Fajar Abdurrof’i Nawawi 12309054




PREDICTIVE DECONVOLUTION IN
    SEISMIC DATA PROCESSING
OUTLINE
 •   Pendahuluan
 •   Teori Dasar
 •   Contoh Data Lapangan dan Diskusi
 •   Kesimpulan
PENDAHULUAN
 •   Apa arti dekonvolusi prediktif ?
         Metode dekonvolusi prediktif, dengan jarak prediksi
     lebih besar daripada satu, secara luas digunakan dalam
     industri minyak untuk menghilangkan beberapa refleksi dari
     data seismik refleksi. Dalam hal ini output dari dekonvolusi
     menjadi deret reflektifitas bawah permukaan untuk wavelet
     minimum-fase. Untuk jarak prediksi lebih besar daripada
     satu, filter prediksi terkait secara rekursif (Ulrych et al.,
     1973).
 •   Kegunaan dekonvolusi prediktif ?
     1. Mengatenuasi gelombang multiple
     2. Multitrace Sensing
     3. Prediksi noise berupa gelombang multiple dan gema
•    Prinsip Metode
1.     Prinsip Levinson
       Untuk dekonvolusi single-channel tanpa filter digital
2.     Filter Prediksi Wiener
       Deverberation data stasioner dan menghilangkan gelombang
        multiple untuk data non-stasioner
3.     Zhang (2009)
        Penentuan panjang prediktif perlu dilakukan dalam menghilangkan efek gelombang
          multiple
        dan nilainya lebih besar dari periode gelombang multiple.
4.     Robinson (2006)
        Perhitungan spektrum spektrum energi transmisi dalam perhitungan prediksi error.
5.     Margrave dan Lamoreux (2010)
        Spiking deconvolution untuk non stasioner dalam domain Gabor.
6.     Taner (1980)
         Dekonvolusi prediktif dalam domain τ-p untuk memperbaiki noise awal.
TEORI DASAR
•   Matriks Robinson & Treitel
    Digunakan untuk memfilter data untuk estimasi nilai x(t+ γ ). Dengan
    asumsi x(t) adalah input dan (t+γ) adalah nilai prediksi pada waktu
    tertentu, dimana γ adalah prediksi lag.
•   Misalnya untuk data input Xi , dimana i = 0,1,2,3,4 dan γ =2, dilakukan autokorelasi
data input [X0, X1, X3, X4] dan korelasi silang antara output x(t+2) dengan input x(t),
kita akan mendapatkan matriks Robinson berikut




    Dengan ai adalah koefisien filter dimana i = 0,1,2,3,4
•   Lalu dilakukan dekonvolusi prediksi antara filter prediksi γ(t) dengan data input untuk
    menghasilkan output aktual y(t)
•   Perhitungan prediksi error βi+2 = Xi+2 - yi




•   Hasil ini juga bisa didapatkan dengan konvolusi langsung data input Xi
    , dengan koefisien filter [1,0,-ai ] dimana i = 0,1,2,3,4
•   Deret (a0,a1,a2,a3,a4) adalah filter prediksi dan deret (1,0, -a0,-a1,-
    a2,-a3,-a4) adalah filter prediksi error.
•   Prediksi filter menghasilkan komponen terprediksi yaitu
    gelombang multiple dari trace seismik, dan untuk komponen tak
    terprediksi, deret koefisien refleksi berperan sebagai deret
    error.
•   Bentuk akhir persamaan untuk filter prediksi sebanyak –n
    dan lag prediksi γ adalah sebagai berikut
•   Design dari filter prediksi membutuhkan autocorrelation dari
    input series saja.Ada dua pendekatan untuk predictive
    deconvolution. Design ini dibuat menggunakan persamaan 3 dan
    diterapkan pada input serries yang seperti ditunjukkan di figure 1.

•   Aternatif lain yakni untuk mendisign dan convolve input serries,
    filter prediksi error seperti yang ditunjukkan pada figure 2.



