Tugas Akhir TIK


                                   RESUME KULIAH
                     TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKSI
                                  SEMESTER PENDEK
                     (Dosen Pengampu : Dr. Robinson Situmorang)




   A.   Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang
        Pendidikan


        Sejarah awal TIK bermula dari tulisan, gambar, dan simbol-simbol pictograf yang
   digunakan oleh bangsa Sumeria. Dari simbol,gambar dan tulisan tersebut mereka bisa
   menterjemahkan. Kemudian berkembang sampai pada adanya kentongan dan mereka
   bisa menterjemahkan berbagai macam bunyi kentongan.Perkembangan semakin hari
   semakin pesat sampai pada saat ditemukannya radio, tv dan telepon.
        Teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK
   hingga saat ini yaitu dengan ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell pada
   tahun 1875.    Temuan   ini   kemudian   berkembang   menjadi   pengadaan    jaringan
   komunikasi dengan kabelyang meliputi seluruh daratan Amerika         bahkan kemudian
   diikuti pemasangan kabel komunikasitrans-Atlantik Jaringan telepon ini merupakan
   infrastruktur pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Gagasan yang
   ingin diwujudkan oleh teknologi adalah agar setiap pribadi dapat berkembang
   semaksimal mungkin dengan jalan memanfaatkan teknologi.
        Program teknologi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan berawal pada tahun
   1952 pada saat jawatan pendidikan masyarakat di kantornya di jalan Cilacap
   mengadakan siaran radio pengajaran yang ditujukan kepada para pelajar pejuang.
   Kemudian disusul dengan dibentuknya Technology Aids Centre (TAC) dan Scince
   Technology Centre (STC) yang berpusat di Bandung. Kemudian pada tahun 1958 di
   PTPG Unpad dibentuk suatu unit yang disebut Alat Peraga Pendidikan.
Sejarah perkembangan dan pemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya
dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perangkat keras TIK,
khususnya komputer.
1.   Fase pertama (akhir 1970an – awal 1980an) adalah faseprogramming, drill and
     practice. Fase ini ditandai dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang
     menyajikan latihan-latihan praktis dan singkat, khususnya untuk mata pelajaran
     matematika dan bahasa. Latihan-latihan ini hanya dapat menstimulasi memori
     jangka pendek.
2.   Fase kedua (akhir 1980an – awal 1990an) adalah fase komputer based training
     (CBT) with multimedia (latihan berbasis komputer dengan multimedia). Fase ini
     adalah era keemasan CD-ROM dan komputer multimedia. Penggunaan CD-ROM
     dan komputer multimedia ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap
     proses pembelajaran, karena kemampuannya menyajikan kombinasi teks, gambar,
     animasi, dan video. Konsep pedagogis yang mendasari kombinasi kemampuan ini
     adalah bahwa manusia memiliki perbedaan. Sebagian bisa belajar dengan baik
     apabila mempergunakan indra penglihatan, seperti menonton film/animasi,
     sebagian lainnya mungkin lebih baik apabila mendengarkan atau membaca.
3.   Fase ketiga (awal 1990an) adalah fase Internet-based training (IBT) (latihan
     berbasis internet. Pada fase ini, internet digunakan sebagai media pembelajaran.
     Hanya saja, pada saat itu, masih terbatas pada penyajian teks dan gambar.
     Penggunaan animasi, video dan audio masih sebatas ujicoba, sehingga dirasakan
     pemanfaatannya belum maksimal untuk dapat menfasilitasi pembelajaran.
4. Fase keempat (akhir 1990an – awal 2000an) adalah fase e-learning yang
     merupakan fase kematangan pembelajaran berbasis internet. Sejak itu situs web
     yang menawarkan e-learningsemakin bertambah, baik berupa tawaran kursus
     dalam bentuk e-learning maupun paket LMS (learning management system).
     Bahkan saat ini sudah cukup banyak paket seperti itu ditawarkan secara gratis
     dalam bentuk open source. Konsep pedagogik yang mendasari adalah bahwa
     pembelajaran membutuhkan interaksi sosial antara siswa dan siswa dan antara
     siswa dan guru. Dengan perangkat lunak LMS, siswa dapat bertanya kepada
temannya atau kepada guru apabila dia tidak memahami materi yang telah
     dibacanya.
5.   Fase kelima (akhir 2000) adalah fase social software + free and open content.
     Fase ini ditandai dengan banyak bermunculannya perangkat lunak pembelajaran
     dan konten pembelajaran gratis yang mudah diakses baik oleh guru maupun siswa,
     yang selanjutnya dapat diedit dan dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Konsep
     pedagogik yang mendasari fase ini adalah teori kontstruktivis sosial. Dalam konteks
     ini, pembelajaran melalui komputer terjadi tidak hanya menerima materi dari
     internet saja misalnya, tapi dimungkinkan dengan membagi gagasan dan pendapat.




