i
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN KETERATURAN
KUNJUNGAN ANTENATAL DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS LASALEPA KABUPATEN MUNA
PERIODE JULI 2016
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan
di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
Oleh :
Ilawati
PSW.B.2013.IB.0070
YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE
AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA
KABUPATEN MUNA
2016
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kab. Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes.
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kab. Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes.
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kab. Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes.
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
TIM PENGUJI
1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....)
2. Asmaidah, SST (………….............………....)
3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........)
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kabupaten Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
TIM PENGUJI
1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....)
2. Asmaidah, SST (………….............………....)
3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........)
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kabupaten Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna
TIM PENGUJI
1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....)
2. Asmaidah, SST (………….............………....)
3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........)
Raha, Juli 2016
Pembimbing I Pembimbing II
Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST
Mengetahui,
Direktur Akbid Paramata Raha
Kabupaten Muna
Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes
iv
RIWAYAT HIDUP
A. IDENTITAS DIRI
1. Nama : Ilawati
2. Nim : PSW. 2013. IB. 0070
3. Tempat/ tanggal lahir : Wakumoro, 29 Oktober 1995
4. Agama : Islam
5. Suku/Kebangsaan : Muna/Indonesia
6. Alamat : Jl. Gatot Subroto
B. PENDIDIKAN
1. SD : SD Negeri 11 Parigi Tahun 2002 - 2007
2. SMP : SMP Negeri 2 Parigi Tahun 2007 - 2010
3. SMA : SMKS Karya Persada Raha Tahun 2010 - 2013
4. Sejak tahun 2013 mengikuti pendidikan D III Kebidanan di Akademi
Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang direncanakan selesai
tahun 2016.
v
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan hidayah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan
Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016” yang merupakan salah satu syarat dalam
menyelesaikan pendidikan program D-III Kebidanan Akbid Paramata Raha
Kabupaten Muna.
Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak akan
terwujud tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Asmaidah, SST
selaku pembimbing I dan Ibu Rosmina Susen, SST selaku pembimbing II atas
segala kesediaan, kesungguhan, dan kesabarannya dalam membimbing dan
mengarahkan penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini berupa waktu,
bimbingan, motivasi, petunjuk, pengarahan dan dorongan baik moril materiil yang
sangat berharga.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Olehnya pada kesempatan ini dengan penuh
kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
vi
1. Bapak La Ode Muhlisi, A. Kep., M. Kes selaku Ketua Yayasan Pendidikan
Sowite Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten
Muna.
2. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes selaku Direktur Akademi Kebidanan
Paramata Raha Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha
Kabupaten Muna.
3. Ibu Wa Ode Siti Asma, SST., M. Kes selaku penguji yang telah meluangkan
waktu untuk memberikan ujian Karya Tulis Ilmiah.
4. Bapak La Gala selaku kepala Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna yang telah
memberi izin untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas
Lasalepa.
5. Seluruh jajaran petugas kesehatan Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna yang
telah membantu selama proses penelitian.
6. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten
Muna yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan selama mengikuti
pendidikan dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
7. Teristimewa kepada kedua orang tuaku tercinta Ayahanda dan Ibunda yang
telah mendidik, membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang yang
begitu tulus, serta doa restu dan pengorbanan yang tiada henti-hentinya hingga
penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.
vii
8. Buat sahabat-sahabatku Asni, Fitriani, Rahmaningsih, Wiwin Winarsih, Sitti
Andriyani, Haidin, S.P, Sinar Hasri, Wa Liati, La ode Umar, S. Hut, yang
selalu setia menemani dan memberi semangat. Teruntuk kawan seperjuanganku
selama penelitian “Erfiana” yang selalu bersama, selalu menghubungi dikala
fajar telah tiba lebih dari kekasih dan selalu memberi semangat agar Karya
Tulis ini selesai pada waktu yang seharusnya serta seluruh temanku angkatan
ke V Akbid Paramata dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu yang telah membantu dan memotivasi selama mengikuti pendidikan di
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari sempurna baik
dari segi materi maupun penulisannya. Olehnya itu, kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.
Akhirnya, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan
ilmu kebidanan dan semoga kebaikan serta bantuan yang telah diberikan kepada
penulis akan diberikan balasan yang setimpal oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Raha, Juli 2016
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul............................................................................................... i
Lembar Persetujuan....................................................................................... ii
Lembar Pengesahan...................................................................................... iii
Riwayat Hidup.............................................................................................. iv
Kata Pengantar.............................................................................................. v
Daftar Isi........................................................................................................ viii
Daftar Tabel.................................................................................................. x
Daftar Lampiran............................................................................................ xi
Pernyataan..................................................................................................... xii
Intisari........................................................................................................... xiii
Bab I Pendahuluan...................................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian............................................................................ 3
D. Manfaat Penelitian.......................................................................... 4
Bab II Tinjauan Pustaka............................................................................ 6
A. Telaah Pustaka................................................................................ 6
B. Landasan Teori............................................................................... 26
C. Kerangka Konsep........................................................................... 33
D. Hipotesis Penelitian........................................................................ 34
Bab III Metode Penelitian.......................................................................... 35
A. Jenis dan Rancangan Penelitian..................................................... 35
B. Subjek Penelitian............................................................................ 35
C. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................ 36
D. Identifikasi Variabel Penelitian...................................................... 36
E. Variabel dan Defenisi Operasional................................................. 37
F. Instrumen Penelitian....................................................................... 37
G. Pengolahan dan Analisis Data........................................................ 38
H. Jalannya Penelitian......................................................................... 40
ix
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan................................................ 41
A. Hasil Penelitian............................................................................... 42
B. Pembahasan.................................................................................... 49
Bab V Kesimpulan dan Saran.................................................................... 55
A. Kesimpulan..................................................................................... 55
B. Saran............................................................................................... 56
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif.................................... 37
Tabel 2 Distrubusi Frekuensi Keteraturan Kunjungan Antenatal di
Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016.............................................. 43
Tabel 3 Distrubusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016............................................................................ 44
Tabel 4 Distrubusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016............................................................................ 44
Tabel 5 Distrubusi Frekuensi Usia Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016............................................................................ 45
Tabel 6 Hubungan Pendidikan dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmass Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016............................................................................ 46
Tabel 7 Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di
Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode
Juli 2016......................................................................................... 47
Tabel 8 Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di
Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode
Juli 2016......................................................................................... 48
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Master Tabel
Lampiran 2 Surat Kesbang
Lampiran 3 Kuisioner
Lampiran 4 Surat Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 5 Bukti Penelitian
Lampiran 6 Uji Manual Exact Fisher
Lampiran 7 Uji SPSS Exact Fisher
xii
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Karya Tulis Ilmiah ini tidak
terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
perguruan tinggi, disepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara
tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Raha, Juli 2016
Ilawati
xiii
INTISARI
Ilawati, Psw.B.2013.IB.0070 “Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan
Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016”. Dibawah Bimbingan Asmaidah dan
Rosmina Susen.
Latar belakang : Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan
awal dari faktor risiko kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan
melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali selama
masa kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, 2 kali pada
trimester III. Di Puskesmas Lasalepa cakupan K4 tahun 2013 sebesar 71,20%
(167 orang), tahun 2014 meningkat menjadi 81,25% (195 orang) dan tahun 2015
menurun lagi menjadi 72,88% (173 orang)
Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional
Hasil penelitian : Hasil uji dengan menggunakan Exact Fisher pada setiap
variabel didapatkan nilai P Value untuk pendidikan adalah 0,0001 < 0,05 artinya
ada hubungan tingkat pendidikan dan keteraturan kunjungan antenatal, nilai P
Value untuk paritas 0,267 > 0,05 artinya tidak ada hubungan paritas dan
keteraturan kunjungan antenatal , nilai P Value untuk usia adalah 0,341 > 0,05
artinya tidak ada hubungan usia dan keteraturan kunjungan antenatal
Kesimpulan : Ada hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan
antenatal, tidak ada hubungan paritas dan usia dengan keteraturan kunjungan
antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli
2016
Kata Kunci : Keteraturan Kunjungan Antenatal, Karakteristik Ibu Hamil
Literatur : 19 Kepustakaan (2007-2014)
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari
faktor risiko kehamilan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal
care untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan
persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan
janin (Padila, 2014). Menurut WHO kematian maternal ialah kematian seorang
wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab
apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk
mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2011).
Penurunan AKI (angka kematian ibu) per 100.000 kelahiran hidup masih
sangat lamban untuk mencapai target Millenium Developments Goals (MDGs).
Diperkirakan setiap tahunnya 300.000 ibu di dunia meninggal saat melahirkan dan
99% kematian ibu terjadi di negara berkembang. Tantangan global pencapaian
sasaran MDGs tahun 2015 AKI yaitu 102 per 100.000 kelahiran (Pudiastuti,
2011).
AKI merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan
aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian
ibu di Indonesia tahun 2002 mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup, tahun
2007 menurun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan di tahun 2014
1
2
mencapai 359 per 100.000. Sedangkan target MDGs 2015 angka kematian ibu
adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Di Sulawesi Tenggara angka kematian ibu tahun 2012 hingga 2014
mengalami penurunan, tahun 2012 sebanyak 84 kasus, tahun 2013 sebanyak 79
kasus dan tahun 2014 sebanyak 65 kasus dan Kabupaten Muna tahun 2012
kematian ibu sebanyak 11 orang, tahun 2013 kematian ibu meningkat menjadi 12
orang dan di tahun 2014 Kabupaten Muna mempunyai kematian tertinggi di
Sulawesi Tenggara yakni 13 orang (Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2014).
Salah satu program untuk menurunkan AKI di Indonesia dengan upaya
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan pemeriksaan ibu
hamil oleh tenaga profesional yang sesuai dengan standar pelayanan antenatal
Secara operasionalnya Depkes RI (2009) menentukan pelayanan antenatal dengan
standar pelayanan, antara lain : timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur
tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), ukur tinggi fundus uteri,
tentukan presentase janin dan denyut jantung janin (DJJ), pemberian imunisasi
tetanus toxoid (TT), pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan, tes
laboratorium (rutin dan khusus), tatalaksana kasus, temu wicara (konseling),
termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca salin
(Hamzah, 2013).
Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan
antenatal sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan yaitu 1 kali pada
trimester I, 1 kali pada trimester II, 2 kali pada trimester III (Jannah, 2012). Secara
nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun
3
2014 belum mencapai target Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan
di tahun yang sama, yakni sebesar 95%.
Di Sulawesi Tenggara cakupan K4 pada tahun 2012 sebesar 80,36%, tahun
2013 menurun menjadi 75,48%, tahun 2014 meningkat lagi menjadi 81,41%. Di
Kabupaten Muna cakupan K4 tahun 2012 sebesar 64,05%, tahun 2013 meningkat
menjadi 69,97% dan di tahun 2014 menjadi 76,79%.
Di Puskesmas Lasalepa cakupan K4 tahun 2013 sebesar 71,20% (167
orang), tahun 2014 meningkat menjadi 81,25% (195 orang) dan tahun 2015
menurun lagi menjadi 72,88% (173 orang). Masih jauh dari target Renstra
kementrian kesehatan Indonesia yakni 95%. Berdasarkan latar belakang tersebut
peneliti tertarik untuk mengetahui “Hubungan karekteristik ibu hamil dengan
keteraturan kunjungan antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Periode
Juli 2016”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah ada hubungan karekteristik ibu hamil dengan
keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa Periode Juli
2016?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan karekteristik ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal.
4
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal ditinjau dari tingkat pendidikan ibu di Puskesmas
Lasalepa Periode Juli 2016.
b. Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal ditinjau dari jumlah paritas ibu di Puskesmas Lasalepa
Periode Juli 2016.
c. Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal ditinjau dari usia ibu di Puskesmas Lasalepa Periode
Juli 2016.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan yang
bermanfaat bagi pembaca.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Tempat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan
bagi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu
selama kehamilan dan meningkatkan program Kehatan Ibu dan Anak (KIA)
khususnya antenatal care.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan acuan ilmiah atau bahan perbandingan dalam
mengembangkan ilmu kebidanan dan sebagai masukan bagi rekan-rekan di
5
Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna dalam melakukan
penelitian lebih lanjut tentang keteraturan kunjungan antenatal
c. Bagi Peneliti
1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman secara
langsung bagi peneliti yaitu dengan mengaplikasikan berbagai teori dan
konsep yang didapatkan dari bangku kuliah ke dalam bentuk penelitian.
2) Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir
dijenjang pendidikan D III Akademi Kebidanan Paramata Raha
Kabupaten Muna.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Ibu Hamil
a. Kehamilan
Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa embrio
atau fetus di dalam tubuhnya. Masa kehamilan dimulai dari konsespsi
samapai lahirnya janin.. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai
partus yaitu kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari
atau sekitar 43 minggu (Kuswanti, 2014).
Apabila ditinjau dari lamanya kehamilan dibedakan menjadi :
1) Kehamilan prematur, yaitu kehamilan antara 28 minggu sampai 36
minggu.
2) Kehamilan matur, yaitu kehamilan antara 37 minggu sampai 42 minggu.
3) Kehamilan postmatur, yaitu kehamilan lebih dari 43 minggu.
Apabila ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian
yaitu :
1) Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu), dimana dalam
triwulan pertama alat-alat mulai dibentuk.
2) Kehamilan triwulan kedua (antara 12 minggu sampai 28 mingggu),
dimana dalam triwulan kedua alat-alat telah terbentuk tetapi belum
sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan.
6
7
3) kehamilan triwulan ketiga (antara 28 minggu sampai 40 minggu), dimana
janin yang dilahirkan dalam trimester tiga telah viable (dapat hidup).
b. Tanda-Tanda Kehamilan
1) Tanda Presumtif/Tanda Kehamilan Tidak Pasti
a) Amenorhea
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel
degraaf dan ovulasi, mengetahui tanggal haid terakhir dengan
perhitungan rumus neagle dapat ditentukan perkiraan persalinan,
amenorhea (tidak haid), gejala ini sangat penting karena umumnya
wanita hamil tidak dapat haid lagi (Yeyeh dkk, 2009).
b) Mual dan Muntah
Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam
lambung yang berlebihan, menimbulkan mual dan muntah terutama
pada pagi hari yang disebut morning sickness, akibat mual muntah
dan nafsu makan berkurang (Yeyeh dkk, 2009).
c) Mengidam
Mengidam (menginginkan makanan dan minuman tertentu), sering
terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan
makin tuanya kehamilan (Yeyeh dkk, 2009).
d) Pingsan
Pingsan, sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai.
Dianjurkan untuk tidak pergi ketempat-tempat ramai pada bulan-
8
bulan pertama kehamilan hilang setelah kehamilan 16 minggu
(Yeyeh dkk, 2009).
e) Mammae Menjadi Tegang dan Membesar
Mammae menjadi tegang dan membesar, keadaan ini disebabkan
pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan
alveoli dimammae. Gandula montgomeri tampak lebih jelas (Yeyeh
dkk, 2009).
f) Anoreksia
Anoreksia (tidak ada nafsu makan), pada bulan-bulan pertama tetapi
setelah itu nafsu makan timbul lagi. hendaknya dijaga jangan
sampai salah pengertian makan untuk dua orang, sehingga kenaikan
berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan (yeyeh dkk,
2009).
g) Sering Miksi
Sering miksi terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar ada
triwulan kedua umumnya keluham ini hilang oleh karena uterus
yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan
gejala ini bisa timbul lagi karena janin mulai masuk kerongga
panggul dan menekan kembali kandung kencing (Yeyeh dkk, 2009).
h) Konstipasi/Obstipasi
Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun karena disebabkan oleh
pengaruh hormon steroid (Yeyeh dkk, 2009).
9
i) Hipertroli pada Papila Gusi (Epulis)
Tanda beruba pembengkakan pada gusi. Gusi tampak bengkak
karena peningkatan jumlah pembuluh darah disekitar gusi, epulis
adalah suatu hipertrofi papila ginggivae. Sering terjadi pada
triwulan pertama (Yeyeh dkk, 2009).
j) Perubahan Pada Perut
Uterus tetap berada pada rongga panggul sampai minggu ke 12
setelah itu uterus mulai diraba diatas simpisis pubis (Yeyeh dkk,
2009).
k) Leukore (Keputihan)
Tanda berupa peningkatan jumlah cairan vagina pada pengaruh
hormon cairan tersebut tidak menimbulkan rasa gatal, warnanya
jernih dan jumlahnya tidak banyak (Yeyeh dkk, 2009).
2) Tanda Kemungkinan Hamil
Tanda kemungkinan hamil adalah perubahan-perubahan yang
diobservasi oleh pemeriksaan (bersufat objektif), namun berupa dugaan
kehamilan saja. Makin banyak tanda-tanda yang mungkin kita dapati,
makin besar kemungkinan kehamilan (Jannah, 2012).
a) Uterus Membesar
Terjadi perubahan bentuk, besar dan konsistensi rahim. Pada
pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dan makin
lama makin bundar bentuknya (Jannah, 2012).
