METODE DRIIL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan yang sering dijumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama
Islam adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh
hasil yang efektif dan efisien. Di samping masalah lainnya yang juga sering didapati adalah
kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya
peningkatan mutu pengajaran secara baik.
Add caption
Metode pengajaran yaitu, suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan
yang ditetapkan, maka fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan. Karena metode mengajar
tersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian
yang integral dalam suatu system pengajaran.
Pengertian pembelajaran berlangsung bilamana terjadi suatu proses antara guru dan siswa
sehingga terdapat suatu perubahan tingkah laku. Jadi suatu pengulangan terhadap apa yang
terjadi belum dapat dikatakan suatu proses pembelajaran, oleh karena itu perlu dipahami dalam
situasi yang bagaimanakah sepantasnya dilakukan latihan siap dan bagaimanakah cara
pelaksanaannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Metode Drill (latihan siap ) ?
2. Apa saja Macam-macam Metode Drill (latihan siap)?
3. Bagaimana Karakteristik Metode Drill (latihan siap)?
4. Bagaimana Langkah-langkah Metode Drill (latihan siap)?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Drill (Latihan Siap)
Pembahasan metode drill sebagai bahan kajian inti dari penulisan, perlu diperjelas bahwa
metode itu sendiri merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi
interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap mengajar memiliki
karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman belajar siswa tetapi satu dengan
yang lain saling menunjang.
Teknis pelaksanaan metode dalam pembelajaran menurut Samsul Nizar menyebutkan,
sebagai berikut:
a. Sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan.
b. Sesuatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu
materi tertentu.
c. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Metode adalah prosedur tertentu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Proses yang harus
dilakukan merupakan rangkaian stimulasi yang tersistem dalam satu bingkai aktifitas
pembelajaran. Keterkaitan terpadu empat komponen dasar pembelajaran siswa, pengajar, bahan
belajar dan metode akan dapat mengantar pada tujuan pendidikan yang diinginkan. Suatu metode
tidak hanya akan mampu mengantarkan pada ketercapaian satu tujuan namun bisa mempunyai
fungsi ganda atau dobel. Ketercapaian hasil dengan prestasi yang meningkat juga pengalaman
anak didik dan guru bisa menjadi sasaran sampingan dari penggunaan suatu metode.
Dalam proses pembelajaran bermacam komponen membentuk sistem pergerakan untuk
mencapai perubahan, bermacam komponen menjadi sinergis apabila satu sama lain mendukung
dan berkolaboratif secara aktif. Hambatan disalah satu komponen bisa menyebabkan adanya
gangguan sehingga pembelajaran tidak berjalan efektif. Sumitro menyatakan Interaksi aktif antar
komponen pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut, salah satunya dalam penggunaan
metode drill yakni Interaksi antar Komponen Pembelajaran.
Pemilihan metode yang tepat dalam membelajarkan suatu materi akan menjadikan suatu
proses pembelajaran menjadi efektif, tujuan pembelajaran menjadi lebih mudah tercapai.
Demikian pula memilih metode drill di sini menjadi tepat dan efektif jika suatu tujuan dan
kompetensi pembelajaran telah diketahui. Pengertian metode drill itu sendiri dari segi
kebahasaan adalah metode latihan atau metode “training” yang merupakan suatu cara mengajar
yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Mananamkan kebiasaan yang benar pada anak dengan usia yang belia tidak mudah.
Pengulangan, penekanan, evaluasi harus sering dilakukan sebab anak terutama anak usia sekolah
dasar memiliki dunia sendiri yang mengasikkan bagi mereka. Aktifitas motorik yang tinggi
menjadikan aktifitas kognitif akademis dapat tertekan, terlupakan, menanamkan kepedulian,
motivasi, dan tekad untuk mempunyai kebiasaan yang benar perlu dilakukan secara kontinyu,
dengan sistematika proses yang panjang, konsisten dan berulang.
Metode latihan sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang telah nyata
diterima. Selain itu metode juga dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan,
ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan latihan tentang sesuatu yang dipelajari. Dengan
melakukan secara praktis pengetahuan tersebut dapat disempurnakan dan dikembangkan.
Dengan demikian metode latihan bukan hanya sekedar melaksanakan latihan secara membabi
buta, bukan hanya asal mengulang, tetapi melaksanakan latihan dengan pengertian yang
mempunyai tujuan tertentu.