B.    Penerapan TIK Dalam Pendidikan


a. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran
     Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara
umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai
tambah. Proses tersebut menghasilkan susuatu produk, dan untuk itu sering kali
diperlukan adanya pelatihan atau sarana. Produk yang dihasilkan tidak terpisah dari
produk lain yang telah ada, pengertian umum tentang teknologi, alat atau sarana yang
khusnya diperlukan tidak menjadi unsur yang mutlak harus ada, karena atau sarana itu
telah ada sebelumnya
      Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data,
termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data
dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi
yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis,
dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan
keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data,
sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya
sesuai dengan kebutuhan. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar
dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah
mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan,
hobi, rekreasi, dan rohani. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti
fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet.
     Melalui TIK, sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan
pribadi atau kelompok yang lainnya sudah tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu,
negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat
bertukar pikiran antar sesama kita. Perkembangan TIK memicu suatu cara baru dalam
kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini
dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan
secara elektronik. Alangkah wajar bila sekarang ini sedang semarak dengan berbagai
huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education,
e-learning, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan lainnya
yang berbasis TIK.
     Dari semua itu ada yang perlu mendapatkan perhatian serius yaitu e-education,
dimana kita mempunyai kewajiban untuk mengembangkan TIK dalam proses
pembelajaran yang tidak hanya mengajak peserta didik untuk mencari informasi, tetapi
juga menciptakan informasi. Mampu saling berkomunikasi dengan menggunakan
berbagai aplikasi TIK yang membuat dirinya mampu saling berbagi tentang apa yang
disukainya dan apa yang dikuasainya. Membuat mereka mampu memanfaatkan TIK
dengan baik.
     Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on
Education for the Twenty         First   Century” merekomendasikan pendidikan       yang
berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses
pembelajaran, yaitu:Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan),Learning
to do (belajar untuk menguasai keterampilan ),Learning to be (belajar untuk
mengembangkan        diri),   danLearning   to   live   together (belajar   untuk   hidup
bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi
informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan
menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.
     Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber
teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan
menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu
satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet.
Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet
dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria
yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui,
menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman
sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet
yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang
pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
      Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang
berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-
tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment),
Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-
Cemterted     Classroom),    Teleconferencing,    WBT     (Web-Based     Training), dan
sebagainya. Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga
memanfaatkan e-laboratory dan e-library.      Adanya     laboratorium     virtual (virtual
lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium
atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media
komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai
sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber
belajar tersebut.
      Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari
pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka.
Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia
pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran.
      Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut
UNESCO, yaitu:
1.   Emerging - baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan
2.   Applying - baru mempelajari TIK (learning tom use ICT)
3.   Integrating - belajar melalui dan atau menggunakan TIK(using ICT to learn)
4.   Transforming - dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi
     pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.
Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-
karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh
untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai
informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan
wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya
kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali
diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak
lain.
        Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh
guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain.
a. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik
b. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks
c. Mempercepat proses yang lama
d. Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi
e. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan
         Kurikulum TIK yang sekarang ini telah dibuat oleh pusat kurikulum yang
bekerjasama dengan Badan standar Nasional (BSNP) adalah kurikulum standar yang
terdiri dari SK (Standar Kompetensi), dan KD (Kompetensi Dasar) yang masih harus
dikembangkan oleh guru itu sendiri dalam mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi
sekolah. Guru TIK dituntut untuk membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan SK dan
KD dengan berbagai ragam pengayaan yang dimiliki oleh guru di daerahnya masing-
masing. Sayangnya, banyak guru yang belum siap membuat kurikulumnya sendiri dan
masih banyak guru yangcopy and paste dalam membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). Padahal dalam KTSP guru diberikan kebebasan untuk
berkreativitas dalam memberikan materi pengayaan kepada para peserta didiknya.




b.PenerapanTeknologi        Informasi    dan    Komunikasi         dalam   Pembelajaran
    Pendidikan Bahasa
        Keberadaan teknologi informasi dan komunikasi dinilai sangat membantu manusia
di setiap waktunya sebagai sumber informasi ataupun alat komunikasi. Begitu juga
dalam dunia pendidikan teknologi informasi dan komunikasi sudah mulai banyak
digunakan, tidak hanya sebagai media informasi dan alat komunikasi tapi juga sebagai
media pembelajaran. Banyak ragam teknologi informasi dan komunikasi yang dianggap
dapat   mendukung     proses   pembelajaran    diantaranya   OHP,   CD-Room,     LCD,
Internet(web,email, komputer interaktif) dan multimedia. Internet menjadi kajian paling
menarik sebagai media pendukung proses pembelajaran.
