitas internal sistem budidaya dan
terhadap ekosistem perairan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, jelas bahwa proses
pengelolaan limbah yang sesuai sangat diperlukan untuk pengembangan budidaya
perikanan yang berkelanjutan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi status terkini
perikanan budidaya dan produksi limbah perikanan budidaya di Cina

Statistics

Views

Total Views
4,645
Slideshare-icon Views on SlideShare
4,645
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
65
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    Dampak lingkungan pada kegiatan budidaya perikanan di china Dampak lingkungan pada kegiatan budidaya perikanan di china Document Transcript

    • DAMPAK LINGKUNGAN DARI KEGIATAN BUDIDAYA DAN UPAYA PENANGGULANGAN TERHADAP LIMBAH BUDIDAYA DI CHINA TERJEMAHAN Disadur dari makalah : ENVIRONMENTAL IMPACT OF AQUACULTURE AND COUNTERMEASURES TO AQUACULTURE POLLUTION IN CHINA Oleh : Ling Cao1, Weimin Wang1**, Yi Yang 2, Chengtai Yang 1, Zonghui Yuan3, Shanbo Xiong4 and James Diana5 Diterjemahkan Oleh : ROMI NOVRIADI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA BALAI BUDIDAYA LAUT BATAM 2013
    • DAMPAK LINGKUNGAN DARI KEGIATAN BUDIDAYA DAN UPAYA PENANGGULANGAN TERHADAP LIMBAH BUDIDAYA DI CHINA Ling Cao1, Weimin Wang1**, Yi Yang 2, Chengtai Yang 1, Zonghui Yuan3, Shanbo Xiong4 and James Diana5 1 2 3 4 5 Sekolah Perikanan, Laboratorium utama Pertanian, Genetik hewan, Pemuliaan dan Reproduksi, Kementerian Pendidikan, Universitas Pertanian Huazhong, Wuhan, Hubei 430070, China. Pengelolaan Sumberdaya Budidaya Perikanan dan Lingkungan Perairan, Sekolah Lingkungan, Sumberdaya dan Pengembangan, Asian Institut Teknologi, PO BOX 4, Klong Luang, Pathum Thani, 12120, Thailand Laboratorium Uji Standar Nasional Residu Obat-obatan Veteriner, Universitas Pertanian Huazhong, Wuhan. Sekolah Tinggi Teknologi Pangan dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Pertanian Huazhong, Wuhan, Hubei, 430070, Cina. Sekolah Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Universitas Michigan, Ann Arbor, Amerika Serikat. Korespondensi penulis : (wangwm@mail.hzau.edu.cn) DOI: http://dx.doi.org/10.1065/espr2007.05.426 Mohon makalah ini dikutip sebagai : Cao L, Wang W, Yang Y, Yang C, Yuan Z, Xiong S, Diana J (2007): Environmental Impact of Aquaculture and Countermeasures to Aquaculture Pollution in China. Env Sci Pollut Res 14 (7) 452 462 Abstrak Tujuan, Ruang lingkup, dan Latar Belakang. Kegiatan perikanan budidaya dikenal baik menjadi penyumbang utama terhadap peningkatan tingkat limbah organik dan bahan beracun dalam industri budidaya. Seiring dengan perkembangan budidaya perikanan yang intensif di Cina, menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan dampak dari limbah budidaya yang semakin meningkat baik terhadap produktivitas internal sistem budidaya dan terhadap ekosistem perairan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, jelas bahwa proses pengelolaan limbah yang sesuai sangat diperlukan untuk pengembangan budidaya perikanan yang berkelanjutan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi status terkini perikanan budidaya dan produksi limbah perikanan budidaya di Cina. Fitur Utama, Cina merupakan negara perikanan terbesar di dunia dalam hal jumlah total produksi makanan laut, posisi tersebut tetap dipertahankan secara terus menerus sejak tahun 1990. Budidaya perikanan air tawar merupakan bagian utama dari Industri perikanan di Cina. Budidaya ikan laut di Cina terdiri atas budidaya berbasiskan daratan dan lepas pantai. Dengan kegiatan terakhir kebanyakan dilakukan di laut dangkal, dataran berlumpur dan teluk yang terlindungi. Dampak lingkungan dari kegiatan budidaya ini juga mencolok.
    • Hasil. Kajian kasus terhadap titik pencemaran yang disebabkan oleh Perikanan budidaya telah diperkenalkan. Kualitas dan kuantitas limbah Perikanan budidaya tergantung utamanya terhadap karakteristik sistem budidaya dan pilihan terhadap jenis ikan, tetapi juga tergantung kepada kualitas pakan dan pengelolaan. Limbah tanpa pengelolaan, jika terus menerus masuk ke dalam lingkungan perairan, dapat mengakibatkan peningkatan yang luar biasa terhadap kandungan total bahan organik dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi. Pengelolaan limbah dapat dibedakan menjadi tiga kategori : secara fisika, kimia dan biologi. Diskusi. Dampak lingkungan dari kegiatan Perikanan budidaya dengan spesies yang berbeda tidak sama. Jenis pengelolaan limbah terbaru telah diperkenalkan sebagai referensi untuk pengembangan potensial dari sistem pengelolaan limbah di Cina. Sistem pengelolaan limbah yang paling tepat harusnya dipilih berdasarkan kepada kondisi situs dan kondisi keuangan serta dengan menimbang keuntungan dan kerugian dari setiap sistem. Strategi dan sudut pandang untuk pengembangan budidaya perikanan yang berkelanjutan telah diajukan, dengan penekanan pada perlindungan terhadap lingkungan. Kesimpulan. Dampak negatif limbah perikanan budidaya ke lingkungan perairan diakui semakin meningkat. Meskipun mereka hanya jumlah kecil dari limbah daratan, perencanaan yang baik terhadap penggunaan limbah perikanan budidaya akan meredakan masalah pencemaran air dan tidak hanya melindungi sumber daya air yang sangat berharga namun juga mengambil keuntungan dari nutrisi yang terkandung dalam limbah. Hal ini sangat bergantung kepada pengembangan budidaya perikanan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga tingkat kepadatan dan penambahan limbah dibawah kapasitas beban lingkungan. Rekomendasi dan Sudut Pandang. Metoda tradisional untuk pengelolaan limbah perikanan budidaya, terutama yang berbasiskan kepada metoda fisika dan kimia, sebaiknya mampu mengatasi terhadap pendekatan yang lebih spesifik. Mempertimbangkan karakteristik dan kemampuan daya penanggulangan dari lingkungan perairan. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan metoda terkini dari pengelolaan limbah dan penggunaannya kembal. Usulan teknologi pengelolaan limbah yang baru sebaiknya mengevaluasi kelayakan metoda pengelolaan limbah tersebut dalam skala besar untuk aplikasi praktis.
    • Pendahuluan. Budidaya perikanan telah menjadi industri yang berkembang pesat karena adanya peningkatan permintaan yang signifikan terhadap ikan dan makanan laut diseluruh dunia. budidaya perikanan ini berkembang lebih cepat dibandingkan dengan industri budidaya hewan ternak lainnya (Gang et al. 2005). Cina memiliki sejarah yang panjang dalam kegiatan budidaya perikanan sejak 2000 tahun yang lalu. Sejak tahun 1970-an dibawah perubahan kebijakan dan didorong oleh keuntungan ekonomi, perkembangan yang cepat dari perikanan budidaya di cina baik di air tawar maupun di air laut telah menjadi fokus perhatian dunia. Saat ini cina menjadi negara produsen perikanan terbesar di dunia, sebuah posisi yang terus dipertahankan sejak tahun 1990-an. Menurut Biro perikanan, Kementerian pertanian Cina (MOA), total produksi tahun 2005 diperkirakan 51 juta metrik ton, yang merupakan seperempat dari produksi dunia (Biro statistik Cina, 2005). Perikanan budidaya menyumbang 65% dari keseluruhan produksi. Dengan budidaya ikan air tawar sebagai bagian utama. Tanpa diragukan, perikanan budidaya Cina akan terus memainkan peranan penting dalam penyediaan ikan secara global di masa yang akan datang. Namun, seiring dengan perkembangannya, membangkitkan kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak limbah perikanan budidaya yang terus meningkat, baik di dalam sistem produktivitas perikanan budidaya maupun terhadap ekosistem lingkungan perairan disekitarnya. Perikanan budidaya memiliki andil terhadap penurunan kualitas lingkungan. Tetapi hal ini tetap menjadi paradoks, tergantung kepada pasokan air bersih, sistem budidaya tradisional (seperti kolam budidaya ekstensif) yang mendominasi produksi perikanan budidaya di banyak daerah. Tetapi sistem tersebut sekarang secara perlahanlahan diganti dengan teknik barat yang berorientasikan kepada budidaya intensif. Skala pertumbuhan yang cepat dari sistem budidaya ikan laut selalu mengarah kepada dampak yang merugikan pada lingkungan. Budidaya ikan dan udang intensif, didefinisikan sebagai sistem budidaya berbasiskan perlakuan, memiliki jumlah pengeluaran dan masukan nutrien yang mengarah kepada eutrofikasi (Troel et al. 1999). Unsur Nitrogen (Ammonia, Nitrit, dan Nitrat) merupakan bahan kontaminan utama didalam air limbah perikanan budidaya. Ammonia merupakan limbah nitrogen utama yang diproduksi oleh hewan akuatik. Dimasa lalu, teknologi kuno dan penataan sistem pengelolaan sampah yang tidak sempurna dalam perikanan budidaya berkontribusi banyak terhadap kerusakan lingkungan perikanan budidaya. Ackefors & Enell (1994) memperkirakan bahwa 9,5 Kg P dan 78 Kg N per ton Ikan dilepaskan kedalam kolom air per tahun ketika koefisien konversi pakan adalah 1,5 dan kandungan dalam pakan adalah 0,9% P dan 7,2% N. Diperkirakan sekitar 72% N dan 70% P dalam pakan tidak dikonsumsi oleh ikan. Dengan adanya peningkatan dalam komposisi pakan, kemampuan pencernaan, dan efisiensi konversi pakan dalam beberapa tahun belakangan ini, pelepasan kemungkinan saat ini berkurang menjadi 7,0 Kg P dan 49,3 Kg N per ton ikan per tahun (Chopin et al. 1999). Kejadian limbah perikanan budidaya pada Nomor 2067, terjadi pada tahun 1999 dan 2000, mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar 0,132 miliar dolar (Yang et al. 2002).