Metode drill/ latihan siap ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan
cara melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Adapun pengertian lain
(Winarno Surachmad, 1979: 76) dimaksudkan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau
keterampilan latihan dari apa yang telah dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara
praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.
Metode ini berasal dari metode pengajaran Herbart, yaitu metode assosiasi dan ulangan
tanggapan, yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pelajaran pada siswa.
Pelaksanaannya secara mekanis untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran dan kecakapan,
sehingga menimbulkan verbalisme pengetahuan siswa, kebiasaan menghafal secara mekanis
tanpa pengertian.
Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, materi yang bisa diajarkan dengan metode
ini di antaranya adalah materi yang bersifat pembiasaan, seperti ibadah shalat, mengkafani
jenazah, baca tulis al-Qur’an, dan lain-lain.
Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata qur’an “dalam arti demikian
sebagaimana tersebut dalam surah Al-Qiyamah ayat 17 dan 18:
ُ‫ه‬َ‫ن‬‫آ‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ع‬َْ‫َج‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ُ‫ه‬َ‫ن‬‫آ‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬ ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ ُ‫اه‬َ‫ن‬ْ‫أ‬َ‫ر‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬,
Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Maka apabila Kami telah selesai membacakannya maka
ikutilah bacaannya itu”.( Q.S. Al-Qiyamah : 17-18)
Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam
menjadi petunjuk kehidupan umat manusia diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad
SAW melalui perantaraan malaikat Jibril sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam
semesta. Al-Qur’an adalah kitab suci yang terakhir diturunkan oleh Allah SWT yang isinya
mencakup segala pokok-pokok Syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan
sebelumnya. Karena itu setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an, akan bertambah cinta
kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk
mengamalkannya dan mengajarkannya sampai merata rahmat-Nya dirasai dan dikecap oleh
penghuni alam semesta. Sehubungan dengan cinta Al-Qur’an yang dimaksud di atas orang-orang
yang suka membaca dalam pengertian yang sebenarnya membaca yang bukan sembarang
membaca. Membaca untuk difahami, dimengerti, dan selanjutnya untuk diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari.
B. Macam-Macam Metode Drill
Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu
sebagai berikut :
a. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan
memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
b. Teknik Discovery (penemuan)
Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat,
diskusi.
c. Teknik Micro Teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi
pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan,
kecakapan dan sikap sebagai guru.
d. Teknik Modul Belajar
Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan
(kompetensi).
e. Teknik Belajar Mandiri
Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di
luar kelas.
C. Karakteristik Metode Drill (Latihan Siap)
Secara umum pembelajaran dengan metode latihan siap (drill) biasanya digunakan agar :
a. Siswa memperoleh kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat,
menggunakan alat/mesin, permainan, dan atletik.
b. Siswa memperoleh kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal
tanda-tanda/ simbol, dsb.
c. Assosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol, membaca
peta, dsb.
d. Dalam mengajarkan kecakapan, dengan metode latihan siap guru harus mengetahui sifat
kecakapan itu sendiri, seperti,kecakapan sebagai penyempurnaan dari suatu arti dan bukan
sebagai hasil proses mekanis semata-mata. Kecakapan tersebut dikatakan tidak benar, bila hanya
menentukan suatu hal yang rutin yang dapat dicapai dengan pengulangan yang tidak
menggunakan pikiran, sebab kenyataan bertindak atau berbuat harus sesuai dengan situasi dan
kondisi.
Metode drill/ latihan siap tepat digunakan:
1. Apabila pelajaran dimaksudkan untuk pelajaran yang sudah diberikan atau yang sedang
berlangsung.
2. Apabila pelajaran dimaksudkan untuk melatih keterampilan siswa dalam mengerjakan sesuatu
dan melatih siswa untuk berfikir cepat.
3. Metode ini digunakan untuk memperkuat daya tanggapan siswa terhadap pelajaran.
Beberapa keuntungan dalam pemanfaatan metode drill adalah sebagai berikut:
1. Dalam waktu yang relatif singkat, siswa dapat dengan cepat memperoleh penguasaan dan
keterampilan yang diharapkan.
2. Dapat menanamkan pada siswa kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin.
3. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan
apa yang dipelajarinya.