     Mata kuliah bahasa Inggris merupakan mata kuliah yang cukup banyak diminati
oleh mahasiswa perguruan tinggi. Mungkin hal ini dikarenakan bahasa inggris
merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu setiap perguruan tinggi mewajibkan
mahasiswa untuk mengambil mata kuliah tersebut untuk setiap fakultas maupun
jurusan tertentu.
     Hal ini memberikan dorongan kepada hampir kepada setiap perguruan tinggi
untuk mengembangkan konsep pembelajaran jarak jauh yang lebih dikenal dengan
“distance learning” menggunakan world wide web (www) untuk mendistribusikan
informasi yang berkaitan dengan pembelajaran. Sistem ini juga membentuk suatu
komunitas dimana terjadi proses transfer dan berbagi pengetahuan baik dalam suatu
komunitas maupun antar komunitas sehingga akan mempercepat terbentuknya
masyarakat yang “learning society”.




C.   Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Penyelenggaraan
     PendidikanJarak Jauh


a. Hakekat Belajar Jarak Jauh (Distance Learning)
     Pada hakikatnya pendidikan jarak jauh mengandung konsep dasar yang sama,
yaitu pendidikan yang berlansung sepanjang hayat yang berorientasi pada kepentingan,
kondisi dan karasteristik peserta didik dengan mengunakan pola aneka sumber belaja.
Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan terbuka dengan program belajar yang
terstuktir relative ketat dan pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau
kererpisahan antara pendidik dengan peserta didik.
Pendidikan yang bersifat terbuka secara konseptual memberikan kesempatan
kepada siapa saja, pada usia berapa saja, untuk memperoleh pendidikan apa saja, dari
apa dan siapa saja, kapan saja diperlukan dimana saja, dengan cara apa saja yang
dimungkinkan serta dengan berbagai pola yang saling melengkapai. Peserta didik
dapat memperoleh pendidikan dirumah (home-based education) dibawah bimbingan
dan binaan orang tuah, atau pada lembaga pendidikan nonformal seperti kelompok
bermain, atau pada lembaga pendidikan formal termasuk sekolah.
      Greenberg (1998) mendefinisikan Belajar jarak jauh sebagai "sebuah rencana
pengajaran/pengalaman belajar yang menggunakan spektrum yang luas dari teknologi
untuk menjangkau peserta didik di kejauhan dan dirancang untuk mendorong interaksi
peserta didik belajar dan sertifikasi. Ada banyak definisi yang menjelaskan konsep
pendidikan jarak jauh. Salah satu diantaranya adalah definisi terbaru (2006) menurut
Simonson, Smaldino, Albright & Zvacek. Mereka mendefinisikan pendidikan jarak jauh
yaitu “distance education is defined as institution-based formal education where the
learning group is separated, and where interactive telecommunications systems are
used to connect learners, resources, and instructors”.
      Definisi di atas menunjukkan bahwa pendidikan jarak jauh memilki ciri sebagai
berikut:
a. adanya lembaga formal yang menyelenggarakan program penididkan.
b. kelompok peserta belajar terpisah dengan pengajar (isntruktur, tutor, dosen, guru,
     widyaiswara.
c.   Digunakannya sistem telekomunikasi untuk menghubungkan peserta belajar,
     sumber-sumber belajar, dan pengajar.


      Arti sebenarnya dari Belajar Jarak jauh (BJJ) adalah antara siswa dan penyaji
materi terpisah oleh jarak, sehingga perlu ada upaya tertentu untuk mengatasinya. Bagi
Malone (1997), BJJ berlangsung ketika antara penyaji dan peserta didik terpisah karena
jarak dan peserta didik mempelajari materi ajar yang sudah dirancang khusus untuk itu.
Malone menyatakan bahwa BJJ sudah berevolusi, diantaranya adalah:
1. Generasi pertama BJJ adalah correspondence learning. Konsep mengenai
     pendidikan jarak jauh sendiri telah ada sejak tahun 1900-an dengan istilah sekolah
korespondensi atau pendidikan korespondensi. Pada pendidikan korespendensi,
     Siswa yang berminat melalukan proses belajar dengan melakukan surat-menyurat
     dengan guru atau lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya. Guru dan
     lembaga pendidikan bersifat sebagai fasilitator dan siswa dituntut untuk bisa belajar
     mandiri. Materi pelajaran dan ujian dikirimkan memalaui pos/surat. Pendidikan ini
     adalah alternatif bagi para siswa yang tidak mempunyai kesempatan untuk
     mengikuti pendidikan tatap muka secara klasik di kelas.
2.   Generasi kedua BJJ ditandai dengan penggunaan media audiovisual dan program
     pelatihan berasas komputer (computer based training or CBT), berikut program
     tutorial terjadwal.
