Wartawan Juga Manusia
Narator : “Alkisah di sebuah kota Jurnalis, ada empat orang dengan kehidupan yang
berbeda-beda. Keempat orang itu juga terpuruk dalam masalah kehidupan
jurnalisnya masing-masing. Namun, semangat akan kecintaan mereka dalam
jurnalistik tidak dapat memupuskan segala hasrat yang membara dalam diri
mereka untuk mencapai impian mereka sendiri.”
Adegan 1 :
Narator : “Mawar, salah satu wartawan di kota Jurnalis diberi tugas oleh pimpinan
redaksinya, Pak Kamboja, untuk meliput sebuah berita tentang skandal seorang
artis. Namun, ia memiliki satu masalah karena sang artis tak mau buka mulut.
Ingin tahu kelanjutannya, langsung saja check it out…”
Pak Kamboja : “Saya akan menugaskan kepada Anda untuk meliput kegiatan Marshanda saat
ini. Akhir – akhir ini berita Marsyanda menyita perhatian masyarakat luas dan
jika kita dapat mendapatkan berita ini, rating majalah kita akan naik dan
mendapatkan keuntungan yang banyak.”
Mawar : “Baik pak, saya akan melaksanakan tugas dan menghasilkan berita sebaik
mungkin.”
Pak Kamboja : “Saya akan memberikan waktu selama satu minggu. Jika dalam seminggu anda
tidak mendapatkan hasil, kemungkinan besar anda tidak akan naik jabatan!”
Mawar : “Baik, pak. Saya akan melakukannya semaksimal mungkin,”
(Setibanya di rumah Marshanda)
Mawar : “Mbak Marshanda saya minta waktunya sebentar untuk mewawancarai anda,”
Marshanda : “Maaf ya, saya tidak punya waktu untuk wawancara dengan anda!”
Mawar : “Saya minta waktunya sebentar saja kok mbak, paling hanya 30 menit,”
Marshanda : “Maaf ya mbak, saya nggak punya waktu untuk itu. Saya ada urusan!”
Mawar : “Yaudah, mbak kalau nggak bisa 30 menit, 60 menit saja deh mbak,”
Marshanda : “Ya ampun, mbak! 30 menit saja saya tidak bisa, apalagi 60 menit. Sudah,
jangan saya mbak!”
Mawar : “Lho, tapi mbak… mbak..”
#bgm: Cobalah Mengerti (Momo Geisha version)
Narator : “Mawar merasa frustasi karena ia tidak bisa mewawancarai Marshanda. Ia
terduduk lemah di taman. Merenung. Lalu apakah yang terjadi selanjutnya …?”
Vinly : (menepuk bahu Keira sambil menunjuk gadis yang berjarak 5 meter darinya)
“Eh, itu Mawar kan?
Keira : “Iya itu Mawar. Ngapain dia sendirian disitu?”
Vinly : “Kayaknya lagi sedih. Kita samperin yuk.”
(Keira mengangguk dan mereka pun berjalan menghampiri Mawar)
Keira & Vinly : (mengagetkan Mawar) “DOR!!”
Mawar : (terkejut) “Astaghfirullah!” (menoleh ke arah suara yang mengagetkannya tadi)
“Ckckck kalian! Ngagetin aku aja.”
Vinly : (nyengir) “Hehehe …. Maap ye ….”
Keira : “Mawar, kamu lagi sedih?”
Mawar : (mendesah) “Iya nih. Aku gak berhasil ngewawancarain mbak Marshanda. Aku
takut gak naik jabatan.”
Vinly : “Lho, emangnya bosmu ngasih waktu berapa lama?”
Mawar : “Seminggu.”
Keira : “Dimulai dari kapan?”
Mawar : “Tadi pagi sih ….”
(Keira dan Vinly memasang wajah poker face atas jawaban Mawar)
Keira : (duduk disamping Mawar dan merangkulnya) “Mawar yang cantik, kamu bisa
Ngedatengin mbak Marshanda lagi besok, dan besoknya, dan besoknya lagi. Kan
Waktunya masih cukup banyak.”
Vinly : (turut duduk di samping Mawar) “Iya bener. Kalo perlu aku suruh abangku buat
Ngeyakinin mbak Marsyanda supaya mau diwawancara sama kamu. Abangku
kan teman dekatnya.”
Mawar : (berbinar-binar) “Serius?”
(Keira dan Vinly mengangguk secara bersamaan)
#bgm: Mytha-Tentang Mimpiku
Adegan 2 :
Narator : “Di tempat lain, dalam sebuah lorong panjang bercat keemasan yang
menghubungkan pintu utama dengan ruang kerja Jendral, seorang gadis terduduk
dengan resah di atas kursi yang tak bisa dibilang nyaman. Kamera digital yang
tergantung di leher beberapa kali bergerak sedikit kala ia menaik-turunkan
punggung yang kini sudah teramat pegal. Sementara tape recorder yang ia
genggam turut merasakan kegelisahan itu.”
