MAKALAH KIMIA
SISTEM KOLOID
OLEH :
NAMA : INDRA LESMANA
KELAS : XI.IPA6
Makalah Tentang Sistem Koloid
A. SISTEM KOLOID
Sistem koloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu
bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat
homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup
besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen
berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi
atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi
pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan,
namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi).
Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo,
serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai
sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid.
Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena
kepentingannya.
PENGELOMPOKAN SISTEM KOLOID
Sistem koloid adalah campuran yang heterogen. Telah diketahui
bahwa terdapat tiga fase zat, yaitu padat, cair, dan gas. Dari ketiga
fasa zat ini dapat dibuat sembilan kombinasi campuran fase zat,
tetapi yang dapat membentuk sistem koloid hanya delapan.
Kombinasi campuran fase gas dan fase gas selalu menghasilkan
campuran yang homogen (satu fase) sehingga tidak dapat membentuk
sistem koloid.
1. Sistem Koloid Fase Padat-Cair (Sol)
Sistem koloid fase padat-cair disebut sol. Sol terbentuk dari fase
terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa cairan. Sol
yang memadat disebut gel. Berikut contoh-contoh sistem koloid fase
padat-cair.
a. Agar-agar
Padatan agar-agar yang terdispersi di dalam air panas akan
menghasilkan sistem koloid yang disebut sol. Jika konsentrasi agar-
agar rendah, pada keadaan dingin sol ini akan tetap berwujud cair.
Sebaliknya jika konsentrasi agar-agar tinggi pada keadaan dingin sol
akan menjadi padat dan kaku. Keadaan seperti ini disebut gel.
b. Pektin
Pektin adalah tepung yang diperoleh dari buah pepaya muda, apel,
dan kulit jeruk. Jika pektin didispersikan di dalam air, terbentuk
suatu sol yang kemudian memadat sehingga membentuk gel. Pektin
biasa digunakan untuk pembuatan selai.
c. Gelatin
Gelatin adalah tepung yang diperoleh dari hasil perebusan kulit atau
kaki binatang, misalnya sapi. Jika gelatin didispersikan di dalam air,
terbentuk suatu sol yang kemudian memadat dan membentuk gel.
Gelatin banyak digunakan untuk pembuatan cangkang kapsul. Agar-
agar, pektin dan gelatin juga digunakan untuk pembuatan makanan,
seperti jelly atau permen kenyal (gummy candies).
d. Cairan Kanji
Tepung kanji yang dilarutkan di dalam air dingin akan membentuk
suatu suspensi. Jika suspensi dipanaskan akan terbentuk sol, dan jika
konsentrasi tepung kanji cukup tinggi, sol tersebut akan memadat
sehingga membentuk gel. Suatu gel terbentuk karena fase terdispersi
mengembang, memadat dan menjadi kaku.
e. Air sungai (tanah terdispersi di dalam medium air).
f. Cat tembok dan tinta (zat warna terdispersi di dalam medium air).
g. Cat kayu dan cat besi (zat warna terdispersi di dalam pelarut
organik).
h. Gel kalsium asetat di dalam alkohol.
i. Sol arpus (damar).
j. Sol emas, sol Fe(OH)3, sol Al(OH)3, dan sol belerang.
2. Sistem Koloid Fase Padat-Padat (Sol Padat)
Sistem koloid fase pada-padat terbentuk dari fase terdispersi dan fase
pendispersi yang sama-sama berwujud zat padat sehingga dikenal
dengan nama sol padat. Lazimnya, istilah sol digunakan untuk
menyatakan sistem koloid yang terbentuk dari fase terdispersi berupa
zat padat di dalam medium pendispersi berupa zat cair sehingga
tidak perlu digunakan istilah sol cair. Contoh sistem koloid fase padat-
padat adalah logam campuran (aloi), misalnya stainless steel yang
terbentuk dari campuran logam besi, kromium dan nikel. Contoh
lainnya adalah kaca berwarna yang dalam ini zat warna terdispersi
di dalam medium zat padat (kaca).