10
b) Tanda Hegar
Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak,
terutama daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri
mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada
triwulan pertama mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih
lunak. Sehingga jika kita letakkan 2 jati dalam vorniks posterior dan
tangan lainnya pada dinding perut diatas simpisis maka ismus ini
tidak teraba seolah-olah korpus uteri sama sekali terpisah dari
uterus (Jannah, 2012).
c) Tanda Chadwick
Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak
lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Warna porsiopum tampak
livide. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen (Jannah,
2012).
d) Tanda Piscaseck
Uterus mengalami pembesaran. Kadang-kadang pembesaran tidak
rata tetapi didaerah telur bernidasi lebih cepat tumbunya. Hal ini
menyebabkan uterus membesar kesalah satu jurusan pembesaran
tersebut (Jannah, 2012).
e) Tanda Broxton Hicks
Bila uterus dirangsang akan mudah berkontraksi. Waktu palpasi
atau pemeriksaan dalam uterus yang tadinya lunak akan menjadi
11
keras karena berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam
kehamilan (Jannah, 2012).
f) Goodell Sign
Diluar kehamilan konsistensi serviks keras, kerasnya seperti kita
meraba ujung hidung, dalam kehamilan serviks menjadi lunak pada
perabaan selunak vivir atau ujung bawah daun telinga (Jannah,
2012).
g) Reaksi Kehamilan Positif
Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human
chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing
pertama pada pagi hari. Dengan tes ini dapat membantu menentukan
diagnosa kehamilan sedini mungkin (Jannah, 2012).
3) Tanda Positif (Tanda Pasti Hamil)
a) Gerakan janin yang dapat dulihat atau dirasa:
(1) Primigravida 18 minggu
(2) Multigravida 16 minggu
b) Denyut jantung janin
(1) Didengar leanec (monoscope) 18-20 minggu
(2) Dicatat dan didengar dengan dopler 12 minggu
(3) Dicatat dengan feto elektro kardiogram 12 minggu
(4) Dilihat pada ultrasonografi
c) Terlihat tulang-tulang janin pada foto rontgen
12
d) pada kehamilan yang lebih tua dapat diraba ballotemen (lentingan)
dan bagian bagian janin (Padila, 2014).
c. Tanda-tanda Bahaya/Komplikasi pada Ibu dan Janin Selama Masa
Kehamilan Muda
1) Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam yang terjadi dapat disebabkan oleh :
a) Abortus
Abortus adalah berakhirnya kehamilan oleh akibat-akibat tertentu
pada atau sebelum kehamilan 22 minggu atau buah kehamilan
belum mampu hidup diluar kandungan. Jenis-jenis abortus antara
lain :
(1) Abotrus Iminens
Adanya perdarahan dari uterus, hasil konsepsi masih berada
dalam uterus tanpa ada dilatasi serviks.
(2) Abortus Insipiens
Adanya perdarahan dari uterus, disertai dengan adanya dilatasi
serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih berada
didalam uterus. Pada abortus insipiens, rasa mules menjadi lebih
sering dan kuat serta perdarahan bertambah.
(3) Abortus Inkomplit
Adanya pengeluaran sebagian hasil konsepsi, tetapi masih ada
sisa yang tertinggal dalam uterus.
13
(4) Abortus Komplit
pengeluaran seluruh hasil konsepsi dari uterus (kuswanti, 2014).
b) Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik atau kehamilan diluar kandungan merupakan
suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak
mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat
pada tempat yang lain atau berada yaitu ditempat yang dikenal
dengan nama tuba falopi atau saluran telur, dileher rahim, dan
rongga perut atau diindung telur (Kuswanti, 2014).
c) Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana setelah
fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi
terjadi proliferasi dari villi korialis disetai dengan degenerasi
hidrofik (Kuswanti, 2014).
2) Hiperemesis Gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah mual munta berlebihan sehingga
menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari dan dapat membahayakan
kehidupan (Kuswanti, 2014).
3) Hipertensi Gravidarum
Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori,
yaitu :
a) Hipertensi kronik : hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90
mmHg yang diukur setelah beristirahat selama 5-10 menit dalam
14
posisi duduk) yang telah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau
hipertensi terjadi sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu
(Kuswanti, 2014).
b) Preeklamsia-Eklamsia : peningkatan tekanan darah yang baru
timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan
penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak
dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai didalam air seni
(protein uria). Eklamsia preklamsia yang disrtai kejang (Kuswanti,
2014).
c) Preeklamsia superimpossed pada hipertensi kronik : preeklamsia
terjadi pada perempuan hamil yang telah menderita hipertensi
sebelum hamil (Kuswanti, 2014).
d) Hipertensi gestasional : hipertensi pada kehamilan yang timbul
pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan
tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali
normal setelah melahirkan (Kuswanti, 2014).
4) Nyeri Perut Bagian Bawah
Nyeri perut atau abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan
normal adalah titik normal. Nyeri abdomen yang menunjukan masalah
yang mengancam jiwa adalah yang hebat dan tidak hilang meskipun
telah istirahat (Kuswanti, 2014).
15
d. Tanda-tanda Bahaya/Komplikasi pada Ibu dan Janin Selama Masa
Kehamilan Lanjut
1) Peradarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam pada hamil lanjut terjadi setelah kehamilan 28
minggu.
a) Plasenta Previa
Adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal yaitu pada segmen bawa rahim sehingga menutupi ostium
uteri internal. Tanda dan gejalanya adalah perdarahan tanpa nyeri
atau perdarahan dengan awitan mendadak (Kuswanti, 2014).
b) Solusio Plasenta
Adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal
terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir, terjadi pada umur
kehamilan diatas 22 minggu atau berat janin 500 gram (Kuswanti,
2014).
2) Sakit Kepala yang Hebat
Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan dan merupakan
ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Skait kepal yang
menunjukan masalah seerius adalah sakit kepala yang hebat dan
menetap, serta tidak hilang setalah beristrahat (Kuswanti, 2014).
16
3) Penglihatan kabur
Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa
adalah perubahan visual yang mendadak, seperti pandangan yang kabur
atau berbayang secara mendadak (Kuswanti, 2014).
4) Bengkak pada Wajah dan Jari-Jari Tangan
Bengkak bisa menunjukan adanya masalah jika muncul pada muka dan
tangan, serta tidak hilang setelah beristirahat, dan disertai dengan
kelhan fisik yang lain hal ini dapat menunjukan adanya anemia, gagal
jantung atau preeklamsi (Kuswanti, 2014).
5) Keluar Cairan Pervaginam
Cairan pervaginam dalam kehamilan dikatakan normal apabila tidak
berupa perdarahan banyak, air ketuban maupun leukhore yang patologis
(Kuswanti, 2014).
6) Gerakan Janin Tidak Terasa
Kesejahteraan janin dapat diketahui dari keaktifan gerakannya. Gerakan
janin minimal 10 kali dalam 12 jam, jika kurrang dari itu maka waspada
akan adanya gangguan janin dalam rahim (Kuswanti, 2014).
7) Nyeri Perut yang Hebat
Pada kehamilan lanjut, jika ibu merasakan nyeri yang hebat, tidak
berhenti setelah beristirahat, disertai dengan tanda-tanda syok yang
membuat keadaan umum ibu semakin memburuk dan disertai
perdarahan yang tidak sesuai dengan beratnya syok, maka kita harus
17
waspada akan kemungkinan terjadinya solusio plasenta (Kuswanti,
2014).
2. Antenatal Care
a. Pengertian Antenatal Care.
Asuhan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar
pelayanan antenatal yang ditetapkan oleh standar pelayanan kebidanan
(Pudiastuti, 2011). Menurut George Adriaansz yang dikutip prawirohardjo,
2011 antenatal care adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan
obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui
serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga
profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu
bidan, perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan
standart minimal pelayanan antenatal (Marmi, 2011).
b. Tujuan Antenatal Care.
Tujuan antenatal care adalah :
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial
ibu dan bayi.
6
18
3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
esklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi
agar dapat tumbuh kembang secara normal.
(Jannah, 2012).
c. Keuntungan Antenatal Care.
Dapat mengetahui berbagai risiko dan komplikasi hamil sehingga ibu
hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan kerumah sakit (Padila,
2014). Menurut Manuaba yang dikutip Hamzah, 2013 pengawasan
antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan
yang menyertai kehamilan secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan
dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinan. Diketahui
bahwa janin dalam rahim ibunya merupakan satu kesatuan yang yang saling
mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan
kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan janin.
d. Fungsi Antenatal Care.
1) Promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana atau aktifitas
pendidikan.
19
2) Melakukan screening, identifikasi dengan wanita dengan kehamilan
risiko tinggi dan merujuk bila perlu.
3) Memantau kesehatan selam hamil dengan usaha mendeteksi dan
menangani masalah yang terjadi.
(Padila, 2014).
e. Jadwal Kunjungan Antenatal Care.
Pada kebijakan program kunjungan ulang paling sedikit 4 kali yaitu 1
kali pada trimester satu, 1 kali pada triester dua dan 2 kali pada trimesterr
tiga (Jannah, 2012). Pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan
informasi yang sangat penting.
1) Trimester pertama sebelum minggu ke-14.
a) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan
ibu hamil.
b) Mendeteksi masalah dan menanganinya.
c) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia
kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
d) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi
komplikasi.
e) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istrahat
dan sebagainya).
20
2) Trimester kedua sebelum minggu ke-28
Sama seperti di atas, ditambah kewaspadaan khusus mengenai
preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau
tekanan darah, evaluasi edema).
3) Trimester ketiga antara minggu 28-32
Sama seperti di atas, ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui
apakah ada kehamilan ganda.
4) Trimester ketiga setelah 36 minggu
Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau
kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit. (Padila, 2014).
f. Standar Asuhan Kehamilan.
1) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil
Melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara
berkala untuk penyuluhan dan motifasi untuk pemeriksaan dini dan
teratur.
2) Standar 4 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal
Sedikitnya empat kali pelayanan kehamilan. Pemeriksaan meliputi :
anamnesis dan pemantauan ibu dan janin, mengenal kehamiilan resiko
tinggi, nasehat dan penyuluhan, mencatat data yang tepat setiap
kunjungan, tindakan tepat untuk merujuk.
3) Standar 5 : palpasi abdomen
4) Standar 6 : pengelolaan anemia pada kehamilan
5) Standar 7 : pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
21
6) Standar 8 : persiapan persalinan (Marmi, 2011).
Pada pemeriksaan kehamilan bidan memeriksakan 14 T yaitu :
1) Timbang berat badan dan ukur berat badan
2) Tekanan darah
Apabila tekanan darah melebihi 140/90 mmHg, maka perlu diwaspadai
adanya preeklampsia.
3) Tinggi fundus uteri
Pemeriksaan tinggi fundus uteri (TFU) dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa
dibandingkan hasil anamnesis (HPHT ibu).
4) Tetanus toxoid (suntik TT)
5) Pemberian tablet zat besi
Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil minimal 90 tablet selama
kehamilan.
6) Tes terhadap penyakit penular seksual.
7) Temu wicara/konseling
8) Pemeriksaan HB
Pemeriksaan HB ini dilakukan untuk mengetahui apakah ibu
mengalami anemia atau tidak. HB pada ibu hamil sebaiknya dilakukan
pada kunjungan pertama dan minggu ke 28 kehamilan.
9) Pemeriksaan urin protein
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah pada urin
mengandung protein atau tidak untuk mendeteksi gejala preeklampsi.
22
10) Tes reduksi urin
Dilakukan pada ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit diabetes
millitus.
11) Perawatan payudara (tekan pijat payudara).
12) Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil).
13) Terapi yodium kapsul
Terapi ini diberikan khusus pada ibu hamil dengan gangguan akibat
kekurangan yodium didaerah endemis.
14) Terapi obat malaria
Terapi ini diberikan kepada ibu hamil pendatang dari daerah malaria,
atau ibu hamil dengan gejalah malaria yaitu panas tinggi disertai
menggigil dan hasil apusan darah yang positif (Kuswanti, 2014).
g. Pelaksana dan Tempat Pelayanan Antenatal.
Pelayanan kegiatan pelayanan antenatal terdapat dari tenaga medis
yaitu dokter umum, dokter spesialis dan tenaga paramedik yaitu bidan,
perawat yang sudah mendapat pelatihan. Pelayanan antenatal dapat
dilaksanakan di puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, bidan praktek
swasta, polindes, rumah sakit bersalin dan rumah sakit umum (Padila,
2014).
3. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal Care.
1) Umur
Adalah umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat
berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan
23
seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dengan
bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin
baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga
mengetahui akan pentingnya antenatal care. Semakin muda umurnya
semakin tidak mengerti tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Umur
sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi
apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia
berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan
yang dilakukan (Padila, 2014).
2) Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses ilmiah yang terjadi pada manusia
menurut Crow yang dikutip Padilah, pendidikan adalah suatu proses dimana
pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar.
(Padila, 2014). Menurut Dictionary of Education dalam buku Achmad
Munib yang dikutip Padila, 2014 pendidikan adalah proses seseorang
mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya
di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses yakni orang dihadapkan pada
pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang
dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau, mengalami
perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.
Proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan hidup
dengan demikian pendidikan sangan besar pengaruhnya terhadap perilaku
24
yang berpendidikan tinggi akan berbeda tingkah lakunya dengan orang yang
hanya berpendidikan dasar (Padila, 2014).
Pendidikan adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi
diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Pendidikan dapat diartikan suatu
proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk
tingkah laku lainnya dalam masyarakat dan kebudayaan. Umumnya semakin
tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pula tingkat pengetahuannya
(Padila, 2014).
3) Paritas
Paritas adalah keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari
satu orang. Paritasa adalah jumlah janin denga berat badan lebih dari 500
gram atau lebih, yang pernah dilahirkan, hidup atau mati. Bila berat badan
tidak diketahui maka dipakai batas umur kehamilannya 24 minggu. Ibu yang
baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga
termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan
sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang
mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak
termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya (Padila, 2014).
4) Pendapatan perkapita
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendapatan
perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata keluarga dari suatu keluarga
yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan seluruh anggota keluarga.
Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Diater Evers yang dikutip Padila,
25
2014 pendapatan yaitu seluruh penerimaan baik berupa uang atau barang
baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri. Pendapatan keluarga yang
memadai akan menunjang antenatal care yang baik dan kesadaran untuk
periksa, karena dapat menyediakan semua kebutuhan dirinya baik yang
primer maupun sekunder. Keterbatasan sarana dan sumber daya, rendahnya
penghasilan, adanya peraturan atau perundanganyang jadi penghambat akan
membatasi keberdayaan orang perorang maupun masyarakat untuk merubah
perilakunya. Pendapatan mempengaruhi kunjungan antenatal care (ANC).
Hal ini disebabkan karena biaya penghidupan yang tinggi sehingga
diperlukan pasien harus menyediakan dana yang diperlukan (Padila, 2014).
5) Jarak
Menurut departemen pendidikan nasional jarak adalah ruang sela
(panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat yaitu jarak antara rumah
dengan tempat pelayanan ANC. Menurut koenger keterjangkauan
masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan mempengaruhi
pemilihan pelayanan kesehatan. Di beberapa desa masih kesulitan
mendapatkan akses pelayanan kesehatan, tidak semua desa mempunyai
puskesmas dan tenaga medis seperti dokter, bidan, perawat. Secara geografis
masih banyak masyarakat yang tinggal jauh dari sarana kesehatan (Padila,
2014).
26
B. Landasan Teori
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan
untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar
pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan
(Pudiastuti, 2011).
Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dengan petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan antenatal standar untuk mendapatkan
pemeriksaan kehamilan. Kunjungan antenatal adalah kunjungan ibu hamil ke
bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk
mendapatkan pelayanan antenatal. Kunjungan pertama adalah kunjungan
antenatal yang pertama kali dilakukan oleh ibu hamil (Jannah, 2012). Kunjungan
ulang yaitu setiap kali kunjungan antenatal yang dilakukan setelah kunjungan
antenatal pertama. Ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh
pelayanan antenatal sesuai dengan standart, paling sedikit empat kali dengan
distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada
triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga
umur kehamilan (Ambarwati, 2011).
1. Pendidikan
Menurut Rukmini yang dikutip Padila 2014, ibu yang mempunyai
pendidikan tinggi, yang bekerja sektor formal mempunyai akses yang lebih
baik tehadap informasi tentang kesehatan, lebih aktif menentukan sikap dan
lebih mandiri mengambil tindakan perawatan rendahnya pendidikan ibu,
berdampak rendahnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan
27
kesehatan. Makin rendah pengetahuan ibu, makin sedikit keinginan
memanfaatkan pelayanan kesehatan.
Tingkatan pendidikan menurut Notoatmodjo (2007) dapat dibedakan sebagai
berikut :
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar awal selama 9 tahun meliputi SD/sederajat,
SLTP/sederajat
b. Pendidikan Lanjut
Pendidikan menegah minimal 3 tahun meliputi SMA/sederajat dan
pendidikan tinggi meliputi diploma, sarjana, doktor dan spesialis yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi.
Tingkat pendidikan merupakan faktor predisposisi seseorang untuk
berperilaku sehingga latar belakang pendidikan merupakan faktor yang sangat
mendasar untuk memotivasi seseorang terhadap perilaku kesehatan dan
referensi belajar seseorang. Oleh sebab itu, ibu yang berpendidikan tinggi
cenderung melakukan pemeriksaan kehamilan dibandingkan ibu yang
berpendidikan rendah (Padila, 2014).
Orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional
oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan
baru. Demikian halnya dengan ibu yang berpendidikan tinggi akan
memeriksakan kehamilannya secara teratur demi menjaga keadaan kesehatan
dirinya dan anak dalam kandungannya (Padila, 2014).
