SEJARAH BAHASA 
INDONESIA 
 Email : su_sandi007@yahoo.co.id 
 Blog : www.susandi.wordpress.com 
 Telepon : 081265001965
SEJARAH BAHASA INDONESIA 
Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa 
Melayu merupakan sebuah bahasa Austronesia yang 
digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di 
nusantara 
Untuk pertama kalinya, istilah Bahasa Melayu disebutkan 
sekitar 683-686 M. Angka ini tercantum pada beberapa 
prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan 
Bangka. Prasasti-prasasti ini sudah menggunakan aksara 
Pallawa atas perintah raja Sriwijaya yang berjaya pada 
abad ke-7 dan ke-8. Selain itu, Wangsa Syailendra juga 
meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa 
Tengah. Berbagai batu bertulis (prasasti) yang ditemukan 
itu seperti Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 di 
Palembang, Prasasti Talang Tuo tahun 684 di Palembang, 
Prasasti Kota Kapur tahun 686 di Bangka Barat, dan 
Prasasti Karang Brahi tahun 688 antara Jambi dan Sungai 
Musi.
SEJARAH BAHASA INDONESIA 
Bahasa Melayu memiliki dua bentuk, yaitu melayu 
pasar dan melayu tinggi. 
Melayu Pasar sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. 
Bentuk ini mudah dimengerti, memiliki toleransi 
kesalahan yang tinggi, dan fleksibel dalam menyerap 
istilah dari bahasa lain. 
Melayu Tinggi merupakan bentuk yang lebih resmi. 
Pada masa lalu bentuk ini digunakan kalangan 
keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan 
Jawa. Bentuk ini lebih sulit karena penggunaannya 
sangat halus, penuh sindiran, agak sulit dimengerti 
disbanding Melayu Pasar, tingkat toleransi kesalahan 
yang rendah, dan tidak ekspresif sperti bahasa 
Melayu Pasar.
KELAHIRAN BAHASA INDONESIA 
Bahasa Indonesia dianggap lahir atau diterima 
keberadaannya pada Sumpah Pemuda 28 
Oktober 1928 yang menyebut sebagai bahasa 
persatuan. Namun, secara resmi, bahasa 
Indonesia baru diakui keberadaannya pada 
tanggal 18 Agustus 1945. Undang-Undang 
Dasar RI 1945 Pasal 36 menyebut bahasa 
Indonesia sebagai bahasa resmi. 
Pemerintah saat itu menyetujui pemilihan bahasa 
Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu 
tuturan Riau. Presiden Soekarno tidak memilih 
bahasa Jawa yang merupakan bahasanya sendiri 
dan juga bahasa mayoritas pada saat itu.
KELAHIRAN BAHASA INDONESIA 
Adapun pertimbangan pilihan bahasa Melayu tuturan 
Riau sebagai berikut; 
1.Suku-suku lain di Republik Indonesia akan merasa 
dijajah oleh suku Jawa jika menggunakan bahasa 
Melayu tuturan Jawa. 
1.Bahasa Melayu Riau lebih mudah dipelajari dibanding 
bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tingkatan 
bahasa (halus, biasa, dan kasar). Tingkatan ini 
digunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, 
derajat, ataupun pangkat dan kesan negatif sering 
muncul jika pemakai bahasa Jawa kurang memahami
KELAHIRAN BAHASA INDONESIA 
3. Suku Melayu berasal dari Riau. Sultan Malaka yang 
terakhir juga lari ke Riau setelah Malaka direbut 
oleh Portugis. Selain itu, bahasa Melayu Riau paling 
sedikit terpengaruh bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, 
Ke, ataupun dari bahasa lainnya. 
4. Menumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme 
negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, dan 
Singapura yang juga menggunakan bahasa Melayu 
dan nasibnya sama dengan Indonesia, yaitu dijajah 
Inggris. 
5. Para pejuang kemerdekaan diharapkan bersatu lagi
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
1. Cikal bakal ejaan bahasa Indonesia berasal dari 
bahasa Melayu yang ditetapkan pada tahun 1901. 