Ziva : (mendesah) “Udah lebih dari 5 jam, tapi beliau gak muncul juga. Padahal tiap
hari aku datang kesini. Beberapa kali. Dari pertengahan bulan sampai sekarang.”
(menghela dan mengembuskan napas perlahan) “Luar biasa sekali tantangan bos
kali ini. Mewawancarai direktur jendral tertinggi di Indonesia. Yang pastinya
susah banget buat ketemu sama beliau. Tapi seenggaknya ... aku udah
ngehubungin dan beliau janji bakalan nemuin aku hari ini.” (memejamkan mata
sejenak, membukanya lagi, lalu mulai bernyanyi)
#bgm: Remake Yui-Goodbye Days
(nyanyian Ziva berhenti lantaran melihat sosok yang sudah ditunggu-tunggunya datang
bersama dua orang pengawal)
Ziva : “Wah, Pak Jendral! Saya sudah lama menunggu Bapak. Izinkanlah saya untuk
mewawancarai Anda seben—”
Rein : “Tolong jangan halangi jalan kami!”
Ziva : (terkejut) “M-maaf. Tapi ... aku ada janji dengan Pak Jendral.”
Rein : “Kau tidak lihat? Pak Jendral baru saja datang dari konferensi internasional.
Beliau sudah teramat lelah. Kau bisa kemari lagi lain kali.”
Ziva : “Tapi, aku sudah menunggu dari kemarin-kemarin. Beliau sudah berjanji akan
menemuiku hari ini. Lagipula ... lagipula deadline tugasku ya hari ini ....”
Rein : (berhenti melangkah, menatap wajah Ziva) “Mba, saya minta maaaaff yang
sebesar-besarnya. Tapi Mba juga harus ngerti. Emangnya gak ngeliat muka lelah
Jendral tadi? Lagipula jika menginginkan informasi dari orang penting semacam
jendral, ya harus siap menerima kegagalan. Permisi.” (kembali melangkah
meninggalkan Ziva yang bergeming)
#bgm: Hokage’s Funeral
Ziva : (bergeming menatap punggung Rein yang menjauh) “Aku ... gak berhasil
ngewawancarain Pak Jendral .... Pasti bos marah banget .... Sebelum deadline aja
beliau sering ngomel, nuntut supaya tugas ini cepet selesai. Tapi sekarang .....
(mengangkat satu telapak tangan, menempelkannya di dahi, dan memejamkan
mata) “Apa yang harus aku lakukan ...?”
Narator : “Ziva melangkah pergi lantas berjalan menuju kantor redaksi Cakrawala dengan
lunglai. Sesampainya di kantor tersebut ia memberanikan diri menemui pemimpin
redaksi dan menceritakan semuanya. Seperti yang telah diduga, sang pemimpin
pun kesal, dan memakinya di dalam ruang kerja”
Bu Zefanya : (melempar berkas-berkas ke meja kerja) “Buruk! Buruk sekali! Kau bilang bisa
mengemban tugas ini. Tapi nyatanya apa? GAGAL! Kenapa bisa begini sih?”
(Ziva bergeming)
Bu Zefanya : “Hei, kalau ditanya jawab!”
Ziva : (merunduk) “Ma…af… Pak Jendral sulit sekali ditemui.”
Bu Zefanya : “HAH? Jangan cari-cari alasan! Jelas susah dong! Kalo gampang ya gak ada
tantangannya. Gak seru! Jika Anda bisa mengatur waktu, Anda tidak akan gagal
seperti ini. Wong yang lain aja bisa kok.” (melihat Ziva sekilas dengan tatapan
dingin dan sinis) “Anda saya pecat!”
#bgm: Remake Egoist-Departures
Ziva : (melebarkan bola mata) “Hah?”
Bu Zefanya : “Ya, Anda saya pecat.” (bangkit dari duduknya lalu berjalan melewati Ziva)
Ziva : (mengejar Bu Zefanya) “T-tapi Bu, saya sangat menginginkan pekerjaan ini.
Berikanlah saya kesempatan sekali lagi. Saya janji gak akan gagal lagi.”
Bu Zefanya : “Omong kosong! Anda pikir saya percaya dengan janji palsu itu?”
Ziva : “Tapi Bu, bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua?”
Bu Zefanya : (menaiki lift, meninggalkan Ziva)
Ziva : (meratap) “Bu ....”
#bgm: Remake Egoist-Departures
(saat di luar ruang kerja)
Diva : “Kenapa wajah kau murung begitu?”
Ziva : “Habis kena semprot sama bos. Rasanya tuh sakitnya tuh di sini..”