3. Generasi ketiga BJJ sudah menggunakan jasa telekomunikasi . sudah tentu produk
     teknologi canggih seperti mesin faks, teleconference (melalui satelit), atau email
     sudah    digunakan.   Mengatasi    masalah    komunikasi    belajar   seperti delayed
     feedbackmerupakan alasan penggunaan jasa telekomunikasi. Akhir-akhir ini,
     semakin jelas terlihat penggunaan jasa satelit mendorong pengembangan model e-
     learning.
      Sistem belajar jarak jauh sendiri menuntut kemandirian dari para peserta didiknya.
Kemandirian bukan berarti siswa belajar menyendiri tetapi kemandirian disini merujuk
pada bagaimana siswa dapat merencanakan program pendidikannya, mengatur proses
belajar, memanfaatkan beragam sumber belajar (termasuk referensi dari teman sesama
siswa), serta mengevaluasi hasil belajar dan mengambil tindak lanjut yang diperlukan
sesuai hasil evaluasi. Tanpa kemandirian, sangat sulit bagi siswa pada sistem belajar
jarak jauh untuk menyelesaikan studi tepat waktu.
      Meskipun sistem pendidikan jarak jauh mensyaratkan kemandirian siswa yang
tidak mudah untuk dipenuhi, sistem ini memiliki beberapa karakteristik yang
menguntungkan dibandingkan dengan pendidikan tatap muka, sebagai berikut:
1.    Fleksibel. Siswa pada sistem belajar jarak jauh dapat belajar tanpa pembatasan
      usia, tanpa meninggalkan rutinitas pekerjaan dan terikat waktu belajar secara
      kelembagaan.
2.    Efesiensi biaya pendidikan. Biaya pendidikan relatif lebih murah dibandingkan
      dengan pendidikan tatap muka.
3.   Bahan ajar yang dirancang untuk belajar mandiri. Siswa memperoleh kemudahan
     dalam mempelajari materi setiap mata kuliah karena bahan ajar disajikan dalam
     format yang dikembangkan khusus untuk dapat dipelajari secara mandiri.
4.   Dukungan suplemen dari media pembelajaran lainnya. Setiap bahan ajar pada
     umumnya dilengkapi dengan video dan audio serta dilengkapi akses jaringan
     internet untuk bantuan belajar.


b.   Kendala-kendala Distance Learning
     Tidak diragukan lagi belajar jarak jauh (distance learning) merupakan alternatif
pendidikan yang memiliki prospek yang baik dalam perkembangan di masa yang akan
datang. Apalagi bila mengingat kondisi Indonesia yang memiliki banyak pulau yang
tersebar maka peluang terselenggaranya distance learning semakin terbuka lebar.
     Namun masih banyak kendala yang dihadapi dalam menerapkan program belajar
jarak jauh ini. Kendala-kendala tersebut terutama berkaitan dengan penggunaan
internet baik dari segi fasilitas maupun ketersediaan sumber daya manusia dan sumber
informasi. Beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu :
1.   Rendahnya konsistensi peserta didik. Rendahnya pengawasan dan tingkat
     kemandirian peserta didik dapat menyebabkan konsistensi peserta didik mengikuti
     pembelajaran juga rendah. Akibatnya banyak peserta didik yang tidak meneruskan
     mengikuti program Distance Learning.
2.   Infrastruktur jaringan internet masih kurang atau akses internet sulit diperoleh.
     Jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia untuk
     mengakses internet, terutama di daerah-daerah terpencil.
3.   Kurangnya penguasaan Bahasa Inggris. Bahasa Inggris masih mendominasi
     internet termasuk informasi-informasi pendidikan. Kondisi ini menjadi penghambat
     akses informasi melalui internet karena masyarakat Indonesia banyak yang
     memiliki keterbatasan dalam menguasai bahasa Inggris
4.   Tenaga kependidikan belum siap. Untuk mengoperasikan komputer diperlukan
     keterampilan menggunakan komputer. Saat ini banyak tenaga kependidikan yang
     belum mahir mengoperasikan komputer sehingga sangat sulit untuk menggunakan
     layanan internet.
5.     Masyarakat masih belum bisa menerima sepenuhnya hal-hal baru secara
       langsung dan kurangnya dukungan pemerintah.


     Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas maka diperlukan langkah-
langkah strategis untuk mengatasinya, diantaranya:
1.     Peningkatan    penyebaran    jaringan   dan   fasilitas   internet   yang   memadai
       oleh server-server dan penyedia layanan internet.
2.     Memberikan semacam sosialisasi bahwa penggunaan internet itu tidak mahal,
       tergantung kepentingan kita. Bandingkan dengan biaya yang dikeluarkan
       pemerintah untuk pengembangan fisik pendidikan (buku-buku, alat-alat, dan
       gedung sekolah).