    • Ditujukan untuk penyelesaian masalah peningkatan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah budidaya perikanan, pemerintah Cina sebaiknya mengadopsi serangkaian peraturan dan pengendalian. Siatem Akuakultur yang menggabungkan antara pengolahan limbah dan fasilitas penggunaan kembali air buangan saat ini berkembang dengan cepat karena sistem ini memiliki keuntungan dengan penggunaan masukan air yang minimal dan pengeluaran air limbah memungkinkan untuk dikontrol penuh oleh lingkungan budidaya (Midlen & Redding 1998, Van Rijn, 1996). Bentuk sistem pengelolaan air limbah budidaya perikanan sangat beragam, tetapi secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori: pengelolaan secara fisika, kimia dan metoda biologi. Banyak kajian yang telah dilakukan untuk menguji efisiensi pengelolaan air limbah akuakultur pada sistem pengelolaan yang berbeda (Chang et al., 2002, Xiao et al. 2006). Bagaimanapun, kelemahan dari masing-masing metoda juga sangat jelas, seperti produksi lumpur secara berlebihan, kinerja yang tidak stabil, dan akumulasi Nitrat. Oleh karena itu, penelitian tentang metoda terbarukan untuk pengelolaan air limbah budidaya sedang dilakukan. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mempelajari Status terkini budidaya perikanan di Cina, melakukan analisis terhadap kandungan limbah budidaya dan melakukan evaluasi terhadap metoda pengelolaan limbah yang diaplikasikan pada kegiatan budidaya di Ciina. 1. Fitur Utama 1.1 Budidaya Perikanan di Cina 1.1.1 Budidaya Perikanan Air Tawar Budidaya perikanan air tawar merupakan bagian utama dari industri perikanan di cina. Budidaya perikanan ini dilakukan di kolam, danau, sungai, waduk dan lahan pengairan sawah, yang banyak tersebar luas di hampir seluruh wilayah Cina. Baik budidaya air tawar maupun air laut dimana juga diyakini sebagai titik polusi diindikasikan pada Gambar 1. Kemajuan pertumbuhan budidaya perikanan di Cina ditunjukkan dalam Gambar 2. Budidaya dalam kolam merupakan metoda yang paling utama pada perikanan budidaya air tawar. Budidaya kolam menghasilkan lebih dari 71% dari total budidaya di atas daratan pada tahun 2003. Kebanyakan budidaya kolam ini ditemukan disepanjang delta sungai Yangtze dan aliran delta sungai ini mencakup 7 provinsi : Jiangshu, Guangdong, Hubei, Hunan, Anhui, Jiangxi and Shangdong. (lihat gambar 1). Gambar 1. Ilustrasi konsentrasi wilayah budidaya perikanan di Cina (titik pencemaran budidaya perikanan).
    • Total 2. Produksi Perikanan Budidaya di Cina setiap tahun (Satuan: million metric tons). Waduk, danau, sungai dan budidaya ikan dalam saluran memiliki kontribusi paling banyak terhadap produksi limbah ikan air tawar. Dengan menggunakan keramba dan jaring di perairan terbuka. Budidaya ikan di sawah dan budidaya kepiting telah berkembang menjadi aktifitas yang penting dan komersial bagi penduduk pedesaan di lokasi pegunungan dimana sumber daya air tidak tersedia atau sangat terbatas. Lebih dari 70 jenis utama ikan air tawar di budidayakan di Cina. Kebanyakan dari mereka adalah dari jenis ikan (60%), jenis lain yang paling utama dikembangkan adalah ikan koan, ikan mas perak, dan ikan mas bighead, ikan mas umum dan ikan mas koki. Jenis yang penting lainnya adalah Krustasea, sekitar 1,1 juta ton pada tahun 2003. 1.1.2 Budidaya Ikan Laut Budidaya ikan laut di Cina terdiri atas budidaya di pinggir pantai dan budidaya lepas pantai, dengan kebanyakan dijalankan di daerah laut dangkal, lapisan berlumpur, dan di pantai yang terlindungi. Budidaya ikan laut yang berdasarkan daratan diaplikasikan pada abalone, turbot, ikan flounder dan jenis ikan lainnya yang menawarkan nilai ekonomi tinggi baik di provinsi pantai utara dan selatan. Jenis produksi utama dari budidaya ikan laut lepas pantai adalah terapung dan semi-terapung, sistem keramba jaring apung, budidaya di dasar laut, budidaya dengan jaring vertikal (bergantung) dan kolam di wilayah pasang surut. di tahun 2003, keseluruhan area budidaya ikan laut mencapai 1,532,152 hektar. Dari jumlah ini, wilayah lepas pantai yang digunakan 590,455 hektar, sementara daerah lapisan berlumpur digunakan sebanyak 676,184 hektar dan wilayah budidaya di daratan sebanyak 265,513 hektar. Untuk daerah laut yang terlibat dalam wilayah budidaya ikan laut termasuk didalamnya adalah Laut Bohai, Laut kuning, Laut Cina Timur dan laut Cina Selatan. Sebagian besar wilayah utama dalam budidaya ikan laut berada di wilayah Provinsi Shandong, Fujian, Guangdong, Liaoning, Zhejiang dan Guangxi (lihat gambar 1). Lebih dari 90% total produksi
    • ikan laut berasal dari Provinsi ini, dimana volume produksinya melebihi 800,000 ton pada tahun 2003. Ada empat kategori utama : Ikan laut (Finfish), Krustasea (Udang dan Kepiting), Moluska (Shellfish) dan Rumput laut (Alga). Tabel 1 menunjukkan keluaran dan wilayah dari budidaya kerang-kerangan laut di Cina pada tahun 2002. Hampir 90% budidaya ikan Finfish berasal dari 5 provinsi: Guangdong, Fujian, Shangdong, Zhejiang dan Liaoning. Pada tahun 2003, Provinsi Guangdong memiliki produksi budidaya ikan terbesar mencapai kira-kira 195,254 ton (Biro Statistik Nasional Cina, 2005). Provinsi Fujian menghasilkan 119,226 ton. Dan yang lainnya berada pada kisaran 26,000 hingga 81,000 ton. Di wilayah Cina bagian utara, Liaoning dan Shandong merupakan dua Provinsi yang penting untuk budidaya ikan laut (Biro Statistik Cina, 2005). Spesies utama yang dikembangkan adalah : Flounder, Turbot, Halibut, Sea bream, Fugu, Perch, Greenling, Mullet fish, dan lain-lain. Di beberapa tempat ada beberapa lokasi percobaan untuk large yellow croaker dan red drums. Di wilayah Cina selatan, Guangdong, Fujian, Zhejiang merupakan provinsi penting untuk budidaya ikan laut. Ada banyak jenis ikan air hangat dan tropis yang dibudidayakan . jenis utama antara lain Kerapu, Large yellow croaker, Sea bream dan ikan kakap merah. Red drum, Fugu, Perch, Kobia, amber jack, ikan bawal, dll. Tabel 1. Hasil dan Wilayah Budidaya Shellfish laut di Cina (2002) (Wang & Zheng, 2004 ) 1.2 Dampak Lingkungan Budidaya Ikan 1.2.1 Modifikasi Lingkungan Konversi lahan bakau menjadi kolam tambak udang telah berkontribusi memberikan tekanan negatif yang diterima dari kegiatan budidaya perikanan. Hasil perubahan ini mengakibatkan kehilangan ekosistem penting yang dihasilkan oleh pohon bakau, termasuk ketentuan derah pendederan ikan/udang, habitat hewan liar, perlindungan garis pantai, pengendalian banjir, perangkap sedimen, dan pengelolaan air. Keramba ikan jaring tancap dan apung juga menurunkan kualitas wilayah dekat pantai melalui instalasi fisik mereka pada hamparan rumput laut dan komunitas sedimen, atau melalui akumulasi pada pakan yang tidak dimakan (Primavera, 2006) 1.2.2 Limbah Budidaya Perikanan Kualitas dan jumlah limbah budidaya tergantung terutama pada karakteristik sistem budidaya dan pilihan pada jenis, tetapi juga terhadap kualitas pakan dan pengelolaan (Wang et al., 2005). Dari sistem akuakultur intensif, limbah yang paling utama adalah limbah padatan, kimia dan obat-obatan. Timbulnya bakteri, mikroorganisme patogen, dan jenis ikan yang melarikan diri seharusnya juga dimasukkan sebagai komponen limbah (Liu, et al., 2002).
