ELEKTRONIKA I
TRANSISTOR
Transistor sinyal kecil
TRANSISTOR : Bipolar Junction Transistor
Konstruksi
Transistor adalah piranti semikonduktor tiga
terminal yang dibangun dari :
dua material tipe p dan satu material tipe n, atau
dua material tipe n dan satu material tipe p.
n np
B
CE
Heavily doped
p pn
B
CE
BJT
Doping pada bagian tengah diberikan lebih sedikit dibandingkan
dengan bagian luar (sekitar 10:1). Doping rendah ini
mengurangi konduktiviti material dengan membatasi jumlah
elektron bebas. Istilah bipolar berasal dari kenyataan bahwa
elektron dan holes berpartisipasi dalam proses pembangkitan
arus.
n np
B
CE
Heavily doped
p pn
B
CE
BJT : Operasi Transistor
 Transistor beroperasi dengan memberikan bias pada kedua
junction. Bias maju pada junction BE menyebabkan sejumlah besar
majority carrier (holes) yang terhubung ke terminal emitter terdifusi
melewati junction menuju materi tipe n (basis). Karena ketersediaan
elektron bebas pada materi tipe n lebih sedikit dari hole yang
terdifusi, hanya sedikit holes yang ber-kombinasi dengan elektron
dan menghasilkan arus pada terminal basis.
 Sebagian besar hole akan begerak melewati depletion region pada
junction base-collector (junction base-collector di-bias mundur) dan
keluar pada terminal collector.
BJT
Total arus dari terminal emitter sama dengan
arus pada terminal collector ditambah arus pada
terminal basis.
IE = IC + IB
Arus collector IC terdiri dari dua komponen,
yang berasal dari majority carrier dan minority
carrier. Arus dari minority carrier disebut dengan
ICO (arus collector dengan terminal emitter
open).
IC =ICmajority +ICO
ICO bernilai sangat kecil dan umumnya bisa
diabaikan
BJT
Tegangan base-emitter (VBE) bisa dianggap
sebagai variabel pengontrol dalam menentukan
operasi transistor. Arus collector dikaitkan
dengan tegangan VBE (Ebers-Moll / Shockley
equation):
Arus collector IC proporsional terhadap arus IB dengan
hubungan: (Penguatan arus)
IC = βdc IB
IC = αdc IE
Daerah operasi BJT
Base emitter Base collector Region
RB RB Cutoff
FB FB Saturation
FB RB Active
RB : Reverse bias FB : Forward bias
Daerah operasi BJT
Model ideal cutoff :
VCE = VCC
IC = 0
Model ideal saturation :
VCE = 0
IC = IC max
Daerah operasi BJT
Active
Kondisi NPN PNP
B – E FB VBE = 0,7 V VBE= - 0,7 V
atau VEB = 0,7V
B –C RB VCE > 0 VCE < 0 atau
VEC > 0
VBC = VBE - VCE
Polaritas tegangan :
Karakteristik Collector (output) :
Karakteristik Collector :
Karakteristik Collector :
BJT
Data spesifikasi transistor (dari pabrik) di-
set nilai maksimum yang tidak boleh
dilampaui dalam operasi. Spesifikasi ini
memberi batasan operasi transistor dalam
rangkaian.
 Contoh spesifikasi transistor silikon
2N2222
Collector-Base Voltage = 60 v
Collector-Emitter Voltage = 30 v
Base-Emitter Voltage = 5 v
Power dissipation = 500 mW
Temperature 125 C
BJT sebagai saklar
BJT sebagai saklar
Aplikasi BJT penggerak relai
Aplikasi BJT penggerak relai
Kontrol tegangan vi = 0, BJT cutoff dan
relai dalam kondisi terbuka
Jadi perhitungan rancangan berdasarkan
pada vi = 6 V (sebagai contoh soal)
Misalkan resistansi dc pada coil relai =
100 Ω.
1. Tentukan nilai IC(sat). Jika transistor
saturasi, tegangan 12 V dari VCC akan
diterima oleh coil relai.