#bgm: sakitnya tuh di sini (Cita Citata)
Diva : “Waduh, jangan-jangan saya berikutnya kena semprot. Jangan sampai deh saya
dipecat karena bulan depan saya mau kawin,”
#bgm: Kawin (Project Pop)
(Ziva pergi dengan lesu meninggalkan Diva yang masih asyik bernyanyi. Setelah Diva
menoleh dan menyadari bahwa temannya melangkah pergi, maka ia pun mengekor sambil
memanggil-manggil Ziva)
Adegan 3 :
Narator : “Berikut ini menceritakan tentang kisah seorang wartawan bernama Wawan
yang rindu dengan keluarganya. Namun Wawan tidak bisa menemui keluarganya
karena tuntutan pekerjaan di luar negeri. Saat ini Wawan terdiam sambil
menatap kalender yang ia pegang. Ia teringat bahwa hari itu adalah hari ulang
tahun anaknya.”
Maman : “Wan, ayo berangkat!”
(Maman mengambil tasnya sambil menepuk pundak Wawan. Wawan hanya menganggukan
kepalanya. Wajahnya terlihat tidakbersemangat).
Maman : “Kenapa Wan? Ayo buruan nanti telat.”
(Mereka akhirnya berangkat. Wawan masih terlihat tidak bersemangat. Wajahnya sedikit
murung.)
-----
Narator : “Sementara di rumah Wawan, istri Wawan sedang merayakan ulang tahun
anaknya.”
Aan : “Ma, Papa mana? Kok gak pulang?”
#bgm: Bapak mana, bapak mana (Trio ubur-ubur)
Aan : “Ma, emang papa nggak inget hari ulangtahunku ya?”
Iis : “Papa inget kok nak. Mungkin Papa belum bisa pulang hari ini.”
Aan : “Yah… padahal Aan kangen banget. Kenapa Papa gak pulang aja sih Ma?”
Iis : “Nak, kerjaan Papa itu kan juga untuk kepentingan orang banyak. Kita harus
bangga sama Papa.”
----
Narator : “Wawan dan Maman sedang sibuk meliput di depan gedung yang akan
digunakan untuk Conferensi Pers. Tiba-tiba handphone Wawan berdering.”
Wawan : “Ya? Ada apa?”
Aan : “Pa. Hari ini Aan ulang tahun. Papa gak lupa kan?”
Maman : “Heh Wan. Jangan sibuk telpon-telponan dong. Sebentar lagi orangnya dateng
tuh.”
Wawan : “Oke Man.”
Aan : “Pa? Papa? Halo? Halo?”
(Wawan langsung mematikan handphonenya).
Wawan : “Ada apa sih? Papa lagi sibuk. Gak usah telpon-telpon dulu deh.”
(Wawan langsung me-non aktif-kan handphonenya.)
#bgm: bunyi dering handphone
(Sementara di sisi lain, Aan tertunduk sedih setelah menerima telepon papanya)
#bgm: Broery Marantika - Ayah
----
Narator : “Lalu 3 hari kemudian. Apakah yang terjadi? Setelah Wawan selesai bekerja, ia
segera menelpon Iis. Lalu…”
Wawan : “Halo Ma, apa kabar?”
(Terdengar isak tangis Iis. Suaranya bergetar).
Iis : “Aan Pa, Aan….”
Wawan : “Ada apa Ma? Aan kenapa?”
Iis : “Aan sakit Pa. Aan koma.”
Wawan : “Kok bisa Ma?”
Iis : “Aan gak mau makan Pa. Aan demam tinggi sampe kejang-kejang. Dia kangen
kamu Pa.”
(Wawan segera mematikan handphonenya. Wawan menangis. Wawan bingung harus
bagaimana. Wawan menghampiri Maman dan mengguncang-guncangkan tubuh Maman).
Wawan : “Gue mau pulang. Anak gue! Anak gue sekarat!”
Maman : “Lu…. Gak bohong kan? Gak bisa. Kita belom bisa pulang sekarang.”
Wawan : “Tolong gue Wan, gue mau pulang. Bantuin gue!”
#bgm: Tersesal (J-Rocks)
Adegan 4 :
Narator : “Mira baru saja lulus dari SMA jurusan IPA. Namun, sejak dulu ia memiliki
ketertarikan dengan dunia jurnalistik. Saat tiba saatnya ia akan kuliah, ia
bertekad mengambil jurusan jurnalistik. Ia bercita-cita menjadi seorang
wartawan. Tetapi orangtuanya menentangnya. Orangtuanya menginginkan Mira
menjadi seorang dokter. Ada berbagai alasan yang membuat orangtuanya
mengambil keputusan itu..”
Mama : “Pokoknya mama tidak setuju kalau kamu mau jadi wartawan!”
Mira : “Tapi kan, ma.. Aku kan sangat suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan
jurnalistik. Mama kan sudah tahu itu dari dulu.”
Mama : “Iya, mama tahu itu. Tapi kamu juga harus ingat, kalau saat SMA itu kamu
mengambil jurusan IPA. Nah, sudah seharusnya kamu mengambil jurusan yang
berkaitan IPA juga saat kuliah nanti,”
Mira : “Ok, dulu itu aku mengambil jurusan IPA karena mama yang memaksaku. Aku
sudah menuruti kehendak mama. Tapi sekarang biarkanlah aku memilih
keinginanku sendiri,” (sambil berwajah memelas).