3.     Pemberian pengetahuan dan bimbingan kepada tenaga pendidik agar bisa
       mengoperasikan internet dan meningkatkan kualitas pembelajaran
4.     Perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah.
       Penggunaan Internet devices lain seperti Internet TV diharapkan dapat menolong.
5.     Tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus,
       sekolah, dan bahkan melalui warung Internet
6.     Isi atau content yang berbahasa Indonesia masih langka. Untuk itu perlu kita
       upayakan kegiatan-kegiatan atau inisiatif untuk memperkaya materi yang ditujukan
       kepada masyarakat Indonesia. Proses ini harus dilakukan secara sadar dan
       proaktif
7.     Memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa suatu hal tidak akan menjadi
       berkualitas apabila kita tidak melakukan pembaharuan/inovasi terlebih dahulu.
       Juga perlu diberi kesadaran tentang pentingnya belajar di mana saja walaupun
       tidak berada di kelas

Resume tik

  • 1.
    Tugas Akhir TIK RESUME KULIAH TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKSI SEMESTER PENDEK (Dosen Pengampu : Dr. Robinson Situmorang) A. Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang Pendidikan Sejarah awal TIK bermula dari tulisan, gambar, dan simbol-simbol pictograf yang digunakan oleh bangsa Sumeria. Dari simbol,gambar dan tulisan tersebut mereka bisa menterjemahkan. Kemudian berkembang sampai pada adanya kentongan dan mereka bisa menterjemahkan berbagai macam bunyi kentongan.Perkembangan semakin hari semakin pesat sampai pada saat ditemukannya radio, tv dan telepon. Teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini yaitu dengan ditemukannya telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabelyang meliputi seluruh daratan Amerika bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasitrans-Atlantik Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Gagasan yang ingin diwujudkan oleh teknologi adalah agar setiap pribadi dapat berkembang semaksimal mungkin dengan jalan memanfaatkan teknologi. Program teknologi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan berawal pada tahun 1952 pada saat jawatan pendidikan masyarakat di kantornya di jalan Cilacap mengadakan siaran radio pengajaran yang ditujukan kepada para pelajar pejuang. Kemudian disusul dengan dibentuknya Technology Aids Centre (TAC) dan Scince Technology Centre (STC) yang berpusat di Bandung. Kemudian pada tahun 1958 di PTPG Unpad dibentuk suatu unit yang disebut Alat Peraga Pendidikan.
  • 2.
    Sejarah perkembangan danpemanfaatan TIK dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan perangkat keras TIK, khususnya komputer. 1. Fase pertama (akhir 1970an – awal 1980an) adalah faseprogramming, drill and practice. Fase ini ditandai dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang menyajikan latihan-latihan praktis dan singkat, khususnya untuk mata pelajaran matematika dan bahasa. Latihan-latihan ini hanya dapat menstimulasi memori jangka pendek. 2. Fase kedua (akhir 1980an – awal 1990an) adalah fase komputer based training (CBT) with multimedia (latihan berbasis komputer dengan multimedia). Fase ini adalah era keemasan CD-ROM dan komputer multimedia. Penggunaan CD-ROM dan komputer multimedia ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap proses pembelajaran, karena kemampuannya menyajikan kombinasi teks, gambar, animasi, dan video. Konsep pedagogis yang mendasari kombinasi kemampuan ini adalah bahwa manusia memiliki perbedaan. Sebagian bisa belajar dengan baik apabila mempergunakan indra penglihatan, seperti menonton film/animasi, sebagian lainnya mungkin lebih baik apabila mendengarkan atau membaca. 3. Fase ketiga (awal 1990an) adalah fase Internet-based training (IBT) (latihan berbasis internet. Pada fase ini, internet digunakan sebagai media pembelajaran. Hanya saja, pada saat itu, masih terbatas pada penyajian teks dan gambar. Penggunaan animasi, video dan audio masih sebatas ujicoba, sehingga dirasakan pemanfaatannya belum maksimal untuk dapat menfasilitasi pembelajaran. 4. Fase keempat (akhir 1990an – awal 2000an) adalah fase e-learning yang merupakan fase kematangan pembelajaran berbasis internet. Sejak itu situs web yang menawarkan e-learningsemakin bertambah, baik berupa tawaran kursus dalam bentuk e-learning maupun paket LMS (learning management system). Bahkan saat ini sudah cukup banyak paket seperti itu ditawarkan secara gratis dalam bentuk open source. Konsep pedagogik yang mendasari adalah bahwa pembelajaran membutuhkan interaksi sosial antara siswa dan siswa dan antara siswa dan guru. Dengan perangkat lunak LMS, siswa dapat bertanya kepada
  • 3.