    • Limbah padat, sebagian mengenalnya dengan partikel bahan organik, sering ada pada feses atau pakan yang tidak dikonsumsi. Peningkatan limbah padat didalam sistem sebaiknya dicegah karena hal tersebut akan menyebabkan penurunan oksigen dan toksisitas ammonia ketika mereka mengurai. Limbah organik terdapat dalam tiga bentuk utama dalam sitem resirkulasi; padatan tenggelam-terakumulasi di dasar bak; padatan tersuspensimengambang di kolom air dan tidak menggumpal keluar dari air; dan yang lebih halus padatan terlarut-mengambang di dalam kolom air dan dapat mengakibatkan kerusakan insang dan penyakit pada ikan. Urin dan feses dari makhluk akuatik dapat menyebabkan konsentrasi tinggi dari Ammonia-Nitrogen dan peningkatan BOD (Kebutuhan oksigen secara biologi). Ammonia merupakan limbah nitrogen utama yang diproduksi oleh ikan melalui metabolisme dan dikeluarkan melalui insang. Nitrit secara alamiah sudahada sebagai produk nitrifikasi. Ion Nitrat (NO3-) adalah bentuk nitrogen yang paling oksidatif di alam dan relatif tidak beracun bagi ikan (Zhang & Chen, 2004). Bagaimanapun ketika konsentrasi Nitrat sudah berlebihan dan berbagai zat nutrien essensial tersedia, eutrofikasi dan ledakan pertumbuhan alga dapat menjadi sebuah masalah lingkungan yang serius. Berbagai bahan kimia yang digunakan dalam industri akuakultur, termasuk aplikasi zat pada bahan pertumbuhan (stabilisator, pigmen, anti fouling dll), pigmen yang disatukan dalam pakan, desinfektan dan pengobatan kimiawi. Antimikrobial yang diberikan dalam pakan dan kebanyakan habis dilingkungan berkaitan erat dengan pakan yang tidak dikonsumsi dan feses. Banyak kajian melaporkan bahwa peningkatan terhadap kekebalan dan bahkan pada kekebalan bertingkat pada mikroorganisme patogen merupakan dampak dari meluasnya pemakaian antimikrobial oleh industri akuakultur (Kerry et al., 1994). Penyalahgunaan bahan kimia juga dapat membunuh mikroba yang efektif yang mungkin saja dihitung sebagai ketidakseimbangan sistem ekologi akuatik. Pendapat secara luas menyatakan bahwa translokasi jenis dan strain dapat membawa penyakit eksotik yang dapat menyebar dan dapat menghancurkan populasi liar dan menyebabkan benih untuk budidaya hilang dan menjadi standar, sehingga lagi-lagi menghancurkan benih liar. Hanya ada sedikit informasi kuantitatif terhadap jumlah hewan yang melarikan diri dari operasional akuakultur. Penczak et al (1982) memperkirakan sekitar 5 % ikan tuna budidaya lari tiap tahunnya. rasa takut terhadap buasnya hewan menjadi sebuah keyakinan dan mengurangi keragaman melalui modifikasi habitat, kompetisi atau melakukan kawin silang dengan stok asli. 1.2.3 Polusi yang disebabkan oleh air limbah akuakultur Jika terus menerus mengeluarkan air limbah tanpa adanya perlakuan, dimana air limbah mengandung konsentrasi tinggi Nitrogen dan nutrien posfor, dapat mengakibatkan sebuah peningkatan yang sungguh kronik dari jumlah keseluruhan bahan organik, khususnya di lokasi dengan penanganan buruk atau lokasi yang buruk. Sebagai konsekuensinya, serangkaian dampak lingkungan akan muncul: (1) kekurangan oksigen yang serius disebabkan oleh dekomposisi bahan organik, (2) eutrofikasi atau ledakan jumlah alga yang disebabkan oleh akumulasi dari bahan organik seperti Nitrogen dan Posfor, yang mendukung tingkat biomass yang tinggi pada air dangkal. Selain dari peningkatan produksi Fitoplankton, eutrofikasi dapat menyebabkan banyak dampak lainnya yang mungkin lebih sensitif dan indikator yang berhubungan seperti perubahan dalam : energi dan fluks nutrien, hewan pelagik, dan jumlah benthic dan struktur masyarakat, benih ikan, sedimentasi, siklus
    • nutrien, dan penipisan kadar oksigen (Gregory & Zabel 1990, Fang et al, 2004). (3) kerusakan air akan menggiring kepada produksi rendah, (4) penyakit akan muncul. Selain daripada ini, penanganan yang tidak tepat terhadap air limbah menyebabkan dampak yang serius bagi kesehatan manusia, lingkungan dan pengembangan ekonomi (Enelld & Lof,1983). Jika mencemari sumber air, akan meningkatkan resiko penyakit menular dan kerusakan air tanah dan ekosistem lokal lainnya, misalnya setelah banjir. 1.2.4 Salinisasi tanah dan air Memompa sejumlah besar air dalam tanah untuk mencapai salinitas air payau pada tahun 1980-an hingga pertengahan 1990-an menyebabkan penurunan tingkat air tanah, mengosongkan sumber air, subsidensi lahan dan penggaraman pada lahan yang berdekatan dan saluran air di Cina. Walaupun ketika air tawar tidak lagi dipompa dari sumber air, keluarnya air garam dari tambak udang yang berlokasi di samping lahan bakau tetap menyebabkan salinisasi/penggaraman pada sawah yang berdampingan dan lahan pertanian lainnya (Primavera, 2006). Tabel 2. Perubahan index kualitas air di danau Timur Taihu disebabkan oleh Akuakultur (Qin & Luo,2004) Tabel 3. Perbandingan parameter Fisik-Kimia kualitas air antara jaring didalam dan diluar (Ning et al., 2006) 2. Hasil 2.1 Studi kasus budidaya ikan air tawar di Cina 2.1.1 Budidaya ikan jaring tancap di danau. Danau Taihu adalah danau air tawar terbesar ke tiga di Cina, dengan total wilayah perairan 2338 km2. Metoda utama budidaya perikanan di danau Taihu adalah budidaya ikan keramba tancap. Kegiatan budidaya terbatas di bagian utara danau taihu, sebuah Macrophyta didominasi teluk di bagian selatan danau dengan luas wilayah 131 km2, dimana 2833 hm2 diantaranya digunakan untuk kegiatan budidaya perikanan (Yang et al, 2003). Didalam wilayah ini, diperkirakan bahwa lingkungan dibebani nitrogen dan posfor dari produksi 1 ton ikan sebanyak 141 kg dan 14 kg, secara berurutan (Yang et al, 2003). Di
    • wilayah budidaya ikan jaring tancap, peningkatan beban bahan nutrien mengakibatkan pertumbuhan yang cepat dari Phytoplankton, zooplankton dan bakteri. Setelah satu tahun kegiatan budidaya ikan, jumlah phytoplankton menjadi tiga kali lebih tinggi dibandingkan lokasi non-budidaya. Dan bakteri heterotropik meningkat 3-4 kali lipat (Yang et al, 2003). Total organik karbon, total nitrogen dan total nitrogen organik di permukaan sedimen meningkat 141, 87,5 dan 86% secara berurutan, setelah 2 tahun kegiatan budidaya ikan (Li, 2004). Saat ini, budidaya ikan telah diganti oleh budidaya kepiting air tawar yang lebih menguntungkan, yang akan meningkatkan asupan pakan, dan lebih lanjut akan meningkatkan jumlah bahan organik dari sisa pakan. Dari tahun 1984 sampai tahun 1993, produksi budidaya tancap untuk ikan dan kepiting di danau Taihu bagian timur berjumlah 11,165 ton dan 109 ton, secara berurutan. Nitrogen dan posfor yang membebani danau ini adalah 1,634 t dan 166 t, secara berurutan. Dibandingkan dengan wilayah non-budidaya, NH4+-N dan posfor yang membebani wilayah ini meningkat 55% dan 46% , secara berurutan. Untuk danau taihu secara keseluruhan pada tahun 1993, Nitrogen, NH4+-N, Posfor dan kandungan COD meningkat 55%, 180%, 43%, dan 91% secara berurutan bila dibandingkan dengan tahun 1983 (Yang et al, 2003). Perubahan kualitas air di danau Taihu dipengaruhi oleh kegiatan budidaya perikanan pada tahun 1990-an seperti yang disajikan pada Tabel 2. Kegiatan budidaya perikanan di taihu timur meningkatkan konsentrasi nutrien di dalam air dan sedimen, yang mempercepat eutrofikasi dan pengembangan rawa. 2.1.2 Budidaya perikanan jaring apung di waduk. Waduk Dahonghu berlokasi di wilayah barat daya Cina dengan luas wilayah 40 km2 (Ning et al, 2006). Sistem utama dari kegiatan budidaya perikanan di waduk ini adalah keramba jaring. Tabel 3 memberikan perbandingan parameter fisik-kimia kualitas air antara jaring yang ada di dalam dengan jaring yang ada di luar. Budidaya menggunakan jaring di waduk Dahonghu meningkatkan jumlah nutrien yang dengan mudah merangsang eutrofikasi. Kandungan TN dan TP dari jaring di dalam air secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan jaring yang ada di luar air. Disamping itu, sedimen yang ada di bawah jaring, kandungan TN dan TP adalah 681 mg/l dan 30,7 mg/l, secara berurutan. Dimana secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah non-budidaya (P<0,05). Dampak utama dari kegiatan budidaya ikan di jaring adalah meningkatnya beban N,P dan bahan organik yang memperkaya air dan sedimen pokok. Jumlah limbah yang dihasilkan oleh keramba jaring tergantung pada sejumlah faktor, seperti kepadatan, pola pemberian pakan, dan tingkat konsumsi pakan. Karena ketiga faktor ini secara bersama-sama menentukan jumlah keseluruhan pakan yang digunakan. 2.2 Studi kasus budidaya perikanan air laut di Cina 2.2.1 Kolam Secara umum, kurang dari 1/3 nutrien dalam pakan dapat dihilangkan dengan memelihara dalam kolam ikan intensif (Troell et al.,1999). Untuk kolam tambak udang intensif, bahkan lebih kurang, berkisar antara 6-21% (Roberstson & Phillips, 1995). Limbah yang diproduksi oleh kolam udang dan ikan yang berada di sekitar lokasi Laut Bohai dan Laut Kuning telah diteliti oleh Cui et al. (2005). Berdasarkan asumsi bahwa FCR adalah 2, 7.9x104 metric ton dari produksi udang secara keseluruhan di wilayah laut bohai dan Laut kuning pada tahun 2002 diindikasikan bahwa lebih dari 1,2x105 metric ton pakan yang tidak dikonsumsi telah masuk ke dalam laut. Berdasarkan kepada analisis statistik, data kasar dari