Mama : “Makanya itu, mama menyuruh kamu masuk jurusan IPA agar kelak kamu akan
meneruskan perguruan tinggi di jurusan IPA juga. Mama sangat berharap kamu
bisa menjadi seorang dokter seperti papa yang bisa menolong orang lain.”
Mira : “Tapi dengan menjadi wartawan, aku juga bisa menolong orang lain, ma. Aku
bisa membantu menyampaikan informasi suatu peristiwa kepada orang lain, jadi
orang lain itu tidak perlu datang ke tkp untuk mengetahui informasi itu.”
Mama : “ Ya, mama tau itu. Tapi kamu tau kan menjadi wartawan itu sangat beresiko.
Kamu bisa ikut tersangkut skandal orang lain, selain itu kamu harus kerja tanpa
mengenal waktu. Yang lebih parahnya lagi, pekerjaan itu bisa membahayakan
nyawamu, nak. Mama takut kamu nanti jadi seperti wartawan yang ditawan oleh
ISIS itu. Lalu, kamu ingat kan kejadian pesawat Sukhoi itu? Hanya gara-gara ingin
meliput berita, tapi akhirnya malah nyawa jadi taruhannya. Kamu mau seperti
itu?!”
Mira : “Mama jangan berpikiran negatif dulu. Memang menjadi wartawan itu tidak
mudah. Tapi aku yakin aku bisa melakukannya.”
Mama : “Pokoknya mama tetap tidak setuju. Titik!”
Mira : “Jangan pikir, Mira akan menyerah sampai di di sini, ma. Mira yakin, mira bisa
membuktikannya pada mama!”
#bgm: Pasti Bisa
Narator : “ Akhirnya diam-diam Mira berusaha mengejar impiannya. Ia selalu belajar
dengan tekun dan pantang menyerah. Ia selalu bangkit ketika jatuh. Sampai
akhirnya ia berhasil lulus dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan media
cetak ternama. Suatu kali, semangatnya luntur karena suatu masalah. Rekan
kerjanya Nanda, telah mengklaim hasil pekerjaannya”
#bgm: Jangan Menyerah – D’Masiv
Redaktur : “Kamu sebenarnya bisa bekerja tidak sih?!” (sambil mondar-mandir di depan
Mira). “Kamu tahu kan, deadline kita itu tinggal satu hari lagi! Tinggal besok!”
Mira : “Maaf bu, tapi saya benar-benar sudah mewawancarainya. Semuanya sudah
saya rekam kok,”
Redaktur : “Tapi sekarang mana buktinya?!”
Mira : “Nah, itu dia bu, saya tidak tahu dimana tape record saya. Saya ingat betul
kalau saya tadi menyimpannya di sini,” (sambil menunjuk tas nya).
Redaktur : “Saya tidak mau tahu. Kalau sampai besok tidak ada hasil, maka tidak ada
pekerjaan lagi buat kamu!”
(Mira keluar dengan muka kusut dan depresi)
(Nanda memasuki ruangan Redaktur)
Nanda : “Permisi, bu. Maaf tadi saya mendengar pembicaraan ibu tadi. (berdehem)
Begini saya tadi juga sempat mewawancarai Cita Citata. Mungkin ibu bisa
menerima berita saya ini,” (sambil menyerahkan tape kepada redaktur)
(Redaktur mendengar isi tape record)
Redaktur : “Baiklah kalau begitu. Saya terima beritamu dan nanti beritamu akan dimuat di
Koran,”
Nanda : “Terimakasih bu, atas kekrjasamanya,”
Narator : “Setelah berita Nanda dimuat dan Mira telah kehilangan pekerjaannya. Inilah
yang terjadi..”
(Mira memasuki ruang redaktur dengan menggebu-gebu)
Mira : “Bu, saya tidak terima perlakuan ibu!”
Redaktur : “Apa kamu tidak bisa sopan sedikit?! Tiba-tiba dating seperti itu!”
Mira : “Maaf, bu. Saya tidak terima atas pemecatan ibu terhadap saya, sedangakan
berita saya ini dimuat. Salah saya apa bu?!”
#bgm: Five Minutes – Salah Apa
Redaktur : (sambil mendengus) “Jangan ngaku-ngaku kamu! Berita ini adalah milik Nanda,
bukan kamu,”
Mira : “Tapi itu berita saya, bu. Saya tidak bohong,”
Redaktur : “Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang silakan anda keluar!”
#bmg: Michael Buble - Lost
Ending :
Narator : “Semua tokoh utama bertemu dalam suatu tempat. Mereka saling curhat
tentang permasalahan masing-masing. Lalu mereka saling menhibur dan
memberi semangat. Akhirnya, mereka saling berjanji untuk menghadapi masalah
mereka masing-masing dan menyelesaikannya. Lalu, mereka menjadi wartawan-
wartawan yang sukses di kota Jurnalis itu.”