•   Figure3 menunjukkan flowchart untuk hubungan antara berbagai
    filter deconvolusi. Ini menunjukkan bahwa ini dapat digunakan
    untuk menyelesaikan rentangan/range yang lebar dari suatu
    problem dan predictive deconvolution itu merupakan suatu bagian
    integral dari data seismik prosesing yang ditujukan pada kompresi
    seismik wavelet, sehingga meningkatkan temporal resolusi.
Beberapa asumsi yang dibuat dalam predictive doconvolution
selama proses prosesing. Asumsi ini bedasarkan Yilmaz (1987) :
• Bumi merupakan lapisan horizontal dengan kecepatan
  konstan.
• Gelombang bidang kompresi yang mengenai bidang batas
  lapisan pada normal incidence dihasilkan pada source. Pada
  kasus ini tidak ada gelombang shear yang dihasilkan.
• Waveform sumber tidak berubah saat melewati subsurface.
• Komponen noise n(t) adalah zero.
• Reflectivity merupakan proses acak/random yang berarti
  seismogram memiliki karakteristik seismik wavelet tertentu.
• Seismik wavelet merupakan minimum phase karena memiliki
  minimum-phase inverse.
Two channel deconvolution of common-
offset gather
Supressing The Multiple
Contoh hasil pengolahan data
Output of Predictive Deconvolution
1.    Wavelet fasa minimum
        Output yang dihasilkan oleh unit gap atau dekonvolusi spiking
     hanyalah deret reflektifitas. Output dekonvolusi prediktif adalah
     konvolusi dari seri reflektifitas dengan wavelet terpotong oleh lag
2.   Wavelet fasa non-minimum
         Kenyataannya wavelet seismik yang sebenarnya mungkin bukan
     fase minimum. Gambar di bawah menunjukkan bahwa output dari
     dekonvolusi prediktif diaplikasikan pada wavelet fase non-minimum
     adalah bahwa wavelet terpotong pada panjang gap diikuti oleh
     bentuk mengekor yang bergantung pada sifat dari input.
LOKASI
•   Lokasi dari data yang kita proses adalah Suatu prospek di
    sungai Atala Nigeria.
•   Area yang prospek adalah sekitar 256 kilometer
    persegi.elevasina meningkat dari utara keselatan
•   Bagian area yang prospek melingkupi lapangan Burigbene
    dan Ogbotobo.
CONTOH DATA LAPANGAN DAN DISKUSI
•   Figure 4 menunjukkan CMP gather yang
    berisikan 5 refleksi pada 1.1, 1.35, 1.85,
    2.15, dan 3.05s. Terdapat noise (gema) yang
    berasosiasi dengan refleksi-refleksi tsb.
•   Figure 4 menunjukkan tes autocorrelation
    window yang digunakan untuk mendesign
    operator deconvolusi. Solid bar
    menunjukkan batas window. Keseluruhan
    panjang 6s ditunjukkan di a.
    Autocorrelograms ditampilkan dibawah
    records. Pada umunya, autocorrelacaiton
    window berisikan bagian dari record yang
    mengandung sinyal refleksi yang berguna
    dan tidak mengikutsertakan coherent atau
    incoherent noise. (Yilmaz,1988)
•   Window yang digunakan dalam estimasi
    auto korelasi ditunjukkan pada figure 4c
• Figure 5 menunjukkan tes operator length.
  Kesamaan autocorelasi ditunjukkan dibawah
  masing-masing record.

• Figure 5a menunjukkan input gather
  deconvolusi menggunakan lag 4 ms (spiking
  deconvolusi), 0,1 persen prewhitening dan filter
  prediksi panjang operator b=40 ms c=80 ms
  d=160ms e=240 ms. Dari analisi single spike,
  sparse spike dan model reflektivity, short
  operator(40ms) meninggal energi residual yang
  sesuai dengan wavelet dasar dan gelombang
  gema kereta dalam record. Untuk
  operator(60ms) tidak ada sisa energi yang
  diasosiasi dengan wavelet dasar dan gema.
  Operator yang lebih panjang dari 60ms tidak
  merubah hasil secara signifikan.
• Figure 6 merupakan efek dari prediksi
  lag yang diujikan
• 160 ms panjang operator dan 0,1 %
  prewhitening ditetapkan sementara
  prediksi lag di variasikan.
  Peningkatan dalam prediksi leg akan
  menghasilkan pada proses
  dekonvolusi yang membuat itu kurang
  efektif dalam pelebaran spektrum.
  Proses dekonvolusi tidak efektif untuk
  128 ms predisi lag. Ini sangat umum
  jika prediksi lag bersatu(spiking
  dekonvolusi) atau first atau second
  zero crossing dari fungsi auto
  korelasi(predictive deconvolusi)
• Figure 7 merupakan tes persen
  prewhitening. Dengan proses
  dekonvolusi ini menjadi kurang
  efektif ketika persen
  prewhithening dinaikan.
  Deconvolusi menggunakan panjang
  filter prediksi operator 160 ms
Gambar 8 menunjukkan signature processing
dimana filter digunakan untuk mengkonversi
hasil rekaman ke fasa minimum ekivalen dan
mengaplikasikannya pada rekaman input awal
(a) Rekaman input awal
(b) Hasil yang sudah diproses dengan
dekonvolusi prediktif dengan panjang operator
160ms dan prediksi lag.
(c) Spiking deconvolution 4ms
(d) Spiking deconvolution 12ms
(e) Spiking deconvolution 32ms
KESIMPULAN

