Teknik Sampling Dried Blood Spot (DBS)
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)
TIM SHK PP PDS PatKLIn
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik
dan Kedokteran Laboratorium Indonesia
2023
Materi Pelatihan Online
2
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)
• Prosedur penapisan untuk memilah bayi yang kemungkinan menderita
hipotiroid kongenital (HK) dan bayi yang tidak menderita HK → dengan
pemeriksaan kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH).
• Membutuhkan peran serta banyak pihak:
3
Orang tua PJ
Program Faskes Petugas
Kesehatan
Pemerintah
Daerah
Lab
Pemeriksa
Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)
• Terdiri atas tiga tahapan utama, yakni:
4
Pra-skrining
• Sebelum tes
laboratorium.
• Sosialisasi,
advokasi &
edukasi.
Skrining
• Tepat
prosedur.
• Pemantapan
mutu.
• Validitas
hasil.
Pasca-skrining
• Tindak lanjut
hasil (+) →
tes
konfirmasi.
• Diagnosis &
tatalaksana
HK.
Pra-Skrining: Edukasi & Komunikasi
5
Informasi ke
masyarakat
→ pasangan
muda
Informasi ke
ibu hamil →
pemeriksaan
antenatal
Informasi &
informed
consent saat
melahirkan
Skrining Bayi
Baru Lahir
Pra-Skrining
Persiapkan calon ibu saat pemeriksaan
antenatal dengan edukasi mengenai:
• Manfaat dan tujuan dari SHK.
• Prosedur yang akan dilakukan dan
berapa banyak darah yang akan
diambil.
• Waktu pengambilan spesimen.
Calon ibu/ayah harus
memberikan informed consent.
6
Skrining
• Proses di laboratorium :
7
Pra-analitik Analitik Pasca-
analitik
Hasil
Lab
Garbage in→ garbage out
Penyebab Kesalahan Hasil Laboratorium
8
Pra-pra-analitik (46-68%)
Pra-analitik (3-5%)
Analitik (7-13%)
Pasca-analitik (13-20%)
Pasca-pasca-analitik (25-46%)
Waktu & prosedur
pengambilan
spesimen, identitas
pasien, pengelolaan
spesimen
9
0 jam 24 jam 48 jam 72 jam 14 hari 30 hari
Waktu Pengambilan spesimen untuk SHK
Kadar TSH masih
tinggi → positif palsu
(TSH Surge)
Usia minimal
pengambilan
spesimen
Usia masih
dalam
program SHK
Di luar program SHK
→ tes diagnostik
Waktu Pengambilan spesimen SHK
• Pengambilan sampel usia bayi SETELAH 24 jam sampai 14 hari
pasca kelahiran
• Bila bayi akan dipulangkan → 24-48 jam pasca kelahiran.
• Sebaiknya darah tidak diambil dalam 24 jam pertama → ada
kemungkinan kadar TSH masih tinggi (TSH Surge) → positif palsu.
• Pengambilan spesimen dapat dilakukan oleh Bidan, ATLM dan Dokter.
• Bila bayi dipulangkan sebelum 24 jam, maka pengambilan spesimen
dilakukan saat kunjungan rumah atau ibu diminta membawa bayinya
kembali keesokan harinya ke Fasyankes.
10
Mengapa keluarga pasien menolak pengambilan darah bayinya?
Faktor
Internal Faktor
Eksternal
Hal-hal yang dapat
mempengaruhi persepsi
pasien/keluarga terhadap
tindakan flebotomi
11
12
Standar Flebotomis
• Menggunakan sarung tangan.
• Mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.
• Menggunakan jas lab/baju pelindung.
• Menggunakan alat yang aman/standar.
• Menggunakan peralatan disposable.
• Tidak makan-minum di area pengolahaan,
pemeriksaan & penyimpanan spesimen.
• Tempat sampah medis dalam keadaan tertutup.
• Semua kecelakaan (tertusuk benda tajam atau
paparan yang lain) terdokumentasi.
SAFETY
Alat Pengambilan Spesimen SHK
1. Sarung tangan.
2. Lanset.
3. Kapas alcohol 70% atau alcohol
swab.
4. Kertas saring.
5. Kasa steril.
6. Rak pengering.
7. Kotak limbah tajam / safety box.
8. Plester (opsional).
13
Alat Pengambilan Spesimen SHK: Lanset
• Pilih lanset dengan ujung pipih /
pisau (blade tip lancet).
• Kedalaman ± 2 mm.
