KOLOID 
2.1 Pengertian Koloid 
Untuk memudahkan pembahasan sistem dispersi koloid, digunakan fase 
terdispersi berupa padatan dan fase pendispersi yang umum, berupa air. Ukuran 
partikel zat terdispersi di dalam koloid lebih besar daripada ukuran partikel di 
dalam larutan, tetapi lebih kecil daripada ukuran partikel di dalam suspensi. 
Partikel zat terdispersi berukuran antara 10-7 cm sampai dengan 10-5 cm (1 nm – 
100 nm). Sistem koloid tampak homogen jika dilihat tanpa mikroskop, tetapi 
dengan menggunakan mikroskop tampak adanya partikel-partikel fase terdispersi. 
Partikel koloid dapat disaring dengan menggunakan suatu kertas saring yang 
berpori-pori sangat halus (penyaring ultra). Berdasarkan sistem dispersinya, suatu 
koloid tampak seperti suspensi. Akan tetapi, secara fisik tampak seperti larutan 
sehingga sering juga disebut dengan istilah suspensi homogen. Campuran susu 
bubuk dan air dinamakan koloid. Secara garis besar, perbandingan antara larutan, 
koloid, dan suspensi dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini. 
Tabel 2.1 Perbandingan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi 
Aspek Larutan Koloid Suspensi 
Bentuk Campuran Homogen Tampak homogen Heterogen 
Kestabilan Stabil Stabil Tidak stabil 
Pengamatan 
Homogen Heterogen Heterogen 
Mikroskop 
Jumlah Fase Satu Dua Dua 
Sistem Dispersi Molekuler Padatan halus Padatan kasar 
Pemisahan 
Tidak dapat 
dengan Cara 
disaring 
Penyaringan 
Tidak dapat disaring 
dengan kertas saring 
biasa, kecuali dengan 
kertas saring ultra. 
Dapat disaring 
Ukuran Partikel < 10-7 cm, 
atau < 1 nm 
10-7 cm - 10-5 cm, atau 
1 nm - 100 nm 
> 10-5 cm, 
atau
> 100 nm 
2.2 Pengelompokan sistem koloid 
Sistem koloid adalah campuran yang heterogen. Telah diketahui bahwa terdapat 
tiga fase zat, yaitu padat, cair, dan gas. Dari ketiga fasa zat ini dapat dibuat 
sembilan kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk sistem 
koloid hanya delapan. Kombinasi campuran fase gas dan fase gas selalu 
menghasilkan campuran yang homogen (satu fase) sehingga tidak dapat 
membentuk sistem koloid. 
Macam koloid berdasarkan interaksinya dengan pelarut ( air ) 
1. Koloid Hidrofil ; 
- dapat campur dengan air    dapat diencerkan 
- lebih stabil . 
Contoh : koloid dari senyawa-senyawa organik, misalnya 
kanji (amilum), agar-agar, dsb 
2. Koloid Hidrofob ; 
- tidak campur dengan air,  tidak dapat diencerkan 
- kurang stabil. 
Contoh : Kebanyakan koloid dari senyawa anorganik, misalnya sol belerang (S), 
Fe(OH)3. 
2.3 Sifat dan penerapan sistem koloid 
Secara fisik, sistem koloid terlihat homogen seperti larutan. Jika anda amati 
dengan mikroskop, terlihat adanya perbedaan antara koloid dan larutan karena 
sistem koloid sebetulnya bersifat heterogen. Untuk lebih memperjelas perbedaan 
antara larutan dan koloid, Anda harus mempelajari sifat-sifat yang dimiliki oleh 
sistem koloid tersebut. 
2.3.1. Gerak Brown 
Gerak Brown adalah gerak tidak beraturan, gerak acak atau gerak zig-zag partikel 
koloid. Gerak Brown terjadi karena benturan tidak teratur partikel koloid dan
medium pendispersi. Benturan tersebut mengakibatkan partikel koloid bergetar 
dengan arah yang tidak beraturan dan jarak yang pendek. 
Gerak Brown kali pertama diamati pada 1827 oleh Robert Brown (1773-1858), 
seorang ahli Biologi berkebangsaan Inggris pada saat mengamati serbuk sari. 
Fenomena ini dijelaskan oleh Albert Einstein (1879-1955) pada 1905. Menurut 
Einstein, suatu partikel mikroskopis (hanya dapat diamati dengan mikroskop) 
yang melayang dalam suatu medium pendispersi akan menunjukkan suatu gerak 
acak atau gerak zig-zag. Gerakan ini disebabkan oleh medium pendispersi yang 
menabrak partikel terdispersi dari berbagai sisi dalam jumlah yang tidak sama 
untuk setiap sisi. 
Arah gerak partikel koloid bergantung pada jumlah partikel medium pendispersi 
yang menabrak. Jika jumlah partikel pendispersi yang menabrak dari arah bawah 
banyak, partikel koloid akan bergerak ke atas. Jika jumlah partikel pendispersi 
yang menabrak dari kiri bawah banyak, partikel koloid bergerak ke kanan atas. 
Setiap gerak disertai getaran karena di sisi lain ada tabrakan dari medium 
pendispersi, tetapi jumlah molekul medium pendispersi ini sedikit. Gerak zig-zag 
akibat tabrakan dari partikel pendispersi menyebabkan sistem koloid tetap stabil, 
tetap homogen, dan tidak mengendap. 
Apakah gerak Brown juga terjadi pada sistem larutan atau suspensi? Pada larutan, 
partikel terdispersi memiliki ukuran yang sangat kecil dan hampir sama dengan 
ukuran molekul pendispersi. Gerakan partikel pendispersi bukan terjadi karena 
ditabrak oleh partikel pendipersi, melainkan disebabkan oleh gerakan oleh 
molekul sendiri. Pada suspensi, ukuran partikel terdispersi sangat besar. Adanya 
partikel pendispersi yang menabrak tidak menyebabkan partikel terdispersi 
bergerak dan tidak menimbulkan getaran. Pada suspensi, partikel terdispersi 
banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi sehingga partikel terdispersi lebih 
banyak bergerak ke bawah dan membentuk endapan. 
2.3.2 Efek Tyndall 
Jika cahaya dilewatkan ke dalam sistem koloid, cahaya yang melewati sistem 
koloid tersebut terlihat lebih terang. Cahaya yang terlihat lebih terang ini
disebabkan oleh terjadinya efek Tyndall. Efek Tyndall adalah efek penghamburan 
cahaya oleh partikel koloid. Partikel koloid akan memantulkan dan 
menghamburkan cahaya yang mengenainya sehingga cahaya akan terlihat lebih 
terang. Jika kemudian cahaya ini ditangkap layar, cahaya pada layar tersebut 
tampak buram. 
Di dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat dilihat pada gejala-gejala 
berikut. 
1) Jika sinar matahari masuk melalui celah ke dalam ruangan, pada sinar 
terlihat debu-debu beterbangan (daerah ini terlihat lebih terang). Pada daerah yang 
tidak terlewati sinar matahari tidak akan terlihat adanya debu. Begitu juga jika 
sinar matahari melewati daun pepohonan di daerah yang berkabut, sinar matahari 
tersebut terlihat lebih jelas. 
2) Jika Anda menonton film di gedung bioskop, kemudian ada asap rokok 
yang mengepul ke atas cahaya proyektor terlihat lebih terang dan gambar pada 
layar menjadi buram. 
3) Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut terlihat lebih jelas. Begitu 
juga pada jalan yang berdebu, sorot lampu terlihat lebih jelas, kecuali sehabis 
hujan yang cukup deras (sehingga jalanan tidak berdebu dan tidak ada asap). 