•   Dekonvolusi prediktif adalah proses pengaplikasian
    informasi dari bagian awal trace seismik untuk memprediksi
    sistem noise seperti gema dan gelombang multiple. Selain
    itu digunakan untuk mengatenuasi gelombang multiple yang
    reflektornya berada di permukaan maupun dekat
    permukaan.
•   Secara formal bahwa pada nilai lag besar, metode koreksi
    fasa yang digunakan identik dengan dekonvolusi prediktif.
•   Metode ini kuat dalam arti bahwa ia tidak mengubah data
    jika asumsi modelnya tidak valid.
Daftar Pustaka
       Egbai, J. C, Atakpo, E and Aigbogun C.O. Predictive Deconvolution In
    Seismic Data Processing In Atala Prospect Of Rivers State, Nigeria.
    Pelagia Research Library. ISSN: 0976-8610 CODEN (USA): AASRFC.
    (tersedia http://pelagiaresearchlibrary.com/advances-in-applied-
    science/vol3-iss1/AASR-2012-3-1-520-529.pdf)
      Morley, Larry and Claerbout, Jon. Predictive Deconvolution In Shot-
    receiver Space. GEOPHYSICS, VOL. 48. NO. 5 (MAY 1983); P. 515-
    531, 22 FIGS.(tersedia
    http://terra.rice.edu/department/faculty/niu/GUCASseismicImaging/R
    eading/MorleyClaerbout83Geophysics.pdf)
      Ulrych, T. J. and Matsuoka, T. The Output Of Predictive Deconvolution.
    GEOPHYSICS, VOL. 56, NO. 3 (MARCH 1991); P. 371-377. 1 FIG.
    (tersedia
    http://www.eos.ubc.ca/research/cdsst/Tad_home/GPY000371.pdf)