Pada tahun inilah Ch. A. van Ophuijsen membuat 
ejaan resmi bahasa Melayu yang dimuat dalam 
Kitab Logat Melayu. 
2. Sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang 
diberi nama Commissie voor de Volkslectuur 
(Taman Bacaan Rakyat) didirikan pemerintah pada 
tahun 1908. badan penerbit ini berubah menjadi 
Balai Pustaka pada tahun 1917. Balai Pustaka ini 
menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya 
dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok 
tanam, penuntun memelihara kesehatan, dll
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
3. Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari 
beberapa daerah, seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, 
dll. berkumpul. Peristiwa ini dikenal dengan Sumpah 
Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda 
sangat penting dalam perkembangan bahasa 
Indonesia. Pada saat inilah bahasa Indonesia 
dianggap sebagai bahasa persatuan. 
4. Sebuah angkatan sastrawan muda yang dipelopori 
oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armijn 
Pane, dll. berusaha melawan kebijakan yang dibuat 
oleh badan penerbit yang sudah ada, yaitu Balai 
Pustaka. Kelompok sastrawan ini dikenal dengan 
nama Pujangga Baru. Nama Pujangga Baru berasal 
dari nama sebuah majalah yang terbit pada tahun
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
5. Kongres Bahasa Indonesia I dilakukan di Solo pada 
25-28 Juni 1938. Hasil kongres ini secara umum 
menyimpulkan bahwa usaha pembinaan dan 
pengembangan bahasa Indonesia dilakukan secara 
sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia 
saat itu. 
6. Kemerdekaan Indonesia juga menetapkan bahasa 
Indonesia sebagai bahasa negara. Hal ini 
sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang 
Dasar RI 1945 Pasal 36. Undang-Undang Dasar 
1945 ini ditandatangani sehari setelah Proklamasi 
Kemerdekaan, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945 .
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
7. Ejaan bahasa Melayu buatan van Ophuijsen pada 
tahun 1901 sudah tidak dipakai dalam kaidah 
bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan pada tanggal 
19 Maret 1947 telah diresmikan penggunaan Ejaan 
Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti 
Ejaan van Ophuijsen. Jadi, ejaan van Ophuijsen 
sudah berlaku selama 46 tahun sebelum diganti 
Ejaan Republik. 
8. Pada tahun 1953 Kamus Bahasa Indonesia yang 
pertama diterbitkan. Kamus ini dibuat oleh 
Poerwadarminto. Dalam kamus itu tercatat jumlah 
lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 
23.000.
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
9 Kongres Bahasa Indonesia II dilaksanakan pada 28 
Oktober s.d. 2 November 1954 di Medan. Hasil 
kongres mengamanatkan untuk terus-menerus 
menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat 
sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan 
sebagai bahasa negara. 
10 Melalui pidato kenegaraan H. M. Soeharto selaku 
Presiden Republik Indonesia di hadapan sidang 
DPR pada tanggal 16 Agustus 1972, Ejaan Republik 
yang dikenal juga sebagai Ejaan Soewandi diganti 
dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang 
Disempurnakan (EYD). Selain itu, peresmian Ejaan 
Yang Disempurnakan (EYD) dikuatkan pula dengan
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
11. Pada tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 31 
Agustus 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 
menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia 
Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum 
Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah 
Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
12. Pada tahun 1976 Pusat Bahasa menerbitkan Kamus 
Bahasa Indonesia dan terdapat 1.000 kata baru. 
Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 
penambahan kata baru. 
13. Kongres Bahasa Indonesia III diselenggarakan di 
Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d. 2 November 
1978. Kongres ini bersamaan dengan 50 tahun 
Sumpah Pemuda. Selain memperlihatkan kemajuan, 
pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia, 
hasil kongres ini juga memantapkan kedudukan dan
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
14. Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan dalam 
rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. 
Kongres Bahasa Indonesia IV dilaksanakan di Jakarta 
pada 21—26 November 1983. Hasil kongres 
menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan 
bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan. Semua 
warga negara Indonesia agar menggunakan bahasa 
Indonesia dengan baik dan benar. 