Aplikasi BJT penggerak relai
Diperoleh :
mA
AI
I
dc
satC
satB 2,1
100
12,0)(
)( ===
β
A
V
I satC 12,0
100
12
)( =
Ω
=
Tetapkan βdc = 100 (nilai minimum)
Aplikasi BJT penggerak relai
Berdasarkan pada kriteria khusus, untuk
meyakinkan bahwa transistor dalam kondisi
saturasi :
mAmAII satBB 4,22,122 )( =×==
Ω=
×
−
=
−
= −
2208
104,2
7,06
3
B
BEi
B
I
Vv
R
Resistansi basis :
BJT : Konfigurasi
1. Common Base
Input pada Emiter dan output pada Collector, Base di groundkan.
Penguatan arus :
99,095,0aktual,1makakarena ≤≤≅≅= dcdcEC
E
C
dc II
I
I
ααα
2. Common-Emitter
Input di Base dan ouput di Collector, Emitter di groundkan
Penguatan arus :
BJT : Konfigurasi
gilebih tingatau200s.d20antaranilaimempunyai,
B
C
dc
I
I
=β
BJT : Konfigurasi
dcα dcβHubungan antara dan
dcdc
C
C
B
C
E
BCE
I
I
I
I
I
III
βα
1
1
1
:
1
+=
+=
+=
1
11
+
=
+
=
dc
dc
dc
dc
dc
dc
β
β
α
β
β
α
dc
dc
dc
dc
dc
dc
dcdc
α
α
β
α
α
β
βα
−
=
−
=
=−
1
11
1
1
1
3. Common Collector
Input di Base dan ouput di Emitter
Penguatan arus :
Sama dengan konfigurasi Common Emitter
BJT : Konfigurasi
B
C
dcCE
B
E
I
I
II
I
I
=≅ βsehinggakarena
TEGANGAN PANJAR TRANSISTOR
Transistor memerlukan panjar tegangan dc untuk operasi sebagai penguat.
Sebuah titik operasi dc harus diset supaya variasi sinyal pada terminal input
diperkuat dan secara akurat mereproduksi pada terminal output.
Saturation
CutoffQ1
Q2
Q3
Q4
Garis Beban dc
Titik Q (Quiescent) = titik operasi
Garis Beban DC :
Garis Beban DC
Saturation
CutoffQ1
Q2
Q3
Q4
Garis Beban dc
Titik Q (Quiescent) = titik operasi
Contoh operasi linier:
Misal tegangan gelombang sinus di tambahkan pada VBB arus basis
bervariasi 100 µA di atas dan di bawah titik Q
Contoh operasi linier:
Distorsi pada output (1)
Contoh operasi linier:
Distorsi pada output (2)
Contoh soal :
Tentukan titik Q dalam gambar di bawah ini, dan tentukan harga puncak
arus basis untuk operasi linier (βdc = 200)
Titik Q ditentukan oleh IC dan VCE :
Garis beban dc di tetapkan oleh IC(cutoff) = 0 dan IC(sat) :
Contoh soal :
Gambar titik Q dan garis beban dc
1. Base Bias/Panjar Basis
Fixed Bias/Panjar Tetap
Contoh :
Volt2110.5,1.10.630
mA6A1,7580
A1,75
k390
7,030
Volt30)(
mA20
k5,1
30
33
)(
=−=−=
=×==
=
−
=
−
=
==
===
−
CCCCCE
BdcC
B
BEBB
B
CCCE
C
CC
satC
RIVV
II
R
VV
I
VcutoffV
V
R
V
I
µβ
µ
DiketahuiVCC = 30 V, RC = 1,5 kΩ dan
βdc = 80. Gambarkan garis beban
dc dan tetapkan titik Q jika RB =
390 kΩ.
Jawab :
Gambar Garis Beban dc
VCE
IC
30 V
20 mA
6 mA
0
Q
21 V
2. Devide Voltage Bias/Panjar Pembagi Tegangan
( )
( )
( ) CCcutoffCE
EC
CC
satC
ECECCCC
EECCCCECCE
EEECCCCC
BEE
E
BE
ECC
VV
RR
V
I
IIRRIV
RIRIVVVV
RIVRIVV
VVV
R
VV
IV
RR
R
V
=
+
≅
≅+−≅
−−=−=
=−=
−=
−
=
+
≅
;
2
2
21
2
2
Arus Emitter :
Contoh :
Diketahui : R1 = 20 kΩ, R2 = 10 kΩ, RC = 4 kΩ, RE = 5 kΩ dan VCC = 30 Volt
βdc = 100 .Tentukan titik kerja Q !