4. Guru lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan antara siswa yang disiplin dan yang
kurang memperhatikan saat berlangsungnya pengajaran.
5. Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh akan lebih kokoh
tertanam dalam daya ingat siswa, karena seluruh fikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan
pada pelajaran yang dilatihkan.
6. Siswa akan dapat menggunakan daya pikirnya dengan bertambah baik, karena dengan
pengajaran yang baik maka siswa akan menjadi lebih teratur dan teliti.
Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru,
memungkinkan siswa untuk melakukan perbaikan kesalahan saat itu juga. Hal ini dapat
menghemat waktu belajar, di samping itu juga siswa langsung mengetahui prestasinya.
Di samping keuntungan yang ada, ada beberapa kelemahan dalam metode ini, antara lain:
1. Dapat menghambat inisiatif siswa, di mana inisiatif dan minat siswa yang berbeda dengan
petunjuk guru dianggap suatu penyimpangan dan pelanggaran dalam pengajaran yang diberikan.
2. Kurang memperhatikan penyesuaiannya dengan lingkungan.
3. Membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kaku dan dalam memberikan stimulus siswa dibiasakan
bertindak otomatis.
4. Dapat menimbulkan verbalisme.
5. Latihan yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali
menimbulkan kebosanan.
6. Latihan yang terlampau berat dapat menimbulkan perasaan benci dalam diri siswa, baik
terhadap pelajaran maupun terhadap guru.
Kelemahan-kelemahan di atas dapat diatasi dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1. Guru mengarahkan siswa untuk memberikan respons yang maksimal dan reaksi yang tepat.
2. Jika terdapat kesulitan pada siswa saat merespons, mereaksi, hendaknya guru segera meneliti
sebab-sebab yang menimbulkan kesulitan tersebut.
3. Berikanlah segera penjelasan-penjelasan, baik bagi reaksi atau respons yang betul maupun yang
salah. Hal ini perlu dilakukan agar siswa dapat mengevaluasi kemajuan dari latihannya.
4. Usahakan siswa memiliki ketepatan merespons kemudian kecepatan merespon.
5. Istilah-istilah baik berupa kata-kata maupun kalimat-kalimat yang digunakan dalam latihan
hendaknya dimengerti oleh siswa.
D. Langkah-langkah Metode Drill (Latihan Siap)
Langkah-langkah penerapannya metode drill di kelas, latihan dapat dilakukan dalam
berbagai kegiatan belajar, baik secara lisan maupun secara tulisan, dalam bentuk mental maupun
fisik. Meskipun metode ini dapat digunakan dalam berbagai kegiatan belajar, tidaklah berarti
bahwa setiap metode ini harus dipakai dalam semua aktifitas pembelajaran. Pengggunaan metode
ini tergantung pada keperluan-keperluan khusus, seperti pembiasaan mengerjakan sholat,
membaca al-Qur’an, dan sejenisnya.
Sebelum melaksanakan metode drill, guru harus mempertimbangkan tentang sejauhmana
kesiapan guru, siswa dan pendukung lainnya yang terlibat dalam penerapan metode ini.
a. Tahap Persiapan
Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain :
1) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
2) Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan
3) Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan
4) Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh
b. Tahap Pelaksanaan
1) Langkah pembukaan
Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru diantaranya
mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan yang akan dilakukan.
2) Langkah pelaksanaan
a. Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu
b. Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan
c. Yakinkan bahwa semua siswa tertarik untuk ikut
d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk terus berlatih
3) Langkah mengakhiri
Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan motivasi untuk siswa terus
melakukan latihan secara berkesinambungan sehingga latihan yang diberikan dapat semakin
melekat, terampil dan terbiasa.
c. Penutup
1) Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang
dilaksanakan oleh siswa.
2) Memberikan latihan penenangan.
Pengertian yang dibutuhkan untuk keberhasilan suatu drill adalah:
1. Pengertian terhadap latihan itu sendiri
2. Pengertian terhadap nilai dan hubungan latihan itu dengan keseluruhan rangka pengajaran.
Untuk mendapatkan kecakapan dengan metode drill ini, ada dua fase:
1. Fase intregatif, di mana presepsi dari arti dan proses dikembangkan. Pada fase ini belajar
kecakapan dikembangkan menurut praktek yang berarti sering melakukan hubungan fungsional
dan aktifitas penyelidikan.
