KATABOLISME
RESPIRASI AEROB
• Katabolisme adalah serangkaian reaksi yang 
merupakan proses pemecahan senyawa kompleks 
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana 
dengan membebaskan energi, yang dapat digunakan 
organisme untuk melakukan aktivitasnya. 
• Termasuk didalamnya reaksi pemecahan dan 
oksidasi molekul makanan seperti reaksi yang 
menangkap energi dari cahaya matahari. 
• Fungsi reaksi katabolisme adalah untuk 
menyediakan energi dan komponen yang 
dibutuhkan oleh reaksi anabolisme.
1. Respirasi seluler atau respirasi aerob, yaitu 
reaksi yang menggunakan oksigen sebagai bahan 
bakar organik. Secara umum keseluruhan proses 
pada respirasi seluler berlangsung sebagai berikut. 
Senyawa organik + Oksigen —> Karbon 
dioksida + Air + Energi 
Termasuk ke dalam reaksi seluler adalah reaksi 
glikolisis, siklus Krebs, dan transpor elektron, 
dimana diantara glikolisis dan siklus Krebs terdapat 
sebuah reaksi antara yang disebut 
dekarboksilasi oksidatif.
• Glikolisis 
Glikolisis merupakan proses pengubahan molekul 
sumber energi, yaitu glukosa yang mempunyai 6 
atom C manjadi senyawa yang lebih sederhana, 
yaitu asam piruvat yang mempunyai 3 atom C. 
Reaksi ini berlangsung di dalam sitosol 
(sitoplasma). Reaksi glikolisis mempunyai sembilan 
tahapan reaksi yang dikatalisis oleh enzim tertentu, 
tetapi disini tidak akan dibahas enzim-enzim yang 
berperan dalam proses glikolisis ini. Dari sembilan 
tahapan reaksi tersebut dapat dikelompokkan 
menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi, yaitu 
dari tahap 1 sampai tahap 4, dan fase pembelanjaan 
energi, yaitu dari tahap 5 sampai tahap 9. 
Back
• Pertama-tama, glukosa mendapat tambahan satu gugus fosfat dari satu 
molekul ATP, yang kemudian berubah menjadi ADP, membentuk 
glukosa 6-fosfat. Setelah itu, glukosa 6-fosfat diubah oleh enzim 
menjadi isomernya, yaitu fruktosa 6-fosfat. Satu molekul ATP yang 
lain memberikan satu gugus fosfatnya kepada fruktosa 6-fosfat, yang 
membuat ATP tersebut menjadi ADP dan fruktosa 6-fosfat menjadi 
fruktosa 1,6-difosfat. Kemudian, fruktosa 1,6-difosfat dipecah 
menjadi dua senyawa yang saling isomer satu sama lain, yaitu 
dihidroksi aseton fosfat dan PGAL (fosfogliseraldehid atau 
gliseraldehid 3-fosfat). Tahapan-tahapan reaksi diatas itulah yang 
disebut dengan fase investasi energi. 
• Selanjutnya, dihidroksi aseton fosfat dan PGAL masing-masing 
mengalami oksidasi dan mereduksi NAD+, sehingga terbentuk 
NADH, dan mengalami penambahan molekul fosfat anorganik (Pi) 
sehingga terbentuk 1,3-difosfogliserat. Kemudian masing-masing 
1,3-difosfogliserat melepaskan satu gugus fosfatnya dan berubah 
menjadi 3-fosfogliserat, dimana gugus fosfat yang dilepas oleh 
masing-masing 1,3-difosfogliserat dipindahkan ke dua molekul ADP 
dan membentuk dua molekul ATP.
• Setelah itu, 3-fosfogliserat mengalami isomerisasi menjadi 
2-fosfogliserat. Setelah menjadi 2-fosfogliserat, sebuah 
molekul air dari masing-masing 2-fosfogliserat dipisahkan, 
menghasilkan fosfoenolpiruvat. Terakhir, masing-masing 
fosfoenolpiruvat melepaskan gugus fosfat terakhirnya, yang 
kemudian diterima oleh dua molekul ADP untuk 
membentuk ATP, dan berubah menjadi asam piruvat. 