#bgm: Nidji – Laskar Pelangi

Naskah Talent Show SU(Swara Unsada)//Jurnalistik//

  • 1.
    Wartawan Juga Manusia Narator: “Alkisah di sebuah kota Jurnalis, ada empat orang dengan kehidupan yang berbeda-beda. Keempat orang itu juga terpuruk dalam masalah kehidupan jurnalisnya masing-masing. Namun, semangat akan kecintaan mereka dalam jurnalistik tidak dapat memupuskan segala hasrat yang membara dalam diri mereka untuk mencapai impian mereka sendiri.” Adegan 1 : Narator : “Mawar, salah satu wartawan di kota Jurnalis diberi tugas oleh pimpinan redaksinya, Pak Kamboja, untuk meliput sebuah berita tentang skandal seorang artis. Namun, ia memiliki satu masalah karena sang artis tak mau buka mulut. Ingin tahu kelanjutannya, langsung saja check it out…” Pak Kamboja : “Saya akan menugaskan kepada Anda untuk meliput kegiatan Marshanda saat ini. Akhir – akhir ini berita Marsyanda menyita perhatian masyarakat luas dan jika kita dapat mendapatkan berita ini, rating majalah kita akan naik dan mendapatkan keuntungan yang banyak.” Mawar : “Baik pak, saya akan melaksanakan tugas dan menghasilkan berita sebaik mungkin.” Pak Kamboja : “Saya akan memberikan waktu selama satu minggu. Jika dalam seminggu anda tidak mendapatkan hasil, kemungkinan besar anda tidak akan naik jabatan!” Mawar : “Baik, pak. Saya akan melakukannya semaksimal mungkin,” (Setibanya di rumah Marshanda) Mawar : “Mbak Marshanda saya minta waktunya sebentar untuk mewawancarai anda,” Marshanda : “Maaf ya, saya tidak punya waktu untuk wawancara dengan anda!” Mawar : “Saya minta waktunya sebentar saja kok mbak, paling hanya 30 menit,” Marshanda : “Maaf ya mbak, saya nggak punya waktu untuk itu. Saya ada urusan!” Mawar : “Yaudah, mbak kalau nggak bisa 30 menit, 60 menit saja deh mbak,”
  • 2.
    Marshanda : “Yaampun, mbak! 30 menit saja saya tidak bisa, apalagi 60 menit. Sudah, jangan saya mbak!” Mawar : “Lho, tapi mbak… mbak..” #bgm: Cobalah Mengerti (Momo Geisha version) Narator : “Mawar merasa frustasi karena ia tidak bisa mewawancarai Marshanda. Ia terduduk lemah di taman. Merenung. Lalu apakah yang terjadi selanjutnya …?” Vinly : (menepuk bahu Keira sambil menunjuk gadis yang berjarak 5 meter darinya) “Eh, itu Mawar kan? Keira : “Iya itu Mawar. Ngapain dia sendirian disitu?” Vinly : “Kayaknya lagi sedih. Kita samperin yuk.” (Keira mengangguk dan mereka pun berjalan menghampiri Mawar) Keira & Vinly : (mengagetkan Mawar) “DOR!!” Mawar : (terkejut) “Astaghfirullah!” (menoleh ke arah suara yang mengagetkannya tadi) “Ckckck kalian! Ngagetin aku aja.” Vinly : (nyengir) “Hehehe …. Maap ye ….” Keira : “Mawar, kamu lagi sedih?” Mawar : (mendesah) “Iya nih. Aku gak berhasil ngewawancarain mbak Marshanda. Aku takut gak naik jabatan.” Vinly : “Lho, emangnya bosmu ngasih waktu berapa lama?” Mawar : “Seminggu.” Keira : “Dimulai dari kapan?” Mawar : “Tadi pagi sih ….” (Keira dan Vinly memasang wajah poker face atas jawaban Mawar)
  • 3.