2. Fase penyempurnaan atau fase menyelesaikan di mana ketelitian dikembangkan. Dalam fase ini,
diperlukan ketelitian dapat dikembangkan menurut praktek yang berulangkali. Jadi, variasi
praktek di sini ditujuan untuk mendalami arti bukan ketangkasan sedangkan praktek yang sering
ditujukan untuk mempertinggi efensiensi, bukan ntuk mendalami arti.
Dalam pelaksanaannya, metode drill terkadang mengalami beberapa hambatan, terutama
yang terkait dengan kesiapan guru dan pengkondisian kelas. Oleh karena itu, guru hendaknya
memperhatikan beberapa prinsip dalam menggunakan metode drill, antara lain:
a. Drill hanyalah untuk bahan atau perbuatan yang bersifat otomatis.
b. Latihan harus memiliki arti dalam tingkah laku yang lebih luas, yakni:
1. Sebelum melaksanakan latihan, siswa perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan tersebut.
2. Siswa perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupannya kelak.
3. Siswa perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.
c. Latihan-latihan tersebut pertama-tama harus ditekankan pada diagnosa:
1. Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.
2. Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul respon yang benar akhirnya harus
dikenal siswa.
3. Siswa memerlukan waktu untuk variasi latihan, perkembangan arti dan control.
4. Pertama harus bersifat ketetapan, yang kemudian kecepatan, dan akhirnya kedua-duanya harus
dimiliki siswa.
5. Masa latihan, harus relatif singkat dan sering dilakukan latihan-latihan lanjutan.
6. Kondisi latihan harus menarik minat siswa, dan dalam suasana menyenangkan.
7. Proses yang bersifat fundamental harus didahulukan dari latihan yang sifatnya sekunder.
d. Proses latihan juga harus memperhatikan perbedaan kemampuan individual.
Agar pemakaian metode drill dapat efektif, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
1. Sebelum pelajaran dimulai, hendaknya diawali terlebih dahulu dengan pemberian pengertian
dasar.
2. Metode ini hanya dipakai untuk bahan pelajaran/ kecekatan-kecekatan yang bersifat rutin dan
otomatis.
3. Diusahakan hendaknya masa latihan sesingkat mungkin, agar tidak membosankan.
4. Maksud diadakannya latihan ulang harus mempunyai tujuan yang lebih luas.
5. Latihan diatur sedemikian rupa sehingga bersifat menarik dan dapat menimbulkan motivasi
belajar siswa.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metode drill merupakan metode pembelajaran yang digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari.
Macam-macam metode drill
a. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
b. Teknik Discovery (penemuan)
c. Teknik Micro Teaching
d. Teknik Modul Belajar
e. Teknik Belajar Mandiri
Berikut karakteristik metode drill:
1) Siswa memperoleh kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat,
menggunakan alat/mesin, permainan, dan atletik.
2) Siswa memperoleh kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal
tanda-tanda/ simbol, dsb.
3) Assosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol, membaca
peta, dsb.
Langkah-langkah metode drill yakni sebagai berikut:
A. Tahap Persiapan
Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain :
1) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa
2) Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan
3) Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan
4) Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh
B. Tahap Pelaksanaan
1) Langkah pembukaan
Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru diantaranya
mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan yang akan dilakukan.
2) Langkah pelaksanaan
a. Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu
b. Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan
c. Yakinkan bahwa semua siswa tertarik untuk ikut
d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk terus berlatih
3) Langkah mengakhiri
Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan motivasi untuk siswa terus
melakukan latihan secara berkesinambungan sehingga latihan yang diberikan dapat semakin
melekat, terampil dan terbiasa.
C. Tahap Penutup
1) Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang
dilaksanakan oleh siswa.
2) Memberikan latihan penenangan.
DAFTAR PUSTAKA
 Zuhairini & Abdul Ghofur, dkk. 1983. Methodik Pendidikan Agama. Surabaya: Usana Offset
Printing
 Nasih, Ahmad Munjuin, dkk. 2009. Metode & teknik Pembelajaran PAI. Bandung: Refika
Aditama
 Usman, Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers

Rino metode

  • 1.