• Setiap pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis 
akan menghasilkan produk kotor berupa 2 molekul asam 
piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2 molekul 
air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 
molekul ATP, sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 
molekul asam piruvat (C3H4O3), 2 molekul NADH, 2 
molekul ATP, dan 2 molekul air. Perlu dicatat, 
pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, 
karena ada sumber lain yang tidak mencantumkan air 
sebagai hasil glikolisis.
Dekarboksilasi Oksidatif 
Setelah melalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul 
oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani 
tahapan reaksi selanjutnya, yaitu siklus Krebs yang 
bertempat di matriks mitokondria. Jika tidak terdapat 
molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan 
menjalani reaksi fermentasi. Akan tetapi, asam piruvat yang 
mandapat molekul oksigen yang cukup dan akan 
meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja masuk ke 
dalam siklus Krebs, karena asam piruvat memiliki atom C 
terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan molekul yang 
dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus 
mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat 
akan menjalani reaksi dekarboksilasi oksidatif. 
Back
Dekarboksilasi oksidatif adalah reaksi yang mengubah asam piruvat 
yang beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, 
yaitu asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif 
ini (disingkat DO) sering juga disebut sebagai tahap persiapan untuk 
masuk ke siklus Krebs. Reaksi DO ini mengambil tempat di 
intermembran mitokondria.
• Pertama-tama, molekul asam cuka yang dihasilkan reaksi 
glikolisis akan melepaskan satu gugus karboksilnya yang sudah 
teroksidasi sempurna dan mengandung sedikit energi, yaitu 
dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2 atom karbon yang 
tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat (bentuk 
ionisasi asam asetat). Selanjutnya, asetat akan mendapat transfer 
elektron dari NAD+ yang tereduksi menjadi NADH. Kemudian, 
koenzim A (suatu senyawa yang mengandung sulfur yang 
berasal dari vitamin B) diikat oleh asetat dengan ikatan yang 
tidak stabil dan membentuk gugus asetil yang sangat reaktif, 
yaitu asetil koenzim-A, yang siap memberikan asetatnya ke 
dalam siklus Krebs untuk proses oksidasi lebih lanjut. 
• selama reaksi transisi ini, satu molekul glukosa yang telah 
menjadi 2 molekul asam piruvat lewat reaksi glikolisis 
menghasilkan 2 molekul NADH.
Siklus Krebs 
Siklus Krebs adalah tahapan selanjutnya dari respirasi seluler. Siklus 
Krebs adalah reaksi antara asetil ko-A dengan asam oksaloasetat, yang 
kemudian membentuk asam sitrat. Siklus Krebs disebut juga dengan 
siklus asam sitrat, karena menggambarkan langkah pertama dari siklus 
tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A dengan asam oksaloasetat untuk 
membentuk asam sitrat. 
Back
Siklus Krebs
• Pertama-tama, asetil ko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi 
oksidatif) masuk ke dalam siklus dan bergabung dengan asam 
oksaloasetat membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil 
masuk ke dalam siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan 
keluar dari siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami pengurangan dan 
penambahan satu molekul air sehingga terbentuk asam isositrat. 
Lalu, asam isositrat mengalami oksidasi dengan melepas ion H+, yang 
kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan melepaskan satu 
molekul CO2 dan membentuk asam a-ketoglutarat (baca: asam 
alpha ketoglutarat). 
• Setelah itu, asam a-ketoglutarat kembali melepaskan satu molekul 
CO2, dan teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+ yang kembali 
mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu, asam a-ketoglutarat 
mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A. 