28
Pendidikan merupakan salah satu sebab tidak langsung yang
mempengaruhi pemeriksaan kehamilan. Pendidikan merupakan faktor
predisposisi seseorang untuk berperilaku sehingga latar belakang pendidikan
merupakan faktor yang sangat mendasar untuk memotifasi seseorang terhadap
perilaku kesehatan dan referensi belajar seseorang. Upaya dalam meningkatkan
pendidikan dapat sejalan dengan promosi-promosi kesehatan terutama yang
berkaitan dengan ibu hamil yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
dibantu oleh kader atau toko masyarakat setempat, guna meningkatkan
pengetahuan ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan antenatal dengan cara
menyampaikan tenaga kesehatan yang akan melakukan pendidikan terhadap
ibu hamil harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu hamil, selain itu
bahasa yang digunakan oleh tenaga kesehatan harus sederhana dan dapat
dimengerti oleh ibu hamil, sehingga komunikasi dalam memberikan
pendidikan antenatal tidak terhambat. Semakin tinggi pendidikan seorang
wanita, maka semakin mampu mandiri dalam mengambil keputusan
menyangkut diri mereka sendiri khususnya keputusan memeriksakan
kehamilan (Widiya, 2014).
Menurut Notoatmodjo dalam Priani (2012) yang dikutip Anggriani
(2013) salah satu faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan
antenatal care adalah pendidikan. Pendidikan yang kurang akan menghambat
perkembangan sikap ibu terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan seperti
pentingnya kunjungan antenatal care pada saat hamil, sebaliknya bagi yang
berpendidikan tinggi dengan begitu akan mudah menerima informasi sehingga
29
makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki untuk pentingnya kunjungan
antenatal.
2. Paritas
Menurut Dorlan (2007) paritas adalah jumlah anak yang telah
dilahirkan oleh seorang wanita. Menurut Ramali (2010) paritas adalah keadaan
wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Ibu yang pernah
hamil atau berkali – kali hamil. Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan
lebih dari 500 gram yang pernah dilahirkan hidup atau mati. Bila berat badan
tidak diketahui maka dipakai batas umur kehamilannya 24 minggu (Padila,
2014).
Ibu yang baru pertama kali hamil maka akan merasakan sesuatu hal
yang baru dalam hidupnya sehingga sangat memotivasi ibu untuk melakukan
pemeriksaan kehamilannya kepada tenaga kesehtan hal ini berbanding terbalik
dengan ibu hamil yanng sudah pernah melahirkanlebih dari satu orang anak
sebelumnya, mereka beranggapan bahwa sudah lebih berpengalaman dalam
kehamilan selanjutnya sehingga tidak termotivasi untuk melakukan
pemeriksakan kehamilan kepada tenaga kesehatan (Wulanda, 2015).
Klasifikasi paritas menurut Sarwono Prawirohardjo (2010) yaitu :
a. Primipara adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.
b. Multipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan seorang anak.
c. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau
lebih. Semakin banyak paritas semakin banyak pula pengalaman dan
pengetahuannya sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dan
30
suatu pengalaman masa lalu mempengaruhi belajar. Ibu dengan paritas
tinggi lebih sering kontak dengan petugas kesehatan dan lebih banyak
informasi kesehatan yang didapat sehingga pengetahuan ibu makin
bertambah.
Ibu hamil yang yang mempunyai anak kurang dari 2 lebih rajin dan
teratur memeriksakan kehamilannya dibanding ibu yang mempunyai anak
banyak lebih dari 2 (multipara), hal ini dikarenakan ibu hamil yang mempunyai
anak kurang dari 2 atau primipara lebih termotivasi untuk melakukan antenatal
care dan sangat mengharapkan kehamilannya baik-baik saja sehingga ia
memeriksakan kehamilannya secara teratur agar selama kehamilannya tidak
ada masalah yang terjadi sehingga berakhir dengan baik dan mendapatkan anak
yang sehat dan tidak terjadi masalah pada bayi yang dilahirkan, dan sebagian
kecil ibu hamil yang mempunyai anak > 2 (multipara) tidak melakukan
kunjungan antenatal care secara lengkap karena mereka lebih merasa
memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam proses kehamilan sampai
melahirkan sehinggga mereka tidak begitu perduli dengan program pemerintah
yang dicanakan dalam hal ini pemeriksaaan kehamilan (Adawiya, 2013).
3. Usia
Menurut Elisabeth BH yang dikutip Agustin (2012), usia adalah umur
individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Umur
merupakan salah satu faktor penentu bagi ibu dalam melakukan pemeriksaan
kehamilan ataupun pemeriksaan ANC. Hal ini dapat ditinjau dari dua aspek
yaitu aspek sikap yang menyatakan bahwa ibu hamil pada kelompok umur 20-
31
35 tahun cenderung teratur dalam memeriksakan kehamilan dibandingkan
dengan ibu hamil pada kelompok umur <20 tahun atau >35 tahun. Hal ini
dikarenakan pada kelompok umur <20 tahun cenderung belum terlalu mengerti
mengenai pemeriksaan kehamilan sedangkan pada kelompok umur >35 tahun
cenderung merasa telah memiliki banyak pengalaman yang baik tentang
kehamilan sehingga tidak memeriksakan kehamilannya. Sedangkan, dari segi
aspek kesehatan, ibu hamil pada kelompok umur 20-35 tahun merupakan
kelompok umur reproduksi sehat sedangkan kelompok umur <20 dan >35
tahun merupakan kelompok umur berisiko mengalami komplikasi saat hamil
(Hukmiah, 2013).
Sedangkan menurut Huclpk yang dikutip Agustin (2012), semakin
cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang
dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang
lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini
sebagai dari pengalaman dan kematangan.
Kehamilan yang terjadi pada wanita dibawah 20 tahun merupakan
kehamilan yang banyak menghadapi risiko-risiko kesehatan sehubungan
dengan kehamilan dini dan banyak yang memiliki pengetahuan yang
terbatas atau kurang percaya diri untuk mengakses system pelayanan kesehatan
yang mengakibatkan kunjungan pelayanan antenatal yang terbatas yang
berperan penting terhadap terjadinya komplikasi, sehingga pada kelompok
usia ini diperlukan motivasi untuk memeriksakan kehamilan secara teratur.
Keteraturan ibu hamil dalam melakukan kunjungan Antenatal Care
32
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah karena
usia (Jahra, 2012).
Pada usia dibawah 20 tahun cenderung berpendidikan rendah yang
mengakibatkan berada pada kondisi ekonomi dan pengetahuan yang rendah,
sehingga pengetahuan tentang Antenatal Care cenderung sedikit. Selain itu ibu
hamil dengan usia kurang dari 20 tahun sering kali mengalami ketidaksiapan
mental tentang kehamilannya, sehingga kesadaran untuk melakukan Antenatal
Care kurang, yang dapat mengakibatkan kecenderungan naiknya tekanan darah
dan pertumbuhan janin yang terhambat. Sedangkan pada ibu hamil usia diatas
35 tahun cenderung tidak teratur melakukan Antenatal Care yang disebabkan
oleh jumlah paritas ibu lebih banyak sehingga lebih berpengalaman dalam
menangani kehamilannya (Jahra, 2012).
.
33
C. Kerangka Konsep
Variabel Independent
Variabel dependent
ket :
: Variabel bebas
: Variabel terikat
: Hubungan antar variabel
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
Tingkat Pendidikan
Keteraturan
Kunjungan Antenatal
Paritas
Usia
34
D. Hipotesis Penelitian
1. Hipotesis Alternatif (Ha)
a. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan keteraturan kunjungan
antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
b. Ada hubungan paritas ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di
Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
c. Ada hubungan usia ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di
Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
2. Hipotesis Null (H0)
a. Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
b. Tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan keteraturan kunjungan
antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
c. Tidak ada hubungan usia ibu hamil dengan keteraturan kunjungan
antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik
dengan menggunakan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang digunakan
dalam waktu bersamaan tetapi dengan subjek yang berberda-beda (Arikunto yang
dikutip Siswanto, 2013). Adapun rancangan penelitian dalam penelitian dapat
dilihat pada gambar berikut.
Populasi
(sampel)
faktor risiko (+) faktor risiko (-)
efek (+) efek (-) efek(+) efek (-)
Gambar. 2 Rancangan Penelitian
B. Subjek Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester III yang
memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan dan ada di wilayah kerja
Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016.
35
36
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil trimester III periode Juli 2016
dengan tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental
sampling.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilaya kerja Puskesmas Lasalepa.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 s/d 12 Juli 2016.
D. Identifikasi Variabel Penelitian
1. Variabel terikat : Keteraturan kunjungan antenatal care.
2. Variabel bebas : Tingkat pendidikan, paritas dan usia.
37
E. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Tabel 1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
No Variabel
Definisi
Operasional
Kriteria Obyektif Alat ukur Skala
1 Dependent
Keteraturan
kunjungan
antenatal
Ibu yang
memeriksakan
kehamilannya
minimal 4 kali
selama
kehamilan
Teratur : jika ibu
memeriksakan
kehamilannya
minimal 1 kali pada
trimester I, 1 kali
pada trimester II dan
2 kali pada trimester
III
Tidak : jika ibu
memeriksakan
kehamilannya tidak
teratur
Kuisioner Nominal
2 Independent
1. Tingkat
pendidikan
Pendidikan
terakhir yang
pernah dijalani
oleh ibu hamil
sampai
mendapatkan
ijazah
Lanjutan :
SMA/Sederajat,
diploma, sarjana,
doktor, spesialis.
Dasar : SD/Sederajat,
SLTP/Sederajat
Tidak sekolah
Kuisioner Nominal
2. Paritas Jumlah anak
yang
dilahirkan ibu
Primipara : < 2
Multipara : ≥ 2
Kuisioner Nominal
3. Usia umur ibu yang
terhitung
mulai saat
dilahirkan
sampai
berulang tahun
Berisiko : < 20 tahun
/ > 35 tahun
Tidak : 20-35 tahun
Kuisioner Rasio
F. Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah wawancara secara
langsung dan kuisioner penelitian.
38
G. Pengolahan dan Cara Analisis Data
1. Pengolahan Data
Data yang terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Pengeditan (Editing)
Yaitu dengan melakukan pengecekan kelengkapan data yang telah
terkumpul. Setelah dilakukan pengecekan tidak terdapat kesalahan dan
kekeliruan dalam pengumpulan data.
b. Pengkodean (Coding)
Data yang telah diedit dirubah dalam bentuk angka (kode) yaitu nama
responden dirubah dengan kode responden.
c. Pemberian skor (Tabulating)
Data yang telah lengkap dan memenuhi kriteria dihitung dan disesuaikan
dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam tabel distribusi
frekuensi.
2. Penyajian Data
Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan presentase yang
disertai narasi.
3. Analisa Data
Analisa dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :
a. Analisa data dengan uji Univariat
Analisa ini dilakukan pada masing – masing variabel untu mengetahui
gambaran umum secara distribusi frekuensi
39
= x 100 %
Keterangan :
f = frekuensi setiap variabel yang diteliti
p = persentase
n = jumlah populasi
b. Analisa data dengan uji Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas dan terikat. Perhitungan
mulai hubungan variabel dengan menggunakan rumus uji Chi Square. Dan
rumus Chi square nya adalah sebagai berikut :
=
∑( − )²
E
Keterangan :
x2
: Ukuran mengenai perbedaan yang terdapat antara frekuensi yang
diobservasi dan diharapkan.
O : Frekuensi yang diobservasi (observasi).
E : Frekuensi yang diharapkan (expected).
Kesimpulan yang diambil dari pengujian hipotesis sebagai berikut :
1) Jika X2
hitung ≥ X2
tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang
berarti ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan
taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05)
2) Jika X2
hitung < X2
tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti
tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan
taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05).
40
Jika terdapat cell yang mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5
sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square maka untuk
mencari hubungan antar dua variabel menggunakan uji alternatif yaitu
Fisher’s Exact yang merupakan turunan dari uji Chi Square dengan rumus
sebagai berikut :
P =
( )! ( )! ( )! ( )
! ! ! ! !
Kesimpulan yang diambil dari pengujian hipotesis sebagai berikut :
1) Jika p ≤ ɑ maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan
antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 %
(α = 0,05).
2) Jika p > ɑ maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti ada hubungan
antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 %
(α = 0,05).
H. Jalannya Penelitian
1. Tahap Persiapan
Pelaksanaan penelitian dimulai dengan mempersiapkan mengurus
surat izin penelitian kepada institusi dan melapor kepada kepala badan
KESBANGPOL Kabupaten Muna, kemudian mengantar surat tembusan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan Kepala Pukesmas
Lasalepa Kabupaten Muna sebelum melakukan kegiatan penelitian
dilapangan.
41
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaannya dimulai dengan menghubungi bidan koordinator puskesmas
lasalepa untuk memperoleh data dilapangan. Pengambilan data dilakukan
dengan wawancara secara langsung pada ibu hamil trimester III yang ada di
wilayah kerja Puskesmas Lasalepa.
3. Tahap Pengolahan Data
Setelah memperoleh data dari sampel berjumlah 30 orang kemudian disajikan
dalam tabel distribusi frekuensi yang disertai narasi untuk mempermudah
dalam menghubungkan antarvariabel.
4. Tahap Penulisan Karya Tulis Ilmiah
Pada tahap ini disajikan dalam laporan sebagai tahap akhir untuk
dipresentasekan dihadapan tim penguji Karya Tulis Ilmiah.
42
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Letak Geografis
Letak geografis Kecamatan Lasalepa terletak di Jazirah Sulawesi
Tenggara dan di bagian Utara pulau Muna sebelah Selatan garis khatulistiwa
yakni 40
6” – 50
15” Lintang Selatan dan diantara 1220
7½ - 1230
15” Bujur
barat. Dengan batas wilayah adalah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Napabalano
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batalaiworu
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Buton Utara
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kusambi.
2. Keadaan Demografis
Jumlah peduduk kecamatan Lasalepa yang menjadi sasaran pelayanan
kesehatan di puskesmas yaitu 10.884 jiwa, yang terdiri desa Labone berjumlah
2.241 jiwa, desa Bonea berjumlah 1.863 jiwa, desa Labunti berjumlah 2.281
jiwa, desa Parida berjumlah 1.305 jiwa, desa Lasalepa berjumlah 1.080 jiwa,
desa Bangunsari berjumlah 1.326 jiwa dan desa Kombungo berjumlah 788
jiwa.
3. Jenis Tenaga Kesehatan di Puskesmas Lasalepa
Di Puskesmas Lasalepa tenaga kesehatan terdiri dari Dokter Umum, S1
Kesmas, D3 dan S1 Keperawatan, D3 dan S1 Gizi, D1 dan D3 kesling, D3
kebidanan, D3 Farmasi dan SMA (Administrasi) yang berjumlah 64 orang.
42
43
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa
Kabupaten Muna. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study
untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan
kunjungan antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
periode Juli 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung
pada responden. Besar sampel pada penelitian ini adalah 31 responden yaitu
semua ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli
2016.
Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk
tabel frekuensi dan crosstab (tabulasi silang) sesuai dengan tujuan penelitian dan
disertai narasi sebagai penjelasan tabel. Adapun hasil penelitian yang telah
dilakukan diuraikan sebagai berikut :
1. Analisis Univariat
Analisa univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat distribusi
frekuensi dari variabel dependen dan independen yaitu :
a. Keteraturan Kunjungan
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Keteraturan Kunjungan Responden
di Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016
No Keteraturan Kunjungan Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Teratur 10 33,3
2 Tidak Teratur 20 66,7
Jumlah (n) 30 100
Sumber : Data Primer, 2016
44
Tabel 2 menunjukan bahwa dari 31 responden yang melakukan
kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 10 orang (33,3 %) dan yang
melakukan kunjungan antenatal tidak teratur sebanyak 20 orang (66,7 %).
b. Pendidikan Ibu
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan
Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016
No Pendidikan Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Lanjutan 10 33,3
2 Dasar 16 53,4
3 Tidak sekolah 4 13,3
Jumlah (n) 30 100
Sumber : Data Primer, 2016
Tabel 3 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berpendidikan
lanjutan sebanyak 10 orang (33,3 %), responden yang berpendidikan dasar
sebanyak 16 orang (53,4%) dan responden yang tidak sekolah sebanyak 4
orang (13,3%).
c. Paritas
Tabel 4
Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan
Antental di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016
No Paritas Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Primipara 14 46,7
2 Multipara 16 53,3
Jumlah (n) 30 100
Sumber : Data Primer 2016
45
Tabel 4 menunjukan bahwa dari 30 ibu hamil yang termasuk
primipara berjumlah 14 orang (46,7 %) dan ibu hamil yang termasuk
multipara berjumlah 16 orang (53,3%).
d. Usia
Tabel 5
Distribusi Frekuensi Usia Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
No Usia Frekuensi (f) Persentase (%)
1 20-35 23 76,7
2 < 20 / > 35 7 23,3
Jumlah (n) 30 100
Sumber : Data Primer 2016
Tabel 5 menunjukan bahwa dari 30 responden yang memiliki usia
20-35 tahun sebanyak 23 orang (76,7 %) dan responden yang memilki usia
<20/>35 tahun sebanyak 7 orang (23,3%).
2. Analisis Bivariat
Analisis statistik dengan menggunakan rumus uji Chi Square terhadap
hubungan pendidikan, paritas dan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal
di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna periode Juli 2016,
kemudian data dihitung dengan menggunakan uji alternatif Fisher’s Exact
yang merupakan turunan dari uji Chi Square karena pada tabel terdapat cells
dengan nilai yang diharapkan < 5.
46
a. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Ketaraturan Kunjungan Antenatal.