Jawab :
3. Feedback Collector/Umpan Balik Collector
( ) ( )maxmin
:rata-rataarusPenguatan
2
Pendekatan
dcdcdc
CC
CECdcB
CCCCCE
dc
B
C
BECC
C
V
VRR
RIVV
R
R
VV
I
βββ
β
β
=
==
−≅
+
−
=
4. Emitter Bias/ Panjar Emitter
ECCE
CCCCC
EC
E
EEE
E
BEE
B
VVV
RIVV
II
R
VV
I
VV
V
−=
−=
≅
−
=
−≅
≅ 0
Contoh :
:inigambarpadadan,Hitung CECE VII
VVVVVV
V
kmAVRIVV
mAII
mA
k
V
k
VV
R
VV
I
VVV
ECCE
CCCCC
EC
E
EEE
E
BEE
84,8)7,0(14,8
14,8
)1)(86,1(10
86,1
86,1
5
3,9
5
)10(7,0
7,0
=−−=−=
=
Ω−=−=
=≅
=
Ω
=
Ω
−−−
=
−
=
−=−≅
Penguat Sinyal Kecil
Operasi Sinyal Kecil
Penggerak penguat bias pembagi tegangan
Operasi penguat arus basis, arus kolektor dan
tegangan ayunan (swing) kolektor ke emitor
Contoh :
Operasi garis beban amplifier 10 μA di atas dan bawah titik Q arus basis senilai
50 μA seperti pada gambar. Tentukan jumlah nilai puncak ke puncak arus
kolektor dan tegangan kolektor ke emitor dari gambar ini.
Penyelesaian :
Gambar ini menunjukkan
puncak ke puncak arus
kolektor adalah 2 mA dan
puncak ke puncak
tegangan kolektor ke emitor
adalah 1 V.
Rangkaian ekivalen ac transistor :
Dua jenis rangkaian ekivalen : parameter h dan parameter r
Karena spesifikasi dalam data sheet dari pabriknya, parameter h (hybrid) ini
sangat penting. Dua dasar parameter h ac dan deskripsi tabel ini (hi, hr, hf
dan ho
Pengukuran dan pengertian parameter h
Amplifier Emitor Bersama
Analisis dc
Rangkaian ekivalen dc dari amplifier (dianggap
kapasitornya sebagai rangkaian terbuka)
VVVVVVJadi
VVVRIVV
II
mA
V
R
V
I
VVVVVVdan
VV
k
k
V
RR
R
V
R
ECCE
CCCCC
EC
E
E
E
BE
CCB
dcbasisIN
19,841,16,9
6,94,212
4,2
600
41,1
41,17,011,27,0
11,212
7,26
7,4
90k.R
basispadadcinputResistansi
21
2
E)(
=−=−=
=−=−=
≅
=
Ω
==
=−=−=
=





Ω
Ω
=





+
=
Ω== β
Rangkaian ekivalen ac :
Rangkaian ekivalen ac untuk amplifier dalam gambar sebelumnya
Tegangan sinyal (ac) pada Basis
Tegangan sinyal pada Basis dari transistor :
in
ins
in
b V
RR
R
V 





+
=
Impedansi Input
Hubungan model transistor parameter r ke rangkaian output
( )
( )
)(21
)(
)(
////
:sumbersisidariinputimpedansiJumlah
menjadikanSubstitusi
dan
BasispadadilihatinputImpedansi
basisinin
Eebasisin
e
e
bEeeb
b
b
basisin
RRRR
RrR
I
I
IRrIV
I
V
R
=
+=
≅+=






=
β
β
Contoh :
Tentukan tegangan sinyal pada Basis dalam gambar ini. Ini adalah
ekivalen ac dari amplifier dalam gambar slide 48 dengan sumber
sinyal10 mV rms, 300 Ω. mAI 4,21 =
Penguat Tegangan
b
c
V
V
V
A =
( )
( )
( )ins
in
in
b
Ee
C
V
EeebCec
RR
R
V
V
Rr
R
A
RrIVRIV
+
=
+
=
+=≅ dan
Transistor sambungan Darlington
Arus Kolektor transistor ke-1 IC1 terkait arus Basis IB1
dengan persamaan :
IC1 = βdc1.IB1
Arus Emitor IE1 adalah
IE1 = IB1 + IC1 = IB1 + βdc1.IB1
= (1+ βdc1) IB1
Arus Basis transistor ke-2 : IB2 = IE1
Arus Kolektor IC2 adalah
IC2 = βdc2.IB2 = βdc2.IE1
IC2 = βdc2 (1+ βdc1) IB1
Jumlah arus Kolektor IC adalah IC = IC1 + IC2
IC = βdc1.IB1 + βdc2 (1+ βdc1) IB1
= (βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2 ) IB1
Karena IB1 = IB
IC = (βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2 ) IB
Besarnya β sederhana dengan tanda βdc
βdc = IC / IB = βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2
βdc = βdc1.βdc2
Transistor

Transistor

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    TRANSISTOR : BipolarJunction Transistor Konstruksi Transistor adalah piranti semikonduktor tiga terminal yang dibangun dari : dua material tipe p dan satu material tipe n, atau dua material tipe n dan satu material tipe p. n np B CE Heavily doped p pn B CE
  • 4.