    Keira : (dudukdisamping Mawar dan merangkulnya) “Mawar yang cantik, kamu bisa Ngedatengin mbak Marshanda lagi besok, dan besoknya, dan besoknya lagi. Kan Waktunya masih cukup banyak.” Vinly : (turut duduk di samping Mawar) “Iya bener. Kalo perlu aku suruh abangku buat Ngeyakinin mbak Marsyanda supaya mau diwawancara sama kamu. Abangku kan teman dekatnya.” Mawar : (berbinar-binar) “Serius?” (Keira dan Vinly mengangguk secara bersamaan) #bgm: Mytha-Tentang Mimpiku Adegan 2 : Narator : “Di tempat lain, dalam sebuah lorong panjang bercat keemasan yang menghubungkan pintu utama dengan ruang kerja Jendral, seorang gadis terduduk dengan resah di atas kursi yang tak bisa dibilang nyaman. Kamera digital yang tergantung di leher beberapa kali bergerak sedikit kala ia menaik-turunkan punggung yang kini sudah teramat pegal. Sementara tape recorder yang ia genggam turut merasakan kegelisahan itu.” Ziva : (mendesah) “Udah lebih dari 5 jam, tapi beliau gak muncul juga. Padahal tiap hari aku datang kesini. Beberapa kali. Dari pertengahan bulan sampai sekarang.” (menghela dan mengembuskan napas perlahan) “Luar biasa sekali tantangan bos kali ini. Mewawancarai direktur jendral tertinggi di Indonesia. Yang pastinya susah banget buat ketemu sama beliau. Tapi seenggaknya ... aku udah ngehubungin dan beliau janji bakalan nemuin aku hari ini.” (memejamkan mata sejenak, membukanya lagi, lalu mulai bernyanyi) #bgm: Remake Yui-Goodbye Days (nyanyian Ziva berhenti lantaran melihat sosok yang sudah ditunggu-tunggunya datang bersama dua orang pengawal) Ziva : “Wah, Pak Jendral! Saya sudah lama menunggu Bapak. Izinkanlah saya untuk mewawancarai Anda seben—” Rein : “Tolong jangan halangi jalan kami!” Ziva : (terkejut) “M-maaf. Tapi ... aku ada janji dengan Pak Jendral.” Rein : “Kau tidak lihat? Pak Jendral baru saja datang dari konferensi internasional. Beliau sudah teramat lelah. Kau bisa kemari lagi lain kali.”
  • 4.
    Ziva : “Tapi,aku sudah menunggu dari kemarin-kemarin. Beliau sudah berjanji akan menemuiku hari ini. Lagipula ... lagipula deadline tugasku ya hari ini ....” Rein : (berhenti melangkah, menatap wajah Ziva) “Mba, saya minta maaaaff yang sebesar-besarnya. Tapi Mba juga harus ngerti. Emangnya gak ngeliat muka lelah Jendral tadi? Lagipula jika menginginkan informasi dari orang penting semacam jendral, ya harus siap menerima kegagalan. Permisi.” (kembali melangkah meninggalkan Ziva yang bergeming) #bgm: Hokage’s Funeral Ziva : (bergeming menatap punggung Rein yang menjauh) “Aku ... gak berhasil ngewawancarain Pak Jendral .... Pasti bos marah banget .... Sebelum deadline aja beliau sering ngomel, nuntut supaya tugas ini cepet selesai. Tapi sekarang ..... (mengangkat satu telapak tangan, menempelkannya di dahi, dan memejamkan mata) “Apa yang harus aku lakukan ...?” Narator : “Ziva melangkah pergi lantas berjalan menuju kantor redaksi Cakrawala dengan lunglai. Sesampainya di kantor tersebut ia memberanikan diri menemui pemimpin redaksi dan menceritakan semuanya. Seperti yang telah diduga, sang pemimpin pun kesal, dan memakinya di dalam ruang kerja” Bu Zefanya : (melempar berkas-berkas ke meja kerja) “Buruk! Buruk sekali! Kau bilang bisa mengemban tugas ini. Tapi nyatanya apa? GAGAL! Kenapa bisa begini sih?” (Ziva bergeming) Bu Zefanya : “Hei, kalau ditanya jawab!” Ziva : (merunduk) “Ma…af… Pak Jendral sulit sekali ditemui.” Bu Zefanya : “HAH? Jangan cari-cari alasan! Jelas susah dong! Kalo gampang ya gak ada tantangannya. Gak seru! Jika Anda bisa mengatur waktu, Anda tidak akan gagal seperti ini. Wong yang lain aja bisa kok.” (melihat Ziva sekilas dengan tatapan dingin dan sinis) “Anda saya pecat!” #bgm: Remake Egoist-Departures Ziva : (melebarkan bola mata) “Hah?” Bu Zefanya : “Ya, Anda saya pecat.” (bangkit dari duduknya lalu berjalan melewati Ziva) Ziva : (mengejar Bu Zefanya) “T-tapi Bu, saya sangat menginginkan pekerjaan ini. Berikanlah saya kesempatan sekali lagi. Saya janji gak akan gagal lagi.” Bu Zefanya : “Omong kosong! Anda pikir saya percaya dengan janji palsu itu?” Ziva : “Tapi Bu, bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua?” Bu Zefanya : (menaiki lift, meninggalkan Ziva) Ziva : (meratap) “Bu ....” #bgm: Remake Egoist-Departures
  • 5.