    • air limbah yang diproduksi oleh budidaya udang di laut Bohai dan laut Kuning pada tahun 2002 ditunjukkan pada Tabel 4. Kedalaman air rata-rata untuk tambak udang adalah 1 m, dengan pergantian air harian sebanyak 7,5%. Luas keseluruhan budidaya udang adalah 1,37x105 hm2. Oleh karena itu, keluaran harian air limbah dari tambak udang adalah 1,03x108 m3. Dalam satu masa pemeliharaan (120 hari), total jumlah keluaran air limbah adalah 1,2x1010 m3 pada tahun 2002. Tovar et al. (2000) memperkirakan bahwa 1 ton produksi ikan dapat menimbulkan 34,61 kg BOD, 14,25 kg N dan 2,75 kg P yang dikeluarkan ke dalam laut. Berdasarkan kepada produksi ikan laut di laut kuning dan laut bohai pada tahun 2002, 2028t N, 376t P dan 5056t BOD dikeluarkan menuju lautan (Tabel 5). Di Provinsi Guangdong pada tahun 2001, beban lingkungan terhadap nitrogen dan posfor yang diproduksi dari kolam tambak udang adalah 4,508.7t dan 994,1t, secara berurutan (Tabel 6). Dimana, jumlah keluaran COD, N anorganik, P anorganik, dan bahan padatan tersuspensi yang terkandung dalam air limbah, adalah 4,887.4 t, 136.8 t, 64,0 t dan 17,689,6 t, secara berurutan. Jumlah keluaran N dan P dari tambak udang adalah sekitar 0,19% dan 0,40% secara berurutan, dimana air limbah tersebut berasal (Li et al., 2004). Tabel 4. Data kasar air limbah yang diproduksi oleh kegiatan budidaya udang di laut kuning dan Laut bohai pada tahun 2002 (Cui et al, 2005). Tabel 5. Data kasar air limbah yang diproduksi oleh budidaya ikan di Laut kuning dan Laut bohai pada tahun 2002 (Unit: metric ton) (Cui et al., 2005)
    • 2.2.2 Keramba di perairan laut terbuka Menjadi sebuah sistem yang pada dasarnya terbuka, keramba biasanya dikarakterisasikan dengan interaksi tingkat tinggi antara lingkungan dan sistem keramba yang sangat mungkin untuk memproduksi sejumlah besar limbah yang dilepaskan secara langsung ke lingkungan. Karena, pengembangan budidaya di keramba jaring apung dengan skala besar telah menjadi sebuah tanda tanya dan meningkatkan kekhawatiran bahwa budidaya di keramba jaring apung memproduksi jumlah sejumlah besar limbah yang kaya akan bahan organik dan nutrien yang dilepaskan garis pantai dan lingkungan disekitarnya. Sebagai contoh, kandungan bahan organik di sedimen pada lokasi budidaya di teluk Dapeng’ao (berat kering) berkisar antara 1,56% sampai 3,50% dengan rata-rata 2,57%, dan sangat jelas lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi normal pada sedimen disepanjang wilayah perairan pantai Cina (1,0%-1,5%) dan baku mutu pertama dari Standar mutu nasional (2%) (Gan et al., 2006). Kandungan utama bahan organik baik didalam maupun diluar keramba adalah 2,66% dan 2,42% secara berurutan. Hal ini menunjukkan bahwa pada budidaya ikan di laut terbuka, kandungan bahan organik tinggi dan beban nutrien akan dihasilkan dan wilayah budidaya akan beresiko mengalami degradasi. Limbah pakan dan beban polutan akan lebih tinggi pada sistem budidaya ikan di laut terbuka ketika ikan rucah digunakan sebagai pakan (Wu, 1995). Tabel 6. Evaluasi terhadap limbah yang dihasilkan dari tambak udang di Provinsi Guangdong tahun 2001 (Diadaptasi dari Li et al., 2004).
    • 2.3 Perbandingan antara limbah yang berasal dari daratan dan limbah budidaya. Dibandingkan dengan limbah yang berasal dari daratan, bahan pencemar yang berasal dari limbah budidaya, termasuk N, P dan COD, dihitung sebesar 2,8%, 5,3% dan 1,8% secara berurutan (Tabel 7). Walaupun akuakultur hanya sebuah bagian kecil bila dibandingkan dengan bahan pencemar yang berasal dari daratan, dampak negatif seperti red tide yang dihasilkan dari kegiatan akuakultur diakui semakin meningkat. Di Hongkong, BOD dan N yang dihasilkan oleh akuakultur, diperkirakan sekitar 3% dari keseluruhan penambahan limbah yang masuk ke dalam perairan Hongkong. Bagaimanapun, sebaiknya selalu dicatat bahwa limbah kolam ikan tidak selalu dapat dibandingkan dengan limbah domestik, terutama disebabkan oleh perbedaan perbandingan C:N:P dan perbedaan yang signifikan terhadap konsentrasi padatan dan limbah terlarut (Wu, 1995). Tabel 7. Perbandingan antara buangan ke laut dari kegiatan akuakultur dan bahan pencemar dari daratan ke Laut Kuning dan Laut Bohai (Cui et al., 2005). 2.4 Metode Pengelolaan Limbah Metoda fisika, bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi yang diperoleh dan mengurangi BOD dan kebutuhan oksigen secara kimiawi (COD), merupakan yang paling umum diaplikasikan pada pengelolaan limbah pada kegiatan budidaya perikanan di Cina. Metode ini termasuk kegiatan pengendapan, penyaringan secara mekanik, dan penyaringan menggunakan pasir. Metoda jenis ini biasanya sangat sederhana dan tidak mahal. Bagaimanapun, metode ini menjadi pengelolaan awal kualitas air dan pengolahan utama, yang hanya berdampak pada penghilangan bahan organik terlarut seperti N dan P. Selama uji lanjutan yang dilakukan oleh Laboratorium Hydrotechnical Norwegia, efisiensi pengelolaan dari saringan drum ukuran pori 60 mm sangat bervariasi dalam kisaran SS (6797%), TP (21-86%) dan TN (4-89%) (Crips & Bergheim, 2000). Metoda kimiawi, termasuk Netralisasi, Koagulasi/penggumpalan, sterilisasi dan oksidasi, umumnya merupakan jalan tercepat untuk menghilangkan mikroorganisme patogen. Bagaimanapun, biaya untuk pengelolaan jenis ini relatif lebih tinggi. Sebagai tambahan, beberapa dari metoda ini dapat membawa dampak beracun seperti konsentrasi tinggi klorin organik.
    • Metoda biologi, termasuk pengelolaan aerob, pengelolaan anaerob, dan pengelolaan berbagai bentuk kehidupan akuatik, adalah berdasarkan kepada mikroorganisme yang merubah zat organik menjadi karbonat atau nitrat. Dengan investasi rendah dan tidak ada polusi sekunder, metode ini diyakini menjadi metoda teknologi pengelolaan limbah yang sangat menjanjikan. Untuk dapat menggunakan kembali air dalam sistem ini, pengelolaan secara biologi diyakini sebagai metoda dengan pendekatan yang layak secara ekonomi. Sistem akuakultur terintegrasi diyakini sebagai teknologi yang menjanjikan, tetapi upaya yang dilakukan saat ini telah tertuju pada daya kerja makroalga (Troel et al, 2003). Metoda untuk mengelola keluaran air dari sistem budidaya ikan laut tertutup dengan makroalga diawali pada pertengahan tahun 1970-an (Troell et al., 1999). Penggunaan makroalga akuatik untuk menghilangkan unsur nutrien dalam air limbah budidaya perikanan dan dari badan air telah didokumentasikan dengan baik (Redding et al, 1997). Hasil yang diperoleh dalam biomas vegetatif dapat memberikan nilai ekonomi ketika dipanen. Bagaimanapun, dalam sistem budidaya terbuka, seperti budidaya di keramba, pertukaran air secara berkelanjutan membuat pembuangan limbah sulit dikendalikan, dan sejauh ini, beberapa kajian telah menyelidiki kemungkinan mengintegrasikan rumput laut ke dalam sistem budidaya (Hirata & kohirata, Troell et al., 1997). Ada juga kelangkaan literatur yang memfokuskan terhadap kemungkinan atau penerapan budidaya terintegrasi rumput laut dan udang (Troell et al., 1999). Penelitian tentang sistem pengelolaan mikroalga telah ditelantarkan dan hanya ada beberapa kajian sistem budidaya ikan laut terintegrasi (Lavebvre et al., 1996; Hussenot et al., 1998). Hambatan untuk pengembangan skala penuh termasuk kebutuhan untuk karakterisasi sistem dan adaptasi pada masing-masing wilayah, jenis air limbah, keluaran terakhir air limbah dan jenis alga (Hussenot, 2003). Sebagai tambahan, pemanfaatan kerang moluska sebagai biofilter seperti pengembangan tiram raksasa (Tridacna derasa) pada air keluaran budidaya untuk produksi mikroalga pada sistem daur ulang air limbah juga sebagai pilihan yang menguntungkan. Tetapi literatur yang tersedia hanya merujuk terutama pada pakan oyster dicampur dengan fitoplankton atau jenis diatom. Yang secara alamiah sudah tersedia dan mudah berkembang (Hussenot et al., 1998, Troell et al., 2003). sistem pengelolaan konvensional memiliki kerugian pada produksi lumpur, membutuhkan ebergi yang tinggi, dan membutuhkan perawatan yang berkelanjutan. Sistem pengelolaan alamiah, termasuk dengan membangun lahan basah, telah berkembang sangat populer untuk pengelolaan air limbah sejak awal tahun 1990-an di Cina (Gao, 2000). pembangunan lahan basah telah digunakan untuk mengelola limbah pertambangan, limpasan air hujan, air limbah perkotaan, air limbah industri, dan limbah agrikultur dari kegiatan penanaman. Sistem pengelolaan lahan basah dapat menghilangkan secara signifikan sejumlah bahan padatan tersuspensi, bahan organik, nitrogen, posfor, unsur hara, dan mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah (Kadlec & Knight, 1996). Sistem pembangunan lahan basah dikarakterisasikan dengan keuntungan modal biaya yang rendah, konsumsi energi dan kebutuhan perawatan yang rendah, dan menguntungkan untuk meningkatkan habitat hidup hewan liar (International water Association 2000, Lin et al., 2002).