Itulah sebabnya sorot lampu mobil seakan tidak tampak (tidak terlihat), tetapi 
jalan terlihat jelas. 
2.3.3 Adsorpsi 
Partikel koloid mampu menyerap molekul netral atau ion-ion pada permukaannya. 
Jika partikel koloid menyerap ion bermuatan, kemudian ion-ion tersebut 
menempel pada permukaannya, partikel tersebut menjadi bermuatan. 
Sol Fe(OH)3 mampu mengadsorpsi ion-ion H+ sehingga sol Fe(OH)3 menjadi 
bermuatan positif. Sol As2S3 mampu mengadsorpsi ion-ion S2- sehingga sol As2S3 
menjadi bermuatan negatif. Penyerapan yang hanya terjadi di permukaan saja 
disebut adsorpsi, sedangkan penyerapan yang terjadi di seluruh bagian disebut 
absorpsi.
Muatan dalam partikel koloid bukan disebabkan oleh ionisasi partikel seperti pada 
larutan, melainkan disebabkan oleh adanya ion lain yang diadsorpsi. Sifat adsorpsi 
partikel koloid digunakan pada proses-proses berikut. 
a. Penjernihan Air 
Pada air sungai (air sungai merupakan suatu sistem koloid), tanah yang terdispersi 
dapat diendapkan dengan penambahan tawas (Kal(SO4)2) atau larutan PAC (Poly 
Alumuinium Chloride). Kedua zat ini dapat membentuk koloid Al(OH)3 
mengadsorpsi pengotor di dalam air, menggumpalkan, dan mengendapkannya 
sehingga air menjadi jernih. 
b. Penghilangan Kotoran pada Proses Pembuatan Sirup 
Kadang-kadang gula masih mengandung pengotor sehingga jika dilarutkan di 
dalam air, pengotor tersebut akan tampak dan larutan tidak jernih. Pada industri 
pembuatan sirup, untuk menghilangkan pengotor ini biasanya digunakan putih 
telur. Setelah gula larut, sambil diaduk ditambahkan putih telur tersebut 
menggumpal dan mengadsorpsi pengotor. Selain putih telur, dapat juga digunakan 
zat lain, seperti tanah diatomae atau arang aktif. 
c. Proses Menghilangkan Bau Badan 
Pada produk roll on deodorant, digunakan adsorben (zat yang akan mengadsorpsi) 
berupa Al-stearat. Jika deodorant digosokkan pada anggota badan, Al-stearat 
mengadsorpsi keringat yang menyebabkan bau badan. 
d. Penggunaan Arang Aktif 
Arang aktif merupakan contoh adsorben yang dibuat dengan memanaskan arang 
dalam udara kering. Arang aktif memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai 
zat. Obat norit (obat sakit perut) mengandung zat arang aktif yang berfungsi 
menyerap berbagai zat dan racun dalam usus. Arang aktif ini juga digunakan pada 
topeng gas, lemari es (untuk menghilangkan bau), dan rokok filter (untuk 
mengikat asap nikotin dan tar). 
Adanya muatan listrik pada koloid menyebabkan koloid dapat dipisahkan dengan 
cara elektroforesis. Elektroforesis adalah metode pemisahan berdasarkan 
perbedaan laju perpindahan molekul dalam medan listrik. Pada elektroforesis, 
partikel koloid yang bermuatan akan mengalami pergerakan. Partikel koloid yang
bermuatan negatif akan bergerak ke elektrode (kutub) positif. Adapun koloid yang 
bermuatan positif bergerak ke elektrode (kutub) yang bermuatan negatif. 
Elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan dari suatu partikel 
koloid. 
2.3.4 Koagulasi 
Telur direbus hingga membeku, penggumpalan susu yang basi, dan pembentukan 
delta pada muara sungai merupakan contoh-contoh proses koagulasi. Koagulasi 
adalah penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan stabilitas 
sistem koloid atau karena penggabungan partikel koloid yang berbeda muatan 
sehingga membentuk partikel yang lebih besar. Koagulasi dapat terjadi karena 
pengaruh pemanasan, pendinginan, penambahan elektrolit, pembusukan, 
pencampuran koloid yang berbeda muatan, atau karena elektroforesis. Koloid 
Fe(OH)3 yang bermuatan positif jika dicampur dengan koloid As2S3 yang 
bermuatan negatif akan mengalami koagulasi. Koagulasi terjadi karena setiap 
partikel koloid yang memiliki muatna yang berlawanan saling menetralkan 
dengan gaya elektrostatik hingga membentuk partikel besar dan menggumpal. 
Elektroforesis dapat menyebabkan koagulasi karena endapan pada salah satu 
elektrode semakin lama semakin pekat, dan akhirnya membentuk gumpalan. 
Berikut beberapa proses koagulasi yang sengaja dilakukan dalam kehidupan 
sehari-hari. 
a. Perebusan Telur 
Telur mentah merupakan suatu sistem koloid dengan fase terdispersi berupa 
protein. Jika telur tersebut direbus akan terjadi koagulasi sehingga telur tersebut 
menggumpal. 
b. Pembuatan Yoghurt 
Susu dapat diubah menjadi yoghurt melalui fermentasi. Pada fermentasi susu akan 
terbentuk asam laktat yang menggumpal dan berasa asam. 
c. Pembuatan Tahu 
Pada pembuatan tahu dari kedelai, mula-mula kedelai dihancurkan sehingga 
keedelai berbentuk bubur kedelai (seperti susu). Kemudian, ditambahkan larutan
elektrolit, yaitu CaSO4.2H2O yang disebut batu tahu sehingga protein kedelai 
menggumpal dan membentuk tahu. 
d. Pembuatan Lateks 
Lateks terbuat dari getah karet, salah satu sistem koloid. Pada pembuatan lateks, 
getah kerat digumpalkan dengan penambahan asam asetat atau asam format. 
e. Penjernihan Air Sungai 
Air sungai mengandung padatan lumpur yang terdispersi di dalam air (sol). Sol 
tanah liat dalam air sungai memiliki muatan negatif sehingga dapat diendapkan 
dengan penambahan tawas atau PAC. Di dalam air sungai tawas atau PAC 
membentuk koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif. Pengendapan terjadi karena 
koagulasi koloid yang bermuatan negatif dengan koloid yang bemuatan positif. 
f. Pembentukan Delta 
Delta terbentuk dari hasil pencampuran air sungai yang mengandung koloid tanah 
liat dan elektrolit yang berasal dari air laut. Pencampuran tersebut menyebabkan 
terjadinya koagulasi sehingga terbentuk delta. 
g. Pengolahan Asap Atau Debu 
Asap dan debu yang dihasilkan dari suatu proses industri dapat mencemari udara 
di sekitarnya. Asap dan debu merupakan sistem koloid zat padat dalam medium 
pendispersi gas (udara). Padatan dalam asap atau debu dapat diendapkan 
menggunakan alat Cotrell. 
Asap dan debu dilewatkan melalui cerobong yang di dalamnya terdapat ujung-ujung 
elektrode bermuatan dengan bertegangan antara 20.000 V hingga 75.000 V. 
Elektrode mengakibatkan asap dan debu tersebut menjadi bermuatan. Selanjutnya, 
partikel asap dan debu akan tertarik pada elektrode yang lainnya dan mengendap. 
Endapan yang terbentuk dipisahkan secara berkala sehingga gas-gas yang keluar 
dari cerobong sudah terbebas dari partikel padatan yang berbahaya. 
