Civil	
  Society	
  Coalition	
  for	
  Transparency	
  	
  
and	
  Accountability	
  of	
  Extractive	
  Resources	
  Governance
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________
No: 031-Exj-EITI-Koord-I-13
Lamp: Policy Paper
Kepada Yth :
1. Bpk. Ir. Hatta Radjasa (Ketua Tim Pengarah EITI Indonesia)
2. Bpk. Wympi S Tjejep (Ketua Tim Pelaksana EITI Indonesia)
3. Ibu. Emmy Perdanahari (Kepala Sekretariat EITI Indonesia)
4. Bpk. Erry Riyana Hardjapamekas (Anggota Board EITI Internasional)
Perihal: Rekomendasi Opsi bagi Perbaikan Standar EITI Global terkait Transparansi Kontrak
Dengan Hormat,
Terkait dengan proses konsultasi yang dilaksanakan oleh Sekretariat EITI Internasional, yang
diteruskan oleh proses konsultasi melalui Sekretariat EITI Indonesia, mengenai perbaikan
Standar EITI terkait dengan Keterbukaan Kontrak antara Pemerintah dengan Perusahaan
dalam Industri Ekstraktif Migas dan Pertambangan. Dimana Standar EITI Global tersebut akan
ditetapkan dalam rapat Board EITI Internasional di bulan Mei 2013.
Merujuk pada surat yang dikirimkan oleh Sekretariat EITI International, dimana terdapat 4
opsi usulan yang pada intinya berisi: (1) mensyaratkan keterbukaan kontrak; (2) mensyaratkan
keterbukaan kontrak, dengan beberapa pengecualian; (3) mendorong (tetapi tidak
mensyaratkan) adanya keterbukaan kontrak; dan (4) berkeinginan untuk adanya keterbukaan
kontrak 1.
Maka dengan ini Publish What You Pay Indonesia bersama Perwakilan Masyarakat Sipil dalam
Tim Pelaksana EITI Indonesia memberikan rekomendasi kepada EITI Indonesia agar memilih
Opsi Nomor 1 yang berbunyi : Bahwa Standar EITI di masa depan seharusnya mensyaratkan
bahwa semua negara pelaksana EITI untuk membuka kepada publik kontrak-kontrak industri
ekstraktif di satu website pemerintah secara terpusat yang juga mencantumkan persyaratan
dalam kontrak sesuai dengan ijin dan operasi eksplorasi dan eksploitasi. [That the EITI Standard
in the future should require all EITI implementing countries to publicly disclosure on a single
government website any contracts that establish the term attached to the grant and operation of an
exploration and exploitation license].
Rekomendasi Opsi Nomor. 1 tersebut dilandasi oleh beberapa argumen, diantaranya:
1	
  Merujuk	
  pada	
  opsi	
  yang	
  dicantumkan	
  dalam	
  surat	
  yang	
  dikirimkan	
  oleh	
  Sekretariat	
  EITI	
  Interna;onal,	
  tanggal	
  18	
  Desember	
  
2012.	
  