Setelah terbentuk suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan 
siklus, sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan 
perubahan suksinil ko-A menjadi asam suksinat menghasilkan cukup 
energi untuk menggabungkan satu molekul ADP dan satu gugus fosfat 
anorganik menjadi satu molekul ATP.
• Kemudian, asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua 
ion H+, yang kemudian diterima oleh FAD dan membentuk 
FADH2, dan terbentuklah asam fumarat. Satu molekul air 
kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan 
perubahan susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu 
asam fumarat berubah menjadi asam malat. Terakhir, asam malat 
mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion H+, yang 
kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH, dan asam 
oksaloasetat kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini kemudian 
akan kembali mengikat asetil ko-A dan kembali menjalani siklus 
Krebs. 
• Dari siklus Krebs ini, dari setiap molekul glukosa akan dihasilkan 
2 ATP, 6 NADH, 2 FADH2, dan 4 CO2. Selanjutnya, molekul 
NADH dan FADH2 yang terbentuk akan menjalani rangkaian 
terakhir respirasi aerob, yaitu rantai transpor elektron.
Transpor Elektron 
Rantai transpor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi 
respirasi aerob. Transpor elektron sering disebut juga sistem 
rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor elektron 
berlangsung pada krista (membran dalam) dalam mitokondria. 
Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah NADH 
dan FADH2, yang dihasilkan pada reaksi glikolisis, 
dekarboksilasi oksidatif, dan siklus Krebs. Selain itu, molekul 
lain yang juga berperan adalah molekul oksigen, koenzim Q 
(Ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a. 
Back
• Pertama-tama, NADH dan FADH2 mengalami oksidasi, dan 
elektron berenergi tinggi yang berasal dari reaksi oksidasi ini 
ditransfer ke koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika NADH 
dan FADH2 melepaskan elektronnya cukup besar untuk 
menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. Kemudian 
koenzim Q dioksidasi oleh sitokrom b. Selain melepaskan 
elektron, koenzim Q juga melepaskan 2 ion H+. Setelah itu 
sitokrom b dioksidasi oleh sitokrom c. Energi yang dihasilkan dari 
proses oksidasi sitokrom b oleh sitokrom c juga menghasilkan 
cukup energi untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik 
menjadi ATP. 
• Kemudian sitokrom c mereduksi sitokrom a, dan ini merupakan 
akhir dari rantai transpor elektron. Sitokrom a ini kemudian akan 
dioksidasi oleh sebuah atom oksigen, yang merupakan zat yang 
paling elektronegatif dalam rantai tersebut, dan merupakan 
akseptor terakhir elektron. Setelah menerima elektron dari 
sitokrom a, oksigen ini kemudian bergabung dengan ion H+ yang 
dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b membentuk 
air (H2O).
• Oksidasi yang terakhir ini lagi-lagi menghasilkan energi yang 
cukup besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat 
organik menjadi ATP. Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat 
pada transpor elektron yang menghasilkan ATP. 
• Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan 
NADH dan FADH2 sebanyak 10 dan 2 molekul. Dalam transpor 
elektron ini, kesepuluh molekul NADH dan kedua molekul 
FADH2 tersebut mengalami oksidasi sesuai reaksi berikut. 
Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira 3 ATP, dan kira-kira 
2 ATP untuk setiap oksidasi FADH2. Jadi, dalam transpor 
elektron dihasilkan kira-kira 34 ATP. Ditambah dari hasil 
glikolisis dan siklus Krebs, maka secara keseluruhan reaksi 
respirasi seluler menghasilkan total 38 ATP dari satu molekul 
glukosa. Akan tetapi, karena dibutuhkan 2 ATP untuk melakukan 
transpor aktif, maka hasil bersih dari setiap respirasi seluler 
adalah 36 ATP.