    METODE DRIIL BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Permasalahan yang sering dijumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama Islam adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Di samping masalah lainnya yang juga sering didapati adalah kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik. Add caption Metode pengajaran yaitu, suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, maka fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan. Karena metode mengajar tersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu system pengajaran. Pengertian pembelajaran berlangsung bilamana terjadi suatu proses antara guru dan siswa sehingga terdapat suatu perubahan tingkah laku. Jadi suatu pengulangan terhadap apa yang terjadi belum dapat dikatakan suatu proses pembelajaran, oleh karena itu perlu dipahami dalam situasi yang bagaimanakah sepantasnya dilakukan latihan siap dan bagaimanakah cara pelaksanaannya.
  • 2.
    B. Rumusan Masalah 1.Apa pengertian Metode Drill (latihan siap ) ? 2. Apa saja Macam-macam Metode Drill (latihan siap)? 3. Bagaimana Karakteristik Metode Drill (latihan siap)? 4. Bagaimana Langkah-langkah Metode Drill (latihan siap)? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Metode Drill (Latihan Siap) Pembahasan metode drill sebagai bahan kajian inti dari penulisan, perlu diperjelas bahwa metode itu sendiri merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap mengajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman belajar siswa tetapi satu dengan yang lain saling menunjang. Teknis pelaksanaan metode dalam pembelajaran menurut Samsul Nizar menyebutkan, sebagai berikut: a. Sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan. b. Sesuatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu. c. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur. Metode adalah prosedur tertentu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Proses yang harus dilakukan merupakan rangkaian stimulasi yang tersistem dalam satu bingkai aktifitas pembelajaran. Keterkaitan terpadu empat komponen dasar pembelajaran siswa, pengajar, bahan belajar dan metode akan dapat mengantar pada tujuan pendidikan yang diinginkan. Suatu metode tidak hanya akan mampu mengantarkan pada ketercapaian satu tujuan namun bisa mempunyai fungsi ganda atau dobel. Ketercapaian hasil dengan prestasi yang meningkat juga pengalaman anak didik dan guru bisa menjadi sasaran sampingan dari penggunaan suatu metode. Dalam proses pembelajaran bermacam komponen membentuk sistem pergerakan untuk mencapai perubahan, bermacam komponen menjadi sinergis apabila satu sama lain mendukung dan berkolaboratif secara aktif. Hambatan disalah satu komponen bisa menyebabkan adanya gangguan sehingga pembelajaran tidak berjalan efektif. Sumitro menyatakan Interaksi aktif antar komponen pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut, salah satunya dalam penggunaan metode drill yakni Interaksi antar Komponen Pembelajaran. Pemilihan metode yang tepat dalam membelajarkan suatu materi akan menjadikan suatu proses pembelajaran menjadi efektif, tujuan pembelajaran menjadi lebih mudah tercapai. Demikian pula memilih metode drill di sini menjadi tepat dan efektif jika suatu tujuan dan
  • 3.
    kompetensi pembelajaran telahdiketahui. Pengertian metode drill itu sendiri dari segi kebahasaan adalah metode latihan atau metode “training” yang merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Mananamkan kebiasaan yang benar pada anak dengan usia yang belia tidak mudah. Pengulangan, penekanan, evaluasi harus sering dilakukan sebab anak terutama anak usia sekolah dasar memiliki dunia sendiri yang mengasikkan bagi mereka. Aktifitas motorik yang tinggi menjadikan aktifitas kognitif akademis dapat tertekan, terlupakan, menanamkan kepedulian, motivasi, dan tekad untuk mempunyai kebiasaan yang benar perlu dilakukan secara kontinyu, dengan sistematika proses yang panjang, konsisten dan berulang. Metode latihan sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang telah nyata diterima. Selain itu metode juga dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan latihan tentang sesuatu yang dipelajari. Dengan melakukan secara praktis pengetahuan tersebut dapat disempurnakan dan dikembangkan. Dengan demikian metode latihan bukan hanya sekedar melaksanakan latihan secara membabi buta, bukan hanya asal mengulang, tetapi melaksanakan latihan dengan pengertian yang mempunyai tujuan tertentu. Metode drill/ latihan siap ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan cara melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. Adapun pengertian lain (Winarno Surachmad, 1979: 76) dimaksudkan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan latihan dari apa yang telah dipelajari, karena hanya dengan melakukannya secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan. Metode ini berasal dari metode pengajaran Herbart, yaitu metode assosiasi dan ulangan tanggapan, yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pelajaran pada siswa. Pelaksanaannya secara mekanis untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran dan kecakapan, sehingga menimbulkan verbalisme pengetahuan siswa, kebiasaan menghafal secara mekanis tanpa pengertian. Dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, materi yang bisa diajarkan dengan metode ini di antaranya adalah materi yang bersifat pembiasaan, seperti ibadah shalat, mengkafani jenazah, baca tulis al-Qur’an, dan lain-lain. Di dalam Al-Qur’an sendiri ada pemakaian kata qur’an “dalam arti demikian sebagaimana tersebut dalam surah Al-Qiyamah ayat 17 dan 18: ُ‫ه‬َ‫ن‬‫آ‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ع‬َْ‫َج‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ُ‫ه‬َ‫ن‬‫آ‬ْ‫ر‬ُ‫ق‬ ْ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ ُ‫اه‬َ‫ن‬ْ‫أ‬َ‫ر‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬, Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Maka apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu”.( Q.S. Al-Qiyamah : 17-18) Al-Qur’an adalah kitab suci yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam menjadi petunjuk kehidupan umat manusia diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril sebagai salah satu rahmat yang tiada taranya bagi alam
  • 4.