15. Kongres Bahasa Indonesia V dihadiri oleh kira-kira tujuh 
ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara 
dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei 
Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, 
dan Australia. Kongres ini dilakukan di Jakarta pada 28 
Oktober s.d. 3 November 1988. Kongres ini juga 
mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
16. Kongres Bahasa Indonesia VI dilaksanakan pada 
28 Oktober s.d. 2 November 1993. Kongres ini pun 
tetap dilaksanakan di ibukota, Jakarta dan belum 
pernah dilaksanakan di daerah-daerah yang lain. 
Hasil kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan 
dan Pengembangan Bahasa statusnya ditingkatkan 
menjadi Lembaga Bahasa Indonesia. Selain itu, 
juga mengusulkan agar Undang-Undang Bahasa 
Indonesia disusun. 
17. Kongres Bahasa Indonesia VII dilaksanakan 26-30 
Oktober 1998 masih di Jakarta. Hasil kongres 
mengusulkan agar dibentuk Badan Pertimbangan 
Bahasa. Badan ini memiliki anggota dari tokoh 
masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
18. Kongres Bahasa Indonesia VIII dilaksanakan 14— 
17 Oktober 2003 di Jakarta. Banyaknya negara 
yang membuka studi mengenai Indonesia 
mendorong panitia mengagendakan pembuatan 
bahan ajar pelajaran Bahasa Indonesia untuk para 
penutur asing. Hal ini dibuktikan dengan adanya 35 
negara yang telah memiliki pusat studi tentang 
Indonesia di perguruan tinggi. Agar para penutur 
asing itu harus bisa berbahasa Indonesia dengan 
baik dan benar dibutuhkan pedoman buku ajar. 
Selian itu, akan dikembangkan Uji Kemahiran 
Berbahasa Indonesia (UKBI). UKBI tidak hanya 
ditujukan bagi para warga asing yang akan bekerja 
di Indonesia, tetapi juga warga Indonesia sendiri.
Perkembangan Bahasa 
Indonesia 
19. Kongres Bahasa Indonesia IX dilaksanakan pada 
28—31 Okober 2008 di Jakarta. 
Hasil kongres ini menyatakan bahwa bentuk-bentuk 
pemakaian bahasa Indonesia yang 
diajarkan di sekolah adalah bentuk-bentuk 
pemakaian bahasa dari variasi bahasa baku. 
Bentukan bahasa dari berbagai variasi, misalnya 
berdasarkan dialek geografi, dialek sosial, register 
(digunakan oleh profesi tertentu, misalnya dokter, 
pengacara, dsb.) dapat diperoleh siswa dalam 
berbagai pemakaian bahasa di masyarakat.
USAHA PENYEMPURNAAN EJAAN BAHASA 
INDONESIA 
Ejaan-ejaan ini bahasa Indonesia mengalami beberapa usaha 
untuk penyempurnaan. Perkembangan ejaan ini diawali dari 
cikal bakal ejaan bahasa Indonesia yang berasal dari Kitab 
Logat Melayu, yaitu ejaan van Ophuijsen hingga Ejaan Yang 
Disempurnakan (EYD). 
1. Ejaan van Ophuijsen 
Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. 
Van Ophuijsen merupakan tokoh yang telah merancang ejaan 
ini. Van Ophuijsen tidak sendirian, ia dibantu oleh Engku 
Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan 
Ibrahim. Usaha ini tidaklah sia-sia karena ejaan ini ditetapkan 
pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini, yaitu 
 huruf j, misalnya jang, pajah, sajang, dsb. 
 huruf oe, misalkan goeroe, itoe, oemoer, dsb. 
 tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, misalkan 
ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dinamai’, dsb.
USAHA PENYEMPURNAAN EJAAN BAHASA 
INDONESIA 
2. Ejaan Soewandi 
Ejaan ini dipilih pemerintah Indonesia di masa-masa awal 
kemerdekaan untuk menggantikan ejaan Van Ophuijsen. 