2.3.5 Koloid Liofil dan Koloid Liofob 
Sistem koloid sol (zat padat dalam medium pendispersi cair) dapat bersifat liofil 
(dalam bahasa Yunani lyo = cairan, philia = suka) dan ada juga bersifat liofob 
(Yunani: phobia = tidak suka, takut). Pada sol yang bersifat liofil, zat terdispersi
dapat menarik atau mengikat medium pendispersi. Pada sol yang bersifat liofob, 
zat terdispersi tidak dapat mengikat medium pendispersinya (air). 
Pada koloid liofil, pengikatan medium pendispersi disebabkan oleh gaya tarik-menarik 
(berupaya gaya elektrostatik) pada setiap gugus ujung molekul 
terdispersi. Sebagai gambaran, jika satu sendok agar-agar padat dicampur dengan 
beberapa gelas air, setiap penambahan air pada koloid agar-agar akan 
menyebabkan air terserap. Molekul-molekul air akan diikat setiap gugus yang 
terdapat pada permukaan padatan agar-agar sehingga struktur agar-agar 
mengembang. 
Agar-agar sangat mudah menarik medium pendispersinya (air). Koloid liofil 
terlihat homogen, stabil, tidak tampak adanya medium pendispersi, lebih kental, 
dan membentuk gel. Contoh koloid liofil, yaitu agar-agar, koloid kanji, cat, lem, 
gelatin, protein (putih telur), dan tinta warna. Jika medium pendispersi pada suatu 
koloid liofil adalah air, koloid tersebut disebut koloid hidrofil. 
Pada sol yang bersifat liofob, zat terdispersi tidak dapat bercampur dengan baik 
jika ditambahkan lagi medium pendispersi. Pada koloid yang bersifat liofob, 
jumlah medium pendispersi harus tertentu (terbatas). Jika pada suatu koloid liofob 
yang sudah stabil ditambahkan lagi zat pendispersi, zat terdispersi akan menolak 
sehingga koloid tidak menjadi tidak stabil. Contoh koloid liofob, yaitu sol emas, 
sol belerang, sol As2S3, dan sol Fe(OH)3 suatu koloid liofob dengan medium 
pendispersi air tersebut dinamakan koloid hidrofob. Koloid liofob berbentuk encer 
(hampir sama dengan medium pendispersi), tidak stabil, serta memiliki gerak 
Brown dan efek Tyndall. 
Sifat-Sifat Sol Liofil Sol Liofob 
Pembuatan Dapat dibuat langsung 
dengan mencampurkan 
fase terdispersi dengan 
medium terdispersinya 
Tidak dapat dibuat hanya 
dengan mencampur fase 
terdispersi dan medium 
pendisperinya 
Muatan partikel Mempunyai muatan yang 
kecil atau tidak 
Memiliki muatan positif 
atau negative
bermuatan 
Adsorpsi medium 
pendispersi 
Partikel-partikel sol liofil 
mengadsorpsi medium 
pendispersinya. Terdapat 
proses solvasi/ hidrasi, 
yaitu terbentuknya 
lapisan medium 
pendispersi yang 
teradsorpsi di sekeliling 
partikel sehingga 
menyebabkan partikel sol 
liofil tidak saling 
bergabung 
Partikel-partikel sol 
liofob tidak 
mengadsorpsi medium 
pendispersinya. Muatan 
partikel diperoleh dari 
adsorpsi partikel-partikel 
ion yang bermuatan 
listrik 
Viskositas 
(kekentalan) 
Viskositas sol liofil > 
viskositas medium 
pendispersi 
Viskositas sol hidrofob 
hampir sama dengan 
viskositas medium 
pendispersi 
Penggumpalan Tidak mudah 
menggumpal dengan 
penambahan elektrolit 
Mudah menggumpal 
dengan penambahan 
elektrolit karena 
mempunyai muatan. 
Sifat reversibel Reversibel, artinya fase 
terdispersi sol liofil dapat 
dipisahkan dengan 
koagulasi, kemudian 
dapat diubah kembali 
menjadi sol dengan 
penambahan medium 
pendispersinya. 
Irreversibel artinya sol 
liofob yang telah 
menggumpal tidak dapat 
diubah menjadi sol 
Efek Tyndall Memberikan efek Memberikan efek
Tyndall yang lemah Tyndall yang jelas 
Migrasi dalam 
medan listrik 
Dapat bermigrasi ke 
anode, katode, atau tidak 
bermigrasi sama sekali 
Akan bergerak ke anode 
atau katode, tergantung 
jenis muatan partikel 
2.3.6 Koloid Pelindung 
Koloid pelindung adalah suatu sistem koloid yang ditambahkan pada sistem 
koloid lainnya agar diperoleh koloid yang stabil. Contoh koloid pelindung adalah 
gelatin yang merupakan koloid padatan dalam medium air. Gelatin biasa 
digunakan paa pembuatan es krim untuk mencegah pembentukan kristal es yang 
kasar sehingga diperoleh es krim yang lebih lembut. 
2.3.7 Dialisis 
Dialisis adalah proses penyaringan partikel koloid dari ion-ion yang teradsorpsi 
sehingga ion-ion tersebut dapat dihilangkan dan zat terdispersi terbebas dari ion-ion 
yang tidak diinginkan. 
Pada proses dialisis, koloid yang mengandung ion-ion dimasukkan ke dalam 
kantung penyaring, kemudian dicelupkan ke dalam medium pendispersi (air). Ion-ion 
dapat keluar melewati penyaring sehingga partikel koloid terbebas dari ion-ion. 
Kantung penyaring merupakan selaput semipermeabel yang hanya dapat 
dilewati ion dan air, tetapi tidak dapat dilewati partikel koloid. 
Proses dialisis juga terjadi dalam metabolisme tubuh. Ginjal berfungsi sebagai 
penyaring semipermeabel. Cairan hasil metabolisme di dalam darah mengandung 
butir-butir darah, air, dan urea. Urea merupakan racun bagi tubuh sehingga harus 
dikeluarkan melalui air seni. Jika ginjal mengalami gangguan (gagal ginjal), ginjal 
tidak dapat menyaring darah dan mengeluarkan urea yang bersifat racun. Oleh 
karena itu, penderita gagal memerlukan proses “cuci darah”, yaitu proses dialisis 
yang berfungsi menghilangkan urea dari darah. Oleh karena itu, sudah 
sepatutnyalah kita mensyukuri kesehatan ginjal kita.
2.3.8 Sistem Koloid dalam Pengolahan Air 
Air sungai merupakan koloid yang terbentuk dari tanah liat yang terdispersi di 
dalam air. Pengolahan air sungai menjadi bersih dapat dilakukan melalui tahap-tahap 
penggumpalan pengotor (koagulasi), penyaringan pengotor, penyerapan bau 
dan zat kimia (adsorpsi), dan pembasmian kuman (desinfeksi). 
a. Penggumpalan 
Proses penggumpalan (koagulasi) dilakukan dengan menggunakan tawas 
(Kal(SO4)2), PAC (Poly Alumunium Chloride), dan Al2(SO4)3. 