Tabel 6
Hubungan Pendidikan Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
No
Pendidikan
Keteraturan kunjungan
Total Ρ ValueTeratur Tidak teratur
f % F % f %
0,0001
1 Lanjutan 8 26,7 2 6,7 10 33,3
2 Dasar 2 6,7 14 46,7 16 53,4
3 Tidak Sekolah 0 0 4 13,3 4 13,3
Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100
Tabel 6 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berpendidikan
tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8
(26,7%) responden, yang berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan
antenatal secara tidak teratur sebanyak 2 (6,7%) responden. Responden
yang berpendidikan dasar dan melakukan kunjungan antenatal secara
teratur sebanyak 2 (6,7%) responden, responden yang berpendidikan dasar
dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 14
(46,7%) repsonden. Responden yang tidak sekolah sebanyak 4 (13,3%)
melakukan kunjungan tidak teratur.
Berdasarkan tabel 6 menunjukan bahwa terdapat 4 cells yang
mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi
syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari
hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal,
47
menggunakan uji alternatif yaitu Fisher’s Exact yang merupakan turunan
dari uji Chi Square dengan hasil P value 0,0001 < 0,05. Hal ini berarti H0
ditolak Ha diterima. Dengan demikian ada hubungan antara tingakat
pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja
Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016
b. Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
Tabel 7
Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas LasalepaKabupaten Muna
Periode Juli 2016
No
Paritas
Keteraturan kunjungan
Total P ValueTeratur Tidak teratur
f % f % f %
0,267
1 Primipara 4 13,3 10 33,3 14 46,7
2 Multipara 6 20 10 33,3 16 53,3
Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100
Tabel 7 menunjukan bahwa dari 30 responden yang termasuk
kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur
sebanyak 4 (13,3%) responden, yang termasuk kategori primipara dan
melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%)
responden. Responden yang termasuk kategori multipara dan melakukan
kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 6 (20%) responden, yang
termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara
tidak teratur sebanyak 10 (33,3%) responden.
48
Berdasarkan tabel 7 menunjukan bahwa terdapat 1 cells yang
mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi
syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari
hubungan paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal, menggunakan
uji alternatif yaitu Fisher’s Exact dengan hasil P value 0,267 > 0,05. Hal ini
berarti H0 diterima Ha ditolak. Dengan demikian tidak ada hubungan antara
paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas
Lasalepa periode Juli 2016.
c. Hubungan Usia dan Keteraturan Kunjungan Antenatal
Tabel 8
Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna
Periode Juli 2016
No
Usia
Keteraturan kunjungan
Total ΡvalueTeratur Tidak teratur
f % F % f %
0,341
1 20-35 8 26,7 15 50 23 76,7
2 <20/>35 2 6,7 5 16,7 7 23,3
Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100
Tabel 8 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berusia 20-35
tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8
(26,7%) responden, yang berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan
antenatal secara tidak teratur sebanyak 15 (50%) responden. Responden
yang berusia <20/>35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara
teratur sebanyak 2(6,7%) responden, yang berusia <20/>35 tahun dan
49
melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 20 (66,7%)
responden.
Berdasarkan tabel 8 menunjukan bahwa terdapat 1 cells yang
mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi
syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari
hubungan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal, menggunakan uji
alternatif yaitu Fisher’s Exact dengan hasil P value 0,341 > 0,05. Hal ini
berarti H0 diterima Ha ditolak. Dengan demikian tidak ada hubungan antara
usia dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas
Lasalepa periode Juli 2016.
C. Pembahasan
Dari 30 responden yang melakukan kunjungan antenatal secara teratur
sebanyak 10 responden, yang melakukan kunjungan secara tidak teratur sebanyak
20 responden. Responden yang berpendidikan lanjut sebanyak 10 responden,
berpendidikan dasar sebanyak 16 responden, yang tidak sekolah sebanyak 4
responden. Responden yang termasuk primipara sebanyak 14 orang dan
primipara sebanyak 16 orang. Responden yang berusia 20-35 tahun sebanyak 23
orang dan responden yang berusia <20/>35 tahun sebanyak 16 orang.
1. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang
berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur
sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berpendidikan tinggi dan melakukan
kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 2 (6,7%) responden.
50
Responden yang berpendidikan dasar dan melakukan kunjungan antenatal
secara teratur sebanyak 2 (6,7%) responden, responden yang berpendidikan
dasar dan melkukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 14
(46,7%) repsonden. Responden yang tidak sekolah sebanyak 4 (13,3%)
melakukan kunjungan tidak teratur.
Menurut Notoatmodjo dalam Priani (2012) yang dikutip Anggriani
(2013) salah satu faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan
antenatal care adalah pendidikan. Pendidikan yang kurang akan menghambat
perkembangan sikap ibu terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan seperti
pentingnya kunjungan antenatal care pada saat hamil, sebaliknya bagi yang
berpendidikan tinggi dengan begitu akan mudah menerima informasi sehingga
makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki untuk pentingnya kunjungan
antenatal. Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang
bertindak dan mencari penyebab solusi hidupnya, dimana pendidikan rendah
merupakan salah satu masalah yang berpengaruh terhadap kunjungan antenatal
care pada ibu hamil. Demikian halnya dengan ibu yang berpendidikan tinggi
akan memeriksakan kehamilannya secara teratur demi menjaga keadaan
kesehatan dirinya dan bayi dalam kandungannya.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilkakukan oleh Agustin di
wilayah kerja Puskesmas Duren Kecamatan Bandungan tahun 2013 yang
menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keteraturan
kunjungan antenatal. Hal ini dapat dipahami, karena semakin tinggi pendidikan
seseorang akan semakin mudah untuk menerima pesan dari berbagai sumber
51
informasi, baik berupa penyuluhan yang dilaksanakan saat berkunjung ke
tempat pelayanan kesehatan maupun dari berbagai sumber informasi lain
seperti media cetak dan media elektronik.
2. Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang
termasuk kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur
sebanyak 4 (13,3%) responden, yang termasuk kategori primipara dan
melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%)
responden. Responden yang termasuk kategori multipara dan melakukan
kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 6 (20%) responden, yang
termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak
teratur sebanyak 10 (33,3%) responden.
Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru
sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan
sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai
anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk
memeriksakan kehamilannya (Padila, 2014).
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Gita Nirmala Sari tahun 2012
di Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur yang menyatakan ada hubungan antara
paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal karena ibu hamil primipara
mereka lebih banyak merasa khawatir dibandingkan dengan kehamilan
multipara sehingga ibu hamil primipara akan lebih banyak memanfaatkan
pelayanan antenatal dibandingkan dengan multipara. Ibu multipara merasa
52
memiliki pengetahuan dan pengalaman lebih banyak dari pada primipara,
padahal setiap kehamilan itu berbeda keadaan dan kondisi akan berbeda-
beda.
3. Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang
berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur
sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berusia 20-35 tahun dan melakukan
kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 15 (50%) responden.
Responden yang berusia <20/>35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal
secara teratur sebanyak 2(6,7%) responden, yang berusia <20/>35 tahun dan
melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 20 (66,7%)
responden.
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dengan bertambahnya umur
seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan
termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga mengetahui akan pentingnya
antenatal care. Semakin muda umurnya semakin tidak mengerti tentang
pentingnya pemeriksaan kehamilan. Umur sangat menentukan suatu kesehatan
ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun
dan diatas 35 tahun. Usia berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah
kesehatan dan tindakan yang dilakukan (Padila, 2014).
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hukmiah tahun 2013 di
wilayah Pesisir Kecamatan Mandalle yang mengatakan bahwa tidak ada
53
hubungan yang signifikan antara usia dan keteraturan kunjungan antenatal. Hal
ini disebabkan karena usia dibawa 20 tahun cenderung kurang percaya diri
untuk memeriksakan diri dan ikut berpartisipasi dengan ibu-ibu yang ada di
tempat pelayanan kesehatan sedangkan ibu yang berusia lebih dari 35 tahun
beranggapan telah memiliki banyak pengalaman pada kehamilan yang lalu
padahal setiap kehamilan berbeda-beda risiko yang akan dialami dan usia
kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun adalah risiko dalam kehamilan
yang seharunya lebih teratur memeriksakan kehamilannya pada tenaga
kesehatan.
54
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Ada hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal.
2. Tidak ada hubungan paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal.
3. Tidak ada hubungan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal.
B. Saran
1. Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan pada setiap ibu hamil untuk lebih teratur lagi berkunjunga
kepelayanan kesehatan agar mendapat informasi sedini mungkin tentang
hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak guna untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan utamanya kesehatan ibu dan anak.
2. Petugas Pelayanan
Diharapkan lebih intensif melakukan penyuluhan ke warga dalam
memberikan informasi dan motivasi tentang pentingnya pemeriksaan secara
dini kehamilan.
54
55
DAFTAR PUSTAKA
Adawiya Rabi’atul (2013). “Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan
Antenatal Care” .(http://www.academia.edu/22246891/2014-1-1-
komplikasi-persalinan. Diakses Tanggal 19 Juni 2016.
Agustin euis (2012) “Persepsi Ibu Hamil Tentang Pelaksanaan Antenatal Care
Oleh Bidan Terhadap Kunjungan ANC”. (Online). Diakses tanggal 22
Juni 2016.
Agriani Iin (2014). “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan ANC
Pada Ibu Hamil.(Online). Diakses Tanggal 24 Juni 2016.
Ambarwati, Eny. R. (2011). Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha
Medika
Hamzah, Asiah (2013). Sosiologi Pengasuhan Anak. Makassar: Masagena Press
Hukmiah (2013). Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Antenatal
Care. http://hdl.handle.net/11617/3284. Diakses tanggal 19 Juni 2016.
Jahra Fatima (2012) “Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam
melakukan pemeriksaan ANC (Online) Diakses tanggal 19 Juni 2016.
Jannah, Nurul (2012). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta:
Andi Offset.
Kuswanti, Ina (2014). Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Marmi, 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Antenatal. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Nirmala Sari, G (2012). Faktor Pendidikan, Pengetahuan, Paritas, Dukungan
Keluarga dan Penghasilan Keluarga yang Berhubungan dengan
Pemanfaatan Pelayanan ANC. http://uad.ac.id/. Diakses tanggal 19 Juni
2016.
Notoatmodjo (2007). http://dinikomalasari.wordpress.com/2014. Diakses tanggal
27 Juli 2016.
Padila (2014). Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika
Pudiastuti, Ratna D (2011). Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Prawirohardjo, S. (2011). Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: Bina
Pustaka.
Siswanto, Susila & Suyanto, (2013). Metodologi Penelitian Kesehatan dan
Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
56
Widiya Lisca Furnama (2014). “Identifikasi Kelengkapan Kunjungan Antental
Care (ANC) pada Ibu Hamil Trimester III dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya. http://www.academia.edu/11301092/jurnal_penelitian.
Diakses tanggal 18 Juni 2016.
Wulanda Chyntarra (2015). “Hubungan Pengetahuan, Sikap, Usia dan Paritas
Ibu Hamil dengan Antenatal Care
http://etd.unsiyahac.id/index.php?p=show_detail&d=7461. Diakses
tanggal 18 Juni 2016.
Yeyeh Ai Rukiyah, Lia Yulianti, Maemunah, Lilik Susilowati (2009). Asuhan
Kebidanan 1 (Kehamilan). Jakarta Timur: Cv.Trans Info Media
57
N
o
Nama Kunjungan Pendidikan Paritas Usia
Teratur Tidak Tidak
sekolah
Dasar Lanjutan Primipara Multipara 20-35
tahun
< 20/> 35
tahun
1 Ny. T    
2 Ny. E    
3 Ny. H    
4 Ny. L    
5 Ny. N    
6 Ny. I    
7 Ny. M    
8 Ny. R    
9 Ny. K    
10 Ny. F    
11 Ny. Na    
12 Ny. Ru    
13 Ny. M    
14 Ny. Nu    
15 Ny. Ha    
16 Ny. Ir    
17 Ny. No    
18 Ny. U    
19 Ny. Ha    
20 Ny. D    
21 Ny. S    
22 Ny. E    
23 Ny. Nr    
24 Ny. Su    
25 Ny. Sa    
26 Ny. RT    
27 Ny. Sr    
28 Ny. N    
29 Ny.A    
30 Ny. R   
LEMBAR HASIL PENELITIAN (CECK LIST)
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal
di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016
Lampiran 1
58
Lampiran 2
59
LEMBAR PERTANYAAN
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan
Antenatal di Puskesmas Lasalepa
Tahun 2016
Tanggal :
No. Responden :
Nama :
Umur :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :
Hamil ke :
No HPHT Tanggal Kunjungan Kunjungan
ke
Umur kehamilan
saat berkunjung
Lampiran 3
60
SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Yang bertanda tangan di bawa ini :
Nama :
Umur :
Alamat :
Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian
yang berjudul “Hubungan Karekteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan
Antenatal di Puskesmas Lasalepa Tahun 2016”
Yang dilakukan oleh :
Nama : ILAWATI
Nim : PSw.B.2013.IB.0070
Sesuai dalam prosedur penelitian, maka saya memberikan jawaban
sebenar-benarnya atas pertanyaan yang diberikan dan tidak akan menuntut
terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam penelitian ini.
Demikian surat persetujuan ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk
digunakan sebagaimana mestinya.
Raha, Juli 2016
Responden
(....................................)
Lampiran 4
61
Lampiran 5
62
UJI MANUAL EXACT FISHER
1. Pendidikan
Pendidikan Keteraturan Kunjungan Total
Teratur Tidak
Lanjutan 8 2 10
Dasar 2 14 16
Tidak Sekolah 0 4 4
Total 10 20 30
=
10! 16! ! 10! 20!
30! 8! 2! 2! 14! 0! !
=
3628800 2,09 10 3628800 2,43 10
2,7 10 40302 2 2 8,7 10
=
3628800 2,09 3628800 2,43 10
2,7 40302 2 2 8,7 1 10
=
1,32 10 2,09 2,43 10
2,7 40302 2 2 8,7 1 10
=
1,32 2,09 2,43 10
2,7 40302 2 2 8,7 1 10
=
6,703 10
3788467 10
=
6,703 10
3788467
=
670,3
3788467
= 0,0001
Lampiran 6
63
2. Paritas
Paritas Keteraturan Kunjungan total
Teratur Tidak
Primipara 4 10 14
Multipara 6 10 16
Total 10 20 30
=
14! 16! ! 20!
30! 4! 10! 6! !
=
8,72 10 2,1 10 2,43 10
2,67 10 24 720 3,6 10
=
8,72 2,1 2,43 10
2,67 24 720 3,6 10
=
44,49816 10
166095,36 10
=
44,49816 10
166095,36
=
44498,16
166095,36
= 0,267
64
3. Usia
Usia Keteraturan Kunjungan total
Teratur Tidak
20-35 tahun 8 15 23
<20/>35 tahun 2 5 7
Total 10 20 30
=
23! 7! 10! 20!
30! 8! 15! 2! 5!
=
2,58 10 5040 3,62 10 2,43 10
2,67 10 40320 1,3 10 2 120
=
2,58 5040 3,62 2,43 10
2,67 40320 1,31 2 120 10
=
114383,94 10
33588172 10
=
114383,94 10
33588172
=
11438394
33588172
= 0,341
65
Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan
Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa
Kabupaten Muna Periode Juli 2016
1. PENDIDIKAN
Crosstab
keteraturan kunjungan
Totalteratur tidak teratur
pendidikan lanjutan Count 8 2 10
Expected Count 3,3 6,7 10,0
% within pendidikan 80,0% 20,0% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
80,0% 10,0% 33,3%
dasar Count 2 14 16
Expected Count 5,3 10,7 16,0
% within pendidikan 12,5% 87,5% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
20,0% 70,0% 53,3%
tidak
sekolah
Count 0 4 4
Expected Count 1,3 2,7 4,0
% within pendidikan 0,0% 100,0% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
0,0% 20,0% 13,3%
Total Count 10 20 30
Expected Count 10,0 20,0 30,0
% within pendidikan 33,3% 66,7% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
100,0% 100,0% 100,0%
Lampiran 7
66
Chi-Square Tests
Value df
Asymptotic
Significance
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Point
Probability
Pearson Chi-Square 14,925a
2 ,001 ,000
Likelihood Ratio 16,126 2 ,000 ,001
Fisher's Exact Test 13,520 ,000
Linear-by-Linear
Association
12,234b
1 ,000 ,000 ,000 ,000
N of Valid Cases 30
a. 3 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,33.
2. PARITAS
Crosstab
keteraturan kunjungan
Totalteratur tidak teratur
paritas primipara Count 4 10 14
Expected Count 4,7 9,3 14,0
% within paritas 28,6% 71,4% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
40,0% 50,0% 46,7%
multipara Count 6 10 16
Expected Count 5,3 10,7 16,0
% within paritas 37,5% 62,5% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
60,0% 50,0% 53,3%
Total Count 10 20 30
Expected Count 10,0 20,0 30,0
% within paritas 33,3% 66,7% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
100,0% 100,0% 100,0%
67
Chi-Square Tests
Value df
Asymptotic
Significance
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Point
Probability
Pearson Chi-Square ,268a
1 ,605 ,709 ,450
Continuity Correctionb
,017 1 ,897
Likelihood Ratio ,269 1 ,604 ,709 ,450
Fisher's Exact Test ,709 ,450
Linear-by-Linear
Association
,259c
1 ,611 ,709 ,450 ,267
N of Valid Cases 30
a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,67.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is -,509.