3. Sistem Koloid Fase Padat-Gas (Aerosol Padat)
Sistem koloid fase padat-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa
padat dan fase pendispersi berupa gas. Anda sering menjumpai asap
dari pembakaran sampah atau dari kendaraan bermotor. Asap
merupakan partikel padat yang terdispersi di dalam medium
pendispersi berupa gas (udara). Partikel padat di udara disebut
partikulat padat. Sistem dispersi zat padat dalam medium
pendispersi gas disebut aerosol padat. Sebenarnya istilah, aerosol
lazim digunakan untuk menyatakan sistem dispersi zat cair di dalam
medium gas sehingga tidak perlu disebut aerosol cair.
4. Sistem Koloid Fase Cair-Gas (Aerosol)
Sistem koloid fase cair-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa zat
cair dan fase pendispersi berupa gas. Contoh sistem koloid ini adalah
kabut dan awan. Partikel-partikel zat cair yang terdispersi di udara
(gas) disebut partikulat cair. Contoh aerosol adalah hairspray, obat
nyamuk semprot, parfum (body spray), cat semprot dan lain-lain.
Pada produk-produk tersebut digunakan zat pendorong (propellant)
berupa senyawa klorofluorokarbon (CFC).
5. Sistem Koloid Fase Cair-Cair (Emulsi)
Sistem koloid fase cair-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa zat
cair dan medium pendispersi yang juga berupa cairan. Campuran
yang terbentuk bukan berupa larutan, melainkan bersifat heterogen.
Misalnya campuran antara minyak dan air. Air yang bersifat polar
tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat nonpolar.
Untuk dapat “mendamaikan” air dan minyak, harus ada zat
“penghubung” antara keduanya. Zat penghubung ini harus memiliki
gugus polar (gugus yang dapat larut di dalam air) dan juga harus
memiliki gugus nonpolar (gugus yang dapat larut di dalam minyak)
sehingga zat penghubung tersebut dapat bercampur dengan air dan
dapat pula bercampur dengan minyak.
Sistem koloid cair-cair disebut emulsi. Zat penghubung yang
menyebabkan pembentukan emulsi disebut emulgator (pembentuk
emulsi). Jadi, tidak ada emulsi tanpa emulgator. Contoh zat
emulgator, yaitu sabun, detergen, dan lesitin. Minyak dan air dapat
bercampur jika ditambahkan emulgator berupa sabun atau deterjen.
Oleh karena itu, untuk menghilangkan minyak yang menempel pada
tangan atau pakaian digunakan sabun atau deterjen, yang kemudian
dibilas dengan air.
Susu, air santan, krim, dan lotion merupakan beberapa emulsi yang
Anda kenal dalam kehidupan sehari-hari. Susu murni (dalam bentuk
cair) merupakan contoh bentuk emulsi alami karena di dalam susu
murni telah terdapat emulgator alami, yaitu kasein. Di dalam
industri makanan, biasanya susu murni diolah menjadi susu bubuk.
Susu bubuk yang terbentuk menjadi sukar larut dalam air, kecuali
dengan menggunakan air panas. Oleh karena itu, digunakan zat
emulgator yang berupa lesitin sehingga susu bubuk tersebut dapat
mudah larut dalam air, sekalipun hanya dengan menggunakan air
dingin. Susu bubuk yang dicampur dengan zat emulgator dikenal
dengan istilah susu bubuk instant. Contoh lain emulsi adalah krim
(emulsi yang berbentuk pasta), dan lotion (emulsi yang berbentuk
cairan kental atau krim yang encer).
Sistem emulsi banyak digunakan dalam berbagai industri seperti
berikut.
a. Industri kosmetik: dalam bentuk berbagai krim untuk perawatan
kulit, dan berbagai lotion yang berasal dari minyak, serta haircream
(minyak rambut).
b. Industri makanan: dalam bentuk es krim dan mayones.
c. Industri farmasi: dalam bentuk berbagai krim untuk penyakit
kulit, sirup, minyak ikan, dan lain-lain.
Mayones terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan (minyak jagung
atau minyak kedelai) dan air. Pada mayones ini digunakan kuning
telur sebagai zat emulgator.
6. Sistem Koloid Fase Cair-Padat (Emulsi Padat)
Sistem koloid fase cair-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa
zat cair dan medium pendispersi berupa zat padat sehingga dikenal
dengan nama emulsi padat. Sebenarnya, istilah emulsi hanya
digunakan untuk sistem koloid fase cair-cair. Jadi, emulsi berarti
sistem koloid fase cair-cair (tidak ada istilah emulsi cair). Contoh
emulsi padat, yaitu keju, mentega, dan mutiara.