    BJT Doping pada bagiantengah diberikan lebih sedikit dibandingkan dengan bagian luar (sekitar 10:1). Doping rendah ini mengurangi konduktiviti material dengan membatasi jumlah elektron bebas. Istilah bipolar berasal dari kenyataan bahwa elektron dan holes berpartisipasi dalam proses pembangkitan arus. n np B CE Heavily doped p pn B CE
  • 5.
    BJT : OperasiTransistor  Transistor beroperasi dengan memberikan bias pada kedua junction. Bias maju pada junction BE menyebabkan sejumlah besar majority carrier (holes) yang terhubung ke terminal emitter terdifusi melewati junction menuju materi tipe n (basis). Karena ketersediaan elektron bebas pada materi tipe n lebih sedikit dari hole yang terdifusi, hanya sedikit holes yang ber-kombinasi dengan elektron dan menghasilkan arus pada terminal basis.  Sebagian besar hole akan begerak melewati depletion region pada junction base-collector (junction base-collector di-bias mundur) dan keluar pada terminal collector.
  • 6.
    BJT Total arus dariterminal emitter sama dengan arus pada terminal collector ditambah arus pada terminal basis. IE = IC + IB Arus collector IC terdiri dari dua komponen, yang berasal dari majority carrier dan minority carrier. Arus dari minority carrier disebut dengan ICO (arus collector dengan terminal emitter open). IC =ICmajority +ICO ICO bernilai sangat kecil dan umumnya bisa diabaikan
  • 7.
    BJT Tegangan base-emitter (VBE)bisa dianggap sebagai variabel pengontrol dalam menentukan operasi transistor. Arus collector dikaitkan dengan tegangan VBE (Ebers-Moll / Shockley equation): Arus collector IC proporsional terhadap arus IB dengan hubungan: (Penguatan arus) IC = βdc IB IC = αdc IE
  • 8.
    Daerah operasi BJT Baseemitter Base collector Region RB RB Cutoff FB FB Saturation FB RB Active RB : Reverse bias FB : Forward bias
  • 9.
    Daerah operasi BJT Modelideal cutoff : VCE = VCC IC = 0 Model ideal saturation : VCE = 0 IC = IC max
  • 10.
    Daerah operasi BJT Active KondisiNPN PNP B – E FB VBE = 0,7 V VBE= - 0,7 V atau VEB = 0,7V B –C RB VCE > 0 VCE < 0 atau VEC > 0 VBC = VBE - VCE
  • 11.
  • 12.
  • 13.
  • 14.
  • 15.
    BJT Data spesifikasi transistor(dari pabrik) di- set nilai maksimum yang tidak boleh dilampaui dalam operasi. Spesifikasi ini memberi batasan operasi transistor dalam rangkaian.  Contoh spesifikasi transistor silikon 2N2222 Collector-Base Voltage = 60 v Collector-Emitter Voltage = 30 v Base-Emitter Voltage = 5 v Power dissipation = 500 mW Temperature 125 C
  • 16.
  • 17.
  • 18.
  • 19.
