APPENDISITIS AKUT
Oleh :
dr.Rachma Melinda
Dokter Pembimbing :
dr. I Putu Ngurah Artana M.Biomed Sp.B
Dokter Pendamping :
dr. Mercilia Frolain Wenas
LAPORAN KASUS
PENDAHULUAN
Apendiks adalah organberongga yang
terletak di ujung sekum, biasanya di
kuadran kanan bawah perut. Appendisitis
adalah peradangan peradangan pada
appendiks vermiformis.
4.
PENDAHULUAN
● Appendisitis dapatditemukan pada semua umur,
meningkat setelah usia > 5 tahun dan puncak 9-11
tahun, insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30
tahun
● Gejala appendicitis akut umumnya timbul < 36 jam
berupa nyeri perut difus (nyeri alih), anoreksia,
demam , mual muntah,
5.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Apendisitis
Peradanganakut maupun kronis yang terjadi pada lapisan mukosa dari apendiks
vermiformis yang kemudian dapat menyebar ke bagian lain apendiks
Anatomi Apendik
• Appendiks vermivormis > Organ tubuler buntu berbentuk seperti cacing,
banyak mengandung jaringan limfoid
• Diameter 2-6mm dengan Panjang 2-22 cm (rata-rata 6-9 cm)
• Terletak di ileocaecum, pertemuan di 3 tinea (tinea libera, tinea colica dan
tinea omentum)
6.
TINJAUAN PUSTAKA
Vaskularisasi Apendik
•Suplai darah ke apendiks berasal dari arteri
apendikularias.
• Persarafan parasimpatis apendiks berasal dari
cabang vervus vagus
• Persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis
10. Karena itu nyeri viseral pada Appendisitis
bermula di sekitar umbilicus.
7.
Di Indonesia DiBali
EPIDEMIOLOGI
• Masuk kategori 10 penyakit terbanyak
• 1.590 kasus apendisitis pada tahun 2022
• 7% dari jumlah penduduk di Indonesia
• Sekitar 179.000 orang per tahun.
Banyak dijumpai pada usia 10 sampai 30 tahun.
Kejadian apendisitis mencapai 321 juta kasus tiap tahun di dunia.
ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI
Obstruksilumen merupakan penyebab utama apendisitis akut
Penyebab obstruksi lumen:
• Fecalith
• Hiperplasia jaringan limfoid
• Barium yang mengering setelah
pemeriksaan
• Batu empedu
• Infeksi
• Tumor
DIAGNOSIS
Tanda Apendisitis
- Nyeridiawali difus pada regio periumbilical,
kemudian bermigrasi ke kuadran kanan
bawah abdomen.
- Mual, muntah dan anoreksia
- Konstipasi
- Nyeri saat berjalan
Gejala Apendisitis
- Demam (38-39 C) dan Takikardia
- Kesakitan saat perubahan posisi
- Tampak lemas
- Nyeri tekan dan nyeri lepas (blumberg
sign) positif pada titik Mc Burney.
- Tanda rovsing dapat positif
- Obturator dan Illiopsoas sign
PROGNOSIS
Ad vitam :dubia ad bonam
Ad functinam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
19.
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
a.Nama : PSW
b. TTL : 30 Sep 2004
c. Usia : 20 tahun
d. Jenis Kelamin : Perempuan
e. Alamat : Sukasada Kab. Buleleng
f. Pendidikan Terakhir : SMA
g. Pekerjaan : Belum Bekerja
h. Agama : Hindu
i. Status Perkawinan : Belum menikah
j. Tanggal MRS : 30 November 2024
k. No.RM : 09-57-81
l. Ruangan : Line II
20.
LAPORAN KASUS
Anamnesis
Telah dilakukananamnesis secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada tanggal 02 Desember
2024 di Ruang Rawat Inap RS Karya Dharma Husada.
Keluhan Utama
Nyeri perut kanan bawah
Riwayat Penyakit Sekarang
• Pasien datang ke UGD RSU KDH diantar keluarganya pada tanggal 30/11/2024
• Nyeri perut kanan bawah dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, nyeri dirasakan ilang timbul
namun memberat sejak 2 hari yang lalu.
• Sempat ke puskesmas di pagi hari SMRS, namun dikatakan keluhan tidak kunjung
membaik.
• Keluhan pasien disertai dengan demam (+) penurunan nafsu makan (+), mual muntah (+)
1x SMRS, nyeri kepala dan pusing
• Haid pasien teratur dan baru selesai menstruasi beberapa hari yang lalu.