3. USIA
Crosstab
keteraturan kunjungan
Totalteratur tidak teratur
usia 20-35 tahun Count 8 15 23
Expected Count 7,7 15,3 23,0
% within usia 34,8% 65,2% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
80,0% 75,0% 76,7%
<20 / >35
tahun
Count 2 5 7
Expected Count 2,3 4,7 7,0
% within usia 28,6% 71,4% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
20,0% 25,0% 23,3%
Total Count 10 20 30
Expected Count 10,0 20,0 30,0
% within usia 33,3% 66,7% 100,0%
% within keteraturan
kunjungan
100,0% 100,0% 100,0%
68
Chi-Square Tests
Value df
Asymptotic
Significance
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Point
Probability
Pearson Chi-Square ,093a
1 ,760 1,000 ,571
Continuity
Correctionb
,000 1 1,000
Likelihood Ratio ,095 1 ,758 1,000 ,571
Fisher's Exact Test 1,000 ,571
Linear-by-Linear
Association
,090c
1 ,764 1,000 ,571 ,343
N of Valid Cases 30
a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,33.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is ,300.

Kti ilawati

  • 1.
    i HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBUHAMIL DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN ANTENATAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LASALEPA KABUPATEN MUNA PERIODE JULI 2016 Karya Tulis Ilmiah Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Oleh : Ilawati PSW.B.2013.IB.0070 YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA KABUPATEN MUNA 2016
  • 2.
    ii LEMBAR PERSETUJUAN Karya TulisIlmiah Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kab. Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes. ii LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kab. Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes. ii LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 Telah disetujui untuk diujikan di hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, S.ST Rosmina Susen, S.ST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kab. Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes.
  • 3.
    iii HALAMAN PENGESAHAN Karya Tulisini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna TIM PENGUJI 1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....) 2. Asmaidah, SST (………….............………....) 3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........) Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes iii HALAMAN PENGESAHAN Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna TIM PENGUJI 1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....) 2. Asmaidah, SST (………….............………....) 3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........) Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes iii HALAMAN PENGESAHAN Karya Tulis ini telah disetujui dan diperiksa oleh Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna TIM PENGUJI 1. Wa Ode Siti Asma, SST., M.Kes (……….................………....) 2. Asmaidah, SST (………….............………....) 3. Rosmina Susen, SST (…………........…....…........) Raha, Juli 2016 Pembimbing I Pembimbing II Asmaidah, SST Rosmina Susen, SST Mengetahui, Direktur Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes
  • 4.
    iv RIWAYAT HIDUP A. IDENTITASDIRI 1. Nama : Ilawati 2. Nim : PSW. 2013. IB. 0070 3. Tempat/ tanggal lahir : Wakumoro, 29 Oktober 1995 4. Agama : Islam 5. Suku/Kebangsaan : Muna/Indonesia 6. Alamat : Jl. Gatot Subroto B. PENDIDIKAN 1. SD : SD Negeri 11 Parigi Tahun 2002 - 2007 2. SMP : SMP Negeri 2 Parigi Tahun 2007 - 2010 3. SMA : SMKS Karya Persada Raha Tahun 2010 - 2013 4. Sejak tahun 2013 mengikuti pendidikan D III Kebidanan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang direncanakan selesai tahun 2016.
  • 5.
    v KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum WarahmatullahiWabarakatuh. Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016” yang merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan program D-III Kebidanan Akbid Paramata Raha Kabupaten Muna. Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Asmaidah, SST selaku pembimbing I dan Ibu Rosmina Susen, SST selaku pembimbing II atas segala kesediaan, kesungguhan, dan kesabarannya dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini berupa waktu, bimbingan, motivasi, petunjuk, pengarahan dan dorongan baik moril materiil yang sangat berharga. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Olehnya pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
  • 6.
    vi 1. Bapak LaOde Muhlisi, A. Kep., M. Kes selaku Ketua Yayasan Pendidikan Sowite Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna. 2. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M. Kes selaku Direktur Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna. 3. Ibu Wa Ode Siti Asma, SST., M. Kes selaku penguji yang telah meluangkan waktu untuk memberikan ujian Karya Tulis Ilmiah. 4. Bapak La Gala selaku kepala Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa. 5. Seluruh jajaran petugas kesehatan Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna yang telah membantu selama proses penelitian. 6. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan selama mengikuti pendidikan dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini. 7. Teristimewa kepada kedua orang tuaku tercinta Ayahanda dan Ibunda yang telah mendidik, membesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu tulus, serta doa restu dan pengorbanan yang tiada henti-hentinya hingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.
  • 7.
    vii 8. Buat sahabat-sahabatkuAsni, Fitriani, Rahmaningsih, Wiwin Winarsih, Sitti Andriyani, Haidin, S.P, Sinar Hasri, Wa Liati, La ode Umar, S. Hut, yang selalu setia menemani dan memberi semangat. Teruntuk kawan seperjuanganku selama penelitian “Erfiana” yang selalu bersama, selalu menghubungi dikala fajar telah tiba lebih dari kekasih dan selalu memberi semangat agar Karya Tulis ini selesai pada waktu yang seharusnya serta seluruh temanku angkatan ke V Akbid Paramata dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memotivasi selama mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna. Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari sempurna baik dari segi materi maupun penulisannya. Olehnya itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Akhirnya, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebidanan dan semoga kebaikan serta bantuan yang telah diberikan kepada penulis akan diberikan balasan yang setimpal oleh Tuhan Yang Maha Esa. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Raha, Juli 2016 Penulis
  • 8.
    viii DAFTAR ISI Halaman Judul...............................................................................................i Lembar Persetujuan....................................................................................... ii Lembar Pengesahan...................................................................................... iii Riwayat Hidup.............................................................................................. iv Kata Pengantar.............................................................................................. v Daftar Isi........................................................................................................ viii Daftar Tabel.................................................................................................. x Daftar Lampiran............................................................................................ xi Pernyataan..................................................................................................... xii Intisari........................................................................................................... xiii Bab I Pendahuluan...................................................................................... 1 A. Latar Belakang............................................................................... 1 B. Rumusan Masalah.......................................................................... 3 C. Tujuan Penelitian............................................................................ 3 D. Manfaat Penelitian.......................................................................... 4 Bab II Tinjauan Pustaka............................................................................ 6 A. Telaah Pustaka................................................................................ 6 B. Landasan Teori............................................................................... 26 C. Kerangka Konsep........................................................................... 33 D. Hipotesis Penelitian........................................................................ 34 Bab III Metode Penelitian.......................................................................... 35 A. Jenis dan Rancangan Penelitian..................................................... 35 B. Subjek Penelitian............................................................................ 35 C. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................ 36 D. Identifikasi Variabel Penelitian...................................................... 36 E. Variabel dan Defenisi Operasional................................................. 37 F. Instrumen Penelitian....................................................................... 37 G. Pengolahan dan Analisis Data........................................................ 38 H. Jalannya Penelitian......................................................................... 40
  • 9.
    ix Bab IV HasilPenelitian dan Pembahasan................................................ 41 A. Hasil Penelitian............................................................................... 42 B. Pembahasan.................................................................................... 49 Bab V Kesimpulan dan Saran.................................................................... 55 A. Kesimpulan..................................................................................... 55 B. Saran............................................................................................... 56 Daftar Pustaka Lampiran-Lampiran
  • 10.
    x DAFTAR TABEL Tabel 1Definisi Operasional dan Kriteria Objektif.................................... 37 Tabel 2 Distrubusi Frekuensi Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016.............................................. 43 Tabel 3 Distrubusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016............................................................................ 44 Tabel 4 Distrubusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016............................................................................ 44 Tabel 5 Distrubusi Frekuensi Usia Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016............................................................................ 45 Tabel 6 Hubungan Pendidikan dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmass Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016............................................................................ 46 Tabel 7 Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016......................................................................................... 47 Tabel 8 Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016......................................................................................... 48
  • 11.
    xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1Master Tabel Lampiran 2 Surat Kesbang Lampiran 3 Kuisioner Lampiran 4 Surat Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 5 Bukti Penelitian Lampiran 6 Uji Manual Exact Fisher Lampiran 7 Uji SPSS Exact Fisher
  • 12.
    xii PERNYATAAN Dengan ini sayamenyatakan bahwa dalam Karya Tulis Ilmiah ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, disepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Raha, Juli 2016 Ilawati
  • 13.
    xiii INTISARI Ilawati, Psw.B.2013.IB.0070 “HubunganKarakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016”. Dibawah Bimbingan Asmaidah dan Rosmina Susen. Latar belakang : Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari faktor risiko kehamilan. Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, 2 kali pada trimester III. Di Puskesmas Lasalepa cakupan K4 tahun 2013 sebesar 71,20% (167 orang), tahun 2014 meningkat menjadi 81,25% (195 orang) dan tahun 2015 menurun lagi menjadi 72,88% (173 orang) Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Hasil penelitian : Hasil uji dengan menggunakan Exact Fisher pada setiap variabel didapatkan nilai P Value untuk pendidikan adalah 0,0001 < 0,05 artinya ada hubungan tingkat pendidikan dan keteraturan kunjungan antenatal, nilai P Value untuk paritas 0,267 > 0,05 artinya tidak ada hubungan paritas dan keteraturan kunjungan antenatal , nilai P Value untuk usia adalah 0,341 > 0,05 artinya tidak ada hubungan usia dan keteraturan kunjungan antenatal Kesimpulan : Ada hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal, tidak ada hubungan paritas dan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 Kata Kunci : Keteraturan Kunjungan Antenatal, Karakteristik Ibu Hamil Literatur : 19 Kepustakaan (2007-2014)
  • 14.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Antenatal Care (ANC) sebagai salah satu upaya pencegahan awal dari faktor risiko kehamilan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antenatal care untuk mendeteksi dini terjadinya risiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin (Padila, 2014). Menurut WHO kematian maternal ialah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan (Prawirohardjo, 2011). Penurunan AKI (angka kematian ibu) per 100.000 kelahiran hidup masih sangat lamban untuk mencapai target Millenium Developments Goals (MDGs). Diperkirakan setiap tahunnya 300.000 ibu di dunia meninggal saat melahirkan dan 99% kematian ibu terjadi di negara berkembang. Tantangan global pencapaian sasaran MDGs tahun 2015 AKI yaitu 102 per 100.000 kelahiran (Pudiastuti, 2011). AKI merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia tahun 2002 mencapai 307 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 menurun menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup dan di tahun 2014 1
  • 15.
    2 mencapai 359 per100.000. Sedangkan target MDGs 2015 angka kematian ibu adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup. Di Sulawesi Tenggara angka kematian ibu tahun 2012 hingga 2014 mengalami penurunan, tahun 2012 sebanyak 84 kasus, tahun 2013 sebanyak 79 kasus dan tahun 2014 sebanyak 65 kasus dan Kabupaten Muna tahun 2012 kematian ibu sebanyak 11 orang, tahun 2013 kematian ibu meningkat menjadi 12 orang dan di tahun 2014 Kabupaten Muna mempunyai kematian tertinggi di Sulawesi Tenggara yakni 13 orang (Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara, 2014). Salah satu program untuk menurunkan AKI di Indonesia dengan upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan pemeriksaan ibu hamil oleh tenaga profesional yang sesuai dengan standar pelayanan antenatal Secara operasionalnya Depkes RI (2009) menentukan pelayanan antenatal dengan standar pelayanan, antara lain : timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas), ukur tinggi fundus uteri, tentukan presentase janin dan denyut jantung janin (DJJ), pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT), pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan, tes laboratorium (rutin dan khusus), tatalaksana kasus, temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi serta KB pasca salin (Hamzah, 2013). Pelayanan kesehatan ibu hamil diwujudkan melalui pemberian pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali selama masa kehamilan yaitu 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, 2 kali pada trimester III (Jannah, 2012). Secara nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun
  • 16.
    3 2014 belum mencapaitarget Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan di tahun yang sama, yakni sebesar 95%. Di Sulawesi Tenggara cakupan K4 pada tahun 2012 sebesar 80,36%, tahun 2013 menurun menjadi 75,48%, tahun 2014 meningkat lagi menjadi 81,41%. Di Kabupaten Muna cakupan K4 tahun 2012 sebesar 64,05%, tahun 2013 meningkat menjadi 69,97% dan di tahun 2014 menjadi 76,79%. Di Puskesmas Lasalepa cakupan K4 tahun 2013 sebesar 71,20% (167 orang), tahun 2014 meningkat menjadi 81,25% (195 orang) dan tahun 2015 menurun lagi menjadi 72,88% (173 orang). Masih jauh dari target Renstra kementrian kesehatan Indonesia yakni 95%. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui “Hubungan karekteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan karekteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan karekteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal.
  • 17.
    4 2. Tujuan Khusus a.Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal ditinjau dari tingkat pendidikan ibu di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. b. Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal ditinjau dari jumlah paritas ibu di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. c. Diketahuinya hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal ditinjau dari usia ibu di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan yang bermanfaat bagi pembaca. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Tempat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu selama kehamilan dan meningkatkan program Kehatan Ibu dan Anak (KIA) khususnya antenatal care. b. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan acuan ilmiah atau bahan perbandingan dalam mengembangkan ilmu kebidanan dan sebagai masukan bagi rekan-rekan di
  • 18.
    5 Akademi Kebidanan ParamataRaha Kabupaten Muna dalam melakukan penelitian lebih lanjut tentang keteraturan kunjungan antenatal c. Bagi Peneliti 1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman secara langsung bagi peneliti yaitu dengan mengaplikasikan berbagai teori dan konsep yang didapatkan dari bangku kuliah ke dalam bentuk penelitian. 2) Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir dijenjang pendidikan D III Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna.
  • 19.
    6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Telaah Pustaka 1. Ibu Hamil a. Kehamilan Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa embrio atau fetus di dalam tubuhnya. Masa kehamilan dimulai dari konsespsi samapai lahirnya janin.. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus yaitu kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari atau sekitar 43 minggu (Kuswanti, 2014). Apabila ditinjau dari lamanya kehamilan dibedakan menjadi : 1) Kehamilan prematur, yaitu kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu. 2) Kehamilan matur, yaitu kehamilan antara 37 minggu sampai 42 minggu. 3) Kehamilan postmatur, yaitu kehamilan lebih dari 43 minggu. Apabila ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian yaitu : 1) Kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu), dimana dalam triwulan pertama alat-alat mulai dibentuk. 2) Kehamilan triwulan kedua (antara 12 minggu sampai 28 mingggu), dimana dalam triwulan kedua alat-alat telah terbentuk tetapi belum sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan. 6
  • 20.
    7 3) kehamilan triwulanketiga (antara 28 minggu sampai 40 minggu), dimana janin yang dilahirkan dalam trimester tiga telah viable (dapat hidup). b. Tanda-Tanda Kehamilan 1) Tanda Presumtif/Tanda Kehamilan Tidak Pasti a) Amenorhea Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan folikel degraaf dan ovulasi, mengetahui tanggal haid terakhir dengan perhitungan rumus neagle dapat ditentukan perkiraan persalinan, amenorhea (tidak haid), gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi (Yeyeh dkk, 2009). b) Mual dan Muntah Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam lambung yang berlebihan, menimbulkan mual dan muntah terutama pada pagi hari yang disebut morning sickness, akibat mual muntah dan nafsu makan berkurang (Yeyeh dkk, 2009). c) Mengidam Mengidam (menginginkan makanan dan minuman tertentu), sering terjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan (Yeyeh dkk, 2009). d) Pingsan Pingsan, sering dijumpai bila berada pada tempat-tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ketempat-tempat ramai pada bulan-
  • 21.
    8 bulan pertama kehamilanhilang setelah kehamilan 16 minggu (Yeyeh dkk, 2009). e) Mammae Menjadi Tegang dan Membesar Mammae menjadi tegang dan membesar, keadaan ini disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli dimammae. Gandula montgomeri tampak lebih jelas (Yeyeh dkk, 2009). f) Anoreksia Anoreksia (tidak ada nafsu makan), pada bulan-bulan pertama tetapi setelah itu nafsu makan timbul lagi. hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk dua orang, sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan (yeyeh dkk, 2009). g) Sering Miksi Sering miksi terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar ada triwulan kedua umumnya keluham ini hilang oleh karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan gejala ini bisa timbul lagi karena janin mulai masuk kerongga panggul dan menekan kembali kandung kencing (Yeyeh dkk, 2009). h) Konstipasi/Obstipasi Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun karena disebabkan oleh pengaruh hormon steroid (Yeyeh dkk, 2009).
  • 22.
    9 i) Hipertroli padaPapila Gusi (Epulis) Tanda beruba pembengkakan pada gusi. Gusi tampak bengkak karena peningkatan jumlah pembuluh darah disekitar gusi, epulis adalah suatu hipertrofi papila ginggivae. Sering terjadi pada triwulan pertama (Yeyeh dkk, 2009). j) Perubahan Pada Perut Uterus tetap berada pada rongga panggul sampai minggu ke 12 setelah itu uterus mulai diraba diatas simpisis pubis (Yeyeh dkk, 2009). k) Leukore (Keputihan) Tanda berupa peningkatan jumlah cairan vagina pada pengaruh hormon cairan tersebut tidak menimbulkan rasa gatal, warnanya jernih dan jumlahnya tidak banyak (Yeyeh dkk, 2009). 2) Tanda Kemungkinan Hamil Tanda kemungkinan hamil adalah perubahan-perubahan yang diobservasi oleh pemeriksaan (bersufat objektif), namun berupa dugaan kehamilan saja. Makin banyak tanda-tanda yang mungkin kita dapati, makin besar kemungkinan kehamilan (Jannah, 2012). a) Uterus Membesar Terjadi perubahan bentuk, besar dan konsistensi rahim. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dan makin lama makin bundar bentuknya (Jannah, 2012).