    Aplikasi BJT penggerakrelai Kontrol tegangan vi = 0, BJT cutoff dan relai dalam kondisi terbuka Jadi perhitungan rancangan berdasarkan pada vi = 6 V (sebagai contoh soal) Misalkan resistansi dc pada coil relai = 100 Ω. 1. Tentukan nilai IC(sat). Jika transistor saturasi, tegangan 12 V dari VCC akan diterima oleh coil relai.
  • 20.
    Aplikasi BJT penggerakrelai Diperoleh : mA AI I dc satC satB 2,1 100 12,0)( )( === β A V I satC 12,0 100 12 )( = Ω = Tetapkan βdc = 100 (nilai minimum)
  • 21.
    Aplikasi BJT penggerakrelai Berdasarkan pada kriteria khusus, untuk meyakinkan bahwa transistor dalam kondisi saturasi : mAmAII satBB 4,22,122 )( =×== Ω= × − = − = − 2208 104,2 7,06 3 B BEi B I Vv R Resistansi basis :
  • 22.
    BJT : Konfigurasi 1.Common Base Input pada Emiter dan output pada Collector, Base di groundkan. Penguatan arus : 99,095,0aktual,1makakarena ≤≤≅≅= dcdcEC E C dc II I I ααα
  • 23.
    2. Common-Emitter Input diBase dan ouput di Collector, Emitter di groundkan Penguatan arus : BJT : Konfigurasi gilebih tingatau200s.d20antaranilaimempunyai, B C dc I I =β
  • 24.
    BJT : Konfigurasi dcαdcβHubungan antara dan dcdc C C B C E BCE I I I I I III βα 1 1 1 : 1 += += += 1 11 + = + = dc dc dc dc dc dc β β α β β α dc dc dc dc dc dc dcdc α α β α α β βα − = − = =− 1 11 1 1 1
  • 25.
    3. Common Collector Inputdi Base dan ouput di Emitter Penguatan arus : Sama dengan konfigurasi Common Emitter BJT : Konfigurasi B C dcCE B E I I II I I =≅ βsehinggakarena
  • 26.
    TEGANGAN PANJAR TRANSISTOR Transistormemerlukan panjar tegangan dc untuk operasi sebagai penguat. Sebuah titik operasi dc harus diset supaya variasi sinyal pada terminal input diperkuat dan secara akurat mereproduksi pada terminal output. Saturation CutoffQ1 Q2 Q3 Q4 Garis Beban dc Titik Q (Quiescent) = titik operasi Garis Beban DC :
  • 27.
    Garis Beban DC Saturation CutoffQ1 Q2 Q3 Q4 GarisBeban dc Titik Q (Quiescent) = titik operasi
  • 28.
    Contoh operasi linier: Misaltegangan gelombang sinus di tambahkan pada VBB arus basis bervariasi 100 µA di atas dan di bawah titik Q
  • 29.
  • 30.
  • 31.
    Contoh soal : Tentukantitik Q dalam gambar di bawah ini, dan tentukan harga puncak arus basis untuk operasi linier (βdc = 200) Titik Q ditentukan oleh IC dan VCE : Garis beban dc di tetapkan oleh IC(cutoff) = 0 dan IC(sat) :
  • 32.
    Contoh soal : Gambartitik Q dan garis beban dc
  • 33.
    1. Base Bias/PanjarBasis Fixed Bias/Panjar Tetap
  • 34.
  • 35.
    Gambar Garis Bebandc VCE IC 30 V 20 mA 6 mA 0 Q 21 V
  • 36.
    2. Devide VoltageBias/Panjar Pembagi Tegangan ( ) ( ) ( ) CCcutoffCE EC CC satC ECECCCC EECCCCECCE EEECCCCC BEE E BE ECC VV RR V I IIRRIV RIRIVVVV RIVRIVV VVV R VV IV RR R V = + ≅ ≅+−≅ −−=−= =−= −= − = + ≅ ; 2 2 21 2 2 Arus Emitter :
  • 37.
    Contoh : Diketahui :R1 = 20 kΩ, R2 = 10 kΩ, RC = 4 kΩ, RE = 5 kΩ dan VCC = 30 Volt βdc = 100 .Tentukan titik kerja Q ! Jawab :
  • 38.
    3. Feedback Collector/UmpanBalik Collector ( ) ( )maxmin :rata-rataarusPenguatan 2 Pendekatan dcdcdc CC CECdcB CCCCCE dc B C BECC C V VRR RIVV R R VV I βββ β β = == −≅ + − =
  • 39.