7. Sistem Koloid Fase Gas-Cair (Busa)
Sistem koloid fase gas-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa gas
dan medium pendispersi berupa zat cair. Jika anda mengocok larutan
sabun, akan timbul busa. Di dalam busa sabun terdapat rongga yang
terlihat kosong. Busa sabun merupakan fase gas dalam medium cair.
Contoh-contoh zat yang dapat menimbulkan busa atau buih, yaitu
sabun, deterjen, protein, dan tanin.
Pada proses pencucian, busa yang ditimbulkan oleh sabun atau
deterjen dapat mempercepat proses penghilangan kotoran. Busa atau
buih pada zat pemadam api berfungsi memperluas jangkauan
(voluminous) dan mengurangi penguapan air. Pada proses pemekatan
bijih logam, sengaja ditimbulkan busa agar zat-zat pengotor dapat
terapung di dalam busa tersebut.
Di dalam suatu proses industri kimia, misalnya proses fermentasi,
kadang-kadang pembentukan busa tidak diinginkan sehingga
dilakukan penambahan zat antibusa (antifoam), seperti silikon, eter,
isoamil alkohol, dan lain-lain.
8. Sistem Koloid Fase Gas-Padat (Busa Padat)
Sistem koloid fase gas-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa gas
dan medium pendispersi berupa zat padat, yang dikenal dengan
istilah busa padat, sedangkan dispersi gas dalam medium cair disebut
busa dan tidak perlu disebut busa cair. Di dalam kehidupan sehari-
hari, anda dapat menemui busa padat yang dikenal dengan istilah
karet busa dan batu apung. Pada kedua contoh busa padat ini
terdapat rongga atau pori-pori yang dapat diisi oleh udara.
Secara garis besar, kedelapan jenis sistem koloid tersebut dapat
ditunjukkan pada Tabel 1.2 berikut ini.
Tabel 2 Jenis Sistem Koloid dan Contoh-contohnya
No.
Fase
Terdispersi
Medium
Pendispersi
Nama
Koloid
Contoh
1. Padat Cair Sol
Sol emas, agar-agar, jelly, cat,
tinta, air sungai
2. Padat Gas
Aerosol
padat
Asap, debu padat
3. Padat Padat Sol padat Paduan logam, kaca berwarna
4. Cair Gas Aerosol Kabut, awan
5 Cair Cair Emulsi
Santan, susu, es krim, krim,
lotion, mayonaise
6. Cair Padat
Emulsi
padat
Keju, mentega, mutiara
7. Gas Cair Buih, busa Busa sabun
8. Gas Padat Busa padat Karet busa, batu apung
B. Penggunaan Koloid
I. Bidang Industri
- Getah karet
Getah karet merupakan koloid tipe sol yang banyak digunakan
sebagai bahan dasar idustri karet. Karet diperoleh dengan cara
mengkoagulasikan getah karet dengan asam formiat (HCOOH) atau
asam asetat, agar menggumpal dan terpisah dari medium
pendispersinya. Gumpalan karet kemudian digiling dan dicuci
kemudian diproses lebih lanjut sebaga lembaran yang disebut sheet.
Getah karet yang digunakan pada pembatan balon atau karet busa
tidak digumpalkan,tetapi dibiarkan dalam wujud cair yang dikenal
dengan lateks. Agar tetap dalam keadaan stabil, getah karet
dicampur dengan larutan ammonia (NH3 (aq)). Larutan ammonia
bersifat basa akan melindungi karet didalam sol lateks dari zat-zat
bersifat asam. Kondisi ni akan melindungi sol dari penggumpalan.