1. Bahwa Indonesia telah memiliki Undang-Undang mengenai Keterbukaan Informasi Publik
(Nomor. 14 Tahun 2008) yang menjamin hak informasi setiap warga negara dan memberikan
kewajiban pada Badan Publik untuk membuka dan memberikan akses informasi kepada
masyarakat secara luas. Dalam hal ini, Pemerintah maupun BUMN merupakan Badan Publik
yang menyelenggarakan fungsi negara dan memiliki kewajiban sebagai Badan Publik
sebagaimana diatur dalam UU KIP 2 . Dimana di dalam UU KIP tersebut dinyatakan bahwa
Perjanjian dengan Pihak Ketiga merupakan jenis informasi publik yang wajid tersedia setiap
saat 3.
2. Bahwa di dalam Kontrak-Kontrak Pertambangan di Indonesia, baik jenis Kontrak Kerja
Sama Migas (PSC), Kontrak Karya (KK), maupun Perjanjian Karya Pengusahaan
Pertambangan Batubara (PKP2B) ataupun Ijin Usaha Pertambangan (IUP), secara umum
terdapat klausul-klausul yang menyangkut kepentingan publik dan kepentingan masyarakat
yang bertempat tinggal di sekitar area tambang. Diantaranya mengenai klausul penyetoran
pajak dan penerimaan negara lainnya; skema kegiatan operasi yang wajar, efektif dan efisien;
standar kesehatan, keselamatan dan perlindungan lingkungan; serta hal-hal lain yang
berdampak secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat seperti program pengembangan
masyarakat, muatan lokal dan ketenagakerjaan; maupun terkait persoalan keamanan dan
ham asasi manusia.
3. Bahwa meskipun Kontrak antara Pemerintah dengan Perusahaan yang bergerak di bidang
pertambangan merupakan kontrak yang bersifat perdata, namun karena menyangkut
pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara dan didelegasikan kepada
Pemerintah pengelolaannya untuk kepentingan publik, maka kontrak perdata tersebut
sejatinya terikat pada kepentingan publik. Sehingga kontrak tersebut merupakan Kontrak
Perdata yang bersifat publik dan tunduk pada hukum dan peraturan publik 4.
4. Bahwa, meski di dalam berbagai jenis-jenis kontrak Pertambangan di Indonesia (PSC, KK,
PKP2B, IUP) dapat dimungkinkan adanya pengecualian untuk dibuka, karena adanya
kekhawatiran mengganggu iklim persaingan usaha yang sehat serta kekhawatiran terjadinya
konsekuensi dan kerugian/kerusakan yang ditimbulkannya jika dibuka (consequence and
harm); maka pengecualian tersebut seharusnya “hanya” pada klausul pengecualian/
pernyataan rahasia yang disepakati oleh kedua belah pihak (Pemerintah-Perusahaan) dan
dinyatakan dalam kontrak 5 . Terkait hal tersebut Badan Publik dan Perusahaan
dimungkinkan untuk melakukan consecuence and harm test sebagai bagian dari prosedur dan
standar pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik 6.
5. Bahwa, Keterbukaan Kontrak dalam industri ekstraktif migas dan pertambangan merupakan
sebuah norma global yang telah banyak dipraktekkan oleh negara-negara penghasil minyak
dan pertambangan, termasuk oleh perusahaan multinasional di beberapa negara guna
mendukung praktek pertambangan yang baik, transparan dan akuntabel untuk
pembangunan berkelanjutan 7.
2
2	
  Pasal	
  1	
  angka3;	
  Pasal	
  7;	
  UU	
  No.14/2008	
  Tentang	
  Keterbukaan	
  Informasi	
  Publik	
  
3	
  Ibid,	
  Pasal	
  11	
  huruf	
  e	
  
4	
  Lihat	
  lampiran	
  Policy	
  Brief	
  mengenai	
  Keterbukaan	
  Kontrak	
  Migas	
  dan	
  Pertambangan	
  dalam	
  EITI	
  
5	
  Ibid
6 Pasal	
  2,	
  UU	
  KIP	
  No.14/2008	
  tentang	
  Keterbukaan	
  Informasi	
  Publik
7 Lihat	
  pada	
  lampiran	
  Policy	
  Brief	
  mengenai	
  Keterbukaan	
  Kontrak	
  Migas	
  dan	
  Pertambangan	
  dalam	
  EITI
6. Bahwa Keterbukaan Kontrak industri ekstraktif akan membangun kepercayaan antara
Pemerintah, Perusahaan dan Masyarakat dalam pengelolaan sektor sumber daya alam, yang
dapat meminimalisir konflik dan meningkatkan standar transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan industri ekstraktif. Keterbukaan kontrak akan mendorong partisipasi
masyarakat dan pemerintah dalam memonitoring kegiatan pertambangan agar sesuai
dengan kaidah praktek pertambangan yang baik, melindungi lingkungan dan transparan
dalam membayar penerimaan negara. Keterbukaan Kontrak dapat memperkuat kepercayaan
publik akan keabsahan dalam menjalankan kegiatan pertambangan (license to operate),
memahamkan publik akan operasi pertambangan dan tantangannya, menurunkan resiko
terjadinya pungutan liar atau korupsi serta dapat menumbuhkan kepercayaan investor dan
publik terhadap kegiatan operasi pertambangan yang fair, transparan dan akuntabel.
7. Bahwa wakil-wakil Perusahaan yang duduk dalam Board EITI Internasional tidak keberatan
jika Pemerintah dimana perusahaan ekstraktif beroperasi mewajibkan adanya keterbukaan
kontrak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keterbukaan kontrak tidak secara siginifikan
mengancam kepentingan bisnis perusahaan-perusahaan ekstraktif 8.
Bersama dengan surat ini kami sertakan Policy Brief yang dibuat oleh Tim Penyusun dari
masyarakat sipil sebagai bahan pertimbangan dalam kajian dan pemilihan opsi bagi Usulan
perbaikan standar EITI yang akan diputuskan dalam Rapat Board EITI Internasional pada
bulan Mei 2013 mendatang.
Demikian surat rekomendasi ini kami sampaikan, untuk menjadi perhatian kita bersama.
Terima Kasih.
Jakarta, 15 Januari 2013
Publish What You Pay Indonesia
Hormat Kami,
Perwakilan Masyarakat Sipil dalam Tim Pelaksana EITI Indonesia
Faisal Basri
Ekonom Universitas Indonesia
Maryati Abdullah
Koordinator Nasional PWYP Indonesia
Wasingatu Zakiah
Direktur Eksekutif IDEA
3
8	
  Lihat	
  pada	
  surat	
  yang	
  disampaikan	
  oleh	
  wakil	
  CSO	
  dalam	
  Board	
  EITI	
  Interna;onal,	
  tanggal	
  7	
  Desember	
  2012