21.
LAPORAN KASUS
Riwayat penyakitdahulu
Riwayat keluhan yang sama : (-)
Riwayat hipertensi : (-)
Riwayat DM : (-)
Riwayat gastritis : (+)
Riwayat penyakit jantung : (-)
Riwayat penyakit paru : (-)
Penyakit ginjal : (-)
Riwayat alergi : (+) Makanan Nyawan
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat hipertensi : (-)
Riwayat diabetes mellitus : (-)
Asma : (-)
Riwayat alergi : (-)
22.
Riwayat pengobatan
• Amoxiciline3x500 mg
• Antasida 3x1
• Paracetamol 3x500 mg
Riwayat sosial dan Ekonomi
Riwayat merokok (-)
Riwayat alkohol (-)
Konsumsi obat-obatan terlarang (-)
Riwayat gizi
Pasien mengatakan jarang memakan sayur-sayuran ataupun buah-buahan.
Pasien mengatakan sering sekali mengkonsumsi makanan yang pedas.
LAPORAN KASUS
23.
Keadaan Umum :Lemas
Kesadaran/GCS : E4V5M6
Tanda Vital
Tekanan Darah: 120/60 mmHg
Denyut Nadi : 82x/menit kuat angkat
Suhu Aksila : 38.60
C
RR : 20x/menit
SpO2 : 98%
BB : 65 kg
TB : 161 cm
LAPORAN KASUS
24.
Pemeriksaan Fisik
Kepala :Normocephali, nyeri tekan (-)
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor (3mmx3mm), refleks
pupil (+/+).
Telinga : Normotia, otorea (-/-), nyeri tekan tragus dan mastoid (-/-), nyeri ketok mastoid (-/-),
discharge (-/-), serumen (-/-)
Hidung : Bentuk normal, tidak ada nafas cuping hidung
Tenggorokan : Uvula di tengah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring hiperemis (-)
Mulut : Mulut simetris, bibir pucat (-), sianosis (-), lidah kotor (-), mukosa hiperemi (-)
Leher : Bentuk laeher normal, pergerakan leher bebas, kelenjar tiroid tidak membesar,
pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thorax : Dalam batas normal.
LAPORAN KASUS
25.
Pemeriksaan Fisik
Pulmo Inspeksi: Gerakan simetris saat statis dan dinamis, tidak ada retraksi.
Palpasi : Nyeri tekan (-), taktil fremitus simetris pada kedua lapang paru.
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
Jantung Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba kuat angkat, melebar (-), thrill (-)
Perkusi : Batas jantung kanan: ICS V linea parastrernal dextra
Batas jantung kiri: ICS V linea midclavicularis sinistra
Batas jantung atas: ICS II linea parasternalis sinistra
Batas pinggang jantung: ICS III linea parastrenal sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal reguler, Murmur (-), Gallop (-)
LAPORAN KASUS
26.
Status Lokalis RegioAbdomen
Abdomen Inspeksi : Massa (-), distensi (-), tanda-tanda inflamasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) Normal
Perkusi : Timpani
Palpasi : Defans muscular (-), Massa (-), NTE (+)
Pemeriksaan khusus:
- Mc Burney sign (+)
- Psoas sign (+)
- Obturator sign (+)
- Blumberg sign (-)
- Rovsing sign (-)
- Dunphy’s sign (-)
LAPORAN KASUS
Jenis Pemeriksaan HasilSatuan Nilai Rujukan
URINE
Urin lengkap
Makroskopis urin
Warna urin Kuning Kuning
Kejernihan Keruh Jernih
Kimia Urine
Lekosi urin +3 Negatif
pH urin 7,0 4.5 - 8.0
Protein urin Negatif Negatif
Glukosa urin Negatif Negatif
Bilirubin urin Negatif Negatif
Urobilinogen urin Negatif Negatif
Keton urin Negatif Negatif
Nitrit urin Negatif Negatif
Darah urin Negatif mEq/L Negatif
Spesific Gravity (SG) 1.015 1.003 - 1.035
Sedimen
Eritrosit urin 0-1 /LPB 0-2
Lekosit urin >30 /LPB 0-5
Epitel urin 3-4 /LPK <10
Kristal Negatif LPK Negatif
Cast Negatif Negatif
Bakteri urin Positif LPB Negatif
Lain-lain urine Negatif Negatif
LAPORAN KASUS
29.