Senyawa-senyawa tersebut dapat menghasilkan koloid Al(OH)3 yang akan 
mengadsorpsi pengotor tanah dan menggumpalkannya sehingga terbentuk 
endapan. 
b. Proses Penyaringan 
Setelah terjadi penggumpalan, kemudian dilakukan proses penyaringan 
menggunakan penyaring. Penyaring terdiri atas lapisan pasir, kerikil, dan ijuk. 
c. Proses Adsorpsi 
Adsorpsi atau penyerapan kotoran menggunakan koloid Al(OH)3 terjadi pada 
tahap awal. Jika terdapat ion Fe2+, ion tersebut terlebih dahulu dioksidasi menjadi 
ion Fe3+ menggunakan kaporit. Setelah itu baru proses adsorpsi dapat dilakukan 
menggunakan Al(OH)3. Proses adsorpsi juga dilakukan dengan menggunakan 
karbon aktif yang dapat menyerap bau dan zat-zat kimia, seperti besi dan sisa 
kaporit yang berlebih. 
d. Proses Desinfeksi 
Penambahan kaporit bertujuan membunuh kuman-kuman. Kaporit juga berperan 
sebagai oksidator, dapat ditambahkan sebelum penggumpalan. Kaporit ini 
menimbulkan bau unsur klorin yang kurang sedap sehingga digunakan karbon 
aktif untuk menyerap klorin tersebut. 
2.4 Kestabilan koloid 
Sistem koloid dapat tetap stabil (tidak mengendap) karena partikel-partikel koloid 
tidak berkelompok ( bergabung sesamanya ) menjadi partikel yang lebih besar 
Kestabilan koloid disebabkan oleh dua hal :
1. Partikel koloid menyerap ion-ion yang berada dalam mediumnya  partikel 
koloid “dilindungi” untuk tidak bergabung sesamanya. Terjadi pada koloid dari 
senyawa anorganik . Contoh : penambahan larutan FeCl3 ke dalam air, 
akan terbentuk sol Fe2O3 . x H2O yang menyerap ion-ion Fe3+ di lapisan dalam 
(lapisan I) dan ino-ion Cl- sebagai lapisan luar (lapisan II). 
2. Adanya emulgator; yaitu zat yang ketiga yang melindungi patikel koloid agar 
tidak bergabung sesamanya; misalnya minyak yang “dilindungi “ oleh sabun . 
Contoh beberapa zat yang dapat berfungsi sebagai emulgator ialah sabun dan 
deterjen. 
3. Partikel koloid tidak bisa mengendap karena bersifat stabil. 
4. Kestabilan koloid dapat diganggu dengan penambahan koagulan dan 
pengadukan cepat. 
5. Partikel yang tidak stabil cenderung untuk saling berinteraksi dan bergabung 
membentuk flok yang berukuran besar. 
2.5 Pembuatan koloid 
Pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, menggabungkan 
molekul atau ion dari larutan (cara kondensasi). Kedua, menghaluskan partikel 
suspensi, kemudian didispersikan ke dalam suatu medium pendispersi (cara 
dispersi). 
2.5.1 Cara Kondensasi 
Cara kondensasi dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, 
reaksi hidrolisis, reaksi penggaraman, dan reaksi penjenuhan. 
a. Reaksi Redoks 
Reaksi redoks merupakan reaksi pembentukan partikel koloid melalui mekanisme 
perubahan bilangan oksidasi. Perhatikan contoh-contoh berikut: 
1) Pembuatan sol belerang dengan mengalirkan gas hidrogen sulfida (H2S) ke 
dalam larutan belerang dioksida (SO2). 
2H2S (g) + SO2(aq) → 3S(s) + 2H2O(l) 
2) Pembuatan sol emas dengan cara meraksikan larutan AuCl3 dan zat 
pereduksi formaldehid atau besi (II) sulfat. 
2AuCl(aq) + 3HCOH(aq) + 3H2O(l) → 2Au(s) + 6HCl (aq) +3HCOOH(aq)
atau 
AuCl3(aq) + 3FeSO4(aq) → Au(s) + Fe2(SO4)3(aq) + FeCl3 (aq) 
b. Reaksi Hidrolisis 
Reaksi hidrolisis merupakan reaksi pembentukan koloid dengan menggunakan 
pereaksi air. Misalnya, pembuatan sol Al(OH)3 dan sol Fe(OH)3. 
1) Pembuatan sol Al(OH)3 dari larutan AlCl3, Al2(SO4)3, PAC atau tawas. 
AlCl3(aq) + 3H2O(l) → Al(OH)3(s) + 3HCl(aq) 
2) Pembuatan sol Fe(OH)3 dari larutan FeCl3 dengan air panas. 
FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq) 
c. Reaksi Penggaraman 
Garam-garam yang sukar larut dapat dibuat menjadi koloid melalui reaksi 
pembentukan garam. Untuk menghindari pengendapan biasanya digunakan suatu 
zat pemecah. 
AgNO3(aq) + NaCl(aq) → AgCl(s) +NaNO3(aq) 
Na2SO4(aq) + Ba(NO3)2(aq) → BaSO4(s) + 2NaNO3(aq) 
d. Penjenuhan Larutan 
Pembuatan kalsium asetat merupakan contoh pembuatan koloid dengan cara 
penjenuhan larutan ke dalam larutan jenuh kalsium asetat dalam air. Penjenuhan 
dilakukan dengan cara menambahkan pelarut alkohol sehingga akan 
menghasilkan koloid berupa gel. Kalsium asetat bersifat mudah larut dalam air, 
namun sukar larut dalam alkohol. 
e. Reaksi dekomposisi rangkap 
 Sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S perlahan melalui larutan As2O3 
dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang 
As2O3 + 3 H2S → As2S3 (koloid) + 3H2O 
 Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 dan larutan HCl 
encer. 
AgNO3 + HCl → AgCl (koloid) + HNO3
2.5.2. Cara Dispersi 
Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan cara mengubah partikel 
kasar (besar) menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan melalui cara 
mekanik (penggerusan), cara busur Bredig, dan cara peptisasi (pemecahan). 
a. Cara Mekanik 
Cara mekanik merupakan cara fisik mengubah partikel kasar menjadi partikel 
halus. Partikel kasar digiling dengan alat coloid mill sehingga diperoleh ukuran 
partikel yang diinginkan. Selanjutnya, partikel halus ini didispersikan ke dalam 
suatu medium pendispersi. Proses penggilingan dapat juga dilakukan di dalam 
medium pendispersi. 
b. Cara Busur Bredig 
Proses pembuatan koloid dengan cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol 
logam. Pada proses ini, logam yang akan dibuat sol digunakan sebagai elektrode 
dihubungkan dengan arus listrik. Uap logam yang terjadi akan terdispersi ke 
dalam medium pendispersi sehingga membentuk koloid. 
c. Cara Peptisasi 
Pada cara peptisasi, partikel kasar berupa endapan diubah menjadi partikel koloid 
dengan menggunakan elektrolit yang mengandung ion sejenis zat pemecah. 
Berikut ini contoh-contoh peptisasi. 
1) Endapan Al(OH)3 dipeptisasi dengan AlCl3 
2) Endapan NiS dipeptisasi dengan air 
3) Serat selulosa asetat dipeptisasi dengan aseton. 
d. Cara Homogenisasi 
Cara ini mirip dengan cara mekanik dan biasanya digunakan untuk membuat 
emulsi. Dengan cara ini, partikel lemak dihaluskan, kemudian didispersikan ke 
dalam medium air dengan penambahan emulgator. Selanjutnya, emulsi yang 
terbentuk dimasukkan ke dalam alat homogenizer. Caranya dengan melewatkan 
emulsi pada pori-pori dengan ukuran tertentu sehingga diperoleh emulsi yang 
homogen.
2.6 Pemurnian Koloid Sol 
Partikel dari zat pelarut bisa mengganggu kestabilan koloid sehingga harus 
dimurnikan. Ada 3 metode yang dapat digunakan, yaitu dialisis, elektrodialisis, 
dan penyaring ultra. 