Katabolisme

Katabolisme

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    • Katabolisme adalahserangkaian reaksi yang merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan membebaskan energi, yang dapat digunakan organisme untuk melakukan aktivitasnya. • Termasuk didalamnya reaksi pemecahan dan oksidasi molekul makanan seperti reaksi yang menangkap energi dari cahaya matahari. • Fungsi reaksi katabolisme adalah untuk menyediakan energi dan komponen yang dibutuhkan oleh reaksi anabolisme.
  • 4.
    1. Respirasi seluleratau respirasi aerob, yaitu reaksi yang menggunakan oksigen sebagai bahan bakar organik. Secara umum keseluruhan proses pada respirasi seluler berlangsung sebagai berikut. Senyawa organik + Oksigen —> Karbon dioksida + Air + Energi Termasuk ke dalam reaksi seluler adalah reaksi glikolisis, siklus Krebs, dan transpor elektron, dimana diantara glikolisis dan siklus Krebs terdapat sebuah reaksi antara yang disebut dekarboksilasi oksidatif.
  • 5.
    • Glikolisis Glikolisismerupakan proses pengubahan molekul sumber energi, yaitu glukosa yang mempunyai 6 atom C manjadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu asam piruvat yang mempunyai 3 atom C. Reaksi ini berlangsung di dalam sitosol (sitoplasma). Reaksi glikolisis mempunyai sembilan tahapan reaksi yang dikatalisis oleh enzim tertentu, tetapi disini tidak akan dibahas enzim-enzim yang berperan dalam proses glikolisis ini. Dari sembilan tahapan reaksi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yaitu fase investasi energi, yaitu dari tahap 1 sampai tahap 4, dan fase pembelanjaan energi, yaitu dari tahap 5 sampai tahap 9. Back
  • 8.
    • Pertama-tama, glukosamendapat tambahan satu gugus fosfat dari satu molekul ATP, yang kemudian berubah menjadi ADP, membentuk glukosa 6-fosfat. Setelah itu, glukosa 6-fosfat diubah oleh enzim menjadi isomernya, yaitu fruktosa 6-fosfat. Satu molekul ATP yang lain memberikan satu gugus fosfatnya kepada fruktosa 6-fosfat, yang membuat ATP tersebut menjadi ADP dan fruktosa 6-fosfat menjadi fruktosa 1,6-difosfat. Kemudian, fruktosa 1,6-difosfat dipecah menjadi dua senyawa yang saling isomer satu sama lain, yaitu dihidroksi aseton fosfat dan PGAL (fosfogliseraldehid atau gliseraldehid 3-fosfat). Tahapan-tahapan reaksi diatas itulah yang disebut dengan fase investasi energi. • Selanjutnya, dihidroksi aseton fosfat dan PGAL masing-masing mengalami oksidasi dan mereduksi NAD+, sehingga terbentuk NADH, dan mengalami penambahan molekul fosfat anorganik (Pi) sehingga terbentuk 1,3-difosfogliserat. Kemudian masing-masing 1,3-difosfogliserat melepaskan satu gugus fosfatnya dan berubah menjadi 3-fosfogliserat, dimana gugus fosfat yang dilepas oleh masing-masing 1,3-difosfogliserat dipindahkan ke dua molekul ADP dan membentuk dua molekul ATP.
  • 9.
    • Setelah itu,3-fosfogliserat mengalami isomerisasi menjadi 2-fosfogliserat. Setelah menjadi 2-fosfogliserat, sebuah molekul air dari masing-masing 2-fosfogliserat dipisahkan, menghasilkan fosfoenolpiruvat. Terakhir, masing-masing fosfoenolpiruvat melepaskan gugus fosfat terakhirnya, yang kemudian diterima oleh dua molekul ADP untuk membentuk ATP, dan berubah menjadi asam piruvat. • Setiap pemecahan 1 molekul glukosa pada reaksi glikolisis akan menghasilkan produk kotor berupa 2 molekul asam piruvat, 2 molekul NADH, 4 molekul ATP, dan 2 molekul air. Akan tetapi, pada awal reaksi ini telah digunakan 2 molekul ATP, sehingga hasil bersih reaksi ini adalah 2 molekul asam piruvat (C3H4O3), 2 molekul NADH, 2 molekul ATP, dan 2 molekul air. Perlu dicatat, pencantuman air sebagai hasil glikolisis bersifat opsional, karena ada sumber lain yang tidak mencantumkan air sebagai hasil glikolisis.
