Perlawanan Gowa-Tallo terjadi antara 1666-1667 sebagai respons terhadap upaya VOC yang ingin memonopoli perdagangan di Indonesia Timur. Sultan Hasanuddin mengerahkan pasukan untuk melawan VOC, namun setelah pertempuran sengit, ia terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang merugikan, mengakui kekuasaan VOC dan menyerahkan benteng-benteng penting. Akibatnya, kekuasaan Gowa-Tallo menyusut, dan Sultan Hasanuddin harus menghadapi serangan selanjutnya hingga meninggal pada 1670.