14
15
Alat
Pengambilan
Spesimen SHK:
Kertas Saring
Identitas Bayi
• Identitas bayi pada kertas saring harus diisi dengan
lengkap dan benar sebelum pengambilan spesimen.
• Isi data dengan ballpoint warna hitam/biru yang
tidak luntur.
• Gunakan HURUF KAPITAL.
• Pastikan data ditulis lengkap dan hindari kesalahan
menulis data.
• Kesalahan atau data yang kurang lengkap dapat
menyebabkan kesalahan interpretasi, hambatan
dalam pengiriman hasil dan tata laksana lanjutan
untuk pasien.
16
Identitas Bayi
• Pastikan tangan pengisi data bersih dan kering
sebelum mengambil kertas saring.
• Pengisian data dilakukan dengan tidak menyentuh
bulatan pada kertas saring.
• Hindari pencemaran pada kertas saring dari air, teh,
kopi, minyak, susu, cairan antiseptik, bedak dan/atau
kotoran lain.
• Usahakan kertas saring tidak banyak disentuh
petugas lain.
17
Persiapan Pengambilan Spesimen SHK
• Periksa kembali semua peralatan yang diperlukan.
• Lakukan identifikasi pasien sesuai ketentuan yang berlaku.
• Berikan informasi kepada ibu terkait langkah-langkah pengambilan
spesimen.
• Pastikan bayi dalam keadaan tenang → dapat dibantu oleh ibu pasien
dengan mendekap/menggendong (skin to skin contact) atau menyusui.
• Jangan gugup, lakukanlah semua dengan tenang dan ajak bicara ibunya
dan bayinya.
18
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK
• Cuci tangan dan pakailah sarung tangan.
• Hangatkan tumit bayi yang akan ditusuk dengan cara:
• Genggam dan pijat lembut bagian tumit.
• Menempelkan handuk hangat dengan suhu sekitar 37-42oC.
• Peganglah kaki bayi dengan tangan kiri dan lancet dengan tangan yang
dominan (kanan pada kebanyakan orang atau kiri bila kidal) dan
posisikan lebih rendah dari kepala bayi.
• Genggam seluruh telapak bayi dengan tangan kiri sisakan bagian tumit
yang akan ditusuk, sedikit menggenggam dengan agak keras akan
mengalirkan darah ke arah tumit yang terletak lebih rendah.
19
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -2
20
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -2
21
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -3
22
TIPS
• Jangan ragu menekan lanset ke tumit → tidak akan terjadi
penusukan yang terlalu dalam karena panjang lanset maks hanya
2 mm.
• Tekan tombol lanset setelah lanset menempel dengan baik ke
tumit untuk memastikan tusukan cukup dalam (1-2 mm) agar darah
dapat mengalir dengan baik.
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -4
23
• Setelah tumit ditusuk, usap tetes darah pertama
dengan kasa steril.
• Kemudian lakukan pijatan lembut sehingga terbentuk
tetes darah yang cukup besar.
• Hindari gerakan memeras yang dapat mengakibatkan
hemolisis atau tercampur dengan cairan jaringan.
• Teteskan darah ke kertas saring setelah terbentuk 1
tetesan penuh agar darah dapat mengalir bebas ke
kertas saring.
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -5
24
• Hindari menetaskan darah 2x ke bulatan yang sama
karena akan menyebabkan tetesan darah yang
berlapis-lapis (layering) yang dapat menyebabkan
positif palsu.
• Bila tetesan gagal memenuhi lingkaran kertas saring,
maka tetesan berikut harus diteteskan ke bulan
lainnya.
• Bila gagal, maka ambil kertas saring baru dan coba
kembali.
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -6
25
• Teteskan darah ke tengah bulatan kertas saring
hingga bulatan terisi penuh dan tembus di
kedua sisi.
• Ulangi meneteskan darah ke atas bulatan lain.’
• Bila darah tidak cukup, lakukan penusukan di
tempat lain dengan lanset baru.
• Agar bisa diperiksa, dibutuhkan sedikitnya satu
bulatan penuh spesimen darah pada kertas
saring.
Prosedur Pengambilan Spesimen SHK -7
26
• Sesudah bulatan kertas saring terisi penuh, tekan
bekas tusukan dengan kasa/kapas steril sambil
mengangkat tumit bayi sampai berada di atas
kepala bayi.
• Bekas tusukan diberi plester ataupun pembalut
hanya jika diperlukan.
• Jika terjadi kesalahan spesimen, maka harus
dilakukan pengambilan spesimen ulang sebelum
dikirim ke laboratorium rujukan pemeriksa SHK.