2.6.1 Dialisis 
Pergerakan ion-ion dan molekul kecil melalui selaput semipermeabel (yang tidak 
dapat dilalui partikel koloid) disebut diasis. Percobaannya dengan menaruh sistem 
koloid pada selaput semipermeabel, lalu menaruhnya di air. Zat yang terlarut di 
dalam air kemudian akan keluar dari selaput itu, sedangkan system koloid tidak. 
Lalu air dialirkan sehingga mengambil zat-zat yang terlarut. 
2.6.2 Elektrodialisis 
Elektrodialisis merupakan proses dialisis di bawah pengaruh medan listrik. Listrik 
tegangan tinggi dialirkan melalui 2 layar logam yang menyokong selaput 
semipermeabel. Kemudian, partikel-partikel zat terlarut dalam system koloid 
berupa ion-ion akan bergerak menuju electrode dengan muatan berlawanan. 
Adanya pengaruh medan listrik pempercepat proses pemurnian. 
2.6.3 Penyaring Ultra 
Apabila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka 
ukuran pori-pori akan berkurang. Kertas saring ini telah dimodifikasi menjadi 
penyaring ultra.
TUGAS : KIMIA 
KOLOID 
DISUSUN OLEH : 
NAMA : DEBBY CAHYA AINUN 
KELAS : XI IPA6 
SMA NEGERI 1 RAHA
2014

Makalah koloid 9

  • 1.
    KOLOID 2.1 PengertianKoloid Untuk memudahkan pembahasan sistem dispersi koloid, digunakan fase terdispersi berupa padatan dan fase pendispersi yang umum, berupa air. Ukuran partikel zat terdispersi di dalam koloid lebih besar daripada ukuran partikel di dalam larutan, tetapi lebih kecil daripada ukuran partikel di dalam suspensi. Partikel zat terdispersi berukuran antara 10-7 cm sampai dengan 10-5 cm (1 nm – 100 nm). Sistem koloid tampak homogen jika dilihat tanpa mikroskop, tetapi dengan menggunakan mikroskop tampak adanya partikel-partikel fase terdispersi. Partikel koloid dapat disaring dengan menggunakan suatu kertas saring yang berpori-pori sangat halus (penyaring ultra). Berdasarkan sistem dispersinya, suatu koloid tampak seperti suspensi. Akan tetapi, secara fisik tampak seperti larutan sehingga sering juga disebut dengan istilah suspensi homogen. Campuran susu bubuk dan air dinamakan koloid. Secara garis besar, perbandingan antara larutan, koloid, dan suspensi dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini. Tabel 2.1 Perbandingan antara Larutan, Koloid, dan Suspensi Aspek Larutan Koloid Suspensi Bentuk Campuran Homogen Tampak homogen Heterogen Kestabilan Stabil Stabil Tidak stabil Pengamatan Homogen Heterogen Heterogen Mikroskop Jumlah Fase Satu Dua Dua Sistem Dispersi Molekuler Padatan halus Padatan kasar Pemisahan Tidak dapat dengan Cara disaring Penyaringan Tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa, kecuali dengan kertas saring ultra. Dapat disaring Ukuran Partikel < 10-7 cm, atau < 1 nm 10-7 cm - 10-5 cm, atau 1 nm - 100 nm > 10-5 cm, atau
  • 2.
    > 100 nm 2.2 Pengelompokan sistem koloid Sistem koloid adalah campuran yang heterogen. Telah diketahui bahwa terdapat tiga fase zat, yaitu padat, cair, dan gas. Dari ketiga fasa zat ini dapat dibuat sembilan kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk sistem koloid hanya delapan. Kombinasi campuran fase gas dan fase gas selalu menghasilkan campuran yang homogen (satu fase) sehingga tidak dapat membentuk sistem koloid. Macam koloid berdasarkan interaksinya dengan pelarut ( air ) 1. Koloid Hidrofil ; - dapat campur dengan air    dapat diencerkan - lebih stabil . Contoh : koloid dari senyawa-senyawa organik, misalnya kanji (amilum), agar-agar, dsb 2. Koloid Hidrofob ; - tidak campur dengan air,  tidak dapat diencerkan - kurang stabil. Contoh : Kebanyakan koloid dari senyawa anorganik, misalnya sol belerang (S), Fe(OH)3. 2.3 Sifat dan penerapan sistem koloid Secara fisik, sistem koloid terlihat homogen seperti larutan. Jika anda amati dengan mikroskop, terlihat adanya perbedaan antara koloid dan larutan karena sistem koloid sebetulnya bersifat heterogen. Untuk lebih memperjelas perbedaan antara larutan dan koloid, Anda harus mempelajari sifat-sifat yang dimiliki oleh sistem koloid tersebut. 2.3.1. Gerak Brown Gerak Brown adalah gerak tidak beraturan, gerak acak atau gerak zig-zag partikel koloid. Gerak Brown terjadi karena benturan tidak teratur partikel koloid dan
  • 3.
    medium pendispersi. Benturantersebut mengakibatkan partikel koloid bergetar dengan arah yang tidak beraturan dan jarak yang pendek. Gerak Brown kali pertama diamati pada 1827 oleh Robert Brown (1773-1858), seorang ahli Biologi berkebangsaan Inggris pada saat mengamati serbuk sari. Fenomena ini dijelaskan oleh Albert Einstein (1879-1955) pada 1905. Menurut Einstein, suatu partikel mikroskopis (hanya dapat diamati dengan mikroskop) yang melayang dalam suatu medium pendispersi akan menunjukkan suatu gerak acak atau gerak zig-zag. Gerakan ini disebabkan oleh medium pendispersi yang menabrak partikel terdispersi dari berbagai sisi dalam jumlah yang tidak sama untuk setiap sisi. Arah gerak partikel koloid bergantung pada jumlah partikel medium pendispersi yang menabrak. Jika jumlah partikel pendispersi yang menabrak dari arah bawah banyak, partikel koloid akan bergerak ke atas. Jika jumlah partikel pendispersi yang menabrak dari kiri bawah banyak, partikel koloid bergerak ke kanan atas. Setiap gerak disertai getaran karena di sisi lain ada tabrakan dari medium pendispersi, tetapi jumlah molekul medium pendispersi ini sedikit. Gerak zig-zag akibat tabrakan dari partikel pendispersi menyebabkan sistem koloid tetap stabil, tetap homogen, dan tidak mengendap. Apakah gerak Brown juga terjadi pada sistem larutan atau suspensi? Pada larutan, partikel terdispersi memiliki ukuran yang sangat kecil dan hampir sama dengan ukuran molekul pendispersi. Gerakan partikel pendispersi bukan terjadi karena ditabrak oleh partikel pendipersi, melainkan disebabkan oleh gerakan oleh molekul sendiri. Pada suspensi, ukuran partikel terdispersi sangat besar. Adanya partikel pendispersi yang menabrak tidak menyebabkan partikel terdispersi bergerak dan tidak menimbulkan getaran. Pada suspensi, partikel terdispersi banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi sehingga partikel terdispersi lebih banyak bergerak ke bawah dan membentuk endapan. 2.3.2 Efek Tyndall Jika cahaya dilewatkan ke dalam sistem koloid, cahaya yang melewati sistem koloid tersebut terlihat lebih terang. Cahaya yang terlihat lebih terang ini
  • 4.