    • 3. Diskusi 3.1 Dampak lingkungan dari budidaya berbagai spesies yang berbeda Dampak lingkungan pada kegiatan budidaya tergantung utamanya pada jenis, sebagaimana ketergantungan pada metoda budidaya, hidrografi daerah budidaya, jenis pakan dan kegiatan ternak yang dilakukan. 3.1.1 Udang Tambak udang Cina terletak disepanjang hampir 18,000 km garis pantai dari Provinsi Hainan di wilayah tropik hingga ke Provinsi Liaoning di zona sedang (Xie & Yu, 2007). Pembudidaya biasanya membudidayakan dua jenis udang per tahun di bagian selatan Cina. Sementara di bagain utara sungai Yangtze pembudidaya hanya bisa membudidayakan satu jenis udang. Cina memiliki sekitar 14.000 tambak udang, dimana 5 % nya adalah tambak intensif, dengan 54 individu/m2. Dan memperoleh hasil 2,808 kg/ha (Xie & Yu,2007). Mayoritas tambak (85%), adalah tambak yang dikelola secara semi intensif dengan 19,7 individu/m2, dengan rata-rata luas wilayah 24,9 ha. Rata-rata nilai koversi pakan 2,1, dan menghasilkan 848 Kg/ha. Jenis udang yang umum dibudidayakan adalah Penaeus chinensis, P. monodon, P. japonicus, P. merguinsis, P.penicillatus, Metapenaeus ensis dan P. vannamei (Pan, 2001). Perkembangan yang sangat cepat dari budidaya udang membawa rangkaian masalah lingkungan, kesehatan manusia, dan keamanan. Sebanding dengan keuntungan dan bunga, yang mengakibatkan perhatian panjang terhadap keberlangsungannya. Sekitar 43 juta ton air limbah dari tambak udang dan sistem pembenihan udang tumpah kedalam perairan pantai di Cina setiap tahunnya (Xie & Yu, 2007). Pantai Bohai telah mencapai titik kritis melebihi kemampuannya yang dikhawatirkan menjadi laut “mati” dikarnakan pencemaran. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Feng pada tahun 1996, di wilayah Laut Bohai dimana tambak udang skala besar dan produksi udang berada, konsentrasi COD mencapai 200 kali lebih tinggi, dan Posfor aktif 900 kali lebih tinggi dibandingkan dengan baku mutu di lingkungan sekitar. Konsentrasi COD, Posfor aktif, dan ammonium yang diuji di wilayah yang sama adalah 3,7, 7,8, dan 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan waktu pra-produksi udang (Feng, 1996), menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang signifikan dalam pengelolaan unsur dari lingkungan yang berdekatan. Jika efisiensi konsumsi pakan per tahun adalah 15-20%, dan perbandingan konversi pakan adalah 2, Cina akan memproduksi 200.000 ton udang dan mengalirkan 320.000-340.000 ton air limbah ke dalam lautan. Pada tahun 1998, di Provinsi Fujiang, produksi udang mengeluarkan sebanyak 3,73x108 ton limbah udang, termasuk 5.589 ton COD, 658 ton Nitrogen, dan 307 ton Posfor. Du et al (2002) melaporkan bahwa air pasang merah terjadi di wilayah tambak skala besar di Guangdong dan laut Bohai menyebabkan kerugian yang besar pada industri budidaya di tahun 1998 dan 1999. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Wang et al. (1995), industri udang yang sehat dan berkelanjutan hanya dapat dicapai jika ekosistem laut dijaga dalam keseimbangan yang baik, rencana pengembangan yang rasional di rancang, model tambak yang ramah lingkungan dipilih, dan tindakan budidaya praktis dilakukan, disesuaikan dengan kondisi
    • spesifik wilayah. Pengelolaan kegiatan untuk meningkatkan kualitas air di sepanjang pantai dan mengurangi dampak lingkungan yang berbahaya dari pengembangan budidaya udang saat ini sangat dibutuhkan dan penting. Pelaksanaan pengelolaan air limbah yang canggih dengan mengurangi masukan unsur nutrien dari pupuk dan pakan udang dapat menjadi jalan terbaik untuk mengurangi penambahan unsur nutrien ke pesisir pantai. Sejauh ini belum ada negara atau wilayah yang telah menerapkan tindakan spesifik dari pengembangan tambak udang yang berkelanjutan, tetapi tanpa diragukan lagi, seluruh negara dan wilayah tersebut sedang berusaha untuk melakukan itu (Xie & Yu, 2007). 3.1.2 Kerang dan Ikan Sumber utama dari limbah budidaya kerang adalah kotoran dari kerang. Kotoran itu dihasilkan di wilayah anoxia di dasar permukaan. Budidaya kerang di rakit dapat mengubah kecepatan dan arah arus air, yang mempercepat akumulasi bahan padatan tersuspensi dan siltasi. Tabel 8 menunjukkan hasil kajian dari bahan organik yang diproduksi oleh kerang, Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan budidaya udang, limbah dari budidaya kerang lebih sedikit. Beberapa kerang yang bersifat pemakan segalanya, seperti Petipectin yessoensis bahkan bertindak sebagai pembersih yang digunakan pada sistem budidaya ikankerang terintegrasi. Tabel 8. Penelitian bahan organik yang dihasilkan oleh budidaya kerang di Cina (Zhao & Zhang, 2004). Hampir seluruh kajian terhadap dampak lingkungan budidaya ikan laut telah dilakukan di wilayah sedang (temperate) dimana ikan salmon dibudidayakan di kolam/keramba dengan pemberian pakan menggunakan pakan buatan. Fluktuasi dan keseimbangan unsur C, P dan N ditentukan keramba ikan salmon (pakan tuna rainbow dengan pakan kering) yang terdiri atas 80% C, 76% N dan 82% P pakan dimasukkan ke dalam sistem yang hilang dalam lingkungan (Wu, 1995). Pada kolam keramba ikan tuna, sekitar 19% hingga 28% dari total nitrogen yang dimasukkan dapat diperoleh dalam bentuk produksi ikan (Islam, 2005). Penurunan konsentrasi oksigen terlarut dan peningkatan BOD, nutrien (Organik P dan anorganik N dan total C) telah secara umum ditemukan di kolom air disekitar keramba ikan. Bagaimanapun, untuk budidaya ikan air tawar, tidak ada data khusus yang menunjukkan pencemaran pada masing-masing jenis ikan. Beberapa jenis ikan air tawar yang memiliki sifat pemakan segalanya seperti ikan mas, ikan mas koki dan nila, bahkan dapat digunakan dalam sistem polikultur untuk pemanfaatan yang lebih baik terhadap kelebihan protein.
    • 3.2 Pendekatan baru pengelolaan air limbah. Sejumlah pendekatan baru terhadap pengelolaan limbah budidaya sudah mulai dilakukan, namun, kebanyakan dari pendekatan baru tersebut utamanya berdasarkan kepada uji laboratorium. Nilai komersial dan praktis dari pendekatan baru tersebut sangat diperlukan untuk dievaluasi sebelum diaplikasikan. Potensi dari membran Ultra-low pressure polyethersulfone (PES) untuk pengelolaan air limbah budidaya sedang diamati saat ini. Ditemukan bahwa membran yang dipersiapkan untuk dipamerkan ini memiliki kinerja yang baik dalam menolak sejumlah besar total ammonium dan total posfor hingga 85,70% dan 96,49& secara berurutan (Nor’aini et al,2005). Apakah penemuan ini dapat dimanfaatkan dalam skala besar membutuhkan investigasi lebih lanjut mengingat besarnya biaya. Satu dari banyak teknik terbarukan untuk pengelolaan air limbah dan penggunaannya kembali adalah proses Reverse Osmosis (RO), yang digunakan secara luas untuk menghasilkan air minum dari air payau dan air laut dikarenakan adanya sumber air terkontaminasi yang diperoleh dan untuk mengurangi salinitas air pada aplikasi skala industri (Asano 1998, Gang et al.,2005). Tetapi aplikasi membran RO untuk pengelolaan air limbah sangat terbatas. Satu dari masalah utama adalah biaya energi selama proses penyaringan membran. Dalam rangka mengurangi biaya energi untuk operasional membran RO, para peneliti telah merubah ke sumber energi yang dapat diperbarukan sebagai jalan keluar masalah ini. Menurut Gang et al.(2005), sistem RO yang dimotori oleh angin untuk menghilangkan unsur nitrogen secara teknis sangat layak dan ramah lingkungan. Keunikan utama dan bagian penting dari sistem ini bahwa sistem ini dapat mengelola dan mendaur ulang limbah air budidaya menggunakan energi yang terbarukan, membuat sistem ini layak digunakan di daerah pedalaman dimana listrik sangat sulit diperoleh. Sistem ini mampu bekerja dengan kecepatan rata-rata angin yang rendah 3,0 m/s. Bergantung kepada kecepatan angin, sistem ini mampu menghasilkan dan mendaur ulang air limbah pada ratarata kecepatan 228-366 L/h. Kecepatan produksi meningkat seiring dengan kecepatan angin. Sekitar 70-84% limbah budidaya dapat didaur ulang dengan sistem ini, yang mampu untuk mendaur ulang 90-97% limbah nitrogen yang tersedia pada limbah budidaya ikan nila. Tingkat pemulihan rata-rata membran yang digunakan dalam sistem ini sekitar 39,2-57,5%. Perkiraan biaya untuk menghasilkan 1 m3 air tawar dari limbah budidaya sekitar US$ 4,00. Meskipun produksi air menggunakan sistem RO yang dimotori oleh angin kelihatannya sangat mahal pada situasi saat ini, teknologi ini memiliki masa depan yang menjanjikan ketika skala sistem ini dapat ditingkatkan. 3.3 Proposal untuk pengembangan budidaya yang berkelanjutan. 3.3.1 Kualitas pakan dan peningkatan pemberian pakan Limbah pakan adalah satu dari sumber yang sangat penting bagi penambahan unsur organik dan nutrien. Limbah dapat berkisar 1 - 38%, tergantung kepada jenis pakan, pemberian pakan, metoda budidaya dan jenis yang dibudidayakan (Wu, 1995). Meningkatkan kualitas pakan dengan zat penambah pada beberapa tahun belakangan ini, seperti microbial phytase, telah menghasilkan penguatan terhadap ketersediaan secara biologis unsur posfor dan nitrogen, pada konsentrasi rendah (Cripps & Bergheim, 2000; Cao