    (saat di luarruang kerja) Diva : “Kenapa wajah kau murung begitu?” Ziva : “Habis kena semprot sama bos. Rasanya tuh sakitnya tuh di sini..” #bgm: sakitnya tuh di sini (Cita Citata) Diva : “Waduh, jangan-jangan saya berikutnya kena semprot. Jangan sampai deh saya dipecat karena bulan depan saya mau kawin,” #bgm: Kawin (Project Pop) (Ziva pergi dengan lesu meninggalkan Diva yang masih asyik bernyanyi. Setelah Diva menoleh dan menyadari bahwa temannya melangkah pergi, maka ia pun mengekor sambil memanggil-manggil Ziva) Adegan 3 : Narator : “Berikut ini menceritakan tentang kisah seorang wartawan bernama Wawan yang rindu dengan keluarganya. Namun Wawan tidak bisa menemui keluarganya karena tuntutan pekerjaan di luar negeri. Saat ini Wawan terdiam sambil menatap kalender yang ia pegang. Ia teringat bahwa hari itu adalah hari ulang tahun anaknya.” Maman : “Wan, ayo berangkat!” (Maman mengambil tasnya sambil menepuk pundak Wawan. Wawan hanya menganggukan kepalanya. Wajahnya terlihat tidakbersemangat). Maman : “Kenapa Wan? Ayo buruan nanti telat.” (Mereka akhirnya berangkat. Wawan masih terlihat tidak bersemangat. Wajahnya sedikit murung.) ----- Narator : “Sementara di rumah Wawan, istri Wawan sedang merayakan ulang tahun anaknya.” Aan : “Ma, Papa mana? Kok gak pulang?” #bgm: Bapak mana, bapak mana (Trio ubur-ubur) Aan : “Ma, emang papa nggak inget hari ulangtahunku ya?”
  • 6.
    Iis : “Papainget kok nak. Mungkin Papa belum bisa pulang hari ini.” Aan : “Yah… padahal Aan kangen banget. Kenapa Papa gak pulang aja sih Ma?” Iis : “Nak, kerjaan Papa itu kan juga untuk kepentingan orang banyak. Kita harus bangga sama Papa.” ---- Narator : “Wawan dan Maman sedang sibuk meliput di depan gedung yang akan digunakan untuk Conferensi Pers. Tiba-tiba handphone Wawan berdering.” Wawan : “Ya? Ada apa?” Aan : “Pa. Hari ini Aan ulang tahun. Papa gak lupa kan?” Maman : “Heh Wan. Jangan sibuk telpon-telponan dong. Sebentar lagi orangnya dateng tuh.” Wawan : “Oke Man.” Aan : “Pa? Papa? Halo? Halo?” (Wawan langsung mematikan handphonenya). Wawan : “Ada apa sih? Papa lagi sibuk. Gak usah telpon-telpon dulu deh.” (Wawan langsung me-non aktif-kan handphonenya.) #bgm: bunyi dering handphone (Sementara di sisi lain, Aan tertunduk sedih setelah menerima telepon papanya) #bgm: Broery Marantika - Ayah ---- Narator : “Lalu 3 hari kemudian. Apakah yang terjadi? Setelah Wawan selesai bekerja, ia segera menelpon Iis. Lalu…” Wawan : “Halo Ma, apa kabar?” (Terdengar isak tangis Iis. Suaranya bergetar). Iis : “Aan Pa, Aan….” Wawan : “Ada apa Ma? Aan kenapa?” Iis : “Aan sakit Pa. Aan koma.”
  • 7.
    Wawan : “Kokbisa Ma?” Iis : “Aan gak mau makan Pa. Aan demam tinggi sampe kejang-kejang. Dia kangen kamu Pa.” (Wawan segera mematikan handphonenya. Wawan menangis. Wawan bingung harus bagaimana. Wawan menghampiri Maman dan mengguncang-guncangkan tubuh Maman). Wawan : “Gue mau pulang. Anak gue! Anak gue sekarat!” Maman : “Lu…. Gak bohong kan? Gak bisa. Kita belom bisa pulang sekarang.” Wawan : “Tolong gue Wan, gue mau pulang. Bantuin gue!” #bgm: Tersesal (J-Rocks) Adegan 4 : Narator : “Mira baru saja lulus dari SMA jurusan IPA. Namun, sejak dulu ia memiliki ketertarikan dengan dunia jurnalistik. Saat tiba saatnya ia akan kuliah, ia bertekad mengambil jurusan jurnalistik. Ia bercita-cita menjadi seorang wartawan. Tetapi orangtuanya menentangnya. Orangtuanya menginginkan Mira menjadi seorang dokter. Ada berbagai alasan yang membuat orangtuanya mengambil keputusan itu..” Mama : “Pokoknya mama tidak setuju kalau kamu mau jadi wartawan!” Mira : “Tapi kan, ma.. Aku kan sangat suka sekali hal-hal yang berkaitan dengan jurnalistik. Mama kan sudah tahu itu dari dulu.” Mama : “Iya, mama tahu itu. Tapi kamu juga harus ingat, kalau saat SMA itu kamu mengambil jurusan IPA. Nah, sudah seharusnya kamu mengambil jurusan yang berkaitan IPA juga saat kuliah nanti,” Mira : “Ok, dulu itu aku mengambil jurusan IPA karena mama yang memaksaku. Aku sudah menuruti kehendak mama. Tapi sekarang biarkanlah aku memilih keinginanku sendiri,” (sambil berwajah memelas). Mama : “Makanya itu, mama menyuruh kamu masuk jurusan IPA agar kelak kamu akan meneruskan perguruan tinggi di jurusan IPA juga. Mama sangat berharap kamu bisa menjadi seorang dokter seperti papa yang bisa menolong orang lain.”