Pengelolaan Spesimen SHK
1. Segera letakkan spesimen di rak pengering dengan posisi horisontal
atau diletakkan di atas permukaan datar yang kering dan tidak
menyerap (non absorbent).
2. Biarkan spesimen mengering (warna darah merah gelap).
3. Sebaiknya biarkan spesimen di atas rak pengering sebelum dikirim ke
laboratorium.
4. Jangan menyimpan spesimen di dalam laci dan kena panas atau sinar
matahari langsung atau dikeringkan dengan pengering.
5. Jangan meletakkan pengering berdekatan dengan bahan-bahan yang
mengeluarkan uap seperti cat, aerosol, dan insektisida.
27
Pengelolaan Spesimen SHK
28
Gambaran Kualitas Spesimen
29
Spesimen yang
baik
Gambaran Spesimen Yang Tidak Dapat Diperiksa
30
Volume spesimen kurang
Spesimen inadekwat
• Dapat terjadi akibat tumit
bayi ikut menempel pada
kertas saring
Spesimen berlebihan
(overfilled)
• Volume darah yang
diteteskan berlebihan
Supersaturated
• Penetesan darah terlalu banyak di area yang
sama sehingga terbentuk kerutan dan dapat
mempengaruhi hasil
Spesimen berlapis (layering)
• Beberapa tetesan darah pada lokasi yang sama
• Darah diteteskan di kedua sisi kertas saring
Terdilusi, berubah warna atau
terkontaminasi
• Dilusi atau hemolisis dapat disebabkan oleh alkohol
atau air
• Pastikan tumit bayi dalam keadaan bersih sebelum
pengambilan spesimen
31
Spesimen belum kering
sempurna saat dikirim
• Keringkan minimal 3 jam.
• Dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
Spesimen belum benar-benar
kering
• Tulisan dari penutup tercetak
Spesimen saat dikeringkan
menempel dengan
permukaan benda → tidak
merata
Terbentuknya cincin serum
(serum ring)
• Pengeringan yang belum
sempurna menyebabkan
pemisahan serum dari eritrosit.
Beberapa penetesan kecil
dalam satu lingkaran
Spesimen tergores atau
mengelupas
• Dapat disebabkan terkena ujung
tabung kaipler
Gambaran Spesimen Yang Tidak Dapat Diperiksa -2
32
Penetesan spesimen dari
tabung kapiler beberapa
kali → penetesan harus
dilakukan dalam 1 kali
proses.
Spesimen menggumpal
• Dapat terjadi pada penetesan
menggunakan tabung kapiler
dimana darah tidak segera
terserap
Gambaran Spesimen Yang Tidak Dapat Diperiksa -3
Pengiriman Spesimen SHK
• Setelah kering, maka spesimen siap dikirim ke laboratorium
• Ketika spesimen akan dikirim, masukkan ke dalam kantong plastik zip
lock. Satu lembar kertas saring dimasukkan ke dalam satu plastik. Dapat
juga dengan menyusun kertas saring secara selang-seling agar bercak
darah tidak saling bersinggungan, atau taruh kertas di antara bercak
darah.
• Masukkan ke dalam amplop dan sertakan daftar spesimen yang dikirim.
• Amplop berisi spesimen dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak
tertembus cairan/kontaminan sepanjang perjalanan.
33
Pengiriman Spesimen SHK -2
34
Pengiriman Spesimen SHK -3
• Pengiriman dapat dilakukan oleh petugas pengumpul spesimen atau
langsung dikirim melalui layanan jasa pengiriman yang tersedia.
• Spesimen dikirimkan ke laboratorium SHK yang telah ditunjuk oleh
Kementerian Kesehatan.
35
• Pengiriman tidak boleh lebih dari 7
(tujuh) hari sejak spesimen diambil.
• Perjalanan pengiriman tidak boleh lebih
dari 3 (tiga) hari.
Skrining Bayi dengan Kondisi Khusus
• Kondisi khusus yang dapat mempengaruhi kadar TSH neonatus:
36
1. Penyakit akut.
2. Atresia bilier, sepsis dan trisomi.
3. Defisiensi carnitine.
4. Anemia hemolitik
5. Hipoksia.
6. Gangguan aksis hipotalamus-
pituitary-tiroid.
7. Defisiensi iodin.
8. Jaundis.
9. Gangguan hepar.
10. Gangguan enzim hepar.
11. Ileus meconium.
12. Bayi prematur → usia kehamilan <
37 minggu atau berat lahir < 2500
gram.