    disebabkan oleh terjadinyaefek Tyndall. Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Partikel koloid akan memantulkan dan menghamburkan cahaya yang mengenainya sehingga cahaya akan terlihat lebih terang. Jika kemudian cahaya ini ditangkap layar, cahaya pada layar tersebut tampak buram. Di dalam kehidupan sehari-hari, efek Tyndall dapat dilihat pada gejala-gejala berikut. 1) Jika sinar matahari masuk melalui celah ke dalam ruangan, pada sinar terlihat debu-debu beterbangan (daerah ini terlihat lebih terang). Pada daerah yang tidak terlewati sinar matahari tidak akan terlihat adanya debu. Begitu juga jika sinar matahari melewati daun pepohonan di daerah yang berkabut, sinar matahari tersebut terlihat lebih jelas. 2) Jika Anda menonton film di gedung bioskop, kemudian ada asap rokok yang mengepul ke atas cahaya proyektor terlihat lebih terang dan gambar pada layar menjadi buram. 3) Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut terlihat lebih jelas. Begitu juga pada jalan yang berdebu, sorot lampu terlihat lebih jelas, kecuali sehabis hujan yang cukup deras (sehingga jalanan tidak berdebu dan tidak ada asap). Itulah sebabnya sorot lampu mobil seakan tidak tampak (tidak terlihat), tetapi jalan terlihat jelas. 2.3.3 Adsorpsi Partikel koloid mampu menyerap molekul netral atau ion-ion pada permukaannya. Jika partikel koloid menyerap ion bermuatan, kemudian ion-ion tersebut menempel pada permukaannya, partikel tersebut menjadi bermuatan. Sol Fe(OH)3 mampu mengadsorpsi ion-ion H+ sehingga sol Fe(OH)3 menjadi bermuatan positif. Sol As2S3 mampu mengadsorpsi ion-ion S2- sehingga sol As2S3 menjadi bermuatan negatif. Penyerapan yang hanya terjadi di permukaan saja disebut adsorpsi, sedangkan penyerapan yang terjadi di seluruh bagian disebut absorpsi.
  • 5.
    Muatan dalam partikelkoloid bukan disebabkan oleh ionisasi partikel seperti pada larutan, melainkan disebabkan oleh adanya ion lain yang diadsorpsi. Sifat adsorpsi partikel koloid digunakan pada proses-proses berikut. a. Penjernihan Air Pada air sungai (air sungai merupakan suatu sistem koloid), tanah yang terdispersi dapat diendapkan dengan penambahan tawas (Kal(SO4)2) atau larutan PAC (Poly Alumuinium Chloride). Kedua zat ini dapat membentuk koloid Al(OH)3 mengadsorpsi pengotor di dalam air, menggumpalkan, dan mengendapkannya sehingga air menjadi jernih. b. Penghilangan Kotoran pada Proses Pembuatan Sirup Kadang-kadang gula masih mengandung pengotor sehingga jika dilarutkan di dalam air, pengotor tersebut akan tampak dan larutan tidak jernih. Pada industri pembuatan sirup, untuk menghilangkan pengotor ini biasanya digunakan putih telur. Setelah gula larut, sambil diaduk ditambahkan putih telur tersebut menggumpal dan mengadsorpsi pengotor. Selain putih telur, dapat juga digunakan zat lain, seperti tanah diatomae atau arang aktif. c. Proses Menghilangkan Bau Badan Pada produk roll on deodorant, digunakan adsorben (zat yang akan mengadsorpsi) berupa Al-stearat. Jika deodorant digosokkan pada anggota badan, Al-stearat mengadsorpsi keringat yang menyebabkan bau badan. d. Penggunaan Arang Aktif Arang aktif merupakan contoh adsorben yang dibuat dengan memanaskan arang dalam udara kering. Arang aktif memiliki kemampuan untuk menyerap berbagai zat. Obat norit (obat sakit perut) mengandung zat arang aktif yang berfungsi menyerap berbagai zat dan racun dalam usus. Arang aktif ini juga digunakan pada topeng gas, lemari es (untuk menghilangkan bau), dan rokok filter (untuk mengikat asap nikotin dan tar). Adanya muatan listrik pada koloid menyebabkan koloid dapat dipisahkan dengan cara elektroforesis. Elektroforesis adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan laju perpindahan molekul dalam medan listrik. Pada elektroforesis, partikel koloid yang bermuatan akan mengalami pergerakan. Partikel koloid yang
  • 6.
    bermuatan negatif akanbergerak ke elektrode (kutub) positif. Adapun koloid yang bermuatan positif bergerak ke elektrode (kutub) yang bermuatan negatif. Elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan dari suatu partikel koloid. 2.3.4 Koagulasi Telur direbus hingga membeku, penggumpalan susu yang basi, dan pembentukan delta pada muara sungai merupakan contoh-contoh proses koagulasi. Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid yang terjadi karena kerusakan stabilitas sistem koloid atau karena penggabungan partikel koloid yang berbeda muatan sehingga membentuk partikel yang lebih besar. Koagulasi dapat terjadi karena pengaruh pemanasan, pendinginan, penambahan elektrolit, pembusukan, pencampuran koloid yang berbeda muatan, atau karena elektroforesis. Koloid Fe(OH)3 yang bermuatan positif jika dicampur dengan koloid As2S3 yang bermuatan negatif akan mengalami koagulasi. Koagulasi terjadi karena setiap partikel koloid yang memiliki muatna yang berlawanan saling menetralkan dengan gaya elektrostatik hingga membentuk partikel besar dan menggumpal. Elektroforesis dapat menyebabkan koagulasi karena endapan pada salah satu elektrode semakin lama semakin pekat, dan akhirnya membentuk gumpalan. Berikut beberapa proses koagulasi yang sengaja dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. a. Perebusan Telur Telur mentah merupakan suatu sistem koloid dengan fase terdispersi berupa protein. Jika telur tersebut direbus akan terjadi koagulasi sehingga telur tersebut menggumpal. b. Pembuatan Yoghurt Susu dapat diubah menjadi yoghurt melalui fermentasi. Pada fermentasi susu akan terbentuk asam laktat yang menggumpal dan berasa asam. c. Pembuatan Tahu Pada pembuatan tahu dari kedelai, mula-mula kedelai dihancurkan sehingga keedelai berbentuk bubur kedelai (seperti susu). Kemudian, ditambahkan larutan
  • 7.
    elektrolit, yaitu CaSO4.2H2Oyang disebut batu tahu sehingga protein kedelai menggumpal dan membentuk tahu. d. Pembuatan Lateks Lateks terbuat dari getah karet, salah satu sistem koloid. Pada pembuatan lateks, getah kerat digumpalkan dengan penambahan asam asetat atau asam format. e. Penjernihan Air Sungai Air sungai mengandung padatan lumpur yang terdispersi di dalam air (sol). Sol tanah liat dalam air sungai memiliki muatan negatif sehingga dapat diendapkan dengan penambahan tawas atau PAC. Di dalam air sungai tawas atau PAC membentuk koloid Al(OH)3 yang bermuatan positif. Pengendapan terjadi karena koagulasi koloid yang bermuatan negatif dengan koloid yang bemuatan positif. f. Pembentukan Delta Delta terbentuk dari hasil pencampuran air sungai yang mengandung koloid tanah liat dan elektrolit yang berasal dari air laut. Pencampuran tersebut menyebabkan terjadinya koagulasi sehingga terbentuk delta. g. Pengolahan Asap Atau Debu Asap dan debu yang dihasilkan dari suatu proses industri dapat mencemari udara di sekitarnya. Asap dan debu merupakan sistem koloid zat padat dalam medium pendispersi gas (udara). Padatan dalam asap atau debu dapat diendapkan menggunakan alat Cotrell. Asap dan debu dilewatkan melalui cerobong yang di dalamnya terdapat ujung-ujung elektrode bermuatan dengan bertegangan antara 20.000 V hingga 75.000 V. Elektrode mengakibatkan asap dan debu tersebut menjadi bermuatan. Selanjutnya, partikel asap dan debu akan tertarik pada elektrode yang lainnya dan mengendap. Endapan yang terbentuk dipisahkan secara berkala sehingga gas-gas yang keluar dari cerobong sudah terbebas dari partikel padatan yang berbahaya. 2.3.5 Koloid Liofil dan Koloid Liofob Sistem koloid sol (zat padat dalam medium pendispersi cair) dapat bersifat liofil (dalam bahasa Yunani lyo = cairan, philia = suka) dan ada juga bersifat liofob (Yunani: phobia = tidak suka, takut). Pada sol yang bersifat liofil, zat terdispersi
  • 8.