    • et al, 2007). Oleh karena itu, jumlah kotoran padat yang dihasilkan ikan dikurangi dan hanya sedikit posfor yang masuk kedalam lingkungan perairan disekitarnya. Penelitian telah menunjukkan bahwa pengurangan secara signifikan dari jumlah unsur dari tepung ikan adalah mustahil tanpa berdampak kepada tingkat rata-rata pertumbuhan atau kualitas daging di beberapa jenis kegiatan budidaya (Mente et al., 2006, Cao et al., 2007). Peningkatan integrasi pakan pelet, dengan penambahan bahan yang dapat memperlambat daya hancur pakan, lebih lanjut akan mengurangi tingkat kehilangan pakan. Pengembangan pakan energi tinggi dengan peningkatan lemak, mengurangi unsur karbohidrat, mengurangi tingkat protein, dan meningkatkan daya cerna akan secara signifikan mengurangi produksi limbah. Hubungan tertutup antara kualitas pakan dan produksi limbah yang berasal dari pakan telah ditunjukkan di beberapa laporan (Cripps&Bergheim, 2000). Optimalisasi sistem pemberian pakan dan cara pemberian pakan juga dapat mengurangi limbah. Ada 3 metoda yang mungkin dilakukan untuk mengendalikan dampak pakan dari kegiatan budidaya perikanan: (1) pengendalian terhadap wilayah dimana lokasi keramba berada; (2) pengendalian terhadap limbah yang dikeluarkan; (3) monitoring dampak yang dihasilkan seketika keramba mulai dijalankan. Sistem polikultur atau budidaya terintegrasi yang menggabungkan budidaya kerang dan alga dengan budidaya ikan, dapat menjadi bagian jalan keluar (Mente et al., 2006). Sistem pemberian pakan dan teknologi yang digunakan baik terhadap perbandingan pemberian pakan kepada benih dan monitor asupannya dapat digunakan untuk meminimalisasi limbah. Pemanfaatan pakan harus dimaksimalkan dengan secara optimal memberikan pakan pada benih ikan untuk meminimalisasi jumlah pakan yang tidak dikonsumsi. Kapasitas yang dibutuhkan untuk sistem pengelolaan kemudian akan dapat dikurangi, dan akhirnya dapat menghemat modal dan biaya operasional. Sebagai tambahan, dalam sistem penggunaan kembali air yang secara umum memiliki kapasitas yang sudah tetap berdasarkan kepada kemampuan sistem untuk menangani aplikasi pemberian pakan harian, menghilangkan penambahan limbah pakan dapat secara efektif meningkatkan kapasitas pemeliharaan ikan. Teknologi untuk memantau pakan yang tidak dimakan telah menunjukkan sebagai sebuah alat yang sangat berguna untuk mengurangi limbah (Summerfelt et al., 1995). Ketika pelet terdeteksi di aliran keluar air bak, alat akan berhenti melanjutkan pemberian pakan. Sebuah alat pengatur waktu kemudian diaktifkan untuk mengendalikan jarak pemberian pakan. Sebagaimana untuk mengoptimalisasikan waktu pemberian pakan, lokasi pemberian pakan dapat berdampak baik kepada jumlah limbah padat dan terhadap penempatannya didalam fasilitas budidaya. Ikan biasanya tidak mengambil pakan yang jatuh di dasar bak, oleh karna itu digunakan bak hydrodinamics, struktur pelet dan lokasi pemberian pakan harus disesuaikan untuk menjaga masa paruh pakan padat selama mungkin. Pengembangan pakan mungkin perlu dilakukan untuk meningkatkan tekanan pada efisiensi penggunaan bahan baku dan mengurangi limbah pakan dan bahan nutrien. Satu dari beberapa keterbatasan perluasan budidaya sepertinya adalah ketersediaan pakan yang berasal dari tepung ikan atau bahan baku minyak ikan. Berkaitan dengan kontaminasi dan kemungkinan resiko terhadap manusia seperti tingkat dioxin pada ikan telah dilakukan. Kajian dimasa yang akan datang bertujuan untuk memperoleh sebuah kesepahaman yang berdasarkan kepada sistem fisiologis pada pengamatan pertumbuhan dalam proses anabolisme dan katabolisme yang dapat memberikan informasi terhadap keputusan yang dibuat pada modifikasi pakan dan sistem pemberian pakan. Peneliti tetap harus
    • meningkatkan kualitas pakan dan pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya, yang dapat menghasilkan pertumbuhan ikan dan tingkat kelulushidupan yang lebih baik. Pakan harus dirancang untuk memenuhi tingkat pencernaan yang tinggi, konsentrasi rendah dari ekskresi N dan jumlah protein pakan yang lebih kecil untuk meminimalisasi keluaran unsur nutrien dari budidaya ke lingkungan dan untuk memastikan keberlanjutan dari kegiatan budidaya. 3.3.2 Sistem budidaya yang terintegrasi Perkembangan yang cepat dari sistem budidaya intensif di Cina telah meningkatkan perhatian terhadap dampak lingkungan seperti yang sering terjadi pada budidaya monokultur (Zhou et al., 2006). Dampak negatif terhadap ekonomi dan lingkungan yang dimiliki sistem monokultur telah diyakini dan keberlanjutannya dipertanyakan (Zhou et al., 2006). Pada beberapa tahun belakangan ini, telah terjadi peningkatan tekanan terhadap pengembangan budidaya terintegrasi yang berkelanjutan (dengan menggunakan makroalga, organism akuatik pemakan segalanya dan organisme akuatik yang menyimpan pakan.) Sangatlah ideal untuk mengakomodasi dua atau lebih jenis yang cocok secara lingkungan dalam satu sistem. Mereka dapat hidup secara bersama dalam lingkungan tanpa adanya konflik dalam hal pakan dan wilayah. Dengan mengintegrasikan budidaya laut (ikan dan udang) dengan budidaya laut ekstraktif anorganik dan organik (rumput laut dan kerang yang bersifat pemakan segalanya), limbah dari satu sumber dapat menjadi bahan baku (pupuk atau pakan) bagi organisme lain dalam satu sistem. Seperti sebuah keseimbangan ekosistem melalui penyediaan kapasitas bioremediasi nutrien, keuntungan saling memberikan keuntungan terhadap masing-masing komoditas budidaya dan perluasan nilai ekonomi dengan memproduksi produk yang mampu menambah nilai keuntungan (Chopin et al., 2001). Sistem budidaya terintegrasi modern, sebagai contoh rumput laut, memiliki keterikatan memainkan peranan penting dalam pengembangan yang berkelanjutan di budidaya wilayah pantai (Neori et al., 2004). Limbah ikan yang dihasilkan oleh sistem perairan terbuka lebih sulit dikendalikan dibandingkan dengan limbah yang berasal dari sistem di darat. Integrasi dengan rumput laut dan/atau organisme akuatik pemakan segalanya sering dibuktikan menjadi satu-satunya alternatif yang menguntungkan secara ekonomi untuk pengelolaan air limbah di sistem perairan terbuka (Troell et al., 2003). Beberapa strategi untuk mengintegrasikan rumput laut kedalam budidaya ikan telah diajukan. Buschman et al.(1994) menemukan bahwa limbah dari bak budidaya intensif ikan salmon di cili memberikan kebaikan terhadap produksi G.chilensis di kolam budidaya. Juga, Haglund dan Pedersen (1993) menemukan bahwa Gracilaria tenuistipitata berkembang dengan baik pada budidaya secara bersama dengan ikan tuna, utamanya di bulan yang memiliki cuaca hangat di tahun tersebut. Pemilihan jenis rumput laut terbaik yang cocok untuk budidaya terintegrasi mungkin berbeda tergantung kepada jenis operasional budidaya (Nelson et al., 2001). Rata-rata penjernihan tiram Crassostrea gigas dan kerang Patipectin yessoensis dapat ditingkatkan hingga 101 dan 951/hari/individu, secara berurutan (Wu, 1995). Kegunaan mussel/kerang untuk mengendalikan pertumbuhan fitoplankton dan eutrofikasi juga telah disarankan (Wu, 1995). Chopin et al.(2001) telah menyarankan bahwa integrasi rumput laut ke dalam budidaya ikan di perairan pantai dapat meringankan penipisan bahan nutrisi musiman dengan menggunakan asupan nutrisi yang tetap dari kolam ikan, yang kemudian dihitung
    • (limbah menjadi pupuk) dan dikelola (kompetisi nutrisi antara tumbuhan alga yang diinginkan dan masalah spesies yang dikaitkan dengan gangguan). Budidaya secara bersama memberikan keuntungan bagi organisme yang terlibat: rumput laut menangkap nutrien yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, dan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas air di sekitar kolam ikan untuk penguatan kesehatannya (Chopin et al., 2001, Neori et al., 2004). Pemeliharaan rumput laut didekat keramba ikan tidak hanya mengimbangi masukan nutrien tetapi juga berbagai aspek metabolisme lainnya, seperti oksigen terlarut, keasaman, dan konsentrasi CO2, dalam satu langkah. Sebagai konsekuensinya, pengendalian hukum terhadap keluaran bahan anorganik ke dalam perairan pantai agar dapat diperketat, prinsip “pencemar yang membayar” akan diterapkan segera di masa yang akan datang. Bioremediasi melalui produksi rumput laut akan menambah industri pakan ikan laut untuk mencegah biaya non-produksi (Zhou et al., 2006). Satu dari keuntungan utama adalah sistem ini akan berkontribusi terhadap pengurangan keluaran bahan nutrien anorganik ke dalam air. Mengurangi potensi timbulnya kehancuran dan biaya hypertrophic. Sebagai tambahan keuntungan, kepada pelaksana budidaya ikan finfish, adalah bahwa keluaran unsur P dan N saat ini (tidak terasimilasi/atau diekskresikan), yang berarti kehilangan uang dalam artian sebenarnya, akan ditangkap dan dikonversikan menjadi produksi makroalga yang dapat dijual. Akhirnya, pengembangan ekonomi dan perluasan tenaga kerja akan dicapai dengan pengembangan sistem yang berkelanjutan dan ramah lingkungan ini untuk optimalisasi efisiensi operasional budidaya, disamping menjaga kesehatan air (Chopin et al.,1999). 3.3.3 Pengelolaan limbah Dalam rangka mengurangi dampak negatif limbah budidaya perikanan, produksi limbah pada kolam budidaya harus dikaji dan baku mutu kualitas air dari lingkungan dimana limbah dikeluarkan harus diatur. Tetapi sebagai pengetahuan kita, di Cina, tidak ada kajian yang mengkarakterisasikan air yang menerima limbah budidaya dan air yang digunakan oleh pembudidaya, atau memiliki hubungan kualitas air terhadap aktivitas budidaya. Di masa lalu, teknologi usang dan pengelolaan yang tidak sempurna dari sistem pengelolaan limbah tetap digunakan pada kegiatan budidaya, yang dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar, menghancurkan keberagaman akuatik, dan untuk beberapa perluasan, menghalangi pengembangan secara berkelanjutan dalam industri budidaya. Oleh karena itu, sangat penting pengelolaan limbah budidaya harus terus diperluas dan diperkuat. Sistem air tertutup atau semi-tertutup yang mendaur ulang air melalui serangkaian tandon, kolam pengelolaan (dengan ikan, kerang dan alga) dan sungai kembali ke kolam produksi dapat bertindak untuk mengurangi sejumlah keluaran air limbah dan meminimalisasi masuknya organisme penyebab penyakit dari perairan alami. Lumpur pada kolam dapat dikurangi dengan aplikasi probiotik, atau dengan mengolah dan mengeringkan dasar kolam. Sebagai alternatifnya, lumpur dapat dikumpul dan disimpan dekat dengan tambak sebagai penanaman bakau atau selanjutnya mentransfer ke lahan pertanian atau hutan. Bakau dapat digunakan untuk mengelola limbah tambak udang dengan konsentrasi tinggi bahan padatan, bahan organik dan nutrien.