13. Gangguan fungsi ginjal.
14. Hipotiroksinemia sementara pada
prematuritas (transient
hypothyroxinemia)
15. Bayi kembar (terutama yang
mempunyai jenis kelamin sama).
Skrining Bayi dengan Kondisi Khusus -2
• Pengambilan spesimen dilakukan 2 atau 3 kali tergantung umur
kehamilan dan berat ringannya penyakit.
• Spesimen pertama diambil dengan cara yang telah dijelaskan atau
pada saat pengambilan darah untuk maksud lain → segera sebelum
tindakan pengobatan (transfusi, nutrisi parentera, pemberian antibiotika).
• Pengambilan spesimen kedua dilakukan pada saat bayi berusia 2
minggu atau 2 minggu setelah pengambilan spesimen pertama.
• Bila diperlukan pengambilan spesimen ketiga, dilakukan pada saat bayi
berusia 28 hari atau sebelum bayi dipulangkan.
37
Skrining Bayi dengan Kondisi Khusus -3
• Pengambilan spesimen ke-2 & 3 terutama pada:
• bayi dengan usia kehamilan < 34 minggu,
• berat lahir < 2500 gram.
• Sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan hasil TSH tinggi palsu
ataupun normal palsu → setiap hasil abnormal harus ditindaklanjuti.
38
Hal yang Perlu Diperhatikan
• Pastikan spesimen darah yang diambil sudah memenuhi syarat sebelum
bayi dipulangkan.
• Koordinator di Puskesmas / Rumah Sakit / faskes lain memastikan
kualitas spesimen baik sebelum dikirim ke laboratorium SHK rujukan.
• Stabilitas spesimen:
• < 1 bulan pada penyimpanan di suhu kamar.
• < 6 bulan pada penyimpanan di suhu -20oC.
• < 12 bulan pada penyimpanan di suhu -80oC.
39
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
40
TSH
< 20 μU/mL
(normal)
Disampaikan ke pengirim spesimen dalam 7 hari
≥ 20 μU/mL
(Tinggi)
Resample atau duplo
sapesimen sama
< 20 μU/mL Normal
≥ 20 μU/mL
Tes konfirmasi
(TSH & FT4 serum)
Hasil pemeriksaan disampaikan kepada koordinator fasilitas
kesehatan sesegera mungkin oleh Laboratoriuim SHK.
Pelacakan Kasus
• Hasil pemeriksaan skrining setiap pasien dari laboratorium tempat
pemeriksaan SHK akan diberitahu melalui fasilitas kesehatan pengirim
spesimen.
• Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan skrining dari laboratorium,
faskes tersebut harus sesegera mungkin menghubungi orang tua bayi
tersebut untuk memberitahu hasil dan langkah selanjutnya.
• Pada pelacakan kasus, tim kesehatan harus mencari tahu tempat tinggal
bayi serta memfasilitasi tes konfirmasi untuk pemeriksaan lanjutan dalam
menegakkan diagnosis.
41
Tes Konfirmasi
• Pemeriksaan FT4 dan TSH dengan metode ELISA / FEIA kuantitatif.
• Sebaiknya dilakukan di laboratorium tempat pemeriksaan skrining
dilakukan, atau
• Bila tidak memungkinkan, dapat dilakukan di laboratorium klinik yang
memiliki pemeriksaan FT4 dan TSH.
42
Tes Konfirmasi
Pemeriksaan
FT4 & TSH
FT4 ↓ TSH normal/↓/↑ Tatalaksana HK
FT4 normal
TSH > 20 μU/L Tatalaksana HK
TSH 6-20 μU/L
Ulangi pemeriksaan
(2 minggu)
Hasil sama =
tatalaksana
HK
43
Nilai normal FT4 = 0.7 - 1.48 ng/dL
Nilai normal TSH = 0.35 - 4.94 μIU/mL
(dapat berbeda antar alat, dapat disesuaikan dengan metode dan alat yang digunakan di laboratorium yang memeriksa)
Referensi
44
Terima Kasih
45
Kontributor:
• Prof. DR. Dr. Aryati, MS, Sp.PK(K)
• DR. Dr. Ina S Timan, Sp.PK(K)
• DR. Dr. Delita Prihatni, Sp.PK(K).Mkes
• DR. Dr. Hartono Kahar Sp.PK(K), MQIH
• Dr. Windarwati, Sp.PK(K), M.Sc
• Dr. Maria I. Diah Pramudianti, M.Sc, Sp.PK(K)
• Dr. Fajar Wasilah, Sp.PK, MM
• Dr. Louisa Markus, Sp.PK

Teknik Sampling DBS SHK - PP PDS PatKLIn.pdf

  • 1.
