Rihlahku di Tempat Dimana Muslim Menjadi Minoritas
Oleh : Arrinda Luthfiani Ayzzaro’
Sekali lagi aku catat kisah setelan ini, yang nantinya akan menjadi secuil cerita yang bisa
aku ceritakan kepada keluargaku nanti. Disaat fikiranku tak lagi mengingat dan tulisan ini masih
tetap ada, dan menjadi sejarah dan cerita tersendri.
Setelah sekian lama aku tak mengunjungi alam keindahan ciptaan Allah di Pulau Dewata
Bali. Dua tahun dalam lalu yang merajut dialek penuh ujian dan kesabaran. Bersama mereka
yang menyuguhkan sejuta prasangka baik kepada sang pencipta, Allah SWT. "Ya Rabb terima
kasih akan kekuatan dan pemahaman untuk senantiasa mensyukuri nikmat dan retorika hidup
yang telah Engkau gariskan, dan betapa bersyukurnya aku telah kau berikan kenikmatan melihat
hasil ciptaanmu. Semoga suatu saat nanti entah kapan engkau mengizinkan aku berkunjung di
pulau yang penuh dengan cerita ini bersama keluargaku kela’ amiin".
Empat hari berada di pulau dewata terasa cukup pendek. Oleh karena itu, saya rekan-
rekan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menimati sejarah dan esetika alam ciptaan
Allah dimana tempat tersebut sangat minoritas umat muslim.
“bismillahhirrahmanirrahim semoga Allah memberikan keslamatan perjalanan saya empat hari
di kawasan yang penduduknya minoritas muslim”
Begitulah kalimat keluar dari mulutku ketika hendak berangkat menuju madrasah
sebelum pemberangkatan di pulau Dewata. saya dan rekan-rekan memulai perjalanan pukul
09.30 WIB sebelum kami menuju ke dalam bus kami di berikan pengarahan oleh Hadi Prianto
selaku pembina sekaligus guru pendamping kami, pengarahan itu di maksudkan agar siswa lebih
faham dan mengerti. Disamping itu, kami juga di bimbing, cara mengenali informasi untuk
mengetahui Sejarah, Budaya, Peradaban Agama. Setelah di beri pengarahan oleh Beliaui,
kemudian di lanjutkan sambutan dari beberapa guru yang lainnya. Satu persatu kami menaiki
bus. Setelah seluruh rombongan siap, dan semua siswa sudah menaiki busnya masing-masing,
kemudian kami bersama-sama ber do’a yang di pandu oleh salah satu guru mata pelajaran
agama yaitu Mashudi, memohon agar perjalanan kami tiada halangan, sehat selalu, sampai
tujuan, dan sampai di rumah dalam ke adaan sehat wal afiat, dan mendapatkan pelajaran yang di
peroleh dari kegiatan Rihlah ini.
Setelah berdo’a, bersama bus berlaju dengan perlahan, rasa bahagia yang kami rasakan karena
bayangkan kami semua sudah membayangkan indahnya pulau Dewata yang menjadi primadona
Indonesia di mata dunia itu. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, kami melihat
keagungan estetika alam waduk Karang kates yang tempatnya berbatasan antara kabupaten Blitar
dengan Malang. Alhamdulillah selama perjalanan cuaca sangat mendukung dan taka dan
halangan. Tepat pukul 16.30 WIB kami serombongan berhenti sejenak di masjid daerah pasuruan
untuk melaksanakankewajiban menunaikan sholat Asar. Usai menunaikan ibadah sholat Asar,
kami melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kami melihat keindahan senja di gunung Bromo.
Dalam perjalanan saja sudah cukup banyak kami melihat keindahan alam seperti, pegunungan,
kebun the, air terjun, lalu bagaimana dengan keindahan pulau Dewata.
Setelah kurang lebih dua belas jam perjalanan, saya tiba di penyebrangan Ketapang.
Kami serombongan diwajibkan turun dari kendaraan untuk menaiki kapal laut yang berukuran
besar yang tidak pernah kami lihat sebelumnya.