  • 11.
    Dekarboksilasi Oksidatif Setelahmelalui reaksi glikolisis, jika terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani tahapan reaksi selanjutnya, yaitu siklus Krebs yang bertempat di matriks mitokondria. Jika tidak terdapat molekul oksigen yang cukup maka asam piruvat akan menjalani reaksi fermentasi. Akan tetapi, asam piruvat yang mandapat molekul oksigen yang cukup dan akan meneruskan tahapan reaksi tidak dapat begitu saja masuk ke dalam siklus Krebs, karena asam piruvat memiliki atom C terlalu banyak, yaitu 3 buah. Persyaratan molekul yang dapat menjalani siklus Krebs adalah molekul tersebut harus mempunyai dua atom C (2 C). Karena itu, asam piruvat akan menjalani reaksi dekarboksilasi oksidatif. Back
  • 12.
    Dekarboksilasi oksidatif adalahreaksi yang mengubah asam piruvat yang beratom 3 C menjadi senyawa baru yang beratom C dua buah, yaitu asetil koenzim-A (asetil ko-A). Reaksi dekarboksilasi oksidatif ini (disingkat DO) sering juga disebut sebagai tahap persiapan untuk masuk ke siklus Krebs. Reaksi DO ini mengambil tempat di intermembran mitokondria.
  • 13.
    • Pertama-tama, molekulasam cuka yang dihasilkan reaksi glikolisis akan melepaskan satu gugus karboksilnya yang sudah teroksidasi sempurna dan mengandung sedikit energi, yaitu dalam bentuk molekul CO2. Setelah itu, 2 atom karbon yang tersisa dari piruvat akan dioksidasi menjadi asetat (bentuk ionisasi asam asetat). Selanjutnya, asetat akan mendapat transfer elektron dari NAD+ yang tereduksi menjadi NADH. Kemudian, koenzim A (suatu senyawa yang mengandung sulfur yang berasal dari vitamin B) diikat oleh asetat dengan ikatan yang tidak stabil dan membentuk gugus asetil yang sangat reaktif, yaitu asetil koenzim-A, yang siap memberikan asetatnya ke dalam siklus Krebs untuk proses oksidasi lebih lanjut. • selama reaksi transisi ini, satu molekul glukosa yang telah menjadi 2 molekul asam piruvat lewat reaksi glikolisis menghasilkan 2 molekul NADH.
  • 14.
    Siklus Krebs SiklusKrebs adalah tahapan selanjutnya dari respirasi seluler. Siklus Krebs adalah reaksi antara asetil ko-A dengan asam oksaloasetat, yang kemudian membentuk asam sitrat. Siklus Krebs disebut juga dengan siklus asam sitrat, karena menggambarkan langkah pertama dari siklus tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A dengan asam oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Back
  • 15.
  • 16.
    • Pertama-tama, asetilko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi oksidatif) masuk ke dalam siklus dan bergabung dengan asam oksaloasetat membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil masuk ke dalam siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami pengurangan dan penambahan satu molekul air sehingga terbentuk asam isositrat. Lalu, asam isositrat mengalami oksidasi dengan melepas ion H+, yang kemudian mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan melepaskan satu molekul CO2 dan membentuk asam a-ketoglutarat (baca: asam alpha ketoglutarat). • Setelah itu, asam a-ketoglutarat kembali melepaskan satu molekul CO2, dan teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+ yang kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu, asam a-ketoglutarat mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A. Setelah terbentuk suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus, sehingga terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinil ko-A menjadi asam suksinat menghasilkan cukup energi untuk menggabungkan satu molekul ADP dan satu gugus fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP.