    Teknik Sampling DriedBlood Spot (DBS) Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) TIM SHK PP PDS PatKLIn Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia 2023
  • 2.
  • 3.
    Skrining Hipotiroid Kongenital(SHK) • Prosedur penapisan untuk memilah bayi yang kemungkinan menderita hipotiroid kongenital (HK) dan bayi yang tidak menderita HK → dengan pemeriksaan kadar Thyroid Stimulating Hormone (TSH). • Membutuhkan peran serta banyak pihak: 3 Orang tua PJ Program Faskes Petugas Kesehatan Pemerintah Daerah Lab Pemeriksa
  • 4.
    Skrining Hipotiroid Kongenital(SHK) • Terdiri atas tiga tahapan utama, yakni: 4 Pra-skrining • Sebelum tes laboratorium. • Sosialisasi, advokasi & edukasi. Skrining • Tepat prosedur. • Pemantapan mutu. • Validitas hasil. Pasca-skrining • Tindak lanjut hasil (+) → tes konfirmasi. • Diagnosis & tatalaksana HK.
  • 5.
    Pra-Skrining: Edukasi &Komunikasi 5 Informasi ke masyarakat → pasangan muda Informasi ke ibu hamil → pemeriksaan antenatal Informasi & informed consent saat melahirkan Skrining Bayi Baru Lahir
  • 6.
    Pra-Skrining Persiapkan calon ibusaat pemeriksaan antenatal dengan edukasi mengenai: • Manfaat dan tujuan dari SHK. • Prosedur yang akan dilakukan dan berapa banyak darah yang akan diambil. • Waktu pengambilan spesimen. Calon ibu/ayah harus memberikan informed consent. 6
  • 7.
    Skrining • Proses dilaboratorium : 7 Pra-analitik Analitik Pasca- analitik Hasil Lab Garbage in→ garbage out
  • 8.
    Penyebab Kesalahan HasilLaboratorium 8 Pra-pra-analitik (46-68%) Pra-analitik (3-5%) Analitik (7-13%) Pasca-analitik (13-20%) Pasca-pasca-analitik (25-46%) Waktu & prosedur pengambilan spesimen, identitas pasien, pengelolaan spesimen
  • 9.
    9 0 jam 24jam 48 jam 72 jam 14 hari 30 hari Waktu Pengambilan spesimen untuk SHK Kadar TSH masih tinggi → positif palsu (TSH Surge) Usia minimal pengambilan spesimen Usia masih dalam program SHK Di luar program SHK → tes diagnostik
  • 10.
    Waktu Pengambilan spesimenSHK • Pengambilan sampel usia bayi SETELAH 24 jam sampai 14 hari pasca kelahiran • Bila bayi akan dipulangkan → 24-48 jam pasca kelahiran. • Sebaiknya darah tidak diambil dalam 24 jam pertama → ada kemungkinan kadar TSH masih tinggi (TSH Surge) → positif palsu. • Pengambilan spesimen dapat dilakukan oleh Bidan, ATLM dan Dokter. • Bila bayi dipulangkan sebelum 24 jam, maka pengambilan spesimen dilakukan saat kunjungan rumah atau ibu diminta membawa bayinya kembali keesokan harinya ke Fasyankes. 10
  • 11.
    Mengapa keluarga pasienmenolak pengambilan darah bayinya? Faktor Internal Faktor Eksternal Hal-hal yang dapat mempengaruhi persepsi pasien/keluarga terhadap tindakan flebotomi 11
  • 12.
    12 Standar Flebotomis • Menggunakansarung tangan. • Mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. • Menggunakan jas lab/baju pelindung. • Menggunakan alat yang aman/standar. • Menggunakan peralatan disposable. • Tidak makan-minum di area pengolahaan, pemeriksaan & penyimpanan spesimen. • Tempat sampah medis dalam keadaan tertutup. • Semua kecelakaan (tertusuk benda tajam atau paparan yang lain) terdokumentasi. SAFETY
  • 13.
    Alat Pengambilan SpesimenSHK 1. Sarung tangan. 2. Lanset. 3. Kapas alcohol 70% atau alcohol swab. 4. Kertas saring. 5. Kasa steril. 6. Rak pengering. 7. Kotak limbah tajam / safety box. 8. Plester (opsional). 13
  • 14.