    • 3.3.4 Peraturan Pemerintah Penyalahgunaan antibiotik dapat mengakibatkan residu antibiotik pada produk budidaya, yang menyebabkan tidak hanya penurunan daya tahan tubuh produk budidaya, tetapi juga penurunan terhadap kekebalan penyakit konsumen dan meningkatkan kemungkinan terinfeksi oleh penyakit. Uni Eropa melarang untuk mengimpor udang dari daratan Cina, Vietnam dan Indonesia setelah menemukan zat terlarang Chloramphenicol tersisa pada produk udang yang diimpor (Xie & Yu, 2007). Produk budidaya dapat mengakumulasikan logam berat dari pestisida, algaesida, dan beberapa organisme organik yang digunakan dalam tambak melalui akumulasi biologi, yang dapat mengarah kepada permasalahan keamanan pangan. Oleh karena itu , pengendalian secara hukum terhadap penggunaan bahan kimia pada industri budidaya harus diperkuat. Penelitian selanjutnya sebaiknya difokuskan dalam mencari alternatif pengganti untuk bahan-bahan kimia yang tersedia. Padat tebar yang rasional dalam kapasitas ekosistem direkomendasikan untuk pencegahan penyakit. Dalam beberapa dekade belakangan ini, beberapa peraturan dalam pengelolaan budidaya telah diupayakan oleh pemerintah Cina. Sebagai contoh “Baku Mutu Kualitas Air untuk Perikanan” (GB1160789) yang dikeluarkan dan diberlakukan pada tanggal 1 Maret 1990 (Xie & Yu, 2007). Kementerian Pertanian mengeluarkan “ Peraturan Untuk Perhitungan Kerugian Sektor Perikanan Akibat Pencemaran Air ” dan “ Peraturan dan Prosedur Untuk Investigasi dan Penanganan Pencemaran di Air Perikanan ” pada tahun 1997, yang memandu proses investigasi dan penanganan akibat pencemaran di wilayah perikanan ke jalur hukum. Kementerian pertanian dan biro lokal perikanan mulai untuk memperkuat konstruksi infrastruktur stasiun monitoring lingkungan perikanan pada tahun 1999. Bagaimanapun, lebih banyak lagi peraturan dan baku mutu yang spesifik untuk pengembangan budidaya yang ramah lingkungan harus dibentuk. 4. Kesimpulan Budidaya perikanan di Cina akan terus memainkan peranan penting dalam pasokan ikan secara global di masa yang akan datang. Dampak negatif limbah dari kegiatan budidaya ke lingkungan akuatik semakin diakui, meskipun budidaya hanya bagian kecil dibandingkan bahan pencemar dari daratan. Penggunaan perencanaan yang lebih baik terhadap limbah budidaya meringankan masalah pencemaran perairan dan tidak hanya melindungi sumber daya air yang berharga tetapi juga mengambil keuntungan dari nutrien yang terkandung dalam air limbah. Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mengembangkan budidaya perikanan yang berkelanjutan yang menjaga padat tebar dan masukan bahan pencemar dibawah kapasitas lingkungan. 5. Rekomendasi dan Sudut pandang Pengelolaan limbah budidaya dan air limbah di Cina masih dalam tahap pendahuluan dan tidak ada data kuantitatif yang menunjukkan berapa banyak wilayah tercemar yang dikelola atau tidak. Sebagai tambahan, sistem deteksi yang tidak memadai terhadap lingkungan akuatik dan baku mutu keluaran air limbah untuk budidaya mendorong terjadinya pencemaran yang disebabkan oleh aliran limbah secara langsung. Oleh karena
    • itu, diperlukan kebijakan yang lebih baik dan sistem pengelolaan praktis untuk mengatur limbah budidaya. Tahapan berbeda dari pengelolaan limbah dalam kegiatan budidaya sebaiknya dilakukan terintegrasi sehingga keseluruhan tingkat penghilangan bahan pencemar dan penggunaan kembali dapat dioptimalkan. Tahapan tersebut akan meliputi manipulasi kualitas pakan, pengelolaan sistem pemberian pakan, pengelolaan awal air limbah, pemisahan utama, penebalan sekunder, stabilisasi lumpur dan penggunaan kembali lumpur atau pembuangan. Hal tersebut mungkin akan lebih efisien dan menguntungkan dengan mengkombinasikan dua pendekatan atau lebih di masa yang akan datang. Prosedur tradisional untuk pengelolaan air limbah budidaya, terutama yang berdasarkan kepada metoda fisika dan kimia, seharusnya dapat mengatasi dengan pendekatan lebih kepada wilayah yang spesifik. Dengan lebih memperhitungkan karakterisasi dan daya tolak lingkungan akuatik. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk meningkatkan atau mengoptimalkan metoda pengelolaan air limbah dan penggunaannya kembali yang tersedia saat ini. Usulan teknologi pengelolaan yang baru sebaiknya dievaluasi kemungkinannya diterapkan pada skala besar untuk aplikasi praktis. Ucapan Terima Kasih. Penelitian ini merupakan bagian dari Aquaculture Collaborative Research Support Program (ACRSP), didukung oleh dana Biro Amerika Serikat untuk pengembangan internasional (USAID) No. LAG-G-00-96-90015-00, dan dengan bantuan dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, Institut Teknologi Asia (AIT), Thailand dan Universitas Agrikultur Huazhong (HAU), Cina. Nomor akses ACRSP adalah 1328. Pendapat yang dikemukakan disini semuanya milik penulis dan tidak perlu merefleksikan sudut pandang Biro Amerika Serikat untuk pengembangan internasional. Kajian ini didanai oleh “National Key Technology R&D Program in Eleventh-Five-Year Plan”, diberi judul “The integrated demonstration of safe fishery production”. Nomor akses adalah 2006BAK02A22 Daftar Pustaka Ackefors H, Enell M (1994): The release of nutrients and organic matter from aquaculture systems in Nordic countries. J appl Ichthyol 10, 225–241 Asano T (1998): Water Quality Management Library, Wastewater Reclamation and Reuse, vol 10. Technomic Publishing Company, Pennsylvania, USA, pp 2201–2217 Buschmann AH, Mora OA, Gomez P, Bottger M, Buitana S, Retamales C, Vergara PA, Guiterrez A (1994): Gracilaria tank cultivation in Chile: Ase of land based salmon culture effluents. Aquac Eng 13, 283–300 Cao L, Wang WM, Yang CT, Yang Y, James D, Luo Z, Li DP (2007): Application of microbial phytase in fish feed. Enzyme and Microbial Technology 40, 497–507 Cheng SP, Wu ZB, Kuang QJ (2002): Macrophytes in Artificial Wetland. Lake Science 14, 179– 184 (in Chinese) Chopin T, Buschmann AH, Halling C, Troell M, Kautsky N, Neori A, Kraemer G, ZertucheGonzalez J, Yarish C, Neefus C (2001): Integrating seaweeds into aquaculture systems: A key towards sustainability. J Phycol 37, 975–986
    • Chopin T, Yarish C, Wilkes R, Belyea E, Lu S, Mathieson A (1999): Developing Porphyra/salmon integrated aquaculture for bioremediation and diversification of the aquaculture industry. Journal of Applied Phycology 11, 463–472 Cripps SJ, Bergheim A (2000): Solids management and removal for intensive land-based aquaculture production systems. Aquacultural Engineering 22, 33–56 Cui Y, Chen BJ, Chen JF (2005): Evaluation on self-pollution of marine aquaculture in Bohai Sea and Yellow Sea. Chinese journal of applied ecology 16, 180–185 (in Chinese with English abstract) Du Q, Zhang YT, Gao L, Qian XM, Xu CY (2002): Features and countermeasures of red tides in Fujian sea area in recent years. Journal of Fujian Fisheries 4, 32–37 (in Chinese) Enell M, Lof J (1983): Environmental impact of aquaculture: Sediment and nutrient loadings from fish cage culture farming. Vatten 39, 364–375 Fang SQ, Hu XF, Wu HX (2004): Technology of aquaculture wastewater treatment and application. Techniques and Equipment for Environmental Pollution Control 5, 51–55 (in Chinese with English abstract) Feng HQ (1996): Focus on fish and shrimp nutrition ecology due to aquaculture calamity. China Feedstuff 13, 18–20 (in Chinese) Gan JL, Lin Q, Jia XP, Huang HH, Cai WG (2006): Characteristic polluted of organic matter in surfacial sediment in the cage culture area of Dapengao Bay. Marine Environmental Science 25, 5–8 (in Chinese with English abstract) Gang Q, Clark CK, Liu N, Harold R, James ET (2005): Aquaculture wastewater treatment and reuse by wind-driven reverse osmosis membrane technology: a pilot study on Coconut Island, Hawaii. Aquacultural Engineering 32, 365–378 Gao SQ (2000): The potential use of the artificial wetlands in aquaculture waste management. Changchun Fisheries (2) 21–22 (in Chinese with English abstract) Gregory R, Zabel TF (1990): In: Pontius FW (ed), Water Quality and Treatment: A Handbook of Community Water Supplies, 4th edn. McGraw- Hill, New York, pp 367–453 Haglund K, Pedersen M (1993): Outdoor pond cultivation of the subtropical marine