    temannya atau kepadaguru apabila dia tidak memahami materi yang telah dibacanya. 5. Fase kelima (akhir 2000) adalah fase social software + free and open content. Fase ini ditandai dengan banyak bermunculannya perangkat lunak pembelajaran dan konten pembelajaran gratis yang mudah diakses baik oleh guru maupun siswa, yang selanjutnya dapat diedit dan dimanipulasi sesuai dengan kebutuhan. Konsep pedagogik yang mendasari fase ini adalah teori kontstruktivis sosial. Dalam konteks ini, pembelajaran melalui komputer terjadi tidak hanya menerima materi dari internet saja misalnya, tapi dimungkinkan dengan membagi gagasan dan pendapat. B. Penerapan TIK Dalam Pendidikan a. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menghasilkan susuatu produk, dan untuk itu sering kali diperlukan adanya pelatihan atau sarana. Produk yang dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, pengertian umum tentang teknologi, alat atau sarana yang khusnya diperlukan tidak menjadi unsur yang mutlak harus ada, karena atau sarana itu telah ada sebelumnya Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan,
  • 4.
    hobi, rekreasi, danrohani. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet. Melalui TIK, sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya sudah tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu, negara, ras, kelas ekonomi, ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran antar sesama kita. Perkembangan TIK memicu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. Alangkah wajar bila sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce, e-government, e-education, e-learning, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversitiy, dan lainnya yang berbasis TIK. Dari semua itu ada yang perlu mendapatkan perhatian serius yaitu e-education, dimana kita mempunyai kewajiban untuk mengembangkan TIK dalam proses pembelajaran yang tidak hanya mengajak peserta didik untuk mencari informasi, tetapi juga menciptakan informasi. Mampu saling berkomunikasi dengan menggunakan berbagai aplikasi TIK yang membuat dirinya mampu saling berbagi tentang apa yang disukainya dan apa yang dikuasainya. Membuat mereka mampu memanfaatkan TIK dengan baik. Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu:Learning to know (belajar untuk menguasai pengetahuan),Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ),Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), danLearning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu
  • 5.
    satu model pembelajarandengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc- tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner- Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dan sebagainya. Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut. Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu: 1. Emerging - baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan 2. Applying - baru mempelajari TIK (learning tom use ICT) 3. Integrating - belajar melalui dan atau menggunakan TIK(using ICT to learn) 4. Transforming - dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.
  • 6.
    Pembelajaran dengan dukunganTIK memungkinkan dapat menghasilkan karya- karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain. a. Pembelajaran menjadi lebih interaktif, simulatif, dan menarik b. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks c. Mempercepat proses yang lama d. Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi e. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan Kurikulum TIK yang sekarang ini telah dibuat oleh pusat kurikulum yang bekerjasama dengan Badan standar Nasional (BSNP) adalah kurikulum standar yang terdiri dari SK (Standar Kompetensi), dan KD (Kompetensi Dasar) yang masih harus dikembangkan oleh guru itu sendiri dalam mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi sekolah. Guru TIK dituntut untuk membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan SK dan KD dengan berbagai ragam pengayaan yang dimiliki oleh guru di daerahnya masing- masing. Sayangnya, banyak guru yang belum siap membuat kurikulumnya sendiri dan masih banyak guru yangcopy and paste dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Padahal dalam KTSP guru diberikan kebebasan untuk berkreativitas dalam memberikan materi pengayaan kepada para peserta didiknya. b.PenerapanTeknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran Pendidikan Bahasa Keberadaan teknologi informasi dan komunikasi dinilai sangat membantu manusia di setiap waktunya sebagai sumber informasi ataupun alat komunikasi. Begitu juga
  • 7.
    dalam dunia pendidikanteknologi informasi dan komunikasi sudah mulai banyak digunakan, tidak hanya sebagai media informasi dan alat komunikasi tapi juga sebagai media pembelajaran. Banyak ragam teknologi informasi dan komunikasi yang dianggap dapat mendukung proses pembelajaran diantaranya OHP, CD-Room, LCD, Internet(web,email, komputer interaktif) dan multimedia. Internet menjadi kajian paling menarik sebagai media pendukung proses pembelajaran. Mata kuliah bahasa Inggris merupakan mata kuliah yang cukup banyak diminati oleh mahasiswa perguruan tinggi. Mungkin hal ini dikarenakan bahasa inggris merupakan bahasa internasional. Oleh karena itu setiap perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa untuk mengambil mata kuliah tersebut untuk setiap fakultas maupun jurusan tertentu. Hal ini memberikan dorongan kepada hampir kepada setiap perguruan tinggi untuk mengembangkan konsep pembelajaran jarak jauh yang lebih dikenal dengan “distance learning” menggunakan world wide web (www) untuk mendistribusikan informasi yang berkaitan dengan pembelajaran. Sistem ini juga membentuk suatu komunitas dimana terjadi proses transfer dan berbagi pengetahuan baik dalam suatu komunitas maupun antar komunitas sehingga akan mempercepat terbentuknya masyarakat yang “learning society”. C. Peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Penyelenggaraan PendidikanJarak Jauh a. Hakekat Belajar Jarak Jauh (Distance Learning) Pada hakikatnya pendidikan jarak jauh mengandung konsep dasar yang sama, yaitu pendidikan yang berlansung sepanjang hayat yang berorientasi pada kepentingan, kondisi dan karasteristik peserta didik dengan mengunakan pola aneka sumber belaja. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan terbuka dengan program belajar yang terstuktir relative ketat dan pola pembelajaran yang berlangsung tanpa tatap muka atau kererpisahan antara pendidik dengan peserta didik.