Ejaan ini resmi menggantikan ejaan Van Ophuijsen pada 
tanggal 19 Maret 1947. Karena berdekatan dengan 
proklamasi, ejaan ini disebut Ejaan Republik. Penamaan 
ini sekaligus menunjukkan semangat kemerdekaan yang 
baru berumur hamper dua tahun. Ciri-ciri ejaan ini yaitu 
 huruf oe diganti dengan u, misalkan guru, itu, umur, dsb. 
 bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, 
misalkan tak, pak, rakjat, dsb. 
 kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, misalkan 
kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an 
 awalan di- dan kata depan di ditulis serangkai dengan 
kata yang mendampinginya, misalkan dipasar, dipukul,
USAHA PENYEMPURNAAN EJAAN BAHASA 
INDONESIA 
3. Ejaan Melindo 
Melindo merupakan kepanjangan dari Melayu— 
Indonesia. Ejaan Melindo ini dikenal pada akhir tahun 
1959. Peresmian ejaan ini batal karena faktor 
perkembangan politik pada tahun-tahun berikutnya. 
Ejaan dengan nama Melayu—Indonesia ini tentu tidak 
hanya berkaitan dengan Republik Indonesia, melainkan 
juga dengan negeri tetangga kawasan Melayu, seperti 
Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. 
4. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) 
Ejaan bahasa Indonesia yang hingga kini masih berlaku 
adalah ejaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Lebih 
dari 30 tahun ejaan ini dipertahankan. Ejaan ini 
diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 
1972 oleh Presiden Republik Indonesia, yaitu almarhum 
Presiden Soeharto. Peresmian ini dikuatkan dengan 
Putusan Presiden No. 57 Tahun 1972.

Sejarah bahasa-indonesia1

  • 1.
    SEJARAH BAHASA INDONESIA  Email : su_sandi007@yahoo.co.id  Blog : www.susandi.wordpress.com  Telepon : 081265001965
  • 2.
    SEJARAH BAHASA INDONESIA Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) di nusantara Untuk pertama kalinya, istilah Bahasa Melayu disebutkan sekitar 683-686 M. Angka ini tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan Bangka. Prasasti-prasasti ini sudah menggunakan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya yang berjaya pada abad ke-7 dan ke-8. Selain itu, Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa Tengah. Berbagai batu bertulis (prasasti) yang ditemukan itu seperti Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 di Palembang, Prasasti Talang Tuo tahun 684 di Palembang, Prasasti Kota Kapur tahun 686 di Bangka Barat, dan Prasasti Karang Brahi tahun 688 antara Jambi dan Sungai Musi.
  • 3.
    SEJARAH BAHASA INDONESIA Bahasa Melayu memiliki dua bentuk, yaitu melayu pasar dan melayu tinggi. Melayu Pasar sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk ini mudah dimengerti, memiliki toleransi kesalahan yang tinggi, dan fleksibel dalam menyerap istilah dari bahasa lain. Melayu Tinggi merupakan bentuk yang lebih resmi. Pada masa lalu bentuk ini digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, agak sulit dimengerti disbanding Melayu Pasar, tingkat toleransi kesalahan yang rendah, dan tidak ekspresif sperti bahasa Melayu Pasar.
  • 4.
    KELAHIRAN BAHASA INDONESIA Bahasa Indonesia dianggap lahir atau diterima keberadaannya pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyebut sebagai bahasa persatuan. Namun, secara resmi, bahasa Indonesia baru diakui keberadaannya pada tanggal 18 Agustus 1945. Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 36 menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Pemerintah saat itu menyetujui pemilihan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tuturan Riau. Presiden Soekarno tidak memilih bahasa Jawa yang merupakan bahasanya sendiri dan juga bahasa mayoritas pada saat itu.
  • 5.
    KELAHIRAN BAHASA INDONESIA Adapun pertimbangan pilihan bahasa Melayu tuturan Riau sebagai berikut; 1.Suku-suku lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa jika menggunakan bahasa Melayu tuturan Jawa. 1.Bahasa Melayu Riau lebih mudah dipelajari dibanding bahasa Jawa. Bahasa Jawa memiliki tingkatan bahasa (halus, biasa, dan kasar). Tingkatan ini digunakan untuk orang yang berbeda dari segi usia, derajat, ataupun pangkat dan kesan negatif sering muncul jika pemakai bahasa Jawa kurang memahami
  • 6.
