Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur dihuni oleh delapan sub-suku dengan beragam bahasa dan mata pencaharian seperti pertanian dan peternakan. Masyarakat Flores memiliki seni dan tradisi yang kaya, termasuk seni tenun kain, musik tradisional, dan tarian adat, dengan mayoritas beragama Katolik. Struktur sosialnya dibagi menjadi tiga lapisan dengan perkawinan yang kompleks, serta perubahan dalam sistem stratifikasi seiring berkembangnya pendidikan.