Berlalu lalang kesabaran telah kami lalui. Tepat pukul 11.30 WITA saya dan rekan-
rekan menginjakkan kaki di pulau Bali. Objek wisata di Bali menawarkan keindahan alam untuk
melihat sunset, nah karena pesona yang ditawarkan ini menjadikannya banyak dikunjungi pada
waktu sore hari, apalagi waktu sore hari kawasan ini juga dipentaskan tari kecak pada sore hari
dengan latar belakang sunset. Tanah lot terletak di bagian wilayah Desa Beraban Kecamatan
Kediri Kabupaten Tabanan, ditempuh sekitar 45 menit dari kawasan Kuta. Kawasan ini ada dua
pura, keduanya terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu karang, apabila
keadaan air pasang pura ini akan kelihatan dikelilingi air laut sehingga kita hanya bisa
menyaksikan dari jarak agak jauh. Keberadaan pura satunya lagi, berada sebelah utara Pura
Tanah Lot, terletak di atas batu karang juga menjorok ke laut atas tebing. Keduanya akan
memberikan pemandangan menakjubkan, apalagi saat sang mentari tenggelam. Pura Tanah Lot
ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan. Pura Tanah Lot terletak kawasan tengah pantai
tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat indah untuk
melihat sunset, kedatangan para pelancong dengan tujuan pelesir, hampir bisa dipastikan
kedatangan ke sini adalah dengan tujuan melihat melihat keindahan matahari tenggelam
merupakan berkah bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Pura Tanah Lot juga terdapat air suci, tepatnya di bawah pura. Air suci ini diyakini bisa
mendatangkan rezeki bagi yang meminumnya. Sementara, di seberang Pura Tanah Lot terdapat
gua tempat mendekamnya ular yang sangat disucikan masyarakat Bali. Ular ini sangat besar dan
berdiam diri di sebuah lubang yang ada di gua. Para wisatawan pun bisa melihat langsung atau
memegang langsung ular ini. Untuk memegang ular ini, para wisatawan dikenai biaya sukarela
untuk perawatan. Masyarakat Bali juga percaya, ular suci ini sering berpindah-pindah ke pura
yang ada di seberangnya. Biasanya, ular suci pergi ke Pura Tanah Lot di malam hari untuk
menjaga pura. Tidak sembarang orang bisa naik ke atas Pura Tanah Lot. Hanya pada ritual-ritual
tertentu orang boleh naik ke pura. Kalaupun tidak ada ritual atau upacara, harus naik atas seizin
pemangku adat.
Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa.
Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan
ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Sejarah pembangunan
pura ini erat sekali hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di tempat
ini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam, dalam perjalanannya menuju Badung.
Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya
mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh
Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum
meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah
pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya
menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini
termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam
berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda
menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha. Pura
Kahyangan ini lebih dikenal dengan nama “Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan
jagad. Tentang keindahan di sekitar tempat suci ini sangat terkenal di seluruh nusantara, malahan
tidak mustahil sampai ke seluruh dunia.
Tak jauh dari Pura Tanah Lot, terdapat makam penyebar agama islam yakni makam
Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkuningrat Keramat Pantai Seseh Lokasi ini merupakan
objek makam yang pertama kali berada di pulau Bali. Makam ini terletak di kuta atau di samping
pantai sceseh. Beliau merupakan tokoh penyebar agama islam di pulau Bali. Setiap hari makam
ini sangat ramai, banyak pengunjung mereka datang untuk berziaroh. Sebelum datang di lokasi
pemakaman peziaroh di wajibkan memakai slendang yang telah disediakan oleh petugas. Maka
tidak heran kalau makam ini selalu ramai di datangi paziarah atau pengunjung.
Makam Beliau terletak di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali.
Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar. Nama sebenarnya adalah Raden Amangkuningrat, yang
terkenal dengan nama Keramat Pantai Seseh. Ia merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama
Hindu dan ibunya berasal dari Blambangan (Banyu Wangi Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu
kecil, beliau sudah berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan.
Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahandanya itu.
Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk
mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan,
namun akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali dengan diiringi
oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka yang
berasal dari ayahandanya dari Kerajaan Mengwi.
Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman yang di sebabkan
kecemburuan dari pihak keluarga kerajaan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke
Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam
perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok
orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban
berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh
dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah
keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam
seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini
dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris
pusaka dimasukkan kembali dalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat
bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.
Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Pangeran Mas Sepuh ialah kemampuan
berjalan diatas permukaan air. Kesaktian yang luar biasa yang dimiliki Paneran Mas Sepuh
ternyata memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi. Bahkan suatu
ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan
keluarga Raja) di Mengwi. Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan
taman indahnya. Tanpa diduga, saat Pangeran Mas Sepuh berjalan diatas air danau dan bersila
diatas bunga teratai, terlihat oleh prajurit kerajaan. Tentu apa yang disaksikan prajurit kerajaan
tersebut sungguh menggegerkan seluruh Istana. Selain karomah tersebut, Panggran Mas Sepuh
juga dikenal mampu mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan, tak sedikit ‘dukun’ yang
mencari ilmu untuk belajar cara pengobatan. Namun, yang paling mencengangkan serta sempat
disaksikan pasukan kerajaan Mengwi ialah saat Pangeran Mas Sepuh dalam perjalanan menuju
Bali dari Kerajaan Blambangan (Jawa) terlihat hanya berjalan diatas air laut. Pangeran Mas
Sepuh tampak tenang berjalan diantara deburan serta gulungan ombak.
Tak pernah berlalu segala pelajaran dan hikmah yang kami pahami dari-Mu, yang tengah
meneguhkan sebuah dedikasi, yang mengantarkan sebuah tarbiyah suci. Bersama mereka yang
engkau kuatkan imannya. Telah terpatri sejenak doa kepada para auliya'-Mu dan sejuta makna
dan perjalanan hidup hamba-Mu yang sholeh saat melakukan penghambaan yang sempurna di
dalam kefanaan ini. Rihlah ini mengajarkanku mengenal sejarah aulia’ yang di makamkan
dikawasan umat beragama hindu.

RIHLAHKU

  • 1.
    Rihlahku di TempatDimana Muslim Menjadi Minoritas Oleh : Arrinda Luthfiani Ayzzaro’ Sekali lagi aku catat kisah setelan ini, yang nantinya akan menjadi secuil cerita yang bisa aku ceritakan kepada keluargaku nanti. Disaat fikiranku tak lagi mengingat dan tulisan ini masih tetap ada, dan menjadi sejarah dan cerita tersendri. Setelah sekian lama aku tak mengunjungi alam keindahan ciptaan Allah di Pulau Dewata Bali. Dua tahun dalam lalu yang merajut dialek penuh ujian dan kesabaran. Bersama mereka yang menyuguhkan sejuta prasangka baik kepada sang pencipta, Allah SWT. "Ya Rabb terima kasih akan kekuatan dan pemahaman untuk senantiasa mensyukuri nikmat dan retorika hidup yang telah Engkau gariskan, dan betapa bersyukurnya aku telah kau berikan kenikmatan melihat hasil ciptaanmu. Semoga suatu saat nanti entah kapan engkau mengizinkan aku berkunjung di pulau yang penuh dengan cerita ini bersama keluargaku kela’ amiin". Empat hari berada di pulau dewata terasa cukup pendek. Oleh karena itu, saya rekan- rekan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menimati sejarah dan esetika alam ciptaan Allah dimana tempat tersebut sangat minoritas umat muslim. “bismillahhirrahmanirrahim semoga Allah memberikan keslamatan perjalanan saya empat hari di kawasan yang penduduknya minoritas muslim” Begitulah kalimat keluar dari mulutku ketika hendak berangkat menuju madrasah sebelum pemberangkatan di pulau Dewata. saya dan rekan-rekan memulai perjalanan pukul 09.30 WIB sebelum kami menuju ke dalam bus kami di berikan pengarahan oleh Hadi Prianto selaku pembina sekaligus guru pendamping kami, pengarahan itu di maksudkan agar siswa lebih faham dan mengerti. Disamping itu, kami juga di bimbing, cara mengenali informasi untuk mengetahui Sejarah, Budaya, Peradaban Agama. Setelah di beri pengarahan oleh Beliaui, kemudian di lanjutkan sambutan dari beberapa guru yang lainnya. Satu persatu kami menaiki bus. Setelah seluruh rombongan siap, dan semua siswa sudah menaiki busnya masing-masing, kemudian kami bersama-sama ber do’a yang di pandu oleh salah satu guru mata pelajaran agama yaitu Mashudi, memohon agar perjalanan kami tiada halangan, sehat selalu, sampai tujuan, dan sampai di rumah dalam ke adaan sehat wal afiat, dan mendapatkan pelajaran yang di peroleh dari kegiatan Rihlah ini. Setelah berdo’a, bersama bus berlaju dengan perlahan, rasa bahagia yang kami rasakan karena bayangkan kami semua sudah membayangkan indahnya pulau Dewata yang menjadi primadona Indonesia di mata dunia itu. Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, kami melihat keagungan estetika alam waduk Karang kates yang tempatnya berbatasan antara kabupaten Blitar dengan Malang. Alhamdulillah selama perjalanan cuaca sangat mendukung dan taka dan halangan. Tepat pukul 16.30 WIB kami serombongan berhenti sejenak di masjid daerah pasuruan untuk melaksanakankewajiban menunaikan sholat Asar. Usai menunaikan ibadah sholat Asar,
  • 2.