    KELAHIRAN BAHASA INDONESIA 3. Suku Melayu berasal dari Riau. Sultan Malaka yang terakhir juga lari ke Riau setelah Malaka direbut oleh Portugis. Selain itu, bahasa Melayu Riau paling sedikit terpengaruh bahasa Cina Hokkien, Tio Ciu, Ke, ataupun dari bahasa lainnya. 4. Menumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura yang juga menggunakan bahasa Melayu dan nasibnya sama dengan Indonesia, yaitu dijajah Inggris. 5. Para pejuang kemerdekaan diharapkan bersatu lagi
  • 7.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 1. Cikal bakal ejaan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang ditetapkan pada tahun 1901. Pada tahun inilah Ch. A. van Ophuijsen membuat ejaan resmi bahasa Melayu yang dimuat dalam Kitab Logat Melayu. 2. Sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) didirikan pemerintah pada tahun 1908. badan penerbit ini berubah menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917. Balai Pustaka ini menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, dll
  • 8.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 3. Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari beberapa daerah, seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, dll. berkumpul. Peristiwa ini dikenal dengan Sumpah Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda sangat penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Pada saat inilah bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa persatuan. 4. Sebuah angkatan sastrawan muda yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, dll. berusaha melawan kebijakan yang dibuat oleh badan penerbit yang sudah ada, yaitu Balai Pustaka. Kelompok sastrawan ini dikenal dengan nama Pujangga Baru. Nama Pujangga Baru berasal dari nama sebuah majalah yang terbit pada tahun
  • 9.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 5. Kongres Bahasa Indonesia I dilakukan di Solo pada 25-28 Juni 1938. Hasil kongres ini secara umum menyimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. 6. Kemerdekaan Indonesia juga menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 36. Undang-Undang Dasar 1945 ini ditandatangani sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945 .
  • 10.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 7. Ejaan bahasa Melayu buatan van Ophuijsen pada tahun 1901 sudah tidak dipakai dalam kaidah bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan pada tanggal 19 Maret 1947 telah diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen. Jadi, ejaan van Ophuijsen sudah berlaku selama 46 tahun sebelum diganti Ejaan Republik. 8. Pada tahun 1953 Kamus Bahasa Indonesia yang pertama diterbitkan. Kamus ini dibuat oleh Poerwadarminto. Dalam kamus itu tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000.
  • 11.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 9 Kongres Bahasa Indonesia II dilaksanakan pada 28 Oktober s.d. 2 November 1954 di Medan. Hasil kongres mengamanatkan untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara. 10 Melalui pidato kenegaraan H. M. Soeharto selaku Presiden Republik Indonesia di hadapan sidang DPR pada tanggal 16 Agustus 1972, Ejaan Republik yang dikenal juga sebagai Ejaan Soewandi diganti dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Selain itu, peresmian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dikuatkan pula dengan
  • 12.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 11. Pada tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 12. Pada tahun 1976 Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia dan terdapat 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru. 13. Kongres Bahasa Indonesia III diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d. 2 November 1978. Kongres ini bersamaan dengan 50 tahun Sumpah Pemuda. Selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia, hasil kongres ini juga memantapkan kedudukan dan
  • 13.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 14. Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Kongres Bahasa Indonesia IV dilaksanakan di Jakarta pada 21—26 November 1983. Hasil kongres menyebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan. Semua warga negara Indonesia agar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. 15. Kongres Bahasa Indonesia V dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini dilakukan di Jakarta pada 28 Oktober s.d. 3 November 1988. Kongres ini juga mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan
  • 14.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 16. Kongres Bahasa Indonesia VI dilaksanakan pada 28 Oktober s.d. 2 November 1993. Kongres ini pun tetap dilaksanakan di ibukota, Jakarta dan belum pernah dilaksanakan di daerah-daerah yang lain. Hasil kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa statusnya ditingkatkan menjadi Lembaga Bahasa Indonesia. Selain itu, juga mengusulkan agar Undang-Undang Bahasa Indonesia disusun. 17. Kongres Bahasa Indonesia VII dilaksanakan 26-30 Oktober 1998 masih di Jakarta. Hasil kongres mengusulkan agar dibentuk Badan Pertimbangan Bahasa. Badan ini memiliki anggota dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian
  • 15.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 18. Kongres Bahasa Indonesia VIII dilaksanakan 14— 17 Oktober 2003 di Jakarta. Banyaknya negara yang membuka studi mengenai Indonesia mendorong panitia mengagendakan pembuatan bahan ajar pelajaran Bahasa Indonesia untuk para penutur asing. Hal ini dibuktikan dengan adanya 35 negara yang telah memiliki pusat studi tentang Indonesia di perguruan tinggi. Agar para penutur asing itu harus bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dibutuhkan pedoman buku ajar. Selian itu, akan dikembangkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). UKBI tidak hanya ditujukan bagi para warga asing yang akan bekerja di Indonesia, tetapi juga warga Indonesia sendiri.