  • 23.
    10 b) Tanda Hegar Konsistensirahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak, terutama daerah ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri mengalami hipertrofi seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada triwulan pertama mengakibatkan ismus menjadi panjang dan lebih lunak. Sehingga jika kita letakkan 2 jati dalam vorniks posterior dan tangan lainnya pada dinding perut diatas simpisis maka ismus ini tidak teraba seolah-olah korpus uteri sama sekali terpisah dari uterus (Jannah, 2012). c) Tanda Chadwick Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide). Warna porsiopum tampak livide. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen (Jannah, 2012). d) Tanda Piscaseck Uterus mengalami pembesaran. Kadang-kadang pembesaran tidak rata tetapi didaerah telur bernidasi lebih cepat tumbunya. Hal ini menyebabkan uterus membesar kesalah satu jurusan pembesaran tersebut (Jannah, 2012). e) Tanda Broxton Hicks Bila uterus dirangsang akan mudah berkontraksi. Waktu palpasi atau pemeriksaan dalam uterus yang tadinya lunak akan menjadi
  • 24.
    11 keras karena berkontraksi.Tanda ini khas untuk uterus dalam kehamilan (Jannah, 2012). f) Goodell Sign Diluar kehamilan konsistensi serviks keras, kerasnya seperti kita meraba ujung hidung, dalam kehamilan serviks menjadi lunak pada perabaan selunak vivir atau ujung bawah daun telinga (Jannah, 2012). g) Reaksi Kehamilan Positif Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pada pagi hari. Dengan tes ini dapat membantu menentukan diagnosa kehamilan sedini mungkin (Jannah, 2012). 3) Tanda Positif (Tanda Pasti Hamil) a) Gerakan janin yang dapat dulihat atau dirasa: (1) Primigravida 18 minggu (2) Multigravida 16 minggu b) Denyut jantung janin (1) Didengar leanec (monoscope) 18-20 minggu (2) Dicatat dan didengar dengan dopler 12 minggu (3) Dicatat dengan feto elektro kardiogram 12 minggu (4) Dilihat pada ultrasonografi c) Terlihat tulang-tulang janin pada foto rontgen
  • 25.
    12 d) pada kehamilanyang lebih tua dapat diraba ballotemen (lentingan) dan bagian bagian janin (Padila, 2014). c. Tanda-tanda Bahaya/Komplikasi pada Ibu dan Janin Selama Masa Kehamilan Muda 1) Perdarahan Pervaginam Perdarahan pervaginam yang terjadi dapat disebabkan oleh : a) Abortus Abortus adalah berakhirnya kehamilan oleh akibat-akibat tertentu pada atau sebelum kehamilan 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu hidup diluar kandungan. Jenis-jenis abortus antara lain : (1) Abotrus Iminens Adanya perdarahan dari uterus, hasil konsepsi masih berada dalam uterus tanpa ada dilatasi serviks. (2) Abortus Insipiens Adanya perdarahan dari uterus, disertai dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih berada didalam uterus. Pada abortus insipiens, rasa mules menjadi lebih sering dan kuat serta perdarahan bertambah. (3) Abortus Inkomplit Adanya pengeluaran sebagian hasil konsepsi, tetapi masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus.
  • 26.
    13 (4) Abortus Komplit pengeluaranseluruh hasil konsepsi dari uterus (kuswanti, 2014). b) Kehamilan Ektopik Kehamilan ektopik atau kehamilan diluar kandungan merupakan suatu kondisi kehamilan dimana sel telur yang sudah dibuahi tidak mampu menempel atau melekat pada rahim ibu, namun melekat pada tempat yang lain atau berada yaitu ditempat yang dikenal dengan nama tuba falopi atau saluran telur, dileher rahim, dan rongga perut atau diindung telur (Kuswanti, 2014). c) Mola Hidatidosa Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana setelah fertilisasi hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari villi korialis disetai dengan degenerasi hidrofik (Kuswanti, 2014). 2) Hiperemesis Gravidarum Hiperemesis gravidarum adalah mual munta berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari dan dapat membahayakan kehidupan (Kuswanti, 2014). 3) Hipertensi Gravidarum Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu : a) Hipertensi kronik : hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang diukur setelah beristirahat selama 5-10 menit dalam
  • 27.
    14 posisi duduk) yangtelah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau hipertensi terjadi sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu (Kuswanti, 2014). b) Preeklamsia-Eklamsia : peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai didalam air seni (protein uria). Eklamsia preklamsia yang disrtai kejang (Kuswanti, 2014). c) Preeklamsia superimpossed pada hipertensi kronik : preeklamsia terjadi pada perempuan hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil (Kuswanti, 2014). d) Hipertensi gestasional : hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah melahirkan (Kuswanti, 2014). 4) Nyeri Perut Bagian Bawah Nyeri perut atau abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah titik normal. Nyeri abdomen yang menunjukan masalah yang mengancam jiwa adalah yang hebat dan tidak hilang meskipun telah istirahat (Kuswanti, 2014).
  • 28.
    15 d. Tanda-tanda Bahaya/Komplikasipada Ibu dan Janin Selama Masa Kehamilan Lanjut 1) Peradarahan Pervaginam Perdarahan pervaginam pada hamil lanjut terjadi setelah kehamilan 28 minggu. a) Plasenta Previa Adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal yaitu pada segmen bawa rahim sehingga menutupi ostium uteri internal. Tanda dan gejalanya adalah perdarahan tanpa nyeri atau perdarahan dengan awitan mendadak (Kuswanti, 2014). b) Solusio Plasenta Adalah suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum janin lahir, terjadi pada umur kehamilan diatas 22 minggu atau berat janin 500 gram (Kuswanti, 2014). 2) Sakit Kepala yang Hebat Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan dan merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Skait kepal yang menunjukan masalah seerius adalah sakit kepala yang hebat dan menetap, serta tidak hilang setalah beristrahat (Kuswanti, 2014).
  • 29.
    16 3) Penglihatan kabur Masalahvisual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual yang mendadak, seperti pandangan yang kabur atau berbayang secara mendadak (Kuswanti, 2014). 4) Bengkak pada Wajah dan Jari-Jari Tangan Bengkak bisa menunjukan adanya masalah jika muncul pada muka dan tangan, serta tidak hilang setelah beristirahat, dan disertai dengan kelhan fisik yang lain hal ini dapat menunjukan adanya anemia, gagal jantung atau preeklamsi (Kuswanti, 2014). 5) Keluar Cairan Pervaginam Cairan pervaginam dalam kehamilan dikatakan normal apabila tidak berupa perdarahan banyak, air ketuban maupun leukhore yang patologis (Kuswanti, 2014). 6) Gerakan Janin Tidak Terasa Kesejahteraan janin dapat diketahui dari keaktifan gerakannya. Gerakan janin minimal 10 kali dalam 12 jam, jika kurrang dari itu maka waspada akan adanya gangguan janin dalam rahim (Kuswanti, 2014). 7) Nyeri Perut yang Hebat Pada kehamilan lanjut, jika ibu merasakan nyeri yang hebat, tidak berhenti setelah beristirahat, disertai dengan tanda-tanda syok yang membuat keadaan umum ibu semakin memburuk dan disertai perdarahan yang tidak sesuai dengan beratnya syok, maka kita harus
  • 30.
    17 waspada akan kemungkinanterjadinya solusio plasenta (Kuswanti, 2014). 2. Antenatal Care a. Pengertian Antenatal Care. Asuhan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan oleh standar pelayanan kebidanan (Pudiastuti, 2011). Menurut George Adriaansz yang dikutip prawirohardjo, 2011 antenatal care adalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan. Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan, pembantu bidan, perawat bidan) untuk ibu selama masa kehamilannya, sesuai dengan standart minimal pelayanan antenatal (Marmi, 2011). b. Tujuan Antenatal Care. Tujuan antenatal care adalah : 1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi. 6
  • 31.
    18 3) Mengenali secaradini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. 4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI esklusif. 6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Jannah, 2012). c. Keuntungan Antenatal Care. Dapat mengetahui berbagai risiko dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan kerumah sakit (Padila, 2014). Menurut Manuaba yang dikutip Hamzah, 2013 pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini, sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam pertolongan persalinan. Diketahui bahwa janin dalam rahim ibunya merupakan satu kesatuan yang yang saling mempengaruhi, sehingga kesehatan ibu yang optimal akan meningkatkan kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan janin. d. Fungsi Antenatal Care. 1) Promosi kesehatan selama kehamilan melalui sarana atau aktifitas pendidikan.
  • 32.
    19 2) Melakukan screening,identifikasi dengan wanita dengan kehamilan risiko tinggi dan merujuk bila perlu. 3) Memantau kesehatan selam hamil dengan usaha mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi. (Padila, 2014). e. Jadwal Kunjungan Antenatal Care. Pada kebijakan program kunjungan ulang paling sedikit 4 kali yaitu 1 kali pada trimester satu, 1 kali pada triester dua dan 2 kali pada trimesterr tiga (Jannah, 2012). Pada setiap kunjungan antenatal, perlu didapatkan informasi yang sangat penting. 1) Trimester pertama sebelum minggu ke-14. a) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil. b) Mendeteksi masalah dan menanganinya. c) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan. d) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi. e) Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istrahat dan sebagainya).
  • 33.
    20 2) Trimester keduasebelum minggu ke-28 Sama seperti di atas, ditambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema). 3) Trimester ketiga antara minggu 28-32 Sama seperti di atas, ditambah palpasi abdominal untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda. 4) Trimester ketiga setelah 36 minggu Sama seperti diatas, ditambah deteksi letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit. (Padila, 2014). f. Standar Asuhan Kehamilan. 1) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil Melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk penyuluhan dan motifasi untuk pemeriksaan dini dan teratur. 2) Standar 4 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal Sedikitnya empat kali pelayanan kehamilan. Pemeriksaan meliputi : anamnesis dan pemantauan ibu dan janin, mengenal kehamiilan resiko tinggi, nasehat dan penyuluhan, mencatat data yang tepat setiap kunjungan, tindakan tepat untuk merujuk. 3) Standar 5 : palpasi abdomen 4) Standar 6 : pengelolaan anemia pada kehamilan 5) Standar 7 : pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
  • 34.
    21 6) Standar 8: persiapan persalinan (Marmi, 2011). Pada pemeriksaan kehamilan bidan memeriksakan 14 T yaitu : 1) Timbang berat badan dan ukur berat badan 2) Tekanan darah Apabila tekanan darah melebihi 140/90 mmHg, maka perlu diwaspadai adanya preeklampsia. 3) Tinggi fundus uteri Pemeriksaan tinggi fundus uteri (TFU) dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa dibandingkan hasil anamnesis (HPHT ibu). 4) Tetanus toxoid (suntik TT) 5) Pemberian tablet zat besi Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil minimal 90 tablet selama kehamilan. 6) Tes terhadap penyakit penular seksual. 7) Temu wicara/konseling 8) Pemeriksaan HB Pemeriksaan HB ini dilakukan untuk mengetahui apakah ibu mengalami anemia atau tidak. HB pada ibu hamil sebaiknya dilakukan pada kunjungan pertama dan minggu ke 28 kehamilan. 9) Pemeriksaan urin protein Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah pada urin mengandung protein atau tidak untuk mendeteksi gejala preeklampsi.
  • 35.
    22 10) Tes reduksiurin Dilakukan pada ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit diabetes millitus. 11) Perawatan payudara (tekan pijat payudara). 12) Pemeliharaan tingkat kebugaran (senam hamil). 13) Terapi yodium kapsul Terapi ini diberikan khusus pada ibu hamil dengan gangguan akibat kekurangan yodium didaerah endemis. 14) Terapi obat malaria Terapi ini diberikan kepada ibu hamil pendatang dari daerah malaria, atau ibu hamil dengan gejalah malaria yaitu panas tinggi disertai menggigil dan hasil apusan darah yang positif (Kuswanti, 2014). g. Pelaksana dan Tempat Pelayanan Antenatal. Pelayanan kegiatan pelayanan antenatal terdapat dari tenaga medis yaitu dokter umum, dokter spesialis dan tenaga paramedik yaitu bidan, perawat yang sudah mendapat pelatihan. Pelayanan antenatal dapat dilaksanakan di puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, bidan praktek swasta, polindes, rumah sakit bersalin dan rumah sakit umum (Padila, 2014). 3. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal Care. 1) Umur Adalah umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan
  • 36.
    23 seseorang akan lebihmatang dalam berpikir dan bekerja. Dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga mengetahui akan pentingnya antenatal care. Semakin muda umurnya semakin tidak mengerti tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Umur sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan (Padila, 2014). 2) Pendidikan Pendidikan adalah suatu proses ilmiah yang terjadi pada manusia menurut Crow yang dikutip Padilah, pendidikan adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. (Padila, 2014). Menurut Dictionary of Education dalam buku Achmad Munib yang dikutip Padila, 2014 pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau, mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal. Proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan hidup dengan demikian pendidikan sangan besar pengaruhnya terhadap perilaku
  • 37.
    24 yang berpendidikan tinggiakan berbeda tingkah lakunya dengan orang yang hanya berpendidikan dasar (Padila, 2014). Pendidikan adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Pendidikan dapat diartikan suatu proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat dan kebudayaan. Umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pula tingkat pengetahuannya (Padila, 2014). 3) Paritas Paritas adalah keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari satu orang. Paritasa adalah jumlah janin denga berat badan lebih dari 500 gram atau lebih, yang pernah dilahirkan, hidup atau mati. Bila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur kehamilannya 24 minggu. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya (Padila, 2014). 4) Pendapatan perkapita Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata keluarga dari suatu keluarga yang diperoleh dari hasil pembagian pendapatan seluruh anggota keluarga. Menurut Mulyanto Sumardi dan Hans Diater Evers yang dikutip Padila,
  • 38.
    25 2014 pendapatan yaituseluruh penerimaan baik berupa uang atau barang baik dari pihak lain maupun dari hasil sendiri. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang antenatal care yang baik dan kesadaran untuk periksa, karena dapat menyediakan semua kebutuhan dirinya baik yang primer maupun sekunder. Keterbatasan sarana dan sumber daya, rendahnya penghasilan, adanya peraturan atau perundanganyang jadi penghambat akan membatasi keberdayaan orang perorang maupun masyarakat untuk merubah perilakunya. Pendapatan mempengaruhi kunjungan antenatal care (ANC). Hal ini disebabkan karena biaya penghidupan yang tinggi sehingga diperlukan pasien harus menyediakan dana yang diperlukan (Padila, 2014). 5) Jarak Menurut departemen pendidikan nasional jarak adalah ruang sela (panjang atau jauh) antara dua benda atau tempat yaitu jarak antara rumah dengan tempat pelayanan ANC. Menurut koenger keterjangkauan masyarakat termasuk jarak akan fasilitas kesehatan akan mempengaruhi pemilihan pelayanan kesehatan. Di beberapa desa masih kesulitan mendapatkan akses pelayanan kesehatan, tidak semua desa mempunyai puskesmas dan tenaga medis seperti dokter, bidan, perawat. Secara geografis masih banyak masyarakat yang tinggal jauh dari sarana kesehatan (Padila, 2014).
  • 39.
    26 B. Landasan Teori Pelayananantenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan (Pudiastuti, 2011). Kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu hamil dengan petugas kesehatan yang memberikan pelayanan antenatal standar untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Kunjungan antenatal adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Kunjungan pertama adalah kunjungan antenatal yang pertama kali dilakukan oleh ibu hamil (Jannah, 2012). Kunjungan ulang yaitu setiap kali kunjungan antenatal yang dilakukan setelah kunjungan antenatal pertama. Ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standart, paling sedikit empat kali dengan distribusi pemberian pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan (Ambarwati, 2011). 1. Pendidikan Menurut Rukmini yang dikutip Padila 2014, ibu yang mempunyai pendidikan tinggi, yang bekerja sektor formal mempunyai akses yang lebih baik tehadap informasi tentang kesehatan, lebih aktif menentukan sikap dan lebih mandiri mengambil tindakan perawatan rendahnya pendidikan ibu, berdampak rendahnya pengetahuan ibu untuk mendapatkan pelayanan
  • 40.
    27 kesehatan. Makin rendahpengetahuan ibu, makin sedikit keinginan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Tingkatan pendidikan menurut Notoatmodjo (2007) dapat dibedakan sebagai berikut : a. Pendidikan Dasar Pendidikan dasar awal selama 9 tahun meliputi SD/sederajat, SLTP/sederajat b. Pendidikan Lanjut Pendidikan menegah minimal 3 tahun meliputi SMA/sederajat dan pendidikan tinggi meliputi diploma, sarjana, doktor dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Tingkat pendidikan merupakan faktor predisposisi seseorang untuk berperilaku sehingga latar belakang pendidikan merupakan faktor yang sangat mendasar untuk memotivasi seseorang terhadap perilaku kesehatan dan referensi belajar seseorang. Oleh sebab itu, ibu yang berpendidikan tinggi cenderung melakukan pemeriksaan kehamilan dibandingkan ibu yang berpendidikan rendah (Padila, 2014). Orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Demikian halnya dengan ibu yang berpendidikan tinggi akan memeriksakan kehamilannya secara teratur demi menjaga keadaan kesehatan dirinya dan anak dalam kandungannya (Padila, 2014).
  • 41.