Alvarado Score (30/11/2024)
<4 : Appendisitis unlikly
5-6 : Compatible with appendisitis
7-8 : Probable Appendisitis
9-10: Very Probable Appendisitis
Symptoms Score
Migratory right iliac fossa pain 1
Nausea/ vomiting 1
Anorexia 1
Signs
Tenderness in right iliac fossa 2
Rebound tenderness in right iliac fossa 1
Elevated temperature 1
Laboratory Findings
Leukocytosis 2
Shift to the left of neutrophils 1
Total 10
LAPORAN KASUS
30.
Diagnosis Kerja
Apendisitis akut
PemeriksaanPenunjang
Laboratorium darah lengkap (30/11/2024)
Laboratorium urine lengkap (30/11/2024)
Planing Terapi
• Terapi Non Operatif (Farmakologi)
• IVFD Nacl 0.9% 20 tpm
• Inj.ketorolac 3x30 mg/iv
• Inj.omeprazole 2x40 mg/iv
• Antasida syr 3x15 ml
• Sucralfate syr 3x15 ml
• Paracetamol 3x500 mg/po
• Ceftriaxone 2 x 1gr (IV)
• Terapi Operatif
Pro laparatmi eksplorasi (01/12/2024)
Edukasi
KIE kepada keluarga tentang keadaan pasien dan
rencana tindakan Apendektomi, mekanisme
tindakan, rencana terapi, resiko tindakan dan
komplikasi tindakan pembedahan.
LAPORAN KASUS
31.
Prognosis
Ad vitam :dubia ad bonam
Ad functinam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
LAPORAN KASUS
32.
Follow Up Pasien
02/12/2024
SNyeri luka post OP skala 4, mual (-), muntah (-), BAK (+), flatus (+)
O GCS: E4V5M6, KU: lemas dan tampak sedikit sakit, TD: 117/70, N: 70x/menit, Suhu aksila: 36,7, RR:
18x/menit, SpO2: 98%
Pemeriksaan fisik:
- Status generalis (DBN)
- Status lokalis (regio abdomen):
Inspeksi: distensi (-), massa (-)
Auskultasi: BU (+) N
Luka post OP: rembesan (-)
A Appendicitis Akut Post Laparatomi Eksplorasi H-1
P RL 20 tpm iv, ceftriaxone 2x1g iv, Inj.ketorolac 3x30 mg/iv, Inj.omeprazole 2x40 mg/iv, Antasida syr 3x15 ml,
Sucralfate syr 3x15 ml Paracetamol 3x500mg k/p.
LAPORAN KASUS
33.
Follow Up Pasien
03/12/2024
SNyeri luka post OP skala 3, mual (-), muntah (-), BAK (+) BAB (+), flatus (+)
O GCS: E4V5M6, KU: lemas dan tampak sedikit sakit, TD: 120/70, N: 76x/menit, Suhu aksila: 36,0, RR:
18x/menit, SpO2: 99%
Pemeriksaan fisik:
- Status generalis (DBN)
- Status lokalis (regio abdomen):
Inspeksi: distensi (-), massa (-)
Auskultasi: BU (+) N
Luka post OP: rembesan (-)
A Appendicitis Akut Post Laparatomi Eksplorasi H-2
P Cefixime 2x 200 mg, Dexketoprofen 3x1
LAPORAN KASUS
34.
Teori Pasien
Anamnesis
• Usia10-30 tahun
• Nyeri perut kanan bawah
• Mual muntah
• Anoreksia
• Migration of pain
Pasien 20 tahun riwayat keluhan nyeri perut kanan sejak 1 minggu
yll, dan memberat 2 hari SMR disertai penurunan nafsu makan.
Mual muntah (+) 1x. Migration of pain(-)
Pemeriksaan Fisik
• TTV
• Generalis
• Mc Burney Sign, Rovsing Sign, Iliopsoas Sign
Obturator Sign
Suhu tubuh meningkat. Palpasi : Mc Burney sign (+), psoas sign (+),
obturator sign (+).
Pemeriksaan Penunjang
• Pemeriksaan darah lengkap
• Pemeriksaan urine lengkap
• Pemeriksaan USG
• Foto Polos Abdomen
• CT-Scan Abdomen
• DL →Leukoitosis, shift to the left
• UL
Tatalaksana
‐ Non operatif (Farmakologi & Non Farmakologi)
‐ Operatif
• Farmakologi
– ceftriaxone 2x1g iv, paracetamol 3x500mg, Inj.ketorolac 3x30
mg/iv, Inj.omeprazole 2x40 mg/iv, Antasida syr 3x15 ml, Sucralfate
syr 3x15 ml.