    Alat Pengambilan SpesimenSHK: Lanset • Pilih lanset dengan ujung pipih / pisau (blade tip lancet). • Kedalaman ± 2 mm. 14
  • 15.
  • 16.
    Identitas Bayi • Identitasbayi pada kertas saring harus diisi dengan lengkap dan benar sebelum pengambilan spesimen. • Isi data dengan ballpoint warna hitam/biru yang tidak luntur. • Gunakan HURUF KAPITAL. • Pastikan data ditulis lengkap dan hindari kesalahan menulis data. • Kesalahan atau data yang kurang lengkap dapat menyebabkan kesalahan interpretasi, hambatan dalam pengiriman hasil dan tata laksana lanjutan untuk pasien. 16
  • 17.
    Identitas Bayi • Pastikantangan pengisi data bersih dan kering sebelum mengambil kertas saring. • Pengisian data dilakukan dengan tidak menyentuh bulatan pada kertas saring. • Hindari pencemaran pada kertas saring dari air, teh, kopi, minyak, susu, cairan antiseptik, bedak dan/atau kotoran lain. • Usahakan kertas saring tidak banyak disentuh petugas lain. 17
  • 18.
    Persiapan Pengambilan SpesimenSHK • Periksa kembali semua peralatan yang diperlukan. • Lakukan identifikasi pasien sesuai ketentuan yang berlaku. • Berikan informasi kepada ibu terkait langkah-langkah pengambilan spesimen. • Pastikan bayi dalam keadaan tenang → dapat dibantu oleh ibu pasien dengan mendekap/menggendong (skin to skin contact) atau menyusui. • Jangan gugup, lakukanlah semua dengan tenang dan ajak bicara ibunya dan bayinya. 18
  • 19.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK • Cuci tangan dan pakailah sarung tangan. • Hangatkan tumit bayi yang akan ditusuk dengan cara: • Genggam dan pijat lembut bagian tumit. • Menempelkan handuk hangat dengan suhu sekitar 37-42oC. • Peganglah kaki bayi dengan tangan kiri dan lancet dengan tangan yang dominan (kanan pada kebanyakan orang atau kiri bila kidal) dan posisikan lebih rendah dari kepala bayi. • Genggam seluruh telapak bayi dengan tangan kiri sisakan bagian tumit yang akan ditusuk, sedikit menggenggam dengan agak keras akan mengalirkan darah ke arah tumit yang terletak lebih rendah. 19
  • 20.
  • 21.
  • 22.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK -3 22 TIPS • Jangan ragu menekan lanset ke tumit → tidak akan terjadi penusukan yang terlalu dalam karena panjang lanset maks hanya 2 mm. • Tekan tombol lanset setelah lanset menempel dengan baik ke tumit untuk memastikan tusukan cukup dalam (1-2 mm) agar darah dapat mengalir dengan baik.
  • 23.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK -4 23 • Setelah tumit ditusuk, usap tetes darah pertama dengan kasa steril. • Kemudian lakukan pijatan lembut sehingga terbentuk tetes darah yang cukup besar. • Hindari gerakan memeras yang dapat mengakibatkan hemolisis atau tercampur dengan cairan jaringan. • Teteskan darah ke kertas saring setelah terbentuk 1 tetesan penuh agar darah dapat mengalir bebas ke kertas saring.
  • 24.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK -5 24 • Hindari menetaskan darah 2x ke bulatan yang sama karena akan menyebabkan tetesan darah yang berlapis-lapis (layering) yang dapat menyebabkan positif palsu. • Bila tetesan gagal memenuhi lingkaran kertas saring, maka tetesan berikut harus diteteskan ke bulan lainnya. • Bila gagal, maka ambil kertas saring baru dan coba kembali.
  • 25.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK -6 25 • Teteskan darah ke tengah bulatan kertas saring hingga bulatan terisi penuh dan tembus di kedua sisi. • Ulangi meneteskan darah ke atas bulatan lain.’ • Bila darah tidak cukup, lakukan penusukan di tempat lain dengan lanset baru. • Agar bisa diperiksa, dibutuhkan sedikitnya satu bulatan penuh spesimen darah pada kertas saring.
  • 26.
    Prosedur Pengambilan SpesimenSHK -7 26 • Sesudah bulatan kertas saring terisi penuh, tekan bekas tusukan dengan kasa/kapas steril sambil mengangkat tumit bayi sampai berada di atas kepala bayi. • Bekas tusukan diberi plester ataupun pembalut hanya jika diperlukan. • Jika terjadi kesalahan spesimen, maka harus dilakukan pengambilan spesimen ulang sebelum dikirim ke laboratorium rujukan pemeriksa SHK.
