TEORI PERTUKARAN
SOSIAL
Ahmad Nadzif Mahfud, Alfian Ahmad Taufiqi, Herlina Wanda Windari
TEORI PERTUKARAN
SOSIAL
Konteks Lahirnya Teori
Tokoh Yang Mencetuskan
Konsep Dasar Teori
Pandangan Islam Tentang Teori
Kasus Yang Relavan Dengan
Teori
Konteks Lahirnya Teori
Teori Pertukaran Sosial, yang dikemukakan oleh George C. Homans, dibangun
berdasarkan kolaborasi John Thibaut dan Harold Kelley. Teori ini menekankan saling
ketergantungan individu dalam hubungan sosial dan mempertimbangkan analisis
untung-rugi. Thibaut dan Kelley memperkenalkan konsep ini dalam karya mereka
"The Social Psychology of Groups" (1959) dan mengembangkannya lebih lanjut
dalam "Interpersonal Relations: A Theory of Interdependence" (1978). Sementara
itu, Homans fokus pada analisis mikro, menyoroti faktor subjektivitas dalam perilaku
sosial. Richard Emerson dan Peter Blau turut mengembangkan teori ini dengan
memusatkan perhatian pada hubungan kekuasaan dan interaksi sosial di tingkat
makro. Teori ini terus berevolusi, menggabungkan berbagai perspektif yang
memperkaya pemahaman tentang pertukaran sosial dalam konteks yang lebih luas.
Tokoh Yang Mencetuskan
1. George C. Homans: Mengembangkan teori pertukaran sosial pada skala mikro, berfokus pada
subjektivitas dan perilaku individu. Karya terkenalnya, "Human Group, Social Behavior: It’s
Elementary Form" (1961), mengemukakan proposisi yang menjelaskan perilaku sosial.
2. John Thibaut dan Harold Kelley: Berkolaborasi dalam mengembangkan teori ini dengan
menekankan saling ketergantungan dalam hubungan sosial. Karya mereka, "The Social Psychology of
Groups" (1959) dan "Interpersonal Relations: A Theory of Interdependence" (1978),
memperkenalkan konsep analisis untung-rugi dalam interaksi manusia.
3. Richard Emerson: Memperluas teori dengan fokus pada hubungan kekuasaan dan ketergantungan
dalam konteks makro, terutama dalam artikelnya "Power Dependence Relations" (1962), yang
menyoroti ketidakadilan dalam struktur pertukaran sosial.
4. Peter Blau: Menghubungkan analisis mikro dengan makro dalam karyanya "Exchange and Power in
Social Life" (1964), menekankan perkembangan sosial yang muncul dari interaksi antar individu dan
jaringan sosial.
Konsep Dasar Teori
Teori pertukaran sosial adalah perspektif psikologi sosial dan sosiologi yang
menjelaskan hubungan antar manusia melalui analisis untung-rugi. Dalam interaksi
ini, individu berusaha memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya, dengan
imbalan dan pengorbanan sebagai elemen kunci. Terdapat dua konsep utama dalam
teori ini: sifat dasar manusia yang rasional dan sifat hubungan yang saling
ketergantungan. Tiga karakteristik utama teori ini mencakup konsekuensi untung-
rugi, disiplin sosial, dan asumsi hubungan. Kelebihannya menciptakan keadilan,
sementara kekurangannya dapat menyebabkan rasa enggan untuk menerima
bantuan dan pandangan materialistis dalam interaksi sosial.
Pandangan Islam Tentang Teori
Pandangan Islam tentang teori pertukaran sosial menekankan nilai-nilai seperti niat,
keikhlasan, dan tujuan hidup. Dalam Islam, amal harus dilakukan dengan niat tulus
untuk mendapatkan ridha Allah, bukan hanya keuntungan duniawi. Timbal balik
dalam bentuk kebaikan lebih ditekankan, dengan balasan yang mungkin melampaui
logika materi. Konsep saling membantu dan gotong-royong diperkuat, serta
pemberian tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, karena keyakinan bahwa
Allah akan memberikan balasan yang lebih baik. Keadilan dalam timbal balik juga
menjadi penting, memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Secara keseluruhan,
Islam mengedepankan dimensi spiritual dalam interaksi sosial, berfokus pada niat
baik dan keikhlasan.
Kasus Yang Relavan Dengan
Teori
Teori pertukaran sosial (*Social Exchange Theory*) menjelaskan hubungan
antarindividu berdasarkan tiga elemen utama: ganjaran, pengorbanan, dan
keuntungan. Teori ini menekankan bahwa individu mengevaluasi hubungan mereka
dengan menyeimbangkan apa yang diberikan dan diterima. Dalam konteks
mahasiswa magang di PT. THG, mahasiswa mengorbankan waktu dan tenaga untuk
menghasilkan konten, sementara perusahaan mendapatkan peningkatan
engagement di media sosial. Pada kasus lain di Toko Kusuma Jaya, pertukaran sosial
antara pimpinan dan karyawan terjadi melalui stimulus perilaku yang meminimalkan
kerugian, dengan proposisi sukses dari Homans menjadi yang paling dominan.
Keduanya menunjukkan pentingnya kolaborasi dan timbal balik dalam hubungan
sosial.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH

PPT. TEORI PERTUKARAN SOSIAL, KEL-4.pptx

  • 1.