    dapat menarik ataumengikat medium pendispersi. Pada sol yang bersifat liofob, zat terdispersi tidak dapat mengikat medium pendispersinya (air). Pada koloid liofil, pengikatan medium pendispersi disebabkan oleh gaya tarik-menarik (berupaya gaya elektrostatik) pada setiap gugus ujung molekul terdispersi. Sebagai gambaran, jika satu sendok agar-agar padat dicampur dengan beberapa gelas air, setiap penambahan air pada koloid agar-agar akan menyebabkan air terserap. Molekul-molekul air akan diikat setiap gugus yang terdapat pada permukaan padatan agar-agar sehingga struktur agar-agar mengembang. Agar-agar sangat mudah menarik medium pendispersinya (air). Koloid liofil terlihat homogen, stabil, tidak tampak adanya medium pendispersi, lebih kental, dan membentuk gel. Contoh koloid liofil, yaitu agar-agar, koloid kanji, cat, lem, gelatin, protein (putih telur), dan tinta warna. Jika medium pendispersi pada suatu koloid liofil adalah air, koloid tersebut disebut koloid hidrofil. Pada sol yang bersifat liofob, zat terdispersi tidak dapat bercampur dengan baik jika ditambahkan lagi medium pendispersi. Pada koloid yang bersifat liofob, jumlah medium pendispersi harus tertentu (terbatas). Jika pada suatu koloid liofob yang sudah stabil ditambahkan lagi zat pendispersi, zat terdispersi akan menolak sehingga koloid tidak menjadi tidak stabil. Contoh koloid liofob, yaitu sol emas, sol belerang, sol As2S3, dan sol Fe(OH)3 suatu koloid liofob dengan medium pendispersi air tersebut dinamakan koloid hidrofob. Koloid liofob berbentuk encer (hampir sama dengan medium pendispersi), tidak stabil, serta memiliki gerak Brown dan efek Tyndall. Sifat-Sifat Sol Liofil Sol Liofob Pembuatan Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi dengan medium terdispersinya Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan medium pendisperinya Muatan partikel Mempunyai muatan yang kecil atau tidak Memiliki muatan positif atau negative
  • 9.
    bermuatan Adsorpsi medium pendispersi Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya. Terdapat proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan medium pendispersi yang teradsorpsi di sekeliling partikel sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi medium pendispersinya. Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang bermuatan listrik Viskositas (kekentalan) Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas medium pendispersi Penggumpalan Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit karena mempunyai muatan. Sifat reversibel Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan dengan koagulasi, kemudian dapat diubah kembali menjadi sol dengan penambahan medium pendispersinya. Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak dapat diubah menjadi sol Efek Tyndall Memberikan efek Memberikan efek
  • 10.
    Tyndall yang lemahTyndall yang jelas Migrasi dalam medan listrik Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama sekali Akan bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan partikel 2.3.6 Koloid Pelindung Koloid pelindung adalah suatu sistem koloid yang ditambahkan pada sistem koloid lainnya agar diperoleh koloid yang stabil. Contoh koloid pelindung adalah gelatin yang merupakan koloid padatan dalam medium air. Gelatin biasa digunakan paa pembuatan es krim untuk mencegah pembentukan kristal es yang kasar sehingga diperoleh es krim yang lebih lembut. 2.3.7 Dialisis Dialisis adalah proses penyaringan partikel koloid dari ion-ion yang teradsorpsi sehingga ion-ion tersebut dapat dihilangkan dan zat terdispersi terbebas dari ion-ion yang tidak diinginkan. Pada proses dialisis, koloid yang mengandung ion-ion dimasukkan ke dalam kantung penyaring, kemudian dicelupkan ke dalam medium pendispersi (air). Ion-ion dapat keluar melewati penyaring sehingga partikel koloid terbebas dari ion-ion. Kantung penyaring merupakan selaput semipermeabel yang hanya dapat dilewati ion dan air, tetapi tidak dapat dilewati partikel koloid. Proses dialisis juga terjadi dalam metabolisme tubuh. Ginjal berfungsi sebagai penyaring semipermeabel. Cairan hasil metabolisme di dalam darah mengandung butir-butir darah, air, dan urea. Urea merupakan racun bagi tubuh sehingga harus dikeluarkan melalui air seni. Jika ginjal mengalami gangguan (gagal ginjal), ginjal tidak dapat menyaring darah dan mengeluarkan urea yang bersifat racun. Oleh karena itu, penderita gagal memerlukan proses “cuci darah”, yaitu proses dialisis yang berfungsi menghilangkan urea dari darah. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah kita mensyukuri kesehatan ginjal kita.
  • 11.
    2.3.8 Sistem Koloiddalam Pengolahan Air Air sungai merupakan koloid yang terbentuk dari tanah liat yang terdispersi di dalam air. Pengolahan air sungai menjadi bersih dapat dilakukan melalui tahap-tahap penggumpalan pengotor (koagulasi), penyaringan pengotor, penyerapan bau dan zat kimia (adsorpsi), dan pembasmian kuman (desinfeksi). a. Penggumpalan Proses penggumpalan (koagulasi) dilakukan dengan menggunakan tawas (Kal(SO4)2), PAC (Poly Alumunium Chloride), dan Al2(SO4)3. Senyawa-senyawa tersebut dapat menghasilkan koloid Al(OH)3 yang akan mengadsorpsi pengotor tanah dan menggumpalkannya sehingga terbentuk endapan. b. Proses Penyaringan Setelah terjadi penggumpalan, kemudian dilakukan proses penyaringan menggunakan penyaring. Penyaring terdiri atas lapisan pasir, kerikil, dan ijuk. c. Proses Adsorpsi Adsorpsi atau penyerapan kotoran menggunakan koloid Al(OH)3 terjadi pada tahap awal. Jika terdapat ion Fe2+, ion tersebut terlebih dahulu dioksidasi menjadi ion Fe3+ menggunakan kaporit. Setelah itu baru proses adsorpsi dapat dilakukan menggunakan Al(OH)3. Proses adsorpsi juga dilakukan dengan menggunakan karbon aktif yang dapat menyerap bau dan zat-zat kimia, seperti besi dan sisa kaporit yang berlebih. d. Proses Desinfeksi Penambahan kaporit bertujuan membunuh kuman-kuman. Kaporit juga berperan sebagai oksidator, dapat ditambahkan sebelum penggumpalan. Kaporit ini menimbulkan bau unsur klorin yang kurang sedap sehingga digunakan karbon aktif untuk menyerap klorin tersebut. 2.4 Kestabilan koloid Sistem koloid dapat tetap stabil (tidak mengendap) karena partikel-partikel koloid tidak berkelompok ( bergabung sesamanya ) menjadi partikel yang lebih besar Kestabilan koloid disebabkan oleh dua hal :
  • 12.