  • 8.
    Mira : “Tapidengan menjadi wartawan, aku juga bisa menolong orang lain, ma. Aku bisa membantu menyampaikan informasi suatu peristiwa kepada orang lain, jadi orang lain itu tidak perlu datang ke tkp untuk mengetahui informasi itu.” Mama : “ Ya, mama tau itu. Tapi kamu tau kan menjadi wartawan itu sangat beresiko. Kamu bisa ikut tersangkut skandal orang lain, selain itu kamu harus kerja tanpa mengenal waktu. Yang lebih parahnya lagi, pekerjaan itu bisa membahayakan nyawamu, nak. Mama takut kamu nanti jadi seperti wartawan yang ditawan oleh ISIS itu. Lalu, kamu ingat kan kejadian pesawat Sukhoi itu? Hanya gara-gara ingin meliput berita, tapi akhirnya malah nyawa jadi taruhannya. Kamu mau seperti itu?!” Mira : “Mama jangan berpikiran negatif dulu. Memang menjadi wartawan itu tidak mudah. Tapi aku yakin aku bisa melakukannya.” Mama : “Pokoknya mama tetap tidak setuju. Titik!” Mira : “Jangan pikir, Mira akan menyerah sampai di di sini, ma. Mira yakin, mira bisa membuktikannya pada mama!” #bgm: Pasti Bisa Narator : “ Akhirnya diam-diam Mira berusaha mengejar impiannya. Ia selalu belajar dengan tekun dan pantang menyerah. Ia selalu bangkit ketika jatuh. Sampai akhirnya ia berhasil lulus dan mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan media cetak ternama. Suatu kali, semangatnya luntur karena suatu masalah. Rekan kerjanya Nanda, telah mengklaim hasil pekerjaannya” #bgm: Jangan Menyerah – D’Masiv Redaktur : “Kamu sebenarnya bisa bekerja tidak sih?!” (sambil mondar-mandir di depan Mira). “Kamu tahu kan, deadline kita itu tinggal satu hari lagi! Tinggal besok!” Mira : “Maaf bu, tapi saya benar-benar sudah mewawancarainya. Semuanya sudah saya rekam kok,” Redaktur : “Tapi sekarang mana buktinya?!” Mira : “Nah, itu dia bu, saya tidak tahu dimana tape record saya. Saya ingat betul kalau saya tadi menyimpannya di sini,” (sambil menunjuk tas nya). Redaktur : “Saya tidak mau tahu. Kalau sampai besok tidak ada hasil, maka tidak ada pekerjaan lagi buat kamu!”
  • 9.
    (Mira keluar denganmuka kusut dan depresi) (Nanda memasuki ruangan Redaktur) Nanda : “Permisi, bu. Maaf tadi saya mendengar pembicaraan ibu tadi. (berdehem) Begini saya tadi juga sempat mewawancarai Cita Citata. Mungkin ibu bisa menerima berita saya ini,” (sambil menyerahkan tape kepada redaktur) (Redaktur mendengar isi tape record) Redaktur : “Baiklah kalau begitu. Saya terima beritamu dan nanti beritamu akan dimuat di Koran,” Nanda : “Terimakasih bu, atas kekrjasamanya,” Narator : “Setelah berita Nanda dimuat dan Mira telah kehilangan pekerjaannya. Inilah yang terjadi..” (Mira memasuki ruang redaktur dengan menggebu-gebu) Mira : “Bu, saya tidak terima perlakuan ibu!” Redaktur : “Apa kamu tidak bisa sopan sedikit?! Tiba-tiba dating seperti itu!” Mira : “Maaf, bu. Saya tidak terima atas pemecatan ibu terhadap saya, sedangakan berita saya ini dimuat. Salah saya apa bu?!” #bgm: Five Minutes – Salah Apa Redaktur : (sambil mendengus) “Jangan ngaku-ngaku kamu! Berita ini adalah milik Nanda, bukan kamu,” Mira : “Tapi itu berita saya, bu. Saya tidak bohong,” Redaktur : “Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang silakan anda keluar!” #bmg: Michael Buble - Lost Ending :
  • 10.
    Narator : “Semuatokoh utama bertemu dalam suatu tempat. Mereka saling curhat tentang permasalahan masing-masing. Lalu mereka saling menhibur dan memberi semangat. Akhirnya, mereka saling berjanji untuk menghadapi masalah mereka masing-masing dan menyelesaikannya. Lalu, mereka menjadi wartawan- wartawan yang sukses di kota Jurnalis itu.” #bgm: Nidji – Laskar Pelangi