  • 27.
    Pengelolaan Spesimen SHK 1.Segera letakkan spesimen di rak pengering dengan posisi horisontal atau diletakkan di atas permukaan datar yang kering dan tidak menyerap (non absorbent). 2. Biarkan spesimen mengering (warna darah merah gelap). 3. Sebaiknya biarkan spesimen di atas rak pengering sebelum dikirim ke laboratorium. 4. Jangan menyimpan spesimen di dalam laci dan kena panas atau sinar matahari langsung atau dikeringkan dengan pengering. 5. Jangan meletakkan pengering berdekatan dengan bahan-bahan yang mengeluarkan uap seperti cat, aerosol, dan insektisida. 27
  • 28.
  • 29.
  • 30.
    Gambaran Spesimen YangTidak Dapat Diperiksa 30 Volume spesimen kurang Spesimen inadekwat • Dapat terjadi akibat tumit bayi ikut menempel pada kertas saring Spesimen berlebihan (overfilled) • Volume darah yang diteteskan berlebihan Supersaturated • Penetesan darah terlalu banyak di area yang sama sehingga terbentuk kerutan dan dapat mempengaruhi hasil Spesimen berlapis (layering) • Beberapa tetesan darah pada lokasi yang sama • Darah diteteskan di kedua sisi kertas saring Terdilusi, berubah warna atau terkontaminasi • Dilusi atau hemolisis dapat disebabkan oleh alkohol atau air • Pastikan tumit bayi dalam keadaan bersih sebelum pengambilan spesimen
  • 31.
    31 Spesimen belum kering sempurnasaat dikirim • Keringkan minimal 3 jam. • Dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Spesimen belum benar-benar kering • Tulisan dari penutup tercetak Spesimen saat dikeringkan menempel dengan permukaan benda → tidak merata Terbentuknya cincin serum (serum ring) • Pengeringan yang belum sempurna menyebabkan pemisahan serum dari eritrosit. Beberapa penetesan kecil dalam satu lingkaran Spesimen tergores atau mengelupas • Dapat disebabkan terkena ujung tabung kaipler Gambaran Spesimen Yang Tidak Dapat Diperiksa -2
  • 32.
    32 Penetesan spesimen dari tabungkapiler beberapa kali → penetesan harus dilakukan dalam 1 kali proses. Spesimen menggumpal • Dapat terjadi pada penetesan menggunakan tabung kapiler dimana darah tidak segera terserap Gambaran Spesimen Yang Tidak Dapat Diperiksa -3
  • 33.
    Pengiriman Spesimen SHK •Setelah kering, maka spesimen siap dikirim ke laboratorium • Ketika spesimen akan dikirim, masukkan ke dalam kantong plastik zip lock. Satu lembar kertas saring dimasukkan ke dalam satu plastik. Dapat juga dengan menyusun kertas saring secara selang-seling agar bercak darah tidak saling bersinggungan, atau taruh kertas di antara bercak darah. • Masukkan ke dalam amplop dan sertakan daftar spesimen yang dikirim. • Amplop berisi spesimen dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak tertembus cairan/kontaminan sepanjang perjalanan. 33
  • 34.
  • 35.
    Pengiriman Spesimen SHK-3 • Pengiriman dapat dilakukan oleh petugas pengumpul spesimen atau langsung dikirim melalui layanan jasa pengiriman yang tersedia. • Spesimen dikirimkan ke laboratorium SHK yang telah ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. 35 • Pengiriman tidak boleh lebih dari 7 (tujuh) hari sejak spesimen diambil. • Perjalanan pengiriman tidak boleh lebih dari 3 (tiga) hari.
  • 36.
    Skrining Bayi denganKondisi Khusus • Kondisi khusus yang dapat mempengaruhi kadar TSH neonatus: 36 1. Penyakit akut. 2. Atresia bilier, sepsis dan trisomi. 3. Defisiensi carnitine. 4. Anemia hemolitik 5. Hipoksia. 6. Gangguan aksis hipotalamus- pituitary-tiroid. 7. Defisiensi iodin. 8. Jaundis. 9. Gangguan hepar. 10. Gangguan enzim hepar. 11. Ileus meconium. 12. Bayi prematur → usia kehamilan < 37 minggu atau berat lahir < 2500 gram. 13. Gangguan fungsi ginjal. 14. Hipotiroksinemia sementara pada prematuritas (transient hypothyroxinemia) 15. Bayi kembar (terutama yang mempunyai jenis kelamin sama).