    TEORI PERTUKARAN SOSIAL Ahmad NadzifMahfud, Alfian Ahmad Taufiqi, Herlina Wanda Windari
  • 2.
    TEORI PERTUKARAN SOSIAL Konteks LahirnyaTeori Tokoh Yang Mencetuskan Konsep Dasar Teori Pandangan Islam Tentang Teori Kasus Yang Relavan Dengan Teori
  • 3.
    Konteks Lahirnya Teori TeoriPertukaran Sosial, yang dikemukakan oleh George C. Homans, dibangun berdasarkan kolaborasi John Thibaut dan Harold Kelley. Teori ini menekankan saling ketergantungan individu dalam hubungan sosial dan mempertimbangkan analisis untung-rugi. Thibaut dan Kelley memperkenalkan konsep ini dalam karya mereka "The Social Psychology of Groups" (1959) dan mengembangkannya lebih lanjut dalam "Interpersonal Relations: A Theory of Interdependence" (1978). Sementara itu, Homans fokus pada analisis mikro, menyoroti faktor subjektivitas dalam perilaku sosial. Richard Emerson dan Peter Blau turut mengembangkan teori ini dengan memusatkan perhatian pada hubungan kekuasaan dan interaksi sosial di tingkat makro. Teori ini terus berevolusi, menggabungkan berbagai perspektif yang memperkaya pemahaman tentang pertukaran sosial dalam konteks yang lebih luas.
  • 4.
    Tokoh Yang Mencetuskan 1.George C. Homans: Mengembangkan teori pertukaran sosial pada skala mikro, berfokus pada subjektivitas dan perilaku individu. Karya terkenalnya, "Human Group, Social Behavior: It’s Elementary Form" (1961), mengemukakan proposisi yang menjelaskan perilaku sosial. 2. John Thibaut dan Harold Kelley: Berkolaborasi dalam mengembangkan teori ini dengan menekankan saling ketergantungan dalam hubungan sosial. Karya mereka, "The Social Psychology of Groups" (1959) dan "Interpersonal Relations: A Theory of Interdependence" (1978), memperkenalkan konsep analisis untung-rugi dalam interaksi manusia. 3. Richard Emerson: Memperluas teori dengan fokus pada hubungan kekuasaan dan ketergantungan dalam konteks makro, terutama dalam artikelnya "Power Dependence Relations" (1962), yang menyoroti ketidakadilan dalam struktur pertukaran sosial. 4. Peter Blau: Menghubungkan analisis mikro dengan makro dalam karyanya "Exchange and Power in Social Life" (1964), menekankan perkembangan sosial yang muncul dari interaksi antar individu dan jaringan sosial.
  • 5.
    Konsep Dasar Teori Teoripertukaran sosial adalah perspektif psikologi sosial dan sosiologi yang menjelaskan hubungan antar manusia melalui analisis untung-rugi. Dalam interaksi ini, individu berusaha memaksimalkan manfaat dan meminimalkan biaya, dengan imbalan dan pengorbanan sebagai elemen kunci. Terdapat dua konsep utama dalam teori ini: sifat dasar manusia yang rasional dan sifat hubungan yang saling ketergantungan. Tiga karakteristik utama teori ini mencakup konsekuensi untung- rugi, disiplin sosial, dan asumsi hubungan. Kelebihannya menciptakan keadilan, sementara kekurangannya dapat menyebabkan rasa enggan untuk menerima bantuan dan pandangan materialistis dalam interaksi sosial.
  • 6.
    Pandangan Islam TentangTeori Pandangan Islam tentang teori pertukaran sosial menekankan nilai-nilai seperti niat, keikhlasan, dan tujuan hidup. Dalam Islam, amal harus dilakukan dengan niat tulus untuk mendapatkan ridha Allah, bukan hanya keuntungan duniawi. Timbal balik dalam bentuk kebaikan lebih ditekankan, dengan balasan yang mungkin melampaui logika materi. Konsep saling membantu dan gotong-royong diperkuat, serta pemberian tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, karena keyakinan bahwa Allah akan memberikan balasan yang lebih baik. Keadilan dalam timbal balik juga menjadi penting, memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Secara keseluruhan, Islam mengedepankan dimensi spiritual dalam interaksi sosial, berfokus pada niat baik dan keikhlasan.
  • 7.
    Kasus Yang RelavanDengan Teori Teori pertukaran sosial (*Social Exchange Theory*) menjelaskan hubungan antarindividu berdasarkan tiga elemen utama: ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan. Teori ini menekankan bahwa individu mengevaluasi hubungan mereka dengan menyeimbangkan apa yang diberikan dan diterima. Dalam konteks mahasiswa magang di PT. THG, mahasiswa mengorbankan waktu dan tenaga untuk menghasilkan konten, sementara perusahaan mendapatkan peningkatan engagement di media sosial. Pada kasus lain di Toko Kusuma Jaya, pertukaran sosial antara pimpinan dan karyawan terjadi melalui stimulus perilaku yang meminimalkan kerugian, dengan proposisi sukses dari Homans menjadi yang paling dominan. Keduanya menunjukkan pentingnya kolaborasi dan timbal balik dalam hubungan sosial.
  • 8.