    1. Partikel koloidmenyerap ion-ion yang berada dalam mediumnya  partikel koloid “dilindungi” untuk tidak bergabung sesamanya. Terjadi pada koloid dari senyawa anorganik . Contoh : penambahan larutan FeCl3 ke dalam air, akan terbentuk sol Fe2O3 . x H2O yang menyerap ion-ion Fe3+ di lapisan dalam (lapisan I) dan ino-ion Cl- sebagai lapisan luar (lapisan II). 2. Adanya emulgator; yaitu zat yang ketiga yang melindungi patikel koloid agar tidak bergabung sesamanya; misalnya minyak yang “dilindungi “ oleh sabun . Contoh beberapa zat yang dapat berfungsi sebagai emulgator ialah sabun dan deterjen. 3. Partikel koloid tidak bisa mengendap karena bersifat stabil. 4. Kestabilan koloid dapat diganggu dengan penambahan koagulan dan pengadukan cepat. 5. Partikel yang tidak stabil cenderung untuk saling berinteraksi dan bergabung membentuk flok yang berukuran besar. 2.5 Pembuatan koloid Pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, menggabungkan molekul atau ion dari larutan (cara kondensasi). Kedua, menghaluskan partikel suspensi, kemudian didispersikan ke dalam suatu medium pendispersi (cara dispersi). 2.5.1 Cara Kondensasi Cara kondensasi dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, seperti reaksi redoks, reaksi hidrolisis, reaksi penggaraman, dan reaksi penjenuhan. a. Reaksi Redoks Reaksi redoks merupakan reaksi pembentukan partikel koloid melalui mekanisme perubahan bilangan oksidasi. Perhatikan contoh-contoh berikut: 1) Pembuatan sol belerang dengan mengalirkan gas hidrogen sulfida (H2S) ke dalam larutan belerang dioksida (SO2). 2H2S (g) + SO2(aq) → 3S(s) + 2H2O(l) 2) Pembuatan sol emas dengan cara meraksikan larutan AuCl3 dan zat pereduksi formaldehid atau besi (II) sulfat. 2AuCl(aq) + 3HCOH(aq) + 3H2O(l) → 2Au(s) + 6HCl (aq) +3HCOOH(aq)
  • 13.
    atau AuCl3(aq) +3FeSO4(aq) → Au(s) + Fe2(SO4)3(aq) + FeCl3 (aq) b. Reaksi Hidrolisis Reaksi hidrolisis merupakan reaksi pembentukan koloid dengan menggunakan pereaksi air. Misalnya, pembuatan sol Al(OH)3 dan sol Fe(OH)3. 1) Pembuatan sol Al(OH)3 dari larutan AlCl3, Al2(SO4)3, PAC atau tawas. AlCl3(aq) + 3H2O(l) → Al(OH)3(s) + 3HCl(aq) 2) Pembuatan sol Fe(OH)3 dari larutan FeCl3 dengan air panas. FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq) c. Reaksi Penggaraman Garam-garam yang sukar larut dapat dibuat menjadi koloid melalui reaksi pembentukan garam. Untuk menghindari pengendapan biasanya digunakan suatu zat pemecah. AgNO3(aq) + NaCl(aq) → AgCl(s) +NaNO3(aq) Na2SO4(aq) + Ba(NO3)2(aq) → BaSO4(s) + 2NaNO3(aq) d. Penjenuhan Larutan Pembuatan kalsium asetat merupakan contoh pembuatan koloid dengan cara penjenuhan larutan ke dalam larutan jenuh kalsium asetat dalam air. Penjenuhan dilakukan dengan cara menambahkan pelarut alkohol sehingga akan menghasilkan koloid berupa gel. Kalsium asetat bersifat mudah larut dalam air, namun sukar larut dalam alkohol. e. Reaksi dekomposisi rangkap  Sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan gas H2S perlahan melalui larutan As2O3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang As2O3 + 3 H2S → As2S3 (koloid) + 3H2O  Sol AgCl dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 dan larutan HCl encer. AgNO3 + HCl → AgCl (koloid) + HNO3
  • 14.
    2.5.2. Cara Dispersi Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan cara mengubah partikel kasar (besar) menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan melalui cara mekanik (penggerusan), cara busur Bredig, dan cara peptisasi (pemecahan). a. Cara Mekanik Cara mekanik merupakan cara fisik mengubah partikel kasar menjadi partikel halus. Partikel kasar digiling dengan alat coloid mill sehingga diperoleh ukuran partikel yang diinginkan. Selanjutnya, partikel halus ini didispersikan ke dalam suatu medium pendispersi. Proses penggilingan dapat juga dilakukan di dalam medium pendispersi. b. Cara Busur Bredig Proses pembuatan koloid dengan cara busur Bredig digunakan untuk membuat sol logam. Pada proses ini, logam yang akan dibuat sol digunakan sebagai elektrode dihubungkan dengan arus listrik. Uap logam yang terjadi akan terdispersi ke dalam medium pendispersi sehingga membentuk koloid. c. Cara Peptisasi Pada cara peptisasi, partikel kasar berupa endapan diubah menjadi partikel koloid dengan menggunakan elektrolit yang mengandung ion sejenis zat pemecah. Berikut ini contoh-contoh peptisasi. 1) Endapan Al(OH)3 dipeptisasi dengan AlCl3 2) Endapan NiS dipeptisasi dengan air 3) Serat selulosa asetat dipeptisasi dengan aseton. d. Cara Homogenisasi Cara ini mirip dengan cara mekanik dan biasanya digunakan untuk membuat emulsi. Dengan cara ini, partikel lemak dihaluskan, kemudian didispersikan ke dalam medium air dengan penambahan emulgator. Selanjutnya, emulsi yang terbentuk dimasukkan ke dalam alat homogenizer. Caranya dengan melewatkan emulsi pada pori-pori dengan ukuran tertentu sehingga diperoleh emulsi yang homogen.
  • 15.
    2.6 Pemurnian KoloidSol Partikel dari zat pelarut bisa mengganggu kestabilan koloid sehingga harus dimurnikan. Ada 3 metode yang dapat digunakan, yaitu dialisis, elektrodialisis, dan penyaring ultra. 2.6.1 Dialisis Pergerakan ion-ion dan molekul kecil melalui selaput semipermeabel (yang tidak dapat dilalui partikel koloid) disebut diasis. Percobaannya dengan menaruh sistem koloid pada selaput semipermeabel, lalu menaruhnya di air. Zat yang terlarut di dalam air kemudian akan keluar dari selaput itu, sedangkan system koloid tidak. Lalu air dialirkan sehingga mengambil zat-zat yang terlarut. 2.6.2 Elektrodialisis Elektrodialisis merupakan proses dialisis di bawah pengaruh medan listrik. Listrik tegangan tinggi dialirkan melalui 2 layar logam yang menyokong selaput semipermeabel. Kemudian, partikel-partikel zat terlarut dalam system koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju electrode dengan muatan berlawanan. Adanya pengaruh medan listrik pempercepat proses pemurnian. 2.6.3 Penyaring Ultra Apabila kertas saring tersebut diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka ukuran pori-pori akan berkurang. Kertas saring ini telah dimodifikasi menjadi penyaring ultra.
  • 16.
    TUGAS : KIMIA KOLOID DISUSUN OLEH : NAMA : DEBBY CAHYA AINUN KELAS : XI IPA6 SMA NEGERI 1 RAHA
  • 17.