- Cat
Merupakan koloid tipe sol. Partikel-partikel padat berupa zat warna,
oksia logam, bahan penstabil, bahan pengawet, zat pencermelang, zat
pereduksi dihaluskan hingga berukuran partikel koloid. Partikel
koloid ini selanjutnya didispersikan dalam suatu cairan, agar sol
tetap terjaga kestabilannya dan bahan-bahan didispersikan tidak
mengendap ditambahkan emulgator atau zat pelindnung yang
tergantung pada jenis medium pendispersinya. Apabila medium
pendispersi berupa senyawa polar missal air dan alcohol,
emulgatornya harus yang dapat larut dalam pelarut polar. Dan
sebaliknya jika medium pendispersi berupa senyaw nonpolar, maka
emulgator juga dapat larut dalam pelarut nonpolar
Zat pelindung dalam cat berfungsi untuk melindungi bahan-bahan
pewarna atau bahan padat lain yang menempel pada bahan yag
dicat dari pengaruh panas. Oleh karena itu, saat cairan pelarut
menguap, sifat-sifat bahan pewarna dan bahan-bahan lain yang
didispersikan tidak berubah oleh pengaruh cahaya matahari atau
zat-zat kimia lain yang bersentuhan dengan bahan cat tersebut.
II. Bidang makanan
Contoh dalam bidang makan adalah susu, mentega dsb. Susu
merupakan emulsi yang berwarna putih kekuningan dan bersifat
asam lemah.
III. Bidang kosmetik dan farmasi
Bahan-bahan kosmetik hampir 90% dibuat dalam bentuk koloid.
Bahan berbentuk koloid mempunyai beberapa kelebihan seperti:
a. Mudah dibersihkan
b. Tidak merusak kulit dan rambut
c. Mudah menyerap berbagai bahan yang berfungi sebagai
pewangi,pelembut, dan pewarna
d. Mengandung dua jenis bahan yang tidak aling melarutkan.
Beberapa tipe koloid yang digunakan dalam kosmetik sebagai berikut.
a. Sol padat, contoh: kosmetik lipstick, mascara, dan pensil alis.
b. Sol, contoh: kosmetik cat kuku, susu pembersih muka dan kulit,
cairan mascara.
c. Emulsi, contoh: kosmetik pembersih muka.
d. Aerosol: kosmetik parfum semprot, hair spray, penyegar mulut
bentuk semprot.
e. Buih, contoh: sabun cukur
f. Gel, kosmetik minyak rambut.
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari,
terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat
karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk
mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara
homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.
Ada banyak penggunaan sistem koloid baik di dalam kehidupan
sehari-hari maupun dalam berbagai industri seperti industri
kosmetik, makanan, farmasi dan sebagainya. Beberapa macam koloid
tersebut antara lain;
1. Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid di mana partikel padat atau cair
terdispersi dalam gas. Aerosol yang dapat kita saksikan di alam
adalah kabut, awan, dan debu di udara. Dalam industri modern,
banyak sediaan insektisida dan kosmetika yang diproduksi dalam
bentuk aerosol, dan sering kita sebut sebagai obat semprot, Contohnya
antara lain adalah hair spray, deodorant dan obat nyamuk.
2. Sol
Sol adalah sistem koloid di mana partikel padat terdispersi dalam
cairan. Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel padat terhadap
cairan pendispersi, kita mengenal dua macam sol;
a. Sol liofil, dimana partikel-partikel padat akan mengadsorpsi
molekul cairan, sehingga terbentuk suatu selubung di sekeliling
partikel padat itu. Liofil artinya “cinta cairan” (Bahasa Yunani;
lio=cairan; philia=cinta). Sol liofil yang setengah padat disebut gel.
Contoh gel antara lain selai dan gelatin.
b. Sol liofob, dimana partikel-partikel padat tidak mengadsorpsi
molekul cairan. Liofib artinya “takut cairan” (phobia=takut).
Jika medium pendispersinya berupa air, kedua macam koloid di atas
masing-masing disebut koloid hidrofil (cinta air) dan koloid liofob
(takut air). Contoh koloid hidrofil adalah kanji, protein, lem, sabun,
dan gelatin. Adapun contoh koloid hidrofob adalah sol-sol sulfide dan
sol-sol logam.
3. Emulsi
Emulsi adalah suatu system koloid di mana zat terdispersi dan
medium pendispersi sama-sama merupakan cairan. Agar terjadi
suatu campuran koloid, harus ditambahkan zat pengemulsi
(emulgator). Susu merupakan emulsi lemak dalam air, dengan kasein
sebagai emulgatornya. Obat-obatan yang tidak larut dalam air
banyak yang dibuat dan dipanaskan dalam bentuk emulsi. Contohnya
emulsi minyak ikan. Emulsi yang dalam bentuk semipadat disebut
krim.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:
1. Pemutihan Gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan
melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui
sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan
mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut
mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat
berwarna putih.