PREDICTIVE DECONVOLUTION IN SEISMIC DATA PROCESSING

  • 1.
    Fajar Abdurrof’i Nawawi12309054 PREDICTIVE DECONVOLUTION IN SEISMIC DATA PROCESSING
  • 2.
    OUTLINE • Pendahuluan • Teori Dasar • Contoh Data Lapangan dan Diskusi • Kesimpulan
  • 3.
    PENDAHULUAN • Apa arti dekonvolusi prediktif ? Metode dekonvolusi prediktif, dengan jarak prediksi lebih besar daripada satu, secara luas digunakan dalam industri minyak untuk menghilangkan beberapa refleksi dari data seismik refleksi. Dalam hal ini output dari dekonvolusi menjadi deret reflektifitas bawah permukaan untuk wavelet minimum-fase. Untuk jarak prediksi lebih besar daripada satu, filter prediksi terkait secara rekursif (Ulrych et al., 1973). • Kegunaan dekonvolusi prediktif ? 1. Mengatenuasi gelombang multiple 2. Multitrace Sensing 3. Prediksi noise berupa gelombang multiple dan gema
  • 4.
    Prinsip Metode 1. Prinsip Levinson Untuk dekonvolusi single-channel tanpa filter digital 2. Filter Prediksi Wiener Deverberation data stasioner dan menghilangkan gelombang multiple untuk data non-stasioner 3. Zhang (2009) Penentuan panjang prediktif perlu dilakukan dalam menghilangkan efek gelombang multiple dan nilainya lebih besar dari periode gelombang multiple. 4. Robinson (2006) Perhitungan spektrum spektrum energi transmisi dalam perhitungan prediksi error. 5. Margrave dan Lamoreux (2010) Spiking deconvolution untuk non stasioner dalam domain Gabor. 6. Taner (1980) Dekonvolusi prediktif dalam domain τ-p untuk memperbaiki noise awal.
  • 5.
    TEORI DASAR • Matriks Robinson & Treitel Digunakan untuk memfilter data untuk estimasi nilai x(t+ γ ). Dengan asumsi x(t) adalah input dan (t+γ) adalah nilai prediksi pada waktu tertentu, dimana γ adalah prediksi lag.
  • 6.
    Misalnya untuk data input Xi , dimana i = 0,1,2,3,4 dan γ =2, dilakukan autokorelasi data input [X0, X1, X3, X4] dan korelasi silang antara output x(t+2) dengan input x(t), kita akan mendapatkan matriks Robinson berikut Dengan ai adalah koefisien filter dimana i = 0,1,2,3,4 • Lalu dilakukan dekonvolusi prediksi antara filter prediksi γ(t) dengan data input untuk menghasilkan output aktual y(t)
  • 7.
    Perhitungan prediksi error βi+2 = Xi+2 - yi • Hasil ini juga bisa didapatkan dengan konvolusi langsung data input Xi , dengan koefisien filter [1,0,-ai ] dimana i = 0,1,2,3,4 • Deret (a0,a1,a2,a3,a4) adalah filter prediksi dan deret (1,0, -a0,-a1,- a2,-a3,-a4) adalah filter prediksi error. • Prediksi filter menghasilkan komponen terprediksi yaitu gelombang multiple dari trace seismik, dan untuk komponen tak terprediksi, deret koefisien refleksi berperan sebagai deret error.
  • 8.
    Bentuk akhir persamaan untuk filter prediksi sebanyak –n dan lag prediksi γ adalah sebagai berikut
  • 9.
    Design dari filter prediksi membutuhkan autocorrelation dari input series saja.Ada dua pendekatan untuk predictive deconvolution. Design ini dibuat menggunakan persamaan 3 dan diterapkan pada input serries yang seperti ditunjukkan di figure 1. • Aternatif lain yakni untuk mendisign dan convolve input serries, filter prediksi error seperti yang ditunjukkan pada figure 2. • Figure3 menunjukkan flowchart untuk hubungan antara berbagai filter deconvolusi. Ini menunjukkan bahwa ini dapat digunakan untuk menyelesaikan rentangan/range yang lebar dari suatu problem dan predictive deconvolution itu merupakan suatu bagian integral dari data seismik prosesing yang ditujukan pada kompresi seismik wavelet, sehingga meningkatkan temporal resolusi.
  • 10.
    Beberapa asumsi yangdibuat dalam predictive doconvolution selama proses prosesing. Asumsi ini bedasarkan Yilmaz (1987) : • Bumi merupakan lapisan horizontal dengan kecepatan konstan. • Gelombang bidang kompresi yang mengenai bidang batas lapisan pada normal incidence dihasilkan pada source. Pada kasus ini tidak ada gelombang shear yang dihasilkan. • Waveform sumber tidak berubah saat melewati subsurface. • Komponen noise n(t) adalah zero. • Reflectivity merupakan proses acak/random yang berarti seismogram memiliki karakteristik seismik wavelet tertentu. • Seismik wavelet merupakan minimum phase karena memiliki minimum-phase inverse.
  • 14.
    Two channel deconvolutionof common- offset gather
  • 15.
  • 16.
  • 17.
    Output of PredictiveDeconvolution 1. Wavelet fasa minimum Output yang dihasilkan oleh unit gap atau dekonvolusi spiking hanyalah deret reflektifitas. Output dekonvolusi prediktif adalah konvolusi dari seri reflektifitas dengan wavelet terpotong oleh lag