    semesta. Al-Qur’an adalahkitab suci yang terakhir diturunkan oleh Allah SWT yang isinya mencakup segala pokok-pokok Syariat yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an, akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkannya dan mengajarkannya sampai merata rahmat-Nya dirasai dan dikecap oleh penghuni alam semesta. Sehubungan dengan cinta Al-Qur’an yang dimaksud di atas orang-orang yang suka membaca dalam pengertian yang sebenarnya membaca yang bukan sembarang membaca. Membaca untuk difahami, dimengerti, dan selanjutnya untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. B. Macam-Macam Metode Drill Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut : a. Teknik Inquiry (kerja kelompok) Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan. b. Teknik Discovery (penemuan) Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi. c. Teknik Micro Teaching Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru. d. Teknik Modul Belajar Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan (kompetensi). e. Teknik Belajar Mandiri Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. C. Karakteristik Metode Drill (Latihan Siap) Secara umum pembelajaran dengan metode latihan siap (drill) biasanya digunakan agar : a. Siswa memperoleh kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat, menggunakan alat/mesin, permainan, dan atletik. b. Siswa memperoleh kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda/ simbol, dsb. c. Assosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol, membaca peta, dsb. d. Dalam mengajarkan kecakapan, dengan metode latihan siap guru harus mengetahui sifat kecakapan itu sendiri, seperti,kecakapan sebagai penyempurnaan dari suatu arti dan bukan
  • 5.
    sebagai hasil prosesmekanis semata-mata. Kecakapan tersebut dikatakan tidak benar, bila hanya menentukan suatu hal yang rutin yang dapat dicapai dengan pengulangan yang tidak menggunakan pikiran, sebab kenyataan bertindak atau berbuat harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Metode drill/ latihan siap tepat digunakan: 1. Apabila pelajaran dimaksudkan untuk pelajaran yang sudah diberikan atau yang sedang berlangsung. 2. Apabila pelajaran dimaksudkan untuk melatih keterampilan siswa dalam mengerjakan sesuatu dan melatih siswa untuk berfikir cepat. 3. Metode ini digunakan untuk memperkuat daya tanggapan siswa terhadap pelajaran. Beberapa keuntungan dalam pemanfaatan metode drill adalah sebagai berikut: 1. Dalam waktu yang relatif singkat, siswa dapat dengan cepat memperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan. 2. Dapat menanamkan pada siswa kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin. 3. Siswa akan memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dipelajarinya. 4. Guru lebih mudah mengontrol dan dapat membedakan antara siswa yang disiplin dan yang kurang memperhatikan saat berlangsungnya pengajaran. 5. Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh akan lebih kokoh tertanam dalam daya ingat siswa, karena seluruh fikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan. 6. Siswa akan dapat menggunakan daya pikirnya dengan bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka siswa akan menjadi lebih teratur dan teliti. Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru, memungkinkan siswa untuk melakukan perbaikan kesalahan saat itu juga. Hal ini dapat menghemat waktu belajar, di samping itu juga siswa langsung mengetahui prestasinya. Di samping keuntungan yang ada, ada beberapa kelemahan dalam metode ini, antara lain: 1. Dapat menghambat inisiatif siswa, di mana inisiatif dan minat siswa yang berbeda dengan petunjuk guru dianggap suatu penyimpangan dan pelanggaran dalam pengajaran yang diberikan. 2. Kurang memperhatikan penyesuaiannya dengan lingkungan. 3. Membentuk kebiasaan-kebiasaan yang kaku dan dalam memberikan stimulus siswa dibiasakan bertindak otomatis. 4. Dapat menimbulkan verbalisme. 5. Latihan yang dilakukan di bawah pengawasan yang ketat dan suasana serius mudah sekali menimbulkan kebosanan. 6. Latihan yang terlampau berat dapat menimbulkan perasaan benci dalam diri siswa, baik terhadap pelajaran maupun terhadap guru. Kelemahan-kelemahan di atas dapat diatasi dengan memperhatikan hal-hal berikut: 1. Guru mengarahkan siswa untuk memberikan respons yang maksimal dan reaksi yang tepat.