2. Penggumpalan Darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif.
Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil
stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion
tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral
sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.

Makalah kimia 2

  • 1.
    MAKALAH KIMIA SISTEM KOLOID OLEH: NAMA : INDRA LESMANA KELAS : XI.IPA6
  • 2.
  • 3.
    A. SISTEM KOLOID Sistemkoloid (selanjutnya disingkat "koloid" saja) merupakan suatu bentuk campuran (sistem dispersi) dua atau lebih zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek Tyndall. Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak terjadi pengendapan, misalnya. Sifat homogen ini juga dimiliki oleh larutan, namun tidak dimiliki oleh campuran biasa (suspensi). Koloid mudah dijumpai di mana-mana: susu, agar-agar, tinta, sampo, serta awan merupakan contoh-contoh koloid yang dapat dijumpai sehari-hari. Sitoplasma dalam sel juga merupakan sistem koloid. Kimia koloid menjadi kajian tersendiri dalam kimia industri karena kepentingannya. PENGELOMPOKAN SISTEM KOLOID Sistem koloid adalah campuran yang heterogen. Telah diketahui bahwa terdapat tiga fase zat, yaitu padat, cair, dan gas. Dari ketiga fasa zat ini dapat dibuat sembilan kombinasi campuran fase zat, tetapi yang dapat membentuk sistem koloid hanya delapan. Kombinasi campuran fase gas dan fase gas selalu menghasilkan campuran yang homogen (satu fase) sehingga tidak dapat membentuk sistem koloid. 1. Sistem Koloid Fase Padat-Cair (Sol) Sistem koloid fase padat-cair disebut sol. Sol terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa cairan. Sol yang memadat disebut gel. Berikut contoh-contoh sistem koloid fase padat-cair. a. Agar-agar Padatan agar-agar yang terdispersi di dalam air panas akan menghasilkan sistem koloid yang disebut sol. Jika konsentrasi agar- agar rendah, pada keadaan dingin sol ini akan tetap berwujud cair. Sebaliknya jika konsentrasi agar-agar tinggi pada keadaan dingin sol akan menjadi padat dan kaku. Keadaan seperti ini disebut gel. b. Pektin Pektin adalah tepung yang diperoleh dari buah pepaya muda, apel, dan kulit jeruk. Jika pektin didispersikan di dalam air, terbentuk suatu sol yang kemudian memadat sehingga membentuk gel. Pektin biasa digunakan untuk pembuatan selai. c. Gelatin Gelatin adalah tepung yang diperoleh dari hasil perebusan kulit atau kaki binatang, misalnya sapi. Jika gelatin didispersikan di dalam air,
  • 4.
    terbentuk suatu solyang kemudian memadat dan membentuk gel. Gelatin banyak digunakan untuk pembuatan cangkang kapsul. Agar- agar, pektin dan gelatin juga digunakan untuk pembuatan makanan, seperti jelly atau permen kenyal (gummy candies). d. Cairan Kanji Tepung kanji yang dilarutkan di dalam air dingin akan membentuk suatu suspensi. Jika suspensi dipanaskan akan terbentuk sol, dan jika konsentrasi tepung kanji cukup tinggi, sol tersebut akan memadat sehingga membentuk gel. Suatu gel terbentuk karena fase terdispersi mengembang, memadat dan menjadi kaku. e. Air sungai (tanah terdispersi di dalam medium air). f. Cat tembok dan tinta (zat warna terdispersi di dalam medium air). g. Cat kayu dan cat besi (zat warna terdispersi di dalam pelarut organik). h. Gel kalsium asetat di dalam alkohol. i. Sol arpus (damar). j. Sol emas, sol Fe(OH)3, sol Al(OH)3, dan sol belerang. 2. Sistem Koloid Fase Padat-Padat (Sol Padat) Sistem koloid fase pada-padat terbentuk dari fase terdispersi dan fase pendispersi yang sama-sama berwujud zat padat sehingga dikenal dengan nama sol padat. Lazimnya, istilah sol digunakan untuk menyatakan sistem koloid yang terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padat di dalam medium pendispersi berupa zat cair sehingga tidak perlu digunakan istilah sol cair. Contoh sistem koloid fase padat- padat adalah logam campuran (aloi), misalnya stainless steel yang terbentuk dari campuran logam besi, kromium dan nikel. Contoh lainnya adalah kaca berwarna yang dalam ini zat warna terdispersi di dalam medium zat padat (kaca). 3. Sistem Koloid Fase Padat-Gas (Aerosol Padat) Sistem koloid fase padat-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa padat dan fase pendispersi berupa gas. Anda sering menjumpai asap dari pembakaran sampah atau dari kendaraan bermotor. Asap merupakan partikel padat yang terdispersi di dalam medium pendispersi berupa gas (udara). Partikel padat di udara disebut partikulat padat. Sistem dispersi zat padat dalam medium pendispersi gas disebut aerosol padat. Sebenarnya istilah, aerosol lazim digunakan untuk menyatakan sistem dispersi zat cair di dalam medium gas sehingga tidak perlu disebut aerosol cair. 4. Sistem Koloid Fase Cair-Gas (Aerosol)
  • 5.