    kami melanjutkan perjalanan.Dalam perjalanan kami melihat keindahan senja di gunung Bromo. Dalam perjalanan saja sudah cukup banyak kami melihat keindahan alam seperti, pegunungan, kebun the, air terjun, lalu bagaimana dengan keindahan pulau Dewata. Setelah kurang lebih dua belas jam perjalanan, saya tiba di penyebrangan Ketapang. Kami serombongan diwajibkan turun dari kendaraan untuk menaiki kapal laut yang berukuran besar yang tidak pernah kami lihat sebelumnya. Berlalu lalang kesabaran telah kami lalui. Tepat pukul 11.30 WITA saya dan rekan- rekan menginjakkan kaki di pulau Bali. Objek wisata di Bali menawarkan keindahan alam untuk melihat sunset, nah karena pesona yang ditawarkan ini menjadikannya banyak dikunjungi pada waktu sore hari, apalagi waktu sore hari kawasan ini juga dipentaskan tari kecak pada sore hari dengan latar belakang sunset. Tanah lot terletak di bagian wilayah Desa Beraban Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan, ditempuh sekitar 45 menit dari kawasan Kuta. Kawasan ini ada dua pura, keduanya terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu karang, apabila keadaan air pasang pura ini akan kelihatan dikelilingi air laut sehingga kita hanya bisa menyaksikan dari jarak agak jauh. Keberadaan pura satunya lagi, berada sebelah utara Pura Tanah Lot, terletak di atas batu karang juga menjorok ke laut atas tebing. Keduanya akan memberikan pemandangan menakjubkan, apalagi saat sang mentari tenggelam. Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan. Pura Tanah Lot terletak kawasan tengah pantai tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat indah untuk melihat sunset, kedatangan para pelancong dengan tujuan pelesir, hampir bisa dipastikan kedatangan ke sini adalah dengan tujuan melihat melihat keindahan matahari tenggelam merupakan berkah bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Pura Tanah Lot juga terdapat air suci, tepatnya di bawah pura. Air suci ini diyakini bisa mendatangkan rezeki bagi yang meminumnya. Sementara, di seberang Pura Tanah Lot terdapat gua tempat mendekamnya ular yang sangat disucikan masyarakat Bali. Ular ini sangat besar dan berdiam diri di sebuah lubang yang ada di gua. Para wisatawan pun bisa melihat langsung atau memegang langsung ular ini. Untuk memegang ular ini, para wisatawan dikenai biaya sukarela untuk perawatan. Masyarakat Bali juga percaya, ular suci ini sering berpindah-pindah ke pura yang ada di seberangnya. Biasanya, ular suci pergi ke Pura Tanah Lot di malam hari untuk menjaga pura. Tidak sembarang orang bisa naik ke atas Pura Tanah Lot. Hanya pada ritual-ritual tertentu orang boleh naik ke pura. Kalaupun tidak ada ritual atau upacara, harus naik atas seizin pemangku adat. Menurut legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia adalah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16. Sejarah pembangunan pura ini erat sekali hubungannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Di tempat ini Danghyang Nirartha pernah menginap satu malam, dalam perjalanannya menuju Badung. Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya
  • 3.