    28 Pendidikan merupakan salahsatu sebab tidak langsung yang mempengaruhi pemeriksaan kehamilan. Pendidikan merupakan faktor predisposisi seseorang untuk berperilaku sehingga latar belakang pendidikan merupakan faktor yang sangat mendasar untuk memotifasi seseorang terhadap perilaku kesehatan dan referensi belajar seseorang. Upaya dalam meningkatkan pendidikan dapat sejalan dengan promosi-promosi kesehatan terutama yang berkaitan dengan ibu hamil yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang dibantu oleh kader atau toko masyarakat setempat, guna meningkatkan pengetahuan ibu hamil dalam memanfaatkan pelayanan antenatal dengan cara menyampaikan tenaga kesehatan yang akan melakukan pendidikan terhadap ibu hamil harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan ibu hamil, selain itu bahasa yang digunakan oleh tenaga kesehatan harus sederhana dan dapat dimengerti oleh ibu hamil, sehingga komunikasi dalam memberikan pendidikan antenatal tidak terhambat. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita, maka semakin mampu mandiri dalam mengambil keputusan menyangkut diri mereka sendiri khususnya keputusan memeriksakan kehamilan (Widiya, 2014). Menurut Notoatmodjo dalam Priani (2012) yang dikutip Anggriani (2013) salah satu faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan antenatal care adalah pendidikan. Pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap ibu terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan seperti pentingnya kunjungan antenatal care pada saat hamil, sebaliknya bagi yang berpendidikan tinggi dengan begitu akan mudah menerima informasi sehingga
  • 42.
    29 makin banyak pulapengetahuan yang dimiliki untuk pentingnya kunjungan antenatal. 2. Paritas Menurut Dorlan (2007) paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang wanita. Menurut Ramali (2010) paritas adalah keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Ibu yang pernah hamil atau berkali – kali hamil. Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram yang pernah dilahirkan hidup atau mati. Bila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur kehamilannya 24 minggu (Padila, 2014). Ibu yang baru pertama kali hamil maka akan merasakan sesuatu hal yang baru dalam hidupnya sehingga sangat memotivasi ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya kepada tenaga kesehtan hal ini berbanding terbalik dengan ibu hamil yanng sudah pernah melahirkanlebih dari satu orang anak sebelumnya, mereka beranggapan bahwa sudah lebih berpengalaman dalam kehamilan selanjutnya sehingga tidak termotivasi untuk melakukan pemeriksakan kehamilan kepada tenaga kesehatan (Wulanda, 2015). Klasifikasi paritas menurut Sarwono Prawirohardjo (2010) yaitu : a. Primipara adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali. b. Multipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan seorang anak. c. Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak atau lebih. Semakin banyak paritas semakin banyak pula pengalaman dan pengetahuannya sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dan
  • 43.
    30 suatu pengalaman masalalu mempengaruhi belajar. Ibu dengan paritas tinggi lebih sering kontak dengan petugas kesehatan dan lebih banyak informasi kesehatan yang didapat sehingga pengetahuan ibu makin bertambah. Ibu hamil yang yang mempunyai anak kurang dari 2 lebih rajin dan teratur memeriksakan kehamilannya dibanding ibu yang mempunyai anak banyak lebih dari 2 (multipara), hal ini dikarenakan ibu hamil yang mempunyai anak kurang dari 2 atau primipara lebih termotivasi untuk melakukan antenatal care dan sangat mengharapkan kehamilannya baik-baik saja sehingga ia memeriksakan kehamilannya secara teratur agar selama kehamilannya tidak ada masalah yang terjadi sehingga berakhir dengan baik dan mendapatkan anak yang sehat dan tidak terjadi masalah pada bayi yang dilahirkan, dan sebagian kecil ibu hamil yang mempunyai anak > 2 (multipara) tidak melakukan kunjungan antenatal care secara lengkap karena mereka lebih merasa memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam proses kehamilan sampai melahirkan sehinggga mereka tidak begitu perduli dengan program pemerintah yang dicanakan dalam hal ini pemeriksaaan kehamilan (Adawiya, 2013). 3. Usia Menurut Elisabeth BH yang dikutip Agustin (2012), usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Umur merupakan salah satu faktor penentu bagi ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan ataupun pemeriksaan ANC. Hal ini dapat ditinjau dari dua aspek yaitu aspek sikap yang menyatakan bahwa ibu hamil pada kelompok umur 20-
  • 44.
    31 35 tahun cenderungteratur dalam memeriksakan kehamilan dibandingkan dengan ibu hamil pada kelompok umur <20 tahun atau >35 tahun. Hal ini dikarenakan pada kelompok umur <20 tahun cenderung belum terlalu mengerti mengenai pemeriksaan kehamilan sedangkan pada kelompok umur >35 tahun cenderung merasa telah memiliki banyak pengalaman yang baik tentang kehamilan sehingga tidak memeriksakan kehamilannya. Sedangkan, dari segi aspek kesehatan, ibu hamil pada kelompok umur 20-35 tahun merupakan kelompok umur reproduksi sehat sedangkan kelompok umur <20 dan >35 tahun merupakan kelompok umur berisiko mengalami komplikasi saat hamil (Hukmiah, 2013). Sedangkan menurut Huclpk yang dikutip Agustin (2012), semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai dari pengalaman dan kematangan. Kehamilan yang terjadi pada wanita dibawah 20 tahun merupakan kehamilan yang banyak menghadapi risiko-risiko kesehatan sehubungan dengan kehamilan dini dan banyak yang memiliki pengetahuan yang terbatas atau kurang percaya diri untuk mengakses system pelayanan kesehatan yang mengakibatkan kunjungan pelayanan antenatal yang terbatas yang berperan penting terhadap terjadinya komplikasi, sehingga pada kelompok usia ini diperlukan motivasi untuk memeriksakan kehamilan secara teratur. Keteraturan ibu hamil dalam melakukan kunjungan Antenatal Care
  • 45.
    32 dipengaruhi oleh beberapafaktor. Salah satu diantaranya adalah karena usia (Jahra, 2012). Pada usia dibawah 20 tahun cenderung berpendidikan rendah yang mengakibatkan berada pada kondisi ekonomi dan pengetahuan yang rendah, sehingga pengetahuan tentang Antenatal Care cenderung sedikit. Selain itu ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun sering kali mengalami ketidaksiapan mental tentang kehamilannya, sehingga kesadaran untuk melakukan Antenatal Care kurang, yang dapat mengakibatkan kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin yang terhambat. Sedangkan pada ibu hamil usia diatas 35 tahun cenderung tidak teratur melakukan Antenatal Care yang disebabkan oleh jumlah paritas ibu lebih banyak sehingga lebih berpengalaman dalam menangani kehamilannya (Jahra, 2012). .
  • 46.
    33 C. Kerangka Konsep VariabelIndependent Variabel dependent ket : : Variabel bebas : Variabel terikat : Hubungan antar variabel Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian Tingkat Pendidikan Keteraturan Kunjungan Antenatal Paritas Usia
  • 47.
    34 D. Hipotesis Penelitian 1.Hipotesis Alternatif (Ha) a. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. b. Ada hubungan paritas ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. c. Ada hubungan usia ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. 2. Hipotesis Null (H0) a. Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. b. Tidak ada hubungan paritas ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016. c. Tidak ada hubungan usia ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016.
  • 48.
    35 BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang digunakan dalam waktu bersamaan tetapi dengan subjek yang berberda-beda (Arikunto yang dikutip Siswanto, 2013). Adapun rancangan penelitian dalam penelitian dapat dilihat pada gambar berikut. Populasi (sampel) faktor risiko (+) faktor risiko (-) efek (+) efek (-) efek(+) efek (-) Gambar. 2 Rancangan Penelitian B. Subjek Penelitian 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil trimester III yang memeriksakan kehamilannya pada petugas kesehatan dan ada di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016. 35
  • 49.
    36 2. Sampel Sampel dalampenelitian ini adalah ibu hamil trimester III periode Juli 2016 dengan tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. C. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di wilaya kerja Puskesmas Lasalepa. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 s/d 12 Juli 2016. D. Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel terikat : Keteraturan kunjungan antenatal care. 2. Variabel bebas : Tingkat pendidikan, paritas dan usia.
  • 50.
    37 E. Definisi Operasionaldan Kriteria Objektif Tabel 1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif No Variabel Definisi Operasional Kriteria Obyektif Alat ukur Skala 1 Dependent Keteraturan kunjungan antenatal Ibu yang memeriksakan kehamilannya minimal 4 kali selama kehamilan Teratur : jika ibu memeriksakan kehamilannya minimal 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III Tidak : jika ibu memeriksakan kehamilannya tidak teratur Kuisioner Nominal 2 Independent 1. Tingkat pendidikan Pendidikan terakhir yang pernah dijalani oleh ibu hamil sampai mendapatkan ijazah Lanjutan : SMA/Sederajat, diploma, sarjana, doktor, spesialis. Dasar : SD/Sederajat, SLTP/Sederajat Tidak sekolah Kuisioner Nominal 2. Paritas Jumlah anak yang dilahirkan ibu Primipara : < 2 Multipara : ≥ 2 Kuisioner Nominal 3. Usia umur ibu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun Berisiko : < 20 tahun / > 35 tahun Tidak : 20-35 tahun Kuisioner Rasio F. Instrumen Penelitian Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah wawancara secara langsung dan kuisioner penelitian.
  • 51.
    38 G. Pengolahan danCara Analisis Data 1. Pengolahan Data Data yang terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Pengeditan (Editing) Yaitu dengan melakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul. Setelah dilakukan pengecekan tidak terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam pengumpulan data. b. Pengkodean (Coding) Data yang telah diedit dirubah dalam bentuk angka (kode) yaitu nama responden dirubah dengan kode responden. c. Pemberian skor (Tabulating) Data yang telah lengkap dan memenuhi kriteria dihitung dan disesuaikan dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi. 2. Penyajian Data Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan presentase yang disertai narasi. 3. Analisa Data Analisa dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu : a. Analisa data dengan uji Univariat Analisa ini dilakukan pada masing – masing variabel untu mengetahui gambaran umum secara distribusi frekuensi
  • 52.
    39 = x 100% Keterangan : f = frekuensi setiap variabel yang diteliti p = persentase n = jumlah populasi b. Analisa data dengan uji Bivariat Untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas dan terikat. Perhitungan mulai hubungan variabel dengan menggunakan rumus uji Chi Square. Dan rumus Chi square nya adalah sebagai berikut : = ∑( − )² E Keterangan : x2 : Ukuran mengenai perbedaan yang terdapat antara frekuensi yang diobservasi dan diharapkan. O : Frekuensi yang diobservasi (observasi). E : Frekuensi yang diharapkan (expected). Kesimpulan yang diambil dari pengujian hipotesis sebagai berikut : 1) Jika X2 hitung ≥ X2 tabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05) 2) Jika X2 hitung < X2 tabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05).
  • 53.
    40 Jika terdapat cellyang mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square maka untuk mencari hubungan antar dua variabel menggunakan uji alternatif yaitu Fisher’s Exact yang merupakan turunan dari uji Chi Square dengan rumus sebagai berikut : P = ( )! ( )! ( )! ( ) ! ! ! ! ! Kesimpulan yang diambil dari pengujian hipotesis sebagai berikut : 1) Jika p ≤ ɑ maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05). 2) Jika p > ɑ maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf kepercayaan 95 % (α = 0,05). H. Jalannya Penelitian 1. Tahap Persiapan Pelaksanaan penelitian dimulai dengan mempersiapkan mengurus surat izin penelitian kepada institusi dan melapor kepada kepala badan KESBANGPOL Kabupaten Muna, kemudian mengantar surat tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan Kepala Pukesmas Lasalepa Kabupaten Muna sebelum melakukan kegiatan penelitian dilapangan.
  • 54.
    41 2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaannyadimulai dengan menghubungi bidan koordinator puskesmas lasalepa untuk memperoleh data dilapangan. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara secara langsung pada ibu hamil trimester III yang ada di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa. 3. Tahap Pengolahan Data Setelah memperoleh data dari sampel berjumlah 30 orang kemudian disajikan dalam tabel distribusi frekuensi yang disertai narasi untuk mempermudah dalam menghubungkan antarvariabel. 4. Tahap Penulisan Karya Tulis Ilmiah Pada tahap ini disajikan dalam laporan sebagai tahap akhir untuk dipresentasekan dihadapan tim penguji Karya Tulis Ilmiah.
  • 55.
    42 BAB IV HASIL PENELITIANDAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Letak geografis Kecamatan Lasalepa terletak di Jazirah Sulawesi Tenggara dan di bagian Utara pulau Muna sebelah Selatan garis khatulistiwa yakni 40 6” – 50 15” Lintang Selatan dan diantara 1220 7½ - 1230 15” Bujur barat. Dengan batas wilayah adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Napabalano b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batalaiworu c. Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Buton Utara d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kusambi. 2. Keadaan Demografis Jumlah peduduk kecamatan Lasalepa yang menjadi sasaran pelayanan kesehatan di puskesmas yaitu 10.884 jiwa, yang terdiri desa Labone berjumlah 2.241 jiwa, desa Bonea berjumlah 1.863 jiwa, desa Labunti berjumlah 2.281 jiwa, desa Parida berjumlah 1.305 jiwa, desa Lasalepa berjumlah 1.080 jiwa, desa Bangunsari berjumlah 1.326 jiwa dan desa Kombungo berjumlah 788 jiwa. 3. Jenis Tenaga Kesehatan di Puskesmas Lasalepa Di Puskesmas Lasalepa tenaga kesehatan terdiri dari Dokter Umum, S1 Kesmas, D3 dan S1 Keperawatan, D3 dan S1 Gizi, D1 dan D3 kesling, D3 kebidanan, D3 Farmasi dan SMA (Administrasi) yang berjumlah 64 orang. 42
  • 56.
    43 B. Hasil Penelitian Penelitianini dilakukan di Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional study untuk mengetahui hubungan karakteristik ibu hamil dengan keteraturan kunjungan antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna periode Juli 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung pada responden. Besar sampel pada penelitian ini adalah 31 responden yaitu semua ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan crosstab (tabulasi silang) sesuai dengan tujuan penelitian dan disertai narasi sebagai penjelasan tabel. Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan diuraikan sebagai berikut : 1. Analisis Univariat Analisa univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat distribusi frekuensi dari variabel dependen dan independen yaitu : a. Keteraturan Kunjungan Tabel 2 Distribusi Frekuensi Keteraturan Kunjungan Responden di Puskesmas Lasalepa Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Keteraturan Kunjungan Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Teratur 10 33,3 2 Tidak Teratur 20 66,7 Jumlah (n) 30 100 Sumber : Data Primer, 2016
  • 57.
    44 Tabel 2 menunjukanbahwa dari 31 responden yang melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 10 orang (33,3 %) dan yang melakukan kunjungan antenatal tidak teratur sebanyak 20 orang (66,7 %). b. Pendidikan Ibu Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Pendidikan Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Lanjutan 10 33,3 2 Dasar 16 53,4 3 Tidak sekolah 4 13,3 Jumlah (n) 30 100 Sumber : Data Primer, 2016 Tabel 3 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berpendidikan lanjutan sebanyak 10 orang (33,3 %), responden yang berpendidikan dasar sebanyak 16 orang (53,4%) dan responden yang tidak sekolah sebanyak 4 orang (13,3%). c. Paritas Tabel 4 Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan Antental di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Paritas Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Primipara 14 46,7 2 Multipara 16 53,3 Jumlah (n) 30 100 Sumber : Data Primer 2016
  • 58.
    45 Tabel 4 menunjukanbahwa dari 30 ibu hamil yang termasuk primipara berjumlah 14 orang (46,7 %) dan ibu hamil yang termasuk multipara berjumlah 16 orang (53,3%). d. Usia Tabel 5 Distribusi Frekuensi Usia Ibu Hamil yang Melakukan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Usia Frekuensi (f) Persentase (%) 1 20-35 23 76,7 2 < 20 / > 35 7 23,3 Jumlah (n) 30 100 Sumber : Data Primer 2016 Tabel 5 menunjukan bahwa dari 30 responden yang memiliki usia 20-35 tahun sebanyak 23 orang (76,7 %) dan responden yang memilki usia <20/>35 tahun sebanyak 7 orang (23,3%). 2. Analisis Bivariat Analisis statistik dengan menggunakan rumus uji Chi Square terhadap hubungan pendidikan, paritas dan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna periode Juli 2016, kemudian data dihitung dengan menggunakan uji alternatif Fisher’s Exact yang merupakan turunan dari uji Chi Square karena pada tabel terdapat cells dengan nilai yang diharapkan < 5.
  • 59.
    46 a. Hubungan TingkatPendidikan dengan Ketaraturan Kunjungan Antenatal. Tabel 6 Hubungan Pendidikan Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Pendidikan Keteraturan kunjungan Total Ρ ValueTeratur Tidak teratur f % F % f % 0,0001 1 Lanjutan 8 26,7 2 6,7 10 33,3 2 Dasar 2 6,7 14 46,7 16 53,4 3 Tidak Sekolah 0 0 4 13,3 4 13,3 Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100 Tabel 6 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 2 (6,7%) responden. Responden yang berpendidikan dasar dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 2 (6,7%) responden, responden yang berpendidikan dasar dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 14 (46,7%) repsonden. Responden yang tidak sekolah sebanyak 4 (13,3%) melakukan kunjungan tidak teratur. Berdasarkan tabel 6 menunjukan bahwa terdapat 4 cells yang mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal,
  • 60.