    Sistem koloid fasecair-gas terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa gas. Contoh sistem koloid ini adalah kabut dan awan. Partikel-partikel zat cair yang terdispersi di udara (gas) disebut partikulat cair. Contoh aerosol adalah hairspray, obat nyamuk semprot, parfum (body spray), cat semprot dan lain-lain. Pada produk-produk tersebut digunakan zat pendorong (propellant) berupa senyawa klorofluorokarbon (CFC). 5. Sistem Koloid Fase Cair-Cair (Emulsi) Sistem koloid fase cair-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi yang juga berupa cairan. Campuran yang terbentuk bukan berupa larutan, melainkan bersifat heterogen. Misalnya campuran antara minyak dan air. Air yang bersifat polar tidak dapat bercampur dengan minyak yang bersifat nonpolar. Untuk dapat “mendamaikan” air dan minyak, harus ada zat “penghubung” antara keduanya. Zat penghubung ini harus memiliki gugus polar (gugus yang dapat larut di dalam air) dan juga harus memiliki gugus nonpolar (gugus yang dapat larut di dalam minyak) sehingga zat penghubung tersebut dapat bercampur dengan air dan dapat pula bercampur dengan minyak. Sistem koloid cair-cair disebut emulsi. Zat penghubung yang menyebabkan pembentukan emulsi disebut emulgator (pembentuk emulsi). Jadi, tidak ada emulsi tanpa emulgator. Contoh zat emulgator, yaitu sabun, detergen, dan lesitin. Minyak dan air dapat bercampur jika ditambahkan emulgator berupa sabun atau deterjen. Oleh karena itu, untuk menghilangkan minyak yang menempel pada tangan atau pakaian digunakan sabun atau deterjen, yang kemudian dibilas dengan air. Susu, air santan, krim, dan lotion merupakan beberapa emulsi yang Anda kenal dalam kehidupan sehari-hari. Susu murni (dalam bentuk cair) merupakan contoh bentuk emulsi alami karena di dalam susu murni telah terdapat emulgator alami, yaitu kasein. Di dalam industri makanan, biasanya susu murni diolah menjadi susu bubuk. Susu bubuk yang terbentuk menjadi sukar larut dalam air, kecuali dengan menggunakan air panas. Oleh karena itu, digunakan zat emulgator yang berupa lesitin sehingga susu bubuk tersebut dapat mudah larut dalam air, sekalipun hanya dengan menggunakan air dingin. Susu bubuk yang dicampur dengan zat emulgator dikenal dengan istilah susu bubuk instant. Contoh lain emulsi adalah krim (emulsi yang berbentuk pasta), dan lotion (emulsi yang berbentuk cairan kental atau krim yang encer).
  • 6.