Surat PWYP Indonesia Open Contract EITI

  • 1.
    Civil  Society  Coalition  for  Transparency     and  Accountability  of  Extractive  Resources  Governance ___________________________________________________________________________________________________________________________________________________ No: 031-Exj-EITI-Koord-I-13 Lamp: Policy Paper Kepada Yth : 1. Bpk. Ir. Hatta Radjasa (Ketua Tim Pengarah EITI Indonesia) 2. Bpk. Wympi S Tjejep (Ketua Tim Pelaksana EITI Indonesia) 3. Ibu. Emmy Perdanahari (Kepala Sekretariat EITI Indonesia) 4. Bpk. Erry Riyana Hardjapamekas (Anggota Board EITI Internasional) Perihal: Rekomendasi Opsi bagi Perbaikan Standar EITI Global terkait Transparansi Kontrak Dengan Hormat, Terkait dengan proses konsultasi yang dilaksanakan oleh Sekretariat EITI Internasional, yang diteruskan oleh proses konsultasi melalui Sekretariat EITI Indonesia, mengenai perbaikan Standar EITI terkait dengan Keterbukaan Kontrak antara Pemerintah dengan Perusahaan dalam Industri Ekstraktif Migas dan Pertambangan. Dimana Standar EITI Global tersebut akan ditetapkan dalam rapat Board EITI Internasional di bulan Mei 2013. Merujuk pada surat yang dikirimkan oleh Sekretariat EITI International, dimana terdapat 4 opsi usulan yang pada intinya berisi: (1) mensyaratkan keterbukaan kontrak; (2) mensyaratkan keterbukaan kontrak, dengan beberapa pengecualian; (3) mendorong (tetapi tidak mensyaratkan) adanya keterbukaan kontrak; dan (4) berkeinginan untuk adanya keterbukaan kontrak 1. Maka dengan ini Publish What You Pay Indonesia bersama Perwakilan Masyarakat Sipil dalam Tim Pelaksana EITI Indonesia memberikan rekomendasi kepada EITI Indonesia agar memilih Opsi Nomor 1 yang berbunyi : Bahwa Standar EITI di masa depan seharusnya mensyaratkan bahwa semua negara pelaksana EITI untuk membuka kepada publik kontrak-kontrak industri ekstraktif di satu website pemerintah secara terpusat yang juga mencantumkan persyaratan dalam kontrak sesuai dengan ijin dan operasi eksplorasi dan eksploitasi. [That the EITI Standard in the future should require all EITI implementing countries to publicly disclosure on a single government website any contracts that establish the term attached to the grant and operation of an exploration and exploitation license]. Rekomendasi Opsi Nomor. 1 tersebut dilandasi oleh beberapa argumen, diantaranya: 1  Merujuk  pada  opsi  yang  dicantumkan  dalam  surat  yang  dikirimkan  oleh  Sekretariat  EITI  Interna;onal,  tanggal  18  Desember   2012.  
  • 2.
    1. Bahwa Indonesiatelah memiliki Undang-Undang mengenai Keterbukaan Informasi Publik (Nomor. 14 Tahun 2008) yang menjamin hak informasi setiap warga negara dan memberikan kewajiban pada Badan Publik untuk membuka dan memberikan akses informasi kepada masyarakat secara luas. Dalam hal ini, Pemerintah maupun BUMN merupakan Badan Publik yang menyelenggarakan fungsi negara dan memiliki kewajiban sebagai Badan Publik sebagaimana diatur dalam UU KIP 2 . Dimana di dalam UU KIP tersebut dinyatakan bahwa Perjanjian dengan Pihak Ketiga merupakan jenis informasi publik yang wajid tersedia setiap saat 3. 2. Bahwa di dalam Kontrak-Kontrak Pertambangan di Indonesia, baik jenis Kontrak Kerja Sama Migas (PSC), Kontrak Karya (KK), maupun Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) ataupun Ijin Usaha Pertambangan (IUP), secara umum terdapat klausul-klausul yang menyangkut kepentingan publik dan kepentingan masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar area tambang. Diantaranya mengenai klausul penyetoran pajak dan penerimaan negara lainnya; skema kegiatan operasi yang wajar, efektif dan efisien; standar kesehatan, keselamatan dan perlindungan lingkungan; serta hal-hal lain yang berdampak secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat seperti program pengembangan masyarakat, muatan lokal dan ketenagakerjaan; maupun terkait persoalan keamanan dan ham asasi manusia. 