    47 menggunakan uji alternatifyaitu Fisher’s Exact yang merupakan turunan dari uji Chi Square dengan hasil P value 0,0001 < 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak Ha diterima. Dengan demikian ada hubungan antara tingakat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016 b. Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Tabel 7 Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas LasalepaKabupaten Muna Periode Juli 2016 No Paritas Keteraturan kunjungan Total P ValueTeratur Tidak teratur f % f % f % 0,267 1 Primipara 4 13,3 10 33,3 14 46,7 2 Multipara 6 20 10 33,3 16 53,3 Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100 Tabel 7 menunjukan bahwa dari 30 responden yang termasuk kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 4 (13,3%) responden, yang termasuk kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%) responden. Responden yang termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 6 (20%) responden, yang termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%) responden.
  • 61.
    48 Berdasarkan tabel 7menunjukan bahwa terdapat 1 cells yang mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari hubungan paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal, menggunakan uji alternatif yaitu Fisher’s Exact dengan hasil P value 0,267 > 0,05. Hal ini berarti H0 diterima Ha ditolak. Dengan demikian tidak ada hubungan antara paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016. c. Hubungan Usia dan Keteraturan Kunjungan Antenatal Tabel 8 Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 No Usia Keteraturan kunjungan Total ΡvalueTeratur Tidak teratur f % F % f % 0,341 1 20-35 8 26,7 15 50 23 76,7 2 <20/>35 2 6,7 5 16,7 7 23,3 Total (n) 10 33,3 20 66,7 30 100 Tabel 8 menunjukan bahwa dari 30 responden yang berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 15 (50%) responden. Responden yang berusia <20/>35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 2(6,7%) responden, yang berusia <20/>35 tahun dan
  • 62.
    49 melakukan kunjungan antenatalsecara tidak teratur sebanyak 20 (66,7%) responden. Berdasarkan tabel 8 menunjukan bahwa terdapat 1 cells yang mempunyai nilai yang diharapkan kurang dari 5 sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji Chi Square. Oleh karena itu untuk mencari hubungan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal, menggunakan uji alternatif yaitu Fisher’s Exact dengan hasil P value 0,341 > 0,05. Hal ini berarti H0 diterima Ha ditolak. Dengan demikian tidak ada hubungan antara usia dengan keteraturan kunjungan antenatal di wilayah kerja Puskesmas Lasalepa periode Juli 2016. C. Pembahasan Dari 30 responden yang melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 10 responden, yang melakukan kunjungan secara tidak teratur sebanyak 20 responden. Responden yang berpendidikan lanjut sebanyak 10 responden, berpendidikan dasar sebanyak 16 responden, yang tidak sekolah sebanyak 4 responden. Responden yang termasuk primipara sebanyak 14 orang dan primipara sebanyak 16 orang. Responden yang berusia 20-35 tahun sebanyak 23 orang dan responden yang berusia <20/>35 tahun sebanyak 16 orang. 1. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berpendidikan tinggi dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 2 (6,7%) responden.
  • 63.
    50 Responden yang berpendidikandasar dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 2 (6,7%) responden, responden yang berpendidikan dasar dan melkukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 14 (46,7%) repsonden. Responden yang tidak sekolah sebanyak 4 (13,3%) melakukan kunjungan tidak teratur. Menurut Notoatmodjo dalam Priani (2012) yang dikutip Anggriani (2013) salah satu faktor yang berhubungan dengan rendahnya kunjungan antenatal care adalah pendidikan. Pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap ibu terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan seperti pentingnya kunjungan antenatal care pada saat hamil, sebaliknya bagi yang berpendidikan tinggi dengan begitu akan mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki untuk pentingnya kunjungan antenatal. Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang bertindak dan mencari penyebab solusi hidupnya, dimana pendidikan rendah merupakan salah satu masalah yang berpengaruh terhadap kunjungan antenatal care pada ibu hamil. Demikian halnya dengan ibu yang berpendidikan tinggi akan memeriksakan kehamilannya secara teratur demi menjaga keadaan kesehatan dirinya dan bayi dalam kandungannya. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilkakukan oleh Agustin di wilayah kerja Puskesmas Duren Kecamatan Bandungan tahun 2013 yang menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal. Hal ini dapat dipahami, karena semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin mudah untuk menerima pesan dari berbagai sumber
  • 64.
    51 informasi, baik berupapenyuluhan yang dilaksanakan saat berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan maupun dari berbagai sumber informasi lain seperti media cetak dan media elektronik. 2. Hubungan Paritas dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang termasuk kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 4 (13,3%) responden, yang termasuk kategori primipara dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%) responden. Responden yang termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 6 (20%) responden, yang termasuk kategori multipara dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 10 (33,3%) responden. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya (Padila, 2014). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Gita Nirmala Sari tahun 2012 di Puskesmas Jatinegara Jakarta Timur yang menyatakan ada hubungan antara paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal karena ibu hamil primipara mereka lebih banyak merasa khawatir dibandingkan dengan kehamilan multipara sehingga ibu hamil primipara akan lebih banyak memanfaatkan pelayanan antenatal dibandingkan dengan multipara. Ibu multipara merasa
  • 65.
    52 memiliki pengetahuan danpengalaman lebih banyak dari pada primipara, padahal setiap kehamilan itu berbeda keadaan dan kondisi akan berbeda- beda. 3. Hubungan Usia dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 30 responden yang berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 8 (26,7%) responden, yang berusia 20-35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 15 (50%) responden. Responden yang berusia <20/>35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara teratur sebanyak 2(6,7%) responden, yang berusia <20/>35 tahun dan melakukan kunjungan antenatal secara tidak teratur sebanyak 20 (66,7%) responden. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga mengetahui akan pentingnya antenatal care. Semakin muda umurnya semakin tidak mengerti tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Umur sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Usia berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan (Padila, 2014). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hukmiah tahun 2013 di wilayah Pesisir Kecamatan Mandalle yang mengatakan bahwa tidak ada
  • 66.
    53 hubungan yang signifikanantara usia dan keteraturan kunjungan antenatal. Hal ini disebabkan karena usia dibawa 20 tahun cenderung kurang percaya diri untuk memeriksakan diri dan ikut berpartisipasi dengan ibu-ibu yang ada di tempat pelayanan kesehatan sedangkan ibu yang berusia lebih dari 35 tahun beranggapan telah memiliki banyak pengalaman pada kehamilan yang lalu padahal setiap kehamilan berbeda-beda risiko yang akan dialami dan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun adalah risiko dalam kehamilan yang seharunya lebih teratur memeriksakan kehamilannya pada tenaga kesehatan.
  • 67.
    54 BAB V KESIMPULAN DANSARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Ada hubungan tingkat pendidikan dengan keteraturan kunjungan antenatal. 2. Tidak ada hubungan paritas dengan keteraturan kunjungan antenatal. 3. Tidak ada hubungan usia dengan keteraturan kunjungan antenatal. B. Saran 1. Bagi Tempat Penelitian Diharapkan pada setiap ibu hamil untuk lebih teratur lagi berkunjunga kepelayanan kesehatan agar mendapat informasi sedini mungkin tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak guna untuk meningkatkan pelayanan kesehatan utamanya kesehatan ibu dan anak. 2. Petugas Pelayanan Diharapkan lebih intensif melakukan penyuluhan ke warga dalam memberikan informasi dan motivasi tentang pentingnya pemeriksaan secara dini kehamilan. 54
  • 68.
    55 DAFTAR PUSTAKA Adawiya Rabi’atul(2013). “Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan Antenatal Care” .(http://www.academia.edu/22246891/2014-1-1- komplikasi-persalinan. Diakses Tanggal 19 Juni 2016. Agustin euis (2012) “Persepsi Ibu Hamil Tentang Pelaksanaan Antenatal Care Oleh Bidan Terhadap Kunjungan ANC”. (Online). Diakses tanggal 22 Juni 2016. Agriani Iin (2014). “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kunjungan ANC Pada Ibu Hamil.(Online). Diakses Tanggal 24 Juni 2016. Ambarwati, Eny. R. (2011). Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika Hamzah, Asiah (2013). Sosiologi Pengasuhan Anak. Makassar: Masagena Press Hukmiah (2013). Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Antenatal Care. http://hdl.handle.net/11617/3284. Diakses tanggal 19 Juni 2016. Jahra Fatima (2012) “Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan ANC (Online) Diakses tanggal 19 Juni 2016. Jannah, Nurul (2012). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kehamilan. Yogyakarta: Andi Offset. Kuswanti, Ina (2014). Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Marmi, 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Antenatal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nirmala Sari, G (2012). Faktor Pendidikan, Pengetahuan, Paritas, Dukungan Keluarga dan Penghasilan Keluarga yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan ANC. http://uad.ac.id/. Diakses tanggal 19 Juni 2016. Notoatmodjo (2007). http://dinikomalasari.wordpress.com/2014. Diakses tanggal 27 Juli 2016. Padila (2014). Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika Pudiastuti, Ratna D (2011). Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika. Prawirohardjo, S. (2011). Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: Bina Pustaka. Siswanto, Susila & Suyanto, (2013). Metodologi Penelitian Kesehatan dan Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
  • 69.
    56 Widiya Lisca Furnama(2014). “Identifikasi Kelengkapan Kunjungan Antental Care (ANC) pada Ibu Hamil Trimester III dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. http://www.academia.edu/11301092/jurnal_penelitian. Diakses tanggal 18 Juni 2016. Wulanda Chyntarra (2015). “Hubungan Pengetahuan, Sikap, Usia dan Paritas Ibu Hamil dengan Antenatal Care http://etd.unsiyahac.id/index.php?p=show_detail&d=7461. Diakses tanggal 18 Juni 2016. Yeyeh Ai Rukiyah, Lia Yulianti, Maemunah, Lilik Susilowati (2009). Asuhan Kebidanan 1 (Kehamilan). Jakarta Timur: Cv.Trans Info Media
  • 70.
    57 N o Nama Kunjungan PendidikanParitas Usia Teratur Tidak Tidak sekolah Dasar Lanjutan Primipara Multipara 20-35 tahun < 20/> 35 tahun 1 Ny. T     2 Ny. E     3 Ny. H     4 Ny. L     5 Ny. N     6 Ny. I     7 Ny. M     8 Ny. R     9 Ny. K     10 Ny. F     11 Ny. Na     12 Ny. Ru     13 Ny. M     14 Ny. Nu     15 Ny. Ha     16 Ny. Ir     17 Ny. No     18 Ny. U     19 Ny. Ha     20 Ny. D     21 Ny. S     22 Ny. E     23 Ny. Nr     24 Ny. Su     25 Ny. Sa     26 Ny. RT     27 Ny. Sr     28 Ny. N     29 Ny.A     30 Ny. R    LEMBAR HASIL PENELITIAN (CECK LIST) Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Periode Juli 2016 Lampiran 1
  • 71.
  • 72.
    59 LEMBAR PERTANYAAN Hubungan KarakteristikIbu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Puskesmas Lasalepa Tahun 2016 Tanggal : No. Responden : Nama : Umur : Pendidikan : Pekerjaan : Alamat : Hamil ke : No HPHT Tanggal Kunjungan Kunjungan ke Umur kehamilan saat berkunjung Lampiran 3
  • 73.
    60 SURAT PERSETUJUAN MENJADIRESPONDEN Yang bertanda tangan di bawa ini : Nama : Umur : Alamat : Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Karekteristik Ibu Hamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Puskesmas Lasalepa Tahun 2016” Yang dilakukan oleh : Nama : ILAWATI Nim : PSw.B.2013.IB.0070 Sesuai dalam prosedur penelitian, maka saya memberikan jawaban sebenar-benarnya atas pertanyaan yang diberikan dan tidak akan menuntut terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam penelitian ini. Demikian surat persetujuan ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk digunakan sebagaimana mestinya. Raha, Juli 2016 Responden (....................................) Lampiran 4
  • 74.
  • 75.
    62 UJI MANUAL EXACTFISHER 1. Pendidikan Pendidikan Keteraturan Kunjungan Total Teratur Tidak Lanjutan 8 2 10 Dasar 2 14 16 Tidak Sekolah 0 4 4 Total 10 20 30 = 10! 16! ! 10! 20! 30! 8! 2! 2! 14! 0! ! = 3628800 2,09 10 3628800 2,43 10 2,7 10 40302 2 2 8,7 10 = 3628800 2,09 3628800 2,43 10 2,7 40302 2 2 8,7 1 10 = 1,32 10 2,09 2,43 10 2,7 40302 2 2 8,7 1 10 = 1,32 2,09 2,43 10 2,7 40302 2 2 8,7 1 10 = 6,703 10 3788467 10 = 6,703 10 3788467 = 670,3 3788467 = 0,0001 Lampiran 6
  • 76.
    63 2. Paritas Paritas KeteraturanKunjungan total Teratur Tidak Primipara 4 10 14 Multipara 6 10 16 Total 10 20 30 = 14! 16! ! 20! 30! 4! 10! 6! ! = 8,72 10 2,1 10 2,43 10 2,67 10 24 720 3,6 10 = 8,72 2,1 2,43 10 2,67 24 720 3,6 10 = 44,49816 10 166095,36 10 = 44,49816 10 166095,36 = 44498,16 166095,36 = 0,267
  • 77.
    64 3. Usia Usia KeteraturanKunjungan total Teratur Tidak 20-35 tahun 8 15 23 <20/>35 tahun 2 5 7 Total 10 20 30 = 23! 7! 10! 20! 30! 8! 15! 2! 5! = 2,58 10 5040 3,62 10 2,43 10 2,67 10 40320 1,3 10 2 120 = 2,58 5040 3,62 2,43 10 2,67 40320 1,31 2 120 10 = 114383,94 10 33588172 10 = 114383,94 10 33588172 = 11438394 33588172 = 0,341
  • 78.
    65 Hubungan Karakteristik IbuHamil dengan Keteraturan Kunjungan Antenatal di Wilayah Kerja Puskesmas Lasalepa Kabupaten Muna Periode Juli 2016 1. PENDIDIKAN Crosstab keteraturan kunjungan Totalteratur tidak teratur pendidikan lanjutan Count 8 2 10 Expected Count 3,3 6,7 10,0 % within pendidikan 80,0% 20,0% 100,0% % within keteraturan kunjungan 80,0% 10,0% 33,3% dasar Count 2 14 16 Expected Count 5,3 10,7 16,0 % within pendidikan 12,5% 87,5% 100,0% % within keteraturan kunjungan 20,0% 70,0% 53,3% tidak sekolah Count 0 4 4 Expected Count 1,3 2,7 4,0 % within pendidikan 0,0% 100,0% 100,0% % within keteraturan kunjungan 0,0% 20,0% 13,3% Total Count 10 20 30 Expected Count 10,0 20,0 30,0 % within pendidikan 33,3% 66,7% 100,0% % within keteraturan kunjungan 100,0% 100,0% 100,0% Lampiran 7
  • 79.
    66 Chi-Square Tests Value df Asymptotic Significance (2-sided) ExactSig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Point Probability Pearson Chi-Square 14,925a 2 ,001 ,000 Likelihood Ratio 16,126 2 ,000 ,001 Fisher's Exact Test 13,520 ,000 Linear-by-Linear Association 12,234b 1 ,000 ,000 ,000 ,000 N of Valid Cases 30 a. 3 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,33. 2. PARITAS Crosstab keteraturan kunjungan Totalteratur tidak teratur paritas primipara Count 4 10 14 Expected Count 4,7 9,3 14,0 % within paritas 28,6% 71,4% 100,0% % within keteraturan kunjungan 40,0% 50,0% 46,7% multipara Count 6 10 16 Expected Count 5,3 10,7 16,0 % within paritas 37,5% 62,5% 100,0% % within keteraturan kunjungan 60,0% 50,0% 53,3% Total Count 10 20 30 Expected Count 10,0 20,0 30,0 % within paritas 33,3% 66,7% 100,0% % within keteraturan kunjungan 100,0% 100,0% 100,0%
  • 80.
    67 Chi-Square Tests Value df Asymptotic Significance (2-sided) ExactSig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Point Probability Pearson Chi-Square ,268a 1 ,605 ,709 ,450 Continuity Correctionb ,017 1 ,897 Likelihood Ratio ,269 1 ,604 ,709 ,450 Fisher's Exact Test ,709 ,450 Linear-by-Linear Association ,259c 1 ,611 ,709 ,450 ,267 N of Valid Cases 30 a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4,67. b. Computed only for a 2x2 table c. The standardized statistic is -,509. 3. USIA Crosstab keteraturan kunjungan Totalteratur tidak teratur usia 20-35 tahun Count 8 15 23 Expected Count 7,7 15,3 23,0 % within usia 34,8% 65,2% 100,0% % within keteraturan kunjungan 80,0% 75,0% 76,7% <20 / >35 tahun Count 2 5 7 Expected Count 2,3 4,7 7,0 % within usia 28,6% 71,4% 100,0% % within keteraturan kunjungan 20,0% 25,0% 23,3% Total Count 10 20 30 Expected Count 10,0 20,0 30,0 % within usia 33,3% 66,7% 100,0% % within keteraturan kunjungan 100,0% 100,0% 100,0%
  • 81.
    68 Chi-Square Tests Value df Asymptotic Significance (2-sided) ExactSig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Point Probability Pearson Chi-Square ,093a 1 ,760 1,000 ,571 Continuity Correctionb ,000 1 1,000 Likelihood Ratio ,095 1 ,758 1,000 ,571 Fisher's Exact Test 1,000 ,571 Linear-by-Linear Association ,090c 1 ,764 1,000 ,571 ,343 N of Valid Cases 30 a. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,33. b. Computed only for a 2x2 table c. The standardized statistic is ,300.