    Sistem emulsi banyakdigunakan dalam berbagai industri seperti berikut. a. Industri kosmetik: dalam bentuk berbagai krim untuk perawatan kulit, dan berbagai lotion yang berasal dari minyak, serta haircream (minyak rambut). b. Industri makanan: dalam bentuk es krim dan mayones. c. Industri farmasi: dalam bentuk berbagai krim untuk penyakit kulit, sirup, minyak ikan, dan lain-lain. Mayones terbuat dari minyak tumbuh-tumbuhan (minyak jagung atau minyak kedelai) dan air. Pada mayones ini digunakan kuning telur sebagai zat emulgator. 6. Sistem Koloid Fase Cair-Padat (Emulsi Padat) Sistem koloid fase cair-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat padat sehingga dikenal dengan nama emulsi padat. Sebenarnya, istilah emulsi hanya digunakan untuk sistem koloid fase cair-cair. Jadi, emulsi berarti sistem koloid fase cair-cair (tidak ada istilah emulsi cair). Contoh emulsi padat, yaitu keju, mentega, dan mutiara. 7. Sistem Koloid Fase Gas-Cair (Busa) Sistem koloid fase gas-cair terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan medium pendispersi berupa zat cair. Jika anda mengocok larutan sabun, akan timbul busa. Di dalam busa sabun terdapat rongga yang terlihat kosong. Busa sabun merupakan fase gas dalam medium cair. Contoh-contoh zat yang dapat menimbulkan busa atau buih, yaitu sabun, deterjen, protein, dan tanin. Pada proses pencucian, busa yang ditimbulkan oleh sabun atau deterjen dapat mempercepat proses penghilangan kotoran. Busa atau buih pada zat pemadam api berfungsi memperluas jangkauan (voluminous) dan mengurangi penguapan air. Pada proses pemekatan bijih logam, sengaja ditimbulkan busa agar zat-zat pengotor dapat terapung di dalam busa tersebut. Di dalam suatu proses industri kimia, misalnya proses fermentasi, kadang-kadang pembentukan busa tidak diinginkan sehingga dilakukan penambahan zat antibusa (antifoam), seperti silikon, eter, isoamil alkohol, dan lain-lain. 8. Sistem Koloid Fase Gas-Padat (Busa Padat) Sistem koloid fase gas-padat terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan medium pendispersi berupa zat padat, yang dikenal dengan istilah busa padat, sedangkan dispersi gas dalam medium cair disebut busa dan tidak perlu disebut busa cair. Di dalam kehidupan sehari-
  • 7.
    hari, anda dapatmenemui busa padat yang dikenal dengan istilah karet busa dan batu apung. Pada kedua contoh busa padat ini terdapat rongga atau pori-pori yang dapat diisi oleh udara. Secara garis besar, kedelapan jenis sistem koloid tersebut dapat ditunjukkan pada Tabel 1.2 berikut ini. Tabel 2 Jenis Sistem Koloid dan Contoh-contohnya No. Fase Terdispersi Medium Pendispersi Nama Koloid Contoh 1. Padat Cair Sol Sol emas, agar-agar, jelly, cat, tinta, air sungai 2. Padat Gas Aerosol padat Asap, debu padat 3. Padat Padat Sol padat Paduan logam, kaca berwarna 4. Cair Gas Aerosol Kabut, awan 5 Cair Cair Emulsi Santan, susu, es krim, krim, lotion, mayonaise 6. Cair Padat Emulsi padat Keju, mentega, mutiara 7. Gas Cair Buih, busa Busa sabun 8. Gas Padat Busa padat Karet busa, batu apung B. Penggunaan Koloid I. Bidang Industri - Getah karet Getah karet merupakan koloid tipe sol yang banyak digunakan sebagai bahan dasar idustri karet. Karet diperoleh dengan cara mengkoagulasikan getah karet dengan asam formiat (HCOOH) atau asam asetat, agar menggumpal dan terpisah dari medium pendispersinya. Gumpalan karet kemudian digiling dan dicuci kemudian diproses lebih lanjut sebaga lembaran yang disebut sheet. Getah karet yang digunakan pada pembatan balon atau karet busa tidak digumpalkan,tetapi dibiarkan dalam wujud cair yang dikenal dengan lateks. Agar tetap dalam keadaan stabil, getah karet dicampur dengan larutan ammonia (NH3 (aq)). Larutan ammonia
  • 8.