  • 8.
    Pendidikan yang bersifatterbuka secara konseptual memberikan kesempatan kepada siapa saja, pada usia berapa saja, untuk memperoleh pendidikan apa saja, dari apa dan siapa saja, kapan saja diperlukan dimana saja, dengan cara apa saja yang dimungkinkan serta dengan berbagai pola yang saling melengkapai. Peserta didik dapat memperoleh pendidikan dirumah (home-based education) dibawah bimbingan dan binaan orang tuah, atau pada lembaga pendidikan nonformal seperti kelompok bermain, atau pada lembaga pendidikan formal termasuk sekolah. Greenberg (1998) mendefinisikan Belajar jarak jauh sebagai "sebuah rencana pengajaran/pengalaman belajar yang menggunakan spektrum yang luas dari teknologi untuk menjangkau peserta didik di kejauhan dan dirancang untuk mendorong interaksi peserta didik belajar dan sertifikasi. Ada banyak definisi yang menjelaskan konsep pendidikan jarak jauh. Salah satu diantaranya adalah definisi terbaru (2006) menurut Simonson, Smaldino, Albright & Zvacek. Mereka mendefinisikan pendidikan jarak jauh yaitu “distance education is defined as institution-based formal education where the learning group is separated, and where interactive telecommunications systems are used to connect learners, resources, and instructors”. Definisi di atas menunjukkan bahwa pendidikan jarak jauh memilki ciri sebagai berikut: a. adanya lembaga formal yang menyelenggarakan program penididkan. b. kelompok peserta belajar terpisah dengan pengajar (isntruktur, tutor, dosen, guru, widyaiswara. c. Digunakannya sistem telekomunikasi untuk menghubungkan peserta belajar, sumber-sumber belajar, dan pengajar. Arti sebenarnya dari Belajar Jarak jauh (BJJ) adalah antara siswa dan penyaji materi terpisah oleh jarak, sehingga perlu ada upaya tertentu untuk mengatasinya. Bagi Malone (1997), BJJ berlangsung ketika antara penyaji dan peserta didik terpisah karena jarak dan peserta didik mempelajari materi ajar yang sudah dirancang khusus untuk itu. Malone menyatakan bahwa BJJ sudah berevolusi, diantaranya adalah: 1. Generasi pertama BJJ adalah correspondence learning. Konsep mengenai pendidikan jarak jauh sendiri telah ada sejak tahun 1900-an dengan istilah sekolah
  • 9.
    korespondensi atau pendidikankorespondensi. Pada pendidikan korespendensi, Siswa yang berminat melalukan proses belajar dengan melakukan surat-menyurat dengan guru atau lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya. Guru dan lembaga pendidikan bersifat sebagai fasilitator dan siswa dituntut untuk bisa belajar mandiri. Materi pelajaran dan ujian dikirimkan memalaui pos/surat. Pendidikan ini adalah alternatif bagi para siswa yang tidak mempunyai kesempatan untuk mengikuti pendidikan tatap muka secara klasik di kelas. 2. Generasi kedua BJJ ditandai dengan penggunaan media audiovisual dan program pelatihan berasas komputer (computer based training or CBT), berikut program tutorial terjadwal. 3. Generasi ketiga BJJ sudah menggunakan jasa telekomunikasi . sudah tentu produk teknologi canggih seperti mesin faks, teleconference (melalui satelit), atau email sudah digunakan. Mengatasi masalah komunikasi belajar seperti delayed feedbackmerupakan alasan penggunaan jasa telekomunikasi. Akhir-akhir ini, semakin jelas terlihat penggunaan jasa satelit mendorong pengembangan model e- learning. Sistem belajar jarak jauh sendiri menuntut kemandirian dari para peserta didiknya. Kemandirian bukan berarti siswa belajar menyendiri tetapi kemandirian disini merujuk pada bagaimana siswa dapat merencanakan program pendidikannya, mengatur proses belajar, memanfaatkan beragam sumber belajar (termasuk referensi dari teman sesama siswa), serta mengevaluasi hasil belajar dan mengambil tindak lanjut yang diperlukan sesuai hasil evaluasi. Tanpa kemandirian, sangat sulit bagi siswa pada sistem belajar jarak jauh untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Meskipun sistem pendidikan jarak jauh mensyaratkan kemandirian siswa yang tidak mudah untuk dipenuhi, sistem ini memiliki beberapa karakteristik yang menguntungkan dibandingkan dengan pendidikan tatap muka, sebagai berikut: 1. Fleksibel. Siswa pada sistem belajar jarak jauh dapat belajar tanpa pembatasan usia, tanpa meninggalkan rutinitas pekerjaan dan terikat waktu belajar secara kelembagaan. 2. Efesiensi biaya pendidikan. Biaya pendidikan relatif lebih murah dibandingkan dengan pendidikan tatap muka.