    mulai meninggalkannya danmengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada sampai sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben 'akhirnya' menjadi pengikut Danghyang Nirartha. Pura Kahyangan ini lebih dikenal dengan nama “Pura Tanah Lot” sebagai salah satu penyungsungan jagad. Tentang keindahan di sekitar tempat suci ini sangat terkenal di seluruh nusantara, malahan tidak mustahil sampai ke seluruh dunia. Tak jauh dari Pura Tanah Lot, terdapat makam penyebar agama islam yakni makam Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkuningrat Keramat Pantai Seseh Lokasi ini merupakan objek makam yang pertama kali berada di pulau Bali. Makam ini terletak di kuta atau di samping pantai sceseh. Beliau merupakan tokoh penyebar agama islam di pulau Bali. Setiap hari makam ini sangat ramai, banyak pengunjung mereka datang untuk berziaroh. Sebelum datang di lokasi pemakaman peziaroh di wajibkan memakai slendang yang telah disediakan oleh petugas. Maka tidak heran kalau makam ini selalu ramai di datangi paziarah atau pengunjung. Makam Beliau terletak di pinggir Pantai Seseh, Mengwi, Tabanan, Bali. Pangeran Mas Sepuh merupakan gelar. Nama sebenarnya adalah Raden Amangkuningrat, yang terkenal dengan nama Keramat Pantai Seseh. Ia merupakan Putra Raja Mengwi I yang beragama Hindu dan ibunya berasal dari Blambangan (Banyu Wangi Jatim) yang beragama Islam. Sewaktu kecil, beliau sudah berpisah dengan ayahandanya dan diasuh oleh ibundanya di Blambangan. Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahandanya itu. Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan, namun akhirnya diizinkan juga Pangeran Mas Sepuh untuk berangkat ke Bali dengan diiringi oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka yang berasal dari ayahandanya dari Kerajaan Mengwi. Namun, setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah kesalahpahaman yang di sebabkan kecemburuan dari pihak keluarga kerajaan. Akhirnya Pangeran Mas Sepuh beranjak pulang ke Blambangan untuk memberitahu ibunya tentang peristiwa yang telah terjadi. Namun dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang sekelompok orang bersenjata yang tak dikenal, sehingga pertempuran tak dapat dihindari lagi. Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas, seketika itu ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban, kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh diam seribu bahasa. Akhirnya diketahui kalau penyerang itu masih ada hubungan kekeluargaan, hal ini dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan bathiniyah Pangeran Mas Sepuh. Akhirnya keris
  • 4.
    pusaka dimasukkan kembalidalam karangkanya, dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak dan kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh. Salah satu karomah yang diberikan Allah kepada Pangeran Mas Sepuh ialah kemampuan berjalan diatas permukaan air. Kesaktian yang luar biasa yang dimiliki Paneran Mas Sepuh ternyata memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi. Bahkan suatu ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan keluarga Raja) di Mengwi. Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan taman indahnya. Tanpa diduga, saat Pangeran Mas Sepuh berjalan diatas air danau dan bersila diatas bunga teratai, terlihat oleh prajurit kerajaan. Tentu apa yang disaksikan prajurit kerajaan tersebut sungguh menggegerkan seluruh Istana. Selain karomah tersebut, Panggran Mas Sepuh juga dikenal mampu mengobati berbagai macam penyakit. Bahkan, tak sedikit ‘dukun’ yang mencari ilmu untuk belajar cara pengobatan. Namun, yang paling mencengangkan serta sempat disaksikan pasukan kerajaan Mengwi ialah saat Pangeran Mas Sepuh dalam perjalanan menuju Bali dari Kerajaan Blambangan (Jawa) terlihat hanya berjalan diatas air laut. Pangeran Mas Sepuh tampak tenang berjalan diantara deburan serta gulungan ombak. Tak pernah berlalu segala pelajaran dan hikmah yang kami pahami dari-Mu, yang tengah meneguhkan sebuah dedikasi, yang mengantarkan sebuah tarbiyah suci. Bersama mereka yang engkau kuatkan imannya. Telah terpatri sejenak doa kepada para auliya'-Mu dan sejuta makna dan perjalanan hidup hamba-Mu yang sholeh saat melakukan penghambaan yang sempurna di dalam kefanaan ini. Rihlah ini mengajarkanku mengenal sejarah aulia’ yang di makamkan dikawasan umat beragama hindu.