    bersifat basa akanmelindungi karet didalam sol lateks dari zat-zat bersifat asam. Kondisi ni akan melindungi sol dari penggumpalan. - Cat Merupakan koloid tipe sol. Partikel-partikel padat berupa zat warna, oksia logam, bahan penstabil, bahan pengawet, zat pencermelang, zat pereduksi dihaluskan hingga berukuran partikel koloid. Partikel koloid ini selanjutnya didispersikan dalam suatu cairan, agar sol tetap terjaga kestabilannya dan bahan-bahan didispersikan tidak mengendap ditambahkan emulgator atau zat pelindnung yang tergantung pada jenis medium pendispersinya. Apabila medium pendispersi berupa senyawa polar missal air dan alcohol, emulgatornya harus yang dapat larut dalam pelarut polar. Dan sebaliknya jika medium pendispersi berupa senyaw nonpolar, maka emulgator juga dapat larut dalam pelarut nonpolar Zat pelindung dalam cat berfungsi untuk melindungi bahan-bahan pewarna atau bahan padat lain yang menempel pada bahan yag dicat dari pengaruh panas. Oleh karena itu, saat cairan pelarut menguap, sifat-sifat bahan pewarna dan bahan-bahan lain yang didispersikan tidak berubah oleh pengaruh cahaya matahari atau zat-zat kimia lain yang bersentuhan dengan bahan cat tersebut. II. Bidang makanan Contoh dalam bidang makan adalah susu, mentega dsb. Susu merupakan emulsi yang berwarna putih kekuningan dan bersifat asam lemah. III. Bidang kosmetik dan farmasi Bahan-bahan kosmetik hampir 90% dibuat dalam bentuk koloid. Bahan berbentuk koloid mempunyai beberapa kelebihan seperti: a. Mudah dibersihkan
  • 9.
    b. Tidak merusakkulit dan rambut c. Mudah menyerap berbagai bahan yang berfungi sebagai pewangi,pelembut, dan pewarna d. Mengandung dua jenis bahan yang tidak aling melarutkan. Beberapa tipe koloid yang digunakan dalam kosmetik sebagai berikut. a. Sol padat, contoh: kosmetik lipstick, mascara, dan pensil alis. b. Sol, contoh: kosmetik cat kuku, susu pembersih muka dan kulit, cairan mascara. c. Emulsi, contoh: kosmetik pembersih muka. d. Aerosol: kosmetik parfum semprot, hair spray, penyegar mulut bentuk semprot. e. Buih, contoh: sabun cukur f. Gel, kosmetik minyak rambut. Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar. Ada banyak penggunaan sistem koloid baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai industri seperti industri kosmetik, makanan, farmasi dan sebagainya. Beberapa macam koloid tersebut antara lain; 1. Aerosol Aerosol adalah sistem koloid di mana partikel padat atau cair terdispersi dalam gas. Aerosol yang dapat kita saksikan di alam adalah kabut, awan, dan debu di udara. Dalam industri modern, banyak sediaan insektisida dan kosmetika yang diproduksi dalam bentuk aerosol, dan sering kita sebut sebagai obat semprot, Contohnya antara lain adalah hair spray, deodorant dan obat nyamuk. 2. Sol Sol adalah sistem koloid di mana partikel padat terdispersi dalam cairan. Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel padat terhadap cairan pendispersi, kita mengenal dua macam sol; a. Sol liofil, dimana partikel-partikel padat akan mengadsorpsi molekul cairan, sehingga terbentuk suatu selubung di sekeliling partikel padat itu. Liofil artinya “cinta cairan” (Bahasa Yunani;
  • 10.
    lio=cairan; philia=cinta). Solliofil yang setengah padat disebut gel. Contoh gel antara lain selai dan gelatin. b. Sol liofob, dimana partikel-partikel padat tidak mengadsorpsi molekul cairan. Liofib artinya “takut cairan” (phobia=takut). Jika medium pendispersinya berupa air, kedua macam koloid di atas masing-masing disebut koloid hidrofil (cinta air) dan koloid liofob (takut air). Contoh koloid hidrofil adalah kanji, protein, lem, sabun, dan gelatin. Adapun contoh koloid hidrofob adalah sol-sol sulfide dan sol-sol logam. 3. Emulsi Emulsi adalah suatu system koloid di mana zat terdispersi dan medium pendispersi sama-sama merupakan cairan. Agar terjadi suatu campuran koloid, harus ditambahkan zat pengemulsi (emulgator). Susu merupakan emulsi lemak dalam air, dengan kasein sebagai emulgatornya. Obat-obatan yang tidak larut dalam air banyak yang dibuat dan dipanaskan dalam bentuk emulsi. Contohnya emulsi minyak ikan. Emulsi yang dalam bentuk semipadat disebut krim. Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid: 1. Pemutihan Gula Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih. 2. Penggumpalan Darah Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+. Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.