3. Bahwa meskipun Kontrak antara Pemerintah dengan Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan merupakan kontrak yang bersifat perdata, namun karena menyangkut pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara dan didelegasikan kepada Pemerintah pengelolaannya untuk kepentingan publik, maka kontrak perdata tersebut sejatinya terikat pada kepentingan publik. Sehingga kontrak tersebut merupakan Kontrak Perdata yang bersifat publik dan tunduk pada hukum dan peraturan publik 4. 4. Bahwa, meski di dalam berbagai jenis-jenis kontrak Pertambangan di Indonesia (PSC, KK, PKP2B, IUP) dapat dimungkinkan adanya pengecualian untuk dibuka, karena adanya kekhawatiran mengganggu iklim persaingan usaha yang sehat serta kekhawatiran terjadinya konsekuensi dan kerugian/kerusakan yang ditimbulkannya jika dibuka (consequence and harm); maka pengecualian tersebut seharusnya “hanya” pada klausul pengecualian/ pernyataan rahasia yang disepakati oleh kedua belah pihak (Pemerintah-Perusahaan) dan dinyatakan dalam kontrak 5 . Terkait hal tersebut Badan Publik dan Perusahaan dimungkinkan untuk melakukan consecuence and harm test sebagai bagian dari prosedur dan standar pelaksanaan Keterbukaan Informasi Publik 6. 5. Bahwa, Keterbukaan Kontrak dalam industri ekstraktif migas dan pertambangan merupakan sebuah norma global yang telah banyak dipraktekkan oleh negara-negara penghasil minyak dan pertambangan, termasuk oleh perusahaan multinasional di beberapa negara guna mendukung praktek pertambangan yang baik, transparan dan akuntabel untuk pembangunan berkelanjutan 7. 2 2  Pasal  1  angka3;  Pasal  7;  UU  No.14/2008  Tentang  Keterbukaan  Informasi  Publik   3  Ibid,  Pasal  11  huruf  e   4  Lihat  lampiran  Policy  Brief  mengenai  Keterbukaan  Kontrak  Migas  dan  Pertambangan  dalam  EITI   5  Ibid 6 Pasal  2,  UU  KIP  No.14/2008  tentang  Keterbukaan  Informasi  Publik 7 Lihat  pada  lampiran  Policy  Brief  mengenai  Keterbukaan  Kontrak  Migas  dan  Pertambangan  dalam  EITI
  • 3.
    6. Bahwa KeterbukaanKontrak industri ekstraktif akan membangun kepercayaan antara Pemerintah, Perusahaan dan Masyarakat dalam pengelolaan sektor sumber daya alam, yang dapat meminimalisir konflik dan meningkatkan standar transparansi dan akuntabilitas pengelolaan industri ekstraktif. Keterbukaan kontrak akan mendorong partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam memonitoring kegiatan pertambangan agar sesuai dengan kaidah praktek pertambangan yang baik, melindungi lingkungan dan transparan dalam membayar penerimaan negara. Keterbukaan Kontrak dapat memperkuat kepercayaan publik akan keabsahan dalam menjalankan kegiatan pertambangan (license to operate), memahamkan publik akan operasi pertambangan dan tantangannya, menurunkan resiko terjadinya pungutan liar atau korupsi serta dapat menumbuhkan kepercayaan investor dan publik terhadap kegiatan operasi pertambangan yang fair, transparan dan akuntabel. 7. Bahwa wakil-wakil Perusahaan yang duduk dalam Board EITI Internasional tidak keberatan jika Pemerintah dimana perusahaan ekstraktif beroperasi mewajibkan adanya keterbukaan kontrak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa keterbukaan kontrak tidak secara siginifikan mengancam kepentingan bisnis perusahaan-perusahaan ekstraktif 8. Bersama dengan surat ini kami sertakan Policy Brief yang dibuat oleh Tim Penyusun dari masyarakat sipil sebagai bahan pertimbangan dalam kajian dan pemilihan opsi bagi Usulan perbaikan standar EITI yang akan diputuskan dalam Rapat Board EITI Internasional pada bulan Mei 2013 mendatang. Demikian surat rekomendasi ini kami sampaikan, untuk menjadi perhatian kita bersama. Terima Kasih. Jakarta, 15 Januari 2013 Publish What You Pay Indonesia Hormat Kami, Perwakilan Masyarakat Sipil dalam Tim Pelaksana EITI Indonesia Faisal Basri Ekonom Universitas Indonesia Maryati Abdullah Koordinator Nasional PWYP Indonesia Wasingatu Zakiah Direktur Eksekutif IDEA 3 8  Lihat  pada  surat  yang  disampaikan  oleh  wakil  CSO  dalam  Board  EITI  Interna;onal,  tanggal  7  Desember  2012