  • 16.
    Perkembangan Bahasa Indonesia 19. Kongres Bahasa Indonesia IX dilaksanakan pada 28—31 Okober 2008 di Jakarta. Hasil kongres ini menyatakan bahwa bentuk-bentuk pemakaian bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah adalah bentuk-bentuk pemakaian bahasa dari variasi bahasa baku. Bentukan bahasa dari berbagai variasi, misalnya berdasarkan dialek geografi, dialek sosial, register (digunakan oleh profesi tertentu, misalnya dokter, pengacara, dsb.) dapat diperoleh siswa dalam berbagai pemakaian bahasa di masyarakat.
  • 17.
    USAHA PENYEMPURNAAN EJAANBAHASA INDONESIA Ejaan-ejaan ini bahasa Indonesia mengalami beberapa usaha untuk penyempurnaan. Perkembangan ejaan ini diawali dari cikal bakal ejaan bahasa Indonesia yang berasal dari Kitab Logat Melayu, yaitu ejaan van Ophuijsen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). 1. Ejaan van Ophuijsen Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merupakan tokoh yang telah merancang ejaan ini. Van Ophuijsen tidak sendirian, ia dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Usaha ini tidaklah sia-sia karena ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901. Ciri-ciri dari ejaan ini, yaitu  huruf j, misalnya jang, pajah, sajang, dsb.  huruf oe, misalkan goeroe, itoe, oemoer, dsb.  tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, misalkan ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dinamai’, dsb.
  • 18.
    USAHA PENYEMPURNAAN EJAANBAHASA INDONESIA 2. Ejaan Soewandi Ejaan ini dipilih pemerintah Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan untuk menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Ejaan ini resmi menggantikan ejaan Van Ophuijsen pada tanggal 19 Maret 1947. Karena berdekatan dengan proklamasi, ejaan ini disebut Ejaan Republik. Penamaan ini sekaligus menunjukkan semangat kemerdekaan yang baru berumur hamper dua tahun. Ciri-ciri ejaan ini yaitu  huruf oe diganti dengan u, misalkan guru, itu, umur, dsb.  bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, misalkan tak, pak, rakjat, dsb.  kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, misalkan kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an  awalan di- dan kata depan di ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya, misalkan dipasar, dipukul,
  • 19.
    USAHA PENYEMPURNAAN EJAANBAHASA INDONESIA 3. Ejaan Melindo Melindo merupakan kepanjangan dari Melayu— Indonesia. Ejaan Melindo ini dikenal pada akhir tahun 1959. Peresmian ejaan ini batal karena faktor perkembangan politik pada tahun-tahun berikutnya. Ejaan dengan nama Melayu—Indonesia ini tentu tidak hanya berkaitan dengan Republik Indonesia, melainkan juga dengan negeri tetangga kawasan Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. 4. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) Ejaan bahasa Indonesia yang hingga kini masih berlaku adalah ejaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Lebih dari 30 tahun ejaan ini dipertahankan. Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia, yaitu almarhum Presiden Soeharto. Peresmian ini dikuatkan dengan Putusan Presiden No. 57 Tahun 1972.