  • 6.
    2. Jika terdapatkesulitan pada siswa saat merespons, mereaksi, hendaknya guru segera meneliti sebab-sebab yang menimbulkan kesulitan tersebut. 3. Berikanlah segera penjelasan-penjelasan, baik bagi reaksi atau respons yang betul maupun yang salah. Hal ini perlu dilakukan agar siswa dapat mengevaluasi kemajuan dari latihannya. 4. Usahakan siswa memiliki ketepatan merespons kemudian kecepatan merespon. 5. Istilah-istilah baik berupa kata-kata maupun kalimat-kalimat yang digunakan dalam latihan hendaknya dimengerti oleh siswa. D. Langkah-langkah Metode Drill (Latihan Siap) Langkah-langkah penerapannya metode drill di kelas, latihan dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan belajar, baik secara lisan maupun secara tulisan, dalam bentuk mental maupun fisik. Meskipun metode ini dapat digunakan dalam berbagai kegiatan belajar, tidaklah berarti bahwa setiap metode ini harus dipakai dalam semua aktifitas pembelajaran. Pengggunaan metode ini tergantung pada keperluan-keperluan khusus, seperti pembiasaan mengerjakan sholat, membaca al-Qur’an, dan sejenisnya. Sebelum melaksanakan metode drill, guru harus mempertimbangkan tentang sejauhmana kesiapan guru, siswa dan pendukung lainnya yang terlibat dalam penerapan metode ini. a. Tahap Persiapan Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain : 1) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa 2) Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan 3) Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan 4) Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh b. Tahap Pelaksanaan 1) Langkah pembukaan Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru diantaranya mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan yang akan dilakukan. 2) Langkah pelaksanaan a. Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu b. Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan c. Yakinkan bahwa semua siswa tertarik untuk ikut d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk terus berlatih 3) Langkah mengakhiri Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan motivasi untuk siswa terus melakukan latihan secara berkesinambungan sehingga latihan yang diberikan dapat semakin melekat, terampil dan terbiasa. c. Penutup 1) Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang dilaksanakan oleh siswa. 2) Memberikan latihan penenangan.
  • 7.