  • 37.
    Skrining Bayi denganKondisi Khusus -2 • Pengambilan spesimen dilakukan 2 atau 3 kali tergantung umur kehamilan dan berat ringannya penyakit. • Spesimen pertama diambil dengan cara yang telah dijelaskan atau pada saat pengambilan darah untuk maksud lain → segera sebelum tindakan pengobatan (transfusi, nutrisi parentera, pemberian antibiotika). • Pengambilan spesimen kedua dilakukan pada saat bayi berusia 2 minggu atau 2 minggu setelah pengambilan spesimen pertama. • Bila diperlukan pengambilan spesimen ketiga, dilakukan pada saat bayi berusia 28 hari atau sebelum bayi dipulangkan. 37
  • 38.
    Skrining Bayi denganKondisi Khusus -3 • Pengambilan spesimen ke-2 & 3 terutama pada: • bayi dengan usia kehamilan < 34 minggu, • berat lahir < 2500 gram. • Sangat besar kemungkinan untuk mendapatkan hasil TSH tinggi palsu ataupun normal palsu → setiap hasil abnormal harus ditindaklanjuti. 38
  • 39.
    Hal yang PerluDiperhatikan • Pastikan spesimen darah yang diambil sudah memenuhi syarat sebelum bayi dipulangkan. • Koordinator di Puskesmas / Rumah Sakit / faskes lain memastikan kualitas spesimen baik sebelum dikirim ke laboratorium SHK rujukan. • Stabilitas spesimen: • < 1 bulan pada penyimpanan di suhu kamar. • < 6 bulan pada penyimpanan di suhu -20oC. • < 12 bulan pada penyimpanan di suhu -80oC. 39
  • 40.
    Hasil Pemeriksaan Laboratorium 40 TSH <20 μU/mL (normal) Disampaikan ke pengirim spesimen dalam 7 hari ≥ 20 μU/mL (Tinggi) Resample atau duplo sapesimen sama < 20 μU/mL Normal ≥ 20 μU/mL Tes konfirmasi (TSH & FT4 serum) Hasil pemeriksaan disampaikan kepada koordinator fasilitas kesehatan sesegera mungkin oleh Laboratoriuim SHK.
  • 41.
    Pelacakan Kasus • Hasilpemeriksaan skrining setiap pasien dari laboratorium tempat pemeriksaan SHK akan diberitahu melalui fasilitas kesehatan pengirim spesimen. • Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan skrining dari laboratorium, faskes tersebut harus sesegera mungkin menghubungi orang tua bayi tersebut untuk memberitahu hasil dan langkah selanjutnya. • Pada pelacakan kasus, tim kesehatan harus mencari tahu tempat tinggal bayi serta memfasilitasi tes konfirmasi untuk pemeriksaan lanjutan dalam menegakkan diagnosis. 41
  • 42.
    Tes Konfirmasi • PemeriksaanFT4 dan TSH dengan metode ELISA / FEIA kuantitatif. • Sebaiknya dilakukan di laboratorium tempat pemeriksaan skrining dilakukan, atau • Bila tidak memungkinkan, dapat dilakukan di laboratorium klinik yang memiliki pemeriksaan FT4 dan TSH. 42
  • 43.
    Tes Konfirmasi Pemeriksaan FT4 &TSH FT4 ↓ TSH normal/↓/↑ Tatalaksana HK FT4 normal TSH > 20 μU/L Tatalaksana HK TSH 6-20 μU/L Ulangi pemeriksaan (2 minggu) Hasil sama = tatalaksana HK 43 Nilai normal FT4 = 0.7 - 1.48 ng/dL Nilai normal TSH = 0.35 - 4.94 μIU/mL (dapat berbeda antar alat, dapat disesuaikan dengan metode dan alat yang digunakan di laboratorium yang memeriksa)
  • 44.
  • 45.
    Terima Kasih 45 Kontributor: • Prof.DR. Dr. Aryati, MS, Sp.PK(K) • DR. Dr. Ina S Timan, Sp.PK(K) • DR. Dr. Delita Prihatni, Sp.PK(K).Mkes • DR. Dr. Hartono Kahar Sp.PK(K), MQIH • Dr. Windarwati, Sp.PK(K), M.Sc • Dr. Maria I. Diah Pramudianti, M.Sc, Sp.PK(K) • Dr. Fajar Wasilah, Sp.PK, MM • Dr. Louisa Markus, Sp.PK