  • 17.
    • Kemudian, asamsuksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua ion H+, yang kemudian diterima oleh FAD dan membentuk FADH2, dan terbentuklah asam fumarat. Satu molekul air kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu asam fumarat berubah menjadi asam malat. Terakhir, asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion H+, yang kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH, dan asam oksaloasetat kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini kemudian akan kembali mengikat asetil ko-A dan kembali menjalani siklus Krebs. • Dari siklus Krebs ini, dari setiap molekul glukosa akan dihasilkan 2 ATP, 6 NADH, 2 FADH2, dan 4 CO2. Selanjutnya, molekul NADH dan FADH2 yang terbentuk akan menjalani rangkaian terakhir respirasi aerob, yaitu rantai transpor elektron.
  • 18.
    Transpor Elektron Rantaitranspor elektron adalah tahapan terakhir dari reaksi respirasi aerob. Transpor elektron sering disebut juga sistem rantai respirasi atau sistem oksidasi terminal. Transpor elektron berlangsung pada krista (membran dalam) dalam mitokondria. Molekul yang berperan penting dalam reaksi ini adalah NADH dan FADH2, yang dihasilkan pada reaksi glikolisis, dekarboksilasi oksidatif, dan siklus Krebs. Selain itu, molekul lain yang juga berperan adalah molekul oksigen, koenzim Q (Ubiquinone), sitokrom b, sitokrom c, dan sitokrom a. Back
  • 20.
    • Pertama-tama, NADHdan FADH2 mengalami oksidasi, dan elektron berenergi tinggi yang berasal dari reaksi oksidasi ini ditransfer ke koenzim Q. Energi yang dihasilkan ketika NADH dan FADH2 melepaskan elektronnya cukup besar untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. Kemudian koenzim Q dioksidasi oleh sitokrom b. Selain melepaskan elektron, koenzim Q juga melepaskan 2 ion H+. Setelah itu sitokrom b dioksidasi oleh sitokrom c. Energi yang dihasilkan dari proses oksidasi sitokrom b oleh sitokrom c juga menghasilkan cukup energi untuk menyatukan ADP dan fosfat anorganik menjadi ATP. • Kemudian sitokrom c mereduksi sitokrom a, dan ini merupakan akhir dari rantai transpor elektron. Sitokrom a ini kemudian akan dioksidasi oleh sebuah atom oksigen, yang merupakan zat yang paling elektronegatif dalam rantai tersebut, dan merupakan akseptor terakhir elektron. Setelah menerima elektron dari sitokrom a, oksigen ini kemudian bergabung dengan ion H+ yang dihasilkan dari oksidasi koenzim Q oleh sitokrom b membentuk air (H2O).
  • 21.
    • Oksidasi yangterakhir ini lagi-lagi menghasilkan energi yang cukup besar untuk dapat menyatukan ADP dan gugus fosfat organik menjadi ATP. Jadi, secara keseluruhan ada tiga tempat pada transpor elektron yang menghasilkan ATP. • Sejak reaksi glikolisis sampai siklus Krebs, telah dihasilkan NADH dan FADH2 sebanyak 10 dan 2 molekul. Dalam transpor elektron ini, kesepuluh molekul NADH dan kedua molekul FADH2 tersebut mengalami oksidasi sesuai reaksi berikut. Setiap oksidasi NADH menghasilkan kira-kira 3 ATP, dan kira-kira 2 ATP untuk setiap oksidasi FADH2. Jadi, dalam transpor elektron dihasilkan kira-kira 34 ATP. Ditambah dari hasil glikolisis dan siklus Krebs, maka secara keseluruhan reaksi respirasi seluler menghasilkan total 38 ATP dari satu molekul glukosa. Akan tetapi, karena dibutuhkan 2 ATP untuk melakukan transpor aktif, maka hasil bersih dari setiap respirasi seluler adalah 36 ATP.