• Operatif
- Laparatomi eksplorasi
PEMBAHASAN
35.
KESIMPULAN
Pasien inisial PSWperempuan usia 20 tahun mengalami appendisitis akut.
Diagnosis ini didasarkan pada temuan gejala klinis dan keluhan-keluhan yang dialami oleh
pasien. Dari gejala klinis dan keluhan jika dimasukkan ke dalam penghitungan
ALVARADO score diperoleh poin 9. Penatalaksanaan terbaik yang dapat dilakukan yaitu
tindakan pembedahan (appendectomy) untuk mengangkan apendik yang meradang. Pasien-
pasien yang telah menjalani appendectomy cenderung memiliki prognosis yang baik.
Pasien yang memiliki kecurigaan mengalami appendisitis tetapi tidak mendapat
penanganan yang cepat dan tepat dapat mengalami berbagai komplikasi salah satunya yaitu
peritonitis.
36.
1. Jones MW,Lopez RA, Deppen JG. Appendicitis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan.
2. Waisani S.,Khoriyas K. Penurunan Intensitas Skala Nyeri Pasien Appendiks Post Appendiktomi Menggunakan Teknik Relaksasi
Benson. Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan, Universitas Muhammadiyah
Semarang. Vol 1 No 1, April 2020
3. Hartawan, I. G. . B. R. M., & Dkk. Karakteristik Kasus Apendisitis Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Tahun
2018.2020.9(10), 6–10. Retrieved from https://ocs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/67019/37307
4. Bintang A.A. Karakteristik Apendisitis Pada Pasien Di Rumah Sakit Umum Haji Medan Pada Januari 2017 – Desember 2019.
Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiah Sumatra Utara. 2020
5. Netter, Frank H. Atlas Of Human Anatomy 25 th Edition. Jakarta: EGC, 2014.
6. Sjamsuhidajat and Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 4 Vol 3.. Jakarta : EGC
7. Warsinggih DI. Bahan Ajar Apendisitis Akut. Nusantara Medical Science. (search in:https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wpcontent
/uploads/2016/10/APPEDISITIS-AKUT.pdf ).2016
8. Schwatz, et al. Principles of Surgery 8th Edition Volume 2. Jakarta: EGC.2010 p. 1383 – 93.
9. Petroianu A, Barroso TVV. Pathophysiology of Acute Appendicitis. JSM Gastroenterology and Hepatology. 2016 April; 4(3).
10. Zhalifah F.,Nafisah.,Indah Situmorang. Appendicitis., Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FK UI.2020
11. Sarosi, G.A. ‘Apendisitis’ in Sleisenger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease, 10th edn, eds. United States of America;
2016.
12. Krzyzak M, Mulrooney SM. Acute Appendicitis Review: Background, Epidemiology, Diagnosis, and Treatment. Cureus. 2020 Jun
11;12(6):e8562. doi:10.7759/cureus.8562. PMID:32670699; PMCID:PMC7358958.
13. Yohni W.F.,Aldo D.P.,Siska M. Tata Laksana Apendisitis Akut Di Era Pandemi Covid-19. Departemen Bedah FK Universitas
Muhammadiyah Surabaya.2021
14. Dinas Kesehatan Provinsi Bali. (2021). Profil Kesehatan Provinsi Bali Tahun 2020. Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2013–2015
DAFTAR PUSTAKA
#16 Cephalosporin generasi 2 / generasi 3 dan Metronidazole. Hal ini secara ilmiah telah dibuktikan mengurangi terjadinya komplikasi post operasi seperti infeksi luka dan pembentukan abses intraabdominal. Pilihan antibiotik lainnya adalah ampicilin- sulbactam, ampicilin-asam klavulanat, aminoglikosida, dan lain sebagainya. Waktu pemberian antibiotik juga masih diteliti. Ada laporan bahwa pada apendisitis tanpa peritonitis, dosis tunggal antibiotic preoperative menurunkan infeksi luka postoperasi. Akan tetapi beberapa protokol mengajukan apendisitis akut diberikan dalam waktu 48 jam saja
Beberapa penelitian retrospektif yang dilakukan sebenarnya menemukan operasi yang dilakukan dini (kurang dari 12 jam setelah nyeri dirasakan) tidak bermakna menurunkan komplikasi post-operasi dibanding yang dilakukan biasa (12-24 jam). Akan tetapi ditemukan bahwa setiap penundaan 12 jam waktu operasi, terdapat penambahan risiko 5% terjadinya perforasi.