    Pengertian yang dibutuhkanuntuk keberhasilan suatu drill adalah: 1. Pengertian terhadap latihan itu sendiri 2. Pengertian terhadap nilai dan hubungan latihan itu dengan keseluruhan rangka pengajaran. Untuk mendapatkan kecakapan dengan metode drill ini, ada dua fase: 1. Fase intregatif, di mana presepsi dari arti dan proses dikembangkan. Pada fase ini belajar kecakapan dikembangkan menurut praktek yang berarti sering melakukan hubungan fungsional dan aktifitas penyelidikan. 2. Fase penyempurnaan atau fase menyelesaikan di mana ketelitian dikembangkan. Dalam fase ini, diperlukan ketelitian dapat dikembangkan menurut praktek yang berulangkali. Jadi, variasi praktek di sini ditujuan untuk mendalami arti bukan ketangkasan sedangkan praktek yang sering ditujukan untuk mempertinggi efensiensi, bukan ntuk mendalami arti. Dalam pelaksanaannya, metode drill terkadang mengalami beberapa hambatan, terutama yang terkait dengan kesiapan guru dan pengkondisian kelas. Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan beberapa prinsip dalam menggunakan metode drill, antara lain: a. Drill hanyalah untuk bahan atau perbuatan yang bersifat otomatis. b. Latihan harus memiliki arti dalam tingkah laku yang lebih luas, yakni: 1. Sebelum melaksanakan latihan, siswa perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan tersebut. 2. Siswa perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupannya kelak. 3. Siswa perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar. c. Latihan-latihan tersebut pertama-tama harus ditekankan pada diagnosa: 1. Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna. 2. Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul respon yang benar akhirnya harus dikenal siswa. 3. Siswa memerlukan waktu untuk variasi latihan, perkembangan arti dan control. 4. Pertama harus bersifat ketetapan, yang kemudian kecepatan, dan akhirnya kedua-duanya harus dimiliki siswa. 5. Masa latihan, harus relatif singkat dan sering dilakukan latihan-latihan lanjutan. 6. Kondisi latihan harus menarik minat siswa, dan dalam suasana menyenangkan. 7. Proses yang bersifat fundamental harus didahulukan dari latihan yang sifatnya sekunder. d. Proses latihan juga harus memperhatikan perbedaan kemampuan individual. Agar pemakaian metode drill dapat efektif, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1. Sebelum pelajaran dimulai, hendaknya diawali terlebih dahulu dengan pemberian pengertian dasar. 2. Metode ini hanya dipakai untuk bahan pelajaran/ kecekatan-kecekatan yang bersifat rutin dan otomatis. 3. Diusahakan hendaknya masa latihan sesingkat mungkin, agar tidak membosankan. 4. Maksud diadakannya latihan ulang harus mempunyai tujuan yang lebih luas. 5. Latihan diatur sedemikian rupa sehingga bersifat menarik dan dapat menimbulkan motivasi belajar siswa.
  • 8.
    BAB III PENUTUP Kesimpulan Metode drillmerupakan metode pembelajaran yang digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Macam-macam metode drill a. Teknik Inquiry (kerja kelompok) b. Teknik Discovery (penemuan) c. Teknik Micro Teaching d. Teknik Modul Belajar e. Teknik Belajar Mandiri Berikut karakteristik metode drill: 1) Siswa memperoleh kecakapan motorik, seperti mengulas, menghafal, membuat alat-alat, menggunakan alat/mesin, permainan, dan atletik. 2) Siswa memperoleh kecakapan mental, seperti melakukan perkalian, menjumlah, mengenal tanda-tanda/ simbol, dsb. 3) Assosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunan simbol, membaca peta, dsb. Langkah-langkah metode drill yakni sebagai berikut: A. Tahap Persiapan Pada tahap ini, ada beberapa hal yang dilakukan, antara lain : 1) Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa 2) Tentukan dengan jelas keterampilan secara spesifik dan berurutan 3) Tentukan rangkaian gerakan atau langkah yang harus dikerjakan untuk menghindari kesalahan 4) Lakukan kegiatan pradrill sebelum menerapkan metode ini secara penuh B. Tahap Pelaksanaan 1) Langkah pembukaan Dalam langkah pembukaan, beberapa hal yang perlu dilaksanakan oleh guru diantaranya mengemukakan tujuan yang harus dicapai, bentuk-bentuk latihan yang akan dilakukan. 2) Langkah pelaksanaan a. Memulai latihan dengan hal-hal yang sederhana dulu b. Ciptakan suasana yang menyenangkan/menyejukkan
  • 9.
    c. Yakinkan bahwasemua siswa tertarik untuk ikut d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk terus berlatih 3) Langkah mengakhiri Apabila latihan sudah selesai, maka guru harus terus memberikan motivasi untuk siswa terus melakukan latihan secara berkesinambungan sehingga latihan yang diberikan dapat semakin melekat, terampil dan terbiasa. C. Tahap Penutup 1) Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang dilaksanakan oleh siswa. 2) Memberikan latihan penenangan. DAFTAR PUSTAKA  Zuhairini & Abdul Ghofur, dkk. 1983. Methodik Pendidikan Agama. Surabaya: Usana Offset Printing  Nasih, Ahmad Munjuin, dkk. 2009. Metode & teknik Pembelajaran PAI. Bandung: Refika Aditama  Usman, Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat Pers