    4. Emitter Bias/Panjar Emitter
  • 40.
  • 41.
    Contoh : :inigambarpadadan,Hitung CECEVII VVVVVV V kmAVRIVV mAII mA k V k VV R VV I VVV ECCE CCCCC EC E EEE E BEE 84,8)7,0(14,8 14,8 )1)(86,1(10 86,1 86,1 5 3,9 5 )10(7,0 7,0 =−−=−= = Ω−=−= =≅ = Ω = Ω −−− = − = −=−≅
  • 42.
  • 43.
    Operasi Sinyal Kecil Penggerakpenguat bias pembagi tegangan
  • 44.
    Operasi penguat arusbasis, arus kolektor dan tegangan ayunan (swing) kolektor ke emitor
  • 45.
    Contoh : Operasi garisbeban amplifier 10 μA di atas dan bawah titik Q arus basis senilai 50 μA seperti pada gambar. Tentukan jumlah nilai puncak ke puncak arus kolektor dan tegangan kolektor ke emitor dari gambar ini. Penyelesaian : Gambar ini menunjukkan puncak ke puncak arus kolektor adalah 2 mA dan puncak ke puncak tegangan kolektor ke emitor adalah 1 V.
  • 46.
    Rangkaian ekivalen actransistor : Dua jenis rangkaian ekivalen : parameter h dan parameter r Karena spesifikasi dalam data sheet dari pabriknya, parameter h (hybrid) ini sangat penting. Dua dasar parameter h ac dan deskripsi tabel ini (hi, hr, hf dan ho
  • 47.
  • 48.
  • 49.
    Analisis dc Rangkaian ekivalendc dari amplifier (dianggap kapasitornya sebagai rangkaian terbuka) VVVVVVJadi VVVRIVV II mA V R V I VVVVVVdan VV k k V RR R V R ECCE CCCCC EC E E E BE CCB dcbasisIN 19,841,16,9 6,94,212 4,2 600 41,1 41,17,011,27,0 11,212 7,26 7,4 90k.R basispadadcinputResistansi 21 2 E)( =−=−= =−=−= ≅ = Ω == =−=−= =      Ω Ω =      + = Ω== β
  • 50.
    Rangkaian ekivalen ac: Rangkaian ekivalen ac untuk amplifier dalam gambar sebelumnya
  • 51.
    Tegangan sinyal (ac)pada Basis Tegangan sinyal pada Basis dari transistor : in ins in b V RR R V       + =
  • 52.
    Impedansi Input Hubungan modeltransistor parameter r ke rangkaian output ( ) ( ) )(21 )( )( //// :sumbersisidariinputimpedansiJumlah menjadikanSubstitusi dan BasispadadilihatinputImpedansi basisinin Eebasisin e e bEeeb b b basisin RRRR RrR I I IRrIV I V R = += ≅+=       = β β
  • 53.
    Contoh : Tentukan tegangansinyal pada Basis dalam gambar ini. Ini adalah ekivalen ac dari amplifier dalam gambar slide 48 dengan sumber sinyal10 mV rms, 300 Ω. mAI 4,21 =
  • 54.
    Penguat Tegangan b c V V V A = () ( ) ( )ins in in b Ee C V EeebCec RR R V V Rr R A RrIVRIV + = + = +=≅ dan
  • 55.
  • 56.
    Arus Kolektor transistorke-1 IC1 terkait arus Basis IB1 dengan persamaan : IC1 = βdc1.IB1 Arus Emitor IE1 adalah IE1 = IB1 + IC1 = IB1 + βdc1.IB1 = (1+ βdc1) IB1 Arus Basis transistor ke-2 : IB2 = IE1 Arus Kolektor IC2 adalah IC2 = βdc2.IB2 = βdc2.IE1 IC2 = βdc2 (1+ βdc1) IB1
  • 57.
    Jumlah arus KolektorIC adalah IC = IC1 + IC2 IC = βdc1.IB1 + βdc2 (1+ βdc1) IB1 = (βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2 ) IB1 Karena IB1 = IB IC = (βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2 ) IB Besarnya β sederhana dengan tanda βdc βdc = IC / IB = βdc1 + βdc2 + βdc1.βdc2 βdc = βdc1.βdc2