red alga Gracilaria tenuistipitata in brackish water in Sweden. Growth, nutrient uptake, cocultivation with rainbow trout and epiphyte control. Journal of Applied phycology 5, 271–284 Hirata H, Kohirata E (1993): Culture of sterile Ulva sp. in a marine fish farm. The Israeli J Aquacult-Bamidgeh 45, 164–168 Hussenot J, Lefebvre S, Brossard N (1998): Open-air treatment of wastewater from landbased marine fish farms in extensive and intensive systems: Current technology and future perspectives. Aquat Living Resour 11, 297–304 Hussenot JME (2003): Emerging effluent management strategies in marine fish-culture farms located in European coastal wetlands. Aquaculture 226, 113–128 Islam MS (2005): Nitrogen and phosphorus budget in coastal and marine cage aquaculture and impacts of effluent loading on ecosystem: review and analysis towards model development. Marine Pollution Bulletin 50, 48–61 International Water Association (2000): Constructed Wetlands for Pollution Control. Processes, Performance, Design and Operation. IWA Publishing, London, pp 61–65 Kadlec RH, Knight RL (1996): Treatment Wetlands. CRC Press, Boca Raton, pp 893 Kerry J, Hiney M, Coyne R, Cazabon D, Nicgabhainn S, Smith P (1994): Frequency and distribution of resistance to oxytetracycline in microorganisms isolated from marine
    • fish farm sediments following therapeutic use of oxytetracydine. Aquaculture 123, 43–54 Lefebvre S, Hussenot J, Brossard N (1996): Water treatment of land-based fish farm effluents by outdoor culture of marine diatoms. J appl Phycol 8, 193–200 Li CH, Huang HH, Lin Q, Cai WG, Gan JL (2004): Environmental Carrying Capacity of the Pollutants from the Prawn Seawater Culture Ponds. Journal of Agro-Environment Science 23, 545–550 (in Chinese with English abstract) Li W (2004): Tendency and reason for evolution toward mash in the East Taihu. In: Qin B, Hu W, Chen W (eds), Process and Mechanism of Environmental Changes of Lake Taihu. Science Press, Beijing, pp 33–51 (in Chinese) Lin YF, Jing SR, Lee DY, Wang TW (2002): Nutrient removal from aquaculture wastewater using a constructed wetlands system. Aquaculture 209, 169–184 Liu CF, Qi ZR, He J, Zhang JX (2002): Environmental friendship aquaculturezero discharge integrated recirculating aquaculture systems. Journal of Dalian Fisheries University 17, 220–226 (in Chinese with English abstract) Mente E, Graham JP, Maria BS, Christos N (2006): Effect of feed and feeding in the culture of salmonids on the marine aquatic environment: A synthesis for European aquaculture Aquacult Int 14, 499–522 Midlen A, Redding TA (1998): Environmental Management for Aquaculture. Chapman & Hall, London, UK, pp 223 Natural Bureau of Statistics of China (2005): China Fishery Statistic Yearbook. Chinese Statistic Press. <http://www.stats.gov.cn> Nelson SG, Glenn EP, Conn J, Moore D, Walsh T, Akutagawa M (2001): Cultivation of Gracilaria parvispora (Rhodophyta) in shrimp-farm effluent ditches and floating cages in Hawaii: A two-phase polyculture system. Aquaculture 193, 239–248 Neori A, Chopin T, Troell M Buschmann AH, Kraemer GP, Halling C, Shpigel M, Yarish C (2004): Integrated aquaculture: rationale, evolution and state of the art emphasizing seaweed biofiltration in modem mariculture. Aquaculture 231, 361–391 Ning FS, Gu CH, You X, Cui R (2006): Pollution analysis of cage culture in Dahonghu Reservoir. Environmental Science and Technology 29, 47–49 (in Chinese) Nora'aini AA, Wahab M, Ahmad J (2005): Treatment of aquaculture wastewater using ultralow pressure asymmetric polyethersulfone (PES) membrane. Desalination 185, 317– 326 Pan LQ (2001): Problems and countermeasures of shrimp farming development in China. Shandong Fisheries 18, 22–25 (in Chinese) Penczak T, Galicka W, Molinshi M, Kusto E, Zalewski M (1982): The enrichment of a mesotrophic lake by carbon,phosphorus and nitrogen from the cage aquaculture of rainbow trout (Salmo gairdert). Journal of Applied Ecology 19, 371–393 Primavera JH (2006): Overcoming the impacts of aquaculture on the coastal zone. Ocean & Coastal Management 49, 531–545 Qin BQ, Luo LC (2004): Changes in eco-environment and causes for Lake Taihu, China. Quaternary Sciences 24, 561–568 (in Chinese with English abstract) Redding T, Todd S, Midlen A (1997): The treatment of aquaculture wastewater – A botanical approach. Journal of Environment Management 50, 283–299 Robertson AI, Phillips MJ (1995): Mangroves as filters of shrimp pond effluents: predictions and biogeochemical research needs. Hydrobiologia 295, 311–321
    • Summerfelt ST, Holland KH, Hankins JA, Durant MD (1995): A hydroacoustic waste feed controller for tank systems. Water Sci Technol 31, 123–129 Tovar A, Moreno C, Manuel-Vez MP, Garcia-Vargas, M (2000): Environmental implications of intensive marine aquaculture in earthen ponds. Marine Pollution Bulletin 40, 981– 988 Troell M, Halling C, Neori A (2003): Integrated mariculture: Asking the right questions. Aquaculture 226, 69–90 Troell M, Halling C, Nilsson A, Buschmann AH, Kautsky N, Kautsky L (1997): Integrated open sea cultivation of Gracilaria chilensis (Gracilariales, Rhodophyta) and salmonids for reduced environmental impact and increased economic output. Aquaculture 156, 45–61 Troell M, Rönnbäck P, Halling C, Kautsky N, Buschmann A (1999): Ecological engineering in aquaculture: use of seaweeds for removing nutrients from intensive mariculture. Journal of Applied Phycology 11, 89–97 Van Rijn J (1996): The potential for integrated biological treatment systems in recirculating fish culture – A review. Aquaculture 139, 181–201 Wang KX, Ma S, Pan LQ, Gao WB, Wang CL (1995): On technique for farming shrimp with closed and purged-in pond. Shandong Fisheries 4, 20–23 (in Chinese) Wang RC, Zheng XD (2004): Progress of marine shellfish culture in China and its prospect. Periodical of Ocean University of China 34, 775–780 (in Chinese with English abstract) Wang YB, Xu ZR, Guo BL (2005): The danger and renovation of the deteriorating pond sediment. Feed industry 26(4), 47–49 (in Chinese) Wu RSS (1995): The environmental impact of marine fish culture: Towards a Sustainable Future. Marine Pollution Bulletin, 31, 159–166 Xiao ER, Liang W, Wu ZB (2006): Studies of augmentation technologies of constructed wetland for wastewater treatment. Techniques and Equipment for Environmental Pollution Control 7, 119–123 (in Chinese with English abstract) Xie B, Yu K (2007): Shrimp farming in China: Operating characteristics, environmental impact and perspectives. Ocean & Coastal Management. DOI:10.1016/j.ocecoaman.2007.02.006 (in press) Yang ZF, Chen LQ, Zhou ZL, Chen Y, Wu LK (2003): Effects of fishery development on water environment and its countermeasures in Taihu Lake. Chinese Journal of EcoAgriculture 11, 156–158 (in Chinese with English abstract) Yang ZY, Guo CH, Chen QY (2002): A Study on the Environmental Problems in Aquaculture Industry of China. Ecological Economy 10, 44–46 (in Chinese with English abstract) Zhang JZ, Chen RP (2004): The danger of too much sediment in fish pond. Guangdong feed 12, 39–40 (in Chinese) Zhao Q, Zhang LP (2004): Study on quantitative methods of self-pollution of mariculture. Marine Environmental Science 23, 77–80 (in Chinese with English abstract) Zhou Y, Yang HS, Hu HY, Liu Y, Mao YZ, Zhou H, Xu XL, Zhang FS (2006): Bioremediation potential of the macroalga Gracilaria lemaneiformis (Rhodophyta) integrated into fed fish culture in coastal waters of north China. Aquaculture 252, 264–276
    • Literatur tambahan Huiwen C, Yinglan S (2007): Management of Marine Cage Aquaculture. Environmental Carrying Capacity Method Based on Dry Feed Conversion Rate. Env Sci Pollut Res, DOI: http://dx.doi.org/10.1065/ espr2007.05.423 Fachini A, Vasconcelos MTSD (2006): Enhancing Diatom Growth by Using Zeolites to Change Seawater Composition. Env Sci Pollut Res 13 (4) 238–241 Belias CV, Bikas VG, Dassenakis MJ, Scoullos MJ (2003): Environmental Impacts of Coastal Aquaculture in Eastern Mediterranean Bays. The Case of Astakos Gulf, Greece. Env Sci Pollut Res 10 (5) 287–295 Diterima: 30 Oktober 2006 Disetujui: 8 Juni 2007 Pertama kali dapat diakses secara on line: 9 Juni 2007