  • 10.
    3. Bahan ajar yang dirancang untuk belajar mandiri. Siswa memperoleh kemudahan dalam mempelajari materi setiap mata kuliah karena bahan ajar disajikan dalam format yang dikembangkan khusus untuk dapat dipelajari secara mandiri. 4. Dukungan suplemen dari media pembelajaran lainnya. Setiap bahan ajar pada umumnya dilengkapi dengan video dan audio serta dilengkapi akses jaringan internet untuk bantuan belajar. b. Kendala-kendala Distance Learning Tidak diragukan lagi belajar jarak jauh (distance learning) merupakan alternatif pendidikan yang memiliki prospek yang baik dalam perkembangan di masa yang akan datang. Apalagi bila mengingat kondisi Indonesia yang memiliki banyak pulau yang tersebar maka peluang terselenggaranya distance learning semakin terbuka lebar. Namun masih banyak kendala yang dihadapi dalam menerapkan program belajar jarak jauh ini. Kendala-kendala tersebut terutama berkaitan dengan penggunaan internet baik dari segi fasilitas maupun ketersediaan sumber daya manusia dan sumber informasi. Beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu : 1. Rendahnya konsistensi peserta didik. Rendahnya pengawasan dan tingkat kemandirian peserta didik dapat menyebabkan konsistensi peserta didik mengikuti pembelajaran juga rendah. Akibatnya banyak peserta didik yang tidak meneruskan mengikuti program Distance Learning. 2. Infrastruktur jaringan internet masih kurang atau akses internet sulit diperoleh. Jaringan telepon masih belum tersedia di berbagai tempat di Indonesia untuk mengakses internet, terutama di daerah-daerah terpencil. 3. Kurangnya penguasaan Bahasa Inggris. Bahasa Inggris masih mendominasi internet termasuk informasi-informasi pendidikan. Kondisi ini menjadi penghambat akses informasi melalui internet karena masyarakat Indonesia banyak yang memiliki keterbatasan dalam menguasai bahasa Inggris 4. Tenaga kependidikan belum siap. Untuk mengoperasikan komputer diperlukan keterampilan menggunakan komputer. Saat ini banyak tenaga kependidikan yang belum mahir mengoperasikan komputer sehingga sangat sulit untuk menggunakan layanan internet.
  • 11.
    5. Masyarakat masih belum bisa menerima sepenuhnya hal-hal baru secara langsung dan kurangnya dukungan pemerintah. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas maka diperlukan langkah- langkah strategis untuk mengatasinya, diantaranya: 1. Peningkatan penyebaran jaringan dan fasilitas internet yang memadai oleh server-server dan penyedia layanan internet. 2. Memberikan semacam sosialisasi bahwa penggunaan internet itu tidak mahal, tergantung kepentingan kita. Bandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk pengembangan fisik pendidikan (buku-buku, alat-alat, dan gedung sekolah). 3. Pemberian pengetahuan dan bimbingan kepada tenaga pendidik agar bisa mengoperasikan internet dan meningkatkan kualitas pembelajaran 4. Perlu dipikirkan akses ke Internet tanpa melalui komputer pribadi di rumah. Penggunaan Internet devices lain seperti Internet TV diharapkan dapat menolong. 5. Tempat akses Internet dapat diperlebar jangkauannya melalui fasilitas di kampus, sekolah, dan bahkan melalui warung Internet 6. Isi atau content yang berbahasa Indonesia masih langka. Untuk itu perlu kita upayakan kegiatan-kegiatan atau inisiatif untuk memperkaya materi yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia. Proses ini harus dilakukan secara sadar dan proaktif 7. Memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa suatu hal tidak akan menjadi berkualitas apabila kita tidak melakukan pembaharuan/inovasi terlebih dahulu. Juga perlu diberi kesadaran tentang pentingnya belajar di mana saja walaupun tidak berada di kelas