  • 18.
    2. Wavelet fasa non-minimum Kenyataannya wavelet seismik yang sebenarnya mungkin bukan fase minimum. Gambar di bawah menunjukkan bahwa output dari dekonvolusi prediktif diaplikasikan pada wavelet fase non-minimum adalah bahwa wavelet terpotong pada panjang gap diikuti oleh bentuk mengekor yang bergantung pada sifat dari input.
  • 19.
    LOKASI • Lokasi dari data yang kita proses adalah Suatu prospek di sungai Atala Nigeria. • Area yang prospek adalah sekitar 256 kilometer persegi.elevasina meningkat dari utara keselatan • Bagian area yang prospek melingkupi lapangan Burigbene dan Ogbotobo.
  • 20.
    CONTOH DATA LAPANGANDAN DISKUSI • Figure 4 menunjukkan CMP gather yang berisikan 5 refleksi pada 1.1, 1.35, 1.85, 2.15, dan 3.05s. Terdapat noise (gema) yang berasosiasi dengan refleksi-refleksi tsb. • Figure 4 menunjukkan tes autocorrelation window yang digunakan untuk mendesign operator deconvolusi. Solid bar menunjukkan batas window. Keseluruhan panjang 6s ditunjukkan di a. Autocorrelograms ditampilkan dibawah records. Pada umunya, autocorrelacaiton window berisikan bagian dari record yang mengandung sinyal refleksi yang berguna dan tidak mengikutsertakan coherent atau incoherent noise. (Yilmaz,1988) • Window yang digunakan dalam estimasi auto korelasi ditunjukkan pada figure 4c
  • 21.
    • Figure 5menunjukkan tes operator length. Kesamaan autocorelasi ditunjukkan dibawah masing-masing record. • Figure 5a menunjukkan input gather deconvolusi menggunakan lag 4 ms (spiking deconvolusi), 0,1 persen prewhitening dan filter prediksi panjang operator b=40 ms c=80 ms d=160ms e=240 ms. Dari analisi single spike, sparse spike dan model reflektivity, short operator(40ms) meninggal energi residual yang sesuai dengan wavelet dasar dan gelombang gema kereta dalam record. Untuk operator(60ms) tidak ada sisa energi yang diasosiasi dengan wavelet dasar dan gema. Operator yang lebih panjang dari 60ms tidak merubah hasil secara signifikan.
  • 22.
    • Figure 6merupakan efek dari prediksi lag yang diujikan • 160 ms panjang operator dan 0,1 % prewhitening ditetapkan sementara prediksi lag di variasikan. Peningkatan dalam prediksi leg akan menghasilkan pada proses dekonvolusi yang membuat itu kurang efektif dalam pelebaran spektrum. Proses dekonvolusi tidak efektif untuk 128 ms predisi lag. Ini sangat umum jika prediksi lag bersatu(spiking dekonvolusi) atau first atau second zero crossing dari fungsi auto korelasi(predictive deconvolusi)
  • 23.
    • Figure 7merupakan tes persen prewhitening. Dengan proses dekonvolusi ini menjadi kurang efektif ketika persen prewhithening dinaikan. Deconvolusi menggunakan panjang filter prediksi operator 160 ms
  • 24.
    Gambar 8 menunjukkansignature processing dimana filter digunakan untuk mengkonversi hasil rekaman ke fasa minimum ekivalen dan mengaplikasikannya pada rekaman input awal (a) Rekaman input awal (b) Hasil yang sudah diproses dengan dekonvolusi prediktif dengan panjang operator 160ms dan prediksi lag. (c) Spiking deconvolution 4ms (d) Spiking deconvolution 12ms (e) Spiking deconvolution 32ms
  • 25.
    KESIMPULAN • Dekonvolusi prediktif adalah proses pengaplikasian informasi dari bagian awal trace seismik untuk memprediksi sistem noise seperti gema dan gelombang multiple. Selain itu digunakan untuk mengatenuasi gelombang multiple yang reflektornya berada di permukaan maupun dekat permukaan. • Secara formal bahwa pada nilai lag besar, metode koreksi fasa yang digunakan identik dengan dekonvolusi prediktif. • Metode ini kuat dalam arti bahwa ia tidak mengubah data jika asumsi modelnya tidak valid.
  • 26.
    Daftar Pustaka  Egbai, J. C, Atakpo, E and Aigbogun C.O. Predictive Deconvolution In Seismic Data Processing In Atala Prospect Of Rivers State, Nigeria. Pelagia Research Library. ISSN: 0976-8610 CODEN (USA): AASRFC. (tersedia http://pelagiaresearchlibrary.com/advances-in-applied- science/vol3-iss1/AASR-2012-3-1-520-529.pdf)  Morley, Larry and Claerbout, Jon. Predictive Deconvolution In Shot- receiver Space. GEOPHYSICS, VOL. 48. NO. 5 (MAY 1983); P. 515- 531, 22 FIGS.(tersedia http://terra.rice.edu/department/faculty/niu/GUCASseismicImaging/R eading/MorleyClaerbout83Geophysics.pdf)  Ulrych, T. J. and Matsuoka, T. The Output Of Predictive Deconvolution. GEOPHYSICS, VOL. 56, NO. 3 (MARCH 1991); P. 371-377. 1 FIG. (tersedia http://www.eos.ubc.ca/research/cdsst/Tad_home/GPY000371.pdf)